Blog

  • 8 Ciri-Ciri Perempuan yang Baik Menurut Islam, Apa Saja?

    8 Ciri-Ciri Perempuan yang Baik Menurut Islam, Apa Saja?

    Apa saja ciri-ciri perempuan yang baik menurut Islam? Yuk, simak jawabannya di bawah ini sampai habis!

    Seperti yang kita tahu bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kesempurnaan bagi umat manusia.

    Tak hanya itu, Islam juga memberikan panduan dan kriteria bagi perempuan untuk menjadi wanita yang baik, salehah, dan berakhlak mulia.

    8 Ciri-Ciri Perempuan yang Baik Menurut Islam

    Nah, ciri-ciri perempuan yang baik menurut Islam adalah wanita yang memiliki sifat-sifat berikut ini:

    1. Beriman Kepada Allah dan Rasul-Nya

    Ciri-ciri perempuan yang baik menurut Islam yang pertama adalah wanita yang mengutamakan iman dan taqwa dalam hidupnya. Wanita yang baik meyakini rukun iman dan mengamalkan rukun Islam dengan sebaik-baiknya.

    Selain itu, wanita yang baik juga senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam segala hal. Allah SWT berfirman:

    إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ

    وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ

    وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ

    ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

    Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keadaannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yag banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Ahzab: 35).

    Baca juga: Perbedaan Haji Reguler, Haji Furoda, dan Haji Plus, Waktu Tunggu hingga Fasilitas

    2. Menutup Aurat dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i

    Ciri-ciri yang selanjutnya adalah wanita yang menjaga auratnya dari pandangan orang-orang yang tidak berhak.

    Wanita yang baik pasti berbusana dengan pakaian yang longgar, tidak ketat, tidak tipis, tidak menyerupai pakaian laki-laki atau pakaian orang kafir, tidak mencolok atau menarik perhatian, dan menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

    Dan juga tidak berdandan atau berhias ketika keluar rumah tanpa keperluan syar’i. Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Ada dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat: sekelompok orang membawa cambuk seperti ekor sapi untuk memukuli manusia, dan sekelompok wanita berpakaian tapi telanjang, condong ke arah sesuatu (yang haram) dan membuat orang condong ke arahnya; kepala mereka seperti punuk unta miring; mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya; padahal baunya surga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian”. (HR. Muslim).

    3. Betah Tinggal di Rumah

    Wanita yang baik adalah perempuan yang betah tinggal di rumah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan suaminya.

    Serta tidak suka keluar rumah tanpa izin suami atau tanpa keperluan mendesak dan mengisi waktu di rumah dengan ibadah, belajar ilmu agama, mengurus rumah tangga, mendidik anak-anak, dan melayani suami dengan sepenuh hati. Allah SWT berfirman:

    Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu”. (QS. Al-Ahzab: 33).

    4. Memiliki Sifat Malu

    Memiliki Sifat Malu

    Ciri-ciri perempuan yang baik menurut Islam adalah wanita yang memiliki sifat malu sebagai salah satu cabang dari iman.

    Seperti malu kepada Allah SWT, malu kepada Rasulullah SAW, malu kepada suami, malu kepada keluarga, malu kepada masyarakat, dan malu kepada diri sendiri.

    Wanita yang baik juga menjauhi segala perkataan dan perbuatan yang dapat merusak harga diri atau marwahnya sebagai seorang muslimah. Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Setiap agama itu memiliki akhlak (khas), dan akhlak Islam itu adalah malu”. (HR. Ahmad).

    Baca juga: 7+ Contoh Ceramah Singkat tentang Ikhlas dalam Islam

    5. Taat dan Menyenangkan Hati Suami

    Taat dan menyenangkan hati suami dalam hal-hal yang ma’ruf juga bisa menjadi salah satu ciri-ciri perempuan yang baik menurut Islan.

    Dan juga menuruti perintah suami, tidak menolak ajakan suami, tidak membantah suami, tidak menyakiti suami, tidak mengungkit-ungkit kebaikan suami, tidak mengadu domba suami, tidak menyia-nyiakan harta suami dan juga berusaha untuk selalu tampil cantik, bersih, wangi, serta ceria di hadapan suami. Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai”. (HR. Ahmad).

    6. Menjaga Kehormatan, Anak, dan Harta Suami

    Wanita yang baik adalah wanita yang menjaga kehormatan, anak, dan harta suami ketika suami tidak ada di rumah.

    Tidak membukakan pintu rumah untuk orang-orang yang tidak mahram, tidak bergaul dengan laki-laki yang bukan mahram, tidak membicarakan rahasia rumah tangga dengan orang lain, tidak mengumbar aib suami, dan tidak berkhianat kepada suami juga dianggap sebagai perempuan yang baik di dalam Islam.

    Perempuan yang baik juga mengasuh dan mendidik anak-anak sesuai dengan ajaran Islam, serta mengelola harta suami dengan bijak dan hemat. Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Wanita terbaik adalah yang jika engkau melihatnya maka engkau akan senang (karena kecantikan dan akhlaknya), jika engkau menyuruhnya maka ia akan mentaatimu, dan jika engkau berada di luar rumah maka ia akan menjaga dirinya dan hartamu”. (HR. Ibnu Majah).

    7. Memiliki Sifat Bersyukur dengan Pemberian Suami

    Wanita yang memiliki sifat bersyukur dengan pemberian suami, baik itu berupa nafkah, pakaian, perhiasan, atau lainnya.

    Wanita yang baik tidak sombong, tidak iri hati, tidak cemburu buta, tidak merasa kurang atau kecewa dengan apa yang diberikan suami adalah ciri-ciri perempuan yang baik menurut Islam.

    Dan juga tidak membanding-bandingkan dirinya dengan wanita lain atau membanding-bandingkan suaminya dengan laki-laki lain, serta selalu mengucapkan terima kasih kepada suami atas segala nikmat yang telah diberikan. Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Banyak sekali wanita-wanita penghuni neraka”. Lalu ada seorang wanita bertanya: “Mengapa demikian ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena mereka kufur”. Lalu wanita itu bertanya lagi: “Kufur kepada siapa?” Beliau menjawab: “Kufur kepada suaminya dan kufur kepada kebaikan. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa hidupmu kemudian dia melihat sesuatu dari dirimu yang tidak dia sukai niscaya dia akan berkata: Aku belum pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu”. (HR. Bukhari).

    8. Memiliki Sifat Sabar dan Ikhlas dalam Menghadapi Cobaan

    Terakhir, perempuan yang baik adalah wanita yang memiliki sifat sabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan yang datang dari Allah SWT, baik itu berupa sakit, kemiskinan, kematian, atau lainnya.

    Tak hanya itu, wanita yang baik juga tidak mengeluh, tidak marah, tidak putus asa, tidak berontak, dan tidak menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpanya, serta selalu bersabar dengan mengharap ridha Allah SWT dan mengingat pahala yang besar bagi orang-orang yang sabar.

    Perempuan yang baik juga selalu ikhlas dengan menerima takdir Allah SWT dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT.

  • Hukum Istri Minta Cerai dalam Islam, Tapi Suami Tidak Mau

    Hukum Istri Minta Cerai dalam Islam, Tapi Suami Tidak Mau

    Membicarakan mengenai perceraian, hal yang kerap kali kita dengar bahwa pihak suami yang berhak menuntut cerai pada istrinya. Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai hukum istri minta cerai dalam Islam

    Pada kenyataannya, kehidupan rumah tangga tidak selalu baik dan bahagia. Allah SWT akan selalu memberikan ujian bagi keduanya, agar tetap saling menguatkan dalam satu tujuan, yakni mencari ridho-Nya.

    Namun, ada banyak sekali alasan mengapa terjadi perceraian, salah satunya yakni pertengkaran. Jika umumnya, suami yang menuntut cerai, bagaimana dengan hukum istri minta cerai dalam Islam?

    Memahami Pengertian Gugat Cerai

    Sebelum membahas mengenai hukum istri minta cerai dalam Islam, akan lebih baik jika kita memahami mengenai makna dari gugat cerai sendiri.

    Gugat cerai adalah istilah yang diberikan kepada seorang istri yang mengajukan cerai kepada suaminya.

    Permintaan gugat cerai tersebut diajukan kepada pengadilan agama dan selanjutnya pengadilan memproses dan menyetujui atau menolak gugatan tersebut.

    Meski keputusan cerai berada di tangan suami, namun pengadilan menimbang alasan gugat cerai yang dilayangkan oleh pihak istri ke suami. Pengadilan bisa memaksa suami untuk menjatuhkan talak kepada istrinya.

    Dalam Islam, gugat cerai memiliki dua istilah, yakni khulu dan fasakh.

    Baca juga: Niat Sholat Jumat Makmum & Imam Beserta Tata Caranya

    Khulu sendiri memiliki arti meninggalkan atau membuka pakaian. Namun dalam kosep rumah tangga, khulu dimaknai sebagai bentuk putusnya ikatan suami istri dalam pernikahan.

    Dalam gugat cerai khulu, terdapat uang tebusan maupun ganti rugi, serta iwadh. Khulu bisa terjadi apabila seorang istri meminta untuk diceraikan oleh suaminya. Namun sebagai syaratnya, pihak istri harus membayar uang sebagai ganti mahar yang telah diberikan.

    Sedangkan Fasakh, secara bahasa diartikan sebagai pembatalan , pemisahan, penghillangan, pemutusan atau penghapusan. Secara istilah, fasakh dimaknai pembatalan pernikahan karena sebab yang tidak memungkinkan hubungan tersebut untuk dilanjutkan lagi.

    Dalam gugat cerai fasakh, terdapat ketentuan alasan untuk diperbolehkannya, yakni pasangan yang mengalami cacat atau penyakit yang berbahaya.

    Hal in sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu Umar bin Al-Khatab bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

    فَقَالَ: اِلْبَسِي ثِيَابَكَ، وَالْحِقِي بِأَهْلِكَ وَقَالَ لِأَهْلِهَا: دَلَّسْتُمْ عَلَيَّ

    Artinya: “Kenakanlah pakaianmu dan kembalilah kepada keluargamu. Kemudian beliau bersabda kepada keluarganya, ‘Kalian sembunyikanlah kekurangannya dariku!” (HR Al-Baihaqi dan Abu Ya‘la).

    Selain itu, hal ini turut diriwayatkan dalam hadits Malik yang berbunyi:

    أَيُّمَا رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً، وَبِهِ جُنُونٌ، أَوْ ضَرَرٌ، فَإِنَّهَا تُخَيَّرُ. فَإِنْ شَاءَتْ قَرَّتْ. وَإِنْ شَاءَتْ فَارَقَتْ

    Artinya: “Bilamana seorang laki-laki menikahi seorang perempuan, dan laki-laki itu mengalami gangguan jiwa atau mengidap penyakit berbahaya, maka si perempuan diberi pilihan (khiyar). Jika mau, ia boleh meneruskan perkawinan. Jika tidak, ia boleh bercerai,” (HR Malik).

    Hukum Istri Minta Cerai dalam Islam

    Setelah memahami dengan benar, apa itu gugat cerai dan jenisnya. Tentu tidak akan sulit untuk memahami mengenai hukum istri minta cerai dalam Islam.

    Kerap kali kita temui, adanya kasus-kasus gugat cerai yang dilayangkan istri ke pihak suami karena alasan seperti kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan dan juga cekcok. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan terdapat alasan yang tidak dibenarkan.

    Sebenarnya, hukum istri minta cerai dalam Islam diperbolehkan, asal diiringi dengan alasan yang jelas.

    Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Ibnu’Abbas, bahwasannya istri Tsabit bibQais mendatangi Nabi SAW dan berkata: “Wahai, Rasulullah. Aku tidak mencela Tsâbit bin Qais pada akhlak dan agamanya, namun aku takut berbuat kufur dalam Islam.”

    Maka Nabi SAW bersabda: “Apakah engkau mau mengembalikan kepadanya kebunnya?’ Ia menjawab, ‘Iyaa, Rasulullah SAW’.

    Lalu beliau bersabda: ‘Ambillah kebunnya, dan ceraikanlah dia,” (HR al-Bukhari).

    Hadits tersebut menjelaskan kebolehan pada hukum istri minta cerai dalam Islam. Meski begitu, hukum istri minta cerai dalam Islam akan menjadi haram jika tidak disertai dengan alasan jelas atau syar’i.

    Sebab, hal ini pernah dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

    Siapa saja perempuan yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut,” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

    Selain itu, terdapat hal yang perlu diperhatikan yakni mengenai syariat hukum yang berlaku dalam gugatan cerai tersebut. Perpisahan hubungan rumah tangga haruslah memiliki kesepakatan dari kedua belah pihak baik oleh istri maupun suami, terutama mengenai hal tebusan.

    Kesepakatan ini tujuannya untuk menunjukkan bahwa ada kerelaan dari pihak suami untuk menerima tebusan dan adanya kesanggupan dari pihak istri untuk memberikan tebusan tersebut.

    Mengenai hal tersebut, telah dijelaskan sebelumnya bahwa hukum suami minta cerai suami dalam Islam boleh jika memenuhi persyaratan.  Hal tersebut pun disebutkan oleh Imam Abu Ishak Ibrahim bin Yusuf Al- Fairuzzabadi al Syairazi dalam Al-Muhadzdzab fi Fiqh al0Imam al- Syafi’i:

    إذاكرهتالمرأةزوجهالقبحمنظرأوسوءعشرةوخافتأنلاتؤديحقهجازأنتخالعهعلىعوض

    Artinya: “Apabila seorang perempuan benci terhadap suaminya karena penampilannya yang jelek, atau perlakuannya yang kurang baik, sementara ia takut tidak akan bisa memenuhi hak-hak suaminya, maka boleh baginya untuk mengajukan khuluk dengan membayar ganti rugi atau tebusan.”

    Alasan yang Memperbolehkan Istri Menggugat Cerai

    Setelah mengetahui dengan jelas mengenai kebolehan hukum istri minta cerai suami dalam Islam. Ada beberapa yang perlu diingat mengenai pemenuhan syarat agar gugatan diterima baik dalam hukum maupun agama.

    Adapun beberapa alasan yang memperbolehkan istri menggugat cerai adalah sebagai berikut:

    1. Suami Tidak Mampu Memenuhi Hak Istri

    Ketika istri tidak ridho ketika suami tidak mampu memenuhi hak istri baik nafkah lahir maupun batin, seorang istri dperbolehkan untuk melakukan gugat cerai kepada suaminya.

    2. Suami Merendahkan Istri

    Hal kedua yang diperbolehkan yakni ketika suami merendahkan istri, hal ini bukan hanya berupa verbal saja. Ini bisa saja dalam bentuk memukul, melaknat maupun mencela istri secara terus menerus.

    Apalagi jika sampai ada kekerasan dalam rumah tangga. Maka hukum istri minta cerai suami dalam Islam adalah boleh.

    3. Suami Pergi dalam Waktu yang Sangat Lama

    Seperti yang telah dijelaskan sebelum akad berlangsung, Ibnu Qudamah berkata, “Imam Ahmad, yaitu Ibn Hanbal rahimahullah ditanya, ‘berapa lama bagi laki-laki menghilang dari keluarganya?’ dia berkata, ‘Diriwayatkan enam bulan.”

    Jika terjadi hal demikian, maka hukum istri minta cerai suami dalam Islam diperbolehkan. Sebab dikhawatirkan adanya fitnah yang akan menimpa istri.

    4. Suami Divonis Memiliki Penyakit Berbahaya

    Meski sebagian orang merasa bahwa hal ini termasuk ke dalam adab. Namun hukum istri minta cerai suami dalam Islam ketika suami divonis memiliki penyakit berbahaya adalah boleh.

    Penyakit tersebut bisa berupa penyakit yang menular, penyakit impoten, atau penyakit berbahaya lainnya.

    5. Suami Fasik

    Suami merupakan kepala keluarga, ketika suami fasik dan melakukan dosa-dosa besar, dan istri sudah bersabar serta menasehatinya agar berubah, namun suaminya tetap melakukannya dan justru jatuh lebih dalam lagi.

    Maka hukum istri minta cerai suami dalam Islam adalah boleh. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keluarganya dan dirinya sendiri.

    Bagaimana? Sudah jelas bukan mengenai hukum istri minta cerai suami dalam Islam. Semoga kita senantiasa dijaga kerukunan dan keharmonisan rumah tangganya, serta terhindar dari hal-hal yang memicu adanya perpecahan dan perceraian.

  • Bacaan Doa Qunut Subuh Arab dan Latin Beserta Arti dan Hukumnya

    Bacaan Doa Qunut Subuh Arab dan Latin Beserta Arti dan Hukumnya

    Ada banyak amalan sunnah dalam ajaran Islam yang bisa kita lakukan. Amalan-amalan tersebut dapat mendatangkan pahala dan kebaikan untuk diri kita. Salah satu amalannya yaitu doa qunut.

    Nabi Muhammad SAW mengajarkan umat muslim untuk membaca doa tersebut. Adapun waktu membacanya yaitu ketika menjalankan shalat subuh.

    Mengenal Doa Qunut Subuh

    Menurut istilahnya, “Qunut” memiliki arti ketaatan yang disertai dengan kerendahan hati. Qunut juga memiliki arti berdiri lama, doa, diam, dan khusyu’.

    Pengertian qunut tersebut saling melengkapi satu sama lain. Sehingga dapat dijabarkan bahwa qunut merupakan doa yang dibaca ketika shalat dan dalam posisi berdiri dengan cukup lama.

    Doa tersebut juga merupakan bentuk ketaatan pada Allah SWT.

    Biasanya, qunut dibaca ketika menjalankan ibadah shalat subuh. Lebih tepatnya, setelah membaca tahmid saat I’tidal serta sebelum ruku’.

    Masih bingung kapan membaca doa qunut subuh dari penjelasan tersebut?

    Kita bisa membaca qunut pada rakaat kedua shalat subuh, tepatnya setelah membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Jadi, kita bisa mulai membaca qunut setelah selesai membaca surat pendek.

    Ketika membaca qunut, posisi tubuh masih berdiri sambil mengangkat kedua tangan. 

    Qunut terdiri dari beberapa kalimat yang isinya pujian kepada Allah SWT. Selain itu, wunut juga berisi permohonan ampun, sekaligus permohonan perlindungan dan pertolongan Allah.

    Imam Syafi’i menganjurkan untuk membaca qunut ketika shalat subuh. Mayoritas ulama ahli hadits juga menyetujui pendapat tersebut.

    Baca juga: Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Shalat subuh sendiri merupakan ibadah yang istimewa. Pasalnya, waktu pelaksanaannya yang mana merupakan waktu fajar saat belum banyak orang yang terjaga.

    Fajar merupakan waktu yang baik untuk memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Melakukan amalan dengan membaca qunut juga dapat memperkuat iman dan meningkatkan ketakwaan.

    Mengingat manfaat signifikannya, mengamalkan qunut saat shalat subuh termasuk ibadah dengan banyak keutamaan bagi umat muslim

    Bacaan Doa Qunut Latin dan Arab

    Setelah mengetahui apa itu qunut, kita bisa melanjutkan dengan mempelajari bacaan doanya. 

    Terdapat dua versi qunut, yaitu qunut lengkap atau panjang dan qunut pendek. 

    1. Doa Qunut Lengkap

    اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Adapun bacaan doa qunut latin yaitu:

    “Allahummah dinii fii man haadaiit, Wa ‘aafinii fiiman ‘aafait, wa tawallanii fii man tawallaiit, Wa baarik lii fii ma a’thaiit, Wa qinni birohmatika syarra maa qadhaiit, Fa innaka taqdhi wa la yuqdha ‘alaiik, Wa innahu la yazillu man wa lait, Wa la ya’izzu man ‘adait, Tabarakta rabbana wa ta’alait, Fa lakal hamdu a’la ma qadhait, Astagfiruka wa atubu ilaik, Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin Nabiyyil ummiyyi Wa ‘ala alihi Wa shahbihi Wa sallam.”

    Artinya:

    “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana mereka yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. Peliharalah diriku sebagaimana orang-orang yang sudah Engkau lindungi. Berikanlah keberkahan untukku dari apa yang sudah Engkau berikan. Selamatkanlah diriku dari bahaya kejahatan yang sudah Engkau tentukan. Engkaulah yang berhak menghukum dan bukan dihukum. Tidak akan hina orang yang telah Engkau jadikan pemimpin. Tidak mulia orang yang telah Engkau musuhi. Maha Suci Engkau duhai Tuhan kami dan Yang Maha Tinggi. Bagi-Mu seutuhnya pujian di atas apa yang telah Engkau tentukan. Diriku memohon ampun kepada-Mu dan menyatakan bertaubat kepada-MU. Semoga engkau ya Allah mencurahkan rahmat dan karuniamu atas junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, dan semua para sahabatnya.”

    2. Doa Qunut Subuh Pendek

    للّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

    Doa qunut Arab tersebut dalam tulisan latin bacaannya yaitu:

    “Allahummah dinii fii man hadaiits, wa ‘aafiinii fii man ‘aafaits, wa tawallanii fii man tawallaits, Wa baarik lii fii maa a’thaits, Wa qi nii birohmatika syarra maa qadlaits, Fa innaka taqdli wa laa yuqdlaa ‘alaik, Wa innahuu laa yadzillu man waalaits, Tabaarakta rabbanaa wa ta’aalaits.”

    Adapun artinya yaitu:

    “Ya Allah, berilah kepadaku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berikanlah kesejahteraan untukku di antara orang-orang yang Engkau beri kesejahteraan, tolonglah diriku di antara orang-orang yang kau beri pertolongan, berikanlah keberkahan untukku dari apa-apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan peliharalah diriku aku dari semua keburukan yang telah Engkau putuskan, karena sesungguhnya Engkau yang berhak memutuskan dan tidak diputuskan atasMu, dan tidak ada kehinaan kepada orang yang sudah Engkau tolong, Maha Suci Engkau duhai Tuhan kami, yang lagi Maha Tinggi.”

    Kedua doa qunut tersebut dapat kita amalkan dengan membaca salah satunya saat shalat. Pasalnya, meskipun bacaan qunut dari kedua versi cukup berbeda, pada dasarnya qunut memiliki tujuan yang sama.

    Adapun bacaan doa qunut subuh berjamaah dengan doa qunut subuh sendiri juga sama, yakni dengan menggunakan salah satu versi qunut di atas.

    Meski demikian, mengutip dari NU Online, terdapat sedikit perubahan pelafalan pada bacaan doa. 

    Apabila membaca qunut saat berjamaah, imam perlu mengubah lafal “ihdini” yang berarti berilah aku petunjuk. Imam perlu mengganti lafal tersebut dengan “ihdina” yang memiliki arti berilah kami petunjuk.

    Pengubahan ini sesuai dengan pendapat dari Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in. Menurut Beliau, makruh hukumnya bagi imam untuk berdoa demi dirinya sendiri ketika shalat berjamaah.

    Baca juga: Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Manfaat, dan Keutamaannya

    Hukum Doa Qunut 

    Dalam fiqih terdapat tiga jenis qunut, yaitu qunut subuh, qunut witir, dan qunut nazilah. Adapun mengenai hukum qunut terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para ulama.

    Dalil tentang Do’s Qunut

    Pelaksanaan ketiga jenis qunut berdasarkan pada sejumlah dalil yang menjadi landasan hukum qunut. 

    Dalil tersebut meliputi hadits Ubai bin Ka’ab:

    إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. أخرجه ابن ماجه.

    Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwitir lalu melakukan qunut sebelum ruku’. [HR Ibnu Majah dan dishahîhkan al-Albâni dalam Irwa’ al-Ghalil, 2/167 hadits no. 426].

    Selain itu, ada pula hadits lain dari Anas bin Malik yang artinya: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang berdoa Qunut (ketika ada musibah) pada shalat Maghrib dan shalat Shubuh” [HR. Bukhari].

    Hukum Doa Qunut Subuh

    Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, hukum qunut subuh adalah sunnah. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut subuh berlaku ketika terjadi suatu masalah besar sehingga perlu mendoakan dengan qunut nazilah.

    Pendapat dari Imam Syafi’i yang menganjurkan membaca qunut ketika shalat subuh berdasarkan beberapa hadits. Salah satunya yaitu hadits riwayat Muslim yang artinya:

    “Dari Muhammad bin Sirin, berkata: “Aku bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah Rasulullah Saw membaca qunut dalam shalat Subuh?” Beliau menjawab: “Ya, setelah ruku’ sebentar.” (HR Muslim, Hadits nomor 1578).

    Menurut Imam Nawawi, hukum kesunahan membaca qunut subuh adalah sunnah muakkadah. Artinya, shalat kita tidak akan batal apabila meninggalkan qunut. 

    Meski demikian, kita sebaiknya melakukan sujud sahwi saat meninggalkan qunut secara sengaja maupun tidak.

    Pendapat tersebut berlandaskan dalil berupa hadits yang artinya: “Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika shalat subuh sehingga beliau wafat.’” (HR Ahmad)

    Mazhab Hanafi juga berpendapat bahwa hukum qunut saat shalat subuh adalah sunnah muakkad. Sementara mazhab Maliki dan Hanbali memiliki pandangan yang berbeda.

    Kedua mazhab tersebut tidak menekankan membaca qunut saat shalat subuh. Namun, menganjurkan pelaksanaannya ketika shalat witir dan shalat-shalat lain, misalnya ketika memohon pertolongan atau perlindungan dari bencana.

    Hadist mengenai Qunut Subuh Terus Menerus

    Terdapat sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dll, dari jalur Abu Ja’far Ar-Razi, yang berbunyi:

    مَازَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا .

    Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut pada shalat Shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia (wafat).”

    Namun, rupanya hadist tersebut tidak termasuk dalam hadist shahih.

    Melansir dari Bimbingan Islam, hadist terkait membaca qunut yang shahih hanyalah tentang qunut nazilah. 

    Artinya, tidak terdapat dalil yang valid mengenai keharusan ataupun kesunnahan melakukan qunut secara terus menerus saat subuh. 

    Manfaat Membaca Doa Qunut

    Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai pelaksanaannya, seluruh umat muslim percaya bahwa qunut memberikan banyak manfaat, seperti: 

    1. Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

    Sebagaimana doa lain, melalui qunut umat muslim dapat lebih dekat pada Allah SWT. Hal tersebut karena qunut mengandung permohonan ampunan dari Sang Pencipta.

    Selain itu, qunut juga berisi permohonan pertolongan dan perlindungan dari segala macam bahaya.

    2. Mendapatkan Petunjuk

    Qunut juga berisi permohonan untuk diberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dengan membaca doa pada saat shalat, umat muslim bisa mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

    Oleh karena itu, mengamalkan qunut dapat membantu umat muslim dalam menghadapi berbagai tantangan.

    3. Mendapatkan Berkah dan Menghindarkan Mudharat

    Dalam qunut, kita juga memanjatkan permohonan untuk mendapat keberkahan pada segala nikmat yang telah Allah berikan. 

    Selain itu, melalui qunut umat muslim juga memohon perlindungan dari kemudharatan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Doa ini berisi harapan untuk mendapatkan perlindungan-Nya dari segala macam bahaya.

    4. Kebaikan Dunia dan Akhirat

    Melalui qunut umat muslim tidak hanya memohon perlindungan dari hal-hal buruk, tapi juga sekaligus memohon kebaikan dunia dan akhirat. 

    Qunut mengandung harapan untuk diberikan petunjuk supaya terhindar dari kesulitan maupun keburukan dan godaan. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dan meraih tujuan dengan cara yang penuh berkah.

    5. Memberikan Ketenangan Hati

    Satu lagi manfaat penting dari qunut, yaitu memberikan perasaan tenang dan damai. Pasalnya, dengan membaca qunut umat muslim juga menyampaikan permohonan untuk mendapat perlindungan dan petunjuk dari Allah SWT.

    Oleh karena itu, qunut dapat membuat perasaan lebih aman dan terjaga. Sehingga, kita dapat menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang sering kali menyebabkan rasa khawatir dan stress.

    Itulah pengertian, bacaan, dan hukum doa qunut subuh secara lengkap. Qunut memberikan banyak manfaat bagi yang menjalankan. Mari berusaha untuk konsisten mengamalkan supaya meraih banyak kebaikan.

  • Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    Artikel ini akan membahas dalil keringanan puasa untuk ibu hamil. Bagi Moms yang sedang hamil dan menyusui, tentunya mereka masih bertanya-tanya apakah mereka masih harus menjalankan ibadah shaum saat bulan puasa.

    Puasa menjadi kewajiban setiap umat Muslim saat bulan Ramadhan. Tapi bagaimana dengan ibu hamil? Biasanya mereka tidak berpuasa karena takut membahayakan kondisi dirinya dan sang janin.

    Karena alasan itu, banyak ibu hamil yang tidak berpuasa. Banyak dari mereka yang menggantinya dengan kewajiban qadha, baik itu puasa atau membayar fidyah.

    Beberapa dari kita masih belum tahu bagaimana jika ini terjadi. Jadi seperti apa hukum berpuasa untuk ibu hamil? Mari kita cari tahu bersama-sama.

    Alasan Ibu Hamil dan Menyusui Tidak Berpuasa

    Kita sudah melihat bahwa ibu hamil biasanya tidak berpuasa karena khawatir dengan kondisi dirinya dan sang janin. Jika mereka berpuasa, takutnya mereka akan kekurangan kebutuhan gizi untuk dirinya dan sang janin.

    Puasa pada dasarnya menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Ibadah ini menjadi wajib saat bulan Ramadhan. Akan tetapi, ada pengecualian bagi yang sedang sakit keras atau haid. Kedua kondisi itu menghalangi mereka untuk berpuasa.

    Beberapa ulama memberi pendapat demikian berdasarkan ayat Al Quran berikut ini:

    فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ

    Artinya:

    “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin“. (Q.S. Al-Baqarah: 184).

    Dari ayat tersebut, tercantum bahwa orang sakit atau sedang dalam perjalanan bisa tidak berpuasa. Asalkan ia wajib membayar utang berupa puasa qadha di luar bulan Ramadhan. Jika tidak mampu, mereka harus memberi makan orang miskin.

    Bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui? Sebagian ulama berpendapat ayat itu bisa menjadi dalil keringanan puasa untuk ibu hamil.

    Baca juga: Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya

    Ibu Hamil Tidak Berpuasa Menurut Medis

    Saat kita berpendapat ibu hamil dan menyusui sebaiknya tidak berpuasa, setidaknya ini tidak benar-benar salah. Pasalnya, pengetahuan sains dan medis ikut mendukung pendapat ini.

    Pada dasarnya, ibu hamil dan menyusui membutuhkan gizi dan kalori lebih banyak dari biasanya. Bagi ibu hamil, kenaikan kebutuhan itu dipicu dengan kebutuhan gizi bagi sang janin demi perkembangannya di hamil.

    Sementara bagi ibu menyusui, mereka membutuhkan nutrisi lebih banyak demi ASI yang berkualitas untuk Si Kecil. Kedua alasan ini menjadi pemicu agar ibu hamil dan menyusui tidak berpuasa.

    Umumnya, ibu hamil membutuhkan kurang lebih 2200-2300 kalori per hari, sementara ibu menyusui membutuhkan 2200-2600 kalori per hari. Peningkatan kalori bagi ibu menyusui terpicu oleh kebutuhan energi ekstra setelah persalinan dan produksi ASI.

    Apabila tidak mencapai kebutuhan kalori minimal, ibu hamil bisa saja mengalami hipoglikemia atau kekurangan kadar gula darah pada tubuh. Kondisi ini akan berdampak bagi sang janin. Apalagi saat harus berpuasa selama 12 jam.

    Terlebih, kurangnya gizi berupa vitamin dan mineral bagi ibu hamil juga akan membahayakan janin di rahim. Hal ini sekaligus menurunkan daya tahan tubuh yang memicu kesulitan dalam menjaga kesehatan.

    Inilah mengapa banyak yang bertanya tentang keringanan puasa untuk ibu hamil. Tidak heran beberapa dari ibu hamil cukup resah jika mereka masih harus berpuasa saat Ramadan. Selanjutnya, kita bahas bagaimana hukumnya menurut ulama.

    Pendapat Ulama dan Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil

    Bagaimana pendapat ulama tentang hukum puasa untuk ibu hamil dan menyusui? Jawabannya bermacam-macam. Bahkan, mereka masih berbeda pendapat tentang permasalahan ini.

    Jika melihat kembali pembahasan surat Al Baqarah ayat 184, para ulama berpendapat ibu hamil termasuk tergolong yang tidak wajib berpuasa. Terdapat sebuah dalil dari hadits yang memperkuat pendapat tersebut.

    إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad).

    Kutipan hadits tersebut bisa menjadi dalil ibu hamil boleh tidak berpuasa. Tercantum bahwa musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan, wanita hamil dan menyusui boleh tidak menjalankannya.

    Hukum menggantinya dengan qadha atau fidyah masih menjadi pertanyaan. Para ulama juga memperdebatkan soal ini dengan berbeda pendapat. Umumnya, terdapat tiga pendapat sebagai berikut:

    1. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibu hamil dan menyusui hanya wajib menggantinya dengan qadha. Beliau memberi pendapat ini berdasarkan perkataan Ali bin Abi Thalib.

    2. Imam Syafi’I dan Imam Ahmad sepakat bahwa ibu hamil wajib meng-qadha jika khawatir dengan kondisinya. Jika khawatir terhadap sang janin, ia harus meng-qadha atau memberi makan orang miskin setiap hari sebagai utang tidak berpuasa.

    3. Ibnu Abbas memberi pendapat ibu hamil dan menyusui hanya harus memberi makan pada orang miskin tanpa meng-qadha.

    Berdasarkan ketiga pendapat itu dari dalil keringanan puasa untuk ibu hamil, ada dua pilihan. Ibu hamil bisa menunaikan ibadah puasa qadha selama beberapa hari saat tidak berpuasa Ramadhan. Alternatifnya, mereka bisa memberi makan orang miskin.

    Apakah Ibu Hamil Masih Bisa Puasa?

    Setelah mengetahui hukum puasa bagi ibu hamil dan menyusui, kita pasti terpikir sebuah pertanyaan. Apakah ibu hamil masih bisa menjalankan ibadah puasa? Jawabannya tergantung kondisi kesehatan dan kehamilannya.

    Jika tetap ingin menjalankan ibadah puasa, ibu hamil harus tetap memenuhi gizi yang tinggi. Saat sahur dan buka puasa, menu biasa bisa diganti dengan makanan kandungan kalori, protein, vitamin, dan mineral lebih banyak dan efektif.

    Misalnya saat berbuka puasa, ibu hamil bisa membuat menu makanan dan minuman mengandung susu, kurma, buah-buahan segar, dan madu. Kurma terkenal memiliki kalori tinggi yang tidak membuat kenyang.

    Selain itu, pilihlah daging hewani yang berprotein tinggi dan rendah lemak. Daging memiliki kalori dan tinggi yang bisa membuat tidak terasa lapar lebih cepat. Ini membantu ibu hamil dalam menjalankan ibadah puasa selama 12-13 jam.

    Jika kondisi ibu hamil lemas, mual, dan pusing, sebaiknya segera berbuka dan jangan tunggu hingga maghrib. Kondisi tersebut menjadi gejala hipoglikemia yang dipicu kekurangan nutrisi. Lebih tepatnya, ini ikut membahayakan janin.

    Ibu hamil yang mengalami kondisi fisik yang kurang memungkinkan, seperti mengalami lesu, mual, dan muntah, sebaiknya tidak berpuasa. Pasalnya, hal ini bisa memperparah kondisi fisiknya.

    Apabila usia kandungan sudah mencapai enam bulan ke atas, alangkah baiknya ibu hamil tidak berpuasa. Oleh sebab itu, Hormon insulin janin sudah mulai bekerja, sehingga ibu hamil membutuhkan lebih banyak nutrisi.

    Berdasarkan dalil keringanan puasa untuk ibu hamil yang sudah dibahas, tidak ada salahnya ibu hamil dan menyusui tidak berpuasa. Tapi jika tetap ingin menjalankannya, semua tergantung kondisi fisik masing-masing asalkan tidak membahayakan.

  • Kisah Nabi Ismail AS dan Ketaatannya pada Allah SWT

    Kisah Nabi Ismail AS dan Ketaatannya pada Allah SWT

    Salah satu cerita nabi yang cukup familiar bagi umat Muslim di seluruh dunia adalah kisah Nabi Ismail. Hal ini tidak lepas dari turunnya perintah berkurban hingga menunaikan ibadah haji bagi umat muslim yang mampu.

    Perjalanan hidup Nabi Ismail yang penuh pelajaran, tentunya menjadi acuan kita untuk lebih bertaqwa kepada Allah SWT.

    Selain itu, kita juga harus mengimani dan mempercayai segala hal yang Allah berikan kepada Nabi sebagai bentuk perantara.

    Kisah Nabi Ismail

    Nabi Ismail menjadi tonggak utama dalam sejarah peradaban manusia yang ada di Mekkah. Semula tempat ini hanya pasir tandus dan tidak berpenghuni, sementara sekarang menjadi tempat yang diinginkan dan dirindukan oleh seluruh umat Islam.

    Perjalanan Nabi Ismail AS sewaktu kecil hingga dewasa tentunya dipenuhi dengan berbagai ujian dari Allah SWT. Akan tetapi, beliau tetap yakin dan teguh akan kuasa Allah sehingga dakwah beliau sampai hari ini tetap kita jalankan.

    Pelajaran berharga ini tentunya harus kita imani dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penting bagi seluruh umat Islam mengetahui kisah Nabi Ismail dalam memulai peradaban hingga terbentuknya Ka’bah di Mekkah.

    Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

    وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا

    Artinya:

    “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54).

    Berikut ini kisah lengkap dari perjalanan Nabi Ismail mulai kecil hingga wafat yang harus kita ketahui.

    1. Nabi Ismail Semasa Lahir

    Nabi Ismail AS adalah salah satu nabi yang dihormati dalam Islam dan merupakan putra dari Nabi Ibrahim dari istri kedua, yakni Siti Hajar. Kisahnya yang penuh kepatuhan dan kepercayaan kepada Allah SWT tergambar sejak masa kecilnya.

    Nabi Ismail AS memiliki tempat lahir di tanah Kanaan sekitar tahun 1800 Sebelum Masehi (SM). Sebelumnya, Nabi Ibrahim memiliki istri bernama Siti Sarah, Akan tetapi dari pernikahan ini Ibrahim belum mendapatkan keturunan.

    Melihat umur Nabi Ibrahim yang semakin beranjak tua dan belum mendapatkan keturunan, maka Siti Sarah mengizinkan Ibrahim untuk menikahi seorang hamba sahaya bernama Siti Hajar.

    Setelah menikah dengan Siti Hajar, Nabi Ibrahim dianugerahi bayi laki-laki dan diberi nama Ismail. Alasan pemberian nama ini menurut bahasa Ibrani memiliki arti dan makna yang sangat mendalam.

    Baca juga: Hukum Pernikahan Syighar, Pengertian dan Dalil yang Melarangnya!

    2. Makna Nama dari Nabi Ismail

    Memiliki penulisan asli إِسْمَاعِيْل, sapaan ini tentunya sangat populer di kalangan kaum Muslim karena merupakan salah satu nabi dalam Islam. 

    Meski, nama ini memiliki artian dari bahasa Arab, Akan tetapi sejatinya nama Ismail merupakan asal dari bahasa Ibrani.

    Kata “Ismail” (إسماعيل) berasal dari akar kata “Sama’a” (سمع), yang berarti “Mendengar,” dan “Ilah” (إله), yang berarti “Allah.” Oleh karena itu, nama Ismail bisa diartikan sebagai “Allah telah mendengar” atau “Allah adalah yang mendengar.”

    Makna ini menggambarkan bagaimana Allah SWT mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan Siti Hajar untuk mendapatkan seorang anak. 

    Selain itu, Nabi Ibrahim juga percaya bahwa Allah adalah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa hambanya.

    Melihat kehadiran putranya ini dari pasangan Siti Hajar, membuat Nabi Ibrahim sangat bergembira. Hal ini juga yang membuat Nabi Ibrahim tidak henti-hentinya berterima kasih kepada Allah SWT karena sudah menjawab doanya.

    3. Melakukan Hijrah ke Mekkah

    Kisah Nabi Ismail ini dimulai dari Nabi Ibrahim yang mendapatkan mimpi dari Allah SWT. Beliau mengajak Siti Hajar dan anaknya Ismail yang masih kecil untuk ikut dalam perjalanan atau hijrah menuju tempat yang tandus.

    Tempat yang tandus ini sekarang dikenal dengan kota Mekkah sebagai pusat utama dari kiblat umat Muslim di seluruh dunia. 

    Awalnya, Nabi Ibrahim tidak memberitahukan mimpi tersebut kepada Siti Hajar sebelum melakukan perjalanan menggunakan unta.

    Namun, Siti Hajar yang penasaran akhirnya bertanya kepada Nabi Ibrahim terkait kemana kita akan pergi. Sedangkan tempat yang dituju berupa lembah pasir yang tidak berpenghuni. Siti Hajar terus mengulang pertanyaan tersebut hingga akhirnya.

    Siti Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahmu?”, Nabi Ibrahim akhirnya mengiyakan pertanyaan tersebut. Kemudian, Siti Hajar menjawab penuh keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan menelantarkan mereka.

    4. Tiba di Mekkah

    Setelah melakukan perjalanan dengan menempuh medan yang cukup sulit, akhirnya mereka sampai di Mekkah. Pada area yang tandus ini mereka mencari tempat yang teduh dan menemukan pohon Dauhah sebagai tempat berlindung.

    Kemudian, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua di tempat sunyi tersebut. Sembari berkata:

    “Tetaplah bertakwa kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya. Percayalah kepada kekuasaan dan rahmat-Nya. Dialah yang memberikan perintah untuk membawa kalian berdua ke tempat yang tandus atau sekarang disebut Mekkah.

    Allah SWT tentu akan memberikan perlindungan di tempat yang sunyi ini tanpa perlu kalian takuti. Seandainya, bukan karena perintah dan wahyu dari Allah SWT, saya tidak akan tega meninggalkan kalian berdua, wahai istri dan anakku.

    Setelah mendengarkan pesan dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar merasa tenang di tempat sunyi. Hanya berbekal air minum dan beberapa biji kurma, hati Siti Hajar mulai berdoa kepada Allah SWT agar selalu senantiasa memberikan perlindungan.

    5. Munculnya Air Zam-Zam

    Mukjizat pertama yang Allah SWT berikan kepada Nabi Ismail, yakni munculnya air Zam-zam yang sampai saat ini masih mengalir deras di kota Mekkah.

    Hal ini tentunya menjadi salah satu bentuk atau tanda dari kehebatan dan kekuasaan Allah SWT.

    Setelah sekian lama, bekal yang dibawa oleh Siti Hajar akhirnya habis. Kisah Nabi Ismail yang saat itu masih tergolong bayi terus menangis karena kehausan. Melihat bekal yang sudah habis, lantas Hajar berlari menuju suatu bukit ke bukit lainnya.

    Peristiwa berlarinya Siti Hajar dalam mencari air dari bukit Safa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali, juga diceritakan dalam Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

    إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

    Innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya’ā`irillāh, fa man ḥajjal-baita awi’tamara fa lā junāḥa ‘alaihi ay yaṭṭawwafa bihimā, wa man taṭawwa’a khairan fa innallāha syākirun ‘alīm.

    Artinya:

    “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158).

    Ketika berada di puncak bukit Marwah, Siti Hajar mendengar seperti ada yang memanggilnya dan berkata bahwa mereka akan ditolong oleh seseorang. Lantas, Allah SWT menurunkan Jibril untuk menolong Siti Hajar dan Ismail.

    Allah SWT memerintahkan Jibril untuk menolong dengan membuat mata air yang berasal dari hentakan kaki Ismail. Mata air ini tentunya terus mengalir hingga tanah yang awalnya tandus, sekarang sudah memiliki mata air yang tidak pernah berhenti.

    6. Tanah Mekkah yang Mulai Ramai

    Adanya sumber mata air yang berasal dari hentakan kaki Nabi Ismail, membuat Siti Hajar sangat bahagia sembari berkata “Zam zam zam”. Arti dari kata ini, yaitu berkumpul dan sebutan untuk air ini masih diterapkan hingga sampai sekarang.

    Kisah Nabi Ismail terkait air Zam-zam ini tentunya memberikan banyak. Selain itu, manfaat air yang berlimpah ini juga mulai dirasakan oleh beberapa musafir yang melakukan perjalanan dan melewati Mekkah.

    Kemudian, golongan suku Jurhum yang juga merasakan kesulitan air, akhirnya merasakan kenikmatan dari mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Ismail AS. 

    Seiring berjalannya waktu, Mekkah mulai ramai karena adanya sumber air Zam-zam.

    Tempat yang dulunya tandus dan sepi, kini menjadi ramai sehingga Siti Hajar dan Nabi Ismail tidak merasakan kesepian. Kehidupan mereka berdua juga semakin baik dan sejahtera.

    7. Nabi Ismail yang Beranjak Remaja

    Kisah Nabi Ismail yang mulai beranjak remaja sering membantu ibunya dalam menggembala kambing dan biri-biri. Adapun tempat mereka bergembala kambing, yakni di padang Arafah.

    Pada Arafah menjadi salah satu tempat yang digunakan oleh umat Muslim untuk melakukan wukuf sebagai rangkaian ibadah haji. 

    Selain itu, pada Arafah juga menjadi salah satu tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Hawa setelah turun ke bumi.

    Selama menggembala kambing dan biri-biri, Ismail melakukan kegiatan tersebut dengan penuh keyakinan dan kesabaran. Selain itu, Ismail juga bersama masyarakat Mekkah menjaga kesucian air Zam-zam untuk keberlangsungan hidup.

    8. Terbentuknya Ka’bah

    Terbentuknya Ka’bah merupakan salah satu perintah Allah SWT atas Nabi Ibrahim dan Ismail. Bangunan ini juga Allah SWT jelaskan di Al-Qur’an sebagaimana perintahnya untuk membangun rumah suci sebagai arah yang dituju oleh manusia.

    وَاِذۡ يَرۡفَعُ اِبۡرٰهٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَيۡتِ وَاِسۡمٰعِيۡلُؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا​ؕ اِنَّكَ اَنۡتَ السَّمِيۡعُ الۡعَلِيۡمُ‏ ١٢٧ رَبَّنَا وَاجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَـكَ وَ مِنۡ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسۡلِمَةً لَّكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَا ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِيۡمُ‏  ١٢٨

    Artinya:

    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan (ibadah) haji kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 127-128).

    Nabi Ibrahim kemudian mengajak Ismail untuk menjalankan perintah tersebut. 

    Mereka mengambil batu-batu besar yang digunakan sebagai pondasi untuk membangun Ka’bah. Selain itu, Ibrahim juga mengajarkan Ismail untuk bertaqwa kepada Allah.

    Ketika mereka membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa agar tempat itu menjadi sumber berkah dan pusat ibadah bagi semua manusia di seluruh dunia untuk menghormati Allah SWT.

    Setelah selesai, mereka mengelilingi Ka’bah sebagai tanda terima kasih dan penghormatan kepada Allah SWT. Kisah Nabi Ismail dan Ibrahim ini dalam membangun Ka’bah memiliki makna penting untuk umat Islam.

    Setiap tahun, umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang ke Mekah untuk menjalankan ibadah haji dan melakukan Tawaf di sekitar Ka’bah. 

    Hal ini sebagai tanda penghormatan kepada Ibrahim dan Ismail serta sebagai bentuk ibadah kepada Allah.

    Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

    ثُمَّ لْيَقْضُوا۟ تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا۟ نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ

    Ummalyaqḍụ tafaṡahum walyụfụ nużụrahum walyaṭṭawwafụ bil-baitil-‘atīq.

    Artinya:

    “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 29).

    9. Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

    Sebagai ujian kesetiaannya kepada Allah, Nabi Ibrahim diberi perintah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Meskipun hatinya penuh dengan kesedihan, Nabi Ibrahim AS bersiap dan tetap menjalankan perintah Allah SWT.

    Selama perjalanan menuju tempat penyembelihan, Nabi Ismail AS bertanya kepada ayahnya tentang tujuan perjalanan dan Nabi Ibrahim AS dengan jujur menjelaskan situasi yang mereka hadapi.

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Artinya:

    “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat: 102).

    Nabi Ismail dengan ketenangan dan kesetiaan yang luar biasa kepada Allah, menerima takdirnya dan bahkan meminta ayahnya untuk menutup matanya saat proses penyembelihan berlangsung di Jabal Qurban.

    Namun, pada saat penyembelihan yang mendekati akhir, Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba sebagai korban yang diterima-Nya. 

    Penggantian ini atas kesetiaan dan iman tulus yang ditunjukkan oleh Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim.

    Hal ini sebagaimana firman Allah SWT terkait perintah tersebut dan menggantinya dengan seekor domba yang berukuran besar.

    وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

    Wa fadaināhu biżib-ḥin ‘aẓīm.

    Artinya:

    Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As-Shaffat: 107).

    Selain itu, peristiwa ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah agama Islam. Sampai saat ini peristiwa kurban dalam kisah Nabi Ismail dan Ibrahim tetap dilakukan umat Muslim di seluruh dunia saat Idul Adha.

    10. Kisah Nabi Ismail ketika Diangkat sebagai Nabi

    Setelah berlalu waktu yang cukup lama, Nabi Ismail AS bersama ayahnya melakukan misi dakwah. Akhirnya, dia ditunjuk Allah SWT untuk diangkat sebagai seorang nabi dan rasul.

    Pemilihan Nabi Ismail AS sebagai nabi karena memiliki sifat-sifat yang sangat luhur. Beliau sangat patuh kepada Allah SWT, penuh kasih sayang dan penghormatan terhadap orangtuanya.

    Selain itu, Nabi Ismail juga memiliki akhlak yang baik serta selalu memenuhi janji dan bijaksana dalam tindakan hingga perkataannya. Allah SWT juga berfirman sebagaimana ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

    وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا

    Ważkur fil-kitābi ismā’īla innahụ kāna ṣādiqal-wa’di wa kāna rasụlan nabiyyā.

    Artinya:

    “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam: 54).

    11. Nabi Ismail AS Wafat

    Menurut catatan dalam sejarah Islam, Nabi Ismail AS menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1779 SM di Makkah, Arab Saudi.  Ketika usianya telah mencapai sekitar 137 tahun.

    Setelah meninggal, Nabi Ismail AS dikebumikan di dekat makam ibunda, Siti Hajar di lokasi Hijir Ismail. Setelah kepulangannya, tugas dakwah untuk patuh dan tunduk kepada Allah SWT dilanjutkan oleh penerusnya.

    Kisah Nabi Ismail dari waktu lahir hingga wafat ini tentunya memiliki arti dan makna yang dalam. Sebagai umat Islam yang mengimani nabi dan rasul sebagai utusan Allah, tentunya meyakini bahwa semua yang dijalankan merupakan perintah-Nya.

  • Kisah Nabi Idris AS dari Lahir hingga Wafat yang Wajib Diketahui

    Kisah Nabi Idris AS dari Lahir hingga Wafat yang Wajib Diketahui

    Kisah para nabi banyak digunakan oleh orang tua dalam memberikan cerita berunsur Islami kepada anaknya. Salah satunya adalah kisah Nabi Idris yang terkenal sebagai manusia pertama dapat menulis menggunakan pena.

    Berdasarkan beberapa riwayat baik hadist, di dalam Al-Qur’an, dan cerita anak pada umumnya, Nabi Idris digambarkan sebagai sosok yang pandai. Sehingga, beliau ini cerdas dalam menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan.

    Kita bisa tahu banyak sekali deretan ilmu pengetahuan dalam konteks sains. Nabi Idris mampu menguasai ilmu di bidang matematika, cara beternak, berkebun, hingga perbintangan yang terkenal pada masa itu.

    Selain itu, beliau juga bisa membuat, merancang, dan menggunting kain menjadi sebuah baju yang indah. Hal ini membuat kedudukan beliau sangat tinggi di sisi Allah SWT. Selain, kecerdasannya, Nabi Idris juga memiliki hati lapang.

    Kisah Nabi Idris AS saat Dilahirkan

    Kita pasti penasaran dengan banyak kisah para nabi yang memiliki pekerti luhur lagi bijaksana. Nabi Idris AS salah satunya, beliau merupakan seorang putra dari Yarid bin Mihla’iel (Mahlain) bin Qinan Anusy bin Syith (Syits) bin Adam AS.

    Jika diruntutkan, maka Nabi Idris merupakan keturunan dari nabi Adam AS. Kelahiran Nabi Idris berada di Mesir pada tahun 45133 hingga 4188. 

    Namun, menurut beberapa sumber ada yang menyatakan bahwa beliau lahir di Babilonia dan kemudian hijrah ke Mesir.

    Beliau memiliki sifat ramah, pekerja keras, dan sangat rajin belajar. Hal itulah yang membuat Nabi Idris memiliki pengetahuan sangat luas. Jika pada zaman dahulu orang terbiasa menguliti hewan untuk dijadikan pelindung tubuh.

    Maka, berbeda dengan Nabi Idris yang sudah berpengetahuan sehingga bisa membuat dan merancang kain sendiri sebagai pelindung tubuhnya. Nabi Idris AS merupakan nabi yang sangat taat kepada Allah SWT.

    Meskipun pada masa itu, banyak sekali manusia lalai kepada-Nya. Tidak heran jika Allah SWT memberikan kemarau panjang dan membuat kota menjadi sangat kering dan kekurangan air.

    Perjalanan Dakwah Nabi Idris AS

    Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Idris masih mendapati masa Nabi Adam 308 tahun. Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, 1:234.

    Tentang Nabi Idris disebutkan dalam ayat dalam surah Maryam:

    وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

    Artinya:

    “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57).

    Berdasarkan surat Maryam tersebut, kita dapat mengimani bahwa Nabi Idris AS memang seorang Nabi yang Allah SWT pilih secara langsung. Nabi Idris sendiri mulai berdakwah setelah pengangkatannya sebagai Nabi Allah SWT.

    Mulai dari menyebarkan ilmu tauhid untuk mengajarkan setiap orang bahwa hanya Allah SWT satu-satunya tuhan di bumi. Selain itu, beliau juga mengajarkan bagaimana cara untuk menyembah Allah.

    Tidak hanya itu saya, beliau juga memberikan pemahaman bagaimana Allah SWT bisa dijadikan sebagai patokan seorang hamba dalam bertingkah laku di dunia. 

    Konsep mengenai surga dan neraka juga beliau dakwahkan guna mengajak setiap umat untuk menaati perintah Allah SWT yang telah ia sampaikan.

    Baca juga: 10 Nama Nama Malaikat dan Tugasnya yang Wajib Diketahui

    Kisah Wafat Nabi Idris AS

    Melihat bagaimana kisah Nabi Idris AS dalam memperjuangkan dakwahnya untuk Allah SWT. Beliau mendapatkan kemuliaan sebagai manusia pilihan Allah SWT yang diangkat ke langit.

    Beliau terkenal sebagai nabi yang sabar dan pemberani. Hal itu membuat beliau mendapatkan julukan sebagai ‘Asadul Usud’ yang memiliki arti ‘Singa dari segala Singa.’

    Pada salah satu riwayat, Nabi Idris AS dijelaskan wafat pada usia 308 tahun. Jika dibandingkan dengan usia para nabi-nabi sebelumnya, beliau terbilang cukup muda. Contohnya seperti Nabi Nuh yang memiliki usia 950 tahunan.

    Kisah wafat dari Nabi Idris AS hingga saat ini masih dipercaya sebagai suatu keajaiban. 

    Di mana, hal tersebut menjadi bukti bahwa Allah SWT sangat menyayangi-Nya. Sebab, diriwayatkan, beliau meninggal di langit ke empat Allah SWT.

    Diriwayatkan dari Hilal bin Yasaf, ia berkata, “Ibnu ‘Abbas bertanya kepada Ka’ab sementara aku ada di sana. Ibnu ‘Abbas bertanya padanya, “Apa maksud firman Allah kepada Idris ‘Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’ Ka’ab menjawab, “Adapun Idris, Allah berfirman mewahyukan kepadanya sesungguhnya setiap hari Aku mengangkat untukmu seperti amalan seluruh anak Adam.”

    Idris terus menambah amal, sampai malaikat mendatanginya. Idris berkata pada malaikat tersebut:

    “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku demikian dan demikian. Bicaralah pada malaikat maut agar menunda kematianku hingga aku bisa terus menambah amal.”

    Kemudian malaikat tersebut membawa Nabi Idris ke langit keempat lalu bertemu malaikat maut. Lalu dinyatakan bahwa waktu hidup Nabi Idris sebentar lagi. Malaikat maut pun mencabut ruh idris di langit keempat.

    Keistimewaan dan Mukjizat dari Nabi Idris AS

    Nabi Idris AS sangat terkenal dengan kepintarannya. Bahkan, beliau juga dikenal sebagai sosok pionir dalam ilmu arsitektur karena kecerdasannya yang luar biasa.

    Untuk mengamalkan dan mencintai kisah para nabi, berikut beberapa keistimewaan dan mukjizat dari Nabi Idris AS yang wajib kita ketahui:

    1. Nabi Pertama yang Bisa Membaca dan Menulis

    Orang pertama di bumi ini yang Allah berikan kelebihan untuk bisa membaca dan menulis adalah Nabi Idris AS. Kelebihan ini menjadi salah satu mukjizat yang diterima oleh Nabi Idris sebagai modal untuk berdakwah..

    Pada masa dakwah beliau pun, Nabi Idris selalu membantu Masyarakat untuk bisa membaca dan mengenal tulis menulis. Kenapa bisa ada banyak kisah mengenai para nabi?

    Karena hal ini bermula dari tulisan-tulisan yang beliau buat dengan tujuan membantu pengamat sejarah mencari tahu kehidupan pada masa kenabian. Sangat cerdas sekali, bukan?

    Beliau bisa memprediksi apa yang akan dibutuhkan oleh manusia di masa depan. Sehingga beliau mengumpulkan berbagai macam tulisan.

    Dengan banyak kisah sejarah untuk memudahkan manusia di masa mendatang memahami kehidupan di masa lampau seperti apa.

    Begitupun dengan perjalanan para Nabi dalam mencapai dakwah masing-masing. Meskipun telah dijelaskan juga pada ayat Al-Qur’an.

    2. Manusia Pertama yang Paham Ilmu Astrologi dan Arsitektur

    Nabi Idris tidak hanya cerdas dalam membaca dan menulis saja. Beliau juga di karomahi kelebihan mengenai ilmu perbintangan (astrologi) yang sangat terkenal pada masa itu.

    Selain itu, beliau juga secara signifikan terus mengkaji mengenai fenomena alam sebagai bentuk rasa syukur terhadap bentuk dan tanda kebesaran Allah SWT.

    Sehingga, beliau memiliki banyak ilmu pengetahuan dibalik rasa penasarannya terhadap kuasa yang Allah SWT miliki.

    Sosok Nabi Idris AS yang terkenal dengan kepandaiannya ini memiliki beragam ilmu pengetahuan. Paham dan mengenal berbagai macam fenomena alam, beliau juga menjadi manusia pertama yang mengerti dunia arsitektur.

    Rencana Pembangunan kota dan membawa umat mulai masuk ke era kehidupan normal diawali dari kecerdasan Nabi Idris. 

    Hal itulah yang membuat Islam bisa semakin besar dengan perencanaan Pembangunan terstruktur serta peradaban ilmu politik.

    3. Menerima 30 Shahifah

    Kisah Nabi Idris AS sebagai utusan Allah SWT diawali dengan diturunkannya 30 shahifah kepadanya dengan isi petunjuk untuk disampaikan kepada umat. 

    Di mana, umat dari Nabi Idris AS ini merupakan keturunan Qabil yang sangat durhaka pada masa itu.

    Dikisahkan pengangkatan Nabi Idris AS sebagai utusan Allah SWT karena untuk menjalankan misi yang cukup besar. 

    Dengan kerendahan hati, kecerdasan, dan perilaku yang lembut Nabi Idris dipercaya Allah SWT untuk memerangi kemungkaran dan kefakiran.

    Kemudian, Allah SWT mengutus Nabi Idris untuk mengajak kaum durhaka tersebut untuk keluar dari lingkaran hitam dan menyembah Allah SWT sebagai Tuhan yang Esa.

    Meskipun tugas ini terbilang sangat besar, tetapi beliau menerimanya dengan keteguhan hati dan terus berbuat baik untuk mengajak banyak kaumnya menuju jalan kebenaran.

    4. Nabi Idris AS Memiliki Derajat Sangat Tinggi di Sisi Allah SWT

    Kita pastinya sudah tahu dari penjelasan di atas sebelumnya, bahwasanya Nabi Idris AS menjadi salah satu utusan yang spesial dihadapan Allah SWT. Tidak heran jika kedudukannya sangat tinggi di sisi Allah SWT.

    Kisah yang menjelaskan tentang Nabi Idris AS pun tertulis di dalam surat Maryam. Pada QS. Maryam ayat 56-57, dijelaskan bahwa Nabi Idris menjadi salah satu Nabi yang memiliki martabat sangat tinggi.

    Beliau menjadi Nabi dengan derajat dan kemuliaan tinggi sebagai salah satu utusan Allah SWT yang sholeh. Sehingga Allah SWT menempatkan beliau dalam golongan orang-orang yang mulia di sisi-Nya.

    5. Bisa Melihat Surga dan Neraka

    Kita pastinya tahu tidak semua orang bisa melihat surga dan neraka yang telah Allah SWT buat sebagai balasan amal manusia selama di bumi. 

    Bahkan, dari banyaknya Nabi (utusan Allah SWT) pun tidak semuanya memiliki kesempatan untuk melihat itu.

    Namun, dalam kisah Nabi Idris AS ini, beliau pernah membuat sebuah permohonan kepada Malaikat Izrail bahwa ia ingin merasakan yang namanya sakaratul maut. Atas izin Allah SWT, permintaan Nabi Idris pun diperkenankan.

    Setelah beliau wafat, Nabi Idris berdoa kembali kepada Allah SWT untuk dihidupkan kembali. Atas kisah ini, Nabi Idris pernah menghadapi betapa sakitnya sakaratul maut tersebut.

    Namun, permintaan lain Nabi Idris lontarkan kepada malaikat Izrail. Beliau ingin melihat surga dan neraka. Allah SWT mengizinkannya kembali, dalam hal ini beliau mampu melihat api neraka yang berkobar sangat dahsyat.

    Kemudian, beliau kembali dibawa untuk melihat surga. Kehidupan di sana sangat damai dan menyenangkan. Setelah mendapatkan apa yang beliau inginkan, Nabi Idris kembali ke dunia untuk melanjutkan dakwahnya.

    Nah, itulah kisah Nabi Idris AS yang dapat kita jadikan Pelajaran dan sudah sepatutnya untuk diimani sebagaimana kita percaya Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi-Nya.

    Melalui kisah Nabi Idris, banyak sekali pelajaran baik yang dapat kita ambil. Mulai dari perjalanan hidup beliau, proses dakwah, perjalanan spiritual, dan bagaimana keteguhan Nabi Idris dalam membawa kaumnya ke jalan kebenaran.

  • 12 Tradisi Islam di Nusantara, Yuk Kenali Apa Saja!

    12 Tradisi Islam di Nusantara, Yuk Kenali Apa Saja!

    Berbicara Islam di Indonesia pastinya tidak luput dari adanya tradisi Islam di Nusantara. Sebab Islam sudah sejak abad ke-7 Masehi datang di Indonesia melalui para pedagang dan pengembara Arab.

    Dan sejak saat itulah masyarakat Indonesia membentuk tradisi yang mencerminkan harmoni ajaran Islam dan kearifan lokal.

    Dimana tradisi Islam di Nusantara ini telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi masyarakat Indonesia.

    12 Tradisi Islam di Nusantara

    Seperti yang sudah kita tahu bahwa tradisi merupakan adat istiadat atau kebiasan yang turun temurun dari masyarakat sebelumnya. Sehingga, tidak heran jika ajaran Islam mencoba masuk ke Indonesia melalui budaya.

    Para ulama yang berdakwah menyebarkan Islam tanpa memusnahkan secara total tradisi yang sudah ada di Indonesia. Dengan begitu, akan tercipta harmonisasi yang indah dalam tradisi Islam di Nusantara.

    Adapun tradisi-tradisi Islam di Indonesia yaitu:

    1. Tradisi Halal Bihalal

    Menjelang akhir bulan Ramadhan tradisi halal bihalal umum dilaksanakan oleh masyarakat Islam di Indonesia. Tradisi ini bertujuan untuk bisa saling memanfaat atas kesalahan yang diperbuat baik dengan keluarga, teman, tetangga dan lainnya.

    Awal mula tradisi ini ada sejak tahun 1984, dimana pada saat itu presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno memanggil KH. Wahab Chasbullah untuk datang ke Istana Negara.

    Dan kedatangan dari KH. Wahab Chasbullah ini bertujuan untuk dimintai pendapat oleh Soekarno tentang ketegangan yang telah terjadi di Indonesia saat itu.

    Kemudian KH. Wahab Chasbullah memberikan saran agar melaksanakan silaturahmi.

    Sebab saat kedatangannya beliau itu akan masuk hari raya Idul Fitri 1367 H. Saran dari KH. Wahab Chasbullah pun disetujui oleh Soekarno. Baru akhirnya acara tersebut disebut dengan halal bihalal.

    2. Tradisi Sekaten

    Mungkin ada beberapa orang yang kurang familiar akan tradisi Sekaten. Sebab tradisi Islam di Nusantara satu ini dilaksanakan di Keraton Surakarta Jawa Tengah dan Keraton Yogyakarta pada satu tahun sekali.

    Tradisi ini masih ada hingga sekarang, sebab ingin melestarikan dengan wujud mengenang jasa-jasa para Walisongo. Para Walisongo inilah yang telah berhasil menyebarkan Islam di tanah Jawa.

    Tradisi ini dulu merupakan sarana penyebaran agama Islam yang digunakan oleh Sunan Bonang. Biasanya peringatan ini oleh para Wali disebut Maulid Nabi, dan sekarang adalah Sekaten.

    Sekaten sendiri merupakan kata yang berasal dari kata Syahadatain artinya dua kalimat syahadat. Dahulu Sunan Bonang akan menyebarkan Islam dengan membunyikan gamelan yang diselingi oleh lagu berisi ajaran Islam.

    Dan setiap pergantian pukulan gamelannya, Sunan Bonang menyelingi dengan membaca syahadat tersebut. Sehingga, Sekaten ini diadakan dengan tujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw dan melestarikan tradisi para wali.

    3. Tradisi Perayaan Hari Besar Islam

    Selanjutnya tradisi Islam di Nusantara yaitu perayaan hari besar Islam. Masyarakat Indonesia merayakan berbagai hari besar Islam di Indonesia. Hari besar seperti Idul Fitri, Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Adha, dan Isra Mi’raj.

    Biasanya perayaan hari besar Islam ini diisi dengan berbagai kegiatan islami yang mendukung hari besar tersebut. Salah satunya seperti shalat berjamaah, membaca Al-Quran, berbagi makanan, dan masih banyak yang lainnya.

    4. Tradisi Ketupat

    Tidak afdol rasanya jika di pulau Jawa setelah seminggu hari raya Idul Fitri tidak melaksanakan tradisi Ketupat. Tradisi yang awalnya hanya di pulau Jawa saja, kini sudah berkembang di daerah lain juga.

    Tradisi membuat ketupat yang biasanya masyarakat laksanakan dengan cara berkumpul pada satu tempat untuk mengadakan selamatan. Bertempat di musholla atau masjid dengan hidangan utama ketupat.

    Ketupat sendiri merupakan sebuah makanan yang terbuat dari nasi dengan bungkus anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda. Dan tradisi ini oleh para wali digunakan sebagai sarana mendakwahkan agama Islam.

    Sebagian besar masyarakat menyebut ketupat dari singkatan ngakui lepat atau mengakui kesalahan. Dengan begitu, tradisi ini menjadi simbol untuk saling memaafkan antar umat manusia.

    Baca juga: Bacaan Doa Sujud Syukur Latin, Arab dan Tata Caranya

    5. Tradisi Grebeg Syawal

    Berikutnya ada tradisi Islam di Nusantara yang bernama Grebeg Syawal. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setahun 3 kali. Tahun pertama setiap 1 Syawal dengan tujuan menghormati bulan Ramadhan dan Lailatul Qadar.

    Kedua Grebeg Besar yang diadakan pada tanggal 10 Dzulhijjah guna merayakan hari raya kurban. Dan ketiga ada Grebeg Maulud untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awwal.

    Biasanya untuk tradisi Grebeg Syawal pada hari pertama bulan Syawal ini dilaksanakan dengan mengadakan arakan gunungan hasil bumi. Gunungan tersebut akan diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Agung Kauman. 

    Setelah sampai di masjid, gunungan hasil bumi akan diperebutkan oleh masyarakat yang sudah menunggu. Tradisi Grebeg Syawal hadir sebagai salah satu bentuk wujud kedermawanan dari sultan terhadap rakyat di Yogyakarta.

    6. Tradisi Tabuik atau Tabot

    tabuik

    Tradisi ini merupakan sebuah acara upacara masyarakat tradisional Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Muhammad SAW. Cucu Nabi Rasulullah SAW yang bernama Hasan dan Husein bin Ali Abi Thalib.

    Sebab kedua cucu Nabi Muhammad SAW tersebut gugur dalam peperangan di Karbala Irak pada 10 Muharram 61 Hijriah. Syaikh Burhanuddin lah orang pertama yang melaksanakan tradisi Tabuik.

    Upacara yang dilaksanakan dari tanggal 1 hingga 10 Muharram setiap tahunnya ini berasal dari kata Arab yaitu tabut. Tabut yang secara harfiah mempunyai arti kotak kayu atau peti.

    Walaupun tradisi ini dilaksanakan Syaikh Burhanuddin sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Akan tetapi, belum ada dugaan kuat tradisi ini siapa yang membawa masuk ke Bengkulu.

    7. Tradisi Rabu Kasan

    Tradisi Islam di Nusantara ini pertama kali diselenggarakan di Bangka, hingga akhirnya terus berkembang hingga saat ini dan menyebar di seluruh masyarakat Indonesia seperti tanah Jawa dan Sunda.

    Tradisi Rabu Kasan diadakan setiap hari Rabu pada bulan Safar yaitu bulan kedua dari 12 penanggalan tahun Hijriah. Acaranya berisikan kegiatan doa untuk memohon keberkahan, perlindungan, dan keselamatan antar manusia.

    Dimana biasanya tradisi Rabu Kasan dianjurkan untuk memperbanyak istighfar. Sebab istighfar merupakan satu perbuatan paling ampuh untuk memohon ampunan kepada Allah SWT, dan kemudian dilanjutkan untuk bertaubat kepada Allah SWT.

    8. Tradisi Tahlilan

    Bagi warga Nahdliyin pastinya sudah lazim mendengar kata tahlilan, bukan? Tradisi Islam di Nusantara yang satu ini dilaksanakan apabila terjadi kematian terhadap salah satu kerabat muslim.

    Tradisi yang dilakukan pada hari ke-1 hingga ke-17, hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000 dari kematian kerabat tersebut. Setelah itu, puncak acara tahlilan dilaksanakan setiap tahun tepat pada hari meninggalnya.

    Secara singkatnya tradisi ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenang dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia. Berharap semua dosa yang dimiliki oleh orang yang meninggal diampuni oleh Allah SWT.

    9. Tradisi Grebeg Besar

    Selain ada tradisi Grebeg Syawal di Yogyakarta, ada pula tradisi Islam di Nusantara yang bernama Grebeg Besar. Acara ini dilaksanakan setiap bulan di Kabupaten Demak Jawa Tengah.

    Biasanya acara akan dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Tanggal yang bertepatan dengan datangnya Hari Idul Qurban atau Hari Raya Idul Adha.

    Awal mulanya acara ini terjadi pada tahun 1428 Caka, sekaligus memperingati 40 hari peresmian penyempurnaan Masjid Agung Demak kala itu. Dan sekarang, acaranya terjadi setiap setahun sekali pada 10 Dzulhijjah.

    Masjid Agung Demak ini didirikan oleh Walisongo pada tahun 1399. Dan tahun berdirinya itu tertulis kalimat “Lawang Trus Gunaning Janmo” pada bagian Candrasengkala.

    Dan pada tahun 1428 dalam Caka, Sunan Giri meresmikan masjid tersebut. Sebab pengunjung yang datang sangatlah banyak., maka beliau menggunakan kesempatan tersebut untuk berdakwah Islam.

    10. Tradisi Kerobok Masjid

    Tradisi Kerobok Masjid juga merupakan tradisi Islam di Nusantara. Tradisi yang dilaksanakan di Kutai pada tanggal 12 Rabiul Awwal ini bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Kerobok Maulid sendiri berasal dari bahasa Kutai yang artinya berkerumun atau berkerubun oleh orang banyak. Biasanya tradisi akan dilaksanakan di pusat halaman Masjid Jami’ Hasanuddin Tenggarong.

    Acaranya diawali dengan pembacaan Barzanji, kemudian Keraton Sultan Kutai dan puluhan prajurit Kesultanan akan keluar membawa usung-usungan. Usung-usungan itu berisi kue-kue tradisional, bunga rampai, astagona, dan puluhan bakul Sinto.

    Setelah semua dikeluarkan, maka akan dibawa berkeliling ke Keraton Kedaton Sultan dan berakhir di Masjid Jami’ Hasanuddin tersebut. Barulah semua makanan akan dibagi-bagikan kepada masyarakat yang ada dalam masjid.

    Acara berakhir dengan ditandai penyampaian hikmah maulid Nabi Muhammad SAW oleh seorang ulama.

    11. Tradisi Syawalan

    Tradisi Syawalan yang termasuk dalam tradisi Islam di Nusantara ini merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan. Acara akan dilaksanakan pada setiap hari kedelapan pada Hari Raya Idul Fitri.

    Syawalan juga diartikan sebagai halal bihalal. Dimana jika jatuh pada 8 Syawal ribuan masyarakat akan berkumpul untuk bersilaturahmi sekaligus berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang tersedia.

    Menariknya lagi, hidangan khasnya yaitu Lopis Raksasa yang ukurannya sangat besar. Sebelum Lopis Raksasa dipotong oleh Walikota Pekalongan dan kemudian dibagikan kepada masyarakat, sebelumnya dilakukan doa bersama terlebih dahulu.

    Dengan harapan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dan pembuatan Lopis Raksasa tersebut bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota masyarakat.

    12. Tradisi Ziarah Kubur

    Tradisi Islam di Nusantara terakhir yang perlu kita tahu yaitu tradisi ziarah kubur. Umumnya tradisi ini banyak dilakukan sebelum bulan Ramadhan dan saat Hari Raya Idul Fitri.

    Tujuan dari tradisi ini pun sangat berlimpah, salah satu untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal. Selain itu, juga bisa mengingatkan kita sebagai manusia dengan kematian dan kehidupan di akhirat.

    Tradisi ini juga juga diharapkan bisa memberikan kita hikmah untuk diampuni dosa oleh Allah SWT, menyadarkan kita sebagai makhluk yang lemah, dan membantu menghindarkan diri dari cinta dunia yang berlebihan.

    Menurut hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari abu Hurairah menyatakan bahwa ziarah kubur hukumnya sunnah. Sebab saat berziarah kubur, secara langsung akan mengingatkan kita akan kematian bisa datang kapan pun.

    Itulah tradisi Islam di Nusantara yang beragam bentuknya. Sebagai negara berbentuk kepulauan yang mempunyai banyak suku, budaya, dan kepercayaan tidak heran jika tradisinya pun sangat beragam.

    Walaupun begitu, mungkin ada beberapa tradisi yang sudah tidak dilaksanakan hingga sekarang. Akan tetapi, masih banyak tradisi Islam yang masih dilestarikan sebagai salah satu bagian dari kebudayaan.

    Oleh sebab itu, untuk tradisi-tradisi Islam di Nusantara yang tidak melanggar berbagai aturan seperti aturan agama, norma, dan hukum di Indonesia perlu dijaga untuk selalu dilestarikan.

    Hal tersebut bertujuan agar tradisi Islam di Nusantara tetap membumi atau tidak mati. Dengan harapan Allah SWT selalu menjaga Indonesia dari hal-hal yang tidak baik, sekaligus menjaga umat manusia di Indonesia agar selalu berada dijalan-Nya.

  • Apa Itu Taaruf dalam Islam: Pengertian, Proses, dan Tahapannya

    Apa Itu Taaruf dalam Islam: Pengertian, Proses, dan Tahapannya

    Dalam Islam istilah Taaruf mungkin sudah banyak dipahami bukan? Singkatnya taaruf merupakan proses saling mengenal antara pria dan wanita untuk menuju jenjang pernikahan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

    Walaupun begitu, tidak hanya sekedar proses menyatukan pernikahan tanpa pacaran saja. Namun, taaruf mempunyai makna yang lebih dalam untuk mengenal dengan baik melalui jalan yang tepat.

    Oleh sebab itulah, ada proses, tahapan, atau cara taaruf yang tidak boleh sembarang dilakukan. Islam sudah mengatur secara jelas dan baik bagaimana taaruf yang tepat untuk diterapkan oleh muslim.

    Pengertian Taaruf

    Sebelum merambat ke tahapan atau proses Taaruf, tidak ada salahnya jika kita mengenal dengan baik Taaruf melalui pengertiannya. Istilah Taaruf ini ditemukan dalam Al-Quran tepatnya surat Al-Hujurat ayat 13.

    Dimana ayat tersebut mengungkapkan kata “Arafa” yang artinya mengenal. Adapun ayat lebih lengkapnya yaitu:

     قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Qalatil-a’rabu amanna qul lam tu’minu wa lakin qulu aslamna wa lamma yadkhulil-imanu fi qulubikum, wa in tuti’ullaha wa rasulahu la yalitkum min a’malikum syai’an, innallaha gafurur rahim.

    Artinya:

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat ayat 13).

    Artinya Taaruf yang saling mengenal melalui berbagai sudut, baik kepribadian, budaya, latar belakang, agama, pendidikan, keluarga, pola pikir, dan lain sebagainya. Sehingga, melalui kita akan saling mengenal secara keseluruhan.

    Selain itu, Taaruf juga bisa diartikan menurut bahasa sebagai masa pengenalan diri. Pengenalan diri untuk siapa saja yang sudah serius untuk jenjang pernikahan, bukan hanya sekedar meminta untuk membuat komitmen tanpa adanya kejelasan waktu.

    Biasanya melalui proses ini, seseorang akan membuat CV atau proposal. CV atau proposal itulah nanti yang akan ditukar antara pria dan wanita, dan isinya tentang banyak hal seperti kepribadian, rencana setelah menikah, kesukaan, dan lainnya.

    Dengan begitu, melalui Taaruf kita bisa melihat apakah secara agama seseorang tersebut mumpuni atau tidak, secara emosionalnya pun juga begitu. Sehingga, akan memudahkan keduanya untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.

    Baca juga: Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Proses dan Tahapan Taaruf

    Dalam syariatnya, proses ini sebenarnya tidak mengkhususkan cara tertentu. Pada intinya bagaimana agar kedua belah pihak bisa menggali informasi pribadi tanpa melanggar aturan syariat yang sudah ada.

    Sebab saat proses Taaruf laki-laki dan perempuan tetaplah orang asing yang bukan mahram. Sehingga untuk saling bercengkrama berdua tanpa adanya pihak ketiga sebagai penengah  bukanlah hal yang baik.

    Nabi SAW mengingatkan melalui hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan Syu’aib al-Arnauth:

    لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

    La yakhluwanna khadukum binrayinn fiannasyaidhona syalituhum

    Artinya:

    “Jangan sampai kalian berdua-duaan dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, karena setan adalah orang ketiganya.”

    Dengan begitu, sangat disarankan adanya pihak ketiga sebagai perantara seperti orang tua, kakak laki-laki ataupun orang yang bisa dipercaya. Apalagi zaman yang sudah banyak adanya fitnah dan godaan di mana-mana.

    Mengharuskan kita untuk tetap waspada dan tetap berjalan ke jalan Allah SWT. Adapun proses dan tahapan Taaruf yang tepat yaitu sebagai berikut:

    1. Meluruskan Niat dan Membekali Diri

    Sebelum kita melangkahkan diri ke jenjang perkenalan, pastikan kembali bahwa niat dan diri sudah terbekali dengan baik. Sebab, segala amal perbuatan manusia tergantung pada niatnya.

    Sebagaimana hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”

    Meluruskan niat bahwa taaruf dan menikah tersebut karena Allah SWT, sekaligus sudah membekali diri dengan kesiapan yang mata. Karena semakin matang persiapan seseorang, semakin kuat pula niat untuk menikahinya.

    2. Mendatangi Kedua Orang Tua Calon Pasangan

    Setelah adanya niat dan bekal yang kuat, kita bisa mendatangi kedua orang tua calon pasangan untuk menyampaikan niat baik yaitu pernikahan. Dan pastikan kembali bahwa semua niat karena Allah SWT.

    Sebagaimana yang telah Rasulullah SAW sabdakan yang artinya, “Kalian tidak akan beriman sampai kalian menyukai sikap baik untuk saudaranya, sebagaimana dia ingin disikapi baik yang sama.”

    3. Mencari Informasi dengan Bertukar CV Taaruf

    Mencari informasi mengenai calon pasangan, bisa kita lakukan dengan melakukan pertukaran CV. Melalui CV Taaruf inilah kita bisa mengetahui latar belakang dari masing-masing calon pasangan.

    Saat melakukan pertukaran CV Taaruf, hendaknya dilakukan oleh pihak perantara agar tidak terjadinya fitnah. Selain pertukaran CV, kita juga bisa mencari informasi pasangan melalui cara lain.

    Pencarian informasi tambahan untuk memperkuat informasi calon pasangan bisa kita lakukan melalui cara penjelasan orang-orang terdekat calon pasangan tersebut. Dengan begitu, membuat kita paham secara baik akan kepribadian calon pasangan.

    Selain itu, kedua calon pasangan juga harus tahu mengenai status. Status yang dimaksudnya disini adalah mahram atau bukan. Sebab jika mahram atau seseorang yang haram dinikahi sudah jelas tidak bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan.

    4. Nadzor atau Bertemu Calon Pasangan Didampingi Pihak Ketiga

    Jika taaruf adalah proses saling mengenal melalui pertukaran CV yang terlaksana dengan baik, dan calon pasangan benar-benar merasa cocok, selanjutnya niatkan untuk lanjut ke proses Taaruf selanjutnya yaitu melamar dan menikah.

    Sebelum memasuki proses tersebut, calon pasangan bisa melihat calon pasangannya secara langsung. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu anhu bercerita:

    “Suatu ketika aku berada di sisi Nabi SAW, tiba-tiba datanglah seorang lelaki. Dia ingin menikahi wanita Anshar. Lantas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah melihatnya?” Jawabannya, “Belum.” Lalu Beliau memerintahkan, “Lihatlah wanita itu, agar cinta kalian lebih langgeng.” (HR. Tirmidzi 1087). 

    Pertemuan tersebut harus didampingi pihak ketiga atau perantara yaitu mahramnya, sehingga tidak menimbulkan maksiat atau fitnah di waktu mendatang. Ketika bertemu pun, laki-laki tidak boleh memandang selain wilayah yang biasa tampak.

    Selain itu, laki-laki ataupun perempuan jangan sampai memandang dengan syahwat. Perempuan saat proses nazhor atau pertemuan ini juga jangan bertabarruj. Intinya calon pasangan harus menjaga pandangan, sebab bisa menimbulkan zina.

    Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur, salah satu ayat Taaruf yaitu ayat 30:

    قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

    Qul lil-mu’minina yaguddu min absarihim wa yahfazu furujahum, zalika azka lahum, innallaha khabirum bima yasna’un.

    Artinya:

    “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

    Dan juga saat proses pertemuan berlangsung ataupun setelahnya sampai khitbah pun, tidak diperkenankan untuk membicarakan hal-hal yang melenceng dari niat pernikahan. Apalagi ucapan atau hal-hal yang tidak senonoh.

    5. Sholat Istikharah

    Melanjutkan dari poin keempat proses Taaruf, di mana seorang laki-laki sudah melihat perempuan yang akan dipinang dan sebaliknya. Maka, hendaknya masing-masing dari mereka melakukan sholat istikharah dan berdoa.

    Berdoa untuk memohon kepada Allah SWT agar diberikan kecocokan, taufiq, dan diberikan pilihan terbaik bagi dirinya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata yang artinya:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat istikharah untuk memutuskan segala sesuatu sebagaimana mengajari surat Al-Quran.”

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, ”Apabila seseorang di antara kalian mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunnah istikharah dua rakaat, dan kemudian membaca doa.”

    Sholat istikhoroh ini mempunyai banyak faedah jika kita melaksanakannya, diantara sebagai berikut:

    • Diberikan hati yang lapang dan keikhlasan.
    • Semakin yakin bahwa hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui jalan terbaik dalam hidup kita.
    • Diberikan kemantapan hati ketika memutuskan suatu perkara.
    • Berserah diri kepada Allah SWT, artinya menyerahkan hasil apapun kepada Allah SWT. 
    • Menjauhkan diri dari bisikan-bisikan setan.
    • Terhindarnya diri dari keburukan-keburukan.
    • Terhindar dari perasaan menyesal, sekaligus holat yang merupakan sunnah nabi. 

    6. Mempersiapkan Waktu Khitbah dan Akad

    Setelah menunaikan sholat istikharah, teruslah untuk memperbanyak ketakwaan kepada Allah SWT dan pasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Jika sudah mendapatkan pertunjukan dengan kemantapan hati, segeralah untuk khitbah.

    Khitbah yang kemudian dilanjutkan dengan akad. Sebaiknya jarak waktunya tidak terlalu lama agar tidak menimbulkan fitnah. Idealnya antara 1 hingga 3 minggu dari taaruf ke khitbah, dan barulah mempersiapkan akad atau pernikahan.

    Itulah informasi tentang Taaruf secara lengkap, baik dari segi penjelasannya dan proses tahapan untuk mempermudah kita menjalankan Taaruf. Poin paling pentingnya, niatkan taaruf untuk pernikahan karena Allah SWT saja.

  • Arti Nama Adelia dalam Islam? Cek Artinya di Sini

    Arti Nama Adelia dalam Islam? Cek Artinya di Sini

    Islam mengatur setiap nama dan penyebutan dengan makna yang mendalam, tidak terkecuali sebuah nama panggilan. Seringkali kita menjumpai nama Adelia yang sangat cantik, lantas bagaimana arti nama Adelia dalam Islam?

    Karena nama bayi akan digunakan seumur hidup, maka kita sebagai orangtua harus memberikan doa terbaik. Jangan sampai memberikan nama secara asal, karena berkaitan dengan identitas seseorang.

    Apabila kita menyukai nama Adelia, sebaiknya lakukan pengecekan detail terlebih dahulu mengenai arti lengkapnya, utamanya dalam Islam. Dengan begitu, perwujudan nama bisa menjadi sebuah doa yang mendalam.

    Arti Nama Adelia dalam Islam

    Meskipun nama Adelia cukup populer dan terkesan nama kekinian, tetapi ternyata nama tersebut cukup Islamiah. Pengambilan nama dari bahasa Jerman, Adelia memiliki makna sebagai perempuan mulia.

    Apabila dieja dengan suku kata, maka akan pecah menjadi empat yaitu a-de-li-a. Meskipun tidak secara Islam, tetapi kita bisa menggabungkannya dengan unsur Islami seperti Fatimah, Khadijah, dll.

    Selain itu, nama Adelia sendiri dalam agama Islam berasal dari berbagai negara, loh. Tidak hanya Jerman saja, tetapi juga Perancis, Italia, Arab, hingga Mancanegara.

    Dalam bahasa Perancis, Adelia memiliki makna perempuan manis dan mulia. Namun, di mancanegara arti Adelia lebih dikenal sebagai perempuan mulia.

    Berdasarkan ilmu numerologi sendiri, Adelia memiliki karakteristik senang berjelajah dan menjalin hubungan dengan banyak orang. Sehingga, Adelia akan lebih banyak menjadi pribadi berjiwa luas, impulsif, dan senang berinteraksi sosial.

    Arti nama Adelia dalam Islam akan membentuk dirinya menjadi pribadi komunikator yang baik dan mudah bersosialisasi secara alami.

    Baca juga: Biografi Sunan Ampel: dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya

    Inspirasi Nama Adelia dengan Nuansa Islam

    Menyukai nama Adelia dan ingin membungkusnya dalam tudung Islam? Kita bisa cek beberapa inspirasi nama berikut ini:

    1. Adella Haifa Kaluna

    Pemberian nama kepada bayi adalah doa, maka setiap orangtua pasti menghendaki yang terbaik. Salah satunya ingin nantinya anak mereka menjadi seseorang yang terhormat, adil, dengan wajah yang rupawan.

    Apabila kita mengharapkan anak dengan sifat dan karakteristik tersebut ketika dewasa nanti, maka bisa memberikan nama Adella Haifa Kaluna sebagai perwujudan doa kepada Allah SWT.

    Makna mendalam dari nama tersebut adalah Adella yang mirip dengan lafal Adelia berarti adil dan terhormat. Sedangkan Haifa seorang perempuan yang rupawan dan ramping, serta Kaluna tidak ada yang lainnya lagi.

    2. Adelia Bahirah Arlina

    Selanjutnya, inspirasi nama Adelia juga bisa kita berikan dengan memadukannya dengan Bahirah dan Arlina. Nama-nama tersebut memiliki arti yang sangat baik, yaitu cahaya dan menepati janji.

    Jadi, apabila kita memberikan nama si kecil Adelia Bahirah Arlina sama dengan kita berdoa agar Allah SWT membuatnya menjadi perempuan yang terhormat, bercahaya, dan selalu menepati janji.

    • Bahirah : Disegani orang dan memberikan cahaya di lingkungannya.
    • Arlina : Menjanjikan.

    Baca juga: Tata Cara Sholat Tasbih: Niat, Hingga Doa Setelah Sholat yang Benar

    3. Adelia Parintta Taleetha

    Mempunyai anak gadis cantik yang mungil? Kita bisa mengambil inspirasi nama Adelia Paritta Taleetha. Pemilihan nama ini memiliki arti bahwa si kecil akan menjadi anak yang berbakat, terhormat, dan tetap lucu kecil mungil yang imut.

    • Parintta : Seorang perempuan yang ahli dan berbakat dalam bidang yang ia geluti.
    • Taleetha : Gadis muda yang kecil tetapi cantik.

    4. Adelia Almera Elina

    Perempuan yang cerdas, terhormat, dan bisa berlaku adil seperti putri raja. Kita bisa memberikan nama cantik kepada anak perempuan dengan panggilan Adelia Almera Elina.

    • Adelia : Wanita adil dan terhormat
    • Almera : Putri raja
    • Elina : Cerdas, brilliant, dan berkilau

    5. Adelia Farah Giovanni

    Mengambil unsur Islami dalam pemberian nama anak perempuan dengan harapan bisa menjadi wanita muslim yang taat nantinya adalah keinginan orangtua. Kita bisa menggabungkan nama Adelia dengan Farah.

    Adelia Farah Giovanni secara arti sangat bagus sekali karena menerangkan sosok perempuan yang sangat cantik dan terhormat serta bertindak baik dengan mengamalkan sifat Allah SWT yang penyayang dan juga pengasih.

    • Adelia : Wanita adil dan terhormat
    • Farah : Gadis cantik dan rupawan
    • Giovanni : Penyayang dan pengasih

    6. Prameswari Adelia Savita

    Berharap anak perempuan kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik ke depannya, kita bisa memberikan nama Prameswari Adelia Savita.

    Kombinasi nama tersebut memiliki arti perempuan yang seperti permaisuri dengan sifat dan akhlak yang mulia dan mampu menyinari sekitarnya seperti matahari.

    • Prameswari : Permaisuri raja
    • Adelia : Perempuan yang adil, mulai, dan terhormat
    • Savita : Matahari yang bersinar terang

    Nah, itulah pembahasan mengenai arti nama Adelia dalam Islam serta inspirasi penggabungan nama yang cocok untuk bayi perempuan. Kita bisa menjadikannya sebagai referensi sekaligus doa terbaik untuk anak perempuan.

  • Arti Nama Nayla Beserta Rangkaian Namanya, Intip yuk!

    Arti Nama Nayla Beserta Rangkaian Namanya, Intip yuk!

    Nama merupakan hal penting bagi orang tua karena perwujudan doa untuk anaknya. Nah, inspirasi nama anak perempuan bisa kita dapatkan dari referensi bahasa Arab dengan makna mendalam. Salah satunya arti nama Nayla dalam Islam.

    Nama Nayla mungkin sudah tidak asing lagi, tetapi untuk bisa mengenal nama tersebut sebaiknya pahami terlebih dahulu artinya secara rinci.

    Agar nama bisa menjadi doa tersendiri untuk si kecil.

    Arti Nama Nayla dalam Islam

    Nayla menjadi salah satu nama anak perempuan paling populer, tidak hanya di Indonesia tetapi juga beberapa negara di dunia. Secara Islam, makna dari nama Nayla ini sangat bagus.

    Pemberian nama Nayla kepada anak perempuan seraya menjadi doa dari orang tua agar anak mereka menjadi orang yang sukses. Selain itu, nama Nayla juga memiliki arti anak perempuan yang berprestasi dan bisa jadi pemenang, loh.

    Bahkan, di dalam kamus Bahasa Arab sendiri nama Nayla sudah tertera di dalam kitab suci Al-Qur’an bahwasanya ditulis dengan lafal (نايلة).

    Di dalam Al-Qur’an nama Nayla menjadi doa terbaik dari orang tua kepada putri mereka. Maka, tidak heran jika hingga detik ini, nama Nayla sangat populer di berbagai kalangan bahkan di beberapa negara.

    Baca juga: Biografi Sunan Gunung Jati: dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya

    Inspirasi Nama Lengkap Nayla

    Menjadi salah satu nama paling populer di beberapa negara maju, Nayla bisa menjadi inspirasi terbaik yang dapat kita berikan untuk si Kecil. Namun, pemilihan nama pelengkap untuk Nayla tidak bisa dilakukan sembarangan.

    Karena nama sebagian dari doa, maka sebisa mungkin kita harus menggandengkan nama Nayla dengan nama yang memiliki makna kebaikan. Sehingga, kita sebagai orang tua bisa turut mendapatkan kebaikannya.

    Berikut beberapa inspirasi gabungan nama lengkap untuk Nayla yang bisa dijadikan referensi, antara lain:

    1. Nayla Aisha Almera

    Dari penyebutan namanya saja sudah terbentuk kebaikan dan menggambarkan sosok yang sangat cantik. 

    Pemilihan nama Nayla Aisha Almera sendiri memiliki arti seorang perempuan yang berjuang layaknya putri raja dalam mencapai kesuksesannya.

    Jika kita memberikan nama ini kepada anak perempuan, maka akan mendoakan untuknya berjuang di masa depan. Di mana, ia akan menjadi anak yang sholeha dan bisa sukses semasa hidupnya.

    • Nayla : Berarti orang sukses.
    • Aisha : Seseorang yang akan hidup dengan penuh semangat dan terus berjuang.
    • Almera : Putri raja.

    2. Fatimah Nayla Rabia

    Sebagian orang tua ingin memberikan nama Fatimah kepada putrinya sebagai wujud cinta kepada Baginda Rasulullah SAW. 

    Di mana, beliau sangat mencintai Fatimah dan Fatimah sendiri menjadi salah satu wanita yang sangat dirindukan oleh surga.

    Jika kita menyukai nama Fatimah dan Nayla kenapa tidak menggabungkan keduanya saja? Kita bisa memberikan nama si kecil Fatimah Nayla Rabia.

    Arti dari nama tersebut adalah perempuan sukses yang menawan dan menyejukkan orang-orang di sekitarnya:

    • Fatimah : Menawan
    • Nayla : Orang sukses
    • Rabia : Menyejukkan atau perempuan yang tidak mudah terbawa emosi

    3. Amar Nayla Elena

    Berikutnya, arti nama Nayla dalam Islam juga bisa kita gabungkan dengan menggabungkannya dengan kata Amar dan Elena.

    Amar Nayla Elena juga memiliki makna yang sangat cantik untuk anak perempuan yaitu wanita yang mendapatkan berkat kebaikan, menerangi kegelapan, serta membawa kesuksesan pada sekitarnya:

    • Amara : Kebaikan, anugerah, rahmat
    • Nayla : Orang sukses
    • Elena : Cahaya atau sinar matahari

    4. Shakira Sadiya Nayla

    Inspirasi berikutnya bisa kita dapatkan dari penggabungan nama Shakira Sadiya Nayla. Pemilihan nama ini sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran si Kecil dengan banyaknya harapan kesuksesan di masa depan.

    Pengambilan nama tersebut apabila dipisah-pisah akan memiliki makna berikut:

    • Shakira : Bersyukur
    • Sadiya : Kesuksesan atau Keberuntungan
    • Nayla : Orang sukses

    5. Nayla Habiba Azhima

    Bayi perempuan memang harus diberikan nama yang baik sebagai wujud doa. Mengambil rujukan nama Nayla kita bisa menggabungkannya menjadi Nayla Habiba Azhima.

    Dalam Bahasa Arab pemilihan nama ini sebagai wujud kepedulian yang besar terhadap kesuksesan:

    • Nayla : Orang sukses
    • Habiba : Kepedulian atau wujud cinta
    • Azhima : Tekad yang tegas dan kuat

    6. Nayla Cyra Amina

    Selanjutnya inspirasi satu ini berarti doa agar anak perempuan dapat meraih kesuksesan dengan cara yang jujur dan juga pancaran sinar gemerlap seperti matahari yang sangat cerah.

    Nayla Cyra Amina dapat menjadi pilihan untuk memberikan nama kepada si kecil:

    • Nayla : Orang sukses.
    • Cyra : Memiliki makna perempuan bersinar dan bercahaya layaknya matahari.
    • Amina : Amanah, jujur, dapat dipercaya oleh siapa saja.

    7. Sofi Zahra Nayla

    Ingin memiliki anak perempuan yang bijaksana, mampu menyinari lingkungan sekitarnya dan meraih kesuksesan? Maka, doakan anak perempuan dengan pemilihan nama yang tepat.

    Salah satunya melalui penggabungan nama Sofi Zahra Nayla. Gabungan nama tersebut memiliki arti yang sangat mendalam untuk meraih kesuksesan.

    • Sofi : Berarti kebijaksanaan
    • Zahra : Cahaya yang bersinar dengan sangat terang
    • Nayla : Orang sukses

    Itulah beberapa arti nama Nayla dalam Islam dan juga inspirasi nama yang dapat kita gunakan untuk bayi perempuan nantinya. Pasalnya, setiap orang tua pasti selalu ingin memberikan nama terbaik sebagai wujud doa.

    Nah, selain penggunaan nama Nayla, kita juga bisa menggunakan pelafalan yang agak berbeda tetapi memiliki arti sama, loh. Contohnya seperti:

    • Naila
    • Neyla
    • Nejla
    • Neliaa
    • Naylah

    Kita bisa menjadikan beberapa pelafalan tersebut sebagai inspirasi penggabungan nama kekinian dengan makna mendalam di Islam.