Tag: Tata Cara Sholat

  • Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Sebagai seorang manusia memiliki impian merupakan hal yang wajar. Sebuah impian bisa seseorang raih dengan berbagai cara, mulai dari berdoa hingga usaha. Salah satu yang bisa Anda gunakan yaitu memanjatkan doa setelah sholat hajat.

    Sholat hajat sendiri biasa seorang muslim lakukan ketika mempunyai hajat atau keinginan.

    Dengan sholat hajat, setidaknya Anda sudah berusaha untuk menapaki jalan menuju terwujudnya keinginan tersebut.

    Tata Cara Sholat Hajat

    Sebelum beranjak terlalu jauh mengenai pembahasan doa sholat hajat, ada baiknya Anda mengetahui bagaimana tata cara sholat hajat yang benar.

    Dengan begitu, doa sebagai penyempurna tersebut akan tersampaikan kepada Allah secara langsung.

    Sholat hajat dapat Anda laksanakan 2 hingga 12 rakaat dengan satu salam dalam setiap dua rakaatnya, sehingga jika ingin 12 sholat hajat jumlahnya akan 12 rakaat.

    Pada intinya pengerjaan shalat hajat tidak jauh beda dengan sholat sunnah lainnya.

    Baca juga: 3 Doa Buka Puasa Ramadhan & Sunah: Arab-Latin dan Artinya

    Untuk keutamaan sholat hajat antara lain yaitu memperoleh rahmat dan pertolongan dari allah SWT yang paling utama. Dengan adanya sholat hajat, maka akan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

    Oleh sebab itu, Anda harus melakukannya dengan niat semata-mata karena Allah. Agar apa yang Anda kerjakan mendapatkan ridho dari Allah SWT, termasuk sholat hajat.

    Inilah tata cara sholat hajat lengkap dengan bacaan niatnya. Kemudian akan diperlengkap lagi dengan doa setelah sholat hajat.

    1. Niat Sholat Hajat

    Doa Setelah Sholat Hajat Lengkap

    Niatkan dengan hati yang ikhlas dan kekhusukan yang mendalam. Hal tersebut berguna agar sholat yang Anda lakukan dapat diterima oleh Allah SWT. Berikut niat sholat hajat:

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

    Latinnya, “Ushalli sunnatal hajati rok’ataini ada an lillahi ta’ala.”

    Dan artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah hajat dua rakaat tunai karena Allah SWT.”

    2. Takbiratul Ihram

    Takbiratul ihram dengan semestinya Anda menunaikan shalat fardhu yaitu dengan mengucapkan Allahu Akbar.

    3. Membaca Doa Iftitah, Surat Al-Fatihah dan Surat-surat Pendek

    Tentunya sebagai seorang muslim Anda sudah hafal betul mengenai bacaan surat Al-Fatihah. Apalagi surat ini dibaca dalam setiap sholat fardhu yang muslim lakukan setiap hari.

    4. Ruku’ dengan Tuma’ninah

    Makna thuma’ninah sendiri yaitu khusyu dan melakukan gerakan sholat dengan tertib. Termasuk ruku’ yang tertib dan dilanjutkan dengan sujud hingga seterusnya.

    Poin selanjutnya yaitu membaca surat-surat pendek.  Ada banyak surat pendek yang bisa Anda baca sesuai dengan hafalan masing-masing. Akan tetapi, anjurannya yaitu membaca surat Al-Ikhlas dan ayat kursi.

    Walaupun demikian, Anda tetap diperbolehkan membaca surat-surat pendek lainnya yang tercantum dalam Al-Quran.

    5. I’tidal dengan Tuma’ninah

    Lafadz yang Anda ucapkan masih sama dengan sholat fardu. I’tidal sendiri merupakan gerak sholat ketika berdiri yang memisahkan antara ruku dengan sujud.

    6. Sujud dengan Tuma’ninah

    Selanjutnya sujud dengan lafadz yang masih sama seperti shalat fardhu sebelum-sebelumnya.

    7. Duduk diantara 2 Sujud

    Duduk diantara 2 sujud bisa Anda lakukan dengan membentangkan punggung kaki kiri pada lantai lalu mendudukinya.

    Selanjutnya, untuk kaki kanan Anda bisa tegakkan dan jari-jari kaki mengarah pada kiblat.

    8. Sujud Kedua dilanjutkan dengan Berdiri Melaksanakan Rakaat Kedua dalam Sholat

    Setelah Anda sujud kedua dalam rakaat pertama, Anda bisa melanjutkan dengan berdiri untuk menunaikan rakaat kedua pada sholat hajat ini. Tatacaranya sama dengan rakaat pertama yang sudah Anda pelajari sebelumnya.

    9. Duduk Tahiyat Akhir

    Baru setelah itu menyelesaikan rakaat kedua, Anda bisa melanjutkan dengan duduk tahiyat akhir. Membaca bacaan tahiyat akhir serta bacaan sholat nabi, kemudian lanjutkan dengan mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

    Belum selesai sampai disitu saja, setelah sholat hajat Anda laksanakan dengan tuma’ninah. Maka, Anda bisa melanjutkan dengan membaca doa setelah sholat hajat. Untuk doanya terdapat pada rangkuman setelah ini.

    Doa Setelah Sholat Hajat

    Seperti yang sudah Anda ketahui sebelumnya bahwa sholat hajat merupakan sholat yang bisa Anda tunaikan ketika mempunyai hajat atau keinginan tertentu. Oleh sebab itu, ada doa setelah sholat hajat yang mustajab.

    Doa sholat hajat ini tentu bermanfaat untuk menyempurnakan ibadah sholat sunnah tersebut. Karena dalam doanya juga berisi berbagai pujian atas kebesaran Allah SWT.

    Apalagi Islam telah memerintahkan umatnya untuk selalu berdoa kepada allah SWT, seperti yang ada dalam firman Allah SWT melalui surat Ghafir ayat 60 yang artinya sebagai berikut :

    Artinya, “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Dalam Kitab Ta-Jul Jamil Lil Ushul menjelaskan bahwa setelah melaksanakan sholat hajat sebaiknya seseorang melanjutkan dengan membaca doa. Awalan doa yang baik dengan membaca istigfar sebanyak 100 kali.

    Atau minimalnya 33 kali, barulah kemudian lanjutkan dengan membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW dengan jumlah sama seperti istighfar.

    Latinya, “Astaghfirullahal ‘adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih.”

    Artinya, “Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung. Tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat pada-Mu.”

    Adapun tata cara doa setelah sholat hajat yang bisa Anda ikuti, mungkin ada beberapa orang yang memiliki pendapat berbeda-beda. Tentunya hal ini bisa Anda laksanakan dengan keyakinan masing-masing :

    1. Membaca Al-Fatihah

    Seperti yang sudah Anda ketahui sebelumnya, Anda bisa mengawalinya dengan beristigfar. Baru kemudian lanjutkan dengan bertawasul untuk memberikan hadiah bacaan al-Fatihah pada Rasulullah.

    Selain Rasulullah, Anda bisa bertawasul untuk memberikan hadiah kepada keluarga, para saudara, guru, ulama, orang tua ataupun semua umat muslim.

    2. Membaca Surat Al-Quran

    Biasanya setelah bertawasul untuk sampai pada bacaan doa setelah sholat hajat, Anda bisa membaca surat yang ada dalam al-Quran. Surat-suratnya seperti surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, surat An-Nas dan ayat kursi.

    Masing-masing suratnya bisa And abaca sebanyak 3 kali, ataupun sesuai dengan keyakinan dan ilmunya masing-masing. Atau Anda juga bisa melanjutkan dengan dzikir setelah sholat hajat sebelum doa terlebih dahulu.

    3. Membaca Doa Setelah Sholat Hajat Lengkap

    Dalam doa sholat hajat pun ada beberapa doa yang bisa Anda hafalkan dan kemudian gunakan, antaranya yaitu sebagai berikut :

    Doa Setelah Sholat Hajat 1

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Latinnya, “Laa illaaha illallaahul-haliimul-kararim, subhaanallaahi rabbil’arsyil-‘adzim. Al-hamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin. As’aluka muujibaati rahmatika wa ‘azaa’ima magfiratika wal-‘ismata min kulli dzambin wal-ganiimata min kulli birrin was-salaamata min kulli istmin, laa tada’ lii dzanban illaa gafartahuu wa laa hamman illaa farrajtahuu wa laa haajatan hiya laka ridlan illa qadlaitahaa yaa arhamar-raahimiin.”

    Artinya:

    “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah Tuhan yang memiliki Arsy yang Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Aku memohon kepada-mu hal-hal yang mendatangkan rahmat-Mu dan hal-hal yang memastikan ampunan-Mu. Dan terpelihara dari semua dosa yang menjarah setiap kebaikan dan selamat dari semua dosa. Janganlah engkau tinggalkan suatu dosa pun bagiku, melainkan Engkau mengampuninya dan tidak pula kesusahan melainkan Engkau berikan penawar kepadanya dan tidak pula suatu keperluan yang diridhai oleh-Mu melainkan Engkau memastikan buatku, wahai Yang Maha Penyayang diantara para penyayang.”

    Tidak sampai sini saja, akan tetapi doa setelah sholat hajat beserta latinnya pertama ini yang bersumber dari Imam an-Nawawi menganjurkan untuk melengkapi dengan doa lain. Doa lain tersebut yaitu doa kebaikan dunia dan akhirat.

    Sumber lebih lengkapnya Anda bisa melihat pada kitab an-Nawari, ad-Adzkar halaman 184 bab adzhar untuk sholat al-hajat.

    Doa Setelah Sholat Hajat 2

    سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ العِزَّ وَقَالَ بِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالمَجْدِ وَتَكَرَّمَ بِهَ، سُبْحَانَ ذِي العِزِّ وَالكَرَمِ، سُبْحَانَ ذِي الطَوْلِ أَسْأَلُكَ بِمَعَاقِدِ العِزِّ مِنْ عَرْشِكَ وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ وَبِاسْمِكَ الأَعْظَمِ وَجَدِّكَ الأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ العَامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌّ وَلَا فَاجِرٌ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    “Subhaanal ladzii labisal ‘izza wa qoola bihii, subhaanal ladzii ta’aththofa bil majdi wa takarroma bihii, subhaana dzil ‘izzi wal karomi, subhaana dzitt thouli as-aluka bi ma’aaqidil ‘izzi min ‘arsyika wa muntahar rohmati min kitaabika wa bismikal a’dzomi wa jaddikal a’laa wa kalimaatikat tammatil a’mmatil latii laa yujaawizuhunna birrun wa laa faajirun an tusholliya ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammadin.”

    Artinya:

    Mahasuci Zat yang mengenakan keagungan dan berkata dengannya. Mahasuci Zat yang menaruh iba dan menjadi mulia karenanya. Mahasuci Zat pemilik keagungan dan kemuliaan. Mahasuci Zat pemilik karunia. Aku memohon kepada-Mu agar bershalawat untuk Sayyidina Muhammad dan keluarganya dengan garis-garis luar mulia Arasy-Mu, puncak rahmat kitab-Mu, dan dengan nama-Mu yang sangat agung, kemuliaan-Mu yang tinggi, kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dan umum yang tidak dapat dilampaui oleh hamba yang taat dan durjana, berikanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw serta keluarganya. 

    Untuk sumber lengkapnya Anda bisa membuka atau melihat pada buku Darul Kutub Al-Ilmiyyah oleh Syekh M Nawawi Banten pada halaman 103 hingga 104.

    4. Meminta Hajat atau Harapannya

    Baru setelah membaca doa tersebut, Anda bisa melanjutkan dengan meminta hajat atau harapan yang sedang Anda usahakan agar tercapai. Teruslah istiqomah agar hajat doa yang Anda panjatkan Allah kabulkan.

    Waktu Mustajab Sholat Hajat

    Jika Anda ingin melaksanakan sholat hajat ini dengan mempelajari baik doa beserta arti doa setelah sholat hajat dan tata caranya.

    Anda tentu bertanya-tanya kapan waktu sholat hajat yang baik?

    Dalam sebuah buku yang berjudul “Penuntun Mengerjakan Sholat Hajat” karya Ali Akbar bin Aqil, di sana tertulis sholat hajat bisa Anda lakukan pada waktu siang atau malam hari. Kecuali pada waktu tertentu, seperti waktu haram untuk mengerjakan sholat sunnah.

    Menurut ali Akbar bin Aqil dalam bukunya tersebut, waktu terbaik untuk mengerjakan sholat hajat yaitu sepertiga malam terakhir. Sepertiga malam dalam pukul 01.00 dini hari hingga menjelang waktu subuh.

    Tentunya hal itu juga bersandar pada sebuah hadist. Haditsnya berbunyi dengan arti, “Malam manakah yang paling didengar atau dikabulkan oleh Allah SWT? Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada tengah malam.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

    Dalam hadits lain juga menyebutkan yang artinya, “ Rabb kita turun kelangit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman, ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku-kabulkan. Orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Ku-berikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Ku-ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Itulah beberapa informasi lengkap mengenai tata cara sholat hajat, doa setelah sholat hajat lengkap dengan tata caranya dan informasi lain sebagai penunjang.

    Hal terpenting yang perlu Anda ingat yaitu yakin dan laksanakan secara istiqomah dengan hati tulus ikhlas sebagai hambaNya.

    Maka, apa yang menjadi hajat Anda akan Allah kabulkan. Semua tata caranya, baik sholat dan doa setelah sholat hajatnya selalu memiliki awalan dengan niat yang baik, khusyu dan berlandas semata-mata hanya karena Allah SWT.

    Sholat Hajat berapa rakaat?

    Shalat hajat dapat dilaksanakan 2 sampai 12 rakaat dengan dengan satu salam dalam tiap-tiap dua rakaat sehingga berjumlah 12 rakaat. Pada pokoknya, shalat sunnah hajat tidak berbeda jauh dengan shalat-shalat sunnah yang lainnya. 

    Sholat Hajat dilakukan jam berapa?

    Shalat hajat bisa dilakukan kapan pun baik siang maupun malam, di luar waktu dilarang shalat.
    Namun akan lebih baik jika dilakukan pada waktu 1/3 malam.
  • 6 Syarat Sah Sholat Jumat dan Sunnah Sholat yang Perlu Diketahui

    6 Syarat Sah Sholat Jumat dan Sunnah Sholat yang Perlu Diketahui

    Syarat Sah Sholat Jumat – Bagi kaum laki-laki muslim, menjalankan sholat Jumat hukumnya adalah wajib. Muslim yang menjalankan sholat Jumat hendaknya mengetahui syarat wajib dan syarat sah agar ibadahnya diterima. Lantas, apa saja syarat wajib dan syarat sah sholat Jumat?

    Kewajiban menjalankan sholat Jumat dijelaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Surah Al Jumuah ayat 9:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al Jumuah [62]:9)

    Hadis tersebut menjelaskan betapa pentingnya sholat Jumat bagi seoranng muslim.Jika terlewatkan atau melewatkannya dengan sengaja, maka akan dihitung sebagai dosa besar. Namun, saying sekali jika melaksanakannya tanpa tahu syarat wajib serta syarat sahnya.

    Penasaran? Yuk simak artikel ini sampai akhir.

    Baca juga: Niat Sholat Jumat Makmum & Imam Beserta Tata Caranya

    Memahami Sholat Jumat 

    Sebelum membahas mengenai syarat wajib dan syarat sah sholat Jumat, ada baiknya mengenal terlebih dahulu apa itu sholat Jumat.

    Sholat Jumat adalah ibadah yang wajib dilaksanakan pada hari Jumat di waktu dzuhur. Sholat Jumat terdiri dari dua rakaat dan dikerjakan setelah dua kali kutbah.

    Perintah akan kewajiban seorang muslim pertamakali, dalam melaksanakan sholat Jumat berasal dari perintah Allah SWT yang menyeru kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan sholat Jumat sejak beliau masih tinggal di Mekkah atau sebelum melakukan hijrah. Sayangnya, selama di Mekkah beliau belum bisa melaksanakannya hingga hijrah ke Madinah.

    Ketika Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Madinah, beliau melaksanakan sholat Jumat untuk pertama kali di Qubah, tepatnya di kampung bernama “Amru bin Auf”. Sejak tiba di Qubah pada hari Senin, Nabi Muhammad menetap selama empat hari untuk mendirikan masjid sebagai tempat ibadah kaum Muslimin di daerah ini.

    Hukum mengikuti sholat Jumat adalah wajib untuk setiap muslim, kecuali Budak, Wanita, Anak-anak, dan orang yang sedang sakit. Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits berikut ini:

    “Sholat Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali( tidak diwajibkan ) atas empat orang yaitu, budak, wanita, anak kecil dan orang sakit . ”(HR. Abu Daud)

    Para ulama kemudian menyepakati bahwa hukum melakukan sholat Jumat adalah fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah.

    Syarat Wajib dan Syarat Sah Sholat Jumat

    Dalam pelaksanaannya, sholat Jumat memiliki kesamaan dengan sholat fardhu yang lainnya. Kecuali dalam beberapa hal, misalnya harus diawali dengan dua khutbah terlebih dahulu.

    Sebagai penjelasan lebih lanjut. Berikut  uraian mengenai syarat wajib dan syarat sah lainnya:

    1. Syarat Wajib Sholat Jumat

    Sholat Jumat dilaksanakan dengan syarat wajib berikut:

    1. Islam.
    2. Ballig (dewasa), anak-anak tidak diwajibkan.
    3. Berakal, orang gila tidak wajib.
    4. Laki-laki, perempuan tidak diwajibkan.
    5. Sehat, orang yang sedang sakit atau berhalangan tidak diwajibkan.
    6. Menetap (bermukim), orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) tidak wajib.

    2. Syarat Sah Sholat Jumat

    Selain syarat wajib, terdapat beberapa syarat sah yang harus dipenuhi, yakni:

    1. Dilaksanakan di Waktu Dzuhur

    Sholat Jumat serta dua khutbahnya harus dilakukan di waktu dzuhur. Ketentuan ini mengacu pada hadis riwayat Bukhari dan Sahabat Anas yang berbunyi:

    أَنَّ النَّبِيَّكَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

    Artinya: Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW melakukan sholat Jumat saat matahari condong ke barat (waktu zuhur). (HR Al-Bukhari dari sahabat Anas)

    Jadi kalau sholat Jumat dilakukan setelah waktu dzuhur berakhir maka menjadi tidak sah. Jika terjadi hal demikian, maka wajib untuk tetap melaksanakan sholat dzuhur tanpa mengucap niat kembali.

    Baca juga: Niat & Tata Cara Sholat Sunnah Sebelum Jumat (Qobliyah dan Badiyah)

    2. Dilakukan di Wilayah Pemukiman Warga

    Sholat Jumat wajib dilakukan di pemukiman warga baik kota ataupun perdesan. Untuk tempatnya sendiri tidak diisyaratkan harus menggunakan mushola atau masjid, asalkan tempat yang digunakan merupakan pemukiman warga.

    Hal ini dijelaskan oleh Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali yang mengatakan:

    وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُفِيْهَا

    Artinya: Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut.

    3. Harus Diawali dengan Dua Khutbah

    Syarat sah Sholat Jumat harus ada 2 khutbah
    Syarat sah Sholat Jumat harus ada 2 khutbah

    Sholat Jumat hanya dianggap sah jika diawali dengan dua khutbah. Hal ini berdasarkan pada hadis riwayat Muslim yang berbunyi:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا

    Artinya: Rasulullah SAW berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, kemudian berdiri lagi melanjutkan khutbahnya. (HR. Muslim).

    4. Dalam Satu Desa Hanya Boleh Terdapat Satu Sholat Jumat

    Syarat sah yang ke empat yakni tidak disahkan di dalam satu desa terdapat sholat Jumat yang lain.

    Dan ketika ada dua sholat Jumat di satu tempat yang sama, yang dianggap sah adalah sholat Jumat yang melakukan takbiratul ihram lebih dulu. Yang kedua atau ketiga tidak dianggap sah.  

    Lalu jika takbiratul ihramnya dilakukan secara bersamaan maka keduanya dianggap tidak sah.

    Akan tetapi jika jarak kedua tempat pelaksanaannya jauh, salah satu atau kedua tempatnya tidak bisa menampung jamaah yang datang, atau ada ketegangan antar kelompok maka boleh menggelar dua jumatan dalam satu desa.

    Seperti yang diungkapkan oleh Syekh Abu Bakr bin Syatha’:

    وَالْحَاصِلُ أَنَّ عُسْرَ اجْتِمَاعِهِمْ اَلْمُجَوِّزَ لِلتَّعَدُّدِ إِمَّا لِضَيْقِ الْمَكَانِ اَوْ لِقِتَالٍ بَيْنَهُمْ اَوْ لِبُعْدِ أَطْرَافِ الْمَحَلِّ بِالشَّرْطِ

    Artinya: Kesimpulannya, sulitnya mengumpulkan jamaah Jumat yang memperbolehkan ber bilangannya pelaksanaan Jumat adakalanya karena faktor sempitnya tempat, pertikaian di antara penduduk daerah atau jauhnya tempat sesuai dengan syaratnya. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, halaman: 4).

    5. Rakaat Pertama Jumat Harus Dilaksanakan Secara Berjamaah

    Minimal pelaksanaan jamaah sholat Jumat adalah dalam rakaat pertama, sehingga apabila dalam rakaat kedua jamaah Jumat niat mufaraqah (berpisah dari imam) dan menyempurnakan Jumatnya sendiri-sendiri, maka sholat Jumat dinyatakan sah.   

    6. Jamaah sholat Jumat adalah orang-orang yang wajib menjalankannya.  

    Sholat Jumat dikatakan sah jika jamaah Jumat adalah penduduk yang bermukim di daerah tempat pelaksanaan sholat Jumat. Sholat Jumat sendiri memiliki standar jamaah yakni sebanyak 40 orang dengan menghitung Imam.  Ada juga yang berpendapat bisa dilaksanakan dengan 12 orang jamaah. Dalam versi yang lain, 4 orang jamaah pun sudah cukup.

    Al-Jamal al-Habsyi sebagaimana dikutip Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

    قَالَ الْجَمَلُ الْحَبْشِيُّ فَاِذَا عَلِمَ الْعَامِيُّ أَنْ يُقَلِّدَ بِقَلْبِهِ مَنْ يَقُوْلُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ بِإِقَامَتِهَا بِأَرْبَعَةٍ أَوْ بِاثْنَيْ عَشَرَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ إِذْ لَا عُسْرَ فِيْهِ  

    Artinya: Berkata Syekh al-Jamal al-Habsyi; Bila orang awam mengetahui di dalam hatinya bertaklid kepada ulama dari ashab Syafi’i yang mencukupkan pelaksanaan Jumat dengan 4  atau 12 orang, maka hal tersebut tidak masalah, karena tidak ada kesulitan dalam hal tersebut. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Jam’u al-Risalatain, halaman:18).  

    Sebagai catatan, jika seorang muslim merupakan musafir atau sedang dalam perjalanan jauh, maka tidak wajib baginya untuk melaksanakan sholat Jumat.

    Sunnah Sholat Jumat yang Perlu Diketahui

    Terdapat beberaapa amalan yang sunnah dilakukan saat hendak melaksanakan sholat Jumat. Meski sunnah, amalan ini memiliki banyak keutamaan serta pahala di dalamnya. Berikut daftar sunnah sholat Jumat yang perlu diketahui:

    1. Mandi terlebih dahulu sebelum pergi ke masjid.
    2. Memakai pakaian yang bagus dan disunahkan berwarna putih.
    3. Memakai wangi-wangian.
    4. Memotong kuku, menggunting kumis, dan menyisir rambut.
    5. Menyegerakan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Jumat.
    6. Melaksanakan sholat tahiyatul masjid (Sholat untuk menghormati masjid)
    7. Membaca Al-Qur’an atau dzikir sebelum khotbah Jumat.
    8. Memperbanyak doa dan Salawat atas Nabi Muhammad SAW

    Demikianlah syarat wajib, syarat sah sholat Jumat beserta sunnah yang bisa diamalkan. Jumat memang hari besar bagi umat muslim, oleh sebab itu, tak heran jika banyak keutamaan dan sunnah yang bisa dilakukan pada hari Jumat.

    Semoga artikel ini dapat membantu..

    Assalamualaikum wr. Wb.

  • Sholat Tahiyatul Masjid: Niat, Tata Cara dan Waktu Pelaksanaanya

    Sholat Tahiyatul Masjid: Niat, Tata Cara dan Waktu Pelaksanaanya

    Ada banyak sekali amalan-amalan sunnah yang bisa kita kerjakan saat memasuki masjid, salah satunya adalah sholat Tahiyatul Masjid.

    Sholat Tahiyatul Masjid menjadi sholat pertama yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dikerjakan jika sudah memasuki masjid. Seperti yang sudah disebutkan, sholat ini sifanya tidak wajib, namun jika melaksanakannya akan mendapat amal kebaikan dan pahala yang bermanfaat di kehidupan akhirat kelak.

    Hal ini tertulis dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

     إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

    “Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia sholat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714).

    Hukum Sholat Tahiyatul Masjid

    Sebelum mengetahui niat, tata cara serta waktu pelaksaannya, ada baiknya untuk kita mengetahui hukum sholat Tahiyatul Masjid yang dianjurkan Rasulullah SAW.

    Seperti yang sudah dijelaskan pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan untuk umatnya mengerjakan sholat dua rakaat sebelum duduk, ketika seorang muslim masuk ke dalam masjid.

    Sholat Tahiyatul Masjid ini merupakan bentuk penghormatan terhadap masjid, sebagaimana seseorang masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam. Oleh sebab itulah, seorang muslim yang masuk ke masjid dan hendak duduk di dalamnya agar mengerjakan sholat dua rakaat.

    Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

    لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

    Lamasjidun ussisa ‘alat-taqwā min awwali yaumin aḥaqqu an taqụma fīh, fīhi rijāluy yuḥibbụna ay yataṭahharụ, wallāhu yuḥibbul-muṭṭahhirīn

    Artinya: “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.

    Selain dalam Al-Qur’an, kemulian masjid juga dijelaskan dalam hadis Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

    Artinya: “Barangsiapa berangkat pagi atau sore hari ke masjid, maka Allah akan mempersiapkan hidangan baginya di surga, setiapkali ia berangkat pagi atau sore hari.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Karena mulianya keberadaan masjib bagi seorang muslim, tentu terdapat beberapa adab atau sopan yang ditentukan oleh syari’at Islam, yakni memberi salam dengan sholat Tahiyal Masjid. Rasulullah SAW bersabda:

    إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ

    Artinya: “Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, maka janganlah ia duduk sehingga ia melaksanakan sholat dua rakaat.” (HR Ahmad dari Abu Hurairah)

    Sebagai kesimpulan sholat Tahiyatul Masjid ini memiliki hukum sunnah, hanya saja hukum ini bisa berubah ketika ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.

    Faktor yang bisa mengubah hukum sholat Tahiyatul Masjid, yakni ketika memasuki masjid sudah waktu iqamah, atau sudah mendekati waktu jamaah.

    Syarat Sah Sholat Tahiyatul Masjid

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid agar dianggap sah di hadapan Allah SWT. Berikut syarat sah sholat Tahitaul masjid yang perlu diketahui:

    1. Sholat Tahyatul masjid dikerjakan saat seorang masuk ke masjid dan belum duduk. Apabila seseorang tersebut sudah duduk terlebih dahulu, jika melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid, maka akan dianggap tidak sah.
    2. Tidak dianjurkan sholat dengan terburu-buru karena mengejar waktu iqamah yang akan segera tiba. Karena dikhawatirkan akan tertinggal sholat berjamaah.
    3. Saat seorang khatib menaiki mimbar untuk khutbah sholat Jumat, maka tidak sah jika melakukan sholat Tahiyatul Masjid.
    4. Seseorang yang tiba ke masjid saat khutbah sholat Jumat akan segera berakhir, maka dianjurkan langsung duduk untuk mendengarkan khutbah.

    Niat Sholat Tahiyatul Masjid

    Adapun niat sholat Tahiyatul Masjid berikut ini:

    أُصَلِّي تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Latin: Ushallî tahiyatal masjidi rak’ataini sunnatan lillîhi ta’âla.

    Artinya: “Saya niat sholat Tahiyatul Masjid dua rakaat sunah karena Allah ta’ala.”

    Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardu Sesuai Sunnah, Arab, Latin, dan Artinya

    Tata Cara Sholat Tahiyatul Masjid yang Benar

    Tata cara sholat Tahiyatul Masjid juga perlu diperhatikan oleh umat muslim. Berikut tata caranya yang benar:

    1. Mengucapkan niat di dalam hati dengan khusyu dan tenang
    2. Takbiratul Ihram, dengan mengangkat tangan sambil mengucapkan Takbir sama sepert hendak sholat fardhu biasa.
    3. Bersedekap dan membaca doa iftitah, doa ini sunnah untuk dibacakan, meskipun begitu banyak sekali keutamaan di dalamnya.
    4. Membaca surat Al-Fatihah, hukumnya wajib dibacakan dalam setiap sholat.
    5. Membaca satu surat Al-Qur’an yang dikuasai
    6. Ruku, dengan Sembilan puluh derajat membungkuk ke arah kiblat. Dan baca doa ruku sebanyak tiga kali.
    7. I’tidal, setelah rukuk bangkit tegak dilanjutkan dengan bacaan I’tidal seperti biasa
    8. Sujud pertama, bersujudlah dengan membaca doa saat sujud dengan khusyu memuji Allah SWT Maha Suci.
    9. Duduk di antara dua sujud, bagnun dari sujud sambil membaca Allahu akbar untuk duduk dan membaca doa diantara dua sujur
    10. Sujud kedua, setelah selesai melakukan duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali setelah membaca takbir dan mengulangi doa sujud.
    11. Berdiri untuk rakaat kedua. Ulangi dengan membaca Al-Fatihah sampai sujud kedua terakhir
    12. Tasyahud akhir, setelah sujud kedua pada rakaat kedua. Duduklah bersilang sambil membaca takbir. Usahakan pantat menempel di alas sholat, dan kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan, jari kaki kanan tetap menekan ke kiri alas sholat. Setelah itu membaca doa tahiyat akhir.
    13. Salam, setelah membaca doa tahiyat akhir, lanjutkan dengan salam.

    Baca juga: Bacaan Doa Nabi Yunus A.S: Manfaat, Waktu dan Keutamaannyaa

    Waktu Melaksanakan Sholat Tahiyatul Masjid

    Setelah mengetahui hukum hingga tata caranya, mengetahui waktu sholat Tahiyatul Masjid juga menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. Sholat Tahiyatul Masjid disyari’atkan untuk dikerjakan tatkala seseorang masuk ke dalam masjid, sebelum duduk, baik siang maupun malam.

    Lantas, bagaimana jika ada orang yang hendak masuk ke dalam masjid pada waktu-waktu larangan sholat, seperti setelah sholat Ashar sampai matahari terbenam, atau setelah sholat Subuh sampai matahari terbit?.

    Apabila terjadi kondisi seperti di atas, sebagian ulama berpendapat agar Ia menangguhkan terlebih dahulu keinginannya untuk masuk ke dalam masjid sampai habis waktu terlarang, atau bisa juga terus masuk dan berdiri di dalam masjid hingga habis waktu larangan sholat.

    Namun sebagian ulama lainnya, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Jauzi, Syaikh Muhammad bin Utsaimin, Syaikh Ibnu Baza, dan ulama-ulama lainnya, berpendapat bahwa Ia tetap diperintahkan sholat Tahiyatul Masjid.

    Dasar yang digunakan dalam menyampaikan pendapat ini adalah keumuman perintah Nabi Muhammad SAW yang terdapat pada hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

    إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ – رواه أحمد عن أبي هريرة

    “Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, maka janganlah ia duduk sehingga ia melaksanakan sho­lat dua raka’at” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

    Selain itu, larangan mengerjakan sholat pada waktu-waktu tertentu berlaku bagi sholat yang tanpa sebab, dan tidak ditujukan untuk sholat yang memiliki sebab, seperti sholat Tahiyatul Masjid. Sholat Tahiyatul Masjid dikerjakan karena ada sebab tertentu, yakni karena masuk ke dalam masjid.

    Selain itu, jika seorang muslim masuk ke masjid dan menjumpai khatib masuk untuk berkuthbah maka ia tetap disunnahkan untuk sholat sunnah, namun hal tersebut tidak berlaku jika dating saat khatib sudah akan menyelesaikan khutbah dan akan segera melaksanakan sholat Jumat.

    Hal ini dikhawatirkan jika tetap melaksanakan sholat, ada kemungkinan tertinggal dengan sholat wajib. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Jabir, ia berkata:

    جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

    “Sulaik al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah SAW sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka Beliau langsung bertanya padanya: wahai Sulaik, bangun dan sholatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan. Kemudian Beliau bersabda: jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia sholat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Berdasarkan hadis tersebut, para ulama berpendapat bahwa sekiranya seorang muslim masuk ke masjid dan langsung duduk karena lupa, dan belum mengerjakan sholat Tahiyatul Masjid, maka ia tetap boleh mengerjakannya. Dengan syarat jarak antara duduk dan sholat tidak terlalu lama.

    Demikian pula jika seseorang masuk ke dalam masjid dan adzan sedang dikumandangkan, maka sebaiknya Ia berdiri hingga adzan selesai barulah mengerjakan sholat Tahiyatul Masjid.

    Itulah penjelasan mengenai hukum, niat, tata cara, ketentuan serta waktu yang baik dalam melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid sesuai anjuran Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat.

    Assalamualaikum wr. Wb.

  • Tata Cara Sholat Tasbih: Niat, Hingga Doa Setelah Sholat yang Benar

    Tata Cara Sholat Tasbih: Niat, Hingga Doa Setelah Sholat yang Benar

    Pernah mendengar apa itu sholat tasbih? Secara harfiah merupakan sholat sunnah yang Rasulullah SAW anjurkan untuk dilakukan.

    Bahkan pada beberapa pendapat mengatakan bahwa sholat tasbih dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dilaksanakan paling tidak satu kali seumur hidup.

    Meskipun dalil mengenai sholat ini masih menjadi perdebatan oleh beberapa ulama. Tetapi, sebagian besar ulamanya menyarankan kepada umat Muslim untuk melaksanakannya.

    Lantas, sebenarnya sholat tasbih buat apa? Dari segi fungsi dan manfaatnya, setiap hal baik yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW selalu menyimpan kebaikan untuk umatnya. Tidak terkecuali sholat sunnah tasbih satu ini.

    Mengenal Sholat Tasbih

    Sholat tasbih menjadi ibadah sunnah yang dalam pelaksanaan sholatnya terdapat beberapa kalimat tasbih. Nah, biasanya kita sebagai umat Muslim paling sering melaksanakannya di 10 malam terakhir bulan Ramadan.

    Tujuannya agar mendapatkan lailatul qadar di bulan penuh Rahmat tersebut. Tetapi, sebenarnya kapan waktu shalat tasbih secara umum? Tidak ada waktu khusus, sesuai dengan anjuran Rasulullah paling tidak sekali seumur hidup.

    Jadi, kita bisa melaksanakannya kapan pun. Tidak ada pendapat tertentu mengenai kapan waktu terbaiknya. Asalkan kita bisa melaksanakannya dengan baik, maka setiap hari pun tidak menjadi masalah.

    Tetapi beberapa orang masih bingung sholat tasbih berapa rakaat? Berdasarkan pendapat ulama sholat sunnah ini bisa dilaksanakan 4 rakaat di pagi dan siang hari. Atau dua rakaat salam dua rakaat salam di malam hari.

    Hal ini sesuai dengan anjuran Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, beliau menyatakan :

    فإن صلى ليلاً فأحبّ إليّ أن يسلّم في ركعتين؛ وإن صلّى نهاراً، فإن شاء سلّم، وإن شاء لم يسلم

    Artinya: “Bila shalat dilakukan di malam hari maka lebih kusukai bila bersalam dalam dua rakaat. Namun bila di siang hari maka bila mau bersalam (pada dua rakaat) dan bila mau maka tidak bersalam (di dua rakaat).”

    Dalam pelaksanaan sholat sunnah tasbih ini, dalam satu rakaat tasbih dibaca sebanyak 75 kali. Sholat ini dilaksanakan sebanyak 4 rakaat, jadi jika dijumlah 75 x4 = 300 kali dalam satu kali ibadah.

    Bagaimana Tata Cara Sholat Tasbih yang Benar?

    Bagaimana Tata Cara Sholat Tasbih yang Benar?

    Ingin menerapkan ajaran sholat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW? Kita bisa mulai dengan mempelajari tata cara sholat yang benar. Terutama dimulai dari paham dan hafal seperti apa niat sholat tasbih.

    Untuk panduan tata cara sholat, bisa diikuti sebagai berikut :

    1. Bersuci

    Sebagai seorang muslim kita pasti tahu kalau menghadap Allah SWT haruslah dalam keadaan suci, baik dari hadas kecil maupun besar.

    Meskipun cukup dengan hanya berwudhu saja, tetapi bersuci dengan cara mandi jauh lebih baik.

    Baca juga: Tata Cara Wudhu yang Benar: Niat Hingga Doa Sesudah Wudhu

    2. Baca Niat

    Apabila kita sudah suci dengan cara mandi dan berwudhu, kini saatnya siap-siap untuk mulai untuk sholat.

    Caranya dengan menghadap kiblat dengan merapikan sajadah. Tidak lupa membacakan niat sholat secara khusu’.

    Karena sholat tasbih ini bisa dilakukan dengan dua cara mengingat pelaksanaannya di siang hari atau malam hari.

    Maka, kita bisa mengkondisikan membacakan niat untuk sholat dua rakaat salam dua rakaat salam atau satu kali sholat empat rakaat.

     Niat sholat tasbih 2 rakaat 2 salam

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

    Latinnya: Ushallii sunnatat-Tasbiihi rak’ataini lillaahi Ta’aalaa.

    Artinya: “Aku berniat melaksanakan sholat sunnah Tasbih, sebanyak dua rakaat semata-mata karena Allah Ta’ala.”

    Niat sholat tasbih 4 rakaat 1 salam

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلهِ تَعَالَى

    Bacaan latin: Ushalli sunnat tasbīhi arba’a rak’ātin lillāhi ta’ālā.

    Artinya: “Aku berniat melaksanakan sholat sunnah Tasbih, sebanyak empat rakaat semata-mata karena Allah Ta’ala.”

    3. Takbiratulihram, Al-Fatihah, Surat Pendek Lalu Tasbih

    Setelah kita lancar membaca niat di dalam hati, maka selanjutkan takbiratulihram (Allahu Akbar). Kemudian, kita bisa melaksanakan ibadah sholat pada umumnya dengan membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Baru kemudian membaca tasbih sebanyak 15 kali.

    Adapun bacaan tasbihnya seperti berikut :

    سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

    ‘Subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar’

    4. Rukuk dan Tasbih Lagi

    Ketika sudah selesai, kita bisa langsung melanjutkan langkah sholat berikutnya yaitu rukuk. Dalam rukuk kita bisa membacakan doa sesuai anjuran sholat pada umumnya. Hanya saja setelah berdiri kembali, kita harus baca tasbih sebanyak 10 kali.

    5. I’tidal dan Sujud

    Pada saat I’tidal kita juga harus membaca tasbih sebanyak 10 kali baru kemudian sujud. Tetapi, dalam doa sujud seperti sholat pada umumnya pun. Kita juga membaca tasbih 10 kali setelah doa selesai dipanjatkan.

    6. Duduk Iftirasy dan Sujud Kedua

    Bangkit dari sujud pertama, dalam sholat kita akan duduk iftirasy (duduk diantara dua sujud). Kemudian, setelah doa diantara dua sujud ini dibacakan, kita bisa menambahkan tasbih sebanyak 10 kali.

    Setelah itu, kita bisa sujud kedua dan membaca tasbih sebanyak 10 kali juga.

    7. Duduk Kemudian Bangkit

    Selesai sujud kedua, sebelum berdiri kamu harus duduk kembali dengan membaca tasbih sebanyak 10 kali. Apabila sudah selesai kamu bisa melanjutkan sholat hingga rakaat ke dua, tiga, dan keempat.

    Untuk keseluruhan bacaannya sama seperti rakaat pertama. Total bacaan tasbihnya juga tidak boleh kurang ataupun lebih. Total dalam satu rakaat adalah 75. Sehingga empat rakaat menjadi 300 bacaan tasbih.

    8. Tasyahud Akhir dan Salam

    Terakhir, setelah keseluruhan bacaan sholat sudah kita lalui. Sebelum salam pada duduk tasyahud akhir kita diharuskan untuk membaca tasbih juga sebanyak 10 kali. Baru setelah itu dilanjutkan dengan membaca doa sholat tasbih.

    Baca juga: Niat Sholat Taubat, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaannya

    Tata Cara Sholat Tasbih Berdasarkan Hadits

    Tata Cara Sholat Tasbih Berdasarkan Hadits

    Menurut hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu, yang lafazh-nya sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya (1297) adalah sebagai berikut:

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً

    Rasulullah bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib, “Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau aku beri? Maukah engkau aku kasih? Maukah engkau aku beri hadiah? Maukah engkau aku ajari sepuluh sifat (pekerti)? Jika engkau melakukannya, Allah mengampuni dosamu; dosa yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan, sepuluh macam (dosa). Engkau shalat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca al-Fatihah dan satu surat (al-Quran). Jika engkau telah selesai membaca (surat) pada awal rakaat, sementara engkau masih berdiri, engkau membaca, ‘Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illa Allah, wallahu akbar sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, lalu ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau turun sujud, ketika sujud engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu, maka engkau ucapkan (dzikir) itu sebanyak 10 kali. Maka itulah 75 (dzikir) pada setiap satu rakaatnya. Engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Jika engkau mampu melakukan (shalat) itu setiap hari sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak melakukannya, maka (lakukan) setiap bulan sekali! Jika tidak, maka (lakukan) setiap tahun sekali! Jika engkau tidak melakukannya, maka (lakukan) sekali dalam umurmu”

    Selain itu juga terdapat riwayat lain yang tidak jauh berbeda dari Ibu Hajar.

    Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam kitabnya Al-Minhâjul Qawîm menuliskan:

    و صلاة التسبيح وهي أربع ركعات يقول في كل ركعة بعد الفاتحة والسورة: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر، زاد في الإحياء: ولا حول ولا قوة إلا بالله خمس عشرة مرة وفي كل من الركوع والاعتدال وكل من السجدتين والجلوس بينهما والجلوس بعد رفعه من السجدة الثانية في كل عشرة فذلك خمس وسبعون مرة في كل ركعة

     Artinya: “dan (termasuk shalat sunnah) adalah shalat tasbih, yaitu shalat empat rakaat di mana dalam setiap rakaatnya setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya membaca kalimat subhânallâh wal hamdu lillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar—di dalam kitab Ihyâ ditambahi wa lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh—sebanyak 15 kali, dan pada tiap-tiap ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan duduk setelah sujud yang kedua masing-masing membaca (kalimat tersebut) sebanyak 10 kali. Maka itu semua berjumlah 75 kali dalam setiap satu rakaat.” (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhâjul Qawîm, Beirut: Darul Fikr, tt., hal. 203).

    Doa Setelah Sholat Tasbih yang Wajib Dibaca

    Setelah melakukan sholat tasbih akan lebih afdol apabila kita berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT.

    Salah satunya doa yang dikutib dari kitab Nihayatuz Zain karya dari Syeh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

    اَللّٰهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ تَوْفِيْقَ أَهْلِ الْهُدَى وَأَعْمَالَ أَهْلِ الْيَقِينِ وَمُنَاصَحَةَ أَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ أَهْلِ الصَّبْرِ وَوَجَلَ أَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ أَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ أَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ أَهْلِ الْعِلْمِ حَتَّى أَخَافَك

    Allâhumma innî as’aluka taufîqa ahlil hudâ, wa a‘mâla ahlil yaqîn, wa munâshahata ahlit taubah, wa ‘azma ahlis shabri, wa wajala ahlil khasyyah, wa thalaba ahlir raghbah, wa ta‘abbuda ahlil wara‘i, wa ‘irfâna ahlil ‘ilmi hattâ akhâfak.

    Artinya, “Ya Allah, kepada-Mu aku meminta petunjuk mereka yang terima hidayah, amal-amal orang yang yakin, ketulusan mereka yang bertobat, keteguhan hati mereka yang bersabar, kekhawatiran mereka yang takut (kepada-Mu), doa mereka yang berharap, ibadah mereka yang wara’, dan kebijaksanaan mereka yang berilmu agar aku menjadi takut kepada-Mu.

    اَللّٰهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ مَخَافَةً تَحْجِزُنِيْ عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى أَعْمَلَ بِطَاعَتِكَ عَمَلًا أَسْتَحِقُّ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّى أُنَاصِحَكَ بِالتَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ حَتَّى أَخْلُصَ لَكَ النَّصِيحَةَ حَيَاءً مِنْكَ وَحَتَّى أَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا وَحَتَّى أَكُوْنَ أُحْسِنَ الظَنَّ بِكَ، سُبْحَانَ خَالِقِ النُّورِ. ا هـ وَفِي رِوَايَةٍ خَالِقِ النَّارِ

    Allâhumma innî as’aluka makhâfatan tahjizunî ‘an ma‘âshîka hattâ a‘mala bi thâ‘atika ‘amalan astahiqqu bihî ridhâka wa hattâ unâshihaka bit taubah, khaufan minka hattâ akhlusha lakan nashîhata hayâ’an minka wa hattâ atawakkala ‘alaika fil ’umûri kullihâ wa hattâ akûna ’uhsinuz zhanna bika, subhâna khâliqin nûr (lain riwayat khâliqin nâr).

    Lanjut: Ya Allah, masukkanlah rasa takut di kalbuku yang dapat menghalangi diri ini untuk mendurhakai-Mu. Dengan demikian aku dapat beramal saleh yang mengantarkanku pada ridha-Mu, dan aku bertobat setulusnya karena takut kepada-Mu. Dengan itu pula aku beribadah secara tulus karena malu kepada-Mu. Dengan rasa takut itu aku menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. Karena itu juga aku dapat berbaik sangka selalu kepada-Mu. Mahasuci Engkau Pencipta cahaya (lain riwayat, Pencipta api).”

    Keutamaan Sholat Tasbih

    Sholat yang dilaksanakan dengan bacaan tasbih 300 kali dalam empat rakaat pastinya memiliki keutamaan tersendiri apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Lantas, apa saja keutamaan sholat tasbih? Berikut pembahasannya :

    1. Memberatkan Timbangan Kebaikan

    Setiap orang pasti berlomba-lomba dalam kebaikan. Tujuannya untuk memperberat amal yang akan dibawa di akhirat nanti agar bisa masuk ke Surganya Allah SWT. Nah, cara yang bisa umat muslim lakukan yaitu dengan melaksanakan sholat tasbih.

    2. Terhindar dari Segala Hal Buruk

    Kita pasti tahu bahwa tasbih merupakan salah satu kalimat baik yang sangat Allah SWT sukai. Sehingga, ketika kita membacakannya berulang kali dalam sholat akan membuat Allah SWT semakin suka dan cinta kepada kita sebagai umatnya.

    Balasan Allah SWT atas apa yang kita lakukan tentu saja berlipat ganda. Hal paling mendasarnya dengan menjauhkan kita dari segala hal buruk yang mungkin saja terjadi. Sehingga hanya berita baik saja yang diterima di telinga.

    3. Meningkatkana Amal

    Sebagai umat Muslim pastinya kita percaya dengan adanya hari pembalasan di akhir kehidupan nanti. Dengan mempercayainya tentu kita sebagai umat akan terus berupaya untuk melakukan hal baik secara terus menerus.

    Amalan yang bisa kita coba dengan sederhana dan bermanfaat adalah membaca tasbih.

    4. Menghapus Dosa

    Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Hal itu sama-sama mendatangkan dosa yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

    Cara untuk menghapusnya dengan terus beribadah dan melakukan hal baik kepada semua orang. Ibadah paling cepat menghapus dosa-dosa ini bisa kita lakukan dengan sholat tasbih.

    Nah, itulah pembahasan terkait sholat tasbih yang bisa kita jadikan panduan untuk menjalankan ibadah lebih baik lagi. Mulai dari memahami bagaimana tata cara pelaksanaan yang benar, pembacaan doa, hingga keuntungan apabila melaksanakannya.

  • Tata Cara Sholat Nisfu Syaban: Niat, Doa, dan Waktu Pelaksanaannya

    Tata Cara Sholat Nisfu Syaban: Niat, Doa, dan Waktu Pelaksanaannya

    Malam Nisfu Syaban adalah malam yang jatuh pada hari ke-15 bulan Syaban. Pada saat hari itu tiba, ada banyak sekali amalan-amalan sunnah yang bisa dikerjakan sebagai tabungan untuk akhirat kelak, salah satunya adalah sholat Nisfu Syaban.

    Bulan Syaban memiliki banyak sekali keistimewaan, hal ini dikarenakan banyak sekali peristiwa sejarah Islam yang terjadi pada bulan ini. Seperti peristiwa pemindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa menuju Kabah. Peristiwa besar tersebut membuat bulan Syaban menjadi bulan yang penuh dengan rahmat.

    Untuk itu, mari sama-sama mempelajari mengenai niat, doa, tata caa dan waktu pelaksanaan sholat Nisfu Syaban yang tepat di artikel ini.

    Niat Sholat Malam Nifsu Syaban

    Niat sholat nisfu syaban sebagai imam:

    أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى، اللهُ أَكْبَرُ

    Ushalli sunnata Nishfi Sya’bân rak’ataini imâman lillâhi ta’ala, Allahu Akbar.

    Artinya: “Aku niat sholat sunah nisfu sya’ban dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar.”

    Niat sholat Nisfu Syaban sebagai makmum:

    أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى، اللهُ أَكْبَرُ

    Ushalli sunnata Nishfi Sya’bân rak’ataini ma’mûman lillâhi ta’ala, Allahu Akbar.

    Artinya: “Aku niat sholat sunah nisfu sya’ban dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar.”

    Niat sholat Nisfu Syaban sendiri di rumah:

    أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى، اللهُ أَكْبَرُ

    Ushalli sunnata Nishfi Sya’bân rak’ataini lillâhi ta’ala, Allahu Akbar.

    Artinya: “Aku niat sholat sunah nisfu sya’ban dua rakaat karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar.”

    Tata Cara Sholat Nifsu Syaban yang Benar

    Tata Cara Sholat Nifsu Syaban yang Benar

    Sholat Nisfu Syaban merupakan sholat yang dikerjakan dua rakaat. Dikutip dari laman resmi NU, utamanya waktu melaksanakan sholat Nisfu Syaban adalah setelah sholat Maghrib dan dilanjutkan setelah isya.

    Sholat ini bukan tanpa sebab, ada keutamaan yang akan didapatkan jika melaksanakannya. Salah satunya yakni, Allah SWT akan mengampuni siapa saja hamba-Nya yang memohon ampun dan bersujud, kecuali orang-orang yang masih memiliki sifat dengki di hatinya.

    Dengan alasan tersebutlah, penting bagi kita untuk mengetahui tata cara sholat Nisfu Syaban yang benar sesuai urutan.

    Berikut tata caranya:

    1. Mengucap niat sholat dalam hati karena Allah ta’aalaa
    2. Melakukan takbiratul ihram dan membaca doa Iftitah (sunnah)
    3. Membaca surah Al-Fatihah, wajib dibacakan
    4. Membaca surah pendek Al- Qur’an yang dikuasai
    5. Rukuk
    6. I’tidal
    7. Sujud pertama
    8. Duduk di antara dua sujud
    9. Sujud kedua
    10. Berdiri untuk memulai rakaat kedua
    11. Membaca surat Al-Fatihah, wajib dibacakan
    12. Membaca surat pendek Al- Qur’an yang dikuasai
    13. Rukuk
    14. I’tidal
    15. Sujud pertama
    16. Duduk di antara dua sujud
    17. Sujud kedua
    18. Duduk untuk tahiyat akhir
    19. Mengucap salam
    20. Membaca doa malam Nisfu Syaban

    Baca juga: 5 Doa Meminta Jodoh dan Amalan Agar Cepat Bertemu Jodoh

    Doa Nifsu Syaban : Arab, Latin dan Terjemahannya

    Setelah melaksanakan sholat, sempurnakan ibadah tersebut dengan meminta, bersandar serta berkomunikasi bersama Allah SWT dengan berdoa.

    Berikut doa Nisfu Syaban dalam tulisan Arab, latin, dan terjemahannya.

    اَللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ

    Allahumma ya dzal manni wa la yumannu ‘alaik, ya dzal jalali wal ikram, ya dzat thawli wal in’am, la ilaha illa anta zhahral lajin wa jaral mustajirin wa ma’manal kha’ifin. Allahumma in kunta katabtani ‘indaka fî ummil kitabi syaqiyyan aw mahruman aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullahumma fî ummil kitabi syaqawati wa hirmani waqtitara rizqi, waktubni ‘indaka sa’idan marzuqan muwaffaqan lil khairat.
    Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitabikal munzal ‘ala lisani nabiyyikal mursal, yamhullahu ma yasya’u wa yutsbitu, wa ‘indahu ummul kitab wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil ‘alamin.

    Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauhulmahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata–sementara perkataan-Mu adalah benar–di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki. Di sisi-Nya Lauhulmahfuzh.’ Semoga Allah memberikan selawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT.”

    Jika doa di atas terlalu panjang untuk dibacakan, berikut doa pilihan lainnya:

    اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ

    Allaahumma innaka ‘afuwwung- kariimung-tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Allaahumma innii asalukal ‘afwa wal ‘aafiyata wal mu’aafaataddi imati fiddiini waddunyaa wal aakhiroh.

    Artinya:”Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan maka maafkanlah aku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf, afiyah, dan keselamatan yang terus-menerus dalam agama dan dunia serta akhirat.”

    Hukum Dilaksanakannya Sholat Nisfu Syaban

    Dilansir dari NU Online, terkait pelaksanaan sholat Nisfu Syaban ini, ternyata ulama Syam berbeda pendapat. Ada dua pendapat yang menjelaskan hal tersebut, yaitu:

    1. Disunahkan Sholat Nifsu Syaban Berjamaah

    Pendapat pertama menyatakan umat muslim dianjurkan menyambut malam Nisfu Syaban secara berjamaah di masjid, termasuk di dalamnya melaksanakan sholat, serta amalan sunnah lainnya.

    Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Khalid bin Ma’dan dan Lukman bin Amir menggunakan pakaian terbaik mereka, membakar dupa (bukhur) dan pada malam itu mereka i’tikaf di dalam masjid. Ishaq bin Rahawaih menyetujui atau tidak mengingkari apa yang mereka lakukan. Ia juga berkata: “Menghidupkan malam Nisfu Sya’ban di masjid-masjid secara berjamaah bukanlah bid’ah.”

    Pendapat tersebut dinukil oleh Harb Al-Karmani dalam kitab Masa’ilnya.

    2. Dimakruhkan Sholat Nisfu Syaban Berjamaah

    Pendapat kedua menyebutkan bahwa berkumpul di dalam masjid-masjid untuk menyambut malam Nisfu Syaban dengan sholat, berdoa dan menyampaikan kisah-kisah teladan, adalah perkara yang dimakruhkan.

    Seorang muslim lebih dianjurkan untuk melaksanakan sholat sendiri di malam Nisfu Syaban.

    Hal ini berarti boleh melaksanakan sholat nisfu syaban di masjid akan tetapi lebih dianjurkan untuk melaksanakannya sendiri di rumah.

    Ini merupakan pendapat Imam Al-Auza’i, seorang imam, ahli fiqih dan alimnya negeri Syam. (Al-Qasthalani, Al-Mawahib Al-Laduniyah, juz III, halaman 301).

    Keutamaan Malam Nisfu Syaban

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa malam syaban merupakan bulan istimewa yang penuh kebaikan dan kerahmatan dari Allah.

    Manfaat keutamaan ini bisa didapatkan di malam puncak nisfu syaban yang jatuh di malam ke lima belas atau pertengahan bulan syaban.

    Keutamaan malam nisfu syaban ini, Allah menjanjikan ampunan yang seluas-luasnya dan pahala yang sebanyak-banyaknya bagi umat muslim yang mengerjakan amalan baik. Hal ini juga dijelaskan dalam hadist riwayat Aisyah r.a yaitu sebagai berikut :

    Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW bangun pada malam dan melakukan sholat serta memperlama sujud, sehingga aku menyangka beliau telah diambil. karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari sholatnya,

    Beliau berkata, “Wahai Asiyah, (atau Wahai Humaira’), apakah kamu menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?” Aku menjawab, “Tidak ya Rasulallah, namun Aku menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah karena sujud Anda lama sekali.” Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Ini adalah malam nisfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban). Dan Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu sya’ban dan mengampuni orang yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda orang yang hasud sebagaimana perilaku mereka.” (HR Al-Baihaqi)

    Dalam hadis riwayat lain, Aisyah r.a juga menjelaskan bahwa Allah memberi kesempatan bagi umat muslim untuk mendapatkan pengampunan seperti seperti banyaknya bulu kambing. “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nisfu sya’ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing)” (HR At-Tabarani dan Ahmad).

    Amalan Sunnah Malam Nisfu Syaban

    Ada beberapa amalan yang bisa dilaksanakan di malam nisfu Syaban, sebagai berikut:

    1. Sholat Maghrib Berjamaah

    Amalan pertama yang bisa dilakukan yakni sholat berjamaah Maghrib, sholat ini bisa dilakukan di tanggal 14 Syaban atau malam tanggal 15 Syaban. Setelahnya bisa dilanjut dengan dzikir setela sholat fardhu.

    2. Sholat Sunnah Bara’ah

    Selesai berdzikir sholat Maghrib, dapat dilanjut dengan menunaikan sholat sunnah yang disebut Bara’ah sebanyak 100 rakaat, sholat ini merupakan sholat sunnah yang dilaksanakan khusus pada malam Nisfu  Syaban.

    Pelaksanaan sholat ini dianjurkan bagi yang mampu dan mengerjakan semampunya. Boleh dilakukan dengan satu kali salam di tiap dua rakaatnya.

    Pada tiap rakaatnya pula membaca Surat Al-Ikhlas lima kali setelah melafalkan Surat Al-Fatihah. Setiap sujudnya dianjurkan membaca doa berikut setelah mengucapkan bacaan sujudnya:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَسَخَطِكَ وَلَا أَحْصِي عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا اَثْنَيَتْ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى

    Allahumma innii a’uudzubika min ‘iqaabika wa sakhatika wa laa uhsii ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafzika fa lakal hamdu hattaa tardhaa

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu dan murka-Mu dan aku tidak menghitung-hitung pujian pada-Mu sebagaimana Engkau memuji kepada-Mu sendiri maka segala puji bag-iMu sehingga Engkau rela.”
    Membaca Doa Bara’ah

    3. Doa ini dilafalkan setelah mendirikan sholat sunnah Bara’ah.

    اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَ اِسْمِي شَقِيًّا فِي دِيوَانِ الْأَشْقِيَاء فَامْهُ وَاكْتُبْنِي السُّعَدَاء وَإِِنْ كُنتَ اِسْمِي سَعِيدًا فِي دِيوَانِ السّعَدَاءِ فَاثْبِتْهُ فَإِنَّكَ قُلْتَ فِي كِتَابِكَ الكَرَيْمِ يَمْحُو اللهُ مَايَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

    Allahumma in kunta katabta ismii syaqiyyan fii diiwaanil asyqiyaa-i famhu waktubnii as-su’adaa-i wa in kunta ismii sa’iidan fii diiwaanis su’adaa-i fatsbithu fa innaka qulta fii kitaabikal kariimi yamhuu allaahu maa yasyaa-u wa yutsbit wa ‘indahu ummul kitaabi

    Artinya: “Ya Allah, jika Engkau telah mencatat namaku orang yang sengsara di tempat orang-orang yang sengsara maka hapuskanlah dan catatlah namaku di tempat orang-orang yang berbahagia. Jika Engkau telah mencatat namaku sebagai orang yang bahagia pada catatan orang-orang yang bahagia, maka tetapkanlah. Maka sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab Mu yang dimuliakan: Allah menghapus apa-apa yang Dia kehendaki dan Allah menetapkan (apa-apa yang Dia kehendaki) dan di sisi-Nya ada kitab yang pokok.”

    Demikian penjelasan mengenai  niat sholat nisfu syaban, tata cara, dan keutamaannya. Semoga bermanfaat. Assalamualaikum wr.wb.

  • Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    Sholat lima waktu merupakan salah satu pilar rukun Islam yang hukumnya farduain’ atau wajib dilaksanakan. Itulah mengapa meninggalkan sholat menjadi dosa besar bagi seorang muslim, sehingga, jika terlewat wajib hukumnya mengqodho atau mengganti. Lantas, bagaimana cara mengqodho sholat yang benar?

    Mengingat bahwa saat di akhirat kelak, amalan yang pertamakali hisab adalah sholat, maka penting bagi seorang muslim untuk menjadikan sholat sebagai kebutuhan primer dalam hidup yang harus dicukupi.

    Dengan bukti kecintaan Allah SWT atas umatnya. Allah SWT memberikan keringanan atas ketidaksengajaan atau unsur lupa serta adanya halangan berat dengan mengganti sholat di waktu berikutnya.

    Berikut cara mengqodho sholat yang terlewat sesuai dengan syariat Islam:

    Hukum Mengqodho Sholat Fardhu

    Dilansir dari NU online, sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid, menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat itu berdosa, atau jika sengaja tidak melakukannya bisa berstatus sebagai seorang kafir.

    Namun, hal tersebut memiliki pengecualian bagi seorang muslim yang terpaksa meninggalkan sholat sebab adanya unsur syari di dalamnya.

    Contoh dari unsur syari yang dijelaskan adalah ketiduran. Hal ini diperjelas dengan hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    Sesungguhnya ketiduran bukan termasuk menyia-nyiakan sholat. Yang disebut menyia-nyiakan sholat adalah mereka yang menunda sholat, hingga masuk waktu sholat berikutnya. Siapa yang ketiduran hingga telat sholat maka hendaknya dia mengerjakannya ketika bangun.” (HR. Muslim)

    Seluruh ulama sepakat bahwa seorang muslim wajib mengganti sholat yang sudah terlewat, baik yang memiliki unsur syari ataupun tidak.

    Syarat Sah Mengqodho Sholat

    Syarat Sah Mengqodho Sholat

    Seorang muslim memang diwajibkan untuk mengqodho sholat yang sudah terlewat, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni syarat sah mengqodho sholat, berikut penjelasannya:

    1. Mengqodho Berurutan

    Sebagai seorang muslim, ajaran yang dikerjakan Rasulullah SAW merupakan tuntunan terbaik dalam berkehidupan.

    Praktik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika terlewat sholat lima waktu dalam hari yang sama yakni dengan mengqodho sholat secara berurutan.

    Rasulullah SAW mengqodho sholat sesuai urutan, mulai dari qodho sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib dan terakhir Isya.

    Baca juga: 13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

    2. Didahului Adzan dan Iqamah

    Sesuai dengan kesepakatan Ulama Jumhur, mengqodho sholat sunnahnya didahului adzan dan iqamah.

    Bila sholat yang dikerjakan terdiri dari beberapa sholat sekaligus, maka cukup dengan satu kali adzan namun setiap sholat harus dipisahkan dengan iqomah.

    Jika setiap sholat qodho dikerjakan pada waktu terpisah, maka masing-masing sholat disunnahkan untuk diawali dengan adzan dan iqamah.

    3. Mengqodho Sholat Berjamaah

    Mengqodho sholat berjamaah dibolehkan, bahkan hukumnya Sunnah.

    Cara mengqodho sholat berjamaah sendiri dengan memperhatikan rakaat yang dikerjakan. Maksud dari hal ini adalah sholat dibolehkan jika imam menqhodo sholat Ashar dengan makmum yang mengqodho sholat Dzuhur serta Isya yang memiliki empat rakaat sama.

    Hukumnya dilarang jika imam mengqodho sholat Dzuhur, ashar atau isya dan makmumnya mengqodho sholat Maghrib ataupun subuh.

    4. Sirr dan Jahr

    Syarat sah terakhir yang perlu diperhatikan yakni Sirr dan Jahr.

    Sirr adalah bacaan pada sholat Dzuhur dan asar dikerjakan dengan dibaca secara lirih.

    Sedangkan Jahr adalah dikerjakan bacaan keras pada waktu sholat Magrib, isya, dan subuh.

    Dalam hal sholat yang terlewat dan diqodho. Sirr dan Jahr mengikuti aturan sah asal sholatnya.

    Namun terdapat perbedaan pendapat Ulama dalam hal ini, berikut dua pendapat Ulama:

    • Ikut Waktu Asal (Jumhur): Jumhur ulama di antaranya Mazhab Al-Hanafiyah, All-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa jahr dan sirr dalam urusan shalat qadha mengikuti waktu asalnya.
    • Ikut Waktu Qadha (Asy-Syafi’iyah):  Bacaan qadha salat dikeraskan apabila dikerjakan pada salat malam hari, dan dilirihkan bila dilakukan pada salat siang hari.

    Apakah boleh Mengqodho Sholat Karena Lupa?

    Ada beberapa dalil terkait mengqodho sholat. Dalil pertama yang perlu diketahui yakni hadis riwayat Dawud yang menjelaskan mengenai anjuran untuk segera melaksanakan sholat ketika ingat setelah lupa. Bunyi dalil tersebut yakni:

    “Jika kalian tertidur atau terlupa dari suatu shalat maka hendaknya shalat jika telah teringat/terbangun.” (HR. Abu Dawud)

    Selain itu terdapat dalil mengqodho sholat lainnya, dalil ini dibahas saat perang khadak di tahun kelima hijriyah. Ketika itu, Rasulullah SAW harus melewatkan empat sholat fardhu.

    Ia kemudian menggantinya setelah perang selesai. Kisah tersebut kemudian diceritakan melalui dalil-dalil berikut:

    Dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya berkata, “Kami pernah berjalan bersama Nabi SAW pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata,

    Wahai Rasulullah, sekiranya anda mau istirahat sebentar bersama kami?” Beliau menjawab: “Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat.” Bilal berkata, “Aku akan membangunkan kalian.”

    Maka mereka pun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggangannya. Namun ternyata rasa kantuk mengalahkannya dan akhirnya Bilal pun tertidur.

    Ketika Nabi Muhammad SAW terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka beliau pun bersabda: “Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan!” Bilal menjawab: “Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya.” Beliau lalu bersabda:

    “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula.

    Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk sholat!” kemudian beliau Rasulullah SAW berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan sholat.” (HR. Al-Bukhari)

    Dengan bukti kecintaan Allah SWT kepada umatnya yakni diringankannya ibadah kepada-Nya menyesuaikan keadaan suatu hamba, maka tidak akan ada alasan lagi bagi seorang muslim untuk meninggalkan sholatnya.

    Niat Mengqodho Sholat

    Sebenarnya tidak ada lafal niat yang khusus untuk cara mengqodho sholat.

    Bahkan, jika sholat yang ditinggalkan lebih dari satu, maka setelah salam, bisa berdiri kembali untuk mengqodho sholat selanjutnya.

    1. Niat Cara Mengqodho Sholat Subuh

    “Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati qodho’an lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan salat fardhu subuh sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah SWT.”

    2. Niat Cara Mengqodho Sholat Dzuhur

    “Ushallii fardhazh-Zhuhri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.”

    “Saya (berniat) mengerjakan salat fardhu szuhur sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah Swt.”

    3. Niat Cara Mengqodho Sholat Ashar

    “Ushallii fardhal ‘Ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.”

    “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu ashar sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah Swt.”

    4. Niat Cara Mengqodho Sholat Magrib

    “Ushallii fardhal Maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.”

    “Saya (berniat) mengerjakan sholat maghrib sebanyak tiga rakaat dengan menghadap kiblat, serta qodho karena Allah Taala.”

    5. Niat Cara Mengqodho Sholat Isya

    Ushallii fardhal Isyaa’i arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.

    “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Isya sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah Taala.”

    Baca juga: Bacaan Doa Sayyidul Istighfar (Arab, Latin, Artinya) serta Maknanya

    Tata Cara Mengqodho Sholat Sesuai Fiqih

    Cara mengerjakan sholat fardhu dengan niat mengqodho sama persis layaknya sholat yang ditinggalkan, dalam hal sifat dan tata caranya.

    Misalkan, seorang hamba luput dalam melaksanakan sholat Dzuhur sebab di tengah perjalanan. Maka dia wajib mengerjakan sholat empat rakaat yang sama.

    Atau terlelap hingga waktu subuh habis dan bermimpi telah sholat, maka saat sudah terbangun dan teringat bahwa dirinya sebenarnya belum sholat subuh, segerakanlah untuk mengerjakannya.

    Namun hal yang perlu diperhatikan adalah pelaksanaan waktu mengqodho sholat yang beragam, ada yang berpendapat untuk menyegerakan dan ada pula yang menganjurkan saat waktu longgar.

    Ketentuan mengqodho sholat yang harus disegerakan datang dari Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah. Pendapat mereka didasari sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

     “مَنْ نَسِيَ صَلاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا”

    “Siapa yang terlupa shalat, maka lakukan shalat ketika ia ingat.” (HR. Bukhari)

    Namun, ada juga hadis yang menjelaskan salat bisa dilaksanakan dengan waktu yang lebih longgar.

    “لاَ ضَيْرَ – أَوْ لاَ يَضِيرُ – ارْتَحِلُوا فَارْتَحَل فَسَارَ غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ نَزَل فَدَعَا بِالْوَضُوءِ فَتَوَضَّأَ وَنُودِيَ بِالصَّلاَةِ فَصَلَّى بِالنَّاسِ”

    Rasulullah beliau menjawab,”Tidak mengapa”, atau ” tidak menjadi soal”. “Lanjutkan perjalanan kalian”. Maka beliau SAW pun berjalan hingga tidak terlalu jauh, beliau turun dan meminta wadah air dan berwudhu. Kemudian diserukan (adzan) untuk shalat dan beliau SAW mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari)

    Sebagai panduan, berikut contoh tata cara mengqodho sholat Maghrib sesuai urutan:

    1. Membaca niat qodho Maghrib
    2. Takbiratul Ihram
    3. Membaca doa Iftitah (Sunnah)
    4. Membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat
    5. Membaca surat pendek pada dua rakaat pertama
    6. Rukuk dan itidal
    7. Sujud pertama
    8. Duduk di antara dua sujud
    9. Sujud kedua
    10. Berdiri untuk melakukan rakaat kedua dengan membaca Alfatihah
    11. Baca surat pendek Al-Qur’an
    12. Rukuk dan I’tidal
    13. Sujud pertama
    14. Duduk antara dua sujud
    15. Sujud kedua
    16. Tasyahud Awal
    17. Berdiri untuk rakaat ketiga dan membaca Al Fatihah
    18. Baca surat pendek Al-Qur’an
    19. Rukuk dan I’tidal
    20. Sujud pertama
    21. Duduk antara dua sujud
    22. Sujud kedua
    23. Tasyahud akhir
    24. Salam

    Demikianlah penjelasan mengenai cara mengqodho sholat serta tata caranya sesuai syariat agama Islam yang sah. Semoga bermanfaat.

    Assalamualaikum wr. wb.

  • Shalat Sunnah Rawatib: Niat dan Tata Caranya (Sholat Qobliyah Ba’diyah)

    Shalat Sunnah Rawatib: Niat dan Tata Caranya (Sholat Qobliyah Ba’diyah)

    Ada banyak keutamaan di dalam Shalat Sunnah Rawatib. Salah satunya adalah dibangunkan rumah di surga oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah sebagai berikut:

    مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

    Artinya: “Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Tirmidzi).

    Maka dari itu, sebagai umat muslim kamu dianjurkan untuk melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib sebelum atau sesudah shalat fardhu karena akan mendapatkan rahmat yang melimpah.

    Untuk tahu bagaimana tata cara atau apa niat Shalat Sunnah Rawatib, yuk ikuti artikel berikut ini sampai habis!

    Pengertian Shalat Sunnah Rawatib

    Shalat Sunnah Rawatib atau sering disebut dengan Shalat Qabliyah Ba’diyah adalah salah satu Shalat Sunnah yang waktu pelaksanaannya mengiringi Shalat wajib atau Shalat Fardhu. Shalat tersebut dilaksanakan sebelum atau sesudah Shalat wajib.

    Jenis-Jenis Shalat Sunnah Rawatib

    Berdasarkan waktunya, Shalat Sunnah Rawatib terbagi menjadi dua yaitu Shalat Qabliyah dan Ba’diyah.

    1. Shalat Sunnah Rawatib Qabliyah

    Shalat Sunnah Rawatib Qabliyah adalah Shalat Sunnah yang dikerjakan sebelum Shalat Fardhu.

    Baca juga: 4 Contoh Ceramah Singkat tentang Sholat dalam Islam

    2. Shalat Sunnah Rawatib Ba’diyah

    Shalat Sunnah Rawatib Ba’diyah adalah Shalat Sunnah yang dikerjakan sesudah Shalat Fardhu.

    Dilihat dari segi hukum, Shalat Sunnah Rawatib dibagi menjadi dua yaitu Muakad dan Ghairu Muakad.

    3. Shalat Sunnah Rawatib Muakad

    Shalat Sunnah Rawatib Muakad merupakan Shalat yang sangat dianjurkan karena selalu dikerjakan oleh Rasulullah SAW.

    Berikut waktu pelaksanaan dan jumlah rakaatnya:

    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Subuh
    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Dzuhur
    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Dzuhur
    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Maghrib
    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Isya

    Dari penjelasan di atas sesuai dengan hadis berikut ini:

    Artinya: ”Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Saya ingat dari Rasulullah Saw, dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudah Zuhur, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh”.  (HR. Bukhari dan Muslim).

    4. Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakad

    Berbanding terbalik dengan yang sebelumnya, Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakad adalah Shalat yang kurang dianjurkan karena jarang dikerjakan oleh Rasulullah SAW., dan memiliki sedikit keutamaan dibandingkan Rawatib Muakad.

    Berikut waktu pelaksanaan dan jumlah rakaatnya:

    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Dzuhur

    Jika kamu mengerjakan sebanyak empat rakaat, maka dua rakaat pertama menjadi Sunnah Muakad dan dua rakaat selanjutnya  adalah Ghairu Muakad.

    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Dzuhur

    Jika kamu mengerjakan sebanyak empat rakaat, maka dua rakaat pertama menjadi Sunnah Muakad dan dua rakaat selanjutnya  adalah Ghairu Muakad.

    • Empat rakaat sebelum Shalat Fardhu Ashar
    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Maghrib
    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Isya

    6 Ketentuan dalam Melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib

    Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib sebagai berikut:

    • Tidak didahului oleh azan dan iqomah
    • Dilakukan secara munfarid atau sendirian
    • Bacaan Shalat tidak dinyaringkan
    • Ada baiknya tempat Shalat Rawatib pindah sedikit dari tempat Shalat wajib
    • Jika hendak mengerjakan Shalat Rawatib 4 rakaat, maka harus dengan dua salam.
    • Diawali dengan niat

    Membaca niat dianjurkan diucapkan dalam hati saja, namun boleh dilafalkan.

    Baca juga:

    Niat Shalat Sunnah Rawatib

    Adapun jika ingin membaca niat Shalat Rawatib tergantung dari waktu pelaksanannya, yaitu Qabliyah atau sebelum Shalat Fardhu dan Ba’diyah atau sesudah Shalat Fardhu.

    1. Niat Shalat Qabliyah Subuh

     للهِ تَعَالَىاُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ   ِ

    Latin: Usholli Sunnatash Subhi Rok’ataini Qobliyatan Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya: “Aku niat shalat Sunnah sebelum Subuh 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    Baca juga: 7 Perbedaan Haji dan Umroh yang Perlu Diketahui

    2. Niat Shalat Qabliyah Dzuhur (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الظُّهْرِرَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli Sunatta Dhuhri Rok’ataini Qobliyatan Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah sebelum Dzuhur 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    3. Niat Shalat Ba’diyah Dzuhur (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الظُّهْرِرَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli Sunnata Dhuhri Rok’ataini Ba’diyah Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah setelah Dhuhur 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    4. Niat Shalat Ba’diyah Maghrib (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Ushalli Sunnatal Maghribi Rok’ataini Ba’diyah Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah setelah Maghrib 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    5. Niat Shalat Ba’diyah Isya (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli Sunnatal Isyaa’i Rok’ataini Ba’diyatta Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah setelah Isya’ 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    Bacaan Surat-Surat Al-Qur’an Saat Shalat Sunnah Rawatib

    Diutamakan untuk membaca beberapa surat seperti di bawah ini saat sedang melaksanakan Shalat Rawatib sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW:

    1. Saat Subuh

    Untuk Shalat Qabliyah Subuh diutamakan membaca surat:

    • Al-Kafirun untuk rakaat pertama
    • Al-Ikhlas untuk rakaat kedua

    Anjuran tersebut berdasarkan hadis berikut ini:

    “Bahwasanya Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pada shalat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas.” [HR. Muslim no. 726].

    Namun, ada juga hadis riwayat lain menganjurkan membaca surat berikut ini:

    • Al-Baqarah ayat 136
    • Ali-Imron ayat 52

    Bukti hadisnya adalah sebagai berikut:

    “Kemudian dari Sa’id bin Yasar yang mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat sunnah sebelum subuh di rakaat pertamanya membaca Al-Baqarah: 136 dan di rakaat keduanya membaca Ali Imron: 52.”” [HR. Muslim no. 727].

    2. Saat Maghrib

    Sedangkan untuk bacaan surat Shalat Ba’diyah Maghrib sama seperti di atas, yaitu sebagai berikut:

    • Al-Kafirun untuk rakaat pertama
    • Al-Ikhlas untuk rakaat kedua

    Perintah tersebut tertuang pada hadis berikut ini:

    “Saya sering mendengar Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada shalat sunnah sesudah maghrib: Surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas.” [HR. At-Tirmidzi no. 431, Ibnu Majah no. 1166].

    Tata Cara Shalat Sunnah Rawatib

    A. Rakaat pertama

    1. Niat

    Saat melaksanakan Shalat Rawatib harus diawali dengan niat. Sebab, dengan niat artinya kita bersungguh-sungguh dalam menjalankan sesuatu.

    Meskipun membaca niat boleh dilafalkan, namun alangkah lebih baiknya jika diucapkan di dalam hati.

    2. Takbiratul Ihram

    Adapun cara melakukan takbiratul ihram adalah dengan mengangkat kedua belah tangan tepat ke samping telinga, sambil mengucapakan “Allahu Akbar”.

    3. Membaca doa iftitah

    Setelah takbiratul ihram, langkah selanjutnya adalah sikap bersedekap atau menumpangkan kedua tangan di atas dada sambil membaca doa iftitah.

    4. Membaca surat Al-Fatihah

    Jika sudah selesai membaca doa iftitah, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah.

    5. Membaca surat-surat

    Tak hanya Shalat Fardhu, Shalat Sunnah juga dianjurkan untuk membaca surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an.

    Namun, di dalam Shalat Rawatib diutamakan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas seperti yang telah dijelaskan di atas.

    6. Rukuk dan tuma’ninah

    Rukuk adalah salah satu posisi Shalat yang mana badan membungkuk dan meletakkan kedua telapak tangan di kedua lutut kaki, serta harus dilakukan secara tuma’ninah.

    Tuma’ninah sendiri merupakan kondisi tenang di mana setiap persendian pada tubuh juga ikutan tenang.

    Pelafalan bacaan rukuk adalah sebagai berikut:

    الْعَظِيمِ رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Latin: Subhaana rabbiyal ‘adzimii wabihamdih (diucapkan sebanyak tiga kali)

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya.”

    7. I’tidal dan tuma’ninah

    I’tidal adalah salah satu posisi Shalat yang mana badan berdiri tegak setelah bangun dari rukuk secara tuma’ninah.

    Berikut ini adalah pelafalan dari rukuk ke I’tidal:

    حَمِدَهُ لِمَنْ اللَّهُ سَمِع

    Latin: Sami’allaahu liman hamidah.

    Artinya: “Allah maha mendengar terhadap orang yang memujinya.”

    Dan bacaan I’tidal adalah sebagai berikut:

     بَعْدُ شَيْءٍ مِنْ شِئْتَ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ السَّمَوَاتِ مِلْءَ الْحَمْدُ لَكَ رَبَّنَا

    Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.

    Artinya:

    Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”

    8. Sujud pertama dan tuma’ninah

    Sujud adalah salah satu posisi Shalat dengan menempelkan kedua lutut, sebagian dahi, kedua ujung telapak kaki dan kedua tangan di lantai tempat Shalat.

    Berikut ini adalah bacaan sujud yang benar:

     وَبِحَمْدِهِ الْأَعْلَى رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Latin: Subhanaa rabbiyal a’la wabihamdih. (Diucapkan sebanyak tiga kali).

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya.”

    9. Duduk di antara dua sujud

    Duduk di antara dua sujud merupakan salah satu posisi Shalat yang mana disebut duduk iftirasy dan setelah bangun dari sujud.

    Bacaannnya adalah sebagai berikut:

     وَارْفَعْنِ وَارْزُقْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْحَمْنِى لِى اغْفِرْ رَبِّ

    Latin: Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu’annii.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.”

    10.  Sujud kedua dengan tuma’ninah

    Setelah duduk di antara dua sujud, kembali sujud yang kedua kali. Tata cara dan bacaannya sama seperti yang pertama.

    B. Rakaat kedua

    1. Ulangi lagi langkah 2 – 10

    Bangun lagi dari sujud untuk melaksanakan rakaat kedua dengan cara mengulang step 2 sampai 10, kecuali doa iftitah.

    2. Tasyahud akhir

    Jika sudah melaksanakan sujud kedua di rakaat kedua, langsung duduk tasyahud akhir karena Shalat Rawatib hanya dua rakaat.

    Bacaan tasyahud akhir yang benar adalah sebagai berikut:

    اللَّهِ وَرَحْمَةُ النَّبِىُّ أَيُّهَا عَلَيْكَ السَّلاَمُ لِلَّهِ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ الْمُبَارَكَاتُ التَّحِيَّاتُ

    وَأَشْهَدُ اللَّهُ إِلاَّ إِلَهَ لاَ أَنْ أَشْهَدُ الصَّالِحِينَ اللَّهِ عِبَادِ وَعَلَى عَلَيْنَا السَّلاَمُ وَبَرَكَاتُهُ

     مُحَمَّدٍ عَلىَ صَلِّ للَّهُمَّ  . اللَّهِاَ رَسُولُ مُحَمَّدًا أَنَّ

    Latin: Attahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.

    Artinya:

    Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    3. Salam

    Tutup shoalt sunnah Rawatib dengan dua salam seperti sholat fardu, yakni dimulai dari salam ke kanan dilanjutkan ke kiri.

    4. Jika ingin empat rakaat, maka berdiri lagi untuk melaksanakan rakaat ketiga dan keempat dengan dua salam.

    Itulah semua informasi mengenai Sholat sunnah Rawatib berikut dengan tata cara pelaksanaan hingga waktu yang dianjurkan untuk sholat sunnah ini.

  • Tata Cara Sholat Jenazah Perempuan dan Laki-laki: Urutan, Niat, Bacaan, dan Doa

    Tata Cara Sholat Jenazah Perempuan dan Laki-laki: Urutan, Niat, Bacaan, dan Doa

    Tata cara sholat jenazah penting untuk diketahui setiap umat muslim. Agar bisa ikut menyolatkan ketika ada keluarga atau kerabat dekat yang meninggal.

    Kenapa kalau ada yang meninggal harus disholatkan? Karena Rasulullah SAW., pernah menyuruh para sahabatnya untuk menyolatkan sahabatnya yang telah meninggal dunia, seperti yang dikutip dari hadis berikut ini:

    “Zaid bin Khalid berkata: “Seorang dari sahabat Nabi SAW gugur ketika perang Khaibar, lalu para sahabat mengabarkan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ‘Sholati lah kawan kalian.’” (HR Malik, Abu Dawud, Nasa’i Ibnu Majah, Hakim & Ahmad).

    Pelaksanaan sholat jenazah cukup berbeda dengan sholat lainnya, lho. Penasaran apa saja perbedaan sholat jenazah dengan solat lainnya? Bagaimana tata cara sholat jenazah yang baik dan benar? Yuk, ikuti artikel berikut ini sampai habis!

    Hukum Sholat Jenazah

    Sholat Jenazah hukumnya adalah fardu kifayah. Sholat jenazah wajib dilakukan secara berjamaah, bukan sendiri-sendiri.

    Sebagai contoh, jika di kompleks perumahan kamu ada yang meninggal, lalu ada sebagian kaum muslimin yang menyolatkannya, maka orang yang tidak melaksanakan sholat jenazah tersebut tidak berdosan.

    Namun, jika di dalam suatu perkampungan tidak ada yang menyolatkan, maka semua kaum muslim yang ada di kampung tersebut berdosa.

    Hal tersebut tertuang di dalam hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW., bersabda:

     “Ketika ada seorang laki-laki meninggal dalam berutang disampaikan kepada Rasulullah, maka beliau bertanya apakah ia meninggalkan harta untuk membayar utangnya. Jika dikatakan ia meninggalkan hartanya untuk membayar utang, maka beliau akan mensalatkannya. Jika tidak, maka beliau akan memerintahkan kepada kaum muslimin, ‘salatkanlah temanmu ini’,” (HR. Bukhari Muslim).

    Baca juga: Hukum Mencukur Alis dalam Islam, Ini Dalil dan Pendapat Ulama

    Waktu Pelaksanaan Sholat Jenazah

    Sholat jenazah bisa dilaksanakan kapan saja, kecuali sebagai berikut:

    • Saat matahari terbit hingga ia sedikit meninggi.
    • Saat matahari tepat berada di pertengahan langit.
    • Saat matahari segera terbenam.

    Hal tersebut tentunya sesuai dengan hadis berikut ini:

    “Ada tiga waktu, yang mana Rasulullah SAW., telah melarang kita untuk salat atau menguburkan jenazah pada waktu-waktu tersebut.

    Pertama, saat matahari terbit hingga ia agak meninggi,

    Kedua, saat matahari tepat berada di pertengahan langit (tengah hari tepat) hingga ia telah condong ke barat,

    Ketiga, saat matahari hampir terbenam, hingga ia terbenam sama sekali,” (HR. Muslim).

    Niat Sholat Jenazah

    Perbedaan pertama sholat jenazah dengan sholat lainnya adalah dari bacaan niatnya. Pelafalan niat sholat jenazah disesuaikan dengan jenis kelamin, yaitu jenazah perempuan dan jenazah laki-laki memiliki niat yang berbeda.

    Niat sholat jenazah perempuan

    Berikut ini adalah bacaan niat sholat jenazah perempuan:

    اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

    Latin: “Ushollii ‘alaa haadzihill mayyitati arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa,”.

    Artinya: “Saya niat salat atas mayat ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

    Niat sholat jenazah laki-laki

    Bacaan niat sholat jenazah laki-laki adalah sebagai berikut:

     تَعَالَى ِللهِ مَأْمُوْمًا الْكِفَايَةِ فَرْضَ تَكْبِرَاتٍ اَرْبَعَ هَذَاالْمَيِّتِ عَلَى اُصَلِّى

    Latin: “Ushollii ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa,”.

    Artinya: “Saya niat salat atas mayat ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

    Tata Cara Sholat Jenazah

    Perbedaan utama yang membedakan sholat jenazah dengan ibadah sholat lainnya adalah dari tata caranya, di mana pada sholat jenazah tidak ada rukuk dan sujud.

    1.      Niat

    Niat adalah hal yang paling krusial di dalam sholat. Bagaimana tidak, semua ibadah sholat pasti wajib menyertakan niat. Sedangkan, bagian sholat lainnya belum tentu wajib disertakan. Hal tersebut dikarenakan niat menjadi pembeda antara aktivitas biasa dengan ibadah sholat.

    Menurut beberapa ulama, niat sebaiknya diucapkan di dalam hati saja. Kecuali kalau menjadi imam. Akan tetapi, ada sebagian ulama terutama dari kalangan mazhab syafi’I yang berpendapat melafalkan niat secara lantang adalah Sunnah.

    2.      Takbiratul ihram

    Setelah niat, biasanya umat muslim melakukan takbiratul ihram di dalam sholat. Takbiratul ihram merupakan salah satu posisi sholat dengan cara mengangkat kedua belah tangan ke samping telinga, sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.

    3.      Takbir pertama

    Jika sudah melakukan takbiratul ihram, segera meletakkan kedua tangan ke bawah dada dan di atas perut, kemudian membaca surat Al-Fatihah sama seperti ibadah sholat yang lainnya.

    Namun, bedanya membaca surat Al-Fatihah di sholat jenazah dinamakan takbir pertama. Berikut bacaan surat Al-Fatihah dan artinya:

    الرَّحِيمِ لرَّحْمَنِ اللَّهِ بِسْمِ

    الْعَالَمِينَ رَبِّ لِلَّهِ الْحَمْدُ

    الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ

    الدِّينِ يَوْمِ مَالِكِ

    نَسْتَعِينُ وَإِيَّاكَ نَعْبُدُ إِيَّاكَ

    الْمُسْتَقِيمَ الصِّرَاطَ اهْدِنَا

    الضَّالِّينَ وَلَ عَلَيْهِمْ الْمَغْضُوبِ غَيْرِ عَلَيْهِمْ أَنْعَمْتَ الَّذِينَ صِرَاطَ

    Artinya:

    “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

    Yang Menguasai Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

    Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,

    Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,” (QS Al Fatihah:1-7).

    4.      Takbir kedua

    Setelah selesai membaca surat Al-Fatihah, kemudian melaksanakan takbiratul ihram lagi untuk takbir yang kedua sambil membaca sholawat Nabi, namun dianjurkan untuk membaca sholawat Ibrahimiyah karena dianggap lebih afdhol, yaitu:

    إِبْرَاهِيْمَ عَلىَ صَلَّيْتَ كَماَ مُحَمَّدٍ آلِ وَعَلىَ مُحَمَّدٍ عَلىَ صَلِّ اَللَّهُمَّ

    وَعَلىَ مُحَمَّدٍ عَلىَ باَرِكْ اَللَّهُمَّ مَجِيْدٌ حَمِيْدٌ إِنـَّكَ إِبْرَاهِيْمَ آلِ وَعَلىَ

    مَجِيْدٌ حَمِيْدٌ إِنـَّكَ إِبْرَاهِيْمَ آلِ وَعَلىَ إِبْرَاهِيْمَ عَلىَ باَرَكْتَ كَماَ مُحَمَّدٍ آلِ

    Latin: Allohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohim, innaka hamiidum majiid.

    Allohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohim, innaka hamiidum majiid.

    Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad,

    Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim,

    Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia,

    Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad,

    Sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim,

    Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

    5.      Takbir ketiga

    Cara melaksanakan takbir ketiga sama dengan takbir kedua, yaitu dengan mengangkat kedua tangan setinggi telinga, lalu meletakkannya kembali ke atas perut dan bawah dada.

    Bacaan yang dibaca pada takbir ketiga adalah doa jenazah. Doa jenazah dibagi sesuai jenis kelamin seperti di bawah ini:

    A.      Doa jenazah untuk laki-laki atau kaum muslim

     وَوَسِّعْ نُزُلَهُ وَأَكْرِمْ عَنْهُ وَاعْفُ وَعَافِهِ وَارْحَمْهُ لَهُ اغْفِرْ اللَّهُمَّ

    كَمَا الْخَطَايَا مِنَ وَنَقِّهِ وَالْبَرَدِ وَالثَّلْجِ بِالْمَاءِ وَاغْسِلْهُ مُدْخَلَهُ

    وَأَهْلاً دَارِهِ مِنْ خَيْرًا دَارًا وَأَبْدِلْهُ الدَّنَسِ مِنَ الأَبْيَضَ الثَّوْبَ نَقَّيْتَ

    وَزَوْجًا عَذَابِ مِنْ وَأَعِذْهُ الْجَنَّةَ وَأَدْخِلْهُ زَوْجِهِ مِنْ أَهْلِهِ مِنْ خَيْرًا

    النَّارِ عَذَابِ مِنْ أَوْ الْقَبْرِ خَيْرًا

    Latin: Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wawassi’

    Mudkholahu waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barod,

    Wa naqqihi minal khothooyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danas,

    Wa abdilhu daaron khoiron min daarihi wa ahlan khoiron min ahlihi wa zaujan khoiron min zaujihi,

    Wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabin qobri au min ‘adzaabin naar.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia. Bebaskanlah dan maafkanlah dia.

    Luaskanlah kuburnya dan mandikanlah ia dengan air, salju, dan embun,

    Sucikan ia dari seluruh kesalahan seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran,

    Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya,

    Pasangan yang lebih baik dari pasangannya, lalu masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari cobaan kubur dan azab neraka.”

    B.      Doa jenazah untuk perempuan

    نُزُلَهَا وَأَكْرِمْ عَنْهَا وَاعْفُ وَعَافِهَا وَارْحَمْهَا لَهَا اغْفِرْ اللَّهُمَّ

    مِنَ وَنَقِّهَا وَالْبَرَدِ وَالثَّلْجِ بِالْمَاءِ وَاغْسِلْهَا مُدْخَلَهَا وَوَسِّعْ

    دَارًا وَأَبْدِلْهَا الدَّنَسِ مِنَ الأَبْيَضَ الثَّوْبَ نَقَّيْتَ كَمَا الْخَطَايَا

    زَوْجِهَا مِنْ خَيْرًا وَزَوْجًا أَهْلِهَا مِنْ خَيْرًا وَأَهْلاً دَارِهَا مِنْ خَيْرًا

    النَّارِ عَذَابِ مِنْ أَوْ الْقَبْرِ عَذَابِ مِنْ وَأَعِذْهَا الْجَنَّةَ وَأَدْخِلْهَا

    Latin: Allaahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa wa akrim nuzulahaa wa wassi’ madkhalahaa wa aghsilhaa bimaa-in wa tsaljin wa baradin wa naqqihaa minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas, wa abdilhaa daaran khairan min daarihaa, wa ahlan khairan min ahlihaa , wa zaujan khairan min zaujihaa , wa qihaa fitnatal qabri wa ‘adzaaban naar


    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, berilah keselamatan dan ampunilah dosanya, muliakanlah tempat tinggalnya dan lapangkanlah tempat keluarnya, sucikanlah ia dengan air, es, dan embun, serta bersihkanlah ia dari segala dosa dan kesalahan sebagaimana Engkau telah membersihkan baju putih dari kotoran. Berilah ganti baginya tempat yang lebih baik dari tempatnya yang terdahulu, keluarga yang lebih baik dari keluarga semula, pasangan yang lebih baik dari pasangan semula, serta lindungilah ia dari fitnah kubur dan siksa neraka.”

    Untuk doa jenazah, bisa juga dipersingkat menjadi : Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu.

    Atau disingkat menjadi seperti ini jika jenazahnya perempuan: Allahummaghfirlaha warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia. Bebaskanlah dan maafkanlah dia.”

    6.      Takbir keempat

    Untuk takbir yang terakhir membaca doa untuk jenazah dan orang-orang yang ditinggalkan sebagaimana tercantum di dalam hadis riwayat Abu Daud, yaitu:

    A.      Doa untuk jenazah laki-laki atau kaum muslim

    وَلَهُ لَنَا اغْفِرْ وَ بَعْدَهُ تَفْتِنَّا وَلاَ أَجْرَهُ تَحْرِمْنَا لاَ اللَّهُمَّ

    Latin: Allohumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu.

    Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan cobai kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.”

    B.      Doa untuk jenazah perempuan

    وَلَهَا لَنَا اغْفِرْ وَ بَعْدَهَا تَفْتِنَّا وَلاَ أَجْرَهَا تَحْرِمْنَا لاَ اللَّهُمَّ

    Latin: Allohumma laa tahrimnaa ajrohaa wa laa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa.

    Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan cobai kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.”

    7.      Salam

    Sama seperti sholat pada umumnya, sholat jenazah diakhiri dengan salam, yaitu dengan cara memalingkan kepala dari kanan ke kiri sambil mengucapkan salam. Berikut ucapan salam:

    بَرَكَاتُهُ وَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكَ السَّلاَمُ

    Latin: Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarookaatuh.

    Artinya: “Semoga keselamatan rahmat Allah dan berkah-Nya limpahkan kepada kalian.”

  • Bacaan Doa Sujud Syukur Latin, Arab dan Tata Caranya

    Bacaan Doa Sujud Syukur Latin, Arab dan Tata Caranya

    Doa sujud syukur biasanya dilakukan oleh seseorang setelah sujud terakhir ketika sholat. Sujud syukur merupakan salah satu sujud yang dilakukan oleh seseorang ketika telah mendapatkan nikmat atau selamat dari bencana. 

    Selain bisa mengucapkan “Alhamdulillah” ketika sedang mendapatkan nikmat yang melimpah dari Allah SWT, ada doa sujud perlu dilafalkan.

    Perlu diingat sujud syukur ini sebenarnya berbeda dengan sujud yang dilakukan saat shalat 5 waktu.

    Hukum dan Niat Doa Sujud Syukur

    Hukum syukur kepada Allah sebenarnya adalah wajib. Dalam kondisi apapun, kapanpun, dimanapun, setiap umat Islam memiliki kewajiban untuk terus mensyukuri nikmat yang Allah telah diberikan kepada kita.

    Namun, hukum syukur ketika sujud dan membaca doa syukur adalah sunnah. Posisi sujud juga sebenarnya telah memiliki makna dan nilai tersendiri. Hal ini karena menunjukkan kerendahan hati kita sebagai salah satu hamba di hadapan Allah SWT.

    Dalam agama Islam, sangat menekankan kepada umat Muslim agar hendaknya mengingat rasa syukur. Perintah untuk senantiasa selalu bersyukur dan juga seringkali disebutkan Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7.

    Allah SWT berfirman:

    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

    Wa iż ta`ażżana rabbukum la`in syakartum la`azīdannakum wa la`ing kafartum inna ‘ażābī lasyadīd.

    Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kita bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kita mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” 

    (QS. Ibrahim:7)

    Saat mengamalkan doa dari sujud syukur, hendaknya kita jangan asal-asalan. Hal ini karena sudah ada beberapa tata cara dan doa sujud yang telah dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

    Selain itu, saat ini juga ada aturan yang harus diikuti ketika melakukan sujud untuk menunjukkan rasa syukur. Saat bersyukur, tentunya juga harus menjaga kebersihan, tempat ibadah, tubuh, pakaian, serta lakukan sujud di luar waktu sholat.

    Alasan dilakukannya sujud syukur karena akan mendapatkan banyak nikmat yang tidak disangka-sangka. Selain itu, juga terhindar dalam kesialan, terhindar dari mara bahaya, serta orang fasik (yang telah tersesat dari jalan kebenaran).

    Baca juga: Doa Ketika Ada Petir Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya (Shahih)

    Tata Cara Melakukan Sujud Syukur

    Biasanya untuk bisa melakukan sujud syukur, sudah ada beberapa tata cara tertentu yang harus kita ikuti. Adapun tata cara untuk bisa langsung melakukan sujud syukur akan dijelaskan sebagai berikut:

    1. Membaca Niat Terlebih Dahulu

    Sebelum melakukan sujud, biasanya ada niat yang harus dibaca dalam hati sambil berdiri menghadap kiblat agar lebih sempurna. Adapun bacaan niat sujud yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari adalah sebagai berikut:

    نَوَيْتُ سُجُوْدَ الشُّكْرِ سُنَةَ للهِ تَعَالَى

    Nawaitu sujudas syukri sunnatan lillahi ta’ala.

    Artinya: 

    “Saya niat melakukan sujud syukur sunnah karena Allah Ta’ala.”

    2. Melakukan Takbiratul Ihram

    Takbiratul ihram merupakan salah satu dari rukun qauli (rukun yang berupa ucapan). Dimana seseorang yang telah masuk dalam rangkaian ibadah shalat harus melakukan takbiratul ihram ini.

    الله أَكْبَر

    Allaahu akbar

    Artinya: 

    “Allah Maha Besar.”

    3. Melakukan Sujud Syukur Satu Kali

    Selanjutnya, kita bisa melakukan gerakan sujud. Hal ini dilakukan seperti pada sujud umumnya hanya satu kali saja. 

    4. Bacaan Doa Sujud Syukur ketika Posisi Sujud

    Bacaan Doa Sujud Syukur ketika Posisi Sujud

    Adapun bacaan doa yang benar dan bisa dilakukan dengan mudah adalah sebagai berikut.

    سُبْحَانَ اللّهِ والْحَمْدُللّهِ وَ لا اِلهَ اِلَّا اللّهُ وَ اللّهُ اَكْبَرُلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بالله العلي العظيم 

    Subhaanallohi walhamdulillaahi walaa ilaaha illalloohu walloohuakbar, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.

    Artinya: 

    “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Yang Maha Tinggi, Maha Agung.”

    Baca juga: Bacaan Doa Iftitah Panjang, Pendek, Arab-Latin dan Artinya

    5. Duduk di Antara Dua Sujud

    Jika dilihat dari tata cara sholat, kita bisa duduk di antara dua sujud dengan duduk iftirasy. Hal ini membentangkan punggung kaki kiri di lantai dan mendudukinya. 

    Kemudian, bisa dilanjutkan dengan kaki kanan ditegakkan dan jari-jarinya menghadap kiblat.

    6. Mengucapkan Salam

    Berikutnya, bisa mengucapkan salam seperti di akhir shalat. Salam ini biasanya dapat dilakukan hanya dengan menoleh ke kanan hingga pipi terlihat dari belakang.

    Setelah itu, kita bisa menoleh ke kiri hingga pipi terlihat dari belakang. Lanjut sambil mengucapkan kata “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh”.

    Doa Sujud Syukur yang Benar

    Setelah kita sudah mengetahui tata caranya, ada beberapa bacaan syukur yang bisa dibacakan. Berikut ini sudah ada beberapa bacaan dari doa syukur, antara lain:

    1. Membaca Tasbih, Tahmid, dan Tahlil

    سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ

    Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi, wa laa ilaaha illallaah, wallahu akbar.

    Artinya: 

    “Maha Suci Allah. Segala puji kepunyaan Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.”

    2. Membaca Zikir Syukur

    سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَا رَكَ اللهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

    Sajada wajhiya lilladzii kholaqohu washowwarohu wasyaqo sam’ahu wa bashorohu bihaulili wa quwwatihi fatabaa ro kallaahu ahsanul khooliqiin.

    Artinya: 

    Aku sujudkan wajahku kepada yang menciptakannya, membentuk rupanya, dan membuka pendengaran serta penglihatan. Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta.”

    3. Membaca Surat An-Naml Ayat 19

    رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ اَشۡکُرَ نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰىہُ وَ اَدۡخِلۡنِیۡ بِرَحۡمَتِکَ فِیۡ عِبَادِکَ الصّٰلِحِیۡنَ

    Robbi au zi’nii an asykur ni’matakallatii an ‘amta ‘alayya wa ‘alaa waa lidayya wa an a’mal shoolihan tardhoohu wa adkhilnii birohmatika fii ‘ibaadikasshoolihiin.

    Artinya: 

    “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai. 

    Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih,” (QS. An-Naml ayat 19).

    4. Tahmid dari Syekh Sulaiman Al-Kurdi

    Syekh Sulaiman Al-Kurdi diketahui telah menganjurkan tahmid berikut ini sebagai salah satu doa untuk sujud syukur, antara lain:

    الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيَّ بِكَذَا وَدَفَعَ عَنِّيْ كَذَا وَعَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلَى بِهِ فُلَانًا

    Alhamdulillāhil ladzī an‘ama ‘alayya bi kadzā, wa dafa‘a annī kadzā, wa ‘āfānī mimmābtalā bihī fulānan.

    Artinya: 

    “Segala puji bagi Allah, Zat yang memberikan nikmat kepadaku berupa …. sebutkan dalam hati nikmat yang diterima). Dan menolak dariku marabahaya …. (sebutkan bahaya yang dimaksud). 

    Dan menyelamatkanku dari musibah yang Allah berikan kepada fulan .… (sebutkan musibah yang dimaksud),” (Syekh Sulaiman Al-Kurdi, Al-Hawasyil Madaniyyah, (Al-Haramain: tanpa tahun), juz I, halaman 317)

    5. Doa Sujud Syukur agar Terhindar dari Bahaya Maksiat

    Maraknya perzinahan yang ada di sekitar kita, tentunya harus mendekatkan diri pada Allah. Hal ini tentunya untuk mendapatkan perlindungan Allah dari segala dosa maksiat tersebut patut kita syukuri.

    Maka dari itu, berikut ini sudah ada doa dari sujud syukur yang bisa langsung diucapkan ketika terhindar dari dosa maksiat.

    اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا

    Allāhumma lā taj‘al mushībatanā fī dīninā.

    Artinya: 

    “Ya Allah, jangan jadikan musibah kami pada agama kami.”

    6. Membaca Doa Sujud Syukur seperti Sujud Tilawah

    Doa sujud tilawah juga bisa kita jadikan sebagai salah satu doa untuk sujud syukur yang benar. Hal ini tentunya karena sebagian ulama menganggap keduanya adalah hal yang sama.

    Adapun untuk doa sujud tilawah yang dapat dibacakan ketika ingin melakukan sujud syukur, adalah sebagai berikut:

    سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ 

    Sajada wajhiya lil ladzī khalaqahū wa shawwarahū wa syaqqa sam‘ahū wa basharahū bi haulihī wa quwwatihī fa tabārakallāhu ahsanul khāliqīna.

    Artinya: 

    “Diriku bersujud kepada Zat yang menciptakan dan membentuknya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha suci Allah, sebaik-baik pencipta,” 

    (Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada hamisy I’anatut Thalibin, (Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H), juz I, halaman 246).

    7. Doa Sujud Sahwi

    Sebenarnya, juga ada bacaan doa sujud sahwi apabila seseorang sedang merasa ragu dalam rakaat shalatnya. Doa sujud syukur yang satu ini sebenarnya dapat dilakukan dalam gerakan shalat, yakni dengan tambahan lafadz sujud sahwi:

    سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُوْا 

    Subhana man laa yanaamu walaa yashuu.

    Artinya:

    “Maha Suci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa.”

    Manfaat Selalu Bersyukur Akan Kehidupan

    Selain dapat menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT, tentunya kita juga harus tahu bahwa bersyukur juga memberikan sejumlah manfaat kesehatan. Berikut ini sudah ada beberapa manfaat bersyukur dalam kehidupan, antara lain:

    1. Hidup Menjadi Bahagia

    Bersyukur sebenarnya telah memiliki efek positif pada suasana hati. Jadi nantinya kita akan merasa lebih bahagia.

    Pada dasarnya, hal ini berarti sebagai manusia dapat memanfaatkan rasa syukur dengan sebaik-baiknya. Hal ini tentunya bisa menjalani kehidupan dengan benar-benar bersyukur.

    2. Singkirkan Rasa Iri

    Merasa bersyukur setiap hari tentunya juga akan membantu mengusir rasa cemburu dan iri terhadap orang lain.

    Jadi bisa dikatakan bahwa rasa syukur juga akan mengurangi kecemburuan, memunculkan emosi positif.

    Bahkan bisa langsung membuat seseorang lebih tangguh dari biasanya. Kemudian, jika kita selalu mensyukuri apa yang dimiliki, maka nantinya juga tidak akan ada rasa iri yang datang kepada diri sendiri.

    3. Meningkatkan Harga Diri

    Perlu diketahui, bahwa kepuasan hidup dan harga diri akan semakin meningkat setelah merasa bersyukur setiap hari. Bersyukur juga akan dapat membantu merasa lebih baik tentang apa saja yang dialami.

    4. Mengurangi Depresi

    Rasa syukur dikenal sebagai salah satu faktor yang dapat membantu mencegah stres. Bahkan, juga depresi yang akan mengarah pada ide bunuh diri.

    Meningkatkan praktik rasa syukur juga tentunya akan dapat membantu melindungi kita saat berada dalam kondisi terlemah.

    5. Melatih Kesabaran

    Bersyukur juga nantinya juga bisa membuat diri lebih sabar. Bahkan, diketahui bahwa orang yang lebih bersyukur cenderung akan lebih sabar dan membuat keputusan jauh lebih baik.

    6. Meningkatkan Kesehatan Mental

    Tidak hanya bermanfaat dalam menjaga kesehatan fisik. Tentunya dengan membiasakan diri bersyukur juga akan membantu meningkatkan kesehatan mental atau psikis. 

    Berkat adanya rasa syukur, kita akan terbantu mengatasi emosi yang negatif. Misalnya saja seperti frustrasi, cemburu, marah, dan menyesal. 

    Bersyukur tentunya juga dapat langsung meningkatkan kebahagiaan atau kadar dopamin dalam tubuh. Hal ini tentunya lebih efektif mengurangi gangguan mental berupa depresi.

    7. Membuat Merasa Tenang

    Syukur merupakan salah satu afirmasi positif yang tentunya akan membawa kebahagiaan serta kedamaian di hati. Kita nantinya juga akan menjadi lebih tenang dengan adanya rasa syukur. 

    Ketika kita bersyukur, tubuh tentunya akan dipenuhi dengan energi yang positif. Hal ini tentunya akan membantu kita untuk berpikir lebih jernih, mengurangi pikiran serta lebih menikmati hidup yang dijalani. 

    Jadi beberapa penjelasan tentang doa sujud syukur dan tata caranya, serta manfaat bersyukur di atas bisa dijadikan sebagai pegangan hidup Mulai dari sekarang, untuk membuat sujud lebih khusyuk, dan harus disertai tata cara.

  • Niat Sholat Sunnah Sebelum Subuh dan Tata Caranya (Qobliyah Subuh)

    Niat Sholat Sunnah Sebelum Subuh dan Tata Caranya (Qobliyah Subuh)

    Niat Sholat sunnah sebelum subuh (Qobliyah Subuh) – Sholat merupakan ibadah wajib yang hukumnya wajib. Meski demikian, tidak semua sholat hukumnya wajib, ada beberapa yang disunnahkan. Salah satunya yakni sholat sunnah sebelum subuh.

    Sholat sunnah ini dikerjakan dengan dua rakaat. Meski dikatakan sunnah, banyak sekali keutamaan sholat sunnah sebelum subuh yang bisa kita dapatkan sebagai seorang Muslim. Sebagaimana Aisyah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

    Artinya: “Dua rakaat fajar (sholat sunnah qobliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim)

    Untuk penjelasan lebih lanjut, mari simak informasi di bawah ini.

    Waktu Melaksanakan Sholat Sunnah Sebelum Subuh

    Sholat sunnah sebelum subuh ini juga dikenal dengan ibadah qobliyah subuh. Sebelum mengetahui niat, tata cara dan keutamaannya, baiknya kita mengetahui waktu terbaik dalam pelaksanaannya.

    Pelaksanaan sholat qobliyah subuh baiknya dilakukan setelah azan subuh. Hal ini diriwayatkan dalam hadis Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

     يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

    Artinya, “Rasulullah SAW dahulu diam antara azan muazin hingga waktu sholat subuh. Sebelum mulai melaksanakan sholat subuh, beliau terlebih dahulu sholat dua rakaat ringan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Selain waktu tersebut, terdapat juga beberapa pandangan tentang waktu pengerjaan sholat ini. Pandangan tersebut dikemukakan oleh Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi, dan Mazhab Syafi’i. Adapun uraiannya yaitu sebagai berikut.

    • Mazhab Maliki: Sholat sunnah qobliyah subuh dilakukan sejak terbit fajar shadiq yang ditandai dengan sebuah cahaya yang terlihat pada waktu subuh sebagai batas antara akhir malam dengan permulaan pagi hingga terbit matahari. Jika melewati waktu tersebut, maka sholat ini akan menjadi qadha hingga matahari tergelincir (zawal)
    • Mazhab Hanafi: Sholat fajar atau sunnah subuh dilaksanakan pada awal masuk waktu subuh, sebelum kumandang iqamah sholat subuh. Jika melewati waktunya, maka tidak perlu di-qadha, kecuali jika dilaksanakan bersama sholat fardhu
    • Mazhab Syafi’i: Waktu pelaksanaan sholat sunnah subuh yaitu sejak terbit fajar shadiq hingga matahari terbit. Jika tidak khawatir akan ketinggalan sholat subuh, maka sholat ini termasuk sunnah untuk dilaksanakan

    Berdasarkan berbagai pendapat dari Imam Mazhab tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sholat sunnah qobliyah subuh sebaiknya dilaksanakan setelah terbit fajar dan pada awal waktu sebelum sholat subuh.

    Selain itu, juga terdapat hadis Ummul Mukminin Hafshah RA yang menjelaskan:

    يُصَلِّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ إِذَا سَمِعَ الأَذَانَ وَيُخَفِّفُهُمَا

    Artinya: “Rasulullah SAW dahulu diam antara adzan muadzin hingga waktu sholat subuh. Sebelum mulai melaksanakan sholat subuh, beliau terlebih dahulu sholat dua rakaat ringan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Baca juga: Dzikir dan Doa Setelah Sholat Witir Arab-Latin Beserta Arti Sesuai Sunnah

    Niat Sholat Sunnah Sebelum Subuh

    Niat Sholat Sunnah Sebelum Subuh
    Niat sholat sunnah sebelum subuh

    Sebelum memahami tata cara sholat sunnah sebelum subuh, seorang umat muslim harus mengetahui niat yang akan dibacakan.

    Niat merupakan pembeda ibadah satu dengan yang lainnya serta bentuk komunikasi terhadap Allah SWT. Tak hanya itu, sholat yang dilakukan tanpa niat maka ibadahnya tertolak.

    Berikut niat sholat sunnah sebelum subuh bica dibaca dan di barengi dengan takbiratur ikhram.

    اُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latinnya: Usholli sunnatash subhi rok’ataini qobliyatan mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala.

    Artinya, “Aku niat sholat sunnah sebelum subuh dua rakaat, menghadap kiblat karena Allah yang Maha Tinggi.”

    Selain lafal di atas, kita juga bisa melafalkan niat sholat sunnah sebelum subuh versi berikut:

    أُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَةً للهِ تَعَالَى

    Latinnya: Ushalli sunnatash-shubhi rak’ataini qabliyyatal lillahi ta’ala.

    Artinya, “Aku niat sholat sunnah sebelum subuh dua rakaat karena Allah SWT.”

    Tata Cara Sholat Qobliyah Subuh yang Benar

    Berikut ini tata cara sholat sunnah sebelum subuh yang bisa kita ikuti:

    1. Melafalkan niat sholat sunnah sebelum subuh
    2. Takbiratul ihram sambil mengucap Takbir
    3. Membaca doa iftitah (sunnah)
    4. Membaca surat Al-Fatihah (wajib)
    5. Membaca surat pendek Al-Qur’an yang dikuasai
    6. Rukuk
    7. I’tidal
    8. Sujud pertama
    9. Duduk di antara dua sujud
    10. Sujud kedua pada rakaat pertama
    11. Kembali berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua
    12. Membaca surat Al-Fatihah
    13. Lanjut membaca surat pendek, dianjurkan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua
    14. Rukuk
    15. I’tidal
    16. Sujud pertama
    17. Duduk di antara dua sujud
    18. Sujud kedua pada rakaat kedua
    19. Duduk tasyahud akhir
    20. Salam
    21. Doa setelah sholat

    Baca juga: Bacaan Doa Sapu Jagat dalam Tulisan Arab dan Latin, Lengkap beserta Artinya

    Dzikir dan Bacaan Doa Setelah Sholat Sunnah Sebelum Subuh

    Sebagai  penyempurna amalan sholat qobliyah subuh, umat muslim dianjurkan untuk melakukan dzikir serta doa setelah sholat sunnah sebelum subuh.

    Berikut urutan dzikir dan bacaan doa setelah sholat sunnah subuh yang perlu diketahui:

    1. Membaca Istighfar (33x)

    Lantunan dzikir pertama yang bisa dibacakan setelah sholat sunnah subuh adalah istghfar.

    (33x) أَسْتَغْفِرُ اللهَ

    “Astaghfirullah” (33x)

    Rasulullah SAW pernah bersabda:

     “Barang siapa membiasakan diri untuk senantiasa beristigfar, Allah akan memberikan jalan keluar di setiap kesulitan, kebahagian dari setiap kesusahan, dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka,” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

    2. Doa setelah Sholat Subuh

    Lajutkan dzikir dengan membaca doa setelah sholat sunnah subuh. Berikut bacaannya:

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

    “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabarakta yaa dzal jalaali wal ikram”

    Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah,” (3x). “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan dan darimu-Mu keselamatan. Maha suci Engkau, wahai tuhan pemilik keagungan dan kemuliaan.

    3. Membaca Surat Al-Fatihah

    Setelah membaca doa setelah qobliyah subuh,lanjutkan dengan membaca Al-Fatihah.

    Membaca Al-Fatihah adalah sarana untuk memuji kekuasan Allah SWT serta mendekatkan diri kepada-Nya.

    Seperti yang kita tahu, bahwa surat Al-Fatihah merupakan syarat sah dalam sholat, jika tidak membaca Al-Fatihah maka sholat akan dianggap tidak sah.

    4. Membaca Ayat Kursi

    Ayat kursi memang memiliki banyak manfaat dan keutamaan, terutama apabila dibaca usai melaksanakan sholat, baik itu sholat fardhu maupun sholat sunnah seperti qobliyah subuh.

    Keutamaan ayat kursi juga disebutkan dalam satu hadis riwayat An-Nasai, Rasulullah SAW bersabda:

    Barangsiapa yang membaca ayat kursi usai melaksanakan sholat, maka tidak ada hal yang dapat menghalanginya masuk ke surga, kecuali karena kematian.” (HR. An-Nasai).

    5. Membaca Surat Al-Imran ayat 18

    Setelah membaca Ayat Kursi, lanjutkan dengan membaca surat Al-Imran ayat 18 yang berbunyi:

    شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

    Latinnya: Shahidallaahu annahuu laa ilaaha illaa Huwa walmalaaa’ikatu wa ulul ‘ilmi qooa’imam bilqist; laaa ilaaha illaa Huwal ‘Aziizul Hakiim

    Artinya: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia yang berhak disembah, Yang menegakkan keadilan.

    Membaca surat ini menyadarkan kita bahwa tiada Tuhan yang patut untuk disembah selain Allah SWT serta memahami bahwa tiada Zat yang paling sempurna selain Allah SWT.

    6. Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil 33 Kali

    Lanjutkan dzikir dengan membaca tasbih, tahmid dan tahlil sebanyak 33 kali. Dengan membaca dzikir ini sebanyak 33 kali, Insyallah dosanya akan diampuni meskipun dosa sebanyak buih yang ada di lautan.

    Berikut bacaan tasbih, tahmid dan tahlil:

    سُبْحَانَ اللهِ Subhanallah (33x)

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ Alhamdulillah (33x)

    اَللهُ أَكْبَرُ Allahu Akbar (33x)

    7. Membaca Surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Naas 33 kali

    Akhiri dengan membaca ketiga surat qul yang memiliki keutamaan mustajab dan sangat dianjurkan oleh Rasul bagi umat muslim.

    Salah satu keistimewaannya yakni, akan dilindunginya seorang muslim dalam segala marabahaya. Jika membacanya saat subuh maka akan sejak pagi hari hingga petang dating.

    Keutamaan Sholat Sunnah Sebelum Subuh

    Sholat sunnah sebelum subuh memiliki banyak keutamaan yang sayang sekali untuk dilewatkan seorang muslim. Berikut beberapa keutamaanya yang perlu diketahui:

    1. Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

    Jika diartikan, keutamaan ini merupakan amalan yang besar dan dunia hanya sebatas satu lembar sayap lalat saja.

    Hal ini sesuai dengan salah satu hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    “Dua rakaat (sebelum) fajar (sholat Subuh) lebih baik (nilainya) dari dunia dan seisinya.” (HR Muslim dan Tirmidzi).

    Dalam artian, orang yang selalu melaksanakan ibadah tersebut secara berkelanjutan dan konsisten disukai Allah SWT.

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda tentang keutamaan luar biasa dari salat Subuh dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

    Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada salat Isya dan sholat Subuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    2. Mengikuti Teladan Rasulullah SAW

    Mengerjakan sholat sunnah qobliyah subuh artinya seorang muslim telah mengikuti ajaran serta teladan rasul.

    Rasulullah SAW memberi contoh pada umat-umatnya untuk senantiasa menjaga rutinitasnya dalam melaksanakan sholat qobliyah subuh.

    Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis shahih dari Bukhari dan Muslim, berikut artinya.

    Rasulullah SAW dulu diam di antara adzan muadzin hingga sholat Subuh. Sebelum sholat Subuh dimulai, Rasul akan mendahului dengan 2 rakaat ringan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    3. Diberikan Rumah di Syurga

    Keutamaan lain dari sholat qobliyah subuh adalah dijanjikan memiliki rumah di surga sebagai balasan karena telah taat dan beribadah pada Allah SWT.

    Keutamaan ini, dijelaskan pula dalam sebuah hadis shahih yang disampaikan oleh Ummu Habibah ra, Istri Rasul SAW, berkata:

    “Aku mendengar Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda, seorang hamba yang muslim melaksanakan sholat sunnah yang bukan wajib, karena Allah sebanyak 12 rakaat dalam setiap harinya, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.

    Kemudian Ummu Habibah radhiyallahu anha berkata, setelah aku mendengarkan hadis tersebut, aku tidak pernah meninggalkan shalat tersebut (sholat sunnah).”

    4. Menutup kekurangan pada sholat wajib

    Keutamaan selanjutnya adalah menyempurnakan sholat wajib atau menutup kekurangan yang ada ketika melaksanakan sholat wajib.

    Sebagaimana manusia yang fitrahnya tidak pernah luput dari kekurangan maupun kesalahan. Begitu pula saat melaksanakan sholat fardhu.

    Tidak jarang, sholat yang dilakukan memiliki banyak kekurangan yang kadang kita tidak sadar pada bagian-bagian tertentu.

    Contohnya seperti gerakan yang tidak sempurna, bacaan yang mungkin lupa, terlalu terburu-buru,tidak khusyuk dan masih banyak lagi.

    Oleh karena itu, perlu dilaksanakan sholat sunnah sebelum subuh sebagai bentuk usaha kita dalam menyempurnakan sholat.

    5. Selalu Berada Dilindungan Allah SWT

    Keutamaan yang terakhir yakni dijanjikan selalu dalam lindungan Allah setiap hal yang akan Ia kerjakan. Rasulullah pernah bersabda:

     “Barangsiapa yang menunaikan sholat subuh, maka ia akan berada dalam jaminan Allah. Maka jangan pernah coba-coba membuat Allah membuktikan janji Nya. barang siapa yang membunuh orang ketika ia sedang menunaikan sholat subuh, maka Allah pun akan menuntutnya, sehingga Allah akan membenamkan muka orang tersebut ke dalam api neraka.” (HR. Muslim. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Itulah penjelasan mengenai niat sholat sunnah sebelum subuh, tata cara, waktu perlaksanaan serta keutamaannya. Insyallah jika kita niatkan segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT, kita akan selalu terlindung dari marabahaya dunia dan akhirat. Aamiin..

    Terimakasih sudah membaca, selamat bertemu lagi, Assalamualaikum wr.wb.