Tag: Tata Cara Sholat

  • Tata Cara Sholat Tarawih Sendiri dan Berjamaah, Lengkap dengan Doanya!

    Tata Cara Sholat Tarawih Sendiri dan Berjamaah, Lengkap dengan Doanya!

    Bagaimana pengalaman tarawih tahun lalu? Sebagai muslim yang baik, tentunya kita menjalankan sholat dengan benar sesuai tata cara sholat tarawih yang telah ditetapkan.

    Berbeda dari sholat wajib, pelaksanaan sholat tarawih hanya terjadi di bulan suci Ramadhan. Orang berbondong-bondong datang ke mushola atau masjid untuk mengikuti tarawih berjamaah.

    Namun, terlepas menjalankan sholat tarawih seorang diri di rumah maupun berjamaah di mushola maupun masjid. Mengikuti tata cara sholat dengan benar merupakan hal wajib. 

    Sehingga, sholat yang dijalankan tidak hanya sesuai sunnah tapi juga berpahala.

    Tata Cara Sholat Tarawih Sendiri

    Ada berbagai alasan yang membuat seseorang memutuskan untuk tarawih sendiri di rumah. Misalnya, karena terlambat pulang kerja atau pun alasan lainnya. Agar tidak melewatkan tarawih meskipun sholat sendiri, pelajari langkah-langkahnya berikut.

    1. Membaca Niat Sholat Tarawih

    Melaksanakan sholat tarawih usai sholat wajib Isya hukumnya sunnah. Muslim yang melakukannya sendiri di rumah bisa memilih untuk sholat tarawih 11 rakaat (8 Rakaat Tarawih ditambah 3 Rakaat Witir).

    Setelah memutuskan untuk sholat tarawih 11 rakaat, hal pertama yang dilakukan adalah membaca niat sholat tarawih sendiri. Niatnya berbeda dari niat sholat berjamaah sehingga wajib dihafalkan dengan baik.


    اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

    Yang bila diterjemahkan, artinya “Aku berniat sholat tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah ta’ala.’’

    Bagaimana jika belum hafal niat sholat tarawih dan witir yang benar? Hafalkan niat tarawih di atas, kemudian lanjutkan dengan mengingat niat sholat witir berikut.

    صَلِّى سُنَّةَ الوِتْرِ رَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَ

    Artinya: “Saya niat shalat witir satu rakaat (menghadap kiblat) karena Allah ta’ala.”

    Baca juga: Dzikir dan Doa Setelah Sholat Witir Arab-Latin Beserta Arti Sesuai Sunnah

    2. Shalat Tarawih Salam Tiap 2 Rakaat

    Siapa pun yang ingin menegakkan sholat tarawih 11 rakaat (8 Rakaat Tarawih ditambah 3 Rakaat Witir) bisa memilih untuk menyelesaikan sholat tarawih sebanyak 5 kali salam.

    Di mana, satu kali sholat tarawih dilaksanakan sebanyak 2 rakaat.

    Ada pun niat sholat tarawih dua rakaat sudah dituliskan di bagian pertama. Kemudian, sholat diakhiri dengan sholat witir sebanyak 1 rakaat.

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يُصَلىِّ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَ هِيَ الَّتِي يَدْعُوْ النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلىَ الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلَّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam atau tarawih setelah shalat Isya’ – Manusia menyebutnya shalat Atamah – hingga fajar sebanyak 11 rakaat. 

    Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim).

    Sebagai muslim yang baik kita bisa mengikuti tata cara shalat tarawih seperti Rasulullah tersebut. Pilih surat pendek yang sederhana dan ringan. 

    3. Shalat Tarawih Salam Tiap 4 Rakaat

    Beberapa muslim mungkin ini terbiasa menjalankan tata cara sholat tarawih sendiri di rumah 11 rakaat dengan 6x salam. Untuk pengalaman baru, mengapa kita tidak mencoba sholat tarawih sebanyak 2x dengan masing-masing, 4 rakaat per salam.

    Kemudian, dilanjutkan dengan sholat witir sebanyak 3 rakaat dalam satu kali salam. Cara ini akan cocok bagi muslim yang ingin menyelesaikan tarawih dengan cepat karena satu dan lain alasan.

    مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. 

    Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim).

    Tata Cara Sholat Tarawih Berjamaah

    Tata Cara Sholat Tarawih Berjamaah

    Konon katanya, sholat tarawih yang paling baik itu jika kita laksanakan secara berjamaah baik di rumah bersama anggota keluarga maupun di masjid dan mushola. Tentu saja, tata cara sholat berjamaah berbeda karena ada imam dan makmum. 

    1. Membaca Niat Sholat Berjamaah

    Hal pertama yang harus kita lakukan untuk memulai sholat tarawih berjamaah adalah menunjuk imam yang tepat. Usai mendapatkan imam dan makmum lanjutkan dengan membaca niat.

    Berikut niat tarawih untuk muslim yang menjadi imam sholat.

    اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

    Artinya: “Aku menyengaja shalat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

    Dan ini jikalau kita sholat tarawih sebagai makmum.

    اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

    Artinya: “Aku menyengaja shalat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

    Hafalkan niat sholat tarawih itu dengan baik. Mengapa demikian? Karena kita akan melaksanakan sholat tersebut selama 1 bulan penuh sesuai jadwal sholat yang telah ditentukan. 

    2. Jangan Mendahului Imam

    Yang selanjutnya, usahakan agar selama sholat tarawih maupun witir kita tidak mendahului imam. Penting sekali bagi seorang makmum untuk sholat setelah imam. Ikuti gerakkan yang dilakukan oleh imam.

    Tentu saja, sebagai makmum yang baik kita juga mengawasi jalannya pelaksanaan tarawih agar tidak melakukan kesalahan. Entah itu kesalahan pada jumlah rakaat sholat maupun kesalahan lainnya.

    3. Rakaat Tarawih di Masjid atau Mushola lebih Banyak

    Berbeda dari sholat tarawih sendirian yang jumlah rakaatnya dapat kita tentukan sesuka hati, entah itu 8 rakaat atau 11 rakaat, berbeda dengan sholat berjamaah. Jamaah tarawih di masjid atau mushola biasanya jauh lebih panjang waktunya.

    Mengapa? Karena imam melaksanakan sholat tarawih sebanyak 23 rakaat. Di mana, 20 rakaat sholat tarawih dan 3 rakaat witir. 

    Doa setelah Sholat Tarawih

    Bagaimana, apakah pertanyaan shalat tarawih berapa rakaat sudahkah terjawab? Sebelumnya telah dijelaskan secara gamblang jika sholat tarawih dapat dilaksanakan sendiri maupun berjamaah dengan jumlah rakaat yang berbeda.

    Sebagai muslim yang baik, kita hanya perlu menyesuaikan diri dengan kondisi dan kebiasaan di masyarakat. Jikalau, kita tertarik untuk melaksanakan sholat tarawih secara berjamaah di masjid. 

    Setelah usai menjalankan ibadah sholat tarawih dan witir, janganlah kita terlena untuk langsung melipat sajadah dan pergi. Biasakan untuk membaca doa setelah menunaikan sholat tarawih terlebih dahulu, apa doanya?

    اللَّهُمَّ إِني أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِـمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَـتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْــــنَــــيْتَ عَلَى نَــــفْسِكَ

    Doa setelah sholat Terawih latin: “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. 

    Aku tidak bisa menyebut semua pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” (H.r. An-Nasa’i, Abu Daud, dan Turmudzi; dinilai sahih oleh Al-Albani)

    Bacalah doa tersebut usai kita melakukan tata cara sholat tarawih plus witir. Alangkah baiknya kita membaca doa tersebut sebanyak 3x. Usai dengan bacaan doa pertama, kita bisa mengakhirinya dengan membaca doa berikut. 

    سُبْحَانَ الـمَلِكِ القُدُّوْسِ

    “Maha suci Dzat yang Maha Menguasai lagi Mahasuci.” (H.r. Abu Daud; dinilai sahih oleh Al-Albani).

    Dan sebagaimana doa sebelumnya, kita juga dianjurkan untuk membaca doa tersebut sebanyak tiga kali atau bahkan lebih. 

    Mudah sekali memahami tata cara sholat tarawih, bukan? Intinya, kita hanya perlu belajar step by step yang telah dijelaskan dengan baik dan seksama. Dan bila memiliki kesulitan tidak ada salahnya untuk bertanya pada yang lebih mengerti.

  • Bacaan Sujud Tilawah: Niat, Arti, dan Tata Caranya

    Bacaan Sujud Tilawah: Niat, Arti, dan Tata Caranya

    Untuk dapat melaksanakan sujud tilawah dengan tepat, maka kita perlu mengetahui bacaan sujud tilawah terlebih dahulu.

    Adapun pengertian dari sujud tilawah yaitu sujud yang dilakukan saat membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah. Pelaksanaan sujud ini dilakukan ketika sedang shalat maupun tidak.

    Bagaimana bacaan sujud tilawah yang tepat? Simak penjelasannya di artikel ini.

    Bacaan Sujud Tilawah

    Pelaksanaan sujud tilawah merupakan hal yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar,

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. 

    Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Berdasarkan hadits tersebut para ulama berpendapat bahwa sujud tilawah termasuk amalan yang disyariatkan. Sementara untuk hukum pelaksanaannya adalah sunnah dan bukan wajib.

    Meski demikian, sujud tilawah termasuk amalan yang memiliki keutamaan mulia berdasarkan hadist berikut:

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ

    Artinya: “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: 

    “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, tapi aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)

    1. Niat Sujud Tilawah

    Ketika hendak melakukan sujud tilawah, kita perlu membaca niat sujud berikut:

    Nawaitu sujuuda taalaawati sunnattan lillaahi ta’aala.

    Artinya: “Aku melakukan sujud tilawah sunah kerana Allah Ta’ala”

    Baca juga: Doa Agar Hujan Berhenti dan Cuaca Cerah Sesuai Sunnah, Yuk Amalkan!

    2. Bacaan Sujud Tilawah dan Artinya

    Bacaan Sujud Tilawah dan Artinya

    Terdapat beberapa bacaan yang dapat kita ucapkan ketika sujud tilawah berdasarkan riwayat dalam sejumlah hadits. Berikut di antaranya:

    Dari ‘Ali bin Abi Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca:

    اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

    Bacaan sujud Tilawah latin: Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.

    Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. 

    Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.” (HR. Muslim no. 771)

    Kemudian berdasarkan hadits riwayat Muslim no.772, dari Hudzaifah, Rasulullah ketika sujud membaca: Subhaana rabbiyal a’laa

    Artinya: “Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi.”

    Dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud: Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.

    Artinya: ”Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku” (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)

    Sementara itu, dalam riwayat lain menyebutkan bacaan sujud tilawah yaitu:

     سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

    Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin

    Artinya: 

    “Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasai).

    Tata Cara Sujud Tilawah

    Setelah mengetahui bacaan dari sujud tilawah, maka kita perlu memahami mengenai tata cara pelaksanaannya.

    Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sujud tilawah dilaksanakan saat membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah baik ketika sedang shalat maupun tidak.

    Melansir dari halaman Muslim, berikut tata cara sujud tilawah:

    • Sujud tilawah cukup dengan satu kali sujud. Hal ini berdasarkan kesepakatan pendapat para ulama.
    • Bentuk sujudnya atau cara pelaksanaannya sama dengan sujud ketika shalat
    • Tidak disyariatkan untuk mengucapkan takbiratul ihram maupun salam. Hal ini berdasarkan pendapat yang paling kuat.
    • Disyariatkan untuk takbir saat hendak sujud dan bangkit dari sujud

    Lebih utama untuk melakukan sujud tilawah mulai dari posisi berdiri. Hal ini berlaku ketika melaksanakan sujud tilawah di luar shalat.

    Berikut penjelasan lebih lengkap tentang langkah-langkah pelaksanaan sujud tilawah:

    1. Sujud Tilawah di dalam Shalat

    Ketika membaca ayat-ayat sajadah, kita bisa membaca niat sujud tilawah. Kemudian ucapkan takbir dan melakukan sujud sekali. Selama sujud, ucapkan doa sujud tilawah.

    Setelah itu, baca takbir lalu bangkiit dari sujut dan berdiri kembali untuk melanjutkan shalat hingga salam.

    Sementara, saat sedang shalat berjamaah, maka pelaksanaan sujud tilawah dilakukan dengan mengikuti imam atau secara berjamaah.

    Maka, apabila imam tidak melakukannya, kita sebagai makmum tidak perlu sujud. Pasalnya, melakukan sujud tilawah sendiri akan membuat shalat menjadi batal karena saat makmum dalam shalat berjamaah harus mengikuti imam.

    2. Sujud Tilawah di Luar Shalat

    Apabila tidak sedang shalat dan mendengar atau membaca ayat sajadah, maka kita bisa mulai dengan membaca niat sujud tilawah.

    Selanjutnya, kondisikan badan dalam posisi berdiri, kemudian baca takbir. Setelah itu, lakukan sujud sekali sambil membaca doa sujud tilawah.

    Kemudian baca takbir lagi dan bangkit dari sujud, lalu lanjutkan dengan posisi duduk seperti shalat dan baca salam.

    Ayat Sajdah dalam Al-Qur’an

    Sujud tilawah dilakukan saat mendengar atau membaca ayat sajdah, yang mana terdiri dari 15 ayat, yaitu:

    • Surat Al A’raf Ayat 206
    • Surat Ar Ra’d Ayat 15
    • Surat An Nahl Ayat 50
    • Surat Al Isra’ Ayat 109
    • Surat Maryam Ayat 58
    • Surat Al Hajj Ayat 18
    • Surat Al-Hajj Ayat 77
    • Surat Al Furqan Ayat 60
    • Surat An Naml Ayat 26
    • Surat As Sajdah Ayat 15
    • Surat Fussilat Ayat 38
    • Surat Sad Ayat 24
    • Surat An Najm Ayat 62
    • Surat Al Insyiqaq Ayat 21
    • Surat Al ‘Alaq Ayat 19

    Itulah niat dan bacaan sujud tilawah serta tata cara melaksanakannya. Mengingat hukumnya sebagai sunnah, ada baiknya kita melaksanakannya apabila memungkinkan.

  • Cara Menjamak Sholat Maghrib di Waktu Isya (Jamak Takhir)

    Cara Menjamak Sholat Maghrib di Waktu Isya (Jamak Takhir)

    Cara menjamak sholat Maghrib di waktu Isya adalah sesuatu hal yang harus diketahui dan dipelajari oleh setiap muslim di seluruh dunia.

    Pasalnya, setiap muslim pasti setidaknya pernah merasakan perjalanan jauh atau berada di dalam kondisi bahaya sehingga tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah sholat.

    Untuk itu, Allah memberikan kemudahan kepada umat-Nya untuk melakukan ibadah sholat di saat seperti itu dengan cara dijamak atau digabungkan. Salah satu sholat jamak yang sering ditanyakan adalah cara menjamak sholat Magrib di waktu Isya.

    Nah, pada artikel berikut ini akan menjelaskan seputar sholat jamak Maghrib di waktu Isya beserta tata caranya!

    Pengertian Sholat Jamak

    Sebelum kamu mengetahui cara menjamak sholat Maghrib di waktu Isya, ada baiknya untuk mengenal sholat Jamak dan jenis-jenisnya terlebih dahulu supaya tidak bingung.

    Arti dari sholat jamak dari segi bahasa adalah mengumpulkan. Sedangkan secara harfiah, sholat jamak adalah mengumpulkan dua sholat wajib yang dikerjakan dalam satu waktu.

    Seperti menggabungkan sholat Dzuhur dan Ashar yang dikerjakan pada waktu sholat Dzuhur atau Ashar. Dan bisa juga menggabungkan sholat Maghrib dan Isya yang dikerjakan pada waktu sholat Maghrib atau Isya.

    Sedangkan khusus untuk sholat Subuh tetap pada waktunya dan tidak boleh digabungkan dengan sholat wajib lainnya.

    Hal tersebut disebut dengan rukhshah (keringanan) dari Allah kepada umat-Nya untuk melaksanakan sholat dalam keadaan tertentu. Sholat jamak hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan untuk orang yang sudah memenuhi syarat.

    Baca juga: Tata Cara Wudhu yang Benar: Niat Hingga Doa Sesudah Wudhu

    Dalil Sholat Jamak

    Setelah mengetahui pengertian sholat jamak, kamu juga wajib mengetahui dalilnya terlebih dahulu supaya umat Islam tidak ada lagi alasan meninggalkan sholat fardhu. Kecuali untuk wanita yang sedang menstruasi atau nifas.

    1. QS. Al-Baqarah 286

    لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

    Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu’ākhiżnā in nasīnā au akhṭa’nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alal-lażīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih(ī), wa‘fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal qaumil-kāfirīn(a).

    Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

    2. Hadits Riwayat Ibnu Umar

    “Dari Anas ra, ia berkata, ‘Apabila Rasulullah SAW berangkat menuju perjalanan sebelum tergelincir matahari, beliau akhirkan shalat dzhuhur ke waktu ‘ashar. Kemudian beliau berhenti untuk menjamak shalat keduanya. Dan jika matahari tergelincir sebelum ia berangkat, maka beliau shalat Zhuhur terlebih dahlu kemudian naik kendaraan.” (HR. Bukhari).

    3. Hadits Riwayat Abu Daud

    “Dari Muadz bin Jabal, bahwasannya Nabi SAW dalam perang tabuk, apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau menta’khirkan shalat Zhuhur hingga beliau kumpulkan dengan shalat Ashar, beliau gabungkan keduanya (Zhuhur dan Ashar) waktu Ashar, dan apabila berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau kerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Dan apabila beliau berangkat sebelum Maghrib, beliau menta’khirkan Maghrib hingga beliau melakukan shalat Maghrib beserta Isya’ dan apabila beliau berangkat sesudah waktu Maghrib beliau segerakan shalat Isya’ dan beliau menggabungkan shalat Isya’ bersama Maghrib.” (HR. Abu Daud).

    Jenis Sholat Jamak

    Menjamak Sholat tentu tidak bisa sembarangan, berikut adalah jenis sholat Jamak sesuai Fiqih.

    1. Jamak Taqdim

    Jamak taqdim adalah mengumpulkan dua sholat wajib yang dikerjakan pada waktu sholat awal atau pertama. Contoh dari jamak taqdim adalah sebagai berikut:

    • Menggabungkan sholat Dzuhur dan Ashar yang dikerjakan pada waktu sholat Dzuhur.
    • Menggabungkan sholat Maghrib dan Isya yang dikerjakan pada waktu sholat Maghrib.

    2. Jamak Takhir

    Jamak takhir adalah mengumpulkan dua sholat wajib yang dikerjakan pada waktu sholat kedua atau terakhir. Contoh dari jamak takhir adalah sebagai berikut:

    • Menggabungkan sholat Dzuhur dan Ashar yang dikerjakan pada waktu sholat Ashar.
    • Menggabungkan sholat Maghrib dan Isya yang dikerjakan pada waktu sholat Isya.

    Yang mana pada artikel berikut ini akan membahas cara menjamak sholat Maghrib di waktu Isya.

    3. Jamak Qasar

    Jamak Qasar adalah mengumpulkan dua sholat, dan meringkas Sholat yang rakaatnya berjumlah 4.

    Adapun yang dimaksud dengan Shalat Qasar ialah shalat yang diringkas. Artinya, shalat fardu yang empat raka’at, diringkas menjasi dua raka’at. Shalat yang dapat diqasar yaitu shalat dzuhur, ashar dan Isya. Sedangkan shalat subuh dan maghrib tidak boleh di qasar.

    Dasar dalilnya yakni Al-Quran Surat Nisa ayat 101.

    Artinya: Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qasar salat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

    Baca juga: Jazakumullah Khairan Katsiran, Arti dan Cara Menjawabnya

    Syarat Sholat Jamak Maghrib dan Isya di Waktu Isya

    1. Menempuh perjalanan jauh

    Syarat pertama untuk bisa menjamak sholat adalah harus dalam keadaan menempuh perjalanan jauh. Namun, tidak setiap perjalanan yang ditempuh bisa melaksanakan sholat jamak karena ada beberapa ketentuan tertentu yang akan dijabarkan sebagai berikut:

    • Melakukan perjalanan jauh bukan untuk hal-hal maksiat. Seperti perjalanan mudik atau travelling.
    • Jarak minimal perjalanan harus mencapai farsakh atau sekitar 60 km, 80 km, 88 km atau 94,5 km menurut beberapa pendapat para ulama.
    • Melaksanakan sholat jamak saat masih berada di dalam perjalanan.
    • Melaksanakan sholat jamak setelah keluar dari batas desa.
    • Melaksanakan sholat jamak tidak boleh makmum dengan orang yang mukim.

    2. Berada di dalam kondisi berbahaya

    Syarat yang terakhir adalah jika kamu berada di dalam kondisi bahaya sehingga tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah sholat wajib, seperti:

    • Bencana alam.
    • Saat perang.
    • Dan lain-lain.

    Tata Cara Menjamak Sholat Maghrib di Waktu Isya

    Tata cara menjamak sholat Maghrib di waktu Isya dengan jamak Takhir ternyata cukup mudah untuk diikuti, berikut adalah ururan dan caranya:

    1. Membaca niat menjamak sholat Maghrib dan Isya menggunakan jamak takhir.

    أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالعِشَاءِ جَمْعَ تأخِيْرٍلِلهِ تَعَالَى  

    Usholli fardhol maghribi tsalasa roka’atin majmu’an bil’isya-i jam’a takhirin lillahi ta’alaa.

    Artinya: “Saya niat sholat fardhu Maghrib tiga rakaat dijamak bersama Isya dengan jamak takhir karena Allah Ta’ala.”

    2. Mengerjakan sholat Maghrib secara lengkap tiga rakaat yaitu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

    3. Berdiri lagi dan membaca niat sholat yang kedua yaitu Isya.

    Usholli fardhol ‘isya-i arba’a roka’atin majmu’an bil maghribi jam’a takhirin lillahi ta’alaa.

    Artinya: “Saya niat sholat fardlu Isya empat rakaat dijamak bersama sholat Maghrib dengan jamak takhir karena Allah Ta’ala.”

    4. Mengerjakan sholat Isya secara lengkap empat rakaat yaitu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

    Sesungguhnya bersama kesulitan, selalu ada kemudahan. Dalam surah Al-Insyrah Allah SWT telah menjamin hal tersebut.

    Bahkan dalam sholat sekalipun masih ada kemudahan ketika ada kesulitan yang menjadi sebab dibolehkannya. Salah satunya adalah cara menjamak sholat Maghrib di waktu Isya.

  • Tata Cara Sholat Istikharah: Niat, Doa, dan Waktu Mustajab

    Tata Cara Sholat Istikharah: Niat, Doa, dan Waktu Mustajab

    Sholat istikharah adalah salah satu sholat Sunnah untuk meminta petunjuk dari Allah SWT., biasanya ketika hendak memutuskan pilihan yang sulit untuk diputuskan sendiri.

    Ketika umat muslim sedang dilanda keraguan tentang suatu hal, mereka bisa menjalankan sholat istikharah supaya dapat memantapkan pilihan.

    Pada artikel berikut ini akan membahas tentang tata cara sholat istikharah secara mendalam, jadi jangan sampai terlewat ya!

    Tata Cara Sholat Istikharah

    Mengerjakan sholat istikharah sama seperti sholat Sunnah lainnya, yaitu dikerjakan sebanyak dua rakaat dan satu salam.

    1. Berwudhu

    Sebelum melaksanakan sholat, umat muslim harus dalam keadaan suci dengan cara berwudhu.

    2. Menghadap kiblat

    Setelah berwudhu, saat hendak melaksanakan sholat dianjurkan menghadap kiblat. Sebab, kalau tidak menghadap kiblat, maka sholat tersbeut tidak dianggap sah.

    3. Niat Sholat Istikharah

    Niat Sholat Istikharah

    Mengucapkan niat saat sholat menjadi salah satu hal krusial di dalam sholat. Hal tersebut dikarenakan niat menjadi pembeda antara aktivitas biasa dan ibadah.

    Membaca niat dapat diartikan kita bersungguh dalam melakukan segala sesuatu. Untuk itu, jangan sampai terlewat mengucapkan niat ketika sedang melaksanakan sholat.

    Niat sholat istikharah diucapkan sebelum takbir dan dianjurkan untuk dilafalkan di dalam hati. Berikut bacaan niat sholat Istikharah beserta artinya:

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Latin: Ushollii sunnatal istikharati rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta’aala.

    Artinya: “Saya niat sholat istikharah dua rakaat menghadap kiblat karena Allah ta’ala.”

    Baca juga: Niat Sholat Sunnah Sebelum Subuh dan Tata Caranya (Qobliyah Subuh)

    4. Takbiratul ihram

    Takbiratul ihram yaitu mengangkat kedua belah tangan tepat ke samping telinga sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.

    5. Membaca doa iftitah dan surat Al-Fatihah

    Setelah mengangkat kedua belah tangan, tata cara selanjutnya yaitu sikap bersedekap atau menumpangkan kedua tangan di atas dada sambil membaca doa iftitah. Kemudian, dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah.

    6. Membaca surat-surat

    Saat melaksanakan sholat istikharah, para ulama menganjurkan membaca surat Al-Kafirun di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua.

    7. Rukuk dan tuma’ninah

    Rukuk merupakan salah satu posisi sholat di mana badan sedang membungkuk dan meletakkan kedua telapak tangan di kedua lutut kaki sambil merenggangkan jari-jari tangan. Rukuk harus dilaksanakan secara tuma’ninah.

    Tuma’ninah adalah kondisi tenang yang mana setiap persendian pada tubuh manusia juga tenang.

    Beriku bacaan rukuk dan artinya:

    الْعَظِيمِ رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Latin: Subhaana rabbiyal ‘adzimii wabihamdih (diucapkan sebanyak tiga kali)

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya.”

    8. I’tidal dan tuma’ninah

    I’tidal merupakan salah satu posisi sholat di mana badan sedang berdiri tegak, setelah bangun dari rukuk dengan tuma’ninah.

    Di bawah ini adalah bacaan dari rukuk ke I’tidal:

     حَمِدَهُ لِمَنْ اللَّهُ سَمِع

    Latin: Sami’allaahu liman hamidah.

    Artinya: “Allah maha mendengar terhadap orang yang memujinya.”

    Berikut ini merupakan bacaan I’tidal beserta artinya:

     بَعْدُ شَيْءٍ مِنْ شِئْتَ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ السَّمَوَاتِ مِلْءَ الْحَمْدُ لَكَ رَبَّنَا

    Latin: Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.

    Artinya: Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”

    Baca juga: 13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

    9. Sujud pertama dengan tuma’ninah

    Cara melakukan sujud ialah dengan menempelkan sebagian dahi, kedua lutut, kedua tangan dan kedua ujung telapak kaki di lantai.

    Dalam sujud harus memerhatikan 7 bagian anggota badan, diantaranya adalah:

    • Telapak tangan kanan dan kiri
    • Lutut kanan dan kiri
    • Ujung kaki kanan dan kiri
    • Dahi dan hidung.

    Berikut ini merupakan pelafalan bacaan sujud dan artinya:

     وَبِحَمْدِهِ الْأَعْلَى رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Latin: Subhanaa rabbiyal a’la wabihamdih. (Diucapkan sebanyak tiga kali).

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya.”

    10.  Duduk di antara dua sujud

    Duduk di antara dua sujud ialah salah satu posisi sholat dengan cara bangun dari rukuk sambil takbiratul ihram, lalu duduk iftirasy atau duduk tasyahud awal.

    Bacaan duduk di antar dua sujud adalah sebagai berikut:

     وَارْفَعْنِ وَارْزُقْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْحَمْنِى لِى اغْفِرْ رَبِّ

    Latin: Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu’annii.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.”

    11. Sujud kedua dengan tuma’ninah

    Tata cara dan pelafalannya sama dengan sujud pertama.

    12. Berdiri lagi untuk rakaat kedua

    Bangun dari sujud untuk melaksanakan rakaat kedua dengan cara mengulangi step 4 – 11.

    13. Duduk tasyahud akhir

    Setelah sujud kedua di rakaat kedua, langsung duduk tasyahud akhir karena sholat istikharah hanya dua rakaat, jadi tidak ada tasyahud akhir.

    Berikut ini adalah bacaan tasyahud awal dan artinya:

    اللَّهِ وَرَحْمَةُ النَّبِىُّ أَيُّهَا عَلَيْكَ السَّلاَمُ لِلَّهِ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ الْمُبَارَكَاتُ التَّحِيَّاتُ

    وَأَشْهَدُ اللَّهُ إِلاَّ إِلَهَ لاَ أَنْ أَشْهَدُ الصَّالِحِينَ اللَّهِ عِبَادِ وَعَلَى عَلَيْنَا السَّلاَمُ وَبَرَكَاتُهُ

     مُحَمَّدٍ عَلىَ صَلِّ للَّهُمَّ  . اللَّهِاَ رَسُولُ مُحَمَّدًا أَنَّ

    Attahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.

    Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    14. Salam

    Tutup dengan dua salam seperti sholat fardu biasanya. Awali dari salam kanan lanjut salam sambil menoleh ke arah kiri.

    15. Membaca doa setelah sholat istikharah

    Setelah sholat istikharah kita disarankan untuk memanjatkan doa supaya diberi petunjuk atas pilihan-pilihan yang membuat kita ragu dan meminta-Nya untuk memantapkan hati kita terhadap pilihan tersebut.

    16. Dianjurkan untuk melaksanakan sholat witir

    Meskipun tidak wajib, namun kita dianjurkan untuk melakukan sholat witir tiga rakaat setelah sholat istikharah.

    Berikut pelafalan niat sholat witir:

     تَعَالَ لِلهِ أَدَاءً الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ رَكْعَاتٍ ثَلَاثَ الْوِتْرِ سُنَّةَ اُصَلِّى

    Ushalli sunnatal witri tsalâtsa raka’âtin mustaqbilal qiblati adâ’an lillâhi ta’âlâ.

    Artinya: “Aku menyengaja sholat sunnah shalat witir tiga rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.”

    Doa Setelah Sholat Istikharah

    Karena sholat istikharah adalah sholat untuk meminta petunjuk, ada baiknya kita memanjatkan doa setelah sholat sekaligus untuk melengkapi ibadah Sunnah.

    Berikut doa sholat istikharah:

    اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا اْلأَمْرَ …. خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ

    Latin: Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (menyebutkan persoalannya) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku.”

    Waktu Terbaik Saat Sholat Istikharah

    • Sepertiga malam pertama yang dimulai dari pukul 20.00 WIB sampai 22.00 WIB.
    • Seperti malam kedua yang dimulai dari pukul 22.00 WIB sampai 01.00 WIB.
    • Sepertiga malam terakhir yang dimulai dari pukul 01.00 WIB sampai 04.00 WIB.

    Dengan melaksanakan sholat istikharah, umat muslim dapat meminta petunjuk dari Allah SWT. agar memperoleh pilihan yang terbaik dalam kehidupan mereka.

    Sholat istikharah ini dilakukan dengan mengikuti tata cara yang telah dijelaskan di dalam artikel ini. Sebagai sebuah ibadah sunnah, sholat istikharah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dilandasi oleh niat yang tulus.

    Dalam proses sholat istikharah, umat muslim diminta untuk merenungkan dan memohon petunjuk kepada Allah SWT. mengenai suatu hal yang membuat mereka bimbang.

    Dengan memanjatkan doa setelah sholat, umat muslim juga menyampaikan harapan agar Allah memberi petunjuk dan memantapkan hati mereka terhadap pilihan yang dipilih.

    Waktu terbaik untuk melaksanakan sholat istikharah adalah pada sepertiga malam pertama, malam kedua, atau sepertiga malam terakhir.

    Pada waktu-waktu tersebut, ibadah sholat istikharah akan lebih bermakna dan dapat membawa kedekatan kepada Allah.

    Dalam menjalankan sholat istikharah, penting bagi umat muslim untuk mengikuti tata cara dengan baik dan benar.

    Semoga dengan menjalankan sholat istikharah secara ikhlas, umat muslim akan diberi petunjuk dan keputusan terbaik dari Allah SWT. Amin.

  • Niat & Tata Cara Sholat Sunnah Sebelum Jumat (Qobliyah dan Badiyah)

    Niat & Tata Cara Sholat Sunnah Sebelum Jumat (Qobliyah dan Badiyah)

    Sholat sunnah sebelum Jumat (qobliyah) merupakan salah satu amalan yang disunnahkan untuk dikerjakan umat muslim di hari Jumat.

    Fadhilah dari keutamaan menghadiri sholat Jumat yakni pada awal waktu. Salah satu yang dapat dilakukan saat menanti waktu adalah dengan melaksanakan sholat sunnah.

    Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

     “Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi Jumat, lalu Ia sholat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian Ia lanjutkan dengan sholat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan hari jumat yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” (HR. Muslim no. 857).

    Untuk pemahaman lebih lanjut, simak artikel ini sampai akhir.

    Hukum Sholat Sunnah Qobliyah dan Badiyah Jumat

    Para ulama sepakat bahwa sholat sunnah yang di lakukan setelah sholat Jumat adalah sunnah dan termasuk rawatib yang menggantikan sholat sunnah setelah sholat Dzuhur. Anjuran ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari:

     عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الجُمْعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعاً

    Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian sholat Jumat hendaklah shalat empat rakaat setelahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

    Sedangkan sholat sunnah sebelum Jumat. Para ulama memiliki dua pendapat tentang hal ini. Pertama, sholat qabliyah Jumat dianjurkan untuk dilaksanakan (sunnah). Kedua,  sholat qabliyah Jumat tidak disunnahkan.

    Adapun dalil yang menyatakan dianjurkannya sholat sunnah qobliyah Jumat, Rasulullah SAW bersabda:

    مَا صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانٍ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِاللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ “مَا مِنْ صَلاَةٍ مَفْرُوْضَةٍ إِلاَّ وَبَيْنَ يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ

    “Semua sholat fardhu itu pasti diikuti oleh sholat sunnah qobliyah dua rakaat”. (HR.Ibnu Hibban yang telah dianggap shahih dari hadis Abdullah bin Zubair).

    Hadis ini secara umum menerangkan adanya sholat sunnah qobliyah tanpa terkecuali sholat Jumat.

    Adapun dalil yang menerangkan tidak dianjurkannya sholat sunnah qobliyah Jumat adalah sebagai berikut:

    Hadis dari Saib Bin Yazid: “Pada awalnya, adzan Jumat dilakukan pada saat imam berada di atas mimbar yaitu pada masa Nabi SAW, Abu bakar dan Umar, tetapi setelah zaman Ustman dan manusia semakin banyak maka Sahabat Utsman menambah adzan menjadi tiga kali (memasukkan iqamat), menurut riwayat Imam Bukhari menambah adzan menjadi dua kali (tanpa memasukkan iqamat). (H.R. riwayat Jama’ah kecuali Imam Muslim).

    Dari dua pendapat dan dalilnya di atas jelas bahwa pendapat kedua adalah interpretasi dari tidak sholatnya Nabi Muhammad SAW sebelum naik ke mimbar untuk membaca khuthbah. Sedangkan pendapat pertama berlandaskan dalil yang sudah sharih (argumen tegas dan jelas).

    Maka pendapat pertama yang mensunnahkan sholat qabliyah Jumat tentu lebih kuat dan lebih unggul (rajih). Namun perlu diperhatkan bahwa permasalahan ini semua adalah khilafiyah furu’iyyah (perbedaan dalam cabang hukum agama) maka tidak boleh menyudutkan di antara dua pendapat di atas.

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    Niat dan Tata Cara Sholat Sunnah Qobliyah Jumat

    Sebelum mengetahui tata cara sholat sunnah sebelum Jumat sesuai urutan , ada baiknya untuk mengetahui niat yang benar terlebih dahulu.

    Niat sendiri diartikan sebagai bentuk tujuan dari seorang muslim dalam beribadah. Dengan niat, kita dapat membedakan amalan ibadah satu dengan lainnya.

    1. Niat Sholat Sunnah Sebelum Jumat (Qobliyah Jumat)

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

    Ushalli sunnatal jumu’ati rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala.

    Artinya: “Aku menyengaja sembahyang sunah qobliyah Jumat dua rakaat karena Allah ta’ala.”

    2. Tata Cara Sholat Sunnah Sebelum Jumat

    Berikut tata cara sholat sunnah sebelum Jumat sesuai dengan urutan:

    Rakaat pertama:

    • Berdiri tegak menghadap kiblat dan membaca niat sholat qobliyah Jumat
    • Takbiratul ihram
    • Membaca doa Iftitah
    • Membaca surat Al Fatihah
    • Membaca surat pendek Al Quran
    • Rukuk
    • Iktidal
    • Sujud pertama
    • Duduk di antara dua sujud
    • Sujud kedua
    • Duduk untuk tasyahud awal
    • Bangkit untuk masuk ke rakaat kedua

    Rakaat kedua:

    • Membaca surat Al Fatihah
    • Membaca surat pendek Al Quran
    • Rukuk
    • Iktidal
    • Sujud pertama
    • Duduk di antara dua sujud
    • Sujud kedua
    • Duduk untuk tasyahud akhir
    • Salam

    Niat dan Tata Cara Sholat Sunnah Sesudah Jumat (Badiyah Jumat)

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa Rasulullah SAW menganjurkan amalan setelah sholat Jumat yakni sholat badiyah. Pada dasarnya sholat badiyah dilakukan dengan cara yang sama seperti sholat sunnah qobliyah maupun sunnah lain. Yang membedakan adalah niat.

    Agar tidak salah, berikut niat dan tata cara sholat sunnah badiyah Jumat:

    1. Niat Sholat Sunnah Sesudah Sholat Jumat

    أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

    Ushalli sunnatal jumu’ati rak’ataini ba’diyyatan lillaahi ta’ala

    Artinya: “Aku menyengaja sembahyang sunnah badiyah Jumat dua rakaat karena Allah ta’ala.”

    2. Tata Cara Sholat Sunnah Sesudah Sholat Jumat

    Berikut tata cara sholat sunnah badiyah Jumat yang benar:

    Rakaat pertama:

    • Berdiri tegak menghadap kiblat dan membaca niat sholat badiyah Jumat
    • Takbiratul ihram
    • Membaca doa Iftitah
    • Membaca surat Al Fatihah
    • Membaca surat pendek Al Quran
    • Rukuk
    • Iktidal
    • Sujud pertama
    • Duduk di antara dua sujud
    • Sujud kedua
    • Duduk untuk tasyahud awal
    • Bangkit untuk masuk ke rakaat kedua

    Rakaat kedua:

    • Membaca surat Al Fatihah
    • Membaca surat pendek Al Quran
    • Rukuk
    • Iktidal
    • Sujud pertama
    • Duduk di antara dua sujud
    • Sujud kedua
    • Duduk untuk tasyahud akhir
    • Salam

    Itulah niat dan tata cara sholat sunnah sebelum Jumat dan sholat sunnah sesudah Jumat. Jika kita meniatkan segala sesuatunya karena Allah ta’ala. Insyallah setiap jalan yang kita tempuh

    Terimakasih sudah membaca, semoga bermanfaat. Assalamualaikum wr.wb.

  • Niat Sholat Dhuha 2 dan 4 Rakaat, Tata Cara, dan Keutamaannya

    Niat Sholat Dhuha 2 dan 4 Rakaat, Tata Cara, dan Keutamaannya

    Banyak sekali cara bersedekah yang disunnahkan Rasulullah SAW. Salah satunya adalah sholat Dhuha, untuk mendapatkan amalan tersebut, penting untuk mengetahui niat sholat Dhuha yang benar.

    Bagi muslim, sholat Dhuha tidak hanya amalan yang mewakili bersedakah saja. Melainkan juga menjadi sarana untuk lebih dekat dengan Allah SWT.

    Mari simak lebih lanjut mengenai niat sholat Dhuha yang tepat serta tata cara dan keutamaannya.

    Ap itu Sholat Dhuha?

    Sebelum mengetahui niat sholat Dhuha 2, 4, dan 12 rakaat, kita perlu mengetahui apa itu sholat Dhuha dan waktu tepat dalam melaksanakannya.

    Sholat Dhuha adalah sholat yang dilakukan pada waktu pagi setelah matahari terbit sepenuhnya, yakni saat jam 6 pagi ataupun saat jaraknya 4 hasta dari matahari terbit.

    Sholat Dhuha disebut sebagai amalan sunnah ‘muakkadah’ atau sunnah yang sangat dianjurkan.

    Ajaran Islam  sendiri mengajarkan sholat sunnah Dhuha menjadi sarana yang membantu dalam penghapusan dosa serta dijanjikannya seorang muslim tidak akan pernah merasakan kekurangan selama hidupnya.

    Oleh sebab itu, umat muslim akan disebut merugi jika tidak pernah melaksanakan sholat sunnah Dhuha selama hidupnya.

    Baca juga: Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Hal ini diperkuat dengan hadis riwayat Abu Hurairah RA,salah seorang sahabat Nabi mengungkapkan sabda Rasulullah SAW kepadanya, yang berbunyi:

     “Rasulullah SAW menasehati saya agar selalu melakukan tiga amalan. Yaitu, berpuasa selama tiga hari dalam sebulan, melaksanakan dua rakaat solat Dhuha, serta menjalankan solat witir sebelum saya tidur”. (Hadist Riwayat Muslim)

    Selain itu terdapat hadis yang menjelaskan bahwa Rasuullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sholat tersebut, hadis tersebut berbunyi:

    أوْصاني خَلِيلي – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاثٍ: صِيَامِ ثَلاَثَةِ أيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَي الضُّحَى،

    وَأنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أنَامَ

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berwasiat kepadaku untuk melaksanakan tiga hal, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, shalat witir sebelum tidur. (HR. Bukhari).

    Niat Sholat Dhuha

    Niat Sholat Dhuha

    Sholat sunnah Dhuha dilakukan dengan minimal 2 rakaat hingga maksimal 12 rakaat.

    Berikut bacaan niat sholat Dhuha 2, 4 dan 12 rakaat:

    1. Niat Sholat Dhuha 2 rakaat

    اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Ushalli sunnatadh dhuhaa rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku berniat Sholat sunah Dhuha dua rakaat menghadap kiblat, karena Allah ta’ala,”

    2. Niat Sholat Dhuha 4 rakaat

    أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli sunnatadh dhuhaa arba’aa roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku berniat Sholat sunah Dhuha empat rakaat menghadap kiblat saat ini karena Allah ta’ala.”

    3. Niat Sholat Dhuha 12 rakaat

    اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Ushalli sunnatadh dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku niat sholat sunah Dhuha dua rakaat, karena Allah ta’ala,”

    Karena maksimal sholat Dhuha adalah 12 raka’at, bacaan niat sholat Dhuha sama dengan niat sholat dhuha 2 raka’at.

    Syarat Sah Sholat Dhuha

    Seperti sholat wajib dan sunnah yang lain, sholat Dhuha juga memiliki syarat sah yang perlu diperhatikan:

    1. Suci dari Hadas dan Najis

    Syarat pertama sholat Dhuha adalah suci dari hadas dan najis.

    Ada dua hadas yang diketahui yakni hadas besar dan hadas kecil.

    Salah satu penyebab hadas besar yakni: keadaan junub, haid, maupun nifas. Dalam keadaan hadas besar, maka seorang muslim diharuskan untuk mandi wajib untuk mensucikan diri.

    Sementara hadas kecil merupakan keadaan ketika seseorang batal wudhu, dan cukup dengan melakukan wudhu saja agar kembali suci.

    Najis juga akan membuat seseorang tidak sah dalam sholatnya, keadaan ini yakni ketika tubuh, pakaian atau tempat sholat terkena najis.

    Sehingga wajib bagi kita untuk membersihkan dan menyucikannya dulu baru kemudian melakukan wudhu.

    2. Mengetahui Waktu Sholat Dhuha

    Syarat sah berikutnya yakni mengetahui batas waktu sholat Dhuha.

    Waktu sholat Dhuha adalah dimulai sekitar jam 6 pagi atau waktu ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya, hingga sebelum masuk waktu zuhur.

    3. Menutup Aurat

    Syarat sah selanjutnya adalah menutup aurat. Dalam hal ini baik bagi kaum laki-laki ataupun perempuan wajib untuk menutup aurat, meskipun sholat tersebut dilakukan di dalam ruangan yang gelap atau sendirian.  

    4. Menghadap ke Arah Kiblat

    Syarat sah yang terakhir yakni mengetahui arah kiblat yang benar. Dengan demikian sholat yang dilakukan dianggap sah.

    Baca juga: Doa Memakai dan Melepas Pakaian Sesuai Sunnah, Latin dan Artinya

    Tata Cara Sholat Dhuha yang Tepat

    Tujuan utama menjalankan sholat Dhuha selain mengerjakan amalan bersedah adalah mendekatkan diri pada Allah SWT. Semakin dekat dengan Allah, harapannya semakin banyak keutamaan yang bisa kita dapatkan selama melamalkannya

    Oleh karena itu, selain niat  sholat Dhuha yang tepat, kita juga hendaknya mengetahui tata cara sholat Dhuha sesuai ajaran Rasulullah SAW. Berikut tata cara dalam melaksanakan sholat Dhuha:

    1. Takbirathul Ikhram dan Membaca Niat Sholat Dhuha

    Niat sholat Dhuha yang dibacakan menyesuaikan jumlah raka’at yang akan kita lakukan.

    Setelah itu dilanjutkan dengan membaca takbiratul ikhram dengan engangkat kedua tangan dengan ujung jari sejajar bahu atau telinga, sembari mengucapkan takbir “Allahu Akbar”.

    2. Membaca Doa Iftitah

    Jika sudah mengucapkan takbir, lanjutkan dengan doa iftitah yang merupakan pembuka dari sholat, sunnah hukumnya.

    Selama sholat sudah dimulai, diharamkan untuk melakukan gerakan serta bacaan lain selain gerakan yang diajarkan Rasulullah SAW.

    3. Membaca Al-Fatihah

    Setelah membaca doa iftitah, penting bagi umat muslim untuk melafalkan Al-Fatihah, wajib hukumnya.

    Jika tidak membaca Al-Fatihah maka sholat dianggap tidak sah. Oleh sebab itu, penting bagi uat muslim untuk mempelajari Al-Fatihah serta melamalkannya.

    4. Membaca Surat dalam Al-Qur’an

    Langkah selanjutnya setelah membaca Al-Fatihah adalah membaca surat pendek Al-Qur’an yang dikuasai. Surat yang dibaca bisa berupa surat pendek ataupun panjang maupun bagian dari surat Al-Qur’an.

    5. Melakukan Ruku’

    Setelah menyelesaikan bacaan surat Al-Qur’an, selanjutnya melakukan gerakan ruku’ dengan membungkukkan badan sampai membentuk 90 derajat dengan memposisikan kedua telapak tangan di atas lutut.

    Pada saat rukuk, wajib membaca tasbih dan melanjutkan dengan membaca “Subhana rabbiyal a’dhimi wa bihamdih” sebanyak tiga kali. Kemudian bangun dari rukuk atau disebut I’tidal.

    6. Lanjutkan dengan I’tidal

    Itidal merupakan gerakan bangkit dari ruku’. Setelah itu, umat muslim membaca Rabbana lakal hamdu mil us-samawati wa mil ul ardhi wa mil u-ma syikta min syai’in ba’du. Setelah membacanya, maka gerakan sholat Dhuha dilanjutkan dengan sujud.

    7. Melakukan Sujud

    Sujud adalah gerakan turun dari I’tidal dengan menempelkan dahi pada sajadah disertai dengan 6 anggota tubuh lainnya. Anggota tubuh lan yang wajib menempel lantai yakni, kedua telapak tangan, dua jari kaki dan kedua lutut.

    Dalam posisi sujud, umat muslim membaca: ‘Subhanarabbiyal a’la wabihamdih.’ Sebanyak tiga kali.

    8. Duduk di antara Dua Sujud

    Setelah selesai sujud, gerakan selanjutnya adalah bangun dari sujud dan duduk di antara dua sujud.

    Dalam posisi duduk ini, umat muslim membaca: ‘Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii’.

    9. Lanjutkan dengan Sujud Kedua

    Sujud kedua dilakukan dengan posisi dan bacaan yang sama seperti sujud pertama dilakukan.

    Selanjutnya bisa dilanjutkan dengan berdiri kembali, kedua tangan menekuk di atas dada dengan tangan kanan di atas tangan kiri.

    10. Rakaat Kedua Sholat Dhuha

    Untuk rakaat kedua, proses dan gerakanya sama dengan rakaat pertama sampai ke sujud kedua dan diakhiri dengan duduk tasyahud akhir.

    11. Lanjutkan dengan Tasyahud Akhir

    Seperti sholat sunnah lainnya yang terdiri 2 rakaat, setelah sujud kedua rakaat terakhir dilanjutkan dengan membaca tasyahud akhir:

    allaahumma shalli’alaa muhammad, wa’alaa aali muhammad. kamaa shallaita alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim. wabaarik’alaa muhammad wa alaa aali muhammad. kamaa baarakta alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim, fil’aalamiina innaka hamiidum majiid”.

    12. Akhiri dengan Mengucap Salam

    Setelah membaca doa tasyahud secaralengkap, langkah terakhir adalah dengan mengucapkan salam “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh” sambil posisi kepala menoleh ke kanan dan mengucap salam lagi sambil menoleh ke kiri.

    Sebagai catatan, sholat Dhuha yang dilakukan sendiri, wajib melafalkan bacaan dengan dibesarkan hingga terdengar ke telinga.

    Keutamaan Sholat Sunnah Dhuha

    Bagi umat muslim yang istiqomah menjalankan sholat sunnah Dhuha sepanjang hidupnya maka Allah SWT janjikan ampunan-Nya bahkan jika dosa yang dimiliki sebanyak biuh di lautan. Tidak hanya itu, ada beberapa keutamaan dalam mengerjakan sholat sunnah Dhuha:

    1. Sebagai Amalah yang Mewakili Bersedekah

    Selain dihtung sebagai pahala, melaksanakan sholat sunnah Dhuha juga dianggap sebagai pahala dalam bersedekah.

    Hal tersebut dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

    يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة، ويجزئ عن ذلك ركعتان يركعهما من الضحي

    Artinya: Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan salat Duha dua rakaat. (HR Muslim). 

    2. Memperlancar Rezeki

    Sholat sunnah Dhuha sering dipersepsikan sebagai sholat yang akan memperlancar rezeki. Hal ini bukan tanpa alasan, Allah SWT berfirman berbunyi: “ Akan dicukupkan rezeki bagi keturunan Adam yang mengerjakan 4 rakaat dhuha dengan istiqomah”.  

    Selain itu dari Abu Darda, ia berkata bahwa Rasulullah SAW menjelaskan hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:

    يا ابنَ آدمَ اركعْ لي من أولِ النهارِ أربعَ ركَعاتٍ أكْفِكَ آخِرَه

    Artinya: “Wahai anak Adam, rukuklah (sholatlah) karena Aku pada awal siang (sholat Dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (HR Tirmidzi)

    3. Mendapatkan Rumah di Surga

    Selain mendapatkan rezeki yang tidak terputus, umat muslim yang mengerjakan sholat sunnah Dhuha secara rutin akan dibuatkan rumah yang indah dan megah di surga  terbaik milik Allah SWT.

    Hadits keutamaan sholat Dhuha lainnya berasal dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasullah SAW bersabda,

    مَن صلَّى الضّحى ثِنْتَيْ عشرة ركعة بَنى الله له قَصرا من ذَهب في الجنَّة

    Artinya: “Barang siapa sholat dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangun baginya istana dari emas di surga.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    4. Dimasukan dalam Golongan Hamba yang Taat

    Umat muslim yang istiqomah mengerjakan sholat sunnah Dhuha maka Allah SWT akan memasukannya ke dalam golongan hamba yang taat.

    Sholat Dhuha sendiri merupakan sholatnya hamba yang kembali ke jalan Allah atau hamba yang sudah bertaubat.

    5. Mendapatkan pahala seperti orang Haji atau Umroh

    Keutamaan selanjutnya adalah mendapatkan pahala seperti orang yang pergi umroh atau haji.  Pahala ini akan didapatkan jika umat muslim mengerjakan sholat subuh yang disertai dzikir dan dilanjutkan dengan sholat Dhuha ketika terbit fajar.

    6. Menghindarkan Diri Dari Kelalaian

    Keutamaan sholat Dhuha yang keenam adalah siapapun yang mengerjakannya tidak akan dianggap sebagai orang lalai dan menghindari sifat kelalaian. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan An-Nisa’I berikut ini

    من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين

    Artinya, “Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i).

    7. Mendapatkan Ghanimah

    Keutamaan selanjutnya adalah ghanimah yang berarti kekayaan atau keuntungan, yang jika umat muslim menjalankan sholat sunnah Dhuha maka ghanimah tersebut akan lebih cepat didapatkan atas izin Allah SWT.

    Namun yang perlu diingat bahwa keutamaan satu ini harus dibarengi dengan ikhtar yang maksimal juga.

    8. Sebagai Pengampun Dosa

    Keutamaan sholat sunnah Dhuha yang terakhir adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT. Penjelasan tersebut terdapat dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

    Disebutkan dalam hadis tersebut bahwa akan diampuni dosa seorang muslim meskipun dosanya sebanyak buih di lautan. Hadis itu berbunyi:

    من حافظ على شفعة الضحى غفرت له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر

    Artinya: “Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Nah, itu dia penjelasan mengenai niat sholat Dhuha 2, 4, dan 12 rakaat yang tepat serta keutamaannya.

    Semoga informasi dan penjelasan di artikel ini bisa menjadi perantara bagi kita semua untuk istiqomah dalam mengerjakan sholat sunnah Dhuha ya! Terimakasih sudah berkunjung, Asslamualaikum wr. Wb.

  • 8 Cara agar Doa Terkabul dalam Islam, Simak Adab dan Waktunya

    8 Cara agar Doa Terkabul dalam Islam, Simak Adab dan Waktunya

    Sebagai seorang muslim, doa merupakan salah satu kunci penting terwujudnya semua harapan. Oleh sebab itu, terdapat cara agar doa terkabul dalam Islam dengan cepat.

    Tidak hanya berorientasi pada pengabulan doanya saja, tapi dengan doa yang beradab bisa menjadikan doa sebagai amalan ibadah.

    Hal itulah yang menjadikan doa tidak boleh kita lakukan secara sembarangan.

    Adab Berdoa dan Waktu Terbaik Agar Doa Terkabul

    Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa doa merupakan media komunikasi kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, seseorang yang berdoa perlu menjaga adab-adabnya agar doa cepat terkabul oleh Allah SWT.

    Adapun cara agar doa terkabul dalam Islam melalui adab yang tepat yaitu:

    1. Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan

    Menghadap kiblat sembari mengangkat tangan menjadi adab pertama dalam berdoa. Ada banyak riwayat hadits yang mengabarkan perihal hal tersebut, salah satunya yaitu riwayat dari Sahabat Anas bin Malik RA.

    Dalam Hadits Abu Dawud No.1170 menyatakan Rasulullah SAW mengangkat tangan ketika berdoa. Selain mengangkat tangannya, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan untuk tidak mengangkat wajah ke atas ketika berdoa.

    Sehingga, kita perlu menundukkan wajah dan penglihatan saat berdoa kepada Allah SWT. Hal ini dikatakan sebagai bentuk adab ketundukan manusia kepada penciptanya Allah SWT.

    Baca juga: 8 Ciri-Ciri Perempuan yang Baik Menurut Islam, Apa Saja?

    2. Berdoa Harus Rendah Hati

    Cara agar doa terkabul dalam Islam melalui adab yang tepat yaitu dengan rendah hati. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa berdoalah dengan wajar dan merendahkan diri, serta tidak menggunakan kalimat yang berlebihan.

    Selain itu, dalam Al-Quran juga dipaparkan adab berdoa agar rendah hati dan bersuara lembut. Perintahnya dalam surat Al-Araf ayat 55 yaitu sebagai berikut:

    اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

     Udu’u rabbakum tadarru’aw khufuyahtan, innahu la yuhibbul mu’tadin

    Artinya, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

    Oleh sebab itu, usahakan semaksimal mungkin jika berdoa dengan rendah hati. Bahkan ada pula yang meriwayatkan bahwa orang berilmu, parab abdal, dan ahli ibadah berdoa tidak lebih dari tujuh kata saja.

    3. Bersuci Terlebih Dahulu

    Selanjutnya cara agar doa terkabul menurut Islam yaitu hendaknya bersuci terlebih dahulu. Walaupun berdoa bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja, namun seorang muslim hendaknya mengambil air wudhu agar doa lebih nyaman.

    Sebab bersuci dengan mengambil air wudhu, bisa menghilangkan dari najis dan kotoran. Sehingga, berdoa pun dalam keadaan suci dan bersih yang membuat doa lebih nyaman dipanjatkan kepada Allah SWT.

    4. Mulai Doa dengan Memuji Allah SWT

    Berikutnya cara agar doa terkabul dalam Islam yaitu memulai doa dengan memuji Allah SWT. Barulah kita lanjutkan dengan membaca dzikir dengan tulus ikhlas, sebab Allah SWT lah tempat kita untuk meminta.

    Allah SWT yang Maha Pemberi, Maha Kaya, dan Maha Pencipta segala sesuatu di dunia. Sehingga, tidak ada salahnya jika kita memuji nama-nama Allah SWT dengan asmaul husna.

    Jika sudah berniat untuk mengakhiri doa, hendaknya membaca sholawat Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu. Sebab, Nabi Muhammad SAW nabi terakhir yang sangat dicintai oleh Allah SWT.

    Dengan mengharapkan syafaat Rasulullah SAW agar kita tergolong orang-orang yang mencintai kekasih Allah SWT. Dan sholawat merupakan salah satu bentuk bukti cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

    Hal paling penting lagi, kita harus memanjatkan doa dengan tulus ikhlas, semata-mata hanya karena Allah SWT saja.

    Baca juga: Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    5. Bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW

    Tidak hanya keempat cara itu saja, agar doa terkabul menurut Islam selanjutnya dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Sholawat dalam sholat pun ada tingkatannya, dan tingkatannya terbagi menjadi tiga. 

    Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim yaitu:

    • Bersholawat sebelum memanjatkan doa setelah memuji Allah SWT.
    • Bersholawat di awal , pertengahan, dan akhir doa.
    • Bershalawat di awal dan di akhir, baru menjadikan hajat yang kita minta di pertengahan doa.

    Beliau juga menyatakan bahwa membaca sholawat ketika berdoa mempunyai kedudukan seperti membaca Al-Fatihah dalam sholat. Selain Ibnu Qayyim, ada pula Zirr dari Abdullah.

    “Aku pernah sholat dan kala itu Abu Bakr dan Umar bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika kau duduk, aku memulai doa dengan memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku berdoa untuk diriku sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Mintalah, engkau akan diberi. Mintalah, engkau akan diberi.” (HR. Tirmidzi No. 593).

    6. Tidak Terburu-buru

    Melanjutkan dari cara agar doa terkabul dalam Islam point kedua, adab berdoa dengan memelankan suara serta tidak terburu-buru. Berdoa dengan cara seperti itu, membuat doa menjadi lebih khusyuk.

    Adab tersebut juga diperkuat dengan firman Allah SWT melalui Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 90 yaitu:

     فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

    Fastajabna lahu wa wahabna lahu yahya wa aslahna lahu zaujah, innahum kanu yusariuna fil-khairati wa yad’unana ragabaw wa rahaba, wa kanu lana khasyi’in.

    Artinya, “Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan segala kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

    Tidak hanya itu saja, ada juga hadits dari  Abu Hurairah dimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    “Akan di ijabah doa kalian, jika tidak berdoa dengan tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabah?” (HR. Imam Bukhari). 

    7. Berdoa dengan Penuh Keyakinan

    Berikutnya cara supaya doa terkabul dalam Islam yaitu berdoa penuh keyakinan. Melalui keyakinan secara penuh bahwa Allah SWT lah perencana kehidupan terbaik, sehingga Allah SWT akan mengabulkan yang baik-baik saja.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, tepatnya pada surat Al-Araf ayat 56:

    وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

    Wa la tufsidu fil-ardi ba’da islahiha wad’uhu khaufaw wa tama’a, inna rahmatallahi qaribum minal muhsinin

    Artinya, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat baik.”

    Selain itu, juga ada hadist riwayat HR. Muslim No. 2678 dari Anas, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    “Jika salah seorang dari kalian berdoa hendaklah benar-benar mantap dalam mengharap, dan janganlah mengatakan: Allahumma in syi’ta fa-a’thini (Ya Allah jika Engkau menghendaki maka berikanlah untukku), karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak dalam tekanan.”

    8. Berdoa pada Waktu yang Tepat

    Cara agar doa cepat terkabul dalam Islam yaitu waktu yang tepat. Ada waktu-waktu mustajab saat berdoa, dengan harapan doa akan terkabul. Adapun waktu-waktunya sebagai berikut:

    • Sepertiga malam terakhir, maksudnya waktu malam hari mendekati subuh atau di waktu sahur.
    • Setelah sholat wajib, sebab usai seorang hamba menunaikan shalat, maka kondisinya dekat dengan Allah SWT.
    • Antara adzan dan iqamah, sebab waktu itu dibukakan pintu-pintu langit dan doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.
    • Ketika lapang atau merasa cukup, sebab kebanyakan orang berdoa saat tertimpa musibah. Artinya, kita harus berdoa dalam keadaan apapun, termasuk lapang.
    • Ketika hujan, Allah SWT menurunkan rahmatnya berupa air hujan. Sehingga, tidak heran jika hujan bagian dari waktu mustajab untuk berdoa.
    • Pada hari Arafah 9 dzulhijjah, hari istimewa dalam Islam, hari dimana Allah SWT memberikan kemuliaan kepada semua hamba-Nya.
    • Malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia daripada 1.000 bulan. Biasanya terhitung dari malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
    • Hari Jumat, hari Jumat merupakan hari ibadah yang mempunyai keistimewaan.
    • Sesudah sholat malam, sebab tidak banyak orang yang bisa menunaikan sholat malam tersebut.

    Masih banyak adab berdoa lainnya, terpenting cara agar doa terkabul dalam Islam yaitu berdoa penuh keyakinan, diawali dengan tawasul kepada Allah SWT, sholawat nabi, menghadap kiblat dan mengangkat tangan, dan niat karena Allah SWT.

  • Tata Cara Sholat Duduk yang Benar Sesuai dengan Hadis Nabi

    Tata Cara Sholat Duduk yang Benar Sesuai dengan Hadis Nabi

    Sholat merupakan salah satu tiang agama bagi seorang muslim yang wajib dilaksanakan. Meski dikatakan wajib, Islam sendiri memberikan banyak kemudahan bagi umatnya. Salah satunya, membolehkan sholat dengan duduk. Namun sebagian orang belum tahu cara sholat duduk.

    Meskipun Allah SWT Maha Mengerti dan Meringankan, sholat dengan duduk juga memiliki hukum, tata cara  serta syarat sah dalam melakukannya.

    Untuk penjelasan lebih lengkap, simak artikel di bawah ini hingga selesai.

    Hukum Sholat Duduk dalam Islam

    Sebelum mempraktikan sholat dengan duduk, ada baiknya untuk mengetahui hukum sholat duduk dalam Islam sendiri.

    Sholat dengan posisi duduk hukumnya sah dan diperbolehkan, jika orang tersebut sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk berdiri. Sholat dengan cara duduk tetap sah layaknya sholat normal berdiri.

    Namun, ketika tubuh mampu melakukan sholat secara syariat maka lakukanlah, namun jika tubuh tidak mampu karena sakit atau usia, maka sholat diperbolehkan dengan duduk.

    Ini terkandung dalam firman Allah SWT melalui surat Al-Baqarah ayat 2:238 yang diriwayatkan oleh ‘Imran bin Husain r.a yang berkata:

    Saya menderita wasir, maka saya bertanya kepada Nabi (damai dan berkah Allah besertanya) tentang sholat. Dia berkata: Berdoalah sambil berdiri; jika tidak bisa, maka sholatlah dengan duduk; dan jika tidak mampu, maka sholatlah (berbaring) di sisimu.” Diriwayatkan oleh al-Bukhaari, 1066.

    Ibnu Qudamah al-Maqdisi pun berkata:

    Para ulama sepakat bahwa jika seseorang tidak dapat berdiri maka Ia boleh sholat dengan duduk,” Al-Mughni, 1/443.

    Selain hadis yang telah disebutkan di atas, Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai keutamaan pahala bagi seorang muslim yang tetap mengerjakan sholat meski Ia sedang tidak berdaya atau sakit.

    Namun anjuran untuk sholat berdiri tetap menjadi paling utama dalam melaksanakan sholat. Jika seorang muslim yang sedang sakit berusaha untuk sholat berdiri, maka akan dilipat gandakan pahala yang Ia dapat.

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    من صلى قائماً فهو أفضل، ومن صلّى قاعداً فله نصف أجر القائم، ومن صلى نائماً فله نصف أجر القاعد

    “Orang yang sholat sambil berdiri adalah yang paling baik. Orang yang sholat sambil duduk mendapat pahala separuh dari yang berdiri. Orang yang sholat sambil berbaring mendapat pahala separuh dari yang duduk.” (HR. Bukhari 1116 dan Muslim 735).

    Baca juga: Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

    Syarat Sah Dibolehkan Sholat Duduk

    Meski dikatakan bahwa orang yang sakit boleh mengganti posisi sholat berdiri dengan duduk. Terdapat beberapa syarat sakit yang disahkan untuk melakukan sholat posisi tersebut.

    Berikut beberapa syarat dibolehkannya sholat dengan duduk:

    1. Orang Lumpuh

    Syarat pertama orang sakit yang dibolehkan untuk duduk yakni orang dengan kondisi lumpuh atau tidak mampu berdiri.

    Hal ini biasa terjadi pada lansia, ataupun orang dengan riwayat penyakit tertentu. Kriteria ini termasuk orang yang sedang sakit dan jika dipaksakan penyakitnya akan bertambah parah atau penyembuhanya akan terhambat.

    Pernyataan ini didukung dengan hadis riwayat Ibu Qudamah rahimahullah berkata:

     “Orang yang sakit jika (sholat) dengan berdiri akan menjadikan penyakitnya tambah parah maka sholat dengan duduk.

    Hal ini sudah disepakati para Ulama bahwa bagi siapa saja yang tidak mampu berdiri karena suatu penyakit atau usianya, dia boleh saja melakukan sholat dengan duduk.

    2. Kondisi Sulit atau Tidak Memungkinkan

    Syarat sah kedua yakni seorang muslim yang benar-benar tidak sanggup melakukannya. sebagai contoh, orang yang berbaring karena penyakitnya yang tidak bisa membuat Ia bangkit dari tempat tidurnya.

    Hal ini diriwayatkan dalam hadis Nasa’I yang berbunyi:

    فإن لم تستطع فمستلقيا ، لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

    Jika tidak mampu maka dengan terlentang, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

    Selain itu, Anas –radhiyallahu ‘anhu- juga berkata:

    سقط رسول الله صلى الله عليه وسلم عن فرس فخُدِش أو جُحش شقه الأيمن فدخلنا عليه نعوده ، فحضرت الصلاة فصلى قاعدا ، وصلينا خلفه قعودا . متفق عليه .

    Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah terjatuh dari kuda sampai lecet kulitnya atau terluka sisi kanan tubuhnya, maka kami menjenguknya, pada saat tiba waktu shalat beliau mendirikannya dengan duduk, maka kami juga shalat dengan duduk di belakang beliau”. (Muttaqun ‘Alaihi)

    Tata Cara Sholat Duduk Sesuai Hadis Nabi

    Tata Cara Sholat Posisi Duduk Sesuai Hadis Nabi

    Setelah mengetahui hukum sholat dengan posisi duduk serta syarat sah melakukannya. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana cara sholat duduk yang benar?

    Tidak hanya sebatas duduk di kursi, sholat dengan posisi ini memiliki tata cara sah dalam melakukannya. Sebagai panduan, berikut dua contoh duduk yang dianjurkan Rasulullah SAW:

    1. Posisi Duduk Iftirasy

    Cara duduk yang paling utama adalah duduk iftirasy, yaitu duduk dengan cara meletakkan punggung kaki kiri menyentuh tanah seraya menduduki telapak kaki tersebut, serta menegakkan kaki yang kanan dengan menyentuh telapak jarinya pada lantai dan menghadap kiblat.

    Lebih sederhananya, duduk iftirasy ini merupakan duduk dengan posisi tasyahud awal.

    Baca juga: 10 Nama Nama Malaikat dan Tugasnya yang Wajib Diketahui

    2. Posisi Duduk Tawarruk

    Selain susuk iftirasy, bisa juga dengan cara melakukan tarabbu (bersila) atau dengan cara duduk tawarruk, yakni menegakkan kaki kanan dengan menyentuh telapak jarinya kelantai, serta duduk di atas lantai, bukan di atas kaki kiri. Sederhananya posisi tawarruk merupakan posisi duduk tasyahud akhir.

    Posisi duduk ini bisa digunakan bagi seorang muslim yang mampu menekuk kakinya, jika tidak memungkinkan, maka posisi duduk boleh dengan meluruskan kedua kaki.

    Sebenarnya, saat seseorang tidak mampu duduk tawarruk, duduk iftirasy, atau melakukan gerakan lain dalam salat, maka hal tersebut akan mendapatkan keringanan jika alasannya syar’i. Allah SWT berfirman:

    فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

    fattaqullāha mastaṭa’tum

    Artinya: “Maka bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian”. (QS At-Thaghabun: 16)

    Mudahnya, tata cara sholat duduk sebenarnya bisa dilakukan tidak seperti kedua cara di atas, melainkan yang terpenting dada tetap menghadap kiblat dan tangan serta punggung bergerak seperti gerakan sholat biasa.

    Setelah mengetahui posisi sholat duduk, kita bisa melanjutkan dengan gerakan sholat sesuai dengan rakaat sholat yang akan dikerjakan. Berikut contoh cara sholat duduk maghrib:

    1. Membaca niat sholat yang akan dikerjakan seperti biasa
    2. Membaca Takbiratul Ikhram
    3. Doa Iftitah (Sunnah)
    4. Membaca Al-Fatihah (Wajib)
    5. Membaca surat pendek Al-Qur’an yang dikuasai
    6. Saat ruku, pastikan posisi badan membungkuk hingga dahi lurus di depan lutut. Namun tidak dipaksakan, gerakan ruku dilakukan semampunya.
    7. I’tidal
    8. Melakukan sujud pertama dengan cara membungkukkan badan sehingga dahi menempel di tempat sujud. Namun jika kondisi tubuh tidak mendukung, diperbolehkan untuk melakukan gerakan ini dengan menundukkan kepala.
    9. Duduk di antara dua sujud, jika masih mampu untuk menekuk kaki maka dianjurkan untuk membuat posisi yang sama seperti sholat berdiri. Jika tidak memungkinkan, maka bisa dilakukan dengan menjulurkan kaki.
    10. Sujud kedua dengan cara membungkukkan badan sehingga dahi menempel di tempat sujud. Jika tidak bisa, maka lakukan semampunya saja.
    11. Posisi duduk kembali seperti semula, lanjutkan rakaat kedua
    12. Membaca Al-Fatihah
    13. Membaca surat pendek yang dikuasai
    14. Ruku dengan cara membungkuk hingga dahi lurus di depan lutut. Namun tidak dipaksakan, gerakan ruku dilakukan semampunya.
    15. I’tidal
    16. Sujud pertama dengan cara yang sama yakni, membungkukkan badan sehingga dahi menempel di tempat sujud. Jika tidak bisa, maka lakukan semampunya saja.
    17. Duduk di antara dua sujud
    18. Sujud kedua
    19. Saat tasyahud awal, dianjurkan untuk duduk secara iftirasy duduk dengan cara meletakkan punggung kaki kiri menyentuh tanah seraya menduduki telapak kaki tersebut, serta menegakkan kaki yang kanan dengan menyentuh telapak jarinya pada lantai.
    20. Melanjutkan rakaat ketiga dengan tetap duduk secara iftirasy dan ulangi posisi yang sama seperti rakaat pertama dan kedua
    21. Lanjutkan dengan membac Al-Fatihah
    22. Membaca surat pendek Al-Qur’an yang dikuasai
    23. Ruku
    24. I’tidal
    25. Sujud pertama
    26. Duduk di antara dua sujud
    27. Sujud kedua
    28. Tasyahud akhir dengan cara menegakkan kaki kanan dengan menyentuh telapak jarinya kelantai, serta duduk di atas lantai, bukan di atas kaki kiri
    29. Salam
    30. Doa setelah sholat maghrib.

    Demikian cara sholat duduk dari hukum yang mendasari, syarat sah hingga tata caranya yang benar sesuai syariat Islam. Semoga bermanfaat.

    Assalamualaikum wr.wb.

  • Batas Waktu Sholat Isya sampai Jam berapa? Ini Dalilnya

    Batas Waktu Sholat Isya sampai Jam berapa? Ini Dalilnya

    Berbeda dengan sholat Maghrib yang cenderung lebih pendek, batas waktu sholat Isya justu paling panjang dibandingkan empat ibadah fardhu sehari-hari lainnya. Sehingga tak heran beberapa orang menganggap batas waktu isya yakni sebelum sholat Subuh.

    Benarkah hal tersebut? Sholat Isya sendiri dilaksanakan sebanyak empat rakaat di urutan terakhir sholat lima waktu

    Lantas, bagaimana perhitungan menurut ajaran Rasulullah SAW mengenai batas sholat Isya yang benar? Mari simak ulasannya berikut ini!

    Batas Waktu Sholat Isya

    Seorang muslim wajib melaksanakan sholat fardhu, sebab hukumnya adalah fardhu ain, yang apabila ditinggalkan akan terhitung sebagai dosa besar.

    Waktu pelaksanaan sholat wajib telah diatur dalam firman Allah SWT pada surat An-Nisa ayat 103 yang berbunyi:

    فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

    Fa iżā qaḍaitumuṣ-ṣalāta fażkurullāha qiyāmaw wa qu’ụdaw wa ‘alā junụbikum, Fa iżaṭma`nantum fa aqīmuṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta kānat ‘alal-mu`minīna kitābam mauqụtā

    Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa).

    Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS. An-Nisa: 103).

    Ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa waktu pelaksanaan salat fardu telah ditentukan dan sifatnya mutlak.

    Membahas mengenai batas waktu sholat Isya, Isya sendiri adalah sebuah nama untuk saat awal langit mulai gelap (setelah maghrib) hingga sepertiga malam yang awal. Sehingga sholat Isya disebut demikian karena dikerjakan pada waktu tersebut.

    Beberapa hadits yang membahas mengenai sabda Rasulullah SAW terkait batas sholat Isya adalah sebagai berikut:

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْمَغْرِبَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ يَسْقُطَ الشَّفَقُ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْعِشَاءَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ

    Artinya: “Apabila kalian telah sholat Magrib, maka itu waktunya, sampai hilang warna merah di ufuk barat. Lalu setelah kalian salat isya, itulah waktunya, sampai pertengahan malam,” (HR. Muslim 1416).

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menjelaskan mengenai beliau mengakhiri sholatnya pada Isya. Dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

    أَخَّرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ صَلَّى

    Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan sholat isya sampai pertengahan malam, kemudian beliau sholat,” (HR. Bukhari 572)

    Dan Rasulullah SAW menyebutkan orang yang menyia-nyiakan sholat adalah mereka yang menunda sholat hingga waktu sholat berikutnya.

    Beliau bersabda,

    إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى

    Artinya: “Yang dimaksud menyia-nyiakan salat adalah mereka yang tidak salat sampai datang waktu salat berikutnya,” (HR. Muslim 1594 dan Ibnu Hibban 1460).

    Dari hadits di atas, terdapat perbedaan para ulama dalam menjelaskan batas waktu sholat Isya. Namun untuk mulainya waktu Isya, para ulama sepakat bahwa awal waktu sholat Isya adalah jika telah hilang sinar merah di langit.

    Sedangkan untuk batas akhir, terdapat beberapa perbedaan mengenai hal tersebut.

    Pendapat yang pertama,  yakni dari Imam Syafi’i dalam al Qoul Jadid, Abu Hanifah serta pendapat masyhur dalam mazhab Maliki menjelaskan bahwa batas akhir sholat Isya adalah sepertiga malam.

    Dalilnya adalah hadits ketika Jibril mengimami sholat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

    ….ثُمَّ جَاءَهُ لِلْعِشَاءِ حِينَ ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ…..

    “……Kemudian Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam untuk melaksanakan sholat ‘isya’ ketika sepertiga malam yang pertama………..” (HR. Nasa’i No. 526, hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani rohimahullah dalam Al Irwa’ hal. 270/I).

    Baca juga: 10 Arti Mimpi Banjir Menurut Islam, Pertanda Buruk?

    Pendapat yang kedua, yakni dari Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarok, Ishaq, Abu Tsaur, Mazhab Hanafi dan Ibnu Hazm rohimahumullah menjelaskan bahwasannya akhir waktu sholat Isya adalah setengah malam.

    Dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhu,

    …وَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ….

    “Waktu sholat ‘isya’ adalah hingga setengah malam” (HR. Muslim No. 612).

    Pendapat yang ketiga, yakni pendapatnya ‘Atho’, ‘Ikrimah, Dawud Adz Dzohiri, salah satu riwayat dari Ibnu Abbas, Abu Huroiroh dan Ibnul Mundzir Rohimahumullah, mereka menjelaskan bahwa akhir waktu sholat ‘isya’ adalah ketika terbit fajar shodiq.

    Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qotadah rodhiyallahu ‘anhu,

    …إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى….

    “Hanyalah orang-orang yang terlalu menganggap remeh agama adalah orang yang tidak mengerjakan sholat hingga tiba waktu sholat lain” (HR. Muslim No. 681).

    Pendapat ini juga menjadi pegangan bagi ulama Syafi’iyah, akan tetapi kurang masyhur di kalangan ulama malikiyah.

    Yang dimaksudkan dengan fajar shodiq adalah berhamburnya cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi yang nampak terang.

    Inilah waktu peralihan dari gelap malam (hitam) menuju munculnya cahaya (putih). Dalam Al-Qur’an fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih (khait al-abyad) dari benang hitam (khait al-aswad)”.

    Sehingga dapat dikatakan bahwa fajar shodiq merupakan cahaya fajar yang melintang di sepanjang ufuk sebelah timur sebagai pertanda akhir malam atau menjelang matahari terbit.

    Memahami Kesahan Sholat Isya Menurut Hadits Berdasarkan Batas Waktunya

    Setelah memahami penjelasan di atas, mengenai batas waktu sholat Isya yang dijelaskan. Berikut ini beberapa pembahasan mengenai kesahan sholat Isya berdasarkan waktunya:

    1. Sah Meski Dilakukan Setelah Pertengahan Malam

    Dari ulama empat mazhab sepakat bahwa mereka yang sholat Isya setelah pertengahan malam statusnya tetap sah dan dianggap mengerjakan pada waktunya, tidak termasuk dalam qodho (mengerjakan sholat di luar waktu).

    2. Sah setelah Pertengahan Malam jika Ada Uzur

    Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang mengerjakan sholat Isya setelah pertengahan malam. Ada yang menyebut itu waktu darurat, sehingga berlaku dalam kondisi darurat pula.

    Ada yang menyebut waktu jawaz (toleransi), sehingga berlaku untuk yang punya  memiliki uzur syari di dalamnya. Dan ada pula yang menyebutkan bahwa kebolehannya tetap dianggap makruh.

    Salah satu ulama turut menjelaskan terkait hal yang disebutkan, Ustadz Abdul Somad berujar “Ketika ia telat karena ada uzur syar’i seperti kegiatan dan tidak sempat (salat Isya tepat waktu). Lalu ia salat isya jam 2 atau 3, maka itu diperbolehkan dan salatnya tetap sah,”

    Selain itu, Dawud Az Zahiri juga berpendapat bahwasannya batas sholat Isya yaitu saat terbitnya fajar, sekitar pukul 4 Subuh.

    Syakh Abdullah bin Abdurrahan Bafadhol Al Hadhrami mengkategorikan batasan sholat Isya. Beliau membaginya menjadi 3, yakni waktu fadhilah (di awal waktu isya), ikhtiyar (sampai sepertiga malam), dan jawaz (sampai terbit fajar).

    Dari ketiga waktu tersebut, waktu fadillah adalah yang paling utama kedudukannya dan palig dianjurkan menurut mazhab syafi’i.

    Namun, apabila seseorang berhalangan melakukan sholat di waktu fadhilah karena hal tertentu, ia tetap akan mendapatkan pahala fadhilah ketika melaksanakannya, karena pada dasarnya waktu fadhilah tidak hilang kalau seseorang punya kewajiban sesuatu.

    Misalnya, sedang sibuk merawat ibu yang tidak mungkin ditinggal. Maka mundur waktu sholatnya, dan fadhilah-nya tetap ada. Ini juga seperti misalnya sudah berangkat ke masjid lalu sakit perut.

    3. Sunnah Mengakhirkan Sholat Isya

    Disunnahkan bagi seorang muslim untuk mengakhirkan sholat Isya segera tidak melewati tengah malam. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

    لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ

    “Jika sekiranya tidak memberatkan ummatku maka akan aku perintah agar mereka mengakhirkan sholat ‘isya’ hingga sepertiga atau setengah malam” (HR. Tirmidzi No. 167, Ibnu Majah No. 691, dinyatakan shohih oleh Al Albani di Takhrij Sunan Tirmidzi).

    Akan tetapi hal ini tidak selalu dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, sebagaimana dalam hadits yang lain,

    وَالْعِشَاءُ أَحْيَانًا يُقَدِّمُهَا ، وَأَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا : إذَا رَآهُمْ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ ، وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ

    “Terkadang (Nabi) menyegerakan sholat isya dan terkadang juga mengakhirkannya. Jika mereka telah terlihat terkumpul maa segerakanlah dan jika terlihat (lambat datang ke masjid)” (HR. Bukhori No. 560, Muslim No. 233).

    4. Dimakruhkan Tidur Sebelum sholat Isya dan Berbicara yang Tidak Perlu Setelahnya

    Hal ini menjadi salah satu sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW. sebagaimana dijelaskan berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

    كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

    “Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam membenci tidur sebelum sholat ‘isya’ dan melakukan pembicaraan yang tidak berguna setelahnya (HR. BukhoriNo. 568, Muslim No. 237)”.

    Batas Waktu Sholat Fardhu Lainnya

    Selain batas waktu sholat Isya, ketahui pula tanda awal dan akhir dari waktu sholat lainnya, yakni subuh, dzuhur, ashar dan juga maghrib.

    Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

    1. Subuh, waktu sholat subuh dimulai ketika muncul nya fajar shodiq, yaitu cahaya keputih-putihan yang menyebar di ufuk timur. Waktu subuh berakhir saat piringan atas matahari muncul di ufuk timur.
    2. Dzuhur, waktu dholat Dzuhur dimulai ketika tergelincirnya matahari dari tengah langit ke arah barat. Waktu ini juga ditandai dengan terbentuknya bayangan suatu benda dan kemudian sesaat setelah posisi matahari berada di tengah langit atau sesaat setelah posisi matahari di tengah langit. Waktu dzuhur berakhir saat masuk waktu ashar.
    3. Ashar, waktu sholat Ashar dimulai saat panjang bayangan suatu benda, sama dengan panjang benda tersebut. Sementara itu, waktu berakhirnya adalah saat masuk waktu maghrib.
    4. Maghrib, waktu sholat Maghrib yakni dimulai saat terbenamnya semua piringan matahari di ufuk barat, yaitu saat tenggelamnya piringan atas matahari di ufuk barat. Waktu Maghrib berakhir saat masuk waktu isya.

    Keutamaan Sholat Fardhu di Awal Waktu

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa amalan yang paling baik untuk dikerjakan adalah sholat fardhu di awal waktu. Sebagaiamana Rasulullah SAW bersabda:

    عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا

    Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

    Adapun ada beberapa keutamaan yang bisa umat muslim peroleh jika mengerjakan sholat di awal waktu, yakni sebagai berikut:

    1. Dicintai Oleh Allah SWT

    Keutamaan yang pertama yakni dicintai Allah SWT, sebab seorang muslim yang mengerjakan sholat di awal waktu termasuk pada golongan umat yang mencintai Allah SWT.

    Dan tentu saja, Allah akan mencintai umat muslim yang mencintainya. Untuk itu, jagalah sholat dan kerjakan di awal waktu, agar hidup selalu dalam keberkahan.

    2. Mendapatkan Balasan Surga

    Keutamaan sholat di awal waktu lainnya adalah surga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Allah Ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu solat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barangsiapa yang menjaga waktu-waktu solat pasti Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaga solatnya, maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan.”

    3. Akan Diampuni Dosanya

    Keutamaan sholat fardhu di awal waktu adalah dosanya akan diampuni oleh Allah. Sebab orang yang sholat tepat waktu adalah orang yang memprioritaskan Allah SWT di atas segalanya, sehingga insyallah akan diampuni dosa-dosanya.

    4. Memperoleh Pahala Kebaikan yang Amat Besar

    Keutamaan lainnya yakni akan memperoleh pahala kebaikan yang amat besar. Untuk itu jangan sampai kita dengan sengaja menunda dan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memperoleh pahala kebaikan.

    5. Akan Mendapatkan Sembilan Macam Kemuliaan

    Jika kita mengerjakan sholat fardhu di awal waktu, kita akan diberikan semblan kemuliaan, yakni

    • Dicintai Allah SWT
    • Akan selalu diberikan kesehatan dalam hidupnya
    • Akan selalu terjaga oleh malaikat dimanapun ia berada
    • Rumahnya akan selalu diberkahi
    • Wajahnya akan selalu tampak sebagai muslim yang sholeh
    • Hatinya akan dilunakkan Allah SWT
    • Dipermudah dalam menyebrangi jembatan Shirath seperti kilat
    • Diselamatkan dari panasnya api neraka dan,
    • Akan ditempatkan di syur-Nya.

    Demikian penjelasan terkait batas waktu sholat Isya yang penting untuk kita ketahui, meski waktunya terbilang panjang, tetap baiknya dilakukan di awal waktu ya!

  • Bacaan Doa Qunut Subuh Arab dan Latin Beserta Arti dan Hukumnya

    Bacaan Doa Qunut Subuh Arab dan Latin Beserta Arti dan Hukumnya

    Ada banyak amalan sunnah dalam ajaran Islam yang bisa kita lakukan. Amalan-amalan tersebut dapat mendatangkan pahala dan kebaikan untuk diri kita. Salah satu amalannya yaitu doa qunut.

    Nabi Muhammad SAW mengajarkan umat muslim untuk membaca doa tersebut. Adapun waktu membacanya yaitu ketika menjalankan shalat subuh.

    Mengenal Doa Qunut Subuh

    Menurut istilahnya, “Qunut” memiliki arti ketaatan yang disertai dengan kerendahan hati. Qunut juga memiliki arti berdiri lama, doa, diam, dan khusyu’.

    Pengertian qunut tersebut saling melengkapi satu sama lain. Sehingga dapat dijabarkan bahwa qunut merupakan doa yang dibaca ketika shalat dan dalam posisi berdiri dengan cukup lama.

    Doa tersebut juga merupakan bentuk ketaatan pada Allah SWT.

    Biasanya, qunut dibaca ketika menjalankan ibadah shalat subuh. Lebih tepatnya, setelah membaca tahmid saat I’tidal serta sebelum ruku’.

    Masih bingung kapan membaca doa qunut subuh dari penjelasan tersebut?

    Kita bisa membaca qunut pada rakaat kedua shalat subuh, tepatnya setelah membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Jadi, kita bisa mulai membaca qunut setelah selesai membaca surat pendek.

    Ketika membaca qunut, posisi tubuh masih berdiri sambil mengangkat kedua tangan. 

    Qunut terdiri dari beberapa kalimat yang isinya pujian kepada Allah SWT. Selain itu, wunut juga berisi permohonan ampun, sekaligus permohonan perlindungan dan pertolongan Allah.

    Imam Syafi’i menganjurkan untuk membaca qunut ketika shalat subuh. Mayoritas ulama ahli hadits juga menyetujui pendapat tersebut.

    Baca juga: Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Shalat subuh sendiri merupakan ibadah yang istimewa. Pasalnya, waktu pelaksanaannya yang mana merupakan waktu fajar saat belum banyak orang yang terjaga.

    Fajar merupakan waktu yang baik untuk memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Melakukan amalan dengan membaca qunut juga dapat memperkuat iman dan meningkatkan ketakwaan.

    Mengingat manfaat signifikannya, mengamalkan qunut saat shalat subuh termasuk ibadah dengan banyak keutamaan bagi umat muslim

    Bacaan Doa Qunut Latin dan Arab

    Setelah mengetahui apa itu qunut, kita bisa melanjutkan dengan mempelajari bacaan doanya. 

    Terdapat dua versi qunut, yaitu qunut lengkap atau panjang dan qunut pendek. 

    1. Doa Qunut Lengkap

    اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Adapun bacaan doa qunut latin yaitu:

    “Allahummah dinii fii man haadaiit, Wa ‘aafinii fiiman ‘aafait, wa tawallanii fii man tawallaiit, Wa baarik lii fii ma a’thaiit, Wa qinni birohmatika syarra maa qadhaiit, Fa innaka taqdhi wa la yuqdha ‘alaiik, Wa innahu la yazillu man wa lait, Wa la ya’izzu man ‘adait, Tabarakta rabbana wa ta’alait, Fa lakal hamdu a’la ma qadhait, Astagfiruka wa atubu ilaik, Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin Nabiyyil ummiyyi Wa ‘ala alihi Wa shahbihi Wa sallam.”

    Artinya:

    “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana mereka yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. Peliharalah diriku sebagaimana orang-orang yang sudah Engkau lindungi. Berikanlah keberkahan untukku dari apa yang sudah Engkau berikan. Selamatkanlah diriku dari bahaya kejahatan yang sudah Engkau tentukan. Engkaulah yang berhak menghukum dan bukan dihukum. Tidak akan hina orang yang telah Engkau jadikan pemimpin. Tidak mulia orang yang telah Engkau musuhi. Maha Suci Engkau duhai Tuhan kami dan Yang Maha Tinggi. Bagi-Mu seutuhnya pujian di atas apa yang telah Engkau tentukan. Diriku memohon ampun kepada-Mu dan menyatakan bertaubat kepada-MU. Semoga engkau ya Allah mencurahkan rahmat dan karuniamu atas junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, dan semua para sahabatnya.”

    2. Doa Qunut Subuh Pendek

    للّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

    Doa qunut Arab tersebut dalam tulisan latin bacaannya yaitu:

    “Allahummah dinii fii man hadaiits, wa ‘aafiinii fii man ‘aafaits, wa tawallanii fii man tawallaits, Wa baarik lii fii maa a’thaits, Wa qi nii birohmatika syarra maa qadlaits, Fa innaka taqdli wa laa yuqdlaa ‘alaik, Wa innahuu laa yadzillu man waalaits, Tabaarakta rabbanaa wa ta’aalaits.”

    Adapun artinya yaitu:

    “Ya Allah, berilah kepadaku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berikanlah kesejahteraan untukku di antara orang-orang yang Engkau beri kesejahteraan, tolonglah diriku di antara orang-orang yang kau beri pertolongan, berikanlah keberkahan untukku dari apa-apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan peliharalah diriku aku dari semua keburukan yang telah Engkau putuskan, karena sesungguhnya Engkau yang berhak memutuskan dan tidak diputuskan atasMu, dan tidak ada kehinaan kepada orang yang sudah Engkau tolong, Maha Suci Engkau duhai Tuhan kami, yang lagi Maha Tinggi.”

    Kedua doa qunut tersebut dapat kita amalkan dengan membaca salah satunya saat shalat. Pasalnya, meskipun bacaan qunut dari kedua versi cukup berbeda, pada dasarnya qunut memiliki tujuan yang sama.

    Adapun bacaan doa qunut subuh berjamaah dengan doa qunut subuh sendiri juga sama, yakni dengan menggunakan salah satu versi qunut di atas.

    Meski demikian, mengutip dari NU Online, terdapat sedikit perubahan pelafalan pada bacaan doa. 

    Apabila membaca qunut saat berjamaah, imam perlu mengubah lafal “ihdini” yang berarti berilah aku petunjuk. Imam perlu mengganti lafal tersebut dengan “ihdina” yang memiliki arti berilah kami petunjuk.

    Pengubahan ini sesuai dengan pendapat dari Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in. Menurut Beliau, makruh hukumnya bagi imam untuk berdoa demi dirinya sendiri ketika shalat berjamaah.

    Baca juga: Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Manfaat, dan Keutamaannya

    Hukum Doa Qunut 

    Dalam fiqih terdapat tiga jenis qunut, yaitu qunut subuh, qunut witir, dan qunut nazilah. Adapun mengenai hukum qunut terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para ulama.

    Dalil tentang Do’s Qunut

    Pelaksanaan ketiga jenis qunut berdasarkan pada sejumlah dalil yang menjadi landasan hukum qunut. 

    Dalil tersebut meliputi hadits Ubai bin Ka’ab:

    إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. أخرجه ابن ماجه.

    Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwitir lalu melakukan qunut sebelum ruku’. [HR Ibnu Majah dan dishahîhkan al-Albâni dalam Irwa’ al-Ghalil, 2/167 hadits no. 426].

    Selain itu, ada pula hadits lain dari Anas bin Malik yang artinya: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang berdoa Qunut (ketika ada musibah) pada shalat Maghrib dan shalat Shubuh” [HR. Bukhari].

    Hukum Doa Qunut Subuh

    Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, hukum qunut subuh adalah sunnah. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut subuh berlaku ketika terjadi suatu masalah besar sehingga perlu mendoakan dengan qunut nazilah.

    Pendapat dari Imam Syafi’i yang menganjurkan membaca qunut ketika shalat subuh berdasarkan beberapa hadits. Salah satunya yaitu hadits riwayat Muslim yang artinya:

    “Dari Muhammad bin Sirin, berkata: “Aku bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah Rasulullah Saw membaca qunut dalam shalat Subuh?” Beliau menjawab: “Ya, setelah ruku’ sebentar.” (HR Muslim, Hadits nomor 1578).

    Menurut Imam Nawawi, hukum kesunahan membaca qunut subuh adalah sunnah muakkadah. Artinya, shalat kita tidak akan batal apabila meninggalkan qunut. 

    Meski demikian, kita sebaiknya melakukan sujud sahwi saat meninggalkan qunut secara sengaja maupun tidak.

    Pendapat tersebut berlandaskan dalil berupa hadits yang artinya: “Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika shalat subuh sehingga beliau wafat.’” (HR Ahmad)

    Mazhab Hanafi juga berpendapat bahwa hukum qunut saat shalat subuh adalah sunnah muakkad. Sementara mazhab Maliki dan Hanbali memiliki pandangan yang berbeda.

    Kedua mazhab tersebut tidak menekankan membaca qunut saat shalat subuh. Namun, menganjurkan pelaksanaannya ketika shalat witir dan shalat-shalat lain, misalnya ketika memohon pertolongan atau perlindungan dari bencana.

    Hadist mengenai Qunut Subuh Terus Menerus

    Terdapat sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dll, dari jalur Abu Ja’far Ar-Razi, yang berbunyi:

    مَازَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا .

    Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut pada shalat Shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia (wafat).”

    Namun, rupanya hadist tersebut tidak termasuk dalam hadist shahih.

    Melansir dari Bimbingan Islam, hadist terkait membaca qunut yang shahih hanyalah tentang qunut nazilah. 

    Artinya, tidak terdapat dalil yang valid mengenai keharusan ataupun kesunnahan melakukan qunut secara terus menerus saat subuh. 

    Manfaat Membaca Doa Qunut

    Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai pelaksanaannya, seluruh umat muslim percaya bahwa qunut memberikan banyak manfaat, seperti: 

    1. Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

    Sebagaimana doa lain, melalui qunut umat muslim dapat lebih dekat pada Allah SWT. Hal tersebut karena qunut mengandung permohonan ampunan dari Sang Pencipta.

    Selain itu, qunut juga berisi permohonan pertolongan dan perlindungan dari segala macam bahaya.

    2. Mendapatkan Petunjuk

    Qunut juga berisi permohonan untuk diberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dengan membaca doa pada saat shalat, umat muslim bisa mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

    Oleh karena itu, mengamalkan qunut dapat membantu umat muslim dalam menghadapi berbagai tantangan.

    3. Mendapatkan Berkah dan Menghindarkan Mudharat

    Dalam qunut, kita juga memanjatkan permohonan untuk mendapat keberkahan pada segala nikmat yang telah Allah berikan. 

    Selain itu, melalui qunut umat muslim juga memohon perlindungan dari kemudharatan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Doa ini berisi harapan untuk mendapatkan perlindungan-Nya dari segala macam bahaya.

    4. Kebaikan Dunia dan Akhirat

    Melalui qunut umat muslim tidak hanya memohon perlindungan dari hal-hal buruk, tapi juga sekaligus memohon kebaikan dunia dan akhirat. 

    Qunut mengandung harapan untuk diberikan petunjuk supaya terhindar dari kesulitan maupun keburukan dan godaan. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dan meraih tujuan dengan cara yang penuh berkah.

    5. Memberikan Ketenangan Hati

    Satu lagi manfaat penting dari qunut, yaitu memberikan perasaan tenang dan damai. Pasalnya, dengan membaca qunut umat muslim juga menyampaikan permohonan untuk mendapat perlindungan dan petunjuk dari Allah SWT.

    Oleh karena itu, qunut dapat membuat perasaan lebih aman dan terjaga. Sehingga, kita dapat menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang sering kali menyebabkan rasa khawatir dan stress.

    Itulah pengertian, bacaan, dan hukum doa qunut subuh secara lengkap. Qunut memberikan banyak manfaat bagi yang menjalankan. Mari berusaha untuk konsisten mengamalkan supaya meraih banyak kebaikan.