Category: Agama

  • Gerakan Sholat yang Benar Serta Tata Caranya (Lengkap)

    Gerakan Sholat yang Benar Serta Tata Caranya (Lengkap)

    Memahami gerakan sholat yang benar merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim. Apalagi sholat merupakan ibadah pertama yang dihisab oleh Allah sehingga pelaksanaannya tidak boleh sembarangan. 

    Ada ketentuan tersendiri terkait gerakan sholat ini. Berikut pembahasan selengkapnya.

    Begini Gerakan Sholat yang Benar beserta Tata Caranya

    Berikut tata cara sholat yang benar lengkap dengan gerakannya.

    1. Niat

    Rasulullah bersabda bahwa “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya”. Untuk itu, memulai sholat juga harus niat terlebih dahulu. Tanpa niat, sholat Anda tidak sah meskipun semua gerakan Anda sebenarnya sudah tepat.

    Niat cukup Anda ucapkan dalam hati. Akan tetapi, jika ingin melafazkan atau mengucapkannya tentu tidak ada masalah. Melafazkan niat tersebut bertujuan untuk menguatkan hati.

    2. Berdiri dan Menghadap Kiblat

    Bagi seseorang yang mampu berdiri, diwajibkan baginya untuk berdiri serta menghadap kiblat. Akan tetapi, bagi yang tidak mampu berdiri maka bisa sholat sambil duduk. Jika masih tidak mampu, maka bisa mengerjakan sholat dengan tidur menyamping.

    Menurut mazhab Syafi’i, pandangan mata menuju tempat sujud. Sementara menurut mazhab Maliki, pandangan mata ke arah depan. Ini hanya perbedaan mazhab sehingga Anda bisa memilih sesuai kondisi di tempat Anda.

    Tidak kalah penting, posisi badan berdiri tegak dan lurus. Kemudian kedua tangan juga harus lurus. Letakkan kedua tangan di samping badan sampai paha, dan jari-jari juga tidak mengepal melainkan harus terlepas atau rileks. 

    Kemudian pastikan shaf lurus dengan ujung tumit yang menjadi patokan dengan makmum yang lain (jika sholat berjamaah).

    3. Takbiratul Ikhram

    Gerakan sholat yang benar ketika takbiratul ikhram sebenarnya terdapat dua opsi. Anda bisa mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau mengangkat kedua tangan Anda dengan ujung jari sampai di bawah telinga.

    Kedua telapak tangan juga harus menghadap kiblat. Anda boleh mengucapkan takbir bersama dengan mengangkat tangan. Namun, Anda juga bisa mengangkat tangan dulu baru mengucapkan takbir. Keduanya merupakan masalah khilafiyah (perbedaan) dan Anda tinggal memilih salah satunya.

    Lalu posisi rentang siku pada kedua tangan juga tidak terlalu lebar dan rapat (untuk laki-laki). Apalagi ketika sholat berjamaah agar tidak sampai mengganggu jamaah yang lainnya. 

    Untuk wanita, posisi rentang siku harus lebih merapat. Selanjutnya, posisi antar jari juga saling merapat, namun ada juga pendapat yang memperbolehkan tidak terlalu rapat serta tidak terlalu renggang.

    4. Membaca Al-Fatihah

    Rasulullah bersabda “Tidak ada sholat (tidak sah) yang tidak membaca Al-Fatihah”. Menurut penjelasan tersebut, bahwa wajib hukumnya seseorang membaca surat Al-Fatihah ketika sholat. 

    Akan tetapi, terdapat perbedaan pandangan ulama mazhab mengenai apakah makmum harus membaca Al-Fatihah atau tidak ketika sholat berjamaah. Menurut mazhab Hanafi, makmum tidak boleh membaca Al-Fatihah karena bacaannya sudah ditanggung imam.

    Sementara itu, menurut mazhab Maliki, ketika imam membaca jahr atau dengan bersuara (seperti pada sholat magrib, isya, dan subuh) maka makmum tidak perlu membaca Al-Fatihah. Akan tetapi, ketika sholatnya sir atau bacaannya pelan (seperti sholat dhuhur dan ashar), maka makmum wajib membaca Al-Fatihah. 

    Menurut mazhab Syafi’i, makmum wajib membaca surat Al-Fatihah meskipun dalam sholat berjamaah. Waktunya adalah ketika imam selesai membaca Al-Fatihah atau ketika imam membaca surah dalam Al-Quran. Semua pendapat di atas benar dan Anda tinggal memilih salah satunya.

    5. Ruku’

    Gerakan sholat rukuk harus Anda lakukan dengan benar dan tuma’ninah. Lakukan dengan mengucapkan takbir dan mengangkat kedua tangan sebelum Anda ruku’. 

    Untuk posisi ruku’ yaitu badan membungkuk dan lurus, seolah membentuk huruf “L’” yang terbalik. Kemudian posisi telapak tangan yaitu memegang kedua lutut. Anda juga disunahkan membaca “subhaana rabbiyal ‘adzimi wa bihamdih” sebanyak 3 kali. 

    Adapun tuma’ninah yaitu kondisi jeda atau memberikan waktu agar gerakan sholat tenang. Tuma’ninah adalah bagian dari rukun sholat sehingga jika Anda tidak melakukannya, sholat Anda tidak sah. Maka dari itu, Anda harus sholat dengan tenang dan jangan terburu-buru.

    6. I’tidal 

    Gerakan i’tidal juga harus Anda lakukan dengan tuma’ninah. Untuk posisi tubuh ketika i’tidal yaitu berdiri tegak dan posisi kedua tangan lurus ke bawah. Sunah setelah ruku’ membaca “sami’allahu liman hamidah” sambil mengangkat  kedua tangan baik sejajar dengan bahu maupun di bawah telinga.

    Kemudian Anda juga disunahkan membaca “rabbanaa lakal hamdu mil’us samawati wa mil’ul ardhi wa mil umaasyi’ta min syai’in ba’du”. 

    7. Sujud dengan Tuma’ninah

    Gerakan sholat yang benar ketika sujud adalah memastikan 7 bagian tubuh menempel ke alas sholat. Ketujuh bagian tubuh tersebut yaitu dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung jari. Posisi sujud beserta bacaannya juga harus Anda lakukan secara tuma’ninah.

    Adapun untuk hidung tidak harus menempel, terutama jika kondisinya tidak memungkinkan misalnya karena hidung Anda tidak mancung. Ketika dalam posisi sujud bisa membaca “subhaana rabiyal a’la” sebanyak 3 kali.

    Selanjutnya, untuk posisi kedua siku yaitu harus terbuka (bagi laki-laki) dan tidak terlalu lebar (terutama ketika sholat berjamaah). Sementara pada wanita, posisi rentang siku harus merapat. Begitu juga posisi antar jari juga saling merapat.

    8. Duduk di Antara Dua Sujud

    Duduk di antara dua sujud juga wajib dilakukan secara tuma’ninah. Untuk posisi duduknya yaitu badan menduduki telapak kaki sebelah kiri. Sementara posisi kaki kanan masih sama seperti posisi ketika Anda sujud. Ada bagian jari kanan yang menempel di alas sholat serta telapak kaki kanan harus menghadap ke belakang. 

    Untuk posisi kedua telapak tangan menempel di atas paha. Anda juga disunahkan untuk membaca “robbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu Anni”.

    Setelah itu, Anda harus melakukan sujud yang kedua dengan posisi dan bacaan yang sama seperti sujud pertama. Sunah untuk duduk sebentar sebelum berdiri kembali lalu membaca takbir.

    9. Duduk Tahiyat Awal

    Gerakan sholat yang benar untuk tahiyat awal yaitu dilakukan ketika selesai sujud kedua pada rakaat kedua (pada shalat dhuhur, ashar, magrib, dan isya). Jadi, sebelum Anda melanjutkan rakaat ketiga, maka Anda harus melaksanakan tahiyat awal terlebih dahulu.

    Posisinya sama dengan duduk di antara dua sujud. Kemudian Anda harus membaca “Attahiyatul mubarakatus sholawatut toyyibatulillah. Assalamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatu. Assalamu alaina wa ‘alaa ‘ibadillahi shoolihin. Asyhadu alla ilaaha illallohu wa asyhadu anna muhammadar rasulullah”

    10. Duduk Tahiyat Akhir

    Untuk posisi duduk tahiyat akhir hampir sama dengan duduk tahiyat awal. Hanya saja, posisi bokong menempel ke tanah (tidak menduduki kaki sebelah kiri seperti pada tahiyat awal). Untuk posisi kaki kanan sama seperti ketika Anda sujud.

    Selanjutnya, Anda harus membaca:

    “Attahiyatul mubarakatus sholawatut toyyibatulillah. Assalamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatu. Assalamu alaina wa ‘alaa ‘ibadillahi shoolihin. Asyhadu alla ilaaha il-lallohu wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. 

    Allahumma sholli ala Muhammad. Wa ‘ala aali Muhammad. Kama shollaita ‘ala Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamad. Kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid.

    Ketika membaca kata “Allah” pada syahadat pada bacaan tahiyat awal dan akhir maka telunjuk kanan harus posisi menunjuk. Namun ada juga mazhab lain yang berpendapat bahwa telunjuk kanan harus menunjuk sejak pertama kali Anda berada pada posisi tahiyat akhir/awal.

    11. Salam

    Setelah rangkaian bacaan tahiyat akhir sudah Anda laksanakan, maka selanjutnya adalah mengucapkan salam. Untuk gerakan salam yang pertama yaitu menghadap ke kanan terlebih dahulu, lalu ke kiri. Pastikan ketika mengucapkan salam ke kanan/kiri posisi dada tidak bergerak, tetap menghadap ke depan.

    Sudah Paham Gerakan Sholat yang Benar?

    Sekian pembahasan tentang seputar gerakan sholat mulai dari niat sampai salam. Lakukan sholat dengan tuma’ninah dan khusu’ agar diterima Allah. Semoga bermanfaat.

  • Apakah Wanita Haid Boleh Masuk Masjid? Ini Hukum, Syarat, dan Penjelasannya

    Apakah Wanita Haid Boleh Masuk Masjid? Ini Hukum, Syarat, dan Penjelasannya

    Haid atau menstruasi merupakan kondisi biologis yang pasti dialami oleh setiap wanita. Dalam hukum Islam, wanita yang sedang mengalami masa haid banyak mendapat larangan untuk beribadah. Sehingga, banyak umat yang menanyakan apakah wanita haid boleh masuk masjid? Yuk, cari tahu jawabannya di sini!

    Beberapa Larangan untuk Wanita Haid dalam Islam 

    Sebelum mempelajari tentang apakah wanita haid boleh masuk masjid, mari pelajari terlebih dahulu apa saja larangan wanita haid dalam Islam. Haid merupakan hal biologis yang terjadi karena tidak dibuahinya sel telur dalam rahim wanita. Ini pasti terjadi pada wanita setiap bulannya, kecuali wanita tersebut sedang hamil. 

    Keluarnya darah dari rahim tersebut menyebabkan timbulnya najis dari dalam diri wanita. Seperti yang Anda ketahui, najis merupakan hal yang harus dibersihkan. Namun, karena haid ini berlangsung selama kurang lebih 1 minggu, maka najis tidak bisa dibersihkan sebelum selesai. 

    Oleh karena itu, terdapat beberapa larangan bagi wanita haid dalam Islam terkait ibadah. Adapun beberapa larangan untuk wanita haid dalam Islam antara lain adalah: 

    • Tidak boleh melakukan sholat, baik sholat wajib lima waktu maupun sholat sunnah lainnya. 
    • Tidak boleh melakukan puasa. Baik puasa wajib ramadhan, maupun puasa sunnah. Puasa wajib apabila tidak dikerjakan karena haid harus diganti pada hari lain ketika tidak berhalangan.
    • Dilarang untuk bercerai dengan suami ketika berada dalam masa haid.
    • Tidak boleh berhubungan intim dengan suami dalam keadaan apapun selama masa haid.
    • Dilarang menyentuh Al-Qur’an maupun membaca Al-Qur’an selama haid.
    • Tidak boleh melakukan tawaf atau berjalan berkeliling ka’bah yang umumnya dilaksanakan ketika haji dan umroh.
    • Dilarang melakukan ibadah haji dan umroh.
    • Dilarang masuk ke dalam rumah ibadah atau Masjid. 

    Itu semua adalah larangan yang wajib dipatuhi oleh semua muslimah yang ada. Nah, untuk larangan terakhir, yaitu masuk ke dalam masjid sendiri menuai banyak pendapat dari ulama. Karena itu, Anda sebaiknya menyimak hukum perihal wanita haid masuk ke dalam masjid secara agama.

    Apakah Wanita Haid Boleh Masuk Masjid?

    Setelah Anda mengetahui larangan apa saja yang wajib dihindari oleh wanita yang sedang haid, mari simak lebih dalam mengenai hukum masuk masjid. Seperti yang disebutkan sebelumnya, persoalan mengenai wanita haid yang masuk ke dalam masjid banyak menuai pendapat dari ulama maupun tokoh-tokoh lainnya. 

    Jadi, masih banyak yang belum yakin terkait hukum dan aturan yang berlaku hingga saat ini. Terdapat salah satu ulama bernama Syeikh Khalid Muslih yang mengutarakan pendapatnya. Menurutnya, wanita yang sedang haid atau mengalami menstruasi boleh saja memasuki masjid asalkan bukan dengan tujuan sholat. 

    Para wanita haid yang memasuki masjid diperbolehkan ketika akan menghadiri majelis ilmu, mendengarkan ceramah, belajar, dan sebagainya. Hal tersebut tertuang dalam buku fiqih wanita yang ditulis oleh Qomarudin Awwam S.Ag., M.A. 

    Adapun landasan atau hal yang menjadi dasar pernyataan tersebut adalah dalil berikut ini: 

    عن عائشة قالت قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم ناوليني الخمرة من المسجد فقلت إني حائض فقال ليست حيضتك في يدك

    Artinya: “Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Ambilkan al-khumrah dari masjid untukku. ‘Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku sedang dalam keadaan haid.’ Beliau bersabda, ‘Haidmu bukan di tanganmu.’” (HR. Muslim)

    عن عائشة قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم يدني رأسه إلي وأنا حائض وهو مجاور تعني معتكفا فاغسله وأرج

    Artinya: Aisyah berkata, “Nabi SAW mendekatkan kepalanya kepadaku ketika aku dalam keadaan haid, sementara beliau sedang mujawir (maksudnya beriktikaf). Aku pun mencuci dan menyisir rambutnya.” (HR. Abu Daud)

    Hal tersebut diperkuat oleh dalil lainnya yang memperbolehkan atau mensahkan wanita haid untuk memasuki area masjid. Dalil ini tertulis pada buku ‘Wanita dan Masjid’ karya dari Jasser Auda. Pada buku tersebut, tertulis bahwa seorang muslim itu tidak najis sehingga boleh memasuki masjid. 

    Hal tersebut berdasar pada pernyataan ulama. Seperti Imam Ahmad, Al-Muzani, Abu Dawud, Ibnu Hazm dan Ibnu Al Munzir yang berkiblat dari hadits Abu Hurairah dan Shahih Muslim. 

    Hal tersebut juga terjadi dalam mengqiyaskan orang yang sedang junub dengan orang musyrik. Sehingga seorang muslim yang sedang junub lebih diutamakan untuk masuk masjid. 

    Lalu, dalam hal keringanan atau kemudahan, wanita yang sedang haid lebih utama untuk diberi keringanan dibandingkan dengan orang junub. Hal tersebut terjadi karena haid merupakan hal yang diberikan oleh Allah dan tidak bisa dihindari. 

    Jadi, apakah wanita haid boleh masuk masjid? Jawabanya boleh. Namun, ada hukum wanita untuk memasuki masjid yang terkutip dari Ensiklopedi Fiqih di antaranya:

    • Wanita yang sedang haid diperbolehkan untuk masuk masjid dengan tujuan mengisi kotak amal atau sekedar melewati masjid tersebut. 
    • Wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan memasuki masjid apabila memiliki kekhawatiran jika darahnya akan menetes dan membuat masjid menjadi najis.
    • Apabila tidak memiliki kekhawatiran akan darah yang menetes, maka hukum memasuki masjid menjadi makruh.

    Dasar hukum dari pernyataan di atas adalah dalil yang diungkapkan oleh Syekh Abdurrahman Al-Jaziri yang berbunyi sebagai berikut:

    الشافعية قالوا … أما المرور بالمسجد ، فإنه يجوز للجنب والحائض والنفساء من غير مكث فيه ، ولا تردد بشرط أمن عدن تلوث المسجد ، فلو دخل من باب وخرج من آخر جاز ، أما إذا دخل وخرج من باب واحد ، فإنه يحرم ؛ لأنه يكون قد تردد في المسجد ، وهو ممنوع ، إلا إذا كان يقصد الخروج من باب آخر غير الذي دخل منه ، ولكن بدا له أن يخرج منه ، فإنه لا يحرم

    Artinya: “Ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa lewat di masjid boleh dilakukan orang yang junub, haid dan nifas asalkan tidak diam atau berputar-putar di dalam masjid. Kalau masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain itu boleh. Sedangkan kalau masuk dan keluar dari pintu yang sama itu tidak boleh karena itu termasuk berputar. Kecuali apabila ia awalnya bermaksud keluar dari pintu lain selain tempat masuknya tapi ternyata tidak bisa maka hal itu dibolehkan.”

    Syarat Wanita Haid Masuk Masjid dalam Islam

    Setelah mengetahui jawaban apakah wanita haid boleh masuk masjid. Maka, Anda dapat menyimpulkan bahwa syarat wanita haid masuk masjid adalah sebagai berikut: 

    • Boleh masuk asal tidak untuk mengerjakan sholat.
    • Diperbolehkan ketika terdapat keperluan untuk menghadiri majelis ilmu dan mendengarkan ceramah.
    • Boleh masuk untuk mengisi kotak amal atau sekedar lewat.
    • Tidak boleh apabila khawatir darahnya bisa menetes dan membuat najis masjid.

    Sudah Memahami Hukum Wanita Haid Masuk Masjid?

    Berikut tadi adalah ulasan mengenai apakah wanita haid boleh masuk masjid. Hukum ini merupakan pendapat dari beberapa ulama. apabila Anda ingin mengkaji lebih dalam lagi, maka Anda dapat bertanya langsung kepada guru atau orang yang memilih ilmu lebih dalam bidang ini. Semoga membantu!

  • Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid: Arab, Latin & Artinya. Yuk Amalkan!

    Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid: Arab, Latin & Artinya. Yuk Amalkan!

    Saat hendak masuk masjid, kamu dianjurkan untuk membaca doa sesuai sunnah. Begitupun ketika keluar masjid, ada bacaan yang sebaiknya dipanjatkan kepada Allah SWT untuk mendapatkan keberkahan dan pahala. Lalu, seperti apa doa masuk masjid dan keluar masjid? Yuk, simak penjelasan di bawah ini!

    Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid

    Di bawah ini adalah doa masuk dan keluar masjid yang bisa kamu amalkan, antara lain:

    1. Doa Masuk Masjid

    Sebelum kamu memasuki masjid, dianjurkan untuk membaca doa. Doa masuk masjid ini memiliki 2 versi, yakni panjang dan pendek. Doa-doa tersebut bisa digunakan sesuai kebutuhan kamu. Berikut adalah beberapa doa masuk masjid yang sumbernya berasal dari hadits riwayah Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah, antara lain:

    a. Doa Masuk Masjid Versi Panjang

    أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

    Agar lebih memudahkan, berikut doa masuk masjid dengan menggunakan huruf latin: “A’ûdzu billâhil ‘azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm. Bismillâhi wal hamdulillâh. Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ âli sayyidinâ muhammadin. Allâhummaghfirlî dzunûbî waftahlî abwâba rahmatik.”

    Adapun arti doa masuk masjid versi panjang adalah sebagai berikut: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Besar, kepada zat-Nya Yang Maha Mulia, dan kepada kerajaan-Nya yang sedia, dari setan yang terlontar. Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah.

    Hai Tuhanku, berilah selawat dan sejahtera atas Sayyidina Muhammad dan atas keluarga Sayyidina Muhammad. Hai Tuhanku, ampuni untukku segala dosaku. Bukalah bagiku segala pintu rahmat-Mu.”

    b. Doa Masuk Masjid Versi Pendek

    Selain doa masuk masjid versi panjang, ada juga versi pendeknya. Doa ini tentu memudahkan kamu jika tidak memiliki waktu yang memungkinkan untuk memanjatkan doa yang panjang. Jadi, meski pendek, kamu tetap bisa mengamalkan sunnah Rasul. Berikut adalah doa nya:

    اللَّهُمَّ افْتَحْ لي أبْوَابَ رَحْمَتِكَ

    Doa masuk masjid versi pendek dalam huruf latin: “Allahummaftah lii abwaaba rahmatika”.

    Doa di atas mengandung arti sebagai berikut: “Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”

    2. Doa Keluar Masjid

    Setelah doa masuk masjid kamu hafalkan, maka kali ini kamu harus mengetahui doa keluar masjid. Doa masuk masjid dan keluar masjid sebaiknya kamu amalkan, karena keduanya merupakan anjuran dari Rasulullah SAW. Sama seperti doa masuk masjid, doa keluar masjid juga memiliki 2 versi.

    Meski begitu, keduanya mengandung permohonan kepada Allah SWT untuk dilindungi dari segala keburukan dan meminta pengampunan atas dosa-dosa yang diperbuat. Mengutip dari buku Sayyid Utsman bin Yahya yang berjudul Maslakul Akhyar, berikut adalah doa keluar masjid:

    a. Doa Keluar Masjid Versi Panjang

    أعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

    Adapun latin doa keluar masjid versi panjang adalah sebagai berikut: “A’ûdzu billâhil ‘azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm. Bismillâhi wal hamdulillâh. Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ âli sayyidinâ muhammadin. Allâhummaghfirlî dzunûbî waftahlî abwâba fadhlik.

    Adapun arti doa keluar masjid versi panjang adalah sebagai berikut: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Besar, kepada zat-Nya Yang Maha Mulia dan kepada kerajaan-Nya yang sedia dari setan yang terlontar. Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah.

    Hai Tuhanku, berilah selawat dan sejahtera atas Sayyidina Muhammad dan atas keluarga Sayyidina Muhammad. Hai Tuhanku, ampuni untukku segala dosaku. Bukakanlah bagiku segala pintu kemurahan-Mu.”

    b. Doa Keluar Masjid Versi Pendek

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

    Doa keluar masjid versi pendek dalam huruf latin: “Allaahumma innii as’aluka min fadhlika.”

    Doa di atas mengandung arti sebagai berikut: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan segala keutamaan-Mu.”

    Adab Masuk Masjid

    Setelah mengetahui doa masuk masjid dan keluar masjid, ada baiknya untuk mengetahui adab masuk masjid yang harus dipatuhi oleh semua umat muslim, antara lain:

    • Memakai pakaian yang sopan. Sopan di sini maksudnya adalah tidak memperlihatkan aurat laki-laki ataupun perempuan. Selain itu, lebih baik menggunakan pakaian tanpa gambar atau polos, agar tidak mengganggu kekhusyukan ketika sholat.
    • Menggunakan parfum atau wewangian secukupnya.
    • Lepaskan alas kaki sampai batas suci saat tiba di masjid.
    • Membaca doa masuk masjid seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
    • Saat masuk masjid, pastikan bahwa diri telah bersih dari hadas, najis, atau kotoran apapun.
    • Mendahulukan kaki kanan ketika masuk masjid.

    Adab Keluar Masjid

    Selain doa masuk masjid dan keluar masjid, kamu juga perlu mengetahui bagaimana adab ketika keluar masjid, yakni sebagai berikut:

    • Keluar masjid dengan melangkah menggunakan kaki kiri terlebih dahulu.
    • Membaca doa keluar masjid seperti yang telah disebutkan.

    Keutamaan Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid

    Di bawah ini adalah beberapa keutamaan dari mengamalkan doa ketika masuk dan keluar masjid, antara lain:

    1. Mendapat Berkah dan Pahala

    Berdoa saat hendak masuk dan juga keluar masjid membuat kaum muslim dapat memohon ridho Allah SWT, supaya ibadahnya lebih khusyu dan berkah. Selain itu, membaca doa ketika keluar dan masuk masjid bisa mendapatkan pahala dari Sang Pencipta.

    Hal tersebut karena membaca doa ketika masuk dan keluar masjid merupakan bentuk penghormatan kepada rumah ibadah. Amalan ini merupakan sunnah dan menjadi salah satu adab dalam melakukan aktivitas di masjid. Membaca doa keluar dan masuk masjid juga sangat dianjurkan, karena yang mencontohkannya adalah Rasulullah SAW.

    2. Didoakan Para Malaikat

    Keutamaan berikutnya ketika berdoa saat masuk dan keluar masjid ialah didoakan para malaikat. Dalam sebuah hadis riwayah Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam salat selama salat tersebut yang menahannya (di dalam masjid), dan para malaikat berdoa kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada pada tempat salatnya.

    Mereka mengatakan, ‘Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadas.’” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Dilindungi Allah SWT

    Membaca doa masuk masjid dan keluar masjid juga memiliki keutamaan dilindungi oleh Allah SWT. Hal tersebut dilandaskan pada sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat, kira-kira bunyi haditsnya adalah sebagai berikut:

    “Tujuh jenis orang yang Allah Ta’ala akan menaungi mereka pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya… dan laki-laki yang hatinya selalu terkait dengan masjid,” (HR Bukhari dan Muslim).

    Sudah Tahu Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid?

    Bacaan doa masuk dan keluar rumah ibadah memiliki beberapa versi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu. Selain itu, terdapat beberapa keutamaan dalam membaca doa tersebut untuk kita, seperti mendapatkan berkah dan pahala. Jadi, jangan lupa berdoa ketika akan masuk dan keluar masjid!

  • Panduan Doa Husnul Khatimah Anjuran Rasulullah – Arab, Latin, & Arti

    Panduan Doa Husnul Khatimah Anjuran Rasulullah – Arab, Latin, & Arti

    Setiap kali ada saudara kita yang meninggal dunia, umat muslim diwajibkan untuk mendoakan jenazah tersebut agar husnul khatimah. Dalam Islam sendiri, ada beberapa doa husnul khatimah yang bisa dipanjatkan.

    Tentu saja setiap doa tersebut memiliki kebaikan dan keutamaan yang luar biasa. Baik bagi orang yang mendoakan maupun bagi jenazah yang didoakan. Lantas, bagaimana bacaan doa tersebut menurut ajaran Rasulullah SAW?

    Pengertian Husnul Khatimah

    Secara umum, husnul khatimah maksudnya adalah meninggal dalam kondisi baik. Berbeda halnya dengan khusnul khatimah, penulisan yang sering digunakan oleh masyarakat muslim Indonesia, di mana artinya adalah meninggal dalam kondisi yang hina.

    Dalam bahasa Arab, kata husnul berasal dari kata hasan yang memiliki arti baik. Sedangkan khatimah memiliki arti sebuah akhir. Dengan kata lain, husnul khatimah merupakan akhir yang baik.

    Anjuran Membaca Doa Husnul Khatimah

    Sebenarnya, anjuran umat muslim untuk membaca doa ini kepada saudara yang meninggal dunia adalah agar orang yang berpulang bisa mendapatkan ridha dari Allah SWT. Selain itu, doa tersebut juga merupakan bagian dari janji Allah SWT yang akan menempatkan umat muslim yang meninggal di dalam surga.

    Adapun dalil yang menjelaskan  tentang kematian dalam kondisi husnul khatimah telah disebut secara gamblang oleh Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut:

    “Barangsiapa sampai akhir hayatnya tetap pada suatu keyakinan ucapan kalimat lailahaillallah, pasti masuk surga.”

    Walau kematian merupakan bagian dari misteri dan juga rahasia illahi, kita sebagai umat muslim hendaknya tetap mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, sebelum ajal menjemput.

    Beberapa persiapan yang bisa dilakukan, antara lain melakukan segala amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Selain itu, jangan lupa juga untuk selalu memanjatkan doa agar orang yang meninggal dalam kondisi husnul khotimah kepada Allah SWT.

    Kumpulan Doa Husnul Khatimah sesuai Anjuran Rasulullah SAW

    Adapun beberapa doa husnul khatimah yang sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW untuk dihafalkan adalah sebagai berikut:

    1. Surat Al-A’raf Ayat 126

    رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ

    Rabbana afrigh ‘alayna shabran wa tawaffana muslimin.

    Artinya: ” Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).”

    2. Surat Yusuf Ayat 101

    فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

    Fatiras-samawati wal-ard anta waliyyi fid-dun-ya wal-akhirah, tawaffani muslimaw wa al-hiqni bissalihin.

    Artinya: ” (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.”

    3. Surat Ali Imran Ayat 193

    رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّا ۖرَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ

    Rabbanaa innanaa sami’naa munaadiyay yunaadii lil-iimaani an aaminuu birabbikum fa aamannaa rabbanaa fagfir lanaa zunubanaa wa kaffir ‘annaa sayyi`aatinaa wa tawaffanaa ma’al-abraar.

    Artinya: ” Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.”

    4. Doa Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

    Allahummaj’al khaira ‘umrii aakhirahu wa khaira amalii khwaatimahu wa kharra ayyamii yauma lawaaika.

    Artinya: ” Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada penghujungnya dan sebaik-baik amalku (juga) pada penghujungnya dan sebaik-baik hari-hariku adalah hari pertemuan dengan-Mu.”

    5. Doa dari Imam Ath-Thabrani

    اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ

    Allahummakhtim lanaa bil islaami wakhtim lanaa bil iimaani wakhtim lanaa bi husnil khootimati.

    Artinya: ” Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan Islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman, dan akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah.”

    6. Doa Husnul Khatimah Keenam

    اَلَّلهُمَّ اِنَّاظَلَمْنَااَنْفُسَنَاظُلْمًاكَثِيْرًاكًبِيْرٍاوَلَايَغْفِرُالذُّنُوْبَ اِلَّااَنْتَ فَاغْفِرْلَنَامَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنَااِنَّكَ اَنْتَ الغَفُوْرُالرَّحِيْمُ

    Allaahumma innaa zhalamnaa anfusanaa zhulman katsiiran kabiran wa laa yagh firudz dzunuuba illaa anta faghfir lannaa maghfiratan min indika warhamnaa innaka antal ghafuurur rahiimu.

    Artinya: “Wahai Allah! Sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami dengan penganiayaan yang banyak dan besar, dan tak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, karena itu ampunilah kami dengan ampunan dari sisi Engkau, dan kasihanilah kami. Sesungguhnya Engkau yang maha pengampun lagi maha penyayang.”

    7. Doa dari Kitab Majmu Syarif

    اللَّهمَّ أحسِنْ عاقبتَنا في الأمورِ كلِّها ، وأجِرْنا من خِزيِ الدُّنيا وعذابِ الآخرةِ

    Allahumma ahsin ‘aaqibatana fil umuuri kullihaa wa ajirnaa min khizyid dun-yaa wa ‘adzaabil aakhirah.

    Artinya: ” Ya Allah, baguskanlah akhir dari segala urusan kami dan hindarkanlah kami dari kehinaan godaan dunia dan siksa di akhirat nanti.”

    Dalil Tentang Husnul Khatimah

    Bicara soal husnul khatimah, tentu kurang lengkap rasanya jika tidak menyebutkan tentang dalil-dalilnya dalam Al Quran. Apalagi husnul khatimah memang banyak disinggung dalam ayat Al Quran, sehingga sangat menarik untuk diketahui oleh setiap muslim.

    Salah satunya adalah firman Allah SWT dalam Surat Al An’am ayat 93 yang memiliki arti sebagai berikut:

    “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah, atau mengingkari kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam ada tempat yang cukup untuk orang-orang yang kafir itu? Dan orang-orang yang berbuat kebaikan, mereka itu dikehendaki Allah memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang besar.”

    Amalan agar Bisa Mendapatkan Husnul Khatimah

    Ada banyak sekali amalan yang bisa dilaksanakan umat muslim agar bisa mendapatkan husnul khatimah saat kematiannya. Artinya, seorang muslim bisa meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah bukan hanya dari doa yang dipanjatkan saja. 

    Namun, bisa juga dari amalan yang dilakukannya selama hidup. Nah, berikut ini adalah berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan husnul khatimah:

    • Menjaga iman dan juga ketakwaan dengan istiqomah kepada Allah SWT.
    • Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri lahir dan batin.
    • Senantiasa memanjatkan doa kepada Allah SWT, agar bisa diwafatkan dalam keadaan beriman.
    • Selalu memanjatkan dzikir kepada Allah SWT dalam keadaan apapun dan dimanapun.
    • Menjauhi segala hal yang termasuk ke dalam kekafiran, agar tidak membuat amalan yang selama ini dilakukan menjadi sia-sia.
    • Mengikhlaskan segala amal, karena dengan hati yang ikhlas, seseorang akan mendapatkan balasan yang baik dari Allah SWT.
    • Segera bertobat kepada Allah SWT, setelah melakukan kesalahan apapun, baik kesalahan kecil maupun besar.
    • Menghindari segala perbuatan dzalim sekecil apapun.
    • Selalu mengingat kematian, agar bisa menjadi lebih semangat mengerjakan amalan baik.

    Tentunya kamu sudah sangat paham bahwa kita sebagai umat muslim diperintahkan untuk selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT. Termasuk juga doa husnul khatimah di atas.

    Jangan Lupa Panjatkan Doa agar Husnul Khatimah, Ya!

    Itu dia penjelasan singkat tentang makna hingga doa husnul khatimah yang perlu diketahui serta dipahami oleh setiap umat muslim. Semoga informasi seputar husnul khatimah di atas bermanfaat untukmu, ya.

  • Pengertian Ikhtiar: Dalil, Contoh, Bentuk, serta Dampak Positifnya

    Pengertian Ikhtiar: Dalil, Contoh, Bentuk, serta Dampak Positifnya

    Islam mengenal istilah ikhtiar yang artinya adalah kebebasan dalam memilih dan menentukan sendiri perbuatan yang akan dilakukan. Istilah ini juga bisa diartikan sebagai sebuah usaha untuk memilih. 

    Bagi umat Islam, dalam berusaha tidak hanya bisa mengandalkan diri sendiri saja, melainkan juga harus meminta pertolongan dari Sang Maha Pencipta, yakni Allah. Caranya adalah dengan berdoa. Mari simak untuk memahami istilah yang melambangkan usaha ini lebih dalam! 

    Pengertian Ikhtiar

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ikhtiar merupakan alat maupun syarat untuk bisa mencapai tujuan tertentu. Istilah ini juga bisa dimaknai sebagai daya upaya seseorang dalam mencapai tujuannya.

    Berbeda dengan pengertian secara umum, istilah ini menjelaskan sikap seorang muslim yang mengerahkan segala kemampuannya tanpa putus asa dan mudah menyerah untuk mencapai suatu tujuan. 

    Selain itu, istilah tentang usaha dalam KBBI ini juga merujuk pada pilihan yang bebas. Hal tersebut juga berkaitan dengan pertimbangan, kehendak, pendapat, dan lain sebagainya.

    Arti kata dari istilah usaha ini berasal dari bahasa Arab, yakni ikhtara atau yakhtaru yang artinya adalah memilih. Arti kata dari istilah usaha ini sama dengan kata “khair” yang artinya adalah memilih salah satu yang terbaik di antara pilihan baik yang ada.

    Dalil Ikhtiar

    Perintah untuk tetap ikhtiar tidak hanya berhubungan dengan perkara dunia saja, melainkan juga akhirat ini. Hal ini terdapat dalam surat Ar-Ra’d pada ayat 11. Bunyi dari surat Ar-Ra’d ayat 11 adalah sebagai berikut:

    “Bagi manusia, tentu ada malaikat yang selalu mengikuti secara bergiliran. Baik di depan maupun dibelakangnya. Malaikat ini menjaga manusia atas perintah Allah SWT. Sesungguhnya, Allah pun tidak akan merubah keadaan dari suatu kaum jika orang tersebut tidak mau merubah keadaannya sendiri. Dan apabila Allah SWT menghendaki adanya keburukan pada suatu kaum, maka tidak akan ada yang bisa menolaknya. Dan, sekali pun tidak akan ada perlindungan bagi mereka selain perlindungan dari Allah SWT.”

    Jadi, bersemangatlah dan jangan malas dalam menjalankan sebuah usaha. Namun, sebagai seorang insan, tentunya beriman pada takdir Allah juga perlu dilakukan. Ketika Anda sudah berikhtiar, maka bertawakallah kepada Allah dan bersabar untuk mendapatkan ridha Allah.

    Berikut adalah sabda dari Rasulullah SAW:

    احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

    Artinya adalah:

    “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah dan jangan kamu bermalas-malasan. Apabila kamu tertimpa sesuatu, jangan kamu mengatakan ‘seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini jadinya’. Namun, katakanlah, ‘Qodarullah wa maa sya’a fa’ala’. Sebab, perkataan ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

    Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Jumu’ah [62] ayat 10 berbunyi:

    “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” 

    Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diperintahkan secara tegas untuk segera berikhtiar mencari rezeki setelah selesai menunaikan shalat. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia yang bertawakal akan dicintai oleh Allah.

    Sabda Rasulullah SAW lainnya adalah sebagai berikut:

    “Tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah. Jadi, memberi jauh lebih baik daripada menerima.” (HR. Bukhari no. 1429 dan Muslim no. 1033)

    Dampak Positif 

    Melakukan ikhtiar juga dapat membawa banyak dampak positif dalam kehidupan, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

    • Menghilangkan rasa malas.
    • Mendapatkan kepuasan batin.
    • Menumbuhkan harapan baru dalam hidup
    • Meninggikan derajat diri sendiri di hadapan Allah SWT.
    • Meningkatkan keimanan terhadap Allah SWT.
    • Menumbuhkan rasa percaya diri.
    • Memiliki keyakinan bahwa Allah akan menolong setiap hamba yang mau berusaha.

    Contoh Ikhtiar

    Salah satu bentuk dari usaha yang paling umum adalah belajar dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Manusia sendiri harus bisa memanfaatkan kemampuan yang sudah diberikan oleh Allah SWT untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Nah, berikut ini ada beberapa contohnya:

    • Rajin membaca buku untuk menambah wawasan.
    • Mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan.
    • Mempelajari bahasa asing untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik.
    • Semangat dalam melakukan berbagai pekerjaan. 
    • Tidak pernah putus asa dalam menghadapi kesulitan.

    Bentuk-Bentuk Ikhtiar

    Berikut ini adalah bentuk-bentuk yang perlu Anda ketahui dan amalkan:

    1. Kerja Keras

    Semangat berusaha dengan sepenuh hati memang harus ditanamkan pada diri sendiri. Tujuannya adalah agar Anda lebih mudah dalam mencapai tujuan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Manusia sendiri memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik dengan potensi fisik dan psikis yang sudah diberikan oleh Allah SWT. 

    Dalam surat Al-Ankabut ayat 6, Allah SWT berfirman:

    “Barangsiapa mau bekerja keras, maka sesungguhnya ia bekerja keras untuk dirinya sendiri. Sungguh Allah itu maha kaya dari segala makhluk.”

    Usaha keras tentunya tidak akan mengkhianati hasil. Jadi, semua usaha yang Anda lakukan dengan maksimal dan sungguh-sungguh tentu agar semua harapan bisa tercapai sesuai yang diinginkan. 

    Allah sendiri sudah berjanji bahwa akan merubah kondisi suatu hamba. Namun, dengan syarat hamba tersebut mau bersungguh-sungguh untuk mengubah kondisinya menjadi lebih baik dengan berusaha.

    2. Tanggung Jawab

    Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan perbuatan yang dilakukannya. Baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga merupakan perwujudan akan suatu kewajiban.

    Jadi, tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku manusia untuk melakukan tugas dan kewajibannya. Baik terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, maupun Tuhannya.

    3. Pantang Menyerah

    Pantang menyerah adalah sebutan bagi orang yang tidak pernah merasa putus asa atas segala sesuatu yang terjadi padanya. Sebab, setiap kesuksesan pasti selalu didahului dengan kegagalan. 

    Kegagalan ini sendiri pada dasarnya bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan jalan untuk menuju kesuksesan. Selain itu, kegagalan merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap manusia. 

    Hal yang menjadi pembedanya adalah bagaimana sikap manusia itu sendiri dalam menyikapi suatu kegagalan. Entah itu berputus asa atau pantang menyerah atau tetap ikhtiar dengan keadaan yang ada.

    Namun, sebenarnya sifat putus asa ini sangat dibenci oleh Allah. Dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 87 Allah berfirman tentang larangan berputus asa yang berbunyi:

    “Hai anak-anakku, pergilah kamu. Maka, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” 

    4. Bertaqwa

    Menjemput rezeki merupakan wujud jika seorang manusia bertaqwa kepada Tuhannya. Bertaqwa sendiri adalah menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

    5. Bangun Pagi

    Mungkin Anda sudah sering mendengar kata-kata “jangan bangun siang, nanti rezekinya dipatok ayam.” Hal tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan agar Anda bangun pagi dan mencari rezeki. Sebab, bangun kesiangan dalam Islam merupakan perilaku yang buruk.

    6. Tekun dan Rajin Belajar

    Dengan belajar, maka manusia pun bisa membangun peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dalam Islam, belajar merupakan suatu ibadah dan bentuk ikhtiar diri.

    “Menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim dan muslimah.” (HR. Muslim)

    Jadi, belajar bukanlah sekedar datang ke tempat belajar untuk mendengar dan mencatat apa saja yang disampaikan oleh pengajar. Melainkan, berusaha untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki. 

    7. Berdoa

    Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa berdoa tanpa usaha adalah omong kosong? Lalu, usaha tanpa doa adalah kesombongan? Tentu saja, hal ini jelas adanya. Sebab, dalam berusaha, Anda juga harus tetap berdoa dan meminta kepada Allah SWT. 

    Sudahkah Anda Ikhtiar dalam Segala Hal?

    Seperti yang Anda ketahui ada banyak sekali dampak positif yang bisa Anda dapatkan jika selalu ikhtiar dalam melakukan apapun. Karena itu, mari terapkan kebiasaan ini untuk mendapatkan kehidupan lebih baik!

  • Catat! Ini Niat Puasa Tarwiyah serta Keutamaannya

    Catat! Ini Niat Puasa Tarwiyah serta Keutamaannya

    Pada tanggal 10 Dzulhijjah 1444 H atau 28 Juni 2023 nanti, umat Islam di seluruh dunia akan memperingati Hari Raya Idul Adha. Namun, dua hari sebelum itu, ada beberapa amalan sunnah yang bisa dilaksanakan oleh umat Islam, salah satunya puasa tarwiyah pada 8 Dzulhijjah 1444 H atau 26 Juni 2023. Sudah tahukah kamu niat puasa tarwiyah? 

    Jika nantinya kamu berencana untuk menunaikan puasa sunnah ini, ada beberapa hal yang wajib kamu ketahui, mulai dari niat hingga keutamaannya. Untuk tahu lebih lengkapnya, pantengin artikel berikut sampai habis!

    Penamaan Tanggal 8 Dzulhijjah Sebagai Hari Tarwiyah

    Kata “tarwiyah” secara harfiah dalam bahasa Arab berarti “menyediakan air” atau “mengisi bekal air”. Penggunaan kata “tarwiyah” yang lebih umum, ditemukan dalam konteks ibadah haji. 

    Pada tanggal 8 Dzulhijjah, sebelum memasuki tanggal 9 Dzulhijjah yang merupakan hari Arafah, jamaah haji melakukan persiapan untuk perjalanan menuju Mina. Persiapan tersebut meliputi mengisi persediaan air dan bekal makanan. Hari tersebut kemudian dikenal sebagai “hari Tarwiyah” karena aktivitas persiapan ini.

    Singkatnya, tarwiyah dikenal sebagai hari persiapan menjelang ibadah haji di tanah suci Makkah. Puasa sunnah Tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah sebagai salah satu amalan sunnah yang dianjurkan, terutama bagi umat muslim yang belum mampu menunaikan ibadah haji. 

    Menurut berbagai sumber, tanggal 8 Dzulhijjah ini juga bermakna perenungan. Maksudnya, hari tarwiyah ini merupakan momentum bagi umat muslim untuk merenung dan memperbanyak amalan shaleh. Selain itu, ada tiga pendapat mengenai asal usul penamaan tanggal 8 Dzulhijjah sebagai hari tarwiyah, di antaranya:

    • Hari perenungan Nabi Adam ketika hendak membangun Ka’bah.
    • Sebagai perenungan bagi Nabi Ibrahim setelah bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya sendiri.
    • Sebagai perenungan jemaah haji mengenai doa-doa yang hendak dipanjatkan pada hari Arafah.

    Hadits Tentang Puasa Tarwiyah 

    Anjuran tentang pelaksanaan puasa sunnah Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah tertuang pada beberapa hadits. Salah satunya adalah pada yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang artinya:

    “Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:  Tiada hari-hari di mana amal shaleh lebih disenangi Allah pada hari itu daripada hari-hari ini, maksudnya adalah 10 hari Dzulhijjah. Kemudian, para sahabat bertanya: Bukan pula jihad, wahai Rasulullah? Rasul menjawab: Bukan pula jihad di jalan Allah melainkan seorang lelaki yang keluar membawa diri dan hartanya, kemudian ia pulang tanpa membawa apa-apa lagi.”

    Dalam hadits lain tercantum bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya, “Tidak ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk diisi dengan ibadah sebagaimana (kesukaan-Nya pada) sepuluh hari ini.” (Sunan at-Tirmidzi)

    Lafal Niat Puasa Tarwiyah beserta Terjemahannya

    Sebelum menunaikan suatu ibadah, setiap muslim diwajibkan melakukan niat lillahi ta’ala terlebih dahulu, baik itu dilafalkan maupun tidak. Hal ini juga berlaku pada ibadah puasa sunnah tarwiyah yang jatuh pada 8 Dzulhijjah 26 Juni nanti. 

    Bedanya dengan puasa wajib, niat puasa sunnah tidak harus dilafalkan pada malam hari. Kamu bisa membaca niatnya pada siang hari selama belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa kamu, misalnya makan atau minum. 

    Batasnya adalah sampai sebelum tergelincirnya matahari atau masuk waktu dzuhur. Lantas, bagaimana bacaan niat puasa tarwiyah? Berikut ini lafal dan juga terjemahannya:

    Nawaitu shauma tarwiyyata sunnatan lillaahi ta’aalaa

    Artinya: “Saya niat puasa tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”

    Atau, kamu juga bisa menggunakan lafal berikut:

    Nawaitu shauma ghadin ‘an aada’I sunnati yaumit tarwiyati lillahi ta’ala

    Artinya: “Saya berniat puasa sunnah tarwiyah esok hari karena Allah ta’ala.”

    Keutamaan Menunaikan Puasa Tarwiyah

    Setelah mengetahui niat puasa tarwiyah, kamu juga perlu tahu apa saja keutamaan atau keistimewaan yang bisa kamu dapatkan dengan melaksanakan ibadah puasa sunnah ini. Keutamaan-keutamaan tersebut di antaranya:

    1. Menghapus Dosa Setahun

    Salah satu keistimewaan utama dari puasa tarwiyah adalah bisa menghapus dosa-dosa yang telah kamu lakukan dalam kurun waktu setahun yang lalu, tentunya dengan izin Allah ta’ala, ya. Keistimewaan ini termuat di dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Syekh Al-Isfahani dan Ibnu Najar. Bunyinya:

    “Puasa hari tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Sedangkan puasa hari arafah mampu menghapus dosa dua tahun.”

    2. Kesempatan Memperoleh Pahala Seperti Nabi Ayyub a.s

    Keutamaan lainnya yang juga tak kalah istimewa jika kamu menunaikan puasa tarwiyah adalah kesempatan untuk mendapatkan pahala seperti yang diperoleh Nabi Ayyub saat mendapat cobaan tertimpa penyakit kusta. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan di riwayat dari Abu Hurairah dalam kitab Nuzhah Al-Majalis wa Muntakhab Al-Nafa-is.

    Artinya adalah sebagai berikut:

    “Barangsiapa yang berpuasa pada hari tarwiyah, maka Allah ta’ala akan memberikan pahala seperti pahala kesabaran Nabi Ayyub AS atas musibahnya. Barangsiapa yang berpuasa pada hari arafah, maka Allah ta’ala akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala Nabi Isa AS.” 

    Ibadah Lainnya di Bulan Dzulhijjah Selain Puasa Tarwiyah

    Selain puasa Tarwiyah, terdapat beberapa ibadah lain yang dianjurkan dilakukan umat muslim pada bulan Dzulhijjah. Berikut adalah beberapa di antaranya:

    1. Ibadah Haji

    Bulan Dzulhijjah memang dikenal sebagai musim haji. Ibadah haji adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan perizinan. Pada tahun 2023 ini, puncaknya jatuh pada tanggal 8–13 Dzulhijjah atau pada 26 Juni–2 Juli 2023 nanti. 

    2. Penyembelihan Hewan Kurban

    Pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha. Salah satu aspek penting dari Idul Adha adalah penyembelihan hewan kurban. 

    Umat Muslim yang mampu secara finansial disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban, seperti domba, sapi, atau kambing, sebagai bentuk pengorbanan dan mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s.

    3. Ibadah Sunnah pada 10 Dzulhijjah

    Selain penyembelihan hewan kurban, terdapat pula ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Misalnya, melaksanakan salat Idul Adha, membaca takbir, dan berzikir. Ini sekaligus menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memanjatkan doa-doa, agar amalan dan ibadahnya diterima.

    4. Puasa Arafah

    Sehari setelah puasa tarwiyah, kamu juga bisa sekalian menunaikan ibadah puasa Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini termasuk sunnah muakkad (sunnah yang sangat dijanjutkan), baik bagi orang yang sedang menjalankan ibadah haji maupun yang tidak. 

    Sebab, puasa Arafah memiliki keutamaan yang besar, salah satunya diampuni dosa-dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.

    5. Peringatan Hari Tasyriq 

    Hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari ini, umat muslim justru dilarang untuk berpuasa dan dianjurkan untuk menyantap hidangan Idul Adha. 

    Hari tasyriq juga merupakan hari yang disunnahkan untuk memperbanyak zikir, takbir, dan berdoa sebagaimana dalam hadits Syarh Shahih Muslim.

    Kini, Kamu Sudah Tahu Bagaimana Niat Puasa Tarwiyah

    Itulah penjelasan terkait puasa tarwiyah, mulai dari niat hingga keutamaannya yang perlu kamu ketahui sebelum menunaikan ibadah sunnah ini. Semoga membantu!

  • Bacaan Ijab Kabul Bahasa Arab, Latin, serta Artinya

    Bacaan Ijab Kabul Bahasa Arab, Latin, serta Artinya

    Salah satu bagian paling mendebarkan dalam prosesi pernikahan adalah ketika ijab kabul. Ijab kabul sendiri menjadi rukun wajib dalam pernikahan umat Islam. Umumnya, ada orang yang menggunakan bacaan ijab kabul bahasa Arab dan ada juga yang menggunakan bahasa latin. 

    Pengertian Ijab Kabul

    Sebelum membahas mengenai bacaan ijab kabul, Anda harus memahami dulu pengertian dari ijab kabul itu sendiri. Ijab kabul merupakan proses di mana wali mempelai perempuan membacakan ijab kepada calon mempelai laki-laki. Nantinya, tugas dari mempelai laki-laki ini adalah menjawab ijab dengan bacaan kabul. 

    Umumnya, ucapan ijab kabul akan diawali dengan bacaan basmalah dan istighfar. Tujuan dari pengucapan ini diharapkan agar proses ijab kabul bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan, baik dari jin maupun setan. Nah, setelah itu barulah proses ijab kabul dimulai. 

    Proses ini perlu dilakukan dengan hikmat dan disaksikan juga oleh para saksi yang sudah ditunjuk. Bacaan ini sendiri sendiri ada yang menggunakan bahasa Indonesia ada juga yang menggunakan bahasa Arab. Menurut pendapat para ulama, mayoritas orang bisa membaca ijab kabul dalam bahasa Arab. 

    Namun, jika mempelai laki-laki merasa kesulitan dalam melafalkannya, maka ijab kabul boleh menggunakan bahasa yang dikuasai saja. Perihal bahasa yang digunakan ini sama-sama sah hukumnya, jadi tidak ada masalah.

    Rukun Ijab Kabul

    Sebuah pernikahan akan dikatakan sah apabila sudah memenuhi semua rukun dari ijab kabul. Nah, berikut ini adalah rukun ijab kabul yang harus dipenuhi, baik oleh mempelai laki-laki maupun mempelai perempuan:

    1. Mempelai Laki-Laki

    Rukun dari ijab kabul yang pertama adalah mempelai laki-laki harus sudah memenuhi syarat sah menikah. Syarat tersebut adalah beragama Islam dan bukan mahram. 

    2. Mempelai Perempuan

    Rukun sah dari ijab kabul selanjutnya adalah adanya mempelai perempuan. Mempelai perempuan di sini merupakan calon istri yang halal untuk dinikahi. Calon mempelai perempuan juga tidak boleh memiliki hubungan darah, persusuan, dan tidak memiliki hubungan antara mertua dengan menantu. 

    3. Wali

    Ketika akan mengucapkan bacaan ijab kabul bahasa Arab atau bahasa lainnya, tentu perlu ada kehadiran dari wali. Wali sendiri merupakan orang tua dari mempelai perempuan. Orang yang berperan sebagai wali di sini wajib ayah kandung. 

    Namun, jika ayah kandungnya sudah meninggal dunia, maka bisa diwakilkan. Perwaliannya bisa kepada paman dari pihak ayah, kakek, atau pihak lainnya yang berwenang.

    4. Saksi

    Saksi dalam ijab kabul di sini harus minimal berjumlah dua orang. Selain itu, wali juga haruslah orang yang beragama Islam, berakal baligh, dan berjenis kelamin laki-laki.

    5. Ijab Kabul

    Rukun nikah yang terakhir adalah ijab kabul. Ijab kabul atau sighat ini akan diucapkan oleh mempelai laki-laki dan wali dari mempelai perempuan. 

    Syarat Sah Ijab Kabul

    Adapun syarat sah ijab kabul yang perlu Anda ketahui adalah sebagai berikut:

    1. Ijab harus diucapkan oleh wali nikah. Wali nikah ini adalah ayah dari calon mempelai perempuan. Jika tidak ada atau ayahnya meninggal dunia, maka perwalian harus diwakilkan.
    2. Tidak boleh ada persyaratan ketika ijab dilafadzkan. Sementara itu, pengucapan bacaan ijab kabul bahasa Arab atau qabul juga harus sesuai dengan pengucapan ijab sebelumnya.
    3. Harus menggunakan kata yang terbentuk dari kata “inkah” atau nikah atau “tazwij” atau kawin. Pernikahan dikatakan tidak sah apabila ijab kabul tidak menggunakan kedua kata tersebut. 
    4. Lafadz harus jelas dan berurutan. Jadi, pelafalan ijab kabul tidak boleh berselang. 

    Bacaan Ijab Kabul Bahasa Arab

    Berikut ini adalah bacaan ijab kabul yang dibacakan oleh wali perempuan dan pengantin laki-laki yang perlu Anda ketahui:

    1. Lafadz Ijab Wali Mempelai Perempuan

    أنكحتك أو زوجتك مخطوبتك بنتي … على المهر … حالا

    Bahasa latinnya adalah: 

    Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti (nama mempelai perempuan) alal mahri (mas kawin atau mahar) hallan.

    Artinya adalah:

    Saya nikahkan engkau, dan saya kawinkan engkau dengan pinangmu. Putriku (nama pengantin perempuan) dengan mahar (mas kawin atau mahar) dibayar tunai.

    2. Lafadz Kabul Mempelai Pria

    قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيْجَهَا عَلَى الْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ وَرَضِيْتُ بِهِ وَاللهُ وَلِيُّ التَّوْفِيْقِ

    Bahasa latinnya adalah:

    Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.

    Artinya adalah:

    Saya terima nikah dan kawinnya (nama mempelai perempuan) dengan mahar yang telah disebutkan. Dan saya rela dengan hal tersebut. Semoga Allah selalu memberikan anugerah.

    Tata Cara Ijab Kabul

    Sebelum mempelai laki-laki mengucapkan bacaan ijab kabul bahasa Arab, tentunya akan ada tata cara yang harus diperhatikan dan dilakukan dengan benar. Berikut tata caranya:

    1. Mempertemukan Mempelai Laki-laki dengan Wali Nikah

    Langkah pertama dalam proses memulai ijab kabul adalah dengan mempertemukan mempelai laki-laki dengan wali nikah mempelai perempuan. Posisi duduk dari keduanya saling berhadapan. 

    Selain itu, mempelai laki-laki dan wali nikah dari mempelai perempuan ini juga sudah siap untuk didampingi oleh para saksi. Tugas dari para saksi ini adalah untuk menyaksikan proses akad nikah yang berlangsung.

    2. Pembacaan Khutbah Nikah

    Setelah mempelai laki-laki dan wali nikah dari mempelai perempuan dipertemukan, maka pembacaan khutbah nikah pun bisa dilakukan. Biasanya, pembacaan khutbah nikah ini dibawakan oleh penghulu sebelum proses ijab kabul dimulai. 

    3. Mempelai Laki-Laki Melafalkan Beberapa Bacaan 

    Dengan bimbingan dari penghulu, biasanya mempelai laki-laki dianjurkan untuk melafalkan beberapa bacaan doa. Mulai dari istighfar, mengucapkan dua kalimat syahadat, dan terakhir adalah melafalkan bacaan ijab kabul bahasa Arab atau bahasa lainnya.

    4. Membaca Ijab Kabul

    Saat pembacaan ijab kabul dilakukan, baik wali nikah dari mempelai perempuan dan mempelai laki-laki pun akan saling berhadapan. Keduanya akan saling berjabat tangan sebagai tanda akan berlangsungnya proses akad. Pembacaan ijab kabul ini dimulai dari wali nikah mempelai perempuan yang membacakan ijab.

    Kemudian, pembacaan kabul akan dilakukan oleh mempelai laki-laki sebagai tanda terima. Setelah proses ijab kabul selesai, maka para saksi akan memberikan pernyataan sah sebagai bukti bahwa pernikahan tersebut diakui.

    5. Membaca Doa Penutup

    Jika acara bacaan ijab kabul selesai dan dianggap sah oleh para saksi. Maka, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah membaca doa penutup. Berikut adalah doa penutup setelah ijab kabul dilakukan.

    اًللَّهُمَّ بِأَمَانَتِكَ أَخَذْتُهَا وَبِكَلِمَاتِكَ اِسْتَحْلَلْتُ فَرْجَهَا، فَإِنْ قَضَيْتَ لِي مِنْهَا وَلَدًا فَاجْعَلْهُ مُبَارَكًا سَوِيًّا وَلاَتَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ شَرِيْكًا وَلاَنَصِيْبًا

    Bahasa latinnya adalah:

    Allahumma biamanatika akhattuhaa, wa bikalimaatika istahlaltu farjahaa, fain qadhayta lii minhaa waladan faj’alhu mubaarakan syawiyya, walaa taj’al lissyaithaani fiihi syariikan walaa nashibaa.

    Artinya adalah:

    Ya Allah, dengan amanatMu, kujadikan dia istriku. Dan dengan kalimat-kalimatMu, dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Engkau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikanlah keturunanku keberkahan dan kemuliaan. Dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya.

    6. Kedua Mempelai Menandatangani Buku Nikah

    Tahapan terakhir setelah proses ijab kabul adalah menandatangani buku nikah untuk kedua mempelai. Buku nikah ini menjadi dokumen sah sebagai tanda bagi laki-laki dan perempuan sudah menjadi suami istri. Keabsahan ini juga sudah tercatat secara resmi dalam dokumen negara.

    Sudah Lebih Paham Mengenai Bacaan Ijab Kabul?

    Itulah ulasan mengenai bacaan ijab kabul bahasa Arab maupun bahasa latin yang perlu Anda ketahui dan pelajari. Semoga dengan memahami bacaan tersebut, proses pernikahan yang Anda jalani bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apapun.

  • Tawasul: Pengertian, Tata Cara, dan Jenisnya

    Tawasul: Pengertian, Tata Cara, dan Jenisnya

    Tawasul merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sayangnya banyak orang yang terjerumus dan melakukan ibadah ini dengan mendekati perbuatan syirik.

    Oleh karena itu, kamu perlu memahami pengertian, tata caranya menurut syariat Islam, serta jenis-jenisnya. Baca sampai selesai artikel di bawah ini untuk belajar lebih mendalam mengenai cara beribadah ini dengan tepat!

    Pengertian Tawasul

    Tawasul adalah sarana atau wasilah supaya ibadah atau doa lebih diterima dan dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala. Menurut bahasa, Al-wasilah berarti segala hal yang dapat mendekatkan dan menyampaikan kepada sesuatu. 

    Sedangkan menurut istilah syariat Islam, Al-wasilah yang dibolehkan atau diperintahkan dalam Al-Qur’an adalah segala hal untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan berupa amal ketaatan dan ibadah yang disyariatkan sesuai perintahNya.

    Maka dari itu, dalam melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, ada tata cara tertentu yang perlu diperhatikan. Dengan demikian, tidak menyalahi anjuran atau perintah yang telah diserukan.

    Tata Cara Melakukan Tawasul

    Berikut ini tata cara melakukan Al-wasilah yang bisa diterapkan, yaitu:

    1. Niat

    Pertama, sebelum melakukan Al-wasilah, hendaknya kamu menetapkan niat dengan tulus ikhlas. Perbuatan yang akan kamu lakukan tersebut diniatkan semata-mata untuk memohon syafaat kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

    Dengan meniatkan diri, semoga Allah SWT menerima langkah baik yang akan kamu lakukan. Sehingga, kamu bisa mendapatkan pengampunan dan pertolongan-Nya.

    2. Bersuci

    Allah SWT selalu mengingatkan hambaNya untuk bersuci, terutama saat akan melakukan ibadah.

    Oleh karena itu, kamu perlu berwudhu atau mandi junub (sesuai keadaan) untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual sebelum melakukan beribadah melalui perantara atau wasilah tersebut.

    Jika kamu melakukannya dalam keadaan suci, semoga Allah senantiasa melindungimu dan menjauhkan kamu dari gangguan syaitan. Dengan demikian, niat perbuatan baik yang kamu ingin lakukan dapat berjalan sebagaimana mestinya.

    3. Membaca Doa

    Sebelum atau selama melakukan tawasul, kamu bisa membaca doa-doa yang dianjurkan, seperti doa penutup majelis, doa istighfar, atau doa yang berkaitan dengan permohonan yang akan diajukan.

    Pada dasarnya, kamu bisa menggunakan doa sebagai alat untuk mencapai apa yang dibutuhkan, baik urusan dunia maupun akhirat. 

    Dalam surat Al Maidah ayat 35, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertawasul dengan meminta kepada Allah melalui doa. Kamu bisa berdoa dengan penuh tawadhu dan ketulusan, serta penuh harap.

    4. Memohon Syafaat

    Selanjutnya, bertawasul harus dilakukan dengan memohon syafaat kepada Allah Tentunya, harus dengan penuh kerendahan hati dan keikhlasan.

    Secara sederhana, Al-wasilah bisa diartikan sebagai bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang yang mengharapkan bantuan atau pertolongannya.

    Dalam Islam, biasanya orang memohon syafaat kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun kamu mengharapkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW, tetapi tetap saja hanya Allah SWT yang memiliki kekuasaan memberikannya. Dengan demikian, tidak ada tempat paling tepat, kecuali mengharap keridhaan Allah SWT. 

    5. Berdoa Langsung Kepada Allah

    Setelah bertawasul, kamu juga tetap harus berdoa langsung kepada Allah dengan mengungkapkan kebutuhan, permohonan, atau kesulitan yang ingin dimohonkan syafaatnya.

    Berdoalah dengan penuh kerendahan hati dan mengharapkan pertolongan hanya kepada Allah. Dengan demikian, bisa terlihat kesungguhanmu dalam memohon syafaat.

    6. Berdoa Secara Berulang

    Bertawasul memang dapat dilakukan dalam waktu tertentu atau secara kontinu sesuai kebutuhan. Namun, berdoa secara konsisten dan berulang dapat menunjukkan ketekunan dan keyakinan kamu kepada Allah.

    Oleh karena itu, hendaknya kamu terus memanjatkan doa kepada Allah SWT secara konsisten dengan penuh harap.

    Jenis-Jenis Tawasul

    Berikut ini jenis-jenis Al-wasilah yang perlu kamu pahami, yaitu:

    1. Melalui Asma Allah

    Pertama, bertawasul melalui penyebutan asma atau nama-nama Allah yang indah. Nama-nama indah tersebut biasa dikenal dengan Asmaul Husna yang jumlahnya 99.

    Nah, dalam bertawasul, kamu bisa menyebut asmaul husna. Seperti Ar Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar Rahiim (Yang Maha Penyayang), Al Malik (Yang Maha Merajai), Al Quddus (Yang Maha Suci), As Salaam (Yang Maha Memberi Kesejahteraan), dan lain sebagainya.

    Hal ini juga disampaikan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-Araf ayat 180, bahwa asmaul husna hanya milik Allah, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna.

    Sementara itu, cara bertawasul yang bisa kamu lakukan contohnya, yaitu kamu dapat mengatakan, “Ya Allah As Salaam, Yang Maha Memberi Kesejahteraan, tolonglah kami dalam kesulitan kami”.

    2. Melalui Nama Nabi Muhammad SAW

    Seperti yang sudah disinggung di awal, dalam agama Islam, seringkali orang memohon syafaat dari Nabi Muhammad SAW. Mereka menyebut nama Nabi Muhammad SAW sebagai perantara. 

    Misalnya, kamu dapat berdoa, “Ya Allah, berikanlah kami bantuanMu, karena cinta-Mu kepada Nabi Muhammad SAW”.

    3. Dengan Amal Saleh

    Berikutnya, bertawasul dengan menyebut amal saleh yang telah dilakukan. Ada sebuah riwayat, tiga orang yang terkunci di dalam gua. Mereka melakukan tawasul dengan amal saleh yang pernah dilakukan. 

    Orang pertama bertawasul berupa penegasan hak-hak pekerja. Orang kedua menyebut amal shalehnya, yaitu melayani orang tuanya.

    Kemudian, orang ketiga mengatakan amal shaleh yang dilakukan adalah takut kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. Sehingga, ia ingin mencegah perbuatan keji tersebut. 

    Lalu, atas kehendakNya, Allah Ta’ala membuka pintu gua tersebut, sehingga akhirnya ketiganya selamat.

    4. Melalui Orang Shaleh

    Selanjutnya, bertawasul melalui orang-orang saleh yang masih hidup. Anas bin Malik meriwayatkan sebuah hadits:

    “Dari Anas bin Mâlik ra. sesungguhnya Umar ibn al-Khathâb apabila masyarakat mengalami paceklik meminta hujan dengan (tawasul dengan) al-‘Abbâs ibn ‘Abdil Muthallib dengan mengatakan :

    “Ya Allah, sesungguhnya dahulu ketika berdoa kepada-Mu kami bertawasul dengan Nabi-Mu. Engkaupun menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami berdoa kepadamu dengan bertawasul dengan paman Nabi-Mu, maka berilah kami hujan.” Anas mengatakan : “Kemudian mereka diberi hujan.” (HR Bukhari).

    Jika menilik dari hadist di atas, artinya kamu sebaiknya memohon doa tetap kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk-Nya, meskipun ia orang yang sangat shaleh. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Karena hal tersebut termasuk perbuatan syirik yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

    5. Dengan Kemuliaan

    Selain empat di atas, bertawasul yang bisa dilakukan dengan jah (kemuliaan dan kedudukan) seseorang di sisi Allah SWT. Hal ini berdasarkan doa sahabat Dhahir yang artinya:

    “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan berdoa kepada-Mu dengan (bertawasul dengan) Nabi-Mu, Muhammad, Nabi yang penuh kasih sayang.

    (Duhai Rasul) sesungguhnya aku telah bertawajjuh kepada Tuhanku dengan (bertawasul dengan) derajatmu agar hajatku ini terkabul. Ya Allah, terimalah syafaat beliau untukku”.

    Menurut para ulama, berdasarkan doa tersebut, bertawasul dengan jah termasuk bagian dari ajaran agama, sehingga diperbolehkan.

    Siap Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Tawasul?

    Demikian penjelasan mengenai pengertian, tata cara, dan jenis-jenis tawasul. Semoga pembahasan di atas dapat membantu kamu dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketaatan dan keimanan serta terhindar dari perbuatan syirik.

  • Dakwah: Pengertian, Metode, Jenis, Tujuan dan Contohnya

    Dakwah: Pengertian, Metode, Jenis, Tujuan dan Contohnya

    Dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, da’wan, du’a yang berarti mengajak atau menyeru, permohonan, seruan, memanggil, dan permintaan. Dalam agama Islam, kata ini sering digunakan untuk menyebut kegiatan yang menyeru kepada kebaikan sesuai perintah Allah SWT.

    Yuk, belajar lebih mendalam mengenai kegiatan ini, mulai dari pengertian, metode, jenis, tujuan, hingga contohnya berikut ini! Agar kamu bisa mengaplikasikannya dengan benar dan terhindar dari aktivitas keagamaan yang sesat.

    Pengertian Dakwah

    Secara etimologis, sudah dijelaskan bahwa kata dakwah berasal dari bahasa Arab. Sementara itu, ada berbagai pendapat di kalangan ahli yang mendefinisikan pengertiannya, yaitu:

    • A. Hasmy dalam bukunya Dustur Dakwah: Kegiatan mengajak orang lain untuk meyakini serta mengamalkan syariat dan akidah Islam.
    • Syekh Ali Mahfud: Memotivasi manusia supaya melakukan kebaikan sesuai petunjuk, menyeru kepada kebaikan, dan melarang berbuat kemungkaran. Agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Dari dua pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa berdakwah adalah kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk mengajak manusia senantiasa di jalan yang benar menurut Allah SWT.

    4 Metode Dakwah

    Berikut 4 metode berdakwah Islam yang berdasarkan pada surah An-Nahl ayat 125, yaitu: 

    1. Metode Hikmah

    Pertama, berdakwah menggunakan metode hikmah. Metode ini mengharuskan kamu untuk menguasai kondisi dan keadaan, serta batas-batasan tertentu yang disampaikan. 

    Pada dasarnya, metode ini mengajarkan kamu untuk bersikap bijaksana dalam berdakwah, yaitu dapat menyesuai diri dengan orang yang didakwahi. Dengan demikian, tidak memberatkan dan menyulitkan orang tersebut.

    2. Metode Maw’izhoh Hasanah

    Metode berdakwah berikutnya adalah dengan maw’izhoh hasanah atau nasihat yang baik. Hal ini karena nasihat yang baik dapat menembus hati nurani manusia. Dengan begitu, seruan atau ajakan yang disampaikan dapat diterima.

    Sebaliknya, berdakwah dengan bentakan dan kekerasan seringkali hanya akan menimbulkan kejahatan baru. 

    3. Metode Yujadilu Billati Hiya Ahsan

    Selanjutnya, berdakwah melalui yujadilu billati hiya ahsan atau berdebat dengan cara yang baik. Berdebat boleh saja, tetapi dengan catatan tanpa berbuat zalim kepada lawan.

    Pasalnya, debat yang dilakukan tidak bertujuan untuk mengalahkan lawan, tetapi menyadarkan dan menyampaikan kebenaran. Oleh karena itu, tidak perlu meremehkan mencela lawan debat tersebut.

    4. Metode Al-Qudwah Al-Hasanah

    Terakhir, kamu bisa menggunakan metode berdakwah Al-Qudwah Al-Hasanah atau dengan keteladanan yang baik. 

    Metode keteladanan adalah cara yang ditempuh para pendakwah dengan tingkah laku atau perbuatan yang patut untuk ditiru. Dengan menunjukkan keteladanan secara langsung, dapat memberikan hasil lebih efektif.

    Jenis-Jenis Dakwah

    Berikut 6 jenis-jenis aktivitas berdakwah, yaitu:

    1. Fardiah

    Jenis yang pertama ini dilakukan oleh seseorang kepada satu orang atau bisa juga banyak orang, tetapi dalam jumlah kecil dan terbatas. Biasanya, berlangsung tanpa kesiapan. namun terlaksana dengan tertib.

    Misalnya, ketika seseorang memberikan nasihat atau teguran kepada orang lain. Contoh lain, misalnya saat mengunjungi orang yang sedang sakit.

    2. Ammah

    Berikutnya, yaitu berdakwah yang dilakukan seseorang secara lisan yang ditujukan untuk orang banyak. Misalnya, dengan berpidato atau berkhotbah. Biasanya, aktivitas berdakwah yang satu ini dilakukan seseorang dalam sebuah lembaga atau organisasi di bidang keagamaan. 

    3. Dakwah bil Lisan

    Jenis ini maksudnya yaitu berdakwah secara lisan, sehingga terjadi interaksi antara pendakwah dan pendengar. Melalui cara lisan ini, seseorang dapat langsung memahami isi dari pesan yang disampaikan. 

    Jika masih belum memahaminya, orang yang didakwahi dapat langsung meminta penjelasan. Sehingga, komunikasi bisa berlangsung dua arah, layaknya diskusi, tidak sekedar menggurui. Contohnya, berdakwah di pengajian.

    4. Dakwah bil Hal

    Selanjutnya, yaitu berdakwah dengan contoh atau perbuatan nyata. Tujuannya supaya orang dapat mengikuti dan mencontoh sikap atau tingkah laku yang dilakukan oleh pendakwah.

    Dengan cara ini, tidak hanya bermaksud membuat pendengarnya memahami makna dakwahnya, tetapi juga menggunakan berbagai tindakan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. Contohnya, saat Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau langsung mendirikan Masjid Quba.

    5. Dakwah bit Tadwin

    Berdakwah juga harus mengikuti perkembangan teknologi, agar bisa menjangkau lebih banyak orang. Nah, pola berdakwah tersebut termasuk jenis ini. Misalnya, berdakwah melalui buku, kitab, majalah, koran, dan berbagai media sosial. 

    6. Dakwah bil Hikmah

    Jenis ini dilakukan dengan cara yang bijak dan hati-hati. Misalnya, dengan pendekatan yang baik tanpa paksaan. Cara ini membantu penerima untuk melaksanakan seruan atau ajakan secara sukarela, tanpa merasa terpaksa ataupun mendapat tekanan. 

    5 Tujuan Penting Berdakwah

    Berikut 5 tujuan penting dalam berdakwah yang perlu kamu pahami dengan baik, yaitu:

    1. Memperkuat Keyakinan Agama

    Tujuan yang pertama adalah untuk menyebarkan prinsip, ajaran, dan perintah agama serta keyakinan kepada orang yang belum mengenalnya atau yang membutuhkan pemahaman lebih baik. Dengan demikian, dapat membantu memperkuat keyakinan dalam diri individu atau masyarakat.

    2. Membimbing Orang Lain kepada Kebaikan

    Pada dasarnya, berdakwah adalah mengajak atau menyeru seseorang kepada kebaikan. Sehingga, tujuan dari berdakwah tentu saja untuk membimbing orang lain dalam menjalani hidup yang baik.

    Dengan berdakwah, tentunya kamu dapat memberikan nasihat, petunjuk, dan panduan tentang menjalani hidup yang sesuai ajaran agama.

    3. Mendorong Perubahan Positif

    Jika terus mengajak seseorang untuk berbuat baik, pasti secara tidak langsung dapat menciptakan perubahan yang positif. Pasalnya, dakwah dapat mendorong individu dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka, karena ini merupakan bentuk dari ibadah.

    Selain itu, memberikan motivasi kepada orang lain untuk mengatasi masalah sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, ketidaksetaraan gender, dan lain sebagainya.

    4. Membangun Toleransi

    Tujuan berdakwah yang berikutnya adalah untuk membangun kesadaran tentang adanya perbedaan agama dan mempromosikan toleransi antar agama. 

    Dengan menyampaikan seruan yang baik melalui dialog dan komunikasi berkelanjutan, berdakwah dapat membantu memperkuat hubungan antar agama yang berbeda. Selain itu, bisa menciptakan kerukunan antar umat beragama.

    5. Memperkuat Spiritualitas

    Berdakwah juga dapat membantu seseorang untuk memperkuat dimensi spiritual dalam dirinya. Pasalnya, orang yang selalu mendapat ajakan dan seruan kebaikan dapat mengembangkan hubungan dengan Tuhan dan memperoleh kekuatan spiritual untuk menghadapi tantangan hidup.

    3 Contoh Dakwah

    Berikut 3 contoh berdakwah yang bisa kamu lakukan, yaitu:

    1. Ceramah Agama

    Pertama, kamu dapat berdakwah melalui ceramah agama di masjid, mushola, atau tempat ibadah lainnya. 

    Ceramah ini bertujuan untuk menyampaikan pesan agama, memberikan nasihat, dan membimbing jamaah dalam menjalani kehidupan beragama. Namun, tantangannya adalah kamu harus sudah berbekal ilmu yang cukup.

    2. Penggunaan Media Sosial

    Dalam era digital saat ini, banyak orang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyampaikan dan mengajak kebaikan. 

    Misalnya, kamu membuat konten video, tulisan, atau podcast tentang topik agama, moralitas, atau kehidupan spiritual. Kemudian, diunggah di platform seperti YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, atau Twitter.

    3. Berdakwah di Lingkungan Terdekat

    Jika kamu masih baru dengan berdakwah, cobalah untuk memulai dari lingkungan terdekat. Misalnya, untuk diri sendiri, lingkungan keluarga, dan teman-teman. Kamu bisa memberikan contoh yang baik mulai dari perkataan hingga perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di samping itu, kamu juga bisa berbagi pengalaman keagamaan, menjelaskan konsep agama, atau mengingatkan tentang kewajiban agama kepada orang-orang terdekat.

    Sudah Paham Tentang Dakwah?

    Demikian informasi lengkap mengenai berdakwah, mulai dari pengertian, metode, jenis, tujuan, hingga contohnya. Semoga kita bisa menjadi pendakwah untuk diri sendiri serta senantiasa mengajak dan menyeru kepada orang-orang terdekat, agar berbuat baik dan menjauhi kemungkaran. Kamu sudah siap berdakwah?

  • Penting Diketahui! Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Penting Diketahui! Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Istilah pacaran mungkin sudah sering sekali terdengar di telinga masyarakat, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak sekolah. Pacaran ini biasanya dimaknai sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta. Namun bagaimanakah hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya?

    Banyak yang bertanya-tanya tentang hukum pacaran lengkap dengan menyertakan dalil shahihnya. Banyak juga yang masih bingung apakah pacaran ini sama dengan ta’aruf yang juga banyak dilakukan oleh orang-orang? Untuk bisa dapat jawabannya, simak artikel ini sampai tuntas.

    Pacaran dan Budayanya di Masyarakat

    Istilah pacaran sudah sangat familiar di lingkungan masyarakat. Mulai dari anak-anak sekolah hingga pekerja sangat mengenali istilah ini, bahkan banyak dari mereka melakukannya ketika menginjak usia pubertas dan sudah merasakan getaran-getaran cinta kepada lawan jenis. 

    Secara istilah, pacaran ini dimaknai sebagai proses mengenal satu dengan lainnya dan memahami sifat, karakter, kebiasaan, dan pola pikir pasangan masing-masing sebelum menuju gerbang pernikahan.

    Pacaran juga bisa dimaknai sebagai hubungan pranikah antara perempuan dan laki-laki yang menjadi salah satu bentuk ekspresi perasaan dan kematangan seksual seseorang. 

    Istilah ini berasal dari kata “pacar” yang mempunyai arti teman lawan jenis yang punya hubungan berdasarkan kasih sayang. Pacar ini juga biasa disebut dengan kekasih, dan pacaran adalah kegiatan bercintaan dengan lawan jenis. 

    Pacaran ini biasanya dilakukan dengan cara berkencan dengan kekasih, berboncengan dengan kekasih, makan berdua dengan kekasih, pergi ke tempat-tempat romantis, dan lain-lain. 

    Kencan ini sebuah rekreasi yang dirasakan oleh remaja atau anak muda serta bisa menjadi sumber kebahagiaan. Kencan juga sebagai bagian dari proses sosialisasi yang bisa membentuk relasi bermakna serta unik dengan lawan jenis. 

    Meski kencan dalam pacaran ini adalah proses pendekatan dan pengenalan antara laki-laki dan perempuan, seseorang yang beragama Islam haruslah mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan syariat supaya tidak kebablasan. 

    Islam sudah mengatur hal-hal dengan relasi perempuan dan laki-laki, termasuk pacaran. Hukum syariat ini penting diketahui agar anak-anak muda tidak terjebak dalam pergaulan bebas yang bisa merugikan kehidupan mereka sendiri. Selain itu, tujuan adanya syariat ini agar orang-orang mengerti batasan-batasan saat membangun relasi dengan lawan jenis.

    Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Jika melihat dari pengertian dan tujuannya, yakni sebagai jalan untuk lebih mengenal lawan jenis yang nantinya diharapkan menjadi pasangan hidup, maka hukum pacaran dalam Islam dibolehkan dengan syarat tidak menjurus pada tindakan yang dilarang oleh syariat. 

    Ini sesuai dengan Surah Al-Isra’ ayat 32 yang menjelaskan larangan seseorang mendekati zina:

    وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

    wa laa taqrobuuz zinaa innahu kaana faahisyatan wa saa’a sabiilaa.

    Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.

    Islam sangat melarang seseorang mendekati perbuatan yang menjurus ke dalam zina. Namun masalahnya, saat ini banyak anak-anak muda yang berpacaran dengan cara berdua-duaan dengan kekasih tanpa adanya mahram atau pendamping. 

    Cara seperti inilah kemudian dilarang oleh Islam karena berpotensi mendekati zina. Sesuai dengan sabda Nabi tentang larangan seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dengan perempuan yang bukan mahramnya, yakni:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ

    Ibnu Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan perempuan kecuali ada mahramnya, dan janganlah perempuan melakukan musafir kecuali ada mahramnya (muttafaq alaihi).

    Jadi dari sini bisa dipahami bahwa hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya tersebut tergantung pada tujuan dan caranya. Jika dimaksudkan untuk pergaulan bebas dan mencapai kesenangan masing-masing, maka hukum pacaran dalam Islam seperti ini adalah haram, sesuai dengan ketentuan syariat dan dalilnya. 

    Namun jika dimaksudkan agar saling mengenal untuk menuju pernikahan lewat khitbah, itu boleh.  

    Apakah Pacaran dan Ta’aruf adalah Sama?

    Selain istilah pacaran, masyarakat juga tak asing dengan istilah ta’aruf. Ta’aruf adalah proses mengenal lawan jenis yang sekilas pengertiannya mirip dengan pacaran. Namun apakah keduanya memiliki persamaan? 

    Jawabannya adalah berbeda. Secara umum pacaran dan ta’aruf ini mempunyai makna dan praktik berbeda. Di lingkungan masyarakat, pacaran yang dilakukan anak-anak remaja adalah hubungan laki-laki dan perempuan untuk bersenang-senang belaka yang berpotensi mendekati zina. 

    Hal ini berbeda dengan ta’aruf yang merupakan sebuah proses pengenalan yang dilakukan sebelum masuk ke tahap pernikahan. Orang yang melakukan ta’aruf diperbolehkan melihat dari dekat calon pasangan dengan ketentuan syariat yang masih dalam koridor kesopanan dan penghormatan. 

    Ta’aruf adalah tahap pengenalan dimana seorang laki-laki boleh melihat perempuan (calon pasangan) hanya sebatas tangan dan wajahnya saja. Dalam fiqh, tujuan pengenalan ini untuk mengenal kepribadian, kelebihan, kekurangan, suasana hati, dan keadaan calon pasangan hidup.

    Ini berbeda dengan istilah pacaran yang sering dilakukan oleh remaja-remaja pada umumnya yang berpacaran dengan cara pergi berdua-duaan dengan kekasih tanpa adanya mahram atau tanpa ada tujuan pernikahan jelas, alias bersenang-senang belaka.

    Bolehkah Menyamakan Pacaran dengan Ta’aruf?

    Setelah membaca penjelasan tentang hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya, serta perbedaan antara pacaran dengan ta’aruf, mungkin pembaca bertanya-tanya apakah boleh menganalogikan pacaran dengan ta’aruf?

    Jawabannya, penyamaan pacaran dengan ta’aruf hanya boleh jika laki-laki serius meminang perempuan, dimana ia butuh melihat dari dekat siapa calon istrinya untuk bisa lebih mengenal. Dari sini agar bisa melihat apakah ada ketertarikan dan kecocokan di antara keduanya sehingga lanjut ke jenjang pernikahan. 

    Namun kalau pacarannya adalah pacaran untuk bersenang-senang dengan lawan jenis yang berpotensi besar mendekati zina, maka itu tidak boleh dan dilarang oleh Islam sesuai hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya yang sudah disebutkan. 

    Meski begitu, mengutip dari penjelasan Ustadz Riyad Ahmad di laman nu.or.id yang mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam sebuah istilah saja. Ini karena yang dihukumi oleh Islam bukan istilahnya, namun praktiknya. Jika melanggar syariat, apapun istilahnya maka hukumnya haram dilakukan.

    Manfaat Mengetahui Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya

    Hukum pacaran dan Islam dan dalilnya ini penting diketahui oleh seluruh umat Islam terlebih bagi anak-anak remaja yang rawan terkena pergaulan bebas. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari mengetahui dan memahami hukum pacaran dan dalilnya ini, antara lain:

    1. Sebagai Pengingat agar Tidak Mendekati Zina

    Zina merupakan dosa besar yang sangat dilarang oleh Allah dan Nabi Muhammad untuk mendekatinya. Dengan mengetahui hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya inilah diharapkan bisa menjadi pengingat supaya menjauhi zina dalam bentuk apapun, termasuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram.

    2. Semakin Mendekatkan Diri kepada Allah

    Mengetahui dan memahami hukum pacaran membuat seseorang semakin dekat dengan Allah karena telah memahami betul apa saja yang diperbolehkan dan dilarang oleh Tuhannya. 

    Selain itu, memahami hukumnya juga bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang baik karena telah menjalankan sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhannya.

    3. Terlindungi dari Pergaulan Bebas

    Pergaulan bebas adalah pergaulan tidak bermoral dan tanpa batas yang rawan dilakukan oleh anak-anak remaja karena mereka mengalami masa pubertas dimana mulai mengenali lawan jenis. Apabila tidak dibekali dengan pengetahuan hukum dan aturan syariat, maka besar kemungkinan terjebak dalam pergaulan bebas.

    Sudah Tahu Hukum Pacaran dalam Islam dan Dalilnya?

    Itulah penjelasan hukum pacaran dalam Islam dan dalilnya dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi. Intinya, pacaran itu dilarang oleh Islam jika dalam praktiknya menyalahi aturan syariat, seperti berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya tanpa ada pendamping, dan tidak ada tujuan untuk menikah.