Author: Arya Wirawan

  • Bacaan dan Fadhilah Sholawat Nariyah 41x hingga 100x

    Bacaan dan Fadhilah Sholawat Nariyah 41x hingga 100x

    Fadhilah sholawat Nariyah 41x sangatlah besar. Untuk itu, sebagai umat muslim yang taat dianjurkan untuk membaca sholawat tersebut dengan konsisten.

    Seperti yang kita ketahui bahwa sholawat merupakan amalan yang pasti diterima oleh Allah SWT. Entah itu diamalkan dengan pamer atau secara ikhlas, amalan tersebut masih bisa diterima oleh Allah SWT.

    Hal tersebut merupakan salah satu keistimewaan dari bersholawat. Nah, sholawat Nariyah merupakan satu diantara banyaknya sholawat yang sering diamalkan oleh umat muslim Indonesia dan juga termasuk sholawat populer.

    Lantas, bagaimana bacaan dan fadhilah sholawat Nariyah 41x hingga 100x? Yuk, ikuti artikel berikut ini sampai habis untuk tahu jawabannya!

    Apa itu Sholawat Nariyah?

    Nariyah berasal dari bahasa Arab yaitu Naar yang artinya api. Jadi, menurut KH Husein Ilyas, Nariyah artinya adalah pendorong untuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

    Sholawat Nariyah yang asli diciptakan oleh ulama yang berasal dari Maroko bernama Syaikh Ahmad At-Tazi Almaghribi. Ada yang menyebut sholawat Nariyah dengan sholawat Taziyah, sholawat Tafrijiyah, dan sholawat Kamilah.

    Namun, sebagian ulama wilayah barat atau tepatnya di Maroko menamakan sholawat tersebut dengan sholawat Nariyah

    Hal tersebut dikarenakan ketika mereka mempunyai hajat yang penting atau menolak bala, mereka berkumpul bersama dalam satu majelis, kemudian membaca sholawat tersebut sebanyak 4444x dan terbukti hajat mereka segera terkabul.

    Di Indonesia sendiri sholawat Nariyah sering diamalkan saat musim haji, lebih tepatnya ketika keluarga mereka sedang berhaji biasanya meminta sanak saudara ataupun tetangga terdekat untuk minta bantuan membacakan sholawat Nariyah sebanyak 4444x.

    pengamalan tersebut biasanya dimaksudkan untuk meminta hajat berupa permintaan agar orang yang melaksanakan ibadah haji tersebut di Makkah diberi keselamatan, dijauhi dari bahaya dan dapat kembali ke rumah dalam keadaan selamat.

    Dalil Tentang Anjuran untuk Bersholawat

    Sebenarnya tidak ada dalil yang menganjurkan untuk mengamalkan sholawat Nariyah, namun terdapat ayat tentang bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang tercantum di dalam surat Al Ahzab ayat 56, bunyinya adalah berikut ini:

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    Artinya: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al Ahzab: 56).

    Bacaan Sholawat Nariyah

    Bacaan Sholawat Nariyah

    Berikut ini adalah bacaan Arab sholawat Nariyah beserta arti dan latinnya:

    اللهمَّ صلِّ صلاة كاملةً و سلمّ سلاماً تامّا على سيّدنا محمّدنِ الّذي تنْحلّ به العقدُ وتنفرجُ بهِ الكربُ وتُقْضَي بهِ الحوائجُ وتنالُ بهِ الرّغائبُ ِ و حسن الخواتم ويستسقى الغمامّ بوجهه الكريم وعلى آلهِ و صحبهِ فى كلِّ لمحةٍ و نفسٍ بعدد كلِّ معلومٍ لك

    Latin: Allahumma Shalli Sholatan  kaamilatan wasallim salaaman taamman ‘ala sayyidina muhammadinil ladzi tanhallu bihil uqadu watan fariju bihin qurabu watuqdho bihil hawaiju watunalu bihir raghoibu wahusnul khowatimi wayustasqol ghomamu biwajhihil karimi wa ‘ala alihi wa shahbihi fi kulli lamhatin wanafasin bi’adadi kulli ma’lumil laka.

    Artinya: Ya Allah, limpahkanlah sholawat yang sempurna dan kesejahteraan yang paripurna kepada junjungan kami, Muhammad SAW, yang dengan perantaraan beliau itu dilepaskan semua ikatan, dilenyapkan segala kesusahan, ditunaikan segala kebutuhan, diperoleh segenap keinginan, dicapai akhir yang baik, dan diberi minum dari awan berkat wajahnya yang mulia, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, dalam setiap kejapan mata dan tarikan nafas,sebanyak jumlah pengetahuan yang Engkau miliki.

    Baca juga: 7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    Jumlah Bilangan dan Fadhilah Sholawat Nariyah 41x

    Sebenarnya, sholawat apa pun bisa diamalkan dalam jumlah bilangan berapa pun. Namun, memperbanyak jumlah bilangan sholawat jauh lebih utama dan berhak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.

    Nantinya, pengamal tersebut berhak menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW di akhirat kelak.

    Khusus untuk sholawat Nariyah, sebaiknya dilaksanakan sebanyak 41x secara rutin setiap hari. Tentunya akan mendapatkan banyak keutamaan.

    Imam Al Qurthubi memberikan penjelasan lebih lanjut tentang fadhilah sholawat Nariyah 41x, sebagai berikut:

    “Barang siapa membaca shalawat ini (al-Nariyah/al-Tafjiriyah) 41 kali, 100 kali atau lebih, Allah akan melapangkan kesulitannya, menghilangkan bebannya, memudahkan urusannya, menyenangkan menurut kadar imannya, meninggikan derajatnya, membaguskan keadaannya, meluaskan rejekinya, membukakan pintu-pintu kebaikan, dan melindunginya dari kehancuran sepanjang tahun, menyelamatkan dari musibah penderitaan dan, oleh semua makhluk, dan dikabulkannya segala doa.”

    Tentu saja, hal ini bisa menjadi salah satu sholawat yang berisikan doa untuk menemani kita selama berada di dunia.

    Selagi masih diberikan umur yang panjang dan diberi kesehatan, alangkah lebih baiknya mari perbanyak sholawat Nariyah. Setidaknya, sholawat ini dapat menjadi sarana bagi kita semua untuk meminta kepada Allah SWT agar hajat kita cepat dikabulkan oleh-Nya.

    Baca juga: Niat & Tata Cara Sholat Sunnah Sebelum Jumat (Qobliyah dan Badiyah)

    Tata Cara Pelaksanaan Sholawat Nariyah

    1. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali

    Jika kamu sedang mengalami kesusahan seperti kehilangan barang, dianjurkan untuk membaca sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Dengan begitu, Insya Allah barang yang tadinya hilang akan segera kembali.

    2. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 444 kali

    Supaya rezeki kamu lancar, dimudahkan untuk mencapai hajat yang besar dan dijauhkan dari gangguan yang jahat, bacalah sholawat Nariyah sebanyak 444 kali.

    3. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 40 kali

    Membaca sholawat Nariyah sebanyak 40 kali rutin setiap hari dapat bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan, menghilangkan segala macam kesusahan, menerangkan dan meluruhkan hati.

    4. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 21 kali

    Jika kamu ingin terhindar dari musibah dan malapetaka apapun, kamu bisa membaca sholawat Nariyah sebanyak 21 kali setiap selesai sholat Subuh dan Maghrib.

    5. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 11 kali

    Setelah menunaikan sholat wajib lima waktu dianjurkan untuk membaca sholawat Nariyah sebanyak 11 kali supaya dijauhkan dari musibah atau bala lahir dan batin.

    6 Keutamaan Membaca Sholawat

    Dirangkum dari berbagai sumber, berikut keutamaan sholawat secara umum bagi pembacanya:

    1. Menghilangkan kegelisahan

    Diawali dengan memuji nama Allah SWT dan dilanjutkan dengan membaca sholawat, maka hal tersebut bida terhindari dari rasa khawatir dan kegelisahan.

    Bahkan melantunkan sholawat, Allah SWT akan membantu menghilangkan rasa kebingungan dan kepanikan terhadap masalah yang sedang dihadapi.

    Jika kamu rutin membaca sholawat, hatimu pun akan menjad lebih damai dan tentram.

    2. Memberi keselamatan

    Selain menghilangkan kegelisahan, bagi siapa saja yang erring mengamalkan sholawat akan mendapatkan banyak pertolongan dan perlindungan dari segala macam marabahaya.

    Tak hanya itu, membaca sholawat juga dapat menghilangkan kesusahan, kesempitan dan hal-hal yang menyakitkan.

    3. Memberikan energi positif dan kebahagiaan

    Seorang umat muslim yang rutin membaca sholawat setiap hari, maka Allah SWT akan memberikannya ketentraman dan kebahagiaan yang senantiasa menyertainya.

    Dengan mengamalkan sholawat dapat membuat jiwa seseorang lebih tenang dan merasa bahagia. Jadi, kesimpulannya adalah amalan sholawat dapat menjadi salah satu cara agar mendapatkan kebahagiaan atas ridho dan pertolongan oleh Allah SWT.

    4. Pembuka rezeki tiada putus

    Allah SWT akan mengangkat derajat dan membukakan lebar pintu rezeki untuk siapa saja yang rajin membaca sholawat.

    5. Membuat masalah menjadi ringan dan menghilangkan kesedihan

    Jika kamu rutin membaca sholawat setiap hari niscaya mampu menghilangkan rasa sedih yang sedang dirasakan, meringankan masalah yang sedang dihadapi dan bisa terselesaikan dengan mudah. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Jabir dan Ibnu Mundah, Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Siapa membaca selawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain): Siapa membaca selawat kepadaku 100 kali maka Allah akan menjabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat dan 30 di dunia. Dan hadis Rasulullah yang mengatakan; perbanyaklah selawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan.”

    6. Penawar penyakit hati dan yang menjangkiti badan

    Keutamaan yang terakhir adalah sholawat bisa dijadikan penawar penyakit hati dan penyembuh penyakit yang menjangkiti badan.

    Hal tersebut dikarenakan yang dapat menyembuhkan segala bentuk penyakit, entah itu penyakit badan ataupun hati adalah hanya Allah SWT.

    Adapun dengan rutin membaca sholawat setiap hari merupakan bentuk wasilah kepada Nabi Muhammad SAW agar Allah SWT mengabulkan doa dan menyembuhkan segala penyakit.

  • 13 Ayat dan Hadis Tentang Ibu, Kunci Surgamu!

    13 Ayat dan Hadis Tentang Ibu, Kunci Surgamu!

    Hadis tentang ibu patut dijadikan pegangan bagi umat Islam untuk menghormati dan memuliakan ibu yang telah melahirkan mereka ke dunia.

    Di dalam agama Islam, ibu ditempatkan di posisi yang paling mulia. Bahkan anak diwajibkan terlebih dahulu hormat kepada ibu sebelum ayahnya. Hal tersebut tercantum di dalam surat Al-Luqman ayat 14.

    Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa betapa mulianya seorang ibu di dalam agama Islam. Nah, berikut ini kumpulan hadis tentang ibu yang harus diamalkan oleh setiap umat muslim:

    13 Ayat dan Hadis Tentang Ibu untuk Berbakti Kepada Ibu

    1. Berbuat baik kepada ibu

    إنَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ

     يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

    Artinya: Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat. (HR. Ibnu Majah).

    Baca juga: Amalkan Doa agar Tidak Malas dan Kiat Hidup Lebih Produktif

    2. Surga berada di bawah telapak kaki ibu

    عن معاوية بن جاهمة السلمي، أن جاهمة رضي الله عنه جاء إلى

    النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أردت أن

    أغزو وقد جئت أستشيرك . فقال : هل لك من أم؟ قال نعم. قال :

    فالزمها فإن الجنة تحت رجليها

    Artinya: Dari Mu’awiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. la berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan saya sekarang memohon nasihat kepadamu?” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Kamu masih punya ibu?” Mu’awiyah menjawab, “Ya, masih. Rasulullah SAW bersabda, “Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya!”

    3. Pentingnya berbakti kepada ibu yang disebutkan sebanyak 3 kali

    Hadis tentang ibu ini menunjukkan betapa berbakti pada ibu ditekankan dalam hadis di bawah ini.

    جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

    مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » قَالَ ثُمَّ مَنْ

    قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

    Artinya: Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    4. Sayang kepada ibu sebagai rasa syukur

    Hadis tentang ibu yang menunjukan kita agar bersyukur pada Allah SWT dan memiliki Bapak Ibu yang telah merawatnya.

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ

    ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Lukman ayat 14).

    Baca juga: 11 Doa Minta Kesembuhan dari Sakit, Bersabar dan Percaya PadaNya

    5. Perintah meminta ampun kepada ibu

    إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ .

    فمروه فليستغفرْ لكم

    Artinya: Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian. (HR. Muslim).

    6. Sebagai doa yang sangat mustajab

    Hadis tentang ibu berikutnya memberitahu betapa mustajabnya doa seorang ibu.

    ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

    وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

    Artinya: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa baik orangtua kepada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

    7. Mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbakti kepada ibu

    عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ،

    وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ

    ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما

    استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي

    لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

    Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang lelaki datang menemuinya dan berkata, “Aku meminang seorang perempuan, tetapi ia menolakku. Lelaki lainnya meminangnya, lantas ia menerimanya dan menikah dengannya. Aku pun cemburu, lantas perempuan itu kubunuh. Akankah tobatku diterima?”

    Ibnu Abbas balik bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Ia menjawab, “Tidak,” Ibnu Abbas pun berkata kepadanya, “Bertobatlak kepada Allah dan lakukanlah yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

    Atha’ bin Yasar yang menuturkan riwayat ini dari Ibnu Abbas pun datang kepadanya. Ia berkata, “Kenapa engkau bertanya apakah ibunya masih hidup?” Ibnu Abbas menjawab, “Karena aku tidak tahu amal baik lain yang lebih mendekatkan orang kepada Allah selain berbakti kepada ibunya.” (HR. Bukhari).

    8. Meningat jasa orang tua yang telah merawat kita sejak kecil

    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

     Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil. (QS. Al Isra ayat 24).

    9. Berbakti kepada orang tua setelah meninggal

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْئٌ أَبِرُّهُمَا

    بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ نَعَمْ، خِصَالٌ أَرْبَعٌ: الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالْإِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ

    عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ رَحِمَ لَكَ إِلاَّ مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهٰذَا

    الَّذِى بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا. (رواه ابن ماجه عن أبي أسيد).

    Artinya: “Masih adakah kebaktian kepada kedua orang tuaku, setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, masih ada empat perkara, mendoakan ibu bapak itu kepada Allah, memintakan ampun bagi mereka, menunaikan janji mereka, dan meng-hormati teman-teman mereka serta menghubungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kamu kecuali dari pihak mereka. Maka inilah kebaktian yang masih tinggal yang harus kamu tunaikan, sebagai kebaktian kepada mereka setelah mereka meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah).

    10. Hadis mendoakan orang tua yang sudah meninggal

    عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    Artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim).

    11. Melarang durhaka kepada kedua orang tua

    قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗاۖ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُم مِّنۡ إِمۡلَٰقٖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِيَّاهُمۡۖ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

    Artinya: “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya),” (QS. Al-Anam ayat 151).

    12. Berbakti kepada orang tua yang telah meninggal

    بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا »

    Artinya: “Wahai Rasulullah, apa masih ada cara berbakti kepada orang tua setelah meninggal?” Beliau menjawab: “Ya, dengan mendoakan, meminta ampun untuknya, melaksanakan wasiatnya, menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali jalan mereka dan memuliakan teman-temannya,” (HR. Abu Daud).

    13. Berbakti kepada ibu yang telah mengandung

    وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

    Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (QS. Al-Ahqaf ayat 15).

    Dengan mengetahui hadis tentang ibu dan ayat-ayat yang mejelaskan kemuliaan seorang ibu, kamu bisa lebih banyak mengamalkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • 13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

    13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

    Sholat adalah aktivitas wajib yang harus dilakukan oleh umat Islam setiap hari sesuai dengan 13 rukun sholat sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

    Rukun artinya adalah pilar. Rukun sholat berarti pilar-pilar yang membentuk sholat secara utuh. Rukun dalam sholat juga bisa diibaratkan sebagai pondasi dalam sebuah bangunan. Maka dari itu, setiap rukun sholat harus dilaksanakan.

    Sholat tidak boleh dilakukan secara sembarangan, ada aturan dan tuntunan di dalam sholat yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Apa saja 13 rukun sholat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW? Yuk, simak jawabannya di bawah ini sampai habis!

    Apa itu Rukun Sholat?

    Rukun sholat adalah setiap perkataan dan perbuatan yang akan membentuk hakikat sholat.

    Jika salah satu rukun sholat ada yang tertinggal atau terlewat, maka sholat tersebut tidak dianggap atau tidak sah secara syar’i dan tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi.

    Rukun sholat dibagi menjadi dua, yakni rukun fikli dan kauli. Rukun fikli adalah rukun sholat yang berupa gerakan, sedangkan rukun kauli adalah rukun sholat yang berupa ucapan.

    13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW.

    1. Berdiri bagi yang mampu

    Berdiri bagi yang mampu

    Pada rukun sholat terdapat perintah berdiri bagi yang mampu (untuk sholat fardhu atau wajib). Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW., bahwa sholat dapat dilakukan dengan berdiri, duduk atau berbaring sesuai kemampuan tubuh.

    Penjelasan tersebut dijelaskan pada hadis di bawah ini:

    صلِّ قائمًا فإن لم تستطِع فقاعِدًا فإن لم تستطِعْ فعلى جَنبٍ

    Artinya: “Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu bisa duduk, jika tidak mampu bisa sambil berbaring.” (HR. Bukhari).

    Sedangkan untuk sholat Sunnah boleh dilakukan dalam keadaan duduk, walaupun sebenarnya mampu.

    Pada hakikatnya, sholat Sunnah disunnahkan untuk berdiri tapi tidak wajib. Namun, alangkah lebih baiknya dilakukan dalam keadaan berdiri daripada duduk. Hal tersebut dijelaskan sebagaimana sabda Rasulullah SAW., yang artinya adalah sebagai berikut:

    “Siapa yang mengerjakan sholat sambil berdiri, itu akan lebih afdhol. Siapa yang mengerjakan sholat sambil duduk, akan mendapatkan pahala separuh dari sholat yang berdiri. Siapa yang sholat sambil berbaring, akan mendapatkan pahala separuh dari sholat sambil duduk.” (HR. Bukhari no. 1065).

    Baca juga: Niat Sholat Ashar Sendiri dan Berjamaah beserta Tata Caranya

    2. Niat yang dibarengi dengan Takbiratul Ihram

    Niat sebaiknya diucapkan di dalam hati, tidak disyariatkan untuk dilafadzkan. Hal tersebut dikarenakan Nabi Muhammad SAW., bersabda yang artinya:

    “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya balasan untuk masing-masing orang tergantung pada apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin al Khattab).

    Hadis di atas juga dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Raudhah ath-Thalibin:

    Kata niat berasal dari al Qashd yang artinya adalah mempunyai maksud atau menyengaja.

    Dengan kata lain, setiap umat muslim yang sholat harus mengonsentrasikan berbagai pikirannya terhadap sholat yang sedang ia kerjakan dan sifat-sifatnya pun harus diingat pula, seperti sedang melaksanakan sholat Dzuhur, Ashar, sholat fardhu dan sholat lainnya.

    Kemudian, meniatkan perkara-perkara tersebut dengan niat yang dibarengi dengan awal takbir atau takbiratul ihram.

    3. Takbiratul ihram

    Rukun sholat yang satu ini diperkuat dengan sabda Nabi Muhammad SAW., sebagai berikut:

    Artinya: “Pembuka sholat adalah taharah (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar sholat adalah ucapan takbir, sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.” (HR. Abu Daud no. 618, at-Tirmidzi no.3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadis ini adalah shahih dalam Irwa’ al-Ghalil no.301).

    Dalam melaksanakan takbiratul ihram, Rasulullah SAW., selalu mengencangkan suaranya sehingga bisa didengar oleh makmumnya. Sebagaimana yang dijelaskan pada hadis berikut ini:

    “Nabi Muhammad SAW., mengeraskan suara beliau dengan ucapan takbir, sehingga dapat mendengarkan(nya) untuk para makmu di belakang beliau.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan Ahmad, dan dia menilainya hadis ini adalah shahih, serta juga disetujui oleh adz-Dzahabi).

    Adapun yang dimaksud dengan takbiratul ihram adalah ucapan takbir “Allahu Akbar”. Bacaan tersebut tidak bisa diganti dengan bacaan lainnya, meskipun memiliki makna yang sama.

    4. Membaca surat Al-Fatihah di setiap raka’at sholat

    Nabi Muhammad SAW mewajibkan setiap muslim untuk membaca surat Al-Fatihah ketika sholat.

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ubadah bin ash-Shamit di bawah ini, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa sholat tanpa membaca Al-Fatihah tidak sah.

    عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

    Artinya: “Dari Ubadah bin ash-Shamit radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Tidak (sah) sholat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (surat Al-Fatihah).””

    Tak hanya itu, Rasulullah SAW., juga pernah mengatakan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah bahwa jika seseorang sedang sholat, namun tidak membaca surat Al-Fatihah di setiap raka’atnya, maka sholatnya menjadi tidak sempurna.

    5. Rukuk dan tuma’ninah

    Rukuk dan tuma’ninah

    Rukuk adalah ketika posisi badan sedang membungkuk dan meletakkan kedua telapak tangan di kedua lutut kaki sambil merenggangkan jari-jari tangan. Rukuk tersebut harus dilakukan secara tuma’ninah.

    Tuma’ninah sendiri adalah kondisi atau keadaan tenang di mana setiap persendian pada tubuh ini juga tenang.

    Pelafalan rukuk adalah sebagai berikut:

    الْعَظِيمِ رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Subhaana rabbiyal ‘adzimii wabihamdih (diucapkan sebanyak tiga kali)

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya.”

    Rukuk juga dijelaskan pada hadis berikut ini, yang artinya:“Kemudian, rukuklah dan tuma’ninahlah saat rukuk.” (HR. Muslim no. 397 dan HR. Bukhari no. 793).

    Apa sesungguhnya tuma’ninah itu? Pengertian tuma’ninah dalam shalat adalah tenang yang merupakan sebuah syarat untuk mencapai kekhusyuan dalam shalat.

    Sesuai dengan Pesan Rasulullah SAW : ”Kalau kamu berdiri ketika shalat, maka berdirilah dengan tuma’ninah. Kalau kamu ruku, rukulah dengan tuma’ninah. Kemudian berbuatlah demikian dalam shalatmu”. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Khurairah).

    6. I’tidal dan Tuma’ninah

    I’tidal adalah kondisi bangun dari rukuk dengan cara berdiri tegak dan tuma’ninah, serta tidak berniat selain I’tidal.

    Berikut bacaan dari rukuk ke I’tidal:

     حَمِدَهُ لِمَنْ اللَّهُ سَمِع

    Sami’allaahu liman hamidah.

    Artinya: “Allah maha mendengar terhadap orang yang memujinya.”

    Berikut bacaan I’tidal:

     بَعْدُ شَيْءٍ مِنْ شِئْتَ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ السَّمَوَاتِ مِلْءَ الْحَمْدُ لَكَ رَبَّنَا

    Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.

    Artinya: Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”

    Berikut hadis tentang I’tidal: “Kemudian, tegaklah badan (I’tidal) dan tuma’ninahlah.” (HR. Muslim no. 397 dan HR. Muslim no. 937).

    7. Dua kali sujud

    Dua kali sujud

    Tata cara sujud ialah dengan menempel sebagian dahi pada lantai tempat sholat. Lalu, wajib meletakkan kedua lutut, kedua tangan dan kedua ujung telapak kaki pada lantai.

    Dalam sujud harus memerhatikan 7 bagian anggota badan, diantaranya adalah:

    • Telapak tangan kanan dan kiri
    • Lutut kanan dan kiri
    • Ujung kaki kanan dan kiri
    • Dahi dan hidung.

    Berikut bacaan sujud dalam sholat:

     وَبِحَمْدِهِ الْأَعْلَى رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Subhanaa rabbiyal a’la wabihamdih. (Diucapkan sebanyak tiga kali).

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya.”

    Berikut hadis tentang dua kali sujud: “Kemudian, sujudlah dan tuma’ninahlah saat sujud.” (HR. Muslim no. 397 dan HR. Muslim no. 937).

    8. Duduk di antara dua sujud

    Cara melakukan duduk di antara dua sujud ialah bangun dari rukuk dengan bertakbir, kemudian duduk secara iftirasy (duduk model tasyahud awal).

    Berikut ini bacaanya:

     وَارْفَعْنِ وَارْزُقْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْحَمْنِى لِى اغْفِرْ رَبِّ

    Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu’annii.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.

    Berikut hadis tentang duduk di antara dua sujud:

    “Lalu, sujudlah dan tuma’ninahlah saat sujud. Kemudian, bangkitlah dari sujud dan tuma’ninah saat duduk. Lalu, sujudlah kembali dan tuma’ninah saat sujud.”

    9. Membaca Tasyahud awal

    Membaca tasyahud awal

    Berikut bacaan tasyahud awal:

    اَلتَّحِيَاتُ المُبَارَكَاتُ، الصَلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَينَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِين، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله)

    Attahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.

    Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    Berikut hadis mengenai tasyahud awal: “Apabila salah seorang di antara kalian duduk (tasyahud) dalam sholat, ucapkanlah “at tahiyatu lillah..”.” (HR. Muslim no. 42 dan Bukhari no. 831, dari Ibnu Mas’ud).

    10.  Membaca tasyahud akhir

    Bacaan tasyahud akhir sama dengan tasyahud awal, yang membedakan hanya ditambahkan sholawat pada tasyahud akhir.

    لتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمّدْ وعلى آلِ  عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلعَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى عَلَي سَيِّدِنَا آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد. اَلْلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَجَّالِ

    “Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibatul lillaah, Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Allahhumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Wabaarik ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid. Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wamin ‘adzaabil qabri wamin fitnatil mahyaa wamamaati wamin fitnatil masiihid dajjaal.”

    Artinya : “Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah, salam, rahmat, dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang saleh-saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 

    11.  Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa membaca sholawat kepada Rasulullah SAW., setelah tasyahud akhir dan hukumnya wajib, sedangkan untuk tasyahud awal hukumnya Sunnah.

    Berikut bacaan sholawat yang harus ditambahkan pada tasyahud akhir:

    للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

    Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohim wa ‘alaa aali Ibroohimm innaka hamiidum majiid. Alloohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohim wa ‘alaa aali Ibroohimm innaka hamiidum majiid.

    Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia.”

    12.  Salam

    Setelah menyelesaikan bacaan tasyahud akhir, ditutup dengan dua salam.

    Dalilnya hadits yang telah disebutkan di muka,

    مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

    Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam. ” (HR. Abu Daud no. 618, Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 301)

    Yang termasuk dalam rukun di sini adalah salam yang pertama. Inilah pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan mayoritas ‘ulama.

    Model salam ada empat:

    1. Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”.
    2. Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah wa barokatuh”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”.
    3. Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum”.
    4. Salam sekali ke kanan “Assalamu’laikum”. (Lihat Sifat Shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 188, Maktabah Al Ma’arif)

    Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardu Sesuai Sunnah, Arab, Latin, dan Artinya

    13.  Tertib

    Tertib artinya sholat dilakukan secara berurutan dalam rukun-rukun sholat. Tidak sah sholatnya jika dilakukan secara acak. Misal langsung langsung rukuk tanpa membaca Surat Al-Fatihah.

    Hingga tahap ini, kamu sudah mengetahui rukun sholat, jangan lupa untuk mengamalkannya ya.