Author: Arya Wirawan

  • 10 Keutamaan Sholat Tarawih di bulan Ramadhan, Amalkan Yuk!

    10 Keutamaan Sholat Tarawih di bulan Ramadhan, Amalkan Yuk!

    Umat muslim dianjurkan untuk melaksanakan sholat tarawih di bulan Ramadhan karena memiliki banyak keutamaan sholat tarawih.

    Seperti yang kita tahu, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Ibadah yang kita kerjakan selama bulan puasa akan mendapatkan pahala 2x lipat dari biasanya. Maka tidak heran jika selama bulan puasa banyak orang yang berlomba-lomba mendapat keberkahan dari Allah SWT.

    Selain berpuasa dan tilawah Al-Qur’an, ada ibadah lain yang dapat dikerjakaan selama bulan Ramadhan yaitu sholat tarawih.

    Penasaran apa saja keutamaan sholat tarawih di bulan Ramadhan? Yuk, cek jawabannya di bawah ini sampai habis ya!

    Pengertian Sholat Tarawih

    Sholat tarawih adalah salah satu sholat Sunnah yang sering dikerjakan selama bulan Ramadhan. Meskipun ibadah Sunnah, namun ternyata sholat tarawih mempunyai banyak keutamaan dan ganjaran yang besar bagi yang menjalankannya.

    Sholat tarawih biasanya dilaksanakan sesudah sholat isya. Akan tetapi, sholat tarawih sebenarnya bisa dilakukan kapan saja sebelum memasuki waktu sahur.

    Selain itu, sholat tarawih juga bisa dilakukan sendiri di rumah, meskipun memang dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah di masjid atau mushola terdekat.

    Sholat tarawih hukumnya adalah Sunnah muakad atau sangat dianjurkan, namun jika tidak dilaksanakan tidak masalah.

    Meskipun begitu, Nabi Muhammad SAW., sangat menganjurkan menunaikan ibadah sholat tarawih secara rutin selama bulan puasa.

    Baca juga: Tata Cara Sholat Tarawih Sendiri dan Berjamaah, Lengkap dengan Doanya!

    Dalil Sholat Tarawih

    Berikut hadis yang berisikan anjuran untuk melaksanakan sholat tarawih:

    Artinya: “Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin ra: sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam hari sholat dimasjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, beliau sholat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari ke-Tiga dan ke-empat orang-orang banyak berkumpul menunggu beliau Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) kemasjid lagi. Ketika pagi-pagi, Nabi bersabda: “sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang kemasjid karena aku takut sekali kalau sholat ini diwajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata: “hal itu terjadi pada bulan Ramadlan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

    10 Keutamaan Sholat Tarawih

    Berikut adalah beberapa 10 keutamaan Sholat Terawih di Bulan Ramadhan yang wajib diketahui.

    1. Mendapatkan rezeki yang berlimpah

    Siapa yang ingin mendapatkan rezeki yang berlimpah oleh Allah SWT? Semua orang pasti menginginkannya! Untuk itu jangan lupa rutin melaksanakan ibadah sholat tarawih saat bulan puasa.

    Hal tersebut dikarenakan biasanya sholat tarawih dilakukan secara berjamaah di masjid atau mushola. Nah, saat melaksanakan sholat berjamaah kamu akan bertemu dengan sesama umat muslim dan dari situ terjalinnya silatuhrahmi.

    Diketahui bahwa silaturahmi yang terjaga dengan baik dapat melapangkan

    “Seorang yang menyambung silaturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seseorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari).

    Baca juga: Dzikir dan Doa Setelah Sholat Witir Arab-Latin Beserta Arti Sesuai Sunnah

    2. Pengampunan dosa

    Keutamaan sholat tarawih yang kedua adalah akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Hal tersebut dikarenakan bulan Ramadhan adalah bulan di mana semua pintu pengampunan akan dibuka.

    Makanya, semua ibadah yang dilakukan saat bulan puasa bisa menjadi ajang pengampunan dosa. Termasuk ibadah sholat Sunnah tarawih, sebagaimana yang tercantum di dalam hadis berikut ini:

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

    Artinya: “Barangsiapa melakukan ibadah puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Imam Bukhari dan Muslim).

    3. Mendapatkan pahala sholat semalaman penuh

    Mendapatkan pahala sholat semalaman penuh

    Bayangkan sholat yang dikerjakan sebanyak 23 rakaat atau sekitar 2 jam, mendapatkan ganjaran pahala sholat semalaman penuh? Itulah salah satu keutamaan sholat tarawih.

    Keutamaan ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., yang menyatakan bahwa sholat tarawih akan mendapatkan pahala sholat semalaman dan pahala yang berlipat ganda.

    مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

    Artinya: “Barang siapa shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai. maka ditulis untuknya shalat satu malam (suntuk).”

    4. Pahala berlipat ganda

    Selain mendapatkan pahala sholat semalaman penuh, sholat tarawih juga mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena dilaksanakan secara berjamaah.

    Diketahui bahwa sholat berjamaah mendapatkan ganjaran pahala hingga 27 derajat. Berikut hadisnya:

    مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

    Artinya: “Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i).

    5. Menjadi ajang silatuhrahmi

    Sholat tarawih biasanya dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau mushola. Tidak menutup kemungkinan bahwa kamu akan bertemu dengan saudara sesama umat muslim atau tetangga.

    pertemuan tersebut bisa menjadi meningkatkan silatuhrahmi kamu dengan orang-orang tersebut.

    Silatuhrahmi juga dapat mendatangkan banyak syafaat. Salah satunya adalah melapangkan rezeki.

    Terlebih jika kamu lakukan di bulan Ramadhan di mana ibadah yang kita lakukan akan mendapatkan 2x pahala.

    6. Memakmurkan masjid

    Keutamaan sholat tarawih yang selanjutnya adalah memakmurkan masjid. Sholat tarawih menjadi salah satu alasan untuk mengunjungi masjid, apalagi jika secara rutin.

    Seperti yang kita tahu bahwa masjid merupakan rumah Allah SWT., di mana jika terus didatangi, maka akan mendapatkan ketenangan hati dan kemakmuran.

    7. Dapat menambah ilmu

    Biasanya, di pertengahan sholat tarawih di masjid akan diselingi dengan tausyiah atau ceramah dari ustadz.

    Ceramah tersebut bisa menambahkan pengetahuan kita tentang agama.

    Ceramah atau tausyiah di dalam sholat juga cukup singkat. Karena singkat, ilmu yang diberikan akan lebih mudah diingat dan terserap.

    8. Mendapatkan keberkahan di bulan suci Ramadhan

    Selama bulan Ramadhan berlangsung, setiap umat muslim pasti akan berlomba-lomba untuk mendapatkan keberkahan oleh Allah SWT.

    Maka dari itu, setiap ibadah yang dilaksanakan saat bulan puasa akan mendapatkan berkah dari Allah SWT. Termasuk sholat tarawih.

    9. Memeriahkan bulan Ramadhan

    Bagi sebagian orang, bulan Ramadhan adalah bulan yang spesial  dan banyak orang yang menantikan bulan puasa datang.

    Sebab, saat bulan Ramadhan berlangsung banyak kegiatan ibadah yang bisa kita lakukan, seperti berpuasa, sholat tarawih maupun tilawah Qur’an untuk memeriahkan bulan Ramadhan.

    Tak hanya memeriahkan saja, melaksanakan sholat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan juga dapat menambahkan suasana bahagia, mendapatkan pahala yang lebih besar dan mempererat tali silatuhrahmi.

    10.  Menutupi kekurangan ibadah

    Keutamaan sholat tarawih yang terakhir adalah dapat menyempurnakan ibadah yang telah dilakukan. Sholat tarawih akan menolong umat-Nya dari kecacatan ibadah wajibnya yang tidak sengaja dilalaikan.

    Hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan di dalam hadis at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW., bersabda:

    Artinya: “Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab adalah sholatnya. Jika sholatnya bagus maka dia beruntung dan selamat. Namun jika sholatnya buruk maka dia sengsara dan merugi. Jika ada kekurangan dari sholat fardhunya mempunyai pahala sholat sunnah untuk melengkapi kekurangan sholat fardhu? Kemudian seluruh amalnya seperti itu”.

    Mengetahui keutamaan sholat terawih di bulan Ramadhan memang dapat menjadikan kita termotivasi untuk meraih amal sebanyak banyaknya. Namun, perlu diingat, bahwa puasa Ramadhan tentu lebih utama dari sholat terawih ini.

  • Bacaan Ratib Al Haddad Lengkap Arab, Latin Dan Artinya

    Bacaan Ratib Al Haddad Lengkap Arab, Latin Dan Artinya

    Kitab Ratib Al Hadad telah menjadi bagian penting dari praktik keagamaan kaum Muslim di seluruh dunia. Kitab ini mengandung berbagai wirid dan doa yang sangat dihargai oleh umat Islam. Banyak di antara mereka yang dengan penuh keyakinan mengamalkan Ratib ini, terutama di kalangan Habaib dan ngalim.

    Seperti yang dikatakan oleh Al Habib Ahmad bin Zain al Habsyi, “Barang siapa yang membaca Ratib Al Hadad dengan keyakinan dan iman yang penuh, maka ia akan memperoleh sesuatu yang di luar dugaannya.”

    Ini mencerminkan kepercayaan yang mendalam terhadap kekuatan spiritual dan keberkahan yang terkandung dalam Kitab Ratib Al Hadad.

    Sejarah Singkat Tentang Ratib Al Hadad

    Ratib Al Hadad dinamai sesuai dengan penyusunnya, yaitu Al Habib Abdullah Bin Alwi Bin Muhammad Al Hadad (1055-1132 H). Kitab ini terkenal karena berisi berbagai doa, zikir, dan amalan yang sangat dihormati oleh umat Islam.

    Al Habib Abdullah Bin Alwi Bin Muhammad Al Hadad menyusun kitab ini karena mendapat inspirasi pada malam Lailatul Qodar tanggal 27 Ramadhan 1071 H. Tujuan utamanya adalah memenuhi permintaan muridnya, yaitu Amir Bani Sa’ad, yang tinggal di kampung Syiban di Hadramaut, Yaman.

    Amir Bani Sa’ad pada waktu itu sangat menginginkan adanya pengamalan wirid dan zikir di kampungnya. Harapannya adalah agar mereka dapat mempertahankan diri dan terhindar dari pengaruh ajaran sesat yang sedang marak pada masa itu di Hadramaut.

    Awalnya, Ratib Al Hadad hanya dibaca di kampung Amir setelah beliau mendapatkan izin resmi (ijazah) dari penyusun kitab tersebut, Al Habib Abdullah Bin Alwi Bin Muhammad Al Hadad. Namun, kemudian wirid tersebut juga mulai dibaca di sebuah masjid yang dimiliki oleh Al Habib Abdullah Bin Alwi Bin Muhammad Al Hadad, terletak di kota Tarim.

    Biasanya, Ratib ini dibaca secara berjama’ah oleh umat Islam setelah salat Isya’. Hingga saat ini, kitab Ratib Al Hadad masih menjadi bagian penting dalam amalan keagamaan dan spiritualitas banyak umat Muslim di seluruh dunia.

    Kitab Ratib Al Hadad adalah bukti nyata dari warisan spiritual dan keberkahan yang diwariskan oleh ulama Islam kepada umatnya. Kesederhanaan dan kekuatan doa-doa dalam kitab ini telah meresap dalam hati banyak orang, memberikan mereka ketenangan, kekuatan, dan harapan dalam menjalani kehidupan mereka.

    Kitab ini juga menjadi pengingat yang kuat akan pentingnya mempertahankan keimanan dan menjauhi ajaran sesat dalam menjalani perjalanan spiritual mereka. Semoga kitab Ratib Al Hadad terus memberikan manfaat dan menjadi sumber inspirasi untuk umat Muslim di seluruh dunia.

    Baca juga: Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal dan Amalan Sunnahnya

    Bacaan Ratib Al Haddad Lengkap Teks Arab, Latin Dan Terjemahnya

    Banyak umat Muslim yang berkeinginan untuk dapat membaca Ratib Al Hadad dengan lancar. Namun, salah satu hambatannya adalah bahwa Ratib Al Hadad ditulis dalam bahasa Arab, yang mungkin membuat beberapa orang merasa kurang lancar dalam membacanya.

    Untuk membantu umat Muslim agar lebih fokus dan memahami makna dari Ratib Al Hadad, penting untuk memiliki bacaan yang mencakup arti dari semua wirid yang terkandung di dalamnya.

    Dalam hal ini, sangat tepat jika artikel ini mencakup informasi lengkap, termasuk teks dalam bahasa Arab, tulisan latin, dan terjemahannya ke dalam bahasa yang dimengerti.

    Bacaan Ratib Al Hadad Arab

    رَاتِبُ الْحَدَّادِ

    ( ِلْحَبِيْب عَبْدِ الله بْنِ عَلَوِي الْحَدَّاد)

    الْفَاتِحَة : أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ آمِيْنِ

    اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَه إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّموَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤدُه حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    (x3) سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

    سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ (x3)

    رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ (x3)

    اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (x3)

    أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (x3)

    بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (x3)

    رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا (x3)

    بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّرُّ بِمَشِيْئَةِ اللهِ (x3)

    يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا (x3)

    ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ (x7)

    ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْنُ اكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْنَ (x3)

    أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ (x3)

    يَا عَلِيُّ يَا كَبِيْرُ يَا عَلِيْمُ يَا قَدِيْرُ يَا سَمِيعُ يَا بَصِيْرُ يَا لَطِيْفُ يَا خَبِيْرُ (x3)

    ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ (x3)

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ (x4)

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (x25)

    مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ اَهْلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِيِنَ الطَّاهِرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الأَكْرَمِيْنَ الْمُهْتَدِيْنَ. وَأَزْوَاجِهِ الطَّاهِرَاتِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اَللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يٌوْلَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (x25)

    بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ. اَلْفَاتِحَةَ إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الشَّيْخِ الْكَبِيْرِ الْقُطْبِ الشَّهِيْرِ الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِي بَاعَلَوِي وَأُصُولِهِ وَفُرُوعِهِ وَجَمِيْعِ سَادَاتِنَا آلِ بَاعَلَوِي، أَنَّ اللهَ يُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِمْ وَ أَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ وَ عُلُوْمِهِمْ وَ نَفَحَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ)

    اَلْفَاتِحَةَ إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوْا مِنْ مَشَارِقِ الأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا أَنَّ اللهَ يَحْمِيْنَا بِحِمَايَتِهِمْ وَيُمِدُّنَا بِمَدَدِهِمْ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِمْ وَ أَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ وَ عُلُوْمِهِمْ وَ نَفَحَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ)

    اَلْفَاتِحَةَ إِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الشَّيْخِ الْكَبِيْرِ الْقُطْبِ الشَّهِيْرِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَلَوِي بْنِ مُحَمَّدٍ الْحَدَّادِ صَاحِبِ الرَّاتِبِ وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ وَجَمِيْعِ سَادَاتِنَا آلِ بَاعَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِمْ وَ أَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ وَ عُلُوْمِهِمْ وَ نَفَحَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةِِ. (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ)

    اَلْفَاتِحَةَ أَنَّ اللهَ يُغِيْثُ الْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْلِمِيْنَ وَيُفَرِّجُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ وَيَشْفِيْ أَمْرَاضَ الْمُسْلِمِيْنَ بِالْعَافِيَةِ وَيُغَزِّرُ أَمْطَارَهُمْ وَيُرَخِّصُ أَسْعَارَهُمْ وَيُصْلِحُ سَلاَطِيْنَهُمْ وَيَكْفِيْهِمْ شَرَّ الْفِتَنِ وَ الْبَلِيَّاتِ وَ الْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَ يَحْفَظُ الْحُجَّاجَ وَ الْمُسَافِرِيْنَ وَ الْغُزَاةِ وَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ وَ الْجَوِّ أَجْمَعِيْنَ. أَنَّ اللهَ يُصْحِبُهُمُ السَّلاَمَةَ وَ يَرُدُّهُمْ إِلَى أَوْطَانِهِمْ سَالِمِيْنَ آمِنِيْنَ غَائِمِيْنَ وَ إِيَّانَا فِيْ خَيْرٍ وَ عَافِيَةٍ وَ إِلَى أَرْوَاحِ وَالِدِيْنَ وَ وَالِدِيْكُمْ وَ أَمْوَاتِنَا وَ أَمْوَاتِكُمْ وَ أَمْوَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ. أَنَّ اللهَ يَتَغَشَّاهُمْ بِالرَّحْمَةِ وَ الْمَغْفِرَةِ وَ يُسْكِنُهُمُ الْجَنَّةَ وَ يَخْتِمُ لَنَا وَلَكُمْ بِالْحُسْنَى فِيْ خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَ عَافِيَةٍ وَ إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم. (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ)

    بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَسَلِّمْ. اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحَ لَنَا بِكُلِّ خَيْرٍ. وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ. وَأَنْ تُعَامِلَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْرِ. وَأَنْ تَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي دِيْنِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَاَهْلِيْنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَ فِتْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضَيْرٍ، إِنَّكَ وَلِيُّ كُلِّ خَيْرٍ، وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَمُتَفَضِّلٌ بِكُلِّ خَيْرٍ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

    اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ (x3)

    يَا عَالِمَ السِّرِّ مِنَّا لاَ تَهْتِكِ السِّتْرَ عَنَّا وَ عَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا وَ كُنْ لَنَا حَيْثُ كُنَّا (x3)

    يَا الله بِهَا يَا الله بِهَا يَا الله بِحُسْنِ الخْاَتِمَةِ (x3)

    يَا لَطِيْفًا بِخَلْقِهِ، يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ، يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ اُلْطُفِ بِنَا يَا لَطِيْفُ يَا عَلِيْمُ يَا خَبِيْرُ (x3)

    يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ اُلْطُفْ بِنَا فِيْمَا نَزَلَ، إِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ اُلْطُفْ بِنَا وَ الْمُسْلِمِيْنَ (x3)

    جَزَى اللهُ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَنَّا خَيْرًا، جَزَى اللهُ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَنَّا مَا هُوَ أَهْلُهُ (x3)

    الْحَمْدُ لِلّهِ عَلَى نِعْمَةِ الإِيْمَانِ وَ الإِسْلاَمِ وَ تَوْفِيْقِهِ وَكَفَى بِهَا مِنْ نِعْمَةٍ

    Baca juga: Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Bacaan Ratib Al Haddad Latin

    Al Fatihah Ila Hadrotinnabiy Muhammadin shalllahu alayhi wa alihi wasallam – Al Fatihah.

    Bismillahir-raḥmanir-raḥim, al-ḥamdu lillahi rabbil-‘alamin, ar-raḥmanir-raḥim, maliki yaumid-din, iyyāka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, ihdinaṣ-ṣiraaṭal-mustaqiim, ṣiraaṭallażiina an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍaalliin.

    Allaahu laa ilaaha illaa huw, al-ḥayyul-qayyụm, laa takhużuhụ sinatuw wa laa naụm, lahụ maa fis-samaawaati wa maa fil-arḍ, man zallazii yasyfa’u ‘indahuu illaa biiznih, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuḥiiṭụna bisyaiim min ‘ilmihii illaa bimaa syaa, wasi’a kursiyyuhus-samaawaati wal-arḍ, wa laa yaụduhụ ḥifzuhumaa, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓiim.

    Aamanar Rasulu bimaa unzila ilayhi min Rabbihi wal mu’minun kullun aamana Billaahi wa Malaaikatihi wa Kutubihi wa Rusulih laa nufarriqu bayna ahadin min Rusulih wa qaalu sami’naa Wa ata’naa Ghufraanaka Rabbanaa wa Ilaikal masiir.

    Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa Maa kasabat wa ‘alayhaa maktasabat Rabbanaa laa tuaakhidhnaa in-nasiinaa aw akhta’naa Rabbanaa Wa laa tahmil ‘alaynaa isran kamaa hamaltahu ‘alal-ladhiina min qablinaa Rabbanaa wa laa Tuhammilnaa maa laa taaqata lanaa bih wa’fu ‘annaa wa’ghfir lanaa warhamnaa Anta Mawlaanaa Fa’nsurnaa ‘alal qawmil kaafiriin… Aamiin.

    Laa ilaaha Illallaahu Wahdahu laa shariika lahu Lahul Mulku wa Lahul Hamdu Yuhyii wa Yumiitu wa Huwa ‘alaa kulli shay’in Qadiir (3x).

    Subhaanallaahi wal Hamdu Lillaahi wa laa ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar (3x).

    Subhaanallaahi wa bi-Hamdihi subhaanallaahil ‘Aziim (3x).

    Rabbana’ghfir lanaa wa tub ‘alaynaa innaka Anta’t Tawwaab ur Rahiim (3x).

    Allaahumma Salli ‘alaa Muhammad Allaahumma Salli ‘alayhi wa Sallim (3x).

    A’udhu bi-Kalimaatillaahi’t taammaati min sharri maa khalaq (3x).

    Bismillaahilladhii laa yadurru ma’a Ismihi shay’un fil ardi wa laa fis-samaa’ wa Huwa’s Samii’ ul ‘Aliim (3x).

    Radiinaa Billaahi Rabbawwa bil Islaami diinaw wa bi Muhammad-in Nabiyyaa (3x).

    Bismillaahi wal Hamdu Lillaahi wal khayru wash sharru bi-Mashii’atillaah (3x).

    Aamannaa Billaahi wal Yawmil aakhir tubnaa iia llaahi baatinan wa zaahiraa (3x).

    Yaa Rabbanaa wa’fu ‘annaa wa’mhulladhii kaana minnaa (3x).

    Yaa Dhal Jalaali wal Ikraam amitnaa ‘alaa diinil Islaam (7x).

    Yaa Qawiyyu Yaa Matiinu ikfi sharraz-zaalimiin (3x).

    Aslaha llaahu umural Muslimiin Sarafallaahu sharral mu’dhiin (3x).

    Yaa ‘Aliyyu Yaa Kabiiru Yaa ‘Aliimu Yaa Qadiiru Yaa Samii’u Yaa Basiiru Yaa Latiifu Yaa Khabiir (3x).

    Yaa Faarij al-hammi Yaa Kaashifal-ghammy Yaa man li-‘abdihi Yaghfiru wa Yarham (3x).

    Astaghfirullaaha Rabbal-baraayaa Astaghfirullaaha min al-khataayaa (4x).

    Laa ilaaha Illallaah (50/100x, hingga 1000x).

    Muhammadur Rasulullahi Shalallahu ‘alayhi Wasallama wa sharrafa wa karrama wa majjada wa ‘azzama wa Radiya llahu ta’ala ‘an ‘ashabi Rasulillahi ‘ajma’iina wattabi’ina lahum bi’ihsaanin ‘ila yau middini wa’alaina ma’ahum birahmatika yaa ‘arhamar Rohimiin. Mutahhariin wa Ashaabihil Muhtadiin wat Taabi’iina lahum bi-ihsaanin ilaa yawmiddiin.

    Arti/Terjemah dari Bacaan Ratib Al-Haddad

    Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.

    Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.: “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.

    Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”

    Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya. Yang tidak mengantuk usahakan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar. (Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)

    Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadits yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan pikiran dan menambahkan iman.

    Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membedakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain”. Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahai Tuhan kami, dan kepadaMu jua lah tempat kembali” (Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)

    Diriwayatkan daripada Abu Mas’ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah S. A.W. pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.

    Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir” (Surah 2: al-Baqarah Ayat 286)

    Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah S. A.W., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya.

    Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi- Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu (3X).

    Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah S.A.W berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, dan menjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.”

    Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar (3X).

    Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah S. A. W. bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah.

    Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci Allah Yang Maha Agung (3X).

    Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah S.A.W. bersabda: Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: ‘SubhanAllah al-Azim dan ‘SubhanAllah wa bihamdihi.’”

    Ya Allah ampunilah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang (3X).

    Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90.

    Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dan kesejahteraan-Mu (3X).

    Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.

    Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah S.A.W. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.

    Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya (3X).

    Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah S.A.W. bersabda: “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”

    Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui (3X).

    Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad S.A.W bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.”

    Kami ridha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami (3X).

    Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.

    Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad S.A.W. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke surga.”

    Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah (3X).

    Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah S.A.W. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar. Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’ dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.

    Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada Allah batin dan zahir (3X).

    Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan “Taubat Nasuha”.

    Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah seumpama orang yang tiada apa-apa dosa.”

    Ya Tuhan kami, maafkan kami dan hapuskanlah apa-apa (dosa) yang ada pada kami (3X).

    Dari Tirmidzi dan Ibn Majah: Rasulullah S.A.W. berada di atas mimbar dan menangis lalu beliau bersabda: Mintalah kemaafan dan kesihatan daripada Allah, sebab setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesihatan.

    Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

    Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam agama Islam (7X).

    Sila rujuk ke no. 12. Moga-moga kita dimatikan dalam keadaan Islam. Dan dari Tirmidzi, Rasulullah S.A.W. menyatakan di dalam sebuah hadith bahawasanya sesiapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh keyakinan, doa itu pasti dikabulkan Allah.

    Wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang-orang yang zalim (3X).

    Seperti di atas); Merujuk hadits Rasulullah S. A. W., sesiapa yang tidak boleh mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mahu dicederakan akan bebas dari dicederakan musuhnya.

    Semoga Allah memperbaiki urusan kaum muslimin dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka mengganggu (3X).

    Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahawasanya Rasulullah S.A.W. bersabda: “Tiada seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya, melainkan akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.

    Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, lagi Maha Besar, Yang Maha Mengetahui lagi Sentiasa Sanggup, Yang Maha Mendengar lagi Melihat. Yang Maha Lemah-Lembut lagi Maha Mengetahui (3X).

    Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Serulah nama “Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan; kerana Allah mempunyai banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu.”

    Wahai Tuhan yang melegakan dari dukacita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya (3X).

    Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya bersama Rasulullah S. A. W., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta kerana segala pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah yang Pemberi Rahmat dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang Hidup dan Yang Tersendiri”. Rasulullah S. A. W. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan sebaik-baik nama-nama-Nya, Allah akan memakbulkannya kerana apabila diminta dengan nama-nama-Nya Allah akan memberi.

    Aku memohon keampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku memohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan (4X).

    Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

    Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah ampunan Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih.”

    Tiada Tuhan Melainkan Allah (50X).

    Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa Rasulullah S. A. W. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka kalau dia mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”

    Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Shalawat dan Kesejahteraan di atasnya dan keluarganya. Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta’ala meredhai akan sekalian keluarga dan sahabat Rasulullah, sekalian tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani.

    Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3X).

    Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah S.A.W. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah S. A. W berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”

    Dari Al-Muwatta’, diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah S. A. W., lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah surga bagi si pembaca itu).

    Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Diciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”. Surah Al-Falaq.

    Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah S. A.W. biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.

    Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas.

    Dari Tirmidzi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad S. A. W. selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.

    Kita membaca al-fatihah ini dengan niat semoga Allah menyampaikan pahalanya kepada ruh suci junjungan kita, kekasih dan pemberi syafaat kita, rasulullah, Muhammad putra abdillah, dan kepada keluarga, sahabat-sahabat, istri-istri, keturunan, dan ahli baitnya, dan kepada ruh suci sayyidina al-muhajir ahmad bin isa, dan kepada nenek moyang beserta anak cucunya, semoga Allah meninggikan derajat mereka di surga, memperbesar ganjaran mereka, melipat gandakan kebaikan mereka, dan melindungi kita dengan berkat kemuliaan mereka. Memberikan manfaat dan melimpahkan keberkahan, rahasia-rahasia, cahaya-cahaya, dan ilmu mereka kepada kita dalam urusan agama, dunia, dan akhirat, al-fatihah.

    Kita membaca al-fatihah ini dengan niat semoga Allah menyampaikan pahalanya kepada ruh suci junjungan guru kami yang mulia al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin al-Baalawi, nenek moyang dan anak cucu mereka, dan kepada semua pembesar keluarganya al-abaalwi dan nenek moyang beserta anak cucunya semoga Allah meninggikan derajat mereka di surga, memperbesar ganjaran mereka, melipat gandakan kebaikan mereka, memberikan manfaat dan melimpahkan keberkahan, rahasia-rahasia, cahaya dan ilmu mereka kepada kita, dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Al-fatihah.

    Kita membaca al-fatihah ini dengan niat semoga Allah menyampaikan pahalanya kepada arwa suci para penghulu kita, para sufi dimanapun arwa mereka berada, di timur atau barat, semoga Allah meninggikan derajat mereka di surga, memperbesar ganjaran mereka, melipat gandakan kebaikan mereka, dan melindungi kita dengan berkat kemuliaan mereka, memberikan manfaat dan melimpahkan keberkahan, rahasia-rahasia, cahaya-cahaya dan ilmu mereka kepada kita dalam urusan agama, dunia, dan akhirat al-fatihah.

    Kita membaca al-fatihah ini dengan niat semoga Allah menyampaikan pahalanya kepada ruh suci penyusun ratib ini syyidina quthub al-rasyid wa ghauts al-ibad habib abdillah bin alwi al-haddad, juga kepada nenek moyang dan anak cucu mereka, semoga Allah meninggikan derajat mereka di surga, memperbesar ganjaran mereka, melipat gandakan kebaikan mereka,dan melindungi kita dengan berkat kemuliaan mereka, memberikan manfaat dan melimpahkan keberkahan, rahasia-rahasia, cahaya, dan ilmu mereka kepada kita dalam urusan agama, dunia, dan akhirat al-fatihah.

    Kita membaca al-fatihah ini dengan niat semoga Allah melimpahkan pahalanya kepada arwa suci hamba-hamba Allah yang sakeh, orang-orang tua, guru-guru agama kita dan orang-orang yang mempunyai hak atas kita, serta orang-orang yang meninggal di negeri ini dari ahli “laa ilaaha illallah” dan untuk arwah orang yang meninggal dari kaum muslimin dan mereka yang masih hidup sampai hari akhirat kelak, semoga Allah mengampuni dan menyayangi mereka, melepaskan kesulitan kaum muslimin serta mengasihi merek, menyembuhkan penyakit mereka dan menyatukan mereka semua dalam petunjuk, melunakkan hati sesame mereka, menguasakan atas mereka orang-orang terbaik yang ada diantara mereka, dan menyelamatkan mereka dari (penguasaan) orang-orang jahat yang ada diantara mereka, dan melindungi kita dan mereka dari kejahatan fitnah, cobaan, dan dari gangguan orang-orang yang melampaui batas, dari dekat maupun jauh.

    elapangkan kehidupan mereka, memperlebat hujan mereka, dan mengabulkan semua hajat kita, hajat-hajat yang diridhai Allah dan rasul-Nya, dan membukakan bagi kita (ilmu pengetahuan dan ma’rifat) sebagaimana yang telah dibukakannya kepada orang-orang arif dan mengakhiri hidup kita dalam ridha-Nya, dalam kebaikan, kelembutan, dan keselamatan. Dan kepada junjungan kita nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Al-fatihah.

    Yaa Allah sungguh kami memohon kepada-Mu akan ridha dan surga-Mu, dan kami berlindung kepada-Mu dari kemarahan-Mu dan siksa api neraka.

    Yaa Allah, yang maha mengetahui segala rahasia kami, janganlah kiranya engkau buka tirai rahasia dari kami. Berikanlah kesehatan pada kami dan maafkanlah diri kami dimanapun kami berada.

    Semoga Allah membalaskan junjungan kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dari kami atas jasa-jasanya dengan balasan yang baik, semoga Allah membalaskan junjungan kami Muhammad sallallahu alihi wa sallam dari kami atas jasanya dengan balasan yang berhak diperolehnya.

    Penutup

    Demikianlah penjelasan yang sangat lengkap terkait wirid Ratib Al Hadad, mencakup teks aslinya dalam bahasa Arab, tulisan latin, dan terjemahannya dalam artikel ini. Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi semua pembaca.

    Kami berharap bahwa setiap orang yang membaca dan mengamalkan Ratib Al Hadad akan mendapatkan berkah yang luar biasa. Dengan begitu, kehidupan di dunia ini dan persiapan untuk akhirat akan terang benderang, sebagaimana sinar cahaya yang memancar melalui zikir Ratib Al Hadad.

    Kami juga ingin menyampaikan permintaan maaf apabila ada kesalahan atau ketidaktepatan dalam penjelasan dan tulisan kami. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan rahmat-Nya kepada kita semua.

  • 8 Doa Mohon Perlindungan dan Keselamatan pada Allah SWT

    8 Doa Mohon Perlindungan dan Keselamatan pada Allah SWT

    Membaca doa mohon perlindungan dapat membuat kita dijauhi dari marabahaya oleh Allah SWT.,baik itu bahaya berskala kecil atau besar.

    Bahkan Rasulullah SAW., menganjurkan umat-Nya untuk memohon doa perlindungan kepada Allah SWT., dalam hadis berikut ini:

    تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

    Artinya: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya qadha, serta kesenangan musuh atas musibah yang menimpa kalian.” (HR. Bukhari).

    Ada berbagai macam doa mohon perlindungan kepada Allah SWT., seperti yang dijelaskan di bawah ini:

    1. Doa mohon perlindungan untuk tolak bala

    Jika kamu ingin menolak bala atau terhindar dari bahaya, kamu bisa mengamalkan 4 surat pendek yang ada di dalam Al-Qur’an.

    Keempat surat tersebut bisa kamu gunakan sebagai dzikir. Berikut doa mohon perlindungan untuk tolak bala:

    • Membaca surat An-Nas 1 kali
    • Membaca surat Al-Falaq 1 kali
    • Membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 5 kali
    • Membaca surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali

    Baca juga: Doa Naik Kendaraan Darat, Udara, dan Laut, Amalkan Yuk!

    2. Doa mohon perlindungan dari orang jahat

    Ketika kamu ingin pergi ke luar rumah dan ingin meminta perlindungan dari orang jahat, berikut doanya:

    أَجْهَلَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُضَلَّ وْأَ أَضِلَّ أَنْ بِكَ أَعُوذُ إِنِّى اللَّهُمَّ عَلَىَّ يُجْهَلَ أَوْ

    Bacaan latin: Allahumma inni a-‘udzu bika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, janganlah sampai aku tersesat atau disesatkan (syaitan atau orang jahat), tergelincir atau digelincirkan orang lain, menganiaya atau dianiaya orang lain, dan berbuat bodoh atau dibodohi orang lain.” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi).

    3. Doa mohon perlindungan keselamatan dunia dan akhirat

    Meminta perlindungan dari Allah SWT., tidak hanya untuk masalah duniawi saja, melainkan sebagai umat muslim juga harus meminta perlindungan akhirat. Sebab, hanya kepada-Nya kita bisa berlindung. Berikut bacaan doa keselamatan dunia dan akhirat:

    Bacaan latin: “Allahumma innaa nas-aluka salaamatan fid diini wa ‘afiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wa barokatan fir rizqi wa taubatan qablal mauti wa rohmatan ‘indal mauti wa maghfirotan ba’dal mauti, allahummaa hawwin ‘alainaa fil sakaraatil mauti wannajaata minan naari wal ‘afwa ‘indal hisaabi, rabbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa mil ladunka rahma, innaka antal wahhaab, rabbanaa aatinaa fiddunnyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaa ban naar.”

    Artinya: “Ya Allah kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama dan kesejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rezeki, serta tobat sebelum mati dan rahman di waktu mati, serta keampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkanlah kami saat pencabutan nyawa selamat dari api neraka dan mendapat kemaafan ketika amal diperhitungkan. Ya Allah, janganlah Engkau goyahkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.”

    4. Doa mohon perlindungan terhindar dari bahaya

    Kamu juga bisa meminta perlindungan dari bahaya apapun. Atau bisa di bilang bacaan doa di bawah ini adalah doa terhindar dari bahaya secara umum.

    سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

    Bacaan latinSubhaanal ladzii sakhhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamungqolibuuna.

    Artinya: “Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    Baca juga: Doa Memakai dan Melepas Pakaian Sesuai Sunnah, Latin dan Artinya

    5. Doa mohon perlindungan dari takdir buruk

    Takdir buruk tidak bisa kita hindari karena hanya Allah SWT., yang tahu tentang masa depan hamba-Nya. Namun, kita bisa menghindari takdir buruk dengan mengamalkan doa di bawah ini setiap hari:

    اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.

    Bacaan latin: Allahumma innii a-‘uudzubika min jahdil balaa-i, wa darakisy syaqaa-i, wa suu-il qadhaa-i, wa syamaatatil a’daa-i.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala (bencana), hinanya kesengsaraan, keburukan qadha’ (takdir), dan kegembiraan para musuh.” (HR Bukhari dan Muslim).

    6. Doa mohon perlindungan dari malapetaka

    Malapetaka adalah sebuah bahaya atau kesialan yang kita tidak tahu kapan datangnya. Maka dari itu, kamu bisa meminta pertolongan-Nya untuk terhindar dari malapetaka, seperti bacaan doa berikut ini:

    Bacaan latin: “Rabbi a’udzubika min hamazatisy syayathini wa a’udzubika rabbi ay yahdlurun.”

    Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada Engkau yang Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.”

    7. Doa mohon perlindungan untuk keselamatan keluarga

    Terkadang kita takut terjadi apa-apa kepada keluarga. Terlebih, kita tidak bisa memantau keluarga selama 24 jam.

    Oleh karena itu, kamu bisa meminta perlindungan dari Allah SWT., untuk keluarga yang kita sayang dengan mengamalkan doa berikut ini:

    اللهـم ادفع عنا الغلاء والبلاء والوباء والفحشاء والمنكر والشيوف المختلفة والشدائد والمحن ما ظهر منها وما بطن من بلدنا هذا خاصة ومن بلدان المسلمين عامة إنك على كل شيئ قدير

    Bacaan latin: Allaahummadfa’ ‘annal ghalaa-a, wal balaa-a, wal wabaa-a, wal fahsyaa-a, wal munkara, was-suyuufal mukhtalifata, wasy-syadaa-ida, wal mihana maa zhahara minhaa, wa maa baathana min baladinaa haadzaaa khaassatan, wa min buldaanil muslimiina’aammatan. Innaka’alaa kulli syai’in qadiir.

    Artinya: “Ya Allah, hindarkanlah kami dari malapetaka, bala, dan bencana, kekejian dan kemungkaran, sengketa yang beraneka. kekejaman dan peperangan, yang tampak dan tersembunyi dalam negara kami khususnya, dan dalam negara kaum muslimin umumnya. Sesungguhnya Engkau, Ya, Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

    8. Doa mohon perlindungan untuk keselamatan beragama

    Sebagai umat muslim tentunya kita menghadapi banyak godaan agar kita jauh dari agama. Bahkan melenceng dari agama, seperti musyrik. Nah, agar bisa diselamatkan dalam beragama, kamu bisa membaca doa berikut ini:

    اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ

    تِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ سَكَرَا هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ

    Bacaan latin: “Allahumma inna nas aluka salamatan fiddiini wa ‘aafiyatan fil jasadi waziaadatan fil’ilmi wabarakatan firrizqi wataubatan qablal maut warahmatan ‘indal maut wamaghfiratan ba’dal maut allahumma hawwin’alainaa fii sakaraatil maut wa najjata minanaari wal’afwa indal hisaab

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan ketika beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut.”

    Itulah Doa Mohon Perlindungan dan Keselamatan pada Allah SWT yang bisa kita amalkan. Dekatkan diri pada Allah SWT agar hidup lebih mudah dan selamat dunia akhirat.

  • Cara Menjamak Sholat Dzuhur di Waktu Ashar dan Syarat Sahnya

    Cara Menjamak Sholat Dzuhur di Waktu Ashar dan Syarat Sahnya

    Cara menjamak sholat Dzuhur di waktu Ashar sebenarnya cukup sederhana, yaitu dengan mengucapkan niat sholat Dzuhur dan Ashar secara jamak, lalu melaksanakan sholat Dzuhur dan dilanjut dengan sholat Ashar tanpa jeda dengan raka’at yang sama.

    Seperti yang kita tahu bahwa Allah SWT., memudahkan umat-Nya untuk melakukan segala sesuatu. Salah satunya adalah menjamak sholat.

    Menggabungkan atau menjamak sholat adalah sebuah solusi untuk melaksanakan sholat dalam situasi yang sulit, seperti perjalanan jauh ataupun dalam kondisi bahaya.

    Pada artikel ini, akan membahas cara menjamak sholat Dzuhur di waktu Ashar secara mendalam lengkap dengan syarat sahnya!

    Apa itu Sholat Jamak?

    Ketika sedang membahas cara menjamak sholat Dzuhur di waktu Ashar, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas apa itu sholat jamak, jenis-jenisnya hingga kondisi yang diperbolehkan untuk sholat jamak yang akan dibahas di bawah ini!

    Menurut bahasa, sholat jamak artinya mengumpulkan. Sementara itu, pengertian sholat jamak secara harfiah adalah mengumpulkan dua sholat fardhu atau wajib yang dikerjakan dalam satu waktu.

    Contohnya yaitu menggabungkan sholat Dzuhur dan Ashar dan dikerjakan pada waktu sholat Dzuhur atau Ashar, atau menggabungkan sholat Maghrib dan Isya dan dikerjakan pada waktu sholat Maghrib atau Isya.

    Sholat fardhu yang boleh dijamak hanya sholat Dzuhur dan Ashar, atau Sholat Maghrib dan Isya. Khusus untuk sholat Subuh tidak boleh dijamak dengan sholat fardhu lainnya dan harus tetap pada waktunya.

    Sholat jamak bisa disebut dengan rukhshah (keringanan) dari Allah kepada umat-Nya untuk melaksanakan sholat dalam situasi yang tidak memungkinkan.

    Sholat jamak sendiri hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan kepada orang-orang yang sudah memenuhi syarat.

    Baca juga: 250 Nama Bayi Perempuan Islam dan Artinya Terlengkap

    2 Jenis Sholat Jamak

    1. Jamak Taqdim

    Jamak taqdim adalah menggabungkan dua sholat fardhu dan dikerjakan pada waktu sholat awal atau pertama. Dua contoh jamak taqdim adalah sebagai berikut:

    • Mengumpulkan sholat Dzuhur dan Ashar dan dikerjakan pada waktu sholat Dzuhur.
    • Mengumpulkan sholat Maghrib dan Isya dan dikerjakan pada waktu sholat Maghrib.

    2. Jamak Takhir

    Jamak takhir adalah menggabungkan dua sholat fardhu dan dikerjakan pada waktu sholat kedua atau terakhir. Dua contoh jamak takhir adalah sebagai berikut:

    • Mengumpulkan sholat Dzuhur dan Ashar dan dikerjakan pada waktu sholat Ashar.
    • Menggabungkan sholat Maghrib dan Isya dan dikerjakan pada waktu sholat Isya.

    Berdasarkan informasi di atas, artikel ini akan membahas sholat jamak takhir Dzuhur dan Ashar.

    3 Kondisi yang Diperbolehkan untuk Sholat Jamak

    3 Kondisi yang Diperbolehkan untuk Sholat Jamak

    1. Saat melaksanakan ibadah haji

    Ketika kamu sedang melaksanakan ibadah haji dan cukup kesulitan untuk melakukan sholat wajib, diperbolehkan lho menjamak sholat. Bahkan, umat muslim disyariatkan untuk menjamak sholat dalam keadaan seperti ini.

    2. Saat melakukan perjalanan jauh atau menjadi musafir

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musafir adalah seseorang yang berpergian untuk meninggalkan negerinya selama tiga hari atau lebih.

    Namun, di dalam Islam menjamak sholat tidak harus berpergian ke luar negeri, boleh menempuh perjalanan antar kota asalkan memenuhi ketentuan sebagai berikut:

    • Menempuh perjalanan jauh bukan untuk hal-hal maksiat.
    • Jarak perjalanan minimal harus mencapai farsakh atau sekitar 80 km.
    • Melakukan sholat jamak masih berada di dalam perjalanan.
    • Boleh melakukan sholat jamak setelah keluar dari batas desa.
    • Melakukan sholat jamak tidak boleh makmum dengan orang mukim.

    Baca juga: 700 Nama Bayi Laki-laki Islami dan Artinya Lengkap

    3. Berada di dalam kondisi bahaya

    Hidup itu dinamis. Kita tidak ada yang tahu kedepannya bagaimana. Jadi jika kamu nantinya atau sedang dalam kondisi bahaya, seperti bencana alam atau peperangan, maka diperbolehkan untuk menjamak sholat.

    4 Tata Cara Menjamak Sholat Dzuhur di Waktu Ashar

    1. Membaca niat menjamak sholat Dzuhur dan Ashar menggunakan jamak takhir

    Membaca niat sebelum melakukan kegiatan sehari-hari, seperti sebelum tidur, belajar, makan, mandi, ke luar rumah dan lain-lain, sangat penting untuk dilakukan. Apalagi sebelum melaksanakan ibadah.

    Pasalnya, niat menjadi syarat sahnya sholat, sehingga jika tidak dilakukan, maka sholat kita menjadi tidak sah. Berikut niat sholat jamak takhir Dzuhur dan Ashar:

    جَمْعَتأخِيْرٍلِلهِتَعَالَىصَلِّىفَرْضَالظُّهْرِأَرْبَعَرَكَعَاتٍمَجْمُوْعًابِالْعَصْرِأُ

    Usholli fardhol zhuhri arba’a roka’atin majmu’an bil’ashri jam’a takhirin lillahi ta’alaa.

    Artinya: “Saya niat shalat fardhu Dzuhur empat rakaat dijama’ bersama Ashar dengan jamak ta’khir karena Allah Ta’ala”

    Baca juga: Kandungan Surat Al-Maidah Ayat 48: Arab-latin, Arti, dan Hukum Tajwidnya

    2. Mengerjakan sholat Dzuhur secara lengkap empat rakaat yaitu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam

    3. Berdiri lagi dan membaca niat sholat yang kedua yaitu Ashar

    Setelah selesai mengerjakan sholat Dzuhur, lanjut berdiri lagi untuk mengerjakan sholat Ashar. Mulai dengan membaca niat shoalt Ashar.

     لِلهِتَعَالَىجَمْعَتأخِيْرٍلظُّهْرِبِالْ مَجْمُوْعًا رَكعَاتٍ أربع العَصْرِ فَرْضَ أُصَلِّي

    Usholli fardhol ‘ashri arba’a roka’atin majmu’an bil zhuhri jam’a takhirin lillahi ta’alaa.

    Artinya: “Saya niat shalat fardhu Ashar empat rakaat dijama’ bersama Dzuhur dengan jamak ta’khir karena Allah Ta’ala”

    4. Mengerjakan sholat Ashar secara lengkap empat rakaat yaitu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam

    5 Syarat Sah Sholat Jamak Dzuhur di Waktu Ashar

    1. Niat

    Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa niat merupakan salah satu syarat sah sholat. Niat menjadi elemen penting dalam melakukan segala sesuatu karena menjadi pembeda antara ibadah dan aktivitas biasa.

    Membaca niat artinya kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan hal yang ingin kita lakukan. Maka tak heran jika kita melafalkan niat dengan baik, kita akan mendapatkan pahala dari Allah SWT., dan sebagai sarana mendekatkan diri pada-Nya.

    Namun, akan berlaku sebaliknya jika kita melewati atau tidak mengucapkan niat dengan baik karena sholat kita tidak akan dianggap sah. Maka dari itu, jangan lupa untuk membaca niat saat sholat, ya!

    2. Tertib

    Tertib di sini maksudnya adalah menjalankan sholat pada waktu yang telah ditentukan, yaitu setelah adzan sholat Ashar berkumandang.

    Serta harus sesuai dengan tata cara di atas, yakni mulai dari niat menjamak hingga salam.

    3. Bersambung

    Pada syarat sah yang ketiga menegaskan bahwa dalam melaksanakan sholat jamak harus berurutan dan tidak dipisah antara dua sholat yang digabungkan dengan jarak yang panjang atau tanpa jeda, seperti misalkan tidak boleh untuk memisahkan rakaat dalam satu sholat.

    Hal tersebut karena menjamak sholat artinya menggabungkan dua sholat menjadi satu sholat, sehingga harus ada berkesinambungan, seperti raka’at dalam sholat.

    Maka dari itu, jika sholat jamak dijeda oleh jarak yang panjang, contohnya adalah karena lupa atau pingsan, maka sholatnya menjadi batal dan wajib diakhiri karena syarat untuk menjamak sholat sudah hilang.

    4. Terus berada di perjalanan hingga takbiratul ihram pada sholat kedua

    Maksudnya adalah jika kamu sudah melaksanakan sholat jamak hingga takbiratul ihram pada sholat kedua dan perjalanan baru berhenti, sholat tersebut masih dianggap sah.

    Namun, jika sebaliknya yaitu perjalanan berhenti sebelum dimulainya sholat kedua, maka sholat tersebut harus berhenti karena hilangnya syarat sah sholat jamak.

    5. Mendahulukan sholat pertama daripada sholat kedua

    Seperti misalkan mendahulukan sholat Dzuhur daripada Ashar atau mendahulukan sholat Maghrib daripada Isya.

    Hingga pada tahap ini sudah tahu cara menjamak sholat Dzuhur di waktu Ashar? Jikas masih belum jelas, jangan sungkan untuk berkomentar ya.

  • Hukum Lelang dalam Islam,Ini Menurut Para Ulama

    Hukum Lelang dalam Islam,Ini Menurut Para Ulama

    Di dalam proses transaksi jual beli, istilah lelang pasti sudah tidak asing di telinga kita semua. Namun, bagaimana hukum lelang dalam Islam? Apakah diharamkan atau malah sebaliknya?

    Untuk tahu jawabannya, yuk simak artikel berikut ini sampai habis!

    Mengenal Lelang

    Lelang adalah suatu proses jual beli barang atau jasa dengan cara menawarkan harga tertinggi kepada penjual. Lelang sering digunakan untuk menjual barang-barang langka, berharga, atau terbatas, seperti barang seni, tanaman, hewan, atau properti.

    Lelang juga dapat digunakan untuk menjual barang-barang bekas, seperti kendaraan, peralatan, atau barang sitaan.

    Dalam Islam, lelang dikenal dengan istilah muzayadah (مزايدة), yang berarti saling menambah atau menawar harga. Jual beli muzayadah ini telah dikenal sejak zaman sahabat Nabi Muhammad SAW dan mendapat persetujuan dari beliau.

    Jenis-Jenis Lelang dalam Islam

    Jenis-jenis lelang dalam Islam dapat dibedakan berdasarkan obyek, harga, dan tujuan lelang, yaitu sebagai berikut:

    1. Lelang barang (bai’ musawamah)

    Lelang yang obyeknya adalah barang, seperti barang seni, tanaman, hewan, properti, atau barang sitaan. 

    Lelang ini dilakukan dengan cara penjual menawarkan barang kepada pembeli tanpa menyebutkan harga awal, kemudian pembeli menawar harga sesuai dengan kemampuan dan keinginannya.

    2. Lelang jasa (ijarah)

    Lelang yang obyeknya adalah jasa, seperti jasa konstruksi, konsultasi, desain, atau lainnya. 

    Lelang ini dilakukan dengan cara pembeli menawar jasa yang dibutuhkan dengan spesifikasi tertentu, kemudian penjual berlomba-lomba menawar jasa dengan harga dan kualitas terbaik.

    3. Lelang proyek (bai’ munaqashah)

    Lelang yang obyeknya adalah proyek, seperti proyek pembangunan, pengadaan, atau lainnya.

    Lelang ini dilakukan dengan cara pembeli menetapkan anggaran dan persyaratan proyek, kemudian penjual berlomba-lomba menawar proyek dengan harga terendah dan kualitas terbaik.

    4. Lelang harga naik (bai’ muzayadah)

    Lelang yang harga obyeknya cenderung semakin naik seiring dengan penawaran pembeli. Lelang ini dilakukan dengan cara penjual menawarkan barang secara umum di pasar atau tempat lelang.

    Kemudian, pembeli berlomba-lomba menawar harga lebih tinggi dari penawar sebelumnya. Barang dinyatakan terjual untuk pembeli yang menawar dengan harga tertinggi.

    5. Lelang harga turun (bai’ munaqashah)

    Lelang yang harga obyeknya cenderung semakin turun seiring dengan penawaran penjual. Lelang ini dilakukan dengan cara pembeli menawar barang yang masih diketahui sifat dan ukurannya secara jelas.

    Kemudian, penjual berlomba-lomba menawar harga lebih rendah dari penawar sebelumnya. Barang dinyatakan terjual untuk penjual yang menawar dengan harga terendah.

    Lelang amal (bai’ al-infaq)

    Lelang yang tujuannya adalah untuk mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial, kemanusiaan, atau keagamaan. Lelang ini dilakukan dengan cara penjual menawarkan barang atau jasa yang bernilai tinggi atau langka.

    Kemudian, pembeli berlomba-lomba menawar harga sebesar-besarnya untuk mendapatkan barang atau jasa tersebut. Hasil lelang disumbangkan untuk kepentingan umum.

    Hukum Lelang dalam Islam

    Berikut adalah hukum lelang dalam Islam berdasarkan hadis dan para ulama:

    1. Hadis dari Anas bin Malik RA

    Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: “

    Artinya: “Ada seorang Anshar datang kepada Nabi SAW mengeluhkan keadaannya karena tidak punya uang. Nabi SAW bertanya: ‘Apakah kamu tidak punya sesuatu di rumahmu?’

    Orang itu menjawab: ‘Hanya ada sedel pelana dan gelas.’ Nabi SAW berkata: ‘Bawalah keduanya kepadaku.’ Kemudian Nabi SAW menawarkan keduanya kepada para sahabat dengan berkata: ‘Siapa yang mau membeli ini?’ Seorang sahabat berkata: ‘Saya akan membelinya dengan satu dirham.’ Nabi SAW berkata: ‘Siapa yang mau menambah lebih dari satu dirham?’

    Tidak ada yang menjawab. Nabi SAW mengulangi pertanyaannya tiga kali, kemudian seorang sahabat lain berkata: ‘Saya akan membelinya dengan dua dirham.’ Nabi SAW berkata: ‘Ambillah barang ini dan berikan dua dirhamnya kepada orang ini.’” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

    Hadis di atas menunjukkan bahwa hukum lelang dalam Islam diperbolehkan karena Nabi Muhammad SAW melakukan jual beli muzayadah dengan cara menawarkan barang kepada orang yang mau menambah harga lebih dari harga awal.

    Hadis tersebut juga menunjukkan kepedulian Nabi SAW terhadap orang yang membutuhkan bantuan.

    Baca juga: Bacaan Doa Kanzul Arsy Arab Latin Lengkap dengan Artinya

    2. Keterangan dari ulama tabiin

    Imam Atha bin Abi Rabah (w. 114 H), salah seorang ulama tabiin, berkata: “Saya menjumpai para manusia (sahabat) yang mereka melakukan jual beli ghanimah (harta rampasan perang) kepada man yazid (orang yang menambah harga).” (Diriwayatkan oleh Imam Thahawi)

    Keterangan di atas menunjukkan bahwa hukum lelang dalam Islam adalah diperbolehkan karena jual beli muzayadah telah dikenal dan dipraktikkan oleh para sahabat dan tabiin, terutama untuk menjual harta rampasan perang dan warisan.

    3. Pendapat para ulama fiqih

    Para ulama fiqih dari berbagai madzhab sepakat bahwa jual beli muzayadah adalah boleh dan sah dalam syariat Islam, asalkan memenuhi syarat dan rukun jual beli secara umum, seperti adanya ijab qabul (penawaran dan penerimaan), adanya barang yang dijual dan uang yang dibayar, serta adanya kerelaan dan kejelasan dari kedua belah pihak.

    Ketentuan Khusus Lelang dalam Islam

    Para ulama fiqih memberikan beberapa ketentuan khusus untuk jual beli muzayadah, antara lain:

    • Barang yang dilelang harus ada dan terlihat oleh pembeli, atau setidaknya diketahui sifat dan ukurannya secara jelas.
    • Penjual harus memberikan batas waktu untuk penawaran harga, agar pembeli tahu kapan harus mengajukan penawaran terakhirnya.
    • Pembeli tidak boleh menawar barang yang sudah ditawar orang lain, kecuali jika orang tersebut mengundurkan diri atau menyerahkan haknya kepada pembeli lain.
    • Pembeli tidak boleh menarik kembali penawarannya setelah disetujui oleh penjual, kecuali jika ada cacat atau unsur penipuan pada barang yang dilelang.
    • Penjual tidak boleh menaikkan harga barang setelah disepakati oleh pembeli, kecuali jika ada kesepakatan baru antara keduanya.

    Jika sudah membaca pada tahap ini, seharusnya sudah paham mengenai hukum lelang dalam islam. Semoga mencerahkan.

  • Hukum Pajak dalam Islam, Dari berbagai Sudut Pandang

    Hukum Pajak dalam Islam, Dari berbagai Sudut Pandang

    Hukum pajak dalam Islam wajib untuk diketahui bagi kamu seorang Muslim. Pasalnya, membayar pajak sudah menjadi kewajiban jika dilihat dari sisi pemerintah. Namun, banyak yang bertanya-tanya, apakah pajak itu sesuai dengan ajaran Islam?

    Bagaimana hukumnya membayar pajak dan bekerja di bidang perpajakan? Apa saja macam-macam pajak yang ada dalam Islam dan bagaimana perbedaannya dengan pajak yang berlaku di Indonesia saat ini?

    Berikut ini adalah beberapa sudut pandang yang dapat membantu kita memahami masalah pajak dalam Islam.

    Pengertian Pajak

    Pajak adalah suatu pungutan yang dikenakan oleh negara atau pemerintah kepada rakyat untuk membiayai kepentingan umum, terutama ketika tidak ada kas di dalam baitul mal.

    Pajak di dalam Islam harus sesuai dengan syariat, keadilan, kemaslahatan, dan kesepakatan antara penguasa dan rakyat. Pajak menurut syariat Islam juga harus digunakan untuk tujuan-tujuan yang halal, bermanfaat, dan transparan.

    Pajak dalam bahasa Arab disebut dengan istilah Dharibah, Al-Usyr, Al-Maks, atau Al-Kharaj. Istilah-istilah ini memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung pada konteks dan jenis pajak yang dimaksud. Berikut ini adalah beberapa definisi pajak dalam Islam dari berbagai sumber:

    1. Menurut Yusuf Qardhawi

    Pajak adalah kewajiban yang ditetapkan terhadap wajib pajak yang harus disetorkan kepada negara sesuai dengan ketentuan, tanpa mendapat prestasi kembali dari negara, dan hasilnya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum di satu pihak dan untuk merealisasi sebagian tujuan ekonomi, sosial,politik dan tujuan-tujuan lain yang ingin dicapai oleh negara.

    2. Menurut Gazi Inayah

    Pajak adalah kewajiban untuk membayar tunai yang ditentukan oleh pemerintah atau pejabat berwenang yang bersifat mengikat tanpa adanya imbalan tertentu. 

    Ketentuan pemerintah ini sesuai dengan kemampuan si pemilik harta dan dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan pangan secara umum, serta untuk memenuhi tuntutan politik keuangan bagi pemerintah.

    3. Menurut Abdul Qadim Zallum

    Pajak adalah harta yang diwajibkan Allah Swt. Kepada kaum muslimin untuk membiayai berbagai kebutuhan dan pos-pos pengeluaran yang memang diwajibkan atas mereka pada kondisi baitul mal tidak ada uang atau harta.

    4. Menurut Imam Al-Ghazali dan Imam Al-Juwaini

    Pajak adalah apa yang diwajibkan oleh penguasa (pemerintahan muslim) kepada orang-orang kaya dengan menarik dari mereka apa yang dipandang dapat mencukupi (kebutuhan Negara dan masyarakat secara umum) ketika tidak ada kas di dalam baitul mal.

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Tayamum yang Benar Agar Sholat Sah

    Macam-Macam Pajak

    Macam-macam pajak adalah berbagai jenis pungutan yang dikenakan oleh negara atau pemerintah kepada rakyat untuk membiayai kepentingan umum.

    Pajak memiliki fungsi anggaran, regulasi, pemerataan, dan stabilisasi. Pajak juga memiliki berbagai kriteria dan karakteristik yang membedakannya.

    Berdasarkan instansi pemungutnya, macam-macam pajak di Indonesia dibedakan menjadi pajak negara dan pajak daerah, yaitu sebagai berikut:

    1. Pajak negara

    Pajak negara adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat secara nasional. Pajak negara terdiri dari:

    A. Pajak Penghasilan (PPh)

    PPh yaitu pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atau badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak.

    B. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM)

    PPN dan PPnBM yaitu pajak yang dikenakan atas konsumsi dan transaksi jual beli barang dan jasa tertentu.

    C. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

    PBB yaitu pajak yang dikenakan atas kepemilikan, pemanfaatan, atau penguasaan tanah dan/atau bangunan.

    D. Bea Materai

    Bea Materai yaitu pajak yang dikenakan atas pemanfaatan dokumen tertentu, seperti surat perjanjian, akta notaris, kwitansi pembayaran, surat berharga, dan efek.

    E. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

    BPHTB yaitu pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan melalui jual beli, hibah, waris, atau cara lainnya.

    Baca juga: Hadits Memuliakan Tamu dan Adab Menerima Tamu dalam Islam, Yuk Amalkan!

    2. Pajak daerah

    Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah provinsi atau kabupaten/kota secara lokal. Pajak daerah terdiri dari:

    A. Pajak provinsi

    Pajak Provinsi yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah provinsi, seperti pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air permukaan, dan pajak tembakau.

    B. Pajak kabupaten/kota

    Pajak kabupaten/kota yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota, seperti pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, dan pajak parkir.

    Hukum Pajak dalam Islam

    Ada berbagai hukum pajak di dalam agama Islam, berikut hukumnya:

    1. Sudut Pandang yang Mengharamkan Pajak

    Sudut pandang ini berpendapat bahwa pajak adalah haram dan tidak boleh dikenakan kepada kaum Muslimin, karena pajak merupakan bentuk penzaliman dan pengambilan harta tanpa kerelaan dari pemiliknya. Pendapat ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya adalah:

    A. Hadis Riwayat Imam Ahmad

    Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

    “Janganlah kalian berbuat zhalim (beliau mengucapkannya tiga kali). Sesungguhnya tidak halal harta seseorang Muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya.” (HR. Imam Ahmad V/72 no.20714, dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Jami’ush Shagir no.7662, dan dalam Irwa’al Ghalil no.1761 dan 1459).

    B. Surat An-Nisa

    Allah SWT berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29).

    C. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

    Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian mengambil sesuatu yang bukan hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyakan hal itu pada kalian pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2417 dan Muslim no. 1832).

    Pendapat ini juga mengatakan bahwa pajak tidak diperlukan karena umat Islam telah memiliki sistem zakat yang lebih sempurna dan adil untuk menyejahterakan masyarakat dan memenuhi kebutuhan negara.

    Zakat adalah kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, sedangkan pajak adalah buatan manusia yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kepentingan penguasa.

    2. Sudut Pandang yang Memperbolehkan Pajak

    Sudut pandang ini berpendapat bahwa pajak adalah boleh dan wajib dibayar oleh kaum Muslimin, karena pajak merupakan salah satu bentuk kontribusi kepada negara dan masyarakat. Pendapat ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya adalah:

    A. Hadis Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian lima hal: shalat, zakat, haji, puasa, dan taat kepada penguasa.” (HR. Ahmad no. 17344, Abu Dawud no. 4278, Ibnu Majah no. 2864, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3588).

    B. Surat An-Nisa

    Allah SWT berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa: 59).

    C. Hadis Riwayat Bukhari Muslim

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa yang mendengar dan taat kepada penguasa (walaupun ia seorang budak Habsyi), maka ia termasuk orang-orang yang mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7142 dan Muslim no. 1838).

    Pendapat ini juga mengatakan bahwa pajak diperlukan untuk menambah sumber pendapatan negara dan masyarakat, terutama di zaman modern yang penuh dengan tantangan dan kebutuhan.

    Zakat saja tidak cukup untuk membiayai semua sektor, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pertahanan, dan lain-lain. Pajak juga dapat menjadi sarana untuk mengatur perekonomian dan mengurangi kesenjangan sosial.

    3. Sudut Pandang yang Bersyarat

    Sudut pandang ini berpendapat bahwa pajak adalah boleh dan wajib dibayar oleh kaum Muslimin, tetapi dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut adalah:

    • Pajak harus ditetapkan oleh pemerintah yang sah dan adil, yang menerapkan syariat Islam dan menjaga kepentingan umat.
    • Pajak harus disepakati oleh rakyat atau perwakilannya, dengan cara musyawarah atau demokrasi.
    • Pajak harus sesuai dengan kemampuan dan kewajiban rakyat, tanpa memberatkan atau merugikan mereka.
    • Pajak harus digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan umum, tidak untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
    • Pajak harus transparan dan akuntabel, tidak ada penyelewengan atau korupsi.

    Pendapat ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya adalah:

    A. Hadis Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah SWT berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bermusyawarah.” (HR. Abu Dawud no. 2928, Tirmidzi no. 2166, Ibnu Majah no. 36, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2463).

    B. Surat Ali Imran

    Allah SWT berfirman:

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran:104).

    C. Hadis Riwayat Muslim

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya; dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim no. 49).

    Pendapat ini juga mengatakan bahwa pajak harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam, seperti keadilan, keseimbangan, kemaslahatan, dan kesederhanaan. Pajak juga harus memperhatikan hak-hak rakyat, seperti hak milik, hak hidup, hak beribadah, dan hak bersosial.

    Kesimpulan

    Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum pajak dalam Islam tidaklah mutlak, tetapi bergantung pada berbagai faktor dan kondisi. Oleh karena itu, kaum Muslimin harus bersikap bijaksana dan kritis dalam menyikapi masalah pajak ini.

    Umat Islam harus membayar pajak jika memenuhi syarat-syarat syar’i dan bermanfaat bagi negara dan masyarakat. Namun, umat Muslim juga harus menolak pajak jika bertentangan dengan syariat Islam dan merugikan diri sendiri atau orang lain.

  • Kumpulan Doa Nabi Yusuf, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya

    Kumpulan Doa Nabi Yusuf, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya

    Ada berbagai macam doa yang bisa diamalkan oleh umat muslim. Salah satunya adalah doa Nabi Yusuf. Seperti yang kita tahu bahwa Nabi Yusuf dikenal memiliki paras yang rupawan dan berakhlak mulia.

    Meski begitu, sejak kecil Nabi Yusuf sering dimusuhi oleh saudara-saudaranya. Tak hanya itu, cobaan demi cobaan telah dilalui oleh Nabi berparas tampan yang satu ini.

    Akan tetapi, Nabi Yusuf berhasil melewati berbagai cobaan yang menghadanginya dan berbagai macam fitnah berkat doa di bawah ini.

    Ingin tahu doa apa saja yang dipanjatkan oleh Nabi Yusuf selama menghadapi cobaan hidup? Yuk, ketahui jawabannya di bawah ini!

    5 Doa Nabi Yusuf yang Bisa Diamalkan

    Diketahui bahwa kisah hidup Nabi Yusuf tercantum di dalam Al-Qur’an. Sebuah keistimewaan yang diperoleh beliau dari Allah SWT.

    Selama menjalani hidupnya, Nabi Yusuf sering memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dipermudah dalam kesulitan dan terhindar dari berbagai fitnah. Berikut kumpulan doa Nabi Yusuf yang bisa kamu amalkan setiap hari!

    1. Doa Nabi Yusuf agar wajah bercahaya dan dicintai banyak orang

    الَّلهُمَّ جَئَلْنِى نُوْرُ يُوْسُفَ عَلَى وَجْهِي فَمَنْ رَ اَنِى يُحِبُّنِي مَحَبَّتَنْي

    Bacaan latin: Allaahummaj’alnii nuuru yusufa ala wajhii fa man ro aanii yuhibbunii mahabbatan.

    Artinya:  “Ya Allah, jadikanlah Nur cahaya Nabi Yusuf pada wajahku, dan bagi siapa yang melihat akan menjadi kagum serta memiliki cinta kasih kepadaku.”

    Pada bacaan doa di atas bisa kamu amalkan untuk memancarkan aura wajah agar terlihat lebih menawan dan menarik hingga dapat dicintai oleh semua orang.

    2. Doa Nabi Yusuf Saat Bercermin

    Doa Nabi Yusuf saat bercermin

    اَلَّلهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ

    Bacaan latin: Allahumma kamaa hassanta khalqii fa hassin khuliqi.

    Artinya: “Ya Allah sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku.”

    Doa saat bercermin ini bisa kamu amalkan ketika sedang bercermin agar diberikan rasa syukur karena Allah SWT telah memberikan rupa dan akhlak yang baik.

    3. Doa agar terhindar dari perbuatan maksiat

    قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

    Bacaan latin: Qāla rabbis-sijnu aḥabbu ilayya mimmā yad’ụnanī ilaīh, wa illā taṣrif ‘annī kaidahunna aṣbu ilaihinna wa akum minal-jāhilīn

    Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

    Cerita di balik dari doa di atas adalah saat Nabi Yusuf mendapatkan sebuah ujian godaan dari istri pembesar Mesir atau ibu angkatnya.

    Si wanita tersebut terus menggoda Nabi Yusuf, namun ia tidak tergoda karena memanjatkan doa di atas untuk meminta perlindungan dari Allah SWT agar dijauhkan dari godaan setan dan hawa nafsu.

    Kamu juga bisa mengamalkan doa tersebut agar tidak terjerumus pada perbuatan maksiat. Terkadang, sebagai manusia biasa selalu ada hal-hal yang membuat kita jauh dari agama atau terjerumus pada perbuatan maksiat.

    Untuk itu, tidak ada salahnya memanjatkan doa di atas setiap kali iman kamu goyah. Sebab, sebaik-baiknya pertolongan adalah perlindungan dari Allah SWT.

    Baca juga: Hukum Bacaan Iqlab: Pengertian, Cara Baca dan Contohnya

    4. Doa agar terhindari dari ajakan maksiat

    مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

    Bacaan latin: “Ma’adzallah, innahu rabbii ahsana matswaaya, wainnahu laa yuflihudza-dzaalimin.”

    Artinya; “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS. Yusuf; 23).

    Sama seperti manusia lainnya, dalam perjalanan hidupnya, Nabi Yusuf sering kali diajak ke dalam perbuatan maksiat. Namun, ia lebih memanjatkan doa kepada Allah SWT agar selalu diberikan keselamatan atas perbuatan yang tidak baik dan benar.

    Sebagai umat muslim, kita juga bisa mencontoh doa dan perilaku Nabi Yusuf agar terhindar dari godaan setan.

    5. Doa agar diberikan perlindungan

    رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِى مِنَ ٱلْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِى مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ

    Bacaan latin: Rabbi qad aataytanii minal mulki wa ‘allamtanii min ta’wiilil ahaaditsi faathiros samaawaati wal ardhi anta waliyyi fiddunyaa wal aakhiroh tawaffanii muslimaw wa alhiqnii bish shoolihiin.

    Artinya: “Ya Rabbku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian tabir mimpi. (Ya Rabb) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat. (QS. Yusuf ayat 101)”.

    penggalan ayat di atas menceritakan tentang Nabi Yusuf yang pernah bermimpi melihat sebelas bintang. Arti dari mimpi tersebut merupakan tanda-tanda dari mimpi para Nabi.

    Mendengar mimpi tersebut, ayahnya, Nabi Yaqub, menutupi kabar mimpi anaknya ke saudara-saudaranya Nabi Yusuf. Sebab, khawatir Nabi Yusuf akan dibenci.

    Untuk mendapatkan perlindungan dari Allah SWT, Nabi Yusuf memanjatkan doa seperti di atas. Kamu juga bisa mengamalkan doa tersebut agar dilindungi oleh Allah SWT dari fitnah yang kejam.

    Baca juga: 7 Amalan Sebelum Tidur Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    4 Keutamaan Doa Nabi Yusuf

    Terdapat beberapa keutamaan doa Nabi Yusuf jika kamu sering mengamalkannya, yaitu sebagai berikut:

    1. Mendapatkan kekuatan melawan hawa nafsu

    Seperti salah satu doa di atas yang Nabi Yusuf amalkan untuk menahan hawa nafsu dari godaan istri pembesar Mesir.

    Nah, doa tersebut bisa kamu panjatkan agar setan tidak bisa menggoda kamu untuk melakukan hal maksiat atas izin Allah SWT.

    2. Terhindar dari musibah

    Tidak ada seorang pun yang tahu tentang masa depan atau apa yang akan terjadi. Begitu juga dengan Nabi Yusuf. Nabi Yusuf memanjatkan doa kepada Allah SWT agar terhindar dari fitnah wanita.

    Jadi, jika kamu merasa sedang dalam keadaan yang tidak baik, maka segeralah memohon pertolongan Allah swt melalui doa Nabi Yusuf.

    3. Memancarkan aura wajah yang bercahaya

    Nabi Yusuf terkenal sebagai Nabi paling tampan dan rupawan. Meski begitu, Nabi Yusuf tetap memanjatkan doa agar wajahnya memancarkan aura yang bercahaya dan bersyukur dengan apa yang dikasih oleh Allah SWT.

    Dengan kamu mengamalkan doa Nabi Yusuf seperti di atas, kamu tidak hanya meminta agar wajah kamu terlihat lebih bercahaya, tampan atau cantik. Namun, juga mensyukuri karena Allah telah memberikan rupa dan akhlak yang baik.

    4. Mendapatkan kekuatan dalam menghadapi ujian

    Seringkali, ujian datang untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan seseorang. Termasuk para Nabi-nya Allah.

    Dengan membaca doa Nabi Yusuf kamu akan mendapatkan sumber kekuatan untuk menghadapi cobaan hidup.

    3 Cara Mengamalkan Doa Nabi Yusuf

    Agar mendapatkan kemudahan dan terhindar dari berbagai fitnah keji seperti Nabi Yusuf, kamu tidak hanya memanjatkan doa saja, melainkan juga harus tahu cara mengamalkannya.

    Supaya doa yang kita panjatkan lebih maksimal dan mendapatkan banyak syafaat. Berikut beberapa cara mengamalkan doa Nabi Yusuf:

    1. Berdoa setelah sholat wajib

    Berdoa setelah selesai melaksanakan sholat fardhu merupakan waktu doa yang bisa diijabah oleh Allah SWT. Tak hanya itu, doa saat akhir sujud sebelum salam juga menjadi waktu suci untuk berdoa.

    Maka dari itu, ada baiknya jika mengamalkan semua doa di atas setelah selesai sholat wajib dan mengucapkan doa tersebut sebanyak 7 kali agar lebih afdhol.

    Biasanya, doa ini dilantunkan di akhir setelah sholat dan tepat setelah salam.

    2. Menjaga wudhu ketika berdoa

    Menjaga wudhu supaya badan tetap suci dari hadas saat berdoa merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT.

    Berdoa artinya kita meminta sesuatu kepada Allah SWT, sehingga sebelum berhadapan dengan Allah SWT harus dalam keadaan suci dan dijaga kesuciannya.

    Dengan berwudhu, kita juga dapat melindungi diri dari perbuatan-perbuatan maksiat. Sebab, saat berwudhu ada beberapa pantangan supaya wudhu kita tidak batal.

    3. Pada saat bercermin disarankan memakai wewangian

    Ketika hendak berdoa sebelum bercermin, disarankan untuk memakai wewangian agar bisa mendapatkan manfaat yang sangat luar biasa.

    Sebelum menghadap ke Allah SWT untuk meminta sesuatu, seharusnya dalam keadaan rapid an suci.

    Rutin melaksanakan doa Nabi Yusuf juga akan membuat seseorang wajahnya bersinar dan lebih tampan atau cantik.

  • Hukum Merayakan Valentine Menurut Islam, Haram?

    Hukum Merayakan Valentine Menurut Islam, Haram?

    Sebenarnya bagaimana sih hukum merayakan hari Valentine menurut Islam itu? Karena dari waktu ke waktu semakin banyak saja anak muda yang larut dalam perayaan yang diklaim sebagai hari kasih sayang.

    Sebagai perayaan tahunan pada setiap tanggal 14 Februari, sejarah Valentine menurut Islam ternyata berakar pada ajaran agama lain. Namun dalam perkembangannya ritual ini diklaim sebagai ajang mengekspresikan rasa sayang cinta kepada orang lain yang dianggap istimewa.

    Agar tak semakin salah arah, simak uraian di bawah ini yang akan mengupas mengenai perayaan hari Valentine menurut agama Islam.

    Mengenal 3 Sejarah Hari Valentine

    Sejarah hari Valentine menurut Islam bermula dari keberadaan seorang pendeta Katolik yang tinggal di Kota Roma di abad ke-3. Pendeta tersebut bernama Saint Valentine. Bersamaan dengan hal tersebut, saat itu yang sedang berkuasa adalah Kaisar Claudius II.

    Namun tak banyak yang tahu jika ternyata asal sejarah perayaan hari Valentine ada beberapa, yaitu:

    1. Keyakinan Saint Valentine akan Isa Al Masih

    Ternyata 14 Februari ditetapkan menjadi Valentine’s Day semenjak 270 M. Semuanya berawal dari dipenjarakannya Saint Valentine karena menyebut Isa Al-Masih sebagai Tuhannya dan menolak untuk menyembah Tuhannya orang Romawi. 

    Bahkan St. Valentine malah mengajak beberapa keluarga orang Romawi untuk menjadi umat Kristiani. Kaisar Claudius II yang menjadi pemimpin saat itu pun marah lalu memerintahkan untuk menangkap pendeta St. Valentine lalu menjebloskannya ke penjara.

    St. Valentine kemudian dipenggal pada 14 Februari 273 M lalu tanggal kematiannya diperingati secara rutin tiap tahunnya. Sehingga itulah mengapa arti Valentine menurut Islam adalah tak boleh diikuti karena perayaan tersebut berakar pada tradisi gereja.

    2. Larangan Menikah Tentara Claudius II

    Versi lain dari perayaan Valentine’s day adalah karena adanya larangan menikah dari Kaisar Claudius II bagi semua tentara mudanya. Larangan ini bertujuan agar tentaranya kuat dan tabah selama berada di medan laga.

    Saint Valentine pun menolak larangan itu dengan menikahkan banyak pasangan muda. Saat pembangkangan itu diketahui, maka Kaisar Claudius II marah lalu menangkap dan menghukum gantung Saint Valentine 14 Februari 269 M.

    Dari versi cerita sejarah tersebut, maka Valentine dalam Islam adalah tidak boleh karena hal tersebut bertentangan dengan kaidah agama Islam.

    3. Pembangkangan St Valentine

    Versi ketiga akar peristiwa yang menjadikan tanggal 14 Februari menjadi perayaan adalah dipenggalnya Saint Valentine di akhir 270 M. Hukuman mati tersebut diterima St. Valentine karena Kaisar Claudius II yang menjadi penguasa saat itu murka padanya.

    Penyebabnya adalah kegiatan St Valentine dalam membantu pihak penentang Kaisar Claudius II saat berkuasa. Saint Valentine kemudian tertangkap dan dipenggal kepalanya di Palatine Hill.

    Untuk mengenang kisah heroic St Valentine tersebut maka Paus Gelasius II tahun 496 M menetapkan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentinus. Nah jadi ketika ada umat Islam yang merayakan atau sekedar mengucapkan selamat atasnya pun tidak boleh.

    Karena baik merayakan maupun hukum mengucapkan selamat hari Valentine menurut Islam adalah haram.

    Baca juga: Doa Ketika Ada Petir Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya (Shahih)

    Perayaan Valentine Menurut Islam dan Pandangan Ulam

    Agar Anda lebih mantap dan tak ragu, silahkan simak beberapa pendapat ulama yang terkait dengan hukum merayakan Valentine menurut Islam.

    1. Fatwa Haram MUI

    Majelis Ulama Indonesia sebagai badan tertinggi ulama di Indonesia telah menegaskan jika perayaan Valentine menurut Islam hukumnya haram. Pernyataan MUI inipun secara resmi masuk di dalam Fatwa MUI Nomor 3 yang terbit di Tahun 2017 lalu.

    Sifat haram merayakan Valentine menurut Islam karena adanya beberapa alasan sebagai berikut:

    1. Valentine bukanlah tradisi perayaan dalam agama Islam.
    2. Perayaan Valentine terbukti memiliki banyak mudharatnya karena mendekatkan diri pada perilaku zina, yaitu seks sebelum menikah.
    3. Perayaan hari Valentine memiliki potensi yang membawa keburukan bagi kaum muda Islam.

    Selain berdasarkan fakta-fakta di lapangan akan dampak buruk perayaan Valentine menurut Islam, pelarangan tersebut juga menyandarkan pada salah satu hadis masyhur.

    Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud no 4031 tentang kegiatan yang meniru-niru kaum lain atau tasyabbuh.

    Di dalam hadits tersebut Rasulullah SAW jelas-jelas melarang umatnya untuk menyerupai suatu kaum, agar tak termasuk ke dalam golongannya.

    2. Pendapat Fatwa Mesir

    Tak sama dengan pendapat ulama Indonesia, perayaan hari Valentine dalam agama Islam ternyata diperbolehkan di kalangan umat Islam di Mesir. Hal tersebut berdasarkan pendapat dari lembaga fatwa ulama di Mesir yaitu Dar al-Ifta. 

    Sebagai lembaga fatwa ulama Mesir, Dar al-Ifta menyatakan jika tidak ada larangan khusus atas perayaan Valentine dalam Islam. Sehingga bagi umat Islam di Mesir diperbolehkan jika akan berpartisipasi di dalamnya.

    Namun tentu saja dengan catatan, saat merayakannya umat Muslim tak melakukan perbuatan yang akan bertentangan dengan ajaran agama Islam. Perayaan tersebut diperbolehkan sebagai sarana untuk menunjukkan kasih sayang diantara suami istri.

    Syarat berikutnya perayaan ini bukan merupakan pesta Valentine, namun hanya merupakan hari Kasih Sayang, sebagai momen pengungkapan rasa sayang.

    3. Pandangan Muhammadiyah dan NU

    dari organisasi masa Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, jelas dinyatakan jika Valentine adalah haram.

    a. Budaya Barat dengan Latar Keagaamaan

    Hari Valentine dalam Islam adalah suatu bentuk perayaan yang berasal dari budaya dunia barat dengan latar belakang sejarah kegiatan gereja. Yang mana budaya ini sama sekali tak memiliki akar di dalam budaya Indonesia ataupun nilai keagamaan Islam.

    Meski ada pendapat yang menyatakan jika perayaan 14 Februari murni terkait budaya bukan agama, namun itu tak mengubah sifat haramnya. Sehingga sangat terlarang bagi umat Islam untuk mengistimewakan dan ikut merayakan tanggal 14 Februari tersebut.

    b. Tak Ada Hari Khusus

    Arti hari Valentine menurut agama Islam adalah sesuatu yang haram karena Islam tak mengajarkan pengkhususan hari tertentu untuk pernyataan cinta. Sebaliknya di dalam Islam menunjukkan kasih dan sayangnya terhadap semua makhluk haruslah setiap waktu.

    c. Cara Perayaan

    Islam mengajarkan cara menyatakan rasa kasih dan sayangnya kepada sesama makhluk Allah dengan sangat berbeda dibanding dengan cara kaum jahiliyah. 

    Menyatakan rasa sayang dalam Islam tak melalui gaya pacaran yang cenderung mengarah pada perilaku sex menyimpang.

    Gaya perayaan yang seperti itu jelas terlarang dalam Islam karena hal tersebut termasuk ke dalam perbuatan zina. Yang mana itu akan adalah dosa besar sebagaimana larangan Allah pada Qur’an Surat Al-Isra’ di ayat 32.

    Beberapa kalangan ada yang membantah jika perayaan yang dilakukan tak mendekati zina. Akan tetapi telah banyak bukti di lapangan yang menyatakan hal yang sebaliknya. Contohnya adalah naiknya omzet penjualan kondom menjelang perayaan Hari Kasih Sayang itu.

    Bahkan ada beberapa lembaga yang justru terang-terangan malah membagikan kondom gratis dengan dalih kepedulian. Yaitu kepedulian agar tak tertularnya kaum muda akan penyakit seks menular. Tentu saja ini adalah pemikiran yang salah dan berbahaya bukan?

    Penutup

    Nah semoga penjelasan mengenai hukum perayaan Valentine menurut Islam di atas dapat dipahami dan menjawab keraguan yang ada.

  • Ini 3 Doa yang Dikabulkan oleh Allah SWT, Sangat Mustajab!

    Ini 3 Doa yang Dikabulkan oleh Allah SWT, Sangat Mustajab!

    Terdapat 3 doa yang dikabulkan oleh Allah SWT sesuai yang tercantum di dalam hadis. Tentu saja, 3 doa tersebut harus memenuhi beberapa kriteria.

    Seperti yang kita tahu bahwa seseorang yang tidak pernah meminta atau berdoa kepada Allah SWT, dianggap manusia paling sombong. Berdoa juga menjadi salah satu cara umat muslim menyandarkan atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Dari sekian banyak doa, ada 3 doa yang dikabulkan oleh Allah SWT. Tidak ada salahnya jika kamu mengamalkan doa-doa tersebut. Lantas, apa saja 3 doa tersebut? Yuk, ketahui jawabannya di bawah ini!

    3 Doa yang Dikabulkan oleh Allah SWT

    Berikut ini adalah 3 doa yang dikabulkan sesuai riwayat hadis Rasulullah SAW:

    1. HR. Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ ” ‏ ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

    Artinya: ” Ada tiga macam doa yang pasti diterima tanpa ragu lagi, yaitu: doa bapak, doa musafir, dan doa dari orang yang teraniaya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Turmudzi).

    Berikut ini adalah 3 doa yang dikabulkan oleh Allah SWT, berdasarkan hadis di atas:

    • Doa bapak
    • Doa musafir
    • Doa orang yang sedang teraniaya

    2. HR. Al-Baihaqy

    وعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثلاث دعوات لا ترد: دعوة الوالد، ودعوة الصائم، ودعوة المسافر

    Artinya: ” Tiga orang yang tidak akan tertolak (doanya), yaitu: doa orang tua bagi anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (HR Al-Baihaqy).

    Berikut ini adalah 3 doa yang dikabulkan oleh Allah SWT, berdasarkan hadis di atas:

    • Doa orang tua untuk anaknya
    • Doa orang yang sedang berpuasa
    • Doa musafir

    3. HR. Tirmidzi

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

    Artinya: ” Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits lain riwayat Abu Huraira RA: “ Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak, yaitu: orang yang berpuasa sewaktu ia berbuka, imam atau pemimpin yang adil, dan doa dari orang yang teraniaya. Doanya itu dinaikkan Allah menembus awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, serta firman Allah kepadannya: ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu, walau di belakang nanti’.” (HR Turmudzi).

    Dari berbagai hadis yang disebutkan di atas, dapat ditarik kesimpulan, 3 doa yang dikabulkan oleh Allah SWT dan mustajab yakni:

    • Doa orang yang sedang berpuasa saat ia berbuka
    • Doa seorang imam atau pemimpin yang adil
    • Doa orang yang sedang teraniaya

    Baca juga: Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Waktu Mustajab untuk 3 Doa yang Dikabulkan oleh Allah SWT

    Selain golongan di atas, terdapat 3 doa yang dikabulkan oleh Allah SWT berdasarkan waktunya. Di dalam Islam, ada waktu-waktu tertentu yang menjadi waktu mustajab untuk memanjatkan doa, seperti berikut ini:

    1. Ketika adzan dan iqamah sedang berkumandang

    Ketika kamu mendengar adzan atau iqamah, diperkenankan untuk berhenti beraktivitas dan manfaatkan waktu tersebut untuk berdoa.

    Sebab, adzan dan iqamah menjadi salah satu waktu mustajab untuk berdoa, sesuai dengan hadis berikut ini:

    “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqamah, maka berdoalah.” (HR. Ahmad).

    Baca juga: Tata Cara Sholat Tasbih: Niat, Hingga Doa Setelah Sholat yang Benar

    2. Ketika sujud dalam sholat

    Sujud adalah bentuk pasrah kepada Allah SWT dan simbol pengakuan atas kelemahan diri seseorang.

    Oleh karena itu, sujud saat sholat sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa karena posisi tersebut merupakan paling dekat dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

    “Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu.” (HR. Muslim).

    3. Ketika sepertiga malam terakhir

    Waktu mustajab untuk berdoa yang terakhir adalah saat sepertiga malam terakhir. Hal tersebut dikarenakan banyak orang yang memilih untuk tidur pulas, padahal dalam waktu tersebut menjadi waktu paling mustajab untuk berdoa.

    Poin ini sesuai sabda Rasulullah SAW, yang artinya:

    “Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Cara Allah Membalas Doa Umat-Nya

    Manusia memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan harap doanya dikabulkan. Namun, Allah SWT terkadang tidak selalu mengabulkan doa umat-Nya. Bukan karena Allah jahat, melainkan Allah tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya.

    Sedangkan, doa manusia yang dipanjatkan terkadang bukan yang terbaik untuknya. Sesuai dengan penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 216, berbunyi:

    كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

    Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

    Untuk itu, berikut cara Allah menanggapi doa umat-Nya:

    1. Dikabulkan di waktu yang tepat

    Dikabulkan di waktu yang tepat maksudnya adalah waktu yang tepat menurut Allah SWT, bisa satu jam kemudian, besok, minggu depan, bulan depan, 3 bulan kedepan ataupun tahun depan.

    Jadi, ketika ada hamba-Nya yang memanjatkan doa kepada Allah SWT tidak langsung dikabulkan sesuai keinginannya, namun dalam waktu yang segera atau tepat menurut Allah SWT.

    2. Dikabulkan sesuai permintaan

    Selain dikabulkan di waktu yang tepat menurut Allah SWT, ada juga hamba-Nya yang langsung dikabulkan sesuai permintaan.

    Seperti misalkan, kamu berdoa untuk dilapangkan rezekinya, maka dalam waktu yang tidak lama Allah SWT akan mengabulkan doa tersebut dengan datangnya pembeli pada dagangan kamu, datangnya panggilan wawancara kerja dan lain-lain.

    3. Dikabulkan dalam bentuk lain

    Bisa juga Allah SWT mengabulkan doa kamu dalam bentuk yang lain. Seperti misalkan, kamu menginginkan pasangan hidup yang cantik atau ganteng, namun Allah SWT memberikan kamu pasangan yang setia.

    Jika doa yang kamu minta tidak sesuai dengan yang kamu inginkan, bukan berarti Allah SWT tidak mengabulkan doa kita atau jahat terhadap kita. Melainkan, Allah lah yang paling mengerti apa yang paling baik dan bermanfaat bagi umat-Nya.

    Terkadang, kita meminta kepada Allah SWT apa yang kita sukai, bukan apa yang kita butuhkan. Dan belum tentu, hal-hal yang kita sukai itu baik untuk kita menurut Allah SWT.

    Itulah 3 doa yang dikabulkan Allah SWT dan mustajab jika diamalkan.

  • 7 Doa Nabi Musa Ketika Menghadapi Kesulitan Lengkap dengan Artinya

    7 Doa Nabi Musa Ketika Menghadapi Kesulitan Lengkap dengan Artinya

    Sebagai umat muslim, kita bisa mengamalkan doa Nabi Musa setiap hari agar mendapatkan keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT.

    Dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan yang berat, Nabi Musa senantiasa berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkan perlindungan dan petunjuk oleh Allah.

    Ingin tahu apa saja 7 doa Nabi Musa saat mendapatkan tantangan dari Allah SWT? Yuk, cek jawabannya di bawah ini!

    Penjelasan Singkat Tentang Nabi Musa

    Nabi musa merupakan salah satu dari 25 nabi dan rasul yang lahir di Mesir pada tahun 1527 SM. Kelahiran Nabi Musa bertepatan dengan pemerintah Fir’aun atau Rames Akbar atau Merneptah atau juga Thutmosis.

    Fir’aun dikenal sebagai pemimpin yang kejam dan memperlakukan rakyatnya tanpa belas kasihan,  Allah menugaskan Nabi Musa untuk menghadapi penguasa Mesir yang keji dan membimbing kaum Bani Israel dan rakyat Fir’aun di Mesir.

    Namun, Nabi Musa tetap teguh dalam menghadapi Fir’aun dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi ketabahan dan perlindungan. Meskipun, Nabi Musa masih kurang fasih dalam berbicara.

    Maka dari itu, Nabi Musa termasuk golongan Ulul Azmi atau rasul pilihan Allah yang memiliki keteguhan yang luar biasa.

    Selama menyampaikan ajaran Allah kepada Fir’aun dan rakyatnya, Nabi Musa dibantu oleh saudaranya yaitu Nabi Harun, yang mana lebih lancar berbicara.

    Doa Nabi Musa menghadapi Fir’aun diabadikan oleh Allah SWT di dalam beberapa surat Al-Qur’an, seperti Al-Qashash, Thaha, sampai surat Yunus. Nama Nabi Musa juga disebutkan sebanyak 136 kali di dalam Al-Qur’an.

    selain melawan Raja Fir’aun, Nabi Musa menerima kitab Taurat dari Allah SWT atau dikenal sebagai Kalimullah yang artinya orang yang diajak bicara oleh-Nya.

    7 Doa Nabi Musa

    Berikut sederet kisah hidup Nabi Musa yang dapat menginspirasi kaum muslim, beserta doanya:

    1. Doa Nabi Musa Memohon Ampunan

    Nabi Musa pernah membunuh seseorang secara tidak sengaja yaitu ketika kaum Fir’aun dan kaum Bani Israel sedang bertengkar, kaum Bani Israel meminta bantuan kepada Nabi Musa untuk melerainya. Kemudian, Nabi Musa meninju kaum Fir’aun hingga meninggal.

    Atas peristiwa tersebut, Nabi Musa merasa sangat berdosa dan menyesal, sehingga memohon ampun kepada Allah SWT. Berikut panjatan doa Nabi Musa yang berkaitan dengan hal tersebut:

    رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    Artinya: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashash ayat 16).

    Manfaat dari doa ini adalah Allah SWT dapat memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang melakukan kesalahan. Doa tersebut juga bisa kamu amalkan ketika berbuat salah.

    Baca juga: Niat & Tata Cara Sholat Sunnah Sebelum Jumat (Qobliyah dan Badiyah)

    2. Doa keselamatan dari kezaliman

    Doa Nabi Musa yang selanjutnya adalah doa keselamatan dari kezaliman. Kisah di balik doa ini adalah pasukan Fir’aun rupanya mengetahui Nabi Musa telah membunuh salah satu kaumnya.

    Kemudian, mereka berencana menangkap Nabi Musa, akan tetapi Nabi Musa sudah mengetahui lebih dulu rencananya Fir’aun, sehingga Ia bisa keluar dari Mesir sebelum ditangkap.

    Dalam pelarian ke luar Mesir, Nabi Musa tak lupa untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar selamat dari kezalimannya pasukan Fir’aun seperti yang tertuang di dalam salah satu surat Al-Qur’an di bawah ini:


    ٱلظَّٰلِمِينَ ٱلْقَوْمِ مِنَ نَجِّنِى رَبِّ قَالَ يَتَرَقَّبُ خَآئِفًا مِنْهَا فَخَرَجَ


    Bacaan latin: Fa kharaja min-hā khā`ifay yataraqqabu qāla rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn.

    Artinya: Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Qashash ayat 22).

    3. Doa Nabi Musa menghadapi Fir’aun

    Doa ini dipanjatkan ketika Nabi Musa ditugaskan oleh Allah untuk menghadapi Fir’aun yang keji dan zalim. Berikut ini doa beserta artinya:

    رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Bacan latin: Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam min lisaani yafqohu qoulii.

    Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thah ayat: 25-28).

    Doa ini bisa kamu amalkan setiap hari karena di dalam doa ini, Nabi Musa memohon kepada Allah SWT agar urusannya dimudahkan, hatinya dilapangkan dan lidahnya bisa dilepaskan dari kekakuan sehingga Nabi Musa dapat mengungkapkannya dengan jelas.

    4. Doa Nabi Musa Agar Lancar Berbicara (Dimudahkan Lisannya)

    Nabi Musa memohon kepada Allah SWT untuk dipermudah segala urusannya dan membuatnya menjadi lebih sabar. Ia juga meminta kepada Allah SWT agar orang-orang dapat memahami lisan dengan mudah, maka kekakuan di lidah mohon dihapuskan.

    Di dunia tidak ada hal yang mustahil selama kamu percaya pertolongan Allah SWT dan senantiasa berdoa kepada-Nya. Terlebih, Allah sangat menyukai umat-Nya yang gemar berdoa. Berikut doa Nabi Musa agar dipermudahkan segala urusan dan ucapan:

    رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Rabbisyrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul ‘uqdatan millisani, yafqahu qauli.

    Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS Tāhā ayat 25-28).

    5. Doa meminta rezeki atau kekayaan

    Doa Nabi Musa yang berikutnya merupakan permohonan Beliau kepada Allah SWT untuk diberikan rezeki dan kebaikan yang diperlukan.

    Nabi Musa percaya bahwa semua kebaikan berasal dari Allah, dan Ia menyampaikan kalau dirinya benar-benar membutuhkan rezeki yang Allah turunkan dengan sangat rendah hati.

    Doa ini juga bisa kamu panjatkan agar dibukakan pintu rezeki oleh Allah SWT. Berikut doa dan artinya sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Nabi Musa:

    رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

    Bacaan latin: Rabbi ‘inni lima ‘anzalta ‘ilayya min khair faqir.

    Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash ayat 24).

    Baca juga: 11 Doa Minta Kesembuhan dari Sakit, Bersabar dan Percaya PadaNya

    6. Doa agar terhindar dari segala fitnah

    Seperti yang kita tahu bahwa kaum Fir’aun melakukan banyak tipu daya untuk menjatuhkan Nabi Musa ataupun membuat orang-orang tidak percaya dengan ajarannya Nabi Musa. Untuk itu, Nabi Musa selalu berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan dari segala fitnah, seperti doa berikut ini:

    فَقَالُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Artinya: “Kepada Allah lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir.” (QS. Yunus ayat 85-66).

    Doa ini juga bisa dipakai untuk umat muslim agar dijauhkan dari fitnah yang keji. Terkadang, di dalam kehidupan sehari-hari tidak semua orang menyukai kita. Pasti ada saja orang yang selalu ingin menjatuhkan kita dengan cara apapun.

    Tenang, kamu masih punya Allah SWT untuk membantu kamu dari fitnah yang kejam dengan cara memanjatkan doa Nabi Musa di atas.

    7. Doa Nabi Musa ketika dalam kesulitan

    Doa Nabi Musa yang terakhir adalah doa ketika kita di dalam kesulitan. Doa ini Nabi Musa panjatkan ketika Ia dan kaumnya menghadapi kesulitan dan tekanan dari musuh-musuh mereka.

    Di dalam doa ini, Nabi Musa berserah diri kepada Allah SWT dan memohon agar tidak dijadikan sasaran fitnah oleh kaum Fir’aun.

    Tak hanya itu, Nabi Musa juga meminta kepada Allah SWT agar diberi keselamatan dengan rahmat-Nya dari tipu daya orang-orang kafir dan diberi kemudahan di dalam kesulitan.

    Berikut doanya:

    رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

    Bacaan latin: Rabbanā lā taj’alnā fitnatal lil-qaumiẓ-ẓālimīn Wa najjinā biraḥmatika minal-qaumil-kāfirīn.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, kepada Allah kami bertawakal. Janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang yang kafir.” (QS. Yunus ayat 85-86).

    7 Doa Nabi Musa di atas bisa kamu praktekkan dan amalkan setiap hari di rumah. Namun, selain berdoa jangan lupa untuk tetap berikhtiar dan berserah diri. Sebab, tidak semua doa langsung dikabulkan oleh Allah SWT.