Tag: Puasa

  • Puasa Tarwiyah dan Arafah: Niat, Keutamaan, hingga Waktu Pelaksanaannya

    Puasa Tarwiyah dan Arafah: Niat, Keutamaan, hingga Waktu Pelaksanaannya

    Ada berbagai macam ibadah sunnah yang bisa kita laksanakan untuk memperoleh pahala dan kebaikan. Salah satunya yaitu puasa tarwiyah dan arafah.

    Seperti namanya, puasa ini dilaksanakan pada hari tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki keutamaan yang luar biasa sehingga para ulama menganjurkan kita untuk mengamalkannya.

    Mari simak lebih lanjut untuk mengenal puasa tarwiyah dan arafah.

    Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

    Sama seperti ibadah puasa lainnya, kita wajib membaca niat puasa terlebih dahulu. Adapun waktu membaca niat bisa dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh.

    Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah dan Arafah:

    1. Niat Puasa Tarwiyah

    Niat Puasa Tarwiyah

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā.

    Artinya: 

    “Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah SWT.”

    Baca juga: Bacaan Niat Puasa Rajab Sekaligus Qadha Ramadhan, Sah!

    2. Niat Puasa Arafah

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى  

    Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ.  

    Artinya: 

    “Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah ta’âlâ.”

    Keutamaan Menjalankan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

    Istilah tarwiyah digunakan karena pada hari tersebut para jamaah haji membawa perbekalan air zam-zam dalam jumlah banyak sebagai persiapan untuk hari Arafah dan pergi ke Mina.

    Namun, ada pula yang pendapat lain mengenai penamaan hari tarwiyah, yaitu perenungan Nabi Adam saat membangun Ka’bah dan perenungan Nabi Ibrahim setelah mengalami mimpi diperintahkan untuk menyembelih anaknya.

    1. Keutamaan Puasa Tarwiyah

    Hari tarwiyah berasal dari kata tarawwa. Kata dalam bahasa Arab tersebut memiliki arti membawa bekal air.

    Keutamaan mengenai anjuran puasa pada hari tarwiyah menyebutkan bahwa puasa pada hari tersebut seperti puasa setahun. Akan tetapi, landasan dalil dari keutamaan ini merupakan hadits yang dinilai tidak shahih oleh para ulama.

    Berikut hadits yang dimaksud:

    مَنْ صَامَ الْعَشْرَ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَوْمُ شَهْرٍ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ سَنَةٌ ، وَلَهُ بِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ سَنَتَانِ

    Artinya: 

    “Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”

    Mengutip Konsultasi Syariah, hadits tersebut berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas.

    Berhubung jalur perawi yang meriwayatkan bermasalah bahkan ada yang menyebut sebagai pendusta, maka hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai landasan. Jadi, tidak ada keutamaan khusus mengenai puasa pada hari tarwiyah.

    Baca juga: Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    2. Keutamaan Puasa Arafah

    Sedangkan untuk puasa arafah, terdapat keutamaan yaitu dapat menghapuskan dosa dari setahun yang lalu.

    Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW:

    صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

    Artinya: 

    “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

    Adapun hukum puasa arafah adalah sunnah. Sementara, untuk pelaksanaannya lebih dianjurkan bagi mereka yang tidak berwukuf di Arafah. Sedangkan untuk yang sedang berhaji, maka disunnahkan tidak berpuasa.

    Hal tersebut merupakan pendapat dari Imam Syafi’I dan ulama Syafi’iyah. Adapun landasan dalilnya yaitu hadits dari Ummul Fadhl berikut:

    عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

    Artinya: 

    “Dari Ummul Fadhl binti Al Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).

    Pelaksanaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

    Meskipun puasa pada hari tarwiyah tidak memiliki keutamaan khusus, kita tetap boleh menjalankannya. Apalagi, memang terdapat anjuran untuk berpuasa pada tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah. Rasulullah juga melaksanakan puasa pada awal bulan Dzulhijah.

    Berikut landasan dari anjuran berpuasa pada bulan Dzulhijah:

    “Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).”

    Selain itu, keutamaan amalan puasa pada awal bulan Dzulhijjah juga diterangkan dalam hadits berikut.

    Dari Ibn Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

    مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

    Artinya: 

    “Tidak ada hari dimana suatu amal shalih lebih dicintai Allah melebihi amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi).

    Oleh karena itu, umat muslim umumnya melaksanakan puasa tarwiyah bersamaan dengan puasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.

    Namun, perlu diingat bahwa keutamaan yang didapat berasal dari pelaksanaan puasa pada awal bulan Dzulhijjah dan puasa arafah. Sedangkan, puasa tarwiyah sendiri tidak memiliki keutamaan khusus.

    Tata Cara Melaksanakan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

    Cara melaksanakan puasa hari tarwiyah dan arafah sama seperti saat puasa sunnah pada umumnya.

    Sebelumnya telah disebutkan bahwa pelaksanaan puasa tarwiyah boleh bersamaan dengan puasa awal Dzulhijjah. Namun, kita boleh hanya melaksanakan puasa pada hari yang diinginkan, misalnya tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah saja.

    Meskipun akan lebih baik apabila mampu melaksanakan sesuai anjuran sunnah puasa tanggal 1-9 Dzulhijjah. Kita juga lebih dianjurkan untuk tidak melewatkan puasa Arafah karena lebih utama. Tata cara pelaksanaannya yaitu sebagai berikut:

    1. Membaca Niat

    Pertama, kita wajib membaca niat puasa sesuai yang hendak dilaksanakan. Sama seperti saat hendak melaksanakan berpuasa sunnah lain, ucapkan bacaan niat puasa pada malam hari sebelumnya atau pagi hari, menjelang subuh.

    Cara membaca niat dapat dilakukan dengan diucapkan dalam hati saja. Sedangkan untuk bacaan niatnya tergantung pada puasa yang hendak kita laksanakan.

    Maksudnya, kita perlu membaca niat puasa tarwiyah jika hendak melaksanakannya. Kemudian, membaca niat puasa Arafah setelah berbuka. Atau jika hendak melaksankan puasa arafah saja, maka hanya perlu membaca niat puasa arafah.

    2. Makan Sahur

    Saat melaksanakan puasa, kita disunnahkan untuk makan sahur sebelum waktu subuh. Karena hukumnya sunnah, maka melaksanakan sahur dapat mendatangkan pahala.

    Selain itu, sahur juga bermanfaat untuk mengisi tenaga bagi tubuh kita supaya kuat menjalani puasa.

    3. Menghindari Hal-hal yang Membatalkan Puasa

    Seperti halnya ibadah puasa secara umum, kita juga wajib menghindari semua hal yang membatalkan puasa, termasuk makan, minum, berhubungan intim, dan sebagainya.

    Selain itu, kita juga sebaiknya menghindari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, seperti marah dan ghibah.

    4. Segera Berbuka pada Waktunya

    Saat waktu maghrib tiba, kita sebaiknya segera berbuka puasa. Menyegerakan berbuka pada waktunya merupakan tindakan yang sesuai dengan sunnah Rasulullah.

    Nah, supaya amalan makin lengkap, kita sebaiknya tidak melupakan untuk membaca doa.

    Kemudian disunnahkan untuk berbuka dengan makan kurma dalam jumlah ganjil. Setelah itu, kita disunnahkan berbuka dengan minum air, terutama air Zamzam.

    Apabila tidak tersedia kurma dan air Zamzam, maka kita dianjurkan untuk berbuka dengan air biasa dan mengkonsumsi makanan manis. Selain itu, pastikan untuk makan secukupnya dan tidak berlebihan.

    Demikianlah ibadah sunnah puasa tarwiyah dan arafah, serta keutamaannya. Semoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat.

  • Niat Mengganti Puasa Ramadhan (Qadha) Sekaligus Senin Kamis

    Niat Mengganti Puasa Ramadhan (Qadha) Sekaligus Senin Kamis

    Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi muslim. Maka, bagi yang puasanya bolong atau berhutang, wajib niat mengganti puasa Ramadhan.

    Mengganti puasa disebut juga dengan mengqadha puasa.

    Adapun pelaksanaan puasa qadha yaitu pada bulan lain sebelum Ramadhan berikutnya.

    Niat Mengganti Puasa Ramadhan Sekaligus Senin Kamis

    Niat Mengganti Puasa Ramadhan

    Ada kalanya seorang muslim tidak dapat melaksanakan puasa Ramadhan secara penuh satu bulan. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari haid, kelelahan akibat perjalanan jauh, hingga sakit.

    Dalam kondisi tersebut, kita boleh membatalkan puasa apabila tidak kuat. Namun, kita juga wajib mengganti sesuai jumlah hari pada bulan Ramadhan saat tidak puasa.

    Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT:

    وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ

    Artinya: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

    Oleh karena itu, bagi umat muslim yang punya hutang puasa perlu mengucapkan niat saat hendak melaksanakan puasa qadha.

    Berikut bacaan niat mengganti puasa Ramadhan sekaligus senin kamis.

    Tidak ada niat khusus, sebab Qadha puasa hukumnya wajib, sedangkan puasa Senin Kamis hukumnya sunnah, agar dapat pahala keduanya, puasa Qodho dilakukan pada hari Senin dan Kamis.

    Berikut adalah lafal niatnya:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

    Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

    Baca juga: Tata Cara Sholat Nisfu Syaban: Niat, Doa, dan Waktu Pelaksanaannya

    Cara Niat Mengganti Puasa Ramadhan

    Melansir dari Rumaysho, kita wajib mengucapkan niat puasa ganti bulan Ramadhan pada malam hari atau sebelum subuh sebagaimana saat puasa Ramadhan.

    Pasalnya, puasa qadha untuk mengganti puasa Ramadhan yang bolong hukumnya adalah wajib. Sehingga harus ada niat puasa pada malam hari sebelum shubuh.

    Lain halnya apabila hendak melaksanakan puasa sunnah, maka boleh berniat pada pagi hari.

    Aturan tersebut berlandaskan pada hadis berikut:

    Dari Hafshah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

    مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

    Artinya:  “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Abu Daud, no. 2454; Tirmidzi, no. 730

    Pelaksanaan Puasa Qadha Sekaligus Senin Kamis

    Kita boleh membaca niat mengganti puasa Ramadhan untuk melaksanakan puasa qadha kapan saja di luar waktu yang dilarang berpuasa.

    Sementara waktu yang tidak diperbolehkan puasa meliputi Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, pelaksanaan Ramadhan selanjutnya, dan waktu puasa nazar.

    Biasanya, umat muslim melaksanakan puasa qadha Ramadhan bersamaan dengan hari pelaksanaan puasa sunnah, seperti awal bulan Dzulhijah atau hari Senin Kamis.

    Pelaksanaan puasa qadha bertepatan dengan puasa sunnah demikian memang diperbolehkan. Namun, pastikan bahwa kita mengucapkan niat mengganti puasa Ramadhan yang bolong.

    Melansir dari halaman Bimbingan Islam, para ulama memberikan kaedah mengenai penggabungan puasa wajib dan puasa sunnah, “Barang siapa melakukan amalan sunnah, maka itu tidak bisa mencukupi yang wajib.”

    Artinya, jika kita melaksanakan puasa Senin Kamis dengan niat menggabungkan qadha dan puasa sunnah, maka cenderung pada pendapat bahwa puasa wajibnya tidak sah.

    Akan tetapi, jika kita melaksanakan qadha puasa bertepatan pada hari puasa sunnah, seperti Senin Kamis, dengan niat menggantii puasa Ramadhan maka puasa wajibnya sah.

    Cara pelaksanaan yang demikian juga diharapkan akan mendapat pahala dari puasa sunnah.

    Hal tersebut berdasarkan pada fatwa dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin yang artinya:

    “Siapa yang berpuasa (dengan niat puasa sunnah) pada hari arafah atau hari asyura sedangkan dia masih memiliki hutang puasa maka sah puasa sunnahnya.

    Namun, apabila dia berpuasa (di hari itu) dengan niat mengganti (qadha) puasa ramadhan maka dia mendapatkan dua pahala, pahala puasa arafah, atau puasa asyura bersamaan dengan pahala ganti puasa ramadhan.” (Fatawa shiyam: no. 438)

    Baca juga: Inilah Niat Zakat Fitrah untuk Pribadi, Anak & Keluarga dan Artinya

    Aturan Puasa Qadha Ramadhan

    Selain bacaan niat mengganti puasa Ramadhan hari ini, kita juga perlu mengetahui beberapa aturan berikut saat melaksanakannya:

    1. Tidak Boleh Dibatalkan

    Puasa qadha untuk mengganti puasa Ramadhan tidak boleh dibatalkan, kecuali apabila ada udzur yang dibolehkan.

    Jadi, aturannya sama dengan puasa Ramadhan yang mana hanya boleh dibatalkan karena uzur seperti haid bagi perempuan, sedang melakukan perjalanan jauh, ataupun sakit.

    2. Tidak Wajib Berturut-turut

    Pelaksanaan puasa qadha tidak harus secara berturut-turut. Misalnya, seorang perempuan bolong puasa Ramadhan selama 7 hari karena haid. Maka, dia dapat menggantinya secara terpisah.

    Dengan kata lain, ia tidak harus berpuasa selama 7 hari berturut-turut untuk meng-qadha puasa yang bolong. Namun, ia bisa menggantinya satu per satu hingga jumlahnya sesuai.

    Berikut hadist mengenai cara pelaksanaan puasa qadha:

    Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Tidak mengapa jika (dalam mengqadha’ puasa) tidak berurutan.” (HR. Bukhari).

    Sementara mengenai jumlah harinya wajib untuk sama dengan jumlah hari puasa Ramadhan yang bolong.

    Melansir dari Rumaysho, jika ada yang luput dari berpuasa Ramadhan selama satu bulan penuh, maka ia harus meng-qadha sebulan.

    Aturan ini berlandaskan ayat Al-Qur’an, surat Al Baqarah 185,

    فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

    Artinya: “Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

    3. Wajib Niat

    Telah disampaikan sebelumnya bahwa qadha puasa wajib didahului dengan niat pada malam hari atau sebelum subuh, sebagaimana kewajiban dalam melaksanakan puasa Ramadhan.

    Jadi, pastikan untuk membaca niat mengganti puasa Ramadhan pada malam harinya atau saat sahur.

    4. Boleh Ditunda Asal Tidak hingga Ramadhan Berikutnya

    Meskipun dianjurkan untuk segera melaksanakan qadha puasa, kita boleh menundanya apabila memang belum memungkinkan. Namun, terdapat batas untuk waktu menundanya.

    Jumhur ulama menetapkan bahwa penunaian qadha puasa dibatasi tidak sampai Ramadhan berikutnya (kecuali apabila ada uzur).

    Hal tersebut dicontohkan oleh Aisyah dalam hadist riwayat Muslim berikut:

    كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

    “Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban karena kesibukan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    Perlu diperhatikan juga, bahwa melakukan qadha Ramadhan melampaui Ramadhan berikutnya tanpa penyebab adanya uzur, maka akan berdosa.

    Sebagai tambahkan, meskipun qadha puasa boleh dilaksanakan kapan saja, kita dianjurkan untuk segera mengganti puasa Ramadhan. Dengan kata lain, kita sebaiknya tidak menunda-nunda untuk melaksanakannya.

    Anjuran tersebut sesuai dengan firman Allah,

    أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

    Artinya: “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun: 61).

    5. Wajib Qadha

    Qadha puasa untuk mengganti puasa Ramadhan yang bolong hukumnya wajib. Jika sampai batal, maka kita harus menggantinya.

    Melansir dari Rumaysho, aturan kelima dari qadha puasa menjelaskan mengenai batalnya puasa akibat berhubungan intim.

    Apabila ada melakukan qadha puasa kemudian berhubungan di siang harinya, maka tidak ada kewajiban kafarah, yang ada hanyalah qadha disertai dengan taubat.

    Itulah bacaan niat mengganti puasa Ramadhan dan tata cara melaksanakannya. Mari segera melaksanakan qadha sesuai aturan, jika memiliki hutang puasa.

  • 8 Tips agar Tidak Dehidrasi Saat Puasa yang Mudah Dilakukan

    8 Tips agar Tidak Dehidrasi Saat Puasa yang Mudah Dilakukan

    Ketika berpuasa, kita tidak boleh makan atau minum hingga adzan maghrib tiba. Dalam kurun waktu tersebut, kekurangan cairan atau dehidrasi bisa saja terjadi. Agar tidak dehidrasi saat puasa, ada beberapa cara yang bisa kita praktekkan. 

    Dehidrasi sendiri tidak hanya akan mengganggu kekhusyukan dan kelancaran ketika berpuasa.

    Lebih dari itu, jika kita biarkan saja kondisi ini justru bisa berbahaya untuk kesehatan. Lantas, bagaimana cara mencegah dehidrasi ketika puasa itu? 

    Cara agar Tidak Dehidrasi Saat Puasa

    Ada beberapa cara mudah yang dapat kita praktekkan agar tubuh senantiasa segar dan tidak kekurangan cairan ketika berpuasa. Inilah berbagai tips tersebut:1. Tetap Penuhi Asupan Air Putih dengan Jadwal yang Tepat 

    Tubuh manusia sebagian besarnya terdiri dari carian. Inilah yang membuat cairan berperan sangat penting untuk menjaga setiap fungsi tubuh kita berjalan dengan normal dan tanpa hambatan. 

    Ketika puasa, kita harus bisa mencari cara agar kebutuhan asupan air putih tetap terpenuhi. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menerapkan jadwal 2-4-2. 

    Ini berarti minum 2 gelas ketika sahur, 4 gelas ketika malam hari sampai menjelang waktu masuk sahur, dan 2 gelas ketika berbuka puasa. Dengan cara ini, kita tetap bisa memenuhi asupan minimal 8 gelas air putih setiap harinya. 

    Meski begitu, perlu kita ingat untuk tidak mengkonsumsi air dalam jumlah banyak di satu waktu sekaligus. Karena hal ini justru bisa membuat perut kembung dan merusak kadar keseimbangan elektrolit di tubuh. 

    2. Perhatikan Asupan Garam 

    Membatasi asupan garam bisa menjadi cara lain untuk mencegah dehidrasi ketika puasa. Di dalam garam terdapat kandungan natrium yang tinggi dimana kandungan inilah yang bisa menarik dan menahan air di dalam tubuh. 

    Ketika terlalu banyak makan asin, kita bisa lebih mudah merasa haus dan ketika asupan air tidak terpenuhi, dehidrasi pun terjadi. Oleh karena itu, pastikan kita senantiasa menjaga asupan garam agar tidak berlebihan terutama saat sahur.

    Baca juga: 8 Cara agar Doa Terkabul dalam Islam, Simak Adab dan Waktunya

    3. Membatasi Aktivitas Fisik yang Berat 

    Salah satu hal yang akan sangat berdampak besar untuk mencegah dehidrasi ketika puasa adalah dengan membatasi aktivitas fisik berat, terutama di siang hari. Ketika melakukan aktivitas berat, kita akan cenderung berkeringat. 

    Keringat adalah cara tubuh untuk mengeluarkan cairan sebagai bentuk metabolisme. Nah, apabila keringat keluar berlebihan, kita bisa saja dehidrasi atau kekurangan cairan. 

    Kalaupun kita ingin berolahraga, sebaiknya pilih olahraga yang tidak terlalu berat. Seperti misalnya jalan kaki, senam aerobik, bersepeda, ataupun yoga. 

    4. Jauhi Minuman Bersoda dan Berkafein 

    Jika kita adalah penggemar minuman bersoda atau berkafein, saat puasa sebaiknya hindari jenis minuman itu terlebih dahulu. Sebab, minuman berkafein akan mendorong tubuh untuk buang air kecil lebih sering sehingga mudah dehidrasi. 

    Selain itu, minuman yang bersoda juga umumnya mengandung banyak gula. Gula berlebihan bisa menyebabkan tubuh jadi mudah merasa haus. Jadi sebaiknya hindari dulu minuman bersoda dan berkafein ketika sahur. 

    5. Sebaiknya Pilih Menu Makanan Berkuah ketika Sahur 

    Ketika sahur, menu makanan terbaik yang bisa kita konsumsi adalah makanan yang berkuah. Contohnya seperti kaldu ayam, sayur sup, sayur bening, atau lain sebagainya. 

    Makanan berkuah bisa membantu tubuh mencukupi kebutuhan cairan ketika berpuasa. Selain itu, jenis makanan berkuah yang bening juga cenderung rendah kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan berat badan terlalu banyak. 

    6. Pastikan Tidak Banyak Tidur 

    Memang tidur ketika puasa punya nilai ibadah. Akan tetapi, hal ini justru sering disalah pahami dan membuat banyak orang malas-malasan bahkan hanya tidur saja dari setelah sahur sampai menjelang berbuka puasa. 

    Hal ini tentunya tidak benar dan harus kita kembalikan lagi pada makna yang tepat. Ini bisa kita perhatikan pada keterangan dari Ibnu Rajab yang berbunyi:

    “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latho-if Al Ma’arif, 279-280).

    Jadi berdasarkan keterangan ini, bisa kita pahami bahwa memang tidur adalah ibadah saat puasa, tetapi semuanya kembali pada niat. Ketika tidurnya hanya bertujuan untuk bermalas-malasan saja, tentu harus dihindari. 

    Sebaliknya, jika tidur agar bisa kuat melakukan amalan ibadah lainnya, baru inilah yang tepat. Hal ini pun terbukti dari kacamata medis atau kesehatan. Ketika kita tertidur, tubuh tetap akan mengeluarkan cairan.

    Metabolisme tubuh tidak akan ikut berhenti ketika manusia tidur. Fenomena ini dikenal dengan sebutan water loss atau hilangnya cairan tanpa terasa. Alhasil, ketika kita terlalu banyak tidur, justru bisa memicu dehidrasi. 

    Oleh karena itu, kita boleh saja tidur ketika puasa, tetapi jangan berlebihan dan secukupnya saja. Niatkan juga tidur tersebut untuk ibadah agar bernilai pahala. 

    7. Konsumsi Buah dan Sayur ketika Berbuka dan Sahur

    Cara agar tidak dehidrasi saat puasa selanjutnya adalah dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayur ketika berbuka dan sahur. Buah dan sayur adalah asupan yang tepat untuk memenuhi sekaligus mengembalikan cairan tubuh yang hilang. 

    Beberapa jenis buah dan sayur yang baik dikonsumsi adalah melon, semangka, bayam, brokoli, selada, dan lain sebagainya. Tidak hanya mencegah dehidrasi, buah dan sayur juga kaya serat sehingga bisa membuat kita merasa kenyang lebih lama. 

    8. Perhatikan Konsumsi Obat-obatan 

    Cara agar tidak dehidrasi saat puasa yang terakhir adalah dengan memperhatikan konsumsi obat-obatan, suplemen, maupun vitamin. Bagi sebagian orang, memang asupan tersebut bisa menjaga tubuh senantiasa bugar dan fit. 

    Akan tetapi, perhatikan juga apakah ada efek samping dari obat atau vitamin tersebut. Hindari obat yang sekiranya bisa memberikan efek seperti buang air terus menerus. Karena hal ini berpotensi meningkatkan resiko dehidrasi. 

    Langkah terbaik adalah dengan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Tujuannya agar asupan obat atau vitamin tetap terpenuhi, tetapi juga tidak membuat tubuh jadi kekurangan cairan. 

    Itulah beberapa tips yang dapat kita lakukan agar tidak dehidrasi ketika puasa. Cukup mudah dilakukan bukan? Pada dasarnya, puasa adalah ibadah yang bernilai besar dihadapan Allah SWT. 

    Dengan cara yang tepat, kita bisa melakukan ibadah puasa dengan lancar, tanpa hambatan, dan tetap sehat. Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk kita semua ya!

  • Apakah Merokok Membatalkan Puasa? Ini Kata 4 Mazhab

    Apakah Merokok Membatalkan Puasa? Ini Kata 4 Mazhab

    Sebagian muslim mungkin belum memahami, apakah merokok membatalkan puasa? Perlu diketahui bahwa puasa bukan hanya saja menahan lapar dan haus, makna dari puasa sendiri yakni menahan diri dari segala goda nafsu dunia.

    Pertanyaan ini seringkali menjadi perdebatan serius antara muslim. Merokok sendiri dalam bahasa Arab syurb dukhan, artinya minum atau menghisap asap. Itu berarti merokok bukan menghirup asap, melainkan “menghisap”.

    Lantas, apakah hukum merokok saat  berpuasa? Yuk simak artikel ini hingga akhir.

    Hukum Merokok Saat Berpuasa

    Saat berpuasa, umumnya kita harus menghindari beberapa hal masuk ke dalam tubuh kita. Seperti makanan ataupun minuman. Baik dalam bentuk padat ataupun cair.

    Namun, bagaimana jika zat yang masuk ke dalam tubuhberbentuk gas? sebagai contoh yakni merokok. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa merokok dilakukan dengan menghisap zat berbentuk gas.

    Dilansir dari NU Online, menghirup gas seperti uap atau asap sebenarnya tidak membatalkan puasa, seperti menghirup aroma parfum atau aroma makanan.

    Baca juga: Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Namun hal ini tidak berlaku bagi merokok. yang membuat seseorang akan tampak seperti sedang mengisap, sehingga ulama menganggapnya adalah sesuatu yang dapat membatalkan puasa.

    Sehingga dapat disimpulkan hukum merokok adalah haram. Untuk penjelasan lebih lanjut, berikut empat mazhab yang menjawab pertanyaan apakah merokok membatalkan puasa:

    1. Mazhab Syafii

    Mazhab pertama yang menjelaskan megenai hukum merokok saat berpuasa adalah Imam Syafii. Hal ini dijelaskan oleh Iqbal Syauqi al Ghifary dalam buku Agar Tak Hanya Lapar dan Dahaga: Panduan Puasa Ramadhan Sehat dan Berkah, Syeikh Sulaiman dari mazhab Syafii mengatakan pendapatnya soal merokok membatalkan puasa dalam kitab Hasyiyatul Jamal bahwa:

    “Dan termasuk dari ‘ain (hal yang membatalkan puasa) adalah asap, tetapi mesti dipilih. Jika asap/uap itu adalah yang terkenal diisap sekarang ini (maksudnya tembakau) maka puasanya batal. Tapi jika asap/uap lain seperti asap/uap masakan, maka tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat yang mu’tamad (merujuk ulama karena kuat argumennya).”

    2. Mazhab Hanbali

    Mazhab kedua yakni Mazhan Hanbali, yang dikutip dari buku Step by Step Puasa Ramadhan bagi Orang Sibuk oleh Gus Arifin, bahwa mazhab Hanbali menyatakan bahwa merokok membatalkan puasa.

    Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu (benda) yang masuk ke dalam perut atau pembuluh nadi melalui beberapa lubang dalam tubuh dengan unsur sengaja, maka puasanya batal.

    Benda yang dimaksudkan tersebut dapat berupa makanan, minuman, kerikil, dahak, tembakau, obat, ataupun merokok.

    Pendapat dari ulama mazhab Hanbali ini sama dengan pendapat ulama Syafi’i bahwa syarat batalnya puasa tersebut adalah ketika seseorang sadar bahwa dirinya tengah berpuasa.

    3. Mazhab Hanafi

    Selanjutnya adalah Mazhab Hanafi, mengutip dari buku Fikih Sunnah Wanita oleh Syaikh Ahmad Jad, dikisahkan ada seseorang bertanya kepada Syaikh Husnin Makhluf perihal merokok di siang hari saat bulan Ramadhan. Syaikh pun menjawab:

    “Para pengikut Imam Hanafi telah menetapkan bahwa merokok bersifat umum. Jika ia masuk ke tenggorokan orang yang sedang berpuasa dengan menyengajanya, maka puasanya tidak batal karena ketidakmampuan orang tersebut untuk menjaganya. Hal ini seperti sifat basah yang tertinggal di dalam mulut setelah seseorang berkumur. Ini dikarenakan seseorang tidak dapat menghindari hal ini. Adapun ia memasukkan asap ke dalam tenggorokannya dengan sengaja, maka memasukannya ini dapat membatalkan puasanya, karena adanya kemampuan untuk menghindari hal tersebut.”

    Baca juga: Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    4. Mazhab Maliki

    Yang terakhir yakni, Mazhab Maliki. Dikutip di dalam buku Fiqih Puasa membahas mengenai memahami Puasa, Ramadhan, Zakat Fitrah, Hari Raya, dan Halal bi Halal oleh Gus Arifin, dijelaskan bahwa Maliki mengatakan setiap apa saja yang masuk ke tenggorokan lewat mulut, hidung, dan telinga baik secara sengaja atau tidak sengaja seperti air bahkan asap pun (rokok), maka hukum puasanya adalah batal.

    Hal ini sejalan dengan ketiga Mazhab sebelumnya, ulama Maliki juga memberikan ketentuan bahwa merokok hukumnya haram.

    Bahkan, Maliki menegaskan bahwa bagi siapa saja yang merokok saat puasa dengankesadaran, maka wajib hukumnya mengqodho puasa.

    Apakah Merokok Membatalkan Puasa?

    Setelah membahas mengenai keempat Mazhab mengenai hukum haram dalam merokok saat berpuasa, mungkin bagi sebagian orang muslim  akan bertanya, atas alasan apakah merokok membatalkan puasa?

    Untuk jawabannya, berikut beberapa alasan merokok membatalkan puasa:

    Merokok merupakan bagian dari ‘ain

    Hal ini diartikan sebagai sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dengan bentuk zat uap ataupun gas masuk melalui lubang tubuh secara sengaja. Para ulama menjelaskan ‘ain adalah benda yang masuk dalam tubuh seperti makanan, minuman, atau obat.

    Seperti yang diketahui bahwa sesuatu yang masuk ke dalam tubuh secara sengaja akan membatalkan puasa.

    • Dalam bahasa Arab, merokok termasuk bagian dari syurb (minum). Jadi, merokok sama saja seperti orang minum. Padahal makan dan minum dapat membatalkan puasa.
    • Merokok adalah aktivitas menghisap asap tembakau. Meski tidak pernah dijelaskan, perilaku ini akan memicu kecanduan bagi pengguna. Sedangkan dalam Islam sendiri, sesuatu yang membuat candu tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi. Di antara alasan haramnya rokok adalah dalil-dalil berikut ini.

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

    “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195).

    Karena merokok dapat menjerumuskan dalam kebinasaan, yaitu merusak seluruh sistem tubuh (menimbulkan penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, dan merusak sistem reproduksi), dari alasan ini sangat jelas rokok terlarang atau haram.

    Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

    “Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).

    Dalam hadis ini dengan jelas terlarang memberi mudhorot pada orang lain dan rokok termasuk dalam larangan ini.

    Demikianlah penjelasan mengenai pertanyaan, apakah merokok membatalkan puasa serta alasan yang mendukungnya. Semoga bermanfaat, Assalamualaikum wr. Wb.

  • Niat Puasa Syawal 6 Hari sesuai Sunnah dan Keutamaannya

    Niat Puasa Syawal 6 Hari sesuai Sunnah dan Keutamaannya

    Dalam Islam, ada beberapa jenis puasa yang dilaksanakan selain puasa wajib di bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah puasa Syawal yang konon memiliki banyak manfaat. Lantas, bagaimana lafal niat puasa Syawal 6 hari?

    Niat puasa Syawal tentu saja berbeda dengan puasa Ramadhan atau puasa sunnah lainnya. Kita tidak bisa menggunakan niat puasa Ramadhan yang sudah dihafal. Bacaan niatnya harus benar-benar sesuai.

    Sayangnya, sebagai muslim kita masih seringkali lalai. Sehingga, banyak yang belum hafal bahkan tahu niat puasa Syawal yang tepat. Maka pada artikel kali ini, akan dibahas secara tuntas termasuk keutamaan melaksanakan puasa Syawal.

    Bacaan Niat Puasa Syawal 6 Hari

    Konon, ketika seorang muslim merencanakan sesuatu yang positif, Allah memberikan pahala atas niatnya. Khusus untuk ibadah puasa, selain kita niatkan dalam hati juga harus diiringi dengan pengucapan niat yang benar seperti berikut.

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

    NawaItu sawma ghadin ‘an adaa’i sunnati syawwali lillahi ta’ala.

    Artinya: “Saya berniat berpuasa esok hari sebagai pelaksanaan sunnah Syawal karena Allah Ta’ala”.

    Niat tersebut adalah niat puasa Syawal 1 hari. Cobalah untuk menghafalkan niatnya, dan jangan lupa untuk membacanya selama 6 hari berturut-turut.

    نَوَيْتُ صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّوَّالِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Nawaitu sauma sittati ayyamin minasy syawwali lillahi ta’ala.

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku niat puasa enam hari di bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”

    Sedangkan, niat di atas merupakan niat puasa Syawal 6 hari yang bisa kita ucapkan satu kali saja. Walaupun diucapkan satu kali, sudah cukup untuk ibadah puasa sampai enam hari lamanya.

    Ketika sudah meyakinkan diri untuk berpuasa Syawal maka laksanakanlah puasa sunnah tersebut dengan baik dan benar. 

    Hindari perbuatan yang dapat membatalkan puasa kita dan cobalah untuk menahan diri dari berbagai godaan yang ada.

    Kemudian, selain mengetahui bacaan niat puasa syawal 6 hari alangkah baiknya jika kita juga mulai menghafal niat buka puasa Syawal.

    Baca juga: Dzikir dan Doa Setelah Sholat Witir Arab-Latin Beserta Arti Sesuai Sunnah

    1. Doa Buka Puasa Syawal sesuai HR. Abu Daud

    Ada dua, niat berbuka puasa Syawal yang bisa kita pilih. Di mana, yang pertama adalah niat yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

    Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

    Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”

    2. Doa Buka Puasa Syawal sesuai HR. Bukhari dan Muslim

    Yang berikutnya adalah niat berbuka yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yakni.

    اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa ala rizqika aftartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin.

    Artinya: “Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

    Keutamaan Melaksanakan Puasa Syawal 6 Hari

    Puasa di bulan suci Ramadan identik dengan terlahir kembali sebagai muslim yang baru, di mana semua dosa dihapuskan. Lantas, bagaimana keutamaan dari menjalankan puasa Syawal?

    Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

    “Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan].”

    (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil).

    Bayangkan, puasa Syawal 6 hari itu setara dengan berpuasa selama 1 tahun penuh. Meskipun kita tidak bisa menghitung jumlah pahala, tapi setidaknya kita bisa meyakini jika pahala yang akan kita dapatkan dengan berpuasa sangatlah besar.

    Melaksanakan puasa Syawal juga membantu kita menyebarkan kebaikan 10x lipat lebih banyak dari biasanya. Penting sekali, wahai saudara muslim untuk melaksanakan ibadah puasa Syawal sekaligus melakukan kegiatan baik dan positif.

    Hindari menjalankan puasa dengan hanya berdiam diri di rumah atau tidur saja. Tidur saat puasa memang baik tapi akan lebih bermanfaat lagi apabila kita melakukan kegiatan bermanfaat selama puasa.

    Keutamaan puasa Syawal lainnya juga diriwayatkan oleh Muslim.

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

    “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).

    Siapa yang tidak ingin memperoleh pahala yang berlimpah dengan puasa Syawal? Rasanya tidak akan ada muslim yang menolaknya.

    Mengetahui semua keutamaan tersebut, sebagai muslim apakah kita akan menghindari puasa Syawal. Atau justru mulai bertanya-tanya, apa niat puasa Syawal digabung puasa senin kamis.

    Pada dasarnya, Kemenag memperbolehkan ibadah puasa Syawal digabungkan dengan puasa senin, kamis. Para ulama menilai, hukumnya sah menggabungkan keduanya karena masing-masing merupakan jenis puasa sunnah.

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    Hal yang Wajib Diperhatikan sebelum Puasa Syawal

    Pelaksanaan ibadah puasa Syawal itu bukan hanya membaca niat puasa Syawal 6 hari kemudian menjalankan puasa. Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan sebelum menjalani ibadah ini, meliputi:

    1. Usahakan Dilaksanakan Satu Hari selesai Idul Fitri

    Puasa Syawal merupakan puasa sunnah yang pelaksanaannya dilakukan usai puasa bulan suci Ramadhan berakhir. Dari sekian banyak waktu yang diberikan, konon waktu puasa Syawal terbaik adalah satu hari pasca idul fitri.

    Namun, Allah tetap menarima umatnya yang menjalankan puasa Syawal di akhir waktu. Dengan catatan, puasa tersebut masih kita lakukan di bulan Syawal.

    2. Lakukan Puasa Berurutan

    Bagaimana cara melaksanakan puasa Syawal yang baik dan benar? Yang paling direkomendasikan dan diutamakan adalah melaksanakannya selama 6 hari tanpa jeda.

    Namun, jika dalam prosesnya kita memiliki hambatan atau masalah maka tidak dilarang untuk berpuasa Syawal tanpa berurutan. Niatkan saja puasa Syawal dengan hati yang tulus dan ikhlas karena Allah.

    3. Utamakan Menyelesaikan Qodho’ Puasa

    Berbeda dari puasa Syawal yang termasuk puasa sunnah, qodho’ puasa adalah puasa wajib. Oleh karena itu, lebih dianjurkan untuk menyelesaikan qodho’ puasa daripada mengajar puasa Syawal.

    Setelah menyelesaikan qodho’ puasa, kita bisa melanjutkan ibadah puasa dengan melaksanakan puasa Syawal. Tentu saja pahala yang akan kita peroleh jauh lebih melimpah.

    4. Diperbolehkan Niat Puasa saat Terbit Fajar

    Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ

    Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasa’i no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)

    Sabda nabi tersebut, tentunya membuat kita khawatir puasa Syawal tidak diterima Allah. Tapi jangan khawatir terlebih dahulu karena sabda tersebut ditujukkan untuk ibadah puasa wajib.

    Sementara, jenis puasa sunnah diizinkan untuk membaca niat walupun sudah terbit fajar.

    Itulah sedikit informasi mengenai puasa Syawal 6 hari yang semoga berguna bagi kita para muslim. Banyak orang yang menutup mata dengan kelebihan puasa sunnah sehingga lebih memilih melakukan puasa wajib saja.

    Dengan mengetahui keutamaan, niat puasa Syawal 6 hari dan informasi lainnya semoga mata kita terbuka. Melihat apapun ibadahnya, selama dilaksanakan dengan baik, maka akan mendatangkan kebaikan dan pahala.

  • 20 Ide Jualan Minuman Bulan Puasa yang Trend dan Laku

    20 Ide Jualan Minuman Bulan Puasa yang Trend dan Laku

    Bulan Ramadhan menjadi peluang emas bagi pedagang, banyak yang memanfaatkan momen ini untuk berjualan takjil maupun makanan sahur. Banyak sekali ide jualan minuman bulan puasa yang bisa kamu coba dengan modal kecil.

    Sebagian orang akan ragu-ragu untuk memulai karena mempertimbangkan modal yang dipunyai tidak banyak untuk membuka suatu usaha.

    Akan tetapi, kita tidak mesti berjualan dengan modal yang besar untuk mendapatkan untung yang besar juga, lho.

    Ide Jualan Minuman Bulan Puasa Laris Manis

    Berikut beberapa rangkuan beberapa ide jualan minumlan bulan puasa terlaris dan banyak diburu orang pada saat menjelang buka puasa.

    1. Aneka Es Buah

    Aneka Es Buah

    Saat berpuasa, orang akan cenderung memikirkan hal-hal segar untuk membasuh tenggorokan yang telah seharian kering saat menahan dahaga. 

    Tentu saja, tidak akan ada yang bisa menolak segarnya es sirup campur dengan isian buah-buahan segar seperti semangka, melon,cincau dan taburan selasih.

    Terlebih jika cuasa saat berpuasa cenderung panas, dan banyak sekali aktivitas seharian yang dilakukan.

    Es bah akan menjadi plihan terbaik utuk meredakan dahaga berbuka puasa. Karena itu, tidak ada salahnya untuk mencoba menjual aneka es buah segar di pasar takjil.

    Baca juga: 15 Arti Mimpi Digigit Ular Menurut Islam, Apa Saja?

    2. Aneka Boba Rasa

    Dewasa ini, sedang viral-viralnya aneka minuman dengan berbagai macam jenis seperti minuman maupun es krim yang ditaburi boba di dalamnya. Mengingat bahwa masyarakat cenderung untuk mengikuti tren yang sedang naik-naiknya, tentu hal ini menjadi kabar baik jika kamu ingin mencarri ide jualan minuman bulan puasa.

    Memang agak membutuhkan persiapan yang matang, namun ide jualan minuman saat puasa satu ini tidak akan padam hingga terlewatnya Ramadhan, lho.

    3. Es Campur

    Siapa yang tidak tertarik untuk membeli minuman segar satu ini? ide jualan minuman saat puasa satu ini banyak diminati oleh semua kalangan dari generasi ke generasi, lho. Es campur ini memiliki rasa yang manis serta menyegarkan dan memiliki harga yang terbilang murah.

    Oleh karena itulah, tak heran banyak orang yang memilihnya untuk dijadikan sebagai menu berbuka puasa.

    Proses pembuatannya pun tidak lah sulit, Kamu cukup menyiapkan cincau, kolang kaling, cendol, santan, es dan susu. Jika ingin lebih menarik lagi, kamu bisa menginovasikan tampilannya semenarik mungkin dipadukan dengan packaging yang lucu dan aestheti.

    Namun, sebelum kamu siap menjualnya, pastikan resep yang kamu gunakan sudah melewati proses pemilahan ya. Sehingga pembelimu tidak merasa tertipu hanya dengan tampilannya yang lucu.

    4. Es Cappucino Cincau

    Minuman satu ini pernah viral yang menjadi favorit banyak orang karena perpaduan cincau dan juga cappucinonya yang sesuai dengan lidah asia.

    Bahkan es cappucino incau menjadi salah satu kreasi yang paling banyak disukai dan punya potensi untuk bisnis. Bahan yang digunakan juga relatif murah dan mudah didapat, kamu hanya cukup membeli bahan-bahan seperti gula jawa, cincau, cappucino bubuk beberapa saset saja dan juga susu.

    Untuk menarik pelanggan, kamu bisa melakukan inovasi seperti tampilan yang cantik atau mungkin diberikan toping sesuai dengan selera pelanggan seperti menambah keju, remahan oreo atau yang lainnya.

    Jika kamu tertarik untuk mencobanya, kamu bisa memulainya dengan melihat resep mudah pembuatan es cappucino cincau dan lakukan peniruan serta modifikasi ala kamu untuk tampilan yang lebih cantik dan menarik pelanggan.

    5. Es Susu Kurma

    Kurma identik dengan bulan Ramadhan, tidak hanya dijadikan makanan pembuka saat berbuka puasa, kurma bisa dibuat menjadi suguhan menyegarkan, lho.

    Es susu kurma menjadi salah satu hal menarik untuk dijaikan ide jualan minuman saat puasa, selain rasanya yang nikmat, susu kurma menjadi sajian bermanfaat yang memberikan kesehatan tubuh.

    Selain itu, kamu tidak membutuhkan bahan baku mahal untuk menjual minuman menyehatkan satu ini, hanya perlu menyiapkan freshmilk, kurma, madu dan es batu.

    6. Es Kelapa Muda

    Es Kelapa Muda

    Dari sabang sampai merauke, minuman satu ini tak pernah bisa ditolak sebagai penghilang dahaga yang menyenangkan. Pasalnya, selain penyajiannya yang cepat, es kelapa muda juga memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

    Meski ada banyak sekali pedagang yang memikirkan untuk menjual hal yang sama, kamu bisa menjual es kelapa muda dengan  memodifikasi rasanya serta memberikan sedikit sentuhan modern, seperti pemilihan toping tambahan.

    Kamu juga perlu tahu bahwa peluang penjualan es kelapa di bulan puasa sangat besar dalam meraup keuntungan apalagi dengan bahan-bahan sederhana, murah dan mudah didaptkan.

    Baca juga: Hukum Suami Lebih Mementingkan Ibunya Daripada Istrinya

    7. Aneka Thai Tea

    Minuman satu ini berasal dari negara Thailand dan sempat juga menjadi tren minuman kekinian dan banyak digemari oleh berbagai kalangan di masyarakat. Oleh sebab itu, minuman satu ini bisa menjadi salah satu ide jualan minuman saat puasa nanti.

    Meski rasa teh ini otentik ala Thailand, namun tetap bisa diterima oleh berbagai kalangan dari usia muda hingga dewasa karena terbukti segar dan nikmat.

    Jika kamu membayangkan bahwa thai tea ini hanya memiliki satu varian rasa, tentu saja tidak. Sebab aneka minuman thai tea ini biasa disajikan dengan berbagai varian rasa yang bisa dipilih oleh pembeli, seperti taro, strawberry, matcha dan masih banyak lagi.

    Menjualnya juga tidak begitu sulit, kamu bisa menggunakan perisa kemasan yang banyak dijual di market place dan memadukannya dengan sedikit resep rahasia yang bisa kamu tambahkan sesuai dengan keinginanmu.

    8.  Es Semangka Viral

    Jika kamu sering melihat orang yang berjualan es jeruk peras yang segar, ada minuman yang tak kalah segar untuk menghilangkan dahaga, yakni es semangka yang sempat viral karena pedagang india menjualnya.

    Selain rasa penasaran karena maraknya berita mengenai es satu ini, es semangka ini terbukti sangat enak dan memang menyegarkan dahaga, apalagi jika diminum saat berpuasa.

    Bahan pembuatan es semangka viral ini sangat mudah didapat, kamu hanya membutuhkan semangka, sirup dan es batu saja.

    9. Es Teh

    Siapa yang tidak kenal dengan minuman favorit seantero Indonesia ini? Es teh menjadi pilihan simpel yang selalu cocok untuk dijadikan minuman menjelang buka puasa.

    Meski sedikit umum dan bisa dibuat sendiri, kamu bisa mencobanya dengan memodifikasi seperti pesaing lain dengan memadukan teh dengan minuman rasa lainnya, seperti lemon tea, lychee tea, teh melati, teh hitam,  Dan jangan lupakan tampilan aesthetic untuk menarik pembeli.

    10. Alpukat Kocok

    Ide jualan minuman bulan puasa lainnya yakni alpukat kocok. Selain sehat, alpukat juga memiliki banyak penggemar karena rasanya yang lembut dan juga menyegarkan.

    Jika biasanya kamu melihat banyak pedagang yang menjual jus alpukat, kali ini kamu akan menjualnya dengan ide yang lebih kreatif seperti alpukat kocok.

    Apalagi jika ditambah es batu, susu dan berbagai toping menarik lain. Es alpukat kocok tidak hanya mengenyangkan, tetapi lebih segar dan pas menjadi menu pembuka puasa.

    Untuk membuatnya, kamu hanya perlu menyiapkan es serut, susu, alpukat, dan creamer agar alpukat kocok lebih terasa nikmat. Dan jangan lupa siapkan berbagai toping menarik ya!

    11. Es Blewah

    Es Blewah

    Mungkin sebagian anak muda zaman sekarang akan asing mendengar minuman satu ini, namun hal ini juga menjadi kabar menarik sebab akan memberikan rasa penasaran untuk mencicipinya.

    Minuman satu ini memiliki rasa segar dan manis, saat bulan Ramadhan, kita akan dengan mudah menemukan blewah di toko buah maupun sayur. Karena hanya bisa ditemui pada saat saat tertentu, hal inilah yang membuat beberapa orang asing dengan minuman satu ini.

    Jika kamu tertarik untuk mencoba menjualnya, kamu bisa memulainya dengan mengumpulkan bahan-bahan sederhana dalam membuat es blewah, yakni blewah, air, es, gula/sirup.

    Meskipun terbilang minuman sederhana yang bisa dibuat sendiri, pembuatannya yang cukup memakan waktu dalam membuat serutan blewah, orang-orang akan memilih untuk membelinya saja dibanding untuk membuatnya sendiri.

    Untuk itu, es blewah cocok sebagai ide jualan bulan puasa modal kecil yang menguntungkan. Apalagi, sepertinya masih jarang orang yang menjual es blewah. Kamu dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih cuan lebih banyak.

    Agar lebih banyak untung kamu juga bisa mengkreasikan es blewah dengan berbagai sirup aneka rasa. Atau dengan menambahkan isian pada es blewah jualanmu.

    12. Es Buko Pandan

    Ide jualan minuman selanjutnya adalan es buko pandan. Mnuman ini merupakan menu khas Filiphina, yang isiannya terdiri dari paduan potongan puding pandan, daging kelapa, nata decoco dan selasih yang kemudian dicampur kuah susu serta sirup yang manis.

    Perpaduan rasa gurih dan manis pada minuman ini menjadi pilihan yang cocok untuk kamu jual saat puasa, karena tampilannya yang cantik dan menggiurkan. Agar lebih segar kamu bisa enambahkan es batu atau endinginkannya terlebih dahulu sebelum dijual.

    Jika biasanya kamu melihat es bko pandan yang disajikan sederhana dengan cap putih bundar, kamu bisa menginovasinya dengan mengubah tampilan kemasan menjadi lebih cantik dan juga menarik.

    Selain tampilan, kamu juga bisa memvariasikan rasa buko pandan dengan mengganti puding menjadi rasa buah dan susu krmer yang disesuaikan dengan varian rasa puding, sebagai contoh, puding mangga dan susu perisa mangga.

    13. Es Rainbow Mojito

    Saat  puasa, orang akan cenderung mencari sesuatu yang menarik perhatian mata dan nampak menyegarkan. Karena itulah ide jualan minuan kali ini yakni es rainbow mojito yang memiliki tampilan warna cantik dan terlihat sangat menggiurkan.

    Tidak hanya memiliki penampilan yang cantik, minuman ini memang terbukti menyegarkan. Es mojito merupakan minuman sejenis koktail yang berasal dari negeri Kuba dan basanya akan mudah ditemui di resto-resto mewah dan juga cafe.

    Meski begitu, kamu bisa mengubahnya menjadi lebih ecofriendly yang bisa dijual dipiggir jalan dengan standing pouch ditambah dengan sedotan warna warni. Minuman ini identik dengan rasa asam dan segar yang berasal dari perasaan jeruk lemon dan juga daun paper mint.

    Dengan kesegaran itu, tentu saja es ini menjadi pendamping yang pas untuk berbuka puasa. Agar lebih menarik lagi, tidak hanya tampilannya saja, kamu bisa memberikan varin rasa yng berbeda-beda dan juga berbagai toping buah di dalamnya. Dengan begitu kamu pun bisa meningkatkan harga per cup nya dan mendapatkan keuntungan lebih banyak.

    14. Es Jagung Hawai

    Jika kamu pernah melihat makanan yag terbuat dari paduan antara jagung, susu dan keju. Es ini merupakan salah satu olahan yang memiliki bahan dasar jagung susu dan juga keju, hanya saja proses pembuatannya yang berbeda.

    Tidak hanya es semangka dan juga alpukat kocok yang pernah viral, es jagung hawai juga pernah menjadi pembicaraan beberapa konsumen karena kenikmatannya.

    Perpaduan rasa manis dan juga gurih membuat pecinta jagung selalu ingin membelinya, tentu hal ini menjadi kabar baik bagi kamu yang ingin membuka usaha saat bulan Ramadhan. Jika kamu berminat untuk menjualnya, pastikan kamu mendapatkan jagung yang berkualitas, agar es jagung hawaimu memiliki cita rasanya yang nikmat juga ya!

    15. Es Cendol

    Meski merupakan minuman yang sudah ada dari zaman dahulu, namun es ini tetap melegenda dan memiliki peminatnya lho sampai sekarang. Jadi kamu jangan takut tidak laku jika ingin menjualnya.

    Mungkin beberapa orang akan mengira bahwa es cendol ini sama dengan es dawet. Namun faktanya, es cendol dan es dawet adalah dua hal yang berbeda, salah satu perbedaannya yakni bahan utama dalam pembuatannya.

    Cendol sendiri terbuat dari sagu aren, tepung beras dan hukwe.Sedangkan dawet hanya dari hunkwe dan tepung beras saja. Ciri khas es cendol yang nikmat adalah disajikan dengan gula aren dan agar-agar, dan jangan lupa bumbuhi es batu agar lebih segar.

    16. Es Sari Tebu

    Setelah berpuasa seharian, berbuka puasa selalu akan lebih nikmat jika disuguhkan sesuatu yang dingin, manis dan juga menyegarkan. Es tebu memiliki semua kriteria tersebut.

    Tak heran bila es ini tak pernah sepi peminat. Rasa manisnya yang alami dan segar juga sangat baik untuk mengganti cairan tubuh.

    Selain banyak peminat, jualan es sari tebu juga gampang karena penyajiannya sangat mudah. Namun, kamu harus punya alat pemeras tebu agar bisa jualan es ini. Jadi, sebaiknya pikirkan terlebih dahulu jika modalmu minim.

    17. Es Pisang Ijo

    Saat Ramadhan, orang akan mencari suatu makanan yang memang hanya mereka bisa temui saat momen tersebut, salah satunya yakni es pisang ijo. Minuman satu ini merupakan sajian yang identik sekali dijual pada saat Ramadhan tiba, bahkan menjadi salah satu primadona minuman yang sering diburu-buru orang.

    Mengingat hal tersebut, kamu bisa mencoba menjualnya. Jika teratrik kamu bisa memulai dengan membuatnya dirumah. Es pisang hijau terbuat dari buah pisang yang dibalut dengan tepung warna hijau.

    Selain itu ditambahkan bubur sumsum, sirup, dan es batu. Sehingga selain menyegarkan, minuman ini juga bikin kenyang, lho!

    18. Aneka Smoothies Kaki Lima

    Aneka Smoothies Kaki Lima

    Ada banyak sekali minuman viral yang bertebaran di media sosial, namun sayangnya tak banyak yang berkeinginan untuk menjualnya. Jika memperhatikan hal tersebut, kita bisa menjadi pencetus memulainya bisnis tersebut.

    Salah satunya yakni minuman smoothies yang sempat viral karena tampilannya yang menggiurkan dan tampak segar. Kita bisa memodifikasi smoothies yang dijual di cafe-cafe untuk disesuaikan dengan konsumen kaki lima atau pasar ramdhan saat puasa tiba.

    Perpaduan jus buah segar dan juga creamer buatan akan membuat jualanmu lebih hemat, apalagi jika kamu sajikan dengan tampilan yang cantik, pasti orang akan berbondong-bondong untuk mencobanya.

    19. Es Kuwut

    Minuman ini bisa dijadikan ide jualan minuman saat puasa. Sudah pernah dengar belum mengenai es kuwut?

    Es kuwut ini terbuat dari serutan buah timun yang dipadukan dengan sirup dan es batu. Cita rasa yang khas, manis, dan segar sangat cocok untuk menemani buka puasa.

    Maka dari itu, dengan jualan es kuwut kamu akan mendapatkan keuntungan yang besar.Apalagi modal yang dikeluarkan kecil. Jadi, kamu tidak usah khawatir lagi untuk jualan es ini.

    Selain itu, bahan dan cara pembuatannya juga sangat simple dan mudah, kamu bisa mencobanya untuk dijadikan referensi jualan nanti saat bulan ramadhan.

    20. Es Oyen

    Minuman ini berasal dari Bandung dan sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Es ini berisi berbagai macam isian yaitu alpukat, nangka, kelapa muda, bubur mutiara, ketan hitam, tape, kolang kaling, dan roti tawar. Sangat menggiurkan bukan?

    Dan jangan salah, peminat es oyen ini juga sangat banyak, lho! Jadi, jika kamu berminat untuk berjualan es oyen, kamu tidak perlu takut daganganmu tidak laku.

    Minuman ini juga tidak hanya laris pada saat momen bulan puasa saja, melainkan pada bulan-bulan seperti biasa juga akan laris pembeli.

    Nah, itulah dia 20 ide jualan minuman bulan puasa yang bisa kamu coba. Sebetulnya masih banyak ide-ide lain yang berpotensi untuk menghasilkan cuan. Namun, beberapa di atas merupakan minuman yang paling sering orang cari saat puasa.

    Setelah tahu idenya, tinggal kamu serius atau tidak untuk berjualan. Kalau ingin sukses, tentu saja memulai dan lewati dengan konsisten.

    Semoga bermanfaat dan sukses selalu ya!

  • Doa Malam Lailatul Qadar dan Amalan di malam Lailatul Qadar, Yuk Amalkan!

    Doa Malam Lailatul Qadar dan Amalan di malam Lailatul Qadar, Yuk Amalkan!

    Doa malam lailatul qadar adalah doa yang bisa kamu amalkan saat bulan Ramadhan. Lebih tepatnya ketika malam lailatul qadar tiba. Pada malam tersebut, kamu bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar.

    Diketahui bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Hal tersebut dibuktikan dalam surat Al-Qadr ayat 1-5, Allah SWT berfirman:

    ١ الْقَدْرِ لَيْلَةِ فِيْ اَنْزَلْنٰهُ اِنَّآ

    ٢ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ مَا اَدْرٰىكَ وَمَآ

    ٣ شَهْرٍۗ اَلْفِ مِّنْ خَيْرٌ ەۙ الْقَدْرِ لَيْلَةُ

    ٤ اَمْرٍۛ كُلِّ مِنْ رَبِّهِمْۚ بِاِذْنِ تَنَزَّلُ فِيْهَا وَالرُّوْحُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ

    ٥ الْفَجْرِ مَطْلَعِ حَتّٰى ۛهِيَ سَلٰمٌ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam lailatul qadar, tahukah engkau apakah malam lailatul qadar itu ? Malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5).

    Dan malam lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, lebih tepatnya pada malam ganjil. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

    تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

    Artinya: “Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Doa Malam Lailatul Qadar

    Berikut doa malam lailatul qadar beserta artinya:

    1. Doa malam lailatul Qadar menurut riwayat Imam At-Tirmidzi

    عَنِّي فَاعْفُ اَلْعَفْوَ تُحِبُّ كَرِيمٌ عَفُوٌّ إِنَّكَ اَللَّهُمَّ

    Bacaan latin: Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (‘annā jika dibaca berjamaah).

    Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).”

    Adapun berikut bunyi hadis riwayat Imam At-Tirmidzi:

    وَعَنْ عائشة رضي الله عنها: قالت: «قلت: يا رسولَ الله إِنْ وَافَقْتُ ليلةَ القَدْرِ ، ما أَدْعُو قال: قُولي: اللهم إنك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي» أخرجه الترمذي

    Artinya: “Dari sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai lailatul qadar, bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī,”” (HR At-Tirmidzi).

    Baca juga: Doa Menghilangkan Pikiran Kotor dalam Islam, Pikiran Kembali Bersih

    2. Doa malam lailatul Qadar menurut riwayat lima Imam hadis kecuali Abu Dawud

    Doa malam lailatul qadar

    عَنِّي فَاعْفُ اَلْعَفْوَ تُحِبُّ عَفُوٌّ إِنَّكَ اَللَّهُمَّ

    Bacaan latin: Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (‘annā jika dibaca berjamaah).

    Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).”

    Adapun berikut bunyi riwayat hadis lima Imam hadis kecuali Abu Dawud:

    وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اَللَّهِ: أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اَلْقَدْرِ, مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ: “قُولِي: اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي” رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ غَيْرَ أَبِي دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ

    Artinya: “Dari sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengerti sebuah malam itu adalah lailatul qadar. Bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī’” (HR lima imam hadis kecuali Imam Abu Dawud. Hadis ini diakui shahih oleh Imam A-Tirmidzi dan Al-Hakim).

    5 Amalan di Malam Lailatul Qadar

    1. Memperpanjang sholat malam

    Amalan yang bisa kamu lakukan di malam lailatul qadar adalah melaksanakan sholat malam atau qiyamul lail. Hal ini sesuai dengan hadis yang artinya:

    Artinya: “Barang siapa yang bangun menegakkan salat malam di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mencari ridha Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Selain itu, Nabi Muhammad SAW terbiasa memperpanjang sholat malam pada saat memasuki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis di bawah ini:

    Artinya: “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki sepuluh Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Menghadiri sholat berjamaah

    Amalan selanjutnya adalah sholat berjamaah, yakni sholat isya dan subuh secara berjamaah. Hal tersebut bersumber dari Abu Maryam Kautsar Amru dalam buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadan.

    Ulama besar Imam Syafi’i dalam Latha-if Al-Ma’arif pernah berkata, orang yang menghadiri sholat Isya dan Subuh berjamaah sudah termasuk dalam bagian orang-orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar. Ia berkata:

    Artinya: “Siapa yang menghadiri salat Isya dan sholat Subuh pada malam Lailatul Qadar maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.”

    Pernyataan Imam Syafi’i di atas disandarkan dari sabda Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Utsman bin Affan RA. Rasulullah SAW bersabda,

    Artinya: “Siapa yang menghadiri salat Isya berjamaah, maka baginya pahala salat separuh malam. Siapa yang melaksanakan salat Isya dan Subuh berjamaah, maka baginya pahala salat semalam penuh.” (HR Muslim dan Tirmidzi).

    Baca juga: Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    3. Membaca doa lailatul qadar

    Saat malam lailatul qadar tidak afdhol jika tak membaca doa lailatul qadar. Bacaan doa lailatul qadar tujuannya supaya diberi permohonan agar mendapat keselamatan dunia dan akhirat.

    Doa yang dimaksud adalah doa Lailatul Qadar yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah dalam Kitab Riyadhus Shalihin oleh Imam an-Nawawi. Berikut bacaan doa lailatul qadar

    عَنِّي فَاعْفُ الْعَفْوَ تُحِبُّ عَفُوٌّ إِنَّكَ اللَّهُمَّ

    Bacaan latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwan fa’fu ‘anni.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau suka memberi maaf, maka maafkan aku.”

    Bacaan doa Lailatul Qadar tersebut merupakan potongan dalam hadits yang dikisahkan dari istri Rasulullah SAW, Aisyah RA. Ia pernah berkata:

    Artinya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).’” (HR Tirmidzi).

    4. Itikaf di Masjid

    Itikaf merupakan ibadah dengan berdiam diri di masjid. Berdia diri yang dimaksud adalah tidak keluar masjid dikarenakan sibuk melaksanakan berbagai kegiatan ibadah, seperti sholat wajib dan Sunnah.

    Itikaf juga menjadi salah satu amalan malam lailatul qadar yang bisa kamu lakukan.


    Pengamalan itikaf pada malam Lailatul Qadar didasarkan dari hadits yang diceritakan Aisyah RA. Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW melakukan itikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadan. Di bawah ini adalah hadisnya:


    Artinya: “Nabi SAW melakukan itikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan itikaf setelah beliau wafat.” (HR Muslim).

    Itulah ringkasan mengenai doa malam Lailatul Qadar beserta amalan sunnah yang bisa dilakukan pada malam ganjil bulan Ramadhan.

    Mari berlomba meraih kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini.

  • Apakah Sikat Gigi Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Apakah Sikat Gigi Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, salah satu amalan wajib yang dikerjakan seorang muslim adalah berpuasa. Tentu kita semua ingin ibadah puasa ini menjadi sempurna. Untuk itu, perlu bagi kita mengetahui apakah sikat gigi membatalkan puasa?

    Umat muslim memang dianjurkan untuk menghindari zat padat, cair maupun gas masuk ke dalam bagian tubuh manapun saat berpuasa.

    Lantas,bagaimana dengan sikat gigi? Apakah sikat gigi membatalkan puasa? Simak penjelasan di bawah ini, yuk!

    Apakah Sikat Gigi Membatalkan Puasa?

    Bagi seorang muslim, bulanRamadhan merupakan bulan yang sangat penting. Ibadah yang sempurna merupakan keinginan bagi semua muslim di dunia.

    Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat berpuasa di bulan Ramadhan.

    Salah satunya adalah pertanyaan mengenai apakah sikat gigi membatalkan puasa atau tidak. Sebetulnya, perlu diketahui bahwa sikat gigi sendiri dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya sebagai bentuk kebersihan diri dalam menjaga gigi dan mulut agar tetap sehat.

    Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    Andaikan tidak memberatkan, aku akan mewajibkan  siwak kepada umatku” (HR: Bukhari dan Muslim).

    Selain untuk membersihkan gigi dan mulut dalam Islam bertujuan untuk mendapatkan keridaan Tuhan. Rasulullah bersabda:

     “Sikat gigi (siwak) untuk membersihkan mulut, membuat Tuhan rida dan menguatkan pandangan” (HR: Ahmad dan Nasa’i)

    Sikat gigi memang dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagai bentuk kebersihan diri bagi seorang muslim, namun saat berpuasa hal ini dikhawatirkan dapat membatalkan puasa.

    Baca juga: Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Kekhawatiran ini dijelaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain, menjelaskan bahwa berkumur dan sikat gigi ketika puasa hukumnya makruh.

    ‎ ومكروهات الصوم ثلاثة عشر: أن يستاك بعد الزوال

    Artinya, “Hal yang makruh dalam puasa ada tiga belas. Salah satunya bersiwak setelah zhuhur,” (Lihat Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtadi’in, Cetakan Al-Maarif, Bandung, Halaman 195).

    Penjelasan lain juga disampaikan oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu’, syarah al-Muhadzdzab. Kehati-hatian tatkala sikat gigi harus diperhatikan, sebab jika ada material yang masuk ke tenggorokan, baik air, pasta gigi, atau bulu dari sikat gigi, maka puasanya batal. Meskipun dilakukan tanpa sengaja.

    ‎ لو استاك بسواك رطب فانفصل من رطوبته أو خشبه المتشعب شئ وابتلعه افطر بلا خلاف صرح به الفورانى وغيره 

    Artinya: Jika ada orang yang memakai siwak basah. Kemudian airnya pisah dari siwak yang ia gunakan, atau cabang-cabang (bulu-bulu) kayunya itu lepas kemudian tertelan, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat ulama. Demikian dijelaskan oleh al-Faurani dan lainnya. (Abi Zakriya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, juz 6, halaman 343)

    Oleh sebab itu, dianjurkan saat puasa menyikat gigi hanya dilakukan pada pagi hari saja, sedang saat dilakukan siang hari hukumnya sudah makruh, atau boleh saja menyikat gigi cukup dengan kayu siwak (arok), solusi lainnya adalah menyikat gigi tanpa pasta gigi.

    Sementara anjuran berkumur kala puasa adalah menghindari berkumur dengan berlebihan (al-mubalaghah).

    Yang dimaksudkan disini adalah berkumur dengan terlalu kencang dann terlalu banyak. Hal ini dikhawatirkan akan membatalkan puasa, dengan tertelannya sedikit air.

    ‎أَمَّا الصَّائِمُ فَلَا تُسَنُّ لَهُ الْمُبَالَغَةُ بَلْ تُكْرَهُ لِخَوْفِ الْإِفْطَارِ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ 

    “Adapun orang yang berpuasa maka tidak disunnahkan untuk bersungguh-sungguh dalam berkumur karena khawatir membatalkan puasanya sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab al-Majmu`” (Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, 1, halaman 39)

    Hingga pada tahap ini sudah tahu apakah sikat gigi membatalkan puasa? Jawabnya tentu saja tidak, hal ini didukung dengan banyaknya dalil yang sudah dijelaskan di atas.

    Cara Mengatasi Bau Mulut Saat Sedang Puasa

    Cara Mengatasi Bau Mulut Saat Sedang Puasa

    Saat berpuasa, gas di dalam pencernaan kita naik ke atas mulut, dan kadang menyebabkan aroma mulut tidak sedap.

    Tidak hanya itu, mulut kering juga menjadi salah satu pendonor terjadinya mulut bau saat puasa. Tentu hal ini akan menjadi masalah dalam kepercayaan diri seseorang.

    Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui cara mengatasi bau mulut yang benar, berikut tipsnya:

    1. Membersihkan mulut setelah sahur dan buka

    Tips pertama yakni membersihkan mulut setelah sahur dan juga berbuka. Menyikat gigi  sendiri disebutkan sebagai pembersih 60% kotoran dari permukan gigi namun tidak bisa menjangkau kotoran di sela gigi.

    Oleh sebab itu, perlu untuk membersihkan sela gigi sesudah sahur dengan alat seperti benang gigi. Sehingga tidak akan menyebabkan bau mulut saat siang hari tiba.

    Baca juga: Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

    2. Memperhatikan asupan makanan dan minuman

    Tips selanjutnya adalah memperhatikan asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh.

    Hindari mengonsumsi terlalu banyak produk susu saat sahur. Alasannya, produk susu mengandung protein jenis tertentu yang ketika terurai dapat menyebabkan bau mulut.

    Tidak hanya itu, kita sebaiknya menghindari merokok, dan makan makanan sehat dan seimbang, serta hindari mengonsumsi makanan beraroma kuat atau pedas.

    Hindari pula asupan kafein seperti kopi, teh, cokelat, dan soda, terutama saat sahur.

    3. Gunakan obat kumur

    Tips selanjutnya yakni menggunakan obat kumur antibakteri yang banyak dijumpai di pasaran.

    4. Penuhi kebutuhan cairan

    Bau mulut biasanya terjadi karena mulut kering dan dehidrasi. Kunci agar tidak bau mulut saat puasa yang terakhir adalah dengan mencukupi kebutuhan air atau cairan tubuh.

    Minumlah setidaknya delapan gelas atau dua liter air per hari, aturlah pola konsumsi air putih dengan dua gelas saat membatalkan puasa, empat gelas setelah shalat magrib sampai lepas makan malam, dan dua gelas saat sahur.

    Tidak hanya itu, tubuh juga memerlukan kandungan vitamin yang bisa didapatkan dari buah-buahan, yang di dalamnya kaya akan air. Hindari minuman kemasan manis yang akan menyebabkan masalah kesehatan lainnya.

    Nah, itulah penjelasan mengenai pertanyaan apakah sikat gigi membatalkan puasa? Ternyata sikat gigi saat puasa diperbolehkan, lho.

  • Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    Artikel ini akan membahas dalil keringanan puasa untuk ibu hamil. Bagi Moms yang sedang hamil dan menyusui, tentunya mereka masih bertanya-tanya apakah mereka masih harus menjalankan ibadah shaum saat bulan puasa.

    Puasa menjadi kewajiban setiap umat Muslim saat bulan Ramadhan. Tapi bagaimana dengan ibu hamil? Biasanya mereka tidak berpuasa karena takut membahayakan kondisi dirinya dan sang janin.

    Karena alasan itu, banyak ibu hamil yang tidak berpuasa. Banyak dari mereka yang menggantinya dengan kewajiban qadha, baik itu puasa atau membayar fidyah.

    Beberapa dari kita masih belum tahu bagaimana jika ini terjadi. Jadi seperti apa hukum berpuasa untuk ibu hamil? Mari kita cari tahu bersama-sama.

    Alasan Ibu Hamil dan Menyusui Tidak Berpuasa

    Kita sudah melihat bahwa ibu hamil biasanya tidak berpuasa karena khawatir dengan kondisi dirinya dan sang janin. Jika mereka berpuasa, takutnya mereka akan kekurangan kebutuhan gizi untuk dirinya dan sang janin.

    Puasa pada dasarnya menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Ibadah ini menjadi wajib saat bulan Ramadhan. Akan tetapi, ada pengecualian bagi yang sedang sakit keras atau haid. Kedua kondisi itu menghalangi mereka untuk berpuasa.

    Beberapa ulama memberi pendapat demikian berdasarkan ayat Al Quran berikut ini:

    فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ

    Artinya:

    “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin“. (Q.S. Al-Baqarah: 184).

    Dari ayat tersebut, tercantum bahwa orang sakit atau sedang dalam perjalanan bisa tidak berpuasa. Asalkan ia wajib membayar utang berupa puasa qadha di luar bulan Ramadhan. Jika tidak mampu, mereka harus memberi makan orang miskin.

    Bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui? Sebagian ulama berpendapat ayat itu bisa menjadi dalil keringanan puasa untuk ibu hamil.

    Baca juga: Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya

    Ibu Hamil Tidak Berpuasa Menurut Medis

    Saat kita berpendapat ibu hamil dan menyusui sebaiknya tidak berpuasa, setidaknya ini tidak benar-benar salah. Pasalnya, pengetahuan sains dan medis ikut mendukung pendapat ini.

    Pada dasarnya, ibu hamil dan menyusui membutuhkan gizi dan kalori lebih banyak dari biasanya. Bagi ibu hamil, kenaikan kebutuhan itu dipicu dengan kebutuhan gizi bagi sang janin demi perkembangannya di hamil.

    Sementara bagi ibu menyusui, mereka membutuhkan nutrisi lebih banyak demi ASI yang berkualitas untuk Si Kecil. Kedua alasan ini menjadi pemicu agar ibu hamil dan menyusui tidak berpuasa.

    Umumnya, ibu hamil membutuhkan kurang lebih 2200-2300 kalori per hari, sementara ibu menyusui membutuhkan 2200-2600 kalori per hari. Peningkatan kalori bagi ibu menyusui terpicu oleh kebutuhan energi ekstra setelah persalinan dan produksi ASI.

    Apabila tidak mencapai kebutuhan kalori minimal, ibu hamil bisa saja mengalami hipoglikemia atau kekurangan kadar gula darah pada tubuh. Kondisi ini akan berdampak bagi sang janin. Apalagi saat harus berpuasa selama 12 jam.

    Terlebih, kurangnya gizi berupa vitamin dan mineral bagi ibu hamil juga akan membahayakan janin di rahim. Hal ini sekaligus menurunkan daya tahan tubuh yang memicu kesulitan dalam menjaga kesehatan.

    Inilah mengapa banyak yang bertanya tentang keringanan puasa untuk ibu hamil. Tidak heran beberapa dari ibu hamil cukup resah jika mereka masih harus berpuasa saat Ramadan. Selanjutnya, kita bahas bagaimana hukumnya menurut ulama.

    Pendapat Ulama dan Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil

    Bagaimana pendapat ulama tentang hukum puasa untuk ibu hamil dan menyusui? Jawabannya bermacam-macam. Bahkan, mereka masih berbeda pendapat tentang permasalahan ini.

    Jika melihat kembali pembahasan surat Al Baqarah ayat 184, para ulama berpendapat ibu hamil termasuk tergolong yang tidak wajib berpuasa. Terdapat sebuah dalil dari hadits yang memperkuat pendapat tersebut.

    إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad).

    Kutipan hadits tersebut bisa menjadi dalil ibu hamil boleh tidak berpuasa. Tercantum bahwa musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan, wanita hamil dan menyusui boleh tidak menjalankannya.

    Hukum menggantinya dengan qadha atau fidyah masih menjadi pertanyaan. Para ulama juga memperdebatkan soal ini dengan berbeda pendapat. Umumnya, terdapat tiga pendapat sebagai berikut:

    1. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibu hamil dan menyusui hanya wajib menggantinya dengan qadha. Beliau memberi pendapat ini berdasarkan perkataan Ali bin Abi Thalib.

    2. Imam Syafi’I dan Imam Ahmad sepakat bahwa ibu hamil wajib meng-qadha jika khawatir dengan kondisinya. Jika khawatir terhadap sang janin, ia harus meng-qadha atau memberi makan orang miskin setiap hari sebagai utang tidak berpuasa.

    3. Ibnu Abbas memberi pendapat ibu hamil dan menyusui hanya harus memberi makan pada orang miskin tanpa meng-qadha.

    Berdasarkan ketiga pendapat itu dari dalil keringanan puasa untuk ibu hamil, ada dua pilihan. Ibu hamil bisa menunaikan ibadah puasa qadha selama beberapa hari saat tidak berpuasa Ramadhan. Alternatifnya, mereka bisa memberi makan orang miskin.

    Apakah Ibu Hamil Masih Bisa Puasa?

    Setelah mengetahui hukum puasa bagi ibu hamil dan menyusui, kita pasti terpikir sebuah pertanyaan. Apakah ibu hamil masih bisa menjalankan ibadah puasa? Jawabannya tergantung kondisi kesehatan dan kehamilannya.

    Jika tetap ingin menjalankan ibadah puasa, ibu hamil harus tetap memenuhi gizi yang tinggi. Saat sahur dan buka puasa, menu biasa bisa diganti dengan makanan kandungan kalori, protein, vitamin, dan mineral lebih banyak dan efektif.

    Misalnya saat berbuka puasa, ibu hamil bisa membuat menu makanan dan minuman mengandung susu, kurma, buah-buahan segar, dan madu. Kurma terkenal memiliki kalori tinggi yang tidak membuat kenyang.

    Selain itu, pilihlah daging hewani yang berprotein tinggi dan rendah lemak. Daging memiliki kalori dan tinggi yang bisa membuat tidak terasa lapar lebih cepat. Ini membantu ibu hamil dalam menjalankan ibadah puasa selama 12-13 jam.

    Jika kondisi ibu hamil lemas, mual, dan pusing, sebaiknya segera berbuka dan jangan tunggu hingga maghrib. Kondisi tersebut menjadi gejala hipoglikemia yang dipicu kekurangan nutrisi. Lebih tepatnya, ini ikut membahayakan janin.

    Ibu hamil yang mengalami kondisi fisik yang kurang memungkinkan, seperti mengalami lesu, mual, dan muntah, sebaiknya tidak berpuasa. Pasalnya, hal ini bisa memperparah kondisi fisiknya.

    Apabila usia kandungan sudah mencapai enam bulan ke atas, alangkah baiknya ibu hamil tidak berpuasa. Oleh sebab itu, Hormon insulin janin sudah mulai bekerja, sehingga ibu hamil membutuhkan lebih banyak nutrisi.

    Berdasarkan dalil keringanan puasa untuk ibu hamil yang sudah dibahas, tidak ada salahnya ibu hamil dan menyusui tidak berpuasa. Tapi jika tetap ingin menjalankannya, semua tergantung kondisi fisik masing-masing asalkan tidak membahayakan.

  • Niat Puasa Ramadhan Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

    Niat Puasa Ramadhan Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

    Berbeda dengan puasa sunnah, puasa Ramadhan memiliki makna yang lebih sarat makna, penantian, dan kenikmatan. Selain disebut sebagai bulan pengampunan, ramadhan memiliki banyak sekali keberkahan bagi sebagian umat muslim. Untuk menyambut dan ikut serta melaksanakannya, mengetahui niat puasa ramadhan menjadi adab penting dalam berpuasa.

    Niat puasa harus dilakukan dengan baik dengan penuh kesadaran baik di dalam hati maupun dilafalkan. Hal ini dianggap penting karena niat menjadi awal kekusyuan umat muslim dalam beribadah dengan mengingat Allah SWT.

    Dalam hadist riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

    Artinya: ” Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang Ia niatkan,” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Pentingnya mengawali bulan keberkahan dengan niat yang benar. Niat sendiri menjadi pembeda antara satu ibadah dengan ibadah lainnya atau membedakan antara ibadah dan kebiasaan.

    Selain itu, niat juga menjadi pembeda tujuan seseorang dalam beribadah. Itulah mengapa pentingnya mengetahui niat yang benar. Sebab niat sendiri menjadi rukun atau syarat sah semua amal ibadah.

    Dalam hal ini, pentingnya niat dalam segala ibadah juga bertujuan agar amalan yang dikerjakan tidak dianggap sia-sia di sisi Allah SWT. Membaca niat puasa Ramadhan yang benar semata-mata hanya ingin mendapatkan Ridho dari Allah SWT.

    Jika kamu bertanya apa niat puasa Ramadhan yang benar?, Waktu yang tepat untuk membaca niat, langkah untuk membaca niat, atau apakah berpuasa akan tetap diterima jika lupa dan tidak membaca niat?. Semua jawaban dari semua pertanyaan itu ada di artikel ini. Yuk simak!

    Niat Puasa Ramadhan Arab, Latin, dan Artinya

    Berikut 6 lafal niat puasa sehari-hari selama bulan Ramadhan yang bisa kamu gunakan:

    1. Niat Puasa Ramadhan

    Niat puasa ramadhan ini yang umum digunakan untuk sebagian besar umat muslim Indonesia saat bulan ramadhan.

    Inilah yang biasanya kita dengar dan diajarkan oleh orang tua dan guru-guru kita sedari SD bahkan usia dini.

    Kata “Ramadhana” merupakan mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda baca akhirnya berupa fathah, sedangkan kata “sanati” diakhiri dengan tanda baca kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr dengan alasan lil mujawarah.

    Berikut doa niat puasa Ramadhan arab:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

    Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā 

    Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

    Baca juga: 3 Doa Buka Puasa Ramadhan & Sunnah: Arab-Latin dan Artinya

    2. Doa niat puasa terdapat dalam Kitab Asnal Mathalib

    Kata “Ramadhana” pada niat di atas menjadi mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda fathah, sedangkan kata “sanata” diakhiri dengan fathah sebagai tanda nashab atas kezharafannya.

    Berikut doa dan artinya :

     نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanata lillāhi ta‘ālā 

    Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala”.

    3. Doa niat yang dikutip dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam

    Kata “Ramadhani” dianggap sebagai mudhaf ilaihi yang juga menjadi mudhaf sehingga diakhiri dengan kasrah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarr-nya.

    Sementara kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr atas musyar ilaih kata “hādzihi” yang menjadi mudhaf ilaihi dari “Ramadhani”.

    Berikut doa dan artinya :

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā 

    Artinya: “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

    4. Doa niat puasa yang bersumber dari kitab I’anatut Thalibin. 

    Berikut doa dan artinya :

    نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ

    Nawaitu shauma Ramadhāna

    Artinya: “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”

    5. Doa niat puasa juga bersumber dari kitab I’anatut Thalibin 

    Berikut doa dan artinya :

     نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ

    Nawaitu shauma ghadin min/’an Ramadhāna

    Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.” 

    6. Doa niat puasa yang dikutip dari Kitab Asnal athalib. 

    Berikut doa dan artinya :

     نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ

    Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati ‘an fardhi Ramadhāna 

    Artinya: “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.” 

    Waktu Berniat Puasa yang Tepat

    Pentingnya membaca niat menjadi pembeda tujuan serta pembeda antara ibadah dan kebiasaan.

    Selain itu, niat puasa Ramadan adalah salah satu lima rukun islam yang wajib dilaksanakan oleh umat islam di seluruh dunia.

    Sebagai ibadah yang wajib, tentu penting untuk kita mengetahui waktu yang tepat untuk berniat puasa Ramadhan. Berikut penjelasan detail mengenai waktu yang tepat untuk berniat puasa Ramadhan.

    Dala madzhab Imam Syafi’I niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari, yakni waktu setelah terbenamnya matahari (maghrib) sampai dengan sebelumnya terbit fajar shadiq (sebelum waktu subuh).

    مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

    “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah) 

    Dalam berpuasa Ramadhan, kita dianjurkan melakukan niat pada malam hari atau sebelum waktu subuh. Dan tidak sah puasa seorang umat muslim dengan niat puasa pada saat fajar terbit. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiyah Al Bujaramy ala Al Khatib sebagai berikut:  

    وَيُشْتَرَطُ لِفَرْضِ الصَّوْمِ مِنْ رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِهِ كَقَضَاءٍ أَوْ نَذْرِ التَّبْيِيتُ وَهُوَ إيقَاعُ النِّيَّةِ لَيْلًا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ النِّيَّةَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ } وَلَا بُدَّ مِنْ التَّبْيِيتِ لِكُلِّ يَوْمٍ لِظَاهِرِ الْخَبَرِ  

    Artinya: “Disyaratkan dalam melaksanakan puasa fardhu Ramadhan atau lainnya seperti puasa qadha atau puasa nadzar untuk tabyit, yakni melakukan niat pada malam hari sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW: ‘Barang siapa tidak berniat puasa sebelum fajar (malam hari) maka dianggap tidak berpuasa.’ Oleh karena itu, niat berpuasa harus dilakukan setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits tersebut.” (lihat Syekh Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar al-Bujairimi al-Syafi’i, Hasyiyah Al Bujaromy ala Al Khotib, Juz 6, hal. 424). 

    Dari dalil-dalil di atas, kita dapat membuat kesimpulan bahwa waktu yang tepat untuk membaca niat puasa Ramadhan yakni di malam hari setelah maghrib dansebelum waktu subuh tiba. Oleh karena itu, amalkan niat ini sebagai keinginan kita sebagai umat muslim untuk mencapai keridhoan Allah SWT dan keberkahan pada bulan Ramadhan yang penuh dengan kebaikan.

    Pentingnya Membaca Niat Puasa

    Niat puasa Ramadhan menjadi salah satu syarat sah berpuasa, hal ini bukan tanpa sebab. Niat berpuasa memiliki kegunaan bagi diri umat muslim, yakni sebagai pengingat bagi diri sendiri bahwa kita sedang beribadah dan meminta ridho Allah SWT dengan melakukan puasa di bulan Ramadhan.

    Dengan niat yang kuat serta kesadaran penuh akan pentingnya berlomba-lomba mencari pahala pada bulan yang diridhoi-Nya.

    Kita akan selalu diingatkan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan selama puasa Ramadhan memanglah harus ikhlas dan tulus.

    Selain itu, niat puasa juga meningkatkan rasa keikhlasan dalam beribadah. Dengan mengucapkan niat puasa, kita akan memperkuat tekad dalam diri untuk melaksanakan puasa dengan ikhlas karena Allah ta’ala.

    Tidak hanya itu, niat puasa Ramadhan juga menambah pahala dan memperbaiki kualitas puasa. Dengan niat yang baik dan benar, kita akan melaksanakan puasa dengan penuh kesadaran dan menghindari tindakan yang bisa membatalkan puasa atau bahkan mengurangi amalan puasa.

    Apakah lupa baca niat puasa Ramadhan sah atau tidak?

    Setelah membahas pentingnya niat puasa bagi keberkahan Ramadhan. Selanjutnya, pertanyaan mengenai hal ini tentu akan timbul dengan sendirinya.

    Menjawab pertanyaan bagaimana, bahwa niat sendiri merupakan syarat sah untuk berpuasa. Jika seorang umat muslim lupa dan tidak membacakan niat berpuasa karena kelalaiannya, tentu puasa akan dianggap tidak sah.

    Dala madzhab Imam Syafi’I niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari, yakni waktu setelah terbenamnya matahari (maghrib) sampai dengan sebelumnya terbit fajar shadiq (sebelum waktu subuh).

    مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

    “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah) 

    Jelas dijelaskan bahwa “memberi niat adalah salah satu syarat sahnya berpuasa. Berpuasa tanpa memberi niat tidak dianggap sah. Kendati karena lupa, puasa tetap dianggap tidak sah, apalagi jika berniat di siang hari.

    Meski demikian, orang tersebut juga wajib tetap berpuasa pada hari itu, artinya ia tetap harus menahan makan dan minum sampai waktu berbuka puasa.

    Tidak sebatas wajib tetap berpuasa, dia juga wajib mengqadhanya di lain waktu karena status puasanya tidak sah. Hal ini sebagaimana pernah dijelaskan NU Online.

    Bacaan Niat Berpuasa, dibaca Setiap Hari?

    Mengenai bacaan niat puasa Ramadhan yang dibacakan setiap hari. Mengenai empat Imam Mazhab, mereka sepakat bahwa mengucapkan niat puasa cukup dilakukan sekali di awal bulan Ramadhan, dengan beberapa perbedaan dalam detailnya.

    Imam Hanafi dan Maliki menekankan bahwa niat puasa harus diucapkan pada malam hari sebelum fajar, sementara Imam Syafi’i dan Hambali memperbolehkan niat diucapkan pada malam atau pagi hari, asalkan sebelum tergelincir waktu dhuha.

    Namun, terdapat beberapa ulama yang berpendapat bahwa mengucapkann niat puasa di setiap malam Ramadhan lebih baik karena menunjukan tekad kita untuk mencari keridhoan Allah SWT.

    Hal ini juga didukung oleh Ulama Imam An Nawawi dalam Kitab Al Majmu’, bacaan niat sahur perlu dilafalkan setiap hari selama sebulan.

    “Wajib niat untuk tiap-tiap hari, baik Ramadhan atau lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab kami.

    Bila seseorang berniat di awal malam Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, niatnya tidak sah kecuali hanya untuk niat malam pertama saja.”

    Dari penjelasan di atas umat muslim diperbolehkan untuk menggunakan niat puasa Ramadhan sebulan penuh, namun disarankan untuk lebih baik berniat setiap malam untuk mendapatkan amalan yang lebih dari Allah SWT.

    Apakah Boleh Niat Berpuasa Menggunakan Bahasa Indonesia?

    Mengingat akan Allah SWT yang Maha Pengampun dan Mengasihi Allah SWT, niat puasa menggunakan bahasa Indonesia diperbolehkan.

    Sebab, dalam islam yang paling penting dari sebuah niat adalah kesungguhan dan keinginan kita untuk menjalankan perintah Allah SWT.

    Dalil yang dapat kita gunakan sebagai referensi adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

    Hadits ini menunjukkan bahwa niat adalah hal yang paling fundamental dalam setiap amal perbuatan, termasuk puasa.

    Selain itu, salah satu ungkapan Syeikh Abu Bakar Syatha dalam I’anah at-Talibin berbunyi “Niat itu dengan hati dan tidak diisyaratkan mengucapkannya”.

    Namun, tetap disunnahkan jika niat puasa Ramadhan dilafalkan” . Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Barangsiaa yang tidak berniat puasa malam hari sbeelum fajar, maka puasanya tidak sah”.

    Cara Niat Puasa Menggunakan Bahasa Indonesia

    Niat untuk puasa dapat dilakukan dengan ucapan lisan maupun dalam hati. Berikut ini adalah contoh niat untuk puasa:

    “Saya niat berpuasa pada hari ini (atau nama bulan Ramadan) untuk menjalankan ibadah puasa yang diwajibkan oleh Allah SWT.”

    Ucapan tersebut dapat diucapkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Arab dengan menyebutkan nama bulan puasa atau hari yang dimaksud. Ingatlah bahwa niat puasa harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, tulus, dan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

    Selain itu, niat juga harus diikuti dengan amalan yang baik dan menjauhi segala hal yang dapat membatalkan puasa.

    Usahakan untuk meresapi setiap makna niat puasa Ramadhan yang akan dijalani, Insyaallah meski menggunakan bahasa Indonesia, kita akan tetap endapatkan manfaat spiritual yang lebih besar.

    Perkara yang Membatalkan Niat Puasa

    Ketika berpuasa, kaum muslimin biasanya akan mewaspadai aktivitas makan maupun minum yang disengaja bisa membatalkan puasa.

    Namun, jarang sekali seorang muslim tahu bahwa tidak hanya berpuasa yang bisa batal. Niat juga bisa batal karena beberapa hal.

    Oleh karena itu, maka otomatis puasa dianggap tidak sah. Imam Nawawi menukil pernyataan al-Mutawalli yang membahas perihal batalnya niat ini sebagai berikut:

     قَالَ الْمُتَوَلِّي فِي آخِرِ الْمَسْأَلَةِ السَّادِسَةِ مِنْ مَسَائِلِ النِّيَّةِ لَوْ نَوَى فِي اللَّيْلِ ثُمَّ قَطَعَ النِّيَّةَ قَبْلَ الْفَجْرِ سَقَطَ حُكْمُهَا لِأَنَّ تَرْكَ النية ضد للنية بخلاف مالو أكل في الليل بَعْدَ النِّيَّةِ لَا تَبْطُلُ لِأَنَّ الْأَكْلَ لَيْسَ ضِدَّهَا

    “Al-Mutawalli berkata di akhir masalah keenam dari masalah-masalah niat: Apabila seseorang berniat di malam harinya kemudian memutus niat tersebut sebelum fajar maka hukum niatnya menjadi gugur sebab meninggalkan niat adalah lawan dari niat.” (An-Nawawi, al-Majmû’ Syarh Muhaddzab, VI, 299).

    Lalu bagaimana bila ketika pertengahan puasa di siang hari kemudian berniat membatalkan puasanya, apakah niatan pembatalan ini dapat membatalkan puasanya? Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan:  

    وَلَوْ تَرَدَّدَ الصَّائِمُ فِي قَطْعِ نِيَّةِ الصَّوْمِ وَالْخُرُوجِ مِنْهُ أَوْ عَلَّقَهُ عَلَى دُخُولِ شَخْصٍ وَنَحْوِهِ فَطَرِيقَانِ أَحَدُهُمَا عَلَى الْوَجْهَيْنِ فِيمَنْ جَزَمَ بِالْخُرُوجِ مِنْهُ وَالثَّانِي وَهُوَ الْمَذْهَبُ وَبِهِ قَطَعَ الْأَكْثَرُونَ لَا تَبْطُلُ وَجْهًا وَاحِدًا

    Artinya: “Bila orang yang berpuasa ragu apakah ia telah memutus niat puasanya, membatalkannya atau menggantungkan niatnya atas datangnya seseorang dan sebagainya, maka ada dua pendapat seperti dalam kasus orang yang memastikan akan membatalkan puasanya. Pendapat yang kedua adalah pendapat resmi mazhab, dan ini diputuskan oleh mayoritas ulama Syafi’iyah, yakni tidak batal sama sekali.” (An-Nawawi, al-Majmû’ Syarh Muhaddzab, III, 285)

    Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa, hal yang membatalkan niat puasa adalah mengurungkan niat puasa Ramadhan itu sendiri.

    Hal ini dijelaskan dengan, jika terdapat seorang muslimin yang sakit atau melakukan perjalanan jauh serta ragu apakah esok harinya akan berpuasa atau tidak.

    Dalam hal ini, keraguan menjadi perkara yang bisa membatalkan niat puasa dan seandainya besok tetap diteruskan berpuasa, maka puasanya dianggap tidak sah.

    Itulah beberapa penjelasan mengenai niat dan jawaban atas beberapa pertanyaan mengenai niat puasa Ramadhan dan waktu yang tepat untuk berniat beserta dalil yang relevan. Semoga informasi dalam artikel ini bermanfaat ya!