Tag: Puasa

  • 8 Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah dan Amalan di Akhir Ramadhan

    8 Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah dan Amalan di Akhir Ramadhan

    Setiap muslim yang ingin mendapatkan keberkahan bulan suci dan sebagai upaya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT sebaiknya membaca doa akhir Ramadhan.

    Beberapa orang mungkin juga penasaran apa yang dilakukan Rasul di akhir Ramadhan? Salah satunya tentu dengan membacakan doa kepada Allah SWT untuk memohon ampun atas kelalaian yang pernah dilakukan.

    Oleh karena itu, sebagai umat Nabi Muhammad SAW sudah sepatutnya kita mengikuti setiap ajaran yang telah dicontohannya. Termasuk doa Ramadhan di akhir bulan sebelum perpindahan ke bulan Syawal.

    Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    Ramadhan menjadi bulan mulia yang ditunggu kedatangannya oleh umat Islam dengan penuh kebahagiaan. Sehingga perlu ditutup dengan sesuatu yang mulia dan mengharapkan kesempatan di waktu mendatang untuk berjumpa kembali.

    Membaca doa tutup puasa Islam di akhir bulan Ramadhan seakan menjadi sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Di mana, sudah sepatutnya kita mengikuti ajaran dengan turut mengamalkannya di akhir bulan Ramadhan.

    Berdasarkan beberapa sumber Islami, ada setidaknya 8 doa akhir Ramadhan arab dan artinya yang bisa kita ikuti, antara lain:

    1. Doa Akhir Ramdhan Pertama

    Doa Akhir Ramdhan Pertama

    Rasulullah SAW tidak pernah berhenti mengajarkan umatnya untuk selalu melakukan hal-hal baik yang menguntungkan. Salah satunya tercatat dari hadits akhir Ramadhan.

    أَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

    Allahumma laa taj’alhu aakhirol ‘ahdi min shiyaaminaa iyyaahu, fa’in ja’altahu faj’alnii marhuuman, wa laa taj’alnii mahruuman.

    Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadhan ini Bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhir bagiku, maka jadikan lah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku orang yang Engkau murkai.”

    Baca juga: 8 Doa Mohon Perlindungan dan Keselamatan pada Allah SWT

    2. Doa Kedua

    Apa doa Ramadhan selanjutnya yang bisa Rasulullah SAW panjatkan di akhir bulan suci ini? Nabi Muhammad SAW mengamalkan sebuah doa agar segala amal ibdahnya selama menjalankan puasa diterima oleh Allah SWT.

    Doanya bisa kita ikuti sebagai berikut:

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ بِالشُّكْرِ وَ الْقَبُوْلِ عَلَى مَا تَرْضَاهُ وَ يَرْضَاهُ الرَّسُوْلُ مُحْكَمَةً فُرُوْعُهُ بِالأُصُوْلِ بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ‏

    Allahummaj’al shiyamii fiihi bisysyukri wal qabuuli ‘alaa maa tardhaahur Wayardlaahurrasuulu muhkamatan furuu’uhu bil ushuli bihaqqi sayyidinaa muhammadin wa aalihit Al-Thaahiriin wal hamdu lillahi rabbil’aalamin.

    Artinya:

    ”Ya Allah, terimalah puasaku di bulan ini dengan rasa syukur. Jadikan lah puasaku ini mendatangkan keridhaan-Mu dan keridhaan para Rasul-Mu.

    3. Doa Ketiga

    اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا

    وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ

    Allahumma rabbana taqabbal minna shalatana wa shiyamana wa ruku’ana wa sujudana wa qu’udana wa tadharru’ana wa takhasysyu’ana wa ta’abbudana wa tammim taqshirana ya Allah ya rabbal alamin.

    Artinya:

    “Ya Allah, terimalah shalat kami, puasa kami, rukuk kami, sujud kami, duduk rebah kami, kerendahdirian kami, kekhusyukan kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama kami menunaikan shalat. Ya Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

    Pada doa satu ini Rasulullah SAW mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berharap segala amal ibadahnya dapat diterima secara keseluruhan. Utamanya untuk puasa, sholat, hingga pengabdian yang dilakukan atas nama Islam.

    4. Doa Memohon Ampunan

    Tidak pernah berhenti memohon ampun kepada Allah SWT. Dari sekian banyak doa akhir Ramadhan yang Rasulullah SAW contohnya, 90% diantaranya memohon ampunan kepada Allah SWT sebagaimana dalam doa berikut ini.

    Salah satunya dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A

    ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?.” Kemudian, beliau menjawab:

    اللهم انك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا يا كريم

    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna/Anni ya kariim.

    Artinya:

    “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun, dan menyukai memberikan pengampunan kepada hamba-Nya, maka ampunilah kesalahan kami. Wahai Dzat Yang Maha Mulia”.

    5. Doa Mendapatkan Surga Allah dan Terhindar dari Api Neraka

    Renungan akhir Ramadhan paling baik adalah mengingat dosa yang pernah kita lakukan. Sehingga banyak sekali diantara doa dari Rasulullah SAW yang mengajak umatnya untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampunan.

    Namun, tidak hanya itu saja, ada juga doa yang dipanjatkan untuk memohon surga Allah dan terhindar dari api neraka. Doa ini dilansir dari NU Online:

    Asyhadu an laa ilaaha illallah, astaghfirullah, nas’alukal jannata wa na’udzubika minan nar.

    Artinya: 

    “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku memohon ampunan pada Allah, aku meminta surga dan meminta perlindungan dari neraka.”

    Baca juga: Cara Menjamak Sholat Dzuhur di Waktu Ashar dan Syarat Sahnya

    6. Doa agar Puasa dan Sholat Diterima Allah SWT

    Kapan baca doa akhir Ramadhan yang baik? Rasulullah SAW menyarankan bagi setiap muslim untuk terus mendekat di 10 akhir bulan Ramadhan. 

    Namun, hari paling menyedihkan dan tidak ingin Rasulullah SAW tinggalkan adalah hari terakhir bulan Ramadhan.

    Sehingga, kitab isa mulai membaca doa akhir Ramadhan ini sejak 10 akhir bulan suci berlangsung. Sehingga nikmat dan kekhusu’ an akan terbentuk sehingga kitab isa menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah SWT.

    َبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 

    Robbanaa taqobbal Minnaa Shiyaamana waqiyamana wa ruku’ana wa sujudanaa wa tilaawatanaa Innaka Antas Samii’ul ‘Aliim.

    Artinya:

    “Ya Tuhan kami, terimalah puasa kami, sholat kami, rukuk kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    7. Doa Memohon Rahmat dan Taufiq

     اَللَّهُمَّ غَشِّنِيْ فِيْهِ بِالرَّحْمَةِ وَ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ التَّوْفِيْقَ وَ الْعِصْمَةَ وَ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنْ غَيَاهِبِ التُّهَمَةِ يَا رَحِيْمًا بِعِبَادِِ الْمُؤْمِنِيْنَ

    Allaahumma ghasysyinii fiihi birrahmati warzuqnii fiihit tawfiiqa wal ‘ismata wa thahhir qalbii min ghayaahibit tuhmati yaa rahiiman bi’ibaadihil mukminiin.

    Artinya:

    “Ya Allah, lingkupilah aku di bulan ini dengan rahmat-Mu, anugrahilah aku taufik dan penjagaan-Mu. Sucikanlah hatiku dari benih-benih fitnah (kebencian), wahai yang Maha Pengasih terhadap hamba-Nya yang beriman.”

    Rasulullah SAW membaca doa akhir Ramadhan ini tepat di tanggal 29. Di mana, isi permohonannya ingin Allah SWT memberikan Rahmat serta mensucikan diri manusia ini sebelum memasuki hari raya Idul Fitri.

    8. Doa Hari ke 28 Bulan Ramadhan

    Selanjutnya, Rasulullah di tanggal 28 Ramadhan juga membacakan doa khusus dengan permohonan agar Allah SWT mengabulkan setiap doa-doa yang dipanjatkan.

    اَللَّهُمَّ وَقُرْحَفِّيْ فِيْهِ مِنَ النَّوَافِلَ وَأَكْرِمْنِي فِيْهِ بِاحْضَارِ الْمَسَائِلِ وَقَرَّبَ فِيْهِ وَسِيْلَتِي إِلَيْكَ مِنْ بَيْنِ الْوَسَائِلِ يَا مَنْ لَا يَشْغَلُهُ الْحَاحُ الْمُلِحِينَ.

    Allahumma waqqir hazzii fihi min an-nawafila wa akrimnii fiihi bi ihdaari al-masaaila wa qarraba fiihi wasiilatii ilaika min baini al-wasaa’ili ya man laa yasyghulhu ilhaahu al-mulhiin.

    Artinya:

    “Ya Allah, penuhkanlah hidupku dengan amalan-amalan sunnah, dan muliakanlah Aku dengan terkabulnya semua permintaan. 

    Dekatkanlah perantaraan ku kepada-Mu di antara semua perantara, wahai yang tidak tersibukkan oleh permintaan orang-orang yang meminta.”

    Amalan di Akhir Ramadhan, Sebaiknya Tidak Ditinggalkan

    Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang Muslim. Namun, dibalik ibadah wajib ini, kita juga bisa mengikuti sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

    Di mana, ketika kita melaksanakannya akan membawa kebaikan dan meningkatkan amalan ibadah, tetapi jika tidak dilakukan pun sebenarnya tidak menambah dosa-dosa. 

    Berikut beberapa amalan di akhir Ramadhan yang bisa kita lakukan, antara lain:

    1. Kembali ke Masjid

    Fokus pada ibadah di saat detik-detik penutupan Ramadhan merupakan amalan mulia yang sebaiknya tidak ditinggalkan. Apabila tidak bisa bermuhasabah di dalam masjid untuk waktu yang lama, minimal melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

    Terutama bagi kaum laki-laki yang memang wajib untuk sholat berjamaah di masjid. Apalagi jika ditambah I’tikaaf di dalam masjid.

    Abu Sa’id Al-Khudri bahkan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melakukan I’tikaf di masjid sejak awal, pertengahan, dan paling sering 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Meskipun ibadah ini seringkali dianggap berat oleh kebanyakan muslim.

    2. Qiyamul Ramadhan

    Sering bolong saat sholat tarawih? Sebaiknya jangan lakukan itu jika sudah mendekati akhir bulan Ramadhan. Karena sholat ini sangat penting dilakukan. Apabila tidak sempat berjamaah, kita bisa melaksanakannya sendiri di rumah.

    3. Memohon Ampun kepada Allah SWT

    Bulan Ramadhan merupakan bulan yang suci dan penuh rahmat. Allah SWT sendiri berjanji bahwa di bulan Ramadhan ini seluruh pintu ampunan akan dibuka untuk hambanya.

    Hal ini membuat bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi seorang Muslim untuk kembali ke fitrah.

    4. Menyediakan Makanan Berbuka untuk Orang Membutuhkan

    Berbagi dalam keadaan apapun memang selalu Nabi Muhammad SAW ajarkan kepada umatnya. Mengingat bulan Ramadhan seluruh amal ibadah akan dilipatgandakan, maka sebaiknya jangan tinggalkan amalan berbagi ini, ya.

    Kita bisa membagikan makanan berbuka untuk orang membutuhkan. Baik tetangga, anak yatim, maupun seseorang yang tidak sengaja kita temui di jalan. Tanpa kita sadari, hal tersebut justru meluaskan pintu rezeki kepada kita.

    Pernyataan tersebut sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Shahih Nasa’I dan Tirmidzi.

    “Hal ini juga perlu dibiasakan, agar setelah selesai bulan Ramadhan, hal ini tidak hilang begitu saja. 

    “Barang siapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu”

    Nah, itulah beberapa contoh doa akhir Ramadhan yang dapat kita terapkan beserta amalan dari contoh Rasulullah SAW. Jangan lupa untuk terus berbuat baik, dan semoga kita masih dipertemukan lagi pada Ramadhan berikutnya.

  • 10 Macam Puasa Sunnah Beserta Niat dan Waktu Pelaksanaannya

    10 Macam Puasa Sunnah Beserta Niat dan Waktu Pelaksanaannya

    Berniat menambah amalan baik dengan berpuasa? Nah, ada macam macam puasa sunnah yang bisa kita jalankan.

    Puasa merupakan amalan yang sangat utama di mana umat muslim harus menahan diri mulai dari terbit fajar kedua hingga waktu buka puasa.

    Puasa sunnah hukumnya tidak wajib. Akan tetapi, apabila dijalankan maka kita akan mendapatkan pahala. Selain itu, terdapat banyak puasa sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa apabila dijalankan.

    Macam Macam Puasa Sunnah

    Melaksanakan puasa sunnah dapat menjadi amalan yang melengkapi amalan wajib. Pasalnya, kita sering kali memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam pelaksanaan ibadah wajib.

    Selain itu, menjalankan puasa sunnah dapat meningkatkan derajat kita sebagai hamba Allah SWT. Amalan sunnah juga memungkinkan kita untuk mendapatkan cinta Allah.

    Keutamaan menjalankan amalan sunnah dijelaskan dalam hadits berikut:

    وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

    Artinya: 

    “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari No. 2506).

    Selain mendatangkan pahala dan memiliki keutamaan sebagaimana disebutkan, menjalankan puasa sunnah juga dipercaya memberikan berbagai manfaat yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh.

    Berikut macam macam puasa sunnah yang dapat kita amalkan:

    1. Puasa Senin Kamis

    Puasa sunnah Senin-Kamis termasuk salah satu amalan yang paling sering dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.

    Hari Senin dan Kamis merupakan waktu amal perbuatan manusia diperiksa, sehingga Rasulullah ingin berada dalam keadaan puasa pada kedua hari tersebut.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

    Artinya: 

    “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi No. 747).

    Selain itu, pada riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah biasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis.

    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

    إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

    Artinya: 

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An Nasai No. 2360 dan Ibnu Majah No. 1739).

    Waktu pelaksanaan amalan yang termasuk macam macam puasa sunnah ini adalah pada hari Senin dan Kamis. Adapun bacaan niatnya adalah sebagai berikut:

    • Niat puasa Senin

    نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

    Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta’ala.

    Artinya: 

    “Saya niat puasa Senin, sunnah karena Allah ta’ala.”

    • Niat puasa Kamis

    نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

    Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta’ala.

    Artinya: 

    “Saya niat puasa Kamis, sunnah karena Allah ta’ala.”

    2. Puasa Daud

    Puasa Daud yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan secara selang seling, sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa.

    Seperti namanya, puasa sunnah ini dilaksanakan dengan meneladani puasa Nabi Daud yang mana merupakan puasa yang paling disukai Allah. Hal ini disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW:

    أحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَأحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللهِ صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ الليل، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَكَانَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَيَصُوْمُ يَوْمًا

    Artinya: 

    “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiga nya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari No. 3420 dan Muslim No. 1159).

    Dalam riwayat lain disebutkan:

    “Rasulullah berkata: “Kalau begitu puasalah sehari dan berbukalah sehari, yang demikian itu adalah puasa Nabi Allah Daud ‘alaihissalam yang merupakan puasa yang paling utama“. Aku katakan lagi: “Sungguh aku mampu yang lebih dari itu“. Maka Beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama dari itu“. (HR. Bukhari No. 3418 dan Muslim No. 1159).

    Adapun bacaan niat puasa Daud yaitu:

    نَوَيْتُ صَوْمَ دَاوُدَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

    Nawaitu shouma daawuda sunnatan lillaahi ta’aalaa

    Artinya: 

    “Saya niat puasa Daud, sunnah karena Allah Ta’ala.”

    3. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Macam macam puasa sunnah selanjutnya yaitu puasa tiga hari setiap bulan hijriyah. Puasa sunnah tiga hari juga termasuk amalan yang dilaksanakan oleh Rasulullah.

    Adapun waktu pelaksanaan puasa sunnah ini bebas. Jadi, kita bisa menjalankan puasa pada awal, tengah, maupun akhir bulan menyesuaikan kondisi yang memungkinkan.

    Meskipun waktu pelaksanaannya bebas, terdapat hari yang lebih diutamakan, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah atau yang disebut ayyamul bidh.

    Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda padanya.

    يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

    Artinya: 

    “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi No. 761 dan An Nasai No. 2424. Hasan).

    Seperti halnya puasa lain, kita tetap harus membaca niat sebelum melaksanakan amalan puasa sunnah tiga hari. Bacaan niatnya adalah sebagai berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامَ الْبَيْضِ سُنّةً للهِ تَعَالى

    Nawaitu shauma ayyaamal bidh sunnatan lillaahi ta’ala.

    Artinya: 

    “Saya niat puasa pada hari-hari putih, sunnah karena Allah ta’ala.”

    4. Puasa Sya’ban

    Puasa Sya’ban termasuk dalam macam macam puasa sunnah. Amalan ini juga termasuk puasa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

    لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

    Artinya: 

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari No. 1970 dan Muslim No. 1156).

    Sementara hadits lain menyebutkan:

    Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: “… Rasulullah SAW sering berpuasa Sya’ban seluruhnya; beliau sering berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja’.” (HR Muslim).

    Para ulama menjelaskan lebih lanjut bahwa maksud kedua dalil tersebut adalah Rasulullah melaksanakan puasa pada mayoritas hari bulan Sya’ban.

    Adapun waktu pelaksanaan puasa sya’ban adalah bebas.

    Melansir dari Rumaysho, Al Atsrom berpendapat bahwa hadits larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban bertentangan dengan hadits lainnya. Terlebih lagi, Rasulullah berpuasa pada mayoritas bulan Sya’ban.

    Niat untuk puasa sya’ban bacaannya sebagai berikut:

    نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma sya’bana lilahi ta’ala.

    Artinya:

    “Saya niat puasa Sya’ban karena Allah ta’âlâ.”

    5. Puasa Arafah

    Puasa sunnah Arrafah ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah bagi umat muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji.

    Abu Qotadah Al Anshoriy berkata:

    صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

    Artinya: 

    “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arafah? Beliau menjawab, “Puasa ‘Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, “Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim No. 1162).

    Pelaksanaan puasa Arafah bisa kita selama berpuasa 9 hari di awal bulan Dzulhijjah. Akan tetapi, berhubung hukumnya sunnah, boleh melaksanakan semampunya saja.

    Para ulama menganjurkan untuk mengutamakan puasa Arafah, sehingga sebaiknya kita tidak melewatkannya.

    Berikut bacaan niat puasa Arafah:

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

    Nawaitu shouma ‘arofata sunnatan lillaahi ta’aalaa

    Artinya: 

    “Saya niat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta’ala.”

    6. Puasa Asyura

    Puasa sunnah Asyura yang satu ini dilaksanakan pada tanggal 10 bulan Muharram. Beberapa ulama berpendapat bahwa dianjurkan melaksanakan puasa secara berurutan pada hari kesembilan dan kesepuluh bulan Muharram.

    Amalan sunnah ini memiliki keutamaan yang luar biasa, bahkan disebutkan sebagai puasa paling utama setelah puasa Ramadhan.

    Hal tersebut berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW:

    أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

    Artinya: 

    “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim No. 1163).

    Adapun bacaan niat puasa Asyura yaitu:

    نَوَيْتُ صَوْمَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاء سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma fii yaumi asyura’ sunnatan lillaahi ta’aalaa

    Artinya: 

    “Saya niat puasa Asyura, sunnah karena Allah Ta’ala.”

    7. Puasa Awal Bulan Dzulhijjah

    Puasa yang dilaksanakan pada awal bulan Dzulhijjah termasuk dalam macam macam puasa sunnah yang dilaksanakan oleh Rasulullah.

    Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Rasulullah mengatakan:

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

    Artinya: 

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[10], …” (HR. Abu Daud No. 2437).

    Anjuran berpuasa pada awal bulan Dzulhijjah dikarenakan oleh keutamaan sepuluh hari pertama bulan ini, sebagai mana disebutkan dalam sabda Rasulullah:

    « مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

    Artinya: 

    “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud No. 2438, At Tirmidzi No. 757, Ibnu Majah No. 1727, dan Ahmad No. 1968).

    Hadits tersebut berisi tentang anjuran memperbanyak amal shaleh pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Maka, amalan ini bisa meliputi berdzikir, membaca Al-Qur’an, berpuasa, ataupun amalan lainnya.

    Adapun waktu pelaksanaan puasa Dzulhijjah yaitu mulai tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Maka, puasa ini juga mencakup puasa tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah) dan puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah).

    Cara pelaksanaannya sama seperti puasa pada umumnya, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga waktu berbuka.

    Untuk niat puasa Dzulhijjah terdiri dari tiga bacaan supaya mendapatkan keutamaan tiga macam macam puasa sunnah, yaitu:

    • Niat puasa tanggal 1-7 Dzulhijjah:

    نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta‘ala.

    Artinya: 

    “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta‘ala.”

    • Niat pada pada tanggal 8 Dzulhijjah (puasa Tarwiyah)

    نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta‘ala.

    Artinya: 

    “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta‘ala.”

    • Niat puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah (puasa Arafah)

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta‘ala.

    Artinya: 

    “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta‘ala.”

    8. Puasa Sunnah Syawal

    10 Macam Puasa Sunnah Beserta Niat dan Waktu Pelaksanaannya

    Amalan yang termasuk macam macam puasa sunnah berikutnya adalah puasa syawal.

    Waktu pelaksanaan puasa sunnah ini yaitu enam hari di bulan Syawal. Sementara, tata cara pelaksanaannya bisa secara berurutan maupun dengan berpuasa pada hari yang terpisah dengan jumlah yang sama.

    Puasa Syawal merupakan amalan sunnah dengan keutamaan yang sayang untuk dilewatkan. Keutamaan puasa Syawal disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

    Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim No. 1164)

    Adapun niat puasa Syawal yaitu:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَةِ سِتَةٍ مِنْ شَوَالٍ لِلّٰهِ تَعَالَى

    Nawaitu sauma ghadin ‘an ada’i sunnati sittatin min syawwalin lillahi ta‘ala.

    Artinya: 

    “Aku niat puasa sunah Syawal di esok hari karena Allah SWT.”

    9. Puasa di Bulan-bulan Haram

    Maksudnya bulan haram yaitu bulan-bulan yang mana kita dimaksudkan untuk melepas sesuatu yang haram dan mengamalkan ibadah.

    Beberapa ulama berpendapat bahwa disunnahkan untuk berpuasa pada bulan-bulan haram. Adapun yang termasuk dalam bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

    Dalil mengenai bulan haram yaitu diriwayatkan dari Abu Bakroh, Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

    الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

    Artinya: 

    “Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 3197 dan Muslim no. 1679).

    Dalam Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan shalih yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”

    Adapun waktu pelaksanaan puasa pada bulan-bulan tersebut adalah bebas. Artinya, bisa dilakukan kapan saja. Pasalnya, tidak terdapat dalil mengenai hari khusus yang diutamakan.

    Selain itu, pensyariatan anjuran puasa bulan haram pada hari tertentu berdasarkan hadits dhaif.

    Sebagaimana pelaksanaan macam macam puasa sunnah lainnya, kita juga perlu membaca niat terlebih dahulu. Berikut bacaan niat puasa bulan-bulan haram

    • Niat puasa sunnah Dzulqa’dah:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ذُو ٱلْقَعْدَة لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa-i sunnati dzulqa’dah lillahi ta’ala.

    Artinya:

    “Aku berniat puasa sunnah Dzulqa’dah besok hari karena Allah Taala.”

    • Niat puasa sunnah Rajab:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ رَجَبَ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sunnati rojaba lillahi ta’ala.

    Artinya: 

    “Aku berniat puasa Sunnah Rajab besok hari karena Allah Ta’ala.”

    • Niat Puasa Bulan Muharram:

     نَوَيْتُ صَوْمَ مُحَرَّمٍ سُنَّةً لِلهِ تَعَالى

    Nawaitu shauma Muharramin sunnatan lillahi ta’ala

    Artinya: 

    “Aku niat berpuasa di bulan Muharram sunnah karena Allah Ta’ala.”

    10. Puasa Tarwiyah

    Puasa sunnah yang satu ini telah disinggung dalam pembahasan puasa awal bulan Dzulhijjah. Puasa sunnah tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang mana disebut sebagai hari Tarwiyah.

    Cara pelaksanaannya sama seperti puasa lain, yaitu didahului dengan niat kemudian dengan menahan diri dari hal-hal yang menghindarkan puasa.

    Adapun niat puasa tarwiyah yaitu:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillahi ta‘ala.

    Artinya: 

    “Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah SWT.”  

    Melansir dari Rumaysho, hadits mengenai anjuran dan keutamaan puasa hari tarwiyah hukumnya tidak shahih. Bahkan ada ulama yang menyebut hadits terkait sebagai hadits lemah sehingga tidak boleh menjadi landasan.

    Meski demikian, puasa sunnah tarwiyah boleh untuk kita laksanakan.

    Itulah macam macam puasa sunnah lengkap dengan waktu pelaksanaannya. Semoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat.