Category: Penelitian

  • Uji Asumsi: Pengertian, Jenis, dan Caranya

    Uji Asumsi: Pengertian, Jenis, dan Caranya

    Statistika merupakan salah satu hal yang tidak pernah lepas dari dunia kerja maupun akademik. Dalam ilmu statistika sendiri, kamu akan mengenal banyak sekali istilah tertentu, salah satunya adalah uji asumsi. Lalu, sebenarnya pengertian istilah tersebut? Bagaimana tahapannya? Yuk, simak dalam ulasan berikut ini!

    Apa itu Uji Asumsi?

    Uji asumsi merupakan salah satu jenis uji dalam ilmu statistika yang memiliki tujuan untuk memenuhi syarat statistika. Jenis uji ini harus kamu penuhi pada analisis regresi linier berganda. Umumnya, uji ini dilakukan sebelum mengembangkan atau membuat hipotesis pada sebuah penelitian.

    Apabila nantinya hasil uji tidak sesuai dengan hipotesis yang ada, maka akan banyak sekali timbul reaksi. Oleh karena itu, uji ini sangat penting adanya dalam sebuah penelitian. Parah ahli statistika juga banyak menjelaskan tentang makna dari pengujian asumsi itu sendiri.

    Menurut Azwar, apabila terjadi suatu kasus di mana uji tidak sesuai dengan keinginan peneliti, maka hasil yang didapatkan tidak sepenuhnya salah atau invalid. Ketika menemui kasus seperti ini, sebaiknya kamu tidak perlu melakukan manipulasi data dan membiarkan data berjalan apa adanya saja.

    Berbagai Jenis Uji Asumsi

    Setelah mengenal pengertiannya, selanjutnya kamu akan mengenal berbagai jenisnya. Jenis uji ini terdiri atas uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedasitas, dan sebagainya. Simak penjelasan berikut untuk lebih lengkapnya:

    1. Uji Normalitas

    Uji normalitas merupakan salah satu jenis uji yang dilakukan untuk melihat apakah ada ketidaknormalan pada suatu residu atau data. Jenis uji ini tidak perlu kamu lakukan pada semua data yang ada. Jadi, kamu hanya perlu menguji nilai residual dalam penelitian saja.

    Kesalahan yang sering terjadi adalah melakukan tes normalitas pada setiap variabel. Padahal, model regresi memerlukan normalitas pada nilai residual dan bukan pada variabel penelitian. 

    Pengamatan pada data normal dapat menghasilkan beberapa ekstrem rendah serta sangat ekstrem. Biasanya akan terakumulasi di tengah, begitu pula dengan nilai rata-rata media relatif serta mode yang berdekatan. 

    2. Uji Autokorelasi

    Uji autokorelasi adalah uji asumsi yang dilakukan untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode dengan periode-periode sebelumnya dalam model regresi. Dalam analisis regresi, uji autokorelasi bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen pada variabel dependen. 

    Contoh dari uji autokorelasi adalah dampak inflasi bulanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar. Data pada tingkat inflasi untuk bulan tertentu dipengaruhi oleh tingkat inflasi pada bulan sebelumnya. Oleh karena itu, model tersebut memiliki masalah autokorelasi. 

    Uji ini hanya bisa kamu lakukan pada data runtut waktu atau time series dan tidak perlu dilakukan pada data cross section. Contohnya seperti kuesioner, di mana pengukuran seluruh variabel dapat dilakukan secara serempak pada waktu bersamaan. 

    3. Uji Linearitas

    Uji linearitas adalah uji yang digunakan untuk melihat apakah model yang telah dibangun memiliki hubungan linear atau tidak. Tes uji linearitas ini jarang dipakai dalam beberapa studi. Sebab, biasanya dibangun atas dasar studi teoritis bahwa ada hubungan antara variabel independen dengan dependen yang bersifat linier. 

    Jika hubungan kedua variabel belum kamu tahu memiliki hubungan linear atau tidak. Maka, uji ini tidak bisa kamu gunakan untuk penyesuaian. Tes linearitas dapat kamu lakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson serta tes pengali Lagrange atau tes Ramsey. 

    4. Uji Multikolinearitas

    Uji lain dalam regresi linier berganda adalah uji multikolinearitas. Ini bertujuan untuk menentukan apakah ada korelasi tinggi antara variabel independen dalam model regresi linier berganda. Jika ada korelasi tinggi antara variabel independen, maka hubungan antara keduanya akan terganggu. 

    Sebagai contoh, dalam model regresi dengan variabel independen motivasi, kepemimpinan, dan kepuasan kerja, serta variabel dependen kinerja. 

    Jika model mencari kinerja berdasarkan dampak motivasi, kepemimpinan, dan kepuasan kerja. Maka, tidak boleh ada korelasi yang tinggi antara motivasi dan kepemimpinan, motivasi dan kepuasan kerja, atau kepemimpinan dan kepuasan kerja.

    Ketika menguji multikolinearitas, kamu dapat menggunakan alat statistik. Contohnya seperti variance inflation factor (VIF), korelasi Pearson antara variabel independen, atau pertimbangan dari nilai eigen dan indeks kondisi.

    5. Uji Heteroskedastisitas

    Pada uji heteroskedastisitas, peneliti dapat memeriksa apakah terdapat perbedaan yang tidak sama antara residu satu dengan pengamatan lainnya dalam model regresi. 

    Bukti dari uji asumsi dapat kamu buat lewat penggunaan metode scatterplot dengan melakukan plotting pada nilai prediktif dengan nilai sisa. Ketika grafik tidak mengandung beberapa pola tertentu, seperti berkumpul di tengah, lebih besar, menyempit maupun memperkecil. Maka, modelnya terbilang bagus.

    Apabila model melanggar asumsi heteroskedastisitas, solusi alternatif yang dapat kamu gunakan adalah dengan mengubah menjadi bentuk-bentuk logaritmik. Bisa juga dengan membagi seluruh variabel dengan variabel lainnya yang mengalami gangguan serupa, yaitu gangguan heteroskedastisitas.

    6. Uji Homogenitas

    Ini adalah uji untuk melihat apakah dua kelompok ataupun lebih data sampel berasa dari populasi dengan variansi sama. Jadi, tujuannya adalah untuk melihat apakah himpunan data dalam penelitian memiliki karakteristik sama atau tidak.

    Pengelompokkan variabel dengan variansi yang sama merupakan persyaratan analisis dalam regresi. Uji ini tidak selalu digunakan dalam uji parametrik. Biasanya hanya pada kasus untuk menguji perbedaan dua atau lebih kelompok. Beberapa tekniknya adalah Uji F, barlett, harley, dan levene.

    Cara Melakukan Uji Asumsi Melalui SPSS

    Setelah kamu mengetahui apa berbagai jenisnya, tak lengkap rasanya jika tidak mempraktikkan secara langsung bagaimana uji tersebut. Berikut adalah contoh tahapan melakukan salah satu uji, yaitu normalitas:

    1. Instal Aplikasi SPSS

    IBM SPSS adalah aplikasi perangkat lunak statistik yang berguna untuk melakukan analisis data dan pengolahan statistik, termasuk uji asumsi. Aplikasi ini menawarkan berbagai fitur dan algoritma pembelajaran mesin yang canggih, analisis teks, serta sumber terbuka. 

    Kamu dapat mengunduh aplikasi SPSS di situs resmi IBM https://www.ibm.com/products/spss-statistics.

    2. Memasukkan Variabel pada kolom Variabel View

    Memasukkan Variabel
    Memasukkan Variabel | Sumber Gambar: Channel Mitha Kartika

    Setelah melakukan pengunduhan dan instalasi, kamu bisa membuka lembar kerja baru. Setelah lembar kerja baru terbuka, kamu dapat memasukkan data variabel untuk memulai pengujian.

    3. Memasukkan Data pada Data View

    Setelah variabel penelitian sudah masuk, maka selanjutnya kamu dapat memasukkan data hasil penelitian sesuai dengan variabel yang telah ada. Caranya dengan masuk ke bagian data view.

    4. Melakukan Analisa

    Tahapan uji asumsi selanjutnya, kamu dapat langsung melakukan analisa. Caranya dengan klik analytics kemudian regression dan klik linier. 

    5. Setting Variabel

    Setting Variabel
    Setting Variabel | Sumber Gambar: Channel Mitha Kartika

    Setelah itu, masukkan variabel yang akan kamu analisis dengan klik satu kali pada variabel yang dituju. Variabel X masuk ke independent dan variabel Y ke dependent.

    6. Klik Statistic

    Setelah memasukkan variabel yang kamu tuju, maka selanjutnya dapat memulai uji statistika dengan klik pada kolom statistics dan pilih collinearity diagnostics. Klik continue.

    7. Klik Plots dan Save

    Lalu, pada bagian Plots, kamu bisa memindahkan *SRESID pada kolom Y dan *ZPRED pada kolom X. Klik pada histogram dan normal probability plot. Sedangkan pada bagian Save, pilih unstandardized. Klik continue untuk melanjutkan uji asumsi normalitas.

    8. Interpretasi Hasil

    Interpretasi Hasil
    Interpretasi Hasil | Sumber Gambar: Channel Mitha Kartika

    SPSS akan otomatis menjalankan analisa dan hasil analisa akan keluar dalam bentuk tabel. Selanjutnya, kamu bisa menginterpretasikan hasil sesuai dengan tujuan analisa.

    Sudah Memahami Bagaimana Cara Melakukan Uji Asumsi?

    Berikut tadi adalah pengertian hingga cara melakukan uji asumsi dalam bidang statistika. Selain melihat tutorial dan mempelajari dengan saksama, kamu juga harus mempraktikkan cara uji ini secara langsung. Sehingga, kamu akan lebih memahami dan mengerti bagaimana cara melakukan uji.

    Umumnya, pada hasil uji kamu bisa melihat hasil signifikansi yang kurang dari 0,05. Jika hasilnya kurang, berarti terdapat pengaruh antar variabelnya. Bagaimana, kamu sudah berhasil melakukan uji sendiri?

  • Simak! 7 Cara Penulisan Kajian Teori yang Baik Beserta Contohnya

    Simak! 7 Cara Penulisan Kajian Teori yang Baik Beserta Contohnya

    Dalam pembuatan karya ilmiah, pasti membutuhkan literatur dan teori-teori terkait untuk menunjang hipotesis penelitian. Beberapa literatur bisa Anda jadikan sebagai landasan untuk pengembangan lebih lanjut. Agar menjadi penelitian berkualitas, Anda butuh kajian teori sebagai pendukung hipotesis penelitian.

    Teori ini sebagai kerangka dalam keberlangsungan penelitian yang Anda lakukan. Tanpa kerangka teori, Anda tidak bisa menjawab penelitian apakah telah berhasil atau tidak. Oleh karenanya, Anda bisa mempelajari seluk beluk landasan teori melalui artikel ini. Yuk, baca artikel ini sampai selesai ya!

    Apa itu Kajian Teori?

    Menurut Wikipedia, teori berasal dari bahasa Belanda theorie yang bermakna serangkaian variabel, definisi, dalil, dan fenomena saling berhubungan dan menghasilkan suatu pandangan sistematis.

    Bukan hanya bagi mahasiswa, seorang peneliti pun terkadang tidak bisa memahami betul makna dalam terminologi teori ini. Seringkali, pandangan terhadap suatu teori adalah sesuatu yang abstrak, rumit, dan mengawang-awang.

    Padahal, peran teori dalam mengkaji suatu bidang sangat penting dalam konteks apapun. Bahkan, teori bisa menjelaskan dan mengaitkan satu peristiwa ke peristiwa yang lainnya.

    Oleh karena itu, pentingnya kajian teori atau landasan teori bagi peneliti adalah dapat menghubungkan data empiris dengan berbagai teori. Dengan begitu, Anda bisa menghasilkan karya yang sistematis.

    Landasan teori berfungsi membentuk kerangka konseptual penelitian. Berdasarkan kerangka teori, Anda bisa menjelaskan rumusan masalah, identifikasi variabel, merumuskan hipotesis, dan menghubungkan satu variabel ke variabel lainnya.

    Dengan demikian, teori dalam penelitian memberikan landasan yang kokoh dalam mengembangkan argumentasi peneliti. Sehingga, Anda tidak hanya menjabarkan secara deskriptif, tetapi juga bisa melanjutkan ke uraian eksplanatori.

    Bahkan, jika Anda mengemas teori yang mendalam, Anda juga bisa menghasilkan kritik dan saran tentang isi penelitian dengan pendekatan konseptual lainnya. 

    Maka dari itu, Anda perlu tahu langkah-langkah yang tepat untuk membuat landasan teori dalam penelitian.

    2 Kriteria Penulisan Kajian Teori

    Kriteria Landasan Teori
    Kriteria Landasan Teori | Sumber gambar: Freepik.com

    Sebelum memasuki tata cara penulisannya, ada baiknya Anda memahami dulu apa saja sih kriteria penulisan yang cocok untuk sebuah landasan teori. Berikut 2 kriteria landasan teori, yaitu:

    1.   Kriteria Ideal

    Kualifikasi pertama dalam penyusunan gagasan teori harus memuat beberapa hal berikut ini, yaitu:

    • Berisikan teori yang logis dan konsisten.
    •  Saling berhubungan antara satu pembahasan dengan yang lain.
    • Isi kajian teori menjawab permasalahan yang diteliti dan pembahasan harus tuntas.
    • Mengandung asumsi yang jelas, tidak bertele-tele dan tidak berulang.
    • Bisa untuk melakukan percobaan.

    2.   Kriteria Praktis

    Selain kriteria ideal, membuat landasan teori juga harus memenuhi kriteria yang praktis. Kriteria tersebut memuat beberapa komponen yang harus ada dalam naskah bagian teoritis, diantaranya adalah sebagai berikut.

    • Hipotesis atau dugaan awal yang berkaitan dengan topik.
    • Konsep-konsep penelitian.
    • Variabel penelitian.
    • Paradigma untuk memperkirakan aspek yang akan diuji langsung.

    7 Cara Penulisan Kajian Teori

    Penulisan Kajian Teori
    Penulisan Kajian Teori | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah mengetahui pentingnya landasan teori dalam karya ilmiah, Anda juga perlu mengetahui cara pembuatannya yang baik dan benar. Berikut 7 langkah-langkahnya, yaitu:

    1. Tentukan Variabel Penelitian

    Langkah pertama dalam pembuatan teori adalah dengan menentukan variabel penelitian. Variabel ini tergantung dengan konsep dan topik penelitian.

    Jika telah menentukan variabel, Anda bisa membuat kerangka teori apa saja yang dibutuhkan dalam menunjang penelitian.

    Variabel yang baik tentu relevan dengan penelitian. Anda bisa menjadikan judul dan metode sebagai acuan pembuatan variabel, sehingga bisa menemukan kerangka teoritis dalam tulisan.

    2. Mencari Referensi

    Poin kedua dalam membuat landasan teori adalah mencari sumber referensi. Tentunya, ini merupakan langkah yang penting. Sebab, isi dalam landasan teori itu berupa referensi.

    Anda bisa mendapatkan referensi melalui sumber publikasi ilmiah yang terpercaya, seperti web ilmiah, glosarium, jurnal, buku, dan penelitian orang lain.

    Semakin banyak referensi yang digunakan, tentu akan menambah wawasan Anda. Dengan begitu, Anda mampu menulis landasan teori yang baik.

    3. Sortir Referensi yang Relevan

    Setelah mendapatkan banyak referensi dari sumber-sumber di atas, Anda bisa melakukan penyortiran sesuai dengan topik penelitiannya.

    Lalu, Anda bisa menentukan yang akan menjadi sumber referensi utama sebagai pembanding penelitian yang akan dilakukan.

    4. Bandingkan Variabel

    Selain referensi, Anda juga perlu membandingkan variabel satu dengan yang lainnya. Hal itu berguna agar isi kajian teori lebih dalam dan runtut.

    Jika sudah melakukan perbandingan, Anda bisa menentukan variabel yang paling sesuai dengan rancangan penelitian utama.

    5. Evaluasi dan Tinjauan Topik Penelitian

    Langkah selanjutnya, melakukan evaluasi terkait variabel dan referensi yang dipilih. Tujuannya adalah untuk mengetahui pendekatan yang dilakukan oleh peneliti serta membandingkan korelasi antar penelitian. 

    Dengan adanya evaluasi, Anda bisa mengetahui mengetahui hubungan antara konsep penelitian satu dengan lainnya.

    Selain itu, Anda juga bisa menggabungkan beberapa teori dari berbagai bidang sehingga Anda bisa menciptakan kerangka yang unik.

    6. Tulislah Kajian Teori

    Bagian ini merupakan bagian terpenting untuk menuliskan teori dan mengkajinya. Setelah melakukan sortir dan pencarian referensi, ini waktunya Anda untuk menuangkan semuanya.

    Anda bisa membuat kajian tersebut dengan bahasa dan deskripsi yang dibuat sendiri, karena dapat meminimalisir adanya duplikasi dari sumber referensi.

    7. Daftar Pustaka

    Langkah yang terakhir adalah mencantumkan daftar pustaka. Jangan lupa sumber-sumber yang menjadi landasan teori dituliskan pada bagian akhir. Adanya daftar pustaka akan meningkatkan kredibilitas penelitian.

    Contoh-Contoh Kajian Teori

    Contoh Membuat Kajian Teori
    Contoh Membuat Kajian Teori | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah mengetahui cara penulisannya, coba pahami beberapa contohnya. Penulisan teori pada karya ilmiah tidak harus panjang, namun berisikan konsep dan prinsip yang menyeluruh. Berikut 2 contoh singkat yang bisa Anda terapkan,yaitu:

    1. Contoh Landasan Teori Kepemimpinan

    Kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin, yang memiliki arti memimpin; membimbing; menuntun. 

    Definisi singkatnya, pemimpin merupakan seseorang yang memimpin suatu kelompok baik itu organisasi, institusi, dan kelompok kecil dengan beberapa anggota di bawahnya.

    Menurut Ray Gullet (2009), kepemimpinan merupakan pola menyeluruh suatu organisasi, baik itu tampak maupun tidak tampak oleh bawahannya. Kepemimpinan menggambarkan pola tingkah laku, falsafah, maupun keterampilan seseorang.

    Sedangkan menurut Rivai dan mulyadi (2010), menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan merupakan salah satu ciri seorang pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi. Selain itu, gaya kepemimpinan merupakan pola perilaku atau strategi yang sering diterapkan oleh pemimpin.

    2. Contoh Kajian Teori Media Pembelajaran

    Media pembelajaran merupakan alat bantu untuk transfer ilmu baik itu gagasan, materi, maupun permainan yang bisa digunakan oleh manusia. Ilmu yang disampaikan akan diterima oleh penerima, yaitu peserta didik.

    Definisi menurut Gagne Briggs, (2002) media pembelajaran merupakan alat untuk menyampaikan suatu materi. Alat tersebut dapat berupa buku, tape, radio, kaset, video, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk membantu seorang guru dalam mengajarkan kepada muridnya.

    Sedangkan menurut Ibrahim dan Syaodih (2003), media pembelajaran dapat diartikan sebagai salah satu penyalur pesan mengenai pelajaran, perhatian, dan kemampuan peserta didik selama proses belajar mengajar.

    Sudah Tahu Cara Membuat Kajian Teori dengan Baik?

    Sebenarnya, tidak ada aturan khusus dalam pembuatan suatu kajian teori untuk penelitian. Pasalnya, teori dalam suatu karya bersifat tentatif atau sementara. Artinya, tidak ada teori yang bisa menjelaskan secara sempurna. Penyebabnya, karena teori itu bisa berubah seiring berkembangnya zaman.

    Namun, dalam membuat landasan teori penelitian, pastikan memilih teori yang relevan dengan masalah yang akan dikaji. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa bingung maupun berhenti di tengah-tengah penelitian.

  • Desain Penelitian: Pengertian, Jenis, Penerapaan, dan Contohnya

    Desain Penelitian: Pengertian, Jenis, Penerapaan, dan Contohnya

    Desain penelitian merupakan salah satu langkah awal dalam melakukan penelitian yang berperan penting untuk membantu penelitian Anda tetap pada jalur yang sesuai dengan hasil sesuai harapan. Pahami ragam jenis dan penerapannya melalui ulasan dalam artikel kali ini, yuk!

    Apa itu Desain Penelitian?

    Desain atau rancangan penelitian merupakan rencana atau kerangka penelitian yang berguna  untuk membuat penelitian menjadi terstruktur susunannya. 

    Bisa dikatakan bahwa riset desain merupakan rancangan dari kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan pengkajian data secara sistematis dan objektif guna memecahkan persoalan. Rancangan penelitian memiliki fungsi utama yaitu sebagai acuan dalam melakukan penelitian. 

    4 Karakteristik Rancangan Penelitian

    Ada empat karakteristik utama dari sebuah rancangan penelitian yang dapat Anda pelajari dalam penjelasan singkat berikut ini. 

    Karakter riset desain
    Karakter riset desain | leverageedu.com

    a. Netral

    Ketika melakukan penelitian, Anda mungkin memiliki asumsi atau hipotesis yang ingin Anda kemukakan dan simpulkan. Asumsi dan data yang Anda sampaikan harus bersifat netral dan terbebas dari bias. 

    b. Generalisasi

    Metode yang Anda pilih haruslah bisa mencakup atau relevan untuk semua jenis sampel, baik dalam skala besar maupun kecil. 

    c. Valid

    Setiap penelitian, asumsi, hipotesis maupun data harus menghasilkan konklusi yang valid dan benar. Validitas inilah yang menentukan apakah penelitian Anda dapat dipercaya atau tidak. 

    d. Keandalan

    Karakter ini mengacu pada frekuensi kesalahan muncul dan bagaimana cara menguranginya. 

    Apa saja Fungsi Desain Penelitian?

    Selain fungsi utama yang telah disinggung di awal, rancangan riset atau penelitian memiliki empat fungsi dan peranan lain untuk pelaksanaan penelitian yang Anda lakukan. 

    1. Menguji Hipotesis

    Tujuan dari penelitian adalah menjawab rumusan masalah atau hipotesis. Rancangan penelitian yang tepat akan membantu Anda untuk mencapai tujuan itu. Dalam rancangan, Anda bisa merencanakan waktu, tempat, metode, hingga batasan-batasan yang jelas sehingga hipotesis dapat terpecahkan.

    2. Pegangan Peneliti

    Rancangan penelitian terdiri atas langkah-langkah yang dapat Anda lakukan dalam proses penelitian. Rancangan riset ini bisa menjadi pegangan Anda agar tetap berada di jalur riset yang Anda inginkan. Misalnya, Anda perlu menentukan apakah penelitian Anda menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif.

    3. Mengemukakan Batas Penelitian

    Penelitian Anda juga memerlukan batasan yang berguna untuk memberikan limitasi atau ruang lingkup apa saja yang ingin Anda bahas. Dengan demikian, Anda mempunyai jalur yang jelas untuk mengkaji penelitian Anda. 

    Batasan dalam sebuah desain penelitian ini juga berguna supaya Anda tidak membahas sesuatu di luar kajian studi Anda.

    4. Memaparkan Hambatan Penelitian

    Ketika Anda merancang rancangan riset, Anda juga akan mempertimbangkan hambatan-hambatan yang mungkin Anda hadapi nanti. Contohnya antara lain jumlah responden, lokasi penelitian, hingga kajian pustaka yang ingin Anda gunakan. 

    Memaparkan hambatan ini akan membantu Anda untuk bisa mencari solusi supaya penelitian dapat berjalan lancar.

    Kenali 2 Jenis Pendekatan Penelitian beserta Jenis Desain Penelitiannya Berikut Ini!

    Rancangan penelitian umumnya memiliki banyak jenis, tergantung dari metode penelitian masing-masing. Akan tetapi, ada dua kategori pendekatan penelitian yang utama, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Dari masing-masing pendekatan, terdapat jenis riset desain yang lebih spesifik. Pelajari penjelasannya berikut ini. 

    Kualitatif dan Kuantitatif
    Kualitatif dan Kuantitatif | Revou.com

    1. Kualitatif

    Penelitian kualitatif lebih banyak menonjolkan proses dan pengolahan data berdasarkan landasan teori yang ada di lapangan. Pendekatan jenis ini cocok untuk menjawab penelitian yang berlandaskan pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”. 

    Jenis penelitian ini cocok untuk Anda yang ingin mendalami dan memecahkan bagaimana suatu peristiwa, fenomena, ataupun kemungkinan bisa terjadi.

    Berikut ini adalah jenis-jenis desain penelitian untuk pendekatan kualitatif.

    a. Etnografi

    Etnografi adalah jenis penelitian yang meneliti kebudayaan manusia pada suatu etnik tertentu dalam waktu atau periode tertentu.

    Contoh: “Kajian Etnografi: Studi Mengenai Tutur Bahasa Perempuan Jawa dalam Bermasyarakat”.

    b. Studi Kasus

    Desain Penelitian studi kasus  merupakan penelitian menyelidiki sebuah fenomena atau kasus kontemporer yang terjadi di kehidupan nyata secara mendalam.

    Contoh judul: “Studi Kasus: Tingkat Kebebasan Berpendapat Siswa di Lingkungan”. 

    c. Studi Historikal

    Studi ini meneliti perihal sumber-sumber sejarah atau peristiwa masa lampau dan dikaji secara kronologis dan sistematis.

    Contoh: “Peran Kebudayaan Hindu dalam Era Majapahit Perkembangan Kota di Mojokerto”.

    d. Grounded Theory

    Jenis penelitian yang ingin mengulik lebih dalam sebuah kajian teori yang penelitian-penelitian sebelumnya belum pernah menjawab.

    Contoh: “Peran Media Sosial dalam Berpolitik untuk Kalangan Muda: Teori yang Membumi”.

    2. Kuantitatif

    Rancangan riset berbentuk kuantitatif merupakan pendekatan yang banyak menggunakan data berupa angka. Teknik ini banyak menggunakan data statistik dan survei responden sebagai sumber data yang dikelola. 

    Tujuan pendekatan ini adalah untuk mengembangkan hipotesis berdasarkan perhitungan dan pengukuran. Kemudian, hasil perhitungan tersebut dikaitkan dengan pengamatan data empiris. 

    Berikut ini adalah jenis-jenis riset desain untuk pendekatan kuantitatif.

    a. Eksperimental

    Eksperimental adalah jenis penelitian yang dilakukan berdasarkan percobaan atau eksperimen untuk menguji hipotesis. 

    Contohnya seperti studi kasus, “Pengaruh Pembelajaran Audio Visual terhadap Motivasi Belajar Siswa SMP”

    Kenali tiga jenis desain penelitian eksperimental berikut ini, yuk!

    1. True Experimental: Jenis penelitian yang bergantung pada eksperimen, percobaan, dan data statistik untuk membuktikan sebuah hipotesis. 
    2. Quasi-Experimental: Penelitian yang menggunakan sampel atau partisipan yang terkontrol atau tidak acak. 
    3. Pre-Experimental: Merupakan rancangan dari eksperimen. Jadi, belum termasuk dalam eksperimen karena masih ada variabel luar yang mempengaruhi variabel terkontrol.

    b. Non-Eksperimental

    Jenis penelitian ini hanya dapat meneliti hubungan antar variabel dan tidak mengutak-atik variabel. Dalam pendekatan kuantitatif, penelitian ini cukup mirip dengan penelitian survei. Hasil kesimpulan dari penelitian ini juga tergantung pada interaksi, interpretasi, dan observasi.

    Berikut adalah jenis-jenis penelitian non-eksperimental yang lebih spesifik.

    1. Cross-sectional: Penelitian membandingkan dua subjek atau lebih dalam satu variabel yang sama. Biasanya berlangsung dalam satu titik waktu yang relatif singkat.
    2. Longitudinal: Studi yang meneliti suatu variabel dalam satu titik waktu ke dalam suatu periode yang lama.
    3. Korelasional: Jenis penelitian yang membandingkan dua variabel dalam suatu data statistik.
    4. Observasional: Studi yang mengamati perilaku suatu subjek dalam kehidupan alamiah atau pengamatan dari laboratorium.

    6 Langkah untuk Membuat Desain Penelitian

    Ikuti langkah-langkah dalam panduan berikut ini agar Anda dapat menyusun sebuah rancangan riset yang efisien. 

    Langkah desain penelitian
    Langkah desain penelitian | researchprospect.com

    1. Menentukan Rumusan Masalah

    Salah satu langkah awal dalam meneliti adalah menentukan prioritas Anda, contohnya rumusan masalah. Tanpa adanya rumusan masalah, penelitian tidak akan bisa berjalan. 

    Anda bisa menggunakan satu dari tiga jenis rumusan masalah berikut ini. 

    1. Deskriptif: rumusan masalah membahas permasalahan mandiri pada satu variabel. Contohnya, “Bagaimana tingkat kerjasama masyarakat desa dalam pembangunan desa?”.
    2. Komparatif: rumusan yang membandingkan dua variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel. Misalnya, “Bagaimana perbedaan warga desa dengan warga kota dalam membangun relasi sosial?”.
    3. Asosiatif: rumusan yang mempertanyakan hubungan dua atau lebih variabel dalam satu permasalahan. 

    2. Jenis Pendekatan

    Selanjutnya, Anda perlu menentukan jenis pendekatan penelitian. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Anda bisa menentukan apa penelitian Anda bersifat kualitatif atau kuantitatif. 

    3. Waktu dan Tempat

    Saat merencanakan sebuah penelitian, Anda juga perlu merencanakan tempat dan waktu penelitian Anda. Tentukan di mana dan berapa lama Anda melakukan penelitian.

    4. Kajian Pustaka

    Kajian pustaka atau literature review merupakan salah satu hal penting dalam desain penelitian. Pasalnya, pustaka atau teori akan mendukung hipotesis Anda. Penelitian Anda akan jadi lebih bisa dipertanggungjawabkan bila memiliki landasan teori yang valid dan konkret. 

    5. Sampel dan Teknik Pengumpulan Data

    Sampel dalam pendekatan kuantitatif berkaitan dengan populasi atau jumlah, baik itu manusia, hewan, maupun benda. Di sisi lain, pendekatan kualitatif lebih mengenal sampel dalam bentuk informan, narasumber, atau subjek.

    Ada beberapa cara untuk mengumpulkan data dan sampel. Berikut adalah beberapa diantaranya.

    TeknikYang Perlu Anda Perhatikan
    Survei/KuesionerRencana surveiBerapa banyak responden yang dibutuhkan?Bagaimana cara menyebarkan kuesioner?Pertanyaan apa saja yang ada dalam kuesioner?
    WawancaraKriteria narasumber yang ingin Anda wawancarai?Waktu dan lokasi bertemu dengan narasumberJenis wawancara (terstruktur atau bebas)
    EksperimenLokasi tempat melakukan percobaanPerhitungan variabelTeknik eksperimen
    Data SekunderKebenaran dari dataKriteria untuk memilih data dan referensiTeknik yang digunakan untuk menyortir data

    6. Teknik Analisis

    Teknik ini berkaitan kembali dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Jika penelitian bersifat kualitatif, maka teknik analisis Anda akan lebih berbentuk penjelasan dan interpretasi untuk menerangkan hasil penelitian. 

    Di sisi lain, pendekatan kuantitatif akan banyak mengelola angka. Anda akan melakukan pengelompokan angka, membuat statistik, hingga memaparkan sebuah bagan untuk menjelaskan hasil perolehan data Anda.

    Contoh Desain Penelitian

    Pada penelitian kualitatif, kita bisa membuat contoh rancangan penelitian dengan topik, “Studi Kasus: Penerapan Nilai Kejujuran pada Siswa SD Negeri 9 Banyu Urip”. 

    Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif. Maka, pengambilan sampel ini berupa wawancara, observasi, serta diskusi grup dengan narasumber. Data yang sudah terkumpul akan dikelola menjadi sebuah eksplanasi atau penjelasan yang menjawab hipotesis/rumusan masalah. 

    Baca Juga : Penelitian Eksperimen: Pengertian, Ciri, Tujuan dan Contoh

    Temukan Desain Penelitian yang Tepat untuk Riset Anda

    Merancang desain penelitian akan memengaruhi cara Anda menyelesaikan penelitian. Pilihlah rancangan riset yang paling sesuai dengan tujuan penelitian Anda.

    Jika Anda ingin menunjukkan data statistik maka, pendekatan kuantitatif akan cocok untuk riset Anda. Sementara, kalau Anda ingin memaparkan sebuah interpretasi berdasarkan kajian pustaka yang valid, pendekatan kualitatif lah yang lebih cocok.

    Rencanakan penelitian Anda sedetail mungkin, supaya penelitian Anda tetap berada di jalur yang konsisten dan tepat, serta lebih terstruktur dalam memaparkan hasil penelitian Anda.

  • Penelitian Eksperimen: Pengertian, Ciri, Tujuan dan Contoh

    Penelitian Eksperimen: Pengertian, Ciri, Tujuan dan Contoh

    Tahukah kamu bahwa penelitian eksperimen tidak selalu mengacu pada eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Lalu, apa yang menjadi maksud dari jenis metode penelitian ini? Jangan lewatkan informasinya hingga akhir!

    Apa Itu Penelitian Eksperimen?

    Penelitian eksperimen adalah metode ilmiah untuk melakukan penelitian dengan menggunakan dua variabel, yaitu independen dan dependen. 

    Definisi lain dari percobaan eksperimen adalah suatu jenis penelitian yang menggunakan pendekatan ilmiah untuk memanipulasi satu atau lebih variabel kontrol dari subjek penelitian dan mengukur efek manipulasi terhadap subjeknya.

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu hubungan sebab-akibat antara variabel yang ditentukan. Biasanya, pengukuran pada penelitian ini terjadi selama periode waktu tertentu untuk menentukan kesimpulannya, sehingga dapat diterapkan pada kepentingan yang lebih luas.

    Penerapan dari penelitian ini umumnya ada  dalam bidang pendidikan, psikologi, ilmu sosial, bahkan fisika. Oleh sebab itu, percobaan eksperimen tidak selalu tentang penelitian di laboratorium saja. Dasar dari penelitian adalah pengamatan, perhitungan, perbandingan dan logika.

    3 Jenis Variabel dalam Penelitian Eksperimen

    Nah, pada saat penelitian terkadang perlu ada pengontrolan variabel asing, seperti yang telah disinggung sepintas di awal. Ada tiga jenis variabel dalam penelitian dalam uraian singkat berikut ini. 

    1. Variabel Independen

    Variabel independen adalah variabel yang kamu manipulasi atau variasikan dalam studi eksperimental untuk mengetahui efek perubahannya. Kata “independen” menunjukkan bahwa variabel tersebut tidak terpengaruh oleh variabel lain. 

    Terminologi lain dari variabel independen adalah variabel sisi kanan, karena jika peneliti melakukan regresi linier hasilnya akan muncul di sisi kanan regresi linier. Istilah lainnya adalah prediktor karena membantu memprediksi hasil percobaan. 

    Selain itu, variabel independen juga dikenal sebagai variabel penjelas sebab fungsinya membantu menjelaskan hasil akhir.

    2. Variabel Dependen

    Sedangkan, variabel dependen adalah variabel yang berubah sebagai akibat dari manipulasi variabel independen. Beberapa peneliti menyebut variabel dependen sebagai variabel hasil atau variabel respons karena nilainya terkait dengan variabel independen.

    3. Variabel Asing

    Variable ini adalah variabel yang tidak termasuk dalam dalam konteks penelitian, tetapi memiliki kecenderungan untuk menimbulkan masalah pada hasil atau variabel dependen. Nama lain dari variabel asing adalah variabel pengganggu atau perancu. 

    Misalnya, kamu sedang meneliti kemampuan olahraga untuk mengurangi tekanan darah. Salah satu variabel asingnya adalah berat badan awal yang berkorelasi dengan olahraga dan memiliki efek langsung pada tekanan darah. 

    Sedangkan olahraga merupakan variabel independen dan tekanan darah adalah variabel dependen.

    Apa saja Ciri-Ciri yang Menunjukkan Penelitian Eksperimen?

    Penelitian jenis ini memiliki karakteristik khusus yang berasal dari metode analisisnya. Pembahasan berikut ini mengulas empat karakteristik dari percobaan eksperimen. 

    1. Variabel Dependen dan Variabel Independen

    Semua percobaan eksperimen bermula dari variabel dependen dan independen. Perbedaannya, variabel independen adalah variabel yang peneliti manipulasi untuk mendapatkan hasil tertentu, sedangkan variabel dependen adalah variabel tetapnya. 

    Berdasarkan kedua variabel tersebut, peneliti dapat menentukan hubungan sebab-akibatnya.

    2. Kondisi Terkontrol

    Peneliti selalu menerapkan kondisi yang terkontrol atau mengontrol variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi hasil. Tujuan dari kondisi terkontrol ini supaya jelas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku objek penelitian eksperimen. 

    3. Manipulasi variabel

    Percobaan diinisiasi oleh peneliti yang dengan sengaja memanipulasi satu atau lebih variabel independen untuk mendapatkan berbagai hasil yang mempengaruhi variabel dependen.

    4. Pengamatan Objek Penelitian

    Pengamatan Objek Penelitian
    Pengamatan Objek Penelitian | Sumber gambar: Unsplash.com

    Berdasarkan data-data yang telah diperoleh, peneliti harus mengamati perubahan dari objek penelitian dan terukur secara sistematis dan objektif untuk menghasilkan analisis yang akurat.

    4 Jenis Penelitian Eksperimen

    Berdasarkan cara peneliti melakukan percobaan, penelitian ini terbagi menjadi empat kategori. Selain itu, ada beberapa sub-jenis yang terpengaruh oleh suatu perilaku dalam percobaan.

    1. Eksperimen Laboratorium

    Eksperimen Laboratorium
    Eksperimen Laboratorium | Sumber gambar: Unsplash.com

    Penelitian jenis ini berlangsung di laboratorium. Seorang peneliti dapat memanipulasi dan mengendalikan variabel percobaan. Contohnya adalah mengukur efek pemberian dosis obat yang berbeda terhadap denyut jantung tikus di laboratorium.

    Kelebihan dari jenis penelitian ini adalah peneliti memiliki kontrol atas variabelnya, mudah untuk mencari hubungan sebab dan akibat dari variabel-variabelnya, murah, dan mudah untuk mengembangkannya ke dalam penelitian-penelitian lain.

    Kekurangannya adalah durasi percobaan yang singkat dalam laboratorium sehingga mungkin tidak cukup untuk mendapatkan hasil yang peneliti inginkan, dan kurang mencerminkan kondisi di dunia nyata.

    2. Penelitian Lapangan

    Penelitian Lapangan
    Penelitian Lapangan | Sumber gambar: Freepik

    Tempat dari penelitian jenis ini adalah di lapangan terbuka. Peserta dan lingkungan yang ada dapat bahan pertimbangan untuk menentukan kesimpulan pada penelitian. Misalnya, penelitian pengaruh penerapan suatu metode pengajaran di sekolah. 

    Peserta yang menjadi penilaian mengetahui bahwa dirinya merupakan bagian dari penelitian. 

    Keunggulan dari jenis penelitian eksperimen ini adalah peserta lebih cenderung berperilaku secara alami, cocok untuk mempelajari masalah sosial yang kompleks, sesuai keadaan di dunia nyata dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    Kontrol variabel yang lebih terbatas dan sulitnya mengendalikan faktor-faktor luar yang dapat mempengaruhi hasil dapat menjadi kekurangan dari penelitian lapangan.

    3. Eksperimen Alami

    Penerapan penelitian eksperimen alami ini berada pada lingkungan alam. Para peserta umumnya tidak mengetahui bahwa telah menjadi objek pengamatan dari penelitian. Salah satu contohnya adalah pengaruh kenaikan harga tembakau terhadap tingkat penjualan tembakau.

    Beberapa keunggulan dari jenis penelitian ini adalah sumber variasinya jelas, tidak ada batasan jumlah peserta, sesuai keadaan di dunia nyata dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    Lain halnya dengan kekurangannya, hasil yang peneliti peroleh mungkin dapat dipertanyakan, tidak ada validitas dari peserta secara langsung, dan peneliti tidak memiliki kendali atas variabel-variabelnya.

    4. Eksperimen Kuasi

    Kuasi-eksperimen adalah eksperimen yang memanfaatkan kejadian alam atau menggunakan kelompok yang sudah ada, bukan dari hasil pemilihan peserta secara acak. Contoh penelitian ini adalah dengan penelitian perbandingan prestasi akademik dua sekolah.

    Eksperimen kuasi dapat peneliti aplikasikan secara luas karena praktis untuk sampel penelitian yang besar sehingga sangat cocok untuk mengetahui kondisi nyata. 

    Peneliti juga dapat menganalisis pengaruh variabel independen yang terjadi dalam kondisi aktual. Selain itu, pemilihan eksperimen jenis ini efektif apabila pemilihan secara acak tidak memungkinkan untuk digunakan.

    Namun, karena tidak adanya kelompok kontrol,sulit untuk menghubungkan antara variabel independen dan dependen dengan jenis penelitian ini. 

    Contoh Penelitian Eksperimen Beserta Variabel Independen dan Dependen

    Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan penelitian dan variabel independen dan dependen yang sesuai dengan penelitian eksperimen.

    Pertanyaan PenelitianVariabel IndependenVariabel Dependen
    Apakah tomat tumbuh paling cepat di bawah lampu neon, pijar, atau alami?Jenis cahaya tanaman tomat ditanam di bawahTingkat pertumbuhan tanaman tomat
    Apa efek puasa intermiten pada kadar gula darah?Ada atau tidak adanya puasa intermitenKadar gula darah
    Apakah ganja medis efektif untuk mengurangi rasa sakit pada orang dengan nyeri kronis?Ada atau tidak adanya penggunaan ganja medisFrekuensi nyeri dan intensitas nyeri
    Sejauh mana kerja jarak jauh meningkatkan kepuasan kerja?Jenis lingkungan kerja (jarak jauh atau di kantor)Laporan kepuasan kerja

    Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Penelitian Eksperimen

    Percobaan eksperimen punya beberapa kelebihan dan kekurangan. Kamu bisa mempertimbangkan kedua faktor ini dengan menyimak penjelasan singkatnya di bawah ini.

    6 Kelebihan Percobaan Eksperimen

    1. Peneliti memiliki kontrol yang kuat atas variabel untuk mendapatkan hasil.

    2. Subjek tidak mempengaruhi efektivitas penelitian eksperimental. Siapa pun dapat menerapkannya untuk tujuan penelitian.

    3. Hasilnya spesifik.

    4. Pasca analisis hasil, temuan penelitian dari data-data sebelumnya yang kiranya hampir sama dapat bermanfaat kembali untuk ide-ide penelitian serupa.

    5. Peneliti dapat mengidentifikasi sebab dan akibat hipotesis, serta menganalisis lebih lanjut hubungan tersebut untuk menentukan ide-ide secara lebih mendalam.

    6. Penelitian eksperimen menjadi titik awal yang ideal. Alasannya adalah data yang telah terkumpul bisa berperan sebagai landasan untuk membangun ide-ide penelitian baru untuk studi lebih lanjut.

    3 Kelemahan Percobaan Eksperimen

    1. Kesalahan manusia sering terjadi pada metode ini tergantung pada variabel yang termanipulasi. Penentuan variabel yang tidak tepat dapat mengurangi validitas dari penelitian.

    2. Mengabaikan variabel asing atau skenario yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak akurat.

    3. Memerlukan waktu yang cukup lama dengan biaya penelitian yang tinggi.

    Apa Pentingnya Memahami Penelitian Eksperimen?

    Metode ilmiah dari penelitian eksperimen sangat berguna untuk mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antar variabel. Dengan memanipulasi variabel independen dan menganalisis dampaknya terhadap variabel dependen, penelitian dapat menghasilkan informasi baru dan menerapkannya pada dunia nyata.