Category: Penelitian

  • Perbedaan Paper dan Makalah serta Formatnya

    Perbedaan Paper dan Makalah serta Formatnya

    Sebagai mahasiswa baru, kamu pasti bertanya-tanya apa perbedaan paper dan makalah serta formatnya dalam dunia akademik. Sebenarnya, kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian, namun ada perbedaan mendasar di antara keduanya.

    Oleh karena itu, pada artikel ini kamu akan mengetahui beberapa perbedaan paper dan makalah, serta beberapa panduan format untuk keduanya jika kamu membaca artikel ini hingga tuntas.

    Pengertian Paper

     Contoh Paper
    (Contoh Paper | Sumber Gambar: scribd.com)

    Paper adalah karya tulis ilmiah yang membahas gagasan atau argumentasi penulis mengenai suatu topik tertentu. Walaupun paper termasuk ke dalam jenis karya tulis ilmiah, paper tidak memiliki sistematika penulisan.

    Karakteristik Paper dan Sistematika Penulisan

    Paper memiliki beberapa karakteristik khas yang menunjukkan perbedaan paper dan makalah yang utama. Berikut adalah karakteristik paper:

    1. Penulisan yang Fleksibel

    Karakteristik pertama adalah paper dapat ditulis secara fleksibel. Berbeda dengan makalah yang sangat terikat dengan struktur penulisan, paper adalah karya tulis ilmiah yang dapat kamu tulis tanpa aturan tersebut. Oleh sebab itu, kamu dapat membahas suatu topik dengan lebih leluasa tapi tetap bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

    2. Tidak Kaku

    Pada dasarnya, makalah adalah karya tulis yang bahasa penulisannya bersifat kaku dan formal. Sementara itu, paper dapat kamu tulis dengan bahasa yang cenderung tidak kaku.

    3. Pembahasan yang Singkat

    Karakteristik selanjutnya adalah pembahasan yang ada dalam paper ditulis lebih singkat daripada makalah. Paper memiliki jumlah halaman yang lebih sedikit daripada makalah karena pembahasan dalam paper harus terpusat dan fokus pada topik.

    Format Penulisan Paper

    Umumnya, perbedaan paper dan makalah yang paling utama dapat kamu perhatikan melalui struktur penulisannya. Berikut adalah format penulisan paper:

    1. Judul dan Identitas Penulis

    Bagian pertama paper adalah halaman judul. Kamu perlu menulis judul dan identitas lengkap kamu sebagai penulis di halaman tersebut.

    2. Abstrak

    Dalam paper, kamu harus mencantumkan abstrak yang biasanya terdiri dari 100-300 kata yang merupakan ringkasan latar belakang, masalah, metode pengambilan data, hasil observasi, dan pembahasan. Namun, abstrak tidaklah wajib di beberapa institusi.

    3. Pendahuluan

    Selanjutnya, terdapat pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, tujuan, dan manfaat penelitian kamu.

    4. Pembahasan

    Setelah pendahuluan, kamu juga perlu menulis pembahasan, di mana kamu harus menyajikan informasi dan data yang sudah kamu peroleh sesingkat dan sepadat mungkin.

    5. Kesimpulan

    Pada bagian ini, kamu dapat menuliskan kesimpulan dari gagasan yang dibuat. Kesimpulan harus kamu jelaskan secara jelas dan tidak terlalu panjang agar pembaca bisa dengan mudah memahaminya.

    6. Daftar Pustaka

    Terakhir, kamu juga harus mencantumkan daftar pustaka dalam paper kamu. Kamu dapat melampirkan jurnal, artikel, dan sumber terpercaya lain yang mendukung gagasan dalam paper tersebut.

    Pengertian Makalah

     Contoh Makalah
    (Contoh Makalah | Sumber Gambar: brainacademy.id)

    Makalah adalah sebuah karya tulis ilmiah yang tersusun secara sistematis dan terstruktur untuk membahas suatu topik dan kamu harus mendasari penelitian tersebut pada kajian pustaka atau hasil observasi.

    Makalah menggabungkan analisis, penelitian, dan pemikiran penulis untuk menghasilkan dokumen yang informatif dan relevan. Jenis karya tulis ini dapat kamu gunakan dalam berbagai konteks, seperti pendidikan, penelitian, dan dunia profesional. Oleh karena itu, kamu wajib mengikuti sistematika penulisan ketika menyusun makalah.

    Karakteristik Makalah dan Sistematika Penulisan

    Supaya lebih paham mengenai perbedaan paper dan makalah, ketahui dulu karakteristik dari makalah itu sendiri. Dalam menyusun makalah, kamu harus mengikuti sistematika penulisan yang sesuai. Selain melalui struktur penulisannya, makalah juga memiliki beberapa karakteristik yang bisa kamu bedakan dari paper.

    1. Logis

    Karakteristik makalah yang pertama adalah logis. Makalah harus bersifat logis karena pembahasan yang terdapat dalam penelitian harus dapat dibuktikan kebenarannya. Selain itu, makalah memiliki struktur penulisan yang kaku dan keseluruhan isi maupun kajian teori pembahasannya bersifat sangat formal.

    2. Jelas dan Efektif

    Karakteristik kedua dari makalah adalah jelas dan efektif. Keseluruhan isi makalah harus kamu tuliskan dengan jelas dan menggunakan kalimat yang efektif. Selain itu, kamu juga harus fokus kepada inti pembahasan atau penelitian dalam makalah.

    3. Objektif

    Karakteristik yang ketiga adalah makalah harus kamu sampaikan secara objektif, di mana hasil pengamatan atau penelitianmu harus berdasarkan data dan fakta dari penelitian dan kajian pustaka yang kamu peroleh.

    4. Sistematis

    Selain memiliki ketiga karakteristik khas, penyampaian makalah harus bersifat sistematis. Kamu harus menyusun makalah dengan runtut, jelas, dan berkesinambungan.

    5. Dapat Teruji Kebenarannya

    Berdasarkan pengertian makalah yang harus didasari oleh data dan fakta dari kajian pustaka, kamu tentunya wajib menyusun makalah yang dapat kamu pertanggungjawabkan melalui data dan fakta yang valid.

    Format Penulisan Makalah

    Perbedaan paper dan makalah yang paling utama dapat kamu perhatikan melalui struktur penulisannya. Terdapat lima bagian yang harus kamu sertakan dalam penyusunan makalah, yakni:

    1. Judul dan Identitas Lengkap Penulis

    Setiap karya tulis harus memiliki judul yang tertulis di bagian depan makalah. Namun, format penulisan judul dalam makalah juga terdapat aturan tersendiri. Kamu dapat mencantumkan informasi lain dalam makalahmu selain judul.

    Kamu harus mencantumkan nama lengkap, nomor induk mahasiswa, mata kuliah, identitas program studi atau jurusan, dan fakultasmu. Jika penulis makalah tersebut lebih dari satu orang, kamu juga harus mencantumkan nama lengkap penulis yang lain.

    2. Bab I atau Bagian Pendahuluan

    Bagian selanjutnya adalah bab I atau pendahuluan, di mana kamu akan menyusun latar belakang masalah dari topik atau penelitian, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, identifikasi masalah, serta metode penelitian atau pengumpulan data.

    3. Bab II atau Bagian Pembahasan

    Bagian selanjutnya adalah bab II, yaitu bagian inti pembahasan dari penelitian. Dalam bab II, kamu akan memaparkan hasil observasi penelitian dengan lengkap yang tentunya harus berkaitan dengan kajian pustaka atau kajian teori yang mendasari penelitianmu.

    4. Bab III atau Bagian Penutup

    Bagian berikutnya dalam makalah adalah bab III, yaitu penutup. Dalam bab III, kamu akan mengungkapkan kesimpulan dan inti dari penelitian yang telah kamu lakukan. Lalu, kamu juga akan memberikan saran kepada semua pihak terlibat dalam penelitianmu.

    Kamu juga bisa memberikan saran kepada calon peneliti lain yang menggunakan makalahmu sebagai sumber penelitian mereka.

    Baca Juga : 3 Contoh Penutup Makalah & Strukturnya yang Benar

    5. Daftar Pustaka

    Jangan lupa bagian yang tidak kalah pentingnya adalah melampirkan daftar pustaka. Di sini, kamu bisa melampirkan berbagai referensi dan sumber data yang kamu kutip dalam penelitian kamu. Kamu dapat melampirkan buku, jurnal, artikel ilmiah, dan sumber terpercaya yang lain.

    Ringkasan Perbedaan Paper dan Makalah

    Berdasarkan pengertian, karakteristik, dan sistematika penulisan antara paper dan makalah di atas, kamu pasti sudah mulai paham bagaimana perbedaan paper dan makalah. Supaya kamu lebih mengerti, berikut adalah ringkasan perbedaan paper dan makalah:

    1. Tujuan Penulisan

    Perbedaan paper dan makalah yang pertama dapat kamu lihat dari tujuan penulisannya. Makalah ditulis dengan tujuan memaparkan hasil sebuah penelitian dengan teori yang relevan. Dalam proses penyusunan, kamu harus melakukan penelitian terlebih dahulu.

    Sementara itu, tujuan penulisan paper adalah untuk review atau mengulas topik pembahasan. Namun, kamu tidak perlu melakukan penelitian dalam penyusunan paper.

    2. Struktur Penulisan

    Perbedaan selanjutnya dapat kamu lihat dari struktur penulisannya. Makalah memiliki aturan penulisan yang sama di antara makalah satu dengan makalah yang lain, meskipun topik dan metode penelitian yang dipakai tidak sama.

    Sementara itu, paper tidak memiliki aturan penulisan yang kaku seperti makalah. Paper bersifat lebih fleksibel, sehingga kamu dapat menyampaikan ide dengan leluasa tanpa terikat oleh struktur penulisan.

    Baca Juga : Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Sudah Mengerti Perbedaan Paper dan Makalah?

    Itu dia beberapa perbedaan paper dan makalah yang wajib kamu ketahui sebagai mahasiswa baru. Pada dasarnya, kedua karya ilmiah ini tidak jauh berbeda jika kamu simak beberapa perbedaannya. Hanya saja kamu membutuhkan pembahasan yang lebih lengkap dan panjang dalam makalah daripada penulisan paper.

    Selain itu, kamu juga bisa menemukan perbedaan paper dan makalah dari sisi tujuan publikasinya. Namun, kedua karya ilmiah ini tentu dapat menjadi referensi yang valid jika kamu ingin melakukan penelitian nantinya. Namun, pastikan untuk mencari sumber yang dapat kamu pertanggung jawabkan kebenarannya.

  • Paradigma Penelitian: Pengertian, Tipe, Fungsi, & Contohnya

    Paradigma Penelitian: Pengertian, Tipe, Fungsi, & Contohnya

    Mencakup tentang konsep hubungan satu sama lain, paradigma penelitian memiliki pemikiran dan kerangka yang logis. Pada pengembangan ilmu pengetahuan, konsep paradigma sangat relevan untuk penelitian. Pemahaman paradigma harus dilengkapi contoh, simaklah penjelasannya di artikel ini!

    Apa Itu Paradigma Penelitian?

    Istilah paradigma penelitian merujuk pada kerangka pemikiran dari para peneliti dalam memandang realita permasalahan. Biasanya, berdasarkan teori maupun ilmu pengetahuan. 

    Para ahli banyak yang membahas tentang paradigma. Seperti pernyataan dari Guba (1990), ia berpendapat bahwa paradigma penelitian adalah seperangkat keyakinan dan persetujuan para ilmuwan. Hal tersebut membahas tentang bagaimana masalah dipahami dan ditangani.

    Selain itu, istilah ini juga berhubungan dengan epistemologi dan ontologi. Pasalnya, setiap masalah membutuhkan pandangan secara menyeluruh. Dengan demikian, para peneliti bisa memandang diri sendiri dalam kaitan pengetahuan dan strategi metodologis.

    Dengan kesadaran asumsi filosofis, maka peneliti bisa meningkatkan kualitas penelitiannya sehingga mereka bisa ikut berkontribusi dalam perkembangan penelitian.

    7 Tipe Paradigma Penelitian

    Agar mudah dalam memahami dan menyusun karya ilmiah sesuai paradigma, sebaiknya cari tahu jenis-jenisnya terlebih dahulu. Inilah 7 jenis paradigma penelitian dan penjelasannya, yaitu:

    1. Kuantitatif

    Paradigma Kuantitatif
    Paradigma Kuantitatif | Sumber gambar: Freepik.com

    Paradigma kuantitatif menyatakan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya wawasan paling valid. Dengan kata lain, pengetahuan didapatkan dari pengalaman. Pengalaman tersebut sudah dirasakan dan diolah pikiran. 

    Berawal dari pengalaman, objek penelitian tidak akan jauh dari hubungan sebab akibat fenomena terdahulu. Meski berasal dari pengalaman, penelitian harus berdasarkan fakta. 

    Selain itu, penelitian juga harus memiliki asumsi melihat fakta sebagai landasan dasarnya. Intinya, paradigma kuantitatif menggunakan asumsi yang dibangun dari fakta. Nantinya, fakta akan melalui proses pemikiran tentang fenomena tertentu. 

    Bukan itu saja, jenis ini juga memandang sumber ilmu sebagai salah satu hasil pemikiran rasional dari data empiris. Oleh sebab itu, penelitian kuantitatif akan memakai variabel tertentu. Biasanya, variabel yang digunakan akan berkaitan dengan tujuan penelitian.

    2. Kualitatif

    Paradigma Kualitatif | Sumber gambar: Freepik.com

    Pada paradigma ini, masih menganut pendekatan humanistik. Sebab, manusia menjadi subjek penelitian dalam fenomena yang terjadi. 

    Penelitian kualitatif dianggap sebagai sarana menentukan perilaku manusia, baik itu terhadap diri sendiri maupun peristiwa sosial.

    Berbeda dari paradigma kuantitatif, paradigma kualitatif tidak memiliki batasan dalam menguji hipotesis. 

    Meskipun memakai teori sebelumnya, namun sebaiknya gunakan teori baru yang sistematis. Dengan demikian, penelitian dapat diakui sebagai fakta empiris dari sumber pengetahuan valid. 

    Akan tetapi, verifikasinya tidak digunakan dalam penelitian. Pasalnya, penelitian kualitatif cenderung mencoba menggali faktor dari balik fenomenanya. Maka dari itu, penelitian kualitatif dianggap penting bersanding dengan hasil penelitian.

    3. Kritis

    Paradigma Kritis
    Paradigma Kritis | Sumber gambar: Freepik.com

    Tidak sama dari paradigma penelitian sebelumnya, paradigma kritis menyatakan bahwa realitas adalah hasil dari sistem konstruksi yang dilakukan peneliti.

    Bukan itu saja, peristiwa yang terjadi telah dikontrol oleh pihak paling berkuasa. Penelitian kritis ini berjalan dengan alami, namun cenderung kebetulan. Meskipun begitu, peristiwanya sudah terancang untuk membentuk realitas tertentu.

    4. Subjektivitas

    Pradigma Subjektivitas
    Pradigma Subjektivitas | Sumber gambar: Freepik.com

    Pada dasarnya, fokus utama dari paradigma subjektivitas adalah pandangan para peneliti. 

    Pasalnya, subjektivitas menganggap pandangan dan interpretasi peneliti sebagai faktor penting. Maksud dari interpretasi, yaitu bagaimana cara peneliti memandang kejadian menjadi kenyataan.

    5. Positivisme

    Positivisme
    Positivisme | Sumber gambar: Freepik.com

    Paradigma positivisme memiliki landasan dasar dari hukum dan prosedur (baku dan tunggal), yakni ilmu pengetahuan yang bersifat deduktif. Selain itu, positivisme juga akan melibatkan berbagai variabel. Tipe paradigma ini menjadi cikal bakal dari penelitian kuantitatif.

    6. Konstruktivisme

    Konstruktivisme
    Konstruktivisme | Sumber gambar: Freepik.com

    Kebalikan dari positivisme, konstruktivisme justru memandang ilmu pengetahuan sebagai kebenaran yang relatif. Tidak hanya tunggal saja, namun juga dapat berubah tergantung interpretasi setiap individu maupun kelompok tertentu. Secara umum, paradigma ini sering ada pada penelitian kualitatif.

    7. Pragmatisme

    Paradigma Pragmatisme
    Paradigma Pragmatisme | Sumber gambar: Freepik.com

    Pada paradigma pragmatisme, penilaian penelitian berasal dari fakta atau realitas kejadian yang tidak selalu sama. Hal ini karena fenomenanya bisa berubah kapan saja. 

    Penyebab utama perubahannya adalah realitas yang masih terus bernegosiasi. Secara umum, paradigma ini adalah gabungan dari positivisme dan konstruktivisme.

    Fungsi Paradigma Penelitian

    Konsep paradigma sangat relevan terhadap pengembangan penelitian ilmu pengetahuan. Inilah mengapa paradigma memiliki arti pandangan dasar tentang pokok keilmuan. Adanya definisi tersebut, dapat membantu peneliti dalam mengkaji pembahasan.

    Selain itu, paradigma juga berguna untuk mencari pertanyaan, cara merumuskan, dan mengatur interpretasi jawabannya.  Dengan demikian, paradigma penelitian merupakan bagian paling luas dalam kesepakatan ilmiah. Namun, tetap berfungsi sebagai pembeda antar komunitas ilmiah.

    Istilah paradigma memiliki kaitan yang erat dengan definisi, teori, metode, hubungan, dan ketersediaan instrumen. Biasanya, itu berlandasan untuk memandu proses yang terjadi dalam penelitian.

    Oleh sebab itu, paradigma bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masalah penelitian. 

    Secara umum, bantuannya menggunakan analisis dan informasi tertentu. Dengan cara tersebut, peneliti bisa mengetahui konsep, teori, pertanyaan, dan lain sebagainya lebih mudah.

    Selain itu, paradigma juga berfungsi sebagai alat untuk menganalisis dan memahami tingkat hubungan. Maksudnya yang berkaitan tentang ajaran dalam keberagaman perilaku bermasyarakat.

    4 Komponen Penting dalam Paradigma Penelitian

    Tidak hanya 7 tipe di atas, paradigma juga memiliki sejumlah daftar secara terminologi filosofis. Pahamilah 4 komponen penting dalam paradigma, yaitu:

    1. Epistemologi

    Epistemologi
    Epistemologi | Sumber gambar: Freepik.com

    Secara sederhana, epistemologi merupakan pendekatan yang membahas penelitian lebih mendalam. 

    Biasanya akan berkaitan dengan proses dan usaha manusia dalam memperolehnya. Mulai dari struktur, validitas pengetahuan, sumber, hingga macam-macam metode.

    Sejatinya, epistemologi memiliki cara kerja yang mulai dari spekulasi. Peneliti akan berasumsi bahwa ada banyak hal yang mereka ketahui. 

    Tidak beda jauh dari kebanyakan orang, asumsi adalah renungan manusia untuk menemukan pengetahuan yang bisa akurat maupun tidak. Pastinya asumsi terjadi tanpa disadari.

    2. Ontologi

    Ontologi
    Ontologi | Sumber gambar: Ontologi

    Definisi dari ontologi merupakan ilmu yang berkaitan dengan hakikat dan asas-asas rasional. Secara kesimpulannya, ontologi berfungsi untuk mengetahui esensi terdalam dari hal-hal yang sudah ada di penelitian.

    Ontologi memiliki ruang lingkup yang mencakup tentang sejauh mana materi penelitian diketahui. Menentukan ruang lingkup ontologi harus jelas dan sesuai dengan pilihan kontennya.

    Pada umumnya, ontologi memiliki ruang lingkup yang membahas objek telaah. Objek telaah merupakan segala sesuatu yang ada, namun tak terikat wujud tertentu. Dengan demikian, ontologi muncul sebagai inti yang memuat objek telaah tersebut.

    3. Aksiologi

    Aksiologi
    Aksiologi | Sumber gambar: Freepik.com

    Pada dasarnya, aksiologi adalah salah satu cabang ilmu filsafat. Komponen dalam paradigma penelitian ini mempelajari seputar ilmu pengetahuan. Baik itu tujuan hingga cara manusia menggunakan ilmu tersebut. Dengan demikian, peneliti harus memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu.

    Ketika mempelajari cabang ilmu, maka setiap orang bisa memahami konsep ilmu pengetahuan. Mulai dari penyebab munculnya, jenis-jenis, bentuk akhirnya, hingga pembahasan tentang cara manusia memanfaatkannya.

    Dalam aksiologi, ilmu pengetahuan mencakup seluruh nilai kehidupan. Ilmu ini juga menganalisis nilai sebenarnya dari ilmu dan siapa saja yang pantas mendapatkan nilai tersebut.

    4. Metodologi

    Metodologi
    Metodologi | Sumber gambar: Unsplash.com

    Secara sederhana, metodologi penelitian merupakan pendekatan yang menjelaskan teknis. Sebagai contoh, seperti mengungkapkan metode, cara, maupun trik. 

    Penelitian menganut konteks paling fundamental, sehingga peneliti harus mengetahui proses menjalankan penelitiannya. Pasalnya selama menganalisa riset, pastinya membutuhkan waktu panjang dan cara lebih sistematis.

    Metodologi penelitian memiliki tujuan untuk memperoleh hasil penelitian lebih kompeten, kredibel, tepat, dan dapat dipertanggung jawabkan. Lebih tepatnya, sebaiknya penelitian dapat menjawab masalah di dalamnya.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Contoh Paradigma Penelitian

    Contoh Paradigma Penelitian
    Contoh Paradigma Penelitian | Sumber gambar: Scribd

    Pada contoh di atas, dapat diketahui paradigma digunakan sebagai pola pikir hubungan antar variabel penelitian. Meski paradigma yang dipakai sederhana, tetapi tetap menggambarkan pola pikir yang jelas dalam sebuah penelitian.

    Sudah Paham Tentang Paradigma Penelitian?

    Paradigma penelitian merupakan pendekatan yang berfungsi untuk mendukung penelitian secara keseluruhan. Bukan hanya seputar teori saja, namun juga aksi langsung. Namun, itu tergantung bagaimana cara peneliti memanfaatkannya. Oleh sebab itu, sebelum menggunakan paradigma, peneliti harus memahaminya dulu.

    Tujuannya untuk membuat hasil penelitian lebih siap dan maksimal. Selain itu, jangan lupakan sejumlah komponen penting dalam paradigma. Pastikan tidak melewatkan memasukkannya ke dalam penelitian. Namun, pastikan juga pilihan komponen memang relevan dengan tema penelitian.

  • Kenali Metode Landfill, Pengelolaan Sampah yang Efisien!

    Kenali Metode Landfill, Pengelolaan Sampah yang Efisien!

    Pernah dengar tentang metode landfill? Jika diterapkan dengan tepat, landfill bisa menjadi solusi jitu untuk mengelola sampah dan limbah hasil kegiatan sehari-hari, mulai dari rumah tangga, sektor pendidikan maupun di lingkungan perkantoran. 

    Lalu, apakah kamu sudah paham tentang seluk-beluk landfill? Jika kamu masih asing dengan istilah tersebut, jangan lewatkan pembahasannya di sini!

    Apa Sebenarnya Landfill itu?

    Landfill merupakan kata dari bahasa Inggris, yang artinya adalah tempat pembuangan akhir, atau TPA. TPA atau landfill memang area khusus untuk membuang sampah dari berbagai tempat dan lingkungan. 

    Keberadaannya cukup efektif untuk menekan pencemaran lingkungan karena semua sampah akan terpusat pada satu tempat.

    Mengingat TPA akan menjadi tempat penampungan sampah yang sangat besar, maka lokasinya tidak boleh dekat dengan kawasan pemukiman. Sementara itu, proses memulai metode landfill adalah dengan menimbun TPA dan melapisinya dengan tanah liat dan plastik yang lumayan tipis.

    Supaya tanaman tetap tumbuh di atas lapisan tersebut, maka lapisan tanah liat akan dilapisi lagi. Landfill atau TPA akan menghasilkan gas metana karena proses dekomposisi yang terjadi secara lambat. Sayangnya, gas metana yang berasal dari proses dekomposisi tersebut mudah menyebabkan kebakaran.

    Selain itu, menurut data penelitian, gas metana juga memberikan efek negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan. Kabar baiknya, belakangan ini sudah banyak pengelola landfill atau TPA yang mengkonversi gas metana menjadi bahan bakar dan sumber listrik.

    4 Macam Metode Landfill

    Metode pengelolaan sampah TPA atau landfill ini terdiri dari empat macam yang bisa kamu temukan melalui penjelasan singkat di bawah ini.

    1. Sanitary Landfill

    Metode Sanitary Landfill
    Metode Sanitary Landfill | Sumber gambar: Athenarhd.co.mz

    Sanitary landfill merupakan metode tempat pembuangan sampah terakhir yang menelan banyak biaya. Tak hanya itu, sanitary landfill juga mempunyai tingkat kerumitan yang tinggi jika dibandingkan dengan metode lainnya. Sisi baiknya, metode ini memberikan dampak positif terhadap masyarakat di sekitar lokasi TPA.

    Cara kerja metode sanitary landfill adalah dengan menumpuk sampah hingga mencapai ketinggian tertentu di area TPA yang ditentukan. 

    Tahap berikutnya adalah memadatkan dan melapisi sampah dengan tanah. Lalu, sampah tersebut dipadatkan lagi. Proses akhir pengolahan sampahnya yakni dengan menghamparkan sampah dan melapisi permukaannya dengan tanah.

    Sampah yang baru masuk TPA akan mendapatkan perlakuan yang sama dan terus berulang. Jika kegiatan memproses sampah menggunakan metode sanitary ini bisa berlangsung dengan cepat, tentu akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kelestarian dan kenyamanan lingkungan.

    2. Open Dumping

    Metode Open Dumping
    Metode Open Dumping | Sumber gambar: Weigo.org

    Metode landfill berikutnya adalah open dumping atau tempat pembuangan akhir terbuka. Penerapan open dumping tidak memakan banyak biaya dan pelaksanaannya yang paling sederhana. Sebab, semua sampah akan dibiarkan menumpuk di landfill dan tidak mendapatkan proses pengolahan apapun.

    Sayangnya, sampah yang terus menggunung dan tidak mengalami pemrosesan sama sekali ini dapat mencemari area sekitar landfill. Lindi atau air yang berasal dari pembusukan sampah juga dapat mencemari sumber air bersih serta menimbulkan aroma yang tidak sedap. 

    Selain itu, gunungan sampah juga menjadi polusi mata dan mengurangi keindahan. Terlebih lagi, keberadaan open dumping juga membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal tidak jauh dari letak TPA tersebut. 

    Pasalnya, open dumping akan menjadi sarang kuman, virus, dan bakteri yang menyebabkan penyakit. Di samping itu, berbagai hama hewan, seperti lalat, tikus, kecoa, dan belatung juga bisa mengganggu kenyamanan masyarakat.

    3. Landfill Mining

    Metode Landfill Mining
    Metode Landfill Mining | Sumber gambar: Umwelt-journal.at

    Metode berikutnya adalah landfill mining yang dilakukan dengan menimbun sampah ke dalam tanah dan menyediakan proses pengolahan. Penerapan metode ini dapat mengurangi polusi pandangan karena kamu tidak akan melihat gunungan sampah seperti pada open dumping.

    Sebelum menimbun sampah pada tempat yang telah disediakan, perlu adanya proses pemilahan sampah. Sampah tersebut akan dikelompokkan pada kategori waste to energi (sampah ke energi) dan waste to material (sampah ke material).

    Metode ini juga menggunakan teknologi inovatif dalam penerapannya. Tentunya, teknologi tersebut akan memperhatikan kondisi lingkungan dan kriteria sosial terlebih dahulu.

    4. Controlled Landfill

    Metode Controlled Landfill
    Metode Controlled Landfill | Sumber gambar: Slideserve.com

    Sistem TPA controlled landfill ini mirip dengan sanitary landfill. Cara kerjanya adalah dengan menimbun sampah, meratakan, dan memadatkan sampah. 

    Apabila sampah yang sudah mengalami proses pemadatan sudah memenuhi area TPA, maka sampah akan dilapisi dengan penutup dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Biaya untuk menerapkan metode controlled landfill ini juga relatif mahal dan proses pengerjaannya juga rumit.

    Walau begitu, kondisi tempat pembuangan akhir akan tampak lebih rapi karena sampah tidak berserakan. Tak hanya dapat menghemat lahan TPA, metode ini juga dapat membantu mengendalikan pencemaran lingkungan.

    Apa saja Kelebihan Metode Landfill bagi Pengelolaan Sampah?

    Penerapan landfill untuk mengelola sampah lebih efektif dan mempunyai banyak kelebihan seperti yang diterangkan berikut ini. Yuk, cermati baik-baik!

    1. Aman dari Pencemaran

    Lindi atau air yang berasal dari pembusukan sampah dapat mencemari tanah sekitar area TPA. Penerapan landfill efektif untuk mencegah air lindi terserap langsung oleh tanah. Sebab, metode ini menerapkan pelapisan tanah dengan tanah liat terlebih dahulu untuk menahan air lindi. 

    Hasilnya, kondisi tanah area TPA lebih aman karena tidak tercemar air lindi. Air lindi yang tidak meresap ke dalam tanah juga akan membuat sumber mata air bersih tetap aman dan tidak tercemar.

    2. Bebas dari Bahaya Gas Metana

    Tumpukan sampah akan mengalami dekomposisi sehingga menghasilkan gas metana yang berbahaya karena rawan menyebabkan kebakaran. Selain itu, kandungan gas metana juga dapat mengancam kesehatan dan kelestarian lingkungan sekitar.

    Kasus ledakan TPA akibat gas metana ini pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2005. Ledakan yang terjadi di TPA Leuwigajah ini merenggut korban jiwa sebanyak 143 orang. 

    Mengelola sampah dengan metode landfill, tepatnya sanitary landfill, dapat menekan produksi gas metana. Pada penerapannya, sanitary landfill memanfaatkan pipa-pipa khusus yang dapat mengalirkan gas metana sehingga gas tersebut bisa digunakan untuk sumber energi.

    3. Menghasilkan Sumber Energi

    Kelebihan menggunakan cara landfill dalam mengelola sampah berikutnya yaitu dapat menghasilkan sumber energi. Gas metana yang semula berbahaya untuk lingkungan dan kesehatan, bisa bermanfaat setelah dikonversi menjadi bahan bakar dan sumber energi listrik melalui proses yang sesuai. 

    4. Bernilai Ekonomis

    Umumnya, ada proses pemisahan antara sampah organik dan anorganik dalam pengelolaan sampah dengan cara landfill. Umumnya, sampah-sampah anorganik masih memiliki nilai ekonomis yang relatif tinggi. 

    Pasalnya, jenis sampah tersebut masih bisa didaur ulang atau dapat dimanfaatkan sebagai bahan material pembuatan produk. Contohnya adalah sampah dari botol plastik yang merupakan material untuk membuat kain polyester. 

    Agar dapat menghasilkan kain, botol plastik bekas akan melalui pemrosesan hingga menjadi serat. Selanjutnya, serat plastik tersebut akan melalui proses pemintalan hingga menjadi lembaran kain.

    Adakah Kekurangan Metode Landfill?

    Walaupun landfill efektif untuk mengelola sampah, tetapi metode ini juga mempunyai kekurangan. 

    1. Keberadaan Lahan yang Sulit

    Supaya dapat menampung semua sampah menjadi satu, maka perlu lahan yang sangat luas. Keberadaan lahan kosong yang sangat luas ini pun kian sulit karena kepadatan penduduk yang makin tinggi. Selain itu, lokasi lahan kosong untuk TPA juga harus sangat jauh dari kawasan pemukiman.

    Dengan demikian, daerah padat penduduk akan kesulitan untuk mengelola sampah menggunakan cara landfill.

    2. Cara Pengoperasian yang Rumit

    Mengelola sampah dengan cara landfill membutuhkan proses cukup panjang dan rumit. Jika proses pengelolaan tersebut kurang baik atau tidak berjalan sebagaimana seharusnya, maka dampaknya sama dengan pengelolaan TPA pada umumnya.

    Sampah tetap berserakan seperti pada sistem open dumping dan justru menimbulkan masalah lingkungan yang lebih serius. Di antaranya adalah pencemaran air, pencemaran tanah, polusi udara, dan munculnya banyak hewan yang membawa penyakit.

    Baca Juga : Ruang Lingkup Penelitian: Contoh & Cara Menentukannya dengan Mudah

    Sudah Lebih Paham dengan Metode Landfill?

    Metode landfill merupakan solusi efektif untuk mengelola sawah dan mencegah pencemaran lingkungan. Mengingat landfill terdapat empat macam landfill, maka bisa memilih metode yang paling tepat untuk diterapkan di area masing-masing. Pengelolaan sampah menggunakan cara landfill memang memberikan banyak kelebihan, tetapi juga tidak lepas dari kekurangan. Kekurangan landfill yaitu memerlukan biaya yang mahal dan proses yang rumit. Untuk menerapkan metode pengelolaan sampah ini tidak bisa dilakukan untuk kawasan padat penduduk.

  • Populasi dan Sampel dalam Penelitian: Pengertian dan Contohnya

    Populasi dan Sampel dalam Penelitian: Pengertian dan Contohnya

    Penelitian menjadi kegiatan yang sering dilakukan dalam beberapa bidang dengan berbagai kepentingan. Terutama untuk penulisan karya ilmiah saat ada di bangku perkuliahan. Nah, dalam kegiatan ini para mahasiswa akan berhadapan dengan istilah populasi dan sampel dalam penelitian. 

    Dalam penelitian akan ada banyak istilah yang terlihat memiliki pengertian yang serupa, tapi sebenarnya sangat berbeda. Salah satu yang perlu kamu tahu perbedaan dan pengertiannya secara mendalam adalah populasi dan sampel. Tujuannya agar kamu bisa menyusun penelitian dengan baik dan benar. 

    Pengertian Populasi dan Sampel dalam Penelitian 

    Riset atau penelitian merupakan upaya untuk menemukan fakta baru, memecahkan suatu permasalahan yang sudah ada, sampai menguji atau mengembangkan teori baru.  Dalam kegiatan ini erat kaitannya dengan pengumpulan data, pengelolaan, sampai pengambilan kesimpulan untuk kepentingan tertentu. 

    Populasi dan sampel dalam penelitian merupakan dua istilah yang sangat populer. Secara umum, populasi merupakan keseluruhan data yang menjadi fokus penelitian. Hal tersebut akan merujuk kepada subjek atau objek dengan karakteristik yang akan dianalisis.

    Populasi juga dapat berbentuk apa saja, seperti manusia, benda, peristiwa, atau bahkan nilai-nilai yang akan menjadi sumber data dalam penelitian. Populasi menjadi komponen penting penelitian karena dalam prosesnya akan mempengaruhi bagaimana seorang peneliti menentukan sampel dan hasil dari penelitiannya. 

    Pemahaman tentang populasi akan menentukan bagaimana ruang lingkup dalam penelitian. Hal tersebut juga menentukan batasan-batasan seorang peneliti, apakah akan menganalisis keseluruhan dari populasi atau hanya menganalisis sebagian kecilnya saja yang lebih dikenal dengan sampel. 

    Dalam penelitian, penentuan subjek atau objek tidak selalu keseluruhan dari populasi. Terkadang, akan ada beberapa pertimbangan yang memungkinkan peneliti hanya mengambil sampel untuk dijadikan subjek atau objek penelitian. Biasanya, ini karena jumlah populasi yang terlalu besar atau keterbatasan dana dan tenaga. 

    Penentuan sampel juga tidak boleh sembarangan, karena nantinya kesimpulan pada hasil penelitian akan berlaku untuk seluruh populasi. Sehingga sampel harus bisa mewakili dan merepresentasikan keseluruhan dari populasi. 

    Baca Juga : Penelitian Sosial: Pengertian, Manfaat hingga Jenisnya

    Metode Penentuan Sampel

    (Ilustrasi penelitian
    (Ilustrasi penelitian| Sumber gambar: pexels)

    Populasi dan sampel dalam penelitian juga memiliki metode di dalamnya. Agar dapat menghasilkan sampel yang representatif dalam penelitian, seorang peneliti harus bisa memahami beberapa teknik pengambilan sampel. Nah, secara umum teknik tersebut terbagi menjadi dua kategori, yaitu: 

    1. Probability Sampling

    Metode ini adalah pengambilan sampel berdasarkan dengan teori probabilitas karena di dalamnya tidak ada pola tertentu. Di mana seluruh populasi memiliki potensi menjadi sampel dalam penelitian. Dalam metode ini terdapat beberapa model, yaitu:

    1. Simple Random Sampling 

    Ini adalah teknik penentuan sampel yang dilakukan secara acak. Peluang yang terbuka luas untuk semua populasi menjadikan setiap anggotanya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari sampel. Jadi, sampel yang terpilih dapat merepresentasikan dengan baik populasi asli. 

    Dalam ketentuannya, jumlah sampel harus peneliti tentukan terlebih dahulu di awal. Anggota populasi yang sudah masuk ke dalam sampel tidak bisa kembali lagi, hal ini untuk memastikan tidak ada anggota yang terpilih lebih dari satu kali. 

    2. Systematic Random Sampling 

    Seperti namanya, teknik ini lebih sistematis dengan menerapkan pola tertentu untuk menentukan sampel dalam penelitian. Jika dengan teknik acak, teknik ini lebih efisien untuk menentukan sampel yang dapat mewakili keseluruhan populasi. 

    Karena penerapannya berpola dan terstruktur, teknik ini akan lebih memudahkan pengambilan sampel dalam populasi banyak. Dengan adanya kesepakatan terkait tahapan-tahapannya, ini akan menghasilkan proses yang lebih runtut dan tertata. 

    3. Stratified Random Sampling 

    Pengambilan sampel acak secara berstrata merupakan teknik yang menerapkan penentuan strata dalam populasi sebelum sampel. Melakukan penentuannya dengan seimbang agar tetap tertata dan responden tidak tumpang tindih. 

    Langkah awal dalam teknik ini adalah mengidentifikasi tingkatan dalam populasi berdasarkan karakteristik tertentu dan bersifat homogen. Jika menerapkan teknik ini, peneliti akan mudah dalam memastikan sampel yang lebih representatif. Sebab, setiap kelompok karakteristik dapat terwakili. 

    4. Cluster Random Sampling 

    Peneliti sering menggunakan teknik ini memiliki populasi luas. Implementasinya dengan membagi setiap wilayah populasi menjadi cluster atau kelompok baru kemudian mengambil datanya. Penerapannya  seringkali dalam survei sosial atau penelitian yang berbasis populasi. 

    2. Non-probability Sampling

    Penentuan populasi dan sampel dalam penelitian tidak bisa sembarangan. Teknik lain yang wajib untuk kamu ketahui adalah non probability sampling. Ini merupakan metode di mana tidak semua populasi memiliki kesempatan menjadi sampel. Sebab, ada ketidakpastian di dalamnya. 

    Penyebabnya bisa karena populasi tidak diketahui, sebagian populasi memiliki peluang lebih tinggi, atau jumlah populasi yang belum ditentukan. Berikut modelnya:

    1. Snowball Sampling

    Teknik ini menggunakan perumpamaan snowball atau bola salju karena penentuan sampelnya dengan berjejaring. Penggunaannya lebih sering dalam penelitian yang melibatkan kelompok atau komunitas. 

    Dalam teknik bola salju sangat memanfaatkan adanya responden yang sudah ada untuk merekomendasikan atau mereferensikan sampel yang dibutuhkan dalam penelitian.

    2. Accidental Sampling/Convenience Sampling

    Teknik accidental atau yang populer juga dengan sebutan convenience adalah sampel yang terpilih berdasarkan keterjangkauan peneliti. Sehingga, metode ini dianggap paling sederhana dan pemilihan sampel tidak bertujuan untuk mewakili keseluruhan populasi. 

    3. Purposive Sampling

    Dalam teknik ini, pengambilan sampel dalam penelitian kamu lakukan dengan sengaja dengan beberapa ketetapan yang sudah ada. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data sesuai dengan karakteristik relevan yang peneliti butuhkan dalam penelitiannya. 

    4. Quota Sampling 

    Teknik terakhir adalah pengambilan sampel dengan menentukan kuota. Di mana sampel disepakati dengan jumlah tertentu dan akan berhenti saat jumlah yang peneliti tetapkan sudah terpenuhi. Dalam teknik kuota ini setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi bagian dari sampel. 

    Perbedaan Populasi dan Sampel dalam Penelitian

     Ilustrasi Penelitian
    (Ilustrasi Penelitian| Sumber gambar: pexels)

    Karena sama-sama berperan penting dalam sebuah penelitian. Maka, kamu perlu tahu beberapa perbedaan antara populasi dan sampel agar tidak bingung dalam kegiatan penelitian. Berikut beberapa di antaranya: 

    1. Pengertian dan Ukuran 

    Jika memahami dari segi pengertiannya secara umum, jelas perbedaan populasi dan sampe terletak pada jumlahnya. Di mana populasi cakupannya lebih besar karena di dalamnya termasuk keseluruhan objek penelitian. 

    Sedangkan sampel merupakan sebagian kecil dari populasi terpilih dengan metode tertentu untuk mewakili keseluruhan populasi. 

    2. Dari Segi Representasi

    Berdasarkan segi representasinya, populasi dan sampel juga berbeda. Di mana populasi memiliki semua karakteristik yang ada dalam penelitian tetapi sampel tidak. Sampel memiliki batasan tertentu yang biasanya akan dipilih berdasarkan karakter yang paling bisa mewakili. 

    3. Metode Penelitian

    Tidak hanya dari segi pengertian dan jumlah, penggunaan populasi dan sampel dalam penelitian juga memiliki perbedaan dalam metodenya. Populasi dengan ruang yang lebih luas biasanya diterapkan dalam penelitian deskriptif. Ini membutuhkan data yang lengkap dan pemahaman menyeluruh. 

    Sedangkan implementasi dalam penggunaan sampel penelitian biasanya hanya membutuhkan data tertentu saja. Jadi, cukup dengan mengambil karakteristik tertentu. Dalam penerapannya, sampel juga memudahkan peneliti untuk menganalisa objek lebih spesifik tanpa mengumpulkan data dari keseluruhan populasi. 

    Contoh Populasi dan Sampel dalam Penelitian

    Ilustrasi Populasi dan Sampel
    (Ilustrasi Populasi dan Sampel| Sumber gambar: pexels)

    Agar dapat lebih memahami konsep populasi dan sampel, kamu bisa melihat contoh di bawah ini:

    Kamu sedang melakukan penelitian tentang bagaimana kualitas pendidikan di kabupaten Sleman. Di kabupaten ini ada sekitar 41 perguruan tinggi dengan lokasi berbeda-beda. Agar memudahkan penelitian, kamu memutuskan untuk menjalankan penelitian di 10 universitas yang berada di daerah Condong Catur. 

    Populasi penelitian = Universitas di Kabupaten Sleman dengan jumlah 41

    Sampel penelitian = Universitas di daerah Condong Catur dengan jumlah 10

    Teknik Sampling = Simple random sampling 

    Karena seluruh Universitas tersebut memiliki sistem pendidikan dan itu adalah sesuatu yang homogen. Jadi, dapat diterapkan dengan pemilihan sampel secara acak. 

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Sudah Tahu Apa itu Populasi dan Sampel dalam Penelitian?

    Kesimpulannya, dalam sebuah riset perlu memperhatikan setiap komponennya dengan detail, terutama penentuan populasi dan sampel dalam penelitian. Keduanya memiliki keterhubungan satu sama lain, serta akan menentukan bagaimana pengambilan kesimpulan nantinya. 

    Pada dasarnya, tidak semua penelitian membutuhkan populasi. Selain itu, penggunaan sampel yang mewakili populasi juga akan memberi banyak manfaat. Meliputi kemudahan pengolahan data hingga efisiensi sumber daya, waktu, dan biaya. Asalkan sudah tepat dan menunjang keterangan, sampel sudah lebih dari cukup.

  • 3 Contoh Penutup Makalah & Strukturnya yang Benar

    3 Contoh Penutup Makalah & Strukturnya yang Benar

    Makalah penelitian bukan hanya berisi topik dan latar belakang, namun juga harus ada penutupnya. Meskipun berada pada bagian akhir, membuat penutup makalah tidak boleh sembarang. Oleh sebab itu, pahamilah contoh penutup makalah sebagai bahan referensi.

    Apa Itu Penutup Makalah?

    Sesuai namanya, penutup makalah terletak di bagian akhir. Pada bagian ini, berisi seputar observasi dan riset lapangan dari penelitian. 

    Adanya penutup makalah, membuat pembaca bisa lebih mudah memahami isi makalah. Dengan demikian, bisa mendatangkan pengetahuan dan wawasan baru bagi pembaca. 

    Jika membahas bagian penutup makalah tidak bisa lepas dari kesimpulan dan saran. Unsur-unsur tersebut memiliki keterkaitan dan saling melengkapi satu sama lain. Menulis penutup makalah harus menentukan kesimpulan isi pembahasan makalah terlebih dahulu. 

    Selain itu, ada juga saran untuk penelitian. Karena kesimpulan dan saran berhubungan dengan penutup makalah, maka keduanya masuk dalam bahasannya. 

    Jika Anda sudah memahami isi makalah secara keseluruhan, membuat kesimpulan dan saran di penutup makalah menjadi lebih mudah.

    Struktur Penutup Makalah

    Sebelum menulis contoh penutup makalah, sebaiknya pahami dulu strukturnya. Sehingga hasilnya lebih terperinci, tanpa adanya miskomunikasi dalam makalah penelitian. Ketahuilah struktur penting yang umum di dalam penutup makalah, yaitu:

    1. Kesimpulan

    Syarat pertama untuk membuat penutup makalah adalah kesimpulan dari penelitian. Bagian ini berisi tentang hasil akhir makalah secara keseluruhan, namun dibuat lebih singkat, padat, dan jelas.

    Maka dari itu, hasil kesimpulan harus sesuai isi pembahasan yang sudah ada di bab-bab sebelumnya. Tujuannya agar pembaca lebih memahami isi makalah dan tidak bingung.

    Bukan itu saja, kesimpulan juga tidak boleh terlalu panjang. Sebaiknya tulis poin-poin penting dari isi pembahasan. Dengan kata lain, kesimpulan yang panjang akan mengurangi nilai inti pokok permasalah makalah.

    Adapun karakteristik dari kesimpulan, yakni:

    • Menyampaikan kembali kalimat teori yang ada dukungan argumen dalam karya tulis ilmiah. Akan tetapi, sebaiknya jangan menggunakan kata-kata yang sama.
    • Memberikan pernyataan tentang topik penelitian dari perkembangan paragraf, namun hasil kata-katanya tidak sama.
    • Jika kesimpulan sudah sesuai, maka akan berisi pendapat, prediksi, dan solusi.
    • Ada pernyataan akhir yang berisi ringkasan esai.
    • Memakai kata transisi, mulai dari dengan kata lain, ringkasannya, karena, itu, yaitu, singkatnya, kesimpulannya, dan lain sebagainya.
    • Kata transisi berfungsi sebagai isyarat bahwa ide-ide akan berakhir.

    2. Saran

    Saran juga menjadi bagian dari penutup makalah. Berbeda dari kesimpulan, saran ditulis untuk ditujukan kepada pembaca. Pastinya masih berkaitan dengan topik pembahasan..

    Adanya saran, penulis bisa memberikan solusi kepada para pembaca yang berkaitan isi makalah. 

    Pada dasarnya, pembuatan saran tidak ada aturan khusus. Namun, sebaiknya tulis saran menggunakan bahasa sederhana. Supaya pembaca lebih mudah memahaminya.

    Agar bisa mengenali kalimat saran, Anda harus memahami ciri-cirinya terlebih dahulu. Berikut ini penjelasannya, yaitu:

    • Ada kata penanda pada awal kalimat maupun tengah kalimat. Contohnya seperti sebaiknya, perlu diingat bahwa, hendaknya, seharusnya, lebih baik jika, saran saya, dan lain sebagainya.
    • Penggunaannya sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan karya sastra. Selain itu, kalimat saran juga bisa Anda temukan pada teks tajuk rencana, paragraf argumentasi, dan resensi.
    • Akhir kalimat saran tidak ada tanda baca seru, yakni tanda yang menggambarkan kalimat seruan dan larangan. 

    Baca Juga : 4 Contoh Saran dalam Makalah serta Strukturnya

    3 Tips Membuat Penutup Makalah

    Dalam menulis penutup makalah, tidak boleh melakukannya secara asal-asalan. Karena ada beberapa syarat yang harus diperhatikan. Simak 3 tips dalam membuat penutup makalah berikut ini.

    1. To The Point

    Maksud dari to the point, sebaiknya bagian penutup tidak mengandung kalimat bertele-tele. Karena idealnya penutup makalah hanya satu halaman. Jika isi pembahasan makalah sudah panjang, tuliskan bagian penutup maksimal dua halaman.

    Pasalnya, penutup makalah adalah hasil akhir dari isi makalah. Selain itu, penutup makalah juga menjadi jawaban dari tujuan pada bagian pendahuluan. Oleh sebab itu, usahakan untuk membahasnya to the point.

    Dengan demikian, pembaca lebih mudah untuk memahami hasil makalah penelitian. Sehingga pastikan memilih poin penting pembahasan saja dan tidak perlu menjabarkan hal lainnya.

    2. Fokus Rangkuman

    Pada bagian penutup juga sering terjadi kesalahan. Penyebab utamanya adalah kurang fokus dalam merangkum isi makalah. Hal itu bisa terjadi karena kurang pemahaman terkait penelitian yang dituliskan penulis.

    Padahal penutup makalah harus fokus menyimpulkan isi makalah. Oleh sebab itu, Anda harus menganalisis poin-poin penting dari data pembahasan. Sehingga penulisan penutup makalah mudah dilakukan.

    3. Beri Saran Sesuai Tema

    Saran adalah sub bagian penutup yang sering dianggap remeh. Pada akhirnya, penulisan saran justru melebar kemana-mana. Padahal, sebenarnya sub bagian ini harus berkaitan dengan tema dan isi pembahasan makalah.

    Agar hasilnya bagus, Anda harus membuat saran sesuai tema dan isi. Sehingga memiliki korelasi hasil yang sesuai. Pada hasil penelitian lapangan, Anda bisa memberikan saran kepada pelaku terkait lapangan dan hasil temuan.

    Lain halnya dengan penelitian berdasarkan buku referensi, maka berikan saran tentang wacana yang diangkat. Biasanya, itu bisa berasal dari berbagai sumber literasi pustaka.

    Berdasarkan inti, sebaiknya jangan melebar dengan memberikan saran yang tidak penting. Anda cukup hanya fokus pada hasil pembahasan. Dengan demikian, bagian saran akan nyambung dengan isi makalah tanpa melebar.

    3 Contoh Penutup Makalah

    Meskipun sudah memahami struktur penulisan dalam penutup makalah, tidak afdol rasanya jika tidak menengok contohnya. Anda bisa menjadikan 3 contoh penutup makalah di bawah ini sebagai referensi.

    Contoh 1

    Contoh Penutup Makalah
    Contoh Penutup Makalah | Sumber Gambar: Detik.com

    Pada contoh di atas, Anda bisa melihat bahwa penutup makalah berisi kesimpulan dan saran. Masing-masing sub bab tersebut terbilang cukup singkat isinya. Meski penutup, pastikan Anda memperhatikan penulisannya agar tetap sesuai EYD.

    Contoh 2

    Contoh Penutup Makalah | Sumber Gambar: 1.bp.blogspot

    Sama seperti pada contoh pertama, penutup makalah berisi kesimpulan dan saran. Namun, pada contoh kedua ini, kesimpulannya tidak berbentuk paragraf melainkan bulleting list. Meski begitu, sama-sama menjelaskan kesimpulan dan saran penelitian.

    Contoh 3

    Contoh Penutup Makalah
    Contoh Penutup Makalah | Sumber gambar: Penggembala Kata

    Contoh penutup makalah yang terakhir ini mirip dengan contoh yang pertama yaitu penjelasan berupa paragraf, bukan bulleting list. Jika diperhatikan, contoh di atas tata bahasa yang digunakan masih banyak yang kurang tepat.

    Misalnya, penggunaan huruf kapital maupun pengulangan kata-kata yang sama atau bertele-tele.

    3 Manfaat Menulis Penutup Makalah

    Sebagai sub bagian dari makalah, bagian penutup tentu saja memiliki fungsi. Berikut 3 diantaranya, yaitu:

    1. Bagi Penulis

    Dengan menulis bagian penutup, maka penulis bisa meningkatkan pemikirannya secara lebih kritis. Karena menyimpulkan suatu pembahasan membutuhkan effort tinggi.

    Selain itu, penulis juga jadi lebih sistematis, bertanggung jawab, lebih peka terhadap masalah, dan menambah wawasannya. Sehingga, isi makalah menjadi lebih terstruktur.

    2. Bagi Pembaca

    Tidak hanya untuk penulisnya, seseorang yang membaca bagian-bagian dari makalah juga mendapatkan manfaat. Salah satunya adalah sebagai sumber referensi dan menambah ilmu pengetahuan mereka.

    3. Bagi Industri Terkait

    Ketika membuat makalah, tentu ada institusi tertentu dibaliknya. Nah, biasanya penulisan bagian-bagian makalah yang benar akan bermanfaat bagi mereka. Hal ini karena sebagai acuan untuk memperbaiki masalah dan menerapkan solusi yang ada di dalam penutup makalah.

    Baca Juga : Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Sudah Tahu Contoh Penutup Makalah?

    Penutup makalah adalah salah satu bagian penting dari makalah. Anda bisa  mempelajari berbagai contoh penutup makalah yang ada. Membuat bagian akhir makalah memang terlihat mudah, namun tidak boleh sembrono. Sebab, bisa menghilangkan nilai penting makalah. 

    Akibatnya, makalah jadi tidak terstruktur kembali. Tidak hanya penulis yang dirugikan, para pembaca juga ikut kena getahnya. Sebab pembaca bisa merasa kebingungan. Pastikan Anda membuat penutup makalah yang jelas, tidak bertele-tele, dan mudah dipahami.

  • Cara Membuat Proposal Penelitian, Struktur, dan Contoh

    Cara Membuat Proposal Penelitian, Struktur, dan Contoh

    Cara membuat proposal penelitian masih menjadi hal yang membingungkan bagi sebagian orang. Padahal setiap proyek penelitian, pastinya membutuhkan dokumen pendukung berupa proposal penelitian. 

    Biasanya, penelitian memiliki ruang lingkup bidang sains, akademik, dan sejenisnya. Secara sederhana, dokumen ini adalah tulisan berisi permintaan dana dari sponsor. Lalu, bagaimana cara membuat proposal penelitian yang baik serta terstruktur? Cari tahu jawabannya lengkap beserta contohnya di artikel ini.

    Struktur Proposal Penelitian

    Sebelum mengetahui cara membuat proposal penelitian, Anda harus memahami strukturnya terlebih dahulu. Penyusunan proposal penelitian berbentuk sistematis dan ilmiah. 

    Oleh karena itu, Anda harus menentukan tujuan sebelum diajukan. Bukan itu saja, dokumen ini juga bersifat objektif. Dengan demikian, kebenarannya harus bisa dipertanggungjawabkan.

    Nah, berikut ini adalah struktur lengkap untuk membuatnya, yaitu:

    • Nama atau judul proposal
    • Pendahuluan atau latar belakang
    • Tujuan
    • Rumusan masalah
    • Manfaat
    • Landasan teori
    • Metode
    • Jadwal pelaksanaan
    • Pihak-pihak yang terlibat
    • Rincian kegiatan

    Baca Juga : 11 Unsur Proposal Kegiatan yang Wajib Kamu Perhatikan

    Tata Cara Membuat Proposal Penelitian

    Dalam pembuatannya, proposal penelitian harus dibuat dengan berbagai aspek penting. Di antaranya adalah seperti isi berikut, yaitu:

    1. Pendahuluan

    Pendahuluan adalah bab pertama dalam proposal penelitian. Penulis harus menyusun pendahuluan di awal. Adapun beberapa format, yaitu:

    A. Latar Belakang Masalah

    Latar belakang berkaitan dengan gambaran lokasi penelitian dan apa saja aktivitas di dalamnya. Bagian ini berisi tentang masalah umum, lalu merujuk ke tujuan masalah utama.

    B. Rumusan Masalah

    Biasanya, rumusan masalah terletak pada proposal dengan kalimat tanya yang jelas dan tegas. Sebagai contoh, misalnya seperti gambaran dari hubungan dua variabel maupun lebih.

    C. Batasan Masalah

    Setiap penelitian harus memiliki batasan masalah, karena berfungsi sebagai ruang lingkup penelitian. Batasan tersebut akan membahas tentang tema, wilayah, dan hal-hal relevan lainnya. Penentuan batasan masalah harus tepat, jangan sampai melebar keluar dari tujuan penelitian. 

    D. Tujuan Penelitian

    Dalam penelitian, tujuan adalah kunci utama keberhasilannya. Oleh sebab itu, pastikan tujuan penelitian memiliki pembahasan yang bisa menjawab tema penelitian. 

    Ada juga tujuan khusus yang membahas tujuan dan rincian secara umum, namun tetap memiliki batasan masalah yang opsional.

    E. Manfaat Penelitian

    Secara umum, biasanya proposal penelitian mencakup sejumlah manfaat untuk penggunanya. Baik itu dalam keilmuan maupun penelitian yang masih relevan. Oleh sebab itu, proposal harus diungkap sesuai kebijakan topik.

    F. Keaslian Penelitian

    Penciptaan proposal harus berdasarkan data dan fakta. Dengan demikian, tidak boleh ada plagiarisme. Hal ini karena penelitian berfungsi untuk menunjukkan kemampuan para peneliti, khususnya dalam identifikasi data.

    2. Tinjauan Pustaka

    Setelah pendahuluan, ada bab II atau tinjauan pustaka. Pada bagian ini, isinya memuat seputar penelusuran kepustakaan. Tujuannya untuk mengidentifikasi penelitian, mulai dari pertanyaan, isi, jawaban, hingga masalah apa saja yang akan Anda bahas. Berikut kerangka tinjauan pustaka, yaitu:

    A. Landasan Teori

    Landasan teori merupakan kerangka teori yang berupa rujukan referensi dari para ahli teori. Bagian ini berfungsi menjadi dasar untuk merinci hasil pembahasan. Sehingga sangat penting untuk dituliskan. Pastikan teori yang Anda pilih memiliki relevansi dengan variabel penelitian.

    B. Kerangka Teori

    Kerangka teori bertujuan untuk mengajukan bacaan pustaka yang lebih efisien dan efektif. Oleh sebab itu, pilihlah teori yang memang memiliki relevansi.

    C. Konsep Penelitian

    Bukan hanya kerangka teori, konsep penelitian juga menjadi aspek dasar masalah dari penelitian. Secara sederhana, bagian ini merumuskan teori lebih luas lagi. Contohnya, memastikan keterkaitan antara teori dengan masalah yang diteliti.

    D. Hipotesis

    Hipotesis adalah pernyataan singkat dan kesimpulannya berdasarkan landasan teori. Pada proposal penelitian, fakta harus diuji melalui kaidah keilmuan. Jadi, pastikan hipotesis memang bisa dipertanggungjawabkan.

    3. Metode Penelitian

    Tata cara membuat proposal penelitian harus memiliki bab ketiga yang berupa pembahasan metode penelitian. Pada metode penelitian, ada beberapa bagian yang wajib ada dan tersusun. Inilah sejumlah format dalam metode penelitian, yaitu:

    A. Jenis Penelitian

    Tentukan jenis penelitian yang ingin Anda tulis, lalu cari bukti sesuai langkah-langkah dan hipotesisnya. Misalnya, jenis penelitian kualitatif, kuantitatif, atau yang lainnya.

    B. Populasi dan Sampel

    Adanya populasi dan sampel dari penelitian berguna untuk mengambil dan mengumpulkan hasil. Maksud dari populasi dalam kasus ini adalah keseluruhan subjek dan objek penelitian yang telah memenuhi karakteristik tertentu.

    C. Variabel

    Metode penelitian harus memuat variabel dan faktor dari penelitian terjadi.

    D. Definisi Operasional

    Bagian definisi operasional juga perlu dicantumkan, karena mendeskripsikan variabel agar tak memiliki integrasi ganda. Dengan demikian, variabel akan lebih terukur dan menghasilkan sejumlah variabel lainnya sesuai tingkat pengukuran.

    E. Instrumen Penelitian

    Dalam proposal penelitian juga harus memuat seputar instrumennya. Salah satunya yang berupa alat ukur untuk meneliti, baik itu berupa kuesioner maupun checklist. Bagian ini menjadi panduan untuk melakukan observasi.

    F. Teknik Pengolahan Data

    Teknik pengolahan data harus dimasukkan ke dalam proposal, karena dapat membantu penulis untuk mengolah data. Sehingga penulis bisa mengambil kesimpulan dari penelitiannya.

    G. Metode Analisis Data

    Bagian ini berisi tentang kegiatan analisis data dalam penelitian. Mulai dari persiapan, tabulasi, aplikasi data, dan lain sebagainya.

    H. Batasan Penelitian

    Keterbatasan atau batasan penelitian memuat tentang kelemahan dari pembahasan bab metode penelitian.

    Pada dasarnya, proyek penelitian pastinya tidak sempurna secara maksimal. Oleh sebab itu, keterbatasan menyajikan teknik batasan tujuan. Dengan demikian, penelitian bisa menunjukan dampak metodologis dan substantifnya.

    I. Daftar Pustaka

    Daftar pustaka adalah salah satu bagian paling penting. Hal ini karena menerangkan bacaan dari sumber atau referensi menulis proposal tersebut. Secara umum, daftar pustaka berasal dari teks buku, jurnal, artikel, majalah, dan lain sebagainya.

    J. Lampiran

    Lampiran sebagai bagian terakhir dalam metode penelitian. Ini berfungsi menjadi informasi saat melakukan penelitian. Misalnya seperti lampiran surat penelitian, peta, kuesioner, dan data pendukung sejenisnya.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    4. Kesimpulan dan Penutup

    Kesimpulan dan penutup menjadi bagian akhir dari proposal penelitian. Pada bagian ini, akan mendukung pernyataan bahwa penelitian bisa diterima. 

    Bukan itu saja, jika ada saran dan pertanyaan, maka penulis harus bersedia menerimanya. Jadi, koreksi dan masukan bertujuan merevisi proposal. Dengan demikian, proposal penelitian bisa memiliki hasil terbaik.

    Jenis-Jenis Proposal Penelitian dan Contohnya

    Setelah memahami cara membuat proposal penelitian, Anda bisa langsung menentukan jenis proposal yang ingin diteliti. Sesuaikan proposal pilihan dengan proyek penelitian Anda. Simak penjelasannya di bawah ini:

    1. Kuantitatif

    Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif
    Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif | Sumber gambar: Scribd

    Kuantitatif merupakan jenis proposal penelitian yang memecahkan masalah ilmiah dan bersifat pasti. Hal ini karena berdasarkan perhitungan, sehingga isi penelitian harus cocok dengan kuantitatif.

    Data penelitian kuantitatif akan berbentuk angka bulat, lalu akan dihitung. Mulai dari jumlah, pengurangan, pembagian, rata-rata, dan lain sebagainya. Itulah mengapa hasilnya harus tepat.

    Proposal kuantitatif memiliki penyusunan dan skema perhitungan. Tujuannya untuk menyampaikan kejelasan hasil yang lebih mudah. Jenis proposal penelitian ini dianggap paling mudah penyusunannya. Meskipun demikian, janganlah menyusunnya dengan sembarangan.

    2. Kualitatif

    Contoh Proposal Penelitian Kualitatif
    Contoh Proposal Penelitian Kualitatif | Sumber gambar: Cermin Dunia

    Proposal penelitian kualitatif adalah kebalikan dari kuantitatif. Jadi, kualitatif lebih fokus pada pemahaman perilaku manusia atau humanistik. 

    Selain itu, jenis ini juga bersifat dan kontekstual. Oleh sebab itu, data yang digunakan tidak berbentuk data dan tidak dihitung.

    Secara umum, hasil dan datanya akan menjadi penilaian personal dari subjek penelitian. Sebagai contoh, seperti tingkat kelezatan makanan pada restoran tertentu, tingkat kepuasan masyarakat, dan lain sebagainya.

    3. Pengembangan

    Contoh Proposal Penelitian Pengembangan
    Contoh Proposal Penelitian Pengembangan | Sumber gambar: Scribd

    Proposal penelitian pengembangan adalah proyek yang berisi pengembangan ilmu pengetahuan. Seperti namanya, proposal ini harus memiliki topik dan harapan yang sama untuk dikembangkan. Misalnya, seperti ingin menghasilkan penelitian yang lebih efisien, baik, solutif, dan sejenisnya.

    Sudah Tahu Cara Membuat Proposal Penelitian?

    Proposal penelitian sangatlah penting dalam ruang lingkup tertentu, terutama pada pekerjaan dan pendidikan. Oleh sebab itu, setiap individu perlu memahami cara membuat proposal penelitian dengan lebih serius. 

    Jadi, cobalah membuatnya sebagai latihan. Dengan demikian, Anda tidak kagok dan asing saat harus membuat proposal penelitian dikemudian hari. Namun, sebelum membuatnya, pastikan Anda menentukan tujuan penelitian tersebut dengan bijak.

  • 4 Contoh Saran dalam Makalah serta Strukturnya

    4 Contoh Saran dalam Makalah serta Strukturnya

    Bagaimana contoh saran dalam makalah yang baik? Bagi para pelajar, mahasiswa, dan tenaga akademisi lainnya pasti tidak asing dengan tugas paper seperti makalah atau karya ilmiah. Apalagi mahasiswa, tugas makalah pasti sudah menjadi makanan setiap hari. Nah, biasanya, saat menyusun makalah, kamu perlu menulis saran.

    Letak saran dalam makalah biasanya berada di bagian penghujung, alias di bab penutup. Peneliti akan menuliskan saran yang bisa pembaca gunakan sebagai bahan perbaikan untuk penelitian selanjutnya. Nah, supaya tidak bingung bagaimana cara menulisnya, mari simak contohnya berikut ini!

    Apa Itu Saran dalam Makalah?

    Sebelum melangkah untuk melihat contoh saran dalam makalah, kamu harus mengenal apa itu saran terlebih dahulu. Sesuai dengan namanya, saran merupakan sebuah tulisan dari peneliti yang berisi masukkan kepada berbagai pihak. Misalnya pihak pemerintah, instansi terkait, atau pihak lainnya yang bersangkutan. 

    Tujuan peneliti menulis saran dalam makalah tidak lain adalah sebagai bahan untuk perbaikan pada penelitian selanjutnya. Karena itu, kebanyakan masukkan pada makalah dan karya ilmiah berisi tindakan spesifik. Misalnya seperti kebijakan atau praktik agar pihak-pihak bersangkutan mewujudkannya.

    Konteks masukan dalam makalah bersifat positif. Pendapat yang peneliti kemukakan merupakan hasil tanggapan dari penelitian yang sudah dilakukan. Selain itu, peneliti juga berharap pembaca bisa mendapatkan manfaat setelah membaca keseluruhan isi makalah yang dibuat. 

    Kamu bisa menulis saran pada bagian penutup, lebih tepatnya usai penjabaran kesimpulan. Namun, perlu kamu perhatikan bahwa, panjang tulisan saran sebaiknya pendek saja dan tidak sampai melebihi kesimpulan. Contoh saran yang baik adalah yang berisi masukan yang membangun penelitian di masa depan. 

    Baca Juga : Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Fungsi Saran dalam Makalah

    Ilustrasi Peneliti
    Ilustrasi Peneliti | Sumber Gambar: Freepik 

    Penulisan saran pada makalah berfungsi sebagai masukan yang peneliti dan calon peneliti selanjutnya manfaatkan sebagai bahan evaluasi. Jadi, saran tidak hanya untuk mengoreksi peneliti saja, tetapi juga calon peneliti selanjutnya yang berniat membahas topik sama. 

    Peneliti pada saran makalah akan menjelaskan manfaat untuk melakukan studi lebih lanjut. Jadi, masalah penelitian yang saat ini jadi topik oleh peneliti bisa mendapatkan solusi yang lebih mendetail pada studi di masa depan nantinya. Maka dari itu, peneliti biasanya merekomendasikan untuk melakukan penelitian tambahan. 

    Struktur dan Syarat Saran

    Sebenarnya, tidak ada panduan atau aturan khusus yang mengatur tentang isi saran pada makalah dan karya ilmiah. Hanya saja, kamu perlu menuliskan saran dengan tepat sasaran, alias tidak bertele-tele. Karena tujuan saran adalah membantu memajukan studi penelitian yang akan datang.

    Selain tidak bertele-tele, berikut adalah beberapa hal atau syarat dalam contoh saran dalam makalah yang bisa kamu perhatikan ketika ingin menulisnya:

    • Bahasa dan objek yang dituju harus jelas.
    • Ada tindakan operasional yang bisa dilakukan, serta memiliki indikator keberhasilan.
    • Berupa imbauan untuk melakukan penlitian sejenis dengan isi lebih mendalam. 

    Contoh Saran dalam Makalah yang Benar

    Nah, agar semakin mudah untuk membuat saran sendiri, berikut beberapa contoh yang bisa jadi referensi: 

    1. Saran Penelitian untuk Topik Pendidikan

    Berdasarkan hasil penelitian tentang efektivitas penerapan belajar daring pada anak-anak Sekolah Menengah Atas, maka peneliti ingin memberikan beberapa saran yang bermanfaat untuk studi selanjutnya. Di antaranya:

    • Pembelajaran daring memang efektif sebagai metode belajar yang baru ketika guru memiliki kendala untuk hadir langsung mengajar para siswanya. Namun, tetap saja ada beberapa kekurangan dari pembelajaran daring seperti kendala kuota yang tidak siswa miliki. 

    Oleh sebab itu, pihak sekolah bisa menyediakan subsidi berupa kuota edukasi kepada para siswanya untuk mengadakan daring. 

    • Peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengkaji lebih banyak literatur yang berhubungan dengan efektivitas pembelajaran daring pada era digital. Sehingga, hasil penelitiannya dapat lebih baik dari penelitian sekarang. 

    2. Saran untuk Topik Kesehatan Mental

    Berdasarkan hasil penelitian tentang kesehatan mental, maka peneliti ingin memberikan beberapa saran penelitian yang bermanfaat untuk ke depannya. Di antaranya:

    • Untuk mahasiswa yang merantau sebaiknya selalu menjaga komunikasi dengan teman dan keluarga terdekat untuk membicarakan tentang kondisi mentalnya saat ini. Supaya kesehatan mentalnya tetap terjaga berkat dukungan dari kerabat terdekat. 
    • Untuk pihak kampus sebaiknya menyediakan fasilitas layanan bimbingan konsultasi yang dilengkapi oleh tenaga profesional untuk membantu mendengarkan keluh kesah para mahasiswanya. Dengan begitu, mahasiswa bisa mencurahkan bebannya selama di perkuliahan. 

    3. Saran Penelitian untuk Topik Banjir

    Contoh contoh saran dalam makalah berikutnya berkaitan dengan topik banjir. Berikut penjabarannya:

    Berdasarkan hasil penelitian tentang banjir, maka peneliti ingin memberikan masukan kepada beberapa pihak terkait sebagai tindak preventif bencana banjir kedepannya. Di antaranya:

    • Bagi masyarakat bisa meningkatkan kesadaran diri untuk membuang sampah pada tempatnya daripada langsung membuangnya ke sungai. Sampah yang menumpuk di sungai bisa menyebabkan banjir lantaran volume sungai bertambah. Selain itu, kepala desa bisa mengajak warga menanam pohon. 
    • Bagi pemerintah sebaiknya meningkatkan sarana dan prasarana drainase untuk meminimalisir risiko terjadinya banjir. Karena kualitas drainase juga menentukan kemampuan menyerap genangan air ketika hujan deras turun. 
    • Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menemukan metode pencegahan banjir yang lebih efektif dan aplikatif daripada penelitian sekarang. Pengumpulan datanya bisa lebih lengkap dan menggunakan banyak sumber literatur lainnya. 

    4. Saran Penelitian untuk Topik Literasi

    Dari makalah yang sudah peneliti buat terkait topik literasi, maka terdapat beberapa saran yang ingin peneliti sampaikan. 

    • Bagi sekolah seharusnya memberikan sarana dan prasarana yang lebih baik dalam hal pengadaan perpustakaan. Mulai dari penyediaan buku yang lengkap hingga sumber daya manusia yang memadai pada bidangnya. 
    • Bagi pemerintah sebaiknya memperbanyak program literasi khususnya untuk anak muda yang zaman sekarang banyak terpapar produk teknologi seperti ponsel pintar. Serta, program-program yang sebelumnya sudah ada bisa terus dipertahankan. 

    Cara Menulis Saran dalam Makalah

    Ilustrasi Orang Menulis
    Ilustrasi Orang Menulis | Sumber Gambar: Freepik  

    Nah, setelah menyimak contoh saran dalam makalah di atas, berikutnya kamu bisa mempelajari bagaimana cara menulis saran yang baik. Berikut beberapa hal yang harus kamu perhatikan ketika menulis masukan dalam makalah:

    1. Memperhatikan Jumlah Kata

    Ketika menulis saran, kamu perlu menulisnya dalam isi yang singkat dan padat. Kira-kira tidak sampai lebih dari 200 kata. Ini untuk mencegah pembaca makalah merasa bosan dan bisa membidik poin yang ingin kamu sampaikan dengan lebih cepat. Hindari menulis saran dalam makalah yang panjangnya melebihi kesimpulan. 

    2. Memasukkan Ungkapan Harapan

    Jika mencermati contoh saran dalam makalah, kamu akan menemukan beberapa kata seperti “sebaiknya”, “penulis harap”, dan lain sebagainya. Ini terjadi karena umumnya sara akan menggunakan kata yang mengandung harapan.

    3. Mengandung Solusi

    Peneliti sebaiknya tidak hanya menuliskan sarana saja, tetapi juga memberikan tawaran solusi. Jadi, pembaca dan calon peneliti selanjutnya bisa memperbaiki makalah yang akan datang dengan lebih mudah. 

    Sudah Tahu Bagaimana Contoh Saran dalam Makalah?

    Kebanyakan institusi mewajibkan untuk menulis saran pada penelitian, sehingga kamu bisa menjadikan contoh saran dalam makalah di atas sebagai referensi untuk tugas berikutnya. Ingat! Membuat saran yang efektif sangat penting karena akan menjadi bahan evaluasi atau perbaikan lebih lanjut untuk penelitian berikutnya. 

    Saran juga berperan penting untuk mengoreksi kekurangan penelitian yang sekarang dan memberikan rekomendasi memcahkan masalah yang sedah dihadapi. Karena itu, selain relevan, keakuratan dan validitas dari saran wajib untuk kamu perhatikan. Bagaimana, kamu sudah bisa membuat saran sendiri?

  • Apa Itu Kerangka Pemikiran? Definisi, Jenis dan Cara Membuatnya

    Apa Itu Kerangka Pemikiran? Definisi, Jenis dan Cara Membuatnya

    Kerap disebut sebagai kerangka berpikir, kerangka pemikiran memegang peran krusial dalam sebuah proyek penelitian yang bersifat ilmiah maupun nonilmiah. Selain berfungsi sebagai acuan, kerangka berpikir juga dapat membentuk serta memandu tahapan demi tahapan dalam proses penelitian secara lebih terstruktur.

    Dengan adanya kerangka berpikir, peneliti dapat memiliki pemahaman yang mendalam mengenai alur kinerja dari sebuah penelitian. Terlebih lagi, penyajian visualisasi dari kerangka berpikir yang berupa diagram atau bagan alir, semakin memudahkan peneliti dalam menjabarkan garis besar berjalannya proyek penelitian.

    Artikel ini akan mengulas secara detail tentang kerangka berpikir, mulai dari definisi, jenis, dan cara membuat kerangka berpikir lengkap beserta langkah-langkahnya. Harapannya, kamu dapat mengaplikasikan pengetahuan tentang kerangka berpikir untuk proyek penelitian kamu kedepannya dengan lebih baik lagi.

    Apa Itu Kerangka Pemikiran?

    Berdasarkan definisinya, kerangka pemikiran atau berpikir adalah suatu dasar penelitian yang mencakup penggabungan beberapa elemen penting, seperti teori, fakta, observasi, dan kajian pustaka. Selanjutnya, elemen tersebut menjadi sebuah landasan dalam melakukan penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah maupun nonilmiah. 

    Karena menjadi fondasi yang paling mendasar, biasanya kerangka berpikir akan ada saat peneliti mulai memaparkan konsep-konsep dari penelitian. Jenis kerangka tersebut juga bisa dianggap sebagai visualisasi yang terkemas dengan baik dalam bentuk bagan atau diagram yang saling terhubung dan terikat antara satu sama lain.

    Dengan begitu, penggunaan kerangka berpikir dapat menyajikan alur logis mengenai seluruh permasalahan yang mampu berjalan secara sistematis melalui sebuah karya tulis atau penelitian. Adapun, struktur yang tercantum dalam kerangka berpikir, yaitu mulai dari perkenalan, penyebab konflik, proses penyelesaian konflik, dan penutup. 

    Lebih lanjut, kerangka berpikir ini merujuk terhadap acuan ilmiah yang terdiri dari poin-poin yang bersesuaian dengan variabel. Dalam kerangka pemikiran, terdapat dua jenis variabel penelitian (terikat dan bebas) yang dapat dijelaskan dengan lebih mendalam serta relevan terhadap permasalahan yang menjadi topik penelitian.   

    Baca Juga : Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Jenis Kerangka Pemikiran

    Kerangka berpikir secara umum terbagi menjadi tiga jenis yang terdiri dari:

    1. Kerangka Pemikiran Teoritis

    Contoh Kerangka Berpikir Teoritis
    Contoh Kerangka Berpikir Teoritis | Sumber gambar: ResearchGate

    Lebih menekankan pada landasan (grand theory), kerangka berpikir teoritis adalah jenis konteks berpikir yang memberikan penegasan terhadap teori yang berguna sebagai dasar dan asumsi-asumsi teoritis. 

    Selanjutnya, teori tersebut berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa atau fenomena yang terjadi di dalam penelitian secara teoritis. Selain itu, kerangka teoritis juga dapat menghubungkan beberapa faktor yang dianggap penting untuk penyelesaian masalah dalam penelitian. 

    2. Kerangka Pemikiran Konseptual

    Contoh Kerangka Berpikir Konseptual
    Contoh Kerangka Berpikir Konseptual | Sumber gambar: ResearchGate

    Kerangka konseptual adalah jenis kerangka yang dapat menjelaskan alur pemikiran mengenai satu konsep dengan konsep yang lainnya. Tujuannya yaitu untuk memberikan gambaran atau ilustrasi berupa asumsi teori yang terkait dengan variabel-variabel  penelitian. 

    Umumnya, konsep pada kerangka berpikir ini lebih spesifik dari teori. Adapun, konsep tersebut nantinya berguna untuk mengistilahkan unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah fenomena penelitian dan mengetahui hubungan yang sebenarnya dengan konsep penelitian.   

    3. Kerangka Pemikiran Operasional

    Contoh Kerangka Berpikir Operasional
    Contoh Kerangka Berpikir Operasional | Sumber gambar: 123dok

    Merupakan jenis kerangka berpikir yang penggunaannya lazim untuk menjelaskan variabel yang peneliti tentukan berdasarkan topik penelitian yang sudah ada. Kerangka operasional ini juga menjadi sebuah indikator atau tolak ukur antar variabel yang saling berkaitan.   

    Dengan begitu, peneliti dapat memaparkan tentang variabel hasil turunan dari konsep  terpilih dan menguraikan hal-hal apa saja yang berguna sebagai indikator untuk mengukur variabel yang bersangkutan.        

    Cara Membuat Kerangka Pemikiran

    Cara Membuat Kerangka Pemikiran
    Cara Membuat Kerangka Pemikiran | Sumber gambar: Freepik.com

    Untuk dapat merumuskan kerangka berpikir dengan baik, maka peneliti harus melewati beberapa tahapan yang bisa peneliti gunakan sebagai tumpuan. Berikut ini adalah lima tahapan dari kerangka berpikir yang bisa kamu terapkan pada proyek penelitian secara langsung:

    1. Mengidentifikasi Variabel Penelitian

    Langkah pertama dalam pembuatan kerangka pemikiran adalah mencari variabel dari penelitian. Seorang peneliti harus mampu mengidentifikasi atau menentukan variabel yang cocok digunakan untuk penelitian. Variabel sendiri merupakan pengelompokan terhadap dua atau lebih dari suatu atribut yang ada pada objek penelitian.

    Pada tahap ini, variabel-variabel yang telah teridentifikasi oleh peneliti nantinya akan melalui tahap pengelompokan yang logis. Variabel tersebut bisa dalam bentuk jenis data, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan objek, dan lain sebagainya.  

    Dalam menentukan variabel, biasanya peneliti acap kali menemui kesulitan yang berarti, terlebih lagi para mahasiswa yang melakukan penelitian perdana. 

    Maka dari itu, peneliti bisa memperhatikannya dari judul, sebab judul selalu memuat variabel penelitian. Variabel itulah yang menjadi titik tolak dalam pengembangan teori kedepannya.      

    2. Mencari Hubungan Antar Variabel

    Usai identifikasi variabel, peneliti harus mencari tahu hubungan antar variabel. Pada praktiknya, kerangka pemikiran dalam penelitian akan selalu mengandung minimal dua variabel yang saling berkaitan. 

    Oleh karena itu, setiap variabel yang ada harus saling berhubungan, supaya mampu membantu serta mendukung kegiatan penelitian menjadi lebih akurat dan sesuai dengan keinginan peneliti. Lebih lanjut, penentuan hubungan variabel dapat ditetapkan berdasarkan hubungan langsung yang terjadi di lapangan.

    3. Mengumpulkan Sumber Literatur

    Kerangka pemikiran akan jauh lebih bagus, jika disertai sumber literatur atau referensi yang kredibel dan sesuai dengan topik penelitian. Bagi peneliti, kajian pustaka penting untuk menjadi acuan dalam penelitian yang merujuk pada bidang pengkajian tertentu dan dapat merefleksikan kemantapan mutu ilmiah dari hasil penelitian itu sendiri.

    Lebih lanjut, sumber literatur ini juga dapat memperkuat topik pembahasan melalui hasil dari riset penelitian yang terdahulu beserta kumpulan teori yang telah ada dalam penelitian. 

    Pada bagian ini, peneliti dapat mengumpulkan referensi atau sumber literatur dari jurnal ilmiah, buku ilmu pengetahuan, artikel online, jurnal cetak di perpustakaan, hasil wawancara, dan masih banyak lagi.    

    Setelah mendapatkan sumber literatur tersebut, peneliti harus membaca dan melakukan tinjauan pustaka secara saksama untuk mengetahui referensi mana saja yang relevan dengan topik penelitian.  

    4. Membahas Teori

    Agar dapat mengkaji permasalahan dalam suatu penelitian, peneliti harus mampu membuat argumen yang bersifat teoritis. Caranya, yaitu membuat kerangka pemikiran untuk dapat memaparkan pendapat logis yang sesuai dengan data-data kajian pustaka yang telah terbaca sebelumnya.    

    Singkatnya, topik dan variabel penelitian akan peneliti kaji ulang dengan menggunakan keseluruhan informasi dari sumber literatur yang ada. Kemudian, peneliti dapat menarik kesimpulan untuk memastikan topik penelitian tersebut mempunyai landasan yang kuat.  

    Dengan adanya landasan teori yang kuat, maka penelitian juga akan semakin meyakinkan untuk dilaksanakan secara langsung. Sebagai informasi, pembahasan teori dapat menguatkan topik penelitian serta membuktikan bahwasanya peneliti tidak asal-asalan dan bertanggung jawab dalam melakukan penelitian. 

    5. Menjelaskan Gambaran Kerangka Pemikiran

    Sebagai langkah terakhir, penjelasan tentang gambaran kerangka pemikiran memudahkan peneliti dalam menuangkan buah pikiran atau gagasan secara teratur dan terarah. Umumnya, kerangka berpikir berbentuk diagram atau bahkan bagan sekalipun. 

    Kehadiran wujud visualisasi tersebut juga dinilai mampu membuat pembaca tidak merasa kebingungan dan lebih gampang dalam memahami kerangka berpikir yang telah peneliti sajikan. 

    Maka dari itu, bagan atau diagram harus dapat menghadirkan keseluruhan proses dan variabel yang ada dalam penelitian. Selanjutnya, kedua elemen visual tersebut wajib memuat keterangan yang berisikan tentang hubungan semua variabel dan pemaparan teori yang dapat memperkuat topik penelitian. 

    Dengan begitu, akan membentuk bagan atau diagram alir yang dapat menunjukkan proses penelitian mulai dari awal hingga selesai. Dari wujud visualisasi itulah, lahir suatu kerangka berpikir yang dapat berfungsi sebagai alur dan rujukan untuk melakukan penelitian. 

    Sudah Tahu Apa Itu Kerangka Pemikiran?

    Kesimpulannya, kerangka pemikiran merujuk pada pola susunan keseluruhan, pendekatan, serta landasan teori yang berfungsi untuk memandu studi penelitian, baik yang bersifat ilmiah atau bahkan non-ilmiah sekalipun    

    Meski terlihat mudah, pembuatan kerangka berpikir tidak boleh sembarangan, melainkan harus tersusun dengan baik dari berbagai elemen vital, seperti dasar fakta, observasi, dan kajian pustaka. Selain itu, hadirnya variabel yang terkait dapat menjawab segala macam permasalahan yang sedang menjadi topik penelitian.    

    Pada implementasinya, proses membuat kerangka berpikir mampu mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan cermat, valid, dan kredibel. Karena memberikan struktur yang jelas, logis, dan teoritis, kerangka berpikir dapat membantu peneliti menghindari ketidaksesuaian dan kebingungan dalam pengerjaan penelitian.

  • Cara Menulis Catatan Kaki Yang Baik dan Benar

    Cara Menulis Catatan Kaki Yang Baik dan Benar

    Catatan kaki adalah elemen penting dalam karya tulis. Meskipun sering kali dianggap sebagai detail teknis, kemampuan tentang cara menulis catatan kaki dengan benar adalah keterampilan yang penting bagi penulis. 

    Artikel ini akan memberikan panduan lengkap tentang cara menulis catatan kaki dalam karya tulis kamu.

    Apa Itu Catatan Kaki?

    Catatan kaki adalah referensi yang terletak di bagian bawah halaman atau di akhir dokumen. Fungsinya adalah menghubungkan teks utama dengan sumber informasi atau kutipan yang penulis gunakan dalam karya tulis ilmiah. 

    Penulis menggunakannya untuk memberikan kredibilitas pada tulisannya dengan merujuk kepada sumber yang digunakan. 

    Catatan kaki juga membantu pembaca untuk melacak sumber informasi yang relevan jika mereka ingin menggali lebih dalam topik dalam karya tulis ilmiah.

    Bagaimana Cara Menulis Catatan Kaki yang Tepat?

    Penulisan catatan kaki yang tepat melibatkan beberapa aturan dan format tertentu. Berikut adalah panduan dan penjelasan langkah demi langkah tentang teknik menulis catatan kaki dengan benar.

     1. Tentukan Gaya Penulisan

    Gaya penulisan yang kamu gunakan, seperti APA (American Psychological Association), MLA (Modern Language Association), atau Chicago, akan menentukan format dan aturan catatan kaki kamu. Setiap gaya memiliki pedoman yang berbeda, jadi pastikan kamu tahu gaya penulisan yang harus kamu ikuti.

    2. Tempatkan Catatan Kaki yang Tepat

    Cara menulis catatan kaki yang baik dan benar adalah dengan meletakkannya di bagian bawah halaman pada posisi yang sesuai dengan kutipan atau teks yang kamu rujuk. Biasanya, ukuran font untuk catatan kaki lebih kecil dari teks utama, dan perlu garis horizontal yang memisahkan catatan kaki dari teks.

    3. Tulis Catatan Kaki

    Tulis catatan kaki dengan format yang sesuai dengan gaya penulisan yang kamu gunakan. Pastikan untuk memperhatikan dan mencantumkan aspek-aspek utama berikut ini dalam catatan kaki.

    a)  Nama Pengarang atau Penulis

    Dalam pembuatan catatan kaki, mencantumkan identitas penulis atau pengarang dari sumber acuan atau referensi dalam karya ilmiah tersebut merupakan faktor yang vital. Meskipun sumber tersebut memiliki judul, catatan kaki hanya memerlukan penulisan nama pengarangnya. 

    Artinya, ketika membuat catatan kaki, kamu hanya perlu mencatat nama penulisnya saja.

    b) Judul Sumber

    Saat mencantumkan catatan kaki, kamu juga harus mencantumkan judul sumber yang kamu kutip dengan cermat, memastikan bahwa sumber tersebut jelas dan tepat. 

    Dalam penulisan judul ini, sangat penting untuk memerhatikan ejaan yang akurat dan konsisten dengan pedoman tata bahasa yang berlaku. Pastikan bahwa judul tersebut mencerminkan isi sumber dengan akurat.

    c) Tahun Penerbitan

    Selanjutnya, setelah mencantumkan judul sumber, unsur catatan kaki berikutnya yang harus sesuai adalah tahun penerbitan. Dalam konteks ini, tahun penerbitan merujuk pada tahun di mana kutipan atau sumber referensi yang kamu gunakan terbit.

    Tahun penerbitan juga penting untuk merujuk pada tahun penerbitan sumber referensi itu sendiri, terutama ketika merujuk pada jurnal atau artikel ilmiah. Dengan mencantumkan tahun penerbitan dengan tepat, pembaca dapat dengan mudah memahami konteks temporal dan sejarah informasi yang ada dalam karya tersebut.

    4. Nomor Halaman Kutipan

    Salah satu aspek yang perlu dipraktikkan juga dalam cara menulis catatan kaki adalah pencantuman nomor halaman. Pasalnya, nomor halaman berguna untuk membantu pembaca dalam menemukan kutipan yang penulis rujuk. Aturan ini berlaku dengan menambahkan kata “halaman” dengan nomor halaman yang sesuai dengan kutipan. 

    Dengan cara ini, para pembaca dapat mencari informasi sumber rujukan di dalam teks dengan lebih mudah secara transparan.

    Menulis artikel
    Menulis artikel | Sumber Gambar: Pexels

    Kapan kamu Harus Menggunakan Catatan Kaki?

    Walaupun catatan kaki termasuk elemen yang penting dalam sebuah tulisan, tetapi tidak berarti kamu harus selalu mencantumkannya. Pelajari waktu-waktu yang tepat  berikut ini untuk menyertakannya dalam tulisan kamu. 

    1. Ketika Mengutip Sumber Langsung

    Jika kamu mengambil kutipan langsung dari sebuah sumber, baik itu dari buku, artikel, atau situs web, kamu harus memberikan catatan kaki yang merujuk kepada sumber tersebut.

    2. Menggunakan Ide atau Informasi dari Sumber Tertentu

    Bahkan, jika kamu tidak mengutip secara langsung, tetapi menggunakan ide atau informasi dari sumber tertentu, kamu harus memberikan catatan kaki sebagai referensi.

    3. Jika Ingin Memberikan Informasi Tambahan

    Kamu mungkin ingin memberikan informasi tambahan atau penjelasan tentang sesuatu yang telah kamu sebutkan dalam teks utama. Kondisi seperti ini merupakan kegunaan umum catatan kaki.

    4. Bertujuan Membuktikan Kredibilitas

    Dalam karya ilmiah, terutama dalam penelitian akademik, penggunaan catatan kaki membantu membuktikan kredibilitas penulisan kamu dengan menunjukkan kepada pembaca bahwa kamu merujuk kepada sumber-sumber otoritatif.

    Contoh Cara Menulis Catatan Kaki dalam Berbagai Gaya Penulisan

    Supaya kamu lebih paham tentang bentuk dan pencantuman catatan kaki, cek beberapa contoh gaya penulisannya berikut ini. 

    1. Gaya APA

    Dalam gaya penulisan APA, catatan kaki adalah daftar kutipan yang berada di bagian bawah halaman dengan nomor yang sesuai dengan nomor dalam teks utama. Ini adalah contoh catatan kaki dalam gaya APA:

    Smith, J. (2010). The Art of Writing. New York: Publisher.

    2. Gaya MLA

    Menurut cara menulis catatan kaki dengan gaya penulisan MLA, aturannya adalah catatan kaki berupa angka superskrip yang sesuai dengan nomor dalam teks utama. Catatan kaki ini biasanya berada di bagian bawah halaman atau di akhir dokumen. Contohnya berikut ini:

    Smith, John. The Art of Writing. New York: Publisher, 2010.

    3. Gaya Chicago

    Dalam gaya penulisan Chicago, catatan kaki perlu penulis letakkan pada akhir klausa atau kalimat yang memerlukan referensi. 

    Setiap catatan kaki akan berisi semua detail sumber saat pertama kali disebutkan, dan untuk kutipan-kutipan berikutnya dari sumber yang sama, informasi yang lebih ringkas akan penulis gunakan. Di bawah ini contoh catatan kaki dalam gaya Chicago:

    John Smith, The Art of Writing (New York: Publisher, 2010), 15.

    Contoh Penulisan Catatan Kaki dari Berbagai Sumber

    Setelah menjelaskan unsur, ketentuan, dan cara membuat catatan kaki, berikut adalah beberapa contoh penulisan catatan kaki yang sesuai dengan pedoman di atas. 

    1. Ilustrasi Cara Menulis Footnote dari Jurnal atau Makalah

    Nomor kutipan, Nama penulis, “judul artikel” (dicetak italic), Nama jurnal atau makalah dan volume serta nomornya, Tahun Penerbitan, Nomor Halaman.

    Ilustrasi

     [1] Yahya Saputra, “Kekerasan Terhadap Wanita dalam Hukum Islam,” Asy-Syariah, Edisi 6, April 2016, Hal. 15.

    2. Contoh Penulisan Footnote Majalah

    Nomor kutipan, Nama penulis, “judul artikel” (dicetak italic), Penerbit, Kota Penerbit, Tahun, Halaman.

    Ilustrasi

     [3] Mochtar Nizam, “Mengapa Orang Madura Merantau?”, Tempo, 31 Januari 1985, hlm. 36.

    3. Ilustrasi Penulisan Catatan Kaki di Media Internet

    Nomor kutipan, Nama penulis, “judul artikel” (dicetak italic), (URL web, Tanggal akses, Tahun).

    Ilustrasi

     [1] Sonia Puspa, “Aturan Surat Menyurat untuk Perusahaan” (https://www.sipas.id/blog/aplikasi-surat-menyurat, Diakses pada 12 Mei 2020).

    Cara menulis catatan kaki juga bisa dilakukan melalui Microsoft Word dengan simpel. Berikut ini adalah cara menulis catatan kaki seperti dalam uraian berikut ini. 

    1. Siapkan dokumen yang akan kamu beri catatan kaki.
    2. Lalu, blok kutipan yang ingin kamu beri keterangan.
    3. Setelah itu, klik “Menu References” atau “Menu Referensi”.
    4. Cari pilihan “Insert Footnote” atau “Sisipkan Catatan Kaki”.
    5. Jika sudah, maka catatan kaki akan otomatis terbuka dan penulis dapat mengubahnya sesuai dengan keinginan.

    Baca Juga : Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Sudah Pahamkah Kamu Cara Menulis Catatan Kaki yang Benar?

    Menulis catatan kaki yang benar adalah keterampilan penting dalam penulisan akademik dan ilmiah. Penerapan cara menulis catatan kaki yang tepat memberikan kredibilitas pada tulisan kamu dan memungkinkan pembaca untuk melacak sumber-sumber yang digunakan. 

    Pastikan kamu mengikuti gaya penulisan yang sesuai dengan panduan resmi yang berlaku, seperti APA, MLA, atau Chicago. Dengan mengikuti panduan ini, kamu dapat menulis catatan kaki dengan benar dan efektif dalam karya tulis kamu.

  • Heuristik Adalah: Jenis, Metode, Tahapan, dan Contohnya

    Heuristik Adalah: Jenis, Metode, Tahapan, dan Contohnya

    Mungkin istilah heuristik terdengar cukup asing bagi kamu yang tidak menekuni bidang sejarah. Ternyata, istilah tersebut mengacu pada  sebuah metode penelitian yang menarik, loh! Yuk, cari tahu lebih lanjut soal seluk-beluk metode penelitian yang satu ini melalui uraian di bawah. 

    Mengenal Apa Itu Heuristik

    Definisi Heuristik
    Definisi Heuristik I Sumber: Slideplayer

    Secara ringkas, subjek ini merupakan sebuah metode penelitian yang berkaitan dengan kemampuan menemukan cara atau pemecahan masalah untuk sebuah permasalahan. 

    Menurut etimologinya, heuristik berasal dari kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu  ‘heuriskein’ yang berarti menemukan. Istilah tersebut juga dikenal sebagai sumber sejarah. 

    Dalam bidang keilmuan sejarah, metode penelitian ini melibatkan pengumpulan informasi dari berbagai sumber sejarah dengan berbagai cara, seperti observasi, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian dengan metode penelitian ini mencakup jenis data yang relevan dengan topik penelitian.

    Metode penelitian ini menitikberatkan penjelajahan berbagai macam masalah. Menurut definisi di atas, kamu dapat menarik kesimpulan jika metode penelitian tersebut merupakan sekelompok tahapan dalam pengumpulan rujukan-rujukan dari berbagai macam data penelitian sejarah.

    Sederhananya, metode penelitian tersebut merupakan serangkaian aturan yang mudah pemahamannya dan efisien. Selain itu, penggunaannya oleh manusia sudah bersifat umum guna membentuk penilaian pada suatu hal dan juga membuat suatu keputusan.

    Subjek ini lebih populer dikenal sebagai sebuah metode penelitian sejarah. Metode ini juga memiliki kemampuan penalaran dengan penerapan prinsip-prinsip subjek tersebut sehingga dapat membantu menemukan data penting mengenai sejarah yang relevan dengan topik penelitian.

    Pasalnya, saat mempelajari sejarah, seorang peneliti memerlukan bukti konkret untuk dapat menarik kesimpulan terkait sebuah kejadian sejarah. Tanggung jawab terhadap penelitian tersebut membuat peneliti tidak boleh sembarangan membuat kesimpulan dari opini, pendapat, atau perkiraan semata. 

    Untuk menemukan bukti konkret tersebut, peneliti haruslah memiliki kemampuan heuristik. Kemampuan tersebut mampu membuat peneliti menemukan data dengan lebih akurat, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan keabsahan dan kredibilitasnya.

    Apa saja Metode Penelitian Sumber Sejarah Ini?

    Dalam perkembangannya, terdapat berbagai jenis dari kemampuan penelitian menggunakan sumber sejarah berdasarkan kepada sifat dan juga sumber sejarahnya. Berikut adalah penjelasan lengkapnya:

    1. Jenis Heuristik Menurut Sifatnya

    Menurut sifatnya, metode penelitian ini terbagi menjadi dua jenis yang dapat kamu pelajari melalui penjelasan berikut ini. 

    a. Sumber Primer

    Contoh Sumber Primer Heuristik
    Contoh Sumber Primer Heuristik I Sumber: Ruangguru

    Sumber primer dalam kajian ini merujuk kepada serangkaian sejarah yang langsung diperoleh dari orang-orang yang terlibat dalam peristiwa sejarah tersebut. Sebagai contoh, dalam proses penyusunan biografi seorang tokoh sejarah penting, peneliti dapat memperoleh data dengan cara wawancara langsung dengan tokoh tersebut.

    Sumber primer tidak hanya dapat diperoleh melalui hasil wawancara dengan pelaku langsung, tetapi juga dapat diperoleh melalui sumber-sumber lain seperti foto, naskah, catatan harian, atau video.

    b. Sumber Sekunder

    Contoh Sumber Sekunder Heuristik
    Contoh Sumber Sekunder Heuristik I Sumber: Ruangguru

    Jika sumber primer merupakan sumber yang diperoleh langsung dari orang-orang yang terlibat suatu peristiwa, maka sumber sekunder merupakan kebalikannya. Pada dasarnya, sumber-sumber tersebut tidak berasal dari orang-orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa sejarah.

    Sumber sekunder berasal dari orang lain yang dekat dengan orang yang mengalami peristiwa bersejarah tersebut secara langsung. Orang-orang tersebut mencakup lingkup keluarga, sahabat, atau orang lain yang ikut langsung dalam suatu peristiwa terkait.

    Sumber sekunder mencakup semua sumber data yang tidak disampaikan oleh tokoh utama suatu peristiwa sejarah. Misalnya, ketika seorang peneliti menulis biografi seseorang yang sudah meninggal, peneliti tidak mungkin mewawancarai tokoh yang sudah meninggal tersebut.

    Sumber-sumber sekunder dalam kajian ini dapat dalam bentuk laporan hasil penelitian, ensiklopedia, buku-buku yang berkaitan dengan topik, maupun catatan lapangan. Di samping itu, sumber tersebut memiliki bentuk yang lebih luas dari jenis sumber primer.

    2. Heuristik Berdasar Sumber Sejarahnya

    Menurut sumber sejarahnya, beragam jenis diskursus menurut ruang lingkup kajian tersebut dapat tiga sub-kategori berikut ini. 

    a. Tertulis

    Sumber tertulis dalam kajian tersebut merupakan sumber sejarah yang bersifat tertulis atau ada dalam bentuk tulisan. Misalnya, naskah perjanjian, buku catatan harian, dan sebagainya.

    b. Lisan

    Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh penting terkait, kerabat, atau masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bersejarah menjadi lokasi penelitian merupakan bagian dari sumber kajian lisan. 

    c. Benda-benda Peninggalan

    Selain dalam bentuk lisan dan tulisan, sumber sejarah dapat juga berupa benda-benda peninggalan dengan bentuk dan jenis-jenis tertentu. Misalnya antara lain benda-benda kuno, artefak bersejarah, stupa, atau fosil.

    Ini 5 Tahapan Metode Heuristik!

    Dalam menjalankan penelitian dengan metode penelitian ini,  ada beberapa tahapan yang harus peneliti ikuti supaya mendapatkan hasil penelitian yang akurat dan faktual. 

    1. Menentukan Tema dan Judul

    Seperti halnya berbagai tahapan penelitian lain, penentuan tema dan judul adalah tindakan pertama yang harus peneliti lakukan. Tema dan judul yang peneliti ambil harus berhubungan dengan peristiwa sejarah yang publik ketahui. Peneliti hanya perlu menyesuaikannya dengan jumlah referensi tambahan dan penguasaan topik.

    2. Menemukan Sumber Data Sejarah

    Setelah menentukan tema penelitian, maka langkah yang peneliti harus lakukan selanjutnya adalah mencari sumber data sejarah. 

    Sumber-sumber data sejarah ini dapat berasal dari lisan, tulisan, dan peninggalan sejarah seperti artefak, atau pun sumber-sumber primer dan sekunder yang dapat peneliti gabungkan dan bersifat komplementer.

    3. Melakukan Kunjungan Lokasi Penelitian

    Peneliti perlu melakukan kunjungan lokasi penelitian yang tentunya berupa lokasi-lokasi tempat peristiwa bersejarah terjadi untuk menemukan sumber sejarah yang lebih kompleks dan variatif. 

    4. Mempelajari dan Menganalisis Sumber Sejarah

    Tahapan selanjutnya n adalah melakukan kajian dan analisis pada seluruh sumber sejarah yang bisa peneliti dapatkan. Kemudian, peneliti dapat mulai menganalisisnya menurut kronologisnya. Artinya, peneliti memulainya dari tanggal terjadi peristiwa, penyebab, dan solusi permasalahan saat peristiwa terjadi.

    5. Menyusun Laporan Hasil Penelitian Sejarah Dengan Menggunakan metode Heuristik

    Langkah terakhir dalam metode penelitian ini adalah menyusun laporan penelitian. Penulisan laporan hasil penelitian ini ada baiknya mengikuti pedoman karya tulis ilmiah. Pastikan konten laporan merupakan konten yang faktual, runtut, dan akurat.

    5 Contoh Metode Penelitian Menggunakan Sumber Sejarah

    Penerapan metode ini dapat dilakukan dengan cara yang sistematis dan terperinci. Alasannya karena metode penelitian ini bertujuan untuk menemukan kebenaran dari sebuah peristiwa sejarah di masa lampau. Kamu bisa mengamati penerapannya lewat contoh dalam uraian berikut ini. 

    1. Penentuan Judul atau Tema

    Anggap saja kamu ingin meneliti masa kejayaan kerajaan Majapahit yang sempat menjadi sebuah kerajaan besar yang makmur dan berjaya di wilayah Asia. Maka, kamu harus membuat judul penelitian yang tidak boleh melenceng dari kata kunci ‘masa kejayaan kerajaan Majapahit’.

    2. Menemukan Sumber Data Sejarah yang Relevan

    Selanjutnya, peneliti harus mencari rujukan sumber-sumber yang relevan terkait topik ‘masa kejayaan kerajaan Majapahit’ yang dapat peneliti temukan. 

    Sumbernya bisa berasal dari catatan penelitian yang sudah ada atau buku dan berbagai kamus yang menggambarkan masa kejayaan kerajaan Majapahit.

    3. Melakukan Penelitian Lapangan

    Penelitian lapangan bertujuan untuk memperoleh data-data yang lebih lengkap dan akurat. Ilustrasinya adalah peneliti melakukan kunjungan ke pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto untuk meneliti relief-relief atau prasasti yang memiliki kaitan dengan topik penelitian.

    4. Melakukan Kajian dan Analisis Sumber Sejarah

    Setelah pengumpulan data dan sumber-sumber sejarah telah lengkap, maka peneliti harus melakukan kajian dan analisis pada data dan sumber-sumber tersebut. Tujuan tahapan ini adalah mengungkap fakta sejarah yang kronologi dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    5. Penulisan Laporan Penelitian

    Terakhir, peneliti harus menuliskan laporan penelitian dengan benar dan sesuai kaidah penulisan ilmiah. Tujuannya tidak lain adalah agar penelitian dapat memberikan dampak positif dan menjadi pemantik penelitian lanjutan di masyarakat.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Apa Manfaat Metode Penelitian Heuristik?

    Menerapkan prinsip heuristik dalam penelitian tidak hanya bermanfaat dalam bidang sejarah. Prinsip tersebut dapat juga diaplikasikan dalam keseharian yang bisa membuat kamu memutuskan dengan cepat dan tepat berdasarkan peluang, strategi dan pengetahuan.