Category: Penelitian

  • Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian dan Contohnya

    Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian dan Contohnya

    Kunci dari teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah pemilihan populasi atau kumpulan data yang dapat mewakili secara keseluruhan. Tujuan utama pengambilan sampel adalah untuk membuat kesimpulan sebagai hasil yang valid dari sebuah penelitian. Lalu apa saja yang perlu diperhatikan? Mari, simak di sini!

    Populasi Vs Sampel

    Agar pemahaman tentang teknik pengambilan sampel dalam penelitian lebih menyeluruh, maka kamu perlu mengenal beberapa aspek terkait di dalamnya, yaitu perbedaan antara populasi dan sampe serta cara mengidentifikasi target populasi. 

    Populasi adalah jumlah total orang atau objek yang Anda amati dan relevan dengan topik penelitian. Suatu populasi juga dapat didefinisikan berdasarkan lokasi geografis, usia, atau pendapatan. Pemilihan populasi bisa sangat luas atau sempit. Misal, kamu ingin mengamati kondisi kesehatan siswa di sekolah A.

    Kamu perlu hati-hati dalam menentukan target populasi agar sesuai dengan topik penelitian. Jika populasi sangat kecil, mungkin akan sulit untuk mendapatkan sampel yang cukup untuk mewakili populasi tersebut. Kurangnya sampel yang mewakili akan mempengaruhi validitas hasil penelitan kamu.

    Sedangkan, sampel adalah kelompok individu tertentu yang akan kamu kumpulkan datanya. Ukuran sampel selalu lebih kecil dari populasi secara keseluruhan. Sementara itu, pengambilan sampel yang baik harus menjadi bagian yang representatif dari populasi yang ingin kamu teliti.

    Apa Itu Teknik Pengambilan Sampel dalam Peneltian?

    Pengambilan sampel atau sampling adalah pemilihan subjek dalam studi statistik untuk mewakili populasi yang lebih besar. Pengujian setiap anggota dari populasi tertentu mungkin tidak selalu layak, kamu dapat memilih sampel untuk membuat pengujian lebih efisien dan hemat biaya.

    Pengambilan sampel penelitian perlu mempertimbangkan dan memperhatikan berbagai unsur. Pasalnya, unsur-unsur tersebut memiliki pengaruh yang signifikan pada hasil penelitian atau kesimpulan .

    3 Unsur dalam Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Ada tiga unsur yang paling penting dalam sampling untuk sebuah penelitian. Perhatikan penjelasan singkatnya di bawah ini. 

    1. Ketepatan

    Ketepatan Respons Sampel
    Ketepatan Respons Sampel | Sumber gambar: Pixabay.com

    Unsur ketepatan mengacu pada seberapa akurat respons sampel. Sebagai peneliti, kamu harus mencoba untuk menghilangkan pengaruh pendapat pribadi terhadap peserta. 

    Dengan demikian, hasil dari respons sampel benar-benar nyata sesuai dengan hasil dari peserta dan mereka tidak terpengaruh pihak mana pun, terutama peneliti.

    2. Presisi

    Sampel harus memberikan jawaban atas pertanyaan yang kamu ajukan sebagai peneliti secara spesifik. Jawaban harus relevan dengan penelitian.

    3. Representatif

    Sampel penelitian harus berusaha untuk menyediakan kelompok subjek yang paling representatif atau mewakili dari populasi secara keseluruhan. 

    Misalnya, jika kamu ingin memperkirakan bagaimana perasaan penduduk kota tentang pemerintah yang memberlakukan jam malam, maka sampel harus sesuai dengan persentase demografis kota sedekat mungkin.

    2 Jenis Teknik Pengambilan Sampel dalam Peneltian

    Ada dua jenis teknik pengambilan sampel dan terbagi menjadi beberapa sub-jenis. Di bawah ini penjelasan mengenai pembagiannya.

    1. Pengambilan Sampel Probabilitas

    Ketika kamu menggunakan teknik sampling ini, kamu dapat menghitung probabilitas setiap sampel dalam popolasi yang dipilih untuk penelitian. Analisis pengambilan sampel probabilitas ini memberikan hasil yang lebih presisi dan matematis. Sampling probabilitas punya empat jenis utama. 

    a) Penetapan Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

    Setiap sampel dari populasi dalam jenis pengambilan sampel ini, memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Untuk melakukan pengambilan sampel jenis ini, kamu dapat menggunakan alat seperti generator angka acak.

    b) Pengambilan Sampel Sistematis (Systematic Sampling)

    Metode pemilihannya hampir sama dengan metode acak sederhana. Namun, langkah pertama dalam metode ini adalah populasi terbagi menjadi daftar atau urutan, kemudian setiap sampel ke-(n) terpilih sebagai sampel.

    c) Penentuan Sampel Bertingkat (Stratified Sampling)

    Populasi dalam metode ini terbagi menjadi subkelompok atau tingkatan berdasarkan karakteristik tertentu, seperti identitas gender, rentang usia, kelompok pendapatan, dan pekerjaan. 

    d) Penentuan Sampel Kluster (Cluster Sampling)

    Sampel Kluster
    Sampel Kluster | Sumber Gambar: unsplash.com

    Sampel kluster juga melibatkan pembagian populasi menjadi subkelompok, akan tetapi subkelompok harus memiliki karakteristik yang sama dengan seluruh sampel. Cara ini cocok untuk populasi yang besar dan tersebar, walaupun memiliki risiko karena mungkin terdapat perbedaan antar kluster.

    e) Penentuan Sampel Multi-Stage (Multi-Stage Sampling)

    Multi-stage di sini maksudnya adalah menggabungkan dua atau lebih teknik pengambilan sampel. Salah satunya, kamu dapat menggunakan sampling bertingkat untuk memilih kluster. Kemudian, gunakan sampling acak sederhana untuk memilih anggota dalam setiap kluster.

    2. Pengambilan Sampel Non-Probabilitas

    Jika kamu menerapkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian dengan jenis non-probabilitas, maka kamu tidak dapat menghitung probabilitas suatu individu sampel dalam populasi. Sampel pada pengujian ini cenderung kurang mewakili populasi besar karena metodenya lebih tepat untuk memahami populasi kecil.

    Terdapat 4 jenis utama dalam sampel non-probabilitas.

    a) Penetapan Sampel Praktis

    Ketersediaan dan kesediaan sampel adalah kunci dari metode dalam penetapan sampel praktis ini. Cara ini cukup mudah dan praktis, akan tetapi mungkin kurang mewakili dari populasi.

    b) Pemilihan Sampel Purposif

    Metode ini sering berguna dalam penelitian kualitatif. Peserta atau sampel terpilih berdasarkan kriteria tertentu, seperti keahlian atau pengetahuan tentang topik tertentu yang berguna untuk tujuan penelitian. Hasil pengambilan sampel ini akan lebih rinci dan efektif apabila memiliki kriteria dan alasan penelitian yang jelas.

    c) Pemilihan Sampel Kuota

    Sejumlah sampel yang telah ditentukan berdasarkan kriteria tertentu, seperti teknik pengambilan sampel dalam penelitian sampling bertingkat. Kemudian, kamu pilih sampel yang sesuai dengan kuota kamu.

    d) Bola Salju atau Pengambilan Sampel Rujukan

    Jika populasi sulit kamu jangkau, snowball sampling cocok karena kamu mendapatkan sampel dari rujukan peserta lain. 

    e) Penetapan Sampel Sukarelawan

    Survei Online
    Survei Online | Sumber gambar: Freepik.com

    Metode sampling yang satu ini mirip dengan pengambilan sampel praktis, akan tetapi sampel sukarelawan diambil berdasarkan kemudahan akses. Alih-alih peneliti yang memilih sampel, justru orang-orang yang mengajukan dirinya. Menanggapi survei online adalah salah satu contohnya. 

    Baca Juga : Ruang Lingkup Penelitian: Contoh & Cara Menentukannya dengan Mudah

    7 Contoh Penerapan Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Penerapan teknik pengambilan sampel tentunya sangat bermanfaat di berbagai bidang, berikut contoh-contohnya. 

    1. Psikologi

    Penelitian Psikologi
    Penelitian Psikologi | Sumber gambar: Pixabay.com

    Dalam penelitian psikologi, pengambilan sampel bermanfaat untuk mempelajari berbagai aspek perilaku manusia dan proses mental. Sebagai contoh, peneliti dapat menggunakan sampling bertingkat untuk memilih sampel peserta yang mewakili populasi berdasarkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan etnis.

    2. Sosiologi

    Dalam bidang sosiologis, pemilihan sampel berfungsi untuk mempelajari fenomena sosial dan hubungan antara individu dan kelompok. Contohnya, dapat menggunakan cluster sampling untuk memilih sampel lingkungan yang mempelajari efek ketidaksetaraan ekonomi pada hasil kesehatan. 

    3. Ilmu sosial

    Ilmu Sosial
    Ilmu Sosial | Sumber gambar: Pexels.com

    Suatu teknik pengambil sampel dalam penelitian ilmu sosial bermanfaat dalam mempelajari perilaku dan sikap manusia. Misalnya, menggunakan pengambilan sampel bertingkat untuk memilih sampel peserta yang mewakili populasi berdasarkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan pendapatan.

    4. Pemasaran

    Riset pemasaran pengambilan sampel untuk mengumpulkan data tentang preferensi, perilaku, dan sikap konsumen. Sebagai contoh, kamu dapat menggunakan teknik sampel acak untuk memilih sampel konsumen untuk berpartisipasi dalam survei produk baru.

    5. Perawatan kesehatan

    Penanganan Kesehetan
    Penanganan Kesehetan | Sumber gambar: Unsplash.com

    Pada  penelitian kesehatan, penerapan teknik sampling membantu kamu memahami tentang penyakit dan faktor risiko, dan untuk mengevaluasi tindakan dari suatu penanganan kesehatan. 

    Salah satu tekniknya adalah dengan cluster sampling untuk memilih sampel klinik kesehatan untuk berpartisipasi dalam studi tentang efektivitas pengobatan baru.

    6. Ilmu lingkungan

    Ilmu Lingkungan
    Ilmu Lingkungan | Sumber gambar: Pexels.com

    Metode pengambilan sampel dalam ilmu lingkungan berguna untuk mengumpulkan data tentang variabel lingkungan seperti kualitas air, polusi udara, dan komposisi tanah. Sampel sistematis dapat kamu pilih untuk mengumpulkan sampel tanah secara berkala di seluruh lahan.

    7. Pendidikan

    Sistem Pembelajaran Siswa
    Sistem Pembelajaran Siswa | Sumber gambar: Pexels.com

    Penerapan teknik pengambilan sampel dalam penelitian di bidang pendidikan memfasilitasi kamu memahami sistem pembelajaran dan prestasi siswa. Kamu dapat menggunakan sampling bertingkat untuk memilih sampel sekolah yang mewakili populasi berdasarkan faktor-faktor seperti demografi dan kinerja akademik.

    Cara Melakukan Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Perhatikan tujuh langkah untuk menerapkan metode sampling penelitian dalam rangkuman di bawah ini. 

    1. Tentukan Populasi

    Ilustrasi Populasi
    Ilustrasi Populasi | Sumber gambar: Pixabay.com

    Identifikasi populasi yang akan kamu amati dan tentukan dengan jelas batasan-batasannya.

    2. Pilih Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Pilih teknik pengambilan sampel yang sesuai berdasarkan pertanyaan penelitian, karakteristik populasi, dan sumber daya yang tersedia.

    3. Tentukan Jumlah Sampel

    Kamu juga perlu menentukan jumlah sampel yang kamu inginkan berdasarkan pertimbangan statistik seperti margin of error, tingkat kepercayaan, atau analisis kapasitas kemampuan.

    4. Buat Kerangka Pengambilan Sampel

    Kembangkan daftar semua individu atau elemen dalam populasi dari mana sampel akan diambil. Kerangka pengambilan sampel harus komprehensif, akurat, dan terkini.

    5. Pilih Sampel

    Penentuan Sampel
    Penentuan Sampel | Sumber gambar: Pixabay.com

    Gunakan metode pengambilan sampel yang dipilih untuk memilih sampel dari kerangka pengambilan sampel. Terutama sampel harus terpilih secara acak, atau jika menggunakan metode non acak, setiap upaya yang dilakukan harus menekan sifat kecenderungan sampel dan memastikan bahwa sampel mewakili populasi.

    6. Kumpulkan Data

    Setelah sampel terpilih, kumpulkan data dari setiap anggota sampel menggunakan teknik pengambilan sampel dalam penelitian yang sesuai (misalnya, survei, wawancara, observasi).

    7. Analisis Data

    Analisis data yang terkumpul dari sampel yang terpilih berguna untuk menarik kesimpulan tentang populasi yang kamu amati.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian Mana yang Akan kamu Pilih?

    Dalam banyaknya metode pengambilan sampel, tahap awal merupakan langkah vital dalam memahami tujuan dari penelitian. Jika kamu memilih teknik pengambilan sampel dalam penelitian yang tepat, akan mendapatkan hasil penelitian yang akurat dan representatif.

  • Instrumen Penelitian: Definisi, Fungsi, Jenis, dan Contohnya

    Instrumen Penelitian: Definisi, Fungsi, Jenis, dan Contohnya

    Penulisan karya ilmiah sangat berbeda dengan penulisan karya lain seperti artikel, novel, atau cerpen. Sebab, saat akan menulis karya ilmiah, Anda membutuhkan sebuah instrumen penelitian. Menentukan instrumen bahkan menjadi tahapan paling awal dalam penulisan karya ilmiah.

    Apakah Anda akan menulis karya ilmiah seperti laporan penelitian, skripsi, jurnal ilmiah, tesis, atau bahkan disertasi? Sebelum itu, pahami lebih dalam mengenai instrumen pada penelitian-penelitian ilmiah.

    Apa Itu Instrumen Penelitian?

    Penelitian dan penulisan karya ilmiah membutuhkan data-data yang sifatnya faktual. Nah, instrumen penelitian adalah metode untuk mengukur serta mengumpulkan data-data yang peneliti butuhkan dalam karya ilmiah.

    Keberadaan instrumen sangat penting karena memengaruhi validitas data. Apabila datanya salah atau tidak sesuai, maka hasil penelitian pun menjadi kurang terpercaya. Oleh sebab itu, Anda wajib memilih instrumen dengan baik. 

    Selain definisi umum di atas, beberapa ahli juga mengemukakan definisinya sendiri. Berikut ini di antaranya:

    • Suharsimi Arikunto: Instrumen merupakan alat bantu yang peneliti gunakan dalam mengumpulkan data. Fungsinya yaitu membuat penelitian dapat terlaksana dengan lebih mudah dan sistematis.
    • Sugiono: Instrumen merupakan alat bantu peneliti untuk mengukur fenomena sosial dan alam. Fenomena-fenomena tersebut selalu ada dalam variabel penelitian.
    • Sanjaya: Instrumen penelitian merupakan alat dalam kegiatan mengumpulkan data dan informasi. Sementara kegiatan penelitian yaitu kegiatan pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang valid.
    • Sappaile: Instrumen yaitu alat ukur yang memberikan informasi seputar apa yang akan menjadi objek penelitian. 

    Fungsi Instrumen Penelitian

    Ada beberapa fungsi instrumen yang membuatnya sangat penting. Langsung saja, berikut ini fungsinya:

    • Mengetahui sumber daya dan jenis data yang akan menjadi objek penelitian.
    • Mendapatkan teknik pengumpulan data yang tepat.
    • Menentukan langkah penyusunan yang tepat.
    • Menjadi instrumen pengumpulan data.
    • Mengetahui validitas, reliabilitas, dan tingkat kesukaran daya pembeda.
    • Menghasilkan data penelitian yang berkualitas.

    Jenis-Jenis Instrumen Penelitian

    Ada cukup banyak jenis instrumen penelitian yang bisa Anda gunakan dalam membuat karya ilmiah. Berikut ini jenis-jenisnya:

    1. Wawancara

    Instrumen Wawancara
    Instrumen Wawancara | Sumber Gambar: Freepik.com

    Wawancara merupakan jenis instrumen yang sering digunakan untuk penelitian-penelitian kualitatif. Peneliti akan mengumpulkan informasi-informasi dari responden target melalui interaksi secara verbal. 

    Sebelum mewawancarai responden, peneliti harus membuat daftar atau draf pertanyaan terlebih dahulu. Kelebihan instrumen wawancara yaitu memungkinkan peneliti untuk menjelaskan pertanyaan secara detail. 

    Jadi, responden tidak akan merasa bingung. Hasil penelitian wawancara memberikan tingkat respon yang tinggi dan mewakili seluruh populasi penelitian.

    2. Kuesioner

    Instrumen Kuesioner
    Instrumen Kuesioner | Sumber Gambar: Freepik.com

    Kuesioner merupakan instrumen yang berisi daftar pertanyaan. Umumnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dicetak di kertas, kemudian peneliti menyebarkannya ke responden. Namun seiring perkembangan zaman, banyak peneliti membuat kuesioner online

    Meski begitu, peneliti harus tetap merancang kuesioner secara reliabel, valid, dan tidak palsu. Pasalnya, ketika kuesioner salah, maka hasil penelitian juga akan salah. Keunggulan instrumen kuesioner yaitu responden bisa bersifat anonim, pengumpulan data besar cukup singkat, dan lain sebagainya.

    3. Eksperimen atau Percobaan

    Instrumen Eksperimen
    Instrumen Eksperimen | Sumber Gambar: Freepik.com

    Eksperimen merupakan jenis instrumen penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian sains murni dan terapan. Peneliti akan melakukan beberapa eksperimen di laboratorium untuk menguji objek penelitian. 

    Instrumen eksperimen ini menghasilkan data langsung dan bebas dari kesalahan. Namun sayangnya, eksperimen di laboratorium tentu saja membutuhkan biaya yang cukup mahal. Selain itu, penelitian yang membutuhkan bahan kimia juga memiliki risiko tersendiri.

    4. Observasi

    Instrumen Observasi
    Instrumen Observasi | Sumber Gambar: Freepik.com

    Observasi atau pengamatan merupakan jenis instrumen selanjutnya yang perlu Anda ketahui. Pada umumnya, peneliti akan mengamati berbagai perilaku individu atau situasi yang menjadi objek dalam penelitian.

    Ada dua jenis instrumen observasi. Pertama, observasi partisipan yang mengharuskan peneliti menjadi bagian dari lingkungan atau kelompok yang sedang diamati. Kedua, observasi non partisipan di mana peneliti tidak menjadi bagian dari objek penelitian.

    Baca Juga : Pengertian Observasi: Ciri, Tujuan, Jenis, Contoh, dan Manfaatnya

    5. Tes

    Tes
    Tes | Sumber Gambar: Freepik.com

    Penggunaan instrumen penelitian tes memang tidak sebanyak empat instrumen sebelumnya. Pada umumnya, instrumen satu ini berupa serangkaian latihan, lembar kerja, atau pertanyaan yang tujuannya menjadi alat ukur. 

    Alat ukur apa? Alat ukur untuk menilai kemampuan, bakat, keterampilan, atau intelegensi individu sebagai subjek penelitian. Contoh instrumen tes yaitu tes minat bakat, tes pencapaian, tes potensi akademik, dan lain-lain. 

    6. Diskusi Kelompok Terfokus

    Diskusi Kelompok Terfokus
    Diskusi Kelompok Terfokus | Sumber Gambar: Freepik.com

    Focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terfokus merupakan diskusi kelompok terbatas yang melibatkan orang-orang terkait suatu penelitian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi pendukung penelitian. 

    Pada umumnya, peneliti menggunakannya pada penelitian terkait ilmu kearsipan, perilaku, catatan dan teknologi, perpustakaan, dan ilmu informasi. Sementara jenis datanya bersifat kualitatif. 

    7. Dokumentasi Instrumen Penelitian

    Dokumentasi Instrumen Penelitian
    Dokumentasi Instrumen Penelitian | Sumber Gambar: Freepik.com

    Sesuai namanya, instrumen ini membantu peneliti mendapatkan data dari benda tertulis. Contohnya seperti majalah, buku, artefak, video, catatan harian, dan lain sebagainya. Penelitian yang melibatkan bukti sejarah dan landasan hukum sering menggunakan jenis instrumen ini. 

    8. Skala Bertingkat

    Skala Bertingkat
    Skala Bertingkat | Sumber Gambar: Freepik.com

    Terakhir, skala bertingkat atau rating merujuk pada pengukuran objektif yang dibuat berskala atau bertingkat. Melalui instrumen ini, peneliti dapat memberikan gambaran penampilan dan menunjukkan frekuensi munculnya sifat tertentu. 

    Cara Menyusun Instrumen Penelitian

    Lantas, bagaimana cara menyusun instrumen penelitian yang tepat? Berikut ini penjelasannya:

    1. Memahami Masalah, Variabel, dan Tujuan Penelitian

    Langkah awal yang perlu Anda lakukan yaitu memahami masalah, variabel, dan tujuan penelitian. Ketiganya merupakan hal utama dalam penelitian.

    Cari tahu apa tujuan melakukan penelitian, masalah apa yang ingin diteliti, serta variabel apa saja yang akan diteliti. Indikator variabel bisa membantu Anda menentukan pertanyaan dengan lebih mudah saat wawancara atau membuat kuesioner.

    2. Memahami Sumber Data atau Responden

    Anda perlu memahami sumber data mulai dari jumlah sampai keberagamannya. Selain mempermudah pemilihan instrumen, Anda juga bisa menggunakannya sebagai acuan menentukan isi, bahasa, dan sistematika. 

    Anda harus ingat bahwa instrumen penelitian akan diberikan pada responden. Jadi, Anda perlu memahami keadaan, kondisi, serta keberagaman responden untuk mendapatkan respons paling akurat. 

    3. Menentukan Validitas dan Reliabilitas Instrumen

    Penulisan karya ilmiah membutuhkan data yang valid dan sah. Oleh sebab itu, Anda wajib menentukan tingkat kevalidan dan kesahihan instrumen sebelum memberikannya pada responden.

    Pertimbangkan jawaban-jawaban yang akan didapatkan melalui instrumen. Jawaban tersebut tidak boleh sembarangan diterima begitu saja. Anda perlu mempertimbangkan seberapa valid dan sahnya sebuah informasi yang nantinya akan didapatkan.

    4. Memilih Instrumen Penelitian

    Instrumen yang tepat membantu menghasilkan jawaban yang mampu memberikan solusi masalah dalam penelitian-penelitian. Banyak jenis instrumen yang bermanfaat dalam membuat karya ilmiah. Pastikan Anda memilih instrumen yang memiliki akurasi dan reliabilitas. 

    Contoh Instrumen Penelitian

    Instrumen Penelitian Wawancara
    Instrumen Penelitian Wawancara | Sumber Gambar: Freepik.com

    Supaya Anda bisa lebih paham mengenai instrumen penelitian, berikut ini adalah contohnya:

    1. Contoh Draf Wawancara Penelitian

    Seorang mahasiswa ingin melakukan penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif. Responden yang akan diwawancarai yaitu siswa SMA. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui minat baca siswa. Berikut contoh draf wawancaranya:

    • Apakah Anda suka membaca?
    • Seberapa penting membaca buku menurut Anda?
    • Seberapa sering Anda ke perpustakaan?
    • Jenis buku apa yang sering Anda baca?
    • Seberapa sering Anda membaca dalam satu minggu?
    • Apa manfaat membaca yang Anda rasakan?
    • Menurut Anda apakah minat baca penting dalam membaca?

    2. Contoh Kuesioner Penelitian

    Berikut ini merupakan contoh instrumen penelitian kuesioner kepuasan pelanggan terhadap pelayanan Puskesmas:

    Kuesioner Kepuasan Pelayanan Puskesmas A

    Nama:

    Umur:

    Jenis Kelamin:

    Alamat:

    1. Bagaimana kemudahan alur untuk berobat di Puskesmas?

    1. Tidak mudah
    2. Kurang mudah
    3. Mudah
    4. Sangat mudah

    2. Bagaimana kedisiplinan petugas Puskesmas dalam memberikan layanan?

    1. Tidak disiplin
    2. Kurang disiplin
    3. Disiplin
    4. Sangat disiplin

    Sudahkah Anda Paham Apa Itu Instrumen Penelitian?

    Demikianlah pembahasan mengenai apa itu instrumen penelitian. Sebelum memulai meneliti objek tertentu, Anda wajib menentukan instrumen untuk mendapatkan data yang faktual. Jadi, penelitian yang Anda jalankan akan jauh lebih mudah dan lancar. 

    Pastikan pertanyaan dalam instrumen Anda harus jelas, spesifik, dan tidak ambigu. Hindari pertanyaan ganda atau kompleks yang dapat membingungkan responden. Bahkan, bila perlu hindari menggunakan bahasa yang rumit atau teknis.

    Contoh instrumen di atas bisa membantu Anda memilih dan menyusun instrumen-instrumen yang sesuai dengan penelitian Anda. Kesuksesan penelitian bergantung pada data-data yang Anda dapatkan. Semoga bermanfaat!

  • Penelitian Sosial: Pengertian, Manfaat hingga Jenisnya

    Penelitian Sosial: Pengertian, Manfaat hingga Jenisnya

    Penelitian sosial berperan untuk menjawab atau menemukan solusi atas permasalahan maupun fenomena yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Dalam proses kerjanya, akan mengembangkan berbagai macam teori serta konsep di bidang ilmu sosiologi. Supaya lebih paham, simak rangkuman berikut ini!

    Pengertian Penelitian Sosial

    Ilustrasi seseorang mencatat hasil penelitian
    Ilustrasi seseorang mencatat hasil penelitian | Sumber Gambar: Pexels

    Seperti namanya, penelitian sosial atau social research merupakan cara ilmiah yang bertujuan untuk menganalisis atau mempelajari berbagai fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

    Jadi, social research memiliki peran penting untuk menjawab atau mencari solusi terhadap permasalahan yang muncul dalam masyarakat.

    Dalam proses kerjanya, social research menggunakan pendekatan secara empiris melalui proses pengumpulan hingga penyusunan data yang ditemukan di lapangan. Data-data tersebut berguna untuk menjawab serta mengatasi suatu permasalahan atau fenomena.

    Di bidang sosiologi, penelitian sosial menjadi instrumen paling dasar untuk mengembangkan berbagai teori atau konsep yang berkaitan dengan ilmu sosiologi.

    Manfaat Social Research

    Ilustrasi seseorang sedang membaca data penelitian
    Ilustrasi seseorang sedang membaca data penelitian | Sumber Gambar: Pexels

    Setiap jenis penelitian memiliki tujuan dan manfaat masing-masing. Dalam social research, manfaatnya berkaitan dengan permasalahan sosial atau fenomena dalam masyarakat. Untuk lebih lengkapnya, berikut 6 manfaat dari social research yang perlu diketahui:

    1. Mengembangkan Ilmu Pengetahuan

    Manfaat pertama adalah sebagai sarana untuk bantu mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu, keberadaan social research juga bisa menyempurnakan ilmu pengetahuan lewat berbagai cara penyelesaian suatu masalah.

    2. Memberikan Penjelasan Ilmiah

    Keberadaan social research juga bisa memberikan penjelasan secara ilmiah. Biasanya, penjelasan tersebut sangat valid dan terpercaya.

    Sebab, hasil dari penelitian tentang fenomena atau masalah sosial biasanya sangat akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

    3. Menjawab Permasalahan

    Berbagai permasalahan sosial juga bisa dijawab melalui penelitian sosial. Biasanya, target utama dari research ini adalah masalah sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

    4. Menjabarkan Sebab dan Akibat

    Berikutnya adalah bantu menjabarkan sebab dan akibat dari permasalahan atau fenomena yang sedang terjadi.

    Fenomena atau permasalahan sosial biasanya memiliki sebab dan akibat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka dari itu, untuk menjabarkan sebab dan akibat dari fenomena atau permasalahan tersebut, dibutuhkan social research yang mendalam.

    Misalnya, perubahan sosial atau adanya kebijakan pemerintah yang berdampak terhadap masyarakat luas.

    5. Memprediksi Fenomena Sosial

    Social research juga bisa memprediksi fenomena sosial yang akan terjadi di lingkungan masyarakat. Prediksi atau perkiraan tersebut harus sesuai dengan fakta dan data yang sudah terkumpul dari proses penelitian.

    6. Penelitian Sosial Bisa Menjadi Referensi

    Manfaat terakhir adalah menjadi referensi di bidang akademis. Hasil dari social research sangat membantu untuk penelitian selanjutnya yang lebih dalam dan sempurna.

    Karakteristik Social Research

    Seseorang melakukan interview untuk memperoleh data riset
    Seseorang melakukan interview untuk memperoleh data riset | Sumber Gambar: Unsplash

    Setiap penelitian memiliki karakteristik masing-masing. Dalam penelitian sosial, terdapat beberapa karakteristik yang menjadi pembeda dengan research lainnya. Karakteristik tersebut meliputi:

    • Penyusunan penelitian menggunakan cara sistematis.
    • Social research merupakan keseluruhan dari kajian riset yang bersifat logis serta masuk akal.
    • Riset berdasarkan metode yang memiliki data valid serta bisa dipertanggungjawabkan.
    • Social research bersifat kumulatif, karena berhubungan dengan fenomena atau permasalahan sosial. Fenomena atau permasalahan sosial tersebut bersifat dinamis, sehingga riset bisa terus berkembang.
    • Data-data riset berasal dari pengamatan serta pengalaman selama riset berlangsung.
    • Hasil dari riset berdasarkan sudut pandang umum, jadi tidak bersifat subjektif.

    Karakteristik di atas membuat riset sosial berbeda dengan jenis riset lainnya. Selain itu, karakteristik tersebut juga menjadi acuan dalam proses penelitian, salah satunya hasil penelitian yang bersifat masuk akal dan berdasarkan sudut pandang secara umum.

    Jenis-Jenis Riset Sosial

    Contoh peneliti yang sedang menyusun data penelitian
    Contoh peneliti yang sedang menyusun data penelitian | Sumber Gambar: Pexels

    Riset sosial terbagi menjadi beberapa jenis yang dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu berdasarkan metode dan berdasarkan cara mendapatkannya. Agar tidak keliru, simak penjelasan masing-masing jenis riset sosial berikut ini!

    1. Jenis Riset Sosial Berdasarkan Metodenya

    Berdasarkan metodenya, riset sosial terbagi menjadi dua jenis, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Kedua jenis metode tersebut cukup populer dalam riset akademis, meski begitu, keduanya memiliki pengertian dan cara penelitian yang berbeda. Seperti apa? Berikut penjelasannya:

    a. Penelitian Kualitatif

    Penelitian yang menggunakan metode kualitatif melibatkan subjek yang diteliti dan mengumpulkannya dari berbagai data, mulai dari pengalaman pribadi, studi kasus, data empirik, wawancara, historis, hasil pengamatan, interaksi, hingga maknanya.

    Data kualitatif biasanya berupa informasi kenyataan atau fenomena yang terjadi secara nyata di lapangan. Oleh karena itu, metode kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data lewat wawancara mendalam maupun melakukan pengamatan partisipasi atau partisipan.

    Tidak hanya itu, riset sosial yang menggunakan metode kualitatif juga harus berlandaskan filsafat postpositivisme, yaitu aliran yang menyetujui bahwa realitas adalah nyata.

    Teknik pengumpulan data menggunakan metode kualitatif adalah teknik triangulasi gabungan, yaitu analisis data yang bersifat kualitatif. Sedangkan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna, bukan asumsi maupun generalisasi fenomena yang ada.

    b. Penelitian Kuantitatif

    Jenis kedua dari penelitian sosial berdasarkan metodenya adalah penelitian kuantitatif. Metode ini sifatnya mengumpulkan data-data penelitian yang bisa diukur. Misalnya, pengaruh perilaku, jumlah penghasilan, tingkat kepuasan, dan data-data lainnya.

    Meski berupa angka, riset kuantitatif bisa berupa deskripsi statistik atau studi korelasi antara hubungan sebab dan akibat.

    Dalam social research, metode kuantitatif biasanya untuk meneliti jumlah populasi atau sampel tertentu dengan cara mengumpulkan data yang melibatkan instrumen penelitian, seperti analisis data yang bersifat kuantitatif atau statistik.

    Tujuan dari riset tersebut adalah menguji hipotesis yang sudah ditetapkan lebih dulu oleh peneliti. Secara keseluruhan, metode kuantitatif sangat cocok untuk meneliti jumlah populasi yang luas, dengan variabel penelitiannya yang terbatas.

    2. Riset Berdasarkan Cara Memperoleh Informasi

    Jenis riset sosial juga ditentukan dari cara peneliti memperoleh informasi atau data yang bisa dijelaskan hasilnya. Riset sosial berdasarkan cara mendapatkan informasi terbagi menjadi 5 jenis, yaitu:

    a. Survei

    Jenis pertama ada survei, yaitu jenis riset yang paling populer di kalangan peneliti. Dalam prosesnya, riset yang menggunakan survei akan menggunakan kuesioner atau angket, yang merupakan bagian dari instrumen penelitian.

    Cara mendapatkan informasi melalui survei digunakan untuk mengumpulkan data dari jumlah populasi yang banyak.

    b. Studi Kasus

    Kedua, ada jenis studi kasus, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi suatu fenomena atau kasus yang menjadi fokus utama dari penelitian. Jenis penelitian kedua ini juga akan menjadi acuan untuk hipotesis atau teori yang diteliti.

    Data dari studi kasus hanya berfungsi sebagai konfirmasi atau konfrontasi dari sebuah teori maupun hipotesis yang sudah dibuat.

    c. Eksperimen

    Berikutnya ada eksperimen, yaitu cara mendapatkan informasi untuk menemukan hubungan sebab dan akibat dari variabel penelitian. Selain itu, eksperimen juga berfungsi untuk memeriksa hipotesis penelitian. Sehingga, hasil data penelitian memiliki peran penting dalam menentukan relevansi teori atau hipotesis.

    d. Deskriptif

    Jenis penelitian sosial berikutnya adalah deskriptif, yaitu riset yang fokus memberikan penjelasan atau penjabaran secara detail tentang fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

    Riset yang menggunakan cara deskriptif bertujuan untuk menjawab suatu fenomena atau masalah sosial yang sedang terjadi. Oleh karena itu penelitian ini identik dengan kalimat tanya, seperti bagaimana.

    e. Grounded Research

    Selanjutnya ada grounded research, yaitu penelitian yang teorinya berasal dari fakta di lapangan. Dalam penerapannya, peneliti tidak boleh melibatkan asumsi-asumsi dalam pikirannya. Tujuannya agar data yang diperoleh sesuai dengan keadaan, tanpa ada intervensi dari pihak manapun, salah satunya diri sendiri.

    Pentingnya Penelitian Sosial dalam Sosiologi

    Contoh sosiolog sedang melakukan riset sosial via internet
    Contoh sosiolog sedang melakukan riset sosial via internet | Sumber Gambar: Pexels

    Melansir dari Kompas, seorang sosiolog perlu melakukan riset sosial untuk menemukan fenomena atau apa saja yang sedang terjadi di masyarakat. Umumnya, fenomena atau masalah sosial tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti ekonomi, pendidikan, kebijakan pemerintah, perubahan iklim, dan lainnya.

    Nah, dalam menemukan masalah yang terjadi, sosiolog membutuhkan pendekatan melalui penelitian sosial untuk mendapatkan data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

    Permasalahan sosial yang akan selalu ada harus dikaji lebih dalam. Sosiolog tidak boleh memberikan asumsi tanpa adanya riset atau observasi langsung ke lapangan. Hal ini bertujuan agar solusi atau jawaban yang ditentukan sesuai dengan fenomena atau permasalahan yang ada.

    Agar jawaban atau solusi sesuai dengan fenomena yang ada, para sosiolog akan mencari solusi atau jawaban tersebut menggunakan riset sosial sesuai dengan jenisnya. Proses inilah yang membuat keberadaan social research sangat penting, khususnya di bidang sosiologi.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Sudah Lebih Paham Tentang Penelitian Sosial?

    Social research merupakan salah satu jenis riset yang berperan penting dalam mencari tahu masalah atau fenomena dalam masyarakat berdasarkan data lapangan. Ada banyak jenis penelitian yang bisa dicoba, seperti penelitian berdasarkan metode. Contohnya kualitatif dan kuantitatif yang sangat populer.

  • 11 Unsur Proposal Kegiatan yang Wajib Kamu Perhatikan

    11 Unsur Proposal Kegiatan yang Wajib Kamu Perhatikan

    Ketika kamu berencana membuat acara, entah itu di kampus, sekolah, atau perusahaan dokumen yang wajib disiapkan adalah proposal. Proposal ini dokumen penting agar acara mendapat dukungan dari pihak yang dianggap penting. Oleh karena itu, dalam pembuatannya kamu harus tahu unsur proposal dengan baik.

    Unsur-unsur ini tentu saja harus kamu buat secara sistematis dan tidak boleh asal. Sebab proposal itu dokumen resmi yang isinya harus dipertanggungjawabkan. Supaya tidak salah dalam membuatnya, simak tulisan ini sampai habis.

    Pengertian dan Tujuan Proposal

    Menandatangani surat
    Menandatangani surat | Sumber: pixabay.com

    Proposal itu dokumen yang berisi pengusulan proyek penelitian atau kegiatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dokumen ini adalah rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan. Jadi, proposal yaitu rencana kerja yang dibuat sistematis dan rinci untuk kegiatan yang akan diselenggarakan.

    Dokumen ini juga memiliki arti khusus menurut jenisnya. Contohnya dalam bidang akademis, proposal merupakan rancangan penelitian yang akan dilakukan peneliti terkait bahan penelitian. Proposal ini biasanya diserahkan pada pembimbing untuk nantinya mendapat persetujuan penelitian.

    Sementara itu, ada juga proposal kegiatan yang biasanya disusun sebelum mengadakan acara tertentu. Proposal ini biasanya diserahkan kepada pihak-pihak penting seperti atasan perusahaan, pembina organisasi, dan lain-lain supaya kegiatan tersebut mendapat dukungan dan persetujuan.

    Penyusunan dokumen ini sangat penting kamu lakukan karena terdapat unsur proposal yang penting untuk diperhatikan supaya dokumen tersebut bisa meyakinkan pihak lain agar mau menyetujui pelaksanaan ide atau proyek yang sudah kamu susun.

    Selain itu, pada acara besar, proposal juga penting untuk mendapatkan bantuan dana dari sponsor. Jadi pengajuan proposal ini juga sebagai bentuk keseriusan seseorang atau tim dalam mengerjakan atau mengadakan proyek tertentu baik dalam bidang akademis, bisnis, atau kegiatan non-profit.

    Unsur Proposal Kegiatan

    Tumpukan dokumen
    Tumpukan dokumen | Sumber: istockphoto.com

    Proposal adalah dokumen penting yang memuat berbagai unsur yang harus kamu cantumkan. Unsur proposal ini harus tersusun secara sistematis, detail, jelas, dan bisa dipertanggungjawabkan.

    1. Judul Proposal

    Unsur paling pertama yang harus kamu perhatikan adalah judul. Nama judul ini wajib ada pada setiap proposal agar pihak yang dituju tahu kegiatan atau proyek apa yang ingin kamu lakukan.

    Penulisan judul haruslah ringkas, jelas, dan sesuai dengan permasalahan atau tujuan. Jangan menulis judul dengan narasi berbelit-belit atau memiliki makna ambigu. Hindari pula penggunaan makna klise dalam proposal.

    Misalnya saja kalau kamu ingin menyelenggarakan acara ulang tahun perusahaan, maka gunakan saja judul Proposal Kegiatan Perayaan Hari Ulang Tahun PT. Sejahtera Sentosa 2023.

    Kalau kamu menggunakan judul panjang dalam proposal, ada baiknya bagi judul tersebut menjadi 2, yaitu judul utama dan sub judul. Cara ini akan memudahkan kamu dalam penulisan dan membuat pihak pembaca lebih mudah memahami apa maksud dalam proposalmu.

    2. Latar Belakang

    Setelah menulis judul, unsur proposal selanjutnya adalah latar belakang. Bagian ini memuat tentang apa latar belakang dan alasan dari kegiatan yang ingin kamu selenggarakan.

    Lebih jelasnya, bagian ini menjelaskan tentang peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi kegiatan tersebut sehingga perlu adanya penyelesaian atau aksi yang harus kamu lakukan.

    Saat menuliskan latar belakang masalah, kamu harus menggunakan kalimat yang menyakinkan, tidak berbelit-belit, jelas, dan langsung pada akar masalahnya. Kalau kalimat yang kamu gunakan berbelit-belit sehingga akar masalahnya tidak jelas, maka pihak yang membaca akan rentan menolak proposal yang kamu ajukan.

    4. Tujuan Kegiatan

    Ketiga ada tujuan kegiatan. Sesuai namanya, bagian ini berisi tentang apa tujuanmu melakukan kegiatan tersebut?

    Unsur ini sangat penting kamu cantumkan dalam proposal supaya pihak penting yang membaca mengetahui dengan jelas maksud dan keinginan utama kamu melaksanakan kegiatan tersebut.

    Karena ini membahas tujuan, maka sebaiknya tulislah secara jelas, terukur, dan spesifik. Tujuan proposal terbagi menjadi dua tujuan, yakni tujuan utama dan tambahan. Jangan lupa juga sampaikan informasi objektif  berupa pencarian jawaban atas masalah atau peristiwa yang sedang terjadi.

    5. Manfaat Kegiatan

    Setelah tujuan, manfaat kegiatan juga wajib kamu cantumkan. Bagian ini penting untuk meyakinkan pihak lain kalau kegiatan yang kamu selenggarakan memiliki manfaat bagi perusahaan ataupun masyarakat sekitar.

    Supaya lebih efektif, bagian ini bisa kamu gabungkan dengan tujuan kegiatan sehingga menjadi “Tujuan dan Manfaat Kegiatan”. Susun secara objektif, jelas, dan meyakinkan supaya pihak terkait mau menerima pengajuan proposalmu.

    6. Sasaran

    Setiap kegiatan pasti memiliki sasaran yang jelas. Inilah unsur proposal yang harus kamu cantumkan supaya orang yakin akan kegiatan tersebut. Siapa pesertanya, usia berapa, apakah sasarannya ada jenis kelamin tertentu, berapa jumlah pesertanya, dan sebagainya. Tulislah secara tegas dan jelas siapa target dari kegiatan tersebut.

    7. Tempat dan Waktu Kegiatan

    Tulis secara rinci kapan dan di mana  kegiatan tersebut diselenggarakan. Misalnya kamu ingin menyelenggarakan kegiatan perayaan HUT RI di sekolah, maka tulislah tempat acara seperti di aula sekolah, lapangan sekolah, atau yang lain. Cantumkan juga waktu acara lengkap dengan hari, tanggal, dan pukul berapa.

    8. Teknis Pelaksanaan Acara

    Unsur proposal kegiatan kedelapan adalah teknis pelaksanaan acara. Bagian ini berisi tentang bagaimana teknis pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk juga rundown

    Rundown adalah jadwal kegiatan yang disusun secara sistematis dan terbatas oleh durasi. Jadwal ini berguna agar kegiatan tersebut terlaksana dengan baik, sesuai waktunya alias tidak molor sehingga efisiensi waktu bisa terlaksana dengan baik.

    9. Susunan Panitia

    Tak lupa juga unsur proposal lainnya, yakni susunan panitia. Panitia adalah orang-orang yang bertugas dan bertanggung jawab atas kesuksesan serta kelancaran acara tersebut.

    Nama-nama panitia yang termuat dalam proposal mencakup ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi lengkap dengan tugas serta tanggung jawab masing-masing.

    10. Rencana Anggaran

    Ada lagi unsur yang tak kalah penting, yaitu rencana anggaran. Saat mengadakan kegiatan tentu saja memerlukan anggaran dana sehingga perlu mencantumkan rincian perkiraan anggaran yang kamu butuhkan selama kegiatan berlangsung.

    Rencana anggaran ini terdiri dari biaya sewa peralatan, biaya konsumsi, biaya administrasi, hadiah, biaya dekorasi, biaya dokumentasi dan publikasi, dan lain-lain. Semua anggaran biaya ini harus kamu tulis secara realistis dan sesuai dengan kebutuhan.

    11. Penutup

    Terakhir, ada penutup. Ini adalah bagian akhir dari proposal yang berisi ucapan terima kasih dan harapan kepada pihak-pihak penyelenggara dan pihak-pihak penting yang kamu tuju.

    Selain itu, bagian ini juga mencakup penekanan tentang pentingnya kegiatan itu berjalan dan rasa optimis terhadap kelancaran acaranya nanti.

    Apakah Unsur Proposal Kegiatan Sama seperti Penelitian?

    Mahasiswa baca buku
    Mahasiswa baca buku | Sumber: pixabay.com

    Kedua kegiatan tersebut memang sama-sama membutuhkan proposal. Namun jika kamu telisik lebih jauh, keduanya memiliki perbedaan.

    Dalam proposal kegiatan itu memuat hal-hal yang mendukung kelancaran dan terselenggaranya acara sehingga terdapat poin sasaran, tempat dan waktu acara, susunan panitia, rundown, hingga rencana anggaran.

    Sementara itu, pada proposal penelitian untuk bidang akademis memuat hal-hal yang mendukung terselenggaranya penelitian dan kevalidan data yang peneliti gunakan. Misalnya metode penelitian, kajian pustaka, rumusan masalah, hipotesis, dan lain-lain.

    Jadi keduanya tetap memiliki unsur yang berbeda, supaya tujuannya bisa tercapai sesuai dengan keinginan penyelenggara.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Sudah Mengerti Apa Saja Unsur Proposal Kegiatan?

    Proposal kegiatan memiliki beberapa unsur yang mendukung terselenggaranya sebuah acara. Oleh karena itu saat menyusunnya perlu memerhatikan betul apa saja unsur proposal yang perlu kamu tulis sehingga hasilnya bisa menarik perhatian pihak terkait untuk menyetujui dan mendukung kegiatan tersebut.

  • Karya Ilmiah Populer: Definisi, Jenis, dan Cara Pembuatannya

    Karya Ilmiah Populer: Definisi, Jenis, dan Cara Pembuatannya

    Karya ilmiah adalah salah satu wujud puncak dari eksplorasi intelektual manusia. Namun, banyak karya ilmiah yang sulit dipahami bagi orang awam karena bahasa dan formatnya yang teknis. Sehingga, beberapa penulis mulai mempelajari dan membuat karya ilmiah populer.

    Bentuk penulisan ini memungkinkan karya penelitian ilmiah menjadi lebih mudah dipahami dan menarik bagi masyarakat umum. Bahkan, karya-karya tersebut bisa semakin terkenal karena kompatibel untuk disebarkan melalui media massa. Nah, Anda bisa ketahui informasi lainnya dengan baca artikel ini sampai selesai!

    fenomena alam, ilmu pengetahuan, maupun kesehatan dan pendidikan.

    Apa Itu Karya Ilmiah Populer?

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karya tulis merupakan suatu karya dengan prinsip ilmiah yang mengacu pada data, observasi, maupun eksperimen. Sedangkan istilah populer memiliki arti terkenal, banyak orang yang menyukai maupun kagum.

    Sehingga, karya ilmiah populer, atau makalah ilmiah, adalah suatu karya ilmiah yang mana data-datanya merujuk pada observasi maupun hasil penelitian orang lain. Sering kali makalah ilmiah ditulis dengan menyadur atau mengutip karya tulis lainnya.    

    Walaupun terdengar ilmiah, para penulis mengemas dengan bahasa yang khas, menarik, santai, dan tidak kaku untuk masyarakat awam sebagai pembaca. Sehingga, pembaca dapat menyerap isinya dengan baik dan mudah dipahami.

    Karya ilmiah ini dapat tersebar luas di media massa berupa majalah, tabloid, koran, surat kabar, maupun media online lainnya. Isinya seputar ilmu pengetahuan, fenomena alam, kesehatan, pendidikan, dan kasus-kasus yang sedang ramai diperbincangkan berdasarkan tinjauan ilmiah.

    Meskipun menggunakan gaya bahasa santai, makalah ilmiah memiliki beberapa ciri-ciri penulisan, yaitu memuat bahasa yang sistematis, logis, objektif, dan faktual. Berikut masing-masing penjelasannya:

    • Sistematis, artinya tulisan harus memiliki struktur yang baik dengan pola bahasa yang baku.
    • Logis adalah isi tulisan harus bisa dipahami oleh akal sehat dan logika.
    • Objektif, maksudnya adalah tulisan berdasarkan teori yang jelas dan terbukti secara ilmiah, bukan atas pandangan pribadi.
    • Faktual berarti karya ilmiah populer harus dibuat berdasarkan fakta, bukan imajinatif.

    Karakteristik Karya Ilmiah Populer

    Karakteristik Karya Ilmiah Populer | Sumber gambar: thoughtco.com

    Setelah Anda mengetahui beberapa ciri dan pengertian dari makalah ilmiah, selanjutnya Anda juga perlu mendalami pemahaman mengenai sifat dan karakteristiknya. Berikut ini penjelasannya:

    1. Bersifat Informatif

    Karakteristik yang pertama adalah bersifat informatif. Sebab, tujuan pembuatan makalah ilmiah adalah untuk menyampaikan informasi yang mudah dipahami dan berbagi pengetahuan ilmiah.

    Sehingga, Anda dapat memberikan tulisan dengan sifat yang informatif. Bahkan, Anda bisa berharap bahwa pembaca dapat memahami data beserta pembahasan yang argumentatif, deskriptif, serta referensial.

    2. Menggunakan Bahasa Populer

    Berdasarkan ciri-ciri di atas, penggunaan bahasa populer juga sangat penting dalam mengemas makalah ilmiah. Sebab, sasaran dari makalah ilmiah bukan hanya untuk kalangan akademisi maupun pegawai, tetapi juga untuk masyarakat awam.

    Maksud dari bahasa populer di sini adalah Anda tidak menggunakan bahasa asing maupun istilah yang jarang orang paham. Usahakan tetap menggunakan bahasa yang komunikatif dan istilah yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga orang awam pun bisa membaca dengan tenang.

    3. Istilah yang Tepat

    Jika Anda masih ingin menggunakan istilah-istilah baru, usahakan memberikan suku kata padanan atau sinonimnya. Meskipun berjudul karya ilmiah populer, namun bahasa yang terlalu ilmiah akan menyulitkan pembaca.

    4. Gagasan Tulis

    Selanjutnya adalah menggunakan model tulisan dengan gagasan yang mudah dicerna, sehingga pembaca tidak harus berpikir dua kali. Hal itu bertujuan untuk memudahkan pembaca dengan gaya bercerita yang mengalir secara runtut.

    5. Judul Tulisan

    Karakteristik yang terakhir adalah membuat judul tulisan yang menarik. Biasanya, pembaca awam lebih menyukai judul-judul yang unik dan mengandung informasi utuh. Selain itu, dalam penulisan judul artikel, pastikan judul tersebut sesuai dengan isi artikel dan mencerminkan konten yang akan dibahas dengan akurat.

    Struktur Penulisan Karya Ilmiah Populer

    Struktur Penulisan Karya Ilmiah Populer
    Struktur Penulisan Karya Ilmiah Populer | Sumber Gambar: Freepik.com

    Makalah ilmiah juga memiliki beberapa struktur yang dapat menunjang kepenulisan. Meskipun terbilang ilmiah, biasanya penulis menyusunnya dalam tiga hingga lima halaman saja. Lantas, apa saja isi pembahasannya? 

    1. Judul

    Bagian pertama dalam setiap kepenulisan karya ilmiah maupun non ilmiah adalah judul. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, pembuatan judul harus menarik dan jelas. Sebaiknya, judul tulisan bisa memantik rasa ingin tahu pembaca, namun tetap sederhana dan komunikatif.

    2. Pendahuluan

    Selanjutnya adalah pendahuluan. Sebelum memasuki inti penulisan, Anda perlu menjelaskan alasan pembuatan karya ilmiah populer. Selain itu, Anda juga perlu menjabarkan pokok permasalahan yang terjadi untuk menunjang kelengkapan artikel.

    3. Isi

    Ketika Anda melangkah ke dalam konten artikel, bagian isi menjadi sangat krusial dalam setiap tulisan. Sebab, bagian ini akan digunakan sebagai rujukan bagi penulis lain. Oleh karena itu, sebaiknya hasilkan tulisan yang mengacu pada data akurat, kutipan yang relevan, atau pandangan dari beberapa pakar dalam bidang tersebut.

    4. Penutup

    Bagian terakhir adalah penutup. Penutup tidak terlepas dari kesimpulan serta kritik maupun saran terhadap pihak-pihak terkait. Anda juga bisa memberikan masukan khusus untuk pembaca.

    Panduan Menyusun Karya Ilmiah Populer

    Menyusun Karya Ilmiah Populer
    Menyusun Karya Ilmiah Populer | Sumber gambar: Science.org

    Demi menghasilkan karya tulisan yang bagus, Anda perlu memahami beberapa cara penyusunan makalah ilmiah berikut ini:

    • Mencari topik yang sedang diminati oleh sebagian besar masyarakat sekitar.
    • Gaya penulisannya memperhatikan fakta dan unsur ilmiah. Sebab, penjelasannya pun juga berdasarkan dari metode ilmiah.
    • Isi penjelasan karya ilmiah memuat sumber resmi maupun sumber rujukan penulis.
    • Makalah ilmiah menggunakan bahasa yang tidak menggurui ataupun terlalu teknis.
    • Sebagai seorang penulis karya ilmiah populer, usahakan Anda memahami betul terkait topiknya. Sebab, pemahaman topik yang dalam dapat mengurangi kesalahan penyampaian isi makalah.
    • Menyusun beberapa strategi kepenulisan, seperti apa tujuan makalah ini, kepada siapa sasaran pembacanya, serta materi dan data-data apa saja yang dibutuhkan.
    • Merancang tema maupun topik yang sedang terjadi di sekitar.
    • Menyajikan tulisan yang dapat menambahkan informasi baru bagi orang awam.

    4 Bentuk Karya Ilmiah Populer dan Jenis-Jenisnya

    Bentuk dan Jenis Karya Ilmiah Populer | Sumber gambar: Freepik.com

    Terdapat empat bentuk karya ilmiah populer, yaitu berita ringan, feature, artikel, dan laporan. Berikut ini masing-masing penjelasannya:

    1. Berita Ringan

    Berita ringan merupakan tulisan dengan bahasa santai yang berisi informasi ringan dan menghibur, tetapi tetap bisa menambah pengetahuan. Ada beberapa tipe artikel ilmiah yang tergolong ke dalam berita ringan, yaitu:

    a. Soft News

    Jenis berita ringan pertama adalah soft news di mana Anda sebagai penulis akan menulis berita apa adanya tanpa tambahan apapun. Contoh dari soft news adalah artikel “Cara unik makan tiram bakar khas Barru”.

    b. Interpretative News

    Berbeda dengan sebelumnya, Interpretative News memberikan pembahasan yang mendalam, baik dari gagasan penulis maupun dari kutipan narasumber. Contohnya seperti artikel berita “Bankir top Rusia sebut Dolar AS untuk senjata, apa maksudnya?”

    c. Human Interest News

    Jenis yang terakhir dari berita ringan adalah berkaitan dengan sisi kehidupan orang lain. Contohnya adalah berita tentang anak yang hilang.

    2. Feature

    Feature merupakan tulisan tentang cakupan fakta, kronologi suatu peristiwa, kejadian, maupun proses terbentuknya dan cara kerjanya. Berikut beberapa jenis karya ilmiah populer yang tergolong cakupan feature:

    a. News Feature

    Berita mengenai proses kejadian, sebab-musabab, dan akibatnya. Contoh berita yang tergolong news feature adalah pemakaian masker di masa pandemi dengan benar.

    b. Feature Ilmu Pengetahuan

    Tulisan yang berkaitan tentang teknologi, pengetahuan, karya tulis, dan ilmu terapan secara ilmiah yang sedang populer. Contohnya seperti tulisan terkait globalisasi, kebudayaan dan hubungannya dengan Indonesia.

    c. Feature Perjalanan

    Tulisan ini menjelaskan informasi objek wisata sehingga bermanfaat untuk orang yang akan berwisata di daerah tersebut. Contohnya seperti kisah dibalik nama Tanaka Waterfall ala Jepang.

    d. Human Interest Feature

    Jenis tulisan feature yang terakhir adalah berkaitan tentang kisah pengalaman hidup orang lain maupun pribadi. Contohnya seperti cerita istri yang diselingkuhi suami.

    3. Artikel

    Bentuk karya ilmiah populer yang ketiga adalah artikel. Artikel menyampaikan beberapa persoalan masalah, pendapat, dan pendirian penulis. Berikut ini jenis-jenis karya ilmiah yang tergolong ke dalam artikel:

    a. Kolom opini

    Kolom opini merupakan tulisan tentang masalah atau pendapat pribadi penulis. Contohnya adalah rumitnya jenjang karir dosen.

    b. Artikel Ilmiah

    Berbeda dengan kolom opini, artikel ilmiah memiliki pembahasan yang lebih mendalam, berdasarkan studi literatur, serta pemecahannya. Contohnya seperti artikel yang menjelaskan bahaya internet bagi remaja.

    c. How to do it

    Terakhir, artikel yang membahas mengenai tutorial dan keterampilan yang bisa pembaca ikuti. Contohnya adalah cara mengolah sampah menjadi biogas.

    Baca Juga : Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Sudah Tahu Cara Pembuatan Karya Ilmiah Populer?

    Pada dasarnya, karya ilmiah populer bukanlah suatu jurnal atau skripsi yang harus menggunakan bahasa baku dengan sumber rujukan ilmiah. Tujuan adanya karya tulis populer ini adalah agar Anda sebagai penulis bisa menyampaikan ilmu sekitar dalam konteks ilmiah kepada masyarakat.

    Buat narasi yang menarik dan mengalir dengan baik. Mulailah dengan pendahuluan yang menarik, jelaskan konsep secara sistematis, dan akhiri dengan kesimpulan yang kuat. Dengan begitu, harapannya makalah ilmiah bisa menyampaikan informasi maupun wawasan dengan mudah kepada masyarakat awam.

  • Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Karya tulis ilmiah merupakan alat bagi para akademisi untuk menunjukkan sekaligus menuangkan keilmuannya. Bentuknya bisa berupa makalah yang tersusun dalam sistematika tertentu. Anda pasti sudah sangat sering mendengar pengertian makalah, tetapi struktur dan cara pembuatannya bisa jadi masih awam.

    Namun, tidak perlu khawatir. Pada dasarnya, struktur sampai cara pembuatan makalah mudah untuk Anda pelajari. Anda justru perlu memperhatikan terkait kaidah penulisannya agar makalah yang disusun dapat terbaca dengan baik. Cari tahu selengkapnya di sini!

    Pengertian Makalah

    Secara garis besar, pengertian makalah adalah suatu karya tulis yang di dalamnya memuat pengetahuan atau bahasan mengenai suatu topik tertentu. Para ahli telah mendefinisikan pengertian karya tulis ilmiah satu ini. Berikut diantaranya, yaitu:

    1. W.J.S Poerwadarminta

    Bagi Poerwadarminta, salah seorang tokoh sastra Indonesia mendefinisikan makalah sebagai sekumpulan uraian tertulis yang berisi tentang bahasan masalah tertentu. Masalah tersebut bisa Anda peroleh penjelasannya secara mendetail.

    2. Tanjung dan Ardial

    Menurut Tanjung dan Ardial, pengertian makalah adalah sebuah karya tulis yang isinya tentang masalah tetapi dikemas secara sistematis, analitik, dan digali secara mendalam sampai pada sebuah kesimpulan tertentu.

    3. Panuti Sudjiman

    Sedikit berbeda dengan dua ahli sebelumnya, bagi Sudjiman, makalah adalah suatu tulisan yang berisi fakta, bukan karangan seperti prosa. Anda bisa membahas mengenai suatu topik tertentu dan mempublikasikannya pada majalah, koran, maupun jurnal.

    4. E. Zaenal Arifin

    Menurut Zainal Arifin, pengertian makalah adalah sebuah karya berlandaskan ilmu yang menyajikan suatu masalah tertentu dengan pembahasan secara lengkap dan menyeluruh. Selain itu, karya tulis ilmiah satu ini memiliki sifat empiris-objektif.

    Baca Juga : Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    7 Struktur Penulisan Makalah

    Setelah mengetahui pengertian makalah, Anda perlu beralih pada struktur penulisannya. Secara garis besar, struktur makalah terdiri atas beberapa bagian, yakni cover, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, penutup, dan daftar rujukan. Berikut adalah penjelasan lengkapnya.

    1. Cover

    Contoh Cover
    Contoh Cover | Sumber gambar: Pinterest.com

    Struktur pertama dalam makalah adalah cover. Cover menjadi halaman paling depan dan identitas makalah. Dalam cover akan tertera keterangan nama penulis, judul, logo institusi, nama institusi, sampai tahun penulisan makalah.

    Biasanya pihak institusi akan memberikan format makalah dan Anda hanya perlu mengikutinya.

    2. Kata Pengantar

    Seluruh karya ilmiah membutuhkan kata pengantar sebagai bagian dari formalitasnya. Isinya berupa salam pembuka atau pengantar dari penulis.

    Pada bagian ini, Anda juga perlu memasukkan ucapan terima kasih kepada seluruh orang yang telah terlibat atau membantu saat proses penulisan serta tujuan garis besar keberadaan makalah.

    3. Daftar Isi

    Contoh Daftar Isi
    Contoh Daftar Isi | Sumber gambar: Pinterest.com

    Agar pembaca bisa dengan mudah mengetahui nomor halaman dari setiap topik yang Anda bahas, maka perlu adanya daftar isi. Anda bisa memasukkan nomor halaman setiap awalan bab dan subbab, sehingga saat pembaca membutuhkan materi yang dimaksud bisa langsung meluncur.

    4. Pendahuluan

    Bagian pendahuluan menjadi salah satu poin penting pembuka pembahasan yang harus Anda perhatikan isinya.

    Anda perlu memastikan bahwa dalam pendahuluan telah memuat latar belakang pemilihan judul, tujuan penulisan, rumusan masalah, sampai manfaat bagi para pembaca.

    5. Pembahasan

    Contoh Bab Pembahasan
    Contoh Bab Pembahasan | Sumber gambar: Pinterest.com

    Setelah pendahuluan, ada bab pembahasan yang berisi mengenai uraian kajian topik dalam penulisan. Pada bagian ini, Anda bisa menulis hasil analisis secara mendalam sesuai dengan metode penelitian yang Anda pilih.

    6. Penutup

    Selanjutnya, Anda perlu menutup makalah ini dengan kesimpulan dan saran. Kesimpulan cukup Anda tulis dalam setengah halaman atau sekitar tiga paragraf saja. 

    Lalu, ada saran yang memang sengaja Anda tulis dan ditujukan untuk para pembaca. Ingat, Anda tidak perlu menulis simpulan mengenai pengertian makalah ini.

    7. Daftar Rujukan

    Contoh Daftar Rujukan
    Contoh Daftar Rujukan | Sumber gambar: Pinterest.com

    Selama proses penulisan makalah, Anda tentu membaca literatur tertentu dan menggunakannya sebagai bahan rujukan. Oleh karena itu, Anda perlu menulis rujukan tersebut secara lengkap dan sesuai dengan struktur pedoman penulisan daftar rujukan itu sendiri.

    Jenis-Jenis Makalah Berdasarkan Pengertian Makalah

    Pada setiap bagian struktur memuat informasi yang sangat jelas, sehingga Anda tidak akan kesulitan dalam menyusunnya. Selanjutnya, Anda perlu mengetahui jenis-jenis makalah sesuai dengan pengertian makalah yang telah dipahami sebelumnya.

    1. Makalah Deduktif

    Prinsip dari jenis makalah deduktif adalah menuliskan kajian teori yang bersifat umum lalu memasukkannya dalam pembahasan sebuah masalah (bersifat khusus). 

    Sederhananya, makalah deduktif memungkinkan Anda untuk menyajikan suatu teori yang sifatnya umum lalu menariknya dalam sebuah bahasan permasalahan tertentu.

    Misalnya, Anda ingin menulis makalah tentang hubungan interaksi yang menghasilkan lingkungan atau circle positif. Maka, Anda bisa menyajikan mengenai teori sosiologi atau interaksi secara umum terlebih dahulu.

    2. Makalah Induktif

    Berkebalikan dengan jenis yang pertama, makalah induktif justru menyajikan suatu masalah yang sifatnya khusus dan dijabarkan melalui teori yang bersifat umum. 

    Umumnya, jenis makalah induktif bisa Anda tulis berdasarkan data empiris atau bersifat objektif dan relevan dengan pembahasannya.

    3. Makalah Campuran

    Sederhananya, makalah campuran adalah teknik penulisan yang menggunakan gabungan antara dua jenis makalah di atas. Artinya, pada makalah ini mengandung kajian teoritis dan data empiris sekaligus.

    Namun, secara lebih detail di dalam makalah campuran ini terdapat kategori pembahasan berdasar rumusan masalahnya.

    • Makalah Ilmiah

    Cara paling mudah menandai makalah ilmiah adalah isinya sama seperti laporan hasil penelitian. Jadi, ada satu masalah yang kemudian bisa Anda kupas secara ilmiah atau mengacu pada teori-teori tanpa adanya argumen pendukung.

    • Makalah Kerja

    Makalah kerja adalah makalah yang intinya membahas mengenai suatu topik masalah yang menimbulkan diskusi. Bedanya dengan makalah ilmiah adalah terkait porsi argumen di dalamnya. Pada makalah ilmiah, argumen sangatlah sedikit. Tetapi, pada makalah kerja justru perlu Anda dominasi argumen.

    • Makalah Analisis

    Sesuai dengan namanya, makalah satu ini mengandung unsur pembahasan yang bersifat objektif dan empiris lalu Anda sajikan dalam bentuk analisis mendalam. Umumnya, sumber data bisa Anda peroleh dari proses pengamatan, percobaan, atau penemuan yang telah teruji.

    5 Cara Menyusun Makalah dengan Mudah

    Anda sudah sampai pada tahap penyusunan makalah. Sejatinya, proses pembuatan makalah tidaklah sulit. Terlebih Anda sudah mendapatkan bekal materi mengenai pengertian makalah sampai jenis-jenisnya. Namun, tidak perlu khawatir. Berikut 5 cara pembuatan makalah dengan mudah, yaitu:

    1. Memilih Tema yang Tepat

    Sebagai karya ilmiah, tentunya Anda tidak bisa sembarang mengangkat topik atau tema pembahasan dalam penulisan makalah. Perlu Anda kaji dan pikirkan betul-betul apakah tema yang diambil tersebut memang memiliki manfaat yang luas untuk para pembaca.

    Agar lebih mengerucut sebelum memilih tema, Anda perlu menentukan dulu jenis makalah yang akan ditulis. Selanjutnya, baru pilih tema yang relevan dengan kebutuhan analisis Anda. 

    2. Merumuskan Tujuan

    Saat menentukan tema, sebenarnya secara tidak langsung akan berangkat dari tujuan penulisan makalah. Maka, pada tahap ini Anda perlu memastikan tujuan tersebut selaras dan merumuskan tujuan-tujuan lainnya.

    Pastikan tujuan penyusunan makalah ini tidak hanya berguna bagi pembaca, tetapi juga bagi bidang keilmuan itu sendiri.

    3. Menentukan Batasan dan Judul Makalah

    Anda tentu tidak ingin apa yang Anda tulis nantinya justru tidak bisa diambil inti atau kesimpulannya dengan baik oleh pembaca, bukan? Itulah mengapa, menentukan batasan pembahasan dan judul makalah sangatlah penting.

    Anda bisa membuat batasan-batasan materi apa saja yang tidak boleh Anda langgar agar pembahasan dapat disajikan secara spesifik.

    Misalnya, saat membahas mengenai interaksi sosial, tidak perlu sampai meluas pada pembahasan psikologi. Lalu pastikan juga bahwa batasan materi tersebut telah tercermin pada judulnya.

    4. Mengumpulkan Referensi

    Tidak hanya memahami pengertian makalah, tetapi Anda harus ingat pentingnya pembahasan kajian harus Anda lakukan secara mendalam.

    Agar analisis yang Anda lakukan mendalam, cara paling mudah adalah dengan memperbanyak referensi. Dari sana Anda akan mendapat banyak tambahan kajian teori, sehingga mampu memperkaya analisis.

    5. Mengembangkan Kerangka Makalah

    Sebelumnya, Anda sudah tahu apa saja yang menjadi struktur makalah. Oleh karena itu, dari ide dan gagasan yang sudah ada bisa Anda kembangkan dalam struktur makalah tersebut. Kemudian Anda bisa membuat kerangkanya. 

    Misalnya, pada bagian pendahuluan apa saja yang Anda bahas. Lalu lanjut ke bagian pembahasan, dan seterusnya.

    Jadi Lebih Paham Pengertian Makalah & Siap Membuatnya?

    Sekarang Anda sudah memahami pengertian makalah sampai cara pembuatannya. Melalui paparan ini, Anda bisa menggunakannya sebagai bekal untuk menyusun makalah yang baik. Namun, pastikan Anda mengangkat masalah yang dikuasai.

    Selain itu, Anda perlu memperbanyak bahan referensi. Pasalnya, sumber rujukan membantu proses analisis agar dapat tergali secara mendalam.

  • Ruang Lingkup Penelitian: Contoh & Cara Menentukannya dengan Mudah

    Ruang Lingkup Penelitian: Contoh & Cara Menentukannya dengan Mudah

    Dalam sebuah kajian ilmiah, istilah ruang lingkup penelitian sangatlah familiar. Pasalnya, ruang lingkup menjadi salah satu aspek yang harus Anda perhatikan agar penyusunan kajian ilmiah dapat fokus sesuai dengan pembahasan. Apalagi bagi Anda yang ingin menulis kajian ilmiah lebih dari satu tema penelitian.

    Banyak siswa maupun mahasiswa yang masih belum memahami apa sebenarnya pengertian, manfaat, contoh hingga cara menentukan ruang lingkup dalam penelitian. Tapi Anda tidak perlu khawatir karena pada artikel ini, semua komponen tersebut akan dibahas secara tuntas.

    Pengertian Ruang Lingkup Penelitian Menurut Para Ahli

    Ruang lingkup penelitian merupakan metode yang berfungsi untuk membatasi permasalahan dalam ilmu yang akan Anda kaji. Sederhananya, ruang lingkup ini menjadi batasan subjek yang akan Anda teliti, baik itu berupa masalah ataupun variabel penelitian. Berikut 5 pendapat para ahli mengenai ruang lingkup, yaitu:

    1. Otto Soemarwoto

    Menurut Otto, ruang lingkup mencakup segala aspek yang terjadi di sekitar Anda. Sifatnya berupa provokasi terhadap kelangsungan hidup seseorang. Namun, sedikit berbeda dengan ahli lainnya, bagi beliau ruang lingkup tidaklah terbatas jumlahnya.

    2. Danu Saputro

    Menurut Danu Saputro, ruang lingkup dianggap sebagai sebuah kondisi yang berbentuk benda ataupun daya dan dapat Anda jadikan sebagai objek untuk hidup. Hal-hal yang tercakup dalam ruang lingkup sangat luas, tak terkecuali unsur alam biotik dan abiotik.

    3. Soedjono

    Soedjono mengartikan ruang lingkup sebagai segala sesuatu yang berurusan dengan bentuk nyata atau dapat terindra oleh manusia. Contohnya seperti hewan, tumbuhan, dan hal-hal yang dapat Anda lihat secara visual lainnya.

    4. Emil Salim

    Cukup lengkap Emil Salim mendefinisikan ruang lingkup penelitian, yakni mencakup benda, suasana, sampai pengaruh dari suasana yang Anda rasakan pada lingkungan sekitar. 

    Contohnya seperti masalah alam semesta, sosial, benda-beda, politik ekonomi, dan sebagainya.

    5. Dwi Purnomo

    Selanjutnya ada pengertian ruang lingkup sebuah penelitian dari Dwi Purnomo yang menyimpulkan bahwa isi dari kajian satu ini terletak pada variabel yang Anda teliti, populasi, subjek, dan lokasi penelitian.

    Manfaat Ruang Lingkup Penelitian 

    Gambaran Efektivitas Pekerjaan
    Gambaran Efektivitas Pekerjaan | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah paham mengenai pengertian ruang lingkup, Anda juga perlu mengetahui mengenai manfaat dari aspek satu ini. 

    Secara umum, manfaat utama yang bisa Anda peroleh adalah dapat lebih fokus saat membahas kajian tertentu dan tidak melebar ke mana-mana. Namun, masih banyak deretan manfaat lainnya yang bisa Anda peroleh. Berikut diantaranya, yaitu:

    • Ruang lingkup penelitian membuat pembahasan fokus, sehingga menjadikan ide pokok tidak terpecah kemana-mana. Dengan demikian, Anda tidak akan terdistraksi oleh cabang-cabang keilmuan lainnya.
    • Anda sebagai peneliti bisa membuat perencanaan yang tepat, baik itu soal bahasan, waktu, bahkan biaya penelitian yang terukur. Intinya, Anda akan memiliki sumber daya yang diperoleh secara efektif.
    • Referensi yang Anda cari bisa lebih fokus, sehingga bacaan Anda bukan perkara kuantitas lagi tetapi seberapa mendalam ilmu yang Anda peroleh. 
    • Keberadaan ruang lingkup penelitian juga akan memberikan gambaran mengenai keseluruhan penelitian yang sedang Anda lakukan.
    • Masalah menjadi lebih cepat terselesaikan karena setiap pembahasan sudah Anda ketahui arah solusinya. Lebih dari itu, adanya batasanlah yang kemudian menjadikan masalah juga makin cepat mendapatkan solusinya.

    Contoh Ruang Lingkup Penelitian

    Peneliti harus cermat dan berhati-hati dalam menentukan batasan pembahasan. Kondisi ini berkaitan dengan seberapa baik Anda membuat perencanaan kajian terhadap suatu masalah yang ingin diangkat. Berikut 2 contoh ruang lingkup pada penelitian yang bisa Anda gunakan sebagai gambaran.

    1. Contoh Ruang Lingkup Penelitian Deskripsi Kuantitatif

    Gambaran Penelitian Deskriptif Kuantitatif
    Gambaran Penelitian Deskriptif Kuantitatif | Sumber gambar: Pexels.com

    Menurut Sugiyono (1999:6), penelitian deskripsi kuantitatif merupakan penelitian yang bisa Anda lakukan terhadap variabel mandiri. Misalnya, perbandingan atau menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. 

    Sementara tujuan dari penelitian ini adalah membuat deskripsi ataupun gambaran secara sistematis. Deskripsi sistematis tersebut tentu yang mengandung fakta-fakta aktual dan akurat mengenai sebuah kajian. 

    Selain itu, Anda juga perlu mengaitkan satu objek dengan objek lainnya untuk mendapatkan analisis yang lebih tajam dan mendalam. Misalnya saat seseorang tengah mengkaji soal pengaruh interaksi sosial terhadap kondisi psikologis seseorang. 

    Maka, Anda harus tentukan ruang lingkupnya. Lalu kaji juga karakteristik interaksi yang Anda maksud, sehingga ada perbandingan mengenai hasilnya.

    2. Contoh Ruang Lingkup Penelitian Kuantitatif

    Gambaran Penelitian Kuantitatif
    Gambaran Penelitian Kuantitatif | Sumber gambar: Pexels.com

    Selanjutnya, ada penelitian kuantitatif. Perlu Anda ketahui, prinsip dari penelitian kuantitatif adalah tidak banyak analisis secara deskriptif dan cenderung menyajikan data-data yang bisa terukur dengan angka.

    Misalnya pada contoh kajian ilmiah dari STIE Widyagama Lumajang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertumpu pada pencarian hubungan asosiatif yang memiliki sifat kausal.

    Menurut Sugiyono (2008: 36), penelitian asosiatif merupakan penelitian yang skeptis terhadap hubungan antar dua variabel atau lebih.

    Dalam ruang lingkup penelitian ini, jelas terdapat dua variabel berbeda, yaitu independen atau variabel yang mempengaruhi dan variabel dependen atau variabel yang mendapatkan pengaruh. 

    Sederhananya, penelitian ini mengangkat hubungan variabel antara kualitas produk dan harga terhadap tingkat loyalitas pelanggan. 

    Ternyata hasilnya ada pengaruh kuat antara kedua variabel. Pasalnya, kualitas produk akan sangat berpengaruh terhadap seberapa suka pelanggan atas apa yang perusahaan tersebut tawarkan.

    4 Cara Menentukan Ruang Lingkup Penelitian

    Gambaran Tim Brainstorming
    Gambaran Tim Brainstorming | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah menyimak beberapa penjelasan dari paparan sebelumnya, Anda perlu mengetahui cara menentukan ruang lingkup. Ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan dan menjadi penentu ruang lingkup tersebut. Berikut 4 cara mudahnya, yaitu:

    1. Batasan Masalah

    Langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan membatasi masalah yang akan Anda kaji. Ingat, prinsip utama dari ruang lingkup adalah pembatasan masalah. 

    Tujuan pembatasan ini adalah agar masalah yang Anda angkat bisa tergali secara mendalam, tidak hanya pada permukaannya saja.

    Apabila tidak Anda batasi, sangat mungkin hasil kajian tersebut akan melebar topiknya. Bahkan, mengarah ke tema lainnya yang jelas-jelas tidak masuk ke dalam pembahasan.

    Oleh karena itu, Anda hanya perlu fokus pada batasan-batasan yang telah dibuat agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

    2. Menyesuaikan dengan Keberadaan Data

    Setelah selesai membuat batasan penelitian, Anda bisa menyesuaikan keberadaan data penelitian itu. 

    Lalu muncul pertanyaan, bagaimana apabila kesulitan menyesuaikan data penelitian di lapangan? Solusinya adalah dengan memulai membuat hipotesis atau kerangka penelitian.

    Dengan pembuatan hipotesis atau kerangka penelitian, Anda bisa mengetahui apa saja langkah-langkah yang selanjutnya harus dilakukan. Cara ini selain mempermudah juga akan membuat waktu Anda dalam mengumpulkan data menjadi lebih efektif.

    3. Memahami Penelitian

    Sejatinya, cara paling ampuh menentukan ruang lingkup penelitian adalah memahami penelitian itu sendiri.

    Anda perlu benar-benar menguasai topik kajian yang ingin diangkat, sehingga tidak akan kesulitan dalam membahas setiap teori ataupun variabel-variabel di dalamnya.

    Selain berfungsi untuk membantu menentukan ruang lingkup pada penelitian, pemahaman ini juga sangat berguna agar Anda bisa menyelesaikan tulisan sampai akhir. 

    Sebab, sudah banyak kasus para peneliti yang di tengah jalan mengganti fokus bahasan karena tidak memahami topik penelitiannya.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    4. Masalah yang Anda Ambil Memiliki Urgensi

    Agar apa yang Anda tulis benar-benar memberikan dampak manfaat yang besar, Anda harus memilih tema atau mengangkat masalah yang memang memiliki urgensi tinggi. 

    Jangan sekadar memilih tema karena mudah Anda teliti saja. Namun, harus ada manfaat yang kemudian dapat diraih oleh para pembaca.

    Akan semakin baik lagi, apabila Anda juga memperhatikan sisi kemenarikannya. Artinya Anda tidak hanya mengangkat tema yang memiliki urgensi tinggi, tetapi juga menarik untuk Anda bahas.

    Contohnya, melengkapi penelitian terdahulu yang sudah ada atau mengambil tema-tema cukup ekstrem yang jarang dikaji.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Sudah Paham Cara Menentukan Ruang Lingkup Penelitian?

    Fungsi ruang lingkup penelitian yang amat penting semestinya mendorong Anda untuk serius dalam menyusun. Cara ini juga akan berpengaruh terhadap kemampuan Anda dalam menyelesaikan tulisan atau penelitian yang sedang dikaji.

    Banyak para peneliti yang kemudian bingung terhadap penelitiannya karena di awal tidak menentukan ruang lingkup penelitiannya. Kebanyakan memilih untuk terus menulis saja tanpa ada batasan yang jelas. Padahal, pola tersebut perlu Anda hindari agar penelitian dapat terselesaikan dengan baik dan tuntas.

  • Kajian Pustaka: Pengertian, Manfaat, Tujuan, hingga Contohnya

    Kajian Pustaka: Pengertian, Manfaat, Tujuan, hingga Contohnya

    Kajian pustaka merupakan sebuah elemen krusial dalam sebuah laporan penelitian. Namun, tak jarang peneliti awam kebingungan bagaimana memasukkan landasan teori ini pada makalah mereka dengan runtut dan jelas.Kamu dapat mempelajari berbagai serba-serbi tentang kajian pustaka dalam uraian kali ini. 

    Simak baik-baik, yuk!

    Pengertian Kajian Pustaka

    Mencari landasan teori melalui buku
    Mencari landasan teori melalui buku | Freepik.com

    Kajian pustaka atau landasan teori merupakan sebuah tindakan mendalami, mencermati, serta menelaah pengetahuan. Pada dasarnya, landasan teori ini memuat sejumlah uraian mengenai literatur yang mendukung gagasan awal guna menyelesaikan masalah.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, tentu kamu dapat melihat bahwa menyajikan bagian tersebut dalam sebuah laporan amat penting. Di samping fungsinya dalam mendukung gagasan awal, landasan teori juga memuat informasi penting guna menjalankan penelitian.

    Apa Kata Para Ahli tentang Landasan Teori?

    Merangkum sumber dari buku
    Merangkum sumber dari buku | Freepik.com

    Selain dari pengertian di atas, kamu juga bisa lebih memahami arti dari kajian pustaka melalui definisi yang para ahli ini utarakan. Simak selengkapnya berikut ini.

    1. Pohan

    Bagi Pohan, landasan teori merupakan sebuah aktivitas untuk mengumpulkan sejumlah data ilmiah, terlebih dalam bentuk metode, teori, atau penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Teori atau metode tersebut bisa kamu dapatkan melalui buku, jurnal, atau naskah dokumen yang ada di perpustakaan.

    2. Kutha Ratna

    Nyoman Kutha Ratna juga pernah mengutarakan pendapatnya mengenai definisi kajian pustaka. Menurutnya, landasan teori ini lebih merujuk pada bahan bacaan yang secara khusus berkenaan dengan objek penelitian yang sedang peneliti kaji. 

    Semua bacaan yang telah peneliti baca dan analisis dapat kamu definisikan sebagai landasan teori. Di dalamnya termasuk bacaan yang telah terbit, maupun bacaan yang masih dalam proses penulisan atau berstatus koleksi pribadi.

    3. Nazir

    Sementara itu, Nazir berpendapat bahwa kajian pustaka merupakan suatu studi literatur atau studi kepustakaan yang mempunyai fungsi guna menunjang keabsahan penelitian. 

    Terlepas dari itu, landasan teori ini juga dapat peneliti gunakan untuk mengetahui sejauh mana ilmu yang mempunyai hubungan dengan proses penelitian berkembang. Landasan teori ini juga dapat kamu gunakan untuk meninjau sejauh mana kesimpulan dari penelitian tertentu yang pernah orang lain buat sebelumnya.

    4. Muh Fitrah dan Dr. Lutfhiyah

    Definisi tentang landasan teori ini juga pernah Muh Fitrah dan Dr. Lutfhiyah bahas, lo. Keduanya beranggapan bahwa landasan teori merupakan suatu aktivitas mencermati, mendalami, serta menelaah pengetahuan. Definisi mereka berdua yang akhirnya membentuk pengertian umum dari sebuah landasan teori. 

    Singkatnya, landasan teori merupakan cara untuk mendapatkan sumber data. Nantinya, sumber data yang berbentuk teori, metode, atau pendekatan ilmiah ini bisa kamu gunakan untuk melengkapi penelitian.

    4 Manfaat Landasan Teori, Jangan Sampai Tidak Tahu!

    Meneliti landasan teori
    Meneliti landasan teori | Freepik.com

    Kamu bisa menyimpulkan beberapa manfaat dari landasan teori berdasarkan definisinya. Secara lebih terperinci, ada empat manfaat yang penulis dapatkan melalui aktivitas menyusun landasan teori. 

    1. Menemukan Solusi dari Topik Permasalahan

    Saat membuat karya tulis ilmiah, pasti kamu memerlukan topik permasalahan yang perlu kamu teliti. Dengan topik permasalahan tersebut, kamu akan dapat meneliti kemungkinan jawaban untuk menyelesaikan permasalahan itu. 

    Oleh karena itu, kajian pustaka yang umumnya berisi teori-teori untuk menunjang ketajaman penelitian merupakan elemen yang memudahkan kamu menyelesaikan masalah tersebut. Sebab, teori yang ada pada kajian tersebut telah melewati serangkaian proses pengkajian dari sumber data dan literatur.

    2. Memudahkan Proses Penelitian

    Landasan teori ini bisa memfasilitasi kamu untuk memperoleh berbagai teori dan referensi, yang menghasilkan hasil solutif dari penelitian sehingga memudahkan kamu menjalani proses penelitian dari awal hingga akhir. 

    Akan tetapi, kamu juga perlu menyusun teori-teori tersebut agar mudah untuk dicerna. Lalu, kamu pun dapat menggunakan serangkaian teori itu untuk menjalankan penelitian dengan mudah dan efektif.

    3. Menentukan Standar Penelitian

    Ketika memulai proses pembuatan karya ilmiah, tentu kamu harus menentukan standar atau kriteria penelitian terlebih dahulu. Pasalnya, standar penelitian mampu membuat proses penelitian dapat berjalan sesuai arah yang telah kamu tetapkan.

    Kriteria ini wajib berisi tanda indikator pencapaian (keberhasilan atau kegagalan), langkah identifikasi topik permasalahan, saran untuk peneliti, dan kesimpulan. Harapannya, hasil penelitian kamu akan mudah pembaca pahami.

    4. Memverifikasi Hasil Penelitian

    Terakhir, manfaat dari kajian pustaka adalah untuk memverifikasi hasil penelitian. Proses verifikasi hasil penelitian ini perlu kamu lakukan karena berperan sebagai perbandingan dari hasil penelitian sebelumnya. Proses verifikasi juga membantu peneliti untuk mendapatkan kesimpulan.

    Tujuan Landasan Teori

    Mencatat poin penting untuk landasan teori
    Mencatat poin penting untuk landasan teori | Freepik.com

    Setelah memahami manfaat dari kajian pustaka, kamu juga perlu mengerti lima tujuan dari aktivitas ini. Berikut ini penjelasan singkatnya. 

    1. Landasan teori berguna sebagai sarana untuk memahami permasalahan yang relevan dengan topik pembahasan penelitian. Dengan demikian, penelitian kamu pun dapat menjadi jawaban solutif atas permasalahan tertentu.
    2. Memungkinkan peninjauan pada topik pembahasan yang akan kamu teliti atau analisis melalui karya tulis atau literatur. 
    3. Kajian pustaka juga membantu kamu mengetahui para peneliti yang telah menjalankan penelitian dengan topik permasalahan yang sama sebelumnya
    4. Lebih memahami teori untuk proses penelitian. 
    5. Kajian pustaka juga bermanfaat untuk memahami setiap teori yang akan kamu gunakan sebagai literatur dalam proses penelitian. Selain itu, kamu dapat memanfaatkannya untuk  penentuan sikap ketika sudah menyelesaikan penelitian yang ternyata memiliki hasil tidak sesuai dengan harapan

    Kenali 4 Jenis Landasan Teori Ini!

    Mencari berbagai sumber untuk penelitian | Freepik.com

    Kajian pustaka atau landasan teori ini juga memiliki empat jenis yang berbeda. Apa sajakah jenis dari landasan teori, dan bagaimana cara membedakannya?

    1. Kajian Pustaka Kualitatif

    Umumnya, jenis ini peneliti gunakan untuk penelitian dengan pendekatan kualitatif. Kamu bisa menggunakan jenis kualitatif apabila landasan teori banyak menjelaskan perilaku atau pedoman penelitian tertentu.

    2. Landasan Teori Kuantitatif

    Kamu bisa menggunakan landasan teori kuantitatif dalam penelitian berisi sejumlah variabel yang memiliki keterkaitan langsung dengan hipotesis tertentu.

    3. Kajian Pustaka Teori Normatif

    Jenis kajian pustaka ini menitikberatkan penggunaan teori normatif, sehingga jenis landasan teori normatif sering peneliti gunakan untuk mempelajari bidang ilmu sosial.

    4. Landasan Teori Campuran

    Terakhir, terdapat juga jenis campuran. Jenis landasan teori ini merupakan gabungan dari metode penelitian kualitatif dan kuantitatif.

    Langkah Menyusun Kajian Pustaka

    Mencermati sumber pustaka | Freepik.com

    Dalam menyusun kajian pustaka dalam laporan penelitian, kamu perlu mengaplikasikan sejumlah langkah tertentu yang dapat kamu ketahui melalui penjelasan berikut ini.

    1. Mencari tahu kata kunci topik penelitian.
    2. Membaca sejumlah abstrak laporan hasil penelitian yang berkaitan. Contohnya dari sumber jurnal, prosiding, atau buku.
    3. Membuat catatan mengenai hasil catatan dengan cara membuat peta literatur urutan, keterkaitan topik penelitian, dan referensi bibliografi.
    4. Menulis ringkasan literatur secara lengkap, sesuai dengan peta literatur, urutan, serta keterkaitan topik setiap variabel.
    5. Membuat kajian pustaka, lalu menyusunnya dengan tematis sesuai teori dan konsep penting berkenaan dengan topik dan variabel penelitian
    6. Sisipkan pandangan umum mengenai topik berdasarkan literatur. Pastikan pula untuk menjelaskan orisinalitas dan tujuan topik penelitian.

    Baca Juga : Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    Contoh Kajian Pustaka

    Membaca sumber pustaka
    Membaca sumber pustaka | Freepik.com

    Agar lebih memahami mengenai pengaplikasian landasan teori dalam sebuah penelitian, kamu bisa melihat contohnya berikut ini.

    “Populasi Harimau Sumatra di dunia hanya berjumlah 672 ekor. Seluruh populasi ini mempunyai habitat asli di Pulau Sumatra, Indonesia, dan jenis ini merupakan satu dari sembilan jenis harimau yang masih tersisa di dunia.

    Berdasarkan sumber ProFauna, Indonesia sesungguhnya mempunyai tiga subspesies harimau endemik, yaitu Harimau Jawa, Harimau Bali, dan Harimau Sumatra. Akan tetapi, sebelum masuk abad ke-20, Harimau Jawa dan Bali telah IUCN (International Union for Conservation of Nature) nyatakan punah.

    Kepunahan harimau itu disebabkan perburuan liar dan cara hidup harimau yang soliter. Terlebih, diyakini hanya terdapat satu ekor harimau dalam rentang hutan seluas 320 hektare tersebut.”

    Contoh kajian pustaka ini hanya merupakan salah satu contoh landasan teori yang cocok untuk jenis tulisan berupa artikel. Tetapi, ada pula landasan teori yang cocok pula untuk penelitian tesis, karya ilmiah, dan juga skripsi. 

    Terlepas dari contoh landasan teori yang cocok untuk berbagai macam tulisan, kamu perlu dengan cermat. Dengan demikian, 

    Apa yang Perlu Dicermati Dalam Menyusun Kajian Pustaka?

    Secara sederhana, kamu perlu memilih dengan cermat sumber bacaan yang relevan dengan penelitian kamu. Dengan begitu, kamu bisa memberikan pengantar yang mudah untuk pembaca pahami sebelum menelaah penelitian yang kamu sajikan.Selain itu, agar kamu bisa menyiapkan kajian pustaka dengan baik, tentukan terlebih dahulu tujuan penelitian kamu.

  • Disertasi: Ketentuan, Karakteristik, dan Cara Membuatnya

    Disertasi: Ketentuan, Karakteristik, dan Cara Membuatnya

    Jenis karya ilmiah yang sering menjadi tonggak karir akademik seseorang saat menempuh studi S3 atau doktor adalah disertasi. Istilah tersebut merujuk pada karya tulis yang mendalam dan komprehensif tentang suatu topik tertentu. Proses penulisannya pun memerlukan dedikasi, penelitian, dan analisis mendalam. 

    Agar lebih paham, pada artikel ini, kita akan membahas berbagai aspek yang terkait dengan karya ilmiah tersebut. Termasuk karakteristik, ketentuan, serta langkah-langkah dalam menulisnya. Berikut penjelasannya!

    Pengertian

    Disertasi merupakan sebuah karya akademik mahasiswa tingkat doktor sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar doktor. Kegunaan karya ini adalah untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah, melakukan penelitian ilmiah, dan memberikan kontribusi baru dalam bidang studi mereka.

    Karya ilmiah ini juga merupakan representasi tertulis dari kemampuan akademik seorang mahasiswa doktor dalam melakukan penelitian yang relevan dengan temuan baru dalam disiplin ilmu mereka. Secara sederhana, karya ini disusun sebagai bagian penting dalam proses mendapatkan gelar doktor (S3).

    Karakteristik

    Berbeda dengan skripsi untuk S1 dan tesis untuk S2, disertasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    • Dibuat oleh mahasiswa yang tengah menempuh jenjang pendidikan S3.
    • Kajian berasal dari kajian teoretik dan fakta empiris yang sifatnya mendalam.
    • Umumnya, penguji minimal memiliki gelar profesor atau doktor. Namun, yang sudah berpengalaman.
    • Metodenya sama dengan tesis. Akan tetapi lebih kompleks, berbobot, dan tujuannya untuk mencari terobosan dan juga teori baru di dalam bidang ilmu pengetahuan.
    • Dibuat dalam upaya menemukan hal-hal baru.
    • Memiliki konsentrasi pada salah satu disiplin ilmu.
    • Kajian dan fokus penemuan dan teori baru di dalamnya berdasarkan disiplin ilmu secara mendalam.
    • Menggunakan data primer sebagai data utama serta data sekunder sebagai pendukung.
    • Penulisannya menggunakan kaidah dan sesuai dengan ketentuan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kecuali untuk program studi bahasa asing yang memiliki syarat untuk membuatnya dengan bahasa tertentu.

    Perbedaan Disertasi dengan Skripsi dan Tesis

    Perbedaan antara tesis, skripsi, dan disertasi dapat kita jelaskan dalam beberapa aspek utama. Berikut di antaranya:

    1. Skripsi

    • Sebagai syarat kelulusan di tingkat sarjana (S1).
    • Lebih pendek dan lebih sederhana.
    • Memerlukan penelitian yang lebih terbatas dan umumnya terbatas pada 30-60 halaman.
    • Biasanya merupakan bagian akhir dari program sarjana.
    • Lebih berfokus pada pembuktian pemahaman mahasiswa terhadap topik tertentu.

    2. Tesis

    • Umumnya ditulis sebagai syarat lulus dalam program pascasarjana (S2).
    • Lebih pendek dan kurang kompleks daripada disertasi.
    • Memerlukan penelitian yang lebih terbatas dalam lingkupnya.
    • Biasanya mencakup sekitar 50-100 halaman.
    • Fokus pada pembuktian teori atau argumen tertentu.

    3. Disertasi

    • Karya ilmiah paling tinggi dan merupakan syarat kelulusan dalam program doktoral (S3).
    • Jauh lebih panjang dan mendalam.
    • Melibatkan penelitian komprehensif.
    • Umumnya terdiri dari 150-300 halaman atau lebih.
    • Lebih berfokus pada kontribusi asli terhadap pengetahuan di bidang tertentu.

    Baca Juga : Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Jenis

    Berikut adalah beberapa jenis disertasi yang perlu Anda ketahui:

    • Kuantitatif: Penelitian yang menggunakan data berupa angka untuk analisis. Pemrosesan data tersebut menggunakan alat statistik seperti SPSS, Minitab, Excel, dan lainnya.
    • Kualitatif: Untuk memeriksa objek alamiah. Di sini, peneliti berperan sebagai instrumen utama, sehingga kualitas hasil penelitian sangat tergantung pada keterampilan peneliti.
    • Pengembangan (R & D): Penelitian yang menekankan pada pengembangan produk yang melibatkan adaptasi. Hasilnya untuk merancang produk baru yang melewati proses pengujian dan evaluasi agar bisa disempurnakan sesuai dengan kriteria tertentu.
    • Evaluatif: Penelitian ini bertujuan mencari kelemahan dalam pelaksanaan kebijakan. Baik oleh lembaga pemerintah, organisasi internasional, dan lainnya.
    • Analisis Isi: Kajian mendalam terhadap konten informasi, baik tertulis maupun visual, seperti analisis media sosial.
    • Campuran: Kombinasi penelitian kualitatif dan kuantitatif yang menggabungkan pendekatan dan metode dari kedua jenis penelitian dalam satu studi.

    Ketentuan dan Syarat Disertasi

    Menulis karya ilmiah jenis ini melibatkan beberapa ketentuan, mengingat sifatnya yang sangat penting untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Berikut ketentuan lengkapnya:

    • Dasar Teoritis yang Kuat: Karya ilmiah ini harus berdasar pada kajian teoritis yang mendalam, serta mendapatkan dukungan fakta empiris yang kuat.
    • Kemandirian Penulis: Berbeda dengan skripsi atau tesis yang melibatkan banyak bimbingan dosen, penulisan membutuhkan tingkat kemandirian yang tinggi dengan peran dosen pembimbing yang lebih terbatas.
    • Bobot Ilmiah yang Signifikan: Harus memiliki bobot ilmiah yang tinggi, termasuk dalam hal teori, referensi, penelitian, dan lainnya.
    • Penemuan Baru: Menuntut penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan yang relevan. Serta berkontribusi pada perkembangan pengetahuan di masa depan.
    • Pemaparan Analitis: Penyajiannya harus analitis, yakni menekankan pada analisis mendalam dan informatif. 
    • Penggunaan Model Analitis yang Tinggi: Model analisisnya harus tingkat tinggi, menunjukkan tingkat kecermatan dan ketelitian dalam analisis.
    • Banyaknya Rumusan Masalah: Penulisan disertasi melibatkan lebih dari tiga rumusan masalah.
    • Metode Statistik yang Kompleks: Metode dan uji statistik yang digunakan harus lebih kompleks dan substansial, sesuai dengan tujuan menciptakan teori yang mendalam.
    • Orisinalitas Wajib: Semua tulisannya harus orisinal, bukan hasil plagiat.
    • Penemuan Baru yang Signifikan: Harus menghasilkan penemuan baru yang berarti dalam bidang studi yang relevan.
    • Publikasi di Jurnal Nasional dan Internasional: Hasilnya harus dipublikasikan dalam jurnal, baik nasional maupun internasional.
    • Jumlah Rujukan Minimal 60: Dalam karya ilmiah ini minimal harus memiliki 60 referensi tidak boleh kurang.
    • Penggunaan Metode Kuantitatif: Metode yang digunakan dalam karya ilmiah ini bersifat kuantitatif dengan penggunaan perangkat lunak seperti Eview, Amos, SPSS, Lisrel, dan sejenisnya.

    Tujuan Disertasi

    Ilustrasi Kelulusan
    Ilustrasi Kelulusan | Sumber Gambar: Pexels

    Penulisan dan penyusunan karya ilmiah ini memiliki beberapa tujuan, yakni:

    • Sebagai persyaratan akhir untuk menyelesaikan program S3 atau memenuhi syarat kelulusan.
    • Karya ilmiah mahasiswa yang tidak hanya mencerminkan proses mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan, tetapi juga mencerminkan seluruh rangkaian aktivitas dalam proses penelitian. 
    • Topik penelitian dalam disertasi dapat mengembangkan pengetahuan dalam bidang ilmu yang dipilih.
    • Penelitian ini seringkali memberikan kontribusi baru yang signifikan.
    • Karya ilmiah ini mendorong mahasiswa untuk lebih mendalam dalam studi yang telah mereka tekuni.
    • Menguji kemampuan peneliti secara mandiri. Di luar pengetahuan yang mahasiswa peroleh selama kuliah dengan hasil yang membantu menentukan nilai akhir mereka.

    Cara Membuat Disertasi

    Ilustrasi Disertasi
    Ilustrasi Disertasi | Sumber Gambar: czechuniversities

    Secara umum, mirip dengan tesis dan skripsi, karya ilmiah ini memiliki struktur yang terdiri dari lima bab yang bisa Anda jadikan acuan saat membuatnya, yaitu:

    1. Pendahuluan

    Merupakan bagian awal yang mencakup beberapa hal. Meliputi pertanyaan penelitian, latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

    2. Tinjauan Literatur

    Bagian ini berfokus pada kritik dan sintesis literatur terbaru dalam bidang penelitian. Pengambilan teori-teori yang relevan berasal dari berbagai sumber. Contohnya adalah jurnal ilmiah, buku teks, laporan penelitian makalah, dan publikasi resmi.

    3. Metodologi

    Bagian disertasi ini akan ada penjelasan secara rinci mengenai prosedur dan metode untuk pengumpulan serta analisis data. Hal tersebut mencakup aspek seperti lokasi dan waktu penelitian, desain penelitian, populasi, sampel, teknik pengumpulan data, analisis data, dan prosedur penelitian.

    4. Analisis

    Bagian ini membahas hasil analisis data setelah penelitian dilakukan. Mahasiswa menganalisis data, menginterpretasikan, dan membandingkannya dengan literatur yang relevan. Selain itu, analisis mungkin juga menyoroti potensi penelitian di masa depan.

    5. Kesimpulan, Implikasi, dan Saran

    Bagian akhir ini memberikan rangkuman hasil penelitian, implikasi dari temuan, dan saran untuk penelitian selanjutnya. Hal tersebut merupakan langkah terakhir dalam penyusunan karya ilmiah.

    Sudah Paham Apa Itu Disertasi dan Cara Membuatnya?

    Sekarang, setelah Anda sudah memahami esensi disertasi dan langkah-langkah untuk membuatnya, tidak ada alasan lagi untuk merasa bingung atau takut. Intinya, karya ilmiah ini adalah tonggak prestasi akademik yang berharga. Tentu saja akan menjadi suatu kebanggan jika Anda mampu menyelesaikannya dengan maksimal.

    Sebagai catatan ketika akan menulis, sebaiknya tentukan topik yang paling relevan dan cocok untuk Anda. Pastikan penggunaan bahasanya sudah benar dan hindari kata tidak baku. Selain itu, tetap perhatikan format dari universitas masing-masing, karena umumnya akan berbeda-beda. Semoga bermanfaat!

  • Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Pada dunia akademik, khususnya di perguruan tinggi, setiap mahasiswa diharuskan untuk menyelesaikan tesis sebagai suatu syarat utama kelulusan. Lalu, apa sebenarnya tesis itu dan bagaimana cara penulisannya yang baik? Mari simak penjelasan lebih lengkap lewat ulasan berikut ini!

    Apa itu Tesis?

    Mahasiswa
    Mahasiswa | Sumber gambar: Jasper

    Tesis atau thesis merupakan sebuah karya ilmiah dalam bentuk tulisan terstruktur dan berlaku sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa tingkat magister atau S2. Apabila pada jenjang sarjana atau S1 kita banyak mengenal tentang skripsi, thesis merupakan hal yang sama namun pada jenjang yang berbeda.

    Umumnya, thesis memiliki kedalaman pembahasan dan studi yang lebih kompleks dari pada skripsi. Di universitas luar negeri, istilah tersebut juga dikenal sebagai syarat kelulusan tingkat sarjana atau bachelor yang umumnya dikenal sebagai bachelor thesis. 

    Adanya suatu tulisan ilmiah ini pastinya telah melewati serangkaian penelitian, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Karya ilmiah ini dapat berupa sebuah studi literatur, studi empiris, studi teoritis, maupun studi kasus yang telah terbukti kebenaran dan dasar ilmunya.

    Selanjutnya, hasil penulisan karya ilmiah oleh mahasiswa yang bersangkutan akan dipresentasikan melalui sidang terbuka. Di mana akan terdapat dosen pembimbing, dosen penguji, serta beberapa audiens. Hal tersebut berlaku untuk menguji kebenaran dari penelitian.

    Berbagai Macam Bentuk Tesis

    Tumpukkan Karya Ilmiah
    Tumpukkan Karya Ilmiah | Sumber gambar: Unsplash

    Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa ada berbagai macam jenis thesis yang bisa mahasiswa tingkat magister susun. Semua bentuk karya ilmiah tersebut bersifat sah. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

    1. Studi Empiris

    Jenis tesis pertama adalah dalam bentuk studi empiris. Studi empiris ini dilakukan dengan mengambil data kuantitatif dari sebuah penelitian. Penelitian tersebut dapat Anda lakukan di laboratorium maupun lapangan. Data yang Anda peroleh selanjutnya dapat Anda olah secara statistika untuk menghasilkan kesimpulan.

    Semua bidang keilmuan dapat membuat jenis karya ilmiah ini. Namun, rata-rata bidang keilmuan sains dan teknik pasti menggunakan studi empiris dalam penyelesaian tesisnya. Dalam melakukan studi empiris, Anda harus sangat memperhatikan objek penelitian dengan baik dan benar.

    2. Studi Kasus

    Jenis tesis selanjutnya adalah studi kasus. Studi kasus dapat Anda lakukan apabila terjadi sebuah kasus tertentu yang membutuhkan penyelesaian secara ilmiah. Umumnya, bidang keilmuan yang menggunakan jenis karya ilmiah ini adalah sosial dan humaniora.

    Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa bidang keilmuan sains dan teknologi juga bisa mengambil jenis karya ilmiah ini. Satu hal yang penting dalam jenis studi kasus adalah bahwa kasus yang menjadi topik merupakan kasus baru dan belum memiliki pemecahan masalah.

    3. Kuantitatif

    Jenis tesis yang satu ini akan menekankan pada pengumpulan dan analisis data berbentuk angka yang bisa Anda ukur secara langsung. 

    Jadi, penulis karya ilmiah harus bisa memastikan bahwa data yang ada bisa terukur dan teranalisis secara objektif. Salah satu contoh metodologi yang banyak peneliti gunakan adalah analisis regresi.

    4. Kualitatif

    Selain menggunakan berbagai data berupa angka yang akurat, nyatanya karya ilmiah juga bisa Anda lakukan tanpa data berupa angka. Jenis inilah yang dapat Anda sebut dengan penelitian kualitatif. Umumnya, penelitian kualitatif dapat Anda lakukan dengan wawancara langsung kepada objek.

    Dengan penelitian kualitatif, Anda tidak perlu mengolah data secara statistika. Namun, kelemahannya terletak pada kesimpulan data penelitian. Karena banyaknya argumen, peneliti cenderung kesulitan untuk menyimpulkan suatu data pada penelitian kualitatif.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Mengenal Karakteristik Tesis

    Kumpulan Dokumen
    Kumpulan Dokumen | Sumber gambar: Unsplash

    Tak seperti tulisan lainnya, karya ilmiah ini memiliki berbagai karakteristik tersendiri yang membuat tulisannya memiliki ciri khas yang unik.  Berikut ini adalah beberapa ciri atau karakteristik dari sebuah thesis:

    • Memiliki satu topik yang sangat fokus pada bidang keilmuan tertentu. Kajiannya pun dilakukan secara mendalam
    • Pada karya ilmiah ini, terdapat acuan pustaka ilmiah yang jumlahnya tidak sedikit, yaitu sekitar 60 acuan pustaka dengan topik yang sama.
    • Menggunakan data primer sebagai data utama yang akan diolah. Sedangkan data sekunder akan berguna sebagai pembanding.
    • Memiliki tata tulisan yang sistematis serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan KBBI.

    Cara Penyusunan dan Penulisan Tesis

    Setelah Anda mengetahui pengertian, bentuk, hingga karakteristik dari karya ilmiah ini. Maka, kini saatnya Anda mengetahui bagaimana cara penulisannya yang baik dan benar. Berikut adalah beberapa tahapan dan bagian di dalamnya:

    1. Pendahuluan dan Latar Belakang

    Tahap penyusunan yang pertama adalah menuliskan pendahuluan dan latar belakang. Pada tahapan ini, Anda harus memaparkan alasan yang kuat mengapa penelitian ini harus Anda lakukan. Berikan bukti berupa data yang akurat dan dari sumber yang terpercaya.

    Selain latar belakang, pada bagian ini paparkan juga rumusan masalah serta tujuan penelitian yang Anda lakukan. Tidak perlu berbelit dan terlalu banyak, satu lembar saja cukup untuk menjelaskan latar belakang penelitian Anda.

    2. Tinjauan Pustaka

    Setelah menuliskan latar belakang, tahap penulisan tesis selanjutnya adalah menuliskan tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka sendiri merupakan dasar ilmu yang akan Anda gunakan sebagai bahan dalam melakukan penelitian ini. Uraikan tinjauan pustaka berdasarkan judul yang Anda buat.

    3. Metode Penelitian

    Tahap selanjutnya adalah melakukan penulisan metode penelitian. Metode penelitian dalam karya ilmiah sendiri dapat Anda pilih adalah kuantitatif atau kualitatif. Bagi bidang keilmuan sains, uraikan juga bagaimana cara menganalisa suatu objek berdasarkan literatur yang Anda peroleh.

    Uraikan secara rinci metode penelitian yang Anda lakukan, jika memungkinkan buat juga diagram alir penelitian. Selain itu, Anda juga perlu membuat rancangan variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    4. Hasil Penelitian

    Setelah menuliskan metode penelitian, maka selanjutnya Anda akan melaksanakan penelitian. Tuliskan hasil penelitian Anda secara rapi dan rinci. Anda dapat menggunakan bantuan diagram batang, tabel, hingga analisa data menggunakan aplikasi statistika.

    5. Pembahasan

    Setelah mendapatkan data hasil penelitian, maka tugas Anda selanjutnya adalah membuat pembahasan dari data yang Anda peroleh. Pada tesis sendiri, pembahasan yang Anda lakukan harus mendalam mengingat jenjang pendidikan yang memang lebih tinggi.

    Dalam pembahasan, Anda juga bisa membuat sub bab sesuai kebutuhan. Uraikan pembahasan secara sistematis dan buat sub-bab sesuai dengan objek dan variabel yang Anda teliti. Dalam pembahasan, lampirkan juga catatan kaki sebagai referensi keilmuan Anda dalam menuliskan pembahasan.

    6. Kesimpulan dan Saran

    Selanjutnya adalah bab kesimpulan juga saran. Pada bagian kesimpulan, Anda bisa cantumkan setiap hasil penelitian secara singkat dan padat. 

    Sedangkan di bagian saran, Anda bisa memberikan saran teoritis. Maksudnya, Anda memberi saran mengenai apa yang sebaiknya dikaji kembali demi pengembangan ilmu. Berikan pula saran praktis untuk penerapan ilmu yang nyata.

    7. Daftar Pustaka

    Tahap terakhir, yaitu adalah penulisan daftar pustaka. Penulisan daftar pustaka ini sangatlah penting untuk mengetahui berbagai referensi yang Anda rujuk. Penulisan daftar pustaka yang sesuai dengan standar tergolong cukup rumit. Anda harus mengurutkan sesuai abjad hingga menuliskan jurnal penerbitnya.

    Namun, tidak usah khawatir lagi karena ada aplikasi yang akan membantu Anda untuk menuliskan sitasi atau catatan kaki hingga menuliskan daftar pustaka secara otomatis. Aplikasi tersebut adalah Mendeley. Anda bisa mengunduh aplikasi ini di internet secara gratis.

    Sudah Siap untuk Menyusun Tesis Anda Sendiri?

    Berikut tadi adalah penjelasan lengkap mengenai pengertian hingga cara penulisan tesis yang baik dan benar. Karena menjadi salah satu persyaratan kelulusan untuk meraih gelar magister, tentu penulisannya tidak akan mudah dan membutuhkan banyak pemahaman.

    Karena itu, Anda sebaiknya banyak membaca literatur ilmiah sebagai referensi untuk mempermudah proses penyusunan. Anda juga harus memperhatikan setiap bagian atau aspek umum karya ilmiah agar isinya lengkap. Ini meliputi lembar pengesahan, kata pengantar, hingga lampiran. Semoga bermanfaat!