Category: Penelitian

  • Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Penelitian merupakan salah satu pondasi dalam mengembangkan pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan. Selain itu, penelitian bertujuan untuk mencari solusi dari permasalahan yang muncul. Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian yang bervariasi, tergantung pada tujuan dan metodenya.

    Dalam artikel ini, akan dibahas beberapa jenis penelitian yang umum digunakan pada berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian, Anda dapat memilih jenis penelitian sesuai permasalahan yang ditemukan.

    Jenis-Jenis Penelitian

    Penelitian Campuran
    Penelitian Campuran | Sumber gambar: Pexels.com

    Berikut ini adalah jenis-jenis penelitian yang sering dilakukan dalam berbagai bidang ilmu dan disiplin ilmu. Perbedaan masing-masing jenis penelitian ini terdapat pada metode, tujuan, hingga pendekatannya. Berikut 5 jenis penelitian yang bisa Anda pelajari, yaitu:

    1. Penelitian Kuantitatif

    Jenis-jenis penelitian yang pertama adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang menekankan pada pengumpulan dan analisis data dalam bentuk angka atau variabel-variabel yang dapat terukur secara kuantitatif. 

    Pengukuran ini biasanya menggunakan teknik statistik, matematika, dan komputasi. Dalam konteks penelitian kuantitatif, fokus utama peneliti adalah untuk mengukur serta mengenali korelasi antara variabel-variabel tertentu. 

    Selain itu, peneliti juga harus melakukan pengujian terhadap hipotesis dan membuat kesimpulan terkait populasi berdasarkan data yang telah terkumpul.

    Tujuan dari penelitian kuantitatif untuk menguji dan membuktikan hipotesis sehingga peneliti akan mengetahui kebenaran dari hipotesis. Hipotesis ini nantinya yang akan menjawab pertanyaan dari permasalahan yang sedang peneliti cari.

    2. Penelitian Kualitatif

    Berbeda dengan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif tidak membutuhkan analisis data dalam bentuk angka untuk menguji hipotesis.

    Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang lebih menitikberatkan pada pemahaman mendalam dan memiliki sifat deskriptif. Dalam jenis penelitian ini, peneliti terlibat langsung dalam peristiwa atau situasi yang sedang terjadi. 

    Selain itu, peneliti juga perlu melakukan analisis yang mendalam selama pelaksanaan penelitian sebagai salah satu proses dalam menggali temuan penelitian. Biasanya, peneliti akan menggunakan berbagai teknik dalam mengumpulkan data penelitian. 

    Teknik pengumpulan data pada penelitian kualitatif dapat berupa wawancara, observasi atau pengamatan, survei, Focus Group Discussion (FGD), dan lain sebagainya. 

    3. Penelitian Eksperimen

    Jenis penelitian selanjutnya yakni penelitian eksperimen. Peneliti biasa menggunakan penelitian ini untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dari dua variabel atau lebih. 

    Pada penelitian eksperimen, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pengaruh suatu perlakuan terhadap sebuah variabel.

    Selanjutnya, peneliti akan membandingkan hasilnya dengan variabel lain yang telah menerima perlakuan atau tindakan yang berbeda. 

    Oleh karena itu, peneliti harus menyediakan dua kelompok penelitian yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pendekatan ini berguna untuk menentukan apakah ada hubungan sebab-akibat antara variabel-variabel tersebut.

    4. Penelitian Campuran (Mixed)

    Jenis-jenis penelitian selanjutnya adalah penelitian campuran atau penelitian mixed-method. Penelitian campuran menggunakan dua jenis penelitian yang berbeda untuk digunakan dalam satu penelitian sekaligus. 

    Penggunaan dua jenis penelitian dianggap akan lebih lengkap untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Penelitian campuran melibatkan penggabungan dua jenis penelitian yakni penelitian kuantitatif dan kualitatif, termasuk metode penelitianya. 

    Metode penelitian mencakup pengumpulan data kuantitatif dalam bentuk korelasi, eksperimen atau lainnya dan pengumpulan data kualitatif, seperti wawancara dan observasi.

    Peneliti menggunakan penelitian campuran ini tidak serta merta karena jenis penelitian lain tidak cukup dalam menjawab permasalahan. Namun, ada beberapa alasan dari peneliti dalam menggunakan penelitian campuran ini sebagai berikut.

    • Mendapatkan hasil yang lengkap dan kompleks.
    • Memahami berbagai permasalahan penelitian yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan penelitian kualitatif atau kuantitatif saja.
    • Mengeksplorasi pandangan sampel secara kualitatif serta mengembangkannya pada populasi dengan cara kuantitatif.

    5. Penelitian Deskriptif

    Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang berfokus pada penggambaran karakteristik dari suatu populasi atau fenomena yang menjadi fokus penelitian. 

    Metode penelitian deskriptif lebih menekankan pada penyajian deskripsi dan menjelaskan secara rinci objek penelitian.

    Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan, menganalisis, dan menjelaskan tentang suatu peristiwa atau fenomena yang diamati. 

    Penelitian deskriptif biasanya menjadi tahap awal dalam upaya untuk lebih memahami suatu masalah sebelum dilakukan penelitian yang lebih mendalam atau penelitian eksperimen.

    5 Contoh Penelitian

    Contoh Penelitian Eksperimen
    Contoh Penelitian Eksperimen | Sumber gambar: Pexels.com)

    Setelah jenis-jenis penelitian di atas, berikut ini 5 contoh penelitian terbaru yang dapat membantu Anda memahami dan memberikan wawasan lebih lanjut terkait penelitian.

    1. Contoh Penelitian Kuantitatif

    Penelitian kuantitatif tentu menggunakan angka statistik dalam pengukurannya dan banyak digunakan pada berbagai bidang ilmu.

    Contoh penelitian kuantitatif dalam ilmu pendidikan, misalnya pengaruh metode pembelajaran yang efektif dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Seperti motivasi, gaya belajar, hasil belajar, dan minat belajar peserta didik.

    Kemudian contoh penelitian kuantitatif lain pada bidang kesehatan, misalnya pengaruh obat tertentu dalam mengurangi tekanan darah. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data terkait dengan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah mengkonsumsi obat. 

    2. Contoh Penelitian Kualitatif

    Banyak peneliti menggunakan penelitian kualitatif dalam berbagai ilmu seperti ilmu sosial atau ilmu alam. 

    Contoh dari penelitian kualitatif adalah seperti pada judul “Persepsi Remaja terhadap Isu Kesehatan Mental (Studi kasus SMA Negeri 1 Bandung)”. 

    Peneliti mengambil data dengan metode wawancara kepada beberapa sampel untuk memahami sudut pandang, pendapat, dan pengalaman mereka. 

    Setelah melalui proses analisis, peneliti dapat menyajikan data dalam bentuk informasi deskriptif beserta dengan teori-teori yang mendukung data tersebut.

    3. Contoh Penelitian Eksperimen

    Salah satu contoh jenis-jenis penelitian eksperimen yakni, perbandingan kinerja siswa dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris. 

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pola kinerja siswa di dua mata pelajaran tersebut serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil akademik siswa tersebut.

    Setelah pengumpulan data pada kelompok kontrol dan eksperimen, selanjutnya peneliti dapat menyajikan hasil penelitian eksperimen dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram. 

    Data eksperimen dapat disajikan dalam beberapa cara, tergantung pada jenis data dan tujuan presentasi.

    4. Contoh Penelitian Campuran (Mixed)

    Contoh dari penelitian campuran atau mixed adalah pengaruh Covid-19 terhadap cara mengajar guru menggunakan teknologi pembelajaran jarak jauh. 

    Peneliti dapat melakukan wawancara kepada guru untuk mengetahui dampak Covid-19 dengan metode penelitian kualitatif. 

    Di sisi lain, peneliti dapat melakukan survei melalui kuesioner kepada guru untuk mengetahui variabel apa saja yang berpengaruh dalam cara mengajar menggunakan metode penelitian kuantitatif. Kedua metode tersebut akan menjadi penelitian campuran (mixed).

    5. Contoh Penelitian Deskriptif

    Contoh dari penelitian deskriptif adalah penggunaan media sosial dan kesejahteraan psikologis remaja. 

    Peneliti dapat melakukan serangkaian wawancara kepada beberapa sampel dari remaja, kemudian melakukan survei kepada sampel yang lebih besar secara online.

    Baca Juga : Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Sudah Tahu Jenis-Jenis Penelitian dan Contoh Lengkapnya?

    Itulah tadi pembahasan terkait dengan beberapa jenis-jenis penelitian serta contoh penelitiannya. Pada dasarnya, masing-masing jenis penelitian memiliki ciri-ciri dan pendekatan yang berbeda-beda. Anda dapat menyesuaikannya dengan tujuan, metode, dan pendekatan yang berguna dalam penelitian yang akan dilakukan.

  • Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Penelitian merupakan proses untuk mengetahui suatu pemahaman baru atau fakta tertentu yang dilakukan secara sistematis dengan beberapa tahapan. Di mana dalamnya harus disertai dengan langkah-langkah konkrit sehingga membutuhkan metodologi penelitian. Lantas, apa saja jenis hingga tujuan metodologi tersebut?

    Apa itu Metodologi Penelitian?

    Penelitian adalah sebuah proses untuk memecahkan suatu permasalahan secara ilmiah atau untuk mengembangkan atau menguji teori baru. Hal tersebut sudah sering dilakukan untuk mengkaji suatu permasalahan tertentu dan dilakukan dalam berbagai bidang keilmuan untuk memberikan bukti secara ilmiah. 

    Tanda tanya awal dalam penelitian sendiri ada pada rumusan masalah yang fungsinya adalah untuk menentukan fokus penelitian ini akan mengarah ke mana. Penerapannya akan mempengaruhi pemilihan topik penelitian, batasan penelitian, sampai dengan penentuan metode penelitian. 

    Mengutip dari kamus besar bahasa indonesia (KBBI), metodologi memiliki arti ilmu tentang metode atau uraian tentang metode. Sehingga, metodologi penelitian dapat didefinisikan sebagai cara yang harus peneliti lakukan dalam mengumpulkan, mengolah, dan menganalisa data yang sudah didapatkan.

    Pentingnya memahami metodologi sebelum melakukan penelitian adalah untuk memudahkan melihat alur atau tahapan-tahapan yang perlu dilakukan secara runtut. Tujuannya untuk mendapatkan data secara maksimal dan mendapat fakta-fakta baru saat proses penelitian. 

    Jenis Metodologi Penelitian

    Penelitian
    (Penelitian | Sumber gambar: Freepik.com)

    Metode penelitian adalah cara untuk mengembangkan suatu data, sehingga jenisnya juga berbeda-beda. Penentuannya berdasarkan dari jenis analisis, permasalahan, teknik pengumpulan data, atau dari tujuannya. Berikut adalah beberapa jenis metodologi yang sering peneliti gunakan:

    1. Metode Penelitian Kuantitatif

    Metode kuantitatif identik dengan penelitian yang banyak melibatkan perhitungan. Pendekatan ini bersifat matematis karena akan menganalisis data dalam bentuk angka dengan instrumen analisa statistik. 

    Metodologi penelitian ini lebih objektif daripada kualitatif karena menggunakan logika positivistik. Untuk pendekatannya juga lebih berorientasi pada hasil. Sehingga, dalam penelitian kuantitatif lebih condong pada pertanyaan “apa” yang mengarah langsung pada subjek penelitian. 

    Dalam penelitian kuantitatif ada dua pendekatan yang sering peneliti gunakan, yaitu:

    1. Metode Survei

    Pendekatan dengan metode survei berguna untuk mendapatkan data yang peneliti lakukan secara sistematis. Beberapa tahapan dalam metode ini adalah mengidentifikasi variabel, memilih sampel, mengembangkan alat penelitian. Serta dengan pelaksanaan survei untuk mengumpulkan data dari hasil wawancara atau kuesioner. 

    2. Metode Eksperimen 

    Metode eksperimen dalam penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji hipotesis. Serta untuk melihat bagaimana hubungan antar variabel dalam kondisi terkontrol. Hal tersebut untuk melihat apakah dua variabel atau lebih saling mempengaruhi. 

    2. Metode Penelitian Kualitatif 

    Jenis metodologi penelitian ini banyak ditemukan pada ranah ilmu sosial karena metode ini menitikberatkan penelitian pada pengamatan fenomena. Analisis mendalam dan ketajaman penelitian kualitatif terdapat pada penggunaan diksi dan susunan kalimat yang peneliti gunakan. 

    Pada prinsipnya, metode kualitatif akan menggunakan interview dan observasi mendalam untuk mencari makna yang substansial. Perolehan data merupakan analisis hasil riset dalam bentuk wawancara, poling, atau pengisian kuesioner. Selain itu, ini juga dapat berbentuk narasi dari catatan lapangan atau dokumen pribadi. 

    Jika dalam kualitatif lebih fokus pada pertanyaan “apa”, maka dalam kualitatif pertanyaan akan mengarah pada “mengapa” untuk lebih melihat pada bagaimana suatu fenomena bisa terjadi. Ini terjadi karena metode penelitian kualitatif lebih berorientasi pada proses. 

    Nah, berikut adalah beberapa pendekatan penelitian yang termasuk dalam jenis kualitatif:

    1. Metode Fenomenologi

    Beberapa orang menganggap fenomenologi sebagai perspektif filosofis. Metode ini akan menekankan fokus pada pengalaman yang subjektif. Secara sederhana, peneliti yang menggunakan metode ini ingin mengetahui bagaimana orang lain melihat dunia.

    2. Metode Etnografi

    Ini adalah rancangan penelitian dari ilmu sosiologi dan antropologi. Di mana peneliti akan melihat pola perilaku, tindakan, dan bahasa dari kelompok kebudayaan dalam waktu cukup lama. Pendekatan yang umum peneliti gunakan adalah observasi partisipatif. Peneliti akan aktif dan mencatat semua yang ada di lapangan.

    3. Metode Penelitian Campuran 

    Metode campuran atau mixed method adalah di mana seorang peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian. Jadi, sumber data pada metodologi penelitian ini tidak tunggal. Ini sebenarnya merupakan strategi untuk melengkapi kekurangan dalam satu pendekatan. 

    Data merupakan kombinasi angka statistik dan data dengan bentuk teks atau narasi. Sehingga, peneliti bisa menciptakan hasil penelitian yang lebih menyeluruh dengan memanfaatkan kedalaman setiap metode. 

    Kelebihan dari metode penelitian ini adalah dapat memberikan data lebih lengkap. Serta dapat menjawab pertanyaan yang tidak terselesaikan dengan satu metode saja. 

    Manfaat Metodologi Penelitian

     Ilustrasi Penelitian
    (Ilustrasi Penelitian | Sumber gambar: Freepik.com) 

    Kegiatan penelitian akan membutuhkan pendekatan yang tepat. Selain untuk mengarahkan proses, metode tepat juga dapat memaksimalkan hasil penelitian. Nah, berikut adalah beberapa manfaat penerapan metode dalam penelitian:

    1. Memudahkan Proses Penelitian

    Metode akan sangat mempengaruhi bagaimana sebuah proses penelitian berjalan. Ini karena dengan penerapan metode peneliti dapat memprediksi resiko kesalahan yang bisa terjadi selam penelitian. 

    Jadi, peneliti dapat membuat langkah yang lebih matang dengan keputusan yang lebih baik untuk meminimalisir kendala selama kegiatan penelitian. 

    2. Membuat Alur Penelitian Lebih Terarah

    Penerapan metodologi penelitian akan menjadi panduan yang memudahkan selama proses penelitian. Sebab, cakupan dalam sebuah penelitian mengandung banyak sekali komponen.

    Jadi, menerapkan metode akan membuat peneliti lebih jelas dalam melakukan tahapan terkait dengan pengumpulan dan pengolahan sampai dengan analisis data. Metode penelitian yang terperinci dapat membantu peneliti menetapkan batasan-batasan dalam penelitian. 

    Apalagi peneliti bisa terlibat dalam berbagai aspek yang terkadang meluas. Sehingga, adanya metodologi dapat membuat peneliti lebih fokus terhadap penetapan rumusan permasalahan yang sudah ada di awal. Lalu, proses penelitian tetap bisa runtut dan jelas sampai dengan hasil akhirnya. 

    3. Mempertajam Hasil Penelitian

    Hal yang paling krusial dalam penelitian adalah bagaimana hasil dari pengolahan dan analisis data selama kegiatan berlangsung. Hasil dari penelitian akan mempresentasikan bagaimana kekurangan dan kelebihan implementasi elemen-elemen dari segala aspek.

    Umumnya, aspek tersebut mencakup bagaimana pemilihan sampel, penggunaan instrumen, sampai dengan validasi hasil.

    Semakin lengkap data yang terkumpul dengan pemilihan metode yang tepat, tentu akan berpengaruh besar pada ketajaman analisis dan hasil penelitian. Jadi, penerapan metode juga akan membantu dalam validasi hasil untuk menguji keabsahan temuan dalam penelitian. 

    Tujuan Metodologi Penelitian

    Ilustrasi Ilmu Pengetahuan
    Ilustrasi Ilmu Pengetahuan | Sumber gambar: Pexels

    Bagi para peneliti yang pasti sudah tidak asing lagi dengan penerapan metodologi. Nah, untuk mengenalnya lebih jauh, di bawah ini adalah tujuan dari metodologi yang wajib untuk kamu ketahui:

    1. Tujuan Secara Umum

    Ada beberapa tujuan metodologi secara umum, tiga di antaranya yaitu:

    1. Mengetahui Penemuan Baru

    Kegiatan penelitian seringkali berangkat dari rasa ingin tahu. Oleh karena itu, tujuan penelitian biasanya adalah untuk menggali pengetahuan baru dengan berbekal ilmu atau penemuan yang sudah ada dari penelitian sebelumnya. 

    2. Membuktikan Kebenaran

    Rasa ingin tahu ini juga dapat muncul dari penelitian sebelumnya. Sehingga, ada kepentingan atau keinginan yang membuat seorang peneliti menguji kebenaran penelitian yang sudah ada. Hal tersebut bertujuan untuk memvalidasi hasil dari penelitian.

    3. Mengembangkan Penelitian

    Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan juga harus mengalami pertumbuhan. Sehingga, akan ada pembaruan ilmu atau penemuan dalam berbagai ranah. Ini penting agar ilmu pengetahuan tetap relevan dengan peristiwa dan agar lebih mudah pembaca pahami.

    2. Tujuan Secara Teoritis

    Tujuan teoritis dari metodologi penelitian akan menitikberatkan pada penemuan teori baru atau pengembangan teori yang sudah ada. Karena merupakan proses pengkajian, implementasi teori ini tidak bisa langsung secara praktis dan membutuhkan penelitian lanjutan. 

    Dalam penelitian, tujuan teoritis juga berfungsi untuk melihat atau memahami pola suatu permasalahan. Nantinya, ini akan berperan untuk analisis perubahan dalam berbagai ranah. Seperti sosial, kebudayaan, politik, dan pendidikan yang hasilnya dapat berguna untuk penentuan kebijakan atau pengembangan perencanaan ke depan. 

    3. Tujuan Secara Praktis

    Tujuan praktis dalam penelitian adalah suatu upaya dalam mencari pengetahuan atau penemuan yang implementasinya bisa langsung secara nyata. Umumnya, tujuan praktis akan mencakup beberapa hal lain, yaitu tujuan eksploratif, verifikatif, dan pengembangan.

    Baca Juga : Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Sudah Tahu Apa itu Metodologi Penelitian?

    Metodologi penelitian memiliki cakupan yang sangat luas dan peneliti memiliki kebebasan dalam menentukan pendekatan mana yang paling sesuai. Hal terpenting adalah pemahaman akan rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian harus jelas. 

    Dalam penerapannya, kamu harus mengenali karakter penelitian dan lakukan pengkajian pada penelitian sejenis. Penentuan metode juga bisa tergantung pada waktu. Jika waktunya terbatas, tidak mungkin kamu memilih metode etnografi yang umumnya membutuhkan waktu cukup lama. 

    Selain itu, kamu juga harus mengenali karakter penelitian untuk menjaga kredibilitas penelitian agar menjadi karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga, hasil penelitian juga akan memberikan manfaat untuk pembaca dan memajukan ilmu pengetahuan.

  • Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    Penting untuk memperhatikan berbagai komponen dalam penyusunan karya tulis ilmiah karena harus terstruktur dan sistematis. Setiap peneliti juga harus mampu memahami dan mengidentifikasi semua komponen sebelum memulai penelitian. Variabel penelitian adalah salah satu komponen penting dalam karya tulis ilmiah.

    Artikel ini akan membahasnya secara mendalam tentang variabel dalam penelitian. Yuk, simak dengan seksama!

    Pengertian Variabel Penelitian

    Ilustrasi Penelitian
    Ilustrasi Penelitian | Sumber: Freepik.com

    Variabel adalah konsep dalam penelitian yang menjadi fokus pengamatan dan analisis oleh seorang peneliti. Definisi lainnya dari variabel penelitian adalah alat untuk menguji hipotesis atau dugaan awal dengan tujuan memverifikasi korelasi antara teori dan realitas empiris dalam dunia nyata.

    Pengertian lainnya, variabel ini merupakan pengelompokan logis dari atribut-atribut objek dalam tahap analisis yang memiliki berbagai karakteristik atau nilai. Nantinya variabel inilah yang akan menjadi subjek perhatian penelitian.

    Penggunaan konsep variabel merupakan langkah awal yang fundamental dalam menentukan subjek dan ruang lingkup penelitian. Selain itu, variabel ini juga memiliki variasi atau berbagai jenis nilai yang menjadi fokus dalam sebuah penelitian.

    Menurut para ahli, beberapa definisi variabel dalam penelitian adalah sebagai berikut:

    • Suharsimi Arikunto (1988) mengatakan bahwa variabel penelitian adalah serangkaian gambaran objek dalam penelitian atau apa yang menjadi fokus perhatian dalam suatu penelitian.
    • Kerlinger (2006) mendefinisikannya sebagai konsep atau karakteristik yang akan dipelajari yang memiliki nilai yang beragam. Variabel juga bisa menjadi simbol atau nilai di mana kita dapat menetapkan berbagai nilai atau angka.
    • Freddy Rangkuti menjelaskan bahwa arti variabel dalam penelitian adalah suatu konsep yang memiliki nilai yang beragam. Klasifikasi nilai dari variabel tersebut ada empat tingkatan skala, yaitu rasio, ordinal, nominal, dan interval.
    • Sutrisno Hadi mendefinisikannya sebagai variasi dari objek penelitian. Misalnya ukuran tinggi manusia yang bisa bervariasi berdasarkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, atau lokasi tempat tinggal manusia tersebut.

    Baca Juga : Objek Penelitian: Macam, Prinsip, dan Cara Menentukannya

    Jenis-Jenis Variabel Penelitian

    Ilustrasi Hasil Penelitian
    Ilustrasi Hasil Penelitian | Sumber: Freepik.com

    Ada beberapa jenis variabel dalam pelaksanaan penelitian. Berikut beberapa di antaranya:

    1. Berdasarkan Sifatnya

    Terdapat dua kategori variabel penelitian berdasarkan sifatnya, yakni sebagai berikut:

    • Variabel Dinamis

    Variabel dinamis adalah jenis variabel yang memiliki potensi untuk mengalami perubahan dalam kondisi atau sifatnya. Jenis variabel ini memungkinkan peneliti untuk memanipulasinya demi mencapai tujuan tertentu.

    Contoh variabel dinamis mencakup prestasi belajar, kinerja pegawai, motivasi belajar, dan sebagainya.

    • Variabel Statis

    Variabel statis adalah jenis variabel yang bersifat tetap. Artinya, variabel ini tidak dapat berubah dalam hal keberadaan atau sifatnya. 

    Contoh variabel statis meliputi status sosial, lokasi tempat tinggal, jenis kelamin, dan lain sebagainya.

    2. Berdasarkan Hubungan Antar Variabel

    Variabel penelitian juga terbagi menjadi tiga bagian berdasarkan hubungan antar variabel. Adapun ketiga bagian tersebut yakni sebagai berikut:

    • Variabel Bebas

    Variabel bebas adalah variabel yang dapat memengaruhi variabel terikat. Peneliti dapat memanipulasi variabel ini untuk melihat apakah perubahan pada variabel bebas memengaruhi variabel terikat. Selain itu, variabel bebas tidak terpengaruh oleh variabel lain dalam percobaan.

    Contoh variabel bebas meliputi usia dan waktu. Tidak ada faktor lain yang memengaruhi perubahan usia atau waktu.

    • Variabel Terikat

    Variabel terikat merupakan apa yang diukur pada percobaan dan akan terpengaruh oleh variabel bebas. Jenis variabel ini nantinya akan merespons variabel bebas. 

    Contoh variabel terikat adalah detak jantung dalam studi yang mencoba mengukur variabel bebas pengaruh stres terhadap detak jantung.

    • Variabel Kontrol

    Variabel kontrol adalah variabel yang dijaga atau dikendalikan oleh peneliti selama percobaan. Jenis variabel ini tidak menjadi bagian dari variabel independen atau dependen, tetapi tetap memiliki peran penting karena dapat memengaruhi hasil eksperimen.

    Contoh variabel kontrol mencakup suhu, intensitas cahaya, jenis gelas yang digunakan untuk penelitian, kelembapan, dan durasi eksperimen.

    3. Berdasarkan Urgensi Faktual

    Ada dua bagian variabel penelitian berdasarkan urgensi faktualnya. Berikut ini adalah kedua variabelnya.

    • Variabel Konseptual

    Variabel konseptual adalah variabel yang tidak dapat diamati secara langsung karena terkait dengan konsep abstrak. Jenis variabel ini hanya dapat diukur melalui indikator-indikatornya.

    Contoh variabel konseptual termasuk bakat, kinerja, motivasi belajar, minat, dan sebagainya.

    • Variabel Faktual

    Variabel faktual adalah jenis variabel yang memiliki nilai atau sifat yang pasti. Jenis variabel ini berhubungan dengan data yang dapat diukur secara akurat.

    Contoh variabel faktual meliputi usia, asal sekolah, agama, pendidikan, jenis kelamin, dan sebagainya. 

    Kesalahan dalam data variabel faktual biasanya terjadi jika responden tidak memberikan informasi yang jujur.

    4. Berdasarkan Tipe Skala Pengukur

    Klasifikasi variabel penelitian juga dapat berdasarkan pada tipe skala pengukurnya. Berikut adalah beberapa di antaranya:

    • Variabel Nominal

    Variabel nominal adalah variabel yang dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori tertentu. Karena memiliki sedikit kategori, variabel nominal memiliki variasi yang terbatas. 

    Contoh-contoh variabel ini termasuk jenis kelamin, agama, suku bangsa, dan sejenisnya.

    • Variabel Kontinu

    Variabel kontinu merupakan variabel yang memiliki tingkat atau skala. Dalam kategori ini, terdapat jenis variabel lainnya, seperti variabel ordinal, variabel interval, dan variabel rasio.

    Variabel ordinal memiliki tingkat atau urutan tertentu, contohnya peringkat atau skor dalam suatu kejuaraan. Sementara itu, variabel Interval memiliki jarak atau skala yang tetap, contohnya skala penilaian siswa.

    Kemudian, variabel rasio adalah variabel yang menunjukkan adanya perbandingan, contohnya berat badan dari dua orang adalah 40 dan 80 kg. Variabel tersebut mengindikasikan bahwa orang pertama memiliki berat badan setengah dari orang kedua.

    5. Berdasarkan Jenis Penelitiannya

    Terdapat dua bagian variabel penelitian berdasarkan jenis penelitiannya, yakni variabel kualitatif dan variabel kuantitatif.

    • Variabel Kualitatif

    Variabel kualitatif mencakup kualitas yang tidak dapat diukur dengan angka dari suatu kelompok atau populasi. Jenis variabel ini sering terkait dengan atribut fisik dari sekelompok individu.

    • Variabel Kuantitatif

    Variabel kuantitatif adalah variabel yang diwakili oleh nilai numerik (angka). Oleh karena itu, variabel ini dapat diukur dan memerlukan operasi dan perhitungan matematis.

    Contoh Penerapan Variabel Penelitian

    Ilustrasi Data Penelitian
    Ilustrasi Data Penelitian | Sumber: Freepik.com

    Ada banyak contoh penerapan variabel dalam penelitian. Ini dapat mencakup tentang status sosial ekonomi, prestasi akademik, atau sikap terhadap sekolah. Selain itu, variabel juga bisa mencakup aspek-aspek dalam sistem pendidikan, seperti program konseling atau metode pengajaran.

    Berikut ini adalah contoh penerapannya: Seorang peneliti memiliki minat dalam menjelajahi isu terkait tingkat melek huruf yang rendah. Namun, penting untuk mengetahui bahwa topik literasi memiliki cakupan yang sangat luas.

    Oleh karena itu, dalam banyak kasus, peneliti harus melakukan penjelasan lebih rinci untuk mengidentifikasi variabel-variabel utama yang terkait dengan konsep literasi tersebut.

    Ini mencakup aspek-aspek khusus literasi seperti kemampuan membaca dengan lancar, pemahaman isi bacaan, penguasaan kosakata, minat dalam membaca, dan faktor lain yang relevan.

    Sebaliknya, jika seorang peneliti tertarik pada motivasi, pertanyaannya bisa didapat dari berbagai aspek motivasi yang ada. Misalnya seperti motivasi eksternal, tujuan, atau kebutuhan akan pencapaian. Selanjutnya, tinggal tentukan mana yang akan menjadi fokus penelitian.

    Merujuk pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan dalam topik yang sama dapat membantu dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang paling relevan dan signifikan.

    Identifikasi variabel utama penting karena beberapa alasan:

    • Memberikan fokus dalam Pendahuluan, yaitu mengarahkan perhatian pembaca pada aspek utama penelitian.
    • Berfungsi sebagai kata kunci saat mencari literatur dalam Tinjauan Pustaka.
    • Menentukan konsep yang harus didefinisikan secara operasional dalam Definisi Istilah Operasional.
    • Memengaruhi pengembangan metode penelitian dan instrumen pengukuran untuk memastikan validitas hasil penelitian.

    Ciri-ciri dari Variabel Penelitian

    Terdapat beberapa ciri-ciri dari variabel dalam penelitian, antara lain:

    • Dapat mengambil beberapa nilai yang mewakili suatu kategori tertentu.
    • Nilai-nilai dapat muncul melalui perhitungan atau pengukuran.
    • Merupakan data mentah atau angka yang terkumpul dalam penelitian untuk keperluan analisis statistik.
    • Nilai-nilai yang dapat diprediksi berdasarkan hubungan dengan variabel lain.
    • Karakteristik yang dapat diamati pada individu atau objek yang menjadi fokus penelitian.

    Baca Juga : Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Sudah Paham tentang Variabel Penelitian?

    Pada intinya, variabel merupakan kunci dalam penelitian ilmiah. Fungsinya adalah menjadi konsep yang nantinya akan diamati dan diukur untuk mengungkap hubungan dan fenomena tertentu.

    Pengidentifikasian variabel utama menjadi langkah awal yang penting dalam merancang sebuah penelitian. Ini karena variabel utama memberikan fokus dan arah pada seluruh studi.

    Dengan memahami berbagai jenis variabel, peneliti dapat merancang studi yang valid dan relevan. Ini karena pemahaman tentang variabel penelitian merupakan landasan yang esensial dalam menjalankan penelitian yang baik dan bermanfaat untuk berbagai disiplin ilmu.

  • Objek Penelitian: Macam, Prinsip, dan Cara Menentukannya

    Objek Penelitian: Macam, Prinsip, dan Cara Menentukannya

    Objek penelitian merupakan salah satu unsur paling penting dalam riset. Hal tersebut karena objek adalah hal yang peneliti analisis menggunakan metode dan teori tertentu. Ada beberapa hal terkait objek dalam riset yang perlu Anda ketahui. Berikut ini adalah ulasan mengenai objek, jenis-jenisnya, dan cara menentukan secara lengkap.

    Apa Itu Objek Penelitian?

    Melakukan riset
    Melakukan riset | Sumber: pexels.com

    Objek dalam riset merupakan sebuah ide utama riset yang memiliki konsep luas dan mencakup banyak hal. Melalui objek, apa dan siapa yang akan diteliti bisa terlihat.

    Apa yang menjadi objek di dalam sebuah riset bisa mengacu pada individu, kelompok, tempat, bahkan fenomena sosial di sekitar kita. Hal tersebut kemudian akan peneliti ukur dan jelaskan melalui metode dan teori tertentu.

    Biasanya, banyak orang bingung dengan perbedaan antara objek dan subjek riset. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Objek adalah sesuatu yang akan Anda teliti, sedangkan subjek adalah orang-orang yang terlibat dalam riset, termasuk partisipan dan relawan.

    Pengertian Objek Penelitian Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pendapat ahli mengenai pengertian objek di dalam sebuah riset.

    1. Sugiyono

    Sugiyono berpendapat bahwa objek dalam riset adalah suatu sifat atau atribut serta nilai dari individu, kegiatan, atau objek dengan variasi yang peneliti tetapkan untuk menarik sebuah kesimpulan.

    Dari sifat atau atribut yang melekat tersebut, peneliti akan mencari permasalahan yang muncul dan mencoba memecahkannya. Selanjutnya, dari pemecahan masalah tersebut peneliti akan membuat kesimpulan yang menggambarkan kondisi objek.

    2. Husein Umar

    Dalam riset, objek penelitian menjadi hal penting karena ia adalah sesuatu yang akan peneliti kaji. Selain objek itu sendiri, kapan dan di mana riset terhadap objek peneliti lakukan juga penting untuk Anda perhatikan.

    3. Suharsimi Arikunto

    Menurut Suharsimi Arikunto, inti dari riset terletak pada objek. Dalam riset, objek juga bisa Anda sebut dengan variabel penelitian.

    Suharsimi Arikunto juga menyebutkan bahwa objek ini bisa berupa permasalahan yang peneliti temukan dan berusaha mereka analisis menggunakan metode tertentu. Topik penelitian akan lebih menonjol dengan pilihan objek yang tepat.

    4. Iwan Satibi

    Selanjutnya adalah pendapat dari Iwan Satibi. Dirinya berpendapat bahwa objek penelitian merupakan sesuatu yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai sasaran riset secara komprehensif.

    Selain orang, tempat, atau fenomena sosial yang menjadi topik bahasan, objek juga mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhinya. Contohnya adalah budaya masyarakat dan kondisi lingkungan sekitar yang berkaitan dengan objek.

    5. Supranto

    Supranto menjelaskan bahwa objek adalah salah satu unsur paling penting dalam penelitian. Objek mencakup kumpulan elemen yang bisa membentuk organisasi atau himpunan tertentu.

    6. Anto Dayan

    Pendapat selanjutnya datang dari Anto Dayan. Ia mendefinisikan objek sebagai inti permasalahan yang akan peneliti kaji melalui penelitian. Menurutnya, terdapat 4 poin penting yang harus peneliti perhatikan dalam menentukan objek, yaitu komitmen, sikap, kinerja, serta kepemimpinan.

    7. Supriyati

    Dalam pendapatnya, Supriyati mengatakan bahwa objek merupakan variabel dalam sebuah penelitian. Variabel tersebut akan peneliti kaji secara komprehensif.

    8. Ratna

    Ratna menjelaskan bahwa hal paling penting dalam objek adalah penentuannya. Banyak hal yang harus Anda perhatikan dalam menentukan apa yang akan Anda teliti. Menurut Ratna, penentuan objek harus memiliki latar belakang dan tujuan yang jelas. Ini bertujuan agar setiap elemen dalam penelitian memiliki kesinambungan.

    Macam-Macam Objek

    Wawancara sebagai salah satu metode pengambilan data dalam objek primer
    Wawancara sebagai salah satu metode pengambilan data dalam objek primer | Sumber: pexels.com

    Terdapat 2 jenis objek dalam penelitian, penjelasannya adalah sebagai berikut.

    1. Objek Penelitian Primer

    Objek primer merupakan objek dalam penelitian yang datanya berasal dari sumber pertama. Sumber pertama adalah individu, dokumen, dan sumber data lain yang memiliki hubungan langsung dengan objek.

    Misalnya, Anda akan melakukan penelitian mengenai budaya membaca di Kota Yogyakarta. Maka, Anda bisa mengumpulkan data dari sumber utama, yaitu komunitas membaca di Yogyakarta.

    2. Objek Penelitian Sekunder

    Berbeda dengan objek primer, objek sekunder merupakan objek dalam penelitian yang menggunakan data dari sumber sekunder. Sumber sekunder yang dimaksud bisa berupa dokumen, laporan, buku, dan lain sebagainya.

    Perbedaan jenis objek ini hanya ada pada cara pengumpulannya saja. Pada dasarnya, semua objek akan peneliti kaji secara komprehensif dari data yang sudah terkumpul.

    Prinsip Objek Penelitian

    Prinsip objek penelitian
    Prinsip objek penelitian | Sumber: freepik.com

    Terdapat 3 prinsip yang perlu Anda perhatikan dalam pemilihan objek, yaitu sebagai berikut.

    1. Anotasi

    Anotasi memiliki fungsi untuk menambahkan meta data pada penelitian. Meta data yang akan peneliti tambahkan adalah hal-hal yang berhubungan dengan penelitian.

    Meta data akan membantu memberikan dukungan terhadap data yang sudah peneliti dapatkan. Dengan begitu, peneliti bisa memberikan pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang.

    2. Agregasi Data

    Agregasi data merupakan proses mengolah dan menentukan data mana yang akan peneliti gunakan dalam analisis. Untuk itu, peneliti butuh lebih banyak data supaya memiliki banyak pilihan.

    Dalam proses ini, peneliti akan memastikan apakah data yang ia kumpulkan sudah cukup, valid, dan sesuai dengan tujuan penelitian. Jika ternyata peneliti menemukan data yang kurang atau tidak sesuai, ia bisa mengambil keputusan untuk menambahkan data.

    3. Identitas Digital

    Prinsip ini merupakan salah satu proses dalam pembangunan identitas digital pada penelitian. Identitas digital memiliki tujuan untuk melakukan identifikasi secara unik terhadap objek dalam penelitian.

    Selain itu, proses ini juga bermanfaat untuk peneliti sebagai progress tracker dalam penelitian yang ia lakukan. Sebab, progres yang terdata dengan baik akan memudahkan proses penelitian.

    Cara Menentukan Objek Penelitian

    Menentukan objek penelitian
    Menentukan objek penelitian | Sumber: Unsplash.com

    Ada beberapa cara yang harus Anda tempuh dalam menentukan objek. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

    1. Terukur

    Objek yang akan Anda gunakan dalam penelitian harus terukur dengan jelas. Misalnya, data berupa laporan berbentuk angka harus memiliki dasar yang menjadi standar dalam sebuah penelitian.

    Tak hanya objek dalam bentuk angka, objek lainnya juga harus memiliki ukuran yang sesuai standar. Standar ini Anda tentukan melalui kajian pustaka yang berhubungan dengan topik penelitian.

    2. Spesifik

    Objek dalam penelitian harus bersifat spesifik. Artinya, objek tidak Anda pilih secara acak tanpa standar yang jelas. Ini bertujuan supaya permasalahan bisa Anda pecahkan secara maksimal.

    Misalnya, penelitian mengenai minat baca masyarakat. Anda harus menentukan dengan jelas, masyarakat mana yang akan Anda teliti? Apakah masyarakat dalam satu kota, desa, atau wilayah tertentu lainnya.

    Sifat objek yang spesifik juga akan memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian. Jika objek Anda pilih tanpa batasan, bayangkan ada berapa banyak data yang terkumpul. Mengolah data dalam jumlah banyak akan menghabiskan waktu dan tenaga.

    3. Realistis

    Cara menentukan objek penelitian yang selanjutnya adalah realistis. Maksudnya, peneliti tidak boleh memaksakan tujuan penelitian yang tidak sesuai kenyataan. Selain itu, saat meneliti, Anda harus memiliki objek yang wajar dan sebenar-benarnya ada di dunia, atau dengan kata lain adalah nyata.

    4. Jangka Waktu

    Jangka waktu juga butuh peneliti pikirkan dalam proses menentukan objek dalam penelitian. Peneliti harus tahu kapan dan berapa lama penelitian selesai ia lakukan. Ini bertujuan untuk menentukan target bagi peneliti. Tidak mungkin penelitian ia lakukan sampai waktu yang tidak diketahui batasnya.

    5. Hal yang Dapat Dicapai

    Dalam penelitian, Anda harus menentukan sebuah tujuan untuk dicapai. Dengan adanya tujuan, penelitian bisa Anda tentukan arah analisisnya. Namun, tujuan yang akan Anda capai juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada.

    Tujuan juga memudahkan dalam menentukan objek. Jika tujuan sudah Anda ketahui, objek tinggal menyesuaikan saja.

    Contoh Objek Penelitian

    Agar memberikan pemahaman lebih dalam, berikut adalah contoh penentuan objek. Terdapat sebuah penelitian yang berusaha mengkaji partisipasi anak muda dalam edukasi bahaya penyakit diabetes melitus di Yogyakarta.

    Dalam penelitian tersebut, data peneliti dapatkan melalui wawancara dengan anak muda setempat dan observasi. Anak muda Yogyakarta merupakan subjek penelitian karena mereka adalah informan utama.

    Maka, dapat Anda ketahui bahwa yang menjadi objek adalah hasil wawancara dan hasil observasi yang peneliti lakukan.

    Baca Juga : Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    Sudah Tahu Apa Itu Objek Penelitian?

    Objek dan subjek penelitian memang agak sulit dibedakan apabila Anda belum terbiasa dengan penelitian. Namun, hal tersebut akan Anda pahami seiring dengan berjalannya waktu ketika Anda sudah beberapa kali melakukan penelitian.Jangan lupa untuk menentukan tujuan penelitian terlebih dahulu sebelum menentukan objek penelitian. Tujuan adalah hal yang akan Anda capai melalui penelitian dan menjadi acuan dalam menentukan unsur-unsur lainnya.

  • Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Kerangka teori adalah salah satu elemen kunci dalam setiap artikel ilmiah atau penelitian. Adanya kerangka-kerangka teori dapat menjadi landasan bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena atau permasalahan yang sedang diteliti, serta menjadi pedoman untuk menyusun kegiatan penelitian yang efektif dan efisien.

    Artikel ini akan membahas terkait apa itu kerangka teori, struktur dasar yang ada didalamnya, cara membuat, hingga contoh sederhananya dalam penelitian. Simak artikel ini sampai selesai dan catat poin-poin pentingnya, ya!

    Apa Itu Kerangka Teori?

    Kerangka teori adalah suatu konsep atau gambaran yang berisi penjelasan mengenai hal yang menjadi fokus penelitian. Pada umumnya, konsep ini berisi penjelasan yang berasal dari berbagai studi yang telah dilakukan sebelumnya. 

    Peneliti biasa menggunakannya sebagai dasar dari karya ilmiah sebelum melakukan penelitian. Selain itu, kerangka teori membantu mengarahkan fokus penelitian dan menjadi pembatas topik yang ada pada suatu penelitian atau karya ilmiah. 

    Konsep ini bertujuan agar penelitian memiliki tujuan yang jelas serta topik pada penelitian tidak menyimpang dari batasan yang telah dibuat. Sebab, pada dasarnya kerangka-kerangka teori juga mencakup hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya dan mencerminkan sebab akibat antara dua variabel atau lebih.

    Struktur Kerangka Teori

    Struktur dari sebuah teori penelitian dapat menjadi panduan atau pedoman bagi Anda untuk membentuk landasan yang kuat dalam suatu penelitian atau karya ilmiah. Berikut ini adalah struktur dari sebuah teori penelitian yang umum digunakan dalam penelitian atau karya ilmiah:

    • Judul: Berisi judul teori yang relevan dengan topik penelitian.
    • Pendahuluan: Berisi penjelasan singkat terkait dengan latar belakang masalah, tujuan penelitian, rumusan masalah, dan manfaat penelitian.
    • Kerangka teori: Berisi landasan teoritis, tinjauan literatur, serta konsep-konsep kunci yang berguna dalam penelitian seperti variabel.
    • Hipotesis atau pertanyaan penelitian: Berisi hipotesis dan pertanyaan penelitian yang nantinya akan Anda jawab dalam penelitian.
    • Metode penelitian: Berisi desain penelitian, populasi dan sampel, instrumen dan teknik pengumpulan data, dan analisis data.
    • Implikasi dan kesimpulan sementara: Berisi hubungan keterlibatan antara penelitian dan kesimpulan sementara berdasarkan tinjauan literatur.

    Cara Membuat Kerangka Teori

    Cara Membuat Kerangka Teori
    Cara Membuat Kerangka Teori | Sumber Gambar: Pexels.com

    Berikut ini akan ada uraian terkait dengan langkah-langkah yang dapat  Anda ikuti untuk membuat teori penelitian yang kuat dan relevan dalam konteks penelitian atau karya ilmiah:

    1. Tentukan Variabel

    Langkah pertama dalam menyusun kerangka teori penelitian adalah dengan menentukan variabel-variabel yang akan Anda gunakan dalam penelitian. Variabel penelitian adalah elemen-elemen yang dapat Anda gunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian serta menguji hipotesis. 

    Variabel tersebut akan membantu dalam merinci aspek-aspek yang akan Anda teliti, termasuk rujukan dan teori yang dicantumkan pada penelitian atau karya ilmiah. Tapi, sebelum itu Anda perlu menentukan judul penelitian terlebih dahulu untuk mengetahui variabel-variabel yang akan Anda gunakan pada penelitian.

    Baca Juga : Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    2. Cari Referensi

    Selanjutnya, Anda dapat mencari referensi dari berbagai sumber termasuk dari penelitian terdahulu, buku-buku penelitian, atau jurnal penelitian lain yang sejenis. Referensi adalah hal wajib yang harus ada pada setiap penelitian. 

    Adanya referensi akan membantu Anda untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang topik penelitian. Selain itu, referensi juga akan membuat topik penelitian menjadi lebih kuat karena adanya teori yang mendukung. 

    Bahkan, referensi juga memungkinkan peneliti untuk dapat memahami teori-teori, konsep-konsep, dan isu-isu yang relevan dengan topik penelitian. Dengan begitu, Anda dapat memperluas pengetahuan dan merespons secara lebih mendalam terhadap konteks yang terkait dengan penelitian Anda.

    3. Uraikan Teori

    Setelah mencari referensi dari berbagai sumber, hal yang harus Anda lakukan adalah menguraikan kerangka teori itu sendiri. Teori yang relevan akan membantu Anda untuk memastikan bahwa penelitian memiliki dasar yang kuat dan valid karena telah teruji oleh para peneliti terdahulu.

    Contohnya, jika Anda meneliti fenomena pengaruh gadget terhadap hasil belajar siswa, maka Anda perlu mencantumkan definisi gadget dan hasil belajar sebagai uraian teori. Dengan begitu, pembaca akan dapat memahami konteks dan keseluruhan isi atau pembahasan yang ada pada penelitian tersebut.

    4. Mengkaji Teori

    Langkah berikutnya adalah dengan mengkaji semua hasil penelitian dan teori yang telah Anda kumpulkan. Anda harus memilih beberapa teori yang relevan dengan judul penelitian, sehingga penelitian menjadi valid karena didukung teori yang kuat. 

    Tidak semua teori dapat ditulis pada bab kajian teori karena bisa jadi teori akan saling bertumpukan satu sama lain. Mengkaji teori akan membantu Anda dalam menyusun landasan teori dan hasil penelitian yang lebih baik serta dapat mengidentifikasi kemungkinan teori tidak cocok dengan objek penelitian.

    5. Tentukan Inti Permasalahan

    Menentukan inti permasalahan (research problem) dalam sebuah penelitian merupakan langkah kunci dalam menyusun kerangka teori penelitian. Inti permasalahan adalah pertanyaan atau masalah yang ingin Anda jawab atau pecahkan melalui penelitian. 

    Oleh karena itu, Anda harus dapat menjelaskan inti permasalahan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti sesuai topik spesifik. Dengan begitu, Anda dapat menjelaskan teori-teori pendukung dengan lebih jelas.

    6. Periksa Kembali

    Setelah menjelaskan inti dari permasalahan penelitian, langkah selanjutnya adalah memeriksa kembali teori yang Anda gunakan agar terdapat keselarasan informasi dalam penelitian. Tidak hanya teori, Anda juga harus memeriksa apakah model penelitian telah sesuai dengan teori yang Anda cantumkan sebelumnya.

    7. Perlihatkan Kontribusi Penelitian

    Aspek yang tidak kalah penting dari suatu kerangka teori adalah memperlihatkan kontribusi penelitian. Anda dapat menunjukkan kontribusi pada penelitian dengan menjelaskan bagaimana penelitian Anda memberikan nilai tambah atau berkontribusi pada pemahaman, literatur, atau praktik pada bidang studi tertentu.

    8. Menyusun Kesimpulan Sementara

    Setelah memperlihatkan kontribusi penelitian, langkah selanjutnya adalah dengan menyusun kesimpulan sementara. Kesimpulan sementara dapat membantu Anda untuk merangkum temuan awal atau data yang telah dikumpulkan dalam penelitian. Aspek ini memungkinkan peneliti untuk menggambarkan hipotesis lanjutan.

    9. Menyusun Kerangka Berpikir (Framework)

    Langkah terakhir yang harus ada dalam proses pembuatan kerangka teori adalah membuat kerangka berpikir atau framework. Anda dapat menyusun langkah-langkah pembuatan teori penelitian melalui skema untuk memudahkan penyelesaian, perancangan, dan pemahaman terkait penelitian atau karya ilmiah. 

    Contoh Kerangka Teori

    Contoh Kerangka Teori
    Contoh Kerangka Teori | Sumber Gambar: Freepik.com

    Kerangka teori memiliki peran krusial dalam membantu memahami, merancang, dan melaksanakan penelitian yang berkualitas. Berikut ini adalah contoh dari teori penelitian sederhana dengan topik “Pengelolaan Sampah Plastik dalam Upaya Pelestarian Lingkungan” yang dapat Anda susun seperti pada langkah-langkah di atas:

    1. Pendahuluan

    Pada bagian pendahuluan, terdapat latar belakang yang berisi peningkatan produksi sampah plastik global dan dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan. Selain itu, ada juga tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis metode pengelolaan sampah plastik dan menyelidiki dampak pengolahan sampah plastik.

    Terakhir adalah relevansi penelitian. Pada bagian ini, Anda harus menuliskan apa saja hal yang dapat memberikan penjelasan apakah penelitian terkait sampah plastik ini dapat berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan atau tidak. 

    2. Kerangka Teori

    Pada bagian ini, Anda dapat menambahkan definisi dari sampah plastik sebagai teori awal agar penelitian memiliki landasan yang jelas. Anda juga dapat menambahkan teori seperti jenis-jenis sampah plastik dan karakteristik fisik dan kimia dari sampah plastik.

    Selain itu, Anda juga dapat menambahkan metode pengelolaan sampah plastik yang biasa digunakan, mulai dari cara mengumpulkan sampah plastik hingga cara memproses sampah plastik. Kemudian, Anda juga dapat menambahkan dampak pengelolaan sampah plastik untuk mendukung kerangka teori.

    3. Hipotesis 

    Pada bagian ini, Anda dapat membuat hipotesis terkait apakah pengelolaan sampah plastik telah dapat melestarikan lingkungan atau tidak. Pada poin ini, Anda harus menjabarkan keduanya menjadi hipotesis nol dan hipotesis 1 yang mana kemudian akan Anda jawab pada hasil penelitian.

    4. Metode Penelitian

    Selanjutnya, Anda dapat menjabarkan metode penelitian menjadi beberapa bagian seperti desain penelitian dan populasi serta sampel pengambilan data sampah plastik di masyarakat. Selain itu, jabarkan instrumen dan teknik pengumpulan data seperti wawancara, kuesioner, instrumen tes, dan lain sebagainya.

    5. Kesimpulan

    Pada bagian kesimpulan, Anda dapat menggambarkan secara ringkas bagaimana efisiensi pengelolaan sampah plastik. Selain itu, Anda juga dapat menawarkan saran-saran atau langkah yang dapat mengurangi dampak buruk sampah plastik terhadap lingkungan.

    Sudah Tahu Apa Itu Kerangka Teori dan Cara Membuatnya?

    Baik, itulah sedikit pembahasan singkat terkait dengan kerangka teori mulai dari pengertian, struktur, cara membuat, hingga contoh sederhananya. Pada dasarnya, adanya susunan teori ini akan mempermudah peneliti dalam menjalankan penelitian dan menghasilkan temuan yang lebih mendalam.

    Bahkan, dengan landasan teori yang ada, Anda bisa menetapkan ketentuan penelitian, menjelaskan latar belakang penelitian dengan lebih spesifik, dan mengolaborasikan bagian-bagian penelitian lainnya. Tinjau kerangka-kerangka teori yang sudah ada dalam literatur terkait. Tips ini dapat memberikan panduan dan inspirasi untuk membangun kerangka teori Anda sendiri. Jadi, sudah siap membuat kerangka teori untuk penelitian Anda sendiri?

  • Metode Observasi: Pengertian, Macam, hingga Contohnya

    Metode Observasi: Pengertian, Macam, hingga Contohnya

    Dalam proses penelitian, terdapat berbagai metode observasi yang bisa dilakukan oleh seorang peneliti. Dalam menentukan teknik pengamatan tersebut, tentu saja harus menyesuaikan dengan penelitian yang sedang kamu lakukan.

    Hal ini karena tidak semua teknik bisa kamu aplikasikan ke dalam berbagai jenis penelitian. Lantas, apa saja macam-macam metode observasi yang bisa digunakan dan keunggulannya? Bagi kamu yang tertarik seputar bidang penelitian, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

    Pengertian Metode Observasi

    Seorang wanita melakukan penelitian di lab
    Seorang wanita melakukan penelitian di lab | Sumber gambar: Freepik

    Secara umum, metode observasi merupakan kegiatan melihat dan juga mendengarkan peristiwa maupun tindakan dari benda, makhluk hidup, atau orang-orang yang sedang peneliti amati. Nantinya, peneliti akan merekam hasil pengamatan dengan catatan atau alat bantu lain.

    Selain itu, istilah pengamatan sendiri sebenarnya bisa dipahami sebagai proses mengamati, menyaksikan, dan memperhatikan, yang mana merupakan bagian dari kegiatan pengumpulan data penelitian.

    Pengertian Metode Observasi Menurut Para Ahli

    Seorang Psikolog sedang melakukan observasi pada pasiennya
    Seorang Psikolog sedang melakukan observasi pada pasiennya | Sumber gambar: Pexels

    Beberapa ahli juga sudah berpendapat terkait dengan metode observasi ini, antara lain:

    • Gibson R.L. dan Mitchell M.H berpendapat bahwa pengamatan adalah teknik yang digunakan sebagai seleksi derajat untuk menentukan keputusan serta konklusi terhadap orang yang sedang diamati.
    • Larry Christensen berpendapat bahwa pengamatan adalah cara untuk mendapatkan informasi penting tentang orang, karena apa yang dikatakan belum tentu sesuai dengan yang dikerjakan.
    • Creswell berpendapat bahwa pengamatan adalah proses pemerolehan data dari tangan pertama, dengan cara melakukan pengamatan orang dan lokasi dilakukannya penelitian.
    • Patton berpendapat bahwa pengamatan adalah metode yang sifatnya akurat dan spesifik untuk mengumpulkan data serta mencari informasi tentang segala kegiatan yang dijadikan objek kajian penelitian.
    • Sutrisno Hadi berpendapat bahwa pengamatan adalah proses yang sangat kompleks, terdiri atas berbagai macam proses, baik biologis maupun psikologis, yang mana lebih memprioritaskan proses ingatan dan pengamatan.
    • Sugiyono berpendapat bahwa pengamatan adalah proses yang kompleks dan berasal dari suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.
    • Riyanto berpendapat bahwa pengamatan adalah metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung.
    • Nana Sudjana berpendapat bahwa pengamatan adalah teknik pencatatan sistematis terhadap berbagai gejala yang menjadi objek penelitian.
    • Eko Putro Widoyoko berpendapat bahwa teknik pengamatan merupakan bagian dari pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang tampak di dalam suatu gejala pada objek penelitian.
    • Patton berpendapat bahwa pengamatan adalah metode yang sifatnya akurat dan spesifik untuk mengumpulkan data dan juga mencari informasi tentang segala kegiatan yang menjadi objek kajian penelitian.
    • Prof. Heru berpendapat bahwa observasi adalah kegiatan pengamatan yang menunjukkan sebuah studi atau pembelajaran yang dilakukan dengan sengaja, terarah, berurutan, dan sesuai tujuan yang dicapai pada suatu pengamatan yang dicatat tentang segala kejadian dan fenomenanya.

    Baca Juga : Pengertian Observasi: Ciri, Tujuan, Jenis, Contoh, dan Manfaatnya

    Macam-Macam Metode Observasi

    Peneliti memegang sample darah
    Peneliti memegang sample darah | Sumber gambar: Freepik

    Dalam prosesnya, terdapat macam-macam metode observasi yang bisa peneliti pilih dalam penelitian yang ia lakukan. Tentu saja setiap jenis pengamatan ini memiliki karakteristiknya masing-masing yang perlu kamu pahami dengan baik. Berikut adalah berbagai macam-macam teknik pengamatan tersebut:

    1. Observasi Terkontrol

    Umumnya, proses pelaksanaan observasi terkontrol berada di ruang tertutup. Artinya, peneliti memiliki kewenangan penuh untuk menentukan tempat, waktu, dan kapan observasi tersebut akan ia lakukan.

    Selain itu, peneliti juga dapat memutuskan siapa saja yang akan menjadi partisipan dalam proses pengamatan. Sering kali pemilihan partisipan untuk kelompok variabel penelitian adalah secara acak. 

    Kemudian, peneliti akan mengamati dan mencatat data diri perilaku secara detail dan deskriptif, sesuai pembagian kategorinya. Tak jarang, peneliti juga akan melakukan pengkodean untuk menggambarkan karakteristiknya.

    Setelah itu, data yang terkumpul akan peneliti ubah menjadi statistik. Pada teknik ini, peneliti cenderung menghindari kontak langsung selama proses pengamatan.

    2. Observasi Partisipatif

    Metode observasi partisipatif ini sering kali dianggap sebagai bagian dari teknik naturalistik, karena memiliki sejumlah persamaan. Hanya saja, pada teknik ini, peneliti bukan lagi sebagai pengamat jarak jauh, karena ia sudah bergabung dengan partisipan dan menjadi bagian dari kelompok.

    Hal inilah yang membuat peneliti bisa mendapatkan wawasan yang lebih mendalam dan kompleks. Sebab, peneliti bisa berinteraksi dengan anggota lain dalam kelompok secara bebas sekaligus berpartisipasi dalam seluruh aktivitas mereka.

    Namun, dalam prosesnya, teknik pengamatan ini bisa peneliti lakukan secara terbuka maupun terselubung. Adapun teknik pengamatan terbuka adalah peneliti sudah meminta izin serta mengatakan tujuan dan identitas sebenarnya kepada kelompok partisipan.

    Sedangkan teknik pengamatan terselubung adalah ketika peneliti tidak menunjukkan identitas yang sebenarnya kepada kelompok partisipan. Umumnya, peneliti akan menggunakan peran dan identitas palsu serta bertindak seolah-olah ia menjadi bagian dari kelompok tersebut.

    3. Observasi Naturalistik

    Metode observasi naturalistik ini menjadi salah satu yang penggunaannya paling banyak oleh ilmuwan sosial dan psikolog. Sebab, prosesnya melibatkan proses pengamatan dan mempelajari perilaku spontan partisipan di lingkungan terbuka.

    Adapun peran peneliti di sini adalah untuk menemukan apa saja yang ia lihat dan ia amati selama proses pengamatan berlangsung. Dengan kata lain, teknik ini melibatkan pengamatan dan mempelajari perilaku spontan partisipan di lingkungan alami mereka.

    Jadi, peneliti hanya mencatat berdasarkan apa yang mereka lihat, tanpa adanya sistem tertentu.

    4. Observasi Terstruktur

    Jenis metode observasi yang terakhir ini bisa kamu lakukan dengan cara mencatat informasi dan melakukan standarisasi kondisi pengamatan. Umumnya, teknik ini digunakan dalam studi yang dirancang untuk memberikan deskripsi sistematis dan menguji hipotesis kausal.

    Penggunaan teknik pengamatan ini mengandaikan bahwa peneliti mengetahui aspek apa saja dari situasi yang akan ia teliti dan tentu saja relevan dengan tujuan penelitiannya. 

    Oleh karena itulah, peneliti akan berada dalam posisi untuk mengembangkan rencana khusus, dengan membuat dan merekam pengamatan sebelum ia mulai proses pengumpulan data.

    Keuntungan Metode Observasi

    Peneliti sedang mengamati objek penelitian
    Peneliti sedang mengamati objek penelitian | Sumber gambar: Freepik

    Dalam penerapannya, tentu saja ada berbagai keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan menggunakan metode observasi ini. Baik pada penelitian berbasis sosial maupun sains. Maka dari itu, sangat penting bagi peneliti untuk mengetahui keunggulan tersebut, berikut beberapa di antaranya.

    • Mudah peneliti laksanakan dalam segala situasi dan kondisi, dengan tetap menyesuaikan kebutuhan penelitian.
    • Pada metode pengamatan langsung, peneliti bisa segera mendapatkan jawaban dan memenuhi rasa ingin tahunya. Hal ini juga membuktikan bahwa proses pengamatan tersebut dapat menjadi bukti yang valid dan tidak ada manipulasi.
    • Proses pengamatan dapat membuat peneliti jadi lebih termotivasi sekaligus mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Hal inilah yang membuat teknik pengamatan disebut sebagai alat penyelidikan.
    • Dapat menghasilan data valid secara langsung, baik melalui komunikasi verbal maupun non verbal.
    • Memungkinkan untuk merekam perilaku perkembangan atau hal lain tentang fenomena objek penelitian pada saat kejadian sedang berlangsung.
    • Dapat memberikan hasil data dan juga informasi yang bersifat faktual, objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

    Contoh Metode Observasi

    Seseorang sedang melihat data penelitian
    Seseorang sedang melihat data penelitian | Sumber gambar: Freepik

    Sebenarnya, kamu bisa dengan mudah menemukan contoh metode observasi dalam penelitian, baik itu penelitian di bidang sains maupun sosial. Salah satu contoh yang bisa kamu pelajari adalah penelitian tentang “Pengaruh Media Sosial terhadap Risiko Cyberbullying pada Siswa SMP”.

    Dalam penelitian ini, kamu bisa langsung terjun ke lapangan untuk melakukan pengamatan. Meski sebenarnya teknik ini kurang akurat, jika hanya sebatas pengamatan, tetapi kamu bisa mengkombinasikannya dengan metode wawancara. 

    Dengan begitu, hasil data yang kamu dapatkan bisa lebih kompleks dan sesuai tujuan penelitian. Nantinya, dari pengamatan yang dilakukan, kamu akan mendapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut.

    • Sebagian besar siswa SMP pernah mengalami cyberbullying di media sosial, baik dari teman sebaya, orang dewasa, maupun anonim. Hal inilah yang membuat siswa merasa depresi, tertekan, takut, hingga stres yang berdampak pada penurunan hasil belajar.
    • Siswa SMP jadi malas bersosialisasi, baik secara langsung maupun di dunia maya, karena takut mendapatkan bullyan dari teman sebayanya. Dampaknya, kemampuan sosialisasi siswa pun menurun, karena siswa cenderung mengisolasi diri sendiri.
    • Siswa SMP tidak memperhatikan kegiatan belajar mengajar dengan baik, karena terdistraksi dengan tindak cyberbullying yang mereka dapatkan.
    • Siswa SMP menjadi lebih aware dengan berbagai jenis bullying. Bahkan, beberapa di antaranya juga kerap menyuarakan pendapat tentang cyberbullying di media sosial.

    Manakah Metode Observasi yang Paling Familiar Bagimu?

    Dari ulasan di atas, bisa disimpulkan bahwa metode observasi adalah salah satu teknik yang bisa digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yang disertai dengan proses pengamatan dan pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran.

    Tentunya setiap jenis teknik pengamatan, mulai dari terkontrol, partisipatif, naturalistik, dan terstruktur memiliki fungsi dan tujuan berbeda yang harus peneliti pahami dengan baik. Berdasarkan penjelasan tersebut, manakah metode yang pernah kamu gunakan dalam proses penelitian?

  • Pengertian Observasi: Ciri, Tujuan, Jenis, Contoh, dan Manfaatnya

    Pengertian Observasi: Ciri, Tujuan, Jenis, Contoh, dan Manfaatnya

    Dalam rangka mendapatkan pengetahuan mengenai topik yang Anda ingin ketahui, ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Salah satunya menggunakan metode observasi atau pengamatan untuk mengumpulkan data di lapangan dengan lebih akurat dan faktual. Sebab, Anda bisa langsung terjun sendiri melihat kenyataannya. 

    Melakukan pengamatan untuk mengumpulkan data tidak hanya berguna pada penelitian kualitatif, tetapi juga kuantitatif. Apalagi, saat ini banyak topik-topik yang bisa Anda kaji lebih dalam dan cermat menggunakan metode tersebut. Data yang akan Anda kumpulkan juga semakin kaya dan valid dengan pengamatan langsung. 

    Apa Itu Metode Observasi?

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, observasi memiliki arti peninjauan secara cermat. Peninjauan atau pengamatan tersebut berkenaan dengan fenomena yang saat ini sedang diteliti. Secara sederhananya, metode ini menyuruh Anda untuk mengamati secara langsung objek yang menjadi penelitian. 

    Dalam melakukan pengamatan langsung terhadap objek, Anda bisa mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan. Cara ini cukup ampuh untuk mengumpulkan informasi secara akurat dan valid di lapangan. Anda perlu memanfaatkan panca indra yang ada untuk melakukan pengamatan terkait fenomena peristiwa tertentu. 

    Misalnya, Anda ingin mengetahui bagaimana respon masyarakat ketika melihat seorang kakek tua yang memakai kursi roda kesulitan menyeberang jalan. Anda bisa langsung terjun ke lapangan untuk melihat bagaimana respon masyarakat terhadap kakek itu, apakah menolongnya atau mengabaikannya. 

    Pada dasarnya, manusia punya rasa ingin tahu yang besar, sehingga mereka tidak pernah berhenti mengeksplor alam semesta yang belum sepenuhnya terkuak. Maka dari itu, para akademisi dan tenaga peneliti lainnya tidak pernah berhenti melakukan penelitian untuk mendapatkan pengetahuan baru yang bermanfaat.

    Ciri-Ciri Observasi

    Seseorang melakukan observasi dari buku
    Seseorang melakukan observasi dari buku | Sumber gambar: Freepik.com

    Terkadang, Anda bisa keliru mengenali observasi dengan metode pengumpulan data lainnya. Ketahui ciri-cirinya berikut ini untuk mengetahui lebih dalam apa itu pengamatan dalam penelitian. 

    1. Objektif

    Data penelitian haruslah bersifat objektif agar hasilnya sesuai dengan keadaan sebenarnya yang ada di lapangan tanpa manipulasi. Anda tidak boleh mencampuradukkan antara fakta dan opini pribadi. 

    Karena ketika membuat laporan teks observasi nantinya, Anda harus menuliskan semua yang Anda lihat selama di lapangan sesuai dengan fakta sebenarnya. Jadi, Anda tidak bisa mengarang dari hasil pemikiran sendiri yang bersifat subjektif. 

    2. Faktual

    Berikutnya, dalam proses pengamatan Anda harus selalu berpegang dengan fakta. Anda perlu membuktikan kebenaran data tersebut supaya tidak menimbulkan dugaan yang tidak diinginkan. 

    Sebab, data yang bersifat faktual itu nantinya berpengaruh ke hasil interpretasi dan kesimpulan yang Anda buat dalam laporan hasil pengamatan. 

    3. Sistematis

    Melakukan pengamatan tidak serta merta langsung turun ke lapangan tanpa persiapan apa pun. Sebelumnya, Anda harus sudah menyusun berbagai rencana dan kebutuhan yang diperlukan sehingga proses pengamatan bisa berjalan lancar dan sistematis sesuai rencana. 

    Jika dalam pelaksanaannya tidak sistematis, maka Anda akan menjumpai beberapa hambatan yang bisa menyulitkan nantinya. Misalnya mempengaruhi kesimpulan yang Anda buat berdasarkan pengamatan fakta di lapangan. 

    Baca Juga : Metode Observasi: Pengertian, Macam, hingga Contohnya

    Tujuan Melakukan Observasi

    Anda bisa dengan mudah mengumpulkan data di lapangan melalui pengamatan. Apalagi, pengamatan mengenai perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa tujuan dari melakukan pengamatan secara cermat dalam penelitian. 

    1. Mengumpulkan Data Penelitian yang Akurat

    Mengumpulkan data penelitian lewat riset
    Mengumpulkan data penelitian lewat riset | Sumber gambar: unsplash.com

    Seperti yang sudah Anda pahami sebelumnya, observasi termasuk salah satu teknik pengumpulan data yang bersifat akurat karena nantinya peneliti akan langsung terjun ke lapangan untuk melihat fenomena yang diteliti. Melalui pengamatan, Anda akan mengumpulkan data dan informasi untuk menjawab pertanyaan penelitian. 

    Saat sedang melihat langsung kondisi lapangan, Anda bisa memanfaatkan panca indera semaksimal mungkin untuk menggali data lebih dalam dan akurat. Setelah mengumpulkan data penelitian dari pengamatan, peneliti akan melakukan analisis yang bisa dituangkan ke dalam karya ilmiah atau non ilmiah. 

    2. Dapat Menjadi Inspirasi Ide Penelitian Baru

    Mendapatkan ide
    Mendapatkan ide | Sumber gambar: hbr.org

    Ada kalanya, seseorang belum mendapatkan ide penelitian sebelum melakukan pengamatan. Oleh sebab itu, Anda bisa melakukan pengamatan dalam rangka menemukan topik yang sekiranya sedang hangat di masyarakat yang kemudian bisa Anda gunakan sebagai topik penelitian. 

    Jadi, observasi tidak hanya menjadi metode dalam penelitian ilmiah saja, tetapi juga bisa Anda manfaatkan untuk mencari tahu informasi atau isu terkini. Hal ini bertujuan agar Anda bisa mendapatkan inspirasi ide penelitian baru.  

    3. Menarik Kesimpulan yang Jelas

    Pada akhirnya, data penelitian yang Anda kumpulkan lewat pengamatan secara langsung di lapangan nantinya akan berujung ke sebuah interpretasi atau kesimpulan akhir. Jika Anda meneliti tentang perilaku masyarakat, maka kesimpulan nantinya berisi analisis data mengenai fenomena tersebut berdasarkan pengamatan. 

    Jadi, pertanyaan penelitian yang sebelumnya Anda rumuskan akan terjawab pada kesimpulan tersebut. Apakah pengamatan yang Anda lakukan sesuai dengan hipotesis yang awalnya Anda tetapkan. Maka dari itu, peneliti umumnya membutuhkan waktu untuk melakukan observasi hingga menyimpulkannya. 

    Jenis-Jenis Metode Observasi

    Observasi tumbuhan
    Observasi tumbuhan | Sumber gambar: pexels.com

    Tahukah Anda, ternyata tidak perlu selalu harus terjun di lapangan secara langsung untuk mengumpulkan data lewat pengamatan. Jika memang ada kendala seperti akses lokasi yang jauh, maka Anda bisa melakukan jenis pengamatan non partisipatif. Nah, ketahui jenis-jenis pengamatan lain selengkapnya berikut ini. 

    1. Terkontrol

    Pada jenis pengamatan terkontrol, objek yang sedang peneliti amati menyadari bahwa mereka sedang dalam pengamatan. Para partisipan akan mendapatkan informasi mengenai tujuan penelitian. Selain itu, peneliti mempunyai wewenang untuk menentukan lokasi serta waktu untuk melakukan pengamatan. 

    Pertama-tama, peneliti akan melakukan pemilihan partisipan. Baru kemudian mencatat data perilaku berdasarkan kode-kode tertentu yang telah dibuat sebelumnya. Meskipun partisipan mengetahui bahwa mereka sedang dalam pengamatan, tetapi peneliti berusaha untuk tidak melakukan kontak langsung. 

    2. Partisipatif

    Observasi partisipatif adalah jenis pengamatan yang melibatkan peneliti secara langsung. Peneliti tidak lagi mengamati dalam jarak jauh, melainkan langsung terjun ke lapangan bergabung bersama partisipan lainnya. Kelebihan dari jenis pengamatan partisipatif adalah perolehan data yang lebih kaya dan mendalam. 

    Misalnya, jika Anda ingin meneliti tentang kebiasaan kelompok suku tertentu dengan jenis pengamatan partisipatif, maka Anda akan terlibat langsung dengan mereka. Anda akan memperoleh data tentang perilaku, kebiasaan, cara hidup, dan lainnya dari interaksi langsung. 

    3. Non Partisipatif

    Berbeda dari jenis partisipatif yang menghendaki keterlibatan peneliti secara langsung, pada pengamatan non partisipatif, peneliti bisa mengamati dari jarak jauh. Pencatatan data penelitian bisa Anda lakukan dengan cara apapun. Misalnya dengan mengandalkan media online seperti Youtube, Twitter, dan lain sebagainya. 

    Umumnya, jenis pengamatan non partisipatif bisa Anda lakukan untuk meneliti objek yang jauh jaraknya. Misalnya, Anda ingin meneliti kebiasaan bekerja pegawai Jepang, maka Anda bisa mengamatinya melalui berbagai media yang memungkinkan. 

    Contoh dan Manfaat Observasi untuk Mengumpulkan Data

    Contoh penelitian yang bisa menggunakan teknik observasi sebagai metode pengumpulan data adalah menganalisis perilaku masyarakat, mengetahui pengaruh fenomena tertentu, dan lain sebagainya. Metode ini bisa membuat Anda mendapatkan data yang kaya dan mendalam. 

    Misalnya, Anda ingin mengetahui bagaimana kebiasaan literasi pada anak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berarti, Anda perlu pergi ke SMP yang dipakai sebagai objek penelitian untuk melakukan observasi. Namun, sebelum itu pastikan bahwa Anda sudah mendapatkan izin dari instansi setempat untuk melakukan pengamatan. 

    Lalu, apa manfaat melakukan pengamatan? Berikut beberapa hal yang akan Anda peroleh dari teknik pengamatan. 

    • Mendapatkan data yang lebih luas dari hal-hal yang sebelumnya tidak terungkap jika lewat wawancara saja. 
    • Menemukan gambaran fenomena dengan lebih jelas dan akurat. 
    • Menambah sudut pandang terkait topik permasalahan. 
    • Merekam suatu fenomena yang terjadi secara kronologis. 
    • Kesimpulan dari data hasil pengamatan akan memiliki tingkat keakuratan tinggi. 

    Sudah Tahu Apa Itu Observasi?

    Jadi, kesimpulannya observasi adalah cara untuk mendapatkan data atau informasi melalui pengamatan langsung. Kelebihan dari teknik pengumpulan data ini adalah Anda bisa mendapatkan data yang valid karena langsung mengamati kondisi sebenarnya di lapangan. 

    Anda tidak perlu lagi bergantung mencari jawaban dari sumber lain, sebab Anda bisa tahu jawabannya langsung dari hasil pengamatan. Namun, kekurangan dari metode ini yaitu membutuhkan waktu lama. Bisa memakan berhari-hari, mingguan, hingga bulanan. Anda bisa memakai metode ini sesuai kebutuhan penelitian.

  • Wajib Catat! 5 Cara Membuat Abstrak yang Baik dan Tips Triknya

    Wajib Catat! 5 Cara Membuat Abstrak yang Baik dan Tips Triknya

    Penulisan abstrak merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam naskah penelitian. Cara membuat abstrak pun memiliki beberapa kaidah dan tata aturan tertentu, sehingga menghasilkan ringkasan yang berisi keseluruhan isi naskah. Mau tahu tips dan trik termudah untuk pembuatan abstrak? Simak selengkapnya di sini!

    Pengertian dan Tujuan Abstrak

    Asal usul kata abstrak berasal dari bahasa Latin “abstractus”, yang berarti ‘ditarik’. Sementara itu, dalam bahasa Inggris merupakan serapan dari kata abstract yang memiliki arti ikhtisar atau intisari.

    Berdasarkan bidangnya, abstrak memiliki definisi yang berbeda-beda. Dalam bidang kesenian, abstrak termasuk ekspresionisme yang berarti pengungkapan kehendak seniman.

    Dalam bidang hukum, abstrak berfungsi sebagai pernyataan singkat yang merangkum isi pokok-pokok dokumen legal. Sedangkan dalam kalangan pelajar, abstrak merupakan intisari dari suatu penulisan naskah.

    Pada faktanya, abstrak merupakan ringkasan singkat pada penulisan makalah, karya tulis, skripsi, atau naskah ilmiah lainnya. Gaya bahasa formal serta ringkas dengan kepadatan tulisan antara 150-250 kata yang menjadi landasan format kepenulisannya.

    Meskipun sangat singkat, cara membuat abstrak harus memuat keseluruhan isi naskah. Dengan kondisi begitu, seorang pembaca akan mudah untuk melakukan pemindaian isi makalah dan dapat menilai apakah isi tersebut relevan dengan penelitian yang sedang dilakukannya.

    Dengan adanya abstrak, pembaca tidak perlu menelusuri isi makalah untuk mencari hasil penelitiannya. Akan tetapi, jika membutuhkan informasi tambahan, kamu bisa langsung membuka naskah untuk mencari informasi secara lebih detail.

    Sebenarnya, bagaimana cara membuat abstrak? Lalu, konten apa saja yang memuat keseluruhan isi dalam penulisannya? 

    Baca Juga : Pengertian Abstrak, Fungsi dan Tata Cara Pembuatannya

    Cara Penulisan Abstrak yang Baik dan Benar

    Analisis masalah dalam penulisan abstrak
    Analisis masalah dalam penulisan abstrak | Sumber: pexels.com

    Penulisan abstrak yang baik dan benar adalah ringkas dan lugas. Maksudnya adalah seorang peneliti harus membeberkan penelitiannya dan seluruh informasi hanya dalam satu paragraf. Oleh sebab itu, membuat abstrak membutuhkan pembagian komponen isi.

    Pembagian tersebut bermanfaat dalam cara membuat abstrak yang baik, sehingga peneliti hanya perlu menuliskan intisarinya. Berikut ini beberapa penjelasan apa saja yang perlu kamu tulis di dalam abstrak:

    1. Pendahuluan

    Penulisan yang pertama adalah uraikan pokok permasalahan dan latar belakang penelitian kamu. Bagian pendahuluan ini cukup dengan tiga kalimat yang terdiri dari rumusan masalah serta tujuan. Dengan begitu, dalam satu paragraf telah memuat inti dari pokok permasalahannya.

    Ada beberapa tips dan trik cara membuat abstrak bagian awal ini. Sebelum mulai menulis, coba uraikan jawaban dari kata tanya “apa permasalahan yang terjadi” dan “apa solusinya”.

    Kemudian, kamu juga bisa menjabarkan dengan pertanyaan turunan seperti berikut ini:

    • Apa masalah yang dipecahkan oleh penelitian ini?
    • Apa saja kesenjangan utama yang bisa kamu tutupi dengan adanya penelitian ini?
    • Mengapa hasil penelitian ini penting?

    Nah, beberapa pertanyaan tersebut dapat membantu kamu dalam menguraikan hipotesis dan pokok permasalahan dalam pembuatan abstrak.

    2. Metode Penelitian

    Selanjutnya adalah metode penelitian yang digunakan dalam proses penelitian itu sendiri. Biasanya, mengemas bagian metode ini cukup dengan tiga hingga empat kalimat.

    Pada bagian ini, kamu menjelaskan terkait pertanyaan ‘bagaimana’ dan proses penelitian yang lebih detail sebagai jawaban dari pertanyaan pada poin sebelumnya. Nah, agar lebih mudah dalam menjelaskan metode penelitian, kamu bisa menggunakan beberapa pertanyaan singkat berikut ini:

    • Penelitian kamu menggunakan metode apa? Termasuk kualitatif atau kuantitatif?
    • Bagaimana kamu melakukan pemilihan subjek dan perancangan proyek?
    • Bagaimana prosedur serta alat dan bahan penelitian?

    3. Hasil Penelitian

    Setelah latar belakang dan metode, cara membuat abstrak selanjutnya adalah membahas mengenai hasil penelitiannya. Bagian ini merupakan klimaks dari isi abstrak, sebab di bagian inilah jawaban dari penelitian.

    Kamu dapat menjelaskan hasil berupa data akhir atau deskriptif secara singkat, biasanya penggunaan bahasa pada bagian ini menggunakan bahasa lampau.

    4. Kesimpulan

    Kemudian, akhir dari penulisan abstrak adalah kesimpulan. Pada bagian ini, kamu bisa menafsirkan apa yang kamu temukan dan implikasi keseluruhan dari hasil kamu.

    Selain itu, kamu bisa memberikan rekomendasi atau saran untuk temuan lanjutan. Berikut ini terdapat beberapa pertanyaan agar kamu tidak bingung dalam menyusun kesimpulan pada abstrak.

    • Apakah hasilnya sesuai dengan hipotesis di pendahuluan awal?
    • Apakah hasilnya bisa diterapkan dengan metode lain?
    • Hasil penelitiannya apakah sama atau berbeda dengan referensi penelitian yang kamu temukan?

    5. Menuliskan Kata Kunci

    Menulis abstrak juga membutuhkan kata kunci yang terletak di bagian bawah atau akhir dari tulisan. Tujuannya adalah untuk memudahkan pencarian secara online. Kamu bisa membuat kata kunci terkait topik utama penelitian. Biasanya, minimal terdiri dari 3 kalimat dan maksimal 10 kalimat.

    Struktur Penulisan Abstrak yang Benar

    Komposisi Tulisan pada Abstrak
    Komposisi Tulisan pada Abstrak | Sumber: kreativv.com

    Setelah mengetahui pokok bahasan cara membuat abstrak, ada hal lain yang juga tidak kalah penting dalam penyusunan abstrak, yaitu struktur penulisannya. Terdapat beberapa aturan umum yang bisa menjadi acuan kepenulisan, antara lain:

    • Jangan menulis atas dasar sudut pandang atau pendapat pribadi, sebab tulisan abstrak bersifat ilmiah. Usahakan berdasarkan literatur yang mendasar.
    • Minimalkan penulisan menggunakan akronim, kecuali terdapat penjelasan dari awal.
    • Jangan menuliskan informasi yang tidak ada dalam isi naskah, agar tidak menyulitkan pembaca ketika hendak mencari di makalah.
    • Hindari penulisan dengan menggunakan majas berupa pengulangan gagasan.

    Sebenarnya, dalam menulis penelitian berbasis ilmiah, terdapat beberapa struktur dan gaya penulisan macam-macam. Seperti Modern Languages Association (MLA), American Psychological Association (APA), dan Chicago. Namun, melalui artikel ini akan membahas struktur abstrak berdasarkan APA pada tahun 2020.

    1. Komposisi Penulisan

    Struktur yang menjadi pemerhati pertama dalam tata cara membuat abstrak adalah komposisinya, berikut di antaranya:

    • Menulis abstrak menggunakan kalimat aktif dan lakukan penghematan kata seminimal mungkin.
    • Jika terdapat nama institusi atau organisasi, tuliskan dalam bahasa yang lengkap.
    • Dalam penulisan kutipan, gunakan pedoman APA style, yaitu (nama belakang penulis, tahun).

    2. Format Penulisan

    Selanjutnya, format penulisan sesuai dengan panduan APA adalah sebagai berikut:

    • Pada baris pertama, tulis abstrak dengan format tengah paragraf, tebal, dan menggunakan kapital tanpa tanda kutip.
    • Kemudian, lanjut dengan isi tulisan yang berada tepat satu baris di bawahnya, menggunakan spasi satu (single) dengan margin satu inci.
    • Rekomendasi jenis font dari APA adalah Calibri 11 poin, Arial 11 poin, Lucida Sans Unicode 10 poin, Times New Roman 12 poin, Georgia 11 poin, atau Computer Modern 10 poin. Namun, yang paling umum di Indonesia adalah dengan menggunakan Times New Roman 12 poin.

    3. Panjang Tulisan

    Ukuran tulisan abstrak minimal 150 kata dan maksimal 250 kata. Namun sesuaikan dengan aturan masing-masing instansi terkait.

    Sudah Tahu Cara Membuat Abstrak?

    Dari beberapa penjelasan di atas, kamu sudah bisa membuat abstrak dengan gaya bahasa APA style maupun lainnya. Agar memudahkan dalam menulis abstrak, buatlah outline tulisan terlebih dahulu. Dengan cara tersebut, membuat abstrak jadi lebih mudah dan tertata rapi.

    Outline merupakan kerangka berpikir yang dapat memudahkan kamu untuk menuangkan isi tulisan abstrak. Kamu bisa memanfaatkan struktur penulisan di artikel ini dalam pembuatan outline. Setelah membuat kerangka tulisannya, kamu bisa langsung memasukkan isi topik penelitiannya.

  • 4 Cara Menentukan Hipotesis Penelitian yang Baik

    4 Cara Menentukan Hipotesis Penelitian yang Baik

    Sebelum memasuki dunia perkuliahan, pasti kamu sering bertanya-tanya tentang bagaimana cara menentukan hipotesis penelitian yang baik dan benar. Hipotesis merupakan pondasi dari sebuah penelitian ilmiah yang berisi pernyataan atau asumsi awal yang akan kamu uji dan teliti dalam rangka memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan seputar penelitianmu. 

    Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang cara menentukan hipotesis penelitian dengan baik dan benar.

    Pengertian Hipotesis Penelitian

    Menentukan Hipotesis
    (Menentukan Hipotesis | Sumber Gambar: unsplash.com)

    Hipotesis penelitian adalah pernyataan prediktif yang akan kamu gunakan untuk merumuskan dugaan, asumsi, atau pernyataan mengenai hubungan antara dua atau lebih variabel dalam suatu penelitian.

    Cara Menentukan Hipotesis Penelitian

    Selanjutnya, mari kenali cara menentukan hipotesis penelitian berikut ini:

    1. Melakukan Observasi Terkait Topik Masalah yang Akan Dibahas

    Hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum merumuskan hipotesis penelitian adalah dengan mengobservasi topik masalah yang akan kamu bahas dalam penelitianmu.

    Kamu dapat mengobservasi topik penelitian utama dengan cara studi literatur, observasi lapangan, atau wawancara dengan narasumber yang relevan dengan topik kamu.

    Cara umum yang bisa kamu lakukan untuk belajar dan observasi topik penelitianmu lebih lanjut adalah dengan membaca referensi terpercaya dari sumber-sumber kredibel, seperti jurnal, artikel ilmiah, video, buku-buku, dan artikel web terpercaya yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    Kamu juga bisa mengobservasi topik penelitiamu dengan cara mengobservasi langsung di lapangan. Dengan mengobservasi langsung ke lapangan, kamu dapat mengetahui kondisi terkini dengan data-data yang akurat. Selain itu, kamu juga bisa melakukan wawancara dengan narasumber yang relevan dan dikenal mampu menguasai topik yang kamu ambil. 

    Dengan cara-cara di atas, kamu dapat menggali informasi terkait topik penelitianmu lebih dalam lagi.

    2. Membuat Daftar atau Mengidentifikasi Permasalahan

    Cara menentukan hipotesis penelitian selanjutnya setelah kamu mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan adalah kamu dapat membuat daftar atau melakukan identifikasi permasalahan yang muncul selama kamu melakukan observasi.

    Tentukan masalah-masalah yang akan muncul dalam penelitianmu lalu pilih permasalahan yang ingin kamu jadikan hipotesis penelitian.

    3. Merumuskan Hipotesis Penelitian

    Setelah kamu membuat daftar dan mengidentifikasi masalah, kamu bisa memulai cara menentukan hipotesis penelitian. Hipotesis tersebut bisa bersifat deskriptif atau eksplanatif, tergantung pada tujuan penelitian kamu.

    Sebagai contoh, hipotesis awal untuk penelitian tentang pengaruh pola makan sehat terhadap penurunan berat badan bisa berbunyi: “Pola makan sehat yang diikuti secara konsisten akan menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan”.

    Sebelum itu, kenali dulu bahwa setidaknya terdapat dua jenis hipotesis utama dalam penelitian, yakni:

    a. Hipotesis Nol (H0)

    Jenis hipotesis ini adalah hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan atau perbedaan yang signifikan antara variabel-variabel yang akan kamu teliti. Hipotesis nol sering kali diuji untuk membuktikan atau membantah suatu hal.

    b. Hipotesis Alternatif (H1 atau Ha)

    Jenis hipotesis ini adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan atau perbedaan yang signifikan antara variabel-variabel yang akan kamu teliti. Hipotesis alternatif adalah fokus utama dalam penelitian, dan peneliti akan mencoba untuk membuktikan bahwa H1 adalah benar.

    Kemudian, jenis hipotesis menurut bentuknya meliputi:

    a. Hipotesis Deskriptif

    Jenis hipotesis ini digunakan untuk menggambarkan atau menjelaskan fenomena tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat.

    b. Hipotesis Rasional

    Hipotesis ini digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara dua atau lebih variabel tanpa mengasumsikan adanya sebab-akibat.

    c. Hipotesis Nondireksional

    Jenis hipotesis ini tidak mengandung asumsi tentang arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

    d. Hipotesis Direksional

    Jenis hipotesis ini mengandung asumsi tentang arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

    4. Memastikan Apakah Hipotesis Dapat Diuji

    Uji Hipotesis
    (Uji Hipotesis | Sumber Gambar: unsplash.com)

    Jika kamu sudah merumuskan hipotesis yang tepat untuk penelitianmu, cara menentukan hipotesis penelitian selanjutnya adalah memastikan apakah hipotesis yang kamu susun tersebut dapat diuji. 

    Hipotesis harus dapat diuji, karena jika hipotesis tidak dapat diuji artinya hipotesis yang kamu susun kurang tepat dan tidak dapat digunakan untuk penelitian.

    Cara memastikan agar hipotesis dapat diuji, kamu bisa membuat daftar-daftar pertanyaan seperti berikut ini:

    • Apakah hipotesis sudah tersusun dengan fokus dan relevan pada topik yang akan kamu uji?
    • Apa saja variabel dependen dan variabel independen yang terdapat dalam penelitianmu?
    • Sudahkah hipotesis tersebut mencakup variabel-variabel yang ada?
    • Apakah hipotesis sudah mencakup prediksi dari hasil penelitian?

    Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat terjawab, maka kamu dapat melanjutkan penelitian dengan menggunakan hipotesis yang telah kamu rumuskan sebelumnya. 

    Syarat dalam Penyusunan Hipotesis Penelitian

    Selain cara menentukan hipotesis penelitian di atas, kamu juga harus memenuhi beberapa syarat untuk merumuskan hipotesis penelitian karena kamu tidak boleh sembarangan menentukan hipotesis untuk penelitian yang akan kamu lakukan.

    Berikut adalah syarat-syarat yang harus kamu penuhi:

    • Hipotesis harus kamu susun dengan padat, fokus, jelas, dan tidak bertele-tele.
    • Hipotesis harus kamu susun sesuai dengan studi literatur dan kajian teori dari para ahli.
    • Tunjukkan dua atau lebih variabel-variabel yang ada dalam penelitian.
    • Hipotesis harus bisa diuji dan memiliki daya penjelas.

    Hal yang Harus Dilakukan Jika Hipotesis Tak Sesuai dengan Hasil Penelitian

    Presentasi Hasil Penelitian
    (Presentasi Hasil Penelitian | Sumber Gambar: unsplash.com)

    Ketika menjalani sebuah penelitian, kamu pasti akan menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah hipotesis yang tidak sesuai dengan hasil penelitian. 

    Ada banyak cara alternatif sebagai solusi permasalahan ini. Jika hipotesis yang kamu uji terjadi penolakan, tetapi prosedur dan metodologi penelitian telah kamu lakukan dengan benar dan hasil di lapangan memang sesuai dengan temuan tersebut, maka tidak ada masalah.

    Namun, bagaimana jika dosen mengajukan beberapa pertanyaan? Mereka mungkin ingin memastikan bahwa prosedur yang kamu ikuti telah sesuai. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang perlu kamu siapkan jawabannya:

    • Mengapa hipotesis awal terjadi penolakan?
    • Apakah kamu yakin bahwa langkah dan metodologi penelitian yang kamu lakukan benar?
    • Dari mana kamu mendapatkan referensi ketika menentukan hipotesis penelitian tersebut?
    • Metode apa saja yang telah kamu coba dalam penelitian tersebut?

    Tujuan dan Fungsi Merumuskan Hipotesis Penelitian

    Mengapa kamu harus melakukan observasi lapangan, membuat daftar permasalah, mengidentifikasi masalah, dan memastikan hipotesis dapat diuji sebagai cara menentukan hipotesis penelitian?

    Hipotesis penelitian adalah salah satu aspek untuk memudahkan kamu dalam melakukan penelitian. Berikut adalah tujuan dan fungsi dari hipotesis:

    1. Untuk Menguji Teori dan Topik Permasalahan Penelitian

    Hipotesis sangatlah penting dalam sebuah penelitian karena dapat memudahkan kamu dalam melakukan sebuah penelitian terkait sebuah topik. Melalui teori yang sudah ada sebelumnya, dengan adanya hipotesis, kamu bisa menguji dan membandingkannya dengan teori-teori tersebut.

    2. Membantu Membuat Kesimpulan Hasil Penelitian

    Hipotesis juga dapat membantu kamu dalam menyimpulkan hasil penelitian yang telah kamu lakukan. Dengan adanya hipotesis, kamu akan menemukan jawaban dari permasalahan penelitian kamu.

    3. Menumbuhkan Adanya Teori Baru

    Tidak menutup kemungkinan dengan adanya hipotesis penelitian, kamu akan memunculkan teori baru yang sebelumnya belum pernah ada.

    4. Membantu Mengarahkan Penelitian

    Selain itu, hipotesis penelitian juga dapat membantu kamu dalam proses penelitian. Dengan adanya hipotesis, kamu dapat melakukan penelitian dan mengumpulkan data serta jawaban secara terstruktur dan sistematis.

    Sudah Paham Cara Menentukan Hipotesis Penelitian yang Baik?

    Itulah cara menentukan hipotesis penelitian yang baik dan benar. Menentukan hipotesis penelitian yang kuat adalah langkah penting dalam proses penelitian ilmiah. Hipotesis dalam memandu penelitian kamu, memberikan fokus, dan memungkinkan kamu dalam menguji asumsi dengan data empiris.Oleh karena itu, dengan mengikuti cara menentukan hipotesis penelitian di atas, kamu dapat merumuskan hipotesis yang sesuai dengan tujuan kamu. Ingatlah bahwa hipotesis bukan hanya sekadar tebakan, tapi harus didasari dengan pengetahuan dan tinjauan pustaka yang cermat.

  • Focus Group Discussion: Pengertian, Tujuan, hingga Kelebihannya

    Focus Group Discussion: Pengertian, Tujuan, hingga Kelebihannya

    Dalam kegiatan akademik, sering kali kita menemukan istilah focus group discussion (FGD), yaitu wawancara semi-terstruktur atau diskusi bersama menggunakan topik tertentu. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan terkait pengertian, tujuan, karakteristik, sampai kelebihan dari FGD.

    Apa itu Focus Group Discussion?

    Focus group discussion (FGD) adalah metode penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data dan informasi tentang pandangan, pendapat, atau persepsi orang-orang terkait dengan topik tertentu.

    Metode penelitian seperti ini melibatkan sekelompok kecil peserta, biasanya terdiri antara 7-11 orang, yang memiliki pengalaman, pengetahuan, atau minat yang relevan terhadap pembahasan suatu topik tertentu.

    FGD sering digunakan dalam berbagai konteks, termasuk penelitian pasar, penilaian program, pengembangan produk, penelitian sosial, dan pemahaman lebih dalam tentang sikap dan pendapat masyarakat terhadap isu-isu tertentu.

    Hasil dari FGD dapat memberikan wawasan yang berharga bagi peneliti atau organisasi dalam pengambilan keputusan, perencanaan strategi, atau pengembangan produk.

    Selain itu, metode FGD juga sangat berguna untuk memahami pandangan dan sikap masyarakat terkait dengan topik tertentu. Hal tersebut tentu berguna untuk mendukung penelitian lebih lanjut atau pengembangan suatu program.

    Tujuan Focus Group Discussion

    Ilustrasi Diskusi
    Ilustrasi Diskusi I Sumber gambar: pexels.com

    Tujuan dari FGD adalah untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terkait pendapat, persepsi, sikap, dan pengalaman kelompok tertentu terkait suatu topik atau isu. Dengan melakukan FGD diharapkan dapat melahirkan persepsi baru dan menghasilkan kesepakatan terkait topik yang sedang dibahas.

    Berikut adalah beberapa tujuan umum dari FGD:

    1. Memahami Persepsi Kelompok

    Melalui diskusi terbuka dalam FGD, peneliti atau suatu organisasi dapat menghasilkan data yang relevan dan mendalam tentang pandangan dan persepsi suatu kelompok. Hal tersebut tentunya dapat membantu peneliti atau organisasi untuk mengembangkan strategi atau kebijakan yang lebih efisien dan efektif.

    2. Mengidentifikasi Kebutuhan dan Masalah Kelompok

    Kegiatan FGD dapat membantu suatu kelompok atau organisasi dalam mengidentifikasi kebutuhan dan masalah terkait topik yang dibahas. Diskusi dalam FGD dapat memberikan wawasan tentang kebutuhan dan harapan kelompok, misalnya dalam hal produk yang ditawarkan oleh suatu kelompok.

    Informasi ini dapat membantu peneliti atau suatu organisasi untuk mengembangkan produk yang lebih sesuai dengan harapan kelompok tersebut.

    3. Meningkatkan Kepuasan Kelompok

    Pelaksanaan focus group discussion dapat membantu meningkatkan kepuasan kelompok terhadap suatu produk atau layanan. Selama proses diskusi, setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat tentang topik diskusi mereka pada saat itu.

    Hal ini dapat membantu peneliti atau organisasi untuk membuat perubahan atau perbaikan pada produk atau layanan yang disediakan agar lebih memuaskan kelompok.

    4. Memahami Budaya Kelompok

    Budaya dan nilai-nilai dari setiap peserta diskusi dapat lebih mudah dipahami melalui FGD. Melalui diskusi kelompok, setiap peserta bisa menyampaikan gagasannya tentang bagaimana pandangan mereka terhadap suatu topik dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas.

    Informasi tersebut tentu dapat membantu suatu organisasi atau peneliti untuk mengembangkan strategi atau kebijakan yang lebih sensitif terhadap nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat.

    5. Meningkatkan Kepercayaan Kelompok

    Melalui diskusi terbuka seperti ini, setiap peserta diskusi dapat merasa lebih terlibat dan diberikan kesempatan untuk berbicara tentang pandangan mereka. Hal tersebut bertujuan untuk memperkuat hubungan antara kelompok dan organisasi atau peneliti yang ikut terlibat dalam kegiatan.

    Karakteristik Focus Group Discussion

    Ilustrasi Pelaksanaan FGD I Sumber gambar:pexels.com

    Focus group discussion memiliki sejumlah karakteristik khusus yang membedakannya dari metode penelitian lainnya. Berikut adalah karakteristik utama dari FGD:

    1. Jumlah Peserta Sedikit

    Peserta focus group discussion idealnya terdiri dari 7-11 orang. Kelompok tersebut harus cukup kecil agar memungkinkan setiap individu mendapat kesempatan menyampaikan pendapatnya. Selain itu, tujuan lainnya agar hasil diskusi tersebut memperoleh pandangan yang bervariasi dari anggota kelompok.

    Jumlah peserta FGD akan lebih baik bila berjumlah ganjil, agar memudahkan saat harus mengambil keputusan melalui voting. Namun, jumlah peserta ini bukan batasan yang bersifat mutlak.

    2. Peserta Relatif Homogen

    Peserta FGD terdiri dari orang-orang dengan ciri-ciri yang sama sesuai dengan tujuan dan kebutuhan studi atau proyek. Kesamaan ciri-ciri ini seperti: persamaan tingkat pendidikan, gender, pekerjaan, atau persamaan status yang lain.

    3. Sebagai Proses Pengumpulan Data

    Focus group discussion tidak dilakukan untuk tujuan menghasilkan pemecahan masalah secara langsung ataupun untuk mencapai konsensus. Akan tetapi, FGD bertujuan untuk menggali dan memperoleh berbagai informasi tentang masalah atau topik tertentu.

    Namun, apabila masalah atau topik yang sedang dibahas adalah tentang pemecahan masalah, maka FGD juga bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai strategi dan pilihan-pilihan untuk memecahkan masalah tersebut.

    4. Sebagai Metode dan Teknik Pengumpulan Data Kualitatif

    FGD biasanya akan menggunakan pertanyaan terbuka (open ended) yang memungkinkan peserta memberi jawaban dengan penjelasan yang mendalam. 

    Oleh karena itu, dalam FGD ada fasilitator atau moderator yang bertugas sebagai pemandu jalannya diskusi, pendengar, pengamat, dan menganalisa data secara induktif.

    5. Diskusi Terarah pada Masalah atau Topik Tertentu

    Sebelum FGD terlaksana, pasti sudah ditentukan topik diskusinya. Dengan begitu, agar diskusi berjalan teratur dan terarah, maka pertanyaan akan dikembangkan sesuai topik dan tersusun secara berurutan atau teratur alurnya agar peserta mudah mengerti. 

    6. Durasi Waktu yang Cukup

    Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan focus group discussion berkisar antara 60-90 menit. Jika waktu terlalu pendek khawatirnya diskusi dan pembahasan masih terlalu dangkal sehingga hasil diskusi akan memperoleh data yang sangat terbatas.

    Sedangkan jika waktu terlalu lama, khawatirnya peserta akan bosan sehingga berpengaruh terhadap konsentrasi dan perhatian peserta.

    7. Pelaksanaannya Berkali-Kali

    Jumlah pastinya pelaksanaan FGD tergantung tujuan dan kebutuhan proyek serta pertimbangan teknis dalam pelaksanaanya, seperti ketersediaan dana atau perlunya mencari informasi baru atau tidak.  

    Kegiatan FGD yang pertama kali biasanya akan memakan waktu lebih panjang daripada kegiatan FGD berikutnya karena pada FGD pertama sebagian besar informasinya baru.

    8. Pelaksanaannya di Tempat atau Ruang Netral

    Penentuan tempat yang netral bertujuan agar peserta dapat secara bebas dan tidak merasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya. Contohnya, sekolah, posyandu, atau gedung pertemuan desa.

    Tempat diskusi seperti di rumah-rumah ibadah seringnya kurang cocok menjadi karena dapat mempengaruhi keleluasaan dan kebebasan peserta dalam menyampaikan pandangan atau pendapatnya.

    Kelebihan Focus Group Discussion

    Ilustrasi Tukar Pendapat antar Peserta FGD
    Ilustrasi Tukar Pendapat antar Peserta FGD I Sumber gambar: istockphoto.com

    Focus group discussion adalah metode penelitian yang kuat, sehingga metode ini memiliki beberapa kelebihan. Berikut adalah beberapa kelebihan utama dari FGD:

    1. FGD memungkinkan pengumpulan wawasan yang mendalam tentang pandangan, sikap, dan pemahaman peserta terkait dengan topik tertentu.
    2. Dalam pelaksanaan FGD dapat mendorong interaksi sosial antar para peserta, yang dapat menghasilkan diskusi yang lebih kaya dan beragam.
    3. Metode FGD dapat membantu memahami pandangan kelompok secara keseluruhan bukan hanya pandangan individu.
    4. FGD dapat mengungkapkan berbagai perspektif dan pendapat dalam kelompok, sehingga memungkinkan adanya pemahaman yang lebih komprehensif.
    5. Penelitian dengan FGD dapat menghasilkan data relatif cepat, daripada penelitian dengan metode penelitian kualitatif lain, seperti studi kasus. 
    6. Penggunaan pertanyaan terbuka dalam FGD memungkinkan peserta untuk berbicara secara bebas.
    7. Moderator dalam FGD dapat membimbing diskusi, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan menjaga agar percakapan tetap fokus.

    Baca Juga : Pengertian Observasi: Ciri, Tujuan, Jenis, Contoh, dan Manfaatnya

    Pernah Melakukan Kegiatan Focus Group Discussion?

    Melaksanakan FGD secara langsung memang tidak semudah sesuai apa yang tertulis di atas. Akan ada banyak sekali tantangan yang muncul dalam pelaksanaan FGD, mulai dari kesulitan mencari tempat dan waktu hingga kekurangan peserta.

    Oleh karena itu, sebelum menggunakan metode focus group discussion, penting untuk mempertimbangkan tujuan diskusi dan pemilihan peserta yang tepat. Dengan adanya perencanaan yang cermat, FGD menjadi alat yang efektif untuk mendapatkan wawasan secara mendalam.