Category: Sejarah

  • Peradaban Mesir Kuno: Sejarah, Periodisasi, hingga Peninggalannya

    Peradaban Mesir Kuno: Sejarah, Periodisasi, hingga Peninggalannya

    Peradaban Mesir kuno ada di timur laut benua Afrika yang pusatnya di hilir Sungai Nil. Ini termasuk salah satu peradaban tertua dunia yang melahirkan banyak pencapaian terbesar di berbagai bidang. Dari pencapaian itulah Mesir kuno terkenal maju sebelum adanya peradaban Yunani dan Romawi.

    Mau tahu bagaimana sejarah peradaban Mesir kuno? Baca artikel ini sampai habis supaya tahu juga mengenai peninggalan dan sistem pemerintahan dari Mesir kuno.

    Awal Munculnya Peradaban Mesir Kuno

    Kerajaan Mesir Kuno
    Kerajaan Mesir Kuno | Sumber: intisari.grid.id

    Pada mulanya, aktivitas manusia di lembah Sungai Nil ini ada sejak masa paleolithic. Zaman paleolithic ini terjadi pada awal tahun 300.000 SM di mana saat itu terkenal dengan sebutan zaman batu.

    Saat itu, Sungai Nil masih belum jadi pusat peradaban manusia. Karena kondisinya masih rawan banjir yang membuat masyarakat mencari tempat alternatif yang lebih aman, yakni gurun pasir. Meski begitu, mereka juga sesekali datang ke Nil untuk memancing dan berburu.

    Masuk zaman es, tepatnya periode Holocene (10.000 SM), Mesir mengalami perubahan iklim drastis. Mesir sudah tidak lagi turun hujan hingga menyebabkan kekeringan. Saat itulah masyarakat mulai bermigrasi ke Lembah Sungai Nil untuk bertahan hidup, karena di sana tanahnya subur dan air juga tersedia.

    Kebutuhan yang terpenuhi di tengah kekeringan hebat, membuat mereka mendapatkan tanah subur yang cocok untuk pertanian. Mereka juga membangun saluran irigasi, terusan-terusan, dan waduk.

    Air Sungai Nil tersebut kemudian dialirkan ke ladang-ladang penduduk secara merata sehingga menghasilkan gandum, padi-padian, dan lain-lain. Dari sinilah mulai muncul peradaban di Lembah Sungai Nil.

    Periodesasi Peradaban Mesir Kuno

    Peradaban Mesir kuno terbagi menjadi beberapa periodesasi, seperti:

    1. Periode Pradinasti (3100-3050 SM)

    Pada masa ini, Mesir masih menjadi kawasan yang subur daripada sekarang. Terdapat banyak sabana berhutan di sebagian wilayahnya, ada banyak flora dan fauna produktif, dan banyak unggas-unggas air yang ada di Sungai Nil sehingga banyak masyarakatnya melakukan perburuan sebagai mata pencaharian utama.

    Saat itu karena wilayahnya yang subur, masyarakatnya menguasai pertanian dan peternakan. Mereka juga membuat kanal dan saluran irigasi untuk mengairi lahan pertaniannya. Itulah yang menjadikan mereka bangsa yang cukup maju berkat hasil buminya.

    Menurut sejarah, sebelum dinasti pertama berkuasa, Mesir memiliki dua kerajaan besar. Dua kerajaan tersebut adalah Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Mesir Hulu atau Ta Syemau terletak di bagian selatan. Sementara Mesir Hilir atau Ta Mehu ada di wilayah utara.

    Wilayah Mesir Hulu ini dulunya termasuk peradaban terbesar pada masa awal-awal peradaban. Wilayah ini terkenal dengan peralatan batu, keramik, dan penggunaan tembaganya. Kedua wilayah tersebut terpisahkan oleh perbatasan yang sekarang dikenal dengan Kairo.

    Penguasanya pada saat itu masih jadi perdebatan sejarawan. Ada yang menyebut raja pertamanya adalah Menes, tapi kata para arkeolog fir’aun (raja) pertama, yang memimpin adalah Narmer.

    Terlepas dari perdebatan itu, ada kepercayaan bahwa penguasa pertama itulah yang berperan besar menyatukan kedua kerajaan tersebut, yakni Mesir Hulu dan Mesir Hilir.

    2. Periode Kerajaan Lama (2686-2181 SM)

    Saat itu, peradaban Mesir kuno sudah semakin maju. Dulunya mereka membangun saluran irigasi, kanal, dan barang-barang dari keramik serta tembaga. Pada periode ini mereka sudah memakai logam untuk peralatan rumah tangga.

    Mereka juga mulai melakukan perdagangan dan pelayaran. Kapal-kapal dagang mereka mulai dikirim ke pantai Syiria untuk mendapatkan kayu sebagai bahan pembuatan kapal, rumah, dan perabotan lain. 

    Bidang industri sudah ada pada periode ini, bahkan para pengrajin sudah mulai memproduksi permata-permata indah.

    Bukti kemajuan terbesar peradaban Mesir kuno pada masa ini adalah adanya piramida. Piramida adalah kuburan para fir’aun (raja) yang dibangun pada masa dinasti ketiga. Bangunan piramida inilah yang masih ada hingga saat ini.

    3. Periode Menengah Pertama (2181-1690 SM)

    Pada akhir periode ini, Mesir kuno mengalami kekacauan. Pemerintahan pusatnya tidak mampu lagi mendukung dan menstabilkan kondisi ekonomi negara dan gubernur-gubernurnya tidak bisa bergantung pada fir’aun saat krisis, hingga akhirnya pemerintahan pusatnya runtuh.

    Saat itu, rakyat juga mengalami kekurangan pangan dan terjadi sengketa politik. Para gubernurnya saling berebut kekuasaan sehingga menimbulkan perang saudara berskala kecil dan pertempuran yang sempat menyebabkan Mesir Hulu dan Mesir Hilir terpisah kembali.

    Mesir Hilir dikuasai oleh penguasa Herakleopolis, sementara keluarga Inter mengambil Mesir Hulu. Keduanya pun saling bertempur hebat untuk mendapatkan kekuasaan wilayah.

    Namun, sekitar tahun 2055 SM, kedua wilayah tersebut mulai kembali karena Nebhepetre Mentuhotep II berhasil mengalahkan Herakleopolis.  Masa ini mulai menginjak periode renaisans budaya dan ekonomi yang kemudian disebut Kerajaan Pertengahan.

    4. Periode Kerajaan Pertengahan (2181-1690 SM)

    Setelah mengalami kekacauan, peradaban Mesir kuno periode ini mulai bangkit. Fir’aun berhasil mengembalikan kestabilan dan kesejahteraan negara sehingga mendorong kebangkitan berbagai bidang, seperti seni, proyek pembangunan monumen, dan sastra.

    Pada periode ini, bidang kesenian mulai menampilkan tema dan karakter canggih. Penulisan seni mulai menggunakan gaya percaya diri dan indah, sedangkan relief dan pahatan mulai menampilkan karakter lembut dan mencapai kesempurnaan teknis yang baru.

    5. Periode Menengah Kedua dan Bangsa Hyksos (1674-1549 SM)

    Kemakmuran dan kemajuan periode sebelumnya membuat jumlah populasi meningkat. Peningkatan jumlah populasi ini justru berakibat fatal bagi masyarakat Mesir saat itu.

    Mesir juga sempat mengalami kemerosotan pada Wangsa Ketiga Belas dan Keempat Belas. Keadaan ini terus berlangsung hingga sekitar tahun 1650 SM bangsa Asia (Hyksos) datang menduduki wilayah Mesir Kuno.

    6. Periode Kekuasaan Romawi (Sekitar 332 SM)

    Sejak bangsa Asia ini datang, bangsa asing menguasai Mesir hingga beberapa abad berikutnya.

    Bangsa Persia pernah menguasai wilayah sekitar Sungai Nil  tahun 526 M. Saat itu, memang Persia menjadi kekuasaan besar yang sempat ditakuti oleh bangsa Mesir. Persia terus berkuasa hingga Aleksander Agung datang untuk menaklukkannya.

    Setelah kejadian itu, pemerintahan Mesir terus bergonta-ganti. Tahun 30 SM, saat bangsa Romawi datang, Mesir tidak lagi dipimpin oleh raja lokal. Bangsa Romawi mengambil alih Mesir hingga tahun 300-an Masehi.

    Sistem Pemerintahan Mesir Kuno

    Raja Mesir
    Raja Mesir | Sumber: pixabay.com

    Peradaban Mesir kuno menganut sistem pemerintahan monarki absolut yang bersifat autokrasi. Jadi, kekuasaan hanya berada di tangan satu orang yang keputusannya tidak tunduk pada mekanisme kontrol rakyat maupun batasan hukum eksternal.

    Dalam hal ini, fir’aun adalah pemimpin Mesir kuno secara turun temurun. Fir’aun itu sebutan untuk raja yang juga dipercaya sebagai anak seorang dewa sehingga kedudukannya berada di puncak hierarki.

    Fir’aun adalah penguasa mutlak yang juga dianggap sebagai dewa. Seluruh kekuasaan berada di tangan fir’aun baik militer, agama, ekonomi, hingga sipil. Bahkan, fir’aun mengklaim seluruh tanah kerajaan itu miliknya secara mutlak sehingga rakyat yang tinggal di wilayah ini harus membayar pajak.

    Sistem pemerintahan Mesir juga bersifat teokratik. Sistem ini mengombinasikan agama dan fungsi politik yang membuat fir’aun tidak hanya bertindak sebagai raja, namun juga dewa penguasa tanah dan spiritual.

    Untuk membantu pemerintahannya, fir’aun mengangkat para pejabat yang berasal dari kalangan bangsawan. Ada pejabat gubernur, panglima ketentaraan, pendeta, hakim pengadilan, dan perdana menteri yang umumnya dijabat oleh putra mahkota.

    Peninggalan Peradaban Mesir Kuno yang Terkenal

    Patung Sphinx dan Piramida
    Patung Sphinx dan Piramida | Sumber: istockphoto.com

    Ada beberapa peninggalan peradaban Mesir kuno yang sampai saat ini pun masih eksis, seperti:

    1. Piramida

    Saat ini, terhitung ada sekitar 110 piramida yang masih berdiri kokoh dan menjadi perhatian dunia. Bangunan ini terbuat dari batu kapur super besar yang berat setiap bloknya bisa mencapai 2,5-15 ton. Tak heran, piramida terlihat sangat kokoh dan megah sampai sekarang padahal usianya sudah sangat tua.

    Bangunan ini berfungsi sebagai makam raja-raja Mesir atau fir’aun yang telah diawetkan jadi mumi. Konon proses pembuatannya memakan waktu hingga 80 tahun dengan menggunakan 20 ribu pekerja.

    2. Mumi

    Mumi itu mayat fir’aun yang diawetkan. Tradisi mengawetkan mayat ini sudah ada sejak masa Mesir kuno dan tidak hanya untuk para raja saja, tapi pengawetan mayat ini berlaku juga untuk orang biasa.

    3. Sphinx

    Selain piramida, ada juga patung singa berkepala manusia yang bernama Sphinx. Patung ini bisa mudah kamu temukan di sekitar piramida. Konon katanya, patung ini memang sengaja dibuat sebagai sosok penjaga para raja-raja dalam piramida.

    4. Hieroglif

    Tidak hanya bangunan, ada juga peninggalan berupa tulisan Mesir kuno yang terdiri dari gambar dan simbol. Tulisan ini memiliki tingkat kesulitan tinggi sampai-sampai sangat jarang ada orang yang bisa membacanya.

    Baca Juga: 3 Periodisasi Perkembangan Peradaban Islam Secara Lengkap

    Tertarik dengan Kisah Peradaban Mesir Kuno?

    Peradaban Mesir kuno adalah salah satu peradaban tertua yang terbilang maju. Dari peradaban itulah melahirkan banyak inovasi dan pencapaian besar di berbagai bidang, mulai dari kesenian, pengetahuan, transportasi, arsitektur, dan lain-lain yang bisa kamu rasakan hingga saat ini.

    Bahkan, peninggalannya pun masih ada dan bisa kamu saksikan sendiri, seperti piramida, mumi, hingga sphinx sebagai bukti bahwa peradaban ini sangatlah maju.

  • 5 Peran Indonesia dalam GNB serta Sejarah Singkatnya

    5 Peran Indonesia dalam GNB serta Sejarah Singkatnya

    Apa Anda tahu tentang Gerakan Non Blok atau GNB? Jika belum, GNB merupakan sebuah organisasi internasional yang di dalamnya berisi negara-negara yang tidak beraliansi maupun berpihak dengan kekuatan besar manapun, Faktanya, Indonesia merupakan salah satu anggotanya. Lalu, apa peran Indonesia dalam GNB ini?

    Jika Anda ingin tahu mengenai peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok, maka biarkan artikel ini membantu Anda. Selain itu, kita akan mempelajari sejarah singkat mengenai Gerakan Non Blok. Tunggu apalagi? Simak penjelasannya!

    Gerakan Non Blok. Apa Pengertiannya?

    Perwakilan negara Irak dalam GNB
    Perwakilan negara Irak dalam GNB | Sumber Gambar: Dictio Community

    Anda harus paham dulu gerakan ini sebelum mengetahui peran Indonesia dalam GNB. Secara garis besar, Gerakan Non Blok (GNB) atau Non Aligned Movement (NAM) merupakan suatu gerakan yang dipelopori oleh negara-negara dari dunia ketiga. GNB memiliki anggota lebih dari 100 negara yang memiliki visi yang sama.

    Gerakan Non Blok ini berdiri pada tanggal 1 September 1961. Secara historis, pembentukan GNB ini dicetuskan dan dipelopori oleh beberapa tokoh penting dunia. Siapa saja mereka? Mereka adalah Soekarno dari Indonesia, Jawaharlal Nehru dari India, Gamal Abdel Nasser dari Mesir, dan masih banyak lagi.

    Lebih dari 100 negara yang tergabung di dalam Gerakan Non Blok ini memiliki visi untuk menjalankan seluruh kebijakan luar negeri dengan cara tidak memihak ataupun beraliansi dengan negara-negara dari Blok Barat maupun Blok Timur. Lantas, negara apa saja yang tergabung di dalam Blok Barat dan Blok Timur?

    Pada dasarnya, Blok Barat berisi delapan negara yang meliputi Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belanda, Kanada, Belgia, Luxemburg dan Norwegia. Sementara itu, Blok Timur hanya terdiri dari empat anggota negara, seperti Jerman Timur, Rumania, Cekoslovakia, dan Uni Soviet.

    Sejarah Terbentuknya Gerakan Non Blok

    Seperti yang sudah Anda ketahui dari penjelasan sebelumnya, pembentukan Gerakan Non Blok ini didasari oleh adanya perseteruan antara Blok Barat dengan Blok Timur. Masing-masing dari blok ini memiliki caranya sendiri dalam mempertahankan kedudukannya.

    Dari Blok Barat, negara-negara yang tergabung di dalamnya membentuk North Atlantic Treaty Organization atau NATO. Sedangkan untuk Blok Timur, negara-negara yang tergabung di dalamnya membentuk organisasi bernama Pakta Warsawa.

    Selain membentuk organisasi, kedua blok, baik Blok Barat maupun Blok Timur juga terus melakukan berbagai cara untuk mendapatkan sekutu. Rencananya, sekutu-sekutu ini akan digunakan untuk meningkatkan pertahanan masing-masing di Asia, Afrika, maupun Amerika.

    Perbedaan dan perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur inilah yang melatarbelakangi lahirnya Gerakan Non Blok. Karena rasa khawatir akan keadaan antara dua blok ini yang memanas, negara-negara yang ada di kawasan Asia Afrika pun mengadakan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955.

    Lokasi dari Konferensi Asia Afrika ini bertempat di Indonesia, lebih tepatnya di Bandung, Jawa Barat. Penyelenggaraan konferensi tersebut menghasilkan kesepakatan bersama bernama Dasasila Bandung yang berisi mengenai prinsip kerja sama internasional. 

    Enam tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 1 sampai 6 September 1961, negara-negara Asia Afrika mengadakan kembali pertemuan bernama Konferensi Tingkat Tinggi I di Beograd, Yugoslavia. Dari konferensi ini, lahirlah organisasi internasional yang netral bernama GNB.

    Selain itu, saat konferensi ini berlangsung, negara-negara pendiri GNB kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah gerakan bernama Gerakan Non Blok. Menggunakan kata “gerakan” dan bukan “organisasi” karena bertujuan untuk menghindari adanya unsur-unsur birokratis di dalamnya.

    Apa Saja Tujuan dari Pembentukan Gerakan Non Blok

    Pertemuan Gerakan Non Blok
    Pertemuan Gerakan Non Blok | Sumber Gambar: Kompas.com

    Sebelum membahas peran Indonesia dalam GNB, mari bagas tujuannya terlebih dahulu. Tujuan utama pembentukan Gerakan Non Blok atau GNB ini adalah untuk mendukung hak dalam menentukan nasib negara sendiri, kemerdekaan secara nasional, kedaulatan nasional dari negara-negara yang tergabung dalam GNB.

    Selain tujuan utama ini, ada beberapa tujuan lain dari GNB. Berikut poin-poinnya.

    • Penentangan terhadap apartheid
    • Tidak diperbolehkan untuk memihak pada apapun pakta militer multilateral
    • Harus berjuang untuk melawan segala bentuk manifestasi dari para imperialisme
    • Memperjuangkan dan bahkan menentang akan adanya kolonialisme, pendudukan, rasisme, neokolonialisme, dan bentuk dominasi apapun dari negara asing
    • Pelucutan senjata
    • Tidak diperbolehkan untuk ikut campur dengan urusan dalam negeri dari negara lain
    • Menolak adanya penggunaan ataupun ancaman kekuatan dalam melakukan hubungan internasional
    • Menciptakan ekonomi sosial dan restrukturisasi terhadap sistem perekonomian internasional
    • Melakukan kerja sama secara internasional dengan mengikuti aturan persamaan hak.
    • Menumbuhkan solidaritas antar negara berkembang demi menciptakan kemakmuran, kemerdekaan, dan kebersamaan.
    • Meredakan ketegangan yang terjadi di dunia akibat perseteruan antara Blok Barat dan Blok Timur.

    Itulah beberapa tujuan dari pembentukan Gerakan Non Blok. Walau memiliki tujuan pembentukan yang jelas, namun GNB sempat kehilangan kredibilitasnya pada akhir tahun 1960. Bagaimana bisa? Itu karena beberapa negara yang tergabung dalam GNB memutuskan untuk bergabung dengan Blok Barat maupun Blok Timur.

    5 Peran Indonesia dalam GNB

    Ir. Soekarno dalam GNB
    Ir. Soekarno dalam GNB | Sumber Gambar: Cerdika

    Indonesia merupakan salah satu dari 100 negara yang menjadi pelopor terbentuknya Gerakan Non Blok. Lalu, apa peran Indonesia dalam GNB? Secara umum, ada 5 peran aktif yang Indonesia berikan dalam setiap proses terbentuknya Gerakan Non Blok. Berikut peran dari Indonesia dalam Gerakan Non Blok.

    1. Menjunjung Perdamaian di Dunia Internasional

    Semenjak Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, Indonesia selalu menentang apapun kejahatan yang terjadi di dunia, apalagi penjajahan. Dengan kata lain, Indonesia sangat menjunjung tinggi sebuah perdamaian di dunia internasional.

    Hebatnya, perdamaian yang Indonesia junjung ini diaplikasikan dengan baik dalam politik luar negeri bebas aktifnya. Ternyata, politik luar negeri bebas aktif yang Indonesia terapkan ini sejalan dengan prinsip yang Gerakan Non Blok miliki.

    2. Ketua Serta Penyelenggara KTT GNB yang ke 10

    Pada tanggal 1-7 September di tahun 1992, Indonesia menjadi tuan rumah atas Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non Blok yang kesepuluh. Peran Indonesia dalam GNB ini berlokasi ada di Jakarta dan Bogor.

    Hebatnya lagi, Indonesia juga menjadi pelopor atas kembalinya dialog antara utara serta selatan. Apa itu? Itu merupakan dialog yang dapat mempererat dan memperkuat hubungan setiap negara berkembang (pihak selatan) dengan negara-negara maju (pihak utara)

    3. Memiliki Peran Signifikan dalam Meredakan Konflik Internasional

    Peran Indonesia dalam GNB secara aktif selanjutnya adalah dengan meredakan ketegangan yang dulu pernah terjadi di kawasan bekas Yugoslavia. Peran aktif Indonesia ini terjadi pada tahun 1991. Pada tahun itu, Indonesia berhasil menyumbang peran yang signifikan untuk meredakan konflik di kawasan tersebut.

    4. Membantu Menyelesaikan Masalah Utang Luar Negeri

    Dalam kedudukan tinggi yang Indonesia miliki dalam organisasi Gerakan Non Blok, Indonesia selalu berupaya menyelesaikan berbagai masalah utang luar negeri yang negara berkembang dan miskin alami. Peran dari Indonesia dalam Gerakan Non Blok untuk menyelesaikan utang pun dilakukan secara komprehensif.

    5. Mendirikan Pusat Kerjasama Teknik Selatan GNB

    Peran Indonesia dalam GNB yang terakhir adalah mendirikan Pusat Kerjasama Teknik Selatan GNB di Jakarta. Adanya pendirian fasilitas ini berkat kerja sama antara Indonesia dengan Brunei Darussalam. Lalu, tujuan didirikannya fasilitas ini adalah untuk memperkuat hubungan antar negara-negara GNB.

    Di dalam program ini, Indonesia dan Brunei Darussalam berfokus untuk mengentaskan kemiskinan, memajukan berbagai usaha kecil sampai menengah, serta menerapkan teknologi-teknologi yang berkaitan dengan informasi dan komunikasi.

    Itulah 5 peran dari Indonesia dalam GNB. Selain kelima peran tersebut, Indonesia juga terkenal dengan perannya yang aktif dalam menjaga kedamaian dunia. Untuk itulah, negara ini mengeluarkan Jakarta Message yang berisi dukungan terhadap Palestina, permintaan penyelesaian diskriminasi di Afrika Selatan, dan banyak lagi.

    Peran Indonesia dalam GNB Terhadap Perdamaian Dunia

    Selain menyumbang peran penting dalam Gerakan Non Blok, Indonesia juga ikut andil dalam mewujudkan adanya perdamaian dunia. Apa saja kontribusi Indonesia terkait perdamaian dunia. Berikut penjelasannya.

    1. Ikut Andil dalam Konferensi Asia Afrika (KAA)

    Tidak dapat dipungkiri, Indonesia memiliki kontribusi yang penting di setiap penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika. Penyelenggaraan konferensi ini adalah untuk mempersatukan negara-negara di Asia Afrika yang saat itu baru mendapatkan kemerdekaan.

    2.  Mengirim Kontingen Garuda

    Demi menjaga perdamaian di dunia, peran Indonesia dalam GNB selalu mengirim Kontingen Garuda ke negara-negara yang sedang mengalami konflik. Kontingen Garuda ini merupakan para militer Indonesia yang memiliki tugas untuk melaksanakan berbagai misi perdamaian.

    3. Membentuk ASEAN

    Terbentuknya ASEAN merupakan salah satu bentuk peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut andil dalam pembentukan organisasi ini. 

    Tujuan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) adalah untuk memperkuat hubungan sosial, politik, ekonomi di negara-negara Asia Tenggara.

    Baca Juga: Konferensi Meja Bundar: Sejarah, Dampak, Arti Pentingnya

    Sudah Paham Tentang Peran Indonesia dalam GNB

    Demikian penjelasan mengenai peran Indonesia dalam GNB. Sebagai penutup, tujuan Indonesia membentuk Gerakan Non Blok bersama seratus negara lainnya adalah demi menjaga perdamaian negara saat adanya perseteruan antara Blok Barat dan Blok Timur.

  • 10 Manfaat Belajar Sejarah bagi Kehidupan Sehari-Hari

    10 Manfaat Belajar Sejarah bagi Kehidupan Sehari-Hari

    Kebanyakan orang, termasuk juga siswa-siswi di sekolah, sering menganggap jika sejarah ialah mata pelajaran yang membosankan dan rumit. Padahal, ada sejumlah manfaat belajar sejarah yang sangat berguna bagi kita di zaman modern ini, apalagi dengan adanya fasilitas internet nirkabel.

    Manfaat Belajar Sejarah untuk Generasi Modern

    Cabang ilmu sejarah membahas tentang aneka peristiwa yang terjadi sebelum kita lahir, baik itu sejarah bangsa, umat manusia, maupun planet bumi. Ilmu ini memiliki banyak kegunaan untuk umat manusia, sebab kita belum tentu mengetahui apa saja yang pernah terjadi di masa lalu. Berikut manfaat belajar sejarah selengkapnya:

    1. Media Belajar kepada Generasi Muda

    Manfaat pertama dari menelaah ilmu sejarah adalah terbukanya sarana belajar yang mudah dan efisien untuk anak-anak. Betul, mata pelajaran sejarah ialah media belajar yang baik untuk mengajarkan tentang perkembangan bangsa dan negara kepada generasi muda.

    Salah satu nilai yang dapat peserta didik ambil dari ilmu sejarah ialah pendidikan karakter yang sesuai dengan budaya bangsa. Pendidikan karakter dari pelajaran sejarah ini diharapkan dapat membentuk generasi muda yang cinta tanah air.

    Untuk guru, jangan terlalu terpaku dengan buku teks saja ketika hendak mengajar mata pelajaran sejarah kepada siswa-siswi. Silakan cari media berbentuk presentasi atau film historis, atau membawa siswa langsung ke lokasinya apabila sanggup.

    2. Sarana Liburan Edukatif

    Siapa bilang liburan itu harus selalu heboh dan penuh dengan foya-foya? Liburan juga bisa bernuansa edukatif, terutama bagi yang pergi jalan-jalan bersama keluarga. Itulah manfaat belajar sejarah yang kedua, yaitu menyediakan sarana liburan yang mendidik.

    Contohnya seperti Museum Geologi, Istana Bogor, Istana Merdeka, Monumen Nasional atau Monas, dan Candi Borobudur di Yogyakarta. Objek-objek wisata itu dapat mengajarkan pengetahuan mengenai sejarah perkembangan bangsa Indonesia dari zaman dulu hingga sekarang.

    Anda sebetulnya tidak usah repot menghafal semua tanggal bersejarah dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Cukup saja Anda mengerti bahwa dunia dan tanah air kita telah mengalami perjalanan historis yang sangat panjang.

    3. Antisipasi terhadap Terulangnya Kesalahan

    Tahukah Anda bahwa kesalahan yang terjadi di masa lalu mungkin saja terjadi lagi di masa kini? Dalam bahasa Inggris, musibah ini sering disebut dengan istilah “history repeats”. Suatu peristiwa historis yang memilukan dapat terulang kembali apabila kita lengah barang sebentar saja.

    Ini adalah manfaat belajar sejarah yang jarang kita ketahui, yaitu bagaimana caranya kita mencegah sejarah kelam agar tidak terulang. Bukan hanya sekadar tahu saja, tetapi juga menyiapkan langkah antisipasi demi menjamin masa depan yang lebih cerah.

    Salah satu contohnya ialah budaya perbudakan, yang membawa derita dan dendam kepada banyak sekali kaum minoritas. Supaya perbudakan tidak lagi ada di masa kini, masyarakat di seluruh dunia wajib menegakkan dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia secara penuh.

    4. Sumber Inspirasi untuk Masa Kini

    Terkadang kita suka mencari sumber inspirasi dari internet atau acara TV ketika ingin menciptakan sebuah karya. Padahal Anda sebetulnya bisa menemukan inspirasi dari hal-hal bersejarah seperti pada lukisan, bangunan kuno, hingga monumen.

    Mari kita lihat monumen Colosseum di negara Roma, yang dulu dipakai oleh bangsa Romawi Kuno untuk segala macam olahraga purbakala. Pada masa kini, ada banyak stadium olahraga modern super megah yang mengambil inspirasinya dari monumen Colosseum purbakala ini.

    Di negeri Indonesia saja ada ratusan bangunan cagar budaya yang mengambil inspirasi dari arsitektur peninggalan kaum kolonial Belanda. Gaya arsitektur Belanda tersebut seringkali digunakan karena polanya yang elegan dan artistik, sehingga menambah daya tarik bagi pengunjung.

    5. Menghargai Jasa Para Leluhur

    Kemudian ada manfaat belajar sejarah yang kelima, yaitu mengingatkan kita agar berterima kasih kepada para leluhur. Para leluhur itu ialah pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia yang berjibaku dengan gigih melawan bangsa kolonial.

    Misalnya saja Monumen Bandung Lautan Api, yang menjadi simbol perjuangan para leluhur untuk mengusir pasukan Sekutu dari Kota Bandung, Tanpa adanya tugu peringatan ini, Anda mungkin tidak akan tahu apa itu peristiwa Bandung Lautan Api dan tujuan dibalik peristiwa tersebut.

    Contoh lainnya ialah Monumen Perjuangan Rakyat di Jln. Dipati Ukur No. 48, kawasan Lebakgede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Monumen ini menyimpan beragam artefak yang menceritakan perjalanan para leluhur kita demi mencerdaskan bangsa Indonesia.

    6. Mengenal Identitas Bangsa

    Manfaat belajar sejarah berikutnya adalah untuk mengenal identitas bangsa. Identitas bangsa dalam hal ini adalah bukti bahwa tanah air yang Anda tinggali mempunyai ciri khas dan budayanya sendiri. 

    Bagi sebagian orang, identitas bangsa juga mencakup satu asal-usul, serta perasaan senasib dan seperjuangan yang menyatukan seluruh warga negaranya. Bagaimana Anda akan cinta terhadap negeri Anda sendiri jika tidak pernah belajar tentang sejarah terciptanya tanah air? 

    Dengan mempelajari perjalanan sejarah bangsa dan negara, Anda pun akan memiliki rasa cinta dan patriotisme, sehingga Anda lebih menghargai tanah air.

    Meskipun demikian, jangan sampai rasa cinta kepada tanah air ini melahirkan pola pikir jingoistik atau patriotisme yang berlebihan. Ingat, setiap bangsa di muka bumi ini pasti mempunyai masa lalu yang kelam dan penuh kekerasan.

    7. Sarana Menelusuri Asal-Usul Bangsa

    Selanjutnya, ada manfaat belajar sejarah yaitu berupa sarana untuk menelusuri asal-usul nenek moyang suatu bangsa. Ketahuilah bahwa warga negara yang tinggal di suatu negeri tidak mungkin ada begitu saja; mereka tentu memiliki tanah kelahirannya masing-masing.

    Sekarang coba Anda pikirkan sejenak, dari mana masyarakat asli Sunda berasal? Dari mana penduduk pulau Madura, Nusa Tenggara, dan Sulawesi berasal? Jika kita tak mau mempelajari bidang ilmu sejarah, kita tidak akan pernah tahu.

    Dengan menelaah bidang ilmu ini, kita akan menemukan silsilah nenek moyang masyarakat negeri kita secara pasti dan ilmiah. Siapa tahu, penemuan silsilah dan asal-usul ini nantinya membuat masyarakat Indonesia lebih dekat dengan negara-negara tetangga kita.

    8. Sumber Visi dan Misi Negara

    Di nomor delapan, manfaat belajar sejarah yang selanjutnya yaitu mengetahui sumber visi dan misi suatu negara. Setiap negara di muka bumi ini, termasuk juga Indonesia, tentu mempunyai pedoman atau visi dan misi yang ingin mereka capai.

    Cobalah Anda baca Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945; isi dari Pembukaan UUD 1945 itu bukanlah sebuah karangan para politisi tempo dulu semata. Manifesto tersebut ialah visi dan misi negara Indonesia untuk melenyapkan penjajahan dan menjunjung kemerdekaan di seluruh dunia.

    Pedoman bermasyarakat dan bernegara yang dapat kita ambil dari sejarah kemudian dapat kita jadikan sebagai cita-cita di masa depan. 

    Apa yang akan Anda wujudkan untuk tanah air setelah tahu asal-usul bangsa Anda? Anda bisa lihat kembali sejarah untuk memperbaiki nasib bangsa atau menghindari terulangnya masa lalu yang kelam.

    9. Mengembangkan Ilmu Pengetahuan Kita

    Bidang ilmu sejarah itu tidak selalu berkutat pada tanggal, tempat, dan tokoh-tokoh bersejarah saja. Manfaat belajar sejarah juga dapat kita gunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan umat manusia. Itu karena di masa lalu sudah ada kaum cendekiawan yang meneliti berbagai disiplin ilmu.

    Sebagai contoh, penemu telepon yang pertama ialah seorang ilmuwan bernama Alexander Graham Bell. Dengan menelusuri sejarah penciptaan telepon, kita nantinya mampu mengembangkan teknologi itu sehingga lebih canggih.

    Contoh lainnya ialah Charles Darwin, yang menjelajahi berbagai negara dan benua untuk meneliti segala macam jenis hewan dan tumbuhan. Hasil penelitian Darwin kemudian tumbuh menjadi ilmu botani dan zoologi setelah para ilmuwan modern menelaah sejarah perjalanannya.

    10. Menumbuhkan Wawasan Masyarakat

    Manfaat belajar sejarah yang terakhir adalah menumbuhkan wawasan dan kesadaran orang-orang di lingkungan sekitar kita. Wawasan ini bukan hanya untuk siswa-siswi di sekolah saja, tetapi juga untuk masyarakat umum supaya mereka lebih mengerti tentang perkembangan zaman di dunia.

    Selain untuk mencerdaskan masyarakat, ilmu sejarah juga mampu mendorong warga negara untuk ikut berpartisipasi dalam politik. Orang-orang yang mempelajari sejarah akan menyadari apa nilai, tradisi, dan cita-cita yang patut mereka perjuangkan via forum politik.

    Baca Juga: Pengertian Teks Cerita Sejarah: Ciri, Struktur & Kaidah Kebahasaan

    Sudah Mengerti tentang Manfaat Belajar Sejarah?

    Sejarah merupakan ilmu dan pelajaran yang dapat membantu kita untuk mempelajari segala macam kejadian penting di masa lampau umat manusia. Meskipun ilmu ini memang tampak susah untuk kita telaah, bukan berarti sejarah ialah pelajaran yang tidak berguna.Manfaat belajar sejarah sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari. Wawasan-wawasan yang didapatkan dari belajar sejarah juga sangat penting untuk menciptakan masa depan yang lebih dan mencegah agar masa lalu kelam tidak terulang kembali.

  • Isi Prasasti Mantyasih, Bukti Penting Keberadaan Mataram

    Isi Prasasti Mantyasih, Bukti Penting Keberadaan Mataram

    Terletak di Kampung Mateseh, terdapat peninggalan sejarah yang menjadi saksi keberadaan Mataram sekaligus asal mula peringatan hari jadi Kota Magelang, yaitu Prasasti Mantyasih.

    Prasasti ini ada saat masa pemerintahan Raja Dyah Balitung, ketika masa jayanya pada tahun 899-911 M. Oleh karena itu, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Balitung. Penasaran dengan isi Prasasti Mantyasih yang menjadi bukti keberadaan Kerajaan Mataram? Simak artikel ini!

    Sejarah Singkat

    Prasasti Mantyasih
    Prasasti Mantyasih | Sumber Gambar: Ayoyogya.com

    Prasasti Mantyasih adalah peninggalan Mataram Kuno berangka tahun 907 M. Peninggalan ini menjadi bukti paling penting dalam rekonstruksi histori pada Kerajaan Mataram Kuno sejak kekuasaan Sanjaya hingga Balitung. 

    Menurut cerita, Raja Balitung merupakan raja ternama dan termasyur se-Mataram kala itu. Hal tersebut terbukti dari kebijakannya yang memakmurkan rakyatnya. Selain itu, wilayah kekuasaannya juga luas dan sangat subur. Wilayahnya membentang ke berbagai daerah yang meliputi lembah dan sungai di area gunung berapi yang berada di tengah hingga timur Pulau Jawa. 

    Namun, meski terkenal sebagai raja yang bijak, tidak membuat posisinya sebagai penerus tahta Kerajaan Mataram yang sah. Jika ditelusuri dari silsilah Kerajaan Mataram, Raja Balitung adalah rakai dari Watukura yang bergelar haji — raja bawahan. Lalu, ia akhirnya menikah dengan putri raja dari Rakai Watuhumalang. 

    Dari pernikahannya, Raja Balitung sebenarnya bisa mendapat tahta sah. Namun untuk memperkuat kedudukannya, akhirnya raja memutuskan untuk dibuatkan Prasasti Mantyasih.

    Isi Prasasti Mantyasih dan Terjemahannya

    Prasasti Mantyasih
    Prasasti Mantyasih | Sumber Gambar: kemdikbud.go.id

    Fisiknya pertama kali ditemukan di Kedu, Jawa Tengah, terdiri dari 2 lempengan tembaga yang ditulis menggunakan aksara Jawa. Isi dari prasasti ini mengandung banyak aspek yang menjelaskan kegiatan politik dan keamanan lingkungan yang terjadi pada masa Raja Balitung. 

    Inilah isi Prasasti Mantyasih:

    1. // o // swasti śakawarṣātīta 829 caitra māsa. tithi ekādaśi kṛṣṇapakṣa. tu. u. śa. wāra. purwwabhadrawāda nakṣatra. ajamāda dewatā. indra yoga. tatkāla ājña śrī mahārāja rakai watukura dyaḥ balituŋ śrī dha 
    2. [r]mmodaya mahāsambhu. umiŋsor i rakarayān mapatiḥ i hino. halu. sirikan. wka. halaran. tiruan. palarhyaŋ. maŋhuri. wadihati. makudur. kumonnakan nikanaŋ wanua i mantyāsiḥ winiḥ ni sawaḥnya satu. muaŋ a 
    3. lasnya i muṇḍuan. i kayu pañjaŋ. muaŋ pomahan iŋ kuniŋ wanua kagunturan pasawahanya ri wunut kwaiḥ ni winiḥnya satu hamat 18 hop sawaḥ kanayakān. muaŋ alasnya i susuṇḍara. i wukir sumwiŋ. kapua wa 
    4. tak patapān. sinusuk sīmā kapatihana. paknānya pagantyagantyana nikanaŋ patiḥ mantyāsiḥ sānak lawasnya tluŋ tahun sowaŋ. kwaiḥ nikanaŋ patiḥ sapuṇḍuḥ pu sna rama ni ananta. Pu kolā rama ni diṇī. pu puñjěŋ 
    5. rama ni udal. pu karā rama ni labdha. pu sudraka rama ni kayut piṇḍa prāṇa 5 maṅkana kwaiḥ nikanaŋ patiḥ inanugrahān muaŋ kinon ta ya matuta sānak // samwandhanyan inanugrahān saŋkā yan makwaiḥ buatthaji 
    6. iniwönnya i śrī mahārāja. kāla ni waraṅan haji. lain saṅke kapujān bhaṭāra i malaŋkuśeśwara. iŋ puteśwara. i kutusan. i śilābhedeśwara. i tuleśwara. iŋ pratiwarṣa. muaŋ saŋka yaŋ antarālika kataku 
    7. tan ikanaŋ wanua iŋ kuniŋ. sinarabhārānta ikanaŋ patiḥ rumakṣā ikanaŋ hawān. nahan mataunyan inanugrahān nikanaŋ wanua kālih irikanaŋ patiḥ …

    Terjemahan Isi Prasasti Mantyasih

    Berikut terjemahannya:

    1. // o // Selamat tahun saka yang telah berlalu 829 tahun hari Sabtu Legi, paringkelan Tunglai, tanggal 11 paro gelap bulan Caitra, Naksatranya Purwwabhadrawada, dewatanya Ajapada, Yoganya Indra, ketika perintah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dha-
    2. rmmodaya Mahasambhu, turun kepada Rakryan Mahapatih i Hino, Halu, Sirikan, Wka, Halaran, Tiruan. Palarhyang, Manghuri, Wadihati, Makudur, yang memerintahkan agar desa di Mantyasih yang benih sawahnya sebanyak tu, dan
    3. hutannya di Munduan, di Kayu Pañjaŋ, dan di perumahannya di Kuniŋ Desa Kagunturan, persawahannya di Wunut yang benihnya sebanyak satu tu, 18 hamat termasuk sawah milik Nayaka, serta hutannya di Gunung Sindoro, di Gunung Sumbing semuanya masuk wilayah 
    4. Patapān, dibatasi menjadi simābagi para Patih, dimaksudkan untuk digunakan bergantian oleh Patih di Mantyāsih dan keluarganya masing-masing tiga tahun lamanya. Banyaknya Patih yang berkaitan yaitu Pu Sna rama/bapak (kepala desa) dari Ananta, Pu Kolā bapak dari Dini, Pu Puñjěŋ 
    5. rama dari Udal, Pu Karā rama dari Labdha, Pu Sudraka rama dari Kayut jumlahnya 5 orang, demikianlah banyaknya Patih yang dianugerahi dan disuruhlah ia menyertakan keluarganya. Alasannya dianugerahi karena mereka banyak melakukan buatthaji 
    6. sebagai kecintaan kepada Śrī Mahārāja ketika pesta pernikahan raja, selain itu juga melakukan pemujaan kepada Bhatāra di Malaŋkuśeśwara, di Puteśwara, di Kutusan, di Śilābhedeśwara, di Tuleśwara, setiap tahun dan karena ada perubahan menjadi rasa ketakutan penduduk desa 
    7. di Desa Kuniŋ, Patih itu dipercayai menjaga jalan, itulah sebabnya kedua desa tersebut dianugerahkan kepada Patih.

    Penafsiran Isi Prasasti Mantyasih

    Prasasti Mantyasih
    Prasasti Mantyasih | Sumber Gambar: jv.wikipedia.org

    Menurut sejarah, isi dari Prasasti Mantyasih yakni memuat daftar nama-nama raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram. Prasasti ini dibuat dengan maksud melegalkan Raja Balitung sebagai pewaris tahta yang sah. Hal ini tertuang dalam isi prasasti yang hanya menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh.

    Daftar sembilan nama raja dalam Prasasti Mantyasih, mulai dari masa Sanjaya hingga Dyah Balitung adalah sebagai berikut:

    • Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
    • Sri Maharaja Rakai Panangkaran
    • Sri Maharaja Rakai Panunggalan
    • Sri Maharaja Rakai Warak
    • Sri Maharaja Rakai Garung
    • Sri Maharaja Rakai Pikatan
    • Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
    • Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
    • Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung

    Selain itu, dalam Prasasti Mantyasih juga tercantum pernyataan yang menetapkan bahwa desa Mantyasih sebagai desa sima — wilayah bebas pajak. Hingga saat ini, di kampung Mateseh terdapat sebuah lumpang batu yang menjadi tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan.

    Tak hanya menjadi bukti keberadaan Kerajaan Mataram, pada Prasasti Mantyasih tertera pula eksistensi Gunung Susundara dan Wukir Sumbing yang sekarang adalah Gunung Sindoro dan Sumbing. 

    Isi Prasasti tentang Pesta Pernikahan sebagai Legitimasi

    Pada penjelasan sebelumnya, Raja Balitung bisa menjadi pewaris tahta sebab Ia menikahi putri dari raja sebelumnya. Hal ini tertulis dalam prasasti, ada lima patih yang mendapat penghargaan karena membantu proses pernikahan raja.

    Tertulis dalam baris 5 dan 6 prasasti mantyasih yang berbunyi:

    samwandhanyan inanugrahān saŋkā yan makwaiḥ buatthaji iniwönnya i śrī mahārāja. kāla ni waraṅan haji” 

    Artinya:

    “Alasan mereka dianugerahi karena mereka banyak melakukan titah raja (buatthaji) untuk raja sebagai kecintaan kepada Sri Maharaja ketika diadakan pesta pernikahaan raja (waraṅan haji)”.

    Pesta ini penting sebab merupakan pernikahan antara Raja Balitung dengan putri dari Raja Watuhumalang. Sehingga para patih yang andil mendapat anugerah dari Sri Maharaja.

    Tentunya berlangsungnya pernikahan tersebut sebagai upaya Raja Balitung untuk mendapat pengakuan tidak hanya dari pihak kerajaan, namun juga seluruh rakyat. Dengan begitu, Raja Balitung bisa dipandang sah atas tahta Kerajaan Mataram karena sudah menjadi bagian dari keluarga Raja Watuhumalang.

    Baca Juga: Prasasti Adalah: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Contohnya

    Sudah Tahu Isi dan Tafsiran Prasasti Mantyasih?

    Ternyata munculnya Prasasti Mantyasih menguak banyak fakta menarik mengenai keberadaan Kerajaan Mataram. Selain itu, isi dari prasasti ini juga menjelaskan kegiatan politik dan keamanan lingkungan yang terjadi pada masa Raja Balitung. Setelah membaca artikel di atas, masih ingat aspek apa lagi yang dijelaskan dalam prasasti tersebut?

  • Ciri-Ciri Zaman Mesozoikum: Pengertian, Ciri, dan Pembagiannya 

    Ciri-Ciri Zaman Mesozoikum: Pengertian, Ciri, dan Pembagiannya 

    Sebelum memasuki masa atau zaman modern, dunia telah melewati banyak zaman yang mungkin Anda belum ketahui. Salah satunya adalah zaman pertengahan atau Mesozoikum, di mana pada saat itu terdapat banyak reptil berbadan besar. Lalu, apa ciri-ciri zaman Mesozoikum yang membedakan dengan zaman lainnya?

    Pengertian Mesozoikum

    Zaman Mesozoikum adalah sebuah peralihan zaman antara tahun 252 juta hingga 65 juta tahun yang lalu. Peralihan yang terjadi pada masa ini menjadi titik utama berubahnya zaman purba menuju lahirnya manusia. 

    Arti dari kata Mesozoikum sendiri berdasarkan bahasa Yunani meso yang artinya antara dan zoon yang artinya makhluk hidup. Zaman ini termasuk dalam ketiga masa Fanerozoikum menurut ilmu geologi yang diawal dengan Paleozoikum dan berlanjut menuju zaman terakhir yaitu Kenozoikum.

    Masa peralihan memiliki tiga istilah berbeda yaitu zaman reptil besar, zaman pertengahan, dan zaman sekunder. 

    Evolusi Masa Peralihan

    Selain itu, ciri-ciri zaman Mesozoikum yang paling khas sebagai zaman pertengahan adalah adanya reptil berukuran raksasa. Reptil-reptil pada masa Mesozoikum memiliki ukuran yang sangat besar sekaligus berbanding terbalik dengan reptil pada saat ini.

    Beberapa jenis reptil besar yang hidup pada masa Mesozoikum termasuk Iguanodon, Megalosaurus, Plesiosaurus, dan Pseudosuchia. Nama-nama reptil tersebut hanya segelintir dari banyak jenis reptil besar yang hidup pada masa peralihan.

    Selama masa Mesozoikum belum menghadapi kemusnahan, zaman peralihan ini terbagi menjadi beberapa era periode. Periode pertama merupakan masa Trias, kedua adalah Jura, dan periode terakhir adalah lahirnya dinosaurus yaitu periode Kapur. Dari ketiga periode tersebut terdapat pembagian zaman lainnya.

    Kemudian terjadinya kepunahan pada masa Kapur-Paleogen juga menjadi sebuah titik awal baru bagi zaman Mesozoikum. Pada masa Kapur-Paleogen telah terjadi sebuah kepunahan massal terhadap spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di permukaan bumi termasuk dinosaurus.

    Setelah terjadinya masa kepunahan yang sangat besar, ciri-ciri zaman Mesozoikum lainnya adalah terjadinya perubahan aktivitas tektonik, iklim, hingga siklus evolusi zaman. Akibat dari aktivitas tektonik, terjadilah pemecahan benua terbesar waktu itu yaitu benua Pangea menjadi benua-benua seperti zaman sekarang.

    Iklim Bumi pada saat itu mengalami pergantian secara signifikan dari panas ke dingin. Tetapi, perubahan suhu pada masa Mesozoikum lebih panas dari zaman sekarang ini. 

    Selain dampak yang timbul dari aktivitas tektonik dan perubahan iklim yang signifikan, siklus evolusi juga turut berubah pada masa Mesozoikum. Banyak spesies dinosaurus non-unggas telah mendominasi peradaban mulai dari periode Trias akhir hingga Jura awal. 

    Keberadaan para dinosaurus non-unggas yang hadir selama 135 juta tahun lamanya menjadikan mereka sebagai spesies dinosaurus vertebrata darat yang dominan. Vertebrata darat terus hidup dan berkembang biak hingga masa kepunahan dinosaurus pada periode kapur.

    Ciri-Ciri Zaman Mesozoikum

    Menjadi masa peralihan dan berada pada tengah-tengah zaman geologi, Mesozoikum memiliki ciri khasnya sendiri yang berbeda dengan masa lainnya. Berikut ini adalah ciri-ciri zaman Mesozoikum.

    1. Iklim

    Perubahan iklim pada masa Mesozoikum cenderung hangat, cukup basah, dan sudah bersahabat untuk makhluk hidup. Oleh sebab itu, sudah mulai tumbuh spesies flora khas masa peralihan dan juga perkembangbiakan fauna yang cukup signifikan.

    2. Spesies

    Spesies flora pada masa peralihan memiliki ciri-ciri daun berbentuk lebar. Selain flora, perkembangan fauna telah beragam termasuk munculnya hewan amfibi besar, melata, ikan, dan mamalia pertama. Tetapi, penyebaran flora dan fauna pada masa Mesozoikum belum cukup merata karena perpecahan benua besar Pangaea.

    Ciri-ciri zaman Mesozoikum identik dengan kemunculan spesies dinosaurus. Beberapa jenis dinosaurus yang ada pada masa peralihan adalah brontosaurus dan tyrannosaurus. Reptil-reptil berukuran besar turut hadir pada masa peralihan ini.

    3. Periode

    Zaman Mesozoikum telah hadir dari 252 juta hingga 66 juta tahun yang lampau dan menjadi zaman pertengahan antara ketiga periode geologi. Kehadiran dinosaurus menjadi pertanda untuk perubahan zaman setelah terjadi kepunahan massal pada akhir zaman Mesozoikum

    Pembagian Zaman Mesozoikum

    Pembagian zaman Mesozoikum yang menjadi salah satu ciri-ciri zaman Mesozoikum adalah sebagai berikut. 

    1. Trias

    Ichthyosaurus
    Ichthyosaurus | Sumber Gambar: Wikipedia

    Batas tertua dari periode geologi Mesozoikum adalah Trias yang memiliki julukan sebagai Great Dying. Julukan ini merupakan sebuah gambaran dari betapa besarnya kepunahan Perm-Trias yang terjadi pada masa Trias. Dampak dari peristiwa tersebut sejumlah 96% spesies laut dan sekitar 70% vertebrata punah.

    Trias secara garis besar terbagi menjadi tiga masa, yaitu awal, tengah, dan akhir. Trias awal memiliki ciri situasi sangat sunyi dan gersang akibat peristiwa kepunahan yang sangat besar sebelumnya. Daratan kering seperti gurun mendominasi tipe tanah pada benua Pangaea yang belum terpecah.

    Kemudian, dengan hadirnya perairan baru yaitu laut Tethys mulailah berkembang penghuni air setelah peristiwa besar yang menghancurkan spesies air seperti fitoplankton, krustasea, dan karang. Reptil besar turut ikut berkembang di perairan termasuk ichthyosaurus dan nothosaurus. 

    Keadaan daratan tidak jauh berbeda, telah terjadi perkembangan flora yang menghasilkan hutan pinus lebat serta fauna berjenis nyamuk dan lalat buah. Terjadi persaingan antara amfibi besar dan buaya kuno yang telah berevolusi untuk menjadi pemilik dunia air tawar.

    Sayangnya, masa Trias harus mengalami kepunahan yang besar akibat dari terpecahnya Pangaea menjadi dua bagian yaitu Laurasia dan Gondwana. Perpecahan tersebut menyebabkan perubahan iklim ekstrim hingga berujung peristiwa kepunahan.

    Terakhir adalah masa Trias Akhir yang masih dengan suhu iklim yang tinggi dan curah hujan sedang. Iklim yang cukup panas ini menyebabkan evolusi reptil darat dan dinosaurus secara besar seperti pterosaurus. 

    Perubahan iklim dengan gelombang panas tinggi mengakibatkan kepunahan massal keempat pada masa Trias-Jura. Selama masa kepunahan tersebut, beberapa spesies seperti amfibi, archosaurus, synapsida, dan kehidupan air turut punah.

    2. Jura

    Sauropoda
    Sauropoda | Sumber Gambar: Mongabay

    Sama seperti masa sebelumnya, Jura terbagi menjadi Jura awal, Jura tengah, dan Jura akhir. Pada masa Jura awal, benua Pangaea telah terpisah menjadi dua bagian. Benua sebesar itu lambat laun membelah menjadi bagian-bagian wilayah yang berbeda. 

    Selama masa Jura tengah, dinosaurus berukuran besar seperti Sauropoda dan ornithopoda banyak berkembang biak di wilayah Afrika. Begitu pula dengan masa Jura akhir yang tidak memiliki perubahan signifikan dari masa sebelumnya.

    Tetapi, pada Jura akhir terdapat evolusi dari buaya sejati yang sukses menyebabkan amfibi besar untuk menuju masa kepunahan. Keadaan dari spesies reptil juga meningkat pesat bersamaan dengan perkembangan mamalia pertama di dunia. 

    Pada Jura akhir, terjadi peristiwa kepunahan yang menjadi tanda awal hadirnya masa Kapur. Kepunahan besar terjadi terhadap beberapa spesies termasuk Sauropoda dan ichthyosaurus. Tidak semua spesies punah karena masih ada yang tersisa hidup hingga kepunahan masa selanjutnya. 

    Selain itu, terjadi kenaikan tinggi perairan di wilayah laut Atlantik yang terus membesar masa ke masa. Ini bersamaan dengan peristiwa perkembangan organisme plankton yang mengalami evolusi secara besar. Jenis organisme plankton ini adalah foraminifera dan coccolithophores yang segera menyebar.

    3. Kapur

    Triceratops
    Triceratops | Sumber Gambar: ThoughtCo

    Masa Kapur merupakan masa terakhir dari Mesozoikum dan terjadi hampir separuh dari masa pertengahan. Akhir dari masa Kapur menjadi batas antara zaman Mesozoikum dan Kenozoikum. Kapur menjadi masa kepunahan secara besar-besaran pada spesies dinosaurus dan akhir dari masa reptil raksasa. 

    Terjadi perluasan lautan pada masa Kapur yang mengakibatkan musnahnya spesies Sauropoda dan ichthyosaurus. Tetapi, masih terdapat beberapa spesies baru dari keluarga dinosaurus yang terus mengalami perkembangan.

    Spesies dinosaurus yang berkembang termasuk ankylosaurus, hadrosauria, tyrannosaurus, dan triceratops serta menjadi spesies yang merajai rantai makanan. Mosasaurus yang berada di perairan menggantikan posisi dari spesies sebelumnya yang telah punah.

    Keberadaan keluarga dinosaurus ini masih terus ada hingga akhir dari zaman Kapur sekaligus akhir zaman Mesozoikum.

    Baca Juga: Pengertian Homo Sapiens: Persebaran & Penemuannya

    Sudah Lebih Paham Ciri-Ciri Zaman Mesozoikum?

    Zaman Mesozoikum atau zaman pertengahan dari ketiga periode geologi dunia merupakan salah satu zaman yang mana telah terjadi beberapa peristiwa besar. Salah satunya adalah pada masa Kapur yang menjadi sebuah akhir zaman bagi para bangsa dinosaurus.Ciri-ciri zaman Mesozoikum yang paling menonjol sebelum terjadinya peristiwa kepunahan adalah keberadaan reptil-reptil besar yang mengisi benua Pangaea. Tetapi, saat benua Pangaea terbelah dan populasi makhluk tidak merata bahkan keadaan Indonesia waktu itu dominan bebatuan hanya dengan beberapa fosil.

  • Sejarah Candi Prambanan: Latar Belakang dan Legendanya

    Sejarah Candi Prambanan: Latar Belakang dan Legendanya

    Sejarah Candi Prambanan mungkin sudah menjadi salah satu bagian yang tak lekang oleh zaman, sebab hal tersebut justru menjadi daya pikat yang besar bagi wisatawan. 

    Seiring berkembangnya era modern, candi ini masih berdiri kokoh di perbatasan kota Yogyakarta. Tapi dibalik kemegahannya, ada proses panjang yang menjadi latar belakang tempat bersejarah ini.

    Mengenal Sejarah Candi Prambanan

    Candi Prambanan merupakan sebuah candi Hindu yang terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya berada di dekat perbatasan Sleman dan Klaten. Candi Prambanan termasuk salah satu budaya warisan UNESCO sebagai satu-satunya candi Hindu paling besar di Indonesia.

    Gaya arsitektur Candi Prambanan yang menjulang tinggi sejauh 47 meter keatas, membuatnya lebih menonjol daripada candi-candi kecil di sekitarnya. Ukiran candi yang menonjolkan ciri khas agama Hindu, beserta dengan patung Dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu membuat setiap sudut candi terlihat elegan. 

    Keindahan Candi Prambanan juga disertai dengan kisah-kisah sejarah dan legenda, yang pada akhirnya menjadi daya tarik terbesar dari candi ini.

    Latar Belakang Pra Pembangunan

    Candi Prambanan
    Candi Prambanan | Sumber gambar: pexels.com

    Awal mula pembangunan Candi Prambanan ini diprakarsai oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan, seorang raja pada sekitar tahun 847-855. Kisahnya terbukti dari Prasasti Wanua Tengah III, yang menjelaskan tentang masa pemerintahan di era Jawa Kuno.

    Berdasarkan hasil penelitian para sejarawan terdahulu, mereka percaya bahwa yang melatarbelakangi pembangunan Candi Prambanan adalah sebagai tanda kekuasaan kembali keluarga Sanjaya.

    Teori wangsa kembar percaya bahwa ada dua keyakinan yang berbeda di antara keluarga Sanjaya dan Syailendra. Keluarga Sanjaya menganut agama Hindu sedangkan keluarga Syailendra menganut agama Budha. 

    Para peneliti sejarah percaya bahwa keberadaan Candi Borobudur yang lebih dulu, menuntun keluarga Sanjaya untuk membangun pula candi untuk agama Hindu.

    Selanjutnya, para peneliti sejarah Candi Prambanan juga menduga bahwa Kerajaan Medang pada kala itu mulanya mendukung agama Budha yang menganut ajaran Mahayana sebelum akhirnya mendukung kepercayaan Hinduisme aliran Saiwa.

    Proses Pembangunan Candi Prambanan

    Candi Prambanan
    Candi Prambanan | Sumber gambar : pexels.com

    Berikut proses pembangunan Candi Prambanan menurut hasil penelitian:

    1. Konstruksi Awal

    Penelitian oleh para sejarawan dan arkeolog mengungkapkan bahwa Sri Maharaja Rakai Pikatan memulai pembangunan candi sejak 850 Masehi. Proses pembangunan awal terus mengalami penyempurnaan oleh para raja-raja penerusnya.

    Selanjutnya, Raja Lokapala serta raja Sri Maharaja Dyah Balitung Maha Sambu turut serta menyempurnakan dan melakukan perluasan kompleks Candi Prambanan tersebut. 

    Seperti yang tertera pada prasasti Siwagrha yang sudah ada sejak sekitar tahun 856 Masehi, menjelaskan bahwa pembangunan candi ini bertujuan untuk memuliakan dewa Siwa.

    2. Pembangunan Kompleks Candi Prambanan

    Berdasarkan sejarah Candi Prambanan ini, ada tiga candi utama yang menjulang tinggi. Candi paling utama berdiri arca Siwa yang letaknya di garbhagriha atau ruang utama. Tak hanya itu, ada pula arca lain yang menjadi simbolis raja Balitung, yang mana menjadi arca pedharmaan anumerta dia.

    Selain candi utama, ada pula ratusan candi kecil-kecil lainnya yang berada di sekitar candi utama. Semuanya berjajar rapi membentuk sebuah kompleks Candi Prambanan yang megah, dengan candi utama yang tinggi. 

    Proses pembangunan ini berhasil juga berkat campur tangan para raja-raja penerus Medang Mataram. Sri Maharaja Dyah Daksa dan Sri Maharaja Dyah Tulodong juga ikut membantu mengembangkan kompleks Prambanan ini. 

    Para arkeolog percaya bahwa para raja-raja terdahulu juga mengubah tata saluran air yang sebelumnya mengalir melengkung dekat dengan candi, kemudian memindahkan aliran Sungai Opak supaya mengalir dari utara ke selatan. Jadi, aliran sungainya tidak terlalu dekat dan membuat erosi pada kompleks candi.

    3. Candi Prambanan yang Terlantarkan

    Selepas dari masa kejayaannya, sejarah Candi Prambanan sempat mengalami kemunduran akibat banyaknya candi yang runtuh. Sekitar tahun 930 Masehi, ibu kota kerajaan Mataram pindah ke wilayah Jawa Timur. Raja Sri Maharaja Mpu Sindok mencetuskan Wangsa Dinasti Isyana dengan pemerintahan di Jawa Timur. 

    Seiring berjalannya waktu, perpindahan ibukota ini membuat kompleks Candi Prambanan perlahan tertinggal dan tidak terawat. Tak hanya itu, faktor lain seperti letusan Gunung Merapi dan gempa bumi yang terjadi pada abad ke-16, membuat Candi Prambanan mengalami keruntuhan yang cukup signifikan.

    Pada sekitar tahun 1755, terjadi perpecahan kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Sisi reruntuhan candi yang berada di perbatasan kompleks dan Sungai Opak akhirnya menjadi pembatas wilayah kesultanan tersebut.

    Proses Penemuan Kembali Pasca Runtuhnya Candi

    Relief Candi Prambanan
    Relief Candi Prambanan | sumber gambar: istockphoto.com

    Setelah sempat runtuh dan tak terurus, akhirnya eksistensi Candi Prambanan bisa muncul kembali. Berikut prosesnya:

    1. Munculnya Legenda Sejarah Candi Prambanan

    Pasca masa kejayaan dan kemundurannya, candi ini kemudian tidak begitu saja diketahui oleh masyarakat bahkan yang tinggal di sana. Lebih tepatnya kala itu, masyarakat sekitar masih sangat awam dengan sejarah awal pembangunan candi ini.

    Seiring berjalannya waktu, muncul legenda-legenda rakyat tentang Roro Jonggrang yang kemudian menjadi begitu lekat dengan sejarah candi ini. 

    Masyarakat percaya legenda candi ini merupakan kisah tentang seorang pangeran bernama Bandung Bandawasa yang berakhir mengutuk perempuan yang dicintainya sendiri, Roro Jonggrang.

    2. Penemuan Puing Sejarah

    Sejarah Candi Prambanan ini ditemukan kembali oleh seorang Belanda bernama CA. Lons. Tepatnya sekitar tahun 1733, ketika Britania menduduki Jawa, keberadaan candi ini sempat menarik perhatian dunia.

    Lalu, Colin Mackenzie, seorang surveyor yang bekerja dengan Thomas Stamford Raffles, juga menemukan asal mula candi ini. Mereka mengumpulkan kepingan relief-relief yang menggambarkan kisah candi tersebut.

    Proses pencarian puing-puing sejarah ini berlangsung begitu lama, hingga sekitar tahun 1855 karena tujuan yang tidak begitu serius. Bahkan tak ayal bagian-bagian candi ini mengalami banyak penjarahan untuk kepentingan pribadi.

    3. Pemugaran

    Kendati pemugaran sudah bermula dari tahun 1918, sebenarnya proses sesungguhnya benar-benar dikerjakan pada sekitar tahun 1930. Seorang bernama Theodoor van Erp mulai melakukan pemeliharan sisi yang rawan runtuh sejak tahun 1902, kemudian P.J Perquin melanjutkan Jawatan Purbakala di tahun 1918-1926.

    Upaya pemugaran terus berjalan di tahun 1926 oleh De Haan, kemudian dilanjutkan kembali oleh Ir. V.R. van Romondt pada tahun 1931-1942. Selepas itu, renovasi terus berlanjut oleh putra Indonesia sampai tahun 1993. Perlahan tapi pasti, proses restorasi terus berjalan hingga saat ini.

    Proses panjang ini terus menjadi salah satu bagian sejarah Candi Prambanan yang akhirnya selesai untuk candi utamanya pada tahun 1953. Presiden Soekarno sendiri yang meresmikan Candi Prambanan. 

    Namun sayangnya, tak semua bagian candi-candi hingga yang kecil dapat selalu ditemukan karena puing-puingnya memang sudah tersebar di sepanjang Sungai Opak, bahkan ada yang sudah menjadi fondasi rumah warga

    Legenda Roro Jonggrang dari Candi Prambanan

    Legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bandawasa ini begitu dekat dengan rakyat Yogyakarta dan Jawa Tengah serta memiliki keterkaitan dengan kisah berdirinya Candi Prambanan.

    Kisah legenda rakyat ini mengisahkan bahwa seorang pangeran kerajaan Pengging bernama Bandung Bandawasa, terpikat oleh kecantikan Roro Jonggrang, putri dari musuhnya yang berasal dari kerajaan Baka.

    Setelah menewaskan Prabu Baka, Bandung Bandawasa ingin memperistri Roro Jonggrang. Sang putri yang tak terima, beralasan memberikan syarat mustahil pada Bandung Bandawasa untuk dibangunkan sumur Jalatunda yang dalam, dan seribu candi dalam satu malam.

    Roro Jonggrang yang yakin bahwa misi tersebut tidak berhasil, langsung terbantahkan sebab Bandung Bandawasa menggunakan sejumlah kekuatan sakti dan bantuan jin. Putri yang ketakutan, berusaha menggagalkan usaha tersebut namun justru membuat Bandung Bandawasa marah dan mengutuknya menjadi batu yang dipercaya menjadi salah satu bagian dari Candi Prambanan.

    Baca Juga: Sejarah Candi Borobudur Lengkap dengan Fungsi dan Legendanya

    Sudah Paham dengan Sejarah Candi Prambanan?

    Ibarat seorang saksi, mungkin tak hanya deretan relief yang terukir di tembok Prambanan saja yang menjadi sejarah keberadaannya kerajaan Mataram di Jawa Kuno. Namun, situs Hindu terbesar ini juga menjadi saksi bisu peradaban sejarah Indonesia dan Yogyakarta. 

    Tak hanya puing-puing reruntuhannya saja yang menjadi sejarah Candi Prambanan, tapi juga budaya seperti pewayangan dan berbagai imajinasi sendratarinya.

  • Apa itu Kerja Rodi? Pengertian, Sejarah Singkat, Tujuan dan Dampaknya

    Apa itu Kerja Rodi? Pengertian, Sejarah Singkat, Tujuan dan Dampaknya

    Dalam sejarah kemerdekaannya, Indonesia telah mengalami banyak peristiwa-peristiwa kelam di masa penjajahan Belanda, salah satunya adalah sistem kerja paksa atau kerja rodi. Ini merupakan sebuah sistem kerja paksa yang pemerintah kolonial Belanda lakukan kepada rakyat Indonesia.

    Namun, apakah hanya sebatas itu pengertian dari kerja paksa ini? Tentu tidak. Lewat artikel ini, kami akan memberikan berbagai informasi mengenai sistem kerja tersebut, mulai dari pengertian, sejarah singkat, tujuan, hingga dampaknya terhadap rakyat Indonesia. Oleh karena itu, simak terus artikel ini!

    Apa Itu Kerja Rodi? Sedikit Penjelasan

    Secara umum, kerja rodi atau kerja paksa merupakan sebuah sistem yang ditetapkan oleh pihak pemerintah kolonial Belanda untuk memaksa rakyat Indonesia bekerja tanpa mendapatkan sedikitpun upah dari pekerjaan yang mereka kerjakan. Dalam kata lain, di zaman itu Indonesia dieksploitasi sumber daya manusianya.

    Apa perbedaannya dengan romusha? Kerja paksa terjadi pada masa penjajahan Belanda, sedangkan romusha terjadi pada masa penjajahan Jepang. Keduanya sebenarnya memiliki pengertian yang sama, di mana rakyat Indonesia dipekerjakan secara paksa demi memenuhi tujuan dari pemerintah Belanda maupun Jepang.

    Di zaman penjajahan Belanda, mereka menerapkan kerja paksa kepada rakyat Indonesia untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di Indonesia. Eksploitasi ini terjadi banyak di area perkebunan, pertambangan, pelabuhan, infrastruktur, dan masih banyak lagi.

    Tidak jauh berbeda dengan kerja rodi, romusha pun juga sama. Adanya sistem romusha yang pemerintah Jepang lakukan ini bertujuan untuk mengambil semua keuntungan serta komoditas yang Indonesia miliki. Di masa ini, Jepang berusaha untuk memperoleh sumber daya alam sekaligus manusia demi kepentingan mereka.

    Bagaimanapun, dalam kebijakan kerja paksa di zaman penjajahan, pemerintah Belanda tidak menggunakan tenaga dari para tawanan. Namun sebaliknya, pemerintah menggunakan tenaga dari para rakyat bebas untuk dipekerjakan secara paksa dengan upah yang sangat sedikit.

    Sedikit Mengulik Sejarah Kerja Rodi

    Ilustrasi masyarakat sedang kerja rodi
    Ilustrasi masyarakat sedang kerja rodi | Sumber Gambar: Kompas.com

    Jika menilik jauh ke belakang, adanya sistem kerja paksa ini bermula ketika Louis Napoleon menunjuk Herman Willem Daendels sebagai gubernur pada tanggal 1 Januari 1808.

    Daendels ditunjuk sebagai gubernur dengan mengemban tugas untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Ia juga mendapatkan mandat untuk mengatur pemerintahan yang ada di Indonesia.

    Karena merasa tugas yang diberikan kepadanya terlalu berat, Daendels pun merasa terbebani. Ditambah lagi, saat itu Inggris sudah berhasil mengambil alih kekuasaan dari VOC di wilayah Ambon, Sumatra, dan Banda. Dari sinilah akhirnya Daendels memutuskan untuk menggunakan kerja rodi demi memenuhi semua tugasnya.

    Selain itu, alasan lain kenapa Daendels memberlakukan sistem kerja paksa ini adalah agar rakyat Indonesia bersedia untuk bekerja demi memenuhi kepentingan Kerajaan Prancis atas nama Belanda. Dari kerja paksa ini, Daendels membawa pengaruh yang signifikan terhadap bidang pertahanan dan bidang administrasi.

    Khusus bidang pertahanan, Herman Willem Daendels memberlakukan kerja paksa untuk membangun beberapa bangunan pertahanan. Contoh dari bangunan pertahanan ini adalah benteng pertahanan serta pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon dan Anyer.

    Selain bangunan pertahanan, Daendels juga mempekerjakan rakyat Indonesia secara paksa untuk membangun jalan. Contohnya adalah pembangunan Jalan Raya Pos dari Anyer yang berlokasi di Jawa Barat sampai ke Panarukan yang berlokasi di Jawa Timur. Panjang dari jalan ini mencapai 1,000 kilometer (km).

    Kebijakan-Kebijakan Pada Kerja Rodi

    Selain memberlakukan kerja paksa, Daendels juga melakukan beberapa kebijakan lainnya sebagai usaha untuk menghadapi serangan Inggris serta mempertahankan pulau Jawa. Kebijakan ini meliputi paksaan kepada rakyat Indonesia untuk menjual hasil bumi ke pemerintah Belanda dengan harga murah dan menanam kopi.

    Bagaimanapun, kebijakan-kebijakan yang Daendels keluarkan ini berkaitan erat dengan misi dan tugasnya dalam mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Selain kebijakan-kebijakan di atas, berikut adalah beberapa kebijakan lain yang Daendels lakukan:

    • Seluruh pegawai pemerintah Indonesia akan mendapatkan gaji pokok yang tetap, namun mereka tidak diperbolehkan untuk melakukan segala aktivitas yang berkaitan dengan perdagangan.
    • Melarang adanya penyewaan desa, kecuali untuk tujuan produksi garam, gula, hingga sarang burung.
    • Memberlakukan sistem kerja paksa atau kerja rodi untuk pembangunan pelabuhan, benteng pertahanan, dan kapal perang.
    • Melaksanakan sistem pajak kepada rakyat Indonesia dengan menyerahkan hasil bumi.
    • Membuat kewajiban ke rakyat Indonesia untuk menjual hasil bumi kepada pemerintah dengan hasil atau bayaran yang sudah ditetapkan.
    • Menjual tanah dari rakyat Indonesia kepada pihak asing.
    • Mewajibkan rakyat wilayah Priangan untuk menanam kopi.

    Apa Saja Tujuan dari Adanya Sistem Kerja Rodi?

    Gambaran kerja rodi
    Gambaran kerja rodi | Sumber Gambar: Fakultas Hukum UMSU

    Dalam memberlakukan kerja paksa, ada beberapa tujuan yang ingin Herman Willem Daendels capai. Berikut adalah tujuan-tujuan dari pemberlakuan sistem kerja paksa, antara lain:

    • Membangun tempat pembuatan persenjataan yang berlokasi di daerah Surabaya dan Semarang.
    • Membangun jalan raya dengan panjang mencapai 1100 kilometer, mulai dari daerah Anyer hingga ke daerah Panarukan.
    • Mendirikan pangkalan armada yang berlokasi di daerah Ujung Kulon dan Anyer.
    • Mendirikan benteng pertahanan sebagai bentuk pertahanan terhadap serangan Inggris dan sekutu.
    • Membangun pelabuhan dan membuat kapal perang sebagai kebutuhan militer.
    • Membangun pangkalan untuk melatih rakyat pribumi tentang peperangan.

    Dampak Sistem Kerja Rodi Terhadap Rakyat Indonesia

    Ilustrasi Masyarakat berkumpul untuk kerja rodi yang dijaga oleh tentara kolonial
    Ilustrasi Masyarakat berkumpul untuk kerja rodi yang dijaga oleh tentara kolonial | Sumber Gambar: Okezone Nasional

    Tidak dapat dipungkiri lagi bahwasanya adanya sistem kerja paksa ini tentu menghadirkan dampak yang signifikan kepada rakyat Indonesia. Meski juga membawa dampak positif, namun pemberlakuan kerja paksa dari pemerintah Belanda ini lebih banyak menghadirkan dampak negatif kepada rakyat Indonesia.

    1. Dampak Positif Kerja Rodi

    Berikut adalah beberapa dampak positif dari kerja paksa yang mungkin rakyat Indonesia pada zaman itu merasakannya. Apa saja? Simak poin-poinnya di bawah:

    • Secara tidak langsung membuat banyak masyarakat Indonesia mulai mengenal beberapa jenis tanaman baru dengan baik.
    • Kerja paksa juga membuat rakyat Indonesia mulai mengetahui bermacam-macam cara dalam mengolah berbagai jenis tanaman baru.
    • Banyak infrastruktur baru yang membuat kehidupan rakyat Indonesia pada zaman itu menjadi lebih maju.

    2. Dampak Negatif Kerja Rodi

    Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, daripada dampak positif, rakyat Indonesia lebih banyak mendapatkan dampak negatif dari adanya sistem kerja paksa ini. Apa saja dampak-dampak negatif tersebut? Berikut penjelasannya:

    • Menyebabkan banyaknya korban jiwa yang jatuh dan meninggal dunia dari pihak rakyat Indonesia karena keras dan ketidakadilan sistem kerja paksa.
    • Banyak para pekerja dari Indonesia yang mendapatkan perlakuan buruk, kasar, dan tidak berperikemanusiaan dari pihak Belanda.
    • Rakyat Indonesia mengalami kelumpuhan ekonomi karena saat itu Daendels menerapkan ekonomi perang ketika memberlakukan kerja paksa ini.
    • Karena lingkungan yang keras, maka kerja paksa ini juga menyebabkan munculnya berbagai wabah penyakit serta meningkatkan kemiskinan.

    Apa Bedanya Perbedaan Kerja Rodi dan Romusha?

    Meski terdengar sama, namun kerja paksa dan romusha adalah dua hal yang berbeda. Di bawah ini adalah perbedaan antara keduanya.

    1. Kebijakan

    Dalam sistem kerja paksa, pihak pemerintah Belanda meminta rakyat pribumi Indonesia bekerja membangun infrastruktur serta membangun pertahanan untuk menahan serangan dari Inggris dan Sekutu. Sebaliknya, romusha merupakan sistem kerja paksa di mana semua rakyat Indonesia harus bekerja secara sukarela.

    2. Asal Tenaga Kerja

    Perbedaan yang kedua terletak pada asal tenaga kerjanya. Di zaman kerja rodi, pemerintah Belanda menjadikan tawanan atau tindak pidana sebagai pekerja dari sistem kerja paksa ini. Juga, tenaga kerja untuk sistem kerja ini berasal dari para laki-laki yang sehat secara jasmani.

    Di sisi lain, romusha justru lebih kejam. Dalam sistem kerja paksa ini, Jepang mempekerjakan laki-laki, perempuan, dan bahkan anak kecil untuk menjadi pekerja. Dengan kata lain, Jepang tidak pandang bulu untuk menguras habis sumber daya alam dan manusia yang ada di Indonesia lewat sistem kerja paksa.

    Baca Juga: 5 Pertempuran di Indonesia Pasca Kemerdekaan, Apa Saja?

    Sudah Lebih Paham Tentang Kerja Rodi?

    Demikianlah sedikit penjelasan mengenai pengertian kerja rodi sampai ke dampak dari adanya sistem kerja paksa ini. Sebagai penutup, kerja paksa adalah suatu sistem kerja yang dilakukan oleh Herman Willem Daendels dengan mempekerjakan rakyat Indonesia secara paksa demi mencapai tujuannya.

    Meski memiliki beberapa dampak positif, namun adanya sistem kerja ini lebih banyak menghasilkan dampak negatif kepada rakyat Indonesia. Banyak warga yang meninggal dunia selama sistem kerja paksa ini berlangsung di Indonesia.

  • Sejarah Batik dan Aneka Ragam Jenisnya di Indonesia

    Sejarah Batik dan Aneka Ragam Jenisnya di Indonesia

    Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas dan memiliki kekayaan budaya yang beragam. Batik adalah salah satu warisan budayanya dan sudah terkenal sejak zaman kerajaan Majapahit. Sejarah batik pun selalu menarik untuk diperbincangkan. 

    Lalu, bagaimana perkembangan dan sejarah batik Indonesia dari masa ke masa? Simak pembahasannya pada artikel ini!

    Apa Pengertian Batik?

    Batik merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia yang memadukan unsur seni dan teknologi tradisional. 

    Kata batik asalnya dari bahasa Jawa, “amba” berarti kain yang lebar. Sedangkan, “titik atau nitik” adalah kata kerja yang artinya membuat titik.

    Proses pembuatan seni batik yaitu dengan menggunakan kain polos. Lalu dilakukan proses pewarnaan pada kain tersebut sesuai dengan teknik khusus. Tujuannya adalah menciptakan pola-pola yang indah dan beragam.

    Teknik pembuatannya dengan mengaplikasikan lilin panas dan bantuan alat yang disebut canting. Setelah itu, kain dicelupkan ke dalam pewarna. 

    Proses tersebut mengalami pengulangan beberapa kali dengan menggunakan pewarna berbeda untuk menciptakan motif dan menghasilkan warna yang beragam pada kain.

    Penggunaan kain batik dalam keseharian masyarakat Indonesia umumnya yaitu untuk pakaian, kebaya, atau sarung. 

    Bagaimana Pendapat Ahli tentang Batik?

    Batik adalah kerajinan yang merupakan karya leluhur serta memiliki sejarah budaya yang kaya akan makna. Berikut pendapat para ahli dalam menggambarkan batik, yaitu:

    1. R.M. Soedarsono (Ahli Seni dan Budaya Indonesia) 

    Ia menyatakan, batik adalah seni yang mengungkapkan keindahan alam dan kehidupan masyarakat Jawa serta mengandung esensi spiritualitas yang kental.

    2. Margaretha Surjaningsih (Ahli Batik)

    Margaretha Surjaningsih memiliki pendapat, batik yaitu suatu identitas budaya yang merupakan warisan turun temurun dari generasi ke generasi.

    3. Iwan Tirta (Desainer Busana dan Ahli Batik)

    Bagi Iwan, batik adalah kolaborasi antara bahasa seni dan keterampilan yang mencerminkan filosofi kehidupan Jawa.

    4. Pringgodani S. Siswosubroto (Peneliti Budaya)

    Pringgodani S. Siswosubroto menggambarkan batik sebagai hasil karya perpaduan yang sangat harmonis antara seni dan teknik.

    5. UNESCO 

    UNESCO yang merupakan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menobatkan batik sebagai warisan budaya tak benda pada tanggal 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi.

    Selain itu, UNESCO memberikan penilaian bahwa batik adalah warisan budaya yang merupakan identitas bangsa Indonesia. 

    Menyelami Sejarah Batik Indonesia

    Batik Keraton
    Batik Keraton | Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id

    Menurut beberapa literatur, perkembangan batik erat hubungannya dengan kehidupan pada masa Kerajaan Majapahit dan penyebaran agama islam pada abad ke-14. 

    Meskipun begitu, ternyata banyak pula yang meyakini sejarah batik sudah ada pada masa Kerajaan Sriwijaya (sekitar abad ke-7 sampai ke-14).

    Pada masa kerajaan, keluarga raja dan para bangsawan di berbagai daerah di Jawa menggunakan batik sebagai pakaian kebanggaan mereka. 

    Mereka juga mulai mengembangkan motif batik sebagai simbol khas daerah masing-masing. Oleh sebab itu, Jawa dianggap sebagai pusat perkembangan sejarah batik di Indonesia.

    Awalnya, aktivitas membatik hanya khusus untuk lingkungan kerajaan saja. Selain itu, yang boleh memakai pakaian batik hanyalah raja, keluarga pemerintah, dan tokoh-tokoh priyayi.

    Lambat laun, kerajinan batik mulai menarik dan ditiru oleh rakyat biasa. Kesenian batik pun semakin populer dan menjadi mata pencaharian bagi para wanita dan ibu rumah tangga sebagai sarana untuk mengisi waktu luang.

    Apa Saja Karakteristik Batik Indonesia? 

    Setelah menelisik sejarah batik Indonesia yang panjang, ternyata dari waktu ke waktu, batik Indonesia memiliki motif dan pola yang unik. Bahkan, batik masih mengalami perkembangan pesat hingga saat ini. Berikut karakteristik batik tradisional hingga modern, yaitu:

    1. Batik Tradisional

    Batik Tradisional
    Batik Tradisional | Sumber gambar: pinterest.com

    Motif pada batik tradisional memiliki makna simbolik yang mendalam. Selain itu, pola atau coraknya terdapat beragam variasi seperti motif geometris, barong, pewayangan, dan ular. 

    Permainan warna pada batik ini cenderung gelap atau netral (warna hitam, putih, dan coklat tua). Pada umumnya, batik tradisional membawa ciri khas suatu daerah.

    2. Batik Modern

    Batik Modern
    Batik Modern | Sumber gambar: pinterest.com

    Batik modern adalah batik kekinian yang biasanya polanya tidak mempunyai makna khusus. Motifnya didominasi tumbuhan, dedaunan, atau bunga. 

    Pemilihan warnanya lebih bebas, seperti kuning, merah maroon, ungu, hijau, biru, dan lain-lain. Kebalikan dari batik tradisional, batik modern tidak membawa ciri khas daerah.

    Jenis-Jenis Batik sesuai Proses Pembuatan

    Berdasarkan sejarah batik yang ada, dapat diketahui batik dapat kita klasifikasikan berdasarkan produksinya. Berikut 7 jenis batik tersebut, yaitu:

    1. Jenis Batik Tulis

    Teknik produksi batik tulis yaitu memakai tangan manusia secara manual. Tidak lupa menggunakan canting untuk menorehkan lilin pada pola batik. Proses pembuatan batik tulis membutuhkan ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi.

    Karena pembuatannya secara manual, hasil motif batik tulis tidak akan bisa sama seratus persen. Tingkat kesulitan dan kerumitan batik dengan cara ini, membuat nilai jualnya mahal.

    2. Jenis Batik Cap

    Batik yang cara pembuatannya dengan menggunakan alat berupa stempel motif batik. Alatnya terbuat dari tembaga. Proses pembuatan batik cap menghabiskan waktu sekitar 2-3 hari.

    Umumnya proses produksinya dilakukan secara massal, sehingga batik ini memiliki harga yang lebih murah daripada batik jenis lain. 

    3. Jenis Batik Lukis

    Pembuatan batik lukis yaitu dengan melukis motif secara langsung menggunakan malam pada kain putih. Motif batik lukis biasanya lebih bebas dan kreatif dengan bantuan kuas atau alat lukis sejenisnya. 

    Batik jenis ini merupakan batik yang eksklusif sehingga harganya mahal. Jumlahnya pun terbatas karena biasanya seniman hanya membuat sesuai pesanan pembeli.

    4. Jenis Batik Pecinaan

    Batik pecinaan adalah batik khas karya keturunan Cina yang ada di Indonesia. Produksinya memiliki target pasar untuk komunitas sendiri maupun untuk mereka jual. Warnanya pun cukup variatif dan cerah, yaitu perpaduan merah atau kuning.

    Karena pembuatnya adalah keturunan Cina, maka motifnya mengandung banyak unsur adat Cina. Contohnya, ular, naga, dan burung merak.

    5. Jenis Batik Belanda

    Masyarakat keturunan Belanda juga banyak yang tertarik memproduksi batik. Motif yang mereka pilih sebagai ciri khas batik Belanda yaitu, aneka bunga yang ada di Eropa. 

    6. Jenis Batik Jawa-Hokokai

    Batik Jawa Hokokai ini ada saat masa penjajahan Jepang. Ciri khasnya yaitu, pada satu kain ada dua pola yang memiliki perbedaan. Motifnya rata-rata gambar bunga-bunga Jepang, seperti bunga sakura dan krisan.

    7. Jenis Batik Rifaiyah

    Motif batik ini memperlihatkan pengaruh ajaran Islam yang kuat, tidak boleh menggambarkan motif yang berhubungan dengan benda hidup sama dengan wujud asli objek tersebut.

    Masuknya ajaran Islam di Indonesia juga merupakan salah satu titik balik sejarah batik di nusantara. Jenis batik rifaiyah menggambarkan seni batik sebagai media untuk mengungkapkan keyakinan dan spiritualitas agama islam.

    7 Ragam Motif Batik Asli Indonesia

    Batik Indonesia sangatlah beraneka ragam dan memiliki sejarahnya tersendiri. Berikut 7 ragam motif batik khas Indonesia yang perlu kamu kenal, yaitu:

    1. Motif Mega Mendung

    Batik mega mendung merupakan salah satu motif batik yang populer di Indonesia. Ciri khas motif ini adalah pola yang mirip bentuk awan. 

    Filosofi motif batik mega mendung yaitu setiap manusia harus memiliki nilai kesabaran. Batik ini berasal dari Cirebon, Jawa Barat.

    2. Motif Sogan

    Ciri khas dari motif sogan biasanya berwarna coklat-hitam dengan perpaduan pola bunga dan titik. Motif sogan merupakan batik yang populer di kalangan keluarga dan masyarakat keraton. Asal batik ini yaitu dari Yogyakarta dan Solo. 

    3. Motif Tujuh Rupa

    Pekalongan adalah daerah yang terkenal sebagai pusat kerajinan batik. Salah satunya adalah motif tujuh rupa yang dominasi motifnya terdiri atas aksen hewani dan tumbuhan.

    4. Motif Asmat

    Dalam sejarah batik yang ada, ternyata perkembangan batik tidak hanya ada di Jawa. Salah satu batik terkenal lainnya yaitu batik asmat dari Jayapura, Papua. 

    Motif batik asmat menggambarkan ukiran patung yang melambangkan kehidupan suku asmat serta memiliki warna cenderung seperti warna tanah atau merah bata.

    5. Motif Alas-Alasan

    Kata alas dalam bahasa Jawa memiliki arti “hutan”. Maka dari itu, pola batik ini terdiri atas sesuatu yang ada di hutan seperti binatang-binatang baik yang ukurannya kecil hingga besar. 

    Maknanya yaitu mengajak manusia agar selalu berhati-hati dan bijaksana dalam mengarungi kehidupan dunia yang penuh tantangan.

    Baca Juga: Sejarah Sebagai Seni: Pengertian, Unsur, Fungsi, dan Contohnya

    Lebih Paham Sejarah Batik dan Jenisnya?

    Demikian penjelasan sejarah batik dan jenisnya di Indonesia. Batik adalah warisan budaya yang memiliki makna mendalam, sehingga harus dilestarikan. Jika kamu tidak tertarik untuk membatik, setidaknya banggalah saat memakai pakaian batik. Dengan begitu, kamu ikut serta menjaga kelestarian warisan budaya Indonesia ini.

  • Mengenal Sejarah Prasasti Batu Tulis: Isi dan Maknanya

    Mengenal Sejarah Prasasti Batu Tulis: Isi dan Maknanya

    Prasasti Batu Tulis memiliki peran penting dalam memberikan informasi dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau di Kerajaan Pajajaran. Oleh sebab itu, kita perlu untuk mengetahui sejarah, isi, dan makna yang terkandung di dalam prasasti ini. Ikuti penjelasan detailnya di bawah ini.

    Sejarah Prasasti Batu Tulis

    Secara umum, sejarah prasasti batu ini bisa kita bagi menjadi dua bagian, yakni penemuan prasasti dan asal-usul prasasti. Simak uraian lengkapnya di bawah ini.

    1. Penemuan Prasasti

    Sampul buku The History of Java
    Sampul buku The History of Java | Sumber gambar: Kompas.com

    Prasasti Batu Tulis merupakan salah satu peninggalan arkeologi Kerajaan Pajajaran. Prasasti dari masa Hindu-Buddha ini masih terletak di tempat asalnya yaitu di Desa Batutulis, Bogor. Selain itu, Peninggalan bersejarah ini terpahat pada sebuah lempengan batu yang berbentuk runcing.

    Pertama kalinya penemuan prasasti ini pada tanggal 25 Juni 1690 oleh ekspedisi pasukan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang pada saat itu memiliki pemimpin bernama Kapten Adolf Winkler. Ekspedisi ini bertujuan membuat peta lokasi “bekas Kerajaan Pajajaran”.

    Informasi yang ada berpedoman pada hasil laporan ekspedisi pertama pasukan VOC tiga tahun sebelumnya. Setelah itu, laporan Winkler berhasil menarik perhatian orang-orang Eropa untuk mempelajari prasasti ini lebih lanjut.

    Kemudian, kajian tentang peninggalan bersejarah ini tertulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles di dalam buku The History of Java II. Raffles melampirkan transkripsi prasasti sebagai objek penelitiannya dan menyatakan bahwa kondisi prasasti kurang baik.

    Seorang sarjana dari Belanda bernama R. Friederich menentang pendapat tersebut dan menganggap prasasti ini masih layak baca. Meskipun hasil kajiannya masih memiliki celah soal transliterasi, ia merupakan pelopor mengenai kajian isi prasasti dari Kerajaan Pajajaran ini.

    2. Asal-Usul Prasasti Batu Tulis

    Ilustrasi Prabu Siliwangi
    Ilustrasi Prabu Siliwangi | Sumber gambar: Sukabumi Update

    Prabu Surawisesa yang merupakan penerus Kerajaan Pajajaran membuat prasasti Batu Tulis pada tahun 1533 M, tepatnya 12 tahun setelah ayahnya wafat. Pembuatan prasasti ini bertujuan untuk mengenang kebesaran ayahanda Prabu Surawisesa yang bernama Prabu Siliwangi.

    Meskipun begitu, nama Prabu Siliwangi tidak tertulis di dalam prasasti, melainkan Prabu Surawisesa tulis menggunakan nama lainnya, yaitu Sri Baduga Maharaja. Prabu Siliwangi memerintah Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482-1521 M.

    Pada masa itu, kawasan Batu Tulis merupakan tempat untuk upacara agama. Oleh sebab itu, terdapat peninggalan bersejarah lain di tempat kompleks prasasti, seperti batu tapak, meja batu tempat sesajen, batu sandaran tahta untuk raja yang dilantik, dan batu lingga.

    Orang-orang percaya bahwa keagungan dan kekuatan Sri Baduga Maharaja bersemayam di dalam Batu Tulis. Mereka menganggap tanda kekuasaan ini mampu melindungi negara dari ancaman musuh dan memberi kekuatan kepada Raja yang memerintah.

    Isi Prasasti Batu Tulis

    Terdapat sembilan baris yang tertulis di Prasasti Batu Tulis menggunakan aksara Jawa Kuno dalam bahasa Sunda Kuno. Prasasti ini berukuran tinggi 151 cm, tebal 15 cm, dan lebar 145 cm. Isi prasasti menggambarkan tentang kekaguman seorang anak kepada ayahnya.

    Terdapat versi lain yang mengatakan bahwa alasan Prabu Surawisesa membuat prasasti ini karena menyesal akan hilangnya sebagian wilayah kerjaan. Prabu Surawisesa merasa tidak dapat melindungi wilayah Pakuan Pajajaran. Isi prasasti dalam tulisan aslinya adalah sebagai berikut.

    • Wang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun.
    • Di wastu diya wingaran prebu guru dewataprana.
    • Di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata.
    • Pun ya nu nyusuk na pakwan.
    • Diya anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala waktu kan(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang.
    • Ya siya ni sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka panca pandawa ne(m) ban bumi.

    Makna Isi Prasasti Batu Tulis

    Ilustrasi Kerajaan Pajajaran
    Ilustrasi Kerajaan Pajajaran | Sumber gambar: Good News From Indonesia

    Menurut Hasan Djafar, ahli epigrafi dan kerap mengkaji prasasti pada masa Kerajaan Pajajaran, isi prasasti terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pembuka (manggala), tujuan (sambandha), dan titimangsa atau candrasengkala. Di bawah ini merupakan penjelasan lengkap dari tiga bagian prasasti.

    1. Pembuka (Manggala)

    Prasasti ini diawali dengan tulisan “wang na pun”. Bagian pembukaan prasasti ini merupakan seruan yang ditujukan kepada Dewa untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

    2. Alasan atau Tujuan (Sambandha)

    Selanjutnya merupakan bagian sambandha yang berisi alasan atau tujuan pembuatan prasasti Batu Tulis. Terjemahan dari baris pertama yaitu, “Inilah tanda peringatan (untuk) Prebu Ratu yang telah mendiang (mangkat).” 

    Menurut kalimat tersebut, kita dapat mengetahui tujuan penulisan prasasti ini adalah untuk memperingati almarhum Prabu Ratu. Selanjutnya, terdapat keterangan mengenai siapa Prebu Ratu tersebut. Beliau merupakan Raja dengan nama Prebu Guru Dewata Prana saat penobatan.

    Kemudian, beliau dinobatkan kembali untuk yang kedua kalinya dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa beliau adalah anak dari Rahiyang Dewa Niskala yang mangkat di Gunatiga.

    Beliau juga merupakan cucu Rahiyang Niskala Wastu Kencana yang mangkat di Nusa Larang. Bagian selanjutnya menyampaikan alasan mengapa harus memperingati Sri Baduga Maharaja.

    Sebab dari adanya peringatan ini adalah Sri Baduga Maharaja telah berjasa banyak dalam pembangunan Kerajaan Pajajaran, antara lain:

    • Membangun sebuah monumen peringatan berupa gugunungan.
    • Menguruk tanah dengan batu untuk membuat jalan.
    • Membuat parit pertahanan di sekeliling ibukota Pakuan-Pajajaran.
    • Membuat telaga bernama Telaga Warna Mahawijaya.
    • Membuat hutan larangan (samida).

    3. Angka Tahun (Titimangsa)

    Prasasti ini memiliki angka tahun yang tertulis dalam bentuk candrasengkala berbunyi “i saka panca pandawa ne(m) ban bumi” yang berarti “lima-pandawa-menggendong-bumi”. Kata panca dan pandawa mempunyai arti “lima” dan kata bumi yang bernilai angka “satu”

    Belum adanya kesepakatan mengenai angka tahun candrasengkala ini dalam penafsiran dan nilai kata-kata yang merupakan bagian dari angka tahunnya. Terdapat perbedaan penafsiran pada kata setelah panca pandawa, yaitu ne(m)ban atau e(m)ban.

    Ne(m)ban memiliki arti menggendong dan bernilai “dua”, sedangkan e(m)ban yang berarti panakawan dan bernilai angka “empat”.

    Masalah Pembacaan Prasasti Batu Tulis

    Terdapat beberapa masalah saat para peneliti berusaha untuk menafsirkan prasasti ini. Tiga di antaranya adalah ketidaktelitian, penambahan atau penyisipan kata-kata dan aksara, serta perbedaan persepsi dan penafsiran mengenai arti kata.

    1. Ketidaktelitian

    Adanya kurang teliti dalam membaca dan melihat bentuk-bentuk aksara dan ejaan mengakibatkan hasil pembacaan dan transliterasi menjadi tidak tepat. Oleh karena itu, banyak kesalahan terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai bentuk atau tipologi aksara, variannya, dan tanda-tanda diakritik.

    Kurangnya perhatian terhadap ejaan bisa menjadi penyebab hasil transliterasi menjadi tidak tepat dan tidak akurat karena terdapat salah pengartian dalam proses penerjemahannya.

    2. Penambahan atau Penyisipan Kata-kata dan Aksara

    Ketika menambahkan atau menyisipkan kata-kata dan aksara yang tidak tertulis pada prasasti Batu Tulis, peneliti juga harus memperhatikan arti kata, konteks, dan kaidah kebahasaannya. Jika perlu, peneliti bisa membandingkan dengan bagian atau sumber yang lain.

    3. Perbedaan Persepsi dan Penafsiran Terkait Arti Kata

    Terjadinya perbedaan dalam persepsi dan penafsiran menyebabkan adanya perbedaan arti yang ada pada prasasti. Misalnya, terdapat perbedaan pembacaan dan ahli aksara candrasengkala di dalam prasasti karena kurangnya pemahaman mengenai ilmu tulisan Sunda Kuno.

    Oleh sebab itu, ada tiga versi pembacaan dari candrasengkala pada prasasti ini, yaitu:

    • Panca pandawa tiban bumi.
    • Panca pandawa e(m)ban bumi.
    • Panca pandawa ne(m)ban bumi.

    Dampak dari perbedaan dan alih aksara ini menimbulkan perbedaan tafsir atas nilai angka dari kata tiban, e(m)ban, dan ne(m)ban. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan dalam angka tahunnya.

    Baca Juga: Prasasti Adalah: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Contohnya

    Sudah Tahu Tentang Prasasti Batu Tulis?

    Selain prasasti Batu Tulis yang memberikan informasi tentang suatu peristiwa atau keadaan pada masa lampau, prasasti juga memiliki fungsi lain. Biasanya, prasasti memuat pemberitahuan atau keputusan resmi dari seorang raja dan pejabat tinggi kerajaan.

    Pemberitahuan atau keputusan ini umumnya mengenai suatu daerah yang bebas dari membayar pajak (perdikan) atau berbagai hal lain terkait dengan aspek kehidupan, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, mari kita lestarikan prasasti-prasasti ini sebagai bentuk kontribusi dalam pelestarian sejarah Indonesia.

  • 12 Peninggalan Kerajaan Buddha yang Ada di Nusantara

    12 Peninggalan Kerajaan Buddha yang Ada di Nusantara

    Ada banyak peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara dan bisa kita temukan dalam bentuk candi, prasasti, hingga arca. Berbagai peninggalan tersebut memiliki fungsi tersendiri pada masa kerajaan Buddha. Dalam rangka memahami beragam peninggalan bersejarah ini, ikuti penjelasannya di bawah ini!

    12 Peninggalan Kerajaan Buddha yang Ada di Nusantara

    Salah satu alasan banyaknya peninggalan kerajaan Buddha yaitu Nusantara merupakan pusat pengajaran agama Buddha di masa lampau. Candi adalah bangunan keagamaan yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan ibadah, memberi penghormatan kepada leluhur, dan memuja dewa-dewi.

    Sementara itu, prasasti merupakan sarana untuk menyampaikan informasi mengenai gambaran kehidupan sosial, ekonomi, dan politik pada zaman dahulu. Kemudian, arca yang ada dalam bentuk patung digunakan sebagai media pemujaan dewa-dewi.

    Agar bisa mengetahui candi, prasasti, dan arca apa saja yang ada, simak penjelasan mengenai 12 peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara di bawah ini.

    1. Candi Borobudur

    Candi Borobudur
    Candi Borobudur | Sumber gambar: Traveloka

    Pembangunan Candi Borobudur berlangsung di masa pemerintahan Wangsa Syailendra pada tahun 800 M. Candi Buddha terbesar di dunia ini terbentuk dari stupa-stupa para penganut Buddha Mahayana. Selain itu, UNESCO telah menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu situs warisan dunia.

    Candi ini terdiri dari tiga pelataran melingkar dengan 1 stupa utama, 72 stupa berlubang, dan 2.672 panel relief, dan 504 arca Buddha. Keberadaan candi masih menjadi tempat peribadatan, terutama saat peringatan hari Trisuci Waisak. Tempat Candi Borobudur berlokasi di Magelang, Jawa Tengah.

    2. Candi Mendut

    Candi Mendut
    Candi Mendut | Sumber gambar: Kompas.com

    Candi peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara ini juga berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. Penulisan Candi Mendut berlangsung di masa Wangsa Syailendra dari kerajaan Mataram Kuno pada tahun 824 M. Informasi mengenai candi ini berdasarkan dari keberadaan Prasasti Karangtengah.

    Candi Buddha ini memiliki tiga arca Buddha ukuran besar, yaitu Arca Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan bernama dharmachakra mudra yang berada di tengah. Kemudian, pada sisi kanan terdapat Arca Awalokiteswara (Padmapani) dan Arca Wajrapani pada sisi kiri.

    3. Candi Muara Takus

    Candi Muara Takus
    Candi Muara Takus | Sumber gambar: Kemdikbud

    Candi Muara Takus berada di Kabupaten Kampar Riau dan merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari Kerajaan Sriwijaya. Bahan pembuatan Candi Muara Takus berbeda dari candi-candi Buddha lain yang terletak di pulau Jawa.

    Secara umum, candi Buddha di pulau Jawa memakai bahan baku andesit. Sementara itu, Candi Muara Takus menggunakan bahan baku berupa batu pasir, batu bata, dan batu sungai yang orang-orang percayai berasal dari Desa Pongkai.

    Candi ini mempunyai stupa dan lambang Buddha Gautama serta terkenal karena memiliki stupa yang besar dengan bentuk menara. Selain itu, Candi Muara Takus juga termasuk candi tertua yang ada di Pulau Sumatra.

    4. Candi Brahu

    Candi Brahu
    Candi Brahu | Sumber gambar: Kemdikbud

    Peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara selanjutnya adalah Candi Brahu. Candi Buddha ini terletak di situs Trowulan yang menjadi ibu kota Kerajaan Majapahit kala itu dan sekarang berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini  terbuat dari bahan baku berupa bata merah.

    Berdasarkan tulisan prasasti Mpu Sindok, Candi Brahu berfungsi sebagai tempat pembakaran mayat para raja. Walaupun begitu, setelah adanya penelitian lebih lanjut, tidak berhasil ditemukan bekas abu mayat yang ada di dalam bilik candi.

    5. Candi Sewu

    Candi Sewu
    Candi Sewu | Sumber gambar: Kemdikbud

    Candi Sewu yang merupakan peninggalan kerajaan Buddha berada di posisi kedua terbesar setelah Candi Borobudur. Terdapat perkiraan bahwa pembangunan candi ini berlangsung pada tahun 800 M. Lokasi candi Buddha ini terletak di Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

    Pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dari Kerajaan Mataram Kuno merupakan awal mula proses pembangunan kompleks candi ini. Namun, candi ini telah mengalami pemugaran pada masa pemerintahan Rakai Pikatan yang merupakan pangeran dari Wangsa Sanjaya.

    Nama “Sewu” yang ada pada candi Buddha ini memiliki kaitan yang erat dengan legenda Roro Jonggrang. Meskipun bernama Candi Sewu, sebenarnya candi yang ada hanya sejumlah 249 buah di dalam kompleks candi ini.

    6. Candi Ratu Boko

    Candi Ratu Boko
    Candi Ratu Boko | Sumber gambar: Kompas.com

    Candi peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara berikutnya adalah Candi Ratu Boko yang berada di atas bukit yang merupakan perbatasan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Selain sebagai tempat untuk peribadatan, candi ini juga berfungsi sebagai kompleks pemukiman atau keraton.

    Berdasarkan informasi dari prasasti, Candi Ratu Boko awal mulanya merupakan sebuah wihara untuk pendeta Buddha yang bernama Abhayagiri. 

    7. Prasasti Kedukan Bukit

    Prasasti Kedukan Bukit
    Prasasti Kedukan Bukit | Sumber gambar: Historia

    Penemuan salah satu peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara ini terletak di Kampung Kedukan Bukit, Kota Palembang, Sumatra Selatan. C.J. Batenburg merupakan penemu candi Buddha ini pada tanggal 29 November 1920.

    Prasasti Kedukan Bukit merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan pembuatannya berlangsung pada tahun 683 M. Prasasti ini menjelaskan tentang kemajuan pelayaran yang ada pada masa tersebut. Selain itu, penulisan prasasti yang bercorak Buddha ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.

    8. Prasasti Kota Kapur

    Prasasti Kota Kapur
    Prasasti Kota Kapur | Sumber gambar: Kemdikbud

    Prasasti Kota Kapur juga termasuk peninggalan bersejarah dari Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan oleh J. K. van der Meulen pada bulan Desember tahun 1892. Peninggalan bersejarah bercorak Buddha ini juga merupakan prasasti pertama dari Kerajaan Sriwijaya yang berhasil arkeolog temukan.

    Selain itu, prasasti ini adalah salah satu dari lima prasasti Dapunta Hyang yang termasuk salah satu penguasa di Kerajaan Sriwijaya. Informasi yang ada di dalam prasasti menyatakan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan yang kuat dan menguasai bagian barat Nusantara hingga Thailand bagian selatan.

    9. Prasasti Canggal

    Prasasti Canggal
    Prasasti Canggal | Sumber gambar: Kemdikbud

    Penemuan Prasasti Canggal berlokasi di area halaman Candi Gunung Wukir, Desa Canggal pada tahun 1879. Perkiraan pembuatan prasasti ini berlangsung pada tahun 732 M. Bahkan, prasasti ini termasuk prasasti tertua kedua di pulau Jawa setelah Prasasti Tuk Mas.

    Prasasti bercorak Buddha ini merupakan prasasti pertama yang Raja Sanjaya keluarkan dalam rangka memperingati pendirian lingga di atas bukit Shitarangga. Berdirinya lingga ini sebagai bentuk rasa syukur Raja Sanjaya karena bisa membangun kembali kerajaan setelah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

    10. Prasasti Kalasan

    Prasasti Kalasan
    Prasasti Kalasan | Sumber gambar: Kemdikbud

    Prasasti Kalasan adalah salah satu peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara dan berlokasi di Desa Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Penulisan prasasti ini menggunakan huruf Pranagari dari India Utara dan Bahasa Sansekerta yang berlangsung pada tahun 778 M. 

    Maharaja Dyah Pancapana Kariyana Panamkarana menulis prasasti ini yang berisi tentang pendirian bangunan suci untuk Dewi Tara. 

    11. Arca Sang Buddha Gautama

    Arca Sang Buddha Gautama
    Arca Sang Buddha Gautama | Sumber gambar: Pexels

    Arca Sang Buddha Gautama merupakan peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram Kuno yang penemuannya berlokasi di Desa Sikendeng, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat pada tahun 1921. Perkiraannya, pembuatan arca ini berlangsung pada tahun 200 M.

    Para sejarawan menerangkan bahwa Arca Sang Buddha Gautama mempunyai corak yang berbeda dengan arca-arca lain peninggalan Kerajaan Sriwijaya maupun arca yang berada di Candi Borobudur. 

    Corak yang terdapat pada arca ini memiliki kekhasan yang sama dengan arca yang ada di Amarawati, India. Oleh sebab itu, ada perkiraan bahwa Arca Sang Buddha Gautama berasal dari India.

    12. Arca Buddha Dipangkara

    Arca Buddha Dipangkara
    Arca Buddha Dipangkara | Sumber gambar: Kemdikbud

    Arca Buddha Dipangkara yang memiliki nama lain Arca Buddha Sempaga merupakan arca bercorak Buddha tertua dan dibuat pada tahun 2 M. Peninggalan bersejarah ini merupakan arca satu-satunya yang terbuat dari perunggu terbesar di Indonesia. Penemuan arca ini oleh Jessy Oey-Blom di Sulawesi pada tahun 1921.

    Selain itu, Arca Buddha ini memiliki tinggi 75 cm yang menggambarkan sosok Buddha berjubah dengan posisi berdiri dan memiliki sikap tangan bernama abhaya mudra. Sikap tangan ini memiliki arti untuk menghalau sumber ketakutan.

    Baca Juga: 15+ Daftar Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia Terpopuler

    Tahu Peninggalan Kerajaan Buddha yang Ada di Nusantara?

    Dari pembahasan di atas dan memahami banyaknya peninggalan kerajaan Buddha yang ada di Nusantara, kita bisa lebih mengapresiasi betapa kayanya Indonesia dalam kepemilikan candi, prasasti, hingga arca.

    Oleh sebab itu, mari kita ikut melestarikan berbagai peninggalan bersejarah ini agar tetap terjaga dan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur kita.