Category: Sejarah

  • 3 Periodisasi Perkembangan Peradaban Islam Secara Lengkap

    3 Periodisasi Perkembangan Peradaban Islam Secara Lengkap

    Seperti apa periodisasi perkembangan peradaban Islam? Periodisasi adalah sebuah pembabakan maupun pengelompokan waktu sesuai dengan zamannya. Tujuan pengelompokan tersebut untuk mempermudah Anda di dalam mengetahui serta memahami karakteristik dari pembahasan sejarah.

    Islam memiliki sejarah yang sangat panjang. Di dalam perkembangannya, Islam juga turut menghadirkan kebudayaan yang lalu dinamakan peradaban Islam.

    Inilah Periodisasi Perkembangan Peradaban Islam

    Secara umum, perkembangan sejarah Islam terbagi dalam 3 kelompok atau babak. Pertama yaitu periode Islam Klasik, kedua adalah pertengahan, serta perkembangan Islam Modern. Setiap periode tersebut mempunyai karakteristiknya masing-masing. Berikut pembahasan selengkapnya.

    1. Periode Klasik

    Ilustrasi kekhalifahan Bani Umayyah
    Ilustrasi kekhalifahan Bani Umayyah | Sumber gambar: intisari.grid.id

    Di periode yang pertama ini, perkembangan Islam terbagi dalam 2 fase, yaitu:

    • Fase ekspansi, integrasi, serta kemajuan yang berlangsung pada 650 sampai 1000 Masehi
    • Fase disintegrasi yang berlangsung pada 1000 sampai 1250 Masehi

    Dalam fase ekspansi, integrasi, serta kemajuan, Islam berjaya melalui Bani Umayyah. Bahkan, kejayaannya tersebut berhasil membawa pengaruh Islam yang sangat luas hingga mencapai wilayah Afrika Utara serta Spanyol bagian barat.

    Bukan hanya itu, wilayah lain yakni Persia serta India juga mendapatkan pengaruh atas kejayaan Islam di masa tersebut. Perkembangan Islam seolah tak terbendung hingga menyebar begitu luasnya.

    Kemudian, di periode klasik, ilmu pengetahuan, seni, serta arsitektur juga berkembang pesat. Ini terbukti melalui berkembangnya beberapa kota di kawasan yang memang menjadi wilayah kekuasaan Islam. Misalnya Istana Az-Zahra yang terdapat di Kordoba serta Istana Al-Hambra yang ada di Granada.

    Banyak ilmuwan maupun ulama besar bermunculan di masa itu. Beberapa ulama yang sangat terkenal dan bahkan kitabnya masih menjadi rujukan hingga sekarang antara lain:

    • Imam Abu Hanifah
    • Imam Malik
    • Al-Jubba’i
    • Imam Al-Asya’ri
    • Imam Al-Maturidi

    Selanjutnya, memasuki masa disintegrasi mulai tahun 1000 sampai 1250 M. Di masa inilah kejayaan Islam sudah mulai surut. Terdapat beberapa penyebabnya dan salah satunya yaitu kehancuran dari kota Baghdad. Kota tersebut menjadi pusat ilmu pengetahuan. Akan tetapi hancur akibat serangan dari Hulagu Khan.

    2. Periode Pertengahan

    Ilustrasi penguasa kerajaan Safawi
    Ilustrasi penguasa kerajaan Safawi | Sumber gambar: khazanah.republika.co.id

    Periodisasi perkembangan peradaban Islam yang kedua yaitu pada masa pertengahan. Sama dengan periode sebelumnya, masa pertengahan juga terbagi ke dalam dua fase, yakni fase kemunduran serta fase 3 kerajaan besar.

    Khusus fase kemunduran yang berlangsung antara 1250 sampai 1500 M, disintegrasi serta desentralisasi meningkat. Fase tersebut juga membuat dunia terbagi dua, yakni bagian Arab dengan pusatnya di Mesir dan terdiri atas Suriah, Irak, Arabia, Mesir, Palestina, serta Afrika Utara.

    Kemudian ada bagian Persia yang pusatnya di Iran serta terdiri dari Asia kecil, Balkan, Persia, serta Asia Tengah. Selanjutnya ada fase 3 kerajaan besar yang berlangsung sekitar 1500 sampai 1700 M.

    Menurut sejarah, fase ini kurang begitu memperhatikan ilmu pengetahuan. Akibatnya, Islam pun semakin mengalami kemunduran ketika 3 kerajaan besar tersebut memperoleh banyak tekanan. Bukan hanya ilmu pengetahuan, ternyata politik serta militer pun juga menurun.

    Kerajaan Safawi mengalami kehancuran akibat serangan dari bangsa Afgan. Kemudian kerajaaan Mughal hancur karena serangan dari raja-raja India. Kerajaan Usmani juga dipukul mundur di Eropa dan Mesir berhasil ditaklukkan Prancis melalui Napoleon Bonaparte.

    Selain itu, gedung-gedung bersejarah juga ditinggalkan begitu saja. Misalnya Benteng Merah, Taj Mahal, istana, masjid, maupun berbagai gedung pemerintahan yang ada di Delhi. Meskipun demikian, perlahan Islam sudah mulai berkembang kembali khususnya di bidang politik.

    Di sisi lain, negara-negara Barat juga mulai bangkit. Apalagi terbukanya jalan menuju pusat rempah-rempah serta bahan-bahan mentah yang berlokasi di wilayah Timur. Penemuan Amerika oleh Columbus di tahun 1492 M juga menandakan semakin berkembangnya Bangsa Barat.

    Meskipun demikian, kekuatan mereka masih tak begitu kuat. Apalagi jika membandingkannya dengan kekuatan Islam. Namun, memang sudah muncul tanda-tanda bahwa Barat akan terus berkembang.

    3. Periode Modern

    Ilustrasi umat islam pada tahun1800 M
    Ilustrasi umat islam pada tahun1800 M | Sumber gambar: detik.com

    Periodisasi perkembangan peradaban Islam yang ketiga yaitu periode modern dan berlangsung mulai 1800 M sampai sekarang. Banyak umat Islam yang kemudian mencari tahu kira-kira apa yang menjadikan Islam runtuh.

    Para pemimpin serta pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana langkah-langkah untuk membangun dan meningkatkan kekuatan dan mutu Islam. Kebangkitan umat Islam tersebut muncul salah satunya karena melihat bahwa Barat sudah mulai memiliki peradaban baru.

    Ekspedisi Napoleon yang berlangsung di Mesir dan berakhir di tahun 1801 M berhasil membuka pandangan Islam, khususnya di Turki dan Mesir. Periode ini juga sekaligus menjadi masa keterbalikan di mana Barat yang awalnya menurun dan kalah dengan peradaban Islam, namun sekarang malah sebaliknya.

    Dari sini lalu muncul pemikiran maupun aliran modernisasi dalam Islam. Para pemuka Islam mengeluarkan ide maupun pandangannya mengenai bagaimana langkah-langkah untuk menjadikan Islam kembali maju seperti di periode klasik. Berbagai usaha pun sudah dilakukan meskipun Barat juga semakin bertambah maju.

    Kebangkitan Umat Islam

    Masih tentang periodisasi perkembangan peradaban Islam. Adapun kebangkitan Islam terbagi dalam 2 periode, yaitu:

    • Kebangkitan awal yang berlangsung pada 1800 sampai 1967 Masehi
    • Kebangkitan kedua yang berlangsung pada 1967 sampai sekarang

    Pada periode pertama, kesadaran umat Islam muncul mengenai pentingnya pembaruan di dalam Islam. Pembaruan tersebut terjadi di bidang budaya, sosial, militer, serta politik.

    Selanjutnya, periode kebangkitan kedua terjadi kekalahan dari Arab oleh Israel di tahun 1967. Ini menjadi pemicu yang menggugah umat Islam sehingga lahirlah banyak pemikiran filosofis serta metodologis untuk melakukan pembaruan Islam di era kontemporer.

    Banyak tokoh pembaruan Islam yang bermunculan di masa tersebut, antara lain:

    • Muhammad Abduh
    • Muhammad Rasyid Ridha
    • Jamaluddin Al-Afghani
    • Sayyid Ahmad Khan
    • Syah Waliyullah serta Muhammad Iqbal
    • KH. Hasyim Asy’ari
    • KH. Ahmad Dahlan
    • dan lain-lain

    Perkembangan Peradaban Islam (Nabi Adam-Sekarang)

    Sebenarnya sejarawan juga berbeda pendapat terkait penentuan periodesasi perkembangan peradaban Islam. Selain pembahasan di atas, ada juga sejarawan yang mengulas bagaimana Islam berkembang sejak masa Nabi Adam sampai saat ini.

    1. Periode Sejarah Klasik

    Periode yang bermula sejak Nabi Adam datang ke bumi. Kemudian periode tersebut berlanjut dengan masa para nabi sampai sebelum Nabi Muhammad diutus dan menjadi nabi terakhir.

    2. Periode Sejarah Nabi Muhammad

    Periode yang bermula sejak 570 M sampai 632 M. Pada masa ini, Madinah menjadi pusat awal dari seluruh aktivitas negara sampai meliputi seluruh jazirah Arab. Inilah periode yang harus menjadi contoh kaum muslimin, baik yang menjadi pemerintah maupun rakyat.

    3. Periode Khalifah Abu Bakar-Ali

    Periode yang ketiga ini dimulai sejak 632 M sampai 661 M. Di jaman khalifah, Islam banyak melakukan penaklukan, baik di Syam (Syiria), Persia, Mesir, dan sebagainya. Selain itu, manusia juga ada di dalam kaidah atau manhaj Islam secara benar.

    4. Periode Kekhalifahan Umayyah

    Kemudian, berlanjut dengan khalifah Bani Umayyah yang berlangsung antara 661 M sampai 749 M. Di masa ini, pemerintahan Islam melakukan perluasan secara signifikan. Akan tetapi, komitmen terhadap syariat Islam mulai menunjukkan kemerosotan dibandingkan periode sebelumnya.

    5. Periode Kekhalifahan Abbasiyah

    Setelah Bani Umayyah, periode selanjutnya yaitu masa khalifah Bani Abbasiyah yang berlangsung mulai 749 M sampai 1258 M. Di periode tersebut, pendidikan Islam semakin berjaya meskipun memang masih ada beberapa pemerintahan serta kerajaan yang masih independen.

    Misalnya, pemerintahan Zanki, Saljuk, Ghazni, Ayyub, serta Murabithun. Lalu, pada masa tersebut juga terjadi perang salib yang dilakukan negara Eropa. Mereka memang menaruh kebencian mendalam terhadap negara Islam di wilayah Timur. Pemerintahan Abbasiyah pun hancur dengan bersamaan penyerangan oleh orang-orang Mongolia.

    6. Periode Sejarah Mamluk

    Periode yang berlangsung antara 1250 M sampai 1517 M. Sejarah yang sangat dikenang di masa ini yaitu berhasilnya membendung gelombang serangan dari pasukan Mongol ke beberapa negara Islam. Bahkan, kaum Salibis pun eksistensinya di negara Islam berhasil dihabiskan pada periode tersebut.

    7. Periode Kesultanan Utsmaniyah

    Periode yang ketujuh ini berlangsung mulai 1517 M sampai 1923 M. Pemerintah berhasil melakukan ekspansi ke wilayah Islam, khususnya kawasan Eropa Timur. 

    Waktu itu Beograd, Hongaria, Yunani, Albania, Serbia, Rumania, serta Bulgaria berhasil takluk. Bahkan, kekuasaan kesultanan Utsmaniyah semakin melebar hingga berhasil menaklukkan Konstantinopel yang menjadi ibu kota dari Imperium Romawi.

    8. Periode Islam Kontemporer

    Periode yang terakhir bermula pada 1922 M sampai 2000 M. Sejarah bermula sejak berakhirnya kekuasaan Utsmaniyah. Islam pun terus berkembang sampai pada masa saat ini.

    Baca Juga: Sejarah Kerajaan Mataram Islam, Raja-raja, dan Masa Kejayaan

    Sudah Paham Periodisasi Perkembangan Peradaban Islam?

    Jadi, Islam mengalami perkembangan dalam 3 periode. Ketiga periode tersebut yaitu periode klasik, pertengahan, serta modern. Sebagai umat Muslim, sangat penting untuk mengetahui sejarah peradaban Islam untuk mengambil nilai-nilai positif di dalamnya.

  • Mengenal 4 Konsep Waktu dalam Sejarah, Fungsi, dan Contoh

    Mengenal 4 Konsep Waktu dalam Sejarah, Fungsi, dan Contoh

    Dalam mempelajari sejarah, penting untuk mengetahui konsep waktu dalam sejarah. Karena hal ini sangat berkaitan untuk mengetahui apa peristiwa yang terjadi di masa lalu, bagaimana perkembangannya hingga saat ini, serta apa saja yang sudah berubah. Lantas, apa itu sejarah dan apa saja konsep waktu di dalamnya? 

    Apa itu Sejarah? 

    Sebelum mengetahui konsep waktu dalam sejarah, penting untuk kamu memahami apa itu sejarah. Sejarah berasal dari bahasa Arab Syajara yang berarti pohon kayu. Pohon kayu memiliki banyak manfaat, bahkan pada zaman Nabi sekalipun. Sebab, pelepah kayu berguna untuk menulis ayat Al-Qur’an. 

    Tak hanya pelepahnya saja, hampir seluruh bagian dari kayu dapat manusia manfaatkan. Mulai dari akar hingga buahnya. Secara etimologi, sejarah merupakan pertumbuhan, kehidupan, dan perkembangan yang terus berlangsung sepanjang waktu tanpa henti. 

    Dalam bahasa Jawa, sejarah memiliki arti yang relatif sama. Di mana dalam bahasa Jawa ada istilah babad yang berarti cerita sejarah. Terdapat pula cerita Babad Tanah Jawi yang berarti Sejarah Tanah Jawa. 

    Jadi, dapat kamu tarik kesimpulan bahwa, sejarah merupakan suatu ilmu pengetahuan yang ada karena penyelidikan atas peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Di mana ini berguna sebagai pedoman untuk masyarakat saat ini. 

    Apa itu Konsep Waktu dalam Sejarah?

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), waktu adalah serangkaian proses, keadaan, dan perbuatan saat berlangsung. Waktu merupakan salah satu unsur sejarah yang sangat penting, karena dalam mempelajari sejarah bukanlah mempelajari sesuatu yang berhenti, melainkan bergerak seiring waktu. 

    Konsep waktu dalam sejarah memiliki arti keberlangsungan atau jangka waktu berlangsung. Keberlangsungan sendiri terbagi menjadi tiga dimensi, yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. 

    Masa lalu merupakan masa yang telah kita lewati, masa yang bisa kita kenang sehingga memiliki sifat kesinambungan. Selain itu, masa lalu bukanlah masa yang harus dilupakan. Sebab, dengan adanya masa lalu dapat menjadi pembelajaran untuk bertindak lebih baik lagi di masa sekarang. 

    Begitupun dengan sejarah yang dapat kita gunakan sebagai acuan untuk melakukan tindakan di masa saat ini. Serta untuk melakukan perencanaan di masa yang akan datang.

    Waktu dalam sejarah menggunakan makna denotatif. Ini merupakan satu kesatuan, yaitu jam, menit, detik, minggu, bulan, tahun, abad, dan lainnya. Sebagai contoh, kamu membaca sejarah Kerajaan A berdiri pada abad 7 Masehi. Nah, 7 Masehi merupakan makna denotatif dalam sejarah. 

    Sejarah tidak hanya terbatas pada suatu peristiwa saja, melainkan juga menyangkut hal lain seperti manusia, benda, ruang, waktu, dan lain sebagainya. Manusia di sini adalah tokoh yang berpengaruh dalam suatu peristiwa. 

    Sedangkan ruang merupakan latar atau tempat di mana peristiwa tersebut terjadi. Namun, konsep waktu sejarah yang dimaksudkan di sini hanyalah hal yang menyangkut dengan suatu peristiwa. 

    4 Konsep Waktu dalam Sejarah 

    Menurut Kuntowijoyo, terdapat 4 pembagian konsep waktu sejarah. Nah, berikut adalah penjabaran lengkapnya:

    1. Konsep Perkembangan 

    Setiap individu tentu menginginkan perkembangan dalam dirinya, ini berlaku untuk setiap generasi. Dari masa ke masa, kita juga selalu menyaksikan perkembangan-perkembangan. 

    Contohnya adalah perkembangan komputer. Komputer pertama kali berukuran sangat besar sehingga tidak efisien untuk kerja yang berpindah-pindah tempat. Sekarang terdapat laptop yang lebih efisien dan ringkas untuk dibawa. 

    Tak hanya bentuknya, fungsi komputer juga mengalami perkembangan. Awalnya komputer belum tersambung dengan internet, hingga kini internet sangat mudah digunakan dan dapat semua orang dapat terhubung ke berbagai jenis perangkat. 

    Dalam konsep perkembangan, sejarah akan mencatat peristiwa yang menyiratkan perubahan dari satu bentuk ke bentuk lain. Seperti komputer pertama kali ditemukan pada tahun 1822, kemudian komputer kedua ditemukan pada tahun 1959. 

    Dalam sejarah tidak meninggalkan yang lalu, namun bersifat berkesinambungan. Apapun yang baik akan diteruskan dan tidak ditinggalkan. Contohnya dalam perkembangan komputer tadi. Jika ada bagian yang sudah berjalan dengan baik, maka tidak akan terbuang begitu saja. 

    Jadi, hal tersebut akan terus digunakan dan ditambah dengan bagian baru yang berguna untuk menyempurnakan. Sehingga, kemajuan dan kebaruan akan semakin dapat manusia rasakan. 

    2. Konsep Kesinambungan 

    Konsep waktu dalam sejarah kedua, yaitu kesinambungan. Kesinambungan dapat terjadi apabila masyarakat dapat mengambil pelajaran dan kebaikan dari sejarah. 

    Meskipun dalam penerapannya terdapat hal-hal yang mengalami perubahan, namun terdapat pola dan sistem yang sama dari masa lampau. Hal inilah yang disebut sebagai kesinambungan. 

    Contoh dari konsep kesinambungan adalah sistem dalam partai politik saat ini yang kurang lebih mirip dengan sistem politik di zaman kerajaan. Hal tersebut terjadi karena masyarakat mengambil cara-cara yang pernah dilakukan pada masa lalu untuk diadopsi di masa sekarang. 

    3. Konsep Pengulangan 

    Konsep pengulangan, merupakan konsep waktu sejarah yang ketiga. Terdapat banyak peristiwa yang terkadang bisa membuat kamu kamu merasa mengalami peristiwa yang sama. Namun, dengan waktu dan zaman yang berbeda layaknya sebuah déjà vu. 

    Pengulangan dalam sejarah kerap kali terjadi dalam tahun yang berbeda, dalam zaman yang berbeda, namun terkadang memiliki kesamaan latar belakang. Ungkapan mengulang sejarah juga bukan merupakan hal yang asing, bukan?

    Salah satu contoh pengulangan sejarah adalah lengsernya penguasa atau pemimpin kerajaan. Di mana peristiwa tersebut juga terjadi pasca kemerdekaan Indonesia. Seperti saat lengsernya Presiden Soekarno, Soeharto, B.J Habibie, dan Abdurrahman Wahid. 

    Tentu saja, penyebab lengsernya presiden pertama hingga keempat Indonesia tersebut memiliki latar belakang berbeda. Namun, hal ini merupakan pengulangan sejarah mengenai lengsernya suatu kepemimpinan. 

    4. Konsep Perubahan

    Terakhir, yang termasuk dalam konsep waktu dalam sejarah adalah perubahan. Ini merupakan konsep yang juga melibatkan pengaruh dari luar. Perubahan merupakan perkembangan yang terjadi dalam waktu yang lambat maupun cepat.

    Banyak faktor yang turut mendorong dan mempercepat perubahan. Contohnya adalah masyarakat yang memiliki pemikiran terbuka, temuan baru, konflik yang terjadi dalam masyarakat, dan lain sebagainya. 

    Seperti yang kita ketahui, selalu ada 2 sisi dalam kehidupan, yaitu baik ada buruk. Dalam perubahan pun ada faktor yang mempercepat perubahan dan ada faktor yang justru memperlambat perubahan. Contohnya adalah terjadinya bencana alam, masuknya pengaruh kebudayaan asing yang sangat masif, dan masih banyak lagi.  

    Sebagaimana kehidupan ini yang terus berjalan dari waktu ke waktu. Seluruh aspek yang ada dalam kehidupan haruslah turut berubah mengikuti perkembangan zaman. 

    Hubungan Waktu dengan Babak dalam Sejarah 

    Selain konsep waktu dalam sejarah, kamu juga harus memahami babaknya. Ketika mempelajari sejarah, tentu kamu akan mengenal sejarah dalam masa pra sejarah, masa Kerajaan Hindu Buddha, masa penjajahan Jepang, masa penjajahan Belanda, dan lain sebagainya. Hal tersebut yang merupakan pembabakan dalam sejarah. 

    Proses yang terjadi dalam sejarah selalu melibatkan perubahan atau peralihan. Sehingga, untuk dapat mempelajari sejarah dengan baik, kamu harus mengetahui gambaran-gambaran yang terjadi pada peristiwa. Hal inilah yang kemudian memunculkan pelukisan peristiwa sejarah. 

    Waktu sendiri terbagi menjadi 3 dimensi yang sama dengan keberlangsungan sebagaimana yang telah dibahas dalam pengertian sejarah. Meliputi masa lalu, sekarang, dan masa depan. Perjalanan waktu merupakan perjalanan yang terus berlangsung sehingga perlu diberi batasan. 

    Batasan tersebutlah yang kemudian disebut dengan babak atau pembabakan. Babak dibuat secara urut dan sesuai dengan kronologi sejarah. Berikut merupakan pembabakan Sejarah Nasional Indonesia:

    • Babak I: Zaman Prasejarah
    • Babak II: Zaman Kuno (Awal M – 1500 M)
    • Babak III: Zaman Kerajaan Islam (1500 M – 1800 M)
    • Babak IV: Abad Sembilan Belas (1800 M -1900 M)
    • Babak V: Zaman Kebangkitan Nasional (1900 M -1942 M)
    • Babak VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia (1942 M -1984 M)

    Baca Juga: Konsep Berpikir Sejarah: Pengertian, Macam, dan Contohnya

    Sudah Memahami 4 Konsep Waktu dalam Sejarah?

    Intinya, konsep waktu dalam sejarah yang tidak akan bisa terlepas dari kehidupan masa ke masa. Dalam mempelajari sejarah tidak terbatas pada perkembangannya saja, melainkan tergabung juga dalam 3 konsep waktu lainnya yaitu kesinambungan, pengulangan, dan perubahan. 

    Sejarah memberikan kita peluang untuk membuka, mengingat, dan mempelajari apa yang terjadi di masa lalu. Serta memberikan pemaparan dalam berbagai aspek kehidupan dan mempermudah kita untuk mengikuti perkembangannya hingga ke masa sekarang. 

    Sehingga, cerita maupun pengalaman dalam sejarah dapat menjadi pegangan manusia di zaman ini dalam menjalani kehidupan sekarang hingga masa yang akan datang. Semoga bermanfaat!

  • 7 Pahlawan Nasional Asal Kalimantan dan Perjuangannya 

    7 Pahlawan Nasional Asal Kalimantan dan Perjuangannya 

    Kalimantan, pulau yang memiliki kekayaan alam dan budaya, telah melahirkan pahlawan-pahlawan besar yang tak boleh kita lupakan dalam sejarah Indonesia. Dari rimba hutan yang luas hingga sungai yang mengalir deras, para pahlawan nasional asal Kalimantan telah mengukir legenda dengan perjuangan dan dedikasi mereka.

    Pada artikel berikut, kami membawa Anda melintasi sejarah dan warisan pahlawan-pahlawan luar biasa yang berasal dari pulau Kalimantan. Mereka semua telah memberikan kontribusi yang tak ternilai dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Mari kita simak!

    7 Pahlawan Nasional Asal Kalimantan

    Berikut biografi beserta latar belakang para pahlawan nasional asal Kalimantan yang berjuang untuk NKRI:

    1. Pangeran Antasari

    Pangeran Antasari
    Pangeran Antasari | Sumber: Kompas.com

    Pertama, Pangeran Antasari yang lahir di Kayu Tangi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, sekitar tahun 1797-1809. Beliau seorang Sultan dan pemimpin yang berperan dalam Perang Banjar melawan penjajah Belanda. Nama kecilnya adalah Gusti Inu Kertapati.

    Pangeran Antasari dihormati bukan hanya sebagai pemimpin suku Banjar, melainkan juga oleh berbagai suku lain di Kalimantan Selatan. Saat Perang Banjar terjadi pada 25 April 1859, ketika itu beliau dan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara di bawah kekuasan Belanda di Pengaron, lalu meluas ke seluruh wilayah kerajaan Banjar.

    Beliau meninggal pada usia 75 tahun akibat penyakit paru-paru dan cacar, dan putranya, Muhammad Sema melanjutkan perjuangannya. Pada 27 Maret 1968, Pangeran Antasari mendapatkan penghormatan sebagai pahlawan nasional..

    2. Brigjen Hasan Basri

    Hasan Basri
    Hasan Basri | Sumber: Tirto.id

    Selanjutnya, Hasan Basri yang lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, pada 17 Juni 1923 dan meninggal di Jakarta pada 15 Juli 1984. Beliau adalah tokoh pahlawan nasional dari Kalimantan Selatan yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

    Beliau mendirikan Batalyon ALRI Divisi IV di Kalimantan Selatan dan memiliki julukan sebagai Bapak Gerilya Kalimantan pada tahun 1962. Pendidikan awalnya mencakup HIS, Tsanawiyah al-Wataniah di Kandangan, dan Kweekschool Islam Pondok Modern Ponorogo, Jawa Timur. 

    Setelah kemerdekaan, beliau terlibat dalam organisasi pemuda Kalimantan di Surabaya dan menjadi pemimpin Laskar Syaifullah. Hasan Basri juga mendirikan Banteng Indonesia dan membentuk Batalyon ALRI, setelah banyak anggota Laskar ditangkap oleh Belanda. 

    Meskipun saat itu Kalimantan berada di bawah kekuasaan Belanda berdasarkan perjanjian Linggarjati dan Renville, Hasan Basri tetap berjuang. Namun, pada 17 Mei 1949, beliau berhasil memproklamasikan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia.

    Setelahnya, beliau menjadi Letnan Kolonel dalam TNI AD Divisi Lambung Mangkurat. Lalu, pada 3 November 2001, beliau mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Banjarmasin.

    3. Ir. Pangeran H. Mohammad Noor

    Ir. Pangeran H. Mohammad Noor
    Ir. Pangeran H. Mohammad Noor | Sumber: Tribun Wiki 

    Pahlawan nasional asal Kalimantan ini lahir di Martapura pada 24 Juni 1901 dan merupakan keturunan keluarga bangsawan Banjar serta cucu Ratu Anom Mangkubumi Kentjana bin Sultan Adam al-Watsiq Billah. Tetapi, setelah Kesultanan Banjar dihapuskan oleh Belanda menjelang akhir Perang Banjar, keluarga Kesultanan kehilangan hak istimewanya dan jatuh miskin. 

    Pendidikan Ir. Pangeran H. Mohammad Noor meliputi HIS, MULO, HBS, dan Technische HogeSchool (ITB), di mana ia lulus sebagai Insinyur pada 1927. Alih-alih bekerja untuk Belanda, beliau memilih untuk berjuang dengan rakyat dan menjadi wakil Kalimantan di Volksraad pada 1935-1939. 

    Selama PPKI, beliau berperang dalam pertempuran Surabaya pada Oktober-November 1945 melawan tentara sekutu. Dan selama Revolusi 1945-1949, beliau mendirikan pasukan MN 1001 di Kalimantan Selatan dan Tengah. 

    Kemudian, sebagai Gubernur Kalimantan pertama selama Agresi Militer Belanda I dan II, beliau membantu mempertahankan Kalimantan secara politik dan militer. Sedangkan sebagai Menteri PU, beliau menyelesaikan proyek-proyek vital dan pada tahun 2018 beliau mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Banjarmasin.

    4. Abdul Kadir

    Abdul Kadir
    Abdul Kadir | Sumber: Kompas.com

    Terkenal sebagai Raden Temenggung Setia Pahlawan, Abdul Kadir lahir pada tahun 1771 di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, dan meninggal pada tahun 1875 di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Beliau adalah seorang bangsawan asal Melawi yang berusaha memajukan ekonomi rakyatnya serta melawan Belanda.

    Beliau adalah anak dari seorang bangsawan dari kerajaan Sintang, yang memerintah di wilayah Melawi pada tahun 1845, setelah menggantikan ayahnya. Meskipun harus tunduk kepada raja yang bersekutu dengan Belanda, Abdul Kadir tidak pernah mengingkari penolakannya terhadap penjajahan Belanda.

    Ia membangun secara diam-diam pasukan untuk mempersiapkan perlawanan terhadap Belanda. Meskipun Belanda mengetahui rencananya dan memberinya gelar Setia Pahlawan beserta sejumlah uang pada tahun 1866, Abdul Kadir terus melanjutkan perlawanannya dari tahun 1868 hingga 1875. 

    Karena kecerdasannya dalam mendapatkan informasi, Belanda selalu kalah dalam upaya mereka, akhirnya Abdul Kadir ditangkap dan ditahan hingga meninggal di Nanga Pinoh, serta dimakamkan di Natal Mungguk Liang, Melawi. Abdul Kadir dihormati sebagai pahlawan nasional asal Kalimantan pada tahun 1999.

    5. Sultan Hidayatullah II

    Sultan Hidayatullah II
    Sultan Hidayatullah II | Sumber: Sonora

    Pahlawan nasional asal Kalimantan Sultan Hidayatullah II, awalnya terkenal sebagai Gusti Andarun, lahir di Martapura pada tahun 1822 dan meninggal di Cianjur, Jawa Barat, pada 24 November 1904 saat usia 82 tahun. 

    Ia memimpin Kesultanan Banjar dari tahun 1859 hingga 1862 dan merupakan salah satu tokoh pemimpin Perang Banjar melawan Hindia Belanda.

    Gusti Andarun, anak dari Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman, seharusnya menjadi pewaris takhta Kesultanan Banjar, tetapi posisinya tergantikan oleh kakak tirinya, Tamjidillah II, yang mendapatkan dukungan Belanda. Hal ini memicu konflik di antara keluarga bangsawan Banjar dan masyarakat.

    Ketegangan ini berujung pada Perang Banjar pada tahun 1859, di mana Pangeran Antasari memimpin pasukan Banjar menyerang tambang batu bara Oranje-Nassau. Setelah berjuang hingga tahun 1862, Sultan Hidayatullah beserta keluarganya ditangkap oleh Belanda. 

    Mereka diasingkan ke Cianjur, tempat Sultan Hidayatullah menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat pada tahun 1904. Kemudian, Sultan Hidayatullah mendapatkan penghormatan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1999, atas perlawanannya melawan Hindia Belanda.

    6. Marsekal Pertama TNI Anumerta Tjilik Riwut 

    Tjilik Riwut
    Tjilik Riwut | Sumber: Metro Kalimantan 

    Beliau lahir pada 2 Februari 1918 di Kasongan, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, dan meninggal pada tahun 1987 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beliau adalah seorang tokoh Dayak yang berperan penting dalam pemerintahan sebagai Gubernur Kalimantan Tengah pada tahun 1958.

    Selain tugas pemerintahan, Tjilik Riwut juga menulis beberapa buku dan menjadi seorang jurnalis. 

    Pada tanggal 17 Desember 1946, bersama dengan sejumlah tokoh perwakilan Dayak Kalimantan, beliau bersumpah setia kepada pemerintah RI dalam sebuah upacara adat suku Dayak. 

    Kemudian, beliau mendapat perintah untuk memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung yang pertama oleh S. Suryadarma, Kepala TNI AU pada 17 Oktober 1947 di Desa Sambi, Kotawaringin, Kalimantan Tengah. Untuk memperingati hari tersebut, tanggal 17 Oktober secara resmi ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI AU. 

    Tjilik Riwut mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional asal Kalimantan pada tahun 1998, dan nama beliau diabadikan sebagai salah satu nama bandara di Palangkaraya.

    7. Drs. Saadillah Mursjid

    Saadillah Mursjid
    Saadillah Mursjid | Sumber: Teras Info

    Terakhir, Saadillah Mursjid yang lahir pada tanggal 7 September 1937 dan meninggal pada tanggal 28 Juli 2005. Beliau menjabat sebagai Menteri Muda/Sekretaris Kabinet Indonesia dalam Kabinet Pembangunan V, Menteri Sekretaris Kabinet dalam Kabinet Pembangunan VI, dan Menteri Sekretaris Negara dalam Kabinet Pembangunan VII.

    Sebelum menjadi menteri, pahlawan nasional asal Kalimantan bernama Drs. Saadillah Mursyid merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada, The Netherlands Economic Institute (Rotterdam), dan Universitas Harvard. Lalu, beliau bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 

    Pada tahun 1992, beliau menerima penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana. Dan sejak tahun 2003, Drs. Saadilah Mursyid menjabat sebagai General Manager Taman Mini Indonesia Indah.

    Beliau menjadi Menteri Sekretaris Negara setelah mantan Presiden Soeharto mengundurkan diri. Pada saat itu, Soeharto menunjuk Drs. Saadilah Mursyid untuk menyiapkan naskah final Keputusan Presiden tentang Komite Reformasi dan Keputusan Presiden tentang Pembentukan Kabinet Reformasi. 

    Drs. Saadilah Mursyid juga terkenal sebagai seorang politisi yang setia kepada Soeharto dan tetap mendukungnya meskipun banyak orang berpaling setelah kejatuhannya. Beliau juga adalah penulis konsep pengunduran diri Presiden Soeharto dan melaporkan situasi genting pada Mei 1998.

    Baca Juga: Mengenal 10 Tokoh Pahlawan dari Jawa dan Kisah Perjuangannya

    Sudah Tahu Siapa Saja Pahlawan Nasional Asal Kalimantan?

    7 tokoh luar biasa dan telah diakui sebagai pahlawan nasional asal Kalimantan, yakni mulai dari Pangeran Antasari hingga Drs. Saadillah Mursjid. Dari perintis kemerdekaan hingga pionir pendidikan, setiap satu dari mereka telah memberikan kontribusi berharga bagi Indonesia. 

    Mereka merupakan bukti kebesaran dan keberagaman budaya Kalimantan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Sebagai negara yang kaya akan sejarah dan jasa-jasa para pahlawan ini, kita tidak boleh melupakan peran mereka dalam menyatukan Indonesia.

  • Artefak: Pengertian, Jenis, serta Contohnya

    Artefak: Pengertian, Jenis, serta Contohnya

    Sejarah merupakan hal yang penting untuk kita pelajari karena pada masa ini, tidak luput dengan peristiwa yang ada pada masa lalu. Artefak adalah salah satu bukti nyata bahwa kehidupan yang lalu mengandung sejarah penting di dalamnya.

    Pada zaman dahulu, manusia menandai peristiwa dan hal penting dengan meninggalkan suatu karya ciptaan mereka. Benda-benda yang mereka buat sekarang ini biasa kita kenal dengan istilah artefak. 

    Bahan yang manusia zaman kuno pakai bisa berasal dari batu, kayu, logam, besi, tulang hewan, dan lain-lain. Adanya penemuan benda-benda tersebut menjadikan para ahli di bidang arkeologi bisa meneliti dan memprediksi kehidupan pada zaman lampau.

    Pengertian Artefak

    Artefak adalah kata bahasa Latin “arte-factum” yang mempunyai makna ‘dibuat oleh keterampilan’. Sedangkan dalam bahasa Inggris, kata “artifact” yang merupakan istilah untuk menggambarkan objek hasil buatan manusia. Objek atau benda tersebut memiliki nilai sejarah, seni, ataupun budaya.

    Selain itu, benda arkeologi ini memiliki nilai penting di mata sejarah dan kebudayaan manusia karena bisa memberikan penggambaran mengenai kehidupan, teknologi, dan kepercayaan masyarakat masa lalu. 

    Penelitian terhadap benda bersejarah ini seringkali melibatkan ahli arkeologi dan analisis ilmiah dalam menentukan umur, asal-usul, terutama makna pembuatan objek tersebut. Objeknya biasanya berupa berbagai jenis benda, termasuk senjata, perkakas, perhiasan, patung, lukisan, tulisan kuno, dan sebagainya.

    Pyramid and Sphinx
    Pyramid and Sphinx | Sumber gambar: pexels.com

    Contoh benda-benda kuno yang mendunia salah satunya adalah Sphinx dan Piramida di Mesir. Peninggalan tersebut memberi wawasan penting akan kehidupan di masa Mesir kuno. 

    Masyarakat pada saat itu sudah mempercayai adanya kehidupan setelah kematian. Oleh sebab itu, mereka melakukan pemakaman untuk orang mati.

    Selanjutnya, contoh lainnya yaitu lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci dan senjata samurai dari Jepang. Objek tersebut menunjukkan pengetahuan berharga tentang peradaban dan budaya pada masanya.

    Temuan Artefak di Indonesia

    Indonesia adalah negeri yang luas, serta memiliki kebudayaan yang beraneka ragam. Sejarah yang negeri kita miliki ini pun sangatlah panjang sehingga temuan-temuan kuno yang menyebar luas juga mempunyai berbagai macam latar belakang dan budaya.

    Selain artefak, banyak pula berbagai situs peninggalan pada zaman kerajaan pada masa lalu. Seperti Kerajaan Kutai, Sriwijaya, Tarumanegara, dan yang paling kita kenal adalah masa kejayaan Majapahit.

    Prasasti Gajah Mada
    Prasasti Gajah Mada | Sumber gambar: gramedia.com

    Indonesia memiliki benda yang mengandung nilai sejarah dan membantu dalam mengungkap kejadian nyata pada masa lalu. Sebagaimana contoh, peristiwa Patih Gajah Mada pernah mengikrarkan Sumpah Palapa untuk menjadikan seluruh Nusantara takluk di bawah kekuasaan Majapahit.

    Tanpa adanya peninggalan, maka suatu peristiwa mungkin akan lenyap dan hilang tanpa jejak karena tidak ada suatu hal yang membuktikan kebenarannya.

    Baca Juga: Prasasti Adalah: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Contohnya

    Jenis Artefak Menurut Teori

    Berdasarkan karakteristiknya, jenis artefak secara teoritis adalah:

    • Artefak bergerak, yaitu benda-benda kuno bersejarah yang mudah untuk kita pindahkan. Baik dengan menggunakan tangan, atau kendaraan.
    • Artefak tidak bergerak, peninggalan sejarah yang tidak bisa kita pindahkan dan apabila memaksa untuk memindahkannya akan merusak struktur benda tersebut. Contohnya yaitu seperti monumen, arca, candi, dan berbagai patung dari periode sejarah tertentu.

    Jenis Artefak Menurut Zamannya

    Peninggalan benda kuno bisa dikelompokkan berdasarkan zaman atau periode pembuatannya. Berikut klasifikasi jenis-jenis artefak berdasarkan masanya:

    1. Zaman Batu

    Artefak pada zaman batu bisa kita bagi menjadi empat zaman, yaitu:

    • Paleolitikum (zaman batu tua), manusia pada masa ini hidup dalam kelompok kecil secara nomaden, melakukan perburuan hewan dan mengumpulkan makanan secara alami. Contoh alat-alat yang mereka gunakan seperti kapak genggam (chopper) berupa batu yang masih kasar.
    • Mesolitikum (zaman batu pertengahan), pada zaman ini manusia mulai mengenal teknik awal dalam pertanian dan peternakan sehingga mereka mampu mengembangkan alat-alat batu yang lebih halus dan canggih. 
    • Neolitikum (zaman batu baru), manusia di masa ini sudah hidup menetap dan mempunyai pengetahuan serta teknik yang lebih maju dalam budidaya hewan dan tanaman juga pembuatan alat-alat canggih untuk pertanian seperti cangkul dan sejenisnya.
    • Megalitikum (zaman batu besar), masa ini menandakan kemajuan peradaban manusia dalam pembuatan benda yang menakjubkan dari batu-batu besar. Selain itu, pada masa ini manusia mulai mengenal adanya kepercayaan. Contoh yang terkenal pada zaman ini yaitu bebatuan Stonehenge di Inggris.
    Stonehenge
    Stonehenge | Sumber gambar: pexels.com

    Periode-periode yang telah ada di atas, menggambarkan perkembangan dan evolusi kehidupan manusia selama Zaman Batu. Pada masing-masing periode dan dengan adanya dukungan peninggalan benda sejarah, alat yang manusia buat dari batu telah menjadi semakin canggih dan teknologi lambat laun mengalami perkembangan.

    2. Zaman Logam

    Ini adalah masa ketika manusia mulai menciptakan alat dan benda dari bahan dasar logam. Buktinya yaitu dengan penemuan benda yang berasal dari logam tembaga dan perunggu dalam membuat alat untuk kehidupan sehari-hari seperti perkakas. Kemudian, ada pula penemuan perhiasaan yang terbuat dari emas, perak, dan perunggu.

    3. Zaman Besi

    Zaman ini adalah era di mana manusia melakukan teknik peleburan bijih besi untuk mereka tuangkan pada cetakan. Alat-alat yang mereka hasilkan melalui proses tersebut antara lain adalah tombak dan kapak.

    Contoh Lain Artefak

    Para ahli arkeolog sampai saat ini terus meneliti untuk mengungkapkan kisah masa lalu Indonesia secara menarik menggunakan peninggalan kuno. Bentuk-bentuk benda kuno bersejarah adalah sebagai berikut:

    1. Prasasti. Peninggalan pada masa kerajaan di Indonesia, berupa batu atau lempeng logam yang isinya adalah ukiran tulisan kuno. Tulisan tersebut memberikan informasi penting tentang kejadian sejarah dan budaya masa lalu di Indonesia.
    2. Candi dan Arca. Peninggalan yang cenderung mengarah pada unsur ibadah. Penduduk zaman dulu biasanya menggunakan candi untuk acara keagamaan, sedangkan arca merupakan sarana untuk memuja dewa. Seperti Candi Borobudur yang memiliki nilai agama Budha, dan arca dewa-dewa Hindu. 
    3. Makam. Sejarah Indonesia juga mengungkapkan bahwa agama Islam mulai masuk dengan adanya bukti benda-benda yang memiliki nilai sejarah pada masa Islam. Seperti contoh, bagian pahatan pada batu nisan Sultan Malik As-Saleh Aceh.
    4. Senjata tradisional. Manusia zaman dahulu, menciptakan senjatanya baik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk perlindungan diri. Seperti gerabah, anak panah, dan kapak genggam dari batu, pisau tajam dari tulang, keris dari logam, atau yang lainnya.
    5. Benteng. Setelah masa kerajaan berakhir, sejarah menyebutkan tentang masa penjajahan oleh Belanda. Contoh bukti nyatanya yaitu seperti Benteng Vredeburg yang dahulu oleh pemerintahan Belanda mereka gunakan sebagai pusat aktivitas militer.
    6. Mata  uang kuno. Masa kerajaan sudah mengenal mata uang sebagai alat untuk kegiatan jual beli. Mereka menggunakan koin dari logam emas, perak, atau perunggu. Temuan mata uang koin dengan gambar raja yang sedang memiliki kuasa pada saat itu, menandakan bukti yang kuat tentang uang kuno.
    7. Alat musik tradisional. Alat musik tersebut biasa orang zaman dahulu pakai saat upacara adat atau pertunjukan. Contohnya yaitu peninggalan gamelan dari batu, seruling dari kayu, dan gendang.

    Benda-benda di atas adalah hal penting yang menyangkut warisan budaya Indonesia dan mencerminkan bahwa kekayaan budaya negara ini sungguh luar biasa. Peninggalan-peninggalan itu bisa kita temui ketika mengunjungi museum di seluruh Indonesia.

    Sudah Tahu Apa itu Artefak?

    Dalam memahami wawasan tentang artefak, tentu saja memiliki manfaat yang luar biasa untuk pengetahuan sejarah dan membuat kita melek akan masa lalu manusia. Benda kuno yang kita pelajari juga bisa menjadi sumber inspirasi karena hampir seluruhnya mengandung nilai seni yang tinggi.

    Di sisi lain, benda bersejarah ini sebenarnya masih memiliki kekurangan karena informasi yang kita dapat terkadang kurang lengkap sebab keterbatasan latar belakangnya. Kondisi benda yang sudah tua dan rusak juga sangat disayangkan.

    Oleh karena itu, peran yang dapat kita ambil saat ini yaitu dengan ikut serta dalam menjaga, memelihara, dan melestarikan warisan budaya yang ada saat ini.

  • Isi Perjanjian Roem Royen: Latar Belakang hingga Dampaknya

    Isi Perjanjian Roem Royen: Latar Belakang hingga Dampaknya

    Di dalam sejarah Indonesia, ada berbagai peristiwa yang telah berpengaruh besar terhadap bangsa ini. Salah satu peristiwa penting yang tidak boleh dilupakan adalah isi Perjanjian Roem Royen. Perjanjian ini memiliki latar belakang yang mendalam dan dampak yang signifikan pada perjalanan sejarah Indonesia. 

    Artikel ini akan membahas dengan lebih detail tentang Perjanjian Roem-Royen, termasuk latar belakangnya, isi perjanjian, dan dampaknya pada perjalanan sejarah Indonesia.

    Latar Belakang Perjanjian Roem-Royen

    Untuk memahami Perjanjian Roem-Royen, kita harus mengerti konteks sejarahnya. Pada tahun 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda, dan Perang Kemerdekaan pun meletus. Perjuangan untuk merdeka terus berlanjut selama beberapa tahun, dan Indonesia terus berusaha untuk mempertahankan kemerdekaannya.

    Pada saat itu, hubungan antara pemerintahan Indonesia yang baru merdeka dan Belanda sangat tegang. Belanda berusaha keras untuk memulihkan kendali atas koloninya yang hilang, sementara Indonesia menginginkan kemerdekaannya yang diakui secara internasional. 

    Sebelum Perjanjian Roem-Royen, Belanda dan Indonesia telah menjalani kesepakatan di masa lalu, yakni Perjanjian Linggarjati pada tahun 1946 dan Perjanjian Renville pada tahun 1948. 

    Namun, Perjanjian Renville dianggap merugikan Indonesia karena wilayah kedaulatan Indonesia semakin menyusut. Setelah itu, Belanda dianggap telah melanggar janji-janji tersebut, sehingga pada tanggal 1 Desember 1948, Belanda secara sepihak mengumumkan bahwa mereka tidak lagi terikat dengan Perjanjian Renville.

    Dampaknya, pada tanggal 19 Desember, Belanda melancarkan serangan terhadap ibu kota Indonesia di Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Bahkan, Belanda juga menangkap serta menawan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta sebagai bagian dari tindakan agresif tersebut.

    Pada tanggal 4 Januari 1949, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengeluarkan perintah kepada Belanda dan Indonesia untuk menghentikan operasi militer masing-masing. Selain itu, United Nations Commission for Indonesia (UNCI) membawa perwakilan dari kedua negara ke meja perundingan pada tanggal 17 April 1949. 

    Perundingan ini dipimpin oleh Merle Cochran, dengan Indonesia diwakili oleh Mr. Mohammad Roem, sementara perwakilan Belanda oleh Dr. JH. van Royen. Perundingan tersebut berakhir pada tanggal 7 Mei 1949, dengan kesepakatan bahwa Pemerintah Republik Indonesia, termasuk para pemimpin yang ditahan, akan dikembalikan ke Yogyakarta. 

    Selain itu, kedua belah pihak setuju untuk mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Namun, keikutsertaan pemerintah Republik Indonesia dalam perundingan selanjutnya tidak datang tanpa syarat. 

    Pemerintah Republik Indonesia menuntut agar tentara Belanda menarik diri dari wilayah Yogyakarta. Akhirnya, Belanda menyetujui syarat tersebut. Pada tanggal 2 Juni 1949, proses pengosongan wilayah Yogyakarta dimulai di bawah pengawasan UNCI.

    Tokoh-Tokoh dalam Perjanjian

    Perjanjian Roem Royen
    Perjanjian Roem Royen | Sumber: pinterest. com

    Dalam isi Perjanjian Roem Royen, Mohammad Roem adalah perwakilan dari Indonesia, dan ia bersama beberapa anggota lain, termasuk Ali Sastroamijoyo, Dr. Leimena, Prof. Supomo Latuharhary, dan lainnya. 

    Mohammad Roem adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang memainkan peran kunci dalam perjuangan kemerdekaan dan diplomasi Indonesia. Ia lahir pada tanggal 8 Februari 1888 di Rambipuji, Jawa Timur.

    Di pihak Belanda, Dr. J. Herman van Royen adalah perwakilan utama, dan ia juga bersama dengan beberapa anggota lain, seperti Blom Jacob, dr. Van, dr. Gede, Dr. P.J. Koets van Hoogstraten, dan Dr. Gleben Belanda.

    Dr. J. Herman van Royen adalah seorang tokoh Belanda yang terlibat dalam perundingan-perundingan dengan Indonesia pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Ia memiliki peran signifikan dalam sejumlah peristiwa sejarah yang berkaitan dengan hubungan antara Indonesia dan Belanda.

    Perlu dicatat bahwa dalam isi perjanjian Roem Royen, mediator dari UNCI (United Nations Commission for Indonesia) juga turut berperan. Mediator perjanjian tersebut dipimpin oleh Merle Cochran yang berasal dari Amerika Serikat.

    Sukses dari proses perundingan tentu tidak terlepas dari peran utama tokoh-tokoh penting dalam Perjanjian Roem Royen. Beberapa tokoh kunci dalam Perjanjian Roem-Royen meliputi:

    1. Mohammad Roem
    2. Ali Sastroamijoyo
    3. Johannes Leimena
    4. Ir. Juanda
    5. Prof. Supomo
    6. Johannes Latuharhary
    7. A.K. Pringgodigdo
    8. Mohammad Hatta
    9. Sri Sultan Hamengkubuwono IX

    Keberhasilan perundingan ini sangat bergantung pada kontribusi dan peran penting dari para tokoh tersebut dalam mencapai kesepakatan.

    Isi Perjanjian Roem-Royen

    Perjanjian Roem Royen
    Perjanjian Roem Royen | Sumber: pinterest.com

    Terbitnya Perjanjian Roem-Royen adalah hasil dari perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda yang berlangsung 7 Mei 1949. Berikut adalah isi Perjanjian Roem Royen dari berbagai pihak:

    1. Isi Perjanjian Roem Royen dari Pihak Delegasi Belanda

    Terdiri dari:

    • Pemerintah Belanda akan menyetujui permintaan Pemerintah Indonesia untuk kembali ke Yogyakarta sebagai ibu kota sementara.
    • Pemerintah Belanda akan menyetujui status Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.
    • Pemerintah Belanda akan melepaskan semua tahanan politik Indonesia tanpa syarat apa pun.
    • Pemerintah Belanda juga akan menyetujui penyelenggaraan Konferensi Meja Bundar yang akan segera terlaksana setelah pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta.

    2. Isi Perjanjian Roem Royen dari Pihak Delegasi Indonesia

    Terdiri dari:

    • Pemerintah Indonesia akan memberikan perintah kepada angkatan perang dan angkatan bersenjatanya untuk menghentikan semua jenis aktivitas perang gerilya.
    • Pemerintah Indonesia akan mengundang Pemerintah Belanda untuk turut hadir dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.
    • Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda akan bekerja sama untuk memulihkan keamanan, ketertiban, dan menjaga perdamaian di kedua negara.

    3. Kesepakatan Isi Perjanjian Roem Royen Kedua Belah Pihak

    Terdiri dari:

    • Belanda akan menyerahkan kedaulatan pemerintah Republik Indonesia secara penuh dan tanpa syarat.
    • Belanda akan menghentikan semua aktivitas militer dan membebaskan semua tahanan politik dan perang Indonesia tanpa syarat.
    • Pemerintah Belanda dan Pemerintah Indonesia akan bersama-sama membentuk persekutuan berdasarkan kesetaraan hak dan sukarela.
    • Belanda akan mengakui keberadaan Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.
    • Belanda akan mengembalikan pemerintahan Republik Indonesia ke kota Yogyakarta sebagai ibu kota negara sementara.
    • Angkatan perang dan angkatan bersenjata Republik Indonesia akan menghentikan semua aktivitas perang gerilya.
    • Indonesia dan Belanda sepakat untuk berpartisipasi dalam perundingan berikutnya, yaitu Konferensi Meja Bundar yang akan terlaksana di Den Haag, Belanda.

    Dampak Perjanjian Roem-Royen

    Agresi militer
    Agresi militer | Sumber: pinterest.com

    Sebagai tindak lanjut dari hasil atau isi Perjanjian Roem Royen, pada tanggal 22 Juni 1949 terjadi pertemuan antara Indonesia, Belanda, dan negara bagian federal Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) yang dipantau oleh Critchley dari Australia. 

    Berikut adalah keputusan-keputusan yang diambil dalam pertemuan tersebut:

    1. Pemerintah Republik Indonesia akan kembali ke Yogyakarta pada tanggal 24 Juni 1949.
    2. Pasukan Belanda akan menarik mundur diri dari Yogyakarta pada tanggal 1 Juli 1949.
    3. Pemerintah Republik Indonesia akan kembali berkuasa penuh di Yogyakarta, dan TNI (Tentara Nasional Indonesia) akan mengambil alih kekuasaan di Yogyakarta.
    4. Pembicaraan mengenai penghentian konflik akan terlaksana setelah pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta.
    5. Pada tanggal 29 Juni 1949, pasukan Belanda akan sepenuhnya meninggalkan Yogyakarta.
    6. Pada tanggal 6 Juli 1949, Soekarno dan Hatta akan dibebaskan untuk kembali ke Yogyakarta.

    Dengan demikian, hasil pertemuan tersebut memperkuat implementasi isi Perjanjian Roem Royen dan membawa dampak penting dalam upaya pemulihan perdamaian dan stabilitas di Yogyakarta serta pembebasan Soekarno dan Hatta.

    Baca Juga: Perjanjian Linggarjati: Sejarah, Tokoh, & Hasil Perundingan

    Sudah Paham dengan Isi Perjanjian Roem Royen?

    Perjanjian Roem-Royen adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Perjanjian ini mengakhiri agresi bersenjata antara Indonesia dan Belanda, mengembalikan wilayah kemerdekaan Indonesia, dan membantu memulihkan keamanan di negara kesatuan Indonesia. 

    Meskipun masih ada masalah yang belum terselesaikan, perjanjian ini merupakan tonggak sejarah yang penting dalam perjuangan Indonesia untuk merdeka. Dampaknya terasa hingga hari ini dalam hubungan antara kedua negara dan dalam konstruksi identitas nasional Indonesia.

  • 8 Sejarah Agama Tertua di Dunia, Ada Sejak Sebelum Masehi

    8 Sejarah Agama Tertua di Dunia, Ada Sejak Sebelum Masehi

    Tahukah kamu tentang sejarah agama tertua di dunia? Pada dasarnya, manusia sudah mengenal agama semenjak lama, karena aspek tersebut merupakan salah satu unsur yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Mari mengenal delapan agama paling tua di dunia lewat penjelasan kali ini, yuk!

    Mengenal Lebih Dekat Tentang Agama

    Sebelum kita melihat sejarah agama tertua di dunia, ada baiknya kita mendalami dahulu apa itu agama. Secara garis besar, agama merupakan suatu bentuk hubungan manusia dengan entitas yang dianggap suci, kudus, dan agung. 

    Hubungan antara manusia dan entitas agung ini, manusia praktikkan melalui ritual dan kegiatan penyembahan, penulisan kitab suci, hingga perilaku serta moral dalam kehidupan sehari-hari.

    Walaupun agama-agama memiliki perbedaan konsep, agama memiliki beberapa kesamaan karakteristik. Mari kita lihat kesamaan karakteristik berikut ini.

    • Memiliki sosok entitas Agung yang disembah atau dipuja. Selain itu, terdapat unsur-unsur yang bersifat suci dan sakral. 
    • Mempunyai pedoman atau kitab suci sebagai pedoman hidup manusia.
    • Menjelaskan konsep kepercayaan, mulai dari Tuhan, manusia, hingga konsep kematian. Setiap agama juga mempunyai kisah atau mitos yang menjelaskan konsep kepercayaan mereka.
    • Memiliki komunitas atau pengikut yang memiliki kepercayaan yang sama.
    • Mempunyai ritual atau tata cara beribadah kepada Tuhan/Dewa mereka.
    • Menjelaskan konsep moral dan etik, maksudnya,agama berperan dalam mendeskripsikan mana yang salah, mana yang benar.
    • Setiap pengikut berkemungkinan mengalami “pengalaman emosional” atau merasa terilhami ketika mengikuti suatu agama tertentu. 
    • Agama juga memiliki material yang mendeskripsikan agama mereka, seperti simbol, lukisan, buku, hingga bangunan.

    Dalam perkembangan peradaban manusia, agama dapat memberikan manusia pandangan dunia (worldview). Pandangan dunia adalah cara pandang dan filosofi untuk menjalani kehidupan sesuai aturan, moral, dan etik yang dipercaya. Oleh karena itu, agama bisa menjadi cara suatu pengikut menjalankan kehidupannya.

    8 Sejarah Agama Tertua di Dunia

    Perkembangan agama sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan ada agama tertua yang masih eksis hingga saat ini. Agama apa sajakah itu? Yuk, lihat 8 agama-agama tertua di dunia. 

    1. Hindu (Abad ke-15 hingga ke-5 SM)

    Kuil Galteshwar di India
    Kuil Galteshwar di India | Sumber: Unsplash.com

    Sejarah agama tertua di dunia yang pertama adalah agama Hindu. Hindu merupakan agama tertua di dunia yang dipercaya sudah ada sejak lebih dari 4.000 tahun yang lalu. 

    Agama ini tidak mempunyai pendiri yang pasti maupun sistem kepercayaan yang terorganisir. Pasalnya, agama ini merupakan kumpulan dari beberapa budaya.

    Menurut sejarahnya, agama Hindu lahir dari perpaduan dua kebudayaan, yaitu arya dan dravida. Sekitar 1500 tahun Sebelum Masehi, bangsa Arya bermigrasi ke Lembah  Sungai Indus. Di sana, suku ini bertemu dengan penduduk setempat dan menggabungkan bahasa, budaya, serta kepercayaan mereka.

    Umat Hindu percaya akan banyak dewa seperti Siwa, Wisnu, Brahma, dan Saraswati. Kondisi tersebut membuat agama Hindu termasuk agama politeisme, yaitu mempercayai lebih dari satu Tuhan.  

    Kepercayaan Hindu mempercayai akan empat tujuan hidup tiap manusia. Tujuan tersebut meliputi:

    • Dharma: menjalankan kehidupan dengan kebajikan.
    • Kama: memberikan kesenangan pada indera.
    • Artha: mencapai kesuksesan dan kekayaan dengan cara kebaikan.
    • Moksha: melepaskan jiwa dari reinkarnasi. 

    2. Zoroastrianisme (Abad ke-10 hingga ke-5 SM)

    Simbol Faravahar di Kuil Api, Iran
    Simbol Faravahar di Kuil Api, Iran | Sumber: Worldhistory.org

    Sejarah agama tertua di dunia berikutnya adalah agama zoroastrianisme. Agama ini merupakan agama dari Persia kuno (sekarang kita mengenalnya sebagai Iran). Agama kuno dibawakan oleh seorang Nabi Zarathustra atau juga bernama Zoroaster. Meskipun begitu, tidak banyak informasi mengenai nabi ini.

    Kepercayaan ini mirip dengan agama Abrahamik yaitu menyembah pada satu Tuhan. Tuhan yang mereka sembah adalah Ahura Mazda yang berarti Tuhan yang bijaksana. 

    Selain itu, Zoroastrianisme juga memiliki Tuhan yang menjadi sifat oposisi dari Ahura Mazda. Entitas tersebut adalah Angra Mainyu atau “roh perusak”. Entitas ini merupakan wujud kerusakan yang bersemayam di Neraka. Berbeda dengan Ahura Mazda yang merupakan wujud kebajikan yang berada di surga.

    Umat Zoroastrian sekarang berkisar 100.000 hingga 200.000 pengikut. Pengikut Zoroastrian terbanyak terdapat di negara Iran dan India. Selain kedua negara ini, umat Zoroastrianisme banyak ditemui di Amerika Serikat, Inggris, Tajikistan, Pakistan, hingga Selandia Baru.

    3. Yudaisme/Yahudi (Abad ke-9 hingga ke-5 SM)

    Tembok Ratapan atau Tembok Barat, Yerusalem
    Tembok Ratapan atau Tembok Barat, Yerusalem | Sumber: Unsplash.com

    Yahudi atau Yudaisme merupakan agama tertua dari kelompok agama Abrahamik, termasuk Kristen dan Islam. Sejarah agama tertua di dunia yang satu ini menyebutkan bahwa Nabi Musa yang mengajarkan agama ini kepada Bani Israel melalui kitab suci Taurat.

    Inti kepercayaan agama Yudaisme adalah mempercayai Tuhan Yang Maha Esa merupakan penyelamat Bani Israel dari penindasan. Tuhan juga menurunkan Undang-Undang Tuhan atau Torah kepada mereka yang memilih di jalan Tuhan.

    Tempat beribadahnya orang Yahudi bernama sinagoga atau kanisah. Sementara itu, rabbi adalah sebutan untuk seorang ahli atau pakar keagamaan dalam agama Yahudi. 

    4. Jainisme (Abad ke-8 hingga ke-2 SM)

    Patung Mahawira Jainisme
    Patung Mahawira Jainisme | Sumber: Unsplash.com

    Jainisme merupakan agama tertua keempat. Agama ini merupakan agama yang banyak mempengaruhi agama budha dan konghucu. Praktik Jainisme adalah mencapai pencerahan dengan aksi-aksi non-kekerasan atau sesuatu yang tidak melukai makhluk lain, termasuk hewan dan tanaman.

    Sama seperti Hindu dan Budha, Jainisme juga mempercayai reinkarnasi. Penganut kepercayaan ini juga percaya bahwa karma akan yang menentukan siklus reinkarnasi. Oleh sebab itu, umat Jainisme harus membebaskan diri dari siklus reinkarnasi.

    Praktik agama Jainisme disebut ahimsa yang merupakan aktivitas non-kekerasan yang cukup ketat. Para penganutnya percaya bahwa setiap benda dan makhluk memiliki jiwa termasuk udara dan air. Tidak heran, jika pengikutnya banyak yang menjadi vegetarian.

    Sejarah agama tertua di dunia ini menyebutkan bahwa penganut kepercayaan ini juga mempercayai Tirthankara sebagai pemimpin mereka. Tirthankara adalah seseorang yang telah melepaskan diri dari siklus reinkarnasi. 

    Hanya ada 24 Tirthankara dalam kepercayaan Jainisme dan Tirthankara yang terakhir lahir pada tahun 599 SM. 

    Umat Jainisme sekarang banyak tersebar di daerah India dan jumlahnya mencapai 4 juta pengikut.

    5. Konfusianisme/Kong Hu Chu (Abad ke-6 hingga ke-5 SM)

    Patung Filsuf Confucius
    Patung Filsuf Confucius | Sumber: Britannica.com

    Selanjutnya, kita akan melihat konfusianisme atau konghucu sebagai salah satu agama tertua. Sejarah agama tertua di dunia konghucu menyebut jika agama ini dibawakan oleh filsuf asal China, Confucius. Uniknya, beliau tidak mengklaim sebagai pendiri sebuah agama, tetapi menghidupkan ajaran dari tradisi terdahulu.

    Ajaran-ajaran agama Konghucu lebih bersifat pragmatis, seperti tata krama, sopan santun, cinta, hingga filsafat. Tidak mengherankan bila Konghucu lebih dikenal sebagai pedoman hidup daripada sebuah agama. Meskipun begitu, perdebatan tentang apakah konghucu agama atau bukan tetap ada.

    Terlepas dari perdebatan yang ada, agama konfusianisme adalah agama yang paling berpengaruh dalam sejarah China. Agama ini pernah menjadi ideologi negara pada Dinasti Han (141–87 SM). Selain itu, agama ini juga pernah mengalami asimilasi dengan agama Budha dan Taoisme pada Dinasti Song (960–1279 M).

    6. Buddha (Abad ke-6 hingga ke-5 SM)

    Borobudur, Candi Budha Terbesar di Indonesia
    Borobudur, Candi Budha Terbesar di Indonesia | Sumber: Unsplash.com

    Buddha adalah salah satu agama tertua berikutnya. Menurut sejarah agama tertua di dunia, agama ini didirikan oleh Siddharta Gautama—atau Sang Buddha. Sama seperti agama Konghucu, agama ini bukanlah agama yang menyembah suatu Entitas Agung. Jadi, Buddha lebih dianggap sebagai pedoman hidup.

    Konsep dari agama Budha adalah mencapai kebijakan dan kedamaian batin. Buddha juga mempercayai dharma sebagai kunci kehidupan manusia. Manusia hendaknya melepaskan diri dari reinkarnasi dengan mengamalkan dharma (kebajikan).

    Dharma adalah ajaran buddha yang menekankan pada kebajikan, kesabaran, kebijaksanaan, dan welas asih. Dalam budha terdapat beberapa larangan untuk para penganutnya, antara lain:

    • membunuh makhluk lain,
    • melakukan kekerasan seksual,
    • mengambil sesuatu yang bukan haknya,
    • berbohong,
    • mengonsumsi alkohol dan narkoba.

    7. Taoisme (Abad ke-6 hingga ke-4 SM)

    Patung Lao Tzu di Gunung Qingyuan
    Patung Lao Tzu di Gunung Qingyuan | Sumber: Worldhistory.org

    Sejarah agama tertua di dunia selanjutnya adalah Taoisme. Filsuf Lao Tzu adalah orang yang berpengaruh dalam perkembangan Taoisme. Dalam bukunya, Tao Te Ching, menyebutkan bahwa eksistensi makhluk hidup harus dalam keharmonisan di dalam Tao—alam semesta. 

    Konsep utama dari Taoisme adalah menyeimbangkan keharmonisan sebuah unsur. Keseimbangan ini kita kenal sebagai Yin dan Yang. Ide dari Yin Yang ini menunjukan bahwa semua hal memiliki hubungan timbal-balik dan tidak ada yang bisa bergerak dengan sendirinya.

    Selain Yin dan Yang, Taoisme juga mengenal energi Chi atau Qi sebagai energi yang memandu setiap benda di semesta ini. Akan tetapi, penganut Taoisme tidak menyembah energi ini sebagai dewa mereka. 

    Agama Taoisme menjadi cukup populer saat kekaisaran China pada abad ke-8 M, tepatnya pada era Dinasti Tang. Agama ini pun berkembang beriringan dengan Budha dan Konghucu. Akan tetapi, semenjak komunisme memasuki China pada 1949, praktik agama dilarang oleh negara dan pengikutnya pun kian menurun.

    8. Shintoisme (Abad ke-3 SM hingga ke-8 M)

    Kuil Itsukushima, Hiroshima, Jepang
    Kuil Itsukushima, Hiroshima, Jepang | Sumber: unsplash.com

    Shinto merupakan kepercayaan langsung dari animisme kuno dari Jepang. Tidak banyak yang bisa diketahui mengenai asal sejarah agama tertua di dunia yang satu ini. Namun, agama ini diperkirakan telah muncul sejak Periode Yayoi yaitu sekitar 300 SM hingga 800 M. 

    Kepercayaan shinto mempercayai adanya Dewa atau Kami yang merupakan perwujudan dari fenomena atau objek alam. Sementara itu, penganut Shinto juga mempercayai adanya makhluk gaib lain yang mampu mengganggu dan merasuki manusia.

    Meskipun demikian, agama shinto mengalami banyak perubahan setelah agama Buddha masuk ke daratan Jepang. Keberadaan kedua agama ini di Jepang menimbulkan simbiosis yang sama-sama saling melengkapi. 

    Hasilnya, pada Periode Heian (794—1185 M), baik Shinto dan Buddha seolah menjadi satu kesatuan agama. Pada kuil-kuil Shinto, akan banyak ditemui figur-figur Buddha dan bahkan dipelihara oleh pendeta Buddha. 

    Baca Juga: 15+ Daftar Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia Terpopuler

    Apa yang Dapat Kamu Tinjau dari Sejarah Agama Tertua di Dunia?

    Melihat sejarahnya, kamu bisa melihat bahwa pada dasarnya, manusia dan agama tidak terpisahkan dalam kehidupan semenjak awal. Dalam memahami perkembangan sejarah agama tertua di dunia, kamu juga bisa menilai bahwa peradaban manusia sangatlah kompleks. 

    Di samping itu, keberadaan agama ternyata turut berperan dalam dinamika keberagaman, budaya, juga perkembangan dari setiap etnis manusia.

  • 10 Peristiwa Sejarah di Indonesia Paling Tak Terlupakan!

    10 Peristiwa Sejarah di Indonesia Paling Tak Terlupakan!

    Sebelum menjadi bangsa yang merdeka, Indonesia telah melewati banyak sekali momen bersejarah yang tak boleh terlupakan oleh generasi muda saat ini. Apalagi ada berbagai peristiwa sejarah di Indonesia terpenting, yang menjadi titik balik kehidupan masyarakatnya.

    Yuk, simak daftar momen bersejarah bagi bangsa Indonesia selengkapnya dalam artikel ini!

    Peristiwa Sejarah di Indonesia Terpenting dan Tidak Terlupakan

    Berikut ini adalah ulasan lengkap tentang 10 peristiwa bersejarah di Indonesia terpenting yang menarik untuk diketahui generasi muda bangsa:

    1. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

    Proklamasi Kemerdekaan RI
    Proklamasi Kemerdekaan RI | Sumber: wikipedia.org

    Bisa soal peristiwa sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia memang sangat panjang. Apalagi sebelum membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945, ada banyak momen yang terjadi. Salah satunya adalah jatuhnya bom di Kota Hiroshima pada 6 Agustus 1946 dan di Kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

    Semua bom yang dijatuhkan Amerika tersebut bertujuan agar Jepang menyerah kepada Amerika. Pada momen kekosongan kekuasaan tersebut, Indonesia langsung memanfaatkan kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

    Adapun pada pertemuan di Dalat, terjadi beberapa hal setelah proses diskusi panjang antara Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ir. Soekarno, dan juga Drs. Mohammad Hatta dengan Jenderal Terauchi, antara lain:

    • Pemerintah Jepang memutuskan untuk memberi kemerdekaan bagi Indonesia.
    • Demi melaksanakan kemerdekaan tersebut, maka dibentuk PPKI.
    • Pelaksanaan kemerdekaan secepat mungkin akan dilakukan setelah seluruh persiapan selesai dan secara berangsur-angsur, mulai dari Pulau Jawa.
    • Wilayah Indonesia nantinya akan meliputi keseluruhan bekas wilayah Hindia Belanda.

    Setelah pertemuan di Dalat, Soekarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta untuk menemui Jenderal Yamamoto yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan Militer Jepang di Hindia Belanda untuk berdiskusi.

    Sayangnya, keduanya diminta untuk bertemu Jenderal Nishimura, di mana sang jenderal mengungkapkan bahwa sejak 16 Agustus 1945, ia sudah menerima perintah dari Tokyo, bahwa Jepang harus menjaga status quo. Sehingga, tidak bisa memberi kemerdekaan bagi Indonesia.

    Padahal, sebelumnya Marsekal Terauchi sudah menjanjikan kemerdekaan. Akhirnya, Soekarno dan Moh. Hatta pergi ke rumah Laksamana Maeda untuk menyusun teks proklamasi bersama sejumlah tokoh lainnya.

    Setelah semua konsep disepakati, akhirnya Sayuti Melik menyalin teks dan mengetik naskah tersebut di mesin tik milik Mayor Dr. Hermann Kandeler. Mulanya, pembacaan teks proklamasi akan dilaksanakan di Lapangan Ikada.

    Namun, karena alasan keamanan, akhirnya dipindah ke kediaman Presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56.

    Baca Juga: Proses Penyusunan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    2. Pemberontakan G30S/PKI

    Pemberontakan G30S/PKI
    Pemberontakan G30S/PKI | Sumber: koranmemo.com

    Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI menjadi peristiwa sejarah di Indonesia selanjutnya yang terjadi pada tahun 1965. Pencetus utama peristiwa ini adalah Partai Komunis Indonesia atau PKI, yang menyebabkan jatuhnya korban Pahlawan Revolusi.

    Bukan hanya itu saja, pemberontakan semakin tak terkendali setelah Presiden Soeharto membentuk era Orde Baru. Jadi, sederhananya, pemberontakan ini berlatar belakang kudeta atau perebutan kekuasaan.

    Kudeta ini telah mengakibatkan gugurnya enam jenderal dan satu perwira pertama militer. Pasca terbunuh, jenazah mereka dimasukkan ke dalam lubang sumur lama di area Lubang Buaya.

    Hingga saat ini, kawasan Lubang Buaya masih menjadi wisata sejarah yang bisa dikunjungi langsung oleh masyarakat Indonesia.

    3. Bandung Lautan Api

    Bandung Lautan Api
    Bandung Lautan Api | Sumber: tirto.com

    Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan salah satu peristiwa sejarah yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia. Momen ini terjadi pada 23 Maret 1946, yang berawal dari terjadinya pengosongan serta pembakaran Bandung oleh rakyat dan tentara.

    Tujuannya agar Bandung tidak menjadi markas oleh pasukan sekutu dan NICA. Jadi, menghanguskan Bandung merupakan taktik yang ideal, karena pasukan Indonesia kala itu belum bisa bersaing dengan sekutu dan NICA.

    Baca Juga: Bandung Lautan Api: Latar Belakang, Sejarah, dan Tokohnya

    4. Peristiwa Trisakti

    Peristiwa Trisakti
    Peristiwa Trisakti | Sumber: Ultimagz.com

    Trisakti menjadi peristiwa sejarah di Indonesia terakhir yang tidak terlupakan. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1998 ini menyebabkan beberapa mahasiswa tewas dan luka-luka.

    Hal ini terjadi karena mereka menjadi sasaran penembakan saat berdemonstrasi untuk menuntut pengunduran diri Presiden Soeharto. Tentunya, hal ini terjadi bukanlah tanpa alasan, sebab kala itu Indonesia terjadi krisis ekonomi berkepanjangan.

    Keterpurukan ekonomi di Indonesia ini sebenarnya terpengaruhi oleh krisis finansial di Asia. Adapun empat mahasiswa yang menjadi korban penembakan dan mendapat julukan sebagai Pahlawan Trisakti adalah Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Hery Hartanto, dan Hafidin Royan.

    5. Perang Diponegoro

    Perang Diponegoro
    Perang Diponegoro | Sumber: wikipedia.org

    Peristiwa sejarah Indonesia selanjutnya, yakni Perang Diponegoro, yang menjadi salah satu momen bersejarah tak terlupakan bagi bangsa Indonesia. Pertempuran yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro ini berlangsung di daerah Jawa Tengah dan sebagian lainnya terjadi di Jawa Timur.

    Menurut sejarah, Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun, tepatnya sejak 1825-1830. Sebenarnya, pertempuran ini berawal dari persoalan internal kerajaan.

    Jadi, tanpa sepengetahuan Pangeran Diponegoro, Patih Danureja IV, seorang kaki tangan Belanda, memerintahkan para pejabat Kesultanan Yogyakarta untuk membangun jalan.

    Namun, pembuatan jalan ini memasuki lahan milik Pangeran Diponegoro hingga menggusur pemakaman milik keluarganya. Hal inilah yang mencetus amarah Pangeran Diponegoro hingga langsung memerintahkan pegawainya untuk mencabut semua tiang yang melewati lahan miliknya.

    Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya penindasan oleh Belanda terhadap rakyat, sehingga menimbulkan dendam antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda.

    6. Peristiwa Rengasdengklok

    Potret Peristiwa Rengasdengklok
    Potret Peristiwa Rengasdengklok | Sumber: Gramedia.com

    Peristiwa sejarah yang selanjutnya adalah Rengasdengklok, di mana kala itu Presiden Soekarno dan Moh. Hatta diculik oleh golongan muda sebelum pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Momen ini terjadi pada 16 Agustus 1945 pukul 03.00, dengan membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Momen penculikan ini bertujuan untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Akhirnya, golongan muda melepaskan Soekarno dan Moh. Hatta dengan kemerdekaan Indonesia sebagai jaminannya. Oleh karena itulah, keduanya langsung mengadakan rapat untuk menyusun kemerdekaan setelah penculikan tersebut.

    Baca Juga: Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang, Tokoh, & Tujuannya

    7. Kongres Pemuda I dan II

    Kongres Pemuda
    Kongres Pemuda | Sumber: wikipedia.org

    Menurut sejarahnya, Kongres Pemuda muncul karena tingginya antusias dan semangat para pemuda Indonesia untuk bisa lepas dari belenggu penjajahan. Kongres ini dilaksanakan sebanyak dua kali, yakni pada bulan April 1926 dan Oktober 1928.

    Adapun Kongres Pemuda I berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, dengan Muhammad Tabrani sebagai ketuanya. Kongres ini berlangsung sejak 30 April hingga 2 Mei 1936.

    Secara umum, Kongres Pemuda I membahas tentang susunan badan pusat, gagasan persatuan, peran perempuan dan agama, hingga peran bahasa untuk bisa mencapai kemerdekaan Indonesia.

    Sedangkan peristiwa sejarah Kongres Pemuda II berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 1928 serta dengan Sugondo Joyopuspito sebagai ketua dan Joko Marsaid sebagai wakilnya.

    Pada pertemuan kedua ini, akhirnya mereka berhasil merumuskan Sumpah Pemuda. Bukan hanya itu, Kongres Pemuda II juga menghasilkan lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman. Di mana, kemudian lagu tersebut disahkan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

    8. Pertempuran Surabaya pada 10 November

    Pertempuran 10 November
    Pertempuran 10 November | Sumber: wikipedia.org

    Selanjutnya, ada peristiwa sejarah Pertempuran Surabaya 10 November, yang melibatkan warga sipil dengan sekutu. Soetomo atau Bung Tomo merupakan tokoh yang memimpin langsung pertempuran ini.

    Pertempuran 10 November juga melibatkan arek-arek Surabaya dan tentara Sekutu Belanda, yang diboncengi oleh NICA. Secara singkat, pertempuran ini terjadi kala masyarakat Surabaya menyerang Hotel Yamato dan melakukan perobekan bendera di hotel tersebut.

    9. Perang Padri

    Perang Padri
    Perang Padri | Sumber: wikipedia.org

    Peristiwa sejarah Indonesia berikutnya adalah Perang Padri. Pertempuran ini terjadi sejak tahun 1803-1837 di Minangkabau, Sumatera Barat. Singkatnya, Perang Padri dilatarbelakangi oleh adanya perebutan pengaruh agama dan budaya di Minangkabau.

    Oleh karena itulah, pertempuran tersebut melibatkan kaum Padri, yaitu umat Islam yang berperang melawan warga adat setempat. Setidaknya, ada delapan tokoh utama dari kalangan ulama yang terlibat, di mana mereka terkenal dengan sebutan Harimau Nan Salapan.

    Mereka meminta Tuanku Lintau untuk mengajak kaum adat meninggalkan kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akan tetapi, kaum adat tidak menyetujui adanya permintaan tersebut.

    Hal inilah yang kemudian memicu konflik hingga mendorong terjadinya pemberontakan antar wilayah Kerajaan Pagaruyung pada tahun 1815. Kemudian, di tahun 1822, kaum Padri dipukul mundur oleh pasukan Belanda, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff.

    Namun, Belanda justru mengalami kesulitan, karena perlawanan tangguh dari kaum Padri. Oleh karena itu, Belanda mengajak pemimpin kaum Padri, yaitu Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan membuat ‘Perjanjian Masang’ pada tanggal 15 November 1825. 

    Sejak saat itu, Tuanku Imam Bonjol mencoba merangkul kembali kaum adat dan membuat kesepakatan bernama ‘Sumpah Satie Bukik Marapalam’. 

    Kesepakatan ini berwujud konsensus Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang berarti Adat Minangkabau berlandaskan pada agama Islam, sedangkan Islam berlandaskan pada Alquran.

    10. Pertempuran Ambarawa

    Potret Pertempuran Ambarawa
    Potret Pertempuran Ambarawa | Sumber: Gramedia.com

    Pertempuran Ambarawa merupakan salah satu peristiwa sejarah di Indonesia yang terjadi antara tentara Indonesia dengan tentara Inggris. Peristiwa ini berlangsung sejak 20 Oktober-15 Desember 1945 di Ambarawa, Semarang.

    Secara umum, latar belakang pertempuran ini berasal dari insiden yang pernah terjadi di Magelang. Di mana kala itu, militer Inggris mendarat di Semarang dengan Brigadir Bethell sebagai pemimpinnya.

    Pihak Indonesia pun mengizinkan Bethell untuk mengurus pelucutan pasukan Jepang dan mengevakuasi interniran sekutu yang ada di Kamp Banyu Biru Ambarawa dan Magelang.

    Namun, ternyata pasukan Inggris diboncengi oleh NICA yang merupakan orang dari pemerintahan sipil Hindia Belanda. Bahkan, mereka juga mempersenjatai para tawanan Jepang.

    Akhirnya, pada 20 Oktober 1945, terjadi insiden Pertempuran Ambarawa di Magelang, antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pasukan tentara Inggris. Namun, pertempuran ini sempat terhenti pasca Soekarno datang ke Magelang untuk melakukan perundingan.

    Akan tetapi, pihak Inggris yang mengingkari janji justru membuat pertempuran ini kembali pecah di bawah pimpinan Mayor Sumarto yang melawan pasukan Inggris hingga 22 November 1945.

    Pasukan TKR terus melakukan berbagai serangan, termasuk juga serangan fajar untuk memukul pasukan Inggris agar mundur. Pada akhirnya, pasukan Inggris berhasil mundur pada 15 Desember 1945 dan meninggalkan kota Ambarawa.

    Manakah Peristiwa Sejarah di Indonesia yang Paling Menarik?

    10 peristiwa sejarah di Nusantara yang tak terlupakan oleh bangsa Indonesia sendiri, yakni mulai dari Proklamasi Kemerdekaan RI hingga Perang Padri. Beberapa di antaranya merupakan momen penting yang berkaitan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia kala itu.

    Oleh karena itulah, sangat penting bagi generasi muda untuk mengenang jasa para pahlawan yang terlibat dalam peristiwa bersejarah tersebut. Tak hanya itu, generasi muda juga diharapkan mampu meneruskan semangat dan cita-cita pahlawan, demi bangsa Indonesia yang lebih baik.

  • Sejarah Kerajaan Singasari, Peninggalan, dan Masa Kejayaan

    Sejarah Kerajaan Singasari, Peninggalan, dan Masa Kejayaan

    Kerajaan Singasari yang juga terkenal dengan nama Kerajaan Tumapel merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang terletak di daerah Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejarah Kerajaan Singasari yang panjang dan penuh dengan kisah kejayaan menjadi salah satu pembahasan sejarah yang menarik.

    Dalam artikel ini, kita akan membahas asal-usul Kerajaan Singasari, puncak kejayaan, letak, hingga peninggalan bersejarahnya yang masih bisa Anda saksikan secara langsung hingga saat ini. Baca dan simak informasi pada artikel ini sampai selesai, ya!

    Sejarah Kerajaan Singasari

    Kerajaan Singasari sendiri berdiri sekitar abad ke-13 hingga awal abad ke-14. Berikut adalah urutan sejarah singkat dari Kerajaan Singasari:

    1. Sejarah Nama Kerajaan

    Sebelum menjadi Kerajaan Singasari, wilayah ini dikenal dengan nama Kerajaan Tumapel dengan ibukota kerajaan bernama Kutaraja. Nama Singasari sendiri berasal dari keputusan Raja Wisnuwardhana.

    Raja Wisnuwardhana kemudian mengganti nama pusat pemerintahan menjadi Singasari setelah menunjuk putranya, Kertanegara, sebagai putra mahkota. Meskipun nama ibukota lebih terkenal, orang lebih terbiasa menyebut kerajaan ini dengan nama Kerajaan Singasari.

    2. Pendiri dan Pemimpin Kerajaan

    Menurut berbagai sumber-sumber, Kerajaan Singasari pertama kali didirikan oleh seorang tokoh bernama Ken Arok pada tahun 1222 Masehi. Banyak yang percaya bahwa sejarah Kerajaan Singasari bermula ketika Ken Arok menjadi raja pertama Kerajaan Singasari dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. 

    Ia merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah kerajaan ini. Menurut Kitab Pararaton, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung yang merupakan pemimpin Kerajaan Tumapel saat itu.

    Setelah itu, Ken Arok menikahi istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes. Dari pernikahan tersebut, Ken Dedes melahirkan beberapa, yaitu Panji Saprang, Mahisa Wonga Teleng, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Namun, Ken Arok juga memiliki anak sambung dari Ken Dedes dan Tunggul Ametung, namanya Anusapati.

    Pada saat yang hampir bersamaan, Ken Arok memiliki niat untuk melepaskan Kerajaan Singasari dari kekuasaan Kerajaan Kediri. Peperangan sengit pun terjadi antara Kerajaan Singasari dan Kerjaan Kediri. Akhirnya, Kerajaan Singasari di bawah kepemimpinan Ken Arok berhasil memenangkan perang.

    Asal-usul sejarah Kerajaan Singasari dapat Anda temukan dalam berbagai sumber seperti Kitab Pararaton, Kitab Negarakertagama, dan prasasti-prasasti peninggalan. Meskipun terdapat perbedaan dalam setiap versi sejarah, namun semua kitab sepakat bahwa Ken Arok adalah pendiri dan raja pertama Kerajaan Singasari.

    3. Perbedaan Versi dalam Sejarah Kerajaan Singasari

    Terdapat dua versi yang berbeda dalam mengidentifikasi sejarah Kerajaan Singasari. Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama memberikan pandangan yang berbeda mengenai daftar penguasa dan angka tahunnya.

    Menurut Kitab Pararaton, putra Tunggul Ametung dan Ken Dedes yakni Anusapati ingin membalas dendam terhadap Ken Arok yang telah membunuh ayahnya. Setelah Ken Arok meninggal pada tahun 1247, Anusapati berhasil mengambil alih kekuasaan Kerajaan Singasari. 

    Anusapati kemudian tewas terbunuh di tangan Tohjaya yang merupakan anak Ken Arok dari Ken Umang (selir). Sehingga, Tohjaya menjadi Raja Kerajaan Singasari setelah Anusapati. 

    Namun, pemerintahan Tohjaya berlangsung singkat karena Tohjaya digulingkan oleh Ranggawuni atau Wisnuwardhana. Kemudian, Wisnuwardhana mewariskan kekuasaan kepada putranya yang bernama Kertarajasa.

    Sementara itu, Kitab Negarakertagama memberikan versi sejarah Kerajaan Singasari yang berbeda. Menurut kitab ini, penguasa Kerajaan Singasari yang mengalahkan Kerajaan Kediri adalah Rangga Rajasa Sang Girinathaputra. 

    Kemudian, putra Rangga Rajasa yang bernama Anusapati berhasil menggantikan ayahnya sebagai Raja Kerajaan Singasari. Setelah itu, Anusapati digantikan oleh putranya yang bernama Wisnuwardhana, lalu Wisnuwardhana mewariskan kekuasaannya kepada Kertanegara sebagai raja terakhir Kerajaan Singasari.

    Letak Kerajaan Singasari

    Peninggalan-peninggalan bersejarah yang sudah kita bahas di atas menjadi saksi bisu dari kejayaan dan kekayaan budaya sejarah Kerajaan Singasari pada masa itu. Kerajaan Singasari berada di Kabupaten Singosari, Malang, Jawa Timur. 

    Wilayah kerajaan ini meliputi sebagian besar Jawa Timur, serta beberapa wilayah di luar Jawa seperti Bali, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Letak geografis yang strategis membuatnya menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan pada masa itu.

    Puncak Kejayaan Kerajaan Singasari

    Selama kurun waktu 100 tahun sejak masa pemerintahan Ken Arok, Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan beberapa raja yang berpengaruh. Salah satu raja terkenal dari Kerajaan Singasari adalah Kertanegara, yang memerintah dari tahun 1272 hingga 1292.

    Pada masa pemerintahan Kertanegara, Kerajaan Singasari mencapai kekuasaan yang luas. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Jawa Timur, Bali, dan wilayah lain seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Kerajaan ini juga menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok, India, dan negara Asia Tenggara lainnya.

    Pada masa kejayaannya, Kerajaan Singasari terkenal sebagai pusat kebudayaan dan perdagangan. Banyak peninggalan bersejarah seperti candi dan arca ditemukan pada wilayah Kerajaan Singasari. Peninggalan-peninggalan ini menjadi saksi bisu dari kejayaan dan kekayaan budaya kerajaan pada masa itu.

    Peninggalan Bersejarah Kerajaan Singasari

    Salah satu peninggalan bersejarah yang terkenal dari Kerajaan Singasari adalah Candi Singasari. Namun, selain Candi Singasari, ada beberapa peninggalan lain berupa arca dan prasasti yang menceritakan kehidupan sejarah Kerajaan Singasari. Adapun peninggalan-peninggalan tersebut meliputi:

    1. Arca

    Arca Peninggalan Kerajaan Singasari
    Arca Peninggalan Kerajaan Singasari | Sumber Gambar: Edukasi.okezone.com

    Salah satu peninggalan paling terkenal dari Kerajaan Singasari adalah berbagai macam arca yang ditemukan di wilayah tersebut. Berikut adalah beberapa macam arca peninggalan Kerajaan Singasari.

    • Patung Arca Ken Dedes: Menggambarkan sosok Ken Dedes, istri Raja Ken Arok, yang terkenal sebagai wanita paling cantik pada zamannya dan sumber konflik di antara para penguasa.
    • Arca Joko Dolok: Menggambarkan sosok Joko Dolok, anak Ken Arok dari permaisurinya yang kedua Ken Umang, yang merupakan tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Singasari.
    • Patung Arca Dwarapala: Patung penjaga pintu kerajaan yang kuat dan gagah, dengan wajah serius yang melambangkan keberanian dan kekuatan.
    • Arca Wisnu Wardhana: Menggambarkan sosok Dewa Wisnu dalam berbagai posisi dan penampilan, yang merupakan objek pemujaan utama dalam agama Hindu saat itu.
    • Patung Arca Anuspati: Menggambarkan sosok Anusapati, raja terkenal dari Singasari, yang merupakan putra Ken Dedes dari pernikahannya dengan Tunggul Ametung.
    • Arca Manjusri: Menggambarkan sosok Manjusri yang merupakan dewa kebijaksanaan dalam agama Buddha. Patung ini ditemukan di Candi Jago yang juga merupakan salah satu peninggalan terkenal dari Kerajaan Singasari.

    2. Candi

    Candi Singasari
    Candi Singasari | Sumber Gambar: Wikipedia.org

    Selain arca, Kerajaan Singasari juga meninggalkan sejumlah candi yang merupakan bukti kebesaran dan keagungan sejarah Kerajaan Singasari itu sendiri. Berikut adalah beberapa candi peninggalannya:

    • Candi Jago: Merupakan candi terkenal dari Kerajaan Singasari yang mana dibangun atas perintah Raja Kertanegara untuk menghormati ayahnya, Ranggawuni.
    • Candi Kidal: Candi bersejarah yang dibangun untuk menghormati Anusapati, raja kedua Kerajaan Singasari.
    • Komplek Candi Jawi: Candi yang terletak di Desa Candi Wates, Pasuruan. Banyak yang percaya bahwa candi ini adalah peninggalan Kerajaan Singasari dari abad ke-13 dan merupakan tempat ibadah Siwa-Buddha yang mencerminkan pengaruh Hindu dan Buddha pada masa itu.
    • Candi Singasari: Merupakan candi yang berbentuk bujur sangkar dan terletak di Desa Candirenggo, Malang. Candi ini merupakan tempat peristirahatan Raja Kertanegara, penguasa pada masa kejayaan Kerajaan Singasari.

    Sebagai tambahan informasi, Candi Singasari memiliki arsitektur khas Jawa dengan sentuhan seni Hindu-Buddha. Struktur bangunannya terdiri dari beberapa tingkat, dengan relief-relief yang menggambarkan adegan-adegan kehidupan pada masa itu. 

    3. Prasasti

    Prasasti Peninggalan Kerajaan Singasari
    Prasasti Peninggalan Kerajaan Singasari | Sumber Gambar: Artiini.com

    Selain arca dan candi, Kerajaan Singasari juga meninggalkan beberapa prasasti yang berisi ungkapan penghormatan terhadap para penguasa dan catatan sejarah Kerajaan Singasari secara keseluruhan. Berikut ini merupakan beberapa prasasti peninggalan dari Kerajaan Singasari:

    • Prasasti Singasari: Merupakan tanda penghargaan atas pembangunan candi pemakaman oleh Gajah Mada di Singosari, Malang. Secara spesifik, prasasti ini mengungkapkan detail tentang aktivitas pembangunan saat itu.
    • Prasasti Wurare: Merupakan prasasti penghormatan untuk Raja Kertanegara dalam Bahasa Sanskerta. Menurut kepercayaan yang beredar, prasasti ini memiliki derajat Buddha Agung untuk menunjukkan besarnya pengaruh Kerajaan Singasari dalam agama.
    • Prasasti Manjusri: Merupakan manuskrip yang terukir pada belakang Arca Manjusri. Pada awalnya, prasasti ini berada di Candi Jago, tetapi sekarang ada di Museum Nasional Jakarta. Prasasti Manjusri mengungkapkan kehadiran dan pengaruh agama Buddha dalam kehidupan masyarakat.

    Baca Juga: Prasasti Adalah: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Contohnya

    Sudah Tahu Sejarah Kerajaan Singasari, Bukan?

    Pada intinya, sejarah Kerajaan Singasari memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang peradaban dan kekayaan budaya Indonesia pada masa lalu. Sebab, Kerajaan Singasari atau Kerajaan Tumapel merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang berpengaruh di Jawa Timur. 

    Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan raja-raja terkenal seperti Kertanegara. Selain itu, melalui peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada, kita dapat mengapresiasi warisan nenek moyang dan mempelajari lebih lanjut tentang sejarah bangsa ini.

    Maka dari itu, kita harus terus menjaga keberadaan peninggalan-peninggalannya dengan tidak merusak, mengotori, atau mengambil sebagian bentuk dari arca hingga prasasti yang telah disebutkan di atas. Anda bisa melihat dan mengunjungi lokasi peninggalan-peninggalan tersebut sebagai bentuk melestarikan warisan budaya.

  • 5 Pertempuran di Indonesia Pasca Kemerdekaan, Apa Saja?

    5 Pertempuran di Indonesia Pasca Kemerdekaan, Apa Saja?

    Tidak hanya sebelum menjadi negara merdeka saja, tercatat ada sejumlah pertempuran di Indonesia pasca kemerdekaan. Terlebih lagi, perang yang terjadi di masa pasca kemerdekaan Indonesia tidak hanya terjadi satu ataupun dua kali. Apa saja perang tersebut dan latar belakangnya? 

    Yuk, kita simak info selengkapnya di sini bersama-sama!

    5 Pertempuran di Indonesia Pasca Kemerdekaan

    Ada setidaknya, lima peperangan yang terjadi pasca kemerdekaan di Indonesia beserta peristiwa atau hal yang melatarbelakangi yang berhasil tercatat dalam sejarah. Apa saja?

    1. Peristiwa Pertempuran 10 November (Surabaya, Jawa Timur)

    Pertempuran 10 November
    Pertempuran 10 November | Sumber gambar: gramedia.com

    Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur merupakan pertempuran di Indonesia pasca kemerdekaan yang paling terkenal dan melegenda.

    Bahkan, foto orasi Bung Tomo di atas juga lahir dari pertempuran 10 November 1945 ini. Kira-kira apa yang menjadi latar belakang pertempuran ini bisa terjadi, ya?

    Bisa dibilang, bibit awal dari pertempuran 10 November ini adalah datangnya tentara Belanda (NICA) bersama dengan tentara sekutu yang bernama Allied Force Netherland East Indies (AFNEI) ke Surabaya.

    Pada tanggal 25 Oktober 1945, mereka datang di bawah pimpinan Jenderal A.W.S. Mallaby, seorang jenderal asal Inggris.

    Menurut sejarah, kedatangan mereka memiliki sejumlah tujuan yang diperinci dalam uraian di bawah ini.

    Baca Juga: Latar Belakang Pertempuran Surabaya 10 November 1945

    3 Tujuan Utama Kedatangan NICA dan AFNEI ke Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945

    1. Melakukan pembebasan terhadap para tawanan sekutu yang ditahan di Indonesia.

    2. Menduduki beberapa gedung vital, seperti Pangkalan Udara Tanjung Perak dan Gedung Internatio.

    3. Melakukan himbauan kepada masyarakat Indonesia agar memilih untuk menyerahkan senjata kepada pihak Sekutu dengan cara menyebarkan pamflet.

    Tentu, kedatangan mereka ke Surabaya sontak memancing amarah arek-arek Surabaya (orang-orang atau penduduk lokal Surabaya). 

    Arek-arek Surabaya tidak ingin menyerahkan senjata begitu saja kepada pihak Sekutu dan mereka juga tidak ingin diusik oleh kedatangan pihak Belanda dan Sekutu.

    Pertempuran legendaris ini pun tidak bisa dihindari. Para arek Surabaya sangat bersemangat dalam mengusir pihak Belanda dan Sekutu serta mempertahankan Tanah Air Indonesia.

    Semangat mereka makin menjadi-jadi saat Bung Tomo mengeluarkan orasi yang berapi-api untuk mengajak semua warga Surabaya agar menjaga kedaulatan Indonesia.

    Pertempuran ini menyebabkan Jenderal A.W.S. Mallaby pun tewas di dekat Jembatan Merah.

    Tetapi, kejadian itu bukan puncak dari pertempuran. 

    Tewasnya Jenderal Mallaby sontak tentu membuat pihak Sekutu murka. Akibatnya, mereka mengultimatum masyarakat Surabaya untuk menyerah selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945.

    Hasilnya? Masyarakat tidak menggubris ultimatum tersebut.

    Akhirnya, pada akhirnya di tanggal 10 November 1945, pasukan sekutu menyerang kota Surabaya. Pertempuran ini menyebabkan 16.000 pejuang Indonesia gugur dan 2.000 tentara Sekutu tewas.

    Untuk mengenang pertempuran ini, 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan di Indonesia.

    2. Peristiwa Bandung Lautan Api (Bandung, Jawa Barat)

    Peristiwa Bandung Lautan Api
    Peristiwa Bandung Lautan Api | Sumber gambar: gramedia.com

    Pertempuran Bandung Lautan Api di Jawa Barat juga merupakan salah satu contoh pertempuran di Indonesia pasca kemerdekaan yang sangat lekat dalam ingatan anak bangsa. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Maret 1946.

    Apa yang melatarbelakangi peristiwa ini?

    Awal mula dari peristiwa Bandung Lautan Api adalah kedatangan pasukan Inggris di Bandung yang dipimpin oleh Brigade MacDonald pada 12 Oktober 1945. Mereka melakukan tuntutan agar semua senjata yang ada di masyarakat diserahkan kepada pihak Sekutu.

    Selain itu, orang Belanda yang baru saja bebas dari kamp tawanan juga melakukan tindakan yang meresahkan warga Bandung. Keadaan ini makin diperparah karena hubungan tentara Inggris dengan pemerintah Indonesia yang sudah tidak berjalan baik, bahkan, sebelum tentara Inggris datang ke Bandung.

    Faktor-faktur tersebut tentu menjadi alasan yang tidak bisa menghindarkan bentrokan senjata antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan tentara Inggris.

    Pada tanggal 21 November 1945 malam, Tentara Keamanan Indonesia (TKR) bersama dengan pejuang melakukan penyerangan terhadap markas tentara Inggris di Bandung, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger.

    Kejadian tersebut sontak membuat pemimpin pasukan Inggris, Brigade MacDonald, murka. Beliau akhirnya memberikan peringatan keras kepada Gubernur Jawa Barat agar melakukan pengosongan di Bandung Utara dari penduduk dan juga pasukan bersenjata.

    Lalu, apa reaksi Indonesia terhadap peringatan tersebut?

    Peringatan dari Brigade MacDonald pada akhirnya menjadi pemicu Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk melakukan sebuah operasi yang bernama “bumi hangus”. Aksi tersebut adalah sebuah operasi yang berencana untuk membakar habis Bandung.

    Pasalnya, pihak Indonesia tidak terima jika Bandung dijadikan sebagai markas oleh tentara Sekutu dan NICA. Keputusan Indonesia untuk membakar habis Bandung tertuang di Musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) pada 23 Maret 1946.

    Komandan Divisi III TRI, Kolonel Abdul Haris Nasution, pun akhirnya memerintahkan untuk melakukan evakuasi penduduk ke luar Bandung pada malam pembakaran kota.

    3. Pertempuran Medan Area (Medan, Sumatera Utara)

    Pertempuran Medan Area
    Pertempuran Medan Area | Sumber gambar: katadata.co.id

    Pertempuran Medan Area merupakan salah satu pertempuran di Indonesia pasca kemerdekaan yang terjadi pertama kali di antara pertempuran lainnya. Sesuai namanya, pertempuran ini terjadi di Medan, Sumatera Utara.

    Awal dari pertempuran mirip dengan dua perang sebelumnya, yaitu kedatangan tentara Sekutu dan NICA, yang terjadi pada tanggal 9 Oktober 1945 di Medan. Tujuan kedatangan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk merebut kendali atas pemerintahan Republik Indonesia.

    Kedatangan tentara Sekutu dan NICA pun pastinya memancing amarah warga Medan. Salah satu insiden yang terjadi adalah insiden yang terjadi pada tanggal 13 Oktober 1945 di Jalan Bali, Medan, Sumatera Utara.

    Insiden tersebut terjadi karena ada seorang intruder yang mengambil sekaligus menginjak-injak lencana merah putih dari seorang pemuda Indonesia. 

    Kejadian tersebut membuat para pemuda Medan marah dan akhirnya para pemuda bersama dengan TKR bertempur melawan pihak tentara Sekutu dan NICA.

    Kemudian, pihak tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum yang menekan masyarakat Indonesia untuk menyerahkan semua senjata kepada pihak Sekutu. Tentu, ultimatum tersebut tidak dihiraukan sama sekali.

    Pasukan Sekutu dan NICA melakukan serangan besar-besaran pada tanggal 10 Desember 1945 di Medan. Serangan yang dilancarkan oleh pihak Sekutu dan NICA ini menyebabkan banyak kerusakan dan korban di kedua belah pihak.

    Tentara Sekutu dan NICA berhasil menguasai Medan pada April 1946. Namun, ini tidak membuat masyarakat Indonesia menyerah begitu saja. Pusat perjuangan rakyat Medan untuk sementara waktu pindah ke wilayah Siantar dan perlawanan berpindah ke luar Medan.

    Tercatat, ada pertempuran lagi yang terjadi pada tanggal 10 Agustus 1946 di Kota Tebing Tinggi.

    4. Pertempuran Puputan Margarana (Provinsi Bali)

    Pertempuran Puputan Margarana
    Pertempuran Puputan Margarana | Sumber gambar: radarmukomuko.disway.id

    Pertempuran Puputan Margarana adalah pertempuran di Indonesia pasca kemerdekaan yang dipimpin oleh Kolonel I Gusti Ngurah Rai dan terjadi pada tanggal 20 November 1946.

    Kolonel I Gusti Ngurah Rai menerima tugas untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di wilayah Bali. Tujuannya tak lain agar dapat menghalau pihak Belanda untuk melakukan penyerangan maupun agresi.

    I Gusti Ngurah Rai akhirnya berhasil membentuk pasukan TKR yang beliau namakan sebagai pasukan Ciung Wanara.

    Pada Perjanjian Linggarjati tertulis bahwa wilayah Indonesia yang diakui oleh pihak Belanda adalah Sumatera, Jawa, dan Madura. 

    Sedangkan, Bali ingin Belanda jadikan sebagai wilayah Negara Indonesia Timur (NIT). Dengan kata lain, Belanda ingin menjadikan Bali sebagai wilayah boneka.

    Namun, I Gusti Ngurah Rai tidak terima jika Bali menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.

    Kemudian, I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanara melakukan perampasan senjata yang dimiliki oleh pihak polisi NICA di wilayah Tabanan. Tentu, tindakan ini memancing amarah dari pihak Belanda.

    Pertempuran Puputan Margarana terjadi saat pihak Belanda melakukan serangan mendadak terhadap pasukan Ciung Wanara dan I Gusti Ngurah Rai yang sedang bergerak menuju ke Gunung Agung.

    Kondisi terdesak ini membuat I Gusti Ngurah Rai mengeluarkan seruan untuk bertempur hingga titik darah penghabisan untuk melawan pasukan Belanda.

    Pertempuran Puputan Margarana berjalan dengan sangat sengit. Bahkan, pihak Belanda sampai harus memanggil bala bantuan, berupa pesawat tempur yang terbang dari Makassar.

    Pasukan Ciung Wanara bertarung habis-habisan meskipun dihujani oleh tembakan dan bom. Akhir dari pertempuran ini adalah gugurnya I Gusti Ngurah Rai dengan 95 orang pasukan Ciung Wanara dan 400 pasukan Belanda tewas.

    5. Peristiwa Pertempuran Ambarawa (Ambarawa, Jawa Tengah)

    Pertempuran Ambarawa
    Pertempuran Ambarawa | Sumber gambar: gramedia.com

    Pertempuran Ambarawa adalah pertempuran di Indonesia pasca kemerdekaan yang terakhir, dan berlangsung selama tiga minggu, mulai dari 20 November 1945 hingga 15 Desember 1945.

    Peristiwa Ambarawa ini melibatkan TKR dengan pasukan Inggris.

    Awal dari peristiwa ini adalah saat pasukan Inggris datang ke Jawa Tengah untuk membebaskan tawanan yang ditahan pasukan Jepang. Namun, dalam prosesnya, terjadi perselisihan karena buruknya perilaku orang Belanda ketika proses pembebasan tersebut.

    Kondisi itulah yang memantik bentrokan antara TKR dengan pasukan Inggris. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit hingga Inggris memanggil bala bantuan, seperti kapal penjelajah dan meriam artileri.

    Tetapi, pasukan Inggris makin tertekan karena mereka juga harus melindungi para tawanan. Akhirnya, pasukan Inggris menyerah dan mundur.

    Apa Pelajaran dari Pertempuran di Indonesia Pasca Kemerdekaan?

    Sejumlah pertempuran di Indonesia pasca kemerdekaan tersebut tentunya memakan banyak kerugian bagi Indonesia saat itu, baik kerugian materi maupun korban jiwa. Tetapi, rasa cinta tanah air yang begitu besar tidak membuat masyarakat Indonesia gentar saat berhadapan dengan pihak penjajah. 

    Kamu dapat melihat bahwa bahkan setelah proklamasi kemerdekaan terjadi, bangsa ini masih berjuang dengan segala keterbatasan. Sebagai generasi penerus bangsa, sudah sepatutnya kamu memiliki semangat mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan perjuangan yang lebih baik.

  • Sejarah Sebagai Seni: Pengertian, Unsur, Fungsi, dan Contohnya

    Sejarah Sebagai Seni: Pengertian, Unsur, Fungsi, dan Contohnya

    Meskipun zaman semakin maju, sejarah tidak pernah lengkang oleh waktu. Perpaduan sejarah dan seni menghasilkan produk penting bagi semua orang. Lantas, sebenarnya apa itu sejarah sebagai seni? Kenali unsur-unsurnya untuk memahami maksud istilah tersebut!

    Apa Itu Sejarah Sebagai Seni?

    Konsep sejarah sebagai seni merujuk tentang penulisan sejarah yang menyisipkan berbagai unsur estetika. 

    Tentunya dengan melibatkan fungsi sejarah itu sendiri, yakni rekreatif dan inspiratif. Dengan demikian, cara penulisannya harus menarik perhatian pembaca.

    Sejarah tidak hanya tentang kredibilitas karya, namun juga seberapa luas karya dapat diterima kalangan umum. Oleh sebab itu, sejarah harus memiliki dimensi seni agar menghasilkan catatan estetika.

    Para sejarawan mempunyai daya tarik sendiri dalam seni, sehingga dapat memancing publik untuk merasakannya. Mulai dari peristiwa terjadi, konteks menyeluruh, maupun hanya sekedar ketertarikan saja.

    Contohnya seperti George Macauly Travelyn (1876-1982), yakni sejarawan Inggris yang berbakat dalam bidang menulis. Ia menjadi seorang sejarawan yang karyanya sudah banyak dibaca oleh masyarakat Inggris.

    Selain itu, aa pernah menyatakan karyanya tidak lepas dari bias. Namun, itu lebih baik dibanding tidak menulis sejarah.

    Masyarakat Inggris menganggap Travelyn adalah orang yang membuat sejarawan dapat dipandang dari karya sejarah dengan unsur seni di dalamnya. Sebab, ia tidak hanya menyajikan fakta-fakta sejarah yang kredibel saja, namun juga menarik.

    Unsur-Unsur Sejarah Sebagai Seni

    Ketika ingin memasukkan seni ke dalam sejarah, maka sejarawan tidak hanya mengandalkan ilmu saja. Para sejarawan juga harus memperhatikan unsur-unsurnya sebagai berikut.

    1. Intuisi

    Sebelum menulis sejarah, biasanya para sejarawan akan melakukan penelitian terlebih dahulu. 

    Secara umum, mereka tentunya akan menggunakan ilmunya saat penelitian berlangsung. Tujuannya untuk memahami informasi-informasi yang didapatkan dari penelitian tersebut.

    Namun, tidak menutup kemungkinan sejarawan merasakan kesulitan. Dengan demikian, mereka akan membutuhkan intuisi untuk memahami informasinya. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa sejarawan hampir sama seperti seniman.

    2. Imajinasi

    Ternyata sejarah sebagai seni dapat menuliskannya dengan unsur imajinasi, mengapa bisa? Maksud dari imajinasi bukan fiksi atau tidak nyata, ya!

    Sejarawan menggunakan imajinasi untuk membayangkan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Jadi, para sejarawan menggunakan imajinasi namun berdasarkan fakta-fakta penemuannya.

    Sebagai contoh, saat sejarawan mengisahkan seorang priyayi awal abad 20-an.  Maka dari itu, sejarawan tetap memerlukan imajinasi untuk menggambarkan kehidupan priyayi itu. 

    Akan tetapi, penggambaran tokoh priyayi juga harus berdasarkan penemuan dan bersifat fakta.

    3. Emosi

    Pernahkah kamu membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer atau menonton film “Habibie & Ainun”? Kedua karya sastra tersebut memiliki kaitan dengan emosi seni.

    Buku, film, maupun karya sejarah biasanya memiliki unsur emosi di dalamnya. Ini bertujuan untuk menciptakan emosi objek yang penulis buat. Dengan demikian, pembaca bisa merasakan peristiwa dan emosi yang terjadi.

    4. Gaya Bahasa

    Setiap sejarawan harus menulis kejadian-kejadian sejarah dengan gaya bahasa yang jelas, tidak berbelit, tidak membosankan, mudah dipahami, dan komunikatif. Hal ini agar pembaca tidak bingung dalam membacanya, apalagi jika bahasanya rumit.

    Fungsi Sejarah Sebagai Seni

    Memahami fungsi dari sejarah juga penting, sebab penulisannya tidak apa adanya saja. Lantas mengapa harus ada seninya?

    Kamu bisa membayangkan saat belajar tentang peristiwa sejarah, bagaimana aktivitas yang lebih enak? Apakah membaca buku dengan bahasa kaku dan baku, atau baca buku yang membuat terbawa perasaan?

    Sebenarnya, kedua elemen tersebut tidak salah. Pada dasarnya sejarah sebagai seni berfungsi untuk membangun hasrat pembacanya. Maksudnya adalah hasrat pembaca dalam mempelajari sejarah melalui rasa.

    Meskipun tidak menutup fakta masih ada beberapa bagian seni yang melebih-lebihkan. Akan  tetapi, balik lagi kepada fungsinya untuk menarik dan mengulik wawasan terkait peristiwa sejarah.

    Oleh sebab itu, seni bisa menjadi medium dua arah. Sehingga sejarawan bisa menyampaikan pesannya kepada pembaca melalui seni. 

    Lebih bagusnya lagi, pembaca menjadi tertarik dan paham tentang informasi sejarah yang sejarawan tuliskan.

    3 Contoh Sejarah Sebagai Seni

    Produk-produk seni yang dapat ditulis berdasarkan sejarah itu sangat bervariatif. Karena mengusung tema sejarah, tentunya tidak jauh dari lingkungan sekitar. Adapun 3 contoh dari sejarah yang bisa dikatakan seni, berikut penjelasannya:

    1. Pakaian Adat

    Pakaian Adat
    Pakaian Adat | Sumber gambar: Freepik.com

    Pakaian adat memiliki unsur seni didalamnya, jadi bisa menjadi sejarah. Apalagi pakaian adat juga simbol dari suatu daerah. Biasanya, setiap daerah memiliki pakaian adat dan sejarahnya tersendiri.

    Maksud dari sejarahnya, misalnya seperti suku yang menggunakan, asal muasal, kegunaan, dan sejenisnya. 

    Pakaian adat merupakan salah satu warisan sejarah dari nenek moyang zaman dahulu. Oleh sebab itu, harus dilestarikan agar tidak terlupakan.

    2. Tari Tradisional

    Tari Tradisional
    Tari Tradisional | Sumber gambar: Freepik.com

    Berdasarkan estetika, tari tradisional juga bisa menjadi sejarah sebagai seni. Jika diamati dengan teliti, tarian tradisional atau adat memiliki kandungan nilai yang lebih dari hiburan kesenian.

    Akan tetapi, tari tradisional juga memiliki unsur sejarah. Ketika menonton pertunjukkan tari tradisional, kamu bisa menilai berbagai unsur dalam gerakannya. Mulai dari intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa.

    3. Seni Arsitektur

    Seni Arsitektur
    Seni Arsitektur | Sumber gambar: Freepik.com

    Contoh terakhir bisa kamu lihat dari seni arsitektur berupa bangunan bersejarah. Adapun beberapa jenis arsitektur, yakni benteng, candi, rumah adat, keraton, dan lain sebagainya.

    Berbagai bangunan itu memiliki nilai seni yang kental. Sejarawan membutuhkan imajinasi dan emosi dalam menelitinya. Dengan cara itu, fungsi dan kegunaan bangunan tersebut dapat dikenali.

    Kelebihan dan Kekurangan Sejarah Sebagai Seni

    Elemen ini memiliki kekuatannya tersendiri, yakni dapat membuat orang-orang tertarik dengan sejarah. 

    Namun, itu terjadi jika sejarawan mampu menyajikan sejarah dengan bahasa menarik, animasi, dan membakar semangat pembacanya. Pasalnya, kreativitas akan menghidupkan fakta dan nilai sejarah.

    Akan tetapi, sejarah yang dianggap seni juga memiliki kelemahan. Salah satunya adalah kehilangan ketepatan dan objektivitas. 

    Kelemahan tersebut disebabkan bahwa seni adalah hasil imajinasi. Sementara itu, ketetapan dan objektivitas adalah dua hal yang wajib ada dalam penulisan sejarah.

    2 Konstruksi Baru dalam Sejarah Sebagai Seni

    Sejarah sebagai seni membutuhkan konstruksi di dalamnya. Dengan demikian, hasil produknya relevan dengan tema. Fungsinya sebagai tolak ukur pembuatan jenis sejarah. Adapun 3 sumber rekonstruksi sejarah seni, yaitu:

    1. Sumber Visual Berupa Gambar Bergerak

    Sumber visual merupakan bagian penting dalam penulisan objek kajian. Pasalnya, membangun sejarah seni biasanya menggunakan konstruk sejarah visual. Baik itu sumber visual berupa gambar bergerak maupun tidak bergerak.

    Pada sumber visual gambar bergerak, kamu bisa menggunakan film dokumenter. Isinya bisa tentang aktivitas kesenian dan kehidupan pelakunya. Selain itu, dapat juga wawancara para tokoh seni.

    Di sisi lain, peristiwa kesenian harus terekam dengan baik. Secara umum, terdapat juga berbagai media elektronik, baik itu televisi pemerintah maupun televisi swasta. 

    Jadi, sumber visual ini bisa milik pribadi dan institusi. Tergantung kebutuhan dan tujuan pembuatannya.

    2. Sumber Visual Berupa Gambar Tidak Bergerak

    Sumber visual gambar tidak bergerak dalam sejarah seni lebih bervariasi. Pertama, berupa foto atau lukisan artefak. Misalnya, seperti ukiran, anting, busana, tata cahaya, patung, gelang, cincin, dan sejenisnya.

    Pada peralatan kesenian, bisa menggunakan angklung, kecapi, gamelan, lodang, rebana, calung, gong, gitar, biola, dan tamborin. Ada juga foto dan lukisan yang menunjukkan kegiatan kesenian.

    Sebagai contoh, seperti pentas musik, pentas wayang, teater, pertunjukkan tari, dan pentas drama. 

    Selain itu, foto dan lukisan para pegiat kesenian juga bisa dibahas. Seperti  sastrawan, penari, pemain drama, pemain gamelan, pemain angklung, dan lain sebagainya.

    Sudah Paham Tentang Sejarah Sebagai Seni?

    Sejarah sebagai seni bukan hanya menceritakan kisah monoton, namun juga terdapat estetika yang menakjubkan. Oleh sebab itu, tidak heran penikmatnya akan merasa terpukau. Pasalnya, terdapat perpaduan unsur yang saling melengkapi. Mulai dari intuisi, imajinasi, emosi, hingga gaya bahasanya.

    Sejarawan dan sastrawan bisa menyatu dalam satu bidang untuk menghasilkan produk kesenian yang bersifat sejarah. Selain melestarikan budaya seni, elemen ini juga mampu memberikan informasi tentang sejarahnya seperti asal muasal, awal berdiri, dan sejenisnya.