Category: Sosial Budaya

  • Malam Satu Suro: Arti, Sejarah, Serta 5 Larangannya

    Malam Satu Suro: Arti, Sejarah, Serta 5 Larangannya

    Malam satu suro adalah sebuah tradisi masyarakat dari pulau Jawa yang bertepatan dengan tahun baru Islam (1 Muharram). Malam tersebut menjadi tanggal pertama dalam kalender jawa.

    Terdapat perayaan besar pada malam tersebut. Seperti halnya pada Hari Raya Idul Fitri dan Qurban serta Maulid Nabi. Selain itu, terdapat banyak larangan di dalamnya.  Simak informasinya pada artikel ini.

    Arti Dari Malam Satu Suro

    Malam 1 Suro merupakan hari pertama serta bulan pertama dalam kalender Jawa.  Jika kamu lihat pada kalender Islam, malam ini bertepatan dengan awal bulan Muharram.

    Istilah kata “Suro” ini berasal dari bahasa Arab yaitu asyura, yang artinya sama dengan 10. Jika secara harfiah, artinya 10 malam terakhir sebelum penutupan tahun dalam islam. Pada tahun ini, malam satu suro jatuh pada hari Selasa 18 Juli 2023.  

    Biasanya orang orang akan merayakannya penuh kegembiraan. Seperti yang telah kamu ketahui bahwa malam suro bertepatan dengan 1 Muharram. Maka, perayaan tersebut mulai dari setelah magrib hingga keesokan hari (sebelum tanggal 1 Muharram).

    Berdasarkan keyakinan dari adat Jawa, pergantian hari mulai dari saat matahari terbenam pada hari sebelumnya hingga terbenam kembali. Misalnya, 1 Muharram adalah tanggal 18 Juli, maka malam satu suro adalah tanggal 17 Juli.

    Sejarah Malam Satu Suro

    Kirab Malam Suro
    Kirab Malam Suro | Sumber gambar: Realita.co

    Sejarah dari malam suro ini kita mulai dari zaman kerajaan Islam di Jawa, yaitu zaman Sultan Agung. Masih ingatkah kamu siapa Sultan Agung?

    Sultan Agung adalah raja dari kesultanan Mataram pada tahun 1613-1645. Raja ini sangat terkenal lo! Ia yang mengenalkan konsep bulan Muharram sebagai bulan suro. 

    Selain itu, juga merupakan sosok yang dapat mempersatukan budaya Jawa dan budaya Islam menggunakan tanggalan Hijriah. Dalam beberapa buku Jawa kuno, penanggalan tahun Hijriah terkenal dengan sebutan penanggalan aboge.

    Aboge adalah singkatan dari alif rebo wage yang artinya 1 Muharram tahun pertama akan jatuh pada hari Rabu dengan pasaran yaitu wage. Jadi, dapat kamu simpulkan bahwa penanggalan ini ada perhitungannya yang mungkin saja tidak akurat.

    Pasalnya, penanggalan tersebut selalu berbeda dengan tanggalan Islam. Orang-orang tetap melaksanakan malam suro, meskipun sering terjadi perselisihan tanggal. Lantas bagaimana mereka memaknai malam satu suro?  Ini dia penjelasannya di  bawah ini.

    Makna Perayaan Malam Satu Suro

    Malam Pertunjukan Satu Suro
    Malam Pertunjukan Satu Suro | Sumber gambar: Okezone.com

    Pada zaman dahulu, malam ini dimaknai sebagai hari dimana orang-orang tidak boleh melakukan kegiatan, kecuali doa dan beribadah kepada sang khalik.

    Namun, pada zaman kini malam satu suro selalu diperingati dengan banyak perayaan dan tradisi.  

    Menurut beberapa pakar mengatakan, seperti pengamat budaya dari Universitas Sebelas Maret, malam suro adalah tanda pergantian waktu yang sudah biasa dalam kebudayaan. 

    Waktu tersebut berkaitan dengan ritual,  perhitungan Jawa, acara untuk memberikan doa kepada yang telah tiada, dan lain-lain.

    Tradisi Malam Satu Suro

    Perayaan Malam Satu Suro
    Perayaan Malam Satu Suro | Sumber gambar: Indonesiakaya.com

    Banyak sekali tradisi di malam suro. Segala bentuk tradisi yang terjadi di malam itu mencerminkan kebudayaan di Indonesia. Misalnya seperti kirab malam 1 suro. 

    Kirab di kota Solo tidak hanya kirab malam 1 suro saja, namun juga ada kirab pusaka seperti keris dan pedang. Fungsi dari kirab sendiri yaitu meminta keselamatan kepada sang pencipta. 

    Nah, untuk kirab di Yogyakarta dinamakan Gunungan Tumpeng. Perayaannya hampir sama dengan kirab di Solo. Kirab disini memiliki makna yaitu pembersihan diri. Perayaan ini menjadi sarana untuk introspeksi diri agar menjadi manusia yang lebih baik.  

    Selain itu, perayaan malam 1 suro juga tidak lepas dengan mitos. Masyarakat mempercayai dengan melakukan perayaan akan mendapat jalan keselamatan saat di dunia. Dengan begitu, jiwa bisa tenang serta tentram saat menjalani kehidupan. 

    Sebagai contoh, seperti yang dapat kamu lihat di pelabuhan. Masyarakat Jawa akan melarungkan makanan ke laut. Alasannya untuk memberikan sesajen kepada penguasa laut agar nelayan jauh dari bahaya saat berlayar.  

    Mereka juga merayakan acara ini untuk memperingati maheso Suro. Pasalnya, mereka percaya maheso Suro telah memberikan keselamatan warga pantai selatan. 

    5 Mitos atau Larangan Malam Satu Suro

    Sama seperti hari sakral lainnya, ada beberapa mitos dalam malam suro. Mitos tersebut lebih banyak menjadi pantangan atau larangan bagi masyarakat Jawa. Berikut 5 larangan yang dipercaya oleh masyarakat, yaitu:

    1. Tidak Boleh Merayakan Acara Hajat Besar

    Larangan pertama yaitu tidak boleh merayakan acara hajat besar, seperti pernikah. Pantangan ini sudah menjamur di masyarakat sejak lama. 

    Mereka percaya jika tetap dilakukan, dapat membawa bahaya bagi si pemilik hajat dan sangat sukar sekali untuk merubahnya.

    2. Dilarang Membicarakan Hal yang Tidak Ada Manfaatnya

    Berbicara kotor memang memberikan dosa. Memang sudah sebaiknya untuk kamu jauhi, apalagi di bulan Suro yang merupakan media untuk mengintrospeksi diri. Oleh karena itu, di malam suro masyarakat disarankan untuk berdoa dan memohon ampun kepada Sang Pencipta.

    3. Dilarang Mendirikan Rumah 

    Sama seperti pernikahan, mendirikan rumah juga termasuk acara jadi dapat membawa “bala” bagi si pemilik rumah. Alangkah baiknya, ketika bulan Muharram tidak mendirikan pondasi rumah terlebih dahulu.

    4. Tidak Boleh Keluar Rumah Saat Malam Tiba

    Larangan selanjutnya adalah tidak boleh keluar rumah. Tujuannya agar kamu terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih baik untuk berdiam diri di malam hari dan mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat

    5. Tidak Boleh Pindah Rumah Karena Pamali

    Hal ini sama saja dengan bepergian, jadi lebih baik malam satu sura kamu habiskan dengan hal yang bermanfaat.

    5 Anjuran Saat Malam Satu Suro atau Muharram

    Terdapat 5 hal yang diamalkan Rasulullah SAW saat bulan Muharram. Berikut 5 amalan bagi masyarakat Jawa Islam pada malam 1 suro antara lain, yaitu:

    1. Melaksanakan Puasa Asyura (10 Muharram) 

    Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan setelah melakukan puasa Tasu’a. Puasa ini memiliki keutamaan dapat menghapus dosa kamu selama setahun. Jadi buat kamu yang muslim, sangat dianjurkan untuk melakukannya ya! 

    2. Melaksanakan Puasa Tasu’a (9 Muharram) 

    Puasa ini dilakukan sebelum melaksanakan puasa Asyura. Amalan pada puasa ini sama seperti puasa Asyura.

    3. Menjalin Tali Silaturahmi

    Mempererat tali silaturahmi sangat dianjurkan bagi seluruh lapisan masyarakat. Pasalnya, terdapat banyak keutamaan di dalamnya, yaitu dapat membuat kekerabatan erat selalu.

    4. Bersedekah yang Banyak

    Kamu melakukan sedekah di bulan Muharram sangat dianjurkan. Karena inilah waktu untuk mengintropeksi diri dengan cara bertobat dan menginfakkan sebagian hartanya bagi yang membutuhkan.

    5. Shalat 2 Rakaat Sebelum Fajar Subuh 

    Salat 2 rakaat sebelum fajar subuh sangat dianjurkan pada malam suro. Apabila kamu lakukan tiap harinya, selain mendapatkan pahala, doa-doa yang kamu panjatkan ketika shalat tersebut lebih mustajab.

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

    Jadi Tahu Lebih Banyak Tentang Malam Satu Suro?

    Malam satu suro memiliki makna tersendiri yang mendalam bagi masyarakat Muslim Jawa. Percampuran tradisi Jawa dan amalan Islam ini dapat kamu ambil sisi baiknya. Apapun mitos yang kamu percayai, tentu itu tidak menjadi masalah. Asalkan, tidak melakukan kejahatan yang merugikan orang lain. 

    Dengan memaknai malam suro, semoga kita bisa menjadi manusia yang mampu intropeksi diri dan memperbaiki diri ke arah lebih baik.

  • 6 Nama Pakaian Adat Papua, Jenis, Keunikan, dan Filosofinya

    6 Nama Pakaian Adat Papua, Jenis, Keunikan, dan Filosofinya

    Kekayaan budaya Indonesia terbukti dengan beragamnya pakaian adat dari berbagai wilayah daerah, salah satunya Papua. Ciri khas yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat membuat pakaian adat Papua masih terkenal di Indonesia. Artikel ini akan menjelaskan tentang nama pakaian adat Papua, jenis, keunikan, serta filosofinya. 

    6 Nama Pakaian Adat Papua

    Pakaian adat dari Papua menjadi isyarat kehidupan masyarakat Papua yang saling berdampingan. Lantaran desainnya yang unik dan menarik, pakaian adat Papua terkenal hingga mancanegara. Berikut adalah beberapa nama pakaian adat Papua yang perlu Anda ketahui beserta filosofinya: 

    1. Koteka, Nama Pakaian Adat Papua Terunik

    Koteka
    Koteka | Sumber Gambar: beritapapua.id

    Pakaian adat Papua paling terkenal adalah Koteka yang punya nama lain Bobbe, Hilon, atau Harim. Koteka merupakan pakaian tradisional khusus untuk laki-laki. Bentuknya sangat unik karena berupa tabung penutup panjang yang dipakai di bagian kemaluan pria, sehingga seolah-olah pria yang mengenakannya terlihat seperti telanjang. 

    Pakaian tradisional ini terbuat dari bahan kulit labu air yang biji dan daging buahnya sudah dibuang. Namun, labu air yang digunakan harus sudah tua agar Koteka lebih awet karena sudah kering dan memiliki tekstur keras. Koteka yang sudah kering dan berbentuk selongsong akan pria pasangkan pada pinggang dengan arah ke atas. 

    Supaya tidak mudah terlepas, bagian kiri dan kanan Koteka diberi lilitan tali ke bagian pinggang. Untuk laki-laki perjaka, posisi pemakaian Koteka harus tegak lurus, sedangkan laki-laki dengan status sosial tinggi atau bangsawan akan mengenakannya dengan posisi ke atas dan miring ke kanan. 

    Filosofi dari nama pakaian adat Papua ini terletak pada tujuann pemakaiannya. Contohnya, Koteka berukuran pendek digunakan untuk bekerja seperti berburu, bercocok tanam, atau beternak. Sedangkan Koteka berukuran panjang digunakan untuk acara adat atau acara resmi. 

    2. Rok Rumbai 

    Rok Rumbai
    Rok Rumbai | Sumber Gambar: Gramedia.com

    Nama pakaian adat Papua selanjutnya adalah Rok Rumbai yang mungkin sudah sering Anda jumpai pada penutup bagian bawah wanita. Biasanya, pemakaiannya bersamaan dengan baju kurung. 

    Rok Rumbai terbuat dari daun sagu yang sudah kering, kemudian dirajut menjadi sebuah rok. Pada umumnya, masyarakat yang mengenakan rok tersebut sehari-hari merupakan penduduk dari wilayah pesisir pantai atau pegunungan. Ada juga beberapa pria yang ikut mengenakan saat mengadakan upacara adat. 

    Kostum pakaian adat Rok Rumbai juga sering menyatu dengan tato kulit bermotif flora dan fauna menggunakan tinta alami. Pria yang mengenakan Rok Rumbai tidak perlu memakai baju kurung seperti wanita. 

    Selain menjadi rok, Rumbai juga bisa menjadi aksesoris untuk kepala. Hiasan rumbai kepala hanya dikenakan oleh pria sebagai aksesoris dari bulu burung kasuari yang berwarna coklat dan bulu putih kelinci. 

    3. Pakaian Sali 

    Pakaian Sali
    Pakaian Sali | Sumber Gambar: pariwisataindonesia.id

    Penduduk Papua memiliki pakaian adat yang berguna untuk mengenali wanita yang statusnya masih gadis atau sudah menikah. Nama pakaian adat Papua tersebut adalah Sali. 

    Pakaian Sali terbuat dari kulit pohon yang tidak sembarangan karena harus berwarna coklat agar hasilnya terlihat lebih bagus, menarik, dan sempurna. Secara sekilas, pakaian ini akan tampak seperti jahitan biasa, namun sebenarnya bahan dasarnya cukup sulit untuk Anda dapatkan. 

    Cara memakai pakaian Sali adalah melilitkan ke bagian tubuh, kemudian atur panjang bagian dalam agar lebih panjang dari bagian luar. Uniknya, para wanita yang sudah menikah tidak boleh mengenakan pakaian tersebut. Bagi Anda yang belum menikah, pakaian adat ini boleh digunakan dalam aktivitas sehari-hari maupun acara adat.

    4. Baju Kain Rumput 

    Baju Kain Rumput
    Baju Kain Rumput | Sumber Gambar: travel.detik.com

    Nama pakaian adat Papua yang juga harus Anda ketahui adalah baju Kain Rumput. Serupa tapi tak sama dengan Rok Rumbai yang memiliki motif rajut, baju Kain Rumput ini sudah mendapatkan sentuhan modern dari kebudayaan Sorong Selatan yang mana cocok dikenakan untuk laki-laki maupun perempuan. 

    Bahan dasar pembuatan baju Kain Rumput yaitu dari dasar pucuk daun sagu yang sudah kering. Untuk mendapatkan daun sagu tersebut, Anda harus menunggu sampai air laut pasang, kemudian setelah kering, rendam kembali daun sebelum proses penganyaman. 

    Alat bantuan untuk menganyam daun sagu yaitu kayu dengan panjang satu meter. Kayu tersebut berfungsi untuk saling mengaitkan ujung tali yang terbuat dari rumput. Rumput juga harus dalam kondisi kering yang kemudian nantinya bisa dipilin menjadi satu. 

    5. Pakaian Adat Yokal 

    Pakaian Adat Yokal
    Pakaian Adat Yokal | Sumber Gambar: contoh123.info

    Nama pakaian adat Papua yang bernama Yokal ini bisa Anda temui di wilayah Papua Barat. Pada umumnya, pakaian dengan warna khas coklat kemerahan ini hanya bisa Anda temukan pada daerah pedalaman.

    Biasanya, pakaian Yokal khusus digunakan oleh wanita yang sudah menikah atau sudah berkeluarga. Pakaian ini berfungsi untuk menutup tubuh bagian atas dengan bawahan Rok Rumbai. Pakaian Yokal menjadi simbol bahwa masyarakat Papua masih saling dekat satu sama lain. 

    Yokal bisa dikenakan untuk aktivitas sehari-hari, festival budaya, atau acara adat khusus yang bersifat resmi seperti upacara. Namun seiring berkembangnya zaman, sebagian besar penduduk Papua yang sudah menikah hanya menggunakan rok modern dan tidak lagi mengenakan nama pakaian adat Papua ini. 

    Keunikan dari pakaian Yokal adalah banyaknya aksesoris khas seperti taring babi, gigi anjing, rumbai pada bagian kepala, dan tas noken yang terpasang di setiap sisi Yokal. Bagi yang belum tahu, tas noken adalah tas yang berasal dari anyaman kulit kayu dan berfungsi untuk menyimpan hasil hewan buruan dan sayur-sayuran atau buah-buahan. 

    6. Baju Kurung 

    Baju Kurung
    Baju Kurung | Sumber Gambar: review.bukalapak.com

    Salah satu nama pakaian adat Papua yang sudah mendapatkan pengaruh dari budaya luar adalah Baju Kurung. Pada umumnya, masyarakat yang tinggal di daerah Manokwari dan sekitarnya mengenakan Baju Kurung. Selain Manokwari, masyarakat Papua Barat juga cukup sering mengenakannya untuk acara adat atau upacara. 

    Baju Kurung merupakan pakaian adat yang khusus digunakan oleh wanita saja, terdiri dari baju atasan berupa kain beludru dan bawahan rok rumbai. Sebagai pelengkap agar lebih menarik, para wanita biasanya akan mengenakannya dengan hiasan rumbai bulu pada bagian leher, pinggang, lengan. 

    Selain itu, Baju Kurung juga cocok jika Anda kenakan dengan aksesoris gelang atau kalung dari biji-bijian keras. Untuk menambah daya tarik, kalung dan gelang biasanya tersusun rapi membentuk rangkaian unik. 

    Setiap wanita yang mengenakan pakaian adat Baju Kurung akan tampak lebih cantik dan menarik. Terutama jika terdapat penutup kepala yang terbuat dari bulu burung kasuari. 

    Keunikan Pakaian Adat Papua 

    Setelah mengetahui beberapa nama pakaian adat Papua, sekarang saatnya Anda mengetahui apa saja keunikan dari pakaian-pakaian tersebut. Berikut ini penjelasan beberapa keunikannya: 

    1. Ornamen dan Motif yang Indah 

    Hiasan motif dan ornamen dari pakaian adat Papua sangat indah. Motif tersebut menggambarkan alam sekitar seperti binatang, tumbuhan, dan burung-burung beterbangan dengan bentuk geometris. Ornamen yang berupa manik-manik, bulu burung, hingga tulang berfungsi untuk menambah keindahan pada baju adat. 

    2. Pembuatan dari Bahan Alami 

    Sadar atau tidak, setiap nama pakaian adat Papua yang sudah kita bahas akan terbuat dari kain tenun tradisional, serat alami, atau bahkan kulit hewan asli. Beberapa suku Papua juga menggunakan bulu hewan atau bulu burung sebagai hiasan yang mencerminkan ketergantungan masyarakat Papua terhadap alam. 

    3. Mengandung Makna pada Setiap Pakaian 

    Selain memiliki keunikan, makna dan filosofi yang menempel pada setiap sisi pakaian membedakannya dengan pakaian adat daerah lain. Seperti pakaian Koteka yang merupakan simbol kejantanan atau status sosial berdasarkan sumber dari suku Papua, setiap pakaian adat Papua memiliki makna tersendiri. 

    Makna yang mendalam berasal dari kreativitas para nenek moyang yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Contohnya pada penanda kepala yang menjadi simbol keagungan, status, dan keindahan. Menarik sekali, bukan?

    Baca Juga : 6 Pakaian Adat Kalimantan Selatan, Makna, dan Ciri Khasnya

    Sudah Tahu Apa Saja Nama Pakaian Adat Papua? 

    Artikel ini sudah menjelaskan secara lengkap tentang enam nama pakaian adat Papua beserta keunikannya. Sebagai warga negara Indonesia, sebaiknya Anda melestarikan kebudayaan dengan mengenal beragam nama pakaian adat dari masing-masing daerah, salah satunya Papua. 

    Sebagai generasi penerus bangsa, kaum milenial juga harus menjunjung tinggi adat istiadat Indonesia, salah satunya dari pakaian. Terutama wilayah Papua yang memiliki berbagai keunikan pakaian adat. Anda sebagai generasi milenial perlu mempelajarinya lebih dalam dan mengajarkan pengetahuan tersebut ke anak cucu nanti.

  • 10 Rumah Adat Sumatera Utara Beserta Keunikan Maknanya

    10 Rumah Adat Sumatera Utara Beserta Keunikan Maknanya

    Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman sangat kaya. Hal ini tak hanya tampak dari banyaknya suku, agama, dan ras saja, tetapi juga dari produk kebudayaan itu sendiri. Salah satunya Sumatera Utara yang memiliki berbagai jenis rumah adat sehingga rumah adat Sumatera Utara menarik untuk diulas.

    Tentunya, antara rumah adat satu dengan yang lainnya sangatlah berbeda. Kamu akan menemukan ciri khas dari masing-masing rumah adat yang kaya makna. Khususnya kali ini kamu akan mendapatkan ulasan tuntas soal seluk beluk rumah adat yang ada di Sumut.

    10 Rumah Adat Sumatera Utara yang Sangat Indah

    Ada sekitar 10 rumah adat Sumatera Utara yang bisa kamu jelajahi keindahannya. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing rumah adat tersebut, yaitu:

    1. Rumah Adat Bolon

    Rumat Adat Bolon
    Rumat Adat Bolon | Sumber gambar: Jambipos

    Pada mulanya, rumah adat Bolon merupakan tempat tinggal para raja. Tingginya 1,7 meter dengan konsep bentuk rumah panggung. 

    Bentuk tersebut didesain bukan tanpa alasan, yakni dulunya para pengurus rumah raja menggunakannya sebagai tempat pemeliharaan kambing atau ayam.

    Seiring berjalannya waktu, rumah adat ini tidak lagi ditinggali oleh para raja, melainkan menjadi rumah suku Batak. 

    Uniknya, untuk bisa naik ke rumah panggung ada sebuah tangga yang terpasang pada sisi tengah. Tujuannya agar setiap orang yang berkunjung bisa menunduk dan secara tidak langsung menghormati pemilik rumah.

    2. Rumah Adat Mandailing

    Rumah Adat Mandailing
    Rumah Adat Mandailing | Sumber gambar: Kompas.com

    Selain terkenal sebagai rumah adat Mandailing, bangunan adat satu ini juga kerap disebut dengan rumah adat Bagas Godang. 

    Sama dengan rumah adat Bolon, mulanya Bagas Godang juga menjadi tempat singgah para raja. Namun, sekarang sudah menjadi warisan budaya masyarakat Mandailing Natal.

    Ciri khas dari rumah adat Sumatera Utara ini adalah memiliki bentuk persegi panjang ke belakang dan bagian atapnya segitiga. 

    Saat kamu melihatnya dari atas, akan mirip seperti gunting. Atapnya sendiri terbuat dari ilalang dan dedaunan kering yang tersusun rapi. Lalu terdapat tambahan ornamen berwarna hitam, merah, dan putih.

    3. Rumah Adat Nias

    Rumah Adat Nias | Sumber gambar: Wikipedia.org
    Rumah Adat Nias | Sumber gambar: Wikipedia.org

    Terdapat dua jenis rumah adat Nias, pertama Omo Hada dan kedua Omo Sebua. Perbedaannya terletak pada status orang-orang tinggal di dalamnya. 

    Omo Hada menjadi rumah bagi masyarakat biasa suku Nias. Sementara Omo Sebua, diperuntukkan bagi para petinggi atau bangsawan yang ada pada suku Nias.

    Secara bentuk, tidak ada perbedaan yang signifikan dari kedua rumah ini. Keduanya terbuat dari kayu nibung yang berfungsi sebagai penyangga. 

    Lalu atapnya berasal dari rumbia dan tanah liat. Hal yang membedakan keduanya adalah tinggi kolongnya, yakni 2-5 meter untuk Omo Hada dan 1-2 meter saja untuk Omo Sebua.

    4. Rumah Adat Simalungun

    Rumah Adat Simalungun
    Rumah Adat Simalungun | Sumber gambar: Wikipedia.org

    Ciri khas menonjol yang tampak pada rumah adat Simalungun adalah bangunannya memiliki bentuk limas dan tipe rumah panggung. 

    Tingginya sekitar dua meter yang memiliki tujuan untuk melindungi para penghuni rumah dari serangan babi hutan ataupun hewan liar lainnya. 

    Lalu bagian pintu rumah sengaja terpasang lebih pendek dibanding pintu rumah adat lainnya agar para tamu bisa menunduk saat memasuki rumah dan membuat gestur penghormatan. 

    Hal yang unik pada rumah adat Sumatera Utara ini adalah adanya kayu penyangga pada kaki-kaki rumah yang memiliki ukiran dan warna indah.

    5. Rumah Adat Angkola

    Sesuai dengan namanya, rumah adat ini banyak ditinggali oleh masyarakat suku Angkola. Bangunannya tidak terlalu besar, terbuat dari kayu untuk bagian lantai dan dindingnya. 

    Sementara atapnya, ada yang menggunakan tanah liat dan ada pula yang memanfaatkan ijuk. Lalu terdapat atap segitiga kecil pada bagian puncaknya.

    Warma-warna yang mendominasi rumah adat satu ini adalah coklat tua, oren, dan juga putih. 

    Apabila dibandingkan dengan rumah adat lainnya, Angkola menjadi rumah adat yang memiliki kolong cukup rendah. Bahkan, tangga untuk mengakses rumah ini hanya berjarak tiga undakan kecil saja.

    6. Rumah Adat Nuwo Sesat

    Rumah Adat Nuwo Sesat
    Rumah Adat Nuwo Sesat | Sumber gambar: Orami.com

    Berbeda dengan rumah adat lainnya yang bisa dihuni, Nuwo Sesat biasa menjadi tempat musyawarah atau diskusi para marga. 

    Bentuk bangunannya bertingkat dengan tangga bernama Jambat Agung. Sedangkan, bangunannya terbuat dari kayu dengan warna dominan coklat tua.

    Lalu pada bagian atap terdapat lambang garuda yang menggambarkan marga Lampung. Namun, saat ini rumah adat Nuwo Sesat sudah sangat sedikit jumlahnya dan sulit kamu temukan.

    7. Rumah Adat Karo

    Rumah Adat Karo
    Rumah Adat Karo | Sumber gambar: Medanwisata.com

    Apabila kamu membandingkan rumah adat Sumatera Utara satu ini dengan yang lainnya, Karo merupakan yang paling besar ukurannya. 

    Tingginya mencapai 12 meter dan pada setiap bangunannya dililit menggunakan kayu karena rumah adat Karo tidak menggunakan paku sama sekali.

    Ukuran rumah adat yang besar memang sangat lazim karena penghuninya terdiri atas delapan keluarga. 

    Uniknya, pemangku jabatan setempat lah yang nantinya memutuskan siapa saja kedelapan keluarga yang dapat menempati rumah adat Karo tersebut.

    8. Rumah Adat Bubungan Lima

    Rumah Adat Bubungan Lima
    Rumah Adat Bubungan Lima | Sumber gambar: Rumah.com

    Bengkulu memiliki rumah adat yang terkenal dengan nama bubungan lima. Ciri khasnya tampak pada bentuk atap yang tak biasa, yakni memiliki banyak tumpukan.

    Tak hanya itu, keunikan juga tampak pada bagian tiang penyangga yang berjumlah 15 dan masing-masing memiliki tinggi hingga 1,8 meter.

    Tiang penyangga yang banyak tersebut menjadikan Bubungan Lima sebagai salah satu rumah adat Sumatera Utara yang tahan gempa. 

    Meskipun hanya dapat menahan getaran skala kecil, tetapi hal ini menunjukkan kekuatan bangunan dari rumah adat satu ini. 

    9. Rumah Adat Pakpak

    Rumah Adat Pakpak
    Rumah Adat Pakpak | Sumber gambar: Tribunmedan.com

    Sumatera Barat memiliki masyarakat suku Pakpak atau Dairi yang tinggal di Kabupaten Pakpak Bharat. 

    Bentuk rumah adatnya hampir sama seperti yang lain, memiliki tiang penyangga dan juga tangga. Selain itu, bentuk bangunannya juga amat khas dan hanya terdiri atas bahan kayu dan ijuk.

    Masyarakat Pakpak sendiri mempercayai bahwa desain bangunan rumah adat mereka mencerminkan kesenian yang ada di sana. Maka tak heran, apabila masih banyak masyarakat yang menggunakan rumah adat ini sebagai tempat tinggalnya. 

    10. Rumah Adat Melayu

    Sumatera Utara termasuk banyak dihuni oleh masyarakat Melayu. Mulai dari kota Medan, Kabupaten Serdang, Kabupaten Labuhan, Kabupaten Langkat sampai Kabupaten Deli Serdang, semuanya menjadi dominasi masyarakat Melayu.

    Secara bangunan, rumah adat ini terbilang cukup luas. Lantai dan dindingnya terbuat dari atap dan papan yang berbahan ijuk. Sementara warna-warna yang banyak tampak adalah kuning dan hijau. 

    Baca Juga : 3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Keunikan Rumah Adat Sumatera Utara

    Penduduk Sumatera Utara terdiri atas berbagai suku bangsa. Ada suku Melayu, Batak Karo, Mandailing, Pesisir, Pakpak, Batak Toba, Simalungun, sampai suku Nias. Semuanya merupakan suku asli Sumatera Utara. 

    Namun, ada pula suku pendatang yang tinggal, seperti Jawa, Riau, Ambon, Banjar, Bali, Sunda, dan masih banyak lagi.

    Tak heran dari banyaknya suku yang ada, masing-masing memiliki rumah adatnya tersendiri dan umumnya masing-masing suku akan menentukan sendiri keunikan yang ingin diangkat. 

    Misalnya, rumah adat Balon yang memiliki tinggi tiang penyangga 1,7 meter dan anak tangga yang jumlahnya ganjil.

    Selain itu, secara keseluruhan desain tiang penyangga pada setiap rumah adat Sumatera Utara yang ada sengaja dibuat sangat kokoh. Pasalnya, memiliki filosofi yang menunjukkan makna gotong royong. 

    Sementara atapnya, dibuat menonjol agar setiap penghuninya bisa mendapatkan anugerah kemakmuran dan kesuksesan.

    Ada juga beberapa rumah adat yang memiliki ornamen berupa ukiran. Hal ini merepresentasikan doa-doa baik bagi sang pemilik rumah. 

    Bahkan, kebanyakan rumah adat sengaja dibangun bertingkat karena bagian bawah untuk mengingatkan kematian, tengah menggambarkan kehidupan sehari-hari, dan atas kehidupan dewa.

    Baca Juga : Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Sudah Tahu Apa Saja Rumah Adat Sumatera Utara?

    Sampai hari ini kelestarian rumah adat Sumatera Utara masih terjaga dengan baik. Meskipun tak semasif dulu, masyarakat masih tetap ada yang tinggal dan mempertahankan bangunan adat mereka. Kondisi ini tentu sebagai bentuk kepedulian sekaligus kebanggaan atas rumah adat yang mereka miliki.

    Bahkan, tak jarang banyak rumah adat yang beralih fungsi menjadi kawasan wisata karena otentiknya. Para wisatawan banyak yang ingin menyaksikan secara langsung kekayaan budaya yang melekat pada wilayah Sumatera Utara. Pemerintah setempat pun juga konsen akan hal itu dan ikut mendukung pemajuan wilayah.

  • 6 Pakaian Adat Kalimantan Selatan, Makna, dan Ciri Khasnya

    6 Pakaian Adat Kalimantan Selatan, Makna, dan Ciri Khasnya

    Kalimantan Selatan yang juga dikenal sebagai Tanah Banjar adalah provinsi yang kaya akan budaya dan tradisi. Salah satu aspek warisan budayanya adalah pakaian adat Kalimantan Selatan yang memikat. 

    Berbagai macam pakaian adatnya selalu mencerminkan identitas serta sejarah Tanah Banjar yang kaya dan telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Jika Anda penasaran dengan keunikannya, artikel ini akan membahasnya lengkap untuk Anda!

    Corak Kebudayaan Pakaian Adat Kalimantan Selatan

    Kalimantan Selatan merupakan salah satu wilayah di Pulau Kalimantan yang memiliki dataran tinggi dan dataran rendah menakjubkan se-Indonesia. Jika Anda menilik sejarah masa lalu, wilayah Kalimantan Selatan didominasi oleh kebudayaan suku Banjar yang dianggap sebagai nenek moyang Madagaskar.

    Sejak saat itulah, keberagaman adat dan kehidupan masyarakat suku Banjar Kalimantan Selatan mendorong terbentuknya pakaian adat Kalimantan Selatan. Kekayaan baju adat yang ada cukup unik dan menarik, di mana masing-masing pakaian dan aksesorisnya memiliki makna tersendiri. 

    Akan tetapi, dari segala jenis pakaian adatnya, aksesoris utama yang pasti dikenakan adalah bogem. Aksesoris tersebut memberi aksen kental budaya khas suku Banjar. Dengan rangkaian bunga melati dan mawar, aksesoris tersebut dapat menunjang penampilan mereka agar lebih menarik. 

    Selain itu, ada beberapa keunikan lainnya yang terdapat pada keberagaman pakaian adat Pulau Borneo ini. Salah satunya adalah perpaduan budaya Banjar dan Tiongkok. Perpaduan tersebut menggambarkan kehidupan masa lampau pedagang dari China dan Gujarat yang masuk ke Indonesia melalui Kalimantan Selatan.

    6 Pakaian Adat Kalimantan Selatan

    Pada dasarnya, pakaian adat suku Banjar ini memiliki empat jenis, di mana ada beberapa tampilannya yang sudah termodifikasi. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas keseluruhan pakaian adat Kalimantan Selatan yang mendapat sentuhan budaya Banjar. Berikut ini penjelasannya:

    1. Pakaian Adat Bagajah Gamuling Baular Lulut

    Bagajah Gamuling Baular Lulut
    Bagajah Gamuling Baular Lulut | Sumber gambar: pariwisataindonesia.id

    Pakaian adat Kalimantan Selatan yang pertama memiliki nama Bagajah Gamuling Baular Lulut. Biasanya, pakaian adat ini dipakai sebagai baju pengantin kedua mempelai pria maupun wanita. 

    Berdasarkan sejarah, pakaian adat yang cenderung berwarna perak ini mendapatkan pengaruh dari agama Hindu. Meskipun sering kali berguna sebagai busana pada pesta pernikahan, tapi Bagajah Gamuling Baular Lulut memiliki sedikit perbedaan dengan pakaian adat lainnya. 

    Biasanya, mempelai pria tidak mengenakan baju atau hanya sekadar baju lengan pendek yang berhiaskan motif manik-manik yang memberi kesan mewah. Baju lengan pendek tersebut bisa dipadupadankan dengan celana sepanjang betis yang terbalut dengan kain senada. 

    Umumnya, kain senada yang berfungsi sebagai balutan pada bawah pinggang pria memiliki motif halilipan. Hanya saja, aksesori yang biasanya pria gunakan sebagai pelengkap pakaian adat Kalimantan Selatan ini adalah ikat pinggang dan penutup kepala.

    Sementara kaum wanita akan menggunakan baju lengan pendek yang penuh dengan hiasan payet beserta kemben di dalamnya. Kemudian, wanita juga akan menggunakan rok dengan motif senada seperti yang dikenakan pria, yaitu motif halilipan.

    Untuk menghias bagian kepala, kaum wanita akan menggunakan konde yang berhiaskan mahkota pada bagian atasnya serta kuncup bunga melati dan kembang goyang. Kedua bunga hidup tersebut memberikan kesan cantik dan segar pada para pemakainya.

    Setelah itu, keduanya juga harus memakai aksesoris berupa kalung samban dengan motif kelapang dan mahkota kepala ular yang melingkar. Unik sekali, bukan?

    2. Banjar Baamar Galung Pancaran Matahari

    Pakaian Adat Banjar Baamar Galung Pancaran Matahari
    Pakaian Adat Banjar Baamar Galung Pancaran Matahari | Sumber gambar: Keluyuran.com

    Pakaian adat Kalimantan Selatan yang kedua ini juga berfungsi sebagai busana pernikahan, tapi terdapat keunikan tersendiri padanya. Nama jenis baju ini memiliki makna bersinar seperti matahari, oleh karena itu warna kuning pasti mendominasi baju ini.  

    Pakaian adat yang sudah ada sejak 17 tahun silam ini masih populer di kalangan masyarakat Banjar hingga sekarang. Pasalnya, pakaian ini mengangkat budaya Hindu dan budaya Jawa sekaligus dengan kain beludru berwarna kuning yang memberi kesan mewah tersendiri.

    Anda bisa melihat sentuhan budaya Hindu pada pakaian ini di bagian aksesoris mahkota berupa kain lilit yang berbentuk naga dan kelabang. Model aksesoris tersebut dikenal dengan nama halilipan.

    Berbeda dengan pakaian adat Kalimantan Selatan Bagajah Gamuling Baular Lulut, pengantin pria akan menggunakan jas terbuka yang bisa dipadupadankan dengan celana panjang dan dalaman kemeja lengan panjang. Sang pria juga memakai aksesoris tali pinggang berupa tali wenang.

    Sedangkan mempelai wanita akan menggunakan baju koko pendek dengan hiasan manik-manik yang berbentuk rumbai. Kemudian, pada bagian dada biasanya ditambahkan kida atau penutup dada yang berbentuk segi lima. Pakaian adat ini juga penuh dengan hiasan bunga melati dan mawar. 

    3. Pakaian Adat Babaju Kun Galung Pacinan

    Babaju Kun Galung Pacinan
    Babaju Kun Galung Pacinan | Sumber gambar: tuliskan.id

    Babaju Kun Galung Pacinan merupakan pakaian adat Kalimantan Selatan yang mencerminkan perpaduan adat antara budaya Timur Tengah dan Tiongkok. Sejak abad ke-15 silam, baju ini sudah populer di kalangan masyarakat suku Banjar. 

    Baju ini kerap digunakan sebagai busana pernikahan dengan ciri khas yang unik. Biasanya, mempelai pria akan menggunakan jubah yang mirip dengan pedagang Gujarat pada zaman dahulu. 

    Sebagai pelengkap, kaum pria menggunakan tambahan aksesoris berupa kopiah alpe dengan lilitan surban atau menggunakan tanjak laksamana. Tidak lupa untuk menyematkan roncean bunga melati pada bagian leher pria.

    Sedangkan kaum wanita umumnya menggunakan kebaya lengan panjang bergaya cheongsam yang berwarna kuning keemasan. Agar menambah kesan mewahnya, kebaya tersebut dijahit menggunakan benang dan payet berwarna emas. Uniknya, payet tersebut berbentuk bunga teratai yang membuat pemakainya terlihat anggun.

    Kemudian, wanita akan menggunakan bawahan rok panjang dengan hiasan manik-manik dan sulaman bermotif tirai bambu. Tidak lupa untuk memberikan hiasan kepala berupa mahkota dengan kembang goyang dan tusuk konde yang mana membuat penampilan pakaian adat Kalimantan Selatan itu semakin cantik.

    Uniknya, tusuk konde yang mempelai wanita gunakan berbentuk huruf arab, yaitu huruf lam dan burung hong. Hiasan tersebut mampu membuat daya tarik tersendiri bagi kedua mempelai.

    4. Pakaian Adat Banjar Baamar Galung Modifikasi

    Banjar Baamar Galung Modifikasi
    Banjar Baamar Galung Modifikasi | Sumber gambar: keluyuran.com

    Pakaian adat Kalimantan Selatan selanjutnya merupakan model modifikasi dari Banjar Baamar Galung Pancaran Matahari. Nama baju adat ini adalah Babaju Kubaya Panjang.

    Menurut masyarakat suku Banjar, perkembangan model pada pakaian adat ini bertujuan untuk mengikuti tren mode pada zamannya. Meskipun sudah termodifikasi, namun pakaian adat ini tidak menghilangkan budaya asli dan kecantikan alaminya. 

    Aturan pemakaian busana ini untuk mempelai pria dan wanita juga tidak jauh berbeda. Perbedaannya hanya terletak pada baju wanita, di mana mempelai wanita menggunakan kebaya panjang dengan paduan jilbab bernuansa Islami.

    Tentunya, aksesoris mahkota atau amar juga tersematkan sebagai hiasan kepala wanita. Roncean bunga melati pun turut memeriahkan baju modifikasi dari Banjar Baamar Galung Pancaran Matahari ini.

    5. Baju Adat Tanah Bambu

    Baju Adat Tanah Bambu
    Baju Adat Tanah Bambu | Sumber gambar: beritasatu.com

    Berbeda dengan pakaian adat Kalimantan Selatan lainnya, baju adat Tanah Bambu ini mayoritas digunakan oleh bangsawan maupun masyarakat suku Bugis. Sebab, baju adat ini berasal dari wilayah Pagatan yang berada di Kabupaten Tanah Bambu.

    Ciri khas pakaian adat ini terletak pada penggunaan sarung dan laung atau penutup kepala yang terbuat dari kain tenun Pagatan. Uniknya, baju adat Tanah Bambu adalah satu-satunya pakaian adat Kalimantan Selatan yang tidak digunakan dalam upacara pernikahan.  

    6. Kain Sasirangan

    Kain Sasirangan
    Kain Sasirangan | Sumber gambar: id.wikipedia.org

    Selain pakaian, bentuk kebudayaan adat lain yang terkenal dari Kalimantan Selatan adalah kain Sasirangan. Berdasarkan berbagai sumber, pembuatan kain ini pertama kali terjadi pada abad ke-7 Masehi yang mana terkenal dengan nama kain Langgundi.

    Dalam kisah yang beredar, masyarakat mempercayai bahwa kain ini berguna sebagai media penyembuhan. Beberapa diantaranya menganggap kain ini merupakan jimat untuk mengusir roh jahat dan sebagai pelindung.

    Namun, saat ini kain Sasirangan biasanya berfungsi untuk melengkapi pakaian adat seperti sabuk, ikat kepala, dan selendang perempuan. Untuk menambah kecantikannya, terdapat berbagai motif seperti sarigading, bayam raja, dan lainnya.

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

    Sudah Tahu Macam-Macam Pakaian Adat Kalimantan Selatan?

    Demikian akhir dari artikel yang menjelaskan macam pakaian adat Kalimantan Selatan. Harapannya, Anda bisa lebih mengenal budaya yang ada di Indonesia. Sebagaimana negara Indonesia memiliki banyak kepulauan sehingga keberagaman budaya pun juga sangat banyak. 

    Selain mengenalnya, Anda sebagai generasi muda juga harus turut melestarikan budaya khas mana pun. Akan lebih baik lagi jika Anda juga mengenal kilas balik dari masing-masing budaya yang Indonesia punya. Dengan begitu, Anda bisa meningkatkan jiwa nasionalisme dalam diri.

  • Dampak Kemiskinan bagi Indonesia dan Faktor Penyebabnya

    Dampak Kemiskinan bagi Indonesia dan Faktor Penyebabnya

    Salah satu fakta yang sulit disangkal adalah dampak kemiskinan masih begitu nyata di Indonesia. Padahal, salah satu tujuan Proklamasi Kemerdekaan adalah kemerdekaan secara finansial, bukan hanya kedaulatan terhadap cakupan wilayah Nusantara.

    Mengapa Indonesia masih memiliki persentase garis kemiskinan yang cukup tinggi padahal memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah? Serta apa saja dampak-dampak kemiskinan tersebut pada kehidupan masyarakat? Jangan lewatkan penjelasan lengkapnya sampai akhir artikel, ya!

    Faktor Penyebab Dampak Kemiskinan di Indonesia

    Sebelum membahas tentang dampak dari kemiskinan, kamu perlu mengetahui terlebih dahulu faktor penyebabnya. Apa sebenarnya pemicu dari kasus kemiskinan yang seolah tak terentaskan di Indonesia? Berikut di antaranya:

    1. Laju Pertumbuhan yang Tinggi

    Laju Pertumbuhan yang Tinggi
    Laju Pertumbuhan yang Tinggi I Sumber Gambar: Dialeksis.com

    Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah populasi terbesar di dunia, setelah Republik Rakyat Cina (RRC) dan India. Laju pertumbuhan di Indonesia begitu tinggi yang sayangnya tidak beriringan dengan pertumbuhan lapangan kerja.

    Mengapa hal tersebut menjadi masalah? Sebab, lapangan kerja yang kurang mengakibatkan kesulitan di sektor perekonomian masyarakat. Secara otomatis, hal tersebut menyebabkan garis kemiskinan tidak terhindarkan.

    2. Standar Upah Minimum yang Tidak Terpenuhi

    Faktor penyebab selanjutnya adalah standar upah minimum yang tidak dapat terpenuhi. Ketika upah tidak sebanding dengan pengeluaran, maka akan mengakibatkan tidak terpenuhinya taraf hidup yang layak alias berada di bawah garis kemiskinan.

    3. Bencana Alam atau Musibah Tidak Terduga

    Bencana Alam atau Musibah Tidak Terduga
    Bencana Alam atau Musibah Tidak Terduga I Sumber Gambar: Detik.com

    Berikutnya adalah terjadinya bencana alam yang mengakibatkan harta benda seseorang habis dalam sekejap. Selain itu, ini juga berdampak pada perubahan drastis terhadap lingkungan sekitar dan cenderung bersifat negatif secara kesehatan, sosial, maupun ekonomi.

    Contohnya Pandemi COVID-19 yang terjadi sebelumnya telah berdampak buruk terhadap berbagai sektor termasuk perekonomian. Selama masa pemulihan setelah pandemi, ekonomi Indonesia cenderung masih lesu.

    4. Pola Pikir yang Salah

    Penyebab lain adalah pola pikir yang kolot sehingga menimbulkan dampak kemiskinan serius. Seperti larangan untuk suatu shio bekerja di bidang yang berkaitan dengan air. Akhirnya, hal itu mempersempit hingga menghalangi peluang kerja si pemilik shio dan mengakibatkan peningkatan garis kemiskinan.

    5. Tindak Korupsi Dana Bantuan

    Ilustrasi Korupsi
    Ilustrasi Korupsi | Sumber Gambar: investopedia

    Korupsi yang semakin marak juga menjadi salah satu faktor penyebab dari kemiskinan yang sulit teratasi di Indonesia. Dana bantuan yang semestinya dapat membantu masyarakat menaikkan taraf ekonomi dan kelayakan hidup justru tidak pernah sampai pada sasaran.

    Dampak Kemiskinan Akibat Faktor Penyebab

    Tidak sedikit bukan faktor penyebab dari kemiskinan itu sendiri? Namun, dampak yang dihasilkan atas faktor-faktor tersebut juga tidak sedikit, antara lain:

    1. Peningkatan Angka Kriminalitas

    Kemiskinan tidak jarang memicu keberanian ekstrem untuk melakukan segala cara dalam memenuhi kebutuhan hidup, termasuk melakukan kejahatan. Pencurian, pencopetan, perampokan, hingga tindakan begal menjadi contoh-contoh nyata produk kemiskinan.

    2. Kemampuan SDM Rendah

    Dampak kemiskinan yang lain, yaitu rendahnya kemampuan sumber daya manusia (SDM). Mengapa? Sebab kemiskinan mengakibatkan kasus putus sekolah meningkat serta kesulitan untuk mendapatkan konsumsi makanan bergizi.

    Hal-hal tersebut kemudian menyebabkan kurangnya pengetahuan, keterampilan, maupun tenaga SDM di Indonesia. Ketika SDM tidak memenuhi standar, maka hal itu menjadi mata rantai kemiskinan yang sulit terputus.

    3. Tingginya Angka Kematian

    Tidak tercapainya taraf kehidupan yang layak menimbulkan kasus kelaparan. Semakin banyak orang-orang yang kelaparan hingga berujung pada angka kematian yang tinggi. Jika angka kelahiran tidak mampu menyamainya, maka lambat laun populasi masyarakat akan mengalami penurunan drastis.

    4. Kemunculan Konflik Sosial

    Dampak terakhir, yaitu kemunculan konflik-konflik sosial seperti kesenjangan dan kecemburuan di antara kelompok masyarakat. Hal tersebut rawan menimbulkan ketegangan hingga merusak persatuan yang seharusnya terjalin erat.

    Cara Mengatasi Kemiskinan di Indonesia

    Lantas, apakah kemiskinan menjadi suatu hal yang diterima begitu saja? Tentu tidak. Kemiskinan merupakan hasil dari faktor penyebab yang ada. Ketika dapat mengatasi pemicunya, maka mengentaskan kemiskinan merupakan hal yang mungkin. Bagaimana cara mengatasi dampak kemiskinan agar tidak semakin fatal? Berikut di antaranya:

    1. Menekan dan Memberikan Pembatasan Angka Kelahiran

    Metode pertama tentu saja dengan menekan serta memberikan batas angka kelahiran pada masyarakat. Ini sebenarnya telah lama dilakukan oleh pemerintah melalui program Keluarga Berencana (KB), namun menunjukkan hasil kurang maksimal karena:

    • Kurangnya sosialisasi program.
    • Biaya program yang tidak terjangkau oleh masyarakat.
    • Minimnya kontrol terhadap pelaksanaan program.

    Pemerintah harus lebih proaktif dalam memperkenalkan dan mengimplementasikan program ini di tengah masyarakat. Bisa mulai dengan pemberlakuan sanksi keras terhadap ASN atau pejabat pemerintah yang melanggar program karena tidak memberikan contoh yang baik pada masyarakat.

    2. Mengubah Pola Pikir

    Cara mengatasi dampak kemiskinan satu ini berkaitan langsung dengan individu, yaitu mengenai pola pikir. Cara-cara berpikir yang dianggap benar padahal sebetulnya tidak tepat seperti:

    • Banyak anak maka akan semakin banyak rezeki.
    • Shio ini tidak boleh bekerja di area perairan.
    • Almamater tertentu memiliki standar gaji minimal meskipun belum memiliki pengalaman namun nama besar universitas cukup sebagai jaminan.

    Mindset semacam itu yang justru menghambat seseorang untuk memperbaiki kehidupannya sehingga dapat keluar dari bawah garis kemiskinan.

    3. Menerapkan Kewajiban Mematuhi Standar Upah Minimum

    Pemerintah sebenarnya sudah lama menentukan standar upah minimum di masing-masing daerah (UMR). Namun, para pelaku bisnis yang curang seringkali melanggar ketentuan tersebut dan memberikan gaji maupun fasilitas di bawah standar.

    Hal tersebut kemudian mengakibatkan pekerja tidak dapat memenuhi kebutuhannya untuk hidup dengan layak. Pemerintah harus melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap regulasi gaji pada karyawan supaya hak dan kebutuhan mereka dapat terpenuhi sebagaimana mestinya.

    4. Melakukan Pemberantasan Korupsi

    Tidak dapat dimungkiri bahwa metode yang satu ini cukup sulit untuk pelaksanaannya. Sebab, tindak korupsi seolah terlanjur mengakar hingga lapisan paling dasar pun melakukan kecurangan-kecurangan. Akibatnya, dana bantuan tidak pernah sampai tepat sasaran.

    Namun, bukan berarti pemerintah tidak bisa melakukan tindakan nyata untuk memberantasnya. Pendataan yang lebih baik dan kontrol penyaluran dana bantuan secara ketat akan membantu hak tersebut sampai pada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

    5. Penanggulangan Cepat Bencana

    Guna mengatasi dampak kemiskinan, semua lapisan masyarakat mulai dari pemerintah hingga rakyat harus terlibat aktif dalam penanggulangan bencana. Keterlibatan semua pihak akan membuat situasi lebih cepat teratasi sehingga memungkinan untuk meminimalisir potensi kerugian di dalamnya.

    6. Pemanfaatan Kekayaan SDA untuk Kesejahteraan Rakyat

    Terakhir, cara mengentaskan persoalan kemiskinan di masyarakat adalah dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang melimpah untuk kesejahteraan rakyat. Ini memang sulit, sebab selama ini hak pengelolaan berada di tangan perusahaan asing karena kurangnya kemampuan SDM dalam negeri.

    Namun, pemerintah dapat melakukan cara lain dengan menetapkan pajak pemanfaatan yang tinggi terhadap pemilik hak pengelolaan. Ini juga sudah diterapkan untuk Freeport selama beberapa tahun terakhir. Oleh sebab itu, perusahaan-perusahaan asing lainnya perlu menyusul dalam penerapan kebijakan yang sama.

    Baca Juga : Apa itu Prasangka? Ini Indikator, Dampak, dan Contohnya 

    Sudah Tahu Apa Dampak Kemiskinan?

    Lengkap bukan penjelasan tentang dampak kemiskinan mulai dari faktor penyebab hingga metode penanggulangannya? Masalah kemiskinan bukan suatu hal yang mustahil dapat selesai walaupun memerlukan waktu yang tidak sebentar karena terlanjur mengakar.

    Perlu peran aktif dari segala lapisan masyarakat, mulai dari individu, komunitas, pelaku bisnis, hingga pemerintah dalam mewujudkan pengentasan kemiskinan secara nyata. Sebab, hampir semua sektor memerlukan pembenahan sehingga tidak cukup satu pihak saja yang berjuang.

    Sebagai individu, menjadi karakter yang berpikiran terbuka dan memiliki keinginan untuk maju cukup bermanfaat dalam mewujudkan penanggulangan kemiskinan. Mari bergandengan tangan bersama untuk menjadikan Indonesia negara yang lebih maju dan makmur!

  • 3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Indonesia memiliki daerah dengan karakter dan keunikan tersendiri. Salah satunya karakteristik tersebut dapat terlihat dari bagaimana gaya arsitektur bangunan atau rumah adat di daerah tersebut. Seperti pada rumah adat Jambi yang memiliki keunikan dan makna tersendiri dari setiap bentuk dan fungsinya. 

    Tidak hanya sebatas sebagai simbol kebudayaan suatu daerah, rumah adat juga memiliki peran sebagai bentuk representasi akan sejarah dan kehidupan masyarakatnya. Fungsi rumah adat  juga beragam, biasanya digunakan sebagai tempat tinggal atau memiliki sifat sakral menjadi tempat ibadah. Yuk, kenali lebih dalam!

    Pengertian Rumah Adat Jambi 

    Jambi merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatera. Setengah dari penduduk daerah tersebut adalah suku asli Jambi. Sebagian lainnya merupakan penduduk multi etnis yang cukup beragam, meliputi Suku Kerinci dan Melayu Jambi. 

    Ada juga pendatang dari etnis Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Banjar, Tionghoa, Sunda, dan beberapa suku lainnya. Dalam literatur kuno, Jambi menjadi salah satu daerah yang cukup popular, karena terkenal dengan sebutan prasasti dan berita dari Tiongkok. 

    Ini menjadi bukti pernah terjalinnya hubungan antara Jambi dengan bangsa Cina yang dilakukan oleh Kerajaan-kerajaan yang pernah Berjaya di wilayah Jambi. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi dan adat istiadat di daerah ini mengalami perkembangan dan tidak sedikit juga yang tergerus oleh arus modernisasi. 

    Beberapa identitas budaya asli Jambi juga memiliki ciri khas tersendiri. Apalagi Jambi adalah salah satu daerah yang sarat akan budaya, khususnya mengenai rumah adat Jambi. Dari peninggalan bangunannya, kamu dapat mengamati dan memahami bagaimana cara hidup masyarakat di masa lampau. 

    Di Jambi terdapat tiga rumah adat yang cukup populer, yaitu Kajang Leko, rumah adat Merangin, dan rumah adat Batu Pangeran Wirokusumo. Kamu mungkin sudah tidak asing lagi dengan bentuk rumah adat di kota ini, karena memiliki kemiripan dengan rumah di beberapa daerah lain yang memiliki bentuk bangunan rumah panggung.

    Namun ada perbedaan mencolok dari rumah ini, terlihat dari banyaknya lukisan dan ornamen yang terpajang dengan tema berbeda-beda. Dari beberapa sisi rumah adat ini juga memiliki detail sangat unik. Setiap detailnya dipercaya sebagai bentuk tingginya ilmu dan pengetahuan masyarakat adat asli Jambi di zaman dulu.

    Jenis Rumah Adat Jambi

    Rumah adat menjadi simbol kebudayaan suatu daerah ataupun suku. Keunikannya terkadang diadaptasi dari peninggalan atau kehidupan leluhurnya. Rumah Jambi memiliki gaya arsitektur yang menarik dan penuh dengan filosofi mendalam. Nah, berikut ini adalah jenis beserta penjelasannya:

    1. Rumah Kajang Lako

    Ilustrasi Rumah Adat Kajang Lako
    Ilustrasi Rumah Adat Kajang Lako | Sumber gambar: Wikipedia

    Pertama ada Kajang Lako yang terkenal juga dengan sebutan “rumah lamo” dan “rumah tuo”. Ini adalah rumah adat dari Suku Batin. Suku ini berasal dari Suku Melayu di provinsi Jambi. Kajang Lako dipercaya sudah ada dari peradaban Koto Royo, salah satu pemukiman Melayu pertama yang ada di kepulauan Sumatra. 

    Pada tahun 1970, bangunan ini resmi menjadi ikon budaya Jambi. Jika kamu perhatikan, bentuk bengunananya sama dengan bangunan tradisional di Sumatera pada umumnya yang berbentuk rumah panggung. 

    Hal tersebut memang bukan tanpa alasan, karena ada pertimbangan faktor geografis. Di mana sebagian besar berada di wilayah Pantai. Pilar pagar pada  rumah ini berfungsi sebagai penopang apabila terjadi bencana alam, seperti banjir. 

    2. Rumah Merangin

    Ilustrasi Rumah Adat Merangin
    Ilustrasi Rumah Adat Merangin | Sumber gambar: suara.com

    Rumah Adat yang terletak di Kabupaten Merangin ini terkenal juga dengan sebutan Rumah Tuo Rantau Panjang. Bangunan rumah panggung yang menjadi tempat tinggal Suku Batin. Secara keseluruhan, rumah ini dibangun dengan material kayu tanpa menggunakan paku sama sekali.

    Bangunannya berbentuk memanjang ke samping dengan sanggahan beberapa tiang. Lengkap dengan tangga, pintu masuk, dan beberapa jendela berukuran besar. Atap rumah adat ini dulu terbuat dari ijuk. Namun, karena zaman semakin modern dan sulit untuk menemukan ijuk, atapnya berganti menggunakan seng. 

    Rumah ini memiliki warna yang senada, yaitu coklat terang. Seperti rumah pada umumnya, rumah adat Jambi satu ini terdiri dari beberapa ruangan. Ada ruang pertemuan yang lantainya terbagi menjadi tiga bagian terpisah dengan sekat kayu berukuran 10 cm. 

    Lalu, ada lantai dengan posisi tertinggi, yaitu Balai Melintang untuk para Ninik Mamak dan juga Ulama. Lantai tengah untuk keluarga dan lantai yang berada di Lorong menuju ruang kedua untuk para pekerja. 

    3. Rumah Batu Pangeran Wirokusumo

    Ilustrasi Rumah Adat Batu Pangeran Wirokusumo
    Ilustrasi Rumah Adat Batu Pangeran Wirokusumo | Sumber gambar: Kilas Jambi

    Sedikit berbeda dengan rumah adat yang lain, bangunan ini memiliki sejarah panjang  dan lekat sekali dengan pemerintahan Belanda. Konon katanya, pemerintah Belanda menghadiahkan bangunan dengan material batu ini kepada Pangeran Wirokusumo, yang Bernama asli Ali Idrus Al-Jufri. 

    Ini menjadi bentuk terima kasih Belanda karena Pangeran Wirokusumo memberikan informasi terkait keberadaan Raden Mattaher yang sedang berada dalam pengejaran pihak Belanda. Rumah ini memiliki kombinasi gaya arsitektur antara Melayu, Belanda, dan Tionghoa. 

    Baca Juga : Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Ciri Khas dan Keunikan Rumah Adat Jambi

    Meskipun ada kemiripan, masing-masing rumah adat juga memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Dari bentuk, pemilihan ornamen, detail pembangunannya, sampai dengan makna setiap sudutnya. Inilah penjelasan keunikan pada tiga rumah tradisional Jambi:

    1. Keunikan Rumah Kajang Lako 

    Pada rumah panggung Kajang Lako ada dua jenis tangga, meliputi tangga utama dan tangga tambahan berbentuk menyerupai perahu, lengkap dengan cabang melengkung yang saling berkaitan. Pada dindingnya juga berhiaskan ukiran dengan motif bertema tertentu yang menggambarkan kehidupan masyarakat. 

    Misalnya, motif yang menceritakan pekerjaan masyarakat yang sebagian berprofesi sebagai nelayan. Ada juga bunga dan dedaunan sebagai simbol hutan yang menjadi sumber pencaharian. Pemaknaan seni pada setiap bangunan juga sangat terlihat dari bagian atap yang berbentuk melengkung dan mirip dengan perahu. 

    Atap ini terkenal dengan nama Gajah Mabuk. Nama ini berasal dari pemilik rumah yang saat itu sedang dimabuk asmara tetapi tak mendapat restu kedua orang tua. Nama lain dari model ini juga terkenal dengan sebutan Lipat Kajang atau Potong Jerambah.

    2. Keunikan Rumah Merangin

    Proses Pembangunan rumah adat Jambi ini tidak menggunakan paku, tetapi bangunannya tetap kokoh dan kuat karena dirancang untuk tahan gempa. Sebab, konstruksinya menggunakan sambungan kayu sendi sebagai bantalan tiang penyangga. Penggunaan getah pohon ipuh juga memengaruhi ketahanan bangunan ini. 

    Rumah Merangin bahkan bisa berdiri hingga ratusan tahun. Karena memiliki pintu dengan tinggi hanya 1 meter, saat memasuki rumah orang harus menunduk. Pintu ini menjadi simbol kesopanan yang masih bertahan di penduduk setempat. Tidak hanya sebagai tempat tinggal, Rumah Tuo Rantau Panjang juga berfungsi sebagai museum. 

    Koleksi di dalamnya bisa berbagai macam benda tradisional atau peninggalan yang ada di daerah Merangin. Bagian dinding dan penyangga rumah juga berhiaskan ukiran. Ada pula beberapa hiasan lain seperti tempat sirih, keramik kuno, kepala kerbau, dan ambung yang berfungsi untuk membuat hasil pertanian. 

    3. Keunikan Rumah Batu Pangeran Wirokusumo

    Dari segi visual, bangunan ini memang sangat unik. Unsur lokal juga tetap terlihat berupa rumah panggung dalam bangunan ini. Selain itu pada atap, gapura, dan ornamen berbentuk naga, bunga, dan arca singa adalah pengaruh dari kebudayaan Cina. 

    Pilar yang berada di bagian dalam memiliki relief yang tertulis menggunakan tulisan Arab. Tiang panggung terdapat huruf Eropa yang terbuat dari bata dan semen yang membentuk pilar berfungsi sebagai penyangga bangunan di atasnya. 

    Pada lantai bawah berlapis ubin terakota, pada lantai kedua terbuat dari papan kayu. Kedua lantai pun terhubung dengan tangga semen, seperti rumah yang bertingkat. Penyebutan rumah batu ini terjadi karena Rumah Adat Batu Pangeran Wirokusumo merupakan bangunan pertama yang terbuat dari material batu di daerah tersebut. 

    Sudah Tahu Apa Saja Rumah Adat Jambi?

    Tidak hanya sekedar hiasan, ornamen dan ukiran pada setiap bangunan rumah adat Jambi memiliki cerita yang lekat sekali akan kehidupan masyarakat setempat. Selain penggunaan material yang unik, nilai-nilai adat dan norma budaya juga masih sangat terjaga.

    Meskipun sebagian material sudah mengalami penyesuaian, rumah adat ini masih dijaga dan masih bisa kamu jumpai. Sehingga tidak hilang atau punah hanya karena arus modernisasi. Apakah kamu tertarik untuk bisa melihat berbagai rumah tradisional Jambi secara langsung?

  • Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Rumah adat Aceh adalah hasil dari keragaman budaya Indonesia. Masyarakat Aceh seringkali menyebutnya Rumoh Aceh. Tidak hanya sekedar tempat untuk tinggal, tetapi sebagai bentuk manifestasi terhadap Tuhan dan penyesuaian terhadap alam. Sekaligus sebagai identitas daerah gambaran dari kehidupan masyarakat Aceh.

    Melalui Rumoh Aceh, kamu bisa mengenal budaya, pola hidup, dan nilai sakral dari masyarakat Aceh. Rumah adat ini memang memiliki ciri khas yang unik dari segi arsitektur dan filosofinya. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas terkait jenis-jenis Rumoh Aceh, fungsi, filosofi, dan ciri khasnya. Yuk, simak!

    Jenis-Jenis Rumah Adat Aceh

    Rumah tradisional Aceh memiliki ciri khas unik, salah satunya konsep rumah berbentuk panggung. Namun, pada daerah perkotaan konsep rumah semacam ini sudah sulit ditemui, karena masyarakat lebih memilih bangunan modern. Adapun jenis-jenis Rumoh Aceh yang harus kamu lestarikan, meliputi:

    1. Rumah Krong Bade

    Rumah Krong Bade
    Rumah Krong Bade | Sumber Gambar: Archify

    Jenis ini adalah salah satu rumah khas Aceh dengan konsep bangunan layaknya rumah panggung berbentuk persegi panjang. Letaknya memanjang dari timur ke barat. Tinggi bangunan rumah ini kira-kira mencapai 2-3 meter. Sebagian besar material rumah adat ini terbuat dari kayu.

    Pembuatan rumah ini tak memakai paku, melainkan dengan mengikat bahan bangunan memakai tali (taloe meu-ikat) seperti rotan atau ijuk. Bagian atap terbuat dari daun rumbia yang dianyam sedemikian rupa. Masyarakat Aceh memanfaatkan kolong rumah untuk menyimpan persediaan bahan pangan dan lainnya.

    Selain itu, kolongnya juga berfungsi sebagai lahan aktivitas masyarakat, seperti ibu-ibu sedang menenun. Pada bagian depan rumah terdapat tangga yang memiliki anak tangga berjumlah ganjil. Dekorasi dinding tertempel hiasan lukisan guna mempercantik seluruh bagian rumah.

    Jumlah lukisan juga menunjukkan status sosial pemilik rumah adat ini. Semakin banyak lukisan, semakin tinggi pula derajat pemilik rumah, begitupun sebaliknya. Namun, Rumah Krong Bade perlahan semakin sulit ditemui akibat perkembangan zaman yang menyesuaikan gaya hidup modern.

    2. Rumah Santeut

    Rumah Santeut
    Rumah Santeut | Sumber Gambar: broonet

    Santeut (Tampong Limong) adalah salah satu rumah adat Aceh yang digunakan oleh masyarakat berpendapatan rendah. Bentuk rumahnya cukup sederhana dan tak terlalu luas. Biasanya rumah ini memiliki tiang setinggi 1,5 meter.

    Material bangunan Tampong Limong lebih murah ketimbang Rumah Krong Bade. Seperti atap yang tersusun dari daun rumbia dan dinding dari pelepah rumbia. Serta lantai menggunakan belahan bambu yang disusun sejajar namun tak rapat. Ini bertujuan agar sirkulasi udara dari bawah bisa masuk.

    Tampong Limong memiliki kesamaan dalam hal pembagian ruangan dengan rumah khas Aceh lainnya, yakni ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Adapun bagian kolong rumah tersedia untuk mengadakan acara tertentu atau untuk menjamu tamu maupun keluarga besar.

    3. Rumah Rangkang

    Rumah Rangkang
    Rumah Rangkang | Sumber Gambar: steemit

    Rangkang merupakan rumah panggung yang memiliki hanya satu ruangan saja. Rumah ini tak selayaknya seperti rumah hunian, melainkan sebagai rumah singgah masyarakat setempat. Misalnya, tempat singgah masyarakat yang sedang dalam perjalanan jauh atau tempat untuk para petani beristirahat.

    Material bahan bangunannya cukup sederhana dan murah, seperti kayu biasa sebagai kerangka bangunan dan daun rumbia untuk penutup atapnya. Meskipun sederhana, akan tetapi sangat bermanfaat sebagai pelepas penat seusai melakukan aktivitas atau pekerjaan.

    Baca Juga : 3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Fungsi dari Tiap Bagian Rumah Adat Aceh

    Rumah Aceh di tiap daerah memiliki komponen ruangan berbeda-beda. Namun, secara konteks memiliki bangunan inti yang serupa dengan lainnya. Lantas, apa saja komponen inti pada bangunan tersebut? Beberapa bagian rumah Aceh punya fungsinya masing-masing. Begini rincian dan penjelasannya:

    1. Serambi Depan (Seuramoe Keue)

    Serambi depan (seuramoe keue) merupakan ruangan depan dari bangunan rumah Aceh. Hanya tersedia ruangan polos tanpa adanya kamar. Fungsi ruangan ini sebagai ruang tamu laki-laki, tempat tidur tamu laki-laki, serta ruang belajar dan mengaji anak laki-laki. 

    Jika ada acara seperti pernikahan, ruangan depan berfungsi sebagai tempat menjamu tamu undangan. Selain itu, ini juga menjadi tempat berkumpul sanak saudara dan keluarga.

    2. Serambi Tengah (Rumah Inong)

    Serambi tengah merupakan ruangan bagian inti yang bersifat pribadi. Ruangan ini dikenal dengan sebutan rumah inong (rumah induk). Terdapat ruangan yang terdiri dari dua bilik saling berhadapan. 

    Adapun fungsinya sebagai kamar tidur kepala keluarga. Namun, jika ada anak perempuan baru menikah, bisa menempati kamar tersebut lalu orang tua bisa pindah ke Anjong.

    3. Serambi Belakang (Seuramoe Likoot)

    Serambi belakang memiliki bentuk ruangan yang polos dan memiliki luas yang ukurannya sama dengan serambi depan. Adapun fungsinya sebagai ruang tamu perempuan, tempat belajar mengaji untuk perempuan, dan tempat tidur tamu perempuan.

    4. Ajong

    Ajong adalah ruangan rumah adat Aceh yang bersifat khusus. Jadi, hanya untuk kamar perempuan dan tempat meletakan ayunan kain khusus untuk menidurkan bayi.

    5. Rambat 

    Fungsi dari rambat adalah sebagai ruang kosong tempat berlalu lalang. Serta menjadi penghubung antara ruang depan dan ruang belakang dan sebagai tempat berkumpulnya keluarga.

    6. Kolong

    Kolong rumah memiliki fungsi untuk menyimpan kendaraan pemilik rumah, tempat menyimpan barang pertanian, perikanan, maupun bahan pakan. Selain itu, ini juga sebagai media untuk menjemur baju dan menumbuk padi atau kacang.

    Filosofi Rumah Adat Aceh

    Rumoh Aceh dari segi arsitektur memperlihatkan keunikan dan keindahan dekorasi bangunan yang memiliki nilai-nilai filosofi mendalam serta dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar. Adapun  beberapa filosofi dari bangunan rumah adat ini, yaitu:

    • Spiritual dan Keseimbangan

    Dekorasi bangunan mencerminkan keyakinan terhadap kekuatan spiritual. yaitu Tuhan. Ini juga berhubungan dengan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

    • Persatuan dan Kebersamaan

    Pada Rumoh Aceh, seringkali mendapati bangunan terpisah yang saling bertaut atau terhubung. Ini merupakan simbol dari kolaborasi antar keluarga yang memiliki rasa persatuan dan kebersamaan.

    • Kebijaksanaan dan Kearifan

    Bangunan Rumoh Aceh mampu melambangkan keinginan masyarakat untuk menumbuhkan pola hidup secara bijaksana. Serta beradaptasi pada keseimbangan terhadap tradisi dan modernitas yang ada.

    Ciri Khas Rumah Adat Aceh

    Rumah Aceh tentu memiliki ciri khas unik. Nah, berikut ini akan menjelaskan sekilas terkait ciri-ciri khas Rumoh Aceh yang perlu kamu tahu:

    1. Bentuk Rumah Tinggi

    Secara tampilan, ciri khas rumah Aceh terlihat dari struktur bangunan dengan konsep rumah panggung. Bentuk rumahnya tinggi dan memanjang, serta tersedia tangga dengan jumlah ganjil sesuai kepercayaan masyarakat setempat.

    Rumah konsep panggung bisa mengurangi kelembaban, sebagai pelindung dari ancaman hewan buas, dan terhindar dari banjir bandang. 

    2. Ukuran Pintu Rendah

    Ukuran pintu pada Rumoh Aceh memiliki tinggi sekitar 120-150 cm. Tergolong rendah, bukan? Tingginya memang lebih rendah ketimbang orang dewasa. Sehingga, setiap orang masuk selalu menunduk dahulu. Adapun filosofi menunduk cocok sekali dengan kepribadian orang Aceh tak suka menyombongkan diri 

    3. Jumlah Tiang Menunjukan Jumlah Ruangan

    Ciri khas rumah adat Aceh berikutnya adalah jumlah tiang pada bangunan rumah adat. Biasanya jumlah tiang pada Rumoh Aceh menunjukkan banyaknya ruangan dalam bangunan tersebut. Misalnya, rumah Aceh memiliki 16 tiang yang berarti punya 3 ruangan dan lainnya. Jika tiangnya 18 atau lebih biasanya ada 5 ruangan.

    4. Keindahan Ornamen dan Hiasan Ukiran Rumit  

    Seringkali rumah adat Aceh kaya akan ornamen yang unik nan indah, seperti relief, lukisan tradisional, dan hiasan kaca patri. Selain itu, seringkali ada ukiran cukup rumit yang memperlihatkan kecantikan dan keindahan dari segi arsitektural. Terdapat pula motif khas Aceh berupa geometris atau flora dan fauna pada ukiran.

    5. Struktur Rumah Tahan Gempa 

    Ciri khas lainnya, yakni struktur rumah tahan gempa. Ini bisa menyesuaikan dari penggunaan material terhadap struktur bangunan. Seperti halnya bahan alami berasal dari kayu dengan atap daun rumbia yang ringan. Karena tidak menggunakan besi dan paku, maka bebannya tidak berlebihan.

    Kayu dan tiangnya menyatu bersama pasak, serta saling mengunci satu sama lain. Jadi, struktur bangunan rumah adat Aceh lebih kuat. Data valid menyatakan bahwa, ketika terjadi gempa 9,1 SR dan Tsunami 2004, rumah Aceh tak mengalami kerusakan serius.

    Sudah Paham Ragam Rumah Adat Aceh?

    Rumah tradisional memiliki ciri khas unik dan nilai sakral yang mengandung unsur budaya, termasuk rumah adat Aceh. Seiring perkembangan zaman, kini rumah adat semakin sulit ditemui. Selain termakan zaman, masyarakat kini beralih pada bangunan yang lebih modern dan minimalis. 

    Pada dasarnya, pembuatan rumah Aceh memang lebih rumit dengan perawatan yang lebih mahal. Pembangunanya pun membutuhkan musyawarah terlebih dahulu dan tidak bisa sembarangan. Namun, masih banyak juga yang sangat menyukai rumah warisan nenek moyang ini dan memilih untuk melestarikannya.