Category: Sosial Budaya

  • 5 Jenis Rumah Adat Riau Beserta Masing-Masing Keunikannya

    5 Jenis Rumah Adat Riau Beserta Masing-Masing Keunikannya

    Rumah adat Riau memiliki ciri khas sendiri dari segi bentuk bangunannya. Pada umumnya, rumah adat suku Melayu di Riau berupa panggung yang sesuai dengan keadaan wilayahnya. Bentuk rumah panggung bisa menghindari banjir bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai dan sungai. 

    Meski memiliki bentuk yang sama, setiap rumah adat Melayu di Riau memiliki keunikannya masing-masing. Seperti apa? Simak rangkuman berikut!

    5 Jenis Rumah Adat Riau Beserta Keunikannya

    Riau terbagi menjadi 10 Kabupaten dan 2 Kota. Jadi, tidak heran jika provinsi ini memiliki rumah adat lebih dari satu. Meski bentuknya hampir sama, masing-masing rumah adat di provinsi ini memiliki keunikan yang berbeda. Berikut 5 jenis rumah adat Melayu di Riau beserta keunikannya:

    1. Selaso Jatuh Kembar

    Selaso Jatuh Kembar
    Selaso Jatuh Kembar | Sumber: riauonline

    Rumah adat Melayu pertama yang paling populer adalah Selaso Jatuh Kembar. Nama lain dari rumah adat Riau ini adalah Balai Selaso Jatuh. Seperti namanya, fungsi utama dari bangunan ini adalah sebagai tempat untuk bermusyawarah secara adat.

    Bentuk Selaso Jatuh Kembar cukup unik, yaitu memiliki selasar keliling dengan posisi lantai yang lebih rendah daripada ruang tengah. Inilah yang membuat bangunan ini dinamakan sebagai “Selaso Jatuh”.

    Bagian atap rumah ini dipenuhi oleh hiasan kayu yang bersilang dan mencuat ke atas. Keunikan lain dari bangunan ini adalah keberadaan selembayung, yaitu ornamen pada atapnya.

    Selembayung atau sulo buyung memiliki makna yang menjunjung nilai keislaman, yaitu pengakuan terhadap Allah SWT sebagai pencipta alam semesta.

    Rumah Selaso Jatuh Kembar memiliki tiang utama bernama tiang tuo. Posisi pintu masuk harus berada di sebelah kiri dan kanan. Kemudian, dua tiang lainnya tidak boleh disambung, karena menjadi simbol penghormatan kepada orang yang lebih tua.

    Bagian dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan yang ukurannya besar dan bisa dimanfaatkan untuk beristirahat atau berkumpul. Berbeda dari rumah pada umumnya, Selaso Jatuh Kembar tidak memiliki kamar. Rumah adat Riau ini hanya memiliki sekat-sekat sebagai pemisah antar ruangan.

    Keunikan lainnya juga terdapat pada dinding yang menggunakan ukiran sekawanan itik. Ukiran tersebut sebagai nasehat, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus hidup saling berdampingan, kompak, selaras, dan damai.

    Selain ukiran itik berjalan beriringan, ada juga ukiran lain berupa tulisan ayat Al-Qur’an, naga, layang-layang, kalok paku, semut beriring, hingga pucuk rebung.

    Ukiran juga terdapat pada bagian tangga. Bedanya, ukiran ini berbentuk lebah bergantung, yang bermakna agar manusia hidup bermanfaat seperti lebah. Selain itu, ada juga ukiran yang berbentuk ombak, yang menggambarkan lingkungan tempat tinggal di pesisir pantai atau sungai.

    2. Singgah Siak

    Singgah Siak
    Singgah Siak | Sumber: Kemdikbud

    Provinsi Riau memiliki kerajaan yang cukup populer pada masanya, yaitu Kerajaan Siak Sri Indrapura. Salah satu peninggalan dari kerajaan ini adalah rumah Singgah Siak.

    Menurut sejarah, rumah ini dibangun pada tahun 1895. Seperti namanya, rumah Singgah Siak merupakan rumah yang disinggahi pertama kali oleh Sultan Siak serta para pengawalnya ketika berada di Senapelan.

    Wilayah Senapelan yang saat ini berubah nama menjadi Pekanbaru merupakan ibukota Kerajaan Siak setelah Menpura.

    Terpilihnya Senapelan menggantikan Menpura sebagai ibukota bukan tanpa alasan. Karena, Sultan Siak menilai posisi Senapelan lebih strategis untuk jalur perdagangan. Selain itu, Senapelan juga terdapat perkampungan yang memiliki peran penting untuk daerah Tapung, Kampar, dan Minangkabau.

    Lokasi rumah adat Riau satu ini tidak jauh dari Sungai Siak, yaitu hanya berjarak sekitar 20 meter. Lebih tepatnya berada di Jalan Panglima Undan, tepat di bawah Jembatan Siak III, Kampung Bandar, Kota Pekanbaru.

    Bahan utama dari bangunan ini adalah kayu. Namun, khusus bagian tangga yang berada di sisi Timur terbuat dari bata berspesi. Uniknya, sekilas rumah Singgah Siak terbagi menjadi tiga bagian, jika dilihat dari atas.

    Kini, rumah Singgah Siak menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Melayu atas peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik.

    Meski hampir seluruh bangunannya menggunakan kayu, kondisi rumah ini masih berdiri kokoh dan terawat.

    3. Rumah Adat Riau Atap Lontik

    Atap Lontik
    Atap Lontik | Sumber: Kompas

    Berikutnya, ada rumah Atap Lontik atau Rumah Lancang maupun Pencalang. Rumah adat Riau ini memiliki atap yang sangat runcing dan tajam, lalu di bagian kaki-kaki rumahnya berbentuk seperti lancang atau perahu. Inilah kenapa rumah ini bernama Atap Lontik atau rumah Lancang.

    Keunikan dari rumah ini terletak pada keempat sisinya yang miring keluar. Selain itu, desain dari atap rumah seperti tanduk kerbau ini juga sangat unik dan menjadi ciri khas sendiri.

    Sekilas, bentuk atap yang runcing dan tajam ini hampir mirip seperti bentuk atap dari Rumah Gadang, rumah adat kebanggaan masyarakat Minangkabau. Karena, ecara geografis, provinsi Riau memang berdekatan dengan provinsi Sumatera Barat, jadi tidak heran jika kedua provinsi ini memiliki sedikit persamaan.

    Sama seperti rumah Selaso Jatuh Kembar, atap dari bangunan ini juga menyimbolkan penghormatan masyarakat Melayu Riau yang sangat tinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Sedangkan bentuk lengkungan atapnya melambangkan awal dan akhir hidup manusia yang akan kembali lagi kepada Tuhan. Nilai keislaman juga tergambar lewat anak tangga menuju rumah yang berjumlah lima. Jumlah ini melambangkan 5 rukun Islam.

    Selain melambangkan nilai-nilai keislaman, rumah adat Atap Lontik juga melambangkan rasa sayang yang sangat tinggi kepada sesama manusia. Seperti rumah Melayu pada umumnya, bangunan ini berkonsepkan rumah panggung. Tujuannya untuk menghindari banjir atau serangan binatang buas.

    Sebab, rumah ini biasanya dibangun berdekatan dengan sungai atau hutan. Masyarakat Melayu juga memanfaatkan bagian bawah rumah sebagai penyimpanan kayu atau kandang untuk hewan ternak.

    Melansir dari halaman Kemdikbud, rumah Atap Lontik merupakan kebanggaan dari suku Melayu yang tinggal di daerah Lima Koto, Kabupaten Kampar atau juga suku Melayu di Rantau Kuantan, Kabupaten Indragiri Hulu, serta sebagian daerah di Rokan.

    Dilansir dari laman Kemdikbud juga, Rumah Lontik digunakan oleh suku Melayu di daerah Lima Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, atau daerah Rantau Kuantan di Kabupaten Indragiri Hulu, dan sebagian dari daerah Rokan.

    Baca Juga : 7 Rumah Adat Sumatera Barat, Ciri Khas, dan Keunikannya

    4. Atap Lipat Kajang

    Atap Lipat Kajang
    Atap Lipat Kajang | Sumber: Kompas

    Rumah adat Riau berikutnya ada Atap Lipat Kajang. Keunikan dari rumah ini terletak pada bentuk atapnya yang berbentuk bumbung. Tujuannya untuk memudahkan aliran air hujan ke bawah.

    Seperti rumah Melayu pada umumnya, bangunan ini juga memiliki ornamen selembayung dan tanduk buang, yaitu hiasan yang menyilang di kedua ujung atapnya. Ornamen selembayung cukup bervariasi, mulai dari flora hingga fauna.

    Di antara jenis rumah adat Melayu di Riau, keberadaan rumah Atap Lipat Kajang sudah jarang terlihat dan hampir punah. Dahulu, rumah Atap Lipat Kajang banyak ditemukan di kawasan pinggir sungai Rokan, Siak, Kampar, Pelalawan, hingga Indragiri.

    Rumah ini terbuat dari bahan-bahan alami. Pada bagian atapnya menggunakan daun nipa atau alang-alang. Sedangkan bagian dinding dan lantainya terbuat dari anyaman bambu, sehingga rumah tidak panas. Agar anyaman merekat sempurna, masyarakat Melayu akan mengikat bambu dengan rotan dan ijuk.

    Selain itu, pembangunan rumah Atap Lipat Kajang ini juga membutuhkan tiga balok pasak dengan posisi melintang. Tujuannya untuk mengikat tiang-tiang rumah.

    5. Rumah Atap Limas Potong

    Atap Limas Potong
    Atap Limas Potong | Sumber: Kompasiana

    Terakhir, ada rumah Atap Limas Potong yang juga mengusung konsep rumah panggung. Seperti namanya, rumah adat Riau ini memiliki atap berbentuk limas yang menjadi ciri khasnya. 

    Keunikan rumah Atap Limas Potong tidak hanya terletak pada bentuk atapnya, tapi juga terletak pada posisinya di atas ketinggian 1,5 meter dari permukaan tanah.

    Keberadaan jenis rumah Melayu ini masih banyak terlihat. Sebab, rumah Atap Limas Potong menjadi tempat tinggal atau hunian utama masyarakat Melayu di Riau hingga sampai saat ini.

    Ukuran rumah Atap Limas Potong bervariasi. Besar atau kecilnya bangunan bisa menunjukkan kemampuan ekonomi pemiliknya.

    Baca Juga : 5 Pakaian Adat Khas Kepulauan Riau Baju Kurung dan Maknanya

    Rumah Adat Jadi Salah Satu Warisan Budaya Melayu di Riau

    Riau menjadi salah satu provinsi yang memiliki banyak warisan budaya Melayu, salah satunya rumah adat. Meski sekilas tampak sama, 5 rumah adat Riau memiliki keunikan masing-masing, seperti lembayung pada rumah Selaso Jatuh Kembar dan Atap Lontik yang penuh dengan nilai keislaman.

    Bahkan, di antaranya merupakan peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura, yaitu rumah Singgah Siak yang saat ini masih terjaga dengan baik.

  • 4 Pakaian Adat Banten: Nama, Gambar, Makna, dan Keunikannya

    4 Pakaian Adat Banten: Nama, Gambar, Makna, dan Keunikannya

    Tahukah kamu apa saja pakaian adat Banten, salah satu daerah di Jawa Barat yang terkenal akan seni pertunjukkan Debus? Intip pembahasannya di sini, yuk!

    Ini Dia 4 Pakaian Adat Banten, Ternyata Memiliki Banyak Ragam, Loh!

    Faktanya, busana adat milik Banten juga turut dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa Barat selain kebudayaan asli Banten, serta daerah-daerah lain di sekitarnya. Ada empat ragam busana adat dengan fungsi pemakaian yang berbeda yang bisa kamu ketahui melalui penjelasan di bawah ini. 

    1. Pakaian Adat Banten Pangsi

    Pakaian Adat Pangsi
    Pakaian Adat Pangsi I Sumber: Kabarbanten.com

    Pada mulanya, pakaian adat Pangsi terkenal di masyarakat Sunda sebagai pakaian adat Jawa Barat. Namun, seiring dengan berlalunya waktu, pakaian ini telah menjadi pakaian adat Banten yang dapat dipergunakan dalam keseharian dan juga saat berlatih silat tradisional.

    Pangsi dikenakan dengan cara dililitkan dan saling menumpang seperti saat mengenakan sarung. Pakaian Pangsi terdiri dari 3 komponen, yaitu tangtung, nagntung, dan samping. Pangsi identik dengan warna hitam, tetapi tidak menutup kemungkinan ada penyesuaian warna bergantung kepada kegunaannya.

    Pakaian Pangsi terdiri dari baju atasan (Salontreng) dan juga bawahan berupa celana yang dikenakan dengan cara dililitkan dan diikat. Kemudian, ada juga sandal selop dan ikat kepala khas Banten (Totopong) yang menjadi pelengkap seluruh pakaian adat tersebut.

    2. Busana Pengantin ala Banten

    Pakaian Adat Pernikahan
    Pakaian Adat Pernikahan I Sumber: Takterlihat.com

    Pakaian adat pengantin wilayah Banten memiliki banyak kesamaan dengan pakaian pengantin wilayah Jawa Barat, seperti unsur motif dan aksesori pelengkap. Tetapi, ada perbedaan yang menonjol antara pakaian pengantin untuk laki-laki dan perempuan.

    1. Pakaian pengantin pria: atasan baju koko berkerah, bawahan kain samping, ikat kepala khas, ikat pinggang dari kain batik, dan senjata tradisional (golok).
    2. Pakaian pengantin wanita: atasan kebaya, bawahan kain Samping khas Banten, selendang di bahu, hiasan kepala kembang goyang, dan beragam perhiasan sebagai aksesoris.

    3. Pakaian Adat Banten Baduy

    Pakaian Adat Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam
    Pakaian Adat Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam I Sumber: Indonesiasenang.com

    Suku Baduy merupakan suku asli yang menghuni wilayah Banten, yang terdiri dari Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Dalam tidak mengadopsi perubahan dan pengaruh dari luar. 

    Semetara itu, suku Baduy Luar mengacu pada suku Baduy yang sudah menerima dan beradaptasi dengan perubahan dan menerima pengaruh dari luar.

    Pakaian adat dari kedua suku tersebut tentunya memiliki persamaan dan perbedaan sekaligus. Berikut adalah detailnya.

    a. Pakaian Adat Suku Baduy Dalam

    Suku Baduy Dalam menyebut pakaian adat mereka dengan nama Jamang Sangsang. Bagian leher dan lengan baju adat ini tidak berkerah dan berkancing. Proses pembuatan pakaian Jamang Sangsang pun juga masih tradisional, yakni dengan memintal serat kapas dan penjahitan tangan.

    Pakaian adat Jamang Sangsang juga dilengkapi dengan bawahan berupa sarung berwarna gelap, seperti hitam atau biru tua yang dililitkan ke pinggang. Selain itu, masyarakat Baduy Dalam mengenakan ikat kepala berwarna putih sebagai pelengkap pakaian adat yang satu ini.

    Suku ini menganggap warna putih merupakan warna yang suci. Oleh sebab itu, mereka mengenakan pakaian dari kain berwarna putih dengan harapan untuk menjaga kesucian mereka dari kebudayaan luar yang berpotensi merusak kebudayaan asli mereka.

    b. Pakaian Adat Suku Baduy Luar

    Berbeda dengan suku Baduy Dalam, suku Baduy Luar cenderung menggunakan kain berwarna gelap, seperti hitam, sebagai warna pakaian adat mereka. Pakaian adat ini bernama baju kampret atau baju kelelawar dan memiliki mode yang lebih beragam dan dinamis.

    Selain itu, pembuatan pakaian adat suku Baduy Luar kebanyakan sudah mengenakan mesin jahit dan juga terdapat kantong serta kancing dalam modelnya. Ikat kepala suku Baduy Luar juga cenderung berwarna gelap, seperti biru tua atau bahkan, motif batik.

    4. Pakaian Adat Banten Modern

    Pakaian Adat Pernikahan Modern Banten
    Pakaian Adat Pernikahan Modern Banten I Sumber: Kaskus

    Pakaian adat modern wilayah Banten umumnya tidak berbeda jauh dengan pakaian adat yang sering dikenakan dalam upacara pernikahan tradisional. Namun, pakaian adat modern menggunakan aksesoris yang lebih bervariatif dan tampak lebih modern.

    Selain itu, meskipun pakaian adat telah terpengaruh unsur modernitas, tapi pakaian adat tersebut tetap mempertahankan unsur kebudayaan khas Banten, seperti motif Datulaya, Pasepen, dan Pejantren.

    Baca Juga : 6 Pakaian Adat Kalimantan Selatan, Makna, dan Ciri Khasnya

    Peninggalan Bersejarah di Wilayah Banten dari Masa ke Masa

    Orang banyak mengenal wilayah Banten sebagai salah satu wilayah yang menjadi ibukota kerajaan Islam pada masa lalu. Namun, jauh sebelum masa kerajaan Islam, wilayah Banten telah menghasilkan peninggalan bersejarah yang menjadi bukti kekayaan budi penduduk Banten pada masa lalu.

    Sebagai contoh, penemuan punden berundak Lebak Sibedug pada tahun 1896 oleh seorang kontrolir Belanda yang bernama J. W. G. J. Prive. Selain itu, N. J. Karom yang dalam bukunya menyatakan banyak penemuan artefak bersejarah di wilayah Pandeglang seperti halnya patung tanah liat dan kapak baru dari masa prasejarah.

    Lebih lanjut lagi, terdapatnya beberapa situs monumen-monumen megalitik dengan berbagai bentuk seperti halnya punden berundak, arca, menhir, dolmen, dan batu yang memiliki corak bergaris turut menjadi wujud kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Banten pada masa lalu.

    Kemudian, kebudayaan Banten mengalami perkembangan setelah berinteraksi dengan kebudayaan luar. Sebagai contoh, ketika kebudayaan Hindu-Budha masuk melalui pedagang India. Selain membawa pengaruh penyebaran agama Hindu dan Budha di wilayah Banten, mereka juga turut memengaruhi corak kebudayaan lokal.

    Peninggalan-peninggalan kebudayaan bercorak Hindu-Budha umumnya ditemukan dalam situs-situs bersejarah Kerajaan Girang yang ada sejak abad ke-9 atau ke-16 Masehi.

    Setelah berkuasanya penguasa Muslim di Kerajaan Girang, maka berdirilah kerajaan Islam di sekitar teluk Banten. Pusat kotanya bernama Surosowan (Banten Lama). Kerajaan dengan corak Islam ada di Banten dalam kurun waktu abad ke-16 hingga ke-19 Masehi.

    Dalam berbagai catatan sejarah yang ada, kota Banten Lama dulunya ramai menjadi destinasi pedagang baik yang berasal dari luar atau dalam wilayah Indonesia, seperti Arab, Portugis, Cina, Maluku, Solor, dan juga Makassar.

    Peninggalan Kerajaan Islam Banten yang masih lestari hingga kini ada cukup banyak ragamnya. Di antaranya adalah:

    • Masjid Pecinan Tinggi, 
    • Watu Gilang, 
    • Danau Tasikardi, 
    • Jembatan Rante, 
    • Kompleks Keraton Kaibon, serta 
    • keramik-keramik dari Cina, Jepang, Thailand, dan Eropa, juga mata uang.

    Setelah masuknya VOC ke wilayah Banten, Kerajaan Islam Banten pun perlahan mengalami kemunduran hingga akhirnya berakhir riwayatnya. Berbagai peninggalan yang ada menjadi bukti jika masyarakat Banten merupakan masyarakat yang berbudaya dan berbudi, serta mampu menghasilkan karya semenjak dahulu kala.

    Ragam Kebudayaan Masyarakat dan Wilayah Banten

    Kebudayaan lokal suatu daerah memiliki fungsi penting untuk memperkokoh budaya bangsa. Kebudayaan wilayah Banten merupakan sebuah produk kekayaan budi dan pemikiran bangsa yang menonjolkan ciri khas masyarakat Banten. Di bawah ini adalah penjelasan singkat ragam kebudayaan wilayah Banten..

    1. Bahasa Daerah

    Produk kebudayaan wilayah Banten yang pertama adalah bahasa daerah Banten. Penduduk asli Banten umumnya menggunakan dialek khas yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno.

    Ada pengelompokkan dialek dalam bahasa Banten, mulai dari bahasa yang halus ke tingkatan bahasa yang lebih kasar, seperti yang umum dalam bahasa Sunda modern aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    2. Seni Beladiri Pencak Silat

    Pencak silat merupakan seni beladiri khas Nusantara. Meskipun demikian, ada berbagai variasi teknik dan ciri gerakan di berbagai wilayah dan antar perguruan pencak silat. Banten sendiri merupakan wilayah yang memperoleh julukan ‘Kota Jawara’ karena banyaknya jumlah pedepokan silat yang ada di wilayah tersebut.

    3. Seni Pertunjukkan Debus

    Debus merupakan atraksi sekaligus kesenian tradisional yang sangat melekat dengan wilayah Banten. Menurut catatan sejarah, kesenian debus sudah ada sejak abad ke-16. Bagian utama dari kesenian ini adalah pertunjukkan kekebalan akan senjata tajam, api, minuman keras, dan pecahan kaca.

    4. Pakaian Adat Banten

    Selain suku Sunda, terdapat beberapa suku lain, seperti Suku Banten dan Suku Baduy yang juga menghuni wilayah Banten. Dengan adanya keragaman suku, hal tersebut juga turut mempengaruhi ragam pakaian adat Banten yang ada.

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

    Pakaian Adat Banten dan Bukti Keragaman Adat dalam Satu Identitas

    Wilayah Banten adalah sebuah komunitas kebudayaan yang memiliki unsur-unsur kebudayaan khas dan mampu menampilkannya melalui produk-produk kebudayaan yang ada, salah satunya adalah pakaian adat Banten. Pakaian-pakaian adat tersebut tentunya melambangkan keberagaman budaya dan adat di wilayah Banten.

    Meskipun demikian, identitas kebudayaan Banten tetaplah satu. Oleh karenanya, masyarakat Banten, khususnya, diharapkan mampu mempertahankan kesatuan identitas kebudayaan tersebut di tengah gempuran arus modernisasi dan globalisasi. Upaya tersebut bertujuan agar kebudayaan asli Banten dapat terus lestari.

  • 10 Permainan Tradisional Indonesia Seru & Cara Bermainnya

    10 Permainan Tradisional Indonesia Seru & Cara Bermainnya

    Rindu dengan permainan tradisional Indonesia yang sering kamu lakukan dulu? Selain tarian dan musik daerah, nusantara juga memiliki warisan budaya lain, yaitu berupa aneka permainan tradisional. Masih ingat apa saja?

    10 Permainan Tradisional Indonesia dan Cara Permainannya

    Sekarang ini, sudah jarang anak-anak yang menghabiskan waktu dengan permainan tradisional karena lebih memilih gawai. Padahal, permainan tradisional Indonesia berikut tidak kalah seru dan menyenangkan, antara lain:

    1. Bola Bekel

    Permainan Bola Bekel
    Permainan Bola Bekel | Sumber Gambar: ibudanbalita

    Permainan bola bekel tergolong tidak menguras tenaga karena dilakukan sambil duduk. Meskipun demikian, memainkan gim satu ini membutuhkan ketangkasan dan konsentrasi tinggi. Jika lambat atau tidak fokus, sudah pasti akan kalah telak.

    Cara memainkan bola bekel:

    • Duduk melingkar dengan jumlah pemain minimal dua orang.
    • Siapkan bola dan enam pion bekel utama.
    • Lakukan suit untuk menentukan siapa pemain pertama.
    • Pemain melemparkan bola bekel dengan cara memantulkan ke lantai.
    • Sebelum bola tersebut kembali menyentuh lantai, pemain harus mengambil satu pion bekel kemudian menangkap bola. Langkah ini diulangi sampai jumlah pion habis.
    • Jika berhasil, lanjutkan ke level berikutnya dengan menambah jumlah pion yang harus ditangkap dalam sekali lemparan bola.

    2. Lompat Tali

    Lompat Tali
    Lompat Tali | Sumber Gambar: Direktori Kebudayaan Kabupaten Bantul

    Permainan tradisional Indonesia selanjutnya adalah lompat tali yang terbuat dari karet gelang. Permainan ini menekankan ketangkasan, stamina, dan keseimbangan dari para pemainnya – meskipun bisa juga dimainkan seorang diri.

    Cara memainkan lompat tali:

    • Buat tali dengan menautkan karet gelang satu dengan yang lain sampai memiliki panjang minimal satu meter.
    • Jika memainkannya sendiri, tinggal memegangi masing-masing ujung tali karet gelang tersebut dan mulai melompat.
    • Bila memainkannya dengan orang lain, membutuhkan minimal tiga orang.
    • Dua orang berdiri sambil memegang ujung kanan dan ujung kiri tali dan mengayunkan. Kemudian, satu orang lagi mulai melompat.
    • Aturannya, jika kaki sampai tersendat oleh tali, maka pemain tersebut kalah.

    3. Kelereng

    Kelereng
    Kelereng | Sumber Gambar: Kumparan

    Memiliki nama lain gundu, permainan satu ini bisa melatih fokus dan sangat kompetitif, karena jika menang bisa mendapatkan kelereng dari yang kalah. Meskipun lebih identik dengan anak laki-laki, tidak jarang anak perempuan pun ikut bermain.

    Cara memainkan kelereng:

    • Buat sebuah lingkaran dengan diameter kurang lebih 30 cm – bisa lebih kecil tergantung pada jumlah pemain yang ikut.
    • Letakkan kelereng semua pemain di tengah lingkaran, sisakan satu untuk masing-masing pemain untuk membidik.
    • Pemain harus membidik kelereng lawan dalam lingkaran sampai keluar, maka kelereng tersebut akan menjadi miliknya.
    • Namun, pemain hanya dinyatakan menang jika kelereng yang dipakai untuk membidik juga keluar keluar dari lingkaran. Bila berhenti dalam lingkaran, maka dinyatakan kalah.

    4. Congklak

    Congklak
    Congklak | Sumber Gambar: Kumparan

    Daftar permainan tradisional Indonesia yang sangat seru berikutnya adalah congklak. Permainan ini menekankan pada kepandaian berstrategi dan ketelitian, serta lebih identik dengan anak perempuan. Namun tidak sedikit anak laki-laki yang turut memainkannya.

    Cara memainkan congklak:

    • Siapkan peralatan permainan congklak, yaitu papan berlubang sejumlah 14. Nantinya akan ada sisi 7 buah lubang (untuk pemain) dan dua lubang besar untuk menyimpan biji atau batu congklak.
    • Gunakan biji-bijian berukuran sedang atau kerikil sebagai pion congklak.
    • Dua pemain congklak duduk berhadapan dan mulai mengisi masing-masing lubang dengan 4 biji atau kerikil.
    • Pemain mengambil pion di lubang pertama, kemudian menambahkannya di lubang-lubang yang lain dan berlaku seterusnya.
    • Siapa yang pionnya habis duluan berarti kalah, sedangkan yang mendapatkan banyak tambahan biji atau kerikil menang.

    5. Layang Layang

    Permainan Layang Layang
    Permainan Layang Layang | Sumber Gambar: Pexels

    Layang layang termasuk salah satu permainan yang masih relatif sering dimainkan hingga saat ini. Terutama di wilayah yang masih memiliki area lapang. Fokusnya cenderung lebih pada melatih kreativitas melalui desain layang layang yang digunakan dan kecermatan agar bisa terbang dengan baik.

    Cara memainkan layang layang:

    • Buat layang layang atau bisa membeli jadi di toko.
    • Pasangkan layang layang dengan tali dan sambungkan dengan botol atau benda lain. Ini berfungsi sebagai pegangan agar tangan tidak bersinggungan langsung dengan tali yang cukup tajam.
    • Cari tanah lapang dan pahami arah angin berembus.
    • Terbangkan layang layang sesuai dengan arah angin.
    • Tarik ulur tali agar layang layang bisa terbang dengan stabil.

    6. Ular Naga

    Ular Naga
    Ular Naga | Sumber Gambar: Good News from Indonesia

    Salah satu permainan tradisional Indonesia selanjutnya adalah ular naga. Permainan ini menekankan pada ketangkasan dan kekompakan kelompok. Umumnya, membutuhkan banyak peserta dalam jumlah genap – minimal 8 orang.

    Cara memainkan ular naga:

    • Para pemain melakukan suit sampai mendapatkan dua orang yang kalah untuk menjadi penjaga gerbang.
    • Penjaga gerbang mengambil posisi berpegangan tangan ke atas seperti terowongan.
    • Peserta lainnya berbaris ke belakang sambil memegangi pundak orang di depan.
    • Lagu ular naga dimainkan, 6 orang yang bebas berjalan layaknya kereta api melalui terowongan.
    • Ketika lagu habis, dua penjaga gerbang harus memerangkap salah satu peserta – hal ini berulang sampai peserta yang bebas habis.
    • Peserta yang tertangkap boleh memilih sisi penjaga gerbang kanan atau kiri.
    • Setelah semua peserta terperangkap, masing-masing kubu melakukan pengejaran terhadap lawan dengan berlari. Namun, semuanya harus sambil tetap berbaris dengan berpegangan ke pundak.

    7. Egrang

    Egrang
    Egrang | Sumber Gambar: Anakbisa

    Permainan yang satu ini sudah semakin jarang ditemui, padahal dulu masih sering menjadi salah satu cabang perlombaan setiap perayaan 17 Agustus. Jika ingin memenangkan egrang, peserta wajib memiliki konsentrasi dan keseimbangan yang bagus.

    Cara memainkan egrang:

    • Buat egrang dari kayu atau bambu terlebih dahulu. Dulu masih banyak yang menjual egrang, tetapi saat ini sangat sulit ditemukan sehingga lebih praktis membuat sendiri.
    • Para peserta harus bersiap terlebih dahulu di garis start.
    • Ketika peluit dibunyikan, peserta harus segera menaiki egrang dan berjalan dengan tongkat tinggi tersebut sampai garis finish.

    8. Engklek

    Engklek
    Engklek | Sumber Gambar: mkewithkids

    Kalau bicara tentang permainan tradisional Indonesia, gim yang satu ini tidak boleh absen. Engklek pada dasarnya merupakan permainan melompat di atas tanah yang bagus untuk melatih keseimbangan dan kemampuan berstrategi.

    Cara memainkan engklek:

    • Buat kotak-kotak persegi hingga membentuk huruf L atau U, tergantung jumlah pemain.
    • Cari batu kecil (lebih besar dari kerikil) sebagai gaco untuk dilemparkan ke kotak yang akan dilalui.
    • Peserta harus melemparkan gaco ke kotak pilihannya, kemudian melompat dengan satu kaki ke dalam kotak tersebut.
    • Jika kaki sampai menyentuh garis, artinya kalah.

    9. Balap Karung

    Balap Karung
    Balap Karung | Sumber Gambar: AnakBisa

    Permainan satu ini secara teori sangat mudah, tapi pada praktiknya memerlukan kecepatan dan keseimbangan yang bagus jika ingin menang. Balap karung juga masih menjadi salah satu lomba wajib saat peringatan kemerdekaan.

    Cara memainkan balap karung:

    • Cari karung yang cukup tebal dan tinggi minimal selutut anak-anak atau orang dewasa, tergantung peserta yang mengikuti perlombaan. Karung goni merupakan pilihan terbaik karena tebal dan kuat.
    • Para peserta memasukkan kedua kaki ke dalam karung masing-masing dan bersiap di garis start.
    • Ketika lomba sudah dimulai, peserta harus melompat-lompat menggunakan karung sampai ke garis finish.
    • Jika ada yang jatuh di tengah-tengah, maka tidak boleh langsung melanjutkan. Pemain harus mulai dari garis start lagi.

    10. Gobak Sodor

    Gobak Sodor
    Gobak Sodor | Sumber Gambar: Wikipedia

    Nama lain dari permainan ini adalah hadang karena memang fokusnya menghadang lawan agar tidak sampai menaklukkan benteng yang dijaga. Memenangkan permainan ini membutuhkan kecerdikan, ketangkasan, serta stamina yang kuat.

    Cara memainkan gobak sodor:

    • Bagi para peserta menjadi dua regu, minimal anggota untuk masing-masing tim adalah 6 orang, lebih ramai lebih seru.
    • Masing-masing tim harus membuat dua buah kotak. Kemudian satu kotak dibagi dengan garis horizontal, sedangkan lainnya garis vertikal.
    • Para peserta mulai mengambil posisi masing-masing.
    • Tugasnya adalah menghadang anggota tim lawan lolos dari benteng.
    • Jika anggota lawan sudah berhasil keluar benteng, maka regu tersebut keluar sebagai pemenangnya.

    Tips Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional Indonesia

    Ternyata permainan tradisional sangat beragam dan seru. Apa kamu tertarik untuk dapat menghidupkan kembali aneka permainan tradisional tersebut? Berikut cara-cara sederhana yang dapat membantu menggeliatkan minat masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus:

    1. Membatasi Penggunaan Gawai

    Gawai membuat kemampuan interaksi sosial seseorang dengan lingkungan berkurang secara drastis. Jadi, cara pertama adalah membatasi penggunaan gadget, khususnya pada anak bisa jadi cara ampuh. Tujuannya agar memiliki lebih banyak waktu luang dan mencari opsi hiburan lain dengan permainan tradisional.

    2. Rutin Menggelar Lomba Permainan Tradisional

    Tidak perlu menunggu peringatan 17 Agustus untuk menggelar lomba dengan menjadikan permainan tradisional Indonesia sebagai pilihan pertandingan. Coba saja gelar lomba antar RT atau RW kecil-kecilan setiap dua atau tiga bulan sekali pada akhir pekan.

    3. Menunjukkan Keseruan Permainan Tradisional pada Orang Terdekat

    Mulai dari lingkungan terdekat seperti anak dan keponakan untuk menyukai permainan tradisional asli Indonesia. Caranya dengan rajin menunjukkan betapa serunya permainan tersebut sehingga mereka perlahan terbiasa, kemudian tertarik hingga mencobanya.

    Baca Juga : Permainan Tradisional Adalah: Jenis, Manfaat, dan Contohnya

    Permainan Tradisional Indonesia, Warisan Budaya Tak Benda

    Jadi, apakah permainan tradisional Indonesia merupakan sesuatu yang penting diwariskan kepada generasi berikutnya? Jawabannya tentu saja, karena ragam permainan tersebut tidak akan ditemukan di negara lain dan bisa menjadi salah satu identitas serta daya tarik bangsa.

    Apalagi selain menghibur, ada banyak sekali manfaat lain dari permainan tersebut. Seperti meningkatkan kecerdikan dalam berstrategi, memperbaiki fokus dan konsentrasi, melatih keseimbangan tubuh menjadi lebih baik, dan memulihkan interaksi sosial dengan lingkungan sekitar.

    Selain itu, cara untuk menghidupkan kembali geliat permainan tradisional tidak terlalu sulit. Tentu, kamu harus memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Yuk, ikut berpartisipasi dalam menyelamatkan salah satu warisan budaya tak benda di atas!

  • 10 Budaya Jepang Paling Unik dan Populer Hingga Saat Ini!

    10 Budaya Jepang Paling Unik dan Populer Hingga Saat Ini!

    Jepang menjadi salah satu negara yang menjadi destinasi favorit bagi anak muda Indonesia. Banyak yang ingin tahu lebih banyak tentang negara dengan julukan Negeri Sakura ini. Tak ayal, budaya Jepang pun sering menjadi topik pembicaraan hangat. Penasaran dengan budaya unik di sana? Yuk, simak uraian berikut ini!

    10 Budaya Jepang Paling Unik dan Populer

    Tradisi Jepang sudah sejak lama punya magnet tersendiri bagi orang luar. Nah, berikut adalah sepuluh contoh budayanya yang wajib kamu ketahui:

    1. Geisha

    Geisha
    Geisha | Sumber gambar: fromjapan.info

    Meski cukup banyak dikenal, tidak semua orang mengenal apa arti Geisha yang sebenarnya. Sehingga, banyak orang justru menyalahartikan dan memandangnya sebagai hal buruk.

    Kalau kita lihat dalam bahasa Jepang, kata “Geisha” sendiri berarti orang yang memiliki keterampilan seni Jepang. Contohnya seperti menyanyi, menari, ataupun bermain alat musik. Singkatnya, Geisha adalah pelaku seni tradisional Jepang.

    Awalnya, mayoritas Geisha yang ada di Jepang adalah pria. Namun, lambat laun, jumlah Geisha pria terus menurun dari waktu ke waktu. Ini menyebabkan tren Geisha bergeser karena mayoritas yang ditekuni oleh wanita.

    Geisha punya sejarah yang cukup panjang di Jepang, tepatnya sejak abad 18. Meskipun sudah sangat lama, Geisha masih menjadi kebudayaan Jepang yang eksis hingga saat ini. Jika berencana ke Jepang, kamu bisa menemui Geisha di beberapa titik lokasi tertentu di kota Kyoto.

    2. Kimono

    Kimono
    Kimono | Sumber gambar: klook.com

    Sebagian besar orang setidaknya pernah mendengar nama pakaian tradisional Jepang satu ini. Ya, pakaian tersebut adalah Kimono. Kimono adalah contoh tradisi Jepang yang sudah sangat mendunia. Kata Kimono sendiri berasal dari dua kata, yaitu ‘ki’ yang berarti pakai, ‘mono’ yang berarti benda.

    Kimono sudah ada untuk waktu sangat lama, tepatnya sejak zaman Heian berlangsung di Jepang (794-1185 M). Artinya, Kimono sudah ada di Jepang selama lebih dari seribu tahun. Hebatnya, Kimono tidak luntur justru semakin populer di tengah masyarakat. Biasanya, kimono dipakai oleh aktor saat melakukan pentas ataupun Geisha.

    Sebetulnya, pakaian kimono tidak hanya ada satu jenis saja. Ada beberapa jenis Kimono yang peruntukannya berbeda-beda. Sebagai contoh, Kimono yang dipakai oleh wanita yang sudah menikah berbeda dengan jenis yang dipakai wanita lajang. Berikut ini adalah beberapa jenis pakaian Kimono yang ada di Jepang:

    • Tomesode: Kimono yang sangat formal dengan motif emas dan perak. Umumnya, Kimono jenis ini dipakai oleh wanita yang sudah menikah pada saat menghadiri upacara pernikahan.
    • Mofuku: Jenis Kimono yang serba hitam. Biasanya orang Jepang mengenakan Kimono ini pada saat acara berduka.
    • Susohiki atau Hikizuri: Kimono ini sering para Geisha pakai. Susohiki memiliki bentuk yang unik dengan ukuran yang lebih panjang hingga menyentuh lantai.
    • Iromuji: Ini adalah jenis Kimono yang bisa dipakai baik oleh wanita yang sudah menikah ataupun wanita yang masih lajang. Selain itu, iromuji hanya terdiri dari satu warna, sehingga memberikan kesan yang polos.
    • Komon: Kimono yang terbuat dari sutra. Orang Jepang sering mengenakan Komon saat menghadiri acara kasual atau informal.
    • Furisode: Jenis Kimono yang umum wanita lajang di Jepang pakai. Wanita lajang mengenakan Kimono jenis ini saat menghadiri upacara pernikahan, upacara kedewasaan, ataupun upacara minum teh (Sadou).

    3. Tako

    Tako
    Tako | Sumber gambar: aspiremagz.com

    Tidak hanya Indonesia saja yang identik dengan mainan layang-layang, Jepang juga terkenal dengan layang-layangnya. Layang-layang khas Jepang sendiri bernama Tako. Setiap tahun baru, menerbangkan Tako adalah aktivitas terfavorit bagi keluarga Jepang. Sangat mudah menemukan orang bermain Tako saat berlangsung festival budaya.

    Secara umum, orang Jepang akan menerbangkan Tako saat tahun baru, libur umum, dan Hamamatsu Matsuri. Bagi mereka, Tako bukanlah sekadar layang-layang. Tako adalah bagian dari budaya Jepang yang mempunyai nilai seni tinggi. Serta merupakan kebanggan bagi masyarakat Jepang.

    Hal tersebut terbukti dari langkah pemerintah Jepang dalam memberikan subsidi bagi seniman pembuat Tako. Karya seni mereka juga diabadikan di Museum Tako no Hakubutsukan di Tokyo. Museum Tako adalah salah satu tempat di Tokyo yang harus kamu kunjungi jika berada di Jepang.

    4. Origami

    Origami
    Origami | Sumber gambar: freepik.com

    Selain Kimono, ternyata ada juga tradisi yang sangat terkenal hingga ke mancanegara. Budaya tersebut adalah origami atau seni melipat kertas. Origami sendiri berasal dari dua kata, yaitu ‘ori’ yang berarti melipat, ‘gami’ yang berarti kertas.

    Meskipun origami berasal dari Jepang, banyak anak-anak di Indonesia sudah belajar origami sejak masih bangku kanak-kanak atau sekolah dasar.

    Origami pun sudah sangat lama menjadi bagian dari tradisi Jepang, tepatnya sejak zaman Heian yang berlangsung lebih dari seribu tahun lalu. Awalnya origami dipakai sebagai penutup botol sake (arak beras khas Jepang).

    Selain itu, origami juga punya banyak nama. Contohnya seperti orikata, orimono, dan orisui. Namun, sejak akhir tahun 1800-an, kesenian melipat kertas ini lebih terkenal dengan sebutan origami.

    5. Sadou

    Sadou
    Sadou | Sumber gambar: sailforth.wordpress

    Bagi masyarakat Jepang, minum teh adalah bagian dari tradisi. Upacara minum teh ini bernama Sadou. Sebenarnya, tradisi ini berawal dari orang Tiongkok di abad ke-6. Sadou juga terbagi menjadi 2 jenis sadou, yaitu:

    • Ochakai: Upacara minum teh yang sifatnya tidak formal. Biasa dilakukan oleh orang Jepang bersama kerabatnya untuk merayakan suatu peristiwa.
    • Chaji: Upacara minum teh yang terkenal formal dan sakral. Bahkan, chaji bisa berlangsung selama 4 jam.

    Sadou sendiri memiliki makna, yaitu menghargai antara tamu dan tuan rumah satu sama lain. Selain itu, ada beberapa tata cara jika orang Jepang menjalankan upacara ini. Misalnya, seperti menyiapkan peralatan Sadou, menata ruangan, hingga memberi dekorasi. 

    Tamu pun juga memiliki tata cara tersendiri sebelum tuan rumah memperbolehkan mereka masuk. Ada juga aturan cara menerima mangkuk teh dan aturan duduk.

    6. Hanami

    Hanami
    Hanami | Sumber gambar: sakura.co

    Bunga sakura selalu identik dengan Jepang. Bahkan, ada satu festival yang khusus untuk melihat bunga sakura bermekaran yang bernama Hanami. Awalnya, hanya kelas atas dan bangsawan saja yang melakukan festival ini. Namun, sejak era Edo di tahun 1600-an, festival Hanami pun juga dinikmati oleh masyarakat Jepang secara umum.

    Hanami saat ini berlangsung dalam rangka kegiatan piknik ataupun berkumpul bersama keluarga. Festival budaya Jepang ini berlangsung hanya sekali dalam satu tahun, mengikuti kapan mekarnya bunga sakura atau tepatnya di musim semi bulan April.

    Masyarakat Jepang ternyata memaknai festival Hanami sebagai pengingat bahwa keindahan hanya berlangsung sebentar. Hal tersebut membuat masyarakat menganggap Hanami sebagai kesempatan untuk istirahat dari hiruk pikuk dunia.

    7. Hanabi

    Hanabi
    Hanabi | Sumber gambar: japan-guide.com

    Ketika musim panas tiba, orang Jepang melakukan suatu tradisi yang disebut Hanabi. Hanabi merupakan tradisi berupa tontonan kembang api yang indah dan cukup terkenal bagi orang Jepang. Festival Hanabi sendiri sudah ada sejak zaman Edo.

    Ada beberapa jadwal dari pelaksanaan festival Hanabi. Contohnya adalah Yokohama Sparkling Twilight, Sumidagawa Hanabi Taikai, Tenjin Hanabi Festival, Nagaoka Festival Grand Fireworks, Omagari Fireworks Festival, dan lain sebagainya.

    8. Festival Matsuri

    Matsuri
    Matsuri | Sumber gambar: en.japantravel

    Masyarakat Jepang mengenal banyak budaya dalam bentuk festival di musim panas. Selain Hanabi dan Hanami, festival Matsuri juga merupakan tradisi yang berlangsung di musim panas. Matsuri sendiri adalah acara saat orang Jepang melakukan kegiatan berdoa ke kuil Shinto dan kuil Buddha.

    Istilah matsuri berasal dari kata ‘matsuru’ yang berarti menyembah. Festival ini merupakan pemujaan kepada Kami-sama. Ada empat unsur Matsuri menurut ajaran Shinto, yaitu persembahan, penyucian, berdoa, dan pesta makan.

    Makna festival Matsuri adalah sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai berkah. Seperti sembuh dari penyakit, kesuksesan bisnis, hingga keberhasilan panen.

    9. Onsen

    Onsen
    Onsen | Sumber gambar: enjoyonsen.city.beppu-jp

    Istilah onsen merujuk pada istilah sumber air panas yang menjadi pemandian umum di Jepang. Budaya Jepang adalah melakukan mandi di sumber air panas. Onsen sendiri tidak hanya di luar ruangan sekarang, sudah banyak onsen yang berada di dalam ruangan. Alaminya, Jepang memang punya banyak sumber mata air panas alami.

    10. Samurai

    Samurai
    Samurai | Sumber gambar: outfit4events

    Samurai adalah satu hal yang sangat terkenal dan identik dengan Jepang. Meskipun demikian, banyak orang yang salah mengartikan kata Samurai. Kebanyakan menyangka bahwa Samurai adalah pedang yang digunakan oleh ksatria tradisional. Padahal, arti Samurai adalah ksatria Jepang itu sendiri. 

    Sedangkan pedang yang mereka gunakan bernama Katana. Di Jepang, Samurai punya sejarah yang sangat panjang dan penting. Samurai juga punya andil besar dalam politik dan tradisi Jepang. Saking terkenalnya, kisah para Samurai diangkat melalui beberapa hal seperti game, komik, ataupun anime (kartun khas Jepang).

    Baca Juga : Akulturasi Budaya: Pengertian, Tujuan, Faktor, dan Contoh

    Budaya Jepang Mana yang Menjadi Favoritmu?

    Jepang tidak hanya terkenal sebagai negara maju yang menghasilkan banyak teknologi modern. Di satu sisi, budayanya yang beragam juga sudah sangat mendunia. Oleh karena itu, budaya Jepang yang unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan karena mencerminkan bagaimana orang lokal memaknai kehidupan.

    Nah, jika ingin melihat dan merasakan berbagai tradisi tersebut secara langsung, kamu sebaiknya memperhatikan waktu berkunjung ke negara Jepang. Karena beberapa budaya hanya terselenggara di waktu khusus. Misalnya seperti Hanabi yang hanya ada di bulan Juli dan Hanami di bulan April. Jadi, budaya mana yang menjadi favoritmu?

  • 5 Upacara Adat Sulawesi Selatan: Makna & Cara Pelaksanaan

    5 Upacara Adat Sulawesi Selatan: Makna & Cara Pelaksanaan

    Adat istiadat masih melekat sangat erat dalam kehidupan masyarakat daerah Sulawesi Selatan. Faktanya, masyarakat masih rutin mengadakan upacara adat Sulawesi Selatan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi peninggalan nenek moyang. Ingin tahu apa saja upacara adat unik di sana? Simak daftarnya berikut ini! 

    5 Upacara Adat Sulawesi Selatan 

    Sama seperti wilayah-wilayah lain yang ada di Indonesia, Sulawesi Selatan juga masih melestarikan tradisi upacara adat warisan nenek moyang. Lantas, apa sajakah upacara adat yang dimaksud? Berikut daftar upacara beserta makna dan tata cara pelaksanaannya:

    1. Upacara Rambu Tuka’

    Upacara Adat Rambu Tuka’
    Upacara Adat Rambu Tuka’ | Sumber gambar: Okezone Travel

    Berdasarkan catatan sejarah, Rambu Tuka’ merupakan upacara adat yang berasal dari Suku Toraja. Suku ini sendiri  mendiami wilayah utara pegunungan Sulawesi Selatan. 

    Pada dasarnya, Suku Toraja melakukan upacara Rambu Tuka’ sebagai bentuk ucapan syukur atau sukacita. Jadi, meski namanya mirip dengan Rambu Soolo, upacara ini identik dengan kegembiraan dan bukan kesedihan. 

    Umumnya, orang-orang dari Suku Toraja mengadakan upacara adat ini untuk syukuran hasil panen, syukuran rumah, atau pesta pernikahan. Dengan adanya upacara adat Sulawesi Selatan seperti ini dapat mempererat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja. 

    Prosesi upacara adat ini dilaksanakan dengan melakukan ritus-ritus yang terdiri dari Mabua, Merok, Mangrara Banua, dan Rampanan Kapa. Masing-masing tradisi ritus memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Berikut adalah ulasan singkatnya:

    a. Mabua 

    Tradisi Mabua dalam upacara adat Rambu Tuka’ kerap kali diadakan dalam skala besar-besaran. Lalu, durasinya pun cukup panjang, yaitu selama 1 tahun atau setara dengan 365 hari. Maka dari itu, tradisi ini hanya dilakukan oleh kalangan lempo Batutumonga saja

    b. Merok 

    Tradisi ini dikenal pula sebagai pesta besar yang melengkapi rangkaian upacara adat Rambu Tuka’. Upacara adat ini biasanya diselenggarakan oleh Suku Toraja dari keturunan bangsawan. Di dalam pelaksanaannya, tradisi ini berlangsung selama beberapa hari dan wajib menyembelih seekor kerbau. 

    c. Mangrara Banua 

    Tradisi ini merupakan salah satu bentuk syukur dari masyarakat Tana Toraja atas berakhirnya pembuatan tongkonan. Ritus Mangrara Banua dalam upacara Rambu Tuka’ biasanya diselenggarakan bersamaan dengan pembangunan rumah tradisional khas Toraja.  

    d. Rampanan Kapa 

    Ritus ini diadakan untuk merayakan pernikahan keturunan Suku Toraja. Sebelum menyelenggarakan tradisi Rampanan Kapa, pasangan mempelai wajib melangsungkan pernikahan di tempat ibadah terlebih dahulu. Nah, setelah itu mereka akan disahkan secara adat dalam upacara Rambu Tuka’ Rampanan Kapa. 

    Baca Juga : 5+ Pakaian Adat Sulawesi Tenggara: Keunikan dan Maknanya

    2. Upacara Accera Kalompoang

    Upacara Adat Accera Kalompoang
    Upacara Adat Accera Kalompoang | Sumber gambar: humas.gowakab 

    Selain Suku Toraja dan Suku Bugis, Sulawesi Selatan juga memiliki Suku Gowa yang merupakan keturunan dari leluhur di Kerajaan Gowa. Salah satu adat istiadat peninggalan Kerajaan Gowa yang masih bertahan sampai saat ini adalah upacara Accera Kalompoang. 

    Biasanya, masyarakat Suku Gowa menyelenggarakan upacara adat ini untuk membersihkan benda-benda pusaka warisan para leluhur. Karena itu, pelaksanaan upacara adat ini tergolong sakral. 

    Di dalam melaksanakan upacara adat Sulawesi Selatan, harus ada penyembelihan seekor kerbau sebagai simbol untuk memanggil arwah para leluhur. Kemudian, pelaksana harus mengambil air dari dalam sumur di daerah Katangka. 

    Air tersebut selanjutnya akan diarak oleh masyarakat Suku Gowa sambil memakai pakaian adat. Lalu, para tetua dari Suku Gowa akan menggunakan air ini untuk membasuh benda-benda pusaka.   

    3. Upacara Rambu Solo

    Upacara Adat Rambu Solo
    Upacara Adat Rambu Solo | Sumber gambar: Indonesia Kaya

    Jika penyelenggaraan upacara Rambu Tuka’ bertujuan untuk merayakan hari bahagia, maka Rambu Solo justru sebaliknya. Di mana ini merupakan prosesi pemakaman masyarakat Suku Toraja. 

    Tradisi ini dimaknai oleh orang-orang Tana Toraja sebagai upaya untuk mengantarkan roh orang-orang yang sudah meninggal menuju ke alam baka. Masyarakat Toraja percaya bahwa, seseorang akan benar-benar meninggal apabila sudah memenuhi seluruh prosesi upacara Rambu Solo. 

    Seluruh keluarga juga wajib mengikuti upacara ini. Tujuannya agar prosesnya bisa berjalan lancar. Menurut aturan turun-temurun dari nenek moyang, upacara Rambu Solo terbagi menjadi beberapa sesi, meliputi:

    • Persiapan Tongkonan

    Para pria akan membawanya menuju lokasi pemakaman. Serta akan ada rombongan yang membawa peralatan lain.

    • Rante

    Proses pemakaman berbentuk pementasan seni di depan tongkonan. Nantinya juga akan ada prosesi penghiasan peti.

    • Pemindahan Mayat

    Masyarakat melakukan Ma’Popengkalo Alang, memindahkan mayat ke “rumah”. Nantinya juga akan ada parade membawa mayat ke Lakkian. Jika sudah masuk, maka artinya roh sudah tidak ada di dunia.

    • Pertunjukan Seni

    Pertunjukan ini akan menyuguhkan seni tari khas Toraja sembari memakai pakaian adat Toraja yang identik dengan warna hitam dan emas.  Di samping itu, masih ada beberapa pertunjukan seni lainnya yang tidak kalah menarik dari seni tari Suku Toraja.

    • Sesi pengorbanan

    Pengorbanan hewan seperti kerbau dan babi sebagai “bekal” roh di alam gaib. Penyembelihan hewan ini juga memiliki jumlah yang tidak sedikit.

    Upacara adat Sulawesi Selatan ini tidak berlangsung selama sehari, melainkan 7 hari. Secara umum, pelaksanaan upacara adat ini membutuhkan biaya yang besar. Bahkan bisa mencapai miliaran rupiah. Semakin tinggi statusnya, tentu biaya yang keluar akan semakin tinggi. Umumnya, prosesi Rambu Solo menjadi objek wisata para wisatawan.

    4. Upacara Maccera Tasi  

    Upacara Adat Maccera Tasi
    Upacara Adat Maccera Tasi | Sumber gambar: kikomunal-indonesia 

    Upacara adat Sulawesi Selatan selanjutnya adalah Maccera Tasi. Masyarakat Luwu seringkali menyelenggarakan upacara adat ini sebagai bentuk manifestasi hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Prosesi upacara adat ini menjadi bentuk ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas perolehan hasil laut nelayan. 

    Pada dasarnya, pelaksanaan upacara adat ini mengandung makna filosofis yang dalam bagi para nelayan, sehingga bisa mempengaruhi semangat mereka saat pergi berlayar. Oleh karena itu, sebagai bentuk rasa syukur, para nelayan mengadakan Pesta Laut alias tradisi Maccera Tasi. 

    Prosesi pelaksanaan tradisi ini umumnya berlangsung di tepi garis pantai dan dalam kondisi pasang surut yang jauh. Pemilihan lokasinya memiliki makna batas dari dua di lingkungan hidup yang saling bertemu, yaitu daratan dan lautan. Pelaksanaan upacara adat ini akan berlangsung sejak pagi hari sewaktu matahari terbit. 

    Nantinya juga akan ada penyerahan sesajen sebagai simbol rasa syukur dan doa dari masyarakat Suku Luwu. Di akhir prosesi upacara Maccera Tasi akan ada acara pelepasan seekor ikan hidup sebagai simbol penghormatan terhadap biota laut dan habitatnya. Setelah itu, Pua’ Puawang akan memimpin doa ucapan syukur. 

    5. Upacara Ma’Nene

    Upacara Adat Ma’Nene
    Upacara Adat Ma’Nene | Sumber gambar: Wikipedia

    Terakhir, ada Ma’Nene yang terkenal paling unik dari seluruh upacara di Sulawesi Selatan. Prosesi upacara adat ini bertujuan untuk membersihkan jasad para leluhur yang sudah terkubur. Cara satu-satunya agar bisa membersihkan jasad leluhur adalah dengan membongkar liang kuburnya, lalu mengambil jasadnya. 

    Prosesi pengambilan jasad ini tentu sudah mengantongi izin dari pihak keluarga. Di dalam prosesi upacara adat Sulawesi Selatan Ma’Nene, jasad akan dibersihkan dengan air sampai bersih. Lalu, pihak keluarga akan mengganti pakaian jasad tersebut menggunakan baju baru. 

    Jika jasadnya laki-laki, maka akan menggunakan setelan jas rapi dan kacamata. Namun, jika jasadnya adalah wanita, maka harus menggunakan gaun pengantin rapi. Serta lengkap dengan aksesoris-aksesoris berupa gelang dan kalung. 

    Setelah selesai membersihkan, pihak keluarga akan memasukkan kembali jasad tersebut ke dalam peti jenazah. Namun, pihak keluarga pantang untuk mengubur peti tersebut ke dalam liang lahat sebelum melakukan prosesi pemotongan hewan kurban. 

    Pihak keluarga setidaknya harus menyembelih satu kerbau atau domba untuk kurban. Namun, jika masyarakat Tana Toraja yang ingin memperoleh tingkat kehidupan abadi lebih tinggi, maka harus mengorbankan lebih banyak hewan kurban untuk disembelih. 

    Tujuan dari upacara adat ini tak lain adalah untuk menghormati arwah para leluhur yang sudah meninggal lebih dahulu. Pelaksanaannya juga harus sesuai dengan tata aturan adat yang berlaku dan terlaksana setiap 3 tahun sekali, tepatnya di bulan Agustus. 

    Baca Juga : Kenali 10 Upacara Adat Kalimantan yang Unik dan Penuh Makna

    Sudah Tahu Apa Saja Upacara Adat Sulawesi Selatan? 

    Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi dan adat istiadat warisan dari para leluhur. Seperti upacara adat Sulawesi Selatan yang dapat merayakan kegembiraan serta rasa syukur. Serta ada pula upacara adat untuk memperingati dukacita dan prosesi pemakaman. 

    Nah, sebagai generasi muda yang tumbuh besar di era digital, tidak seharusnya kamu melupakan adat dan tradisi lokal. Kamu juga harus ikut melestarikan adat istiadat agar tidak luntur karena modernisasi. Bahkan, kamu juga bisa mengunjungi Toraja jika ingin melihat prosesi adatnya secara langsung.

  • Permainan Tradisional: Manfaat, Jenis, Nilai, dan Contohnya

    Permainan Tradisional: Manfaat, Jenis, Nilai, dan Contohnya

    Coba perhatikan anak-anak di sekitarmu. Kebanyakan dari mereka sudah memperoleh hiburan dalam bentuk video game ataupun tontonan kartun dari internet. Namun, kalau kita kilas balik ke 20 tahun yang lalu, permainan tradisional masih menjadi andalan anak-anak di zaman itu.

    Perkembangan teknologi dan hiburan menyebabkan permainan tersebut makin tergerus dan tertinggal bagi anak zaman sekarang. Padahal, permainan zaman dulu membuat anak banyak bergerak dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Yuk, kita coba kenal lebih dalam dengan permainan zaman dulu.

    Pengertian Permainan Tradisional

    Permainan tradisional adalah sejumlah permaianan yang anak-anak mainkan pada zaman dulu. Pada umumnya, permainan ini adalah warisan dari generasi sebelumnya.

    Saat ini, cukup sulit kita dapat melihat anak-anak yang asyik bermain permainan zaman dulu terutama di daerah urban atau perkotaan. Permainan tradisional cenderung lebih mudah kita temukan di area pedesaan.

    Permainan zaman dulu erat berhubungan dengan tradisi yang berlaku di suatu masyarakat. 

    Biasanya, permainan tersebut juga memanfaatkan beberapa alat yang mudah kita dapatkan di alam seperti batu, kayu, daun, batu bata, dan lain sebagainya. Bahkan di beberapa kasus tidak memerlukan alat sama sekali.

    4 Manfaat Permainan Tradisional

    Permainan tradisional tentu memberikan manfaat bagi anak-anak karena melibatkan gerakan tubuh dan interaksi sosial ke teman sebaya. Berikut adalah 4 manfaat yang bisa anak peroleh dari permainan zaman dulu, yaitu:

    1. Menghilangkan Rasa Bosan dan Jenuh

    Salah satu syarat suatu aktivitas bisa kita sebut sebagai permainan yaitu harus dapat menghilangkan rasa jenuh dan bosan. 

    Tentu saja, permainan zaman dulu sifatnya menghibur dan bisa membantu anak dalam menghilangkan rasa tersebut.

    2. Manfaat Pengembangan Sosial dan Karakter

    Permainan tradisional identik dengan permainan yang dimainkan secara berkelompok. Jika anak ingin bermain, maka ia harus mencari teman untuk diajak bermain.

    Permainan zaman dulu secara tidak langsung melatih kemampuan anak dalam berkomunikasi, bekerja sama, dan bersaing secara sportif. 

    Hal ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri, percaya pada rekan satu tim, dan berjiwa lapang jika tidak menang.

    3. Manfaat Kognitif

    Ada sejumlah permainan ini yang bisa dimenangkan melalui strategi yang matang, sehingga permainan zaman dulu juga mengandalkan kemampuan berpikir secara logis.

    Permainan tersebut pada akhirnya akan melatih anak dalam meracik strategi, ketelitian, dan ketepatan dalam pengambilan keputusan agar dapat memenangkan permainan.

    4. Melatih Ketangkasan Fisik

    Salah satu hal yang jelas tampak pada hiburan anak modern, seperti video game ataupun acara hiburan di internet adalah kurangnya melibatkan gerakan fisik.

    Nah, permainan zaman dulu yang anak mainkan masih banyak yang mengandalkan kemampuan fisik, sehingga menyebabkan anak secara tidak langsung melakukan olahraga.

    3 Jenis Permainan Tradisional

    Permainan Congklak
    Permainan Congklak | Sumber gambar: Kompas.id

    Permainan zaman dulu dapat kita bagi menjadi beberapa jenis. Berikut ini adalah 3 jenis dari permainan zaman dulu, yaitu:

    1. Rekreatif

    Permainan tradisional yang bersifat rekreatif murni tujuannya untuk bersenda gurau dan menghabiskan waktu luang bersama teman. 

    Di dalam permainan rekreatif, tidak ada aturan atau strategi karena tidak ada istilah menang atau kalah.

    2. Kompetitif

    Permainan zaman dulu yang bersifat kompetitif identik dengan adanya aturan, strategi, dan kerja sama di dalamnya. Sesuai namanya, akan ada pihak yang menang dan kalah pada permainan jenis ini.

    Selain untuk hiburan, permainan jenis ini bisa melatih kemampuan fisik, kognitif, sosial, dan karakter. Beberapa ciri yang bisa kamu lihat dari permainan kompetitif yaitu:

    • Mencapai kemenangan.
    • Terdapat aturan dalam permainannya serta syarat menang.
    • Adanya sistem hadiah jika berhasil melakukan tujuan tertentu.
    • Adanya sistem hukuman jika melakukan pelanggaran.
    • Terorganisasi.

    3. Edukatif

    Jenis permainan tradisional yang terakhir adalah permainan yang bersifat edukatif. Artinya, permainan jenis ini menyisipkan unsur pengetahuan di dalamnya.

    Permainan jenis edukatif sangat bagus untuk menambah pengetahuan umum bagi anak.

    Anak akan memperoleh ilmu yang berharga di luar kelas sekolah. Selain sebagai sarana penambah ilmu, permainan edukatif juga bisa menjadi ajang sosialisasi.

    Nilai yang Tersimpan dalam Permainan Tradisional

    Lebih dari sekadar terhibur ataupun menang, ternyata permainan zaman dulu juga menyimpan nilai-nilai berharga bagi anak. Yuk, kita cari tahu apa saja.

    1. Nilai Kejujuran dan Sportivitas

    Nilai kejujuran dan sportivitas pada anak bisa dipupuk melalui permainan tradisional, terutama pada permainan yang sifatnya kompetitif.

    Terdapat aturan yang harus pemain patuhi pada permainan kompetitif. Anak dapat melatih sifat jujur melalui kepatuhannya pada aturan, seperti mengakui adanya pelanggaran dan menghindari menang dengan cara curang.

    Selain itu, pada permainan kompetitif akan ada pihak yang menang dan kalah. Tujuannya untuk melatih sikap rendah hati pada pihak yang menang dan sikap lapang dada pada pihak yang kalah. Kondisi ini secara tidak langsung akan memupuk jiwa sportif pada anak.

    2. Kerja Sama

    Sebuah permainan, apalagi jika dimainkan secara tim, pasti harus mengandalkan kerja sama di dalamnya.

    Ketika anak melakukan permainan tradisional yang melibatkan tim, anak akan belajar bagaimana caranya berkoordinasi dan membentuk kekompakkan demi meraih kemenangan.

    3. Kepemimpinan

    Permainan yang melibatkan tim sering kali menerapkan sistem “pemimpin” atau “kapten” di dalam masing-masing tim yang bertanding.

    Jika anak berkesempatan mengemban tugas sebagai kapten, ini artinya anak mendapat kesempatan untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan.

    Jiwa kepemimpinan ini misalnya seperti bagaimana anak belajar dalam mengkoordinasi timnya, mengatur peran dan tugas teman-temannya, serta memberi dorongan moral agar dapat meraih kemenangan.

    Sikap kepemimpinan ini secara tidak langsung juga melatih anak untuk punya sikap pantang menyerah.

    4. Solidaritas dan Percaya Kemampuan Teman Satu Tim

    Setiap orang di dalam sebuah tim pasti punya kelebihan, kekurangan, serta tugasnya masing-masing. Nah, di sinilah solidaritas dan percaya pada kemampuan rekan setim penting untuk sebuah tim miliki agar bisa berjalan dengan kompak.

    Anak akan ditempa untuk saling memahami keunikan teman-teman satu timnya agar bisa saling melengkapi satu sama lain. 

    Selain itu, anak juga akan belajar untuk percaya pada kemampuan temannya. Jika anak ragu dan tidak percaya, tim akan menjadi tidak kompak.

    5. Ketangkasan dan Kecerdasan

    Nilai terakhir yang bisa anak peroleh dari permainan tradisional yaitu ketangkasan fisik dan kecerdasan dalam berpikir.

    Seperti yang sudah sempat kita singgung di atas, ada permainan zaman dulu yang melibatkan fisik, ada juga yang melibatkan strategi. Nah, kedua jenis permainan tersebut akan melatih kemampuan fisik dan berpikir anak.

    4 Contoh Permainan Tradisional

    Berikut ini adalah 4 contoh permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak di zaman dahulu, yaitu:

    1. Gobak Sodor

    Gobak Sodor
    Gobak Sodor | Sumber gambar: popmama.com

    Gobak sodor adalah salah satu contoh permainan zaman dulu yang terkenal di zamannya. Permainan ini sangat seru karena melibatkan banyak orang.

    Sebelum memulai gobak sodor, anak-anak biasanya akan melakukan hompimpa terlebih dahulu agar tahu apakah mendapatkan giliran mengejar atau dikejar.

    Permainan gobak sodor cukup sederhana. Jika dikejar, kamu dan teman satu tim harus bergerak cepat agar tim lawan tidak bisa menangkapmu. Jika mengejar, kamu dan temanmu harus menangkap tim lawan. 

    Baca Juga : Permainan Gobak Sodor: Asal-usul dan Cara Memainkannya

    2. Lompat Karet

    Lompat Karet
    Lompat Karet | Sumber gambar: ceknricek.tv

    Dua puluh tahun lalu, lompat karet adalah permainan yang paling sering terlihat pada saat jam istirahat di halaman sekolah SD. 

    Bahkan, lompat karet menjadi salah satu permainan tradisional yang eksistensinya cukup terjaga hingga saat ini.

    Biasanya, lompat karet dimainkan oleh perempuan. Namun, tidak jarang juga anak laki-laki juga ikut bermain.

    Aturannya, kamu cukup melompati rintangan yang terbuat dari tali karet. Kamu harus berhasil melompati rintangan yang paling rendah hingga rintangan paling tinggi.

    3. Petak Umpet

    Petak Umpet
    Petak Umpet | Sumber gambar: goodnewsfromindonesia.id

    Rasanya, semua orang Indonesia tahu permainan satu ini. Petak umpet adalah permainan tradisional yang paling terkenal. 

    Permainan petak umpet bisa dimainkan oleh dua hingga puluhan orang. Satu anak harus berjaga sambil menutup mata. Selama menutup mata, anak yang bertugas sebagai penjaga harus berhitung dari 1 sampai 10 sebelum membuka matanya.

    Selama penjaga berhitung, anak-anak lain harus mencari tempat sembunyi dengan cepat agar tidak ketahuan. Ketika penjaga sudah berhitung hingga 10 dan membuka mata, anak yang jadi penjaga bertugas untuk mencari temannya yang bersembunyi. 

    4. Egrang

    Egrang
    Egrang | Sumber gambar: anakbisa.com

    Egrang adalah permainan zaman dulu yang sifatnya cukup menantang karena tidak mudah untuk memainkannya.

    Keseimbangan dan ketangkasan sangat diperlukan untuk memainkannya. Egrang adalah dua tongkat berukuran panjang yang di bagian tengahnya berisi tempat pijakan kaki. Pemain egrang harus berjalan dengan tongkat tersebut dan tidak boleh jatuh.

    Namun, jika tidak terbiasa, permainan egrang ini cukup berisiko karena rentan jatuh. Jadi, anak yang ingin bermain egrang namun belum terbiasa, harus didampingi oleh yang sudah terbiasa.

    Permainan Tradisional Apa yang Pernah Kamu Mainkan?

    Ternyata, permainan tradisional tidak hanya dapat menghibur namun juga memberikan manfaat dari segi fisik, mental, dan sosial bagi anak. Permainan zaman dulu adalah hal yang pasti membekas di hati anak-anak yang memainkannya.

    Dengan tetap memainkan permainan ini, kamu ikut serta menjaga kelestarian permainan tempo dulu. Bagaimanapun juga, permainan zaman dulu memiliki nilai-nilai yang patut diterapkan. Oleh karena itu, tak ada salahnya kamu sesekali memainkan permainan ini.

  • Pengertian Masyarakat Madani, Ciri hingga Karakteristiknya

    Pengertian Masyarakat Madani, Ciri hingga Karakteristiknya

    Apakah kamu sudah mengenal istilah masyarakat madani? Pengertian masyarakat madani seringkali memiliki makna yang berbeda. Dalam bahasa Arab, madani artinya beradab atau berbudaya, orang kota, dan orang sipil atau bersifat sipil. Oleh karena itu, masyarakat madani adalah sekelompok masyarakat yang beradab.

    Namun, ada banyak pendapat mengenai definisi masyarakat madani menurut para ahli. Tidak hanya itu, ada pula ciri-ciri dan karakteristik yang membedakannya dengan tipe masyarakat lainnya. Untuk mengetahui lebih dalam seputar masyarakat madani hingga contohnya, baca terus artikel ini sampai selesai.

    Pengertian Masyarakat Madani

    Anwar Ibrahim adalah sosok yang memperkenalkan istilah masyarakat madani (civil society) di Indonesia melalui forum ilmiah pada Festival Istiqlal tahun 1995. Definisi civil society adalah sistem sosial yang subur dan berasaskan pada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dan kestabilan masyarakat.

    Sementara Nurcholis Madjid mendefinisikan pengertian masyarakat madani yang merujuk pada masyarakat Islam yang pernah dibangun Nabi Muhammad SAW di Madinah. Tidak hanya beradab, masyarakat tersebut juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan lebih maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Definisi lain terkait masyarakat madani menurut PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) adalah sekelompok masyarakat yang demokratis dan menghargai hak serta tanggung jawab manusia.

    Tujuan Masyarakat Madani

    Membangun sebuah kelompok masyarakat madani tentu dengan tujuan tertentu. Adapun beberapa tujuan dari civil society, yaitu: 

    • Menciptakan masyarakat di mana interaksinya tidak berdasarkan kelas sosialnya.
    • Menghilangkan diskriminasi dalam kehidupan sosial, sehingga semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama serta adil.
    • Menjadi kekuatan penyeimbang dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik, bersih, dan bertanggung jawab.
    • Memberikan jaminan kepada masyarakat untuk tetap merasa aman dan nyaman dalam berinteraksi, sehingga dapat bersikap terbuka dan saling percaya satu sama lain.
    • Membangun sistem pemerintahan yang memungkinkan setiap lembaga, baik lembaga hukum, sosial, dan ekonomi agar berjalan secara produktif dan menerapkan prinsip keadilan sosial.

    Karakteristik Masyarakat Madani

    Karakteristik Masyarakat Madani
    Karakteristik Masyarakat Madani | Sumber gambar: Unsplash

    Terdapat beberapa karakteristik umum mengenai masyarakat madani, yaitu:

    1. Demokrasi

    Demokrasi merupakan karakteristik yang mutlak dalam pengertian masyarakat madani. Karena masyarakat ini mewajibkan adanya partisipasi rakyat, sehingga membentuk konsep demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan konsep tersebut, yang juga diterapkan di Indonesia hingga saat ini.

    2. Pluralisme

    Karakteristik selanjutnya yaitu pluralisme. Pluralisme adalah sikap mengakui adanya kemajemukan dalam masyarakat. Karena, setiap individu dalam masyarakat tentu memiliki  karakteristik yang berbeda. Jadi, masyarakat madani wajib untuk mengakui keberagaman tersebut sebagai sesuatu yang positif.

    3. Toleransi

    Pengakuan terhadap keberagaman dalam masyarakat pun akan melahirkan sikap toleransi dari setiap individu di dalamnya. Toleransi merupakan sikap saling menghormati dan menghargai apapun yang dilakukan oleh setiap individu dengan individu lainnya dalam lingkungan sosial. 

    Pengaplikasian sikap toleransi yang tepat juga dapat membantu masyarakat agar terhindar dari diskriminasi. Oleh sebab itu, kamu perlu menanamkan sikap toleransi dalam dirimu.

    4. Ruang Publik

    Ruang publik merupakan ruang umum yang memberikan kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Adanya ruang publik memungkikan masyarakat madani untuk memiliki akses penuh terhadap setiap aktivitas publik. Misalnya, membagikan informasi, menyampaikan pendapat, berserikat, maupun berkumpul.

    5. Keadilan Sosial

    Kemudian, keadilan sosial juga selalu identik dengan pengertian masyarakat madani. Sebab, keadilan sosial memiliki tujuan untuk menciptakan keseimbangan antara kewajiban dan hak setiap individu di lingkungan masyarakat. 

    Ini juga bertujuan untuk membatasi adanya monopoli di dalam kelompok. Dengan begitu, setiap individu dalam masyarakat madani bisa mendapatkan hal yang sama, sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpinnya.

    6. Supremasi Hukum

    Supremasi hukum merupakan upaya untuk memberikan jaminan dalam menciptakan keadilan sosial. Keadilan dalam kehidupan masyarakat madani harus bersifat netral dan tidak terdapat pengecualian dalam mendapatkan kebenaran di mata hukum. 

    Sehingga, masyarakat akan sangat mengakui keberadaan hukum dan menempatkannya pada posisi tertinggi. Oleh sebab itu, ketika ada suatu konflik, maka penyelesaiannya harus sesuai dengan peraturan hukum sebagai aturan tertinggi. Jadi, setiap individu berkewajiban untuk mematuhi hukum yang berlaku di masyarakat.

    Ciri-Ciri Masyarakat Madani

    Selain karakteristik yang ideal seperti di atas, ada pula beberapa ciri khas dari masyarakat madani. Berikut ini ciri-ciri lengkapnya:

    1. Menjunjung Tinggi Nilai Sosial

    Ciri yang pertama dari masyarakat madani adalah selalu menjunjung tinggi nilai-nilai sosial. Karena setiap individu dalam masyarakat ini selalu mematuhi hukum, aturan, dan norma yang berlaku di lingkungan masyarakat.

    2. Mengutamakan Kesamaan Derajat

    Dalam kehidupan sosial, pengertian masyarakat madani juga memiliki ciri-ciri selalu mengutamakan kesamaan derajat setiap individu maupun kelompok. Sehingga, tidak ada perbedaan apapun yang membuat setiap individu memiliki posisi yang lebih tinggi maupun lebih rendah daripada individu lainnya.

    Kedudukan laki-laki dan perempuan bahkan dianggap sama atau setara. Sebab, setiap laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk memilih dalam pemilu, memberikan pendapat, dan berkesempatan menjadi seorang pemimpin.

    3. Memiliki Tingkat Peradaban yang Tinggi

    Ciri selanjutnya dari masyarakat madani adalah mempunyai peradaban yang tinggi. Dalam hal ini, peradaban masyarakat dapat dikatakan tinggi apabila telah mengakui kekuasaan tertinggi berasal dari Tuhan. 

    Tidak hanya itu, setiap individu di lingkungan masyarakat dengan peradaban tinggi pun memiliki adab dan tata krama yang sangat baik. Oleh karenanya, setiap individu selalu bisa menghormati dan menghargai satu sama lain.

    4. Ruang Publik yang Bebas

    Seperti karakteristik yang disebutkan sebelumnya, ciri lain dari pengertian masyarakat madani adalah adanya ruang publik yang bersifat bebas. Kebebasan ini berkaitan dengan penyampaian pendapat. Siapa pun anggota masyarakat, baik dari ras atau agama mana pun mempunyai hak yang sama untuk mengungkapkan pendapatnya.

    5. Terbentuk Partisipasi Publik

    Untuk membangun hubungan sosial yang baik dan adil, maka perlu adanya partisipasi dari semua individu dalam kelompok masyarakat. Jadi, tidak hanya sebagian individu saja yang berpartisipasi di ruang publik. 

    Dengan begitu, salah satu ciri dari masyarakat madani adalah adanya partisipasi di dalam setiap kegiatan yang berlangsung sesuai dengan keterampilan setiap individu. Kondisi ini tentu akan menampilkan keberagaman yang harmonis.

    Contoh Penerapan Masyarakat Madani

    Contoh Masyarakat Madani
    Contoh Masyarakat Madani | Sumber gambar: Freepik

    Beberapa perwujudan dari masyarakat madani dapat kamu lihat dari tindakan atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa contohnya:

    • Mematuhi dan menaati peraturan yang berlaku di masyarakat.
    • Tidak merendahkan orang lain atau kelompok lain.
    • Menghormati dan menghargai orang yang lebih tua.
    • Toleransi terhadap perbedaan suku, agama, dan ras.
    • Memiliki sikap saling tolong menolong dan gotong royong di masyarakat.
    • Dapat mengekspresikan dan menyuarakan pendapat di ruang publik secara bebas dan beradab.
    • Bersedia memberikan bantuan sosial kepada orang atau kelompok yang membutuhkan.

    Baca Juga : Integrasi Sosial: Pengertian, Syarat, Bentuk, Faktor, dan Contohnya

    Sudah Paham Pengertian Masyarakat Madani?

    Secara keseluruhan, masyarakat madani merupakan sekelompok orang atau orang sipil yang beradab dan berkeadilan sosial. Adapun beberapa karakteristik dari kelompok tersebut, yaitu berpartisipasi di ruang publik, demokratis, pluralisme, toleransi, menerapkan keadilan sosial, dan supremasi hukum. 

    Sementara ciri khasnya adalah memiliki peradaban yang tinggi, menjunjung tinggi nilai sosial, mengutamakan kesamaan derajat, dan terbentuknya partisipasi sosial. Jadi, apakah kamu sudah menjadi bagian dari masyarakat madani?

  • Mengenal Pengertian Individu sebagai Pribadi dan Makhluk Sosial 

    Mengenal Pengertian Individu sebagai Pribadi dan Makhluk Sosial 

    Identik dengan dualisme peran, pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial mengacu pada keinginan dan kebutuhan manusia akan dua hal tersebut. Karena individu tidak hanya mempunyai peranan yang khas dalam lingkungan sosial, melainkan sekaligus berkuasa atas tingkah laku yang spesifik dari dirinya. 

    Sebab, sebagai makhluk pribadi, manusia memerlukan sebuah privasi dalam hidupnya yang tidak diperuntukkan untuk orang lain. Sementara itu, manusia juga mempunyai hakikat untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan individu yang lainnya. Meski terdapat perbedaan, keotonomian serta kesosialan otomatis melekat dalam diri manusia dan menjadi kesatuan utuh yang tidak dapat terlepaskan. 

    Artikel ini akan mengulas tentang makna individu sebagai pribadi dan makhluk sosial, naluri yang mendasari, serta peran manusia dalam kehidupan. Yuk, simak artikel hingga akhir! 

    Apa Pengertian Individu Sebagai Pribadi dan Makhluk Sosial? 

    Pada dasarnya, manusia adalah makhluk individu sekaligus sosial yang memiliki dua kepentingan, yaitu kepentingan pribadi dan umum. Kedua kepentingan tersebut tidak bisa terpisahkan, karena telah menjadi sebuah harmoni yang mutlak. 

    Lalu, manusia secara pribadi juga berhakikat sosial. Maksudnya, manusia merupakan makhluk individu yang harus mengembangkan kemampuan dan aspek kepribadiannya sebagai syarat untuk terus dapat bertahan hidup serta beradaptasi dengan makhluk sosial lainnya.

    Lantas, apa perbedaan yang sebenarnya dari pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial?

    1. Pengertian Individu Sebagai Makhluk Pribadi

    Ilustrasi makhluk individu yang sedang bekerja sendiri
    Ilustrasi makhluk individu yang sedang bekerja sendiri | Sumber gambar: Freepik.com

    Pada hakikatnya, manusia lahir sebagai makhluk individu yang tidak terpisah serta tidak terbagi antara jiwa dan raganya. Dalam arti yang lebih luas, manusia merupakan individu yang khas menurut corak kepribadiannya. 

    Sebagai makhluk pribadi, manusia memiliki keunikan masing-masing, mulai dari unsur fisik, psikis, jasmani, hingga rohani yang membedakannya dari orang lain. Tidak hanya mempunyai karakter dan pola tingkah laku yang spesifik, seorang manusia juga memiliki peranan yang khusus dalam lingkungan sosial. 

    Maka dari itu, pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial tidak bisa terpisahkan dan selalu menjadi keutuhan yang koheren. Hal tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya manusia mempunyai kemampuan dan kebiasaan untuk bisa berkomunikasi serta berinteraksi dengan manusia lain. 

    Untuk membentuk perilaku yang selaras dengan keadaan, individu perlu mengambil jarak dan memproses karakternya secara optimal. Selain itu, karena tidak mampu hidup sendiri, manusia sebagai makhluk pribadi akan senantiasa menunjukkan bahwa kehidupannya sehari-hari masih bergantung pada orang lain. 

    Dalam praktiknya, manusia memiliki hasrat untuk hidup berdampingan dan membutuhkan bantuan orang lain, sehingga membangun kehidupan secara berkelompok. 

    Sebagai informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang setiap individu miliki tidak seluruhnya adalah hasil dari pengalaman sendiri. 

    Pada bagian ini, ilmu dari belajar dan meniru orang lain memainkan peran penting untuk melatih kemampuan individu dalam lingkungan masyarakat. Untuk memenuhi naluri ingin tahu, manusia akan mencari jawaban dan kepuasan dari kehidupan berkelompok. 

    2. Pengertian Individu Sebagai Makhluk Sosial

    Ilustrasi manusia sebagai makhluk sosial
    Ilustrasi manusia sebagai makhluk sosial | Sumber gambar: Freepik.com

    Sejatinya, pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial merujuk pada warga masyarakat. Artinya, manusia dengan kodratnya sebagai makhluk sosial tidak terlepas dari lingkungan masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa menjalankan hidupnya sendiri. 

    Bahkan, manusia seringkali tidak mampu memenuhi seluruh aspek kebutuhan secara mandiri. Ketidakberdayaan manusia ini yang membuatnya senantiasa bergantung dengan individu lain untuk membantu dalam pemenuhan kebutuhan dan tujuan hidup yang sebenarnya.

    Tidak pandang bulu terhadap kedudukan, kekayaan, atau berbagai perbedaan yang ada, manusia akan selalu memerlukan bantuan dari manusia lainnya. Adanya timbal balik dan proses interaksi sosial antara manusia tersebut membuktikan bahwa manusia memang tidak bisa melepaskan pengaruh orang lain. 

    Lebih jauh, peran serta pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial ternyata terjadi sedari lahir, yang muncul bersamaan dengan makhluk individu. Karena bayi yang baru lahir pun tidak akan bisa bertahan hidup sendiri tanpa bantuan dari orang tua yang merawatnya. 

    Kebutuhan akan kehadiran orang lain ini nantinya terus berlanjut selama seorang manusia masih hidup di dunia. Dengan posisi manusia sebagai makhluk sosial, maka kemudian terbentuk hukum, kaidah perilaku, dan kerja sama antar kelompok yang lebih besar.      

    Baca Juga : Mengenal Macam-Macam Nilai Sosial, Ciri dan Contohnya

    3 Naluri Dasar Individu sebagai Pribadi dan Makhluk Sosial

    Ilustrasi naluri keberlanjutan penghidupan manusia dari generasi ke generasi
    Ilustrasi naluri keberlanjutan penghidupan manusia dari generasi ke generasi  | Sumber gambar: Freepik.com

    Manusia merupakan makhluk sosial yang menunjukkan perwujudan nyata dari naluri manusia sebagai makhluk individu, seperti:   

    1. Naluri untuk Kelangsungan Hidup

    Pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial dari segi naluri kehidupan mengacu pada proses kelangsungan hidup manusia demi memperoleh berbagai macam kebutuhan fisiologis. Naluri tersebut mendorong manusia untuk mencari makanan dan tempat berlindung yang aman.  

    2. Naluri Reproduksi

    Erat kaitannya dengan hal berbau reproduksi, pengertian naluri individu sebagai pribadi dan makhluk sosial, yaitu berusaha memenuhi kebutuhan biologis manusia melalui perkawinan. Naluri ini melibatkan hasrat untuk berkembang biak dan mempertahankan keberlanjutan penghidupan keturunan spesies manusia. 

    3. Naluri Sosial

    Tidak dapat dipungkiri, setiap manusia pasti memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya, baik dari lingkungan alam atau sosial. 

    Maka, pengertian naluri individu sebagai pribadi dan makhluk sosial satu ini memainkan peran dalam membentuk identitas, norma, nilai, dan etika untuk lintas generasi. Jadi, hal tersebut memungkinkan manusia untuk hidup dalam kelompok, saling membantu, serta membagi ilmu pengetahuan dan pengalaman.  

    Peranan Individu sebagai Pribadi dan Makhluk Sosial dalam Kehidupan  

    Sebagaimana pembahasan sebelumnya, manusia adalah makhluk individu yang memiliki beberapa unsur, seperti jasmani, rohani, fisik, psikis, raga, dan jiwa. Karena berkaitan dengan peran manusia dalam kehidupan, keseluruhan unsur tersebut tidak dapat terbagi dan harus terjaga sebagai wujud kesatuan yang utuh, 

    Pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial dari sisi peranannya mengacu pada pemenuhan segala macam kebutuhan manusia dengan maksimal. Manusia sebagai makhluk individu juga berperan menjaga dan mempertahankan harkat martabat yang ia miliki.

    Pada implementasinya, manusia tidak harus selalu mengharap imbalan orang lain atas kepentingan pribadi. Maka dari itu, manusia terus berupaya untuk memenuhi setiap hak dasar untuk segenap potensi dirinya, baik dari segi rohani maupun jasmani. 

    Meski begitu, bentuk apresiasi kepada diri sendiri ternyata juga berpengaruh dalam pemberian sumbagsih yang baik terhadap kehidupan makhluk individu lainnya.          

    Di sisi lain, manusia juga mempunyai hasrat sosial yang tinggi untuk selalu hidup berdampingan dengan individu yang lain. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari sifat alami manusia yang tidak memungkinkan hidup tanpa adanya proses interaksi dengan manusia lain.

    Pada bagian ini, pengertian individu sebagai pribadi dan makhluk sosial menunjukkan kejelasan peran manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Peran tersebut dapat terlihat pada saat individu melakukan kegiatan sosialisasi sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pokok, agar tetap bisa berinteraksi dengan masyarakat.   

    Selain itu, manusia berperan sebagai looking glass self atau pihak yang selalu terpengaruh oleh manusia lainnya.  Maksudnya, peran manusia sebagai makhluk sosial yaitu untuk menjadi cermin alias bahan acuan orang lain untuk menilai dirinya sendiri. 

    Terlebih lagi, kehadiran norma dan peraturan yang mampu menjadi pedoman bertingkah laku dan meminimalisir terjadinya perpecahan dalam tubuh masyarakat luas. Dengan begitu, hubungan sosial tersebut bisa menghadirkan kondisi masyarakat yang tertib dan teratur. 

    Baca Juga : 8 Manfaat Gotong Royong dan Contoh Penerapan Sehari-hari

    Sudah Tahu tentang Pengertian Individu sebagai Pribadi dan Makhluk Sosial?  

    Pada intinya, manusia adalah makhluk individu sekaligus sosial yang mempunyai kesempatan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat. Karena tidak mungkin hidup sendiri, manusia akan selalu melakukan interaksi dengan individu lain sebagai bentuk kebutuhan yang paling mendasar. 

    Kendati demikian, manusia tidak melupakan jati dirinya sebagai seorang individu yang berhak bahagia dan bertanggung jawab penuh atas perbuatannya yang sesuai dengan norma masyarakat. 

  • 10 Tradisi dan Upacara Adat Jawa Tengah yang Masih Lestari 

    10 Tradisi dan Upacara Adat Jawa Tengah yang Masih Lestari 

    Tak hanya sarat akan makna, tradisi dan upacara adat Jawa Tengah juga kental dengan nuansa budaya. Meski zaman telah modern, ritual sakral dari Jawa Tengah tersebut masih berdiri dengan kokoh serta menjadi penanda identitas dan kekayaan peninggalan budaya.   

    Sebagai bentuk kesenian, ritual adat ini adalah warisan turun temurun yang dilakukan berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat. Tujuan dari setiap upacara pun berbeda-beda, tergantung dari konteks peristiwa. Ada yang diadakan untuk pernikahan dan kelahiran, ada pula yang berperan dalam mengenang kematian seseorang.

    Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai tradisi dan ritual adat Jawa Tengah yang keberadaannya masih eksis hingga kini. Harapannya, kamu dapat menumbuhkan sikap apresiasi dan toleransi yang tinggi terhadap kearifan lokal yang ada. Yuk, simak artikel ini hingga akhir!    

    Daftar Tradisi dan Upacara Adat Jawa Tengah yang Tetap Eksis   Hingga Kini

    Berikut ini adalah 10 tradisi dan ritual adat Jawa Tengah yang perlu kamu ketahui: 

    1. Upacara Adat Jawa Tengah Tingkeban

    Tingkeban
    Tingkeban | Sumber gambar: GNFI

    Merupakan ritual terakhir sebelum kelahiran, Tingkeban adalah upacara adat Jawa Tengah yang berperan untuk memperingati 7 bulan kehamilan. Hakikat dari Tingkeban yaitu menolak bala serta mendoakan ibu dan calon bayi, supaya sehat dan selamat hingga hari kelahiran tiba. 

    Tak hanya mengandung makna solidaritas primordian yang berkaitan dengan adat istiadat yang sudah turun menurun, Tingkeban juga berfungsi sebagai sarana untuk menghilangkan rasa kecemasan seorang ibu pada masa kandungan.  

    Meski pelaksanaan Tingkeban saat kehamilan baru memasuki usia tujuh bulan, namun waktu ritual adat Jawa Tengah ini harus berdasarkan hari baik yang sesuai dengan ketentuan masyarakat Jawa. 

    Adapun, rangkaian pertama dari Tingkeban yaitu dengan siraman atau mandi, yang merupakan simbol penyucian jiwa dan raga.

    Pada saat memandikan, akan ada acara pengguyuran yang harus tujuh orang tua atau sesepuh dari pihak keluarga lakukan. Langkah selanjutnya, yakni pembacaan doa yang bisa memberikan keberkahan pada sang jabang bayi. 

    2. Upacara Adat Jawa Tengah Wetonan

    Ilustrasi tumpeng sebagai bentuk perayaan Wetonan
    Ilustrasi tumpeng sebagai bentuk perayaan Wetonan | Sumber gambar: GNFI  

    Memiliki nama lain Wedalan, upacara adat Jawa Tengah ini merupakan bentuk perayaan untuk memperingati hari kelahiran seseorang yang sesuai dengan pasaran dalam kalender Jawa. 

    Sementara makna dari upacara Wetonan, yaitu untuk mendoakan bayi supaya terhindar dari marabahaya serta memperoleh umur panjang dan keberkahan.   

    Pelaksanaan upacara Wetonan ini, yaitu tepatnya ketika bayi telah menginjak usia 35 hari. Nantinya, pada hari Weton, keluarga bayi akan menyiapkan berbagai macam suguhan sebagai ungkapan rasa syukur dengan mengadakan upacara Nyelapani. 

    Istilah Nyelapani sendiri berasal dari kata dasar selapan yang artinya sama dengan satu bulan dalam perhitungan Jawa (selapan = 35 hari). Adapun, perhitungan tersebut berdasarkan kombinasi penanggalan Masehi dengan perhitungan hari di penanggalan Jawa.

    Adanya gabungan perhitungan Jawa nantinya akan menghasilkan penyebutan hari yang khas, seperti Senin Pon, Selasa Wage, Rabu Kliwon, Kamis Legi, dan lain sebagainya. Selanjutnya, upacara Wetonan dalam masyarakat Jawa ini berlaku setiap 35 hari sekali. 

    3. Upacara Tedak Siten

    Tedak Siten
    Tedak Siten | Sumber gambar: news.detik.com

    Dalam tradisi Jawa, orang tua melakukan ritual Tedak Siten saat bayi telah mencapai usia tujuh atau delapan bulan. Upacara adat Jawa Tengah ini bertujuan sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi, tempat anak mulai belajar menginjakkan kaki di tanah. 

    Selain menggambarkan doa dan harapan orang tua kepada buah hati tercinta, Tedak Siten juga bermakna sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan yang telah memberikan keturunan istimewa. Tak hanya itu, Tedak Siten juga mengilustrasikan kesiapan dari sang anak dalam menghadapi masa depan yang sukses. 

    Lebih lanjut, penyelenggaran ritual sakral  tersebut umumnya pada pagi hari, berdasarkan tanggal dan hari kelahiran anak. 

    Pada prosesnya, Tedak Siten menggunakan persembahan yang melambangkan doa kepada Tuhan. Harapannya, untuk menjadikan putra atau putri mereka sebagai anak yang kelak berguna bagi siapapun.     

    4. Upacara Ruwatan

    Upacara Ruwatan
    Upacara Ruwatan | Sumber gambar: Kompas.com

    Identik dengan ritual penyucian, Ruwatan adalah upacara adat Jawa Tengah yang tetap  dilakukan oleh sebagian masyarakat suku Jawa dan Bali. Dalam bahasa Jawa, istilah ruwat mempunyai arti yang sama dengan kata luwar atau melepaskan. 

    Karena berasal dari cerita pewayangan, masyarakat percaya bahwa penyelenggaraan upacara Ruwatan berfungsi untuk mengusir hawa jahat dari buto ijo. Kemudian, selain meminta keselamatan, makna dari Ruwatan yaitu sebagai sarana pembebasan seseorang dari jeratan hukuman atau kutukan yang membawa sial. 

    5. Upacara Adat Jawa Tengah Nyadran

    Masyarakat membawa makanan tradisional pada upacara Nyadran
    Masyarakat membawa makanan tradisional pada upacara Nyadran | Sumber gambar: menpan.go.id

    Tahukah kamu? Ada begitu banyak upacara adat Jawa Tengah pada bulan suci Ramadhan. Nyadran atau Sadranan merupakan salah satu upacara adat yang tercipta dari proses akulturasi antara budaya Jawa dengan agama Islam. 

    Tak hanya menghormati leluhur, pelaksanaan Nyadran berguna sebagai upaya pelestarian tradisi yang turun menurun. Maka tak heran, beberapa perantau sengaja melakukan mudik untuk tetap bisa mengikuti upacara ini.  

    Sebagai informasi, masing-masing wilayah di Jawa mempunyai ciri khas tersendiri dalam penyelenggaraan upacara Sadranan. Umumnya, masyarakat melakukan upacara adat Jawa Tengah ini pada bulan Sya’ban atau Ruwah, dengan mengunjungi makam leluhur dan keluarga secara kolektif. 

    Tujuannya tidak lain untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggalkan dunia terlebih dahulu, sekaligus mengingatkan manusia tentang kematian yang begitu nyata. Menariknya, terdapat kegiatan kenduri, yang mana masyarakat membawa berbagai makanan tradisional, seperti apem, kolak, dan ketan.    

    6. Tradisi Syawalan

    Tradisi Syawalan
    Tradisi Syawalan | Sumber gambar: Kompas.com

    Bagi masyarakat Jawa Tengah, Syawalan merupakan tradisi yang umum dilakukan selama tujuh hari usai perayaan hari raya Idul Fitri. Masyarakat setempat menjuluki  upacara adat Jawa Tengah ini dengan nama tradisi Lebaran Ketupat. Hal tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya mayoritas hidangan yang tersaji saat lebaran adalah ketupat. 

    Selain itu, tradisi Syawalan mempunyai makna sebagai pertemuan dalam menjalin silaturahmi antar umat manusia yang berisi ikrar saling memaafkan antara beberapa pihak. 

    Pada prosesnya, masyarakat akan melakukan kegiatan halal bi halal dengan mendatangi rumah orang yang mereka kenal untuk meminta maaf dan saling memaafkan.

    Di Jawa Tengah sendiri, ada dua acara Syawalan Keraton yang cukup populer, yaitu Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo. 

    Meski sama-sama sebagai perwujudan rasa syukur, namun terdapat perbedaan diantara keduanya. Karena Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta memiliki tujuh gunungan. Sementara itu, Grebeg Syawal Keraton Solo hanya mempunyai dua jenis gunungan saja 

    Baca Juga : 5 Macam Rumah Adat Jawa Tengah Paling Unik dan Ciri Khasnya

    7. Tradisi Merti Desa

    Kirab Merti Desa
    Kirab Merti Desa | Sumber gambar: panjatan.kulonprogokab.go.id

    Kerap disebut bersih desa, Merti Desa atau Merti Dusun merupakan upacara adat Jawa Tengah yang bermakna rasa syukur yang mendalam terhadap karunia Tuhan. Karunia tersebut berupa rejeki melimpah yang meliputi panen, keselamatan, ketentraman, dan keselarasan hidup yang masyarakat peroleh sepanjang tahun. 

    Usut punya usut, banyak desa di wilayah Jawa yang masih menerapkan tradisi Merti Dusun sesudah panen raya dengan baik. Meski begitu, waktu pelaksanaan dari Merti Desa juga bisa berdasarkan penanggalan bulan Sapar, Dzulkaidah, dan hari pasaran Jawa yang lainnya.  

    Untuk mewujudkannya, warga secara gotong royong melakukan bersih-bersih lingkungan desa serta membuat kenduri sembari berdoa mengucap syukur kepada sang Pencipta. Kendati demikan, Merti Desa tidak mempunyai tanggal dan bulan yang pasti, karena adanya perbedaan regulasi di setiap tahun.   

    8. Tradisi Larung Sesaji 

    Tradisi Larung Sesaji
    Tradisi Larung Sesaji | Sumber gambar: GNFI

    Menjadi tradisi yang masih membudaya hingga sekarang, Larung Sesaji merupakan upacara adat Jawa Tengah yang sarat akan mitos dan magic. Masyarakat memaknai Larung Sesaji untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas keselamatan dan segala nikmat rezeki yang melimpah ruah. 

    Tradisi Larung Sesaji juga bermakna sebagai tindakan religi dengan paham animisme dan dinamisme yang kuat. Di beberapa daerah, tradisi ini diadakan setiap tahun oleh masyarakat pesisir pantai.  

    Biasanya, masyarakat akan menghanyutkan beberapa bahan makanan yang berupa hasil panen dan hewan sembelihan ke lautan dengan menggunakan perahu. 

    Meski terdapat beberapa perbedaan pada penggelaran ritual sakral ini, akan tetapi setiap daerah sama-sama memiliki tujuan yang serupa, yaitu untuk melestarikan nilai-nilai leluhur budaya bangsa. 

    9. Upacara Brobosan

    Keluarga melakukan upacara Brobosan
    Keluarga melakukan upacara Brobosan | Sumber gambar: Kompas.com

    Berbeda dengan upacara adat Jawa Tengah yang lainnya, Brobosan adalah salah satu rangkaian ritual kematian. Dalam arti yang lebih luas, Brobosan merupakan tradisi penghormatan terakhir kepada jenazah sebelum melepaskannya ke keabadian. Tidak hanya sebatas jenazah, tetapi juga kepada leluhur yang telah meninggal lebih dulu.  

    Pada praktiknya, keluarga terdekat harus menerobos melewati bawah peti jenazah yang tengah diangkat tinggi-tinggi. Mulai dari sebelah kanan, kiri, depan, hingga kembali ke sebelah kanan. Kemudian, para kerabat yang lain akan membantu menyiapkan ubo rampe atau sesajen.  

    Setelah ubo rampe sudah siap, akan ada sesi pidato dari pihak keluarga yang berisi permohonan maaf mewakili seseorang yang meninggal. Lalu, pidato diakhiri dengan doa dan Brobosan. Adapun, tujuan dari Brobosan yaitu supaya anggota keluarga yang ditinggalkan dapat melupakan kesedihan yang mendalam. 

    10. Tradisi Mendak Kematian

    Seseorang melakukan Mendak Kematian di makam
    Seseorang melakukan Mendak Kematian di makam | Sumber gambar: Idntimes.com 

    Secara harfiah, Mendak Kematian merupakan acara memperingati kematian setelah satu tahun. Upacara adat Jawa Tengah ini bermula dari rangkaian mitung dina (tujuh hari), matang puluh dina (empat puluh hari), nyatus dina (seratus hari), dan mendak pertama (satu tahun). 

    Salah satu elemen penting dari Mendak Kematian yaitu proses penyiraman atau pembersihan makam yang melibatkan air, bunga, dan berbagai simbol keagamaan.  Tujuannya, untuk menunjukkan penghormatan, kesedihan, dan harapan untuk roh almarhum atau almarhumah. 

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

    Sudah Tahu Tentang Tradisi dan Upacara Adat Jawa Tengah? 

    Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, tradisi dan upacara adat Jawa Tengah, mulai dari Tingkeban sampai Mendak Kematian memang penting untuk dilakukan. 

    Hal tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya ritual adat Jawa Tengah berperan sebagai penggerak dalam kehidupan sosial suatu masyarakat dan berguna bagi kemaslahatan masyarakat itu sendiri.  

    Kehadiran ritual adat dan tradisi tak hanya sebagai momentum perayaan peristiwa vital saja, melainkan juga dapat menjadi destinasi unggulan bagi para wisatawan yang ingin merasakan pengalaman spiritual dan budaya yang otentik secara langsung. 

    Maka dari itu, generasi penerus harus senantiasa melakukan pelestarian ritual adat nenek moyang yang berkelanjutan, supaya kearifan lokal tersebut tetap terjaga dan tidak mudah tergerus oleh arus modernisasi.  

  • Mengenal 10 Manusia Tertua di Dunia dan Rahasianya, Simak!

    Mengenal 10 Manusia Tertua di Dunia dan Rahasianya, Simak!

    Kamu mungkin telah mendengar kisah inspiratif tentang manusia tertua di dunia. Mereka adalah saksi hidup sepanjang perjalanan sejarah manusia dan memiliki kebijaksanaan yang tak ternilai. Di artikel ini, kita akan menjelajahi sepuluh manusia yang telah mencapai usia yang mengagumkan. Mari simak hingga akhir!

    10 Manusia Tertua di Dunia

    Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari para ‘senior’ di seluruh dunia. Karena mereka telah melewati beberapa zaman sekaligus, sehingga mereka adalah saksi sejarah yang akurat. Daftar 10 manusia yang hidup paling lama di dunia, yaitu:

    1. Maria Branyas Morera (116 tahun)

    Maria Branyas Morera
    Maria Branyas Morera | Sumber: Kompas.com

    Lahir di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada 4 Maret 1907, Maria Branvas Morera adalah salah satu supercentenarian.

    Pada tahun 1931, Maria menikah dan memiliki tiga anak. Namun, puncak kisah hidupnya adalah ketika ia memasuki usia senja. Pada tahun 2000, pada usia 93 tahun, ia pindah ke panti jompo di Olot, Catalonia, Spanyol. Keluarganya menggunakan perangkat suara-ke-teks untuk berkomunikasi dengannya. 

    Maria juga terkenal karena selamat dari COVID-19 pada usia 113 tahun, meskipun kemudian kalah dari Lucile Randon dari Prancis. Ia menjadi orang tertua yang mendapatkan vaksinasi COVID-19 dan telah mencetak banyak rekor usia di Spanyol, Eropa, dan seluruh dunia.

    Beberapa rahasia panjang umur Maria, yaitu:

    • Hidup tenang dan teratur.
    • Menjalin hubungan baik.
    • Berinteraksi dengan alam.
    • Menjaga emosi tetap stabil.
    • Tidak memiliki penyesalan.

    2. Fusa Tatsumi (116 tahun)

    Fusa Tatsumi
    Fusa Tatsumi | Sumber: elbuho.pe

    Manusia tertua di dunia yang kedua adalah Fusa Tatsumi. Kelahiran Tatsumi pada 25 April 1907 telah divalidasi oleh Gerontology Research Group (GRG). Ia memulai kehidupannya di Prefektur Osaka, Jepang, dan tumbuh menjadi seorang yang cekatan. Ia memiliki beragam minat, seperti seni teh, rangkaian bunga, dan Okoto.

    Pada usia 32 tahun, ia menikah dan membentuk keluarga, yang terdiri dari dua anak. Tatsumi terkenal karena bekerja di kebun keluarganya, yang penuh dengan buah-buahan seperti persik, plum, dan anggur, hingga usia sekitar 55 tahun.

    Lalu, setelah berpindah ke panti jompo di Kashiwara, Osaka, Jepang, Tatsumi menjadi orang tertua di Jepang dan Asia. Rahasia panjang umur Tanaka adalah makan makanan enak dan belajar. Soal makanan, Tanaka paling menyukai soda dan coklat.

    3. Edie Ceccarelli (115 tahun)

    Edie Ceccarelli
    Edie Ceccarelli | Sumber: www.ukiahdailyjournal.com

    Edith “Edie” Ceccarelli adalah seorang supercentenarian Amerika yang saat ini menempati peringkat ketiga sebagai manusia tertua di dunia. 

    Edith Ceccarelli lahir pada tahun 1908 di Willits, California, Amerika Serikat, sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara. Setelah menikah, ia pindah ke Santa Rosa, California, dan kemudian kembali ke Willits setelah suaminya pensiun. Ia menjalani dua operasi penggantian pinggul pada usia 109 tahun dan 111 tahun.

    Rahasia umur panjang Ceccarelli cukup unik, yaitu anggur merah dan ‘uruslah urusanmu sendiri’.

    4. Tomiko Itooka (115 tahun)

    Tomiko Itooka
    Tomiko Itooka | longeviquest.com

    Manusia tertua di dunia yang keempat adalah Tomiko Itooka, seorang supercentenarian asal Jepang. 

    Itooka lahir di Kota Osaka, Prefektur Osaka, pada 23 Mei 1908, menjadi anak kedua dari tiga bersaudara. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke sekolah putri dan bergabung dengan klub bola voli. Menikah pada usia 20 tahun, ia memiliki dua putri dan dua putra.

    Di usia senjanya, ia melanjutkan dengan aktivitas yang luar biasa, termasuk mendaki gunung dan mengikuti perjalanan spiritual ke kuil-kuil bersejarah. Ia mencapai usia 110 tahun pada Mei 2018 dan terus memecahkan rekor usia dengan merayakan ulang tahunnya yang ke-115 pada Mei 2023.

    5. Inah Canabarro Lucas (115 tahun)

    Inah Canabarro Lucas
    Inah Canabarro Lucas | Sumber: gerontology.fandom.com

    Seorang supercentenarian dari Brasil bernama Inah Canabarro Lucas, saat ini menjadi manusia tertua di dunia di Amerika Latin. Ia juga menjadi biarawati terlama yang masih hidup di dunia.

    Canabarro Lucas lahir pada 8 Juni 1908 di Sao Francisco de Assis, Rio Grande do Sul, Brasil. Ia memiliki awal hidup yang sulit, menjadi anak ketiga dengan tubuh kurus yang membuat banyak orang meragukan kelangsungan hidupnya.

    Selain itu, ia menerima dosis vaksin COVID-19 pertamanya pada usia 112 tahun, menjadi salah satu orang tertua yang mendapatkan vaksinasi. Ia berpegang pada keyakinannya pada Tuhan sebagai kunci umurnya yang panjang.

    6. Juan Vicente Perez Mora (114 tahun)

    Juan Vicente Perez Mora
    Juan Vicente Perez Mora | Sumber: www.catholicnewsagency.com

    Manusia tertua di dunia yang keenam adalah Juan Vicente Perez Mora. Ia merupakan seorang supercentenarian asal Venezuela yang telah diakui oleh Guinness World Records. Saat ini, ia memegang gelar orang tertua dari Venezuela sekaligus pria tertua di dunia.

    Perez Mora lahir pada 27 Mei 1909, dan menjalani masa kecil yang berat di Venezuela. Mulai dari bekerja di ladang pada usia sangat muda hingga memulai pendidikannya dengan buku pemberian seorang guru. Lalu, ia menikah pada tahun 1938 dan memiliki sebelas anak.

    Saat ini, Perez Mora tinggal di San Jose de Bolivar, Tachira, Venezuela. Rahasia umur panjang Perez Mora, yaitu:

    • Kerja keras
    • Tidur awal
    • Minum segelas aguardiente setiap hari
    • Mencintai Tuhan
    • Selalu membawa Tuhan di dalam hati

    7. Elizabeth Francis (114 tahun)

    Elizabeth Francis
    Elizabeth Francis | Sumber: lifestyle.kompas.com

    Seorang supercentenarian Amerika bernama Elizabeth Francis, menduduki posisi sebagai manusia tertua di dunia yang masih hidup di negara bagian Texas. Lahir pada 25 Juli 1909 di St. Mary Parish, Louisiana, ia kemudian pindah ke Houston, Texas. Pada tahun 1970-an, ia mengelola kedai kopi di stasiun TV Houston, KTRK-TV.

    Elizabeth Francis memiliki tiga cucu, empat cicit, dan dua cicit cucu hingga Februari 2021. Saat ini, di usia 114 tahun, ia tinggal bersama putrinya Dorothy di Houston, Texas.

    Rahasia umur panjangnya ialah dengan tidak mengonsumsi alkohol dan rokok sambil mempertahankan pola makan yang tidak dibatasi.

    8. Ethel Caterham (114 tahun)

    Ethel Caterham
    Ethel Caterham | Sumber: longeviquest.com

    Manusia tertua di dunia yang kedelapan adalah Ethel Caterham. Ia merupakan seorang supercentenarian dari Inggris yang saat ini merupakan orang tertua yang masih hidup di Britania Raya. Ia juga menjadi satu-satunya individu yang lahir pada 1909 yang masih hidup di Inggris.

    Selain itu, Caterham merupakan salah satu dari sedikit orang yang selamat dari COVID-19 pada usia 110 tahun. Caterham lahir di Shipton Bellinger, Hampshire, Inggris, dan tumbuh besar di Tidworth, Wiltshire. Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara dan memiliki saudara yang hidup hingga usia 104 tahun.

    Saat ini, ia tinggal di panti jompo di Ash Vale, Surrey. Rahasia umur panjang Caterham, yaitu:

    • Katakan ‘ya’ pada setiap peluang
    • Mental positif
    • Lakukan segala sesuatu secukupnya
    • Temukan hobi
    • Jalin pertemanan melalui hobi

    9. Okagi Hayashi (114 tahun)

    Okagi Hayashi
    Okagi Hayashi | Sumber: longeviquest.com

    Seorang supercentenarian Jepang bernama Okagi Hayashi, lahir di desa Tsumagi, Prefektur Gifu, Jepang, pada 2 September 1909. Ayahnya adalah seorang pedagang gandum. Setelah lulus dari sekolah dasar, ia masuk Nakatsu Girls’ High School.

    Di awal usia 20-an, Hayashi menikahi seorang guru sekolah dasar. Mereka tinggal di Prefektur Hokkaido sampai anak pertamanya lahir, dan kemudian kembali ke Kota Toki di mana ia mengambil alih bisnis grosir gandum keluarganya. Pasangan ini memiliki sembilan anak.

    Ia sangat berhati-hati tentang kesehatannya sejak pertengahan hidupnya, seperti minum jus hijau buatannya sendiri setiap pagi dan berolahraga bersama suaminya. Sampai dia berusia 80-an, dia menikmati perjalanan ke pemandian air panas dan berkebun bersama teman-temannya sejak sekolah.

    Selain itu, Hayashi berlatih kaligrafi sampai ia berusia 90-an. Dia tinggal bersama keluarganya di rumahnya sampai berusia 105 tahun. Pada September 2019, ia merayakan ulang tahun ke-110 dan menjadi seorang supercentenarian. Saat itu, ia memiliki delapan anak yang masih hidup, 22 cucu, 39 cicit, dan lima cicit cucu.

    Menariknya, salah satu manusia tertua di dunia  ini pada usia 112 tahun, ia masih bisa membaca koran dan menikmati bermain permainan teka-teki. Saat ini, Okagi Hayashi tinggal di Tsumagicho, Kota Toki, Prefektur Gifu, Jepang, pada usia 114 tahun 51 hari.

    10. Pearl Berg (114 tahun)

    Pearl Berg
    Pearl Berg | Sumber: spectrumnews1.com

    Manusia tertua di dunia yang ada pada daftar terakhir adalah Pearl Louise Berg, seorang supercentenarian Amerika. Saat ini, ia adalah orang kedua tertua yang masih hidup di negara bagian California, AS. Ia juga orang Yahudi tertua yang masih hidup di dunia.

    Pearl Berg mengklaim bahwa ia lahir di New Orleans, Louisiana, AS, pada 14 Februari 1910. Namun, penelitian selanjutnya membuktikan bahwa kelahiran sebenarnya adalah 1 Oktober 1909 di Evansville, Indiana, AS.

    Orangtua Berg adalah Archie dan Anna (née Gerson) Synenberg, yang memiliki keturunan Polandia dan Rusia. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pittsburgh, Pennsylvania, AS. Lalu, Berg pindah ke Los Angeles, California bersama keluarganya pada tahun 1930.

    Ia menjadi anggota Temple Israel pada tahun 1937 dan terus menghadiri layanan gereja tersebut sesekali, biasanya selama Hari Raya Yahudi. Selain itu, ia menikah dengan Mark Berg pada 16 Desember 1931, dan memiliki dua anak, yakni Alan dan Robert.

    Ia juga aktif dalam Sisterhood Temple Israel sebagai penulis catatan kepada keluarga yang berduka atas nama gereja. Ia terus melakukannya hingga usia 105 tahun. Pada bulan Oktober 2019, Berg berusia 110 tahun.

    Saat ini, ia tinggal di rumahnya sendiri di lingkungan Los Feliz di Los Angeles, California, AS, pada usia 114 tahun. Lalu, ia pun mengaku tidak mempunyai tips atau rahasia khusus untuk umur panjangnya.

    Baca Juga : Inilah Manfaat Hidup Rukun di Rumah, Masyarakat, dan Sekolah

    Sudah Belajar Tips Hidup dari 10 Manusia Tertua di Dunia?

    Jadi daftar orang tertua di dunia, yaitu mulai dari Maria Branyas Morera yang berusia 116 tahun hingga Pearl Berg berumur 114 tahun. Faktanya, orang-orang yang hidupnya mencapai ratusan tahun, tentu memiliki banyak pengalaman berharga untuk kita ambil pelajaran. Maka dari itu, kamu bisa mengikuti rahasia umur panjang dari masing-masing supercentenarian, agar hidupmu lebih sehat dan bermakna. Selamat mencoba!