Author: Reskia Ekasari

  • Apakah Kepiting Haram atau Halal? Begini Menurut Islam

    Apakah Kepiting Haram atau Halal? Begini Menurut Islam

    Apakah kepiting haram? Pertanyaan seperti ini sering diutarakan oleh umat muslim, khususnya yang masih bingung mengenai halal atau haramnya hewan kepiting untuk dikonsumsi. 

    Untuk menjawab hal ini, tentu kita tidak bisa sembarangan karena tanpa dasar ilmu dan pengetahuan yang tepat, kita akan terjerumus ke hal yang salah. Termasuk salah mengonsumsi apa yang memang diharamkan oleh Allah SWT. 

    Lantas, bagaimana dengan kepiting? Apakah hewan ini termasuk haram untuk kita konsumsi sebagai seorang muslim? Mari kita bahas selengkapnya pada informasi berikut ini. 

    Apakah Kepiting Haram atau Halal?

    Sebelumnya, sebagai muslim kita perlu pahami bahwa pada asalnya seluruh makanan yang ada di muka bumi adalah halal. Kecuali beberapa makanan yang memang telah diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. 

    Dalam hal ini kita bisa melihat kembali firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah, yaitu: 

    هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

    Artinya: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” [al Baqarah/2:29].

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

    Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” [al Baqarah/2:168].

    Berdasarkan hal ini, kita tidak boleh mengharamkan makanan atau menghalalkan makanan sesuka hati, kecuali yang memang telah Allah SWT haramkan di dalam kitab-Nya atau melalui lisan para Rasul-Nya.  

    Hal ini berlaku juga untuk melihat hukum memakan kepiting. Kita tidak bisa memutuskan perihal kehalalan atau keharamannya tanpa dalil dari Sunnah dan Kitab. Karena jika hal ini terjadi, kita sudah termasuk berdusta atas nama Allah SWT. 

    وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

    Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [an-Nahl/16:116].

    Sejauh ini, melansir dari berbagai sumber yang ada tidak ada ayat ataupun hadits yang mengatakan bahwa kepiting haram atau mengharamkan kepiting. Lalu, bagaimana sampai bisa ada anggapan bahwa kepiting haram?

    Selama ini di buku-buku dan pelajaran sekolah, diajarkan bahwa binatang yang hidup di dua alam (darat dan laut) termasuk ke golongan haram. Mungkin dari sinilah asal muasal munculnya anggapan bahwa kepiting haram. 

    Akan tetapi, orang yang mengatakan bahwa kepiting haram harus bisa menunjukkan dalil yang jelas mengenai hal ini. Jika tidak ada, maka hal ini kembali lagi ke hukum asal makanan yang ada di seluruh muka bumi, yaitu halal.

    Baca juga: 4 Pilar Akhlak Mulia dalam Islam sebagai Sumber Utama Perilaku Terpuji

    Pendapat MUI (Majelis Ulama Indonesia) Tentang Kepiting 

    MUI atau Majelis Ulama Indonesia juga pernah mengeluarkan fatwa mengenai kepiting. Hal ini terjadi karena banyak perdebatan ulama mengenai status hukum jika seorang muslim memakan kepiting. 

    Sumber dari perbedaan pendapat ini adalah fakta bahwa kepiting dianggap sebagai hewan yang hidup di dua habitat yaitu laut dan darat. Dari sinilah para ulama memiliki perbedaan sikap dan tidak jarang berselisih mengenai hal ini. 

    Akan tetapi, fatwa MUI mengenai kepiting dikeluarkan dengan mempertimbangkan banyak hal. Bahkan fatwa tersebut tidak hanya merujuk dari Al-Qur’an, hadits, dan literatur fiqih semata. 

    Lebih dari itu, komisi fatwa MUI pun sudah bekerja sama dengan LPPOM MUI atau Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia. 

    Bahkan juga menjadikan penelitian dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB sebagai referensi dan rujukan. Dari berbagai sumber, kerjasama, dan keterangan tersebut barulah komisi fatwa MUI bisa mengeluarkan fatwa yang tepat.

    Komisi fatwa MUI, berpendapat bahwa kepiting yang dikonsumsi di Indonesia tidak ada yang hidup atau berhabitat di dua alam. Artinya, tidak ada yang hidup di darat sekaligus hidup di air. 

    Lebih lanjut lagi, dalam fatwa tersebut kepiting yang memang biasa masyarakat Indonesia konsumsi hanya hidup di air saja. Baik itu air tawar maupun laut. Hal ini pun didasarkan dari ciri fisik kepiting tersebut. 

    Seperti bertelur di air, bernafas dengan insang, berhabitat di air, dan membutuhkan oksigen di dalam air. Nah, dari dasar inilah hukum mengkonsumsi kepiting berdasarkan fatwa MUI adalah halal selama tidak membahayakan tubuh.

    Bahaya Mengonsumsi Makanan yang Haram 

    Sebagai seorang muslim, perlu kita pahami bahwa sesungguhnya ada bahaya yang besar untuk memakan makanan yang tidak halal atau haram. Bahaya tersebut adalah terhalangnya doa dan ancaman keras di akhirat. 

    1. Terhalangnya Doa 

    Ketika terlalu banyak memakan makanan haram, doa bisa terhalang. Hal ini berdasarkan pesan Rasulullah SAW kepada sahabatnya, Sa’d RA. Berikut adalah pesan tersebut:

      يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا   

    Artinya: “Wahai Sa‘d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari” (Sulaiman ibn Ahmad, al-Mu‘jam al-Ausath, jilid 6, hal. 310).

    2. Ancaman Keras di Akhirat 

    Mengonsumsi makanan yang haram juga membuat kita mendapatkan ancaman yang keras di akhirat nanti. Apa ancaman tersebut? Jawabannya tentu adalah siksa api neraka. Hal ini bisa kita rujuk dari hadits yang berbunyi: 

      كُلُّ لَحْمٍ وَدَمٍ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِمَا  

    Artinya: “Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya” (HR Al-Thabrani).

    Jadi kesimpulannya, apakah kepiting haram? Jawabannya adalah kepiting hukumnya halal. Setelah mengetahui hal ini harapannya, kita sebagai muslim bisa lebih tenang mengkonsumsinya. Semoga bermanfaat!

  • Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Fakir dan Miskin Beserta Penjelasannya

    Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Fakir dan Miskin Beserta Penjelasannya

    Dalam ajaran Islam, masalah sosial dan kemanusiaan mendapat perhatian yang sangat besar. Salah satu aspek yang sering dibahas adalah kondisi orang-orang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, mencakup perbedaan fakir dan miskin.

    Artikel ini akan membahas perbedaan antara fakir dan miskin dalam Islam, serta merujuk pada dalil-dalil dari Al-Qur’an yang relevan.

    Namun, perlu kita pahami bahwa dalam Islam, ada perbedaan antara fakir dan miskin.

    Fakir dalam Pengertian Islam

    Kata “fakir” dalam bahasa Arab berasal dari kata “faqara,” yang artinya adalah “kehilangan” atau “kekurangan.”

    Dalam konteks Islam, seorang fakir adalah seseorang yang hidup dalam keadaan kekurangan ekonomi dan dia tidak memiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan tanggungan yang dimiliki.

    Fakir seringkali tidak memiliki harta yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, termasuk makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya.

    Dalil Tentang Fakir

    Al-Qur’an mengacu pada kata “fakir” dalam beberapa ayat yang menyoroti pentingnya memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Contoh salah satunya adalah dalam Surat Al-Baqarah ayat 267 yang berbunyi:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ

    Yā ayyuhallażīna āmanū anfiqụ min ṭayyibāti mā kasabtum wa mimmā akhrajnā lakum minal-arḍ, wa lā tayammamul-khabīṡa min-hu tunfiqụna wa lastum bi`ākhiżīhi illā an tugmiḍụ fīh, wa’lamū annallāha ganiyyun ḥamīd.

    Artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

    Ayat ini menekankan pentingnya memberikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan dan mengingatkan bahwa Allah SWT adalah Maha Kaya. Hal ini agar kita tidak takut menjadi miskin karena bersedekah di jalan Allah SWT.

    Selain itu, terdapat juga sabda Rasulullah SAW yang berdoa kepada Allah SWT agar dilindungi dari kefakiran dengan bunyi:

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekafiran, kekurangan, dan kehinaan, dan aku berlindung kepada-Mu dari (kondisi) didzalimi dan mendzalimi orang lain.” (HR. Ibnu Majjah dan Hakim dari Abu Hurairah).

    Baca juga: Masa Iddah: Pengertian, Jenis, Hak, Larangan, dan Hikmahnya

    Miskin dalam Pengertian Islam

    Kata “miskin” dalam bahasa Arab adalah “faqeer,” yang juga berasal dari kata “faqara.” Dalam konteks Islam, miskin adalah bahwa miskin adalah mereka yang memiliki kekurangan ekonomi tetapi masih memiliki sedikit harta atau sumber daya.

    Hal ini membuktikan mereka masih bisa memenuhi beberapa kebutuhan dasar. Namun, dari harta itu tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan mereka sehingga masih sulit untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.

    Dalil Tentang Miskin

    Rasulullah SAW juga bersabda terkait definisi miskin sebagaimanya bunyinya:

    ليسَ المِسْكِينُ الذي يَطُوفُ علَى النَّاسِ تَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ واللُّقْمَتَانِ، والتَّمْرَةُ والتَّمْرَتَانِ، ولَكِنِ المِسْكِينُ الذي لا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، ولَا يُفْطَنُ به، فيُتَصَدَّقُ عليه ولَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

    Artinya:

    “Orang miskin bukan hanya yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain lalu mereka diberi makanan sesuap atau dua suap, atau sebiji-dua biji kurma. Namun orang miskin adalah orang yang tidak mendapatkan kecukupan untuk menutupi kebutuhannya. Dan ia tidak menampakkan kemiskinannya sehingga orang-orang bersedekah kepadanya, dan ia juga tidak meminta-minta kepada orang lain” (HR. Bukhari No. 1479 dan Muslim No. 1039)

    Perlu kita catat bahwa hadits diatas adalah orang miskin yang “muta’affif” atau menjaga kehormatan sesuai yang diriwayatkan:

    ولَكنَّ المسْكينَ المتعفِّفُ وفي زيادةٍ ليسَ لَهُ ما يستغني بِهِ الَّذي لا يسألُ ولا يُعلمُ بحاجتِهِ فيتصدَّقَ عليْهِ

    Artinya:

    “Orang miskin yang muta’affif (menjaga kehormatan) adalah yang tidak mendapatkan kecukupan untuk menutupi kebutuhannya. Dan ia tidak meminta-minta, tidak menampakkan kemiskinannya sehingga orang-orang bersedekah kepadanya”. (HR. Abu Daud No. 1632).

    Perbedaan Fakir dan Miskin dalam Islam

    Jika ditelaah lebih lanjut, tentunya terdapat banyak perbedaan fakir dan miskin yang bisa kita ketahui. Hal ini tentunya karena perbedaan dasar, seperti kekurangan atas dasar untuk memenuhi kebutuhan.

    Berikut ini beberapa perbedaan utama antara fakir dan miskin dalam Islam:

    1. Kekurangan Ekonomi yang Lebih Parah

    Perbedaan fakir dan miskin yang utama dalam Islam adalah tingkat kekurangan ekonomi. Fakir adalah mereka yang hidup dalam keadaan yang lebih parah, di mana mereka tidak memiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an dengan bunyi:

    أَوْ مِسْكِيناً ذا مَتْرَبَةٍ

    Artinya:

    “… atau orang miskin yang fakir,” (QS. Al Balad: 16).

    Dalam ayat ini menjelaskan Allah SWT sifati kemiskinan dengan matrabah, yaitu kefakiran. Selain itu, ayat ini juga menunjukkan bahwa ada orang miskin yang fakir dan ada orang miskin yang tidak fakir. Sehingga fakir lebih parah dari miskin.

    Miskin, di sisi lain, mungkin memiliki beberapa harta atau sumber daya yang bisa mereka gunakan, tetapi masih membutuhkan bantuan.

    أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

    Artinya:

    “Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al-Kahf: 79).

    Menunjukkan bahwa orang miskin masih memiliki harta yang berharga (semisal perahu) untuk mencari penghidupan. Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial yang perlu kita berikan kepada mereka juga berbeda.

    Dalam Islam, fakir memiliki prioritas lebih tinggi dalam hal penerimaan sedekah, karena mereka hidup dalam kondisi yang lebih sulit. Miskin juga berhak menerima sedekah, tetapi karena mereka masih memiliki beberapa sumber daya.

    2. Hak Sosial dan Kewajiban Berzakat

    Dalam hukum Islam, ada konsep zakat yang adalah kewajiban keagamaan bagi umat Islam untuk memberikan sebagian dari kekayaan mereka kepada mereka yang membutuhkan, terutama kepada fakir dan miskin.

    Zakat memiliki persyaratan khusus terkait dengan jumlah harta dan jenis harta yang dimiliki oleh seseorang. Oleh karena itu, perbedaan fakir dan miskin memiliki peran penting dalam pembagian zakat.

    Al-‘Allamah Al-Buhuti rahimahullah menjelaskan dalam bukunya “Kasyful Qina” pada halaman 2:239:

    “Dan tidak boleh memberikan zakat kecuali kepada orang yang diketahui pasti bahwa ia termasuk yang berhak menerimanya, atau disangka kuat ia termasuk yang berhak menerimanya. Maka disini dibutuhkan pengetahuan yang pasti sehingga muzakki bisa dikatakan lepas dari tanggungan zakat. Atau sangkaan kuat yang kadarnya selevel dengan ilmu, jika memang ada uzur dan kesulitan untuk memastikan”.

    3. Sifat Khusus

    Meskipun ada perbedaan dalam tingkat kekurangan ekonomi, baik fakir maupun miskin dalam Islam adalah mereka yang layak mendapatkan perhatian, bantuan, dan dukungan dari umat Muslim.

    Mereka dihargai dan dihormati dalam masyarakat Muslim dan membantu mereka adalah salah satu tugas utama dalam ajaran Islam bagi kita yang memiliki harta dan kemampuan yang cukup.

    Perbedaan fakir dan miskin tentunya sudah sangat jelas dalam hukum Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam menjadi ajaran yang sangat sempurna. Selain itu, sudah seharusnya kita membantu orang lain dengan cara bersedekah.

  • Kisah Nabi Ayub AS, Teladan Kesabaran terhadap Ujian

    Kisah Nabi Ayub AS, Teladan Kesabaran terhadap Ujian

    Allah SWT melalui Al-Qur’an telah menceritakan beberapa kisah nabi dan rasul sebagai pembelajaran bagi kita. Kisah-kisah ini memberikan inspirasi, meningkatkan iman, dan memberikan petunjuk. Salah satunya kisah Nabi Ayub yang diuji kesabarannya.

    Nabi Ayub terkenal dengan kesabarannya yang luar biasa. Awalnya, Nabi Ayyub a.s. sehat, memiliki harta berlimpah, keluarga, dan banyak keturunan.

    Namun, semua yang dimilikinya diambil satu per satu oleh Allah sebagai bentuk ujian Nabi Ayub.

    Kisah Nabi Ayub, Sabar Menghadapi Ujian yang Luar Biasa

    Allah berkehendak untuk menurunkan ujian kepada hamba-Nya, tidak terkecuali Nabi dan Rasul-Nya. Pada Nabi Ayub, Allah mendatangkan ujian berupa penyakit menular dan kehilangan harta benda serta keluarganya. 

    Bagaimana Nabi Ayub dengan penuh kesabaran menghadapi ujian dari Allah SWT? Berikut kisah ujian yang dihadapi Nabi Ayub a.s.:

    1. Hilangnya Harta Kekayaan

    Ayah Nabi Ayub adalah seorang yang sangat kaya. Dia memiliki berbagai jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kambing, kuda, dan keledai. Di wilayah Syam, tidak ada yang bisa menyamai kekayaannya. 

    Setelah ayahnya meninggal, seluruh kekayaannya diwariskan kepada Nabi Ayub. Akhirnya, Nabi Ayub pun merupakan orang yang kaya raya sekaligus dermawan.

    Nabi Ayub dipilih oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran kepada umatnya di daerah Hauran dan Tih. Selama misinya, ia menyampaikan berbagai syariat agama dan membangun masjid untuk kaumnya. 

    Di rumahnya, ia juga memiliki beberapa meja makan yang disediakan untuk fakir miskin, tamu, dan orang-orang yang membutuhkan. Ia senang melakukan perbuatan baik seperti membantu anak yatim, para janda, dan memuliakan setiap tamunya.

    Meskipun kekayaannya terus bertambah, Nabi Ayub tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Dia selalu berzikir dan menyebut nama Allah. 

    Namun, hal itu membuat iblis merasa cemburu dan akhirnya berusaha merusak kebahagiaan Nabi Ayub. Akhirnya iblis naik ke langit ke tujuh dan berkata kepada Allah

    “Tuhanku, sungguh Ayub rajin menyembah-Mu karena Engkau telah memberi keleluasaan hidup dan kesehatan. Kalau sekiranya tidak, tentu dia tidak akan menyembah-Mu.”

    Allah berfirman, “Hai, iblis terkutuk! Kamu pendusta, sesungguhnya Aku lebih mengetahui bahwa Ayub akan tetap menyembah dan bersyukur kepadaKu meskipun dia tidak mempunyai keleluasaan.”

    Mendengar hal tersebut, iblis hendak menggoda Nabi Ayub. Lalu, Allah memberikan izin kepada iblis untuk menguji kesabaran Nabi Ayub. Iblis mengumpulkan pasukan dan merusak rumah serta harta kekayaan Nabi Ayub. Segala kekayaannya tiba-tiba lenyap. 

    Ribuan hewan ternak yang dimilikinya mati secara mendadak. Sementara itu, gudang gandumnya habis terbakar, dan hasil panen dari kebunnya mengering. 

    Akibatnya, Nabi Ayub menjadi sangat miskin dan hidup dalam kesengsaraan. Bahkan, istrinya harus bekerja agar bisa membeli makanan dan merawat Nabi Ayub.

    Baca juga: 10 Dalil Mengenai Hukum Judi dalam Islam, Simak!

    2. Kehilangan Keturunan

    Kisah Nabi Ayub berlanjut saat iblis mulai mengancam nyawa anak-anaknya yang saat itu berada di rumah saudara tertuanya, Hurmula. Pada saat itu, iblis merusak rumah tersebut yang mengakibatkan kematian mereka semua.

    Atas kelakukan tersebut, iblis pun segera mendatangi Nabi Ayub. Lalu iblis berkata, “Hai, Ayyub, lihatlah! Tuhanmu telah merobohkan rumah anakmu hingga anak-anakmu mati. Apakah kamu masih tetap menyembah-Nya?”

    Nabi Ayub pun dengan tegas menjawab, “Hai, iblis terkutuk! Allah yang memberi saya, lalu mengambilnya pula dari saya. Semua harta dan anak adalah ujian bagi manusia. Sekarang Allah telah mengambilnya dari saya sehingga saya bisa bersabar dan tenang untuk beribadah kepada-Nya.”

    Seperti itulah Allah SWT menguji Nabi Ayub dengan ujian berupa kehilangan keturunannya.

    3. Menderita Penyakit Menular

    Dari kedua kisah Nabi Ayub mengenai ujiannya, ternyata iblis masih belum puas. Pada usia 51 tahun, Nabi Ayub diuji kesehatan fisiknya. Ia terserang penyakit kulit yang sangat parah yang menyebabkan keluarnya nanah dari seluruh tubuhnya. 

    Ujian penyakit menular yang diderita Nabi Ayub telah diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

    وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Wa ayyụba iż nādā rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

    Artinya:

    “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya’: 83).

    Kabar tentang penyakitnya tersebar. Akhirnya Nabi Ayub diasingkan. Cobaan ini berlangsung selama 18 tahun, tetapi Nabi Ayub tidak pernah mengeluh. 

    Ia terus bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Bersamaan dengan itu, Nabi Ayub juga terus berusaha dan berobat untuk mencari penyembuhan dari penyakitnya.

    Pada saat menderita penyakit ini, Nabi Ayub hanya tinggal berdua bersama istrinya di pinggiran negeri. Istri Nabi Ayub merupakan contoh istri yang baik. Bahkan ketika suaminya bangkrut dan menderita sakit, ia tetap setia mendampinginya.

    Sang istri berkata kepada Nabi Ayub, “Wahai kekasih Allah, sudah 18 tahun engkau tidak pernah berdakwah lagi. Bagaimana jika engkau meminta kepada Allah untuk menyembuhkan penyakitmu, lalu engkau bisa pergi berdakwah lagi.”

    Mendengar hal tersebut, Nabi Ayub enggan meminta kesembuhan kepada Allah. Nabi Ayub merasa malu lantaran ia mendapat nikmat sehat yang lebih lama daripada saat diberi cobaan sakit selama 18 tahun itu.

    Namun, pada suatu ketika Nabi Ayub akhirnya berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi kesembuhan. Allah menjawab doa Nabi Ayub melalui firman-Nya sebagai berikut.

    ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

    Urkuḍ birijlik, hāżā mugtasalum bāriduw wa syarāb

    Artinya: 

    “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (Q.S Shad: 42).

    Allah memancarkan air, Nabi Ayub kemudian mandi dengan air tersebut. Setelah mandi, ia sembuh dan kondisi fisiknya bahkah jauh lebih baik dari sebelumnya. Hal ini dijelaskan juga dalam Al-Qur’an berikut:

    وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

    Wa wahabnā lahū ahlahụ wa miṡlahum ma’ahum raḥmatam minnā wa żikrā li`ulil-albāb

    Artinya: 

    “Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S Shad: 43).

    Lalu Allah SWT meminta Nabi Ayub berjalan keluar sehingga masyarakat melihat bahwa ia sudah sembuh. Esok paginya, masyarakat beramai-ramai membawakannya hadiah. Alhasil, kekayaan Nabi Ayub dikatakan lebih banyak daripada 20 tahun lalu.

    Baca juga: Hukum Menjual Najis, Tinja, Lele yang Makan Tinja, dan Pupuk Kandang

    Hikmah Ujian Nabi Ayub

    Apa saja yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ayub tersebut? Setidaknya ada tiga hal penting yaitu sebagai berikut.

    1. Sabar dalam Menghadapi Cobaan

    Nabi Ayub dikatakan merupakan manusia paling sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Selama 18 tahun ia menderita penyakit menular ditambah kehilangan keluarga serta jatuh miskin. 

    Kesabaran Nabi Ayub bahkan diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

    وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَٰهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

    Wa khuż biyadika ḍigṡan faḍrib bihī wa lā taḥnaṡ, innā wajadnāhu ṣābirā, ni’mal-‘abd, innahū awwāb

    Artinya: 

    “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Q.S Shad: 44).

    Kesabaran Nabi Ayub ditunjukkan dengan sikap tidak mengeluh, tidak bersedih, dan tidak berputus asa. Bahkan, Nabi Ayub semakin mendekatkan diri dengan terus bermunajat kepada Allah SWT. 

    Dari kisah Nabi Ayub pun kita bisa mengambil pelajaran. Jika sabar menghadapi musibah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. 

    2. Ujian Datang sesuai Tingkat Ketakwaan

    Setiap individu akan mendapat ujian sesuai tingkat keimanannya. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin berat pula ujian yang mereka hadapi. Ujian ini adalah cara untuk mengukur dan memahami sejauh mana tingkat keimanan kita.

    Saat menghadapi ujian, ada empat tingkat reaksi manusia. Pertama, yang lemah, mereka cenderung mengeluh kepada orang lain dan tidak mampu menghadapi ujian dengan ketenangan. 

    Kedua, yang bersabar. Mereka menerima ujian dengan ketenangan dan sadar bahwa memang manusia pasti mendapat ujian. Ketiga, yang merasa ridha. Tingkat keimanan lebih tinggi daripada bersabar. Mereka menerima ujian dengan penuh keikhlasan. 

    Terakhir, orang-orang yang bersyukur yaitu mereka yang mampu melihat suatu musibah sebagai anugerah. Mereka bersyukur atas pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan melalui ujian tersebut.

    Bagi para nabi, ujian yang diberikan Allah SWT memang berat. Namun, yang pasti Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuan kita.

    3. Berdoa kepada Allah SWT dengan Doa yang Baik

    Mendapat ujian tersebut tidak berarti Nabi Ayub menjadi berprasangka buruk. Melainkan sebaliknya, ia tetap berprasangka baik kepada Allah. Ia menyadari bahwa semua milik Allah dan akan diambil kapanpun sesuai kehendak-Nya.

    Sebagaimana dalam Surah Al-Anbiya ayat 83-84 dijelaskan doa Nabi Ayub kepada Allah SWT. Ia tidak henti berdoa untuk kesembuhannya. Meskipun awalnya Nabi Ayub malu lantaran lebih banyak nikmat yang Allah berikan daripada 18 tahun sakitnya.

    Demikian kisah Nabi Ayub. Perjalanan Nabi Ayub menguji kesabarannya yang sangat luar biasa dalam menghadapi ujian dari Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil pelajaran berharga dan hikmah yang bisa kita terapkan.

  • Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Artikel ini akan membahas kisah nabi Saleh dan kaum Tsamud. Nabi Shaleh sendiri merupakan nabi kelima dari 25 nabi dan rasul. Ia diutus untuk mengajarkan kaum Tsamud yang ternyata masih menyembah berhala.

    Kaum Tsamud sendiri tinggal di kota Hijr, kira-kira antara Suriah dan Arab Saudi saat ini. Mereka memiliki kemajuan dalam teknologi pembangunan rumah megah memiliki kekayaan melimpah.

    Sayangnya, mereka justru menganggap berhala, lebih tepatnya patung buatan sendiri sebagai Tuhan. Tidak heran mereka sangat ingkar kepada Allah SWT. Suatu hari, seekor unta muncul. Nabi Shaleh menyuruh agar tidak membunuh unta itu.

    Jadi apakah munculnya seekor unta menjadi salah satu mukjizat Nabi Shaleh? Apakah kaum Tsamud akan sadar? Mari kita simak kisah Nabi Saleh singkat dan hikmah apa yang bisa dipetik.

    Ringkasan Kisah Nabi Saleh

    Memahami kisah dari Nabi Saleh, bisa membantu kita memahami bagaimana perjuangan serta apa saja hikmah yang bisa diperoleh dari kisahnya. Lebih lengkapnya, bisa cek di sini: 

    Nabi Saleh dan Kaum Tsamud

    Silsilah mengatakan bahwa Nabi Shaleh merupakan keturunan Nabi Nuh. Hal ini karena ayah dari Nabi Shaleh sendiri adalah Ubaid bin Jabir bin Tsamud bin Amr Bin Hisyam bin Sam Bin Nuh Alaihissalam.

    Kita melihat Tsamud dalam nama asli ayah Nabi Saleh, “Ubaid bin Jabir bin Tsamud”, artinya Tsamud memiliki keterkaitan dengan Nabi Nuh. Tsamud sendiri berasal dari keturunan kaum Ad yang beriman, lebih tepatnya kaum Nabi Hud.

    Kita harus ingat bahwa kaum Ad menjadi kaum yang menggantikan kaum Bani Rasib atau kaum Nabi Nuh. Kaum Bani Rasib sendiri binasa akibat banjir besar yang hanya menyisakan sedikit manusia.

    Kaum Ad, yaitu keturunan Sam bin Nuh, justru kembali menyembah berhala dan menjadi angkuh. Mereka menolak ajaran Nabi Hud untuk kembali menyembah Allah. Akhirnya, Allah timpakan azab berupa angin topan sangat dingin pada mereka.

    Nabi Hud dan semua orang beriman selamat karena berlindung di sebuah lembah. Setelah itu, mereka hijrah ke Hadramaut untuk memulai awal yang baru. Sementara orang-orang kafir justru binasa sampai tidak bersisa.

    Menurut penjelasan dari Ibnu Katsir, tempat tinggal kaum Ad yang selamat itu merupakan Al-Hijr. Kaum ini menjadi kaum Tsamud atau kaum Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439).

    Tentunya, kaum Tsamud memiliki keterkaitan dengan kisah nabi saleh lengkap dari lahir sampai wafat. Apa yang terjadi pada kaum Tsamud tidak jauh berbeda dari kaum Ad?

    Baca juga: 10 Kata Cinta untuk Suami dalam Islam, Romantis!

    Kaum Tsamud sebagai Kaum Ad yang Kedua

    Pada awal dari kisah Nabi Saleh, kaum Tsamud memiliki beberapa nikmat yang sangat menguntungkan. Mereka pandai mengolah tanah subur dan memiliki kekayaan melimpah dari hasil ternak serta panen.

    Tidak hanya itu, mereka juga maju dalam teknologi pembangunan. Mereka bisa mendirikan banyak bangunan dan rumah sangat megah dari tanah rata. Bangunan-bangunan itu sangat kokoh seperti istana.

    Dari situ, kita bisa lihat kaum Tsamud dalam kisah Nabi Saleh sangat menikmati kehidupan tenteram dan mewah. Mereka juga merasa aman dari segala gangguan alamiah.

    Akan tetapi, kemewahan itu justru menjauhkan mereka dari Allah SWT. Mereka akhirnya kembali menyembah dan memuja berhala. Hal ini tidak jauh dari apa yang kaum Ad lakukan.

    Menyembah berhala bukan satu-satunya hal keji yang mereka lakukan. Perbuatan maksiat lain sangat tidak asing bagi kaum Tsamud. Mereka sering sekali menindas orang miskin di tengah-tengah mereka.

    Kisah Nabi Saleh Mendapat Tugas Mendakwahi Kaum Tsamud

    Nabi Shaleh sendiri merupakan salah satu di antara kaum Tsamud. Ia sangat sedih melihat kaumnya menganggap berhala sebagai Tuhan. Saat ia dewasa, Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan menyuruh agar mereka kembali beriman.

    Munculnya Nabi Shaleh sebagai utusan Allah SWT juga menjadi pembahasan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

    Artinya:

    “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61).

    Nabi Shaleh juga ingin kaumnya selalu bersyukur karena memiliki berbagai nikmat yang mereka sangat senangi. Perkataannya menjadi abadi sebagai ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

    Artinya:

    “Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74).

    Kaum Tsamud Menolak Ajakan Nabi Shaleh

    Seperti yang kita ketahui dari kisah Nabi Saleh dan kaum Tsamud, Nabi Shaleh justru mendapat penolakan dari kaumnya sendiri. Penolakan tersebut tentu tercantum dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

    Artinya:

    “Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Q.S Hud: 62).

    Dari ayat Al-Qur’an ini, terlihat kaum Tsamud benar-benar angkuh. Mereka mempertanyakan, menolak, dan mengolok-olok Nabi Shaleh sebagai utusan Allah. Mereka justru tetap bersikukuh untuk menyembah berhala yang mereka buat sendiri.

    Suatu hari, kaum Tsamud menjadi sangat bosan dengan ajakan Nabi Shaleh. Mereka meminta dirinya untuk menunjukkan sebuah bukti kebenaran rasulnya. Ini menjadi awal dari satu lagi momen terpenting dalam cerita kisah nabi Saleh.

    Unta sebagai Bukti Mukjizat Nabi Shaleh

    Menanggapi permintaan kaum Tsamud, Nabi Shaleh berdoa secara khusyuk pada Allah SWT agar mendatangkan sebuah keajaiban. Allah SWT pun mengabulkan permohonannya itu.

    Setelah itu, Nabi Shaleh mengajak kaumnya untuk pergi ke sebuah kaki gunung. Kaum yang kafir itu justru berharap dirinya tidak bisa membuktikan sebuah keajaiban tersebut.

    Sebelumnya, mereka meminta seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil kembar 10 bulan dari sebongkah batu besar sebagai bukti mukjizat dari Nabi Shaleh. Jika benar-benar keluar, mereka akan beriman.

    Permintaan itu justru menjadi kenyataan, mengejutkan kaum Tsamud yang kafir. Seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil keluar dari sebongkah batu besar yang terbelah jadi dua di kaki gunung, persis seperti harapan mereka.

    Momen ini menjadi awal dari kisah Nabi Saleh dan untanya. Semuanya sangat terpana. Ironisnya, sebagian besar justru ingkar janji karena tidak percaya. Sebagian kecil dari kaum itu justru beriman.

    Nabi Shaleh kemudian memberi pesan secara spesifik. Ia meminta kaum Tsamud agar menjaga unta itu baik-baik. Selebihnya, ia juga berharap agar mereka tidak membunuh unta tersebut.

    Terlebih, ia juga mengatakan susu dari unta itu tidak akan habis-habis. Setidaknya, unta tersebut berhak bebas berkeliaran dan meminum air sumur bergantian dengan penduduk.

    Unta itu menjadi bagian dari momen penting kisah Nabi Saleh dan kaumnya. Pasalnya, kaum Tsamud harus tinggal berdampingan dengan unta tersebut sebagai janji pada Nabi Shaleh.

    Kaum Tsamud Membunuh Unta Mukjizat Nabi Shaleh

    Ironisnya, sebagian besar kaum Tsamud justru merasa jengkel dengan kehadiran unta itu. Binatang tersebut justru mengambil minum dari air sumur mereka. Mereka merasa ia merebut bagian dari sumur berisi air minum tersebut.

    Memasuki hari ketiga kemunculannya, unta tersebut akhirnya melahirkan seekor anak. Tetapi hal ini justru semakin membuat murka kaum Tsamud dan memicu sebuah siasat.

    Mereka menyelenggarakan sebuah sayembara untuk melancarkan siasat itu. Siapapun yang berani membunuh unta nabi Shaleh bisa mendapat sebuah hadiah besar. Secara spesifik, hadiah itu merupakan seorang gadis cantik yang akan dinikahi.

    Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif menjadi dua pemuda yang berani membunuh unta itu. Unta tersebut akhirnya mati di tangan Mushadda dan Gudar saat ia sedang berjalan menuju sumur. Ini menjadi akhir dari kisah nabi Saleh dan unta.

    Lantas apa yang terjadi dengan anak untanya? Ia kembali masuk ke dalam batu yang pernah mengeluarkan induknya itu.

    Nabi Shaleh sangat murka setelah untanya terbunuh. Kemudian, ia mendatangi kaumnya itu untuk memperingatkan bahwa azab akan datang dalam tiga hari. Sebagaimana yang tercantum pada ayat Al-Qur’an berikut:

    فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوب

    Artinya:

    “Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: ‘Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan’.” (QS. Hud: 65).

    Azab dari Allah SWT untuk Kaum Tsamud

    Kisah Nabi Saleh berlanjut setelah kaum Tsamud mendapat peringatan azab dalam tiga hari setelah membunuh seekor unta. Tiga hari itu menjadi kesempatan bagi mereka agar mereka ingin bertaubat pada Allah dan benar-benar menyesal.

    Sebaliknya, mereka tetap menolak bertaubat. Pada saat yang sama, mereka juga merasa takut dengan perkataan yang terucap Nabi Shaleh. Oleh karena itu, terdapat sekelompok orang kafir yang membuat siasat untuk membunuh Nabi Shaleh.

    Malamnya, mereka tiba rumah Nabi Shaleh untuk membunuhnya. Naas, mereka justru mendapat azab dari Allah berupa hujan batu hingga kepala pecah sebelum niat itu tercapai.

    Akhirnya, tiga hari pun berlalu. Kaum Tsamud yang kafir mendapat azab sesuai janji Nabi Shaleh. Allah memberi mereka siksaan berupa gempa bumi dahsyat dan petir menggelegar. Hanya Nabi Shaleh dan orang-orang beriman yang selamat.

    فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

    Artinya:

    “Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66).

    Semua orang kafir dari kaum Tsamud akhirnya mati dan binasa. Nabi Shaleh sempat mendatangi mayat-mayat itu. Reaksi perkataannya menjadi abadi dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

    Artinya:

    “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)

    Inilah menjadi akhir dari kaum Tsamud dari kisah Nabi Saleh.

    Hikmah dari Kisah Nabi Saleh

    Kisah kaum Tsamud yang ingkar pada ajaran Nabi Shaleh tentu mengingatkan kita akan kekuasaan Allah SWT. Terdapat pula beberapa hikmah yang bisa ambil sebagai berikut:

    1. Selalu Bersyukur

    Berdasarkan kisah Nabi Saleh yang telah kita pahami bersama, hikmah pertama memang sudah tidak asing lagi, yaitu selalu bersyukur. Kafirnya kaum Tsamud menjadi pertanda sangat tidak bersyukur dengan kekayaan yang mereka miliki.

    Dari hal ini, kita harus tahu bahwa semua ciptaan di dunia ini adalah ciptaan Allah. Tentunya, seluruh hal yang kita miliki di dunia menjadi tanda kebesaran Allah.

    2. Tidak Sombong

    Penolakan kaum Tsamud terhadap ajaran Nabi Shaleh tentu sudah menjadi pertanda bahwa mereka sombong. Kita bisa lihat mereka juga menantang Nabi Shaleh untuk membuktikan bahwa mukjizat benar-benar nyata.

    Hal ini termasuk menjadi durhaka pada Allah SWT. Kisah Nabi Saleh dan kaumnya mengingatkan agar kita selalu mendengarkan perintah para nabi dan rasul-Nya.

    3. Tidak Ingkar Janji

    Dari cerita singkat kisah Nabi Saleh, bahwa kaum Tsamud mengingkari janji. Lebih tepatnya, sebagian besar dari mereka masih menolak beriman. Bahkan tanpa ragu sekalipun mereka sampai membunuh unta ajaib dari mukjizat Nabi Shaleh.

    Peristiwa terbunuhnya unta itu dan azab pada kaum Tsamud menjadi pengingat bahwa kita harus selalu menepati janji sesuai kesepakatan. Jika tidak, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.

    Demikianlah pembahasan kisah Nabi Saleh dan mukjizatnya.

  • Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Ibnu Taimiyah merupakan figur yang menarik banyak perhatian. Beliau adalah seorang ulama besar yang terkenal sebagai sosok kontroversial.

    Beliau disebut sebagai ulama paling cerdas pada masanya. Bahkan, belum ada yang menyamai beliau dalam hal hafalan, ilmu, dan amalan. Hasil pemikiran Ibnu Taimiyah menjadi warisan yang sangat berarti bagi umat Islam.

    Mari kita kenali lebih lanjut tentang sosok Ibnu Taimiyah.

    Masa Muda Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah bernama Syaikhul Islam Al Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi.

    Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 661 H, di Haron. Negeri tersebut terletak di antara negeri Syam dan Iraq.

    Saat berusia 7 tahun, beliau dan ayahnya pindah ke Damaskus untuk melarikan diri dari pasukan Tartar. Pasukan tersebut berasal dari bangsa Mongol yang memerangi kaum muslimin.

    Ibnu Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang kaya akan ilmu, fiqih, serta agama. Pasalnya, ayah, saudara, kakek, dan banyak dari paman beliau merupakan ulama terkenal.

    Salah satunya yaitu kakek pertama beliau, Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyyah Majdud Diin yang menuliskan Al Muntaqo min Al Ahadits Al Ahkam dan banyak kitab lainnya.

    Berkat lingkungan tersebut, beliau pun dapat menuntut ilmu sejak dini dari ayahnya. Beliau juga telah hafal Al-Qur’an pada usia sebelum baligh.

    Selain itu, Ibnu Taimiyah juga menuntut ilmu dari ulama-ulama Damaskus. Kecerdasan dan kemampuan hafalannya yang luar biasa juga terlihat sejak usia belia.

    Beliau pun mempelajari hadits, fiqih, tafsir, dan ilmu ushul. Ibnu Taimiyah mendalami berbagai ilmu secara intensif, sehingga telah diakui ulama sejak usia muda. Bahkan Beliau sudah memenuhi syarat memberi fatwa pada usia 17 tahun.

    Pada usia itu pula Ibnu Taimiyah mulai menyusun kitab untuk pertama kalinya. Kemudian pada usia 22 tahun, Beliau mulai mengajar hadits di Damaskus. Setahun setelahnya, beliau juga mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Umayyah.

    Baca juga: Sholat Tahiyatul Masjid: Niat, Tata Cara dan Waktu Pelaksanaanya

    Karya Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah tidak menikah maupun memiliki wanita. Hal ini bukan karena beliau tidak menyukai pernikahan, melainkan karena kesibukan dalam memperdalam ilmu, berdakwah, mengajar, serta berjihad.

    Seakan tidak pernah puas dengan ilmu, Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk membaca, menelaah, dan meneliti.

    Berkat dedikasinya yang tinggi dalam belajar, beliau pun mampu menguasai berbagai macam ilmu, baik ilmu agama, tasawuf, logika, komparasi agama, hingga filsafat.

    Ibnu Taimiyah merupakan penulis yang sangat produktif. Bahkan dikatakan bahwa beliau mampu menghasilkan empat buku tiap harinya. Total jumlah tulisan yang Beliau hasilkan diperkirakan mencapai 500 jilid dengan 4.000 buku tulis atau lebih.

    Dalam sejarah Islam, belum pernah didapati orang yang menulis karya ilmiah sepertinya.

    Salah satu muridnya, al-Hafidh al-Mizzi, juga mengatakan bahwa tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengan beliau semenjak empat ratus tahun yang lalu.

    Selama menulis buku-bukunya, beliau senantiasa mengambil dari hafalan. Teknik menulisnya pun sangat mahir dan cepat.

    Sehingga hasil tulisannya sangat sempurna, baik dari penulisan, susunan pembahasan, serta adanya hujjah dan dalil pendukung.

    Berikut beberapa karya dari Ibnu Taimiyah:

    • Dar’u At-Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql: Teologi
    • Minhaj al-Sunna: Teologi Syiah
    • Al-Raad ‘ala al-Mantiqiyyin: Filsafat
    • Al-Hisba fi al-Islam: Bidang Ekonomi
    • Al-Siyasa al-Shar’iyya: Politik

    Ibnu Taimiyah menyampaikan pemikiran yang mengkritik pemahaman yang kurang sesuai dalam berbagai bidang keilmuan, seperti teologi, filsafat, dan sufiisme. Beliau juga memberikan kritikan tegas terhadap kaum Syiah dan Kristen.

    Sifat-Sifat Ibnu Taimiyah

    Selain kecerdasan dan luasnya ilmu, Allah SWT mengaruniai Ibnu Taimiyah dengan sifat-sifat terpuji.

    Kehidupan sehari-hari beliau dipenuhi dengan kesungguhan untuk memperdalam ilmu. Sampai-sampai dikatakan bahwa beliau selalu berada di antara tumpukan kitab.

    Karena selalu menyibukkan diri dalam keilmuan, Beliau tidak pernah menghabiskan waktu untuk bersenda gurau, maupun perbuatan tercela seperti menggunjing dan mengadu domba.

    Di samping giat belajar, Beliau sering beribadah dan membaca Al-Qur’an. Ulama jenius ini juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan suka membantu.

    Beliau adalah sosok yang wara’ dan zuhud, hingga hampir tidak memiliki kesenangan dunia kecuali kebutuhan pokok. Meskipun biasa mendapatkan banyak harta, beliau biasa menginfakkan seluruhnya.

    Selain itu, Beliau dikenal sebagai sosok yang karismatik dan keras dalam membela kebenaran.

    Ibnu Taimiyah sering kali ditawari untuk menjadi pejabat atau pemimpin. Namun, beliau menolaknya sembari berkata, “Carilah orang lain yang lebih cocok.”

    Sementara, ketika berhadapan dengan penguasa, beliau sering kali memberikan nasehat untuk melakukan amal ma’ruf dan menghindari perbuatan mungkar.

    Sejarah mencatat peran besar Beliau dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah seperti yang terjadi peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan.

    Jihad Ibnu Taimiyah

    Kebanyakan orang mengenal Ibnu Taimiyah sebagai ulama, ahli fatwa, dan penulis melalui karya-karyanya. Padahal, Beliau juga memiliki banyak sikap terpuji lain, bahkan ikut berjihad untuk membela Islam.

    Beliau berjihad dengan pedang maupun keilmuan. Ibnu Taiminyah ikut turun ke medan perang sambil menunggang kuda dan mengangkat pedang untuk membela kaum muslimin.

    Banyak orang yang menyaksikan kelihaian dan keberanian beliau dalam perang penaklukkan kota ‘Ukka.

    Selain itu, beliau menggunakan pemahaman agama dan keilmuannya untuk berjihad melalui pena dan lisan. Terkadang melalui perdebatan langsung, terkadang melalui tulisan.

    Disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah berdiri di depan musuh-musuh Islam bak gunung yang kokoh. Adapun musuh Islam yang dimaksud meliputi penganut berbagai agama, isme yang bathil, aliran, dan ahlul bid’ah.

    Beliau telah menghancurkan syubhat (racun pemikiran) dan mengembalikan tipu daya mereka.

    Bantahan dan kitab-kitab beliau merupakan senjata terkuat dalam menghadapi firqoh sesat dan isme yang merusak yang banyak beredar di antara masyarakat.

    Terlebih lagi, Ibnu Taimiyah hidup pada masa yang mana banyak isme batil berkuasa. Bid’ah dan kesesatan pun merebak di mana-mana.

    Ketika itu kaum muslimin juga tenah diperangi oleh pasukan Salib dan pasukan Tartar.

    Beliau telah disakiti, diusir, diperangi, dan dipenjara berkali-kali selama berdakwah. Bahkan Beliau menghadapi ajal ketika berada dalam penjara Al-Qol’ah di Damaskus.

    Wafatnya Ibnu Taimiyah

    Sudah disebutkan sebelumnya, Ibnu Taimiyah meninggal dalam keadaan dipenjara, yaitu pada malam Senin, 20 Dzulqo’dah 728 Hijriah di penjara Al Qol’ah, Damaskus.

    Saat pemakaman Beliau, seluruh penduduk Damaskus dan sekitarnya datang untuk menyolati dan mengiring jenazah. Banyak sumber mencatatkan bahwa jumlah orang yang menghadiri pemakaman beliau sangat besar.

    Hal ini menunjukkan bagaimana orang-orang merasakan kehilangan seorang ahli sunnah. Selain itu, Ibnu Taimiyah yang bersifat terpuji dan suka membantu memang sangat disukai oleh semua kalangan.

    Demikianlah kisah Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang disebut-sebut sebagai sosok jenius. Hingga sekarang pun karya-karya beliau masih memberikan banyak manfaat bagi umat Islam.

  • Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Penyebaran Islam di Nusantara bukan tanpa sebab. Ada sejumlah tokoh agama yang turut ikut dalam menyebarkan agama Islam di nusantara. Di antaranya yang cukup populer di kalangan masyarakat yakni Sunan Kalijaga.

    Sunan Kalijaga merupakan bagian dari 9 wali yang berdakwah menyebarkan agama Islam di Nusantara. 

    Perjalanan hidupnya secara turun temurun dikisahkan, baik melalui lisan maupun dengan tulisan. Kisah 9 wali yang syarat akan perjuangan dan karomah ini juga menjadi inspirasi dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam.

    Kisah Hidup Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Memiliki nama asli Raden Mas Said. Meski berasal dari Jawa Timur, beliau berdakwah dan menyebarkan agama Islam di wilayah Demak, Jawa Tengah. 

    Sunan Kalijaga cukup tersohor di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan, namanya tersebar hampir ke seluruh wilayah di Nusantara. Namanya sering ada dalam cerita sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa.

    1. Menurut Buku Atlas Walisongo (2017)

    Misalnya dalam buku Atlas Walisongo (2017) karya Agus Sunyoto. Buku tersebut menceritakan biografi dan perjalanan para Wali salah satunya Sunan Kalijaga yang merupakan putra dari Bupati atau Tumenggung Tuban Arya Wilatikta. 

    Selain dikenal dengan nama Raden Mas Said, Sunan Kalijaga juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Syaikh Melaya, Raden Abdurrahman, Lokajaya, hingga Ki Dalang Sida Brangti. 

    Kisah Sunan Kalijaga juga ada dalam ebook Sejarah Kebudayaan Islam oleh Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida. 

    Tahun kelahiran Sunan Kalijaga masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

    Baca juga: Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    2. Menurut Buku Sunan Kalijaga 

    Namun, di dalam buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karya Yoyok Rahayu. Menyebutkan bahwa Raden Said lahir sekitar tahun 1450 M. 

    Meski menjadi wali saat dewasa, cerita hidup Raden Said kecil justru tidak lazim. Diantara para wali lainnya menghabiskan masa kecil di pesantren, Raden Said kecil justru berjudi, meminum arak, dan mencuri. 

    Akibat Perilakunya tersebut, keluarga Raden Said yang merupakan keluarga terpandang, harus menanggung malu. Alhasil keluarga mengusirnya dari rumah. Kenakalan Raden Said justru semakin menjadi, hingga merampok dan membunuh.

    3. Menurut Serat Walisana Asmarandana Pupuh XIX

    Kisah kelam masa kecil Raden Said ini, termuat dalam Serat Walisana dalam Asmaradana Pupuh XIX. 

    Hingga pada suatu waktu, Raden Said Mencuri di rumah salah seorang lelaki tua yang ternyata beliau adalah Sunan Bonang. Alih-alih merampok, pertemuannya dengan Sunan Bonang justru membuat Raden Said bertaubat.

    Dari sinilah awal mula, Raden Said belajar tentang agama Islam dan kemudian ikut berdakwah dan menyebarkannya. 

    4. Menurut Buku Mengenal 9 Wali (2018)

    Sebenarnya masa kelam Raden Said sebagai seorang pencuri bukan tanpa sebab. Dalam buku Mengenal 9 Wali (2018) karya Susilarini menyebutkan tindakan Raden Said itu bentuk penolakan terhadap ketimpangan di Tuban.

    Para petani kecil dan rakyat jelata tercekik karena kemarau panjang yang melanda. Sementara pemerintah kadipaten justru menarik pajak yang besar kepada mereka. 

    Raden Said kemudian mencuri harta pungutan pajak tersebut, untuk dibagikan kepada para petani dan rakyat jelata. Perbuatan ini, ia sadari sebagai perbuatan yang salah setelah bertemu dengan Sunan Bonang.

    Raden Said yang memiliki nama lain Sunan Kalijaga, menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga sendiri menggunakan media seni dan kebudayaan. 

    Oleh karena itu, penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga cukup berhasil dengan menggunakan cara yang halus. Tidak langsung berdakwah mengajak untuk masuk Islam, tapi melalui media kebudayaan.

    Masyarakat saat itu, masih sangat kental dengan seni dan kebudayaan daerah masing-masing. Terlebih pulau Jawa yang memiliki banyak seni dan budaya. Dari sisi inilah Sunan Kalijaga masuk dan berdakwa untuk mengenalkan Islam.

    Baca juga: Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Asal Julukan Sunan Kalijaga?

    Nama Sunan Kalijaga berasal dari sebuah dusun yang terletak di daerah Cirebon yakni Dusun Kalijaga. Pasalnya Sunan Kalijaga yang juga merupakan sahabat Sunan Gunung Jati pernah tinggal dan menetap di sana.

    Namun, statement ini muncul di kalangan masyarakat yang sering mengaitkan nama seseorang dengan nama daerah. 

    Muncul banyak versi mengenai julukan Sunan Kalijaga sendiri. Ada juga yang menyebutkan julukan Sunan Kalijaga karena ia pernah bertapa di tepi sungai selama bertahun-tahun.

    Gurunya sendiri yakni Sunan Bonang, yang memintanya untuk menjaga tongkat yang ditancapkan di pinggir kali. Oleh karena itu, ia mendapat julukan “Kali Jogo”. Hingga saat ini julukan tersebut melekat.

    Kisah Cinta Sunan Kalijaga

    Banyak kisah yang menyebutkan kalau Sunan Kalijaga pernah menikah dengan Nyi Roro Kidul. Kisah ini bermula saat Sunan Kalijaga melawan Prabu Siliwangi. 

    Prabu Siliwangi terkenal sakti saat melawan pasukan kerajaan Cirebon. Tidak satupun utusan kerajaan cirebon yang dapat menandingi kesaktian Prabu Siliwangi. Bahkan, Pangeran Arya Kemuning dan Dewi Nyimas Gandasari.

    Sunan Kalijaga yang saat itu menjadi murid Sunan Gunung Jati, meminta saran kepada gurunya itu. Kemudian, Sang Guru mendapat petunjuk untuk melawan Prabu Siliwangi, ia harus menggunakan Tombak Karera Reksa.

    Sebuah tombak sakti yang milik Dewi Nawang Wulan atau Nyi Roro Kidul. Tanpa berpikir panjang, Sunan Kalijaga berangkat untuk meminjam Tombak Karera Reksa tersebut.

    Setelah menemui sang Ratu Pantai Selatan, Sunan Kalijaga justru meminta untuk bertemu dengan Raja Panatagama sebutan bagi Raja Cirebon saat itu.

    Pasalnya, sang Dewi Nawang Wulan memiliki rasa terhadap Sunan Kalijaga. Ia pun berkata tidak akan memberikan tombak itu pada siapapun kecuali pada suaminya. 

    Lantaran sang Guru memerintahkan untuk mendapatkan tombak tersebut, Sunan Kalijaga akhirnya menikah dengan Dewi Nawang Wulan. Dengan pusaka tersebut akhirnya Sunan Kalijaga dapat mengalahkan kesaktian Prabu Siliwangi.

    Akhir cerita, Sunan Kalijaga tidak hanya mengalahkan Prabu Siliwangi. Akan tetapi, ia juga yang mengantarkan Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam.

    Silsilah Sunan Kalijaga

    Mengenai silsilah Sunan Kalijaga ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa ia merupakan keturunan arab. Ada juga yang menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga keturunan cina, serta ada yang mengatakan keturunan jawa asli.

    Di dalam Babad Tuban, kakek Sunan Kalijaga bernama Aria Teja yang memiliki nama asli Abdurrahman. Kemudian Abdurrahman menikahi putri Adipati Tuban, Aria Dikara. 

    Abdurrahman menggantikan mertuanya sebagai Adipati Tuban dan berganti nama menjadi Aria Teja. Dari pernikahannya, mereka memiliki anak bernama Aria Wilatikta. 

    Di dalam buku Le Hadhramaut et les Colonies Arabies dans l’Archipel Indien” (1886), menyebutkan kalau Sunan Kalijaga merupakan keturunan arab. 

    Garis silsilah tersebut, mengatakan Sunan Kalijaga memiliki keturunan yang berasal dari paman Nabi Muhammad Abbas bin Abdul Muthalib. Hal ini diperkuat oleh H.J., Dee Graaf yang membenarkan Babad Tuban. 

    Kisah Wafatnya Sunan Kalijaga

    Dari berbagai sumber tidak ada yang pasti kapan wafatnya Sunan Kalijaga. Namun, para ahli sejarah mengatakan beliau wafat sekitar tahun 1580 M. Para ahli mengatakan ia wafat karena menderita sakit. 

    Sementara itu, makam Sunan Kalijaga juga masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa makam Sunan Kalijaga berada di Demak Jawa Tengah dan ada pendapat lain yang mengatakan makannya berada di Cirebon, Jawa Barat. 

    Namun, meski ada dua pendapat yang berbeda. Umumnya orang yang ingin berziarah, mengunjungi makam Sunan Kalijaga yang berlokasi di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. 

    Media Dakwah Sunan Kalijaga

    Apa saja media dakwah yang pernah digunakan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam, berikut rangkumannya:

    1. Seni Suara

    Sebagai seorang yang juga menggemari seni. Sunan Kalijaga mahir menyanyikan dan menciptakan tembang. Salah satu tembang ciptaannya yang masih populer hingga saat ini adalah Lir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.

    Dalam setiap tembang yang tercipta. Beliau selalu menyelipkan dakwah dan syiar agama. Bahkan beberapa liriknya juga terdapat sholawat yang sangat merdu berpadu dengan nada jawa. 

    Dari caranya yang halus dan nyaman, banyak orang yang tertarik untuk ikut belajar agama Islam. Bahkan mereka berbondong-bondong untuk memeluk agama Islam.

    2. Seni Wayang

    Media berikutnya yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwa yakni wayang. Wayang sendiri merupakan kesenian khas jawa, yang terbuat dari kulit kerbau yang keringkan. 

    Kemudian wayang ini berbentuk menyerupai beberapa tokoh atau peran, dalam cerita pewayangan. Kisah pewayangan umumnya berasal dari cerita Hindu atau Buddha.

    Namun, Sunan Kalijaga menyelipkan nilai keIslaman dalam pertunjukan wayangnya. Pertunjukan yang ia gelar juga tanpa memungut biaya, yang tentunya menjadi hiburan gratis dan menarik banyak perhatian masyarakat.

    Dengan banyak menyelipkan sentuhan Islam dalam tokoh maupun cerita, Sunan Kalijaga berhasil membuat masyarakat jawa banyak masuk Islam. Sehingga, saat pertunjukan selesai banyak masyarakat yang mengucap dua kalimat syahadat.

    Baca juga: Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    3. Seni Ukir

    Sunan Kalijaga tidak pernah kehabisan ide untuk berdakwah dengan cara-cara yang halus. Ia menggunakan berbagai macam media kesenian, salah satunya adalah seni ukir.

    Sebagai orang jawa yang memiliki bakat seni, ia memanfaatkan bakatnya tersebut untuk menyebarkan agama Islam. Ia mengenalkan seni ukir yang melafadzkan ayat-ayat Al-Quran atau sentuhan indah tentang Islam lainnya. 

    Cara ini berhasil mengenalkan Islam lebih luas. Bahkan, dari seni ukir ini kisah atau perjuangan Sunan Kalijaga bisa terekam dengan jelas hingga saat ini. 

    4. Seni Berpakaian

    Media seni berikutnya yakni seni berpakaian. Orang Jawa jaman dulu tidak mengenal yang namanya aurat. Para wanita biasanya hanya mengenakan kemben. Hadirnya Sunan Kalijaga kemudian memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat.

    Selain mengajarkan tentang pentingnya menutup aurat bagi wanita, Sunan Kalijaga juga mengenalkan pakai batik dan pakaian takwa. Ia bahkan menciptakan motif batiknya sendiri. 

    Pakaian takwa adalah pakaian yang menutupi ketentuan aurat laki-laki. Perpaduan dengan pakaian khas jawa, gaya berpakaian Sunan Kalijaga masih sangat populer hingga saat ini. 

    Karomah Sunan Kalijaga

    Selain terkenal sebagai seorang wali yang melakukan pendekatan Islam dengan penuh toleransi, Sunan Kalijaga juga dikenal seorang wali yang memiliki banyak karomah. Berikut beberapa karomah atau hal mulia yang ia lakukan:

    1. Sholat Jumat di Tempat yang Berbeda

    Salah satu murid kesayangan Sunan Bonang ini, memiliki karomah pernah sholat jumat di tempat yang berbeda dalam satu waktu. Hal seperti ini mungkin terlihat mustahil bagi orang awam, tapi tidak bagi seorang wali seperti Sunan Kalijaga.

    Namun, banyak saksi mata yang mengatakan hal ini benar terjadi. Sunan Kalijaga pernah sholat jumat di lokasi yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, konon katanya ia pernah sholat di Jawa dan di Makkah dalam satu waktu.

    2. Tidak Mempan Dibakar

    Kisah Nabi Ibrahim A.S yang berselisih dengan Raja Namrud, sehingga Nabi Ibrahim haru menjalani hukuman dibakar hidup-hidup. Namun, api sama sekali tidak membakar kulit Nabi Allah Ibrahim A.S.

    Hal semacam itu, juga pernah terjadi pada Wali Sunan Kalijaga. Cerita ini bermula pada suatu waktu ketika Sunan Kalijaga perintahkan seorang ratu untuk menjadi imam sholat. Ia justru diam seperti patung.

    Karena tindakannya yang dianggap melecehkan agama. Sunan Kalijaga dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Akan tetapi, api tidak bisa membakar Sunan Kalijaga hingga sang ratu tau bahwa orang yang tengah dihukumnya adalah sunan Kalijaga.

    Sang ratu kemudian meminta maaf. Kisah ini merupakan kisah perjalanan Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi santri tua bernama Kyai Marbot.

    3. Berjalan di atas Air

    Sunan Kalijaga yang dulunya bernama Raden Mas Said merupakan seorang yang senang bertapa. Ia pernah bertapa di tepi sungai. Saat bertapa, Raden Mas Said menghabiskan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

    Menurut cerita dari mulut ke mulut, banyak masyarakat yang melihat kesaktian dan karomah Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga ini. Ia mampu berjalan di atas air tanpa alat bantu apapun.

    4. Mengubah Tanah jadi Emas

    Karomah Sunan Kalijaga yang berikutnya yakni mengubah tanah jadi emas. Kisah ini terjadi saat Sunan Kalijaga melawan Ki Pandan Arang II. Saat itu, Ki Pandan Arang II diangkat menjadi Adipati. 

    Namun, kekuasaan membuatnya lupa diri dan merasa paling hebat. Bahkan, Sunan Kalijaga yang mengingatkan keangkuhannya tak dihiraukan. Hingga, Sunan Kalijaga menunjukkan karomahnya.

    Ia mengubah setiap tanah yang dicangkulnya menjadi sebongkah emas. Hal ini untuk menyadarkan Ki Pandan kalau dunia tidak ada apa-apanya. Akhirnya Ki Pandan tersadar dan langsung bertaubat. Cerita ini berasal dari mulut ke mulut.

    5. Mengubah Pasir jadi Beras

    Ketika terjadi kelaparan di sebuah dusun. Sunan Kalijaga kembali menunjukkan karomahnya. Semua kesaktian dan karomahnya ia gunakan dalam jalan kebaikan. Salah satunya adalah memberantas kelaparan di dusun tersebut.

    Ia sangat sedih melihat banyak rakyat yang kelaparan, sementara itu kepala dusun justru hidup mewah. Saat seorang warga datang untuk meminjam beras untuk makan pada sanga kepala dusun, ia menghina dan memberinya pasir.

    Sunan Kalijaga yang mengetahui hal tersebut, merasa sedih dan geram terhadap tingkah pemimpin itu. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Sunan Kalijaga kemudian mengubah sekarung pasir itu menjadi beras.

    Sekali lagi, bagi kaum muslimin hanya menjadikan cerita ini sebagai cerita leluhur saja. Karena sejatinya hanya nabi dan rasul yang bisa kita percayai mempunyai mukjizat.

    6. Bertapa dalam Waktu Lama

    Karomah Sunan Kalijaga yang lainnya dan cukup populer yakni mampu bertapa dalam waktu lama. Ia bertapa dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mencari jawaban atas pertanyaan dalam hatinya. 

    Selain itu, ia bertapa untuk meneguhkan hatinya dalam menyebarkan agama Islam. Sehingga banyak hal yang ia dapatkan dari pertapaan. Sekali bertapa ia bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun.

    Di zaman yang sudah serba modern ini, kisah tentang para wali sudah jarang sekali diminati. Banyak anak muda yang lebih menggandrungi artis-artis luar negeri daripada tokoh perjuangan seperti Sunan Kalijaga.  

    Kisah perjalanan hidup serta perjuangan Sunan Kalijaga bisa menjadi teladan. Keteguhan hati dalam menyebarkan agama Islam dan menebarkan kebaikan. Selain itu, sifat-sifat terpuji Sunan Kalijaga juga dapat menjadi contoh.

    Beberapa karomah yang belum bisa dibuktikan secara nyata, cukuplah hanya menjadi sebuah cerita. Bagi kita kaum muslimin, tetap memberikan ruang bahwa bisa jadi cerita-cerita karomah di atas hanya sebatas bahasa “syair” atau “kiasan” untuk menggambarkan kesalehan seorang Sunan Kalijaga. Wallahu a’lam bishawab.

  • Doa untuk Orang Sakit Agar Cepat Sembuh dalam Islam

    Doa untuk Orang Sakit Agar Cepat Sembuh dalam Islam

    Semua orang yang hidup di dunia pasti pernah mengalami sakit. Sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, doa untuk orang sakit memang sangat dianjurkan sebagai instrumen meminta pertolongan maupun perlindungan kepada Allah SWT.

    Terdapat banyak sumber doa untuk meminta kesembuhan dalam ajaran Islam. Di bawah ini beberapa doa beserta latin dan artinya yang bisa kita panjatkan.

    Kumpulan Doa untuk Orang Sakit Sesuai Ajaran dalam Agama Islam

    Tentu saja kita sering melihat teman, keluarga ataupun kerabat dekat yang tertimpa musibah berupa sakit. Sebagai manusia dengan dibekali hati nurani, kita tentu ingin memberikan dukungan baik berupa moral ataupun yang lainnya.

    Jika tidak, maka cara terbaik yang bisa dilakukan sebagai umat muslim adalah mendoakan agar mereka cepat sembuh. Adapun doa ketika sakit yang bisa kita panjatkan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

    Berikut ini kumpulan beberapa doa yang bisa dipanjatkan untuk orang sakit kepada Allah SWT sesuai ajaran ataupun sunnah Nabi Muhammad SAW.

    1. Doa untuk Orang Sakit Supaya Cepat Sembuh

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Allahumma rabbannaasi adzhibil ba’sa isyfihi wa antas syafi laa syifaa’a illa syifaauka syifaa’an laa yughadiru saqaman.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit, berikanlah kesembuhan karena Engkau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Engkau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.” (Hadits riwayat Muslim Nomor 4062)

    Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa untuk orang sakit ini kepada seorang sahabatnya yang sedang tertimpa sakit. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa segala bentuk perilaku rasulullah sangat baik untuk umat.

    Oleh karena itu, doa di atas memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat besar dalam menjaga kesehatan dan iman. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan serta perlindungan dari segala bentuk penyakit.

    2. Doa untuk Orang Sakit Khusus Perempuan

    Doa untuk Orang Sakit Khusus Perempuan

    Bagi kita yang ingin menjenguk saudara atau kerabat perempuan yang sakit, maka doa ini bisa dipanjatkan untuk meminta kesembuhan kepada Allah SWT. Adapun bunyi doa untuk orang sakit khusus perempuan yang bisa dibaca seperti dibawah.

    اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَتَكَ يَا شَافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Allahumma syafi ‘abdatika ya syafi la syifa a illa syifa uka syifa an la yughadiru saqaman.

    Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini (untuk perempuan), wahai Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, sembuhkanlah ia sehingga tidak menyisakan rasa nyeri.”

    Cara membaca doa untuk orang sakit perempuan bahasa Arab ini sebenarnya hampir sama dengan membaca doa lainnya. Pastikan kita sebelum memanjatkan doa berada di kondisi yang bersih, baik fisik maupun hati.

    Kemudian, kita dapat mulai membaca doa ini dengan khusyuk serta tulus, baik secara diam-diam maupun dengan suara pelan.

    Pastikan untuk selalu menyebutkan nama orang yang kita doakan dan fokus pada niat untuk meminta kesembuhan mereka.

    Baca juga: Kandungan Surat Al-Maidah Ayat 48: Arab-latin, Arti, dan Hukum Tajwidnya

    3. Doa untuk Orang Sakit agar Cepat Sembuh dari Penyakit

    Setiap orang yang tertimpa sakit tentunya ingin segera sembuh dan beraktifitas normal seperti sebelumnya. Oleh karena itu, bagi kita yang sehat alangkah baiknya untuk membantu dengan doa untuk orang sakit agar mereka segera sembuh.

    Doa ini bahkan juga dibaca oleh Rasulullah SAW sebanyak 7 kali yang memiliki bunyi seperti berikut:

    أَسْأَلُ الله الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

     As alullaahal ‘azhiim rabbal ‘arsyil ‘azhiim an yasyfiyaka.

    Artinya: “Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu.” (Hadits riwayat dari Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 114).

    4. Doa untuk Mohon Ampun dan Kesembuhan

    Selain doa-doa yang ada di atas sebelumnya, doa sakit untuk diri sendiri sebagai cara untuk memohon kesembuhan ini juga bisa kita panjatkan agar saudara yang sedang sakit bisa kembali beraktivitas normal.

    Selain itu, penyakit yang datang bisa saja disebabkan oleh dosa yang diperbuat, maka karenanya kita dianjurkan memohon ampun kepada Allah agar dosa-dosa yang telah diperbuat dapat diangkat sehingga penyakit yang diderita bisa hilang.

    Adapun bunyi doa untuk memohon ampun serta kesembuhan yang bisa dipanjatkan, seperti berikut ini.

    شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

    Syafākallāhu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘āfāka fī dīnika wa jismika ilā muddati ajalika.

    Artinya: “Wahai (menyebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia.” (Hadits riwayat dari Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391H], halaman 115).

    5. Doa untuk Mohon Kesembuhan Secara Spesifik

    Doa untuk orang sakit dengan menyebut namanya untuk memohon kesembuhan atau diangkatnya penyakit yang diderita. Adanya doa yang dipanjatkan ini berharap besar besar agar penyakit yang diderita bisa segera disembuhkan oleh Allah SWT.

    Di bawah ini adalah bacaan doa beserta latin dan artinya yang bisa kita amalkan:

    اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا

     Allhummasyfi (sebut nama). Allhummasyfi (sebut nama). Allhummasyfi (sebut nama).

    Artinya: “Tuhanku, sembuhkan (nama orang yang sakit). Tuhanku, sembuhkan (nama orang yang sakit). Tuhanku, sembuhkan (nama orang yang sakit).”

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    6. Doa Ketika menjenguk orang yang sedang Sakit

    Ketika sedang menjenguk orang yang sakit, sebaiknya diusahakan juga untuk mendoakan orang tersebut agar tubuh mereka bisa segera sehat. Selain itu, kehadiran kita juga bisa jadi sebagai penghibur bagi orang yang sakit.

    Oleh karena itu, menjenguk orang yang sakit sangat disarankan jika memang orang tersebut sudah bisa menerima. Kita juga bisa mendoakan sekaligus mereka yang sakit agar penyakitnya diangkat oleh Allah SWT.

    Berikut ini doa yang bisa kita panjatkan ketika menjenguk orang yang sakit.

    لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ الله

    Laa ba’sa thahur insyaa Allah.

    Artinya: “(Semoga) tidak apa-apa (sakit), semoga suci dengan kehendak Allah.”

    7. Doa Ruqyah untuk Orang yang Sakit agar Cepat Sehat

    Terdapat berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan orang sakit. Salah satunya adalah cara ruqyah seperti yang diajarkan dalam agama Islam. Di mana dalam hal ini adalah dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

    Hal ini dilakukan agar orang yang sakit segera diberikan kesembuhan oleh yang maha kuasa. Doa inilah yang juga dibaca oleh Rasulullah saw ketika sedang meruqyah. Berikut ini doa yang bisa dibacakan melalui metode ruqyah.

    امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِك الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا أَنْتَ

    Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta.

    Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Engkau.” (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 113).

    8. Doa untuk Orang Sakit dalam Surat yang Ada di Al-Quran

    Surah Al-Anbiya Ayat 83

    Di dalam Al-Quran sendiri juga ada doa yang bisa kita panjatkan untuk orang yang sedang sakit. Doa tersebut terdapat dalam surat Al-Anbiya ayat 83 dengan bunyi:

    رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

    Robbi annii massaniyadh dhurru wa anta arhamar roohimiin.

    Artinya: “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

    Cara Mendoakan Orang Sakit Menurut Ajaran Islam

    Menjenguk orang sakit merupakan suatu tindakan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Tidak hanya sekedar menjenguk saja, namun juga mendoakan agar penyakit di dalam tubuh segera diangkat oleh Allah SWT.

    Namun, sebaiknya kita juga tidak lupa untuk memperhatikan bagaimana tata cara yang baik dalam mendoakan orang sakit. Berikut adalah cara-caranya sebagaimana yang dianjurkan.

    1. Niat Karena Allah SWT

    Cara yang pertama saat mendoakan orang sakit adalah niat tulus karena Allah SWT semata. Hal ini karena mendoakan orang sakit adalah perbuatan yang baik, sehingga sudah sepantasnya meniatkan diri untuk Allah SWT dan mengharapkan ridho-Nya.

    Tidak ada salahnya juga untuk membawa buah tangan, seperti buah-buahan ataupun kue sehingga bisa diberikan kepada orang yang sakit atau yang menjaganya.

    2. Duduk dekat Kepala yang Sakit

    Sebelum mendoakan orang yang sakit, hendaknya memperhatikan posisi duduk terlebih dahulu. Cara ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika menjenguk dan mendoakan sahabatnya yang sakit.

    Beliau selalu duduk atau memposisikan diri di samping kepala yang sakit sembari mengenalkan nama ketika ingin masuk. Adanya cara ini tentu membuat orang yang sakit merasa senang ketika dijenguk oleh Rasulullah SAW.

    “Apabila Nabi Muhammad menjenguk orang yang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.” (HR. Bukhari)

    3. Menyentuh Bagian yang Sakit

    Cara yang selanjutnya adalah menyentuh bagian yang sakit. Cara ini juga diajarkan oleh Nabi Muhammad saw semasa hidupnya. Beliau memegang kening atau bagian tubuh lainnya yang sedang sakit.

    Perlakuan ini adalah bentuk kasih sayang dan perhatian dari orang yang menjenguk kepada orang sakit. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

    “Merupakan kesempurnaan menjenguk orang yang sakit adalah seorang kalian meletakkan tangannya pada wajahnya atau tangannya, kemudian bertanya bagaimana keadaannya. Dan, kesempurnaan penghormatan di antara kalian adalah berjabat tangan.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

    4. Menghiburnya

    Cara yang terakhir adalah menghibur orang yang tertimpa musibah seperti sakit. Seperti kita ketahui bahwa orang yang sakit biasanya diliputi kesedihan hingga kekhawatiran.

    Oleh karena itu, orang yang datang menjenguk alangkah lebih baik jika bisa menghibur untuk mengurangi beban penderitaan orang tersebut.

    Beberapa doa untuk orang sakit ini tentunya bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang diketahui bahwa sakit menjadi hal yang sangat lumrah dialami oleh setiap manusia.

  • Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Nabi Luth merupakan nabi ke-7 dari total 25 nabi dan rasul yang wajib diimani oleh umat Islam. Kisah Nabi Luth yang paling terkenal adalah tentang kaumnya, yaitu Sodom, yang mendapatkan azab dari Allah SWT karena perbuatan menyimpangnya.

    Kisah tersebut juga tercantum dalam Al-Qur’an sehingga bisa menjadi petunjuk bagi umat Islam atas kesalahan kaum terdahulunya. Dengan begitu, umat muslim tidak melakukan kesalahan yang sama sehingga terhindar dari murka Allah SWT.

    Lebih dari pada itu, kisah perjalanan Nabi Luth masih cukup panjang untuk menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun yang mengimaninya. Untuk itu, mari simak perjalanan Nabi Luth dalam menyampaikan ajaran Allah di kalangan kaum Sodom!

    Kisah Nabi Luth Diutus ke Kota Sodom

    Tidak banyak kisah yang membahas silsilah Nabi Luth a.s. secara terperinci, namun diketahui bahwa Ia merupakan keponakan dari Nabi Ibrahim a.s. Ayahnya bernama Haran bin Thareh merupakan saudara kandung dari Ibrahim.

    Haran bin Thareh sendiri memiliki saudara kembar bernama Nahar. Jika disimpulkan, garis keturunan Nabi Luth adalah Luth bin Haran, bin Azara bin Nahar, bin Suruj bin Ra’u, bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

    Sementara itu, Nabi Luth memiliki istri bernama Wali’ah dan telah dikaruniai dua orang anak perempuan bernama Raitsa dan Zaghrata. 

    Kisah Nabi Luth sebelum diutus oleh Allah SWT sebagai nabi, sempat ikut bersama pamannya Ibrahim dari Mesir untuk menuju kembali ke Kota Syam. Luth a.s. adalah satu dari sebagian kecil kaum Nabi Ibrahim yang beriman dan bersedia mengikutinya.

    Saat itu, Nabi Ibrahim bersama pengikutnya kembali ke Kota Syam untuk melanjutkan bisnisnya. Sampai akhirnya, Allah SWT mengangkat Luth sebagai nabi dan memerintahkannya untuk tinggal dan menetap di Kota Shadum (Sodom).

    Hal ini juga tercantum dalam Al Qur’an QS. Al-A’raf ayat 80-81:

    وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

    Artinya:

    Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”

    إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

    Innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

    Kaum Sodom dikenal sebagai bangsa yang gemar berbuat maksiat, suka meminum khamr, dan menyukai perbuatan zina. Akhlak mereka tergolong parah sehingga sangat sulit untuk dibenahi dan dituntun ke jalan yang lurus.

    Tidak ada adab di tempat ini, bahkan kasus pencurian juga merupakan hal yang biasa terjadi. Salah satu perbuatan zina yang menjadi ciri khas kaum Sodom adalah berhubungan seks dengan sesama jenis atau perilaku homoseksual.

    Perbuatan ini tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang saja, tetapi hampir seluruh penduduk kota baik pria ataupun wanita. Kota Sodom sendiri berada di pusat perdagangan sehingga banyak pedagang yang dirampok ketika melewatinya.

    Jika para musafir yang hendak berdagang berwajah tampan, maka mereka akan diculik dan dipaksa bersetubuh oleh para laki-laki. Jika dirasa kurang tampan, maka mereka akan dibunuh dan dicuri harta bendanya.

    Sebaliknya, jika musafir tersebut adalah perempuan, maka mereka akan menjadi mangsa dari para wanita kaum sodom. Seperti inilah gambaran perilaku tak bermoral dari para kaum sodom, baik laki-laki maupun perempuan di zaman itu.

    Hal ini menggambarkan betapa buruknya akhlak dari para penduduk kaum Sodom. Bahkan, keburukan akhlak tersebut terjadi di hampir seluruh penduduknya sehingga Allah mengancam akan mengazabnya.

    Baca juga: 13 Manfaat Sholat Hajat agar Dikabulkan Keinginan dan Harapan

    Kisah Nabi Luth dan Azab bagi Kaum Sodom

    Perjalanan dakwah Nabi Luth a.s. di tengah-tengah kaum Sodom bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak pertentangan yang justru Ia dapatkan dari bangsa Sodom. Bahkan, para kaum Sodom akan mengusirnya jika terus berdakwah pada mereka.

    Hal ini seperti disebutkan dalam Al Qur’an, Surat Al-A’raf ayat 82:

    وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓا۟ أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

    Wa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijụhum ming qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharụn

    Artinya:

    Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”.

    Ayat di atas menggambarkan respon dari kaum Sodom atas dakwah yang disampaikan Nabi Luth. Padahal, kewajiban mereka adalah membenarkan status kenabian Luth a.s., mematuhi semua perintahnya, dan juga menjalankan seruannya.

    Kisah Nabi Luth dan pembangkangan kaum Sodom tersebut juga diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’ara ayat 160-167:

    وَلَمَّا جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَّقَالَ هٰذَا يَوْمٌ عَصِيْبٌ وَجَاۤءَهٗ قَوْمُهٗ يُهْرَعُوْنَ اِلَيْهِۗ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۗ قَالَ يٰقَوْمِ هٰٓؤُلَاۤءِ بَنَاتِيْ هُنَّ اَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ فِيْ ضَيْفِيْۗ اَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَّشِيْدٌ قَالُوْا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِيْ بَنٰتِكَ مِنْ حَقٍّۚ وَاِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيْدُ قَالَ لَوْ اَنَّ لِيْ بِكُمْ قُوَّةً اَوْ اٰوِيْٓ اِلٰى رُكْنٍ شَدِيْدٍ قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْ ۗاِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ

    Każżabat qaumu lụṭinil-mursalīn. Iż qāla lahum akhụhum lụṭun alā tattaqụn. Innī lakum rasụlun amīn. Fattaqullāha wa aṭī’ụn. Wa mā as`alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn. A ta`tụnaż-żukrāna minal-‘ālamīn. Wa tażarụna mā khalaqa lakum rabbukum min azwājikum, bal antum qaumun ‘ādụn. Qālụ la`il lam tantahi yā lụṭu latakụnanna minal-mukhrajīn

    Artinya: 

    Kaum Luth telah mendustakan para rasul – (QS. Asy-Syu’ara ayat 160).

    Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? – (QS. Asy-Syu’ara ayat 161).

    “Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 162).

    “Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 163).

    “Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari tuhan semesta alam” (QS. Asy-Syu’ara ayat 164).

    “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)?” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 165).

    “Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 166).

    Mereka menjawab, “Wahai Luth, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 167).

    Seketika itu, Nabi Luth pun berdoa kepada Allah SWT untuk memberi azab kepada kaum Sodom. Hingga akhirnya, Allah mengirimkan tiga malaikat ke bumi untuk memberikan azab kepada kaum Nabi Luth tersebut.

    1. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Ibrahim

    Sebelum menemui Luth a.s., ketiga malaikat yang diutus Allah tersebut terlebih dahulu mendatangi Nabi Ibrahim. Mereka hendak memberi kabar gembira akan kelahiran Nabi Ishaq sekaligus mengabarkan bahwa mereka adalah para malaikat utusan Allah.

    Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Az-Zariyat ayat 24-35. Di situ dikisahkan bahwasanya suatu hari Nabi Ibrahim kedatangan tiga orang yang belum pernah Ia kenal sebelumnya. Ketiga orang tersebut tiba-tiba saja datang dan masuk ke rumahnya.

    Usai menjawab salam, Ibrahim pun mempersilakan mereka untuk masuk dan duduk. Nabi Ibrahim yang belum menyadari bahwa mereka adalah malaikat, lantas meminta istrinya untuk menghidangkan daging anak sapi gemuk yang telah dibakar.

    Akan tetapi, ketiga orang tersebut sama sekali tak menghiraukan daging sapi yang telah dihidangkan dan hanya diam. Mendapati hal tersebut, Ibrahim merasa takut lantara para tamu tersebut tak belum dikenalnya dan tak menghiraukan hidangannya.

    Melihat Ibrahim yang ketakutan, ketiga orang tersebut lantas memberitahunya agar jangan takut karena kedatangan mereka adalah sebagai malaikat utusan Allah yang membawa kabar gembira, yaitu kabar kehamilan istrinya atas anak bernama Ishaq.

    Mendengar itu, istri Nabi Ibrahim lantas menepuk mukanya sendiri dan mengatakan bahwa Ia adalah wanita tua yang mandul. Lalu, malaikat menjawab bahwa apa yang mereka sampaikan adalah dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

    Lebih lanjut, Ibrahim pun bertanya tentang apalagi urusan para malaikat tersebut. Malaikat menjawab bahwa mereka juga diutus untuk memberi azab suatu kaum, yaitu kaum Sodom yang telah melampaui batas.

    Ibrahim yang mendengar jawaban tersebut sontak memohon agar mereka menunda penurunan azab bagi kaum Sodom lantaran di sana terdapat keponakannya, yang tidak lain adalah Nabi Luth a.s. 

    Selain itu, Ia juga meminta mereka (para malaikat) untuk memberi kesempatan bilamana ada penduduk kaum Sodom yang bertobat. 

    Akan tetapi, malaikat menolaknya karena merekalah yang lebih tahu siapa yang ada di sana. Mereka juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan diselamatkan, termasuk Nabi Luth, pengikut, serta keluarganya, kecuali istrinya. 

    Hal itu lantaran istri Nabi Luth termasuk orang yang telah membangkang terhadap suaminya. Sampai akhirnya, pergilah para malaikat tadi ke Kota Sodom untuk menemui Nabi Luth dan menyampaikan maksud kedatangannya.

    2. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Luth

    Kisah Nabi Luth pun berlanjut hingga ketiga orang yang merupakan malaikat tadi hampir tiba di Kota Sodom. Di dalam perjalanannya tersebut, mereka bertemu dengan dua gadis cantik yang tidak lain adalah anak-anak dari Nabi Luth.

    Tiga pemuda (malaikat) tersebut lantas bertanya apakah mereka bisa diterima untuk bertamu di rumahnya. Kedua gadis tersebut tak berani untuk memberikan jawaban dan akan merundingkannya terlebih dahulu dengan keluarganya.

    Akhirnya, kedua anak Nabi Luth pun bergegas pulang ke rumah dan memberitahu ayahnya tentang kedatangan para tamu tersebut.

    Mendengar cerita dari kedua anaknya, Nabi Luth memutuskan untuk mau menerima ketiga pemuda tersebut. Ia juga berpesan kepada anak-anaknya agar merahasiakan kedatangan ketiga pemuda tadi dari penduduk di kaumnya.

    Akan tetapi, istri Nabi Luth yang mendengar percakapan tersebut lantas membocorkan kepada warga kaum Sodom. Para lelaki di sana yang buta akan hasrat seksual sesama jenis akhirnya datang ke rumah Luth a.s. untuk memuaskan nafsu mereka.

    Kisah Nabi Luth kembali berlanjut dengan para kaum Sodom yang datang untuk melampiaskan nafsunya terhadap tamu yang datang ke rumah Luth. Tak lama berselang, mereka pun tiba dan mulai menggedor-gedor rumah Nabi Luth.

    Mereka mengatakan kepada Nabi Luth bahwasanya mereka telah bersepakat jika dilarang membawa tamu masuk tanpa seizin penduduk kota. 

    Dalam keadaan terdesak dan demi melindungi tamunya, Nabi Luth pun menawarkan kepada penduduk agar sebaiknya menikahi saja putri-putrinya dan meninggalkan perilaku menyukai sesama jenis. Sayangnya, hal itu ditolak oleh penduduk.

    Sampai akhirnya, ketiga pemuda tadi (para malaikat) meminta Luth agar membuka pintu rumah selebar-lebarnya seraya memberitahu kepada Luth bahwa mereka adalah malaikat yang diutus oleh Allah SWT.

    Ketika orang-orang yang haus akan seks tersebut menginjakkan kakinya masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka. Hal itu lantaran malaikat telah membutakan mata mereka sehingga tidak mampu melihat apa pun di sekelilingnya.

    Para penduduk kaum Sodom pun membuat perhitungan kepada Luth dan akan datang kembali keesokan paginya. Lantas, para malaikat meminta Nabi Luth beserta keluarga dan pengikutnya untuk pergi meninggalkan Kota Sodom pada malam hari. 

    Malaikat juga memerintahkan agar tak seorang pun dari mereka ada yang menoleh ke belakang saat pergi meninggalkan kota tersebut. Setelah tiba malam hari, mereka pun bergegas meninggalkan Kota Sodom.

    Rombongan tersebut terdiri dari Nabi Luth dan keluarganya, termasuk istri dan kedua anaknya. Ada juga beberapa pengikut Nabi Luth yang beriman ikut dalam rombongan tersebut. 

    Saat sudah beranjak pergi, istri Nabi Luth justru menoleh dan berbalik ke arah kaumnya karena merasa tidak tega. Sementara rombongan Nabi Luth terus beranjak pergi meninggalkan kota yang penuh kemaksiatan tersebut.

    Seketika itu juga, tanah pun bergetar yang disusul dengan gempa bumi dahsyat. Batu-batu besar juga terus menghujani seluruh Kota Sodom tanpa sisa sehingga banyak mayat berhamburan di sana. Seketika itu juga, hancurlah Kota Sodom beserta isinya.

    Akan tetapi, sisa-sisa kehancuran kota tersebut tetap dijaga oleh Allah SWT sebagai pengingat bagi kaum-kaum setelahnya. Kisah Nabi Luth ini juga diabadikan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 73-76:

    فَاَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِيْنَۙ . فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ . اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ . وَاِنَّهَا لَبِسَبِيْلٍ مُّقِيْمٍ .

    Fa akhażat-humuṣ-ṣaiḥatu musyriqīn. Fa ja’alnā ‘āliyahā sāfilahā wa amṭarnā ‘alaihim ḥijāratam min sijjīl. Inna fī żālika la`āyātil lil-mutawassimīn. Wa innahā labisabīlim muqīm

    Artinya:

    “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sungguh, (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).”

    Itulah akhir dari kisah Nabi Luth beserta para kaumnya yang telah dibinasakan oleh Allah SWT melalui azab yang begitu dahsyat.

    Dari kisah di atas, dapat kita petik kesimpulan bahwasanya segala perbuatan kita di dunia hendaknya tidak melampaui batas. Kita harus senantiasa menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.

    Kisah di atas juga menegaskan bahwasanya kodrat sebagai laki-laki dan juga perempuan sudah jelas dan tidak ada penyimpangan di antaranya. Semoga kisah Nabi Luth di atas bisa mendatangkan manfaat untuk kita dan semua yang mengimaninya.

  • Kisah Nabi Ilyas AS dari Silsilah hingga Mukjizatnya

    Kisah Nabi Ilyas AS dari Silsilah hingga Mukjizatnya

    Masih banyak perdebatan terkait kisah Nabi Ilyas AS yang membuat kita bertanya-tanya mengenai kebenarannya.

    Pasalnya, Nabi Ilyas konon masih hidup sampai saat ini. Namun, keberadaannya disembunyikan oleh Allah, seperti Nabi Khidir.

    Beliau juga dikaruniai mukjizat yang luar biasa. Mari simak kisah lengkapnya.

    Kisah Nabi Ilyas AS dalam Al-Qur’an

    Nabi Ilyas AS termasuk salah satu Nabi utusan Allah SWT. Beliau bernama Ilyas bin Fanshash bin al-‘Izar bin Harun. Dari silsilah tersebut dapat dilihat bahwa beliau merupakan cucu dari Nabi Harun saudara Musa bin Imran.

    Nabi Ilyas AS diutus oleh Allah SWT setelah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, yaitu pada tahun 870 Sebelum Masehi (SM).

    Adapun lokasi tempat diutusnya Nabi Ilyas yaitu sebuah kota bernama Ba’labak, terletak di sebelah barat Damaskus (Suriah). Daerah tersebut sekarang masuk wilayah Lebanon.

    Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kisah Nabi Ilyas AS. Di antaranya yaitu surat Ash-Shafaat ayat 123-127, yang berbunyi:

    قال الله تعالى :  وَإِنَّ إِلۡيَاسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٢٣ إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَلَا تَتَّقُونَ ١٢٤ أَتَدۡعُونَ بَعۡلا وَتَذَرُونَ أَحۡسَنَ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٢٥  ٱللَّهَ رَبَّكُمۡ وَرَبَّ ءَابَآئِكُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ ١٢٦ فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ

    Artinya: “Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa. Patutkah kamu menyembah Ba´i dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta. (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu? Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke dalam neraka).”

    Selain itu, nama Nabi Ilyas AS juga disebutkan dalam firman Allah SWT:

     وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ  

    Artinya: “Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh”. (al-An’aam/6 : 75).

    Kesyirikan Kaum Nabi Ilyas AS

    Kisah Nabi Ilyas AS tidak banyak disebutkan di Al-Qur’an, sehingga kebanyakan bersumber pada kitab.

    Melansir dari Tafsir Al-Qur’an, nama Nabi Ilyas AS disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 4 kali, yaitu pada surat Al-An’am ayat 85 dan surat Ash-Shaffat ayat 123, 129, dan 130.

    Berdasarkan riwayat Wahab ibn Munabih yang disebutkan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, dikisahkan bahwa Nabi Ilyas diutus kepada kaum Bani Israel. Mereka adalah orang-orang yang menyembah patung berhala yang bernama Ba’al.

    Menurut kepercayaan bangsa Kanaan, Ba’al adalah dewa hujan dan petir. Ia juga dipercaya memiliki pasangan bernama Astoret yang merupakan dewi kesuburan.

    Maka, Nabi Ilyas AS menyerukan pada kaum tersebut untuk meninggalkan berhala dan mentauhidkan Allah. Nabi Ilyas melakukan dakwah dan berkali-kali mengajak kaumnya agar berhenti menyekutukan Allah.

    Namun, seruan Nabi Ilyas tidak pernah dihiraukan. Orang-orang itu tetap berada dalam kesesatan dan tidak ada yang beriman.

    Menyadari hal tersebut, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT supaya menimpakan azab pada kaumnya yang syirik.

    Sebelumnya, Nabi Ilyas mendatangi Raja Ahab untuk memperingatkan apabila mereka tidak bertaubat, maka Allah akan mendatangkan azab.

    Nabi Ilyas juga mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah tidak akan mampu menyelamatkan penduduk dari azab tersebut. Namun, alih-alih bertaubat, sang raja dan kaumnya justru mengusir Nabi Ilyas.

    Meskipun mendapatkan penolakan keras dan perlakuan kasar, Nabi Ilyas tetap melanjutkan dakwah. Namun, kaumnya yang syirik tidak juga bertaubat. Mereka justru mengusir Nabi Ilyas.

    Kemudian, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT supaya mendatangkan kesusahan pada kaum syirik itu. Maka, Allah menahan hujan selama tiga tahun sehingga kota Ba’labak dilanda bencana kekeringan panjang.

    Kemarau panjang itu membuat semua tanaman mengering dan hewan-hewan mati kelaparan.

    Baca juga: Hukum Suami Lebih Mementingkan Ibunya Daripada Istrinya

    Nabi Ilyas AS Berdakwah dalam Pelarian

    Dilanda bencana kemarau panjang, kaum Bani Israel pun marah. Mereka menganggap bencana itu terjadi karena kedatangan Nabi Ilyas dan kemarahan dari berhala yang mereka sembah.

    Disebutkan oleh beberapa sumber bahwa raja Israel meminta pemimpin agama mereka untuk berdoa kepada berhala memohon supaya kemarau berhenti.

    Akan tetapi, kemarau terus berlangsung sehingga Bani Israel makin marah dan bertekad memburu Nabi Ilyas.

    Akibatnya, Nabi Ilyas harus terus berpindah tempat untuk menghindari orang-orang yang memburunya. Meskipun demikian, Beliau tetap melanjutkan dakwahnya. Nabi Ilyas juga mendapatkan pertolongan Allah selama bencana melanda. 

    Ketika kotanya mengalami kekeringan panjang, Nabi Ilyas mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk bersembunyi di Sungai Kerkit.

    Di tempat itu, Nabi Ilyas tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan air minum. Allah juga mengirimkan burung yang membawa makanan untuk Nabi Ilyas tiap pagi dan sore, sehingga beliau tidak mengalami kelaparan selama kekeringan.

    Namun, Nabi Ilyas harus pindah tempat saat Sungai Kerkit mulai mengering. Ditambah lagi, Beliau juga harus menghindari dari pengejaran prajurit Raja Ahab, pemimpin dari kaum yang syirik dan menolak seruan Nabi Ilyas.

    Menurut riwayat, Nabi Ilyas melakukan dakwah sambil terus berpindah tempat. Beliau tinggal di rumah kaumnya atau di gua.

    Beberapa sumber menyebutkan bahwa setiap rumah yang beliau singgahi akan memiliki aroma makanan.

    Pertemuan dengan Nabi Ilyasa

    Di tengah pelarian Nabi Ilyas menemukan rumah yang terletak di gurun pasir. Beliau pun menjadikan tempat itu sebagai persembunyiannya sementara.

    Saat itulah, Nabi Ilyas bertemu dengan seorang ibu dan anak laki-laki yang mengalami sakit parah, yakni Ilyasa. Kemudian Nabi Ilyas mendoakan kesembuhan Ilyasa yang kemudian dikabulkan oleh Allah SWT.

    Ilyasa pun dapat kembali sehat dan mulai mempelajari ilmu-ilmu agama dari Nabi Ilyas. Selanjutnya, dalam kisah Nabi Ilyas AS, Ilyasa menjadi anak angkat beliau dan sering menemani selama berdakwah.

    Kelak Ilyasa juga diangkat sebagai Nabi dan meneruskan perjuangan dakwah dari Nabi Ilyas AS.

    Kala itu, kondisi kekeringan sudah sangat parah sehingga makanan sulit didapat. Kaum Bani Israel yang putus asa akhirnya mencari Nabi Ilyas dan memohon agar kesulitan yang melanda mereka dihilangkan.

    Orang-orang tersebut juga berjanji akan beriman kepada Ilyas dan menyembah Allah apabila hujan kembali diturunkan ke negeri mereka.

    Maka, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah SWT memohon agar diturunkan hujan. Doa Beliau dikabulkan, sehingga hujan turun dan kota kembali subur. Orang-orang kembali bisa menikmati hasil panen tanaman dan beternak.

    Namun, setelah kehidupan mereka kembali dipenuhi kenikmatan, mereka tetap menyembah berhala. Bahkan mereka menjadi lebih buruk dari kekufuran yang diperbuat sebelumnya.

    Mukjizat Nabi Ilyas AS

    Kisah Nabi Ilyas AS tidak lengkap tanpa menyebutkan mukjizat yang dikaruniakan Allah. Berikut beberapa mukjizat dari Nabi Ilyas AS:

    1. Doa Mendatangkan Bencana Terkabul

    Telah disebutkan sebelumnya bahwa dakwah Nabi Ilyas mendapatkan penolakan dari kaum Bani Israel, sehingga akhirnya beliau berdoa kepada Allah SWT agar mendatangkan kesusahan pada mereka.

    Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas dan membuat negeri itu tidak mengalami hujan selama tiga tahun.  Akibat bencana kemarau panjang, kaum Bani Israel mengalami situasi yang sangat sulit.

    Akhirnya mereka mengatakan kepada Nabi Ilyas bahwa mereka berjanji akan menyembah Allah jika kemarau berhenti. Kemudian Nabi Ilyas berdoa kepada Allah sehingga turun hujan dan kembali makmur.

    Namun, kaum Bani Israel kembali menyembah berhala dan melakukan hal-hal buruk. Melihat hal tersebut, Maka Nabi Ilyas pun memohon kepada Allah supaya kembali menimpakan bencana.

    2. Bertahan dari Kemarau Panjang

    Meskipun negerinya dilanda kekeringan panjang, Nabi Ilyas dapat bertahan hidup dengan baik. Hal ini berkat pertolongan dari Allah SWT yang memberikan petunjuk dan mengirimkan burung untuk membawakan makanan.

    3. Menyembuhkan Orang Sakit

    Dalam kisah Nabi Ilyas disebutkan mengenai pertemuan Beliau dengan Nabi Ilyasa. Saat itu, Ilyasa sakit keras hingga kondisinya tampak memprihatinkan.

    Nabi Ilyas AS berdoa dan memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan Ilyasa. Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas dan berkat itulah Ilyasa sembuh dari sakit parah yang diderita.

    Keistimewaan Nabi Ilyas AS

    Sebagai salah satu utusan Allah, Nabi Ilyas memiliki keistimewaan tersendiri, meliputi:

    1. Penyabar

    Nabi Ilyas diberikan keistimewaan oleh Allah berupa kesabaran yang tinggi. Berkat kesabaran itulah Beliau dapat menjalankan tugasnya dan berdakwah meskipun mendapatkan penolakan dari Bani Israel.

    2. Suka Menolong

    Keistimewaan berikutnya dari Nabi Ilyas AS yaitu sifatnya yang suka menolong orang yang kesulitan.

    Nabi Ilyas bahkan bersedia mendoakan agar kekeringan yang melanda Bani Israel segera berakhir meskipun mereka telah memusuhi dan memburu beliau.

    3. Taat Beribadah

    Nabi Ilyas senantiasa mengutamakan ibadahnya. Beliau juga selalu taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

    Berkat keistimewaan ini beliau mendapatkan pertolongan Allah SWT dan dapat bertahan melalui kekeringan panjang yang melanda.

    Wafatnya Nabi Ilyas

    Bagian yang menjadi perdebatan dalam kisah Nabi Ilyas yaitu mengenai keberadaan beliau.

    Pasalnya, dalam Alkitab disebutkan bahwa Nabi Ilyas diangkat ke surga dalam keadaan hidup. Namun, kisah tersebut tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.

    Ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Ilyas masih hidup sampai sekarang, sebagaimana Nabi Khidir diyakini masih hidup. Namun, hadits-hadits tersebut merupakan hadits maudhu yang tidak dapat diterima.

    Sementara, dalam kitab Kisah Para Nabi yang ditulis oleh Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Nabi Ilyas telah wafat.

    Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 18, sebagai berikut:

    وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗ ۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْ ۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَا ۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ

    Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”

    Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.””

    Dalam ayat tersebut telah jelas bahwa apabila para nabi lain masih hidup pasti akan mendatangi dan membantu dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasulullah:

    لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

    Artinya: “Seandainya Musa alaihissalam masih hidup maka tidak ada jalan lain selain dia mengikutiku.” (HR. Ahmad no. 14623).

    Sehingga sudah jelas bahwasanya Nabi Ilyas AS telah wafat. Seandainya Nabi Ilyas diangkat ke langit dalam keadaan hidup, maka Beliau menemui ajalnya dan wafat seperti makhluk hidup lainnya.

    Perihal tersebut telah dijelaskan dalam AL-Qur’an, bahwa tidak ada seorang manusia sebelum Nabi Muhammad yang hidup abadi.

    وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ

    “Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiya’:34).

    Demikianlah kisah Nabi Ilyas AS lengkap dengan mukjizatnya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dan keteladanan Nabi Ilyas AS.

  • Ini Hukum Istri Mendiamkan Suami Menurut Islam, Sudah Tahu?

    Ini Hukum Istri Mendiamkan Suami Menurut Islam, Sudah Tahu?

    Dalam pernikahan, kehidupan pasangan suami dan istri tidak selalu mulus. Tentu akan ada namanya perselisihan atau kesalahpahaman dalam berumah tangga. Lalu, apa hukum istri mendiamkan suami menurut Islam? 

    Istri yang mendiamkan suami mungkin karena akibat adanya kesalahan hingga terjadi cekcok. Kadang kala pihak istri maupun suami enggan saling meminta maaf, akhirnya berujung saling diam satu sama lainnya.

    Nah, pada artikel ini akan membahas dari sudut panjang jika istri yang mendiamkan suami, apa hukumnya menurut Islam? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini!

    Kewajiban Istri Terhadap Suami

    Sebelum membahas hukum istri mendiamkan suami, kita pahami dahulu kewajiban istri. Adapun salah satu kewajiban istri kepada suami adalah berbakti dan melayani. Sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan.

    “Sebaik-baiknya wanita adalah jika engkau pandang, dia menyenangkan, jika engkau perintah, dia mentaati, dan jika engkau tidak ada, dia menjaga hartamu dan kehormatannya.”

    Dari ajaran Rasulullah SAW, kita harus mengetahui bahwa istri memiliki kewajiban mentaati suaminya. Seorang istri harus mampu menjaga harga dan kehormatannya.

    Namun, bagaimanapun antara istri dan suami harus saling melengkapi satu sama lainnya. Meski suami memiliki kedudukan di atasnya, tetapi segala tanggungan istri adalah tanggung jawab seorang suami.

    Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

    “Dan mereka (wanita) punya hak seimbang dengan kewajiban menurut cara yang pantas. Tetapi para suami punya kelebihan di atas mereka. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah : 228).

    Dalam hubungan pernikahan, kita juga harus saling menerima. Tetapi, tak jarang menemukan situasi yang menyulut emosi sehingga muncul ketegangan hingga suami ataupun istri saling mendiamkan.

    Hukum Istri Mendiamkan Suami Menurut Islam

    Setelah mengetahui kewajiban istri kepada suami, selanjutnya ketahui hukum istri mendiamkan suami menurut Islam. Hal ini sebagai upaya agar kita bisa saling mengerti dan memahami dengan pasangan.

    Berkaitan dengan adanya perselisihan dan perbedaan pendapat, wajar jika sekali waktu ada percekcokan. Tak jarang istri mogok bicara, kemudian pasangan itu pun tidak saling bertegur sapa atau mendiamkan.

    Baca juga: 10 Manfaat Membaca Al-Quran, Muslim Yuk Amalkan

    Sikap ini dikenal dengan istilah hajr, yaitu tindakan mendiamkan orang lain secara sengaja dengan maksud tertentu. Sebenarnya hukum hajr adalah terlarang, tetapi dibolehkan ketika keadaan tertentu saja.

    Lalu, bagaimana jika istri mendiamkan suami ketika marah? Apa hukumnya menurut Islam? Bagaimana sebaiknya sikap istri saat marah kepada suami?

    1. Hukum Istri Mendiamkan Suami 

    Dalam Islam, istri marah terhadap suami adalah perilaku yang dapat mendatangkan murka dari Allah SWT. Memarahi suami termasuk dosa besar. Sebab, suami adalah orang yang harus dipatuhi dan dihormati.

    Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW mengatakan tentang jika kedudukan suami sangat tinggi untuk istrinya.

    “Seandainya saya dapat memerintahkan seseorang untuk sujud pada orang lain, pasti saya perintahkan seorang istri untuk sujud pada suaminya.” (HR Abu Daud, Al-Hakim, Tirmidzi).

    Maka dari itu, hukum istri mendiamkan suami menurut Islam adalah sikap tidak terpuji dan dilarang melakukannya dalam Islam. Jika istri marah dan diamkan suami, sebaiknya tidak dilakukan berlama-lama.

    Kemarahan istri kepada suami berujung mendiamkan menurut agama Islam harus dihindari. Tapi, ada yang berpendapat bahwa jika diam untuk menghindari dari marah, maka hukumnya diperbolehkan.

    Diamnya istri dalam hal ini ketika terjadi perdebatan hebat, maka wajib bersikap diam saat sedang marah. Hal ini sebagai upaya menghindari pertengkaran parah.

    Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka.” (HR Abu Daud 4914).

    2. Bagaimana Seharusnya Sikap Istri?

    Sebagai manusia biasa, suami bisa berbuat salah. Tapi, perlu mengingatkannya dengan baik dan tidak menyinggung perasaan. Sebab, hukum istri mendiamkan suami menurut Islam adalah dosa.

    Meski kesal dan marah menjadi bumbu dalam berumah tangga, tetapi istri harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan suami. Termasuk menjaga rasa marah dan kesal kepada suami meskipun salah.

    Dalam Islam, bahwasannya seorang istri harus bisa memahami kepatuhan dan ketaatan terhadap suami adalah kewajiban. Dan sebaliknya, suami harus melakukan pekerjaan dan tanggung jawab kepada istri.

    Selain itu, suami juga harus bisa membimbing keluarganya kepada jalan kebaikan dan membawa kebahagiaan untuk anak dan istrinya.

    Jika istri berbuat salah, maka hendaknya meminta maaf kepada suami. Jika suami menerima maafnya, maka dosa istri terhapus. Sebab, sudah seharusnya istri patuh dan taat terhadap suami dalam Islam.

    Jika istri merasa kemarahannya tidak tertahankan, maka sebaiknya tenangkan diri dahulu dan mengucap istighfar serta memohon ampun pada Allah SWT. Dengan istighfar, hati pun akan menjadi tenang.

    Baca juga: 30 Ucapan Terima kasih dalam Islam Arab Latin

    Mendiamkan Pasangan Menurut Psikolog

    Perilaku mendiamkan pasangan dari sudut psikologi seharusnya sikap ini tidak boleh dilakukan jika menimbulkan tekanan psikis dan menyakiti pasangan.

    Perlakuan mendiamkan pasangan semacam ini disebut dengan silent treatment. Sikap ini bisa dilakukan jika ingin menghindari perdebatan atau pertengkaran yang parah, maka pasangan bisa bersikap diam.

    Namun, kebiasaan mendiamkan pasangan bisa menimbulkan rasa tidak dihargai dan dianggap penting. Oleh karena itu, salah satu solusi ketika pasangan marah adalah dengan komunikasi yang baik.

    Dengan komunikasi, setiap masalah bisa terselesaikan dengan baik. Terpenting hindari marah dan sikap cuek tanpa alasan yang jelas, apalagi jika mendiamkan pasangan lebih dari tiga hari hukumnya dosa.

    Lalu, bagaimana cara agar hubungan rumah tangga antara istri dan suami tetap bahagia? Berikut informasinya yang tentu bisa menjadi referensi bagi kita dalam menjaga rumah tangga tetap harmonis.

    Cara Menjaga Kebahagiaan Suami Istri

    Dalam rumah tangga, halangan dan rintangan yang muncul seharusnya bisa disikapi dengan tenang oleh suami dan istri. Tujuan dari pernikahan dalam Islam itu sendiri yakni untuk mencari ridho Allah SWT.

    Dalam mengarungi kehidupan setelah pernikahan, suami adalah sosok pemimpin keluarga yang harus ditaati dan dihormati istri. Peran istri pun tidak kalah penting, yakni sebagai teman dan penasehat rumah tangga.

    Suami dan istri hendaknya saling melengkapi dan memahami setiap kekurangan atau kelebihan masing-masing. Berikut ini terdapat cara menjaga kebahagiaan dan keharmonisan dalam berumah tangga:

    1. Menjaga Komunikasi

    Kunci kebahagiaan berumah tangga paling utama adalah komunikasi. Dengan adanya komunikasi, setiap ada permasalahan bisa segera mencari solusinya dan mengatasinya dengan baik tanpa ada pertengkaran.

    2. Saling Menghargai

    Rumah tangga yang harmonis bisa terwujud jika suami dan istri saling menghargai, meskipun ada perbedaan pendapatan. Pastikan hindari perdebatan hingga terjadi pertengkaran hebat dan saling mendiamkan.

    3. Bangun Kepercayaan

    Kepercayaan dan kejujuran dalam sebuah hubungan merupakan hal yang sangat penting, apalagi dalam pernikahan. Salah satu wujudnya seperti menepati perkataan yang diucapkan dan jujur dalam berbicara.

    4. Sabar dan Memaafkan

    Suami atau istri bisa melakukan kesalahan hingga membuat kesal dan marah. Jika berbuat salah, istri atau suami hendaknya meminta maaf dengan kesabaran dan kerendahan hati agar tidak ada pertengkaran.

    5. Tunjukkan Kasih Sayang

    Jangan ragu dan sungkan menunjukkan kasih sayang dari lubuk hati. Ada banyak cara menunjukkannya, salah satunya seperti menghidangkan makanan, memberi dukungan, dan rasa saling membutuhkan.

    Itulah beberapa tips menjaga kebahagiaan dan keharmonisan dalam berumah tangga. Intinya, suami dan istri harus bisa saling mengerti dan memahami, serta mengetahui tanggung jawab istri dan suami.

    Demikian penjelasan tentang hukum istri mendiamkan suami menurut Islam yang penting kita ketahui. Sebab, istri dan suami punya kewajiban masing-masing. Jika ada perbedaan, cari solusi yang menenangkan.