Author: Reskia Ekasari

  • 7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    Doa untuk suami yang sedang bekerja memang sangat diperlukan agar suami selalu mendapatkan perlindungan dari Allah. Bahkan menurut ajaran Islam, salah satu doa yang saat ini paling mustajab adalah doa istri untuk suami.

    Oleh karena itu, jangan pernah lupa untuk selalu mendoakan pasangan kita. Apalagi ketika ia setiap harinya harus berjuang mencari nafkah untuk keluarga.

    Informasi kali ini akan membahas tentang kumpulan doa untuk suami yang bekerja.

    7 Doa untuk Suami yang sedang Bekerja

    Terdapat beberapa doa yang bisa kita amalkan untuk suami yang sedang bekerja. Berikut ini sudah ada kumpulan doa untuk suami, antara lain:

    1. Doa untuk Suami agar Rezekinya Makin Lancar

    Doa untuk Suami agar Rezekinya Makin Lancar

    Pertama, kita bisa mendoakan agar pintu rezeki suami selalu terbuka lebar. Jadi keluarga kita bisa terhindar dari kemelaratan dan kemiskinan di dunia. Adapun bacaan doa untuk suami yang sedang bekerja yang bisa diamalkan adalah:

    اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

    Allahumma innii as aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairita’abin wala masyaqqatin walaa dhoirin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syai in qadiir.

    Artinya: “Ya Allah, aku minta pada Engkau akan pemberian rezeki yang halal, luas, baik tidak tanpa repot dan juga tanpa kemelaratan dan tanpa keberatan, sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu.”

    2. Doa agar Mendapatkan Rezeki Halal

    Apabila khawatir rezeki yang suami dapatkan ternyata tidak halal di mata Allah SWT, maka doakanlah ia dengan bacaan di bawah ini:

    اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

    Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak.

    Artinya: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.”

    Baca juga: 7 Doa untuk Menenangkan Hati dari Sedih dan Gelisah

    3. Doa agar Suami Terhindar dari Harta yang Haram

    Ada juga doa untuk suami yang sedang bekerja agar ia bisa terhindar dari berbagai macam harta haram. Selain itu, isi bacaannya memuat permohonan agar Allah SWT bisa melimpahi keluarga kita dengan berkah dan karunia-Nya.

    Agar lebih jelas, berikut ini sudah ada bacaan doa mustajab beserta artinya:

    اَللَّهُمَّ ياَ غَنِىُّ ياَحَمِيْدُ يَامُبْدِئُ يَامُعِيْدُ يَارَحِيْمُ يَاوَدُوْدُ يَافَعَّالُ لِمَا يُرِ يْدُ اَغْنِنِىْ بِحَلاَ لِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

    Allahumma yaa ghoniyyu yaa hamiid yaa mubdi’u yaa mu’iid yaa rohimu yaa waduud yaa fa’alu lima yuriid agnini bihalaalila, anharoomika wa bifadlika ‘amman siwaak.

    Artinya: “Ya Allah Tuhanku Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji, Tuhan Yang Menakdirkan dan Yang Mengembalikan, Yang Maha kasih dan Maha Kasih Sayang. 

    Berilah aku kekayaan harta yang Engkau halalkan bukan yang Engkau haramkan, berilah aku kelebihan dari yang lain dengan berkah karuniaMu.”

    4. Doa untuk Suami yang sedang Bekerja agar Mendapatkan Perlindungan

    Selanjutnya, juga ada doa untuk suami yang sedang bekerja agar ia selalu terlindungi dari hal buruk apapun. Hal buruk ini sebenarnya bermacam bisa berupa penyakit hati, seperti rasa malas, kesewenang-wenangan manusia, dan lainnya.

    Di bawah ini sudah ada bacaan doanya yang lengkap dengan arti:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

    Allahumma inni a’udzu bika minal Hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid dain wa qahrir rijal.

    Artinya: 

    “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. 

    Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

    5. Doa untuk Suami agar Terhindar dari Beban yang Berat

    Selanjutnya, ada penggalan surat Al-Baqarah ayat 286 yang bisa langsung kita baca untuk meminta perlindungan dari beban yang berat. Ayat yang satu ini memang berisi permohonan agar selalu terhindar dari beban berat.

    Apalagi ketika suami kita sedang mencari rezeki. Adapun bacaan doa untuk suami yang bekerja ini akan dijelaskan di bawah ini:

    …رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ 

    Robbanaa laa tuaa khidznaa innasiinaa au akhtho’na, robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘ala al ladziina min qoblinaa, robbana walaa tuhammilnaa maa laa thoo qatalanabih.

    Wa’ fuanna waghfirlanaa warhamnaa, anta maulana fansurnaa ‘ala al qaumilkaafiriin.

    Artinya: 

    “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.  Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kamu memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”  (Q.S. Al-Baqarah-286).

    Baca juga: Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

    6. Doa Diberikan Kesehatan

    Sebenarnya tidak hanya doa yang berhubungan dengan pekerjaan, tapi kita juga bisa mendoakan suami agar selalu diberikan kesehatan. Dengan begitu, ia selalu bisa bekerja dengan lebih semangat dan tekun dari sebelumnya.

    Berikut ini doa untuk suami yang bekerja yang perlu kita ketahui, antara lain:

    اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ جَمِيعِ سَخَطِكَ

    Allahumma Innii A’uudzubika min zawaali ni’matika wa min tahawwauli’affiyatika wamin jamii’is sakhatika.

    Artinya: 

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat karunia-Mu, dari perubahan kesehatan yang diberikan oleh-Mu, dan dari semua kemurkaan-Mu.”

    7. Doa agar Dinaikkan Jabatan

    رب اغْفِرلي وَارْحَمْنِى واجبرني وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَاعْفُ عَنِّى

    Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii.

    Artinya: 

    “Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku.”

    Pada dasarnya, masih banyak doa istri untuk suami yang bekerja, akan tetapi beberapa doa di atas bisa dijadikan sebagai gambaran dan referensi untuk kita. 

    Di mana sebagai seorang istri harus bisa ingat bahwa suami kita mencari nafkah untuk keluarganya. Oleh karena itu, sebagai seorang istri juga harus selalu bersyukur dengan apa yang diberikan suami agar menjadi istri yang sholeha.

    Alasan Istri Memanjatkan Doa untuk Suami ketika Bekerja

    Sebagai salah satu istri yang shalihah, tentu kondisi suaminya baik secara fisik, psikis maupun keimanan harus tetap dijaga dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena suaminya adalah kepala keluarga. 

    Keinginan agar suaminya dalam keadaan yang baik bisa dinyatakan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Suami merupakan mitra dan teman istri dalam segala hal.

    Jadi, apabila seorang istri berdoa untuk suaminya, maka sama dengan berdoa untuk dirinya sendiri. Contohnya saja, ketika seorang istri berdoa agar suaminya yang bekerja selalu dilindungi olehnya.

    Di mana ia meminta sehat dan mendapatkan  makanan yang berkah. Hal ini berarti juga doa untuk diri sendiri, karena suami akan bersama istrinya pada akhirnya.

    Hanya dengan membaca doa untuk suami yang bekerja, maka istri telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik dan shalihah. 

    Bukankah salah satu permata paling berharga di dunia adalah wanita yang sholihah? Rasulullah SAW juga telah bersabda untuk umatnya yang berbunyi:

    “Dunia ini adalah permata (kegembiraan) dan permata yang paling berharga di dunia adalah wanita (istri) yang saleh” (HR Muslim, Nasa’I Ibnu Majah dan Ahmad).

    Adab Berdoa kepada Allah untuk Suami

    Pada dasarnya, berdoa dengan Allah SWT memiliki adab atau aturan yang harus diterapkan. Tentu, hal ini juga akan berlaku ketika seorang istri ingin sekali mendoakan suaminya yang bekerja. 

    Jadi sebenarnya bagaimana cara yang tepat saat doa untuk suami yang bekerja kepada Allah? Lihat beberapa penjelasan berikut ini tentang adab berdoa kepada Allah SWT, antara lain:

    • Berdoa Khusyu’, hal ini berarti jangan pernah memikirkan hal lain saat berdoa. Doa harus lebih fokus, apalagi pada Allah SWT dan apa yang diinginkan. 
    • Berdoa dengan khusyuk juga nantinya akan dapat memudahkan kita untuk menerima doa. 
    • Memuji Allah SWT hanya melalui sifat-sifatnya. Allah diketahui memiliki 99 asmaul husna. Dengan menyebut nama-nama tersebut pada saat berdoa bisa menjadi salah satu bentuk ketundukan dan ketakwaan kepada Allah.
    • Selain itu, dengan menyebut nama Allah dalam setiap shalat merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
    • Berdoalah pada waktu yang Mustajab, misalnya saja antara adzan dan iqomah, pada sepertiga malam dan setelah shalat. Berdoa pada waktu-waktu Mustajab, diharapkan doa suami yang bekerja akan lebih mudah terkabul.
    • Berdoalah dengan doa yang baik dan lembut. Hal ini karena semua doa ditujukan kepada yang berdoa, jadi istri sangat dianjurkan untuk berdoa dan memohon kebaikan kepada Allah.
    • Kenakanlah pakaian yang bagus dan sopan. Saat sholat, sangat penting untuk selalu memakai atau mengenakan pakaian yang bagus dan usahakan menutupi aurat. 

    Hal ini karena sholat adalah waktu untuk bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Jadi, dengan selalu membaca doa untuk suami yang sedang bekerja, maka nantinya akan membuat istri lebih tenang dan suami lebih giat lagi mencari nafkah.

  • Pertanyaan di Alam Kubur dari Malaikat dan Jawabannya

    Pertanyaan di Alam Kubur dari Malaikat dan Jawabannya

    Ketika umat Islam meninggal, maka akan diawali dengan pertanyaan di alam kubur dari Malaikat. Pertanyaan ini akan diajukan oleh Munkar dan Nakir sebagai Malaikat yang memiliki tugas untuk menanyai ruh atau orang yang sudah meninggal.

    Pada alam kubur, Munkar dan Nakir akan mengajukan beberapa pertanyaan. Bagi yang beriman dan beramal shaleh, tentu pertanyaan ini akan mudah untuk dijawab.

    Sementara, untuk orang yang tidak beriman, maka akan sulit menjawabnya.

    Pengertian Alam Kubur

    Alam kubur merupakan tempat singgah awal dalam menuju fase kehidupan yang hakiki. Pada fase ini juga ditandai dengan adanya pertanyaan di alam kubur dari Malaikat.

    Pertanyaan yang diajukan oleh malaikat ini menjadi penanda apabila kita mudah untuk menjawab, maka akan dilancarkan setelah. Demikian sebaliknya, apabila kita kesulitan, maka setelahnya akan lebih sulit lagi sebagaimana sabda Rasulullah:

    إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَـازِلِ اْلآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَـا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

    “Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama dari kehidupan akhirat, jika seseorang selamat darinya, maka (kehidupan) setelahnya akan lebih mudah. Dan jika seseorang tidak selamat darinya, maka (kehidupan) setelahnya akan lebih dahsyat.” (HR. at-Tirmidzi No. 2308).

    Bagi kita yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur, tentunya akan berusaha sebisa mungkin dalam berbuat amal kebaikan. Adanya amal kebaikan akan membantu kita dalam menjawab pertanyaan di alam kubur dari malaikat.

    Dalil Mengenai Adanya Nikmat dan Azab di Alam Kubur

    Nikmat dan adzab kubur merupakan perkara gaib yang sulit dilihat dan dirasakan oleh manusia yang masih hidup. Apabila manusia itu meninggal dan merasakannya, tentu tidak dapat mengabarkan kepada insan manusia yang masih hidup.

    Satu-satunya keyakinan kita sebagai umat yang beriman akan adanya adzab dan nikmat kubur serta pertanyaan di alam kubur dari malaikat, yakni bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. 

    Adapun dalil-dalil dari dalam Al-qur’an maupun Sunnah yang bisa kita ketahui terkait adanya nikmat serta azab di alam kubur, yakni seperti di bawah:

    1. Dalil Menurut Al-Qur’an

    وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَاب

    Artinya:

    “…dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Al Mu’min: 45-46).

    Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penggalan dari ayat ini, “Arwah Fir’aun dan pengikut setianya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus-menerus hingga hari kiamat tiba.

    Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan pedih dan panasnya api neraka.” Beliau juga mengatakan bahwa pada potongan ayat ini menjadi landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya azab kubur.

    Sementara, Al Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya membuat judul bab باب مَا جَاءَ فِى عَذَابِ الْقَبْرِ atau (Bab dalil-dalil tentang azab kubur), lalu beliau menyebutkan ayat di bawah.

    وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

    Wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au qāla ụḥiya ilayya wa lam yụḥa ilaihi syai`uw wa mang qāla sa`unzilu miṡla mā anzalallāh, walau tarā iżiẓ-ẓālimụna fī gamarātil-mauti wal-malā`ikatu bāsiṭū aidīhim, akhrijū anfusakum, al-yauma tujzauna ‘ażābal-hụni bimā kuntum taqụlụna ‘alallāhi gairal-ḥaqqi wa kuntum ‘an āyātihī tastakbirụn.

    Artinya:

    Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An’am: 93)

    Seorang pakar tafsir dari Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan bahwa konteks kalimat azab yang ditujukan kepada orang-orang kafir tersebut dirasakan ketika sakaratul maut, ketika dicabut nyawa dan setelahnya berdasarkan ayat di atas.

    Baca juga: 8 Nama Neraka serta Calon Penghuninya dalam Al-Qur’an

    2. Dalil Menurut As-Sunnah

    Tidak hanya menurut tafsiran yang bersumber dari Al-Qur’an terkait adanya nikmat dan azab di alam kubur. Namun, beberapa sabda dari Nabi Muhammad SAW juga demikian dalam mengabarkan adanya siksaan di alam kubur:

    لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُسْمِعَكُمْ من عَذَابَ الْقَبْرِ ما أسمعني

    “Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar.” (HR. Muslim No. 7393 dan Ahmad No. 12026).

    Hadits lainnya yang juga menunjukkan bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha meyakini adanya adzab kubur setelah diberitahu oleh Rasulullah SAW. Hal ini diketahui setelah dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang kepada Aisyah.

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَىَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِى إِنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِى قُبُورِهِمْ ، فَكَذَّبْتُهُمَا ، وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا ، فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ ، فَقَالَ «  صَدَقَتَا ، إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا ». فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِى صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

    Artinya:

    “Dari Aisyah Radhiallahu ‘anha, ia berkata: Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang kepadaku. Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak mempercayainya. Kemudian mereka berdua keluar. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam datang menemuiku. Maka aku pun menceritakan apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesai shalat” (HR. Bukhari No. 6005)

    Rasulullah SAW juga pernah bersabda mengenai hamba yang meninggal dan didatangi oleh kedua Malaikat untuk menanyai hamba tersebut.

    إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِى قَبْرِهِ أُتِىَ ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

    Artinya:

    “Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasulullaah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari No. 1369 dan Muslim No. 7398). 

    Dari penjelasan dalil Al-qur’an dan As-Sunnah ini menjadi bukti bahwa surat Ibrahim ayat 27 berbicara tentang adzab kubur. Adapun Rasulullah SAW sendiri yang menafsirkan seperti penjelasan di atas.

    Terdapat juga sabda Rasulullah SAW dalam hal yang berkaitan dengan siksa di alam kubur sebagaimana bunyinya:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِى قُبُورِهِمَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم –«  يُعَذَّبَانِ ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِير» ، ثُمَّ قَالَ « بَلَى ، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ »

    Artinya:

    “Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diazab di kuburnya. Beliau bersabda, ‘Keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena dosa besar (menurut mereka berdua),’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diazab karena tidak membersihkan bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)” (HR. Bukhari No. 6055).

    Adanya siksaan atau azab kubur yang ditimpakan pada seorang hamba setelah kematian, tentunya membuat kita perlu menyiapkan bekal berupa amal kebaikan. 

    Selain itu, amal kebaikan ini juga akan membantu kita dalam menjawab pertanyaan di alam kubur dari malaikat. Apabila kita mudah dalam menjawab pertanyaan, tentunya kita akan mendapatkan kenikmatan di dalam kubur.

    Pertanyaan di Alam Kubur dari Malaikat

    Alam kubur adalah menjadi salah satu aspek penting dalam kepercayaan Islam. Hal ini mengingat alam kubur menjadi fase pertama setelah kematian seseorang sebelum hari kebangkitan.

    Seseorang akan menghadapi berbagai pertanyaan di alam kubur dari malaikat, yakni Munkar dan Nakir. Pertanyaan ini untuk menguji keimanan dan amal baik seseorang selama hidupnya.

    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang Malaikat yang menanyai mayat ketika sudah dikuburkan:

    “Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Mungkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata: Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)? Maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia: Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata: Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu. Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, dan dikatakan: Tidurlah. Dia menjawab: “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku.” Keduanya berkata: “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut”. (HR. Imam Tirmidzi No. 1071).

    Dari penjelasan di atas menjelaskan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir akan menanyai kita apabila telah meninggal dan dimasukkan ke dalam kubur. Beberapa hadits lainnya juga menyatakan pertanyaan yang sama diajukan oleh Munkar dan Nakir:

    فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ

    Artinya:

    “Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi dan Muslim No. 2871).

    Dalam beberapa riwayat dikatakan ketiga pertanyaan tersebut diikuti dengan tiga pertanyaan berikutnya sehingga berjumlah enam pertanyaan, yakni:

    • Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?
    • Ma dinuka? Apa agamamu?
    • Man nabiyyuka? Siapa Nabimu?
    • Ma kitabuka? Apa kitabmu?
    • Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu?
    • Man ikhwanuka? Siapa saudaramu?

    Meski pertanyaan di alam kubur dari malaikat ini mudah untuk dijawab, namun sejatinya tergantung dengan amal saleh selama hidup di dunia. Jika kita berbuat baik yang diridhoi Allah, tentu mudah untuk menjawabnya.

    Oleh karena itu, penting untuk selalu meningkatkan iman dan berusaha melakukan amal baik dalam kehidupan di dunia. Hal ini tentu agar dapat menjawab pertanyaan di alam kubur dari malaikat dengan keyakinan.

  • Lomba Hafalan Al-Qur’an dengan Taruhan (Uang Pendaftaran)

    Lomba Hafalan Al-Qur’an dengan Taruhan (Uang Pendaftaran)

    Di kalangan muslimin, masih ada perbedaan pendapat terkait mengadakan lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan. Ada pihak yang melarang hal tersebut karena termasuk judi, tetapi ada juga yang membolehkannya.

    Untuk bisa menentukan boleh atau tidaknya hal ini, tentu kita perlu merujuk pada pendapat para ulama-ulama besar muslim. Dengan begitu, kita punya dasar dalam menentukan apakah perlombaan semacam ini dibolehkan atau tidak.

    Oleh karena itu, artikel ini akan coba membahas secara spesifik perkara mengadakan lomba yang bernilai Islami, tetapi dengan cara taruhan (membayar uang pendaftaran). 

    Hukum Asal Lomba dalam Islam

    Perlombaan atau musabaqah adalah kegiatan berasal dari kata as sabqu yang menurut bahasa artinya adalah sebagai berikut:

    القُدْمةُ في الجَرْي وفي كل شيء

    Artinya:

    “Berusaha lebih dahulu dalam menjalani sesuatu atau dalam setiap hal” (Lisanul Arab).

    Dengan begitu, musabaqah bisa kita artikan sebagai suatu persaingan dengan orang lain untuk menjadi yang lebih baik. Hal ini juga dijelaskan di dalam Al Mulakhas Al Fiqhi (2/155):

    المسابقة: هي المجاراة بين حيوان وغيره، وكذا المسابقة بالسهام

    Artinya:

    “Musabaqah adalah mempersaingkan larinya hewan atau lainnya, demikian juga persaingan dalam keahlian memanah.”

    Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa perlombaan akan melibatkan dua orang atau lebih yang saling bersaing untuk menjadi yang terbaik. Terbaik di sini tentu saja untuk hal-hal yang tidak dilarang.

    Perlombaan semacam ini adalah boleh karena hukum asal perkara muamalah sejatinya adalah boleh sampai ada dalil yang menunjukkan kebatilan dan juga keharamannya (I’lamul Muwaqi’in, 1/344) atau yang sebanding dengan itu.

    Hal ini seperti penjelasan dari Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir, 1/64. Mawqi’ Ruh Al Islam:

    أن الأصل في الأشياء المخلوقة الإباحة حتى يقوم دليل يدل على النقل عن هذا الأصل

    Artinya:

    “Sesungguhnya hukum asal dari segala ciptaan adalah mubah, sampai tegaknya dalil yang menunjukkan berubahnya hukum asal ini.”

    Pendapat di atas merujuk pada dalil kaidah yang terdapat di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 29, yang berbunyi:

    هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

    Huwallażī khalaqa lakum mā fil-arḍi jamī’an ṡummastawā ilas-samā`i fa sawwāhunna sab’a samāwāt, wa huwa bikulli syai`in ‘alīm

    Artinya:

    “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

    Jadi, tidak ada masalah untuk mengadakan sebuah lomba, apalagi lomba hafalan Al-Qur’an yang mana sangat baik dalam tegaknya ajaran Islam.

    Baca juga: Mereka yang Dilarang Mengelola Harta Sendiri (Terkena Hajr)

    Bolehkah Lomba Hafalan Al-Qur’an dengan Hadiah?

    Sebelum kita membahas tentang lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu perlombaan yang memberikan hadiah. Bolehkah lomba hafalan Al-Qur’an dengan adanya hadiah?

    Salah satu hadis yang menjadi rujukan terkait permasalahan ini adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

    لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ

    Artinya:

    “Tidak boleh memberi hadiah dalam perlombaan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.” (HR. Tirmidzi No. 1700, Abu Daud No. 2574, Ibnu Hibban No. 4690, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

    Dari hadits tersebut dapat kita ketahui bahwa pemberian hadiah dalam lomba tidak boleh dilakukan kecuali hanya pada tiga lomba saja, yaitu memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda. 

    Hal ini juga disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah yang menyatakan:

    فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ السِّبَاقُ بِعِوَضٍ إِلاَّ فِي النَّصْل وَالْخُفِّ وَالْحَافِرِ، وَبِهَذَا قَال الزُّهْرِيُّ

    Artinya:

    “Jumhur fuqaha berpendapat bahwa tidak diperbolehkan perlombaan dengan hadiah kecuali lomba memanah, berkuda dan balap unta. Ini juga pendapat dari Az Zuhri.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah , 24/126).

    Jumhur ulama menyatakan bahwa ketiga lomba di atas diperbolehkan untuk diberi hadiah karena ketiganya bermanfaat dan membantu terhadap jihad fi sabilillah. Qiyas kepada perlombaan memanah, berkuda, dan juga balap unta.

    Dengan perkembangan zaman sampai saat ini, arti jihad fi sabilillah sudah tidak lagi harus dilakukan dengan berkuda, memanah, atau balap unta saja. 

    Akan tetapi, bisa juga dalam lomba menghafal Al-Qur’an dengan taruhan seperti tilawatil Qur’an, hafalan surat pendek atau menghafal hadits.

    Dalam konteks jihad, hafalan Qur’an juga bisa menjadi senjata untuk menangkis upaya-upaya untuk menghilangkan atau mengganti ayat-ayat Al-Qur’an. Ini juga menjadi cara Allah menjaga keaslian tulisan Al-Qur’an sampai nanti di hari kiamat.

    Jadi, lomba-lomba yang diperbolehkan untuk memberikah hadiah dalam Islam adalah sebagai berikut:

    • Berbagai jenis lomba yang bermanfaat dan dapat membantu perang, terutama dalam upaya jihad fi sabilillah seperti memanah, berkuda, balap unta, bela diri, berenang, balap lari, dan semisalnya.
    • Berbagai jenis lomba yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syar’i seperti menghafal Al-Qur’an, tilawah Qur’an, hafalan surat pendek, hafalan hadis, dan semisalnya.

    Bolehkan Lomba Menghafal Al-Qur’an dengan Taruhan?

    Jika sebelumnya kita membahas perihal pemberian hadiah dalam lomba, bagaimana dengan adanya taruhan di dalam perlombaan tersebut? Taruhan di sini berarti peserta harus membayar biaya pendaftaran untuk bisa ikut dalam lomba bersangkutan.

    Untuk bisa merumuskan boleh tidaknya suatu perlombaan berhadiah jika dengan adanya taruhan, maka kita perlu menjabarkan beberapa bentuk pemberian hadiah dalam lomba, di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Penyedia Hadiah adalah Salah Satu Peserta Lomba

    Lomba dengan taruhan yang pertama adalah dengan hadiah berasal dari salah satu peserta. Misalkan si A mengajak si B untuk berlomba, sementara hadiahnya adalah berasal dari si A, maka perlombaan tersebut diperbolehkan.

    Hal ini juga dijelaskan di dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (24/128):

    إِذَا كَانَتِ الْمُسَابَقَةُ بَيْنَ اثْنَيْنِ أَوْ بَيْنَ فَرِيقَيْنِ أَخْرَجَ الْعِوَضَ أَحَدُ الْجَانِبَيْنِ الْمُتَسَابِقَيْنِ كَأَنْ يَقُول أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: إِنْ سَبَقْتَنِي فَلَكَ عَلَيَّ كَذَا، وَإِنْ سَبَقْتُكَ فَلاَ شَيْءَ لِي عَلَيْكَ. وَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي جَوَازِ هَذَا

    Artinya:

    Jika perlombaan dilakukan antara dua orang atau dua kelompok. Lalu salah satu peserta menyediakan hadiah, semisalnya ia mengatakan: “Jika engkau bisa mengalahkan saya, maka engkau bisa mendapatkan barang saya ini, kalau saya yang menang maka saya tidak mengambil apa-apa darimu”. Maka tidak ada khilaf di antara ulama bahwa ini dibolehkan.

    Jadi, taruhan semacam ini boleh asalkan kedua peserta tidak saling bertaruh hadiah. Artinya, si A akan menyediakan hadiahnya jika si B menang dan si A tidak mengambil hadiah apa pun dari si B jika si B kalah.

    2. Hadiah Berasal dari Pihak Ketiga

    Lomba dengan membayar biaya pendaftaran diperbolehkan jika biaya tersebut tidak diambil untuk membeli hadiah. Artinya, hadiah berasal dari pihak ketiga atau sponsor.

    Jadi, biaya pendaftaran tersebut harus memberi manfaat untuk semua peserta, baik yang menang maupun yang kalah seperti menyediakan snack, merchandise, seragam, dan sebagainya. Hal ini seperti dijelaskan di Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (24/128):

    أَنْ يَكُونَ الْعِوَضُ مِنَ الإِْمَامِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الرَّعِيَّةِ، وَهَذَا جَائِزٌ لاَ خِلاَفَ فِيهِ، سَوَاءٌ كَانَ مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ بَيْتِ الْمَال؛ لانَّ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةً وَحَثًّا عَلَى تَعَلُّمِ الْجِهَادِ وَنَفْعًا لِلْمُسْلِمِينَ

    Artinya:

    “Jika hadiah disediakan oleh pemerintah atau dari masyarakat (yang tidak ikut lomba), maka ini dibolehkan tanpa ada khilaf di dalamnya. Baik dari harta pribadi penguasa atau dari Baitul Mal. Karena di dalamnya terdapat maslahah berupa motivasi bagi masyarakat untuk mempelajari berbagai ketangkasan untuk berjihad dan juga bisa bermanfaat bagi kaum Muslimin.”

    3. Hadiah diambil dari Kontribusi Peserta Lomba

    Jenis pemberian hadiah ketiga adalah jika hadiah tersebut diambil dari kontribusi semua peserta. Pada kasus inilah ada perbedaan pendapat dari para ulama, termasuk lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan (biaya pendaftaran).

    Adapun perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hal ini antara lain:

    • Para jumhur ulama berpendapat bahwa perlombaan semacam ini adalah haram karena terdapat unsur qimar (judi).
    • Sebagian ulama berpendapat bahwa perlombaan tersebut boleh, di antaranya pendapat dari Ibnu Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
    • Perlombaan tersebut boleh jika ada muhallil. Muhallil sendiri adalah seseorang yang ikut dalam lomba, tetapi tidak mengeluarkan hartanya untuk hadiah. Akan tetapi, pendapat ini lemah.

    Jadi, bolehkah lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan? Dari semua pendapat dan dalil yang ada di atas, pendapat paling aman adalah boleh asalkan pemberi hadiah adalah dari pihak sponsor.

    Jadi peserta hanya membayar biaya kepesertaannya saja yang meliputi, biaya snack, biaya merchandise jika ada, dan sebagainya. Peserta juga tidak terbebani untuk menang dan tetap mendapatkan manfaat dari apa yang sudah dibayarkan.

    Itulah pembahasan terkait lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan jika dilihat dari pandangan Islam, terutama jika merujuk dari berbagai pendapat ulama. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab.

  • Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Judi?

    Hukum Hadiah Undian, Doorprize, dan Giveaway, Apakah Judi?

    Sebagian dari kita mungkin pernah mengikuti giveaway ataupun doorprize yang mana nantinya jika beruntung akan mendapatkan hadiah. Di satu sisi pasti merasa senang, tapi di sisi lain mungkin bertanya-tanya, apa hukum hadiah undian itu?

    Apakah hukumnya menjadi haram? Atau justru boleh-boleh saja karena ini hanya permainan yang tidak merugikan siapapun?

    Sebagai umat muslim, kita harus mengetahui tentang hal ini.

    Apa Hukum Hadiah Undian Itu?

    Sebagian besar ulama bersepakat bahwa undian berhadiah itu hukumnya terbagi menjadi dua yaitu haram dan mubah. Semua itu tergantung dari bagaimana pengaplikasian undian tersebut.

    1. Hukum Hadiah Undian Haram

    Undian menjadi haram apabila ada unsur perjudian atau unsur mukhabarah. Sebagai contoh, Bimo mengikuti undian berhadiah yang diadakan salah satu mall di Karawang dengan syarat ia harus membayar uang dalam jumlah tertentu kepada pihak panitia.

    Apabila hal itu terjadi maka hukumnya haram karena ada unsur perjudian dan untung-rugi. Karena terdapat proses pembayaran yang bukan karena aktivitas jual beli.

    Jika nama Bimo keluar pada saat undian dia akan untung, tapi sebaliknya apabila namanya tidak keluar saat undian maka Bim rugi karena sudah mengeluarkan biaya untuk mengikuti undian tersebut.

    Hal tersebut merupakan hakikat perjudian. Satu pihak mendapatkan keuntungan, sementara pihak yang lain mendapatkan kerugian.

    2. Hukum Hadiah Undian Mubah

    Seseorang boleh mengikuti undian dan bukan sesuatu yang haram apabila tidak terdapat unsur perjudian. 

    Sebagai contoh, Ari seorang pengusaha kaya mengadakan undian smartphone baru kepada para konsumennya secara online. Akan tetapi, dalam undian ini konsumen tidak membayar sama sekali.

    Setelah dipilih secara acak keluarlah nama Adi, salah satu dari konsumen perusahaan Ari. Apabila kasusnya seperti ini, bukan dikategorikan sebagai judi karena tidak memenuhi unsur perjudian.

    Baca juga: Doa untuk Janin yang Keguguran sesuai Ajaran Rasulullah SAW

    Apa Hukum Giveaway Menurut Islam?

    Sama halnya seperti undian, giveaway pun ada dua hukum yaitu mubah (boleh) dan haram tergantung bagaimana cara giveawaynya.

    Giveaway Haram

    Kalau kita mengadakan giveaway dan meminta followers memberikan testimoni hanya “positif” saja padahal tidak sesuai kenyataan, maka hukumnya sama seperti menyuruh orang berbohong. Sudah pasti ini haram dan dosa.

    Kedua, apabila giveaway ada lomba yang mengharuskan kita mengisi jawaban dari pertanyaan. Jawaban yang benar diseleksi, kemudian diacak untuk mendapatkan pemenangnya, maka tidak dibolehkan. Dalam hadits tertulis:

    لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ

    Artinya:

    “Tidak boleh memberi hadiah dalam lomba kecuali pada perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.” (HR. Tirmidzi, no. 1700; An-Nasai, no. 3585; Abu Daud, no. 2574; Ibnu Majah, no. 2878. Dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani).

    Giveaway Mubah

    Hukum giveaway mubah atau boleh jika jika pembagiannya secara acak tanpa menambahkan syarat yang membuat orang harus berbohong. Misalnya, Haris seorang selebgram mengadakan giveaway untuk pengikutnya.

    Salah satu dari 12000 followersnya akan ia pilih secara acak lalu memberikan hadiahnya langsung tanpa embel-embel apapun. Untuk kasus ini, maka hukumnya boleh.

    Hukum Doorprize Menurut Islam

    Doorprize adalah pemberian hadiah melalui undian kepada pemegang tiket atau karcis yang dibagikan gratis pada suatu acara. Sama seperti undian dan giveaway, hukum doorprize pun ada yang haram dan ada juga yang mubah.

    Hadiah doorprize yang berasal dari uang pendaftaran peserta, maka hukumnya sudah pasti haram. Karena terdapat unsur unsur maisir dan gambling.

    Sementara itu doorprize yang bukan berasal dari uang peserta maka boleh-boleh saja. Tidak ada larangan, karena hanya permainan biasa yang tidak ada unsur judi di dalamnya.

    Pemberian kupon secara cuma-cuma, termasuk hibah kepada pemenang meskipun panitia mendapatkan keuntungan dari sponsor. Tidak mengandung unsur riba, qimar, gharar, dan secara syar’i tidak ada larangan.

    Undian Pada Zaman Nabi

    Bukan hanya pada zaman sekarang saja, Orang-orang soleh pada zaman dahulu pernah melakukan undian. Bahkan beberapa Nabi pun pernah melakukannya tanpa ada aktivitas judi atau gambling sama sekali.

    1. Nabi Yunus A.S.

    Pada zaman itu Nabi Yunus bin Mata ‘alaihissalam menaiki perahu, ternyata perahu yang beliau tumpangi kelebihan penumpang sehingga salah satu di antara mereka harus menceburkan diri ke laut.

    Maka dari itu dilakukanlah undian untuk menentukan siapa yang harus menceburkan diri ke laut, dan ternyata yang mendapatkannya adalah Nabi Yunus sendiri. Cerita Nabi Yunus tersebut juga ada di dalam Q.S. As-Shaffat: 139 – 141 yang berbunyi:

    وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ .إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

    wa inna yụnusa laminal-mursalīn. iż abaqa ilal-fulkil-masy-ḥụn. fa sāhama fa kāna minal-mud-ḥaḍīn

    Artinya:

    “Sesungguhnya Yunus termasuk para Rasul Allah. (Ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.”

    2. Nabi Muhammad SAW

    Rasulullah SAW pun pernah melakukan undian. Kisah ini tercantum di dalam salah satu hadis yang berbunyi:

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ

    Artinya:

    “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak safar, beliau mengundi di antara istrinya. Siapa yang namanya keluar, beliau akan berangkat bersama istrinya yang menang.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

    3. Nabi Zakaria A.S.

    Tidak hanya itu saja, Nabi Zakaria pun pernah melakukannya pada saat berebut mengasuh Maryam. Kemudian ada undian seperti yang sudah termaktub dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 44:

    ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

    Zālika min ambā`il-gaibi nụḥīhi ilaīk, wa mā kunta ladaihim iż yulqụna aqlāmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mā kunta ladaihim iż yakhtaṣimụn

    Artinya:

    “Itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa”.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa hukum hadiah undian, doorprize, dan giveaway boleh dengan syarat tidak ada biaya pendaftaran dan pemberiannya secara cuma-cuma.

  • Kesurupan Menurut Islam dan Pandangan Ulama

    Kesurupan Menurut Islam dan Pandangan Ulama

    Umumnya, kesurupan sering terjadi pada seseorang yang jauh dari ketaatan. Dengan kata lain, mereka menjadi rentan terhadap gangguan. Namun, bagaimana penafsiran kesurupan menurut Islam?

    Persoalan tentang apakah jin benar-benar memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam tubuh manusia masih menjadi perdebatan. Beberapa berpendapat bahwa ini mungkin merupakan gangguan kesehatan mental atau penyakit fisik, bisa juga faktor lain

    Namun, keberadaan jin wajib kita percayai sebagai makhluk Allah yang beriman. Sebagaimana ini termasuk percaya pada hal-hal ghaib atau sesuatu yang tidak dapat kita lihat secara langsung. 

    Penjelasan Kesurupan Menurut Islam

    Kesurupan menurut Islam merupakan peristiwa masuknya jin dalam tubuh manusia. Jin adalah makhluk ciptaan Allah yang terbuat dari api. Penciptaannya sebelum Allah menciptakan manusia. Hal ini disebutkan dalam Firman-Nya berikut:

    وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ﴿٢٦﴾ وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

    Artinya:

    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas” [Al-Hijr/15 ; 26-27].

    Penciptaan jin bukan tanpa tujuan. Melainkan Allah memberi tugas berupa perintah dan larangan. Golongan jin pun ada yang taat dan ada yang bermaksiat sebagaimana Firman Allah SWT:

    وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا ﴿١٤﴾ وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

    Artinya:

    “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam” [Al-Jinn/72 : 14-15]

    1. Keberadaan Jin adalah Nyata

    Allah SWT berfirman:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

    Artinya:

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh.” [Adz-Dzariyat/51 : 56-58].

    Baca juga: Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Fakir dan Miskin Beserta Penjelasannya

    2. Kedzaliman Jin kepada Manusia

    Karena golongan jin ada yang taat dan ada yang bermaksiat, tidak menutup kemungkinan jin berbuat zalim kepada manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai berikut:

    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴿١﴾مَلِكِ النَّاسِ﴿٢﴾إِلَٰهِ النَّاسِ﴿٣﴾مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ﴿٤﴾الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ﴿٥﴾مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

    Artinya:

    “Katakanlah, Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” [An-Nas/114 : 1-6].

    Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan setan atau jin pada awal ayat. Hal tersebut karena jin sampai kepada manusia dengan cara yang sangat tersembunyi.

    Lalu, bagaimana jin sampai pada manusia? Pertanyaan ini dijawab Nabi SAW kepada dua orang Anshar yaitu sebagai berikut:

    إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا

    Artinya:

    “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia lewat aliran darah, dan aku khawatir ia akan melemparkan keburukan dalam hatimu atau mengatakan sesuatu.” (HR Al-Bukhari, no. 2038, kitab Al-I’tikaf, Muslim, no. 2175, kitab As-Salam).

    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa salah satu kezaliman jin terhadap manusia adalah jin menggulat manusia dan menghempaskannya. Lalu membiarkannya terguncang hingga pingsan. Kondisi inilah yang disebut sebagai kesurupan.

    Nah pada kondisi ini, jin bisa menggiring manusia kepada perkara yang membuat kebinasaannya. Misalnya melemparkan ke lubang, membuatnya tenggelam, atau api yang membakarnya. 

    Ibnu Jarir berkata bahwa setanlah yang merasukinya lalu membuatnya menjadi gila. Pada zaman Nabi juga ada perempuan yang datang membawa anaknya yang kerasukan jin. Maka Nabi bersabda pada jin dalam tubuh anak itu.

    “Keluarlah, wahai musuh Allah. Aku adalah Rasulullah.”

    Lalu, anak tersebut pun sembuh. 

    3. Membentengi dan Menyembuhkan

    Untuk membentengi diri dari gangguan jin, kita bisa membaca wirid-wirid yang disyariatkan dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Selain itu, penting untuk menghindarkan diri dari rasa was-was.

    Mengikuti was-was dan praduga pada akhirnya hanya membuat rasa tersebut semakin membesar hingga menjadi kenyataan. 

    Adapun untuk penyembuhannya yaitu dengan doa-doa, bacaan Al-Qur’an, dan nasehat. Misalnya dengan membaca ayat kursi.

    Selain itu, untuk membantu orang yang terkena gangguan jin, kita dapat membacakan beberapa surah antara lain surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Naas sebanyak tiga kali.

    Bacaan tersebut disertai tiupan dan sentuhan pada bagian yang terasa sakit dengan menggunakan tangan kanan.

    أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

    “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami.” [Al-Mu’minun/23 : 115].

    Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu hendaknya dikembalikan sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dalam menyikapi perkara kesurupan ini, kita bisa membentengi dan menyembuhkannya dengan membaca ayat Al-Qur’an.

    Dalam riwayatnya, Imam Ahmad mengutus seseorang kepada orang yang gila. Lalu jin yang merasukinya itu meninggalkannya. Ketika Imam Ahmad meninggal, jin tersebut kembali kepada orang tersebut.

    Dengan kisah singkat ini jelaslah bahwa kesurupan menurut Islam merupakan gangguan jin kepada manusia yang nyata berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an. 

    Untuk menyikapi peristiwa kesurupan, sebaiknya kita terus berlindung diri kepada Allah SWT dari keburukan makhluk-Nya. Selain itu, penting untuk terus memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

  • Amalkan Doa agar Tidak Malas dan Kiat Hidup Lebih Produktif

    Amalkan Doa agar Tidak Malas dan Kiat Hidup Lebih Produktif

    Semua umat Muslim tidak hanya mengandalkan usahanya sendiri untuk mencapai sesuatu. Kita semua pun membutuhkan doa demi tercapainya tujuan. Termasuk untuk menghilangkan rasa malas. Ada doa agar tidak malas yang bisa kita amalkan. 

    Akan tetapi, meskipun belum terkabul, kita sebagai manusia hanya harus bersabar dan terus berdoa. Jika pun di dunia ini belum ada yang terwujud, nanti doanya bakal diganti dengan pahala. 

    Belum terwujud saja sudah dapat pahala. Apalagi terwujud? Dapet pahala, plus dapet apa yang sedang kita doakan. 

    Doa agar Tidak Malas

    Doa agar Tidak Malas

    Berdoa mungkin menjadi salah satu hal yang paling mulia di sisi Allah SWT. Ia pun sangat mencintai semua orang yang bersandar juga berserah diri pada-Nya. Dalam berdoa, setiap dari kita memang harus yakin bahwa doa tersebut akan terkabul. 

    Nah, di dalam Islam berdoa tuh bukan hanya untuk hal-hal seperti kesuksesan, kejayaan, dan juga sejenisnya. Bahkan kalau kamu malas pun, ada doa yang bisa kamu baca.

    Malas, di dalam bahasa Arab dikenal juga dengan Al-Kaslu yang artinya berat mengerjakan sesuatu dan berhenti untuk melengkapi sesuatu.

    Baca juga: Doa Masuk WC dan Keluar WC yang Benar Sesuai Sunnah

    Malas ini menurut Imam Ibnul Qoyyin Rahimahullah, akan melahirkan beberapa sifat seperti menyia-nyiakan waktu, berlebihan, tidak dapat apapun, dan penyesalan yang amat sangat. 

    Akan tetapi,, setiap insan yang ingin mengubah rasa malasnya bisa membaca dzikir penghilang rasa malas dan juga doa untuk berlindung dari malas. 

    Nah, kira-kira bagaimana bacaan doa agar tidak malas? Ini dia bacaan lengkap beserta terjemahannya: 

    اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

    Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat.

    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” 

    (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)”

    Manfaat Membaca Doa Malas Berdasarkan Hadits

    Saat kamu membaca doa berlindung dari sifat lemah, malas, pengecut, dan pikun yang sudah ada di atas, kamu bisa memperoleh faedahnya berupa: 

    • Keselamatan agar terhindar dari semua sifat yang disebutkan. 
    • Tidak terjerumus ke dalam sifat-sifat jelek. 
    • Mendapatkan perlindungan dari sifat ‘Ajz atau tidak adanya kemampuan dalam melakukan kebaikan. 
    • Perlindungan dari sifat Kasal atau kurangnya motivasi dalam melakukan kebaikan padahal sedang mampu melakukannya. 
    • Perlindungan dari sifat al jubn yakni berlindung dari rasa takut untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. 
    • Perlindungan dari al harom atau kembali pada kejelekan umur pada masa tua. 
    • Memperoleh perlindungan dari sifat bukhl atau sifat pelit dan kikir serta tidak tamak pada harta yang tidak ada dalam diri kita. 
    • Mendapatkan perlindungan dari siksa kubur. 
    • Mendapatkan perlindungan dari fitnah atau cobaan saat hidup dan ketika mati kelak. 

    Dengan membaca doa supaya tidak malas itu memang kita akan mendapatkan banyak faedah atau keutamaan dari sana. Yuk, amalkan biar hidup jadi lebih produktif!

    Baca juga: Doa Menghilangkan Pikiran Kotor dalam Islam, Pikiran Kembali Bersih

    Kiat Hidup supaya Lebih Produktif

    Tidak hanya membaca doa agar tidak malas, dan lemah saja. Di dalam Islam kita sudah sering mendengar bahwa setiap manusia juga harus bersama melakukan usaha. 

    Kita pasti sudah dengar pepatah yang cukup terkenal. Berdoa tanpa adanya usaha sama aja bohong. Akan tetapi, berusaha tanpa berdoa itu adalah sombong. Keduanya ibarat sepasang sayap. 

    Pakai satu sayap aja tidak bisa atau tidak cukup untuk membuat kita ‘terbang’. Keduanya harus berjalan beriringan. Jadi selain membaca doa supaya tidak malas, kita pun harus tahu cara atau usahanya. Berikut ini kiat-kiatnya: 

    1. Punya Niat yang Tulus

    Hal pertama yang harus kamu miliki adalah niat yang tulus. Niat menjadi hal fundamental juga mendasar pada setiap tindakan. 

    Islam mengajarkan kita agar semua yang kita kerjakan wajib benar dan tulus. Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: 

    “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, 

    dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits). 

    Memang Rasulullah telah mengajarkan kita agar selalu membenarkan niat. Apa saja yang kita kerjakan, sebisa mungkin meniatkannya untuk memperoleh Ridho Allah SWT. Dengan begitu, hati kita bisa tenang. 

    Selain membaca doa agar tidak malas, kita pun harus berusaha untuk selalu mengharap keridhaan Allah dan merasakan kehadiran-Nya pada semua tindakan kita. 

    2. Bersungguh-sungguh

    Punya cita-cita yang besar membuat kita semua harus terus bergerak. Dengan cita-cita besar yang ada, maka artinya kita sudah mengambil suatu tanggung jawab dan kewajiban besar guna mewujudkannya. 

    Nah jika kita malas, maka tujuan itu tidak akan pernah terwujud. Jalan satu-satunya untuk menghadapi malas adalah dengan bersungguh-sungguh. 

    Misalnya dengan mengatur kembali hidup kita, mengatur lagi gaya hidup, lebih banyak belajar, dan terus meningkatkan pemahaman agama. 

    3. Jadilah Proaktif

    Kiat selanjutnya adalah dengan menjadi proaktif. Dengan artian kita harus punya inisiatif dalam melakukan kebaikan serta jadi sosok yang lebih baik. 

    Selain membaca doa supaya tidak malas, kamu pun harus berusaha agar tidak selalu terbawa arus pergaulan di sekitarmu. 

    Justru sebaliknya, kamu harus membawa energi positif untuk kamu tularkan pada sekitar. Caranya bisa dengan fokus pada bidang yang ingin kamu kuasai atau bidang yang bisa memberikan manfaat pada hidup banyak orang. 

    4. Tidak Menunda Sesuatu atau Pekerjaan

    Salah satu hal yang bikin kita lebih malas dari biasanya adalah punya kebiasaan menunda-nunda. Apalagi jika kebiasaan ini sudah terbangun dari kecil. 

    Tahu tidak, kalau menunda-nunda itu dan sekadar punya angan-angan merupakan dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut. 

    إن المنى رأس أموال المفاليس

    “Sekedar berangan-angan (tanpa realisasi) itu adalah dasar dari harta orang-orang yang bangkrut.” (Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim, 1: 456).

    5. Cari Suasana Baru

    Setelah membaca doa berlindung dari malas dan hutang kamu pun harus berusaha untuk tidak malas lagi. 

    Jika dengan beberapa usaha lain kamu masih stuck dan masih malas, maka cobalah mengganti suasana. Yap, coba untuk mencari suasana yang baru.

    Kalau mau produktif, carilah ruang kerja publik seperti cafe, co-working space, ataupun perpustakaan yang di sampingnya banyak orang yang juga bekerja. 

    Ada di samping orang lain yang bekerja keras akan membantumu untuk ikut termotivasi bekerja keras juga. 

    Dengan beberapa cara ini, artinya kamu tidak sekadar hanya bisa membaca doa agar tidak malas saja. Melainkan juga sudah berusaha untuk menghilangkan rasa malasmu.

  • 11 Doa Minta Kesembuhan dari Sakit, Bersabar dan Percaya PadaNya

    11 Doa Minta Kesembuhan dari Sakit, Bersabar dan Percaya PadaNya

    Setiap orang pasti pernah merasakan sakit, karena dari sakit kita bisa mensyukuri nikmat sehat. Sebab kita sebagai manusia biasa harus senantiasa berdoa meminta perlindungan Allah SWT, termasuk doa minta kesembuhan ketika sedang sakit.

    Dengan membaca doa, kita juga sudah mengamalkan tindakan terpuji yang Rasulullah ajarkan kepada umatnya. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika kita doa minta kesembuhan penyakit kepada Allah SWT.

    Karena setiap takdir datangnya dari Allah SWT penguasa langit dan bumi. Apalagi datangnya sebuah penyakit merupakan bentuk ujian, baik itu ujian kesabaran ataupun ujian-ujian yang lainnya.

    Kumpulan Doa Minta Kesembuhan

    Kita seringkali melihat seseorang sakit baik itu teman, keluarga ataupun orang jauh, dan bisa juga diri kita sendiri. Walaupun begitu, siapapun itu tetap Allah SWT memiliki solusi terbaik untuk mendekatkan manusia kepada-Nya.

    Apalagi sebagai manusia yang tercipta untuk saling peduli dan mendukung. Memberikan doa minta kesembuhan untuk orang lain tidak ada salahnya.

    Artinya kita saling membantu walaupun melalui doa, karena doa senjata paling ampuh untuk orang beriman. Berikut beberapa kumpulan doa minta kesembuhan dari sakit yang bisa kita pelajari, perhatikan dan terapkan dengan baik.

    Pertama

    Doa Minta Kesembuhan dari Sakit yang Pertama

    Dari Kitab Al-Adzkar yang Imam An-Nawawi tulis terdapat beberapa kutipan riwayat cerita Rasulullah SAW menjenguk sahabatnya yang sakit. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW mendoakan kesembuhan kepada sahabatnya tersebut.

    Doa minta kesembuhan pertama dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA yang Rasulullah ajarkan untuk keluarganya yaitu sebagai berikut :

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

    Latinnya, “Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman.”

    Artinya: “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.” (Imam An-Nawari pada Kitab Al-Adzkar, Damaskus Darul Mallah halaman 113).

    Baca juga: Jazakumullah Khairan Katsiran, Arti dan Cara Menjawabnya

    Kedua

    Selanjutnya ada sebuah doa minta kesembuhan atas penyakit yang berasal dari hadits. Tentunya hadits tersebut diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA, doa ketika Rasulullah mengunjungi Sa’ad.

    اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا

    Latinnya, “Allahummasyfi sa’adan, Allahummasyfi sa’dan, Allahummasyfi sa’dan,”

    Artinya: “Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad, Ya Allah berilah kesembuhan kepada Saad.” (HR. Muslim no. 1628)

    Untuk lafaz Sa’ad yang merupakan nama orang, kita diperkenankan untuk menggantinya dengan nama orang lain yang tengah kita kunjungi.

    Ketiga

    Dalam riwayat lainnya, Rasulullah juga membaca doa minta kesembuhan ketika meruqyah salah satu sahabat beliau. Oleh sebab itu, kita juga bisa menggunakan doa riwayat ini untuk media komunikasi tepatnya meminta dengan Allah SWT.

    امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِك الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا أَنْتَ

    Latinnya, “Imsahil ba’sa rabban nasi. Bi yadikas syifa’u. La kasyifa lahu illa anta.”

    Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau.” (Kitab Al-Adzkar ditulis oleh Imam An-Nawawi, Damaskus Darul Mallah, halaman 113).

    Keempat

    Selanjutnya ada doa minta kesembuhan khusus untuk perempuan atau muslimah. Doa ini bisa kita panjatkan kepada Allah SWT untuk meminta pertolongan atas kesembuhan saudari-saudari kita.

    Pastikan lagi ketika membaca bacaan doa minta kesembuhan dari sakit, kita dalam keadaan bersih baik itu fisik maupun hati. Dan pastikan juga membaca dengan khusyuk serta tulus agar apa yang kita minta Allah SWT ijabah.

    اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَتَكَ يَا شَافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Latinnya, “Allahuma syafi ‘abdatika ya syafi la syifa-a illa syifa-uka syifa-an la yughadiru saqaman,”

    Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini (untuk perempuan), wahai Yang Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, sembuhkanlah ia sehingga tidak ada penyakit yang tersisa.”

    Kelima

    Kelima ada doa minta kesembuhan yang bersumber dari buku 5 Shalat Pembangun Jiwa karya Nasrudin Abd. Rohim. Buku tersebut menjelaskan bacaan doa ketika sakit berdasarkan hadist Rasulullah.

    Lebih lengkapnya dari riwayat dalam Shahih Muslim, dari Utsman bin abil Ash yang mengadu kepada Rasulullah perihal sakit yang ia rasakan pada tubuhnya. Rasulullah pun memberikan perintah untuk membaca doa sebagai berikut.

    (3x) بِسْمِ اللَّهِ

    (7x) أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    Latinnya, “Bismillah (3x), a’uudzu bi’izzatillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajldu wa uhaadziru (7x).”

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari kejahatan yang menimpaku dan aku takuti.”

    Keenam

    Riwayat dari Aisyah RA untuk doa minta kesembuhan keluarga dan lainnya.

    Artinya: “Bahwa Nabi Muhammad SAW ketika ada sahabat yang datang mengadu sebuah penyakit atau luka, beliau melakukan hal ini dengan jari telunjuknya dan beroda (Sufyan bin Uyainah selaku rawi hadits mempraktikkan dengan membasahi telunjuknya dan mengusapkannya ke tanah, kemudian berdoa.”

    بسم الله، تربة أرضنا، بريقة بعضنا، يشفى به سقيمنا، بإذن ربنا

    Latinnya, “Bismillahi, Turbatu Ardhina, Biriiqati ba’dhina, Yusyfaa bihi saqiimuna, Biidzni Rabbina.”

    Artinya: “Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya penyakit kami, dengan izin Rabb kami.” (HR. Bukhari no. 5745 dan Muslim no. 2194)

    Sebagai pendukungnya pun Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimi RA menjelaskan, “Hal ini bisa menjadi sebab kesembuhan dengan dua kondisi : (1) Diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah SWT akan menyembuhkan dengan cara ini; (2) Yang sakit pun menerima disertai keimanan bahwa hal tersebut akan menjadi sebab kesembuhannya.” (Syarh Riyadh Al-Shalihin, 4: 278)

    Ketujuh

    Doa minta kesembuhan ketujuh ini khusus laki-laki. Dengan memberikan doa, maka kita memberikan dukungan juga terhadap mental dan emosional yang sakit. Sehingga, bisa membantu mempercepat proses penyembuhan.

    أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

    Latinnya, “As-alu Allah al-‘azhima rabb al-‘arshi al-‘azhimi  an yashfiyak.”

    Artinya: “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Pemilik ‘Arsy yang Agung, agar menyembuhkanmu (untuk laki-laki).”

    Kedelapan

    Kedelapan ada bacaan doa minta kesembuhan dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas RA. Berikut doanya : 

    “Bahwasanya Rasulullah SAW ketika mengunjungi orang  sakit, beliau sering mengatakan,”

    لَا بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ

    Latinnya, “Laa ba’sa, thohuurun insyaallah.”

    Artinya: “Tidak mengapa. Semoga penyakit ini menjadi pembersih atas dosa-dosamu. Atas izin Allah.” (HR. Bukhari no. 3616)

    Poin kedelapan ini sebenarnya bukan merupakan doa, melainkan bentuk Rasulullah memberitahu bahwa sakit yang kita dera saat ini boleh jadi menjadi sebab terampuninya dosa-dosa atas izin Allah.

    Kesembilan

    Doa minta kesembuhan kesembilan ini, Rasulullah Saw baca saat menjenguk sahabatnya Salma Al-Farisi RA sesuai dengan hadist riwayat Ibnu Sunni. Doa berikut akan lebih spesifik dengan menyebut orang yang menderita penyakitnya.

    شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

    Latinnya, “Syafakallahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘afaka fi dinika wa jismika ila muddati ajalika.”

    Artinya: “Wahai (sebut nama orang yang sedang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia.”

    Kesepuluh

    Doa kesepuluh ini lebih kepada doa mohon kondisi kesehatan. Muhammad Lutfi Zamani menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Pasti Mustajab perlihal doa mohon kondisi sehat. Tetapi, sebenarnya bisa juga untuk doa minta kesembuhan.

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ ولا إل أحد منان ناس

    Latinnya, “Yaa hayyun, yaa qayyuumun, birahmatika istaghiitsu, wa ashlih lii sya’nii kullahuu, wa laa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin, wa laa ilaa ahadin minan naas.”

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, hanya dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh kondisiku, jangan Engkau biarkan aku bergantung kepada siapapun dari manusia. (Ath Thabrani, Al-Mu’jamu ash-Shaghir lith Thabrani, Juz 2 (Mesir: Muwaqi’u Jaamil Haits, tt), halaman 3).

    Kesebelas

    Terakhir, ada ayat doa minta kesembuhan dari sakit menurut surat Al-Quran. Kutipan surat Al-Quran dalam Surat Al-Anbiya ayat 83. Berikut lafadz dan artinya :

    رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

    Latinnya, “Robbi annii massaniyadh dhurru wa anta arhamar roohimiin.”

    Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

    Melalui doa kita bisa menunjukkan rasa kepedulian terhadap orang yang sedang sakit. Walaupun doa memang sesuatu hal yang harus kita panjatkan untuk meminta pertolongan kepada Allah.

    Sehingga, semoga dengan pemaparan kumpulan doa minta kesembuhan tersebut membuat kita selalu dalam perlindungan Allah. Sekaligus dapat membantu kita semua untuk memperoleh kesabaran atas sakit tersebut.

    Jangan lupa untuk juga menjaga kesehatan sebagai bentuk usaha dan memanjatkan doa minta kesembuhan. Berdoa bisa kita lakukan sebagai bentuk komunikasi meminta perlindungan kepada Allah SWT.

  • Niat Puasa Syawal 6 Hari sesuai Sunnah dan Keutamaannya

    Niat Puasa Syawal 6 Hari sesuai Sunnah dan Keutamaannya

    Dalam Islam, ada beberapa jenis puasa yang dilaksanakan selain puasa wajib di bulan suci Ramadhan. Salah satunya adalah puasa Syawal yang konon memiliki banyak manfaat. Lantas, bagaimana lafal niat puasa Syawal 6 hari?

    Niat puasa Syawal tentu saja berbeda dengan puasa Ramadhan atau puasa sunnah lainnya. Kita tidak bisa menggunakan niat puasa Ramadhan yang sudah dihafal. Bacaan niatnya harus benar-benar sesuai.

    Sayangnya, sebagai muslim kita masih seringkali lalai. Sehingga, banyak yang belum hafal bahkan tahu niat puasa Syawal yang tepat. Maka pada artikel kali ini, akan dibahas secara tuntas termasuk keutamaan melaksanakan puasa Syawal.

    Bacaan Niat Puasa Syawal 6 Hari

    Konon, ketika seorang muslim merencanakan sesuatu yang positif, Allah memberikan pahala atas niatnya. Khusus untuk ibadah puasa, selain kita niatkan dalam hati juga harus diiringi dengan pengucapan niat yang benar seperti berikut.

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

    NawaItu sawma ghadin ‘an adaa’i sunnati syawwali lillahi ta’ala.

    Artinya: “Saya berniat berpuasa esok hari sebagai pelaksanaan sunnah Syawal karena Allah Ta’ala”.

    Niat tersebut adalah niat puasa Syawal 1 hari. Cobalah untuk menghafalkan niatnya, dan jangan lupa untuk membacanya selama 6 hari berturut-turut.

    نَوَيْتُ صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّوَّالِ لِلَّهِ تَعَالَى

    Nawaitu sauma sittati ayyamin minasy syawwali lillahi ta’ala.

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku niat puasa enam hari di bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”

    Sedangkan, niat di atas merupakan niat puasa Syawal 6 hari yang bisa kita ucapkan satu kali saja. Walaupun diucapkan satu kali, sudah cukup untuk ibadah puasa sampai enam hari lamanya.

    Ketika sudah meyakinkan diri untuk berpuasa Syawal maka laksanakanlah puasa sunnah tersebut dengan baik dan benar. 

    Hindari perbuatan yang dapat membatalkan puasa kita dan cobalah untuk menahan diri dari berbagai godaan yang ada.

    Kemudian, selain mengetahui bacaan niat puasa syawal 6 hari alangkah baiknya jika kita juga mulai menghafal niat buka puasa Syawal.

    Baca juga: Dzikir dan Doa Setelah Sholat Witir Arab-Latin Beserta Arti Sesuai Sunnah

    1. Doa Buka Puasa Syawal sesuai HR. Abu Daud

    Ada dua, niat berbuka puasa Syawal yang bisa kita pilih. Di mana, yang pertama adalah niat yang diriwayatkan oleh Abu Daud.

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

    Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

    Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”

    2. Doa Buka Puasa Syawal sesuai HR. Bukhari dan Muslim

    Yang berikutnya adalah niat berbuka yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yakni.

    اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa ala rizqika aftartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin.

    Artinya: “Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

    Keutamaan Melaksanakan Puasa Syawal 6 Hari

    Puasa di bulan suci Ramadan identik dengan terlahir kembali sebagai muslim yang baru, di mana semua dosa dihapuskan. Lantas, bagaimana keutamaan dari menjalankan puasa Syawal?

    Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

    “Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan].”

    (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil).

    Bayangkan, puasa Syawal 6 hari itu setara dengan berpuasa selama 1 tahun penuh. Meskipun kita tidak bisa menghitung jumlah pahala, tapi setidaknya kita bisa meyakini jika pahala yang akan kita dapatkan dengan berpuasa sangatlah besar.

    Melaksanakan puasa Syawal juga membantu kita menyebarkan kebaikan 10x lipat lebih banyak dari biasanya. Penting sekali, wahai saudara muslim untuk melaksanakan ibadah puasa Syawal sekaligus melakukan kegiatan baik dan positif.

    Hindari menjalankan puasa dengan hanya berdiam diri di rumah atau tidur saja. Tidur saat puasa memang baik tapi akan lebih bermanfaat lagi apabila kita melakukan kegiatan bermanfaat selama puasa.

    Keutamaan puasa Syawal lainnya juga diriwayatkan oleh Muslim.

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

    “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).

    Siapa yang tidak ingin memperoleh pahala yang berlimpah dengan puasa Syawal? Rasanya tidak akan ada muslim yang menolaknya.

    Mengetahui semua keutamaan tersebut, sebagai muslim apakah kita akan menghindari puasa Syawal. Atau justru mulai bertanya-tanya, apa niat puasa Syawal digabung puasa senin kamis.

    Pada dasarnya, Kemenag memperbolehkan ibadah puasa Syawal digabungkan dengan puasa senin, kamis. Para ulama menilai, hukumnya sah menggabungkan keduanya karena masing-masing merupakan jenis puasa sunnah.

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    Hal yang Wajib Diperhatikan sebelum Puasa Syawal

    Pelaksanaan ibadah puasa Syawal itu bukan hanya membaca niat puasa Syawal 6 hari kemudian menjalankan puasa. Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan sebelum menjalani ibadah ini, meliputi:

    1. Usahakan Dilaksanakan Satu Hari selesai Idul Fitri

    Puasa Syawal merupakan puasa sunnah yang pelaksanaannya dilakukan usai puasa bulan suci Ramadhan berakhir. Dari sekian banyak waktu yang diberikan, konon waktu puasa Syawal terbaik adalah satu hari pasca idul fitri.

    Namun, Allah tetap menarima umatnya yang menjalankan puasa Syawal di akhir waktu. Dengan catatan, puasa tersebut masih kita lakukan di bulan Syawal.

    2. Lakukan Puasa Berurutan

    Bagaimana cara melaksanakan puasa Syawal yang baik dan benar? Yang paling direkomendasikan dan diutamakan adalah melaksanakannya selama 6 hari tanpa jeda.

    Namun, jika dalam prosesnya kita memiliki hambatan atau masalah maka tidak dilarang untuk berpuasa Syawal tanpa berurutan. Niatkan saja puasa Syawal dengan hati yang tulus dan ikhlas karena Allah.

    3. Utamakan Menyelesaikan Qodho’ Puasa

    Berbeda dari puasa Syawal yang termasuk puasa sunnah, qodho’ puasa adalah puasa wajib. Oleh karena itu, lebih dianjurkan untuk menyelesaikan qodho’ puasa daripada mengajar puasa Syawal.

    Setelah menyelesaikan qodho’ puasa, kita bisa melanjutkan ibadah puasa dengan melaksanakan puasa Syawal. Tentu saja pahala yang akan kita peroleh jauh lebih melimpah.

    4. Diperbolehkan Niat Puasa saat Terbit Fajar

    Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    من لم يبيِّتِ الصِّيامَ قبلَ الفَجرِ، فلا صيامَ لَهُ

    Barangsiapa yang tidak menghadirkan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasa’i no. 2331, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai)

    Sabda nabi tersebut, tentunya membuat kita khawatir puasa Syawal tidak diterima Allah. Tapi jangan khawatir terlebih dahulu karena sabda tersebut ditujukkan untuk ibadah puasa wajib.

    Sementara, jenis puasa sunnah diizinkan untuk membaca niat walupun sudah terbit fajar.

    Itulah sedikit informasi mengenai puasa Syawal 6 hari yang semoga berguna bagi kita para muslim. Banyak orang yang menutup mata dengan kelebihan puasa sunnah sehingga lebih memilih melakukan puasa wajib saja.

    Dengan mengetahui keutamaan, niat puasa Syawal 6 hari dan informasi lainnya semoga mata kita terbuka. Melihat apapun ibadahnya, selama dilaksanakan dengan baik, maka akan mendatangkan kebaikan dan pahala.

  • 7 Bacaan Akad Nikah Bahasa Arab Latin dan Artinya Lengkap!

    7 Bacaan Akad Nikah Bahasa Arab Latin dan Artinya Lengkap!

    Akad nikah bahasa Arab merupakan lafadz dalam prosesi sakral pernikahan umat Islam di Indonesia dengan bahasa Arab. Lafadz akad nikah berbentuk ijab qabul. Pembacaan lafadz ijabnya akan dibacakan oleh wali nikah dari mempelai wanita.

    Sementara untuk pembacaan qabulnya, akan dibacakan dari mempelai pengantin pria. Kedua lafadz tersebut akan dibaca beriringan alias berkelanjutan.

    Ijab dari perwakilan mempelai wanita terlebih dahulu, baru ijab qabul dari pengantin pria.

    Bacaan Akad Nikah Bahasa Arab

    Prosesi akad nikah dengan bacaan ijab qabul selain bahasa Arab pun sebenarnya tetaplah sah. Hal tersebut tertuang dalam pendapat paling kuat oleh mayoritas ulama yang penjelasanya terdapat dalam Mausu’ah Fiqhiyah al-Kuwaitiyah.

    Pendapatannya mengatakan bahwa seseorang yang tidak menggunakan bahasa Arab, boleh menggunakan ijab kabul dalam bahasa kesehariannya. Karena ia tidak mampu berbahasa Arab, sehingga tidak harus menggunakan bahasa Arab.

    Walaupun demikian, kita tetap boleh mengucapkan ijab qabul dalam bahasa Arab. Guna memberikan pengetahuan mengenai akad nikah bahasa Arab, berikut lafadz-lafadz ijab qabul bahasa Arab yang bisa kita pelajari:

    1. Bacaan Ijab Bahasa Arab

    Bacaan Ijab Bahasa Arab

    Ijab merupakan sebuah kalimat yang akan diucapkan oleh wali (ayah) dari pengantin perempuan. Selain ayah, wali bisa diwakilkan dengan orang yang memenuhi syarat dan ketentuan dalam Islam.

    Simak secara detail lafadz akad nikah bahasa Arab dari bacaan ijabnya terlebih dahulu.

    أَنكَحْتُكَ وَزَوَّجْتُكَ مَخْطُوْبَتَكَ بِنْتِي …… بِمَهْرِ …… حَالًا

    Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti …. (nama mempelai perempuan) alal mahri (bentuk mahar atau mas kawin) hallan.

    Artinya: “Aku nikahkan engkau, dan kawinkan engkau dengan pinanganmu, putriku (nama mempelai perempuan) dengan mahar (bentuk mahar atau mas kawin) dibayar tunai.”

    Baca juga: Hukum Mewarnai Rambut dalam Islam, Boleh atau Haram?

    2. Bacaan Kabul Bahasa Arab

    Bacaan Kabul Bahasa Arab

    Sementara untuk qabul sendiri yaitu kalimat yang diucapkan oleh mempelai pria. Kabul sebagai jawaban atau tanda terima dari ijab yang sudah diucapkan oleh wali atau ayah dari mempelai perempuan sebelumnya

    Berikut lafadz akad nikah bahasa Arab dalam jawaban bacaan kabulnya sebagai berikut:

    قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيْجَهَا بِالْمَهْرِ المذْكُوْرِ

    Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.

    Artinya: “Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin (mahar) yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.”

    Setelah mempelai pria selesai mengucapkan kabulnya, maka dilanjutkan dengan ucapan sah oleh para saksi yang telah hadir. Ketika saksi mengatakan sah, maka bacaan saat akad nikah bahasa Arab tersebut akan disahkan juga oleh penghulu.

    Namun, jika ada perkataan para saksi yang mengucapkan tidak sah, otomatis bacaan ijab qabul tersebut harus diulangi kembali. Sebab, ucapan tidak sah mengganggu syarat akad nikah.

    Biasanya ucapan tidak sah seperti ini disebabkan oleh berbagai macam perkara. Salah satunya ada pihak tertentu yang merasa keberatan dengan berlangsungnya akad tersebut atau bisa juga karena terputusnya dalam pengucapan ijab kabul.

    Baca juga: Hukum Perceraian dalam Islam, Simak Baik Baik!

    Lafadz Akad Nikah Bahasa Arab yang Diucapkan oleh Wali Hakim

    Sementara untuk bacaan akad nikah bahasa Arab di atas dibaca oleh ayah mempelai perempuan. Lalu, untuk wali hakim bagaimana bacaannya? Simak contoh bacaan ijab kabul sebagai berikut:

    1. Bacaan untuk Mewakilkan Wali

    Mewakilkan wali atau takwil wali dari wali yang berupa ayah kandung mempelai perempuan kepada orang yang beliau tunjuk :

    “Saudara … (nama orang yang mewakili) saya mewakilkan Anda untuk menikahkan anak perempuan saya … (nama mempelai perempuan) dengan Saudara … (nama mempelai laki-laki) bin … (nama ayah mempelai laki-laki) dengan mas kawin … (menyebutkan jenis dan nominal mahar atau mas kawinnya) dibayar tunai.”

    Selain itu, ada juga contoh kalimat dari orang yang mewakilkan wali atau tawkil wali dari wali yang bukan ayah kandung mempelai perempuan kepada orang yang ditunjuk sebagai berikut :

    “Saudara … (nama orang yang mewakili) saya mewakilkan kepada Anda untuk menikahkan cucup atau saudara perempuan atau keponakan atau saudara sepupu (bisa memilih hubungan antara mempelai perempuan dengan wali) saya … (nama mempelai perempuan) binti … (nama ayah mempelai perempuan) dengan (menyebutkan jenis dan nominal mahar atau mas kawin) dibayar tunai.”

    2. Bacaan untuk Kalimat Ijab

    Pertama, ada kalimat ijab yang bisa dilakukan sendiri oleh wali yang berupa ayah kandung dari mempelai perempuannya.

    “Saudara .. (nama mempelai laki-laki) bin .. (nama ayah mempelai laki-laki) Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan anak perempuan saya .. (nama pengantin perempuan) dengan mas kawin … (menyebutkan jenis dan mas kawin) dibayar tunai.

    Sementara itu, selain ada bacaan akad nikah bahasa Arab juga masih ada bacaan ijab yang dilakukan sendiri oleh wali yang bukan ayah kandung dari mempelai perempuan.

    “Saudara … (nama mempelai laki-laki) bin … (nama ayah mempelai laki-laki) Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan cucu atau saudara perempuan atau keponakan atau saudara sepupu (pilih salah satu hubungan antara perempuan dengan walinya) saya … (nama mempelai perempuan) binti … (nama ayah mempelai perempuan) dengan mas kawin … (menyebutkan jenis dan nominal mas kawin) dibayar tunai.”

    Selain dari bacaan ijab kabul akad nikah bahasa Arab, juga masih ada salah salah satu contoh bacaan kalimat ijab yang dilakukan oleh orang yang mewakili mempelai perempuan. Adapun contoh kalimatnya sebagai berikut:

    “Saudara … (nama mempelai laki-laki) bin … (nama ayah mempelai laki-laki) Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan .. (nama mempelai perempuan) binti … (nama ayah mempelai perempuan) yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda dengan mas kawin … (menyebutkan jenis dan nominal mas kawin) dibayar tunai.”

    Sementara untuk mempelai laki-laki yang akan menjawab dan menerima dengan kalimat kabul pernikahan tersebut. Bacaan lafadz kabulnya masih sama dengan bacaan kabul pada akad nikah bahasa Arab atau bahasa Indonesia.

    Sehingga, yang berubah hanya ijabnya karena ada perwakilan wali hakim yang menggantikan ijab ayah mempelai perempuan. Dengan begitu, kita tidak perlu bingung dan bertanya-tanya bagaimana kalimat ijabnya.

    3. Bacaan Ijab Bahasa Arab yang Diwakilkan oleh Wali Hakim

    Atau bisa juga dengan akad nikah bahasa Arab yang diwakilkan untuk bacaan ijabnya yaitu sebagai berikut:

    أَنكَحْتُكَ وَزَوَّجْتُكَ مَخْطُوْبَتَكَ …… بِنْتَ …… الَّتِي وَكَّلَنِي وَلِيُّهَا بِمَهْرِ …… حَالًا

    Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka … binta … allati wakkalani waliyyuha bi mahri … hallan.

    Artinya: “Saya nikahkan kamu dan saya kawinkan kamu dengan perempuan pinanganmu … binti … yang walinya telah mewakilkan kepada saya dengan mas kawin… tunai.”

    Bacaan Akad Nikah Bahasa Indonesia

    Kita tidak hanya belajar tentang bacaan akad nikah bahasa Arab dan artinya saja, tetapi juga belajar jika menggunakan bahasa Indonesia. Adapun lafadz yang bisa kita bacakan yaitu sebagai berikut:

    1. Bacaan Ijab

    Bacaan ijabnya terlebih dahulu:

    “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara (nama mempelai  laki-laki) bin (nama ayah mempelai laki-laki) dengan anak saya yang bernama (nama mempelai perempuan) dengan mas kawinnya berupa (mahar atau mas kawin) tunai.”

    2. Bacaan Kabul

    Dan inilah bacaan qabulnya:

    “Saya terima nikahnya dan kawinnya (nama mempelai perempuan) binti (nama ayah mempelai perempuan) dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.”

    Syarah Sah Ijab Kabul

    Setelah mengetahui bagaimana bacaan akad nikah bahasa Arab, kita juga perlu tahu mengenai berbagai hal tentang pernikahan tersebut.

    Tujuannya untuk mendapatkan keberkahan dan kelancaran dari prosesi pernikahan.

    Secara umum syarat sahnya ijab kabul yaitu sebagai berikut:

    1. Adanya pengucapan lafadz “aku nikahkan” atau “kami nikahkan” atau dalam bahasa lain sebagai salah satu ketentuannya.
    2. Menyebutkan nama dari calon mempelai baik istri dan juga suami. Sebutannya juga bisa menggunakan kata ganti atau menyebutkan dengan nama kedua mempelai.
    3. Menyebutkan mahar atau mas kawin yang diberikan.

    Lebih resminya lagi jika bunyi akad nikah bahasa Arab dengan ijab kabulnya ini diucapkan secara lengkap dengan menyebutkan nama sang mempelai perempuan. Serta juga menyebutkan jumlah mahar yang diberikan.

    Syarat-Syarat Menikah

    Walaupun pernikahan bukan bagian dari rukun Iman dan rukun Islam, tetapi pernikahan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW bagi mereka-mereka yang siap secara lahir dan batin.

    Arti dari salah satu hadisnya, “Dari Aisyah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Menikah itu termasuk dari sunnahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku.”

    “Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR. Ibnu Majah).

    Hal itulah yang membuat sebuah pernikahan merupakan momen sakral dengan adanya syarat pernikahan. Berikut syarat dan rukun pernikahan, baik dengan kalimat  akad nikah bahasa Arab ataupun bahasa lainnya:

    1. Terdapat mempelai laki-laki
    2. Terdapat mempelai perempuan
    3. Terdapat ayah atau wali nikah bagi perempuan
    4. Terdapat para saksi nikah, dimana bagi pria minimal dua orang laki-laki yang sudah baligh
    5. Beragam Islam
    6. Mengucapkan ijab dan kabul
    7. Mengetahui asal usul wali akad nikah
    8. Bukan pria yang mahram bagi calon istri
    9. Tidak menikah dalam kondisi paksaan
    10. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji

    Itulah akad nikah bahasa Arab juga Indonesia yang bisa kita pelajari dengan mudah. Penuhi semua syarat dan rukun pernikahannya agar pernikahan yang dibangun menjadi berkah sekaligus mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

  • Kisah Nabi Ishaq: Mukjizat Nabi Ishaq, Sejarah, & Perjalanan Dakwah 

    Kisah Nabi Ishaq: Mukjizat Nabi Ishaq, Sejarah, & Perjalanan Dakwah 

    Artikel ini akan membahas kisah Nabi Ishaq. Nabi Ishaq merupakan anak kedua dari Nabi Ibrahim setelah Nabi Ismail. Ia sekaligus menjadi anak pertama dari Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim.

    Cerita sejarah Nabi Ishaq tentu patut kita ketahui karena memiliki beberapa hikmah. Salah satunya adalah kesabaran seperti yang terlihat saat Siti Sarah menunggu agar ia bisa memiliki seorang anak seperti Siti Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim.

    Kisah kaum Kan’an juga menjadi pokok pembahasan dan juga terkait dengan Nabi Ishaq. Artikel ini ikut menjelaskan bagaimana perjuangan Nabi Ishaq berhadapan dengan kaum Kan’an yang jauh dari Allah.

    Berikut adalah pembahasan kisah nabi Ishaq singkat dan lengkap. Mari kita bahas bersama.

    Rangkuman Kisah Nabi Ishaq

    Pertama, mari kita pahami kisah Nabi Ishaq. Dengan begitu, kita bisa lebih mengerti bagaimana perjuangan Nabi Ishaq dan apa saja hikmah yang bisa didapat.

    Nabi Ibrahim dan Siti Sarah Belum Dikaruniai Anak

    Siti Sarah merupakan istri pertama dari Nabi Ibrahim. Disebutkan bahwa Sarah merupakan wanita tercantik di muka bumi pada masanya. Bahkan kecantikannya itu bisa menandingi Siti Hawa, istri Nabi Adam.

    Meski demikian, ternyata Nabi Ibrahim dan Siti Sarah sama sekali belum memiliki anak. Padahal, usia mereka sudah sangat tua. Nabi Ibrahim sendiri khawatir ia tidak akan memiliki keturunan untuk meneruskan dakwahnya.

    Menjawab kekhawatiran sang suami, Siti Sarah mengizinkannya untuk menikahi wanita lain, lebih tepatnya Hajar yang masih sangat muda. Setelah pertimbangan berat, Nabi Ibrahim akhirnya menyetujui permintaan sang istri pertamanya itu.

    Setelah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar menikah, mereka akhirnya memiliki anak bernama Ismail. Hal ini sempat memicu kecemburuan dari Siti Sarah yang berkata tidak siap untuk tinggal serumah dengan mereka.

    Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail ke Mekkah yang masih belum berpenghuni dan berupa tanah tandus. Meski demikian, Allah memberikan sebuah mukjizat saat Hajar dan Ismail kehausan.

    Kita tentu sudah mengetahui peristiwa saat Siti Hajar yang berlari berkeliling tujuh kali sebelum mukjizat tiba. Begitu juga dengan perintah Allah SWT untuk Nabi Ibrahim agar menyembelih Ismail. Sekarang, mari kita bahas awal cerita kisah Nabi Ishaq.

    Baca juga: Niat Sholat Maghrib Sendiri, Berjamaah, dan Tata caranya

    Kelahiran Nabi Ishaq Menjadi Kabar Gembira

    Meski sudah memiliki Ismail sebagai anak pertamanya, Nabi Ibrahim masih belum memiliki anak dari hasil pernikahan pertamanya. Padahal, ia sudah menginjak usia 100 tahun, usia yang sangat lanjut.

    Saat itu, Ismail berusia 14 tahun, sementara Siti Sarah menginjak usia kurang lebih 90 tahun. Usia Nabi Ibrahim dan Siti Sarah memang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi memiliki keturunan.

    Suatu hari, terdapat tiga malaikat yang datang bertamu kepada Nabi Ibrahim. Ketiga malaikat itu menyamar sebagai manusia sebelum bertamu untuk menyampaikan dua kabar.

    Nabi Ibrahim pun menyambut mereka dengan senang hati. Ia mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu sebelum memerintahkan Siti Sarah agar menyiapkan hidangan anak sapi gemuk.

    Akan tetapi, ketiga tamu itu ternyata tidak makan dan minum jamuan itu. Mereka justru mengungkapkan diri sebagai para malaikat yang datang dengan dua kabar.

    Pertama, mereka mengatakan kaum Sodom akan mendapat azab yang sangat pedih akibat menolak ajakan Nabi Luth untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Saat itu, mereka sedang menuju lokasi kaum Sodom sebelum berkunjung.

    Kabar gembiranya adalah Siti Sarah akan melahirkan seorang anak dalam waktu dekat. Padahal Siti Sarah sudah berusia 90 tahun dan mandul. Perkataannya diabadikan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    قَالَتْ يٰوَيْلَتٰىٓ ءَاَلِدُ وَاَنَا۠ عَجُوْزٌ وَّهٰذَا بَعْلِيْ شَيْخًا ۗاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيْبٌ

    Artinya:

    “Dia (istrinya) berkata, ‘Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib’.” (QS. Hud: 72).

    Nabi Ibrahim juga menyambut kabar itu dengan gembira. Ia sudah menanti-nantikan momen terwujudnya memiliki anak dari pernikahan pertamanya itu. Beberapa bulan kemudian, Siti Sarah akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. bernama Ishaq.

    Kisah kelahiran nabi ishaq diceritakan dalam Al Quran surah Hud ayat 69-74, surat Adz-Dzariyat ayat 24-30, surat Shad ayat 45-47. Ketiga surat dalam Al-Qur’an tersebut juga membahas kisah kelahiran Nabi Ishaq sebagai kebesaran Allah SWT.

    Kisah Nabi Ishaq saat Dewasa

    Kelahiran Ishaq tentu menjadi kabar gembira bagi Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Usaha untuk selalu berdoa pada Allah SWT akhirnya terbayar. Anak mereka itu tumbuh menjadi sangat soleh dan alim.

    Ishaq memiliki sifat-sifat penting yang menjadi idaman bagi Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Ia punya akhlak sangat tinggi, mengajak manusia untuk mengikuti kebenaran, dan mengingat kehidupan akhirat kelak.

    Kemudian, Ishaq akhirnya diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun agar meneruskan dakwah sang ayah, Nabi Ibrahim. Hal itu juga menjadi bukti dari kisah nabi Ishaq dalam Al Quran sebagai berikut:

    اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.” (QS. An-Nisa: 163).

    Nabi Ishaq diutus untuk memimpin kaum Kan’an yang berada di wilayah Palestina. Saat itu, kaum Kan’an sama sekali tidak mengenal Tuhan. Inilah momen terpenting dari kisah Nabi Ishaq lengkap.

    Pernikahan Nabi Ishaq dan Cobaannya

    Kisah nabi Ishaq pun berlanjut saat Nabi Ibrahim, sang ayah, sudah memasuki usia yang sangat tua. Ibunya sudah meninggal terlebih dahulu, sementara Nabi Ishaq sendiri belum menikah.

    Awalnya, nabi Ishaq meminta izin pada ayahnya agar bisa menikahi seorang perempuan dari kaum Kan’an. Akan tetapi, permintaan itu berakhir dengan penolakan karena kaum Kan’an masih tidak beriman.

    Terlebih lagi, Nabi Ibrahim juga sangat khawatir dengan keputusan anaknya itu. Ia takut Nabi Ishaq menikah dengan perempuan yang tidak seiman.

    Oleh karena itu, suatu hari Nabi Ibrahim memiliki solusi. Ia meminta seorang pelayannya untuk pergi ke Harran, Irak. Tujuannya agar mendapat perempuan yang bisa menjadi jodoh bagi Nabi Ishaq.

    Pada akhirnya, pelayan itu menemukan seorang perempuan yang tidak lain kerabat keluarga jauh. Ia adalah Rafiqah binti Batnail bin Nahur. Setelah itu, Nabi Ibrahim menikahkan Nabi Ishaq dengan Rafiqah.

    Tidak jauh berbeda dari Siti Sarah, Rafiqah ternyata mengalami mandul. Ini menjadi momen ujian dalam kisah nabi Ishaq. Tidak menyerah pada nasib, Nabi Ishaq dan sang istri terus berdoa pada Allah SWT agar mereka bisa mendapat keturunan.

    Kelahiran Nabi Yaqub jadi Cikal Bakal Nabi dari Kaum Bani Israil

    Pada akhirnya, doa Nabi Ishaq dan istrinya terkabulkan oleh Allah SWT. Rafiqah pun melahirkan putra kembar, yaitu Al-‘Aish dan Yaqub. Ternyata bukan hanya satu, dua putra kembar sudah menjadi kabar yang sangat menggembirakan.

    Seperti yang kita ketahui, Yaqub kemudian menjadi nabi sama seperti sang ayah. Ia diutus pada kaum Bani Israil demi meneruskan dakwah sang ayah untuk menyebarkan kebenaran.

    Nabi Yaqub juga menjadi awal dari masa depan nabi dari kaum Bani Israil. Pertama, ia mendapat anugerah berupa putra bernama Yusuf. Kemudian, muncullah beberapa nabi lain dari keturunan Bani Israil seperti Ayyub, Musa, Daud, Sulaiman, dan Isa.

    Sementara itu, Al-‘Aish sering sekali disebut-sebut sebagai cikal bakal dari bangsa Romawi atau lebih tepatnya Bani Ashfar. Ashfar memiliki arti warna kuning karena warna kulit Al-‘Aish.

    Konflik Al-‘Aish dan Yaqub

    Kedua anak Nabi Ishaq yang menjadi cikal bakal kedua bangsa berbeda ternyata terpicu oleh sebuah perseteruan. Konflik tersebut menjadi satu lagi momen terpenting dari kisah Nabi Ishaq. Nabi Ishaq saat itu sudah berusia sangat lanjut.

    Suatu hari, Nabi Ishaq meminta Al-‘Aish untuk memasak makanan kesukaannya dari hasil buruan itu. Pada saat yang sama, Rafiqah meminta Yaqub agar menyajikan makanan kesukaan Nabi Ishaq.

    Tidak tanggung-tanggung, Rafiqah menyuruh Yaqub mengenakan pakaian milik Al-‘Aish. Ia juga memasangkan kulit domba di tangan dan leher anaknya itu.

    Karena Nabi Ishaq sudah sangat tua, penglihatannya pun menurun. Saat itulah menjadi momen dirinya mengira Yaqub adalah Al-‘Aish berdasarkan rabaan tubuh anaknya itu.

    Yaqub pun menyajikan makanan favorit sang ayah itu. Akan tetapi, Nabi Ishaq merasakan ia sedang di dekat Al-‘Aish namun suaranya dari Yaqub.

    Ia pun mengucapkan doa agar putranya itu selalu mendapat ilmu dan rezeki melimpah, kebaikan, serta menjadi panutan bagi saudara sekaligus keturunannya.

    Al-‘Aish pun tiba tidak lama setelah Yaqub pergi dengan hidangan sesuai permintaan sang Ayah. Akan tetapi, ia tercengang bahwa Nabi Ishaq sudah menikmati hidangan buatan Al-‘Aish yang ternyata tak lain adalah Yaqub.

    Tidak terima dengan kenyataan itu, Al-‘Aish menjadi murka dan ingin membunuh saudara kembarnya sendiri. Tidak lama setelah itu, Rafiqah meminta Yaqub agar pergi ke Irak untuk menuju rumah pamannya.

    Konflik Al-‘Aish dan Yaqub yang berdampak pada masa depan umat manusia tentu bukan menjadi akhir dari kisah Nabi Ishaq. Tentunya, kita harus mengetahui bagaimana perjalanan dakwah dan mukjizatnya.

    Perjalanan Dakwah Nabi Ishaq

    Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Nabi Ishaq mendapat perintah agar memimpin kaum Kan’an di daerah Palestina. Ia juga menjadi penerus Nabi Ibrahim, sang ayah, dalam menyebarkan kebenaran dan ajaran Allah SWT.

    Ternyata Nabi Ishaq memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam menyampaikan ilmu dari Allah SWT. Tidak hanya itu, ia juga terkenal sebagai sosok Nabi yang sangat ramah, menjadikan banyak dari kaum Kan’an sangat menghormatinya.

    Kisah Nabi Ishaq dan kaumnya menjadi bukti bahwa ia sangat cerdas dalam memahami kaumnya. Tidak heran ia menjadi sosok yang terkenal dan penuh hormat.

    Mukjizat Nabi Ishaq

    Sebagai nabi, Ishaq tentu memiliki mukjizat dan keistimewaan sama seperti yang lainnya. Umat manusia belum banyak mengetahui hal tersebut. Ternyata, semuanya berawal dari kabar kelahirannya dari para malaikat pada Nabi Ibrahim dan Siti Sarah.

    Nabi Ishaq juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tidak hanya itu, ia memiliki akhlak yang sangat tinggi. Kisah Nabi Ishaq dan mukjizatnya tercantum pada ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 45-47)

    Terakhir, kedua anaknya, Yaqub dan Al-‘Aish, menjadi cikal bakal dua bangsa yang berbeda, yaitu Bani Israil dan Romawi. Tentunya, keduanya memiliki dua iman yang berlawanan. Hal ini tercantum pada ayat Al Quran sebagai berikut:

    وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ

    Artinya:

    “Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffat: 113).

    Hidayatul Insan menafsirkan ayat Al-Qur’an itu sebagai petunjuk bahwa keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq mendapat keberkahan. Keberkahan itu berbentuk iman, ilmu, akhlak, dan keturunan para nabi.

    Itulah mengapa Nabi Ibrahim memiliki tiga keturunan yang menjadi cikal bakal kaum masing-masing. Ketiganya adalah bangsa Arab dari keturunan Ismail, bangsa Bani Israil dari Yaqub, dan bangsa Romawi dari Al-‘Aish.

    Meski namanya sering sekali ada di Al-Qur’an, ternyata tidak banyak kisah Nabi Ishaq yang tercantum di sana, terutama perjalanan dakwah. Al-Qur’an hanya mencantumkan kisah kelahiran dan kematiannya.

    Wafatnya Nabi Ishaq

    Menjelang kematian Nabi Ishaq, Al-‘Aish dan Yaqub diceritakan sudah akur kembali. Meski begitu, ia akhirnya meninggal pada usia seratus delapan puluh tahun.

    Yaqub kemudian menjadi penerus sang ayah dalam menyebarkan agama Islam. Ia juga mendapat utusan dari Allah untuk menjadi seorang nabi. Seperti yang kita ketahui, Yaqub juga menjadi cikal bakal Bani Israil.

    Itulah akhir dari kisah Nabi Ishaq lengkap dari lahir sampai wafat.

    Hikmah dari Kisah Nabi Ishaq

    Setelah mengetahui sejarah Nabi Ishaq, kita bisa memetik beberapa hikmahnya. Berikut adalah hikmah penting yang kita patut tiru:

    1. Sayangilah Keluarga dan Saudara

    Kisah Nabi Ishaq telah mengajarkan kita agar selalu sayangi keluarga dan saudara. Hal ini sudah terlihat saat Nabi Ibrahim yang meminta pelayannya untuk mencari calon istri Nabi Ishaq sebagai bukti kasih sayang terbaik.

    Nabi Ishaq juga tetap menyayangi sang istri, Rafiqah, meski mengalami sebuah cobaan. Mereka tetap bersabar dan selalu berdoa penuh harap kepada Allah SWT. Doa dan usaha mereka membuahkan hasil berupa dua anak kembar.

    Kemudian, Nabi Ishaq mengajarkan kedua anaknya tentang akhlak secara penuh kasih. Dari ketiga peristiwa itu, Nabi Ishaq sudah mengajarkan kita agar selalu memberi cinta dan kasih sayang terhadap keluarga dan saudara.

    2. Tidak Dendam

    Dari kisah Nabi Ishaq singkat, kita sudah mengetahui Al-‘Aish memiliki dendam terhadap Yaqub. Padahal keduanya merupakan putra kembar dari Nabi Ishaq.

    Dendam hanyalah memicu masalah baru. Alih-alih menyimpan dendam, kita sepatutnya memaafkan setiap kesalahan keluarga dan saudara. Insya Allah, kehidupan kita akan lebih damai dan tenteram.

    Demikianlah pembahasan kisah Nabi Ishaq beserta mukjizatnya.