Author: Reskia Ekasari

  • Istri Diselingkuhi Suami, Ini Penjelasannya dalam Islam!

    Istri Diselingkuhi Suami, Ini Penjelasannya dalam Islam!

    Perselingkuhan merupakan hal yang sangat dibenci dalam Islam karena termasuk ke dalam perzinahan. Bahkan, perselingkuhan ini menjadi bencana bagi kehidupan rumah tangga. Lantas, bagaimana hukum apabila ada istri diselingkuhi suami?

    Menjadi korban asmara dalam kehidupan berkeluarga tentu sangat menyedihkan. Apalagi jika wanita yang mengalami dengan perasaan sensitifnya. Maka, hal ini tentu sangat membahayakan.

    Islam sangat menjunjung tinggi wanita. Jika terdapat sesuatu yang membuat wanita sakit hati seperti diselingkuhi oleh suaminya, maka ada hukum Islam yang menjelaskannya.

    Islam Memandang Perselingkungan seperti Apa?

    Selingkuh merupakan perilaku tercela yang seharusnya dihindari oleh setiap orang. Ketika seorang suami berselingkuh dari istrinya, maka ia sedang berkhianat kepada pasangan.

    Berdasarkan ar Raghib al Asfahani rahimahullah, khianat ini memiliki makna:

    الخيانة مخالفة الحق بنقض العهد في السر

    Artinya:

    “Khianat adalah melanggar hak dan merusak perjanjian secara sembunyi-sembunyi” (Al Mufradat, 305).

    Berkhianat kepada pasangan sangat Allah SWT benci, sehingga membuat hukum dari khianat ini adalah dosa besar. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah QS. Yusuf:52.

    وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ

    Artinya:

    “Allah tidak akan memberi hidayah terhadap tipu daya orang-orang yang berkhianat” (QS. Yusuf:52).

    Pendapat lain juga bisa kita lihat dari HR. Al Bukhari 6095, Muslim No.59 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    آيَةُ المُنافِقِ ثَلاثٌ: إذا حَدَّثَ كَذَبَ، وإذا وعَدَ أخْلَفَ، وإذا اؤْتُمِنَ خانَ

    Artinya:

    “Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar janji, jika diberi amanah ia berkhianat” (HR. Al Bukhari 6095, Muslim No.59).

    Salah seorang dosen senior dan juga cendekiawan Islam di Institut Islam Toronto, Ontario, Kanada Bernama Sheikh Ahmad Kutty pernah menyatakan bahwasanya:

    “Perzinahan dalam Islam adalah salah satu dosa yang paling keji dan paling jahat. Besarnya dapat diukur dari fakta bahwa zina sering disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai dosa yang paling parah dari semua dosa, syirik, atau mengasosiasikan pasangan dengan Allah.”

    Berdasarkan beberapa pendapat yang bersumber dari cendekiawan, hadits, dan bersumber Al-Qur’an dapat diambil kesimpulan bahwa pandangan islam terhadap istri diselingkuhi suami akan memberinya pahala tersendiri dari Allah SWT.

    Terlebih perbuatan khianat atau perselingkuhan ini dapat menghilangkan keberkahan di dalam rumah tangga.

    Jika kita biarkan begitu saja, akan membawa dampak buruk dalam lingkungan keluarga, seperti hidup berumah tangga menjadi lebih sempit, sesak, dan juga suram.

    Baca juga: Bolehkah Puasa di Hari Jumat? Ini Penjelasan Para Ulama!

    Hukum Istri Diselingkuhi Suami, Begini Penjelasan dalam Islam

    Perselingkungan setiap tahunnya mengalami peningkatan. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya tentu saja hawa nafsu tinggi.

    Terlepas dari keputusan ingin rujuk atau bercerai, ternyata Allah SWT telah memberikan ketentuan tersendiri bagi seorang istri yang diselingkuhi oleh suaminya. Berikut beberapa uraian yang dapat kita pelajari bersama, antara lain:

    1. Menjadi Jalan Masuk Surga

    Apabila seorang istri mendapat perlakuan tidak baik dari suaminya seperti perselingkuhan, maka hal tersebut menjadi jalan untuknya masuk ke dalam surga. Apalagi jika kita menjadi seorang istri yang sabar dan taat pada perintah suami.

    Apa yang sudah kita lakukan tersebut akan memberikan keberkahan tersendiri dan membuat kita berada di jalan ibadah sepanjang kehidupan. Bahkan, Allah SWT menjanjikan masuk surga dari pintu mana saja.

    Hal ini bisa kita lihat dari Hadits Hasan Shahih yang berbunyi:

    “Dan seorang istri yang taat pada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.”

    Berdasarkan hal ini dapat kita simpulkan bahwa peran dari seorang istri sangat tinggi sekali, sesuai dengan ajaran dari Rasulullah SAW.

    “Dan perempuan adalah pelayan untuk suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR Bukhari Muslim).

    2. Menjadi Perempuan Terbaik di Mata Allah SWT

    Seorang istri yang diselingkuhi oleh suaminya ternyata mendapatkan pahala sebagai Perempuan terbaik di mata Allah SWT. Pahala ini Allah SWT janjikan sesuai dengan sabda dari Rasulullah SAW.

    “Perempuan terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelesihi sesuai pada diri dan hartanya. Serta melayani suami sebaik mungkin dan menjauhkan suami dari benci.” (HR Ahmad).

    Janji Allah SWT ini dengan catatan apabila seorang istri sabar terhadap suaminya. Tentunya untuk mendapatkan posisi ini sendiri bisa kita lakukan dengan banyak cara agar memperoleh buah manis dari kesabaran tersebut.

    3. Memperoleh Pahala seperti Asiyah, Istri Fir’aun

    Berikutnya, hukum istri diselingkuhi suami berikutnya seseorang bisa mendapatkan pahala seperti Asiyah, istri Fir’aun. Di mana, Asiyah ini merupakan istri Fir’aun yang pernah dipaksa oleh suaminya untuk menyembah dirinya sendiri.

    Meskipun dipaksa oleh suaminya, Asiyah menolak perintah dari Fir’aun karena hal tersebut dianggap Asiyah tidak benar. Hal ini membuat Asiyah mendapatkan perlakuan buruk dan disiksa berulang kali oleh Firaun.

    Dengan tindakan keras yang dilakukan oleh Firaun, pada akhirnya Asiyah meninggal dunia, tetapi Allah SWT menjadikannya sebagai Perempuan mulia yang dijamin masuk surga.

    Dalam salah satu hadits yang pernah dikatakan, berbunyi:

    “Dan jika seorang istri bersabar menghadapi keburukan akhlak suaminya, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala seperti yang diberikan kepada Aisyah istri Fir’aun.” (HR Muslim).

    Baca juga: Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Ikut Suami

    4. Dapat Ridho Allah SWT

    Selanjutnya, pahala seorang istri yang diselingkuhi oleh suaminya adalah mendapat ridho Allah SWT. Utamanya istri yang sabar pada setiap ujian dan cobaan dari Allah SWT.

    Setiap detik yang terjadi dalam rumah tangga dan dilalui dengan penuh kesabaran akan memberikan pahala banyak, sehingga surga menantinya. Selain itu, Allah SWT juga menjanjikan kebahagiaan dan ketenangan hidup di akhirat.

    Mengingat proses menjadi sabar membutuhkan proses sangat panjang. Maka, akan menjadi pahala sangat besar bagi seorang istri yang sebelumnya telah diselingkuhi oleh suaminya.

    Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam HR Tirmidzi:

    Rasulullah bersabda: “Istri yang meninggal dunia dan suaminya ridho terhadapnya maka dia masuk surga.” (HR. Tirmidzi)

    5. Setiap Doanya Lebih Mudah Allah SWT Kabulkan

    Terakhir, hukum dari istri diselingkuhi suami adalah mendapatkan akses doa lebih cepat Allah SWT kabulkan.

    Karena perselingkuhan merupakan perbuatan tercela dan zalim, maka istri yang mendapat perlakuan hal tersebut akan mendapatkan pahala dan setiap doanya lebih cepat Allah SWT kabulkan.

    Contoh paling nyata dan sering kita pelajari dalam ilmu agama adalah istri dari Firaun yaitu Asiyah RA yang berdoa kepada Allah SWT. Doa Siti Asiyah ini digambarkan di dalam ayat Al-Qur’an.

    لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى ٱلْجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

    Wa ḍaraballāhu maṡalal lillażīna āmanumra`ata fir’aụn, iż qālat rabbibni lī ‘indaka baitan fil-jannati wa najjinī min fir’auna wa ‘amalihī wa najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn

    Artinya:

    “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

    Istri Diselingkuhi Suami, Apa yang Harus Dilakukan?

    Ketika seorang suami selingkuh dari istrinya, maka apa yang sebaiknya dilakukan oleh pihak Perempuan? Berikut beberapa penjelasannya:

    1. Menasehati Suami Terlebih Dahulu

    Sebelum mengambil keputusan panjang terkait hubungan rumah tangga, maka sebaiknya istri menasehati suaminya terlebih dahulu. Jelaskan pada suami kalau selingkuh itu termasuk zina dan dosa besar.

    Apabila tidak segera bertaubat, maka perbuatan tersebut akan sulit mendapat ampunan dari Allah SWT. Dengan begitu, maka pelakunya akan masuk ke dalam negara yang sangat panas dan berbau busuk.

    2. Kembali ke Orang Tua

    Dalam kehidupan rumah tangga, tugas suami adalah memberikan nafkah lahir dan juga batin. Maksud dari nafkah lahir di sini berarti materi seperti pakaian, makanan, dan kebutuhan pokok lainnya.

    Sedangkan untuk nafkah batin berarti hubungan antara suami dan istri. Selain itu, istri pun harus bersikap lebih baik kepada suami seperti meminta izin ketika ingin bepergian ke luar rumah.

    Bahkan, ketika seorang istri sudah di talak oleh suaminya sekalipun. Tetapi, peran ini dapat kita lakukan apabila suami tidak melakukan perselingkungan seperti sabda dari Rasulullah SAW:

    ”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memaafkan umatku dari kesalahan (yang tidak disengaja), (kesalahan karena) lupa, serta kesalahan yang terpaksa dilakukan.” (HR. Ibnu Majah).

    Dengan permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga, pulang ke rumah orang tua diharapkan bisa menjadi solusi terbaik. Di mana, sosok suami dapat merasa kehilangan ketika istrinya berada di rumah orang tua.

    3. Meminta Cerai pada Suami

    Berikutnya, apabila terbukti istri diselingkuhi oleh suami, maka kita sebagai istri boleh meminta cerai kepadanya. Hal ini termasuk hak kita sebagai seorang istri apabila suami menjadi pelaku perzinahan.

    Penjelasan ini bisa kita cek dengan cerita pada zaman Rasulullah SAW yang mana pada masa itu terdapat seorang istri meminta cerai karena kesalahan fatal suami.

    Istri sangat khawatir apabila suaminya tidak bisa menunaikan tanggung jawab dengan maksimal. Mendengar pernyataan itu, Rasulullah SAW pun memfasilitasi aduannya.

    Istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada Nabi SAW dan berkata,:

    “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama dan akhlaknya, tetapi aku takut kekufuran.” Nabi SAW kemudian bersabda: “Apakah kamu sanggup mengembalikan kebun (mahar) nya?.” Dia menjawab, “Ya.” Ia lalu mengembalikan kebunnya kepada Tsabit dan nabi pun memerintahkan Tsabit menceraikannya. Dia pun menceraikannya.” (HR. Bukhari).

    Nah, itulah beberapa penjelasan Islam mengenai istri diselingkuhi suami yang dapat memberikan kita pelajaran banyak sekali. Salah satunya menjadi pribadi lebih sabar dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

  • Kisah Nabi Harun AS, Nabi yang Hidup Sezaman dengan Nabi Musa AS

    Kisah Nabi Harun AS, Nabi yang Hidup Sezaman dengan Nabi Musa AS

    Kisah Nabi Harun AS selalu bersandingan dengan Nabi Musa AS. Karena pada masa dakwah Nabi Musa, seseorang yang mendampinginya adalah Nabi Harun AS.

    Meskipun tidak sepopuler kisah dari Nabi Musa, tetapi Nabi Harun juga memiliki kisahnya sendiri, loh. Namun, dalam Al-Qur’an sendiri penyebutan Nabiyullah Harun selalu didahului atas nama Musa AS.

    Kenapa demikian? Kira-kira kita semua sudah mengenal sejarah Nabi Harun AS atau belum sih? Menjawab pertanyaan itu semua, kali ini kita akan membahas seputar kisah Nabi Harun AS.

    Kisah Nabi Harun AS Saat Lahir

    Untuk mengenal Nabiyullah lebih dalam lagi, kita perlu tahu kapan waktu lahir dari beliau. Nabi Harun AS sendiri dikisahkan lahir sebelum Nabi Musa AS, meskipun kedua nama ini tidak bisa dipisahkan dalam sejarah.

    Hal ini membuat usia Nabi Harun lebih tua daripada Nabi Musa. Nabi Harun AS memiliki usia hingga 123 tahun dan hidup di tahun 1531 – 1408 sebelum Masehi (SM). Secara biologis, Nabi Harun AS merupakan kakak dari Nabi Musa AS.

    Nama lengkap beliau adalah Harun bin Imran bin Qahats bin Azar bin Lawi bin Ya’qub bin Ishak Ibrahim. Selisih usia dari Nabi Harun dan Nabi Musa AS adalah empat tahun. Sehingga jauh ini tidak terlalu jauh dari silsilah keluarganya.

    Kelahiran Nabi Harun AS tidak serumit pada masa Musa AS, karena pada zaman itu belum ada perintah dari Fir’aun untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir. Sehingga, Nabi Harun AS dapat terlahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat.

    Kisah ini menjadi berbeda pada kelahiran Nabi Musa AS. Zaman beliau, Fir’aun sudah mendapatkan gambaran bahwa akan ada seorang anak laki-laki yang terlahir untuk menghancurkannya.

    Oleh karena itu, muncullah ultimatum untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang terlahir di masa Nabi Musa AS. Atas kuasa Allah SWT, Nabi Musa AS tetap selamat dan bahkan mendapatkan jaminan pengasuhan di bawah lindungan Fir’aun sendiri.

    Kisah Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS ini sebenarnya adalah saudara kandung. Lantaran sejumlah alasan, akhirnya kedua saudara ini terpisah secara pengasuhan.

    Nabi Harun AS tetap bersama keluarganya, sedangkan Nabi Musa diasuh di bawah pengawasan Fir’aun, yaitu istrinya Aisyah. Meskipun begitu, keduanya tetap tumbuh dengan baik dibawah lindungan Allah SWT.

    Baca juga: Jejak Warisan Seni Budaya Islam di Filipina

    Kisah Dakwah Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS

    Nabi Musa As dan Nabi Harun As memang lahir di zaman yang sama karena keduanya bersaudara. Sehingga, tugas yang Allah SWT berikan pun berkaitan. Hal inilah yang membuat kedua Nabiyullah ini saling bekerja sama dalam berdakwah.

    Nabi Musa AS terkenal dengan kecerdasannya yang sangat luar biasa. Namun, kakaknya Nabi Harun AS pun juga Allah SWT berikan mukjizat yang sama bermanfaatnya dalam menyebarkan dakwah Islam.

    Kelebihan yang Allah SWT berikan salah satunya adalah kepandaian beliau dalam berbicara. Selain itu, beliau juga memiliki jiwa yang tegas dan berani dalam memimpin, berdakwah, ataupun berargumen.

    Melihat bagaimana kuatnya seorang Nabi Harun AS, membuat Allah SWT memerintahkan beliau untuk mendampingi Nabi Musa AS dalam berdakwah. Tentunya untuk menegakkan ajaran Allah SWT.

    Kelebihan yang Nabi Harun AS miliki sendiri diakui oleh Nabi Musa AS dalam riwayatnya. Bahkan, karena kefasihannya dalam berbicara membuat Nabi Harun mendapatkan julukan sebagai juru bicara.

    Kenapa demikian? Dikisahkan bahwa Nabi Musa AS memiliki keterbatasan kemampuan dalam berbicara akibat waktu kecil disuruh untuk memakan bara api oleh Fir’aun.

    Hal itu membuat lidah dari Nabi Musa AS terbakar dan susah untuk berbicara. Nah, dipilihnya Nabi Harun untuk mendampingi Nabi Musa AS justru membawa berkah karena mampu meringankan beban dakwah dari Nabi Musa AS.

    Dalam beberapa kesempatan Nabi Harun AS justru menggantikan posisi dakwah Nabi Musa saat memimpin umatnya.

    Kerja Sama Nabi Harun dan Nabi Musa dalam Menghadapi Firaun

    Pada suatu ketika, di zaman pemerintahan Firaun banyak terjadi kedzoliman terhadap rakyat. Tidak hanya satu atau dua rakyat saja yang mendapatkan belenggu dan kedzoliman dari Firaun, tetapi hampir seluruh penduduk Bani Israel.

    Melihat kekejaman yang Nabi Firaun lakukan, dalam kisah Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS keduanya menghadap Firaun. Kedua saudara ini berdakwah dan juga memberikan peringatan kepada raja Firaun.

    Kedua Nabiyullah ini sudah merasa optimis dan senang serta bersyukur karena sebentar lagi Bani Israel tidak lama lagi akan terbebas dari kekuasaan Firaun.

    Meskipun dikeluarkan dari Mesir pun, kedua Nabi utusan Allah SWT ini merasa senang. Justru dengan keluar dari Mesir ini, rakyat Bani Israel dapat menjalani kehidupan dengan normal dan tanpa pimpinan yang keji.

    Namun, ketika Nabi Harun dan Nabi Musa hendak memberikan peringatan dan arahan terhadap kepemimpinan Firaun, justru mendapat respon kurang enak.

    Firaun mendengar setiap ucapan dari Nabi Harun dan Nabi Musa sangat emosi dan marah besar. Hal ini didasarkan pada perasaan bahwa Nabi Musa AS yang sudah dirawat sejak kecil justru menjadi penentangnya ketika dewasa.

    Ketidakcocokan Firaun terhadap ajaran Musa AS, membuatnya memberikan penegasan kepada setiap rakyatnya bahwa Nabi Musa hanyalah orang gila yang mengaku sebagai rasul Allah.

    Karena kepicikan hatinya dalam menerima Nabiyullah, Firaun selalu menyerang Nabi Musa AS dengan bukti yang dapat membuatnya percaya. Atas wahyu dari Allah SWT, Nabi Musa As menuruti keinginan dari Firaun.

    Dengan tongkat yang dibawanya, Nabi Musa langsung melemparkannya ke lantai. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular. Kedatangan ular raksasa dari tongkat Nabi Musa AS ini membunuh ribuan ular sihir dari para ahli sihir suruhan Firaun.

    Setelah berhasil membuktikan kepada Firaun, Nabi Musa langsung menjulurkan tangannya ke arah ular. Seketika ular tersebut kembali berubah menjadi tongkat. Lantas, Nabi Musa AS memasukkan tangannya ke saku dan muncullah cahaya putih.

    Segala keajaiban yang ditunjukkan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun tidak lantas membuat Firaun mengimani begitu saja. Justru, Firaun mengatakan bahwa semua yang dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Harus adalah tipu sihir.

    Kisah Nabi Harun AS dan Samiri

    Setelah melewati perjalanan panjang dalam menghadapi Firaun, kini Nabi Harun AS dan Musa As bersama rombongannya berhasil keluar dari Mesir. Seluruh rombongan tersebut melanjutkan perjalanan ke Negeri Kan’an.

    Pada saat perjalanan inilah Nabi Musa AS mendapatkan wahyu dari Allah SWT berupa kita Taurat.

    ۞ وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهٖٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ۚوَقَالَ مُوْسٰى لِاَخِيْهِ هٰرُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ142

    Artinya:

    “Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.”

    Kitab Taurat yang diberikan kepada Nabi Musa AS ini diterima selama 40 hari. Pada saat itulah, Nabi Musa meninggalkan kaumnya untuk sementara. Kepemimpinan digantikan oleh Nabi Harun AS.

    Namun, pada masa kepemimpinan Nabi Harun AS justru terdapat permasalahan yang tidak bisa beliau atasi. Seluruh kaum Bani Israil kembali menyembah secara berhala dan membuat patung sapi yang terbuat dari emas.

    Hal ini dapat terjadi karena adanya pengaruh dari Samiri. Melihat penampakan tidak benar seperti itu, Nabi Harun AS sebenarnya sudah berusaha mengingatkan kaumnya. Namun, semua menghiraukan peringatan tersebut.

    Alhasil, kaum Bani Israel tetap membuat patung sapi dari emas dan menyembah secara berhala. Sekembalinya Nabi Musa AS dari penerimaan wahyu, beliau melihat bagaimana kaumnya menyembah berhala.

    Beliau pun sangat marah kepada Harun dan memegangi kepalanya sambil berkata:

    قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا (92) أَلا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي (93) قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي (94) }

    Artinya:

    Berkata Musa, “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku, dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (Thahaa : 92-94).

    Melihat bagaimana marahnya Musa AS, Nabi Harun AS pun menjelaskan semua kejadian selama ditinggalkan oleh Musa. Bahkan, Nabi Harun AS sendiri sudah melarang dan memberikan peringatan kepada kaum Bani Israil.

    Namun, mereka tetap memilih sebagai pembangkang dan abai terhadap peringatan Harun AS. Bahkan, seluruh kelompok Bani Israel sampai ingin membunuh Nabi Harun AS.

    Tidak hanya itu, Nabi Harun juga menjelaskan pengaruh dari menyembah berhala ini adalah Samiri. Mendengar penjelasan rinci dari Nabi Harun AS membuat Nabi Musa AS kembali luluh dan perselisihan terselesaikan dengan baik.

    Kisah Wafatnya Nabi Harun AS

    Kisah wafat dari Nabi Harun AS juga tidak terlepas dari perjalanannya dengan Nabi Musa AS. Di mana, ketika mereka pergi dari Kawasan mata air Meriba, Badesh menuju ke sebuah daerah.

    Bertemulah mereka dengan salah satu gunung yang bernama Hor di Kawasan perbatasan Edom. Ketika itu, keduanya sedang mendaki sebuah gunung dengan salah satu putranya yaitu Eleazar.

    Nabi Harun dan Nabi Musa melaksanakan hal ini karena perintah dari Allah SWT. Saat sudah tiba di tempat yang dituju, Nabi Musa AS langsung melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Nabi Harun.

    Berikutnya, pakaian itu dikenakan pada putra Nabi Harun yaitu Eleazar. Setelah keduanya berganti pakaian dan seluruh kain yang Nabi Harun gunakan sudah dipakai oleh Eleazar, datanglah malaikat Izrail di puncak gunung Hor.

    Beberapa saat kemudian, muncullah berita bahwa Nabi Harun sudah wafat. Mendengar berita tersebut, bangsa Israel langsung menangis dan merasa kehilangan sosok panutan. Bahkan, hingga usia kematiannya mencapai 30 hari.

    Kisah Nabi Harun AS ini memang cukup menyedihkan. Pasalnya, wafatnya Nabi Harun ini tepat 40 tahun bangsa Bani Israel keluar dari kawasan Mesir. Jika ditelisik dalam sejarah Islam, makam Nabi Harun AS ini terletak di Gunung Harun.

    Mukjizat Nabi Harun AS

    Setiap Nabiyullah yang dipilih langsung oleh Allah SWT selalu memiliki keistimewaan masing-masing. Tidak terkecuali pada kisah Nabi Harun AS selama berdakwah bersama Nabi Musa AS.

    Beliau juga memiliki banyak sekali mukjizat yang patut kita jadikan suri tauladan dan bisa dijadikan media pengembangan ilmu menjadi lebih baik lagi, beberapa di antaranya:

    1. Kemampuan dalam Berbicara

    Terkenal sebagai juru bicara dari Nabi Musa As, terdapat latar belakang bahwa Nabi Harun AS memiliki kemampuan seni berbicara yang bagus. Alasan lain kepada dipilih sebagai juru bicara, karena adanya sebuah permasalahan pada Musa AS.

    Tercatat dalam sejarah bahwa Nabi Musa AS pada zaman dahulu diuji oleh FIraun, dan beliau memilih untuk memakan bara api. Pemilihan Harun sebagai juru bicara pun tertuang di dalam Al-Qur’an ayat 29-32.

    وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ

    Artinya:

    “dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (QS. Taha: 29)”.

    هٰرُوْنَ اَخِى ۙ

    Artinya:

    “(yaitu) Harun, saudaraku, (QS. Taha: 30)”

    اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ

    Artinya:

    “teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, (QS. Taha: 31)”

    وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ

    Artinya:

    “dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, (QS. Taha: 32).”

    Karena kelihaian Nabi Harun dalam berkomunikasi, membuat Nabi Musa As lebih mudah dalam menyampaikan dan menegakkan agama Allah SWT.

    2. Memiliki Janggut dengan Dua Warna

    Jika sebelumnya sering kita jumpai seseorang dalam keadaan sepuh memiliki janggut. Maka, kali ini akan berbeda dari janggut pada umumnya. Sebab, Nabi Harun AS memiliki janggut dengan dua warna.

    Warna dari janggut Nabi Harun AS ini adalah hitam dan putih. Namun, tidak seperti mukjizat lainnya, tetapi Nabi Musa mendapatkan keajaiban ini ketika beliau melakukan perjalanan untuk mengambil Kitab Taurat selama 40 hari 40 malam.

    3. Mendapat Tanggung Jawab untuk Melindungi Bani Israel

    Setelah keluar dari negara Mesir, bukan berarti kehidupan berjalan dengan baik-baik saja. Banyak hambatan lain yang dialami oleh Kaum Bani Israel. Utamanya ketika ditinggal Nabi Musa AS untuk mengambil Kitab Taurat.

    Pada saat itu, Nabi Harun AS mendapatkan kepercayaan untuk melindungi Bani Israel. Tetapi sepeninggal Nabi Musa AS, justru seluruh pengikutnya kembali menyembah berhala dan hal itu membuat Musa AS sangat marah besar.

    4. Pohon Bergerak

    Mukjizat lain dari Nabi Harun AS adalah bisa melihat pohon bergerak di atas bukit yang belum pernah ditemukannya di mana pun. Pohon ini Nabi Harun AS dapatkan ketika sedang mendaki gunung atas perintah Allah SWT.

    Ketika melihat pohon tersebut, ia merasa bahwa di bawah pepohonan tersebut adalah sebuah bangunan rumah. Terlebih munculnya beberapa aroma wangi yang muncul. Hal ini membuat Nabi Harun AS ingin sekali tidur di sana.

    Tidak menunggu lama, Nabi Harun AS langsung saja tertidur di dapur. Sesaat setelah itu, Malaikat Izrail langsung kembali begitu saja. Keberkahan nikmat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini tidak boleh diabaikan begitu saja.

    Nah, itulah beberapa informasi mengenai kisah Nabi Harun AS yang dapat kita jadikan pelajaran dan ambil hikmahnya. Pastikan kita semua mengimani setiap Waliyullah yang dikirimkan untuk memperbaiki akhlak manusia.

  • Kisah Nabi Syuaib AS dan Mukjizat yang Diberikan Allah SWT 

    Kisah Nabi Syuaib AS dan Mukjizat yang Diberikan Allah SWT 

    Sebagai umat muslim, tentunya penting untuk mengetahui kisah para nabi dan rasul. Salah satu kisah nabi yang bisa memberi teladan yang baik bagi kita adalah kisah Nabi Syuaib. Berikut informasi selengkapnya.

    Allah SWT mengutus Nabi Syuaib AS untuk kaum Madyan agar mereka kembali ke jalan yang benar. Namun, perjalanan dakwah Nabi Syuaib untuk menyampaikan kebaikan tak mudah, banyak sekali rintangan.

    Berikut ini adalah penjelasan tentang kisah perjalanan hidup Nabi Syuaib AS dan mukjizat yang diberikan Allah SWT. Yuk, simak informasinya di bawah ini.

    Tentang Nabi Syuaib AS

    Nabi Syuaib AS adalah salah satu nabi yang mengajarkan terkait moral dan etika serta memberikan peringatan kepada umatnya untuk mengikuti ajaran Allah SWT.

    Beliau diutus oleh Allah SWT kepada suatu kaum yang berada di wilayah Madyan. Kemampuan berdakwahnya membuat beliau diberi julukan banyak orang kala itu sebagai juru pidato.

    Nabi yang berasal dari bangsa Arab ini juga memiliki sifat mulia, serta dermawan, dan ramah. Tidak heran, jika beliau sangat dikenal di kalangan kaum Madyan.

    Nabi Syuaib AS berasal dari keturunan Syu’aib bin Maikil bin Yasyjub bin Madyan. Ibunya adalah putri dari Nabi Luth AS. Kemudian, Allah mengutus Syuaib sebagai nabi untuk kalangan penduduk kaum Madyan.

    Dalam kisah Nabi Syuaib pada masa masih kecil, beliau selalu berusaha berbuat baik dan menjaga hatinya agar tidak berbuat buruk. Sifat terpuji ini jarang ada pada anak seusianya dan bisa terbawa hingga dewasa.

    Beliau juga tidak segan untuk membantu orang kesusahan dan selalu menyapa terlebih dahulu orang di sekitarnya. Hal ini yang membuat orang-orang atau kaum Madyan senang dan bahagia dengan Nabi Syuaib AS.

    Allah mengutus Nabi Syuaib juga untuk mengajak kaum Madyan yang kafir agar kembali ke jalan yang benar. Namun, perjalanan dakwahnya penuh rintangan. Apa saja? Yuk, ketahui informasi lengkapnya di bawah ini!

    Kisah Nabi Syuaib AS

    Nabi Syu’aib AS adalah keturunan asli kaum Madyan dan punya sifat serta perilaku yang baik. Hal ini serupa dengan para nabi yang punya banyak sifat terpuji. Nabi Syu’aib AS sendiri diyakini lahir sekitar tahun 1600 SM.

    Jika penasaran dengan kisah hidup Nabi Syuaib AS, maka bisa simak informasi yang akan disampaikan di bawah ini. Hal ini tentunya bisa menjadi pelajaran bagi kita sebagai umat manusia. Yuk, simak hingga akhir!

    1. Kaum Madyan dalam Berdagang

    Kaum Madyan adalah suku bangsa Arab yang terkenal dengan kemampuan dalam berdagang dan mengembala hewan. Kaum ini berada di daerah pinggiran negeri Syam yang saat ini dikenal dengan Suriah.

    Kelebihan Madyan ini memiliki tanah yang subur sehingga aneka tumbuhan bisa tumbuh di daerah ini. Kondisi tersebut membuat perekonomian tercukupi. Namun, kenikmatan ini tidak membuat suku ini lebih baik.

    Berdasarkan dari beberapa sumber tentang kisah Nabi Syuaib, bahwa penduduk Madyan terkenal dengan perilaku buruk dan juga menyembah pohon. Selain itu, mereka juga tidak bersyukur atas nikmat Allah berikan.

    Salah satu perilaku buruknya seperti membuat kecurangan pada timbangan barang dan mengurangi hak orang lain. Hal ini yang membuat kaum Madyan yang miskin semakin miskin, serta yang kaya semakin kaya.

    Kaum Madyan seringkali melakukan manipulasi timbangan pada barang dagangan dengan menempelkan batu pada timbangan. Hal ini agar pembeli percaya berat barang sesuai dengan barang yang mereka beli.

    Allah SWT mengutus Nabi Syu’aib AS untuk mengingatkan para kaumnya tentang kebaikan dan bersyukur atas limpahan rezeki. Selain itu, beliau mengajak mereka beribadah kepada Allah dan melarang berbuat syirik.

    Nabi Syuaib pun menasehati mereka dengan mengatakan bahwa “Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.”

    Kalimat ini merupakan peringatan untuk bertakwa agar terhindar dari siksa Allah. Caranya yakni dengan melaksanakan semua perintah-Nya sepanjang kemampuan kita, serta menjauhi semua larangan-Nya.

    Baca juga: 15 Arti Mimpi Digigit Ular Menurut Islam, Apa Saja?

    2. Kaum Madyan Membangkang

    Allah SWT mengutus Nabi Syuaib AS untuk mengajak penduduk di negeri Madyan untuk menjauhi dan meninggalkan perbuatan buruk yang merugikan orang lain.

    Selain itu, nabi mengajak mereka untuk tidak menyembah pohon tetapi menyembah Allah SWT. Namun, mereka menolak ajakan Nabi Syuaib AS. Bahkan setiap dakwah dan ajakan nabi, selalu mereka ejek dan hina.

    Tidak hanya itu, mereka pun menganggap nabi sebagai individu yang lemah jika dibandingkan dengan kaum Madyan. Nabi juga sering kali mendapat ancaman dari kaumnya yang membangkang.

    Meski demikian, Nabi Syuaib tetap bersabar dan berusaha untuk berdakwah dan mengajak mereka beribadah kepada Allah SWT. Namun, mereka tetap susah untuk kembali ke jalan yang benar sesuai ajaran nabi.

    “‘Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah kami bertawakkal. Tuhan kami putuskanlah antara kami dan antara kaum kami dengan haq (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS al-A’raf: 88-89).

    Pada kisah Nabi Syuaib yang mengajak kaum Madyan untuk beribadah kepada Allah tetapi mereka menolak. Kemudian, nabi memberitahukan mereka bahwa akan ada azab dari Allah atas perbuatan buruk mereka.

    Mendengar perkataan Nabi Syuaib AS, kaum Madyan pun merasa tidak takut dan bahkan kembali mengancam nabi. Hingga pada akhirnya nabi berdoa kepada Allah SWT dan azab turun pada kaum Madyan yang kafir.

    Lalu, azab apa yang menimpa kaum Madyan? Bagaimana kisah kehidupan Nabi Syuaib dan pengikutnya setelah azab dari Allah SWT turunkan?

    3. Kisah Azab Kaum Madyan

    Berbagai macam dakwah dan ajakan telah nabi lakukan supaya penduduk Madyan kembali ke jalan yang benar, tetapi mereka tetap ingin menjadi orang kafir.

    Nabi Syuaib AS pun berdoa kepada Allah SWT agar penduduk Madyan diberi azab. Kemudian, Allah mengabulkan doa itu dan menyuruh nabi beserta orang beriman agar keluar dari negeri kaum kafir itu.

    Berdasarkan dari kisah Nabi Syuaib tentang azab bagi kaum Madyan yang kafir, Allah menurunkan cuaca sangat panas dan kekeringan yang membuat tumbuhan mati. Tanah yang subur menjadi kekeringan.

    Selain itu, Allah SWt juga memberikan gempa bumi dan suara petir halilintar yang membuat kaum kafir di daerah Madyan mati. Hal ini seperti bencana yang terjadi saat datangnya hari kiamat pada azab kaum Madyan.

    Dalam Al-Quran menerangkan bahwa penduduk Madyan mati bergelimpangan di rumah mereka, seolah tempat tersebut belum pernah mereka tempati.

    Selain itu, menjelaskan pula bahwa kehancuran kaum Madyan sebagaimana terjadi pada kaum Tsamud. Meski dalam Al-Quran tidak menjelaskan mengenai kehidupan setelahnya yang terjadi pada Nabi Syuaib AS.

    “Ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sedang orang zalim dibinasakan oleh suara yang mengguntur, sehingga mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, binasa penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud (juga) telah binasa.” (QS Hud: 94-95)

    Mukjizat Nabi Syuaib AS

    Nabi Syuaib AS adalah salah satu dari empat nabi yang lahir di bangsa Arab sama dengan Nabi Shaleh AS, Nabi Hud AS, dan Nabi Muhammad SAW.

    Selain memiliki wajah tampan, nabi dari kaum Madyan ini juga memiliki kemampuan dalam berdakwah dan juga memiliki sifat dermawan. Dalam kisah Nabi Syuaib, adapun mukjizatnya adalah sebagai berikut:

    1. Berjuluk Juru Bicara Para Nabi

    Nabi Syuaib diberikan mukjizat oleh Allah SWT berupa kefasihan dalam berbicara atau berpidato. Kemampuannya ini membuat nabi yang diutus untuk kaum Madyan ini disebut sebagai juru bicara di antara para nabi.

    Allah SWT memberi tugas kepada Nabi Syuaib untuk menyebarkan dakwah. Beliau dengan gigih memberi nasihat dan mengajak kaum Madyan untuk tidak menyembah pohon, namun melainkan beribadah kepada Allah.

    Kaum Madyan yang terdiri dari para pedagang ini memang suka berbuat curang dalam penimbangan barang dagangan. Nabi pun mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar agar tidak terjerumus dalam keburukan.

    2. Rasa Cinta Kepada Allah SWT

    Nabi Syuaib memiliki sifat yang baik dari sejak kecil sehingga ia sangat disukai oleh penduduk Madyan. Beliau pun merupakan sosok yang dermawan dan juga suka membantu penduduk yang sedang dalam kesulitan.

    Selain itu, dalam lubuk hatinya selalu tersemat rasa kasih dan cinta yang begitu sangat besar kepada Allah SWT. Bahkan, ia sering meneteskan air matanya karena kegentaran akan siksaan yang pedih dari Allah SWT.

    Dalam aktivitasnya berdakwah dalam mengajarkan kebaikan, nabi tidak pernah sekalipun melupakan kehadiran Allah SWT. Meski dalam dakwahnya, beliau selalu mendapat ejekan dan hinaan dari kaum Madyan yang kafir.

    3. Selamat dari Azab Allah SWT

    Kaum Madyan yang menolak keras ajaran Nabi Syuaib AS hingga berada dalam kesesatan, kemudian mendapat azab yang pedih dari Allah SWT. Hal ini karena doa dari nabi untuk mereka yang menolak jalan kebenaran.

    Sikap keras dan kuat kaum Madyan yang menolak ajakan nabi, bahkan mengancam akan mengusir nabi dan pengikutnya jika tidak menyembah berhala. Hal ini yang membuat azab datang kepada mereka yang kafir.

    Perilaku mereka yang sudah melewati batas dalam penghinaan terhadap Tuhan, kemudian nabi mengajukan permohonan memberi azab pada mereka. Sementara nabi dan pengikutnya selamat dari azab Allah SWT.

    Itulah beberapa mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Syuaib yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Hal ini sebagai bukti bahwa azab dari Allah itu nyata sehingga tidak boleh untuk meremehkannya.

    Hikmah dari Kisah Nabi Syuaib

    Dari kisah Nabi Syuaib yang telah diuraikan di atas, kita bisa ambil pelajaran dan hikmahnya. Sebagai umat manusia, senantiasa mengikuti ajaran Allah SWT dengan menjalankan perintahNya, dan menjauhi larangan-Nya.

    Selain itu, kita sebagai umat muslim senantiasa berbuat baik kepada sesama dan hindari keburukan yang bisa mendatangkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. 

    Berikut ini terdapat beberapa hikmah dan pelajaran yang bisa menjadi pedoman hidup kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yaitu antara lain:

    1. Pentingnya Kejujuran

    Kisah dari Nabi Syuaib memberikan pelajaran bahwa sebagai umat manusia harus selalu bersikap jujur dan adil. Hindari hal yang menjerumuskan kepada keburukan dan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain.

    Salah satu contoh yang merugikan dari kisah ini adalah mengurangi timbangan dan takaran. Hal ini secara khusus bisa merugikan dan sebagai kejahatan yang pantas menerima azab Allah SWT di dunia dan akhirat.

    2. Sikap Sabar dan Bermoral

    Dari kisah Nabi Syuaib bisa belajar pentingnya sikap bersabar dan memiliki moral yang baik. Beliau selalu teguh dan bersabar dalam menghadapi ancaman dan juga tantangan dalam dakwah ke penduduk suku Madyan.

    Selain itu, beliau juga mengajarkan kita sebagai manusia untuk punya moral dan akhlak baik. Beliau juga suka membantu yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan bagi yang sedang kondisi kesulitan.

    3. Kegiatan Bermuamalah

    Pada dasarnya, setiap umat manusia dalam kegiatan bermuamalah yang berkaitan dengan harta punya ketentuan hukum syariat. Oleh karena itu, penting mengetahui apa yang boleh dan yang dilarang dalam syariat.

    Siapapun yang bermuamalah melalui cara yang baik atau buruk, sama kondisinya dengan orang yang menganggap amalan dan bebas tidak terikat aturan syariat, tapi tidak ada bedanya dengan kekafiran dan keimanan.

    4. Selalu Berbuat Kebaikan 

    Ketika kita ingin memberi nasihat kepada orang lain, maka kita harus terlebih dahulu berbuat kebaikan. Hal ini agar sempurna penerimaan manusia terhadap nasihat yang kita berikan tanpa ada keraguan di dalamnya.

    Ketika kita melarang suatu kemungkaran, maka sebaiknya kita menjadi orang yang pertama meninggalkan dan menjauhinya. Artinya, jika kita ingin membuat orang lain menjadi baik, maka perbaiki dulu diri kita sendiri. 

    5. Mengikuti Ajaran Nabi

    Kisah Nabi Syuaib membuka hati kita bahwa para nabi diutus oleh Allah SWT untuk membawa kebaikan dan memperbaiki hal yang buruk. Seluruh kebaikan dan perbaikan dalam agama adalah ajaran para nabi.

    Setiap nabi memiliki tugasnya masing-masing dengan tujuan utamanya adalah untuk kebaikan dan mencegah terjadinya hal yang buruk. Oleh karena itu, apa yang diajarkan nabi harus kita ikuti dan amalkan.

    6. Berusaha dan Tawakal

    Pada dasarnya, setiap manusia yang ingin berbuat kebaikan dan memperbaiki diri harus dengan sungguh-sungguh. Dengan cara berusaha dan tawakal untuk menjadi pribadi yang baik dan bersikap baik terhadap sesama.

    Ketika menemui kesulitan, maka hanyalah memohon kepada Allah SWT. Jangan pernah meminta atau memohon kepada yang lain, hal ini bisa membuat kesyirikan dan kekafiran sebagaimana kisah dari nabi Syuaib ini.

    7. Santun dan Akhlak Baik

    Sebagai manusia, kita harus memiliki sifat santun, akhlak baik dan kesanggupan dalam membalas perkataan atau perbuatan buruk dengan kebaikan. Jangan pernah mencela dan menghina orang yang berbuat buruk.

    Seperti dalam kisah dakwah Nabi Syuaib yang mendapatkan penolakan dan ejekan dari kaum Madyan, namun beliau tetap sabar dan selalu berbuat baik. Meski pada akhirnya, azab Allah SWT datang kepada mereka.

    Pada dasarnya, setiap kisah nabi dan rasul memberikan kita pelajaran serta hikmah yang baik bagi kehidupan di dunia dan di akhirat. Setiap tantangan dan rintangan bisa kita lalui dengan baik atas pertolongan Allah.

    Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim sudah sewajibnya berbuat baik kepada sesama dan menjauhi perbuatan buruk yang bisa merugikan orang lain.

    Demikian penjelasan tentang kisah Nabi Syuaib dan mukjizat yang beliau terima untuk menghadapi kaum Madyan. Meskipun perjalanan dakwah beliau berat, namun tetap sabar hingga turun azan bagi mereka yang kafir.

  • Kredit Mobil Syariah: Hukum, Syarat, dan Lembaga Penyedia 

    Kredit Mobil Syariah: Hukum, Syarat, dan Lembaga Penyedia 

    Dewasa ini, banyak yang memilih pembayaran kredit saat membeli mobil. Kenyataannya, banyak kredit sering dianggap mengandung riba. Hal ini membuat kita bertanya-tanya, apakah ada kredit mobil syariah?

    Artikel ini akan membahas apakah benar ada kredit mobil berbasis syariah.

    Lantas jika ada, bagaimana hukum dan syaratnya? Mari kita cari tahu selengkapnya.

    Alasan Menggunakan Kredit

    Umumnya, kita sering sekali mengandalkan kredit dalam sebuah transaksi dengan harga jutaan hingga miliaran. Mulai dari rumah, sepeda motor, hingga mobil, biasanya kita akan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membelinya.

    Ibaratnya, kredit merupakan sebuah pilihan pembayaran dengan meminjam dana. Dengan kata lain, kita berutang pada penyedia kredit tersebut, seperti bank. Maka, kita harus membayarnya kelak.

    Penyedia kredit kebanyakan menyediakan angsuran atau cicilan untuk pembayaran tersebut. Hal ini membuat kita wajib membayar angsuran setiap bulan selama periode tertentu, asalkan hingga semuanya lunas.

    Namun, kebanyakan penyedia kredit, terutama bank konvensional, justru menambahkan bunga. Bunga menjadi unsur penambahan biaya. Pada dasarnya, ini menjadi bentuk dari riba, baik sedikit atau banyak.

    Islam telah melarang adanya unsur riba dalam transaksi jual beli apapun. Hal ini karena riba sangat merugikan bagi salah satu pihak yang melakukan transaksi. Secara spesifik pihak pembeli menjadi pihak yang dirugikan itu.

    لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

    Artinya:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba dan dua orang saksinya. Kedudukan mereka itu semuanya sama.” (HR. Muslim nomor 2995)

    Jadi jika kredit konvensional mengandung riba, apakah ada kredit mobil secara syariah? Apakah benar kita bisa membayar mobil menggunakan kredit yang bebas riba?

    Hukum Kredit dalam Islam

    Selama tidak mengandung riba, jual beli dengan menggunakan sistem kredit sebenarnya boleh dalam Islam. Secara harfiah, kita boleh berutang jika belum mampu untuk membayarnya saat itu dan menjanji akan melakukannya kelak.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

    Artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Q.S. Al Baqarah: 282)

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pembayaran secara kredit dilakukan secara berjangka dalam bentuk angsuran atau cicilan. Dalam Islam, kita mengenalnya sebagai taqsith.

    Taqsith berarti membagikan sesuatu menjadi beberapa bagian. Misalnya, jika kita menggunakan kredit mobil syariah untuk membayar mobil, kita harus membayar angsuran setiap bulannya dalam periode tertentu hingga lunas.

    Syarat Pembayaran Kredit Syariah

    Syarat Pembayaran Kredit Syariah

    Lalu bagaimana agar kredit tidak mengandung riba? Apakah ada syarat lain yang harus terpenuhi? Ada baiknya kita memahami hal-hal berikut ini.

    Salah satu syarat pembayaran kredit syariah sudah jelas-jelas tidak mengandung riba. Berarti, penyedia kredit tidak boleh menambahkan beban biaya berupa bunga dari harga sebuah barang.

    Selanjutnya, penyedia kredit tidak boleh mengenakan sebuah denda apapun, baik jika pembeli terlambat membayar cicilan. Pasalnya, denda juga menjadi bentuk dari riba.

    Terakhir, saat akad jual beli, barang yang akan menjadi objek transaksi harus benar-benar ada. Misalnya, saat melakukan akad kredit mobil syariah, mobil itu harus segera sampai di tangan pembeli.

    Secara spesifik, tidak boleh ada unsur penundaan proses serah terima barang. Ketersediaan barang menjadi kewajiban bagi pihak penjual sebelum melakukan akad jual beli, apalagi jika menggunakan kredit.

    Secara harfiah jika ini terjadi, ketidaktersediaan barang itu menjadi utang bagi pembeli. Islam juga melarang transaksi utang dengan utang seperti yang tercantum pada kutipan hadits berikut ini:

    والمسلمون ينهون عن بيع الدين بالدين‎ 

    Artinya:

    “Orang Islam dilarang jual beli utang dengan utang.” (Imam asy-Syafi’I, al-Umm, Juz 4, halaman 30)

    Bisa kita simpulkan bahwa saat membeli mobil menggunakan kredit, barang tersebut harus sudah tersedia. Terlebih lagi, penjual harus segera mengantarkannya tanpa unsur penundaan sama sekali.

    Baca juga: 12 Tradisi Islam di Nusantara, Yuk Kenali Apa Saja!

    Simulasi Kredit Mobil Syariah

    Setelah memahami hukum dan syarat kredit syariah, lebih baik kita melakukan simulasi. Bagaimana penerapannya saat kita membeli mobil menggunakan kredit syariah? Apakah kredit mobil di bank syariah termasuk riba? Mari kita lakukan sebuah simulasi.

    Misalnya, sebuah mobil yang ingin kita beli seharga Rp 304.400.000. Jika kita ajukan tenor 24 bulan dengan DP Rp 34.000.000 pada bank syariah, terdapat angsuran per bulan kurang lebih sebesar Rp 11.250.000.

    Apabila mengajukan kredit mobil syariah tanpa DP dengan tenor yang sama, kurang lebih kita harus membayar angsuran kurang lebih senilai Rp 12.690.000. Kedua angka tersebut masih belum biaya asuransi,

    Dari simulasi ini, kita bisa lihat bank sama sekali tidak menambahkan bunga. Yang paling utama lagi, tercantum jelas harga asli, besarnya angsuran, dan jangka waktu pembayaran.

    Contoh Lembaga Penyedia

    Setelah memahami simulasi cara kerja kredit mobil secara syariah, kita tentu sangat penasaran apa saja lembaga penyedia yang bisa terpercaya. Tentunya, setiap lembaga penyedia itu harus memenuhi syarat yang sudah kita ketahui.

    Berikut adalah contoh lembaga penyedia kredit mobil syariah:

    1. Bank Syariah: Bank Syariah Indonesia (BSI) OTO, BPRS As-Salaam Kredit Mobil Syariah, KKB iB BCA Syariah

    2. Perusahaan Pembiayaan Syariah: ACC Syariah, Astra Syariah

    3. Fintech Syariah: Mobilima

    Keuntungan Kredit Mobil Syariah

    Kredit secara syariah tentu memiliki keuntungan tersendiri jika dibandingkan dengan kredit konvensional. Sebab, kredit syariah sudah mengikuti berbagai hukum dan syarat yang telah kita bahas sebelumnya.

    Berikut adalah keuntungan dari kredit syariah jika dibandingkan dengan kredit konvensional:

    1. Angsuran Per Bulan Konsisten

    Jika menggunakan kredit syariah, misalnya untuk membeli mobil, kita akan wajib membayar angsuran per bulan dengan nilai konsisten. Dengan kata lain, kita tidak akan melihat nilai cicilan per bulan untuk produk menjadi naik.

    Hal ini karena kredit syariah tidak menjatuhkan bunga seperti kredit dari bank konvensional. Lebih penting lagi, bunga di bank konvensional biasanya berubah-ubah atau mengambang.

    Bunga di bank konvensional umumnya sering sekali berubah karena kondisi pasar. Ini yang memicu angsuran per bulan menjadi tidak konsisten jika menggunakan kredit konvensional.

    Alhasil, kredit syariah menawarkan angsuran atau cicilan per bulan yang tetap. Sebagai gantinya, terdapat sistem nisbah atau bagi hasil. Porsi nisbah ini akan berlaku sesuai kesepakatan saat awal hingga akhir sesuai kesepakatan akad jual beli.

    Baca juga: 12 Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Islam, Sukses Dunia Akhirat

    2. Risiko Rendah

    Salah satu keuntungan dari kredit atau pinjaman syariah adalah minimnya risiko. Pihak bank atau penyedia kredit syariah akan ikut menanggung risiko jika pembeli tidak mampu menanggung pembayaran angsuran.

    Sebaliknya, kredit konvensional membebankan penuh risiko pada pembeli. Alhasil, pembeli wajib membayar denda yang tidak sedikit sekaligus menjadi unsur riba jika terlambat membayar.

    Kredit syariah yang sudah sesuai hukum Islam ini tentu saja akan lebih meringankan pembeli dalam membayar. Tanpa bunga yang mengambang, sistem ini relatif aman. Asalkan pembeli tetap harus mampu agar tidak menyusahkan.

    3. Sumber Dana Terjamin Halal

    Lebih penting lagi, sumber dana dari kredit mobil syariah terjamin halal. Tentu saja, proses dan sistemnya sudah sangat sesuai dengan syariat dan hukum Islam.

    Oleh karena itu, tidak perlu khawatir dengan sumber dana dari kredit syariah. Tidak seperti kredit konvensional yang menerapkan sistem bunga, sistem kredit syariah bebas dari unsur riba.

    Proses dan sistem peminjaman dana juga sudah sesuai hukum Islam dari asal hingga akhir demi menjamin kehalalannya. Kita tidak perlu khawatir lagi apakah kita sudah mendapatkan mobil dan membayar utang dengan cara yang halal.

    4. Denda Hanya demi Hal Positif

    Terakhir, beberapa dari penyedia kredit syariah, terutama bank syariah, menerapkan sistem denda jika terjadi keterlambatan pembayaran. Bedanya, demi bebas dari unsur riba, sistem denda ini bukan bertujuan menambah keuntungan bagi bank.

    Denda tersebut akan disumbangkan ke sebuah lembaga sosial sebagai amal. Tidak hanya itu, sistem ini berlaku agar pembeli bisa lebih disiplin dalam membayar angsuran tepat waktu.

    Hal ini tidak berlaku bagi pembeli yang masih belum mampu membayar. Pasalnya, golongan tersebut sama sekali tidak boleh mendapat sebuah sanksi jika terlambat.

    Demikianlah pembahasan kredit mobil syariah. Dari pembahasan itu, kredit syariah untuk mobil sama sekali tidak mengandung unsur riba dan mengikuti hukum Islam.

  • 8 Cara agar Doa Terkabul dalam Islam, Simak Adab dan Waktunya

    8 Cara agar Doa Terkabul dalam Islam, Simak Adab dan Waktunya

    Sebagai seorang muslim, doa merupakan salah satu kunci penting terwujudnya semua harapan. Oleh sebab itu, terdapat cara agar doa terkabul dalam Islam dengan cepat.

    Tidak hanya berorientasi pada pengabulan doanya saja, tapi dengan doa yang beradab bisa menjadikan doa sebagai amalan ibadah.

    Hal itulah yang menjadikan doa tidak boleh kita lakukan secara sembarangan.

    Adab Berdoa dan Waktu Terbaik Agar Doa Terkabul

    Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa doa merupakan media komunikasi kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, seseorang yang berdoa perlu menjaga adab-adabnya agar doa cepat terkabul oleh Allah SWT.

    Adapun cara agar doa terkabul dalam Islam melalui adab yang tepat yaitu:

    1. Menghadap Kiblat dan Mengangkat Tangan

    Menghadap kiblat sembari mengangkat tangan menjadi adab pertama dalam berdoa. Ada banyak riwayat hadits yang mengabarkan perihal hal tersebut, salah satunya yaitu riwayat dari Sahabat Anas bin Malik RA.

    Dalam Hadits Abu Dawud No.1170 menyatakan Rasulullah SAW mengangkat tangan ketika berdoa. Selain mengangkat tangannya, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan untuk tidak mengangkat wajah ke atas ketika berdoa.

    Sehingga, kita perlu menundukkan wajah dan penglihatan saat berdoa kepada Allah SWT. Hal ini dikatakan sebagai bentuk adab ketundukan manusia kepada penciptanya Allah SWT.

    Baca juga: 8 Ciri-Ciri Perempuan yang Baik Menurut Islam, Apa Saja?

    2. Berdoa Harus Rendah Hati

    Cara agar doa terkabul dalam Islam melalui adab yang tepat yaitu dengan rendah hati. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa berdoalah dengan wajar dan merendahkan diri, serta tidak menggunakan kalimat yang berlebihan.

    Selain itu, dalam Al-Quran juga dipaparkan adab berdoa agar rendah hati dan bersuara lembut. Perintahnya dalam surat Al-Araf ayat 55 yaitu sebagai berikut:

    اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

     Udu’u rabbakum tadarru’aw khufuyahtan, innahu la yuhibbul mu’tadin

    Artinya, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

    Oleh sebab itu, usahakan semaksimal mungkin jika berdoa dengan rendah hati. Bahkan ada pula yang meriwayatkan bahwa orang berilmu, parab abdal, dan ahli ibadah berdoa tidak lebih dari tujuh kata saja.

    3. Bersuci Terlebih Dahulu

    Selanjutnya cara agar doa terkabul menurut Islam yaitu hendaknya bersuci terlebih dahulu. Walaupun berdoa bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja, namun seorang muslim hendaknya mengambil air wudhu agar doa lebih nyaman.

    Sebab bersuci dengan mengambil air wudhu, bisa menghilangkan dari najis dan kotoran. Sehingga, berdoa pun dalam keadaan suci dan bersih yang membuat doa lebih nyaman dipanjatkan kepada Allah SWT.

    4. Mulai Doa dengan Memuji Allah SWT

    Berikutnya cara agar doa terkabul dalam Islam yaitu memulai doa dengan memuji Allah SWT. Barulah kita lanjutkan dengan membaca dzikir dengan tulus ikhlas, sebab Allah SWT lah tempat kita untuk meminta.

    Allah SWT yang Maha Pemberi, Maha Kaya, dan Maha Pencipta segala sesuatu di dunia. Sehingga, tidak ada salahnya jika kita memuji nama-nama Allah SWT dengan asmaul husna.

    Jika sudah berniat untuk mengakhiri doa, hendaknya membaca sholawat Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu. Sebab, Nabi Muhammad SAW nabi terakhir yang sangat dicintai oleh Allah SWT.

    Dengan mengharapkan syafaat Rasulullah SAW agar kita tergolong orang-orang yang mencintai kekasih Allah SWT. Dan sholawat merupakan salah satu bentuk bukti cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

    Hal paling penting lagi, kita harus memanjatkan doa dengan tulus ikhlas, semata-mata hanya karena Allah SWT saja.

    Baca juga: Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    5. Bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW

    Tidak hanya keempat cara itu saja, agar doa terkabul menurut Islam selanjutnya dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad. Sholawat dalam sholat pun ada tingkatannya, dan tingkatannya terbagi menjadi tiga. 

    Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim yaitu:

    • Bersholawat sebelum memanjatkan doa setelah memuji Allah SWT.
    • Bersholawat di awal , pertengahan, dan akhir doa.
    • Bershalawat di awal dan di akhir, baru menjadikan hajat yang kita minta di pertengahan doa.

    Beliau juga menyatakan bahwa membaca sholawat ketika berdoa mempunyai kedudukan seperti membaca Al-Fatihah dalam sholat. Selain Ibnu Qayyim, ada pula Zirr dari Abdullah.

    “Aku pernah sholat dan kala itu Abu Bakr dan Umar bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika kau duduk, aku memulai doa dengan memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku berdoa untuk diriku sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Mintalah, engkau akan diberi. Mintalah, engkau akan diberi.” (HR. Tirmidzi No. 593).

    6. Tidak Terburu-buru

    Melanjutkan dari cara agar doa terkabul dalam Islam point kedua, adab berdoa dengan memelankan suara serta tidak terburu-buru. Berdoa dengan cara seperti itu, membuat doa menjadi lebih khusyuk.

    Adab tersebut juga diperkuat dengan firman Allah SWT melalui Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 90 yaitu:

     فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

    Fastajabna lahu wa wahabna lahu yahya wa aslahna lahu zaujah, innahum kanu yusariuna fil-khairati wa yad’unana ragabaw wa rahaba, wa kanu lana khasyi’in.

    Artinya, “Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan segala kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”

    Tidak hanya itu saja, ada juga hadits dari  Abu Hurairah dimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    “Akan di ijabah doa kalian, jika tidak berdoa dengan tergesa-gesa. Sungguh kamu telah berdoa, maka atau kenapa tidak diijabah?” (HR. Imam Bukhari). 

    7. Berdoa dengan Penuh Keyakinan

    Berikutnya cara supaya doa terkabul dalam Islam yaitu berdoa penuh keyakinan. Melalui keyakinan secara penuh bahwa Allah SWT lah perencana kehidupan terbaik, sehingga Allah SWT akan mengabulkan yang baik-baik saja.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, tepatnya pada surat Al-Araf ayat 56:

    وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

    Wa la tufsidu fil-ardi ba’da islahiha wad’uhu khaufaw wa tama’a, inna rahmatallahi qaribum minal muhsinin

    Artinya, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat baik.”

    Selain itu, juga ada hadist riwayat HR. Muslim No. 2678 dari Anas, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    “Jika salah seorang dari kalian berdoa hendaklah benar-benar mantap dalam mengharap, dan janganlah mengatakan: Allahumma in syi’ta fa-a’thini (Ya Allah jika Engkau menghendaki maka berikanlah untukku), karena sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak dalam tekanan.”

    8. Berdoa pada Waktu yang Tepat

    Cara agar doa cepat terkabul dalam Islam yaitu waktu yang tepat. Ada waktu-waktu mustajab saat berdoa, dengan harapan doa akan terkabul. Adapun waktu-waktunya sebagai berikut:

    • Sepertiga malam terakhir, maksudnya waktu malam hari mendekati subuh atau di waktu sahur.
    • Setelah sholat wajib, sebab usai seorang hamba menunaikan shalat, maka kondisinya dekat dengan Allah SWT.
    • Antara adzan dan iqamah, sebab waktu itu dibukakan pintu-pintu langit dan doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.
    • Ketika lapang atau merasa cukup, sebab kebanyakan orang berdoa saat tertimpa musibah. Artinya, kita harus berdoa dalam keadaan apapun, termasuk lapang.
    • Ketika hujan, Allah SWT menurunkan rahmatnya berupa air hujan. Sehingga, tidak heran jika hujan bagian dari waktu mustajab untuk berdoa.
    • Pada hari Arafah 9 dzulhijjah, hari istimewa dalam Islam, hari dimana Allah SWT memberikan kemuliaan kepada semua hamba-Nya.
    • Malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia daripada 1.000 bulan. Biasanya terhitung dari malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
    • Hari Jumat, hari Jumat merupakan hari ibadah yang mempunyai keistimewaan.
    • Sesudah sholat malam, sebab tidak banyak orang yang bisa menunaikan sholat malam tersebut.

    Masih banyak adab berdoa lainnya, terpenting cara agar doa terkabul dalam Islam yaitu berdoa penuh keyakinan, diawali dengan tawasul kepada Allah SWT, sholawat nabi, menghadap kiblat dan mengangkat tangan, dan niat karena Allah SWT.

  • Kisah Nabi Khidir yang Pernah Menjadi Guru Nabi Musa AS

    Kisah Nabi Khidir yang Pernah Menjadi Guru Nabi Musa AS

    Sebagai seorang muslim, memahami dan meneladani kisah para nabi dan rasul adalah hal yang sangat penting. Diantara dari berbagai kisah tersebut yang penting untuk kita ketahui adalah mengenai kisah Nabi Khidir. 

    Apalagi selama ini masih banyak pro kontra dan perbedaan pendapat yang membahas mengenai kisah Nabi Khidir. 

    Salah satunya adalah polemik apakah Nabi Khidir masih hidup atau tidak. Tentu untuk menjawab hal tersebut butuh ilmu yang benar. 

    Lantas, siapa sebenarnya Nabi Khidir itu? Dan bagaimana hubungan guru dan murid antara Nabi Khidir dan Nabi Musa AS? Mari kita bahas kisah Nabi Khidir secara tuntas pada artikel berikut ini. 

    Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa AS: Guru dan Murid

    Perjalanan Nabi Khidir dan Nabi Musa sebagai guru dan murid terbilang panjang. Kisah Nabi Khidir ini dapat kita cermati dari riwayat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. 

    Dalam riwayat tersebut beliau menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: 

    “Pada suatu hari Musa pernah berkhutbah di hadapan Bani Isra’il, maka ada diantara mereka yang bertanya: “Siapakah orang yang paling berilmu?”. Kemudian Musa menjawab Saya. Maka Allah SWT menegurnya karena Musa tidak memiliki pengetahuan dalam masalah ini”. 

    Dari kejadian tersebut kemudian Allah SWT menurunkan sebuah wahyu kepada Nabi musa, yang berbunyi: 

    “Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di pertemuan antara dua buah lautan dan ia lebih berilmu dari padamu. Musa bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana saya bisa mendatanginya?”. Maka dikatakan kepadanya : “Bawalah bekal ikan di dalam wadah bersamamu, jika kamu kehilangan ikanmu itu, maka disanalah orang itu berada”. 

    Setelah mendengar wahyu tersebut, kemudian Nabi Musa pun berangkat bersama dengan pemuda yang bernama Yusya bin Nun yang merupakan muridnya. Sebagai bekal, mereka berdua tidak lupa membawa ikan. 

    Di perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah padang pasir dan memutuskan untuk beristirahat sejenak dan menyandarkan kepala mereka. Tanpa sadar, mereka akhirnya tertidur. Ikan yang ada di dalam bekal tersebut hidup dan meloncat keluar. 

    Ikan tersebut terus berjalan menggelepar hingga sampai ke tepi pantai. Bagi Nabi Musa dan Yusya (muridnya), kejadian tersebut sungguh aneh. Keduanya pun terbangun dan akhirnya melanjutkan perjalanan yang masih ada. 

    Ketika pagi tiba, Nabi Musa AS berkata kepada Yusya dan dapat kita lihat pada QS al-Kahfi seperti berikut:

    قال الله تعالى : ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا – سورة الكهف : 62

    Artinya: 

    “Berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini“. (al-Kahfi/18: 62). 

    Setelah itu, Nabi Musa pun akhirnya baru sadar bahwa beliau sudah melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah SWT. Hal ini dapat kita lihat pada QS al-Kahfi 63 hingga 64. 

    قال الله تعالى :  قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ –  سورة الكهف  :63 

    Artinya:

    “Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu”. (al-Kahfi/18: 63).

    Dari sinilah Nabi Musa menyadari bahwa lokasi tadi adalah tempat yang mereka cari. Dari sinilah Nabi Musa dan Yusya akhirnya kembali ke tempat semula. 

    قال الله تعالى : قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا – سورة الكهف64  

    Artinya: 

    “Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula”.  (al-Kahfi/18: 64). 

    Baca juga: Bacaan Doa Nabi Yunus A.S: Manfaat, Waktu dan Keutamaannyaa

    1. Bertemu Nabi Khidir 

    Setelah kejadian tersebut, Nabi Musa dan Yusya pada akhirnya kembali menyusuri jalan agar dapat kembali ke padang pasir semula. Pada saat itulah kemudian keduanya melihat bahwa ada seseorang yang membentangkan kain bajunya.

    Melihatnya, Nabi Musa AS pun memberi salam. Ia bernama Khidir, sesungguhnya saya di negerimu ini menjawab salam, jawabanya. Kemudian Nabi Musa melanjutkan dengan memperkenalkan diri, Saya adalah Musa. 

    Setelah itu Nabi Khidir meyakinkan: “Musa Bani Isra’il?” Ya jawabanya. Kemudian Nabi Musa mengatakan kepada Nabi Khidir bahwa Nabi Musa ingin mendapatkan ilmu dari Nabi Khidir. Hal ini dapat kita lihat dari QS al-Kahfi 66-67, seperti berikut:

    قال الله تعالى :  قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا . قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا – سورة الكهف :  66- 67

    Artinya: 

    “Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”. (al-Kahfi/18: 66-67).

    Mendengar hal tersebut, kemudian Nabi Khidir pun berkata:

    “Wahai Musa! Sesungguhnya saya mempunya ilmu dari ilmunya Allah SWT yang telah Dia ajarkan kepadaku dan kamu tidak mengetahuinya. Begitu juga sesungguhnya engkau mempunyai ilmu yang telah Allah SWT berikan, aku juga tidak mengetahuinya.”

    Kemudian Nabi Musa AS kembali mengatakan kepada Nabi Khidir: 

    قال الله تعالى : قَالَ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَّلَآ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا – سورة الكهف  69  

    Artinya: 

    “Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan apapun”. (al-Kahfi/18:69).

    Pada akhirnya, Nabi Khidir pun akhirnya menyepakati dan berangkat melanjutkan perjalanan bersama dengan Nabi Musa AS. Mereka berjalan menyusuri tepi lautan dan bertemu sebuah kapal yang sedang lewat. 

    Nabi Khidir berbicara kepada mereka agar mau membawa mereka. Karena penghuni kapal memang mengenal Nabi Khidir, akhirnya mereka bisa naik kapal tanpa harus membayar biaya sedikitpun. 

    2. Kisah Nabi Khidir: Perjalanan dan Kesabaran 

    Ketika berada di atas kapal, ada seekor burung yang datang kemudian menukik dan mencelupkan paruhnya ke dalam lautan sebanyak dua atau tiga kali. Nabi Khidir kemudian berkata kepada Nabi Musa AS:

    “Wahai Musa! Ibarat sebuah lautan ini, ilmunya Allah SWT dibanding dengan ilmu yang diberikan kepadaku dan padamu tak ubahnya seperti setetes atau dua tetes yang keluar dari paruh burung ini”. 

    Selanjutnya Nabi Khidir secara sengaja membuat lubang pada salah satu sisi kapal yang mereka sedang naiki. Tentu hal ini membuat Nabi Musa menegur Nabi Khidir karena hal tersebut bisa membahayakan dan membuat kapal tenggelam. 

    “Mereka telah membawa kita tanpa meminta bayaran, lantas kamu melubangi kapalnya. Bisa-bisa kita semua tenggelam ke laut”. Kemudian Nabi Khidir pun menjawab Nabi Musa AS dengan tenang:

    قال الله تعالى : قَالَ أَلَمۡ أَقُلۡ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا . قَالَ لَا تُؤَاخِذۡنِي بِمَا نَسِيتُ ..– سورة الكهف: 72-73

    Artinya: 

    “Dia (Khidir) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku”. Musa menjawab: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku”.  (al-Kahfi/18: 72-73).

    Pada kejadian pertama ini Nabi Musa lupa dan mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir. Kemudian mereka tetap melanjutkan perjalanan seperti biasa. 

    Akan tetapi, kejadian selanjutnya yang membuat Nabi Musa bertanya-tanya kembali terjadi. Di tengah perjalanan Nabi Khidir menjumpai anak kecil dan kemudian mengambil kepalanya dengan mencabut sehingga anak itu mati. 

    Karena tidak tahan dengan hal tersebut, Nabi Musa pun langsung bertanya kepada Nabi Khidir:

    قال الله تعالى : قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡ‍ٔٗا نُّكۡرٗا ۞ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗا  – سورة الكهف : 74-75

    Artinya:

    “Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”. Khidir menjawab: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”  [al-Kahfi/18: 74-75].

    Setelah kejadian tersebut keduanya tetap melanjutkan perjalanan dan sampai ke suatu negeri. 

    قال الله تعالى : فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَيَآ أَهۡلَ قَرۡيَةٍ ٱسۡتَطۡعَمَآ أَهۡلَهَا فَأَبَوۡاْ أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارٗا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥۖ قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا – سورة الكهف  77

    Artinya: 

    “Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh”. (al-Kahfi/18: 77).

    Nabi Khidir kemudian mengucapkan dengan tangannya, tegaklah, lantas dinding tersebut berdiri tegak. Musa berkata padanya:

    قال الله تعالى : قَالَ لَوۡ شِئۡتَ لَتَّخَذۡتَ عَلَيۡهِ أَجۡرٗا . قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيۡنِي وَبَيۡنِكَۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأۡوِيلِ مَا لَمۡ تَسۡتَطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرًا – سورة الكهف :78 –77

    Artinya: 

    “Berkata Musa: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. Khidir berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. (al-Kahfi/18: 77-78).

    Mengapa Nabi Khidir Boleh Tidak Ta’at Kepada Nabi Musa AS?

    Dari rentetan kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa AS yang sudah kita bahas pada bagian sebelumnya, mungkin muncul pertanyaan di benak kita. Mengapa pada saat itu Nabi Khidir boleh untuk tidak mentaati syariat dari Nabi Musa AS? 

    Dalam artian Nabi Khidir membunuh dan melubangi kapal sehingga berbahaya. Dimana jelas pada syariat yang Nabi Musa AS bawa, berbagai hal tersebut memiliki hukum yang jelas haram. 

    Untuk menjawab hal ini, perlu kita pahami dulu bahwa Nabi Khidir mendapatkan wahyu oleh Allah SWT berupa ilmu yang tidak diketahui oleh Nabi Musa AS. Hal ini kembali lagi bisa kita lihat dari QS al-Kahfi ayat 65:

    فَوَجَدَا عَبْداً مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْماً

    Artinya: 

    “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al Kahfi: 65).

    Kemudian bisa kita lihat juga pada Majmu’ Fatawa, 27/49. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: 

    إن موسى عليه السلام لم تكن دعوته عامة ولم يكن يجب على الخضر اتباع موسى عليهما السلام، بل قال الخضر لموسى إني على علم من الله علمنيه الله ما لا تعلمه وأنت على علم من الله علمكه الله لا أعلمه

    Artinya: 

    “Dakwah Musa alaihissalam tidak kepada seluruh manusia, dan Nabi Khidir termasuk yang tidak wajib untuk mengikuti syariat Nabi Musa ‘alaihissalam. Bahkan Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa: ‘Aku melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadaku, yang engkau tidak tahu. Dan engkau melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadamu, yang aku tidak tahu’ ‘ (Majmu’ Fatawa, 27/59).”

    Jadi dari penjelasan ini, bisa kita pahami bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi Musa AS pada saat itu, tidak berlaku untuk seluruh manusia. Sangat berbeda dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang berlaku untuk seluruh manusia.

    Artinya, Nabi Khidir diperkenankan atau diperbolehkan untuk tidak mengikuti syariat yang dibawa oleh Nabi Musa AS. 

    Apakah Nabi Khidir Masih Hidup? 

    Selama ini banyak sekali orang yang menganggap bahwa Nabi Khidir masih hidup sampai dengan saat ini dan menjadi penjaga di sungai-sungai atau pun lembah dan bisa menolong orang yang tersesat di jalan jika memanggilnya. 

    Untuk menjawab hal ini, perlu kita pahami bahwa menurut para ulama, Nabi Khidir telah wafat atau meninggal dunia sebelum Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW. Pendapat ulama ini berdasarkan firman Allah SWT dalam QS al Anbiya:

    وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

    Artinya: 

    “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?“. (Al-Anbiya/21: 34).

    Selain itu, ada hadist yang menerangkan bahwa Nabi Khidir memang telah meninggal setelah Nabi Muhammad SAW wafat dengan jarak waktu yang sudah ditentukan. Nabi Muhammad pun bersabda mengenai hal ini:

    “Tidaklah kalian melihat pada malam kalian ini, bahwa sesungguhnya siapa yang umurnya (berkepala) seratus tahun tidak (tersisa) pada hari ini di atas permukaan bumi seorangpun”. [1]

    Jadi kesimpulannya, Nabi Khidir sudah meninggal atau wafat dan tidak bisa mendengar panggilan siapapun yang memanggilnya. Jika ada perkiraan bahwa ia masih hidup sampai sekarang, maka hal tersebut adalah masalah ghaib. 

    Sebagai seorang muslim, tentu hal ini harus kita sikapi seperti permasalahan ghaib yang lainnya. Tidak boleh bagi kita untuk berdoa kepada hal ghaib tersebut baik dalam keadaan senang maupun susah. 

    Nah sahabat Muslim sekalian, itulah penjelasan mengenai kisah Nabi Khidir yang pernah menjadi guru dari Nabi Musa AS. Sebagai muslim sudah sewajarnya kita memahami hal ini sehingga tidak ada kesalahan tafsir terhadap sosok Nabi Khidir. 

    Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah SWT yang tidak lelah menuntut ilmu termasuk memahami kisah Nabi Khidir. Dengan begitu, kita bisa terhindar dari kesalahan penafsiran atau syariat terhadap suatu apapun.

  • Meneladani Kisah Nabi Zakaria AS Melalui Ujian yang Diberikan Allah SWT

    Meneladani Kisah Nabi Zakaria AS Melalui Ujian yang Diberikan Allah SWT

    Dalam al-Qur’an, kisah Nabi Zakaria mengandung petunjuk-petunjuk berharga. Salah satu kisahnya yaitu keinginan Nabi Zakaria untuk memiliki anak. 

    Bukan hanya untuk kebahagiaan pribadinya, tetapi juga memastikan kelangsungan risalah kenabiannya melalui keturunannya. 

    Selain itu, Nabi Zakaria juga merasa prihatin dengan kondisi sosial masyarakatnya yang semakin menjauhi ajaran Allah. Karena alasan-alasan ini, Nabi Zakaria dengan tekun berdoa siang malam agar dikabulkan oleh Allah SWT.

    Nah, kisah ini bisa kita rangkum dalam perjalanan dan pengalaman spiritual Nabi Zakaria dengan berdasar pada ajaran Al-Qur’an.

    Kisah Nabi Zakaria dan Ujiannya

    Nabi Zakaria AS diutus Allah kepada kaum Bani Israil di Palestina. Bani Israil telah terjerumus dalam dosa-dosa besar seperti kezaliman, perbuatan jahat, dan perubahan agama yang dianut ajaran Nabi Musa AS. 

    Inti pesan dakwah Nabi Zakaria AS adalah mengajak Bani Israil untuk bertaubat dan kembali menyembah Allah SWT. Kegiatan dakwahnya berfokus di Bait-al Maqdis. Salah satu ciri khas dakwah Nabi Zakaria adalah sikap lembutnya. 

    Dalam perjalanan dakwahnya tentu saja Nabi Zakaria juga mendapat ujian dari Allah SWT. Hal ini banyak diceritakan dalam Al-Qur’an. Berikut beberapa kisah Zakaria AS serta hikmah yang bisa kita ambil.

    1. Nabi Zakaria Mendambakan Seorang Anak

    Diceritakan dalam Surah Maryam bahwa Nabi Zakaria memiliki keinginan untuk dikaruniakan seorang anak. Dengan penuh kerendahan  hati, Nabi Zakaria berdoa kepada Allah SWT dengan suara yang sangat lembut. 

    Keinginan Nabi Zakaria untuk memiliki seorang putra dipicu oleh keprihatinannya terhadap perilaku dosa yang semakin meluas di kalangan kaumnya. Semakin hari, kaumnya semakin menjauh dari ajaran Taurat. 

    Nabi Zakaria memiliki keinginan untuk memiliki seorang putra laki-laki yang bisa mewarisi pengetahuannya dan menjadi seorang nabi. Ia berharap putranya nanti akan membimbing kaum mereka dengan menyampaikan ajaran Allah SWT kepada.

    Inilah awal dari kisah Nabi Zakaria yang mana terjadi keajaiban yang akan dialami oleh Nabi Zakaria dan istrinya. 

    Nabi Zakaria merupakan seorang yang usianya telah lanjut, rambutnya sudah berubah. Ia merasa bahwa hidupnya mungkin akan berakhir tidak lama lagi. 

    Sementara itu, istrinya yang merupakan bibi Maryam juga wanita yang sudah lanjut usia dan mengalami kemandulan. Akan tetapi, keinginan Zakaria ini tidak disampaikannya kepada sang istri. Tapi, tentu saja Allah mengetahui hal tersebut.

    Saat mengasuh Maryam, Zakaria kerap mendapati buah-buahan di depan Maryam. Lalu, sesuai Surah Ali ‘Imran ayat 37-38, Zakaria berkata:

    “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?.” Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya.” (QS. Ali ‘Imran: 37-38).

    Melalui kejadian tersebut, Zakaria semakin yakin atas kuasa Allah untuk mewujudkan sesuatu yang mustahil sekalipun. Dalam Al-Qur’an diterangkan doa Nabi Zakaria yaitu sebagai berikut.

    ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُۥ زَكَرِيَّآ 32) إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا (2) قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا ( 4)وَإِنِّى خِفْتُ ٱلْمَوَٰلِىَ مِن وَرَآءِى وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا فَهَبْ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ ۖ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6

    Zikru raḥmati rabbika ‘abdahụ zakariyyā. iż nādā rabbahụ nidā`an khafiyyā. qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta’alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu’ā`ika rabbi syaqiyyā. wa innī khiftul-mawāliya miw warā`ī wa kānatimra`atī ‘āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā. yariṡunī wa yariṡu min āli ya’qụba waj’al-hu rabbi raḍiyyā.

    Artinya:

    “(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engka u, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeningalku, sedang istriku adalah seseorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akmi mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorangyang diridahi. ” (QS. Maryam: 2-6).

    Dalam kisah Nabi Zakaria dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Sang Pencipta tanpa bersuara dengan keras. Ia Meminta agar diberikan seorang anak laki-laki yang bisa mewarisi kenabian, hikmah, keutamaan, dan ilmu. 

    Zakaria khawatir bahwa setelahnya, kaum Bani Israil akan tersesat karena tidak akan ada seorang pun nabi yang datang setelahnya. Allah SWT dengan kemurahan hati-Nya mengabulkan doa Nabi Zakaria.

    2. Doa Nabi Zakaria Dikabulkan

    Berkat serangkaian doa yang panjang dan tekun, istri Nabi Zakaria pun hamil. Hal ini dijelaskan dalam Surah Maryam ayat selanjutnya.

    يَٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ ٱسْمُهُۥ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُۥ مِن قَبْلُ سَمِيًّا

    yā zakariyyā innā nubasysyiruka bigulāminismuhụ yaḥyā lam naj’al lahụ ming qablu samiyyā.

    Artinya:

    “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (memperoleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam: 7).

    Nabi Zakaria yang mendengar kabar tersebut pun kaget. Mengingat kondisinya dan sang istri tidak memungkinkan untuk memiliki seorang putra. Dengan gembira sekaligus penuh keheranan, ia bertanya sebagaimana dijelaskan dalam Surah Maryam.

    قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلَٰمٌ وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ ٱلْكِبَرِ عِتِيًّ (8) قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَىَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا

    qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa kānatimra`atī ‘āqiraw wa qad balagtu minal-kibari ‘itiyyā. qāla każālik, qāla rabbuka huwa ‘alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai`ā.

    Artinya:

    “Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.” Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (QS. Maryam: 8-9).

    Terdapat sebuah hadis yang diceritakan oleh ‘Ikrimâh dan as-Saddi mengenai situasi kebingungan dalam kisah Nabi Zakaria. Pada waktu itu, Nabi Zakaria telah mendengarkan panggilan dari malaikat yang memberikan kabar tersebut. 

    Namun, kemudian setan mendatanginya dengan tujuan untuk meracuni pikirannya sehingga ia menjadi ragu. Setan berseru kepada Zakaria, “Wahai Zakaria!”

    “Sesungguhnya suara yang kamu dengar tidaklah berasal dari Allah. Suara itu berasal dari setan yang berusaha untuk menundukkanmu dan membujukmu. Kalau saja itu benar dari Allah, maka Dia akan mewahyukan secara sembunyi-sembunyi sebagaimana halnya aku memanggilmu sembunyi-sembunyi dan juga sebagaimana kamu diberikan wahyu dalam segala hal.” (Jalal al-Dîn al-Suyûṭî, Dûr al-Manṣûr fî Tafsîr bi al-Ma’ṡûr (Markaz li al-Buhûṡ wa Dirâsat al-‘Arabiyyah: 2003), Jilid 3, Hal. 534.

    Karena pengaruh bujukan setan, Nabi Zakaria mulai meragukan kabar gembira yang telah disampaikan oleh Malaikat Jibril. Kemudian, Allah berfirman sebagai berikut.

    فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ

    Fastajabnā lahụ wa wahabnā lahụ yaḥyā wa aṣlaḥnā lahụ zaujah, innahum kānụ yusāri’ụna fil-khairāti wa yad’ụnanā ragabaw wa rahabā, wa kānụ lanā khāsyi’īn.

    Artinya:

    “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).

    Malaikat memberitahu Nabi Zakaria bahwa ini adalah kehendak Allah SWT. Segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. 

    Tidak ada yang sulit bagi Allah SWT. Semua ciptaan Allah SWT terjadi berdasarkan kehendak-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Yasin yaitu sebagai berikut.

    إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

    Innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah herkata kepadanya: ‘Jadilah!’, maka jadilah ia. ” (QS. Yasin: 82).

    3. Nabi Zakaria Bisu

    Kisah Nabi Zakaria bagian selanjutnya yaitu ketika dirinya bisu. Kejadian saat Nabi Zakaria menjadi bisu dimulai setelah ia mengungkapkan keraguannya terhadap berita dari Allah tentang kehamilan istrinya. 

    Ungkapan Nabi Zakaria tersebut bukanlah bentuk keraguan, tetapi lebih kepada ekspresi keheranannya terhadap berita yang luar biasa itu. 

    Sekaligus juga menunjukkan kegembiraan dan keinginannya untuk mendengar berita tersebut dikonfirmasi lebih lanjut. 

    Pada saat itu, Nabi Zakaria memohon kepada Tuhan agar memberikan tanda (ayat) sebagai bukti jika istrinya benar-benar sedang hamil.

    قَالَ رَبِّ ٱجْعَل لِّىٓ ءَايَةً ۚ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا (10) فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ مِنَ ٱلْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰٓ إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا۟ بُكْرَةً وَعَشِيًّا (11)

    Qāla rabbij’al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā. Fa kharaja ‘alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥā ilaihim an sabbiḥụ bukrataw wa ‘asyiyyā.

    Artinya:

    “Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, berilah suatu tanda.” Tuhan berfirman: ‘Tanda bagimu adalah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.” Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 10-11).

    Dalam Surah Ali Imran ayat 41 juga disebutkan hal yang sama, yaitu diterangkan sebagai berikut.

    قَالَ رَبِّ ٱجْعَل لِّىٓ ءَايَةً ۖ قَالَ ءَايَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ ٱلنَّاسَ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا ۗ وَٱذْكُر رَّبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِٱلْعَشِىِّ وَٱلْإِبْكَٰرِ

    Qāla rabbij’al lī āyah, qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡata ayyāmin illā ramzā, ważkur rabbaka kaṡīraw wa sabbiḥ bil-‘asyiyyi wal-ibkār.

    Artinya:

    Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”. (QS. Ali ‘Imran: 41).

    Berdasarkan ayat tersebut, kisah Nabi Zakaria diberitahu oleh bahwa ia dalam tiga hari tiga malam tidak mampu bicara, padahal ia dalam kondisi sehat. 

    Jika hal tersebut terjadi, hendaklah Zakaria yakin bahwa kehamilan istrinya merupakan mukjizat Allah SWT.

    Dalam waktu tersebut, hendaklah Zakaria berbicara kepada manusia melalui isyarat. Semestinya ia pun banyak bertasbih kepada Allah SWT pada waktu pagi dan sore hari.

    Pada suatu hari, Zakaria keluar dan merasa penuh rasa syukur dalam hatinya. Ia berharap untuk berbicara dengan orang-orang, tetapi menyadari bahwa ia tidak mampu mengeluarkan suara. 

    Dari hal itu Zakaria menyadari bahwa mukjizat dari Allah SWT telah terjadi.

    Dengan isyarat, ia mengajak kaumnya untuk bersujud dan bertasbih kepada Allah SWT pada waktu pagi dan sore. Di dalam hatinya, Zakaria terus bersyukur kepada Allah SWT, tanda rasa kebahagiaan yang mendalam menyelimuti dirinya.

    Malaikat kemudian memberitahu Zakaria tentang kelahiran seorang anak laki-laki yang Allah SWT akan beri nama Yahya. Ini adalah kali pertama orangtua tidak memberikan nama kepada anak mereka. 

    Nama tersebut bukanlah pilihan orang tuanya, melainkan Allah SWT sendiri yang menentukan nama tersebut. 

    Dengan pemberian nama yang sangat mulia ini, Allah SWT memberikan berita gembira kepada Zakaria. 

    Beritanya adalah bahwa anaknya, Yahya, akan menjadi seorang nabi yang membenarkan firman Allah SWT. Tidak hanya sebatas nabi, akan tetapi Allah menjaga Yahya dari perbuatan-perbuatan yang tercela.

    Mendengar hal tersebut, Zakaria gemetar. Air matanya mulai berlinangan karena saking gembiranya perasaan Zakaria saat itu. Lalu ia sholat kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur atas pengabulan doanya.

    Hikmah Kisah Nabi Zakaria

    Dalam sebuah keluarga, anak dianggap sebagai anugerah terindah yang diberikan oleh Allah kepada orangtua. Anak menjadi aset yang sangat berharga. Melalui anak, orangtua dapat mencapai puncak kebahagiaan sekaligus menghadapi ujian. 

    Sebagai contoh, jika seorang anak tumbuh menjadi anak saleh, ketika orangtuanya meninggal dunia, mereka terus menerima pahala atas doa-doa anaknya. 

    Sebaliknya, jika anak tersebut menjadi durhaka, orangtua hanya akan menerima akibat buruk dari anaknya sendiri. 

    Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa anak dapat dilihat sebagai perhiasan (zînah) sekaligus ujian (fitnah). Akan tetapi dalam konteks ini, terdapat pahala besar yang tersimpan bagi hamba-hamba Allah.

    Nabi Zakaria sangat menyadari pentingnya memiliki seorang anak. Itulah sebabnya, ia tanpa henti berdoa kepada Allah. Berdoa merupakan salah satu cara yang diperlihatkan dalam kisah Nabi Zakaria untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. 

    Ketika Allah mengirimkan pesan kepada nabi-Nya, ia memiliki kebebasan untuk meresponsnya sesuai dengan kehendaknya sendiri. Tetapi, seringkali manusia cenderung berharap mendapatkan respon positif ketika mereka berdoa. 

    Akhirnya bisa ada rasa putus asa jika mereka mendapatkan respon negatif. Sebagai akibatnya, Allah bisa menunda atau bahkan tidak mengabulkan doa mereka. 

    Hamba yang selalu taat dan khusyuk beribadah seperti Nabi Zakaria, harus menunggu bertahun-tahun sebelum doanya dikabulkan. 

    Hal Ini adalah ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk menguji kesabarannya. Apakah ia akan tetap sabar atau justru putus asa. 

    Nabi Zakaria menghadapi ujian ini dengan sikap yang optimis, berpikiran positif, pasrah, dan sabar. Sikap pasrahnya tercermin dalam kalimat “wa anta khair al-wâritsîn,” yang berarti “dan Engkaulah ahli waris yang baik.” 

    Nabi Zakaria sepenuhnya menyerahkan semua hal kepada Allah dan meyakini bahwa segala yang dialaminya adalah bagian dari kehendak Allah.

    Itulah hikmah dari serangkaian kisah Zakaria yang sangat sabar dan berserah diri dengan ketetapan dari Allah SWT. 

    Sudah semestinya kita turut meneladani perilaku tersebut, yaitu tidak putus asa dalam berdoa meskipun untuk sesuatu yang terlihat mustahil.

    Memahami kisah Nabi Zakaria dapat membuka wawasan dan pengetahuan kita tentang peristiwa dan perjuangan nabi dalam misi untuk menyampaikan ajaran-Nya. Merenungkan kisah tersebut, semakin memperkuat keyakinan kepada Allah. 

    Berbagai peristiwa luar biasa yang terjadi pada zaman nabi dan rasul terdahulu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. 

    Kepercayaan kepada nabi dan rasul juga merupakan salah satu dari rukun iman keempat. Oleh karena itu, sudah semestinya kita belajar dan mengambil hikmah dari kisah nabi.

  • 8 Arti Mimpi Hamil dalam Islam, Sebuah Pertanda Baik?

    8 Arti Mimpi Hamil dalam Islam, Sebuah Pertanda Baik?

    Ada kalanya mimpi menunjukkan cerita yang sangat unik sehingga orang bertanya-tanya mengenai artinya. Salah satu mimpi unik yang juga merupakan pertanda yaitu mimpi hamil.

    Fenomena mimpi terjadi di alam bawah sadar. Lebih tepatnya, ketika masuk ke fase tidur REM (rapid eye movement).

    Lantas, apa kiranya arti mimpi hamil menurut Islam? Apakah mimpi tentang kehamilan merupakan pertanda hal baik atau buruk? Mari simak info lengkapnya.

    Arti Mimpi Hamil dalam Islam

    Dalam Islam, mimpi tertentu memiliki makna. Mimpi tertentu dipercaya sebagai salah satu cara Allah untuk menyampaikan pesan pada umat-Nya.

    Hakikat mimpi tertuang dalam firman Allah berikut:

    وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari…” (QS. Ar-Rum: 23)

    Ada banyak teori mengenai penyebab dan arti mimpi. Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan mengenai tafsir mimpi. Beliau bahkan sering menceritakan mengenai mimpinya kepada para sahabat.

    Berdasarkan hadis Rasulullah, ada tiga jenis mimpi:

    الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله

    “Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, rasa takut dari setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR. Bukhari)

    Lantas, termasuk jenis manakah mimpi mengalami kehamilan?

    Hamil atau mengandung anak bisa jadi hal yang dinanti bagi pasangan suami istri. Akan tetapi, bagi yang mengalami mimpi hamil belum menikah dapat terasa sangat aneh.

    Jika kamu pernah mengalaminya, maka kamu mungkin menjadi penasaran mengenai arti dari mimpi kehamilan.

    Secara umum, mimpi mengalami kehamilan menurut Islam merupakan pertanda kebaikan. Namun, tafsir dari mimpi tersebut perlu mempertimbangkan konteks mimpi serta situasi kehidupan dari orang yang mengalaminnya.

    Berikut ada beberapa kemungkinan arti mimpi kehamilan:

    1. Arti Mimpi Hamil Besar

    Arti Mimpi Hamil Besar

    Mimpi mengalami hamil besar merupakan pertanda yang sangat baik. Pasalnya mimpi tersebut menandakan akan datangnya keberuntungan di depan mata.

    Selain itu, mimpi kehamilan besar juga memiliki makna sebagai pengingat untuk mensyukuri nikmat Allah.

    Semua rezeki dan keberuntungan yang telah kamu miliki maupun yang akan datang berasal dari Allah SWT.

    Baca juga: Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Manfaat, dan Keutamaannya

    2. Arti Mimpi Hamil Muda

    Mimpi hamil muda umum dialami oleh wanita yang baru menikah. Namun, ada kalanya wanita yang sudah punya anak juga mengalami mimpi ini.

    Hamil muda dalam mimpi membawa pertanda baik. Pasalnya, arti mimpi tersebut adalah kamu akan memperoleh tanggung jawab dan kepercayaan. Meskipun datangnya dalam waktu yang masih lama.

    Mimpi mengalami hamil muda juga membawa pesan tersirat. Mimpi ini mengingatkan kamu untuk bersikap sabar supaya nantinya dapat menjadi orang yang bertanggungjawab dan amanah.

    3. Arti Mimpi Hamil dan Melahirkan

    Apakah kamu baru mengalami mimpi mengandung dan melahirkan? Nah, kamu patut merasa senang atas mimpi tersebut.

    Pasalnya, mimpi ini menandakan bahwa kamu akan memperoleh keberuntungan besar dari hal yang selama ini menjadi tanggung jawabmu. Kabar baiknya lagi, keberuntungan tersebut akan datang segera.

    Mimpi mengalami hamil dan melahirkan juga membawa sebuah pesan, yaitu agar kamu selalu bersyukur. Selain itu, kamu juga diingatkan untuk tidak bersikap sombong saat keberuntungan tersebut datang.

    4. Arti Mimpi Hamil Belum Menikah

    Terkadang mimpi mengalami kehamilan juga terjadi pada wanita muda dan remaja yang belum menikan. Bagi mereka, kejadian tersebut dapat menimbulkan perasaan aneh, bahkan ada yang takut akan sungguh menjadi nyata.

    Namun, rupanya mimpi tersebut bukan membawa pertanda buruk. Sebaliknya, merupakan pertanda baik.

    Dalam Islam, arti mimpi mengalami kehamilan saat belum menikah adalah kedatangan rezeki yang tidak pernah kamu sangka.

    Selain itu, mimpi tersebut juga sebagai pengingat supaya kamu bersyukur kepada Allah SWT.

    5. Arti Mimpi Hamil Kembar

    Tidak hanya hamil biasa, ada juga orang yang mengalami mimpi mengandung anak kembar. Mimpi yang demikian merupakan kabar baik bagi kamu dan keluarga.

    Pasalnya, mimpi kehamilan anak kembar merupakan pertanda bahwa kamu akan memperoleh rezeki tidak terduga dan berlipat ganda. Oleh karenanya, kamu sebaiknya bersyukur atas nikmat tersebut.

    Datangnya mimpi juga menjadi pengingat supaya kamu nantinya tidak lantas lupa diri karena mendapat rezeki melimpah. Kamu bisa membuka A-Qur’an surat Ath-Thalaq ayat 2-3 untuk memahami ajaran bersyukur atas rezeki dari Allah.

    6. Arti Mimpi Istri Hamil

    Mimpi mengenai kehamilan tidak hanya terjadi pada wanita saja. Ada kalanya pria yang sudah menikah memimpikan bahwa istrinya hamil.

    Kamu patut merasa bahagia apabila mengalaminya. Pasalnya, mimpi istri hamil merupakan pertanda akan datangnya rezeki yang tidak terduga.

    Mimpi tersebut juga memiliki arti sebagai pengingat agar kamu selalu mensyukuri setiap rezeki dan tetap istiqomah. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Luqman ayat 12 dan Al-Baqarah ayat 172.

    7. Arti Mimpi Mengalami Kehamilan dan Melahirkan Anak Laki-laki

    Mimpi mengandung dan melahirkan anak laki-laki menandakan bahwa kamu akan kedatangan rezeki berlimpah. Dengan rezeki tersebut, kamu dan keluarga akan mendapatkan kemakmuran.

    Jika kamu mengalami mimpi tersebut, maka kamu bisa bersiap menyambut rezeki. Sertai perasaan bahagia kamu dengan rasa syukur pada Allah SWT.

    8. Arti Mimpi Mengalami Kehamilan dan Melahirkan Anak Perempuan

    Sekilas mimpi ini tampak serupa dengan mimpi melahirkan anak laki-laki. Namun, rupanya mimpi melahirkan anak perempuan memiliki arti yang berbeda.

    Memimpikan mengandung dan melahirkan anak perempuan merupakan pertanda bahwa kamu akan mendapatkan kenaikan pangkat dan tanggung jawab lebih dalam waktu dekat.

    Nah, apabila mendapatkan mimpi tersebut, maka kamu bisa mulai bersiap dengan kemungkinan kenaikan jabatan. Selain persiapan mental, kamu juga sebaiknya menyiapkan komitmen untuk memikul tanggung jawab lebih.

    Menyikapi Mimpi Menurut Ajaran Islam

    Meskipun mimpi dapat membawa pertanda baik, tidak seharusnya kamu menjadi berbangga diri dan bersikap sombong. Lantas, bagaimana cara menyikapinya?

    Berikut adab menyikapi mimpi menurut ajaran Islam:

    1. Bersyukur pada Allah SWT

    Mengutip dari Ensiklopedia Islam oleh Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, hendaknya sikap pertama seorang muslim terhadap mimpi adalah mensyukurinya.

    Mimpi dan pertanda baik yang dibawanya berasal dari Allah SWT. Demikian pula dengan rezeki yang kamu terima.

    2. Hindari Bergantung pada Tafsir Mimpi

    Melansir dari Muslim.or.id, membaca kitab dan buku tafsir mimpi bukanlah hal yang salah. Justru menafsirkan mimpi dapat membawa manfaat. Meski begitu, sebaiknya tidak terlalu bergantung pada penafsiran mimpi.

    Penafsiran mimpi termasuk ilmu yang sulit dan sebaiknya hanya dilakukan oleh mereka yang mengetahui dalil dengan baik. Sementara untuk orang awan, sebaiknya mendatangi ahli ilmu untuk membantu menafsirkan mimpi.

    3. Tidak Sembarangan Menceritakan Mimpi

    Mimpi sebaiknya tidak kamu ceritakan pada sembarangan orang. Jika memang ingin menceritakannya, pastikan memberitahu pada sosok yang bisa kamu percaya atau kepada ulama yang mengerti mengenai penafsiran mimpi.

    Itulah beberapa arti mimpi hamil menurut penafsiran dalam ajaran Islam.

    Secara umum, mimpi mengenai kehamilan menandakan kedatangan hal baik yang sekaligus juga merupakan pengingat untuk selalu bersyukur atas nikmat-Nya.

  • Bacaan Doa Qunut Subuh Arab dan Latin Beserta Arti dan Hukumnya

    Bacaan Doa Qunut Subuh Arab dan Latin Beserta Arti dan Hukumnya

    Ada banyak amalan sunnah dalam ajaran Islam yang bisa kita lakukan. Amalan-amalan tersebut dapat mendatangkan pahala dan kebaikan untuk diri kita. Salah satu amalannya yaitu doa qunut.

    Nabi Muhammad SAW mengajarkan umat muslim untuk membaca doa tersebut. Adapun waktu membacanya yaitu ketika menjalankan shalat subuh.

    Mengenal Doa Qunut Subuh

    Menurut istilahnya, “Qunut” memiliki arti ketaatan yang disertai dengan kerendahan hati. Qunut juga memiliki arti berdiri lama, doa, diam, dan khusyu’.

    Pengertian qunut tersebut saling melengkapi satu sama lain. Sehingga dapat dijabarkan bahwa qunut merupakan doa yang dibaca ketika shalat dan dalam posisi berdiri dengan cukup lama.

    Doa tersebut juga merupakan bentuk ketaatan pada Allah SWT.

    Biasanya, qunut dibaca ketika menjalankan ibadah shalat subuh. Lebih tepatnya, setelah membaca tahmid saat I’tidal serta sebelum ruku’.

    Masih bingung kapan membaca doa qunut subuh dari penjelasan tersebut?

    Kita bisa membaca qunut pada rakaat kedua shalat subuh, tepatnya setelah membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Jadi, kita bisa mulai membaca qunut setelah selesai membaca surat pendek.

    Ketika membaca qunut, posisi tubuh masih berdiri sambil mengangkat kedua tangan. 

    Qunut terdiri dari beberapa kalimat yang isinya pujian kepada Allah SWT. Selain itu, wunut juga berisi permohonan ampun, sekaligus permohonan perlindungan dan pertolongan Allah.

    Imam Syafi’i menganjurkan untuk membaca qunut ketika shalat subuh. Mayoritas ulama ahli hadits juga menyetujui pendapat tersebut.

    Baca juga: Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Shalat subuh sendiri merupakan ibadah yang istimewa. Pasalnya, waktu pelaksanaannya yang mana merupakan waktu fajar saat belum banyak orang yang terjaga.

    Fajar merupakan waktu yang baik untuk memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Melakukan amalan dengan membaca qunut juga dapat memperkuat iman dan meningkatkan ketakwaan.

    Mengingat manfaat signifikannya, mengamalkan qunut saat shalat subuh termasuk ibadah dengan banyak keutamaan bagi umat muslim

    Bacaan Doa Qunut Latin dan Arab

    Setelah mengetahui apa itu qunut, kita bisa melanjutkan dengan mempelajari bacaan doanya. 

    Terdapat dua versi qunut, yaitu qunut lengkap atau panjang dan qunut pendek. 

    1. Doa Qunut Lengkap

    اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Adapun bacaan doa qunut latin yaitu:

    “Allahummah dinii fii man haadaiit, Wa ‘aafinii fiiman ‘aafait, wa tawallanii fii man tawallaiit, Wa baarik lii fii ma a’thaiit, Wa qinni birohmatika syarra maa qadhaiit, Fa innaka taqdhi wa la yuqdha ‘alaiik, Wa innahu la yazillu man wa lait, Wa la ya’izzu man ‘adait, Tabarakta rabbana wa ta’alait, Fa lakal hamdu a’la ma qadhait, Astagfiruka wa atubu ilaik, Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin Nabiyyil ummiyyi Wa ‘ala alihi Wa shahbihi Wa sallam.”

    Artinya:

    “Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana mereka yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. Peliharalah diriku sebagaimana orang-orang yang sudah Engkau lindungi. Berikanlah keberkahan untukku dari apa yang sudah Engkau berikan. Selamatkanlah diriku dari bahaya kejahatan yang sudah Engkau tentukan. Engkaulah yang berhak menghukum dan bukan dihukum. Tidak akan hina orang yang telah Engkau jadikan pemimpin. Tidak mulia orang yang telah Engkau musuhi. Maha Suci Engkau duhai Tuhan kami dan Yang Maha Tinggi. Bagi-Mu seutuhnya pujian di atas apa yang telah Engkau tentukan. Diriku memohon ampun kepada-Mu dan menyatakan bertaubat kepada-MU. Semoga engkau ya Allah mencurahkan rahmat dan karuniamu atas junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, dan semua para sahabatnya.”

    2. Doa Qunut Subuh Pendek

    للّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

    Doa qunut Arab tersebut dalam tulisan latin bacaannya yaitu:

    “Allahummah dinii fii man hadaiits, wa ‘aafiinii fii man ‘aafaits, wa tawallanii fii man tawallaits, Wa baarik lii fii maa a’thaits, Wa qi nii birohmatika syarra maa qadlaits, Fa innaka taqdli wa laa yuqdlaa ‘alaik, Wa innahuu laa yadzillu man waalaits, Tabaarakta rabbanaa wa ta’aalaits.”

    Adapun artinya yaitu:

    “Ya Allah, berilah kepadaku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berikanlah kesejahteraan untukku di antara orang-orang yang Engkau beri kesejahteraan, tolonglah diriku di antara orang-orang yang kau beri pertolongan, berikanlah keberkahan untukku dari apa-apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan peliharalah diriku aku dari semua keburukan yang telah Engkau putuskan, karena sesungguhnya Engkau yang berhak memutuskan dan tidak diputuskan atasMu, dan tidak ada kehinaan kepada orang yang sudah Engkau tolong, Maha Suci Engkau duhai Tuhan kami, yang lagi Maha Tinggi.”

    Kedua doa qunut tersebut dapat kita amalkan dengan membaca salah satunya saat shalat. Pasalnya, meskipun bacaan qunut dari kedua versi cukup berbeda, pada dasarnya qunut memiliki tujuan yang sama.

    Adapun bacaan doa qunut subuh berjamaah dengan doa qunut subuh sendiri juga sama, yakni dengan menggunakan salah satu versi qunut di atas.

    Meski demikian, mengutip dari NU Online, terdapat sedikit perubahan pelafalan pada bacaan doa. 

    Apabila membaca qunut saat berjamaah, imam perlu mengubah lafal “ihdini” yang berarti berilah aku petunjuk. Imam perlu mengganti lafal tersebut dengan “ihdina” yang memiliki arti berilah kami petunjuk.

    Pengubahan ini sesuai dengan pendapat dari Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in. Menurut Beliau, makruh hukumnya bagi imam untuk berdoa demi dirinya sendiri ketika shalat berjamaah.

    Baca juga: Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Manfaat, dan Keutamaannya

    Hukum Doa Qunut 

    Dalam fiqih terdapat tiga jenis qunut, yaitu qunut subuh, qunut witir, dan qunut nazilah. Adapun mengenai hukum qunut terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para ulama.

    Dalil tentang Do’s Qunut

    Pelaksanaan ketiga jenis qunut berdasarkan pada sejumlah dalil yang menjadi landasan hukum qunut. 

    Dalil tersebut meliputi hadits Ubai bin Ka’ab:

    إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. أخرجه ابن ماجه.

    Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwitir lalu melakukan qunut sebelum ruku’. [HR Ibnu Majah dan dishahîhkan al-Albâni dalam Irwa’ al-Ghalil, 2/167 hadits no. 426].

    Selain itu, ada pula hadits lain dari Anas bin Malik yang artinya: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang berdoa Qunut (ketika ada musibah) pada shalat Maghrib dan shalat Shubuh” [HR. Bukhari].

    Hukum Doa Qunut Subuh

    Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, hukum qunut subuh adalah sunnah. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa qunut subuh berlaku ketika terjadi suatu masalah besar sehingga perlu mendoakan dengan qunut nazilah.

    Pendapat dari Imam Syafi’i yang menganjurkan membaca qunut ketika shalat subuh berdasarkan beberapa hadits. Salah satunya yaitu hadits riwayat Muslim yang artinya:

    “Dari Muhammad bin Sirin, berkata: “Aku bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah Rasulullah Saw membaca qunut dalam shalat Subuh?” Beliau menjawab: “Ya, setelah ruku’ sebentar.” (HR Muslim, Hadits nomor 1578).

    Menurut Imam Nawawi, hukum kesunahan membaca qunut subuh adalah sunnah muakkadah. Artinya, shalat kita tidak akan batal apabila meninggalkan qunut. 

    Meski demikian, kita sebaiknya melakukan sujud sahwi saat meninggalkan qunut secara sengaja maupun tidak.

    Pendapat tersebut berlandaskan dalil berupa hadits yang artinya: “Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika shalat subuh sehingga beliau wafat.’” (HR Ahmad)

    Mazhab Hanafi juga berpendapat bahwa hukum qunut saat shalat subuh adalah sunnah muakkad. Sementara mazhab Maliki dan Hanbali memiliki pandangan yang berbeda.

    Kedua mazhab tersebut tidak menekankan membaca qunut saat shalat subuh. Namun, menganjurkan pelaksanaannya ketika shalat witir dan shalat-shalat lain, misalnya ketika memohon pertolongan atau perlindungan dari bencana.

    Hadist mengenai Qunut Subuh Terus Menerus

    Terdapat sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dll, dari jalur Abu Ja’far Ar-Razi, yang berbunyi:

    مَازَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا .

    Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut pada shalat Shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia (wafat).”

    Namun, rupanya hadist tersebut tidak termasuk dalam hadist shahih.

    Melansir dari Bimbingan Islam, hadist terkait membaca qunut yang shahih hanyalah tentang qunut nazilah. 

    Artinya, tidak terdapat dalil yang valid mengenai keharusan ataupun kesunnahan melakukan qunut secara terus menerus saat subuh. 

    Manfaat Membaca Doa Qunut

    Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai pelaksanaannya, seluruh umat muslim percaya bahwa qunut memberikan banyak manfaat, seperti: 

    1. Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

    Sebagaimana doa lain, melalui qunut umat muslim dapat lebih dekat pada Allah SWT. Hal tersebut karena qunut mengandung permohonan ampunan dari Sang Pencipta.

    Selain itu, qunut juga berisi permohonan pertolongan dan perlindungan dari segala macam bahaya.

    2. Mendapatkan Petunjuk

    Qunut juga berisi permohonan untuk diberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dengan membaca doa pada saat shalat, umat muslim bisa mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

    Oleh karena itu, mengamalkan qunut dapat membantu umat muslim dalam menghadapi berbagai tantangan.

    3. Mendapatkan Berkah dan Menghindarkan Mudharat

    Dalam qunut, kita juga memanjatkan permohonan untuk mendapat keberkahan pada segala nikmat yang telah Allah berikan. 

    Selain itu, melalui qunut umat muslim juga memohon perlindungan dari kemudharatan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Doa ini berisi harapan untuk mendapatkan perlindungan-Nya dari segala macam bahaya.

    4. Kebaikan Dunia dan Akhirat

    Melalui qunut umat muslim tidak hanya memohon perlindungan dari hal-hal buruk, tapi juga sekaligus memohon kebaikan dunia dan akhirat. 

    Qunut mengandung harapan untuk diberikan petunjuk supaya terhindar dari kesulitan maupun keburukan dan godaan. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup dan meraih tujuan dengan cara yang penuh berkah.

    5. Memberikan Ketenangan Hati

    Satu lagi manfaat penting dari qunut, yaitu memberikan perasaan tenang dan damai. Pasalnya, dengan membaca qunut umat muslim juga menyampaikan permohonan untuk mendapat perlindungan dan petunjuk dari Allah SWT.

    Oleh karena itu, qunut dapat membuat perasaan lebih aman dan terjaga. Sehingga, kita dapat menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang sering kali menyebabkan rasa khawatir dan stress.

    Itulah pengertian, bacaan, dan hukum doa qunut subuh secara lengkap. Qunut memberikan banyak manfaat bagi yang menjalankan. Mari berusaha untuk konsisten mengamalkan supaya meraih banyak kebaikan.

  • Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    Artikel ini akan membahas dalil keringanan puasa untuk ibu hamil. Bagi Moms yang sedang hamil dan menyusui, tentunya mereka masih bertanya-tanya apakah mereka masih harus menjalankan ibadah shaum saat bulan puasa.

    Puasa menjadi kewajiban setiap umat Muslim saat bulan Ramadhan. Tapi bagaimana dengan ibu hamil? Biasanya mereka tidak berpuasa karena takut membahayakan kondisi dirinya dan sang janin.

    Karena alasan itu, banyak ibu hamil yang tidak berpuasa. Banyak dari mereka yang menggantinya dengan kewajiban qadha, baik itu puasa atau membayar fidyah.

    Beberapa dari kita masih belum tahu bagaimana jika ini terjadi. Jadi seperti apa hukum berpuasa untuk ibu hamil? Mari kita cari tahu bersama-sama.

    Alasan Ibu Hamil dan Menyusui Tidak Berpuasa

    Kita sudah melihat bahwa ibu hamil biasanya tidak berpuasa karena khawatir dengan kondisi dirinya dan sang janin. Jika mereka berpuasa, takutnya mereka akan kekurangan kebutuhan gizi untuk dirinya dan sang janin.

    Puasa pada dasarnya menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Ibadah ini menjadi wajib saat bulan Ramadhan. Akan tetapi, ada pengecualian bagi yang sedang sakit keras atau haid. Kedua kondisi itu menghalangi mereka untuk berpuasa.

    Beberapa ulama memberi pendapat demikian berdasarkan ayat Al Quran berikut ini:

    فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةُ طَعَامُ مِسْكِينٍ

    Artinya:

    “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin“. (Q.S. Al-Baqarah: 184).

    Dari ayat tersebut, tercantum bahwa orang sakit atau sedang dalam perjalanan bisa tidak berpuasa. Asalkan ia wajib membayar utang berupa puasa qadha di luar bulan Ramadhan. Jika tidak mampu, mereka harus memberi makan orang miskin.

    Bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui? Sebagian ulama berpendapat ayat itu bisa menjadi dalil keringanan puasa untuk ibu hamil.

    Baca juga: Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya

    Ibu Hamil Tidak Berpuasa Menurut Medis

    Saat kita berpendapat ibu hamil dan menyusui sebaiknya tidak berpuasa, setidaknya ini tidak benar-benar salah. Pasalnya, pengetahuan sains dan medis ikut mendukung pendapat ini.

    Pada dasarnya, ibu hamil dan menyusui membutuhkan gizi dan kalori lebih banyak dari biasanya. Bagi ibu hamil, kenaikan kebutuhan itu dipicu dengan kebutuhan gizi bagi sang janin demi perkembangannya di hamil.

    Sementara bagi ibu menyusui, mereka membutuhkan nutrisi lebih banyak demi ASI yang berkualitas untuk Si Kecil. Kedua alasan ini menjadi pemicu agar ibu hamil dan menyusui tidak berpuasa.

    Umumnya, ibu hamil membutuhkan kurang lebih 2200-2300 kalori per hari, sementara ibu menyusui membutuhkan 2200-2600 kalori per hari. Peningkatan kalori bagi ibu menyusui terpicu oleh kebutuhan energi ekstra setelah persalinan dan produksi ASI.

    Apabila tidak mencapai kebutuhan kalori minimal, ibu hamil bisa saja mengalami hipoglikemia atau kekurangan kadar gula darah pada tubuh. Kondisi ini akan berdampak bagi sang janin. Apalagi saat harus berpuasa selama 12 jam.

    Terlebih, kurangnya gizi berupa vitamin dan mineral bagi ibu hamil juga akan membahayakan janin di rahim. Hal ini sekaligus menurunkan daya tahan tubuh yang memicu kesulitan dalam menjaga kesehatan.

    Inilah mengapa banyak yang bertanya tentang keringanan puasa untuk ibu hamil. Tidak heran beberapa dari ibu hamil cukup resah jika mereka masih harus berpuasa saat Ramadan. Selanjutnya, kita bahas bagaimana hukumnya menurut ulama.

    Pendapat Ulama dan Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil

    Bagaimana pendapat ulama tentang hukum puasa untuk ibu hamil dan menyusui? Jawabannya bermacam-macam. Bahkan, mereka masih berbeda pendapat tentang permasalahan ini.

    Jika melihat kembali pembahasan surat Al Baqarah ayat 184, para ulama berpendapat ibu hamil termasuk tergolong yang tidak wajib berpuasa. Terdapat sebuah dalil dari hadits yang memperkuat pendapat tersebut.

    إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan pada musafir separuh shalat. Allah pun menghilangkan puasa pada musafir, wanita hamil dan wanita menyusui.” (HR. Ahmad).

    Kutipan hadits tersebut bisa menjadi dalil ibu hamil boleh tidak berpuasa. Tercantum bahwa musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan, wanita hamil dan menyusui boleh tidak menjalankannya.

    Hukum menggantinya dengan qadha atau fidyah masih menjadi pertanyaan. Para ulama juga memperdebatkan soal ini dengan berbeda pendapat. Umumnya, terdapat tiga pendapat sebagai berikut:

    1. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibu hamil dan menyusui hanya wajib menggantinya dengan qadha. Beliau memberi pendapat ini berdasarkan perkataan Ali bin Abi Thalib.

    2. Imam Syafi’I dan Imam Ahmad sepakat bahwa ibu hamil wajib meng-qadha jika khawatir dengan kondisinya. Jika khawatir terhadap sang janin, ia harus meng-qadha atau memberi makan orang miskin setiap hari sebagai utang tidak berpuasa.

    3. Ibnu Abbas memberi pendapat ibu hamil dan menyusui hanya harus memberi makan pada orang miskin tanpa meng-qadha.

    Berdasarkan ketiga pendapat itu dari dalil keringanan puasa untuk ibu hamil, ada dua pilihan. Ibu hamil bisa menunaikan ibadah puasa qadha selama beberapa hari saat tidak berpuasa Ramadhan. Alternatifnya, mereka bisa memberi makan orang miskin.

    Apakah Ibu Hamil Masih Bisa Puasa?

    Setelah mengetahui hukum puasa bagi ibu hamil dan menyusui, kita pasti terpikir sebuah pertanyaan. Apakah ibu hamil masih bisa menjalankan ibadah puasa? Jawabannya tergantung kondisi kesehatan dan kehamilannya.

    Jika tetap ingin menjalankan ibadah puasa, ibu hamil harus tetap memenuhi gizi yang tinggi. Saat sahur dan buka puasa, menu biasa bisa diganti dengan makanan kandungan kalori, protein, vitamin, dan mineral lebih banyak dan efektif.

    Misalnya saat berbuka puasa, ibu hamil bisa membuat menu makanan dan minuman mengandung susu, kurma, buah-buahan segar, dan madu. Kurma terkenal memiliki kalori tinggi yang tidak membuat kenyang.

    Selain itu, pilihlah daging hewani yang berprotein tinggi dan rendah lemak. Daging memiliki kalori dan tinggi yang bisa membuat tidak terasa lapar lebih cepat. Ini membantu ibu hamil dalam menjalankan ibadah puasa selama 12-13 jam.

    Jika kondisi ibu hamil lemas, mual, dan pusing, sebaiknya segera berbuka dan jangan tunggu hingga maghrib. Kondisi tersebut menjadi gejala hipoglikemia yang dipicu kekurangan nutrisi. Lebih tepatnya, ini ikut membahayakan janin.

    Ibu hamil yang mengalami kondisi fisik yang kurang memungkinkan, seperti mengalami lesu, mual, dan muntah, sebaiknya tidak berpuasa. Pasalnya, hal ini bisa memperparah kondisi fisiknya.

    Apabila usia kandungan sudah mencapai enam bulan ke atas, alangkah baiknya ibu hamil tidak berpuasa. Oleh sebab itu, Hormon insulin janin sudah mulai bekerja, sehingga ibu hamil membutuhkan lebih banyak nutrisi.

    Berdasarkan dalil keringanan puasa untuk ibu hamil yang sudah dibahas, tidak ada salahnya ibu hamil dan menyusui tidak berpuasa. Tapi jika tetap ingin menjalankannya, semua tergantung kondisi fisik masing-masing asalkan tidak membahayakan.