Author: Reskia Ekasari

  • Kisah Nabi Nuh AS, Berdakwah Lebih dari 900 Tahun

    Kisah Nabi Nuh AS, Berdakwah Lebih dari 900 Tahun

    Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah Nabi Nuh AS. Apalagi Beliau termasuk salah satu nabi yang memiliki gelar ulul azmi, yakni nabi dengan tingkat kesabaran, ketabahan, serta keteguhan hati yang luar biasa.

    Selain itu, ada lagi yang membuat takjub yaitu kesulitan yang dihadapi dan lama masa dakwah dari Nabi Nuh. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Nuh merupakan nabi dengan umur paling panjang.

    Penasaran? Mari simak kisah lengkapnya.

    Kisah Nabi Nuh AS yang Berdakwah dengan Penuh Kesabaran

    Termasuk dalam 25 nabi dan rasul yang wajib kita imani, Nabi Nuh merupakan cucu dari Nabi Idris AS. Beliau memiliki nama asli Abdul Ghaffar atau Yasykur, putra dari Lamik bin Matta bin Idris AS.

    Kisah Nabi Nuh disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Melansir dari laman Risalah, Nabi Nuh AS disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 43 kali.

    Selain itu, kisah Beliau juga disebutkan dalam sejumlah hadits. Salah satunya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab shahihnya, disebutkan:

    أن رجلا قال : يا رسول الله أنبي كان آدم . قال : نعم مكلم . قال : فكم كان بينه وبين نوح . قال :  عشرة قرون . رواه أحمد وابن ماجه

    Artinya: 

    “Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasul apakah Adam seorang nabi? Beliau menjawab, “Benar, dan yang diajak bicara langsung oleh Allah. Berapa lama jarak antara Nabi Adam dan Nuh, tanya sahabat tadi. Beliau menjawab, “Sepuluh masa.” (HR. Ahmad 5/265-266).

    Perjuangan dakwah Nabi Nuh AS berlangsung selama 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 14:

    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

    Artinya: 

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”

    Pada masyarakat kala itu telah tersebar kesyirikan, sehingga orang-orang menyembah patung (berhala) karena tipu daya dari setan.

    Hingga kemudian Allah SWT memilih Nuh ‘alaihissalam sebagai nabi dan rasul-Nya untuk mengajak kaumnya kembali ke jalan yang benar dengan menyembah Allah.

    Maka, Nabi Nuh pun mulai berdakwah dan mengajak orang-orang meninggalkan sesembahan selain Allah SWT.

    Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 59 yang berbunyi:

    لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

    Artinya: 

    “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”

    Setelah itu, di antara orang-orang pada masa itu ada sebagian yang mengikuti ajakan Nabi Nuh AS. Mereka terdiri dari kaum dhuafa dan fakir .

    Sedangkan orang-orang yang kuat dan kaya menolak dakwah Nabi Nuh. Bahkan istri dan salah satu anak Beliau juga termasuk golongan yang menolak. Selain menolak, mereka juga mencemooh Nabi Nuh.

    فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

    Artinya: 

    “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud: 27).

    Baca juga: Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

    Kaum yang Mendustakan Nabi Nuh

    Kisah Nabi Nuh dipenuhi dengan perjuangan dakwah yang sangat berat. Pasalnya, kaumnya kala itu adalah orang-orang yang sangat zalim, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

    وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ

    Artinya: “Dan kaum Nuh sebelum itu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka.” (An-Najm, 53: 52).

    Banyak yang mencemooh dan menolak dakwahnya. Meski begitu, Nabi Nuh AS tidak lantas berputus asa. Beliau terus mengajak mereka untuk meninggalkan berhala dan menyembah Allah SWT.

    Kisah Nabi Nuh AS juga mencakup bagaimana Beliau menyampaikan dakwah terus menerus secara langsung dan secara sembunyi-sembunyi.

    Akan tetapi, usaha Nabi Nuh tidak kunjung membuahkan hasil. Bahkan setelah Beliau berdakwah dalam waktu yang cukup lama, mereka yang menolak terus menghina dan menyakitinya.

    Penolakan terang-terangan terhadap dakwah Nabi Nuh juga diceritakan dalam AL-Qur’an:

    فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

    Artinya: 

    “Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh, 71: 6 – 7).

    Bahkan, orang-orang yang menolak itu pernah meminta Nabi Nuh untuk mengusir orang-orang fakir supaya orang-orang kaya bersedia duduk bersamanya sehingga mulai beriman padanya.

    Hal tersebut langsung mendapatkan penolakan dari Nabi Nuh, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 29-30, yang artinya:

    “Wahai kaumku! Aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu sebagai suatu kaum yang tidak mengetahui–Dan (Nuh berkata), “Wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?”

    Seolah belum cukup, para orang kaya itu pun marah dan menuduh Nabi Nuh sebagai orang sesat.

    قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

    Artinya: 

    “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” QS. Al A’raaf: 60).

    Dikisahkan dalam surat Al A’raaf: 61-62 bahwa Nabi Nuh mengelak tuduhan tersebut sembari kembali memberitahukan bahwa Beliau adalah utusan Allah.

    قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Artinya: 

    “Wahai kaumku! Tidak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.”

    أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    Artinya: 

    “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku, aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

    Kesulitan yang mewarnai perjuangan dakwah dalam kisah Nabi Nuh terus berlanjut. Kaum kafir yang menolak ajakan Nabi Nuh bahkan mengancam hendak membunuh Beliau.

    قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

    Artinya: 

    “Mereka berkata: ‘Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS. Asy Syu’ara, 26: 116).

    Nabi Nuh AS Mengadu Kepada Allah SWT

    Menghadapi penolakan yang demikian keras, Nabi Nuh tetap bersabar dan terus berdakwah. Hari demi hari, hingga bulan berganti tahun.

    Namun, setelah bertahun-tahun berlalu pun, hanya sedikit yang mengikuti seruan Beliau. Riwayat menyebutkan bahwa pengikut Nabi Nuh hanya sebanyak 70-80 orang.

    Walaupun demikian, Beliau tetap teguh dan melanjutkan dakwahnya dengan sabar. Bahkan lama dakwah Nabi Nuh mencapai 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al ‘Ankabut ayat 14.

    Namun, kaum kafir tidak juga mendengarkan ajakan Nabi Nuh. Justru sebaliknya, mereka terus mengajak manusia untuk menyekutukan Allah SWT.

    Selain penolakan terang-terangan pada dakwah Nabi Nuh, orang-orang kafir itu bahkan menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan azab dan membuktikan bahwa ajarannya benar.

    قَالُوۡا يٰـنُوۡحُ قَدۡ جَادَلۡتَـنَا فَاَكۡثَرۡتَ جِدَالـنَا فَاۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ اِنۡ كُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِيۡنَ‏ ٣٢

    Artinya: 

    “Wahai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap Kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada Kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32).

    Maka Nabi Nuh pun menjawab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

    قَالَ اِنَّمَا يَاۡتِيۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ اِنۡ شَآءَ وَمَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِيۡنَ‏  ٣٣

    Artinya: 

    “Dia (Nuh) menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.” (QS. Hud: 33-34).

    Nabi Nuh merasa sedih melihat perbuatan kaumnya yang menyekutukan Allah dan melakukan perbuatan buruk. Hingga Beliau pun mengadu kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

    وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى الۡاَرۡضِ مِنَ الۡكٰفِرِيۡنَ دَيَّارًا‏ ٢٦

    اِنَّكَ اِنۡ تَذَرۡهُمۡ يُضِلُّوۡا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوۡۤا اِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا‏ ٢٧

    Artinya: 

    “Nabi Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh: 26-27).

    Nabi Nuh AS Membuat Bahtera

    Bagian dari kisah Nabi Nuh AS yang paling terkenal yaitu bahtera yang menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya.

    Bahtera atau kapal yang berukuran besar tersebut dibuat oleh Nabi Nuh atas perintah Allah SWT. Nabi Nuh juga mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai cara membuatnya dengan baik.

    Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Huud 36-37:

    وَاُوۡحِىَ اِلٰى نُوۡحٍ اَنَّهٗ لَنۡ يُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِكَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَٮِٕسۡ بِمَا كَانُوۡا يَفۡعَلُوۡنَ​ ۖ ​ ۚ‏ ٣٦

    Artinya: 

    “Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”

    وَاصۡنَعِ الۡفُلۡكَ بِاَعۡيُنِنَا وَوَحۡيِنَا وَلَا تُخَاطِبۡنِىۡ فِى الَّذِيۡنَ ظَلَمُوۡا​ ۚ اِنَّهُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ‏ ٣٧

    Artinya: 

    “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

    Pembuatan kapal besar oleh Nabi Nuh dan pengikutnya memakan waktu puluhan tahun. Selama itu pula, orang-orang kafir terus mengejeknya karena membuat kapal besar di gurun sahara.

    Nabi Nuh bersabar menerima cemoohan mereka dan terus menunaikan perintah Allah.

    Datangnya Azab

    Kisah Nabi Nuh membuat kapal besar tidak lain karena Beliau mendapatkan perintah Allah SWT. Nabi Nuh juga diberitahukan mengenai kedatangan banjir besar yang akan menenggelamkan kaumnya yang kafir.

    Maka, setelah kapal selesai dibuat, Nabi Nuh mengajak setiap mukmin untuk menaikinya. Beliau juga mengangkut setiap binatang dalam jumlah sepasang.

    Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 40-41.

    حَتّٰۤى اِذَا جَآءَ اَمۡرُنَا وَفَارَ التَّنُّوۡرُۙ قُلۡنَا احۡمِلۡ فِيۡهَا مِنۡ كُلٍّ زَوۡجَيۡنِ اثۡنَيۡنِ وَاَهۡلَكَ اِلَّا مَنۡ سَبَقَ عَلَيۡهِ الۡقَوۡلُ وَمَنۡ اٰمَنَ​ؕ وَمَاۤ اٰمَنَ مَعَهٗۤ اِلَّا قَلِيۡلٌ‏ ٤٠

    Artinya: 

    “Hingga apabila perintah kami datang dan dapur telah memancarkan air, kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’, dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”

    ۞ وَقَالَ ارۡكَبُوۡا فِيۡهَا بِسۡمِ اللّٰهِ مَجْرٖٮٰھَا وَمُرۡسٰٮهَا ​ؕ اِنَّ رَبِّىۡ لَـغَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ ‏ ٤١

    Artinya: 

    “Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Saat itu juga, banjir besar datang. Langit mengucurkan hujan dengan deras dan mata air di bumi memancar dengan kuat. Kapal Nabi Nuh berlayar di antara ombak sebesar gunung.

    Nabi Nuh melihat anaknya yang kafir, lalu memanggilnya dan mengajaknya naik ke bahtera dan memohon perlindungan Allah SWT. Akan tetapi, anaknya menolak sehingga ia ikut binasa bersama kaum kafir lainnya.

    Setelah semua kaum kafir tenggelam, Allah memerintahkan pada langit dan bumi sehingga banjir surut.

    Kapal Nabi Nuh kemudian berlabuh di atas bukit Judi. Setelah turun dari kapal, Nabi Nuh dan pengikutnya melepaskan hewan-hewan yang diangkut kemudian menjalani hidup baru.

    Itulah kisah Nabi Nuh AS dan perjuangan dakwahnya yang panjang dan berat. Dapat kita lihat dari kisah tersebut bahwa kesabaran dan keteguhan Beliau dalam berdakwah merupakan teladan baik bagi seluruh umat muslim.

  • Kisah Nabi Adam AS dari Diciptakan hingga Wafat

    Kisah Nabi Adam AS dari Diciptakan hingga Wafat

    Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang Allah SWT ciptakan dan menjadi bapak seluruh umat manusia. Allah menciptakan Nabi Adam secara sempurna dari tanah. Kisah Nabi Adam dari penciptaan hingga wafat, penting untuk kita ketahui. 

    Apalagi di Al-Qur’an ada banyak sekali kisah yang membahas atau menceritakan mengenai Nabi Adam AS. Tentu sebagai muslim yang bertaqwa dan beriman kepada Allah, kita wajib mengetahui dan memahaminya. 

    Lantas, seperti apa kisah Nabi Adam AS itu? Mari kita ulas selengkapnya pada pembahasan berikut ini. 

    Sebelum Penciptaan Nabi Adam 

    Kisah Nabi Adam bisa kita simak pada awal sebelum proses penciptaannya. Sebelum Allah SWT menciptakan Nabi Adam, Allah memberitahu para malaikat bahwa akan ada khalifah di muka bumi yang akan Allah ciptakan. 

    Kemudian para malaikat bertanya mengapa harus Adam AS yang menjadi khalifah di bumi. Padahal, malaikat menganggap bahwa kelak Adam dan keturunannya lah yang akan berbuat kerusakan di bumi bahkan hingga ada pertumpahan darah. 

    Malaikat merasa bahwa diri mereka jauh lebih tepat dan bisa memangku jabatan tersebut dalam artian sebagai khalifah. Karena malaikat adalah makhluk yang selalu bertasbih, menyucikan, dan memuji Allah SWT. 

    Mendengar hal ini, Allah SWT tidak membenarkan anggapan dari para malaikat. Allah pun kemudian menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak para malaikat ketahui. 

    Sesungguhnya segala sesuatu yang Allah lakukan berdasarkan pengetahuan dan hikmah-Nya yang memang Maha Tinggi. Termasuk mengenai alasan pengangkatan Nabi Adam sebagai khalifah di muka bumi. 

    Perlu kita pahami juga bahwa kedudukan Nabi Adam AS sebagai khalifah adalah untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, memanfaatkan segala yang ada di bumi serta memakmurkannya. 

    Kisah Nabi Adam: Penciptaan Nabi Adam AS 

    Perlu selalu kita ingat bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dari segenggam tanah. Setelah itu terciptalah Nabi Adam secara sempurna dan lengkap. Baru setelah sempurna bentuknya, Allah SWT baru meniupkan ruh kepadanya. 

    Hal ini dapat kita lihat dalam QS Shaad ayat 72 yang berbunyi sebagai berikut:

    فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ

    Artinya: 

    “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shad:72).

    Perlu kita ketahui juga bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Adam sebagai sosok manusia yang sudah berakal dan mampu berbicara. Artinya, Nabi Adam sudah mampu memahami dan menjawab perkataan Allah SWT dengan baik. 

    Untuk mencermati hal ini, dapat kita telusuri dari hadist At-Tirmidzi. Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa ketika Allah SWT selesai meniupkan ruh kepada Adam, maka Adam bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah.”

    Kemudian Allah SWT berfirman “Semoga Allah merahmatimu wahai Adam. Pergilah kepada para malaikat itu dan katakan kepada mereka yang sedang duduk, Assalamualaikum.”

    Mendengar hal tersebut, Adam pun menuju malaikat dan berkata “Assalamualaikum.” Menjawab hal tersebut, para malaikat memberikan jawaban yang lengkap berupa “Wa’alaikassalam warahmatullah.”

    Setelah itu, Nabi Adam kembali kepada Allah. Kemudian Allah SWT menjelaskan kepada Adam bahwa “Ini adalah salam penghormatanmu dan keturunanmu.”

    Baca juga: Hadits Keutamaan Sholat Berjamaah, Wajib atau Sunnah?

    Penciptaan Hawa, Istri Nabi Adam 

    Kita pasti sudah mengetahui dalam kisah Nabi Adam, bahwa sang nabi memiliki seorang istri yang bernama Hawa. Penciptaan Hawa ini pun menarik untuk kita pahami karena proses penciptaannya. 

    Ada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang memberi isyarat bahwa Hawa memang diciptakan oleh Allah SWT dari Adam. Akan tetapi, di dalam surat tersebut tidak ada informasi rinci dari bagian mana Hawa diciptakan. Allah SWT berfirman:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

    Artinya: 

    “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (an-Nisâ`/4:1).

    Tidak hanya dari QS an-Nisa, penciptaan Hawa bisa kita pahami juga dari QS al-Araaf seperti berikut:

    هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ

    دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

    Artinya: 

    “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al-Araaf/7:189).

    Lalu, darimana penjelasan bahwa Hawa itu diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam? Maka jawabannya dapat kita lihat dari riwayat Muhammad bin Ishaaq dari Ibnu ‘Abbas. 

    Dalam riwayat tersebut beliau menyatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk terpendek yang ada di sebelah kiri. Tulang rusuk tersebut diambil ketika Nabi Adam AS sedang tidur dan bagian tersebut tertutupi dengan daging. 

    Hal ini kemudian dikuatkan lagi dari sabda Rasulullah SAW. Berikut adalah sabda tersebut:

    وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَج فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

    Artinya: 

    “Berlemah-lembutlah kepada wanita, karena mereka diciptakan dari tulang yang bengkok, dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang tersebut, ialah yang berada di paling atas. Apabila engkau meluruskannya, maka engkau telah mematahkannya. Dan bila engkau membiarkan, maka ia terus bengkok. Maka berlemah-lembutlah kepada wanita” (Muttafaqun ‘alaihi).

    Adam dan Hawa Bertempat Tinggal di Surga 

    Setelah diciptakan Allah SWT dengan bentuk yang sempurna, Nabi Adam AS bertempat tinggal di dalam surga. Di surga, Nabi Adam AS bersama istrinya bisa menikmati dan memakan berbagai makanan yang banyak dan baik dimana saja.

    Penjelasan Nabi Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga bisa kita pahami dari QS Al-Baqarah tepatnya ayat 35 dan QS al-A’raf ayat 27. Berikut adalah penjabaran dari kedua surat tersebut: 

    وَقُلۡنَا يٰٓـاٰدَمُ اسۡكُنۡ اَنۡتَ وَزَوۡجُكَ الۡجَـنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‏ 

    Artinya: 

    “Dan Kami berfirman: “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada disana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini,1 nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Baqarah : 35).

    يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

    Artinya: 

    “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS al-A’raf : 27).

    Perintah untuk Sujud Kepada Nabi Adam 

    Iblis memang merupakan makhluk yang laknat dan tidak patuh kepada Allah SWT. Kesombongan iblis bisa kita lihat salah satunya dalam kisah Nabi Adam.

    Pada saat iblis dengan mentah-mentah menolak perintah Allah SWT untuk bersujud pada Nabi Adam AS. 

    Perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa Nabi Adam diciptakan dengan berbagai kemuliaan dari Allah SWT. Kemuliaan tersebut diantaranya adalah diciptakan langsung oleh Allah, ditiupkan ruh, dan mendapatkan ilmu tentang segala sesuatu. 

    Selain itu, kemuliaan lain yang diberikan kepada Nabi Adam AS adalah memerintahkan malaikat untuk bersujud penghormatan kepadanya. Akan tetapi, ketika malaikat bersujud ada satu golongan yang menolak bersujud yaitu iblis. 

    Peristiwa ini dapat kita lihat pada QS al-A’raf ayat 11:

    وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

    Artinya: 

    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud” (QS al-A’raf : 11). 

    Tentu hal ini bukanlah hal yang baik dan sangat tercela karena telah menentang perintah Allah SWT. Iblis menolak untuk bersujud karena merasa ia lebih baik daripada Adam yang diciptakan dari tanah sedangkan iblis dari api. 

    Peristiwa ini dapat kita lihat dalam QS Shaad yang berbunyi:

    قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

    Artinya: 

    “Allah berfirman, “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Shaad/38:75-76). 

    Akibat kesombongan dan kekufurannya itulah, Allah SWT melaknat iblis dan mengusir mereka dari surga. Akan tetapi, meski sudah diusir iblis memohon kepada Allah SWT agar mereka bisa hidup sampai ke hari kiamat tiba. 

    Selain itu, mereka pun memohon agar bisa menyesatkan semua manusia kecuali hamba-hamba Allah yang memang mukhlis.

    قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿٧٩﴾ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ﴿٨٠﴾ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ ﴿٨١﴾ قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

    Artinya: 

    “Iblis berkata, “Ya Rabbku! Beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan!” Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Iblis menjawab, “Demi keperkasaan-Mu! Aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis[1] di antara mereka. (QS Shaad/38:79-83). 

    Allah SWT mengabulkan permintaan iblis. Sejak saat itulah, iblis yang kufur mulai menebarkan permusuhannya dengan Nabi Adam beserta seluruh keturunannya. Bahkan mereka pun memiliki tekad yang amat kuat untuk menyesatkan manusia. 

    قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

    Artinya: 

    “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari arah depan dan dari arah belakang mereka, dari arah kanan dan arah kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’râf/7:16- 17). 

    Kisah Nabi Adam: Godaan Iblis dan Turun ke Bumi

    Ketika tinggal di surga Nabi Adam dan istrinya mendapatkan kebebasan untuk memakan apapun yang baik. Mereka pun hidup dengan aman dan tentram di surga.

    Akan tetapi, Allah melarang keduanya untuk mendekati suatu pohon dan jangan memakan buahnya, yaitu buah khuldi. Larangan ini bisa kita simak pada QS Al-Baqarah ayat 35 sebagai berikut:

    وَقُلۡنَا يَا آدم  ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ  

    Artinya: 

    “Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 35).

    Akan tetapi, iblis yang sudah bertekad untuk menyesatkan Nabi Adam pun tidak tinggal diam. Iblis senantiasa berusaha menggoda Nabi Adam dan Hawa agar melanggar larangan dari Allah SWT yaitu mendekati pohon khuldi. 

    Peristiwa yang termasuk ke dalam kisah Nabi Adam ini dapat kita lihat pada QS al-A’raf ayat 20-21: 

    فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ ﴿٢٠﴾ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

    Artinya: 

    “Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata, “Rabb kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia  bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS Al-A’raf/7:20-21).

    Pada akhirnya, untuk hikmah yang memang telah dikehendaki oleh Allah SWT akhirnya iblis pun berhasil untuk menyesatkan dan menggoda Adam dan Hawa. Keduanya memakan buah khuldi yang dari awal sudah dilarang oleh Allah SWT. 

    Akibatnya aurat mereka terlihat dan mereka pun sibuk untuk menutupi aurat tersebut dengan dedaunan-dedaunan yang ada di surga. Dengan peristiwa ini tentu Nabi Adam AS dan Hawa sangatlah menyesal. Keduanya pun bahkan berkata:

    قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    Artinya: 

    “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS Al-A’raf : 23). 

    Sejak kejadian tersebut Nabi Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke bumi akibat perbuatan mereka. Di bumi lah tempat mereka melanjutkan kehidupan hingga nantinya berada di akhir hayat mereka. 

    قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

    Artinya: 

    “Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan” (QS Al-A’raf : 24).

    قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

    Artinya: 

    “Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan” (QS Al-A’raf : 25).

    Wafatnya Nabi Adam AS 

    Diceritakan dalam kisah Nabi Adam, ketika mendekati masa kematiannya, Nabi Adam yang mendapatkan anugerah bisa merasakan detik-detik akhir hidupnya pun sudah mempersiapkan semuanya. 

    Hal ini bermula ketika Nabi Adam meminta kepada para putranya untuk memakan buah surga. Akan tetapi, karena sulit untuk dimaknai secara harfiah karena tidak akan ada buah surga di dunia, para ulama pun memiliki penafsiran tersendiri. 

    Menurut para ulama, permintaan akan buah surga ini adalah isyarat bahwa memang Nabi Adam sedang merasakan rindu yang luar biasa terhadap kebahagiaan di surga. Karena sebelum tinggal di dunia, Nabi Adam sempat tinggal di surga. 

    Meski begitu, para putra Nabi Adam pun tetap berusaha mencarikan buah tersebut. Ketika berangkat dan baru memulai perjalanan, mereka dihadang oleh sejumlah lelaki yang ternyata adalah para malaikat yang menjelma sebagai manusia. 

    Di tangan para malaikat tersebut sudah terdapat beberapa benda seperti wewangian, kain kafan, dan peralatan untuk menggali tanah. Kemudian para malaikat pada akhirnya mencabut nyawa Nabi Adam.

    Mereka pun kemudian memandikan jenazahnya, mengkafani, memberi wewangian, menyiapkan liang lahat, hingga menshalati jenazahnya. Baru setelah itu, mereka menguburkan jenazah Nabi Adam ke dalam tanah dan menimbunnya dengan batu. 

    Kisah Nabi Adam inilah yang kemudian menjadi sunnah bagi seluruh anak Adam yang ada di dunia. Tentu bisa kita pelajari bahwa wafatnya Nabi Adam AS pun bisa memberikan pelajaran yang besar kepada manusia. 

    Terutama mengenai bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang meninggal. Perlu senantiasa kita ingat, bahwa manusia tidak hanya harus dihormati ketika mereka hidup saja, tetapi hingga ajalnya. 

    Meski begitu, standar penghormatannya pun tidaklah berlebihan. Arti berlebihan ini seperti memberi jenazah dengan perhiasan, membakar mayat, atau lainnya. 

    Memandikan, mengkafani, menshalati, memberikan wewangian, dan menguburkannya sudah cukup. Manusia hanya perlu selalu ingat bahwa hakikatnya manusia diciptakan dari tanah, oleh karenanya mereka pun akan kembali ke tanah. 

    Jadi, demikianlah kisah Nabi Adam AS dari mulai penciptaannya hingga proses wafatnya. Sesungguhnya Nabi Adam adalah manusia pertama yang Allah SWT ciptakan ke bumi sebagai khalifah Allah SWT. 

    Ia mendapatkan banyak sekali kemuliaan dari Allah SWT sebagai bapak dari seluruh manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, sudah semestinya kita mengimani serta bisa mengambil pelajaran berharga dari sosok Nabi Adam.

  • Doa Naik Kendaraan Darat, Udara, dan Laut, Amalkan Yuk!

    Doa Naik Kendaraan Darat, Udara, dan Laut, Amalkan Yuk!

    Berdoa merupakan aktivitas rutin di mana seorang muslim percaya bahwa hal itu bisa memberikan keselamatan baik di dunia maupun akhirat. Tidak terkecuali doa naik kendaraan yang wajib dibaca sebelum bepergian.

    Bukan karena tidak percaya bahwa dirinya bisa mengendarai kendaraan dengan berhati-hati. Namun, lebih kepada memasrahkan seluruh perjalanan hanya kepada Allah SWT dan berharap selalu berada dalam naungannya.

    Doa Naik Kendaraan Darat, Udara, dan Laut

    Apa doa perjalanan? Beberapa orang memiliki banyak versi untuk doa perjalanan. Pada beberapa kondisi yang tidak mengharuskan bepergian terlalu jauh. Biasanya seseorang lebih sering berdoa keluar rumah.

    Lantas, Allahumma majreha doa apa? Itu juga salah satu doa ketika seseorang hendak naik kendaraan yang diamalkan oleh seorang Muslim.

    Tapi, ada jenis doa yang sangat umum dan mungkin sudah familiar di antara sesama muslim yaitu :

    1. Doa Naik Kendaraan Darat

    Rasulullah SAW pun biasa berdoa saat berkendara. Adapun doa ketika naik bus atau kendaraan darat yang singkat adalah sebagai berikut:

    سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

    Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbina lamunqolibuun.

    Artinya: Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    Baca juga: Bacaan Doa Keluar Rumah: Arab, Latin dan Artinya

    2. Doa Naik Pesawat Udara

    Bacaan doa naik kendaraan pesawat yang bisa diamalkan yakni berbunyi:

    اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِعَنَّابُعْدَهُ اَللّٰهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِوَالْخَلِيْفَةُفِى الْاَهْلِ

    Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl

    Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami berpergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam berpergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.”

    3. Doa Naik Kapal Laut

    Adapun ketika bepergian dengan naik kapal laut, para Muslimin dianjurkan membaca doa berikut:

    بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰ۪ىهَا وَمُرْسٰىهَا ۗاِنَّ رَبِّيْ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim

    Artinya: “Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Doa Safar Ketika Sudah Berada di Atas Kendaraan

    Doa Safar Ketika Sudah Berada di Atas Kendaraan

    Selain bacaan doa naik kendaraan di atas, ada juga doa safar yang biasa dilakukan oleh beberapa mukmin. Doa ini paling sering seorang Muslim baca ketika sudah berada di atas kendaraan.

    الله أَكْبَرُ (3x)

    سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

    Allahuakbar 3x

    Subhaanalladzii sakh-khoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin. Wa innaa ilaa robbinaa lamun-qolibuun. Allohumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzaa al-birro wat taqwaa wa minal ‘amali maa tardhoo. Allohumma hawwin ‘alainaa safaronaa haadzaa, wathwi ‘annaa bu’dahuu. Allohumma antash shoohibu fis safar, wal kholiifatu fil ahli. Allohumma innii a’uudzubika min wa’tsaa-is safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.

    Artinya: Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.

    Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali.

    Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh.

    Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga.

    Baca juga: 3 Doa Saat Sujud Terakhir Sesuai Ajaran Rasulullah SAW

    Manfaat Membaca Doa Naik Kendaraan

    Setelah mengetahui seperti apa bacaan ketika sedang naik kendaraan. Apa doa naik kendaraan memiliki manfaat bagi pembacanya?  Tentu saja. Pembaca doa bisa mendapatkan banyak sekali keutamaan dari bacaan di atas, antara lain :

    1. Mendapat Ketentraman Hati Selama Perjalanan Berlangsung

    Ketika bepergian tidak jarang penumpang merasa was-was dan khawatir akan keselamatan dirinya. Utamanya bagi seseorang yang tidak pernah melakukan perjalanan jauh, seperti keluar kota contohnya.

    Nah, dengan membaca beberapa doa saat naik kendaraan ternyata bisa membuat hati penumpang merasa lebih tenang dan juga tentram. Anda tidak ada rasa takut sedikitpun sebab seluruh keselamatannya sudah pasrah akan ketentuan Allah SWT.

    Dengan begitu, setiap hati akan merasa lebih damai dan tenang. Hal tersebut juga berdampak pada perjalanan yang terasa jadi lebih menyenangkan dan juga nyaman.

    2. Langsung Allah SWT Lindungi dari Berbagai Bahaya

    Apabila seseorang membacakan doa dengan sungguh-sungguh dan berpasrah atas ketetapan Allah SWT, maka telah percaya bahwa apa yang akan terjadi adalah pilihan terbaik.

    Dengan begitu, justru akan langsung memberikan perlindungan langsung untuk terhindar dari segala jenis mara bahaya selama perjalanan.

    Hal ini membuat doa yang Anda panjatkan seakan menjadi perisai diri untuk menjaga hati dan juga fisik dari sesuatu buruk yang tidak diinginkan.

    3. Pembaca Mendapatkan Pahala Kebaikan

    Mungkin beberapa orang paham kalau setiap doa pasti memiliki pahala masing-masing. Tetapi, sebagian justru berpendapat bahwa doa adalah media seorang Hamba untuk meminta pertolongan dari Tuhannya.

    Namun, keutamaan dari pembacaan ayat doa naik kendaraan tersebut, justru membuat Allah SWT mendatangkan pahala kebaikan berlibat ganda. Pasalnya, sebagai pengingat bahwa Anda selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT apapun yang terjadi.

    Sehingga di dalam doa tersebut pun terdapat banyak sekali pahala dan juga harapan baik. Karena Anda tidak hanya meminta perlindungan untuk diri sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain dalam satu perjalanan yang sama.

    4. Mendapatkan Ridho Perjalanan dari Allah SWT

    Terkadang ketika melakukan perjalanan sering bertentangan dengan hati nurasi. Tanpa Anda pikir panjang bukankah hal tersebut bisa jadi karena Allah SWT kurang meridhoi keinginan Anda dalam melakukan perjalanan?

    Nah, dengan membacakan doa saat naik kendaraan, bisa jadi itu salah satu cara Allah SWT memberikan ridho perjalanan kepada Anda menggunakan transportasi tersebut.

    Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk selalu mengingat Allah SWT apapun kondisinya. Salah satu caranya yaitu dengan memanjatkan doa meminta keselamatan selama perjalanan berlangsung dengan menaiki kendaraan.

    5. Jadi Pribadi yang Pandai Bersyukur

    Mengucapkan sebuah doa ketika Anda akan melakukan perjalanan merupakan salah satu wujud syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan. Kejadian tersebut Anda wujudkan dengan membaca doa keselamatan.

    Sebab, Anda percaya dan yakin tidak akan ada keselamatan dan perlindungan yang lebih berharga. Kecuali langsung dari yang Maha Memberi Keamanan yaitu Allah SWT.

    6. Memiliki Perjalanan yang Lancar

    Berdoa dengan kesaksian dan keyakinan atas kuasa dari Allah SWT yang Maha Besar merupakan wujud pasrah seorang hamba.

    Ketika Anda memasrahkan seluruh perjalanan di atas kendaraan, hal itu justru membuat Allah semakin mendekat dan memberikan kelancaran perjalanan.

    Jadi, apakah Anda sudah selalu membaca doa naik kendaraan ketika akan bepergian? Yuk, amalkan setiap perintah Allah SWT dari hal paling kecil sekalipun.

    Lakukan secara rutin agar Allah SWT semakin sayang dan selalu melindungi Anda dari berbagai kesulitan hidup.

  • Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Sunan Muria adalah salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah Islam Indonesia dan dikenal sebagai salah satu dari sembilan wali atau wali songo. Beliau memiliki peran sentral dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

    Metode dakwah yang diajarkan cukup unik sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

    Berikut adalah rangkuman biografi Sunan Muria, mulai dari silsilahnya hingga metode dakwah yang beliau terapkan.

    Silsilah Sunan Muria

    Sunan Muria merupakan salah satu dari sembilan wali songo yang memiliki latar keluarga dengan ajaran Islam yang sangat kental. Beliau juga merupakan wali yang memiliki umur paling muda diantara wali lainnya.

    Hal ini juga yang membuat beliau lebih menyukai daerah-daerah terpencil dalam melakukan penyebaran ajaran Islam. Jika ditarik secara jauh, maka Sunan Muria juga memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW.

    Sunan Muria merupakan putra pertama dari ayahnya yang bernama Sunan Kalijaga dan ibunya bernama Dewi Saroh. Ibunya sendiri merupakan saudara dari Sunan Giri, yakni putra dari Syekh Maulana Ishaq.

    Kemudian, Sunan Muria melakukan pernikahan dengan Dewi Sujinah yang merupakan putri dari Sunan Ngudung. Dari pernikahan ini beliau memiliki hubungan dengan Sunan Kudus karena merupakan anak dari Sunan Ngudung.

    Berikut ini silsilah lengkap dari Sunan Muria yang bisa kita ketahui:

    1. Abdul Muthalib
    2. Sayid Abbas
    3. Sayid Abdul As-har
    4. Syekh Wais
    5. Syekh Mudzakir
    6. Syekh Abdullah
    7. Syekh Kurames
    8. Syekh Mubarak
    9. Syekh Abdullah
    10. Syekh Ma’ruf
    11. Syekh Arifin
    12. Syekh Hasanuddin
    13. Syekh Jamal
    14. Syekh Ahmad
    15. Syekh Abdullah
    16. Syekh Abbas
    17. Syekh Abdullah
    18. Syekh Kurames
    19. Abdur Rakhman atau Ario Tejo
    20. Raden Tumenggung Wilotikto
    21. Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga
    22. Raden Umar Said atau Sunan Muria

    Asal Mula Nama Sunan Muria

    Dalam karangan buku yang ditulis oleh Yoyok Rahayu Basuki dalam judul “Sunan Muria (Raden Umar Said)” menjelaskan, bahwa nama kecil Sunan Muria adalah Raden Prawoto. Selain itu, beliau juga dikenal dengan Raden Umar Said.

    Nama ini memang diberikan oleh ayahnya sewaktu kecil hingga beliau tumbuh remaja. Banyak kisah menarik yang menjelaskan asal mula nama Sunan Muria. Beberapa penjelasan ini mengarah ke nama gunung yang terletak di Kudus.

    Tepatnya, di daerah Utara Kudus yang mana daerah tersebut memiliki gunung dengan nama Muria. Ada kisah versi lain yang menjelaskan asal mula nama Sunan Muria. Hal ini berawal dari Sunan Muria yang melakukan perjalanan Dakwah.

    Beliau tinggal di sebidang tanah milik petani yang berada di perbukitan. Sebagai bentuk terima kasih, beliau mengorbankan tenaga untuk meratakan bukit agar bisa digunakan oleh petani. Seiring waktu tanah ini menjadi subur untuk ditanami.

    Banyak petani yang senang akan sikap dan bentuk pengorbanan dari Sunan Muria. Karena itu, para petani setempat memberi nama “Muria” yang merupakan serapan dari kata “Moriah” untuk dedikasi dari apa yang dilakukan oleh Sunan Muria.

    Baca juga: Bacaan Doa Sujud Syukur Latin, Arab dan Tata Caranya

    Cara Berdakwah

    Cara berdakwah beliau tergolong cukup unik dan tidak diragukan lagi dalam penyebaran ajaran Islam. Gayanya yang moderat tentunya tidak lepas dari ajaran ayahnya yang merupakan Sunan Kalijaga.

    Salah satu cara berdakwah beliau adalah dengan mengganti kebiasan adat kenduri yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Seperti halnya Nelung Dino hingga Nyewu yang tidak diharamkannya, tetapi beliau tetap mengizinkannya.

    Berbeda dengan tradisi seperti Klenik yang mengharuskan membakar kemenyan atau menyuguhkan sesajen dalam prosesnya, maka beliau mengajarkannya untuk mengganti dengan berdoa atau bersholawat.

    Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa cara berdakwah lainnya yang beliau lakukan dalam melakukan penyebaran Islam, seperti berikut:

    1. Melalui Kesenian

    Tidak hanya mencampuri tradisi yang sudah ada dengan ajaran-ajaran nilai Islam yang benar, namun beliau juga melakukan penyebaran Islam dengan metode kesenian. Terdapat banyak cara unik dan kreatif yang dilakukan beliau.

    Salah satunya adalah dengan menggabungkan seni tari topeng dalam metode dakwahnya yang unik. Tari topeng adalah seni tradisional Jawa yang digunakan untuk menyampaikan pesan moral dan agama.

    Selain itu, beliau juga menciptakan macapat, lagu Jawa, lagu sinom dan juga kinanti yang hingga kini masih lestari. Melalui tembang-tembang dari lagu tersebut, beliau mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran-ajaran dari nilai Islam yang baik.

    Dengan melakukan cara ini, beliau berhasil menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa dengan lebih efektif, sambil mempertahankan unsur budaya lokal. Selain itu, cara ini juga membuat masyarakat lebih mudah dalam menerima Islam.

    2. Berdialog dan Melayani Masyarakat

    Sunan Muria dikenal sebagai seorang tokoh yang selalu berdialog dengan masyarakat. Beliau mendengarkan masalah dan kekhawatiran mereka, mencoba memberikan solusi dan menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang lembut.

    Bahkan beliau pernah menjadi penengah antara konflik internal yang terjadi di Kesultanan Demak pada tahun sekitar 1518 hingga 1530. Beliau mampu menyelesaikan masalah-masalah yang rumit dengan solusi yang baik.

    Tidak hanya itu, beliau juga membantu masyarakat dalam hal-hal praktis, seperti pertanian dan kesehatan. Hal ini tentunya memberikan kesan yang sangat positif oleh masyarakat kepada beliau dalam melakukan penyebaran Islam di pulau Jawa.

    3. Pendekatan Universal

    Salah satu kunci kesuksesan Sunan Muria adalah kemampuannya menggabungkan ajaran Islam dengan nilai-nilai lokal Jawa. Beliau memahami budaya Jawa dengan baik dan ini membantunya mencapai banyak hati dan pikiran masyarakat.

    Beliau sangat yakin bahwa tradisi yang sudah melekat kental di masyarakat tentunya sulit untuk dihilangkan.

    Pasalnya, tradisi ini telah tumbuh lama dan beriringan dengan masyarakat. Namun, apabila terdapat penyimpangan, maka beliau menggantinya.

    Beliau mengajarkan kepada masyarakat apabila terdapat hal-hal yang melanggar ketentuan hingga bahkan membuat kemusyrikan merupakan dosa besar. Oleh karena itu, beliau tetap menyesuaikan ajaran dengan melakukan pendekatan universal.

    Baca juga: Doa setelah Iqomah Latin Arab dan Artinya Sesuai Sunnah

    4. Memberikan Keterampilan dan Kursus Gratis

    Selama melakukan perjalanan dakwah ke berbagai daerah yang berada di kampung, beliau menyadari bahwa banyak masyarakat yang memiliki keterampilan yang minim.

    Seperti yang diketahui bahwa beliau memiliki keterampilan yang sangat baik. Beliau memberikan kursus gratis kepada setiap petani, nelayan hingga pedagang.

    Mulai dari cara bercocok tanam yang baik dan benar hingga proses pembuatan perahu untuk nelayan dalam menangkap ikan.

    Setelah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, selanjutnya beliau mengajarkan ajaran Islam. Hal ini tentunya membuat beliau lebih mudah dalam mendapatkan penerimaan dalam menyampaikan ajaran tersebut.

    Peninggalan Sunan Muria

    Sebagai salah satu dari sembilan wali songo dan memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa, tentunya Sunan Muria memiliki banyak peninggalan sejarah.

    Bahkan beberapa peninggalan ini masih bisa kita nikmati sampai hari ini sebagai bentuk pengetahuan dalam sejarah. Beberapa peninggalan ini juga bisa kita nikmati dan gunakan untuk aktivitas ibadah dan sebagainya.

    Berikut ini beberapa peninggalan dan bukti dari adanya Sunan Muria dalam melakukan penyebaran Islam:

    1. Masjid di Puncak Gunung Muria

    Masjid ini bisa kita temukan di ketinggian 1.600 meter dari atas permukaan laut yang ada di puncak gunung Muria. Pengunjung harus melakukan perjalanan sekitar 3 KM untuk bisa mengunjunginya.

    Terdapat beberapa peninggalan sejarah yang semasa hidup digunakan oleh Sunan Muria. Meskipun beberapa kali mengalami perubahan pada bentuk, namun Masjid ini tetap dipertahankan dan bisa kita kunjungi.

    Kita bisa menemukan bedug yang terbuat dari kayu jati dan hingga kini masih berdiri kokoh. Selain itu, terdapat juga ukiran yang masih dipertahankan dengan bentuk naga dan ayam jantan.

    2. Air Gentong Keramat

    Situs air ini bisa kita temukan di dekat pemakaman Sunan Muria yang berada di kecamatan Dawe, tepatnya di kabupaten Kudus. Biasanya situs ini dikunjungi oleh para wisatawan setelah melakukan ziarah ke makam beliau.

    Beberapa masyarakat percaya bahwa air yang ada di situs gentong keramat ini memiliki kemampuan dalam menyembuhkan segala penyakit non medis. Namun, tetap perlu diingat bahwa segala kesembuhan tentunya datang dari Allah SWT.

    Kita cukup menghargai peninggalan leluhur, tanpa menduakan tuhan semesta alam yakni Allah SWT.

    Dengan metode dakwahnya yang lembut, penyelarasan dengan budaya lokal serta dedikasinya dalam mengajarkan ilmu agama menjadikan ajaran Sunan Muria sangat mudah diterima.

  • Punya Banyak Cabang, Mixue Halal atau Haram? Ini Updatenya

    Punya Banyak Cabang, Mixue Halal atau Haram? Ini Updatenya

    Es krim Mixue sempat viral di media sosial hingga banyak orang terus membicarakannya. Menyusul hal tersebut, muncul banyak pertanyaan apakah Mixue halal atau haram. Pertanyaan ini tentu harus dijawab agar pembeli muslim bisa mengambil sikap.

    Dengan viralnya es krim ini, banyak orang ingin sekali membeli dan mencobanya. Apalagi varian rasa yang disediakan cukup beragam sehingga dapat menggugah selera para calon pembeli, terutama mereka yang masih anak-anak.

    Untuk memastikan status kehalalan produk Mixue, tentu kita butuh rujukan dari lembaga yang berwenang seperti MUI. Untuk itu, mari simak hasil riset kami terkait status kehalalan dari produk es krim viral satu ini.

    Sejarah Berdirinya Mixue

    Mixue pertama kali berdiri di China pada tahun 1997 oleh seorang pria bernama Zhang Hongchao. Ia merupakan mahasiswa di Universitas Henan, China, yang mencoba mendirikan usaha es krim demi menopang keuangan keluarga.

    Produk awal Mixue adalah es serut dengan aneka topping yang dijual di sebuah gerai sederhana. Meski sempat tutup akibat kurang laku saat musim dingin, usaha dari Zhang kembali berkembang hingga ia mampu mendirikan beberapa gerai.

    Zhang Hongchao juga pernah mencatatkan pendapatan hingga 100 yuan dalam waktu satu hari. Jumlah itu cukup tinggi pada tahun-tahun tersebut. 

    Harga Mixue sendiri jauh di bawah harga para pesaingnya sehingga banyak orang berminat hingga rela mengantre. Sampai saat ini, Mixue sudah semakin berkembang dan mulai menyebar dan berkembang di Indonesia.

    Bahkan, gerai Mixue di Indonesia kini sudah mencapai 300 lebih hanya dalam beberapa bulan saja. Ini menunjukkan bahwa perkembangan brand ini begitu masif dan tingkat penerimaan warga Indonesia sendiri juga sangat tinggi.

    Baca juga: 7 Doa untuk Menenangkan Hati dari Sedih dan Gelisah

    Beredar Kabar Mixue Haram

    Beredar Kabar Mixue Haram

    Di balik viralnya produk es krim Mixue di Indonesia, beredar sebuah rumor di akhir tahun 2022 yang menyatakan bahwa produk es krim asal China ini haram. Rumor tersebut membuat banyak orang mulai ragu untuk membeli es krim di gerai-gerai mereka.

    Isu tentang Mixue haram sendiri banyak beredar di media sosial seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok. 

    Saat isu itu merebah, pihak Mixue sempat memberikan jawaban bahwa mereka sudah mengurus sertifikasi halal ke MUI. Akan tetapi, proses tersebut masih belum selesai sehingga status halal untuk produk-produk Mixue belum bisa keluar.

    Bahan-bahan baku produk Mixue sebagian besar memang diimpor dari China langsung. Hal inilah yang dinilai membuat proses sertifikasi halal menjadi terhambat. 

    Jadi, Mixue Halal atau Haram?

    Setelah beberapa kali mengajukan sertifikasi halal, akhirnya Majelis Ulama Indonesia atau MUI telah mengeluarkan ketetapan bahwa produk-produk Mixue adalah Halal, tepatnya pada bulan Februari 2023 lalu.

    Ketetapan tersebut diterbitkan setelah adanya audit status halal dari pimpinan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia atau biasa disingkat LPPOM MUI.

    Penyebab dari lamanya status halal MUI tersebut dikarenakan pengujian salah satu bahan perasanya cukup sulit dilakukan. Pasalnya, bahan tersebut tidak tersedia di Indonesia karena berasal dari China.

    Adapun fatwa halal MUI terhadap produk-produk Mixue tersebut juga disampaikan oleh Ketua Bidang Fatwa Halal MUI, Asrorun Niam.

    Pada kesempatan yang sama, ia menyebutkan bahwasanya produk-produk Mixue telah memenuhi semua standar kehalalan dari MUI. Hal itu meliputi bahan-bahan baku yang digunakan, sampai dengan proses produksinya. 

    Dengan begitu, sudah tidak ada keraguan lagi apakah Mixue halal atau haram. Para pembeli muslim kini bisa mencoba berbagai rasa yang disediakan oleh Mixue tanpa perlu khawatir lagi terkait status kehalalannya.

    Status halal ini berlaku juga untuk seluruh gerai Mixue yang ada di Indonesia sehingga tidak hanya untuk salah satu cabang Mixue saja.

    Bagi umat muslim, status kehalalan suatu produk sangat dibutuhkan sehingga para konsumen bisa tenang saat ingin mengonsumsinya. Tidak hanya soal bahan baku apa saja yang digunakan, tetapi juga perihal proses produksinya.

    Dengan telah diterbitkannya sertifikasi halal dari MUI, kita tidak perlu ragu lagi apakah produk es krim dari Mixue halal atau haram. Kita bisa datang ke gerai Mixue untuk mencoba beberapa varian es krim hingga teh bobanya.

  • Rangkuman Kisah Nabi Yusuf dari Kecil hingga Wafat, Penuh Teladan

    Rangkuman Kisah Nabi Yusuf dari Kecil hingga Wafat, Penuh Teladan

    Bagi umat Islam, kisah Nabi Yusuf tentunya mengandung makna yang sangat dalam untuk diteladani. Yusuf merupakan cucu dari Nabi Ishaq dan merupakan anak dari Nabi Ya’qub. Beliau terkenal akan kecerdasan serta kejujurannya dalam hidup.

    Semasa hidup, Nabi Yusuf diterpa oleh berbagai ujian dari Allah SWT. Namun, semua ujian tersebut bisa dilalui dengan penuh keyakinan.

    Beberapa ujian ini tentunya bisa menjadi contoh bagi kita atas kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

    Kisah Nabi Yusuf Lengkap

    Dalam kisah Nabi Yusuf AS, kita akan menemukan betapa besarnya cobaan yang dihadapi oleh seorang hamba Allah SWT yang taat akan segala perintah-Nya. Seperti dikhianati, dijual sebagai budak hingga dituduh melakukan perbuatan tercela.

    Namun, Nabi Yusuf tetap teguh beriman dan selalu mengandalkan kekuatan Allah SWT dalam menghadapi segala cobaan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Nabi Yusuf AS:

    “Seorang yang mulia, anak dari seorang yang mulia, cucu dari seorang yang mulia, cicit dari seorang yang mulia, yaitu Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim” (HR Bukhari & Ahmad).

    Kemuliaan Nabi Yusuf AS tidak hanya karena nasab atau keturunannya, tetapi juga karena sikapnya dalam menghadapi ujian. Beliau memiliki sifat-sifat terpuji seperti sabar, pemaaf, tabah, ikhlas, bijaksana, hingga keteguhan iman.

    Berikut ini kisah nabi Yusuf secara lengkap yang bisa kita ketahui untuk diteladani dalam kehidupan:

    1. Nabi Yusuf Semasa Kecil

    Nabi Yusuf AS merupakan putra Nabi Ya’qub dan Ribka. Silsilah lengkapnya adalah Yusuf bin Yaʿqub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azar bin Nahur bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

    Beliau memiliki dua belas orang saudara dan merupakan anak ketujuh. Saudara kandung beliau hanya Bunyamin dan ibu kandungnya meninggal saat Yusuf AS berusia 12 tahun. Nabi Yusuf lahir ke dunia saat usia Nabi Yakub mencapai 91 tahun.

    Kisah Nabi Yusuf saat masih kecil, bahwa ia pernah bermimpi melihat bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya. Hal ini juga dijelaskan dalam firman Allah SWT di surat Yusuf ayat 4 yang berbunyi:

    اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ

    Artinya:

    “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

    Nabi Yusuf lalu menceritakan mimpi tersebut kepada Ya’qub atau ayahnya. Kemudian, Ya’qub melarang Yusuf untuk menceritakan kisah tersebut kepada saudaranya karena takut akan menimbulkan perselisihan.

    Baca juga: Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    2. Nabi Yusuf AS Dibuang ke Sumur

    Kisah Nabi Yusuf selanjutnya adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh saudaranya sendiri. Hal ini dilakukan saudaranya karena merasa iri dan cemburu padanya akibat perhatian khusus yang diberikan oleh Ayah mereka.

    اِذْ قَالُوْا لَيُوْسُفُ وَاَخُوْهُ اَحَبُّ اِلٰٓى اَبِيْنَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ۗاِنَّ اَبَانَا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

    Artinya:

    “Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.” (QS. Yusuf: 8).

    Saudaranya merencanakan untuk membunuh Yusuf ketika sampai di suatu tempat. Namun, hal ini tidak terjadi akan tetapi saudaranya memutuskan untuk membuang Nabi Yusuf AS ke dalam sumur.

    3. Dijual Sebagai Budak

    Kemudian, sekelompok orang yang sedang lewat di dekat sumur menemukan Nabi Yusuf AS dan menyelamatkannya. Mereka kemudian menjualnya sebagai budak ke Mesir kepada seorang penguasa dengan harga beberapa dirham saja.

    وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍۢ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُوْدَةٍ ۚوَكَانُوْا فِيْهِ مِنَ الزّٰهِدِيْنَ

    Artinya:

    “Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.” (QS. Yusuf: 20).

    Penguasa yang membeli Yusuf AS sebagai budak adalah orang penting di kerajaan Mesir yang bernama Aziz.

    Di rumahnya, Yusuf tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan berakhlak baik. Ia mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang dari majikannya.

    Baca juga: Tawakal adalah: Pengertian, Contoh, dan Keutamaannya

    4. Nabi Yusuf Difitnah dan Dipenjara

    Pada suatu saat, istri Aziz (Zulaikha) tergoda oleh ketampanan Yusuf AS dan mencoba merayunya. Namun, Yusuf menolak godaan tersebut karena takut kepada Allah SWT. Kemudian, Yusuf AS berkata:

    “…Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23).

    Zulaikha mencoba menarik baju Yusuf karena beliau mencoba lari dan menghindar. Namun, Zulaikha mencoba menari baju gamis yang dikenakan Yusuf dan koyak di bagian belakang. Tepat di depan pintu, suami Zulaikha melihat mereka berdua.

    Zulaikha mencoba memfitnah Yusuf dengan berkata “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?”

    قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ

    Artinya:

    “Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33).

    5. Mukjizat Nabi Yusuf dalam Menafsirkan Mimpi

    Pada suatu hari raja Mesir bermimpi dan merasa khawatir dengan makna mimpi tersebut. Raja kemudian meminta pembantunya untuk menafsirkan mimpinya dan mereka tidak mampu melakukannya.

    وَقَالَ الْمَلِكُ اِنِّيْٓ اَرٰى سَبْعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعَ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍۗ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ اَفْتُوْنِيْ فِيْ رُءْيَايَ اِنْ كُنْتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُوْنَ

    Artinya:

    “Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau, dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.” (QS. Yusuf: 43).

    Akhirnya, seseorang mengingatkan raja tentang kecerdasan Nabi Yusuf AS dalam menafsirkan mimpi. Kemudian, mereka memanggilnya untuk menafsirkan mimpi dari Raja tersebut.

    Nabi Yusuf AS kemudian menafsirkan bahwa mimpi raja dari tersebut menunjukkan bahwa akan terjadi tujuh tahun kelimpahan. Namun, diikuti juga dengan tujuh tahun kelaparan yang parah. Yusuf AS menyarankan raja untuk menyimpan makanan.

    6. Nabi Yusuf Mendapatkan Kedudukan di Mesir

    Setelah Nabi Yusuf AS berhasil menafsirkan mimpi terkait kelimpahan dan kelaparan, raja Mesir kemudian menawarkan kedudukan di lingkungan kerajaan Mesir. Hal ini karena Raja yakin akan kehebatan dan kebenaran dari Nabi Yusuf AS.

    Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

    وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُوْنِيْ بِهٖٓ اَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِيْۚ فَلَمَّا كَلَّمَهٗ قَالَ اِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ اَمِيْنٌ

    Artinya:

    Dan raja berkata, “Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku.” Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.” (QS. Yusuf: 54).

    Dari tawaran Raja ini Yusuf AS berkata:

    “…,Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).

    Raja Mesir kemudian mempercayakan Nabi Yusuf untuk mengelola makanan pada periode kelimpahan dan kelaparan tersebut. Dalam menjalankan tugasnya, Yusuf menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaannya dalam mengelola sumber daya. 

    Kepandaian ini membuat persedian makanan tercukup sehingga rakyat Mesir tidak mengalami kelaparan yang parah. Karena keberhasilannya dalam mengelola makanan, raja Mesir kemudian menunjuk Nabi Yusuf AS sebagai wakil raja Mesir.

    7. Nabi Yusuf Bertemu dengan Keluarganya

    Setelah peristiwa yang panjang dan penuh ujian, Yusuf akhirnya bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang pernah mengkhianatinya. Namun, dari saudaranya ini tidak ada yang mengenal nabi Yusuf sebagaimana firman Allah SWT.

    وَجَاۤءَ اِخْوَةُ يُوْسُفَ فَدَخَلُوْا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهٗ مُنْكِرُوْنَ

     Artinya:

    “Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka dia (Yusuf) mengenal mereka, sedang mereka tidak mengenalinya (lagi) kepadanya.” (QS. Yusuf: 58).

    Yusuf AS kemudian menjamu saudaranya dengan penuh bijak seperti tamu pada umumnya. Beliau, meminta saudaranya untuk pulang dan datang kembali dengan membawa Bunyamin agar mendapatkan jatah gandum.

    وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُوْنِيْ بِاَخٍ لَّكُمْ مِّنْ اَبِيْكُمْ ۚ اَلَا تَرَوْنَ اَنِّيْٓ اُوْفِى الْكَيْلَ وَاَنَا۠ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ

    Artinya:

    “Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dia berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?” (QS. 59).

    Kemudian, saudaranya setuju dan akan membujuk ayahnya atau Ya’qub untuk membawa Bunyamin. Saudaranya pulang dan memberitahukan apa yang diminta oleh Yusuf AS kepada ayahnya agar membawa Bunyamin.

    8. Mukjizat Menyembuhkan Mata Ya’qub

    Nabi Yusuf pernah terpisah cukup lama dari ayahnya akibat ulah saudara-saudaranya yang cemburu dan iri. Saat itu, Nabi Ya’qub mengalami kebutaan akibat usia dan kesedihan atas kehilangan Yusuf AS.

    Dalam pembahasan mukjizat Nabi Yusuf, dapat disimpulkan bahwa Allah SWT memberikan keistimewaan dan kekuasaan pada Nabi Yusuf untuk mengatasi berbagai masalah dan rintangan yang dihadapinya.

    Selain itu, salah satu mukjizat lainnya yang Allah SWT berikan kepada Nabi Yusuf AS adalah mampu menyembuhkan mata ayahnya atau Nabi Ya’qub. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

    فَلَمَّآ اَنْ جَاۤءَ الْبَشِيْرُ اَلْقٰىهُ عَلٰى وَجْهِهٖ فَارْتَدَّ بَصِيْرًاۗ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْۙ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

    Artinya:

    Maka ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya (baju itu) ke wajahnya (Yakub), lalu dia dapat melihat kembali. Dia (Yakub) berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 96).

    9. Pertemuan Zulaikha dan Wafat

    Seiring berjalannya waktu sebagai orang yang memiliki di kerajaan Mesir, Nabi Yusuf AS melakukan perjalanan ke beberapa desa. Dalam perjalanan ini, Nabi Yusuf AS bertemu kembali dengan Zulaikha.

    Pada pertemuan ini, Zulaikha sudah dalam keadaan janda atau ditinggal pergi oleh suaminya. Nabi Yusuf AS yang merasa iba dengan kondisi Zulaikha tersebut, kemudian menikah dan dikaruniai dua anak.

    Sebelum wafatnya, Allah SWT menurunkan wahyu agar Nabi Yusuf menyerahkan cahaya dan hikmahnya kepada Babars bin Lewi bin Yakub. Pada penyerahan ini Yusuf juga mengatakan akan ada penerusnya yang bernama Musa.

    Hikmah Kisah Nabi Yusuf AS

    Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an adalah salah satu kisah paling mendalam dan penuh hikmah yang bisa kita teladani. Hal ini tentunya terkait dengan keteguhan dan ketaqwaan beliau dalam menghadapi segala cobaan.

    Berikut adalah beberapa hikmah utama yang dapat dipetik dari kisah Nabi Yusuf:

    1. Kesabaran dalam Menghadapi Ujian

    Kisah Nabi Yusuf mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian hidup. Yusuf mengalami berbagai cobaan, seperti pengkhianatan saudara-saudaranya, fitnah dari Zulaikha, dan penahanan di penjara.

    Namun, ia selalu sabar dan tetap yakin serta taat kepada Allah SWT atas segala rintangan di hidupnya. Hal ini tentunya bisa kita contoh untuk selalu taat dan yakin kuasa Allah SWT dalam perjalanan hidup.

    2. Ketaqwaan

    Nabi Yusuf adalah contoh sempurna dari seorang yang bertakwa kepada Allah SWT. Meskipun menghadapi godaan dari Zulaikha, beliau memilih taqwa dan menjauh dari perbuatan dosa.

    Ketaqwaan Yusuf menjadikannya sebagai teladan dalam menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Allah. Beliau yakin akan ketaqwaan membawa penjagaan serta sumber dari segala penolong dari Allah SWT.

    3. Keadilan dan Kebajikan

    Yusuf juga menunjukkan keadilan dan kebajikan dalam perannya sebagai penasihat Raja Mesir. Ia mengelola masalah ketersediaan makanan dengan bijaksana selama masa kelaparan dan memberikan makanan kepada rakyat Mesir secara adil.

    4. Kemurahan Hati dan Pengampunan

    Saat Yusuf AS bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang pernah mengkhianatinya, beliau memaafkan mereka tanpa dendam sedikitpun. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa Yusuf memiliki kemurahan hati yang luar biasa.

    Selain itu, Yusuf memahami bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah. Yusuf percaya bahwa Allah SWT yang telah menguasai semua urusan dan inilah yang menggerakkan hatinya untuk memaafkan saudara-saudaranya.

    5. Kepemimpinan yang Bijaksana

    Kisah Nabi Yusuf menunjukkan kemampuannya dalam kepemimpinan yang bijaksana dan efektif ketika dia diangkat sebagai penasihat Raja Mesir. Kesempatan ini tentunya tidak disia-siakan oleh beliau.

    Kemampuannya dalam mengelola krisis ketersediaan makanan menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang kuat dan tindakan bijak dalam mengatasi masalah sosial dan ekonomi.

    Selain itu, tindakan pengampunan Yusuf sesuai dengan ajaran Islam yang menghargai pengampunan dan kesalehan kepada Allah. Al-Qur’an secara berulang kali menekankan pentingnya memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain.

    6. Kasih Sayang dan Kesetiaan Keluarga

    Nabi Yusuf adalah contoh kasih sayang dan kesetiaan kepada keluarga. Meskipun jauh dari keluarganya selama bertahun-tahun, ia tetap memiliki perasaan cinta dan rindu kepada ayahnya, Nabi Ya’qub.

    Terlepas ketika beliau akhirnya dipersatukan kembali dengan keluarganya. Momen ini menyoroti pentingnya kasih sayang dan kesetiaan dalam hubungan keluarga.

    7. Taat Kepada Allah dalam Segala Hal

    Selama seluruh kisahnya, Nabi Yusuf AS tetap setia kepada prinsip-prinsip agama dan ketaatan kepada Allah SWT. Ketaatan ini menjadikannya sebagai pribadi yang terpilih dan dicintai.

    Yusuf selalu memiliki perasaan cinta dan penghormatan yang mendalam terhadap ayahnya, Nabi Ya’qub. Hal ini tercermin dalam perilaku dan kata-katanya ketika bertemu kembali dengan ayahnya setelah bertahun-tahun terpisah.

    Kisah Nabi Yusuf merupakan pelajaran yang kaya tentang nilai-nilai agama, moralitas, kesabaran dan keteguhan iman. Kisah yang inspiratif yang mengajarkan umat Islam untuk menjalani hidup dengan taqwa serta sabar dalam menghadapi cobaan.

  • Kisah Nabi Musa AS, dari Lahir hingga Wafat dan Mukjizatnya

    Kisah Nabi Musa AS, dari Lahir hingga Wafat dan Mukjizatnya

    Salah satu Nabi yang tidak pernah kita lupakan dalam sejarah adalah Musa AS. Nabi Musa AS merupakan salah satu utusan Allah SWT dari 25 lainnya. Di mana, kisah Nabi Musa dalam sejarah Islam memiliki makna yang sangat mendalam.

    Mulai dari kisah kelahiran beliau yang penuh rintangan, menginjak usia remaja yang banyak dibully, hingga proses dakwah yang beliau lakukan dengan penuh kesabaran.

    Hal itu bisa beliau lewati dengan baik sebab adanya bantuan dari Allah SWT. Adapun kisah Nabi Musa ini dijabarkan sebagai salah satu bentuk peningkatan ilmu pengetahuan dan sejarah kenabian.

    Sehingga dapat dijadikan media untuk memperbaiki diri lebih baik lagi.

    Kisah Nabi Musa AS saat Kelahirannya

    Nabi Musa AS merupakan putra dari Imran bin Yashar bin Qahits bin lawi bin Yaqub. Tetapi, karena suatu kondisi, ia diasuh oleh pamannya. Saudara sepupunya adalah Nabi Harun dan ibunya Bernama Yakubad.

    Paham yang mengasuh Musa adalah Qorun bin Yashar bin Qahits. Beberapa kisah perjalanannya dimulai sejak dilahirkan. Diriwayatkan oleh Imam al-Sudiy oleh Abu Malik dan Abu Shahih serta Ibnu Mas’ud.

    Pada masa awal pimpinan Firaun, ia sebagai raja bermimpi sedang melihat api dari Baitul Maqdis. Setelah beberapa saat, api membakar Mesir tetapi tidak membayakan kaum Bani Israil.

    Setelah Firaun terbangun dari tidurnya, ia langsung mengumpulkan para tukang sihir untuk mengartikan mimpinya.

    Ternyata maksud dari mimpi itu adalah akan lahir seorang bayi laki-laki dan akan menghancurkan kota Mesir, bayi itu berasal dari Bani Israil.

    Mendengar jawaban dari tukang sihir tersebut, Firaun langsung memerintahkan kepada bala tentara untuk membunuh setiap bayi yang lahir, tanpa terkecuali. Tetapi bayi Nabi Musa AS berhasil lahir dengan selamat.

    Kekhawatiran sebagai ibu membuat Ibunda Nabi Musa AS hanya memikirkan anaknya.

    Saat beliau berdoa dengan penuh putus asa, Allah SWT memberikan ilham untuk menghanyutkan Nabi Musa AS ke sungai dan Allah SWT menjanjikan akan memberikannya kembali.

    Saat benar-benar sudah dihanyutkan ke sungai, bayi Nabi Musa AS sampai ke tepi sungai dan ditemukan oleh istri Firaun bernama Aisyah binti Muzahim bin Ubaid al-Rayyan bin al-Walid.

    Meskipun sempat terjadi pertentangan dari Firaun karena tidak ingin ada anak yang hidup pada masa itu. Namun, pada akhirnya Firaun menyerah dan mengizinkan Aisyah untuk merawat bayi Musa.

    Ketika Aisyah sudah mengasuh bayi Musa AS, ia tidak bisa menyusuinya. Oleh karena itu, Aisyah mencarikan ibu susu untuknya. Namun, dari banyaknya wanita menyusui di daerah itu tidak ada satupun yang bisa membujuk Musa AS.

    Musa AS selalu menolak, sehingga ibunda kandung dari Nabi Musa menawarkan diri untuk menyusuinya. Istri Firaun, Aisyah akhirnya mengizinkan ibu kandung Nabi Musa AS untuk menyusuinya.

    Atas kuasa Allah SWT, akhirnya ibu kandung Nabi Musa AS kembali bertemu dengan putranya dalam keadaan sehat dan selamat.

    Baca juga: Hukum Tidak Membayar Hutang di Bank Menurut Islam

    Kisah Kelahiran Nabi Musa AS dalam Al-Qur’an

    Kita juga bisa melihat bagaimana kuasa Allah SWT atas kelahiran Nabi Musa AS dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 1-6:

    طٰسۤمّۤ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَّبَاِ مُوْسٰى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ۙ وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

    Artinya:

    “Tha Sin Mim. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.

    Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka.”

    Ayat Ini masih berlanjut dalam surat Al-Qashah ayat 13 tentang bertemunya kembali Nabi Musa AS dengan ibundanya.

    Allah SWT berfirman yang artinya:

    “Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

    Kisah Nabi Musa AS Menerima Wahyu Pertama di Bukit Thursina

    Pada saat Nabi Musa AS mendapatkan wahyu dari Allah SWT, beliau telah dewasa dan sudah menikah dengan anak dari Nabi Syuaib bernama Shafura. Mereka berdua melakukan perjalanan menuju Negara Mesir.

    Ketika Nabi Musa dan istri tiba di salah satu bukit pada malam hari, ia melihat sebuah cahaya dan beliau pun langsung mendekati asal sinar tersebut. Saat itu pulalah, beliau mendengar suara menuju kearahnya.

    Kurang lebih isi wahyu yang Nabi Musa AS terima seperti ini:

    “Musa, kamu sedang berada di sebuah lembah suci, lepaskan terompah yang kamu kenakan dan kamu menjadi rasul utusanKu.”

    “Aku adalah Allah maka jalankan perintah-Ku karena tiada Tuhan selain Aku, dirikanlah shalat dan menyembah hanya  padaKu.” Nabi Harun pun dimintai tolong oleh Nabi Musa untuk menemaninya berdakwah, setelah ia menerima wahyunya.

    Sejak saat itu, Nabi Musa AS ingin meminta bantuan kepada Nabi Harun untuk berdakwah kepada Firaun. Nabi Harun meminta tolong karena Nabi Musa As mengalami kecacatan yang karena saat kecil ia memakan bara api atas permintaan Firaun.

    Oleh karena itu, bagaimana cara berbicara Nabi Musa AS hanya bisa dipahami oleh beberapa manusia biasa saja. Namun, hal itu tidak membuat Nabi Musa AS putus asa, beliau terus berusaha untuk memberikan dakwah hingga sampai pada Firaun.

    Ketika Nabi Musa AS sudah bertemu dengan Firaun dan hendak mengajaknya untuk memeluk agama Allah SWT yaitu Islam, tentu saja Raja Firaun menolak.

    Bahkan, Firaun meminta bukti kepada Nabi Musa AS bahwa dia memang utusan Allah SWT dengan cara menunjukkan mukjizat yang dimiliki. Mengingat pada zaman dahulu ahli sihir banyak sekali, maka bukan hal baru jika keajaiban dapat diakali.

    Hal ini dibuktikan dengan Raja Firaun yang meminta para tukang sihir untuk melemparkan tali ke lantai. Beberapa saat setelah itu, tali akan berubah menjadi ular yang sangat ganas.

    Namun, atas kuasa Allah SWT semua sihir yang dilakukan oleh beberapa utusan Raja Firaun bisa ditangkis dengan mudah. Nabi Musa AS mendapatkan firman Allah untuk melemparkan tongkatnya ke lantai.

    Setelah itu, tongkat langsung berubah menjadi ular sangat besar dan memakan ular-ular kecil yang diberikan oleh tukang sihir dari Firaun. Melihat hal tersebut, Firaun menjadi murka dan menyebut Nabi Musa As sebagai tukang sihir.

    Tidak puas dengan mukjizat yang dibuktikan oleh Nabi Musa AS, Raja Firaun meminta bukti lain kepadanya. Kemudian, Nabi Musa langsung memasukkan tangannya ke dalam saku dan menarik untuk mengeluarkannya kembali.

    Dalam hitungan detik, tangan yang keluar dari saku Nabi Musa As muncul sebuah cahaya yang menyilaukan mata Raja Firaun dan para pengikutnya.

    Tidak kuat dengan pantulan cahaya tersebut, Firaun meminta Nabi Musa untuk memasukkan kembali tangannya ke dalam saku. Dengan segala mukjizat yang telah ditunjukkan oleh Nabi Musa AS.

    Namun, hal tersebut tidak membuat Raja Firaun mempercayainya semudah itu bahwa Nabi Musa AS adalah Nabi dan Rasul Allah SWT. Alhasil, usaha dakwah Nabi Musa AS membutuhkan banyak perjuangan lebih keras lagi.

    Kisah Nabi Musa AS Menjelang Wafat

    Kita pasti sudah mendengar banyak kisah mengenai perjuangan seorang Nabi pada masa dakwahnya. Namun, jarang di antara kita yang mengetahui kisah wafat dari seorang wali Allah.

    Berdasarkan beberapa sumber, dikisahkan Allah SWT mengutus malaikat maut untuk mencabut nyawa Nabi Musa AS. Namun, untuk menemui Nabi Musa, malaikat maut harus berubah menjadi sesosok manusia.

    Kedatangan dari malaikat maut ini membuat kaget Nabi Musa AS. Saking kagetnya, tanpa sadar, Nabi Musa AS langsung memukulnya hingga membuat mata dari malaikat maut juling dan terlepas.

    Kisah Nabi Musa AS ini bisa kita lihat dari Riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    “Malaikat maut diutus kepada Musa AS. Ketika ia menemuinya, Musa AS mencungkil matanya. Malaikat maut lantas kembali kepada Tuhannya dan berkata, “Engkau mengutusku kepada hamba yang tidak ingin mati.”

    Tidak banyak diketahui, tetapi pada saat itu Nabi Musa AS mengira bahwa malaikat Izrail ini menyamar sebagai manusia yang hendak menyerangnya. Pukulan itu dilakukan oleh Nabi Musa AS untuk melindungi diri.

    Mendapati respon yang diluar dugaan dari Nabi Musa AS, Malaikat Izrail kembali untuk menghadap Allah SWT. Malaikat menyampaikan bahwa Nabi Musa AS tidak ingin dicabut nyawanya.

    Setelah itu, Allah SWT kembali mengutus Malaikat Izrail untuk turun dan menanyakan perihal waktu kematiannya. Kedua kalinya, Malaikat Izrail mendatangi Nabi Musa AS dalam wujud manusia, tetapi Nabi Musa sudah mengenalinya.

    Pertemuan kedua ini, Malaikat Izrail mempersilahkan Nabi Musa AS untuk memilih hidup lama atau dicabut nyawanya. Namun, Nabi Musa AS memutuskan untuk dicabut nyawanya saat itu juga.

    Dikisahkan dari Ibnu Katsir dalam buku Kisah Para Nabi, Nabi Musa AS kemudian bertanya kepada Malaikat Izrail. Nabi Musa AS bertanya, “Tanyakanlah kepada Tuhanku, apabila waktu itu telah habis bagaimana selanjutnya?”

    Malaikat Izrail pun menjawab, “Kemudian ia harus mati.”

    Maka Nabi Musa AS pun berkata, “Kalau begitu hari ini saja, karena waktu tersebut tidak terlalu lama.”

    Dalam kisah wafat Nabi Musa AS ini, beliau dicabut nyawanya oleh Malaikat Izrail genap di usia 120 tahun. Namun, sebelum dicabut nyawanya, Nabi Musa AS berpesan untuk dimakamkan di dekat Baitul Maqdis.

    Nabi Musa AS pernah berdoa,

    “Ya Allah, dekatkanlah aku dengan tanah suci (Baitul Maqdis) hingga sampai sejauh lemparan batu saja.” Hingga Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Musa AS dengan memakamkan Nabi Musa AS tidak jauh dari Baitul Maqdis.

    Mukjizat Nabi Musa AS

    Kisah Nabi Musa AS mengajarkan banyak hal kepada kita sebagai umat muslim. Bagaimana perjuangannya dalam berdakwah sangatlah teguh, terlebih kisah kelahirannya yang penuh tantangan.

    Untuk meningkatkan keimanan kita dan percaya terhadap kuasa Allah SWT, berikut beberapa mukjizat Nabi Musa AS yang dapat kita jadikan pelajaran:

    1. Mampu Menyembuhkan Penyakit Belang

    Nabi Musa AS memiliki mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT untuk menyembuhkan penyakit belang. Mukjizat ini sudah ada sejak beliau kecil, saat Firaun menemukan peti bayi di muara sungai.

    Ketika putri Firaun memegang peti bayi Musa AS, penyakit belang yang ia miliki langsung sembuh. Karena senang, putri Firaun langsung memberitahu ibunya bahwa kondisi kulitnya sudah sembuh dan kembali normal.

    Keajaiban yang berhasil Musa AS lakukan ini membuat ibunda Aisyah menjadikannya sebagai anak dan tinggal di istana.

    2. Mendapatkan Tongkat Ajaib dari Surga

    Berdasarkan kisah Nabi Musa AS yang paling terkenal, beliau mendapatkan tongkat Ajaib dari surga. Tongkat Ajaib ini ternyata sudah ada sejak Nabi Adam, dan Allah SWT menitipkan bayak keajaiban untuk Nabi Musa AS.

    Tongkat ini bisa memancarkan cahaya saat Nabi Musa AS berada di kegelapan. Ketika Nabi Musa AS melakukan perjalanan dan kehausan karena tidak menemukan mata air.

    Maka, Nabi Musa AS bisa menancapkan tongkat ke tanah, maka mata air akan langsung keluar saat itu juga.

    3. Nabi Musa AS Dilindungi Allah SWT Saat Dihanyutkan dalam Peti

    Sejarah kelahiran Nabi Musa AS penuh dengan misteri, salah satunya tentang hanyutnya bayi beliau di sungai. Namun, bayi Nabi Musa AS terjaga dengan selamat selama dihanyutkan di dalam sungai.

    Kenapa demikian? Karena Allah SWT melindunginya hingga ditemukan oleh Firaun di muara sungai.

    Keajaiban ini menjadi salah satu keistimewaan dari Allah SWT untuk Nabi Musa AS karena tidak dibunuh oleh Firaun, tetapi justru diasuh di dalam istana.

    4. Bisa Berbicara Langsung dengan Allah SWT Tanpa Perantara

    Hal yang menjadi keajaiban lain dari Nabi Musa AS adalah keistimewaannya dapat berbicara langsung dengan Allah SWT tanpa perantara. Ketika Nabi Musa AS ingin berbicara kepada Allah SWT, maka beliau langsung pergi ke bukit Thursina.

    Pada saat itu juga, Allah SWT akan langsung menjawab setiap pertanyaan yang Nabi Musa AS berikan.

    Kisah ini juga diceritakan di dalam QS Al-Qashash ayat 30, Allah berfirman:

    فَلَمَّآ أَتَىٰهَا نُودِىَ مِن شَٰطِئِ ٱلْوَادِ ٱلْأَيْمَنِ فِى ٱلْبُقْعَةِ ٱلْمُبَٰرَكَةِ مِنَ ٱلشَّجَرَةِ أَن يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّىٓ أَنَا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Fa lamma ataa nudiya min syati’il wadil aimani fil buq’atil mubarakati minasy-syajarati ay ya musa inni anallahu rabbul’alamiin

    Artinya:

    Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.”

    5. Dapat Mengubah Tongkat Menjadi Ular

    Selanjutnya, Nabi Musa AS juga diberikan mukjizat oleh Allah SWT untuk melawan kemusyrikan dengan kemampuan mengubah tongkat menjadi ular.

    Pada masa itu, Nabi Musa AS dihadapkan pada raja Firaun dan kaum pembangkang yang tidak mau menyembah Allah SWT. Masa itu, ilmu sihir juga masih banyak sekali digunakan.

    Tukang sihir berlomba-lomba untuk menciptakan ular tipuan agar bisa menghadapi Musa AS.

    Namun, semua sihir itu terbantahkan dengan ular Musa AS dari tongkat ajaib. Di mana, seluruh ular sihir tersebut bisa dimusnahkan oleh ular dari tongkat Musa AS.

    6. Menghadirkan Hujan Lebat untuk Menghukum Firaun

    Kita pastinya sudah tahu kalau Firaun dan pengikutnya sangat sombong serta tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. Untuk menghukum Firaun dan pengikutnya, Allah SWT mengirimkannya melalui mukjizat Nabi Musa AS.

    Hukuman ini juga Allah SWT sampaikan melalui QS Al Qashash:13.

    “Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas. Tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS Al Qashash:13).

    7. Menghancurkan Harta Firaun Menjadi Batu

    Pada suatu ketika, Nabi Musa AS juga pernah berdoa kepada Allah SWT untuk menghancurkan harta miliki Raja Firaun.

    Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia ya Tuhan kami. Akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sehingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS Yunus ayat 88).

    Mendengar doa yang Nabi Musa AS panjatkan, Allah SWT memberikan kuasa untuk memusnahkan seluruh harta Firaun menjadi batu.

    8. Memiliki Tangan yang Memancarkan Cahaya

    Selanjutnya, kisah Nabi Musa AS dalam sejarah Islam dijelaskan bahwa salah satu mukjizatnya adalah memiliki tangan yang dapat memancarkan cahaya putih dan terang.

    Bukti mukjizat ini telah Allah SWT firmankan dalam surat Thaha ayat 22-23.

    “Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami yang sangat besar.”

    9. Membelah Lautan Merah

    Terakhir, mukjizat yang Nabi Musa AS miliki adalah membelah lautan merah dengan tongkat saktinya. Allah SWT menunjukkan kuasanya saat Nabi Musa AS dikejar oleh pasukan Firaun yang ingin membunuhnya.

    Kemudian, Nabi Musa AS mendapatkan firman dari Allah SWT untuk memukulkan tongkatnya ke lautan. Dalam beberapa detik kemudian, lautan membelah dan terbentuk dataran kering untuk dijadikan jalan oleh kaum Nabi Musa AS.

    Nah, itulah beberapa kisah Nabi Musa AS yang telah tercatat di dalam sejarah dan dijelaskan langsung di dalam Al-Qur’an. Betapa maha kuasanya Allah SWT atas segala mukjizat yang telah diberikannya kepada Nabi Musa AS.

    Sehingga beliau bisa melewati berbagai rintangan sejak lahir hingga mendapatkan wahyu sebagai Nabi. Tentunya dengan beragam mukjizat yang dimilikinya, kita bisa menjadikannya pelajaran dan menambah keimanan kepada Allah SWT.

  • Biografi Sunan Bonang: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Bonang: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Sunan Bonang adalah salah satu tokoh agama Islam yang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa, Indonesia. Beliau juga merupakan salah satu dari sembilan Wali Songo yang sangat dihormati.

    Memiliki metode pengajaran serta penyampaian melalui kesenian wayang, memuat ajaran yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat pulau Jawa.

    Artikel ini akan membahas biografi Sunan Bonang metode dakwah yang digunakan.

    Silsilah Sunan Bonang

    Silsilah Sunan Bonang memiliki nasab secara langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Hal ini juga yang dijelaskan dalam buku “Sunan Bonang Wali Keramat: Karomah, Kesaktian, dan Ajaran-Ajaran Hidup Sang Waliullah”.

    Buku ini dikarang oleh Asti Musman dan menjelaskan bahwa Sunan Bonang merupakan anak dari Sunan Ampel. Ayahnya sendiri berasal dari negeri Champa dan Ibunya bernama Dewi Chandrawati yang merupakan seorang adipati Tuban.

    Dewi Chandrawati atau Nyai Ageng Manila merupakan istri kedua dari Sunan Ampel. Dari pernikahan ini Sunan Ampel dikarunia 3 putri dan 2 putra: Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Sunan Bonang dan Sunan Drajad.

    Nama asli beliau adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim yang lahir pada tahun 1465 Masehi di daerah yang bernama Rembang, Tuban. Beliau wafat di tahun 1525 Masehi ketika berada di Pulau Bawean.

    Baca juga: Hukum Kloning Hewan dalam Islam, Wajib Tahu!

    Asal Mula Nama Sunan Bonang

    Nama Sunan Bonang memiliki berbagai teori yang melatarbelakanginya. Salah satu teori yang diterima luas adalah bahwa nama “Bonang” berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang merujuk kepada “instrument gamelan” yang bernama “bonang.

    Instrumen bonang sendiri adalah salah satu alat musik tradisional Jawa yang digunakan dalam berbagai pertunjukan seni tradisional, termasuk dalam wayang kulit yang merupakan metodenya untuk menyebarkan agama Islam.

    Sunan Bonang dikenal karena penggunaan wayang kulit sebagai alat dakwah yang inovatif. Pertunjukan wayang kulit ini memadukan unsur-unsur seni, budaya dan agama Islam untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat Jawa.

    Dalam pertunjukan wayang kulit, alat musik bonang sering kali digunakan untuk mengiringi cerita dan menciptakan suasana yang mendalam. Nama “Bonang” mungkin diberikan kepadanya karena penggunaan alat musik tersebut.

    Metode Dakwah 

    Sunan Bonang merupakan salah satu tokoh utama dalam sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa. Beliau dikenal tidak hanya karena kedalaman ilmunya, tetapi juga karena metode dakwah inovatifnya.

    Salah satu aspek yang paling menonjol dalam peran Sunan Bonang adalah penggunaan pertunjukan wayang kulit sebagai alat dakwah yang kreatif. Hal ini membuat penyebaran ajaran Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat.

    Berikut ini beberapa metode dakwah yang beliau lakukan dalam penyebaran ajaran-ajaran Islam.

    1. Wayang Kulit Sebagai Alat Dakwah

    Salah satu ciri khas Sunan Bonang adalah penggunaan wayang kulit dalam upayanya untuk menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Wayang kulit adalah pertunjukan tradisional Jawa yang melibatkan boneka kulit yang digerakkan oleh dalang.

    Pertunjukan ini juga diiringi oleh musik gamelan, termasuk alat musik bonang. Sunan Bonang memanfaatkan pertunjukan wayang kulit ini untuk menyampaikan cerita-cerita Islami dan nilai-nilai moral kepada masyarakat Jawa.

    Dalam pertunjukan wayang kulit, cerita-cerita Islami disusun dengan cermat dan karakter-karakter dalam cerita tersebut digambarkan secara visual oleh boneka kulit. Sunan Bonang menggambarkan ajaran Islam melalui cerita-cerita yang menarik.

    Hal ini tentunya sekaligus menghibur dan membuat penyampaiannya lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Wayang kulit ini membawa pesan-pesan agama ke seluruh pelosok Jawa dan membantu mendekatkan Islam pada budaya setempat.

    2. Toleransi Antar Agama

    Sunan Bonang adalah pendukung kuat toleransi antar agama. Beliau mendorong dialog antarumat beragama dan menciptakan harmoni antara berbagai kelompok masyarakat sebagai pengenalan bahwa agama Islam merupakan ajaran baik.

    Toleransi adalah salah satu ciri khas Islam yang diajarkan oleh Sunan Bonang dan para Wali Songo. Dalam lingkungan multikultural Pulau Jawa, beliau berhasil menciptakan ruang untuk dialog antarumat beragama.

    Bahkan, Sunan Bonang kerap kali menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh Hindu dan Budha setempat. Hal ini membantu mengurangi ketegangan antar agama dan membuat masyarakat Jawa.

    Bahkan banyak masyarakat yang akhirnya menerima Islam karena membawa perdamaian. Kehebatan beliau mampu menciptakan suasana yang memungkinkan semua agama untuk berdampingan dengan damai dan menghormati satu sama lain.

    3. Pesantren dan Pendidikan

    Selain penggunaan wayang kulit dan toleransi antar beragama, Sunan Bonang juga mendirikan pesantren di Tuban, Jawa Timur. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan Islam yang penting sebagai tempat para ulama dan santri belajar ajaran Islam.

    Beliau mengajarkan bahwa agama Islam dapat disampaikan dengan kebijaksanaan dan dalam konteks budaya. Metode dakwah melalui pesantren dan pendidikan ini membuat para santri yang belajar bisa mengenal ajaran Islam lebih mendalam.

    4. Karya Sastra

    Tidak hanya melalui wayang, dialog hingga membangun tempat pendidikan untuk melakukan penyebaran dakwah. Namun, beliau juga melakukannya melalui bentuk karya sastra yang sampai saat ini masih bisa kita temukan.

    Salah satu lagu yang saat ini mungkin masih kita dengan adalah karya sastra dalam bentuk lagu dengan judul “Tombo Ati”. Selain itu, terdapat juga karya-karya lainnya seperti berikut ini:

    Suluk Wujil

    Suluk Wujil membawa dua makna yang ingin dia sampaikan. Makna pertama adalah niatnya untuk menggambarkan transisi ajaran Hindu ke Islam. Transisi ini mencakup semua aspek, termasuk politik, budaya, sastra, kepercayaan dan intelektual.

    Ini terjadi terutama selama keruntuhan Kerajaan Majapahit dan munculnya Kesultanan Demak. Makna kedua melibatkan kontemplasi terhadap pengetahuan Tuhan dan kepunyaannya, yang dikenal dengan sebutan Ilmu Sufi.

    Kemunculan Suluk Wujil dipicu oleh rasa ingin tahu seorang murid bernama Wujil Kinasih tentang ajaran agama pada aspek terdalam. Akibatnya, lahir dengan makna tersirat yang terkait dengan tujuan ibadah, pengenalan diri sendiri dan hakikat niat.

    Suluk Latri

    Suluk ini masih ada dan dapatkan kita temukan di Universitas Leiden. Makna dalam suluk tersebut berpusat pada seseorang yang menunggu kekasihnya hingga merasa gelisah. Seiring berjalannya waktu, gelisah ini semakin bertambah saat malam larut.

    Ketika akhirnya sang Kekasih datang, semua kegelisahan lenyap dan individu tersebut terbawa oleh ombak cinta hingga hanyut ke lautan tanpa bentuk.

    Suluk Jebeng

    Suluk Jebeng muncul sebagai hasil dari pembicaraan tentang pengenalan diri sendiri agar seseorang berada di jalan yang benar. Selain itu, menceritakan tentang pembentukan khalifah di bumi.

    Suluk Jebeng juga mencerminkan hubungan yang kuat dan saling pengenalan antara Tuhan dan manusia.

    Suluk Khalifa

    Suluk ini berisi tentang perjalanan para Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Dalam syair Suluk Khalifah juga menjelaskan perjuangan para Walisongo dalam mendidik masyarakat tentang Islam hingga memeluknya.

    Terdapat pula penjelasan mengenai kisah Raden Makhdum Ibrahim dalam menjalankan riyadhoh ke Pasai dan perjalanannya dalam menjalankan ibadah haji.

    Sunan Bonang menjadi salah satu ulama yang sangat baik tentang bagaimana metode kreatif dan toleransi untuk menyebarkan ajaran agama. Bahkan beliau juga mampu menciptakan lingkungan yang harmonis bagi masyarakat jawa yang beragam.

    Makam Sunan Bonang

    Sunan bonang wafat di tahun 1525 Masehi di Pulau Bawean ketika melakukan dakwah. Biasanya beberapa para wali dimakamkan dibelakang masjid yang mereka bangun ditempat melakukan perjalanan dakwah untuk penyebaran Islam.

    Terdapat beberapa kisah yang menjelaskan tempat dimakamkannya Sunan Bonang. Makam beliau bisa kita temukan di kampung Tegal Gubug pulau Bawean tepatnya sebelah utara daerah Tuban dan di Masjid Agung Tuban.

    Hal ini bisa terjadi karena murid-murid beliau yang ada di Bawean awalnya ingin beliau dimakamkan di daerah tersebut. Namun, murid yang ada di Tuban tidak setuju dan ingin memakamkan Sunan Bonang di daerah Tuban.

    Akhirnya, murid yang ada di daerah Bawean melakukan “Nyirep” atau menidurkan santri-santri di pulau Bawean. Kemudian, jenazah Sunan Bonang dilayarkan menuju Tuban, tepatnya di daerah dekat masjid Agung Tuban.

    Sunan Bonang adalah salah satu tokoh yang sangat penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Ajarannya tentang toleransi, dialog antar agama dan pendekatan kreatif dalam dakwah masih relevan dan dihormati hingga sekarang oleh masyarakat.

  • Biografi Sunan Gunung Jati: dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Gunung Jati: dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya

    Sunan Gunung Jati atau dikenal dengan Syarif Hidayatullah merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Beliau adalah seorang ulama besar yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa pada abad ke-16.

    Artikel ini akan menguraikan biografi lengkap Sunan Gunung Jati, termasuk latar belakang keluarga, pendidikan, peran dalam dakwah Islam, warisan dan pengaruhnya hingga saat ini.

    Silsilah Keluarga

    Sunan Gunung Jati lahir dengan nama Syarif Hidayatullah yang berasal dari keluarga bangsawan Arab. Ayahnya bernama Syarif Abdullah dan ibunya bernama Nyai Rara Santang yang merupakan seorang wanita Jawa yang berketurunan bangsawan.

    Beliau lahir pada tahun 1448 di Pajajaran, Jawa Barat dan memiliki silsilah keluarga yang terhormat. Hal ini karena beliau memiliki garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad melalui cucunya, yakni Imam Hasan bin Ali dari garis keturunan ke-7.

    Keluarga Sunan Gunung Jati memiliki ikatan yang kuat dengan wilayah Banten. Bahkan, beberapa kerajaan Hindu dan Buddha pada masa itu memiliki hubungan yang cukup dekat dengan keluarga beliau.

    Adanya latar belakang yang kuat ini, membuat beliau cukup disegani oleh berbagai pihak. Hal ini juga yang membuat Sunan Gunung Jati memperoleh legitimasi dalam komunitas Muslim dan memiliki otoritas penuh untuk menyebarkan ajaran Islam.

    Latar Pendidikan

    Sejak dini Sunan Gunung Jati sudah tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai Islam. Keluarganya sangat peduli tentang pendidikan dan pembelajaran sehingga mempengaruhi perkembangan intelektual Sunan Gunung Jati.

    Ia mendapatkan pendidikan agama Islam yang kuat sampai beranjak dewasa. Tidak hanya Al-Qur’an dan Hadits yang beliau pelajari, tetapi juga tentang ilmu sosial dan budaya yang ada di masyarakat.

    Hal ini membantunya dalam berinteraksi dengan masyarakat Jawa yang memiliki tradisi dan budaya sendiri. Adanya latar pendidikan yang beragam membuat beliau menjadi seorang ulama yang bijaksana dan pandai berdakwah kepada masyarakat.

    Baca juga: Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

    Metode Dakwah

    Sunan Gunung Jati memainkan peran utama dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat, khususnya di sekitar Gunung Jati, Cirebon. Beliau dikenal sebagai tokoh yang berperan besar dalam mengislamkan penduduk setempat.

    Berikut adalah beberapa metode dakwah beliau dalam menyebarkan Islam di wilayah Cirebon:

    1. Penyebaran Ajaran yang Lembut

    Sunan Gunung Jati memulai misi dakwahnya dengan menyebarluaskan ajaran Islam di sekitar Gunung Jati. Beliau menggunakan pengetahuannya untuk berdialog dengan penduduk setempat dan mengenalkan konsep-konsep Islam secara lembut.

    Beliau menggabungkan ajaran Islam dengan nilai lokal Jawa untuk memudahkan penerimaan agama ini kepada masyarakat. Adanya percampuran ini membuat masyarakat lebih nyaman dalam menerima ajaran serta kebaikan dalam Islam.

    2. Membangun Pesantren

    Penyebaran dakwah lainnya yang dilakukan beliau adalah dengan mendirikan pesantren di Cirebon sebagai pusat pendidikan Islam. Pesantren ini menjadi tempat pembelajaran agama, ilmu pengetahuan serta budaya.

    Para santri yang datang dari berbagai lapisan masyarakat belajar di sana untuk mendapatkan ilmu serta pengetahuan yang mendalam tentang Islam. Adapun metode pembelajaran yang diterapkan, yakni menggabungkan keagamaan dan kesenian.

    3. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial

    Tidak hanya fokus pada aspek pada bidang keagamaan, tetapi beliau juga sangat peduli terhadap kesejahteraan sosial masyarakat. Hal ini terlihat dari pembangunan masjid, madrasah, serta fasilitas sosial lainnya untuk masyarakat.

    Adanya tindakan-tindakan ini membuat masyarakat melihat dampak langsung dari kebaikan-kebaikan ajaran Islam. Sunan Gunung Jati sebagai salah satu dari sembilan wali songo yang ada di pulau Jawa sangat mengimplementasikan nilai-nilai Islam.

    Baca juga: 10 Nama Nama Malaikat dan Tugasnya yang Wajib Diketahui

    4. Membentuk Struktur Pemerintahan Islam

    Sunan Gunung Jati juga berperan dalam membentuk struktur pemerintahan Islam di wilayah Cirebon. Memiliki kecerdasan yang unggul dari lainnya serta kemampuan diplomasi yang baik, membuat beliau mendapatkan amanat besar.

    Beliau diangkat menjadi penasihat dan pemimpin spiritual bagi penguasa setempat, yang pada gilirannya memperkuat otoritas Islam di wilayah tersebut. Hal ini semakin memudahkan beliau dalam melakukan penyebaran atau dakwah ajaran Islam.

    5. Menggabungkan Budaya Jawa dan Islam

    Beliau mengambil pendekatan yang bijaksana dengan menggabungkan budaya Jawa dan ajaran Islam. Hal ini membuat Islam menjadi lebih akrab bagi masyarakat setempat hingga adanya integrasi harmonis antara kedua elemen tersebut.

    Wilayah Dakwah Sunan Gunung Jati

    Tidak hanya wilayah Cirebon yang menjadi fokus beliau dalam melakukan penyebaran Islam. Namun, juga di beberapa tempat sekitar yang masih belum mengenal ajaran agama Islam dengan baik.

    Di bawah ini beberapa tempat atau wilayah yang menjadi perjalanan beliau dalam melakukan penyebaran ajaran agama Islam:

    1. Wilayah Cirebon

    Sebagai pusat utama penyebaran ajaran agama Islam oleh Sunan Gunung Jati, wilayah ini menjadi saksi pendirian pesantren dan terjalinnya hubungan harmonis dengan pemimpin lokal.

    Sunan Gunung Jati dengan tekun menyebarkan Islam di kalangan penduduk Cirebon. Bahkan sampai saat ini masih terdapat beberapa peninggalan beliau dalam melakukan penyebaran ajaran Islam di wilayah tersebut.

    2. Wilayah Banten

    Tidak hanya di tanah Cirebon, salah satu wali songo ini juga menjalankan dakwah di wilayah Banten. Beliau membangun hubungan erat dengan para penguasa Banten dan memainkan peran yang signifikan dalam ajaran Islam di wilayah tersebut.

    Relasi ini menjadi cikal bakal terbentuknya kesultanan Banten yang menjadi sejarah dalam peradaban Islam di wilayah Banten. Adanya kontribusi serta ajaran dakwah yang lembut dari Sunan Gunung Jati menjadikan ajaran Islam mudah diterima.

    3. Wilayah Pantura Jawa Barat

    Beliau juga sering mengunjungi berbagai tempat di sepanjang jalan Pantura, seperti Indramayu, Subang dan daerah sekitarnya. Hal ini tentunya beliau lakukan untuk menyebarkan dan mengajarkan nilai-nilai Islam.

    4. Wilayah Pesisir Utara Jawa Barat

    Sunan Gunung Jati juga memperluas jangkauan dakwahnya ke wilayah pesisir utara Jawa Barat, mencakup kawasan seperti Pekalongan, Tegal dan sekitarnya. Beliau berperan dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah tersebut.

    Hampir sama dengan metode di wilayah lainnya, yakni dengan menyebarkan ajaran dakwah melalui penggabungan seni dan budaya dari masyarakat setempat. Melalui metode ini banyak masyarakat yang semakin mengenal ajaran Islam.

    Warisan dan Pengaruh

    Sunan Gunung Jati meninggal pada tahun 1568 di Cirebon. Namun, warisannya masih hidup hingga saat ini dan masih bisa kita rasakan. Peran beliau dalam menyebarkan Islam tentunya sangat penting dalam pertumbuhan Islam di Indonesia.

    Pesantren yang didirikannya menjadi pusat pendidikan Islam yang terkemuka dan keturunannya masih memainkan peran penting dalam pengajaran dan penyebaran Islam.

    Selain itu, tradisi dakwah yang ditanamkan oleh beliau masih menjadi bagian penting dalam praktek Islam di Indonesia. Pendekatan yang bijaksana dalam menggabungkan budaya lokal dengan Islam telah menjadi model dakwan baru.

    Pengaruh beliau juga terlihat dalam seni dan budaya Jawa Barat. Banyak seni pertunjukan dan seni rupa di wilayah ini memiliki nuansa Islam yang kuat dan mencerminkan perpaduan harmonis antara Islam dan budaya Jawa.

    Sunan Gunung Jati adalah salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah Islam di Indonesia. Keberhasilannya dalam menggabungkan budaya lokal dengan ajaran Islam telah memberikan fondasi yang kuat bagi praktek serta ajaran dalam Islam.

  • Biografi Sunan Ampel: dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Ampel: dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya

    Sunan Ampel memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa. Ia merupakan salah satu dari sembilan tokoh Wali Songo. Wali Songo sendiri telah melakukan penyebaran agama Islam pada masyarakat Jawa.

    Sebagai salah satu Wali Songo, beliau menyebarkan agama Islam khususnya di daerah Jawa Timur, lebih spesifiknya lagi di wilayah Surabaya. Melalui dakwahnya, ia bertujuan untuk memperbaiki moral masyarakat.

    Lantas, seperti apa perjuangan dari beliau selama masa hidupnya? Bagaimana dengan silsilah keluarganya dan keterkaitan dengan masyarakat Jawa? Metode dakwah apa yang ia gunakan? Mari kita cari tahu selengkapnya.

    Biografi Sunan Ampel

    Pertama, kita harus ketahui bagaimana biografinya. Mengetahui sejarahnya lebih dalam sangat penting agar kita semakin mengenal salah satu dari tokoh Wali Songo ini.

    Kelahiran

    Sunan Ampel lahir di Campa, Kamboja pada tahun 1401. Beliau memiliki nama asli Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah atau lebih terkenal sebagai Raden Rahmat. Menariknya, beliau menjadi satu-satunya tokoh Wali Songo yang tidak lahir di Indonesia.

    Namun, terdapat dua pendapat tentang Campa, tempat kelahiran beliau. Ada yang berpendapat bahwa Campa merupakan sebuah negara kecil di Kamboja. Ada pula yang berkata bahwa Campa terletak di daerah bernama Jeumpa di Aceh.

    Raden Rahmat merupakan anak dari Sunan Maulana Malik Ibrahim atau lebih terkenal sebagai Sunan Gresik. Sunan Gresik sendiri dipercaya memiliki garis keturunan dari Syekh Jamaludin Jumadil Kubro.

    Sementara itu, ibu dari Sunan Ampel adalah Siti Fatimah. Ia merupakan seorang putri kerajaan Champa sekaligus putri dari Ali Nurul Alam Maulana Israil yang dikenal sebagai Raja Champa Dinasti Azmatkhan.

    Berdasarkan kedua orangtuanya, bisa ditarik kesimpulan bahwa Raden Rahmat merupakan sosok dari keluarga bangsawan. Pasalnya, Sunan Gresik telah menikah dengan sang putri dari kerajaan Champa.

    Selain itu, Raden Rahmat ternyata merupakan keponakan dari istri seorang raja Majapahit, Prabu Kertawijaya atau Brawijaya. Kertawijaya mulai berkuasa di Majapahit pada tahun 1447 hingga 1451.

    Perjalanan di Jawa

    Beberapa ahli memaparkan Sunan Ampel mulai menginjakkan kaki di pulau Jawa pada tahun 1443 Masehi. Saat itu, ia ditemani oleh saudaranya, yakni Ali Musada dan Raden Burere.

    Sebelum itu, beliau sempat menetap di Palembang selama tiga tahun mulai dari tahun 1440 Masehi. Kemudian, beliau sempat singgah di daerah Gresik sebelum menuju Tuban, wilayah Majapahit.

    Saat di Tuban, ia mengunjungi bibinya, Dyah Dwarawati. Bibinya itu merupakan istri dari Prabu Kertawijaya, sosok raja Majapahit.

    Raja Majapahit itu kemudian memberikan hadiah tanah di Ampel Denta, Surabaya pada Raden Rahmat. Raden Rahmat kemudian menggunakan tanah itu untuk mendirikan sebuah pondok pesantren. Sejak saat itu, ia mulai berdakwah.

    Jika kita memperhatikan nama Ampeldenta, tentu ini mengingatkan kita dengan julukan Raden Rahmat, yaitu Sunan Ampel. Pasalnya, beliau mendapat julukan terkenalnya berdasarkan nama lokasi tempat berdakwah pertamanya.

    Baca juga: Hadits Keutamaan Sholat Berjamaah, Wajib atau Sunnah?

    Mulai Berdakwah

    Kita sudah ketahui bahwa Majapahit merupakan kerajaan Hindu di Indonesia, begitu pula dengan rajanya. Walau begitu, sang raja memberikan kebebasan pada Sunan Ampel untuk mengajarkan agama Islam, syaratnya tidak boleh ada paksaan.

    Saat itu, mayoritas dari masyarakat Jawa menganut kepercayaan animisme. Animisme adalah sebuah kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus.

    Beliau memulai berdakwah dengan pendekatan kultur kebudayaan orang Jawa. Salah satunya adalah mengadaptasi istilah menjadi bahasa Jawa untuk menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya, mengadaptasi istilah shalat menjadi sembahyang.

    Terdapat metode dakwah yang sudah menjadi khas dan terkenal dari Sunan Ampel, yaitu Moh Limo. Moh Limo sendiri terdiri dari lima ajaran dasar yang sudah sesuai dengan ajaran Islam.

    Kemudian, pesantren yang didirikan beliau menjadi sangat berkembang dan sukses. Banyak masyarakat yang berminat untuk mempelajari dan menganut agama Islam. Pesantren tersebut kemudian menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh.

    Tidak berhenti sampai di situ, Sunan Ampel melanjutkan perjuangannya di luar pesantren Ampel Denta. Beliau juga berkelana menuju daerah lain demi menyebarkan ajarannya, mulai dari Madura hingga akhirnya menuju Bima.

    Tidak hanya berdakwah, ia juga terlibat dalam pembangunan Masjid Demak pada 1479 Masehi. Saat itu, ia berperan besar sebagai arsitek utama. Masjid Demak kemudian menjadi pusat para Wali untuk berdiskusi tentang cara berdakwah terhadap masyarakat.

    Sunan Ampel bukan satu-satunya sosok Wali Songo yang terlibat dalam pembangunan Masjid Demak. Masih ada Sunan Bonang, Sunan Gunung Djati, dan Sunan Kalijaga. Masing-masing dari mereka ikut membangun tiang utama masjid tersebut.

    Masjid Demak kemudian menjadi salah satu pusat dari kesultanan Demak yang didirikan pada 1478. Raden Patah, salah satu murid beliau sekaligus putra Prabu Brawijaya dari Majapahit, menjadi sultan pertama kesultanan tersebut.

    Menikah Dua Kali

    Selama masa hidupnya, Raden Rahmat telah menikah dua kali. Kedua istrinya adalah Dewi Candrawati dan Dewi Karimah.

    Pernikahan beliau dengan Dewi Candrawati menghasilkan lima orang anak. Kelimanya adalah Maulana Mahdum Ibrahim, Syarifuddin, Siti Syarifah, Siti Muthmainnah, dan Siti Hafsah.

    Maulana Makdum Ibrahim lalu dikenal juga sebagai Sunan Bonang. Syarifuddin kemudian menjadi tenar dengan nama Sunan Drajat. Sementara Siti Syarifah menjadi istri Sunan Kudus.

    Dari pernikahannya dengan Dewi Karimah, beliau dikaruniai enam orang anak. Keenamnya adalah Dewi Murtasiyah (istri Sunan Giri), Dewi Murtasimah, Raden Husamuddin, Raden Zainal Abidin, Pangeran Tumapel, dan Raden Faqih.

    Waktu Wafat

    Sunan Ampel meninggal dunia pada tahun 1481 di Demak, Jawa Tengah. Beliau dimakamkan di dekat Masjid Agung Sunan Ampel di Ampel Denta. Masjid tersebut kemudian menjadi masjid tertua ketiga di Indonesia.

    Tidak hanya Masjid Agung Sunan Ampel, terdapat peninggalan lain yang terkait erat dengan Raden Rahmat. Ada dua masjid lain, yaitu Masjid Rahmat Kembang Kuning dan Masjid Jami Peneleh.

    Masjid Rahmat Kembang Kuning sekaligus menjadi bukti saat Raden Rahmat melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam. Lebih istimewanya, masjid tersebut terletak di tengah-tengah hutan.

    Di sisi lain, Masjid Jami Peneleh dipercaya menjadi masjid yang berdiri pertama kali di Surabaya. Namun, masjid tersebut tidak terlalu populer jika dibandingkan dengan Masjid Rahmat dan Masjid Sunan Ampel.

    Bukti peninggalan Sunan Ampel lain berupa Kampung Arab yang terletak di sekitar Masjid Sunan Ampel. Kampung ini kental dengan suasana Timur Tengah dan sentuhan bahasa Arab di setiap sudutnya.

    Itulah mengapa wilayah tersebut terdapat mayoritas penduduk berketurunan Arab. Kampung tersebut menjadi bukti jejak dakwah dan penyebaran agama Islam dari Sunan Ampel.

    Silsilah Sunan Ampel

    Setelah memahami biografi dari lahir hingga wafat, banyak dari kita sangat penasaran dengan silsilah Sunan Ampel. Mengingat beliau berasal dari keluarga bangsawan, hal ini tergolong wajar dan cukup penting.

    Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama-sama, Sunan Ampel atau Raden Rahmat merupakan anak dari pasangan Sunan Gresik dan Siti Fatimah. Dari sini, kita tahu keduanya sangat terkenal dan bukan orang sembarangan.

    Sunan Gresik atau Sunan Maulana Malik Ibrahim berasal dari keturunan Syekh Jamaludin Jumadil Kubrah, sosok Ahlussunnah bermazhab Syafi’i. Syekh Jamaluddin sendiri berasal dari Samarqand, Uzbekistan.

    Ibu dari Sunan Ampel, Siti Fathimah, merupakan putri dari raja dari Campa. Ia juga terkenal sebagai sepupu Raden Patah dan keponakan dari raja Majapahit.

    Sunan Ampel atau Raden Rahmat telah menikah dua kali. Beliau memiliki dua orang istri, yaitu Dewi Candrawati atau Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi dan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning.

    Beliau memiliki saudara bernama Ali Musada dan saudara sepupu bernama Raden Burereh. Mereka berdua ikut Sunan Ampel saat mengunjungi bibinya di kerajaan Majapahit, yakni Dewi Sasmita Putri.

    Sekali lagi, beliau memiliki lima anak dari pernikahannya dengan Dewi Candrawati. Sementara dari pernikahannya dengan Dewi Karimah, beliau dikaruniai enam orang anak. Totalnya, beliau memiliki sebelas anak.

    Kedua putra dari pernikahannya dengan Dewi Candrawati, Maulana Makdum Ibrahim dan Syarifuddin, mewarisi ajaran dari Sunan Ampel. Masing-masing dari mereka mendapat julukan Sunan Bonang dan Sunan Drajat.

    Adapun ketiga putrinya dari pernikahan dengan Dewi Candrawati di antaranya Siti Syarifah, Siti Muthmainnah, dan Siti Hafsah. Siti Syarifah kemudian menikahi Ja’far Ash-Shadiq atau Sunan Kudus.

    Beralih ke Dewi Karimah, beliau dikaruniai enam orang anak. Keenamnya adalah Dewi Murtasiyah, Dewi Murtasimah, Raden Husamuddin, Raden Zainal Abidin, Pangeran Tumapel, dan Raden Faqih.

    Metode Dakwah Sunan Ampel

    Sunan Ampel sangat terkenal sebagai pendakwah yang menerapkan strategi dan metode agar memudahkan masyarakat Jawa. Ia menerapkan metode yang singkat, cepat, dan mudah bagi pengikutnya.

    Metode penyebaran agama Islam yang diterapkan beliau relatif berbeda dari metode dakwah Sunan lainnya. Jika kebanyakan metode Sunan menerapkan pendekatan seni budaya, metode beliau mengandalkan pendekatan intelektual dan pembauran.

    Berikut adalah lima metode dakwah dari Sunan Ampel:

    1. Mo Limo sebagai Ajaran Dasar

    Kita sudah mengetahui salah satu metode dakwah beliau adalah Mo Limo. Pendekatan ini menjadi dasar ajaran bagi masyarakat Jawa yang ingin mempelajari Islam.

    Secara arti, Mo Limo terbagi menjadi dua kata dalam bahasa Jawa. Mo berarti “tidak ingin”, sementara limo berarti “lima”. Artinya, Mo Limo bisa berarti lima larangan dasar. Kelima larangan tersebut sebagai berikut:

    1. Moh main: tidak berjudi.
    2. Moh ngombe: tidak mabuk-mabukan.
    3. Moh maling: tidak mencuri
    4. Moh madat: tidak candu obat-obatan terlarang.
    5. Moh madon: tidak melakukan zina.

    Kelima larangan ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, keadaan masyarakat masih tergolong asing dan kolot. Mereka saat itu menganut kepercayaan animisme, yaitu kepercayaan terhadap makhluk gaib.

    Selain itu, terdapat beberapa tradisi kental di Jawa yang sangat bertentangan dari ajaran Islam. Salah satu di antaranya adalah berjudi, sabung ayam, dan bersemadi.

    Kelima larangan tersebut sekaligus menjadi ajaran mendasar bagi masyarakat Jawa yang beragama Islam. Beliau berharap mereka dapat menjauh setiap larangan bagi agama Islam demi menghindari konsekuensi buruk dari perbuatan tersebut.

    2. Mengadaptasi Istilah dengan Bahasa Masyarakat Jawa

    Sunan Ampel juga terkenal sebagai pribadi yang peka terhadap lingkungan setempat. Oleh karena itu, beliau cepat beradaptasi agar masyarakat Jawa mau mengikuti pengajaran beliau.

    Sebagai cara untuk beradaptasi dengan situasi sosial budaya di daerah sekitar, ia mengadaptasi berbagai istilah Islam dengan bahasa sehari-hari masyarakat Jawa.

    Cara ini sangat berhasil untuk mengundang masyarakat Jawa agar mau menganut Islam. Beliau mengubah berbagai istilah yang sering terpakai oleh mereka demi memudahkan.

    Contohnya, shalat tergantikan dengan kata sembahyang. Sembahyang sendiri merupakan istilah saat masyarakat Jawa akan beribadah.

    Tidak hanya itu, terdapat dua contoh istilah lain yang diadaptasi. Kata Mushola menjadi kata langgar yang mirip dengan sanggar. Sementara sanggar sendiri menjadi tempat pemujaan atau penyimpanan sesajen dalam budaya Jawa.

    3. Pendekatan Terhadap Tokoh Masyarakat

    Strategi lain yang saat Sunan Ampel melakukan dakwahnya adalah mendekati tokoh masyarakat terkenal. Benar, beliau melakukan pendekatan terhadap beberapa orang yang sangat berpengaruh di wilayah pulau Jawa.

    Oleh karena itu, beliau mampu membangun jaringan kekerabatan lebih luas lagi. Ternyata, ini juga memicu beliau mendapat julukan wali pendakwah dalam politik.

    Istri pertamanya, Dewi Candrawati adalah Nyai Ageng Manila, putri dari Bupati Tuban. Sementara istri keduanya, Dewi Karimah, merupakan putri dari Ki Wiroseroyo, salah satu dari tokoh yang berpengaruh di wilayah Jawa.

    Dari pernikahannya itu, kita bisa tahu ini menjadi salah satu cara agar Sunan Ampel mengajak orang-orang besar di wilayah Jawa. Tidak hanya itu, beliau menikahkan anak-anaknya dengan deretan tokoh penting lainnya.

    4. Memahami Kebutuhan Masyarakat

    Sunan Ampel mengandalkan pengetahuannya tentang kebutuhan pokok masyarakat setempat sebagai cara berdakwah. Ia akan memahami apa yang menjadi kebutuhan pokok dari masyarakat tersebut sebelum memulai berdakwah.

    Beliau akan mewujudkan keinginan masyarakat akan kebutuhan pokok. Pada saat yang sama, beliau tetap melakukan dakwah. Utamanya, ia menyimpulkan Islam mengajarkan agar penganutnya bisa saling berbagi.

    Pada awal masa berdakwahnya, Sunan Ampel rajin membuat kerajinan tangan. Salah satunya adalah kipas yang terbuat dari akar tumbuhan dan anyaman rotan. Kipas tersebut dipercaya bisa menyembuhkan batuk dan demam.

    Beliau membagikan hasil karya tersebut secara cuma-cuma untuk masyarakat setempat. Satu-satunya syarat untuk mendapatkannya hanyalah mengucapkan kalimat syahadat.

    5. Mengganti Nama Sungai

    Terakhir, terdapat sebuah strategi yang tidak biasa dari Sunan Ampel. Lebih tepatnya, beliau mengubah nama sungai Brantas menjadi Kali Emas. Sungai tersebut menjadi salah satu sungai terpanjang sekaligus terbesar di Jawa Timur.

    Tidak lengkap sampai di situ. Beliau ternyata juga mengubah nama pelabuhan Jelangga Manik. Pelabuhan tersebut saat itu bernama Tanjung Perak.

    Perhatikan kata “Emas” dan “Perak”. Apa yang terlintas ketika mendengar kedua kata itu pada nama tempat? Apakah kita akan berbondong-bondong ingin ke sana untuk mendapat emas dan perak? Hal itu juga dilakukan oleh banyak masyarakat setempat.

    Memang tidak salah, mereka percaya di Jawa Timur, terutama Surabaya, terdapat harta melimpah karena penggunaan kedua kata itu. Ini menjadi strategi jitu dari Sunan Ampel agar menarik perhatian orang agar tertarik ke kedua tempat tersebut.

    Banyaknya pendatang ke Jawa Timur membuat beliau memiliki kesempatan untuk menyebarkan agama Islam dan berdakwah. Terlebih, agama Islam sebenarnya tidak mengajarkan untuk bermegah-megahan dalam gelimangan harta.

    Begitulah pembahasan biografi Sunan Ampel, mulai dari riwayat hidup, silsilah, hingga metode dakwahnya. Dengan memahami semua hal itu, kita jadi memahami bagaimana bagian dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia.