Tag: Inspirasi Islam

  • Lomba Hafalan Al-Qur’an dengan Taruhan (Uang Pendaftaran)

    Lomba Hafalan Al-Qur’an dengan Taruhan (Uang Pendaftaran)

    Di kalangan muslimin, masih ada perbedaan pendapat terkait mengadakan lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan. Ada pihak yang melarang hal tersebut karena termasuk judi, tetapi ada juga yang membolehkannya.

    Untuk bisa menentukan boleh atau tidaknya hal ini, tentu kita perlu merujuk pada pendapat para ulama-ulama besar muslim. Dengan begitu, kita punya dasar dalam menentukan apakah perlombaan semacam ini dibolehkan atau tidak.

    Oleh karena itu, artikel ini akan coba membahas secara spesifik perkara mengadakan lomba yang bernilai Islami, tetapi dengan cara taruhan (membayar uang pendaftaran). 

    Hukum Asal Lomba dalam Islam

    Perlombaan atau musabaqah adalah kegiatan berasal dari kata as sabqu yang menurut bahasa artinya adalah sebagai berikut:

    القُدْمةُ في الجَرْي وفي كل شيء

    Artinya:

    “Berusaha lebih dahulu dalam menjalani sesuatu atau dalam setiap hal” (Lisanul Arab).

    Dengan begitu, musabaqah bisa kita artikan sebagai suatu persaingan dengan orang lain untuk menjadi yang lebih baik. Hal ini juga dijelaskan di dalam Al Mulakhas Al Fiqhi (2/155):

    المسابقة: هي المجاراة بين حيوان وغيره، وكذا المسابقة بالسهام

    Artinya:

    “Musabaqah adalah mempersaingkan larinya hewan atau lainnya, demikian juga persaingan dalam keahlian memanah.”

    Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa perlombaan akan melibatkan dua orang atau lebih yang saling bersaing untuk menjadi yang terbaik. Terbaik di sini tentu saja untuk hal-hal yang tidak dilarang.

    Perlombaan semacam ini adalah boleh karena hukum asal perkara muamalah sejatinya adalah boleh sampai ada dalil yang menunjukkan kebatilan dan juga keharamannya (I’lamul Muwaqi’in, 1/344) atau yang sebanding dengan itu.

    Hal ini seperti penjelasan dari Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir, 1/64. Mawqi’ Ruh Al Islam:

    أن الأصل في الأشياء المخلوقة الإباحة حتى يقوم دليل يدل على النقل عن هذا الأصل

    Artinya:

    “Sesungguhnya hukum asal dari segala ciptaan adalah mubah, sampai tegaknya dalil yang menunjukkan berubahnya hukum asal ini.”

    Pendapat di atas merujuk pada dalil kaidah yang terdapat di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 29, yang berbunyi:

    هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

    Huwallażī khalaqa lakum mā fil-arḍi jamī’an ṡummastawā ilas-samā`i fa sawwāhunna sab’a samāwāt, wa huwa bikulli syai`in ‘alīm

    Artinya:

    “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

    Jadi, tidak ada masalah untuk mengadakan sebuah lomba, apalagi lomba hafalan Al-Qur’an yang mana sangat baik dalam tegaknya ajaran Islam.

    Baca juga: Mereka yang Dilarang Mengelola Harta Sendiri (Terkena Hajr)

    Bolehkah Lomba Hafalan Al-Qur’an dengan Hadiah?

    Sebelum kita membahas tentang lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu perlombaan yang memberikan hadiah. Bolehkah lomba hafalan Al-Qur’an dengan adanya hadiah?

    Salah satu hadis yang menjadi rujukan terkait permasalahan ini adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

    لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ

    Artinya:

    “Tidak boleh memberi hadiah dalam perlombaan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.” (HR. Tirmidzi No. 1700, Abu Daud No. 2574, Ibnu Hibban No. 4690, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

    Dari hadits tersebut dapat kita ketahui bahwa pemberian hadiah dalam lomba tidak boleh dilakukan kecuali hanya pada tiga lomba saja, yaitu memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda. 

    Hal ini juga disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah yang menyatakan:

    فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ السِّبَاقُ بِعِوَضٍ إِلاَّ فِي النَّصْل وَالْخُفِّ وَالْحَافِرِ، وَبِهَذَا قَال الزُّهْرِيُّ

    Artinya:

    “Jumhur fuqaha berpendapat bahwa tidak diperbolehkan perlombaan dengan hadiah kecuali lomba memanah, berkuda dan balap unta. Ini juga pendapat dari Az Zuhri.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah , 24/126).

    Jumhur ulama menyatakan bahwa ketiga lomba di atas diperbolehkan untuk diberi hadiah karena ketiganya bermanfaat dan membantu terhadap jihad fi sabilillah. Qiyas kepada perlombaan memanah, berkuda, dan juga balap unta.

    Dengan perkembangan zaman sampai saat ini, arti jihad fi sabilillah sudah tidak lagi harus dilakukan dengan berkuda, memanah, atau balap unta saja. 

    Akan tetapi, bisa juga dalam lomba menghafal Al-Qur’an dengan taruhan seperti tilawatil Qur’an, hafalan surat pendek atau menghafal hadits.

    Dalam konteks jihad, hafalan Qur’an juga bisa menjadi senjata untuk menangkis upaya-upaya untuk menghilangkan atau mengganti ayat-ayat Al-Qur’an. Ini juga menjadi cara Allah menjaga keaslian tulisan Al-Qur’an sampai nanti di hari kiamat.

    Jadi, lomba-lomba yang diperbolehkan untuk memberikah hadiah dalam Islam adalah sebagai berikut:

    • Berbagai jenis lomba yang bermanfaat dan dapat membantu perang, terutama dalam upaya jihad fi sabilillah seperti memanah, berkuda, balap unta, bela diri, berenang, balap lari, dan semisalnya.
    • Berbagai jenis lomba yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syar’i seperti menghafal Al-Qur’an, tilawah Qur’an, hafalan surat pendek, hafalan hadis, dan semisalnya.

    Bolehkan Lomba Menghafal Al-Qur’an dengan Taruhan?

    Jika sebelumnya kita membahas perihal pemberian hadiah dalam lomba, bagaimana dengan adanya taruhan di dalam perlombaan tersebut? Taruhan di sini berarti peserta harus membayar biaya pendaftaran untuk bisa ikut dalam lomba bersangkutan.

    Untuk bisa merumuskan boleh tidaknya suatu perlombaan berhadiah jika dengan adanya taruhan, maka kita perlu menjabarkan beberapa bentuk pemberian hadiah dalam lomba, di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Penyedia Hadiah adalah Salah Satu Peserta Lomba

    Lomba dengan taruhan yang pertama adalah dengan hadiah berasal dari salah satu peserta. Misalkan si A mengajak si B untuk berlomba, sementara hadiahnya adalah berasal dari si A, maka perlombaan tersebut diperbolehkan.

    Hal ini juga dijelaskan di dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (24/128):

    إِذَا كَانَتِ الْمُسَابَقَةُ بَيْنَ اثْنَيْنِ أَوْ بَيْنَ فَرِيقَيْنِ أَخْرَجَ الْعِوَضَ أَحَدُ الْجَانِبَيْنِ الْمُتَسَابِقَيْنِ كَأَنْ يَقُول أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: إِنْ سَبَقْتَنِي فَلَكَ عَلَيَّ كَذَا، وَإِنْ سَبَقْتُكَ فَلاَ شَيْءَ لِي عَلَيْكَ. وَلاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي جَوَازِ هَذَا

    Artinya:

    Jika perlombaan dilakukan antara dua orang atau dua kelompok. Lalu salah satu peserta menyediakan hadiah, semisalnya ia mengatakan: “Jika engkau bisa mengalahkan saya, maka engkau bisa mendapatkan barang saya ini, kalau saya yang menang maka saya tidak mengambil apa-apa darimu”. Maka tidak ada khilaf di antara ulama bahwa ini dibolehkan.

    Jadi, taruhan semacam ini boleh asalkan kedua peserta tidak saling bertaruh hadiah. Artinya, si A akan menyediakan hadiahnya jika si B menang dan si A tidak mengambil hadiah apa pun dari si B jika si B kalah.

    2. Hadiah Berasal dari Pihak Ketiga

    Lomba dengan membayar biaya pendaftaran diperbolehkan jika biaya tersebut tidak diambil untuk membeli hadiah. Artinya, hadiah berasal dari pihak ketiga atau sponsor.

    Jadi, biaya pendaftaran tersebut harus memberi manfaat untuk semua peserta, baik yang menang maupun yang kalah seperti menyediakan snack, merchandise, seragam, dan sebagainya. Hal ini seperti dijelaskan di Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah (24/128):

    أَنْ يَكُونَ الْعِوَضُ مِنَ الإِْمَامِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الرَّعِيَّةِ، وَهَذَا جَائِزٌ لاَ خِلاَفَ فِيهِ، سَوَاءٌ كَانَ مِنْ مَالِهِ أَوْ مِنْ بَيْتِ الْمَال؛ لانَّ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةً وَحَثًّا عَلَى تَعَلُّمِ الْجِهَادِ وَنَفْعًا لِلْمُسْلِمِينَ

    Artinya:

    “Jika hadiah disediakan oleh pemerintah atau dari masyarakat (yang tidak ikut lomba), maka ini dibolehkan tanpa ada khilaf di dalamnya. Baik dari harta pribadi penguasa atau dari Baitul Mal. Karena di dalamnya terdapat maslahah berupa motivasi bagi masyarakat untuk mempelajari berbagai ketangkasan untuk berjihad dan juga bisa bermanfaat bagi kaum Muslimin.”

    3. Hadiah diambil dari Kontribusi Peserta Lomba

    Jenis pemberian hadiah ketiga adalah jika hadiah tersebut diambil dari kontribusi semua peserta. Pada kasus inilah ada perbedaan pendapat dari para ulama, termasuk lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan (biaya pendaftaran).

    Adapun perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hal ini antara lain:

    • Para jumhur ulama berpendapat bahwa perlombaan semacam ini adalah haram karena terdapat unsur qimar (judi).
    • Sebagian ulama berpendapat bahwa perlombaan tersebut boleh, di antaranya pendapat dari Ibnu Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
    • Perlombaan tersebut boleh jika ada muhallil. Muhallil sendiri adalah seseorang yang ikut dalam lomba, tetapi tidak mengeluarkan hartanya untuk hadiah. Akan tetapi, pendapat ini lemah.

    Jadi, bolehkah lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan? Dari semua pendapat dan dalil yang ada di atas, pendapat paling aman adalah boleh asalkan pemberi hadiah adalah dari pihak sponsor.

    Jadi peserta hanya membayar biaya kepesertaannya saja yang meliputi, biaya snack, biaya merchandise jika ada, dan sebagainya. Peserta juga tidak terbebani untuk menang dan tetap mendapatkan manfaat dari apa yang sudah dibayarkan.

    Itulah pembahasan terkait lomba hafalan Al-Qur’an dengan taruhan jika dilihat dari pandangan Islam, terutama jika merujuk dari berbagai pendapat ulama. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab.

  • Kisah Nabi Ishaq: Mukjizat Nabi Ishaq, Sejarah, & Perjalanan Dakwah 

    Kisah Nabi Ishaq: Mukjizat Nabi Ishaq, Sejarah, & Perjalanan Dakwah 

    Artikel ini akan membahas kisah Nabi Ishaq. Nabi Ishaq merupakan anak kedua dari Nabi Ibrahim setelah Nabi Ismail. Ia sekaligus menjadi anak pertama dari Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim.

    Cerita sejarah Nabi Ishaq tentu patut kita ketahui karena memiliki beberapa hikmah. Salah satunya adalah kesabaran seperti yang terlihat saat Siti Sarah menunggu agar ia bisa memiliki seorang anak seperti Siti Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim.

    Kisah kaum Kan’an juga menjadi pokok pembahasan dan juga terkait dengan Nabi Ishaq. Artikel ini ikut menjelaskan bagaimana perjuangan Nabi Ishaq berhadapan dengan kaum Kan’an yang jauh dari Allah.

    Berikut adalah pembahasan kisah nabi Ishaq singkat dan lengkap. Mari kita bahas bersama.

    Rangkuman Kisah Nabi Ishaq

    Pertama, mari kita pahami kisah Nabi Ishaq. Dengan begitu, kita bisa lebih mengerti bagaimana perjuangan Nabi Ishaq dan apa saja hikmah yang bisa didapat.

    Nabi Ibrahim dan Siti Sarah Belum Dikaruniai Anak

    Siti Sarah merupakan istri pertama dari Nabi Ibrahim. Disebutkan bahwa Sarah merupakan wanita tercantik di muka bumi pada masanya. Bahkan kecantikannya itu bisa menandingi Siti Hawa, istri Nabi Adam.

    Meski demikian, ternyata Nabi Ibrahim dan Siti Sarah sama sekali belum memiliki anak. Padahal, usia mereka sudah sangat tua. Nabi Ibrahim sendiri khawatir ia tidak akan memiliki keturunan untuk meneruskan dakwahnya.

    Menjawab kekhawatiran sang suami, Siti Sarah mengizinkannya untuk menikahi wanita lain, lebih tepatnya Hajar yang masih sangat muda. Setelah pertimbangan berat, Nabi Ibrahim akhirnya menyetujui permintaan sang istri pertamanya itu.

    Setelah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar menikah, mereka akhirnya memiliki anak bernama Ismail. Hal ini sempat memicu kecemburuan dari Siti Sarah yang berkata tidak siap untuk tinggal serumah dengan mereka.

    Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail ke Mekkah yang masih belum berpenghuni dan berupa tanah tandus. Meski demikian, Allah memberikan sebuah mukjizat saat Hajar dan Ismail kehausan.

    Kita tentu sudah mengetahui peristiwa saat Siti Hajar yang berlari berkeliling tujuh kali sebelum mukjizat tiba. Begitu juga dengan perintah Allah SWT untuk Nabi Ibrahim agar menyembelih Ismail. Sekarang, mari kita bahas awal cerita kisah Nabi Ishaq.

    Baca juga: Niat Sholat Maghrib Sendiri, Berjamaah, dan Tata caranya

    Kelahiran Nabi Ishaq Menjadi Kabar Gembira

    Meski sudah memiliki Ismail sebagai anak pertamanya, Nabi Ibrahim masih belum memiliki anak dari hasil pernikahan pertamanya. Padahal, ia sudah menginjak usia 100 tahun, usia yang sangat lanjut.

    Saat itu, Ismail berusia 14 tahun, sementara Siti Sarah menginjak usia kurang lebih 90 tahun. Usia Nabi Ibrahim dan Siti Sarah memang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi memiliki keturunan.

    Suatu hari, terdapat tiga malaikat yang datang bertamu kepada Nabi Ibrahim. Ketiga malaikat itu menyamar sebagai manusia sebelum bertamu untuk menyampaikan dua kabar.

    Nabi Ibrahim pun menyambut mereka dengan senang hati. Ia mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu sebelum memerintahkan Siti Sarah agar menyiapkan hidangan anak sapi gemuk.

    Akan tetapi, ketiga tamu itu ternyata tidak makan dan minum jamuan itu. Mereka justru mengungkapkan diri sebagai para malaikat yang datang dengan dua kabar.

    Pertama, mereka mengatakan kaum Sodom akan mendapat azab yang sangat pedih akibat menolak ajakan Nabi Luth untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Saat itu, mereka sedang menuju lokasi kaum Sodom sebelum berkunjung.

    Kabar gembiranya adalah Siti Sarah akan melahirkan seorang anak dalam waktu dekat. Padahal Siti Sarah sudah berusia 90 tahun dan mandul. Perkataannya diabadikan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    قَالَتْ يٰوَيْلَتٰىٓ ءَاَلِدُ وَاَنَا۠ عَجُوْزٌ وَّهٰذَا بَعْلِيْ شَيْخًا ۗاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيْبٌ

    Artinya:

    “Dia (istrinya) berkata, ‘Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib’.” (QS. Hud: 72).

    Nabi Ibrahim juga menyambut kabar itu dengan gembira. Ia sudah menanti-nantikan momen terwujudnya memiliki anak dari pernikahan pertamanya itu. Beberapa bulan kemudian, Siti Sarah akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. bernama Ishaq.

    Kisah kelahiran nabi ishaq diceritakan dalam Al Quran surah Hud ayat 69-74, surat Adz-Dzariyat ayat 24-30, surat Shad ayat 45-47. Ketiga surat dalam Al-Qur’an tersebut juga membahas kisah kelahiran Nabi Ishaq sebagai kebesaran Allah SWT.

    Kisah Nabi Ishaq saat Dewasa

    Kelahiran Ishaq tentu menjadi kabar gembira bagi Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Usaha untuk selalu berdoa pada Allah SWT akhirnya terbayar. Anak mereka itu tumbuh menjadi sangat soleh dan alim.

    Ishaq memiliki sifat-sifat penting yang menjadi idaman bagi Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Ia punya akhlak sangat tinggi, mengajak manusia untuk mengikuti kebenaran, dan mengingat kehidupan akhirat kelak.

    Kemudian, Ishaq akhirnya diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun agar meneruskan dakwah sang ayah, Nabi Ibrahim. Hal itu juga menjadi bukti dari kisah nabi Ishaq dalam Al Quran sebagai berikut:

    اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.” (QS. An-Nisa: 163).

    Nabi Ishaq diutus untuk memimpin kaum Kan’an yang berada di wilayah Palestina. Saat itu, kaum Kan’an sama sekali tidak mengenal Tuhan. Inilah momen terpenting dari kisah Nabi Ishaq lengkap.

    Pernikahan Nabi Ishaq dan Cobaannya

    Kisah nabi Ishaq pun berlanjut saat Nabi Ibrahim, sang ayah, sudah memasuki usia yang sangat tua. Ibunya sudah meninggal terlebih dahulu, sementara Nabi Ishaq sendiri belum menikah.

    Awalnya, nabi Ishaq meminta izin pada ayahnya agar bisa menikahi seorang perempuan dari kaum Kan’an. Akan tetapi, permintaan itu berakhir dengan penolakan karena kaum Kan’an masih tidak beriman.

    Terlebih lagi, Nabi Ibrahim juga sangat khawatir dengan keputusan anaknya itu. Ia takut Nabi Ishaq menikah dengan perempuan yang tidak seiman.

    Oleh karena itu, suatu hari Nabi Ibrahim memiliki solusi. Ia meminta seorang pelayannya untuk pergi ke Harran, Irak. Tujuannya agar mendapat perempuan yang bisa menjadi jodoh bagi Nabi Ishaq.

    Pada akhirnya, pelayan itu menemukan seorang perempuan yang tidak lain kerabat keluarga jauh. Ia adalah Rafiqah binti Batnail bin Nahur. Setelah itu, Nabi Ibrahim menikahkan Nabi Ishaq dengan Rafiqah.

    Tidak jauh berbeda dari Siti Sarah, Rafiqah ternyata mengalami mandul. Ini menjadi momen ujian dalam kisah nabi Ishaq. Tidak menyerah pada nasib, Nabi Ishaq dan sang istri terus berdoa pada Allah SWT agar mereka bisa mendapat keturunan.

    Kelahiran Nabi Yaqub jadi Cikal Bakal Nabi dari Kaum Bani Israil

    Pada akhirnya, doa Nabi Ishaq dan istrinya terkabulkan oleh Allah SWT. Rafiqah pun melahirkan putra kembar, yaitu Al-‘Aish dan Yaqub. Ternyata bukan hanya satu, dua putra kembar sudah menjadi kabar yang sangat menggembirakan.

    Seperti yang kita ketahui, Yaqub kemudian menjadi nabi sama seperti sang ayah. Ia diutus pada kaum Bani Israil demi meneruskan dakwah sang ayah untuk menyebarkan kebenaran.

    Nabi Yaqub juga menjadi awal dari masa depan nabi dari kaum Bani Israil. Pertama, ia mendapat anugerah berupa putra bernama Yusuf. Kemudian, muncullah beberapa nabi lain dari keturunan Bani Israil seperti Ayyub, Musa, Daud, Sulaiman, dan Isa.

    Sementara itu, Al-‘Aish sering sekali disebut-sebut sebagai cikal bakal dari bangsa Romawi atau lebih tepatnya Bani Ashfar. Ashfar memiliki arti warna kuning karena warna kulit Al-‘Aish.

    Konflik Al-‘Aish dan Yaqub

    Kedua anak Nabi Ishaq yang menjadi cikal bakal kedua bangsa berbeda ternyata terpicu oleh sebuah perseteruan. Konflik tersebut menjadi satu lagi momen terpenting dari kisah Nabi Ishaq. Nabi Ishaq saat itu sudah berusia sangat lanjut.

    Suatu hari, Nabi Ishaq meminta Al-‘Aish untuk memasak makanan kesukaannya dari hasil buruan itu. Pada saat yang sama, Rafiqah meminta Yaqub agar menyajikan makanan kesukaan Nabi Ishaq.

    Tidak tanggung-tanggung, Rafiqah menyuruh Yaqub mengenakan pakaian milik Al-‘Aish. Ia juga memasangkan kulit domba di tangan dan leher anaknya itu.

    Karena Nabi Ishaq sudah sangat tua, penglihatannya pun menurun. Saat itulah menjadi momen dirinya mengira Yaqub adalah Al-‘Aish berdasarkan rabaan tubuh anaknya itu.

    Yaqub pun menyajikan makanan favorit sang ayah itu. Akan tetapi, Nabi Ishaq merasakan ia sedang di dekat Al-‘Aish namun suaranya dari Yaqub.

    Ia pun mengucapkan doa agar putranya itu selalu mendapat ilmu dan rezeki melimpah, kebaikan, serta menjadi panutan bagi saudara sekaligus keturunannya.

    Al-‘Aish pun tiba tidak lama setelah Yaqub pergi dengan hidangan sesuai permintaan sang Ayah. Akan tetapi, ia tercengang bahwa Nabi Ishaq sudah menikmati hidangan buatan Al-‘Aish yang ternyata tak lain adalah Yaqub.

    Tidak terima dengan kenyataan itu, Al-‘Aish menjadi murka dan ingin membunuh saudara kembarnya sendiri. Tidak lama setelah itu, Rafiqah meminta Yaqub agar pergi ke Irak untuk menuju rumah pamannya.

    Konflik Al-‘Aish dan Yaqub yang berdampak pada masa depan umat manusia tentu bukan menjadi akhir dari kisah Nabi Ishaq. Tentunya, kita harus mengetahui bagaimana perjalanan dakwah dan mukjizatnya.

    Perjalanan Dakwah Nabi Ishaq

    Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Nabi Ishaq mendapat perintah agar memimpin kaum Kan’an di daerah Palestina. Ia juga menjadi penerus Nabi Ibrahim, sang ayah, dalam menyebarkan kebenaran dan ajaran Allah SWT.

    Ternyata Nabi Ishaq memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam menyampaikan ilmu dari Allah SWT. Tidak hanya itu, ia juga terkenal sebagai sosok Nabi yang sangat ramah, menjadikan banyak dari kaum Kan’an sangat menghormatinya.

    Kisah Nabi Ishaq dan kaumnya menjadi bukti bahwa ia sangat cerdas dalam memahami kaumnya. Tidak heran ia menjadi sosok yang terkenal dan penuh hormat.

    Mukjizat Nabi Ishaq

    Sebagai nabi, Ishaq tentu memiliki mukjizat dan keistimewaan sama seperti yang lainnya. Umat manusia belum banyak mengetahui hal tersebut. Ternyata, semuanya berawal dari kabar kelahirannya dari para malaikat pada Nabi Ibrahim dan Siti Sarah.

    Nabi Ishaq juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tidak hanya itu, ia memiliki akhlak yang sangat tinggi. Kisah Nabi Ishaq dan mukjizatnya tercantum pada ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 45-47)

    Terakhir, kedua anaknya, Yaqub dan Al-‘Aish, menjadi cikal bakal dua bangsa yang berbeda, yaitu Bani Israil dan Romawi. Tentunya, keduanya memiliki dua iman yang berlawanan. Hal ini tercantum pada ayat Al Quran sebagai berikut:

    وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ

    Artinya:

    “Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffat: 113).

    Hidayatul Insan menafsirkan ayat Al-Qur’an itu sebagai petunjuk bahwa keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq mendapat keberkahan. Keberkahan itu berbentuk iman, ilmu, akhlak, dan keturunan para nabi.

    Itulah mengapa Nabi Ibrahim memiliki tiga keturunan yang menjadi cikal bakal kaum masing-masing. Ketiganya adalah bangsa Arab dari keturunan Ismail, bangsa Bani Israil dari Yaqub, dan bangsa Romawi dari Al-‘Aish.

    Meski namanya sering sekali ada di Al-Qur’an, ternyata tidak banyak kisah Nabi Ishaq yang tercantum di sana, terutama perjalanan dakwah. Al-Qur’an hanya mencantumkan kisah kelahiran dan kematiannya.

    Wafatnya Nabi Ishaq

    Menjelang kematian Nabi Ishaq, Al-‘Aish dan Yaqub diceritakan sudah akur kembali. Meski begitu, ia akhirnya meninggal pada usia seratus delapan puluh tahun.

    Yaqub kemudian menjadi penerus sang ayah dalam menyebarkan agama Islam. Ia juga mendapat utusan dari Allah untuk menjadi seorang nabi. Seperti yang kita ketahui, Yaqub juga menjadi cikal bakal Bani Israil.

    Itulah akhir dari kisah Nabi Ishaq lengkap dari lahir sampai wafat.

    Hikmah dari Kisah Nabi Ishaq

    Setelah mengetahui sejarah Nabi Ishaq, kita bisa memetik beberapa hikmahnya. Berikut adalah hikmah penting yang kita patut tiru:

    1. Sayangilah Keluarga dan Saudara

    Kisah Nabi Ishaq telah mengajarkan kita agar selalu sayangi keluarga dan saudara. Hal ini sudah terlihat saat Nabi Ibrahim yang meminta pelayannya untuk mencari calon istri Nabi Ishaq sebagai bukti kasih sayang terbaik.

    Nabi Ishaq juga tetap menyayangi sang istri, Rafiqah, meski mengalami sebuah cobaan. Mereka tetap bersabar dan selalu berdoa penuh harap kepada Allah SWT. Doa dan usaha mereka membuahkan hasil berupa dua anak kembar.

    Kemudian, Nabi Ishaq mengajarkan kedua anaknya tentang akhlak secara penuh kasih. Dari ketiga peristiwa itu, Nabi Ishaq sudah mengajarkan kita agar selalu memberi cinta dan kasih sayang terhadap keluarga dan saudara.

    2. Tidak Dendam

    Dari kisah Nabi Ishaq singkat, kita sudah mengetahui Al-‘Aish memiliki dendam terhadap Yaqub. Padahal keduanya merupakan putra kembar dari Nabi Ishaq.

    Dendam hanyalah memicu masalah baru. Alih-alih menyimpan dendam, kita sepatutnya memaafkan setiap kesalahan keluarga dan saudara. Insya Allah, kehidupan kita akan lebih damai dan tenteram.

    Demikianlah pembahasan kisah Nabi Ishaq beserta mukjizatnya.

  • 8 Nama Neraka serta Calon Penghuninya dalam Al-Qur’an

    8 Nama Neraka serta Calon Penghuninya dalam Al-Qur’an

    Nama nama neraka serta calon penghuninya – Sesungguhnya, dunia hanyalah ujian bagi orang-orang yang beriman. Saat berpulang, semua manusia akan diadili serta diberi ganjaran atas segala hal yang diperbuat. Neraka merupakan tempat penyiksaan bagi mereka yang zalim serta memiliki sebutan nama neraka pada setiap tingkatan.

    Al-Qur’an menyebutkan, orang-orang zalim akan kekal terbakar di dalam neraka dan menjadi sebuah kehinaan yang sangat besar serta kerugian mendalam bagi seorang muslim. Sebab tidak ada kehinaan yang lebih hina darinya.

    Sebagai seorang muslim, penting untuk mengetahui tingkatan-tingkatan dan nama neraka yang Allah SWT ciptakan. Sebagai pengingat bahwa neraka adalah satu-satunya tempat yang merugi.

    Mari simak uraiannya di bawah ini!

    Mengenal Apa itu Neraka

    Mengingat kembali bahwa manusia diciptakan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari ridho-Nya. Islam menjelaskan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan selama di dunia memiliki balasan ketika di akherat kelak.

    Telah disinggung sebelumnya, bahwa dunia hanyalah tempat ujian bagi seorang muslim, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya pada surat Al-Mulk ayat 67 yang berbunyi:

    الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

    “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” [Al-Mulk/67:2]

    Setiap manusia pasti mengingnkan untuk bertempat tinggal di syurga ketika mereka meninggal, bahkan seorang kafir pun menginginkan syurga. Pasalnya, keindahan syurga banyak dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an.

    Namun sayangnya, seorang muslim kerap kali lupa bahwa setiap perilaku yang dilakukan di dunia memiliki ganjaran di akherat kelak.

    Neraka dalam Islam diartikan sebagai tempat bagi mereka yang memiliki amalan buruk yang timbangannya lebih berat daripada amalan baik.

    Secara etimologi, neraka berasal dari bahasa Arab “al-nar” yang artinya adalah panas, tembakan dan api. Sedangkan secara istilah kata “al-nar” memiliki makna tempat mengerikan yang disediakan untuk orang-orang yang berbuat dosa dan kejahatan.

    Neraka bukan semata-mata hanya sebagai tempat penyiksaan maupun pembalasan dari Allah SWR, melainkan juga tempat penyembuhan. Neraka Allah SWT hadirkan untuk menghukum orang-orang yang durhaka, kafir, musyrik, fasik, munafik dan sejenisnya.

    Orang-orang yang kafir dan durhaka akan tetap tinggal di dalam neraka dengan abadi, kemudian orang mukmin yang durhaka akan menjalani hukuman dan tinggal sementara di neraka. Setelah itu, mereka akan dikeluarkan kembali atas izin Allah SWT.

    Sesungguhnya, neraka itu tempat yang nyata. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ali-Imran ayat 116 mengenai adanya neraka yang berbunyi:

      اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

    Artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir, baik harta maupun anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak azab Allah. Mereka itu penghuni neraka (dan) mereka kekal di dalamnya.

    Oleh sebab itu, berpikirlah setiap bertindak dan niatkan segala sesuatu yang akan dilakukan semata-mata hanya karena untuk mencapai ridho Allah SWT.

    Baca juga: 10 Dalil Mengenai Hukum Judi dalam Islam, Simak!

    Tingkatan dan Nama Neraka dalam Islam

    Neraka merupakan tempat bagi mereka yang merugi, neraka sendiri memiliki tingkatan dan nama neraka yang akan dihuni bagi mereka yang tidak bertawakal kepada Allah SWT.

    setiap tingkatan neraka dikhususkan untuk calon penghuni yang berbeda pula. Berikut ini nama neraka dan tingkatannya!

    1. Neraka Jahanam

    Nama neraka dan tingkatan yang pertama yakni, neraka jahanam. Neraka ini tergolong sebagai neraka dengan tingkatan paling tinggi yang akan di tempati oleh orang-orang yang melakukan dosa besar.

    Kata neraka jahanam ini berasal dari bahasa Aran yang memiliki banyak arti. Secara harfiah diartikan sebagai penampilan jahat atau berwajah murung. Alasan mengapa neraka ini disebut sebagai neraka jahanam ialah, karena neraka ini dalam keadaan gelap, hitam dan memiliki dasar yang amat dalam.

    Tingkatan ini disebutkan dalam Surat Al-Hijr: 43–44.

    وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَٰبٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُومٌ

    Wa inna jahannama lamau’iduhum ajma’īn. Lahā sab’atu abwāb, likulli bābim min-hum juz`um maqsụm.

    Artinya: “Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.”

    Dosa besar yang dilakukan oleh penghuni neraka jahanam adalah orang-orang yang munafik, orang yang menduakan Allah SWT, mengikuti kata setan, durhaka kepada-Nya, hingga orang yang bakhil atau pelit.

    2. Neraka Lazha

    Pada tingkatan kedua, nama neraka disebut sebagai neraka lazha yang memiliki makna berkobar hebat atau menyala-nyala.

    Tingkatan ini biasa dikhususkan untuk manusia yang mendustakan Al-Qur’an. Begitu mencintai hal-hal yang berifat duniawi, yang berpaling dari risalah Nabi Muhammad SAW, membelakangi tauhid, dan enggan bersedekah.

    Neraka Lazha sendiri dijalaskan dalam Al Ma’arij ayat 15–18 yang berbunyi:

    كَلَّآ ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ نَزَّاعَةً لِّلشَّوَىٰ تَدْعُوا۟ مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّىٰ وَجَمَعَ فَأَوْعَىٰٓ

    Kallā, innahā laẓā. Nazzā’atal lisy-syawā. Tad’ụ man adbara wa tawallā . Wa jama’a fa au’ā.

    Artinya: “Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.”

    Selain itu, dijelaskan pula dalam surat al-Lail ayat 14-16 yang berbunyi:

    فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ لَا يَصْلَىٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

    Fa anżartukum nāran talaẓẓā. Lā yaṣlāhā illal-asyqā. Allażī każżaba wa tawallā.

    Artinya: “Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).”

    3. Neraka Huthamah

    Nama neraka pada urutan yang ketiga yakni neraka huthamah. Kata huthamah memiliki arti hancurnya sesuatu. Neraka ini akan membuat penghuninya mengalami kehancuran dengan api yang memecah serta membakar sampai ke tulang belulang dan melontarkan api sebesar istana.

    Tingkatan neraka ini akan diisi oleh manusia yang suka bergosip, menyebarkan berita yang tidak benar, mengumpat, enggan bersedekah dan perhitungan kepada sesama.

    Bahkan,orang-orang yang mengutamakan kepentingan dunia akan menjadi calon penghuni Huthamah. Neraka Huthamah sendiri pun hadir dan dibahas dalam surat Al-Humazah ayat 1–3 yang berbunyi:

    وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُۥ يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ

    Wailul likulli humazatil lumazah, allażī jama’a mālaw wa ‘addadah, yaḥsabu anna mālahū akhladah.

    Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat (al-humazah) lagi pencela (al-lumazah), yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya.”

    Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardu Sesuai Sunnah, Arab, Latin, dan Artinya

    4. Neraka Sa’ir

    Pada tingkatan selanjutnya, nama neraka ini adalah neraka sa’ir. Kata Sa’ir berasal dari bahasa Arab yang artinya menyala, sesuatu yang berkobar dan tidak dipadamkan sejak diciptakan.

    Sehingga neraka sa’ir dapat dimaknai sebagai neraka dengan api yang berkobar-kobar dan menyala. Di dalam neraka ini terdapat tali, rantai, ular, kalajengking dan juga belenggu.

    Dikisahkan para penghuninya akan mendengar suara yang mengerikan. Setiap penghuninya dilemparkan, para penjaga neraka itu bertanya, “Apakah belum pernah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?”.

    Para penghuninya pun akan menjawab, “Benar ada, namun kami mendustakannya.”

    Akhirnya, terucaplah penyesalan mereka, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka Sa‘ir yang menyala-nyala ini.”

    Dalam surah Al-Mulk ayat 5 dijelaskan bahwa penghuninya adalah mereka yang mendustakan pembawa kebenaran.

    وَلَقَدْ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَجَعَلْنَٰهَا رُجُومًا لِّلشَّيَٰطِينِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ

    Wa laqad zayyannas-samā`ad-dun-yā bimaṣābīḥa wa ja’alnāhā rujụmal lisy-syayāṭīni wa a’tadnā lahum ‘ażābas-sa’īr.

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”

    5. Neraka Jahim

    Tingkatan selanjutnya, nama neraka ini disebut sebagai neraka jahim. Kata jahim sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya tempat panas dengan bara api sangat besar.

    Neraka jahim merupakan neraka dengan api yang sangat besar yang bertempat di sebuah jurang atau lubang. Pada tingkatan ini, penghuninya yakni orang-orang musyrik, pendusta ayat-ayat Al-Qur’an dan melupakan urusan akhirat karena kesibukan duniawi.

    Sebagaimana firman Allah SWT mengenai neraka jahim dalam Q.S Asy-Syu’ara ayat 91–92 mengatakan bahwa neraka ini pun dijanjikan untuk orang-orang yang sesat.

    وَبُرِّزَتِ ٱلْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ

    Wa burrizatil-jaḥīmu lil-gāwīn, Wa qīla lahum aina mā kuntum ta’budụn.

    Artinya: “Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat.dan dikatakan kepada mereka: ‘Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah (Nya)’.”

    Selain itu, diterangkan pula dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 51 mengenai keberadaan neraka jahim dan penghuninya, berbunyi:

    وَالَّذِيْنَ سَعَوْا فِيْٓ اٰيٰتِنَا مُعٰجِزِيْنَ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

    Artinya: Tetapi orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan maksud melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah penghuni-penghuni Neraka Jahim.

    6. Neraka Saqar

    Nama neraka ditingkatan ini dimai sebagai neraka saqar. Al-Qur’an telah menjelaskan mengenai gambaran neraka saqar yang panas dan sangat membakar.

    Pada tingkatan ini, neraka saqar dihuni oleh orang-orang yang sombong, tidak pernah sholat, tidak pernah memberi makan orang miskin, membicarakan hal batil dan mendustakan Al-Qur’an.

    Hal tersebut pun dibahas dalam Q.S Al-Muddatsir ayat 42–46 yang berbunyi:

    مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ قَالُوا۟ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ ٱلْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلْخَآئِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ

    Mā salakakum fī saqar, Qālụ lam naku minal-muṣallīn, Wa lam naku nuṭ’imul-miskīn, Wa kunnā nakhḍu ma’al-khā`iḍīn, Wa kunnā nukażżibu biyaumid-dīn.

    Artinya: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

    Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat,  dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,

    dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari Pembalasan.”

    7. Neraka Hawiyah

    Pada tingkatan ini, nama neraka ini adalah neraka hawiyah. Neraka ini banyak disebutkan dalam beberapa riwayat. 

    Neraka ini merupakan neraka yang berada pada tingkatan paling bawah. Penghuni neraka ini ialah orang-orang munafik.

    Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 145 yang berbunyi:

    إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

    Innal-munāfiqīna fid-darkil-asfali minan-nār, wa lan tajida lahum naṣīrā.

    Artinya: “Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.”

    8. Neraka Zamharir

    Neraka ini digambarkan sebagai neraka yang tidak hanya penuh dengan api yang panas, namun juga memiliki suhu luar biasa dingin.

    Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An Naba’: 24-26 yang berbunyi seperti berikut ini:

    لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا (25) جَزَاءً وِفَاقًا (26)

    Lā yażụqụna fīhā bardaw wa lā syarāba, Illā ḥamīmaw wa gassāqa, Jazā`aw wifāqā.

    Artinya: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan ghossaq, sebagai pambalasan yang setimpal.”

    Makna ghossaq yang disebutkan dalam ayat diatas, dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Yang dimaksud ghossaq adalah dingin beku dari neraka, dan seseorang seperti terpanggang dengannya.”

    Mujahid rahimahullah berkata, “Ghossaq adalah sesuatu yang tidak mampu seseorang sentuh karena begitu dinginnya.”

    Ada ulama pula yang mengatakan, “Ghossaq adalah dingin yang baunya begitu busuk”.

    Itulah dia nama neraka yang perlu diketahui oleh umat Islam, sebagai pengingat bahwasannya manusia hidup di dunia hanyalah sementara.

    Sebab Allah SWT menciptakan kita hanya untuk senantiasa berbuat baik dan berlomba-lomba dalam kebakan.

    Semoga dengan memahami ganjaran kehidupan setelah di akherat kelak, bisa membuat kta lebih baik dan bertaubat atas kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat sebelumnya.

  • 8 Cara Bersyukur Kepada Allah SWT, Muslim Wajib Tau!

    8 Cara Bersyukur Kepada Allah SWT, Muslim Wajib Tau!

    Cara bersyukur kepada Allah SWT adalah salah satu cara yang harus dilakukan oleh umat Muslim.

    Bersyukur dalam Islam berarti mengakui nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan menggunakannya sesuai dengan syariat-Nya.

    8 Cara Bersyukur Kepada Allah SWT

    Lalu, bagaimana cara bersyukur kepada Allah SWT? Berikut adalah 8 cara yang bisa kita lakukan!

    1. Mengucapkan Hamdalah

    Mengucapkan Hamdalah

    Mengucapakan Hamdalah setiap kali selesai melakukan sesuatu, seperti makan, minum, mandi, sholat, bekerja, belajar, dan lain-lain. Hamdalah adalah ucapan “alhamdulillah” yang artinya segala puji bagi Allah.

    Dengan mengucapkan hamdalah, kita mengingat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah atas izin dan karunia Allah SWT. Sebagaimana beberapa dalil di bawah ini, Allah SWT berfirman:

    ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ

    مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    Bacaan latin: Summa kulī ming kulliṡ-ṡamarāti faslukī subula rabbiki żululā, yakhruju mim buṭụnihā syarābum mukhtalifun alwānuhụ fīhi syifā`ul lin-nās, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy yatafakkarụn.

    Artinya: “Maka makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 69).

    Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW apabila selesai makan beliau mengucapkan: ‘Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi ghairu makfiyyin wa la muwadda’in wa la mustaghnan ‘anhu rabbuna.’ Artinya: ‘Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak lagi baik lagi diberkahi di dalamnya; pujian yang tidak dapat digantikan, tidak dapat ditinggalkan, dan tidak dapat dipisahkan dari Rabb kami.’” (HR. Bukhari no.5458).

    Baca juga: Kumpulan Contoh Ceramah Singkat tentang Jujur Beserta Dalilnya

    2. Membaca Al-Quran dan Hadis

    Membaca ayat Al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan nikmat-nikmat Allah SWT, seperti surat Ar-Rahman, surat An-Nahl, surat Luqman, dan lain-lain.

    Dengan membaca ayat Al-Quran dan hadis tersebut, kita akan menyadari betapa banyak dan beragam nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat. Seperti yang tertuang di dalam ayat berikut ini, Allah SWT berfirman:

    وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Bacaan latin: Wa in ta’uddụ ni’matallāhi lā tuḥṣụhā, innallāha lagafụrur raḥīm.

    Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).

    Dan Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Barangsiapa bangun pagi dalam keadaan aman di negerinya, sehat badannya, ada makanannya untuk hari itu maka seolah-olah dia memiliki seluruh dunia.’” (HR. Tirmidzi no.2346).

    3. Melaksanakan Sholat Lima Waktu

    Melaksanakan sholat lima waktu dengan khusyu’ dan tepat waktu juga menjadi salah satu cara bersyukur kepada Allah SWT.

    Seperti yang kita tahu bahwa sholat merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling utama dan paling dicintai Allah SWT.

    Dengan melaksanakan sholat lima waktu, kita menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat hidup, nikmat iman, nikmat kesehatan, nikmat waktu, dan nikmat-nikmat lainnya. Sebagaimana dalil-dalil di bawah ini. Allah SWT berfirman:

    فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ

    فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

    Bacaan latin: Fa iżā qaḍaitumuṣ-ṣalāta fażkurullāha qiyāmaw wa qu’ụdaw wa ‘alā junụbikum, fa iżaṭma`nantum fa aqīmuṣ-ṣalāh, innaṣ-ṣalāta kānat ‘alal-mu`minīna kitābam mauqụtā.

    Artinya: “Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103).

    Dan Nabi Muhammad SAW bersabda:

    Artinya: “Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Sholat yang paling dicintai oleh Allah adalah sholat Daud AS. Dia tidur setengah malam, bangun sepertiga malam lalu tidur lagi seperenam malam. Dan puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Daud AS. Dia berpuasa sehari dan berbuka sehari.’” (HR. Bukhari no.1131).

    4. Berdoa Kepada Allah SWT

    Cara yang selanjutnya adalah berdoa kepada Allah SWT dengan memuji-Nya terlebih dahulu, lalu memohon apa yang kita butuhkan atau inginkan, baik di dunia maupun di akhirat.

    Berdoa adalah salah satu bentuk komunikasi antara hamba dan Rabbnya. Dengan berdoa, kita mengakui bahwa hanya Allah SWT yang maha kuasa atas segala sesuatu, dan hanya Dia yang bisa memberikan apa yang kita minta.

    Hal tersebut sebagaimana yang tercantum di dalam ayat di bawah ini, Allah SWT berfirman:

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ

    جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

    Bacaan latin: Wa qāla rabbukumud’ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna ‘an ‘ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn.

    Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60).

    Dan Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak ada dosa dan tidak ada pemutusan silaturahmi di dalamnya melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal berikut: atau doanya dikabulkan, atau disimpan untuknya di akhirat, atau dijauhkan darinya kejahatan yang setara dengan doanya.’” (HR. Ahmad no.7677).

    Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    5. Bersedekah Kepada Orang-Orang yang Membutuhkan

    Seperti bersedekah kepada fakir miskin, yatim piatu, janda, musafir, dan lain-lain. Adapun yang dimaksud dengan bersedekah adalah salah satu bentuk ibadah yang paling mulia dan paling disukai Allah SWT.

    Dengan bersedekah, kita menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat harta, nikmat rezeki, nikmat kemampuan, dan nikmat-nikmat lainnya. Sebagaimana beberapa dalil di bawah ini, yaitu:

    مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ

    سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

    Bacaan latin: Maṡalullażīna yunfiqụna amwālahum fī sabīlillāhi kamaṡali ḥabbatin ambatat sab’a sanābila fī kulli sumbulatim mi`atu ḥabbah, wallāhu yuḍā’ifu limay yasyā`, wallāhu wāsi’un ‘alīm.

    Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

    Dan Nabi Muhammad SAW bersabda:

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Setiap pagi ada dua malaikat turun ke bumi. Salah satunya berkata: ‘Ya Allah berikanlah ganti bagi orang-orang yang menafkahkan hartanya.’ Sedangkan malaikat yang lain berkata: ‘Ya Allah binasakanlah harta orang-orang yang kikir.’” (HR. Bukhari no.1374).

    6. Bersabar dalam Menghadapi Cobaan dan Ujian dari Allah SWT

    Seperti bersabar merasakan sakit, musibah, kesulitan, kegagalan, dan lain-lain. Bersabar adalah salah satu sifat yang paling dicintai Allah SWT.

    Dengan bersabar, kita menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat imtihan (ujian), nikmat sabar (kesabaran), nikmat tawakkal (berserah diri), dan nikmat-nikmat lainnya. Hal ini sesuai dengan ayat di bawah ini, Allah SWT berfirman:

    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ

    وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

    ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

    أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

    Bacaan latin: Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ’i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn. Allażīna iżā aṣābat-hum muṣībah, qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ụn. Ulā`ika ‘alaihim ṣalawātum mir rabbihim wa raḥmah, wa ulā`ika humul-muhtadụn.

    Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”. (QS. Al-Baqarah: 155-157).

    Dan Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kesusahan, kelelahan, penyakit, kesedihan, atau bahkan gangguan yang menimpanya, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573).

    7. Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

    Bershalawat kepada Nabi Muhammad dengan mengucapkan “sholallahu ‘alaihi wa sallam” setiap kali menyebut atau mendengar namanya.

    Bershalawat adalah salah satu bentuk penghormatan dan cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW, yang merupakan utusan Allah SWT dan teladan bagi kita semua.

    Dengan bershalawat, kita menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat risalah (kenabian), nikmat syafa’ah (pertolongan), nikmat sunnah (ajaran), dan nikmat-nikmat lainnya. Hal ini sebagaimana yang tercantum di dalam ayat berikut ini:

    إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ

    وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

    Bacaan latin: Innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ ‘alaihi wa sallimụ taslīmā.

    Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56).

    Dan Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

    8. Berakhlak Mulia

    Cara besyukur kepada Allah SWT yang terakhir adalah berakhlak mulia dalam pergaulan dengan sesama manusia, seperti berbuat baik, jujur, adil, sopan, santun, dan lain-lain.

    Seperti yang kita tahu bahwa berakhlak mulia adalah salah satu bentuk ibadah yang paling penting dan paling berpengaruh.

    Dengan berakhlak mulia, kita menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat akal, nikmat fitrah, nikmat hidayah (petunjuk), dan nikmat-nikmat lainnya. Seperti beberapa dalil di bawah ini:

    وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

    Bacaan latin: Wa innaka la’alā khuluqin ‘aẓīm.

    Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qalam: 4).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT menganjurkan kita untuk memiliki akhlak mulia yang sempurna dan menjadi teladan bagi kita semua.

    Dan Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Sesungguhnya tiada lain aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang baik.” (HR. Ahmad).

    Hadis di atas menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama kenabian Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengajarkan dan memberikan contoh akhlak mulia kepada umat manusia.

    7 Manfaat Bersyukur Kepada Allah SWT

    Bersyukur kepada Allah SWT memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah:

    • Menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
    • Mendapatkan ridha dan rahmat Allah SWT.
    • Menjauhkan dari sikap kufur dan nifak.
    • Menambah kebahagiaan dan ketenangan hati.
    • Mendapatkan keberkahan dan kemudahan dalam segala urusan.
    • Menjauhkan dari bala dan musibah.
    • Mendapatkan pahala dan ganjaran di akhirat.

    4 Tanda Seseorang yang Tidak Bersyukur Kepada Allah SWT

    Meskipun, bersyukur kepada Allah SWT merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Namun, tidak semua orang memiliki rasa syukur yang tinggi. Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang tidak bersyukur kepada Allah SWT, antara lain:

    1. Tidak menerima kekurangan

    Orang yang tidak bersyukur cenderung merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya, dan selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari orang lain.

    Orang yang seperti ini tidak akan menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan bahwa Allah SWT telah memberikan nikmat sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing.

    2. Selalu mengeluh dalam segala hal

    Baik itu mengeluh tentang kondisi pribadi, lingkungan, masyarakat, atau negara. Orang yang tidak bersyukur cenderung melihat segala sesuatu dari sisi negatifnya saja, dan tidak mau melihat sisi positifnya.

    Orang yang seperti ini tidak akan menyadari bahwa setiap ujian dan cobaan yang datang dari Allah SWT adalah untuk menguji iman dan kesabaran mereka, dan bahwa ada hikmah di balik setiap musibah.

    3. Pamrih

    Alih-alih membantu orang lain karena ikhlas dan mencari ridha Allah, namun sebaliknya, yaitu mengharapkan imbalan dari orang yang sudah ditolong.

    Orang yang tidak bersyukur cenderung berbuat baik hanya karena motif tertentu, seperti ingin dipuji, dihormati, atau dibalas oleh orang lain.

    Orang yang seperti ini tidak akan menyadari bahwa berbuat baik kepada sesama adalah salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT, dan bahwa pahala dari Allah SWT lebih besar dan lebih abadi daripada pujian atau balasan dari manusia.

    4. Bersikap pesimis dan tidak berharap baik kepada Allah

    Orang yang tidak bersyukur cenderung merasa putus asa dan tidak percaya bahwa Allah SWT akan memberikan jalan keluar atau solusi untuk setiap masalah yang dihadapi.

    Orang yang seperti ini tidak akan menyadari bahwa Allah SWT adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan bahwa Allah SWT tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuannya.

    Itulah 8 cara bersyukur kepada Allah SWT yang bisa kita lakukan. Sesungguhnya jika kita bersyukur, Allah SWT akan tambah nikmat yang kita dapatkan.

  • Cara Mendidik Anak dalam Islam Sesuai Syariat

    Cara Mendidik Anak dalam Islam Sesuai Syariat

    Anak merupakan karunia dari Allah SWT sebagai amanah sekaligus ujian bagi hamba-Nya yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.  Karena itu, sangat penting untuk mempersiapkan bekal yang matang termasuk ilmu parenting serta cara mendidik anak dalam Islam.

    Ada beragam teknik pengasuhan yang bisa dipilih orangtua untuk mendidik anak-anak, salah satunya mendidik sesuai ajaran Islam. Dengan mendidik anak sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW, diharapkan si kecil dapat memiliki akhlak yang baik dan siap bersaing di masa depan.

    Rasulullah SAW mencontohkan cara mendidik anak laki-laki dengan rasa sayang dan penuh kesabran. Tidak membentak, tetapi tegas dalam urusan agama. Penasaran dengan cara mendidik anak lainnya? Simak uraiannya di bawah ini.

    Cara Mendidik Anak dalam Islam

    Pada dasarnya, cara mendidik anak secara umum semuanya sama, yakni mengajarkan kebaikan serta nilai-nilai Islami agar ia menuju ke jalan yang lebih baik.

    Namun, akan lebih baik jika memberikan pemahaman mengenai ajaran agama Islam lebih dini. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada pemberian dari seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama daripada pendidikan tata krama yang baik (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

    Dalam hadits tersebut menjelaskan bahwa dalam Islam, orang tua memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak untuk dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berakhlak mulia.

    Agar saat dewasa, anak tidak mudah goyah akan prinsip beragama, orang tua wajib memberikan pondasi yang kuat mengenai nilai-nilai agama sejak usia dini. Yang dimaksud anak usia dini disini yakni rentang 0-8 tahun.

    Mendidik anak secara Islami pada anak usia dini merupakan waktu yang paling tepat, sebab usia dini menjadi periode kritis dalam perkembangan anak. Selan itu, pada usia tersebut, anak akan sangat mudah meniru dan terpengaruh oleh lingkungan sekitar.

    Sehingga, hal ini dapat memberikan pengaruh positif pada karakter anak dan moral anak sebagai generasi muslim unggul kemudian hari.

    Berikut beberapa cara mendidik anak dalam Islam:

    1. Memperdengarkan Al-Qur’an

    Cara mendidik anak dalam Islam selanjutnya yakni dengan memperdengarkan Al-Qur’an. Sebab waktu terbaik untuk mulai memperkenalkan dan mendengarkan Al-Qur’an bukanlah saat baligh atau ketika sudah mampu untuk membaca maupun menulis.

    Namun, akan lebih baik untuk memulainya sejak si kecil berada di dalam kandungan dengan cara kedua orang tua secara rutin mengaji atau memutar ayat-ayat Al-Qur’an.

    Cara ini tidak hanya membuat si kecil terbiasa dengan firman-firman Allah, namun juga memberikan rasa tenang dan Insyallah akan mendatangkan keberkahan.

    Baca juga: Bacaan Sholawat Badar Arab Latin dan Artinya

    2. Mengajarkan Dasar-dasar Ilmu Agama

    Wajib bagi orang tua muslim untuk memberikan dasar-dasar agama untuk anak sejak kecil. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa mengajarkan anak di usia dini menjadi pondasi kehidupan seorang anak di masa depan.

    Kitab Al-Amali dari Imam Al-Baqir dan Imam ash Shadiq, menjelaskan tahap-tahap awal mengenalkan anak pada Allah SWT.

    Diterangkan bahwa, saat anak berusia 3 tahun, ajarkan kalimat Tauhid “Laila Ha Illallah” sebanyak 7 kali. Kemudian, ketika anak menginjak usia 3 tahun 7 bulan, ajarkanlah kalimat “Muhammadar Rasulullah”.

    Dalam sebuah hadits disebutkan, “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat Lailaha-illaallah. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, Lailaha-illallah. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya Lailaha-illallah, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (H.R Ibnu Abbas)

    3. Mengajarkan Sholat dan Memberikan Contoh

    Dalam Islam, sholat merupakan tiang agama yang wajib dilakukan seorang muslim sebagai bekal di akherat kelak. Dan wajib pula hukumnya untuk orang tua muslim untuk mengajarkan tata cara sholat dan memberikan contoh sholat.

    Pada usia dini, anak adalah peniru segala yang dilakukan oleh orang tua, sehingga akan mudah untuk memberikan contoh kepada anak mengenai sholat. Untuk memulai mengajarkan tata cara sholat, bisa dilakukan dengan hal sederhana seperti mengenalkan gerakannya dan cara berwudhu.

    Dan teruslah untuk memberi contoh baik secara nyata kepada anak dalam kehidupan sehari-hari dan mengajaknya untuk ikut andil di dalamnya. Mengajarkan sholat pada anak juga telah diterangkan dalam sebuah hadist yang artinya,

    Suruhlah anak-anakmu salat ketika berumur tujuh tahun, pukulah mereka jika meninggalkannya setelah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

    4. Mengajarkan Ibadah Puasa

    Cara mendidik anak dalam Islam selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk mengenal salah satu rukun Islam yakni ibadah puasa.

    Orang tua dapat memulainya dengan mengajarkan si kecil berpuasa setengah hari, bila belum mampu. Apabila dirasa sudah mampu, lalu biasakan untuk berpuasa hingga waktu berbuka.

    Diriwayatkan dari Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz, salah satu perempuan shalehah sahabat rasul.

    Ia berkata: “Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    5. Ajarkan Tauhid

    Orang tua wajib untuk mengajarkan anaknya mengenai tauhid, yakni ilmu yang menyatakan mengenai keesaan Allah SWT. Orang tua dapat memulainya dengan menjelaskan kepada anak bahwa Allah itu tunggal dan tidak boleh disekutukan.

    Menanamkan tauhid sejak dini bertujuan untuk membentuk pribadi yang berakhlak baik dan menjadi muslim tangguh di masa depan kelak.

    Hal ini turut dijelaskan pada salah satu firman Allah SWT, yakni QS. Al-Luqman 13:

    وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

    Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, “hai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan merupakan kezaliman yang besar (QS. Al-Luqman: 13).

    6. Mengajarkan Akhlak Mulia dan Berbakti pada Orang Tua

    Dalam Islam, kebaikan seorang muslim dinilai dari dua hal, yakni agama dan akhlaknya. Oleh sebab itu, ajarkanlah nilai-nilai kebaikan kepada anak.

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

    Selain itu, berbakti pada orang tua juga merupakan hal yang harus dibiasakan sejak kecil.

    Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam cara bicara maupun duduk daripada Fathimah.

    ” ‘Aisyah berkata lagi, “Biasanya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Fathimah datang, beliau mengucapkan selamat datang padanya.

    Lalu berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian beliau menggamit tangannya hingga beliau dudukkan Fathimah di tempat duduk beliau.

    Begitu pula apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang padanya, maka Fathimah mengucapkan selamat datang pada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggandeng tangannya, lalu menciumnya.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani).

    Baca juga: 7+ Contoh Ceramah Singkat tentang Ikhlas dalam Islam

    7.  Membiasakan Bertutur Kata Lembut

    Cara mendidik anak dalam Islam kali ini tidak hanya disebutkan sebagai suatu teori, namun perlu dipraktikan langsung oleh kedua orang tuanya. Jadilah orang tua yang bertutur kata lembut, bijaksana dan memberikan pelajaran lewat kasih sayang.

    Menurut ajaran Nabi Muhammad SAW, mengajarkan bahwa anak memiliki hak untuk memperoleh kasih sayang, namun tidak mengesampingkan kesalahan anak. Sehingga apabila anak melakukan hal yang menyipang agama, orang tua patut mengajaknya kembali ke jalan yang benar.

    Dan jika perlu, berikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan fatal seperti meninggalkan sholat dan kewajiban muslim lainnya. Namun, perlu diingat bahwa hukuman yang diberikan tidak boleh berupa siksaan fisik atau kata-kata kasar.

    8. Ajarkan Adab

    Anjuran mendidik anak dalam Islam menurut Rasulullah SAW yakni mengajarkan mengenai adab yang baik. Dalam Islam, adab tidak hanya diartikan sebagai sikap terpuji kepada sesama manusia, namun juga pada diri sendiri.

    Berikut beberapa contoh adab:

    • Makan maupun minum harus sambil duduk, tidak boleh berdiri.
    • Makan dan minum dengan tangan kanan.
    • Berdoa sebelum dan sesudah makan.
    • Tidak diperbolehkan mencela makanan, meski tidak enak atau tidak selera.
    • Jangan masuk ke rumah orang lain tanpa seizin yang memiliki rumah.
    • Buang hajat harus di tempat yang tertutup dan mengawali dengan membaca doa sebelum masuk ke toilet.
    • Tidak diperbolehkan membaca ayat Al-Qur’an di dalam toilet.
    • Saling menyapa dan mengucap salam saat bertemu dengan sesama Muslim.
    • Jika mendapat undangan, maka usahakan untuk datang.
    • Menjenguk orang sakit.
    • Jika sudah baligh, tidak boleh tidur malam sebelum solat isya’, dan disarankan untuk berwudhu sebelum tidur.
    • Baca doa sebelum dan saat bangun tidur.

    9. Ajarkan Sikap Sederhana

    Salah satu sikap Rasulullah SAW yang dapat menjadi teladan bagi si kecil adala hidup dengan sederhana. Meski beliau sudah terjamin masuk surg, namun Rasul tidak pernah tinggi hati, angkuh maupun sombong. Bahkan saking cintanya dengan umatnya, beliau memanggil umatnya beberapa kali dalam sakaratul mautnya.

    Ajarkanlah kepada si kecil untuk hidup sederhana, tidak sombong, tidak suka memamerkan harta, tidak membeli apapun secara berlebihan dan mengajarkan rasa syukur.

    10. Mengajarkan Pendidikan Seksual Sedini Mungkin

    Cara mendidik anak dalam Islam satu ini sering kali luput untuk dilakukan, dewasa ini banyak sekali kasus hamil diluar nikah sebab tidak adanya pengenalan gender sedini mungkin.

    Orang tua harus mengajarkan perbedaan anak laki-laki dan perempuan serta batasan apa saja yang perlu ada di antara keduanya. Misal, mengajarkan area-area pribadi dan tidak diperbolehkan untuk terlalu dekat dengan lawan jenis meski belum baligh sekalipun.

    Nah, itulah dia cara mendidik anak dalam Islam, semoga bermanfaat dan bisa diterapkan ke anak-anak ya!

  • Kisah Nabi Ayub AS, Teladan Kesabaran terhadap Ujian

    Kisah Nabi Ayub AS, Teladan Kesabaran terhadap Ujian

    Allah SWT melalui Al-Qur’an telah menceritakan beberapa kisah nabi dan rasul sebagai pembelajaran bagi kita. Kisah-kisah ini memberikan inspirasi, meningkatkan iman, dan memberikan petunjuk. Salah satunya kisah Nabi Ayub yang diuji kesabarannya.

    Nabi Ayub terkenal dengan kesabarannya yang luar biasa. Awalnya, Nabi Ayyub a.s. sehat, memiliki harta berlimpah, keluarga, dan banyak keturunan.

    Namun, semua yang dimilikinya diambil satu per satu oleh Allah sebagai bentuk ujian Nabi Ayub.

    Kisah Nabi Ayub, Sabar Menghadapi Ujian yang Luar Biasa

    Allah berkehendak untuk menurunkan ujian kepada hamba-Nya, tidak terkecuali Nabi dan Rasul-Nya. Pada Nabi Ayub, Allah mendatangkan ujian berupa penyakit menular dan kehilangan harta benda serta keluarganya. 

    Bagaimana Nabi Ayub dengan penuh kesabaran menghadapi ujian dari Allah SWT? Berikut kisah ujian yang dihadapi Nabi Ayub a.s.:

    1. Hilangnya Harta Kekayaan

    Ayah Nabi Ayub adalah seorang yang sangat kaya. Dia memiliki berbagai jenis hewan ternak seperti unta, sapi, kambing, kuda, dan keledai. Di wilayah Syam, tidak ada yang bisa menyamai kekayaannya. 

    Setelah ayahnya meninggal, seluruh kekayaannya diwariskan kepada Nabi Ayub. Akhirnya, Nabi Ayub pun merupakan orang yang kaya raya sekaligus dermawan.

    Nabi Ayub dipilih oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran kepada umatnya di daerah Hauran dan Tih. Selama misinya, ia menyampaikan berbagai syariat agama dan membangun masjid untuk kaumnya. 

    Di rumahnya, ia juga memiliki beberapa meja makan yang disediakan untuk fakir miskin, tamu, dan orang-orang yang membutuhkan. Ia senang melakukan perbuatan baik seperti membantu anak yatim, para janda, dan memuliakan setiap tamunya.

    Meskipun kekayaannya terus bertambah, Nabi Ayub tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Dia selalu berzikir dan menyebut nama Allah. 

    Namun, hal itu membuat iblis merasa cemburu dan akhirnya berusaha merusak kebahagiaan Nabi Ayub. Akhirnya iblis naik ke langit ke tujuh dan berkata kepada Allah

    “Tuhanku, sungguh Ayub rajin menyembah-Mu karena Engkau telah memberi keleluasaan hidup dan kesehatan. Kalau sekiranya tidak, tentu dia tidak akan menyembah-Mu.”

    Allah berfirman, “Hai, iblis terkutuk! Kamu pendusta, sesungguhnya Aku lebih mengetahui bahwa Ayub akan tetap menyembah dan bersyukur kepadaKu meskipun dia tidak mempunyai keleluasaan.”

    Mendengar hal tersebut, iblis hendak menggoda Nabi Ayub. Lalu, Allah memberikan izin kepada iblis untuk menguji kesabaran Nabi Ayub. Iblis mengumpulkan pasukan dan merusak rumah serta harta kekayaan Nabi Ayub. Segala kekayaannya tiba-tiba lenyap. 

    Ribuan hewan ternak yang dimilikinya mati secara mendadak. Sementara itu, gudang gandumnya habis terbakar, dan hasil panen dari kebunnya mengering. 

    Akibatnya, Nabi Ayub menjadi sangat miskin dan hidup dalam kesengsaraan. Bahkan, istrinya harus bekerja agar bisa membeli makanan dan merawat Nabi Ayub.

    Baca juga: 10 Dalil Mengenai Hukum Judi dalam Islam, Simak!

    2. Kehilangan Keturunan

    Kisah Nabi Ayub berlanjut saat iblis mulai mengancam nyawa anak-anaknya yang saat itu berada di rumah saudara tertuanya, Hurmula. Pada saat itu, iblis merusak rumah tersebut yang mengakibatkan kematian mereka semua.

    Atas kelakukan tersebut, iblis pun segera mendatangi Nabi Ayub. Lalu iblis berkata, “Hai, Ayyub, lihatlah! Tuhanmu telah merobohkan rumah anakmu hingga anak-anakmu mati. Apakah kamu masih tetap menyembah-Nya?”

    Nabi Ayub pun dengan tegas menjawab, “Hai, iblis terkutuk! Allah yang memberi saya, lalu mengambilnya pula dari saya. Semua harta dan anak adalah ujian bagi manusia. Sekarang Allah telah mengambilnya dari saya sehingga saya bisa bersabar dan tenang untuk beribadah kepada-Nya.”

    Seperti itulah Allah SWT menguji Nabi Ayub dengan ujian berupa kehilangan keturunannya.

    3. Menderita Penyakit Menular

    Dari kedua kisah Nabi Ayub mengenai ujiannya, ternyata iblis masih belum puas. Pada usia 51 tahun, Nabi Ayub diuji kesehatan fisiknya. Ia terserang penyakit kulit yang sangat parah yang menyebabkan keluarnya nanah dari seluruh tubuhnya. 

    Ujian penyakit menular yang diderita Nabi Ayub telah diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

    وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Wa ayyụba iż nādā rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta ar-ḥamur-rāḥimīn

    Artinya:

    “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya’: 83).

    Kabar tentang penyakitnya tersebar. Akhirnya Nabi Ayub diasingkan. Cobaan ini berlangsung selama 18 tahun, tetapi Nabi Ayub tidak pernah mengeluh. 

    Ia terus bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Bersamaan dengan itu, Nabi Ayub juga terus berusaha dan berobat untuk mencari penyembuhan dari penyakitnya.

    Pada saat menderita penyakit ini, Nabi Ayub hanya tinggal berdua bersama istrinya di pinggiran negeri. Istri Nabi Ayub merupakan contoh istri yang baik. Bahkan ketika suaminya bangkrut dan menderita sakit, ia tetap setia mendampinginya.

    Sang istri berkata kepada Nabi Ayub, “Wahai kekasih Allah, sudah 18 tahun engkau tidak pernah berdakwah lagi. Bagaimana jika engkau meminta kepada Allah untuk menyembuhkan penyakitmu, lalu engkau bisa pergi berdakwah lagi.”

    Mendengar hal tersebut, Nabi Ayub enggan meminta kesembuhan kepada Allah. Nabi Ayub merasa malu lantaran ia mendapat nikmat sehat yang lebih lama daripada saat diberi cobaan sakit selama 18 tahun itu.

    Namun, pada suatu ketika Nabi Ayub akhirnya berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi kesembuhan. Allah menjawab doa Nabi Ayub melalui firman-Nya sebagai berikut.

    ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

    Urkuḍ birijlik, hāżā mugtasalum bāriduw wa syarāb

    Artinya: 

    “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (Q.S Shad: 42).

    Allah memancarkan air, Nabi Ayub kemudian mandi dengan air tersebut. Setelah mandi, ia sembuh dan kondisi fisiknya bahkah jauh lebih baik dari sebelumnya. Hal ini dijelaskan juga dalam Al-Qur’an berikut:

    وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

    Wa wahabnā lahū ahlahụ wa miṡlahum ma’ahum raḥmatam minnā wa żikrā li`ulil-albāb

    Artinya: 

    “Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S Shad: 43).

    Lalu Allah SWT meminta Nabi Ayub berjalan keluar sehingga masyarakat melihat bahwa ia sudah sembuh. Esok paginya, masyarakat beramai-ramai membawakannya hadiah. Alhasil, kekayaan Nabi Ayub dikatakan lebih banyak daripada 20 tahun lalu.

    Baca juga: Hukum Menjual Najis, Tinja, Lele yang Makan Tinja, dan Pupuk Kandang

    Hikmah Ujian Nabi Ayub

    Apa saja yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ayub tersebut? Setidaknya ada tiga hal penting yaitu sebagai berikut.

    1. Sabar dalam Menghadapi Cobaan

    Nabi Ayub dikatakan merupakan manusia paling sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Selama 18 tahun ia menderita penyakit menular ditambah kehilangan keluarga serta jatuh miskin. 

    Kesabaran Nabi Ayub bahkan diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

    وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَٰهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

    Wa khuż biyadika ḍigṡan faḍrib bihī wa lā taḥnaṡ, innā wajadnāhu ṣābirā, ni’mal-‘abd, innahū awwāb

    Artinya: 

    “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Q.S Shad: 44).

    Kesabaran Nabi Ayub ditunjukkan dengan sikap tidak mengeluh, tidak bersedih, dan tidak berputus asa. Bahkan, Nabi Ayub semakin mendekatkan diri dengan terus bermunajat kepada Allah SWT. 

    Dari kisah Nabi Ayub pun kita bisa mengambil pelajaran. Jika sabar menghadapi musibah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. 

    2. Ujian Datang sesuai Tingkat Ketakwaan

    Setiap individu akan mendapat ujian sesuai tingkat keimanannya. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin berat pula ujian yang mereka hadapi. Ujian ini adalah cara untuk mengukur dan memahami sejauh mana tingkat keimanan kita.

    Saat menghadapi ujian, ada empat tingkat reaksi manusia. Pertama, yang lemah, mereka cenderung mengeluh kepada orang lain dan tidak mampu menghadapi ujian dengan ketenangan. 

    Kedua, yang bersabar. Mereka menerima ujian dengan ketenangan dan sadar bahwa memang manusia pasti mendapat ujian. Ketiga, yang merasa ridha. Tingkat keimanan lebih tinggi daripada bersabar. Mereka menerima ujian dengan penuh keikhlasan. 

    Terakhir, orang-orang yang bersyukur yaitu mereka yang mampu melihat suatu musibah sebagai anugerah. Mereka bersyukur atas pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan melalui ujian tersebut.

    Bagi para nabi, ujian yang diberikan Allah SWT memang berat. Namun, yang pasti Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuan kita.

    3. Berdoa kepada Allah SWT dengan Doa yang Baik

    Mendapat ujian tersebut tidak berarti Nabi Ayub menjadi berprasangka buruk. Melainkan sebaliknya, ia tetap berprasangka baik kepada Allah. Ia menyadari bahwa semua milik Allah dan akan diambil kapanpun sesuai kehendak-Nya.

    Sebagaimana dalam Surah Al-Anbiya ayat 83-84 dijelaskan doa Nabi Ayub kepada Allah SWT. Ia tidak henti berdoa untuk kesembuhannya. Meskipun awalnya Nabi Ayub malu lantaran lebih banyak nikmat yang Allah berikan daripada 18 tahun sakitnya.

    Demikian kisah Nabi Ayub. Perjalanan Nabi Ayub menguji kesabarannya yang sangat luar biasa dalam menghadapi ujian dari Allah SWT. Semoga kita dapat mengambil pelajaran berharga dan hikmah yang bisa kita terapkan.

  • Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Artikel ini akan membahas kisah nabi Saleh dan kaum Tsamud. Nabi Shaleh sendiri merupakan nabi kelima dari 25 nabi dan rasul. Ia diutus untuk mengajarkan kaum Tsamud yang ternyata masih menyembah berhala.

    Kaum Tsamud sendiri tinggal di kota Hijr, kira-kira antara Suriah dan Arab Saudi saat ini. Mereka memiliki kemajuan dalam teknologi pembangunan rumah megah memiliki kekayaan melimpah.

    Sayangnya, mereka justru menganggap berhala, lebih tepatnya patung buatan sendiri sebagai Tuhan. Tidak heran mereka sangat ingkar kepada Allah SWT. Suatu hari, seekor unta muncul. Nabi Shaleh menyuruh agar tidak membunuh unta itu.

    Jadi apakah munculnya seekor unta menjadi salah satu mukjizat Nabi Shaleh? Apakah kaum Tsamud akan sadar? Mari kita simak kisah Nabi Saleh singkat dan hikmah apa yang bisa dipetik.

    Ringkasan Kisah Nabi Saleh

    Memahami kisah dari Nabi Saleh, bisa membantu kita memahami bagaimana perjuangan serta apa saja hikmah yang bisa diperoleh dari kisahnya. Lebih lengkapnya, bisa cek di sini: 

    Nabi Saleh dan Kaum Tsamud

    Silsilah mengatakan bahwa Nabi Shaleh merupakan keturunan Nabi Nuh. Hal ini karena ayah dari Nabi Shaleh sendiri adalah Ubaid bin Jabir bin Tsamud bin Amr Bin Hisyam bin Sam Bin Nuh Alaihissalam.

    Kita melihat Tsamud dalam nama asli ayah Nabi Saleh, “Ubaid bin Jabir bin Tsamud”, artinya Tsamud memiliki keterkaitan dengan Nabi Nuh. Tsamud sendiri berasal dari keturunan kaum Ad yang beriman, lebih tepatnya kaum Nabi Hud.

    Kita harus ingat bahwa kaum Ad menjadi kaum yang menggantikan kaum Bani Rasib atau kaum Nabi Nuh. Kaum Bani Rasib sendiri binasa akibat banjir besar yang hanya menyisakan sedikit manusia.

    Kaum Ad, yaitu keturunan Sam bin Nuh, justru kembali menyembah berhala dan menjadi angkuh. Mereka menolak ajaran Nabi Hud untuk kembali menyembah Allah. Akhirnya, Allah timpakan azab berupa angin topan sangat dingin pada mereka.

    Nabi Hud dan semua orang beriman selamat karena berlindung di sebuah lembah. Setelah itu, mereka hijrah ke Hadramaut untuk memulai awal yang baru. Sementara orang-orang kafir justru binasa sampai tidak bersisa.

    Menurut penjelasan dari Ibnu Katsir, tempat tinggal kaum Ad yang selamat itu merupakan Al-Hijr. Kaum ini menjadi kaum Tsamud atau kaum Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439).

    Tentunya, kaum Tsamud memiliki keterkaitan dengan kisah nabi saleh lengkap dari lahir sampai wafat. Apa yang terjadi pada kaum Tsamud tidak jauh berbeda dari kaum Ad?

    Baca juga: 10 Kata Cinta untuk Suami dalam Islam, Romantis!

    Kaum Tsamud sebagai Kaum Ad yang Kedua

    Pada awal dari kisah Nabi Saleh, kaum Tsamud memiliki beberapa nikmat yang sangat menguntungkan. Mereka pandai mengolah tanah subur dan memiliki kekayaan melimpah dari hasil ternak serta panen.

    Tidak hanya itu, mereka juga maju dalam teknologi pembangunan. Mereka bisa mendirikan banyak bangunan dan rumah sangat megah dari tanah rata. Bangunan-bangunan itu sangat kokoh seperti istana.

    Dari situ, kita bisa lihat kaum Tsamud dalam kisah Nabi Saleh sangat menikmati kehidupan tenteram dan mewah. Mereka juga merasa aman dari segala gangguan alamiah.

    Akan tetapi, kemewahan itu justru menjauhkan mereka dari Allah SWT. Mereka akhirnya kembali menyembah dan memuja berhala. Hal ini tidak jauh dari apa yang kaum Ad lakukan.

    Menyembah berhala bukan satu-satunya hal keji yang mereka lakukan. Perbuatan maksiat lain sangat tidak asing bagi kaum Tsamud. Mereka sering sekali menindas orang miskin di tengah-tengah mereka.

    Kisah Nabi Saleh Mendapat Tugas Mendakwahi Kaum Tsamud

    Nabi Shaleh sendiri merupakan salah satu di antara kaum Tsamud. Ia sangat sedih melihat kaumnya menganggap berhala sebagai Tuhan. Saat ia dewasa, Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan menyuruh agar mereka kembali beriman.

    Munculnya Nabi Shaleh sebagai utusan Allah SWT juga menjadi pembahasan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

    Artinya:

    “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61).

    Nabi Shaleh juga ingin kaumnya selalu bersyukur karena memiliki berbagai nikmat yang mereka sangat senangi. Perkataannya menjadi abadi sebagai ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

    Artinya:

    “Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74).

    Kaum Tsamud Menolak Ajakan Nabi Shaleh

    Seperti yang kita ketahui dari kisah Nabi Saleh dan kaum Tsamud, Nabi Shaleh justru mendapat penolakan dari kaumnya sendiri. Penolakan tersebut tentu tercantum dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

    Artinya:

    “Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Q.S Hud: 62).

    Dari ayat Al-Qur’an ini, terlihat kaum Tsamud benar-benar angkuh. Mereka mempertanyakan, menolak, dan mengolok-olok Nabi Shaleh sebagai utusan Allah. Mereka justru tetap bersikukuh untuk menyembah berhala yang mereka buat sendiri.

    Suatu hari, kaum Tsamud menjadi sangat bosan dengan ajakan Nabi Shaleh. Mereka meminta dirinya untuk menunjukkan sebuah bukti kebenaran rasulnya. Ini menjadi awal dari satu lagi momen terpenting dalam cerita kisah nabi Saleh.

    Unta sebagai Bukti Mukjizat Nabi Shaleh

    Menanggapi permintaan kaum Tsamud, Nabi Shaleh berdoa secara khusyuk pada Allah SWT agar mendatangkan sebuah keajaiban. Allah SWT pun mengabulkan permohonannya itu.

    Setelah itu, Nabi Shaleh mengajak kaumnya untuk pergi ke sebuah kaki gunung. Kaum yang kafir itu justru berharap dirinya tidak bisa membuktikan sebuah keajaiban tersebut.

    Sebelumnya, mereka meminta seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil kembar 10 bulan dari sebongkah batu besar sebagai bukti mukjizat dari Nabi Shaleh. Jika benar-benar keluar, mereka akan beriman.

    Permintaan itu justru menjadi kenyataan, mengejutkan kaum Tsamud yang kafir. Seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil keluar dari sebongkah batu besar yang terbelah jadi dua di kaki gunung, persis seperti harapan mereka.

    Momen ini menjadi awal dari kisah Nabi Saleh dan untanya. Semuanya sangat terpana. Ironisnya, sebagian besar justru ingkar janji karena tidak percaya. Sebagian kecil dari kaum itu justru beriman.

    Nabi Shaleh kemudian memberi pesan secara spesifik. Ia meminta kaum Tsamud agar menjaga unta itu baik-baik. Selebihnya, ia juga berharap agar mereka tidak membunuh unta tersebut.

    Terlebih, ia juga mengatakan susu dari unta itu tidak akan habis-habis. Setidaknya, unta tersebut berhak bebas berkeliaran dan meminum air sumur bergantian dengan penduduk.

    Unta itu menjadi bagian dari momen penting kisah Nabi Saleh dan kaumnya. Pasalnya, kaum Tsamud harus tinggal berdampingan dengan unta tersebut sebagai janji pada Nabi Shaleh.

    Kaum Tsamud Membunuh Unta Mukjizat Nabi Shaleh

    Ironisnya, sebagian besar kaum Tsamud justru merasa jengkel dengan kehadiran unta itu. Binatang tersebut justru mengambil minum dari air sumur mereka. Mereka merasa ia merebut bagian dari sumur berisi air minum tersebut.

    Memasuki hari ketiga kemunculannya, unta tersebut akhirnya melahirkan seekor anak. Tetapi hal ini justru semakin membuat murka kaum Tsamud dan memicu sebuah siasat.

    Mereka menyelenggarakan sebuah sayembara untuk melancarkan siasat itu. Siapapun yang berani membunuh unta nabi Shaleh bisa mendapat sebuah hadiah besar. Secara spesifik, hadiah itu merupakan seorang gadis cantik yang akan dinikahi.

    Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif menjadi dua pemuda yang berani membunuh unta itu. Unta tersebut akhirnya mati di tangan Mushadda dan Gudar saat ia sedang berjalan menuju sumur. Ini menjadi akhir dari kisah nabi Saleh dan unta.

    Lantas apa yang terjadi dengan anak untanya? Ia kembali masuk ke dalam batu yang pernah mengeluarkan induknya itu.

    Nabi Shaleh sangat murka setelah untanya terbunuh. Kemudian, ia mendatangi kaumnya itu untuk memperingatkan bahwa azab akan datang dalam tiga hari. Sebagaimana yang tercantum pada ayat Al-Qur’an berikut:

    فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوب

    Artinya:

    “Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: ‘Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan’.” (QS. Hud: 65).

    Azab dari Allah SWT untuk Kaum Tsamud

    Kisah Nabi Saleh berlanjut setelah kaum Tsamud mendapat peringatan azab dalam tiga hari setelah membunuh seekor unta. Tiga hari itu menjadi kesempatan bagi mereka agar mereka ingin bertaubat pada Allah dan benar-benar menyesal.

    Sebaliknya, mereka tetap menolak bertaubat. Pada saat yang sama, mereka juga merasa takut dengan perkataan yang terucap Nabi Shaleh. Oleh karena itu, terdapat sekelompok orang kafir yang membuat siasat untuk membunuh Nabi Shaleh.

    Malamnya, mereka tiba rumah Nabi Shaleh untuk membunuhnya. Naas, mereka justru mendapat azab dari Allah berupa hujan batu hingga kepala pecah sebelum niat itu tercapai.

    Akhirnya, tiga hari pun berlalu. Kaum Tsamud yang kafir mendapat azab sesuai janji Nabi Shaleh. Allah memberi mereka siksaan berupa gempa bumi dahsyat dan petir menggelegar. Hanya Nabi Shaleh dan orang-orang beriman yang selamat.

    فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

    Artinya:

    “Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66).

    Semua orang kafir dari kaum Tsamud akhirnya mati dan binasa. Nabi Shaleh sempat mendatangi mayat-mayat itu. Reaksi perkataannya menjadi abadi dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

    Artinya:

    “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)

    Inilah menjadi akhir dari kaum Tsamud dari kisah Nabi Saleh.

    Hikmah dari Kisah Nabi Saleh

    Kisah kaum Tsamud yang ingkar pada ajaran Nabi Shaleh tentu mengingatkan kita akan kekuasaan Allah SWT. Terdapat pula beberapa hikmah yang bisa ambil sebagai berikut:

    1. Selalu Bersyukur

    Berdasarkan kisah Nabi Saleh yang telah kita pahami bersama, hikmah pertama memang sudah tidak asing lagi, yaitu selalu bersyukur. Kafirnya kaum Tsamud menjadi pertanda sangat tidak bersyukur dengan kekayaan yang mereka miliki.

    Dari hal ini, kita harus tahu bahwa semua ciptaan di dunia ini adalah ciptaan Allah. Tentunya, seluruh hal yang kita miliki di dunia menjadi tanda kebesaran Allah.

    2. Tidak Sombong

    Penolakan kaum Tsamud terhadap ajaran Nabi Shaleh tentu sudah menjadi pertanda bahwa mereka sombong. Kita bisa lihat mereka juga menantang Nabi Shaleh untuk membuktikan bahwa mukjizat benar-benar nyata.

    Hal ini termasuk menjadi durhaka pada Allah SWT. Kisah Nabi Saleh dan kaumnya mengingatkan agar kita selalu mendengarkan perintah para nabi dan rasul-Nya.

    3. Tidak Ingkar Janji

    Dari cerita singkat kisah Nabi Saleh, bahwa kaum Tsamud mengingkari janji. Lebih tepatnya, sebagian besar dari mereka masih menolak beriman. Bahkan tanpa ragu sekalipun mereka sampai membunuh unta ajaib dari mukjizat Nabi Shaleh.

    Peristiwa terbunuhnya unta itu dan azab pada kaum Tsamud menjadi pengingat bahwa kita harus selalu menepati janji sesuai kesepakatan. Jika tidak, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.

    Demikianlah pembahasan kisah Nabi Saleh dan mukjizatnya.

  • Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Ibnu Taimiyah merupakan figur yang menarik banyak perhatian. Beliau adalah seorang ulama besar yang terkenal sebagai sosok kontroversial.

    Beliau disebut sebagai ulama paling cerdas pada masanya. Bahkan, belum ada yang menyamai beliau dalam hal hafalan, ilmu, dan amalan. Hasil pemikiran Ibnu Taimiyah menjadi warisan yang sangat berarti bagi umat Islam.

    Mari kita kenali lebih lanjut tentang sosok Ibnu Taimiyah.

    Masa Muda Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah bernama Syaikhul Islam Al Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi.

    Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 661 H, di Haron. Negeri tersebut terletak di antara negeri Syam dan Iraq.

    Saat berusia 7 tahun, beliau dan ayahnya pindah ke Damaskus untuk melarikan diri dari pasukan Tartar. Pasukan tersebut berasal dari bangsa Mongol yang memerangi kaum muslimin.

    Ibnu Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang kaya akan ilmu, fiqih, serta agama. Pasalnya, ayah, saudara, kakek, dan banyak dari paman beliau merupakan ulama terkenal.

    Salah satunya yaitu kakek pertama beliau, Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyyah Majdud Diin yang menuliskan Al Muntaqo min Al Ahadits Al Ahkam dan banyak kitab lainnya.

    Berkat lingkungan tersebut, beliau pun dapat menuntut ilmu sejak dini dari ayahnya. Beliau juga telah hafal Al-Qur’an pada usia sebelum baligh.

    Selain itu, Ibnu Taimiyah juga menuntut ilmu dari ulama-ulama Damaskus. Kecerdasan dan kemampuan hafalannya yang luar biasa juga terlihat sejak usia belia.

    Beliau pun mempelajari hadits, fiqih, tafsir, dan ilmu ushul. Ibnu Taimiyah mendalami berbagai ilmu secara intensif, sehingga telah diakui ulama sejak usia muda. Bahkan Beliau sudah memenuhi syarat memberi fatwa pada usia 17 tahun.

    Pada usia itu pula Ibnu Taimiyah mulai menyusun kitab untuk pertama kalinya. Kemudian pada usia 22 tahun, Beliau mulai mengajar hadits di Damaskus. Setahun setelahnya, beliau juga mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Umayyah.

    Baca juga: Sholat Tahiyatul Masjid: Niat, Tata Cara dan Waktu Pelaksanaanya

    Karya Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah tidak menikah maupun memiliki wanita. Hal ini bukan karena beliau tidak menyukai pernikahan, melainkan karena kesibukan dalam memperdalam ilmu, berdakwah, mengajar, serta berjihad.

    Seakan tidak pernah puas dengan ilmu, Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk membaca, menelaah, dan meneliti.

    Berkat dedikasinya yang tinggi dalam belajar, beliau pun mampu menguasai berbagai macam ilmu, baik ilmu agama, tasawuf, logika, komparasi agama, hingga filsafat.

    Ibnu Taimiyah merupakan penulis yang sangat produktif. Bahkan dikatakan bahwa beliau mampu menghasilkan empat buku tiap harinya. Total jumlah tulisan yang Beliau hasilkan diperkirakan mencapai 500 jilid dengan 4.000 buku tulis atau lebih.

    Dalam sejarah Islam, belum pernah didapati orang yang menulis karya ilmiah sepertinya.

    Salah satu muridnya, al-Hafidh al-Mizzi, juga mengatakan bahwa tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengan beliau semenjak empat ratus tahun yang lalu.

    Selama menulis buku-bukunya, beliau senantiasa mengambil dari hafalan. Teknik menulisnya pun sangat mahir dan cepat.

    Sehingga hasil tulisannya sangat sempurna, baik dari penulisan, susunan pembahasan, serta adanya hujjah dan dalil pendukung.

    Berikut beberapa karya dari Ibnu Taimiyah:

    • Dar’u At-Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql: Teologi
    • Minhaj al-Sunna: Teologi Syiah
    • Al-Raad ‘ala al-Mantiqiyyin: Filsafat
    • Al-Hisba fi al-Islam: Bidang Ekonomi
    • Al-Siyasa al-Shar’iyya: Politik

    Ibnu Taimiyah menyampaikan pemikiran yang mengkritik pemahaman yang kurang sesuai dalam berbagai bidang keilmuan, seperti teologi, filsafat, dan sufiisme. Beliau juga memberikan kritikan tegas terhadap kaum Syiah dan Kristen.

    Sifat-Sifat Ibnu Taimiyah

    Selain kecerdasan dan luasnya ilmu, Allah SWT mengaruniai Ibnu Taimiyah dengan sifat-sifat terpuji.

    Kehidupan sehari-hari beliau dipenuhi dengan kesungguhan untuk memperdalam ilmu. Sampai-sampai dikatakan bahwa beliau selalu berada di antara tumpukan kitab.

    Karena selalu menyibukkan diri dalam keilmuan, Beliau tidak pernah menghabiskan waktu untuk bersenda gurau, maupun perbuatan tercela seperti menggunjing dan mengadu domba.

    Di samping giat belajar, Beliau sering beribadah dan membaca Al-Qur’an. Ulama jenius ini juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan suka membantu.

    Beliau adalah sosok yang wara’ dan zuhud, hingga hampir tidak memiliki kesenangan dunia kecuali kebutuhan pokok. Meskipun biasa mendapatkan banyak harta, beliau biasa menginfakkan seluruhnya.

    Selain itu, Beliau dikenal sebagai sosok yang karismatik dan keras dalam membela kebenaran.

    Ibnu Taimiyah sering kali ditawari untuk menjadi pejabat atau pemimpin. Namun, beliau menolaknya sembari berkata, “Carilah orang lain yang lebih cocok.”

    Sementara, ketika berhadapan dengan penguasa, beliau sering kali memberikan nasehat untuk melakukan amal ma’ruf dan menghindari perbuatan mungkar.

    Sejarah mencatat peran besar Beliau dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah seperti yang terjadi peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan.

    Jihad Ibnu Taimiyah

    Kebanyakan orang mengenal Ibnu Taimiyah sebagai ulama, ahli fatwa, dan penulis melalui karya-karyanya. Padahal, Beliau juga memiliki banyak sikap terpuji lain, bahkan ikut berjihad untuk membela Islam.

    Beliau berjihad dengan pedang maupun keilmuan. Ibnu Taiminyah ikut turun ke medan perang sambil menunggang kuda dan mengangkat pedang untuk membela kaum muslimin.

    Banyak orang yang menyaksikan kelihaian dan keberanian beliau dalam perang penaklukkan kota ‘Ukka.

    Selain itu, beliau menggunakan pemahaman agama dan keilmuannya untuk berjihad melalui pena dan lisan. Terkadang melalui perdebatan langsung, terkadang melalui tulisan.

    Disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah berdiri di depan musuh-musuh Islam bak gunung yang kokoh. Adapun musuh Islam yang dimaksud meliputi penganut berbagai agama, isme yang bathil, aliran, dan ahlul bid’ah.

    Beliau telah menghancurkan syubhat (racun pemikiran) dan mengembalikan tipu daya mereka.

    Bantahan dan kitab-kitab beliau merupakan senjata terkuat dalam menghadapi firqoh sesat dan isme yang merusak yang banyak beredar di antara masyarakat.

    Terlebih lagi, Ibnu Taimiyah hidup pada masa yang mana banyak isme batil berkuasa. Bid’ah dan kesesatan pun merebak di mana-mana.

    Ketika itu kaum muslimin juga tenah diperangi oleh pasukan Salib dan pasukan Tartar.

    Beliau telah disakiti, diusir, diperangi, dan dipenjara berkali-kali selama berdakwah. Bahkan Beliau menghadapi ajal ketika berada dalam penjara Al-Qol’ah di Damaskus.

    Wafatnya Ibnu Taimiyah

    Sudah disebutkan sebelumnya, Ibnu Taimiyah meninggal dalam keadaan dipenjara, yaitu pada malam Senin, 20 Dzulqo’dah 728 Hijriah di penjara Al Qol’ah, Damaskus.

    Saat pemakaman Beliau, seluruh penduduk Damaskus dan sekitarnya datang untuk menyolati dan mengiring jenazah. Banyak sumber mencatatkan bahwa jumlah orang yang menghadiri pemakaman beliau sangat besar.

    Hal ini menunjukkan bagaimana orang-orang merasakan kehilangan seorang ahli sunnah. Selain itu, Ibnu Taimiyah yang bersifat terpuji dan suka membantu memang sangat disukai oleh semua kalangan.

    Demikianlah kisah Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang disebut-sebut sebagai sosok jenius. Hingga sekarang pun karya-karya beliau masih memberikan banyak manfaat bagi umat Islam.

  • Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Penyebaran Islam di Nusantara bukan tanpa sebab. Ada sejumlah tokoh agama yang turut ikut dalam menyebarkan agama Islam di nusantara. Di antaranya yang cukup populer di kalangan masyarakat yakni Sunan Kalijaga.

    Sunan Kalijaga merupakan bagian dari 9 wali yang berdakwah menyebarkan agama Islam di Nusantara. 

    Perjalanan hidupnya secara turun temurun dikisahkan, baik melalui lisan maupun dengan tulisan. Kisah 9 wali yang syarat akan perjuangan dan karomah ini juga menjadi inspirasi dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam.

    Kisah Hidup Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Memiliki nama asli Raden Mas Said. Meski berasal dari Jawa Timur, beliau berdakwah dan menyebarkan agama Islam di wilayah Demak, Jawa Tengah. 

    Sunan Kalijaga cukup tersohor di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan, namanya tersebar hampir ke seluruh wilayah di Nusantara. Namanya sering ada dalam cerita sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa.

    1. Menurut Buku Atlas Walisongo (2017)

    Misalnya dalam buku Atlas Walisongo (2017) karya Agus Sunyoto. Buku tersebut menceritakan biografi dan perjalanan para Wali salah satunya Sunan Kalijaga yang merupakan putra dari Bupati atau Tumenggung Tuban Arya Wilatikta. 

    Selain dikenal dengan nama Raden Mas Said, Sunan Kalijaga juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Syaikh Melaya, Raden Abdurrahman, Lokajaya, hingga Ki Dalang Sida Brangti. 

    Kisah Sunan Kalijaga juga ada dalam ebook Sejarah Kebudayaan Islam oleh Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida. 

    Tahun kelahiran Sunan Kalijaga masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

    Baca juga: Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    2. Menurut Buku Sunan Kalijaga 

    Namun, di dalam buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karya Yoyok Rahayu. Menyebutkan bahwa Raden Said lahir sekitar tahun 1450 M. 

    Meski menjadi wali saat dewasa, cerita hidup Raden Said kecil justru tidak lazim. Diantara para wali lainnya menghabiskan masa kecil di pesantren, Raden Said kecil justru berjudi, meminum arak, dan mencuri. 

    Akibat Perilakunya tersebut, keluarga Raden Said yang merupakan keluarga terpandang, harus menanggung malu. Alhasil keluarga mengusirnya dari rumah. Kenakalan Raden Said justru semakin menjadi, hingga merampok dan membunuh.

    3. Menurut Serat Walisana Asmarandana Pupuh XIX

    Kisah kelam masa kecil Raden Said ini, termuat dalam Serat Walisana dalam Asmaradana Pupuh XIX. 

    Hingga pada suatu waktu, Raden Said Mencuri di rumah salah seorang lelaki tua yang ternyata beliau adalah Sunan Bonang. Alih-alih merampok, pertemuannya dengan Sunan Bonang justru membuat Raden Said bertaubat.

    Dari sinilah awal mula, Raden Said belajar tentang agama Islam dan kemudian ikut berdakwah dan menyebarkannya. 

    4. Menurut Buku Mengenal 9 Wali (2018)

    Sebenarnya masa kelam Raden Said sebagai seorang pencuri bukan tanpa sebab. Dalam buku Mengenal 9 Wali (2018) karya Susilarini menyebutkan tindakan Raden Said itu bentuk penolakan terhadap ketimpangan di Tuban.

    Para petani kecil dan rakyat jelata tercekik karena kemarau panjang yang melanda. Sementara pemerintah kadipaten justru menarik pajak yang besar kepada mereka. 

    Raden Said kemudian mencuri harta pungutan pajak tersebut, untuk dibagikan kepada para petani dan rakyat jelata. Perbuatan ini, ia sadari sebagai perbuatan yang salah setelah bertemu dengan Sunan Bonang.

    Raden Said yang memiliki nama lain Sunan Kalijaga, menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga sendiri menggunakan media seni dan kebudayaan. 

    Oleh karena itu, penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga cukup berhasil dengan menggunakan cara yang halus. Tidak langsung berdakwah mengajak untuk masuk Islam, tapi melalui media kebudayaan.

    Masyarakat saat itu, masih sangat kental dengan seni dan kebudayaan daerah masing-masing. Terlebih pulau Jawa yang memiliki banyak seni dan budaya. Dari sisi inilah Sunan Kalijaga masuk dan berdakwa untuk mengenalkan Islam.

    Baca juga: Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Asal Julukan Sunan Kalijaga?

    Nama Sunan Kalijaga berasal dari sebuah dusun yang terletak di daerah Cirebon yakni Dusun Kalijaga. Pasalnya Sunan Kalijaga yang juga merupakan sahabat Sunan Gunung Jati pernah tinggal dan menetap di sana.

    Namun, statement ini muncul di kalangan masyarakat yang sering mengaitkan nama seseorang dengan nama daerah. 

    Muncul banyak versi mengenai julukan Sunan Kalijaga sendiri. Ada juga yang menyebutkan julukan Sunan Kalijaga karena ia pernah bertapa di tepi sungai selama bertahun-tahun.

    Gurunya sendiri yakni Sunan Bonang, yang memintanya untuk menjaga tongkat yang ditancapkan di pinggir kali. Oleh karena itu, ia mendapat julukan “Kali Jogo”. Hingga saat ini julukan tersebut melekat.

    Kisah Cinta Sunan Kalijaga

    Banyak kisah yang menyebutkan kalau Sunan Kalijaga pernah menikah dengan Nyi Roro Kidul. Kisah ini bermula saat Sunan Kalijaga melawan Prabu Siliwangi. 

    Prabu Siliwangi terkenal sakti saat melawan pasukan kerajaan Cirebon. Tidak satupun utusan kerajaan cirebon yang dapat menandingi kesaktian Prabu Siliwangi. Bahkan, Pangeran Arya Kemuning dan Dewi Nyimas Gandasari.

    Sunan Kalijaga yang saat itu menjadi murid Sunan Gunung Jati, meminta saran kepada gurunya itu. Kemudian, Sang Guru mendapat petunjuk untuk melawan Prabu Siliwangi, ia harus menggunakan Tombak Karera Reksa.

    Sebuah tombak sakti yang milik Dewi Nawang Wulan atau Nyi Roro Kidul. Tanpa berpikir panjang, Sunan Kalijaga berangkat untuk meminjam Tombak Karera Reksa tersebut.

    Setelah menemui sang Ratu Pantai Selatan, Sunan Kalijaga justru meminta untuk bertemu dengan Raja Panatagama sebutan bagi Raja Cirebon saat itu.

    Pasalnya, sang Dewi Nawang Wulan memiliki rasa terhadap Sunan Kalijaga. Ia pun berkata tidak akan memberikan tombak itu pada siapapun kecuali pada suaminya. 

    Lantaran sang Guru memerintahkan untuk mendapatkan tombak tersebut, Sunan Kalijaga akhirnya menikah dengan Dewi Nawang Wulan. Dengan pusaka tersebut akhirnya Sunan Kalijaga dapat mengalahkan kesaktian Prabu Siliwangi.

    Akhir cerita, Sunan Kalijaga tidak hanya mengalahkan Prabu Siliwangi. Akan tetapi, ia juga yang mengantarkan Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam.

    Silsilah Sunan Kalijaga

    Mengenai silsilah Sunan Kalijaga ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa ia merupakan keturunan arab. Ada juga yang menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga keturunan cina, serta ada yang mengatakan keturunan jawa asli.

    Di dalam Babad Tuban, kakek Sunan Kalijaga bernama Aria Teja yang memiliki nama asli Abdurrahman. Kemudian Abdurrahman menikahi putri Adipati Tuban, Aria Dikara. 

    Abdurrahman menggantikan mertuanya sebagai Adipati Tuban dan berganti nama menjadi Aria Teja. Dari pernikahannya, mereka memiliki anak bernama Aria Wilatikta. 

    Di dalam buku Le Hadhramaut et les Colonies Arabies dans l’Archipel Indien” (1886), menyebutkan kalau Sunan Kalijaga merupakan keturunan arab. 

    Garis silsilah tersebut, mengatakan Sunan Kalijaga memiliki keturunan yang berasal dari paman Nabi Muhammad Abbas bin Abdul Muthalib. Hal ini diperkuat oleh H.J., Dee Graaf yang membenarkan Babad Tuban. 

    Kisah Wafatnya Sunan Kalijaga

    Dari berbagai sumber tidak ada yang pasti kapan wafatnya Sunan Kalijaga. Namun, para ahli sejarah mengatakan beliau wafat sekitar tahun 1580 M. Para ahli mengatakan ia wafat karena menderita sakit. 

    Sementara itu, makam Sunan Kalijaga juga masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa makam Sunan Kalijaga berada di Demak Jawa Tengah dan ada pendapat lain yang mengatakan makannya berada di Cirebon, Jawa Barat. 

    Namun, meski ada dua pendapat yang berbeda. Umumnya orang yang ingin berziarah, mengunjungi makam Sunan Kalijaga yang berlokasi di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. 

    Media Dakwah Sunan Kalijaga

    Apa saja media dakwah yang pernah digunakan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam, berikut rangkumannya:

    1. Seni Suara

    Sebagai seorang yang juga menggemari seni. Sunan Kalijaga mahir menyanyikan dan menciptakan tembang. Salah satu tembang ciptaannya yang masih populer hingga saat ini adalah Lir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.

    Dalam setiap tembang yang tercipta. Beliau selalu menyelipkan dakwah dan syiar agama. Bahkan beberapa liriknya juga terdapat sholawat yang sangat merdu berpadu dengan nada jawa. 

    Dari caranya yang halus dan nyaman, banyak orang yang tertarik untuk ikut belajar agama Islam. Bahkan mereka berbondong-bondong untuk memeluk agama Islam.

    2. Seni Wayang

    Media berikutnya yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwa yakni wayang. Wayang sendiri merupakan kesenian khas jawa, yang terbuat dari kulit kerbau yang keringkan. 

    Kemudian wayang ini berbentuk menyerupai beberapa tokoh atau peran, dalam cerita pewayangan. Kisah pewayangan umumnya berasal dari cerita Hindu atau Buddha.

    Namun, Sunan Kalijaga menyelipkan nilai keIslaman dalam pertunjukan wayangnya. Pertunjukan yang ia gelar juga tanpa memungut biaya, yang tentunya menjadi hiburan gratis dan menarik banyak perhatian masyarakat.

    Dengan banyak menyelipkan sentuhan Islam dalam tokoh maupun cerita, Sunan Kalijaga berhasil membuat masyarakat jawa banyak masuk Islam. Sehingga, saat pertunjukan selesai banyak masyarakat yang mengucap dua kalimat syahadat.

    Baca juga: Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    3. Seni Ukir

    Sunan Kalijaga tidak pernah kehabisan ide untuk berdakwah dengan cara-cara yang halus. Ia menggunakan berbagai macam media kesenian, salah satunya adalah seni ukir.

    Sebagai orang jawa yang memiliki bakat seni, ia memanfaatkan bakatnya tersebut untuk menyebarkan agama Islam. Ia mengenalkan seni ukir yang melafadzkan ayat-ayat Al-Quran atau sentuhan indah tentang Islam lainnya. 

    Cara ini berhasil mengenalkan Islam lebih luas. Bahkan, dari seni ukir ini kisah atau perjuangan Sunan Kalijaga bisa terekam dengan jelas hingga saat ini. 

    4. Seni Berpakaian

    Media seni berikutnya yakni seni berpakaian. Orang Jawa jaman dulu tidak mengenal yang namanya aurat. Para wanita biasanya hanya mengenakan kemben. Hadirnya Sunan Kalijaga kemudian memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat.

    Selain mengajarkan tentang pentingnya menutup aurat bagi wanita, Sunan Kalijaga juga mengenalkan pakai batik dan pakaian takwa. Ia bahkan menciptakan motif batiknya sendiri. 

    Pakaian takwa adalah pakaian yang menutupi ketentuan aurat laki-laki. Perpaduan dengan pakaian khas jawa, gaya berpakaian Sunan Kalijaga masih sangat populer hingga saat ini. 

    Karomah Sunan Kalijaga

    Selain terkenal sebagai seorang wali yang melakukan pendekatan Islam dengan penuh toleransi, Sunan Kalijaga juga dikenal seorang wali yang memiliki banyak karomah. Berikut beberapa karomah atau hal mulia yang ia lakukan:

    1. Sholat Jumat di Tempat yang Berbeda

    Salah satu murid kesayangan Sunan Bonang ini, memiliki karomah pernah sholat jumat di tempat yang berbeda dalam satu waktu. Hal seperti ini mungkin terlihat mustahil bagi orang awam, tapi tidak bagi seorang wali seperti Sunan Kalijaga.

    Namun, banyak saksi mata yang mengatakan hal ini benar terjadi. Sunan Kalijaga pernah sholat jumat di lokasi yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, konon katanya ia pernah sholat di Jawa dan di Makkah dalam satu waktu.

    2. Tidak Mempan Dibakar

    Kisah Nabi Ibrahim A.S yang berselisih dengan Raja Namrud, sehingga Nabi Ibrahim haru menjalani hukuman dibakar hidup-hidup. Namun, api sama sekali tidak membakar kulit Nabi Allah Ibrahim A.S.

    Hal semacam itu, juga pernah terjadi pada Wali Sunan Kalijaga. Cerita ini bermula pada suatu waktu ketika Sunan Kalijaga perintahkan seorang ratu untuk menjadi imam sholat. Ia justru diam seperti patung.

    Karena tindakannya yang dianggap melecehkan agama. Sunan Kalijaga dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Akan tetapi, api tidak bisa membakar Sunan Kalijaga hingga sang ratu tau bahwa orang yang tengah dihukumnya adalah sunan Kalijaga.

    Sang ratu kemudian meminta maaf. Kisah ini merupakan kisah perjalanan Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi santri tua bernama Kyai Marbot.

    3. Berjalan di atas Air

    Sunan Kalijaga yang dulunya bernama Raden Mas Said merupakan seorang yang senang bertapa. Ia pernah bertapa di tepi sungai. Saat bertapa, Raden Mas Said menghabiskan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

    Menurut cerita dari mulut ke mulut, banyak masyarakat yang melihat kesaktian dan karomah Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga ini. Ia mampu berjalan di atas air tanpa alat bantu apapun.

    4. Mengubah Tanah jadi Emas

    Karomah Sunan Kalijaga yang berikutnya yakni mengubah tanah jadi emas. Kisah ini terjadi saat Sunan Kalijaga melawan Ki Pandan Arang II. Saat itu, Ki Pandan Arang II diangkat menjadi Adipati. 

    Namun, kekuasaan membuatnya lupa diri dan merasa paling hebat. Bahkan, Sunan Kalijaga yang mengingatkan keangkuhannya tak dihiraukan. Hingga, Sunan Kalijaga menunjukkan karomahnya.

    Ia mengubah setiap tanah yang dicangkulnya menjadi sebongkah emas. Hal ini untuk menyadarkan Ki Pandan kalau dunia tidak ada apa-apanya. Akhirnya Ki Pandan tersadar dan langsung bertaubat. Cerita ini berasal dari mulut ke mulut.

    5. Mengubah Pasir jadi Beras

    Ketika terjadi kelaparan di sebuah dusun. Sunan Kalijaga kembali menunjukkan karomahnya. Semua kesaktian dan karomahnya ia gunakan dalam jalan kebaikan. Salah satunya adalah memberantas kelaparan di dusun tersebut.

    Ia sangat sedih melihat banyak rakyat yang kelaparan, sementara itu kepala dusun justru hidup mewah. Saat seorang warga datang untuk meminjam beras untuk makan pada sanga kepala dusun, ia menghina dan memberinya pasir.

    Sunan Kalijaga yang mengetahui hal tersebut, merasa sedih dan geram terhadap tingkah pemimpin itu. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Sunan Kalijaga kemudian mengubah sekarung pasir itu menjadi beras.

    Sekali lagi, bagi kaum muslimin hanya menjadikan cerita ini sebagai cerita leluhur saja. Karena sejatinya hanya nabi dan rasul yang bisa kita percayai mempunyai mukjizat.

    6. Bertapa dalam Waktu Lama

    Karomah Sunan Kalijaga yang lainnya dan cukup populer yakni mampu bertapa dalam waktu lama. Ia bertapa dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mencari jawaban atas pertanyaan dalam hatinya. 

    Selain itu, ia bertapa untuk meneguhkan hatinya dalam menyebarkan agama Islam. Sehingga banyak hal yang ia dapatkan dari pertapaan. Sekali bertapa ia bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun.

    Di zaman yang sudah serba modern ini, kisah tentang para wali sudah jarang sekali diminati. Banyak anak muda yang lebih menggandrungi artis-artis luar negeri daripada tokoh perjuangan seperti Sunan Kalijaga.  

    Kisah perjalanan hidup serta perjuangan Sunan Kalijaga bisa menjadi teladan. Keteguhan hati dalam menyebarkan agama Islam dan menebarkan kebaikan. Selain itu, sifat-sifat terpuji Sunan Kalijaga juga dapat menjadi contoh.

    Beberapa karomah yang belum bisa dibuktikan secara nyata, cukuplah hanya menjadi sebuah cerita. Bagi kita kaum muslimin, tetap memberikan ruang bahwa bisa jadi cerita-cerita karomah di atas hanya sebatas bahasa “syair” atau “kiasan” untuk menggambarkan kesalehan seorang Sunan Kalijaga. Wallahu a’lam bishawab.

  • Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Nabi Luth merupakan nabi ke-7 dari total 25 nabi dan rasul yang wajib diimani oleh umat Islam. Kisah Nabi Luth yang paling terkenal adalah tentang kaumnya, yaitu Sodom, yang mendapatkan azab dari Allah SWT karena perbuatan menyimpangnya.

    Kisah tersebut juga tercantum dalam Al-Qur’an sehingga bisa menjadi petunjuk bagi umat Islam atas kesalahan kaum terdahulunya. Dengan begitu, umat muslim tidak melakukan kesalahan yang sama sehingga terhindar dari murka Allah SWT.

    Lebih dari pada itu, kisah perjalanan Nabi Luth masih cukup panjang untuk menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun yang mengimaninya. Untuk itu, mari simak perjalanan Nabi Luth dalam menyampaikan ajaran Allah di kalangan kaum Sodom!

    Kisah Nabi Luth Diutus ke Kota Sodom

    Tidak banyak kisah yang membahas silsilah Nabi Luth a.s. secara terperinci, namun diketahui bahwa Ia merupakan keponakan dari Nabi Ibrahim a.s. Ayahnya bernama Haran bin Thareh merupakan saudara kandung dari Ibrahim.

    Haran bin Thareh sendiri memiliki saudara kembar bernama Nahar. Jika disimpulkan, garis keturunan Nabi Luth adalah Luth bin Haran, bin Azara bin Nahar, bin Suruj bin Ra’u, bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

    Sementara itu, Nabi Luth memiliki istri bernama Wali’ah dan telah dikaruniai dua orang anak perempuan bernama Raitsa dan Zaghrata. 

    Kisah Nabi Luth sebelum diutus oleh Allah SWT sebagai nabi, sempat ikut bersama pamannya Ibrahim dari Mesir untuk menuju kembali ke Kota Syam. Luth a.s. adalah satu dari sebagian kecil kaum Nabi Ibrahim yang beriman dan bersedia mengikutinya.

    Saat itu, Nabi Ibrahim bersama pengikutnya kembali ke Kota Syam untuk melanjutkan bisnisnya. Sampai akhirnya, Allah SWT mengangkat Luth sebagai nabi dan memerintahkannya untuk tinggal dan menetap di Kota Shadum (Sodom).

    Hal ini juga tercantum dalam Al Qur’an QS. Al-A’raf ayat 80-81:

    وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

    Artinya:

    Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”

    إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

    Innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

    Kaum Sodom dikenal sebagai bangsa yang gemar berbuat maksiat, suka meminum khamr, dan menyukai perbuatan zina. Akhlak mereka tergolong parah sehingga sangat sulit untuk dibenahi dan dituntun ke jalan yang lurus.

    Tidak ada adab di tempat ini, bahkan kasus pencurian juga merupakan hal yang biasa terjadi. Salah satu perbuatan zina yang menjadi ciri khas kaum Sodom adalah berhubungan seks dengan sesama jenis atau perilaku homoseksual.

    Perbuatan ini tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang saja, tetapi hampir seluruh penduduk kota baik pria ataupun wanita. Kota Sodom sendiri berada di pusat perdagangan sehingga banyak pedagang yang dirampok ketika melewatinya.

    Jika para musafir yang hendak berdagang berwajah tampan, maka mereka akan diculik dan dipaksa bersetubuh oleh para laki-laki. Jika dirasa kurang tampan, maka mereka akan dibunuh dan dicuri harta bendanya.

    Sebaliknya, jika musafir tersebut adalah perempuan, maka mereka akan menjadi mangsa dari para wanita kaum sodom. Seperti inilah gambaran perilaku tak bermoral dari para kaum sodom, baik laki-laki maupun perempuan di zaman itu.

    Hal ini menggambarkan betapa buruknya akhlak dari para penduduk kaum Sodom. Bahkan, keburukan akhlak tersebut terjadi di hampir seluruh penduduknya sehingga Allah mengancam akan mengazabnya.

    Baca juga: 13 Manfaat Sholat Hajat agar Dikabulkan Keinginan dan Harapan

    Kisah Nabi Luth dan Azab bagi Kaum Sodom

    Perjalanan dakwah Nabi Luth a.s. di tengah-tengah kaum Sodom bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak pertentangan yang justru Ia dapatkan dari bangsa Sodom. Bahkan, para kaum Sodom akan mengusirnya jika terus berdakwah pada mereka.

    Hal ini seperti disebutkan dalam Al Qur’an, Surat Al-A’raf ayat 82:

    وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓا۟ أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

    Wa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijụhum ming qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharụn

    Artinya:

    Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”.

    Ayat di atas menggambarkan respon dari kaum Sodom atas dakwah yang disampaikan Nabi Luth. Padahal, kewajiban mereka adalah membenarkan status kenabian Luth a.s., mematuhi semua perintahnya, dan juga menjalankan seruannya.

    Kisah Nabi Luth dan pembangkangan kaum Sodom tersebut juga diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’ara ayat 160-167:

    وَلَمَّا جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَّقَالَ هٰذَا يَوْمٌ عَصِيْبٌ وَجَاۤءَهٗ قَوْمُهٗ يُهْرَعُوْنَ اِلَيْهِۗ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۗ قَالَ يٰقَوْمِ هٰٓؤُلَاۤءِ بَنَاتِيْ هُنَّ اَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ فِيْ ضَيْفِيْۗ اَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَّشِيْدٌ قَالُوْا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِيْ بَنٰتِكَ مِنْ حَقٍّۚ وَاِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيْدُ قَالَ لَوْ اَنَّ لِيْ بِكُمْ قُوَّةً اَوْ اٰوِيْٓ اِلٰى رُكْنٍ شَدِيْدٍ قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْ ۗاِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ

    Każżabat qaumu lụṭinil-mursalīn. Iż qāla lahum akhụhum lụṭun alā tattaqụn. Innī lakum rasụlun amīn. Fattaqullāha wa aṭī’ụn. Wa mā as`alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn. A ta`tụnaż-żukrāna minal-‘ālamīn. Wa tażarụna mā khalaqa lakum rabbukum min azwājikum, bal antum qaumun ‘ādụn. Qālụ la`il lam tantahi yā lụṭu latakụnanna minal-mukhrajīn

    Artinya: 

    Kaum Luth telah mendustakan para rasul – (QS. Asy-Syu’ara ayat 160).

    Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? – (QS. Asy-Syu’ara ayat 161).

    “Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 162).

    “Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 163).

    “Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari tuhan semesta alam” (QS. Asy-Syu’ara ayat 164).

    “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)?” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 165).

    “Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 166).

    Mereka menjawab, “Wahai Luth, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 167).

    Seketika itu, Nabi Luth pun berdoa kepada Allah SWT untuk memberi azab kepada kaum Sodom. Hingga akhirnya, Allah mengirimkan tiga malaikat ke bumi untuk memberikan azab kepada kaum Nabi Luth tersebut.

    1. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Ibrahim

    Sebelum menemui Luth a.s., ketiga malaikat yang diutus Allah tersebut terlebih dahulu mendatangi Nabi Ibrahim. Mereka hendak memberi kabar gembira akan kelahiran Nabi Ishaq sekaligus mengabarkan bahwa mereka adalah para malaikat utusan Allah.

    Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Az-Zariyat ayat 24-35. Di situ dikisahkan bahwasanya suatu hari Nabi Ibrahim kedatangan tiga orang yang belum pernah Ia kenal sebelumnya. Ketiga orang tersebut tiba-tiba saja datang dan masuk ke rumahnya.

    Usai menjawab salam, Ibrahim pun mempersilakan mereka untuk masuk dan duduk. Nabi Ibrahim yang belum menyadari bahwa mereka adalah malaikat, lantas meminta istrinya untuk menghidangkan daging anak sapi gemuk yang telah dibakar.

    Akan tetapi, ketiga orang tersebut sama sekali tak menghiraukan daging sapi yang telah dihidangkan dan hanya diam. Mendapati hal tersebut, Ibrahim merasa takut lantara para tamu tersebut tak belum dikenalnya dan tak menghiraukan hidangannya.

    Melihat Ibrahim yang ketakutan, ketiga orang tersebut lantas memberitahunya agar jangan takut karena kedatangan mereka adalah sebagai malaikat utusan Allah yang membawa kabar gembira, yaitu kabar kehamilan istrinya atas anak bernama Ishaq.

    Mendengar itu, istri Nabi Ibrahim lantas menepuk mukanya sendiri dan mengatakan bahwa Ia adalah wanita tua yang mandul. Lalu, malaikat menjawab bahwa apa yang mereka sampaikan adalah dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

    Lebih lanjut, Ibrahim pun bertanya tentang apalagi urusan para malaikat tersebut. Malaikat menjawab bahwa mereka juga diutus untuk memberi azab suatu kaum, yaitu kaum Sodom yang telah melampaui batas.

    Ibrahim yang mendengar jawaban tersebut sontak memohon agar mereka menunda penurunan azab bagi kaum Sodom lantaran di sana terdapat keponakannya, yang tidak lain adalah Nabi Luth a.s. 

    Selain itu, Ia juga meminta mereka (para malaikat) untuk memberi kesempatan bilamana ada penduduk kaum Sodom yang bertobat. 

    Akan tetapi, malaikat menolaknya karena merekalah yang lebih tahu siapa yang ada di sana. Mereka juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan diselamatkan, termasuk Nabi Luth, pengikut, serta keluarganya, kecuali istrinya. 

    Hal itu lantaran istri Nabi Luth termasuk orang yang telah membangkang terhadap suaminya. Sampai akhirnya, pergilah para malaikat tadi ke Kota Sodom untuk menemui Nabi Luth dan menyampaikan maksud kedatangannya.

    2. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Luth

    Kisah Nabi Luth pun berlanjut hingga ketiga orang yang merupakan malaikat tadi hampir tiba di Kota Sodom. Di dalam perjalanannya tersebut, mereka bertemu dengan dua gadis cantik yang tidak lain adalah anak-anak dari Nabi Luth.

    Tiga pemuda (malaikat) tersebut lantas bertanya apakah mereka bisa diterima untuk bertamu di rumahnya. Kedua gadis tersebut tak berani untuk memberikan jawaban dan akan merundingkannya terlebih dahulu dengan keluarganya.

    Akhirnya, kedua anak Nabi Luth pun bergegas pulang ke rumah dan memberitahu ayahnya tentang kedatangan para tamu tersebut.

    Mendengar cerita dari kedua anaknya, Nabi Luth memutuskan untuk mau menerima ketiga pemuda tersebut. Ia juga berpesan kepada anak-anaknya agar merahasiakan kedatangan ketiga pemuda tadi dari penduduk di kaumnya.

    Akan tetapi, istri Nabi Luth yang mendengar percakapan tersebut lantas membocorkan kepada warga kaum Sodom. Para lelaki di sana yang buta akan hasrat seksual sesama jenis akhirnya datang ke rumah Luth a.s. untuk memuaskan nafsu mereka.

    Kisah Nabi Luth kembali berlanjut dengan para kaum Sodom yang datang untuk melampiaskan nafsunya terhadap tamu yang datang ke rumah Luth. Tak lama berselang, mereka pun tiba dan mulai menggedor-gedor rumah Nabi Luth.

    Mereka mengatakan kepada Nabi Luth bahwasanya mereka telah bersepakat jika dilarang membawa tamu masuk tanpa seizin penduduk kota. 

    Dalam keadaan terdesak dan demi melindungi tamunya, Nabi Luth pun menawarkan kepada penduduk agar sebaiknya menikahi saja putri-putrinya dan meninggalkan perilaku menyukai sesama jenis. Sayangnya, hal itu ditolak oleh penduduk.

    Sampai akhirnya, ketiga pemuda tadi (para malaikat) meminta Luth agar membuka pintu rumah selebar-lebarnya seraya memberitahu kepada Luth bahwa mereka adalah malaikat yang diutus oleh Allah SWT.

    Ketika orang-orang yang haus akan seks tersebut menginjakkan kakinya masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka. Hal itu lantaran malaikat telah membutakan mata mereka sehingga tidak mampu melihat apa pun di sekelilingnya.

    Para penduduk kaum Sodom pun membuat perhitungan kepada Luth dan akan datang kembali keesokan paginya. Lantas, para malaikat meminta Nabi Luth beserta keluarga dan pengikutnya untuk pergi meninggalkan Kota Sodom pada malam hari. 

    Malaikat juga memerintahkan agar tak seorang pun dari mereka ada yang menoleh ke belakang saat pergi meninggalkan kota tersebut. Setelah tiba malam hari, mereka pun bergegas meninggalkan Kota Sodom.

    Rombongan tersebut terdiri dari Nabi Luth dan keluarganya, termasuk istri dan kedua anaknya. Ada juga beberapa pengikut Nabi Luth yang beriman ikut dalam rombongan tersebut. 

    Saat sudah beranjak pergi, istri Nabi Luth justru menoleh dan berbalik ke arah kaumnya karena merasa tidak tega. Sementara rombongan Nabi Luth terus beranjak pergi meninggalkan kota yang penuh kemaksiatan tersebut.

    Seketika itu juga, tanah pun bergetar yang disusul dengan gempa bumi dahsyat. Batu-batu besar juga terus menghujani seluruh Kota Sodom tanpa sisa sehingga banyak mayat berhamburan di sana. Seketika itu juga, hancurlah Kota Sodom beserta isinya.

    Akan tetapi, sisa-sisa kehancuran kota tersebut tetap dijaga oleh Allah SWT sebagai pengingat bagi kaum-kaum setelahnya. Kisah Nabi Luth ini juga diabadikan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 73-76:

    فَاَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِيْنَۙ . فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ . اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ . وَاِنَّهَا لَبِسَبِيْلٍ مُّقِيْمٍ .

    Fa akhażat-humuṣ-ṣaiḥatu musyriqīn. Fa ja’alnā ‘āliyahā sāfilahā wa amṭarnā ‘alaihim ḥijāratam min sijjīl. Inna fī żālika la`āyātil lil-mutawassimīn. Wa innahā labisabīlim muqīm

    Artinya:

    “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sungguh, (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).”

    Itulah akhir dari kisah Nabi Luth beserta para kaumnya yang telah dibinasakan oleh Allah SWT melalui azab yang begitu dahsyat.

    Dari kisah di atas, dapat kita petik kesimpulan bahwasanya segala perbuatan kita di dunia hendaknya tidak melampaui batas. Kita harus senantiasa menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.

    Kisah di atas juga menegaskan bahwasanya kodrat sebagai laki-laki dan juga perempuan sudah jelas dan tidak ada penyimpangan di antaranya. Semoga kisah Nabi Luth di atas bisa mendatangkan manfaat untuk kita dan semua yang mengimaninya.