Tag: Inspirasi Islam

  • Mengenal Buraq, Kendaraan Nabi Muhammad SAW Saat Isra Mi’raj

    Mengenal Buraq, Kendaraan Nabi Muhammad SAW Saat Isra Mi’raj

    Isra Mi’raj adalah peristiwa bersejarah yang sangat penting dalam agama Islam. Salah satu elemen yang memainkan peran penting dalam perjalanan ini adalah kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam peristiwa tersebut, yaitu Buraq. 

    Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam yang luar biasa dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kemudian Rasulullah dibawa ke atas langit yang lebih tinggi untuk berjumpa dengan Allah SWT.

    Dalam artikel kali ini, kami akan menjelaskan dengan rinci tentang kendaraan yang ditumpangi oleh Rasulullah dan peran pentingnya dalam Isra Mi’raj. Untuk itu, mari simak bersama ulasan tentang kendaraan tercepat tersebut berikut ini!

    Mengenal Apa itu Buraq?

    Buraq adalah salah satu makhluk surgawi yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW selama peristiwa Isra Mi’raj berlangsung. Kata tersebut berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti “kilat” atau “cahaya”.

    Hal itu sesuai dengan kutipan buku tentang Isra’ Mi’raj dari Ibnu Hajar Al-Asqalani , Jalaluddin As-Suyuti, dan Fedrian Hasmand yang menyatakan bahwa kata “Buraq” merupakan turunan dari “al-barq” yang memiliki arti “kilauan”.

    Buraq sendiri digambarkan sebagai makhluk yang lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari kuda, dengan sayap seperti burung di punggungnya. Makhluk ini memiliki ciri khas bercahaya dan bergerak sangat cepat.

    Karena kecepatannya, peristiwa Isra’ Mi’raj yang memiliki jarak sangat jauh bisa selesai hanya dalam satu malam. Hal itu dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah, menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, lalu naik ke lapisan langit tertinggi.

    Sosok makhluk yang sangat cepat ini juga sempat dijelaskan dalam sebuah hadist. Rasulullah SAW bersabda:

    “Dibawakan kepadaku Buraq-sejenis hewan berwarna putih, tubuhnya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal (binatang hasil kawin silang antara kuda dengan keledai) yang langkah kakinya sejauh matanya memandang.”

    “Aku pun mengendarainya sampai tiba di Baitul Maqdis. Buraq itu kutambatkan dengan tali yang digunakan oleh para nabi (untuk menambatkan hewan tunggangan mereka). Kemudian aku masuk Masjidil Aqsha dan kudirikan shalat dua rakaat di sana.” 

    “Setelah aku keluar, Malaikat Jibril A.S membawakan ke hadapanku segelas arak dan segelas susu. Aku lantas memilih susu. Jibril pun berkata, “Engkau telah memilih fitrah.” Selanjutnya kami dinaikkan ke langit terdekat (pertama).”

    Dalam hadits lain riwayat Ma’mar dari Qatadah, dari Anas R.A. juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW sempat kesulitan saat ingin menaiki kendaraan ini:

    “Pada malam Isra`, Buraq dihadirkan kepada Rasulullah SAW dalam keadaan sudah dilengkapi pelana dan tali kekang. Tapi beliau kesulitan untuk menaikinya. Jibril pun berkata kepada Buraq, ‘Apa yang menyebabkan kamu bertingkah seperti ini?” 

    “Demi Allah! Tidak ada seorang pun yang mengendaraimu yang lebih mulia daripada dia (Nabi Muhammad SAW).’ Ia (Buraq) pun bersimbah keringat.”

    Tirmidzi meriwayatkan hadits di atas dan mengatakan bahwasanya hadist di atas hasan gharib. Sedangkan Ibnu Hibban menilai bahwa hadits tersebut adalah sahih.

    Peran Buraq dalam Isra Mi’raj

    Buraq memainkan peran yang sangat penting dalam peristiwa Isra Mi’raj. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Masjidil Aqsa setelah melakukan perjalanan dari Mekah dalam sekejap mata, kendaraan itulah yang membawanya ke langit lebih tinggi.

    Hewan tersebut merupakan alat transportasi surgawi yang memungkinkan Nabi Muhammad SAW untuk mencapai tempat-tempat suci dan mendekatkan diri dengan Allah SWT, bahkan hingga ke langit tertinggi sekalipun.

    Selama perjalanan Isra’ Mi’raj melalui berbagai lapisan langit, Nabi Muhammad SAW berhenti di beberapa tempat, bertemu dengan para nabi sebelumnya, dan menerima berbagai wahyu dari Allah SWT. 

    Salah satunya adalah pertemuannya dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya yang juga disebutkan dalam sebuah hadits:

    فَأَتَيْتُ عَلَى عِيسَى وَيَحْيَى، فَقَالاَ: مَرْحَبًا بِكَ مِنْ أَخٍ وَنَبِيٍّ.

    Artinya:

    “Lalu aku bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Maka keduanya berkata, ‘Selamat datang saudara dan Nabi.”

    Kendaraan tersebut juga membawa Nabi Muhammad SAW melalui tujuh langit dan akhirnya sampai ke Sidratul Muntaha, yang merupakan titik akhir dari perjalanan ini. Di sinilah Rasulullah mendapatkan perintah shalat secara langsung dari Allah SWT.

    Baca juga: Hukum Chatting dengan Lawan Jenis Menurut Islam

    Deskripsi Lebih Lanjut tentang Buraq

    Buraq memiliki beberapa ciri-ciri unik yang membuatnya istimewa. Selain cahayanya yang berkilauan, kendaraan ini juga memiliki sayap yang memungkinkannya untuk terbang dengan cepat melintasi langit-langit. 

    Selain itu, Buraq dikatakan memiliki wajah yang sangat tampan dan indah. Kecepatan Buraq juga patut dicatat. Dikatakan bahwa Buraq dapat menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat. 

    Hal ini memungkinkan Nabi Muhammad SAW untuk mengunjungi banyak tempat suci dalam perjalanan Isra Mi’raj tanpa harus menghabiskan waktu yang lama. Di dalam surah Al-Ma’arij Allah menyebutkan:

    تَعْرُجُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

    Ta’rujul-malā`ikatu war-rụḥu ilaihi fī yauming kāna miqdāruhụ khamsīna alfa sanah

    Artinya:

    “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”

    Dari penggalan ayat di atas dapat kita ketahui bahwa lapisan langit sangatlah tebal dan membutuhkan waktu hingga puluhan ribu tahun dunia untuk bisa melaluinya. Akan tetapi, kendaraan yang ditunggangi Rasulullah bisa melampauinya dengan cepat.

    Maka, hanya dengan imanlah kita bisa meyakini peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Abu Bakar Ash Shiddiq juga telah mencontohkan hal tersebut, di mana ia mengatakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah semata-mata karena kehendak dari Allah SWT.

    Pasalnya, jika kita mengasosiasikannya dengan ilmu pengetahuan atau sains, maka akal manusia tidak akan bisa membayangkan peristiwa tersebut. Berbagai teori dari para ilmuwan juga akan mengatakan bahwa hal itu adalah mustahil.

    Bahkan, ilmuwan Einstein juga menyatakan bahwa jasad manusia atau benda-benda lainnya mustahil untuk bergerak mendekati atau bahkan menyamai kecepatan cahaya. Kalaupun bisa, maka benda tersebut akan terurai.

    Makna dan Simbolisme Buraq

    Buraq memiliki makna dan simbolisme yang mendalam di dalam ajaran agama Islam. Kendaraan ini melambangkan kecepatan dan kemampuan untuk mencapai tingkatan spiritual yang tinggi. 

    Perjalanan Nabi Muhammad SAW dengannya juga menggambarkan penghubung langsung antara manusia dan Allah SWT. Ini adalah pengalaman luar biasa yang menunjukkan kedekatan Nabi dengan Sang Pencipta.

    Selain itu, hewan ini juga menjadi simbol persatuan antara Mekah dan Yerusalem, dua tempat suci dalam Islam. Perjalanan ini menggarisbawahi pentingnya kedua tempat tersebut dalam agama Islam dan hubungan yang erat antar keduanya.

    Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Buraq adalah kendaraan surgawi yang membawa Nabi Muhammad SAW melintasi langit-langit menuju Sidratul Muntaha. 

    Kendaraan ini memiliki ciri-ciri unik dan simbolisme dalam agama Islam, melambangkan kecepatan, kedekatan dengan Allah, dan persatuan antara tempat-tempat suci. 

    Perjalanan ini adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam dan menunjukkan betapa istimewanya Buraq dalam membantu Nabi dalam pencapaiannya.

  • Orang yang Banyak Bicara Menurut Islam, Apa Artinya?

    Orang yang Banyak Bicara Menurut Islam, Apa Artinya?

    Banyak bicara adalah salah satu hal yang memang sangat tidak dianjurkan di dalam Islam. Ada beberapa penilaian bagi orang yang banyak bicara menurut Islam. Mulai dari dilarang oleh Rasulullah hingga sifat yang paling dibenci oleh Allah SWT. 

    Di antara berbagai adab berbicara yang memang dituntunkan oleh Rasulullah yakni berbicaralah seperlunya dan tidak berlebihan. Kita hanya diperintahkan berbicara yang baik-baik saja. 

    Rasulullah SAW melarang kita untuk banyak bicara apalagi mengenai hal yang tidak ada kaitannya dengan dzikir kepada Allah. Memenuhinya merupakan tanda atau ciri dari bagusnya keislaman yang kita miliki. 

    Kemampuan menahan bicara terlalu banyak akan menahan diri kita untuk bicara seperlunya saja. Kita akan berbicara secara baik dan lebih memilih untuk diam, jika ada dorongan saat akan berkata yang kurang baik. 

    Orang yang Banyak Bicara Menurut Islam, Dilarang!

    Kita harus memahami bahwa terlalu banyak bicara adalah perihal yang dilarang dalam Islam. Hal ini didasarkan pada sejumlah dalil yakni: 

    1. Hadits dari Al Mughirah

    عَنْ الْمُغِيرَةِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَأْدِ الْبَنَاتِ وَعُقُوقِ الْأُمَّهَاتِ وَعَنْ مَنْعٍ وَهَاتِ وَعَنْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

    Artinya: 

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengubur anak perempuan hidup-hidup, durhaka kepada ibu, tidak memberi tapi mau menerima, banyak bicara, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta”.(HR Ad-Darimi). 

    Melalui hadits ini, ada poin yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melarang untuk ikut menguburkan anak yang salah satunya memiliki perilaku banyak bicara. Dengan kata lain, banyak bicara memang memiliki konotasi buruk di dalam hadits ini. 

    Kita harus memahami bahwa perilaku banyak berbicara, sangat tidak dianjurkan dan bahkan dilarang oleh agama Islam.

    Baca juga: Doa Khatam Quran 30 Juz: Arab, Latin dan Artinya!

    2. Hadits dari Ibnu Umar

     عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

    Artinya: 

    Dari Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.”  (HR Tirmidzi). 

    Orang yang banyak berbicara menurut Islam jika dilihat dari hadits di atas, merupakan salah satu penyebab dari kerasnya hati seseorang. 

    Dan bagaimana orang yang keras hati? Melalui hadits ini pula, kita bisa dengan jelas memahami bahwa orang yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang hatinya keras. 

    Jadi, banyak berbicara akan membuat kita menjadi sosok manusia dalam kategori yang paling jauh dengan Allah SWT. Jika tidak ingin ini terjadi, maka bicaralah seperlunya saja dan yang baik-baik. 

    3. Hadits dari Abu Hurairah

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

    Artinya: 

    Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah meridlai kalian karena tiga perkara dan membenci dari kalian tiga perkara. Meridhai kalian jika: kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, kalian berpegang teguh terhadap tali agama Allah secara bersama-sama, dan saling menasehati terhadap orang yang Allah beri perwalian urusan kalian. Membenci kalian jika; Banyak bicara, menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya.”  (HR Malik).

    Dalam hadits ini kita bisa belajar banyak hal. Pertama yakni beberapa perkara yang akan membuat kita diridhai oleh Allah SWT. Lalu kedua, kita bisa belajar tentang apa saja perkara yang membuat kita dibenci oleh Allah. 

    Nah, pada poin kedua kita menemukan apa saja perkara yang dibenci oleh Allah SWT. Dan ya, salah satunya adalah banyak bicara. Melalu hadits ini, kita bisa merenungi penilaian orang yang banyak bicara menurut Islam. 

    Maka dari itu, kita patut mengikutinya dengan tidak banyak bicara, tidak menyia-nyiakan harta, dan terlalu banyak bertanya. Semoga kita bisa menghindari ketiga hal ini agar tidak dibenci oleh Allah SWT. 

    Banyak Bicara Diperbolehkan Asal…

    Kita memiliki sedikit kelonggaran untuk banyak berbicara. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kita pahami tentang diperbolehkannya banyak bicara. 

    Kita hanya diizinkan untuk melakukan pembicaraan jika hanya menjadi bagian dari dzikir kepada Allah SWT saja. Misalnya, berbicara mengenai kebenaran agama Islam dan amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul. 

    Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda: 

    “Semoga Allah memberikan keindahan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari kami, lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia dengar. Betapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar,” (HR Abu Daud dari Anas bin Malik).

    Rasulullah SAW pun bersabda: “Barangsiapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun” (HR Ibnu Majah, dari Sahal bin Mu’adz bin Anas). 

    “Orang yang menunjukkan kebaikan seperti orang yang mengerjakannya” (HR Al Bazzar, dishahihkan Ibnu Hibban).

    Akibat Banyak Bicara

    Perilaku terlalu banyak bicara akan membuat kita mendapatkan akibat yang harus kita tanggung kelak. Paling tepat, kita bisa membaca perkataan dari Umar bin Khaththab tentang hal ini: 

    “Barangsiapa yang banyak bicaranya, banyak kesalahannya. Barangsiapa yang banyak kesalahannya, akan banyak dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya,maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.”

    Orang yang banyak bicara menurut Islam merupakan orang yang dibenci oleh Allah karena memiliki hati yang keras. Selain itu, juga menjadi sebab bagi kita masuk neraka kelak. Semoga kita bisa menahan diri agar tidak terlalu banyak bicara hal kurang baik.

  • 10 Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia, Yuk Simak

    10 Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia, Yuk Simak

    Sejarah Islam di Indonesia tidak terjadi selama satu malam tapi sangatlah panjang. Islam masuk pertama kali ke tanah air pada abad ke-13. Dalam kurun waktu tersebut, banyak tokoh pembaharuan Islam di Indonesia yang berperan.

    Setiap tokoh memberikan pembaharuan yang berbeda dan melekat di Indonesia.

    Tidak sekedar mengajarkan syariat Islam, para tokoh juga berperan penting dalam kemajuan pendidikan, budaya, politik, kesehatan, dan masalah sosial.

    Apa itu Gerakan Pembaharuan Islam?

    Gerakan pembaharuan Islam adalah ajaran Islam yang tidak bergerak secara statis melainkan dinamis mengikuti zaman. Akan tetapi, ajaran agama yang diberikan tetap berpedoman pada as-Sunnah dan Al-Qur’an.

    Latar belakang utama munculnya pembaharuan Islam tidak lain karena krisis atau kemunduran yang terjadi di berbagai bidang pada abad ke-18 M. Kemunduran yang terjadi mulai dari bidang ekonomi, budaya, politik, ilmiah, hingga sosial.

    Krisis yang terjadi membutuhkan penanganan yang tepat hingga kemudian munculah era pembaharuan Islam yang kemudian melahirkan banyak tokoh pembaharuan.

    Menariknya, tokoh pembaharuan Islam tersebar luas di berbagai negara mulai dari Mesir, Turki, India-Pakistan, hingga Indonesia.

    Bukti dari perkembangan atau era pembaharuan Islam di tanah air bisa kita temukan dari berdirinya Sarekat Islam, Muhammadiyah, serta NU.

    Selain itu, pembaharuan Islam juga semakin maju berkat berdirinya pusat pendidikan Islami. Jumlahnya bukan hanya satu saja tapi banyak dan tersebar luas di seluruh Indonesia.

    Ketahui 10 Tokoh Pembaharuan Islam di Indonesia

    Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah muslim terbanyak di Indonesia. Tidak mengherankan jika pada akhirnya jumlah tokoh pembaharuan Islam di tanah air cukup banyak.

    Mau tahu latar belakang dan pengaruh sepuluh tokoh pembaharuan Islam di Indonesia? Simak selengkapnya berikut ini:

    1. KH. Ahmad Dahlan

    1. KH. Ahmad Dahlan

    KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Muhammadiyah yang berdiri di Yogyakarta sejak 18 November 1912. Muhammadiyah bergerak dalam berbagai bidang mulai dari pendidikan, kesehatan, politik, dan kemasyarakatan.

    Sejak pertama kali hadir dan berkembang, Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang melakukan pembaharuan Islam.

    KH. Ahmad Dahlan lahir dari keluarga yang taat beragama. Beliau memperoleh didikan agama dan bahasa Arab secara langsung di pondok pesantren.

    Di usianya yang menginjak 15 tahun, KH. Ahmad Dahlan menetap di Mekah sehingga pemikirannya tentang pembaharuan Islam mulai bermunculan.

    KH. Ahmad Dahlan berpikir untuk melakukan pembaharuan Islam di Yogyakarta, yang mana masih sangat kental dengan formalisme dan sinkretisme.

    Baca juga: Bacaan Bilal Tarawih untuk 8, 11, dan 23 Rakaat dengan Latin dan Artinya

    2. KH. Hasyim Asy’ari

    2. KH. Hasyim Asy’ari

    Tokoh pembaharuan Islam di Indonesia berikutnya adalah KH. Hasyim Asy’ari. KH. Hasyim Asy’ari hadir sebagai pendiri NU salah satu organisasi Islam yang juga sangat populer di tanah air.

    NU hadir untuk mempertahankan tradisi keislaman yang sudah menjadi identitas lama di tanah air. Tradisi yang dimaksud di antaranya adalah ziarah kubur, mazhab fiqih, tasawuf, tarekat, dan sebagainya.

    KH. Hasyim Asy’ari dilahirkan di Jombang, Jatim. Beliau merupakan keturunan langsung dari Sunan Ampel Denta salah satu Wali Songo di Indonesia. Di usia mudanya, KH. Hasyim Asy’ari memperoleh pendidikan langsung dari orangtuanya.

    Namun, menginjak usia 20 tahun beliau berangkat untuk mengenyam pendidikan di Mekah. Sepulangnya ke Indonesia, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan ponpes Tebuireng.

    Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan, KH. Hasyim Asy’ari juga merupakan penulis yang sangat mahir. Berbagai kitab berhasil ditulisnya termasuk kitab tentang tauhid, hadis, fiqih, tasawuf, akhlak, tafsir, dan juga sejarah Islam.

    3. Syekh Ahmad Surkati

    3. Syekh Ahmad Surkati

    Syekh Ahmad Surkati merupakan salah satu tokoh pembaharuan Islam di Indonesia yang dikenal karena berhasil mendirikan organisasi Islam yakni Al-Irsyad.

    Misi utama Al-Irsyad adalah membantu penyebaran Islam di tanah air yang sesuai dengan ketentuan hadits serta Al-Qur’an. Peran paling besar yang bisa kita rasakan dari Al-Irsyad adalah berdirinya sekolah modern Islami di Indonesia.

    Syekh Ahmad Surkati lahir tahun 1875 di Pulau Arqu, Dunggulah, Sudan. Di Jawa, Syekh Ahmad Surkati sangat dihormati dan menjadi ulama yang sangat besar.

    Beliau merupakan guru besar bagi KH. Mas Mansur, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim. Semasa hidupnya, beliau banyak mengikuti perdebatan isu keislaman yang membuatnya semakin dikenal oleh publik.

    4. Ahmad Hassan

    4. Ahmad Hassan

    Sebagai umat muslim, kita mungkin mengenal nama ini dengan baik sebagai tokoh Persis. Persis merupakan organisasi Islam yang lahir dan berkembang di Bandung.

    Latar belakang lahirnya Persis tidak lain untuk pembaharuan Islam yang disesuaikan dengan ketentuan hadis dan Al-Qur’an. Persis tidak hanya aktif dalam bidang keislaman tapi juga aktif di bidang pendidikan, budaya, politik, sosial, dan lainnya.

    Sebelum kemerdekaan RI, Persis menjadi salah satu organisasi yang cukup kritis terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

    Ahmad Hasan lahir atau dilahirkan dengan nama Hasan Abdullah Baqir, lahir di keluarga dengan ilmu agama yang kental. Sebelum melanjutkan pendidikan ke Mekah, Ahmad Hasan menerima pendidikan langsung dari sang Ayah.

    Ayahnya merupakan ulama besar Baghdad yang hijrah dan menetap di Cirebon. Selama berada di Mekah, Ahmad Hasan banyak belajar tentang ilmu agama bersama para ulama besar.

    Di Indonesia, Ahmad Hasan bergabung dengan Persis pada tahun 1921. Beliau berperan sangat besar terhadap pembaharuan Islam karena tulisannya tentang isu keislaman yang diterbitkan di majalah Persis.

    5. Syekh Abdul Karim Amrullah

    5. Syekh Abdul Karim Amrullah

    Syekh Abdul Karim Amrullah yang juga lebih dikenal dengan julukan Haji Rasul merupakan ulama yang sangat terkenal di Indonesia. Beliau dikenal sebagai pendiri Sumatera Thawalib.

    Apa itu Sumatra Thawalib? Sumatera Thawalib adalah sekolah Islam modern pertama yang bisa kita temukan di tanah air.

    Syekh Abdul Karim Amrullah lahir dari keluarga muslim yang taat. Di tahun 1894, beliau sengaja dikirimkan oleh ayahnya untuk melanjutkan studi ke Mekah.

    Tahun 1925, Syekh Abdul Karim Amrullah kembali ke Indonesia kemudian mendirikan Muhammadiyah cabang Minangkabau. 

    Nama Syekh Abdul Karim Amrullah semakin besar karena Hamka, putranya yang dikenal sebagai ulama besar Indonesia.

    6. Ahmad Maryani Ismail

    6. Ahmad Maryani Ismail

    Ahmad Maryani Ismail merupakan salah satu ulama karismatik asal Banten yang pernah sangat berpengaruh di zamannya. Ahmad Maryani Ismail sangat menentang kolonialisme dan komunis di tanah air.

    Ahmad Maryani Ismail yang disebut juga sebagai Ahmar atau Ustad Maryani lahir dari keluarga terpandang dan taat beragama.

    Usai menikah dan pindah ke Serang, Ahmad Maryani Ismail mendirikan Kampung Persis. Kampung Persis mengamalkan as Sunnah shahih berikut juga Al-Qur’an.

    7. Buya Hamka

    7. Buya Hamka

    Tokoh pembaharuan Islam di Indonesia berikutnya yang sangat populer adalah Buya Hamka. Beliau merupakan ahli agama, sastrawan, filsuf Indonesia.

    Buya Hamka merupakan nama pena dari Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo. Buya Hamka merupakan ketua MUI pertama di tanah air yang juga ikut berpartisipasi di organisasi Muhammadiyah.

    Sejarah Buya Hamka sebagai tokoh pembaharuan Islam tanah air sangatlah panjang. Beliau bahkan pernah di penjara karena dituduh melakukan gerakan subversif.

    Seiring dengan kebebasannya pada tahun 1966, Hamka memilih untuk memusatkan perhatian dan waktunya untuk berdakwah di Masjid Agung Al-Azhar. Beliau juga banyak berceramah di TVRI maupun RRI.

    8. Abdul Wahab Rokan

    8. Abdul Wahab Rokan

    Abdul Wahab Rokan merupakan ulama, seorang sufi, ahli fikih, dan juga Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang sangat populer di Sumatera Timur. beliau lahir di Riau pada September 1811.

    Syekh Abdul Wahab memperoleh pendidikan agama yang sangat baik, beliau belajar langsung dari ayahnya kemudian pada guru besar seperti Tuanku Muhammad Shaleh Tambusai serta Syeikh Muhammad Yusuf.

    Syekh Abdul Wahab bertolak ke Mekah tahun 1863 untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menambah pengetahuan agamanya. Beliau menghabiskan waktu beberapa tahun belajar dengan para ulama termasyhur dari Mekah.

    Pulang dari Mekah, Syekh Abdul Wahab membangun perkampungan yang kemudian dinamakan sebagai Kampung Masjid. Tidak puas dengan perkampungan ini, beliau kemudian mendirikan Kampung Babussalam.

    9. Abdullah Gymnastiar

    9. Abdullah Gymnastiar

    Abdullah Gymnastiar atau yang lebih populer dengan nama Aa Gym merupakan seorang penulis buku, pendakwah, penyanyi, pengusaha, sekaligus pendiri Ponpes Daarut Tauhiid.

    Aa Gym mulai dikenal di Indonesia sejak berdakwah pada tahun 2000 di TV Nasional. Uniknya, pembahasan utama yang seringkali Aa Gym sampaikan saat berdakwah adalah tentang keluarga dan ibu rumah tangga.

    Kemudian, kondisi tersebut pula yang membuat Aa Gym terkena kontroversi ketika ketahuan telah berpoligami.

    Dibalik kontroversinya, Aa Gym memiliki latar belakang pendidikan yang sangat bagus. Beliau juga telah berhasil mempublikasikan banyak buku termasuk di dalamnya adalah Syarah Al-Hikam, Hidup adalah Surga, dan sebagainya.

    10. Kyai Haji Abdullah Syafi’i

    10. Kyai Haji Abdullah Syafi’i

    Kyai Haji Abdullah Syafi’i merupakan pendiri pertama dari Perguruan as-Syafi’iyah yang berlokasi di Jakarta. Latar belakangnya dalam organisasi sangat beragam termasuk menjadi Ketua I MUI

    KH. Abdullah Syafi’i merupakan anak yang lahir dari keluarga muslim dengan latar belakang pendidikan keislaman. Selain mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, beliau juga belajar langsung dari para ulama.

    KH. Abdullah Syafi’i atau Kiai Dulloh mendirikan Madrasah Diniyah pertama kali di usia yang ke-17 tahun. Berawal dari madrasah tersebut, kemudian Kiai Dulloh berhasil mengembangkan Islam dari bidang pendidikan.

    Islam mungkin agama mayoritas di tanah air tapi bukan berarti tidak pernah mengalami kemunduran pada masa-masa tertentu. Karena kondisi yang kurang menguntungkan, para tokoh mengambil sikap dengan melakukan pembaharuan.

    Siapa yang tahu jika gerakan pembaharuan hadir sudah sangat lama, tepatnya pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19 Masehi. Gerakan pembaharuan tersebut mengalami pertumbuhan dari abad ke abad.

    Tokoh pembaharuan Islam di Indonesia pun mengalami kemajuan karena teknologi yang semakin berkembang. Setiap tokoh hadir dengan pemikiran yang positif untuk memperluas ajaran Islam di Nusantara.

  • 7 Amalan Malam Lailatul Qadar Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    7 Amalan Malam Lailatul Qadar Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    Amalan malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan tersendiri. Sebab, malam Lailatul Qodar lebih mulia daripada seribu bulan. Alhasil, umat Islam berlomba-lomba untuk mengisi malam tersebut dengan amalan-amalan yang dianjurkan. 

    Makna “lebih baik dari 1000 bulan” berarti setiap amalan pada malam ini memiliki nilai keutamaan yang lebih besar daripada amalan serupa selama seribu bulan.

    Ketika banyak beribadah di malam ini, kita akan mendapat pahala berlipat ganda.

    Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?

    Berdasarkan Hadits Nabis SAW, Lailatul Qadar terjadi pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Dari riwayat Bukhari dijelaskan sebagai berikut.

    “Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa.” (HR. Bukhari).

    Dari 10 malam terakhir di bulan Ramadhan, malam keberapa yang termasuk malam Lailatul Qadar? Untuk menjawab pertanyaan ini, dijelaskan ciri-ciri yang menyebut tentang malam lailatul qadar. 

    Lailatul qadar disebut akan membuat matahari pagi harinya bersinar berbeda dari biasanya. Besoknya, matahari muncul dengan cahaya putih bersih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru, sesuai dengan apa yang diungkapkan Rasulullah.

    “Malam itu adalah malam yang cerah, yaitu malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Imam Muslim, 762).

    Aisyah ra mencatat bahwa Rasulullah SAW memberikan nilai istimewa pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. 

    Keistimewaan ini tercermin melalui pelaksanaan beragam ibadah yang dilakukan oleh beliau pada periode malam tersebut.

    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد فى العشر الأواخر مالايجتهد فى غيره

    Artinya:

    “Bahwa Rasulullah saw meningkatkan kesungguhan (ibadahnya) di sepuluh terakhir (bulan Ramadhan) yang tidak dilakukan pada hari-hari sebelumnya.”

    Baca juga: 7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Yuk Simak

    Amalan Malam Lailatul Qadar

    Umumnya, segala amalan yang dikerjakan dengan niat ibadah akan meraih pahala ibadah, selama amalan tersebut sesuai dengan ketentuan syariat. Berikut 7 amalan utama yang bisa kita lakukan pada malam Lailatul Qadar:

    1. Semangat Beribadah

    Semangat beribadah selama sepuluh hari terakhir Ramadhan diwujudkan dengan menghidupkan malam dan membangunkan keluarga untuk turut beribadah bersama. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata:

    كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ 

    Artinya:

    “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.” (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).

    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa:

    ماعلمته صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح 

    Artinya: 

    “Aku selalu menyaksikan beliau beribadah selama Ramadhan hingga menjelang subuh.”

    Sementara itu, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ali juga menjelaskan: 

    “Siapa pun yang memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan beragama Islam, kemudian berpuasa di siang hari dan melaksanakan shalat di malam hari secara teratur, mengontrol matanya, menjaga kesucian tubuhnya, serta merawat mulut, tangannya, dan selalu mengikuti shalat berjamaah. Orang tersebut telah sungguh-sungguh menjalankan puasa selama satu bulan dan akan menerima pahala yang sempurna, menemukan Lailatul Qadar, dan mencapai keberuntungan yang diberikan oleh Allah, Tuhan yang Maha Memberkahi.”

    Baca juga: Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    2. Sholat Isya dan Subuh Berjamaah

    Amalan kedua adalah melaksanakan sholat Isya dan sholat Subuh secara berjamaah. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan digunakan sampai pada Ibnu ‘Abbas ra disebutkan sebagai berikut:

    أَنَّ إِحْيَاءَهَا يَحْصُلُ بِأَنْ يُصَلِّيَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ وَ يَعْزِمُ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ

    Artinya:

    “Menghidupkan malam lailatul qadar itu bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah.”

    Imam Malik dalam Al-Muwatha’ bahwa Ibnul Musayyib menyatakan:

    مَنْ شَهِدَ لَيْلَةَ القَدْرِ ـ يَعْنِي فِي جَمَاعَةٍ ـ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

    Artinya:

    “Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”

    Adapun Imam Syafi’i menyatakan sebagai berikut:

    مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ وَ الصُّبْحَ لَيْلَةَ القَدْرِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

    Artinya:

    “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” Semua perkataan di atas diambil dari Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 329.

    Pernyataan Imam Syafi’i dan ulama lainnya tersebut sesuai dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan ra yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal yang serupa.

    مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

    Artinya:

    “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim, no. 656 dan Tirmidzi, no. 221).

    3. I’tikaf

    Melaksanakan I’tikaf atau berdiam diri di masjid merupakan satu bentuk amalan malam lailatul qadar yang termasuk dalam sunnah Nabi. Amalan ini dianjurkan selama bulan Ramadhan, terutama pada 10 malam terakhir.

    Itulah sebabnya, dalam surah Al-Baqarah Allah memerintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan tempat ibadah agar dapat digunakan untuk I’tikaf.

    وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

    Artinya: 

    “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al-Baqarah: 125).

    Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Aisyah bahwa Rasulullah meninggalkan istrinya dengan tujuan untuk fokus beribadah. 

    Dalam hadis riwayat Ibnu Umar RA juga disebutkan bahwa Rasulullah selalu Iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (Shahih Muslim).

    4. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

    Ketika bulan Ramadhan, membaca satu huruf Al-Qur’an saja pahalanya 10 kebaikan. Artinya, pada bulan yang mulia ini memang segala ibadah yang dilakukan ikhlas dengan mengharap ridho Allah, pasti bernilai pahala.

    Itulah sebabnya memperbanyak membaca Al-Qur’an merupakan amalan malam Lailatul Qadar yang dianjurkan. Lebih utama lagi karena malam Lailatul Qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an.

    Anjuran untuk amalan ini diperkuat dengan hadits riwayat Bukhori. Dari Abu Hurairah RA yang menyebutkan malaikat Jibril mengajarkan Al Quran kepada Rasulullah SAW pada waktu ini sebanyak dua kali. 

    Pilihan amalan ini juga bisa untuk wanita yang sedang haid. Oleh karena itu, wanita yang haid tidak boleh menyentuh mushaf, alternatifnya yaitu dengan mendengarkan murotal. Dengan begitu, wanita yang haid pun bisa mendapat kemuliaan malam ini.

    5. Berdzikir

    Selain membaca Al-Quran, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak dzikir. Misalnya membaca tasbih, tahlil, dan tahmid sebanyak 100 kali atau sesuai kemampuan. 

    Hitungan dzikir tersebut tidak perlu menjadi patokan. Sebab, setiap bacaan dzikir sudah bernilai pahala. Sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah disebutkan sebagai berikut:

    فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

    Artinya: 

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

    6. Sholat Malam

    Sholat malam termasuk salah satu amalan malam lailatul qadar yang utama ketika ingin mendapatkan malam Lailatul Qadar. Pada 10 malam terakhir, sebaiknya kita mengurangi tidur dan memperbanyak sholat sunnah seperti sholat tahajud.

    Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Aisyah ra bahwa ketika memasuki sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, Rasulullah SAW membangunkan keluarganya dan menghidupkan malam-malam tersebut dengan memperbanyak ibadah. 

    Hadits Bukhari lain menyebutkan dari Abu Hurairah wa bahwa Nabi SAW, beliau bersabda:

    مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Artinya:

    “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901).

    7. Berdoa pada Malam Lailatul Qadar

    Ketika tiba malam yang lebih baik dari 1000 bulan, sudah semestinya kita memanjatkan doa kepada Allah SWT. Banyak berdoa pada malam mulia ini memiliki kemungkinan besar doa kita cepat dikabulkan. 

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata,  “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Artinya:

    “Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul SAW “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 385).

    Doa yang kita panjatkan pada malam Lailatul Qadar sebaiknya doa untuk memohon ampunan kepada Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah sebagai berikut:

    و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

    Artinya:

    “Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif (bijak) adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan, atau ucapan yang baik (saleh). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

    Demikian amalan malam Lailatul Qadar yang bisa kita kerjakan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan nikmat untuk mendapatkan malam yang mulia ini.

  • 7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Yuk Simak

    7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Yuk Simak

    Allah menciptakan manusia dengan akal pikiran yang sehat dan juga sepaket hawa nafsunya. Ibarat air dan api yang saling melengkapi, rasa mencintai juga selaras dengan melupakan. Lalu, bagaimana cara melupakan seseorang menurut Islam?

    Sebagaimana yang ditekankan para umat Islam, cintailah orang dengan sewajarnya jangan berlebihan. Rasa cinta bolehlah ada, tapi harus diutamakan cinta pada Allah bukan makhluknya.

    Berpegang pada hal tersebut, sesungguhnya tidak sulit bagi kita untuk melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Akan tetapi, bagi yang mengalami kesulitan bisa mengatasinya dengan mengikuti tips yang akan dibahas berikut.

    7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Berani Coba?

    Apa yang melatarbelakangi kita memilih untuk melupakan seseorang? Setiap orang bisa jadi memiliki alasan yang berbeda.

    Ada yang memilih melupakan karena orang tersebut telah menyakitinya. Ada pula yang memilih melupakan karena sudah terlanjur kecewa sehingga ingin membuka lembaran yang baru.

    Sehingga, konotasi melupakan seseorang tidak serta merta dikaitkan dengan hubungan romansa saja. Beberapa orang tertentu, mungkin memilih untuk melupakan seseorang yang dulu pernah menjadi teman baiknya.

    Ada pula yang melupakan anggota keluarganya dan lain sebagainya. Pada dasarnya, alasan kita ingin melupakan inilah yang akan menjadi jalan lambat atau cepatnya proses melupakan itu berlangsung.

    Selengkapnya tentang cara melupakan seseorang menurut Islam simak berikut ini:

    1. Mengakui dan Mau Menerima Perpisahan yang Terjadi

    Perpisahan memang rasanya sangat berat apalagi jika hubungan yang dijalin sudah begitu lama entah hitungan tahun. Tips pertama yang bisa kita lakukan untuk melupakan seseorang adalah dengan cara mengakui keadaan.

    Akuilah jika hubungan yang terjalin sudah tidak lagi berhasil dan bisa dipertahankan. Mengakuinya memang tidak mudah apalagi menerima keadaan yang sudah berbeda.

    Alternatif cara yang bisa kita lakukan agar proses ini berjalan dengan baik adalah dengan mengendalikan emosi dan memahami hikmah dibalik perpisahan. Kendalikan rasa ingin bertemu lagi.

    Carilah poin-poin manfaat atau hikmah yang akan kita peroleh dari perpisahan ini. Alhasil, langkah untuk melupakan orang tersebut pun menjadi lebih ringan.

    Baca juga: Bangkai yang Tidak Termasuk Najis Apa Saja? Ini Daftarnya Menurut Islam

    2. Meminta Bantuan dan Bimbingan dari Allah SWT

    Langkah kedua yang bisa kita lakukan adalah dengan memanjatkan doa pada Allah SWT, agar keinginan untuk melupakan orang tersebut dipermudah dan dimuluskan. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, doa yang berasal dari hati.

    Hindari memanjatkan doa yang bernada menyalahkan Allah SWT. Yakinlah jika proses perpisahan ini merupakan kehendak Allah yang akan membawa kita pada kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik.

    Percayakan juga jika di masa depan, kita akan bertemu dengan orang yang jauh lebih baik. Pengganti yang sudah disiapkan oleh Allah. Pengganti yang akan memberikan banyak kebahagiaan untuk kita bukannya rasa sakit saja.

    Langkah ini sangat penting jika kita merasa sangat kesulitan untuk melupakan pasangan yang ternyata tidak berjodoh. Biarkan takdir Allah yang berbicara, jangan sampai kita berlarut-larut pada penyakit hati.

    3. Berusaha untuk Fokus Memperbaiki Diri

    Cara melupakan seseorang menurut Islam selanjutnya adalah dengan berusaha fokus memperbaiki diri. Cara ini juga efektif untuk menghindarkan kita dari menyalahkan diri sendiri karena kegagalan yang dialami.

    Selain memperbaiki diri dari dalam, cobalah untuk memperbaiki pula hubungan kita dengan Allah. Bila sebelumnya kita masih suka menunda-nunda ibadah maka cobalah untuk menjadi orang yang lebih taat.

    Jika sebelumnya kita tidak pernah tilawah Al-Qur’an, tidak berpuasa, dan melaksanakan ibadah lainnya maka perbaiki hal itu. Menjadi pribadi yang lebih baik akan meningkatkan kualitas kita di masa depan.

    4. Minta Dukungan dari Keluarga dan Teman

    Keluarga dan orang-orang terdekat merupakan tempat paling nyaman untuk kita pulang terutama saat mengalami patah hati. Jangan sampai keluarga dan teman hanya mau bersama ketika kita sedang suka saja.

    Meskipun rasanya berat, jangan segan untuk meminta dukungan dari keluarga dan teman. Komunikasi dua arah penting agar orang yang ada di sekitar kita mengetahui bagaimana kondisi kita saat ini.

    Kumpul dengan keluarga dan sahabat juga akan membuat kita lebih sibuk dan lupa dengan permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini. Selain berkomunikasi, kita bisa mencoba quality time bersama keluarga agar menjadi lebih akrab lagi.

    5. Jauhi Kontak atau Tempat Kenangan

    Langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan untuk melupakan orang lain menurut ajaran Islam adalah dengan tidak terbayang-bayang pada kenangan. Mengenang orang lain sewajarnya saja.

    Akan lebih baik lagi untuk tidak menyambangi tempat-tempat yang dulu didatangi sebagai tempat main atau berkencan. Jika memungkinkan, kita juga bisa menjauhi kontak orang tersebut untuk beberapa waktu.

    Cara ini memang terkesan sederhana tapi patut untuk kita coba. Yang masih aktif bermain sosial media juga bisa menghindari berkomunikasi via sosial media. Minta bantuan teman agar tidak menghubungi kita melalui media sosial.

    6. Belajar Banyak tentang Islam

    Bagi sebagian besar orang, melupakan orang lain sangatlah sulit bahkan jauh lebih sulit daripada jatuh cinta. Jika kita termasuk pada golongan ini, maka cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah dengan belajar tentang Islam.

    Tidak perlu sampai belajar agama ke pondok pesantren atau Al-Azhar yang ada di luar negeri, karena banyak sumber belajar yang bisa kita dapatkan di sekitar. Mulai dari buku, majalah, koran hingga internet.

    Ingin yang lebih asli dan original? Kita bisa belajar langsung dari pemuka agama. Cukup cari saja pemuka agama yang ada di sekitar lingkungan kita. Katakan dengan jelas maksud kita ingin memperdalam ilmu agama Islam.

    Pemuka agama yang baik tentu akan menerima kita, terlepas dari apa tujuan kita belajar. Belajar dan selamilah ilmu agama hingga kita secara perlahan melupakan orang tersebut bahkan tidak lagi merasakan sakit hati karenanya.

    7. Meningkatkan Keimanan dengan Memperbanyak Ibadah

    Bila sebelumnya kita diajak untuk belajar lebih banyak tentang Islam sehingga lebih memperdalam ilmu agama, maka kali ini cobalah untuk mempraktekannya. Praktekan semua teori yang telah kita pelajari.

    Mulai dari melaksanakan sholat wajib 5 waktu berikut sholat sunnahnya. Laksanakan sholat di awal waktu, bukannya menunggu akhir waktu karena pahala yang diperoleh berbeda.

    Selain melaksanakan sholat, tak lupa kita juga menjalankan ibadah puasa, zakat, dan bila memungkinkan serta mampu adalah naik haji. Akan tetapi, bila belum bulan haji kita bisa memulainya dengan melaksanakan umrah.

    Memperbanyak ibadah tidak hanya meningkatkan keimanan kita tapi juga membantu melupakan seseorang yang sangat ingin kita lupakan. 

    Langkah ini jauh lebih bermakna karena tidak membutuhkan banyak uang (kecuali naik haji) dan tentunya berpahala.

    Sakit hati atau patah hati merupakan penyakit yang hanya bisa diobati dengan waktu dan usaha yang keras. Dengan mencoba seluruh cara di atas, kita tidak hanya bisa melupakan seseorang tapi juga mengobati penyakit hati.

    Lakukan semua cara melupakan seseorang menurut Islam di atas dan buktikan hasilnya. Apakah langkah-langkah tersebut benar-benar bekerja dan bermanfaat?

  • Solusi Syari untuk Reseller dan Dropshipper

    Solusi Syari untuk Reseller dan Dropshipper

    Sebagian dari kita mungkin banyak yang beranggapan bahwa sistem bisnis reseller dan dropshipper tidak sesuai dengan syariat Islam. Karena hal ini banyak yang bertanya bagaimana solusi syari untuk reseller maupun dropshipper?

    Dalam era globalisasi saat ini, bisnis reseller dan dropshipping memang menjadi pilihan yang menarik dalam memulai usaha.

    Tetapi, seringkali ditemukan beberapa aspek etika dan syariah yang terabaikan sehingga melanggar syariat dalam Islam.

    Apa Itu Reseller?

    Sebelum kita membahas solusi syari untuk reseller, tentunya kita perlu tahu dulu pengertiannya. Reseller adalah seseorang yang membeli produk atau layanan dari pihak produsen atau distributor untuk kemudian dijual kembali kepada konsumen.

    Kita seringkali membeli produk dalam jumlah besar dengan harga yang lebih rendah, lalu menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga tersebut.

    Reseller dapat beroperasi dalam berbagai industri, termasuk e-commerce, pakaian, peralatan elektronik dan banyak lagi. Saat ini sangat mudah bagi kita untuk menemukan para reseller yang menjual berbagai produk tersebut.

    Dalam perspektif Islam, reseller sendiri sebagai model bisnis tidak dilarang. Islam mengakui prinsip kebebasan berdagang dan pemilikan pribadi sehingga berbisnis secara umum dianjurkan. Tetapi, tetap memperhatikan aspek bisnis sesuai syariat.

    Masalah Reseller dalam Prinsip Syariah

    Terdapat beberapa pelaku bisnis atau mungkin kita yang mungkin menjadi Reseller, tetapi tidak memiliki barang tersebut terlebih dahulu sebelum transaksi jual beli. Hal ini tentunya melanggar prinsip dari syariah dan aspek etika bisnis.

    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW terkait prinsip atas ketidak kepemilikan barang yang berbunyi:

    يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

    Artinya:

    “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya untuk mereka dari pasar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud No. 3503).

    Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    Solusi Syari untuk Reseller

    Sebagai umat yang taat sudah seharusnya kita menyesuaikan diri dengan berbagai aspek atau prinsip syariah yang telah mutlak sesuai ajaran. Meski demikian, tentunya ada solusi syari untuk reseller yang bisa dipilih.

    1. Memiliki Barang

    Jika belum memiliki barang, sebaiknya tidak menerima akad jual beli. Saran yang bijak adalah membeli barang terlebih dahulu. Setelah itu, baru merespons permintaan pembeli.

    2. Khiyar Syarat

    Toko online menggunakan “khiyar syarat” dengan pemilik barang yang berarti toko online menetapkan syarat agar pemilik barang setuju untuk mengembalikan barang untuk pencegahan jika pembeli membatalkan transaksi.

    Apa Itu Dropshipper?

    Apa Itu Dropshipper?

    Dropshipper adalah individu atau entitas yang menjual produk kepada konsumen akhir tanpa memiliki produk tersebut dalam stok.

    Sebaliknya, dropshipper bekerja sama dengan pemasok atau distributor yang akan mengirimkan produk langsung.

    Dalam hal ini, dropshipper bertindak sebagai perantara antara pemasok dan konsumen akhir.

    Dari sistem ini kita memperoleh keuntungan dengan menjual produk dengan harga yang lebih tinggi daripada harga awal atau pemasok.

    Masalah Dropshipper dalam Prinsip Syariah

    Dropshipper adalah tindakan menjual barang tanpa kepemilikan barang tersebut. Hal ini tentunya jatuh sebagai hukum tidak memenuhi syarat keabsahan suatu akad. Demikian, perbuatan ini tentunya dilarang karena melanggar prinsip syariah.

    Menurut Syaikh Khalid al-Musyaiqih, salah satu syarat agar suatu akad dianggap sah adalah bahwa pihak yang berakad harus menjadi pemilik barang atau uang yang menjadi objek akad tersebut.

    Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW terkait seseorang yang meminta untuk menjual barang, tetapi barang tersebut tidak dimiliki:

    أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَأْتِينِي الرَّجُلُ يَسْأَلُنِي مِنْ الْبَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدِي أَبْتَاعُ لَهُ مِنْ السُّوقِ ثُمَّ أَبِيعُهُ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

    Artinya:

    “Aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku bertanya, ‘Ada seorang laki-laki yang datang kepadaku dan memintaku untuk menjual sesuatu yang tidak ada padaku, bolehkah aku membeli untuknya dari pasar kemudian aku menjual kepadanya?’ Beliau menjawab, ‘Jangan kamu menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Ahmad).

    Selain itu, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan bunyi:

    مَنْ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ

    Artinya:

    “Barangsiapa membeli makanan, hendaknya ia tidak menjualnya kembali sampai ia memilikinya.” Ibnu Abbas berkata, ‘Saya menganggap semua barang seperti halnya makanan’.” (HR. al-Bukhari, No. 2135 dan Muslim, No. 1525)

    Solusi Syari Dropshipper

    Bagi kita yang mungkin sudah terjun di dunia dropshipper mungkin bertanya-tanya bagaimana solusi yang bijak agar praktik ini bisa sesuai dengan ketentuan prinsip Islam. Terdapat beberapa solusi yang bisa kita terapkan untuk masalah tersebut.

    1. Menjadi Wakil Supplier

    Kita perlu mengadakan kesepakatan awal dengan supplier dalam membantu proses penjualan barang dengan harapan berupa komisi dari supplier. Apabila supplier menentukan harga jual, maka kita tidak diperkenankan untuk menaikkan harga.

    Hal ini berbeda jika supplier memberikan izin untuk menaikkan harga jual, maka kita sebagai wakil supplier dapat mengambil untung lebih dari margin produk yang terjual. Tentunya ini diperbolehkan dalam prinsip syariah Islam.

    Menurut Dr. Khalid al-Musyaiqih bahwa seseorang tidak boleh menjadikan barang yang tidak dimilikinya sebagai objek akad. Hal ini berlaku juga untuk proses: akad jual-beli, sewa-menyewa, hibah, syirkah dan lain sebagainya.

    Namun, ketentuan ini bisa dikecualikan dari proses akad salam dan transaksi fudhuli atau at-tasharruf al-fudhuli. Secara khusus, akad ini memiliki artian sebagai:

    “Mentransaksikan hak orang lain, tanpa izin secara syar’i atau perwalian.” (Al-Bahr ar-Raiq, 6/160).

    Dalam proses akad jual-beli, transaksi fudhuli ini dinilai sah dan berlaku akibat hukumnya apabila pemilik barang menyetujui transaksi yang telah dilakukan. (Qawa’id al-‘Aqd, Halaman 17).

    Dari Urwah al-Bariqi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW juga bersabda:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ وَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ

    Artinya:

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor kambing, dengan uang itu ia beli dua ekor kambing, kemudian salah satunya dijual seharga satu dinar, lalu dia menemui beliau dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Maka beliau mendoakannya keberkahan dalam jual belinya itu. Sungguh apabila dia berdagang debu sekalipun, pasti mendapatkan untung.” (HR. al-Bukhari: 3474).

    Dari hadits ini Rasulullah selaku pemilik barang, memberikan persetujuan atas transaksi tanpa izin yang dilakukan oleh Urwah. Hal ini merupakan dalil bahwa dropshipper diperkenankan mengambil keuntungan apabila supplier menyetujui.

    2. Menjadi Wakil Pelanggan

    Kita sebagai dropshipper bersepakat dengan pelanggan untuk membelikan barang tertentu dengan harapan timbal balik berupa komisi. Apabila barang yang dicari ditemukan, maka selanjutnya memberikan kepada pelanggan. 

    Pada kondisi ini, kita tidak berhak menaikkan harga awal barang, tapi mendapatkan komisi sesuai dengan kesepakatan awal yang telah ditentukan bersama.

    Praktik reseller dan dropshipper saat ini cukup marak kita temukan. Memang beberapa aspek belum dipenuhi secara syariah, tapi adanya solusi syari untuk reseller dan dropshipper ini membuat hukum praktik tersebut bisa kita jalankan.

  • Berasal dari Surga, Ini 5 Manfaat Kayu Gaharu Menurut Islam

    Berasal dari Surga, Ini 5 Manfaat Kayu Gaharu Menurut Islam

    Manfaat kayu gaharu menurut Islam sebenarnya sangatlah banyak. Gaharu adalah salah satu tanaman tropis yang memiliki banyak manfaat dan diakui oleh umat Islam. 

    Salah satu manfaat gaharu menurut Islam adalah untuk ramuan dalam pengobatan.

    Mulai dari daun, akar, kulit batang dan buahnya seringkali digunakan sebagai campuran bahan obat tradisional.

    Manfaat Kayu Gaharu Menurut Islam 

    Di Indonesia gaharu saat ini banyak tumbuh di Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Gaharu merupakan salah satu produk perdagangan yang bernilai sangat tinggi.

    Gaharu juga dikenal sebagai jenis kayu yang banyak sekali digunakan dalam wewangian dan obat tradisional. Definisi lain dari kayu gaharu adalah sejenis flake atau serpihan yang memiliki bau khas ketika dibakar. 

    Berikut ini sudah ada manfaat kayu gaharu menurut Islam yang perlu kamu ketahui:

    1. Bermanfaat sebagai Obat

    Manfaat dari kayu gaharu adalah untuk obat. Kayu gaharu saat ini dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

    Misalnya saja seperti sakit kepala, perut kembung, demam dan asma. Sebagai obat, gaharu juga saat ini telah digunakan di Asia Timur. Hal ini tentunya untuk bisa mengobati pusing, mual, sakit perut, dan asma. 

    Di Malaysia, gaharu bisa digunakan sebagai obat rematik, sakit kuning dan pegal-pegal. Gaharu ini diresepkan sebagai karminatif, stimulan, takikardia dan sebagai tonikum.

    Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardu Sesuai Sunnah, Arab, Latin, dan Artinya

    2. Bahan untuk Membuat Parfum

    Aroma gaharu yang khas, tentunya akan membuat tanaman ini biasa digunakan oleh masyarakat di Timur Tengah. Hal ini sebagai bahan pengharum tubuh atau ruangan. 

    Keharuman yang terpancar pada gaharu ini berasal dari kandungan resin yang dikandungnya. 

    Selain itu, gaharu juga digunakan dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk pengobatan (terapeutik) atau wewangian (pengasapan jenazah agar harum). 

    3. Konservatif

    Masyarakat yang ada di Asia Timur telah lama mengetahui manfaat kayu gaharu menurut Islam sebagai bahan pengawet parfum atau kosmetik. Hal ini dikarenakan kayu gaharu mengandung zat antioksidan dan antimikroba.

    Dimana kayu ini sangat aman digunakan sebagai bahan pengawet. Hal inilah yang membuat Masyarakat banyak menggunakan gaharu ini.

    4. Lebih Dekat dengan Allah

    Manfaat gaharu menurut Islam berikutnya adalah sebagai sesuatu yang akan membantu orang lebih dekat dengan Allah. Kayu gaharu seringkali digunakan sebagai bahan baku pembuatan tasbih.

    Gaharu juga berfungsi memberikan wewangian saat melakukan ibadah atau peringatan penting. Hal ini tentunya dapat menambah kekhidmatan agar lebih dekat dengan Allah.

    5. Tenangkan Pikiran

    Kegunaan kayu gaharu juga dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan. Hanya dengan menggunakan gaharu dalam bentuk minyak atau parfum tentunya dapat membantu mengurangi stres.

    Selain itu, juga dapat meningkatkan konsentrasi. Gaharu saat ini dapat mengeluarkan aroma khas yang berasal dari kandungan resinnya. 

    Aroma unik ini sebenarnya diketahui berasal dari zat yang dihasilkan oleh bakteri khusus. Bakteri khusus ini dikenal dengan nama Fusarium sp. Oleh karena itu, tidak jarang kayu gaharu ini dapat diolah dan dijadikan sebagai lilin beraroma.

    Semua bagian pohon gaharu diketahui bisa dimanfaatkan. Jadi tidak hanya getahnya saja, tapi semua bagian pohon gaharu bisa dimanfaatkan.  Mulai dari damar hingga batang, bahkan daunnya.

    Semuanya juga sudah memiliki khasiat dan manfaat masing-masing. Contohnya saja batang gaharu bisa langsung diolah menjadi minyak atsiri. Ada juga daun gaharu yang bisa dibuat menjadi teh herbal berkhasiat.

    Baca juga: Bacaan Doa Kehilangan Barang: Arab Latin dan Artinya Allah Ganti Lebih Baik!

    Manfaat Kayu Gaharu dalam Berbagai Tradisi

    Islam sangat mementingkan zat alami dengan makna spiritual dan manfaat kesehatan. Gaharu tidak terkecuali, berikut manfaatnya dalam berbagai tradisi Islam, antara lain:

    1. Digunakan dalam Ritual Keagamaan

    Manfaat bakar kayu gaharu seringkali digunakan dalam upacara keagamaan dan acara penting, menambah rasa sakral pada acara tersebut. Asap dan wanginya dipercaya sekali akan menambah suasana dan meningkatkan rasa khidmat.

    2. Hubungan dengan Nabi Muhammad (SAW)

    Tradisi Islam juga telah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad (SAW) menghargai kemenyan dan keharumannya. Tradisi ini semakin memperkuat manfaat gaharu menurut Islam.

    3. Disebutkan dalam Teks Islam

    Manfaat gaharu bukan hanya legenda rakyat. Kayu ini telah disebutkan dalam berbagai teks Islam, lebih lanjut menekankan nilai dan pentingnya dalam komunitas Muslim.

    Akan tetapi, di dalam Islam memberikan penegasan bahwa gaharu hanya boleh dimanfaatkan untuk wewangian bukan untuk tujuan memanggil setan, praktek ilmu sihir, dan segala hal yang Allah larang.

    Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari di dalam Manhajusy Syar’i Fi itsbatil Massi Wash Shor’i, menyebutkan: 

    “Dan tidak diragukan lagi bahwa penggunaan Gaharu (orang jawa biasa memakai menyan-pent) adalah merupakan perbuatan para dukun dalam rangka untuk menghadirkan jin dan setan, serta memanggil mereka dengan niat ini. Maka yang seperti ini TIDAK BOLEH.

    Adapun penggunaan gaharu untuk wewangian dan memanfaatkan bau segarnya tidak ada keraguan sama sekali akan kebolehannya”. (Manhajusy Syar’i Fi Itsbatil Massi Wash Shor’i : 223). 

    4. Digunakan untuk Tasbih

    Manik-manik yang ada pada gaharu, juga sebenarnya dikenal sebagai misbaha atau tasbih, banyak digunakan oleh umat Islam selama doa dan meditasi. Bahkan digunakan untuk memperdalam pengalaman spiritual umat Islam.

    Adapun ciri-ciri pohon penghasil kayu gaharu kayu dari surga, akan dijelaskan di bawah ini:

    1. Daun menguning dan rontok;
    2. Bagian atas (seluruh/batang) pohon kecil dan tipis;
    3. Banyak cabang yang patah;
    4. Batang atau cabang dengan tonjolan. Kulitnya kering, rapuh, dan mudah pecah saat ditarik.
    5. Pohon Gaharu ini sebenarnya dapat tumbuh setinggi puluhan meter dan berdiameter sekitar 40 hingga 60 sentimeter

    Beberapa penjelasan di atas terkait manfaat kayu gaharu menurut Islam memang harus diketahui. Hal ini dilakukan agar tidak salah memanfaatkan gaharu ini di dalam kehidupan sehari-hari.

  • Syarat Syari yang Harus Dipenuhi ketika Buka Toko Online

    Syarat Syari yang Harus Dipenuhi ketika Buka Toko Online

    Berencana membuka usaha jualan online? Berikut ada beberapa syarat syari ketika buka toko online yang harus dipenuhi agar bisnis berjalan sesuai syariat. Yuk, ketahui juga hukum jual beli online di bawah ini!

    Jual beli online merupakan salah satu model perdagangan yang banyak peminatnya saat ini. Hal ini karena kita bisa berjualan tanpa harus memiliki toko fisik, serta semua proses transaksinya bisa di mana saja.

    Jika ingin mengetahui syarat syari membuka toko online sesuai syariat Islam, simak penjelasan berikut mengenai jual beli online dan hukumnya dalam Islam!

    Hukum Jual Beli dalam Islam

    Sebagai negara dengan masyarakat mayoritas beragama Islam, hukum jual beli online merupakan aspek penting yang perlu kita perhatikan. Semua kegiatan jual beli harus berlandaskan prinsip dan syariat Islam.

    Menurut hukum Islam, jual beli adalah tukar menukar harta atau benda tanpa ada paksaan atau secara sukarela. Dalam bahasa arab, jual beli disebut Al-bai yang artinya menukarkan sesuatu dengan sesuatu.

    Setiap transaksi jual beli harus dilakukan secara halal, maka kita perlu memahami rukun dan syarat jual beli. Dalam syariat Islam, rukun dan syarat ini menentukan sah atau tidaknya transaksi dalam jual beli.

    Menurut madzhab Syafi’i, rukun jual beli ada tiga hal yakni akad, sighat atau ijab kabul, dan barang yang menjadi objek akad jual beli. Jika semua rukun jual beli sudah terpenuhi, maka transaksi akan dianggap sah.

    Hukum Jual Beli Secara Online

    Setelah mengetahui hukum jual beli, bagaimana dengan hukum jual beli online? Hal ini penting kita ketahui sebelum membahas syarat syari ketika buka toko online. Berikut penjelasannya yang bisa kita pahami.

    Transaksi yang berlangsung melalui toko online, hukum jual beli ini sama seperti jual beli dengan cara surat menyurat. Salah satu rukun jual beli yakni ijab kabulnya dianggap sama dengan jual beli secara langsung.

    Ada tiga bentuk toko online yang memiliki hukum berbeda, yaitu toko online memiliki barang, toko online sebagai agen atau wakil pemilik barang, dan toko online belum memiliki barang. Berikut penjelasannya:

    1. Toko Online Memiliki Barang

    Bagi toko online yang memiliki barang sendiri hukumnya adalah bai’ al-ghaib ‘ala ash-shifat. Artinya jual beli barang yang tidak terlihat bentuknya secara fisik langsung, tetapi spesifikasi barang ada rincian penjelasannya.

    Hukum jual beli online bagi toko yang memiliki barang ini adalah halal karena hukum asal jual beli. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah:

    “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

    Baca juga: Kumpulan Contoh Ceramah Singkat tentang Jujur Beserta Dalilnya

    2. Toko Online Sebagai Wakil Agen

    Toko online dengan status sebagai wakil hukumnya sama seperti pemilik barang. Dengan catatan, barang yang kita jual secara penuh dimiliki oleh pemilik barang sebelum menjualnya di toko online sebagai wakil.

    Hal ini penting kita ketahui sebelum menjelaskan tentang syarat syari ketika buka toko online berstatus sebagai wakil. Dengan kata lain, penjual bertindak sebagai reseller. Berdasarkan hadis riwayat Jabir bin Abdullah:

    “Aku hendak pergi menuju Khaibar, lalu aku menemui Rasulullah SAW, aku mengucapkan salam kepada beliau. Lalu aku berkata ‘Aku ingin pergi ke Khaibar.’ Rasulullah bersabda ‘jika kamu mendatangi wakilku di Khaibar, ambillah darinya 15 wasaq (1 wasaq = 60 sha’) berupa kurma. Jika ia meminta bukti bahwa kamu adalah wakilku, letakkan tanganmu di atas tulang bawah meniru.” (HR. Abu Daud, Hasan).

    3. Toko Online Belum Memiliki Barang

    Jika toko online belum memiliki barang dan juga bukan sebagai wakil, maka terdapat gharar karena barang bukan miliknya yang ia jual. Dari riwayat Hakim bin Hizam mengatakan:

    “Wahai Rasulullah, aku sering melakukan jual beli, apa jual beli yang halal dan yang haram? Rasulullah bersabda ‘Wahai anak saudaraku! Jika kamu membeli barang, janganlah kamu jual sebelum barang tersebut kamu terima.” (HR. Ahmad).

    Itulah penjelasan mengenai hukum jual beli online yang terbagi menjadi tiga bentuk toko yang perlu kita ketahui sebelum buka toko online.

    Syarat Syari ketika Buka Toko Online

    Sebagai umat muslim, tentunya ingin memiliki usaha atau bisnis yang berlandaskan syariat Islam. Rezeki yang kita peroleh bisa mendapatkan ridho Allah SWT dan hukum mencari rezeki lewat jual beli termasuk halal.

    Pada dasarnya, kita boleh membuka toko online dengan syarat harus sesuai dengan syariat dan hukum Islam agar rezekinya menjadi halal. Adapun syarat syari ketika buka toko online adalah sebagai berikut:

    1. Barang Jelas Harus Halal

    Syarat pertama jual beli online adalah barang yang dijual di toko online harus halal. Barang haram tidak boleh dijual seperti jual patung berhala, jual minuman keras, dan jual barang pendukung kemaksiatan.

    Penjual harus memastikan bahwa barang yang hendak ia jual adalah barang halal. Hukum halal dan haram harus kita pahami betul dalam perdagangan, termasuk jual beli online. Dalam hadist menerangkan:

    “Sesungguhnya jika Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Allah mengharamkan pula hasil penjualannya.” HR. Ahmad).

    2. Status Kepemilikan Barang Jelas

    Penjual atau toko online harus memiliki barang yang jelas dan hakiki. Jangan menjual barang yang belum ada ata masih ada di tangan orang lain. Penawaran baru bisa terjadi setelah barang kita miliki sepenuhnya.

    Aturan ini berdasarkan hadits dari Hakim bin Hizam, ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:

    “Wahai Rasulullah, ada seseorang mendatangiku, lalu meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membenarkan untuk mereka dari pasar? Rasulullah SAW menjawab: Janganlah menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud).

    Ketika kita membeli barang di toko online, kita hanya sebatas memesan atau permohonan, belum setuju membeli. Sebaiknya pemilik toko hati-hati karena transaksi secara online bisa terjadi pembatalan sepihak.

    3. Kesesuaian Harga dan Kualitas

    Syarat syari ketika buka toko online selanjutnya adalah harus memahami bahwa jual beli perlu kejujuran, seperti harga barang harus sesuai kualitasnya. Hal ini karena jual beli online tidak ada pertemuan langsung.

    Risiko terjadinya penipuan memang sangat rentan pada jual beli online. Oleh karena itu, jika ingin memiliki toko online yang bisa dipercaya oleh pelanggan, maka harus jual barang sesuai harga pasarannya.

    Jangan menjual barang yang harganya terlalu tinggi atau terlalu rendah dari pasaran. Terpenting penjual tetap bisa mendapatkan untung dan laku keras. Islam melarang menjual barang dengan harga tidak sesuai kualitas.

    4. Kejujuran Jual Beli Online 

    Dalam jual beli online, kejujuran adalah hal yang sangat penting karena berkaitan dengan kehalalan dalam berjualan online. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Muthaffifin yang artinya:

    “Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang (dalam bisnis), orang-orang yang jika menerima takaran dari orang lain mereka meminta penuh, dan jika mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3).

    Oleh karena itu, ketika ingin memiliki toko online maka harus berjualan secara halal dan tidak boleh berbohong terkait harga, kondisi barang dan sebagainya. Dengan begitu, jual beli akan dianggap sah dan halal.

    Solusi Syari Jual Beli Online

    Pada dasarnya, hukum jual beli online diperbolehkan dan halal jika memiliki barang atau penjual berstatus sebagai wakil. Lalu, bagaimana dengan toko online yang belum memiliki barang atau bukan sebagai wakil?

    Berikut ini terdapat solusi syari bagi toko online yang belum ada barang milik sendiri dan bukan sebagai wakil agar boleh jual beli secara online, yaitu:

    1. Permohonan barang bukan berarti sebagai ijab sari toko
    2. Jika belum ada barang, tidak boleh ada akad jual beli. Barang yang dipesan pembeli, kita beli terlebih dahulu. Setelah itu, kita jawab permintaan pembeli dan melakukan pembayaran. Kemudian, barang dikirim ke alamat pembeli
    3. Toko online meminta syarat khiyar kepada pemilik barang, toko online bisa memberi syarat untuk mengembalikan barang dalam waktu beberapa hari. Hal ini untuk berjaga-jaga jika pembeli membatalkan transaksi.

    Demikian penjelasan syarat syari ketika buka toko online dan solusi ketika belum memiliki barangnya. Sebab. jual beli harus memenuhi rukun jual beli yakni akad, ijab kabul, dan barang yang menjadi objek akad.

  • 15 Nama-Nama Surga yang Ada dalam Al-Qur’an

    15 Nama-Nama Surga yang Ada dalam Al-Qur’an

    Ada banyak nama-nama surga yang disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satu surga yang terkenal adalah Firdaus. Tentu sebagai seorang muslim, surga firdaus menjadi dambaan sebagai tujuan akhir di akherat kelak.

    Surga sendiri adalah tempat yang kekal dan merupakan tempat sebagai balasan bagi orang beriman. Surga memiliki beberapa tingkatan yang penghuninya disesuai dengan amalan perbuatan selama di dunia.

    Surga digambarkan sebagai tempat yang penuh dengan kenikmatan. Bahkan kenikmatan tersebut tidak terbayangkan oleh manusia. Meski begitu, visualisasi mengenai surga dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

    Penasaran dengan nama-nama surga tersebut? Yuk simak pembagiannya di bawah ini!

    Nama-Nama Surga dalam Islam

    Telah dijelaskan sebelumnya bahwa surga merupakan tempat terbaik yang menjadi tujuan akhir seorang muslim dan telah disediakan oleh Allah SWT bagi hamba-Nya yang mampu menghadapi ujian-ujian di dunia. Sebab dunia hanyalah tempat ujian bagi seorang muslim.

    Tak heran jika surga merupakan tempat yang paling diidam-idamkan karena kita akan hidup kekal di dalamnya. Bahkan, saking baiknya tempat di surga, mereka yang bermaksiat pun ingin tetap menjadi penghuni surga.

    Namun, semua kenikmatan dalam surga itu tidaklah mudah didapatkan. Mengutip buku Kiamat dan Akhirat oleh S. Royani Marhan, surga berasal dari bahasa Arab Al-Jannah. Kata Al-Jannah sendiri berasal dari kata janana yang artinya ‘tertutup’.

    Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 13, Allah SWT berfirman tentang keadaan surga di akhirat:

    تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدْخِلْهُ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

    Tilka ḥudụdullāh, wa may yuṭi’illāha wa rasụlahụ yudkhil-hu jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru khālidīna fīhā, wa żālikal-fauzul-‘aẓīm

    Artinya: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

    Untuk gambaran atau visualisasi mengenai keindahan surga, Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan keindahan surga:

    “Surga itu tidak bisa dibayangkan. Demi Tuhan Ka’bah, ia adalah cahaya yang berkilauan, aroma harum semerbak, istana yang megah, sungai yang bening mengalir, buah-buahan yang segar dan siap santap, istri yang cantik jelita, tempat yang abadi, negeri yang sejahtera, kesenangan, kenikmatan, di tempat yang tinggi, indah dan asri.” (HR. Ibnu Majah)

    Selain itu, surga juga memiliki beberapa tingkatan, disebutkan Rasulullah SAW bahwa setiap tingkatan surga ini jaraknya sejauh bumi dan langit.

    Surga itu terdiri dari seratus tingkat. Jarak antara yang satu dan yang lainnya seperti antara bumi dan langit. Dan tingkatan tertinggi adalah Surga Firdaus,” (HR Abu Sa’id Al Khudri).

    Adapun nama-nama surga tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Surga Firdaus

    Nama-nama surga yang pertama yakni surga firdaus. Dijelaskan sebelumnya bahwa surga paling baik adalah surga firdaus, sebab surga ini diciptakan Allah SWT dari emas.

    Surga ini disiapkan bagi orang beriman yang khusyu dalam sholat, menunaikan zakat, menjaga diri dengan baik serta menjaga kemaluannya dan tentu orang-orang beriman yang senantiasa menaati perintah Allah SWT.

    Penggambaran mengenai surga firdaus merupakan tempat yang memilliki makna mendalam dimana orang-orang soleh akan menikmati kebahagiaan luar biasa. 

    Selain itu, surga firdaus juga digambarkan sebagai tempat yang penuh dengan keindahan luar biasa. Penghuninya akan senantiasa melihat pemandangan menakjubkan, taman yang subur serta sungai yang mengalir, begitulah gambaran yang bisa kita bayangkan.

    Nama surga ini pun diabadikan dalam surah Al-Kahfi ayat 107 yang berbunyi:

    “Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.”

    Bahkan ketetapan penghuni Surga Firdaus juga diatur dalam Al-Qur’an, surah Al Mukminun ayat 1-11 yang berbunyi,

    قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ ١ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ ٢ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ ٣ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فٰعِلُوْنَ ۙ ٤ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ ٥ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ ٦ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ ٧ وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ ٨ وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ ٩ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَ ۙ ١٠ الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ١١

    Artinya:”Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna;

    orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki.

    Sesungguhnya mereka tidak tercela (karena menggaulinya). Maka, siapa yang mencari (pelampiasan syahwat) selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

    (Sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka. Orang-orang yang memelihara salat mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi.

    (Yaitu) orang-orang yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Mukminun: 1-11)

    Baca juga: Tata Cara Sholat Gerhana Bulan dan Matahari Sesuai Sunnah

    2. Surga Adn

    Surga Adn

    Surga yang kedua yakni surga Adn yang Allah SWT buat dari intan putih. Surga ini dihuni oleh orang yang beriman karena kesempurnaan iman dan keislamannya yakni yang bersabar menerima ujian dalam hidupnya.

    Bahkan surga ini merupakan salah satu tingkatan surga dalam ajaran Islam yang mencerminkan kekekalan, keabadian, dan kenikmatan yang tak terhingga bagi penghuninya. Penghuninya tidak akan mengalami penuaan, penyakit, atau kematian. Mereka akan hidup dalam keadaan yang sempurna selamanya.

    Firman Allah mengenai suga Adn tercatat dalam surat As Shaff ayat 12

    يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    Artinya: “niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.”

    Selain itu, hal ini turut dijelaskan dalam surat Thaha, Surga ‘Adn adalah salah satu surga yang memiliki banyak sungai di bawahnya. Berikut bunyi surah Thaha Ayat 76:

    “(yaitu) surga-surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri.”

    3. Surga Na’im

    Nama-nama surga selanjutnya yakni surga Na’im, surga ini disebut juga sebagai surga kenikmatan. Surga ini merupakan tempat bagi orang-orang yang senang mengerjakan amal sholeh.

    Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu firman Allah SWT pada surat Luqman ayat 8 yang berbunyi,

    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan,”

    4. Surga Ma’wa

    Surga selanjutnya yakni surga Ma’wa. Kata Ma’wa berasal dari awa-ya wi yang memiliki arti menyatu dengan suatu tempat dan menetap di sana. 

    Ahli tafsir Atha mengatakan, surga Ma’wa disebut sebagai tempat tinggal malaikat Jibril dan malaikat lainnya. Surga Ma’wa menjadi tempat orang-orang beriman yang bertakwa, beramal sholeh, meyakini kebesaran Allah SWT dan mampu menahan hawa nafsu.

    Surga Ma’wa disebutkan dalam surat An Najm ayat 15,

    عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ

    Artinya: “Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”

    5. Surga Darussalam

    Surga Darussalam adalah surga yang diciptakan oleh Allah dari yaqut merah. Penghuni surga ini adalah orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya dan orang yang selalu mengakui kebesaran Allah SWT.

    Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al An’am ayat 127 yang berbunyi,

    ۞ لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

    Artinya: “Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai (surga) di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan.”

    Baca juga: 10 Dosa Besar Istri Terhadap Suami yang Sering Dianggap Remeh

    6. Darul Muqamah

    Darul Muqamah adalah sebutan untuk surga yang diciptakan dari permata putih. Penghuni surga ini adalah orang yang senantiasa berpegangan teguh kepada iman, pandai bersyukur  dan yang senantiasa memperbanyak amal sholeh.

    Bukti keberadaan surga ini dijelaskan dalam surat Fathir ayat 35,

    ٱلَّذِىٓ أَحَلَّنَا دَارَ ٱلْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِۦ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

    Artinya: “Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.”

    7. Maqamul Amin

    Orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah SWT akan ditempatkan di Maqamul Amin. Surga ini adalah tempat kembali bagi orang-orang yang bertakwa.

    Allah berfirman dalam surat Adh-Dhukhan ayat 51,

    إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ أَمِينٍ

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman.”

    8. Surga Khuldi

    Surga ini diperuntukan bagi orang-orang yang semasa hidupnya selalu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya. Orang-orang tersebut akan dikumpulkan dalam surga Khuldi, yakni surga yang diciptakan dari marjan merah dan kuning.

    Allah berfirman dalam surat Al Furqan ayat 15,

    قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا

    Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Apakah (azab) seperti itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan, dan tempat kembali bagi mereka?”

    9. Surga Jannatul Ma’wa

    Nama-nama surga lainnya yang juga disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu surga Jannatul Ma’wa.  Umat Islam yang masuk ke dalam surga ini akan terlindungi dan tinggal untuk selamanya.

    Berikut ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang surga Jannatul Ma’wa:

    عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ

    ‘indahā jannatul-ma`wā

    Artinya: “Di dekatnya ada surga tempat tinggal,” (Q.S An-Najm: 15).

    10. Surga Darul Qarar

    Surga Darul Qarar adalah tempat tinggal kekal bagi seorang muslim. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut ini:

    يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

    Yâ qaumi innamâ hâdzihil-ḫayâtud-dun-yâ matâ‘uw wa innal-âkhirata hiya dârul-qarâr

    Artinya: “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal,” (Q.S Al-Ghaafir: 39).

    11. Surga Darul Muttaqin

    Darul Muttaqin termasuk dalam nama-nama surga yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Surga ini diperuntukan bagi orang yang bertakwa, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

    وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا۟ خَيْرًا ۗ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ ٱلْمُتَّقِينَ

    Wa qīla lillażīnattaqau māżā anzala rabbukum, qālụ khairā, lillażīna aḥsanụ fī hāżihid-dun-yā ḥasanah, wa ladārul-ākhirati khaīr, wa lani’ma dārul-muttaqīn

    Artinya: “Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa:

    “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik.  Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,” (Q.S An-Nahl: 30).

    12. Surga Husna

    Nama-nama surga lainya yakni surga husna, surga ini diperuntukan bagi orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:

    لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

    Lillażīna aḥsanul-ḥusnā wa ziyādah, wa lā yar-haqu wujụhahum qataruw wa lā żillah, ulā`ika aṣ-ḥābul-jannati hum fīhā khālidụn

    Artinya: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.

    Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya,” (Q.S Yunus: 26).

    13. Surga Maq’adu Shidq

    Surga Maq’adu Ahidq merupakan surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai dan taman-taman. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Qamar ayat 54-55:

    إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ

    فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِر

    Fii maq’adi shidqin ‘inda maliikin muqtadirin

    Inna almuttaqiina fii jannaatin wanaharin

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa”.

    14. Surga Darul Hayawan

    Surga Darul Hayawan merupakan tempat yang kekal, sebagaimana firman Allah SWT berikut:

    وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

    Wa mā hāżihil-ḥayātud-dun-yā illā lahwuw wa la’ib, wa innad-dāral-ākhirata lahiyal-ḥayawān, lau kānụ ya’lamụn

    Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui,” (Q.S Al-Ankabut: 64).

    15. Surga Al-Ghurfah

    Nama-nama surga yang dijelaskan dalam Al-Qur’an yang terakhir yakni surga Al-Ghurfah. Surga ini dperuntukan bagi mereka yang sabar.

    Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Furqan ayat 75 yang berbunyi:

    أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا

    Ulā`ika yujzaunal-gurfata bimā ṣabarụ wa yulaqqauna fīhā taḥiyyataw wa salāmā

    Artinya: “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,” (Q.S Al-Furqan: 75).

    Nah, itulah dia nama-nama surga yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Semoga kita menjadi salah satu penghuni dari surga-surga tersebut, aamiin.

  • Pertanyaan di Alam Kubur dari Malaikat dan Jawabannya

    Pertanyaan di Alam Kubur dari Malaikat dan Jawabannya

    Ketika umat Islam meninggal, maka akan diawali dengan pertanyaan di alam kubur dari Malaikat. Pertanyaan ini akan diajukan oleh Munkar dan Nakir sebagai Malaikat yang memiliki tugas untuk menanyai ruh atau orang yang sudah meninggal.

    Pada alam kubur, Munkar dan Nakir akan mengajukan beberapa pertanyaan. Bagi yang beriman dan beramal shaleh, tentu pertanyaan ini akan mudah untuk dijawab.

    Sementara, untuk orang yang tidak beriman, maka akan sulit menjawabnya.

    Pengertian Alam Kubur

    Alam kubur merupakan tempat singgah awal dalam menuju fase kehidupan yang hakiki. Pada fase ini juga ditandai dengan adanya pertanyaan di alam kubur dari Malaikat.

    Pertanyaan yang diajukan oleh malaikat ini menjadi penanda apabila kita mudah untuk menjawab, maka akan dilancarkan setelah. Demikian sebaliknya, apabila kita kesulitan, maka setelahnya akan lebih sulit lagi sebagaimana sabda Rasulullah:

    إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَـازِلِ اْلآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَـا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

    “Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama dari kehidupan akhirat, jika seseorang selamat darinya, maka (kehidupan) setelahnya akan lebih mudah. Dan jika seseorang tidak selamat darinya, maka (kehidupan) setelahnya akan lebih dahsyat.” (HR. at-Tirmidzi No. 2308).

    Bagi kita yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur, tentunya akan berusaha sebisa mungkin dalam berbuat amal kebaikan. Adanya amal kebaikan akan membantu kita dalam menjawab pertanyaan di alam kubur dari malaikat.

    Dalil Mengenai Adanya Nikmat dan Azab di Alam Kubur

    Nikmat dan adzab kubur merupakan perkara gaib yang sulit dilihat dan dirasakan oleh manusia yang masih hidup. Apabila manusia itu meninggal dan merasakannya, tentu tidak dapat mengabarkan kepada insan manusia yang masih hidup.

    Satu-satunya keyakinan kita sebagai umat yang beriman akan adanya adzab dan nikmat kubur serta pertanyaan di alam kubur dari malaikat, yakni bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. 

    Adapun dalil-dalil dari dalam Al-qur’an maupun Sunnah yang bisa kita ketahui terkait adanya nikmat serta azab di alam kubur, yakni seperti di bawah:

    1. Dalil Menurut Al-Qur’an

    وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَاب

    Artinya:

    “…dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Al Mu’min: 45-46).

    Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penggalan dari ayat ini, “Arwah Fir’aun dan pengikut setianya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus-menerus hingga hari kiamat tiba.

    Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan pedih dan panasnya api neraka.” Beliau juga mengatakan bahwa pada potongan ayat ini menjadi landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya azab kubur.

    Sementara, Al Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya membuat judul bab باب مَا جَاءَ فِى عَذَابِ الْقَبْرِ atau (Bab dalil-dalil tentang azab kubur), lalu beliau menyebutkan ayat di bawah.

    وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

    Wa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każiban au qāla ụḥiya ilayya wa lam yụḥa ilaihi syai`uw wa mang qāla sa`unzilu miṡla mā anzalallāh, walau tarā iżiẓ-ẓālimụna fī gamarātil-mauti wal-malā`ikatu bāsiṭū aidīhim, akhrijū anfusakum, al-yauma tujzauna ‘ażābal-hụni bimā kuntum taqụlụna ‘alallāhi gairal-ḥaqqi wa kuntum ‘an āyātihī tastakbirụn.

    Artinya:

    Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An’am: 93)

    Seorang pakar tafsir dari Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan bahwa konteks kalimat azab yang ditujukan kepada orang-orang kafir tersebut dirasakan ketika sakaratul maut, ketika dicabut nyawa dan setelahnya berdasarkan ayat di atas.

    Baca juga: 8 Nama Neraka serta Calon Penghuninya dalam Al-Qur’an

    2. Dalil Menurut As-Sunnah

    Tidak hanya menurut tafsiran yang bersumber dari Al-Qur’an terkait adanya nikmat dan azab di alam kubur. Namun, beberapa sabda dari Nabi Muhammad SAW juga demikian dalam mengabarkan adanya siksaan di alam kubur:

    لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُسْمِعَكُمْ من عَذَابَ الْقَبْرِ ما أسمعني

    “Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar.” (HR. Muslim No. 7393 dan Ahmad No. 12026).

    Hadits lainnya yang juga menunjukkan bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha meyakini adanya adzab kubur setelah diberitahu oleh Rasulullah SAW. Hal ini diketahui setelah dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang kepada Aisyah.

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَىَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِى إِنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِى قُبُورِهِمْ ، فَكَذَّبْتُهُمَا ، وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا ، فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ ، فَقَالَ «  صَدَقَتَا ، إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا ». فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِى صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

    Artinya:

    “Dari Aisyah Radhiallahu ‘anha, ia berkata: Suatu ketika ada dua orang tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang kepadaku. Mereka berdua berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak mempercayainya. Kemudian mereka berdua keluar. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam datang menemuiku. Maka aku pun menceritakan apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi kepada beliau. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang sudah mati akan diadzab dan semua binatang ternak dapat mendengar suara adzab tersebut’. Dan aku pun melihat beliau senantiasa berlindung dari adzab kubur setiap selesai shalat” (HR. Bukhari No. 6005)

    Rasulullah SAW juga pernah bersabda mengenai hamba yang meninggal dan didatangi oleh kedua Malaikat untuk menanyai hamba tersebut.

    إِذَا أُقْعِدَ الْمُؤْمِنُ فِى قَبْرِهِ أُتِىَ ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

    Artinya:

    “Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan:’Laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rasulullaah’. Itulah yang dimaksud al qauluts tsabit dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya): ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari No. 1369 dan Muslim No. 7398). 

    Dari penjelasan dalil Al-qur’an dan As-Sunnah ini menjadi bukti bahwa surat Ibrahim ayat 27 berbicara tentang adzab kubur. Adapun Rasulullah SAW sendiri yang menafsirkan seperti penjelasan di atas.

    Terdapat juga sabda Rasulullah SAW dalam hal yang berkaitan dengan siksa di alam kubur sebagaimana bunyinya:

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ ، فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِى قُبُورِهِمَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم –«  يُعَذَّبَانِ ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِير» ، ثُمَّ قَالَ « بَلَى ، كَانَ أَحَدُهُمَا لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ »

    Artinya:

    “Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian pekuburan di Madinah atau Makkah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diazab di kuburnya. Beliau bersabda, ‘Keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena dosa besar (menurut mereka berdua),’, lalu Nabi bersabda: ‘Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diazab karena tidak membersihkan bekas kencingnya, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)” (HR. Bukhari No. 6055).

    Adanya siksaan atau azab kubur yang ditimpakan pada seorang hamba setelah kematian, tentunya membuat kita perlu menyiapkan bekal berupa amal kebaikan. 

    Selain itu, amal kebaikan ini juga akan membantu kita dalam menjawab pertanyaan di alam kubur dari malaikat. Apabila kita mudah dalam menjawab pertanyaan, tentunya kita akan mendapatkan kenikmatan di dalam kubur.

    Pertanyaan di Alam Kubur dari Malaikat

    Alam kubur adalah menjadi salah satu aspek penting dalam kepercayaan Islam. Hal ini mengingat alam kubur menjadi fase pertama setelah kematian seseorang sebelum hari kebangkitan.

    Seseorang akan menghadapi berbagai pertanyaan di alam kubur dari malaikat, yakni Munkar dan Nakir. Pertanyaan ini untuk menguji keimanan dan amal baik seseorang selama hidupnya.

    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang Malaikat yang menanyai mayat ketika sudah dikuburkan:

    “Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Mungkar dan yang lain Nakir, keduanya berkata: Apa pendapatmu tentang orang ini (Nabi Muhammad)? Maka ia menjawab sebagaimana ketika di dunia: Abdullah dan Rasul-Nya, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya berkata: Kami telah mengetahui bahwa kamu dahulu telah mengatakan itu. Kemudian kuburannya diperluas 70 x 70 hasta, dan diberi penerangan, dan dikatakan: Tidurlah. Dia menjawab: “Aku mau pulang ke rumah untuk memberitahu keluargaku.” Keduanya berkata: “Tidurlah, sebagaimana tidurnya pengantin baru, tidak ada yang dapat membangunkannya kecuali orang yang paling dicintainya, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya tersebut”. (HR. Imam Tirmidzi No. 1071).

    Dari penjelasan di atas menjelaskan bahwa Malaikat Munkar dan Nakir akan menanyai kita apabila telah meninggal dan dimasukkan ke dalam kubur. Beberapa hadits lainnya juga menyatakan pertanyaan yang sama diajukan oleh Munkar dan Nakir:

    فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ

    Artinya:

    “Di dalam kubur akan ditanyakan siapa Rabbmu, apa agamamu, dan siapa nabimu.” (HR. Tirmidzi dan Muslim No. 2871).

    Dalam beberapa riwayat dikatakan ketiga pertanyaan tersebut diikuti dengan tiga pertanyaan berikutnya sehingga berjumlah enam pertanyaan, yakni:

    • Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?
    • Ma dinuka? Apa agamamu?
    • Man nabiyyuka? Siapa Nabimu?
    • Ma kitabuka? Apa kitabmu?
    • Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu?
    • Man ikhwanuka? Siapa saudaramu?

    Meski pertanyaan di alam kubur dari malaikat ini mudah untuk dijawab, namun sejatinya tergantung dengan amal saleh selama hidup di dunia. Jika kita berbuat baik yang diridhoi Allah, tentu mudah untuk menjawabnya.

    Oleh karena itu, penting untuk selalu meningkatkan iman dan berusaha melakukan amal baik dalam kehidupan di dunia. Hal ini tentu agar dapat menjawab pertanyaan di alam kubur dari malaikat dengan keyakinan.