Category: Agama

  • Apa Itu Rukun Haji? Pengertian, Syarat, dan Isi Rukun Haji

    Apa Itu Rukun Haji? Pengertian, Syarat, dan Isi Rukun Haji

    Sebagai umat muslim, Anda tentu ingin menjalani semua rukun Islam mulai dari syahadat, sholat, zakat, puasa, hingga haji. Terutama ibadah haji yang merupakan salah satu rukun Islam wajib jika sudah mampu. Namun, sebelum menjalankan ibadah ini, Anda perlu mengetahui apa saja rukun haji. Yuk, simak selengkapnya di sini!

    Pengertian Haji

    Haji secara bahasa artinya mengunjungi atau menuju, namun ada juga yang mengartikannya sebagai ziarah tahunan dalam Islam. Ziarah tersebut dilakukan di kota paling suci bagi umat Islam, yaitu Kota Mekkah, Arab. 

    Konsep haji sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, namun berdasarkan Al-Qur’an mulai dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim. Pada saat itu, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT. Di mana dirinya harus meninggalkan istrinya yang bernama Siti Hajar dan putranya Ismail di gurun panas dan tidak memiliki sumber mata air. 

    Siti Hajar kebingungan mencari air untuk putranya sampai berlari-lari antara bukit Safa dan Marwah, namun tidak berhasil mendapatkan air. Kemudian, Ismail menggaruk tanah dengan kakinya, lalu munculah air mancur yang sampai saat ini disebut air zam-zam. 

    Tempat tersebut juga menjadi tempat berdirinya Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim dan Ismail. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut juga tertera dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 124 – 127.

    Syarat Haji 

    Nah, sebelum mengetahui apa rukun haji, sebaiknya Anda mengerti tentang syarat-syarat wajib dan sah dari ibadah satu ini. Jika seseorang tidak memenuhi syarat yang ada, maka mereka tidak wajib menjalankan ibadah haji. Berikut ini syarat-syarat yang perlu Anda ketahui: 

    1. Syarat Wajib Haji 

    Berikut syarat haji bagi umat muslim: 

    • Beragama Islam.
    • Memiliki akal yang sehat atau tidak gila.
    • Sehat jasmani dan rohani. Hal tersebut penting karena menjalankan haji memerlukan kesehatan fisik dan mental untuk melaksanakan rukunnya dengan sempurna selama berhari-hari.
    • Merdeka atau bukan budak.
    • Sudah baligh atau mencapai usia dewasa.
    • Mampu secara mental, fisik, dan materi. Ini karena ibadah haji membutuhkan biaya yang tidak murah. Oleh sebab itu, jika Anda ingin pergi haji, maka pastikan secara materi sudah mampu. Serta jangan sampai mendatangkan mudharat bagi keluarganya karena memaksakan biaya keberangkatan haji. 

    Selain itu, orang yang berangkat haji juga wajib menyiapkan biaya hidup untuk keluarganya yang di rumah, seperti anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. 

    2. Syarat Sah Haji 

    Berikut syarat sah haji bagi umat muslim yang ingin melaksanakannya: 

    • Beragama Islam.
    • Mencapai usia dewasa atau baligh.
    • Berakal.
    • Merdeka dan bukan seorang budak.

    Sebenarnya, syarat sah dan syarat wajib haji hampir sama, perbedaannya sendiri terletak pada pengertian. Syarat wajib merupakan syarat yang harus Anda penuhi dan membuat seseorang wajib menjalankan haji. Sedangkan syarat sah adalah syarat yang harus dipenuhi agar ibadah haji Anda menjadi sah secara hukum Islam.

    Rukun Haji 

    Setelah mengetahui pengertian, syarat wajib, dan syarat sah, sekarang saatnya Anda mengetahui apa saja rukun haji. Rukun adalah serangkaian kegiatan yang harus Anda lakukan selama menjalankan proses ibadah mulai dari awal sampai akhir. Jika kegiatan ini tidak Anda lakukan, ibadah haji tidak sah atau batal. Berikut rukun-rukunnya: 

    1. Ihram 

    Ihram merupakan kondisi suci sebagai tanda dimulainya pelaksanaan ibadah haji. Mulai dari bacaan niat dengan mengenakan pakaian ihram yang serba putih dengan ketentuan tertentu sebagai lambang kebersihan dan kesucian. 

    Ketentuan pakaian untuk laki-laki adalah dua kain putih dengan lilitan di pinggang sampai bawah lutut dan kain satunya lagi disampirkan pada bahu sebelah kiri. Sedangkan untuk perempuan, menggunakan kain biasa yang menutup aurat namun tangan dan wajah dalam kondisi tidak tertutup. 

    Saat pelaksanaan ihram, terdapat beberapa larangan. Seperti tidak boleh mencukur rambut pada bagian tubuh tertentu, memakai parfum, memotong kuku, dan membunuh hewan. Lalu, melakukan hubungan seksual, menikah, dan menutup kepala bagi laki-laki, serta menutup wajah dan tangan bagi perempuan. 

    Tujuan ihram adalah untuk menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara semua jamaah ibadah haji di hadapan Allah SWT. Tidak ada orang kaya dan orang miskin, tidak ada golongan-golongan tertentu, semuanya adalah hamba Allah yang sama. 

    Kain yang harus Anda pakai saat ihram adalah kain tanpa jahitan, hal ini merupakan simbol bahwa manusia tidak boleh sombong secara materi. Jika para jamaah haji memakai pakaian yang berbeda, tentu akan ada penghalang yang memisahkan manusia akibat perbedaan tersebut. 

    2. Wukuf

    Rukun haji yang kedua adalah melaksanakan wukuf. Wukuf merupakan rukun yang pelaksanaannya dengan cara berdiam diri dan tidak memikirkan apapun. Anda hanya perlu berdzikir dan memperbanyak do’a di Padang Arafah, mulai dari matahari terbenam hingga terbit pada tanggal 9 sampai 10 Dzulhijjah. 

    3. Tawaf 

    Tawaf adalah rukun yang dilakukan dengan cara berjalan mengelilingi Ka’bah berlawanan arah jarum jam. Ketika jamaah tiba di Masjidil Haram, maka harus menjalankan tawaf kedatangan. Selama pelaksanaan tawaf, jamaah berkesempatan untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad. 

    Terdapat hal yang tidak boleh Anda lakukan selama pelaksanaan tawaf, yaitu makan. Namun, boleh tetap minum karena saat pelaksanaan tawaf bisa saja merasakan dehidrasi akibat berdesakan saat mengelilingi Ka’bah. 

    Ketentuan rukun ini untuk jamaah laki-laki dianjurkan untuk mengelilingi Ka’bah dengan langkah cepat pada tiga sirkuit atau putaran awal. Kemudian, sisanya bisa berjalan dengan santai. 

    Jika tawaf sudah selesai, Anda bisa melaksanakan sholat dua rakaat di makam Nabi Ibrahim yang lokasinya berada di dekat Ka’bah. Namun, jika tempat tersebut sudah penuh karena banyaknya jamaah haji dan tidak memungkinkan untuk sholat di dekat Ka’bah, Anda bisa tetap sholat di masjid. 

    Setelah pelaksanaan sholat dua rakaat, Anda sebagai jamaah bisa meminum air dari sumur zam-zam. Air tersebut tersedia di sekitar masjid. Ketika meminum air zam-zam dianjurkan berdo’a terlebih dahulu. Kemudian disertai keyakinan bahwa air zam-zam tersebut akan membawa keberkahan dalam tubuh atas kebesaran Allah SWT. 

    4. Sa’i 

    Setelah tawaf, selanjutnya adalah pelaksanaan rukun yang bernama sa’i. Caranya dengan berlari-lari kecil maupun berjalan santai di antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Rukun ini berhubungan dengan Siti Hajar pada saat mencari air untuk Ismail di antara bukit Safa dan Marwah.

    5. Tahallul 

    Setelah pelaksanaan sa’i, rukun haji selanjutnya adalah tahallul. Bagi para jamaah laki-laki, saat tahallul dianjurkan untuk mencukur atau merapikan rambut. Sedangkan bagi perempuan cukup memotong rambut sedikit saja. 

    Tahallul sendiri dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah jamaah sudah melaksanakan pelontaran jumrah. Lontar jumrah merupakan rukun yang harus Anda lakukan dengan cara melemparkan batu kerikil pada jumrah. Hal itu akan mengingatkan bahwa iblis akan selalu berusaha menghalangi orang beriman untuk berbuat kebaikan. 

    Setelah tahallul selesai, semua larangan dalam ibadah haji sudah boleh dilakukan kecuali larangan berhubungan suami istri. Namun, ini hanya berlaku untuk tahallul awwal. Jika sudah tahallul tsani, yaitu sudah melempar jumrah, cukur, dan tawaf ifadah, maka orang tersebut boleh melakukan semua larangan termasuk hubungan suami istri.

    6. Tertib 

    Rukun ibadah yang terakhir dan wajib Anda penuhi adalah tertib. Artinya, sebagai jamaah, Anda wajib melaksanakan seluruh rukun dengan berurutan. Mulai dari ihram sampai tahallul atau merapikan rambut. 

    Sudah Mengetahui Tentang Apa Saja Rukun Haji? 

    Sekarang ini sudah semakin banyak umat muslim yang berbondong-bondong untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu ziarah ke Mekkah. Namun, selain persiapan fisik, mental, dan materi, sangat penting juga untuk mengetahui tentang rukun haji yang sudah ditetapkan.

    Pastikan sebelum berangkat haji, Anda mempelajari terlebih dahulu mulai dari syarat wajib, syarat sah, hingga rukunnya sebaik mungkin. Karena jika Anda sampai melewatkan satu saja rukunnya, maka ibadah haji hukumnya menjadi tidak sah. Selamat beribadah dan semoga membantu!

  • Hukum Waris dalam Islam: Pengertian, Rukun, Syarat & Pembagian yang Adil

    Hukum Waris dalam Islam: Pengertian, Rukun, Syarat & Pembagian yang Adil

    Seperti apa hukum waris dalam Islam? Selain hukum waris, setiap urusan manusia baik tentang duniawi atau ukhrawi sudah diatur di dalam ajaran agama Islam. Apalagi Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan dan kemaslahatan.

    Adil di sini bukan sama rata atau mendapatkan bagian sama. Adil tersebut yaitu mendapatkan sesuai proporsi atau haknya. Begitu juga terkait pembagian harta warisan ini. Sudah ada ketetapan di dalam agama Islam untuk membagi warisan tersebut seadil-adilnya.

    Pengertian Waris dalam Islam

    Islam merupakan agama yang sangat sempurna. Berbagai hal telah dijelaskan dalam Islam, termasuk mengenai pembagian harta waris. Di dalam Islam, membagi warisan harus ada aturannya yang wajib disepakati semua ahli waris.

    Pengertian waris dalam Islam yaitu proses perpindahan atau pengalihan harta seseorang yang sudah meninggal pada keluarga atau orang-orang yang menjadi ahli waris. Ahli waris adalah orang atau pihak-pihak yang memiliki hak menerima harta warisan.

    Adapun menurut Kompilasi Hukum Islam sesuai yang tertuang pada Pasal 171, hukum waris dalam Islam yaitu hukum yang dibuat dengan tujuan mengatur pemindahan hak terkait kepemilikan harta dari pewaris. Hal ini berkaitan tentang siapa saja yang berhak menerima warisan beserta jumlahnya.

    Bahkan hukum tersebut mengatur jenis harta atau warisan yang ditinggalkan. Semuanya akan diatur sedemikian rupa sesuai hak para ahli waris. Menetapkan hukum ini tentu sebuah kewajiban karena berkaitan dengan hak seseorang. 

    Rukun Waris dalam Islam

    Dalam menerapkan hukum waris dalam Islam, terdapat 3 rukun penting yang mesti dipenuhi. Ketiga rukun tersebut yaitu:

    1. Ada yang Mewariskan

    Rukun yang pertama sudah pasti harus ada orang yang mewariskan atau al-muwarits. Maksudnya, si mayit yang mempunyai harta warisan.

    2. Ada orang Berhak Mendapatkan Warisan

    Berikutnya ada al-warits yaitu seseorang yang berhak memperoleh warisan. Tentu saja bukan sembarang orang melainkan harus mempunyai hubungan dengan al-muwarits. Hubungan tersebut bisa berupa perkawinan, kekerabatan, dan sebagainya.

    3. Terdapat Warisan untuk Dibagikan

    Rukun yang ketiga yaitu ada warisan yang bisa dibagikan atau al-mauruts. Tentu saja sebelum memutuskan untuk membagi warisan, pastikan dulu si mayit mempunyai harta untuk dibagikan.

    Syarat Waris dalam Islam

    Menurut Dr. Musthafa Al-Khin di dalam kitab Al-Fiqhul Manhaji, terkait hukum waris dalam Islam ini terdapat 4 syarat penting untuk dipahami serta dipenuhi. Keempat syarat tersebut yaitu:

    1. Pewaris Telah Meninggal Dunia

    Jika hartanya hendak diwariskan, maka syarat pertama yaitu pewaris merupakan seseorang yang sudah meninggal dunia. Ketika orang tersebut masih dalam kondisi koma, maka harta masih belum boleh diwariskan. Sekali pun pewaris mengalami koma berkepanjangan. Ini karena sebab warisan adalah karena kematian. 

    Lalu bagaimana dengan seseorang yang sudah lama hilang dan bahkan bertahun-tahun belum ada kabar? Lalu pihak keluarga ingin membagi harta warisan orang tersebut? 

    Dari sini, pembagian warisan ditentukan berdasarkan keputusan hakim. Jika putusan hakim menyatakan bahwa benar seseorang sudah dinyatakan meninggal, maka harta tersebut boleh dibagikan.

    2. Ahli Waris secara Nyata Masih Hidup

    Syarat yang kedua yaitu ahli waris yang akan memperoleh warisan juga masih hidup. Bahkan ketika masa hidupnya hanya sebentar, orang tersebut berhak mendapatkan warisan sesuai haknya. Lalu bagaimana jika ahli waris tersebut meninggal dunia?

    Maka tentu yang berhak menerima adalah ahli waris lain yang masih hidup. Tinggal memutuskan siapa yang akan menjadi penerus ketika si ahli waris jika nanti sudah meninggal dunia. Islam sudah mengatur semuanya sesuai proporsi dan pastinya adil.

    3. Ada Hubungan Pernikahan, Kekerabatan, atau Memerdekakan Budak

    Berikutnya, syarat seseorang menerima warisan yaitu karena beberapa sebab seperti pernikahan, kekerabatan, atau wala’ alias memerdekakan budak. Seseorang tidak bisa dan tidak berhak untuk memperoleh warisan jika statusnya bukan sebagai kerabat atau bukan disebabkan karena pernikahan.

    Lalu bagaimana jika anak angkat atau seseorang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan kemudian tetap diberikan warisan? Maka harta yang diberikan tersebut bukan merupakan harta warisan. Akan tetapi, menjadi shadaqah atau hibah.

    4. Ada Alasan untuk Seseorang Dapat Memperoleh Warisan

    Untuk syarat yang keempat ini khusus bagi hakim yang ingin menetapkan seseorang termasuk penerima warisan atau tidak. 

    Saksi tidak bisa hanya menyatakan “orang ini merupakan ahli waris dari si fulan”.  Seorang hakim tidak bisa langsung menerima kesaksian tersebut hanya berdasarkan ucapan. Akan tetapi, harus ada penjelasan serta bukti mengenai alasan mengapa orang tersebut berhak menerima warisan dari si mayit.

    Pembagian Waris dalam Islam

    Membagi warisan tentu tidak boleh sembarangan dan harus mengacu pada hukum waris dalam Islam. Terkait hal tersebut, berikut pembahasan selengkapnya.

    • Anak perempuan jika sendirian (anak tunggal), maka dia mendapatkan setengah bagian. Namun jika ada 2 orang atau lebih maka mereka sama-sama memperoleh sepertiga. Jika anak perempuan tersebut bersama anak-anak laki, maka bagian untuk anak laki-laki 2 berbanding 1 bagian anak perempuan.
    • Ayah memperoleh sepertiga jika pewaris tidak memiliki anak. Jika ada anak, maka ayah mendapatkan seperenam.
    • Ibu memperoleh seperenam jika ada anak maupun memiliki dua saudara/lebih. Jika pewaris tidak memiliki anak maupun saudara, maka ibu memperoleh sepertiga bagian.
    • Ibu memperoleh sepertiga bagian atas sisa atau setelah diambil janda/duda jika bersama-sama dengan ayah.
    • Duda memperoleh separuh bagian jika pewaris tidak memiliki anak. Jika ternyata punya anak, maka memperoleh seperempat.
    • Janda memperoleh seperempat jika pewaris tidak memiliki anak. Jika punya anak, maka janda memperoleh seperdelapan.
    • Jika pewaris meninggal dan tidak punya ayah/anak, maka saudara laki-laki maupun saudara perempuan seibu masing-masing dapat seperenam. Jika mereka dua orang/lebih maka sama-sama memperoleh sepertiga. 
    • Jika seseorang meninggal dan tidak meninggalkan ayah atau anak, sementara dia memiliki satu saudara perempuan kandung/seayah, dia mendapatkan setengah bagian. Namun jika saudara perempuan berjumlah dua orang/lebih dan seayah, maka sama-sama mendapatkan dua per tiga. Jika ternyata punya saudara laki-laki kandung, maka bagian saudara laki-laki tersebut dua kali lipat dari saudara perempuan.

    Membayar Utang atau Membagi Warisan?

    Pertanyaan yang berkali-kali muncul, jika si mayit meninggalkan utang dan masih memiliki harta untuk dibagikan, mana yang lebih dulu? Apakah membayar utang untuk si mayit atau langsung membagi warisan tersebut?

    Jawabannya sudah tentu membayar utang terlebih dahulu. Ini karena utang sifatnya wajib dan masih menjadi tanggungan meskipun seseorang sudah meninggal dunia. Setelah semua utangnya lunas, maka sisa utang tersebut baru bisa mulai dibagikan.

    Lalu bagaimana jika orang yang menagih utang memutuskan untuk ikhlas? Jika memang ikhlas, kemungkinan warisan sudah bisa langsung dibagikan. Hal ini karena jika benar-benar ikhlas, maka otomatis si mayit tidak mempunyai tanggungan.

    Kekeliruan dalam Menerapkan Hukum Waris dalam Islam

    Berikut beberapa hal yang mungkin terkesan sederhana namun menjadi sebuah kesalahan hukum waris dalam Islam yang bisa jatuh pada keharaman.

    1. Bagian untuk Anak Laki-laki serta Perempuan Dianggap Sama

    Kesalahan pertama yaitu menyamaratakan bagian untuk anak laki-laki dengan anak perempuan. Sebenarnya ini permasalahan klasik, padahal dalam hukum waris sesuai ajaran Islam tentu saja dilarang.

    Sesuai aturan, anak laki-laki memperoleh bagian sebanyak dua kali lipat dari anak perempuan. Seseorang yang mendapatkan tanggung jawab untuk membagi harta warisan harus benar-benar paham tentang hal tersebut.

    2. Membagi Harta Warisan Ketika Masih Hidup

    Seperti penjelasan sebelumnya, syarat warisan boleh dibagi yaitu ketika pemilik warisan tersebut sudah meninggal. Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang tetap membagikan harta warisannya padahal masih hidup.

    Bahkan sampai timbul pertengkaran di antara keluarga karena warisan yang belum kunjung dibagi. Jika tetap dilakukan, maka harta yang dibagikan tentunya bukan merupakan harta waris melainkan hibah atau harta pemberian/hadiah.

    3. Harta Bersama Milik Suami-Istri

    Adanya harta milik bersama atau gono-gini menyebabkan sistem pembagian warisan menjadi rancu. Biasanya ketika suami/istri masih hidup, pembagian warisan menjadi tertunda. 

    Padahal dalam Islam, ketika telah menikah maka harta suami maupun istri tidak harus menjadi satu atau bahkan menjadi harta milik berdua. Prinsipnya, dalam harta suami terdapat hak istri namun di dalam harta istri tidak terdapat hak suami. Ini akan lebih memudahkan pembagian warisan.

    Sudah Paham Hukum Waris dalam Islam?

    Sekian informasi tentang hukum warisan di dalam Islam. Sebelum memutuskan untuk membagi warisan, seseorang wajib memahami rukun, syarat, dan bagaimana cara pembagiannya. Dengan begitu, proses pembagian berlangsung adil dan sama-sama ridho.

  • Sumber Hukum Islam: Pengertian, Jenis, dan Penjelasannya Lengkap!

    Sumber Hukum Islam: Pengertian, Jenis, dan Penjelasannya Lengkap!

    Dalam ajaran agama Islam, ada beberapa hukum yang harus dikembangkan oleh manusia. Melalui sumber hukum Islam, umat muslim dapat memenuhi perintah Allah SWT dengan maksimal. Lantas, apa saja jenisnya? Simak penjelasannya di bawah ini!

    Pengertian Hukum Islam

    Hukum Islam merupakan jalan yang harus ditempuh oleh manusia untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT, yakni pencipta alam semesta. Dengan kata lain, hukum Islam menjadi peraturan yang bertujuan untuk mengatur urusan dunia dan akhirat milik umat muslim. 

    Dalam Kisyaaf Ishthalahat al-Funun, Muhammad Ali At-Tahanawi berpendapat bahwa hukum Islam mencakup seluruh bagian yang mengajarkan agama Islam. Mulai dari bidang ibadah, akhlak, aqidah, dan muamalah. 

    Syariat Islam seringkali disebut sebagai syariah yang berisi tentang penetapan aturan dari Allah SWT. Hal tersebut terjadi karena aturan tersebut memiliki tujuan untuk mengatur hubungan makhluk hidup dengan Tuhannya, sesama muslim, manusia, makhluk hidup, dan alam semesta. 

    Pada peraturan yang ada di dalam hukum Islam, ada berbagai sumber yang dijadikan sebagai patokan umat muslim. Dengan demikian, hukum Islam menjadi solusi kehidupan yang harmonis untuk manusia penganut agama Islam.

    Oleh sebab itu, umat muslim wajib untuk mempelajari hukum Islam. Mulai dari sumber hukum Islam, tujuan hukum Islam, pembagian hukum Islam, dan lain sebagainya. Selain memberikan pemahaman, kesadaran mempelajari hukum Islam juga akan menimbulkan rasa toleransi yang tinggi.

    Selain itu, hukum Islam juga bisa dijadikan sebagai media belajar, khususnya dalam berperilaku yang baik. Ini karena syariat Islam tidak hanya mengajarkan interaksi sosial, namun juga cara untuk membangun hubungan baik dengan sesama makhluk hidup dan Tuhannya.

    Dengan syariat Islam, umat muslim dapat menjalani dunia dan akhirat secara tersusun. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia memiliki masyarakat dengan kemajemukan yang beragam.

    Mulai dari agama, suku, dan golongan yang berbeda-beda. Adanya perbedaan tersebut tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan perpecahan antar masyarakat. Namun, hukum Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menanamkan toleransi. Hingga saat ini, Indonesia belum ada golongan yang saling menyerang. 

    Berdasarkan buku yang ditulis oleh Abdul Ghani Abdullah dan diterbitkan oleg Gema Insani Press, ia menyatakan bahwa syariat Islam menjadi hukum yang bersumber langsung dari agama. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa syariat Islam menjadi konsep dasar dan kerangka hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

    Bukan hanya tentang manusia dan Tuhannya saja, namun juga akan mengatur hubungan sesama makhluk hidup. Bahkan dengan alam semesta sekalipun. Jadi, hubungan tersebut akan memberikan timbal balik.

    Macam-macam Sumber Hukum Islam

    Agama Islam memiliki banyak interpretasi, sehingga interpretasi tersebut dapat menimbulkan terjadinya perbedaan. Adapun beberapa sumber hukum yang sering digunakan, berikut ini daftar dan penjelasannya:

    1. Al Qur’an

    Sumber paling dasar yang digunakan dalam Islam adalah Al Qur’an. Menjadi kitab suci bagi umat muslim, Al Qur’an berfungsi sebagai tiang penegak kehidupan di dunia dan akhirat. Ini karena Al Qur’an berisi tentang pesan Allah SWT yang diturunkan melalui Malaikat Jibril.

    Setelah itu, Malaikat Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW. Al Qur’an memiliki isi muatan yang berkaitan tentang anjuran, perintah, hikmah, ketentuan, larangan, dan lain sebagainya. Di dalam Al Qur’an juga membahas tentang cara menjadi manusia yang berakhlak mulia.

    2. Hadits

    Selain Al Qur’an, keberadaan hadits sebagai syariat Islam juga tidak kalah penting. Ini karena hadits berisi tentang nasihat, pesat, perkataan, dan perilaku dari Rasulullah SAW. Menjadi salah satu ketetapan dalam hukum Islam, karena segala sabda atas persetujuan Rasulullah SAW.

    Dalam kandungan hadits terdapat berbagai aturan yang terperinci secara umum. Selain itu, aturan di hadits juga masih berkaitan dengan Al Qur’an. Pada masyarakat umum, perluasan makna hadits lebih dikenal sebagai sunnah.

    3. Ijma

    Meskipun asing untuk didengar, namun ijma termasuk ke dalam sumber hukum Islam. Ijma adalah syariat yang dibentuk berdasarkan kesepakatan ulama Mujtahid. Para ulama yang dimaksud adalah ulama yang berkembang setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW.

    Melalui kesepakatan para ulama tersebut, ijma memiliki isi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kesepakatan ini dibuat oleh para ulama dengan tujuan untuk menyebarkan Islam.

    Adanya persebaran ajaran Islam akan memicu terjadinya perbedaan, yakni antara satu penyebar dan penyebar lainnya. Oleh sebab itu, kehadiran ijma diharapkan dapat mempersatukan perbedaan tersebut.

    4. Qiyas

    Sama seperti ijma, istilah qiyas memang banyak orang yang belum mengetahuinya. Meskipun ada yang tahu, namun perbedaan keyakinan masih mendominasi. Ada yang mengatakan bahwa qiyas bukan bagian sumber dasar Islam, namun para ulama sepakat untuk mengatakan kebalikannya. 

    Qiyas merupakan sumber hukum yang berfungsi sebagai penengah jika terjadi permasalahan tertentu. Jika tidak ditemukan solusi untuk permasalahan di Al Qur’an, hadits, maupun ijma. Maka dari itu, qiyas bisa jadi solusinya.

    Hal tersebut terjadi karena qiyas menjelaskan beberapa isi yang belum tentu disebutkan dalam Al Qur’an, hadits, dan ijma. Selain itu, qiyas juga cenderung mengacu kepada cara menganalogikan sesuatu dengan nalar dan logika manusia.

    Pembagian Hukum Islam

    Hukum Islam menjadi tuntutan yang harus dilakukan oleh umat manusia sebagaimana mestinya. Adapun beberapa hukum-hukum yang ada di Islam, yakni sebagai berikut:

    1. Wajib

    Secara singkatnya, wajib berarti sesuatu yang harus dilaksanakan. Umumnya, seseorang yang melakukan hal-hal wajib akan mendapatkan balasan sesuai dengan haknya. 

    Dalam pandangan Islam, wajib adalah perkata yang dikerjakan mendapatkan pahala dan ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Ini mengacu pada amalan dan ibadah yang umat muslim kerjakan. Sebagai contoh, misalnya seperti sholat lima waktu, puasa, zakat, dan lain sebagainya.

    2. Sunnah

    Berasal dari bahasa Arab, sunnah memiliki arti kebiasaan atau biasa dilakukan. Menurut Islam, sunnah berarti hal-hal yang berkaitan dengan Rasulullah SAW. Baik itu ucapan, perbuatan, dan pengakuan.

    Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa seseorang yang melakukan sunnah akan mendapatkan pahala. Namun, jika tidak melakukan, maka ia tidak akan berdosa. Contohnya seperti Sholat Dhuha, Tahajud, Puasa Senin Kamis, dan lain sebagainya.

    3. Haram

    Haram didefinisikan sebagai perbuatan yang terlarang dan tercela dalam pandangan Islam. Ada banyak dalil sumber hukum Islam yang menegaskan keharaman sesuatu beserta dengan ancaman bagi pelaku yang melakukannya. Namun, ada juga imbalan bagi orang yang meninggalkan segala sesuatu tentang haram.

    Haram terbagi menjadi dua, yakni haram mutlak dan haram bersyarat. Pada haram mutlak, sesuatu yang haram bisa menurunkan martabat dan menjadi makruh. Meskipun begitu, ada perubahan yang dapat dilihat dari tempat dan waktunya. Contohnya seperti haram melakukan zina.

    4. Makruh

    Makruh adalah sesuatu yang dibenci, jadi dianjurkan untuk dihindari. Akan tetapi, makruh juga berhubungan dengan berbagai hal yang disukai dan dibenci oleh Allah SWT. 

    Sebagai contoh, misalnya seperti bernyanyi di dalam kamar mandi, tertawa keras secara terbahak-bahak, menyebut nama Allah SWT di dalam kamar mandi. Contoh lainnnya adalah boros dalam segala hal, makan minum sambil berdiri, dan lain sebagainya.

    5. Mubah

    Mubah memiliki arti sesuatu yang dikerjakan atau ditinggalkan tidak mendapatkan pahala dan dosa. Hukum Islam yang satu ini lebih sering ditetapkan pada perkara yang memiliki sifat dunia. 

    Contohnya seperti berdoa tanpa bahasa Arab, makan minum, berburu, berpakaian, dan lain-lain. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa berpakaian termasuk perkara mubah, sehingga tidak diwajibkan maupun diharamkan.

    Sudah Tahu Apa Itu Sumber Hukum Islam?

    Sebagai umat muslim, sumber hukum Islam sangatlah penting untuk kehidupannya di dunia maupun akhirat. Oleh sebab itu, umat muslim wajib mempelajarinya secara mendalam. Semoga membantu!

  • Ukhuwah dalam Islam: Pengertian, Hakikat, dan Cara Mewujudkannya

    Ukhuwah dalam Islam: Pengertian, Hakikat, dan Cara Mewujudkannya

    Istilah ukhuwah seringkali disinggung ketika antar umat muslim ingin membangun persaudaraan atau suatu hubungan sosial yang baik dan rukun selama hidup berkelompok. 

    Walaupun begitu, konsep ini tidak hanya sebatas menjaga ikatan keluarga atau emosional. Tetapi lebih merujuk pada pengakuan atas persamaan iman dan tujuan spiritual di antara semua umat muslim.

    Nah, supaya pemahaman kamu tentang ukhuwah semakin jelas, mari simak keseluruhan konsep dasarnya pada artikel berikut ini! Sehingga, kamu dapat membangun tali persaudaraan yang kuat di antara umat muslim.

    Apa Itu Ukhuwah dalam Islam?

    Dalam bahasa Arab, ukhuwah artinya memberi perhatian dan persaudaraan. Sehingga, ukhuwah dalam konteks Islam adalah konsep atau prinsip sentral di mana kamu saling memberi perhatian dan membangun hubungan yang harmonis dengan muslim lainnya. 

    Prinsip yang juga dikenal sebagai ukhuwah Islamiyah ini mengajarkan betapa pentingnya membangun tali persaudaraan yang kokoh dan penuh perhatian dengan seseorang yang memiliki kesamaan agama, yaitu agama Islam. 

    Termasuk harus saling mencintai, saling menghormati, saling membantu, dan saling memuliakan satu sama lain. Tanpa memandang perbedaan latar belakang, bahasa, kebangsaan, profesi, pendidikan, tempat tinggal, dan status sosial. 

    Karena Rasulullah SAW mengajarkan bahwa umat muslim itu seperti satu tubuh, jika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh juga akan ikut merasakannya.

    Melalui penerapan prinsip persaudaraan Islam, kamu senantiasa berproses menjadi pribadi yang memiliki keteguhan iman dan keyakinan hanya kepada Allah SWT. 

    Sehingga, kamu dapat menciptakan hubungan persahabatan yang semata-mata karena Allah SWT dan untuk Allah SWT. Bukan karena ingin mendapatkan keuntungan, jabatan, materi, dan hal lainnya.

    Meskipun demikian, sejumlah umat muslim juga meyakini dua bentuk ukhuwah lainnya, yaitu ukhuwah wathaniyah dan basyariyah. 

    Ukhuwah wathaniyah adalah konsep membangun persaudaraan antar masyarakat atas dasar kesamaan kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan hanya terbatas pada satu agama. 

    Artinya, prinsip wathaniyah ini menjadikan kamu dapat menciptakan hubungan yang menghargai dan berdamai dengan banyak masyarakat dari berbagai agama, bahasa, suku, dan budaya.

    Sedangkan ukhuwah basyariyah adalah konsep membangun hubungan yang berlandaskan prinsip bahwa setiap manusia di seluruh dunia itu saling bersaudara. Terlepas dari agama, bahasa, suku, budaya, dan bahkan batasan geografis, karena nilai utama dari hubungan persaudaraan ini adalah kemanusiaan.

    Manfaat Melakukan Ukhuwah

    Membangun hubungan persaudaraan dan kebersamaan dalam konteks Islam memiliki banyak manfaat positif bagi kamu maupun segenap masyarakat luas. Diantaranya adalah:

    1. Memperkuat Solidaritas Umat Muslim

    Ukhuwah dapat memperkuat solidaritas dan persatuan di antara umat muslim. Melalui upaya saling mendukung, bekerja sama, dan berbagi tanggung jawab, umat muslim dapat menghadapi tantangan dunia secara bersama. 

    Solidaritas pada hubungan persaudaraan ini juga dapat memberikan kekuatan dan pengaruh yang positif dalam mewujudkan perubahan dan kejayaan sosial beragama Islam yang lebih baik.

    2. Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Keimanan

    Selain itu, persaudaraan dalam Islam ini juga dapat membantu meningkatkan kualitas ibadah kamu yang secara tidak langsung juga akan mempengaruhi keimanan kamu kepada Allah SWT. 

    Kamu dapat saling memotivasi untuk mencintai Allah SWT dan Rasulnya dengan cara meningkatkan ibadah. Seperti melaksanakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menghadiri pengajian, atau berpuasa bersama. 

    Berkat dukungan dan dorongan dari sesama umat muslim, kamu dapat mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi, mencintai sesama umat muslim karena Allah, dan menghindari perbuatan musyrik.

    3. Mendekatkan Diri pada Allah SWT

    Manfaat lainnya adalah membantu kamu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam lingkungan persaudaraan yang penuh dengan nilai spiritual, kamu akan mendapatkan dukungan untuk meningkatkan hubungan dengan agama Allah melalui ibadah dan amalan yang benar. 

    Sehingga, dengan saling mengingatkan terkait perbuatan baik dan menjaga kesucian ajaran Islam. Hubungan persaudaraan Islam ini akan memperkuat ikatan spiritual kamu dengan sesama umat muslim dan Allah SWT.

    4. Mendapatkan Perlindungan dari Allah SWT

    Allah SWT dalam Al-Qur’an, tepatnya pada QS. At-Taubah ayat 71, telah berjanji untuk melindungi hamba-Nya yang menjalin hubungan ukhuwah dengan baik dan rukun. Kamu akan mendapatkan keberkahan dalam kesatuan, persaudaraan sejati, dan dukungan komunitas yang saling melindungi.

    Manfaat ini juga sejalan dengan firman Allah SWT yang diucapkan kepada Rasulullah: 

    “Di manakah umat-umat yang mencintai satu sama lain karena keagungan-Ku? Pada hari itu, Aku akan memberi naungan kepada mereka saat tidak ada lagi naungan selain Naungan-Ku.” (HR. Imam Muslim)

    Hakikat Ukhuwah dalam Islam

    Berdasarkan penjelasan definisi dan manfaatnya, pada hakikatnya ukhuwah dalam Islam melibatkan ikatan persaudaraan yang erat antar umat muslim berdasarkan ajaran agama. Berikut adalah beberapa hakikatnya yang perlu kamu pahami:

    1. Sebagai Nikmat dari Allah SWT

    Hakikat yang pertama mencakup pemahaman dan pengalaman tentang hubungan persaudaraan yang kuat dan hangat antar umat muslim sebagai anugerah Allah SWT yang patut kamu syukuri. 

    Kamu dapat memotivasi diri sendiri dan orang lain untuk saling mencintai, menghormati, dan membantu satu sama lain, tak terbatas dengan keluarga atau ikatan darah. Hal tersebut adalah salah satu nikmat hidup berkelompok dari Allah SWT.

    2. Solidaritas Umat Muslim

    Ukhuwah menginspirasi tindakan yang mengedepankan solidaritas dan keakraban di dalam masyarakat muslim. Umat muslim yang mengikat persaudaraan atas landasan bertaqwa kepada Allah SWT akan terus berlangsung di dunia maupun akhirat.

    Ketika ada saudara muslim yang membutuhkan bantuan, maka kamu atau saudara muslim lainnya merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga, solidaritas akan memperkuat hubungan sosial dan memastikan kesejahteraan bersama.

    3. Bentuk Kasih Sayang dari Allah SWT

    Selain itu, hubungan persaudaraan Islam ini juga membangun hubungan kasih sayang di antara sesama umat muslim. Allah SWT menyukai umat-Nya yang beriman untuk saling mencintai, menghormati, dan membantu satu sama lain. Sebab, Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    4. Cerminan Kekuatan Iman Kepada Allah SWT

    Persaudaraan dalam Islam didasarkan pada ketaatan dan pengabdian umat muslim kepada Allah SWT. Hubungan persaudaraan yang kuat, terbentuk ketika setiap umat muslim bersatu dalam iman kepada Allah SWT dan melaksanakan perintah-Nya. 

    Sesungguhnya, orang-orang yang beriman adalah saudara, maka berdamailah dengan umat muslim lainnya dan bertakwalah kepada Allah SWT agar mendapat rahmat.

    Cara Mewujudkan Ukhuwah 

    Mewujudkan persaudaraan dalam Islam melibatkan berbagai langkah dan usaha yang dapat kamu lakukan sebagai umat muslim yang beriman. Berikut ini adalah beberapa caranya:

    1. Ta’aruf (Saling Mengenal)

    Ta’aruf dalam konteks ukhuwah mengacu pada proses saling mengenal lebih dalam antara umat muslim yang bermaksud untuk membangun hubungan persaudaraan. Mulai dari aspek agama, latar belakang, budaya, pendidikan, ide atau pemikiran, cita-cita, dan masalah kehidupan.

    2. Tafahum (Saling Memahami)

    Selanjutnya, kamu dapat melakukan perbuatan tafahum atau saling memahami kelebihan dan kekurang atau kekuatan dan kelemahan setiap umat muslim. Harapannya, kamu akan mampu menghindari segala bentuk kesalahpahaman antar masyarakat luas.

    3. Ta’awun (Saling Tolong Menolong)

    Ta’awun adalah sifat atau perbuatan saling bekerjasama dan tolong-menolong antara sesama dalam rangka mencapai kebaikan dan kemaslahatan bersama. Dengan kata lain, ta’awun mendasari hubungan sosial umat muslim untuk saling membantu, mendukung, dan bekerja sama sesuai kemampuan masing-masing.

    4. Takaful (Saling Melindungi)

    Terakhir, kamu juga perlu berbuat kebaikan dengan memberi jaminan rasa aman kepada sesama umat muslim. Sehingga, semua pihak terhindar dari rasa kecemasan dan kekhawatiran. Takaful menjadi cerminan perbuatan tolong menolong ketika terjadi suatu masalah.

    Yuk, Bangun Tali Persaudaraan dengan Prinsip Ukhuwah yang Baik!

    Itulah beberapa penjelasan yang perlu kamu pahami dari ukhuwah. Sejatinya prinsip ini selalu mengajarkan kita untuk mempererat tali persaudaraan dan solidaritas di antara umat Muslim. 

    Berkat upaya membangun hubungan persaudaraan yang kokoh, kamu dapat menciptakan kehidupan umat muslim yang kuat, penuh kasih sayang, dan saling mendukung dalam menghadapi segala tantangan. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

  • Husnudzon: Pengertian, Manfaat, Hikmah, Serta Penerapannya

    Husnudzon: Pengertian, Manfaat, Hikmah, Serta Penerapannya

    Berkaitan dengan cara pandang seseorang terhadap sesuatu, biasanya husnudzon atau husnuzan akan mengarah pada pandangan secara positif. Dengan demikian, manusia akan lebih jernih dalam memikirkan sesuatu. Sehingga hati tidak mudah berprasangka buruk. Lantas, bagaimana cara untuk menerapkan hikmahnya?

    Apa Itu Husnudzon?

    Husnuzan merupakan salah satu perilaku mulia yang disukai oleh Allah SWT. Berasal dari bahasa Arab, kata husnuzan terdiri dari husnu dan zan. Jika dalam bahasa Indonesia, maka berarti berprasangka baik.

    Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa husnuzan merupakan perbuatan yang memiliki pandangan baik kepada sesama manusia, Allah SWT, dan semua makhluk di bumi. Inilah yang menyebabkan terciptanya hubungan baik antar makhluk hidup.

    Sifat husnuzan memiliki lawan, yakni suudzon atau perasaan berburuk sangka. Suudzon dapat didefinisikan sebagai prasangka buruk terhadap orang lain, di mana kebenarannya belum muncul.

    Jika memiliki sifat yang baik, tentu membuat kita disukai oleh orang lain. Hal tersebut terjadi karena sifat positif yang membawa kebaikan kepada orang lain. Oleh sebab itu, setiap manusia perlu menanamkan sifat husnuzan.

    Manfaat dari Husnudzon

    Adapun beberapa sifat husnuzan yang bisa dilakukan, baik itu untuk Allah SWT, diri sendiri, maupun orang lain. Termasuk ke dalam perbuatan yang mulia, prasangka baik ini akan mendatangkan berbagai manfaat, antara lain sebagai berikut:

    1. Disukai Allah SWT

    Pada dasarnya, Allah SWT sangat menyukai manusia melakukan perbuatan yang mulia. Salah satunya adalah selalu husnuzan terhadap semua hal. Itulah mengapa husnuzan termasuk perilaku yang baik untuk dilakukan manusia. Selain bermanfaat bagi diri sendiri, sifat ini juga dapat membuatnya disukai Allah SWT.

    Selain itu, manusia juga tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui ketepatan dalam kehidupan. Hal tersebut terjadi karena Allah SWT yang akan memberikan semua hikmah kepada umat yang mentaati dan menunaikan segala perintah-Nya.

    Setiap orang yang selalu berprasangka baik akan mendapatkan kebaikan dalam kehidupannya. Itu semua bukti dari amalan hamba yang baik, karena ia selalu bersikap mulia terhadap Allah SWT. Sehingga ia akan mendapatkan balasan berupa pahala dari amalannya tersebut.

    2. Membuat Hati dan Jiwa Menjadi Tenang

    Jika menanamkan sifat prasangka baik, maka akan menjadikan hidup lebih tenang. Dengan demikian, manusia dapat terhindar dari berbagai pikiran buruk. Seperti yang diketahui bahwa selalu curiga kepada orang lain adalah perasaan yang sangat tidak nyaman.

    Bahkan husnuzan juga dapat membangun hubungan sosial yang baik dan harmonis. Jika ingin dihormati dan disukai oleh orang lain, maka perlakukan mereka dengan baik. Jangan sampai menjadi orang yang memiliki sifat menyebalkan, apalagi berburuk sangka kepada orang lain.

    Husnuzan ini juga mampu membuat pikiran positif, sehingga menjauhkan dari stres. Selain mengurangi rasa stres, berpikir positif juga dapat meningkatkan prestasi dalam kehidupan sehari-hari. Ini karena ucapan dan pikiran yang positif dapat memunculkan respon yang baik terhadap tubuh manusia.

    3. Memunculkan Rasa Syukur

    Secara umum, rasa syukur berarti berterima kasih kepada yang memberikan sesuatu. Dalam konteks husnudzon, umat muslim dapat membangun rasa syukur kepada Allah SWT.

    Allah SWT berperan sebagai dzat paling berkuasa, di mana segala nikmat tak terhingga berasal dari-Nya. Oleh sebab itu, sebagai umat yang baik harus selalu merasa bersyukur kepada Allah SWT.

    Pada istilah syara’, syukur didefinisikan sebagai pengakuan nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Syukur harus disertai dengan rasa tunduk dan menggunakan pemberian nikmat yang sesuai kehendak Allah SWT.

    Adanya rasa syukur dapat menyebabkan emosi seseorang menjadi lebih positif. Juga ,erasakan pengalaman baik, meningkatkan kesehatan, mampu mengatasi masalah, dan membangun hubungan harmonis. Dengan demikian, rasa syukur karena husnuzan dapat mengubah hidup ke arah yang lebih baik.

    4. Menjadi Pribadi yang Baik 

    Husnuzan dapat menciptakan pribadi yang baik, yakni pribadi yang bisa membawa kebaikan. Baik itu pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Melalui kepribadian baik yang dimiliki, maka seseorang dapat membuat orang lain terpesona dan diterima dalam lingkungannya.

    Jika ingin memiliki pribadi yang baik, maka seseorang harus memperhatikan perilakunya. Mulai dari usaha, sikap, tutur kata, dan perbuatan. Prasangka baik juga akan membangun pribadi yang tidak mudah putus asa, sehingga manusia dapat memiliki sikap tangguh.

    Pribadi yang baik juga dibuktikan dari rasa percaya terhadap diri sendiri dan doa-doa yang dipanjatkannya. Bukan hanya itu saja, berprasangka baik juga akan membentuk kebahagiaan terhadap pencapain orang lain. Sehingga manusia tidak akan mudah iri dan dengki.

    5. Tidak Takut Pandangan Orang Lain

    Setiap manusia pasti pernah merasakan ketakutan dan itu adalah hal yang normal terjadi. Takut menjadi salah satu bentuk emosi yang dimiliki oleh manusia. Selain itu, rasa takut juga memiliki pengaruh terhadap kinerja otak.

    Jika rasa takut mendominasi otak secara kuat, maka manusia bisa mengalami ketakutan yang luar biasa aktif. Adanya kondisi ini dapat mengakibatkan munculnya risiko kecemasan, khususnya untuk melakukan interaksi dengan orang lain.

    Maka dari itu, seringlah husnuzan untuk melawan rasa takut tersebut. Ini karena rasa takut berlebihan dapat menciptakan perasaan pesimis. Sehingga prasangka dan pikiran negatif akan selalu menghantuinya. Agar hidup lebih tenang, lawanlah rasa takut terhadap pandangan orang lain dengan selalu berbaik sangka.

    6. Dijauhkan dari Masalah dan Penyesalan Hidup

    Ketika menghadapi masalah kehidupan, umat muslim dianjurkan untuk bersabar dan bersangka baik. Ini karena sifat husnudzon dapat memberikan ketenangan dan kebahagian pada jiwa. Selain itu, manusia juga sebaiknya jangan melakukan hal-hal yang dapat memperkeruh masalah.

    Sifat suudzon adalah sifat yang dapat mendatangkan penyesalan dalam kehidupan. Jika memiliki pikiran buruk terhadap sesuatu yang belum jelas, maka bisa mengakibatkan penyesalan. Lebih parahnya lagi menciptakan dosa dan berakhir menyalahkan diri sendiri.

    Apalagi jika kebenaran terungkap dan nyatanya prasangka buruk tersebut salah. Oleh sebab itu, tanamkan pikiran positif untuk menghindari berbagai perilaku yang dibenci oleh Allah SWT. Mulai dari iri, dengki, ghibah, dan lain sebagainya.

    Hikmah Husnudzon

    Memiliki banyak manfaat, tentu saja sifat husnuzan sangat penting untuk ditanamkan dalam diri. Ini karena berbagai hikmah bisa diambil oleh manusia, antara lain sebagai berikut:

    • Menyadarkan umat manusia terkait alam semesta yang berjalan sesuai dengan aturan dan perintah Allah SWT. Dengan demikian, semua kehidupan di bumi bukan hanya kebetulan saja.
    • Mendorong manusia untuk melakukan sikap yang baik dengan tulus. Hal tersebut bertujuan untuk membangun kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Selain itu, manusia juga akan mengamalkan segala hukum dan ketetapan Allah SWT.
    • Membentuk hubungan yang baik dan kuat dengan Allah SWT. Sikap ini secara otomatis akan mendorong manusia untuk mendekatkan diri terhadap Allah SWT. Di mana Allah SWT adalah dzat yang paling berkuasa atas semua nikmat. Jadi, manusia akan diberi kasih sayang yang berlimpah oleh Allah.
    • Membangun sikap tawakal, sehingga manusia percaya akan doa. Mereka akan berdoa semaksimal mungkin dan menunggu hasil dari Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur kehidupan.
    • Membuat jiwa tenang dan tentram selama hidup. Hal tersebut terjadi karena manusia meyakini bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah SWT.

    Contoh Penerapan Husnudzon

    Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan husnuzan akan membantu menciptakan perilaku yang baik. Adapun beberapa contoh penerapan husnuzan yang bisa dilakukan, yakni:

    • Memberikan semangat orang lain untuk melakukan aktivitas kebaikan.
    • Selalu bersabar dalam menghadapi cobaan hidup.
    • Tidak menelan berita yang didengar secara mudah, sehingga memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
    • Percaya akan kemampuan diri sendiri.
    • Bersikap ramah kepada orang lain.
    • Bersyukur kepada Allah SWT.

    Sudahkah Anda Menerapkan Husnudzon?

    Prasangka baik akan memberikan banyak manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jika Anda ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka mulai sekarang tanamkan sifat husnudzon!

  • Mujahadah An Nafs: Ciri-Ciri, Manfaat, dan Contoh Mengontrol Diri

    Mujahadah An Nafs: Ciri-Ciri, Manfaat, dan Contoh Mengontrol Diri

    Salah satu perilaku terpuji yang harus dimiliki dan diterapkan oleh semua umat muslim adalah Mujahadah an nafs. Perilaku ini termasuk tindakan untuk mengendalikan diri dari emosi maupun hawa nafsu. Anda tentu sering merasa kesulitan untuk mengontrol diri di situasi tertentu.

    Namun, apabila mampu mengendalikan semuanya, maka Anda bisa mendapatkan pahala jihad karena berjuang melawan perilaku yang buruk. Lebih lanjut, Anda bisa mencari tahu ciri-ciri, manfaat, dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari melalui ulasan di bawah ini.

    Apa Itu Mujahadah An Nafs?

    Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan mujahadah an nafs? Menurut ajaran agama islam, ini merupakan perilaku pengendalian diri atau kontrol diri. Umat muslim harus mengontrol diri untuk menghindari segala perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum Allah dan merugikan.

    Artinya, seseorang perlu menahan diri dari semua perilaku yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Wajib hukumnya bagi setiap orang untuk mengamalkan ajaran pengendalian diri ini dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, manusia bisa saling menghargai dan terhindar dari konflik atau perpecahan.

    Segala bentuk perilaku yang perlu Anda kendalikan antara lain adalah amarah, emosi, kesombongan, atau hawa nafsu. Sebagaimana yang perlu Anda ketahui jika ada tiga bagian dari nafsu dalam islam, yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah, dan nafsu mutmainnah.

    Salah satu ayat dalam Al Quran yang menjelaskan tentang sifat ini adalah Surat Hujurat Ayat 12. Di dalam ayat ini mengandung makna sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk atau kecurigaan karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. 

    Dan janganlah kamu mencari keburukan orang lain dan menggunjingkan satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu yang senang memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” 

    Ciri-Ciri Mujahadah An Nafs

    Setelah Anda memahami arti dan makna yang sesungguhnya dari perilaku mengendalikan diri, Anda juga perlu mengetahui beberapa tanda atau ciri-ciri dari sifat ini. Berikut ini ciri-cirinya:

    1. Mempertimbangkan Kemampuan Diri

    Ciri-ciri yang pertama dari perilaku kontrol diri adalah selalu mempertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan kemampuan diri. Anda tidak perlu memaksakan diri untuk mendapatkan sesuatu di luar batas kemampuan diri. Dengan begitu, hidup Anda bisa menjadi lebih mudah.

    2. Selalu Mensyukuri Banyak Hal

    Seseorang yang mampu mengendalikan diri juga bisa Anda ketahui dari caranya yang selalu mensyukuri banyak hal dalam hidupnya. Pasalnya, tidak semua orang mampu bersyukur atas apa yang dimilikinya. Alih-alih bersyukur, manusia justru cenderung merasa iri terhadap orang lain dan kurang puas dengan diri sendiri.

    3. Selalu Bersabar

    Salah satu perilaku mujahadah an nafs dalam ajaran agama Islam adalah mempunyai sikap penyabar. Ini juga berkaitan dengan perilaku pengendalian diri. Seseorang yang mampu mengendalikan diri tentu selalu bersabar dalam berbagai situasi. Anda tidak akan dengan mudah terpancing emosi dan amarah sesaat.

    4. Bersikap Tenang dan Damai

    Ciri-ciri lain dari perilaku kontrol diri adalah mempunyai sikap yang tenang dan damai. Seseorang yang memahami kebutuhan dalam hidupnya dan tidak memaksakan kehendak untuk mendapatkan sesuatu biasanya mampu bersikap tenang dalam menjalani hidup. Selain itu, hidupnya juga akan menjadi lebih damai.

    Manfaat Mujahadah An Nafs

    Ada beberapa manfaat atau hikmah yang akan Anda dapatkan dari mengamalkan perilaku terpuji untuk mengontrol diri, yaitu sebagai berikut:

    1. Meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Seseorang yang pandai bersyukur tentu tidak akan mudah merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.
    2. Menghindarkan umat muslim dari perbuatan buruk dan maksiat karena bisa mengendalikan diri dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan.
    3. Menghindari adanya perselisihan dan perpecahan umat karena mampu mengontrol emosi dan amarah.
    4. Mengurangi rasa iri atas pencapaian orang lain dan tidak puas terhadap pencapaian diri sendiri.
    5. Meningkatkan kesabaran seorang muslim mengingat Allah SWT menyukai hamba-Nya yang selalu bersabar.
    6. Meningkatkan kadar keimanan seseorang terhadap Allah SWT dan membuat dirinya menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta.

    Contoh Mujahadah An Nafs

    Berikut ini beberapa contoh perilaku mengontrol diri yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

    1. Berpikir Positif

    Contoh perilaku kontrol diri yang pertama adalah selalu berpikir positif. Anda bisa mencoba menerapkannya untuk berpikir positif terhadap hal-hal yang Anda takutkan. Dengan begitu, Anda juga bisa mengurangi kecemasan dalam diri karena membuang pikiran yang negatif tentang sesuatu hal.

    2. Optimis dalam Segala Hal

    Apabila mampu mengendalikan diri dengan baik, maka Anda pasti selalu optimis dalam mengerjakan sesuatu. Anda tidak akan mudah menyerah begitu saja. Misalnya, Anda sedang mengikuti seleksi sekolah, maka Anda tidak akan mudah menyerah hanya karena soal-soalnya sulit. Justru Anda harus optimis bisa menyelesaikannya.

    3. Bekerja Keras dan Ikhlas

    Seseorang yang menerapkan mujahadah an nafs juga selalu bekerja keras dan melakukannya dengan penuh keikhlasan. Anda tidak akan mudah mengeluh lantaran menjalani kehidupan yang sulit karena yakin dengan rezeki yang Allah berikan.

    4. Bersabar Ketika Gagal

    Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya Anda memiliki sikap penyabar. Apabila mendapati sebuah kegagalan, maka Anda harus tetap bersabar dan tidak mudah menyerah.

    5. Bersyukur Ketika Berhasil

    Apabila Anda mencapai sebuah keberhasilan, jangan lupa untuk bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Alih-alih bersyukur, sebagian orang biasanya cenderung melupakan Allah ketika diliputi oleh rasa bahagia dan justru menyombongkan diri atas keberhasilannya. Sikap ini tidak boleh Anda terapkan.

    6. Menghindari Perbuatan Dosa dan Maksiat

    Contoh lain dari mujahadah an nafs adalah menghindari perbuatan dosa dan maksiat. Seseorang yang bisa mengontrol diri pasti memiliki rasa takut dan enggan untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum-hukum Allah SWT.

    7. Memperbanyak Dzikir kepada Allah

    Contoh lain dari penerapan perilaku kontrol diri adalah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Seseorang yang bisa mengendalikan dirinya tentu memahami bahwa berdzikir dan berdoa bisa membawa dirinya lebih dekat dengan Allah SWT. Selain itu, hal ini juga bisa meningkatkan kadar keimanan dalam dirinya.

    8. Selalu Hati-Hati dalam Berkata

    Tahukah Anda, jika salah satu sumber dosa berasal dari lisan? Seseorang yang mampu mengendalikan lisannya pasti lebih mudah terhindar dari dosa. Anda perlu berhati-hati dalam berkata ataupun bertindak agar tidak merugikan diri sendiri atau menyakiti hati orang lain.

    9. Menahan Hawa Nafsu

    Mujahadah an nafs berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam menahan diri dari hawa nafsu. Nafsu di sini ada banyak sekali macamnya, termasuk nafsu amarah, nafsu makan, maupun hasrat seksual. Misalnya, ketika sedang berpuasa, maka Anda harus menahan nafsu makan dan minum sampai waktu berbuka tiba.

    10. Saling Memaafkan

    Seseorang yang menerapkan perilaku kontrol diri tentu mau untuk mengakui dan meminta maaf apabila melakukan sebuah kesalahan. Begitu pula ketika ada orang lain yang berbuat salah dan meminta maaf kepada Anda. Anda harus memaafkannya dengan lapang dada agar hidup menjadi lebih damai.

    Sudah Tahu Pengertian Mujahadah An Nafs?

    Sebagai kesimpulan, perilaku mengendalikan atau mengontrol diri ini dibutuhkan oleh setiap orang agar bisa menahan nafsu dan menghargai satu sama lain. Anda perlu menerapkan batasan untuk diri sendiri agar tidak melakukan tindakan yang merugikan untuk diri sendiri maupun orang lain. Semoga bermanfaat!

  • 10 Adab Menerima Tamu dalam Islam beserta Penjelasannya

    10 Adab Menerima Tamu dalam Islam beserta Penjelasannya

    Bertamu dan menerima tamu ialah salah satu cara mempererat tali silaturahmi dengan sesama umat muslim. Oleh karena itu, ada banyak sekali adab menerima tamu yang wajib kamu perhatikan supaya tidak menimbulkan salah paham. Bacalah artikel di bawah ini untuk tahu tata caranya.

    10 Adab Menerima Tamu Menurut Ajaran Islam

    Seorang tamu, baik sendirian maupun berkelompok, tentunya tidak ingin jika kamu sebagai tuan rumah menyambut mereka dengan tidak pantas. Islam mengajarkan kurang lebih 10 cara menyambut tamu yang benar sebagai wujud memuliakan tamu di mata Allah SWT dan kamu juga.

    1. Menyambut Tamu dengan Wajah Gembira

    Mari kita mulai membahas adab menyambut orang yang bertamu ke rumah yang pertama, yaitu menyambut mereka dengan wajah gembira. Usahakan untuk menjaga agar kamu tidak menunjukkan perasaan lesu, jengkel, atau repot ketika ada tamu yang datang untuk bersilaturahmi.

    Jika kamu sebagai tuan rumah menunjukkan wajah gembira dan bersemangat saat tamu datang, maka tamu pun akan merasa senang pula. Ada sebuah hadits mengenai adab ini yang periwayatnya ialah Aisyah, Bukhari, dan Muslim yang berbunyi:

    Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam.”

    Bahkan andaikata tamu kamu adalah seorang non-muslim, kamu tetap harus menyambut mereka dengan sopan dan berwajah senang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW seperti dalam hadits riwayat Abi Thalib:

    Muliakanlah tamu kamu walaupun dia adalah seorang kafir.”

    2. Mengucapkan dan Membalas Salam

    Adab menerima tamu yang berikutnya adalah mengucapkan salam kepada para tamu sebelum kamu mengizinkan mereka masuk ke dalam rumah. Namun, apabila tamu tersebut yang mengucapkan salam terlebih dulu, maka kamu wajib membalas ucapan salam mereka.

    Salam tersebut jangan sekadar ucapan “halo” atau “selamat pagi” saja, tetapi ucapan salam dalam ajaran Islam. Sebisa mungkin kamu mengucapkan serta membalas ucapan salam kepada tamu dengan lengkap dan jelas demi mendapatkan pahala secara penuh dari Allah SWT.

    3. Menjabat Tangan Para Tamu

    Kemudian ada adab menerima tamu yang sebaiknya kamu ikuti segera setelah mengucapkan salam kepada tamu, yaitu menjabat tangan mereka. Jabat tangan atau bersalaman ini ialah bentuk ekspresi terima kasih kepada para tamu yang bersedia untuk datang ke rumah kamu.

    Meskipun demikian, terkadang ada beberapa orang yang merasa malu atau kagok untuk berjabat tangan dengan kamu karena suatu alasan. Bila hal ini terjadi, maka cukup saja kamu membuat gestur bersalaman dengan kedua telapak tangan kamu menempel satu sama lain.

    4. Mengenakan Pakaian yang Rapi

    Apakah kamu masih ingat dengan hadits yang menyebutkan bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman? Dalam hal ini, kebersihan yang dimaksud ialah pakaian yang rapi dan bersih. Kenakanlah baju yang pantas karena tamu pasti tak suka dilayani oleh tuan rumah yang tampak kusam.

    Maksudnya mengenakan pakaian yang rapi itu bukan berarti kamu harus berpakaian yang bagus-bagus dan formal seperti jas dan kemeja. Cukup saja kamu kenakan baju sehari-hari yang layak pakai dan bersih dari kotoran dan debu, serta mencuci tangan kamu sebelum menyambut tamu.

    5. Membersihkan Rumah sebelum Tamu Datang

    Bukan hanya diri kamu saja yang harus tampil rapi dan bersih di hadapan tamu, tetapi rumahmu juga. Itulah adab menerima tamu yang kelima, yakni membereskan rumah sampai bersih dan rapi sebelum tamu kamu datang. Rumah yang rapi akan membuat tamu kamu merasa senang dan betah.

    Usahakan untuk membersihkan rumah kamu luar dan dalam seluruhnya supaya tamu menjadi lebih terkesan. Jika kamu tak mampu melakukannya, maka cukup bersihkan teras depan, ruang tamu, dan ruang makan. Hal ini karena kamu pasti ingin menjamu tamu untuk makan siang atau makan malam.

    6. Siapkan Hidangan untuk Menjamu Tamu

    Tidak semua tamu ingin makan setiap kali mereka datang berkunjung ke rumah kamu. Meskipun begitu, salah satu adab yang tidak boleh kamu lewatkan ialah menyiapkan makan untuk mereka. Baik itu camilan seperti coklat dan permen, maupun makanan berat dari nasi, daging, dan sayur.

    Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud tentang menyediakan makan untuk tamu yang datang ke rumah. Dalam hadits itu, seorang sahabat Rasulullah yang bernama Al-Mughirah bin Syu’bah menuturkan bahwa:

    Pada suatu malam saya pernah bertamu kepada Nabi SAW. Lalu beliau memerintahkan untuk diambilkan sepotong daging kambing besar. Setelah dipanggang, beliau mengambil sebilah pisau, lalu beliau memotong-motongnya untukku dengan pisau tersebut.”

    7. Bercakap-Cakap tentang Hal yang Berguna

    Ada adab yang juga jangan sampai kamu lupakan ketika ada tamu yang berkunjung ke rumahmu, yaitu bercakap-cakap tentang hal yang baik saja. Percakapan mengenai hal yang baik dan berguna akan mampu mempererat persahabatan dan membantu menyelesaikan masalah.

    Dalam beberapa kesempatan, mungkin makanan yang kamu sajikan kepada tamu tidak habis termakan, atau mereka sedang melakukan puasa. Berikanlah makanan itu atau sisanya yang masih layak makan kepada tamu apabila mereka hendak pulang agar tidak menjadi mubazir.

    Jika demikian, maka usahakan agar kegiatan silaturahmi ini tidak kamu dan tamu kamu jadikan kesempatan untuk ghibah atau bergunjing. Selain merupakan topik pembicaraan yang tidak berguna, hal ini hanya akan mengundang dosa. Perhatikan Surah Al-Hujurat ayat 12 berikut ini:

     يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمُ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَنْ يَأكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۚ وَاتَّقُوْا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوّابٌ رَحيمٌ

    (Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah perilaku berprasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan janganlah kalian menggunjing (bergosip) satu sama lain. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian akan merasa jijik. Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.)

    8. Mendahulukan Tamu Orang Dewasa

    Pada beberapa acara khusus, misalnya hari raya Idul Fitri, biasanya tamu kamu datang berkunjung sambil membawa anak-anak mereka. Dalam kesempatan ini, kamu dianjurkan untuk mengizinkan tamu yang lebih dewasa masuk terlebih dulu, baru anak-anak mereka mengikuti setelahnya.

    Tentu saja, hal ini bukan untuk merendahkan tamu anak-anak kecil, tetapi untuk menunjukkan rasa hormat kepada tamu yang lebih tua. Adab menerima tamu menurut ajaran Islam ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

    Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.”

    9. Jangan Bermegah-Megahan dalam Menjamu

    Di nomor sembilan, ada adab menerima tamu yang sering masyarakat abaikan, yaitu menghindari aksi pamer atau bermegah-megahan. Kamu tentu saja harus melayani tamu dengan sebaik-baiknya, termasuk ketika menjamu mereka, namun jangan jadikan ini sebagai ajang pamer harta.

    Ingatlah, pihak yang seharusnya kamu muliakan adalah tamu yang berkunjung ke rumahmu, bukan kamu yang berbangga diri di hadapan mereka. Apabila kamu suka memamerkan harta dan status di depan tamu kamu, hal ini nantinya akan berujung kepada fitnah dan gunjingan.

    10. Mengantar Tamu Pulang Sampai Pintu Gerbang

    Apakah setelah tamu kamu pamit untuk pulang, lalu kewajiban kamu sebagai tuan rumah sudah selesai? Belum, sebab masih ada satu lagi adab untuk kamu ketahui Adab ini ialah mengantar tamu kamu yang hendak pulang hingga ke pintu gerbang rumah kamu.

    Jika memungkinkan, berjabat tanganlah dengan tamu kamu untuk yang terakhir kali sebelum mereka keluar dari gerbang rumah. Bisa juga kamu ikuti dengan melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan tamu kamu hingga para tamu tersebut berlalu pergi.

    Siap untuk Menerapkan Adab Menerima Tamu Ini?

    Itulah penjelasan lengkap mengenai tata cara menyambut tamu di rumah kamu yang sesuai dengan ajaran agama Islam dan sunnah Rasulullah. Jagalah tali silaturahmi dengan para tetangga, sahabat, dan sanak saudara supaya nanti kamu mendapat berkah yang banyak dari Allah SWT.

  • Pahami Adab Berdoa Kepada Allah beserta Tata Caranya

    Pahami Adab Berdoa Kepada Allah beserta Tata Caranya

    Adab berdoa kepada Allah merupakan hal penting yang perlu diketahui oleh seluruh umat islam. Perkara ini berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Sang Maha Pencipta.

    Oleh karena itu, adab tidak hanya diperlukan ketika seseorang berada dalam lingkungan bermasyarakat tetapi juga saat memanjatkan doa kepada Allah. Lalu, bagaimanakah tata krama yang harus dimiliki oleh seorang umat tersebut? Berikut penjelasannya.

    Adab Berdoa Kepada Allah

    Beberapa tata krama yang perlu Anda terapkan ketika memanjatkan doa, antara lain:

    1. Di Waktu-Waktu Mustajab

    Waktu mustajab merupakan waktu dimana doa tersebut mudah dikabulkan oleh Sang Maha Pencipta. Sebagai seorang umat muslim, pengetahuan mengenai waktu mustajab untuk berdoa menjadi bagian penting dalam kehidupan.

    Dengan mengetahui waktu mustajab itu, seseorang bisa lebih tepat waktu dan teratur dalam menyampaikan keinginannya kepada Allah. Waktu-waktu tersebut antara lain, saat Bulan Ramadhan, Hari Arafah, saat sahur, Hari Jumat, dan waktu sepertiga malam.

    Maka dari itu, penting untuk seluruh umat muslim dalam memperhatikan waktu tersebut. Namun, hal ini bukan berarti di waktu-waktu lain doa seseorang tidak akan terkabul. Hanya saja, waktu mustajab tersebut menjadikan doa seseorang lebih cepat tersampaikan kepada Allah.

    2. Menghadap ke Arah Kiblat

    Untuk melakukan suatu ibadah termasuk berdoa, alangkah lebih baik jika menghadapkan diri ke arah kiblat. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat dan terus berdoa sampai matahari terbenam (HR. Muslim).

    Hal ini menunjukkan bahwa menghadap kiblat menjadi salah satu adab berdoa kepada Allah. Dengan begitu, alangkah lebih baiknya untuk berusaha menghadapkan diri ke arah kiblat saat memanjatkan doa apapun.

    3. Melantunkan Doa dengan Suara Lembut

    Saat berdoa, tidak memungkinkan bagi seseorang untuk melantunkan dengan suara yang lantang dan keras. Hendaknya saat meminta sesuatu hal kepada Allah, gunakan penyampaian yang lembut dan halus.

    Tidak hanya itu, suara yang halus dan lembut cenderung membuat seseorang lebih khusyuk dalam meminta apa yang diinginkan. Apalagi ketika Anda memanjatkan doa di masjid yang tentunya terdapat banyak jamaah maka memerlukan suara yang pelan dan lembut untuk menjaga ketenangan beribadah.

    4. Diliputi dengan Rasa Harap dan Rendah Hati

    Adab berdoa kepada Allah berikutnya yang perlu Anda terapkan adalah adanya rasa berharap dan rendah hati yang tulus. Rasa berharap tersebut ditujukkan kepada Allah yang Maha Besar dan Pemurah. 

    Harapan tersebut bermaksud untuk memperoleh izin serta ridho-Nya dalam setiap langkah hidup dan segala hal yang Anda minta. Sedangkan rendah hati dimaksudkan bahwa seseorang dalam meminta suatu hal apalagi kepada Allah tidak perlu menyombongkan diri.

    5. Tidak Tergesa-gesa

    Dalam meminta sesuatu hal, seseorang tidak bisa memintanya dengan tergesa-gesa dan ingin cepat mendapatkan apa yang diinginkan. Sama halnya saat Anda berdoa kepada Sang Pencipta yang memerlukan kesabaran serta sikap yang tidak tergesa-gesa.

    Bahkan, sifat tergesa-gesa itu menandakan bahwa adanya rasa tidak sabar dalam diri manusia dalam memperoleh hal yang diinginkan. Namun, pada hakikatnya seorang manusia hendaklah bersikap sabar dan tidak tergesa-gesa dalam meminta suatu hal kepada Allah.

    Sikap tidak tergesa-gesa ini juga dapat berupa penyampaian pada saat berdoa yang terlalu cepat. Maka dari itu, Anda perlu menerapkan adab berdoa kepada Allah yang berupa perlahan namun dapat tersampaikan seluruhnya.

    6. Yakin kepada Allah

    Keyakinan merupakan hal utama yang diperlukan oleh seluruh umat muslim. Utamanya adalah yakin kepada Allah dan berbaik sangka terhadap apapun yang akan Allah berikan. Seperti yang tercantum dalam Surah Al Baqarah ayat 186, Allah berfirman:

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    Dalam surah tersebut, menunjukkan bahwa Allah akan mengabulkan doa atau permohonan dari umat-Nya. Untuk.itu, hendaklah umat muslim untuk mengikuti seluruh perintah Allah dan beriman kepada-Nya supaya selalu berada di jalan yang lurus dan benar.

    7. Mengawali dengan Pujian kepada Allah

    Adab berdoa kepada Allah berikutnya adalah awali dengan bacaan basmalah dan kalimat pujian kepada Sang Maha Kuasa. Bacaan ini menandakan adanya rasa syukur seorang umat kepada Sang Kuasa karena telah diberikan kesempatan untuk kembali kenikmatan dunia.

    Kalimat pujian kepada Allah ini dapat berupa Asmaul Husna. Selain itu, dalam berdoa juga diperlukan kesungguhan tanpa adanya keraguan dalam diri maupun hal lainnya yang menjadikan Anda tidak khusyuk saat beribadah.

    8. Bershalawat kepada Rasulullah

    Bershalawat kepada Rasulullah menjadi bagian penting dalam memanjatkan doa kepada Allah, baik itu di dalam atau di luar shalat. Tentunya hal ini dapat memberikan hal yang baik untuk seluruh umat yakni memperoleh syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Shalawat kepada Rasul dapat Anda baca setelah melantunkan bacaan basmalah. Shalawat tersebut juga dapat mempermudah doa yang Anda minta untuk lebih cepat tersampaikan kepada Allah dan terkabulkan.

    9. Berdoa dengan Istiqomah

    Dalam berdoa, tidak bisa seorang umat hanya meminta suatu hal dalam 1 kali doa saja. Namun, sejatinya permintaan doa kepada Allah harus Anda sampaikan kapanpun dimanapun.

    Istiqomah merupakan suatu adab berdoa kepada Allah yang perlu dimiliki oleh seluruh umat muslim. Doa yang seringkali diminta memiliki kemungkinan besar untuk lebih cepat dikabulkan.

    Sikap yang istiqomah dalam memanjatkan doa kepada Allah juga menunjukkan bahwa seseorang tersebut sabar menanti keputusan terbaik dari-Nya. Oleh karena itu, ketika Anda meminta sesuatu hal namun masih belum terkabulkan, maka sering-seringlah meminta dan terus bersabar untuk menanti pemberian terbaik Allah.

    10. Taubatan Nasuha

    Dalam meminta suatu hal atau berdoa kepada Allah, seseorang perlu melakukan introspeksi diri terlebih dahulu. Hendaklah seorang muslim melakukan taubatan nasuha terhadap segala perbuatannya di dunia.

    Taubat ini menunjukkan bahwa seseorang menyesal terhadap kesalahan yang dimilikinya termasuk apabila terdapat harta yang haram. Hal ini juga bertujuan supaya doa-doa yang diminta oleh seorang umat lebih mudah tersampaikan dan dikabulkan oleh Allah.

    11. Menjauhkan Diri dari Harta dan Makanan Haram

    Adab berdoa kepada Allah berikutnya yakni menjauhkan diri dari harta dan makanan haram. Hal ini karena sesuatu yang bersifat haram dapat memberikan dampak buruk bagi penggunanya. Salah satunya adalah doa yang sulit untuk tersampaikan kepada Allah hingga akhirnya seseorang tersebut merasa doanya tidak terkabulkan.

    Harta dan makanan haram yang digunakan oleh seseorang dapat menghambat doa kepada Allah karena hal tersebut merupakan sesuatu yang bersifat buruk. Sedangkan Allah merupakan Dzat yang Maha Agung dan Mulia serta menyukai kebaikan. 

    Oleh karena itu, untuk mempercepat tersampainya doa kepada Allah, maka seseorang harus meninggalkan keburukan.

    Sudahkah Anda Memahami Adab Berdoa kepada Allah?

    Dari beberapa penjelasan tersebut, manakah yang sudah Anda terapkan? Hal utama dari adab berdoa kepada Allah adalah menjaga kebersihan diri dan meminta dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, Anda bisa menerapkannya mulai dari sekarang untuk memperoleh ridha-Nya.

  • Perbedaan Adab dan Akhlak serta Ciri dan Contohnya

    Perbedaan Adab dan Akhlak serta Ciri dan Contohnya

    Adab dan akhlak sering dianggap sama di kalangan masyarakat umum, padahal keduanya berbeda. Hal ini mungkin karena keduanya memiliki hubungan yang cukup erat. Pada artikel berikut akan diuraikan perbedaan adab dan akhlak serta ciri-ciri dan contohnya.

    Perbedaan Adab dan Akhlak

    Adapun perbedaan antara adab dan akhlak adalah sebagai berikut. 

    1. Dari Segi Pengertian

    Dari segi pengertiannya, antara adab dan akhlak memiliki perbedaan. Berikut ini pengertian adab dan akhlak.

    a. Pengertian Adab

    Adab sendiri berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti kebaikan budi pekerti dan kesopanan. Sementara itu, berdasarkan istilah, adab adalah suatu hal yang bisa menjaga seseorang dalam melakukan hal yang salah. 

    Berdasarkan kedua pengertian tersebut, bisa diambil garis besar bahwa adab merupakan hal yang mencerminkan baik dan buruknya seseorang atau terhormat dan tercelanya seseorang. Dengan kata lain, orang yang memiliki adab yang baik dianggap mencerminkan orang yang terhormat.

    b. Pengertian Akhlak

    Akhlak memiliki arti adat yang dengan sengaja diinginkan, atau juga bisa berarti kemauan yang kuat mengenai suatu hal yang dilakukan secara berulang sehingga menghasilkan kebiasaan yang mengarah pada hal baik dan buruk. 

    2. Dari Segi Sumber

    Berdasarkan sumbernya, antara adab dan akhlak memiliki perbedaan. Adapun akhlak berasal dari jiwa dan hati manusia yang dilakukan secara sukarela. Sementara itu, adab berasal dari aturan yang bersifat memaksa. 

    Tidak hanya itu, akhlak juga berasal dari hasil proses ibadah kepada Allah SWT, sedangkan adab lebih bersifat memaksa. Untuk itulah orang yang beradab tidak bisa dipastikan bahwa dia berakhlak. 

    Ciri-ciri Adab dan Akhlak

    Terlepas dari perbedaan adab dan akhlak tersebut, intinya keduanya sama-sama berhubungan dengan akhlak yang baik. Berikut ini beberapa ciri-ciri adab dan akhlak manusia yang baik. 

    1. Merasa malu jika melakukan hal buruk.
    2. Berusaha tidak cepat marah.
    3. Welas asih kepada sesama makhluk.
    4. Memelihara diri dari perbuatan dosa.
    5. Berusaha meninggalkan maksiat.
    6. Kasih sayang terhadap sesama makhluk.
    7. Tidak sembarangan melaknat sesuatu jika belum jelas masalah dan hukumnya.
    8. Tidak suka mencela orang lain.
    9. Tidak suka mengadu domba orang lain.
    10. Tidak menyakiti perasaan orang lain.
    11. Selalu bersikap baik kepada orang lain.
    12. Selalu berkata jujur.
    13. Tidak banyak bicara.
    14. Banyak berkarya.
    15. Sedikit melakukan kesalahan.
    16. Tidak melakukan hal yang berlebih-lebihan, baik dari segi perkataan maupun perbuatan.
    17. Berbuat kebaikan secara nyata kepada sesama makhluk, khususnya manusia, seperti rajin sedekah, dan sejenisnya.
    18. Menyambung tali silaturahmi.
    19. Tidak melakukan ghibah (mengumpat-umpat) orang lain.
    20. Tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu apapun.
    21. Tidak kikir terhadap harta yang dimiliki.
    22. Suka menolong orang lain yang kesusahan.
    23. Tidak berbuat dengki kepada orang lain.
    24. Tidak berbuat hasad kepada orang lain.
    25. Respect atau menghormati orang lain. Baik pada orang yang masih muda ataupun yang sudah tua usianya.
    26. Selalu bersyukur kepada Allah.
    27. Bersabar menghadapi segala cobaan hidup.
    28. Ridho terhadap apa yang diberikan Allah SWT.

    Contoh Adab dan Akhlak

    Ada cukup banyak contoh penerapan adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, berikut uraiannya.

    1. Terhadap Allah

    Berikut ini beberapa contoh penerapan adab dan akhlak yang baik kepada Allah SWT yang sebaiknya Anda terapkan, yaitu:

    a. Bersyukur atas Apa yang Allah Berikan

    Baik ataupun buruk hal yang didapatkan sebaiknya kita harus tetap bersyukur kepada Allah SWT. Hal ini karena apapun takdir yang Allah SWT berikan pasti memiliki nilai kebaikan di dalamnya. Bahkan untuk hal buruk sekalipun bisa menjadi pengalaman untuk menjadi lebih baik di masa depan. 

    b. Saat Beribadah Menggunakan Pakaian Suci dan Terbaik

    Saat akan menghadap Allah SWT (beribadah), kita dianjurkan untuk menggunakan pakaian yang suci. Bahkan sholat kita bisa dianggap tidak sah jika menggunakan pakaian yang kotor dan najis. 

    c. Tidak Berbuat Maksiat atau Zina

    Adapun contoh dari penerapan adab dan akhlak yang baik kepada Allah SWT adalah dengan tidak berbuat maksiat atau zina. Hal ini karena zina adalah hal yang sangat Allah SWT benci, jadi sebaiknya dihindari. Sebaliknya, perbanyak ibadah kepada Allah SWT mulai dari rajin berpuasa, sholat, hingga mengaji.

    2. Terhadap Kedua Orang Tua

    Adapun contoh adab dan akhlak baik kepada kedua orang tua, yaitu: 

    a. Tidak Durhaka atau Menyakiti Hati Orang Tua

    Seseorang yang memiliki akhlak yang baik biasanya tidak akan durhaka dan menyakiti hati orang tua. Bahkan orang yang durhaka kepada orang tua sering disebut sebagai anak tak beradab dan berakhlak.

    b. Selalu Mendoakan Orang Tua

    Salah satu cara berbakti kepada kedua orang tua adalah mendoakannya, terutama bagi yang orang tuanya sudah meninggal. Anak yang memiliki akhlak yang baik biasanya akan selalu mendoakan hal baik untuk kedua orang tuanya. Ini juga sebagai bentuk rasa cinta kepada kedua orang tua. 

    c. Membantu Orang Tua

    Contoh penerapan adab dan akhlak baik kepada kedua orang tua berikutnya yaitu dengan selalu membantu orang tua. Mulai dari membantu pekerjaan ibu di dapur atau hal sepele seperti mengangkat jemuran ketika akan hujan. 

    d. Santun dalam Berbicara

    Adab yang baik kepada kedua orang tua dalam Islam adalah dengan santun dalam berbicara kepada keduanya. Bahkan meninggikan suara tinggi sedikit saja dan menyakiti hati mereka, Anda bisa mendapatkan dosa besar. 

    3. Terhadap Guru

    Ada beberapa contoh penerapan adab dan akhlak baik kepada guru, antara lain:

    a. Menghormati Guru

    Guru adalah orang yang mengajarkan kita ilmu dan mendidik kita. Untuk itulah, sangat dianjurkan untuk seorang murid menghargai dan menghormati gurunya. 

    b. Tidak Membuat Guru Jengkel dan Marah

    Siswa yang memiliki adab yang baik biasanya tidak akan pernah membuat gurunya jengkel apalagi marah. Dia sadar bahwa itu perbuatan dosa dan Allah SWT tidak menyukainya.

    c. Taatilah Guru

    Terkadang memang menjengkelkan mendapatkan tugas dari guru. Apalagi jika tugasnya sangat sulit. Namun sebagai murid yang beradab dan berakhlak, kita sebaiknya menaati perintah guru seperti mengerjakan tugas tersebut dengan baik. 

    d. Berterima Kasih kepada Guru

    Contoh adab dan akhlak baik kepada guru berikutnya adalah dengan selalu berterima kasih kepada guru yang telah memberikan ilmu dan mendidik kita dengan baik. Cara berterima kasih tersebut bisa secara langsung atau dengan mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. 

    4. Terhadap Sesama Manusia

    Berikut ini beberapa contoh adab dan akhlak baik kepada sesama manusia yang sebaiknya Anda terapkan.

    a. Saling Sapa dan Salam ketika Bertemu

    Di zaman ini, sapa dan mengucapkan salam sudah mulai jarang kita temui. Padahal mengucapkan sapa dan salam ketika bertemu merupakan salah satu bentuk orang yang memiliki akhlak baik.

    b. Memberikan Makanan Jika Memiliki Makanan Lebih

    Contoh akhlak baik kepada sesama adalah dengan memberikan makanan kepada sesama. Ini tidak hanya bentuk akhlak baik, tetapi Anda juga akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.

    c. Memberikan Nasihat Baik ketika Diminta

    Memberikan nasihat merupakan salah satu contoh adab dan akhlak yang baik kepada sesama manusia. Namun dalam memberikan nasihat juga tidak bisa sembarang, sebaiknya nasihat yang Anda berikan tidak menyakiti orang lain. 

    d. Menjenguk Orang yang Sakit

    Contoh dari akhlak baik berikutnya adalah dengan menjenguk orang yang sakit. Ini sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang kita kepada sesama. Bersikap jahat dengan tidak peduli dengan keadaan sesama akan membuat Anda tampak seperti orang kurang berakhlak baik.

    Sudah Tahu Perbedaan Adab dan Akhlak?

    Perbedaan adab dan akhlak cukup susah untuk dibedakan karena keduanya hampir mirip. Namun terlepas dari itu, sebagai manusia sebaiknya kita menjunjung tinggi adab dan akhlak baik kepada Allah SWT dan sesama manusia. Semoga bermanfaat!

  • 6 Adab Tidur Sesuai Anjuran yang Disarankan Rasulullah SAW

    6 Adab Tidur Sesuai Anjuran yang Disarankan Rasulullah SAW

    Setiap manusia tentu membutuhkan tidur sebagai waktu istirahat terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh. Hal ini karena organ-organ tubuh kita juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dalam ajaran Islam, terdapat sejumlah adab tidur yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim.

    Dengan kata lain, umat muslim dianjurkan untuk mengikuti adab tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidup. Oleh karena itulah, setiap muslim sebaiknya mengikuti amalan baik yang juga selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada zaman dahulu kala.

    Lantas, apa saja adab tidur yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW? Yuk, simak penjelasan selengkapnya tentang adab-adab tidur bagi umat muslim sebelum beristirahat di malam hari dalam artikel ini!

    Adab Tidur Sesuai dengan Anjuran Nabi Muhammad SAW

    Salah satu tujuan Allah SWT menciptakan waktu malam adalah agar manusia bisa beristirahat dengan baik. Apalagi tidur menjadi aktivitas yang dapat mendatangkan pahala dan mendapatkan ridha dari Allah SWT.

    Bahkan, hal ini sudah dijelaskan langsung oleh firman Allah SWT dalam Surat Ar Rum ayat 23 yang berbunyi sebagai berikut:

    وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

    Wa min āyātihī manāmukum bil-laili wan-nahāri wabtigā`ukum min faḍlih, inna fī żālika la`āyātil liqaumiy yasma’ụn.

    Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”

    Adapun enam adab tidur yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW dan perlu dicermati oleh setiap muslim, antara lain:

    1. Menutup Pintu dan Mematikan Lampu Kamar

    Sebelum tidur, umat muslim dianjurkan untuk menutup pintu, lalu mematikan lampu kamar. Tak hanya itu saja, umat muslim juga hendaknya melakukan introspeksi diri terhadap segala hal yang sudah dilalui pada hari yang sudah dijalankan tersebut.

    Dalam Islam, menutup pintu dan juga mematikan lampu sebelum tidur merupakan amalan sebelum tidur yang dapat mendatangkan pahala. Hal ini sudah dijelaskan dalam HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Malik yang berbunyi, “Apabila kalian hendak tidur, padamkanlah lampu dan kuncilah pintu terlebih dahulu.”

    2. Berwudhu Sebelum Tidur

    Selain menutup pintu dan mematikan lampu, sebelum tidur, setiap muslim juga dianjurkan untuk berwudhu dengan tujuan menyucikan diri. Selain itu, ketika naik ke atas ranjang, umat muslim harus berbaring di atas bagian tubuh sebelah kanan serta meletakkan pipi di atas tangan yang sebelah kanan.

    Nabi Muhammad SAW bersabda dalam HR. Bukhari dan Muslim yang berbunyi sebagai berikut:

    إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

    Artinya: “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, maka wudhulah seperti wudhu untuk sholat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu.”

    3. Membaca Ayat Al-Quran

    Adab tidur selanjutnya yang dapat dilakukan oleh umat muslim adalah membaca beberapa ayat Al-Quran. Adapun beberapa surat yang dianjurkan untuk dibaca, antara lain Surat Al Ikhlas, Surat Al Falaq, Surat An Nas, dan ayat kursi. Kemudian, bisa juga membaca Surat Al Kafirun dan beberapa dzikir.

    Dalam HR Bukhari, Nabi Muhammad SAW telah bersabda:

    كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

    Artinya, “Nabi SAW ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq’, dan Surat An-Naas. Kemudian, beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.”

    Adapun salah satu tujuan utama dari anjuran membaca ayat Al-Quran sebelum tidur adalah agar selama waktu tidur, kita senantiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT hingga nanti terjaga. Selain itu, setan pun tidak akan mendekat selama kita tidur hingga pagi hari.

    4. Membaca Doa Tidur

    Membaca doa tidur merupakan bagian dari adab yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim menjelang waktu istirahat di malam hari tiba. Berikut adalah bacaan doa sebelum tidur yang bisa dihafalkan:

    اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَ أَمُوتُ

    Allahumma bismika ahyaa wa amuut

    Artinya: “Ya Allah! Dalam namaMu aku hidup dan mati.”

    Adapun Nabi Muhammad SAW sendiri juga telah mengajarkan kepada umat muslim untuk membaca doa setelah bangun dari tidur. Hal ini telah dijelaskan dalam HR. Bukhari yang berbunyi sebagai berikut:

    قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ ‏”‏ اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوتُ ‏‏‏.‏ وَإِذَا أَصْبَحَ قَالَ ‏”‏ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ‏

    Artinya: “Ketika Rasulullah SAW pergi tidur, dia biasa mengucapkan, ‘Allahumma bismika ahya wa amut.’ Dan saat bangun di pagi hari dia terbiasa mengatakan, ‘Alhamdulillahi al-ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihi-nushur.’”

    5. Hindari Begadang

    Adab tidur selanjutnya adalah menghindari begadang. Karena, Nabi Muhammad SAW dengan tegas mengatakan bahwa dirinya tidak suka begadang setelah sholat Isya, terkecuali dalam keadaan darurat. Misalnya, ketika sedang mengulang (muraja’ah) ilmu ataupun menemani tamu atau keluarga.

    Terkait dengan larangan untuk begadang ini juga sudah disebutkan dalam hadits dari Abu Abu Barzah ra yang berbunyi, “Bahwasanya Rasulullah SAW membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.”

    Bukan hanya itu saja, Ibnu Baththol juga menjelaskan bahwasanya Nabi Muhammad SAW tidak suka begadang, karena tidak ingin melewatkan waktu sholat malam dan agar bisa melaksanakan sholat subuh secara berjamaah.

    6. Mengibaskan Tempat Tidur dan Hindari Posisi Tengkurap

    Sebelum tidur, umat muslim juga dianjurkan untuk mengibaskan tempat tidur terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk membersihkan segala kotoran yang ada di permukaan tempat tersebut.

    Hal ini bahkan juga sudah disebutkan pada sabda Nabi Muhammad SAW dalam HR. Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan bismillah, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.”

    Bukan cuma itu saja, Nabi Muhammad SAW juga tidak menganjurkan umat muslim untuk tidur dalam posisi tengkurap. 

    Dalam HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa, “Ketika itu aku sedang berbaring tengkurap di masjid karena begadang dan itu terjadi di waktu sahur. Lalu, tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkan ku dengan kakinya. Ia pun berkata, ‘Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci oleh Allah’. Kemudian, aku pandang orang tersebut, ternyata ia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    Sudah Paham Adab Tidur Sesuai Anjuran Nabi Muhammad SAW?

    Itu dia ulasan mengenai enam adab tidur yang sesuai dengan anjuran dari Nabi Muhammad SAW. Dengan melaksanakan keenam adab tersebut sebelum kita tidur di malam hari, maka Insyaallah kita akan senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah SWT selama tidur.

    Oleh karena itulah, pastikan kamu juga menerapkan adab tersebut setiap harinya, ya! Semoga kita selalu mendapat rahmat, penjagaan, dan juga perlindungan dari Allah SWT, ya.