Category: Agama

  • 8 Adab Berteman Menurut Islam yang Disunnahkan

    8 Adab Berteman Menurut Islam yang Disunnahkan

    Manusia hidup sebagai makhluk sosial yang harus menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Salah satu hubungan sosial ini adalah pertemanan. Dalam Islam, hubungan sosial ini harus dilakukan dengan baik sesuai adab berteman yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut ulasan lengkapnya!

    Adab Berteman

    Dalam berteman, Islam mengajarkan adab-adab yang harus dilakukan. Tujuannya adalah agar hubungan sosial tersebut bisa mendatangkan kebaikan. Nah, berikut ini ada beberapa adab berteman yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. 

    1. Berteman karena Allah

    Segala sesuatu hal harus dilakukan karena Allah SWT. Termasuk dengan menjalin hubungan pertemanan. Jadi, apapun yang umat Muslim lakukan akan senantiasa dalam rahmat dan karunia Allah SWT. Rasulullah sendiri pernah bersabda:

    “Barangsiapa yang ingin merasakan lezatnya iman, maka hendaklah dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah SWT.” (HR. Ahmad).

    2. Memilih Teman yang Baik

    Ketika seseorang memiliki teman yang baik, maka orang tersebut akan mendapatkan dampak positif dari pertemanannya. Sebaliknya, apabila Anda bergaul dengan teman yang memiliki sifat atau sikap buruk, maka teman tersebut akan memberikan pengaruh yang buruk pula kepada Anda.

    Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda tentang adab pertemanan yang berbunyi:

    “Seseorang ada di atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang harus dijadikan sebagai teman.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

    3.  Menjaga Perkataan

    Adab berteman dalam Islam selanjutnya adalah menjaga perkataan. Jadi, ketika sedang berbicara dengan teman, maka sebaiknya jaga perkataan Anda. Tujuannya adalah agar Anda tidak sampai menyakiti perasaan teman Anda tersebut.

    Jadi, berkatalah dengan perkataan yang baik. Selain itu, bertutur katalah yang lembut dan penuh kasih sayang. Rasulullah SAW sendiri bersabda seperti berikut:

    “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

    4. Bergaul dengan Mukmin

    Masih serupa dengan adab memilih teman yang baik. Anda dianjurkan untuk bergaul dengan mukmin. Kenapa sebaiknya Anda berteman dekat dengan orang mukmin? Sebab, teman bisa mempengaruhi karakter Anda nantinya. Berteman dengan mukmin bahkan sudah disarankan oleh Rasulullah SAW sejak dulu.

    Abu Sa’id Al Khudri RA menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin. Janganlah memakan makananmu melainkan orang bertakwa.” (HR. Abu Daud nomor 4832 dan Tirmidzi nomor 2395).

    Kemudian, Rasulullah pun menjelaskan adab ini sebagai berikut:

    “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, maka engkau tetap akan mendapatkan bau harum darinya.

    Sementara pandai besi, bisa jadi percikan apinya akan mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap akan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    5. Mendahului Mengucapkan Salam

    Seorang teman yang tidak merasa malu untuk mendahului mengucapkan salam ketika bertemu adalah teman yang baik adabnya. Sebab, mengucapkan salam bisa mendatangkan rasa sayang antar sesama manusia. Rasulullah SAW sendiri bersabda demikian:

    “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang bisa membuat kalian saling menyayangi? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

    6. Bersikap Lemah Lembut

    Adab berteman dalam Islam selanjutnya adalah bersikap lemah lembut. Allah SWT menjelaskan bahwa sifat Rasulullah dan orang yang bersamanya dalam surat Al Fath ayat 29:

    مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا

    Bahasa latinnya adalah:

    “Muhammadur rasulullah, walladzina ma’ahu asyidda’u ‘alal-kuffari ruhama u bainahum tarahum rukka’an sujjada yabtaguna fadlam minallahi wa ridwanan simahum fi wujuhihim min atsaris-sujud, zalika masaluhum fit-taurati wa masaluhum fil-injil, kazar’in akhraja syat’ahu fa azarahu fastaglaza fastawa ‘ala suqihi yu’jibuz-zurra’a liyagiza bihimul-kuffar, wa’adallahullazina amanu wa ‘amilus-sholihati minhum magfirataw wa ajran ‘azima.”

    Arti dari sabda adab pertemanan ini adalah:

    “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang kafir. Tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujudnya.

    Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka, tunas itu akan menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya; 

    tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

    7. Berpakaian yang Baik

    Adab pertemanan dalam Islam selanjutnya adalah berpakaian yang baik. Allah SWT sendiri telah mewajibkan umatnya untuk selalu menjaga aurat dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

    “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuan dan isteri-isteri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka!’ yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab / 33:59)

    Jadi, ketika bergaul dengan orang lain, maka sebaiknya Anda juga tetap menjaga pakaian yang Anda gunakan. Pakaian ini harus selalu sopan dan menutup aurat dengan sempurna, terutama jika Anda berada di keramaian. Hal tersebut merupakan salah satu adab pertemanan yang wajib Anda perhatikan.

    Dalam kitab al-Hilyah, Syaikh Bakr Abu Zaid RA berkata:

    “Perhiasan yang tampak menunjukkan kecondongan hati. Orang-orang akan mengklasifikasikan dirimu hanya dengan melihat pakaianmu. Maka, pakailah pakaian yang menghiasimu dan tidak menjelekkanmu. Dan tidak menjadi bahan celana dalam pembicaraan orang atau bahan ejekan orang-orang tukang cemooh.”

    8. Tidak Memotong Pembicaraan

    Memotong perkataan orang lain adalah hal yang tidak sopan, meskipun orang tersebut adalah teman Anda sendiri. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika engkau mengatakan ‘diamlah’ kepada orang-orang ketika mereka sedang berbicara, sungguh engkau mencela dirimu sendiri.” (HR. Ahmad)

    Sudahkah Anda Mengamalkan Adab Berteman?

    Itulah beberapa adab berteman yang perlu Anda ketahui dan amalkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Tidak hanya dalam Islam, tata krama dalam bersosialisasi juga mengajarkan hal yang sama. Salah satu hal lain yang perlu Anda lakukan dalam sebuah hubungan pertemanan adalah toleransi dan hormat.

  • Adab Berbicara di Depan Umum yang Sesuai Contoh Rasulullah

    Adab Berbicara di Depan Umum yang Sesuai Contoh Rasulullah

    Pidato atau berbicara di depan umum adalah sebuah kegiatan publik yang sering masyarakat kita hadiri. Seorang juru pidato sebaiknya memperhatikan adab berbicara sebelum tampil di hadapan umum. Hal ini sangat penting agar acara pidatonya dapat berjalan tanpa hambatan.

    9 Adab Berbicara di Depan Umum yang Agama Islam Ajarkan

    Kita tentu memiliki kebebasan dalam berpendapat, namun tetap saja ada beberapa hal yang tidak boleh kita langgar. Baik itu cara mengutarakan pendapat yang tepat maupun norma kesusilaan di masyarakat. Oleh sebab itu, bacalah 9 adab bicara di depan umum di bawah ini supaya kamu mengerti.

    1. Berbicara dengan Jelas, Bukan Sekadar Keras

    Mari kita mulai dari tata cara berbicara di hadapan umum yang pertama, yaitu berkata-kata yang jelas, lancar, dan tegas tanpa terbata-bata. Dalam situasi ini, kamu bisa mengikuti teladan Rasulullah SAW yang suka mengulang poin-poin penting hingga tiga kali supaya audiens mengerti.

    Volume suara yang keras belum tentu dapat membuat audiens lebih tertarik untuk mendengarkan pidato kamu. Maka daripada itu, utamakan pengucapan yang jelas dan lancar serta intonasi suara yang tegas. Hal ini akan memudahkan kamu dalam menyampaikan isi pidato hingga tuntas.

    2. Isi Pidato Sebaiknya Ringkas

    Adab berbicara di depan umum yang kedua adalah menyampaikan pidato secara ringkas, tetapi penuh makna. Pidato yang sifatnya singkat tetapi padat akan mampu membantu audiens dalam memahami inti dari pembicaraan tersebut. Selain itu, pidato yang seperti ini juga dapat menghemat waktu.

    Jika ada seorang juru pidato yang suka bicara panjang lebar, bahkan sampai keluar dari topik pembicaraannya, maka dia hanya membuang-buang waktu saja. Pidato yang panjang lebar akan membuat orang-orang yang mendengarnya merasa bosan dan susah fokus kepada topik.

    3. Tatap Wajah Audiens

    Selanjutnya di nomor tiga, ada adab berbicara yang tergolong penting, yaitu menatap wajah audiens kamu. Biasanya seorang juru pidato akan berusaha untuk menatap mata para pendengarnya. Apabila cara ini sulit untuk kamu lakukan, maka cukuplah kamu tatap wajah mereka.

    Dengan menatap wajah dan mata para audiens, kamu menandakan bahwa kamu sebagai juru pidato sedang berkomunikasi secara langsung kepada mereka. Tidak hanya itu saja, tetapi juga kamu secara tidak langsung telah menghargai kehadiran audiens kamu di acara pidato kamu.

    4. Hindari Debat Kusir

    Debat kusir ialah perilaku bertengkar karena sedang membahas suatu topik tanpa menggunakan akal sehat. Mau itu benar atau salah, mau itu relevan dengan topik utama pidato atau tidak, debat kusir sangat dilarang dalam Islam.

    Allah SWT tidak suka kepada debat kusir dan kepada siapapun yang melakukan debat kusir karena hal ini hanya akan mengundang dosa. Kamu bisa menemukan larangan ini pada Surah Al-Ankabut ayat 46 yang bunyinya di bawah ini:

    وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

    (Janganlah kalian mendebat seorang ahli kitab kecuali dengan cara yang baik)

    Selain itu, ada pula hadits mengenai debat kusir yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah. Isi hadits tersebut kurang lebih seperti di bawah ini:

    Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat): ’Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.’”

    5. Berpenampilan yang Rapi dan Bersih

    Di nomor lima, ada adab berbicara di depan publik yang sering kita anggap remeh, yaitu mengenakan pakaian yang rapi dan bersih. Ingat, ketika kamu berpidato, kamu sedang dilihat dan dinilai oleh ratusan hingga ribuan orang, sehingga kamu tak boleh berpenampilan yang aneh-aneh.

    Usahakan untuk selalu berpakaian yang formal, bersih, dan sopan setiap kali kamu hendak mengadakan kegiatan pidato di lingkungan masyarakat umum. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Allah menyukai segala sesuatu yang bersih dan indah.

    6. Jangan Menyebarkan Berita Bohong

    Kegiatan pidato bertujuan untuk membagikan ilmu pengetahuan kepada khalayak luas, bukan berita bohong atau hoaks yang membodohi rakyat. Isi dari pidato kamu wajib memuat hal-hal yang benar adanya serta memiliki bukti, bukan cerita yang dibuat-buat.

    Adab berbicara yang satu ini jangan sampai kamu permainkan hanya demi mendapat ketenaran semata. Bukan hanya reputasi kamu saja yang menjadi taruhannya, tetapi juga risiko mencemari diri dengan dosa. Perhatikan Surah Al-Ahzab ayat 60 berikut ini:

    لَىِٕنْ لَّمْ يَنْتَهِ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْمُرْجِفُوْنَ فِى الْمَدِيْنَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُوْنَكَ فِيْهَآ اِلَّا قَلِيْلًا

    (Sungguh, jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan engkau (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu (di Madinah) kecuali sebentar saja).

    7. Terima Kritik dengan Lapang Dada

    Tidak ada satu pun manusia yang seratus persen sempurna, dan itu termasuk juru pidato. Terkadang kita salah mengucapkan suatu istilah, atau kita mendadak terbata-bata saat sedang berbicara  Jika sudah begini, maka audiens akan mengkritik cara kita berpidato.

    Adab berbicara di hadapan umum yang ketujuh yaitu menerima kritik dengan lapang dada, tidak perlu sampai menuduh atau mengumpat. Jadikan saja kritik tersebut sebagai motivasi untuk memperbaiki diri agar kamu dapat berpidato dengan lebih baik di kemudian hari.

    8. Berkata-Kata yang Sesuai dengan Topik Pidato

    Pernahkah kamu mendapati seorang juru pidato yang suka banyak berbicara, sampai kemudian dia keluar dari topiknya? Hal ini sebetulnya tidak disukai oleh Rasulullah SAW karena pembicaraan yang tidak ada gunanya dapat mengundang dosa.

    Adab berbicara yang selanjutnya yaitu menjaga agar pidato kamu tetap lurus pada topik dan tidak melenceng kemana-mana. Menurut hadits riwayat Tabrani, Rasulullah sempat menyampaikan peringatan terkait bahayanya berkata-kata yang panjang lebar seperti berikut ini:

    Siapapun yang banyak bicara, maka dia akan banyak keliru. Orang yang banyak keliru, maka dosanya akan berlimpah. Orang yang dosanya berlimpah, akan masuk neraka.”

    9. Jaga Perdamaian di Antara Audiens

    Tata cara berbicara di hadapan publik yang terakhir ialah menjaga perdamaian dan persatuan di antara para pendengarmu. Acara yang sifatnya terbuka seperti pidato sangat rentan menjadi ajang saling tuduh dan saling fitnah di masyarakat, yang lalu menimbulkan perpecahan.

    Berusahalah sekuat mungkin untuk mencegah aksi fitnah dan ujaran kebencian selama kamu sedang berpidato di hadapan masyarakat. Dengan begini, kamu akan mempunyai reputasi sebagai seorang juru pidato yang cerdas, terpercaya, dan sanggup menjaga perdamaian.

    Siap Menerapkan Adab Berbicara di Depan Umum?

    Demikianlah artikel yang membahas mengenai tata cara melakukan pidato yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Karena pidato itu bersifat terbuka kepada seluruh masyarakat, kamu dituntut agar selalu memperhatikan norma kesusilaan demi menjaga persatuan umat.

  • Adab Belajar dalam Agama Islam yang Wajib Anda Pahami

    Adab Belajar dalam Agama Islam yang Wajib Anda Pahami

    Menuntut ilmu ialah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat manusia, termasuk juga umat muslim. Meskipun begitu, ada sejumlah adab atau tata cara yang sebaiknya Anda perhatikan. Supaya ilmu yang Anda cari memberikan barokah. Mari simak dan ketahui beragam adab belajar di bawah ini!

    10 Adab Belajar yang Sesuai Tuntunan Islam

    Ilmu yang seorang manusia pelajari tanpa tuntunan yang benar tidak akan memberi manfaat apa-apa. Anda tentunya tidak mau jika harus mencari ilmu, namun hanya mendapat rasa lelah. Oleh sebab itu, ada kurang lebih 10 tata cara belajar menurut agama Islam yang patut Anda praktikkan. Berikut uraiannya:

    1. Menyiapkan Diri dengan Niat

    Mulailah kita dengan adab yang paling utama, yaitu menyiapkan diri dengan niat tulus. Berniatlah kepada Allah SWT bahwa, Anda hendak belajar ilmu demi mencerdaskan pikiran dan membuka wawasan. Niat ini adalah langkah pertama Anda dalam menimba pengetahuan.

    Sebisa mungkin hindari niat-niat yang sifatnya duniawi, misalnya seperti ingin cepat kaya atau ingin mendapat promosi di tempat kerja. Pikiran yang penuh akan hasrat duniawi seperti itu akan membuat Anda sulit konsentrasi dan menjadi tidak tulus dalam belajar.

    2. Membaca Doa Sebelum Mulai Belajar

    Doa merupakan bagian penting bagi umat muslim yang harus selalu kita laksanakan setiap kali akan melakukan suatu aktivitas. Baik itu ketika hendak beribadah, bekerja, berpergian, maupun belajar. Semua aktivitas kita sehari-hari sebaiknya kita iringi dengan doa.

    Contohnya saja doa sebelum belajar agar Anda mendapat ilmu yang berguna dan mendatangkan kebaikan dari Allah SWT. Berikut ini ialah contoh doa sebelum belajar yang sederhana:

    رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ

    (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku dan berilah aku karunia untuk dapat memahaminya, dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang sholeh.)

    3. Tidak Boleh Setengah-Setengah

    Adab belajar yang ketiga adalah mencari ilmu sepenuh hati dan hingga selesai, jangan sampai hanya setengah jalan saja. Orang yang menimba ilmu dari awal hingga akhir tanpa melompat-lompat akan mampu memahami dan mempraktikkan ilmu tersebut di kehidupan sehari-harinya.

    Sebaliknya, orang yang hanya belajar secara setengah-setengah tidak akan mampu menerapkan apa yang telah dirinya pelajari dengan tepat. Janganlah Anda berperilaku seperti ini. Sebab, ilmu atau pendidikan yang tidak Anda pelajari sampai selesai akan membawa mudarat bagi Anda.

    4. Mencari Ilmu yang Bermanfaat

    Adab yang keempat ialah mencari ilmu pengetahuan yang memiliki nilai-nilai positif dan bermanfaat untuk Anda dan orang-orang di sekitar. Misalnya, ilmu akidah dan fiqih yang bisa membantu Anda belajar agama dengan benar tanpa terhalang oleh pandangan-pandangan duniawi.

    Ada pula ilmu berpikir kritis, yang dapat melindungi Anda dan membuat Anda tidak terjebak oleh berita bohong. Selain itu, Anda juga bisa belajar ilmu membaca dan menulis huruf hijaiyah demi memperdalam pemahaman Al-Qur’an. Apapun ilmu yang Anda cari, hal terpenting ilmu itu membawa manfaat besar.

    5. Hindari Sikap Sombong dalam Belajar

    Anda wajib ingat bahwa semua ilmu pengetahuan adalah milik Allah SWT, sedangkan kita hanyalah manusia biasa yang tidak tahu apa-apa. Mungkin Anda lebih cepat menyerap ilmu atau lebih terampil daripada orang lain. Namun, kepandaian Anda itu tidak mungkin muncul dengan sendirinya.

    Perhatikan hadits berikut yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dari Imam Mujahid, supaya Anda mengerti bahayanya bersikap sombong dalam belajar:

    لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

    (Dua orang yang tidak mendapat ilmu adalah orang pemalu dan orang yang sombong)

    6. Muliakan Guru yang Mendidik Kita

    Seorang guru itu pastilah mulia, patut untuk digugu dan ditiru oleh siswa-siswinya. Jika orang tersebut tidak patut untuk Anda ikuti ajarannya, maka dia bukanlah seorang guru. Maka daripada itu, ada adab belajar yang wajib siswa-siswi sekolah ketahui, yaitu memuliakan guru.

    Tidak semua orang sanggup dan tahu bagaimana caranya menjadi seorang guru yang baik. Oleh karena itu, jangan sia-siakan jerih payah kaum guru yang telah mendidik dan mengajari segala macam ilmu kepada kita. Mengapa? Sebab guru ialah orang tua kita yang kedua.

    7. Jangan Takut untuk Bertanya

    Belum tentu setiap orang dapat menyerap ilmu dengan cepat dan langsung paham. Anda mungkin saja merasa kesulitan dalam memahami suatu materi, sehingga Anda pun bertanya kepada orang yang lebih tahu. Dengan bertanya, ilmu yang sebelumnya sulit Anda pahami akan menjadi terang.

    Apakah Anda ingat dengan pepatah yang berbunyi “malu bertanya, sesat di jalan”? Pepatah ini benar adanya, karena diam itu tidak selalu berarti sudah paham. Abaikan saja orang lain yang memanggil Anda bodoh, lebih baik Anda mendapat jawaban sekarang daripada menunggu jawaban esok hari.

    8. Mempraktekkan Ilmu supaya Tidak Cepat Lupa

    Kebanyakan orang seringkali menganggap bahwa orang yang sudah hafal sesuatu berarti dia sudah pintar. Pandangan ini sebetulnya salah, sebab orang pintar itu adalah orang yang bisa mempraktikkan apa yang telah dia dapatkan. Ilmu hafalan itu tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan praktik.

    Anda bisa melihat contoh adab ini pada bacaan-bacaan dalam sholat, baik sholat fardhu maupun sunnah. Sekadar tahu dan hafal bacaan doa dalam sholat saja belum tentu cukup untuk Anda. Pengetahuan tentang bacaan sholat itu wajib Anda praktekkan sampai benar-benar sudah mengerti.

    9. Hati-Hati Terhadap Ilmu yang Menyesarkan

    Inilah fitnah yang sangat sering timbul di sekitar kita pada masa kini. Kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya menjadi sarana untuk mencerdaskan sebanyak mungkin umat manusia. Ternyata, hal ini malah disalahgunakan oleh segelintir orang sehingga muncul perpecahan dan kebencian di masyarakat.

    Dalam adab belajar yang satu ini, Anda harus bisa membedakan antara ilmu yang memberi manfaat dan ilmu yang menyesatkan. Kewajiban ini dapat Anda lihat pada Surah Al Hujurat ayat 6 seperti di bawah ini:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

    (Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.)

    10. Teruskan Ilmu kepada orang Lain

    Setelah selesai belajar, apakah ilmu itu Anda simpan untuk Anda gunakan sendiri? Janganlah begitu, karena ilmu pengetahuan itu bukan untuk manusia secara pribadi, tetapi untuk semua orang. Membagikan ilmu pengetahuan bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir terus.

    Salah satu bentuk penyebaran ilmu ini adalah dakwah ajaran Islam secara publik. Aktivitas dakwah ini bertujuan membagikan ilmu agama Islam dengan khalayak luas. Bukan hanya itu saja, tetapi juga dapat meluruskan pemahaman agama apabila melenceng dari sunnah Rasulullah SAW.

    Siap untuk Mengamalkan Adab Belajar di Atas?

    Demikianlah artikel kali ini yang membahas tentang adab belajar atau tata cara menuntut ilmu yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam. Apapun topik dan bidang ilmu yang ingin Anda kuasai, jangan lupa untuk menerapkan adab-adab ini supaya nanti ilmu tersebut memberikan manfaat yang besar.

  • 16 Adab Istri Terhadap Suami dalam Al-Qur’an dan Keutamaannya

    16 Adab Istri Terhadap Suami dalam Al-Qur’an dan Keutamaannya

    Suami dan istri merupakan dua individu yang saling mengikatkan diri melalui janji pernikahan. Saat keduanya memutuskan untuk bersama mengarungi bahtera rumah tangga, terdapat hak dan kewajiban bagi masih-masih pihak, termasuk yang berkaitan dengan adab. Dan artikel kali ini akan membahas apa saja adab istri terhadap suami.

    Apa Saja Adab Istri Terhadap Suami?

    Adab dalam agama Islam merujuk pada etika, tata krama, norma, dan perilaku yang sesuai dengan syariat dan ajaran agama. Etika ini juga berlaku dalam kehidupan rumah tangga, supaya peran antara istri dan suami berjalan dengan semestinya. 

    Saking pentingnya, Al-Quran dan Hadis bahkan menegaskan pentingnya adab istri kepada suami sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah. Setiap perempuan muslim yang telah menikah dianjurkan untuk mengetahui perihal adab-adab ini. Berikut ini penjelasan tentang poin-poin adab istri pada suami menurut Imam Al-Ghazali:

    1. Senantiasa Merasa Malu

    Sebagian besar pasangan pengantin yang sudah lama menikah umumnya menganggap bahwa rasa malu terhadap pasangan bukan hal yang penting lagi. Rasa malu tersebut mungkin hanya bertahan saat menjadi pengantin baru saja.

    Padahal, mempertahankan rasa malu terhadap suami bagi istri sangat penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Rasa malu yang dimaksud di sini tentu bukan dalam arti yang negatif. Seperti malu saat berpenampilan tidak menarik di depan suami, malu saat tubuhnya kotor dan bau, atau malu menampakkan sifat atau perilaku buruk.

    2. Tidak Banyak Mendebat Suami

    Tidak ada pernikahan yang harmonis selamanya, karena pasti ada masanya kehidupan rumah tangga dihadapkan pada masalah atau konflik. Entah itu karena ekonomi, karir, atau perkara sepele seperti berbeda pendapat dengan pasangan. Lantas, bagaimana adab istri terhadap suami jika menghadapi masalah?

    Hindari untuk selalu mendebat suami, karena hanya akan membuat konflik semakin panas atau bahkan menimbulkan masalah baru. Alih-alih mendebat, cobalah untuk menekan emosi, berdiskusi, dan saling bertukar gagasan untuk mencari solusi terbaik. Bukan semata-mata untuk memenangkan argumen atau memperkuat ego pribadi.

    3. Taat pada Perintah Suami

    Adab seorang istri terhadap suami yang tak kalah penting adalah senantiasa menaati perintah suami. Namun, ketaatan di sini juga memiliki batasan, yaitu tidak melanggar prinsip-prinsip agama. 

    Sebagai seorang istri, kamu juga berhak menolak dengan cara halus atau meminta alternatif lain dari perintah suami. Namun, hal ini hanya berlaku jika suami memberikan perintah yang bertentangan dengan ajaran Islam atau melanggar hak-hak kamu sebagai istri.

    4. Mendengarkan Saat Suami Sedang Berbicara

    Jika selama ini kamu sering menginterupsi saat suamimu sedang berbicara, maka hentikanlah atau setidaknya kurangi kebiasaan tersebut. Sebab, hal tersebut akan membuat suami merasa kurang dihargai, yang pada gilirannya akan memperlemah kedekatan antara suami istri.

    Jika ingin memotong pembicaraan suami, hendaknya kamu meminta persetujuannya terlebih dahulu. Barulah jika suamimu mengizinkan, kamu bisa giliran berbicara.

    5. Menjaga Kehormatan Saat Suami Tidak Berada di Rumah

    Entah itu suami sedang berada di rumah atau sedang pergi, hendaknya seorang istri menjaga perilaku dan martabatnya, agar kepercayaan suami juga selalu terjaga. Saat suami sedang pergi, istri diharapkan menjaga penampilannya, agar tetap pantas dan sopan ketika keluar rumah, serta menjaga etika dalam berinteraksi dengan orang lain. 

    Sebagai seorang istri, kamu juga diharapkan menjaga batas dalam hubungan dengan lawan jenis dan menghindari situasi yang dapat menimbulkan fitnah. Hindari memanfaatkan ketidakhadiran suami di rumah untuk kebebasan dan kesenangan pribadi.

    6. Menjaga Harta Suami dengan Amanah

    Adab istri terhadap suami yang selanjutnya adalah senantiasa dapat dipercaya dalam menjaga harta suami. Hindari pemborosan atau pengeluaran yang tidak perlu, lebih-lebih lagi jika tanpa sepengetahuan suami.

    7. Menjaga Badan agar Selalu Wangi

    Agar suami senantiasa merasa nyaman dan betah berada di dekat istri, hendaknya istri menjaga agar badannya selalu wangi. Wangi yang dimaksud di sini bukan melulu harus memakai parfum setiap saat, tapi lebih kepada menjaga kebersihan dan kesegaran tubuh.

    Jika badan istri bersih, rapi, dan wangi, maka akan tercipta suasana yang lebih menyenangkan dan interaksi antara suami dan istri jadi lebih nyaman.

    8. Menghindari Bau Mulut dan Selalu Berpakaian Bersih

    Selain badan, sebaiknya seorang istri juga senantiasa kebersihan gigi dan mulut, agar tidak menimbulkan bau mulut yang pada gilirannya nanti bisa mengganggu kenyamanan saat berbincang dengan suami. Pakaian yang dikenakan istri sebaiknya juga bersih dan rapi, sehingga lebih enak dipandang, meskipun hanya di dalam rumah.

    9. Senantiasa Memperlihatkan Sikap Qana’ah

    Qana’ah mengacu pada sikap atau sifat puas dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT dan tidak terlalu tamak dalam mengejar kekayaan duniawi. Hal ini juga berlaku sebagai adab istri terhadap suami. 

    Sebagai seorang istri, sebaiknya kamu hindari untuk terus menerus menuntut materi kepada suami, apalagi jika itu di luar kemampuannya.

    Pahamilah bahwa kebahagiaan dan kepuasan sejati tidak terletak pada materi semata, suami yang loyal dan setia serta anak-anak yang sehat dan cerdas juga termasuk kebahagiaan. 

    Alih-alih menuntut, seorang istri dianjurkan untuk menyemangati suami dalam berikhtiar mencari nafkah dan mendoakannya agar diberikan rezeki yang barokah.

    10. Adab Istri Senantiasa Bersikap Lembut Kepada Suami

    Seorang istri hendaknya juga bersikap lembut, sabar, dan penuh kasih sayang kepada suami dengan menghargai segala jerih payahnya untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak. 

    Sebisa mungkin, hindarilah menyakiti perasaan suami dengan melayangkan kata-kata yang mengandung hinaan atau merendahkan suami, bagaimanapun kondisinya. 

    Jika seorang istri memiliki uneg-uneg kepada suami, hendaknya disampaikan dengan cara yang baik, seperti memberi nasihat dengan sopan, memberikan ruang bagi suami untuk bercerita, dan sebagainya. Sebab, suami istri sejatinya adalah partner hidup. 

    11. Berhias di Depan Suami

    Adab istri terhadap suami ini mencerminkan kepedulian istri dalam hal berpenampilan. Seorang istri, sebaiknya merawat penampilannya, berpakaian yang bersih, dan tidak berwajah masam. Bukan cuma ketika keluar rumah saja, melainkan juga saat berada di rumah.

    Tujuannya adalah supaya tidak nampak kusam dan memperlihatkan versi diri yang terbaik di hadapan suami. Hal ini sebagai bentuk perhatian dan upaya istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

    12. Memuliakan Kerabat dan Keluarga Suami

    Umumnya, seorang suami memiliki kedekatan secara emosional dengan keluarga dan kerabatnya. Oleh sebab itu, seorang istri sudah sepatutnya memperlakukan kerabat dan keluarga suami secara baik, dengan tidak memfitnah, mengejek, apalagi mengumbar-umbar keburukan mereka kepada orang lain.

    Sebaliknya, seorang istri sebaiknya memperlakukan keluarga suami layaknya keluarga sendiri, dengarkan nasihatnya, menjaga silaturahmi, dan berupaya mendekatkan hubungan keluarga suami dengan keluarga sendiri.

    13. Bersyukur Atas Hasil Kerja Suami yang Diberikan Kepada Istri

    Berapapun besarnya, alangkah baiknya jika seorang istri selalu mensyukuri penghasilan suami. Hal ini tetap berkaitan dengan sifat qana’ah yang telah disinggung sebelumnya.

    14. Melihat Suami Sebagai Suatu Keistimewaan

    Ini berarti seorang istri hendaknya menganggap suami sebagai sosok yang istimewa dan berharga dalam kehidupannya. Bagaimanapun baik atau buruknya seorang suami, tetap dialah seseorang yang menerima istri apa adanya dan bersedia menjalani sisa umurnya bersama dengan istrinya.

    15. Memperlihatkan Rasa Cinta

    Memperlihatkan senyum, memeluk, dan memberikan pujian menjadi contoh-contoh kecil dari perwujudan rasa cinta seorang istri kepada suami. Adab ini harus senantiasa dibiasakan oleh istri untuk membentuk keluarga yang penuh dengan kasih dan sayang.

    16. Menampakkan Rasa Gembira

    Ada baiknya seorang istri menunjukkan rasa gembira dan ceria kapan pun dan di mana pun ia bertemu dengan suaminya. Seorang istri yang bahagia tentu akan berpengaruh besar terhadap mood suami, sehingga lebih bersemangat dalam menjalani hari.

    Keutamaan Istri Menjalankan Adab Terhadap Suami

    Berdasarkan Q.S An-Nisaa ayat 34 dan beberapa hadits, terdapat beberapa keutamaan yang diperoleh istri, jika menjalankan adab terhadap suami, di antaranya:

    • Dijamin masuk surga.
    • Memperoleh ridho Allah SWT.
    • Dosa-dosanya diampuni.
    • Melipatgandakan pahala shalat.
    • Terhindar dari perceraian yang dibenci Allah.

    Yuk, Biasakan Menerapkan Adab Istri Terhadap Suami!

    Itulah beberapa adab istri terhadap suami yang sepatutnya dibiasakan dalam kehidupan berumah tangga, agar tercipta keluarga yang harmonis dan langgeng. Semoga bermanfaat!

  • Adab-Adab Bertetangga dan Penjelasannya Menurut Hadits

    Adab-Adab Bertetangga dan Penjelasannya Menurut Hadits

    Manusia merupakan makhluk sosial yang pasti bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, termasuk tetangganya. Dalam bertetangga, terdapat etika atau adab yang harus kamu lakukan, agar hubungan dengan tetangga tetap baik dan rukun. Berikut ini adalah beberapa adab bertetangga menurut hadits!

    Adab Bertetangga Menurut Hadits

    Dalam bertetangga, terdapat adab atau etika yang harus dilakukan untuk menjaga hubungan dengan tetangga agar tetap terjalin dengan baik dan rukun. Berikut ini adalah beberapa adab terhadap tetangga dan penjelasannya menurut hadits:

    1. Saling Berbagi dengan Tetangga

    يا نِساءَ المُسْلِماتِ، لا تَحْقِرَنَّ جارَةٌ لِجارَتِها، ولو فِرْسِنَ شاةٍ

    Artinya: “Wahai para istri kaum Muslimin, jangan sampai seorang tetangga meremehkan (pemberian) tetangganya, meski hanya berupa kaki kambing.” (HR Bukhari & Muslim)

    Adab bertetangga yang pertama menurut hadist di atas, yaitu saling berbagi dengan tetangga. Berbagi dalam hal ini bisa dimaknai berbagai macam hal, seperti berbagi makanan, rezeki, kabar baik, dan berbagi hal-hal bermanfaat lainnya tanpa meremehkan pemberiannya.

    Dengan saling berbagi bersama tetangga, maka akan memperbaiki hubungan dan meningkatkan kerukunan dengan tetangga. 

    2. Menjaga Lisan dan Tindakan

    مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فلا يُؤْذِ جارَهُ

    Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari & Muslim)

    Berdasarkan hadits tersebut, menjaga hubungan baik dengan tetangga juga bisa kamu lakukan dengan cara menjaga lisan dan tindakan terhadap tetangga. Janganlah mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati tetangga, seperti mengejek, membicarakan hal-hal buruk tentang tetangga, dan lain sebagainya.

    Selain itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga juga bisa kamu lakukan dengan menjaga tindakan kamu terhadap tetangga. Janganlah melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hati tetangga, seperti mengacuhkan tetangga, tidak mau menolong tetangga saat kesusahan, dan lain sebagainya.

    3. Saling Menghormati dan Menghargai

    Dalam kehidupan bertetangga juga harus saling menghormati dan menghargai. Dengan saling menghormati hak dan kewajiban tetangga, maka kehidupan bertetangga akan lebih rukun dan damai.

    Saling menghormati dan menghargai tetangga bisa dilakukan dengan banyak hal. Misalnya tidak membunyikan musik terlalu keras, tidak berbicara terlalu keras, dan tidak membuang sampah di lingkungan yang bisa mengganggu tetangga.

    4. Saling Bertegur Sapa saat Bertemu

    Adab bertetangga selanjutnya yang bisa kamu lakukan untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga yaitu saling bertegur sapa saat bertemu. Jangan mengacuhkan tetangga ketika sedang berpapasan. Kamu bisa menyapa tetangga dengan mengucapkan salam atau sekedar menanyakan kabar tetangga.

    Menyapa tetangga juga bisa kamu lakukan dengan menundukkan kepala kepada orang yang lebih tua saat lewat di depannya. Dengan saling bertegur sapa dengan tetangga, maka akan memperbaiki suasana bertetangga. Kamu juga akan dikenal sebagai orang yang peduli dan ramah dengan tetangga. 

    5. Tidak Mengganggu Tetangga

    Tidak mengganggu tetangga juga berarti saling menghargai hak-hak yang dimiliki oleh tetangga. Tetangga juga orang yang memiliki hak dan kewajiban sama dengan kita. Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, maka sebaiknya kita tidak mengganggu tetangga.

    Mengganggu tetangga bisa meliputi banyak hal. Sebagai contoh, ketika kamu hendak mengadakan sebuah acara, maka sebaiknya kamu minta izin kepada tetangga, jika akan menggunakan lahan atau jalan di depan rumah tetangga tersebut.

    Begitu juga ketika kamu sedang mengadakan sebuah acara, maka mintalah pengertian kepada tetangga, jika mungkin musik atau audio yang kamu bunyikan akan terlalu keras. Jadi mintalah pengertian dan maklum dari para tetangga yang merasa terganggu.

    6. Menjaga Kerukunan dengan Tetangga

    Menjaga kerukunan dengan tetangga merupakan salah satu tujuan dari penerapan etika bertetangga. Kerukunan antar sesama tetangga sangat penting, karena tetangga adalah orang terdekat dengan kamu. Tetangga juga merupakan orang pertama yang mengetahui kondisi kamu saat sedang sakit atau kesusahan.

    Dalam kehidupan bertetangga, hendaklah kamu menjaga kerukunan dengan tetangga. Hal ini karena tetangga adalah orang yang akan kamu mintai tolong ketika kamu berada dalam kesusahan atau kedukaan.

    7. Menghindari Ghibah dan Obrolan yang Tidak Penting

    Untuk menghindari perselisihan dengan tetangga dan menjaga hubungan baik dengan tetangga, maka sudah seharusnya kamu menjaga lisan dan tindakan terhadap tetangga. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menjaga lisan dan perbuatan dengan tetangga, yaitu tidak membicarakan keburukan tetangga.

    Ghibah atau membicarakan keburukan tetangga merupakan kegiatan yang bisa menyakiti hati tetangga dan menimbulkan perselisihan antar tetangga. Seorang tetangga yang percaya kepada kamu akan merasa sakit hati, saat tahu kamu membicarakan keburukannya dengan orang lain.

    8. Saling Memaafkan Kesalahan

    Setiap manusia pasti tidak luput dari kesalahan dan dosa, termasuk dalam kehidupan bertetangga. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan jika melakukan kesalahan kepada tetangga, yaitu saling memaafkan kesalahan antar sesama tetangga.

    Jika kamu merasa bersalah kepada tetangga, maka hendaklah kamu meminta maaf kepada tetangga atas kesalahan yang kamu lakukan. Sebaliknya, jika tetangga memiliki kesalahan kepada kamu dan telah meminta maaf kepada kamu, maka kamu sebaiknya memaafkan kesalahan tetangga tersebut dan berdamai dengannya.

    9. Saling Menolong Tetangga

    Sebagai makhluk sosial, salah satu hal yang bisa kamu lakukan dalam etika bersosialisasi dengan tetangga adalah saling menolong. Ketika tetangga sedang kesusahan atau butuh bantuan, maka hendaklah kamu mengulurkan tangan untuk menolong tetangga.

    Seperti contoh, ketika tetangga sedang sakit dan tidak memiliki kendaraan untuk pergi ke rumah sakit, maka kamu bisa menawarkan bantuan dengan mengantarkannya pergi ke rumah sakit. Begitu juga ketika tetangga membutuhkan barang, maka kamu bisa menolongnya dengan meminjamkan barang kamu.

    10. Peduli pada Tetangga yang Sakit

    Saling peduli kepada tetangga juga merupakan adab bertetangga yang baik. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menunjukkan rasa kepedulian kamu kepada tetangga, yaitu menjenguk tetangga yang sedang sakit.

    Kamu juga bisa mengajak tetangga yang lain untuk menjenguk tetangga yang sakit, agar kehidupan bertetangga bisa lebih rukun. Saat menjenguk tetangga, kamu juga bisa membawa makanan yang dibutuhkan oleh tetangga untuk menghargai tetangga yang sedang sakit.

    11. Menghindari Perasaan Iri dan Dengki

    Menghindari perasaan iri dan dengki kepada tetangga juga merupakan salah satu etika bertetangga yang baik. Jika tetangga sedang bahagia, maka kamu juga harus ikut bahagia atas pencapaian tetangga kamu. Janganlah memiliki sifat iri dan dengki atas keberhasilan yang dicapai oleh tetangga.

    Sifat iri dan dengki juga akan membuat hubungan dengan tetangga menjadi tidak akur dan tidak rukun. Oleh karena itu, buang jauh-jauh perasaan iri dan dengki terhadap tetangga.

    12. Tidak Mendirikan Bangunan yang Menghalangi Tetangga

    Bentuk etika bertetangga yang lain, yaitu tidak mendirikan bangunan yang bisa menghalangi tetangga. Sebagai contoh, janganlah mendirikan tembok atau pagar yang bisa menghalangi tetangga. Jika mendirikan bangunan, pikirkanlah perasaan dari sisi tetangga.

    Jangan menghalangi pandangan tetangga dan sinar matahari yang masuk ke rumah tetangga. Selain itu, janganlah menghalangi akses ke luar masuk ke rumah tetangga saat mendirikan bangunan.

    13. Berbela Sungkawa kepada Tetangga yang Berduka

    Adab bertetangga selanjutnya, yaitu ikut berbela sungkawa kepada tetangga yang sedang berduka. Hal ini sebagai bentuk rasa kepedulian kepada tetangga. Lakukan takziah ke rumah tetangga yang sedang berduka dan hiburlah keluarganya yang sedang merasa berduka dan kehilangan.

    Selain itu, ikutlah dalam kegiatan mengurus jenazah sebagai bentuk kewajiban sesama orang Islam yang hukumnya fardhu kifayah. Setelah itu, kamu juga bisa ikut rangkaian acara setelah takziyah, seperti memperingati 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 harinya almarhum atau almarhumah.

    14. Ikut Senang terhadap Kebahagiaan Tetangga

    Ketika tetangga mendapatkan kebahagiaan seperti berhasil membeli sesuatu atau mendapatkan kabar gembira, maka hendaklah kamu ikut senang atas kebahagiaan yang didapatkan oleh tetangga tersebut.

    Yuk, Terapkan Adab Bertetangga Mulai Sekarang!

    Itulah beberapa ulasan tentang etika atau adab bertetangga yang baik. Sebagai seorang makhluk sosial, hendaklah menjaga hubungan baik dengan orang lain, termasuk tetangga, agar kehidupan bertetangga menjadi lebih rukun dan damai. Oleh karena itu, yuk terapkan adab terhadap tetangga mulai sekarang!

  • 9 Adab Berpakaian bagi Laki-Laki dan Perempuan dalam Islam

    9 Adab Berpakaian bagi Laki-Laki dan Perempuan dalam Islam

    Semua manusia pasti membutuhkan pakaian untuk menutupi tubuh mereka. Pakaian tersebut haruslah yang layak dan memenuhi macam-macam fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mari kita pelajari adab berpakaian berikut ini yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

    9 Adab Berpakaian Menurut Agama Islam

    Seseorang yang pakaiannya tidak senonoh berisiko menjadi sasaran kejahatan dari orang-orang yang memiliki niat jelek. Maka dari itu, ada macam-macam adab berpakaian yang wajib seorang muslim perhatikan. Di bawah ini ada kurang lebih 9 dari adab tersebut.

    1. Jangan Meniru Pendeta Nasrani atau Yahudi

    Adab pertama yang harus kamu ikuti tanpa kecuali ialah tidak mengenakan pakaian yang menyerupai bajunya pendeta Nasrani atau Yahudi. Contoh ciri-ciri pakaian kaum Nasrani dan Yahudi yang harus kamu hindari ialah kalung salib, topi tinggi runcing, dan jubah putih.

    Menurut hadits yang periwayatnya Abu Daud, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa siapa yang meniru-niru suatu kaum maka dia adalah pengikut mereka. Artinya, jika kamu berpakaian seperti pendeta Nasrani atau Yahudi, maka kamu telah menjadi pengikut kepercayaan mereka.

    Apabila baju itu buatan orang-orang non-muslim, tetapi bukan pakaian keagamaan mereka, maka kamu masih boleh menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari. Hal yang penting adalah pakaian tersebut tidak mengandung simbol-simbol kaum kafir seperti tanda salib Nasrani atau bintang segi enam Yahudi.

    2. Ucapkan Basmalah ketika Mengenakan Baju

    Hampir semua orang muslim melupakan adab berpakaian yang satu ini karena tampak sepele. Padahal ucapan basmalah yang sederhana ini bisa mendatangkan berkah dari Allah dan menjauhkan musibah dari kita. Maka, ingatlah untuk membaca “Bismillahir rahmanir rahim” ketika berpakaian.

    Anak-anak juga sebaiknya diajarkan untuk mengucapkan kalimat basmalah setiap kali mereka mengenakan pakaian, baik itu seragam sekolah atau baju bermain. Ini ialah langkah yang bagus untuk menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak supaya terus melekat hingga mereka tumbuh besar.

    Selain basmalah, berikut adalah doa berpakaian lainnya.

    اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَ خَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا هُوَ لَهُ

    (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan baju ini dan kebaikan apapun untuknya. Dan aku berlindung dari keburukan baju ini serta keburukan apapun untuknya.)

    3. Tutupi Aurat dengan Sempurna

    Adab berpakaian ketiga yang tidak boleh luntur meskipun zaman terus berganti adalah menutupi aurat dengan sempurna. Kamu boleh berpakaian yang bagus-bagus, tetapi kamu wajib mengikuti syari’at Islam yang mengharamkan pakaian yang menunjukkan aurat.

    Bagi kaum laki-laki, aurat yang wajib mereka tutupi adalah kemaluan dan lubang pusar mereka, tetapi usahakan agar dada dan punggung juga tertutupi. Oleh karena itu, jangan gunakan pakaian yang berbahan sutera atau bahan apapun yang tembus pandang atau menerawang.

    Sementara itu, aurat bagi kaum wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Maka, pakaian untuk mereka harus menutupi hampir seluruh anggota tubuh kecuali yang dua itu. Tidak boleh pakai legging, rok mini, atau baju apapun yang menunjukkan lekukan tubuh.

    4. Tidak Boleh Memakai Baju Lawan Jenis

    Inilah dia perilaku kaum LGBT yang harus selalu kamu hindari, sebab pelakunya akan mendapat laknat dari Allah SWT. Sang Maha Pencipta telah menciptakan manusia ke dalam dua golongan, yaitu laki-laki dan perempuan, dan menyediakan kepada mereka pakaian untuk masing-masing golongan.

    Dua orang periwayat hadits, Bukhari dan Abu Dawud, menyebutkan sebuah sabda dari Rasulullah Muhammad SAW. Beliau menyatakan bahwa “Allah melaknat para laki-laki yang menyerupai perempuan dan para perempuan yang menyerupai laki-laki.”

    Periwayat hadits Bukhari juga telah menyampaikan sebuah hadits yang serupa. Isi hadits tersebut ada kurang lebih seperti di bawah ini:

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang kebanci-bancian dan para wanita yang kelaki-lakian”. Dan Nabi juga bersabda: “keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian!

    5. Mengenakan Baju dari Sebelah Kanan

    Banyak orang yang suka melupakan adab berpakaian ini, padahal ini adalah tanda yang memisahkan orang muslim dari orang kafir. Kenakanlah pakaian kamu mulai dari anggota tubuh di sebelah kanan, baik itu jaket, kemeja, celana, hingga sepatu dalam segala kesempatan.

    Ketahuilah bahwa orang kafir itu mengenakan baju dan sepatu mereka mulai dari bagian tubuh mereka yang sebelah kiri. Makanya, supaya kita tidak mengikuti pola hidup mereka, kenakan pakaian kamu dari sebelah kanan dan selalu ucapkan kalimat basmalah.

    6. Pakaian Harus Bersih dari Najis

    Najis adalah segala sesuatu yang dapat mengotori pakaian kamu, sehingga tidak layak untuk kamu kenakan. Najis tersebut bisa berupa lumpur, tanah, bekas air mani, hingga darah baik dalam jumlah sedikit maupun banyak. Terutama untuk baju sholat, tidak boleh sampai kotor walau sedikitpun.

    Ada suatu perilaku jelek bernama isbal, atau kebiasaan menjulurkan pakaian sampai ujungnya terseret di tanah dan menjadi kotor. Rasulullah SAW sangat tidak suka dengan perilaku ini, sebab ini bukan hanya mengotori pakaian, tetapi juga tandanya orang yang tidak tahu diri.

    Sebuah hadits riwayat Bukhari menceritakan seseorang yang datang kepada Umar Bin Khattab sambil berisbal. Beliau pun menegur orang tersebut dengan kata-kata berikut:

    Angkatlah pakaianmu! Sesungguhnya (tidak isbal) itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih dekat kepada ketakwaan kepada Rabbmu.”

    7. Laki-Laki Dilarang Mengenakan Sutera

    Sutera merupakan bahan busana yang lebih umum digunakan untuk memproduksi pakaian wanita. Kaum pria secara khusus menerima larangan dalam mengenakan busana yang bahannya dari sutera. Adab berpakaian ini tercantum dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Hibban:

    Barangsiapa yang memakai pakaian dari sutera di dunia, dia tidak akan memakainya di akhirat. Walaupun ia masuk surga dan penduduk surga yang lain memakainya, namun ia tidak memakainya.”

    Salah satu alasannya yaitu bahan sutera tergolong tipis, sehingga cenderung tembus pandang dan kurang layak untuk laki-laki kenakan. Adapun alasan lainnya adalah sutera lebik cocok untuk pakaian perempuan, dan laki-laki dilarang keras memakai pakaian untuk kaum perempuan.

    8. Hindari Perhiasan yang Berlebihan

    Kaum wanita wajib waspada terhadap kebiasaan mereka yang suka memakai gelang, cincin, dan kalung yang dapat mengundang syahwat. Adab berpakaian berikutnya adalah mengenakan busana dan aksesoris secara wajar, jangan berlebihan sehingga memancing perhatian orang jahat.

    Sebetulnya kaum pria juga boleh saja mengenakan aksesoris seperti jam tangan dan kacamata, asal bukan aksesoris untuk kaum wanita. Jumlahnya juga lebih baik sedikit saja, jangan sampai kemudian menjadi target pencurian oleh orang jahat.

    Perhatikan Surah Al-A’raf ayat 31 di bawah ini:

    يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ 

    (Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.)

    9. Panjang Baju Jangan Sampai Menyentuh Tanah

    Adab berpakaian lain yang sebaiknya diperhatikan oleh kaum wanita adalah tidak mengenakan baju yang panjang dan menjuntai hingga menyeret tanah. Dalam agama Islam, orang yang mengenakan pakaian yang panjang sampai-sampai bahannya menjuntai di tanah atau lantai ialah tandanya orang sombong.

    Kaum laki-laki juga ikut menerima peringatan ini dari Rasulullah, bukan hanya kaum perempuan. Bagi mereka yang mengenakan celana panjang dan sarung, angkatlah celana atau sarung tersebut. Jangan sampai kamu di hari pembalasan kelak tidak dipandang oleh Allah karena menyeretkan pakaian.

    Sudah Paham dengan Adab Berpakaian dalam Islam?

    Demikianlah artikel kali ini yang membahas tentang aturan berpakaian yang benar bagi kaum laki-laki dan perempuan menurut syari’at Islam. Jagalah penampilan kamu di hadapan umum supaya tidak mengundang syahwat dan niat buruk dari orang-orang di sekitar.

  • 12 Adab Makan dan Minum yang Benar Menurut Islam Sesuai Sunnah

    12 Adab Makan dan Minum yang Benar Menurut Islam Sesuai Sunnah

    Islam mengatur adab serta sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Adab yang dicontohkan Rasulullah dalam kehidupan, harus kita terapkan sebagai perwujudan penerapan sunnah Rasulullah dan manifestasi jati diri muslim. Salah satu aturan yang Islam tekankan adalah adab makan dan minum.

    Pada artikel berikut ini, kami akan membagikan apa saja adab saat makan dan minum sesuai yang diajarkan Rasulullah dalam Hadits Shahih. Langsung saja berikut ulasannya untuk kamu.

    12 Adab Makan dan Minum yang Benar Menurut Islam

    Berikut ini beberapa adab makan dan minum yang benar sesuai ajaran Rasulullah SAW: 

    1. Makan Makanan yang Halal

    Tidak semua makanan dan minuman halal dikonsumsi oleh umat Islam. Ada kategori halal yang harus dijadikan acuan. Salah satu yang menjadi acuan halal adalah adanya label oleh MUI. Makanan halal adalah makanan yang telah disembelih dan diolah atas nama Allah SWT.

    Makanan dan minuman halal dijelaskan dengan jelas dalam banyak ayat Alquran dan Hadits Nabi. Salah satunya adalah dalam surat Al-Maidah ayat 3 yang menjelaskan bahwa makanan yang tidak halal meliputi bangkai, babi, darah, dan daging hewan yang proses sembelihannya tidak menyebut nama Allah SWT.

    Sedangkan untuk minuman, kategori halal adalah air atau cairan yang tidak mengandung zat-zat yang dapat menyebabkan keracunan dan memabukkan. Karena minuman tersebut dapat merusak iman.

    2. Mencuci Tangan

    Sejak zaman dulu, umat Islam dianjurkan untuk mencuci tangan sebelum makan. Mengapa? Alasan utamanya adalah agar tangan kamu bebas dari kuman dan bakteri.

    Tangan yang bersih mencegah bakteri dan penyakit masuk ke dalam tubuh. Cara mencuci tangan yang benar adalah dengan mencucinya di bawah air mengalir, lalu ke persendian, hingga benar-benar bersih.

    Hal ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa Rasulullah mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dan setelah itu beliau berdoa.

    3. Membaca Basmalah & Doa

    Islam mengajarkan bahwa semua umatnya yang hendak memulai sesuatu pada umumnya dianjurkan untuk terlebih dahulu mengucapkan “bismillah”. Tak terkecuali saat akan makan dan minum. Setelah membaca basmalah, dilanjutkan dengan membaca doa sebelum makan.

    Dengan mengawali kegiatan makan dan minum dengan mengucapkan kalimat basmalah dan doa. Ini adalah bagian dari rasa syukur yang kita tunjukkan kepada Allah SWT sebagai Maha Pemberi Rezeki.

    4. Makan dengan Posisi Duduk

    Rasulullah sangat menganjurkan adab makan dan minum yakni dalam posisi duduk. Anjuran ini bukan tanpa alasan, karena ada kekhawatiran bahwa makan dan minum sambil berdiri dapat menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan peradangan.

    5. Menggunakan Tangan Kanan

    Anjuran makan dengan tangan kanan juga sering disebutkan, salah satunya dalam hadits, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda untuk tidak makan atau minum dengan tangan kiri.

    Alasannya adalah setan makan dan minum dengan tangan kirinya. Hal itu diperkuat dengan komentar oleh ulama besar Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Ia mengatakan makan dan minum dengan tangan kiri mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat Islam.

    6. Segera Makan Saat Setelah Dihidangkan

    Umat ​​Islam dianjurkan untuk memakan makanan yang sudah dihidangkan dengan segera. Jangan membiarkan makan yang sudah tersaji begitu saja atau didiamkan hingga dingin.

    Bahkan, dalam hadis dijelaskan bahwa saat kita mendengar adzan, makan harus didahulukan. Hal ini agar kita bisa melaksanakan ibadah sholat nantinya dengan hati dan pikiran yang tenang, karena perut tidak kosong, sehingga lebih berkonsentrasi.

    7. Jangan Meniup Makanan dan Minuman yang Masih Panas

    Dianjurkan untuk tidak meniup makanan saat masih panas serta mengikuti etika makan dan minum dalam Islam, seperti yang dicontohkan oleh Rasul. Saat Rasulullah minum, beliau menarik napas tiga kali sebelum meminumnya.

    Ini juga berlaku untuk makanan. Jika masih panas, tunggu hingga hangat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Luhai’ah, bahwa Asma binti Abi Bakar mendengar Rasulullah berkata bahwa makanan yang ditiup dalam kondisi tidak memiliki keberkahan.

    8. Lebih Baik Tidak Menggunakan Peralatan Makan dari Emas atau Perak

    Rasulullah tidak menganjurkan makan dengan peralatan yang terbuat dari perak atau emas. Disarankan untuk menggunakan peralatan kayu, seperti sendok, garpu, piring, dan gelas. Hal ini karena peralatan perak dan emas tidak memiliki enzim untuk membantu kita mencerna makanan lebih baik.

    9. Makan Secara Bersama-sama

    Ternyata, kebiasaan makan bersama merupakan salah satu adab makan yang dianjurkan Rasulullah sejak lama. Dalam Hadits Abu Daud, Rasulullah bersabda untuk menyuruh kita semua makan bersama dan mengucapkan dengan nama Allah, sehingga umat Islam akan diberkati.

    Jadi, jika sebelumnya kamu memiliki keluarga, namun selalu makan sendirian di rumah, sekaranglah saatnya untuk mengubah kesempatan dan makan bersama. Hal ini agar setiap anggota keluarga dapat mengambil manfaat dari kebiasaan makan bersama.

    10. Jangan Membuang Makanan yang Jatuh

    Beberapa orang tidak pernah mengambil makanan yang terjatuh, karena dianggap tidak pantas dan kotor. Dalam Islam, makan makanan yang jatuh lebih disukai, tetapi memakannya tetap membutuhkan tata cara yang benar.

    Jika kamu menjatuhkan makanan tanpa sengaja, ambillah, lalu cuci, bagian yang kotor dibuang, dan bagian yang masih layak konsumsi bisa dimakan. Ini dilakukan untuk menghindari pemborosan.

    11. Tidak Makan dan Minum Secara Berlebihan

    Dalam Surat Al-Araf ayat 31, Allah SWT menyebutkan perintah untuk tidak makan atau minum terlalu banyak atau berlebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang melebih-lebihkan sesuatu.

    Oleh karena itu, sebelum makan, ukur terlebih dahulu berapa banyak yang mampu untuk kamu konsumsi. Kemudian, taruh makanan di piring dengan baik sebelum makan. Sebab, saat kamu makan makanan tersebut dengan nyaman, dipastikan bahwa makanan tersebut akan habis dan tidak memiliki sisa sedikitpun.

    12. Mengakhiri Makan dengan Membaca Hamdalah & Doa

    Bukan hanya saat mengawali makan saja, setelah selesai pun kamu juga dianjurkan untuk membaca doa. Hal ini sebagai ucapan syukur bahwa Allah SWT yang memberikan kamu rezeki untuk makan dan memberikan rasa kenyang juga setelah makan.

    Manfaat Makan Makanan Sesuai Ajaran Islam

    Nah, setelah mengetahui apa saja adab makan dan minum sesuai ajaran Rasulullah SAW, kamu juga perlu tahu apa saja manfaat mengikuti adab tersebut. Karena Rasulullah mengajarkan umatnya selalu dengan tujuan. Berikut beberapa manfaatnya:

    • Terhindar dari sifat tercela, karena adab yang diajarkan Rasulullah melatih kita untuk memiliki sopan santun saat menyantap makanan.
    • Dapat terhindar dari penyakit.
    • Mendapatkan ridha Allah SWT saat menyantap makanan tersebut.
    • Dapat memaksimalkan energi yang terserap kedalam tubuh.
    • Dapat menuntun kita ke surga.

    Sudah Paham Apa Saja Adab Makan dan Minum dalam Islam?

    Demikian penjelasan tentang adab makan dan minum dalam Islam yang harus kamu ketahui. Saya harap artikel ini memberikan beberapa wawasan tentang bagaimana seharusnya umat Islam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

  • Adab terhadap Orang Tua dalam Islam beserta Keutamaannya

    Adab terhadap Orang Tua dalam Islam beserta Keutamaannya

    Memuliakan orang tua adalah salah satu perintah dalam ajaran agama Islam yang wajib semua umat muslim taati. Saking utamanya adab terhadap orang tua ini, bahkan ada beberapa ayat Al-Qur’an yang membahasnya secara khusus. Maka dari itu, mari simak artikel ini agar kamu lebih paham.

    9 Adab terhadap Orang Tua Menurut Agama Islam

    Agama Islam secara khusus telah mengatur interaksi antara kamu sebagai anak dengan orang tuamu. Tidak cuma dalam Al-Qur’an saja, tetapi juga melalui hadits-hadits dari Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, di bawah ini ada sembilan adab tentang memuliakan orang tua yang perlu kamu pahami.

    1. Mensyukuri Kehadiran Orang Tua

    Mulailah dengan adab yang pertama, yaitu selalu mensyukuri kehadiran dan kerja keras orang tua yang masih hidup. Tanpa adanya orang tua yang memberi nafkah, maka kita tidak akan mampu untuk tumbuh, belajar, dan berjuang di muka bumi ini.

    Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan kepada seluruh umat muslim untuk tidak seenaknya mengabaikan jerih payah orang tua kita. Oleh karena itu, mari perhatikan Surah Luqman ayat 14 ini yang membahas tentang rasa syukur terhadap kehadiran orang tua:

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    (Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali.)

    2. Jangan Memotong Pembicaraan Orang Tua

    Selanjutnya, adab terhadap orang tua yang kedua adalah menghindari menyela pada saat orang tua sedang bicara. Tahanlah lidahmu bahkan apabila orang tua kamu lupa atau salah menyebutkan sesuatu. Jika mereka sudah selesai berbicara, baru kamu boleh menyatakan pendapat kamu.

    Adab berkeluarga ini juga berlaku bila kamu hendak membetulkan kesalahan yang terjadi sewaktu orang tua sedang berkata-kata. Tunggu dulu sejenak sampai orang tua sudah selesai, baru kamu membetulkan kesalahpahaman mereka dengan kata-kata yang sopan dan lembut.

    3. Jagalah Perkataanmu di Depan Orang Tua

    Adab terhadap orang tua yang ketiga ialah menjaga lisan setiap kali kamu berbicara kepada orang tua. Selalu ucapkan hal-hal yang baik kepada mereka, dan hindari ucapan-ucapan kotor. Jangan sampai kamu mendapat laknat dari Allah SWT karena mengumpat di hadapan orang tuamu.

    Dalam Surah Al-Isra ayat 23, Allah SWT telah menegaskan pentingnya berkata-kata yang baik di hadapan orang tua. Bunyi ayat tersebut kurang lebih adalah seperti di bawah ini:

    وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا 

    (Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan ‘ah’ kepada keduanya. Dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.)

    4. Tersenyumlah saat Melihat Wajah Orang Tua

    Adab yang satu ini tampak sederhana dan mudah untuk kita lupakan, padahal ini merupakan kewajiban seorang anak muslim kepada orang tuanya. Apabila kamu melihat wajah orang tuamu, tersenyumlah dan tampakkan raut muka yang bahagia dan berseri-seri.

    Allah SWT menjanjikan surga kepada seorang anak apabila dia tersenyum saat melihat wajah orang tuanya, dan mereka tersenyum kembali. Oleh karena itu, jagalah agar raut muka dan ekspresimu tidak menunjukkan perasaan kesal, marah, atau sebal ketika berinteraksi dengan orang tua.

    5. Jangan Membuat Orang Tua Repot

    Di nomor lima, adab terhadap orang tua yang pantas untuk kamu ikuti ialah membantu orang tua dan jangan merepotkan mereka. Orang tua tidak selamanya punya waktu dan energi untuk mengurus kamu, jadi kamu jangan membuat mereka lelah dan kesal terhadap perilaku kamu.

    Seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya harus mau membantu orang tua merawat rumah. Selain itu, anak yang berbakti juga harus siap untuk membantu pekerjaan orang tuanya apabila mereka memintanya. Lebih baik energi kamu habis untuk membantu orang tua daripada bermain-main.

    6. Mendo’akan Orang Tua setelah Sholat

    Apakah kamu tahu bahwa banyak orang yang suka langsung berdiri setelah mereka selesai menunaikan sholat fardhu? Perilaku ini sebetulnya sangat tidak dianjurkan, sebab ada satu lagi kewajiban yang patut kamu lakukan setelah sholat, yaitu mendo’akan orang tua.

    Do’a ini bukanlah sebuah do’a yang sepele, sebab anak yang membacanya berarti dia telah berbakti kepada Allah dan kedua orang tuanya. Sebaliknya, siapa yang tidak membaca do’a untuk orang tua sehabis sholat, berarti anak itu telah mengabaikan kewajibannya kepada Allah dan orang tua.

    Berikut adalah do’a dari anak untuk kedua orang tua.

    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

    (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku sewaktu aku masih kecil.)

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى آبَاءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ عَلَيْنَا

    (Ya Allah, ampunilah kaum mukminin, mukminat, muslimin, dan muslimat yang masih hidup, yang telah wafat, yang tersebar dari timur hingga barat, di darat dan di laut. Terutama bapak, ibu, kakek, nenek, ustadz, guru, orang yang telah berbuat baik terhadap kami, dan orang yang masih memiliki hak terhadap kami.)

    7. Selalu Mengasihi Orang Tua Meski Sudah Uzur

    Bagi kamu yang mempunyai orang tua yang berusia lanjut atau uzur, perhatikanlah adab terhadap orang tua yang satu ini. Ketahuilah bahwa orang tua berusia lanjut itu mendapat rahmat khusus dari Allah, yakni penghapusan dosa-dosa yang tak mereka ingat lagi.

    Tentu saja orang tua yang sudah uzur bisa membuat kamu agak kewalahan dalam mengurusnya, tetapi kamu jangan mengeluh. Mengasihi orang tua berusia lanjut merupakan kesempatan terbaik kamu untuk memaafkan dosa-dosa mereka yang sudah lalu serta melunasi utang-utang mereka.

    8. Tidak Berbohong di Hadapan Orang Tua

    Salah satu perilaku buruk yang suka dilakukan oleh anak-anak sewaktu masih kecil, yaitu berbohong ketika orang tua menanyakan sesuatu. Mungkin itu karena anak merasa malu atau bersalah akan sesuatu, atau mungkin karena ingin menghindari dari hukuman orang tua.

    Adab terhadap orang tua berikutnya yaitu selalu berkata yang jujur kepada orang tuamu dan hindari kebiasaan berbohong. Anak yang suka berbohong akan kena hukuman dari orang tuanya apabila ketahuan; jika tidak ketahuan, maka hukumannya datang dari Allah SWT.

    9. Berikan Sebagian Nafkah untuk Orang Tua

    Setiap anak kelak akan tumbuh besar dan perlu mencari pekerjaan mereka sendiri. Hal ini karena orang tua mereka tak mungkin sanggup bekerja selamanya untuk menghidupi anak-anaknya. Meskipun demikian, sang anak mempunyai kewajiban untuk menafkahi kedua orang tuanya.

    Inilah adab yang wajib seorang anak lakukan begitu dia tumbuh besar dan sudah mampu mencari penghasilannya sendiri dan sudah berkeluarga. Nafkah yang anak tersebut dapatkan wajib dia bagikan kepada orang tua karena sesungguhnya anak itu ialah milik orang tuanya.

    Sudahkah Kamu Ingat Adab terhadap Orang Tua Tersebut?

    Itulah penjelasan lengkap dan mendetail tentang perilaku memuliakan orang tua yang disertai dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits dari Rasulullah SAW. Ingatlah selalu dengan adab-adab berkeluarga ini, sebab orang tua dapat menyelamatkan kamu dari siksa di hari akhirat kelak.

  • Ketahui 20 Adab terhadap Guru dan Hadits Shahihnya

    Ketahui 20 Adab terhadap Guru dan Hadits Shahihnya

    Adab terhadap guru menjadi hal kritis bagi para murid sejak zaman dahulu. Bahkan semakin bertambahnya waktu, tata krama murid kepada guru pun masih perlu diperbaiki lagi. Hal ini bertujuan untuk membina anak bangsa dalam bersikap sehingga tidak hanya ilmu umum yang dimiliki tetapi juga ilmu dalam bertata krama.

    Lalu, adalah hadits yang menjelaskan bahwa seorang murid harus menjaga sikap ketika berhadapan dengan guru? Bagaimana tata krama yang baik terhadap seorang guru? Baca uraian berikut untuk penjelasan lengkapnya.

    Hadits Shahih tentang Adab terhadap Guru

    Tata krama terhadap seorang guru merupakan hal penting yang harus dipahami oleh seorang murid. Bahkan dalam HR. Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperlakukan para ulama sesuai dengan haknya.

    Hak tersebut berupa perilaku dan adab yang baik dari murid kepada guru. Oleh karena itu, diperlukan adanya tata krama saat berhadap dengan seorang ulama atau guru.

    Adab Terhadap Guru yang Perlu Anda Pahami

    Berikut tata krama kepada guru yang perlu Anda terapkan dalam kehidupan, antara lain: 

    1. Memperhatikan Ketika Guru Berbicara

    Kegiatan belajar mengajar menjadi salah satu media dalam menyampaikan ilmu dari guru kepada murid. Hakikatnya, ketika seorang guru sedang memberikan penjelasan baik itu di dalam maupun di luar kelas, murid haruslah menyimak dengan baik apa yang disampaikan.

    Ilmu yang disampaikan oleh guru tidak selalu berhubungan dengan mata pelajaran umum tetapi juga berkaitan dengan kehidupan atau pesan-pesan moral. Meskipun demikian, ketika seseorang memiliki status sebagai murid, perlu menghargai guru saat menyampaikan suatu hal.

    Dengan adanya perhatian penuh terhadap hal yang dibicarakan guru, maka seorang murid bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat dan barokah. Oleh karena itu, adab saat berhadapan dengan guru apalagi saat guru berbicara sangat diperlukan dalam kehidupan.

    2. Patuh terhadap Tugas yang Diberikan

    Adab terhadap guru berikutnya adalah memenuhi tugas yang diberikan. Artinya sebagai seorang murid hendaknya Anda dapat menyelesaikan sesuatu hal yang telah ditugaskan oleh seorang guru.

    Karena sejatinya tugas merupakan suatu amanah dan perlu Anda kerjakan untuk tujuan kebaikan. Apalagi tugas tersebut diberikan dengan maksud supaya Anda bisa menerapkan atau lebih memahami ilmu yang Anda peroleh baik itu di sekolah atau di tempat lainnya.

    3. Berbicara dengan Sopan Santun

    Tidak hanya memperhatikan guru saat berbicara tetapi seorang murid juga perlu bersikap sopan santun apabila berkomunikasi dengan guru. Hal ini menunjukkan bahwa Anda menghormati seseorang yang telah memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas kepada Anda.

    Berbicara dengan santun dapat Anda lakukan kepada seluruh guru yang Anda miliki baik itu guru yang sudah tua, muda, dan guru baru atau guru lama. Dengan bersikap demikian Anda juga bisa memperoleh faedah yang besar yakni ilmu yang bermanfaat.

    4. Memberikan Salam Ketika Bertemu Guru

    Tidak sedikit dari murid yang memilih untuk pura-pura tidak melihat saat berjumpa dengan guru. Alasan yang diberikan karena malu atau hal lain yang sebenarnya tidak dapat dibenarkan.

    Bahkan dengan melakukan demikian, seorang guru akan merasa kecewa kepada muridnya dan merasa tidak dihormati. Maka dari itu, adab terhadap guru apabila saling bertemu adalah memberikan salam dan menyapa dengan senyuman.

    Hal itu nantinya yang akan membuat hati dari seorang guru menjadi lebih berbunga dan lebih ridha untuk memberikan ilmunya kepada murid. Selain itu, bersikap ramah dan memberikan senyuman merupakan sesuatu hal yang disukai oleh Allah.

    5. Mencium atau Menangkupkan Tangan Ketika Bertemu Guru

    Ketika bertemu dengan guru, Anda juga perlu mencium atau menangkupkan tangan sambil mengucapkan salam. Anda bisa mencium tangan seorang guru perempuan dan menangkupkan tangan ketika bertemu dengan guru laki-laki.

    6. Tidak Memotong Pembicaraan Guru

    Berikutnya, saat berbicara dengan guru hendaknya Anda tidak memotong perkataannya. Apabila ingin menyampaikan pendapat atau sekedar membalas pembicaraan guru, maka tunggu saat guru menyelesaikan perkataannya. 

    7. Meminta Izin saat Keluar Kelas

    Saat proses pembelajaran, hendaknya seorang murid meminta izin terlebih dahulu ketika akan keluar kelas. Hal ini merupakan sesuatu yang sepele namun bernilai penting dalam tata krama di kehidupan.

    8. Bersikap Rendah Hati

    Sikap rendah hati juga harus dimiliki oleh seseorang kepada siapapun. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tersebut memiliki adab dan perilaku yang baik di mata masyarakat.

    Hal ini juga berlaku bagi seorang murid terhadap guru. Karena terkadang seorang murid memiliki ingatan yang lebih tinggi dari seorang guru atau telah mengetahui sesuatu hal yang akan disampaikan oleh guru.

    Dalam hal ini, Anda tidak boleh mengabaikan penjelasan dari guru. Alangkah lebih baiknya Anda bersikap rendah hati dengan tetap memperhatikan penjelasan guru hingga selesai.

    9. Tidak Mengghibahi Guru

    Adab terhadap guru yang mungkin saja terlupakan adalah tidak boleh membicarakan guru saat berada di belakangnya atau mengghibah. Apalagi hal yang dibicarakan merupakan keburukan dari seorang guru. Hal ini dapat memberikan dampak yang buruk berupa ilmu yang tidak barakah. 

    10. Tidak Boleh Memaksakan Kehendak

    Ketika menyampaikan pendapat atau mengajukan keinginan kepada guru, hendaknya murid tidak memaksakan kehendaknya. Karena bagaimanapun seorang guru juga memiliki hak dalam menentukan sesuatu hal yang berkaitan dengan pendidikan seperti penugasan atau yang lainnya.

    11. Berbicara Tidak Bertele-tele

    Ketika berbicara dengan guru, hendaknya Anda menyampaikan sesuatu hal secara to the point. Karena terkadang guru memiliki waktu yang terbatas dalam mendiskusikan sesuatu hal maka diperlukan penyampaian yang singkat, padat, dan jelas.

    12. Tidak Berjalan Mendahului Guru

    Seorang murid juga perlu memperhatikan sikap saat berjalan apalagi bersamaan dengan guru. Alangkah lebih baiknya jika Anda memberikan ruang supaya guru dapat berjalan terlebih dahulu. Dengan demikian Anda tidak mendahului guru saat berjalan.

    13. Bersikap Sportif

    Adab terhadap guru berikutnya adalah bersikap sportif dan tepat waktu. Sikap sportif ini ditunjukkan dengan menepati ketika ada janji bertemu atau diskusi bersama guru, mengumpulkan tugas dengan tepat waktu, dan teliti.

    14. Berbaik Sangka kepada Guru

    Berbaik sangka merupakan sikap yang dapat memberikan dampak positif. Oleh karena itu, sikap ini juga menjadi sebagian dari adab terhadap guru yang harus dimiliki oleh murid.

    15. Turun dari Motor saat Ada Guru

    Poin selanjutnya, sikap yang perlu dipahami oleh murid adalah turun dari motor saat ada guru. Hal ini berlaku saat berada di sekolah dan biasanya guru akan menunggu di gerbang sekolah. Pada saat itu pula, murid yang membawa motor bisa turun terlebih dahulu.

    Setelah memberikan salam dan melewati guru, barulah seorang murid bisa mengendarai motornya lagi. Namun, saat membawa mobil seorang murid bisa memberikan salam kepada guru.

    16. Perhatikan Kondisi saat Duduk Bersama Guru

    Adab terhadap guru juga berlaku saat murid dan guru duduk bersamaan. Anda harus memperhatikan posisi saat duduk, menjaga pandangan, dan gerak tubuh saat berada di samping atau berdekatan dengan guru.

    17. Lebih Mendahulukan Guru

    Guru merupakan seseorang yang patut untuk dihormati dan dihargai. Oleh karena itu, lebih mendahulukan guru menjadi salah satu sikap yang perlu dilakukan. Hal ini bisa Anda terapkan saat berada di kantin sekolah atau sekadar mempersilahkan guru duduk terlebih dahulu.

    18. Bersikap Sabar

    Terkadang beberapa guru seringkali melupakan sesuatu saat proses belajar mengajar atau berulang kali menjelaskan suatu materi. Dalam hal ini, Anda perlu menyikapinya dengan sabar. Apabila ingin mengingatkan maka sampaikan dengan nada bicara yang lembut.

    19. Tidak Meninggikan Diri

    Adab terhadap guru lainnya yang perlu Anda pahami adalah tidak meninggikan diri atau bersikap sombong. Bisa saja seorang murid mengetahui terlebih dahulu akan suatu ilmu daripada seorang guru.

    Apabila hal ini terjadi, Anda harus tetap menjaga sikap. Jika perlu, lakukan diskusi bersama guru saat di kelas untuk saling bertukar pendapat dan membagikan ilmu.

    20. Menghargai Hak Guru

    Guru tentunya juga memiliki hak dan kewajiban utamanya saat berada di sekolah. Maka dari itu, seorang murid tidak boleh mencela guru saat mengetahui hak antara guru dan murid sedikit berbeda.

    Terapkan Adab terhadap Guru!

    Tata krama menjadi salah satu hal yang menunjukkan sifat dan sikap seseorang. Sifat dan sikap ini juga bisa dididik sejak dini. Sama halnya dengan pengetahuan mengenai adab terhadap guru bisa ditanamkan sejak dini kepada murid. Oleh karena itu, pahami dan terapkan tata krama terhadap semua orang termasuk guru.

  • Adab-Adab Bertamu Menurut Islam, Anda Wajib Tahu!

    Adab-Adab Bertamu Menurut Islam, Anda Wajib Tahu!

    Menyambung tali silaturahmi dengan kerabat, tetangga, dan sesama umat Islam merupakan kegiatan yang dianjurkan. Mengingat hubungan persaudaraan yang erat akan memberikan nilai positif untuk hidup, maka Anda perlu memperhatikan beberapa adab bertamu sesuai dengan ajaran Islam.

    Saling berkunjung memang diperbolehkan, namun tidak boleh semena-mena. Dalam artian sikap kesopanan harus ditanamkan sejak awal sehingga tidak membuat tuan rumah merasa tidak nyaman dengan keberadaan Anda. Jika Anda termasuk orang yang sering bertamu, silakan luangkan waktu membaca penjelasan adabnya berikut.

    8 Adab Bertamu Sesuai Ajaran Islam

    Adab mempunyai arti sebagai keramahan, kehalusan, budi pekerti, dan kesopanan. Tentu, Islam sangat menjunjung tinggi sikap tersebut sebagai bentuk pengajaran untuk umatnya agar tidak bertindak sesuka hati dan merugikan orang lain. Adapun inilah 8 adab bertamu yang bisa Anda terapkan.

    1. Ucapkan Salam dan Minta Izin untuk Masuk

    Ketika merasa sudah dekat, seseorang terkadang bertamu dengan cara yang tidak sepenuhnya benar. Mereka biasanya akan memanggil nama dari pemilik rumah atau orang yang hendak ditemui dengan kata sekedarnya. Dalam ajarannya, Rasulullah SAW mengajarkan hendaknya seseorang mengucapkan salam.

    Selain itu meminta izin untuk masuk juga menjadi adab yang tidak boleh dilupakan. Dalam firmannya Allah SWT menyebutkan seperti berikut:

    “Kepada orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kalian tanpa meminta izin dan mengucapkan salam kepada pemilik rumah tersebut. Yang demikian itu jauh lebih baik bagimu supaya kamu selalu mengingatnya.” QS. An-Nuur [24]: 27.

    2. Datang di Waktu yang Tepat

    Adab yang kedua adalah datang di waktu yang tepat. Bertamu artinya mengunjungi, jadi tuan rumah harus dalam kondisi yang baik dan tidak sibuk. Jangan datang pada waktu tiga aurat dalam Islam, yakni sehabis Dzuhur, sesudah Isya dan sebelum Subuh.

    Islam menganggap rumah ibarat penutup aurat bagi penghuninya. Maka dari itu, selagi Anda bertamu berikan tuan rumah kesempatan untuk mempersiapkan kondisi rumahnya agar lebih rapi dan bersih. Hargai mereka karena Anda berniat untuk silaturahmi dan bertamu.

    3. Minta Izin Maksimal Tiga Kali

    Masih seputar bagaimana cara yang baik untuk berkunjung ke rumah orang. Berbicara tentang hal ini, Anda harus tahu bahwa Islam memiliki aturan seperti mengucapkan salam dan meminta izin untuk masuk. Bahkan dalam adab bertamu, permintaan izin ini maksimal hanya tiga kali saja.

    Lebih dari itu, artinya pemilik rumah sedang tidak ingin diganggu atau memiliki urusan lain. Jika Anda diizinkan masuk, maka masuklah. Namun, apabila tidak mendapatkan izinnya maka silakan pulang. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW berikut ini:

    Rasulullah SAW bersabda “Minta izinlah untuk masuk rumah seseorang sebanyak tiga kali, jika diizinkan untuk kamu masuk maka masukkah namun jika tidak maka pulanglah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    4. Perhatikan Posisi Berdiri Agar Tidak Menghadap Pintu

    Pemilik rumah memiliki hak sepenuhnya terhadap huniannya. Karena itu, dalam bertamu yang baik ialah hendaknya posisi tamu tidak berdiri di depan pintu dan menghadap langsung ke dalam ruangan. Sehingga dalam posisi tersebut tidak membuat tamu melihat secara langsung isi dalam rumah.

    Sebagaimana Rasulullah SAW berkata seperti berikut:

    “Rasulullah SAW apabila datang ke rumah suatu kaum, beliau tidak akan menghadapkan langsung wajahnya di depan pintu melainkan di sebelah kanannya atau kirinya dan mengucapkan salam.” ( HR. Abu Dawud).

    5. Tidak Bertamu dengan Cara Mengintip

    Tak banyak yang tahu mengintip ke dalam rumah untuk memastikan apakah ada orang di dalamnya merupakan perbuatan yang tercela. Banyak yang masih berlaku demikian padahal Rasulullah SAW tidak menyukai dan memberi ancaman kepada orang-orang yang suka mengintip. Sebagaimana sabdanya berikut ini:

    “Seandainya ada seseorang yang melihatmu di rumah tanpa izin darimu, maka engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak berdosalah kamu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan).

    6. Jaga Lisan dan Kesopanan

    Adab bertamu berikutnya adalah jaga lisan dan kesopanan selama berkunjung. Sikap sopan santun dalam perilaku Islam ditunjukkan sebagai bentuk saling menghormati dan menghargai baik penerima tamu maupun tuan rumah. Selain itu, kesopanan dapat menjadi kunci agar kita selalu menjaga perbuatan.

    Dengan begitu, tidak akan ada pihak yang tersakiti oleh sikap Anda. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, lisan akan berubah menjadi boomerang ketika Anda tidak mau menjaganya dengan baik. Karena itu, jangan pernah mengatakan hal yang tidak-tidak kepada tuan rumah yang Anda kunjungi.

    7. Perhatikan Batasan Waktu Bertamu

    Ketika berkunjung, jangan lupakan untuk mengucapkan salam, menjaga kesopanan, meminta izin, dan datang di waktu yang tepat. Selain itu, ada satu adab lagi yang harus Anda lakukan, yakni silakan perhatikan batasan waktu untuk bertamu. Meski memiliki urusan yang banyak, namun pastikan jangan terlalu lama.

    Sebab dikhawatirkan tuan rumah merasa tidak nyaman sehingga bisa saja membebaninya karena keberadaaan Anda. Adapun sabda Rasulullah SAW yang mengajarkan kepada umatnya agar selalu memperhatikan waktu bertamu adalah sebagai berikut:

    “Menjami tamu membutuhkan waktu tiga hari, adapun untuk memuliakannya dilakukan selama sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim jika tetap tinggal pada tempat saudaranya sehingga malah memberikan dampak menyakitinya.”

    Para sahabat Rasulullah kemudian berkata “Ya Rasulullah SAW bagaimana bisa seorang tamu malah menyakitinya? Rasulullah menjawab “Sang tamu yang tinggal cukup lama bersamanya sehingga ia tidak memiliki apapun untuk menjamu tamunya”.” (HR Baihaqi).

    8. Segera Pulang Jika Disuruh Pulang

    Adab terakhir ialah Anda harus segera pulang atau menunda kunjungan apabila setelah mengucapkan salam dan meminta izin 3 kali pemilik rumah tidak mengizinkan kita untuk masuk. Hendaklah seorang tamu tidak merasa tersinggung atau kecewa dan dilecehkan ketika mereka tidak mempersilahkannya masuk.

    Sebab, hal ini termasuk adab untuk berkunjung ke rumah orang lain yang penuh dengan hikmah dalam syariat Islam. Adapun Allah SWT berfirman sebagai berikut:

    Jika kamu tidak bertemu siapapun di dalam rumahnya maka janganlah kamu masuk sebelum mendapatkan izin dari tuan rumahnya. Apabila dikatakan kepadamu “Kembali saja” maka hendaklah kamu kembali pulang. Itu bersih untukmu dan Allah SWT maha mengetahui apa yang manusia kerjakan.”. QS. An-Nuur [24]: 28

    Meminta izin dalam bertamu itu kewajiban bagi seorang tamu dan menerima atau menolak tamu adalah hak dari tuan rumah. Maka dari itu, kaum muslim harus paham, ketika ada orang yang menolak kedatangan Anda jangan marah. Sebab, setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk menerima kunjungan.

    Ingatkan Sanak Saudara untuk Menerapkan Adab Bertamu Ini!

    8 adab bertamu di atas bisa menjadi pembelajaran berharga untuk Anda di ke depannya. Jangan sampai berkunjung dengan hal-hal yang kurang baik dan mengganggu tuan rumah. Jadilah orang yang berbudi pekerti luhur, jaga sikap Anda dimanapun dan kapanpun!