Author: Reskia Ekasari

  • Pengertian Sunnah Muakkad dan Contoh-Contohnya 

    Pengertian Sunnah Muakkad dan Contoh-Contohnya 

    Dalam ajaran Islam, tidak semua ibadah dan amalan memiliki hukum wajib atau fardhu. Beberapa ibadah termasuk dalam kategori sunnah, salah satunya sunnah muakkad.

    Adapun sunnah muakkad adalah jenis sunnah yang lebih dianjurkan.

    Masih cukup banyak yang merasa bingung mengenai hukum sunnah muakkad. Oleh karena itu, mari simak bersama penjelasan mengenai pengertian sunnah muakkad dan contohnya.

    Pengertian Sunnah Muakkad Adalah

    Ibadah sunnah yaitu ibadah yang tidak wajib, tapi apabila dilaksanakan akan mendatangkan pahala. Sehingga banyak ulama yang menganjurkan untuk mengamalkan ibadah sunnah.

    Hukum sunnah sendiri terbagi dalam beberapa tingkatan berdasarkan penekanan pelaksanaannya. Beberapa ibadah sunnah lebih ditekankan untuk dilaksanakan, sehingga disebut memiliki tingkatan lebih tinggi.

    Melansir dari laman Muslim, sunnah muakkad adalah ibadah yang dikerjakan oleh Rasulullah secara rutin dan kontinyu, serta diiringi adanya motivasi langsung dari lisan Rasulullah.

    Ibadah yang termasuk dalam sunnah muakkad sangat diutamakan untuk dilaksanakan. Meskipun demikian, hukumnya tetap sunnah. Sehingga boleh untuk tidak dikerjakan.

    Umumnya, para ulama menganjurkan kita untuk sebisa mungkin melaksanakan ibadah yang termasuk dalam sunnah muakkad.

    Pasalnya, pelaksanaan ibadah dapat mendatangkan pahala dan kebaikan. Hal tersebut diibaratkan sebagai penambal dari kekurangan kita dalam pelaksanaan ibadah fardhu.

    Dalam ilmu ushul fiqih, diterangkan mengenai amalan sunnah muakkad, sebagai berikut:

    وهو الذي يكون فعله مكملا ومتمما للواجبات الدينية كالأذان والإقامة والصلاة المفروضة في جماعة

    Artinya: 

    “Yaitu adalah sunnah yang dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan kewajiban agama seperti azan, iqamat, dan shalat fardhu berjamaah.”

    ويدخل في هذا القسم أيضا، وما واظب النبي على فعله، ولم يتركه إلا مرّة او مرّتين للدلالة على أنه غير لازم وذلك مثل: المضمضة و الإستنشاق في الوضوء وصلاة ركعتين قبل صلاة الفجر، ويسمّى هذا القسم بالسنة المؤكّدة أو سنة الهدى

    Artinya:

    “Masuk juga dalam sunnah muakkad, perkara yang dilestarikan oleh Nabi dan tidak ditinggalkan kecuali sekali dua kali untuk menunjukan bahwa amalan itu tidak wajib. Contohnya seperti kumur-kumur ketika berwudhu, menghirup air ketika wudhu, dan shalat dua rakaat sebelum subuh. Sunnah ini dinamakan sunah muakkadah atau sunatul huda.”

    Perbedaan dengan Sunnah Ghairu Muakkad

    Telah disebutkan sebelumnya bahwa sunnah muakkad adalah ibadah sunnah yang tingkatannya lebih tinggi.

    Sementara itu, terdapat ibadah yang hukum pelaksanaannya berada di bawah tingkatan sunnah muakkad, yaitu sunnah ghairu muakkad.

    Melansir dari laman Muslim, sunnah ghairu muakkad adalah ibadah sunnah yang tidak dirutinkan oleh Rasulullah. Meski begitu, Rasulullah memotivasi umat muslim untuk mengerjakannya.

    Ada banyak amalan yang termasuk dalam ghairu muakkad. Salah satunya yaitu shalat empat rakaat sebelum shalat ashar.

    Contoh Amalan Sunnah Muakkad

    Setelah mengerti bahwa sunnah muakkad adalah ibadah yang sangat dianjurkan, maka ada baiknya kita mengenali apa saja amalan yang termasuk sunnah muakkad.

    Amalan yang termasuk sunnah muakkad adalah di antaranya:

    1. Sholat Qabliyah Subuh

    Sholat qabliyah subuh adalah shalat sunnah yang waktu pelaksanaannya sebelum shalat fardhu subuh.

    Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan:

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لاَ يُصَلِّى إِلاَّ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

    Artinya: 

    “Ketika terbit fajar Shubuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shalat kecuali dengan dua raka’at yang ringan” (HR. Muslim no. 723).

    Riwayat lain menyebutkan bahwa shalat qabliyah subuh termasuk dalam ibadah yang dilakukan secara rutin oleh Rasulullah SAW. Bahkan ketika safar pun, Rasulullah terus menerus menjaga shalat ini.

     ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

    لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

    Artinya: 

    “Tidak ada shalat sunnah yang lebih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tekuni daripada dua raka’at fajar (shalat sunnah qabliyah subuh).” (HR. Bukhari No. 1163 dan Muslim No. 724).

    Amalan shalat qabliyah subuh juga memiliki keutamaan yang luar biasa, hingga disebut lebih baik daripada dunia seisinya.

    Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

    رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

    Artinya: 

    “Dua rakaat fajar itu lebih baik dari dunia seisinya.” (HR. Muslim No. 725)

    2. Sholat Tahajud

    Melansir dari Rumaysho, dalam tulisan Al Qodhi Abu Syuja’ yang bertajuk Matan Al Ghoyah wat Taqriid dijelaskan tentang tiga shalat sunnah muakkad, yaitu shalat lail (shalat tahajud), shalat Dhuha, dan shalat tarawih.

    Shalat lail disebut juga sebagai shalat tahajud, merupakan shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari. Pengerjaan shalat pada tengah malam lebih baik, sementara pada akhir malam lebih afdhol.

    Perintah untuk melaksanakan shalat ini terdapat dalam firman Allah berikut.

    وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً

    Artinya: 

    “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (QS. Al Isra’: 79).

    Pelaksanaan shalat tahajud juga disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW.

    عليكم بقيام الليل فإنه دأب الصالحين قبلكم ، وهو قربة لكم إلى ربكم ، ومكفر للسيئات ، ومنهاة عن الإثم

    Artinya: 

    “Lakukanlah shalat lail karena shalat tersebut merupakan kebiasaan orang sholih sebelum kalian. Shalat tersebut akan lebih mendekatkan diri kalian kepada Rabb kalian dan juga akan menghapuskan dosa dan menjauhkan dari maksiat.” (HR. Hakim 1: 308, ia berkata sesuai syarat Bukhari).

    3. Shalat Dhuha

    Shalat Dhuha juga disebutkan dalam kitab Matan Al Ghoyah wa Taqrib sebagai sunnah muakkad. Pensyariatan shalat ini berlandaskan pada firman Allah SWT yang berbunyi:

    يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

    Artinya: 

    “Mereka bertasbih di waktu petang dan pagi” (QS. Shaad: 18).

    Adapun pelaksanaan shalat dhuha yaitu pada waktu dhuha (pagi). Lebih tepatnya, yaitu mulai matahari terbit seukuran satu tombak (2,5 meter) sampai waktu zawal (saat posisi matahari mulai ke arah barat).

    Dalam fiqih, diterangkan bahwa waktu pelaksanaan shalat dhuha yang baik yaitu setelah melewati seperempat siang, atau sekitar jam 9 pagi.

    Hukum disunnahkannya shalat dhuha juga ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah yang berkata:

    أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

    Artinya: 

    “Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan (3) berwitir sebelum tidur.” (HR. Bukhari No. 1981 dan Muslim No. 721).

    Anjuran pelaksanaan amalan shalat sunnah muakkad adalah berdasarkan sabda Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى إِلَّا أَوَّابٌ. قَالَ: وَهِيَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ. (رواه الحاكم وقال: هذا حديث صحيح على شرط مسلم)

    Artinya: 

    “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidak ada yang menjaga shalat Dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah dengan bertaubat.’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Shalat Dhuha adalah shalat orang-orang yang kembali kepada Allah dengan bertaubat’,” (HR al-Hakim dan ia berkata: “Ini hadits shahih sesuai syarat Imam Muslim).

    Selain itu, shalat dhuha juga memiliki keutamaan yang besar, yakni menjadi sedekah semua tulang manusia.

    Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

    عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى. (رواه مسلم)

    Artinya: 

    “Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Ada sedekah (yang hendaknya dilakukan) atas seluruh tulang salah seorang dari kalian. Karena itu setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan dua rakaat shalat Dhuha mencukupi semuanya itu’,” (HR Muslim).

    4. Shalat Tarawih

    Umat muslim tentunya sudah tidak asing dengan shalat sunnah yang satu ini. Pasalnya, shalat tarawih memiliki waktu pelaksanaan khusus yaitu selama bulan Ramadhan.

    Umumnya, umat muslim melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah di masjid.

    Rupanya, bukan sekedar ibadah untuk meningkatkan amalan baik selama Ramadhan saja, shalat tarawih juga termasuk dalam amalan sunnah muakkad.

    Melansir dari laman NU Online, shalat tarawih termasuk salah satu amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW.

    Shalat tarawih juga merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar, yakni pengampunan dari dosa yang telah lewat. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW.

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Artinya: 

    “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari No. 37 dan Muslim No. 759).

    Adapun tata cara pelaksanaan shalat tarawih yaitu dilakukan dua rakaat demi dua rakaat. Total jumlah rakaat shalat tarawih tidak terdapat batasan tertentu. Artinya, kitab oleh melaksanakan sebanyak 10 maupun 20 rakaat.

    Nah, biasanya shalat tarawih diikuti dengan shalat witir, yaitu shalat yang memiliki jumlah rakaat ganjil.

    Sehingga biasanya, pelaksanaan shalat tarawih dan witir memiliki jumlah total rakaat sebanyak 11 atau 23 rakaat.

    Pelaksanaan shalat witir setelah tarawih merupakan anjuran dari Rasulullah SAW yang bersabda:

    اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

    Artinya: 

    “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751).

    Supaya tidak terasa berat, kita bisa mengikuti shalat tarawih berjamaah di masjid. Apalagi, pelaksanaan shalat tarawih berjamaah juga memiliki keutamaan lebih sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi berikut.

    مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

    Artinya: 

    “Barang siapa shalat Tarawih bersama imam sampai selesai, maka untuknya dicatat seperti beribadah semalam.”

    5. Shalat Rawatib

    Mengutip Rumaysho, shalat rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Berdasarkan waktu pelaksanaannya, shalat rawatib dibedakan menjadi dua, yaitu:

    1. Shalat sunnah qabliyah: dilaksanakan sebelum shalat wajib
    2. Shalat sunnah ba’diyah: dilaksanakan setelah shalat wajib

    Adapun hukum shalat rawatib ada dua, yaitu sunnah muakkad dan sunnah ghairu muakkad. Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, sunnah muakkad merupakan amalan yang lebih ditekankan untuk dilaksanakan.

    Shalat rawatib yang termasuk sunnah muakkad adalah shalat yang terdiri dari 10 rakaat sehari, yaitu:

    • 2 rakaat qabliyah Subuh
    • 2 rakaat qabliyah Zuhur
    • 2 rakaat ba’diyah Zuhur
    • 2 rakaat ba’diyah Maghrib
    • 2 rakaat ba’diyah Isya

    Sementara shalat rawatib ghairu muakkad, ada 12 rakaat dalam sehari, yaitu:

    • 2 rakaat qabliyah Zuhur
    • 2 rakaat ba’diyah Zuhur
    • 4 rakaat qabliyah Ashar
    • 2 rakaat qabliyah Maghrib
    • 2 rakaat qabliyah Isya

    Salah satu shalat rawatib adalah shalat qabliyah subuh yang mana telah dijelaskan mengenai pelaksanaan dan keutamaannya pada poin nomor satu.

    Mengingat keutamaannya yang luar biasa, ulama menganjurkan untuk jangan sampai meninggalkannya.

    Shalat sunnah rawatib lainnya juga memiliki keutamaan yang besar apabila kita menjalankan, yakni dijanjikan istana di surga.

    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

    Artinya: 

    “Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Tirmidzi, No. 414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

    Untuk pelaksanaan shalat rawatib zhuhur, terdapat beberapa model yang bis akita gunakan, yaitu:

    • Pertama: 4 rakaat sebelum zhuhur dan 2 rakaat sesudah zhuhur
    • Kedua: 4 rakaat sebelum zhuhur dan 4 rakaat sesudah zhuhur
    • Ketiga: 2 rakaat sebelum zhuhur dan 2 rakaat sesudah zhuhur

    Shalat rawatib zhuhur juga memiliki keutamaan yang besar, sehingga ada baiknya apabila kita melaksanakan dalam jumlah rakaat yang lebih besar. Sebagai contoh, yaitu dengan menggunakan model pelaksanaan yang pertama.

    Dengan model tersebut, maka kita dapat melaksanakan shalat rawatib muakkad dengan jumlah total rakaat 12 sesuai hadits mengenai keutamaan shalat sunnah 12 rakaat.

    Demikianlah penjelasan mengenai sunnah muakkad adalah ibadah sunnah yang lebih ditekankan. Nah, semoga setelah memahaminya kita juga dapat menjalankannya. Amin.

  • 7 Adab Berpakaian dalam Islam Sesuai Sunnah, Apa saja?

    7 Adab Berpakaian dalam Islam Sesuai Sunnah, Apa saja?

    Secara umum, adab berpakaian dalam Islam telah tercantum dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 26. Dimana ayat tersebut menjelaskan terkait perintah untuk anak-anak Adam berpakaian yang indah sekaligus menutup aurat.

    Dengan demikian, adab berpakaian dalam Islam bukan hanya sekedar sebagai penutup badan saja.

    Akan tetapi, juga terhindar dari rasa malu sekaligus menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan.

    Adab Berpakaian dalam Islam

    Sebenarnya adab berpakaian dalam Islam juga selaras dengan cara sewajarnya seseorang berpakaian yaitu berpakaian yang sopan dan menutup aurat. Bahkan dalam Islam adabnya berpakaian juga mesti bersih dan suci.

    Lantaran hal ini akan berkaitan dengan cerminan akhlak seorang muslim. Dengan berpakaian yang sesuai syariatnya, maka seorang muslim membantu menjaga dirinya sendiri dari larangan-larangan yang Allah SWT tetapkan.

    Adapun adab berpakaian dalam Islam adalah sebagai berikut:

    1. Menggunakan Pakaian Halal

    Adab berpakaian dalam Islam pertama yaitu pakaian yang halal. Kata halal ini bisa diartikan secara luas, baik itu bahannya yang harus halal, cara mendapatkannya bahkan halal harta yang digunakan untuk mendapatkan pakaian.

    Dengan demikian, tidak ada alasan seorang muslim mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan kehalalan tersebut. Pendukung adab berpakaian dalam Islam selaras penyampaian dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan yang shalih’ (QS. Al Mu’min: 51). Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu ‘ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya terkabul?” (HR. Muslim No. 1015).

    Baca juga: 7 Bacaan Akad Nikah Bahasa Arab Latin dan Artinya Lengkap!

    2. Menutup Aurat

    Menutup Aurat

    Melanjutkan dari poin pertama tentang adab berpakaian dalam Islam yaitu menutup aurat. Sebagaimana yang telah ada dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 22 bahwa fungsi utama dalam berpakaian umat Islam yaitu menutup aurat.

    Selain itu, dipertegas lagi kewajiban seorang muslim menutup aurat dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 31. Lebih tepatnya untuk seorang muslimah yang seharusnya menurunkan kain kerudung hingga dadanya.

    Sebab, bagi muslimah semua tubuh merupakan aurat kecuali muka dan telapak tangan. Sedangkan untuk laki-laki auratnya yaitu mulai dari pusar hingga lutut.

     Jadi, siapa saja orang Islam baik perempuan atau laki-laki mempunyai kewajiban untuk menutup auratnya masing-masing.

    3. Tidak Menyerupai Lawan Jenis

    Adab berpakaian dalam Islam selanjutnya yaitu tidak menyerupai lawan jenis. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, beliau berkata:

    “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari No. 5885).

    Hal itu juga tidak hanya berlaku untuk adab berpakaian saja, akan tetapi juga tingkah laku, kata-kata dan lain sebagianya yang tidak diperbolehkan dalam menyerupai lawan jenisnya.

    Guna mempertegas hal itu, Rasulullah SAW juga bersabda yang artinya “Tidak masuk surga orang yang durhaka terhadap orang tuanya, ad dayyuts, dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al Baihaqi dalam Al-Kubra 10/226).

    Dengan demikian, sekiranya kita selalu mempertimbangkan dengan baik jenis pakaian yang hendak digunakan agar tidak menyerupai lawan jenis. Sebab hal tersebut dibenci Allah SWT dan nabinya.

    4. Niat Berpakaian

    Adab berpakaian dalam Islam berikutnya yaitu niat berpakaian. Lebih tepatnya menata niat berpakaian agar selalu melaksanakan perintah Allah SWT yaitu menjaga kesehatan tubuh dan melindungi diri, salah satunya dengan menutup aurat.

    Setelah kita menata niat berpakaian hanya karena Allah SWT saja, lebih afdolnya diperkuat dengan membaca doa berpakaian. Semoga dengan membaca doa kita selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

    Adapun doa memakai pakaian yang bisa kita baca yaitu sebagai berikut:

    Allhamdulillahilladzi kasaanii hadzatsaubi wa razawanii min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin.

    Artinya:

    “Segala puji bagi Allah yang telah Engkau berikan pakaian ini kepadaku, dan memberikan rezeki tanpa upaya dan kekuatan dariku.”

    Baca juga: Pengertian Sombong dalam islam dan 6 Bahaya Sifat Sombong

    5. Mengawali dari Sebelah Kanan

    Berikutnya adab berpakaian dalam Islam yaitu mengawali dari sebelah kanan. Sebenarnya ini tidak hanya berlaku untuk adab berpakaian saja, akan tetapi juga ketika melakukan segala urusan hendaknya mendahulukan sebelah kanan.

    Hal ini selaras dengan riwayat ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata yang artinya, “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya.” (HR. Bukhari No.168).

    Ketika hendak berpakaian dengan mendahulukan sebelah kanan terlebih dahulu, kemudian lanjutkan dengan membaca basmallah dan doa berpakaian. Harapannya agar pakaian yang telah kita kenakan menjadi berkah dalam hidup.

    6. Tidak Berpakaian Menyerupai Orang Kafir

    Adab berpakaian dalam Islam berikutnya sesuai dengan sebuah hadist yang menjelaskan bahwa seseorang yang berpakaian menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari kaum tersebut (HR. Abu Daud No. 4031).

    Penjelasan lebih dalam mengenai berpakaian menyerupai orang kafir yaitu berpakaian dengan tujuan menyampaikan syi’ar-syi’ar terkait peribadatannya. 

    Contoh adab berpakaian yang tidak diperbolehkan atau menyerupai orang kafir seorang muslim yang sengaja mengenakan pakaian biarawati dan lainnya.

    Tentu berpakaian tersebut dalam Islam tidak diperbolehkan. Tapi, jika hanya mengenakan dasi atau lainnya yang tidak ada unsur syiar atau tidak sengaja menyerupai kaum tersebut tidak apa-apa.

    Sehingga, tidak diperbolehkan menyerupai pakaian orang kafir yang menjadi ciri khas orang kafir tersebut. Akan tetapi, jika pakaian sudah menjadi budaya keumuman orang dan tidak menjadi ciri khas, maka tidak menyerupai orang kafir.

    7. Tidak Menimbulkan Perasaan Ria

    Adab berpakaian dalam Islam selanjutnya yaitu berpakaian tidak menimbulkan perasaan ria. Rasulullah SAW menjelaskan Allah SWT tidak akan memandang umatnya di hari kiamat jika selama hidup sering mengenakan pakaian berlebihan.

    Berlebihan yang bisa menimbulkan perasaan ria ketika seseorang menggunakannya. Sehingga, kita hanya perlu berpakaian yang sewajarnya sesuai dengan fungsi yang telah ada.

    Apalagi menggunakan pakaian dengan harga mahal dan aksesoris langka yang sebenarnya tidak sesuai kebutuhan manusia tersebut, bisa menimbulkan rasa ria dan sombong dalam diri sendiri.

    Sebenarnya masih ada banyak adab dalam berpakaian menurut Islam yang perlu kita ketahui, baik itu untuk kaum wanita dan laki-laki. Setiap orang mempunyai adab berpakaian masing-masing, tidak terlepas dari adab berpakaian umum tersebut.

    Salah satunya seperti larangan menggunakan pakaian sutera untuk kaum laki-laki, jangan menggunakan kain yang tipis, transparan dan bahkan sampai memperlihatkan lekuk tubuh bagi kaum perempuan dan lain sebagainya.

    Itulah adab berpakaian dalam Islam yang perlu kita pelajari dan pahami dengan baik. Agar apa yang kita kenakan mendapatkan ridha,  rahmat dan perlindungan  dari  Allah SWT.

  • Peristiwa Isra Miraj, Perjalanan Suci Nabi Muhammad SAW

    Peristiwa Isra Miraj, Perjalanan Suci Nabi Muhammad SAW

    Isra Miraj merupakan peristiwa penting dalam Islam yang menggambarkan keajaiban dan kebesaran Allah SWT. 

    Perjalanan luar biasa ini juga mengandung pesan-pesan penting tentang ketaatan, kesabaran hingga turunnya perintah Shalat dalam Islam.

    Peristiwa ini menjadi bukti bahwa keimanan dan ketakwaan harus tunduk kepada Allah SWT sebagai Maha Kuasa. Selain itu, peristiwa ini menjadi salah satu bentuk kekuasaan Allah kepada Muhammad SAW sebagai perantara-Nya.

    Pengertian Isra Miraj

    Dalam bahasa, Isra’ berasal dari kata “saro” yang artinya adalah perjalanan di malam hari. Sementara, menurut istilah Isra merupakan perjalanan Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril dari kota Mekkah ke Baitul Maqdis.

    Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

    سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

    Sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr.

    Artinya:

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1).

    Sedangkan, Mi’raj secara bahasa merupakan suatu alat atau tunggangan yang digunakan oleh Rasulullah SAW untuk naik. Secara istilah, Mi’raj memiliki makna tangga khusus untuk Rasulullah naik dari bumi menuju atas langit.

    Baca juga: Hadis Tentang Ciri Ciri Orang Munafik yang Wajib Diketahui

    Peristiwa Isra Miraj

    Peristiwa Isra Miraj adalah salah satu peristiwa paling luar biasa dalam sejarah Islam yang menggambarkan perjalanan rohani Nabi Muhammad SAW ke langit dan pertemuan dengan Allah SWT.

    Perjalanan ini juga dituliskan dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

    وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

    Artinya:

    “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 1-18).

    Alur Lengkap Peristiwa Isra Miraj

    Terdapat banyak sahabat yang mengurutkan kejadian peristiwa besar Rasulullah SAW. Tercatat sebanyak 16 sahabat Rasulullah yang meriwayatkan kisah lengkap Isra Miraj tersebut.

    Dari banyaknya hadits shahih ini, Rasulullah SAW bersabda dengan bunyi:

    “Didatangkan kepadaku Buraaq yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka saya pun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar. Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata: “Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah.”

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya sholawatullahi ‘alaihi maa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan (wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. 

    Allah berfirman:

    وَرَفَعْنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

    Wa rafa’nāhu makānan ‘aliyyā.

    Artinya:

    “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 57).

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril.” Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus.” Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’mur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi.

    Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, dia pun berubah sehingga tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang sanggup menggambarkan keindahannya.

    Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Diwahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?.” Saya menjawab: “50 shalat.” Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatku tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Israil.”

    Beliau bersabda: “Maka saya pun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku.” Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata: “Allah mengurangi untukku 5 shalat.” Dia berkata: “Sesungguhnya umatku tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.”

    Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman: “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang mendoakan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikit pun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis (baginya) satu kejelekan.”

    Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa ’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah keringanan”, maka saya pun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai saya pun malu kepada-Nya.” (HR. Muslim No. 162).

    Peristiwa Isra Miraj menjadi bukti bahwa kekuasaan Allah SWT merupakan mutlak dan kita sebagai umat yang taat harus menjalankan perintah tersebut tanpa terkecuali. Semoga kita selalu menjadi orang taat dan diberkahi oleh Allah SWT.

  • Pinjam Motor Harus Kembali Full Tank, Benarkah Termasuk Riba?

    Pinjam Motor Harus Kembali Full Tank, Benarkah Termasuk Riba?

    Dalam bermuamalah dengan sesama muslim, terkadang kita merasa ragu dan khawatir ketika melakukan transaksi tertentu yang menjurus ke riba. Salah satunya adalah perkara pinjam motor harus kembali full tank atau tidak.

    Praktik ini banyak dilakukan karena rasa sungkan dengan pemilik motor yang telah bersedia meminjamkan motornya. Kita sering merasa tidak enak hati jika tidak mengisikan bensin hingga penuh setelah memakainya. 

    Sayangnya, kita sering terjebak dalam perkara riba meskipun maksud dari tindakan kita adalah baik. Untuk mengetahui kejelasan kasus di atas menurut Islam, mari simak bersama ulasan di bawah ini!

    Memahami Pengertian dari Riba Fadhl

    Salah satu bentuk riba yang perlu Anda ketahui adalah riba fadhl. Riba ini terjadi akibat tukar menukar barang sejenis, tetapi takaran atau ukurannya tidak sama rata. Hal inilah yang dilarang dalam hukum pinjam meminjam dalam Islam.

    Riba fadhl sendiri sering terjadi dalam kegiatan jual beli atau tukar menukar barang ribawi (emas, perak, gandum, gandum merah, kurma, dan sebagainya), dengan kuantitas, kualitas, serta takaran yang berbeda.

    Hal ini juga dijelaskan di dalam hadis riwayat Muslim:

    هَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِى فِيهِ سَوَاءٌ

    Artinya:

    “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584).

    Salah satu contoh transaksi riba fadhl adalah tukar menukar uang pada saat lebaran. Sering kita temukan penukaran uang satu juta dengan uang Rp 990.000 dengan alasan biaya Rp 10.000 sebagai biaya jasa. Hal ini dilarang dalam Islam.

    Hal tersebut melanggar prinsip tukar menukar barang ribawi sesuai dengan bunyi hadist di atas yang mana kita harus membayarnya secara kontan, sama timbangan atau nominalnya, dan harus saling menyerahkan.

    Sebagai solusi, maka kita bisa melakukan dua kali transaksi. Pertama, selesaikan terlebih dahulu tukar menukar uang, yaitu 1.000.000 uang lama dengan 1.000.000 uang baru. Jika transaksi sudah selesai, maka selanjutnya Anda bisa membayar biaya jasa.

    Baca juga: Doa Nabi Nuh dalam Al-Qur’an untuk Kaum dan Anaknya!!

    Apakah Pinjam Motor Harus Kembali Full Tank Termasuk Riba?

    Riba adalah salah satu larangan yang harus dihindari oleh seorang muslim. Akan tetapi, kita sering terjebak dengan perkara riba lantaran ketidaktahuan prinsip-prinsip riba. Sebelum berbicara lebih jauh, tentu kita harus tahu apa saja prinsip-prinsip riba.

    Disampaikan oleh para ulama bahwasanya:

    كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ حَرَامٌ

    Artinya:

    “Setiap utang piutang yang di dalamnya ada keuntungan, maka itu dihukumi haram.”

    Dari pernyataan para ulama tersebut, kita bisa pahami bahwa riba bisa datang dari transaksi utang piutang dan menghasilkan keuntungan. 

    Di samping itu, Ibnu Qudamah juga rahimahullah juga berkata:

    وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ

    Artinya:

    “Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al-Mughni, 6: 436).

    Pernyataan dari Ibnu Qudamah di atas memberikan kita gambaran bahwasanya utang piutang yang dipersyaratkan adanya tambahan, maka termasuk riba dan itu haram. Jadi, kita harus berhati-hati dalam menjalankan akad utang piutang terhadap sesama.

    Nah, jika kita merujuk pada pengertian riba fadhl di atas, pinjam meminjam motor bukan termasuk riba fadhl. Dalam hal ini, kita akan merujuk pada dua istilah, yaitu Al-‘aariyah dan al-qordh. Berikut penjelasan dari kedua istilah tersebut:

    1. Al-’Aariyah

    Al-‘aariyah dalam konteks hukum Islam merujuk pada sesuatu yang dipinjamkan atau disewakan tanpa imbalan atau biaya sewa yang ditetapkan. 

    Dengan kata lain, al-‘aariyah adalah pinjaman atau sewa yang diberikan secara cuma-cuma atau tanpa meminta pembayaran atau imbalan tertentu sebagai ganti. 

    Konsep ini berkaitan dengan perjanjian peminjaman atau penyewaan tanpa syarat balik dalam hal pembayaran. 

    Salah satu contoh transaksi ini adalah pinjam meminjam sepeda motor dan motor tersebut tidak berpindah kepemilikan.

    Baca juga: 2 Doa Sebelum Tidur dan Amalan Sunnah Nabi Muhammad SAW (Panjang & Pendek)

    2. Al-Qordh

    Al-Qardh dalam konteks hukum Islam mengacu pada pinjaman tanpa bunga atau tanpa tambahan apapun yang dikenakan pada pokok pinjamannya. Pinjaman ini harus dikembalikan dengan uang atau barang pengganti pada waktu tertentu.

    Salah satu contohnya adalah transaksi utang piutang senilai 100 ribu antara si A dan si B yang mana si B akan mengembalikannya dalam dua hari ke depan. 

    Jadi, uang tersebut akan dimanfaatkan oleh si B dan dikembalikan dengan uang lain (uang pengganti) dalam jumlah yang sama. Dalam hal ini, hukum riba akan berlaku sehingga tidak boleh ada kelebihan pengembalian.

    Lantas, bagaimana dengan perkara pinjam motor harus kembali full tank atau dalam keadaan bensin penuh? Jadi, jika transaksi pinjam meminjam motor tersebut dinilai sebagai Al-‘aariyah, maka akadnya menjadi ijarah (sewa).

    Dengan begitu, kita berhak untuk meminta pihak yang akan menggunakan motor untuk mengembalikannya dalam keadaan bensin penuh (full tank).

    Sebaliknya, jika kita menilai transaksi pinjam-meminjam motor tersebut adalah Al-qordh, maka akan berlaku hukum riba sehingga kita harus mengembalikan motor dalam keadaan seperti semula, yaitu bensin berada pada takaran tertentu.

    Meski begitu, akan lebih mudah praktiknya jika kita menilai transaksi tersebut dengan Al-‘aariyah. Jadi, pinjam motor harus kembali full tank tidak harus dilakukan asalkan sudah ada kesepakatan dengan pemilik motor.

  • Apa Itu Halalan Thayyiban dalam Islam? Ini Penjelasannya di AlQuran

    Apa Itu Halalan Thayyiban dalam Islam? Ini Penjelasannya di AlQuran

    Halalan thayyiban bagi setiap muslim pastinya bukan hal baru lagi. Mendengarnya pasti sudah terasa sering, tetapi beberapa orang masih belum memahami apa sebenarnya makna dari kata tersebut.

    Biasanya seseorang paling sering mendengar halalan thayyiban sebagai bentuk mengonsumsi suatu makanan secara halal. Bahkan beberapa menafsirkan artinya sebagai ‘halal lagi baik’.

    Tetapi, makna sesungguhnya sendiri sangat baik. Di mana, dalam penjelasan secara sederhana seorang Muslim wajib mengkonsumsi sesuatu secara halal, bahkan dalam hal muamalah yang dilakukan. Hal ini sebagai salah satu pedoman dalam beragama dengan bijak.

    Pengertian Halalan Thayyiban dalam Islam

    Pernahkah kita menimbang seperti apa makanan yang dikonsumsi? Apakah merupakan makanan halal atau tidak? Pastinya sangat rendah pemikiran kita menjangkau hal tersebut.

    Tetapi mengenal halal haram dalam makanan menjadi penting karena sejatinya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kita ke depannya.

    Untuk pengertian dari halalan thayyiban sendiri secara bahasa merupakan penggabungan dari dua kata dari bahasa Arab. Pada kamus Al-Ma’ani kita bisa menemukan arti halal sebagai ‘sah’ dalam hukum Islam. Sedangkan untuk thayyiban sendiri memiliki arti baik.

    Oleh karena itu, makna dibalik pelafalan kata tersebut adalah sesuatu yang diperbolehkan karena memiliki dampak baik bagi pelaku. Contohnya dalam hal makanan. Ketika kita mengonsumsi makanan yang halal, maka akan memberikan efek baik pada tubuh secara tidak langsung.

    Halalan Thayyiban dalam Al-Qur’an

    Pelafalan halalan thayyiban sendiri telah disebutkan langsung di dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali. Kita bisa menemukannya dalam Surat Al Baqarah:168, An Nahl:114, Al Maidah: 88, Al Anfal:69.

    1. An Nahl:114

    فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

    Artinya:

    “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian; dan syukurilah nikmat Allah, jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah,” (QS. An Nahl: 114).

    Berdasarkan surat An Nahl:114 Ibnu Katsir dalam ilmu tafsirnya pernah menjelaskan bahwa Allah SWT telah memerintahkan setiap hamba-Nya yang beriman untuk selalu memakan rezeki yang halal dan baik. Sehingga rasa syukur dan karunianya selalu bertambah.

    Dalam ayat tersebut pula Allah SWT menerangkan bahwa makanan dan minuman yang sebaiknya dikonsumsi haruslah memenuhi dua syarat yaitu halal dan thayyib.

    Baca juga: 7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    2. Al-Baqarah:168

    يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

    Artinya:

    “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

    Surat Al-Baqarah:168 menjelaskan dengan terang-terangan bahwa Allah SWT memerintahkan setiap umatnya untuk memakan makanan dari bumi yang halal dan juga baik.

    Larangannya juga sangat jelas bahwa Allah SWT melarang umatNya untuk mengikuti langkah setan dengan memakan makanan haram atau tidak Allah senangi. Karena mengikuti setan adalah musuh nyata bagi setiap manusia.

    3. Al-Maidah:88

    وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

    Artinya :

    “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

    Makna mendalam dari surat Al-Maidah:88 bisa diambil kesimpulan Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk memakan rezeki yang telah diberikanNya dengan sangat baik dan tidak lupa untuk selalu bertakwa kepadaNya.

    Makanan yang baik seperti apa? Tentu yang tidak mendatangkan kemudharatan. Apabila kita mengkonsumsinya tidak akan menimbulkan rasa buruk. Dan tentunya lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    4. Al Anfal:69

    فَكُلُوا۟ مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَٰلًا طَيِّبًا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Fa kulụ mimmā ganimtum ḥalālan ṭayyibaw wattaqullāh, innallāha gafụrur raḥīm

    Artinya :

    “Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Penafsiran dari surat tersebut menjelaskan bahwa sejatinya seseorang harus memakan makanan yang halal dan baik. Karena hal tersebut menjadi salah satu cara untuk memelihara hukum agama Allah serta ajaran pada syariat-Nya.

    Doa agar Allah SWT Memberikan Kecukupan dengan Halal

    Doa agar Allah SWT Memberikan Kecukupan dengan Halal

    Allah SWT sangat menganjurkan setiap hambaNya lebih dekat dengan hal-hal baik. Ia sangat melarang setiap manusia untuk mengkonsumsi makanan haram. 

    Apabila kita memiliki kekhawatiran terkait rezeki yang halal, maka ada sebuah doa yang apabila kita amalkan Allah SWT akan memberikan kecukupan dan menjauhkan hal-hal buruk dari lingkungan kita.

    Doa ini bisa dijumpai dalam Hadits Tirmidzi : No. 3563.

    وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ مُكَاتَباً جَاءَهُ فَقَالَ : إِنِّي عَجِزْتُ عَنْ كِتَابَتِي فَأَعِنِّي ، قَالَ : أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيْهِنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلٍ دَيْناً أَدَّاهُ اللهُ عَنْكَ ؟ قُلْ : (( اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ )) . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ)) .

    Artinya :

    Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ada seorang budak mukatab (yang berutang pada tuannya ingin memerdekakan dirinya) yang mendatangi ‘Ali, ia berkata, “Aku tidak bisa membayar utang pembebasan diriku, maka tolonglah aku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan kepadamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki hutang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa, ‘ALLAHUMAK-FINII BI HALAALIKA ‘AN HAROOMIK, WA AGH-NINIY BI FADHLIKA ‘AMMAN SIWAAK’ (artinya: Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu).” (HR. Tirmidzi, ia katakan haditsnya hasan) [HR. Tirmidzi, no. 3563; hasan menurut At-Tirmidzi, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini).

    Baca juga: Niat Puasa Syawal 6 Hari sesuai Sunnah dan Keutamaannya

    Bagaimana Cara Memaknai Halalan Thayyiban

    Setelah kita mengetahui apa saja ajaran Allah SWT mengenai halalan thayyiban, salah satu ulama besar Quraish Shihab menjelaskan bahwasanya Allah SWT memerintahkan seluruh umat manusia untuk mengkonsumsi makanan dan minuman halal.

    Baik bagi seorang Muslim, maupun orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT atau penganut agama lain. Meskipun begitu, Allah SWT juga membagi beberapa larangan pada jenis makanan menjadi empat bagian.

    Pertama, ada wajib, sunnah, mubah, dam makruh. Keempat hukum tersebut bisa saling berkesinambungan karena dikembalikan lagi pada kebutuhan setiap manusia.

    Salah satu contohnya, pada makanan jenis A halal karena bisa meningkatkan kesehatan seseorang. Tetapi makanan jenis A ini akan berubah ke haram apabila membahayakan kondisi dari orang lainnya.

    Contoh sederhana lainnya seperti banyak sekali makanan yang beragam tetapi tidak memiliki nilai gizi. Hal ini tentu jika dilihat dari segi kesehatan menjadi kurang baik. Oleh karena itu, konsep halalan thayyiban sangat penting untuk dipahami karena permasalahan tersebut.

    Bahkan, dalam kondisi sakit sekalipun. Mengutamakan makanan dan minuman yang halal sudah menjadi kewajiban tersendiri. Mengingat setiap makanan yang masuk akan memberikan dampak signifikan terhadap ketenangan jiwa seseorang.

    Seseorang yang selalu mengkonsumsi makanan halal akan merasa lebih tenang dan lebih berlapang dada. Berbeda dengan seseorang yang mengkonsumsi makanan kurang baik (tidak halal).

    Selain menimbulkan efek tidak enak badan, badan terasa berbeda, atau gangguan kesehatan lainnya. Makanan tidak halal juga mempengaruhi daya pikir seseorang, loh. Oleh karena itu, biasakan diri untuk mengonsumsi makanan halal sesuai perintah Allah SWT.

    Kriteria Makanan Halal

    Seperti yang sudah kita ketahui dari pembahasan di atas, bahwa halalan thayyiban memiliki arti halal dan baik. Nah, untuk kriteria makanan halal penting untuk kita ketahui sebagai bahan pertimbangan ilmu dengan baik, antara lain:

    1. Dilihat dari Segi Kandungan Zat

    Pertama, kriteria makanan halal bisa kita lihat dari kandungan yang dimiliki. Islam sebagai agama yang sangat ketat terkait haram halal sebuah makanan. Apalagi jika materi barang tersebut dikonsumsi.

    Tentunya dibutuhkan wujud makanan yang bersih (suci), terhindar dari kotoran, dan tidak najis.

    2. Cara Mendapatkannya

    Makanan halal juga bisa kita lihat dari bagaimana cara mendapatkannya. Karena, untuk mendapatkan sesuap nasi seseorang ada yang rela melakukan apapun mengingat dunia ini sangat keras.

    Mulai dari kegiatan tercela seperti merampok, mencuri, merampas, hingga melakukan pembohongan kepada pihak-pihak tidak bersalah. Nah, uang yang dihasilkan dari aktivitas buruk tersebut, digunakan untuk membeli bahan makanan.

    Hal itu membuat makanan yang kita konsumsi menjadi tidak halal. Meskipun jika kita melihat menggunakan mata, kandungan dari bahan makanan tersebut tergolong bersih dan baik.

    Tetapi jika dilihat dari cara memperolehnya, maka hal tersebut tentu tidak baik dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

    Kriteria Makanan Tayyib (Baik)

    Ketika kita ingin menerapkan perintah halalan thayyiban maka tidak hanya butuh makanan yang halal saja. Kita juga perlu mempertimbangkan apakah makanan yang diberikan ‘baik’ dalam ajaran Islam. Nah berikut beberapa kriterianya:

    1. Makanan Dikonsumsi Sesuai Kebutuhan

    Kriteria baik yang dimaksudkan dalam Islam salah satunya adalah cukup. Cukup dalam artinya asupan nutrisi yang kita butuhkan sudah terpenuhi dengan baik. Sehingga tidak akan terjadi kasus kelebihan ataupun kekurangan gizi.

    Karena segala sesuatu yang berlebihan pun tidak akan memberikan efek baik untuk kesehatan tubuh. Tetapi, jika kamu sangat membatasi makanan hingga kekurangan asupan nutrisi hal ini justru akan menimbulkan penyakit.

    Jenis penyakit yang berkaitan dengan makanan pada umumnya adalah asam lambung atau maag. Oleh karena itu, tidak boleh kita abaikan begitu saja. Pastikan proporsi untuk kita sudah sesuai kebutuhannya.

    2. Konsumsi Makanan yang Sehat dan Seimbang

    Mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang pas dan cukup tentunya akan memberikan efek baik pada kesehatan. Konsep baik dari segi kesehatan ini telah membentuk pola bahwa makanan yang kita konsumsi bersifat baik (thayyib).

    Jenis makanan dengan kandungan gizi yang pas secara umum telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang. Sehingga memberikan efek baik pada kesehatan dan tubuh seseorang.

    3. Tingkat Keamanan Mutu yang Baik

    Selain mempertimbangkan aspek makanan yang dikonsumsi telah sesuai kebutuhan atau belum atau dari segi standar makanan sehat dan seimbang, kita juga perlu mempertimbangkan keamanan mutu dari makanan yang dibeli.

    Perhatikan apakah jenis makanan yang kita beli sudah sangat aman atau belum. Pastikan kamu melakukan pengecekan menyeluruh untuk menghindari sesuatu yang membahayakan tubuh.

    Contohnya seperti pewarna makanan yang terlalu banyak, pemanis, dan bumbu yang bisa membuat masakan semakin gurih. Karena beberapa bahan tersebut apabila digunakan terlalu banyak ternyata dapat menyerap kandungan nutrisi yang dimiliki.

    Makanan Haram yang Sebaiknya Dihindari

    Untuk mencegah kebingungan berlebih terkait jenis makanan halalan thayyiban. Maka, penting bagi kita untuk paham jenis apa saja makanan yang diharapkan dan sebaiknya kita hindari.

    Beberapa jenis makanan haram sesuai yang disebutkan dalam Al-qur’an, antara lain:

    1. Babi dan Bangkai

    Sesuai dengan penjelasan di dalam Al-qur’an Surat Al-Maidah ayat 3. Di mana, status babi dan bangkai merupakan haram.

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا۟ بِٱلْأَزْلَٰمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya:

    “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.

    Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.

    Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.

    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

    2. Hewan yang Disembelih Tanpa Menyebut Nama Allah SWT

    Tidak hanya babi dan bangkai saja yang menjadi jenis makanan haram bagi seluruh umat. Tetapi juga ada ketentuan bahwa hewan yang disembelih tanpa menyebut asma Allah SWT juga termasuk ke dalam makanan haram.

    وَلَا تَأْكُلُوا۟ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَٰدِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

    Artinya:

    “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.

    Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am:121)

    3. Binatang Bertaring

    Dalam salah satu hadist yang telah diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwasanya terdapat ketentuan hewan bertaring tidak boleh untuk dimakan.

    Sebagai seorang Muslim yang baik, sudah selayaknya kita menaati anjuran yang telah Allah SWT tetapkan.

    كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

    Artinya:

    “Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR Muslim).

    Manfaat Mengkonsumsi Makanan Halalan Tayyiban

    Beberapa orang mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa ketika kita sedang mengkonsumsi makanan halal. Maka, kita sedang menjalankan perintah Allah SWT, loh. Karena mengkonsumsi makanan halal diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW atas perintah Allah SWT.

    Dari segi manfaat sendiri, banyak sekali yang bisa kita dapatkan, antara lain:

    1. Mendapatkan Ridho Allah SWT

    Kebiasaan mengonsumsi makanan halal karena perintah Allah SWT bisa membantu kita untuk mendapatkan ridho-Nya. Dengan begitu, akan banyak sekali manfaat dan kebaikan yang bisa kita dapatkan.

    2. Makanan Halal Bisa Menjaga Hati dan Akal Manusia

    Berikutnya, mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib juga akan membantu kita untuk mendapatkan hati terjaga dan juga akal yang baik. Karena ketika kita merasa senang dengan makanan yang dikonsumsi.

    Tanpa disadari hormon kebahagiaan di dalam tubuh akan memproses diri sehingga mampu mengajak kita untuk berpikir dengan baik terlebih dahulu.

    3. Mendapatkan Pahala

    Konsumsi makanan halal yang menjadi perintah dari Allah SWT ini akan memberikan kita pahala apabila telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Oleh karena itu, kamu bisa mulai terus untuk mengonsumsi makanan halal agar pahala dan berkah terus mengalir.

    4. Sebagai Tameng Berbagai Macam Penyakit

    Datangnya penyakit memang tidak ada yang tahu. Tetapi, kita bisa menangkalnya dengan baik melalui kegiatan mengonsumsi makanan halal dan thayyib.

    Apalagi untuk mendapatkan makanan halal dilihat dari berbagai aspek seperti cara mendapatkannya, pengolahan, hingga kandungan yang dimiliki.

    Oleh karena itu, jangan sampai kita abai dengan informasi mengenai halalan thayyiban. Pemahaman mengenai makna dari halalan thayyiban diharapkan kita bisa lebih tergerak untuk mengonsumsi makanan, minuman, dan mencari rezeki yang halal.

  • Membaca Surat Yusuf untuk Ibu Hamil, Bikin Bayi Tampan?

    Membaca Surat Yusuf untuk Ibu Hamil, Bikin Bayi Tampan?

    Membaca Al-Quran ibarat doa yang harus kita panjatkan secara rutin kepada Allah SWT, termasuk  ibu hamil. Ada banyak anjuran yang menjelaskan bahwa surat Yusuf untuk ibu hamil sangatlah bermanfaat.

    Salah satu manfaat yang banyak dipercaya oleh orang yaitu membuat si kecil terlahir tampan dan cerdas.

    Walaupun tidak ada dalil khusus yang menjelaskan hal tersebut, akan tetapi membaca surat Yusuf untuk ibu hamil tidak ada salahnya.

    Mengenal Surat Yusuf

    Bagi seorang muslim, pastinya sudah mengetahui bahwa surat Yusuf merupakan surat ke-12 dalam Al-Quran. Surat Yusuf  termasuk golongan surat Makkiyah yang terdiri dari 111 ayat.

    Maksud dari surat Makkiyah yaitu surat-surat yang penurunnya berada di Mekkah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah. Namanya surat Yusuf yang isinya menggambarkan riwayat Nabi Yusuf.

    Ada banyak riwayat, salah satunya cerita-cerita gaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat. Hal lainnya ada riwayat yang menjelaskan ada segolongan orang Yahudi masuk agama Islam setelah mendengar cerita Nabi Yusuf.

    Oleh karena itu, dari cerita-cerita itulah Nabi Muhammad SAW mengambil dan mempelajari hal-hal berharga. Kini kita juga bisa membacanya untuk mendapatkan pembelajaran yang luar biasa.

    Surat Yusuf untuk Ibu Hamil, Apakah Bikin Bayi Tampan?

    Kepercayaan orang akan manfaat surat Yusuf untuk ibu hamil tersebut, tentunya tidak luput dari peristiwa terdahulu. Peristiwa Nabi Yusuf AS yang lahir dengan sosok tampan nan gagah.

    Oleh sebab itu, dengan membaca Al-Quran tepatnya surat Yusuf untuk ibu hamil diharapkan akan membantu si kecil yang berjenis kelamin laki-laki lahir dalam keadaan tampan dan gagah.

    Walaupun sebenarnya hal ter tersebut tidak ada syariatnya, tapi Al-Quran secara keseluruhan membawa hal baik, berpahala, dan keberkahan. Sehingga, tidak jadi masalah jika kita membaca surat Yusuf untuk ibu hamil saat mengandung.

    Hal itu bukan berarti kita bisa menyandarkan perkara kepada Allah atas kehendak yang kita inginkan, termasuk lahirnya anak yang tampan tersebut. Sebagaimana Allah SWT berfirman pada surat Ali Imran ayat 6.

    هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

     Huwal lazi yusawwirukum fil-arhami kaifa yasya, la ilaha illa huwal azizul hakim.

    Artinya:

    “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

    Dari situ dapat kita ketahui bahwa semua ketetapan, termasuk lahirnya anak dengan kondisi tampan merupakan sepenuhnya kehendak Allah SWT. Walaupun kita dianjurkan untuk selalu meminta kepada Allah SWT.

    Baca juga: 8 Cara Bersyukur Kepada Allah SWT, Muslim Wajib Tau!

    Tetap saja hasil akhirnya di tangan Allah SWT, sebab hanya Allah SWT lah yang mengetahui hal baik di masa depan untuk umat-Nya.

    Seperti yang disampaikan oleh Imam Al-Qurthubi Ra mengatakan, “Maksudnya Allah yang menciptakan, jelek atau tampan, hitam atau putih, tinggi atau pendek, sempurna atau cacat, dan lain sebagainya.” (Al Jami’li Ahkamil Quran, 1: 927).

    Pernyataan Imam Al-Qurthubi Ra menjelaskan maksud dari surat Ali Imran ayat 6 tersebut. Bahwa segala sesuatu hanya Allah SWT lah yang menciptakan, sehingga kita sebagai manusia ciptaan-Nya hanya harus bersyukur dan menerima.

    Karena Allah SWT sudah merencanakan skenario terbaik untuk setiap manusia yang lahir di dunia, bahkan hewan dan tumbuhan sekalipun. Oleh sebab itu, jangan ragukan Keagungan Allah SWT.

    Melanjutkan pembahasan surat Yusuf untuk ibu hamil bikin bayi tampan, tentunya menjadi hal baik jika seorang wanita yang hamil menyibukkan diri untuk membaca Al-Quran dan mendengarkannya.

    Ada penelitian dari bidang kedokteran yang menyatakan bahwa suara-suara dari luar rahim bisa mempengaruhi janin. Apalagi jika kita membaca dan mendengar Al-Quran, harapannya membawa keberkahan dan kebaikan.

    Dengan kebaikan dan keberkahan tersebutlah membuat janin yang sedang ibu kandung mendapatkan keberkahan pula. Akan tetapi, jangan sampai kita membatasi jenis keberkahan dan kebaikan tersebut.

    Manfaat Membaca dan Mendengarkan Surat Yusuf untuk Ibu Hamil

    Manfaat Membaca dan Mendengarkan Surat Yusuf untuk Ibu Hamil

    Alih-alih berharap agar anak lahir tampan, kita bisa membaca surat Yusuf untuk ibu hamil agar mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Dengan begitu, kita dan si kecil selalu dalam lindungan-Nya.

    Sebab, Nabi Yusuf tidak hanya tampan secara fisik saja. Ada banyak hal yang bisa kita kagumi dari belia yaitu sikap dan tindakannya. Salah satunya, Nabi Yusuf AS merupakan nabi yang patuh terhadap orang tua.

    Selain patuh, sikapnya yang sabar, istiqomah, jujur, dan seorang raja yang sangat mementingkan urusan rakyatnya itulah yang patut untuk kita pelajari. Sifat terpuji itulah juga yang membuat Allah SWT mengabadikan kisahnya dalam Al-Quran.

    Dan jelasnya jika kita membaca Al-Quran dalam keadaan ikhlas dan baik akan memberikan pengaruh hati yang tenang. Hati yang tenang itu akan berpengaruh baik pada janin.

    Adapun manfaat membaca surat Yusuf untuk hamil yaitu:

    1. Memuliakan Ibu Hamil

    Bagi ibu hamil ataupun siapa saja orang yang membaca surat Yusuf setiap paginya. Allah SWT telah menjanjikan kemulian dan kelapangan rezeki. Dengan begitu, ibu hamil akan senantiasa dalam keadaan tenang dan dimuliakan oleh Allah SWT.

    Baca juga: Cara Mendidik Anak dalam Islam Sesuai Syariat

    2. Membuat Wajah Berseri

    Terlepas dari surat Yusuf untuk ibu hamil yang bikin tampan, lebih tepatnya membuat wajah anak yang lahir menjadi berseri. Hendaknya kita membaca surat Yusuf selepas shalat, maka wajah ibu hamil dan anaknya akan menjadi berseri.

    3. Dipermudah dalam Persalinan

    Sebagaimana yang telah dijelaskan pada surat Yusuf ayat 64 intinya akan membantu terhindar dari kesedihan dan kesulitan hidup. Salah satunya pada waktu proses persalinan yang akan dipermudah oleh Allah SWT.

    قَالَ هَلْ اٰمَنُكُمْ عَلَيْهِ اِلَّا كَمَآ اَمِنْتُكُمْ عَلٰٓى اَخِيْهِ مِنْ قَبْلُۗ فَاللّٰهُ خَيْرٌ حٰفِظًا وَّهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

    Qala hal amanukum alaihi illa kama amintukum ‘ala min qablu, fallahu kairun hafizaw wa huwa arhamur rahim.

    Artinya:

    “Dia (Ya’qub) berkata,” Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti halnya dahulu aku telah mempercayakan suaranya (Yusuf) kepada kamu? Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia maha Penyayang diantara para penyayang.

    4. Menjadikan Si Kecil Anak yang Sholeh

    Seperti yang sudah diketahui banyak orang bahwa sifat terpujinya Nabi Yusuf lah yang membuat cerita hidup beliau diabadikan Allah SWT dalam Al-Quran. Tentunya hal itu juga menjadikan kita menginginkan anak yang sholeh.

    Tafsir Ats-Tsaqalayn, Imam Ja’far Ash-Shadiq menjelaskan barang siapa yang membaca surat Yusuf setiap hari pada malam hari, maka terhitung hamba-hamba pilihan Allah SWT yang sholeh.

    Oleh sebab itu, harapannya ibu hamil yang membaca surat Yusuf anaknya lahir menjadi pribadi yang sholeh dan taat pada perintah larangan-Nya Allah SWT.

    5. Membantu Menenangkan Janin

    Seorang ibu hamil akan cenderung lebih sensitif daripada biasanya, sehingga tidak heran lagi jika ibu hamil mudah menangis dan marah-marah. Guna mengendalikan hal tersebut, membaca Al-Quran menjadi solusi terbaik.

    Dengan membaca Al-Quran, tentunya akan berdampak langsung pada janin yang ibu hamil kandung. Ketenangan hati dan pikiran itulah yang menjadi kunci peningkatan hormone serotonin.

    Hormon serotonin ini akan selalu berperan dengan baik untuk membantu tingkat kebahagiaan dalam diri ibu hamil selalu mengalir. Dengan begitu, juga turut berpengaruh pada janin dalam kandungan.

    6. Membantu Meningkatkan Kecerdasan Emosional Bayi

    Membaca Al-Quran termasuk surat Yusuf untuk ibu hamil dapat merangsang kecerdasan emosional bayi lebih baik daripada sebelumnya. Sehingga, tidak ada salahnya jika ibu hamil meningkatkan membaca Al-Quran.

    Tujuannya agar perkembangan janin lebih optimal dan baik. Selain membaca, mendengarkan Al-Quran juga membantu meningkatkan kecerdasan sosial si kecil. Dimana nantinya anak akan tumbuh dengan kepedulian yang tinggi.

    7. Meningkatkan Tingkat  Kreativitas

    Ibu hamil yang sering membaca dan mendengarkan Al-Quran akan mempunyai daya ingat yang tinggi. Memori anak akan menjadi tajam, sehingga mudah untuk menghafal terutama menghafal Al-Quran nantinya saat sudah lahir.

    Selain itu, tingkat kreativitas yang dimiliki si kecil akan meningkat lebih cepat sepanjang tumbuh kembangnya.

    Pembelajaran dari Surat Yusuf untuk Ibu Hamil

    Selain memberikan manfaat atau keutamaannya saat membaca dan mendengarnya. Kita sebagai ibu hamil juga dapat mengambil setiap makna atau pelajaran moral yang berharga.

    Inilah beberapa pembelajaran moral dari surat Yusuf yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    1. Akhlak yang Baik

    Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Nabi Yusuf mempunyai akhlak yang baik, cerdas, sholeh, bijaksana, pemaaf, dan sopan. Bagi ibu hamil sangatlah penting untuk mengajarkan dan menerapkannya pada anak dalam kehidupan sehari-hari.

    2. Menguatkan Taqwa dan Iman

    Tanpa kita sadari, dengan membaca Al-Quran termasuk surat Yusuf untuk ibu hamil ini yaitu menguatkan taqwa dan iman kepada allah SWT. 

    Selain itu, juga menginspirasi diri kita dan anaknya kelak untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    3. Pentingnya Memanfaatkan

    Dari kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan banyak hal, salah satunya pentingnya memanfaat alias tidak menyimpan dendam kepada orang lain. Dengan hal itu, ibu hamil bisa mengajarkan nilai-nilai tersebut untuk diterapkan pada kehidupannya.

    4. Ketawakalan dan Kesabaran

    Kisah Nabi Yusuf dalam surat Yusuf untuk ibu hamil juga memberikan pelajaran mengenai kesabaran dan ketawakalan. Dimana kedua hal itu merupakan kunci saat kita menghadapi semua cobaan dan ujian dalam hidup.

    Untuk ibu hamil tentu dapat memberikan inspirasi untuk tetap bertawakal dan bersabar kepada Allah SWT atas semua cobaan selama masa kehamilan dan persalinannya nanti.

    5. Keberkahan dan Perlindungan Allah SWT

    Membaca surat Yusuf untuk ibu hamil juga diharapkan dapat memberikan perlindungan dan keberkahan untuk diri dan calon bayinya. Apalagi membaca Al-Quran membantu menghindari gangguan makhluk halus.

    Makhluk halus atau setan yang mengganggu masa kehamilan, persalinan, dan perkembangannya. Sebab Allah SWT telah memberikan rahmat dan berkah-Nya kepadanya.

    6. Percaya pada Allah SWT

    Sebagai manusia biasa sepatutnya untuk kita selalu percaya atas takdir dari Allah SWT. Surat Yusuf untuk ibu hamil secara tegas mengajarkan kita untuk percaya dan optimis atas semua rencana Allah SWT.

    Sebab Allah SWT Maha Bijaksana dan Pemurah, Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Dengan keyakinan dan kepercayaan tersebut, kita bisa menghadapi segala situasi dengan hati yang penuh harapan kepada rahmat Allah SWT.

    Itulah informasi lengkapnya mengenai surat Yusuf untuk ibu hamil. Selain membuat bayi lahir tampan, membaca dan mendengarkan Al-Quran termasuk surat Yusuf akan menenangkan hati dan pikiran.

  • Fiqih tentang Penjaminan Utang, Dhaman dan Kafalah 

    Fiqih tentang Penjaminan Utang, Dhaman dan Kafalah 

    Dhaman dan kafalah, kedua istilah ini sering kita jumpai saat membahas topik keuangan syariah, terutama tentang utang. Kita terkadang menyamakan arti kedua istilah ini sebagai penjaminan utang.

    Inilah mengapa dhaman sangat erat kaitannya dengan kafalah. Di balik semua itu, ternyata keduanya memiliki definisi dan pemahaman yang berbeda. Permasalahannya, masih banyak yang belum mengetahui dan memahaminya.

    Jadi apa yang membedakan kedua istilah penjaminan utang dalam Islam ini? Mari kita bahas bersama-sama.

    Dhaman

    Jika dilihat lebih spesifik, dhaman bisa mengandung definisi berupa sebuah menanggung sebuah kewajiban dari hal yang wajib atas orang lain. Istilah ini menjadi solusi jaminan jika orang yang berutang merasa tidak mampu membayarnya.

    Dengan demikian, dhaman berarti sebuah perjanjian pada orang lain agar memenuhi kewajiban dalam menanggung utang. Hal ini berarti orang yang berutang menyerahkan kewajiban untuk membayarnya pada orang yang menjamin pelunasannya.

    1. Dalil Dhaman

    Dhaman merupakan hal yang boleh bagi umat Muslim karena mengandung kemaslahatan. Terkadang, orang yang merasa tidak mampu melaksanakan kewajiban untuk membayar utang memerlukannya.

    Hal ini sudah tercantum pada sebuah Surat Yusuf ayat ke-72 bahwa hal seperti ini diperbolehkan. Berikut adalah dalil dan artinya:

    قَالُوْا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاۤءَ بِهٖ حِمْلُ بَعِيْرٍ وَّاَنَا۠ بِهٖ زَعِيْمٌ

    Artinya:

    “Mereka menjawab, ‘Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku jamin itu.’” (Q.S. Yusuf: 72).

    Pembahasan tentang dhaman juga tercantum pada sebuah hadits sebagai berikut:

    عَنْ شُرَحْبِيلَ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ وَلاَ تُنْفِقُ الْمَرْأَةُ شَيْئًا مِنْ بَيْتِهَا إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا ». فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الطَّعَامَ قَالَ « ذَاكَ أَفْضَلُ أَمْوَالِنَا ». ثُمَّ قَالَ « الْعَارِيَةُ مُؤَدَّاةٌ وَالْمِنْحَةُ مَرْدُودَةٌ وَالدَّيْنُ مَقْضِىٌّ وَالزَّعِيمُ غَارِمٌ .

    Artinya:

    “Syurahbil bin Muslim berkata, “Aku telah mendengar Abu Umamah Al-Bahili berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah memberikan setiap yang memiliki hak akan haknya, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris. Janganlah seorang istri menafkahkan sesuatu dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya”, lalu Rasulullah ditanya: “Wahai Rasulullah, juga makanan (tidak diperbolehkan untuk dinafkahkan)?” Beliau bersabda, “Hal itu seutama-utama harta kami.” Kemudian beliau bersabda, “Hadiah diberikan, hadiah dari sumbernya diberikan, utang dilunasi dan seorang yang menanggung utang adalah yang bertanggungjawab.” (HR. Abu Daud).

    Baca juga: 7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    2. Rukun dan Syarat Dhaman

    Untuk melakukan dhaman, kita wajib melakukan rukun dan syarat agar menjadi benar-benar sah. Terdapat rukun dan syarat dhaman sebagai berikut:

    1. Adh-Dhamin (penjamin): Harus sudah baligh, berakal, dan merdeka dalam mengelola harta benda miliknya. Ia juga harus melakukan tanpa paksaan dan memiliki kemampuan untuk menjaminkan.

    2. Al-Madhmunlahu (orang yang berpiutang): Orang yang berpiutang harus sudah mengenal sang penjamin, baligh, dan berakal. Tujuannya demi menghindari kekecewaan pihak penjamin jika orang yang berutang melakukan hal tidak diinginkan.

    3. Al-Madhmun’anhu (orang yang memiliki utang): Orang yang berutang juga harus sudah kenal dengan sang penjamin. Dengan begitu, ia akan sanggup mempercayakan utangnya pada penjamin.

    4. Madhmun bih (objek jaminan): Sebuah objek jaminan apa pun, baik itu uang, benda, atau jasa, harus sangat jelas. Nilai dan jumlah wajib diketahui oleh semua pihak dan tidak melanggar ketentuan syariah.

    5. Lafadz: Pernyataan yang mengandung makna menjamin dan terucap oleh sang penjamin. Kalimat ini menjadi pertanda kesanggupan pihak penjamin untuk menanggung sesuatu.

    3. Jenis Dhaman

    Jika diterapkan, dhaman terbagi menjadi lima jenis. Berikut adalah lima jenis dhaman:

    1. Dhaman bi al-mal: Jaminan berupa pembayaran barang atau pelunasan utang

    2. Dhaman bi al-nafs: Jaminan antara diri sendiri dan sang penjamin demi tujuan tertentu.

    3. Dhaman bi al-taslin: Jaminan untuk menjamin pengembalian barang sewaan saat masa sewa berakhir.

    4. Dhaman al-munjazah: Jaminan yang tidak memiliki batas waktu tertentu dan demi sebuah tujuan atau kepentingan.

    5. Dhaman al-mu’allaqah: Versi sederhana dari dhaman al-munjazah. Tetapi, lebih dibatasi oleh kurun waktu dan tujuan tertentu.

    Kafalah

    Kita sudah tahu bahwa dhaman dan kafalah memiliki arti yang berbeda walau memiliki kesamaan secara istilah. Jika dhaman berarti menanggung kewajiban orang lain, apakah benar kafalah memiliki makna tidak jauh berbeda?

    Menurut bahasa, kafalah berarti memiliki tiga makna sekaligus, al-dhaman (jaminan, hamalah (beban), dan za’amah (tanggungan). Ini menandakan kafalah memiliki makna jaminan dari pihak penanggung terkait beban berupa utang.

    Secara harfiah, kafalah bisa juga berarti mengalihkan sebuah tanggung jawab dari seseorang pada orang lain yang menjadi penjamin.

    Baca juga: Kesurupan Menurut Islam dan Pandangan Ulama

    1. Dalil Kafalah

    Sama seperti dhaman, persyariatan kafalah sudah tercantum pada ayat Al-Quran. Berikut adalah dalil yang membahas kafalah dalam Al-Quran:

    قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّىٰ تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلَّا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ ۖ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ

    Artinya:

    “Yaqub berkata, “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh”. Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Yaqub berkata, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)”.

    2. Rukun dan Syarat Kafalah

    Persis seperti dhaman, terdapat rukun dan syarat kafalah yang harus kita penuhi jika ingin melakukannya. Terdapat lima rukun dan empat syarat agar sah dalam melakukan kafalah:

    Berikut adalah empat rukun kafalah yang harus terpenuhi:

    1. Sighat kafalah atau ijab qabul.
    2. Makful bih (objek tanggungan)
    3. Kafil (penjamin)
    4. Makful’anhu (pihak yang tertanggung)
    5. Makful lahu (penerima tanggungan)

    Selain itu, terdapat empat syarat yang harus terpenuhi sebagai berikut:

    1. Baligh (dewasa), berakal sehat, dan tanpa paksaan
    2. Mampu menyerahkan tanggungan pada penjamin.
    3. Sudah mengenal penjamin dan bisa hadir saat akad
    4. Objek jaminan harus jelas dalam nilai, jumlah, dan spesifikasi serta tidak mengandung unsur yang melanggar syariah.

    3. Jenis Kafalah

    Kafalah sendiri terbagi menjadi lima jenis. Jika terlihat dengan saksama, setiap jenis ini sangat tidak jauh berbeda dari jenis dhaman. Berikut adalah lima jenis kafalah:

    1. Kafalah bi al-mal: Jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang
    2. Kafalah bi an-nafs: Jaminan dari sang penjamin untuk maksud tertentu
    3. Kafalah bit taslim: Jaminan untuk menjamin barang sewaan kembali pada akhir masa sewa.
    4. Kafalah al-mujazah: Jaminan yang tidak terbatasi oleh kurun waktu atau tujuan tertentu
    5. Kafalah al-mualah: Versi sederhana dari kafalah al-mujazah, akan tetapi lebih terbatas oleh kurun waktu dan tujuan tertentu.

    Perbedaan Dhaman dan Kafalah

    Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dhaman dan kafalah memiliki kemiripan, baik dari rukun, dasar hukum, dan syaratnya. Bisa dikatakan keduanya sering sekali dianggap sebagai hal yang sama.

    Akan tetapi, keduanya memiliki perbedaan berdasarkan arti dasar katanya. Dhaman berarti menggabungkan, sedangkan kafalah artinya menjamin.

    Sebagai seorang muslim, sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban kita untuk memahami dhaman dan kafalah tanpa terkecuali. Sehingga, ketika dihadapkan dengan kondisi tersebut, kita tidak lagi merasa asing atau kurang pengetahuan. 

    Demikianlah pembahasan dhaman dan kafalah mulai dari arti, perbedaan, hingga hukumnya. Dengan memahami semua itu, jika jadi memahami bagaimana caranya untuk menyerahkan penjaminan utang secara syariah.

  • 5 Dongeng Anak Islami Terpopuler, tentang Sholat hingga Akhlak

    5 Dongeng Anak Islami Terpopuler, tentang Sholat hingga Akhlak

    Sampai saat ini, dongeng masih menjadi salah satu cara yang cukup efektif untuk menanamkan nilai-nilai Islam pada diri anak. Terlebih, ada begitu banyak dongeng anak Islami yang bisa kita ceritakan pada mereka.

    Dengan adanya dongeng-dongeng tersebut, seorang anak secara perlahan akan memahami nilai-nilai kebaikan Islam dari dalam sebuah cerita. Ia juga akan merefleksikan nilai-nilai tersebut untuk kehidupannya sehari-hari, termasuk ajaran tentang sholat.

    Dalam hadits disebutkan bahwa perintah sholat harus kita berikan sejak anak usia 7 tahun. Oleh karena itu, kita bisa memulainya dengan menceritakan dongeng-dongeng tentang sholat dan juga akhlak sedari mereka kecil.

    Dongeng Anak Islami Terpopuler

    Jika mau mencari, sebenarnya ada banyak sekali judul dongeng Islami yang bisa kita ceritakan kepada anak. Berikut ini adalah 5 contoh dongeng populer yang menceritakan nilai-nilai Islam, mulai dari sholat, sedekah, hingga kebaikan akhlak:

    1. Kisah Qarun yang Tertimbun Bersama Hartanya

    Kisah Qarun yang Tertimbun Bersama Hartanya

    Dongeng anak Islami pertama yang bisa kita ceritakan kepada anak adalah kisah tentang Qarun. Tidak hanya sekedar dongeng semata, kisahnya juga tercantum di dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Al-Qashash ayat 76, yang berbunyi:

    إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ

    Inna qārụna kāna ming qaumi mụsā fa bagā ‘alaihim wa ātaināhu minal-kunụzi mā inna mafātiḥahụ latanū`u bil-‘uṣbati ulil-quwwati iż qāla lahụ qaumuhụ lā tafraḥ innallāha lā yuḥibbul-fariḥīn.

    Artinya:

    Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”

    Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa Qarun merupakan salah satu umat Nabi Musa a.s. yang memiliki kelebihan berupa kekayaan harta benda, tetapi berlaku tidak adil dan juga sombong. Adapun kisah Qarun selengkapnya adalah sebagai berikut:

    **

    Dikisahkan pada zaman Nabi Musa a.s., tinggallah seorang laki-laki bernama Qarun yang memiliki harta kekayaan yang sangat berlimpah. Ia merupakan sepupu Nabi Musa yang diberi kelebihan oleh Allah SWT berupa harta kekayaan yang sangat melimpah.

    Saking banyaknya harta benda Qarun, Ia sampai mempekerjakan sepuluh orang kuat hanya untuk membawa kunci-kunci gudangnya. Selain itu, Ia juga selalu menggunakan pakaian mewah hingga kainnya memanjang melebihi mata kakinya. 

    Dengan harta yang dimilikinya, Qarun bukanya menjadi sosok yang dermawan, tetapi justru berlaku sombong dan zalim terhadap umat Nabi Musa yang miskin. Tidak ada yang berani dengannya karena Ia sendiri merupakan kaki tangan dari Fir’aun.

    Sebenarnya, dibalik sifatnya yang sombong, Qarun memiliki beberapa kelebihan dalam dirinya. Dua di antaranya adalah mahir dalam membaca Kitab Taurat dan memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga menguasai beberapa ilmu pengetahuan.

    Sebelum diberi limpahan harta yang sangat banyak, Qarun adalah laki-laki miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ia juga merupakan pribadi yang taat kepada Nabi Musa a.s. dan semua ajarannya.

    Suatu ketika, Ia meminta Nabi Musa agar mendoakannya menjadi kaya raya. Nabi Musa lantas berdoa kepada Allah agar memberikan kekayaan padanya. Tak lama, doa Nabi Musa pun dikabulkan oleh Allah dan Qarun berubah menjadi orang yang kaya.

    Sayangnya, sifatnya berubah tatkala ujian kekayaan diberikan padanya. Ia menjadi orang yang sangat pelit dan kikir. Gaya hidupnya mengikuti bangsa Mesir yang saat itu jauh lebih tinggi status sosialnya dibanding kaum Bani Israil.

    Suatu hari, Qarun ingin menunjukkan harta bendanya kepada semua orang dengan berjalan-jalan membawa semua hartanya. Tak lupa Ia memakai koleksi baju terbaiknya, membawa para pengawalnya, hingga membawa kunci-kunci gudangnya.

    Qarun lantas berkata, “Bawalah semua harta-harta yang kumiliki! Hari ini, akan kutunjukkan pada semua orang apa saja harta yang kumiliki. Bawalah emas, perak, perunggu, dan semua barang-barang mewahku.”

    “Saat kita lewat nanti, aku ingin semua orang mengagumi kekayaan yang kumiliki,” imbuhnya.

    Melihat hal itu, orang-orang yang iri berandai-andai agar bisa memiliki kekayaan sepertinya. Sementara orang-orang beriman selalu menasehatinya agar selalu berbuat baik kepada kaumnya dan tidak menzaliminya.

    Hal ini seperti disebutkan dalam QS. Al-Qashash ayat 80:

    وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ

    Wa qālallażīna ụtul-‘ilma wailakum ṡawābullāhi khairul liman āmana wa ‘amila ṣāliḥā, wa lā yulaqqāhā illaṣ-ṣābirụn

    Artinya:

    Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.”

    Mendengar nasehat-nasehat tersebut, Qarun justru menjawabnya dengan penuh kesombongan. Ia menganggap bahwa harta yang diberikan Allah kepadanya adalah semata karena ilmu yang dimilikinya dan ia memang pantas mendapatkannya.

    Selain itu, Qarun juga memfitnah Nabi Musa telah melakukan hubungan terlarang dengan seorang perempuan. Hingga akhirnya, semua itu terbukti bohong. 

    Atas perbuatannya yang telah melampaui batas, Nabi Musa pun berdoa kepada Allah agar Qarun tertelan ke dalam bumi beserta seluruh harta-hartanya. Seketika, doa itu dikabulkan oleh Allah SWT dan binasalah Qarun beserta hartanya.

    **

    Kisah ini menunjukkan kepada kita akan pentingnya rasa syukur. Anak akan memahami bahwa harta dan kekayaan bisa dengan mudah diberikan oleh Allah, dan begitu mudah pula bagi-Nya untuk menghilangkannya dari kita.

    Baca juga: 25 Nama Nama Nabi dan Rasul Berurutan dan Mukjizatnya

    2. Kisah Ahli Ibadah yang Selamat dari Hewan Buas

    Dongeng anak Islami berikutnya, menceritakan tentang seorang ahli ibadah bernama Amir bin Abd Qais. Dikisahkan bahwa Ia merupakan seorang yang sangat mulia di kalangan Tabi’in dan memiliki beberapa karamah.

    Salah satunya adalah ketika Ia sedang melaksanakan sholat di sebuah bukit. Ia tetap khusyuk menunaikan sholat meskipun ada binatang buas di dekatnya. Adapun kisah selengkapnya adalah sebagai berikut:

    **

    Pada suatu hari seorang ahli ibadah bernama Amir bin Abd Qais sedang menunaikan sholat di sebuah bukit. Tiba-tiba, datang dari arah belakang seekor binatang buas yang tidak lain adalah singa dengan badan yang cukup besar.

    Singa tersebut tampak berjalan mendekati dan coba menerkamnya. Bahkan, kakinya yang besar dan kukunya yang tajam sudah mulai terangkat dan memegang pundak Amir bin Abd Qais.

    Akan tetapi, Amir bin Abd Qais tampak tidak bergeming sedikitpun. Ia bahkan tetap khusyu dalam menjalankan sholatnya. Saat singa tersebut mendekatinya, ia sedang membaca QS. Hud Ayat 103 yang berbunyi:

    إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ ٱلْءَاخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ ٱلنَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ

    Inna fī żālika la`āyatal liman khāfa ‘ażābal-ākhirah, żālika yaumum majmụ’ul lahun-nāsu wa żālika yaumum masy-hụd.

    Artinya:

    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).”

    Melihat tidak ada reaksi apa pun dari Amir bin Abd Qais, singa itu lantas pergi begitu saja. Lantas, kejadian tersebut membuat banyak orang yang berada di sekitar situ bertanya-tanya keheranan.

    Mereka pun bertanya kepada Amir bin Abd Qais, “Demi Allah, apakah kamu tidak takut dengan kejadian yang baru saja kamu alami?”

    “Sungguh aku akan sangat malu pada Allah SWT jika harus takut kepada hal lain selain daripada-Nya,” jawab Amir bin Abd Qais kepada orang-orang tersebut.

    Di setiap kesempatan, ia juga sering berkata pada sahabat-sahabatnya bahwa siapa saja yang takut pada Allah, maka Allah akan membuat segala sesuatu takut kepadanya.

    Sebaliknya, siapa saja yang tidak takut kepada Allah, maka Allah juga tidak akan membuat segala sesuatu takut kepadanya.

    **

    Dari kisah ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa kekhusyukan kita saat beribadah akan membuat kita selamat dari segala bahaya. Kisah ini juga cocok menjadi dongeng anak Islami untuk menjelaskan betapa sholat bisa menyelamatkan hidup kita.

    3. Dongeng Manusia yang Jadi Sahabat Setan

    Cerita berikutnya merupakan cerita ringan yang mengisahkan tentang persahabatan antara manusia dan setan. Entah bagaimana awalnya mereka berdua memutuskan untuk saling bersahabat. Berikut isi dongen anak Islami ini selengkapnya:

    **

    Pada saat tiba waktu subuh, ada seorang manusia yang tiba-tiba saja bertemu dengan setan. Entah apa yang terjadi, manusia dan setan tersebut memutuskan untuk saling bersahabat. 

    “Hai manusia, bagaimana kalau kita bersahabat saja. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa kutunjukkan padamu,” ajak setan tersebut kepada manusia.

    “Wah, boleh itu,” jawab si manusia.

    Sejak saat itu, mereka berdua pun saling bersahabat. Si manusia yang masih mengantuk lantas berbaring di atas kasurnya hingga waktu subuh berakhir. 

    Melihat hal itu, setan pun berkata dalam hati, “Memang tidak salah aku telah bersahabat dengan orang ini.” Setan merasa dirinya sudah benar karena telah menjalin persahabatan dengan si manusia. 

    Ia memuji manusia tersebut karena berani menentang perintah Allah, sama seperti dirinya yang juga tidak patuh pada perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam.

    Singkat cerita, waktu Dhuhur pun tiba dan si manusia tampak tidak mengerjakan sholat Dhuhur. Bahkan, sampai waktu Dhuhur berakhir, si manusia tetap tidak menunaikan sholat. 

    Setan pun kembali berkata, “Inilah yang akan menemaniku kelak di neraka.”

    Waktu pun terus berjalan hingga waktu Ashar berakhir. Lagi-lagi manusia tadi tidak mengerjakan sholat sama sekali. Melihat hal tersebut, setan pun mulai terdiam keheranan.

    Sampai waktu Maghrib tiba, kondisinya masih tetap sama. Orang tersebut masih sibuk dengan aktivitasnya dan tidak mengerjakan sholat. Setan mulai menunjukkan sikap berbeda. Wajahnya gelisah dan senyum di wajahnya menjadi kecut.

    Hingga akhirnya, si manusia masih juga tidak mengerjakan sholat sampai waktu Isya hampir selesai. 

    Pada momen ini, setan sudah tidak bisa lagi membendung dirinya. Ia lantas menghampiri si manusia yang dijadikannya sahabat tadi, seraya berkata, “Sobat, sepertinya aku harus memutuskan persahabatan kita sampai di sini.”

    “Kenapa?” 

    “Bukannya baru tadi pagi kita memutuskan untuk bersahabat, dan sekarang engkau justru memutuskan persahabatan kita?” ucap si manusia dengan perasaan kaget sekaligus heran.

    Setan lantas memberi jawaban seperti ini:

    “Para pendahuluku saja hanya satu kali menentang perintah Allah SWT, yaitu ketika tidak mau bersujud kepada Adam dan justru melaknatnya. Lantas, bagaimana dengan kau yang bahkan sampai lima kali menentang perintah-Nya”

    “Pastilah murka Allah begitu besar kepadamu!” imbuhnya.

    **

    Dongeng anak Islami di atas menunjukkan bahwa dosa meninggalkan sholat begitu besar. Bahkan, setan saja sampai terheran dengan perbuatan tersebut yang bisa sampai lima kali meninggalkan sholat dalam sehari.

    Hal ini secara tidak langsung akan menanamkan pada diri anak-anak untuk tidak menganggap remeh lagi perintah sholat. 

    4. Kebaikan Berujung Mutiara yang Indah

    Dongeng anak Islami berikutnya berkisah tentang 4 orang anak yang mendapati kondisi ayahnya yang sedang sakit sehingga harus dibantu kebutuhan dasarnya. Untuk melihat cerita selengkapnya, langsung saja simak isi dongengnya berikut ini: 

    **

    Suatu hari, hiduplah empat orang anak dengan ayah mereka yang sedang sakit. Kondisi tersebut membuat ayahnya butuh bantuan orang lain untuk menjalani hari-harinya seperti membantunya makan, mandi, dan sebagainya.

    Pada kondisi tersebut, Zaki sebagai anak bungsu adalah satu-satunya anak yang mau merawat ayahnya tersebut. Sementara ketiga anak lainnya sama sekali tidak mau merawat ayahnya dengan berbagai alasan, mulai dari sibuk, terlalu jauh, dan lain-lain.

    Suatu hari, ayah mereka berempat meninggal dunia. Hal itu membuat keempat orang tadi merasa sedih, terutama Zaki yang selalu merawatnya semasa ayahnya sakit. 

    Setelah beberapa hari berselang, kesedihan mereka mulai reda. Lantas, ketiga saudara Zaki mulai berunding dan membagi-bagi harta warisan yang ditinggalkan ayahnya. 

    Sampai akhirnya, semua warisan telah terbagi dan ketiganya pergi meninggalkan Zaki seorang diri. 

    Beberapa tahun setelah itu, Zaki tiba-tiba mengalami mimpi bertemu dengan ayahnya. Ia diminta ayahnya untuk menuju tempat tertentu dan mengambil uang 200 dinar. Akan tetapi, Zaki hanya mengabaikan mimpi tersebut.

    Akan tetapi, mimpi itu terus terjadi sampai 3 kali berturut-turut. Merasa penasaran, Zaki pun mencoba mendatangi lokasi yang dimaksud seperti di dalam mimpinya. Betapa terkejutnya Zaki ketika ia benar-benar mendapatkan uang 200 dinar yang dimaksud.

    Meski begitu, Zaki tidak lantas mengambil semua uang tersebut dan hanya mengambil 3 dinar saja. Ia gunakan uang itu untuk membeli beberapa ekor ikan untuk dimasaknya bersama anak dan istrinya.

    Saat istri Zaki sedang mengeluarkan isi perut salah satu ikan tadi, tiba-tiba ia menemukan beberapa butir mutiara yang sangat indah. Harga mutiara tersebut bahkan lebih mahal dari semua warisan yang diambil oleh ketiga saudara Zaki.

    **

    Dari dongeng anak Islami di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwasanya kita wajib berbakti dan berbuat baik kepada orang tua kita sampai akhir hayatnya. Berkah dari bakti kita pada orang tua diibaratkan sebagai mutiara yang bernilai tinggi.

    5. Kisah Raja dan Orang Miskin

    Dongeng terakhir yang bisa kita bacakan kepada anak-anak kita adalah kisah tentang seorang raja dan orang miskin. Jika dilihat dari status sosialnya sudah jelas sekali terlihat perbedaan dari kedua orang ini.

    Hal inilah yang akan menjadi sorotan dari dongeng anak Islami yang terakhir ini. Adapun kisah lengkap dari raja dan orang miskin tersebut adalah sebagai berikut:

    **

    Suatu ketika hiduplah seorang raja yang begitu dicintai oleh rakyatnya. Ia dikenal sebagai sosok raja yang dermawan dan senang memberi kepada mereka yang membutuhkan. Alhasil, ke mana saja dia pergi, maka banyak rakyat yang akan menyambutnya.

    Pada suatu hari, Raja ingin sekali keluar dari istana dan menyinggahi beberapa tempat untuk sekedar menyapa rakyatnya. Seperti biasa, di setiap wilayah yang ia datangi akan memunculkan banyak orang karena senang menyambutnya.

    Kunjungan Raja beberapa wilayah juga masih sama, yaitu setiap kedatangannya akan disambut sangat meriah oleh orang-orang setempat. Akan tetapi, terdapat satu tempat yang membuatnya merasa keheranan.

    Di wilayah tersebut, ia mendapati sosok laki-laki tua yang hidupnya miskin. Raja kemudian mendekati laki-laki tua tersebut dan bertanya, “Kenapa engkau tidak bergabung dengan orang-orang di sana dan menyambutku dan bergembira?”

    Raja juga menambahkan bahwasanya raja-raja terdahulu yang datang, akan selalu mendapatkan sambutan yang meriah dari para warganya. 

    Mendengar pertanyaan tersebut, laki-laki miskin itu pun memberikan jawabannya,

    “Sebelumnya juga telah datang seorang raja ke tempat ini. Ia begitu disukai oleh rakyatnya dan mendapatkan sambutan meriah daripada orang-orang di tempat ini. Namun, beberapa hari setelah kedatangannya tersebut, ia pun meninggal.”

    Laki-laki tua itu kembali melanjutkan ceritanya, “Saat meninggal, raja tersebut dimakamkan di suatu tempat di pemakaman. Di masa yang hampir berdekatan, terdapat laki-laki miskin yang juga meninggal dan dimakamkan di dekat kuburan raja.”

    Raja masih terus menyimak cerita dari laki-laki tersebut. 

    “Suatu ketika banjir besar melanda tempat ini karena derasnya hujan yang turun waktu itu. Akibat dari banjir tersebut, makam dari raja dan laki-laki miskin tadi bercampur sehingga tulang-tulang mereka pun tertukar.”

    “Saat banjir reda, semua orang berusaha mengembalikan makam seperti sedia kala. Akan tetapi, mereka tidak bisa lagi membedakan antara tulang raja dan tulang laki-laki miskin tersebut.”

    “Sejak saat itu, tak penting lagi bagiku membedakan antara engkau yang seorang raja dengan aku yang hanya lelaki tua dan miskin ini. Pada akhirnya, kita hanya akan berada di tempat yang sama tanpa ada lagi perbedaan,” ucap laki-laki tua itu di akhir cerita.

    **

    Dari dongeng anak Islami di atas dapat kita ambil hikmah bahwasanya manusia diciptakan dengan kondisi yang berbeda-beda. Akan tetapi, hal itu tidak akan berlangsung lama karena pada akhirnya kita semua akan mati.

    Setelah itu, kita hanya akan berada di tempat yang sama, yaitu di dalam tanah. Tidak ada lagi perbedaan status sosial yang akan menjadi sekat antara si kaya dan si miskin, atau antara raja dengan rakyat jelata.

    Itulah kelima kisah-kisah inspiratif yang bisa menjadi dongeng untuk anak-anak kita menjelang tidur atau sekedar cerita yang membangkitkan nilai-nilai keislaman pada diri anak-anak kita.

    Dengan dongeng-dongeng tersebut, maka nilai-nilai keislaman akan lebih mudah dikenal oleh anak dan bisa menjadi contoh bagi kehidupan yang akan mereka jalani. Semoga dongeng anak Islami di atas memberikan manfaat dan kebaikan.

  • Hadis Tentang Ciri Ciri Orang Munafik yang Wajib Diketahui

    Hadis Tentang Ciri Ciri Orang Munafik yang Wajib Diketahui

    Munafik merupakan salah satu sifat tidak terpuji yang Allah benci dan harus manusia hindari. Dengan mengetahui hadis tentang ciri ciri orang munafik, kita bisa terdorong untuk menjauhi sifat tercela itu.

    Sifat munafik ada di dalam diri seseorang ketika mengatakan hal yang baik, tetapi tidak benar-benar melakukannya. Ibarat kata, lain di mulut lain dalam perbuatan atau tidak sesuai dalam praktiknya.

    Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang ciri-ciri orang munafik, mari kita pelajari dan pahami beberapa hadits dan Al-Quran tentang sifat ini. Yuk, simak!

    Sekilas Tentang Orang Munafik

    Munafik adalah sifat manusia yang berkata tidak sesuai dengan kenyataan. Artinya, seseorang memperlihatkan sesuatu di depan publik, tetapi dalam hati dan perbuatan yang sebenarnya tidak seperti demikian.

    Secara sederhana, orang munafik penuh kepura-puraan karena perbuatannya tidak sesuai ucapan. Oleh karena itu, sebaiknya hindari sifat tidak terpuji ini karena sifat munafik merupakan penyakit hati.

    Ada beberapa hadis tentang ciri ciri orang munafik yang perlu kita waspadai. Selain itu, penjelasan tentang sifat inipun tertuang dalam Al-Quran. Oleh karena itu, penting bagi kita memahami tentang kemunafikan.

    Sebagai seorang muslim tentu saja berusaha menghindari sifat akut ini, namun terkadang tidak menyadari juga ternyata sudah terjangkit penyakit ini yang bersifat lahiriah atau perbuatan yang berdampak negatif.

    Sejarah Kemunculan Orang Munafik

    Sebelum membahas hadis tentang ciri ciri orang munafik, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu sejarah kemunculan sifat munafik ini. Tujuan sebagai pelajaran dan pengetahuan bagi kita sebagai orang muslim.

    Dalam sejarah Islam, sifat orang munafik muncul setelah perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, tepatnya setelah peristiwa perang badar.

    Pada saat di Mekkah, belum ada orang-orang munafik karena jumlah orang mukmin masih sedikit. Justru adanya orang yang menampakkan kekufuran.

    Kondisi berubah drastis ketika Allah mengizinkan kaum mukmin hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat di Madinah sudah banyak yang memeluk agama Islam, namun masih belum ada orang yang munafik.

    Kemudian, terjadilah perang Badar yakni orang beriman melawan orang kafir, yang dimenangkan oleh orang beriman. Mulai saat itulah, orang kafir berpura-pura memeluk Islam, padahal hatinya penuh kekufuran.

    Sejak saat itulah, banyak orang munafik yang mana perbuatan dan perkataannya tidak sama. Mereka bisa berbuat baik, tetapi dalam hatinya penuh kedengkian dan keburukan yang tentunya harus kita hindari.

    Hadis Tentang Ciri Ciri Orang Munafik

    Berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Nabi Muhammad SAW, ada tiga ciri utama orang munafik yang harus kita waspadai. Berikut haditsnya.

    Rasulullah SAW bersabda: “Tanda orang yang munafik ada tiga; ketika berkata ia berbohong, ketika berjanji mengingkarinya, dan ketika dipercaya mengkhianatinya.”

    Jika ingin mengetahui penjelasan hadis tentang ciri ciri orang munafik di atas, mari kita simak uraian lengkapnya di bawah ini dengan seksama.

    1. Berbohong

    Berdusta atau berbohong merupakan sifat yang sangat dibenci Allah SWT dan sesama manusia. Bahkan, dalam ajaran agama manapun tidak ada satupun yang membenarkan kebohongan yang bisa merugikan.

    Sekali orang berbohong, maka orang tersebut akan melakukan perbuatan untuk menutupi kebohongannya. Sifat seperti ini akan membawa pada kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain yang bisa memunculkan fitnah.

    Contohnya adalah ketika seorang anak berbohong pada orang tua. Ia mengatakan mengerjakan tugas sekolah di rumah teman, tetapi kenyataannya pergi bermain. Kemudian orang tuanya pun mengetahuinya.

    Ketika orang tuanya bertanya, terpaksa si anak mencari alasan baru untuk menutupi kebohongannya. Jika perbuatan ini terus menerus dilakukan, maka akan menjadi kebohongan besar yang tidak ada habisnya.

    Oleh sebab itu, orang yang sering berbohong akan berada di lingkaran setan yang membuatnya terus melakukan kebohongan lainnya. Ia mampu membolak-balikan fakta yang berakibat buruk bagi dirinya dan orang lain.

    Selain itu, perbuatan berbohong juga bisa membawa dampak buruk yang bisa berujung kepada fitnah. Berikut hadis tentang ciri ciri orang munafik berkaitan dengan sikap berbohong dari Bahaz bin Hakim, yaitu:

    Rasulullah SAW bersabda: “Celaka bagi orang yang berbicara tapi bohong agar orang-orang tertawa. Sungguh akan celaka dia. Celakalah dia.”

    Baca juga: 8 doa untuk anak yang susah diatur, amalkan setiap hari

    2. Ingkar Janji

    Ciri-ciri sifat munafik lainnya yang ada di hadits adalah perbuatan ingkar janji. Orang seperti ini biasanya memiliki sifat yang setiap ucapannya suli dipegang. 

    Orang akan sulit menaruh kepercayaan kepada orang yang tidak menepati janjinya. Sifat ini akan berakibat merugikan orang lain dan termasuk dalam golongan orang munafik karena janji adalah sumpah.

    Contoh ingkar janji adalah ketika seseorang berjanji untuk tidak membocorkan rahasia yang bersifat privasi dan penting, namun ia justru menceritakannya pada orang lain. Tandanya orang ini telah ingkar janji.

    Adapun hadis tentang ciri ciri orang munafik terutama yang sering ingkar janji, yaitu bukan hanya Allah saja yang melaknat orang yang tidak menepati janji tetapi maksiat dan seluruh umat manusia.

    Sebagaimana hadits dari Ali bin Abi Thalib dari sabda Rasulullah SAW yang berkata:

    “Barangsiapa tidak menepati janji seorang muslim, maka niscaya ia mendapatkan laknat Allah, malaikat dan seluruh umat manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Oleh karena itu, bagi seseorang yang tidak yakin menepati janji, tak perlu membuat janji. Sebab, janji adalah sumpah yang wajib hukumnya untuk kita taati. Baik janji terhadap manusia dan kepada Allah SWT.

    3. Berkhianat

    Berkhianat adalah sifat tidak terpuji termasuk golongan orang yang munafik. Jika seseorang berkhianat, orang tersebut melanggar dan menghancurkan kepercayaan yang diberikan kepadanya atau tidak amanah.

    Orang yang sering berkhianat biasanya ketika mereka diberikan tanggung jawab dan amat justru mengingkarinya. Hal ini adalah salah satu perbuatan dosa karena perbuatannya bisa menyakiti hati seseorang.

    Contoh berkhianat adalah suami istri yang sebelumnya berjanji saling mencintai, tapi salah satu pasangan selingkuh. Hal ini sebagai bentuk pengkhianatan kepada pasangannya dan juga menyakiti perasaannya.

    Adapun hadis tentang ciri ciri orang munafik yang berkaitan dengan berkhianat, yang mana orang ini memiliki perbuatan dan ucapan tidak bisa dipercaya. Hadits riwayat Ashabu As-Sunan tentang khianat, yaitu:

    “Tunaikan amanat itu kepada orang yang sudah percaya kepada kamu dan jangan kamu berkhianat kepada orang yang telah mengkhianatimu.”

    Orang yang selalu berkhianat memang tidak akan lagi dipercaya. Mereka yang terbiasa melakukan khianat bisa berdampak buruk bagi orang lain. Oleh karena itu, berlaku amanahlah ketika dititipkan kepercayaan.

    Baca juga: Doa Masuk WC dan Keluar WC yang Benar Sesuai Sunnah

    Ciri Ciri Orang Munafik Menurut Al-Quran

    Setelah mengetahui hadis tentang ciri ciri orang munafik di atas, ketahui juga ciri atau tandanya menurut Al-Quran. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita agar tidak terjerumus perbuatan tidak baik dan merugikan.

    Mereka orang munafik cenderung sering melakukan perbuatan buruk dan tercela tanpa merasa bersalah. Selain itu, orang yang munafik pun tidak menyukai kekalahan dan merasa dirinya yang paling benar.

    Berikut ini adalah ciri-ciri orang munafik menurut Al-Quran yang harus kita hindari karena bisa memunculkan hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. 

    1. Berbuat Riya

    Riya adalah perbuatan termasuk dalam sifat orang munafik karena bisa merusak amal kebaikan. Tanda orang riya seperti suka pamer dalam ibadah. Jika tidak terlihat orang lain, mereka akan berbuat jahat.

    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka melakukan dengan malas.

    Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisa ayat 142)

    Orang yang memiliki sifat riya hanya akan melakukan sesuatu kebaikan dengan harapan mendapat pujian sesama manusia. Padahal di belakangnya ia selalu berbuat negatif dan jauh dari perbuatan baik.

    2. Sumpah Palsu

    Orang yang memiliki sifat munafik biasanya sering melakukan sumpah palsu. Ketika berjanji, ia selalu mengingkari dan tidak menepati janji itu. Perbuatan ini tentu termasuk penyakit diri yang harus kita hindari.

    Allah SWT berfirman:

    “Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Munafiqun ayat 2)

    Orang munafik biasanya menjadikan sumpah mereka menjadi tameng agar orang mempercayainya. Padahal apa yang mereka kerjakan tidak sesuai kebenarannya dan perbuatannya termasuk perbuatan buruk.

    3. Sering Menipu

    Sering Menipu

    Menipu adalah salah satu tanda orang munafik dengan tipu daya yang mereka miliki. Mereka akan menampakkan sisi kebaikan, tetapi sebenarnya hatinya busuk.

    Orang yang sering melakukan penipuan biasanya untuk alasan mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Namun, tetap saja perbuatan ini harus kita hindari agar tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.

    Allah SWT berfirman:

    “Dan di antara manusia yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’, padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang yang beriman.

    Mereka menipu Allah dan orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. 

    Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu, dan mereka mendapat azab yang pedih karena berdusta.” (QS Al-Baqarah ayat 8-10)

    Orang yang terbiasa melakukan perbuatan menipu, tentunya tak hanya bisa merugikan dirinya sendiri tetapi juga orang lain. Oleh karena itu, penting berbuat jujur dan bicara apa adanya sesuai fakta yang ada.

    4. Bangga Berbuat Dosa

    Ciri dan tanda orang munafik dalam Al-Quran adalah mereka yang selalu mencari jalan keluar untuk melakukan pembenaran atas tindakannya.

    Mereka yang termasuk orang munafik akan berusaha menutupi kesalahan dan melakukan fitnah kepada orang lain yang bisa timbul perpecahan.

    Allah SWT berfirman:

    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa. Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman, dan berilah rezeki berupa buah-buah kepada penduduk, yakni mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.

    Dia (Allah) berfirman,  kepada orang yang kafir dan aku beri kesenangan sementara, kemudian akan aku paksa di ke dalam azab neraka, dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS Al-Baqarah ayat 126)

    Orang munafik memang cenderung merasa dirinya paling benar dan tidak mau mengalah. Padahal, perbuatan yang merugikan orang lain bisa mendapatkan dosa apalagi mengarah kepada hal yang menimbulkan fitnah.

    5. Bermuka Dua

    Orang yang memiliki sifat munafik biasanya bermuka dua. Hal ini muncul karena adanya kebingungan mereka terhadap suatu kebenaran sehingga mereka berbuat baik di sagu seksi, dan sisi lainnya berbuat jahat.

    Allah SWT berfirman:

    “Dan saat mereka bertemu orang beriman, mereka berkata ‘Kami telah beriman’. 

    Tetapi ketika mereka bertemu dengan setan, mereka berkata ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” (QS Al-Baqarah ayat 14)

    Orang yang bermuka dua memang tidak memiliki pendirian dan cenderung imannya goyah. Mereka bisa berbuat baik ketika ada di lingkungan baik, tetapi juga bisa berbaik jahat ketika berada di tempat buruk.

    6. Tidak Menepati Janji

    Orang yang suka mengingkari janji juga terdapat dalam hadis tentang ciri ciri orang munafik. Mereka adalah termasuk orang yang tidak bisa dipercaya akan perbuatannya sehingga sulit untuk mempercayai mereka.

    Allah SWT berfirman:

    “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah ketika kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya,

    sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksi (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Qs An-Nahl ayat 91)

    Perbuatan ingkar janji merupakan salah perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT dan sesama manusia. Hal ini karena bisa timbul rasa ketidakpercayaan atas janji yang mereka ingkari tanpa ada alasan apapun.

    7. Iri dan Dengki

    Iri dan dengki merupakan sifat yang tidak suka ketika ada seseorang mendapatkan sesuatu pencapaian atau tidak suka akan kebahagian orang lain.

    Sifat Iri dan dengki menjadi salah satu ciri dan tanda orang munafik yang tentu harus kita hindari agar tidak termasuk di dalamnya. 

    Allah SWT berfirman:

    “Jika kamu mendapat kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Tetapi, jika kamu tertimpa musibah, mereka bergembira karena itu.

    Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikitpun. Sungguh Allah maha meliputi segala yang mereka kerjakan.” (QS Al-Imran ayat 130)

    Sebagai umat muslim tentunya agar terhindar dari iri dan dengki bisa memperkuat iman dan beribadah kepada Allah SWT. Dan tidak lupa bersyukur atas setiap nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

    Ketika seseorang melakukan perbuatan dosa seperti ingkar janji, berkhianat, dan berbohong namun ia sadar atas perbuatannya. Itu adalah salah satu kebanggaan mereka, padahal perbuatan ini merupakan dosa.

    Sebenarnya ada banyak sekali ciri-ciri orang munafik menurut Hadits dan Al-Quran. Sifat ini harus kita waspadai karena bisa menjadi penyakit hati yang membawa keburukan diri sendiri dan orang lain.

    Demikian hadis tentang ciri ciri orang munafik yang perlu kita ketahui. Sifat yang bisa muncul pada siapapun, tidak terkecuali orang beriman. Oleh karena itu, perlu membentenginya dengan ketakwaan kepada Allah SWT.

  • Doa Nabi Nuh dalam Al-Qur’an untuk Kaum dan Anaknya!!

    Doa Nabi Nuh dalam Al-Qur’an untuk Kaum dan Anaknya!!

    Nabi Nuh merupakan salah satu utusan Allah SWT untuk menyebarkan agama Allah kepada umat manusia. Namun, pada saat proses penyebaran agama itu berlangsung cukup lama, tibalah doa Nabi Nuh diserukan.

    Salah satu Nabi yang dikenal sebagai bapak para umat setelah Adam adalah Nabi Nuh. Beliau memiliki kesabaran luar biasa untuk membimbing umat menuju agama Allah. Bahkan, dzikir Nabi Nuh tidak pernah berhenti untuk memohon kepada Allah.

    Lantas, doa Nabi Nuh dalam surat apa? Allah SWT menerangkan kisah-kisah Nabi Allah di dalam Al-Qur’an secara berulang dan juga rinci.

    Doa Nabi Nuh dalam Al-Qur’an untuk Umatnya

    Dari titik balik usahanya untuk mengajak setiap orang mempercayai agama Allah SWT tetapi sudah mencapai puncak. Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan umatnya dari pada orang-orang kafir yang jahat.

    Beliau bisa menahan sakit dan pedihnya di cemooh serta di hajar pada masa itu. Nabi Nuh tidak kuasa jika harus menyaksikan penderitaan umatnya oleh orang-orang kafir yang berkuasa.

    Doa Nabi Nuh menjadi salah satu bentuk doa mulia yang dipanjatkan oleh nabi untuk kelangsungan hidup umatnya. 

    Beliau mengajak umatnya untuk naik ke atas bahtera yang telah dibuatnya selama ratusan tahun. Bagi orang kafir, Nabi Nuh dianggap sebagai orang gila karena tidak mungkin terjadi banjir pada masa itu.

    Baca juga: Doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an ketika Dibakar dan Meminta Keturunan

    Namun, setelah 950 tahun penantiannya dalam mengajak setiap golongan untuk masuk ke agama Allah. Justru hanya cemooh dan perilaku buruk yang didapatkan. 

    Hal ini membuat Nabi Nuh mendoakan kaum kafir untuk dibinasakan oleh Allah SWT. Doa Nabi Nuh ini, pada akhirnya menjadi populer di kalangan muslim. 

    Kejadian ini tidak seperti bayangan manusia di mana Nabi Nuh hilang kesabaran. Namun, Allah SWT telah menyampaikan kabar bahwa umatnya tidak akan bertambah seberapa keras usaha yang telah Beliau lakukan.

    Namun, Allah SWT telah mengabarkan kepada Nabi Nuh untuk menyelamatkan seluruh umatnya dari bala yang akan terjadi.

    Allah Ta’ala berfirman:

    هِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

    Artinya : “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!.” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan” (Huud: 42-43).

    Pembahasan tentang kaum nabi Nuh juga terdapat dalam QS. Huud: 44.

    وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

    Wa qīla yā arḍubla’ī mā`aki wa yā samā`u aqli’ī wa gīḍal-mā`u wa quḍiyal-amru wastawat ‘alal-jụdiyyi wa qīla bu’dal lil-qaumiẓ-ẓālimīn

    Artinya: Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.”

    Adapun bacaan doa Nabi Nuh untuk kaumnya yang kafir ada pada QS. Nuh ayat 26, yaitu:

    Adapun bacaan doa Nabi Nuh untuk kaumnya yang kafir ada pada QS. Nuh ayat 26, yaitu:

    وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لا تَذَرْ عَلَى الأرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

    Artinya: Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (Nuh: 26).

    Jawaban dari doa Nabi Nuh, Allah jawab melalui firmanNya dalam surat Asy-Syuara: 119 – 120 berikut ini:

    فَأَنْجَيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ * ثُمَّ أَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِينَ

    Artinya: “Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa.” (Asy-Syuara 119-120).

    Selain itu, Nabi Nuh juga memohon untuk keselamatan diri dan orang-orang yang beriman:

    رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا

    Rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya mu`minaw wa lil-mu`minīna wal-mu`mināt, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā

    Artinya: Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan,” (QS Nuh: 28).

    Doa Nabi Nuh untuk Anaknya 

    Sebenarnya doa Nabi Nuh juga termasuk ke dalam kisah yang ada dalam QS. Huud ayat 42-43. Dalam kisah tersebut dapat kita ketahui bahwa seorang putra dari Nabi Nuh saja tidak mempercayai bapaknya, bagaimana dengan umat lain?

    Meskipun begitu, tidak semua anak dari Nabi Nuh ikut tenggelam. Dari 4 bersaudara, tiga diantaranya selamat dengan amanat dari Allah SWT untuk meneruskan keturunan dari Nabi Nuh AS.

    Putra Nabi Nuh yang mati saat banjir bandang datang adalah Yam. Sedangkan ketiga putranya yang berhasil selamat dan ikut naik ke atas bahtera Nabi Nuh adalah Sam, Ham, dan juga Yafits.

    Melihat bagaimana salah satu putranya tidak turut naik ke atas bahtera dan mulai dihadang banjir bandang. Nabi Nuh berdoa kepada Allah SWT.

    وَنَادَىٰ نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

    Artinya: Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud: 45).

    Allah menjawab dalam firmanNya QS. Hud: 46.

    قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

    Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud: 46).

    Menyesali ucapannya kepada Allah SWT. Nabi Nuh pun memohon ampun serta perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai sifat yang tidak diketahuinya.

    قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    Artinya: Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 47).

    Nah, itulah mengenai doa Nabi Nuh untuk umat dan juga anaknya. Banyak sekali kisah yang sebenarnya bisa membuat kita tersadar bagaimana adil dan bijaksanaNya Allah SWT kepada setiap umatnya.

    Oleh karena itu, janganlah kita takabur dan mendekati keburukan. Karena jalan kebaikan dan janji Allah SWT atas segala perlindungan sangat nyata dan benar adanya.

    Selalu mendekat dan meminta perlindungan kepada Allah SWT atas segala cobaan dan permasalahan hidup. Berharap hal-hal yang benar selalu menyelimuti kita dan keimanan selalu hidup di hati masing-masing umat Islam.