Category: Sholat

  • Bacaan I’tidal Sesuai Sunnah dan Gerakannya dalam Sholat

    Bacaan I’tidal Sesuai Sunnah dan Gerakannya dalam Sholat

    Sudah seharusnya umat muslim menunaikan shalat dengan sebaik mungkin. Salah satu upaya agar kita dapat menunaikan shalat dengan baik dan benar, maka kita wajib menghafalkan semua bacaan dalam shalat.

    Salah satunya yaitu menghafal dan memahami dengan benar tentang bacaan i’tidal. Apalagi, i’tidal termasuk dalam rukun shalat. Jadi, hukumnya wajib untuk dilaksanakan.

    Bacaan I’tidal

    I’tidal yaitu bangkit dari ruku yang mana merupakan salah satu rukun shalat. I’tidal merupakan gerak mengangkat badan setelah melakukan rukuk hingga berdiri dengan punggung yang lurus.

    Sementara doa i’tidal ada dua bacaan, yang mana penggunaannya berbeda. Adapun doa bacaannya bisa kita simak di bawah ini:

    1. Doa I’tidal Pendek

    Saat melakukan gerakan tersebut kita perlu mengucapkan doa i’tidal. Berikut bacaan i’tidal Arab:

    سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

    Sementara, doa i’tidal latin bacaannya yaitu:

    Latin: Sami’allahu liman hamidah.

    Berikut arti bacaan i’tidal: “Aku mendengar orang yang memuji-Nya.”

    Rukun mengucap bacaan i’tidal tersebut berlaku bagi imam dan orang yang menjalankan shalat sendiri.

    Sebagaimana hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu’ alaihi wasallam bersabda:

    إِنّما جُعل الإِمام ليؤتمّ به، فإِذا كبّر فكبِّروا، وإِذا سجد فاسجدوا، وإِذا رفع فارفعوا، وإِذا قال: سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربّنا ولك الحمد، وإِذا صلّى قاعداً فصلّوا قعوداً أجمعُون

    Artinya: “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah. Jika ia sujud maka sujudlah. Jika ia bangun (dari rukuk atau sujud) maka bangunlah. Jika ia mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Maka ucapkanlah: rabbana walakal hamdu. Jika ia shalat duduk maka shalatlah kalian sambil duduk semuanya” (HR. Bukhari no. 361, Muslim no. 411).

    Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa doa i’tidal yang berbunyi ‘sami’allahu liman hamidah’ dibaca saat kita shalat sendiri. Selain itu, pembacaan doa berlaku saat menjadi imam dalam shalat berjamaah.

    Sedangkan jika kita mendirikan shalat sebagai makmum, maka bacaannya yaitu ‘robbana wa lakal hamdu’.

    Mengutip dari Rumaysho, terdapat empat bacaan ‘robbana wa lakal hamdu’ berdasarkan hadist, yaitu:

    Allahumma robbanaa lakal hamdu. (HR. Muslim no. 404)

    Allahumma robbanaa wa lakal hamdu. (HR. Bukhari no. 795)

    Robbanaa lakal hamdu. (HR. Bukhari no. 722 dan Muslim no. 477)

    Robbanaa wa lakal hamdu. (HR. Bukhari no. 689 dan Muslim no. 411).

    Baca juga: Tata Cara Sholat Jamak Qasar: Niat dan Syarat Sah Melakukannya

    2. Doa I’tidal Panjang

    Adapun bacaan doa i’tidal panjang berlandaskan pada hadist riwayat Muslim berikut:

    رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

    Dalam tulisan latin, bacaannya sebagai berikut:

    ‘Allahumma robbanaa lakal hamdu mil-assamawaati wa mil-al ardhi, wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du, ahlats tsanaa-i wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu’

    Aartinya: “Ya Allah, Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan diagungkan. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanyalah dari-Mu kekayaan itu)” (HR. Muslim no. 471).

    3. Doa i’tidal versi Muhammadiyah

    Doa i'tidal versi Muhammadiyah

    رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

    Latinnya: Robbanaa walakalhamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarokan fiihi.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, (hanya) untuk-Mu lah (segala) pujian yang banyak, baik, dan diberkahi padanya.”

    Baca juga: Doa Bangun Tidur dan Artinya Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    Gerakan I’tidal yang Benar

    Dalam bahasa Arab, i’tidal memiliki arti “keseimbangan” atau “seimbang”. Sementara dalam shalat, i’tidal merujuk pada posisi tubuh yang berdiri tegak dan tenang di antara ruku’ dan sujud.

    Gerakan i’tidal dilakukan setelah ruku’ sambil mengucapkan bacaan i’tidal yang telah disebutkan.

    Dalam hadist dari Abu Hurairah tentang seorang sahabat yang belum memahami cara mendirikan shalat, hingga kemudian Rasulullah mengajarkan cara untuk shalat dengan benar dan sah.

    Saat itulah, Rasulullah bersabda:

    ثم اركَعْ حتى تَطمَئِنَّ راكِعًا، ثم ارفَعْ حتى تستوِيَ قائِمًا

    Artinya:

    “… lalu rukuk dengan tuma’ninah, kemudian angkat badanmu hingga lurus” (HR. Bukhari 757, Muslim 397).

    Terdapat dua hal utama yang perlu diperhatikan saat melakukan gerakan i’tidal, yaitu:

    1. Meluruskan Punggung

    Umat muslim melakukan gerakan i’tidal dalam shalat setelah bangun dari ruku’. Kemudian, berdiri tegak dengan posisi punggung lurus.

    Dalam waktu bersamaan, angkat kedua tangan sejajar dengan telinga atau bahu. Selain itu, gerakan i’tidal juga harus dilakukan dengan tuma’ninah.

    Terdapat beberapa dalil yang menjadi landasan bahwa memposisikan punggung hingga lurus hukumnya adalah wajib, yaitu:

    Hadits Abu Humaid As Sa’idi radhiallahu’anhu, menyatakan:

    فإِذا رفَع رأسه استوى قائماً حتى يعود كلّ فقار مكانه

    Artinya:

    “Ketika Nabi shallallahu’ alaihi wasallam mengangkat kepalanya (dari rukuk) untuk berdiri hingga setiap ruas tulang punggung berada di posisinya semula” (HR. Bukhari no. 828).

    Selain itu, dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda:

    لا تُجْزِىءُ صلاةٌ لا يُقيم ُالرجلُ فيها يعني : صُلْبَهُ في الركوعِ والسجودِ

    Artinya:

    “Tidak sah shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang sulbinya ketika rukuk dan sujud” (HR. Tirmidzi no. 265, Abu Daud no. 855, At Tirmidzi mengatakan: “hasan shahih”).

    Sementara ada juga riwayat dari ‘Ali bin Syaiban radhiallahu’anhu, beliau mengatakan:

    خرَجنا حتى قدِمنا على رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ، فبايَعناهُ وصلَّينا خلفَهُ ، فلَمحَ بمؤخَّرِ عينِهِ رجلًا ، لا يقيمُ صلاتَهُ ، – يعني صلبَهُ – في الرُّكوعِ والسُّجودِ ، فلمَّا قضى النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الصَّلاةَ ، قالَ : يا معشرَ المسلِمينَ لا صلاةَ لمن لا يقيمُ صلبَهُ في الرُّكوعِ والسُّجودِ

    Artinya:

    “Kami melakukan perjalanan hingga bertemu Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam. Kemudian kami berbai’at kepada beliau lalu shalat bersama beliau. Ketika shalat, beliau melirik kepada seseorang yang tidak meluruskan tulang sulbinya ketika rukuk dan sujud.

    Ketika beliau selesai shalat, beliau bersabda: ‘Wahai kaum Muslimin, tidak ada shalat bagi orang yang tidak meluruskan tulang sulbinya di dalam rukuk dan sujud‘” (HR. Ibnu Majah no. 718, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

    2. Mengangkat Tangan

    Sebelumnya telah disebutkan bahwa kita juga perlu mengangkat tangan saat bangun dari ruku. Gerakan mengangkat tangan disebut sebagai raf’ul yadain.

    Terdapat beberapa hadits mengenai gerakan ini. Beberapa hadits menyebutkan bahwa Rasulullah melakukan raf’ul yadain setelah ruku’. Sementara ada juga riwayat yang menyatakan bahwa Beliau terkadang meninggalkannya.

    Salah satu dalil mengenai gerakan raf’ul yadain yang dilakukan oleh Rasulullah adalah hadits dari Ibnu Umar RA,

    أنَّ النبيَّ صلّى الله عليه وسلّم كان يرفعُ يديه حذوَ مَنكبيه؛ إذا افتتح الصَّلاةَ، وإذا كبَّرَ للرُّكوع، وإذا رفع رأسه من الرُّكوع

    “Nabi shallallahu’ alaihi wasallam biasanya ketika memulai shalat, ketika takbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala setelah ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya” (HR. Bukhari no.735).

    Sementara dalam riwayat lain dari Mujahid, Ibnu Umar berkata:

    صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَلَمْ يَكُنْ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِلَّا فِي التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى مِنَ الصَّلَاةِ

    Artinya:

    “Aku pernah shalat bermakmum pada Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia tidak pernah mengangkat kedua tangannya kecuali pada takbir yang pertama dalam shalat (takbiratul ihram)” (HR. Ath Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar, 1357, dengan sanad yang shahih).

    Keutamaan I’tidal

    Selain termasuk rukun dalam shalat yang harus kita tunaikan, melaksanakan dengan tepat dan mengucapkan bacaan i’tidal yang benar juga memiliki banyak keutamaan.  

    Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai keutamaan dari bacaan i’tidal ‘robbana walakal hamdu …’. Hal ini disebutkan dalam hadits Rifa’ah bin Rofi’, Rasulullah mengatakan bahwa bagi orang yang mengucapkannya,

    رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

    Artinya:

    “Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya.”  (HR. Bukhari no. 799)

    Riwayat lain yang menyebutkan mengenai keutamaan bacaan i’tidal yaitu hadits Abu Hurairah yang mengatakan,

    إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: إذا قال الإمامُ: سمِعَ اللهُ لِمَن حمِدَه، فقولوا: ربَّنا لك الحمدُ؛ فإنَّه مَن وافَقَ قولُه قولَ الملائكةِ، غُفِرَ له ما تقدَّمَ مِن ذَنبِه

    Artinya:

    “Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam bersabda: ‘Jika imam mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: rabbana lakal hamdu. Barangsiapa yang ucapannya tersebut bersesuaian dengan ucapan Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya telah lalu’.” (HR. Bukhari no. 796, Muslim no. 409).

    Demikianlah bacaan i’tidal dan gerakannya dalam shalat, beserta dalil yang melandasi. Setelah mempelajarinya lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita menunaikan i’tidal sesuai ajaran Rasulullah SAW.

  • Manfaat dan Keutamaan Sholat Tahajud, Yakin Dilewatkan?

    Manfaat dan Keutamaan Sholat Tahajud, Yakin Dilewatkan?

    Setiap orang pasti memiliki keinginan yang menjadi angan-angan untuk diigapai. Dalam Islam, terdapat beberapa cara agar hajat segera terkabul, salah satunya yakni dengan meminta pertolongan kepada Allah SWT melalui sholat Tahajud. Ada banyak sekali keutamaan sholat Tahajud tersebut.

    Meski tidak diwajibkan seperti sholat lima waktu. Sholat Tahajud menjadi pilihan tepat bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh berbagai keistimewaan dari-Nya.

    Lantas, apa saja keistimewaan yang bisa kita dapatkan sebagai seorang muslim yang rajin mengerjakan sholat Tahajud?

    Keutamaan Sholat Tahajud

    Sholat Tahajud merupakan amalan yang sangat baik untuk dilakukan oleh seorang Muslim, apalagi jika memiliki hajat yang ingin segera dikabulkan. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT pada QS. Al-Isra ayat 79 yang artinya:

    “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”.

    Oleh sebab itu, akan disayangkan bagi seorang muslim yang tidak pernah mengerjakan ibadah sholat Tahajud selama hidupnya. Adapun keutamaan sholat Tahajud adalah sebagai berikut:

    1. Masuk Golongan Orang yang Beriman

    Keutamaan sholat Tahajud yang pertama, yakni apabila seorang muslim dengan istiqomah mengerjakan sholat Tahajud dan diniatkan karena Allah Ta’ala, maka akan dimasukkannya ia dalam golongan orang-orang yang beriman.

    Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Furqan ayat 63-64, Allah SWT berfirman:

    وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا

    وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَٰمً

    Wa ‘ibādur-raḥmānillażīna yamsyụna ‘alal-arḍi haunaw wa iżā khāṭabahumul-jāhilụna qālụ salāmā. Wallażīna yabītụna lirabbihim sujjadaw wa qiyāmā

    Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.

    Baca juga: Doa Setelah Sholat Tahajud yang Mustajab: Arab, Latin dan Tata Caranya

    2. Dijanjikan Masuk Surga

    Keutamaan sholat Tahajud berikutnya yakni janji Allah SWT terhadap orang yang istiqomah melaksanakan sholat Tahajud adalah surga. Hal ini dijelaskan dalam salah satu hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا اْلأَرْحَـامَ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ.

    Wahai manusia, tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan salatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi)

    3. Melatih Kesabaran

    Manfaat Sholat tahajud Melatih Kesabaran

    Sholat tahajud juga memiliki keutamaan untuk melatih kesabaran. Hal itu diisyaratkan dalam firman Allah SWT dengan menyebut perintah untuk melaksanakan sholat malam setelah perintah untuk bersabar.

    Sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Tur ayat 48 yang berbunyi:

    وَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

    Waṣbir liḥukmi rabbika fa innaka bi`a’yuninā wa sabbiḥ biḥamdi rabbika ḥīna taqụm

    Artinya: Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.

    4. Mendapat Kedudukan Terppuji di Dunia dan Akhirat.

    Keutamaan sholat Tahajud selanjutnya yakni akan Allah SWT akan berikan kedudukan terpuji bagi orang yang sering mengamalkan sholat Tahajud.

    Kedudukan ini meliputi kehidupan di dunia maupun di akhirat, pernyataan ini dipertegas dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 79 yang berbunyi:

    وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

    Wa minal-laili fa taḥajjad bihī nāfilatal laka ‘asā ay yab’aṡaka rabbuka maqāmam maḥmụdā

    Artinya: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

    Baca juga: 5 Doa Meminta Jodoh dan Amalan Agar Cepat Bertemu Jodoh

    5. Dosanya Dihapuskan

    Keutamaan sholat Tahajud yang kelima adalah dosa orang yang mendirikannya akan dihapuskan atas izin Allah SWT.Keutamaan ini didasari sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi yang bunyinya:

    Sholat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit.” (HR Tirmidzi)

    Selain itu, dijelaskan pula dalam hadis lain yang menjelaskan bahwa sholat Tahajud memiliki keutamaan yang dapat menghapus dosa dan Allah akan mengabulkan hajat orang yang merintih kepada-Nya. Hadis tersebut diriwayatkan Al- Bukhari dan Muslim yang bunyinya:

    Pada tiap malam, Tuhan Kamu turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Dia berfirman: “Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Kuperkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepadaKu, akan Kuperkenankan permintaannya. Dan barangsiapa yang meminta ampunan kepadaKu, Aku ampuni dia”. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

    6. Doanya Dikabulkan

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, salah satu keutamaan sholat Tahajud yakni akan dikabulkan doa atau hajat orang yang melakukannya.

    Hal ini disebabkan, sholat Tahajud memiliki derajat tinggi, sehingga bagi siapa pun yang mengerjakannya maka doanya akan dikabulkan.

    Penjelasan ini pernah dibahas Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, yang berbunyi:

    Setiap malam Allah SWT turun ke langit dunia sampai tersisa sepertiga malam yang terakhir. Ia (Allah) pun berkata, ‘Adakah hamba-Ku yang meminta sehingga pasti aku berikan apa yang dia minta? Adakah hamba-Ku yang beristighfar sehingga Aku ampuni dosanya?” (HR. Bukhari dan Muslim)

    7. Mendapat Ridho Allah SWT

    Apabila seorang muslim dengan kerelaan hatina bangun di sepertiga malam lalu melaksanakan sholat Tajahud, maka orang tersebut akan diridhoi Allah SWT.

    Hal ini tertera dalam hadis riwayat Abu Ya’la yang berbunyi:

    “Tiga orang yang diridhoi Allah yaitu orang yang pada tengah malam bangun dan sholat, suatu kaum (jamaah) yang bershaf untuk sholat, dan suatu kaum yang berbaris untuk perang di jalan Allah.” (HR Abu Ya’la)

    8. Terhindar dari Berbagai Penyakit

    Keutamaan selanjutnya yakni akan diberikan kesehatan dan terhindar berbagai penyakit bagi mereka yang istiqomah mengerjakan sholat Tahajud. Hal ini tercantum dalam sabda Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut:

    “Lakukanlah sholat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala macam penyakit dari tubuh.” (HR. Tirmidzi)

    9. Waktu Mustajab untuk Memohon Ampun

    Keutamaan yang terakhir yakni sholat Tahajud merupakan waktu dan sarana mustajad untuk bermunajat kepada Allah SWT dan memohon ampunan atas segala dosa-dosa kepada-Nya.

    Diperjelas dengan firman Allah SWT yang bunyinya:

    “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran.

    Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.

    Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Muzzammil:20)

    Manfaat Sholat Tahajud

    Selain keutamaan, ada beberapa manfaat sholat Tahajud yang setidaknya harus dketahui umat Muslim,  agar mengetahui betapa meruginya yang tidak pernah menjalankan ibadah satu  ini.

    Tidak berlama-lama, berikut manfaat sholat Tahajud yang perlu diketahui:

    1. Mendekatkan Diri dengan Allah SWT

    Manfaat yang pertama yakni akan didapatkan baginya rasa tenang, pikiran dan batin karena sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Orang-orang yang tekun menjalani sholat tahajud niscaya akan diliputi aura kebahagiaan dan ketenangan. Kebahagiaan ini lantaran ia bisa merasakan bahwa dirinya sangat dekat dengan Allah SWT.

    2. Menjaga Kesehatan Fisik

    Sholat Tahajud juga memiliki manfaat secara fisik, sebagai terapi untuk pengebotan berbagai penyakit yang paling baik.

    Oleh karena itu, seorang muslim yang  rajin mengerjakan sholat Tahajud akan memiliki daya tahan tubuh yang baik, sehingga akan jarang terjangkit virus atau terseang penyakit.

    Rasulullah SAW bersabda, “Lakukan sholat malam karena itu adalah tradisi orang-orang shalih dihadapanmu, sarana mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dosa, menghapus perbuatan salah, dan mencegah segala macam penyakit dari tubuh.” (HR Tirmidzi)

    3. Membawa ke Tempat Mulia

    Allah SWT menjanjikan siapapun yang mengerjakan sholat Tahajud maka akan diangkat ke tempat terpuji dan mulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al Isra ayat 79.

    Tentu mendapatkan jaminan tempat terpuji di sisi Allah SWT merupakan impian semua umat. Dengan demikian Allah SWT telah menjamin terbentangnya jalan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak.

    4. Membukakan Pintu Surga

    Manfaat sholat Tahajud yang ke empat yakni terbukanya pintu-pintu surga bagi orang-orang yang mengerjakan sholat Tahajud. Sebab umat Muslim yang dengan istiqomah mengerjakan sholat Tahajud, akan dilimpahkannya amal baik sebagai tabungan pahala di akherat kelak.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebarkanlah salam, berilah makan (orang-orang yang membutuhkan), sambungkanlah silaturrahim, dan shalatlah pada malam hari ketika orang lain sedang tidur; niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi)

    5. Diakui sebagai Orang Istimewa

    Manfaat sholat tahajud selanjutnya yakni diakui sebagai orang yang istimewa. Bagi siapa saja yang melakukan sholat tahajud akan terlihat sebagai orang spesial khususnya di mata Allah SWT.

    Sebagaimana dijelakan dalam surat At-Tur ayat 48-49 yang artinya:

    Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun, dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar).”

    Allah SWT juga menjelaskan bahwa orang  yang rutin mengerjakan sholat Tahajud merupakan orang-orang yang memiliki sifat rendah hati dan bersahabat.

    Nah, itulah dia keutamaan sholat Tahajud dan manfaatnya. Sayang sekali bukan jika kita melewatkannya?

    Semoga kita menjadi golongan orang-orang yang dicintai Allah SWT dan dalam perlindungan-Nya. Semoga informasi di atas bermanfaat ya! Assalamualaikum wr. wb

  • Bacaan Tahiyat Awal & Akhir Lengkap Arab, Latin yang Shahih

    Bacaan Tahiyat Awal & Akhir Lengkap Arab, Latin yang Shahih

    Bagaimana bacaan tahiyat akhir bagi seseorang yang melaksanakan ibadah sholat? Apakah bacaannya akan berbeda antara tahiyat awal dan juga akhir? Poin ini sangat penting untuk kita pelajari, apalagi bagi seorang muslim.

    Bagi sebagian orang, ada yang belum tahu kalau sebenarnya tahiyat dan juga tasyahud memiliki arti yang sama. Keduanya hanya berbeda penyebutan saja, tetapi secara garis besar maksudnya sama.

    Namun, bagaimana bacaan tahiyat yang benar? Kita pasti penasaran seperti apa bacaan yang bagus dan membuat ibadah semakin istiqomah. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk terus mau belajar dan belajar.

    Bacaan Tahiyat Awal

    Apa itu tasyahud awal dan akhir? Tahiyat atau tasyahud di dalam salat ada yang dibunyikan dua kali ada satu kali. Kenapa berbeda? Karena tahiyat bisa dilafalkan di awal dan juga akhir, sehingga seringkali dikenal sebagai tahiyat awal dan tahiyat akhir.

    Jika kita melaksanakan sholat 5 waktu secara penuh, pasti tahu kalau jumlah rakaat sholat berbeda-beda. Apabila kita melaksanakan sholat subuh yang hanya dua rakaat saja, maka bacaan tahiyat hanya dijalankan sebanyak 1x.

    Sedangkan, jika kita melakukan salat dengan jumlah rakat 3-4. Maka, ada dua bacaan tahiyat awal dan juga akhir.

    Menurut para alim ulama yang sudah terbukti keshahihannya, berikut bacaan tahiyat awal:

    1. Berdasarkan Pendapat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu

    كنا نقولُ: التَّحية في الصلاةِ، ونسمِّي، ويسلِّم بعضُنا على بعض، فسمعه رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقال: قولوا: التَّحِيَاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

    “Dahulu kami membaca tahiyyat dalam salat, menyebut nama Allah kemudian mengucapkan salam satu sama lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendengar hal tersebut lalu beliau mengatakan: Ucapkanlah

    Latin: “At tahiyyaatu lillaah was shalawaatu wat thayyibaatu. As salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakaatuh. As salaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillahis shaalihiin. Asyhadu an laailaaha illallah, wa asy-hadu anna muhammadan abduhu wara suuluh”

    Artinya: (Segala ucapan selamat, salawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Mudah-mudahan salawat serta salam terlimpahkan kepadamu wahai engkau wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan salawat dan salam terlimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).” (HR. Bukhari no. 1202, Muslim no. 402)

    Baca juga: 2 Doa Sebelum Tidur dan Amalan Sunnah Nabi Muhammad SAW (Panjang & Pendek)

    2. Menurut Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu

    وإذا كان عندَ القعدةِ فليكنْ مِن أوَّل قولِ أحدِكم: اَلتَّحِيَاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لله السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَاالنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أَن مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُوْلُهُ

    “Jika kalian duduk (tasyahud) dalam salat, hendaknya yang pertama kali kalian baca adalah:

    Latin: “At tahiyyat at thayyibat ash shalawaatu lillah, As salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullah wabarakatuh, As salaamu ‘alaina wa ‘alaa ibaadillahish shalihin. Asy-hadu an laa ilaaha illallah wa asy-hadu anna muhammadan rasuulullah”

    Artinya: (Segala penghormatan, kebaikan dan shalawat hanya milik Allah. Mudah-mudahan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).” (HR. Muslim no. 404)

    3. Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu (Digunakan Masyarakat Indonesia)

    Bacaan Tahiyat Awal yang satu ini berstatus shahih dan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia saat ini.

    ان رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يعلمنا التشهد كما يعلمنا السورة من القرآن فكان يقول:

    ((اَلتَّحِيَاتُ المُبَارَكَاتُ، الصَلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَينَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِين، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله))

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kami bacaan tasyahud sebagaimana mengajarkan bacaan surat dalam Alquran, beliau mengucapkan:

    Latin:At tahiyaatu mubaarokaatu sholawaatu thoyyibaatu lillah, Assalamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatullahi wabarokaatuh, Assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahi shoolihiin, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah.”

    Artinya: (Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Mudah-mudahan shalawat dan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan shalawat dan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)ز” (HR. Muslim no. 403)

    Baca juga: Doa Ketika Ada Petir Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya (Shahih)

    Bagaimana Bacaan Tahiyat Akhir Lengkap?

    Nah, ketika melakukan sholat dengan rakaat lebih dari dua. Maka, kita harus membaca dua tahiyat, di awal dan juga bacaan tahiyat akhir. Karena hukum ini sudah pasti dan harus dilaksanakan bagi seseorang yang menjalankan sholat.

    Lantas, apakah bacaan tahiyat awal dan akhir sama? Kita hanya perlu menambahkan beberapa doa tambahan setelah bacaan tahiyat awal. Sesuai dengan Dalil Hadits Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu anhu, ia berkata:

    إنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خرَج علينا، فقُلْنا: يا رسولَ اللهِ، قد علِمْنا كيف نُسلِّمُ عليك، فكيف نُصلِّي عليك؟ قال: قولوا: اللهمَّ صلِّ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما صلَّيْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ، اللهمَّ بارِكْ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما بارَكْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ

    “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar bersama kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah kami sudah tahu cara salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Nabi menjawab: ucapkanlah:

    “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid”

    (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim,Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)” (HR. Bukhari no. 6357, Muslim no. 406)

    Nah, itulah bacaan tahiyat akhir dari berbagai pendapat ahli agama. Hukum membaca tahiyat di dalam sholat adalah wajib. Jadi, kita tidak boleh meninggalkannya.

  • 13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

    13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

    Sholat adalah aktivitas wajib yang harus dilakukan oleh umat Islam setiap hari sesuai dengan 13 rukun sholat sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

    Rukun artinya adalah pilar. Rukun sholat berarti pilar-pilar yang membentuk sholat secara utuh. Rukun dalam sholat juga bisa diibaratkan sebagai pondasi dalam sebuah bangunan. Maka dari itu, setiap rukun sholat harus dilaksanakan.

    Sholat tidak boleh dilakukan secara sembarangan, ada aturan dan tuntunan di dalam sholat yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Apa saja 13 rukun sholat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW? Yuk, simak jawabannya di bawah ini sampai habis!

    Apa itu Rukun Sholat?

    Rukun sholat adalah setiap perkataan dan perbuatan yang akan membentuk hakikat sholat.

    Jika salah satu rukun sholat ada yang tertinggal atau terlewat, maka sholat tersebut tidak dianggap atau tidak sah secara syar’i dan tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi.

    Rukun sholat dibagi menjadi dua, yakni rukun fikli dan kauli. Rukun fikli adalah rukun sholat yang berupa gerakan, sedangkan rukun kauli adalah rukun sholat yang berupa ucapan.

    13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW.

    1. Berdiri bagi yang mampu

    Berdiri bagi yang mampu

    Pada rukun sholat terdapat perintah berdiri bagi yang mampu (untuk sholat fardhu atau wajib). Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW., bahwa sholat dapat dilakukan dengan berdiri, duduk atau berbaring sesuai kemampuan tubuh.

    Penjelasan tersebut dijelaskan pada hadis di bawah ini:

    صلِّ قائمًا فإن لم تستطِع فقاعِدًا فإن لم تستطِعْ فعلى جَنبٍ

    Artinya: “Sholatlah dengan berdiri, jika tidak mampu bisa duduk, jika tidak mampu bisa sambil berbaring.” (HR. Bukhari).

    Sedangkan untuk sholat Sunnah boleh dilakukan dalam keadaan duduk, walaupun sebenarnya mampu.

    Pada hakikatnya, sholat Sunnah disunnahkan untuk berdiri tapi tidak wajib. Namun, alangkah lebih baiknya dilakukan dalam keadaan berdiri daripada duduk. Hal tersebut dijelaskan sebagaimana sabda Rasulullah SAW., yang artinya adalah sebagai berikut:

    “Siapa yang mengerjakan sholat sambil berdiri, itu akan lebih afdhol. Siapa yang mengerjakan sholat sambil duduk, akan mendapatkan pahala separuh dari sholat yang berdiri. Siapa yang sholat sambil berbaring, akan mendapatkan pahala separuh dari sholat sambil duduk.” (HR. Bukhari no. 1065).

    Baca juga: Niat Sholat Ashar Sendiri dan Berjamaah beserta Tata Caranya

    2. Niat yang dibarengi dengan Takbiratul Ihram

    Niat sebaiknya diucapkan di dalam hati, tidak disyariatkan untuk dilafadzkan. Hal tersebut dikarenakan Nabi Muhammad SAW., bersabda yang artinya:

    “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya balasan untuk masing-masing orang tergantung pada apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin al Khattab).

    Hadis di atas juga dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Raudhah ath-Thalibin:

    Kata niat berasal dari al Qashd yang artinya adalah mempunyai maksud atau menyengaja.

    Dengan kata lain, setiap umat muslim yang sholat harus mengonsentrasikan berbagai pikirannya terhadap sholat yang sedang ia kerjakan dan sifat-sifatnya pun harus diingat pula, seperti sedang melaksanakan sholat Dzuhur, Ashar, sholat fardhu dan sholat lainnya.

    Kemudian, meniatkan perkara-perkara tersebut dengan niat yang dibarengi dengan awal takbir atau takbiratul ihram.

    3. Takbiratul ihram

    Rukun sholat yang satu ini diperkuat dengan sabda Nabi Muhammad SAW., sebagai berikut:

    Artinya: “Pembuka sholat adalah taharah (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar sholat adalah ucapan takbir, sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.” (HR. Abu Daud no. 618, at-Tirmidzi no.3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadis ini adalah shahih dalam Irwa’ al-Ghalil no.301).

    Dalam melaksanakan takbiratul ihram, Rasulullah SAW., selalu mengencangkan suaranya sehingga bisa didengar oleh makmumnya. Sebagaimana yang dijelaskan pada hadis berikut ini:

    “Nabi Muhammad SAW., mengeraskan suara beliau dengan ucapan takbir, sehingga dapat mendengarkan(nya) untuk para makmu di belakang beliau.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan Ahmad, dan dia menilainya hadis ini adalah shahih, serta juga disetujui oleh adz-Dzahabi).

    Adapun yang dimaksud dengan takbiratul ihram adalah ucapan takbir “Allahu Akbar”. Bacaan tersebut tidak bisa diganti dengan bacaan lainnya, meskipun memiliki makna yang sama.

    4. Membaca surat Al-Fatihah di setiap raka’at sholat

    Nabi Muhammad SAW mewajibkan setiap muslim untuk membaca surat Al-Fatihah ketika sholat.

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ubadah bin ash-Shamit di bawah ini, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa sholat tanpa membaca Al-Fatihah tidak sah.

    عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

    Artinya: “Dari Ubadah bin ash-Shamit radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: Tidak (sah) sholat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (surat Al-Fatihah).””

    Tak hanya itu, Rasulullah SAW., juga pernah mengatakan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Awanah bahwa jika seseorang sedang sholat, namun tidak membaca surat Al-Fatihah di setiap raka’atnya, maka sholatnya menjadi tidak sempurna.

    5. Rukuk dan tuma’ninah

    Rukuk dan tuma’ninah

    Rukuk adalah ketika posisi badan sedang membungkuk dan meletakkan kedua telapak tangan di kedua lutut kaki sambil merenggangkan jari-jari tangan. Rukuk tersebut harus dilakukan secara tuma’ninah.

    Tuma’ninah sendiri adalah kondisi atau keadaan tenang di mana setiap persendian pada tubuh ini juga tenang.

    Pelafalan rukuk adalah sebagai berikut:

    الْعَظِيمِ رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Subhaana rabbiyal ‘adzimii wabihamdih (diucapkan sebanyak tiga kali)

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya.”

    Rukuk juga dijelaskan pada hadis berikut ini, yang artinya:“Kemudian, rukuklah dan tuma’ninahlah saat rukuk.” (HR. Muslim no. 397 dan HR. Bukhari no. 793).

    Apa sesungguhnya tuma’ninah itu? Pengertian tuma’ninah dalam shalat adalah tenang yang merupakan sebuah syarat untuk mencapai kekhusyuan dalam shalat.

    Sesuai dengan Pesan Rasulullah SAW : ”Kalau kamu berdiri ketika shalat, maka berdirilah dengan tuma’ninah. Kalau kamu ruku, rukulah dengan tuma’ninah. Kemudian berbuatlah demikian dalam shalatmu”. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Khurairah).

    6. I’tidal dan Tuma’ninah

    I’tidal adalah kondisi bangun dari rukuk dengan cara berdiri tegak dan tuma’ninah, serta tidak berniat selain I’tidal.

    Berikut bacaan dari rukuk ke I’tidal:

     حَمِدَهُ لِمَنْ اللَّهُ سَمِع

    Sami’allaahu liman hamidah.

    Artinya: “Allah maha mendengar terhadap orang yang memujinya.”

    Berikut bacaan I’tidal:

     بَعْدُ شَيْءٍ مِنْ شِئْتَ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ السَّمَوَاتِ مِلْءَ الْحَمْدُ لَكَ رَبَّنَا

    Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.

    Artinya: Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”

    Berikut hadis tentang I’tidal: “Kemudian, tegaklah badan (I’tidal) dan tuma’ninahlah.” (HR. Muslim no. 397 dan HR. Muslim no. 937).

    7. Dua kali sujud

    Dua kali sujud

    Tata cara sujud ialah dengan menempel sebagian dahi pada lantai tempat sholat. Lalu, wajib meletakkan kedua lutut, kedua tangan dan kedua ujung telapak kaki pada lantai.

    Dalam sujud harus memerhatikan 7 bagian anggota badan, diantaranya adalah:

    • Telapak tangan kanan dan kiri
    • Lutut kanan dan kiri
    • Ujung kaki kanan dan kiri
    • Dahi dan hidung.

    Berikut bacaan sujud dalam sholat:

     وَبِحَمْدِهِ الْأَعْلَى رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Subhanaa rabbiyal a’la wabihamdih. (Diucapkan sebanyak tiga kali).

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya.”

    Berikut hadis tentang dua kali sujud: “Kemudian, sujudlah dan tuma’ninahlah saat sujud.” (HR. Muslim no. 397 dan HR. Muslim no. 937).

    8. Duduk di antara dua sujud

    Cara melakukan duduk di antara dua sujud ialah bangun dari rukuk dengan bertakbir, kemudian duduk secara iftirasy (duduk model tasyahud awal).

    Berikut ini bacaanya:

     وَارْفَعْنِ وَارْزُقْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْحَمْنِى لِى اغْفِرْ رَبِّ

    Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu’annii.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.

    Berikut hadis tentang duduk di antara dua sujud:

    “Lalu, sujudlah dan tuma’ninahlah saat sujud. Kemudian, bangkitlah dari sujud dan tuma’ninah saat duduk. Lalu, sujudlah kembali dan tuma’ninah saat sujud.”

    9. Membaca Tasyahud awal

    Membaca tasyahud awal

    Berikut bacaan tasyahud awal:

    اَلتَّحِيَاتُ المُبَارَكَاتُ، الصَلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَينَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِين، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله)

    Attahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.

    Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    Berikut hadis mengenai tasyahud awal: “Apabila salah seorang di antara kalian duduk (tasyahud) dalam sholat, ucapkanlah “at tahiyatu lillah..”.” (HR. Muslim no. 42 dan Bukhari no. 831, dari Ibnu Mas’ud).

    10.  Membaca tasyahud akhir

    Bacaan tasyahud akhir sama dengan tasyahud awal, yang membedakan hanya ditambahkan sholawat pada tasyahud akhir.

    لتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمّدْ وعلى آلِ  عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلعَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى عَلَي سَيِّدِنَا آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد. اَلْلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَجَّالِ

    “Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibatul lillaah, Assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh, Assalaamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Waasyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Allahhumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Wabaarik ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa Ibraahim, wa ‘alaa aali Ibraahim. Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid. Allaahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wamin ‘adzaabil qabri wamin fitnatil mahyaa wamamaati wamin fitnatil masiihid dajjaal.”

    Artinya : “Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah, salam, rahmat, dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang saleh-saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. 

    11.  Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

    Seperti yang telah dikatakan di atas bahwa membaca sholawat kepada Rasulullah SAW., setelah tasyahud akhir dan hukumnya wajib, sedangkan untuk tasyahud awal hukumnya Sunnah.

    Berikut bacaan sholawat yang harus ditambahkan pada tasyahud akhir:

    للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

    Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohim wa ‘alaa aali Ibroohimm innaka hamiidum majiid. Alloohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohim wa ‘alaa aali Ibroohimm innaka hamiidum majiid.

    Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia.”

    12.  Salam

    Setelah menyelesaikan bacaan tasyahud akhir, ditutup dengan dua salam.

    Dalilnya hadits yang telah disebutkan di muka,

    مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

    Yang mengharamkan dari hal-hal di luar shalat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam. ” (HR. Abu Daud no. 618, Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 301)

    Yang termasuk dalam rukun di sini adalah salam yang pertama. Inilah pendapat ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan mayoritas ‘ulama.

    Model salam ada empat:

    1. Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”.
    2. Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah wa barokatuh”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”.
    3. Salam ke kanan “Assalamu ‘alaikum wa rohmatullah”, salam ke kiri “Assalamu ‘alaikum”.
    4. Salam sekali ke kanan “Assalamu’laikum”. (Lihat Sifat Shalat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 188, Maktabah Al Ma’arif)

    Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Sholat Fardu Sesuai Sunnah, Arab, Latin, dan Artinya

    13.  Tertib

    Tertib artinya sholat dilakukan secara berurutan dalam rukun-rukun sholat. Tidak sah sholatnya jika dilakukan secara acak. Misal langsung langsung rukuk tanpa membaca Surat Al-Fatihah.

    Hingga tahap ini, kamu sudah mengetahui rukun sholat, jangan lupa untuk mengamalkannya ya.