Blog

  • Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Kisah Nabi Saleh AS, Sejarah dan Mukjizatnya dalam Al-Qur’an 

    Artikel ini akan membahas kisah nabi Saleh dan kaum Tsamud. Nabi Shaleh sendiri merupakan nabi kelima dari 25 nabi dan rasul. Ia diutus untuk mengajarkan kaum Tsamud yang ternyata masih menyembah berhala.

    Kaum Tsamud sendiri tinggal di kota Hijr, kira-kira antara Suriah dan Arab Saudi saat ini. Mereka memiliki kemajuan dalam teknologi pembangunan rumah megah memiliki kekayaan melimpah.

    Sayangnya, mereka justru menganggap berhala, lebih tepatnya patung buatan sendiri sebagai Tuhan. Tidak heran mereka sangat ingkar kepada Allah SWT. Suatu hari, seekor unta muncul. Nabi Shaleh menyuruh agar tidak membunuh unta itu.

    Jadi apakah munculnya seekor unta menjadi salah satu mukjizat Nabi Shaleh? Apakah kaum Tsamud akan sadar? Mari kita simak kisah Nabi Saleh singkat dan hikmah apa yang bisa dipetik.

    Ringkasan Kisah Nabi Saleh

    Memahami kisah dari Nabi Saleh, bisa membantu kita memahami bagaimana perjuangan serta apa saja hikmah yang bisa diperoleh dari kisahnya. Lebih lengkapnya, bisa cek di sini: 

    Nabi Saleh dan Kaum Tsamud

    Silsilah mengatakan bahwa Nabi Shaleh merupakan keturunan Nabi Nuh. Hal ini karena ayah dari Nabi Shaleh sendiri adalah Ubaid bin Jabir bin Tsamud bin Amr Bin Hisyam bin Sam Bin Nuh Alaihissalam.

    Kita melihat Tsamud dalam nama asli ayah Nabi Saleh, “Ubaid bin Jabir bin Tsamud”, artinya Tsamud memiliki keterkaitan dengan Nabi Nuh. Tsamud sendiri berasal dari keturunan kaum Ad yang beriman, lebih tepatnya kaum Nabi Hud.

    Kita harus ingat bahwa kaum Ad menjadi kaum yang menggantikan kaum Bani Rasib atau kaum Nabi Nuh. Kaum Bani Rasib sendiri binasa akibat banjir besar yang hanya menyisakan sedikit manusia.

    Kaum Ad, yaitu keturunan Sam bin Nuh, justru kembali menyembah berhala dan menjadi angkuh. Mereka menolak ajaran Nabi Hud untuk kembali menyembah Allah. Akhirnya, Allah timpakan azab berupa angin topan sangat dingin pada mereka.

    Nabi Hud dan semua orang beriman selamat karena berlindung di sebuah lembah. Setelah itu, mereka hijrah ke Hadramaut untuk memulai awal yang baru. Sementara orang-orang kafir justru binasa sampai tidak bersisa.

    Menurut penjelasan dari Ibnu Katsir, tempat tinggal kaum Ad yang selamat itu merupakan Al-Hijr. Kaum ini menjadi kaum Tsamud atau kaum Ad yang kedua (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 439).

    Tentunya, kaum Tsamud memiliki keterkaitan dengan kisah nabi saleh lengkap dari lahir sampai wafat. Apa yang terjadi pada kaum Tsamud tidak jauh berbeda dari kaum Ad?

    Baca juga: 10 Kata Cinta untuk Suami dalam Islam, Romantis!

    Kaum Tsamud sebagai Kaum Ad yang Kedua

    Pada awal dari kisah Nabi Saleh, kaum Tsamud memiliki beberapa nikmat yang sangat menguntungkan. Mereka pandai mengolah tanah subur dan memiliki kekayaan melimpah dari hasil ternak serta panen.

    Tidak hanya itu, mereka juga maju dalam teknologi pembangunan. Mereka bisa mendirikan banyak bangunan dan rumah sangat megah dari tanah rata. Bangunan-bangunan itu sangat kokoh seperti istana.

    Dari situ, kita bisa lihat kaum Tsamud dalam kisah Nabi Saleh sangat menikmati kehidupan tenteram dan mewah. Mereka juga merasa aman dari segala gangguan alamiah.

    Akan tetapi, kemewahan itu justru menjauhkan mereka dari Allah SWT. Mereka akhirnya kembali menyembah dan memuja berhala. Hal ini tidak jauh dari apa yang kaum Ad lakukan.

    Menyembah berhala bukan satu-satunya hal keji yang mereka lakukan. Perbuatan maksiat lain sangat tidak asing bagi kaum Tsamud. Mereka sering sekali menindas orang miskin di tengah-tengah mereka.

    Kisah Nabi Saleh Mendapat Tugas Mendakwahi Kaum Tsamud

    Nabi Shaleh sendiri merupakan salah satu di antara kaum Tsamud. Ia sangat sedih melihat kaumnya menganggap berhala sebagai Tuhan. Saat ia dewasa, Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan menyuruh agar mereka kembali beriman.

    Munculnya Nabi Shaleh sebagai utusan Allah SWT juga menjadi pembahasan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

    Artinya:

    “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Saleh berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’” (QS. Hud: 61).

    Nabi Shaleh juga ingin kaumnya selalu bersyukur karena memiliki berbagai nikmat yang mereka sangat senangi. Perkataannya menjadi abadi sebagai ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

    Artinya:

    “Dan ingatlah ketika Tuhan menjadikan kamu khalifah-khalifah (yang berkuasa) setelah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-A’raf: 74).

    Kaum Tsamud Menolak Ajakan Nabi Shaleh

    Seperti yang kita ketahui dari kisah Nabi Saleh dan kaum Tsamud, Nabi Shaleh justru mendapat penolakan dari kaumnya sendiri. Penolakan tersebut tentu tercantum dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

    قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

    Artinya:

    “Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Q.S Hud: 62).

    Dari ayat Al-Qur’an ini, terlihat kaum Tsamud benar-benar angkuh. Mereka mempertanyakan, menolak, dan mengolok-olok Nabi Shaleh sebagai utusan Allah. Mereka justru tetap bersikukuh untuk menyembah berhala yang mereka buat sendiri.

    Suatu hari, kaum Tsamud menjadi sangat bosan dengan ajakan Nabi Shaleh. Mereka meminta dirinya untuk menunjukkan sebuah bukti kebenaran rasulnya. Ini menjadi awal dari satu lagi momen terpenting dalam cerita kisah nabi Saleh.

    Unta sebagai Bukti Mukjizat Nabi Shaleh

    Menanggapi permintaan kaum Tsamud, Nabi Shaleh berdoa secara khusyuk pada Allah SWT agar mendatangkan sebuah keajaiban. Allah SWT pun mengabulkan permohonannya itu.

    Setelah itu, Nabi Shaleh mengajak kaumnya untuk pergi ke sebuah kaki gunung. Kaum yang kafir itu justru berharap dirinya tidak bisa membuktikan sebuah keajaiban tersebut.

    Sebelumnya, mereka meminta seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil kembar 10 bulan dari sebongkah batu besar sebagai bukti mukjizat dari Nabi Shaleh. Jika benar-benar keluar, mereka akan beriman.

    Permintaan itu justru menjadi kenyataan, mengejutkan kaum Tsamud yang kafir. Seekor unta tinggi, putih, dan sedang hamil keluar dari sebongkah batu besar yang terbelah jadi dua di kaki gunung, persis seperti harapan mereka.

    Momen ini menjadi awal dari kisah Nabi Saleh dan untanya. Semuanya sangat terpana. Ironisnya, sebagian besar justru ingkar janji karena tidak percaya. Sebagian kecil dari kaum itu justru beriman.

    Nabi Shaleh kemudian memberi pesan secara spesifik. Ia meminta kaum Tsamud agar menjaga unta itu baik-baik. Selebihnya, ia juga berharap agar mereka tidak membunuh unta tersebut.

    Terlebih, ia juga mengatakan susu dari unta itu tidak akan habis-habis. Setidaknya, unta tersebut berhak bebas berkeliaran dan meminum air sumur bergantian dengan penduduk.

    Unta itu menjadi bagian dari momen penting kisah Nabi Saleh dan kaumnya. Pasalnya, kaum Tsamud harus tinggal berdampingan dengan unta tersebut sebagai janji pada Nabi Shaleh.

    Kaum Tsamud Membunuh Unta Mukjizat Nabi Shaleh

    Ironisnya, sebagian besar kaum Tsamud justru merasa jengkel dengan kehadiran unta itu. Binatang tersebut justru mengambil minum dari air sumur mereka. Mereka merasa ia merebut bagian dari sumur berisi air minum tersebut.

    Memasuki hari ketiga kemunculannya, unta tersebut akhirnya melahirkan seekor anak. Tetapi hal ini justru semakin membuat murka kaum Tsamud dan memicu sebuah siasat.

    Mereka menyelenggarakan sebuah sayembara untuk melancarkan siasat itu. Siapapun yang berani membunuh unta nabi Shaleh bisa mendapat sebuah hadiah besar. Secara spesifik, hadiah itu merupakan seorang gadis cantik yang akan dinikahi.

    Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif menjadi dua pemuda yang berani membunuh unta itu. Unta tersebut akhirnya mati di tangan Mushadda dan Gudar saat ia sedang berjalan menuju sumur. Ini menjadi akhir dari kisah nabi Saleh dan unta.

    Lantas apa yang terjadi dengan anak untanya? Ia kembali masuk ke dalam batu yang pernah mengeluarkan induknya itu.

    Nabi Shaleh sangat murka setelah untanya terbunuh. Kemudian, ia mendatangi kaumnya itu untuk memperingatkan bahwa azab akan datang dalam tiga hari. Sebagaimana yang tercantum pada ayat Al-Qur’an berikut:

    فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوب

    Artinya:

    “Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: ‘Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan’.” (QS. Hud: 65).

    Azab dari Allah SWT untuk Kaum Tsamud

    Kisah Nabi Saleh berlanjut setelah kaum Tsamud mendapat peringatan azab dalam tiga hari setelah membunuh seekor unta. Tiga hari itu menjadi kesempatan bagi mereka agar mereka ingin bertaubat pada Allah dan benar-benar menyesal.

    Sebaliknya, mereka tetap menolak bertaubat. Pada saat yang sama, mereka juga merasa takut dengan perkataan yang terucap Nabi Shaleh. Oleh karena itu, terdapat sekelompok orang kafir yang membuat siasat untuk membunuh Nabi Shaleh.

    Malamnya, mereka tiba rumah Nabi Shaleh untuk membunuhnya. Naas, mereka justru mendapat azab dari Allah berupa hujan batu hingga kepala pecah sebelum niat itu tercapai.

    Akhirnya, tiga hari pun berlalu. Kaum Tsamud yang kafir mendapat azab sesuai janji Nabi Shaleh. Allah memberi mereka siksaan berupa gempa bumi dahsyat dan petir menggelegar. Hanya Nabi Shaleh dan orang-orang beriman yang selamat.

    فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

    Artinya:

    “Maka, tatkala azab Kami datang, Kami selamatkan Saleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia­lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Hud: 66).

    Semua orang kafir dari kaum Tsamud akhirnya mati dan binasa. Nabi Shaleh sempat mendatangi mayat-mayat itu. Reaksi perkataannya menjadi abadi dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

    فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

    Artinya:

    “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.’” (QS. Al-A’raf: 79)

    Inilah menjadi akhir dari kaum Tsamud dari kisah Nabi Saleh.

    Hikmah dari Kisah Nabi Saleh

    Kisah kaum Tsamud yang ingkar pada ajaran Nabi Shaleh tentu mengingatkan kita akan kekuasaan Allah SWT. Terdapat pula beberapa hikmah yang bisa ambil sebagai berikut:

    1. Selalu Bersyukur

    Berdasarkan kisah Nabi Saleh yang telah kita pahami bersama, hikmah pertama memang sudah tidak asing lagi, yaitu selalu bersyukur. Kafirnya kaum Tsamud menjadi pertanda sangat tidak bersyukur dengan kekayaan yang mereka miliki.

    Dari hal ini, kita harus tahu bahwa semua ciptaan di dunia ini adalah ciptaan Allah. Tentunya, seluruh hal yang kita miliki di dunia menjadi tanda kebesaran Allah.

    2. Tidak Sombong

    Penolakan kaum Tsamud terhadap ajaran Nabi Shaleh tentu sudah menjadi pertanda bahwa mereka sombong. Kita bisa lihat mereka juga menantang Nabi Shaleh untuk membuktikan bahwa mukjizat benar-benar nyata.

    Hal ini termasuk menjadi durhaka pada Allah SWT. Kisah Nabi Saleh dan kaumnya mengingatkan agar kita selalu mendengarkan perintah para nabi dan rasul-Nya.

    3. Tidak Ingkar Janji

    Dari cerita singkat kisah Nabi Saleh, bahwa kaum Tsamud mengingkari janji. Lebih tepatnya, sebagian besar dari mereka masih menolak beriman. Bahkan tanpa ragu sekalipun mereka sampai membunuh unta ajaib dari mukjizat Nabi Shaleh.

    Peristiwa terbunuhnya unta itu dan azab pada kaum Tsamud menjadi pengingat bahwa kita harus selalu menepati janji sesuai kesepakatan. Jika tidak, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.

    Demikianlah pembahasan kisah Nabi Saleh dan mukjizatnya.

  • Pengertian Sombong dalam islam dan 6 Bahaya Sifat Sombong

    Pengertian Sombong dalam islam dan 6 Bahaya Sifat Sombong

    Sifat sombong dalam Islam  merupakan salah satu perbuatan tercela yang tidak disukai Allah SWT.  Meski sudah menjadi fitrah manusia yang sudah muncul dari lahir. Tidak menjadi hal yang dilumrahkan untuk bersifat sombong terhadap sesama.

    Oleh karena itu, penting bagi seorang manusia diajarkan mengenai adab dan tata karma, seperti tawadhu, saling menerima dan memaafkan.

    Lantas, apa sebenarnya sifat sombong dalam Islam? Yuk, simak penjabarannya dalam artikel ini.

    Hukum Islam Terkait Sifat Sombong

    Islam merupakan agama yang mengajarkan akhlak yang mulia kepada umatnya. Oleh karena itu, banyak dalil serta sunnah yang memerintahkan umat muslim untuk memiliki akhlak mulia dan tawakal kepada-Nya.

    Demikian pula banyak dalil yang menunjukan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari adalah bersifat sombong.

    Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Israa’ ayat 37 dengan jelas disebutkan bahwa manusia tidak diperkenankan untuk berjalan di atas bumi dengan sifat sombongnya.  Makna dari surat tersebut adalah jelas Allah melarang untuk manusia memiliki penyakit hati ini dan jika manusia tidak mengindahkannya, maka murka Allah lah yang akan diterima sebagai ganjarannya.

    Di dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    ”Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi.” (HR. Muslim).

    Jelas sudah, jika Allah tidak menyukai sifat sombong yang artinya sombong itu dilarang dan harus dihindari oleh manusia agar tidak mendapat murka Allah SWT.

    Selain itu, Allah SWT berfirman:

    وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

    Terkait hal ini, sebagian salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali yang uncul kepada Allah adalah kesombongan. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 34 yang berbunyi:

    وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ {34}

    “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)

    Dapat disimpulkan dari dalil-dalil tersebut di atas, bahwa kesombongan adalah sifat buruk yang tidak disukai Allah SWT. Barang siapa melakukannya, maka tidak akan ada ridho Allah yang menyertainya.

    Baca juga: 8 Doa Dimudahkan Segala Urusan dan Dilancarkan Rezeki

    Ketahui 6 Bahaya Sifat Sombong dalam Islam

    Layaknya sebuah penyakit yang menyerang manusia, sombong juga dapat dikategorikan sebagai penyakit hati yang memberikan banyak gangguan bagi penderitanya. Seperti yang diketahui bahwa sifat sombong dalam Islam merupakan sifat yang tidak disukai Allah SWT.

    Dan apabila seseorang secara terus menerus dan dengan di sengaja berbuat kesombongan, maka celakalah dia. Berikut akibat memiliki sifat sombong:

    1. Dibenci Allah SWT dan Rasul-Nya

    Hal ini dijelaskan dalam QS Luqman ayat 18 yang berbunyi:

     “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. ” (QS Luqman : 18).

    Dalam hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda yang artinya;

    Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan duduknya paling dekat kepadaku pada hari kiamat adalah orang yang akhlaknya terbaik di antara kalian. Sedangkan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara, suka ngobrol dan bermulut besar (sombong).”

    Setiap manusia Allah ciptakan dengan kemampuan dan keindahan masing-masing, tentu hal ini selalu memiliki hikmah. Itulah mengapa manusia diciptakan berbeda-beda, dan alasan adanya jin malaikat, tumbuhan, hewan, sebab Allah ingin manusia saling mengenal dan mengangungkan Allah SWT.

    Namun, kerap kali kelebihan ini menjadikan manusia merasa lebih mulia dan sempurna terhadap sesama ciptaan-Nya. Padahal sejatinya kemuliaan yang dimiliki berumber dari Allah dan Allah menginginkan kemulian tersebut untuk mengagungkan dan memuji-Nya.

    2. Diabaikan Allah SWT

    Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

    “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan oleh-Nya, dan baginya adzab yang pedih; (yaitu) Orang yang sudah tua berzina, penguasa pendusta dan orang miskin yang sombong.” (H. R. Muslim)

    Terkait hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa sifat sombong dalam Islam merupakan sifat yang amat dibenci Allah. agama Islam juga mengajarkan untuk tidak menyombongkan diri dari segala keadaan dan peristiwa, baik dalam keadaan miskin maupun kaya.

    Kesombongan seringkali tidak mengenal kondisi baik ia miskin maupun kaya, sebab sombong selalu mengikuti hawa nafsu manusia.

    Baca juga: Bacaan Niat Puasa Rajab Sekaligus Puasa Senin Kamis

    3. Menjadikannya Makhluk yang Hina

    Allah SWT berfirman yang artinya;

    “Orang-orang yang bersikap sombong dimuka bumi tanpa alasan yang benar, mereka akan Aku palingkan dari kebenaran sehingga mereka tidak dapat memahami bukti-bukti kekuasaan-Ku. Sekalipun orang-orang yang sombong itu menyaksikan bukti-bukti kekuasaan-Ku, mereka tetap tidak mau beriman. Jika mereka melihat jalan sesat justru mereka mau mengikutinya. Begitulah karakter orang-orang yang sombong, mereka telah mendustakan agama Kami, dan mereka telah melalaikan bukti-bukti kekuasan Kami. (Q. S.  Al-A’raf, ayat 146).

    Orang yang sombong seringkali tidak ingin kalah dan juga mengalah. Ketika ada yang mengunggulinya, ia akan bersikap iri dan berlomba-lomba untuk melebihnya, dan mereka cerita dengan tujuan mengunggulkannya.

    Hal ini disebabkan hatinya yang telah mati. Jika hati sudah mati, sulit bagi seorang muslim menerima masukan serta nasehat dari saudaranya sesama muslim.

    4. Hatinya Terkunci

    Sifat sombong ini akan menutup rapat pintu hati manusia, sehingga ia tidak akan lagi mampu menerima kebenaran, sebagaimana tertulis dalam QS. Al-Mukmin ayat 35 yang berbunyi:

    “…demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS Al-Mukmin : 35).

    Dianjurkan baginya, untuk benar-benar bertaubat kepada Allah SWT, dan mempelajar hikmah mengenai kepemilikan semu dan kepemilikan yang sejati, sebab dunia hanyalah sementara.

    5. Menjadi Pengikut Iblis

    Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur maka ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqarah : 34).

    Peristiwa ini menjadi penanda bahwa makhluk yang mulia bisa menjadi hina disebabkan karena kesombongannya. Perlu diingat bahwa sifat sombong tidak hanya memandang manusia yang rendah, manusia yang mulia juga bisa menjadi lebih rendah jika memiliki sifat sombong.

    Contoh lain kisah wali Allah Syekh Barsiso yang konon memiliki santri yang bisa terbang semua, kemudian menjadi hina berlumuran dosa akibat memiliki sifat sombong dalam hatinya. Atau juga kisah dua malaikat bernama Harut dan Marut yang sombong kepada Allah, kemudian dihukum di atas laut sampai hari kiamat.

    6. Menjadi Penghuni Neraka

    Seorang muslim yang memiliki sifat sombong akan dibenci Allah SWT, sehingga ia akan menjadi pengikut iblis yang mendekam selamanya di neraka, hal ini tertulis dalam salah satu hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi:

    ”Para penghuni neraka adalah orang-orang yang keras kepala, kasar lagi sombong.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Maksud hadis tersebut adalah menjadi penanda bahwa orang yang memiliki sifat sombong bisa menjalar menjadi sifat yang buruk lainnya, seperti menjadi riya, iri dengki, dendam, sum’ah, musyrik dan lain sebagainya.

    Itulah dia, sedikit penjelasan mengenai hukum sifat sombong dalam Islam serta enam bahaya jika meneruskannya. Setelah tahu bahwa sombong merupakan satu di antara sifat yang dibenci Allah, apakah kamu masih ingin memilikinya?

  • Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Mengenal Sosok Ibnu Taimiyah, Ulama dan Filsuf Islam yang Inspiratif

    Ibnu Taimiyah merupakan figur yang menarik banyak perhatian. Beliau adalah seorang ulama besar yang terkenal sebagai sosok kontroversial.

    Beliau disebut sebagai ulama paling cerdas pada masanya. Bahkan, belum ada yang menyamai beliau dalam hal hafalan, ilmu, dan amalan. Hasil pemikiran Ibnu Taimiyah menjadi warisan yang sangat berarti bagi umat Islam.

    Mari kita kenali lebih lanjut tentang sosok Ibnu Taimiyah.

    Masa Muda Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah bernama Syaikhul Islam Al Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi.

    Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 661 H, di Haron. Negeri tersebut terletak di antara negeri Syam dan Iraq.

    Saat berusia 7 tahun, beliau dan ayahnya pindah ke Damaskus untuk melarikan diri dari pasukan Tartar. Pasukan tersebut berasal dari bangsa Mongol yang memerangi kaum muslimin.

    Ibnu Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang kaya akan ilmu, fiqih, serta agama. Pasalnya, ayah, saudara, kakek, dan banyak dari paman beliau merupakan ulama terkenal.

    Salah satunya yaitu kakek pertama beliau, Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyyah Majdud Diin yang menuliskan Al Muntaqo min Al Ahadits Al Ahkam dan banyak kitab lainnya.

    Berkat lingkungan tersebut, beliau pun dapat menuntut ilmu sejak dini dari ayahnya. Beliau juga telah hafal Al-Qur’an pada usia sebelum baligh.

    Selain itu, Ibnu Taimiyah juga menuntut ilmu dari ulama-ulama Damaskus. Kecerdasan dan kemampuan hafalannya yang luar biasa juga terlihat sejak usia belia.

    Beliau pun mempelajari hadits, fiqih, tafsir, dan ilmu ushul. Ibnu Taimiyah mendalami berbagai ilmu secara intensif, sehingga telah diakui ulama sejak usia muda. Bahkan Beliau sudah memenuhi syarat memberi fatwa pada usia 17 tahun.

    Pada usia itu pula Ibnu Taimiyah mulai menyusun kitab untuk pertama kalinya. Kemudian pada usia 22 tahun, Beliau mulai mengajar hadits di Damaskus. Setahun setelahnya, beliau juga mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Umayyah.

    Baca juga: Sholat Tahiyatul Masjid: Niat, Tata Cara dan Waktu Pelaksanaanya

    Karya Ibnu Taimiyah

    Ibnu Taimiyah tidak menikah maupun memiliki wanita. Hal ini bukan karena beliau tidak menyukai pernikahan, melainkan karena kesibukan dalam memperdalam ilmu, berdakwah, mengajar, serta berjihad.

    Seakan tidak pernah puas dengan ilmu, Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk membaca, menelaah, dan meneliti.

    Berkat dedikasinya yang tinggi dalam belajar, beliau pun mampu menguasai berbagai macam ilmu, baik ilmu agama, tasawuf, logika, komparasi agama, hingga filsafat.

    Ibnu Taimiyah merupakan penulis yang sangat produktif. Bahkan dikatakan bahwa beliau mampu menghasilkan empat buku tiap harinya. Total jumlah tulisan yang Beliau hasilkan diperkirakan mencapai 500 jilid dengan 4.000 buku tulis atau lebih.

    Dalam sejarah Islam, belum pernah didapati orang yang menulis karya ilmiah sepertinya.

    Salah satu muridnya, al-Hafidh al-Mizzi, juga mengatakan bahwa tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengan beliau semenjak empat ratus tahun yang lalu.

    Selama menulis buku-bukunya, beliau senantiasa mengambil dari hafalan. Teknik menulisnya pun sangat mahir dan cepat.

    Sehingga hasil tulisannya sangat sempurna, baik dari penulisan, susunan pembahasan, serta adanya hujjah dan dalil pendukung.

    Berikut beberapa karya dari Ibnu Taimiyah:

    • Dar’u At-Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql: Teologi
    • Minhaj al-Sunna: Teologi Syiah
    • Al-Raad ‘ala al-Mantiqiyyin: Filsafat
    • Al-Hisba fi al-Islam: Bidang Ekonomi
    • Al-Siyasa al-Shar’iyya: Politik

    Ibnu Taimiyah menyampaikan pemikiran yang mengkritik pemahaman yang kurang sesuai dalam berbagai bidang keilmuan, seperti teologi, filsafat, dan sufiisme. Beliau juga memberikan kritikan tegas terhadap kaum Syiah dan Kristen.

    Sifat-Sifat Ibnu Taimiyah

    Selain kecerdasan dan luasnya ilmu, Allah SWT mengaruniai Ibnu Taimiyah dengan sifat-sifat terpuji.

    Kehidupan sehari-hari beliau dipenuhi dengan kesungguhan untuk memperdalam ilmu. Sampai-sampai dikatakan bahwa beliau selalu berada di antara tumpukan kitab.

    Karena selalu menyibukkan diri dalam keilmuan, Beliau tidak pernah menghabiskan waktu untuk bersenda gurau, maupun perbuatan tercela seperti menggunjing dan mengadu domba.

    Di samping giat belajar, Beliau sering beribadah dan membaca Al-Qur’an. Ulama jenius ini juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan suka membantu.

    Beliau adalah sosok yang wara’ dan zuhud, hingga hampir tidak memiliki kesenangan dunia kecuali kebutuhan pokok. Meskipun biasa mendapatkan banyak harta, beliau biasa menginfakkan seluruhnya.

    Selain itu, Beliau dikenal sebagai sosok yang karismatik dan keras dalam membela kebenaran.

    Ibnu Taimiyah sering kali ditawari untuk menjadi pejabat atau pemimpin. Namun, beliau menolaknya sembari berkata, “Carilah orang lain yang lebih cocok.”

    Sementara, ketika berhadapan dengan penguasa, beliau sering kali memberikan nasehat untuk melakukan amal ma’ruf dan menghindari perbuatan mungkar.

    Sejarah mencatat peran besar Beliau dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah seperti yang terjadi peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan.

    Jihad Ibnu Taimiyah

    Kebanyakan orang mengenal Ibnu Taimiyah sebagai ulama, ahli fatwa, dan penulis melalui karya-karyanya. Padahal, Beliau juga memiliki banyak sikap terpuji lain, bahkan ikut berjihad untuk membela Islam.

    Beliau berjihad dengan pedang maupun keilmuan. Ibnu Taiminyah ikut turun ke medan perang sambil menunggang kuda dan mengangkat pedang untuk membela kaum muslimin.

    Banyak orang yang menyaksikan kelihaian dan keberanian beliau dalam perang penaklukkan kota ‘Ukka.

    Selain itu, beliau menggunakan pemahaman agama dan keilmuannya untuk berjihad melalui pena dan lisan. Terkadang melalui perdebatan langsung, terkadang melalui tulisan.

    Disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah berdiri di depan musuh-musuh Islam bak gunung yang kokoh. Adapun musuh Islam yang dimaksud meliputi penganut berbagai agama, isme yang bathil, aliran, dan ahlul bid’ah.

    Beliau telah menghancurkan syubhat (racun pemikiran) dan mengembalikan tipu daya mereka.

    Bantahan dan kitab-kitab beliau merupakan senjata terkuat dalam menghadapi firqoh sesat dan isme yang merusak yang banyak beredar di antara masyarakat.

    Terlebih lagi, Ibnu Taimiyah hidup pada masa yang mana banyak isme batil berkuasa. Bid’ah dan kesesatan pun merebak di mana-mana.

    Ketika itu kaum muslimin juga tenah diperangi oleh pasukan Salib dan pasukan Tartar.

    Beliau telah disakiti, diusir, diperangi, dan dipenjara berkali-kali selama berdakwah. Bahkan Beliau menghadapi ajal ketika berada dalam penjara Al-Qol’ah di Damaskus.

    Wafatnya Ibnu Taimiyah

    Sudah disebutkan sebelumnya, Ibnu Taimiyah meninggal dalam keadaan dipenjara, yaitu pada malam Senin, 20 Dzulqo’dah 728 Hijriah di penjara Al Qol’ah, Damaskus.

    Saat pemakaman Beliau, seluruh penduduk Damaskus dan sekitarnya datang untuk menyolati dan mengiring jenazah. Banyak sumber mencatatkan bahwa jumlah orang yang menghadiri pemakaman beliau sangat besar.

    Hal ini menunjukkan bagaimana orang-orang merasakan kehilangan seorang ahli sunnah. Selain itu, Ibnu Taimiyah yang bersifat terpuji dan suka membantu memang sangat disukai oleh semua kalangan.

    Demikianlah kisah Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang disebut-sebut sebagai sosok jenius. Hingga sekarang pun karya-karya beliau masih memberikan banyak manfaat bagi umat Islam.

  • Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga, hingga Karomahnya

    Penyebaran Islam di Nusantara bukan tanpa sebab. Ada sejumlah tokoh agama yang turut ikut dalam menyebarkan agama Islam di nusantara. Di antaranya yang cukup populer di kalangan masyarakat yakni Sunan Kalijaga.

    Sunan Kalijaga merupakan bagian dari 9 wali yang berdakwah menyebarkan agama Islam di Nusantara. 

    Perjalanan hidupnya secara turun temurun dikisahkan, baik melalui lisan maupun dengan tulisan. Kisah 9 wali yang syarat akan perjuangan dan karomah ini juga menjadi inspirasi dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam.

    Kisah Hidup Sunan Kalijaga

    Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Memiliki nama asli Raden Mas Said. Meski berasal dari Jawa Timur, beliau berdakwah dan menyebarkan agama Islam di wilayah Demak, Jawa Tengah. 

    Sunan Kalijaga cukup tersohor di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan, namanya tersebar hampir ke seluruh wilayah di Nusantara. Namanya sering ada dalam cerita sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa.

    1. Menurut Buku Atlas Walisongo (2017)

    Misalnya dalam buku Atlas Walisongo (2017) karya Agus Sunyoto. Buku tersebut menceritakan biografi dan perjalanan para Wali salah satunya Sunan Kalijaga yang merupakan putra dari Bupati atau Tumenggung Tuban Arya Wilatikta. 

    Selain dikenal dengan nama Raden Mas Said, Sunan Kalijaga juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti Syaikh Melaya, Raden Abdurrahman, Lokajaya, hingga Ki Dalang Sida Brangti. 

    Kisah Sunan Kalijaga juga ada dalam ebook Sejarah Kebudayaan Islam oleh Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida. 

    Tahun kelahiran Sunan Kalijaga masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

    Baca juga: Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    2. Menurut Buku Sunan Kalijaga 

    Namun, di dalam buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karya Yoyok Rahayu. Menyebutkan bahwa Raden Said lahir sekitar tahun 1450 M. 

    Meski menjadi wali saat dewasa, cerita hidup Raden Said kecil justru tidak lazim. Diantara para wali lainnya menghabiskan masa kecil di pesantren, Raden Said kecil justru berjudi, meminum arak, dan mencuri. 

    Akibat Perilakunya tersebut, keluarga Raden Said yang merupakan keluarga terpandang, harus menanggung malu. Alhasil keluarga mengusirnya dari rumah. Kenakalan Raden Said justru semakin menjadi, hingga merampok dan membunuh.

    3. Menurut Serat Walisana Asmarandana Pupuh XIX

    Kisah kelam masa kecil Raden Said ini, termuat dalam Serat Walisana dalam Asmaradana Pupuh XIX. 

    Hingga pada suatu waktu, Raden Said Mencuri di rumah salah seorang lelaki tua yang ternyata beliau adalah Sunan Bonang. Alih-alih merampok, pertemuannya dengan Sunan Bonang justru membuat Raden Said bertaubat.

    Dari sinilah awal mula, Raden Said belajar tentang agama Islam dan kemudian ikut berdakwah dan menyebarkannya. 

    4. Menurut Buku Mengenal 9 Wali (2018)

    Sebenarnya masa kelam Raden Said sebagai seorang pencuri bukan tanpa sebab. Dalam buku Mengenal 9 Wali (2018) karya Susilarini menyebutkan tindakan Raden Said itu bentuk penolakan terhadap ketimpangan di Tuban.

    Para petani kecil dan rakyat jelata tercekik karena kemarau panjang yang melanda. Sementara pemerintah kadipaten justru menarik pajak yang besar kepada mereka. 

    Raden Said kemudian mencuri harta pungutan pajak tersebut, untuk dibagikan kepada para petani dan rakyat jelata. Perbuatan ini, ia sadari sebagai perbuatan yang salah setelah bertemu dengan Sunan Bonang.

    Raden Said yang memiliki nama lain Sunan Kalijaga, menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga sendiri menggunakan media seni dan kebudayaan. 

    Oleh karena itu, penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga cukup berhasil dengan menggunakan cara yang halus. Tidak langsung berdakwah mengajak untuk masuk Islam, tapi melalui media kebudayaan.

    Masyarakat saat itu, masih sangat kental dengan seni dan kebudayaan daerah masing-masing. Terlebih pulau Jawa yang memiliki banyak seni dan budaya. Dari sisi inilah Sunan Kalijaga masuk dan berdakwa untuk mengenalkan Islam.

    Baca juga: Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Asal Julukan Sunan Kalijaga?

    Nama Sunan Kalijaga berasal dari sebuah dusun yang terletak di daerah Cirebon yakni Dusun Kalijaga. Pasalnya Sunan Kalijaga yang juga merupakan sahabat Sunan Gunung Jati pernah tinggal dan menetap di sana.

    Namun, statement ini muncul di kalangan masyarakat yang sering mengaitkan nama seseorang dengan nama daerah. 

    Muncul banyak versi mengenai julukan Sunan Kalijaga sendiri. Ada juga yang menyebutkan julukan Sunan Kalijaga karena ia pernah bertapa di tepi sungai selama bertahun-tahun.

    Gurunya sendiri yakni Sunan Bonang, yang memintanya untuk menjaga tongkat yang ditancapkan di pinggir kali. Oleh karena itu, ia mendapat julukan “Kali Jogo”. Hingga saat ini julukan tersebut melekat.

    Kisah Cinta Sunan Kalijaga

    Banyak kisah yang menyebutkan kalau Sunan Kalijaga pernah menikah dengan Nyi Roro Kidul. Kisah ini bermula saat Sunan Kalijaga melawan Prabu Siliwangi. 

    Prabu Siliwangi terkenal sakti saat melawan pasukan kerajaan Cirebon. Tidak satupun utusan kerajaan cirebon yang dapat menandingi kesaktian Prabu Siliwangi. Bahkan, Pangeran Arya Kemuning dan Dewi Nyimas Gandasari.

    Sunan Kalijaga yang saat itu menjadi murid Sunan Gunung Jati, meminta saran kepada gurunya itu. Kemudian, Sang Guru mendapat petunjuk untuk melawan Prabu Siliwangi, ia harus menggunakan Tombak Karera Reksa.

    Sebuah tombak sakti yang milik Dewi Nawang Wulan atau Nyi Roro Kidul. Tanpa berpikir panjang, Sunan Kalijaga berangkat untuk meminjam Tombak Karera Reksa tersebut.

    Setelah menemui sang Ratu Pantai Selatan, Sunan Kalijaga justru meminta untuk bertemu dengan Raja Panatagama sebutan bagi Raja Cirebon saat itu.

    Pasalnya, sang Dewi Nawang Wulan memiliki rasa terhadap Sunan Kalijaga. Ia pun berkata tidak akan memberikan tombak itu pada siapapun kecuali pada suaminya. 

    Lantaran sang Guru memerintahkan untuk mendapatkan tombak tersebut, Sunan Kalijaga akhirnya menikah dengan Dewi Nawang Wulan. Dengan pusaka tersebut akhirnya Sunan Kalijaga dapat mengalahkan kesaktian Prabu Siliwangi.

    Akhir cerita, Sunan Kalijaga tidak hanya mengalahkan Prabu Siliwangi. Akan tetapi, ia juga yang mengantarkan Prabu Siliwangi untuk memeluk agama Islam.

    Silsilah Sunan Kalijaga

    Mengenai silsilah Sunan Kalijaga ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa ia merupakan keturunan arab. Ada juga yang menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga keturunan cina, serta ada yang mengatakan keturunan jawa asli.

    Di dalam Babad Tuban, kakek Sunan Kalijaga bernama Aria Teja yang memiliki nama asli Abdurrahman. Kemudian Abdurrahman menikahi putri Adipati Tuban, Aria Dikara. 

    Abdurrahman menggantikan mertuanya sebagai Adipati Tuban dan berganti nama menjadi Aria Teja. Dari pernikahannya, mereka memiliki anak bernama Aria Wilatikta. 

    Di dalam buku Le Hadhramaut et les Colonies Arabies dans l’Archipel Indien” (1886), menyebutkan kalau Sunan Kalijaga merupakan keturunan arab. 

    Garis silsilah tersebut, mengatakan Sunan Kalijaga memiliki keturunan yang berasal dari paman Nabi Muhammad Abbas bin Abdul Muthalib. Hal ini diperkuat oleh H.J., Dee Graaf yang membenarkan Babad Tuban. 

    Kisah Wafatnya Sunan Kalijaga

    Dari berbagai sumber tidak ada yang pasti kapan wafatnya Sunan Kalijaga. Namun, para ahli sejarah mengatakan beliau wafat sekitar tahun 1580 M. Para ahli mengatakan ia wafat karena menderita sakit. 

    Sementara itu, makam Sunan Kalijaga juga masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa makam Sunan Kalijaga berada di Demak Jawa Tengah dan ada pendapat lain yang mengatakan makannya berada di Cirebon, Jawa Barat. 

    Namun, meski ada dua pendapat yang berbeda. Umumnya orang yang ingin berziarah, mengunjungi makam Sunan Kalijaga yang berlokasi di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah. 

    Media Dakwah Sunan Kalijaga

    Apa saja media dakwah yang pernah digunakan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam, berikut rangkumannya:

    1. Seni Suara

    Sebagai seorang yang juga menggemari seni. Sunan Kalijaga mahir menyanyikan dan menciptakan tembang. Salah satu tembang ciptaannya yang masih populer hingga saat ini adalah Lir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.

    Dalam setiap tembang yang tercipta. Beliau selalu menyelipkan dakwah dan syiar agama. Bahkan beberapa liriknya juga terdapat sholawat yang sangat merdu berpadu dengan nada jawa. 

    Dari caranya yang halus dan nyaman, banyak orang yang tertarik untuk ikut belajar agama Islam. Bahkan mereka berbondong-bondong untuk memeluk agama Islam.

    2. Seni Wayang

    Media berikutnya yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwa yakni wayang. Wayang sendiri merupakan kesenian khas jawa, yang terbuat dari kulit kerbau yang keringkan. 

    Kemudian wayang ini berbentuk menyerupai beberapa tokoh atau peran, dalam cerita pewayangan. Kisah pewayangan umumnya berasal dari cerita Hindu atau Buddha.

    Namun, Sunan Kalijaga menyelipkan nilai keIslaman dalam pertunjukan wayangnya. Pertunjukan yang ia gelar juga tanpa memungut biaya, yang tentunya menjadi hiburan gratis dan menarik banyak perhatian masyarakat.

    Dengan banyak menyelipkan sentuhan Islam dalam tokoh maupun cerita, Sunan Kalijaga berhasil membuat masyarakat jawa banyak masuk Islam. Sehingga, saat pertunjukan selesai banyak masyarakat yang mengucap dua kalimat syahadat.

    Baca juga: Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    3. Seni Ukir

    Sunan Kalijaga tidak pernah kehabisan ide untuk berdakwah dengan cara-cara yang halus. Ia menggunakan berbagai macam media kesenian, salah satunya adalah seni ukir.

    Sebagai orang jawa yang memiliki bakat seni, ia memanfaatkan bakatnya tersebut untuk menyebarkan agama Islam. Ia mengenalkan seni ukir yang melafadzkan ayat-ayat Al-Quran atau sentuhan indah tentang Islam lainnya. 

    Cara ini berhasil mengenalkan Islam lebih luas. Bahkan, dari seni ukir ini kisah atau perjuangan Sunan Kalijaga bisa terekam dengan jelas hingga saat ini. 

    4. Seni Berpakaian

    Media seni berikutnya yakni seni berpakaian. Orang Jawa jaman dulu tidak mengenal yang namanya aurat. Para wanita biasanya hanya mengenakan kemben. Hadirnya Sunan Kalijaga kemudian memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat.

    Selain mengajarkan tentang pentingnya menutup aurat bagi wanita, Sunan Kalijaga juga mengenalkan pakai batik dan pakaian takwa. Ia bahkan menciptakan motif batiknya sendiri. 

    Pakaian takwa adalah pakaian yang menutupi ketentuan aurat laki-laki. Perpaduan dengan pakaian khas jawa, gaya berpakaian Sunan Kalijaga masih sangat populer hingga saat ini. 

    Karomah Sunan Kalijaga

    Selain terkenal sebagai seorang wali yang melakukan pendekatan Islam dengan penuh toleransi, Sunan Kalijaga juga dikenal seorang wali yang memiliki banyak karomah. Berikut beberapa karomah atau hal mulia yang ia lakukan:

    1. Sholat Jumat di Tempat yang Berbeda

    Salah satu murid kesayangan Sunan Bonang ini, memiliki karomah pernah sholat jumat di tempat yang berbeda dalam satu waktu. Hal seperti ini mungkin terlihat mustahil bagi orang awam, tapi tidak bagi seorang wali seperti Sunan Kalijaga.

    Namun, banyak saksi mata yang mengatakan hal ini benar terjadi. Sunan Kalijaga pernah sholat jumat di lokasi yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, konon katanya ia pernah sholat di Jawa dan di Makkah dalam satu waktu.

    2. Tidak Mempan Dibakar

    Kisah Nabi Ibrahim A.S yang berselisih dengan Raja Namrud, sehingga Nabi Ibrahim haru menjalani hukuman dibakar hidup-hidup. Namun, api sama sekali tidak membakar kulit Nabi Allah Ibrahim A.S.

    Hal semacam itu, juga pernah terjadi pada Wali Sunan Kalijaga. Cerita ini bermula pada suatu waktu ketika Sunan Kalijaga perintahkan seorang ratu untuk menjadi imam sholat. Ia justru diam seperti patung.

    Karena tindakannya yang dianggap melecehkan agama. Sunan Kalijaga dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Akan tetapi, api tidak bisa membakar Sunan Kalijaga hingga sang ratu tau bahwa orang yang tengah dihukumnya adalah sunan Kalijaga.

    Sang ratu kemudian meminta maaf. Kisah ini merupakan kisah perjalanan Sunan Kalijaga yang menyamar menjadi santri tua bernama Kyai Marbot.

    3. Berjalan di atas Air

    Sunan Kalijaga yang dulunya bernama Raden Mas Said merupakan seorang yang senang bertapa. Ia pernah bertapa di tepi sungai. Saat bertapa, Raden Mas Said menghabiskan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

    Menurut cerita dari mulut ke mulut, banyak masyarakat yang melihat kesaktian dan karomah Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga ini. Ia mampu berjalan di atas air tanpa alat bantu apapun.

    4. Mengubah Tanah jadi Emas

    Karomah Sunan Kalijaga yang berikutnya yakni mengubah tanah jadi emas. Kisah ini terjadi saat Sunan Kalijaga melawan Ki Pandan Arang II. Saat itu, Ki Pandan Arang II diangkat menjadi Adipati. 

    Namun, kekuasaan membuatnya lupa diri dan merasa paling hebat. Bahkan, Sunan Kalijaga yang mengingatkan keangkuhannya tak dihiraukan. Hingga, Sunan Kalijaga menunjukkan karomahnya.

    Ia mengubah setiap tanah yang dicangkulnya menjadi sebongkah emas. Hal ini untuk menyadarkan Ki Pandan kalau dunia tidak ada apa-apanya. Akhirnya Ki Pandan tersadar dan langsung bertaubat. Cerita ini berasal dari mulut ke mulut.

    5. Mengubah Pasir jadi Beras

    Ketika terjadi kelaparan di sebuah dusun. Sunan Kalijaga kembali menunjukkan karomahnya. Semua kesaktian dan karomahnya ia gunakan dalam jalan kebaikan. Salah satunya adalah memberantas kelaparan di dusun tersebut.

    Ia sangat sedih melihat banyak rakyat yang kelaparan, sementara itu kepala dusun justru hidup mewah. Saat seorang warga datang untuk meminjam beras untuk makan pada sanga kepala dusun, ia menghina dan memberinya pasir.

    Sunan Kalijaga yang mengetahui hal tersebut, merasa sedih dan geram terhadap tingkah pemimpin itu. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Sunan Kalijaga kemudian mengubah sekarung pasir itu menjadi beras.

    Sekali lagi, bagi kaum muslimin hanya menjadikan cerita ini sebagai cerita leluhur saja. Karena sejatinya hanya nabi dan rasul yang bisa kita percayai mempunyai mukjizat.

    6. Bertapa dalam Waktu Lama

    Karomah Sunan Kalijaga yang lainnya dan cukup populer yakni mampu bertapa dalam waktu lama. Ia bertapa dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mencari jawaban atas pertanyaan dalam hatinya. 

    Selain itu, ia bertapa untuk meneguhkan hatinya dalam menyebarkan agama Islam. Sehingga banyak hal yang ia dapatkan dari pertapaan. Sekali bertapa ia bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun.

    Di zaman yang sudah serba modern ini, kisah tentang para wali sudah jarang sekali diminati. Banyak anak muda yang lebih menggandrungi artis-artis luar negeri daripada tokoh perjuangan seperti Sunan Kalijaga.  

    Kisah perjalanan hidup serta perjuangan Sunan Kalijaga bisa menjadi teladan. Keteguhan hati dalam menyebarkan agama Islam dan menebarkan kebaikan. Selain itu, sifat-sifat terpuji Sunan Kalijaga juga dapat menjadi contoh.

    Beberapa karomah yang belum bisa dibuktikan secara nyata, cukuplah hanya menjadi sebuah cerita. Bagi kita kaum muslimin, tetap memberikan ruang bahwa bisa jadi cerita-cerita karomah di atas hanya sebatas bahasa “syair” atau “kiasan” untuk menggambarkan kesalehan seorang Sunan Kalijaga. Wallahu a’lam bishawab.

  • Doa untuk Orang Sakit Agar Cepat Sembuh dalam Islam

    Doa untuk Orang Sakit Agar Cepat Sembuh dalam Islam

    Semua orang yang hidup di dunia pasti pernah mengalami sakit. Sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, doa untuk orang sakit memang sangat dianjurkan sebagai instrumen meminta pertolongan maupun perlindungan kepada Allah SWT.

    Terdapat banyak sumber doa untuk meminta kesembuhan dalam ajaran Islam. Di bawah ini beberapa doa beserta latin dan artinya yang bisa kita panjatkan.

    Kumpulan Doa untuk Orang Sakit Sesuai Ajaran dalam Agama Islam

    Tentu saja kita sering melihat teman, keluarga ataupun kerabat dekat yang tertimpa musibah berupa sakit. Sebagai manusia dengan dibekali hati nurani, kita tentu ingin memberikan dukungan baik berupa moral ataupun yang lainnya.

    Jika tidak, maka cara terbaik yang bisa dilakukan sebagai umat muslim adalah mendoakan agar mereka cepat sembuh. Adapun doa ketika sakit yang bisa kita panjatkan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

    Berikut ini kumpulan beberapa doa yang bisa dipanjatkan untuk orang sakit kepada Allah SWT sesuai ajaran ataupun sunnah Nabi Muhammad SAW.

    1. Doa untuk Orang Sakit Supaya Cepat Sembuh

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبْ الْبَاسَ اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Allahumma rabbannaasi adzhibil ba’sa isyfihi wa antas syafi laa syifaa’a illa syifaauka syifaa’an laa yughadiru saqaman.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah penyakit, berikanlah kesembuhan karena Engkau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Engkau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.” (Hadits riwayat Muslim Nomor 4062)

    Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa untuk orang sakit ini kepada seorang sahabatnya yang sedang tertimpa sakit. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa segala bentuk perilaku rasulullah sangat baik untuk umat.

    Oleh karena itu, doa di atas memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat besar dalam menjaga kesehatan dan iman. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan serta perlindungan dari segala bentuk penyakit.

    2. Doa untuk Orang Sakit Khusus Perempuan

    Doa untuk Orang Sakit Khusus Perempuan

    Bagi kita yang ingin menjenguk saudara atau kerabat perempuan yang sakit, maka doa ini bisa dipanjatkan untuk meminta kesembuhan kepada Allah SWT. Adapun bunyi doa untuk orang sakit khusus perempuan yang bisa dibaca seperti dibawah.

    اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَتَكَ يَا شَافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Allahumma syafi ‘abdatika ya syafi la syifa a illa syifa uka syifa an la yughadiru saqaman.

    Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini (untuk perempuan), wahai Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, sembuhkanlah ia sehingga tidak menyisakan rasa nyeri.”

    Cara membaca doa untuk orang sakit perempuan bahasa Arab ini sebenarnya hampir sama dengan membaca doa lainnya. Pastikan kita sebelum memanjatkan doa berada di kondisi yang bersih, baik fisik maupun hati.

    Kemudian, kita dapat mulai membaca doa ini dengan khusyuk serta tulus, baik secara diam-diam maupun dengan suara pelan.

    Pastikan untuk selalu menyebutkan nama orang yang kita doakan dan fokus pada niat untuk meminta kesembuhan mereka.

    Baca juga: Kandungan Surat Al-Maidah Ayat 48: Arab-latin, Arti, dan Hukum Tajwidnya

    3. Doa untuk Orang Sakit agar Cepat Sembuh dari Penyakit

    Setiap orang yang tertimpa sakit tentunya ingin segera sembuh dan beraktifitas normal seperti sebelumnya. Oleh karena itu, bagi kita yang sehat alangkah baiknya untuk membantu dengan doa untuk orang sakit agar mereka segera sembuh.

    Doa ini bahkan juga dibaca oleh Rasulullah SAW sebanyak 7 kali yang memiliki bunyi seperti berikut:

    أَسْأَلُ الله الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

     As alullaahal ‘azhiim rabbal ‘arsyil ‘azhiim an yasyfiyaka.

    Artinya: “Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu.” (Hadits riwayat dari Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 114).

    4. Doa untuk Mohon Ampun dan Kesembuhan

    Selain doa-doa yang ada di atas sebelumnya, doa sakit untuk diri sendiri sebagai cara untuk memohon kesembuhan ini juga bisa kita panjatkan agar saudara yang sedang sakit bisa kembali beraktivitas normal.

    Selain itu, penyakit yang datang bisa saja disebabkan oleh dosa yang diperbuat, maka karenanya kita dianjurkan memohon ampun kepada Allah agar dosa-dosa yang telah diperbuat dapat diangkat sehingga penyakit yang diderita bisa hilang.

    Adapun bunyi doa untuk memohon ampun serta kesembuhan yang bisa dipanjatkan, seperti berikut ini.

    شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

    Syafākallāhu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘āfāka fī dīnika wa jismika ilā muddati ajalika.

    Artinya: “Wahai (menyebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia.” (Hadits riwayat dari Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391H], halaman 115).

    5. Doa untuk Mohon Kesembuhan Secara Spesifik

    Doa untuk orang sakit dengan menyebut namanya untuk memohon kesembuhan atau diangkatnya penyakit yang diderita. Adanya doa yang dipanjatkan ini berharap besar besar agar penyakit yang diderita bisa segera disembuhkan oleh Allah SWT.

    Di bawah ini adalah bacaan doa beserta latin dan artinya yang bisa kita amalkan:

    اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا

     Allhummasyfi (sebut nama). Allhummasyfi (sebut nama). Allhummasyfi (sebut nama).

    Artinya: “Tuhanku, sembuhkan (nama orang yang sakit). Tuhanku, sembuhkan (nama orang yang sakit). Tuhanku, sembuhkan (nama orang yang sakit).”

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    6. Doa Ketika menjenguk orang yang sedang Sakit

    Ketika sedang menjenguk orang yang sakit, sebaiknya diusahakan juga untuk mendoakan orang tersebut agar tubuh mereka bisa segera sehat. Selain itu, kehadiran kita juga bisa jadi sebagai penghibur bagi orang yang sakit.

    Oleh karena itu, menjenguk orang yang sakit sangat disarankan jika memang orang tersebut sudah bisa menerima. Kita juga bisa mendoakan sekaligus mereka yang sakit agar penyakitnya diangkat oleh Allah SWT.

    Berikut ini doa yang bisa kita panjatkan ketika menjenguk orang yang sakit.

    لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ الله

    Laa ba’sa thahur insyaa Allah.

    Artinya: “(Semoga) tidak apa-apa (sakit), semoga suci dengan kehendak Allah.”

    7. Doa Ruqyah untuk Orang yang Sakit agar Cepat Sehat

    Terdapat berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan orang sakit. Salah satunya adalah cara ruqyah seperti yang diajarkan dalam agama Islam. Di mana dalam hal ini adalah dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

    Hal ini dilakukan agar orang yang sakit segera diberikan kesembuhan oleh yang maha kuasa. Doa inilah yang juga dibaca oleh Rasulullah saw ketika sedang meruqyah. Berikut ini doa yang bisa dibacakan melalui metode ruqyah.

    امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِك الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا أَنْتَ

    Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta.

    Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Engkau.” (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 113).

    8. Doa untuk Orang Sakit dalam Surat yang Ada di Al-Quran

    Surah Al-Anbiya Ayat 83

    Di dalam Al-Quran sendiri juga ada doa yang bisa kita panjatkan untuk orang yang sedang sakit. Doa tersebut terdapat dalam surat Al-Anbiya ayat 83 dengan bunyi:

    رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

    Robbi annii massaniyadh dhurru wa anta arhamar roohimiin.

    Artinya: “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

    Cara Mendoakan Orang Sakit Menurut Ajaran Islam

    Menjenguk orang sakit merupakan suatu tindakan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Tidak hanya sekedar menjenguk saja, namun juga mendoakan agar penyakit di dalam tubuh segera diangkat oleh Allah SWT.

    Namun, sebaiknya kita juga tidak lupa untuk memperhatikan bagaimana tata cara yang baik dalam mendoakan orang sakit. Berikut adalah cara-caranya sebagaimana yang dianjurkan.

    1. Niat Karena Allah SWT

    Cara yang pertama saat mendoakan orang sakit adalah niat tulus karena Allah SWT semata. Hal ini karena mendoakan orang sakit adalah perbuatan yang baik, sehingga sudah sepantasnya meniatkan diri untuk Allah SWT dan mengharapkan ridho-Nya.

    Tidak ada salahnya juga untuk membawa buah tangan, seperti buah-buahan ataupun kue sehingga bisa diberikan kepada orang yang sakit atau yang menjaganya.

    2. Duduk dekat Kepala yang Sakit

    Sebelum mendoakan orang yang sakit, hendaknya memperhatikan posisi duduk terlebih dahulu. Cara ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika menjenguk dan mendoakan sahabatnya yang sakit.

    Beliau selalu duduk atau memposisikan diri di samping kepala yang sakit sembari mengenalkan nama ketika ingin masuk. Adanya cara ini tentu membuat orang yang sakit merasa senang ketika dijenguk oleh Rasulullah SAW.

    “Apabila Nabi Muhammad menjenguk orang yang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.” (HR. Bukhari)

    3. Menyentuh Bagian yang Sakit

    Cara yang selanjutnya adalah menyentuh bagian yang sakit. Cara ini juga diajarkan oleh Nabi Muhammad saw semasa hidupnya. Beliau memegang kening atau bagian tubuh lainnya yang sedang sakit.

    Perlakuan ini adalah bentuk kasih sayang dan perhatian dari orang yang menjenguk kepada orang sakit. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

    “Merupakan kesempurnaan menjenguk orang yang sakit adalah seorang kalian meletakkan tangannya pada wajahnya atau tangannya, kemudian bertanya bagaimana keadaannya. Dan, kesempurnaan penghormatan di antara kalian adalah berjabat tangan.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

    4. Menghiburnya

    Cara yang terakhir adalah menghibur orang yang tertimpa musibah seperti sakit. Seperti kita ketahui bahwa orang yang sakit biasanya diliputi kesedihan hingga kekhawatiran.

    Oleh karena itu, orang yang datang menjenguk alangkah lebih baik jika bisa menghibur untuk mengurangi beban penderitaan orang tersebut.

    Beberapa doa untuk orang sakit ini tentunya bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang diketahui bahwa sakit menjadi hal yang sangat lumrah dialami oleh setiap manusia.

  • Niat Sholat Dhuha 2 dan 4 Rakaat, Tata Cara, dan Keutamaannya

    Niat Sholat Dhuha 2 dan 4 Rakaat, Tata Cara, dan Keutamaannya

    Banyak sekali cara bersedekah yang disunnahkan Rasulullah SAW. Salah satunya adalah sholat Dhuha, untuk mendapatkan amalan tersebut, penting untuk mengetahui niat sholat Dhuha yang benar.

    Bagi muslim, sholat Dhuha tidak hanya amalan yang mewakili bersedakah saja. Melainkan juga menjadi sarana untuk lebih dekat dengan Allah SWT.

    Mari simak lebih lanjut mengenai niat sholat Dhuha yang tepat serta tata cara dan keutamaannya.

    Ap itu Sholat Dhuha?

    Sebelum mengetahui niat sholat Dhuha 2, 4, dan 12 rakaat, kita perlu mengetahui apa itu sholat Dhuha dan waktu tepat dalam melaksanakannya.

    Sholat Dhuha adalah sholat yang dilakukan pada waktu pagi setelah matahari terbit sepenuhnya, yakni saat jam 6 pagi ataupun saat jaraknya 4 hasta dari matahari terbit.

    Sholat Dhuha disebut sebagai amalan sunnah ‘muakkadah’ atau sunnah yang sangat dianjurkan.

    Ajaran Islam  sendiri mengajarkan sholat sunnah Dhuha menjadi sarana yang membantu dalam penghapusan dosa serta dijanjikannya seorang muslim tidak akan pernah merasakan kekurangan selama hidupnya.

    Oleh sebab itu, umat muslim akan disebut merugi jika tidak pernah melaksanakan sholat sunnah Dhuha selama hidupnya.

    Baca juga: Doa Setelah Sholat Hajat dan Tata Cara Sholat Hajat yang Benar dan Artinya

    Hal ini diperkuat dengan hadis riwayat Abu Hurairah RA,salah seorang sahabat Nabi mengungkapkan sabda Rasulullah SAW kepadanya, yang berbunyi:

     “Rasulullah SAW menasehati saya agar selalu melakukan tiga amalan. Yaitu, berpuasa selama tiga hari dalam sebulan, melaksanakan dua rakaat solat Dhuha, serta menjalankan solat witir sebelum saya tidur”. (Hadist Riwayat Muslim)

    Selain itu terdapat hadis yang menjelaskan bahwa Rasuullah Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sholat tersebut, hadis tersebut berbunyi:

    أوْصاني خَلِيلي – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاثٍ: صِيَامِ ثَلاَثَةِ أيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَي الضُّحَى،

    وَأنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أنَامَ

    Artinya: “Kekasihku Rasulullah SAW berwasiat kepadaku untuk melaksanakan tiga hal, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, shalat witir sebelum tidur. (HR. Bukhari).

    Niat Sholat Dhuha

    Niat Sholat Dhuha

    Sholat sunnah Dhuha dilakukan dengan minimal 2 rakaat hingga maksimal 12 rakaat.

    Berikut bacaan niat sholat Dhuha 2, 4 dan 12 rakaat:

    1. Niat Sholat Dhuha 2 rakaat

    اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Ushalli sunnatadh dhuhaa rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku berniat Sholat sunah Dhuha dua rakaat menghadap kiblat, karena Allah ta’ala,”

    2. Niat Sholat Dhuha 4 rakaat

    أُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli sunnatadh dhuhaa arba’aa roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku berniat Sholat sunah Dhuha empat rakaat menghadap kiblat saat ini karena Allah ta’ala.”

    3. Niat Sholat Dhuha 12 rakaat

    اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Ushalli sunnatadh dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Aku niat sholat sunah Dhuha dua rakaat, karena Allah ta’ala,”

    Karena maksimal sholat Dhuha adalah 12 raka’at, bacaan niat sholat Dhuha sama dengan niat sholat dhuha 2 raka’at.

    Syarat Sah Sholat Dhuha

    Seperti sholat wajib dan sunnah yang lain, sholat Dhuha juga memiliki syarat sah yang perlu diperhatikan:

    1. Suci dari Hadas dan Najis

    Syarat pertama sholat Dhuha adalah suci dari hadas dan najis.

    Ada dua hadas yang diketahui yakni hadas besar dan hadas kecil.

    Salah satu penyebab hadas besar yakni: keadaan junub, haid, maupun nifas. Dalam keadaan hadas besar, maka seorang muslim diharuskan untuk mandi wajib untuk mensucikan diri.

    Sementara hadas kecil merupakan keadaan ketika seseorang batal wudhu, dan cukup dengan melakukan wudhu saja agar kembali suci.

    Najis juga akan membuat seseorang tidak sah dalam sholatnya, keadaan ini yakni ketika tubuh, pakaian atau tempat sholat terkena najis.

    Sehingga wajib bagi kita untuk membersihkan dan menyucikannya dulu baru kemudian melakukan wudhu.

    2. Mengetahui Waktu Sholat Dhuha

    Syarat sah berikutnya yakni mengetahui batas waktu sholat Dhuha.

    Waktu sholat Dhuha adalah dimulai sekitar jam 6 pagi atau waktu ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya, hingga sebelum masuk waktu zuhur.

    3. Menutup Aurat

    Syarat sah selanjutnya adalah menutup aurat. Dalam hal ini baik bagi kaum laki-laki ataupun perempuan wajib untuk menutup aurat, meskipun sholat tersebut dilakukan di dalam ruangan yang gelap atau sendirian.  

    4. Menghadap ke Arah Kiblat

    Syarat sah yang terakhir yakni mengetahui arah kiblat yang benar. Dengan demikian sholat yang dilakukan dianggap sah.

    Baca juga: Doa Memakai dan Melepas Pakaian Sesuai Sunnah, Latin dan Artinya

    Tata Cara Sholat Dhuha yang Tepat

    Tujuan utama menjalankan sholat Dhuha selain mengerjakan amalan bersedah adalah mendekatkan diri pada Allah SWT. Semakin dekat dengan Allah, harapannya semakin banyak keutamaan yang bisa kita dapatkan selama melamalkannya

    Oleh karena itu, selain niat  sholat Dhuha yang tepat, kita juga hendaknya mengetahui tata cara sholat Dhuha sesuai ajaran Rasulullah SAW. Berikut tata cara dalam melaksanakan sholat Dhuha:

    1. Takbirathul Ikhram dan Membaca Niat Sholat Dhuha

    Niat sholat Dhuha yang dibacakan menyesuaikan jumlah raka’at yang akan kita lakukan.

    Setelah itu dilanjutkan dengan membaca takbiratul ikhram dengan engangkat kedua tangan dengan ujung jari sejajar bahu atau telinga, sembari mengucapkan takbir “Allahu Akbar”.

    2. Membaca Doa Iftitah

    Jika sudah mengucapkan takbir, lanjutkan dengan doa iftitah yang merupakan pembuka dari sholat, sunnah hukumnya.

    Selama sholat sudah dimulai, diharamkan untuk melakukan gerakan serta bacaan lain selain gerakan yang diajarkan Rasulullah SAW.

    3. Membaca Al-Fatihah

    Setelah membaca doa iftitah, penting bagi umat muslim untuk melafalkan Al-Fatihah, wajib hukumnya.

    Jika tidak membaca Al-Fatihah maka sholat dianggap tidak sah. Oleh sebab itu, penting bagi uat muslim untuk mempelajari Al-Fatihah serta melamalkannya.

    4. Membaca Surat dalam Al-Qur’an

    Langkah selanjutnya setelah membaca Al-Fatihah adalah membaca surat pendek Al-Qur’an yang dikuasai. Surat yang dibaca bisa berupa surat pendek ataupun panjang maupun bagian dari surat Al-Qur’an.

    5. Melakukan Ruku’

    Setelah menyelesaikan bacaan surat Al-Qur’an, selanjutnya melakukan gerakan ruku’ dengan membungkukkan badan sampai membentuk 90 derajat dengan memposisikan kedua telapak tangan di atas lutut.

    Pada saat rukuk, wajib membaca tasbih dan melanjutkan dengan membaca “Subhana rabbiyal a’dhimi wa bihamdih” sebanyak tiga kali. Kemudian bangun dari rukuk atau disebut I’tidal.

    6. Lanjutkan dengan I’tidal

    Itidal merupakan gerakan bangkit dari ruku’. Setelah itu, umat muslim membaca Rabbana lakal hamdu mil us-samawati wa mil ul ardhi wa mil u-ma syikta min syai’in ba’du. Setelah membacanya, maka gerakan sholat Dhuha dilanjutkan dengan sujud.

    7. Melakukan Sujud

    Sujud adalah gerakan turun dari I’tidal dengan menempelkan dahi pada sajadah disertai dengan 6 anggota tubuh lainnya. Anggota tubuh lan yang wajib menempel lantai yakni, kedua telapak tangan, dua jari kaki dan kedua lutut.

    Dalam posisi sujud, umat muslim membaca: ‘Subhanarabbiyal a’la wabihamdih.’ Sebanyak tiga kali.

    8. Duduk di antara Dua Sujud

    Setelah selesai sujud, gerakan selanjutnya adalah bangun dari sujud dan duduk di antara dua sujud.

    Dalam posisi duduk ini, umat muslim membaca: ‘Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii’.

    9. Lanjutkan dengan Sujud Kedua

    Sujud kedua dilakukan dengan posisi dan bacaan yang sama seperti sujud pertama dilakukan.

    Selanjutnya bisa dilanjutkan dengan berdiri kembali, kedua tangan menekuk di atas dada dengan tangan kanan di atas tangan kiri.

    10. Rakaat Kedua Sholat Dhuha

    Untuk rakaat kedua, proses dan gerakanya sama dengan rakaat pertama sampai ke sujud kedua dan diakhiri dengan duduk tasyahud akhir.

    11. Lanjutkan dengan Tasyahud Akhir

    Seperti sholat sunnah lainnya yang terdiri 2 rakaat, setelah sujud kedua rakaat terakhir dilanjutkan dengan membaca tasyahud akhir:

    allaahumma shalli’alaa muhammad, wa’alaa aali muhammad. kamaa shallaita alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim. wabaarik’alaa muhammad wa alaa aali muhammad. kamaa baarakta alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim, fil’aalamiina innaka hamiidum majiid”.

    12. Akhiri dengan Mengucap Salam

    Setelah membaca doa tasyahud secaralengkap, langkah terakhir adalah dengan mengucapkan salam “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh” sambil posisi kepala menoleh ke kanan dan mengucap salam lagi sambil menoleh ke kiri.

    Sebagai catatan, sholat Dhuha yang dilakukan sendiri, wajib melafalkan bacaan dengan dibesarkan hingga terdengar ke telinga.

    Keutamaan Sholat Sunnah Dhuha

    Bagi umat muslim yang istiqomah menjalankan sholat sunnah Dhuha sepanjang hidupnya maka Allah SWT janjikan ampunan-Nya bahkan jika dosa yang dimiliki sebanyak biuh di lautan. Tidak hanya itu, ada beberapa keutamaan dalam mengerjakan sholat sunnah Dhuha:

    1. Sebagai Amalah yang Mewakili Bersedekah

    Selain dihtung sebagai pahala, melaksanakan sholat sunnah Dhuha juga dianggap sebagai pahala dalam bersedekah.

    Hal tersebut dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

    يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة، ويجزئ عن ذلك ركعتان يركعهما من الضحي

    Artinya: Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan salat Duha dua rakaat. (HR Muslim). 

    2. Memperlancar Rezeki

    Sholat sunnah Dhuha sering dipersepsikan sebagai sholat yang akan memperlancar rezeki. Hal ini bukan tanpa alasan, Allah SWT berfirman berbunyi: “ Akan dicukupkan rezeki bagi keturunan Adam yang mengerjakan 4 rakaat dhuha dengan istiqomah”.  

    Selain itu dari Abu Darda, ia berkata bahwa Rasulullah SAW menjelaskan hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:

    يا ابنَ آدمَ اركعْ لي من أولِ النهارِ أربعَ ركَعاتٍ أكْفِكَ آخِرَه

    Artinya: “Wahai anak Adam, rukuklah (sholatlah) karena Aku pada awal siang (sholat Dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (HR Tirmidzi)

    3. Mendapatkan Rumah di Surga

    Selain mendapatkan rezeki yang tidak terputus, umat muslim yang mengerjakan sholat sunnah Dhuha secara rutin akan dibuatkan rumah yang indah dan megah di surga  terbaik milik Allah SWT.

    Hadits keutamaan sholat Dhuha lainnya berasal dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasullah SAW bersabda,

    مَن صلَّى الضّحى ثِنْتَيْ عشرة ركعة بَنى الله له قَصرا من ذَهب في الجنَّة

    Artinya: “Barang siapa sholat dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangun baginya istana dari emas di surga.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    4. Dimasukan dalam Golongan Hamba yang Taat

    Umat muslim yang istiqomah mengerjakan sholat sunnah Dhuha maka Allah SWT akan memasukannya ke dalam golongan hamba yang taat.

    Sholat Dhuha sendiri merupakan sholatnya hamba yang kembali ke jalan Allah atau hamba yang sudah bertaubat.

    5. Mendapatkan pahala seperti orang Haji atau Umroh

    Keutamaan selanjutnya adalah mendapatkan pahala seperti orang yang pergi umroh atau haji.  Pahala ini akan didapatkan jika umat muslim mengerjakan sholat subuh yang disertai dzikir dan dilanjutkan dengan sholat Dhuha ketika terbit fajar.

    6. Menghindarkan Diri Dari Kelalaian

    Keutamaan sholat Dhuha yang keenam adalah siapapun yang mengerjakannya tidak akan dianggap sebagai orang lalai dan menghindari sifat kelalaian. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan An-Nisa’I berikut ini

    من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين

    Artinya, “Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i).

    7. Mendapatkan Ghanimah

    Keutamaan selanjutnya adalah ghanimah yang berarti kekayaan atau keuntungan, yang jika umat muslim menjalankan sholat sunnah Dhuha maka ghanimah tersebut akan lebih cepat didapatkan atas izin Allah SWT.

    Namun yang perlu diingat bahwa keutamaan satu ini harus dibarengi dengan ikhtar yang maksimal juga.

    8. Sebagai Pengampun Dosa

    Keutamaan sholat sunnah Dhuha yang terakhir adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT. Penjelasan tersebut terdapat dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

    Disebutkan dalam hadis tersebut bahwa akan diampuni dosa seorang muslim meskipun dosanya sebanyak buih di lautan. Hadis itu berbunyi:

    من حافظ على شفعة الضحى غفرت له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر

    Artinya: “Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Nah, itu dia penjelasan mengenai niat sholat Dhuha 2, 4, dan 12 rakaat yang tepat serta keutamaannya.

    Semoga informasi dan penjelasan di artikel ini bisa menjadi perantara bagi kita semua untuk istiqomah dalam mengerjakan sholat sunnah Dhuha ya! Terimakasih sudah berkunjung, Asslamualaikum wr. Wb.

  • Doa Malam Lailatul Qadar dan Amalan di malam Lailatul Qadar, Yuk Amalkan!

    Doa Malam Lailatul Qadar dan Amalan di malam Lailatul Qadar, Yuk Amalkan!

    Doa malam lailatul qadar adalah doa yang bisa kamu amalkan saat bulan Ramadhan. Lebih tepatnya ketika malam lailatul qadar tiba. Pada malam tersebut, kamu bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar.

    Diketahui bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Hal tersebut dibuktikan dalam surat Al-Qadr ayat 1-5, Allah SWT berfirman:

    ١ الْقَدْرِ لَيْلَةِ فِيْ اَنْزَلْنٰهُ اِنَّآ

    ٢ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ مَا اَدْرٰىكَ وَمَآ

    ٣ شَهْرٍۗ اَلْفِ مِّنْ خَيْرٌ ەۙ الْقَدْرِ لَيْلَةُ

    ٤ اَمْرٍۛ كُلِّ مِنْ رَبِّهِمْۚ بِاِذْنِ تَنَزَّلُ فِيْهَا وَالرُّوْحُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ

    ٥ الْفَجْرِ مَطْلَعِ حَتّٰى ۛهِيَ سَلٰمٌ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam lailatul qadar, tahukah engkau apakah malam lailatul qadar itu ? Malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5).

    Dan malam lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, lebih tepatnya pada malam ganjil. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

    تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

    Artinya: “Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Doa Malam Lailatul Qadar

    Berikut doa malam lailatul qadar beserta artinya:

    1. Doa malam lailatul Qadar menurut riwayat Imam At-Tirmidzi

    عَنِّي فَاعْفُ اَلْعَفْوَ تُحِبُّ كَرِيمٌ عَفُوٌّ إِنَّكَ اَللَّهُمَّ

    Bacaan latin: Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (‘annā jika dibaca berjamaah).

    Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).”

    Adapun berikut bunyi hadis riwayat Imam At-Tirmidzi:

    وَعَنْ عائشة رضي الله عنها: قالت: «قلت: يا رسولَ الله إِنْ وَافَقْتُ ليلةَ القَدْرِ ، ما أَدْعُو قال: قُولي: اللهم إنك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي» أخرجه الترمذي

    Artinya: “Dari sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai lailatul qadar, bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī,”” (HR At-Tirmidzi).

    Baca juga: Doa Menghilangkan Pikiran Kotor dalam Islam, Pikiran Kembali Bersih

    2. Doa malam lailatul Qadar menurut riwayat lima Imam hadis kecuali Abu Dawud

    Doa malam lailatul qadar

    عَنِّي فَاعْفُ اَلْعَفْوَ تُحِبُّ عَفُوٌّ إِنَّكَ اَللَّهُمَّ

    Bacaan latin: Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (‘annā jika dibaca berjamaah).

    Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).”

    Adapun berikut bunyi riwayat hadis lima Imam hadis kecuali Abu Dawud:

    وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اَللَّهِ: أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اَلْقَدْرِ, مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ: “قُولِي: اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي” رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ غَيْرَ أَبِي دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ

    Artinya: “Dari sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengerti sebuah malam itu adalah lailatul qadar. Bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī’” (HR lima imam hadis kecuali Imam Abu Dawud. Hadis ini diakui shahih oleh Imam A-Tirmidzi dan Al-Hakim).

    5 Amalan di Malam Lailatul Qadar

    1. Memperpanjang sholat malam

    Amalan yang bisa kamu lakukan di malam lailatul qadar adalah melaksanakan sholat malam atau qiyamul lail. Hal ini sesuai dengan hadis yang artinya:

    Artinya: “Barang siapa yang bangun menegakkan salat malam di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mencari ridha Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Selain itu, Nabi Muhammad SAW terbiasa memperpanjang sholat malam pada saat memasuki sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis di bawah ini:

    Artinya: “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki sepuluh Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Menghadiri sholat berjamaah

    Amalan selanjutnya adalah sholat berjamaah, yakni sholat isya dan subuh secara berjamaah. Hal tersebut bersumber dari Abu Maryam Kautsar Amru dalam buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadan.

    Ulama besar Imam Syafi’i dalam Latha-if Al-Ma’arif pernah berkata, orang yang menghadiri sholat Isya dan Subuh berjamaah sudah termasuk dalam bagian orang-orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar. Ia berkata:

    Artinya: “Siapa yang menghadiri salat Isya dan sholat Subuh pada malam Lailatul Qadar maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.”

    Pernyataan Imam Syafi’i di atas disandarkan dari sabda Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Utsman bin Affan RA. Rasulullah SAW bersabda,

    Artinya: “Siapa yang menghadiri salat Isya berjamaah, maka baginya pahala salat separuh malam. Siapa yang melaksanakan salat Isya dan Subuh berjamaah, maka baginya pahala salat semalam penuh.” (HR Muslim dan Tirmidzi).

    Baca juga: Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    3. Membaca doa lailatul qadar

    Saat malam lailatul qadar tidak afdhol jika tak membaca doa lailatul qadar. Bacaan doa lailatul qadar tujuannya supaya diberi permohonan agar mendapat keselamatan dunia dan akhirat.

    Doa yang dimaksud adalah doa Lailatul Qadar yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah dalam Kitab Riyadhus Shalihin oleh Imam an-Nawawi. Berikut bacaan doa lailatul qadar

    عَنِّي فَاعْفُ الْعَفْوَ تُحِبُّ عَفُوٌّ إِنَّكَ اللَّهُمَّ

    Bacaan latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwan fa’fu ‘anni.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau suka memberi maaf, maka maafkan aku.”

    Bacaan doa Lailatul Qadar tersebut merupakan potongan dalam hadits yang dikisahkan dari istri Rasulullah SAW, Aisyah RA. Ia pernah berkata:

    Artinya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau (Rasulullah SAW) menjawab, “Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya, Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).’” (HR Tirmidzi).

    4. Itikaf di Masjid

    Itikaf merupakan ibadah dengan berdiam diri di masjid. Berdia diri yang dimaksud adalah tidak keluar masjid dikarenakan sibuk melaksanakan berbagai kegiatan ibadah, seperti sholat wajib dan Sunnah.

    Itikaf juga menjadi salah satu amalan malam lailatul qadar yang bisa kamu lakukan.


    Pengamalan itikaf pada malam Lailatul Qadar didasarkan dari hadits yang diceritakan Aisyah RA. Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW melakukan itikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadan. Di bawah ini adalah hadisnya:


    Artinya: “Nabi SAW melakukan itikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan itikaf setelah beliau wafat.” (HR Muslim).

    Itulah ringkasan mengenai doa malam Lailatul Qadar beserta amalan sunnah yang bisa dilakukan pada malam ganjil bulan Ramadhan.

    Mari berlomba meraih kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini.

  • Doa Ketika Mendengar Suara Burung di Malam Hari

    Doa Ketika Mendengar Suara Burung di Malam Hari

    Apakah kamu tahu doa ketika mendengar suara burung di malam hari? Seperti yang kita tahu bahwa suara burung terutama di malam hari berkaitan dengan hal-hal mistis.

    Dilansir dari berbagai sumber, suara hewan yang terdengar pada tengah malam, tepat jam 12 ke atas merupakan sinyal terbukanya pintu langit. Terlebih, suara burung yang berkicau di malam hari juga menandakan akan datangnya peristiwa gaib.

    Untuk itu, kita sebagai umat muslim disarankan untuk melaksanakan ibadah ketika mendengarnya, seperti sholat tahajud, mengaji atau doa-doa khusus yang akan dijelaskan di bawah ini.

    3 Doa Ketika Mendengar Suara Burung di Malam Hari

    1. Membaca surat ayat kursi

    Doa pertama yang bisa kamu amalkan adalah membaca ayat kursi. Dengan doa ini, kamu bisa meminta perlindungan dan memohon agar diberikan ketenangan oleh Allah SWT.

    Tak hanya itu, doa ini juga bisa membantu kita untuk mendapatkan kekuatan dan ketenangan jiwa saat mendengar suara burung di malam hari. Berikut bacaan surat ayat kursi dan artinya:

    ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ

    وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ

    وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ

    ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

    Bacaan latin: Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.

    Artinya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

    2. Membaca surat Al-Baqarah

    Saat kita mendengar suara burung di malam hari, ada banyak macam doa yang bisa kita amalkan untuk mendapatkan perlindungan, bimbingan dan berkat dari Allah SWT. Salah satunya adalah surat Al-Baqarah.

    Dengan membaca surat Al-Baqarah, dapat membantu kita untuk menenangkan pikiran dan supaya menjadi lebih fokus.

    3. Membaca surat An-Nas dan Al-Falaq

    Doa yang terakhir adalah surat An-Nas dan Al-Falaq. Surat-surat tersebut dapat membantu kita untuk mendapatkan bimbingan dan perlindungan oleh Allah SWT dari kejahatan yang mengintai.

    A. Bacaan surat An-Nas dan artinya

    ١ قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

    ٢ مَلِكِ النَّاسِۙ

    ٣ اِلٰهِ النَّاسِۙ

    ٤ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

    ٥ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

    ٦ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

    Bacaan latin:

    1. Qul a’ụżu birabbin-nās.
    2. Malikin-nās.
    3. Ilāhin-nās.
    4. Min syarril-waswāsil-khannās.
    5. Allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās.
    6. Minal-jinnati wan-nās.

    Artinya:

    1. Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,
    2. Raja manusia,
    3. Sembahan manusia,
    4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
    5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
    6. Dari (golongan) jin dan manusia.

    B. Bacaan surat Al-Falaq dan artinya

    ١ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ

    ٢ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

    ٣ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

    ٤ وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ

    ٥ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

    Bacaan latin:

    1. qul a’ụżu birabbil-falaq
    2. min syarri mā khalaq
    3. wa min syarri gāsiqin iżā waqab
    4. wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad
    5. wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad

    Artinya:

    1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
    2. Dari kejahatan makhluk-Nya,
    3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
    4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
    5. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

    2 Cara Mengamalkan Doa Ketika Mendengar Suara Burung di Malam Hari

    1. Sholat tahajud

    Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa ketika mendengar suara burung di malam hari, alangkah lebih baiknya kita melaksanakan ibadah sholat Sunnah tahajud untuk meminta perlindungan oleh Allah SWT.

    Tak hanya itu, sholat tahajud juga bisa memberikan kita ketenangan jiwa dan membuat pikiran kita menjadi lebih fokus serta menghindari pikiran-pikiran negatif.

    Terkadang, ketika kita mendengar suara burung di malam hari, hati kita menjadi gelisah dan tidak tenang.

    Beberapa yang menjadi penyebabnya adalah kita terlalu percaya dengan berbagai mitos yang beredar, seperti pertanda kematian, akan terjadinya musibah besar dan jelmaan dari penyihir ketika mendengar suara burung di malam hari.

    Untuk itu, sholat tahajud-lah jika ingin menenangkan pikiran sekaligus berdoa meminta perlindungan pada Allah SWT.

    2. Berdoa dengan khusyuk

    Cara selanjutnya yaitu berdoa dengan khusyuk. Sebenarnya tak hanya doa ketika mendengar suara burung di malam hari saja, melainkan setiap doa yang kita amalkan, perlu dilakukan dengan tulus atau khusyuk.

    Terlebih, doa ini memiliki makna untuk menangkan hati. Berdoa dengan khusyuk juga dapat membawa pikiran kita ke hal yang lebih positif.

    Sampai pada akhir artikel ini, sudah tahu kan doa ketika mendengar burung di malam hari. Semoga membantu.

  • Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Kisah Nabi Luth AS dan Kaumnya Sodom yang LGBT

    Nabi Luth merupakan nabi ke-7 dari total 25 nabi dan rasul yang wajib diimani oleh umat Islam. Kisah Nabi Luth yang paling terkenal adalah tentang kaumnya, yaitu Sodom, yang mendapatkan azab dari Allah SWT karena perbuatan menyimpangnya.

    Kisah tersebut juga tercantum dalam Al-Qur’an sehingga bisa menjadi petunjuk bagi umat Islam atas kesalahan kaum terdahulunya. Dengan begitu, umat muslim tidak melakukan kesalahan yang sama sehingga terhindar dari murka Allah SWT.

    Lebih dari pada itu, kisah perjalanan Nabi Luth masih cukup panjang untuk menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun yang mengimaninya. Untuk itu, mari simak perjalanan Nabi Luth dalam menyampaikan ajaran Allah di kalangan kaum Sodom!

    Kisah Nabi Luth Diutus ke Kota Sodom

    Tidak banyak kisah yang membahas silsilah Nabi Luth a.s. secara terperinci, namun diketahui bahwa Ia merupakan keponakan dari Nabi Ibrahim a.s. Ayahnya bernama Haran bin Thareh merupakan saudara kandung dari Ibrahim.

    Haran bin Thareh sendiri memiliki saudara kembar bernama Nahar. Jika disimpulkan, garis keturunan Nabi Luth adalah Luth bin Haran, bin Azara bin Nahar, bin Suruj bin Ra’u, bin Falij bin ‘Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

    Sementara itu, Nabi Luth memiliki istri bernama Wali’ah dan telah dikaruniai dua orang anak perempuan bernama Raitsa dan Zaghrata. 

    Kisah Nabi Luth sebelum diutus oleh Allah SWT sebagai nabi, sempat ikut bersama pamannya Ibrahim dari Mesir untuk menuju kembali ke Kota Syam. Luth a.s. adalah satu dari sebagian kecil kaum Nabi Ibrahim yang beriman dan bersedia mengikutinya.

    Saat itu, Nabi Ibrahim bersama pengikutnya kembali ke Kota Syam untuk melanjutkan bisnisnya. Sampai akhirnya, Allah SWT mengangkat Luth sebagai nabi dan memerintahkannya untuk tinggal dan menetap di Kota Shadum (Sodom).

    Hal ini juga tercantum dalam Al Qur’an QS. Al-A’raf ayat 80-81:

    وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِۦٓ أَتَأْتُونَ ٱلْفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn

    Artinya:

    Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”

    إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

    Innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

    Kaum Sodom dikenal sebagai bangsa yang gemar berbuat maksiat, suka meminum khamr, dan menyukai perbuatan zina. Akhlak mereka tergolong parah sehingga sangat sulit untuk dibenahi dan dituntun ke jalan yang lurus.

    Tidak ada adab di tempat ini, bahkan kasus pencurian juga merupakan hal yang biasa terjadi. Salah satu perbuatan zina yang menjadi ciri khas kaum Sodom adalah berhubungan seks dengan sesama jenis atau perilaku homoseksual.

    Perbuatan ini tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua orang saja, tetapi hampir seluruh penduduk kota baik pria ataupun wanita. Kota Sodom sendiri berada di pusat perdagangan sehingga banyak pedagang yang dirampok ketika melewatinya.

    Jika para musafir yang hendak berdagang berwajah tampan, maka mereka akan diculik dan dipaksa bersetubuh oleh para laki-laki. Jika dirasa kurang tampan, maka mereka akan dibunuh dan dicuri harta bendanya.

    Sebaliknya, jika musafir tersebut adalah perempuan, maka mereka akan menjadi mangsa dari para wanita kaum sodom. Seperti inilah gambaran perilaku tak bermoral dari para kaum sodom, baik laki-laki maupun perempuan di zaman itu.

    Hal ini menggambarkan betapa buruknya akhlak dari para penduduk kaum Sodom. Bahkan, keburukan akhlak tersebut terjadi di hampir seluruh penduduknya sehingga Allah mengancam akan mengazabnya.

    Baca juga: 13 Manfaat Sholat Hajat agar Dikabulkan Keinginan dan Harapan

    Kisah Nabi Luth dan Azab bagi Kaum Sodom

    Perjalanan dakwah Nabi Luth a.s. di tengah-tengah kaum Sodom bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak pertentangan yang justru Ia dapatkan dari bangsa Sodom. Bahkan, para kaum Sodom akan mengusirnya jika terus berdakwah pada mereka.

    Hal ini seperti disebutkan dalam Al Qur’an, Surat Al-A’raf ayat 82:

    وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓا۟ أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

    Wa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijụhum ming qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharụn

    Artinya:

    Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”.

    Ayat di atas menggambarkan respon dari kaum Sodom atas dakwah yang disampaikan Nabi Luth. Padahal, kewajiban mereka adalah membenarkan status kenabian Luth a.s., mematuhi semua perintahnya, dan juga menjalankan seruannya.

    Kisah Nabi Luth dan pembangkangan kaum Sodom tersebut juga diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’ara ayat 160-167:

    وَلَمَّا جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَّقَالَ هٰذَا يَوْمٌ عَصِيْبٌ وَجَاۤءَهٗ قَوْمُهٗ يُهْرَعُوْنَ اِلَيْهِۗ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِۗ قَالَ يٰقَوْمِ هٰٓؤُلَاۤءِ بَنَاتِيْ هُنَّ اَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَلَا تُخْزُوْنِ فِيْ ضَيْفِيْۗ اَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَّشِيْدٌ قَالُوْا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِيْ بَنٰتِكَ مِنْ حَقٍّۚ وَاِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيْدُ قَالَ لَوْ اَنَّ لِيْ بِكُمْ قُوَّةً اَوْ اٰوِيْٓ اِلٰى رُكْنٍ شَدِيْدٍ قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْ ۗاِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ

    Każżabat qaumu lụṭinil-mursalīn. Iż qāla lahum akhụhum lụṭun alā tattaqụn. Innī lakum rasụlun amīn. Fattaqullāha wa aṭī’ụn. Wa mā as`alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn. A ta`tụnaż-żukrāna minal-‘ālamīn. Wa tażarụna mā khalaqa lakum rabbukum min azwājikum, bal antum qaumun ‘ādụn. Qālụ la`il lam tantahi yā lụṭu latakụnanna minal-mukhrajīn

    Artinya: 

    Kaum Luth telah mendustakan para rasul – (QS. Asy-Syu’ara ayat 160).

    Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? – (QS. Asy-Syu’ara ayat 161).

    “Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 162).

    “Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 163).

    “Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari tuhan semesta alam” (QS. Asy-Syu’ara ayat 164).

    “Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)?” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 165).

    “Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 166).

    Mereka menjawab, “Wahai Luth, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.” – (QS. Asy-Syu’ara ayat 167).

    Seketika itu, Nabi Luth pun berdoa kepada Allah SWT untuk memberi azab kepada kaum Sodom. Hingga akhirnya, Allah mengirimkan tiga malaikat ke bumi untuk memberikan azab kepada kaum Nabi Luth tersebut.

    1. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Ibrahim

    Sebelum menemui Luth a.s., ketiga malaikat yang diutus Allah tersebut terlebih dahulu mendatangi Nabi Ibrahim. Mereka hendak memberi kabar gembira akan kelahiran Nabi Ishaq sekaligus mengabarkan bahwa mereka adalah para malaikat utusan Allah.

    Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Az-Zariyat ayat 24-35. Di situ dikisahkan bahwasanya suatu hari Nabi Ibrahim kedatangan tiga orang yang belum pernah Ia kenal sebelumnya. Ketiga orang tersebut tiba-tiba saja datang dan masuk ke rumahnya.

    Usai menjawab salam, Ibrahim pun mempersilakan mereka untuk masuk dan duduk. Nabi Ibrahim yang belum menyadari bahwa mereka adalah malaikat, lantas meminta istrinya untuk menghidangkan daging anak sapi gemuk yang telah dibakar.

    Akan tetapi, ketiga orang tersebut sama sekali tak menghiraukan daging sapi yang telah dihidangkan dan hanya diam. Mendapati hal tersebut, Ibrahim merasa takut lantara para tamu tersebut tak belum dikenalnya dan tak menghiraukan hidangannya.

    Melihat Ibrahim yang ketakutan, ketiga orang tersebut lantas memberitahunya agar jangan takut karena kedatangan mereka adalah sebagai malaikat utusan Allah yang membawa kabar gembira, yaitu kabar kehamilan istrinya atas anak bernama Ishaq.

    Mendengar itu, istri Nabi Ibrahim lantas menepuk mukanya sendiri dan mengatakan bahwa Ia adalah wanita tua yang mandul. Lalu, malaikat menjawab bahwa apa yang mereka sampaikan adalah dari Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

    Lebih lanjut, Ibrahim pun bertanya tentang apalagi urusan para malaikat tersebut. Malaikat menjawab bahwa mereka juga diutus untuk memberi azab suatu kaum, yaitu kaum Sodom yang telah melampaui batas.

    Ibrahim yang mendengar jawaban tersebut sontak memohon agar mereka menunda penurunan azab bagi kaum Sodom lantaran di sana terdapat keponakannya, yang tidak lain adalah Nabi Luth a.s. 

    Selain itu, Ia juga meminta mereka (para malaikat) untuk memberi kesempatan bilamana ada penduduk kaum Sodom yang bertobat. 

    Akan tetapi, malaikat menolaknya karena merekalah yang lebih tahu siapa yang ada di sana. Mereka juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman akan diselamatkan, termasuk Nabi Luth, pengikut, serta keluarganya, kecuali istrinya. 

    Hal itu lantaran istri Nabi Luth termasuk orang yang telah membangkang terhadap suaminya. Sampai akhirnya, pergilah para malaikat tadi ke Kota Sodom untuk menemui Nabi Luth dan menyampaikan maksud kedatangannya.

    2. Kedatangan Malaikat kepada Nabi Luth

    Kisah Nabi Luth pun berlanjut hingga ketiga orang yang merupakan malaikat tadi hampir tiba di Kota Sodom. Di dalam perjalanannya tersebut, mereka bertemu dengan dua gadis cantik yang tidak lain adalah anak-anak dari Nabi Luth.

    Tiga pemuda (malaikat) tersebut lantas bertanya apakah mereka bisa diterima untuk bertamu di rumahnya. Kedua gadis tersebut tak berani untuk memberikan jawaban dan akan merundingkannya terlebih dahulu dengan keluarganya.

    Akhirnya, kedua anak Nabi Luth pun bergegas pulang ke rumah dan memberitahu ayahnya tentang kedatangan para tamu tersebut.

    Mendengar cerita dari kedua anaknya, Nabi Luth memutuskan untuk mau menerima ketiga pemuda tersebut. Ia juga berpesan kepada anak-anaknya agar merahasiakan kedatangan ketiga pemuda tadi dari penduduk di kaumnya.

    Akan tetapi, istri Nabi Luth yang mendengar percakapan tersebut lantas membocorkan kepada warga kaum Sodom. Para lelaki di sana yang buta akan hasrat seksual sesama jenis akhirnya datang ke rumah Luth a.s. untuk memuaskan nafsu mereka.

    Kisah Nabi Luth kembali berlanjut dengan para kaum Sodom yang datang untuk melampiaskan nafsunya terhadap tamu yang datang ke rumah Luth. Tak lama berselang, mereka pun tiba dan mulai menggedor-gedor rumah Nabi Luth.

    Mereka mengatakan kepada Nabi Luth bahwasanya mereka telah bersepakat jika dilarang membawa tamu masuk tanpa seizin penduduk kota. 

    Dalam keadaan terdesak dan demi melindungi tamunya, Nabi Luth pun menawarkan kepada penduduk agar sebaiknya menikahi saja putri-putrinya dan meninggalkan perilaku menyukai sesama jenis. Sayangnya, hal itu ditolak oleh penduduk.

    Sampai akhirnya, ketiga pemuda tadi (para malaikat) meminta Luth agar membuka pintu rumah selebar-lebarnya seraya memberitahu kepada Luth bahwa mereka adalah malaikat yang diutus oleh Allah SWT.

    Ketika orang-orang yang haus akan seks tersebut menginjakkan kakinya masuk, tiba-tiba gelaplah pandangan mereka. Hal itu lantaran malaikat telah membutakan mata mereka sehingga tidak mampu melihat apa pun di sekelilingnya.

    Para penduduk kaum Sodom pun membuat perhitungan kepada Luth dan akan datang kembali keesokan paginya. Lantas, para malaikat meminta Nabi Luth beserta keluarga dan pengikutnya untuk pergi meninggalkan Kota Sodom pada malam hari. 

    Malaikat juga memerintahkan agar tak seorang pun dari mereka ada yang menoleh ke belakang saat pergi meninggalkan kota tersebut. Setelah tiba malam hari, mereka pun bergegas meninggalkan Kota Sodom.

    Rombongan tersebut terdiri dari Nabi Luth dan keluarganya, termasuk istri dan kedua anaknya. Ada juga beberapa pengikut Nabi Luth yang beriman ikut dalam rombongan tersebut. 

    Saat sudah beranjak pergi, istri Nabi Luth justru menoleh dan berbalik ke arah kaumnya karena merasa tidak tega. Sementara rombongan Nabi Luth terus beranjak pergi meninggalkan kota yang penuh kemaksiatan tersebut.

    Seketika itu juga, tanah pun bergetar yang disusul dengan gempa bumi dahsyat. Batu-batu besar juga terus menghujani seluruh Kota Sodom tanpa sisa sehingga banyak mayat berhamburan di sana. Seketika itu juga, hancurlah Kota Sodom beserta isinya.

    Akan tetapi, sisa-sisa kehancuran kota tersebut tetap dijaga oleh Allah SWT sebagai pengingat bagi kaum-kaum setelahnya. Kisah Nabi Luth ini juga diabadikan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr ayat 73-76:

    فَاَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِيْنَۙ . فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ سِجِّيْلٍ . اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ . وَاِنَّهَا لَبِسَبِيْلٍ مُّقِيْمٍ .

    Fa akhażat-humuṣ-ṣaiḥatu musyriqīn. Fa ja’alnā ‘āliyahā sāfilahā wa amṭarnā ‘alaihim ḥijāratam min sijjīl. Inna fī żālika la`āyātil lil-mutawassimīn. Wa innahā labisabīlim muqīm

    Artinya:

    “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sungguh, (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).”

    Itulah akhir dari kisah Nabi Luth beserta para kaumnya yang telah dibinasakan oleh Allah SWT melalui azab yang begitu dahsyat.

    Dari kisah di atas, dapat kita petik kesimpulan bahwasanya segala perbuatan kita di dunia hendaknya tidak melampaui batas. Kita harus senantiasa menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.

    Kisah di atas juga menegaskan bahwasanya kodrat sebagai laki-laki dan juga perempuan sudah jelas dan tidak ada penyimpangan di antaranya. Semoga kisah Nabi Luth di atas bisa mendatangkan manfaat untuk kita dan semua yang mengimaninya.

  • Kisah Nabi Ilyas AS dari Silsilah hingga Mukjizatnya

    Kisah Nabi Ilyas AS dari Silsilah hingga Mukjizatnya

    Masih banyak perdebatan terkait kisah Nabi Ilyas AS yang membuat kita bertanya-tanya mengenai kebenarannya.

    Pasalnya, Nabi Ilyas konon masih hidup sampai saat ini. Namun, keberadaannya disembunyikan oleh Allah, seperti Nabi Khidir.

    Beliau juga dikaruniai mukjizat yang luar biasa. Mari simak kisah lengkapnya.

    Kisah Nabi Ilyas AS dalam Al-Qur’an

    Nabi Ilyas AS termasuk salah satu Nabi utusan Allah SWT. Beliau bernama Ilyas bin Fanshash bin al-‘Izar bin Harun. Dari silsilah tersebut dapat dilihat bahwa beliau merupakan cucu dari Nabi Harun saudara Musa bin Imran.

    Nabi Ilyas AS diutus oleh Allah SWT setelah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, yaitu pada tahun 870 Sebelum Masehi (SM).

    Adapun lokasi tempat diutusnya Nabi Ilyas yaitu sebuah kota bernama Ba’labak, terletak di sebelah barat Damaskus (Suriah). Daerah tersebut sekarang masuk wilayah Lebanon.

    Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kisah Nabi Ilyas AS. Di antaranya yaitu surat Ash-Shafaat ayat 123-127, yang berbunyi:

    قال الله تعالى :  وَإِنَّ إِلۡيَاسَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٢٣ إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَلَا تَتَّقُونَ ١٢٤ أَتَدۡعُونَ بَعۡلا وَتَذَرُونَ أَحۡسَنَ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٢٥  ٱللَّهَ رَبَّكُمۡ وَرَبَّ ءَابَآئِكُمُ ٱلۡأَوَّلِينَ ١٢٦ فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمۡ لَمُحۡضَرُونَ

    Artinya: “Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu tidak bertakwa. Patutkah kamu menyembah Ba´i dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta. (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu? Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke dalam neraka).”

    Selain itu, nama Nabi Ilyas AS juga disebutkan dalam firman Allah SWT:

     وَزَكَرِيَّا وَيَحۡيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلۡيَاسَۖ كُلّ مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ  

    Artinya: “Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh”. (al-An’aam/6 : 75).

    Kesyirikan Kaum Nabi Ilyas AS

    Kisah Nabi Ilyas AS tidak banyak disebutkan di Al-Qur’an, sehingga kebanyakan bersumber pada kitab.

    Melansir dari Tafsir Al-Qur’an, nama Nabi Ilyas AS disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 4 kali, yaitu pada surat Al-An’am ayat 85 dan surat Ash-Shaffat ayat 123, 129, dan 130.

    Berdasarkan riwayat Wahab ibn Munabih yang disebutkan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, dikisahkan bahwa Nabi Ilyas diutus kepada kaum Bani Israel. Mereka adalah orang-orang yang menyembah patung berhala yang bernama Ba’al.

    Menurut kepercayaan bangsa Kanaan, Ba’al adalah dewa hujan dan petir. Ia juga dipercaya memiliki pasangan bernama Astoret yang merupakan dewi kesuburan.

    Maka, Nabi Ilyas AS menyerukan pada kaum tersebut untuk meninggalkan berhala dan mentauhidkan Allah. Nabi Ilyas melakukan dakwah dan berkali-kali mengajak kaumnya agar berhenti menyekutukan Allah.

    Namun, seruan Nabi Ilyas tidak pernah dihiraukan. Orang-orang itu tetap berada dalam kesesatan dan tidak ada yang beriman.

    Menyadari hal tersebut, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT supaya menimpakan azab pada kaumnya yang syirik.

    Sebelumnya, Nabi Ilyas mendatangi Raja Ahab untuk memperingatkan apabila mereka tidak bertaubat, maka Allah akan mendatangkan azab.

    Nabi Ilyas juga mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah tidak akan mampu menyelamatkan penduduk dari azab tersebut. Namun, alih-alih bertaubat, sang raja dan kaumnya justru mengusir Nabi Ilyas.

    Meskipun mendapatkan penolakan keras dan perlakuan kasar, Nabi Ilyas tetap melanjutkan dakwah. Namun, kaumnya yang syirik tidak juga bertaubat. Mereka justru mengusir Nabi Ilyas.

    Kemudian, Nabi Ilyas AS berdoa kepada Allah SWT supaya mendatangkan kesusahan pada kaum syirik itu. Maka, Allah menahan hujan selama tiga tahun sehingga kota Ba’labak dilanda bencana kekeringan panjang.

    Kemarau panjang itu membuat semua tanaman mengering dan hewan-hewan mati kelaparan.

    Baca juga: Hukum Suami Lebih Mementingkan Ibunya Daripada Istrinya

    Nabi Ilyas AS Berdakwah dalam Pelarian

    Dilanda bencana kemarau panjang, kaum Bani Israel pun marah. Mereka menganggap bencana itu terjadi karena kedatangan Nabi Ilyas dan kemarahan dari berhala yang mereka sembah.

    Disebutkan oleh beberapa sumber bahwa raja Israel meminta pemimpin agama mereka untuk berdoa kepada berhala memohon supaya kemarau berhenti.

    Akan tetapi, kemarau terus berlangsung sehingga Bani Israel makin marah dan bertekad memburu Nabi Ilyas.

    Akibatnya, Nabi Ilyas harus terus berpindah tempat untuk menghindari orang-orang yang memburunya. Meskipun demikian, Beliau tetap melanjutkan dakwahnya. Nabi Ilyas juga mendapatkan pertolongan Allah selama bencana melanda. 

    Ketika kotanya mengalami kekeringan panjang, Nabi Ilyas mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk bersembunyi di Sungai Kerkit.

    Di tempat itu, Nabi Ilyas tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan air minum. Allah juga mengirimkan burung yang membawa makanan untuk Nabi Ilyas tiap pagi dan sore, sehingga beliau tidak mengalami kelaparan selama kekeringan.

    Namun, Nabi Ilyas harus pindah tempat saat Sungai Kerkit mulai mengering. Ditambah lagi, Beliau juga harus menghindari dari pengejaran prajurit Raja Ahab, pemimpin dari kaum yang syirik dan menolak seruan Nabi Ilyas.

    Menurut riwayat, Nabi Ilyas melakukan dakwah sambil terus berpindah tempat. Beliau tinggal di rumah kaumnya atau di gua.

    Beberapa sumber menyebutkan bahwa setiap rumah yang beliau singgahi akan memiliki aroma makanan.

    Pertemuan dengan Nabi Ilyasa

    Di tengah pelarian Nabi Ilyas menemukan rumah yang terletak di gurun pasir. Beliau pun menjadikan tempat itu sebagai persembunyiannya sementara.

    Saat itulah, Nabi Ilyas bertemu dengan seorang ibu dan anak laki-laki yang mengalami sakit parah, yakni Ilyasa. Kemudian Nabi Ilyas mendoakan kesembuhan Ilyasa yang kemudian dikabulkan oleh Allah SWT.

    Ilyasa pun dapat kembali sehat dan mulai mempelajari ilmu-ilmu agama dari Nabi Ilyas. Selanjutnya, dalam kisah Nabi Ilyas AS, Ilyasa menjadi anak angkat beliau dan sering menemani selama berdakwah.

    Kelak Ilyasa juga diangkat sebagai Nabi dan meneruskan perjuangan dakwah dari Nabi Ilyas AS.

    Kala itu, kondisi kekeringan sudah sangat parah sehingga makanan sulit didapat. Kaum Bani Israel yang putus asa akhirnya mencari Nabi Ilyas dan memohon agar kesulitan yang melanda mereka dihilangkan.

    Orang-orang tersebut juga berjanji akan beriman kepada Ilyas dan menyembah Allah apabila hujan kembali diturunkan ke negeri mereka.

    Maka, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah SWT memohon agar diturunkan hujan. Doa Beliau dikabulkan, sehingga hujan turun dan kota kembali subur. Orang-orang kembali bisa menikmati hasil panen tanaman dan beternak.

    Namun, setelah kehidupan mereka kembali dipenuhi kenikmatan, mereka tetap menyembah berhala. Bahkan mereka menjadi lebih buruk dari kekufuran yang diperbuat sebelumnya.

    Mukjizat Nabi Ilyas AS

    Kisah Nabi Ilyas AS tidak lengkap tanpa menyebutkan mukjizat yang dikaruniakan Allah. Berikut beberapa mukjizat dari Nabi Ilyas AS:

    1. Doa Mendatangkan Bencana Terkabul

    Telah disebutkan sebelumnya bahwa dakwah Nabi Ilyas mendapatkan penolakan dari kaum Bani Israel, sehingga akhirnya beliau berdoa kepada Allah SWT agar mendatangkan kesusahan pada mereka.

    Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas dan membuat negeri itu tidak mengalami hujan selama tiga tahun.  Akibat bencana kemarau panjang, kaum Bani Israel mengalami situasi yang sangat sulit.

    Akhirnya mereka mengatakan kepada Nabi Ilyas bahwa mereka berjanji akan menyembah Allah jika kemarau berhenti. Kemudian Nabi Ilyas berdoa kepada Allah sehingga turun hujan dan kembali makmur.

    Namun, kaum Bani Israel kembali menyembah berhala dan melakukan hal-hal buruk. Melihat hal tersebut, Maka Nabi Ilyas pun memohon kepada Allah supaya kembali menimpakan bencana.

    2. Bertahan dari Kemarau Panjang

    Meskipun negerinya dilanda kekeringan panjang, Nabi Ilyas dapat bertahan hidup dengan baik. Hal ini berkat pertolongan dari Allah SWT yang memberikan petunjuk dan mengirimkan burung untuk membawakan makanan.

    3. Menyembuhkan Orang Sakit

    Dalam kisah Nabi Ilyas disebutkan mengenai pertemuan Beliau dengan Nabi Ilyasa. Saat itu, Ilyasa sakit keras hingga kondisinya tampak memprihatinkan.

    Nabi Ilyas AS berdoa dan memohon kepada Allah SWT untuk kesembuhan Ilyasa. Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas dan berkat itulah Ilyasa sembuh dari sakit parah yang diderita.

    Keistimewaan Nabi Ilyas AS

    Sebagai salah satu utusan Allah, Nabi Ilyas memiliki keistimewaan tersendiri, meliputi:

    1. Penyabar

    Nabi Ilyas diberikan keistimewaan oleh Allah berupa kesabaran yang tinggi. Berkat kesabaran itulah Beliau dapat menjalankan tugasnya dan berdakwah meskipun mendapatkan penolakan dari Bani Israel.

    2. Suka Menolong

    Keistimewaan berikutnya dari Nabi Ilyas AS yaitu sifatnya yang suka menolong orang yang kesulitan.

    Nabi Ilyas bahkan bersedia mendoakan agar kekeringan yang melanda Bani Israel segera berakhir meskipun mereka telah memusuhi dan memburu beliau.

    3. Taat Beribadah

    Nabi Ilyas senantiasa mengutamakan ibadahnya. Beliau juga selalu taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

    Berkat keistimewaan ini beliau mendapatkan pertolongan Allah SWT dan dapat bertahan melalui kekeringan panjang yang melanda.

    Wafatnya Nabi Ilyas

    Bagian yang menjadi perdebatan dalam kisah Nabi Ilyas yaitu mengenai keberadaan beliau.

    Pasalnya, dalam Alkitab disebutkan bahwa Nabi Ilyas diangkat ke surga dalam keadaan hidup. Namun, kisah tersebut tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.

    Ada beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Ilyas masih hidup sampai sekarang, sebagaimana Nabi Khidir diyakini masih hidup. Namun, hadits-hadits tersebut merupakan hadits maudhu yang tidak dapat diterima.

    Sementara, dalam kitab Kisah Para Nabi yang ditulis oleh Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Nabi Ilyas telah wafat.

    Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 18, sebagai berikut:

    وَاِذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ النَّبِيّٖنَ لَمَآ اٰتَيْتُكُمْ مِّنْ كِتٰبٍ وَّحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهٖ وَلَتَنْصُرُنَّهٗ ۗ قَالَ ءَاَقْرَرْتُمْ وَاَخَذْتُمْ عَلٰى ذٰلِكُمْ اِصْرِيْ ۗ قَالُوْٓا اَقْرَرْنَا ۗ قَالَ فَاشْهَدُوْا وَاَنَا۠ مَعَكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ

    Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”

    Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.””

    Dalam ayat tersebut telah jelas bahwa apabila para nabi lain masih hidup pasti akan mendatangi dan membantu dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Hal tersebut diperkuat dengan sabda Rasulullah:

    لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

    Artinya: “Seandainya Musa alaihissalam masih hidup maka tidak ada jalan lain selain dia mengikutiku.” (HR. Ahmad no. 14623).

    Sehingga sudah jelas bahwasanya Nabi Ilyas AS telah wafat. Seandainya Nabi Ilyas diangkat ke langit dalam keadaan hidup, maka Beliau menemui ajalnya dan wafat seperti makhluk hidup lainnya.

    Perihal tersebut telah dijelaskan dalam AL-Qur’an, bahwa tidak ada seorang manusia sebelum Nabi Muhammad yang hidup abadi.

    وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ

    “Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiya’:34).

    Demikianlah kisah Nabi Ilyas AS lengkap dengan mukjizatnya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah dan keteladanan Nabi Ilyas AS.