Tag: Inspirasi Islam

  • Arti Nama Nafisah dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Arti Nama Nafisah dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Ketika mencari nama untuk buah hati, kita sering menginginkan nama yang terdapat unsur Islami. Misalnya seperti nama Nafisah. Arti nama Nafisah dalam Islam yaitu berharga, permata yang sangat berharga, dan berkedudukan tinggi.

    Menentukan nama untuk buah hati bisa menjadi tugas menantang karena berdampak jangka panjang sebagai identitas sepanjang hidup anak.

    Jika sudah memiliki pilihan nama, sebaiknya melakukan pengecekan lebih lanjut terkait arti nama tersebut. 

    Pentingnya Memberikan Nama Terbaik untuk Anak

    Menentukan nama untuk bayi perempuan yang akan lahir perlu teliti. Tujuannya untuk memastikan kesesuaian arti nama agar memiliki makna yang indah dan istimewa. 

    Dalam Islam, terdapat ayat dan hadits yang menyatakan untuk memberi nama yang baik bagi anak. Sebagaimana tertulis dalam Surah Maryam yaitu:

    يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

    Artinya:

    “Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang serupa dengannya.” (Q.S. Maryam: 7).

    Selain itu, penafsiran yang sama tercantum dalam hadits Imam Abu Daud dari Abu Darda r.a.

    إنكم تُدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم

    Artinya:

    “Sesungguhnya kamu sekalian akan diseru/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapa kamu.Oleh demikian, elokkanlah nama-nama kamu.” (H.R. Imam Abu Daud dari Abu Darda r.a.).

    Pastinya, kita berharap agar makna dari nama anak sesuai dengan ajaran Islam. Jika teman dan sahabat menyebutkan nama tersebut dengan arti yang baik, hal ini dapat diibaratkan sebagai doa yang baik untuk anak tersebut. 

    Oleh karena itu, sebagai orang tua, sangat dianjurkan untuk memberi nama anak bayi sesuai dengan pedoman dalam Al-Quran dan hadits.

    Baca juga: Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Arti Nama Nafisah dalam Islam

    Nafisah dalam Islam berarti berharga, permata yang berharga, dan berkedudukan tinggi. Adapun dalam variasi penulisannya bisa Nafisyah, Nafeeza, Nafeza, Nafiisah, Nafiza, Nafisha, dan Nafsha.

    Berdasarkan arti nama tersebut, doa yang terkandung di dalamnya yaitu anak menjadi perempuan yang mulia dan dihormati banyak orang. Sungguh arti nama yang istimewa dan doa yang baik bukan?

    Rangkaian Nama Nafisah

    Nama Nafisah bisa dikombinasikan sebagai nama depan, nama tengah, atau nama belakang. Berikut inspirasi rangkaian nama Nafisah.

    • Nafisah Saferina Fazia artinya perempuan yang berharga dan sabar dalam meraih menjalani proses menuju kesuksesan hidup.

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Saferina: Kesabaran

    Fazia: (1) Sukses (2) Kemenangan

    • Nafisah Ifra Xaviere berarti perempuan berwajah cerah yang berharga dan mampu memberi kebahagiaan bagi keluarganya.

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Ifra: Memberi kebahagiaan

    Xaviere: Terang

    • Nafisah Humaira merupakan perempuan yang sangat berharga yang pipinya kemerah-merahan.

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Humaira: kemerahan

    • Giani Nafisa Yumna artinya perempuan yang berharga, diberkahi, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

    Giani: Berkah

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Yumnaa: (1) Beruntung (2) Diberkahi (3) Sebelah kanan

    • Shahizam Nafisah Arwa berarti perempuan yang cantik seindah bulan dan sangat berharga dan bermanfaat bagi orang lain.

    Shahizam: Bulan yang langka

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Arwa: Memberi Minum Sampai Puas

    • Ma`azzah Skii Nafisah merupakan perempuan yang berharga dan senantiasa memberi pertolongan kepada orang lain dengan penuh kemuliaan.

    Ma`azzah: Tempat yang dimuliakan

    Skii: (1) Pemberi (2) Penderma air

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    • Inayah Kalya Nafisya yang berarti perempuan yang berharga dan senang memberi pertolongan kepada orang lain.

    Inayah: perhatian, pertolongan

    Kalya: pujian

    Nafisah: (1) Berharga (2) Permata yang berharga (3) Berkedudukan tinggi

    Selain mengetahui arti nama nafisah dalam Islam, kita bisa memilih beberapa rangkaian nama dari kata Nafisah dengan arti yang penuh makna.

    Panduan Memberi Nama Menurut Islam

    Sebagai orang tua, sudah semestinya kita memberikan makna yang mulia pada anak. Bahkan, lebih baik mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Terdapat beberapa panduan tentang cara memberikan nama kepada anak menurut Islam yaitu sebagai berikut:

    1. Waktu yang Tepat untuk Memberi Nama Anak

    Rasulullah mengajarkan umatnya untuk memberi nama pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Lalu pada hari ketujuh itu juga untuk mencukur rambut bayi dan melaksanakan aqiqah. 

    Dalam kitab al-Adzkar karya An-Nawawi yang merujuk pada hadits dari riwayat Amr bin Syu’aib dari ayah dan kakeknya disebutkan sebagai berikut:

    أن النبي صل الله عليه و سلم أمر بتسمية المولود يوم سابعه، و وضع الاذى عنه، و العقّ. 

    Artinya: 

    “Bahwa sesungguhnya Nabi memerintahkan untuk memberikan nama pada hari ketujuh, menghilangkan kesengsaraan dari padanya, dan aqiqah.” (Muhyiddin Dhib,  Lawami’ al-Anwar; Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014, juz 2,  halaman: 143).

    Sebenarnya, hadits tersebut tidak mengikat atau mewajibkan seseorang untuk memberikan nama pada hari ketujuh setelah kelahiran. Jika ada orang tua yang memilih memberi nama pada hari pertama kelahiran, hal itu juga diperbolehkan.

    2. Memberikan Nama Merupakan Hak Ayah

    Seorang ayah memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan nama baik bagi anak-anaknya. Hal ini telah sesuai dengan hadits yang artinya sebagai berikut.

    “Anak-anak memiliki tiga hak atas ayah mereka. Yang pertama adalah mereka diberi nama baik. Yang kedua, mereka diberikan pendidikan yang baik; dan yang terakhir, mereka membantu mereka memilih pasangan yang baik,” (Ibnu Najjar).

    3. Nasab Seorang Anak dari Ayahnya

    Nasab atau garis keturunan anak berasal dari sang ayah. Maksudnya adalah ketika di akhirat, Allah akan memanggil nama-nama hamba-Nya diikuti dengan nama ayahnya. 

    Itulah sebabnya penyebutan nama seringkali menambahkan bin (untuk anak laki-laki) dan binti (untuk anak perempuan).

    Memberikan nama yang baik juga termasuk cara menyelamatkan nasab anak. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua memberikan nama Islami, mengikuti Nabi, atau menggunakan Asmaul Husna.

    4. Tidak Memilih Nama yang Dibenci Allah

    Contohnya nama yang dibenci Allah antara lain nama-nama terkait dewa, matahari, berhala, atau nama yang mengandung unsur pemujaan terhadap sesuatu. 

    Selain itu, kita juga tidak boleh memberikan nama anak yang dapat menimbulkan perselisihan di antara saudara-saudaranya. 

    Artinya, nama tersebut berpotensi menjadi sumber ejekan atau olok-olokan bagi anak di masa depan. Hal ini juga dianggap makruh secara hukum. 

    Sejalan dengan ayat Al-Qur’an, Surah Al-A’raf yaitu:

    وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Artinya: 

    “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 80).

    5. Nama yang Baik untuk Anak

    Nama yang paling baik digunakan untuk anak adalah nama Nabi/Rasul dan nama dari sifat Allah SWT atau asmaul husna. 

    Namun, jangan sampai memberikan nama jika sifat itu hanya milik Allah. Contohnya seperti Al-Khalik (Maha Pencipta), Ar-Rabb (Maha Pemelihara), Ar-Rahman (Maha Pengasih), dan yang serupa dengannya.

    Sebaliknya, jika anak diberi nama yang terinspirasi dari sosok Nabi/Rasul, diharapkan anak tersebut akan mengikuti jejak dan kepribadiannya. 

    Oleh karena itu, nama-nama seperti Muhammad, Ibrahim, Musa, hingga Ismail yang berasal dari nama Nabi, umumnya banyak digunakan sebagai nama untuk bayi.

    Selain itu, tentu saja kita bisa memilih nama-nama dengan unsur Islami seperti Nafisah. Lagi pula, arti nama nafisah dalam islam pun termasuk nama yang baik karena maknanya adalah perempuan yang berharga dan berkedudukan tinggi.

    Demikian, kita tidak hanya tahu arti nama Nafisah dalam Islam. Akan tetapi, juga lebih paham bagaimana memberi nama yang baik kepada anak. Semoga keturunan kita menjadi anak yang mulia dan bermanfaat bagi sesama.

  • Arti Nama Haikal dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Arti Nama Haikal dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Haikal merupakan salah satu nama terbaik yang bisa orang tua berikan untuk bayi laki-laki. Lalu, apa arti nama Haikal dalam Islam? Berikut penjelasannya.

    Ketika bayi terlahir ke dunia tentu harus memiliki nama sebagai identitas dan tanda pengenal. Selain itu, nama tersebut tidak hanya sekedar mudah diingat tetapi harus memiliki makna yang bagus dan mengandung doa.

    Pemberian nama Haikal bisa menjadi pertimbangan bagi orang tua ketika bingung memberikan nama bayi yang pas. Nama ini pada hakikatnya mengandung unsur Islami yang memiliki arti yang bagus dan indah.

    Apa Arti Nama Haikal dalam Islam?

    Nama Haikal adalah nama Islami yang berasal dari bahasa Arab dengan makna dan arti baik. Tak heran, apabila banyak orang tua memberikan nama Haikal ini untuk bayi laki-lakinya dengan harapan membawa kebaikan.

    Adapun arti nama Haikal dalam Islam memiliki makna sebagai dasar yang besar, subur, dan yang tinggi. Dengan arti ini, nama Haikal menjadi doa bagi anak ketika dewasa bisa berguna bagi orang-orang di sekelilingnya.

    Dalam Islam, pemberian nama tidak hanya sebatas identitas diri. Namun, pemberian nama anak hendaklah yang memiliki makna yang indah karena akan menjadi tanda pengenal dari sejak lahir hingga akhir hayatnya.

    Sebagaimana tertulis dalam Al-Quran Surat Maryam Ayat 7 yang artinya berbunyi:

    “Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberikan kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya.” (QS. Maryam: 7).

    Selain itu, dalam Islam juga ada anjuran untuk memberikan nama terbaik bagi anak tercantum dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud dari Abu Dardak r.a yang artinya:

    “Sesungguhnya kamu sekalian akan diseru/dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapak kamu. Maka demikian, elokkanlah nama-nama kamu.” (HR. Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a).

    Oleh karena itu, ketika memberikan nama bayi maka pilih nama yang baik, ibaratnya nama tersebut akan menjadi doa. Jadi, kita sebagai orang tua bisa memberikan nama bayi sesuai pedoman ln Al-Quran dan hadits.

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    Inspirasi Rangkaian Nama Haikal

    Setelah kita mengetahui arti nama Haikal dalam Islam yang memiliki makna baik, selanjutnya ketahui rangkaian nama Haikal yang banyak digunakan.

    Pada dasarnya, nama Haikal memiliki pelafalan atau ejaan yang mudah diucapkan oleh orang Indonesia meski nama ini berasal dari bahasa Arab. Oleh karena itu, tidak mengapa jika kita ingin memakainya untuk anak kita.

    Jika nama anak ingin memiliki makna lebih bagus lagi, maka kita bisa kombinasikan dengan nama lainnya. Tentunya pilih nama yang memiliki arti indah dalam Islam dan mudah untuk mengingatnya dan mengucapkannya.

    Misalkan, kita bisa sematkan nama depan Haikal, nama tengah Haikal, atau nama belakang Haikal. Berikut inspirasi rangkaian nama Haikal selengkapnya:

    1. Rangkaian Nama Depan Haikal

    Berikut ide nama depan Haikal untuk bayi laki-laki dengan makna yang bagus:

    • Haikal Syahin Ifwat, artinya bayi laki-laki yang berasal dari dasar yang besar dan memiliki impian yang terbaik dalam kehidupannya.
    • Haikal Mu’tashim Ashad, artinya bayi laki-laki yang punya kedudukan tinggi dan semangat menghindari perbuatan yang maksiat.
    • Haikal Muhanaa Kaseam, artinya bayi laki-laki kedudukan tinggi dan mampu menciptakan sebuah kedamaian hidup yang terbaik.

    2. Rangkaian Nama Tengah Haikal

    Adapun ide nama tengah Haikal yang bisa kita gunakan untuk bayi laki-laki, yaitu:

    • Taufiq Haikal Alaudin, artinya bayi laki-laki berkedudukan yang tinggi dan selalu memuliakan agama dari Allah Yang Maha Pengasih.
    • Usni Haikal Amrit, artinya bayi laki-laki dengan dasar yang besar dan mulia serta selalu ingin berbuat kebaikan dan perilaku yang terpuji.
    • Adzani Haikal Harun, artinya bayi laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi dan selalu berkata jujur serta memenuhi panggilan shalat.

    3. Rangkaian Nama Belakang Haikal

    Sementara bagi yang ingin memakai Haikal di bagian belakang, berikut inspirasinya:

    • Sheris Nuwair Haikal, artinya bayi laki-laki manis berasal dari dasar yang besar dan mulia serta selalu mendapat cahaya kebaikan.
    • Mahmoud Athilasyah Haikal, artinya bayi laki-laki berasal dari dasar mulia dan menjadi karunia Allah yang banyak dipuji karena sifatnya.
    • Aslam Anis Haikal, artinya bayi laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi yang selalu bersikap ramah dan menjadi muslim yang taat.

    4. Rangkaian Nama Haikal yang Unik

    Selain menyematkan nama Haikal di depan, belakang ataupun tengah, berikut ini beberapa inspirasi nama Haikal yang unik dan populer. Kita bisa memberikannya kepada anak ketika lahir. Berikut ide namanya:

    • Haikal Ahmad, artinya anak laki-laki yang berkedudukan tinggi dan memiliki sifat yang terpuji terhadap sesama.
    • Haikal Akbar, artinya anak laki-laki yang lahir atas karunia dan kebesaran Allah yang memiliki kedudukan tinggi.
    • Haikal Alfarizi, artinya anak laki-laki yang berasal dari dasar yang besar dan mulia selalu semangat bekerja.
    • Haikal Azka, artinya anak laki-laki yang lahir dengan suci dan memiliki berkedudukan tinggi dan akhlak mulia.
    • Haikal Fathan Ghazawan, artinya anak laki-laki berasal dari dasar yang besar dan mulai dan seorang pejuang.

    Sebenarnya masih ada banyak inspirasi nama Haikal untuk anak yang memiliki makna dan arti baik dalam Islam. Kita juga bisa kombinasikan dengan nama Islam lainnya sehingga makna dan artinya lebih beragam.

    Demikian penjelasan tentang arti nama Haikal dalam Islam dan inspirasi rangkaian namanya yang memiliki makna yang baik dan indah. Ketika memberikan nama anak bisa cari inspirasinya dari Al-Qur’an dan Hadist.

  • Sejarah Singkat Kisah Nabi Sulaiman Berikut Mujizatnya

    Sejarah Singkat Kisah Nabi Sulaiman Berikut Mujizatnya

    Kisah Nabi Sulaiman AS termasuk salah satu kisah yang menarik untuk kita kaji. Pasalnya, kita bisa menemukan berbagai nilai keluhuran akhlak, kecerdasan, dan keimanan kepada Allah SWT.

    Selain itu, Nabi Sulaiman AS memiliki beberapa kelebihan dan mukjizat yang luar biasa. Sayangnya, berbagai kebaikan yang dimilikinya belum diketahui oleh para muslim. 

    Mari langsung saja kita simak kisahnya. Kita sebagai muslim harus mengetahui kisah para nabi untuk mempertebal keimanan. 

    Kisah Nabi Sulaiman AS, Putra Nabi Daud AS

    Memiliki nama asli Sulaiman bin Daud bin Aisya bin Awid. Beliau merupakan bungsu dari sebelas bersaudara putra Nabi Daud AS.

    Sementara, ibu Nabi Sulaiman bernama Tasyayu’ bin Sura, seorang perempuan yang saleh dan takwa. Sang ibu senantiasa mendorong Nabi Sulaiman untuk beribadah dengan tekun.

    Nabi Sulaiman AS adalah nabi ke delapan belas. Beliau diangkat menjadi nabi dan rasul Allah sekitar tahun 970 Masehi.

    Sejak usia belia, Nabi Sulaiman telah menunjukkan tanda-tanda kenabian. Selain dikenal sebagai anak yang saleh dan taat beribadah, beliau memiliki kecerdasan dan kematangan pola pikir sejak kecil.

    Dalam keluarganya, Nabi Sulaiman dianggap sebagai karunia Allah. Ketakwaan Beliau bahkan disebutkan dalam firman Allah:

    وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ ٣٠

    Artinya: 

    “Dan kepada Daud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” ((QS. Shad [38]: 30).

    Kesalehan dan ketakwaan Nabi Sulaiman AS terlihat jelas dalam kebiasaannya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Dikisahkan bahwa beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermunajat kepada Allah SWT.

    Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS telah lama menantikan seorang penerus yang sesuai untuk memerintah kerajaannya. Akan tetapi, beliau tidak kunjung menemukan penerus yang diharapkan.

    Nabi Daud AS terus berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan keturunan yang mulia. Kemudian, Allah mengabulkan doa-doa beliau dengan mengaruniai anak bernama Sulaiman.

    Baca juga: Pengertian Khotbah dan Bedanya dengan Ceramah Beserta Syarat-syaratnya

    Kebijaksanaan Nabi Sulaiman AS

    Allah SWT menganugerahkan banyak keistimewaan pada Nabi Sulaiman AS. Di antaranya adalah kecerdasan dan kebijaksanaan yang sudah terbukti sejak kecil.

    Salah satunya terlihat dalam kisah Nabi Sulaiman AS ketika mengatasi sengketa antara pemilik kebun dan kambing. Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Anbiya ayat 78-79:

    وَدَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ اِذْ يَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْ نَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِۚ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَۖ ۝٧٨

    فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ ۝٧٩

    Artinya: 

    “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.”

    Sebagaimana tercantum dalam ayat tersebut, saat itu ada dua orang laki-laki yang mengadukan permasalahan mereka kepada Nabi Daud AS. Mereka adalah seorang pemilik kebun dan seorang pemilik kambing.

    Si pemilik ladang mengatakan bahwa ladangnya telah dimasuki kambing sehingga merusak tanaman yang sebentar lagi akan panen.

    Maka, setelah menimbang perkara yang disampaikan, Nabi Daud mengambil keputusan supaya si pemilik kambing menyerahkan seluruh kambingnya pada pemilik kebun sebagai ganti rugi.

    Namun, keputusan tersebut membuat si pemilik kambing merasa sedih karena kehilangan kambingnya.

    Saat berjalan pulang, si pemilik kambing berpapasan dengan Nabi Sulaiman. Kemudian ia menyampaikan masalah yang membuatnya bersedih.

    Setelah mendengarnya, Nabi Sulaiman juga merasa bahwa keputusan ayahnya kurang tepat. Maka, beliau menghadap ayahnya, Nabi Daud AS dan mengusulkan cara penyelesaian yang berbeda.

    “Serahkan kambing itu kepada pemilik ladang, supaya ia bisa memanfaatkan susu, anak, dan bulunya. Sementara itu, ladang diserahkan kepada pemilik kambing supaya dia merawatnya hingga kembali seperti sedia kala.”

    Kemudian Nabi Sulaiman melanjutkan usulannya, “Setelah itu, masing-masing diperbolehkan mengambil hak mereka kembali.”

    Nabi Daud AS menyetujui usulan Nabi Sulaiman AS. Pasalnya, cara tersebut tidak akan membuat salah satu pihak merasa terlalu dirugikan maupun diuntungkan.

    Selain Nabi Daud, pendapat Nabi Sulaiman mendapatkan sambutan baik dari kedua pihak yang bersengketa dan para hadirin.

    Mukjizat Nabi Sulaiman AS

    Salah satu hal paling menarik dari kisah Nabi Sulaiman AS adalah mukjizatnya. Beberapa mukjizat beliau yang paling mashyur yaitu kemampuan berbicara dengan hewan, memerintah jin, dan menundukkan angin.

    Salah satu yang paling terkenal yaitu kisah Nabi Sulaiman dan burung hud-hud. Burung ini banyak membantu perjuangan Nabi Sulaiman dalam berdakwah maupun memerintah Kerajaan.

    Kisah tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat An Naml ayat 27-28, yang berbunyi:

    ۞ قَالَ سَنَنْظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

    اذْهَبْ بِكِتَابِي هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

    Artinya: 

    “Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”

    Ayat tersebut mengisahkan ketika burung hud-hud diperintah oleh Nabi Sulaiman untuk mengirimkan surat kepada ratu Balqis.

    Sementara, mukjizat Nabi Sulaiman yang mampu menggunakan angin untuk bepergian disebutkan dalam Al-Qur’an surat Shad ayat 36.

    فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ

    Artinya: 

    “Kemudian kami tundukkan padanya angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya.” (QS. Shad 38:36).

    Berbagai mukjizat Nabi Sulaiman juga disebutkan dalam surat Saba ayat 12, meliputi kemampuan mengalirkan cairan tembaga di perut bumi dan memerintah jin untuk berkerja.

    وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

    Artinya: 

    “Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (dibawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba 34:12).

    Kisah Nabi Sulaiman AS Membangun Istana Megah

    Allah SWT memberikan anugerah pada Nabi Sulaiman AS berupa kenikmatan yang melimpah. Bahkan beliau merupakan raja dan nabi yang paling kaya.

    Setelah Nabi Daud AS wafat, Nabi Sulaiman AS mewarisi kekayaan serta meneruskan tahta sang ayah. Beliau pun diangkat sebagai raja yang memerintah Bani Israil di Palestina setelah cukup umur.

    Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman tinggal di istana yang luar biasa megah yang dibangun oleh manusia, jin, dan hewan.

    Konon, istana Nabi Sulaiman memiliki keindahan yang tidak tertandingi. Dengan dinding yang terbuat dari batu pualam, pintu dan tiang dari emas, serta atap dari perak.

    Sementara itu, hiasan dan ukiran pada istana tersebut terbuat dari mutiara, intan, dan berlian.

    Selain istana yang megah, Nabi Sulaiman memerintah kerajaan dengan bijak, sehingga penduduknya makmur dari segi ekonomi serta memiliki spiritual tinggi dan bertakwa kepada Allah SWT.

    Memimpin kerajaan yang demikian memang salah satu impian dari Nabi Sulaiman AS. Beliau juga menyampaikan mengenai impian tersebut dalam doanya.

    قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

    Artinya: 

    “Allah berfirman Dia berkata “Ya Tuhanku ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, engkau Allah yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad: 35).

    Maka, Nabi Sulaiman AS dapat memiliki kerajaan yang sangat kuat dan tangguh karena Allah SWT mengabulkan doanya.

    Selain kemakmuran, hal menakjubkan lainnya dari kisah Nabi Sulaiman yaitu kerajaannya yang diperkuat oleh pasukan jin dan hewan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

    وَحُشِرَ لِسُلَيْمَٰنَ جُنُودُهُۥ مِنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ وَٱلطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

    Artinya: 

    “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (QS. An Naml ayat 17).

    Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

    Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Nabi Sulaiman diberikan mukjizat berupa kemampuan berkomunikasi dengan binatang.

    Atas ijin Allah, Nabi Sulaiman juga mampu memberikan perintah pada hewan. Salah satunya yaitu burung hud-hud.

    Adapun tugas burung hud-hud adalah sebagai peninjau, yang mana ia akan mencari tahu apakah suatu kawasan memiliki sumber air. Berkat bantuan burung hud-hud ini pasukan tentara Nabi Sulaiman dapat mengatasi masalah ketika kekurangan air.

    Suatu ketika, Nabi Sulaiman mengalami kekurangan air di daerah Yaman, sehingga beliau memerintahkan burung hud-hud untuk mencari sumber air.

    Akan tetapi, burung hud-hud tidak kunjung kembali hingga Nabi Sulaiman marah dan berencana hendak menghukumnya.

    Tidak lama kemudian, burung hud-hud kembali sambil membawa berita mengenai negeri bernama Saba yang rakyatnya menyembah matahari. Burung hud-hud juga menceritakan bahwa negeri tersebut diperintah oleh seorang ratu bernama Balqis.

    Kisah ini tertuang dalam Al-Qur’an:

    فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

    Artinya: 

    “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (An-Naml: 22).

    Setelah mendengarkan hal tersebut, Nabi Sulaiman memerintahkan burung hud-hud untuk mengantarkan surat pada ratu Balqis. Isi surat itu adalah seruan supaya Ratu Balqis menyembah Allah SWT.

    Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an.

    إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ(31)

    أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ(32)

    Artinya: 

    “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”(An-Naml: 31-32).

    Ratu Balqis menyampaikan mengenai surat tersebut pada rapat dengan para petinggi negerinya. Para petinggi tersebut menyatakan siap untuk berperang apabila sang ratu memberikan perintah.

    Namun, ratu Balqis memilih mencoba jalan damai terlebih dahulu. Maka, ia pun mengirimkan surat balasan yang memberitahukan bahwa ia hendak mengirim utusan kepada Nabi Sulaiman.

    Setelah membaca surat balasan, Nabi Sulaiman memerintahkan para jin untuk mempersiapkan istana yang indah tanpa tandingan.

    Saking indahnya istana Nabi Sulaiman, utusan dari Ratu Balqis sampai keheranan mengaguminya. Utusan tersebut menghadap Nabi Sulaiman dengan membawa hadiah.

    Namun, Nabi Sulaiman menolak hadiah itu dan mengatakan bahwa beliau hanya menginginkan satu hal, yaitu supaya Ratu Balqis dan rakyatnya menyembah Allah.

    Beliau juga mengancam akan mendatangi negeri Saba dengan bala tentara apabila tidak menuruti perintahnya.

    Utusan kembali ke negerinya dan menyampaikan semua hal yang dialami kepada ratu Balqis. Akhirnya, sang ratu memutuskan untuk menghadap Nabi Sulaiman.

    Sebelum ratu Balqis sampai ke istana Nabi Sulaiman, beliau memerintahkan para pembesarnya untuk membawakan singgasana ratu Balqis ke hadapannya.

    Maka, jin Ifrit menyanggupi perintah tersebut dan memindahkan singgasana ratu Balqis dalam sekejap.

    Sesampainya di istana Nabi Sulaiman, ratu Balqis dibuat terkejut melihat singgasana yang sama persis dengan miliknya.

    Nabi Sulaiman pun menjawab bahwa itu memang singgasana ratu Balqis yang telah dibawa ke sana dengan mudah atas ijin Allah SWT.

    Terkesima melihat singgasananya sendiri serta tercengang melihat istana megah milik Nabi Sulaiman, ratu Balqis pun akhirnya beriman kepada Allah dan mengakui bahwa Nabi Sulaiman adalah utusan-Nya.

    Hal tersebut dikisahkan dalam firman Allah.

    فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ

    Artinya: 

    “Dan ketika Balqis datang di tanyakanlah kepadanya ‘Serupa Inikah Singgasanamu?’ Dia menjawab ‘Seakan-akan Singgasana ini Singgasanaku. Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Naml: 42).

    Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa ratu Balqis sudah mengetahui bahwa Nabi Sulaiman adalah nabi. Akan tetapi, ia merasa enggan untuk langsung mengakuinya.

    Setelah melihat mukjizat Nabi Sulaiman, barulah ratu Balqis menyatakan diri masuk agama Islam. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an berikut:

    رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Artinya: 

    “Ya Tuhanku, sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri. Aku berserah diri kepada- Mu bersama Sulaiman pada Allah Tuhan seluruh alam semesta.” (QS. An Naml: 44).

    Wafatnya Nabi Sulaiman AS

    Bagian berikutnya dari kisah Nabi Sulaiman AS adalah wafatnya beliau.

    Nabi Sulaiman AS menemui ajal tanpa diketahui oleh para pengikutnya. Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi Sulaiman pergi untuk mengawasi kerja kawanan jin yang beliau perintah. Para jin tidak berani menoleh ke arah Nabi Sulaiman.

    Sementara, pada saat itu juga malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawa beliau. Nabi Sulaiman pun wafat dalam keadaan berdiri sambil disangga oleh tongkatnya.

    Para jin sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Hingga kemudian Allah SWT memerintahkan sekelompok rayap untuk menggerogoti tongkat Nabi Sulaiman.

    Setelah tongkat tersebut rusak, maka tubuh Nabi Sulaiman AS tersungkur ke tanah. Barulah saat itu para jin mengetahui bahwa Nabi Sulaiman telah wafat.

    Wafatnya Nabi Sulaiman juga dikisahkan dalam ayat Al-Qur’an:

    فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ 

    Artinya: 

    “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba 34:14).

    Demikianlah kisah Nabi Sulaiman AS serta mukjizatnya. Selain yang telah kita simak, masih terdapat sejumlah kisah beliau, seperti kisah tentang Nabi Sulaiman dan pasukan semut serta kisah beliau dengan malaikat Izrail.

  • 10 Manfaat Membaca Al-Quran, Muslim Yuk Amalkan

    10 Manfaat Membaca Al-Quran, Muslim Yuk Amalkan

    Allah SWT memberikan pedoman dalam berperilaku dan berkehidupan pada umat muslim dengan menurunkan Al-Qur’an yang berisikan firman-Nya. Bagi kaum muslim, membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah wajib, sebab ada banyak sekali manfaat membaca Al-Quran.

    Namun faktanya, sebagian muslim malas membaca Al-Quran meski di dalamnya terdapat petunjuk untuk hidup di dunia. Dan sebagian lainnya merasa belum pantas membacanya karena kesulitan dan terbata-bata.

    Padahal Allah SWT sendiri yang telah menjanjikan pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an meskipun tidak sempurna, lho. Untuk keutamaan lainnya, yuk simak artikel ini hingga akhir!

    Manfaat Membaca Al-Qur’an dan Mempelajarinya

    Seperti yang kita ketahui, Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada umat manusia sebagai pedoman dalam berkehidupan. Al-Qur’an tentunya tidak hanya membahas mengenai mahluk yang hidup saja, namun segala sesuatu yang Allah ciptakan di dunia.

    Al-Qur’an juga bukan merupakan peninggalan leluhur terdahulu yang mungkin saja isinya dapat diubah seirizing zaman, namun Al-Qur’an merupakan sebuah kitab yang apabila kita membacanya, niscaya kita akan mendapatkan pahala.

    Membaca Al-Qur’an juga dianjurkan menyempurnakannya dengan kaidah tajwid, yang tujuan dasarnya yakni memperindah bacaan.

    Lantas, bagaimana jika kita belum fasih dalam membaca Al-Qur’an, apakah dilarang untuk membacanya? Jangan khawatir, sepanjang kita masih ada keinginan untuk terus belajar membaca Al-Qur’an dengan baik, maka Insyaallah kita akan tetap memperoleh pahala dari Allah.

    Hal ini turut dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim, sayidah Aisyah radiyallahu anha:

    Seseorang yang lancar membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan selalu senantiasa taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala.” (HR Muslim)

    Lalu, apa saja keutamaan membaca Al-Qur’an sendiri?

    1. Memberi Syafaat di Hari Kiamat

    Saat hari kiamat, akan dibangunkan seluruh umat muslim lalu dikumpulkan ke padang masyar sebagai hari pertimbangan amal perbuatan manusia di hadapan Allah, serta takdir ditentukan, apakah ia akan menjadi penghuni surga maupun neraka.

    Salah satu amalan yang membantu kita memperoleh syafaat dari Allah adalah membaca Al-Qur’an.  Sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut ini:

    عن أَبي أُمامَةَ رضي اللَّه عنهُ قال : سمِعتُ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : « اقْرَؤُا القُرْآنَ فإِنَّهُ يَأْتي يَوْم القيامةِ شَفِيعاً لأصْحابِهِ » رواه مسلم

    Dari Abu Amamah ra, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim).

    Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    2. Memperoleh Ketenangan Hati

    Memperoleh Ketenangan Hati

    Keutamaan membaca Al-Qur’an selanjutnya yakni akan diberikan ketenangan hati, rahmat dan memuji suatu kaum yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, serta malaikat akan melingkarinya.

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله : « وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ » رَوَاهُ مُسْلِمُ.

    Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan mereka dilingkupi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang berada didekat-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim)

    3. Memperoleh Kedudukan yang Tinggi di Surga

    Apabila seorang muslim membaca Al-Qur’an dengan niat karena Allah Ta’ala, maka atas izin Allah akan memperoleh kedudukan yang tinggi di surga-Nya.

    Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut ini:

    عن عمرَ بن الخطابِ رضي اللَّه عنهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إِنَّ اللَّه يرفَعُ بِهذَا الكتاب أَقواماً ويضَعُ بِهِ آخَرين » رَوَاهُ مُسْلِمُ

    Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah saw. bersabda,: “Sesungguhnya Allah SWT. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim);

    4. Dikabulkan Permintaannya Oleh Allah

    Keutamaan selanjutnya yakni apabila seorang muslim rajin membaca Al-Qur’an dalam hidupnya, atas izin-Nya maka akan dikabulkan permintaannya oleh Allah SWT.

    Mengingat salah satu wasilah atau perantara agar doa kita diberikan balasan yang baik adalah dengan menyibukkan diri membaca Al-Qur’an.

    Hal ini turut dijelaskan dalam salah satu hadis qudsi, Allah berfirman:

    “Siapa saja yang disibukkan oleh membaca Al-Quran, hingga tak sempat zikir yang lain kepadaKu dan meminta kepadaKu, maka Aku akan memberinya balasan terbaik orang-orang yang meminta. Ingatlah, keutamaan Al-Quran atas kalimat-kalimat yang lain seperti keutamaan Allah atas makhlukNya,” (HR. Al-Baihaqi). 

    Makna dari hadis di atas bahwa membaca Al-Qur’an memiliki keutamaan di atas zikir-zikir lainnya.

    Baca juga: Ini Hukum Pacaran dalam Islam, Penjelasan Lengkap

    5. Akan Terhitung Pahala Meski Terbata-bata

    Apabila seorang muslim membaca Al-Qur’an dengan istiqomah meskipun ia terbata-bata sekalipun, dengan niat hati karena Allah Ta’ala, maka akan terhitung baginya pahala seperti bersedekah. Seperti yang dijelaskan pada salah satu hadis yang berbunyi:

    وَاٌلَذِي يَقُراٌ القُرانَ وَيَتَتَعتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه اَجَران » متفقٌ عليه

    Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim);

    Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak membaca Al-Qur’an semasa hidupnya.

    6. Mendapat Kebaikan di Setiap Hurufnya

    Setiap huruf Al-Quran yang kita baca bernilai satu kebaikan bagi yangg mebacanya. Pahala keutamaan membaca Al-Quran tidak didasarkan pada banyaknya halaman yang kita baca, namun didasarkan pada setiap huruf yang kita lafalkan.

    Ini selaras dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi dari sahabat Abdullah ibn Masud radiyallahu anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Quran), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”(HR Imam At-Tirmidzi)

    Oleh sebab itu, akan banyak sekali pahala yang kita dapatkan apabila dengan konsisten membaca Al-Qur’an.

    Tentu Allah tidak memiliki batasan dalam melipatgandakan pahala yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang selalu melakukan amalan kebaikan.

    Manfaat Rutin Membaca Al-Qur’an

    Apabila seorang muslim tidak pernah membaca Al-Qur’an, sama saja ia hidup  dengan tubuh yang tidak pernah berbusana. Padahal ia tahu betapa banyak keutamaan membaca Al-Qur’an serta manfaatnya. Sungguh memalukan dan tidak perlu ditiru karena Allah SWT tidak menyukainya.

    Berikut beberapa manfaat membaca Al-Qur’an bagi seorang muslim:

    1. Mendapatkan Pahala dan Kebaikan

    Manfaat yang pertama saat membaca Al-Qur’an adalah mendapatkan pahala yang berlipatganda dan kebaikan dari Allah SWT sebagai manusia yang sholeh dan sholehah.

    Sepert yang dijelaskan dalam hadits riwayat dari yirmidzi bahwa :

    “Barang siapa yang membaca satu huruf saja dari kitabullah maka seseorang akan mendapatkan kebaikan satu kali. tetapi setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kalinya.”

    2. Memperoleh Rahmat dan Lindungan Oleh Malaikat

    Membaca Al-Qur’an dengan hati yang tenang dan niat yang baik akan mendatangkan rahmat dari Allah SWT serta perlindungan dari para malaikat dari kejahatan dunia baik yang terlihat maupun tidak terlihat.

    Seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadis berikut ini:

    ” Ketika para kaum muslim berkumpul dimasjid masjid allah dan mereka membaca Alquran dan memnpelajarinya, maka akan datang kepada mereka ketentraman , rahmat allah dan dilindungi malaikat malaikat dan allah menyebut mereka dihadapan makhluk yang ada didekatnya.”

    3. Dapat Memberikan Derajat dan Wibawa Lebih Baik

     Manfaat lainnya ketika membaca Al-Qur’an, Allah akan membuat wajah umat-Nya menjadi bersinar dan juga nampak berwibawa.

    Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi lebih disayangi, dihormati dan dihargai  banyak orang.

    Hal ini turut dijelaskan dalam salah satu hadis riwayat Bukhari yakni:

    “Orang orang yang hebat dalam membaca alquran akan selalu ditemani para malaikat pencatat yang paling dimuliakan da taat pada Allah SWT  dan orang orang yang terbata bata membaca Alquran lalu bersusah payah mempelajarinya maka dia akan mendapatkan dua kali pahala,” (HR. Bukhari)”

    4. Menjadikan Seseorang Berperilaku Mulia

    Ketika membaca Al-Qur’an dengan hati yang tenang, sabar dan bahagia, dapat merubah seorang uslim yang berperilaku tidak baik menjadi lebih baik.

    Baginda Rasullulah SAW pernah bersabda :

    “Sebaik baiknya manusia adalah yang membaca dan mempelajari Alquran serta mengajarkannya pada orang lain.” (HR.Bukhari)”

    5. Menjauhkan Dari Segala Penyakit

    Mungkin sebagian orang tidak percaya bahwa dengan membaca Al-Qur’an, atas izin Allah akan dijauhkan dari segala macam penyakit.

     Hal ini tentu memiliki dasar, dijelaskan dalam beberapa hadis bahwa membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ikhtiar yang bisa dilakukan seorang muslim agar selalu sehat.

    ” Hendaknya kamu menggunakan jenis obat obatan seperti madu dan membaca alquran (HR. Ma’ud)

    “Dan makanlah oleh kamu bermacam macam buah serta tempuhlah jalan jalan yang telah ditetapkan  pada tubuhmu dengan lancar .Ada madu yang bermacam macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. Di alam semesta terdapat banyak tanda tanda kekuasaan Allah bagi orang orang yang memikirkan  hal itu.” (QS.An-naah 16 : 69)

    6. Memberikan Kenikmatan Pada Kedua Orangtua dihari Kiamat

    Manfaat yang terakhir yakni apabila seorang anak yang membiasakan diri membaca Al-Qur’an semata-mata karena kecintaannya terhadap Allah SWT dan kedua orangtuanya maka Allah SWT akan melindungi kedua orangtuanya dan memberinya kenikmatan termasuk mahkota pada kepala mereka sebagai tanda keberkahan.

    Seperti Rasullulah pernah bersabda :

    “Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya semata-mata karena Allah SWT maka Allah akan memberikan mahkota dikepala kedua orangtuanya dan kenikmatan pada hari kiamat dan akan terlihat lebih terang daripada sinar matahari sehingga kamu tidak akan menduganya bahwa ganjaran  itu dikarenakan amalan-amalan sipembaca Al-Qur’an itu.” (HR. Abu daud.)

    Setelah mengetahui keutamaan membaca Al-Qur’an serta manfaatnya, kita tahu bahwa akan merugi sekali jika tidak pernah membacaAl-Qur’an semasa hidup kita.

    Jadi, jangan sampai melewatkan untuk membaca Al-Qur’an setiap hari ya! Semoga artikel ini bermanfaat, terimakasih banyak sudah berkunjung.

  • 30 Ucapan Terima kasih dalam Islam Arab Latin

    30 Ucapan Terima kasih dalam Islam Arab Latin

    Ada tiga kata ajaib yang menjadi etika dasar dalam berkomunikasi, satu di antaranya yakni kata terima kasih. Ucapan terima kasih dalam Islam merupakan salah satu perilaku mulia yang dianjurkan Rasulullah SAW sebagai bentuk menghargai orang lain dan rasa syukur.

    Meskipun terdengar sederhana, namun kata ini memiliki dampak yang luar biasa bagi orang-orang yang menerimanya.

    Berikut ini 30 ucapan terima kasih dalam Islam yang bisa dijadikan contoh, yuk simak bersama!

    Bentuk-Bentuk Ucapan Terima kasih dalam Islam

    Dalam ajaran Islam, ucapan terima kasih dapat diungkapkan dengan berbagai macam cara, seperti mengucapkan kata jazakumullahu khairan yang memiliki arti “Semoga Allah membalas kebaikanmu.”

    Dengan mengucapkan kalimat tersebut, maka seseorang seolah memberikan hadiah maupun bantuan kepada orang yang telah membantu.

    Selain itu, dalam Islam sendiri, mengucapkan terima kasih juga merupakan salah satu bentuk adab berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang tertulis pada Surat Ibrahim ayat 7:

     “Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu mengumumkan: “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

    Selain itu dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda:

     “Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud, no. 4811 dan Tirmidzi, no. 1954).

    Adapun beberapa bentuk-bentuk ucapan terima kasih Islami dalam bahasa Arab adalah sebagai berikut:

    1. Jazakumullahu khairan artinya semoga Allah membalas kebaikanmu.
    2. Syukron katsiran artinya terima kasih banyak.
    3. Syukron jazilan artinya terima kasih banyak.
    4. Syukron laka artinya terima kasih untukmu (laki-laki).
    5. Syukron lak artinya terima kasih untukmu (perempuan).
    6. Syukron lakun artinya terima kasih banyak (untuk perempuan).
    7. Syukron lakum jami’a artinya terima kasih semuanya.
    8. Syukron ya habibi artinya terima kasih sayang (laki-laki).
    9. Syukron ya habibti artinya terima kasih sayang (perempuan).
    10. Syukron ya akhi artinya terima kasih saudaraku.
    11. Syukron ya ukhti artinya terima kasih saudariku.
    12. Syukron ya sohibi artinya terima kasih sahabatku.
    13. Syukron ya ashabi artinya terima kasih sahabat-sahabatku.
    14. Syukron ya ummi artinya terima kasih ibu.
    15. Syukron ya abbi artinya terima kasih ayah.
    16. Syukron ya zawji artinya berarti terima kasih suamiku.
    17. Syukron ya zawjati artinya terima kasih istriku.
    18. Syukron ala du’aika artinya terima kasih atas doamu (laki-laki).
    19. Syukron ala du’aiki artinya terima kasih atas doamu (perempuan).
    20. Syukron ala du’aih artinya terima kasih atas doanya (laki-laki).
    21. Syukron ala du’aiha artinya terima kasih atas doanya (perempuan).
    22. Syukron ala hadzihil fursah artinya terima kasih atas kesempatannya.
    23. Syukron ala kulli hadzihil asyya’I artinya terima kasih atas ini semuanya.
    24. Syukron ala maghluumath artinya terima kasih atas informasinya.
    25. Syukron ala timaamikum artinya terima kasih atas perhatian kalian.
    26. Syukron a’laa hadha alwaqt artinya terima kasih atas waktunya.
    27. Syukron ala hadzhil musaa’adih artinya terima kasih atas bantuannya.
    28. Barakallahu fiik, semoga Allah memberikan berkah dalam hidupmu dan mengabulkan doamu
    29. Wa antum fa jazakumullahu khairan, semoga Allah memberikan berkah dalam setiap langkahmu.
    30. Allahumma barik, terima kasih atas doa yang penuh kasih sayang, semoga Allah memberikan keberkahan dalam hidupmu.

    Baca juga: Doa Ketika Mendengar Suara Burung di Malam Hari

    Balasan Ucapan Terima kasih Islami

    Balasan Ucapan Terima kasih Islami

    Setelah mengetahui beberapa ucapan terima kasih dalam Islam, tentu sebagai sesama muslim sebaiknya untuk membalas ucapan tersebut sebagai bentuk doa bagi yang memberikan ucapan.

    Hal ini juga dijelaskan dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa yang diberikan kepadanya kebaikan, lalu ia mengatakan kepada pelakunya: ‘jazakallah khairan’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh ia telah benar-benar meninggikan pujian.” (HR. Tirmidzi).

    Berikut ini beberapa balasan ucapan terima kasih Islami:

    1. Saat orang lain menyebutkan “syukron” kamu dapat menjawabnya dengan ucapan “afwan” yang berarti sama-sama.
    2. Ketika ada yang mengucapkan “Jazakallah khairan” kamu dapat membalasnya dengan “Wa jazakallahu khairan” artinya “Dan semoga Allah membalasmu juga dengan kebaikan.
    3. Menjawab jazakumullah khair dengan wa iyyakum artinya dan (kebaikan untukmu juga).

    Baca juga: 8 Arti Mimpi Hamil dalam Islam, Sebuah Pertanda Baik?

    Manfaat Ucapan Terima kasih dalam Islam

    Beberapa ulama sepakat bahwa ucapan terima kasih dalam Islam memiliki banyak sekali manfaat yang diterima bagi seorang muslim yang melamalkannya, selain bentuk adab agar tercapainya komunikasi yang efektif, berikut beberapa manfaat ucapan terima kasih dalam Islam:

    1. Memperbesar Energi Positif

    Rutin mengucapkan tiga kata ajaib termasuk terima kasih akan memberikan energi positif serta terbentuknya afirmasi positif bagi seorang muslim, sehingga dapat bersikap dengan baik saat menyikapi segala Sesuatu yang terjadi pada dirinya.  

    2. Pembuka Pintu Kenikmatan

    Bagi siapa saja yang mudah dalam mengucapkan terima kasih, hidupnya akan selalu dikelilingi kenikmatan.

    Sebab, terima kasih menunjukan bahwa seseorang bersyukur atas nikmat Allah SWT. Dengan begitu, Allah SWT akan selalu memberikan rezeki yang lebih bagi hamba-Nya yang pandaii bersyukur.

    3. Meluluhkan hati

    Ucapan terima kasih bisa meluluhkan hati orang yang menerimanya. Sebab, ucapan tersebut merupakan sebuah bentuk apresiasi dari sebuah tindakan.

    4. Merasa dihargai

    Ucapan terima kasih akan membuat orang lain merasa dihargai atas pertolongan atau kebaikan yang sudah diberikan.

    Hal ini juga akan membuat orang lain senang untuk kembali memberikan bantuan di kemudian hari.

    5. Menyenangkan hati

    Terima kasih adalah salah satu kata ajaib sederhana tapi sangat berharga dan bermakna. Seseorang yang menerima ucapan tersebut akan merasa senang karena pemberiannya dihargai dan bermanfaat bagi orang lain.

    Nah, itulah 30 ucapan terima kasih dalam Islam yang bisa digunakan sebagai referensi dalam mengucapkan syukur atas nikmat dan pertolongan yang Allah SWT perantarakan pada sesama umat-Nya. Semoga bermanfaat. Assalamualaikum wr.wb.

  • Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    Biografi Sunan Drajat dari Silsilah hingga Metode Dakwahnya 

    Salah satu sunan dari Wali Songo adalah Sunan Drajat. Beliau memiliki nama kecil Raden Hasyim, lalu memperoleh gelar Raden Syarifudin. 

    Diperkirakan beliau lahir pada tahun 1470 Masehi. Beliau ini merupakan putra dari Sunan Ampel yang begitu terkenal lantaran kecerdasannya. Beliau juga merupakan saudara dari Sunan Bonang. 

    Setelah Sunan Drajat belajar Islam, ia menyebar agama Islam khususnya di Desa Drajat yang menjadi tanah perdikan.

    Di sana, beliau mendirikan pesantren yang diberi nama Dalem Duwur. Tempat ini ia dapatkan sebagai pemberian dari Kerajaan Demak. 

    Dari sanalah, akhirnya beliau diberi gelar Sunan Mayang Madu pada tahun 1442/1520 Masehi oleh Raden Patah. Ingin tahu lebih lengkap mengenai Sunan Drajat? Yuk, baca lebih selengkapnya di bawah ini. 

    Sejarah Singkat Sunan Drajat

    Beliau memiliki nama kecil Raden Syarifuddin atau Raden Qosim. Setelah beliau menguasai ajaran Islam, akhirnya dipilihlah tempat yang ada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tepatnya di Desa Drajat. 

    Lamongan, telah menjadi pusat kegiatan dakwahnya di sekitar abad ke-XV sampai XVI Masehi. 

    Beliau kemudian memegang kendali kerajaan pada wilayah perdikan ini sebagai otonom dari kerajaan Demak. Kurang lebih beliau memegang kendali selama 36 tahun. 

    Raden Qosim amat terkenal karena jiwa sosialnya. Nasib kaum miskin selalu menjadi fokus dalam penyebaran dan kegiatan dakwahnya. 

    Di awal, beliau mengusahakan lebih dulu kesejahteraan sosial untuk selanjutnya memberi pemahaman mengenai ajaran-ajaran Islam. 

    Motivasi yang beliau berikan, lebih pada etos kerja keras, kedermawanan agar bisa mengentaskan dari kemiskinan, serta menciptakan kemakmuran. 

    Jadi, fokus awal bukan langsung pada mengajarkan ajaran-ajaran Islam. Melainkan membuat masyarakat yang ada di Desa Drajat sejahtera secara ekonomi dan sosial lebih dahulu. 

    Sebagai penghargaan atas seluruh keberhasilannya dalam menyebar agama Islam dan menanggulangi tingkat kemiskinan, serta memakmurkan warga, beliau menerima gelar Sunan Mayang Madu secara langsung dari Raden Patah. 

    Waktu beliau mendapatkan gelar, Raden Patah adalah sosok yang menjadi Sultan Demak tepat pada tahun saka 1442 atau sekitar 1520 Masehi. 

    Raden Qasim ini adalah saudara Sunan Bonang yang masih merupakan keturunan dari Rasulullah SAW. 

    Silsilah Sunan Drajat

    Raden Qosim juga merupakan keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Adapun silsilahnya yakni: 

    • Nabi Muhammad SAW
    • Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib
    • Imam Husain
    • Ali Zainal Abidin
    • Muhammad al-Baqir
    • Ja’far ash-Shadiq
    • Ali al-Uraidhi
    • Muhammad al-Naqib
    • Isa ar-Rumi
    • Ahmad al-Muhajir
    • Ubaidillah
    • Muhammad Sahibus Saumiah
    • Alwi ats-Tsani
    • Ali Khali’ Qasam
    • Muhammad Shahib Mirbath
    • Alwi Ammi al-Faqih
    • Abdul Malik Azmatkhan
    • Abdullah Khan
    • Ahmad Syah Jalal
    • Jamaludin Akbar al-Husaini atau Syekh Jumadil Qubro
    • Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
    • Raden Rahmat atau Sayyid Ahmad Rahmatillah atau Sunan Ampel dan Dewi Condrowati
    • Raden Qasim atau Sunan Drajat

    Metode Dakwah Sunan Drajat

    Sunan Drajat memiliki metode dakwah dengan cara memanfaatkan media seni, termasuk juga dengan suluk dan juga tembang pangkur. 

    Tidak hanya itu, beliau juga memiliki ajaran Catur Piwulang yang seluruh isinya adalah berbuat baik terhadap sesama.

    Selanjutnya dalam berdakwah, beliau juga sangat memperhatikan nasib para orang-orang miskin, yatim-piatu, hingga orang terlantar. 

    Beliau pun mengajak para bangsawan di masa itu untuk sedekah, infaq, dan juga zakat yang sesuai dengan agama Islam. 

    Baca juga: 14 Dosa Orang Tua Terhadap Anak yang Dibenci Allah SWT

    Filosofi Sunan Drajat

    Setiap sunan yang termasuk dalam Wali Songo, memiliki filosofi masing-masing yang menjadi dasar perilaku dan apa saja yang mereka lakukan. Termasuk juga Sunan Drajat. 

    Filosofi milik beliau untuk mengentaskan kemiskinan, saat ini abadi dalam sap tangga ketujuh dari seluruh tataran komplek di Makam Sunan Drajat. 

    Lebih lengkapnya, filosofi  tujuh saf tangga ini yakni: 

    1. Memangun Resep Tyasing Sasoma

    Filosofi ini memiliki arti ‘kita selalu membuat senang hati dari orang lain’. Filosofi satu ini mengajarkan bahwa kita, harus selalu berupaya untuk menyenangkan hati dari orang-orang yang ada di sekitar kita. 

    2. Jroning Suka Kudu Eling lan Waspada

    Makna dari filosofi ini cukup mendalam. Bahkan dalam suasana riang, bahagia, dan gembira, kita harus tetap ingat dan juga waspada. Filosofi satu ini, mengajarkan bagi kita untuk tidak berlebihan ketika dalam keadaan senang. 

    Tentu saja, tujuan dari filosofi ini adalah agar kita lebih ingat juga waspada demi keselamatan, di dunia sampai akhirat kelak. 

    3. Laksmitaning Subrata tan Nyipta Marang Pringgabayaning Lampah

    Selanjutnya, filosofi Sunan Drajat ini memang cukup panjang. Maknanya sangat mendalam. 

    Artinya adalah dalam perjalanan menggapai impian dan cita-cita luhur, kita tak perlu peduli dengan semua bentuk rintangan yang mungkin menghadang. 

    Intinya, kita harus terus berupaya semaksimal mungkin untuk mencapai cita-cita luhur yang di awal sudah kita tetapkan. 

    4. Meper Hardaning Pancadriya

    Menekan nafsu, adalah inti dari filosofi yang dimiliki oleh Raden Qasim ini. Makna sebenarnya adalah ‘kita harus tetap dan selalu menekan gelora dari nafsu’ yang ada dalam diri. 

    5. Heneng – Hening – Henung

    Ini adalah salah satu filosofi yang cukup terkenal dan masih digunakan oleh banyak orang sebagai filosofi pribadinya sendiri. 

    Artinya juga cukup mendalam yakni, “dalam keadaan diam, kita dapat memperoleh keheningan. Dan dalam keadaan hening itulah kita bisa mencapai cita-cita yang luhur.”

    6. Mulya Guna Panca Waktu

    Filosofi ini tak hanya berlaku untuk di masa itu dan hanya untuk kalangan tertentu saja. Melainkan juga masih berlaku untuk kehidupan saat ini dan di masa depan. 

    Filosofi satu ini ada berdasarkan perintah agama. Artinya adalah ‘suatu kebahagiaan secara lahir dan batin, hanya dapat kita capai/peroleh dengan shalat lima waktu.’

    7. Menehana Teken Marang Wong Kang Wuta…

    Filosofi yang kami tuliskan di atas hanya sekadar kutipan saja. Sebenarnya, filosofi ini cukup panjang. Bunyinya begini. 

    Menehana teken marang wong kang wuta, Menehana mangan marang wong kang luwe, Menehana busana marang wong kang wuda, Menehana ngiyup marang wong kang kodanan.’

    Artinya adalah ‘berikanlah tongkat pada orang buta, berikanlah makan pada orang yang lapar, berilah pakaian kepada orang yang telanjang, dan berilah tempat berteduh pada orang yang sedang kehujanan.’

    Hal ini pun masih memiliki makna. Menurut sumber yang kami telusuri, filosofi Sunan Drajat ini masih memiliki arti lain. Adapun arti lainnya adalah: 

    “Berilah ilmu agar orang-orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan terhadap orang yang tidak punya malu, juga berikan perlindungan untuk orang yang menderita.”

    Penghargaan terhadap Sunan Drajat

    Di dalam sejarahnya, Raden Qasim atau Sunan Drajat merupakan seorang Wali yang membuat tembang Mocopat, tepatnya Pangkur. 

    Sisa-sisa gamelan Singo mengkok yang digunakannya, saat ini sudah tersimpan di Museum Daerah Lamongan. 

    Guna menghormati jasa-jasanya sebagai seorang Wali yang menyebarkan agama Islam, banyak benda-benda bersejarah yang menjadi peninggalannya. 

    Pemerintah Kabupaten Lamongan pun mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat tepat di sebelah timur makan. Museum ini telah diresmikan pada tanggal 1 Maret 1992. 

    Kisah Sunan Drajat yang Jarang Diketahui

    Tidak hanya terkenal dengan warisan filosofi dan usaha keras beliau untuk menyebarkan agama Islam, ada berbagai kisah menarik yang jarang diketahui. Ingin tahu lengkapnya? Ini dia kisahnya: 

    1. Sudah Pandai Baca-Tulis Al-Qur’an Sejak Kecil

    Raden Qosim terkenal sudah sangat pandai membaca juga menulis Al-Qur’an sejak usia beliau masih enam tahun. 

    Setelah selesai belajar agama di Ampel, Raden Qosim menunaikan ibadah haji sembari mendalami ilmu agama lebih lanjut di sana. 

    Sepuluh tahun setelahnya, Raden Qosim kembali ke Jawa untuk mendakwahkan Islam sebagaimana pesan yang disampaikan oleh ayahnya, Sunan Ampel. 

    2. Selamat dari Kecelakaan di Laut

    Pada suatu hari, Raden Qosim akan meneruskan dakwah ke daerah tertentu. Kemudian, ia menumpang perahu nelayan yang tengah mencari ikan tepatnya di perairan Surabaya – Tuban. 

    Nahasnya, perahu yang beliau tumpangi mengalami kecelakaan. Penyebabnya adalah kapal tersebut menabrak batu karang di lautan. 

    Tidak hanya membuat kapalnya hancur. Kecelakaan ini juga membuat penumpang yang ada di kapal jatuh ke laut. Namun, ada juga yang menjelaskan bahwa perahunya hancur karena ada badai dahsyat. 

    Hingga akhirnya, ada ikan yang muncul. Ada yang menyebutnya ikan hiu dan ada pula versi lain yang menyebut bahwa ikan yang muncul adalah ikan cucut dan ikan talang. 

    Apapun ikan yang menolongnya, intinya beliau diselamatkan oleh ikan yang datang atas pertolongan Allah SWT. 

    3. Metode Memakmurkan, Dakwah Kemudian

    Ini adalah hal yang jarang diketahui. Beliau adalah sosok yang terkenal sebagai orang yang amat memperhatikan keadaan sosial yang terjadi di sekitarnya. 

    Masyarakat miskin, nasibnya selalu diperhatikan. Tak hanya melihat, beliau pun selalu mengupayakan agar mereka bisa meningkatkan kesejahteraannya. 

    Sunan Drajat mengajarkan ke masyarakat Jawa banyak hal. Tak hanya berdakwah, beliau pun mengajarkan bertanam, berdagang, sampai keterampilan lain untuk meningkatkan ekonomi dari masyarakat sekitar. 

    Setelah ekonomi masyarakat sudah masuk dalam kategori mampu, barulah beliau menyebarkan Islam kepada masyarakat secara perlahan. 

    Dengan ini, masyarakat setempat akhirnya mengikuti apa yang beliau ajarkan. Beliau pun lebih mengutamakan ajaran Islam untuk etos kerja keras, kedermawanan, tenggang rasa, juga solidaritas. 

    Bahkan juga sampai dengan membantu menjauhkan orang-orang di lingkungan sekitar dari kemiskinan. Bukan hanya secara verbal beliau berdakwah, melainkan dengan upaya keras untuk mensejahterakan masyarakat sekitarnya. 

    Itulah sedikit yang bisa kami tuliskan mengenai Sunan Drajat. Banyak hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari beliau yang dulu telah berupaya menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ini.

  • Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Gresik: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa  tidak lepas dari perjuangan Wali songo. Salah satu Sunan yang ada di dalam Wali Songo adalah Maulana Malik Ibrahim atau dikenal Sunan Gresik.

    Maulana Malik Ibrahim menyebarkan ajaran agama Islam lewat dakwah. Pada tahun 1404 Masehi, beliau mendirikan majelis dakwah yang bertujuan untuk melakukan perubahan penduduk Jawa ke arah lebih baik.

    Jika ingin mengetahui lebih jauh tentang biografi, asal usul, dan metode dakwah Sunan Gresik, berikut uraian informasi selengkapnya. Yuk, simak di bawah ini sekarang!

    Biografi Sunan Gresik

    Maulana Malik Ibrahim atau yang terkenal dengan sebutan Sunan Gresik adalah salah satu Sunan dari sembilan wali atau Wali Songo. Beliau merupakan putra dari Jamaluddin Akbar Al Husaini yang lahir pada abad ke 14.

    Sementara nama ibu dari Sunan ini belum diketahui. Namun, istrinya yang bernama Siti Fatimah adalah keturunan dari Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1.

    Menurut cerita leluhur, Maulana Malik Ibrahim memiliki karomah atau kemuliaan yang Allah berikan berupa kemampuan menurunkan hujan. Selain itu, beliau juga memberikan pelajaran pada muridnya dalam mencegah perampok.

    Tidak hanya itu, dalam bidang pendidikan beliau mendirikan pondok pesantren yang berada di daerah Leran, Kota Gresik. Beliau juga memiliki karya kesenian berupa lagu gundul-gundul pacul dan tembang suluk.

    Maulana Malik Ibrahim juga giat dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Hal ini yang kemudian menciptakan persepsi sendiri mengenai asal usulnya.

    Asal Usul Sunan Gresik

    Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang asal usul nama Sunan Gresik dan perjalanan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Berikut info detailnya untuk menambah pengetahuan.

    1. Persepsi Nama Asli

    Masyarakat menganggap Maulana Malik Ibrahim bukan merupakan keturunan asli Jawa. Persepsi inipun diperkuat dari nama panggilan beliau yakni Syekh Maghribi yang masyarakat berikan kepada beliau.

    Masyarakat memiliki persepsi bahwa Sunan ini berasal dari Arab Maghrib yang berada di wilayah sekitar Afrika Barat. Bahkan, ada juga masyarakat yang percaya bahwa beliau berasal dari daerah Maroko.

    Meski begitu, Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali. Beliau juga memiliki ikatan saudara dengan Maulana Ishaq yakni ayah dari Sunan Giri.

    Baca juga: Pengertian Toleransi dalam Islam dan Batasan-Batasannya

    2. Tempat Kelahiran

    Menurut tulisan yang ada di dalam naskah babad Tanah Jawi oleh J.J Meinsma, Maulana Malik Ibrahim yang juga memiliki nama Makhdum Ibrahim As-Samarqandi atau Syekh Ibrahim Asmarakandi.

    Berdasarkan nama itu, Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di daerah Samarkand pada awal abad ke 14 Masehi. Kemudian, setelah beranjak dewasa pernah tinggal di Canpa atau kini lebih dikenal Kamboja.

    Di daerah Campa, beliau menikah dengan putri raja dan memiliki dua orang putra. Adapun dua orang putra dari Maulana Malik Ibrahim yaitu Raden Rahmat atau dikenal Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha.

    3. Wali Songo Pertama

    Maulana Malik Ibrahim merupakan Wali Songo pertama yang datang ke tanah Jawa dalam menyebarkan agama Islam. Beliau pertama kali datang ke Desa Sembalo yang berada di wilayah kerajaan Majapahit.

    Desa Sambalo saat ini merupakan bagian dari daerah Leran, Kecamatan Manyar, Kota Gresik. Hal yang pertama kali beliau lakukan adalah berdagang berbagai macam kebutuhan pokok dengan harga murah.

    Selain itu, beliau juga mendirikan masjid di Desa Pasucinan, Kecamatan Manyak, Kota Gresik. Hal ini sebagai wadah atau tempat beliau menyebarkan agama Islam kepada masyarakat di sekitar kala itu.

    Silsilah Keturunan Sunan Gresik

    Menurut informasi yang diperoleh, Nasab Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali. Berikut nasab dan silsilah keturunan Maulana Malik ibrahim:

    1. Nabi Muhammad SAW
    2. Fatimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib
    3. Al-Husain bin
    4. Ali Zainal Abidin bin
    5. Muhammad Al-Baqir bin
    6. Ja’far Shadiq bin
    7. Ali Al-Uraidhi bin
    8. Muhammad An-Naqib bin
    9. Isa Ar-Rumi bin
    10. Ahmad Al-Muhajir bin
    11. Ubaidillah bin
    12. Alwy bin
    13. Muhammad bin
    14. Alwy bin
    15. Ali Khali’ Qasam bin
    16. Muhammad Shahib Mirbath bin
    17. Alwi Ammil Faqih bin
    18. Abdul Malik Azmatkhan bin
    19. Abdullah bin
    20. Ahmad Jalaluddin bin
    21. Husain Jamaluddin bin
    22. barakat Zainal Alam
    23. Maulana Malik Ibrahim

    Kisah Perjuangan Saat Menyebarkan Islam

    Maulana Malik Ibrahim yang dikenal juga sebagai Kakek Banyak oleh masyarakat setempat, beliau melakukan kegiatan dakwah dengan cara yang bijaksana dan lemah lembut sesuai dengan ajaran Al-Quran.

    Beliau berjuang melakukan syiar Islam kepada masyarakat dari mulai datang pertama kali ke pulau Jawa hingga beliau wafat pada tahun 1419 Masehi. Berikut perjuangan Sunan Gresik dalam berdakwah:

    1. Mendirikan Masjid Pertama

    Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu Wali Songo yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Oleh karena itu, beliau dianggap sebagai wali senior di antara para Wali Songo lainnya.

    Pada tahun 801 Hijriyah atau 1392 Masehi, beliau pertama kali diunggah di daerah Leran. Kemudian, beliau menyebarkan syiar Islam di Jawa Timur dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Manyar.

    Selain itu, Sunan Gresik juga mulai berdagang di Desa Roomo. Roomo adalah desa yang terletak sekitar 4 km dari timur Desa Leran. Daerah ini dianggap cocok untuk dagang karena dekat dengan pelabuhan Gresik.

    2. Belajar Bahasa Setempat

    Sambil berdagang, Sunan Gresik ternyata punya tujuan untuk mempelajari bahasa daerah masyarakat setempat. Hal ini beliau lakukan untuk mempermudah komunikasi saat berdakwah atau syiar agama Islam.

    Selain itu, beliau juga sering kali membantu masyarakat yang membutuhkan pengobatan. Beliau juga sering menolong fakir miskin. Beliau terkenal di kalangan masyarakat sebagai pribadi ramah dan baik hati.

    Nama Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik pun terkenal sampai di kalangan bangsawan Kerajaan Majapahit. Hingga suatu ketika, beliau ingin berkunjung dan bertemu dengan Raja Majapahit bernama Prabu Brawijaya.

    3. Berdakwah di Majapahit

    Setelah Raja Majapahit menerima kedatangan Maulana Malik Ibrahim, raja sangat terkesan dengan sopan santun dan budi pekerti Sunan Gresik ini. Hanya saja, sang saja belum bersedia memeluk agama Islam.

    Perlu kita ketahui, Raja dan masyarakat di Majapahit menganut agama Hindu dan Buddha. Meski sudah ada juga sebagian yang beragama Islam. Namun, Maulana Malik Ibrahim tetap meminta izin dakwah di Majapahit.

    Penyebaran agama Islam oleh Maulana Malik Ibrahim dengan menggunakan strategi dan cara yang bijaksana. Beliau selalu bersabar dan berusaha meluruskan pemikiran orang yang selalu berbuat musyrik.

    4. Dakwah Sesuai Ajaran Nabi

    Dalam perjalanan dakwahnya, beliau tidak hanya berhadapan dengan masyarakat beragama Hindu. Namun, beliau juga harus menghadapi orang yang tidak memiliki agama dan membukti aliran sesat.

    Cara Sunan Gresik menghadapi orang tersebut adalah dengan tidak secara langsung menentang kepercayaannya. Tapi beliau melakukan dengan cara pendekatan yang ramah dan bisa diterima masyarakat.

    Beliau dalam menyebarkan dakwahnya selalu menunjukkan cara yang bijaksana. Setiap dakwah selalu menunjukan keindahan dan akhlak Islami sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dan Al-Quran.

    Metode Dakwah Sunan Gresik

    Salah satu hal yang membuat masyarakat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh Maulana Malik Ibrahim adalah pribadi yang halus dan baik hati. Masyarakat bisa tersentuh untuk memeluk agama Islam.

    Metode dakwah seperti ini Sunan Gresik terapkan agar warga atau masyarakat sukarela masuk Islam tanpa paksaan. Beliau menjelaskan tentang Islam dengan bahasa yang mudah mereka pahami.

    Selain itu, metode pendekatan beliau kepada orang-orang yang berkasta rendah dalam agama Hindu. Seperti kita ketahui, di agama hindu ada empat kasta yaitu, brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.

    Banyak dari kasta waisya dan sudra tertarik dengan penjelasan Maulana Malik Ibrahim tentang kedudukan seseorang di dalam agama Islam adalah sama atau sederajat, serta tidak ada yang berbeda.

    Sunan Gresik setiap menjelaskan tentang agama Islam dengan cara halus, sehingga masyarakat tergerak hatinya untuk masuk Islam. Banyak masyarakat berbondong-bondong masuk Islam tanpa paksaan.

    Setelah beliau memiliki pengikut yang banyak, kemudian beliau mendirikan masjid untuk tempat beribadah bersama. Dalam pembuatan masjid, beliau mendapatkan banyak bantuan dari Raja Carmain.

    Raja Carmain adalah pemimpin dari sebuah kerajaan bernama Kerajaan Champa. Beliau senantiasa selalu membantu Maulana Malik Ibrahim dalam melakukan kegiatan syiar Islam di zaman Kerajaan Majapahit.

    Contoh Keteladanan Sunan Gresik

    Dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Beliau mendekati masyarakat melalui pergaulan dan berdagang.

    Sunan Gresik tidak menentang kepercayaan dan agama warga asli yang mereka peluk. Justru, beliau memperlihatkan suatu keindahan dan kebaikan yang ada dalam agama Islam dengan cara yang halus.

    Berkat keramah-tamahan dan sopan santun, akhirnya banyak orang tertarik masuk ke dalam agama Islam. Kemudian, beliau mendirikan tempat ibadah bagi umat Islam untuk ibadah sholat dan mengaji.

    Dari perjalanan dakwah beliau, kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah bahwa untuk membuat seseorang berbuat baik tidak perlu paksaan. Cukup dengan pendekatan yang halus dan bisa mereka mengerti.

    Bukan dengan kekerasan, apalagi harus dengan melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sebab, agama Islam sendiri mengajarkan kita untuk berbuat baik karena pada dasarnya kita sama.

    Peninggalan Sunan Gresik Setelah Wafat

    Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 1419 Masehi. Lokasi makamnya ada di wilayah Gapura Wetan, Gresik. Adapun peninggalan beliau yang masih ada hingga saat ini, di antaranya:

    1. Masjid Pesucinan

    Masjid Pesucinan atau Masjid Malik Ibrahim merupakan salah satu peninggalan dari Maulana Malik Ibrahim yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

    Masjid ini tergolong sebagai masjid tertua di Desa Leran, Kota Gresik. Masjid ini berdiri pada saat zaman Kerajaan Majapahit berkuasa. Tidak heran, jika masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia.

    Masjid Pesucinan adalah salah satu bukti sejarah bahwa adanya perjuangan seorang wali dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia. Dalam hal ini, wali tersebut bernama Maulana Malik Ibrahim.

    2. Air Sumur

    Peninggalan air sumur Sunan yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ini adalah air sumur yang lokasinya ada di dalam Masjid Pesucinan.

    Banyak orang percaya bahwa air sumur ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Hal ini karena air sumur ini memang rasanya tawar yang berbeda dengan mayoritas air sumur di sekitarnya.

    Meskipun demikian, setiap penyakit ada yang menyembuhkan yaitu dari Allah SWT. Hanya saja, jalan untuk kesembuhannya bisa berbeda-beda yaitu bisa melalui minum obat, dokter, dan lain sebagainya.

    Itulah beberapa peninggalan yang masih ada hingga saat ini dan sudah sepatutnya kita jaga dan rawat. Dengan begitu, sejarah tentang Sunan Wali Songo bernama Maulana Malik ibrahim tetap terjaga baik.

    Demikian penjelasan tentang Sunan Gresik atau yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim mulai dari biografi hingga asal usul dan perjalanan dakwahnya. Semoga bisa menjadi referensi dan pengetahuan bagi kita.

  • Kisah Nabi Nuh AS, Berdakwah Lebih dari 900 Tahun

    Kisah Nabi Nuh AS, Berdakwah Lebih dari 900 Tahun

    Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah Nabi Nuh AS. Apalagi Beliau termasuk salah satu nabi yang memiliki gelar ulul azmi, yakni nabi dengan tingkat kesabaran, ketabahan, serta keteguhan hati yang luar biasa.

    Selain itu, ada lagi yang membuat takjub yaitu kesulitan yang dihadapi dan lama masa dakwah dari Nabi Nuh. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Nuh merupakan nabi dengan umur paling panjang.

    Penasaran? Mari simak kisah lengkapnya.

    Kisah Nabi Nuh AS yang Berdakwah dengan Penuh Kesabaran

    Termasuk dalam 25 nabi dan rasul yang wajib kita imani, Nabi Nuh merupakan cucu dari Nabi Idris AS. Beliau memiliki nama asli Abdul Ghaffar atau Yasykur, putra dari Lamik bin Matta bin Idris AS.

    Kisah Nabi Nuh disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Melansir dari laman Risalah, Nabi Nuh AS disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 43 kali.

    Selain itu, kisah Beliau juga disebutkan dalam sejumlah hadits. Salah satunya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab shahihnya, disebutkan:

    أن رجلا قال : يا رسول الله أنبي كان آدم . قال : نعم مكلم . قال : فكم كان بينه وبين نوح . قال :  عشرة قرون . رواه أحمد وابن ماجه

    Artinya: 

    “Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasul apakah Adam seorang nabi? Beliau menjawab, “Benar, dan yang diajak bicara langsung oleh Allah. Berapa lama jarak antara Nabi Adam dan Nuh, tanya sahabat tadi. Beliau menjawab, “Sepuluh masa.” (HR. Ahmad 5/265-266).

    Perjuangan dakwah Nabi Nuh AS berlangsung selama 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 14:

    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

    Artinya: 

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”

    Pada masyarakat kala itu telah tersebar kesyirikan, sehingga orang-orang menyembah patung (berhala) karena tipu daya dari setan.

    Hingga kemudian Allah SWT memilih Nuh ‘alaihissalam sebagai nabi dan rasul-Nya untuk mengajak kaumnya kembali ke jalan yang benar dengan menyembah Allah.

    Maka, Nabi Nuh pun mulai berdakwah dan mengajak orang-orang meninggalkan sesembahan selain Allah SWT.

    Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 59 yang berbunyi:

    لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

    Artinya: 

    “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”

    Setelah itu, di antara orang-orang pada masa itu ada sebagian yang mengikuti ajakan Nabi Nuh AS. Mereka terdiri dari kaum dhuafa dan fakir .

    Sedangkan orang-orang yang kuat dan kaya menolak dakwah Nabi Nuh. Bahkan istri dan salah satu anak Beliau juga termasuk golongan yang menolak. Selain menolak, mereka juga mencemooh Nabi Nuh.

    فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

    Artinya: 

    “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (QS. Huud: 27).

    Baca juga: Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

    Kaum yang Mendustakan Nabi Nuh

    Kisah Nabi Nuh dipenuhi dengan perjuangan dakwah yang sangat berat. Pasalnya, kaumnya kala itu adalah orang-orang yang sangat zalim, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

    وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ

    Artinya: “Dan kaum Nuh sebelum itu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka.” (An-Najm, 53: 52).

    Banyak yang mencemooh dan menolak dakwahnya. Meski begitu, Nabi Nuh AS tidak lantas berputus asa. Beliau terus mengajak mereka untuk meninggalkan berhala dan menyembah Allah SWT.

    Kisah Nabi Nuh AS juga mencakup bagaimana Beliau menyampaikan dakwah terus menerus secara langsung dan secara sembunyi-sembunyi.

    Akan tetapi, usaha Nabi Nuh tidak kunjung membuahkan hasil. Bahkan setelah Beliau berdakwah dalam waktu yang cukup lama, mereka yang menolak terus menghina dan menyakitinya.

    Penolakan terang-terangan terhadap dakwah Nabi Nuh juga diceritakan dalam AL-Qur’an:

    فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

    Artinya: 

    “Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh, 71: 6 – 7).

    Bahkan, orang-orang yang menolak itu pernah meminta Nabi Nuh untuk mengusir orang-orang fakir supaya orang-orang kaya bersedia duduk bersamanya sehingga mulai beriman padanya.

    Hal tersebut langsung mendapatkan penolakan dari Nabi Nuh, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 29-30, yang artinya:

    “Wahai kaumku! Aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu sebagai suatu kaum yang tidak mengetahui–Dan (Nuh berkata), “Wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?”

    Seolah belum cukup, para orang kaya itu pun marah dan menuduh Nabi Nuh sebagai orang sesat.

    قَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

    Artinya: 

    “Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” QS. Al A’raaf: 60).

    Dikisahkan dalam surat Al A’raaf: 61-62 bahwa Nabi Nuh mengelak tuduhan tersebut sembari kembali memberitahukan bahwa Beliau adalah utusan Allah.

    قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Artinya: 

    “Wahai kaumku! Tidak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.”

    أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    Artinya: 

    “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku, aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

    Kesulitan yang mewarnai perjuangan dakwah dalam kisah Nabi Nuh terus berlanjut. Kaum kafir yang menolak ajakan Nabi Nuh bahkan mengancam hendak membunuh Beliau.

    قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

    Artinya: 

    “Mereka berkata: ‘Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti Hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS. Asy Syu’ara, 26: 116).

    Nabi Nuh AS Mengadu Kepada Allah SWT

    Menghadapi penolakan yang demikian keras, Nabi Nuh tetap bersabar dan terus berdakwah. Hari demi hari, hingga bulan berganti tahun.

    Namun, setelah bertahun-tahun berlalu pun, hanya sedikit yang mengikuti seruan Beliau. Riwayat menyebutkan bahwa pengikut Nabi Nuh hanya sebanyak 70-80 orang.

    Walaupun demikian, Beliau tetap teguh dan melanjutkan dakwahnya dengan sabar. Bahkan lama dakwah Nabi Nuh mencapai 950 tahun, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al ‘Ankabut ayat 14.

    Namun, kaum kafir tidak juga mendengarkan ajakan Nabi Nuh. Justru sebaliknya, mereka terus mengajak manusia untuk menyekutukan Allah SWT.

    Selain penolakan terang-terangan pada dakwah Nabi Nuh, orang-orang kafir itu bahkan menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan azab dan membuktikan bahwa ajarannya benar.

    قَالُوۡا يٰـنُوۡحُ قَدۡ جَادَلۡتَـنَا فَاَكۡثَرۡتَ جِدَالـنَا فَاۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ اِنۡ كُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِيۡنَ‏ ٣٢

    Artinya: 

    “Wahai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap Kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada Kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32).

    Maka Nabi Nuh pun menjawab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

    قَالَ اِنَّمَا يَاۡتِيۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ اِنۡ شَآءَ وَمَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِيۡنَ‏  ٣٣

    Artinya: 

    “Dia (Nuh) menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.” (QS. Hud: 33-34).

    Nabi Nuh merasa sedih melihat perbuatan kaumnya yang menyekutukan Allah dan melakukan perbuatan buruk. Hingga Beliau pun mengadu kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

    وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى الۡاَرۡضِ مِنَ الۡكٰفِرِيۡنَ دَيَّارًا‏ ٢٦

    اِنَّكَ اِنۡ تَذَرۡهُمۡ يُضِلُّوۡا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوۡۤا اِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا‏ ٢٧

    Artinya: 

    “Nabi Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh: 26-27).

    Nabi Nuh AS Membuat Bahtera

    Bagian dari kisah Nabi Nuh AS yang paling terkenal yaitu bahtera yang menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya.

    Bahtera atau kapal yang berukuran besar tersebut dibuat oleh Nabi Nuh atas perintah Allah SWT. Nabi Nuh juga mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai cara membuatnya dengan baik.

    Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Huud 36-37:

    وَاُوۡحِىَ اِلٰى نُوۡحٍ اَنَّهٗ لَنۡ يُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِكَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَٮِٕسۡ بِمَا كَانُوۡا يَفۡعَلُوۡنَ​ ۖ ​ ۚ‏ ٣٦

    Artinya: 

    “Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.”

    وَاصۡنَعِ الۡفُلۡكَ بِاَعۡيُنِنَا وَوَحۡيِنَا وَلَا تُخَاطِبۡنِىۡ فِى الَّذِيۡنَ ظَلَمُوۡا​ ۚ اِنَّهُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ‏ ٣٧

    Artinya: 

    “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

    Pembuatan kapal besar oleh Nabi Nuh dan pengikutnya memakan waktu puluhan tahun. Selama itu pula, orang-orang kafir terus mengejeknya karena membuat kapal besar di gurun sahara.

    Nabi Nuh bersabar menerima cemoohan mereka dan terus menunaikan perintah Allah.

    Datangnya Azab

    Kisah Nabi Nuh membuat kapal besar tidak lain karena Beliau mendapatkan perintah Allah SWT. Nabi Nuh juga diberitahukan mengenai kedatangan banjir besar yang akan menenggelamkan kaumnya yang kafir.

    Maka, setelah kapal selesai dibuat, Nabi Nuh mengajak setiap mukmin untuk menaikinya. Beliau juga mengangkut setiap binatang dalam jumlah sepasang.

    Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 40-41.

    حَتّٰۤى اِذَا جَآءَ اَمۡرُنَا وَفَارَ التَّنُّوۡرُۙ قُلۡنَا احۡمِلۡ فِيۡهَا مِنۡ كُلٍّ زَوۡجَيۡنِ اثۡنَيۡنِ وَاَهۡلَكَ اِلَّا مَنۡ سَبَقَ عَلَيۡهِ الۡقَوۡلُ وَمَنۡ اٰمَنَ​ؕ وَمَاۤ اٰمَنَ مَعَهٗۤ اِلَّا قَلِيۡلٌ‏ ٤٠

    Artinya: 

    “Hingga apabila perintah kami datang dan dapur telah memancarkan air, kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’, dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”

    ۞ وَقَالَ ارۡكَبُوۡا فِيۡهَا بِسۡمِ اللّٰهِ مَجْرٖٮٰھَا وَمُرۡسٰٮهَا ​ؕ اِنَّ رَبِّىۡ لَـغَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ ‏ ٤١

    Artinya: 

    “Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Saat itu juga, banjir besar datang. Langit mengucurkan hujan dengan deras dan mata air di bumi memancar dengan kuat. Kapal Nabi Nuh berlayar di antara ombak sebesar gunung.

    Nabi Nuh melihat anaknya yang kafir, lalu memanggilnya dan mengajaknya naik ke bahtera dan memohon perlindungan Allah SWT. Akan tetapi, anaknya menolak sehingga ia ikut binasa bersama kaum kafir lainnya.

    Setelah semua kaum kafir tenggelam, Allah memerintahkan pada langit dan bumi sehingga banjir surut.

    Kapal Nabi Nuh kemudian berlabuh di atas bukit Judi. Setelah turun dari kapal, Nabi Nuh dan pengikutnya melepaskan hewan-hewan yang diangkut kemudian menjalani hidup baru.

    Itulah kisah Nabi Nuh AS dan perjuangan dakwahnya yang panjang dan berat. Dapat kita lihat dari kisah tersebut bahwa kesabaran dan keteguhan Beliau dalam berdakwah merupakan teladan baik bagi seluruh umat muslim.

  • Kisah Nabi Adam AS dari Diciptakan hingga Wafat

    Kisah Nabi Adam AS dari Diciptakan hingga Wafat

    Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang Allah SWT ciptakan dan menjadi bapak seluruh umat manusia. Allah menciptakan Nabi Adam secara sempurna dari tanah. Kisah Nabi Adam dari penciptaan hingga wafat, penting untuk kita ketahui. 

    Apalagi di Al-Qur’an ada banyak sekali kisah yang membahas atau menceritakan mengenai Nabi Adam AS. Tentu sebagai muslim yang bertaqwa dan beriman kepada Allah, kita wajib mengetahui dan memahaminya. 

    Lantas, seperti apa kisah Nabi Adam AS itu? Mari kita ulas selengkapnya pada pembahasan berikut ini. 

    Sebelum Penciptaan Nabi Adam 

    Kisah Nabi Adam bisa kita simak pada awal sebelum proses penciptaannya. Sebelum Allah SWT menciptakan Nabi Adam, Allah memberitahu para malaikat bahwa akan ada khalifah di muka bumi yang akan Allah ciptakan. 

    Kemudian para malaikat bertanya mengapa harus Adam AS yang menjadi khalifah di bumi. Padahal, malaikat menganggap bahwa kelak Adam dan keturunannya lah yang akan berbuat kerusakan di bumi bahkan hingga ada pertumpahan darah. 

    Malaikat merasa bahwa diri mereka jauh lebih tepat dan bisa memangku jabatan tersebut dalam artian sebagai khalifah. Karena malaikat adalah makhluk yang selalu bertasbih, menyucikan, dan memuji Allah SWT. 

    Mendengar hal ini, Allah SWT tidak membenarkan anggapan dari para malaikat. Allah pun kemudian menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak para malaikat ketahui. 

    Sesungguhnya segala sesuatu yang Allah lakukan berdasarkan pengetahuan dan hikmah-Nya yang memang Maha Tinggi. Termasuk mengenai alasan pengangkatan Nabi Adam sebagai khalifah di muka bumi. 

    Perlu kita pahami juga bahwa kedudukan Nabi Adam AS sebagai khalifah adalah untuk melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, memanfaatkan segala yang ada di bumi serta memakmurkannya. 

    Kisah Nabi Adam: Penciptaan Nabi Adam AS 

    Perlu selalu kita ingat bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dari segenggam tanah. Setelah itu terciptalah Nabi Adam secara sempurna dan lengkap. Baru setelah sempurna bentuknya, Allah SWT baru meniupkan ruh kepadanya. 

    Hal ini dapat kita lihat dalam QS Shaad ayat 72 yang berbunyi sebagai berikut:

    فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ

    Artinya: 

    “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shad:72).

    Perlu kita ketahui juga bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Adam sebagai sosok manusia yang sudah berakal dan mampu berbicara. Artinya, Nabi Adam sudah mampu memahami dan menjawab perkataan Allah SWT dengan baik. 

    Untuk mencermati hal ini, dapat kita telusuri dari hadist At-Tirmidzi. Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa ketika Allah SWT selesai meniupkan ruh kepada Adam, maka Adam bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah.”

    Kemudian Allah SWT berfirman “Semoga Allah merahmatimu wahai Adam. Pergilah kepada para malaikat itu dan katakan kepada mereka yang sedang duduk, Assalamualaikum.”

    Mendengar hal tersebut, Adam pun menuju malaikat dan berkata “Assalamualaikum.” Menjawab hal tersebut, para malaikat memberikan jawaban yang lengkap berupa “Wa’alaikassalam warahmatullah.”

    Setelah itu, Nabi Adam kembali kepada Allah. Kemudian Allah SWT menjelaskan kepada Adam bahwa “Ini adalah salam penghormatanmu dan keturunanmu.”

    Baca juga: Hadits Keutamaan Sholat Berjamaah, Wajib atau Sunnah?

    Penciptaan Hawa, Istri Nabi Adam 

    Kita pasti sudah mengetahui dalam kisah Nabi Adam, bahwa sang nabi memiliki seorang istri yang bernama Hawa. Penciptaan Hawa ini pun menarik untuk kita pahami karena proses penciptaannya. 

    Ada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang memberi isyarat bahwa Hawa memang diciptakan oleh Allah SWT dari Adam. Akan tetapi, di dalam surat tersebut tidak ada informasi rinci dari bagian mana Hawa diciptakan. Allah SWT berfirman:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

    Artinya: 

    “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (an-Nisâ`/4:1).

    Tidak hanya dari QS an-Nisa, penciptaan Hawa bisa kita pahami juga dari QS al-Araaf seperti berikut:

    هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا ۖ فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ ۖ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ

    دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

    Artinya: 

    “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al-Araaf/7:189).

    Lalu, darimana penjelasan bahwa Hawa itu diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam? Maka jawabannya dapat kita lihat dari riwayat Muhammad bin Ishaaq dari Ibnu ‘Abbas. 

    Dalam riwayat tersebut beliau menyatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk terpendek yang ada di sebelah kiri. Tulang rusuk tersebut diambil ketika Nabi Adam AS sedang tidur dan bagian tersebut tertutupi dengan daging. 

    Hal ini kemudian dikuatkan lagi dari sabda Rasulullah SAW. Berikut adalah sabda tersebut:

    وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَج فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

    Artinya: 

    “Berlemah-lembutlah kepada wanita, karena mereka diciptakan dari tulang yang bengkok, dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang tersebut, ialah yang berada di paling atas. Apabila engkau meluruskannya, maka engkau telah mematahkannya. Dan bila engkau membiarkan, maka ia terus bengkok. Maka berlemah-lembutlah kepada wanita” (Muttafaqun ‘alaihi).

    Adam dan Hawa Bertempat Tinggal di Surga 

    Setelah diciptakan Allah SWT dengan bentuk yang sempurna, Nabi Adam AS bertempat tinggal di dalam surga. Di surga, Nabi Adam AS bersama istrinya bisa menikmati dan memakan berbagai makanan yang banyak dan baik dimana saja.

    Penjelasan Nabi Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga bisa kita pahami dari QS Al-Baqarah tepatnya ayat 35 dan QS al-A’raf ayat 27. Berikut adalah penjabaran dari kedua surat tersebut: 

    وَقُلۡنَا يٰٓـاٰدَمُ اسۡكُنۡ اَنۡتَ وَزَوۡجُكَ الۡجَـنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‏ 

    Artinya: 

    “Dan Kami berfirman: “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada disana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini,1 nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (QS Al-Baqarah : 35).

    يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

    Artinya: 

    “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS al-A’raf : 27).

    Perintah untuk Sujud Kepada Nabi Adam 

    Iblis memang merupakan makhluk yang laknat dan tidak patuh kepada Allah SWT. Kesombongan iblis bisa kita lihat salah satunya dalam kisah Nabi Adam.

    Pada saat iblis dengan mentah-mentah menolak perintah Allah SWT untuk bersujud pada Nabi Adam AS. 

    Perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa Nabi Adam diciptakan dengan berbagai kemuliaan dari Allah SWT. Kemuliaan tersebut diantaranya adalah diciptakan langsung oleh Allah, ditiupkan ruh, dan mendapatkan ilmu tentang segala sesuatu. 

    Selain itu, kemuliaan lain yang diberikan kepada Nabi Adam AS adalah memerintahkan malaikat untuk bersujud penghormatan kepadanya. Akan tetapi, ketika malaikat bersujud ada satu golongan yang menolak bersujud yaitu iblis. 

    Peristiwa ini dapat kita lihat pada QS al-A’raf ayat 11:

    وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

    Artinya: 

    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud” (QS al-A’raf : 11). 

    Tentu hal ini bukanlah hal yang baik dan sangat tercela karena telah menentang perintah Allah SWT. Iblis menolak untuk bersujud karena merasa ia lebih baik daripada Adam yang diciptakan dari tanah sedangkan iblis dari api. 

    Peristiwa ini dapat kita lihat dalam QS Shaad yang berbunyi:

    قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

    Artinya: 

    “Allah berfirman, “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Shaad/38:75-76). 

    Akibat kesombongan dan kekufurannya itulah, Allah SWT melaknat iblis dan mengusir mereka dari surga. Akan tetapi, meski sudah diusir iblis memohon kepada Allah SWT agar mereka bisa hidup sampai ke hari kiamat tiba. 

    Selain itu, mereka pun memohon agar bisa menyesatkan semua manusia kecuali hamba-hamba Allah yang memang mukhlis.

    قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿٧٩﴾ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ﴿٨٠﴾ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ ﴿٨١﴾ قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

    Artinya: 

    “Iblis berkata, “Ya Rabbku! Beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan!” Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” Iblis menjawab, “Demi keperkasaan-Mu! Aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis[1] di antara mereka. (QS Shaad/38:79-83). 

    Allah SWT mengabulkan permintaan iblis. Sejak saat itulah, iblis yang kufur mulai menebarkan permusuhannya dengan Nabi Adam beserta seluruh keturunannya. Bahkan mereka pun memiliki tekad yang amat kuat untuk menyesatkan manusia. 

    قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

    Artinya: 

    “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari arah depan dan dari arah belakang mereka, dari arah kanan dan arah kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’râf/7:16- 17). 

    Kisah Nabi Adam: Godaan Iblis dan Turun ke Bumi

    Ketika tinggal di surga Nabi Adam dan istrinya mendapatkan kebebasan untuk memakan apapun yang baik. Mereka pun hidup dengan aman dan tentram di surga.

    Akan tetapi, Allah melarang keduanya untuk mendekati suatu pohon dan jangan memakan buahnya, yaitu buah khuldi. Larangan ini bisa kita simak pada QS Al-Baqarah ayat 35 sebagai berikut:

    وَقُلۡنَا يَا آدم  ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ وَكُلَا مِنۡهَا رَغَدًا حَيۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ  

    Artinya: 

    “Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 35).

    Akan tetapi, iblis yang sudah bertekad untuk menyesatkan Nabi Adam pun tidak tinggal diam. Iblis senantiasa berusaha menggoda Nabi Adam dan Hawa agar melanggar larangan dari Allah SWT yaitu mendekati pohon khuldi. 

    Peristiwa yang termasuk ke dalam kisah Nabi Adam ini dapat kita lihat pada QS al-A’raf ayat 20-21: 

    فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ ﴿٢٠﴾ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

    Artinya: 

    “Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata, “Rabb kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia  bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS Al-A’raf/7:20-21).

    Pada akhirnya, untuk hikmah yang memang telah dikehendaki oleh Allah SWT akhirnya iblis pun berhasil untuk menyesatkan dan menggoda Adam dan Hawa. Keduanya memakan buah khuldi yang dari awal sudah dilarang oleh Allah SWT. 

    Akibatnya aurat mereka terlihat dan mereka pun sibuk untuk menutupi aurat tersebut dengan dedaunan-dedaunan yang ada di surga. Dengan peristiwa ini tentu Nabi Adam AS dan Hawa sangatlah menyesal. Keduanya pun bahkan berkata:

    قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    Artinya: 

    “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS Al-A’raf : 23). 

    Sejak kejadian tersebut Nabi Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke bumi akibat perbuatan mereka. Di bumi lah tempat mereka melanjutkan kehidupan hingga nantinya berada di akhir hayat mereka. 

    قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

    Artinya: 

    “Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan” (QS Al-A’raf : 24).

    قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

    Artinya: 

    “Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan” (QS Al-A’raf : 25).

    Wafatnya Nabi Adam AS 

    Diceritakan dalam kisah Nabi Adam, ketika mendekati masa kematiannya, Nabi Adam yang mendapatkan anugerah bisa merasakan detik-detik akhir hidupnya pun sudah mempersiapkan semuanya. 

    Hal ini bermula ketika Nabi Adam meminta kepada para putranya untuk memakan buah surga. Akan tetapi, karena sulit untuk dimaknai secara harfiah karena tidak akan ada buah surga di dunia, para ulama pun memiliki penafsiran tersendiri. 

    Menurut para ulama, permintaan akan buah surga ini adalah isyarat bahwa memang Nabi Adam sedang merasakan rindu yang luar biasa terhadap kebahagiaan di surga. Karena sebelum tinggal di dunia, Nabi Adam sempat tinggal di surga. 

    Meski begitu, para putra Nabi Adam pun tetap berusaha mencarikan buah tersebut. Ketika berangkat dan baru memulai perjalanan, mereka dihadang oleh sejumlah lelaki yang ternyata adalah para malaikat yang menjelma sebagai manusia. 

    Di tangan para malaikat tersebut sudah terdapat beberapa benda seperti wewangian, kain kafan, dan peralatan untuk menggali tanah. Kemudian para malaikat pada akhirnya mencabut nyawa Nabi Adam.

    Mereka pun kemudian memandikan jenazahnya, mengkafani, memberi wewangian, menyiapkan liang lahat, hingga menshalati jenazahnya. Baru setelah itu, mereka menguburkan jenazah Nabi Adam ke dalam tanah dan menimbunnya dengan batu. 

    Kisah Nabi Adam inilah yang kemudian menjadi sunnah bagi seluruh anak Adam yang ada di dunia. Tentu bisa kita pelajari bahwa wafatnya Nabi Adam AS pun bisa memberikan pelajaran yang besar kepada manusia. 

    Terutama mengenai bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang meninggal. Perlu senantiasa kita ingat, bahwa manusia tidak hanya harus dihormati ketika mereka hidup saja, tetapi hingga ajalnya. 

    Meski begitu, standar penghormatannya pun tidaklah berlebihan. Arti berlebihan ini seperti memberi jenazah dengan perhiasan, membakar mayat, atau lainnya. 

    Memandikan, mengkafani, menshalati, memberikan wewangian, dan menguburkannya sudah cukup. Manusia hanya perlu selalu ingat bahwa hakikatnya manusia diciptakan dari tanah, oleh karenanya mereka pun akan kembali ke tanah. 

    Jadi, demikianlah kisah Nabi Adam AS dari mulai penciptaannya hingga proses wafatnya. Sesungguhnya Nabi Adam adalah manusia pertama yang Allah SWT ciptakan ke bumi sebagai khalifah Allah SWT. 

    Ia mendapatkan banyak sekali kemuliaan dari Allah SWT sebagai bapak dari seluruh manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, sudah semestinya kita mengimani serta bisa mengambil pelajaran berharga dari sosok Nabi Adam.

  • Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Biografi Sunan Muria: dari Silsilah Hingga Metode Dakwahnya

    Sunan Muria adalah salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah Islam Indonesia dan dikenal sebagai salah satu dari sembilan wali atau wali songo. Beliau memiliki peran sentral dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

    Metode dakwah yang diajarkan cukup unik sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

    Berikut adalah rangkuman biografi Sunan Muria, mulai dari silsilahnya hingga metode dakwah yang beliau terapkan.

    Silsilah Sunan Muria

    Sunan Muria merupakan salah satu dari sembilan wali songo yang memiliki latar keluarga dengan ajaran Islam yang sangat kental. Beliau juga merupakan wali yang memiliki umur paling muda diantara wali lainnya.

    Hal ini juga yang membuat beliau lebih menyukai daerah-daerah terpencil dalam melakukan penyebaran ajaran Islam. Jika ditarik secara jauh, maka Sunan Muria juga memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW.

    Sunan Muria merupakan putra pertama dari ayahnya yang bernama Sunan Kalijaga dan ibunya bernama Dewi Saroh. Ibunya sendiri merupakan saudara dari Sunan Giri, yakni putra dari Syekh Maulana Ishaq.

    Kemudian, Sunan Muria melakukan pernikahan dengan Dewi Sujinah yang merupakan putri dari Sunan Ngudung. Dari pernikahan ini beliau memiliki hubungan dengan Sunan Kudus karena merupakan anak dari Sunan Ngudung.

    Berikut ini silsilah lengkap dari Sunan Muria yang bisa kita ketahui:

    1. Abdul Muthalib
    2. Sayid Abbas
    3. Sayid Abdul As-har
    4. Syekh Wais
    5. Syekh Mudzakir
    6. Syekh Abdullah
    7. Syekh Kurames
    8. Syekh Mubarak
    9. Syekh Abdullah
    10. Syekh Ma’ruf
    11. Syekh Arifin
    12. Syekh Hasanuddin
    13. Syekh Jamal
    14. Syekh Ahmad
    15. Syekh Abdullah
    16. Syekh Abbas
    17. Syekh Abdullah
    18. Syekh Kurames
    19. Abdur Rakhman atau Ario Tejo
    20. Raden Tumenggung Wilotikto
    21. Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga
    22. Raden Umar Said atau Sunan Muria

    Asal Mula Nama Sunan Muria

    Dalam karangan buku yang ditulis oleh Yoyok Rahayu Basuki dalam judul “Sunan Muria (Raden Umar Said)” menjelaskan, bahwa nama kecil Sunan Muria adalah Raden Prawoto. Selain itu, beliau juga dikenal dengan Raden Umar Said.

    Nama ini memang diberikan oleh ayahnya sewaktu kecil hingga beliau tumbuh remaja. Banyak kisah menarik yang menjelaskan asal mula nama Sunan Muria. Beberapa penjelasan ini mengarah ke nama gunung yang terletak di Kudus.

    Tepatnya, di daerah Utara Kudus yang mana daerah tersebut memiliki gunung dengan nama Muria. Ada kisah versi lain yang menjelaskan asal mula nama Sunan Muria. Hal ini berawal dari Sunan Muria yang melakukan perjalanan Dakwah.

    Beliau tinggal di sebidang tanah milik petani yang berada di perbukitan. Sebagai bentuk terima kasih, beliau mengorbankan tenaga untuk meratakan bukit agar bisa digunakan oleh petani. Seiring waktu tanah ini menjadi subur untuk ditanami.

    Banyak petani yang senang akan sikap dan bentuk pengorbanan dari Sunan Muria. Karena itu, para petani setempat memberi nama “Muria” yang merupakan serapan dari kata “Moriah” untuk dedikasi dari apa yang dilakukan oleh Sunan Muria.

    Baca juga: Bacaan Doa Sujud Syukur Latin, Arab dan Tata Caranya

    Cara Berdakwah

    Cara berdakwah beliau tergolong cukup unik dan tidak diragukan lagi dalam penyebaran ajaran Islam. Gayanya yang moderat tentunya tidak lepas dari ajaran ayahnya yang merupakan Sunan Kalijaga.

    Salah satu cara berdakwah beliau adalah dengan mengganti kebiasan adat kenduri yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Seperti halnya Nelung Dino hingga Nyewu yang tidak diharamkannya, tetapi beliau tetap mengizinkannya.

    Berbeda dengan tradisi seperti Klenik yang mengharuskan membakar kemenyan atau menyuguhkan sesajen dalam prosesnya, maka beliau mengajarkannya untuk mengganti dengan berdoa atau bersholawat.

    Tidak hanya itu, terdapat juga beberapa cara berdakwah lainnya yang beliau lakukan dalam melakukan penyebaran Islam, seperti berikut:

    1. Melalui Kesenian

    Tidak hanya mencampuri tradisi yang sudah ada dengan ajaran-ajaran nilai Islam yang benar, namun beliau juga melakukan penyebaran Islam dengan metode kesenian. Terdapat banyak cara unik dan kreatif yang dilakukan beliau.

    Salah satunya adalah dengan menggabungkan seni tari topeng dalam metode dakwahnya yang unik. Tari topeng adalah seni tradisional Jawa yang digunakan untuk menyampaikan pesan moral dan agama.

    Selain itu, beliau juga menciptakan macapat, lagu Jawa, lagu sinom dan juga kinanti yang hingga kini masih lestari. Melalui tembang-tembang dari lagu tersebut, beliau mengajak umatnya untuk mengamalkan ajaran-ajaran dari nilai Islam yang baik.

    Dengan melakukan cara ini, beliau berhasil menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa dengan lebih efektif, sambil mempertahankan unsur budaya lokal. Selain itu, cara ini juga membuat masyarakat lebih mudah dalam menerima Islam.

    2. Berdialog dan Melayani Masyarakat

    Sunan Muria dikenal sebagai seorang tokoh yang selalu berdialog dengan masyarakat. Beliau mendengarkan masalah dan kekhawatiran mereka, mencoba memberikan solusi dan menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang lembut.

    Bahkan beliau pernah menjadi penengah antara konflik internal yang terjadi di Kesultanan Demak pada tahun sekitar 1518 hingga 1530. Beliau mampu menyelesaikan masalah-masalah yang rumit dengan solusi yang baik.

    Tidak hanya itu, beliau juga membantu masyarakat dalam hal-hal praktis, seperti pertanian dan kesehatan. Hal ini tentunya memberikan kesan yang sangat positif oleh masyarakat kepada beliau dalam melakukan penyebaran Islam di pulau Jawa.

    3. Pendekatan Universal

    Salah satu kunci kesuksesan Sunan Muria adalah kemampuannya menggabungkan ajaran Islam dengan nilai-nilai lokal Jawa. Beliau memahami budaya Jawa dengan baik dan ini membantunya mencapai banyak hati dan pikiran masyarakat.

    Beliau sangat yakin bahwa tradisi yang sudah melekat kental di masyarakat tentunya sulit untuk dihilangkan.

    Pasalnya, tradisi ini telah tumbuh lama dan beriringan dengan masyarakat. Namun, apabila terdapat penyimpangan, maka beliau menggantinya.

    Beliau mengajarkan kepada masyarakat apabila terdapat hal-hal yang melanggar ketentuan hingga bahkan membuat kemusyrikan merupakan dosa besar. Oleh karena itu, beliau tetap menyesuaikan ajaran dengan melakukan pendekatan universal.

    Baca juga: Doa setelah Iqomah Latin Arab dan Artinya Sesuai Sunnah

    4. Memberikan Keterampilan dan Kursus Gratis

    Selama melakukan perjalanan dakwah ke berbagai daerah yang berada di kampung, beliau menyadari bahwa banyak masyarakat yang memiliki keterampilan yang minim.

    Seperti yang diketahui bahwa beliau memiliki keterampilan yang sangat baik. Beliau memberikan kursus gratis kepada setiap petani, nelayan hingga pedagang.

    Mulai dari cara bercocok tanam yang baik dan benar hingga proses pembuatan perahu untuk nelayan dalam menangkap ikan.

    Setelah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, selanjutnya beliau mengajarkan ajaran Islam. Hal ini tentunya membuat beliau lebih mudah dalam mendapatkan penerimaan dalam menyampaikan ajaran tersebut.

    Peninggalan Sunan Muria

    Sebagai salah satu dari sembilan wali songo dan memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa, tentunya Sunan Muria memiliki banyak peninggalan sejarah.

    Bahkan beberapa peninggalan ini masih bisa kita nikmati sampai hari ini sebagai bentuk pengetahuan dalam sejarah. Beberapa peninggalan ini juga bisa kita nikmati dan gunakan untuk aktivitas ibadah dan sebagainya.

    Berikut ini beberapa peninggalan dan bukti dari adanya Sunan Muria dalam melakukan penyebaran Islam:

    1. Masjid di Puncak Gunung Muria

    Masjid ini bisa kita temukan di ketinggian 1.600 meter dari atas permukaan laut yang ada di puncak gunung Muria. Pengunjung harus melakukan perjalanan sekitar 3 KM untuk bisa mengunjunginya.

    Terdapat beberapa peninggalan sejarah yang semasa hidup digunakan oleh Sunan Muria. Meskipun beberapa kali mengalami perubahan pada bentuk, namun Masjid ini tetap dipertahankan dan bisa kita kunjungi.

    Kita bisa menemukan bedug yang terbuat dari kayu jati dan hingga kini masih berdiri kokoh. Selain itu, terdapat juga ukiran yang masih dipertahankan dengan bentuk naga dan ayam jantan.

    2. Air Gentong Keramat

    Situs air ini bisa kita temukan di dekat pemakaman Sunan Muria yang berada di kecamatan Dawe, tepatnya di kabupaten Kudus. Biasanya situs ini dikunjungi oleh para wisatawan setelah melakukan ziarah ke makam beliau.

    Beberapa masyarakat percaya bahwa air yang ada di situs gentong keramat ini memiliki kemampuan dalam menyembuhkan segala penyakit non medis. Namun, tetap perlu diingat bahwa segala kesembuhan tentunya datang dari Allah SWT.

    Kita cukup menghargai peninggalan leluhur, tanpa menduakan tuhan semesta alam yakni Allah SWT.

    Dengan metode dakwahnya yang lembut, penyelarasan dengan budaya lokal serta dedikasinya dalam mengajarkan ilmu agama menjadikan ajaran Sunan Muria sangat mudah diterima.