Tag: Inspirasi Islam

  • 7 Kunci Sukses Menurut Islam, Raih Bahagia Dunia Akhirat

    7 Kunci Sukses Menurut Islam, Raih Bahagia Dunia Akhirat

    Setiap manusia tentu memiliki standar kesuksesan yang berbeda-beda antara manusia satu dengan manusia lainnya, sehingga kita tidak bisa dengan mudah membanding-bandingkannya. Lantas, bagaimana kunci sukses menurut Islam?

    Sebagai sebuah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Islam telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan kita. Ajaran inilah yang diharapkan mampu membawa kita meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.

    Dengan hidup yang hanya sekali, tentu kita tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Allah SWT. Oleh sebab itu, simak 7 kunci kesuksesan menurut Islam yang akan membawa kita meraih bahagia di dunia maupun di akhirat berikut ini!

    Kunci Sukses Menurut Islam

    Dalam menjalani kehidupan ini, tentu kita harus berpegang teguh pada nilai-nilai agama yang pastinya akan menuntun kita baik di dunia maupun di akhirat. Berikut ini adalah beberapa kunci kesuksesan yang perlu Anda tahu menurut pandangan Islam:

    1. Beriman kepada Allah SWT

    Kunci sukses yang pertama menurut Islam tentu saja adalah beriman kepada Allah SWT. Tanpa adanya iman, semua yang kita kerjakan di dunia ini akan sia-sia. Hal ini sebagaiman firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Mu’minun Ayat 1:

    قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ

    Qad aflaḥal-mu`minụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman”

    Ayat di atas memberikan peringatan kepada manusia bahwasanya kita adalah termasuk orang-orang yang beruntung dengan adanya iman. Iman di sini tentu saja iman kepada Allah SWT dan juga rasulullah SAW sebagai utusannya.

    Selain itu, Allah juga kembali menegaskan akan pentingnya keimanan terhadap Islam sebelum ajal menjemput. Hal itu disampaikan di dalam Q.S. Ali Imran Ayat 102 yang berbunyi:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

    Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamụtunna illā wa antum muslimụn

    Artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

    Melalui ayat di atas, Allah SWT memberikan kita peringatan yang cukup tegas agar jangan sekali-kali kita mati kecuali telah beragama Islam. 

    Dengan kata lain, kesuksesan yang kita raih selama hidup di dunia tidak akan ada artinya jika kita tidak beriman. Apalagi jika kita sampai meninggal dunia dan iman tersebut tetap tidak ada di dalam diri kita.

    Baca juga: Apa Saja Asas Transaksi Ekonomi dalam Islam? Ini Jawabnya

    2. Berbakti pada Orang Tua

    Kunci sukses menurut Islam berikutnya adalah mengamalkan bakti kepada orang tua. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran kedua orang tua dalam setiap langkah kesuksesan yang kita raih sangatlah besar.

    Merekalah yang memberikan dukungan penuh atas apa yang kita raih saat ini. Itulah kenapa bakti pada orang tua adalah kunci kita meraih kesuksesan. Tak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat.

    Di dalam penggalan Q.S. An-Nisa ayat 36, Allah berfirman:

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua”

    Sesungguhnya, berbakti kepada kedua orang tua kita akan mendatangkan limpahan rizki kepada kita, dan durhaka akan mendatangkan malapetaka. Oleh sebab itu, selalu patuhi orang tua kita dan janganlah kita sekali-kali menentang mereka.

    3. Perbanyak Menolong di Jalan Allah

    Berikutnya, kita juga dihimbau untuk saling menolong di jalan Allah. Pasalnya, hal itu akan mendatangkan pertolongan dari Allah kepada orang yang melakukannya. Pernyataan ini disampaikan Allah SWt di dalam Q.S. Muhammad Ayat 7:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

    Yā ayyuhallażīna āmanū in tanṣurullāha yanṣurkum wa yuṡabbit aqdāmakum

    Artinya:

    “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

    Dengan adanya ayat di atas, tentu kita akan semakin yakin untuk terus memberikan pertolongan apapun sesuai dengan kemampuan kita di jalan Allah. Hal ini kita yakini juga akan memberikan pertolongan kepada kita yang datang dari Allah SWT.

    Baca juga: Hutang Piutang dalam Islam: Pengertian, Rukun, Syarat dan Ketentuannya

    4. Perbanyak Sedekah

    Berikutnya, Islam juga menjanjikan kita kesuksesan dengan cara bersedekah di jalan Allah. Sejatinya, sedekah yang kita berikan tersebut tidak akan membawa kepada kemiskinan, tetapi justru membuka pintu-pintu rezeki yang semakin lebar.

    Hal ini juga tertuang di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 261:

    مَثَلُ الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَهُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِىۡ كُلِّ سُنۡۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ​ؕ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنۡ يَّشَآءُ​ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ‏

    Maṡalullażīna yunfiqụna amwālahum fī sabīlillāhi kamaṡali ḥabbatin ambatat sab’a sanābila fī kulli sumbulatim mi`atu ḥabbah, wallāhu yuḍā’ifu limay yasyā`, wallāhu wāsi’un ‘alīm

    Artinya:

    “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”.

    5. Memperluas Ilmu

    Ilmu adalah kunci sukses menurut Islam yang harus kita raih seluas-luasnya. Dari ilmu tersebut, kita bisa mengasah berbagai pengetahuan dan potensi diri sehingga memunculkan skill-skill baru yang kita butuhkan untuk meraih kesuksesan.

    Seperti kita tahu, ilmu tidak akan bisa kita dapatkan secara instan sehingga membutuhkan kemauan, kerja keras, dan konsistensi untuk bisa meraihnya. Manfaatnya pun tidak hanya untuk kita sendiri, tetapi juga orang lain dan lingkungan.

    Ilmu juga bisa menjadi amal jariyah jika kita bagikan kepada orang lain. Hal ini sebagai bukti bahwasanya ilmu tidak hanya memberi kita kedudukan di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. 

    6. Disiplin Terhadap Waktu

    Kunci sukses menurut Islam selanjutnya, umat Islam juga harus disiplin terhadap waktu jika ingin meraih kesuksesan di dalam hidupnya. Keutamaan waktu ini juga dijelaskan di dalam Q.S. An-Nisa Ayat 103 yang berbunyi:

    اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

    Artinya:

    “Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

    Seorang muslim yang senantiasa menjaga waktu sholatnya tepat waktu, maka ia adalah orang-orang yang sangat menghargai waktu. Orang-orang seperti inilah yang dijanjikan oleh Allah SWT untuk meraih kesuksesan.

    Maka dari itu, cobalah untuk menjalankan ibadah sholat di awal waktu dan jangan sekali-kali menundanya selagi kita mampu. Salah satu yang cukup berat dilakukan adalah sholat subuh dan juga isya.

    7. Menjalani Proses dengan Sabar

    Tidak ada proses kehidupan yang bisa kita lalui secara instan. Sekalipun bisa, maka hal itu tidak akan bertahan lama. Itulah kenapa kita harus menjalani segala sesuatu dengan ikhlas, sabar, dan juga tetap menjaga konsistensi.

    Jalan menuju kesuksesan tentu saja sangat berat sehingga butuh keteguhan hati dan kesabaran untuk menjalaninya. Namun, percayalah jika Anda bisa melalui setiap proses dan rintangannya, maka peluang yang datang kepada Anda pasti akan bisa didapat.

    Secara spesifik, Allah SWT juga memerintahkan kepada kita manusia untuk memohon pertolongan dengan sabar dan juga sholat. Hal tersebut sesuai dengan isi dari QS. Al-Baqarah Ayat 45:

    وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

    “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

    Itulah 7 hal penting yang bisa Anda jadikan bekal dalam menjalani hidup ini. Selain bisa menjadi pedoman dalam meraih kesuksesan di dunia, ketujuh hal di atas juga bisa menjadi panduan kita untuk meraih sukses di akhirat.

    Apabila ketujuh kunci sukses menurut Islam tersebut bisa Anda terapkan secara konsisten, maka Anda bisa menjadi manusia yang beruntung. Hal ini sesuai dengan janji Allah di beberapa ayat yang difirmankannya.

  • Hari Baik Buka Usaha Menurut Islam? Apakah Ada?

    Hari Baik Buka Usaha Menurut Islam? Apakah Ada?

    Adakah hari baik buka usaha menurut Islam? Pertanyaan seperti ini pastinya sering kita dengar karena memang banyak kepercayaan masyarakat Indonesia yang masih mempercayai beberapa hari yang baik untuk melakukan sesuatu. 

    Termasuk dalam hal memulai usaha. Akan tetapi, sebagai seorang muslim sepatutnya kita menyadari bahwa bukan hal yang baik untuk mempercayai hal demikian.

    Agar lebih jelas, berikut adalah informasi selengkapnya. 

    Anjuran Berdagang dalam Islam 

    Sebelumnya, perlu kita pahami bahwa berdagang atau mendirikan usaha memang menjadi salah satu anjuran pekerjaan dalam Islam. Hal ini dapat kita simak pada 2 (dua) hadist yaitu HR Bukhari dan HR Ahmad. Berikut adalah hadist tersebut:

    مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

    Artinya:

    “Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdad).

    أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

    Artinya:

    “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad 4: 141, Hasan Lighoirihi).

    Dari kedua hadist tersebut, bisa kita pahami bahwa salah satu pekerjaan yang dianjurkan dan yang baik adalah berdagang. Rasulullah SAW semasa hidupnya juga sudah menunjukkan etika berdagang yang baik dan sukses. 

    Seperti berperilaku jujur, amanah, murah hati, dan selalu mengingat akhirat. Bekerja dengan berdagang pun bisa menjadi sarana ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT apabila kita kerjakan dengan sungguh-sungguh.

    Baca juga: Hukum Menyukai KPOP dalam Islam, Kupas Tuntas

    Mengenai Hari Baik Buka Usaha Menurut Islam 

    Sebagai manusia, tentu kita pernah merasakan takut dan ragu sebelum memulai sesuatu seperti membuka usaha. Inilah yang kemudian membuat kita cenderung mempertanyakan apakah ada hari tertentu yang baik untuk membuka usaha. 

    Atau dengan kata lain, kita berusaha untuk meramal dan mencari-cari hari yang baik lewat perhitungan tertentu seperti weton (neptu). Lantas, apakah hal tersebut merupakan hal yang baik? Jawabannya adalah tidak. 

    Sebelumnya, perlu kita ketahui dulu bahwa orang Jahiliyah ketika ingin mengadakan suatu hajatan yang besar, mereka akan mengundi nasib menggunakan anak panah. 

    Ketika anak panah tersebut mengindikasikan boleh melakukan hajatan, maka mereka akan melakukannya. Begitu pula sebaliknya, jika hasilnya tidak, maka mereka tidak akan melakukannya. 

    Perilaku semacam ini bukanlah hal yang baik karena ini termasuk dalam hal yang fasik. Ini dapat kita pahami dalam QS. Al-Maidah: 

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ

    Artinya: 

    “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maidah: 3).

    Hal ini sebenarnya sama saja dengan perilaku dalam masyarakat yang mencari-cari hari baik. Khususnya perhitungan weton untuk berbagai hal, seperti menikah, kecocokan pekerjaan, hingga hari membuka usaha. 

    Dalam pandangan Islam, hal ini termasuk dalam perkara yang tidak baik. Karena sebagai seorang muslim, sikap yang seharusnya kita lakukan adalah merasa tawakal dan pasrah kepada Allah SWT. Seperti yang Allah SWT firmankan berikut:

    وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

    Artinya: 

    “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). 

    Hal ini tentu juga harus kita aplikasikan pada saat ingin membuka atau memulai suatu usaha. Sesungguhnya, hari baik buka usaha menurut Islam adalah hari apa saja. Semua hari adalah baik selama kita memiliki niat yang baik juga. 

    Selain itu, jika kita harus memilih dan berhadapan dengan pilihan tertentu, maka untuk menentukannya bukan dengan mengundi nasib. Akan tetapi, kita bisa melakukan shalat istikharah minimal 2 (dua) raka’at. 

    Untuk waktunya sendiri bebas, bisa saat malam hari ataupun di siang hari. Dengan cara ini, niscaya bisa mendapatkan keberkahan. Selain itu, ada Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk memanfaatkan waktu pagi dengan baik. 

    Pagi hari adalah waktu yang sangat penuh berkah dan penuh rezeki. Sebab, Rasulullah SAW sendiri telah mendoakan waktu pagi untuk keberkahan umatnya. Hal ini bisa kita simak pada HR Abu Daud berikut ini: 

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

    Artinya:

    “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

    “Apabila Nabi shallallahu mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini, pen) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wada’ah.” (HR. Abu Daud no. 2606. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).

    Jadi sebagai umat muslim apalagi yang memiliki pekerjaan berdagang, hendaknya kita memanfaatkan pagi hari sebaik mungkin. Jangan hanya menghabiskan waktu pagi dengan bermalas-malasan saja. 

    Sebaliknya, coba tawarkan dagangan kita kepada pelanggan ketika pagi hari atau membuka usaha mulai dari pagi hari. Karena dengan begini, kita bisa mendapatkan berkah dengan lebih maksimal seperti yang Rasulullah SAW ajarkan. 

    Itulah pembahasan mengenai hari baik buka usaha menurut Islam. Dengan memahami hal ini, diharapkan kita bisa menjadi muslim yang baik dan tidak melakukan suatu hal yang justru mengarah pada tindakan yang fasik.

  • Mengapa Umat Islam Diwajibkan untuk Berdakwah? Ini Alasannya!

    Mengapa Umat Islam Diwajibkan untuk Berdakwah? Ini Alasannya!

    Banyak alasan mengapa umat Islam diwajibkan untuk berdakwah, salah satunya agar menjadi orang-orang yang beruntung atau muflih. Hal ini juga Allah jelaskan dalam firmanya di Al-Qur’an.

    Pada dasarnya, kebaikan dalam berdakwah tentunya mendapatkan ganjaran pahala yang besar bagi kita ketika melakukannya.

    Karena itu, penting bagi kita untuk terus berdakwah dalam melakukan kebaikan di jalan Allah SWT.

    Pengertian Dakwah dalam Islam

    Dakwah dalam istilah bahasa Arab yang merujuk pada seruan atau ajakan. Sementara, pengertian dakwah merupakan aktivitas yang melibatkan seruan dan undangan kepada manusia agar mereka beriman dan patuh kepada Allah.

    Hal ini tentunya harus selaras sesuai dengan keyakinan, perilaku dan ajaran Islam,yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Tujuan utama dari dakwah adalah mencapai kebahagiaan baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat.

    Apabila secara terminologi dalam bahasa Arab, kata “dakwah” berasal dari kata kerja “da’a yad’u” yang mengandung makna seruan, undangan atau ajakan. Seringkali, kata “dakwah” digabungkan dengan kata “ilmu” dan “Islam”.

    Baca juga: Pengertian Khotbah dan Bedanya dengan Ceramah Beserta Syarat-syaratnya

    Ketentuan Berdakwah dalam Islam

    Dalam ajaran Islam, dakwah menjadi suatu kewajiban bagi setiap umat, baik itu dalam individual (fardhu ain) atau kolektif (fardhu kifayah). Karena itu, penting bagi kita untuk memahami ketentuan sebelum berdakwah kepada orang lain.

    Pada hakikatnya, terdapat dua metode yang bisa dilakukan oleh Dai dalam menyiarkan ajaran Islam, yakni melalui kata-kata (dakwah bil lisan) atau melalui tindakan (dakwah bil hal).

    Dakwah bil lisan bisa mencakup upaya-upaya dalam menyebarkan ajaran melalui kata-kata. Seperti memberikan nasihat, ceramah ataupun sejenisnya. Hal ini cukup sering kita lihat di berbagai channel saluran ataupun media sosial.

    Sedangkan, dakwah bil hal merupakan bentuk dakwah yang dilakukan dengan memberikan contoh atau perilaku yang baik kepada jamaah atau umat. Seperti membantu fakir miskin atau orang yang tertimpa musibah.

    Terdapat beberapa ketentuan sebelum berdakwah yang harus dimiliki oleh seorang Dai sebelum melakukan penyiaran Islam, yakni:

    • Dakwah harus diterapkan dengan bijaksana yang mencakup penggunaan kata-kata yang jelas dan tegas.
    • Dakwah harus dilakukan dengan menggunakan nasihat-nasihat yang baik, dengan pendekatan persuasif, tanpa kekerasan, dan berisi pengajaran serta pesan-pesan edukatif.
    • Dakwah harus memberikan contoh yang positif atau menjadi teladan yang baik.
    • Dakwah dilakukan melalui diskusi yang dinamis serta sikap yang santun dan menghormati pandangan orang lain.

    Alasan Mengapa Umat Islam Diwajibkan untuk Berdakwah

    Dakwah adalah tugas yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim yang telah mencapai usia baligh dan memiliki akal sehat, tanpa memandang jenis kelamin atau tingkat pengetahuan agama.

    Bahkan, baik seseorang memiliki pengetahuan agama yang mendalam maupun masih merasa pemula. Dalam ayat 110 Surat Ali-Imran, Allah SWT menjelaskan mengapa kewajiban berdakwah dikenakan pada umat Islam.

    كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

    Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma’rụfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu`minụna billāh, walau āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa akṡaruhumul-fāsiqụn.

    Artinya:

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran: 110).

    Alasan lainnya adalah agar kita tidak menjadi orang yang sombong atau merasa superior di dunia ini. Jika kita tidak melaksanakan dakwah ini akan berarti kita membiarkan saudara-saudara kita terjerumus ke dalam perbuatan yang salah.

    Berikut ini beberapa alasan mengapa kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk berdakwah:

    1. Dakwah Menjadi Jalan Hidup Rasul dan Pengikutnya

    قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

    Qul hāżihī sabīlī ad’ū ilallāh, ‘alā baṣīratin ana wa manittaba’anī, wa sub-ḥānallāhi wa mā ana minal-musyrikīn.

    Artinya:

    “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku, dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).

    Dari ayat yang mulia ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengambil hikmah yang sangat berharga, yaitu:

    “Mengajak orang untuk mengakui keesaan Allah (Tauhid) adalah tindakan yang sejalan dengan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dicatatnya dalam Kitab Tauhid, pada bagian Ad-Du’a ila syahadati an la ilaha illallah.” (Ibthal At-Tandid, hal. 44).

    2. Dakwah Menjadi Karakter Orang Muflih

    Alasan mengapa umat Islam diwajibkan untuk berdakwah lainnya karena orang-orang ini termasuk ke dalam karakter orang Muflih. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat:

    “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah-ku.” (HR. Ibnu Mardawaih) (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, jilid 2 hal. 66).

    Selain itu, dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad).

    3. Dakwah Menjadi Sikap Orang Beriman

    Firman Allah berikutnya yang menjadi alasan kuat mengapa umat Islam diwajibkan untuk berdakwah dijelaskan dalam surat At-Taubah. Pada ayat ini Allah menyuruh kita sebagai umat muslim melakukan ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

    وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    Wal-mu`minụna wal-mu`minātu ba’ḍuhum auliyā`u ba’ḍ, ya`murụna bil-ma’rụfi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa yu`tụnaz-zakāta wa yuṭī’ụnallāha wa rasụlah, ulā`ika sayar-ḥamuhumullāh, innallāha ‘azīzun ḥakīm.

    Artinya:

    “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).

    4. Meninggalkan Dakwah Membawa Petaka

    Dakwah menjadi salah satu kewajiban dalam Islam. Meninggalkan kewajiban ini dapat dianggap sebagai penyalahgunaan nikmat dan penolakan terhadap tanggung jawab yang diberikan Allah kepada umat Muslim.

    Setiap kesempatan yang hilang untuk berdakwah adalah peluang yang terlewatkan untuk membimbing orang lain menuju jalan yang benar. Dalam proses berdakwah, seseorang dapat mempengaruhi kehidupan orang lain secara positif.

    Tidak hanya itu, adanya dakwah akan membantu mereka menjauhkan diri dari perbuatan mungkar, dan membantu mereka menemukan kebenaran. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

    “Allah ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Isra’il (yang artinya), “Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (Qs. Al-Ma’idah: 78-79).

    Selain itu, Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan: “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241).

    5. Dakwah Menjadi Tali Pemersatu

    Alasan lainnya mengapa umat Islam diwajibkan untuk berdakwah karena dakwah bisa menjadi tali pemersatu umat. Allah SWT sendiri akan menyiksa berat orang-orang yang bercerai-berai. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:

    وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

    Wa lā takụnụ kallażīna tafarraqụ wakhtalafụ mim ba’di mā jā`ahumul-bayyināt, wa ulā`ika lahum ‘ażābun ‘aẓīm.

    Artinya:

    “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran: 105).

    Meninggalkan kewajiban berdakwah dapat membawa petaka karena dapat mengakibatkan hilangnya banyak manfaat spiritual. Hal ini membuat mengapa umat Islam diwajibkan untuk berdakwah dijalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

  • Tidur Mendengkur Menurut Islam dan Tidur Ala Rasulullah

    Tidur Mendengkur Menurut Islam dan Tidur Ala Rasulullah

    Banyak orang bertanya bagaimana hukum tidur mendengkur menurut Islam? Istirahat merupakan salah satu aktivitas normal yang dijalankan oleh makhluk Allah, tidak terkecuali bagi manusia. 

    Salah satu cara terbaik untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian beraktivitas adalah dengan tidur.

    Salah satu kebiasaan yang sebagian orang lakukan ketika tidur yaitu mendengkur. Orang yang mendengkur saat tidur biasanya mengeluarkan suara keras yang cukup mengganggu bagi orang-orang sekitar.

    Lalu, bagaimana hukum tidur mendengkur menurut Islam? Apakah hal tersebut boleh dilakukan? Supaya tidak salah paham, mari simak artikel ini sampai selesai.

    Penyebab Mendengkur Saat Tidur

    Sebelum ke penjelasan bagaimana hukum dan ketentuan tidur mendengkur menurut Islam, tidak ada salahnya bagi kita mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Berikut ini beberapa hal yang menjadi sebab seseorang mendengkur ketika tidur:

    1. Anatomi Tubuh

    Mendengkur disebabkan karena anatomi tubuh. Untuk laki-laki, penyebabnya karena alur pernapasan di tenggorokan yang lebih sempit dan posisi laring yang lebih rendah daripada perempuan.

    Jika memperhatikan lebih jauh, laki-laki pasti lebih sering mendengkur daripada perempuan. Salah satunya disebabkan karena anatomi tubuh yang membuat laki-laki bisa mengalami hal seperti itu.

    Baca juga: 8 Doa Meluluhkan Hati Seseorang yang Kita Cintai dengan Menyebut Namanya Jarak jauh

    2. Kelebihan Berat Badan

    Masalah bobot tubuh juga menjadi salah satu penyebab mengapa seseorang bisa tidur sambil mendengkur. Orang yang kelebihan berat badan biasanya lebih sering ngorok atau mendengkur.

    Orang obesitas bisa ngorok disebabkan karena adanya penumpukan lemak di sekitar leher sehingga saluran udara di tenggorokan menghalangi aliran udara.

    3. Faktor Usia

    Semakin bertambah usia seseorang, kemungkinan besar semakin sering ia mendengkur atau ngorok saat tertidur. Orang yang sudah tua, otot saluran pernapasannya semakin mengendur sehingga lebih mudah mengorok.

    Otot saluran pernapasan yang kendur lebih rentan bergetar saat dilalui oleh aliran udara. Alhasil, lebih mudah menghasilkan suara dengkuran.

    4. Masalah pada Pernapasan

    Masalah pernapasan seperti pilek, alergi, atau sinusitis juga bisa menjadi penyebab mendengkur seseorang. Kondisi seperti ini membuat seseorang menjadi kesulitan bernafas karena adanya peradangan di bagian hidung dan tenggorokan.

    Jika sudah begini, maka aliran udara keluar menjadi terhambat, sehingga mengakibatkan keluarnya suara dengkuran.

    5. Efek Samping Obat-Obatan

    Jika meminum obat-obatan tertentu yang menimbulkan efek samping mendengkur, sudah pasti penyebabnya adalah karena obat-obatan tersebut. Contohnya yaitu obat penenang seperti lorazepam dan diazepam.

    Tidur Mendengkur Menurut Islam

    Di dalam Al-Qur’an maupun hadist, tidak ada satu pun yang menjelaskan apakah mendengkur itu hukumnya mubah atau haram. Maka dari itu, sejatinya tidak ada masalah jika kita tidak sampai mengeluarkan dengkuran sangat keras.

    Sebagian orang mungkin sangat terganggu dengan suara dengkuran. Apalagi, jika suaranya terdengar sangat keras sekali.

    Sementara itu di sisi lain, orang yang mendengkur sebenarnya tidak sadar kalau dia sedang mendengkur. Semuanya berjalan secara otomatis tanpa ada unsur kesengajaan.

    Bahkan tidur mendengkur juga dilakukan oleh Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin Rasulullah mencontohkan hal tidak baik kepada kepada umatnya? Bahkan beliau selalu melakukannya pada setiap tidurnya.

    Jadi, bisa kita simpulkan bahwa tidur mendengkur tidak ada larangannya dalam Islam. Karena memang, tidak ada yang mengatur hal tersebut dari sisi hukum Islam.

    Cara Tidur Rasulullah SAW

    Sebagai suri tauladan yang baik, Nabi Muhammad SAW selalu mencontohkan berbagai hal kepada umatnya. Tidak hanya tentang ibadah saja, beliau juga memberi contoh bagaimana cara tidur dari awal sampai bangun kembali.

    Dalam buku Teladan Rasulullah yang ditulis  Dr. Ahmad Hatta, tertulis bagaimana cara tidurnya Nabi Muhammad SAW. Penjelasannya yakni sebagai berikut:

    1. Menaruh Tangan Kanan Di Bawah Pipi Kanan

    Cara tidur Rasulullah yang pertama adalah meletakkan tangan kanan tepat di bawah pipi kanannya. Tidak hanya itu saja, saat berada pada posisi tidur tersebut beliau juga berdoa.

    Baraa bin Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Saat hendak tidur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan beliau seraya berdoa, Rabbi qini ‘adzabaka yauma tab’atsu ‘ibadaka (Ya Rabb, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari ketika Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu (dari kubur).”(HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Nasa’i).

    2. Berdoa Sebelum dan Sesudah Tidur

    Sebelum tidur Rasulullah membaca doa terlebih dahulu. Begitupun ketika sudah terbangun, beliau membaca doa kembali.

    Kita dapat meniru hal tersebut. Caranya yaitu dengan membaca doa sebelum dan sesudah tidur berikut ini:

    Doa sebelum tidur yang dapat kamu baca:

    باسْمِكَ اللَّهُمَّ أمُوتُ وأَحْيَا

    Bismikallahumma amuutu wa ahyaa

    Artinya: 

    “Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup”.

    Sedangkan doa setelah tidur bunyinya sebagai berikut:

    حَمْدُ لِلهِ الًّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

    Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur.

    Artinya: 

    “Segala puji bagi Allah, Tuhan yang menghidupkan kami setelah ia mematikan kami. Kepada-Nyalah kebangkitan hari kiamat.”

    3. Menyatukan Telapak Tangan

    Menurut salah satu riwayat, saat tidur Rasulullah menyatukan kedua telapak tangannya sambil membaca tiga surat pendek di dalam Al-Qur’an yaitu Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas.

    Aisyah meriwayatkan, “Setiap kali hendak tidur pada malam hari, Rasulullah selalu menyatukan tangan beliau seraya membaca surah al Ikhlas, al Falaq, dan an Nas, kemudian beliau meniup kedua telapak tangan beliau. Setelah itu, dengan kedua telapak tangan itu, beliau mengusap bagian tubuh yang terjangkau, dimulai dari kepala, wajah, lalu bagian depan tubuh beliau. Hal itu beliau lakukan tiga kali.”(HR. Tirmidzi, Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

    4. Mendengkur Saat Tidur

    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Rasulullah mendengkur ketika sedang tidur. Tetapi,, dengkuran Rasulullah itu halus alias tidak terlalu keras sehingga tidak terlalu mengganggu.

    Ibnu Abbas radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Rasulullah tidur sampai beliau mendengkur halus dan beliau selalu mendengkur halus ketika tidur, hingga Bilal datang dan melantunkan adzan. Saat itu beliau bangun lalu melaksanakan shalat tanpa berwudhu terlebih dahulu.”(HR. Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Nasa’I, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِي. قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كَهَيْلٍ، عَنْ كَرَيْبٍ. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ حَتَّى نَفَخَ. وَكَانَ إِذَا نَامَ نَفَخَ. فَأَتَاهُ بِلَالُ فَآدَنَهُ بِالصَّلَاةِ . فَقَامَ وَصَلَّ وَلَمْ يَتَوَضَّأُ، وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةُ

    Artinya:

    Muhammad bin Basysyar meriwayatkan kepada kami dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Salamah bin Kuhail, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika, Rasulullah SAW tidur hingga mendengkur. Memang, bila sedang tidur, beliau mendengkur. Setelah itu, Bilal mendatangi beliau untuk mengumandangkan azan karena waktu shalat telah tiba. Maka, Rasulullah SAW pun bangun dan melaksanakan shalat tanpa berwudhu kembali. (HR Bukhari dan Muslim)

    Selain itu, Imam Bukhari juga mengisahkan, “Rasulullah pernah tertidur hingga terdengar dengkuran liriknya. (Pada kesempatan lain), beliau juga tertidur hingga terdengar dengkuran.”

    5. Berbaring Menghadap ke Kanan

    Kalau kita tidur, mungkin posisinya tidak menentu, kadang menghadap ke kiri dan kadang kala juga menghadap ke kanan. 

    Jika kita ingin mencontoh Nabi Muhammad, tidurlah menghadap ke kanan. Sebab, kanan diidentikkan dengan sesuatu yang baik.

    Abu Qatadah radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Jika Rasulullah hendak tidur di malam hari, beliau berbaring menghadap ke kanan. Jika beliau hendak tidur sesaat sebelum subuh, beliau menegakkan lengan dan meletakkan kepala beliau di atas telapak tangan beliau.”(HR. Tirmidzi, Muslim, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

    6. Tidak Tidur Tengkurap

    Nabi Muhammad SAW tidak tidur dalam posisi tengkurap. Bahkan, beliau sangat membenci orang yang tidur dalam posisi seperti itu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa riwayat hadits.

    “Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW melihat seseorang berbaring (tidur) dengan posisi tengkurap, maka beliau pun bersabda, “Ini adalah cara tidur yang tidak disukai oleh Allah.” (HR. Ahmad).

    Nabi Muhammad bahkan pernah mengatakan bahwa tidurnya orang tengkurap sama seperti penghuni neraka.

    “Sesungguhnya posisi tidur tengkurap itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.”

    Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah Muhammad SAW lewat di hadapanku dan ketika itu aku sedang tidur tengkurap. Beliau menggerak-gerakkan dengan kaki beliau. Beliau pun bersabda,” Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka,”. (HR Abu Dawud).

    7. Tidur Tanpa Lampu

    Rasulullah tidur tanpa cahaya lampu, atau dengan kata lain tidur dalam kondisi gelap. Rasulullah selalu mematikan lampu kamarnya ketika sedang tidur.

    Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Imam Bukhari, “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur malam, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan, dan minuman.”

    Sementara itu, ditinjau dari sisi kesehatan, tidur dalam kondisi gelap ternyata bermanfaat untuk kesehatan kulit dan mata.

    8. Tidak Terlalu Sering Begadang

    Setiap hari mungkin kita terlalu sering tidur terlarut malam, padahal tidak ada hal penting yang dilakukan. Begadang hanya untuk nongkrong-nongkrong saja.

    Rhoma Irama pernah mengatakan melalui lagunya, “begadang jangan begadang, kalau tiada artinya, begadang boleh saja kalau ada perlunya.” 

    Penggalan lagu tersebut sama seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang tidak terlalu sering begadang.

    Rasulullah tidur tepat setelah beliau sholat Isya. Tentu, waktu sholat Rasulullah itu tepat waktu, alias tidak terlalu sampai dini hari.

    Mengikuti kebiasaan tersebut pada zaman sekarang tentunya sangat sulit. Sekalipun kita sudah sholat tepat waktu, tetapi setelah itu masih banyak urusan lain yang harus terselesaikan.

    Tetapi di sisi lain, Islam juga mengajarkan jika sudah menyelesaikan satu urusan, segera selesaikan urusan lainnya. Hal ini juga bermaksud supaya kita tidak tidur terlalu malam karena semua urusan bisa selesai dengan cepat.

    Rasulullah juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Bahwasanya Rasulullah saw membenci tidur malam sebelum (salat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Dari penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa tidur mendengkur menurut Islam itu tidak dilarang. Selain itu, kita dapat mengikuti cara Rasulullah SAW ketika tidur supaya mendapatkan berkah.

  • Sejarah dan Sifat Bangsa Yahudi Menurut Islam

    Sejarah dan Sifat Bangsa Yahudi Menurut Islam

    Sebagai umat Islam, topik paling menarik untuk dibahas adalah sejarah. Konteks sejarah ini sendiri sangat luas, tidak hanya dari pandangan orang Islam saja melainkan pada pandangan lain. Salah satunya sejarah Yahudi menurut Islam.

    Sedang ramai diperdebatkan, Yahudi ini memunculkan banyak statement dari berbagai pihak. Namun, pada kenyataannya Yahudi sendiri dalam pandangan Islam lebih dikenal sebagai Bani Israil.

    Bukan sebuah negara, tetapi sejarah keturunan. Bani Israil merupakan keturunan dari Nabi Yaqub AS. Namun, di masa sekarang justru pro kontra sejarah dan sifat dari bangsa ini sering diperdebatkan.

    Mengenal Sejarah Yahudi Menurut Islam

    Berdasarkan ilmu sejarah, kita mungkin tahu sekilas bahwa kaum Yahudi ini bermula dari proses hijrah ke negeri Kanaan pada masa Nabi Yaqub AS. Golongan ini terkenal mahir dalam hal navigasi pelayaran dan perdagangan.

    Mereka hidup berdampingan hingga tiba di tahun 3.000 SM, Nabi Ibrahim datang untuk menyampaikan dakwah atas utusan Allah SWT. Kisah ini bis akita cek di dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 71.

    وَنَجَّيْنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَٰلَمِينَ

    Wa najjaināhu wa lụṭan ilal-arḍillatī bāraknā fīhā lil-‘ālamīn

    Artinya:

    “Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.”

    Berdasarkan surat Al-Anbiya ayat 71 tersebut, terdapat tafsir mendalam Al-Muyassar atau Kementerian Agama Saudi Arabia bahwa nilai tafsirnya menjadi.

    Dan Kami menyelamatkan Ibrahim dan Luth yang telah beriman dengannya dari negeri Irak, dan Kami mengarahkan mereka berdua menuju negeri Syam yang telah Kami berkahi buminya dengan kebaikan yang melimpah, dan kebanyakan nabi pernah diutus disana.

    Salah satu ulama Imam Qatadah sepakat dalam ilmu tafsir menyatakan bahwa negeri yang dimaksud dalam surat tersebut adalah negeri Kanaan atau Syam. Jika kita hidup di era sekarang, maka lebih mudah dikenal dengan sebutan Palestina.

    Mempelajari memang paling mudah dan tepat dengan menggunakan Al-Qur’an. Pasalnya, kitab bisa menemukan banyak sekali kisah Bani Israil atau kaum Yahudi yang telah Allah SWT ceritakan di dalam Al-Qur’an.

    Penjelasan di dalam Al-Qur’an sendiri sangat jelas dan rinci, bahkan Ibnu Katsir mengatakan bahwa Bani Israil merupakan umat terbaik pada masanya jika dibandingkan dengan Yunani ataupun Mesir.

    Namun, di Tengah perdebatan yang terjadi dengan menyinggung negara Israel merupakan Yahudi dibantah oleh Syaikh ‘Abdullah bin Zaid Alu Mahmud dalam risalah al Ishlahu wat-Ta’dilu Thara-a ‘Ala Ismil Yahudi wan-Nashara Minat-Tabdil.

    Di dalam kitab tersebut dinyatakan bahawasanya Yahudi telah lepas dari Bani Israil karena kekufuran mereka sejak zaman Bani Israil. Hal ini terbukti dari kisah terpisahnya Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya, Azar.

    Sifat Bangsa Yahudi Menurut Islam

    Di dalam Islam ada banyak sekali sifat dari bangsa Yahudi yang sudah umum setiap muslim ketahui, antara lain:

    1. Menyembunyikan Kebenaran

    Sifat buruk yang dimiliki oleh bangsa Yahudi adalah wataknya dalam menyembunyikan kebenaran, senang berdusta. Hal ini dibuktikan dengan ketahuan kaum tersebut terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.

    Namun, mereka menyembunyikan fakta tersebut karena tidak ingin menghapus budaya leluhur. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,

    الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

    Artinya:

    “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 146).

    Baca juga: Bacaan Doa Iftitah Panjang, Pendek, Arab-Latin dan Artinya

    2. Orang Yahudi Menyembah Pimpinan Agamanya

    Kesalahan dan sifat buruk dari Yahudi yaitu tidak bisa terbuka terhadap kehadiran Nabi Muhammad SAW. Bahkan, orang Yahudi menyembah pimpinan agamanya sendiri bukan Allah SWT.

    Allah SWT menyampaikan kisah ini di dalam surat At-Taubah:31. 

    Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini,

    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    Artinya:

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah : 31)

    3. Tidak Ridho dengan Umat Islam

    Kehadiran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW memang sangat menyejukkan dan menenangkan. Namun, dibalik itu ternyata Yahudi memiliki sifat tidak ridho dengan keberadaan umat Islam.

    Sesuai firman Allah Ta’ala dalam Al Baqarah: 120.

    وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

    Artinya:

    “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”

    4. Orang Yahudi Sulit Menerima Kebenaran Islam

    Di dalam hadits shahih Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    لَوْ تَابَعَنِى عَشْرَةٌ مِنَ الْيَهُودِ لَمْ يَبْقَ عَلَى ظَهْرِهَا يَهُودِىٌّ إِلاَّ أَسْلَمَ

    Artinya:

    “Seandainya sepuluh (pemuka agama) Yahudi mengikuti agamaku, maka sungguh tidak akan tersisa lagi orang Yahudi di muka bumi ini kecuali dalam keadaan Islam.” (HR. Muslim no. 2793)

    Selain itu, Abu Hurairah di dalam HR. Ahmad Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga pernah menyatakan sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

    لَوْ آمَنَ بِى عَشْرَةٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ لآمَنَ بِى كُلُّ يَهُودِىٍّ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ

    Artinya:

    “Seandainya sepuluh pemuka agama Yahudi beriman kepadaku, sungguh semua orang Yahudi di muka bumi ini akan turut beriman padaku.”

    5. Dengki

    Yahudi memiliki rasa dengki kepada setiap orang dalam segala aspek. Bahkan sifat ini digambarkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surat Al-Baqarah (2:109).

    وَدَّ كَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

    Artinya:

    “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran“. [al-Baqarah/2: 109]

    Di dalam surat yang lain An-Nisa (4:54) Allah SWT juga berfirman:

    أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَآءَاتَاهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ

    Artinya:

    “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya ?“. [an-Nisa/4: 54]

    6. Menyebarkan Fitnah dan Memicu Peperangan

    Bangsa Yahudi banyak sekali memiliki sifat buruk yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Salah satunya adalah sifatnya yang senang menyebarkan fitnah dan memicu peperangan.

    Allah SWT pernah berfirman di dalam surat Al-Maidah:64,

    كُلَّمَآ أَوْقَدُوا نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللهُ وَيَسْعَوْنَ فِي اْلأَرْضِ فَسَادًا وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

    Artinya:

    “Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan“. [al-Maidah/5:64]

    Nah, itulah beberapa sejarah dan sifat buruk dari Bangsa Yahudi menurut Islam. Sebagai umat Muslim yang baik kita wajib menghindari sifat buruk dan mempelajari sejarah agama Allah SWT dengan baik.

  • Yuk, Cari Tahu Nama Bulan Dalam Islam dan Artinya Masing-Masing!

    Yuk, Cari Tahu Nama Bulan Dalam Islam dan Artinya Masing-Masing!

    Tahun Hijriyah memiliki karakter berbeda daripada tahun masehi yang biasa dipakai. Perbedaannya mulai dari latar belakang hingga nama-nama bulan. Lalu, apa saja nama bulan dalam Islam? Pada artikel berikut kita akan mengetahuinya bersama.

    Kalender hijriyah menjadi simbol identitas umat Islam.

    Penanggalan Hijriyah digunakan sebagai penentu waktu ibadah seperti waktu mulai puasa dan perayaan keagamaan seperti hari raya idul fitri.

    Latar Belakang Penanggalan Tahun Hijriyah

    Pada masa itu, Abu Musa Al-Asy-‘Ari sebagai gubernur Basrah menerima surat tak bertanggal lalu disampaikan kepada khalifah Umar bin Khatab. Dalam suatu riwayat disebutkan sebagai berikut.

    إنَّه يأتينا مِن أمير المؤمنين كُتبٌ، فلا نَدري على أيٍّ نعمَل، وقد قرأْنا كتابًا محلُّه شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

    Artinya:

    “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, tetapi kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

    Oleh karena kejadian tersebut, Umar akhirnya mengajak para sahabat untuk mendiskusikannya bersama. Tujuan diskusi ini yaitu untuk menentukan kalender yang menjadi acuan bagi kaum muslimin.

    Penetapan Patokan Tahun Hijriyah

    Sebelum mengetahui nama bulan dalam Islam, kita perlu memahami bagaimana cara menentukan patokan awal tahun Hijriyah. 

    Pada masa khalifah Umar, terdapat musyawarah dengan para sahabat yang membahas mengenai penanggalan Islam. Muncul beberapa usulan terkait patokan tanggal awal tahun. 

    Ada yang mengusulkan awal tahun dimulai dari tahun diutusnya Nabi Muhammad SAW. Sebagian yang lain mengusulkan agar penanggalan dibuat sesuai kalender Romawi. Kalender ini menghitung penanggalan mulai dari masa raja Iskandar (Alexander). 

    Usulan lain ada yang berpendapat bahwa penanggalan Islam dimulai dari tahun hijrahnya nabi ke kota Madinah. Seluruh usulan tersebut disampaikan melalui Ali bin Abi Thalib. 

    Lalu, Umar bin Khatab sebagai khalifah akan berperan untuk mengambil keputusan. Berikut riwayat yang berkaitan dengan pendapat Umar atas usulan para sahabat tadi.

    الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها

    Artinya:

    ”Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” 

    Umar pun mengemukakan alasan keputusan penanggalan tersebut. Para sahabat sebagai peserta musyawarah pun setuju. Akhirnya peristiwa hijrah menjadi acuan tahun dalam penanggalan Islam.

    Landasan atas keputusan tersebut pada dasarnya sejalan dengan firman Allah SWT sebagai berikut.

    لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

    Artinya:

    “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS. At-Taubah:108).

    Maksud kalimat “sejak hari pertama” dalam ayat tersebut adalah hari pertama kedatangan hijrahnya nabi. Nah, moment tersebutlah yang menjadi acuan awal tahun kalender hijriyah.

    Jadi, telah jelas bahwa penetapan patokan tahun hijriah yaitu berdasarkan tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. 

    Nama Bulan dalam Islam dan Artinya

    Sama seperti tahun Masehi, kalender Hijriyah juga memiliki 12 bulan. Berikut ini nama-nama bulan dalam Islam berdasarkan urutannya.

    1. Muharram (محرم)

    Muharram

    Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk dalam bulan-bulan suci. Nama Muharram berasal dari kata “haram” yang artinya sesuatu yang dilarang atau dihormati. Pada saat itu, orang Arab mengharamkan adanya peperangan di bulan ini. 

    Sementara kita sebagai umat Islam pun dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada bulan-bulan suci. Pada bulan Muharram, sebaiknya kita memperbanyak berbuat baik.

    Misalnya dengan melaksanakan puasa sunnah Asyura pada tanggal 10 Muharram. Puasa 10 Muharram ini dapat menghapus dosa-dosa dari tahun sebelumnya.

    Baca juga: Bacaan Doa Sapu Jagat dalam Tulisan Arab dan Latin, Lengkap beserta Artinya

    2. Shafar (صفر)

    Bulan kedua yaitu Shafar. Asal namanya terkait dengan perkampungan Arab yang disebut Shifr. Perkampungan tersebut ditinggalkan penduduknya karena mereka pergi untuk berperang. 

    Ada juga yang berpendapat bahwa dinamakan Shafar karena pada masa lalu bangsa Arab terlibat dalam konflik dengan berbagai kabilah. Kabilah-kabilah yang mereka lawan menjadi kekurangan harta atau kosong.

    3. Rabi’ul Awwal (ربىع الأول)

    Bulan ketiga dalam kalender Hijriyah yaitu Rabiul Awwal. Nama Rabiul Awwal berasal dari kata “rabi” yang merujuk pada musim semi atau periode bunga.

    Penamaan bulan ini lantaran adanya kesesuaian dengan musim semi di wilayah Arab pada saat itu. Rabiul Awwal juga dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kita memperingatinya sebagai maulid nabi.

    4. Rabi’ul Akhir (ربىع الأخر)

    Rabiul Akhir atau Rabiul Tsani adalah bulan keempat dalam kalender Hijriah. Nama bulan ini juga diperoleh dari kata “rabi” yang berarti musim semi atau musim bunga. Hal ini karena di Arab saat itu sedang mengalami musim semi.

    Jadi, Rabi’ul Akhir merupakan bulan kedua ketika musim semi di Arab. Bulan ini juga dikenal sebagai waktu kembalinya mereka yang sedang dalam perjalanan atau yang telah berperang.

    5. Jumadil Awwal (جمادى الأول) atau Jumadil Ula (جمادى الأولى)

    Nama bulan dalam Islam selanjutnya yaitu bulan Jumadil Awwal atau Jumadil Ula. Penamaan bulan ini berasal dari kata “jumad” yang berarti pembekuan. Maknanya adalah bahwa saat itu, setelah musim semi datang musim dingin. 

    Saat musim dingin, air membeku (jumud) sehingga bulan ini disebut pembekuan. Sebelum masuknya ajaran Islam, bulan ini dikenal dengan sebutan Jumadi Khomsah.

    6. Jumadil Akhir (جمادى الأخر)

    Hampir mirip dengan Jumadil Awwal, bulan keenam juga bertepatan dengan musim dingin di wilayah Arab. Sebelum Islam masuk, Jumadil Akhir dikenal sebagai Jumadi Sittah.

    7. Rajab (رجب)

    Rajab adalah bulan ketujuh dalam tahun Hijriyah. Bulan ini termasuk ke dalam bulan-bulan Suci. Penamaannya berasal dari kata “rajaba” yang berarti menghormati atau mengagungkan.

    Pada bulan ini, orang Arab masa jahiliyah melepaskan tombak dari besi tajamnya dengan tujuan menahan diri dari peperangan. Itulah sebabnya diberi nama bulan Rajab.

    Pada bulan suci ini, kita sebagai seorang muslim dianjurkan memohon ampun kepada Allah SWT.  Cara sederhananya dengan mengucap istighfar.

    8. Sya’ban (شعبان)

    Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Nama Sya’ban berasal dari kata “sha’ba” yang berarti bercabang atau berpencar. 

    Penamaan tersebut karena orang-orang Arab zaman pra-Islam biasanya berpencar ke berbagai lokasi untuk mencari sumber air. 

    Bulan Sya’ban juga berperan sebagai periode persiapan untuk menyambut bulan Ramadhan. Selama bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan puasa sunnah, terutama pada tanggal 15 Sya’ban yang dikenal sebagai Nisfu Sya’ban.

    9. Ramadhan (رمضان)

    Nama bulan dalam Islam berikutnya yaitu Bulan Ramadhan yang tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan yang paling suci dan penuh berkah. 

    Nama “Ramadhan” diambil dari kata “ramdha” yakni menggambarkan panas yang sangat kuat atau menyengat. 

    Dinamakan demikian karena pada bulan ini, matahari di Arab bersinar dengan panas yang terik. Panas Ramadhan mencapai puncaknya saat musim panas di Arab. 

    Karena merupakan bulan paling mulia, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa. Kita wajib menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari fajar hingga matahari terbenam. 

    Pada bulan ini juga terdapat Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Itulah sebabnya kita harus meningkatkan keimanan selama bulan Ramadhan. Sebab, Allah melipatgandakan amal ibadah pada bulan ini.

    10. Syawwal (شوال)

    Syawwal adalah bulan kesepuluh dalam tahun Hijriah. Nama Syawwal berasal dari kata “shala” yang jika kita terjemahkan adalah mengangkat atau meninggalkan. Hal ini merujuk pada waktu dimana unta betina mengalami penurunan produksi air susu. 

    Syawwal merupakan bulan kemenangan bagi umat Islam setelah menyelesaikan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Bulan ini juga menjadi waktu untuk merayakan hari raya Idul Fitri, sebuah momen kebahagiaan dan saling memaafkan.

    11. Dzulqo’dah (ذوالقاعدة)

    Bulan kesebelas dalam kalender Hijriyah yaitu bulan Dzulqo’dah. Bulan ini termasuk dalam bulan-bulan yang suci. Penamaan “Dzulqo’dah” berasal dari kata “qa’ada” yang berarti duduk atau tidak berangkat. 

    Dinamakan demikian karena pada bulan ini, orang Arab zaman sebelum Islam biasanya berdiam diri dan tidak berperang. Sebab, bulan ini termasuk bulan suci sehingga perang dilarang.

    Dzulqo’dah juga dianggap sebagai bulan istirahat bagi umat Islam sebelum bersiap untuk menjalankan ibadah haji di bulan berikutnya.

    12. Dzulhijjah (ذوالحجاة )

    Dzulhijjah adalah bulan terakhir (ke-12) dalam kalender Hijriah. Bulan ini juga termasuk suci dan penuh kebaikan. Penamaan “Dzulhijjah” berasal dari kata “hajj” yang merujuk pada ibadah haji atau perjalanan ke tanah suci. 

    Selama bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Mekkah untuk menjalankan ibadah haji. Dzulhijjah juga menjadi bulan pengorbanan bagi umat Islam. Ada ibadah qurban pada tanggal 10 Dzulhijjah atau dikenal sebagai hari raya Idul Adha.

    Demikian nama bulan dalam Islam beserta artinya. Semoga bisa menambah pemahaman kita terkait penanggalan dalam kalender Hijriyah.

    Makna Penanggalan Hijriyah Bagi Umat Islam

    Sebagai umat Islam, sudah semestinya kita mengetahui tentang penanggalan Hijriyah. Terdapat beberapa makna penanggalan Hijriyah bagi umat Islam yaitu sebagai berikut.

    1. Merupakan Kalender yang Diakui Allah SWT

    Sebagaimana dalam firman-Nya disebutkan sebagai berikut.

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

    Artinya:

    “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36).

    2. Penanda Ibadah-Ibadah Tahunan dalam Islam

    Ibadah-ibadah tahunan waktunya berkaitan dengan peredaran bulan. Contohnya ibadah puasa. Dalam menentukan waktu mulainya puasa Ramadhan, kita menggunakan patokan terbitnya hilal (bulan baru). 

    Dalam firman Allah disebutkan sebagai berikut.

    فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

    Artinya:

    “Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS. Al-Baqarah: 185).

    Kalender Hijriah juga menjadi patokan dimulainya bulan haji. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah yaitu sebagai berikut.

    الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

    Artinya:

    “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: 197).

    Bulan yang dimaksud dalam ayat tersebut yaitu bulan Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh awal bulan Dzulhijjah. 

    3. Mengatur Ibadah dengan Waktu dan Durasi Tertentu

    Ada banyak hukum fikih yang berkaitan dengan kalender Hijriah. Misalnya masa iddah (masa tunggu) bagi perempuan yang tidak haid dan sudah menopause adalah tiga bulan. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah bulan-bulan dalam kalender Hijriah.

    Hal serupa terjadi dalam hukum iddah bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya. Jangka waktu tersebut adalah empat bulan sepuluh hari. Dalam kasus ini, hitungan bulan juga menggunakan kalender Hijriah.

    4. Menggunakan Kalender Hijriah Berarti Mengakui Identitas Islam

    Kalender Hijriah adalah kalender yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk menentukan tanggal-tanggal penting dalam agama Islam. Itulah sebabnya penanggalan Hijriyah menjadi identitas kuat bagi umat Islam.

    Sudah semestinya dengan mengetahui penanggalan Hijriyah dan nama bulan dalam Islam, kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang taat untuk mengamalkan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

  • Hukum Membuat Istri Menangis saat Hamil, Bahaya Buat Janin Lho!

    Hukum Membuat Istri Menangis saat Hamil, Bahaya Buat Janin Lho!

    Dalam rumah tangga, sering terjadi perselisihan antar pasangan. Apalagi sampai membuat istri yang sedang hamil menangis. Kalau sudah begini, hukum membuat istri menangis saat hamil wajib menjadi bahan bacaan bagi suami.

    Seperti banyak orang sebutkan, wanita yang sedang hamil biasanya memiliki kondisi emosi yang kurang stabil. Mereka cenderung sensitif dan menjadi perasa sehingga perselisihan kecil dengan pasangan bisa menjadi masalah yang besar.

    Lalu, bagaimana hukum dalam Islam jika seorang suami membuat istrinya menangis pada saat hamil? Agar kamu bisa tahu jawabannya, yuk simak bersama pembahasan di bawah ya!

    Hukum Membuat Istri Menangis saat Hamil

    Di dalam sebuah pernikahan, seorang istri wajib hukumnya untuk mematuhi segala perintah dari suami. Di saat yang bersamaan, mereka juga memiliki hak-hak yang tentu saja harus dipenuhi oleh suami tanpa terkecuali.

    Hal sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 228:

    “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah:228)

    Potongan ayat di atas menjelaskan bahwasanya seorang istri memiliki kewajiban dan juga hak yang sebanding. Dengan kata lain, suami tidak bisa selalu menuntut kewajiban istri tanpa memenuhi hak-hak yang dimilikinya.

    Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlakuan baik dari suaminya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad:

    Rasulullah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, sebaik-baik kalian yang paling baik terhadap istrinya.” – (HR. Ahmad 2/250, Abu Dawud:4682, Tirmidzi:1162)

    Hadits ini juga menjelaskan bagaimana sebaiknya sikap suami kepada istrinya. Saat kondisi normal, Islam tetap memberikan keistimewaan kepada istri sehingga mereka harus diperlakukan dengan baik oleh para suaminya.

    Lantas, bagaimana hukum membuat istri menangis saat hamil? Jika pada kondisi normal seorang istri berhak atas perilaku baik dari suami, maka saat hamil mereka juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama.

    Terlebih, wanita yang sedang hamil juga tengah mengandung janin dari suami mereka. Meski begitu, hubungan pernikahan terkadang membawa pasangan suami dan istri terlibat perselisihan sehingga membuat suami kesal.

    Dalam hal ini, Allah memberikan penjelasan dalam potongan Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 19, yaitu:

    “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” – (QS. An-Nisa ayat 19)

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

    Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaḥillu lakum an tariṡun-nisā`a kar-hā, wa lā ta’ḍulụhunna litaż-habụ biba’ḍi mā ātaitumụhunna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa ‘āsyirụhunna bil-ma’rụf, fa ing karihtumụhunna fa ‘asā an takrahụ syai`aw wa yaj’alallāhu fīhi khairang kaṡīrā

    Artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

    Dari ayat di atas semakin jelas bahwa alih-alih melampiaskan kemarahan kepada istri bahkan membuatnya menangis, Allah justru meminta laki-laki untuk bersabar.

    Sesungguhnya Allah telah menganugerahi para suami dengan kebaikan-kebaikan istri yang banyak. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa hukum membuat istri menangis saat hamil adalah dilarang dalam Islam.

    Apalagi saat istri sedang hamil, maka kondisi psikisnya akan sangat sensitif sehingga perlakukan suami bisa berpengaruh pada kondisi mentalnya. Bahkan, guncangan mental juga bisa berpengaruh pada kondisi janin di dalamnya.

    Baca juga: Tunangan dalam Islam: Ketentuan dan Dalil yang Mengaturnya dalam Islam

    Dukungan Suami terhadap Istri yang Sedang Hamil

    Dukungan Suami terhadap Istri yang Sedang Hamil

    Dari pembahasan yang di atas, dapat kita simpulkan bahwa bentuk dukungan suami pada istri yang sedang hamil bisa dilakukan dengan beberapa hal, seperti:

    1. Bersabar

    Islam memerintahkan seorang suami untuk bersabar dalam menghadapi istrinya. Cara yang diperintahkan Allah kepada para suami untuk menegur istrinya adalah dengan mauidzah hasanah, yaitu menggunakan nasehat yang baik.

    Itu artinya kita dilarang untuk menegur istri dengan sikap yang keras atau kasar. Jika hal itu dilakukan saat sedang hamil, maka hal tersebut akan berpotensi untuk melukai hati dan membuatnya menangis.

    Baca juga: 10 Doa Agar Seseorang Merindukan Kita, Insyaallah Manjur

    2. Menjauhkannya dari Bahaya

    Selanjutnya, seorang suami juga harus memastikan bawah istri berada dalam keadaan aman sehingga ia tidak merasa takut atau merasa dalam ancaman. Jika istri tinggal dalam bayang-bayang ketakutan, maka hormon stres akan berbahaya bagi janinnya.

    3. Memenuhi Kebutuhan Istri

    Selanjutnya, seorang suami juga harus memenuhi kebutuhan istri selama hamil, mulai dari tempat tinggal, makanan, nafkah, dan sebagainya. Hal ini berlaku bahkan sampai statusnya sudah bercerai sekalipun.

    Hal ini seperti tertulis dalam Al-Qur’an Surat Ath-Thalaq ayat 6:

    أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا۟ عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِن كُنَّ أُو۟لَٰتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا۟ عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَـَٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا۟ بَيْنَكُم بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِن تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُۥٓ أُخْرَىٰ

    Askinụhunna min ḥaiṡu sakantum miw wujdikum wa lā tuḍārrụhunna lituḍayyiqụ ‘alaihinn, wa ing kunna ulāti ḥamlin fa anfiqụ ‘alaihinna ḥattā yaḍa’na ḥamlahunn, fa in arḍa’na lakum fa ātụhunna ujụrahunn, wa`tamirụ bainakum bima’rụf, wa in ta’āsartum fa saturḍi’u lahū ukhrā

    Artinya:

    “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

    Nah, kini Anda sudah mengetahui bagaimana hukum membuat istri menangis saat hamil, bukan? Dalam menjalani biduk pernikahan, baik suami maupun istri sudah selayaknya saling menjaga dan menguatkan agar pernikahan semakin kokoh.

  • 15 Hadits dan Ayat Al-Qur’an tentang Motivasi Hidup, Masya Allah!

    15 Hadits dan Ayat Al-Qur’an tentang Motivasi Hidup, Masya Allah!

    Ada banyak sekali hadits dan ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup yang bisa dijadikan petunjuk dan semangat dalam menghadapi segala ujian hidup di dunia.

    Sudah menjadi hal lumrah, ketika manusia tertimpa suatu masalah, bencana maupun kesulitan hidup, mereka akan cenderung mengeluh. Dan sebaliknya, ketika mendapatkan kenikmatan, manusia kerap kali akan lupa bersyukur serta lupa siapa yang telah memberikan kenikmatan.

    Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk selalu menanamkan rasa syukur dan sabar dalam menghadapi segala kesuitan bahkan kenikmatan sekalipun. Sebab, kedua hal tersebut sejatinya hanyalah ujian Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

    Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Motivasi Hidup

    Dalam kehidupan, akan ada banyak hal yang akan kita hadapi. Sebab pada dasarnya, manusia dihidupkan di dunia hanya untuk berlomba-lomba menaikan kedudukan dan derajat dihadapan Allah SWT melalui segala ujian-Nya.

    Meski kerap kali ujian yang datang membuat kita merasa tidak mampu dan juga berputus asa, namun selalu ingat bahwa Allah SWT tidak akan memberikan ujian tanpa jawaban yang Allah juga siapkan.

    Selain itu, Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya dan membiarkannya pulang dengan tangan kosong.

    Apa saja ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup yang bisa memberi semangat dan juga pedoman tersebut? Berikut ayat-ayatnya:

    1. Surat Al-Baqarah ayat 216

    كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

    Makna dari ayat tersebut adalah di balik kegagalan dan kesulitan yang kita alami akan selalu ada kebaikan yang menanti.

    Baca juga: Apa Hukum Asuransi dalam Islam? Halal atau Haram Ini Pendapat Ulama

    2. Surat Al-Baqarah ayat 286

    لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.” (Q.S Al-Baqarah: 286)

    Makna dari ayat ini adalah ketika kita merasa ujian yang kita terima sangat berat, percayalah bahwa kita akan jauh lebih kuat dari masalah tersebut. Sebab Allah SWT tidak akan pernah menguji suatu hamba, diluar batas kemampuannya.

    3. Surat Ar-Rad ayat 11

    لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

    Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar-Rad: 11)

    Makna dari ayat di atas yakni, meski ada banyak hal sulit yang kita hadapi, jangan berhenti berusaha.

    Sebab Allah SWT tidak akan mengubah nasib hamba-Nya, jika hamba-Nya sendiri tidak berusaha.

    4. Surat Al-Insyirah ayat 5-6

    فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

    Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)

    Makna dari ayat tersebut yakni ketika kita mengalami ujian, kesulitan maupun musibah. Percaya saja bahwa segala sesuatu kesulitan akan selalu ada kemudahan dibaliknya.

    5. Surat Al-Insyirah ayat 8

    وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

    Artinya: “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Al-Insyirah: 8)

    Makna dari ayat tersebut, yakni ketika kita merasa tersudut sebab tidak ada jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan adalah berserah diri kepada Allah SWT. Sebab, hanya kepada Allah kita berharap dan memohon pertolongan.

    6.  Surat At-Thalaq ayat 2-3

    وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

    Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. At-Thalaq: 2-3)

    Makna dari ayat tersebut yakni jangan pernah berburuk sangka kepada Allah SWT akan segala ujiannya. Apabila kita bertawakal dan sabar menghadapi segala ujian yang datang. Suatu ketika kita akan merasa bahwa pertolongan Allah SWT datang dari segala penjuru tanpa kita sangka-sangka.

    7. Surat Yusuf ayat 87

    يَٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

    Artinya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87)

    Makna dari ayat diatas yakni meski kita merasa bahwa ujian yang datang bukanlah perkara mudah untuk dihadapi.

    Namun yaknilah bahwa kita bisa melewatinya, sebab Allah SWT menyukai hamba-Nya yang selalu sabar dan berusaha serta tidak gampang berputus asa.

    Baca juga: 7+ Contoh Ceramah Singkat tentang Ikhlas dalam Islam

    8. Surat At-Taubah ayat 40

    إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah: 40)

    Makna dari ayat ini bahwa Allah SWT selalu berpesan kepada kita untuk tidak bersedih berlarut-larut dan percaya bahwa Allah SWT selalu memberikan jalan keluar dari segala masalah yang ada.

    9.  Surat At-Taubah ayat 129

    فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

    Artinya: “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung’.” (Q.S. At-Taubah: 129)

    Makna dari ayat di atas yakni bahwa tidak diperbolehkan seorang muslim untuk mencari jalan pintas yang tidak sesuai dengan syariat yang dibenarkan seperti menyekutukan Allah SWT.

    10. Surat Ali Imran ayat 139

    وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

    Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ali Imran: 139)

    Makna dari ayat tersebut yakni, janganlah kita sebagai umat muslim merasa lemah dan bersedih terlalu berlarut-larut. Sebab Allah SWT menciptakan kita sesempurna mungkin, agar kita dapat berusaha dan selalu bertawakal kepaa-Nya.

    11. Surat At-Taubah ayat 129

    فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

    Artinya: “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung’.” (Q.S. At-Taubah: 129)

    Makna dari ayat tersebut yakni agar kita selalu bertawakal dan percaya akan kebesaran Allah yang akan selalu membantu ketika umat-Nya dalam masalah seberat apapun.

    Dan janganlah memilih jalan pintas. Apalagi memilih untuk menyekutukan Allah SWT.

    12. Surat Al-An’am Ayat 165

     وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’am:165).

    Makna ayat tersebut adalah segala ujian yang Allah SWT beri tidak lain hanyalah sebagai penguji kualitas keimanan seseorang.

    13. Surat Al-Baqarah ayat 155-156

    وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

    Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

    (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,”. (QS Al-Baqarah: 155-156)

    Makna dari ayat di atas yakni agar selalu mengingat Allah SWT jika tertimpa suatu ujian, kemalangan, ketakutan dan segala hal musibah yang menimpa.

    14. Surat An-Nahl Ayat 97

    مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

    Maknanya, apabila seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan melakukan amalan sholeh. Allah SWT akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan juga pahala dari segala amalan yang dilakukan.

    15. Surat Ali Imran Ayat 200

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

    Maknanya yakni, bersabarlah dari segala ujian maupun masalah hidup dan hendaknya selalu bertawakal kepada Allah SWT, agar selalu diberikan petunjuk dan juga kenikmatan di dunia maupun di akhirat kelak.

    Hadits tentang Motivasi Hidup

    Selain ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup, berikut juga terdapat beberapa hadits yang bisa dijadikan sebagai penyemangat dalam menghadapi masalah:

    1. Hadits tentang Roda Kehidupan

    Hadits yang pertama yakni mengenai hidup akan selalu berputar, tidak selamanya manusia akan berada di bawah. Sebab setiap muslim berkesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

    Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kesulitan bersama kemudahan,” (HR Tirmidzi).

    2. Hadits tentang Kegalauan

    Hadits tentang Kegalauan

    Hadits ini membahas mengenai setiap hal yang datang kepada seorang muslim, baik itu kepedihan, ujian, musibah maupun kegalauan tidak lain akan dijadikan sebagai penggugur dosa.

    Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah suatu kegalauan, kesedihan, kebimbangan, kekalutan yang menimpa seorang mukmin atau bahkan tertusuk duri sekalipun, melainkan karenanya Allah akan menggugurkan dosa-dosanya,” (HR Bukhari dan Muslim)

    3. Hadits tentang Urusan Dunia dan Akhirat

    Hadits ini mengingatkan bahwa manusia hidup hanya untuk berlomba-lomba mencari kebaikan dan juga amalan seperti mereka akan dimatikan diesok harinya.

    Rasulullah SAW bersabda: “Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan laksanakanlah urusan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok,” (HR Ibnu Asakir)

    4. Hadits tentang Kebaikan

    Hadits ini menjelaskan mengenai bagi siapa saja yang menunjukan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala yang banyak seperti yang ia kerjakan.

    Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala sebanyak yang didapat oleh yang mengerjakannya,” (HR Muslim)

    Itulah tadi kumpulan hadits dan ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup yang cocok untuk dijadikan semangat dalam menghadapi cobaan hidup.

    Semoga dengan membaca ayat-ayat ini, kita bisa jadi lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

  • Apakah Mengupil Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya

    Apakah Mengupil Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya

    Apakah mengupil membatalkan puasa? Seperti kita ketahui, ada beberapa hal yang bisa membuat puasa batal yakni salah satunya adalah masuknya benda ke dalam rongga terbuka tubuh dengan sengaja.

    Bagian rongga terbuka dalam tubuh seperti mulut, lubang hidung, lubang telinga, dan lainnya. Saat ada benda masuk ke dalam lubang ini, maka hukum puasanya batal. Lalu, bagaimana dengan mengupil?

    Berikut ada beberapa informasi yang penting kita ketahui terkait hukum ngupil saat puasa dan apakah ngupil bisa membatalkan puasa. Yuk, simak!

    Hukum Ngupil Saat Puasa

    Mengupil adalah suatu aktivitas memasukkan jari tangan ke dalam lubang hidung. Kegiatan dengan sadar ini bertujuan untuk membersihkan kotoran hidung. Kadang ada juga karena gatal sehingga tidak sadar ngupil.

    Lalu, bagaimana hukum ngupil saat menjalankan ibadah puasa? Apakah mengupil membatalkan puasa atau tidak? Seperti apa dalilnya dalam Islam?

    Menurut informasi, hukum mengorek hidung atau ngupil belum ada dalil khusus menunjukkan bahwa kegiatan mengupil ini bisa membatalkan puasa.

    Namun menurut lansiran dari Islam NU, hukum ngupil masih menjadi pertimbangan sendiri kaitannya dengan hal-hal yang membatalkan puasa.

    Meski demikian, dalam kitab Fath Al-Qarib menyebutkan hal yang membatalkan puasa salah satunya adalah ada benda yang masuk ke dalam lubang tubuh secara sengaja. Hukum puasanya adalah tidak sah.

    Sementara itu, pada kasus mengupil membatalkan puasa atau tidak, harus diketahui terlebih dahulu batas jari yang masuk ke bagian lubang hidungnya. Nantinya akan diketahui hukum puasa bagi yang mengupil.

    Apakah Ngupil Membatalkan Puasa?

    Perlu kita ketahui, puasa seseorang bisa menjadi batal ketika ada benda masuk ke dalam rongga berpangkal pada organ bagian dalam atau jauf.

    Lubang jauf punya batas awal, yang mana saat benda melewati batas tersebut maka puasanya batal. Namun, jika benda belum melewati jauf maka puasanya tetap sah. Lalu, apakah mengupil membatalkan puasa?

    Pada lubang hidung, batas awalnya berada di bagian pangkal insang atau muntaha khaisyum yang sejajar mata dan telinga yakni bagian yang tidak terlihat mata.

    Jika kegiatan mengupil melewati batas awal rongga hidung dan bahkan mencapai pangkal khaisyum, maka kegiatan ngupil bisa membatalkan puasa.

    Pada dasarnya, mengupil atau mengorek lubang hidung karena gatal diperbolehkan saat menjalankan puasa. Asalkan, saat mengupil tidak masuk hingga ke rongga hidung atau batas awal muntaha khaisyum.

    Begitu pula halnya ketika mengupil dilakukan dalam kondisi tidak sadar saat berpuasa, kemudian jari masuk ke dalam lubang hidung mencapai pangkal khaisyum. Puasanya tetap sah karena ketidaktahuan.

    Bagaimana memasukan benda ke lubang hidung dalam konteks seperti berwudhu saat puasa? Jika air wudhu ada kemungkinan masuk ke hidung dan melebihi batas awal, maka puasa akan menjadi batal.

    Tips Ngupil Saat Menjalankan Puasa

    Setiap orang tentunya memiliki suatu kebiasaan yang tak biasa, salah satunya adalah ngupil. Meski terkadang, kegiatan ngupil dilakukan dengan sengaja karena alasan untuk membersihkan kotoran di lubang hidung.

    Namun ketika ada pertanyaan, apakah mengupil membatalkan puasa atau tidak? Jawabannya adalah tergantung dari seberapa dalam mengorek lubang hidung itu. 

    Jika melebihi batas pangkal khaisyum, maka ngupil hukumnya membatalkan puasa atau tidak sah puasanya.

    Bagaimana cara ngupil yang aman agar puasa tidak batal? Jika kita ingin ngupil dan terhindar dari risiko batalnya puasa, berikut cara yang bisa dilakukan:

    • Membersihkan hidung secara rutin dengan air hangat dan gunakan saline spray untuk melarutkan upil yang sudah menempel di dalam hidung.
    • Menghindari mengupil dengan jari tangan karena berisiko mengalami iritasi atau infeksi pada hidung. Gunakan alat cotton bud saat mengupil.
    • Jangan mengupil secara berlebihan atau terlalu keras, hal ini bisa menyebabkan luka pada hidung. Bersihkan upil di hidung secara perlahan.
    • Jangan mengupil terlalu dalam melebihi batas pangkal khaisyum pada saat berpuasa. Hal ini karena puasa bisa menjadi batal atau tidak sah.
    • Jika ngupil akibat alergi ataupun kondisi penyakit hidung, maka segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

    Mengupil bukan hal yang dilarang pada saat sedang berpuasa. Namun, saat mengupil sebaiknya dengan cara yang tepat agar tidak membatalkan puasa dan hindari hal-hal lainnya yang bisa membuat puasa batal.

    Baca juga: 12 Macam Macam Sholat Sunnah yang Diajarkan Rasulullah SAW, Apa saja?

    Hal Lain yang Membatalkan Puasa

    Berikut ini ada beberapa hal lain yang bisa membatalkan puasa selain ngupil melebihi batas pangkal khasyum. Apa saja? Yuk, simak dengan seksama!

    1. Masuknya Benda ke dalam Tubuh

    Ketika ada sesuatu atau benda masuk ke dalam tubuh melalui lubang berpangkal seperti mulut, hidung, dan telinga. Jika hal itu sengaja, maka puasanya batal. Jika hal itu tidak sengaja, maka puasa tetap sah.

    2. Melakukan Hubungan Suami Istri

    Melakukan hubungan intim pada siang hari saat puasa dengan sengaja, tidak hanya membatalkan puasa tetapi juga dikenakan denda (kifarat). Oleh karena itu, kita harus menjaga hawa nafsu selama puasa.

    3. Masuknya Obat Melalui Qubul

    Berobat dengan memasukkan obat ataupun benda melalui qubul (lubang depan) atau dubur (lubang belakang), maka puasanya batal. Pengobatan ini untuk orang sakit harus memasang kateter urin atau ambeien.

    4. Keluarnya Air Mani (Sperma)

    Bagi pria yang melakukan onani atau bersentuhan kulit dengan lawan jenis tanpa melakukan hubungan intim, kemudian keluar air mani atau sperma. Hal ini tentunya membatalkan puasa atau puasa tidak sah.

    5. Haid atau Nifas bagi Wanita

    Pada saat berpuasa di siang hari mengalami haid atau sedang dalam kondisi nifas, maka puasanya menjadi batal. Selain itu, wanita haid dan nifas juga wajib melakukan qadha puasa saat Ramadhan usai.

    6. Gangguan Jiwa atau Junun

    Seseorang mengalami gangguan jiwa atau junun saat sedang melaksanakan puasa, maka puasanya menjadi batal. Orang ini harus mengqadha ataupun mengganti puasa Ramadhan setelah sudah sembuh.

    7. Murtad atau Keluar Agama Islam

    Jika seseorang sedang berpuasa kemudian melakukan hal yang bisa membuat dirinya murtad, maka puasanya batal. Termasuk mereka yang menyekutukan Allah SWT dan mengingkari hukum syariat Islam.

    Itulah hal-hal membatalkan puasa selain ngupil melebihi batas yang sudah ada ketentuannya. Hal ini penting untuk kita ketahui dan pahami, agar kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik dan lancar.

    Demikian penjelasan tentang permasalahan apakah mengupil membatalkan puasa atau tidak? Meski mengupil diperbolehkan saat berpuasa, tetapi harus mengetahui batasannya agar puasa tetap sah hukumnya.

  • Hukum Potong Rambut saat Haid Menurut Islam, Apakah Boleh?

    Hukum Potong Rambut saat Haid Menurut Islam, Apakah Boleh?

    Selama ini kita mungkin pernah mendengar larangan potong rambut dan kuku bagi wanita yang sedang haid atau menstruasi. Sebenarnya bagaimana hukum potong rambut saat haid jika ditinjau dari Al-Qur’an dan Hadits?

    Wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah sholat, puasa, dan sebagainya.

    Diibaratkan sedang dalam kondisi kotor. Itulah sebabnya kerap muncul larangan untuk memotong rambut atau kuku yang termasuk bersuci.

    Hukum Potong Rambut saat Haid Menurut Islam

    Untuk mengetahui hukum suatu peristiwa, semestinya kita merujuk pada Al-Qur’an, hadis, dan kesepakatan para ulama. Mengenai potong rambut saat haid sebenarnya tidak ada dalil eksplisit baik di Al-Qur’an maupun sunnah Nabi.

    Berdasar Kisah Aisyah r.a

    Tidak ada riwayat yang melarang wanita haid untuk memotong kuku atau rambut. Begitu pula, tidak ada riwayat yang mewajibkan mencuci rambut yang rontok saat mandi setelah haid. 

    Sebaliknya, ada riwayat yang memperbolehkan wanita haid untuk menyisir rambut. Terdapat hadis yang berkaitan dengan Aisyah saat mengikuti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka tiba di Mekkah, A’isyah mengalami haid.

    Diriwayatkan dari Imam Bukhari. Aisyah radhiyallahu ’anha berkata, “Kami berangkat (untuk berhaji) ketika mendekati permulaan bulan Dzulhijjah. Lalu Nabi SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang ber-ihlal (berniat untuk memulai) ibadah umrah maka silakan melakukannya. Adapun aku, seandainya aku tidak membawa hadyu (hewan sembelihan) maka aku akan ber-ihlal untuk umrah.” 

    Dari sabda Nabi tersebut akhirnya sebagian sahabat ber-ihlal untuk umrah dan sebagian lagi ber-ihlal untuk haji. Sementara Aisyah ermasuk orang yang ber-ihlal untuk umrah. 

    Pada saat hari arafah Aisyah mengalami haid. Lalu ia mengadukan hal ini kepada Nabi. Nabi SAW pun bersabda:

    دَعِي عُمْرَتَكِ، وَانْقُضِي رَأْسَكِ، وَامْتَشِطِي وَأَهِلِّي بِحَجٍّ

    Artinya:

    “Tinggalkanlah umrahmu, lepaslah ikatan rambutmu, sisirlah rambutmu dan ber-ihlal-lah untuk haji.” 

    Akhirnya Aisyah pun melakukan perintah beliau. Pada malam hasbah (malam keempat belas bulan Dzulhijjah). Nabi SAW mengutus saudara ‘Aisyah yaitu Abdurrahman bin Abu Bakr untuk menemaninya. 

    Aisyah keluar sampai di miqat Tan’im dan ber-ihlal untuk umrah dari sana sebagai ganti dari umrahnya. Dari kisah ini, terdapat hadis shahih riwayat Imam Bukhari yang berbunyi sebagai berikut:

    وَقَالَ عَطَاءٌ: َيحْتَجِمُ الجُنُبُ، وَيُقَلِّمُ أَظْفَارَهُ، وَيَحْلِقُ رَأْسَهُ، وَإِنْ لَمْ يَتَوَضَّأ

    Artinya:

    Orang yang sedang dalam keadaan junub boleh berbekam, memotong kuku, mencukur rambut, meskipun tanpa berwudhu. (HR. Bukhari).

    Berdasarkan hadis tersebut, jelas bahwa hukum potong rambut saat haid diperbolehkan. Nabi SAW justru memerintahkan ‘Aisyah yang sedang dalam keadaan haid untuk menyisir rambutnya. 

    Padahal menyisir rambut seringkali berpotensi menyebabkan rambut rontok. Hal ini menunjukkan bahwa tidak masalah jika ada anggota tubuh yang terpisah dari badan karena melakukan suatu hajat.

    Baca juga: Hukum Memanjangkan Kuku dalam Islam

    Pendapat Ulama

    Beberapa ulama tidak membolehkan potong rambut dan kuku saat haid. Hukum potong rambut saat haid menurut ulama ini memiliki alasan karena anggota badan yang terpisah saat kondisi berhadas kelak di akhirat akan dikembalikan masih dalam keadaan hadas. 

    Adapun ulama yang berpendapat demikian antara lain Zainuddin Ahmad bin Abdul Aziz, Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, dan al-Ghazali. Sementara pendapat Abu Al-Faraj Asy-Syairazi menyatakan bahwa memotong kuku saat haid hukumnya makruh.

    Sementara itu, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa:

    “Wanita yang haid boleh memotong kukunya dan menyisir rambutnya, dan boleh mandi junub, … pendapat yang dianut oleh sebagian wanita bahwasanya wanita yang haid tidak boleh mandi, menyisir rambutnya, dan memotong rambutnya maka ini tidak ada asalnya (dalilnya) di dalam syari’at, sebatas pengetahuan saya.”

    Ternyata larangan memotong rambut saat haid ditemukan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Menurut Imam Al-Ghazali, wanita haid dilarang memotong kuku dan rambutnya.

    Alasannya karena kelak di akhirat rambut dan kuku tersebut akan dipanggil dalam keadaan janabah (hadats besar). Lalu meminta pertanggungjawaban pada pelakunya. Pendapat Al-Ghazali ini berdasarkan hadis yang berbunyi:

    ”Dan tidak sepatutnya seseorang itu mencukur rambutnya, memotong kukunya, bulunya, atau mengeluarkan darahnya, atau memisahkan satu bagian dari dirinya sedang dia dalam keadaan junub. Sebab semua bagian itu akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan junub, lalu dikatakan pada orang itu: Sesungguhnya setiap rambut ini menuntut padanya mengapa ia dibiarkan dalam keadaan berjanabah (hadats besar).” (Kitab Ihya’ Ulumuddin, jilid 1 hal. 51)

    Ulama lain yaitu Al-Bujairimi mengomentari pendapat tersebut. Dalam kitabnya, Tuhfah AlHabib, beliau menuliskan sebagai berikut:

    “Ada kritikan terhadap (pendapat al-Ghazali). Yang dimaksud dengan ’bagian itu akan dipanggil pada hari kiamat’ adalah bahwa jasad akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaannya sewaktu ia mati, tidak termasuk kuku atau rambut yang dipotong selama ia hidup. Itu artinya, pendapat ini perlu dirujuk kembali. Al-Qalyubi mengatakan bahwa jika semua rambut dan kukunya yang sempat ia potong selama hidup akan dipanggil menyatu ke jasadnya, niscaya akan buruklah jasadnya itu, saking panjangnya kuku dan rambutnya. Al-Manabighi juga menyampaikan bahwa bagian tubuh terpisah yang akan dipanggil itu adalah seperti tangan yang terpotong, bukan rambut atau kuku.” (Kitab Tuhfah Al-Habib, jilid 1 hal. 247).

    Dari pandangan ulama tersebut, kita dapat mengambil jalan tengah. Artinya, sebaiknya kita tidak memotong kuku dan rambut kecuali ada kebutuhan atau alasan yang mendasar. Misalnya rasa risih atau ketidaknyamanan jika dibiarkan panjang. 

    Setelah memotong kuku atau rambut, disarankan untuk membersihkan area tempat pemotongan tersebut, bukan potongan kuku atau rambut itu sendiri. Hal ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan atau berhati-hati.

    Demikian pendapat para ulama mengenai hukum potong rambut saat haid. Pada dasarnya yang dilarang bagi wanita haid hanya enam hal saja.

    Ibadah yang Dilarang bagi Wanita Haid

    Dalam Islam, kita diberikan kebebasan untuk beribadah asalkan sesuai aturan yang berlaku. Sebab, setiap individu diwajibkan untuk beribadah sepanjang hidup, tak terkecuali wanita haid. 

    Wanita haid masih boleh beribadah kecuali enam amalan yang dilarang yaitu sebagai berikut:

    1. Sholat dan Puasa

    Dari Abu Said radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda:

    أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا

    “Bukankah apabila wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1951 dan Muslim no. 79).

    Hadis tersebut menjelaskan bahwa wanita haid dilarang sholat dan berpuasa. Justru jika melakukannya, ia akan berdosa.

    2. Thawaf di Ka’bah

    Sebagaimana kisah Aisyah, Rasulullah memerintahkannya untuk tidak ikut thawaf hingga ia dalam kondisi suci kembali. Berikut hadis yang menerangkan hal tersebut:

    فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

    Artinya:

    “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.” (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211).

    3. Menyentuh Mushaf Al-Quran

    Orang yang berhadats (hadats besar atau hadats kecil) dilarang menyentuh mushaf sebagian atau seluruhnya. Sebagaimana dalam firman Allah yaitu sebagai berikut:

    لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

    Artinya:

    “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al Waqi’ah: 79).

    Sementara itu, Nabi SAW juga bersabda mengenai hal ini:

    لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

    Artinya:

    “Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

    4. I’tikaf

    Mayoritas ulama dari mazhab  Syafii, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa wanita haid dilarang i’tikaf atau berdiam diri di masjid. Sementara madzhab Hanafi menyatakan bahwa wanita haid yang i’tikaf tidak sah. Alasannya karena orang yang I’tikaf harus dalam keadaan puasa pada siang harinya sedangkan wanita haid tidak boleh puasa.

    Kita merujuk kembali pada Al-Qur’an. Allah SWT berfirman sebagai berikut:

     ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

    Artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa: 43).

    5. Hubungan Intim

    Allah SWT berfirman:

    وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَٱعْتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

    Artinya: 

    “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222).

    Demikian ibadah yang dilarang bagi wanita haid. Selain hal yang telah disebutnya, pada dasarnya hukum potong rambut saat haid berarti tidak dilarang. 

    Meskipun demikian, kalian yang sedang haid masih boleh melakukan ibadah lain.  Ibadah yang bisa dilakukan antara lain berdoa, berdzikir, bersedekah, mendengar ceramah, dan sebagainya.