Tag: Inspirasi Islam

  • 5 Cerita Inspirasi Islam untuk Kehidupan yang Bermakna

    5 Cerita Inspirasi Islam untuk Kehidupan yang Bermakna

    Ada banyak cerita inspirasi Islam yang bisa membuat kehidupan kita jadi lebih bermakna. Berbagai cerita ini akan memberikan kita makna dalam kehidupan jika benar-benar membaca dan merenunginya. 

    Banyak nilai yang nantinya bisa kita ambil mulai dari perbuatan baik yang akan membuahkan kebaikan pula, saling menolong, dan masih banyak lagi. Berbagai kisah ini dapat menjadi pengingat untuk kita mengenai banyak hal. 

    Bisa mengenai kehadiran Allah SWT dalam hati dan pertolongan dari-Nya. Mari, kita belajar bersama melalui cerita inspiratif Islam agar kehidupan jadi jauh lebih bermakna. 

    Cerita Inspirasi Islam Sebagai Bahan Renungan

    Kehidupan adalah rangkaian waktu yang disediakan bagi kita untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi dan menjadi versi terbaik dari diri kita. Belajar jadi lebih baik bisa dari apa saja, termasuk kisah inspiratif ini: 

    1. Cerita Inspirasi Islam bahwa Kebaikan Tidak Pernah Sia-sia

    Dikisahkan ada seorang laki-laki yang bernama Muhammad Ibnu Hamir. Ia adalah seseorang yang ketika siang sangat rajin berpuasa dan ketika malam hari sering beribadah qiyamul lail. 

    Suatu waktu, ia memutuskan untuk pergi berburu hewan. Kemudian, di tengah perjalanan tiba-tiba ada ular yang menghadangnya. Mereka berdua terlibat dialog yang cukup panjang. Begini dialognya: 

    Ular: “Hai Muhammad, tolong selamatkan aku.”

    Ibnu Hamir: “Menyelamatkanmu dari siapa?”

    Ular: “Selamatkan aku dari musuhku. Dia telah berbuat jahat kepadaku.”

    Ibnu Hamir: “Memangnya, musuhmu siapa?”

    Ular: “Musuhku adalah yang berada di belakangku.” 

    Ibnu Hamir: “Sebelum itu, aku ingin bertanya kamu ini dari golongan umat siapa?”

    Ular: “Aku adalah golongan dari umat Muhammad SAW.”

    ***

    Tak lama, Ibnu Hamir lalu membuka selendang yang ia kenakan. Ia lantas berkata: 

    “Wahai ular, kemarilah. Masuk ke dalam selendang ini saja.” 

    Ular: “Tidak, nanti jika aku ada di dalam selendang itu, musuhku akan dengan mudah mengetahuinya.” 

    Ibnu Hamir: “Kenapa begitu? Lalu, apa yang bisa aku perbuat selain ini untuk membantumu?”

    Ular: “Kalau kamu mau berbuat baik kepadaku dengan menolongmu, bukalah mulutmu. Nanti aku akan masuk ke sana. Hanya itu yang bisa menyelamatkanku.” 

    Ibnu Hamir: “Jika membuka mulut dan mengiyakan keinginanmu, aku khawatir nanti kamu akan membunuhku.” 

    Ular: “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan dan tidak mungkin tega membantu orang yang telah membantuku dengan setulus hati.” 

    Ibnu Hamir: “Baiklah, aku akan membuka perlahan mulutku. Aku percaya kepadamu untuk tidak membunuhku karena bantuan ini.” 

    Lalu, Ibnu Hamir secara perlahan membuka mulut. Kemudian, ular yang meminta bantuannya pun segera masuk ke dalam tubuh Ibnu Hamir. 

    ***

    Setelah ular masuk ke dalam tubuh Ibnu Hamir, ia melanjutkan perjalanannya. Di perjalanan, Ibnu Hamir sekadar berpapasan dengan orang yang tengah membawa parang. 

    Setelah diketahui, ternyata orang dengan parang tersebutlah yang merupakan musuh dari ular yang kini berada dalam tubuh dari Ibnu Hamir. 

    Orang dengan Parang: “Hai, Muhammad!” dengan nada kencang. 

    Ibnu Hamir: “Apakah ada hal yang bisa aku bantu?”

    Orang dengan Parang: “Apakah kau berjumpa dengan musuhku?”

    Ibnu Hamir: “Musuh? Memangnya siapa musuhmu?” 

    Orang dengan Parang: “Musuhku adalah seekor ular.” 

    Ibnu Hamir: “Maafkan aku, aku tidak melihatnya.” 

    Begitulah kata Ibnu Hamir yang menutupi informasi dari ular sembari mengucap istighfar sebanyak 100 kali. 

    Ia membaca istighfar karena sebenarnya tahu letak dari tempat Si Ular yang bersembunyi. 

    ***

    Secara perlahan, Ibnu Hamir kemudian melangkahkan kakinya untuk meneruskan perjalanan. Setelah Ibnu Hamir berjalan cukup jauh akhirnya ular mengeluarkan kepalanya. 

    Kemudian, ular bertanya: “Apakah musuhku telah pergi dari sini?” 

    Ibnu Hamir: “Aku lihat ke sebelah kiri dan kanan, tidak ada siapa pun. Termasuk musuhmu. Jika memang ingin keluar, maka silakan keluar. 

    Ular: “Hai Muhammad, aku menawarkan dua opsi untukmu. Opsi pertama, kau memilih untuk aku hancurkan bagian limpamu dari dalam; atau opsi kedua, aku akan melubangi hatimu ini dan akan aku biarkan dirimu hidup tanpa ruh. 

    Ibnu Hamir: “Subhanallah, lantas di mana janji yang sebelum aku bantu dan sudah kau ucapkan tadi?”

    Ibnu Hamir: “Apakah kau telah lupa dengan sumpah yang tadi kau ucapkan sendiri? Mengapa sangat cepat kamu bisa melupakannya?”

    Ular: “Mengapa kamu sudah lupa antara permusuhanku dengan moyangmu, Nabi Adam? Yang mana aku membuatnya keluar dari surga.”

    Ular: “Ini salahmu sendiri, apa dasar kamu melakukan kebaikan ini pada makhluk yang sebenarnya tak pantas untuk diperlakukan dengan baik?” 

    Ibnu Hamir yang telah membantunya, sama sekali tidak menyangka jawaban yang keji dari sosok ular yang telah ditolong olehnya, bahkan ia sampai berbohong kepada orang yang membawa parang. 

    Ibnu Hamir: “Apakah kau begitu yakin akan membunuhku?”

    Ular: “Pasti, aku pasti membunuhmu.” 

    Ibnu Hamir: “Jika begitu, tunggulah sebentar sampai aku naik ke gunung. Aku ingin menyiapkan diri.” 

    Ular: “Silakan, kamu bisa berbuat semaumu.” 

    Lalu, Muhammad bin Hamir akhirnya memutuskan naik ke gunung di tengah keputusasaannya sembari menyadari, tidak ada lagi harapan agar ia bisa hidup di dunia. 

    ***

    Akhirnya, Ibnu Hamir sampai di puncak gunung. Ia menatap ke arah langit dan berdoa: 

    يَا لَطِيفُ، يَا لَطِيفُ، اُلْطُفْ بِي بِلُطْفِكَ الْخَفِيِّ. يَا لَطِيفُ، بِالْقُدْرَةِ الَّتِي اسْتَوَيْتَ بِهَا عَلَى الْعَرْشِ، فَلَمْ يَعْلَم الْعَرْشُ أَيْنَ مُسْتَقِرُّكَ إِلَّا مَا كَفَيْتَنِيْ هَذِهِ الْحَيَّةَ

    Artinya: 

    “Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, berlaku lembutlah kepadaku dengan kelembutan-Mu yang samar. Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, dengan kekuasan-Mu yang denganya Engkau menguasai Arsy’, lalu Arsy pun tidak mengetahui di mana kekuasan-Mu, kecuali tidak Engkau lindungi diriku dari kejahatan ular ini.” 

    ***

    Lalu, Ibnu Hamir melanjutkan jalannya. Tak disangka, ada sosok lelaki yang wanginya semerbak dan begitu bersih menghampirinya. 

    Sosok Lelaki: “Salamun ‘Alaika, wahai Muhammad. Kenapa kau terlihat sedih? Ada Apa?” 

    Ibnu Hamir: “Waalaikumsalam, saudaraku. Musuhku sudah berbuat jahat kepadaku.” 

    Sosok Lelaki: “Di mana musuhmu?”

    Lantas, Sosok Lelaki itu memberi daun hijau seperti zaitun dan berkata: 

    “Hai, Muhammad. Kunyahlah daun ini, lalu silakan ditelan.” 

    Secara tak terduga, setelah mengunyah dan menelannya, Ular yang ada dalam perutnya berputar-putar dan keluar berkeping-keping dari arah duburnya. 

    Dengan keajaiban ini, akhirnya Ibnu Hamir penasaran: 

    “Siapa dirimu? Allah telah menyelamatkan aku dengan perantara dirimu?” 

    Sosok Lelaki: “Apakah kau belum kenal aku, Muhammad?” 

    Sosok Lelaki: “Mengertilah, Muhammad bin Hamir! Ketika kau dianiaya ular dan kau berdoa, malaikat di langit mengadu pada Allah SWT dan Allah mengutusku untuk menolongmu.”

    “Aku adalah malaikat Ma’ruf yang berada di langit keempat.” 

    Allah berkata kepadaku: 

    “Pergilah ke Surga, lalu ambil daun berwarna hijau, lalu berikan kepada hamba-Ku, Muhammad bin Hamir.” 

    Dari cerita inspirasi Islam ini bisa kita simpulkan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan, tidak akan pernah sia-sia.

    Baca juga: 5 Peran Ayah dalam Keluarga Menurut Islam, Penting dan Tidak Tergantikan!

    2. Cerita Inspirasi Islam Memberi Tanpa Menghina

    Selanjutnya, ada cerita inspirasi Islam terkait memberi tanpa perlu menghina orang yang menerimanya. Berikut ini kisahnya: 

    Alkisah ada penjual selimut yang kualitasnya terbaik. Selimut yang tersedia, harganya bervariasi dan juga memiliki variasi dari segi ketebalan. Kemudian, suatu hari datang kakek tua renta yang bajunya sudah lusuh. 

    Jika melihatnya secara menyeluruh, ternyata kakek tua yang datang merupakan orang yang tidak berpunya. Walaupun begitu, ia tetap memberanikan diri membeli selimut kepada penjual selimut yang selalu menyediakan kualitas terbaik. 

    Saat kakek tua ini ada di dalam toko, banyak pengunjung yang menatap dan melihatnya dengan sinis. Bahkan cenderung penuh dengan rasa tidak suka. Tapi siapa sangka, pemilik toko tetap melayani kakek tua yang datang dengan sopan.

    Pemilik toko tetap memberikan perhatian seperti tidak ada bedanya dengan pelanggan biasa di dalam toko. Banyak yang melihatnya dengan sinis dan tidak suka hanya karena pemilik toko melayaninya dengan ramah. 

    Namun, siapa sangka ternyata pemilik toko selimut ini melayani kakek tua yang datang dengan sangat sopan. Ia pun perhatian seperti memperlakukan pengunjung pada umumnya yang datang untuk membeli selimut. 

    Ia pun meminta selimut dengan harga yang paling murah karena memang total uang yang dimiliki pas-pasan. Bahkan, bisa dikatakan jika uang tersebut ternyata belum cukup untuk membeli selimut paling murah di toko penjual selimut. 

    Saat mengetahui hal ini, pemilik toko tetap memberi kakek tua pelayanan terbaik dan lantas mencari selimut buat kakek tua yang tadi datang. Siapa yang menyangka jika pemilik toko akan memberikan selimut dengan kualitas terbaik. 

    Menariknya, harga yang diberikan sesuai dan pas dengan uang yang kakek tersebut miliki. Lalu, kakek tua tersebut memberi ucapan terima kasih yang cukup mendalam pada pemilik toko. 

    Ternyata, selimut yang dibeli oleh kakek tua tersebut merupakan selimut yang digunakan untuk menyelimuti anak juga istri yang berada di balik tembok rumahnya. 

    Suatu waktu, datang juga pengunjung yang ingin membeli selimut yang kualitasnya sama dengan selimut yang sudah diberikan kepada kakek tua. 

    Pengunjung itu tampak marah saat ia tahu berapa harga sebenarnya dari selimut yang telah diberikan kepada kakek tua sebelumnya. Pengunjung tersebut tetap ngotot dan membandingkan harga yang kemarin diberikan oleh penjual selimut. 

    Pengunjung tersebut menganggap jika hal ini tidak adil. Namun, tetap dengan penuh kesabaran, pemilik toko selimut memberi penjelasan: 

    “Memang, harga yang saya berikan kepadamu dan kakek tua kemarin berbeda. Tapi, kali ini saya berdagang dengan manusia. Namun, kemarin saya tengah berdagang dengan Allah,” kata pemilik toko selimut. 

    Lalu, pemuda yang tadi marah akhirnya tertegun dan membayar selimut sesuai dengan harga yang sudah ditentukan. Sembari berdoa agar kakek tua yang sebelumnya membeli selimut dengan harga murah, tak kedinginan. 

    3. Cerita Inspirasi Islam dari Penjual Kerupuk Tuna Netra

    Suatu hari, ada seorang penjual kerupuk yang memiliki keterbatasan lain. Penjual kerupuk ini memiliki keterbatasan fisik yakni tuna netra atau mengalami keadaan buta pada mata. 

    Walaupun begitu, ia tetap terus mencoba untuk menjalani hidup seperti orang normal pada umumnya: mencari nafkah. Caranya ialah dengan berjualan kerupuk. Tak lama, ada seorang pemuda yang menghampiri penjual kerupuk ini. 

    Ia ingin membeli kerupuk darinya. Pemuda ini lalu memberikan pertanyaan. Kalau misalnya dia tak membayar tapi meminta kembalian, bagaimana? Bukankah itu suatu kerugian? 

    Pemuda ini menanyakan tentang tanggapan dari penjual kerupuk tersebut. Dan seketika, penjual kerupuk memberikan jawabannya dengan nada rendah. 

    “Nah, rezeki sudah Allah yang mengatur. Bagian saya hanya berusaha. Kalau memang rezeki itu sudah milik saya dan memang ditetapkan untuk saya, maka tidak akan sedikit pun tertukar. Berlaku juga sebaliknya,” kata penjual kerupuk. 

    Sesaat setelah mendengar jawaban dari penjual kerupuk tersebut, anak muda ini langsung bergetar hatinya. Ia lantas memberikan uang dengan jumlah yang lebih. 

    Pemuda ini percaya kalau Allah telah menitipkan rezeki dari penjual tersebut melalui dirinya dan tangannya. 

    *** 

    Dari cerita inspirasi Islam ini, kita bisa memperoleh pesan moral kalau rezeki dari Allah tidak akan pernah tertukar dan memang sudah tertakar. 

    Apa pun itu, kalau kita ber-tawakkal kepada Allah, jalan yang sulit seperti apa pun pasti akan lebih mudah kita lewati. 

    Percayalah kalau Allah akan memberikan yang terbaik kepada semua hamba-Nya. Jika belum rezekinya, Allah akan menggantinya dengan hal yang telah menjadi rezeki kita atau yang tertulis di Lauhul Mahfudz sana. 

    Besar dan kecil rezeki bukan menjadi ukuran karena rezeki bukan hanya sekadar hitungan nominal. Bisa keberkahan, kesehatan, keluarga lengkap, teman-teman yang sholeh, dan bahkan pekerjaan yang menenangkan. Semuanya patut kita syukuri. 

    4. Cerita Inspirasi Islam Masyithah Pelayan Putri Fir’aun

    Kisah ini asalnya dari Masyitah. Ia merupakan pelayan dari putri Fir’aun dan seorang wanita yang berani dan dengan gagah mengorbankan jiwa dan raga untuk agamanya. 

    Ia merupakan ibu yang terbalut dengan sifat cinta, kasih sayang, dan penuh dengan kebaikan. 

    Masyithah merupakan sosok yang begitu mencintai anak-anak dengan ketulusan. Ia pun suka berjuang, bekerja keras, dan membuat mereka bahagia di dunia maupun di akhirat kelak. 

    Masyithah mempunya satu tantangan terberatnya yakni penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukan oleh Fir’aun. Anak-anaknya penuh hormat dan memiliki kebaikan hati. Ada banyak kekejaman juga siksaan yang didapatkan oleh Masyithah. 

    Seluruh ketidaknyamanan, ia hadapi hingga akhir kematiannya dan akhirnya Tuhan pun menyenangkannya. Masyithah sudah berhasil membesarkan anak-anaknya untuk berjuang hanya di jalan Allah. 

    Rasulullah pernah bertanya pada malaikat Jibril saat menjalani Isra’ Mi’raj dan Rasulullah bertanya dari mana bau yang amat wangi itu datang. Akhirnya malaikan Jibril menjawab bahwa itu merupakan wangi dari putri Fir’aun dan pelayannya. 

    Pelayan itulah yang bernama Masyithah. Suatu hari, Masyithah pernah menyisir rambut dari putri Fir’aun. Kemudian, sisirnya jatuh dari tangan dan ia berkata ‘Bismira.” 

    Putri Fir’aun kaget dan akhirnya melapor kepada Fir’aun. Hal ini sontak membuat Fir’aun tersinggung dan memanggil Maysita. 

    Kemudian Fir’aun bertanya, “Apakah kamu memiliki tuhan yang beda dari aku?”

    Masyithah menjawab iya. Dia tidak sedikit pun takut untuk menjawabnya. Keberanian inilah yang akhirnya membuat Masyithah dan anak-anak Fir’aun wangi ketika Rasulullah tengah dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj. 

    *** 

    Dari cerita inspirasi Islam ini, kita bisa belajar bahwa Masyithah adalah sosok yang teguh dengan pendiriannya dan tetap di jalan Allah apa pun risiko yang mungkin ia hadapi. 

    Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita. Khususnya bagi kita yang memiliki keimanan setipis tisu dan bahkan bisa goyah hanya karena hal-hal sepele seperti atasan, jabatan, harta, teman, pasangan, jalan macet dan lain sebagainya. 

    Semoga kita dapat menjalani hidup untuk tetap berada di jalan Allah seperti Maysitah hingga akhir hayat. 

    5. Keajaiban Sedekah Zaman Nabi Musa

    Ada satu cerita inspirasi Islam yang cukup menarik untuk kita renungi. Intinya mengenai keajaiban dari melakukan sedekah. Cerita ini terjadi tepat di zaman Nabi Musa. 

    Dikisahkan, waktu itu ada suami istri yang sangat kekurangan atau serba kekurangan selama bertahun-tahun. Hidup mereka termasuk sangat miskin. Tapi, mereka tetap tabah dan berusaha untuk keluar dari belenggu kemiskinan. 

    Suatu waktu, ketika mereka istirahat di tempat tidur, istri berkata ke suaminya, “Bukankah Nabi Musa adalah Nabi Allah yang bisa berbicara langsung dengan-Nya?” Suami lantas mengiyakan pertanyaan tersebut. 

    Kemudian, sang istri bertanya kembali, “Jika begitu, kenapa kita tidak ke sana dan mengadukan keadaan kita? Kita minta pada Nabi Musa agar berbicara kepada Tuhan mengenai keberadaan kita.” 

    “Sekaligus memintakan agar kita diberi keberlimpahan atau kekayaan agar hidup senang dan berkecukupan selama kita menjalani sisa hidup,” lanjutnya. 

    Keesokan harinya, pasangan suami istri ini mendatangi Nabi Musa lalu menyampaikan keinginan ini. Nabi Musa akhirnya bermunajat dan menghadap kepada Allah sesuai dengan yang pasangan suami istri ini inginkan. 

    Sedangkan, Allah Maha mendengar dan Maha Melihat, tak ada sesuatu pun di bumi dan langit yang bisa bersembunyi dari-Nya. 

    Allah menjawab permohonan tersebut, “Wahai Musa, sampaikan pada mereka bahwa aku telah mengabulkan permintaan mereka. Aku akan memberikan mereka kekayaan, tapi hanya selama satu tahun saja. Dan setelah setahun, aku akan kembalikan mereka menjadi orang miskin.”

    Mendengar kabar ini, pasangan suami istri tersebut amat gembira. Benar saja, tiba-tiba rezeki datang dari arah yang tak pernah mereka duga dan menjadikan mereka sangat kaya raya di tengah masyarakat ketika itu. 

    Kehidupan mereka pun akhirnya berubah dan bisa senang dan berbahagia. Sang istri pun akhirnya berkata pada suaminya, “Wahai suamiku, ingatlah kita diberi kekayaan seperti ini hanya setahun saja. Dan setelah itu, kita akan jatuh miskin lagi.”

    “Ya, saya tahu.”

    Istrinya kemudian berkata, “Kalau begitu, mari kita gunakan kekayaan ini untuk membantu sebanyak mungkin orang. Selama setahun ini, kita beri makan orang-orang fakir lalu menyantuni anak yatim selagi masih punya.”

    Suaminya pun setuju dan mereka akhirnya membangun rumah singgah buat para musafir. Rumah itu memiliki tujuh pintu, setiap pintu menghadap ke jalan yang jumlahnya tujuh persimpangan. 

    Akhirnya, keluarga ini pun menyambut semua musafir yang datang. Mereka diberi makan dan tempat singgah gratis. Entah itu siang hari ataupun malam hari. 

    Selama berbulan-bulan, mereka terus sibuk melayani musafir yang berdatangan. Hidup mereka tetap kaya, mereka lupa dengan tenggat waktu yang telah Allah tetapkan. 

    Melihat itu, Nabi Musa merasa heran. Kemudian, Nabi Musa bertanya kepada Allah dengan berkata:

    “Wahai Rabb, Engkau telah menetapkan syarat kepada mereka hanya satu tahun. Sekarang, sudah lewat satu tahun tetapi mereka tetap hidup kaya?”

    Lalu, Allah berfirman: 

    “Wahai Musa, Aku membuka satu pintu di antara pintu-pintu rezeki kepada keluarga tersebut, lalu mereka membuka tujuh pintu untuk membantu hamba-hamba-Ku. Wahai Musa! Aku merasa malu kepada mereka. Wahai Musa! Apakah mungkin hamba-Ku lebih dermawan dari-Ku?”

    Kemudian, Nabi Musa kembali menjawab: 

    “Maha Suci Engkau Ya Allah, betapa Maha Mulia urusan-Mu dan Maha Tinggi kedudukan-Mu”

    *** 

    Dari cerita inspirasi Islam ini, kita dapat mengambil dan memetik pelajaran betapa dahsyatnya keutamaan dari sedekah. Pada satu hadits, Rasulullah SAW bersabda: 

    “Tidak ada satu hari pun yang seorang hamba memasuki waktu pagi padanya, kecuali ada dua Malaikat yang turun dari langit dan salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah ganti untuk orang yang berinfak.’ Dan Malaikat yang lain berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan untuk orang yang menahan diri tidak berinfak dan mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

    Semoga berbagai cerita inspirasi Islam ini kita bisa memetik banyak ilmu dan pelajaran agar kita dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi.

  • 17 Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menurut Islam, Simak Ya

    17 Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menurut Islam, Simak Ya

    Sebagai orang tua, kita tidak hanya dituntut untuk merawat dan membesarkan anak saja hingga kelak mereka dewasa. Lebih dari itu, kita juga harus tahu bagaimana cara mendidik anak laki-laki menurut Islam sebagai bekal untuk dunia dan akhiratnya.

    Hal itu sangat penting mengingat seorang laki-laki kelak juga akan menjadi pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri dan juga keluarganya. Dengan memiliki nilai-nilai keislaman, diharapkan anak laki-laki kita bisa menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana.

    Untuk memberikan pendidikan Islam sejak dini, nilai-nilai keislaman pada diri anak akan lebih cepat tumbuh. Lantas, bagaimana seharusnya pendidikan tersebut kita berikan? Untuk tahu jawabannya, yuk simak ulasan di bawah ini!

    Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menurut Islam

    Anak adalah titipan dari Allah SWT yang selayaknya harus kita rawat, kasihi, dan juga didik agar bisa menjadi manusia yang mulia. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mendidik anak laki-laki kita menurut Islam:

    1. Rutin Perdengarkan Alunan Al-Qur’an

    Memperdengarkan Al-Qur’an kepada anak merupakan hal yang penting dalam pendidikan Al-Quran tidak hanya sebagai sumber ajaran agama Islam saja, tetapi juga pedoman hidup yang mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan kebijaksanaan.

    Di samping itu, memperdengarkan Al-Qur’an kepada anak sejak dini juga dapat membantu mereka memahami prinsip-prinsip agama dan keyakinan. Dengan begitu, dasar keimanan mereka terhadap Islam akan tumbuh semakin kuat.

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam ini sebaiknya dilakukan sejak anak tersebut masih di dalam kandungan. Hal itu bisa dilakukan dengan rutin mengaji di dekatnya atau sekedar memutarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

    Baca juga: Apa Saja Asas Transaksi Ekonomi dalam Islam? Ini Jawabnya

    2. Ajarkan Dasar-dasar Agama Islam

    2. Ajarkan Dasar-dasar Agama Islam

    Selanjutnya, kita juga harus mulai mengajarkan anak laki-laki kita dengan dasar-dasar agama Islam. Kenalkan mereka dengan ilmu tauhid (ketuhanan), yaitu mengenal Allah SWT sebagai Tuhan yang telah menciptakan manusia. 

    Ketika mereka sudah mulai lancar berbicara, kita juga diminta untuk mengajarinya mengucap kalimat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Hal ini seperti hadis Nabi Muhammad SAW yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas:

    “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “La Ilaha-illallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “La Ilaha-illallah.”

    Nantinya, dasar-dasar agama Islam yang kita ajarkan ini akan menjadi pegangan anak laki-laki kita hingga dewasa. Dengan begitu, nilai-nilai Islam akan selalu menjadi dasar pemikirannya dalam memimpin.

    3. Kenalkan dengan Rukun Iman dan Rukun Islam

    Mengenal rukun Islam dan rukun iman adalah langkah penting dalam membentuk pondasi keimanan dan identitas Islam pada anak-anak. Dengan begitu, mereka jadi tahu apa saja hal-hal mendasar yang harus dimiliki oleh seorang muslim.

    Hal ini dapat membantu mereka menjalani kehidupan dengan prinsip-prinsip agama Islam yang kokoh, memahami tujuan hidup lebih besar, dan mempertahankan identitas mereka sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT dan segala ciptaannya.

    Pada rukun Islam, anak akan mengerti ajaran apa saja hal-hal dasar yang diajarkan dalam Islam dan menjadi pengokoh keislaman kita. Sementara rukun iman menjelaskan tentang dasar keimanan yang ada dalam agama Islam yang wajib kita amalkan.

    4. Ajarkan Bagaimana Cara Sholat

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam berikutnya adalah dengan mengajarkan tata cara sholat yang benar. Hal ini bisa kita lakukan dengan rutin mengajak mereka untuk ikut sholat, baik saat di rumah ataupun berjamaah di masjid.

    Jika anak sudah terbiasa untuk sholat, maka ia akan segera menyadari bahwa ibadah satu ini merupakan ibadah yang sangat penting. Ke depannya, kita akan lebih mudah mengarahkan mereka untuk menjaga sholatnya ketika sudah berusia 7-10 tahun.

    Nantinya, mereka akan menyadari arti penting sholat dan senantiasa mengerjakannya tanpa harus kita suruh. Sebaliknya, jika kebiasaan sholat tidak kita ajarkan sedari kecil, biasanya mereka akan lebih sulit untuk kita ajak sholat ketika beranjak dewasa.

    5. Ajarkan Mereka Doa Sehari-hari

    Doa tidak hanya sekedar ucapan saja, tetapi juga sarana untuk membangun hubungan spiritual kita dengan Allah SWT. Selain itu, doa juga dapat mengembangkan nilai-nilai keagamaan yang membantu anak memahami pentingnya berserah kepada Allah.

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam ini bisa kita mulai dengan mengenalkan anak dengan berbagai doa sehari-hari seperti doa mau makan, doa mau tidur, atau doa-doa lain yang sekiranya masih cukup pendek untuk mereka hafalkan.

    Mengawali segala sesuatu dengan doa akan membuat mereka selalu ingat dengan Allah SWT. Dengan begitu, anak akan selalu dekat dengan rasa syukur dan menyadari bahwa segala kelancaran yang kita peroleh datangnya dari Allah SWT.

    6. Mengajarkan Mereka Puasa

    Setelah anak mengenal tentang sholat, maka kita juga bisa mengenalkan mereka dengan ibadah puasa. Puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam, dan memahaminya membantu anak-anak mengembangkan kesadaran agama yang kuat.

    Puasa juga mengajarkan anak-anak untuk bersabar, mengendalikan diri, dan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan selama bulan Ramadhan. Kesabaran ini akan membantu mereka menghadapi tantangan dan kesulitan dengan lebih baik.

    Terakhir, puasa juga menjadi salah satu cara mendidik anak laki-laki menurut Islam agar mau berbagi kepada siapa saja yang membutuhkan, mengembangkan rasa empati, dan juga kepedulian terhadap sesama.

    Baca juga: Tawakal adalah: Pengertian, Contoh, dan Keutamaannya

    7. Membacakan Kisah-kisah Nabi

    Kisah-kisah nabi mengandung pelajaran moral dan etika yang sangat berharga bagi anak. Melalui cerita-cerita di dalamnya, anak-anak dapat mempelajari berbagai nilai baik seperti kejujuran, kesabaran, kebijaksanaan, dan ketaatan kepada Allah SWT.

    Ketika mereka mengenal kisah-kisah tentang bagaimana para nabi mengatasi rintangan dan menghadapi ujian, mereka juga akan termotivasi untuk berani menghadapi tantangan dalam hidup mereka dengan semangat yang sama.

    Kisah-kisah nabi juga berfungsi sebagai pengajaran sejarah Islam. Anak-anak memahami perkembangan agama Islam dan bagaimana pesan-pesan ilahi disampaikan kepada umat manusia melalui para nabi.

    8. Ajarkan Kepemimpinan pada Mereka

    Seperti sudah sempat kita bahas di awal, seorang laki-laki kelak akan menjadi pemimpin setidaknya bagi diri mereka pribadi dan juga keluarganya. Hal ini juga tercantum dalam QS. An-Nisaa’ Ayat 34 yang berbunyi:

    ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

    Ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, 

    Artinya:

    “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).”

    Menanamkan sikap kepemimpinan pada anak bisa dilakukan dengan mendorong keberanian dan rasa percaya dirinya. Salah satunya adalah dengan membiarkan mereka mengeksplorasi berbagai macam hal dan melakukan apa yang mereka mau.

    Tugas kita adalah mengarahkan dan mengoreksi jika dalam tindakan tersebut ada yang keliru. Dengan cara ini, anak tidak akan takut untuk mencoba hal-hal baru dan selalu percaya diri dengan apa yang akan mereka lakukan.

    9. Ajarkan Rasa Tanggung Jawab dan Mandiri

    Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak adalah langkah penting dalam membentuk karakter mereka ke depannya. Dua hal tersebut adalah prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki muslim ketika dewasa.

    Hal ini bisa kita ajarkan dengan menerapkan kedisiplinan pada diri anak. Beri mereka beberapa tanggung jawab seperti membereskan mainan setelah selesai digunakan, berhenti menyuapi makanan ketika mereka sudah bisa sendiri, dan sebagainya.

    Anak-anak akan melakukan kesalahan, dan itu adalah bagian alami dari proses pembelajaran. Berikan pemahaman pada mereka bahwa segala tindakan pasti ada konsekuensi. Dorong mereka untuk mau bertanggung jawab berhati-hati ke depannya.

    10. Ajarkan Anak untuk Berbagi

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam berikutnya adalah dengan mengajarkan mereka untuk berbagi. Beri pemahaman pada mereka bahwa semua yang kita miliki tidak selalu menjadi milik kita sehingga ada kalanya kita harus ikhlas berbagi.

    Sebagai contoh, kita bisa memintanya untuk mengajak adik atau temannya untuk berbagai mainan yang sama, bisa juga memintanya untuk berbagai makanan yang sedang ia makan. Jadikan hal itu sebagai kebiasaan sehingga ia tidak merasa kesal.

    Dengan membiasakan anak untuk berbagi, tentu anak laki-laki kita akan tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap orang-orang di sekelilingnya. Hal itu akan mendorong rasa simpati dan juga empatinya hingga kelak ia dewasa.

    11. Ajarkan Anak tentang Adab

    Hal selanjutnya yang tidak kalah penting dengan beberapa hal di atas adalah mengajarkan anak kita tentang adab. Seperti kita tahu, adab akan menjadi cara orang lain menilai baik buruknya akhlak kita di lingkungan sosial.

    Hal ini juga menjadi cara agar mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan yang beragam. Ajarkan anak tentang sopan santun kepada mereka yang lebih tua, sikap terhadap mereka yang lebih muda, dan sikap kepada pada orang lain secara umum.

    Dengan mengajarkan adab pada anak, tentu hal itu bisa menjadi bekal mereka saat harus bersosialisasi di lingkungan baru. Jika anak memiliki adab yang baik, tentu mereka akan lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.

    12. Jelaskan Perbedaan Laki-laki dan Perempuan

    Seiring bertambahnya usia, jangan lupa untuk mengajarkan perbedaan pada diri laki-laki dan juga perempuan. Beri tahukan pada mereka batasan-batasan apa saja yang boleh dilakukan antara laki-laki dan perempuan di dalam pergaulan.

    Jika memiliki kakak atau adik yang berbeda jenis kelaminnya, maka harus mulai dipisah ketika dia sudah menginjak usia 7 tahun ke atas. 

    Jangan merasa tabu untuk menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan sehingga mereka tidak bisa menemukan jawaban yang pasti. Terlebih saat mereka sudah mulai dewasa dan paham dengan perubahan pada diri mereka.

    13. Ajarkan Anak untuk Bersedekah

    Hampir sama dengan mengajarkan mereka berbagi, kita juga perlu mengajarkan anak agar mau bersedekah. Inisiatif ini harus muncul dari diri pribadi, di mana uang yang mereka miliki sebaiknya disisihkan sebagian untuk kemudian disedekahkan.

    Hal ini menjadi salah cara mendidik anak laki-laki menurut Islam agar kelak mereka menjadi orang-orang yang dermawan dan tidak serakah terhadap hartanya. Berikan pemahaman tentang sedekah secara berulang agar hal ini bisa menjadi kebiasaan.

    Untuk tahap pengenalan sedekah, kita bisa mencontohkannya dengan mau menyisihkan sebagian makanannya untuk kucing tanpa harus kucing itu meminta, menyisihkan uang sakunya untuk berinfak di masjid, dan sebagainya.

    14. Batasi Penggunaan Gadget

    Saat ini, peran gadget akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Pasalnya, di dalam gadget itu sendiri akan ada banyak manfaat dan juga ancaman yang secara bersamaan bisa muncul. Oleh sebab itu, penggunaannya perlu kita batasi.

    Saat anak-anak masih SD, kita bisa memberikannya gadget hanya di akhir pekan saja, terutama untuk kelas 1 sampai dengan kelas 4. Setelah kelas 5 ke atas, kita bisa membekalinya dengan gadget, tetapi harus tetap memberi pengawasan.

    Selain itu, kita juga harus mengawasi tontonan anak kita agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Seperti kita tahu, saat ini ada banyak sekali hal-hal negatif dari media sosial kita sehari-hari sehingga bisa berpengaruh pada perkembangan anak.

    15. Ajarkan Anak Mengontrol Emosinya

    Upaya untuk bisa mengontrol emosi pada anak tentu akan memberikan dampak yang cukup besar pada perkembangan psikis mereka. Hal ini kerap diabaikan para orangtua sehingga anak tumbuh dengan emosi yang kurang stabil.

    Lebih jauh, hal ini tidak hanya berdampak pada kebahagiaan dan kesejahteraan anak saja, tetapi juga pada hubungan sosial, keberhasilan akademis, serta kemampuan mereka dalam mengatasi berbagai situasi yang sulit.

    Mengendalikan emosi membantu anak untuk merespon masalah dengan lebih baik. Mereka jadi lebih terampil dalam mencari solusi daripada merespon segala sesuatunya secara impulsif. Ini adalah bekal untuk menjadi pemimpin di masa depan.

    16. Tumbuhkan Rasa Kasih Sayang

    Rasa kasih sayang merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang anak laki-laki kita. Kasih sayang juga dapat memberikan dampak positif dalam berbagai aspek kehidupan mereka seperti pertemanan, kekeluargaan, dan sebagainya.

    Kasih sayang yang kita berikan selaku orang tua dapat membantu mereka memahami pentingnya empati dan perhatian terhadap perasaan orang lain. Mereka belajar bahwa kasih sayang adalah sikap yang perlu diberikan dan diterima dalam hubungan sosial.

    Kasih sayang juga menjadi elemen penting dalam memperkuat hubungan orang tua dan anak. Ketika anak merasa dicintai, maka mereka akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang tua sehingga mau mendengarkan nasihat serta bimbingan.

    17. Perhatikan Pergaulan Anak

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam selanjutnya adalah dengan memperhatikan pergaulan mereka. Jangan sampai anak kita salah dalam memilih pergaulannya karena secara tidak langsung bisa membentuk kepribadiannya.

    Hal ini seperti sabda Rasulullah, 

    “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api.”

    Pergaulan yang positif tentu akan membawa dampak baik pada perkembangan anak kita ke depannya. Sebaliknya, pergaulan negatif juga dapat memberikan dampak negatif yang tentunya merugikan untuk dirinya sendiri dan sekitarnya.

    Itulah dia beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak laki-laki kita menurut ajaran Islam. Jika kita mampu mendidik anak laki-laki dengan baik, maka ke depannya ia akan menjadi pemimpin yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

    Bagi mereka yang akan menjadi orang tua, cara mendidik anak laki-laki menurut Islam di atas akan sangat penting untuk diketahui. Setidaknya, hal itu bisa menjadi pedoman dalam menerapkan pola asuh kepada anak.

  • Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Bagaimana jika keluar mani karena mimpi basah keluar saat berpuasa? Lantas, apakah mimpi basah membatalkan puasa?

    Seperti yang diketahui, bahwa mengeluarkan mani secara sengaja saat sedang berpuasa akan membatalkan puasa. Sama halnya dengan berhubungan.

    Namun, apakah puasa akan tetap batal jika mani keluar karena mimpi basah? Mungkin ini menjadi pertanyaan bagi sebagian orang saat menjalankan ibadah puasa.

    Yuk, simak artikel ini hingga akhir untuk dapatkan jawabannya!

    Mengenal Mimpi Basah Menurut Agama Islam

    Sebelum mengetahui alasan dari pertanyaan apakah mimpi basah membatalkan puasa. Ada baiknya kita mengetahui dan mengenal makna mimpi basah dalam ajaran Islam.

    Secara umum, mimpi basah diartikan sebagai kondisi orgasme spontan pada saat tidur yang dapat terjadi pada laki-laki yang sudah baligh.

    Pada dasarnya, mimpi basah tidak dilakukan secara sadar. Hal tersebut terpicu karena mimpi yang memiliki unsur seksual sehingga air mani keluar tanpa dapat dicegah.

    Namun dalam Islam, mimpi basah sering diartikan sebagai ihtilam.Kata ini berasal dari hadis sahih yang diriwayatkan tujuh sahabat Nab itu Aisyah, Abu Qatadah, Ali, Umar ibn Khathtab, Ibn Abbas, Sidad ibn Aus, dan Tsauban.

    Berikut adalah hadis yang menjelaskan definisi mimpi basah dalam Islam, sebagai sabda Rasulullah SAW:

    رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

    Rufi’al qalam ‘an tsalatsin: ‘an al-naim hatta yastaiqidha, wa ‘an al-shabiyyi hatta yahtalima, wa ‘an al-majnun hatta yafiqa.

    Artinya: “Pena Tuhan diangkat dari tiga perkara, dari orang yang tidur sampai terbangunnya, dari anak sampai mimpi basah (yahtalima, ihtilam), dan dari orang gila sampai masa sembuhnya.”

    Makna dari hadis tersebut ialah, seorang anak yang baligh akan ditandai dengan sampainya mimpi basah sedang perempuan ditandai dengan haidnya.

    Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa?

    Selain makan dan minum, keluarnya mani merupakan salah satu penyebab terjadinya batal puasa. Namun, perlu diinggat bahwa sesuatu yang membatalkan memiliki unsur kesengajaan di dalamnya.

    Sama halnya dengan air mani yang membatalkan puasa ini berdasarkan dari kesengajaan, seperti berhubungan seks atau mastrubasi.

    Lalu timbulah pertanyaan, apakah mimpi basah dapat membatalkan puasa?.

    Berikut beberapa pendapat ulama untuk menjawab mimpi basah saat puasa dan hukumnya.

    Baca juga: Niat Sholat Taubat Zina Lengkap dengan Tata Caranya

    1. Pendapat Ulama Besar

    Pendapat pertama mengenai mimpi basah yakni selama air mani yang keluar tidak terdapat unsur kesengajaan di dalamnya maka hal tersebut tidak membatalkann puasa.

    Mengutip dari NU Online, seorang ulama besar Universitas Al-Azhar Kairo Mesir Syekh Ali Jum’ah mengatakan, “Puasanya diteruskan sampai waktu Magrib, dan dia tidak berkewajiban membayar utang puasa,” tulis Syekh Jum’ah dalam bukunya Syekh Ali Jum’ah Menjawab 99 Soal Keislaman.

    Dapat disimpulkan bahwa umat Islam yang mengalami mimpi basah pada siang hari di bulan Ramadhanitu tidak membatalkan puasa. 

    Seorang tersebut bisa menjalankan puasa hingga Maghrib dan tidak perlu mengqodho puasa.

    2. Hadis Nabi Muhammad SAW

    Berbeda halnya dengan hukum mimpi basah saat puasa menurut hadis Rasulullah SAW.

    Jika mengalami mimpi basah saat puasa, orang tersebut harus segera mandi wajib atau mandi junub, setelah itu bisa meneruskan ibadah puasa Ramadhan hingga Maghrib.

    Selain itu, orang yang mengalami mimpi basah saat puasa pun dianggap tidak berdosa oleh Allah.

    Hal ini tertulis dalam sebuah hadis Nabi Muhammad, yang disampaikan oleh Syekh Jum’ah berbunyi:

    “Orang berpuasa yang mengalami mimpi basah ketika tidur siang tidak berdosa,” jelasnya.

    • Diriwayatkan oleh Aisyah dan Ummu Salamah

    Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena bukan merupakan kesengajaan saat melakukannya.

    Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan, seseorang boleh menunda mandi wajib hingga Zuhur apabila mimpi basah setelah sholat Subuh

    Mengutip dalam Rumaysho, berikut penjelasan hadis mimpi basah saat puasa:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

    Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati waktu fajar (waktu Subuh) dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.”

    Istri tercinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

    قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.

    Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.”

    Dapat disimpulkan bahwa mengalami mimpi basah saat siang hari hukumnya tidak membatalkan puasa, hal ini dikarenakan air mani yang keluar dari tubuh secara tidak sengaja.

    Selain itu, anjuran Rasulullah SAW agar segera mandi junub dan meneruskan puasa hingga sore hari. Namun, perlu diingat, selama mandi wajib pastikan tidak ada air yang masuk ke dalam tubuh ya!

    Jenis-Jenis Mimpi Basah Dalam Islam

    Dalam Islam, mimpi basah dibedakan menjadi beberapa tipe dengan penjelasan yang berbeda.

    Berikut penjelasan ketiga macam mimpi basah yang dialami kebanyakan pria:

    1. Ihtilam Nikmah

    Yang pertama adalah mimpi basah yang dirasakan secara tidaksengaja atau disebut ihtilam nikmah.

    Mimpi basah ini terjadi tanpa adanya mimpi apapun. Kejadian ini terjadi secara tiba-tiba dan ketika terbangun sudah dalam keadaan mani keluar.

    Meskipun tidak mengalami mimpi apapun, tetap wajib hukunya mandi junub untuk meneruskan puasa. Hal ini lantaran keluarnya air mani mengharuskan seorang pria untuk membersihkan hadas atau najisnya.

    2. Ihtilam Uqubah

    Yang kedua yakni ihtlam uqubah atau mimpi basah yang disebabkan karena aktivitas mimpi bersetubuh dengan orang yang tidak dihalalkan atau dengan cara yang terlarang.

    Mimpi yang berkaitan dengan hubungan seks ini bisa saja dengan teman, artis terkenal ataupun orang yang sedang disukai.

    Mimpi basah ihtilam uqubah ini umumnya berasal dari setan dan diakibatkan karena sering berimajinasi.

    Salah satu penyebabnya juga bisa karena kebiasaan buruk menonton film porno dan sejenisnya. Tentu mimpi basah saat puasa seperti ini mewajibkan untuk mandi junub atau besar.

    3. Ihtilam Karamah

    Beda halnya dengan ihtilam nikmah dan ihtlam uqubah.

    Mandi basah ini berarti mimpi berhubungan dengan orang yang boleh secara syariat yakni istri atau suami.Hal ini pun termasuk berhubungan seks saat mimpi dengan cara yang dibenarkan oleh syariat.

    Meski dikatakan boleh secara syariat,hal ini tidak menjadi pengecualian bagi seorang muslim untuk melakukan mandi wajib atau mandi besar.

    Penyebab Batalnya Puasa Bagi Seorang Muslim

    Setelah mengetahui hukum apakah mimpi basah membatalkan puasa, untuk menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar puasa tidak batal:

    Untuk menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar puasa tidak batal:

    1. Masuknya sesuatu ke dalam tubuh secara sengaja

    Hal yang menjadi salah satu prinsip dalam berpuasa adalah tidak  melakukan hal yang dilarang dengan disengaja,  begitu juga dengan tidak boleh memasukkan sesuatu ke dalam tubuh secara sengaja.

    Sesuatu yang dimasukkan tersebut, baik berupa makanan, minuman, obat, dan lainnya. Kecuali, hal-hal tersebut masuk ke dalam tubuh secara tidak sengaja, maka tidak membatalkan puasa.

    Namun perlu diingat bahwa terdapat batasan-batasan kemasukan yang diatur dalam Islam,yaitu jika masuk ke mulut tidak boleh sampai tenggorokan.

    Sementara jika masuk ke hidung tidak boleh sampai pangkal insang yang sejajar mata dan telinga, tidak boleh sampai bagian yang tidak terlihat oleh mata.

    2. Muntah

    Jika seseorang tiba-tiba untah dikarenakan kondisi kesehatan dan tidak disengaja. Maka akan tetap terhitung sah ibadah puasanya.

    Namun jika makanan disengaja agar keluar dari mulut hal ini akan membatalkan puasa. Namun jika tidak disengaja, maka tetap sah untuk berpuasa.

    3. Berobat

    Berobat dapat membatalkan puasa dengan cara memasukkan obat atau benda melalui lubang depan (qubul) dan belakang (dubur) seperti pengobatan bagi penderita ambeien dan pasien dengan pengobatan harus memasang kateter urin

    4. Berhubungan suami istri

    Meski sah dalam Islam, tetap tidak boleh dilakukan saat sedang berpuasa.Perlu diketahui bahwa perbuatan ini tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga dikenai denda berupa puasa di luar Ramadhan selama dua bulan berturut-turut.

    Jika tidak, maka harus memberi makan satu mud yakni setara 0,6 kilogram atau seperempat liter beras kepada 60 fakir miskin

    5. Keluarnya Air Mani Secara Disengaja

    Keluar air mani secara sengaja melalui onani atau karena bersentuhan kulit dengan lawan jenis tanpa melakukan hubungan seksual. Keluar air mani karena mimpi, puasa tetap sah

    6. Haid atau Nifas

    Haid atau nifas di siang hari berpuasa, bagi wanita yang sedang berhalangan tersebut maka wajib hukumnya untuk mengqodho puasa di hari biasa.

    7. Gangguan Jiwa

    Mengalami gangguan jiwa atau gila (junun) saat sedang berpuasa. Jika sudah sembuh maka wajib dibayar puasanya.

    8. Keluar Dari Islam

    Murtad atau keluar dari agama Islam.

    Cara Mandi Wajib yang Benar Sesuai Sunnah

    Seperti yang sudah dibahas, wajib bagi seorang muslim untuk melakukan mandi junub ketika mimpi basah. Oleh sebab itu, penting bagi seorang muslim mengetahui tata cara yang benar saat mandi junub.

    Dalam buku Fiqih Ibadah oleh Zaenal Abidin dijelaskan tata cara mandi wajib laki-laki sesuai dengan sunnah:

    1. Membaca niat mandi wajib

    نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَال

    Artinya:

    “Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardu karena Allah ta’ala.”

    Bersihkan telapak tangan sebanyak tiga kali.

    • Bersihkan kotoran yang tersembunyi dengan tangan kiri. seperti kemaluan, dubur, bawah ketiak, pusar, dan lain-lainnya.
    • Mencuci tangan dengan menggosok-gosoknya ke sabun atau tanah.
    • Lanjutkan dengan gerakan wudhu yang sempurna seperti akan sholat.
    • Basahi sela-sela pangkal rambut dengan jari-jari tangan yang dibasuhi air hingga menyentuh kulit kepala.
    • Basuh seluruh tubuh dengan air yang dimulai dari sisi kanan, lalu sisi kiri.
    • Pastikan seluruh lipatan kulit dan bagian tersembunyi ikut dibersihkan.

    Itulah dia jawaban dari pertanyaan apakah mimpi basah membatalkan puasa. Semoga penjelasan- penjelasan di atas membantu ya!

    Terimakasih sudah membaca. Assalamualaikum wr.wb.  

  • Tawakal adalah: Pengertian, Contoh, dan Keutamaannya

    Tawakal adalah: Pengertian, Contoh, dan Keutamaannya

    Tawakal adalah salah satu akhlak atau sikap terpuji Rasulullah SAW yang patut dicontoh oleh umat Muslim.

    Sikap tawakal inilah yang menjadi ciri seseorang muslim  beriman. Pasalnya, umat muslim yang memiliki sikap ini akan senantiasa berusaha sekeras mungkin, meski hasilnya akan diserahkan kepada Allah SWT.

    Oleh karena itu, perlu bagi setiap muslim memiliki sikap tawakal agar senantiasa percaya bahwa segala rezeki dan rencana baik telah disusun sedemikian rupa bagi kita sebagai makhluk-Nya. Untuk tahu lebih jelas mengenai tawakal, Yuk simak urainnya berikut ini!

    Pengertian Tawakal Adalah

    Dilihat dari asal mula kata, tawakal berasal dari bahasa Arab tawakkul yang artinya berserah dan bersabar. Sedanbgkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti tawakal adalah pasrah diri kepada kehendak Allah SWT serta percaya dengan sepenuh hati kepada-Nya.

    Selain itu, terdapat beberapa ulama yang turut menjelaskan mengenai makna tawakal yakni sebagai berikut:

    1. Imam Al Ghazali

    Menurut Imam Al Ghazali, arti tawakal adalah sebagai penyandaran diri kepada Allah SWT. Sebagai satu-satunya al-wakiil atau tempat bersandar dalam menghadapi setiap masalah, kependingan, kesukaran dengan jiwa yang tenang dan hati yang tentram.

    2. Imam Ahmad bin Hambal

    Menurut Imam Ahmad bin Hambal, makna tawakal adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh hati bukan yang diucapkan oleh lisam. Dan bukan juga sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Tawakal juga bukanlah sebuah keilmuan dan pengetahuan. Selain itu, tawakal bukan hanya berdiam diri tanpa usaha, bukan pula suatu kepasrahan tanpa upaya.

    3. Ibnu Qoyim Al Jauzi

    Menurut Ibnu Qoyim Al Jauzi, tawakal adalah amalan dan ubudiyah (penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT, berlindung kepada-Nya dan ridho atas segala sesuatu yang menimpa dirinya adalah rencana paling baik dari Allah SWT.

    4. Amin Syukur

    Menurut Amin Syukur, Arti tawakal adalah memasrahkan segala sesuatu tentang diri kita hanya kepada Allah SWT.

    Baca juga: Apa Hukum Merapikan Gigi dalam Islam? Kikir, Behel, dan Sejenisnya

    Contoh Tawakal

    Setelah mengetahui makna tawakal, agar lebiih mudah dalam memahaminya. Berikut ini beberapa contoh tawakal yang dapat diterapkan dikehidupan sehari-hari:

    • Selalu bersyukur jika mendapatkan nikmat dari Allah SWT dan tidak mengeluh atas segala musibah yang ada.
    • Senantiasa mengakui bahwasannya manusia adalah tempat dan salah sebab tiada kesempurnaan padanya.
    • Selalu berdoa dan berserah diri atas segala sesuatu yang telah diusahakan sebelumnya.
    • Selalu berprasangka baik atas segala hal yang Allah berikan, meski tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
    • Tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika berusaha dan berikhtiar.
    • Menyerahkan segala sesuatu hal terhadap Allah SWT setelah berusaha sekeras apapun itu.
    • Selalu berusaha dan berikhtiar dengan maksimal, selanjutnya bertawakal kepada Allah SWT.
    • Tidak mudah berputus asa dalam berusaha.
    • Menerima segala ketentuan Allah dengan ikhlas dan sabar.
    • Ketika kita meninggalkan rumah, kita bertawakal kepada Allah SWT atas rumah yang kita tinggalkan, berlaku juga pada hal lainnya. Jika itu milik kita, Allah akan senantiasa menjaganya.
    • Ketika kita mendapatkan suatu masalah, kita berserah diri kepada Allah SWT dan berdoa agar segera mendapatkan jalan keluar dari permasalahan tersebut.
    • Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
    • Sebelum dan setelah kita ujian, diiringi dengan berdoa dan menyerahkan semua kepada Allah SWT.
    • Ketika kita berobat ke rumah sakit, kita berserah diri dan memohon kepada Allah agar diberi kesembuhan.

    Baca juga: Ini Adab Bersin dan Menguap dalam Islam, Sudah Tahu?

    Keutamaan dari Sikap Tawakal

    Segala sesuatu yang Allah tetapkan selalu terdapat suatu hikmah dan juga keutamaan di dalamnya, tak terkecuali sikap tawakal. Adapun keutamaan yang bisa diambil dari sikap tawakal adalah sebagai berikut:

    1. Memperoleh Kecukupan dari Allah

    Keutamaan dari sikap tawakal adalah mendapatkan rasa cukup atas segala hal dari Allah SWT. Hal ini lantaran orang yang senantiasa bertawakal akan berserah diri kepada Allah sehingga dia akan meyakini bahwa Allah telah menjamin rezeki untuk umat-Nya disamping usahanya.

    Keutamaan ini tercantum dalam surat At Talaq ayat 6 yang bunyinya:

    أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا۟ عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِن كُنَّ أُو۟لَٰتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا۟ عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَـَٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا۟ بَيْنَكُم بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِن تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُۥٓ أُخْرَىٰ

    Artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

    2. Meningkatkan Keimanan

    Keutamaan tawakal lainnya yakni meningkatkan keimanan seorang muslim. Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 23 yang berbunyi:

    قَالَ رَجُلَانِ مِنَ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمَا ٱدْخُلُوا۟ عَلَيْهِمُ ٱلْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَٰلِبُونَ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

    Artinya: “Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, ‘Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman’.”

    3. Mendapatkan Kebaikan Dunia Akhirat

    Orang yang senantiasa bertawakal selama hidupnya akan mendapatkan keutamaan berupa kebaikan di dunia maupun di akhirat. Hal ini seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat An Nahl ayat 41-41 yang berbunyi:

    وَالَّذِيۡنَ هَاجَرُوۡا فِى اللّٰهِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا لَـنُبَوِّئَنَّهُمۡ فِى الدُّنۡيَا حَسَنَةً​ 

    Artinya: “Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui, (yaitu) orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”

    4. Terhindar dari Godaan Setan

    Keutamaan lain dari tawakal adalah terhindar dari godaan setan. Sebab Allah SWT tidak akan membiarkan setan mendekati umat-Nya yang senantiasa beriman dan berserah kepadanya.
    Keutamaan ini terdapat dalam surah An Nahl ayat 99 yang artinya berbunyi:
    إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
    Artinya: “Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan-Nya.”

    Itulah dia sedikit uraian terkait pengertian tawakal, contoh serta jenisnya. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memotivasi kita untuk senantiasa bertawakal kepada Allah SWT.

  • 15 Cara Menghadapi Orang yang Membenci Kita dalam Islam

    15 Cara Menghadapi Orang yang Membenci Kita dalam Islam

    Harus kita sadar dari bahwa hidup tidak selamanya indah. Kadang kita dihadapkan dengan orang yang membenci kita. Oleh karena itu, kita harus tahu cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam.

    Sebaik apa pun, diri kita tidak akan luput dari kebencian sesama manusia. Tetap akan ada orang yang tidak senang kepada kita. Bahkan, benci saat melihat kita senang dan tertawa saat melihat kita sedih. 

    Sebagai manusia biasa. Semua itu bukan kendali kita. Sayang saja jika kita menghabiskan waktu untuk menanggapi kebencian demi kebencian. Sementara hidup akan terus berjalan.

    Cara Menghadapi Orang yang Membenci Kita dalam Islam

    Tidak perlu takut dibenci atau tidak disukai. Sebagai umat muslim, berikut cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam:

    1. Mencari Tahu Kesalahan Kita

    Jika ada yang membenci kita, cobalah untuk memberanikan diri bertanya pada mereka apa yang membuatnya membenci kita. Mungkin saja, kita melakukan kesalahan yang tidak disengaja atau tidak kita sadari. 

    Apabila memang benar kita pernah melakukan kesalahan, maka jangan ragu untuk meminta maaf. Meminta maaf dengan tulus mungkin bisa membuat hati mereka yang membenci kita menjadi lembut dan berbalik mengasihani kita. 

    Dengan demikian, suasana yang sebelumnya tidak nyaman, menjadi kembali hangat, dan kembali berteman baik. Namun, jika orang tersebut tidak merespon permohonan maaf kita, maka bersabarlah dan tidak perlu sakit hati. 

    Yang terpenting kita sudah berusaha untuk menyelesaikan masalah dan meminta maaf. Sebab, hal itu ada di luar kendali kita dan tidak bisa kita memaksa seseorang untuk memaafkan kesalahan kita.

    Baca juga: Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya

    2. Berusaha untuk Tetap Tenang

    Perlu kita ketahui bersama, bahwa emosi hanya akan membuat hati kita berapi-api. Emosi hanya akan menambah keruh keadaan dan akan membuat masalah semakin runyam. Bukannya selesai justru semakin rumit untuk diselesaikan. 

    Oleh sebab itu, biasakan diri untuk tetap tenang saat dihadapkan pada suatu masalah. Kita harus berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Apabila masih ada amarah dalam hati, alangkah baiknya tenangkan diri dahulu. 

    Umumnya orang yang membenci kita akan lebih senang apabila kita menanggapi kebencian mereka. Bahkan, biasanya mereka akan lebih bangga kalau kita membalas kebencian mereka, sehingga kita juga masuk dalam lingkaran setan. 

    Di mana kita dan orang membenci kita akan terus berperang kebencian dan semakin menjadi-jadi. Namun, saat kita tetap tenang meski terus dipancing, maka orang yang membenci kita tadi akan merasa malu sampai lelah dengan sendirinya. 

    3. Introspeksi Diri

    Cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam, salah satunya adalah dengan introspeksi diri. Artinya, kita diminta untuk berfokus pada kesalahan dan kelalaian diri sendiri daripada mencari kesalahan orang lain. 

    Islam mengajarkan kita untuk melihat ke dalam diri sendiri. Apa yang salah dan mengapa ini bisa terjadi. Mengingat apakah ada kata atau perilaku yang pernah menyakiti orang lain pada suatu momen. 

    Jangan anggap introspeksi merupakan bagian dari menyalahkan diri sendiri. Justru introspeksi ini cukup menguntungkan bagi kita. Sebab, hati kita tidak dipaksa mengulik kesalahan orang lain, tetapi justru melihat kesalahan kita sendiri. 

    Dengan demikian, kita akan berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Selain itu, kita lebih bisa mengontrol diri, ego, dan terhindar dari perasaan membenci orang lain. 

    4. Bersikap Cuek dan Elegan

    Orang yang membenci kita akan terus memancing agar kita membalas hal serupa atau merespon kebenciannya. Dalam hal ini, kita perlu bersikap cuek. Akan tetapi, tidak perlu menampakkan mimik wajah kebencian seperti, sinis, atau jutek.

    Cobalah tanggapi setiap perbuatan orang itu dengan senyuman. Cara seperti itu akan lebih ampuh membuat mereka malu. Sebab, kebenciannya sama sekali tidak mendapat respon dari kita. 

    Kita juga akan terlihat lebih elegan dan berwibawa. Pasalnya, jika kita turut emosi maka bisa dipastikan kita akan melakukan hal yang sama dengan orang yang membenci kita. 

    Cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam sangat mulia. Kita diminta untuk menjadi orang yang sabar dan bijaksana. Sekalipun dengan orang yang membenci kita, kita harus tetap tenang dan tidak membencinya balik.

    Baca juga: Hukum Pernikahan Syighar, Pengertian dan Dalil yang Melarangnya!

    5. Menambah Rasa Percaya Diri

    Setelah kita melakukan introspeksi. Melihat diri kita sendiri, atas kesalahan dan perbuatan yang mungkin menyakiti orang lain. Cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam adalah dengan menambah rasa percaya diri. 

    Biasanya, orang yang tersulut saat dibenci, karena ia merasa apa yang dikatakan oleh orang yang membencinya benar. Misalnya, saat dihina atau direndahkan. Jika kita terbawa emosi, maka secara tidak langsung kita membenarkan mereka. 

    Oleh karena itu, Islam meminta kita untuk menambah rasa percaya diri. Menguatkan hati bahwa kita tidak seperti yang mereka bicarakan. Orang yang membenci kita akan senang kalau kita terpengaruh akan fitnah yang disebar. 

    Menambah rasa percaya diri akan membuat kita lebih tenang menghadapi berbagai macam hinaan dan cercaan. Sebab, kita tahu apa yang mereka bicarakan tidak benar, jadi kita tidak perlu sedih, kecewa, atau bahkan terbawa emosi.

    6. Bercerita pada Orang Terpercaya

    Cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam yakni dengan bercerita pada orang terpercaya. Saat kita merasa dibenci seseorang secara berlebihan, maka kita perlu bercerita pada orang yang dipercaya. 

    Ceritakan mengapa orang itu bisa membenci kita. Jangan bercerita yang tidak sesuai kenyataan, ceritakan saja yang sebenarnya terjadi. Bahkan, apabila memang kita yang salah, sampaikan dengan jujur.

    Tujuannya agar orang lain dapat memberi pendapat tentang permasalahan yang kita hadapi. Mungkin pendapat orang ketiga lebih netral dan tidak berpihak. Sehingga, kita bisa punya pandangan untuk tindakan selanjutnya. 

    Selain itu, kebencian yang tertanam pada orang tersebut, bisa berubah menjadi tindakan. Dengan menceritakan pada orang lain, kita bisa merasa lebih aman. Tidak perlu takut, tetap memohon perlindungan pada Allah SWT. 

    7. Menyaring Omongan Orang

    Bercerita pada orang lain yang kita percaya memang perlu. Namun, jangan sampai salah orang. Bisa-bisa bukan menyelesaikan masalah, justru menambah masalah. Kita harus bisa menyaring setiap omongan dan nasehat dari orang lain. 

    Tidak semua harus kita telan mentah-mentah. Baik dan buruknya harus kita pertimbangkan. Selain itu, cara menghadapi orang yang membenci kita adalah dengan tidak mengambil hati semua omongan. 

    Semisal ada yang berbicara tentang keburukan kita atau menebar fitnah. Jangan keburu tersulut emosi. Apalagi kita mendengarnya dari orang lain. Jika, yang dibicarakan benar kita cukup introspeksi. 

    Namun, jika yang dibicarakan tidak benar, kita cukup klarifikasi, percaya atau tidak orang lain, itu bukan kendali kita. Jangan sampai kita termakan fitnah dan omongan buruk tentang kita. Tetap fokus melakukan hal baik dan beribadah. 

    8. Mengontrol Diri

    Mencegah lebih baik daripada mengobati, sepertinya peribahasa sangat tepat kita gunakan sehari-hari. Termasuk dalam bertetangga dan bersosial. Artinya kita harus bisa mengontrol tindakan serta omongan yang keluar dari mulut. 

    Terkadang tanpa sadar tindakan dan omongan kita menyakiti hati orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita sebelum melakukan segala sesuatu dipikir dulu dan senantiasa berhati-hati dalam berucap.

    Meski pada dasarnya manusia tidak akan bisa menghindar dari salah, setidaknya mencegah jauh lebih baik. Jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol diri, tetapi tetap saja ada orang yang benci. 

    Tidak perlu sedih, cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam yakni minta maaflah jika salah dan maafkan kalau dia yang salah. Sebab, saling memaafkan adalah perilaku terpuji dalam Islam.

    9. Sampaikan yang Sebenarnya

    Cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam tidak selalu mengalah. Kita boleh bahkan harus menyampaikan yang sebenarnya dan sejujurnya. Asalkan hal itu memang benar adanya dan bukan manipulasi agar terlihat benar. 

    Mungkin saja orang membenci kita karena salah paham. Kita perlu menjelaskan secara perlahan yang sebenarnya. Dengan demikian, dia tahu kenyataannya. Jika kita diam saja, maka masalah tidak akan pernah usai. 

    Selain hanya dengan lisan, kita bisa perkuat pernyataan dengan bukti tindakan. Misalnya, kita dituduh sebagai orang yang sombong, maka buktikan kalau tuduhan itu tidak benar. Kita tunjukan perilaku ramah kita yang sebenarnya di depan mereka. 

    Namun, jika mereka masih menganggap hal itu hanya manipulatif dan pencitraan. Biarkan saja dia sadar dengan sendirinya. Terus saja kita berperilaku baik, ramah, dan sopan kepada orang lain. 

    10. Hindari Sifat Pendendam

    Cara menghadapi orang yang membenci kita adalah dengan berhati lembut dan bijaksana. Islam sangat membenci sifat pendendam. Terlebih jika membalas kebencian dengan kebencian dan amarah. 

    Islam mengajarkan kita untuk berperilaku penuh kasih sayang bahkan kepada orang yang membenci kita sekali pun. Maka dari itu, hindari sifat pendendam. Dendam hanya akan membuat kita tidak tenang.

    Godaan setan akan mudah masuk sampai kita nekat melakukan hal yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu, sifat pendendam sangat berbahaya. Cirinya sifat pendendam yakni selalu mengingat kesalahan orang lain. 

    Orang yang suka dendam cenderung lupa akan kesalahannya sendiri. Tidak mau introspeksi dan selalu merasa benar. Orang pendendam juga sulit memaafkan kesalahan orang lain. Semoga kita dijauhkan dari sifat semacam ini. 

    11. Beri Batasan

    Cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam berikutnya adalah dengan memberi batasan. Kita harus memberi batasan dengan mereka. Lebih baik, menjauh dari mereka yang bersikap tidak nyaman terhadap kita. 

    Memberi jarak dengan orang yang tidak suka kita memang perlu. Mau bagaimana pun sikap kita tetap saja salah di mata orang yang membenci kita. Maka dari itu, kita tidak perlu terlalu memikirkan mereka.

    Memberi batasan artinya kita juga harus bisa memposisikan diri. Semisal yang membenci kita adalah teman kantor. Saat berurusan dengan pekerjaan, maka kita harus tetap profesional. 

    Lakukan pekerjaan dengan maksimal meski harus bekerja sama dengan orang yang membenci kita. Tetap bersikap tenang dan anggap saja sedang tidak terjadi apa-apa, mungkin saja dari sini dia bisa luluh hatinya dan tidak lagi membenci kita.

    12. Fokus dengan Diri Sendiri

    Ketika ada orang yang membenci kita, maka sudah sewajarnya kita merasa sedih atau bahkan terus kepikiran. Namun, perasaan semacam itu perlu kita kontrol. Dengan demikian, kita bisa lebih fokus pada diri sendiri. 

    Ada banyak mimpi dan harapan yang tentunya ingin diwujudkan. Alangkah lebih baik, jika fokus pada mimpi tersebut. Selain itu, daripada memikirkan orang yang membenci kita, lebih baik kita fokus untuk memperbaiki diri. 

    Berusaha untuk menemukan versi terbaik. Namun, kalau kita masih memikirkan omongan orang yang membenci kita, maka dapat dipastikan akan sulit bagi kita untuk fokus pada diri sendiri. 

    Hal itu akan menghambat kita untuk terus berjuang karena omongan orang yang mengusik hati. Pasalnya, orang yang benci hanya akan melihat keburukan dan kesalahan, tidak dengan kebaikan dan kebenaran. 

    13. Selalu Bersikap Baik 

    Sebagai umat muslim kita harus selalu bersikap baik terhadap orang. Menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan akan membuat hati merasa senang. Mungkin balasan dari kebaikan tidak dirasakan secara langsung, tapi Allah akan membalasnya kelak.

    Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membenci dan melakukan kejahatan. Bahkan, dalam Islam mengajarkan perdamaian yang indah. Sebab itu, Islam selalu tentram dan aman. 

    Bersikap baik tidak hanya kepada sesama umat muslim, kepada sesama manusia bahkan makhluk hidup kita juga harus bersikap baik. Tidak peduli kaya atau miskin tidak peduli suku atau agama, bersikap baik harus tetap diterapkan. 

    Dengan demikian, kita tidak mudah dibenci orang. Meski rasa iri dengki tetap bisa saja timbul dan membuat orang membenci kita. Namun, biarkan saja orang itu sadar dengan sendirinya. 

    14. Berdoa agar Mendapat Hidayah

    Cara menghadapi orang membenci kita dalam Islam yang berikutnya adalah mendoakan agar orang tersebut mendapat hidayah. Hidayah bisa turun kapan saja. Termasuk kepada orang yang membenci kita.

    Jika kita sudah melakukan beberapa hal di atas, seperti meminta maaf dan introspeksi diri. Maka, ada baiknya kita berserah dan memohon agar orang yang membenci kita mendapat hidayah.

    Sifat dendam, iri, dan dengki pada orang itu hanya akan merugikan dirinya. Oleh karena itu, doa kita juga bertujuan agar kita dijauhkan dari sifat yang tercela semacam itu. 

    Seiring berjalan waktu, dengan mendoakan orang yang membenci kita akan membuat hati kita lebih tenang. Kita bisa bijak dalam menghadapi berbagai situasi dan tenang dalam menghadapi orang yang membenci kita.

    15. Percaya Semua bisa Berubah

    Sungguh sebenarnya Allah maha membolak-balikkan hati. Saat ada orang yang membenci kita, tidak perlu sedih dan membalas benci. Pasrahkan saja pada Allah sang pemilik hati. 

    Hanya Allah yang bisa memberi hidayah, sebagai manusia biasa kita tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Maka, cara menghadapi orang yang membenci kita adalah dengan mempercayai kalau semua keadaan bisa berubah. 

    Orang yang sebelumnya sayang bisa jadi benci, termasuk yang sebelumnya benci bisa jadi sayang. Segala kemungkinan bisa terjadi, hindari sifat yang tidak terpuji. Jangan berlebihan dalam segala sesuatu, sebab Allah tidak suka yang berlebihan. 

    Semakin kita percaya kepada Allah, maka akan semakin mudah jalan dan urusan kita. Orang yang sebelumnya membenci kita. Bisa jadi dia berbalik hati menyayangi kita. 

    Nah, kiranya begitu cara menghadapi orang yang membenci kita dalam Islam. Sebagai umat muslim kita harus senantiasa menerapkan semua ajaran yang telah ditetapkan dalam Islam. Semoga kita selalu istiqomah.

  • Pengertian Khotbah dan Bedanya dengan Ceramah Beserta Syarat-syaratnya

    Pengertian Khotbah dan Bedanya dengan Ceramah Beserta Syarat-syaratnya

    Khotbah adalah ceramah atau pidato yang biasa disampaikan guna memberi peringatan, pembelajaran serta nasihat dalam kegiatan ibadah. Tujuan khotbah ini untuk mempertebal iman dan takwa kepada Allah SWT.

    Orang yang memberikan khotbah disebut khatib. Perlu diketahui bahwa kegiatan satu ini bersifat satu arah, di mana hanya khatib saja yang berbicara sedang yang lain mendengarkan.

    Ada banyak ragam khotbah, salah satunya yakni khotbah Jumat. Satu hal yang penting diketahui bahwa kegiatan satu ini memiliki rukun yang harus dipenuhi agar menjadi sah dan sesuai dengan aturan. Ingin tahu lebih mengenai penjelasannya? Berikut uraiannya.

    Pengertian Khotbah

    Khotbah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti pidato, di masyarakat sendiri istilah khotbah akrab disebut sebagai pidato keagamaan.

    Sedangkan dalam bahasa Arab, khotbah berasal dari kata Khataba, yakhutubu dan khutbatan yang artinya ceramah atau pidato.

    Sehingga dapat disimpulkan secara umum bahwasannya khotbah merupakan satu cara berdakwah menyebarkan nilai-nilai agama Islam melewati kegiatan ibadah seperti pada sholat Jum’at, idul Fitri, idul Adha, Istiqo, Kusuf dan lain sebagainya.

    Hakikat khotbah sendiri merupakan bentuk wasit atau nasihat agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Khutbah memiliki rukun dan syarat sah yang perlu ditunaikan agar menjadi sah.

    Khotbah disampaikan secara monologi, yakni komunikasi satu arah dari seorang khatib. Apabila khatib sudah melakukan khotbah, maka wajib bagi para jamaah duduk mendengarkannya.

    Sementara itu, perlu diketahui pula bahwasannya khotbah sendiri termasuk ke dalam aktivitas ibadah. Sehingga kegiatan ini tidak bisa ditinggalkan karena akan membatalkan rangkaian aktivitas beribadah.

    Misalnya dalam pelaksanaan sholat Juma’at, apabila khotbah tidak dilakukan, maka sholat Jum’at akan menjadi tidak sah hukumnya. Begitu pula dengan wukuf di Arafah, apabila tidak ada khutbah, maka wukuf dianggap tidak sah.

    Hal di atas menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki kedudukan yang agung di dalam syariat Islam. Sehingga sudah sepantasnya seorang khatib melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

    Adanya khotbah sebenarnya juga menjadi sebuah kesempatan besar untuk berdakwah dan juga membimbing para umat Islam menuju keridhoan Allah SWT.

    Baca juga: Kata Ulama Tentang Hukum Jual beli Kucing dalam Islam

    Syarat Khotbah

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa dalam melaksanakan khotbah, seorang khatib hendaknya tahu mengenai syarat sah dalam melakukannya agar ibadah menjadi sah dilakukan.

    Dalam khotbah sendiri, terdapat pengecualian khusus pada khotbah Jum’at yang memiliki syarat sah berbeda dengan ragam khotbah lainnya. Untuk itu, mari simak syarat sahnya di bawah ini:

    1. Syarat Khotbah Idul Fitri atau Idul Adha

    Berikut ini syarat khotbah Idul Fitri atau Idul Adha, yaitu:

    • Khatib harus laki-laki.
    • Khatib harus suci dari hadas besar maupun kecil.
    • Khatib harus menutup aurat.
    • Khatib harus berdiri bila mampu.
    • Isi rukun khutbah baik yang pertama dan kedua harus didengar oleh jamaah sekurang-kurangnya 40 orang jamaah.

    2. Syarat Khutbah Jumat

    Berikut syarat khotbah Jumat yang perlu diketahui oleh calon khatib:

    • Khatib harus laki-laki.
    • Khatib harus suci dari hadas besar maupun kecil.
    • Khatib harus menutup aurat.
    • Khatib harus berdiri bila mampu.
    • Khotbah harus dilakukan pada saat dzuhur usai azan ke-2 shalat Jumat.
    • Isi rukun khotbah baik yang pertama dan kedua harus didengar oleh jamaah sekurang-kurangnya 40 orang jamaah pria.
    • Khatib harus duduk sebentar dengan tumaninah atau mengistirahatkan sebentar dirinya di antara dua khotbah.
    • Khotbah pertama dengan kedua harus dilaksanakan secara berturut-turut, begitu pun antara khotbah dengan sholat Jumat.
    • Rukun-rukun khotbah Jumat harus disampaikan dengan bahasa Arab.

    Rukun Khotbah

    Tidak hanya syarat saja yang memiliki perbedaan antara dilakukannya pada sholat Jum’at dan sholat lainnya. Adapun rukunnya juga memiliki perbedaan. Berikut ini beberapa rukun khotbah yang perlu diketahui agar ibadah menjadi sah:

    1. Rukun Khutbah Jumat

    Adapun rukun-rukun khutbah Jumat sebagai berikut:

    • Khotbah sholat Jumat wajib hukumnya dimulai dengan bacaan hamdallah yakni lafadz memuji Allah SWT. Misalnya seperti lafadz Alhamdulillah atau Ahmadullah atau innalhamda-lillah.
    • Wajib untuk melafalkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan lafadz yang jelas. Paling tidak melafalkan sholawat seperti sholli ala Muhammad atau as-shalatu ala Muhammad atau ana mushallai ala Muhammad.
    • Membacakan dua kalimat syahadat.
    • Mengajak untuk bertaqwa kepada Allah SWT dengan kalimat-kalimat ajakan yang diberikan oleh khatib. Misalnya seperti takutlah kalian kepada Allah SWT, marilah kita bertaqwa serta menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT atau bisa juga dengan membaca “yaa ayyuhalladzina aamanuu ittaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunaa ilaa wa antum muslimun.”
    • Mencantumkan satu ayat suci Al-Qur’an dalam isi khotbahnya.

    2. Rukun Khutbah Idul Fitri atau Idul Adha

    Dalam melaksanakan khotbah pada sholat idul Fit dan idul Adha. Perlu diperhatikan bahwa rukunnya tidak berbeda jauh dengan rukun yang ada pada sholat Jum’at.

    Di antaranya sama seperti memuji Allah, membaca sholawat, berwasiat untuk senantiasa bertaqwa, membaca salah satu ayat A-Qur’an serta mendoakan kaum muslimin dalam dua khotbah.

    Namun berbeda halnya dengan khotabah sholat Jumat maupun khotbah pada saat wakaf di Arafah yang wajib dilakukan sebab akan membatalkan rangkaian ibadah yang dilakukan jika tidak dilaksanaan.

    Untuk sholat idul Fitri maupun idul Adha, hukumnya adalah sunnah. Sehingga hal ini tidak akan menjadi masalah jika tidak melaksanakannya dengan alasan tidak adanya calon khatib yang mampu untuk melakukannya.

    Kendati demikian, seperti yang sudah disebutkan di atas, penyampaian khutbah Idul Fitri atau Idul Adha tetap disunnahkan, meski salat Id dilaksanakan di rumah dengan jemaah terbatas.

    Perbedaan Ceramah dan Khotbah

    https://www.youtube.com/watch?v=1hig0wOGD-g

    Sebagian muslim mungkin mengira bahwa keduanya memiliki artian yang sama sebab tujuannya tentulah memberikan wasiat atau dakwah berupa ajakan agar senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT.

    Padahal keduanya meiki perbedaan yang bida dilihat dari bentuk komunikasinya, isi dari pesan atau informasi yang disampaikan hingga cara penyampaiannya.

    Ceramah sendiri merupakan salah satu jenis pidato keagamaan yang berfokus pada penyampaian ajaran tentang ilmu tauhid. Ajaran yang terkandung dalam sebuah ceramah umumnya meliputi nasihat, petuah, petunjuk dan para kisah.

    Sedangkan khotbah merupakan kegiatan dakwah berupa ajaran atau menyeru orang lain demi meningkatkan ketaqwan kepada Allah SWT.

    Untuk lebih mudah dalam memahaminya, berikut perbedaan ceramah dan khotbah yang dikutib dari buku Kompeten Berbahasa Indonesia karya Asep Ganda Sadikin (2008: 158):

    • Topik pembicaraannya bersifat ilmu pengetahuan ataupun keagamaan namun tidak dikhususkan untuk  tertentu. Sedangkan pada khotbah topik pembicaraannya bersifat umum.
    • Terdapat interaksi berupa tanya jawab antara sang pembicara dengan sang pendengar. Sedangkan pada khotbah tidak terdapat interaksi antara sang pembicara dengan sang pendengar sama sekali.
    • Bisa ditujukan untuk kalangan umum jika ceramah umum dan umat agama tertentu jika ceramah keagamaan. Sedangkan khotbah ditujukan hanya untuk kalangan penganut agama tertentu.
    • Biasanya dilakukan tempat , di kampus, di sekolah, di tempat khusus (aula) saat seminar atau ceramah umum. Sedangkan khotbah biasanya dilakukan di dalam tempat ibadah agama tertentu.

    Tata Cara Khotbah

    Setelah mengetahui syarat serta rukun khotbah. Ada baiknya jika kita juga mengetahui tata cara khotbah itu sendiri, sebagai berikut:

    1. Tata Cara Khotbah Jumat

    Berikut tata cara khotbah sholat Jumat sesuai sunnah Rasul, yaitu:

    • Khatib berdiri di atas mimbar dan mengucapkan salam pada jamaah. Hal ini dianjurkan sebagimana disebutkan di dalam hadits Jabir bin Abdullah, Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam. HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah.
    • Setelah khatib mengucapkan salam, dilanjutkan dengan mengumandangkan suara adzan. Untuk khatib dianjurkan untuk duduk mendengarkan dan menirukan hingga adzan selesai.
    • Kemudian berdiri untuk berkhotbah. Sebelum memulai berkhutbah hendaknya membuka khotbah sesuai dengan rukun khotbah, yaitu dengan membaca alhamdulilah, sanjungan kepada Allah, syahadat, shalawat, bacaan ayat-ayat taqwa, dan perkataan amma ba’d.
    • Khatib dianjurkan untuk berdiri dan menghadap jamaah. Namun, apabila khatib tidak dapat berdiri maka khutbah boleh dilakukan dengan posisi duduk.
    • Setelah khatib selesai menyampaikan khotbah pertama hendaknya khatib duduk sejenak untuk beristirahat sebelum menyampaikan khotbah kedua.
    • Hal yang disampaikan pada ibadah ini hendaknya tidak terlalu panjang atau hendaknya tidak boleh lebih lama dari durasi sholat Jum’at.
    • Saat menyampaikan wasiat, hendaknya khatib menggunakan bahasa yang jelas dan keras sehingga para jamaah paham dengan kata-kata yang diucapkan.
    • Khutbah hendaknya diakhiri dengan permohonan ampunan kepada Allah SWT

    2. Tata Cara Khutbah Idul Fitri atau Idul Adha

    Berikut ini tata cara khutbah Idul Fitri atau Idul Adha, yaitu:

    Khotbah pertama:

    • Menghadap jemaah.
    • Mengucap salam.
    • Melafalkan takbir sebanyak sembilan kali.
    • Membaca tahmid/hamdalah.
    • Membaca selawat nabi, yaitu Allahumma shalli ‘al sayyidin Muhammad, wa ‘alaa aali sayyidin muhammad.
    • Membaca wasiyyat bit taqwa.
    • Menyampaikan nasihat ketakwaan, terutama soal penting zakat fitrah
    • Membaca salah satu ayat Al-Qur’an.
    • Menutup khutbah pertama.

    Khotbah kedua:

    • Membaca takbir sebanyak tujuh kali.
    • Membaca tahmid/hamdalah.
    • Membaca selawat nabi.
    • Membaca wasiyyat bit taqwa.
    • Membaca salah satu ayat Al-Qur’an.
    • Membaca doa ampunan untuk umat Islam.
    • Doa sapu jagat.
    • Menutup khutbah kedua.
    • Mengucap salam.

    Adab Khatib Sholat Jumat

    Berikut beberapa adab yang perlu diketahui seorang khatib:

    1. Adab khatib sebelum azan dikumandangkan

    • Berangkat menuju masjid dengan hati dan pikiran yang tenang.
    • Jika sudah sampai di masjid, untuk menunggu waktu shalat Jumat dianjurkan untuk melakukan shalat sunah sebelum duduk.
    • Khatib sebaiknya percaya diri dan merasa terhormat karena berkhutbah adalah tugas keagamaan yang penting.
    • Naik dan berdiri di mimbar dengan khusyu dan mengingat Allah dengan berdzikir, sehingga dapat membangun suasana yang sakral.
    • Menatap jamaah dan mengucapkan salam.
    • Duduk sejenak untuk mendengarkan azan.

    2.      Adab khatib setelah azan dikumandangkan

    • Sampaikan khutbah dengan sikap tawadlu, tidak menunjukkan arogansi, dan tidak menyampaikan khutbah seperti orasi.
    • Materi yang disampaikan adalah materi yang bermanfaat.
    • Memberikan isyarat kepada jamaah untuk berdoa, bisa dengan memberi isyarat untuk mengangkat tangan sehingga jamaah pun bisa mengamini doa tersebut.

    3.      Adab khatib setelah iqamat

    • Khatib turun dari mimbar.
    • Pastikan kondisi tenang dan bertakbir.
    • Dianjurkan membaca dengan tartil.

    Hikmah Khotbah

    Khotbah tidak hanya berlaku sebagi syarat sah sholat Jumat. Lebih dari itu, terdapat hikmah yang sangat istimewa di dalamnya. Bahkan, Allah SWT tidak mengesahkan sholat Jumat apabila tidak dilakukannya khotbah sebelum itu.

    Salah satu ulama Al-Azhar Mesir, Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi dalam kitabnya mengatakan bahwa sifat manusia pada umumnya adalah condong pada kejelekan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

    إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً (21) 

    Artinya, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir.” (QS Al-Ma’arij:19-21)

    Sebab hal itulah, mengapa Allah menetapkan adanya khotbah dalam sholat Jumat, yakni agar senantiasa mengingatkan umat Islam kembali perihal urusan dunia maupun akhiratnya.

    Umat Islam akan berbondong-bondong untuk mendengarkan nasehat yang disampaikan khotib, sebagai bentuk pengingat agar senantiasa baik dan beradab.

    Oleh sebab itu, dianjurkan bagi khatib untuk tidak hanya membahas terkait dunia dan akherat saja. Melainkan juga setiap hal-hal yang berfaedah sekalipun berupa isu-isu yang terjadi di dunia. Sebagaimana yang turut dijelaskan oleh para ulama:

    لَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحِ لَا يَقْتَصِرُوْنَ عَلَى التَّبْشِيْرِ بِالْجَنَّةِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ النَّارِ وَكُلِّ مَا هُوَ مُتَعَلِّقٌ بِأَمْرِ الْأَخِرَةِ، بَلْ كَانُوْا يَشْرَحُوْنَ لِلْمُصَلِّيْنَ كُلَّ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ دُنْيَوِيَةٌ أَوْ أُخْرَوِيَةٌ تَعُوْدُ عَلَيْهِمْ

    Artinya, “Para ulama salafus shalih tidak hanya menyampaikan nasehat kebahagiaan perihal nikmat surga, atau nasehat menakutkan perihal neraka, dan hal lain yang berhubungan dengan neraka saja, tetapi juga menjelaskan kepada orang-orang yang shalat (jamaah) perihal setiap sesuatu yang di dalamnya terdapat faedah, bagi dunia dan akhirat mereka.”

    كَانَ الْخَطِيْبُ فِي صَدْرِ الْاِسْلَامِ يَقِفُ عَلَى الْمِنْبَرِ وَيَشْرَحُ الدَّاءَ الَّذِيْ أُصِيْبَتْ بِهِ جمَاعَةُ الْمُسْلِمِيْنَ وَيَصِفُ الدَّوَاءَ بِصُوْرَةٍ مُؤَثِّرَةٍ. فَاِذَا كَانَ الْجِهَادُ شُرِحَ لَهُمْ ثَوَابَ الْكِرَامِ الْمُحْسِنِيْنَ، وَاِذَا كَانَتْ هُنَاكَ فِتَنٌ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ شُرِحَ لَهُمْ مَا يُوْطِدُ دَعَائِمَ الْأَمْنِ فِي الْبِلَادِ وَهَدَاهُمْ اِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ وَاِلَى صَلَاحِ أَمْرَيْ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ

    Artinya, “Khatib di awal Islam berdiri di atas mimbar dan menjelaskan kepada jamaah perihal penyakit yang menimpa mereka, kemudian menjelaskan obatnya dengan cara yang sangat menggugah. Jika sedang terjadi jihad, maka dijelaskan kepada mereka tentang balasan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. Jika terjadi fitnah (perseteruan), maka dijelaskan kepada mereka pilar-pilar keamanan negara, dan mengajak mereka pada jalan yang lurus dan pada kebaikan dunia dan akhirat.” (Syekh al-Jurjawi, Hikmatut Tasyrî’ wa Falsafatuh, [Maktabah at-Taufiq, Darul Fikr: 1997], juz I, halaman 90-91).

    Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwasannya hikmah khutbah ialah Allah hendak memberikan peringatan kepada umat Islam dalam setiap pekan satu kali melalui khotbah Jumat. Agar senantiasa berkelakuan sesuai dengan syariat dan tidak melupakan tujuan hidup di dunia hanya untuk mencari kebaikan saja.

    Contoh Teks Khotbah Jumat

    Berikut contoh teks singkat khotbah Jumat yang bisa ditiru:

    Pahala Orang Mukmin Diberikan di Akhirat

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

    Mengapa pahala orang beriman pasti diberikan di akhirat?

    Dalam kitab al-hikam dijelaskan

    إِنَّمَا جَعَلَ الدَّارَ الْأَخِرَةَ مَحَلاًّ لِجَزَاءِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ، لِأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ لاَ تَسِعُ مَا يُرِيْدُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ وَلِأَنَّهُ أَجَلَّ أَقْدَارَهُمْ عَنْ أَنْ يُجَازِيْهِمْ فِى دَارٍ لاَ بَقَاءَ لَهَا

    Artinya :Sesungguhnya Allah menjadikan negeri akhirat itu, hanyalah sebagai negeri tempat pembalasan amal ibadah orang-orang mukmin, karena alam dunia ini tidak cukup untuk menjadi imbalan dari amal ibadah mereka, demikian juga karena Allah menyayangi mereka, sehingga tidak memberikan hasil jerih payah mereka di tempat yang tidak kekal ini.

    Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

    Allah menjadikan pahala bagi orang-orang mukmin untuk diberikan di akhirat karena dua hal yaitu;

    Pertama, di dunia ini tidak cukup menampung berbagai kenikmatan yang hendak diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang mukmin itu sangat besar. Bisa dibayangkan satu kerajaan saja yang hendak diberikan Allah kepada seorang mukmin itu luasnya sejauh perjalanan lima ratus tahun, sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya. Ditambah lagi berbagai keistimewaan dan aneka kenikmatan yang Allah berikan, sungguh dunia ini tidak cukup muat untuk menampungnya. Kehidupan dunia ini sungguh menyedihkan dan penuh dengan kerendahan, kehinaan dan kekurangan. Sementara kenikmatan yang diperuntukkan ahli surga itu sangat mulia dan tinggi nilainya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits

    إِنَّ مَوْضِعَ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وإنّ نُوْر سُوَارِ حَورَاء يَطْمَسُ نُورَ الشَّمْسِ

    Artinya : Sesungguhnya tempat pecut (cambuk kuda) di dalam surga itu lebih baik daripada dunia seisinya, dan cahaya gigi seri bidadari surga akan dapat memadamkan matahari.

    Dalam alqur’an Surat As Sajdah Ayat 17 Allah berfirman

    فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Artinya : Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.

    Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

    Kedua, Allah mengagungkan dan meninggikan derajat hamba-hambanya yang mukmin, Allah tidak menjadikan balasan kepada mereka atas ketaatannya di dunia yang bersifat fana (rusak ) ini. Karena kenikmatan dunia bersifat semu dan cepat sirna, setiap sesuatu yang bersifat rusak, sekalipun masanya panjang, maka akan menyisakan penyesalan dan kesedihan. Namun Allah hendak memberikan kenikmatan besar bagi orang mukmin di ialah surga yang abadi, dan yang abadi itu di akhirat bukan di dunia fana ini.

    Allah Swt menjadikan akhirat sebagai tempat orang beriman atas hasil usaha dan amal ibadahnya. Sebagaimana janji Allah dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat : 25

    وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوا۟ هَٰذَا ٱلَّذِى رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَٰبِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَآ أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

    Artinya : Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya

    Hidup di akhirat lebih baik, bahkan hidup di akhirat bersifat abadi. Di akhirat inilah Allah SWT memberi semua keinginan hamba-hambanya yang mukmin sesuai amal perbuatannya selama di dunia, oleh karenanya begitu banyak pahala yang akan diterima oleh orang-orang mukmin ini, sehingga semua nya diberikan oleh Allah di akhirat, tidak di dunia. Oleh karena di dunia tidak akan pernah mampu menampung seluruh pahala yang diberikan Allah pada hambanya.

    Ma’asyirol muslimin rohimakumulloh

    Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang semangat dalam beribadah menjauhi segala larangannya sehingga kita memperoleh pahala/kenikmatan-kenikmatan syurga besok di akhirat amin.

    Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Demikian uraian terkait khotbah, rukun, syarat hingga contohnya. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan serta bermanfaat ya!

  • 10 Nama Nama Malaikat dan Tugasnya yang Wajib Diketahui

    10 Nama Nama Malaikat dan Tugasnya yang Wajib Diketahui

    Percaya dengan adanya malaikat merupakan salah satu rukun iman dalam Islam. Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang terbuat dari cahaya dan sangat taat kepada-Nya. Terdapat beragam nama nama malaikat yang bisa kita ketahui.

    Setiap nama ini tentunya memiliki tugas dan fungsinya masing-masing sesuai yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dibawah ini nama nama malaikat yang bisa diimani.

    Nama Nama Malaikat Sesuai Tugasnya

    Sebagai makhluk Allah yang taat dan beriman kepada-Nya, maka beriman kepada malaikat juga harus kita lakukan. Meski sebagai manusia kita tidak bisa secara kasat mata untuk melihat, tetapi keberadaan malaikat harus kita yakini.

    Terdapat banyak malaikat yang diciptakan oleh Allah sesuai dengan tugas dan fungsinya. Namun, yang bisa kita imani hanya berjumlah 10 malaikat. Di bawah ini nama nama malaikat dan tugasnya yang bisa diketahui.

    1. Malaikat Jibril

    Nama nama malaikat yang pertama perlu kita ketahui adalah malaikat Jibril. Sebagai makhluk ciptaan Allah, Jibril memiliki peran sebagai pemimpin dari para malaikat lainnya. Termasuk juga sebagai penyampai wahyu kepada Muhammad.

    Jika kita membaca Al-Qur’an, maka akan menemukan banyak kata yang menyebutkan Jibril, seperti dalam surat Al Baqarah ayat 97 hingga 98 dan surat At Tahrim ayat 4. Malaikat Jibril dikenal dengan berbagai julukan yang ada di Al-Qur’an.

    Julukan pertama, yakni Ruhul Qudus yang tersirat dalam surat An Nahl ayat 102. Kemudian, Ruhul Amin dalam surat As Syu’ara ayat 192-193. Selain itu, ada juga dalam surat Ruh Al Haq atau Roh kebenaran.

    Adapun tugas-tugas lainnya dari malaikat Jibril yang bisa kita ketahui antara lain:

    • Menjadi pemimpin dalam urusan dunia yang dibantu oleh malaikat Izrail (mencabut nyawa), Malaikat Mikail (mengatur hujan dan tumbuhan) serta Malaikat Israfil (membawa perintah kepada para malaikat)
    • Membawa kehancuran serta kemenangan bagi manusia sesuai kehendak Allah
    • Menjadi imam bagi penduduk langit
    • Meniupkan ruh ke setiap janin yang ada di kandungan

    Baca juga: 25 Nama Nama Nabi dan Rasul Berurutan dan Mukjizatnya

    2. Malaikat Mikail

    Nama malaikat berikutnya yang bisa kita imani adalah malaikat Mikail. Tugas malaikat Mikail, yaitu membagikan rezeki dari Allah SWT kepada seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi.

    Rezeki yang diberikan oleh Allah melalui perantara malaikat Mikail ini bisa berupa materi, tumbuhan, hujan dan lain sebagainya. Selain itu, Makail juga bertugas untuk mengatur hujan serta angin yang ada di dunia.

    Malaikat Mikail juga membantu malaikat Jibril dalam membelah dada Rasulullah SAW dan mengambilkan air Zam-zam untuk mencuci hati agar suci.

    Selain itu, malaikat Mikail juga yang menemani Jibril dalam membantu Rasulullah ketika Isra’ Mi’raj.

    3. Malaikat Israfil

    Israfil merupakan malaikat selanjutnya yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang taat kepada-Nya. Nama malaikat ini tentunya sudah tidak asing karena Israfil memiliki tugas utama sebagai peniup sangkakala pada hari kiamat.

    Terompet sangkakala akan ditiup sebanyak 3 kali ketika hari kiamat tiba. Pada tiupan yang pertama akan menandakan bahwa alam semesta akan hancur. Sementara, pada tiupan yang kedua, manusia akan dibangkitkan dari alam kubur.

    Kemudian, pada tiupan yang ketiga, seluruh umat manusia akan dikumpulkan pada padang Mahsyar untuk dihisab amal perbuatannya. Namun, sebelum terompet ini dibunyikan, maka tugas lainnya dari malaikat Israfil, yakni:

    • Mengayomi seluruh makhluk yang ada di bumi dan juga alam semesta karena Israfil memiliki kekuatan yang sangat besar
    • Menjadi salah satu malaikat yang memikul gelar Arsy yang memiliki makna bertasbih dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman

    4. Malaikat Izrail

    Nama nama malaikat berikutnya yang sering disebut adalah malaikat Izrail. Malaikat yang satu ini memiliki tugas utama sebagai pencabut nyawa seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi.

    Pencabutan nyawa yang dilakukan oleh malaikat Izrail dibantu oleh malaikat lainnya. Mulai dari pencabutan seluruh ruh dari anggota badan dan ketika sampai ke pangkal tenggorokan ruh akan diambil oleh malaikat Izrail.

    Adapun tugas ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 61:

    وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ۗحَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ

    Artinya: “Dan Dialah penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.

    5. Malaikat Munkar

    Malaikat selanjutnya yang bisa kita ketahui adalah malaikat Munkar. Munkar memiliki tugas untuk mengajukan pertanyaan kepada manusia yang sudah meninggal ke alam kubur. Munkar digambarkan sebagai sosok yang sangat menyeramkan.

    Malaikat Munkar akan menanyakan keimanan dari kita yang telah meninggal. Apabila semasa hidup kita berbuat kebaikan, maka Munkar akan datang setelah orang terakhir yang datang ke pemakaman tersebut pergi.

    Adapun pertanyaan yang diajukan berupa Man Rabbuka, Man Nabiyyuka, serta Ma Dinuka. Bagi umat muslim yang beriman semasa menjalankan kehidupan, maka akan mudah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Malaikat Munkar.

    Sementara, bagi kita yang tidak bisa menjawab, maka malaikat Munkar akan langsung menghantamkan tubuh kita dengan perumpamaan godam yang bisa menghancurkan tubuh hingga berantakan.

    6. Malaikat Nakir

    Nakir merupakan malaikat yang memiliki tugas sama dengan malaikat Munkar. Namun, Nakir akan datang kepada manusia yang selama hidupnya berbuat kebaikan dan beriman kepada Allah SWT.

    Malaikat Nakir akan datang menghadap manusia dalam wujud yang indah dan menanyakan kebaikan.

    7. Malaikat Raqib

    Malaikat Raqib merupakan ciptaan Allah yang bertugas untuk mencatat amal baik yang dilakukan manusia ketika hidup. Selain itu, tugas lainnya dari malaikat Raqib adalah menjaga manusia dan mengawasinya agar berada di jalan yang lurus.

    Karena niat buruk yang kita lakukan tidak akan dicatat sebagai keburukkan selama belum dikerjakan. Sementara, niat baik akan langsung dicatat oleh malaikat Raqib sebagai kebaikan meskipun niat tersebut belum dilaksanakan.

    8. Malaikat Atid

    Nama nama malaikat lainnya yang memiliki tugas utama sebagai pencatat amal adalah malaikat Atid. Malaikat ini merupakan pasangan dengan malaikat Raqib, bedanya sebagai pencatat amal buruk yang dilakukan oleh manusia.

    Setiap amal buruk yang dilakukan, baik itu sekecil biji zarah akan dicatat oleh malaikat Atid. Perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi juga akan dicatat dan dihisab selama hidup untuk diadili kelak di akhirat.

    9. Malaikat Ridwan

    Malaikat Ridwan memiliki tugas utama sebagai penjaga pintu surga di akhirat. Pada penjagaan ini malaikat Ridwan akan dibantu oleh malaikat lainnya. Selain itu, tugas malaikat Ridwan juga untuk menyambut seraya berdoa untuk penghuni surga.

    Malaikat Ridwan akan mendoakan kebahagiaan mereka yang memasukan pintu surga. Sosok malaikat ini digambarkan memiliki wujud yang indah sehingga bisa menenangkan siapa saja yang melihatnya.

    10. Malaikat Malik

    Nama nama malaikat terakhir yang bisa kita ketahui adalah malaikat Malik. Tugas utama yang diberikan Allah kepada malaikat Malik adalah menjaga pintu neraka. Selain itu, tugas lain yang diberikan adalah memimpin malaikat Zabaniah.

    Malaikat-malaikat ini yang akan menghukum semua makhluk hidup yang masuk neraka. Sosok malaikat yang ada di neraka digambarkan dengan bentuk yang seram tanpa ada rasa iba atau belas kasih dan tidak tersenyum.

    10 nama nama malaikat ini bisa kita imani sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sebagai pencipta segalanya di dunia dan akhirat. Sebagai umat muslim tentunya harus percaya dengan makhluk ciptaan Allah SWT meski tidak bisa dilihat.

  • Pengertian Toleransi dalam Islam dan Batasan-Batasannya

    Pengertian Toleransi dalam Islam dan Batasan-Batasannya

    Permasalahan mengenai toleransi menjadi sebuah aktual yang menarik perhatian dari berbagai kalangan khususnya seorang muslim. Menilik kondisi sosiologis masyarakat Indonesia yang multikultural menjadi faktor utama dalam permasalahan mengenai toleransi dalam Islam sendiri.

    Salah satu bentuk toleransi dalam Islam adalah kebebasan dalam beragama.

    Namun perlu diketahui bahwa toleransi bukan mengacu kepada keikutsertaan seseorang atas perayaan agama lain. Toleransi merupakan bentuk penghargaan yang diberikan antar sesama manusia.

    Pengertian Toleransi dalam Islam

    Seperti  yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa toleransi dalam Islam tidak mengacu pada keikutsertaan seseorang dalam perayaan suatu  agama.

    Toleransi dalam bahasa Arab adalah tasāmuḥ, kata ini diambil dari kata samaḥa yang berarti tenggang rasa atau toleransi. Secara istilah, tasāmuḥ adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh agama Islam.

    Adapun dalam konteks masyarakat dan agama, toleransi bisa didefinisikan sebagai suatu sikap atau perbuatan yang melarang adanya diskriminasi pada masyarakat-masyarakat tertentu yang memiliki perbedaan atau tidak bisa diterima oleh orang-orang pada umumnya.

    Toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat istiadat, budaya, bahasa hingga agama.

    Hal ini dijelaskan dalam salah satu firman Allah SWT dalam QS Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

    “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan mejadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah Swt ialah orang yang paling bertaqwa diantara kalian. Sesungguhya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar.”

    Seluruh manusia tidak akan bisa menolak sunatullah ini. Oleh sebab itu, sudah selayaknya manusia mengikuti petunjuk Allah SWT dalam menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut.

    Baca juga: 5 Doa Meminta Jodoh dan Amalan Agar Cepat Bertemu Jodoh

    Batasan-batasan Toleransi  dalam Islam

    Ada sejumlah batasan toleransi dalam Islam yang perlu diketahui. Batasan tersebut dibagi menjadi dua kategori, yakni batas toleransi di bidang ibadah dan bidang muamalah.

    Seorang muslim harus selalu menjaga batasan ini agar tetap berada di jalan yang lurus dan diridhoi Allah SWT. Adapun batasan-batasan toleransi di beberapa bidang kehidupan adalah sebagai berikut:

    Toleransi Dalam Islam di Bidang Akidah

    1. Batas Toleransi di Bidang Akidah

    Rasulullah SAW pernah diajak ‘bertukar ibadah’ oleh kaum Quraisy. Mereka menawarkan diri bertukar ibadah secara bergiliran.

    Dalam artian, hari ini mereka mengikuti ibadah muslim dan keesokan harinya umat muslim harus mengikuti ibadah kaum kafir, untuk membandingkan mana yang lebih baik.

    Namun, tawaran tersebut ditolak dengan turunnya surat Al-Kafirun ayat 6 yang berbunyi:

    لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ

    Artinya: “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.”

    Dengan turunnya ayat tersebut, menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada toleransi dalam hal mengenai akidah.

    Contoh sederhananya, saat mengikuti doa bersama antar umat beragama, maka umat Islam harus membacadoa sendiri dan haram hukumnya mengamini doa agama lain.

    2. Batas Toleransi di Bidang Fikih

    Salah satu contoh penerapan toleransi di bidang fikih adalah adanya perbedaan awalan bacaan Al-Fatihah dalam sholat pada mazhab Syafi’i dan Maliki. Menurut mazhab Syafi’i, bacaan diawali dengan basmalah, sementara untuk Maliki adalah hamdalah.

    Keduanya sama-sama memiliki landasan dalil yang shahih. Sehingga, sudah sepatutnya kedua mazhab tersebut saling dihormati, bukannya malah dicari mana yang salah atau benar.

    Begitu juga dengan pembacaan qunut dalam sholat Subuh. Umat Islam diberikan kebebasan untuk memilih, melaksanakannya dengan bacaan qunut atau tidak. Artinya, umat Islam diberikan kebebasan untuk memilih asalkan pilihan tersebut bukan perbuatan dosa.

    Baca juga: 7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    3. Batas Toleransi di Bidang Akhlak

    Sudah sewajarnya bagi seorang muslim yang melihat sesuatu kemunkaran terkait syariat Islam untuk segera melakukan nahi munkar atau dalam arti lain mencegahnya. 

    Sebagaimana disampaikan dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, hendaklah ia mencegah kemunkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

    Dapat disimpulkan, apabila umat muslim melihat suatu kemunkaran, maka tidak diperbolehkan ada toleransi dan lakukanlah pencegahan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

    Toleransi Dalam Islam di Bidang Muamalah

    1. Batas Toleransi di Bidang Interaksi Sosial

    Allah berfirman dalam Al Quran surat Al-Mumtahanah ayat 8:

    لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

    Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

    Merujuk pada ayat tersebut, maka seorang Muslim boleh berinteraksi dengan umat agama lain. Asalkan, interaksi tersebut tidak mengancam jiwa, harga diri, harta, maupun wilayah orang Muslim.

    2. Batas Toleransi di Bidang Ekonomi

    Dalam Islam, umat muslim diajarkan untuk selalu berbuat adil. Karenanya, dalam Al-Quran Allah melarang adanya monopoli ekonomi yang membuat kekayaan hanya dinikmati oleh sejumlah orang kaya.

    Selain itu, Islam juga tidak memberi toleransi pada aktivitas ekonomi yang hanya menguntungkan satu pihak. Contohnya, pemalsuan barang dagangan, perjudian, rentenir, dan lainnya.

    Konsep Sikap Toleransi Bagi Seorang Muslim

    Ada beberapa konsep sikap toleransi bagi seorang muslim yang perlu diketahui dalam hidup bermasyarakat dan bersosial, yakni sebagai berikut:

    1. Harus Berbuat Adil

    Kaum muslimin harus tetap berbuat adil dimanapun berada dan kepada siapapun orangnya.

    Meski dalam suatu forum terdapat nonmuslim, dilarang bagi seorang muslim untuk melakukan hal-hal dzolim seperti mengucilkan dan membeda-bedakan.

    Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Maidah ayat 2 yang artinya :

    “Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, menyebabkan kamu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (Al-Maidah : 2).

    2. Hidup Rukun Bersama Sesama Manusia

    Orang-rang kafir yang tidak menyatakan permusuhan terang-terangan kepada kaum muslimin, diperbolehkan kaum muslimin hidup rukun dan damai bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan mereka.

    Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu QS Al-Mumtahanah ayat 8-9 yang artinya:

    “Allah tidak melarang kamu terhadap orang yang tidak memerangi kamu pada agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negeri kamu, bahwa kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orag-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya hanya melarang kamu terhadap orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengurisr kamu, bahwa kamu menjadikan mereka teman. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai teman, maka mereka itulah orang-orang yang dholim. (Qs Al-Mumtahanah : 8-9).

    Dari tafsiran ayat tersebut, artinya umat islam diperbolehkan berbuat baik dan tidak memusuhi umat islam  selama tidak melanggar prinsip-prinsip terpenting dalam syariat Islam.

    3. Menghormati prinsip agama masing-masing

    Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Kafirun yang berbunyi:  “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.

    Dengan ini kita dapat mengambil kesimpulan jika Islam selalu mengajarkan kita untuk bertoleransi pada setiap agama apapun.

    Sebagai seorang muslim, kita harus memahami bahwa Tuhan yang umat muslim sembah tentu berbeda dengan agama lain, dan begitu juga sebaliknya.

    Oleh karena itu, kta tidak boleh memaksakan orang lain untuk menganut ajaran Islam yang kita yakini.

    Begitu pun kita tidak seharusnya menghina atau menganggu umat agama lain yang memiliki perbedaan keyakinan dengan yang kita jalani.

    Selain itu, sikap saling menghormati antar umat beragama penting untuk dilakukan agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

    Pada dasarnya, hidup rukun dan saling bertoleransi antar setiap umat beragama tidak menunjukkan adanya ikut campur antara ajaran agama yang satu dan yang lainnya. Namun, dengan adanya sikap toleransi di tengah perbedaan tersebut akan semakin mengokokohkan rasa kebersamaan dan perdamaian antar masyarakat.

    4. Toleransi Dalam Utang Piutang

    Untuk urusan utang piutang, Islam juga memiliki ketetapan-ketetapannya sendiri yang telah ditentukan.

    Dalam surah Al Baqarah ayat 280 yang memiliki arti “Dan jika orang yang berutang tersebut sedang dalam kesukaran maka berikanlah masa tangguh hingga ia berkelapangan.Dan menyedekahkan sebagian atau semua utang tersebut sesungguhnya lebih baik bagimu, jika kamu mengetahuinya”.

    Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya bersikap lapang dalam emberikan utang atau pinjaman adalah sebuah keutamaan.

    Begitu halnya dengan bersikap lapang kepada orang-orang yang kesulitan mengembalikan pinjaman atau utangnya.

    Orang-orang yang memberikan kesempatan kepada pihak yang sedang mengalami kesulitan, telah dijanjikan oleh Allah SWT untuk mendapatkan kemudahan di akhirat kelak saat semua orang mengalami kesusahan.

    Demikianlah penjelasan terkait toleransi dalam Islam serta batasan-batasan yang sesuai dengan syariat.

  • Jejak Warisan Seni Budaya Islam di Filipina

    Jejak Warisan Seni Budaya Islam di Filipina

    Islam menjadi salah satu agama dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia, salah satunya bisa kita buktikan dari jejak warisan seni budaya Islam di Filipina. 

    Negara ini merupakan salah satu negara yang berada di Asia Tenggara, sama seperti Indonesia.

    Filipina bukan negara mayoritas Islam. Mayoritas penduduknya beragama Kristen. Tetapi, penduduk Filipina yang beragama Islam juga cukup banyak.

    Menurut Laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) bertajuk The Muslim 500 edisi 2023, jumlah  populasi Muslim di Filipina sebanyak 6,02 juta orang. Dari data tersebut, artinya mayoritas pemeluk agama Islam ada di Filipina Selatan.

    Jejak Warisan Seni Budaya Islam di Filipina

    Filipina meninggalkan berbagai jejak warisan seni budaya dan Islam. Hal ini membuktikan bahwa ada agama Islam di negara ini. 

    Bahkan, Islam sudah hadir di Filipina sebelum kedatangan penjajah Spanyol dan Katolik Roma. Kemudian, sekitar abad ke 14, pedagang Muslim di Filipina memperkenalkan Islam di bagian selatan hingga menyebar ke utara hingga Manila.

    Setelah itu, Islam di negara Filipina semakin berkembang pesat. Inilah beberapa daftar jejak warisan seni budaya Islam yang ada di negara tersebut:

    1. Masjid Syekh Karim al-Makdum

    1. Masjid Syekh Karim al-Makdum

    Masjid Syekh Karim al-Makdum merupakan salah satu masjid tertua di Filipina. Lokasinya tepat berada di Tubig Indangan, Simunul, dan Tawi-Tawi.

    Masjid ini dibangun pada tahun 1380 M oleh Syekh Karim al-Makdum, saudagar Arab yang ketika itu datang ke daerah tersebut untuk berdakwah. 

    Salah satu keunikan dari masjid satu ini adalah dari pilar-pilar asli yang menjadi pondasi masih terjaga dengan baik sampai sekarang.

    Pilarnya terbuat dari kayu keras ipil yang sangat keras, kuat, dan tahan lama. Masjid Syekh Karim al-Makdum juga menjadi saksi penyebaran Islam pertama kali di negara tersebut. 

    Dari awal pendiriannya, rumah ibadah satu ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Pada tahun 1941, masjid sempat terbakar karena invasi Jepang. Tetapi pada tahun 1960, masjid kembali dibangun supaya bisa kembali berdiri kokoh.

    Baca juga: 5 Ciri Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat, Nasehat Islam Hari Ini!

    2. Intramorus Walle City

    2. Intramorus Walle City

    Warisan seni budaya Islam di Filipina selanjutnya yaitu Intramuros Walle City. Pada dasarnya, bangunan ini merupakan dinding yang dibangun pada abad ke 16 dan menjadi cikal bakal kota Manila. Dinding ini memiliki luas 64 hektar.

    Intramuros Walle City ternyata dibangun oleh Raja Sulaiman. Beliau adalah seorang perantau muslim yang berasal dari Minang. Ia juga pernah memimpin kota Manila bersama dengan Raja Matanda dan Raja Lakandula pada pertengahan abad ke 16.

    Pada mulanya, Intramuros Walle City berfungsi sebagai pusat pemerintahan Spanyol yang saat itu menjajah Filipina. Selain itu, bangunan ini juga difungsikan sebagai benteng pertahanan.

    Lalu apa hubungannya dengan Islam? Ternyata, tidak jauh dari tempat ini ada Fort Santiago. Bangunan yang digunakan sebagai penjara ini dibangun oleh penguasa Islam Raja Sulaiman.

    3. Distrik Quiapo

    3. Distrik Quiapo

    Distrik Quiapo merupakan kota lama yang menjadi tempat bermukimnya orang-orang Islam di Filipina. Daerah ini menjadi pusat transaksi ekonomi yang dilakukan dengan tata cara Islam.

    Tidak hanya itu saja, gedung-gedung pencakar langit yang megah dan tinggi juga sudah ada di Distrik Quiapo.

    Baca juga: Doa Niat Puasa Senin Kamis: Lafal, Terjemahan, dan Tata Caranya

    Sejarah Perkembangan Islam di Filipina

    Berbicara soal penyebaran Islam di Filipina, prosesnya terbilang cukup panjang. Apalagi awal-awal, ketika itu Filipina masih dikuasai oleh Spanyol.

    Proses Islamisasi di Filipina sendiri awalnya terjadi karena tiga hal yaitu perdagangan, perkawinan, dan politik. Berikut ini sejarah lengkap perkembangan Islam di  Filipina:

    Masuknya Islam

    Islam masuk ke wilayah Filipina sekitar tahun 1300-an. Hal ini terbukti dari adanya arkeologi sebuah batu nisan atas nama Miqbal, bertuliskan tahun 1310. Batu nisan ini berada di Badatto, tidak terlalu jauh dari Jolo, Pulau Sulu.

    Selain itu, ada teori yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Filipina pada akhir tahun 1300-an. 

    Menurut teori ini, Islam ke wilayah Filipina diperkirakan terjadi mulai tahun 1380. Kepulauan Sulu dan Mindanao menjadi wilayah pertama yang mendapatkan pengaruh ajaran Islam.

    Seni dan budaya Islam dibawa ke Filipina oleh seorang tabib dan ulama asal Arab bernama Karimul Makhdum. Beliaulah yang membangun masjid Syekh Karim al-Makdum.

    Selain itu, ada tokoh lain yang menyebarkan agama Islam di Filipina yaitu Raja Baguinda dan Raja Sulaiman. Raja Baguinda menyebarkan Islam di Kepulauan Zamboanga dan Basilan pada tahun 1390.

    Sedangkan Raja Sulaiman, memperkenalkan Islam kepada suku Tagalog, sampai penjajah Spanyol datang ke Filipina. Beliau juga pernah menjadi penguasa Manila dari tahun 1570 hingga 1574

    Perkembangan Islam di Filipina

    Setelah itu, Islam terus mengalami perkembangan dan penyebarannya sudah mulai ke mana-mana. Termasuk ketiga jejak warisan seni budaya Islam tersebut menjadi bukti berkembangnya Islam di Filipina.

    Setelah bebas dari penjajahan Spanyol pada 12 Juni 1946, Islam Filipina mulai bebas dan berkembang. 

    Perkembangan sosial Islam semakin berjalan baik tidak ada hambatan. Jumlah umat Muslim di negara ini terus bertambah setiap tahunnya hingga menyentuh angka 6 juta.

    Demikian penjelasan tentang warisan seni budaya Islam di Filipina, yang juga melibatkan orang Indonesia.

  • Cara Menentukan Hari Baik Pindah Rumah Menurut Islam

    Cara Menentukan Hari Baik Pindah Rumah Menurut Islam

    Apakah ada hari baik pindah rumah menurut Islam? Kita semua tahu, beberapa suku di Indonesia sudah sangat familiar dengan hari baik.

    Misalnya saja, suku Jawa. Orang tua dari suku Jawa percaya dengan yang namanya hari baik. Bahkan, mereka memiliki perhitungannya sendiri untuk menentukan kapan hari baik tersebut terjadi.

    Mereka menghitung hari baik ketika akan pindah rumah, memulai usaha, atau menentukan tanggal pernikahan. Masyarakat Jawa percaya bahwa jika ada hari-hari tertentu yang tidak boleh memulai bisnis atau melaksanakan pernikahan.

    Hari Baik Pindah Rumah Menurut Islam

    Bagi sebagian orang, pindah rumah bukan sekedar mempersiapkan memindahkan barang dan perabot dari satu rumah ke rumah lainnya. Tetapi, ada hal non teknis lainnya yang juga harus dipersiapkan.

    Ada orang yang mencari hari baik untuk pindah ke rumah baru. Golongan orang-orang ini percaya bahwa ada hari yang dianggap baik dan membawa keberuntungan, ada juga hari sial sehingga menolak untuk pindah pada hari tersebut.

    Lalu, bagaimana Islam memasang hari baik itu? Apakah orang yang mempercayai hari baik termasuk perbuatan musyrik?

    1. Semua Hari Itu Baik

    Menurut pandangan Islam, semua hari itu baik. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu semua baik.

    Tidak ada hari buruk sama sekali. Justru, Islam lebih mengenal hari paling baik yaitu hari di mana kita terus melakukan amal soleh dan perbuatan yang bermanfaat lainnya.

    Jadi kapan pun kitu, selama kita beramal soleh dan melakukan hal-hal yang baik, maka hari tersebut adalah hari yang baik.

    Baca juga: Hari Potong Kuku yang Baik Menurut Ajaran Islam, Sudah Tahu?

    2. Tidak Ada Hari Sial

    Selain itu, tidak ada anggapan hari sial dalam Islam. Karena, semua hari itu sama baiknya. Sekalipun kita mengalami kesialan, itu bukan disebabkan karena hari melainkan perbuatan kita sendiri.

    قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

    Qâlû thâ’irukum ma‘akum, a in dzukkirtum, bal antum qaumum musrifûn

    Artinya:

    Mereka (para rasul) berkata, “Kemalangan kamu itu (akibat perbuatan) kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan, (lalu kamu menjadi malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Q.S. Yasin: 19).

    Bagaimana Cara Menentukan Hari Baik Pindah Rumah Menurut Islam?

    Berdasarkan kedua penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa sebenarnya tidak ada istilah penentuan hari baik ataupun hari buruk ketika akan pindah rumah. 

    Baik di dalam Al-Qur’an maupun Hadist, tidak ada sama sekali penjelasan tentang hari baik pindah rumah menurut Islam. Justru penentuan hari baik sama artinya dengan mengundi nasib. Dan jelas, hal ini sangat dilarang oleh Allah SWT.

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Hurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa laḫmul-khinzîri wa mâ uhilla lighairillâhi bihî wal-munkhaniqatu wal-mauqûdzatu wal-mutaraddiyatu wan-nathîḫatu wa mâ akalas-sabu‘u illâ mâ dzakkaitum, wa mâ dzubiḫa ‘alan-nushubi wa an tastaqsimû bil-azlâm, dzâlikum fisq, al-yauma ya’isalladzîna kafarû min dînikum fa lâ takhsyauhum wakhsyaûn, al-yauma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matî wa radlîtu lakumul-islâma dînâ, fa manidlthurra fî makhmashatin ghaira mutajânifil li’itsmin fa innallâha ghafûrur raḫîm

    Artinya:

    “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih. (Diharamkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Pada zaman jahiliyah, orang-orang sering mengundi nasib saat akan mengadakan acara besar seperti pernikahan, pindah tempat tinggal, atau yang lainnya. 

    Jika kita percaya ada hari baik pindah rumah menurut Islam, maka secara otomatis tidak ada bedanya dengan zaman jahiliyah, naudzubillah.

    Sekalipun kita ingin memilih hari, cara terbaik yang dapat dilakukan adalah shalat Istikharah minimal dua raka’at. Bisa siang hari maupun malam hari, lakukan dengan khusyuk lalu minta petunjuk kepada Allah SWT.

    Seperti yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini:

    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

    Artinya:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikharah dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a:

    ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI ‘ILMIKA, WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA, WA AS-ALUKA MIN FADHLIKA, FA INNAKA TAQDIRU WA LAA AQDIRU, WA TA’LAMU WA LAA A’LAMU, WA ANTA ‘ALLAAMUL GHUYUB. ALLAHUMMA FA-IN KUNTA TA’LAMU HADZAL AMRO (SEBUT NAMA URUSAN TERSEBUT) KHOIRON LII FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIH (AW FII DIINII WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII) FAQDUR LII, WA YASSIRHU LII, TSUMMA BAARIK LII FIIHI. ALLAHUMMA IN KUNTA TA’LAMU ANNAHU SYARRUN LII FII DIINI WA MA’AASYI WA ‘AQIBATI AMRII (FII ‘AAJILI AMRI WA AAJILIH) FASH-RIFNII ‘ANHU, WAQDUR LIIL KHOIRO HAITSU KAANA TSUMMA RODH-DHINII BIH

    Artinya:

    “Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku dimanapun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari, no. 7390; dari Jabir bin ‘Abdillah).

    Dengan melakukan sholat istikharah, niscaya Allah SWT akan memberikan petunjuk lewat cara apa pun, kapan sebaiknya kita pindah ke rumah baru. Pasrahkan semua kepada Allah, bukan dengan mengundi nasib.

    Baca juga: Fasakh, Istilah Pembatalan Pernikahan dalam Islam

    Bolehkah Melakukan Selamatan Rumah Baru?

    Selain menentukan hari baik pindah rumah menurut Islam, kebiasaan lain yang juga sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia yaitu melakukan selamat saat akan pindah maupun sudah menempati rumah baru. 

    Pertanyaannya adalah, apakah hal tersebut boleh menurut Islam? Dalam Islam, ada istilah yang bernama bid’ah. Bid’ah sendiri merupakan ibadah yang tata caranya, penetapan waktu,  jumlah, dan tempat tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW.

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    Artinya:

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

    Jadi sebenarnya, acara selamatan rumah baru itu termasuk bid’ah karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. 

    Pengecualian untuk acara makan-makan dalam rangka syukur, maka tidak menjadi masalah karena acara tersebut bukanlah masuk dalam kategori ibadah mahdhah atau ibadah murni.

    Berbeda halnya dengan acara selamatan yang biasanya pasti ada pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Justru acara makan-makan ini dapat memupuk ukhuwah atau persaudaraan di antara sesama.

    Disebutkan dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah:

    الْوَلِيمَةُ لِلْبِنَاءِ مُسْتَحَبَّةٌ ، كَبَقِيَّةِ الْوَلاَئِمِ الَّتِي تُقَامُ لِحُدُوثِ سُرُورٍ أَوِ انْدِفَاعِ شَرٍّ

    Artinya:

    “Acara makan-makan untuk rumah baru itu dianjurkan sebagaimana walimah (acara makan-makan) lainnya (seperti pada pernikahan) yang di mana walimahan tersebut dilakukan untuk berbagi kebahagiaan atau menghilangkan suatu bahaya (rasa tidak senang dari lainnya).”

    Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita simpulkan tidak ada hari baik pindah rumah menurut Islam, karena semua hari itu bagus.