Tag: Inspirasi Islam

  • 13+ Keutamaan Majelis Ilmu dan Adabnya, Umat Muslim Wajib Tahu!

    13+ Keutamaan Majelis Ilmu dan Adabnya, Umat Muslim Wajib Tahu!

    Menuntut ilmu tidak pernah mengenal usia baik tua maupun muda. Selama masih diberikan kesempatan di dunia,tidak ada salahnya menuntun ilmu sebanyak-banyaknya dengan mendatangi majelis ilmu. Sebab ada banyak sekali keutamaan majelis ilmu dalam Islam.

    Majelis ilmu atau yang kerap dikenal dengan majelis taklim ini memiliki peranan penting yakni menumbuhkan kesadaran akan bergama.

    Selain itu, membentuk karakter diri sebagai seorang muslim, meningkatkan kemampuan kita untuk memamahmi ilmu tauhid dan keutamaan lainnya yang sayang sekali jika dilewatkan. Yuk simak keutamaan majelis ilmu dalam Islam berikut ini!

    Keutamaan Majelis Ilmu dalam Islam

    Sebagai bagian untuk menuntut ilmu dan menjemput iman, seorang muslim dianjurkan untuk menghadiri berbagai majelis ilmu. Sebab ada banyak sekali keutamaan di dalamnya.

    Adapun keutamaannya sebagai berikut:

    1. Termasuk Jihad Fi Sabilillah

    Keutamaan majelis ilmu yang pertama yakni sebagai tempat untuk berjihad di jalan Allah SWT. Sebagaimana pernah dijelaskan dalam salah satu hadits riwayat Ibnu Hibban, Rasulullah SAW bersabda,

    مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له

    Artinya: “Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah.

    Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.” (HR Ibnu Hibban)

    2. Mendapatkan Ketenangan, Rahmat, dan Dimuliakan Malaikat

    Keutamaan majelis ilmu selanjutnya yakni apabila menghadirinya, kita akan mendapatkan ketenangan hati. Rasulullah SAW bersabda:

    وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

    Artinya: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR Muslim)

    Baca juga: 5 Contoh Penyimpangan di Agama Islam namun Dianggap Biasa

    3. Dimudahkan Jalan Menuju Surga

    Mendatangi majelis ilmu, memiliki keutamaan yang sama seperti berjaln menuju ke masjid. Atas izin Allah SWT jalannya akan dipermudah sebab hal ini termasuk perilaku baik untuk menjemput kebenaran Islam.

    Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

    مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

    Artinya: “Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga.” (HR At Tirmidzi dan Abu Daud)

    4. Dicatat sebagai Orang yang Sholat hingga Kembali ke Rumah

    Keutamaan majelis ilmu selanjutnya, apabila kita mendatangi majelis ilmu, maka akan dicatat sebagai orang yang sholat  dari keberangkatannya hingga ia kembali ke dalam mah. Rasulullah SAW bersabda:

    إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ

    Artinya: “Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang salat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR Al Hakim)

    5. Dicatat Amalannya di ‘Illiyyin

    Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

    صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ

    Artinya: “Seorang yang setelah selesai salat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga salat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR Abu Daud)

    Selain haditi atas, keutamaan majelis ilmu satu ini turut dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:

    والكتاب في العلِّيِّينَ كتاب لا يكسر و يفتح إلى يوم القيامة محفوظ لا ينقص منه شيئ

    Artinya: “Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun.”

    6. Mendapat Perlindungan di Akhirat

    Seorang muslim yang meniatkan untuk menuntun ilmu ke majelis ilmu, atas izin Allah ia akan mendapatkan perlindungan di akhirat kelak.

    Hal ini dijelaskan dalam salah satu hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Satu di antara tujuh golongan di akherat kelak yang mendapat perlindungan Allah yaitu ‘ijtama’a alaihi wa tafarroqo alaihi’, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.” (HR Bukhari Muslim).

    Baca juga: Hukum Mencuri dalam Islam: Ini Dalil yang Menjelaskannya!

    Adab Mendatangi Majelis Ilmu

    Setelah mengetahui beberapa keutamaan majelis ilmu dalam Islam, ada baiknya kita juga mengetahui beberapa adab yang perlu diperhatikan saat berada di majelis ilmu. Sebab salah satu keutamaannya sendiri dalah jihad fii sabiilillah.

    Oleh sebab itulah, perlu untuk mengetahui adab ketika berada di majelis ilmu agar mendapatkan keutamaannya. Sebab, adab menunjukkan kepribadian dari seorang muslim.

    Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan bagaimana seharusnya adab dalam setiap aktivitas, termasuk saat hendak menghadiri majelis ilmu, yakni:

    7. Memberi Salam

    Adab yang paling utama yakni memberikan salam. Hal ini dijelaskan dalam hadts dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Bila salah seorang kamu sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk maka duduklah ia.

    Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majlis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah yang pertama lebih berhak daripada yang selanjutnya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)

    8. Tidak Berbisik Berdua

    Sebagaimana dijelaskan pada dalah satu hadits, Ibnu Mas`ud RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bila kamu tiga orang, maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian bercampur baur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih.” (HR Muttafaq’alaih)

    9. Duduk di Kursi Kosong

    Tidak diperbolehkan untuk menyerobot atau meminta kursi yang telah diduduki orang lain sebab hal ini termasuk kepada hal yang tidak terpuji. Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang tidak boleh memindahkan orang lain dari tempat duduknya, lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.” (HR Muttafaq’alaih)

    10. Tidak Banyak Tertawa

    Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada Abu Hurairah RA:

    وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

    Artinya: “Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR At-Tirmidzi)

    11. Tidak Menempati Kursi Orang Lain

    Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya.” (HR Muslim)

    12. Saling Menghormati

    Dalam majelis ilmu, seorang muslim hendaknya menghormati orang yang sama-sama berada di sana, termasuk pada ustadz dan mubaligh yang sedang ceramah. Sebagaiaman pernah dijelaskan dalam suatu hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

    ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه

    Artinya: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama.” (HR Ahmad)

    13. Berani Bertanya

    Saat berada di majelis ilmu, seorang muslim hendaknya tidak hanya berdiam diri, melainkan aktif turut serta dengan berani bertanya. Rasulullah SAW bersabda:

    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

    Artinya: “Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi)

    Demikian penjelasan mengenai keutamaan majelis ilmu serta adab dalam menghadirinya. Semoga artikel ini dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan memotivasi untuk lebih sering menghadiri majelis ilmu.

  • 10 Kata Cinta untuk Suami dalam Islam, Romantis!

    10 Kata Cinta untuk Suami dalam Islam, Romantis!

    Memberikan kata cinta untuk suami dalam Islam merupakan salah satu cara menjaga keharmonisan satu sama lain. Memiliki rumah tangga yang harmonis dengan dipenuhi keberkahan dan juga kebahagiaan dalam  bingkai keimanan merupakan dambaan semua orang.

    Namun, seringkali banyak istri yang kebingungan untuk menyampaikan isi dan curahan hati mengenai rasa cintanya kepada suami.

    Untuk membantumu menjalani rumah tangga yang diridhoi Allah, kamu bisa menyimak sepuluh kata cinta romantis dalam Islam ini.

    Kata Cinta untuk Suami dalam Islam

    1. Ketika aku jatuh cinta, Allah telah menunjukkan cintanya melalui kamu. Jadi, aku telah mencintai kamu atas ridha dari Allah.
    2. Cinta kita adalah yang terbaik, karena kamu membuat iman dan ketaatanku bertambah. Semoga kamu bisa selalu membimbing aku dan anak-anak ke jalan surga-Nya ya.
    3. Terimakasih untuk menjadi satu dari berjuta orang di dunia yang menjadikanku sebagai Istri, menyelamatkanku dari kemalangan dunia serta membimbingku ke jalan Allah yang lebih baik.
    4. Tiada siapapun di dunia ini yang bisa membawaku ke jalan-Nya selain kamu suamiku. Menjadi penerang di kala remang, menjadi penuntun di kala terjal, menjadi nahkoda di kala badai yang berkecamuk, menjadi mata angin di kala aku tersesat. Hiduplah lebih lama dariku.
    5. Salah satu jalan yang terindah yang Allah tunjukkan kepada aku adalah bisa menikah dengan kamu, suamiku. Semoga kita bisa menjalani rumah tangga ini hingga maut memisahkan ya.
    6. Setiap orang memiliki rasa cinta dalam hatinya dan aku bersyukur karena Allah telah mempertemukan kamu dengan aku.
    7. Satu dari banyaknya doa yang selalu kunaungkan ialah membersamai langkahmu meski dalam duka ataupun bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
    8. Semoga kelak meski satu di antara kita berpulang, akan ada hari dimana satu lagi menyusul dan menjadi penghuni-Nya yang paling baik dan kekal dalam ikatan.
    9. Kalau kita saling menjaga satu sama lain dan selalu dekat dengan Allah. Maka kehidupan kita pun akan selalu dipenuhi dengan keberkahan.
    10. Terima kasih karena telah menjadi seorang suami dan ayah yang selalu bertanggung jawab. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kamu ya, suamiku.

    Baca juga: 7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    Tips Membangun Keluarga Romantis dalam Islam

    Tips Membangun Keluarga Romantis dalam Islam

    Dalam Islam, ada banyak sekali cara untuk menjaga keharmonisan dan keromantisan berkeluarga agar tetap menjaga sakinah, mawadah dan warahmah, tidak hanya melemparkan kata cinta untuk suami.

    Tentu hal ini dilandasi dengan keridhoan Allah SWT. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membangun keharmonisan keluarga:

    1. Memperkuat Hubungan dengan Allah SWT

    Tips membangun keluarga harmonis yang pertama adalah memerkuat hubungan dengan Allah SWT. Jangan pernah melupakan Allah SWT dalam setiap langkah kecil yang kita ambil dalam hidup.

    Pasangan yang saling mencintai dengan dasar cintanya kepada Allah akan semakin kuat dan harmonis keluarganya.

    Hal ini karena hubungan yang baik dengan Allah SWT akan memengaruhi hubungan yang baik juga dengan pasangan.

    2. Menjaga Ibadah

    Tips membangun keluarga harmonis yang selanjutnya adalah saling menjaga ibadah.  Keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah tidak akan terwujud bila pasangan tidak menjaga ibadahnya dengan baik.

    Pasangan suami istri dapat meraih kebahagiaan jika mereka taat berada di jalan Allah SWT dan saling mengingatkan dalam hal beribadah dan mengingatkan juga kewajiban kita pada Allah SWT.

    Baca juga: Doa sebelum Berhubungan Suami Istri dan Lengkap dengan Artinya

    3. Saling mencurahkan Perhatian

    Tips yang ketiga yakni saling mencurahkan perhatian, suami istri yang menjaga hal tersebut akan semakin harmonis dan bahagia.

    Mencurahkan perhatian ini maksudnya juga bisa saling ucapkan kata cinta dan juga sayang kepada pasangan kita. Meski nampak sederhana, namun cara ini menjadi salah satu tps jitu membuat pasangan bahagia.

    Tak jarang terkadang suami istri yang telah lama menikah jarang sekali memberikan kata-kata cinta satu sama lain. Tentu hal ini akan berujung menjadi masalah dan juga perselingkuhan.

    Oleh sebab itu, sering-seringlah mengucapkan kata-kata sayang ataupun cinta kepada pasangan.

    4. Menghabiskan Waktu Berkualitas Bersama Keluarga

    Tips membangun keluarga harmonis yang selanjutnya adalah menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

    Waktu menjadi kunci utama dari harmonisnya suatu keluarga, sebab kesibukan akan menyebabkan keluarga menjadi tidak saling memperhatikan dan cuh tak acuh.

    Waktu merupakan hal yang sangat berharga dan tak ternilai jika dibandingkan dengan uang sekalipun. Perlu bagimu untuk meluangkan waktu meski hanya sebentar, sebab materi bukanlah segalanya.

    Meski sebentar, sisakanlah waktu hanya untuk makan bersama keluarga dan berkeliling melihat-lihat sekitar rumah. Meski sederhana, hal ini menjadi salah satu kunci keharmonisan keluargamu.

    5. Bersyukur kepada Allah

    Tips membangun keluarga harmonis yang selanjutnya adalah bersyukur kepada Allah.

    Rasa syukur juga meruoakan salah satu pondasi memiliki rumah tangga dan keluarga yang harmonis. Tentu dengan bersyukur, suami akan membuat istrinya berada di jalan yang benar, begitu pun sebaliknya.

    6. Tidak Mudah Marah

    Tips membangun keluarga harmonis yang selanjutnya adalah tidak mudah marah.

    Tidak hanya memaafkan kesalahan keluarga kita, kita juga harus menahan amarah kita terhadap mereka. Hal ini disebutkan dalah sat hadis riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang yang kuat bukanlah orang yang dapat mengalahkan orang lain (dalam gulat); sebaliknya, pria yang kuat adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika dia marah.” [HR. Ahmad].

    7. Saling Memaafkan

    Tips membangun keluarga harmonis yang selanjutnya adalah memaafkan kesalahan pasangan.

    “Siapa pun yang memaafkan dan membuat rekonsiliasi, hadiahnya adalah [karena] dari Allah.” (QS. An-Nuur: 22).

    Manusia membuat kesalahan dari waktu ke waktu pada manusia lain, termasuk keluarga mereka sendiri. Jika tidak ingin keluarga tak terpisah, maka kita harus memaafkan mereka dengan hati yang besar.

    “… dan biarkan mereka memaafkan dan mengabaikannya. Apakah Anda tidak suka bahwa Allah akan memaafkan Anda?” (QS. An-Nur: 22).

    8. Membangun Komunikasi yang Baik

    Tips selanjutnya yaitu terapkan komunikasi yang baik. Komunikasi merupakan satu hal yang dapat mempengaruhi harmonis nya suatu rumah tangga karena dengan salah komunikasi akan muncul kesalahpahaman yang nantinya memicu adanya pertengkaran.

    Ketika suami sibuk bekerja, jangan sampai lupa untuk berkomunikasi dengan istri tetap jaga komunikasi dan berikan rasa perhatian melalui komunikasi.

    Di era modern ini, sudah banyak berkembang aplikasi untuk mempermudah kita berkomunikasi sekalipun dalam jarak jauh.

    Itu dia 10 kata cinta untuk suami dalam Islam yang romantis serta tips untuk menjaga keharmonisan keluargamu! Semoga membantu ya. Assalamualaikum wr.wb.

  • Sejarah Bangsa Rum, Sekutu Sekaligus Pengkhianat Umat Islam di Akhir Zaman

    Sejarah Bangsa Rum, Sekutu Sekaligus Pengkhianat Umat Islam di Akhir Zaman

    Sebagian Muslim mungkin pernah mendengar mengenai sejarah bangsa Rum. Bangsa ini disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai sekutu sekaligus penghianat umat Islam di akhir zaman.

    Dijelaskan bahwa bangsa Rum ini merupakan bangsa Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel. Penghianatan ini dijadikan sebagai salah satu tanda akhir zaman dalam salah satu hadits Rasulullah SAW.

    Lantas, siapakah bangsa Rum ini? Bagaimanakah sejarah bangsa Rum dalam Al-Qur’an? Ketahui jawabannya pada uraian di bawah ini.

    Bangsa Rum dalam Surat Ar-Rum

    Sebelum membahas mengenai sejarah bangsa Rum, akan lebih baik jika memahami penjelasan Al-Qur’an mengenai bangsa ini. Bangsa Rum dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 2 hingga 4.

    Surat Ar-Rum termasuk pada golongan surat Makkiyah, sebab surat ini diturunkan di Kota Mekah. Penjelasan ini sesuai dengan yang ditulis dalam buku Al-itqan fi Ululmil Qur’an:Samudra Ilmu-Ilmu Al-Qur’an karya Imam Jauddin al-Suyuthi.

    Latar belakang turunnya surat ini sebab perseturuan antara Persia dan Romawi. Masing-masing mereka saling mengalahkan. Pada saat itu Persia menyembah Api, sedangkan Romawi pemeluk Nasrani al kitab.

    Pada 615 M Persia berhasil mengalahkan Romawi dan mengambil alih kekuasaanya. Selain itu, mereka merampas salib suci milik bangsa Romawi dan membawanya ke Persia.

    Berita ini membuat Kaum Quraisy ikut serta berbahagia, lantas berjumawa kepada kaum Muslim untuk beraliansi kepada bangsa Persia untuk mengalahkan bangsa Rum dan juga kaum Muslim.

    Kaum Muslim yang mendengar berita itu turut merasakan kekalahan bangsa Romawi. Abu Bakar adalah sahabat Rasul yang meyakini kemenangan Romawi suatu hari nanti.

    “Demi Allah, aku bertaruh bangsa Romawi akan mengalahkan Persia tiga tahun lagi,” seru Abu Bakar kepada Ubay bin Khalaf. Perdebatan Abu Bakar dan Ubay bin Khalaf ini terjadi pada tahun ke-8 kenabian atau 5 tahun sebelum Hijriah.

    Pada saat itu, belum terdapat larangan bertaruh dalam Islam. Abu Bakar segera menceritakan kepada Rasulullah tentang ucapannya kepada Ubay bin Khalaf. Tidak lama berselang, Jibril mendatangi Rasulullah dan membenarkan ucapan Abu Bakar, pada saat itulah surat ini turun.

    Berikut adalah bunyi dan tafsiran Surat Ar-Rum ayat 2 hingga ayat 4:

    Ayat 2

    غُلِبَتِ ٱلرُّومُ

    Artinya: “Telah dikalahkan bangsa Rumawi.”

    «غُلبت الروم» وهم أهل الكتاب غلبتها فارس وليسوا أهل كتاب بل يعبدون الأوثان ففرح كفار مكة بذلك، وقالوا للمسلمين: نحن نغلبكم كما غلبت فارس الروم.

    Tafsiran: “Telah dikalahkan bangsa Romawi, mereka adalah ahli kitab yang dikalahkan oleh kerajaan Persia yang bukan ahli kitab, bahkan orang-orang Persia itu penyembah berhala. Dengan adanya berita ini bergembiralah orang-orang kafir Mekah, kemudian mereka mengatakan kepada kaum Muslimin, “Kami pasti akan mengalahkan kalian, sebagaimana kerajaan Persia telah mengalahkan kerajaan Romawi.”

    Ayat 3

    فِىٓ أَدْنَى ٱلْأَرْضِ وَهُم مِّنۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ

    Artinya: “Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang.”

    «في أدنى الأرض» أي أقرب أرض الروم إلى فارس بالجزيرة التقى فيها الجيشان والبادي بالغزو الفرس «وهم» أي الروم «من بعد غلبهم» أضيف المصدر إلى المفعول: أي غلبة فارس إياهم «سيغلبون» فارس.

    Tafsiran: (Di negeri yang terdekat) yakni di kawasan Romawi yang paling dekat dengan wilayah kerajaan Persia, yaitu di jazirah Arabia; kedua pasukan yang besar itu bertemu di tempat tersebut, pihak yang mulai menyerang adalah pihak Persia, lalu bangsa Romawi berbalik menyerang (dan mereka) yakni bangsa Romawi (sesudah dikalahkan itu) di sini mashdar dimudhafkan pada isim maf’ul, maksudnya sesudah orang-orang Persia mengalahkan mereka, akhirnya mereka (akan menang) atas orang-orang Persia.

    Ayat 4

    فِى بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ ٱلْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِنۢ بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ ٱلْمُؤْمِنُونَ

    Artinya: “Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.”

    «في بضع سنين» هو ما بين الثلاث إلى التسع أو العشر، فالتقي الجيشان في السنة السابعة من الالتقاء الأول وغلبت الروم فارس «لله الأمر من قبل ومن بعد» أي من قبل غلب الروم ومن بعده المعنى أن غلبة فارس أولا وغلبة الروم ثانيا بأمر الله: أي إرادته «ويومئذٍ» أي يوم تغلب الروم «يفرح المؤمنون».

    Tafsiran: (Dalam beberapa tahun lagi) pengertian lafal bidh’u siniina adalah mulai dari tiga tahun sampai dengan sembilan atau sepuluh tahun. Kedua pasukan itu bertemu kembali pada tahun yang ketujuh sesudah pertempuran yang pertama tadi. Akhirnya dalam pertempuran ini pasukan Romawi berhasil mengalahkan pasukan kerajaan Persia. (Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya) yakni sebelum bangsa Romawi menang dan sesudahnya. Maksudnya, pada permulaannya pasukan Persia dapat mengalahkan pasukan Romawi, kemudian pasukan Romawi menang atas mereka dengan kehendak Allah. (Dan di hari itu) yakni di hari kemenangan bangsa Romawi (bergembiralah orang-orang yang beriman).

    Baca juga: Hukum Pajak dalam Islam, Dari berbagai Sudut Pandang

    Sejarah Bangsa Rum

    Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sejarah bangsa Rum disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai bangsa Romawi, yang pada saat itu merupakan salah satu bangsa terbesar di kawasan Timur Tengah, selain Persia.

    Menurut Musa Cerantonio dalam buku Which Nation Does Rum in The Ahadith of the Last Days Refer To, bangsa Rum dalam Al-Qur’an merujuk pada kekaisaran Bizantium. Nama itu diambil dari nama ibu kota mereka, yakni Byzantion, yang kemudian dikenal dengan konstantinopel.

    Disebutkan pula pada sejarah bangsa Rum, bahwasannya bizantium ini merupakan kelanjutan dari Kekaisaran Romawi yang awalnya didirikan di Kota Roma serta meluas ke sebagian besar Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara.

    Luasnya ukuran kekaisaran ini membuat wilayah administratif menjadi dua. Satu wilayah bernama Kekaisaran Romawi Barat yang berbasis di Roma, sementara lainnya adalah Kekaisdaran Romawi Timur di Konstantinopel.

    Kemudian pada 476 M, Kekaisaran Romawi Barat runtuh di tangan bangsa Jermanik. Hal ini membuat Kekaisaran Romawi tinggal Kekaisaran Romawi Timur saja.

    Dan bangsa Romawi Timur inilah yang dimaksud oleh Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 2. Saat itu, bangsa Rum dipimpin oleh Flavius Heraclius August atau Heraklius. Sejarah bangsa Rum mencatat, bahwasannya Heraklius memimpin kekaisaran Romawi pada 610-641 M.

    Namun, pendapat lainnya dari Dr. Abdullah seorang ahli tafsir, yang kemudian menafsirkan surat Ar-Rum menjelaskan bahwa, dalam Al-Quran yang merupakan keturunan al-’Ish bin Ishaq bin Ibrahim. Mereka adalah Bani Ashfar, keturunan Bani Israil yang memeluk agama Yunani.

    Baca juga: Kumpulan Doa Nabi Yusuf, Keutamaan dan Cara Mengamalkannya

    Bangsa Rum di Akhir Zaman

    Sejarah bangsa Rum dikaitkan dengan perisitiwa akhir zaman. Dalam buku Isa dan al-Mahdi di Akhir Zamn, Muslih Abdul Karim menjelaskan bahwa kemunculan al-Mahdi diawali dengan pertempuran antara umat Islam dan bangsa Rum.

    Perlu diketahui, bahwa pada awal sejarah bangsa Rum yang menjadi salah satu tanda kiamat. Umat Islam dan bangsa Rum justru bersekutu untuk melawan suatu musuh. Namun pada perjalanannya bangsa Rum atau yang lebih dikenal dengan Bani Ashfar mengkhianati perjanjian damai melawan umat Islam.

    Hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda:

    “Wahai Auf, ada enam perkara sebelum terjadi ; kematian Nabi kalian, penaklukan Baitul Maqdis, kemudian kematian massal akibat wabah penyakit qu’as seperti kambing terkena penyakit qu’as,

    Harta benda berlimpah sehingga apabila seseorang diberi gaji seratus dinar maka ia akan kesal, kemudian Bani Ashfar datang kepada kalian di bawah 80 bendera di mana setiap benderanya menghimpun 12 ribu pasukan.”

    Selain itu, terdapat hadits lainnya yang dijelaskan lebih rinci mengenai pertempuran tersebut pada kitab Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Rasulullah SAW bersabda:

    “Kamu akan berdamai dengan bangsa Rum dalam keadaan aman, kemudian kamu dan mereka kan memerangi suatu musuh dari belakang mereka.

    Dan kamu akan menang, mendapatkan harta perampasan, dan pergi dengan selamat hingga tiba di sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit.

    Maka seorang laki-laki dari kaum salib mengangkat tanda salib seraya berkata,‘Salib telah menang.’ Lalu seorang laki-laki dari kaum Muslim berkata,‘Sebaliknya Allah-lah yang menang.’

    Lalu keduanya bergulat di antara mereka, lalu orang muslim itu cepat meraih salib mereka lalu memecahkannya. Kemudian orang-orang Rum itu menyambar pecahan salib itu dan membunuhnya.

    Kemudian orang-orang Muslim menyambar senjata-senjata mereka dan berperang. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla memuliakan sisa kaum Muslimin itu dengan kesyahidan.

    Lalu orang-orang Rum berkata kepada teman Rum itu,‘Kami telah membalaskanmu terhadap orang Arab itu.’ Lalu mereka berkhianat, menghimpun kekuatan dan mendatangi kalian di bawah 80 bendera di mana di bawah tiap-tiap bendera terdapat 12 ribu tentara.”

    Dalam hadits di atas jelas di sampaikan bahwa Bangsa Rum pada hari akhir akan membantu umat muslim untuk mengalahkan musuhnya. Namun dengan dengan alasan tertentu justr Bangsa Rum kemudian berkhianat dan balik menyerang pasukan umat Muslim.

    Dari perang tersebut, umat Islam akan mengalami kekalahan dan mencari perlindungan ke Ka’bah. Saat itulah datang pasukan kiriman dari arah Syam untuk mengejar kau muslim, namun Allah SWT membenamkan pasukan itu di padang pasir bernama Baida’.

    Dan kemudian Allah SWT berikan pertolongan dengan munculnya sosok pemimpin yang adil, yakni al-Mahdi. Pemimpin inilah yang akan menjadi salah satu pertanda datangnya hari Kiamat.

    Demikian informasi terkiat sejarah bangsa Rum yang akan berkhianat dari Islam kelak di akhir zaman

    Meski belakangan ini, banyak sekali yang beranggapan bahwa bangsa Rum adalah Rusia bahkan bangsa Eropa-Amerika. Namun hingga saat ini umat Muslim belum mengetahui jelas mengenai hal tersebut.

    Hal ini hanyalah rahasia Allah dengan segala firman-Nya, sebagai seorang muslim yang tawakal kepada-Nya, kita harus mempercayai segala firman dalam Al-Qur’an dan tuntunan dalam hadits Rasulullah.

    Semoga artikel mengenai sejarah bangsa Rum ini bermanfaat ya! Dan selalu ingat bahwa dunia hanyalah tempat sementara, sebab sebaik-baiknya tempat adalah syurga di sisi Allah.

  • Apa Itu Ihsan? Ketahui Fungsi, Ciri, dan Contoh Ihsan

    Apa Itu Ihsan? Ketahui Fungsi, Ciri, dan Contoh Ihsan

    Apa itu Ihsan? Sebagian Muslim mungkin akrab mendengar mengenai istilah satu ini. Ya benar, Ihsan merupakan suatu perbuatan baik dan menahan diri dari dosa.

    Bagi seorang Muslim, ihsan merupakan pilar penting bagi umat Muslim selain iman. Perbuatan baik yang dimaksud juga tertuju pada banyak hal baik kepada Allah SWT yang konteksnya adalah ketaatan dalam beribadah, kepada manusia dan kepada makhluk lain di muka bumi.

    Selain itu, keutamaan ihsan juga amatlah istimewa. Satu di antaranya yakni disebutkan dalam salah satu dalil Al-Qur’an bahwasannya, Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik. Lalu, apa itu ihsan hingga contohnya? Mari simak uraiannya berikut ini untuk dapatkan jawabannya.

    Apa Itu Ihsan?

    Sebelum membahas mengenai fungsi, ciri hingga contohnya. Akan lebih baik jika kita mengenal apa itu ihsan dan pentingkah bagi seorang Muslim?

    Ihsan merupakan konsep dalam agama Islam yang mengacu pada sebuah tindakan yang baik, terpuji dan sempurna.

    Secara harfiah, ihsan berasal dari bahasa Arab asuna-yahsunu-hasanan yang berarti kebaikan, keindahan dan kemurahan hati. Konsep dari ihsan yakni mencangkup tindakan serta perilaku yang dilakukan dengan kesadaran penuh, ketulusan dan suatu upaya terbaik.

    Bahkan pertanyaan mengenai apa itu Ihsan pernah Malaikat Jibril tanyakan kepada Rasulullah SAW. Pada saat itu Malaikat Jibril mengubah dirinya menjadi seseorang berpakaian putih dengan rambut yang sangat hitam. Tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda seorang musafir.

    Kemudian, Malaikat Jibril menyandarkan kedua lututnya ke arah lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas dua paha beliau. Lalu, ia bertanya, “Ya Muhammad, jelaskanlah padaku tentang ihsan?”

    Rasulullah SAW menjawabnya: “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat kamu.” (HR. Muslim).

    Baca juga: Apa Itu Sunnah? Pengertian, Macam dan Contohnya

    Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang muslim wajib konsisten dalam melakukan amalan-amalan yang memang dikehendakai oleh Allah SWT. Dan apabila hal tersbeut dilakukan, atas izin-nya maka derajat orang tersebut akan sangat mulia di hadapan Allah SWT.

    Selain Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa AS turut menjelaskan mengenai apa itu ihsan. Hal ini beliau jelaskan, ketika ditanya apa itu ihsan, beliau menjawab, “Perbuatan tidak dapat disebut ihsan, jika kalian membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepadamu. Tetapi, ihsan adalah ketika kalian mampu berbuat baik justru kepada orang yang berbuat jahat kepadamu.”

    Dari banyaknya penjelasan di atas, lantas apa itu ihsan? sebetulnya jawaban dari pertanyaan apa itu ihsan, jawabannya cukup sederhana, yakni perbuatan baik yang dilakukan oleh seorang muslim tidak hanya ucapan melainkan juga tindakan kepada Allah SWT dan seluruh makhluknya.

    Dalam Islam sendiri, ihsan cukup sering disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Apalagi perintah untuk selalu berbuat kebaikan menjadi bagian dari keimanan dan bukti keislaman seorang muslim.

    Oleh sebab itulah, arti ihsan berbeda dengan isa’ah yang disebut juga sebagai perbuatan jelek.

    Dalil Al-Qur’an tentang Ihsan

    Dalam penjelasan sebelumnya, telah jelas apa itu ihsan bagi seorang muslim. Selain itu, dari penjelasan di atas juga telah disinggung bahwasannya ihsan sendiri cukup sering disebutkan dalam Al-Qur’an.

    Adapun beberapa dalil Al-Qur’an dan hadits  yang membahas mengenai ihsan adalah sebagai berikut:

    وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

    Artinya: “Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsin).” (QS. Yusuf ayat 22)

    وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    Artinya: “Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (muhsin).” (QS. Al Baqarah ayat 195)

    وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ

    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.”  (QS. Al Baqarah ayat 83)

    أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

    Artinya: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR Tirmidzi, Riyadlu Al-Shalihin: 278).

    Dari Sahabat Abu Ya’la Syaddad bin Aus, dari Rasullah Saw. Beliau bersabda:

    عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ . [رواه مسلم]

    Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu . Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya. (HR. Riwayat Muslim)

    Tiga tingkatan dalam syariat Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan seperti sabda Rasulullah SAW: “Hendaklah engkah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (H.R. Muslim No. 8)

    Ciri-ciri Ihsan

    Meski telah memahami dengan ber pandangan Islam mengenai apa itu ihsan. Kita juga perlu tahu apa ciri-ciri dari ihsan itu sendiri, yakni:

    1. Bertakwa Kepada Allah

    Apabila seorang muslim menerapkan ihsan dalam hidupnya, tentu mereka akan terdorong untuk memiliki kesadaran yang mendalam akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek hidup mereka.

    Hal ini turut melibatkan ketawakalan mereka dalam patuh, mengabdi, serta menjauhi segala larangan dan hal yang Allah SWT tidak sukai.

    2. Meningkatnya Kualitas Ibadah

    Seorang Muslim yang menerapkan ihsan dalam hidupnya tentu akan melakukan ibadah terbaik dan dengan kesadaran penuh bahwa hal tersbeut merupakan sebuah kewajiban.

    Seorang Muslim juga akan menghayati serta memahami mengenai arti dan tujuan ibadah hanya semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Selain itu, mereka turut melibatkan rasa dalam setiap ibadah mereka dengan kelembutan, ketulusan dan kekhusyuan.

    3. Beradab

    Ihsan turut mendorong seorang muslim untuk berperilaku dan beradab yang baik serta menjalankan segala tindakan yang benar.

    Ini termasuk adil dalam hubungan dengan orang lain, jujur, murah hati, dan berlaku baik kepada sesama manusia dan makhluk lainnya.

    4. Menyadari Hidup Hanya Sementara

    Ihsan juga memberikan kesadaran dan pengajaran bahwa pentingnya persiapan untuk kehidupan di akhirat kelak.

    Seorang Muslim yang memiliki ihsan dalam hidupnya akan menjalani kehidupan di dunia dengan tujuan akhirnya adalah akhirat, serta aka menyadari bahwa hidup di dunia hanya sebuah perlombaan dalam mencari ridho-Nya saja.

    5. Memiliki Rasa Empati terhadap Sesama

    Ciri-ciri orang yang memiliki ihsan dalam hidupnya ia akan memiliki rasa sayang, empati dan perhatian ke sesama manusia.

    Seorang Muslim yang memiliki ihsan akan terus berusaha untuk memahami, membantu, dan melayani orang lain dengan penuh kebaikan dan kelembutan.

    6. Tekun Beribadah

    Seorang Muslim yang memiliki ihsan, tentu ia memiliki konsistensi dalam beribadah dan berperilaku baik. Mereka akan berpegang pada nilai dan prinsip-prinsip agama dalam segala situasi yang dihadapi serta memiliki ketekunan dalam menjalankan amalan ibadah sehari-hari.

    7. Rendah hati

    Umat Muslim yan memiliki ihsan memiliki sifat yang rendah hati serta menghindari sifat kesombongan dan riya’.

    Seorang Muslim yang memiliki ihsan menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari Allah dan mereka berusaha untuk tetap rendah hati dalam semua tindakan dan prestasi.

    8. Memiliki Karakter

    Seorang Muslim yang memiliki ihsan, tentu memiliki karakter yang baik, sebab mereka berusaha untuk mengembangkan sifat-sifat yang terpuji seperti kesabaran, kejujuran, keberanian, kemurahan hati, dan keadilan.

    Macam-Macam Ihsan

    Macam-Macam Ihsan

    Dengan memahami apa itu ihsan, kita dapat menjelaskan bahwasannya Ihsan merupakan perbuatan yang terbagi menjadi dua macam, yakni meliputi ihsan kepada Allah dan ihsan kepadan makhluk ciptaan Allah. Lebih jelasnya, berikut uraian macam-macam ihsan:

    1. Ihsan kepada Allah

    Ihsan dalam beribadah kepada Allah SWT memiliki dua tingkatan, yakni beribadah seakan-akan melihat-Nya dan beribadah seakan Dia melihatmu beribadah.

    Maksud dari beribadah seakan-akan melihat-Nya adalah beribadah dengan maksud mengharapkan rahmat serta ampunan-Nya. Nama lain dari perbuatan ini adalah Maqam al-Musyahadah.

    Hal ini merupakan tingkatan ihsan yang paling tinggi, sebab dia didasari pada sikap membutuhkan, harapan dan kerinduan.

    Sedangkan maksud dari beribadah seakan Dia melihatmu adalah ibadah dari seorang Muslim yang hanya serta merta sebab takut akan api neraka.

    Dalam hal ini, ihsan tingkat ini adalah ihsan dengan tingkatan paling rendah, sebab sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi maupun takut dihukum.

    2. Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah

    Perbuatan ihsan yang bisa dilakukan seorang Muslim kepada makhluk ciptaan Allah yakni dengan empat hal, yakni dalam hal harta, kedudukan, ilmu dan badan.

    Ihsan dalam harta bisa dilakukan dengan berinfaq, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Ihsan dalam kedudukan yakni dengan membantu orang lain dengan kedudukan yang ia punyai.

    Sedangkan ihsan dalam bidang ilmu yakni menerapkan ilmu yang diketahuinya untuk kebaikan orang banyak disekelilingnya. Sementara ihsan dalam badan yakni menolong seseorang dengan tenaga yang ia punya.

    Contoh Ihsan Dalam Kehidupan Sehari-hari

    Untuk contoh lebih jelas mengenai apa itu ihsan. Berikut beberapa contoh Ihsan yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari:

    1. Sholat dengan Khusyu

    Seorang muslim yang memiliki sifat terpuji atau ihsan tentu akan menjaga sholatnya dengan khusyu, kosentrasi dan khidmat, serta memahami makna dan tujuan dalam setiap gerakan sholat yang dilakukan.

    2. Bersedekah dengan Ikhlas

    Memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan dengan ikhlas dan tulus tanpa mengharapkan pamrih atau imbalan.

    3. Memuliakan Orangtua

    Contoh ihsan lainnya yakni menghormati dan memperlakukan orang tua dengan kasih sayang, perhatian dan pengabdian.

    Selain itu juga merawat mereka secara fisik dan emosional, serta membantu mereka dalam kebutuhan sehari-hari.

    4. Berperilaku Jujur

    Contoh berikutnya yakni menjaga kejujuran dalam setiap perkataan dan tindakan, baik dalam urusan bisnis, hubungan sosial, maupun dalam berkomunikasi sehari-hari.

    Tidak berbohong, memanipulasi, atau menipu orang lain demi keuntungan untuk dirinya sendiri.

    5. Melayani Masyarakat

    Membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial, seperti memberikan sumbangan, terlibat dalam program amal, atau menyumbangkan waktu dan keterampilan untuk kepentingan umum.

    6. Menjaga Lingkungan

    Memelihara atau menjaga lingkungan juga termasuk ke dalam contoh ihsan yang disukai Allah SWT.

    Hal ini bisa dimulai dengan tidak membuang sampah sembarangan, membersihan kotak sampah, mengurangi limbah dan berperilaku ramah lingkungan untuk menjaga alam dan menjaga sumber daya alam bagi generasi mendatang.

    7. Menghormati Perbedaan

    Setiap manusia diciptakan Allah berbeda-beda, oleh sebab itu penting bagi seorang muslim menerapkan ihsan dengan menerima serta menghormati perbedaan dalam agama, suku, ras, dan budaya.

    8. Saling Membantu dengan Sesama

    Contoh lainnya dari ihsan yakni menyediakan bantuan, dukungan, dan pengertian kepada orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan, seperti mereka yang sakit, terlantar, atau dalam kesusahan finansial.

    9. Memaafkan dan Berbuat Baik Kepada Musuh

    Mamaafkan orang yang telah berbuat buruk kepada kita juga merupakan contoh dari ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika kita berbuat baik kepada mereka dengan harapan perubahan sikap dan terjalinnya tali silaturahim.

    10. Menjaga Amanah

    Menjaga dan memelihara amanah dalam setiap tugas atau tanggung jawab yang diberikan kepada kita juga merupakan contoh dari sifat ihsan, baik itu dalam pekerjaan, kepemimpinan, atau kepercayaan yang diberikan oleh orang lain.

    Hikmah dan Manfaat Ihsan

    Setelah memahami dengan benar apa itu ihsan, ciri serta contohnya, penting juga bagi seorang muslim untuk mengetahui hikmah dan manfaat dari perilaku ihsan itu sendiri.

    Sebab hal ini akan menjadi pendorong seseorang dalam mencapai tingkatan ketiga dalam syariat Islam, yakni ihsan.

    Ihsan menjadi dasar ibadah seorang muslim, yang semestinya sudah tertanam di dalam diri manusia, yakni kesadaran dalam membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik.

    Adapun beberapa hikmah dan manfaat tersebut adalah:

    1. Mendapatkan ridho Allah Ta’ala.
    2. Mendapatkan balasan (pahala) dari Allah Ta’ala.
    3. Disayangi oleh kedua orang tua.
    4. Mendapatkan hormat dari orang lain.
    5. Dihormati atau dihargai orang-orang sekitar.

    Dan tentu masih banyak lagi hikmah dan mafaat lainna selain lima hal di atas. Semoga dengan mengetahui apa itu ihsan, ciri, manfaat, macam serta hikmahnya, kita semua semakin termotivasi dalam melakukan berbagai macam ihsan atau kebaikan.

  • 10 Adab ketika Masuk Pasar agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Bahaya

    10 Adab ketika Masuk Pasar agar Dapat Keberkahan dan Terhindar dari Bahaya

    Ada beberapa adab ketika masuk pasar yang dianjurkan oleh Islam yang bertujuan untuk menjauhkan kita dari maksiat dan hal yang berbahaya. Selain itu, kita juga bisa mendapat keberkahan. Apa saja adab tersebut?

    Kita semua mengetahui bahwa pasar merupakan tempat jual beli atau tempat mempertemukan penjual dan pembeli. Mereka di pasar berkumpul untuk melakukan muamalah atau transaksi jual beli barang.

    Namun, dibalik ramainya pasar ada hal-hal yang mendatangkan dosa seperti maksiat, penipuan, kecurangan, dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu adab saat masuk pasar agar terhindar dari perbuatan dosa.

    Tempat yang Dibenci Allah SWT

    Pasar dengan segala keriuhannya pernah disebut jadi tempat yang paling buruk, meski di dalamnya terdapat aktivitas jual beli. Akan tetapi, pasar bukan tempat yang haram atau harus kita hindari mengunjunginya.

    Pernyataan ini bermakna bahwa pasar sebagai tempat aktivitas yang potensial membuat seorang lalai, berbuat curang, dan mubazir. Rasulullah SAW bersabda mengingatkan kepada kita bahwa:

    “Tempat paling dicintai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (HR. Muslim).

    Adab ketika Masuk Pasar

    Berikut adab ketika masuk pasar agar terhindar dari kegiatan yang berbahaya dan perbuatan maksiat serta agar membawa keberkahan, di antaranya:

    1. Berdzikir ketika Masuk Pasar

    Ketika hendak masuk pasar agar terhindar dari godaan dan tipu daya setan, maka perbanyak berdzikir. Pasar sendiri merupakan tempat yang bisa melalaikan umat muslim dan ikut ke dalam kedustaan di dalamnya.

    Oleh karena itu, dzikir saat masuk pasar adalah salah satu yang bisa menjauhkan diri dari kelalaian dan dosa, serta hati terjaga dari hal bersifat duniawi. 

    Dengan selalu mengingat Allah melalui dzikir saat masuk pasar, maka senantiasa akan terlindungi dari perbuatan curang, dusta, dan selalu merasa ada Allah yang mengawasi setiap apa yang kita lakukan di pasar.

    Baca juga: 4 Contoh Ceramah Singkat tentang Sholat dalam Islam

    2. Tidak ke Pasar Kecuali Ada Kebutuhan 

    Sebagai seorang muslim tentunya sudah mengetahui jika pasar adalah salah satu tempat berbagai dosa. Oleh karena itu, ada baiknya tidak memasuki pasar kecuali ada kebutuhan agar bisa terhindar dari bahaya.

    “Merupakan kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).

    Namun, masuk pasar ketika ada kebutuhan tidak makruh. Allah mensifati Rasulullah SAW dalam ayat Al-Quran surat Al-Furqan yang artinya berbunyi:

    “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. Al-Furqan: 20).

    3. Jangan Berlama-lama di Pasar

    Jika ingin membeli sesuatu di pasar, sebaiknya pembeli tidak berlama-lama berada di dalamnya. Hal ini karena ada berbagai macam maksiat dan perbuatan yang berbahaya sehingga amal kebaikannya sedikit.

    Di pasar atau mall banyak wanita dan laki-laki yang pamer berbagai jenis perhiasan dan pakaian mewah. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika kamu mampu, jangan menjadi orang yang pertama masuk pasar, dan jangan pula menjadi yang terakhir keluar dari pasar. Sebab pasar adalah tempat perangnya syaitan, di sanalah ia menancapkan benderanya.” (HR. Muslim).

    Ini salah satu adab ketika masuk pasar yang perlu kita pahami bahwa di tempat ini segala bentuk godaan setan ada. Agar kita tidak terjerumus perbuatan maksiat, maka tidak berlama-lama saat di pasar.

    4. Senantiasa Menjaga Pandangan

    Ketika berada di pasar atau mall, maka sudah seharusnya kita menjaga pandangan. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang bisa membuat kita melakukan perbuatan buruk. Sebagaimana firman Allah SWT:

    “Katakan kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Mengatakan kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan mereka bertanya…” (QS. An-Nur: 30-31).

    5. Wanita Hendaknya Memakai Syar’i

    Bagi wanita yang pergi ke pasar harus memakai pakaian syar’i untuk melindungi diri dari hal-hal yang berbahaya baginya. Sebagaimana firman Allah SWT:

    “…dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) terlihat darinya. Dan hendaknya mereka menutup kain kudung ke dadanya…” (QS. An-Nur 31).

    Perlu kita ketahui, pasar bukan tempat yang aman terutama bagi wanita karena bercampur baur dengan kaum laki-laki. Selain itu, hendaknya jangan membiarkan wanita bicara dengan penjual, lakukan dengan mahramnya.

    6. Berlaku Jujur dan Amanah

    Ketika berada di pasar untuk melakukan kegiatan jual beli, maka berlakukan jujur dan amanah. Penjual tidak mencurangi barang dagangannya, dan pembeli menawar barang dengan harga yang sewajarnya.

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

    “Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam berkata, menyelisihi janji ketika membuat janji, dan khianat terhadap amanah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda:

    “Sesungguhnya pedagang akan dibangkitkan di hari kiamat sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    Oleh karena itu, ketika melakukan aktivitas jual beli di pasar agar tidak termasuk golongan orang jahat, hendaklah melakukan jual beli dengan jujur dan amanah.

    Baca juga: Hukum Jual Beli Organ Tubuh Manusia (Hukum Jual Beli Ginjal)

    7. Belanja Sesuai Kebutuhan dan Kemampuan

    Agar terhindar dari pemborosan dan membeli barang tidak ada manfaatnya, ada baiknya belanja dengan bijak. Belanja sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan adalah salah satu dari adab ketika masuk pasar.

    Sebagaimana firman Allah SWT bahwa saat melakukan sesuatu hendaknya tidak berlebihan, tetapi jangan juga kekurangan. Hal ini terkandung dalam Al-Quran surat Al-Furqan:

    “Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) orang-orang yang jika berinfak (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS. Al-Furqan: 67).

    Kaitannya dengan belanja di pasar adalah jangan boros dan beli barang sesuatu kebutuhan. Buatlah rencana belanja sebelum masuk pasar, kemudian belanja dengan bijak dan hindari hutang saat di pasar.

    8. Hindari Perdebatan dan Pertengkaran

    Ketika melakukan tawar menawar harga di pasar, hindarilah hal yang bisa memicu adanya pertengkaran dan perdebatan. Kita bisa bernegosiasi harga dengan cara yang baik dengan penjual barang di pasar.

    Buat penawaran harga barang yang sewajarnya hingga terjalin kesepakatan antara kedua belah pihak. HIndari hal yang bisa menyebabkan kegaduhan dan keburukan. Dalam hadits tentang sifat Rasulullah SAW:

    “Bahwasanya beliau bukanlah seorang yang keras kepala dan keras hati. Dan bukan pula yang suka teriak-teriak di pasar dan juba bukan yang membalas keburukan dengan keburukan. Akan tetapi, ia memaafkan dan mengampuni.” (HR. Al-Bukhari).

    9. Bersikap Ramah ketika di Pasar

    Bersikap ramah dan memberikan kemudahan dalam proses jual beli adalah bagian dari adab ketika masuk pasar yang harus diterapkan. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Allah akan belas kasih kepada seorang hamba yang rama saat menjual, rumah saat membeli, dan ramah saat memberikan keputusan.” (HR. Al-Bukhari).

    Rasulullah SAW adalah seseorang yang dikenal sebagai pedagang yang sukses karena sikapnya yang ramah terhadap pembeli. Sikap ramah dan santun Rasulullah SAW membuat pembeli pun senang.

    10. Memenuhi Akad Jual Beli

    Ketika berbelanja di pasar, maka penuhi akad jual beli sehingga ada kesepakatan kedua belah pihak antara penjual dan pembeli yang terjalin. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 1 yang artinya:

    “Wahai orang-orang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Maidah: 1).

    Oleh karena itu, penjual dan pembeli harus memenuhi akad. Penjual tidak boleh curang seperti mengurangi timbnagan, dan pembeli jugaa tidak boleh dzalim dengan menawar harga yang terlalu rendah.

    Demikian penjelasan tentang adab ketika masuk pasar agar diberikan keberkahan dan terhindar dari bahaya. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah di mana pun berada termasuk di pasar.

  • Kumpulan Contoh Ceramah Singkat tentang Jujur Beserta Dalilnya

    Kumpulan Contoh Ceramah Singkat tentang Jujur Beserta Dalilnya

    Salah satu topik pembahasan yang sering kita dengar dalam sebuah ceramah adalah topik tentang kejujuran. Ceramah singkat tentang jujur senantiasa menjadi pengingat kepada kita akan pentingnya berkata kebenaran sekalipun itu pahit.

    Jujur atau As-shidiq juga menjadi salah satu cerminan sifat nabi yang patut kita contoh. Semua yang beliau ucapkan sudah pasti adalah jujur sehingga mustahil bagi Rasulullah SAW untuk mengucapkan hal-hal yang tidak benar.

    Membahas tema kejujuran dalam sebuah ceramah singkat bisa dibangun dalam beberapa sub pembahasan. Berikut ini akan kami sampaikan beberapa contoh ceramah singkat tentang jujur beserta dalilnya.

    Contoh Ceramah Singkat tentang Jujur dan Dalilnya

    Tema kejujuran akan menjadi salah satu topik yang menarik saat kita bawakan dalam sebuah ceramah singkat. Adapun contoh teks ceramah yang membahas tentang kejujuran adalah sebagai berikut:

    1. Pentingnya Jujur dalam Perkataan dan Perbuatan

    Kejujuran tidak hanya bisa kita implementasikan dalam perkataan saja, tetapi juga dalam bertingkah laku. Pembahasan ini bisa disampaikan dalam sebuah ceramah singkat dengan isi teks di bawah ini:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadirin jamaah masjid Al-Istiqomah yang dirahmati Allah SWT

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan seizin-Nyalah kita semua dapat berkumpul di tempat mulia ini tanpa kurang suatu apa pun. 

    Sholawat serta salam juga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW beserta para sahabatnya-sahabatnya.

    Pada kesempatan kali ini, izinkanlah saya menyampaikan salah satu sifat yang sangat penting dalam ajaran Islam, yaitu kejujuran.

    Jujur merupakan nilai utama yang dibawa oleh ajaran Islam kepada kita. Rasulullah SAW sendiri adalah satu contoh kejujuran baik dalam perkataan, maupun perbuatan.

    Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. Al Ahzab ayat 70-71:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا .. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمً

    Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullooha waquuluu qoulang syadiidaa. Yushlih lakum a’maalakum wayaghfir lakum dzunuubakum wa may yuthi’il laaha wa rosuulahuu faqod faaza fauzan ‘adhiimaa.

    Artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”

    Hadirin kaum muslimin yang dirahmati Allah.

    Dari ayat ini, dapat kita pahami bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa bertakwa dan berkata benar. Allah juga menjanjikan dua hal atas ketakwaan dan kejujuran tersebut, yaitu menerima setiap amalan dan mengampuni dosa-dosa kita.

    Sungguh, dengan menaati perintah takwa dan juga berkata benar akan membawa kita pada kemenangan besar.

    Hadirin jamaah sekalian,

    Kejujuran dalam Islam mencakup dua aspek utama, yaitu kejujuran dalam tindakan dan kejujuran dalam perkataan. Dalam tindakan, kita diwajibkan untuk berlaku adil serta menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Islam. 

    Dalam perkataan, kita harus berbicara jujur, menghindari bohong, serta tidak menyebarluaskan gosip dan omong kosong yang merugikan orang lain.

    Kejujuran dapat membantu kita mendekatkan diri pada Allah SWT, dan dengan menjalani hidup yang jujur, kita membuktikan kesetiaan kita terhadap-Nya.

    Dalam Islam, ketika kita berjanji, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, kita harus memenuhi janji tersebut. 

    Oleh karena itu para hadirin,

    Jika kita tidak mampu melakukannya, maka kita diharapkan untuk memberi tahu dengan sebenar-benarnya dan berusaha memperbaiki kesalahan tersebut. Kesetiaan terhadap janji adalah wujud dari kejujuran yang mendalam.

    Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan kejujuran dan kesetiaan terhadap nilai-nilai-Nya. Aamiin.

    Demikian ceramah singkat tentang jujur ini saya akhiri. Terima kasih atas perhatian Anda.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Baca juga: Jawaban Barakallah Fii Umrik untuk Laki-laki dan Perempuan

    2. Menjaga Kejujuran di Bulan Suci Ramadhan

    Saat bulang Ramadhan tiba, manusia diharapkan mampu meningkatkan level ketaatannya kepada Allah SWT, salah satunya dengan selalu menjaga kejujuran. Berikut ini adalah contoh ceramah singkat tentang jujur di bulan Ramadhan:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadirin kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini. 

    Ramadhan adalah bulan spesial bagi umat Islam. Bulan yang penuh kesempatan untuk meningkatkan iman dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Salah satunya adalah meningkatkan satu nilai yang sangat mulia, yaitu kejujuran.

    Puasa Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri dari lapar ataupun dahaga, tetapi juga tentang mengendalikan diri dari perbuatan dosa, termasuk berbohong dan menyebarkan kebohongan. 

    Hal ini seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

    Man lam yada’ qowlaz zuuri wal ‘amala bihi falaisa lillahi haajatu fii ayyada’a tho’amahu wa syaroobah.

    Artinya:

    “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya.” (H.R. Bukhari No. 1903).

    Dalam konteks ini, menjaga kejujuran dalam perkataan kita selama Ramadhan adalah bagian penting dari ibadah puasa. 

    Kita harus berbicara dengan kejujuran dan menghindari berbohong atau menyebarkan fitnah sehingga dapat merusak hubungan antar sesama. Bahkan, Allah juga tidak menganggap puasa kita sekalipun telah menahan lapar dan juga dahaga.

    Para hadirin yang dimuliakan Allah SWT,

    Selain menjaga kejujuran dalam perkataan, kita juga perlu menjaga kejujuran dalam niat dan tujuan kita selama Ramadhan. 

    Niat kita harus murni dan tulus, yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan meningkatkan kualitas ibadah kita. Hindari niat-niat yang tidak jujur, seperti puasa hanya untuk pamer atau mencari pujian dari orang lain.

    Ramadan juga merupakan waktu yang tepat untuk memberikan zakat dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. 

    Dalam hal ini, kita harus menjaga kejujuran dalam hal-hal seperti menghitung nilai zakat dengan benar dan memberikan sedekah kepada mereka yang berhak. 

    Kejujuran dalam zakat dan sedekah adalah bagian dari menjalani Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan kejujuran.

    Selama Ramadan, kita juga harus menjaga kejujuran dalam hubungan sosial kita. Ini mencakup menjalani hidup dengan adil, menghindari penipuan dalam berbisnis, dan memperlakukan orang lain dengan baik. 

    Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda:

    “Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang berpuasa janganlah berkata keji dan mengumpat, jika seseorang mencela atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: Aku sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih).

    Kejujuran adalah nilai yang sangat dihargai dalam Islam, dan itu harus tetap terjaga selama bulan Ramadhan. 

    Bulan penuh ampunan ini merupakan waktu terbaik untuk menata dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita selalu menjaga kejujuran dalam perkataan, niat, zakat, sedekah, serta hubungan sosial kita selama bulan suci.

    Dengan menjalani Ramadhan secara jujur, kita akan mendapatkan berkah yang melimpah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

    Semoga Allah menerima ibadah kita dan memberikan kita kekuatan untuk menjaga kejujuran sepanjang waktu. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

    Demikianlah ceramah singkat tentang jujur ini saya akhiri.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Baca juga: 10 Macam Puasa Sunnah Beserta Niat dan Waktu Pelaksanaannya

    3. Ceramah Singkat tentang Jujur dalam Islam

    Ceramah tentang kejujuran selanjutnya bisa membahasnya secara umum dan ringan sehingga mudah diterima oleh jamaah. Langsung saja, inilah contoh teks ceramah dengan tema kejujuran dalam Islam:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadirin jamaah masjid Al-Istiqomah yang dirahmati Allah SWT

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan limpahan rahmat dan hidayahnya telah memberi nikmat kepada kita berupa Iman dan juga Islam.

    Pada kesempatan yang mulia ini, saya ingin menyampaikan satu kebaikan yang hendaknya menjadi landasan di setiap perbuatan kita, yaitu jujur. Jujur adalah mengakui dan menampilkan segala sesuatu sesuai dengan fakta.

    Sementara bohong adalah menutupi segala kebenaran atau memberikan informasi yang tidak sesuai dari yang sebagaimana mestinya. Agama Islam senantiasa menganjurkan kita untuk berkata jujur dan menyampaikan yang benar.

    Di dalam Surat At-Taubah ayat 119 Allah berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

    Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullooha wa kuunuu ma’ash shoodiqiin.

    Artinya:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”

    Dari ayat di atas, Allah menganjurkan kita untuk bertakwa dan senantiasa bersama orang-orang yang benar. Dengan begitu, kita akan berada pada golongan orang-orang saleh yang selalu berkata jujur.

    Bersikap jujur tidak saja hanya kepada teman-teman kita, saudara-saudara, atau rekan-rekan bisnis kita. Lebih dari itu, jujur juga perlu dilakukan pada diri kita pribadi, sehingga segala perbuatan kita selalu berada di jalan kebenaran.

    Para hadirin rahimakumullah,

    Banyak dari kita memilih untuk mengorbankan kejujuran ketika dihadapkan pada satu kondisi yang tidak menguntungkan. Kita sering terjebak pada rasa takut, rasa tertekan, dan rasa malu sehingga menjadikan kebohongan sebagai tamengnya.

    Dalam hadist riwayat Tirmidzi disebutkan:

    “Tidak ada akhlak yang paling dibenci Allah melebihi sifat dusta.” (H.R. Tirmidzi)

    Bohong adalah salah satu perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Pertimangan inilah yang sebaiknya kita landaskan tiap kali ingin melakukan kebohongan. 

    Semoga kita selalu dijauhkan dari sifat-sifat yang dibenci oleh Allah SWT dan selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran, baik dari perkataan maupun perbuatan. Aamiin, aamiin ya robbal alamin.

    Demikian ceramah mengenai jujur ini saya akhiri. Lebih dan kurangnya saya mohon maaf, kepada Allah saya meminta ampun. Saya akhiri dengan…

    Wabillahi Taufiq Wal Hidayah

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    4. Pentingnya Menanamkan Kejujuran sejak Dini

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadirin jamaah masjid Al-Istiqomah yang dimuliakan Allah SWT

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat kemurahan hati-Nya kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apa pun.

    Sebagaimana kita tahu, Islam selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada kita manusia dalam menjalankan kehidupan, baik secara individu maupun sosial. Salah satu nilai yang sebaiknya kita tanamkan sejak dini adalah nilai-nilai kejujuran.

    Hal ini juga disampaikan dalam sebuah hadist Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

    ‘alaykum bissidqi fa’iinnassidqa yahdiy ‘iilalbiri wa’iinalbira yahdiy ‘iilaljannati wamaa yazalurrajulu yasduqu wayatakharrassidqa khattaa yuktaba indallahi sidiyqan

    Artinya:

    “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur.” (H.R. Muslim).

    Hadis ini menegaskan bahwasanya kejujuran akan membawa kita menuju kebaikan, dan dari kebaikan itulah yang nantinya akan membawa kita menuju surga yang kekal. 

    Sebagai muslim, alangkah baiknya jika nilai kejujuran tersebut bisa kita tanamkan pada anak-anak kita. 

    Ibaratkan tanaman yang tumbuh subur jika dirawat, nilai-nilai kejujuran pun akan tumbuh semakin kuat dalam diri seseorang jika kita menanamkannya sedari dini. Jika kejujuran sudah mengakar kuat, tentu tidak akan mudah goyah oleh hal apa pun.

    Sebaliknya, kebohongan justru membawa kita pada keburukan yang nantinya dapat membawa kita ke dalam api neraka.

    Hal ini juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadist Muslim:

    وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

    وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابً

    wa’iiyyakum walkadhiba fa’iinnalkadhiba yahdiy ‘iilaalfujuwri wa’iinnalfujuwra yahdiy ‘iilaannaari wamaa yazalurrajulu yakdhibu wayatakharralkadhiba khattaa yuktaba indallahi kadhaaban

    Artinya:

    “Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong” (H.R. Muslim).

    Hadis ini semakin menjelaskan kepada kita bahwa kebohongan adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Karenanya, kita sebaiknya meninggalkan perbuatan ini karena ancamannya adalah api neraka.

    Demikianlah ceramah singkat tentang jujur yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya harap dimaafkan.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    5. Jujur adalah Pintu Semua Kebaikan

    Terakhir, ceramah juga bisa membahas tentang jujur yang senantiasa membawa kebaikan. Adapun contoh teksnya adalah sebagai berikut:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadirin jamaah masjid Al-Istiqomah yang dimuliakan Allah SWT

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas kemurahan hati-Nya kita dapat berkumpul di masjid ini dalam keadaan sehat walafiat

    Pada kesempatan baik ini, saya ingin menyampaikan salah satu sifat mulia yang dimiliki nabi dan sepatutnya bisa menjadi contoh untuk kita kaum muslimin, yaitu tentang sifat As-shiddiq atau jujur.

    Sifat jujur merupakan pondasi dari iman dan akan membuka pintu-pintu kebaikan, sedangkan bohong adalah benih dari kemunafikan.

    Bertemunya sifat jujur dan bohong akan menghilangkan sifat salah satunya. Hal ini seperti disampaikan dalam Surat Al-Ahzab ayat 24 yang berbunyi:

    لِّيَجْزِىَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

    Liyajziyallāhuṣ-ṣādiqīna biṣidqihim wa yu’ażżibal-munāfiqīna in syā`a au yatụba ‘alaihim, innallāha kāna gafụrar raḥīmā.

    Artinya:

    “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwasanya Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang membawa kebenaran, dan akan memberikan azab pedih pada orang-orang munafik yang Ia kehendaki.

    Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa menjunjung tinggi nilai kejujuran karena sifat jujur adalah pintu pembuka dari segala kebaikan. 

    Semoga kita dihindarkan dari sifat-sifat yang menodai nilai-nilai kebenaran dan selalu dalam kebaikan. Aamiin

    Demikianlah ceramah singkat saya pada kesempatan kali ini. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam hal penyampaian.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Itulah beberapa contoh ceramah yang membahas tentang nilai-nilai kejujuran beserta dalil-dalil yang mendasarinya. 

    Contoh-contoh ceramah di atas bisa kita gunakan saat mengisi kultum dalam sebuah majelis. Semoga contoh teks ceramah singkat tentang jujur di atas bermanfaat dan membawa kebaikan untuk kita.

  • Contoh Teks Ceramah Singkat Tentang Isra Mi’raj Rasulullah SAW

    Contoh Teks Ceramah Singkat Tentang Isra Mi’raj Rasulullah SAW

    Isra Miraj merupakan sebuah peristiwa perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada akhir periode kenabiannya. Untuk mengetahui bagaimana peristiwanya, kita bisa menyimak contoh ceramah singkat tentang Isra Miraj.

    Peristiwa ini terjadi pada tahun 620 M hingga 621 M, tepatnya pada malam 27 Rajab tahun kedelapan kenabian.

    Peristiwa yang berkaitan dengan perjalanan ini mempunyai makna yang sangat penting bagi umat Islam.

    Sekilas tentang Isra Miraj

    Sebelum beranjak terlalu jauh tentang contoh ceramah singkat tentang Isra Miraj, ada baiknya tau secara baik apa itu Isra Miraj.

    Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Barulah beliau kemudian dinaikkan ke langit ketujuh dalam waktu semalam saja.

    Ada banyak ayat Al-Quran yang membahas terkait peristiwa hebat ini, diantaranya terekam dalam Surat Al-Isra dan An-Najm. Berikut arti dari surat tersebut:

    “Maha Suci allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekeliling agar kami perlihatkan kepada nya sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami. Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Isra 17: 1).

    Dan juga dalam Surat An-Naml yang ada pada ayat ke 12 hingga 18 yang dapat kita jadikan sebagai bahan teks ringkasan ceramah Isra Miraj. Adapun artinya sebagai berikut:

    “Maka apakah kaum musyrik Mekah hendak membatahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu dalam rupa yang asli pada waktu yang lain yaitu Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya Muhammad tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang besar.”

    Banyak sekalian tujuan Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra Miraj diantaranya seperti untuk diperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasan Allah SWT secara langsung.

    Selain itu, juga menerima wahyu dari Allah SWT berupa perintah shalat dalam sehari. Hal ini tercantum dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    “… Tatkala perintah Allah memenuhi Sidratul Muntaha, maka Sidratul Muntaha berubah dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan wahyu dan mewajibkan kepadaku shalat 50 kali dalam sehari semalam… “ (HR. Muslim No. 162).

    Contoh Ceramah Singkat tentang Isra Miraj

    Ceramah singkat tentang Isra Miraj ini akan berupa ringkasan cerita yang terdiri dari kapan peristiwa terjadi, tujuan, hikmah dibalik peristiwa dan lain sebagainya. 

    Oleh sebab itu, akan ada beberapa contoh yang bisa dijadikan sebagai referensi ceramah.

    1. Ceramah tentang Isra Miraj Penuh Makna

    Contoh teks ceramah singkat tentang Isra Miraj pertama ini akan mengulas tentang hikmah atau makna dalam peristiwa tersebut. Sebab hikmah dan makna dari peristiwa ini memiliki peran penting dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadirin rahimakumullah,

    Pertama-tama, mari kita panjatkan puji dan puja syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga, kita bisa hadir dalam keadaan walafiat.

    Sholawat serta salam tercurahkan kepada junjungan besar Nabi Agung Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang yaitu Ad-dinul Islam.

    Hadirin rahimakumullah,

    27 Rajab 1444 H merupakan hari yang istimewa bagi umat Islam di dunia. Hari ini kita memperingati peristiwa Isra Miraj yang merupakan peristiwa perjalanan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam waktu satu malam saja.

    Peristiwa ini memulai perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Dan Isra Miraj juga merupakan suatu keajaiban yang dikaruniakan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

    Dimana ada pertemuan antara Rasulullah SAW dengan Allah SWT pada puncak peristiwa yang merupakan waktu penting bagi umat Islam. Wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk perintah sholat lima waktu.

    Dalam Al-Quran pula dijelaskan bahwa shalat mencegah terjadinya perbuatan keji dan mungkar. Oleh karena itu, peristiwa Isra Miraj mengandung banyak hikmah pelajaran untuk umat Islam di dunia.

    Selain itu, Allah SWT juga menempatkan sholat pada kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ibadah tinggi lainnya. Allah SWT yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah kita semua lakukan.

    Oleh demikian, dalam perjalanan Isra Miraj Rasulullah SAW dapat memberikan kita semua semangat dalam meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Sekaligus juga sebagai motivasi spiritual yang diberikan untuk membangun Islam dalam dirinya.

    Sehingga, tidak ada alasan lagi untuk kita tidak meningkatkan keyakinan dan kepercayaan kepada Allah SWT. Semoga dengan adanya peringatan Isra Miraj membantu kita semua untuk selalu rajin menunaikan ibadah sholat.

    Demikian ceramah singkat tentang Isra Miraj yang bisa saya sampaikan. Semoga dapat memberikan manfaat pada kita semua. Semoga kita selalu bersemangat dalam menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya.

    Mohon maaf bila ada kesalahan tutur kata yang tidak disengaja dan disengaja. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Baca juga: 110 Quotes Islami Bermakna dan Mendalam dalam Hidup

    2. Ceramah Singkat tentang Isra Miraj Kedua

    Selain contoh ceramah Isra Miraj yang singkat membahas pada hikmah sholat. Kini ada hikmah lainnya dari peristiwa Isra Miraj yang dirangkum dalam contoh ceramah di bawah ini.

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Marilah kita panjatkan puji dan puja syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua. Sehingga, kita bisa bertemu di tempat yang baik dalam rangka memperingati Isra Miraj.

    Dan tak lupa sholawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang Islamiyyah yaitu Islam.

    Hadirin yang dimuliakan Allah SWT, bulan Rajab merupakan bulan yang snagat bersejarh dalam kehidupan manusia khususnya umat Islam di dunia. Sebab pada tanggal 27 Rajab terjadi peristiwa perjalanan rohani Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW telah menempuh perjalanan panjang dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Sebab Rasulullah SAW baru saja kehilangan kakek, paman dan istrinya tercinta.

    Walaupun begitu, keadaan Rasulullah SAW yang sedang sedih tetap senang hati dalam menjalankan perintah Allah SWT. Dari peristiwa inilah kita bisa mengambil hikmah tentang rasanya sabar atas segala cobaan yang telah Allah SWT beri.

    Kesabaran Nabi Muhammad SAW inilah yang seharusnya patut untuk kita ambil pelajaran dalam menjalani kehidupan. Sebab sebagai makhluk pasti akan menerima cobaan, dan hendaknya kita berprasangka baik kepada Allah SWT.

    Karena dibalik cobaan yang kita terima, pastinya akan ada hikmah indah setelahnya. Dan ketika kita sedang mendapat cobaan hendaknya pula selalu meminta perlindungan dan pertolongan hanya kepada Allah SWT.

    Sebab hanya Allah SWT lah satu-satunya penolong bagi umat-Nya. Tidak ada lagi selain-Nya, dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT selama kita mau berdoa, mencoba dan berusaha.

    Selain hikmah kesabaran yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra Miraj, ada pula hikmah tentang Allah SWT telah menunjukkan tanda-tanda keagungan-Nya dan kebesaran-Nya kepada Rasulullah untuk mengobati rasa sedihnya.

    Mulai dari Rasulullah mengunjungi tempat-tempat bersejarah, melihat wujud asli malaikat Jibril, bertemu nabi-nabi sebelumnya, melihat surga hingga bertemu langsung dengan Allah SWT.

    Tepatnya di tempat tertinggi yaitu Sidratul Muntaha. Semoga dengan adanya peringatan Isra Miraj ini kita semua bisa mengambil hikmah untuk setiap cobaan yang kita sedang alami.

    Akan lebih baiknya lagi, selain bersabar kita juga harus berserah, berusaha. Salah satunya dengan jangan meninggalkan sholat, dan selalulah meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah SWT.

    Demikian ceramah singkat tentang Isra Miraj yang penuh makna dan hikmah. Semoga kita semua dapat menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan atas semua tindakan, perbuatan, sifat, sikap dan lainnya. Aamiin ya Rabbal Alamin.

    Saya tutup ceramah kali ini dengan Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Itulah contoh ceramah singkat tentang Isra Miraj sekaligus pembahasan singkat Isra Miraj, Peristiwa penuh makna dengan berbagai macam hikmah, mulai dari sabar, ikhlas, berusaha, pasrah, yakin kepada Allah, dan hikmah lainnya.

  • Kumpulan Ceramah Singkat Tentang Sedekah dan Keajaibannya 

    Kumpulan Ceramah Singkat Tentang Sedekah dan Keajaibannya 

    Ceramah singkat tentang sedekah dapat menjadi pengisi acara yang memberikan manfaat baik. Adapun jenis acara tempat ceramah diberikan bisa beragam, mulai dari acara sekolah atau instansi, pengajian, hingga kegiatan keagamaan lainnya.

    Sedekah termasuk amalan baik yang sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh umat muslim. Amalan sedekah juga memiliki banyak keutamaan.

    Sayangnya, tidak semua orang melakukan amalan ini dikarenakan berbagai alasan. Salah satunya yaitu rasa khawatir kalau hartanya berkurang. Padahal anggapan yang demikian tidaklah benar.

    Kumpulan Ceramah Singkat Tentang Sedekah

    Ketika mengadakan acara dalam instansi maupun keagamaan, ada baiknya untuk menambahkan ceramah singkat dalam rangkaian kegiatan.

    Pasalnya, ceramah dapat memberikan wawasan yang bermanfaat serta mengajak audiens untuk berbuat kebaikan. Nah, salah satu materi yang cocok untuk mengisi ceramah pada berbagai event adalah sedekah.

    Berikut terdapat beberapa ceramah singkat tentang sedekah yang bisa menjadi inspirasi:

    1. Ceramah Singkat tentang Sedekah Tidak Mengurangi Harta

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat pada acara kali ini.

    Dalam kesempatan ini, saya ingin mengingatkan mengenai kemuliaan bersedekah.

    Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan bagi umat muslim. Akan tetapi, banyak di antara kita yang belum mampu melakukannya.

    Alasannya? Macam-macam. Ada yang karena belum kaya, ada yang karena sayang harta, bahkan ada yang karena takut miskin.

    Perlu diketahui bahwa pemikiran yang demikian adalah keliru. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

    Artinya: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim No. 2588).

    Penafsiran hadits tersebut menurut para ulama yaitu harta yang disedekahkan akan diberkahi. Sehingga meskipun jumlahnya berkurang secara nominal, jika melihat dari hakekat dan keberkahannya, maka jumlahnya justru bertambah.

    Allah SWT berfirman:

     وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

    Artinya: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

    Allah akan mengganti sedekah yang telah kita lakukan dengan balasan yang lebih banyak. Selain itu, sedekah kita juga akan mendapatkan balasan dan ganjaran di akhirat nanti.

    Hal ini disebutkan dalam firman Allah:

    يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    Artinya:

    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).”

    Demikianlah anjuran mengenai sedekah serta dalil tentang sedekah yang tidak akan mengurangi harta. Semoga dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperbanyak amalan sedekah. Amiin.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Baca juga: 12 Contoh Puisi Agama Islam yang Inspiratif dan Penuh Makna

    2. Ceramah Singkat tentang Sedekah dan Keutamaannya

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Pada kesempatan yang penuh berkah ini, saya ingin menyampaikan sedikit pengingat mengenai anjuran untuk bersedekah.

    Kata sedekah berasal dari bahasa Arab, “shadaqa”, yang berarti memberi dengan mengharapkan pahala dari Allah SWT.

    Sedekah termasuk bentuk amalan sunnah yang banyak dianjurkan dalam ayat Al-Qur’an dan hadits. Salah satunya yaitu firman Allah berikut:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم ﴿254﴾  سورة البقرة

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” (Al-Baqarah/2:254).

    Anjuran untuk bersedekah tersebut tidak lepas dari manfaat amalan sedekah, yakni untuk berbagi dan membantu orang yang kekurangan.

    Selain itu, sedekah merupakan amalan yang memiliki banyak keutamaan bagi yang menjalankan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 272, yang artinya:

    “Dan apa yang kamu berikan sebagai sedekah adalah untuk dirimu sendiri, sedang kamu tidak memberikan melainkan karena mencari keridhaan Allah.”

    Di antara keutamaan sedekah yaitu:

    Yang pertama, orang yang bersedekah akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda dari Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

     إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ ﴿١٨﴾  سورة الحديد

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS Al-Hadid/57:18).

    Kedua, sedekah dapat menjadi penawar berbagai penyakit hati. Hal ini disebutkan dalam sabda Rasulullah pada orang yang mengeluhkan mengenai kekerasan hatinya.

    إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

    Artinya: “Jika kamu hendak melembutkan hatimu, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad).

    Ketiga, amalan sedekah dapat menghapuskan kesalahan yang telah kita perbuat. Keutamaan ini berlandaskan pada sabda Rasulullah:

     وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

    Artinya: “Sedekah menghapuskan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api.” (Shahih at-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albani).

    Keempat, memberikan sedekah dapat menghindarkan dari api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah:

     فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

    Artinya: “Maka peliharalah (diri) kalian dari api neraka, sekalipun dengan sebiji buah kurma (yang disedekahkan).”

    Kelima, sedekah dapat menjadi penawar berbagai penyakit jasmani. Keutamaan yang satu ini berdasarkan dari sabda Rasulullah SAW:

    دَاوُوا مَرضاكُمْ بِالصَّدقةِ

    Artinya: “Obatilah penyakit-penyakit kalian melalui sedekah.”

    Selain keutamaan yang telah disebutkan, masih terdapat banyak keutamaan lain dari sedekah, meliputi mendatangkan berkah, menjauhkan sifat kikir, hingga membuat masuk surga.

    Demikianlah ceramah singkat tentang sedekah dan keutamaannya. Semoga dapat memotivasi kita semua untuk memperbanyak amalan baik.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    3. Ceramah Singkat tentang Sedekah Sesuai Kemampuan

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Pada momen yang penuh berkah ini, marilah kita mengingat firman Allah SWT mengenai sedekah:

    أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ ﴿267﴾  سورة البقرة

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (Al-Baqarah/2:267).

    Sedekah adalah amalan yang dilakukan dengan memberikan tanpa mengharap imbalan. Sering kali, orang baru bersedekah setelah memiliki rezeki lebih. Bahkan, ada juga yang baru bersedekah saat sudah jatuh sakit.

    Padahal, sedekah yang paling utama dilakukan saat kita dalam keadaan sehat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْبَقَاءَ وَلاَ تُمْهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

    Artinya: “Sebaik-baik sedekah (sedekah yang paling utama) yaitu engkau bersedekah dalam keadaan sehat, dalam keadaan jiwa kamu pelit, berat untuk bersedekah, engkau takut fakir dan engkau mencita-citakan kekayaan, yang pada saat itu engkau bersedekah, jangan engkau tunda hingga nanti apabila nyawa sudah sampai di kerongkongan baru engkau berkata, ‘Untuk si Fulan sekian, untuk si Fulan sekian.’ Ketahuilah, harta itu memang milik si Fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadits tersebut juga menganjurkan kita untuk tidak menunda-nunda mengamalkan sedekah, termasuk ketika baru dalam kondisi pas-pasan.

    Lantas, bagaimana cara sedekah bagi yang belum kaya?

    Maka, sedekahkan semampunya. Dalam Islam, sedekah tidak diukur dari harga tinggi, melainkan niatnya. Jadi, tidak harus menunggu sampai kaya dulu. Kita dapat menyedekahkan apa yang kita punya, meskipun sederhana.

    Rasulullah SAW bersabda:

    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا ، فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

    Artinya: “Lindungilah diri kalian dari api neraka meskipun dengan menyedekahkan sebutir kurma, kalau tidak ada, dengan kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari Muslim dari sahabat ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘Anhu).

    Dari hadits tersebut diterangkan bahwa sedikitnya sedekah hendaknya tidak mencegah kita untuk mengeluarkannya.

    Kita bahkan dapat bersedekah dengan mengucapkan perkataan yang baik. Maksudnya yaitu kalimat yang menyenangkan atau mengajak kebaikan serta menghindarkan dari keburukan.

    Kiranya demikianlah ceramah kali ini. Akhir kata, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    4. Ceramah Singkat tentang Sedekah di Bulan Ramadhan

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul bersama pada hari yang cerah ini.

    Memasuki bulan Ramadhan, alangkah baiknya apabila kita menyambutnya dengan memperbanyak ibadah dan amalan baik.

    Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah di mana amalan baik yang kita lakukan akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda daripada saat melakukannya pada bulan lain.

    Nah, salah satu amalan yang dapat kita laksanakan selama Ramadhan adalah bersedekah.

    Amalan sedekah mengajarkan kita untuk berbagi dan membantu yang membutuhkan. Sedekah juga memiliki berbagai keutamaan yang luar biasa, seperti mendatangkan berkah, mendapatkan pahala, hingga menjauhkan dari api neraka.

    Terlebih lagi, sedekah yang dilakukan pada bulan Ramadhan merupakan sedekah yang paling utama. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW berikut:

    عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

    Artinya, “Dari Anas RA, sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-Tirmidzi).

    Rasulullah juga memberikan teladan dengan memperbanyak bersedekah pada bulan Ramadhan. Kedermawanan Rasulullah SAW bahkan diibaratkan melebihi angin yang berhembus.

    Teladan Rasulullah untuk memperbanyak sedekah pada bulan Ramadhan dikarenakan keutamaan sedekah pada bulan suci ini yang lebih dahsyat.

    Mengamalkan puasa, sedekah, dan shalat malam pada bulan Ramadhan bisa dibilang menjadi jaminan masuk surga.

    Hal tersebut berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW:

    إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

    Artinya: “Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946).

    Subhanallah. Sungguh dahsyat keutamaan amalan sedekah pada bulan Ramadhan.

    Lantas, bagaimana cara kita sebaiknya bersedekah? Nah, sedekah ada banyak bentuknya. Salah satu sedekah yang sering kita temukan selama Ramadhan yaitu membagikan takjil atau hidangan untuk berbuka puasa.

    Bukan tanpa sebab banyak orang yang memilih bentuk sedekah yang satu ini. Pasalnya, dengan membagikan takjil kita bisa mendapatkan pahala puasa orang lain.

    Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

    من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

    Artinya: “Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807).

    Keutamaan selanjutnya bersedekah pada bulan Ramadhan adalah lebih dimudahkan karena selama Ramadhan, setan akan dibelenggu sehingga memudahkan umat muslim untuk melakukan amal kebaikan.

    Selain itu, bagi orang yang bersedekah di bulan Ramadhan, Allah akan melipatgandakan pahala 10 sampai 700 kali lipat.

    Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat Muslim yang artinya:

    “Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.”

    Demikianlah dahsyatnya keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan. Semoga kita semua diberikan hidayah oleh Allah SWT supaya dapat mengamalkan sedekah.

    5. Ceramah Singkat tentang Sedekah yang Tersembunyi

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Pada kesempatan kali ini, marilah kita kembali mengulas mengenai keutamaan sedekah, terutama sedekah secara tersembunyi.

    Adapun maksud tersembunyi di sini adalah tidak ditunjukkan atau disebutkan pada orang-orang. Sedekah dianjurkan untuk dilakukan secara diam-diam, tanpa diketahui orang lain.

    Anjuran tersebut berdasarkan firman Allah yang bunyinya sebagai berikut:

    إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيرٌ لَّكُمْ

    Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS Al Baqarah : 271).

    Sedekah yang tersembunyi juga memiliki keutamaan dapat meredam murka Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

     إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِيءُ غَضَبَ الرَّبِّ

    Artinya: “Sesungguhnya sedekah yang tersembunyi, (dapat) meredam murka Allah Ta’ala” [Shahih at-Targhib].

    Bukan itu saja, sedekah tersembunyi juga memiliki keutamaan berupa mendapatkan naungan di hari kiamat.

    Diriwayatkan, Abu Hurairah menyebutkan hadits tentang tujuh golongan yang memperoleh naungan di hari kiamat, salah satu golongan tersebut adalah:

    وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

    Artinya: “Serta seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu menahu terhadap amalan tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhari No. 1423).

    Maka, alangkah baiknya apabila ketika kita memberikan sedekah tidak menyebut atau mengumbarnya pada banyak orang.

    Selain memiliki keutamaan besar, sedekah diam-diam juga dapat membantu menjauhkan kita dari sifat riya.

    Sifat yang lebih akrab kita kenali sebagai pamer ini bisa merusak amal kebaikan. Bahkan, riya juga termasuk penyakit hati yang bisa menjadikan kita sebagai golongan munafik.

    Oleh karena itu, mari upayakan untuk bersedekah secara diam-diam dan ikhlas, tanpa adanya niat ingin dipuji orang lain. Semoga dengan demikian, amal kebaikan kita mendapatkan pahala dari Allah SWT. Amin.

    Itulah beberapa ceramah singkat tentang sedekah. Sebagai tambahan, ada sedikit tips dalam menyiapkan ceramah, sebaiknya menyesuaikan isi dan konteks dengan acara yang berlangsung.

  • Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    Sejarah masuknya Islam di Indonesia dibuktikan dengan beberapa teori. Setidaknya ada empat teori yang diakui oleh para ahli sejarah. Satu di antaranya menjelaskan bahwa Islam mulai masuk ke Nusantara pada abad ke-7.

    Kini Indonesia menjadi Negara dengan mayoritas dengan 87% penduduknya menganut agama Islam. Lantas, apakah semua teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia memiliki bukti yang sama? Tidak, setiap teori memiliki penjelasan masing-masing akan hal tersebut.

    Jika ingin lebih jelas, simak ke empat teori dan sejarah lain yang akan dijabarkan berikut ini.

    4 Teori Masuknya Islam di Indonesia

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, ada banyak teori yang menjelaskan mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Namun, para ahli sepakat, setidaknya ada empat teori yang perlu diketahui sebagai bukti sejarah masuknya Islam.

    Teori-teori ini diperkuat dengan sejumlah bukti yang didukung adanya jejak sekaligus proses masuknya Islam ke Nusantara. Berikut penjelasan lengkapnya:

    1. Teori India (Gujarat)

    Teori India atau yang sering disebut sebagai teori Gujarat dikemukakan ole ilmuan Belanda bernama J.Pijnapel dan didukung oleh Christian Snouck Hurgronje.

    Selain itu teori ini juga diyajini oleh sejarawan Indonesia Sucipto Wirjosuprapto yang meyakini awal mula sejarah masuknya Isam di Indonesia melalui India.

    Teori Gujarat beranggapan bahwa agama Islam dan kebudayaanya dibawa oleh para pedagang dari daerah Gujarat, India yang berlayar melewati selat Malaka.

    Teori ini juga menjelaskan bahwa Islam secara massif berkembang di Nusantara sekitar abad ke-13 Maseh melalui para pedagang dan kerajaan Samudera Pasai yang menguasai selat Malaka pada saat itu.

    Teori ini diyakini oleh S.Hurhronje karena adanya hubungan perdagangan yang cukup erat antara Indonesia dengan India. Teori ini diperkuat dengan penemuan makan Sultan Samudera Pasai, Malik As-Saleh pada tahun 1297, Makan Maulana Malik Ibrahim yang keduanya bercorak Gujarat, serta tulis Marco Polo.

    Namun, sayangnya terdapat kelemahan pada Teori Gujarat. Teori ini ditentang oleh GE. Morison, seorang jurnalis asal Australia.

    Ia mengatakan bahwa tidak bisa menyimpulkan bahwa Islam didatangkan dari Gujarat, hanya karena memiliki penemuan corak batu nisan yang mirip dengan yang ada di Gujarat.

    Selain itu, pada awal abad ke-12 Masehi, masyarakat Gujarat masih menganut agama Hindu. Itulah sejarah masuknya Islam di Indonesia berdasarkan teori Gujarat.

    Baca juga: Arti La Tahzan Innallaha Ma’ana, Tulisan Arab & Maknanya

    2. Teori Arab (Mekkah)

    Teori Arab (Mekkah)
    Sejarah masuknya Islam di Indonesia

    Teori selanjutnya yang menjelaskan sejarah masuknya Islam di Indonesia adalah Teori Arab atau yang juga dikenal dengan Teori Mekkah. Teori ini ddukung oleh beberapa tokoh seperti, Buya Hamka dan Van Leur. Dalam Teori Arab dijelaskan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7.

    Ajaran Islam dibawa langsung oleh musafir dari Arab yang memiliki semangat untuk menyebar Islam ke seluruh dunia. Teori ini juga dibuktikan dengan adanya sebuah perkampungan Arab di Barus, Sumatera Utara yang dikenal dengan nama Bandar Khaifah.

    Tidak hanya itu, dalam buku sejarah umat Islam yang terbit tahun 1997, Buya Hamka menjelaskan bukti masuknya agama Islam diIndonesia.

    Bukti yang dimaksud yakni berupa sumber naskah kuno Cina yang di dalamnya menyebutkan bahwa terdapat sekelompok Bangsa Arab yang bermukim di pesisir barat Pulau Sumatera pada tahun 625 Masehi.

    Selain itu, dikawasan tersebut juga merupakan kekuasan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan batu nisan yang bertuliskan Syekh Rukunuddin.

    Namun, Teori inipun memiliki kelemahan, yakni dianggap kurang memiliki sumber tertulis yang menjelaskan peranan bangsa Arab terhadap proses penyebaran agama Islam di Nusantara.

    Sejarah masuknya Islam di Indonesia yang satu ini jika saja terdapat sumber tertulisnya, maka kemungkinan adalah yang paling mendekati benar.

    3. Teori Persia (Iran)

    Teori masuknya Islam ke Nusantara berikutnya yakni Teori Persia.Teori ini didukung oleh Hoesein Djadjadiningrat dan Umar Amir Husein. Mereka berpendapat bahwa masuknya Islam ke Nusantara berawal dari Persia.

    Penyebab Teori ini tercetus karena ajaran yang awal masuk ke Nusantara adalah ajaran Syiah yang berasal dari Persia. Selain itu, terdapat beberapa kesamaan budaya dan tradisi di Indonesia dengan yang ada di Persia seperti upacara adat tabot Bengkulu.

    Teori Persia juga didukung oleh bukti-bukti lain, seperti penggunaan gelar ‘syah’ pada raja-raja Islam di Nusantara, beberapa kosakata serapan Bahasa Persia ke Bahasa Indonesia, persamaan mazhab yang dianut, dan kesamaan ajaran sufi oleh Syekh Siti Jenar.

    Lalu, kemiripan terakhir adalah nisan pada kubur Malik Saleh dan Malik Ibrahim yang dipesan dari gujarat serta terdapat pengakuan masyarakat Islam atas mazhab Syafi’i di daerah Malabar.

    Seperti Teori yang lainnya, Teori Persia juga memiliki kelemahan yang diyakini beberapa tokoh, bahwa pada abad ke-7 Masehi, Persia belum memiliki pengaruh yang cukup besar dalam dunia Islam.

    Baca juga: Niat Sholat Sunnah Sebelum Subuh dan Tata Caranya (Qobliyah Subuh)

    4. Teori Cina

    Teori yang terakhir adalah Teori Cina. Teori ini menjadil salah satu pencetus sejarah masuknya Islam ke Indonesia.

    Menurut Teori ini, Islam berkembang di Nusantara berasal dari para perantau Tiongkok. Faktanya, masyarakat Tiongkok sendiri sebetulnya sudah menjalin hubungan erat melalui perdagangan dengan Indonesia jauh  sebelum berkembangnya agama Islam.

    Agama Islam berkembang di Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M). Menurut Sumanto Al-Qurtuby, pada masa Dinasti Tang, dibagian kanton Zhang-Zhao, Quanzhou dan pesisir cina bagian selatan, telah banyak berdiri rumah pemukiman muslim.

    Teori ini juga membutikan beberapa peninggalan seperti arsitektur Tiongkok yang banyak terukir di masjid-masjid, penulisan gelar raja-raja Demak dengan istilah ina, serta catatan yang menyebutkan bahwa pedagang Tiongkok lah yang pertama menduduki banyak pelabuhan di Nusantara.

    Sayangnya, Teori ini pun tidak luput dari kelemahan, yakni tidak dijelaskannya awal masuk agama Islam ke Indonesia, dan hanya menjelaskan peranan cina dalam kedatang Islam ke Indonesia.

    Jalur Masuknya Islam di Indonesia

    Sejarah masuknya Islam di Indonesia tidak hanya bisa dilihat dari ke empat teori pencetusnya saja.

    Namun pada sisi lain, terdapat sejumlah pendapat mengenai periode masuknya Islam melalui beberapa jalur, salah satunya adalah perdagangan. Untuk penjelasan lebih lanjut, mari simak penjelasan berikut ini:

    1. Melalui Jalur Perdagangan

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, salah satu jalur yang memperantarai masuknya Islam ke Indonesia yakni melalui jalur perdagangan. Jalur ini sudah ada sejak abad ke-7 hingga abad ke-11.

    Menurut pernyataan pada saudagar dari luar maupun Indonesia sendiri, Islam disebarkan melalui jalur perdagangan pelabuhan, seperti selat Malaka, Samudra, Palembang, disusul Demak, Cirebon, Gresik, Tuban, Makassar serta Indonesia bagian Timur.

    2. Melalui Jalur Pernikahan

    Jalur selanjutnya adalah jaur pernikahan. Jalur iniditempuh para ulama sekitar abad ke-11 hingga ke-13 M. Para saudagar muslim dari Gujarat, Arab, Benggala dan lainnya menikah dengan orang Indonesia.

    Berbeda dengan umumnya saat ini yang mengharuskan salah satu calon dari pengantin untuk berpindah agama sebab Karena unsur cinta.

    Windiati menjelaskan, bahwa pada saat itu, saudagar muslim yang menikah adalah orang kaya yang terpandang, sehingga putri yang disunting diharuskan untuk masuk ke agama Islam terlebih dahulu.

    Sebab hal tersebut, jalur ini memiliki andil besar dalam persebaran Islam di Tanah Air.

    3. Melalui Jalur Pendidikan

    Selain jalur perdagangan dan pernikahan, satu di antara lainnya adalah jalur pendidikan. Jalur ini dibentuk oleh para da’I yang mengabdikan dirinya untuk menyebarkan Islam ke wilayah baru, salah satunya adalah Idonesia.

    Para da’i ini memiliki misi membawa ajaran Islam ke wilayah baru yang belum tersentuh agama Islam seblumnya. Namun dalam praktiknya, mereka dipandu oleh paa pedagang.

    Jalur  pendidikan ini memegang peranan yang cukup penting. Sebab, melalui dakwah Islam yang semula hanya dikenal di pantai-pantai sesuai dengan jalur perdagangan, dan kemudian akhirnya tersebar luas.

    4. Melalui Jalur Akulturasi Budaya

    Yang terakhir adalah jalur akulturasi budaya.

    Agama Islam masuk ke Indonesia tidak luput dari akulturasi budaya yang dilakukan oleh para da’i dengan menyebarkan Islam tanpa merubah adat istiadat yang bertentangan pada mereka, sehingga mereka memeluk Islam dengan sukarela dan tidak merasa terancam.

    Cara peyebaran pada jalur ini dicontohkan oleh Walisongo atau Sembilan wali penyebar Islam di Jawa.

    Akulturasi ini merupakan salah satu pergesaran dari budaya Hindu ke Islam denganmenyakutpautkan nilai-nilai kebudayaannya. Salah satu medianya yakni dengan menggunakan wayang.

    Sejarah Masuknya Islam di Indonesia Menurut Catatan

    Ada banyak sekali catatan-catatan yang menyebutkan bagaimana awal masuk Islam ke Indonesia, pengaruhnya hingga siapa yang membawanya ke dalam Nusantara.

    Satu di antara yang sudah disebutkan adalah Arsitektur. Berikut ini beberapa catatan lengkap dengan penjelasannya:

    1. Demografi

    Demografi bersebaran umat Islam di Indonesia banyak berada di bagian barat terutama Jawa dan Sumatera. Sedangkan untuk daerah Timur seperti Sulawesi, NTT dan lainnya masih terbilang jarang.

    Penyebaran agama Islam di Indonesia terjadi secara bertahap dan tidak secara langsung, mulai dari daerah barat Indonesia seperti daerah Sumatera yang menjadi tempat persebaran agama Islam pertama di nusantara kemudian daerah Jawa hingga ke daerah timur Indonesia.

    2. Arsitektur

    Pengaruh pada arsitektur sangat banyak di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan beberapa bangunan yang mendapat pengaruh arsitektur dari Islam.

    Misalnya arsitektur rumah bertawi yang mana ciri khas teras lebar dan balai luas yang difungsikan untuk mengaji, berdakwah yang berhubungan dengan ajaran umat muslim.

    Salah satu arsitektur peninggalan Islam yang merupakan asli dari peninggalan Islam itu sendiri adalah masjid. Masjid merupakan tempat yang digunakan untuk beribadah oleh umat muslim, arsitektur masjid di manapun sangat kental dengan suasana Islami dan budaya timur tengah.

    3. Politik

    Sebagai Negara dengan mayoritas penduduk Islam. Maka keadaan politik di Indonesia pun tidak lepas dari pengaruh Islam.

    Namun meskipun bisa di bilang negara Indonesia adalah negara Islam dan mayoritas penduduknya Muslim, Indonesia tidak menerapkan sistem pemerintahan syariat Islam layaknya Arab Saudi.

    Meski begitu, partai-partai berbasis Islam masih eksis hingga saat ini dan berkembang cukup beasar. Hal tersebt juga didukung dengan adanya organisasi besar berbasis Islam.

    Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai sejarah masuknya Islam di Indonesia. Jadi bagaiamana?

    Apakah kamu sudah tahu sudah paham bagaimana Islam bisa hadir di bumi Nusantara kita?

  • Apa Hukum Donor Darah dalam Islam? Ini Jawabnya

    Apa Hukum Donor Darah dalam Islam? Ini Jawabnya

    Apa hukum donor darah dalam Islam? Kita mungkin pernah memberikan darah kita kepada orang lain yang membutuhkan. Misalnya, ada keluarga atau teman yang kecelakaan dan membutuhkan banyak darah, kita yang mendonorkannya.

    Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk dikirimkan kepada orang yang membutuhkan.

    Ada syarat tertentu yang wajib dipenuhi jika seseorang ingin melakukan donor darah, seperti darah yang satu golongan.

    Hukum Donor Darah dalam Islam

    Jika mengacu pada hukum negara, maka hukum donor darah itu sah-sah saja. Bahkan, diatur secara khusus di dalam Pasal 1 angka 6 PP 7/2011.

    Sedangkan menurut hukum Islam, masih banyak orang yang bertanya-tanya dan berdebat. 

    Ada yang bilang boleh karena untuk kebaikan, tetapi ada juga yang mengatakan tidak boleh karena dianggap melukai tangan yang merupakan ciptaan Tuhan.

    Lalu, bagaimana yang sebenarnya? Kami akan jelaskan secara rinci dengan dasar yang jelas yaitu Al-Qur’an.

    Menurut ushul fiqih, pada dasarnya darah yang dikeluarkan dari tubuh manusia itu najis mutawasitah atau najis sedang. Sehingga, haram hukumnya untuk dimakan atau dimanfaatkan, seperti yang tertuang dalam Surah Al-Maidah ayat 3 yaitu:

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Hurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa laḫmul-khinzîri wa mâ uhilla lighairillâhi bihî wal-munkhaniqatu wal-mauqûdzatu wal-mutaraddiyatu wan-nathîḫatu wa mâ akalas-sabu‘u illâ mâ dzakkaitum, wa mâ dzubiḫa ‘alan-nushubi wa an tastaqsimû bil-azlâm, dzâlikum fisq, al-yauma ya’isalladzîna kafarû min dînikum fa lâ takhsyauhum wakhsyaûn, al-yauma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matî wa radlîtu lakumul-islâma dînâ, fa manidlthurra fî makhmashatin ghaira mutajânifil li’itsmin fa innallâha ghafûrur raḫîm

    Artinya:

    “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih. (Diharamkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Berdasarkan ayat tersebut, memang ada keterangan jika memanfaatkan darah itu hukumnya haram. Tetapi, di sisi lain kegiatan donor darah ini hanya dilakukan dalam kondisi tertentu dan untuk tolong menolong, bukan memakan darah.

    Seperti yang tercantum di dalam Surah Al Maidah ayat 2 yang berbunyi:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

    Yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb

    Artinya:

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”

    Pada ayat tersebut terdapat kata-kata, “tolong menolonglah kamu dalam kebajikan.” Seperti yang kita ketahui, donor darah pada hakikatnya adalah kegiatan tolong menolong, kita memberikan darah kepada orang yang membutuhkan.

    Selain itu dijelaskan juga dalam Qaidah Fiqhiyah, “Sesuatu yang diperbolehkan dalam keadaan darurat, (hanya diberlakukan) untuk mengatasi kesulitan tertentu. Jadi bila dilihat dari urgensinya donor darah dalam Islam tidak terlepas dari unsur kemaslahatan yang bersifat dharury, yaitu menolong sesama dalam keadaan darurat.”

    Jadi, sebenarnya donor darah itu hukumnya tidak haram asalkan memang tujuannya untuk kemanusiaan, tidak untuk hal lainnya. Selain itu, darah yang sudah kita donorkan tidak boleh diperjualbelikan.

    Itulah mengapa donor darah itu gratis, kamu tidak harus membayar biaya sepeser pun.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wWsallam bersabda dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:

    إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ, حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ

    Artinya: 

    “Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sebuah kaum untuk memakan sesuatu maka Allah akan haramkan harganya.”

    Baca juga: 4 Contoh Ceramah Singkat tentang Sholat dalam Islam

    Hukum Donor Darah dari Non Muslim

    Hukum donor darah dalam Islam jika berasal dari orang yang beragama non muslim tetap diperbolehkan selama itu untuk pengobatan. Ulama yang tergabung dalam Darul Ifta Mesir menyatakan bahwa:

    السؤال: هل يجوز أن يتبرع الكتابي بدمه للمريض المسلم، أم لا؟الجواب: لا مانع من أن يتبرع الكتابي بدمه للمسلم المريض؛ لأنّ هذا لا يكون إلا للحاجة وسواء أخذ الدم من مسلم أم من كتابي، وأخذ الدم في هذه الحالة أفتى بجوازه العلماء للضرورة

    Artinya:

    “Permasalahan; Apakah boleh non-muslim mendonorkan darahnya untuk muslim yang sedang sakit, atau tidak? Jawaban dari itu adalah bahwa tidak ada larangan bagi non-muslim untuk mendonorkan darahnya pada seorang muslim yang sedang sakit. Hal ini karena tidak dilakukan kecuali karena adanya kebutuhan, baik darah tersebut berasal dari orang muslim maupun dari non-muslim. Menerima donor darah dalam keadaan ini menurut para ulama hukumnya boleh karena mendesak.”

    Hukum Donor Darah Saat Puasa

    Banyak juga orang yang bertanya-tanya, apa hukum donor darah dalam Islam ketika orang tersebut sedang berpuasa? Apakah membuat puasanya batal?

    Ternyata, donor darah itu tidak membatalkan puasa menurut sebagian besar ulama. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan seorang muslim melakukan donor darah saat sedang berpuasa.

    Selain itu, Syekh Wahbah al-Zuhaili menjelaskan dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 3 halaman 1730 yang berbunyi:

    لَا يُفْطِرُ الصَّائِمُ بِمَا يَأْتِيْ –إلى أن قال- وَإِخْرَاجِ الدَّمِ بِرُعَافٍ، وَجَرْحِ الصَّائِمِ نَفْسَهُ أَوْ جَرَحَهُ غَيْرُهُ بِإِذْنِهِ وَلَمْ يَصِلْ إِلَى جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنْ آلَةِ الْجَرْحِ، وَلَوْ كَانَ الْجَرْحُ بَدَلَ الْحِجَامَةِ، لِأَنَّهُ لَا نَصَّ فِيْهِ، وَالْقِيَاسُ لَا يَقْتَضِيْهِ.

    Artinya: 

    “Orang yang berpuasa tidak batal dengan hal-hal sebagai berikut; dan mengeluarkan darah sebab mimisan, melukai diri atau dilukai orang lain atas seizinnya dan tidak ada sesuatu dari alatnya yang masuk pada lubang tubuh, meski sebagai ganti dari hijamah, sebab tidak ada nash di dalam hal tersebut dan qiyas tidak menuntutnya”.

    Kesimpulannya, hukum donor darah dalam Islam itu boleh-boleh saja termasuk saat berpuasa. Selama itu tujuannya untuk tolong menolong dan kemanusiaan.