Category: Pendidikan

  • Pengertian ANBK: Tujuan, Prosedur, hingga Manfaatnya

    Pengertian ANBK: Tujuan, Prosedur, hingga Manfaatnya

    ANBK merupakan singkatan dari Asesmen Nasional Berbasis Komputer. Pengertian ANBK mengacu pada program evaluasi untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses, dan output pembelajaran di setiap tingkat pendidikan.

    Kemdikbud Ristek menyelenggarakan ANBK dengan tujuan untuk menilai secara keseluruhan baik kognitif maupun non kognitif peserta didik. Lalu, apa itu ANBK dan apa tujuannya? Simak penjelasannya berikut ini!

    Pengertian ANBK

    Pengertian ANBK adalah proses penilaian tingkat nasional dengan memanfaatkan teknologi komputer. ANBK merupakan proses penilaian secara online, yang mana penilaian dalam ANBK ini memakai metode penilaian melalui komputer.

    ANBK merupakan upaya penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang sekolah dasar hingga menengah. Program yang demikian ini dilaksanakan oleh setiap tingkat sekolah baik secara online maupun semi online.

    Instrumen Penilaian ANBK

    Selanjutnya, ANBK memiliki tiga instrumen penilaian, di antaranya:

    • Asesmen kompetensi minimum (AKM), seperti mengevaluasi kemampuan membaca dan matematika atau numerasi peserta didik. Pelaksanaan AKM ini untuk sekolah di tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK.
    • Melakukan survei karakter (SK), seperti mengukur nilai, sikap, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter masing-masing peserta didik. Pelaksanaan SK untuk tingkat sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK.
    • Survei lingkungan belajar (SLB), seperti mengukur kualitas elemen input dan proses belajar-mengajar di kelas atau tingkat satuan pendidikan. Pelaksanaan SLB jangkauannya lebih luas yakni mulai dari tingkat sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, PKBM/SKB, Pondok Pesantren, dan SLB.

    Tujuan Pengadaan ANBK

    Sesuai dengan pengertian ANBK yang mana sebagai proses penilaian nasional di sekolah, maka secara umum, Kemdikbud Ristek mengadakan ANBK dengan tujuan sebagai berikut:

    1. Untuk mengukur kompetensi dasar peserta didik yang meliputi, kemampuan literasi membaca, matematika atau numerasi, dan ilmiah. Kemampuan-kemampuan ini berguna untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.
    2. Untuk mengukur kompetensi khusus peserta didik, seperti kemampuan untuk berpikir kritis, komunikatif, kreatif, dan kolaboratif.
    3. Menjadi bahan evaluasi para guru agar dapat meningkatkan kompetensi masing-masing peserta didik. Penilaian tersebut perlu agar guru atau orang tua peserta didik dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman seorang anak dalam beberapa mata pelajaran.
    4. Untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik, guru, sekolah, dan pemerintah tentang kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.
    5. Dapat menjadi acuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia.

    Prosedur Pelaksanaan ANBK

    Ilustrasi Ruangan ANBK di Sekolah
    Ilustrasi Ruangan ANBK di Sekolah I Sumber gambar: istockphoto.com

    Dalam prosedur pelaksanaan ANBK terdapat beberapa tahapan mulai dari persiapan hingga pasca pelaksanaan. Berikut penjelasan mengenai tahapan pelaksanaan ANBK selengkapnya.

    Baca Juga : Konsep Pendidikan Inklusif: Pengertian dan Karakteristiknya

    1. Persiapan Pelaksanaan ANBK

    Beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam pelaksanaan ANBK antara lain:

    • Pengisian data sekolah/madrasah/program kesetaraan melalui aplikasi Dapodikdasmen/Dapodikmen/Dapodik PAUDNI.
    • Pengisian data peserta didik melalui aplikasi Dapodikdasmen/Dapodikmen/Dapodik PAUDNI.
    • Penginputan data peserta didik yang kedua melalui aplikasi PMP.
    • Pengisian data peserta didik yang ketiga kalinya melalui aplikasi CBT.
    • Menyiapkan sarana dan prasarana pelaksanaan ANBK. Sebagaimana pengertian ANBK yakni penilaian berbasis komputer, maka komponen komputer sangat penting, seperti perangkat keras (komputer, jaringan, server), dan perangkat lunak (platform ujian, pengawasan, pengolahan data).
    • Menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten.
    • Mempersiapkan bahan-bahan ujian ANBK.
    • Menyiapkan server lokal dan sinkronisasi data dengan server dari pusat.
    • Melakukan sosialisasi dan pelatihan terkait tujuan, prosedur, dan teknis pelaksanaan ANBK  kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ANBK secara intensif.
    • Menjalin koordinasi dan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat, daerah, dan satuan pendidikan dalam menyelenggarakan ANBK

    2. Pelaksanaan ANBK

    Pelaksanaan ANBK meliputi beberapa kegiatan, antara lain:

    • Pembagian kode akses ujian atau asesmen kepada peserta didik.
    • Pengawas internal dan eksternal melakukan pengawasan pada saat pelaksanaan asesmen.
    • Tim monitoring pusat dan daerah bertugas melakukan pemantauan pelaksanaan asesmen.
    • Penyelesaian permasalahan teknis yang mungkin terjadi pada saat asesmen berlangsung.

    3. Pasca Pelaksanaan ANBK

    Beberapa hal yang perlu dilakukan setelah kegiatan ANBK selesai adalah:

    • Mengirimkan hasil asesmen ke server pusat.
    • Satuan pendidikan dan tim monitoring mempunyai tugas untuk mengevaluasi pelaksanaan asesmen.
    • Menyampaikan laporan hasil asesmen peserta didik kepada satuan pendidikan dan publik.

    Penanganan Kendala Teknis dan Kondisi Luar Biasa di ANBK

    Dalam pelaksanaan ANBK pasti akan terjadi beberapa permasalahan, baik yang berhubungan dengan kendala teknis maupun kondisi luar biasa, antara lain:

    Ilustrasi Pelaksanaan Asesmen Berbasis Komputer
    Ilustrasi Pelaksanaan Asesmen Berbasis Komputer I Sumber gambar: istockphoto.com

    1. Penanganan Kendala Teknis di ANBK

    Ada beberapa cara dalam menangani beberapa kemungkinan kendala teknis pada saat pelaksanaan ANBK. Beberapa tindakan tersebut antara lain:

    • Jika terjadi hambatan atau gangguan teknis dalam pelaksanaan Asesmen Nasional (AN), maka satuan pendidikan pelaksana dapat mengambil tindakan dengan melakukan koordinasi dengan tim teknis yang tetap sesuai dengan prosedur dari Pelaksana Tingkat Pusat. Hambatan atau gangguan teknis tersebut seperti listrik padam, kerusakan sarana/prasarana, hambatan jaringan, dan kerusakan sistem.
    • Bentuk tindakan lainnya yang dapat dilakukan dalam menangani gangguan teknis adalah perubahan jadwal pelaksanaan asesmen atau bentuk lain sesuai dengan keputusan Pelaksana Tingkat Pusat dan Daerah.
    • Apabila pelaksanaan AN tidak sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS) AN dan terjadi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan lainnya, maka tindakan penanganannya adalah dengan melaporkan kepada satuan pendidikan pelaksana kemudian dicatat dalam Berita Acara Pelaksanaan.

    2. Penanganan Kondisi Luar Biasa di ANBK

    Beberapa hal terkait penanganan kondisi luar biasa dalam pelaksanaan ANBK adalah:

    • Jika terjadi kondisi luar biasa yang mengancam keamanan dan keselamatan peserta didik, seperti bencana alam, huru-hara, kendala karena kondisi geografis, perang atau demo, dan peristiwa lain di luar kendali penyelenggaraan Asesmen Nasional, maka pelaksanaan AN pada suatu satuan pendidikan atau wilayah dapat ditunda.
    • Penundaan pelaksanaan AN harus atas pertimbangan Pelaksana Tingkat Kabupaten/Kota atau Provinsi yang sesuai dengan kewenangan serta persetujuan Pelaksana Tingkat Pusat.

    Manfaat Pelaksanaan ANBK

    Pelaksanaan ANBK memiliki beberapa manfaat, di antaranya:

    • Memberikan gambaran terkait kompetensi minimum dan karakteristik peserta didik secara nasional.
    • Memberikan umpan balik kepada satuan pendidikan tentang kualitas pembelajaran, baik yang berkaitan dengan input, proses, dan output.
    • Menjadi acuan pemerintah dalam menangani program pendidikan dan kebijakan-kebijakan yang perlu ditingkatkan, dikembangkan, atau diperbaharui.
    • Memberikan data yang valid dan reliabel yang berguna untuk bahan penelitian dan pengembangan pendidikan.
    • Membantu peserta didik dalam meningkatkan keterampilan abad ke-21 yang dibutuhkan di era digital, yaitu kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
    • Menciptakan budaya belajar yang kritis, mandiri, kreatif, dan kolaboratif melalui soal-soal ANBK yang bervariasi dan menantang.
    • Membantu peserta didik dalam mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka dalam bidang akademik dan non-akademik, sehingga mereka dapat memperbaiki diri dan mengembangkan potensi.
    • Dibanding dengan sistem ujian/asesmen yang tidak menggunakan komputer, pelaksanaan ANBK dapat menjamin keamanan dan kerahasiaan soal karena soal-soal tersebut tersimpan di server pusat dan hanya peserta didik yang memiliki kode akses ujian yang dapat mengaksesnya.
    • Mampu memunculkan hasil asesmen yang cepat, objektif, dan akurat, karena proses penilaian secara otomatis oleh sistem komputer.

    Sudah Tahu Mengenai Pengertian ANBK?

    Pengertian ANBK berkaitan dengan penilaian menggunakan komputer untuk mengukur pencapaian dan pemahaman peserta didik sekaligus memantau perkembangan kualitas pendidikan nasional dari waktu ke waktu.

    Dalam hal ini, pelaksanaan ANBK dapat menjadi alat yang sangat penting dalam pengembangan dan pemantauan suatu sistem pendidikan yang efektif serta dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

    Tujuan utama pelaksanaan ANBK adalah untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan literasi setiap siswa yang pada akhirnya juga dapat mengetahui sejauh mana mutu pendidikan Indonesia saat ini. 

    Harapannya, adanya asesmen ini dapat menjadi solusi dari masalah rendahnya literasi masyarakat Indonesia dimulai dari bangku dasar pendidikan.

  • Apresiasi: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Tahapan, Jenis dan Contoh

    Apresiasi: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Tahapan, Jenis dan Contoh

    Apresiasi merupakan bagian dari kehidupan manusia yang berkaitan dengan kesadaran, kecerdasan dan perasaan. Kondisi tersebut muncul sebagai salah satu bentuk reaksi kepuasaan akibat evaluasi yang positif dari sebuah tindakan, perilaku atau bahkan karya. 

    Mari melihat bentuk penghargaan yang satu ini lebih dekat lewat uraian di bawah ini!

    Apa Itu Apresiasi?

    Pada dasarnya, kata tersebut diserap dari bahasa Inggris, yaitu ‘appreciation’. Dalam konteks pembahasan ini, apresiasi merujuk pada tindakan atau sikap menghargai, mengakui, dan menilai nilai atau kebaikan dalam sesuatu atau seseorang. Istilah ini juga dikenal dengan pujian, penghargaan, pengenalan maupun komplimen. 

    Sederhananya, appreciation adalah cara kita mengungkapkan rasa terima kasih, cinta, atau penghargaan kita terhadap berbagai yang kita miliki, orang-orang yang ada dalam hidup kita, atau pengalaman yang kita alami.

    Definisi Menurut Para Ahli

    Selain definisi umum di atas, ada banyak ahli yang mengemukakan pendapat mereka untuk menguraikan makna dari penghargaan atau komplimen. 

    1. Effendi 

    Menurut Effendi, terminologi tersebut merujuk pada suatu kegiatan yang melibatkan eksplorasi dalam karya sastra dengan kesungguhan. Tujuannya untuk mencapai pemahaman, penghargaan, kritisisme yang lebih baik, serta tingkat kepekaan emosional yang lebih mendalam terhadap karya sastra.

    2. John Dewey

    John Dewey berpendapat bahwa appreciation adalah suatu proses mengecap kesenangan atau pengalaman terhadap sesuatu.

    3. Aminudin 

    Bagi beliau, apresiasi merupakan proses pengenalan yang dilakukan dengan bantuan perasaan maupun kepekaan batin serta pengakuan terhadap unsur keindahan yang diungkapkan oleh seseorang.

    4. Albert R. Candler 

    Albert R. Candler berpendapat bahwa appreciation merupakan suatu kegiatan yang mengartikan serta menyadari sepenuhnya tentang seluk-beluk dari karya sastra dan menjadi lebih sensitif mengenai gejala estetika dan artistik. Kesadaran tersebut akan membuat seseorang dapat menikmati dan menilai suatu karya dengan seharusnya.

    5. Alferd North Whitehend

    Alferd North Whitehend mengartikannya sebagai suatu proses pengapresiasian terhadap suatu hal yang seseorang lakukan dalam kegiatan agar bisa mendapatkan sesuatu dan juga berpartisipasi di dalamnya dengan melakukan penilaian secara keseluruhan.

    Apa Sebenarnya Tujuan Komplimen atau Penghargaan Tersebut?

    Mengapa Anda perlu memberikan penghargaan atau komplimen? Apa sebenarnya tujuan dan makna keberadaan sebuah penghargaan? Setidaknya, ada lima tujuan penghargaan yang patut Anda maklumi. 

    1. Meningkatkan Kualitas Hidup

    Pertama, ketika kita menghargai apa yang kita miliki, kita cenderung lebih bahagia dan puas dengan hidup kita. Kita belajar untuk fokus pada hal-hal positif daripada terlalu banyak bersikap negatif atau mengeluh.

    2. Mempererat Hubungan

    Apresiasi juga dapat memperkuat hubungan kita dengan orang lain. Ketika kita mengungkapkan penghargaan dan rasa terima kasih kepada teman, keluarga, atau pasangan kita, kondisi tersebut menciptakan ikatan emosional yang lebih kuat.

    3. Mengurangi Stres

    Menghargai kebaikan dalam hidup kita dapat membantu mengurangi stres. Keberadaan penghargaan atau pengakuan akan aspek-aspek positif turut berperan membentuk pola pikir yang positif pula. Ketika kita fokus pada hal-hal yang positif, maka akan lebih mudah menghadapi tantangan dan kesulitan dengan kepala dingin. 

    4. Meningkatkan Produktivitas

    Di tempat kerja, penghargaan pengakuan dapat menjadi alat yang kuat untuk meningkatkan produktivitas. Karyawan yang merasa dihargai cenderung lebih termotivasi dan berkinerja tinggi.

    5. Membangun Sikap Positif

    Keadaan tersebut turut mengajarkan kita untuk tidak mengambil hal-hal kecil atau sederhana sebagai hal yang biasa saja, tetapi sebagai berkah yang patut disyukuri dan dihargai. 

    Lalu, Apa Fungsi Apresiasi?

    Berdasarkan tujuan di atas, Anda dapat memahami sekilas tentang fungsi dan peran penghargaan dalam hidup manusia. 

    1. Memberikan Kepuasan Emosional

    Saat kita menghargai sesuatu atau seseorang, kita merasakan kepuasan emosional. Ini dapat membantu kita merasa lebih bahagia dan lebih tenang.

    2. Meningkatkan Hubungan Sosial

    Penghargaan adalah kunci untuk membangun dan memperkuat hubungan sosial. Ini menciptakan ikatan positif antara individu dan kelompok.

    3. Mengubah Perspektif

    Adanya kesadaran untuk menghargai dapat mengubah cara kita melihat dunia. Kondisi itu mengajarkan kita untuk melihat sisi baik dari segala sesuatu, bahkan dalam situasi sulit sekalipun.

    4. Meningkatkan Kesehatan Mental

    Tidak cuma itu saja, tetapi dengan menghargai hal-hal baik dalam hidup kita dapat menjaga kesehatan mental karena membantu mengurangi gejala stres, kecemasan, dan depresi.

    5. Meningkatkan Kualitas Hidup

    Dengan penghargaan, kita menikmati hidup dengan lebih banyak kebahagiaan dan kedamaian sehingga hidup juga terasa lebih berarti. 

    4 Tahapan Apresiasi

    Ada beberapa tahapan dalam menumbuhkembangkan penghargaan dalam diri. Seluruh tahapan tersebut dapat membantu kita lebih menyadari nilai dan kebaikan dalam hidup kita. 

    1. Persepsi

    Tahap yang pertama inii melibatkan pengenalan terhadap suatu karya. Salah satu contohnya pengenalan terhadap berbagai jenis pertunjukan musik tradisional yang ada di Indonesia.

    2. Pengumpulan Pengetahuan

    Apresiasi memerlukan tahapan dasar berupa informasi dan pengetahuan. Pengumpulan informasi dan wawasan bisa berarti memahami sejarah di balik karya seni atau memahami istilah-istilah yang sering digunakan dalam konteks tersebut.

    3. Analisis

    Pada tahap analisis, seseorang mulai mendeskripsikan bentuk karya yang sedang dihadapi dan kemudian menginterpretasikannya. Tahapan ketiga ini melibatkan pemahaman mendalam tentang unsur-unsur artistik yang ada dalam karya tersebut.

    4. Penilaian

    Tahap terakhir adalah penilaian terhadap karya. Tentunya, penilaian bisa bersifat subjektif yaitu tergantung pada preferensi individu, atau bersifat objektif berdasarkan kriteria tertentu. Dalam tahap ini, seseorang dapat menyimpulkan apakah mereka menghargai karya tersebut atau tidak.

    Ini 3 Jenis Apresiasi!

    Ada tiga tingkatan yang umumnya digunakan dalam apresiasi seni, tergantung pada kedalaman pemahaman dan perasaan yang terlibat dalam proses tersebut. 

    1. Empati

    Tingkat penghargaan ini melibatkan pikiran dan perasaan seseorang dan berkaitan dengan tangkapan indrawi atau sensasi yang dihasilkan oleh karya seni. Pada tingkat ini, seseorang merasakan karya seni dengan indra mereka.

    2. Penghargaan Estetis

    Tingkat estetis ini lebih dalam daripada tingkat empati karena melibatkan pengamatan dan penghayatan yang lebih mendalam terhadap keindahan sebuah karya seni. Tingkatan ini tidak hanya melibatkan pengamatan, tetapi juga penghayatan yang lebih mendalam terhadap pesan dan makna yang terkandung dalam karya seni.

    3. Apresiasi Kritik

    Tingkat yang paling mendalam adalah tingkat kritik yang memerlukan analisis mendalam, deskripsi, klasifikasi, dan bahkan evaluasi karya seni. Pada tingkat ini, seseorang dapat memberikan penilaian yang lebih rinci tentang kualitas dan makna karya seni, serta mengambil kesimpulan berdasarkan analisis mereka.

    Perempuan Mengamati Lukisan
    Perempuan Mengamati Lukisan | Sumber Gambar: Pexels

    Pendekatan Untuk Melakukan Apresiasi

    Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan apresiasi seni. Lazimnya, pendekatan-pendekatan ini membantu dalam menganalisis dan memahami karya seni dengan lebih mendalam. 

    1. Pendekatan Deskriptif

    Pendekatan deskriptif melibatkan pengamatan karya seni dan memberikan komentar yang menggambarkan apa yang terlihat dalam karya tersebut. Metode ini bisa mencakup komentar tentang objek gambar, penggunaan warna, komposisi warna, tema, judul gambar, media yang digunakan, ataupun ukuran.

    2. Pendekatan Analitik

    Kedua, pendekatan analitik meliputi pengamatan karya seni berdasarkan aturan-aturan estetika yang telah ditetapkan. Di dalamnya termasuk pemahaman aspek tematik, teknik pengerjaan yang digunakan, dan upaya untuk mengungkapkan makna yang terkandung dalam karya seni tersebut.

    3. Pendekatan Interpretatif

    Pendekatan yang ketiga mengaitkan interpreasi karya seni dari sudut pandang individu yang mengamatinya. Aspek yang termasuk dalam metode ini adalah menemukan kesamaan pengalaman, menganalisis unsur-unsur estetis, dan mengaitkannya dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pengamat.

    4. Pendekatan Penilaian

    Pendekatan penilaian melibatkan pengukuran objektif atau subjektif terhadap karya seni. Pendekatan untuk melakukan apresiasi yang satu ini meliputi pemberian penilaian atau skor berdasarkan kriteria tertentu.

    5. Pendekatan Interdisiplin

    Terakhir, pendekatan interdisiplin mengimplikasikan pengamatan karya seni dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan. Di dalamnya terdapat analisis karya seni dari perspektif ekonomi, filsafat, linguistik, ilmu antropologi, psikologi, dan berbagai bidang lainnya.

    Apa saja Contoh Penghargaan di Kehidupan Nyata?

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, penghargaan tidak terpisah dari kehidupan nyata manusia. Penjelasan di bawah ini merangkum beberapa contoh umum bentuk konkritnya. 

    1. Menghargai Pemandangan Alam

    Saat kita berjalan di taman atau di tepi pantai, kita dapat menghargai keindahan alam yang ada di sekitar kita serta merenungkan fungsi, dampak dan peranan aspek di alam terhadap kehidupan kita. 

    2. Menghargai Karya Seni

    Ketika Anda pergi ke galeri seni atau konser musik, Anda dapat menghargai upaya dan bakat seniman-seniman tersebut. Anda bisa mengucapkan terima kasih atas karya yang mereka hasilkan dan sajikan.

    3. Menghargai Teman

    Ketika seorang teman membantu kita dalam situasi sulit, kita dapat mengungkapkan rasa terima kasih kita, baik berupa ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa kita menghargai bantuan mereka.

    4. Menghargai Keberhasilan Kecil

    Achievement
    Achievement I Sumber Gambar : Freepik

    Jika tujuan-tujuan kecil tercapai dalam hidup kita, seperti menyelesaikan proyek atau mencapai target penjualan, kita dapat mensyukuri pencapaian-pencapaian tersebut. Contoh ini merupakan jenis apresiasi yang tinggi pada Pencipta kita.  

    Baca Juga : Pengertian Karakter: Sifat, Unsur, Jenis, Faktor, dan Contohnya

    5. Menghargai Waktu Bersama Keluarga

    Menghargai momen berharga bersama keluarga, seperti makan malam bersama atau liburan bersama juga merupakan contoh penghargaan akan waktu berharga yang tidak tergantikan.

    Sudahkah Anda Melakukan Apresiasi?

    Apresiasi adalah sikap yang penting dalam kehidupan kita. Sikap tersebut membantu kita merasa lebih bahagia, memperkuat hubungan sosial kita, dan mengubah cara kita melihat dunia. 

    Dengan menghargai apa yang kita miliki, orang-orang yang ada dalam hidup kita, dan pengalaman yang kita alami, kita dapat menghadapi hidup dengan lebih positif dan bersyukur.

  • Memahami Tujuan Sekolah dan Manfaatnya

    Memahami Tujuan Sekolah dan Manfaatnya

    Tujuan sekolah memiliki peranan penting dalam membangun masyarakat menjadi lebih maju. Selain itu, sekolah juga merupakan tempat untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Ini terlihat dari masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki tingkat stabilitas ekonomi yang lebih baik. 

    Apa itu Sekolah?

    Anak Sekolah
    Anak Sekolah | Sumber Gambar: Freepik

    Sekolah merupakan lembaga untuk para siswa mendapatkan pengajaran dari guru. Sebagian besar negara tentu memiliki sistem pendidikan formal yang wajib. Dalam sistem ini, siswa akan mengalami kemajuan melalui serangkaian KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).

    Selain sekolah inti, ada juga yang mengikuti sekolah lain, baik sebelum maupun sesudah pendidikan dasar dan menengah. Taman Kanak-Kanak atau Prasekolah juga menyediakan sekolah bagi anak-anak dengan rentang usia 3-5 tahun. 

    Tidak hanya itu, ada juga sekolah non pemerintah atau swasta dengan tujuan untuk ditempati anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Bahkan, ada juga sekolah dengan standar pendidikan lebih tinggi untuk mengembangkan prestasi pribadi siswanya. Salah satu contohnya adalah lembaga pelatihan perusahaan. 

    Kata sekolah sendiri berasal dari bahasa Latin skhole, scola, scolae, atau skhola” yang artinya adalah waktu luang atau waktu senggang. Jadi, sekolah merupakan kegiatan pada waktu luang untuk anak-anak di tengah kegiatan utamanya. 

    Namun, saat ini kata sekolah lebih kepada sebuah lembaga untuk belajar dan mengajar. Selain itu, kata ini juga berarti tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. Ketersediaan sarana dalam suatu sekolah juga memiliki peranan penting untuk terlaksananya proses pendidikan yang baik. 

    Apa Tujuan Sekolah?

    Setelah mengetahui pengertian sekolah, maka Anda juga harus memahami apa tujuannya. Berikut beberapa tujuan bersekolah yang perlu Anda ketahui:

    1. Mempelajari Keterampilan Dasar dan Mengasah Kemampuan

    Anak Sekolah
    Anak Sekolah | Sumber Gambar: Freepik

    Sekolah menyediakan lingkungan yang memungkinkan seseorang untuk bisa belajar banyak keterampilan dasar. Misalnya, snak-anak dengan usia balita biasanya akan mulai belajar bagaimana cara membaca dan menulis pada masa pra sekolahnya. Anak-anak tersebut akan mulai belajar alfabet dan angka. 

    Selain itu, sekolah juga akan mengajarkan anak-anak menggambar hingga memecahkan masalah. Anak-anak pun akan belajar cara presentasi yang baik, hingga melakukan public speaking yang benar. 

    Secara umum, jika ingin memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan, anak bisa memilih SMK. Dengan begitu, maka minat anak pun akan lebih terasah. 

    2. Membangun Anak Menjadi Individu yang Bijak

    Tujuan sekolah selanjutnya adalah agar bisa membuat anak menjadi individu yang bijak. Sebab, seseorang tentunya akan membutuhkan keterampilan untuk bisa berbaur dengan masyarakat sebagai warga negara yang baik. 

    Jadi, dengan adanya pendidikan tentu akan memberikan pengajaran dan membangun karakter seseorang menjadi lebih positif. Secara umum, ini akan membantu anak memiliki kemampuan sosialisasi yang baik. Sehingga, setiap anak bisa membangun jaringan pertemanan dan komunitas lebih luas.

    3. Menambah dan Memperluas Relasi Pertemanan

    Kumpulan Anak
    Kumpulan Anak| Sumber Gambar: Freepik

    Tujuan selanjutnya adalah bisa menambah dan memperluas relasi pertemanan. Bersekolah akan membuat anak bertemu dengan banyak teman dari berbagai latar belakang. 

    Dengan begitu, anak pun bisa belajar tentang banyak hal, termasuk kultur dari berbagai daerah. Selain itu, cara anak berinteraksi dengan orang lain pun akan secara otomatis terlatih. Jadi, anak pun akan lebih mudah berbaur dengan orang lain tanpa perlu membeda-bedakan latar belakangnya.

    4. Mengajarkan Bagaimana Cara untuk Hidup

    Dalam pendidikan, seorang individu tidak hanya akan mempelajari informasi yang berasal dari mata pelajaran saja. Anak juga akan mempelajari pelajaran mengenai kehidupan, baik dari dalam maupun luar kelas. 

    Mulai dari etika kerja yang baik dalam kelas, cara menghadapi orang lain, hingga bagaimana cara untuk mendapatkan informasi. Di mana hal-hal tersebut pasti akan sangat berguna untuk masa depannya. 

    5. Mengajarkan Pentingnya Persaingan dan Persahabatan

    Anak Pergi Sekolah
    Anak Pergi Sekolah | Sumber Gambar: Freepik

    Tujuan sekolah selanjutnya adalah bisa mengajarkan anak akan pentingnya persaingan dan persahabatan. Adanya persaingan ini biasanya dimulai dari perlombaan. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan nilai tertinggi ataupun terbaik dalam kelasnya.

    Perlombaan inipun bisa meliputi berbagai bidang, mulai dari kompetisi olahraga hingga mata pelajaran. Ini akan meningkatkan sifat kompetitif anak. Namun, selain menjadi tempat untuk bersaing, sekolah juga menjadi salah satu tempat untuk menemukan sahabat dan teman seperjuangan untuk mencapai cita-cita.

    Baca Juga : Ilmu Harmoni: Pengertian, Jenis, Unsur, dan Teori Dasar

    6. Membangun Kerja Sama Tim

    Lingkungan sekolah akan mendukung siswa untuk mendapatkan kesempatan belajar dengan orang lain. Tentu saja, hal ini merupakan salah satu keterampilan dari penting untuk bekal bersosialisasi dalam masyarakat.

    Selain itu, kerja sama juga akan membantu anak belajar mengelola kepribadiannya, hingga memahami bagaimana cara bekerja sebagai individu yang baik. Lewat hal ini pula anak-anak bisa belajar untuk menjadi seorang pemimpin.

    Manfaat Sekolah

    Tujuan pendidikan di sekolah adalah untuk menyediakan SDM terdidik dan berkualitas. Ini akan berdampak pada generasi yang siap menghadapi berbagai persaingan antar negara. Sebab, pendidikan akan membantu siswa memiliki keterampilan dan wawasan luas. Lantas, apa saja manfaatnya? Simak di sini:

    1. Memberikan Pengetahuan Umum

    Manusia secara hakikatnya tentu membutuhkan pengetahuan. Hal tersebut penting agar mereka bisa menjalani kehidupan lebih baik. Melalui sekolah, anak tentunya akan mendapatkan banyak ilmu. Dengan begitu, anak pun akan beradaptasi dengan lingkungan dengan lebih cepat dan baik.

    2. Melatih Kedisiplinan

    Manfaat sekolah selanjutnya adalah bisa melatih kedisiplinan anak. Kedisiplinan tersebut terbentuk melalui adanya berbagai peraturan yang harus siswa dan siswi patuhi selama bersekolah. Secara tidak langsung, anak akan dipaksa untuk mengikuti setiap peraturan dan bisa saja mendapat hukuman jika melanggar.

    3. Kesempatan untuk Mengembangkan Potensi

    Manfaat dan tujuan sekolah selanjutnya adalah membuat anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Kebanyakan anak mungkin bingung melihat potensi atau bakatnya, sehingga kehilangan semangat untuk berkembang. Nah, hal ini sebenarnya bisa sekolah bantu. 

    Karena tenaga pendidik umumnya bisa melihat potensi sepetti apa yang ada pasa siswanya. Sehingga mereka bisa mengarahkan anak mencapai masa depan yang lebih baik.

    4. Melatih Tanggung Jawab dan Mental

    Manfaat lain dari sekolah adalah untuk melatih tanggung jawab. Tanggung jawab seorang siswa adalah belajar. Tentu saja dengan tujuan agar bisa mendapatkan hasil terbaik untuk membanggakan orang tuanya.

    Selain itu, apa yang anak dapatkan di sekolah juga bisa melatih mental agar lebih kuat dan percaya diri. Khususnya untuk berhdapat dengan banyak orang. Ini akan terbentuk melalui presentasi, lomba, pidato, dan lain sebagainya.

    5. Menyediakan Sumber Daya Manusia yang Kompeten

    Manfaat sekolah selanjutnya adalah sebagai penyedia sumber daya manusia yang berkompeten. Anda pasti tahu bahwa Indonesia memiliki program wajib belajar 12 tahun. Tentu dengan harapan untuk menciptakan generasi unggul.

    Nah, sekolah biasanya akan mengajarkan siswa untuk memiliki keahlian khusus agar siap bersaing dengan dunia luar. Sehingga mereka siap menghadapi dunia kerja yang lebih profesional nantinya.

    Sudah Paham Apa Saja Manfaat dan Tujuan Sekolah?

    Itu dia penjelasan detail mengenai manfaat dan tujuan sekolah. Intinya, sekolah merupakan aspek krusial dan kompleks karena bisa memengaruhi kualitas pendidikan dalam suatu negara. Karena itu, orang tua sebaiknya dapat mendorong anak agar mereka mau menempuh pendidikan setinggi mungkin. 

    Mengarahkan anak menempuh pendidikan sesuai potensinya juga sangat penting. Perhatikan juga setiap kegiatan dan kualitas pengajar sebelum memutuskan sekolah untuk anak. Sebagai orang tua, Anda juga bisa langsung melakukan kunjungan untuk memastikan kualitas sekolah. Semoga bermanfaat!

  • Teori Pembelajaran Skinner dan Penerapannya dalam Pendidikan

    Teori Pembelajaran Skinner dan Penerapannya dalam Pendidikan

    Teori Pembelajaran Skinner, adalah salah satu teori dalam dunia pendidikan yang diusulkan oleh seorang psikolog Amerika, B.F. Skinner. Teori ini membantu Anda memahami bagaimana seseorang belajar dan berkembang. Yuk, jelajahi teori Skinner dan bagaimana penerapannya telah membentuk pendidikan kita.

    Siapa B.F. Skinner?

    Sebelum kita membahas teori Skinner, mari kenali sedikit tentang B.F. Skinner, sang pencetus teori tersebut. Burrhus Frederic Skinner lahir pada tahun 1904 di Pennsylvania, Amerika Serikat. 

    Beliau adalah seorang psikolog, penulis, dan ilmuwan sosial yang sangat berpengaruh dalam dunia psikologi. Skinner dikenal karena kontribusinya dalam bidang psikologi perilaku dan pembelajaran.

    Asal Mula Perkembangan Teori Skinner

    Teori pengkondisian operan yang dikembangkan oleh Burrhus Frederic Skinner memiliki akar yang dapat ditelusuri hingga pemikiran E.L. Thorndike pada tahun 1911. E.L. Thorndike memunculkan dasar-dasar teori ini setelah teori pengkondisian klasik yang dikemukakan oleh Pavlov sebelumnya. 

    Untuk menguji teorinya, Thorndike melakukan serangkaian eksperimen dengan menggunakan binatang sebagai subjek penelitian. Binatang-binatang ini ditempatkan dalam apa yang disebut sebagai “kotak teka-teki” dan setelah beberapa percobaan, mereka berhasil keluar dari kotak dengan cepat. 

    Berdasarkan hasil-hasil eksperimennya, Thorndike merumuskan hipotesis bahwa “jika suatu respon diikuti oleh pengalaman yang menyenangkan, kemungkinan besar respon tersebut akan diulang kembali.” Hipotesis ini dikenal sebagai “hukum akibat” atau “law of effect.”

    Setelah kesuksesan Thorndike dalam menemukan teorinya, B.F. Skinner mulai mengembangkannya lebih lanjut. Beliau memperluas teori pengkondisian operan dengan mengenalkan konsep penguatan ke dalam hukum akibat yang sudah ada. 

    Skinner mendefinisikan penguatan sebagai konsep sentral yang memengaruhi apakah suatu tingkah laku akan muncul kembali atau tidak. Tingkah laku yang dikuatkan (contohnya dengan afirmasi atau validasi) memiliki kemungkinan besar untuk diulang kembali. 

    Sementara itu, tingkah laku yang tidak diperkuat memiliki kemungkinan besar untuk menghilang.

    Secara keseluruhan, teori pengkondisian operan ini memiliki keterkaitan erat dengan psikologi pembelajaran. Dalam teori ini, proses belajar sangat bergantung pada respon yang dihasilkan oleh individu. 

    Contohnya, ketika seorang siswa menjawab soal dengan benar, mereka mungkin akan menerima penguatan berupa nilai yang baik dari soal tersebut.

    Pendekatan Skinner terhadap Pembelajaran

    Salah satu konsep kunci dalam teori pembelajaran Skinner adalah perilaku. Menurut Skinner, perilaku adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya. 

    Di samping itu, menurut beliau perilaku dapat berubah atau menjadi lebih baik melalui stimulus dan respons. Dengan kata lain, jika seseorang mendapat rangsangan atau insentif yang tepat, ia akan memberikan respons yang positif.

    Apa saja Prinsip-Prinsip Teori Skinner?

    Teori pembelajaran hasil pemikiran B.F. Skinner ini berdasar pada sejumlah prinsip utama yang membentuk dasar pendekatannya dalam memahami bagaimana manusia belajar yang dijelaskan di bawah ini. 

    1. Pengondisian Klasik dan Operan

    Salah satu kontribusi besar Skinner dalam dunia psikologi adalah konsep pengondisian klasik dan pengondisian operan. Pengondisian klasik adalah proses pembelajaran yang melibatkan asosiasi antara stimulus yang tidak terkondisikan dengan stimulus yang terkondisikan. 

    Misalnya, jika seseorang terbiasa mendengar bel saat makan siang, mereka bisa mengasosiasikan suara bel dengan makan siang.

    Pengondisian operan adalah jenis pembelajaran di mana perilaku individu mendapat pengaruh oleh konsekuensi dari tindakan tersebut. Skinner mengklaim bahwa hukuman dan penguatan adalah alat yang efektif untuk membentuk perilaku.

    2. Penguatan dan Hukuman

    Dalam teori pembelajaran Skinner, penguatan dan hukuman memainkan peran sentral dalam pembentukan perilaku. Penguatan adalah tindakan yang meningkatkan kemungkinan perilaku tertentu terjadi lagi di masa depan. 

    Tindakan tersebut dapat berupa penguatan positif yang merupakan sesuatu yang diinginkan,  ditambahkan untuk meningkatkan perilaku. Atau, bisa pula berupa penguatan negatif, yaitu sesuatu yang tidak diinginkan dihapus untuk meningkatkan perilaku.

    Di sisi lain, hukuman adalah tindakan yang mengurangi kemungkinan suatu perilaku terjadi lagi di masa depan. Hukuman positif melibatkan penambahan sesuatu yang tidak diinginkan, sedangkan hukuman negatif melibatkan penghapusan sesuatu yang diinginkan.

    3. Pembelajaran melalui Pencapaian Bertahap

    Skinner percaya bahwa pembelajaran yang efektif umumnya melibatkan pencapaian bertahap. Artinya, individu harus mendapat penguatan secara bertahap saat mereka mendekati perilaku yang positif.

    Proses ini disebut dengan “penguatan bertahap” atau “shaping.” Sebagai contoh, jika seorang anak sedang belajar berjalan, mereka mungkin akan diberi penguatan setiap kali mereka berhasil membuat beberapa langkah kecil.

    Guru dan Murid Memegang Bel
    Guru dan Murid Memegang Bel I Pexels

    Bagaimana Penerapan Teori Pembelajaran Skinner dalam Dunia Pendidikan?

    Penerapan teori Skinner dalam dunia pendidikan telah memiliki dampak yang signifikan dalam cara kita mengajar dan memahami bagaimana siswa belajar. Anda dapat melihatnya melalui beberapa contoh dalam ringkasan di bawah ini. 

    1. Penguatan Positif dalam Kelas

    Penggunaan penguatan positif telah menjadi praktik umum dalam kelas. Di antaranya adalah ketika guru memberikan pujian, hadiah, atau pengakuan kepada siswa yang menunjukkan perilaku yang baik dan positif. 

    Misalnya, seorang guru mungkin memberikan penguatan positif kepada siswa yang rajin dalam mengerjakan tugas mereka.

    2. Penilaian dan Umpan Balik

    Skinner menekankan pentingnya umpan balik (feedback) dalam membentuk perilaku. Di kelas, guru memberikan umpan balik reguler kepada siswa tentang kemajuan mereka. Feedback tersebut bisa berupa penilaian hasil tugas, ulangan, atau komentar positif.

    3. Pembelajaran Berbasis Tugas

    Pembelajaran berbasis tugas mencakup pemberian tugas atau proyek yang memerlukan respons aktif atau tindakan dari siswa. Ketika siswa menyelesaikan tugas tersebut dengan sukses, mereka menerima penguatan positif berupa hasil yang memuaskan atau pengakuan dari guru.

    4. Pendidikan Dalam Jaringan (E-Learning)

    Di era digital saat ini, metode pembelajaran daring (online) atau e-learning juga mengikuti prinsip-prinsip teori pembelajaran Skinner. Sistem pembelajaran online sering menggunakan penguatan positif, seperti poin atau penghargaan virtual, untuk mendorong siswa untuk mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas-tugas mereka.

    5. Program Keterampilan Sosial

    Teori Skinner juga berperan penting dalam pengembangan program keterampilan sosial untuk siswa. Program ini membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial seperti berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan konflik, dan bekerja sama dalam kelompok.

    Baca Juga : Ketahui Serba Serbi Strategi Pembelajaran yang Efektif

    Kelemahan Teori Pembelajaran Skinner

    Meskipun teori Skinner telah memberikan kontribusi besar dalam pemahaman kita tentang pembelajaran, ada beberapa kritik terhadapnya. Salah satu kritik utama adalah bahwa teori ini mungkin terlalu mekanistik dalam pendekatannya, sehingga mengabaikan faktor-faktor psikologis yang lebih kompleks dalam pembelajaran.

    Selain itu, beberapa kritikus juga mengkhawatirkan penggunaan penguatan dan hukuman dalam pendidikan. Pasalnya, kedua aspek tersebut justru bisa menjadi pemicu siswa untuk berorientasi hanya pada hadiah atau menghindari hukuman, tanpa benar-benar memahami materi atau memiliki motivasi intrinsik untuk belajar.

    Apa Pengaruh Teori Pembelajaran Skinner dalam ektor Pendidikan?

    Teori pembelajaran Skinner telah memberikan landasan yang kuat untuk praktik pendidikan kita saat ini. Konsep-konsep seperti penguatan, hukuman, dan pembelajaran bertahap tetap relevan dalam membantu kita memahami bagaimana manusia belajar dan bagaimana pendidikan dapat menjadi lebih efektif. 

    Meskipun demikian, penting untuk mengimbangi pendekatan mekanistik Skinner dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor psikologis yang memengaruhi prose manusia belajar.

  • 10+ Contoh Aturan di Rumah untuk Mendisiplinkan Anak

    10+ Contoh Aturan di Rumah untuk Mendisiplinkan Anak

    Setiap orang tua pasti mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan taat aturan. Namun, kedisiplinan itu tidak bisa terbentuk secara instan. Sebagai awalan, kamu bisa menerapkan beberapa contoh aturan di rumah dan menjadikannya sebagai rutinitas harian yang harus dijalankan si kecil setiap hari.

    Lantas, apa saja contoh peraturan di rumah yang bisa kamu terapkan sebagai orang tua untuk mendisiplinkan anak? Yuk, cari tahu!

    10 Contoh Aturan di Rumah untuk Anak 6 – 12 Tahun

    Di usia 6 – 12 tahun, pemahaman anak-anak tentang aturan dan batasan mulai berkembang. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memiliki aturan di rumah yang membantu mendisiplinkan anak-anak dengan bijak. Berikut beberapa contoh aturan di rumah dalam rangka mendisplinkan anak:

    1. Bangun Tidur Jam 5 Pagi

    Anak-Anak Bangun Tidur di Pagi Hari
    Anak-Anak Bangun Tidur di Pagi Hari | Sumber gambar: Freepik

    Anak harus didorong untuk bangun minimal 1,5 hingga 2 jam lebih awal (idealnya jam 5 pagi) dari waktu berangkat sekolah. Bangun pagi membawa banyak manfaat bagi si kecil, seperti:

    • Anak-anak mendapat waktu yang cukup untuk menyelesaikan rutinitas hariannya, seperti mandi, menyikat gigi, berdandan, dan memenuhi ‘panggilan alam’.
    • Lebih banyak waktu untuk menikmati sarapan.
    • Anak-anak anak mendapat cukup waktu untuk menata buku dan tas sekolahnya.
    • Anugerah terindah dari bangun pagi adalah dapat melihat terbitnya matahari.

    2. Merapikan Tempat Tidur Sendiri

    Anak Merapikan Tempat Tidur Sendiri
    Anak Merapikan Tempat Tidur Sendiri | Sumber gambar: Freepik

    Mengajarkan anak untuk merapikan tempat tidur mereka sendiri adalah langkah pertama dalam mengajarkan rasa tanggung jawab. Mungkin bagi orang dewasa, ini adalah perkara sepele.

    Tapi bagi anak-anak, merapikan tempat tidur bukan hanya sekedar memasang sprei di atas kasur, melainkan harus dilakukan dengan rapi dan ini memerlukan ketekunan. 

    Mulai dari menarik ujung-ujung sprei dan melipatnya di bawah kasur, melipat selimut, menepuk-nepuk dan meletakkan bantal di tempatnya, semua butuh ketekunan. Selain itu, orang tua juga dapat mengajarkan kepada si kecil agar terbiasa hidup secara teratur, dimulai dengan merapikan tempat tidur.

    3. Meletakkan Baju Kotor di Tempatnya

    Anak Meletakkan Baju Kotor di Tempatnya
    Anak Meletakkan Baju Kotor di Tempatnya | Sumber gambar: Freepik

    Contoh aturan di rumah ini bermanfaat untuk membiasakan anak kamu agar ikut andil dalam melakukan ‘bagian’ mereka. Dengan begitu, kamu dapat mencegah baju-baju berserakan di sembarang tempat, termasuk di sofa atau kamar anak.

    Ajarkan pada si kecil cara untuk memilah pakaian kotor saat melepasnya. Kamu bisa letakkan dua keranjang di kamar anak, satu keranjang untuk baju kotor berwarna terang dan yang satu lagi untuk baju berwarna gelap.

    4. Contoh Aturan di Rumah Makan di Meja Makan

    Anak-Anak dan Ibu Makan Bersama di Meja Makan
    Anak-Anak dan Ibu Makan Bersama di Meja Makan | Sumber gambar: Freepik

    Kebiasaan makan di meja makan mungkin bukan perkara yang sulit bagi orang tua, namun bagi anak-anak, hal ini seringkali tak mudah dilakukan. Tak sedikit anak-anak yang lebih suka makan di depan TV atau komputer sambil menonton film kartun kesukaan mereka. 

    Padahal, meskipun terlihat sepele, membiasakan anak makan di meja makan bermanfaat untuk mempererat hubungan si kecil dengan orang tua. Momen makan bersama di meja makan juga menjadi kesempatan yang bagus untuk meningkatkan kemampuan komunikasi serta mengajarkan anak sopan santun, terutama dalam hal makan.

    5. Meletakkan Sepatu di Rak, Contoh Aturan di Rumah untuk Kedisiplinan

    Anak Sedang Melepas Sepatu
    Anak Sedang Melepas Sepatu | Sumber gambar: Freepik

    Setelah anak kamu pulang sekolah, pulang dari bermain, olahraga, atau lainnya, biasakan mereka untuk selalu meletakkan sepatu di rak yang disediakan, agar rumah senantiasa bersih dan rapi. 

    Selain menjaga kebersihan dan kerapian, si kecil juga diajarkan untuk belajar tentang tanggung jawab pribadi dan kedisiplinan. Melalui pembiasaan yang baik ini, kamu juga akan mengajarkan tentang artinya konsekuensi. Misalnya, jika anak tidak meletakkan sepatu di rak yang tersedia, maka sepatu akan mudah hilang, dan sebagainya.

    6. Menyiapkan Keperluan Sekolahnya Sendiri

    Anak Memasukkan Perlengkapan Sekolah di Dalam Tas
    Anak Memasukkan Perlengkapan Sekolah di Dalam Tas | Sumber gambar: Freepik

    Membiasakan anak kamu untuk menyiapkan keperluan sekolahnya adalah langkah awal dalam mengembangkan kemandirian dan kedisiplinan. 

    Menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri, seperti merapikan buku, mengemas bekal, atau menyiapkan seragam sekolah, memerlukan perencanaan dan pengaturan waktu. Hal ini akan membantu anak-anak memahami pentingnya disiplin terhadap waktu serta bertanggung jawab atas barang-barang mereka sendiri.

    Sebagai awalan, kamu bisa membimbing dan memeriksa tas anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah. Lihat apakah ada barang yang terlupa, apakah ada barang tertentu yang kurang perlu, atau bahkan dilarang untuk dibawa? 

    7. Screen Time Tidak Lebih dari 1,5 Jam Sehari

    Anak-Anak Bermain Gadget
    Anak-Anak Bermain Gadget | Sumber gambar: Freepik

    Contoh aturan di rumah lainnya yang penting untuk kamu terapkan dalam rangka membentuk kedisiplinan anak adalah membatasi screen time mereka. Untuk anak dengan usia 6 – 12, IDAI menyarankan agar tidak lebih 1,5 jam per hari. 

    Membatasi screen time secara tidak langsung mengajarkan anak-anak tentang pengendalian diri yang sangat penting bagi kehidupannya saat dewasa nanti. Seperti kapan harus berhenti scrolling medsos dan mulai mengerjakan tugasnya, berinteraksi dan bersosialisasi, mengerjakan pekerjaan rumah, olahraga, atau bahkan makan!

    Selain itu, dengan membatasi screen time, anak-anak akan belajar memahami prioritas. Mereka menyadari bahwa ada tugas-tugas penting, seperti pekerjaan rumah atau belajar yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

    8. Mencuci Piring dan Gelas Kotor Setelah Memakainya

    Ibu Mengajari Anaknya Mencuci Piring
    Ibu Mengajari Anaknya Mencuci Piring | Sumber gambar: Freepik

    Mengajari anak kamu mencuci piring kotor setelah mereka memakainya memiliki banyak manfaat dan bahkan membantu pengembangan kedisiplinan serta keterampilan hidup. Untuk anak-anak usia toddler, hal ini mendorong penggunaan keterampilan motorik halus mereka dengan bermain dengan air dan gelembung saat membilas piring. 

    Sedangkan untuk anak-anak usia 6 – 12 tahun, pembiasaan ini akan mendorong kebersihan, kedisiplinan, dan membantu mereka merasa bahwa mereka berkontribusi dalam keluarga. Selain itu, kegiatan mencuci piring bagi anak-anak ternyata tidaklah semudah itu.

    Mencuci piring menuntut kesabaran dan perhatian terhadap detail. Mulai dari menggosok bagian yang kotor, membilas hingga bersih tanpa ada busa yang tersisa, kemudian mengelap dan menata piring di rak, bisa jadi tantangan tersendiri bagi anak-anak, sehingga dengan membiasakannya akan memunculkan benih-benih kedisiplinan.

    9. Mematikan Lampu, Keran, Kipas Angin, dan TV Bila Tidak Dipakai

    Tangan yang Hendak Menekan Saklar Lampu
    Tangan yang Hendak Menekan Saklar Lampu | Sumber gambar: Freepik

    Contoh aturan di rumah selanjutnya yang penting untuk diterapkan kepada anak sejak dini adalah mematikan peralatan elektronik, entah itu TV, lampu, kipas angin, atau keran jika sudah tidak digunakan. Untuk membiasakan ini, kamu sebagai orang tua perlu senantiasa mencontohkannya.

    Kita semua tahu bahwa anak-anak belajar dengan mengamati apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Meskipun mereka tidak mengatakan apa pun, anak-anak dapat memproses dan meniru tindakan kamu.

    Melalui pembiasaan ini, kamu tidak hanya mengajarkan artinya kedisiplinan, tapi juga menanamkan kebiasaan hemat energi yang akan bermanfaat bagi mereka hingga dewasa kelak.

    10. Ambil Sendiri

    Anak Menuang Orange Jus dalam Gelas
    Anak Menuang Orange Jus dalam Gelas | Sumber gambar: Freepik

    Jika anak kamu mempunyai kebiasaan meminta ini itu kepada kamu dan cenderung bersikap pasif, coba tetapkan contoh aturan di rumah ini. 

    Aturan ini mengajarkan anak untuk mengambil inisiatif dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, seperti mengambil makanan, minuman, mainan, atau pakaian tanpa harus selalu menggantungkan diri pada bantuan orang dewasa. 

    Jadi, alih-alih langsung menuruti anak-anak untuk mengambilkan sesuatu yang sebenarnya mereka mampu untuk melakukannya dan menjangkaunya, sebaiknya mintalah mereka untuk mengambilnya sendiri.

    11. Pergi Tidur Maksimal Jam 9 Malam

    Anak Tertidur Sambil Memeluk Boneka
    Anak Tertidur Sambil Memeluk Boneka | Sumber gambar: Freepik

    Cara efektif lainnya untuk membentuk karakter anak yang disiplin adalah menetapkan waktu tidur sebagai bagian dari contoh aturan di rumah. Usahakan agar anak tidak terlalu sering tidur larut malam, sebab dapat berpengaruh buruk terhadap suasana hati dan menyebabkan stres, dan membebani tubuhnya untuk beraktivitas keesokan harinya.

    Sebaiknya, mulailah untuk menetapkan waktu tidur maksimal jam 9 malam. Mengapa harus jam 9? Sebab, anak umur 6 – 12 tahun idealnya memerlukan waktu 9 – 12 jam tidur (menurut American Academy of Pediatrics).

    Selain itu, jangan lupa kembangkan rutinitas sebelum tidur, seperti menyikat gigi, mencuci kaki, atau berwudhu, sebagai upaya untuk membiasakan pola disiplin anak. 

    Baca Juga : Memahami Teori Belajar Kognitif dan Contohnya

    Tips Membuat Aturan di Rumah untuk Anak

    Sekarang, kamu sudah tahu apa saja contoh aturan di rumah yang cocok untuk mendisiplinkan anak. Pertanyaannya, bagaimana cara membuat dan menetapkannya? Supaya tidak bingung, kamu bisa ikuti tips membuat aturan di rumah berikut ini:

    • Libatkan anak kamu semaksimal mungkin dalam membuat peraturan.
    • Cobalah tulis peraturan keluarga kamu dan tempelkan di kamar anak atau lemari es.
    • Pastikan si kecil memahami mengapa contoh aturan di rumah ini dibuat dan konsekuensinya jika melanggar.
    • Cobalah untuk membatasi jumlah aturan, agar tidak terlalu membebani. Fokus pada aturan yang benar-benar penting dan relevan untuk keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan anak.
    • Cobalah untuk mendengarkan pandangan mereka tentang apa yang mereka anggap adil dan masuk akal.
    • Jika aturan di rumah perlu diubah, bicarakanlah dengan anak-anak kamu.
    • Berikan support, misalnya memuji si kecil ketika mereka menaati dan mengikuti aturan, terutama jika mereka melakukannya tanpa perlu diingatkan.
    • Jika anak melanggar suatu peraturan, kritiklah tindakannya, bukan anaknya.
    • Hormati hak-hak anak kamu,seperti hak privasi.
    • Berikan contoh supaya anak-anak dapat meniru tindakan kamu menaati aturan.
    • Pastikan rancangan konsekuensi dan imbalan berhubungan langsung dengan aturan. 
    • Jangan berasumsi bahwa setelah kamu membuat aturan, semuanya akan berjalan lancar! Pasalnya, seiring bertambahnya usia anak-anak kamu, ekspektasi dan peraturan kita harus selaras dengan tingkat kedewasaan mereka. Jadi, bersikaplah lebih fleksibel.

    Mari Buat Aturan di Rumah untuk Mengasah Kedisiplinan Anak!

    Secara keseluruhan, dapat kami simpulkan bahwa menetapkan peraturan di rumah untuk anak-anak akan sangat membantu si kecil untuk melatih kebiasaan baik, sehingga menjadi pribadi yang disiplin. Oleh karena itu, kamu dapat menerapkan beberapa contoh aturan di rumah seperti menetapkan jam bangun tidur anak pada pukul 5 pagi hingga meminta mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri.

  • Memahami Teori Belajar Kognitif dan Contohnya

    Memahami Teori Belajar Kognitif dan Contohnya

    Apakah Anda mempercayai bahwa pengetahuan harus melibatkan pengalaman agar proses belajarnya lebih mudah dipahami? Proses belajar dengan menyeimbangi pengetahuan dan pengalamannya ini diterapkan dalam teori belajar kognitif. Teori belajar ini cukup terkenal, terutama di kalangan civitas akademika.

    Melalui teori ini, para pembimbing seperti guru atau dosen mampu melihat perubahan yang terjadi pada mental dan kognitif individu. Lantas, apa sebenarnya teori kognitif dan bagaimana contohnya? Mari simak selengkapnya di sini!

    Apa itu Teori Belajar Kognitif?

    Teori belajar kognitif merupakan teori belajar yang menekankan aktivitas mental ketimbang perilaku agar individu tersebut mampu menilai dan mempertimbangkan suatu peristiwa, ini akan melibatkan pemikiran, pengalaman, dan indranya. 

    Sehingga, individu tersebut bisa mendapatkan pengetahuan baru sebagai hasilnya. Proses pembelajaran kognitif ini berfokus pada stimulus dan respon. Proses mental ini melibatkan perhatian, pengamatan, persepsi, menafsirkan, pengorganisasian, memori, pengkategorian, dan membentuk generalisasi. 

    Teori Belajar Kognitif Menurut Para Ahli 

    Agar lebih memahami tentang konsep teori belajar ini, Anda sebaiknya mengetahui berbagai definisinya menurut para ahli berikut:

    1. Jean Piaget

    Jean Piaget
    Jean Piaget | Sumber gambar: Biography.com

    Piaget merupakan pakar psikologi pendidikan terkenal sekaligus tokoh terciptanya teori kognitif. Piaget berpendapat bahwa, teori belajar ini merupakan proses yang menekankan peran penting pada pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungan. Pengalaman inilah yang membentuk pola-pola kognitif manusia.

    Lebih lanjut, Piaget menjelaskan bahwa manusia mengalami empat tahap perkembangan kognitif. Meliputi tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun), pra-operasional (2-7 tahun), operasional konkrit (7-12 tahun) serta operasional formal (11-18 tahun). Berikut adalah contohnya:

    a. Sensorimotor (usia 0-2 tahun)

    Pada tahap ini, balita akan belajar melalui indera dan tindakan fisik. Balita mulai memahami konsep objek tetap, yaitu pemahaman bahwa benda-benda tetap ada meski tidak terlihat. Contohnya, seorang bayi mencoba mencari mainannya yang tersembunyi di balik selimut. 

    Bayi tersebut memahami adanya mainan meski kehadirannya tidak terlihat. Kemudian, kembali menunjukkan reaksi ketika mainan tersebut terasa oleh inderanya.

    b. Pra-operasional (2-7 tahun)

    Tahap ini merupakan tahap perkembangan anak-anak. Anak-anak pada tahap ini cenderung egosentris, sehingga sulit melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Selain itu, anak-anak juga mulai bisa mengenali ciri suatu objek. Misalnya dari warna, ukuran, atau bentuk benda tersebut.

    Contohnya, seorang anak memiliki sepatu berwarna merah muda. Sepatu tersebut kemudian dijejerkan dengan sepatu teman-temannya dalam rak saat di sekolah. Meski begitu, anak tersebut akan dengan mudah menemukan sepatu miliknya berdasarkan warna, ukuran, dan gambar.

    c. Operasional konkrit (7-12 tahun)

    Pada tahap teori belajar kognitif ini anak-anak mulai mampu berpikir secara lebih konkret dan logis. Anak-anak dapat mempraktikkan aturan yang jelas dan logis serta memahami prinsip-prinsip matematika dasar. 

    Contohnya ketika diajari peraturan tentang lampu lalu lintas. Anda dapat mengajari peraturan dengan menggunakan warna rambu. Merah berarti berhenti, kuning berarti hati-hati, dan hijau berarti boleh berjalan.

    d. Operasional formal (11-18 tahun)

    Ketika memasuki tahap ini, individu bukan lagi anak-anak. Mereka akan mulai memasuki tahap pemikiran abstrak dan logis. Selain itu, pada tahap ini individu dapat memecahkan masalah dengan menggunakan pemikiran deduktif dan konsep berpikir ‘kemungkinan’.

    Contohnya, ketika sedang jatuh hati, individu tersebut bisa menilai apakah perlu melanjutkan perasaannya menjadi hubungan berkomitmen atau tidak. Ini akan berdasarkan pada kebutuhan dan keinginannya. 

    2. David Ausubel

    Ausubel merupakan pakar psikologi yang memiliki penghargaan Thorndike atas kontribusi psikologisnya terhadap dunia pendidikan. Teori belajar kognitif David Ausubel kurang lebih mendapat pengaruh dari Jean Piaget.

    David Ausubel
    David Ausubel | Sumber gambar: Mente Asombrosa

    Ausubel berpendapat bahwa penalaran deduktif dapat digunakan untuk mencapai pemahaman konsep, ide, gagasan, maupun prinsip. Tak hanya itu, Ausubel juga membagi kegiatan pembelajaran menjadi dua jenis yakni pelajaran bermakna dan pelajaran menghafal. Berikut adalah contohnya:

    a. Pelajaran Bermakna (Meaningful Learning)

    Pembelajaran bermakna melibatkan proses belajar di mana informasi selalu dikaitkan dengan pemahaman yang sudah individu miliki saat belajar. Hal tersebut melibatkan pengalaman individu sebelumnya.

    Contohnya, saat belajar soal matematika aljabar. Individu akan mengaitkan pelajaran tersebut dengan pelajaran penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian yang sudah mereka pelajari pada kelas sebelumnya. 

    b. Pelajaran Menghafal (Rote Learning)

    Saat pelajaran menghafal, individu mencoba untuk mengingat informasi dengan cara yang repetitif, sering kali tanpa benar-benar memahaminya. Individu akan mengulang-ulang informasi tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang lebih dalam atau pemahaman konsep.

    Contohnya adalah saat individu diminta menghafal tabel periodik senyawa kimia. Individu mungkin bisa menghafal susunannya, namun seringkali tanpa memahami makna ataupun kegunaan dari senyawa-senyawa yang mereka hafalkan.

    3. Lev Vygotsky

    Lev Vygotsky
    Lev Vygotsky| Sumber gambar: Rusia Beyond

    Teori belajar kognitif dari Vygotsky menekankan hubungan sosial dan budaya tiap individu. Dalam teorinya, Vygotsky mengungkapkan bahwa perkembangan kognitif terjadi melalui interaksi sosial dan keterlibatan individu dalam berbagai aktivitas yang mendukung perkembangan tersebut.

    Contohnya menggunakan sistem belajar kelompok berbasis proyek. Akhirnya, proyek ini akan mendorong terjalin interaksi sosial untuk berbagi pengetahuan.

    Strategi Penerapan Teori Belajar Kognitif dan Contohnya

    Dalam melakukan penerapan pembelajaran kognitif, perlu adanya strategi yang bisa diterapkan dalam lingkungan belajar maupun kehidupan sehari-hari. Nah, berikut ini adalah strategi penerapan teori belajar satu ini:

    1. Menanyakan Pertanyaan 

    Menanyakan pertanyaan dapat memicu jalannya diskusi. Ketika pengajar memberi pertanyaan, individu akan tergerak mencari jawaban, sehingga dapat menyelami maknanya lebih dalam. Individu juga terdorong untuk menganalisis suatu masalah dan mengevaluasi informasi yang ada, alih-alih hanya mengingatnya.

    Mendorong individu untuk menganalisis masalah secara terus menerus juga akan membentuk kecerdasan dan pemikiran kritisnya. Contohnya adalah saat seorang guru membuat daftar pertanyaan untuk siswa kerjakan di selembar kertas.

    2. Studi kasus

    Metode studi kasus dapat mendorong kreativitas individu. Ini akan mendorong individu menggunakan pengetahuan yang sudah ada dan berpikir kreatif untuk mendapatkan solusi. Contohnya adalah membuat diskusi tentang topik tertentu dan menyuruh siswa menjelaskan pendapatnya kepada teman-temannya dalam kelas.

    Melalui metode teori belajar kognitif ini, individu juga didorong untuk lebih aktif dalam memahami konsep yang mendalam dibandingkan pembelajaran pasif yang hanya mendengarkan. Selain itu, individu juga dapat belajar dari kesalahannya, sehingga dapat merubah jalan pikirnya menjadi lebih bijak.

    3. Analogi

    Berpikir secara analogis menjadi strategi dari teori kognitif. Melalui cara berpikir yang analogis, individu akan mencari persamaan antara dua situasi atau konsep yang berbeda. Serta akan mengaplikasikan pengetahuan yang sudah mereka miliki dalam situasi yang baru.

    Contohnya ada dengan melakukan diskusi untuk melakukan perbandingan pada situasi dan kondisi tertentu. Di mana nantinya siswa bisa melakukan penarikan kesimpulan dari hasil perbandingan tersebut.

    Baca Juga : Mengenal Inovasi Pendidikan: Pengertian, Tujuan, dan Sasarannya

    Sudah Lebih Memahami tentang Teori Belajar Kognitif?

    Mempelajari teori belajar kognitif akan memberikan Anda pandangan yang mendalam tentang bagaimana individu memproses, memahami, dan mengembangkan pengetahuan. Hal tersebut menekankan peran aktif individu dalam pembelajaran hingga dalam bersosialisasi.

    Memahami makna dan strategi dari teori ini, akan membuat Anda bisa merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Intinya, dalam menerapkan teori ini memperhatikan perbedaan tiap individu dan susunan materi akan menjadi kunci keberhasilan. Semoga bermanfaat!

  • Mengenal Inovasi Pendidikan: Pengertian, Tujuan, dan Sasarannya

    Mengenal Inovasi Pendidikan: Pengertian, Tujuan, dan Sasarannya

    Inovasi pendidikan atau pembaharuan pendidikan menjadi salah satu langkah yang perlu diterapkan agar pendidikan lebih efektif dalam proses pencapaian tujuannya. Pasalnya, pendidikan merupakan sektor krusial untuk mencetak generasi penerus yang mapan dalam sebuah tatanan sosial masyarakat, khususnya sebuah bangsa. 

    Yuk, kupas lebih dalam tentang program pembaharuan pendidikan melalui uraian berikut in!

    Apa itu Inovasi Pendidikan?

    Istilah inovasi merupakan kata yang memiliki makna pembaharuan, dan berasal dari bahasa Latin. Inovasi dalam bidang pendidikan mempunyai arti pembaharuan yang dilakukan melalui ide, hasil karya atau produk dalam menyelesaikan masalah pendidikan.

    Pembaharuan pendidikan berfungsi untuk meraih tujuan pendidikan. Di samping itu, konsep pembaharuan sektor pendidikan dapat menciptakan suasana kegiatan belajar-mengajar yang dinamis sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensi mereka secara optimal.

    Inovasi yang tepat di sektor tersebut akan memberikan banyak perubahan positif terhadap peserta didik dan membuat mereka lebih sensitif terhadap perkembangan zaman dan teknologi. Dengan demikian, peserta didik yang sudah menyelesaikan masa pendidikannya akan lebih siap dalam menghadapi tantangan dunia nyata.

    4 Tujuan Dasar Inovasi Pendidikan

    Pembaharuan pendidikan tidak dilakukan atas dasar keinginan atau trend semata. Faktanya, inovasi di sektor ini juga tujuan dasar yang menjadi sasaran.

    1. Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    Tujuan utama melakukan pembaharuan dalam dunia pendidikan adalah meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri. Dengan demikian, pembaharuan pendidikan mempunyai cakupan aspek yang luas, meliputi sumber daya manusia, prosedur, sarana, struktur, dan prasarana pendidikan.

    Apabila semua aspek tersebut melakukan inovasi, maka target untuk menciptakan kegiatan belajar-mengajar yang kondusif dan bersinergi pun akan terlaksana dengan baik. Dengan begitu, lembaga pendidikan akan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan terampil.

    2. Solusi Menyelesaikan Masalah Pendidikan

    Mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas, maka tidak heran jika kualitas pendidikan antara satu daerah dengan daerah lain berbeda. Alasannya, beberapa daerah mengalami kendala untuk mencapai tujuan pendidikan karena keterbatasan SDM, sarana, dan prasarana.

    Inovasi pendidikan dapat digunakan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah pendidikan tersebut. Salah satu contoh penerapan pembaharuan pendidikan yaitu menerapkan kurikulum terbuka, baik untuk jenjang SMA atau perguruan tinggi.

    Pembaharuan pendidikan melalui penerapan kurikulum terbuka ini dapat membantu para siswa atau mahasiswa untuk mendapatkan nilai akademis yang bagus. Selain itu, inovasi ini juga efektif mendorong mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

    3. Efisiensi Pendidikan

    Melakukan pembaharuan pendidikan juga bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan belajar-mengajar. Inovasi yang melibatkan kecanggihan teknologi dapat membantu kegiatan belajar lebih efektif dan efisien. 

    Pasalnya, para siswa atau mahasiswa sekarang bisa menggunakan e-book untuk memperluas referensi dan wawasan mereka.

    Selain itu, inovasi belajar e-Learning juga dapat membuat kegiatan belajar lebih efektif dan efisien karena mampu meleburkan akses pendidikan konvensional. Sederhanyanya, siswa tidak perlu datang ke lembaga pendidikan dan bisa belajar dari mana pun dengan bantuan jaringan internet, teknologi dan alat yang memadai. 

    4. Menyelaraskan dengan Perkembangan Zaman

    Pembaharuan pendidikan juga bertujuan supaya siswa atau mahasiswa dapat menyelaraskan perkembangan zaman dan teknologi yang sangat pesat. Pembaharuan pendidikan yang melibatkan teknologi ini pun akan membuat siswa menjadi familier dan peka serta mudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

    Harapannya, mereka lebih mudah dan siap menghadapi segala tantangan akibat perkembangan zaman dan teknologi, dan berkembang untuk lebih maju. 

    Siapa saja Sasaran Inovasi Pendidikan?

    Tak hanya mempunyai tujuan, pembaharuan pendidikan juga mempunyai sasaran agar dapat menghasilkan lulusan berkualitas dari sektor pendidikan yang sudah mengalami inovasi tersebut. 

    1. Guru

    Sasaran pembaharuan pendidikan guru
    Sasaran pembaharuan pendidikan guru | Sumber gambar: Freepik.com

    Guru atau pendidik merupakan sasaran utama dari pembaharuan pendidikan Pasalnya, guru merupakan garda terdepan lembaga pendidikan  yang berperan langsung dalam kegiatan belajar-mengajar dengan para pelajar. Merekalah faktor yang dapat mengubah moral siswa melalui ilmu pengetahuan. 

    Supaya guru dapat menyampaikan pelajaran dengan efektif dan membuat peserta didik antusias dalam mengikuti pelajaran, maka mereka dapat melakukan beberapa pembaharuan berikut ini. 

    • Menyusun rencana pembelajaran.
    • Melaksanakan kegiatan pembelajaranan sesuai dengan rencana pembelajaran.
    • Komunikasi yang baik dengan peserta didik dan kolega.
    • Mengelola tugas administrasi dengan baik.
    • Berperan meningkatkan keterampilan pendidikan.
    • Mengembangkan keterampilan peserta didik.

    2. Peserta Didik

    Sasaran pembaharuan pendidikan peserta didik
    Sasaran pembaharuan pendidikan peserta didik | Sumber gambar: Freepik.com

    Sasaran pembaharuan pendidikan berikutnya yang tidak kalah penting yaitu peserta didik atau siswa. Kemampuan peserta didik dalam dalam mencapai setiap kompetensi dasar merupakan tolak ukur keberhasilan penerapan inovasi pendidikan.

    Salah satu cara untuk melibatkan peserta didik dalam penerapan pembaharuan pendidikan dengan menstimulasi interaksi antar siswa untuk saling bertukar pengetahuan atau memberikan rujukan belajar.

    3. Kurikulum

    Sasaran pembaharuan pendidikan kurikulum
    Sasaran pembaharuan pendidikan kurikulum | Sumber gambar: Freepik.com

    Kurikulum juga merupakan bagian dari sasaran pembaharuan pendidikan. Agar dapat menerapkan pembaharuan pendidikan dengan kurikulum yang digunakan, maka pengajar perlu menyelaraskan inovasi yang akan diterapkan.

    Selain itu, membuat kurikulum baru yang lebih relevan dengan kebutuhan peserta didik juga merupakan bentuk invovasi dalam sektor pendidikan. Keberhasilan dalam membuat pembaharuan kurikulum juga akan sangat menentukan kualitas lulusan pendidikan.

    4. Fasilitas

    Sasaran pembaharuan pendidikan fasilitas
    Sasaran pembaharuan pendidikan fasilitas | Sumber gambar: Freepik

    Inovasi pendidikan juga menyasar pasar fasilitas sekolah. Alasannya, fasilitas merupakan penunjang para peserta didik untuk belajar dan menerapkan pengetahuan yang mereka dapatkan. Supaya pembaharuan pendidikan berjalan lancar, pastikan sekolah juga menyediakan fasilitas yang memadai.

    Adapun fasilitas yang perlu dimiliki sekolah antara lain laboratorium untuk melakukan eksperimen, lapangan basket, ruang musik, ruang baca, hingga ruang seni.

    5. Masyarakat

    Sasaran pembaharuan pendidikan masyarakat
    Sasaran pembaharuan pendidikan masyarakat | Sumber gambar: Freepik.com

    Sasaran pembaharuan pendidikan yang terakhir adalah masyarakat. Lantas, apa hubungannya masyarakat dengan pembaharuan pendidikan? Para pelajar merupakan bagian dari masyaraka. Mereka terus berinteraksi dan akan menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas pada waktunya. 

    Pada akhirnya, sedikit banyak, pendidikan yang mereka dapat akan mereka terapkan dalam interaksi sosial tersebut.  Dengan kata lain, masyarakat merupakan sasaran pembaharuan pendidikan yang tidak langsung. 

    Apa saja Contoh Nyata Inovasi Pendidikan?

    Untuk memberikan pemahaman dan gambaran yang lebih jelas mengenai pembaharuan pendidikan, silakan intip lima contohnya di bawah ini. 

    1. Kurikulum Terbuka

    Penerapan pembaharuan pendidikan bisa dengan menggunakan kurikulum terbuka. Apa saja ciri-ciri kurikulum terbuka yang perlu Anda kenali?

    1. Hanya memberikan sedikit persyaratan mata pelajaran atau mata kuliah tertentu atau bahkan tidak persyaratan mata pelajaran sama sekali. Peserta didik dapat memilih sendiri mata pelajaran atau mata kuliah sesuai dengan tingkatan masing-masing.

    Mata pelajaran atau mata kuliah dengan persyaratan sedikit ini efektif untuk membantu peserta didik lulus tepat waktu dan mempunyai reputasi akademis yang baik.

    1. Kurikulum terbuka tidak memberikan persyaratan distribusi, terutama untuk jenjang perguruan tinggi. Misalkan untuk mendapatkan gelar diploma, mahasiswa tidak perlu menempuh tiga semester mata kuliah ilmu sosial, bahasa asing, atau matematika.

    Perguruan tinggi yang tidak menerapkan kurikulum terbuka, biasanya akan mengharuskan mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah tersebut selama tiga semester.

    2. E-Learning

    Contoh inovasi pendidikan berikutnya adalah e-learning atau pembelajaran elektronik yang berbasis internet. Inovasi ini muncul akibat dampak pandemi Covid19 karena kegiatan belajar tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan tatap muka.

    Meskipun badai pandemi sudah berakhir, inovasi e-learning ini masih banyak diminati karena memberikan kemudahan akses belajar. Pembelajaran secara daring (online) memungkinkan siswa dari berbagai daerah untuk tetap bisa mendapatkan akses pendidikan yang sama.

    3. Pendidikan Berbasis Kompetensi

    Penerapan pembaharuan pendidikan juga bisa menggunakan konsep pendidikan berbasis kompetensi. Maksudnya, pembelajaran akan mengukur tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang dipelajari.

    Dengan demikian, kegiatan belajar yang menggunakan inovasi pendidikan berbasis kompetensi tidak akan fokus jam pelajaran yang dihabiskan selama di dalam kelas. Jika dalam waktu singkat semua peserta didik dapat menguasai pelajaran dengan baik, maka mereka dapat melanjutkan ke materi berikutnya.

    Sebaliknya, jika materi cukup sulit dan peserta didik memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk dapat memahaminya dengan baik, maka pengajar tidak akan buru-buru beralih ke materi berikutnya.

    Baca Juga : Kemampuan Kognitif: Definisi, Macam, Tahapan, dan Contohnya

    4. Pop Up Book

    Contoh inovasi pendidikan yang dapat diterapkan pada jenjang pendidikan PAUD atau TK yaitu menggunakan pop-up book. Pop-up book merupakan buku cerita dengan dilengkapi dengan gambar yang akan timbul ketika Anda membukanya.

    Melalui inovasi ini, pelajar di tingkat PAUD dan TK akan mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Selain itu, pop-up book juga dapat membantu meningkatkan antusiasme dalam membaca.

    5. Pembelajaran Terbalik

    Pengajar bisa mencoba menerapkan pembelajaran terbalik kepada peserta didik dengan memberikan tugas untuk dipahami di rumah. Tugas tersebut berasal dari materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.

    Pengajar bisa meminta peserta didik untuk menonton video yang direkomendasikan, membaca novel, atau penugasan kreatif lain. Dengan demikian, peserta didik akan menjadi lebih mandiri dan aktif dalam belajar. Setelah di sekolah, mereka bisa melakukan diskusi untuk menambah pengetahuan.

    Siap Menerapkan Inovasi Pendidikan di Kelas Anda?

    Perancangan dan penerapan inovasi pendidikan penting agar dapat menyuguhkan sesuatu yang berbeda tetapi efektif mencapai tujuan pendidikan. 

    Pembaharuan pendidikan serta dampaknya tidak hanya fokus menyasar peserta didik tetap juga elemen lainnya seperti pengajar, kurikulum, fasilitas, dan masyarakat secara menyeluruh.

  • Kemampuan Kognitif: Definisi, Macam, Tahapan, dan Contohnya

    Kemampuan Kognitif: Definisi, Macam, Tahapan, dan Contohnya

    Di sekolah-sekolah Indonesia, ada 3 aspek penilaian utama yang dilakukan untuk memantau perkembangan siswa, yakni afeksi, psikomotorik, dan kemampuan kognitif. 

    Afeksi adalah kemampuan individu dalam merasakan berbagai emosi dan perasaan yang ia rasakan. Psikomotorik berkaitan dengan kemampuan gerak fisik dan perilaku. Sementara kognitif berhubungan dengan cara berpikir seseorang dalam menalar, memahami, dan memecahkan suatu masalah. 

    Dalam artikel kali ini, kamu hanya akan belajar lebih jauh tentang apa itu kognitif hingga contoh-contohnya. Selengkapnya, simak pemaparan di bawah ini!

    Pengertian Kemampuan Kognitif

    Otak
    Otak | Sumber: istockphoto.com

    Pernahkah kamu menemui soal berbentuk pilihan ganda, esai, jawaban singkat, benar-salah, dan mencocokkan saat ujian? Kalau pernah, itulah salah satu aspek penilaian untuk mengetahui perkembangan otak siswa, namanya penilaian kemampuan kognitif.

    Kemampuan ini identik dengan kemampuan berpikir dan penalaran. Ia berhubungan langsung dengan kemampuan pengetahuan, pemahaman informasi, pemikiran, dan rasionalitas seseorang. Beberapa ahli menjelaskan pengertian dari kemampuan ini, seperti:

    1. Ahmad Susanto

    Dalam bukunya yang bertajuk Perkembangan Anak Usia Dini, ia menyebut bahwa kognitif termasuk kemampuan dasar yang identik dengan proses berpikir seseorang, bagaimana individu tersebut menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu peristiwa.

    2. Margaret W. Matlin

    Margaret menyebut kemampuan ini termasuk proses kegiatan yang melibatkan berbagai aktivitas menggunakan mental seseorang. Kegiatan ini erat kaitannya dengan proses mencari, memperoleh, menyimpan, dan menggunakan ilmu pengetahuan yang didapatkan sesuai situasi dan syarat tepat.

    3. Abdurrahman

    Abdurrahman menyebut bahwa kognitif seseorang bisa berkembang secara bertahap. Perkembangan ini bisa terus meningkat sejalan dengan perkembangan fisik dan syaraf-syaraf di pusat susunan saraf individu.

    4. Husdarta dan Nurlan

    Keduanya menyebut aspek kognitif ini merupakan perkembangan terus menerus, namun hasilnya tidak berkelanjutan dari hasil-hasil yang sudah dicapai.

    Dari sini, bisa disimpulkan bahwa kognitif adalah kemampuan berpikir yang berhubungan dengan kecerdasan seseorang. Kemampuan ini juga berbicara tentang bagaimana individu menggunakan otaknya secara menyeluruh sehingga berperan penting bagi keberhasilan belajar seseorang.

    Tujuannya, supaya individu mampu mengeksplorasi lingkungan sekitar menggunakan panca inderanya. Selain itu, individu tersebut juga memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang ia miliki untuk bertahan dan melanjutkan hidup.

    Macam-macam Kemampuan Kognitif

    Menulis buku
    Menulis buku | Sumber: istockphoto.com

    Ada beberapa macam aspek penilaian kognitif yang biasanya digunakan. Aspek tersebut antara lain:

    1. Bahasa

    Kemampuan bahasa menilai bagaimana seseorang bisa memahami dan mengungkapkan pikiran melalui kata-kata.  Ini penting untuk menilai cara berkomunikasi seseorang dengan manusia lainnya.

    2. Pengetahuan dan Memori

    Aspek ini menilai bagaimana kemampuan seseorang dalam menghafal, mengingat, memahami, dan menafsirkan suatu informasi yang didapatkannya. Ini adalah kemampuan dasar yang penting untuk mengetahui apakah individu memahami materi yang ditugaskan kepadanya.

    3. Pemahaman

    Ini aspek yang paling penting dari proses pembelajaran mengenai bagaimana seseorang memahami dengan baik materi yang ia dapatkan. Tidak hanya sekadar menghafal tapi juga memahami betul ilmu pengetahuan yang didapatkan.

    Untuk bisa melihat apakah seseorang sudah memiliki pemahaman yang baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti:

    • membandingkan,
    • mendeskripsikan,
    • mengorganisasikan,
    • mengategorikan,
    • memahami makna,
    • memahami konsep,
    • dan lain-lain.

    4. Pembelajaran

    Aspek kemampuan kognitif ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menerima hal-hal dan informasi baru dan cara ia menghubungkan pengetahuan tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang sudah ia dapatkan.

    5. Pengaplikasian

    Setelah mendapatkan dan memahami suatu pengetahuan, seseorang harus mampu menerapkannya di dunia nyata. Aspek pengaplikasian ini mengharuskan seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang sudah ia pelajari sebelumnya.

    6. Pikiran dan Analisis

    Aspek ini tak kalah pentingnya dengan aspek sebelumnya. Karena aspek pikiran dan analisis berkaitan dengan bagaimana seseorang mampu menganalisis dan memecahkan masalah. Dengan begitu, ia akan punya kemampuan pengambilan keputusan yang baik.

    7. Penciptaan

    Terakhir ada aspek penciptaan. Kemampuan kognitif satu ini penting supaya seseorang mampu menciptakan sesuatu dari pengetahuan yang ia miliki. Ia bisa bermain dengan kreativitas sehingga bisa memberikan inovasi dari penelitian yang dilakukannya.

    Kemampuan ini sangat berguna untuk menciptakan generasi penerus berkualitas. Karena dari situlah muncul berbagai pemikiran, inovasi, dan gebrakan baru dari hasil yang mereka ciptakan.

    Selain ketujuh aspek tersebut, ada juga aspek utama lainnya yang termasuk dalam penilaian kognitif seseorang, yakni:

    • Nalar dan berpikir logis;
    • Bilangan (numerical ability);
    • Tilikan keruangan (spatial factor); serta
    • Mengamati cepat dan cermat.

    Tahapan Perkembangan Kemampuan Kognitif

    Kognitif ini terjadi secara bertahap dan berproses. Seiring bertambahnya usia, seseorang akan mengalami perkembangan signifikan baik fisik maupun kemampuan sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya.

    Ada beberapa tahap perkembangan kognitif seseorang mulai kecil hingga dewasa. Fase-fase tersebut berasal dari teori Piaget yang dikembangkan oleh pakar biologi dan psikologi asal Swiss bernama Jean Piaget.

    Dalam teorinya, ia menyebut ada beberapa tahapan kognitif, seperti:

    1. Sensorimotor

    Tahap ini berlangsung selama dua tahun awal kehidupannya (0-2 tahun). Saat itu, anak pertama kali berinteraksi dengan lingkungan sekitar menggunakan indera sensoriknya (seperti melihat, meraba, mencium, mendengar, dan merasa) serta melalui aktivitas fisik yang ia lakukan. 

    Fase ini sudah terlihat sejak pertama kali seseorang itu lahir. Ia mulai reflek menggerakkan anggota tubuhnya, kemudian saat usia 2 tahun ia sudah bisa menggenggam, mengambil, menarik, dan melempar suatu benda.

    Ia juga belajar sifat-sifat khusus benda, seperti cair dan padat, serta memahami kegunaan suatu benda untuk tujuan berbeda. Kemampuan ini penting sebagai awal terbentuknya cara berpikir secara simbolis.

    2. Praoperasional

    Tahap perkembangan ini terjadi pada usia 2-7 tahun. Saat itu, anak sudah punya kemampuan untuk melakukan kegiatan bersifat simbolis, seperti menggunakan telepon mainan untuk berpura-pura telepon, atau bermain peran seperti bapak ibunya.  

    Selain itu, mereka umumnya juga sudah bisa menyusun puzzle, membangun rumah-rumahan, dan melakukan aktivitas kognitif lainnya.

    Pada usia ini, anak sedang ada di tahap menyusun pikirannya. Cara berpikir mereka belum stabil dan tidak teratur sehingga fase kemampuan kognitif ini penting sebagai proses untuk mengembangkan cara berpikirnya. 

    3. Operasi Konkret

    Umur 7-12 tahun kemampuan berpikir rasionalnya sudah mulai berkembang dari sebelumnya. Mereka memiliki kemampuan untuk mengingat, memahami, dan memecahkan masalah. Dalam fase ini, anak juga mampu belajar, berpikir, dan berkomunikasi karena proses kognitifnya lebih logis dari sebelumnya.

    4. Operasi Formal

    Anak mulai memasuki usia remaja hingga dewasa (12 tahun ke atas). Perkembangan cara berpikir mereka meningkat dari konkret ke abstrak dan lebih rasional.

    Mereka mulai mampu mengembangkan kreativitas, mengemukakan ide, dan melakukan proses belajar ilmiah. Mereka mampu mengemukakan hipotesis dan membuktikan kebenaran hipotesis tersebut.

    Baca Juga : Perkembangan Kognitif: Pengertian, Teori dan Tahapannya

    Faktor yang Memengaruhi Kemampuan Kognitif

    Menurut para ahli, ada beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif seseorang. Misalnya saja dalam teori Piaget, perkembangan kognitif ini dipengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan sekitar dan kematangan.

    Sementara itu, menurut Soemiarti dan Patmonodewo, kemampuan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan hubungan antar sel otak. Oleh karena itulah kondisi kesehatan dan gizi sangat perlu diperhatikan sejak dalam kandungan.

    Selain itu, ada juga faktor lain yang disebut-sebut berpengaruh pada perkembangan kognitif seseorang, seperti:

    • keturunan,
    • lingkungan,
    • kematangan,
    • kebebasan,
    • minat dan bakat.

    Contoh Kemampuan Kognitif

    Mengajar di Kelas
    Mengajar di Kelas | Sumber: pixabay.com

    Berikut contoh kemampuan kognitif pada seseorang dalam proses pembelajaran:

    • Mengingat materi;
    • Memecahkan masalah;
    • Membangun gagasan atau ide;
    • Menghubungan hal satu dengan hal lain;
    • Mampu memahami konsep sebab akibat;
    • Mampu berpikir kritis;
    • Berpikir logis;
    • Berpikir sistematis;
    • Mampu menganalisa sesuatu;
    • Mampu berimajinasi;
    • Bisa melakukan evaluasi atau penilaian;
    • Mengenali huruf;
    • Memahami bacaan;

    Cara Meningkatkan Kemampuan Kognitif 

    Demi bisa mengembangkan kemampuan tersebut. ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan, seperti:

    • Rajin membaca buku;
    • Mendengarkan musik;
    • Mengajak anak bermain kreatif, seperti bermain puzzle, bermain warna, dan bentuk;
    • Mengasah kreativitas dengan membuat karya seni dan kerajinan;
    • Melatih ingatan;
    • Lakukan olahraga secara rutin untuk bisa meningkatkan daya ingat;
    • Kelola stres dengan baik;
    • Tidur cukup; serta
    • Konsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

    Sudah Paham tentang Apa itu Kemampuan Kognitif?

    Kognitif adalah kemampuan dasar pada diri seseorang. Aspek ini sangat berkaitan erat dengan proses berpikir, memahami, dan  memecahkan suatu masalah yang berguna untuk menjalani hidup ke depan.

    Oleh karena itu, penting sekali untuk mengasah kemampuan ini sejak dini. Mulai dari hal-hal kecil seperti bermain, mendengarkan musik, sampai olahraga supaya bisa membantu meningkatkan cara berpikir seseorang.

  • Perkembangan Kognitif: Pengertian, Teori dan Tahapannya

    Perkembangan Kognitif: Pengertian, Teori dan Tahapannya

    Perkembangan kognitif anak sangat penting untuk Anda pelajari. Tujuannya agar Anda memahami proses perkembangan anak dalam mengingat, memecahkan masalah, serta mengambil keputusan. Perkembangan tersebut juga bisa berbeda-beda untuk setiap anak. Aspek kognitif juga erat kaitannya dengan kecerdasan seseorang.

    Pengertian Perkembangan Kognitif

    Kognitif manusia
    (Kognitif manusia | Sumber gambar: Pixabay.com)

    Secara bahasa, kognitif mempunyai arti mengerti atau pengertian. Arti kognitif yaitu proses internal yang berlangsung dalam pusat susunan saraf manusia ketika sedang berpikir. Sementara Meisser menjelaskan bahwa cognitifon merupakan perolehan di dalam pemanfaatan pengetahuan melalui penataan.

    Dalam pengertian sederhana, cognitive development merupakan perkembangan diri kognisi yang dapat berpengaruh terhadap aliran kognitif. Ada juga yang menyebutkan bahwa ini merupakan perkembangan tingkah laku seorang anak yang berdasarkan pada kognisinya.

    Selain itu, kognitif juga merupakan serangkaian kegiatan mental yang menjadikan seseorang dapat melakukan hubungan, memberikan penilaian terhadap sesuatu, mempertimbangkan sesuatu, sampai memberikan tanggapan terhadap peristiwa. 

    Kognitif bisa terjadi pada seseorang yang memperoleh ide, gagasan, maupun pemecahan masalah di dalam dirinya.

    Teori Perkembangan Kognitif Menurut Ahli

    Orang tua mengajarkan anaknya
    (Orang tua mengajarkan anaknya | Sumber gambar: mali.me)

    Teori ini pertama kali muncul dari seorang Psikolog Swiss yang bernama Jean Piaget. Berdasarkan teorinya, Piaget menjelaskan bahwa manusia dapat membangun kemampuan kognitifnya lewat tindakan yang termotivasi oleh lingkungan.

    Selain Piaget, masih ada teori cognitive development lainnya yang dikemukakan ahli. Misalnya Lev Vygotsky yang berpendapat bahwa kognitif sifatnya konstruktivis sosial. Berikut penjelasan selengkapnya.

    1. Menurut Jean Piaget

    Cognitive development theory menurut Jean Piaget bahwa anak terus melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Kemudian hasil interaksi tersebut menghasilkan sesuatu yang bernama skema, skemata, atau juga dinamakan schemal.

    Skema atau skemata merupakan jenis-jenis pengetahuan yang mempunyai peran membantu seseorang dalam berinterpretasi dan memahami lingkungannya. Sifat utama skemata yaitu akan terus bermodifikasi, dinamis, bergerak, berkelanjutan, serta tak bisa berhenti pada satu titik saja.

    Agar schemal bisa terus bergerak sesuai sifat yang dimiliki, maka perlu bantuan proses penting bernama asimilasi maupun akomodasi. Asimilasi merupakan aktivitas untuk memperoleh informasi baru sehingga informasi tersebut masuk ke skema yang telah ada.

    Lalu akomodasi merupakan proses yang berlangsung saat pengetahuan atau informasi baru masuk ke skema lalu berubah menjadi schemal dalam bentuk baru. Kemampuan kognitif anak juga berkembang secara bertahap serta di rentang waktu berbeda.

    Ketika anak dipaksa mempunyai kemampuan yang tak sesuai di waktu perkembangannya, kemungkinan anak tersebut akan mengalami gangguan di masa emasnya. 

    Teori perkembangan kognitif Piaget ini juga ada yang menyebutnya teori genetic epistemology.  Hal ini karena teorinya memberikan penjelasan seputar perkembangan terkait kemampuan intelektual anak selama masa pertumbuhan.

    2. Menurut Lev Vygotsky

    Lev Vygotsky merupakan ahli psikologi dari Rusia. Menurutnya, interaksi sosial di dalam beragam tahapan cognitive development sangat penting untuk anak. Meskipun demikian, anak juga mempunyai kemampuan untuk menyusun beragam pengetahuan serta informasi yang ia peroleh secara mandiri dan aktif.

    Ketika seseorang hendak memahami lebih jauh jalan pikiran maupun kondisi kognitif anak, Lev Vygotsky cenderung memilih melakukan penelusuran. Apa yang menjadi penelusurannya yaitu tentang bagaimana interaksi sosial anak.

    Melalui tindakan penelusuran tersebut, Vygotsky berkeyakinan bahwa perkembangan fungsi mental seorang anak  bukan hanya dari dalam diri anak tersebut. Akan tetapi, fungsi mental berhasil ia peroleh lewat interaksi sosial.

    Tahapan Perkembangan Kognitif Menurut Piaget

    cognitive development theory Jean Piaget
    ( cognitive development theory Jean Piaget | Sumber gambar: simplypsychology.org)

    Menurut Jean Piaget, tahapan cognitive development terdiri dari:

    1. Tahapan Sensorimotor

    Tahapan yang pertama yaitu sensorimotor yang terjadi pada anak mulai umur 0 sampai 2 tahun. Menurut Piaget, manusia mempunyai refleks bawaan sejak lahir yang akan mendorong eksplorasinya.

    Kemudian skema juga terbentuk lewat proses diferensiasi refleks bawaan. Terdapat sub enam pada tahapan sensorimotor, yaitu:

    • Tahapan skema refleks, tahapan yang muncul sejak manusia lahir sampai umur 6 minggu serta mempunyai hubungan utama terhadap refleks.
    • Tahapan reaksi sirkular primer, di tahapan ini skema mulai ada sejak 6 minggu sampai 4 bulan serta mempunyai hubungan utama terhadap munculnya kebiasaan.
    • Reaksi sirkular sekunder, tahapan yang muncul saat manusia berada di usia 4 sampai 9 bulan serta mempunyai hubungan utama terhadap koordinasi pemaknaan dan penglihatan.
    • Reaksi sirkular sekunder, tahapan yang muncul sejak 9 sampai 12 bulan ketika munculnya kemampuan melihat objek sebagai sebuah hal yang sifatnya permanen. Meskipun terkadang jika melihatnya dari sudut pandang berbeda, dinamakan permanensi objek.
    • Fase sirkular tersier, muncul ketika usia 12 sampai 18 bulan dan mempunyai hubungan utama terhadap penemuan baru untuk mencapai tujuan.
    • Awal representasi simbolik, tahapan yang mempunyai hubungan utama terhadap tahapan awal kreativitas.

    2. Tahapan Pra Operasional

    Tahapan perkembangan kognitif yang kedua berlangsung mulai usia 2 sampai 7 tahun. Menurut Piaget, tahapan ini memunculkan fungsi psikologis. Anak akan mempunyai kemampuan berpikir secara simbolis dan terus berkembang.

    Anak juga mempunyai kemampuan non logis, egosentris, sifat intuitif, animisme, serta kemampuan berbahasanya lebih matang. Selain itu, anak juga mampu berimajinasi secara kuat dan mempunyai kemampuan mengingat yang lebih kuat juga.

    3. Tahapan Operasional Konkret

    Tahapan yang ketiga berlangsung pada anak dengan rentang usia 7 sampai 11 tahun. Pada tahapan ini memungkinkan anak bisa menggunakan logika secara memadai. Terdapat beberapa sub tahapan, yaitu:

    • Pengurutan, kemampuan mengurutkan objek sesuai ukuran, bentuk serta ciri yang lain.
    • Klasifikasi, kemampuan memberikan nama dan mengidentifikasi benda sesuai tampilan, ukuran, maupun ciri yang lain.
    • Decentering, kemampuan anak dalam mempertimbangkan aspek permasalahan sampai memecahkannya.
    • Reversibility, kemampuan anak untuk memahami bahwa jumlah benda bisa berubah lalu mengembalikannya lagi ke kondisi semula.
    • Konservasi, kemampuan anak bahwa kuantitas maupun panjang benda tak ada kaitannya dengan tampilan atau pengaturan objek maupun benda tertentu.
    • Penghilangan sifat egosentris, kemampuan melihat hasil berdasarkan sudut pandang orang lain serta tak mempunyai sifat egosentris.

    4. Tahapan Operasional Formal

    Tahapan perkembangan kognitif anak yang berlangsung di usia 11 tahun sampai dewasa. Ketika remaja sudah berada di tahap ini, mereka sudah mampu untuk berpikir abstrak dengan cara memanipulasi ide yang ada di kepalanya. Hebatnya lagi, semua hal tersebut bisa ia lakukan tanpa harus ketergantungan terhadap manipulasi konkret.

    Seorang anak sudah dapat melakukan perhitungan secara matematis. Mereka juga bisa berpikir kreatif, bernalar secara abstrak, serta membayangkan hasil tindakan tertentu.

    Baca Juga : Pengertian Kependidikan, Tugas, Unsur dan Syarat-syaratnya

    Konsep Perkembangan Kognitif Menurut Vygotsky

    Vygotsky menjelaskan bahwa terdapat tiga konsep seputar cognitive development.

    1. ZPD atau Zona Perkembangan Proksimal

    Zona Perkembangan Proksimal merupakan tugas yang sulit yang harus dikerjakan anak. Serangkaian tugas tersebut bisa ia kerjakan dengan bantuan orang dewasa maupun anak lain.

    Lewat konsep ini, Vygotsky ingin menunjukkan pentingnya interaksi sosial. Konsep ini juga ingin menunjukkan sejauh mana kemampuan seorang anak dalam belajar mandiri atau belajar dengan bantuan orang lain.

    2. Konsep Scaffolding

    Konsep yang berfokus terhadap dokumen anak selama belajar ZPD. Agar tahu sejauh mana perkembangan kognitif anak, pengajar harus melakukan dialog. Nanti hasil dialog tersebut menjadi pertimbangan di dalam menyesuaikan proses bimbingan.

    3. Bahasa dan Pemikiran

    Konsep yang ketiga dari teori perkembangan Vygotsky yaitu bahasa serta pemikiran. Menurutnya, fungsi bahasa bukan sekadar alat komunikasi sosial melainkan juga untuk memantau, membuat rencana, atau mengontrol aktivitas anak.

    Di dalam ilmu psikologi, bahasa dalam cognitive development berperan dalam dua hal. Pertama, sebagai private speech atau tindakan anak saat berbicara keras terhadap dirinya sendiri. Untuk private speech sendiri umumnya berlangsung ketika anak berusia 3 sampai 5 tahun.

    Kedua, anak akan mengalami inner speech. Berlangsung saat anak berusia di atas 5 tahun, di mana anak akan menggunakan kemampuannya berbicara sebagai kontrol atas perilakunya. Untuk fase inner speech ini terus terbawa hingga anak tersebut memasuki masa dewasa.

    Sudah Paham tentang Perkembangan Kognitif?

    Sekian pembahasan seputar cognitive development theory atau perkembangan kognitif. Penting untuk mempelajarinya sehingga Anda bisa mengetahui bagaimana kecerdasan anak Anda berkembang. Semoga bermanfaat.

  • Pengertian Kependidikan, Tugas, Unsur dan Syarat-syaratnya

    Pengertian Kependidikan, Tugas, Unsur dan Syarat-syaratnya

    Apa itu pengertian kependidikan? Istilah ini pastinya sudah tak asing lagi di telinga Anda. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang belum memahaminya. Untuk itu, pembahasan berikut pastinya akan sangat bermanfaat untuk Anda. Sebab, artikel ini akan membahas mengenai kependidikan, seperti tugas, unsur, hingga syaratnya.

    Pengertian Kependidikan

    Pengertian kependidikan
    (Pengertian kependidikan | Sumber gambar: Pixabay.com)

    Menurut KBBI, kependidikan merupakan program akselerasi yang di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan pendidikan. Aktivitas tersebut telah diatur sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan siswa di waktu yang relatif lebih singkat daripada biasanya.

    Definisi kependidikan juga bisa merujuk terhadap tenaga pendidik maupun kependidikan yang tugasnya sebagai pembimbing, pengajar, atau pelatih peserta didik. Lalu apa unsur-unsur dalam kependidikan tersebut? Berikut informasi selengkapnya.

    Pengertian Tenaga Kependidikan

    Berdasarkan Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, tenaga kependidikan merupakan anggota masyarakat yang mengabdi serta diangkat agar dapat menunjang penyelenggaraan pendidikan. 

    Sementara itu, menurut PP Nomor 2 Tahun 1992, tenaga kependidikan merupakan anggota masyarakat yang mengabdi secara langsung di dalam penyelenggaraan pendidikan. Di dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, yang termasuk tenaga kependidikan yaitu:

    • Tenaga kependidikan meliputi penguji, tenaga pendidik, pustakawan, penilik, pengelola satuan pendidikan, teknisi sumber belajar, peneliti serta pengembang pada bidang pendidikan, serta laboran
    • Tenaga pendidik termasuk pelatih, pembimbing, dan pengajar
    • Pengelola satuan pendidikan meliputi direktur, kepala sekolah, ketua, rektor, serta pimpinan di satuan PLS atau Pendidikan Luar Sekolah

    Selain itu, pengelola sistem pendidikan juga tergolong ke dalam tenaga kependidikan. Contohnya kepala dinas pendidikan, baik di tingkat kabupaten, kota, atau provinsi. 

    Tugas Pendidik dan Tenaga Kependidikan

    Berdasarkan pasal 39 (2) UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas membuat perencanaan serta melakukan proses pembelajaran. Selain itu, pendidik juga memiliki tugas untuk melakukan pembimbingan serta pelatihan.

    Pendidik juga melaksanakan penelitian serta pengabdian terhadap masyarakat, terutama untuk pendidik di jenjang perguruan tinggi. Sementara itu, tugas dari kependidikan tertera di dalam pasal 39 (1) UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003.

    Pada pasal tersebut terdapat penjelasan bahwa tugas tenaga kependidikan adalah melakukan administrasi, pengawasan, pengembangan, pengelolaan, serta pelayanan teknis. Melalui semua hal tersebut diharapkan mampu menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

    Unsur Kependidikan

    Selain pengertian kependidikan, terdapat informasi berikutnya yang juga harus Anda pahami, yakni tentang unsur-unsur kependidikan. Berikut beberapa unsurnya:

    1. Peserta Didik

    Peserta didik
    (Peserta didik | Sumber gambar: Pexel.com)

    Unsur yang pertama yaitu peserta didik atau juga populer dengan istilah siswa. Peserta didik mempunyai status sebagai subjek yang Anda didik. Mereka juga merupakan subjek otonom serta ingin diakui keberadaannya.

    2. Pendidik atau Orang yang Membimbing

    Pengajar
    (Pengajar | Sumber gambar: Pexel.com)

    Selanjutnya ada unsur kedua yaitu pendidik atau orang yang membimbing. Pendidik adalah seseorang yang mempunyai tanggung jawab dalam melaksanakan pendidikan berdasarkan sasaran utama yakni peserta didik.

    Para peserta didik tersebut menjalani pendidikan di dalam tiga macam lingkungan. Ketiga jenis lingkungan tersebut yakni sekolah, lingkungan keluarga, serta lingkungan masyarakat. Maka dari itu, seseorang yang termasuk ke dalam pendidik tersebut antara lain:

    • Guru
    • Orang tua
    • Pemimpin program pembelajaran
    • Masyarakat

    3. Interaksi Peserta Didik dan Pendidik

    Interaksi guru dan murid
    (Interaksi guru dan murid | Sumber gambar: Pexel.com)

    Unsur selanjutnya dalam kependidikan yaitu interaksi yang terjadi antara pendidik dengan peserta didik dan sebaliknya. Ini merupakan sebuah interaksi edukatif yang pada prosesnya berorientasi terhadap tujuan pendidikan.

    4. Materi Pendidikan

    Buku
    (Buku | Sumber gambar: Unsplash.com)

    Di dalam melakukan interaksi sudah tentu harus ada materi pendidikan atau topik yang menjadi pembahasan. Semua materi tersebut diramu dalam bentuk kurikulum. Lalu materi pendidikan yang akan diberikan siswa mencakup dua hal, yaitu materi inti dan materi lokal.

    Baca Juga : Cara Menghormati Guru Agar Mendapatkan Ilmu yang Berkah

    5. Konteks yang Memberi Dampak Terhadap Pendidikan

    Adapun konteks yang mampu memberikan dampak terhadap pendidikan antara lain:

    • Alat serta metode pendidikan ibarat 2 sisi dari mata uang. Keduanya bisa Anda artikan sebagai segala sesuatu berupa pelaksanaan maupun tindakan secara sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan
    • Tempat peristiwa pelatihan, bimbingan, maupun lingkungan pendidikan

    Syarat-syarat Kependidikan

    Masih tentang pengertian kependidikan, pembahasan berikutnya yaitu syarat-syarat seseorang menjadi pendidik serta tenaga kependidikan. Secara umum, persyaratannya sudah tercantum di dalam pasal 42 UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003.

    Pada peraturan tersebut terdapat penjelasan seputar syarat untuk menjadi seorang pendidik, yaitu:

    • Memiliki kualifikasi minimum serta bersertifikasi sesuai jenjang kewenangan mengajar
    • Memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional secara lebih baik
    • Mempunyai tubuh yang sehat secara jasmani maupun rohani

    Lalu penyelenggara pendidikan baik di tingkat pemerintahan daerah dan pusat mempunyai kewajiban untuk melakukan pembinaan serta pengembangan tenaga kependidikan. Hal ini sesuai dengan bunyi pada pasal 44 Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003.

    Pembinaan tersebut memang menjadi hak bagi pendidik serta tenaga kependidikan. Bagi yang belum tahu apa saja hak-haknya, simak penjelasan berikut.

    Apa Saja Jenis Tenaga Kependidikan di Perguruan Tinggi?

    Setidaknya terdapat 23 jenis tenaga kependidikan yang sudah diusulkan Perguruan Tinggi Negeri. Hal ini sesuai dengan Permenristekdikti Nomor 49 Tahun 2015 yaitu:

    • Arsiparis
    • Analisis Kebijakan (berlaku hanya untuk PTN)
    • Analisis kepegawaian (berlaku hanya untuk PTN)
    • Auditor kepegawaian (berlaku hanya untuk PTN)
    • Bidan
    • Dokter 
    • Dokter gigi
    • Pengelola Pengadaan Barang dan Jasa (berlaku hanya untuk PTN)
    • Pengembang Teknologi Pembelajaran (berlaku hanya untuk PTN)
    • Perawat
    • Perawat gigi
    • Penyuluh Kesehatan Masyarakat
    • Perancang Perundang-undangan (berlaku hanya untuk PTN)
    • Pranata Komputer
    • Pranata Humas
    • Perencana (berlaku hanya untuk PTN)
    • Radiografer
    • Pustakawan
    • Pengelola Poliklinik
    • Widyaiswara (berlaku hanya untuk PTN)
    • Pranata fotografi
    • Pranata Laboratorium Pendidikan atau PLP
    • Pranata Laboratorium Kesehatan

    Hak Pendidik serta Tenaga Kependidikan

    Hak pendidikan maupun tenaga kependidikan juga sudah tertera di dalam pasal 40 (1) Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Pada pasal tersebut jelas menyatakan jika hak pendidik serta tenaga kependidikan di antaranya seperti berikut:

    • Memperoleh pendapatan serta jaminan demi mencapai kesejahteraan sosial yang memadai
    • Memperoleh penghargaan sesuai tugas kerja maupun prestasinya masing-masing
    • Mendapatkan pembinaan karier sesuai tuntutan terhadap pengembangan kualitas
    • Mendapatkan kesempatan untuk menggunakan sarana prasarana serta fasilitas pendidikan. Melalui pemanfaatan tersebut diharapkan mampu menunjang kelancaran di dalam menjalankan tugasnya masing-masing

    Kewajiban Pendidik serta Tenaga Kependidikan

    Jika ada hak maka sudah tentu ada kewajiban. Seorang pendidik serta tenaga kependidikan juga harus paham apa saja yang menjadi kewajibannya. Terkait hal tersebut, sudah ada aturannya yaitu di pasal 40 (2) Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003.

    Berdasarkan peraturan tersebut, yang menjadi kewajiban pendidik serta tenaga kependidikan antara lain:

    • Menghadirkan suasana pendidikan yang bermakna atau meaningful learning, kreatif, dinamis, menyenangkan, serta dialogis
    • Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia
    • Memberikan contoh/teladan yang baik serta menjaga nama baik lembaga, profesi, serta kedudukan sesuai kepercayaan yang sudah diberikan padanya

    Apa Itu Perencanaan Tenaga Kependidikan?

    Perencanaan merupakan proses prediksi/peramalan, pengembangan, penerapan, serta pengontrolan guna menjamin lembaga memiliki kesesuaian baik jumlah pegawai, penempatan dari pegawai tersebut, waktu yang sesuai secara ekonomis maupun lebih bermanfaat.

    Lalu mengapa perencanaan tenaga kependidikan ini perlu? Berikut beberapa tujuannya:

    • Pemetaan terhadap keseimbangan proporsi jumlah dari personalia pendidikan
    • Mengetahui tenaga yang sudah mulai memasuki usia purna bakti alias pensiun maupun pindah
    • Pengembangan organisasi serta unit baru
    • Mengetahui proyeksi terkait kebutuhan sumber daya yang dibutuhkan dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun mendatang

    Lalu bagaimana cara menyusunnya? Berikut langkah-langkah dalam menyusun dan perencanaan tenaga kependidikan.

    • Meramal atau memprediksi kebutuhan tenaga
    • Memproyeksi persediaan sumber tenaga kerja
    • Membandingkan kebutuhan tenaga dan sudah diprediksi dengan persediaan yang telah diproyeksikan
    • Membuat perencanaan kebijakan serta program guna memenuhi kebutuhan tenaga. Perencanaan tersebut harus berdasarkan ada hasil analisis jabatan. Kemudian melaporkannya pada atasan atau pimpinan

    Sudah Paham Pengertian Kependidikan?

    Sekian informasi tentang pengertian kependidikan, serta hal-hal yang ada di dalamnya, seperti pendidik dan tenaga kependidikan. Jadi, sangat penting memilih seseorang sesuai kualifikasi atau keahlian yang dibutuhkan sehingga mampu mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Semoga bermanfaat.