Category: Sosial Budaya

  • 5 Upacara Adat Sumatera Barat: Fungsi dan Cara Pelaksanaannya

    5 Upacara Adat Sumatera Barat: Fungsi dan Cara Pelaksanaannya

    Setiap suku yang ada di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Salah satu yang paling ikonik adalah suku Minangkabau yang terletak di Provinsi Sumatera Barat. Tidak hanya itu, masih banyak upacara adat Sumatera Barat yang masih bertahan hingga kini. Penasaran apa saja itu? Selengkapnya ada di sini!

    5 Daftar Upacara Adat Sumatera Barat yang Khas

    Upacara adat di Sumatera Barat memang terbilang cukup menarik untuk dipelajari. Alasannya yaitu wilayah tersebut dihuni oleh penduduk Minang yang memiliki kearifan lokal tersendiri. Adapun beberapa tradisi yang mungkin sudah tidak asing lagi terdengar seperti berikut ini:

    1. Tabuik

    Ilustrasi Upacara Adat Tabuik
    (Ilustrasi Upacara Adat Tabuik | Sumber Gambar: indonesiakaya.com)

    Di urutan pertama ada upacara Tabuik. Masyarakat sering menyebutnya sebagai festival Tabuik. Upacara ini merupakan salah satu tradisi yang berasal dari Kota Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19 Masehi. 

    Perhelatan pesta tabuik sebenarnya sebagai peringatan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Husein bin Ali tepat pada tanggal 10 Muharram. Itulah mengapa tradisi Tabuik menjadi acara tahunan sekaligus menjadi pesta besar bagi masyarakat Pariaman. Masyarakat sangat menantikan pesta ini setiap tahunnya. 

    Nama Tabuik berasal dari bahasa Arab “tabut” yang memiliki makna peti mati. Nama tersebut merujuk pada legenda tentang munculnya buraq, yaitu makhluk kuda yang memiliki sayap dan berkepala manusia. Makhluk Buraq membawa peti mati yang berisikan jenazah Hussein untuk diterbangkan ke langit. 

    Secara simbolik, tradisi Tabuik menggambarkan kebesaran Allah SWT yang membawa peti mati Hussein dengan buraq karena meninggal dalam Perang Karbala. Oleh karena itu, masyarakat setiap tahunnya membuat tiruan buraq dengan tabut di punggungnya.Tabuik tersebut diarak menuju pantai dan dilarung ke laut 

    Selain itu, tradisi ini bersifat kolosal karena melibatkan banyak orang. Setiap tahunnya, bahkan puncak gelaran pesta ini selalu disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung yang datang tidak hanya dari masyarakat Pariaman, namun juga dari berbagai pelosok Sumatera Barat. 

    Baca Juga : Upacara Tabuik Minangkabau: Tujuan, Makna, dan Cara Pelaksanaannya

    2. Turun Mandi

    Ilustrasi Upacara Turun Mandi
    (Ilustrasi Upacara Turun Mandi | Sumber Gambar: jamberita.com)

    Tradisi lainnya yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat dan masih bertahan hingga sekarang yaitu upacara adat turun mandi. Tradisi turun mandi adalah salah satu upacara adat Minangkabau yang disimbolkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas lahirnya anak ke dunia. 

    Seperti namanya, proses tradisi turun mandi adalah dengan mengarak anak bayi yang baru lahir beberapa hari ke sungai terdekat. Perlu diketahui bahwa sungai yang dituju yaitu sungai yang kecil dengan arus airnya tidak terlalu deras. Selain itu, tradisi turun mandi memerlukan banyak persiapan. 

    Persiapan yang pertama yaitu menentukan tanggal pelaksanaan. Penentuan tanggal tidak boleh sembarangan. Penghitungan hari dilakukan sejak hari pertama kelahiran sang bayi. Khusus untuk bayi laki-laki, maka tradisi akan berjalan pada hari ganjil dan sebaliknya pada hari genap untuk bayi perempuan. 

    Sementara itu, tradisi turun mandi hanya bisa dilakukan di sungai. Yang membawa bayi dari rumah ke sungai bukanlah ayah atau ibu sang anak, melainkan orang berjasa yang  membantu dalam proses persalinan. Syarat utamanya adalah para orang tua harus menyiapkan batiah bareh badulang atau beras yang digoreng. 

    Persyaratan lainnya yaitu menyediakan obor yang berisi kain robek. Yang paling unik adalah bibit karambia atau kelapa yang turut serta sebagai persyaratan dalam kegiatan turun mandi ini. Biasanya, bibit kelapa tersebut dihanyutkan oleh orang tua bayi ke sungai.  

    3. Pacu Jawi 

    Ilustrasi Upacara Pacu Jawi
    (Ilustrasi Upacara Pacu Jawi | Sumber Gambar: kompas.com)

    Berikutnya ada tradisi pacu jawi atau balapan sapi. Seperti namanya, tradisi ini merupakan permainan tradisional dengan memacu sepasang sapi di sawah yang berair dan berlumpur. Kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur atas panen yang sedang berlangsung sekaligus bersifat menghibur karena ditonton oleh banyak orang. 

    Tradisi pacu jawi merupakan tradisi yang lahir dan berkembang di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini hanya berlangsung di empat kecamatan saja, yaitu Kecamatan Rambatan, Kecamatan Pariangan, Kecamatan Sungai Tarab, dan Kecamatan Limo Kaum. 

    Sementara itu, tradisi pacu jawi sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Tradisi ini sebenarnya adalah upaya bagi para petani untuk menemukan cara membajak sawah yang baik dan benar. Seperti yang kita tahu, pada masa lampau belum ada kecanggihan mesin untuk pertanian, tidak seperti sekarang. 

    Bagi masyarakat di Kabupaten Datar, tradisi pacu jawi memiliki banyak makna. Salah satunya adalah dengan adanya acara ini dapat mengingatkan masyarakat untuk berjalan lurus dan mampu bekerja sama dengan baik tanpa bersinggungan. Selain itu, pacu jawi juga berperan langsung untuk mengenalkan adat dan budaya. 

    Kegiatan ini memang menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya memacu sepasang sapi saja, namun dalam kegiatan ini terdapat tradisi yang berupa arak-arakan pembawa dulang atau jamba yang berisi makanan. 

    4. Batagak Panghulu 

    Ilustrasi Upacara Batagak Panghulu
    (Ilustrasi Upacara Batagak Panghulu | Sumber Gambar: jurnalbengkulu.com)

    Batagak Panghulu adalah upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Batagak Panghulu adalah tradisi untuk meresmikan sesorang menjadi penghulu. Masyarakat Minangkabau masih menjalankan upacara adat hingga sekarang. 

    Menurut adat Minangkabau, tradisi pengangkatan seseorang menjadi penghulu tidak boleh hanya melibatkan keluarga yang bersangkutan saja. Namun peresmian ini harus melibatkan banyak tokoh masyarakat. Upacara ini harus berpedoman kepada pelatih adat maengkek rajo, maengkek penghulu sakato kaum, dan sakato alam. 

    Sementara itu, ada beberapa persyaratan wajib dalam peresmian batagak panghulu ini, sebagai berikut:

    • Calon penghulu harus seorang laki-laki
    • Penghulu harus orang baik dan berasal dari keluarga yang baik
    • Dewasa dan berakal
    • Seorang penghulu harus memiliki ilmu dan budi pekerti
    • Penghulu harus memiliki sifat adil, arif, dan bijaksana
    • Seorang panghulu juga harus memiliki sifat tabligh, yaitu mampu menyampaikan segala informasi dengan sikap yang baik kepada masyarakat
    • Penghulu harus bersifat sabar, pemurah, dan tulus

    Prosesi awal dalam tata cara upacara adat batagak panghulu yaitu melakukan musyawarah. Kemudian menjalani prosesi adat pemasangan salukan yang oleh seorang datuk, pengambilan sumpah, dan penasehatan penghulu oleh Datuk Monti. 

    Proses yang terakhir yaitu prosesi Bararak yang artinya memberitahukan kepada masyarakat bahwa seorang datuk telah resmi menjabat sebagai penghulu suatu kaum. Berikutnya, ada prosesi perjamuan dengan memberikan jamuan kepada masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut. 

    Upacara Batagak Panghulu mengandung beberapa nilai yang meliputi nilai budaya, nilai sosial, nilai agama, serta nilai kekeluargaan. Tidak hanya itu, tradisi ini juga mengandung nilai tata krama, sopan santun, dan kepemimpinan. 

    5. Tradisi Mandi Balimau 

    Ilustrasi Tradisi Mandi Balimau
    (Ilustrasi Tradisi Mandi Balimau | Sumber Gambar: liputan.com)

    Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat Minangkabau melakukan tradisi mandi Balimau. Tradisi ini merupakan kegiatan wajib oleh masyarakat Minangkabau dalam menyambut datangnya Ramadhan. Dengan kata lain, tradisi ini bermaksud untuk pembersihan diri sebelum masuk bulan suci Ramadhan. 

    Namun, tradisi ini pernah membawa kontroversi karena tidak mencerminkan masyarakat muslim. Kegiatan ini melibatkan seluruh masyarakat yang pergi menuju Sungai Batang Kuranji dan Sungai Lubuk Minturun untuk mandi bersama. Dalam hal ini, masyarakat baik laki-laki maupun perempuan saling berbaur di sungai. 

    Kegiatan ini juga tidak memandang usia. Semua masyarakat boleh mengikuti mandi balimau mulai dari muda tua, anak-anak berbaur menjadi satu. Meskipun mereka mengenakan pakaian ketika mandi, tetapi hal tersebut dinilai tidak pantas.

    Namun pada dasarnya, tradisi mandi balimau memiliki fungsi sebagai ajang silaturahmi dengan masyarakat sekitar. Beberapa masyarakat juga menyebutkan bahwa kegiatan ini lahir karena adanya akulturasi budaya Minangkabau dan agama Hindu yang bertujuan untuk menyucikan diri. 

    Pada zaman dahulu, tradisi mandi balimau memang semata-mata untuk membersihkan dan mensucikan jiwa. Manfaatnya adalah sebagai ajang bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 

    Baca Juga : 6 Macam Upacara Adat Sumatera Utara, Fungsi, dan Tradisinya

    Upacara Adat Sumatera Barat Menjunjung Tinggi Budaya

    Masyarakat Minangkabau memang terkenal menjunjung tinggi tradisi adat istiadatnya. Semua kegiatan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau selalu berhubungan dan melibatkan dengan adat dan norma-norma yang berlaku. Hal inilah yang membuat beberapa upacara adat Sumatera Barat masih bertahan hingga sekarang.

  • Gejala Sosial: Definisi, Jenis, Karakteristik, Penyebab dan Contoh

    Gejala Sosial: Definisi, Jenis, Karakteristik, Penyebab dan Contoh

    Pernah dengar istilah gejala sosial? Terminologi ini berkaitan erat dengan dinamika sosial yang terjadi di dalam interaksi masyarakat di skala kecil seperti komunitas, maupun besar seperti sebuah negara. Perluas wawasan kamu tentang materi ilmu Sosial ini lewat artikel kali ini, yuk!

    Apa Itu Gejala Sosial

    Gejala sosial merupakan merupakan sebuah fenomena yang ada dalam suatu masyarakat. Secara sederhana, artinya adalah sekumpulan masalah sosial yang dipengaruhi sekaligus mempengaruhi tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

    Kondisi tersebut juga disebut sebagai fenomena sosial. Fenomena sosial biasanya bisa terjadi dalam berbagai lapisan masyarakat, baik masyarakat kota maupun desa, masyarakat modern maupun tradisional. Nah, suatu kejadian dapat masuk dalam kategori fenomena sosial karena perilaku tiap individu yang saling terkait.

    Fenomena sosial muncul karena adanya perubahan dalam masyarakat. Selain itu, fenomena sosial juga dapat tercipta dari masalah sosial, baik yang berasal dari individu maupun kelompok. Fenomena tersebut hadir sebagai segala aspek yang masyarakat buat dan lakukan dalam lingkungan sosialnya.

    Pada dasarnya, gejala dalam masyarakat berkaitan dengan berbagai peristiwa yang terjadi oleh manusia, baik secara individu maupun berkelompok. Nilai-nilai sosial dan moral dalam sejumlah bidang, seperti ekonomi, politik, budaya, dan moralitas umum sangat berpengaruh dalam terciptanya fenomena sosial.

    Klasifikasi Gejala Sosial

    Seiring dengan berkembangnya dinamika sosial, fenomena sosial yang terjadi pun semakin banyak jenisnya. Pengklasifikasian fenomena sosial dapat dilakukan berdasarkan beberapa faktor penyebab yang berbeda-beda, seperti yang dijelaskan berikut ini.

    1. Gejala Sosial Menurut Sumber Penyebabnya

    Fenomena dan perubahan sosial dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab yang mendasari kejadian tersebut. Menurut sumber penyebabnya, berikut adalah fenomena dan perubahan yang dapat terjadi.

    a. Perekonomian

    Dari sisi ekonomi, fenomena sosial terjadi dengan tanda ketika banyak orang tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Contohnya adalah ketika angka kemiskinan dan pengangguran sangat tinggi.

    b. Sosial-Politik

    Fenomena sosial ini terjadi akibat masalah umumnya melibatkan kalangan pejabat politik dan pemerintahan di tingkat daerah atau negara. Sebagai contoh adalah praktik korupsi yang dapat merugikan negara secara keseluruhan.

    c. Kebudayaan

    Keragaman fenomena sosial yang muncul akibat perbedaan kebudayaan sering terjadi dalam masyarakat. Di antaranya adalah kejahatan dalam masyarakat, kenakalan remaja, konflik berlatar suku, agama, ras, dan antar kelompok (SARA).

    d. Religius

    Fenomena dan perubahan sosial di sisi religius terjadi dengan latar belakang perbedaan sudut pandang tentang agama dan kepercayaan di tengah masyarakat. 

    Sebagai contoh, masyarakat yang masih melakukan upacara keagamaan, seperti Grebeg Suro atau Ruwatan dengan tujuan memperoleh keberkahan dan karunia Sang Pencipta.

    e. Hukum

    Fenomena dan perubahan sosial di aspek hukum merupakan respons atau tanggapan masyarakat terkait dengan aturan hukum yang berlaku. Sebagai contoh, pelanggaran lalu lintas dan pelanggaran norma kesusilaan.

    2. Gejala Sosial Menurut Tingkatannya

    Secara umum, terdapat beberapa fenomena dan perubahan yang dapat terjadi berdasarkan skala terjadinya fenomena tersebut. Menurut tingkatannya, berikut adalah beberapa macam fenomena dan perubahan sosial yang ada di masyarakat.

    a. Individu (mikro)

    Jenis perubahan dan fenomena sosial yang terjadi kepada tiap individu dalam kesehariannya. Sebagai contoh, tiap individu yang melakukan kegiatan rutinnya sehari-hari.

    b. Kelompok (meso)

    Menurut tingkatan kelompoknya, jenis ini merupakan jenis fenomena sosial yang terjadi dalam tingkat organisasi, massa, kelompok masyarakat, dan gerakan sosial. Sebagai contoh, sekelompok ormas yang melakukan aktivitas organisasi yang telah direncanakan sebelumnya.

    c. Bangsa (makro)

    Skala ini merujuk pada klasifikasi fenomena dan perubahan sosial yang terjadi di dalam wujud kelembagaan sosial yang lebih besar. Cakupannya luas, mulai dari suku, hingga bangsa dari negara-negara yang berbeda. Contoh fenomenanya adalah dinamika sosial yang berbeda di berbagai pulau di Indonesia.

    Karakteristik dari Fenomena Sosial

    Meskipun terdapat sejumlah jenis gejala sosial  yang ada dalam masyarakat, tapi tiap fenomena tersebut memiliki karakteristik khas yang menjadikannya berbeda. Perhatikan enam  ciri khas dari fenomena sosial tersebut.

    1. Ragamnya yang Bervariasi

    Fenomena dan perubahan sosial memiliki sifat dan ciri khasnya yang berbeda di tiap kejadian dan tidak bisa disamakan antara satu kejadian dengan yang lainnya. Misalnya, fenomena dan perubahan sosial yang terjadi akibat permasalahan sosial berbeda dengan yang terjadi karena faktor agama atau politik.

    2. Dinamis

    Masyarakat yang terus berubah dan memiliki dinamikanya sendiri dapat juga menimbulkan fenomena dan perubahan sosial. Sebagai contoh, fenomena tren fesyen yang dengan cepat berubah tiap tahunnya karena pengaruh gaya, mode, dan kreatifitas.

    3. Tidak Mudah Diprediksi

    Perubahan dan gejala sosial yang ada tidak mudah untuk diprediksi karena memiliki sifat yang kompleks, abstrak, terus berubah, dan menyesuaikan dengan situasi sosial. Meskipun demikian, perubahan dan fenomena yang terjadi tetap bisa diatasi dengan adanya kerja sama seluruh lapisan masyarakat.

    4. Kompleks

    Kompleksitas perilaku masyarakat yang tinggi sangat berpengaruh dengan fenomena dan perubahan sosial yang mungkin terjadi. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hubungan antar individu adalah ekonomi, psikologis, politik, dan agama.

    5. Gejala Sosial Bersifat Tidak Universal

    Artinya, sebuah fenomena atau perubahan sosial sangat bergantung kepada kondisi sosial atau budaya suatu kelompok masyarakat sehingga tidak bersifat umum. Suatu fenomena sosial yang ada di suatu wilayah belum tentu sama dengan yang terjadi di wilayah lain.

    6. Sangat Bergantung kepada Konteks Sosial

    Karakteristik fenomena dan perubahan sosial yang ada dalam masyarakat sangat dipengaruhi pula oleh situasi sosial yang ada di sekitarnya. Situasi atau konteks sosial yang ada dapat berupa tradisi, kebiasaan, norma, dan kondisi individu yang ada dalam kelompok masyarakat tersebut.

    Apa Penyebab Terjadinya Gejala Sosial?

    Selayaknya kejadian sosial lainnya, fenomena sosial selalu memiliki penyebab yang menjadi pemicunya. Faktor-faktor penyebab tersebut berasal dari dinamika sosial atau, dengan kata lain, perubahan dalam masyarakat. Setidaknya, ada lima faktor penyebab yang dirangkum dalam pembahasan di bawah ini. 

    1. Budaya

    Budaya dalam masyarakat selalu mengalami perubahan sejalan dengan berubahnya pandangan sosial suatu masyarakat. Ketika pandangan sosial berubah, maka pertumbuhan dan perkembangan dalam masyarakat pun terjadi. Kondisi  tersebut turut mendorong terjadinya fenomena sosial yang bersifat massal.

    2. Struktural, Salah Satu Penyebab Gejala Sosial

    Faktor struktural merupakan suatu keadaan yang memiliki pengaruh berupa pola tertentu. Pola tersebut berkaitan dengan hubungan yang dimiliki antar individu dengan kelompok dalam suatu lingkungan masyarakat.

    3. Globalisasi

    Ilustrasi Globalisasi yang Menghubungkan Warga Dunia
    Ilustrasi Globalisasi yang Menghubungkan Warga Dunia I Sumber gambar: Freepik

    Sistem globalisasi yang mengubah sistem ekonomi dan global secara masif dapat mendorong manusia di seluruh dunia menjadi satu masyarakat global yang memiliki kesatuan. Adanya globalisasi bisa memicu terjadinya perubahan perilaku dan pola pikir dalam masyarakat.

    4. Modernisasi

    Perubahan cara hidup tradisional menjadi semakin modern juga dapat memicu fenomena dan perubahan sosial. Masyarakat menyesuaikan sikap, perilaku, dan karakter dengan perkembangan dunia terkini. Peralihan gaya dan cara hidup ini tentunya turut memicu perubahan sosial dalam masyarakat.

    5. Hedonisme

    Ilustrasi Perilaku Hedonisme
    Ilustrasi Perilaku Hedonisme I Sumber gambar: Rey.id

    Perilaku masyarakat yang lebih mengutamakan kesenangan dalam setiap waktu dapat menjadi faktor pemicu fenomena dan perubahan sosial yang bersifat negatif. 

    Hedonisme dapat membuat seorang individu mengabaikan norma sosial. Bahkan, perilaku ini memicu pelakunya malas bekerja sehingga bisa mengakibatkan kenaikan angka pengangguran dan kriminalitas.

    6. Konsumerisme

    Kegiatan pembelian barang yang berlebih atau sifat konsumerisme merupakan salah satu faktor yang dapat memicu perubahan dan fenomena sosial di masyarakat. Konsumerisme yang dilakukan hanya untuk kebutuhan gaya hidup semata dapat memicu lonjakan angka kemiskinan dan inflasi dalam ekonomi nasional.

    4 Contoh Fenomena Sosial dalam Masyarakat

    Gejala sosial seringkali dipandang sebagai penyebab masalah dalam masyarakat. Namun, sebenarnya, fenomena dan perubahan sosial tidak selalu membawa dampak negatif saja. Ada sejumlah akibat positif yang juga berasal dari fenomena dan perubahan sosial. 

    1. Munculnya Kesadaran akan Kesetaraan Gender

    Ilustrasi Kesetaraan Gender
    Ilustrasi Kesetaraan Gender I Sumber gambar: Freepik

    Kesetaraan gender merupakan hal yang masih diperjuangkan oleh kalangan aktivis terkait karena masih sangat kurangnya kesadaran masyarakat terkait isu ini. Dengan adanya fenomena dan perubahan sosial, masyarakat dan pemerintah mulai menaruh perhatian terhadap isu tersebut dan mulai berbenah.

    2. Naiknya Angka Kemiskinan, Dampak Gejala Sosial

    Kemiskinan merupakan gejala yang muncul di banyak negara dan merupakan tantangan utama negara berkembang. Adanya perubahan kondisi ekonomi dan pola perilaku belanja dalam masyarakat turut mendorong terciptanya kemiskinan.

    3. Berkembangnya Kewirausahaan di Masyarakat

    Tidak hanya membawa dampak negatif, fenomena dan perubahan sosial juga membawa dampak positif, seperti halnya mendorong pertumbuhan sektor kewirausahaan. Dalam konteks ini, kewirausahaan hadir untuk memecahkan masalah yang ada di masyarakat, seperti kemiskinan dan pengangguran.

    4. Timbulnya Penyimpangan Sosial di Masyarakat

    Contoh Penyimpangan Sosial
    Contoh Penyimpangan Sosial I Sumber gambar: Pinterest

    Perubahan norma dan cara pandang hidup merupakan salah satu dampak dari gejala di masyarakat. Dengan adanya perubahan dan fenomena sosial tersebut, sangat besar kemungkinannya untuk munculnya perilaku menyimpang dalam masyarakat. Penyimpangan yang ada mengubah sikap dan gaya hidup masyarakat.

    Apa hubungan Gejala Sosial dan Dinamika dalam Masyarakat?

    Pada prinsipnya, gejala sosial merupakan tanda terjadinya perubahan atau dinamika dalam susunan sosial, seperti masyarakat.Kondisi tersebut membawa dampak positif, di satu sisi. Namun, ada kalanya fenomena tersebut membawa dampak negatif juga. 

    Fenomena dan perubahan dalam masyarakat memang tidak dapat terhindarkan  karena perubahan merupakan bagian mutlak dari masyarakat. Kita tidak dapat menghambat dinamika sosial. Meskipun demikian, kita dapat menyimpannya secara bijak agar tidak terbawa arus negatif dalam pergaulan.

  • Matrilineal Adalah: Sistem dan Praktiknya dalam Suku Minangkabau

    Matrilineal Adalah: Sistem dan Praktiknya dalam Suku Minangkabau

    Keanekaragaman budaya adalah suatu ciri khas yang sangat umum di Indonesia. Setiap suku memiliki adat, tradisi, dan normanya masing-masing. Bahkan sampai saat ini, sistem kekerabatan masih dianut oleh beberapa lapisan masyarakat dan suku tertentu. Sistem kekerabatan matrilineal adalah salah satunya.

    Beberapa sistem kekerabatan yang populer di Indonesia selain matrilineal adalah sistem parental dan patrilineal. Pada fokus pembahasan kali ini, kita hanya akan mengulas seputar sistem matrilineal dan praktiknya di Indonesia. Baca selengkapnya pada pemaparan di bawah ini!

    Apa itu Sistem Kekerabatan Matrilineal?

    Sistem kekerabatan yakni suatu pandangan tentang penentuan garis keturunan keluarga sebagai hasil dari ikatan pernikahan. Singkatnya, dapat kita pahami bahwa sistem tersebut menentukan pengelompokan individu ke dalam suatu silsilah, klan, marga, atau kelompok sosial.

    Pernikahan Adat Padang
    Pernikahan Adat Padang | Sumber gambar: pexels.com

    Nah, lalu matrilineal itu apa? Sistem matrilineal adalah suatu sistem kekerabatan yang mana seorang individu mendapatkan garis keturunan, pewarisan status sosial, dan hartanya melalui garis keturunan ibunya. 

    Pada sistem ini, garis keturunan ibu lebih penting dan dominan daripada garis keturunan sang ayah. Artinya, seorang anak akan dianggap menjadi bagian dari kelompok ibu mereka serta memiliki hak untuk mewarisi status sosial dan kekayaan milik keluarga ibu.

    Bagaimana Sistem dan Karakteristik Sistem Matrilineal?

    Sistem kekerabatan matrilineal adalah kebalikan dari sistem kekerabatan patrilineal, yang mana garis keturunan dan pewarisnya fokus pada garis keturunan ayah. Jadi, sistem kekerabatan matrilineal memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut:

    1. Silsilah Keturunan dari Garis Ibu

    Identitas atau status sosial anak ditentukan dari garis keturunan sang ibu. Anak-anak menjadi anggota dari keluarga ibu serta wajib mengikuti garis keturunan ibunya, Jadi, anak tersebut otomatis memiliki hubungan dengan warisan dan status sosial dari ibu.

    2. Pewaris Kekayaan

    Bagi penganut sistem matrilineal adalah sistem kekerabatan keluarga di mana keturunannya akan mendapatkan warisan baik berupa properti maupun harta melalui garis keturunan ibu. 

    3. Kedudukan Perempuan

    Dalam sistem matrilineal ini, wanita memiliki peranan yang lebih dominan dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Contohnya yaitu, mereka memiliki hak mengontrol seluruh harta keluarga bahkan dalam memutuskan berbagai keputusan penting.

    4. Nama Keluarga (Marga)

    Silsilah keluarga atau keturunan sistem matrilineal adalah warisan dari garis keturunan ibu. Jadi, nama anak-anak mereka pun mengambil nama keluarga ibu dan tidak dari keluarga ayah. Oleh karena itu, kelahiran anak perempuan dalam suku Minangkabau sangat disambut baik karena dia merupakan penerus keturunan.

    Praktik Sistem Matrilineal dalam Suku Minangkabau

    Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, sistem matrilineal di Indonesia sendiri masih sering dijumpai dalam suku Minangkabau. Terdapat beberapa praktik sistem matrilineal yang diterapkan dalam suku Minangkabau, antara lain:

    1. Pernikahan Eksogami

    Adat Minangkabau adalah salah satu yang mendukung pernikahan eksogami. Pernikahan eksogami adalah sebuah pernikahan yang dilakukan antar suku, sehingga masyarakat Minangkabau tidak diperbolehkan untuk menikah dengan suku yang sama meskipun dari daerah yang berbeda. 

    Jika pernikahan sesama suku masih tetap dilakukan, biasanya orang tersebut banyak menerima pandangan tidak baik atau dikucilkan. Hal ini karena masyarakat Minangkabau takut garis keturunannya akan rusak jika pernikahan antar suku tidak terjadi karena sesama masyarakat Minangkabau adalah saudara.

    2. Melamar Laki-Laki

    Tradisi melamar laki-laki pada adat Minangkabau ini cukup unik, karena pihak wanita lah yang melamar serta memberikan mahar kepada pihak laki-laki. Laki-laki akan menjadi tamu dalam keluarga perempuan karena nantinya akan ikut tinggal bersama keluarga istrinya.

    Dalam suatu pernikahan, pihak istri bertugas untuk melanjutkan keturunannya sedangkan pihak suami bertugas untuk memberikan keturunan kepada pihak perempuan. Jadi, jika seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita, maka laki-laki tersebut meninggalkan adatnya dan memasuki adat sang istri.

    3. Pembagian Warisan

    Pada penentuan pembagian warisan dalam adat Minangkabau, pihak dari garis keturunan perempuan akan mendapatkan warisan yang lebih banyak daripada pihak dari laki-laki. Akan tetapi, bukan berarti perempuan semena-mena terhadap warisan meskipun perempuan memegang peran besar dalam keluarga. 

    Warisan biasanya merupakan milik bersama dan digunakan bersama dengan anggota keluarga yang lain. Jadi, harta warisan harus tetap utuh karena merupakan harta milik bersama.

    Di Manakah Penerapan Sistem Matrilineal di Indonesia?

    Menurut beberapa literatur, ada beberapa kelompok masyarakat atau etnis yang tersebar di seluruh dunia yang menganut sistem matrilineal. Meskipun begitu, setiap etnis tersebut bisa memiliki aturan dan tradisi yang berbeda-beda mengenai penerapan sistem matrilineal.

    Di Indonesia sendiri, suku atau etnis yang paling terkenal menggunakan sistem matrilineal adalah suku Minangkabau yang berada di provinsi Sumatera Barat. Bahkan, suku Minangkabau termasuk dalam kelompok penganut matrilineal terbesar di dunia.

    Suku Minangkabau
    Suku Minangkabau | Sumber gambar: kompas.com

    Berikut beberapa suku yang masih menggunakan sistem matrilineal sebagai adat  dalam menentukan garis keturunannya: 

    1. Suku Minangkabau

    Posisi perempuan dalam suku Minangkabau bagaikan pembawa pusaka dan harta keluarga. Adat istiadat yang mereka anut adalah dominannya peran seorang ibu. Karena selain harus memimpin keluarga, ia juga yang merawat dan mendidik anak-anaknya. 

    Sementara itu, sosok sang ayah yaitu sebagai tamu di dalam keluarga sang ibu. Dikatakan tamu karena apabila menikah dengan perempuan keturunan Minangkabau, pihak laki-laki tinggal di rumah keluarga istri. 

    2. Suku Enggano

    Enggano merupakan salah satu suku yang menerapkan sistem matrilineal untuk menentukan garis keturunannya. Hal ini kemungkinan terjadi karena seringnya terjadi peperangan antar suku serta kegiatan yang melibatkan lelaki sehingga ditetapkan sistem matrilineal. 

    Suku Enggano adalah suku asli yang berasal dari Pulau Enggano di Provinsi Bengkulu. Dalam suku ini, sang ibu lah yang menentukan garis keturunan. 

    Suku Enggano 
    Suku Enggano  | Sumber gambar: id.wikipedia.org

    3. Suku Petalangan

    Suku Petalangan merupakan suku yang berada di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, yang dibagi lagi menjadi beberapa suku seperti suku seperti Sengerih, Lubuk, Pelabi, Medang, Piliang, Melayu, Penyambungan, dan Pitopang. Pemukiman penduduk suku ini berada sekitar 60-95 kilometer dari Kota Pekanbaru.

    Matrilineal adalah sistem kekerabatan yang juga diterapkan pada penentuan garis keturunannya. Sebagian besar masyarakat suku ini bekerja sebagai nelayan atau petani karet.

    4. Suku Sakai

    Sakai adalah salah satu suku yang berasal dari pedalaman Riau. Sistem matrilineal adalah salah satu sistem yang diterapkan suku ini untuk meneruskan garis keturunannya. Semua harta, bergerak maupun tidak, merupakan hak dari wanita dan para wanita lah yang meneruskan keturunannya.

    Banyak pendapat tentang asal-usul dari suku Sakai. Ada suatu pendapat bahwa suku ini merupakan percampuran antara ras Wedoid dan Proto Melayu.

    5. Suku Aneuk Jamee

    Di Indonesia, salah satu suku yang menerapkan sistem matrilineal adalah suku Aneuk Jamee. Suku ini berasal dari Minangkabau yang merantau dan berimigrasi ke Aceh. Suku Aneuk Jamee bermukim di sepanjang pesisir barat Aceh.

    Baca Juga : Memahami Pengertian Sukuisme dan Contohnya

    Sudahkah Memahami Materi tentang Sistem Matrilineal?

    Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, tradisi, kepercayaan, dan normanya di berbagai daerah. Matrilineal adalah suatu sistem yang termasuk ke dalam salah satu adat istiadat tersebut. Hal tersebut menjadi bukti bahwa semboyan Indonesia “berbeda-beda tetapi tetap satu jua” memang benar adanya.

    Melalui pengetahuan seputar sistem matrilineal pada artikel di atas, kita sebagai anak bangsa semakin tahu bahwa ada beberapa suku yang budayanya masih kental sampai sekarang terutama adat Minangkabau.

    Lalu bagaimana sikap kita dalam menanggapi perbedaan yang ada di masyarakat terutama mengenai perbedaan tradisi berbagai suku bangsa di Indonesia ini? 

    Tentunya, poin penting yang perlu kita garis bawahi di sini, yaitu kita perlu meningkatkan sikap tenggang rasa, saling menghargai, dan menghormati sesama warga dan suku bangsa Indonesia!

  • 15 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia, Indonesia?

    15 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia, Indonesia?

    Setiap negara di dunia memiliki angkatan bersenjata bernama militer. Masyarakat juga kerap menyebutnya sebagai tentara. Kira-kira manakah negara dengan militer terkuat di dunia? Mari simak 15 daftar teratasnya berikut ini!

    15 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia

    Berikut adalah 15 daftar negara yang memiliki kekuatan militer terbaik di dunia, apakah Indonesia termasuk salah satunya? Simak selengkapnya berikut ini!

    1. Amerika Serikat

    Tentara Amerika
    Tentara Amerika | Sumber gambar: Unsplash

    Amerika Serikat (AS) memimpin dalam skor PowerIndex dengan nilai 0,0712 berkat kemajuan teknologi, sektor medis, kedirgantaraan, dan telekomunikasi utama. Selain itu, AS unggul dalam kategori material, keuangan, dan sumber daya utama.

    Pada bulan April 2023, AS menduduki peringkat pertama dalam berbagai bidang termasuk ukuran armada, pesawat, jumlah kapal perang, dan kekuatan armada angkut. 

    Mereka memiliki 92 kapal perang perusak, 11 kapal induk, 13.300 pesawat, dan 983 helikopter serang. Selain itu, AS mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 761,7 miliar dolar AS.

    2. Cina/Tiongkok

    Tentara Cina
    Tentara Cina | Sumber gambar: Unsplash

    Menurut Global Firepower dalam peringkat terbarunya, Tiongkok menduduki peringkat pertama untuk tenaga kerja yang tersedia dan kekuatan armada angkatan laut. Mereka menyatakan, Tiongkok memiliki keunggulan yang berasal dari aspek ekonomi dan jumlah tenaga kerja yang besar.

    Negara Tirai Bambu ini juga fokus pada peningkatan kemampuan angkatan laut, udara, dan darat, terutama melalui sarana lokal. Jika tren ini berlanjut, Tiongkok berpotensi menjadi musuh militer global utama bagi Amerika Serikat. 

    Pada bulan April 2023, Tiongkok memiliki lebih dari 761 juta personel militer, termasuk 50 kapal perang perusak dan 78 kapal selam, di samping aset militer lainnya. Skor PowerIndex yang diberikan kepada Tiongkok oleh Global Firepower adalah 0,0722.

    3. Rusia

    Tentara Rusia
    Tentara Rusia | Sumber gambar: Unsplash

    Rusia memiliki total armada pesawat dan transportasi yang besar, dengan lebih dari 4.100 pesawat militer. Sudah bukan rahasia lagi kalau Rusia adalah negara dengan persediaan nuklir terbesar di dunia.

    Meskipun Rusia mengalami kemunduran militer sejak melancarkan invasi ke Ukraina, terutama kehilangan sejumlah besar peralatan, termasuk tank, mereka tetap bersikap defensif dalam menghadapi serangan Ukraina. Selain itu, mereka memanfaatkan jaringan parit dan ladang ranjau yang tangguh.

    4. India

    Tentara India
    Tentara India | Sumber gambar: Unsplash

    India termasuk salah satu negara dengan militer terkuat di dunia karena pengaruh jumlah populasi di sana yang memang sangat besar. Pasalnya, sebagian besar populasi India adalah anggota tenaga militer aktif. 

    Pada Januari 2023, India memiliki lebih dari 653 juta tenaga kerja, yang setara dengan 47 persen dari total populasi negara tersebut. 

    Selain itu, India juga memiliki hampir 1,5 juta personel militer aktif. Dalam peringkat Global Firepower, India mendapatkan skor PowerIndex sebesar 0,1025.

    5. Jepang

    Tentara Jepang bertemu Tentara Amerika
    Tentara Jepang bertemu Tentara Amerika | Sumber gambar: Wikimedia

    Jepang memiliki jumlah personel tentara yang lebih sedikit dibandingkan dengan militer Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, dan India. Jumlah personel militer aktif Jepang mencapai 250.000 orang, dengan 55.000 personel cadangan, dan 14.000 personel paramiliter.

    Kekuatan militer Jepang mencakup angkatan darat, udara, dan laut, didukung oleh persenjataan dan bahan bakar militer. Di sektor angkatan darat, mereka memiliki 1.004 tank, 5.500 kendaraan lapis baja, 214 artileri gerak, 480 artileri derek, dan 99 proyektor roket.

    Angkatan laut militer Jepang mencakup 37 kapal perusak, 6 kapal korvet, 20 kapal selam, 6 kapal patroli, dan 21 kapal perang ranjau. Namun, perlu dicatat bahwa militer Jepang belum memiliki kapal induk dan frigates. 

    Sementara itu, angkatan udara militer Jepang memiliki 256 pesawat tempur, 17 pesawat serangan khusus, 61 pesawat transportasi militer, 162 pesawat misi khusus, 552 helikopter militer, dan 119 helikopter serang.

    6. Korea Selatan

    Tentara Korea Selatan
    Tentara Korea Selatan | Sumber gambar: Flickr

    Korea Selatan menempati urutan keenam berdasarkan peringkat Global Firepower dalam hal kekuatan armada pesawat, kekuatan armada kendaraan tempur lapis baja, dan kekuatan helikopter. 

    Pada Januari 2023, negara Asia ini memiliki lebih dari 133.000 kendaraan dan 739 helikopter, termasuk 112 helikopter serang. Secara keseluruhan, Korea Selatan diberi skor PowerIndex sebesar 0,1505 oleh Global Firepower.

    7. Perancis

    Tentara Perancis
    Tentara Perancis | Sumber gambar: Unsplash

    Prancis, yang menduduki peringkat ke tujuh negara dengan militer terkuat di dunia, memiliki populasi penduduk sebanyak 67.700.000 jiwa. Militer Prancis meraih indeks kekuatan sebesar 0,1283 dalam peringkat Global Fire Power. 

    Prancis memiliki total 1.057 unit pesawat tempur, 406 tank, 10 kapal selam, dan personel militer aktif sebanyak 270.000 personel. 

    Meskipun tentara Prancis mungkin tidak tampak istimewa, para personelnya sangat terlatih. Pada tahun 2021, militer Prancis memiliki 290 hulu ledak nuklir.

    8. Britania Raya

    Tentara Inggris
    Tentara Inggris | Sumber gambar: Unsplash

    Militer Britania Raya menduduki peringkat kedelapan dalam daftar negara yang memiliki militer paling kuat di dunia, dengan mendapatkan indeks kekuatan sebesar 0,1997 menurut Global Fire Power.

    Selain catatan tersebut, negara ini juga mengalokasikan anggaran sebesar 59,2 juta dolar Amerika Serikat untuk militer mereka. 

    Militer Britania Raya juga dikenal sebagai salah satu militer terkuat karena memiliki kapal induk HMS Queen Elizabeth yang memiliki luas sekitar 4,5 hektare.

    Kapal induk tersebut mampu menampung hingga 40 pesawat tempur F-35B dan menerjunkannya ke berbagai penjuru dunia. Tidak hanya itu, militer Britania Raya saat ini juga memiliki 290 hulu ledak nuklir.

    9. Pakistan

    Tentara Pakistan
    Tentara Pakistan | Sumber gambar: Unsplash

    Negara dengan militer terkuat di dunia selanjutnya adalah Pakistan. Negara ini memiliki lebih dari 3.700 tank, 1.400 pesawat militer, sembilan kapal selam, dan jumlah personel militer aktif sebanyak 654.000 pada Januari 2023. 

    Menurut Global Firepower, peringkat tahun ini lebih menekankan pada sumber daya alam dan perbatasan bersama, yang berkontribusi pada peningkatan peringkat Pakistan. 

    Dalam berbagai bidang, Global Firepower menempatkan Pakistan di 10 besar, termasuk total populasi yang tersedia untuk dinas militer, jumlah personel militer aktif yang tersedia, dan kekuatan armada pesawat, dengan skor PowerIndex 0,1694.

    10. Brasil

    Tentara Brasil
    Tentara Brasil | Sumber gambar: Unsplash

    Brasil unggul dalam berbagai bidang, termasuk jumlah populasi yang cocok untuk dinas militer, total kekuatan armada transportasi, dan jumlah bandara. 

    Negara ini memiliki lebih dari 4.000 bandara, yang merupakan jumlah tertinggi kedua di dunia, dan 17 pelabuhan serta terminal perdagangan, yang menduduki peringkat kelima dalam kategori ini.

    11. Italia 

    Tentara Italia
    Tentara Italia | Sumber gambar: Vecteezy

    Italia menjadi salah satu negara dengan militer terkuat karena kekuatan mereka dalam bidang armada pesawat tanker udara, jumlah total helikopter, pesawat serang, dan kapal perang induk. 

    Negara ini memiliki 404 helikopter, termasuk 58 helikopter serbu, serta dua kapal perang induk. 

    Belakangan ini, pengeluaran militer Italia akan meningkat sebesar $6,9 miliar (setara dengan Rp105 triliun), mencapai total $38,5 miliar (sekitar Rp587 triliun) antara tahun 2024 dan 2028.

    12. Turki

    Tentara Turki
    Tentara Turki | Sumber gambar: Unsplash

    Negara dengan militer terkuat di dunia selanjutnya adalah Turki. Militer Turki mengalami perkembangan yang signifikan dalam berbagai aspek, termasuk kekuatan armada pesawat, transportasi, dan helikopter. Pada bulan Januari 2023, Turki memiliki 1.065 pesawat militer.

    Turki merupakan salah satu dari lima negara anggota (North Atlantic Treaty Organization) NATO. Oleh karena itu, wilayahnya menjadi tempat penyimpanan senjata nuklir yang dimiliki oleh Amerika Serikat sesuai dengan kesepakatan pembagian senjata nuklir dalam aliansi tersebut.

    13. Indonesia

    Pesawat Tempur Indonesia
    Pesawat Tempur Indonesia | Sumber gambar: Unsplash

    Indonesia mencapai peringkat 5 teratas dalam berbagai bidang, termasuk jumlah populasi yang layak untuk dinas militer, populasi yang mencapai usia militer setiap tahun, serta jumlah total kapal patroli lepas pantai dan kapal perang korvet. 

    Pada Januari 2023, lebih dari 112 juta penduduk Indonesia, yang setara dengan 40,7% dari total populasi negara, memenuhi syarat untuk pelayanan militer. Saat ini, militer Indonesia juga menjadi yang terkuat di kawasan Asia Tenggara

    14. Mesir

    Tentara Mesir di Atas Tank
    Tentara Mesir di Atas Tank | Sumber gambar: Flickr

    Mesir menduduki puncak peringkat militer di antara negara-negara Arab. Negara ini memiliki lebih dari 1.000 pesawat militer, 300.000 individu yang dapat dianggap sebagai bagian dari pasukan paramiliter, dan cadangan personel militer.

    15. Ukraina

    Sniper Ukraina
    Sniper Ukraina | Sumber gambar: Unsplash

    Peringkat Ukraina meningkat dibandingkan tahun lalu akibat konflik perang dengan Rusia dan bantuan militer dari sekutu. Ukraina saat ini memiliki 647 Proyektor Roket Peluncuran Berganda yang dapat digerakkan sendiri.

    Setelah satu setengah tahun berperang, Angkatan Bersenjata Ukraina menghadapi dua tantangan, yaitu pelatihan dan penempatan tentara baru. 

    Kurangnya personel profesional yang telah sepenuhnya berkembang untuk melatih, memimpin, dan menyesuaikan diri dengan kondisi perang saat itu menjadi penyebab kondisi ini.

    Peran Indonesia sebagai Negara dengan Militer Terkuat di Dunia

    Faktanya, Indonesia termasuk salah satu negara dengan militer terkuat di dunia. Artinya, negara Indonesia mampu melindungi kedaulatan, keamanan, dan kepentingan nasionalnya. Selain itu, kemampuan militer yang terus meningkat, Indonesia berperan aktif dalam misi perdamaian di tingkat internasional.

  • 7 Jenis Rumah Adat Jawa Barat, Ciri Khas, dan Keunikannya

    7 Jenis Rumah Adat Jawa Barat, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Jawa Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki keberagaman adat istiadat dan budaya. Tak terkecuali dengan rumah adatnya yang cukup beragam. Setidaknya ada 7 rumah adat Jawa Barat yang masih dilestarikan sampai sekarang. 

    Apa Anda penasaran dengan jenis, ciri khas, dan keunikannya? Simak artikel ini untuk lebih lengkapnya!

    7 Jenis Rumah Adat Jawa Barat 

    Tidak usah berlama-lama, berikut ini jenis rumah-rumah adat dari Jawa Barat yang perlu Anda ketahui:

    1. Rumah Adat Togok Anjing 

    Rumah Adat Jawa Barat Togok Anjing
    Rumah Adat Jawa Barat Togok Anjing | Sumber Gambar: Dekoruma.com

    Pertama-tama, rumah adat Togok Anjing (Togog Anjing atau Tagog Anjing) adalah jenis rumah tradisional yang harus Anda ketahui. Ciri khas rumah adat ini yaitu bentuk atapnya berupa tagog anjing atau jago anjing yang mana merujuk pada posisi anjing ketika sedang duduk.

    Atapnya memiliki dua bidang atap dengan batas berupa garis batang suhunan. Berdasarkan sejarah masyarakat Sunda, suhuan adalah istilah yang menggambarkan bagian rumah adat Jawa Barat yang mana terbuat dari sebatang kayu. 

    Bidang atap pertama umumnya lebih lebar dan berfungsi sebagai penutup ruangan. Sementara atap lain lebih sempit dan memiliki sisi-sisi sama panjang. 

    Bidang atap yang sempit tersebut memiliki fungsi untuk melindungi rumah dari sinar matahari atau air hujan. Selain itu, rumah adat Togok Anjing juga tidak memakai tiang penyangga pada sisi bawahnya. 

    Desain rumahnya sangat simple dan mungkin cukup familiar untuk Anda. Pasalnya, banyak gazebo-gazebo di Jawa Barat yang memiliki desain mirip rumah Togok Anjing. 

    2. Rumah Adat Buka Palayu

    Rumah Adat Buka Palayu
    Rumah Adat Buka Palayu | Sumber Gambar: Popbela.com

    Anda bisa dengan mudah menjumpai rumah adat Buka Palayu di daerah Tomo, Sumedang, Jawa Barat. Rumah adat satu ini memiliki tata letak pintu yang sangat unik. Biasanya, letak pintu depan menghadap ke antara sisi bidang atap rumah.

    Jadi, saat Anda melihat dari arah depan rumah, maka Anda bisa melihat dengan jelas seluruh garis suhuan. Garis tersebut melintang dengan kokohnya dari arah kiri ke kanan.

    Rumah adat Jawa Barat Buka Palayu dibangun dengan tujuan untuk menghadapkan bangunan dan atap rumah ke arah jalan. Selain bernama Buka Palayu, rumah satu ini juga terkenal dengan nama Rumah Jure.

    Nama Rumah Jure muncul karena bentuk atapnya yang memakai jure-jure. Jure-jure adalah batang kayu yang menghubungkan antara garis suhuan pada sudut rumah khas Jawa Barat.

    3. Rumah Adat Kasepuhan Cirebon

    Rumah Adat Jawa Barat Kasepuhan Cirebon
    Rumah Adat Jawa Barat Kasepuhan Cirebon | Sumber Gambar: Rumah.com

    Nah, rumah adat Kasepuhan Cirebon ini tidak hanya memiliki ciri khas dan keunikan, tapi juga memiliki filosofi mendalam. Berdasarkan sejarah, rumah adat Kasepuhan Cirebon pertama kali dibangun oleh Pangeran Cakrabuana di tahun 1529.

    Pangeran Cakrabuana adalah putra Prabu Siliwangi yang merupakan raja agung Kerajaan Sunda Pajajaran. Sang Pangeran membangun rumah yang begitu mewah dan juga indah, berbeda dari rumah adat daerah lain.

    Di masa lalu, prajurit kerajaan menggunakan rumah Kasepuhan Cirebon sebagai tempat pelatihan. Selain itu, ada ruangan khusus untuk proses pengadilan dan hukum adat. Fakta tersebut menunjukkan rumah Kasepuhan Cirebon memiliki fungsi yang sangat beragam.

    Setidaknya ada empat bagian atau ruangan di rumah adat Jawa Barat Kasepuhan Cirebon. Pertama, jinem atau pendopo yang berfungsi sebagai tempat para punggawa kerajaan yang bertugas menjaga keselamatan sultan. 

    Kedua, pringgodani yang berfungsi sebagai tempat sultan memberi perintah pada bawahannya. Ketiga, prabayasa yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu istimewa. Terakhir, ruang kerja dan ruang istirahat sultan. 

    4. Rumah Adat Jawa Barat Jolopong

    Rumah Adat Jolopong
    Rumah Adat Jolopong | Sumber Gambar: Infowisatabandung.com

    Berdasarkan bahasa Sunda, jolopong artinya tegak lurus atau terkulai. Nama tersebut merujuk pada bentuk atapnya yang terlihat seperti jolopong atau tegak lurus. Anda masih bisa lho menemukan rumah adat satu ini di wilayah Sumedang, Jawa Barat. 

    Ciri khas atap rumah Jolopong yaitu memiliki dua bidang yang dipisahkan oleh jalur suhunan. Jalur tersebut ada di bagian tengah bangunan sehingga terlihat begitu jelas. 

    Selain itu, rumah Jolopong juga memiliki ruang kosong di bawah bagunan rumah atau sering disebut kolong. Biasanya, tinggi kolong dari lantai yaitu kurang lebih 40 cm. 

    Fungsi utama kolong rumah yaitu sebagai tempat memelihara hewan seperti ayam. Namun, ada juga yang memanfaatkannya sebagai tempat untuk menyimpan alat pertanian. 

    Menurut para peneliti, bentuk atap rumah Jolopong yang sederhana merupakan awal mula bentuk atap rumah adat Jawa Barat lainnya. Pasalnya, bentuk atap tersebut mudah ditemukan di saung-saung yang sudah sangat tua. Masyarakat Jawa Barat membangun saung di sawah untuk beristirahat.

    5. Rumah Adat Parahu Kumureb

    Rumah Adat Jawa Barat Parahu Kumureb
    Rumah Adat Jawa Barat Parahu Kumureb | Sumber Gambar: Orami.co.id

    Bagi Anda yang belum tahu, rumah Parahu Kumureb juga terkenal dengan nama Imah Perahu Kumureb oleh masyarakat Jawa Barat. Anda mungkin sudah bisa menebak bentuk rumah satu ini. 

    Ya, rumah adat Parahu Kumureb memiliki atap yang mirip dengan perahu terbalik. Namun, ada juga yang menyebutnya mirip dengan lesung terbalik sehingga disebut Jubleg Nangkub. 

    Secara sekilas, arsitektur rumah Parahu Kumureb cukup rumit. Atapnya berbentuk limas dari bahan ijuk. Sementara bangunan utamanya memakai bahan dasar kayu yang kuat dan kokoh.

    Kemudian, area sisi-sisi dari rumah menggunakan bentuk berbeda-beda. Area sisi depan menggunakan bentuk trapesium, sedangkan sisi belakangnya berbentuk segitiga sama sisi. Masyarakat daerah Kampung Adat Kuta, Ciamis, Jawa Barat masih ada yang membangun rumah adat Jawa Barat ini. 

    Meskipun begitu, lebih banyak orang yang mulai meninggalkan model rumah Parahu Kumureb. Pasalnya, bentuknya yang bermacam-macam cukup sulit untuk dibangun. Selain itu, atapnya yang berdesain perahu terbalik juga mudah bocor jika sambungannya tidak tepat.

    6. Rumah Adat Badak Heuay

    Rumah Adat Badak Heauy
    Rumah Adat Badak Heauy | Sumber Gambar: Rumah.com

    Sekilas rumah adat Badak Heuay memiliki nama yang sangat unik, ya? Ketika Anda lihat dari samping, bagian atap rumah sangat mirip mulut badak yang menguap atau menganga. 

    Rumah adat Jawa Barat satu ini tidak memakai sambungan atap depan dan belakang atau yang lebih dikenal dengan istilah wuwung. Ada bagian atap yang lebih panjang di puncaknya. Bagian tersebut dikenal dengan nama rambu.

    Kemudian, bagian depan rumah menggunakan golodog atau tangga dari kayu. Sementara dindingnya memakai anyaman bambu sederhana yang dikenal dengan sebutan bilik

    Desain arsitektur rumah adat Badak Heuay sebenarnya terlihat serupa dengan Togok Anjing. Perbedaannya hanya pada atapnya yang memiliki ciri khas masing-masing. Namun, keduanya sama-sama termasuk rumah panggung yang sederhana.

    7. Rumah Adat Jawa Barat Julang Ngapak

    Rumah Julang Ngapak
    Rumah Julang Ngapak | Sumber Gambar: Rumah.com

    Terakhir, rumah adat Julang Ngapak atau Julang Ngampak. Rumah adat satu ini memiliki atap yang mirip dengan burung julang saat mengepakkan sayap. Sangat menarik dan unik, bukan?

    Ciri khasnya yaitu memiliki atap dengan dua sisi yang melebar. Pada bagian paling atas dari atap, terlihat desain berbentuk seperti huruf V. Ketika Anda lihat dari kejauhan, atap rumah sangat mirip dengan burung yang sedang mengepakkan sayap. 

    Seperti beberapa rumah adat Jawa Barat lainnya, rumah Julang Ngapak juga menggunakan golodog dari kayu atau bambu. Anak tangga golodog tersebut tidak banyak, biasanya hanya tiga buah anak tangga.

    Hampir semua bahan yang digunakan untuk membuat rumah Julang Ngapak adalah bahan alami. Selain kayu dan bambu, masyarakat juga memakai daun rumbia atau ijuk sebagai atap. Semua bahan alami tersebut membuat interior dan eksterior rumah terlihat sangat tradisional dan khas.

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

    Ciri Khas dan Keunikan Rumah Adat Jawa Barat

    Setiap rumah adat dari daerah di Nusantara memiliki ciri khas dan keunikan yang berbeda. Begitu pula dengan rumah adat Jawa Barat. Berikut ini pembahasan mengenai ciri khas dan keunikannya:

    1. Posisi Bangunan

    Masyarakat Sunda mempercayai bahwa posisi bangunan rumah berpengaruh pada keharmonisan keluarga di dalamnya. Oleh sebab itu, rumah adatnya memiliki posisi bangunan yang khas. 

    Semua rumah harus menghadap ke timur atau barat. Apapun model atau jenis rumah yang akan dibangun, tidak boleh ada yang menghadap ke arah lain.

    2. Lantai

    Sebagian besar lantai rumah adat Jawa Barat menggunakan susunan bambu. Pemilihan lantai bambu dipicu oleh berbagai kelebihan seperti mudah ditemukan, sejuk, tidak panas, dan sirkulasi udara yang baik.

    3. Dinding

    Ciri khas dan keunikan dindingnya yaitu penggunaan bahan alami berupa anyaman bambu. Penggunaan bahan tersebut menunjukkan kesederhanaan. Selain itu, anyaman bambu memiliki banyak lubang yang membuat sirkulasi udara rumah lebih bagus. 

    4. Pintu

    Rumah tradisional masyarakat Jawa Barat memiliki pintu yang serupa dengan dindingnya. Jadi, bahan untuk membuat pintu berupa kisi-kisi bambu atau kayu dengan banyak lubang. Tujuannya sama, yaitu agar sirkulasi udara bagus. Selain itu, pintu yang banyak lubang membuat rumah lebih terang.

    5. Plafon

    Rumah khas Jawa Barat memakai plafon dari bambu utuh. Ukurannya lebih besar jika Anda bandingkan dengan bagian rumah lainnya. Biasanya, bagian plafon rumah juga berguna untuk menyimpan barang yang jarang dipakai. 

    Baca Juga : 5 Macam Rumah Adat Jawa Tengah Paling Unik dan Ciri Khasnya

    Yuk, Kenali Rumah Adat Jawa Barat yang Sangat Istimewa Ini!

    Jika Anda telisik lebih mendalam, rumah adat Jawa Barat tidak hanya unik dan menarik, tapi juga memiliki filosofi mendalam. Secara umum, rumah adat tersebut merupakan penghormatan bagi alam sekitar. Pasalnya, banyak rumah yang memakai nama dengan unsur hewan atau tumbuhan. 

    Mempelajari rumah adat setiap daerah yang ada di Nusantara dapat menambah wawasan. Bahwa Indonesia merupakan negara yang unik dan memiliki keberagaman tinggi. 

    Ayo berkunjung ke daerah Jawa Barat seperti Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, atau Bandung untuk melihat rumah adatnya secara langsung! Meskipun sudah mulai berkurang, namun masih cukup banyak rumah-rumah yang berkonsep tradisional di Jawa Barat.

  • 14 Upacara Adat Jawa Timur dan Penjelasannya

    14 Upacara Adat Jawa Timur dan Penjelasannya

    Apa saja upacara adat Jawa Timur yang hingga sekarang masih terjaga kelestariannya? Jawa Timur merupakan provinsi yang sangat besar dengan jumlah penduduk sangat banyak.

    Keragaman budaya menjadi salah satu keunikan dari provinsi tersebut. Salah satunya adalah upacara adat yang bisa Anda saksikan sebagai bentuk dari rasa syukur pada Sang Kuasa.

    Inilah Upacara Adat Jawa Timur

    Ada beberapa upacara adat di daerah Jawa Timur yang masih bertahan hingga sekarang.

    1. Yadnya Kasada

    Suku Tengger merupakan suku yang terkenal di Jawa Timur. Suku yang berada di kawasan Gunung Bromo tersebut secara rutin melaksanakan Yadnya Kasada setiap tahun.

    Upacara tersebut bertujuan sebagai sarana di dalam menyampaikan rasa syukur. Selain itu, upacara ini dilakukan dengan membuat tumpeng. Lalu membawa tumpeng tersebut maupun hasil bumi menuju kawah puncak dari Gunung Bromo di setiap bulan Kasada yaitu hari ke-14 berdasarkan penanggalan Jawa.

    Sebenarnya bukan sekadar Suku Tengger yang melaksanakan upacara ini. Pemerintah melalui Balai Bahasa Taman nasional Bromo Tengger Semeru juga membantu dalam pelaksanaan ritual tersebut.

    2. Upacara Keduk Beji

    Upacara adat Jawa Timur yang kedua bernama Keduk Beji. Sebuah upacara adat yang bertujuan membersihkan danau atau sendang di kawasan Tawun, Kecamatan Kasreman, Kab. Ngawi. Kata Keduk Beji sebenarnya adalah dua kata yaitu Keduk serta Beji.

    Keduk mempunyai arti membersihkan, lalu Beji merupakan nama tempat yang sedang dibersihkan. Masyarakat percaya bahwa Sendang Beji merupakan tempat sakral. Sementara itu, sumber airnya biasanya digunakan untuk mengairi lahan pertanian serta menyuplai air pemandian pada tempat wisata Tawun.

    Selain Sendang Beji, ada juga makam leluhur di desa tersebut. Berdasarkan kepercayaan dari masyarakat, Sendang Beji memiliki beragam kekuatan mistis. Ini membuat tempat tersebut selalu mendapatkan penjagaan dan dikeramatkan.

    Masyarakat yang melaksanakan upacara Keduk Beji bermaksud untuk memberikan penghormatan serta harapan. Upacara ini menjadi perantara agar masyarakat di Tawun terhindar dari berbagai masalah yang tak diinginkan.

    3. Larung Sembonyo

    Larung Sembonyo
    Larung Sembonyo | Sumber: gotravelly.com

    Selanjutnya ada sebuah upacara adat yang merupakan sedekah laut. Upacara tersebut menjadi kegiatan atau ritual rutin dari masyarakat lokal yang berada di kawasan Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur. 

    Meskipun modernisasi semakin pesat, namun masyarakat di wilayah tersebut masih tetap mempertahankan apa yang sudah menjadi warisan para leluhur. Masyarakat yang berada di sekitar Pantai Prigi melakukan upacara Larung Sembonyo sebagai bentuk rasa syukur. Mereka bersyukur pada Tuhan atas hasil laut melimpah yang tersedia.

    Larung Sembonyo bukan sekadar menjadi upacara adat. Kegiatan ini juga merupakan ciri khas dan bagian kebudayaan dari Kota Trenggalek. Tak sedikit orang dari luar Trenggalek yang menyaksikan upacara Larung Sembonyo karena memang unik dan sakral.

    4. Ruwatan

    Ruwatan
    Ruwatan | Sumber: gotravelly.com

    Upacara adat Jawa Timur yang keempat bernama Ruwatan. Untuk istilah Ruwatan sendiri, dalam bahasa Jawa artinya membuang sial. Sebuah upacara yang biasanya bertujuan untuk mendoakan agar seseorang mendapatkan limpahan berkah. Upacara tersebut tertuju pada orang yang memang mengalami kelainan atau gangguan.

    Ruwatan juga merupakan upacara yang menurut kepercayaan masyarakat setempat sebagai penyucian diri atas dosa-dosa yang dilakukan. Sama seperti upacara adat sebelumnya, orang-orang masih melestarikan warisan nenek moyang ini.

    5. Unan-unan

    Berikutnya ada upacara masyarakat adat yang juga berlokasi di Gunung Bromo. Upacara tersebut bernama Unan-unan yang umumnya menjadi kegiatan rutin masyarakat yang tinggal di Desa Ngadisari, Kab. Probolinggo.

    Asal kata Unan-unan sendiri yaitu dari bahasa Jawa Kuno yakni una yang memiliki arti kurang. Maka dari itu, makna dari Unan-unan adalah mempunyai makna mengurangi. Ritual adat ini menjadi salah satu cara untuk membersihkan desa.

    Unan-unan bertujuan menjauhkan desa dari bhutakala atau gangguan makhluk halus. Upacara tersebut juga merupakan cara tolak bala. Bahkan lebih luas lagi, Unan-unan juga bermaksud membebaskan seluruh makhluk bumi dari marabahaya.

    6. Grebeg Suro

    Grebeg Suro
    Grebeg Suro | Sumber: gotravelly.com

    Grebeg Suro juga merupakan upacara adat Jawa Timur yang cukup populer. Sebuah tradisi yang menjadi kegiatan rutin masyarakat Ponorogo. Kegiatan tersebut berupa pesta rakyat yang menampilkan beragam kesenian serta tradisi.

    Beberapa pertunjukkan di upacara Grebeg Suro seperti Larungan Risalah Doa, Festival Reog Nasional, dan lain-lain. Biasanya rangkaian kegiatan tersebut bermula dengan adanya prosesi penyerahan pusaka pada makam bupati yang pertama di Ponorogo.

    Lalu kegiatan berikutnya adalah pawai ratusan orang secara beramai-ramai menuju pusat kota. Uniknya lagi, mereka datang dengan naik kuda yang sebelumnya sudah dihiasi. Grebeg Suro juga menjadi wadah untuk melestarikan budaya di tengah zaman yang semakin modern.

    7. Kebo-keboan

    Kebo-keboan
    Kebo-keboan | Sumber: gotravelly.com

    Upacara adat berikutnya menjadi ciri khas Suku Osing yang berada di Kab. Banyuwangi. Sebuah tradisi yang hingga sekarang masih menjadi daya tarik sendiri. Bukan hanya oleh masyarakat Banyuwangi melainkan juga masyarakat sekitar.

    Kebo-keboan adalah tradisi yang memang sangat erat dengan pertanian. Tujuan melakukan ritual ini yaitu untuk memohon kesuburan tanah. Masyarakat juga meminta agar mendapatkan hasil panen melimpah dan terhindar dari bahaya, baik yang menimpa manusia maupun menimpa tanah.

    8. Tahlilan Kematian

    Tahlilan kematian
    Tahlilan kematian | Sumber: gotravelly.com

    Tahlilan kematian juga masuk kategori upacara adat Jawa Timur. Kegiatan yang satu ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan Islam. Tahlilan adalah sebuah ritual yang bertujuan untuk mendoakan orang meninggal.

    Ada beberapa rangkaian aktivitas pada tahlilan kematian. Umumnya, pemimpin tahlilan seperti ustaz atau kyai akan membaca Al-Quran dan umumnya adalah surat Yasin. Setelah itu, melanjutkan dengan membaca dzikir dan ditutup dengan doa bersama.

    Selain itu, tradisi tahlilan kematian juga mempunyai ketentuan terkait hari peringatannya. Umumnya, orang-orang melaksanakan tahlilan mulai hari pertama sampai ketujuh. Selanjutnya melakukannya lagi di hari ke-40, 100, sampai ke-1000 hari.

    Meskipun demikian, tak semua masyarakat di Jawa Timur melangsungkan acara tradisional ini. Orang-orang yang tidak melakukannya berpandangan bahwa upacara atau kegiatan adat tersebut bukan merupakan bagian syariat Islam.

    9. Ngurit

    Ngurit
    Ngurit | Sumber: gotravelly.com

    Ngurit juga menjadi kegiatan tradisional rutin yang dilakukan masyarakat Jawa Timur serta hingga sekarang pun tetap melaksanakannya. Tradisi ini menjadi kegiatan rutin bagi masyarakat yang profesinya sebagai petani.

    Ngurit bertujuan sebagai ucapan rasa syukur serta berdoa dengan harapan agar benih padi bisa tumbuh subur dan berkualitas. Setelah melakukan tradisi tersebut, biasanya para petani akan menunggu hingga beberapa hari sampai musim menanam padi atau musim tandur tiba.

    10. Dam Bagong

    Dam Bagong
    Dam Bagong | Sumber: gotravelly.com

    Nama Dam Bagong sebagai salah satu upacara adat Jawa Timur mungkin masih terdengar asing. Padahal tradisi ini sudah berlangsung lama hingga sekarang. Sebuah upacara adat yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan Semesta Alam.

    Selain itu, upacara ini juga merupakan bentuk rasa terima kasih pada Manak Sopal. Ia merupakan sosok yang sangat berjasa di dalam pembuatan Dam Bagong tersebut.

    Dam Bagong berlangsung di Kab. Trenggalek serta biasanya dilakukan dengan cara melempar kerbau yang sebelumnya telah disembelih ke bendungan. Lalu kepala kerbau akan menjadi rebutan masyarakat sekitar.

    Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan melakukan Ruwatan Wayang Kulit, menampilkan cerita Udan Mintoyo. Kemudian masyarakat melanjutkan aktivitasnya dengan berziarah ke makam dari Menak Sopal. Upacara Dam Bagong ini berlangsung pada Jumat Kliwon pada bulan Selo.

    11. Seblang

    Upacara tradisional berikutnya yaitu Seblang. Sebuah upacara adat yang menjadi kegiatan rutin masyarakat dari Suku Osing yang berada di Desa Olehsari dan Desa Bakungan, Kec. Glagah, Banyuwangi. Tujuan dari melaksanakan ritual tersebut adalah memohon doa agar desa bersih dari marabahaya.

    Selain itu, Seblang juga bertujuan sebagai permohonan agar desa selalu dalam kondisi yang aman serta tentram. Pelaksanaan ritual ini dimulai lewat upacara yang dibuka sang gambuh. Kemudian ada penari dengan menutup mata di belakangnya yang merupakan ibu-ibu. 

    Penari tersebut sambil memegang nampan atau tempe. Lalu sang gambuh mulai mengasapi sang penari menggunakan asap dupa sambil membaca mantra dan sang penari pun akan kerasukan.

    12. Sandhur

    Sandhur
    Sandhur | Sumber: gotravelly.com

    Upacara adat Jawa Timur bernama Sandhur ini terkenal juga dengan istilah Dhamong Ghardam. Sebuah upacara adat dan sekaligus menjadi kegiatan rutin masyarakat di dataran Madura.

    Sandhur merupakan tarian yang bertujuan untuk memohon hujan. Ritual tersebut juga merupakan permohonan untuk menjamin sumur-sumur masyarakat tetap penuh dengan air. Ada juga yang melaksanakan Sandhur dengan maksud untuk membuang bahaya penyakit, menghormati makam, dan berdoa agar terhindar dari musibah.

    Upacara Sandhur berupa nyanyian dan tarian dengan iringan musik. Untuk gerakannya merupakan penyesuaian irama tubuh dan tarian daerah setempat. Seperti Seblang, dalam melakukan ritual Sandhur juga terkadang ada yang mengalami kerasukan.

    13. Weton

    Weton
    Weton | Sumber: gotravelly.com

    Weton alias Wetonan adalah upacara adat yang hingga sekarang masih menjadi upacara rutin. Wetonan merupakan istilah bagi orang Jawa terkait hari kelahirannya. 

    Tradisi ini tak sama dengan perayaan ulang tahun. Hal tersebut karena wetonan berpatokan dengan penanggalan Jawa. Tradisi wetonan bertujuan agar mendapatkan keselamatan dari Sang Kuasa serta selalu diberikan kesehatan.

    14. Nakokake

    Nakoake
    Nakoake | Sumber: gotravelly.com

    Lalu ada upacara adat bernama Nakokake yang erat kaitannya dengan pernikahan. Sebuah proses di mana laki-laki yang akan melamar pujaan hatinya dengan menanyakan alias Nakokake pada orang tua.

    Sebenarnya tradisi semacam ini tak jauh berbeda dengan memohon restu orang tua. Pada upacara ini, mempelai pria akan menanyakan status maupun kondisi calon mempelai wanita. Pertanyaannya apakah calonnya tersebut masih lajang, sudah mempunyai pendamping, dan lain-lain.

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

    Sudah Paham tentang Upacara Adat Jawa Timur?

    Sekian pembahasan tentang beberapa upacara tradisional di Jawa Timur. Seperti yang Anda perhatikan bahwa banyak sekali ritual tradisional yang tetap dilakukan sampai sekarang. Kemajuan teknologi dan informasi seolah tak menyurutkan niat masyarakat untuk tetap melestarikan apa yang menjadi warisan nenek moyang tersebut.

  • Memahami Pengertian Sukuisme dan Contohnya

    Memahami Pengertian Sukuisme dan Contohnya

    Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Melansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2010, ada sekitar 1340 suku yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Fenomena tersebut lantas memunculkan sukuisme. Nah, artikel ini akan membahas pengertian sukuisme dan contoh nyata di kehidupan.

    Pengertian Sukuisme

    Suku Dayak | Sumber gambar: Kompas.com
    Suku Dayak | Sumber gambar: Kompas.com

    Praktik paham sukuisme masih terus berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Walaupun praktik semacam ini tidak membahayakan, tetapi bisa berpotensi mengancam kedaulatan bangsa dan negara. 

    Maka dari itu, penting untuk mengetahui arti dari paham sukuisme secara utuh sebelum kamu melakukan upaya pencegahan lebih lanjut.

    Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Jilid V, pengertian sukuisme adalah sebuah paham atau praktik yang memprioritaskan salah satu suku bangsa. 

    Orang-orang yang menganut paham ini biasanya memiliki kebanggaan berlebih terhadap nilai-nilai, norma, serta kebiasaan yang melekat erat pada suku bangsanya.   

    Istilah sukuisme juga kerap dikenal sebagai primordialisme yang berasal dari kosakata bahasa Latin berupa primus yang berarti pertama, dan ordiri yang berarti ikatan. 

    Maka, bila diartikan secara utuh, primordialisme adalah suatu paham yang berpegang teguh pada adat istiadat dan tradisi sukunya sendiri.   

    5 Contoh Perilaku Sukuisme yang Terjadi di Indonesia

    Konflik Antar Suku Papua
    Konflik Antar Suku Papua | Sumber gambar: westpapuanews.org

    Agar kamu bisa lebih memahami tentang pengertian sukuisme secara utuh, tentunya harus diimbangi dengan fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Berikut 5 contoh nyata yang bisa membuka mata kamu terhadap fenomena primordialisme di Indonesia, yaitu:

    1. Konflik Antar Suku di Sampit, Kalimantan Tengah 

    Paham pengertian sukuisme telah memicu terjadinya konflik berkepanjangan di antara Suku Dayak dan Suku Madura yang mendiami daerah Sampit, Kalimantan Tengah pada tahun 2001 lalu. 

    Konflik antar suku yang berkepanjangan ini sempat menjadi isu berita nasional pada waktu itu.  

    Terjadinya tragedi berdarah ini bermula dari pertikaian antar individu dan kecemburuan sosial antara orang-orang Dayak sebagai suku asli, dan orang-orang Madura sebagai suku pendatang.

    Sektor perekonomian yang didominasi oleh para pedagang dari Suku Madura membuat warga dari Suku Dayak cemburu, hingga akhirnya menimbulkan perselisihan. 

    Alhasil, perselisihan antar suku ini semakin memanas, hingga berujung pada terjadinya kerusuhan, pembantaian, pembakaran, dan penjarahan massal. 

    2. Konflik Sukuisme Antara Etnis Lampung dan Etnis Bali di Sumbawa

    Perselisihan antar etnis juga pernah terjadi di daerah Sumbawa, sehingga peristiwa tersebut kerap dikenal sebagai Tragedi Sumbawa. Tragedi ini melibatkan etnis yang ada di Lampung dan etnis dari Bali. 

    Pemicu utama konflik ini bermula dari kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh oknum polisi asal Bali terhadap seorang mahasiswi asal Moyo Hulu, Lampung. 

    Akibat peristiwa tersebut, terjadi sebuah perselisihan yang melibatkan warga dari etnis Bali dan warga dari etnis Lampung. 

    Konflik ini memakan korban jiwa cukup banyak, yaitu sebanyak 12 orang. Sedangkan, kerusakan materialnya diperkirakan mencapai angka yang cukup fantastis. 

    3. Konflik Antara Suku Aceh dan Suku Jawa 

    Memahami pengertian sukuisme saja tidak cukup. Kamu harus tahu dampak yang ditimbulkannya dari konflik yang terjadi.

    Sebagai salah satu suku terbesar yang menyebar di berbagai wilayah Indonesia, Suku Jawa juga tidak terlepas dari konflik. Faktanya, Suku Jawa pernah berkonflik dengan Suku Aceh pada masa reformasi di tahun 1998 sampai tahun 2005. 

    Durasi konflik yang terjadi antar dua suku ini cukup lama karena dipicu oleh isu politik, agama, sosial, dan ekonomi. Bahkan, konflik ini juga melibatkan pemerintahan di era orde baru. 

    Diskriminasi pemerintahan Indonesia pada saat itu terhadap masyarakat Aceh telah memicu perlawanan yang lebih serius. Puncaknya, muncul suatu gerakan perlawanan bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM). 

    Gerakan separatis ini menargetkan perlawanan terhadap pemerintah Indonesia yang disebut oleh orang-orang Aceh sebagai pemerintahan Jawa. Akibatnya, konflik ini telah memakan korban jiwa yang sangat besar, yaitu mencapai 15.000 korban jiwa. 

    4. Konflik Paham Pengertian Sukuisme Antar Suku di Papua 

    Salah satu daerah di Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa adalah Papua. Oleh sebab itu, daerah ini rentan mengalami gesekan yang berujung pada konflik antar suku. 

    Kasus konflik terbesar yang pernah terjadi di daerah ini adalah konflik antara Suku Lani Jaya dan Suku Nduga pada tahun 2022 lalu. Pemicu utama yang menyulut terjadinya konflik ini disinyalir karena adanya kasus pembunuhan terhadap salah seorang warga dari Suku Nduga. 

    Sejak itu, kedua suku ini berseteru hingga menimbulkan banyak korban jiwa maupun kerusakan materi. Alhasil, konflik ini telah menyebabkan 1 orang korban meninggal, 21 orang luka-luka, dan 40 rumah terbakar. 

    5. Kerusuhan Situbondo  

    Peristiwa kelam tercatat dalam sejarah pemerintahan orde baru akibat terjadinya kerusuhan di daerah Situbondo, Jawa Timur. Konflik ini terjadi karena adanya penolakan terhadap keturunan etnis Tionghoa dan penganut agama Kristen. 

    Kemudian, perselisihan terjadi akibat kasus pencemaran agama ini akhirnya merambat hingga peristiwa pembakaran gedung gereja secara besar-besaran. 

    Alhasil, ada 5 orang korban jiwa, puluhan korban luka-luka, dan puluhan bangunan gereja yang habis terbakar imbas dari peristiwa ini. 

    Baca Juga : 6 Nama Pakaian Adat Papua, Jenis, Keunikan, dan Filosofinya

    3 Cara Mencegah Paham Sukuisme

    Toleransi Antar Suku Bangsa di Indonesia
    Toleransi Antar Suku Bangsa di Indonesia | Sumber gambar: Bobo.id

    Perbedaan suku bangsa tidak semestinya menjadi pemicu konflik. Justru dengan keanekaragaman suku bangsa, seharusnya bisa semakin mempererat persatuan dan kesatuan. Selain memahami pengertian sukuisme, kamu juga harus mencegahnya. Berikut 3 cara yang bisa kamu terapkan, yaitu: 

    1. Memupuk Rasa Toleransi Sejak Dini 

    Sikap etnosentris, primordialisme, dan sukuisme bisa dicegah melalui pendidikan sejak usia dini. Ketika belajar di sekolah, seharusnya guru sudah mulai mengajarkan sikap toleransi antar suku bangsa. 

    Memupuk rasa toleransi bisa melalui cara-cara sederhana, seperti mengajarkan anak untuk bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang sukunya. Selain itu, bisa juga dengan memperkenalkan budaya dari suku dan daerah lain. 

    Dengan memperkenalkan bahwa perbedaan bagian dari keberagaman, maka akan mencegah perpecahan antar suku.

    2. Mencegah Praktik Sukuisme Melalui Perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM)

    Di dalam Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Indonesia menjamin perlindungan hak bagi setiap warga negaranya. Artinya, sebagai warga negara kamu berhak memperoleh perlindungan dari segala bentuk tindakan diskriminasi.  

    Apabila kamu berasal dari latar belakang suku atau etnis minoritas, maka kamu tidak berhak mendapatkan pengucilan maupun perundungan. 

    Sebaliknya, jika kamu berasal dari suku atau etnis mayoritas, maka kamu tidak boleh berperilaku semena-mena karena ada hak orang lain yang harus kamu hormati. 

    3. Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila 

    Seluruh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memang berguna untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Bahkan, di dalam sila ketiga Pancasila yang berbunyi, “Persatuan Indonesia”, juga terkandung makna nilai persatuan dan kesatuan bangsa yang harus kamu jaga. 

    Maka, sebagai warga negara yang baik, kamu tidak boleh saling berselisih dan bertindak diskriminatif. Dengan demikian, kamu bisa turut menjaga persatuan bangsa sekaligus mencegah terjadinya konflik yang memicu perpecahan. 

    Baca Juga : Mengapa Kita Harus Hidup Rukun? Arti, Manfaat & Contohnya

    Jadi Paham Pentingnya Mempelajari Pengertian Sukuisme?

    Setelah memahami pengertian sukuisme dan dampak nyata dari konflik yang ditimbulkannya, tentu kamu harus menjauhi sifat tersebut. Perasaan dan sikap bangga yang berlebih terhadap sukunya sendiri kerap kali memicu konflik dan perselisihan. Apabila paham ini dibiarkan, justru bisa memecah belah persatuan bangsa. 

    Maka dari itu, mulai sekarang sudah saatnya kamu menghormati keberadaan suku lain. Jangan sampai rasa cinta terhadap suku tertentu, justru merugikan orang lain. Dengan hidup saling menghormati antar suku, maka konflik dapat diminimalisir. Bahkan, dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

  • Apa Itu Subak? Pengertian, Tujuan, dan Filosofinya

    Apa Itu Subak? Pengertian, Tujuan, dan Filosofinya

    Indonesia terkenal sebagai negara agraris sejak dahulu karena kaya akan hasil pertanian. Menjadi bagian dari Indonesia, tentu Bali juga punya cerita tersendiri mengenai agrarisnya. Salah satu warisan agraris dari Bali adalah subak.

    Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai pengertian, manfaat, hingga nilai filosofis dari subak. Yuk, cari tahu selengkapnya dengan membaca artikel ini sampai selesai!

    Apa Itu Subak?

    Sistem Irigasi Sawah
    Sistem Irigasi Sawah | Sumber gambar: jernih.co

    Subak merupakan sistem irigasi atau pengairan yang sudah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat yang tinggal di provinsi Bali.

    Ternyata, sistem pengairan ini memiliki sangkut paut dengan hukum adat, nilai sosial, pertanian, dan keagamaan. Oleh karena itu, menjadikannya sebagai sistem pengairan yang sangat unik.

    Beberapa ahli telah meneliti lebih dalam mengenai sistem irigasi ini. Mereka menemukan fakta bahwa sistem irigasi subak ternyata cerminan dari nilai Tri Hita Karana.

    Dilansir dari situs resmi Kementerian Agama RI, Tri Hita Karana merupakan nilai filosofis dalam agama Hindu yang memiliki arti “tiga penyebab kesejahteraan”. Tiga hal tersebut meliputi Tuhan Yang Maha Esa, alam, dan manusia.

    Sebetulnya, pengertian subak tidak hanya mengacu pada sistem irigasi yang berlaku di Bali saja. Pengertian ini juga menyangkut pada organisasi petani di Bali yang memiliki tujuan untuk mengolah sistem irigasi yang berbasis petani serta menjadi lembaga yang demokratis dan mandiri.

    Sistem irigasi masyarakat Bali tersebut memiliki sejarah yang sangat panjang. Sejarah mencatat kalau irigasi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali selama lebih dari seribu tahun. Sangat lama, bukan?

    Lebih hebatnya lagi, sistem irigasi ini masih bertahan dan tetap lestari hingga sekarang. Bertahannya sistem irigasi tersebut selama seribu tahun juga tidak lepas dari komitmen para petani untuk menerapkan sistem irigasi ini secara berkelanjutan.

    Sejarah Sistem Irigasi Subak Bali

    Para ahli sejarah menemukan catatan dari beberapa prasasti yang membahas tentang sistem irigasi yang digunakan oleh petani di Bali sejak dahulu. 

    Singkatnya, catatan kaki yang telah peneliti temui menunjukkan kalau masyarakat Bali sudah mengenal pertanian sejak awal Masehi. 

    Pernyataan ini diperkuat oleh temuan alat pertanian kuno yang masyarakat Bali saat itu gunakan untuk menanam padi. Alat pertanian tersebut ditemukan di Desa Sembiran.

    Lalu, praktek masyarakat Bali dalam bertani tercatat di Prasasti Sukawana yang berangka tahun 882 Masehi. Tertulis kata “huma” di dalam prasasti tersebut. Huma sendiri memiliki arti sawah. Namun, prasasti tersebut tidak menjelaskan konsep sistem irigasi.

    Catatan sejarah mengenai sistem irigasi yang berlaku di Bali tercatat pada sejumlah prasasti yang memiliki umur kerangka lebih muda daripada Prasasti Sukawarna.

    Misalnya saja, Prasasti Trunyan yang berangka tahun 891 Masehi menjelaskan kalau masyarakat sudah mengenal pengolahan irigasi pada akhir abad ke-9.

    Isi dari temuan ini makin diperkuat oleh temuan prasasti lainnya, seperti Prasasti Bebetin yang berangka 896 Masehi dan Prasasti Batuan yang berangka 1022 Masehi.

    Baik Prasasti Bebetin ataupun Prasasti Batuan menjelaskan kalau di Bali sudah ada kelompok pekerja khusus untuk sawah. Kelompok kerja tersebut salah satunya adalah undagi pangarung atau pembuat terowongan air.

    Nah, pekerja undagi pangarung ini ternyata masih ada dalam penerapan sistem irigasi di Bali di zaman modern seperti sekarang.

    Tidak hanya sampai di situ saja, ada juga beberapa prasasti yang menjelaskan bahwa kata subak sendiri berasal dari kata suwak. Kata suwak ini berasal dari kata “su” yang berarti baik dan “wak” yang artinya irigasi atau pengairan. 

    Prasasti tersebut adalah Prasasti Badung yang memiliki kerangka 1071 Masehi dan Prasasti Klungkung.yang memiliki kerangka 1072 Masehi.

    Tujuan Sistem Irigasi Subak

    Petani di Sawah
    Petani di Sawah | Sumber gambar: Freepik.com

    Sudah kita bahas sebelumnya, sebagai warisan sistem irigasi di Bali diterapkan dengan prinsip Tri Hita Karana. Atas dasar nilai filosofis tersebut, penerapannya tentu punya tujuan. Berikut 2 tujuan utamanya yang perlu kamu pahami, yaitu:

    1. Meningkatkan Kesejahteraan Petani

    Alasan pertama petani di Bali memanfaatkan subak sebagai sistem irigasi sawah yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

    Petani di Bali mengedepankan keadilan bersama dalam bertani. Sistem irigasi sawah yang mereka gunakan ternyata mampu memberikan akses air kepada para petani.

    Oleh karena itu, lahan pertanian petani dengan sistem irigasi tersebut bisa memperoleh kebutuhan air yang cukup serta dapat menghindari risiko kekeringan.

    2. Mempertahankan Kearifan Lokal

    Sistem irigasi sawah seperti subak tercipta dari semangat kekeluargaan dan kerja sama atau gotong royong. Dua hal tersebut adalah kearifan lokal yang organisasi subak coba untuk mereka pertahankan. 

    Oleh karena itu, setiap organisasi pertanian yang ada di Bali akan memastikan para petani memperoleh air yang cukup dan layak untuk kebutuhan pertanian mereka.

    3 Nilai Filosofis dari Subak

    Bangunan Keagamaan di Sawah
    Bangunan Keagamaan di Sawah | Sumber gambar: kintamani.id

    Subak tidak hanya sekadar sistem irigasi maupun organisasi kemasyarakat yang mengatur pertanian di Bali, tetapi juga memiliki nilai filosofis yang mendalam. Berikut 3 nilai-nilai filosofis tersebut, yaitu:

    1. Hubungan Manusia dengan Tuhan (Parahyangan)

    Kita mulai dari hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran Tri Hita Karana dalam hal ini terwujud dalam bentuk parahyangan

    Parahyangan adalah bangunan keagamaan yang masyarakat Bali gunakan untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

    Maka dari itu, kamu jangan kaget kalau sering melihat bangunan keagamaan yang lokasinya tidak jauh dari sawah.

    2. Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia (Pawongan)

    Makna filosofis berikutnya adalah berkaitan dengen hubungan sesama manusia atau pawongan.

    Pasalnya, konsep subak juga selaras dengan konsep Tri Hita Karana di bagian menjaga hubungan baik antara manusia dengan sesama manusia. Sebagai organisasi, subak membentuk sistem irigasi sawah dengan semangat keadilan bersama.

    Konsep ini tidak hanya bergerak untuk kepentingan dan kesenangan orang atau golongan tertentu saja. Namun, juga demi kepentingan hidup seluruh masyarakat sekitar. Praktek ini populer dengan istilah pawongan.

    3. Hubungan Manusia dengan Alam (Palemahan)

    Kemudian yang terakhir adalah hubungan antara manusia dengan alam atau bisa juga disebut sebagai palemahan. Kata palemahan berasal dari bahasa Jawa (lemah) yang berarti tanah.

    Para petani di Bali sadar, mereka hidup di suatu lingkungan tertentu. Selain itu, mereka juga menyadari bahwa memperoleh sumber daya untuk bisa berteduh hingga mencari nafkah dari lingkungannya. 

    Dengan demikian, bisa disimpulkan manusia sangat bergantung kepada lingkungan sekitarnya dalam menjalani kehidupan.

    Maka dari itu, sudah selayaknya menjadi kewajiban manusia untuk memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya. Harapannya agar para petani dapat menikmati hasil dari sawah dan di satu sisi lingkungan masih terjaga keasriannya.

    Baca Juga : 10 Bagian Rumah Adat Bali dengan Ciri Khas dan Keunikannya

    Apa yang Paling Menarik dari Sistem Irigasi Subak Bali?

    Subak bukanlah sekadar sistem pengairan atau irigasi sawah biasa. Sistem irigasi ini ternyata sangat mengakar dengan ajaran Tri Hita Karana dari agama Hindu. Subak berhasil menjadi gambaran bagaimana sebuah sistem mampu memberikan manfaat besar bagi masyarakat. 

    Penerapan nilai menjaga hubungan baik dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan alam. Sebagai generasi muda, kamu harus tahu kalau nenek moyang kita punya sistem pengairan yang bagus dan juga menjadi ikon keindahan alam Bali. Oleh karena itu, harus dilestarikan keberadaannya.

  • Perubahan Sosial: Pengertian, Ciri, Faktor, Proses, dan Contoh

    Perubahan Sosial: Pengertian, Ciri, Faktor, Proses, dan Contoh

    Perubahan sosial adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Hal ini karena manusia adalah makhluk sosial yang berakal dan selalu merasa tidak puas. Dengan begitu, perubahan dalam kehidupan bermasyarakat akan terus terjadi. Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

    Pengertian Perubahan Sosial

    Perubahan sosial adalah transformasi yang mengubah pola kehidupan masyarakat secara terus-menerus. Transformasi ini terjadi karena sifat sosial yang dinamis, sehingga menimbulkan perubahan yang beragam.

    Pada dasarnya, manusia tidak pernah berhenti pada titik tertentu. Mereka selalu mengalami perubahan secara cepat maupun lambat. Perubahan tersebut juga bisa terjadi dalam skala yang kecil hingga besar.

    Dalam proses tersebut, peran masyarakat sangat penting dalam menginisiasi perubahan sosial yang terjadi dalam periode waktu tertentu. Masyarakat akan berinteraksi dengan berbagai faktor yang memicu transformasi sosial itu sendiri.

    Ciri-Ciri Perubahan Sosial

    Transformasi sosial dalam masyarakat bisa terlihat melalui beberapa ciri-ciri tertentu. Berikut adalah ciri-ciri perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat:

    1. Berkelanjutan

    Sebagai makhluk sosial, manusia akan mengalami perubahan dimanapun mereka berada. Perubahan tersebut terjadi dalam berbagai tingkatan, baik secara cepat maupun perlahan. Proses ini merupakan fenomena yang pasti terjadi dan akan terus mengalami perkembangan.

    2. Imitatif

    Suatu kelompok yang melakukan perubahan biasanya akan diikuti oleh kelompok sosial lainnya. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh timbal balik antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.

    3. Interaksi Timbal Balik

    Transformasi sosial tidak hanya berkaitan dengan hubungan materi atau non-materi saja, melainkan dapat terjadi pada kedua aspek tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik di antara keduanya.

    4. Disorganisasi Sementara

    Disorganisasi merujuk pada situasi dimana peraturan tertentu menjadi tidak berlaku karena terjadinya perubahan dalam lembaga tertentu. 

    5. Terjadi di Setiap Tempat

    Perubahan sosial dapat terjadi di berbagai lokasi, dari masyarakat pedesaan hingga masyarakat perkotaan. Namun, tingkat perubahan tersebut mungkin bervariasi antara satu tempat dengan tempat lainnya.

    6. Dilakukan secara Sengaja

    Pada umumnya, perubahan dalam masyarakat biasanya dipicu oleh tindakan yang disengaja dari masyarakat. Meskipun begitu, ada juga perubahan yang terjadi karena tidak disengaja.

    7. Memunculkan Perselisihan

    Transformasi sosial mau tidak mau akan dapat memicu perselisihan atau perbedaan pendapat dalam masyarakat.

    Faktor Penentu Perubahan Sosial

    Perubahan sosial dapat terjadi karena faktor-faktor tertentu. Terdapat dua jenis faktor yang mempengaruhi transformasi sosial yaitu faktor internal dan eksternal. Berikut penjelasannya:

    1. Faktor Internal

    Faktor internal merupakan faktor terjadinya transformasi sosial yang berasal dari masyarakat itu sendiri. Berikut adalah beberapa faktor internal tersebut: 

    a. Dinamika Pertumbuhan dan Penurunan Penduduk

    Ketika suatu daerah mengalami pertumbuhan penduduk yang cepat, perubahan biasanya terjadi dalam struktur masyarakat. Terutama dalam hal norma dan aturan lembaga kemasyarakatan. 

    Namun, pada daerah yang mengalami penurunan penduduk, terdapat pergeseran dalam pembagian pekerjaan dan strata sosial yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.

    b. Kemunculan Inovasi Baru

    Inovasi baru memiliki dampak signifikan dalam perubahan masyarakat. Sebagai contoh, penemuan ponsel pintar telah mengubah pola komunikasi antar individu dan kelompok dalam masyarakat.

    c. Ketegangan Sosial

    Ketegangan antara kelompok-kelompok di dalam masyarakat dapat menjadi pemicu perubahan sosial. Sebagai contoh, perbedaan pandangan antara generasi yang lebih tua dan generasi yang lebih muda dapat menciptakan konflik. Terutama ketika generasi muda lebih cepat mengadopsi elemen-elemen kebudayaan modern.

    d. Timbulnya Pemberontakan atau Revolusi dalam Sebuah Negara

    Keberadaan gerakan pemberontakan atau revolusi yang signifikan juga dapat memulai perubahan besar dalam kehidupan masyarakat di suatu negara.

    2. Faktor Eksternal

    Faktor eksternal merupakan faktor terjadinya transformasi sosial yang berasal dari lingkungan luar masyarakat. Berikut adalah beberapa faktor eksternal tersebut: 

    a. Transformasi Lingkungan Fisik

    Perubahan dalam lingkungan alam fisik dapat terjadi akibat bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami, dan faktor-faktor serupa. Hal ini juga mencakup kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh tindakan manusia. 

    Dalam situasi ini, manusia seringkali harus bermigrasi ke lokasi lain untuk menjaga kelangsungan hidup mereka. Ketika berada dalam lingkungan baru ini, perubahan masyarakat bisa muncul dari berbagai aspek.

    b. Konflik Bersenjata

    Kemenangan dalam konflik bersenjata oleh pihak yang berlawanan dapat mengakibatkan masyarakat di suatu wilayah terpaksa menerima kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah yang menang dalam pertempuran.

    c. Dampak Kebudayaan Asing

    Masuknya pengaruh dari budaya luar melalui pertukaran budaya atau melalui media massa seringkali memiliki efek terhadap masyarakat lokal. Proses ini juga dapat memulai perubahan dalam masyarakat tersebut.

    Proses Terjadinya Perubahan Sosial

    Berikut adalah proses-proses terjadinya transformasi sosial yang dapat terjadi dalam masyarakat dalam situasi dan periode waktu tertentu:

    1. Difusi

    Difusi adalah proses penyebaran berbagai elemen pembentuk sosial dan budaya, seperti gagasan, kepercayaan, dan lainnya. Penyebaran ini dapat terjadi dari individu ke individu atau antar kelompok yang lebih besar. 

    2. Akulturasi

    Akulturasi adalah proses perubahan sosial yang terjadi ketika elemen-elemen budaya dari luar diperkenalkan ke dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam proses ini, kelompok masyarakat akan menerima dan menyesuaikan diri dengan elemen-elemen budaya asing tersebut. 

    3. Asimilasi

    Asimilasi adalah proses perubahan sosial yang terjadi ketika dua individu atau kelompok yang memiliki latar budaya yang berbeda berinteraksi secara intensif dalam jangka waktu yang cukup lama.

    4. Akomodasi

    Akomodasi adalah proses transformasi sosial yang mencerminkan upaya mencapai keseimbangan dalam hubungan sosial antara berbagai kelompok yang terkait dengan norma atau nilai yang berlaku dalam masyarakat.

    Contoh-Contoh Perubahan Sosial

    Berikut adalah beberapa contoh transformasi sosial yang penting untuk kamu ketahui:

    1. Perubahan yang Signifikan

    Perubahan dalam Pertanian
    Perubahan dalam Pertanian | Sumber gambar: Freepik.com

    Salah satu contoh perubahan sosial yang signifikan adalah perubahan dalam sistem pertanian sekitar dua dekade lalu. Pada masa itu, sistem pertanian masih sangat tradisional dan sederhana. Misalnya, cara menanam dan merawat padi yang dilakukan secara konvensional.

    Namun, dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di Indonesia, terjadi perubahan dalam kehidupan sosial para petani. 

    Dulu, cara kerja petani hanya terbatas pada kegiatan di luar  ruangan. Kini, cara kerja petani berubah dengan penggunaan teknologi canggih. Sebagai contoh, para petani kini mampu menanam padi dengan teknologi modern untuk menghasilkan bibit padi yang lebih berkualitas.

    2. Perubahan Skala Kecil

    Perubahan dalam Mode Hijab
    Perubahan dalam Mode Hijab | Sumber gambar: Freepik.com

    Contoh transformasi sosial yang memiliki dampak skala kecil adalah perubahan dalam gaya berpakaian atau gaya hidup. Mode merupakan salah satu fenomena yang mengalami perkembangan yang sangat cepat dalam waktu singkat.

    Sebagai contoh yang mencolok, kamu dapat melihat perubahan dalam tren penggunaan hijab yang mulai populer pada tahun 2000-an. Pada masa sebelumnya, hanya sedikit orang yang mengenakan hijab. Namun sejak saat itu, tren hijab terus berkembang dengan berbagai gaya.

    3. Pengaruh Negara Asing

    Perubahan dalam Bidang Kesehatan
    Perubahan dalam Bidang Kesehatan | Sumber gambar: Freepik.com

    Perubahan dalam masyarakat juga bisa dipengaruhi oleh negara-negara asing. Misalnya melalui pengaruh perang atau pemerintahan kolonial. Contoh perubahan yang dipengaruhi oleh negara asing adalah dalam bidang transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia banyak mendapat pengaruh dari negara barat. Pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut terjadi dalam berbagai bidang seperti kesehatan, otomotif, bisnis, arsitektur, dan lain sebagainya.

    4. Perubahan dalam Aspek Keagamaan

    Transformasi sosial yang terjadi di Indonesia dalam aspek keagamaan atau keyakinan adalah fakta bahwa Indonesia terkenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk yang menganut agama Islam. 

    Namun, sejarah tanah air menunjukkan hubungan yang erat dengan kepercayaan Hindu dan Buddha, terutama selama masa kerajaan-kerajaan sebelum agama Islam masuk di Nusantara.

    5. Perubahan dalam Bidang Arsitektur

    Perubahan dalam Bidang Arsitektur
    Perubahan dalam Bidang Arsitektur | Sumber gambar: Freepik.com

    Bangunan adalah elemen fisik yang sering mengalami perubahan yang terlihat dari masa ke masa. Contoh perubahan masyarakat yang terlihat dalam bidang arsitektur mencakup perubahan desain masjid, gaya hunian rumah, dan penggunaan material konstruksi.

    Sebagai contoh, konstruksi masjid pada masa lalu memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal arsitektur jika dibandingkan dengan masjid modern.

    6. Perubahan dalam Kebudayaan

    Kebudayaan adalah aspek yang pasti akan mengalami perubahan ketika ada perubahan sosial. Salah satu contoh perubahan masyarakat yang terjadi dalam bidang kebudayaan adalah akulturasi antara budaya kerajaan masa lalu (Hindu-Buddha) dengan ajaran-ajaran Islam.

    Sudah Tahu Apa Itu Perubahan Sosial?

    Pembahasan mengenai fenomena sosial tidak akan pernah berakhir karena sifatnya yang dinamis, sama seperti perkembangan suatu era. Selama ada pergantian masa, transformasi sosial adalah hal yang tak bisa kita hindari. Selebihnya, tinggal bagaimana kita menyikapi dan menghadapi perubahan yang terjadi.

  • 10 Pakaian Adat NTB serta Keunikan dan Makna Aksesorisnya

    10 Pakaian Adat NTB serta Keunikan dan Makna Aksesorisnya

    Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu wilayah yang cukup terkenal dengan keragaman budayanya. Di NTB sendiri, ada 4 wilayah utama, yaitu Lombok, Bima, Sumbawa, dan Dompu, yang memiliki adat dan budaya berbeda, yang bisa kamu lihat dari pakaian adatnya. Berikut uraian lengkap 10 Pakaian Adat NTB.

    10 Pakaian Adat NTB dan Keunikannya

    Berikut ini 10 pakaian adat Nusa Tenggara Barat lengkap dengan keunikan saat pemakaiannya: 

    1. Pakaian Adat Katente Tembe

    Katente tembe
    Katente tembe | Sumber: aktualita.info

    Ketente Tembe merupakan pakaian adat yang pertama dan tergolong sangat sederhana. Hal ini karena memang hanya berupa celana pendek yang terbuat dari kain sarung. 

    Pakaian Adat NTB ini biasanya pria Suku Dompu gunakan untuk ke ladang. Adapun untuk suatu acara-acara resmi, biasanya pakaian adat ini akan digunakan bersamaan dengan baju koko dan tambahan celana panjang di dalamnya. 

    2. Pakaian Adat Rimpu

    Rimpu
    Rimpu | Sumber: kebudayaan.kemendigbud.go.id

    Pakaian Adat NTB selanjutnya ini juga berasal dari Suku Dompu. Adapun Rimpu biasanya digunakan oleh kaum perempuan dan memiliki beberapa bentuk, sesuai dengan status dari pemakainya. 

    Untuk perempuan yang sudah menikah, biasanya akan menggunakan Rimpu Colo. Sedangkan untuk perempuan yang belum menikah, maka akan menggunakan Rimpu Mpida.

    Bentuk dari pakaian adat ini yaitu berupa jilbab khas Dompu yang terdiri atas dua lembar kain sarung sebagai penutup. Secara filosofis, bentuk dari pakaian adat seperti ini berarti untuk menjaga diri, menutup aurat, dan agar pemakainya lebih dihormati orang lain. 

    Adapun perbedaan antara Rimpu Colo dan Rimpu Mpida, yaitu pada cara pemakaiannya. Rimpu Colo dalam pemakaiannya memperlihatkan muka penggunanya, sedangkan Rimpu Mpida menutup sebagian muka penggunanya dan hanya memperlihatkan mata, seperti menggunakan cadar.

    3. Pakaian Adat Lambung

    Lambung
    Lambung | Sumber: orami.co.id

    Lambung merupakan Pakaian Adat NTB yang berasal dari Suku Sasak, Lombok. Pakaian adat ini berupa baju berwarna hitam dengan lengan pendek longgar dan ada motif di bagian lehernya. 

    Yang menarik dari pakaian ini, yaitu bentuk dari kerahnya membentuk huruf “V”. Sedangkan untuk bagian bawah dari pakaian ini berupa sarung dengan berbagai motif. 

    Tidak hanya itu, pakaian adat ini juga dilengkapi dengan sabuk anteng untuk mengikat sarung. Kemudian, ada juga aksesoris anting berbentuk bulat yang terbuat dari daun lontar, dengan sepuhan perak. 

    4. Lante Gadu

    Lante Gadu | Sumber: Jokembe.com

    Pakaian Adat NTB ini berasal dari wilayah Sumbawa, yang mana Lante Gadu sendiri berarti pakaian para menteri. Untuk itulah, pakaian ini sering digunakan pada acara-acara resmi oleh tokoh masyarakat maupun pejabat pemerintah.

    Pada laki-laki, pakaian adat ini berupa jas tertutup berwarna gelap, seperti hitam, biru tua, hijau gelap, maroon, coklat tua, dan semua jenis warna gelap lainnya. Kemudian, bawahannya menggunakan celana panjang dengan sarung pendek di bagian luarnya. 

    Tidak hanya itu, pria juga akan menggunakan alas kaki berupa sandal dan sepatu senada. Ada juga aksesoris pelengkap seperti keris, sapu kidasangung, dan rantai saku. 

    Sedangkan untuk pihak wanita akan menggunakan baju bersulam benang emas, dengan selendang besar hasil sulaman. Selain itu, mereka juga akan menggunakan jilbab dan dalaman muslimah serta bros dan alas kaki terbuka. 

    5. Pakaian Adat Poro Rante

    Pakaian Poro Rante
    Pakaian Poro Rante | Sumber: infopublik.id

    Poro Rante merupakan Pakaian Adat Bima, yang biasanya berwarna merah cerah dengan hiasan berbentuk bunga bersepuh emas. Bawahannya berupa kain songket dengan beberapa motif bunga, yaitu kakando, samobo, atau satako.

    Keunikan dari pakaian ini, yaitu adanya sabuk keemasan bernama salepe. Selain itu, ada juga sapu tangan berbahan sutra berhias sulaman benang perak dan hiasan kepala yang disebut dengan kembang goyang. 

    6. Pasangi

    Pakaian Adat Pasangi
    Pakaian Adat Pasangi | Sumber: Selasar.com

    Pasangi merupakan pakaian dari Poro Rante, yang mana pakaian ini diperuntukan untuk pria Suku Bima. Adapun pakaian ini terdiri atas baju atasan lengan panjang berwarna merah, cokelat, atau hitam. 

    Sedangkan untuk golongan bangsawan akan menggunakan baju warna hijau atau kuning. Menariknya, pakaian ini bersulam benang emas atau perak, sehingga membuatnya tampak mewah dan elegan saat orang gunakan. 

    Untuk bawahannya, menggunakan celana panjang dengan kain songket sepanjang lutut sebagai sarungnya. Untuk aksesoris nya menggunakan ikat pinggang, sebilah keris, dan sapu tangan berwarna kuning yang biasanya orang sebut dengan pasapu monca.

    7. Pakaian Adat Pegon

    Pegon
    Pegon | Sumber: lombok.tribunnews.com

    Pakaian Adat NTB berikutnya, yaitu Pegon yang berasal dari Suku Sasak. Adapun pakaian ini digunakan khusus untuk kaum pria Suku Sasak yang berbentuk jas hitam dengan motif emas. 

    Kemudian, pada bagian bawahnya, akan ada lilitan songket bernama dodot dengan selipan keris. Tidak hanya itu, di bagian bawah juga ada kain wiron yang panjangnya sampai mata kaki.

    Bentuk dari pakaian adat ini secara keseluruhan melambangkan kerendahan hati. Sedangkan untuk Sapuk sebagai penutup kepala melambangkan penghormatan kepada Tuhan Sang Pencipta dan menjaga kebersihan pikiran.

    8. Pakaian Adat Donggo

    Pakaian Donggo
    Pakaian Donggo | Sumber: Selasar.com

    Donggo adalah Pakaian Adat Suku Donggo di Bima. Adapun warna dari pakaiannya ini yaitu hitam, sehingga sangat identik orang kenakan saat upacara ritual kematian. 

    Aksesoris pelengkap dari pakaian ini berupa ikat pinggang Salongo dari tenun benang kapas. Selain itu, keunikan dari pakaian ini yaitu model potongan leher busananya yang berbentuk bundar dan adanya sabuk berwarna merah atau kuning tempat menyematkan pisau.

    Untuk kaum wanita juga akan menggunakan baju hitam lengan pendek yang terbuat dari benang katun. Untuk bawahannya berupa celana sepanjang bawah lutut bernama deko.

    9. Pakaian Adat Suku Bayan

    Pakaian Adat Suku Bayan
    Pakaian Adat Suku Bayan | Sumber: Laluhusnulyakin.blogspot.com

    Jenis Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat ini milik dari Suku Bayan dari daerah Lombok Utara. Ini berupa kain tenun hasil dari penduduk asli dengan beberapa motif dan warna. 

    Biasanya, pakaian adat ini untuk kegiatan upacara adat tertentu dan dalam pemakaiannya akan ada ikat kepala sebagai aksesoris. Kemudian, ada juga tambahan aksesoris seperti ikat pinggang dan juga selendang dengan jenis-jenis kain tenun yang sesuai peruntukannya. 

    10. Lonas Pabite

    Pakaian Lonas Pabite
    Pakaian Lonas Pabite | Sumber: jokembe.com

    Lonas Pabite merupakan pakaian adat dari daerah Sumbawa yang diperuntukkan khusus untuk remaja. Pakaian ini berupa baju dengan selempang di bahu dan sapu di atas kepala. 

    Untuk bawahannya berupa kain sampai selutut dan celana hitam panjang di dalamnya. Sedangkan untuk pihak wanita akan menggunakan baju dengan motif emas dan dalaman berwarna hitam. 

    Tidak hanya itu, dalam pemakaiannya, wanita juga akan menggunakan kalung, anting, konde, hingga gelang warna emas. Biasanya, baju adat ini masyarakat gunakan saat ada acara budaya dan penyambutan tamu, baik di dalam maupun di luar daerah.

    Baca Juga : Mengenal 7 Pakaian Adat NTT dan Makna Setiap Hiasannya

    Aksesoris dan Makna Pakaian Adat NTB

    Berikut beberapa makna dari aksesoris yang biasanya orang gunakan bersamaan dengan Pakaian Adat NTB: 

    1. Penutup Kepala

    Ada banyak sekali jenis penutup kepala sebagai pelengkap Pakaian Adat Nusa Tenggara Barat. Beberapa diantaranya yaitu Sapu yang biasanya untuk Pakaian Pegon dan Sambolo pada Pakaian Adat Suku Bima.

    Sambolo sendiri mencerminkan identitas budaya masyarakat Suku Bima. Sedangkan Sapu memiliki banyak makna sesuai dengan bentuknya, contohnya ikat kepala berdiri melambangkan pengingat kepada sang pencipta, kejantanan, keberanian, dan menjaga pikiran bersih karena selalu ingat pada Tuhan Yang Maha Esa.

    2. Ikat Pinggang

    Untuk ikat pinggang setiap suku pada dasarnya berbeda-beda. Ada yang menggunakan Sabuk Anteng dan ada juga yang menggunakan ikat pinggang dari kain songket. Adapun ikat pinggang secara umum melambangkan pererat hubungan. 

    3. Kain Selempang

    Aksesoris Pakaian Adat NTB berikutnya berupa kain selempang dengan berbagai pola tenunan yang berbeda. Pola tenunan yang berbeda ini tentu saja juga memiliki arti yang berbeda. 

    Sebagai contoh, pola motif bunga matahari mengandung makna kesetiaan menunggu dalam kesendirian. Selain itu, penggunaan selempang itu sendiri di bahu melambangkan kerendahan hati. 

    4. Sanggul

    Aksesoris tambahan lainnya, yaitu berupa sanggul dengan konde sebagai penghiasnya. Misalnya, untuk Suku Sasak sendiri, sanggul berbentuk seperti pelepah batang pisang yang mengandung makna bahwa pemakainya mempunyai ketetapan hati yang kokoh dan berhati sejuk serta rasa sosial tinggi.

    Kemudian, biasanya ada juga hiasan bunga cempaka yang muncul di kepala, yang melambangkan seorang pengantin yang akan memasuki jenjang pernikahan dan akan berkembang, jika telah berumah tangga. 

    Selain itu, ada juga konde emas berbentuk daun semanggi saat digunakan pengantin. Ini melambangkan harapan agar pengantin bisa menjaga dan menjunjung tinggi kesucian pernikahannya. 

    Selain itu, pada bagian pangkal konde terdapat sebuah kawat yang berfungsi sebagai penahan agar tidak jatuh, yang mengandung makna tidak mudah goyah dari godaan.

    5. Anting

    Khususnya pada Pakaian Adat Suku Sasak, wanita akan menggunakan anting. Anting ini ada banyak bentuknya, salah satunya yaitu Sengkang Gigi Dua Olas untuk pengantin.

    Makna dari anting ini, yaitu kesuburan wanita, terutama pengantin saat menggunakannya. Selain itu, ini juga bisa melambangkan status sosial, yang mana untuk golongan bangsawan terbuat dari emas, sedangkan untuk golongan orang biasa terbuat dari bahan perak atau tembaga.

    6. Senjata

    Aksesoris tambahan lainnya, yaitu senjata tradisional yang berupa keris, pedang, dan sejenisnya. Adapun keberadaan senjata ini pada dasarnya sebagai simbol kejantanan dan keberanian pada laki-laki. Untuk itulah, biasanya aksesoris senjata hanya pada kaum laki-laki.

    Baca Juga : 5 Pakaian Adat Khas Kepulauan Riau Baju Kurung dan Maknanya

    Sudah Tahukan Apa Saja Jenis Pakaian Adat NTB?

    Ada banyak sekali pakaian adat NTB, mulai dari Katente Tembe hingga Lonas Pabite. Pada dasarnya, pakaian adat setiap daerah itu memiliki keunikan dan maknanya tersendiri. Namun, semuanya tentu saja sama-sama memiliki makna yang baik untuk pemakainya. 

    Tugas kita sekarang sebagai warga negara Indonesia adalah menjaga setiap pakaian adat yang ada. Terutama pakaian adat masing-masing daerah dengan cara menggunakannya dan aktif melestarikannya melalui pertunjukan karnaval dan sejenisnya.