Category: Sosial Budaya

  • 6 Pakaian Adat Kalimantan Tengah, Dayak Ngaju

    6 Pakaian Adat Kalimantan Tengah, Dayak Ngaju

    Setiap pakaian adat memiliki makna filosofis yang dalam serta mencerminkan nilai-nilai dan keyakinan masyarakat yang memilikinya. Dan salah satu provinsi yang memegang teguh kebudayaan tradisionalnya melalui baju adat adalah Kalimantan Tengah. Namun, tahukah kamu apa saja nama dan filosofi pakaian adat Kalimantan Tengah?

    Kearifan Lokal Suku Dayak di Kalimantan Tengah

    Sebagaimana kamu tahu, bahwa suku atau etnis terbesar di wilayah Kalimantan adalah Suku Dayak. Entah itu di Kalimantan Timur, Barat, Selatan, atau Tengah, Suku Dayak merupakan suku asli yang sampai saat ini masih dikenal sebagai identitas masyarakat adat yang mendiami Pulau Kalimantan. 

    Suku Dayak tersebar hampir di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Salah satunya Suku Dayak Ngaju yang merupakan suku terbesar dengan jumlah sekitar 47%. Selebihnya merupakan suku lain, seperti Dayak Ot Danum, Dayak Ma’anyan, Dayak Lawangan, Dayak Kayan, dll. 

    Suku Dayak Ngaju menganut agama Kaharingan yang meyakini bahwa nenek moyang mereka merupakan keturunan langsung Ranying Hatalla Langit yang bertugas menjaga bumi beserta isinya agar tidak rusak. Sehingga, tak heran masyarakat Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. 

    Kemampuan spiritual tersebut salah satunya disebut Manajah Antang (burung elang), yaitu memanggil burung garuda agar dapat memberikan petunjuk untuk berperang atau ingin menemukan seseorang.

    Selain memiliki spiritualitas yang kuat, Suku Dayak Ngaju juga mempunyai keragaman yang besar antar subetnis, mulai dari bahasa, kesenian, upacara adat, arsitektur rumah, hingga pakaian. Untuk mengetahui berbagai macam nama dan filosofi pakaian adat Kalimantan Tengah, scroll ke bawah untuk memperoleh informasi selanjutnya!

    Keunikan dan Filosofi Pakaian Adat Kalimantan Tengah

    Seperti halnya komponen budaya lainnya, setiap pakaian adat pun punya keunikan masing-masing. Hal yang sama juga berlaku bagi pakaian adat Kalimantan Tengah yang khas dengan berbagai karakteristik dan keunikannya, mulai dari material yang digunakan, corak, manik-manik, dll. Berikut ulasannya:

    1. Terbuat dari Bahan yang Berasal dari Alam

    Keunikan pertama dari pakaian adat Kalimantan Tengah adalah materialnya yang terbuat dari bahan-bahan alami. Mulai dari serat daun lemba, serat daun nanas, dan serat nyamu. Serat nyamu atau lemba adalah kulit tumbuhan pinang puyuh yang habitatnya di hutan hujan tropis di Pulau Kalimantan.

    Teksturnya kokoh dan berserat, sehingga lebih mudah untuk dirajut dan dibentuk menjadi bentuk pakaian. Material ini bahkan dapat membuat pakaian jadi tahan lama hingga puluhan tahun, loh.

    Setelah terbentuk menjadi pakaian, baru kemudian mereka memberi pewarna alami yang juga berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun buah-buahan. Untuk aksesorisnya, biasanya menggunakan hiasan manik-manik yang terbuat dari kulit trenggiling, uang logam, kancing, atau benda-benda lain yang dipercaya memiliki kekuatan magis.

    2. Ciri Khas Warna yang Unik

    Pakaian adat Kalimantan Tengah umumnya digunakan dalam prosesi pernikahan. Dan uniknya, pakaian adat mereka menggunakan paduan warna yang terang, lengkap dengan manik-manik dan renda berwarna emas, sehingga tampilannya terkesan mencolok. 

    Meskipun begitu, Suku Dayak Ngaju menggunakan pewarna alami, misalnya warna hitam dari jelaga, warna putih dari campuran tanah putih dan air, warna kuning dari kunyit, dan warna merah dari buah rotan. 

    Makna filosofi dari warna-warni busana adat pengantin ini adalah senantiasa memancarkan esensi keelokan warna alam. Demikian juga dengan corak hiasnya diilhami dari alam milik Kalimantan Tengah.

    3. Penggunaan Manik-Manik Khas Kalimantan Tengah

    Jika kamu perhatikan, pakaian adat Kalimantan Tengah itu identik dengan penggunaan manik-manik. Bahkan, tak hanya pada pakaian, manik-manik sudah lama digunakan untuk berbagai keperluan, seperti membuat tas, kalung, hiasan kepala, dll. 

    Menurut keyakinan mereka, manik-manik merupakan elemen sakral dan mengandung unsur azimat yang kuat. Tidak mengherankan, jika benda kecil ini kerap kali hadir dalam berbagai upacara adat, misalnya upacara menyambut kelahiran, upacara perkawinan, upacara kematian, dll.

    Manik-manik ini juga menggunakan beberapa warna tertentu, seperti kuning, putih, hijau, dan biru. Masing-masing warna memiliki makna filosofi tersendiri. Misalnya, manik warna biru melambangkan sumber kekuatan dari segala penjuru yang tidak bisa lenyap. Sedangkan manik warna kuning bermakna keagungan dan kesucian Tuhan.

    Adapun manik warna merah memiliki arti sumber semangat kehidupan dan warna hijau melambangkan inti sari bumi. Di sisi lain, warna putih memiliki makna simbol kesucian dan keimanan seseorang kepada Tuhan.

    Kemudian, bahan untuk membuat manik-manik (lilis lamiang) pun mengandung makna tertentu. Dalam kebudayaan Dayak Ngaju, lamiang merupakan simbol ketulusan niat dan cinta yang tak pernah pudar.

    Begitu pentingnya kedudukan manik-manik dalam budaya masyarakat Dayak, mereka menganggap benda ini memiliki nilai tinggi, baik itu dari aspek keagamaan, sosial, maupun ekonomi.

    4. Penggunaan Batik Khas Kalimantan Tengah

    Sama seperti Yogyakarta dan daerah lainnya, Kalimantan Tengah juga memiliki kain batik khas, namanya Batik Benang Bintik. Batik ini umumnya terbuat dari bahan katun, sutra, atau semi sutra serta mempunyai beragam motif yang masing-masing mengandung makna yang berbeda, seperti:

    • Motif Balanga melambangkan kesucian.
    • Batik Pusaka Dayak dan Penyang Baja Batu melambangkan kekuatan dan perlindungan.
    • Motif Pasuk Kameloh melambangkan kesejahteraan.
    • Batik bermotif Lawang Suri bermakna penjaga keselamatan.
    • Motif Kambang Grantung melambangkan kesetiaan.

    Macam-Macam Pakaian Adat Kalimantan Tengah

    Tak hanya satu, Kalimantan memiliki enam jenis pakaian adat dengan daya tariknya tersendiri, di antaranya:

    1. Pakaian Adat Sangkarut

    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Sangkarut
    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Sangkarut l Sumber: detik.com

    Sangkarut bisa dibilang sebagai pakaian adat paling ikonik dan terkenal di Kalimantan Tengah, daripada jenis baju adat lainnya. Pakaian adat ini biasa dikenakan oleh suku Dayak Ngaju, suku mayoritas di Kalimantan Tengah.

    Dari segi bahasa, sangkarut berasal dari bahasa Dayak, yang artinya rompi. Karena memang bentuknya yang berupa rompi sederhana dan tidak memiliki aksesoris khusus. Sangkarut sendiri dapat dipakai oleh laki-laki maupun perempuan. 

    Jika bagian atasnya berupa rompi, maka bagian bawah sangkarut berupa cawat atau sejenis celana dengan ewah di bagian depannya. Ewah adalah kain penutup berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kain nyamu.

    Pada zaman dahulu, pakaian adat Kalimantan Tengah ini berfungsi sebagai baju perang. Akan tetapi, sekarang Suku Dayak Ngaju lebih banyak menggunakan baju adat ini pada upacara pernikahan, sebagai simbol perlindungan dari roh jahat.

    2. Pakaian Adat Berantai Khas Kalimantan Tengah

    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Berantai
    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Berantai l Sumber: Pinhome

    Dari bentuknya, sekilas baju adat ini mirip baju zirah perang, karena terbuat dari untaian-untaian besi. Besi-besi dipotong, dibentuk, kemudian disusun dan didesain menjadi sebuah baju. 

    Menurut beberapa studi, baju ini kemungkinan mendapatkan pengaruh dari budaya luar, yakni dari Suku Moro Filipina.

    Pakaian adat Kalimantan Tengah ini sekarang sudah termasuk langka, karena kegunaannya hanya saat di medan perang saja. Itulah sebabnya pakaian ini tergolong sebagai kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan.

    3. Baju Adat Tenunan

    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Tenunan
    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Tenunan l Sumber: Youtube Karmila Official

    Sesuai namanya, baju tradisional ini dibuat dengan teknik tenun menggunakan bahan kulit nyamu atau serat nanas. Masyarakat yang mengenakan pakaian adat ini biasanya berasal dari Suku Mandar atau Suku Melayu yang mendiami Kalimantan Tengah untuk beraktivitas sehari-hari.

    Dalam proses pembuatannya, mereka juga kerap menambahkan motif-motif tertentu, seperti motif alam, flora, dan fauna, untuk memperindah tampilan dari baju tradisional tersebut.

    4. Baju Adat Anyaman Tikar

    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Anyaman Tikar
    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Anyaman Tikar l Sumber: Adat Tradisional

    Masyarakat pada umumnya menggunakan anyaman tikar sebagai alas untuk duduk, istirahat, tidur, atau untuk hiasan rumah. Akan tetapi, masyarakat Kalimantan Tengah justru menggunakan anyaman tikar sebagai baju tradisional yang khas. Seperti namanya, proses pembuatan baju ini  menggunakan teknik anyaman dari bahan serat kayu. 

    Selain itu, karena kegunaannya adalah sebagai baju perang, mereka seringkali melapisinya dengan hiasan tulang belulang hewan, ukiran kerang, atau ukiran kayu. Sebab, mereka percaya bahwa pakaian adat ini mampu menahan serangan dari senjata musuh serta memiliki kekuatan mistis. 

    Sehingga, dapat melindungi pemakainya dari gangguan roh jahat saat berjuang di medan perang. 

    Saat ini, Baju Adat Anyaman Tikar telah menjadi salah satu warisan budaya peninggalan nenek moyang Suku Dayak Kalimantan Tengah.

    5. Pakaian Adat Pawang Khas Kalimantan Tengah

    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Pawang
    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Pawang l Sumber: Youtube Karmila Official

    Baju tradisional ini agak berbeda dengan baju adat Suku Dayak lainnya dari segi penggunaannya. Karena, masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah umumnya memakaikan baju adat ini kepada ulama atau dukun adat di sana saat perayaan Kaharingan (agama asli Suku Dayak), tasyakuran, atau hendak memanjatkan doa-doa.

    Selain itu, masyarakat Dayak juga kerap menggunakan pakaian ini saat upacara dan doa memohon hujan, menyembuhkan penyakit, atau untuk membawakan tari-tarian daerah saat ada perayaan kesenian. Tujuannya sendiri adalah sebagai simbol pemimpin dalam sebuah ritual doa-doa.

    Menurut kepercayaan mereka, pakaian ini mampu melindungi pemakainya dari semua roh jahat yang ingin mengganggu, sehingga doa akan lebih mudah terkabul.

    Sama seperti Baju Adat Tenunan, Baju Pawang juga terbuat dari bahan-bahan alami, seperti serat kulit kayu nyamu atau serat daun nanas. 

    Selain itu, baju ini biasanya memiliki hiasan berupa manik-manik atau rumbaian benang yang membuat pakaian adat Kalimantan Tengah ini tampak lebih eksotis dan unik.

    Saat ini, Pakaian Adat Pawang semakin dijaga kelestariannya dan hanya digunakan untuk upacara-upacara penting saja. Misalnya, saat perayaan atau upacara kenegaraan untuk menyambut para tamu.

    6. Pakaian Adat Opak Nyamu

    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Opak Nyamu
    Ilustrasi gambar Pakaian Adat Opak Nyamu l Sumber: Pinhome

    Pada dasarnya, baju tradisional ini terbuat dari bahan yang sama dengan Pakaian Adat Sangkarut, yakni dari tempaan kulit kayu nyamu. Baju ini juga memiliki aksesoris tambahan yang serupa dengan Sangkarut, yakni berupa kain penutup di bagian kemaluan.

    Bedanya baju adat ini dengan Sangkarut adalah terletak pada model pakaiannya. Baju Adat Opak Nyamu memang mirip rompi Sangkarut, namun terdiri dari dua jenis, yakni rompi dengan lengan serta tanpa lengan.

    Baca Juga : 6 Pakaian Adat Kalimantan Selatan, Makna, dan Ciri Khasnya

    Ternyata, Ada Banyak Jenis Pakaian Adat Kalimantan Tengah!

    Kesimpulannya, pakaian adat Kalimantan Tengah ada banyak jenisnya dan mayoritas dianggap memiliki kekuatan magis. Mulai dari Sangkarut, Pawang, Anyaman Tikar, hingga Opak Nyamu, masing-masing memiliki keunikan tersendiri, entah itu dari segi bahan, teknik pembuatan, maupun kegunaan.

  • 10 Bagian Rumah Adat Bali dengan Ciri Khas dan Keunikannya

    10 Bagian Rumah Adat Bali dengan Ciri Khas dan Keunikannya

    Bali tidak hanya terkenal akan budayanya, tetapi juga bangunan atau rumah adatnya yang sangat khas. Ciri khas rumah adat Bali adalah terpisahnya antara bangunan satu dan bangunan lain yang dipengaruhi oleh aturan tentang arsitektur tradisional yang unik. 

    Penasaran kan seperti apa rumah adat Bali? Yuk , simak 10 rumah adat Bali beserta ciri khas dan keunikannya di artikel ini!

    10 Bagian Rumah Adat Bali dan Keunikannya

    Pembangunan rumah tradisional Bali umumnya dipengaruhi Asta Kosala Kosali atau atau tentang arsitektur rumah tradisional Bali. Aturan ini mengatur tentang tata letak bangunan dan ruangan sesuai landasan etis, filosofis, dan ritual. Ada 10 bagian rumah adat Bali. Berikut penjelasannya beserta ciri khas serta keunikannya, yaitu:

    1. Sanggah atau Merajan 

    Merajan di Bali
    Merajan di Bali | Sumber gambar: Kompas.id

    Tidak hanya rumah modern, rumah tradisional jika dihuni oleh masyarakat Bali yang beragama Hindu pasti punya sanggah atau merajan. 

    Bagian rumah ini adalah bagian yang sangat disucikan oleh masyarakat Bali. Di tempat inilah, masyarakat Bali beribadah dan berdoa untuk Tuhan dan leluhurnya.

    Biasanya, sanggah atau merajan akan dibuatkan upacara khusus untuk memperingati hari dibangunnya sanggah tersebut setiap 210 hari sekali atau satu tahun dalam kalender Bali. 

    2. Angkul-Angkul 

    Angkul-Angkul Rumah di Bali
    Angkul-Angkul Rumah di Bali | Sumber gambar: Kintamani.id

    Rumah tradisional Bali biasanya memiliki angkul-angkul atau Candi Bentar yang menjadi pintu masuk ke area pekarangan rumah. 

    Pada zaman dahulu angkul-angkul biasanya memiliki atap penghubung yang terbuat dari rumput kering ataupun terbuat dari daun kelapa kering yang dijalin membentuk atap. 

    Tapi di era modern seperti sekarang ini, angkul-angkul sudah banyak dibuat menggunakan genteng atau beton yang disemen dan dicetak dengan ukiran-ukiran unik khas Bali. Beberapa orang yang memasang angkul-angkul beton ini membuat rumah terlihat lebih megah. 

    3. Aling-Aling

    Aling-Aling dengan Patung Ganesha
    Aling-Aling dengan Patung Ganesha | Sumber gambar: Infoliburan.com

    Rumah Aling-aling dalam rumah adat Bali adalah pembatas antara angkul-angkul dan bagian halaman rumah. 

    Aling-aling merupakan simbol penolak bala yang menjadi filter atau menyaring energi negatif agar tidak masuk ke rumah, sehingga keharmonisan penghuninya tetap terjaga. 

    Biasanya, aling-aling berbentuk persegi panjang dan memiliki tinggi sekitar 150 cm. Para tamu yang datang ke rumah akan memasuki rumah melalui sisi kanan. Sedangkan, sisi kiri digunakan untuk keluar rumah.

    4. Bale Manten

    Bale Manten di Rumah Adat Bali
    Bale Manten di Rumah Adat Bali | Sumber gambar: Rimbakita.com 

    Bale Manten adalah bangunan yang ada di sisi utara pekarangan rumah yang biasanya digunakan untuk tempat tidur kepala keluarga atau anak perempuan yang belum menikah. 

    Adanya bangunan ini bertujuan agar orang tua dapat mengawasi dan menjaga kesucian anak gadisnya.

    Biasanya, Bale Manten dibangun dengan tiang kayu berjumlah 8 atau berjumlah 12. Selain itu, bangunan ini juga dikelilingi oleh bale-bale lainnya. 

    5. Bale Dauh 

    Bale Dauh di Rumah Bali
    Bale Dauh di Rumah Bali | Sumber gambar: Tokopedia.net 

    Bale Dauh dalam rumah adat Bali merupakan bangunan yang berada di sisi barat rumah. Biasanya, Bale Dauh digunakan untuk menerima tamu sekaligus tempat tidur untuk anak remaja laki-laki. 

    Umumnya, ketinggian Bale Dauh lebih rendah dibandingkan dengan Bale Manten dan memiliki jumlah tiang antara enam, delapan, dan sembilan. Pemilihan tiang ini biasanya disesuaikan dengan energi orang yang akan tinggal di sana. 

    6. Bale Sekepat 

    Contoh Bale Bengong Rumah Bali
    Contoh Bale Bengong Rumah Bali | Sumber gambar: Flickr

    Kalau dalam rumah modern kita mengenal ruang keluarga, maka dalam rumah tradisional Bali kita mengenal Bale Sekepat. 

    Biasanya, bangunan ini digunakan untuk tempat berkumpul dan bersantai keluarga. Tujuan dari adanya bangunan ini adalah menjaga keharmonisan antar keluarga. 

    Bangunan ini biasanya berbentuk balai dengan atap berbentuk pelana. Di setiap sisi balai terdapat tiang penyangga sehingga total ada empat tiang penyangga. 

    7. Klumpu Jineng 

    Contoh Klumpu Jineng Bali
    Contoh Klumpu Jineng Bali | Sumber gambar: depostbali.com 

    Pada era modern, sudah tidak banyak orang yang memiliki Klumpu Jineng. Bagian ini adalah bagian rumah adat Bali yang berfungsi untuk menyimpan padi atau sebagai lumbung padi.

    Adanya Klumpu Jineng dalam arsitektur tradisional dikarenakan pada zaman dahulu ada banyak masyarakat Bali yang berprofesi sebagai petani. 

    Klumpu Jineng memiliki bentuk yang unik, yaitu struktur bangunan seperti panggung dengan dinding dan atap luarnya terbuat dari jerami kering. Meski sudah sangat langka, beberapa rumah di Bali pedesaan biasanya tetap memiliki Klumpu Jineng. 

    Setiap Klumpu Jineng biasanya akan diupacarai dan menjadi simbolis Dewi Sri atau Dewi Padi yang dipercaya bisa membawa kemakmuran untuk penghuni rumah. 

    8. Bale Gede 

    Bale Gede di Rumah Bali
    Bale Gede di Rumah Bali | Sumber gambar: idntimes.com 

    Bale Gede atau biasanya disebut juga dengan Bale Dangin adalah bagian rumah tradisional Bali yang dikhususkan untuk upacara-upacara besar. Biasanya, upacara Manusa Yadnya, seperti upacara pernikahan atau upacara potong gigi (metatah atau mempandes). 

    Saat ada upacara adat, Bale Gede difungsikan sebagai tempat untuk menaruh sesajen. 

    Masyarakat Bali memang identik dengan berbagai upacara adat yang sangat banyak dan rumit. Tidak heran, Bale Gede biasanya punya ukuran paling besar di antara bagian rumah lainnya, 

    Bangunan ini memiliki bentuk persegi panjang atau segi empat dengan 12 tiang. Posisi Bale Gede juga biasanya lebih tinggi daripada Bale Manten ataupun Bale Dauh karena memang dikhususkan untuk upacara adat sehingga lebih disucikan dan disakralkan. 

    9. Pewaregan 

    Contoh Pewaregan
    Contoh Pewaregan | Sumber gambar: Bali Semara

    Pewaregan atau dapur merupakan tempat khusus untuk memasak makanan seluruh penghuni rumah. Biasanya, pewaregan ada di sisi selatan atau sisi barat laut rumah utama. 

    Kalau kamu perhatikan, beberapa orang Bali memiliki dua jenis pewaregan yaitu untuk memasak, dan untuk menyimpan dan menyajikan makanan. 

    Orang Bali zaman dulu memasak menggunakan tungku yang dikenal dengan Cangkem Paon. 

    Hingga saat ini masih banyak orang yang percaya, setiap orang Bali harus punya tungku karena dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Dewa Brahma dengan kekuatan apinya. 

    10. Lumbung 

    Lumbung di rumah adat Bali
    Lumbung di rumah adat Bali | Sumber gambar: baliskytour

    Bagian rumah adat Bali selanjutnya adalah lumbung atau tempat untuk menyimpan bahan pokok. 

    Lalu, apa bedanya dengan Klumpu Jineng? Jineng dikhususkan untuk menyimpan padi atau gabah dan disakralkan untuk memuja Dewi Padi yaitu Dewi Sri yang dipercaya bisa membawa kemakmuran. 

    Sedangkan, lumbung hanya dikhususkan untuk menyimpan bahan pokok seperti jagung, sayuran, daging, dan lain sebagainya. Bangunan lumbung ini luasnya tidak terlalu besar atau lebih kecil dari bangunan lainnya. 

    Baca Juga : Sejarah Singkat Tari Kecak Bali dan Keunikannya

    Apakah Kamu Tertarik Tinggal di Rumah Adat Bali? 

    Rumah adat Bali memang terdiri dari bangunan-bangunan yang memiliki fungsi berbeda. Tidak heran, pembangunan rumah ini sangat membutuhkan lahan yang luas dan pastinya memakan biaya yang cukup besar. Kalau kamu ingin merasakan pengalaman tinggal di rumah tradisional Bali, tidak perlu membangunnya sendiri. 

    Kamu bisa lihat secara langsung rumah adat Bali dengan mengunjungi Desa Wisata Penglipuran yang berlokasi di Kabupaten Bangli. Masyarakat Penglipuran masih memegang teguh budaya Asta Kosala Kosali, sehingga Keaslian rumah Adat Bali mereka masih terjaga.

  • 7 Rumah Adat Jawa Timur: Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    7 Rumah Adat Jawa Timur: Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Membicarakan rumah adat Jawa Timur, kamu pasti akan terpikirkan oleh bentuk rumah Joglo. Sebagian besar rumah adat yang berada di Jatim memiliki bentuk limasan atau joglo. Meski demikian, setiap daerah di Jatim memiliki kekhasan tersendiri yang saling membedakan.

    Beragamnya bentuk rumah adat tersebut tentu terdapat banyak campur tangan dari berbagai kepercayaan masyarakat di masa lampau. Mari simak penjelasan terkait jenis-jenis rumah adat yang terdapat di Jawa Timur di artikel ini.

    7 Rumah Adat Jawa Timur

    Tak jauh berbeda dengan rumah adat di bagian Jawa yang lain, rumah adat Jawa Timur juga terpengaruh kebudayaan Hindu Budha yang erat. Berikut 7 jenis rumah adat yang jarang diketahui oleh sebagian besar masyarakat di Jawa Timur, yaitu:

    1. Rumah Joglo

    Joglo Sinom
    Joglo Sinom I Sumber gambar: Ruparupa.com

    Rumah adat pertama dan yang terpopuler di kalangan masyarakat Jawa Timur adalah rumah Joglo. Berbeda dengan rumah Joglo yang ada di Jawa Tengah, Joglo Jawa Timur memiliki ciri khasnya tersendiri.

    Bangunan berbentuk limas tersebut menunjukkan status sosial yang tinggi di masyarakat. Penggunaan kayu jati yang kokoh dan besar menjadi salah satu ciri khasnya. Joglo sendiri memiliki dua jenis, yakni Joglo Jompongan dan Joglo Sinom. 

    Joglo Jompongan merupakan dasar dari rumah adat Joglo. Rumah ini berbentuk bujur sangkar dengan dua bagian sebagai pengerat. 

    Sementara itu, Sinom merupakan bentuk joglo yang jauh lebih berkembang. Terdapat teras yang mengelilingi jenis rumah ini.

    Berbeda dengan Jompongan, Joglo Sinom memiliki ketentuan tersendiri dalam jumlah penyangga yang digunakan. 

    Pada dasarnya, bentuk rumah joglo memiliki kaitan erat dengan kepercayaan masyarakat Jawa pada masa lampau. Oleh karena itu, bangunannya banyak terpengaruh oleh budaya Hindu Buddha.

    2. Joglo Situbondo

    Joglo Situbondo
    Joglo Situbondo I Sumber gambar: Tirto.id

    Rumah adat Jawa Timur selanjutnya yang cukup terkenal adalah Joglo Situbondo. Pembeda rumah Joglo ini dengan kedua rumah joglo sebelumnya adalah pada kepercayaan kejawen sinkretisme yang masyarakatnya percaya sebagai lambang di rumah ini.

    Pada Joglo Situbondo bangunan terbagi menjadi beberapa area. Terdapat pendopo sebagai bagian inti rumah yang di dalamnya terdiri dari dapur dan gudang di bagian kanan, kamar tidur di bagian kiri, dan bagian tengah sebagai tempat penyimpanan pusaka atau benda berharga.

    Dalam Joglo Situbondo, terdapat hiasan dinding atau ornamen-ornamen yang menggambarkan kehidupan masyarakatnya. Tidak hanya rumah Joglo Situbondo, di Jawa Timur juga terdapat bentuk rumah joglo lainnya.

    3. Rumah Osing

    Rumah Osing
    Rumah Osing I Sumber gambar: Detik.com

    Rumah Osing merupakan rumah adat Jawa Timur yang berada di Banyuwangi. Osing terbagi menjadi tiga jenis bagian, yaitu Baresan, Crocogan, dan Tikel Balung. Hal yang membedakan ketiganya adalah jumlah pada bidang atapnya. 

    Baresan terdiri dari empat bidang atap, Crocogan terdiri dari dua bidang, sedangkan Tikel Balung terdiri dari empat bidang. 

    Pada rumah Osing terbagi menjadi 4 area, yaitu pembatas, teras, ruang tengah, dan dapur. Untuk lantainya masih berupa tanah dengan atap genting gerabah.

    4. Rumah Adat Suku Tengger

    Rumah Adat Suku Tengger
    Rumah Adat Suku Tengger I Sumber gambar: Kompas.com

    Suku Tengger di Bromo memiliki rumah adat dengan keunikan tersendiri. Keunikan tersebut terletak pada atapnya. Bentuk atap pada rumah adat suku Tengger adalah meruncing dan menumpuk ke bagian atas.  

    Setiap rumah pasti memiliki bale yang digunakan sebagai tempat bersantai. Umumnya, rumah adat ini menggunakan kayu sebagai bahan utamanya dengan dua jendela saja di setiap rumah. 

    Masyarakat Tengger selalu membangun rumah dengan bergerombol atau saling berdekatan, sehingga pembangunan rumah di sana tampak tidak teratur. 

    Konsep ini sebenarnya memiliki tujuan tersendiri, yakni untuk menghalau angin kencang akibat cuaca buruk dan  untuk meningkatkan rasa solidaritas antar penduduknya.

    5. Rumah Adat Dhurung

    Dhurung
    Dhurung I Sumber gambar: Pikiran-Rakyat.com

    Dhurung merupakan rumah adat yang berbentuk gubug. Bahkan, pada bagian atap menggunakan daun pohan sebagai bahan utamanya. Bangunan ini biasanya terletak di sekitar ladang dan berfungsi sebagai tempat peristirahatan para petani.

    Fungsi lain dari rumah adat ini adalah sebagai tempat berkumpulnya para penduduk untuk saling bersosialisasi. Bahkan tak jarang juga berguna sebagai tempat pencarian jodoh. 

    Saat ini, bangunan adat ini banyak petani gunakan sebagai tempat penyimpanan padi dan pupuk.

    6. Limasan Lambang Sari

    Limasan Lambang Sari
    Limasan Lambang Sari I Sumber gambar: Rumah.com

    Limasan Lambang Sari merupakan rumah adat Jawa Timur yang berbentuk limas atau persegi panjang. Salah satu keunikannya adalah pada atap bangunannya yang berupa balok penyambung.

    Terdapat empat sisi atap dengan enam belas tiang penyangga. Sebagai pusatnya, terdapat satu bubungan yang menghubungkannya. 

    Pondasi yang rumah adat ini gunakan adalah bentuk umpak. Umpak sendiri merupakan bentuk tiang yang terbuat dari batu dengan purus sebagai penguncinya.

    7. Limas Trajumas Lawakan

    Limas Trajumas Lawakan
    Limas Trajumas Lawakan I Sumber gambar: INews.ID

    Terakhir adalah rumah adat Limas Trajumas Lawakan. Rumah adat ini merupakan rumah yang berkembang dari model Limasan Trajumas. Perbedaannya terletak pada emperan yang mengelilinginya. 

    Selain itu, atap pada rumah adat inj memiliki empat sisi. Keempat sisi itu sendiri terdiri dari dua atap. Agar bangunan menjadi lebih simetris terdapat sebuah tiang yang berfungsi sebagai struktur utamanya.

    Bangunan ini menggunakan kayu dengan serat kuat sebagai material utamanya, seperti jati, nangka, glugu, dan kayu berserat lainnya. Tujuannya agar kayu yang terpakai mampu menerima gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan. 

    Baca Juga : 5 Macam Rumah Adat Jawa Tengah Paling Unik dan Ciri Khasnya

    Filosofi Setiap Bagian Rumah Adat Jawa Timur

    Arsitektur pada rumah di Jawa Timur tidak terbentuk secara sembarangan. Terdapat filosofi penting yang mempengaruhi bentuk arsitek dan interior rumah adat Jawa Timur, yakni: 

    1. Atap

    Atap pada rumah tradisional Jawa Timur mayoritas berbentuk gunungan. Gunung bagi masyarakat Jawa merupakan tempat yang sakral dan berkedudukan tinggi. 

    Bentuk atap yang menyerupai gunung diharapkan dapat mendapat keberkahan dari para dewa sesuai dengan ajaran Hindu Budha yang melekat pada masyarakat.

    2. Serambi

    Bentuk serambi pada rumah adat menyerupai pendopo. Tak jarang serambi darI rumah adat jauh lebih luas daripada bangunan utamanya. Tujuannya agar pemilik rumah dapat menerima siapapun yang bertamu dengan terbuka.

    3. Ukiran Pintu

    Mayoritas rumah memiliki ukiran pada bagian pintunya. Keunikan ini merupakan pengaruh dari kepercayaan masyarakat di masa lampau. Masyarakat percaya, ukiran-ukiran tersebut dapat menghalau segala hal negatif yang hendak masuk ke dalam rumah.

    4. Pringgitan

    Pringgitan merupakan sebuah ruangan yang menghubungkan pendopo dengan bagian dalam rumah. Pada rumah adat Jawa Timur, pringgitan merupakan tempat pemilik rumah melakukan ritual sesuai kepercayaannya. 

    5. Krobokan

    Krobokan pada rumah adat Joglo merupakan tempat suci yang pemilik rumah gunakan untuk menyimpan berbagai benda berharga dan hasil panen pertamanya. 

    Di masa lampau kepercayaan masyarakat Jawa pada keberadaan Dewi Sri masih sangat kental. Ruangan ini berfungsi untuk menghubungkan pemilik rumah dengan Dewi Sri.

    6. Dalem Ageng

    Dalem Ageng adalah bagian utama dari rumah adat. Ruangan ini merupakan wilayah pribadi sang pemilik rumah dengan anggota keluarganya dan biasanya memiliki bentuk undakan yang jauh lebih tinggi daripada ruang lainnya. Sebagai tempat pribadi, dalem ageng juga menjadi tempat peristirahatan.

    7. Pawon

    Pawon atau gandhok merupakan bagian belakang dari rumah adat. Letaknya biasanya agak berjauhan dari bangunan utama. Tujuannya adalah untuk memisahkan privasi antara bangunan utama dengan tempat masak atau dapur.

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Jawa Barat, Fungsi dan Pelaksanaannya

    Sudah Lebih Mengenal Rumah Adat Jawa Timur?

    Setiap jenis rumah adat Jawa Timur memiliki keberagamannya masing-masing yang dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakatnya. Setiap keunikan yang terdapat dalam rumah adat tidak serta merta dibangun apa adanya, tetapi terdapat nilai filosofis yang menyertainya. Misalnya, pendopo pada rumah joglo. 

    Tidak hanya itu, di era yang modern ini bentuk rumah adat juga telah banyak mengalami perkembangan. Namun, kondisi tersebut tidak menghilangkan nilai filosofi yang telah melekat padanya. Bisa dikatakan, rumah adat merupakan cerminan budaya yang harus dilestarikan.

  • Akulturasi Budaya: Pengertian, Tujuan, Faktor, dan Contoh

    Akulturasi Budaya: Pengertian, Tujuan, Faktor, dan Contoh

    Pengaruh Hindu dan Buddha yang masuk ke Indonesia membawa berbagai perubahan baru di bidang budaya. Terdapat dua kebudayaan yang saling berbeda antara budaya Hindu-Buddha dengan budaya Nusantara. Nah, untuk menanggapi fenomena tersebut maka terjalinlah proses sosial bernama akulturasi budaya. 

    Hampir seluruh masyarakat di belahan dunia mengalami proses sosial berupa akulturasi, di mana dua atau lebih kebudayaan saling bersatu. Terutama Indonesia yang notabene merupakan negara majemuk dengan keanekaragaman budayanya di seluruh penjuru nusantara. Untuk penjelasan lebih lanjut, perhatikan artikel berikut.  

    Apa Itu Akulturasi Budaya?

    Percampuran budaya atau akulturasi merupakan proses sosial antara dua atau lebih budaya yang saling berinteraksi sehingga terjadi peleburan tanpa kehilangan ciri khas dari budaya aslinya. Biasanya, proses sosial ini bisa terjadi ketika ada budaya pendatang yang masuk dan berhadapan dengan budaya lain dalam masyarakat. 

    Budaya asing tersebut lambat laun akan masyarakat terima lalu sesuaikan dengan kebudayaan asli tanpa menghilangkan jati diri dari kebudayaan itu sendiri. Ini sesuai dengan pengertian secara etimologi akulturasi yang berasal dari bahasa latin acculturate, yakni bermakna tumbuh dan berkembang bersama. 

    Biasanya, jangka waktu hingga proses pencampuran dua budaya berhasil, relatif lama. Hal itu berkenaan dengan proses adaptasi masyarakat serta ketersediaan untuk menerima budaya baru. Apabila suatu kelompok masyarakat dapat menerima budaya asing yang masuk, maka proses pencampuran bisa terwujud.

    Sekilas, Anda mungkin merasa pengertian akulturasi budaya mirip dengan asimilasi. Kedua istilah tersebut memang sama-sama merujuk ke proses sosial yang melibatkan pencampuran dua budaya atau lebih. Akan tetapi, meskipun kelihatan sama, sebenarnya keduanya cukup berbeda secara signifikan. 

    Seperti yang sudah Anda ketahui, akulturasi merupakan pencampuran dua atau lebih kebudayaan tanpa menghilangkan unsur aslinya. Sementara itu, asimilasi adalah proses peleburan dua kebudayaan atau lebih sehingga menghasilkan kebudayaan baru. 

    Tujuan dan Manfaat Akulturasi Budaya

    Ilustrasi saling toleransi dengan yang lain
    Ilustrasi saling toleransi dengan yang lain | Sumber gambar: Freepik

    Setelah mencermati pengertiannya, apakah Anda bisa menebak tujuan dari pencampuran budaya? Pada dasarnya, tujuan bergabungnya dua atau lebih budaya adalah sebagai usaha untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama. Perbedaan yang ada dalam masyarakat ingin disatukan dengan serasi dan damai. 

    Apalagi, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain sehingga ketidakserasian dalam lingkungan hidup tentunya membuat proses interaksi kurang nyaman. 

    Maka dari itu, budaya pendatang yang masuk bertujuan untuk berpadu dengan budaya asli agar keharmonisan terjaga tanpa menghilangkan jati diri budaya. Nah, terdapat sejumlah manfaat yang akan Anda dapatkan dari akulturasi budaya. Berikut beberapa contohnya:

    a. Pertukaran budaya 

    Karena akulturasi terjadi antara kelompok budaya yang berbeda, maka dalam suatu masyarakat akan terjadi sebuah pertukaran. Pertukaran budaya bisa memperkaya pengalaman dan pengetahuan terkait masing-masing kelompok budaya. 

    b. Memperkaya kebudayaan masyarakat 

    Menyambung pembahasan sebelumnya, perpaduan dua atau lebih budaya yang berbeda bisa membentuk identitas baru di masyarakat. Identitas budaya baru tersebut tetap memiliki ciri khas dari budaya asalnya. Jika hal itu terjadi, maka kebudayaan yang ada di suatu kelompok masyarakat akan tambah variatif.

    c. Meningkatkan toleransi

    Jika memahami perbedaan antar budaya di masyarakat, maka itu bisa meningkatkan rasa toleransi. Masing-masing kelompok budaya yang berbeda bisa saling menghargai dan menjalin kerja sama. 

    d. Meningkatkan inovasi dan kreativitas

    Berikutnya, manfaat akulturasi adalah meningkatkan inovasi dan kreativitas. Inovasi bisa tercipta dari interaksi elemen-elemen budaya yang berbeda sehingga Anda bisa mendapatkan ide-ide kreatif dalam kehidupan sehari-hari. 

    Baca Juga : 5 Cara Melestarikan Budaya Bangsa dan Contoh Sikapnya

    Faktor Pendorong Terjadinya Akulturasi Budaya

    Ilustrasi pikiran yang terbuka akan perubahan
    Ilustrasi pikiran yang terbuka akan perubahan | Sumber gambar: Freepik

    Tahukah Anda? Akulturasi budaya tidak bisa berhasil tanpa adanya faktor pendorong atau pendukung yang menyebabkan masyarakat akhirnya menerima kebudayaan asing. Nah, berikut adalah beberapa hal yang bisa mendorong perpaduan antar kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat. 

    1. Pendidikan Modern

    Pendidikan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan akulturasi. Apalagi, pada zaman sekarang, pendidikan modern memberikan akses wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat terhadap budaya-budaya luar. Melalui pendidikan tersebut, pikiran seseorang bisa terbuka terhadap budaya asing. 

    2. Kontak dengan Budaya Lain

    Perpaduan atau percampuran budaya tidak akan pernah terjadi jika keduanya tidak saling melakukan kontak. Apa yang dimaksud dengan kontak budaya? Kontak budaya adalah interaksi antara kelompok kebudayaan yang berbeda, baik dari segi ras, etnis, sosial ekonomi, dan lain sebagainya. 

    Terutama setelah perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang makin maju menyebabkan terjalinnya kontak budaya dengan mudah. Awal mula dari proses terwujudnya akulturasi tidak lain kelompok budaya yang berbeda saling berinteraksi dan berkomunikasi. 

    3. Sistem Masyarakat yang Terbuka

    Pada sistem masyarakat yang terbuka, proses pencampuran budaya bisa terjadi lebih mudah karena tipe masyarakatnya yang mau menerima dan beradaptasi dengan perubahan. 

    4. Berorientasi Masa Depan

    Kelompok masyarakat yang memiliki orientasi ke depan akan berusaha menyiapkan berbagai rencana dan kesiapan untuk menghadapi perkembangan zaman. Maka dari itu, untuk mencapai visi dan tujuannya, diperlukan kerja sama dari tiap-tiap individu dan kelompok di dalam masyarakat.

    Faktor Penghambat Terjadinya Akulturasi Budaya

    Selain faktor yang mendukung terjadinya percampuran dua kebudayaan atau lebih, ada faktor penghambat akulturasi yang membuat proses pencampuran budaya tidak berjalan lancar. Apa sajakah faktor-faktor itu? Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini. 

    1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Lambat

    Jika pendidikan modern atau maju bisa mendorong terjadinya akulturasi budaya, sebaliknya ilmu pengetahuan yang berkembang lambat justru menghambat. Hal itu karena masyarakat tidak mempunyai wawasan yang cukup mendalam terkait kebudayaan-kebudayaan yang ada di luar mereka. 

    2. Adanya Prasangka

    Dalam kehidupan masyarakat yang heterogen, Anda mungkin akan menemukan sebagian orang memiliki prasangka terhadap budaya asing. Prasangka tersebut memandang buruk terhadap hal baru sehingga menimbulkan sikap menutup diri untuk menerima percampuran budaya. 

    3. Sistem Masyarakat yang Tertutup

    Pada sistem masyarakat tertutup, anggota masyarakatnya tidak bisa menerima perubahan dengan mudah. Bahkan sebagian kelompok justru menutup diri dari kebudayaan baru. Apabila itu terjadi, maka akan sangat menghambat proses akulturasi. 

    Contoh Bentuk Akulturasi Budaya di Indonesia

    Ilustrasi contoh akulturasi wayang
    Ilustrasi contoh akulturasi wayang | Sumber gambar: Freepik

    Anda mungkin sudah pernah menjumpai bentuk akulturasi yang terjadi di lingkungan sekitar, baik disadari maupun tidak. Nah, ketahui contoh-contoh akulturasi budaya di Indonesia berikut ini untuk memperkuat pemahaman Anda. 

    1. Masjid Menara Kudus

    Bagi Anda yang tinggal di Jawa, tentu cukup familiar dengan Masjid Menara Kudus. Masjid yang terkenal itu dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 965 H. Bentuk masjidnya cukup unik, terdapat menara yang mirip candi. Bangunan religi ini merupakan bukti akulturasi yang terjadi antara kebudayaan Islam, Jawa, dan Hindu. 

    2. Wayang

    Contoh akulturasi budaya berikutnya adalah wayang. Saat mendengar kata wayang, langsung terbayang tokoh Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Tokoh-tokoh tersebut berasal dari kebudayaan Jawa. Lalu terjadi akulturasi dengan kebudayaan India yang mempunyai cerita Ramayana dan Mahabharata. 

    3. Candi Borobudur

    Candi Borobudur yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah itu adalah candi fenomenal. Terdapat dua budaya yang saling berakulturasi yaitu agama Buddha dengan kebudayaan masyarakat Magelang.

    Umat Buddha menggunakannya untuk ibadah sedangkan relief di dinding candi mengilustrasikan kehidupan masyarakat Magelang. 

    Baca Juga : Apa itu Cultural Lag? Pengertian, Dampak dan Contohnya

    Sudah Paham Mengenai Akulturasi Budaya?

    Jadi, Anda sudah mempelajari terkait pengertian, tujuan, faktor pendorong dan penghambat, serta contoh akulturasi budaya. Setelah memahami semua materi itu, perlu Anda ketahui bahwa akulturasi membawa dampak positif maupun negatif. Dampak positifnya misalnya seperti kemajuan teknologi dan pola pikir. 

    Namun, ada pula dampak negatifnya seperti melupakan budaya asli. Maka dari itu, Anda harus memiliki sikap yang tegas dalam menghadapi kebudayaan yang masuk. Pastikan bahwa Anda tetap melestarikan budaya lokal yang ada dan tidak terlalu bergantung dengan kebudayaan asing.

  • 5 Faktor Penyebab Kekerasan serta Dampaknya

    5 Faktor Penyebab Kekerasan serta Dampaknya

    Manusia umumnya memiliki sisi baik dan jahat. Ketika sedang jahat, tidak menutup kemungkinan manusia melakukan tindakan kriminal seperti kekerasan. Penyebab kekerasan sendiri bisa bermacam-macam. Salah satu faktor utamanya karena adanya sumber konflik atau perbedaan kepentingan antara dua pihak atau lebih. 

    Pihak-pihak yang saling terlibat konflik bisa memicu terjadinya kekerasan, baik verbal maupun non verbal. Apalagi, dengan banyaknya permasalahan yang ada dalam masyarakat, tindakan tersebut terus bermunculan. Pihak yang mengalami kerugian besar adalah korban karena menderita dampak fisik maupun psikologis. 

    Apa Itu Penyebab Kekerasan?

    Kekerasan adalah tindakan yang melanggar norma oleh seseorang atau sekelompok orang yang berbuat jahat dengan tujuan menyebabkan cedera, menindas, merusak harta benda, hingga menghilangkan nyawa. 

    Perbuatan yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) ini bisa dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja. Contoh dari tindakan amoral tersebut bisa Anda amati dari kasus kekerasan yang tayang di berita televisi maupun curhatan yang berseliweran di sosial media. 

    Misalnya seperti kasus KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), perundungan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Pemicu penyebab kekerasan berasal dari konflik yang sedang terjadi di tengah masyarakat. 

    Perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat memang membuat kebudayaan kita beragam. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan itu juga yang sering jadi konflik sosial, di mana masing-masing pihak saling bertentangan. 

    Selain itu, perlu Anda ketahui bahwa kekerasan tidak selalu berupa penyerangan fisik. Seringkali bentuk kejahatan ini tercermin dalam bentuk penyerangan psikis yang merugikan korban. Oleh sebab itu, tindakan amoral ini melanggar norma dan nilai-nilai yang mencerminkan HAM. 

    Jenis-Jenis Tindak Kekerasan

    Ilustrasi perundungan oleh sekelompok orang
    Ilustrasi perundungan oleh sekelompok orang | Sumber gambar: Freepik 

    Kekerasan terbagi menjadi beberapa kategori yaitu berdasarkan bentuknya dan pelakunya. Masing-masing kategori memiliki sub pembahasan yang akan Anda simak pada poin berikut ini. 

    1. Berdasarkan Bentuknya

    Dari segi bentuk, kekerasan terbagi menjadi fisik, psikologis, dan struktural. Berikut adalah penjelasan masing-masing bentuknya:

    • Kekerasan fisik

    Pada kekerasan fisik, tindakan kejahatan bisa tampak oleh mata dengan bukti luka atau memar di tubuh. Umumnya, kejahatan fisik bertujuan menurunkan kesehatan tubuh seseorang, melukai, hingga menghilangkan nyawa. 

    Contoh dari kekerasan fisik antara lain pemukulan, penganiayaan, dan lain sebagainya yang membuat pelaku kejahatan melakukan kontak fisik dengan korban. 

    • Kekerasan psikologis

    Jika kejahatan fisik menuntut pelaku harus membuat kontak sentuhan langsung dengan korban, maka pada jenis kejahatan psikologis pelaku bisa menyerang tanpa harus menyentuh fisik secara langsung seperti tindakan mengancam, menekan, fitnah, penghinaan, dan lainnya. 

    Tujuan dari kejahatan psikologis adalah membuat korban merasa ketakutan hingga mendapatkan trauma. Pelaku kejahatan ini mengincar mental atau jiwa seseorang untuk dilukai. 

    • Kekerasan struktural

    Berikutnya, kekerasan struktural melibatkan individu atau kelompok yang merasakan ketimpangan pada sumber daya, pendidikan, atau pendapatan sebagai akibat dari sistem tertentu. Contoh dari kejahatan struktural ini adalah pencemaran limbah pabrik yang merugikan masyarakat sekitarnya. 

    2. Penyebab Kekerasan Berdasarkan Pelakunya

    Dari segi pelaku, kekerasan dibedakan menjadi individual dan kolektif. Berikut adalah penjelasan lebih lengkapnya:

    • Kekerasan individu

    Sesuai dengan namanya, tindak kejahatan ini dilakukan oleh seorang individu terhadap individu lainnya. Misalnya seperti penganiayaan, pemukulan, pencurian, dan lain-lain. 

    • Kekerasan kolektif

    Pada jenis kolektif, pelaku berjumlah lebih dari satu orang dan biasanya berupa sekelompok orang atau massa. Misalnya seperti tawuran antar pelajar. 

    Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan

    Seperti yang sudah Anda ketahui, penyebab dari kekerasan utamanya karena ada konflik yang melatarbelakangi terjadinya hal tersebut. Tanpa ada konflik tidak mungkin kekerasan bisa terjadi. Selain itu, masih ada faktor lain yang mendukung terjadinya tindakan amoral ini. Apa sajakah itu? Simak pembahasannya berikut ini. 

    1. Penyebab Kekerasan karena Faktor Individual

    Faktor individual berarti berasal dari kepribadian individu itu sendiri. Sikap agresif, marah, dendam, kurangnya rasa empati, stres, dan lain semacamnya dapat memicu seseorang berbuat kejahatan kepada orang lain.

    Ketika seseorang merasa kurang bisa mengontrol emosinya dengan baik, tidak menutup kemungkinan pelampiasannya adalah dengan menyakiti orang lain. Perasaan yang menguasai pikirannya itulah menyebabkan manusia tidak bisa berpikir jernih sehingga akhirnya melakukan tindak kejahatan. 

    2. Faktor Kelompok

    Seperti yang sudah Anda pelajari sebelumnya, bukan hanya individu saja yang bisa menjadi pelaku kekerasan, melainkan juga sekelompok orang secara kolektif. Biasanya faktor pemicunya ketika identitas kelompok berbenturan dengan identitas kelompok yang berbeda sehingga mengakibatkan kekerasan. 

    Contoh dari kasus ini adalah perkelahian antara pendukung klub bola yang memihak tim berbeda di stadion. 

    3. Penyebab Kekerasan karena Tingkat Ekonomi

    Perbedaan tingkat ekonomi juga bisa menjadi penyebab tindakan amoral satu ini.  Hal itu bisa terjadi lantaran kemiskinan membuat orang-orang sulit mendapatkan akses memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bagi penduduk miskin yang pengangguran, mungkin berbuat tindak kekerasan untuk menyambung hidup. 

    Misalnya adalah menjambret, merampok, dan lain sebagainya. Alasan dari tindakan perampokan itu sebagian karena minimnya harta benda yang dimiliki sehingga tidak mempunyai pilihan lain selain mencuri. 

    4. Strata Sosial

    Strata atau tingkatan sosial mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak. Umumnya, pihak yang berasal dari strata sosial tinggi memiliki ego yang tinggi dan cenderung meremehkan pihak di bawahnya. Fenomena tersebut bisa memunculkan berbagai aksi kekerasan seperti perundungan. 

    Misalnya, anak yang memiliki kekayaan dan kekuasaan lebih tinggi cenderung menindas anak lemah yang berasal dari strata sosial rendah. Tindakan perundungan atau penindasan tersebut tergolong kekerasan.  

    5. Sosial Budaya

    Kemudian, penyebab kekerasan yang terakhir adalah faktor sosial budaya. Faktor ini menekankan bahwa tindakan kekerasan sudah menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi sehingga jarang orang-orang mau melaporkannya. 

    Contohnya seperti ospek di sekolah atau perguruan tinggi yang berlebihan sampai pingsan, terluka, dan lainnya. 

    Baca Juga : Apa itu Prasangka? Ini Indikator, Dampak, dan Contohnya

    Contoh Bentuk Kekerasan

    Ilustrasi contoh bentuk kekerasan
    Ilustrasi contoh bentuk kekerasan | Sumber gambar: Freepik

    Setelah mengetahui jenis dan faktor yang melatarbelakangi tindak kekerasan, Anda perlu mengetahui bahwa kejahatan ini bisa terjadi secara fisik, verbal, non verbal, hingga melalui media daring. Berikut adalah contoh-contoh bentuk kekerasan yang cukup sering terjadi:

    1. Kekerasan Fisik

    Seperti namanya, kekerasan fisik berarti pelaku melakukan kontak fisik secara langsung ke korban dengan atau tanpa alat bantu. Misalnya seperti perkelahian, tawuran, pembunuhan, dan lain sebagainya. 

    2. Kekerasan Psikis

    Tidak hanya bisa menyerang fisik, kekerasan juga menyasar ke jiwa atau mental seseorang. Pelaku bertujuan mengancam, menakuti, dan menghina korban sehingga korban merasa terpojok. Beberapa contoh kasus kekerasan ini adalah penghinaan, pengucilan, intimidasi, pemerasan, dan lain-lain. 

    3. Perundungan

    Perundungan termasuk salah satu contoh bentuk kekerasan yang sering terjadi di lingkungan kerja, sekolah, masyarakat. Penyebab kekerasan tersebut karena pelaku minim empati, kurangnya didikan, atau penguasaan emosi yang tidak stabil. Umumnya, kasus ini terjadi karena ketimpangan relasi kuasa. 

    4. Kekerasan Seksual

    Kekerasan seksual adalah perbuatan melecehkan yang menyerang tubuh dan atau fungsi reproduksi dan akibatnya bisa membuat korban menderita fisik maupun menyerang psikisnya. Misalnya seperti pemerkosaan, penyampaian ujaran yang melecehkan, dan lain sebagainya. 

    Dampak Mengalami Kekerasan

    Ilustrasi gadis yang mengalami dampak psikis
    Ilustrasi gadis yang mengalami dampak psikis | Sumber gambar: Freepik

    Pihak korban yang menerima kekerasan dari seseorang atau sekelompok orang pastinya akan menderita, baik secara fisik maupun psikis. Itulah mengapa peran keluarga dan teman sangat penting untuk selalu memantau kondisi korban. Berikut adalah beberapa dampak mengalami kekerasan yang perlu Anda perhatikan.  

    1. Dampak Fisik

    Sudah jelas seperti apa dampak fisik yang korban terima dari tindakan kekerasan. Pelaku yang memukul, menganiaya, atau melakukan kontak fisik ke korban dengan tujuan melukai pastinya akan meninggalkan bekas. Baik itu memar, lebam, luka, patah tulang, dan kesakitan fisik lainnya. 

    Korban yang mengalami tindak kekerasan akan merasakan kondisi kesehatan tubuhnya menurun. Bahkan bisa jadi luka fisik yang diderita tidak mudah hilang. 

    2. Dampak Psikologi

    Selain dampak fisik yang bisa Anda lihat langsung dengan mata, kekerasan juga berdampak pada jiwa atau psikologi seseorang. Korban yang mengalami penyerangan pastinya merasa takut, depresi, dan trauma akan kejadian yang sudah menimpanya. 

    Selain itu, korban bisa menderita mimpi buruk, gangguan tidur, dan ketakutan untuk menjalin hubungan baru sebagai akibat dari perbuatan tidak bertanggungjawab dari pihak pelaku. 

    3. Dampak Sosial

    Berikutnya, adalah dampak sosial yang korban terima. Seperti yang sudah Anda ketahui, salah satu faktor penyebab kekerasan adalah strata sosial yang berbeda. Pihak yang lebih mendominasi akan menindas pihak yang lebih lemah sehingga korban bisa terkucilkan atau terisolasi. 

    Alasan pengucilan tersebut tidak lain karena orang lain takut dengan pihak yang dominan sehingga memutuskan untuk melakukan hal serupa supaya tidak menjadi target selanjutnya. 

    Sudah Paham dengan Penyebab Kekerasan?

    Jadi, ada 5 faktor penyebab kekerasan mulai dari faktor individu, kelompok, sosial budaya, ekonomi, dan strata sosial. Harapannya setelah mengetahui pembahasan terkait tindakan amoral ini, Anda bisa mawas diri dan menjaga dari perbuatan yang bisa melukai orang lain. 

    Selain itu, ada beberapa upaya untuk mencegah tindak kekerasan agar tidak merajalela di masyarakat. Misalnya melakukan kampanye, menyelesaikan masalah dengan bijak, dan menegakkan hukum secara adil. Anda perlu melakukan tindakan preventif untuk mengurangi kejahatan yang hanya merugikan orang lain.

  • 7 Pakaian Adat Jawa Barat yang Terkenal Anggun: Nama, Makna dan penjelasan

    7 Pakaian Adat Jawa Barat yang Terkenal Anggun: Nama, Makna dan penjelasan

    Pakaian adat Jawa Barat memiliki ciri khas pada gayanya. Tetapi, tidak cuma itu saja keunikannya! Pasalnya, baik pakaian untuk laki-laki ataupun perempuan, golongan atas maupun rakyat biasa, busana khas Jawa Barat memiliki ciri khas, fungsi, serta makna filosofinya masing-masing. 

    Ayo, mengenal lebih banyak tentang busana-busana khas Jawa Barat melalui pembahasan kali ini!

    Kenali 7 Pakaian Adat Jawa Barat

    Suku Sunda memiliki pengaruh besar dalam perkembangan budaya di Jawa Barat sehingga wajar saja jika busana tradisional khas Jawa Barat juga mendapatkan banyak pengaruh dari kebudayaan suku tersebut. Ini dia tujuh ragam pakaian tradisional khas dari tanah Sunda!

    1. Kebaya Sunda

    Busana Kebaya Sunda | pinterest.com

    Kebaya merupakan busana adat untuk kaum wanita yang memiliki arti keanggunan dan keteguhan. Tidak hanya Jawa Tengah dan Jawa Timur saja yang memiliki kebaya, Jawa Barat juga memiliki kebaya khas daerah mereka. Kebaya khas Sunda tidak hanya memiliki nilai keindahan yang tinggi, tetapi juga nilai budaya dan historis. 

    Menurut catatan sejarah, kebaya berasal dari kata dalam bahasa Arab, yaitu “abaya” yang berarti pakaian jubah. Busana kebaya Indonesia biasanya terbuat dari kain yang ringan dan transparan, seperti katun dan sutra. 

    Kebaya Sunda memiliki ciri khas yang membedakannya dengan kebaya lainnya, seperti dalam rincian di bawah ini. 

    1. Memiliki dua jenis neckline atau garis leher, yaitu bentuk U-neck dan V-neck
    2. Mempunyai dua jenis bentuk samleh atau kerah, yaitu samleh kecil dan samleh lebar.
    3. Terdapat 3 jenis bentuk pergelangan lengan, yaitu bentuk pergelangan yang lurus dan sedikit melebar, bentuk yang melebar, dan bentuk yang mengecil.
    4. Warna kebaya Sunda kebanyakan berwarna cerah, seperti putih, marun, merah muda, hingga ungu.

    Kebaya Sunda mencerminkan nilai-nilai filosofis untuk perempuan Sunda. Sebagai contoh, pakaian adat Jawa Barat ini mencerminkan kesederhanaan yang menggambarkan bahwa perempuan Sunda itu sederhana tapi tetap anggun. 

    Selain itu, dalam pakaian tersebut juga tersimpan nilai kerukunan dan kebahagiaan dalam menjalin hubungan antar warga.

    2. Pangsi

    Pangsi | detik.com

    Pangsi merupakan salah satu busana khas suku Sunda untuk laki-laki. Selain Sunda, suku Betawi juga memiliki pakaian pangsi dengan berbagai corak warna, seperti hitam, putih, hijau, dan merah. Meskipun begitu, pangsi khas Sunda memiliki satu ragam warna saja, yaitu hitam.

    Busana pangsi merupakan singkatan dari frasa “pangeusi numpang ka sisi”. Arti dari ungkapan tersebut adalah busana penutup badan yang cara pakainya dililitkan secara menumpang seperti sarung.

    Baju pangsi punya dua bagian, yaitu salontreng dan pangsi. Salontreng merupakan bagian atas, atau atasannya. Sedangkan, bagian bawah atau celana juga disebut dengan pangsi. Meskipun begitu, penyebutan pangsi umumnya merujuk pada keseluruhan busana.

    Busana pangsi ini memiliki 3 makna filosofis yang dapat kamu pahami melalui penjelasan singkat berikut ini. 

    • Tangtung (Tangtungan Ki Sunda Nyuwu Kana Suja): yang berarti memiliki pendirian dan keteguhan yang kuat.
    • Nangtung (Nangtung, Jejeg, Ajeg dina Galur. Teu Unggut Kalinduan, Teu Gedag Kaanginan): makna ini berarti untuk memiliki keteguhan dan pendirian dalam keyakinan, serta semangat juang yang tinggi.
    • Samping (Depe Depe Handap Asor): makna ini memiliki arti untuk selalu rendah hati dan tidak sombong. 

    3. Bedahan

    Bedahan | bukalapak.com

    Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, masyarakat Sunda terbagi atas tiga kelas, yaitu bangsawan, menengah, dan rakyat jelata. Baju bedahan merupakan busana yang menunjukkan status sosial untuk kaum kelas menengah, yang terdiri atas profesi saudagar, pamong praja, dan pegawai negeri.

    Pakaian adat Jawa Barat ini dikenakan oleh kaum kelas menengah dalam acara-acara resmi. Pakaian bedahan untuk laki-laki terdiri dari  jas putih dengan bawahan kain kebat yang disarungkan di pinggang. Selain itu, mereka juga mengenakan penutup kepala yang bernama bengker agar tampak rapi. 

    Kaum kelas menengah tidak mengenakan arloji emas pada pergelangan tangan sebagai aksesoris, melainkan memasukan arloji emas pada saku atas di sebelah kiri. Menurut peraturan Hindia Belanda, hanya laki-laki dewasa saja yang boleh menggunakan arloji emas. 

    Di sisi lain, perempuan kelas menengah mengenakan kebaya yang terbuat dari kain dengan kualitas yang lebih baik dari kebaya untuk rakyat biasa. Mereka juga menggunakan kain kebat sebagai rok panjang. Tidak ketinggalan, mereka juga memakai aksesoris untuk menunjang penampilan,  seperti kalung, cincin, dan bros.

    Sekarang ini, strata sosial di Jawa Barat sudah tidak ada lagi. Jadi, setiap orang dari kelas sosial manapun bisa mengenakan baju bedahan. 

    4. Menak

    Menak | detik.com

    Sama seperti bedahan, Menak juga merupakan busana yang menunjukkan status sosial seseorang. Bedanya, pakaian adat Jawa Barat ini hanya dipakai oelh golongan bangsawan dan kelas elit. Kata “menak” dalam bahasa Sunda memiliki arti terhormat. Oleh karena itu, busana menak memiliki desain yang elit dan mewah.

    Busana menak untuk laki-laki bangsawan Sunda terdiri atas setelan atasan dan celana sebagai bawahan. Atasan baju menak laki-laku tersebut berupa jas beludru berwarna hitam. Jas ini memiliki motif yang terbuat dari sulaman benang emas Biasanya, motif tersebut ada pada bagian ujung lengan, kerah, dan sekitar kancing. 

    Sementara itu, celanan menak laki-laki tersebut dari bahan, warna, dan motif yang selaras dengan atasannya. Umumnya, pria bangsawan Sunda melilitkan kain kebat dengan motif batik pada pinggang mereka. Selain itu, mereka juga mengenakan ikat pinggang berwarna emas. 

    Baju menak pria juga dilengkapi dengan penutup kepala atau bendo serta alas kaki. Tidak ketinggalan, arloji emas mereka masukkan pada saku atas sebagai aksesoris pelengkap.

    Menak untuk kaum wanita berupa kebaya yang terbuat dari kain beludru hitam dengan sulaman emas, sama seperti pakaian bangsawan pria. Tetapi, busana menak wanita Sunda memiliki tambahan manik-manik emas yang menambah kesan elegan. 

    Perempuan bangsawan Sunda juga menggunakan kain kebat yang bermotif batik yang diikatkan pada pinggang dan selop dengan bahan beludru sebagai alas kaki. Aksesoris pelengkap untuk wanita bangsawan Sunda berupa kalung, anting, cincin, dan bros berwarna emas.

    5. Beskap

    Busana Beskap | inews.id

    Beskap merupakan pakaian adat Jawa Barat yang banyak dikenakan untuk acara formal, misalnya acara pernikahan dan acara adat. Busana ini memiliki ciri khas pada kerahnya yang tinggi dan tebal tanpa adanya lipatan. Umumnya, pakaian ini berwarna hitam polos.

    Sementara itu, bagian belakang beskap ukurannya lebih pendek daripada bagian depan. Aksesoris pada busana ini biasanya berupa keris dan topi. Penambahan jarik yang bercorak kebudayaan Jawa Barat juga menambah ciri khas dari beskap Sunda.

    6. Mojang Jajaka

    Busana Mojang Jajaka | pinterest.com

    Mojang Jajaka merupakan busana untuk pemuda-pemudi Sunda yang belum menikah. Dalam bahasa Sunda, kata “mojang” memiliki arti gadis sedangkan, “jajaka” memiliki arti perjaka. Pemuda-pemudi Sunda umumnya mengenakan pakaian adat Jawa Barat ini pada acara-acara resmi.  

    Pakaian jajaka atau laki-laki terdiri atas beskap atau jas tertutup ini. Beskap memiliki kerah tinggi sekitar 3-4 cm tanpa lipatan. Biasanya, jas jajaka punya pilihan warna yang variatif, misalnya hitam, biru atau putih, tetapi tidak memiliki corak atau motif, dan cenderung polos. 

    Sedangkan, untuk bawahannya, celana laki-laki memiliki warna dan bahan yang senada dengan atasannya. Kain jarik bermotif batik menjadi pelengkapn yang diikatkan pada bagian pinggang. Ketika memakai pakaian ini, para pria biasanya mengenakan penutup kepala atau bendo, serta bersepatu pantofel. 

    Sementara itu, perempuan mengenakan kebaya dengan warna polos sebagai setelan atasan. Walaupun demikian, ada juga yang mengenakan kebaya dengan motif yang tidak terlalu dominan. 

    Untuk bawahannya, perempuan mengenakan lilitan kain kebat bermotif batik yang terikat kuat pada pinggang mereka. perempuan sunda memakai selop berwarna sama seperti atasannya. Busana mojang juga dilengkapi aksesoris seperti cincin, gelang, bros, dan sanggul. 

    Pemilihan warna untuk mojang dan jajaka biasanya selaras. 

    7. Pakaian Pengantin Sunda

    Busana pengantin Sunda | pinterest.com

    Pakaian adat Jawa Barat yang terakhir adalah pakaian pengantin khas Sunda. Meskipun desain baju pengantin Sunda banyak mengalami perubahan dan menjadi lebih modern, tetapi ada juga yang masih mempertahankan nilai adat Sunda. 

    Pengantin pria umumnya memakai setelan jas buka prangwedana. Bawahan baju pengantin pria adalah kain batik yang dililitkan pada pinggang dengan panjang hingga mata kaki. Pengantin pria juga menggunakan penutup kepala atau bendo serta membawa keris sebagai aksesoris.

    Di sisi lain, pengantin wanita Sunda memiliki desain busana yang lebih kompleks. Atasan busana pengantin wanita berupa kebaya yang berbahan brokat. Warna busana diserasikan dengan busana pengantin pria. Sedangkan, untuk bawahannya menggunakan lilitan kain bermotif batik yang panjangnya dari pinggul hingga kaki.

    Ada tiga macam baju pengantin khas Sunda yang dirincikan di bawah ini. 

    a. Sunda Putri

    Pengantin wanita mengenakan siger atau hiasan kepala seperti mahkota. Kain atasan busananya terbuat dari brokat. Sedangkan, kain bawahan baju pengantin wanita bercorak batik lereng eneng, lereng garutan, dan sidomukti. 

    b. Sunda Siger

    Busana Sunda Siger memiliki desain yang lebih sederhana. Baju kebaya terbuat dari kain brokat. Sementara itu, hiasan kepala pada pengantin perempuan hanya berupa sanggul puspasari.

    c. Sukapura

    Kebaya busana pengantin Sukapura berbahan lame dengan panjang sampai ke pinggul. Sementara itu, bawahannya berupa kain lereng atau sidomukti. Pengantin perempuan akan menggunakan sanggul Ciwidey, tapi mereka dapat mengenakan siger Srikandi dan Sembadra.

    Sudah Kenal dengan Pakaian Adat Jawa Barat? 

    Jawa Barat memiliki banyak keragaman busana adat. Walau begitu, pakaian adat Jawa Barat juga memberikan nilai budaya dan makna filosofis pada pemakainya. Mulai dari bahan, corak, hingga warna bisa memiliki artinya tersendiri yang kadang menyimbolkan jati diri pemakainya. 

  • Pengertian Kearifan Lokal: Fungsi, Ciri, Jenis dan Contoh

    Pengertian Kearifan Lokal: Fungsi, Ciri, Jenis dan Contoh

    Kearifan lokal atau local wisdom merupakan hal sangat penting di dalam menjaga identitas sebuah budaya di masyarakat. Apalagi sekarang laju modernisasi serta globalisasi sudah kian meningkat dan seolah tak ada hentinya.

    Adanya local wisdom tersebut bukan sekadar berperan sbeagai warisan masa lalu. Namun juga pandangan hidup di dalam merangkul kebijaksanaan serta norma-norma yang telah mengakar di dalam aktivitas sehari-hari.

    Pengertian Kearifan Lokal

    Masyarakat sedang melakukan tradisi budaya lokal
    Masyarakat sedang melakukan tradisi budaya lokal | Sumber: detik.com

    Local wisdom adalah sebuah tata nilai maupun perilaku hidup masyarakat lokal yang arif di dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sebuah local wisdom tak hanya berhenti di etika saja melainkan pada tindakan, norma, maupun tingkah laku masyarakat.

    Oleh karena itu, sebuah kearifan lokal tersebut mampu menjadi pedoman bagi masyarakat di dalam memberikan sikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Ada juga yang menjelaskan jika local wisdom merupakan pengetahuan dan kebijaksanaan asli masyarakat yang asalnya dari nilai luhur maupun tradisi.

    Tujuannya untuk pedoman di dalam mengatur kehidupan masyarakat. Selain itu, local wisdom juga merupakan nilai budaya lokal dan bisa dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan bermasyarakat secara bijaksana.

    Local wisdom menjadi kepribadian atau identitas budaya bangsa. Ini menjadikan bangsa tersebut dapat menyerap serta mengolah kebudayaan dari luar maupun bangsa lain. Lalu kebudayaan tersebut akan dijadikan sebagai watak serta kemampuannya sendiri.

    Baca Juga : Pengertian Adat Istiadat Menurut Para Ahli: Macam dan Contohnya

    Fungsi Kearifan Lokal

    Anak-anak melestarikan kearifan budaya lokal
    Anak-anak melestarikan kearifan budaya lokal | Sumber gambar: Wikimedia.com

    Local wisdom mempunyai beberapa fungsi. Adapun fungsinya adalah seperti berikut:

    • Membantu konservasi serta pelaksanaan SDA (Sumber Daya Alam) dan mengembangkan SDM (Sumber Daya Manusia)
    • Sebagai amanah, petuah, kepercayaan, pantangan, dan sastra
    • Pengembangan ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Contohnya pada tradisi keagamaan maupun upacara adat sebuah daerah
    • Dalam wujud etika serta moral seperti penyucian roh leluhur dan upacara ngaben
    • Bermakna politik seperti kekuasaan patron klien serta upacara nangluk merana

    Ciri Kearifan Lokal

    Ilustrasi kearifan lokal Indonesia
    Ilustrasi kearifan lokal Indonesia | Sumber: tirto.id

    Setelah mengetahui fungsinya, informasi berikutnya adalah tentang beberapa ciri khas dari local wisdom. Berikut informasinya.

    1. Bertahan Terhadap Gempuran Budaya Asing

    Setiap daerah maupun negara mempunyai adat atau kebudayaan masing-masing. Berbeda dari negara kita yang tetap bisa mempertahankan budaya serta nilai-nilai adat, umumnya orang-orang negara lain sudah melupakan adat serta istiadat dari nenek moyangnya.

    Mereka cenderung lebih suka akan kehidupan yang bebas dan modern tanpa perlu terikat oleh aturan atau petuah-petuah. Terlebih lagi adat lama yang memang telah dianggap sudah ketinggalan zaman alias old-fashioned.

    Meskipun begitu, bukan berarti budaya asing tak masuk ke Indonesia. Namun masyarakat Indonesia masih bisa mempertahankan apa yang menjadi local wisdom di masing-masing daerahnya. Apalagi nilai-nilai yang telah mencapai puluhan maupun ratusan tahun.

    Nilai-nilai tersebut masih dipegang teguh hingga sekarang. Inilah yang menjadikan budaya asing cenderung sulit untuk masuk serta mempengaruhi masyarakat.

    2. Mampu Mengakomodasi Budaya Luar

    Menghindari budaya luar memang bukan sesuatu yang mudah. Terlebih pada era globalisasi di mana berbagai hal akan terhubung secara mudah dan cepat. Tren atau budaya luar umumnya mudah menyebar melalui media elektronik maupun media sosial.

    Hadirnya teknologi tersebut memungkinkan budaya asing berpotensi lebih mudah masuk serta mempengaruhi masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kearifan lokal punya fleksibilitas tinggi. Ini membuatnya mampu mengakomodasi budaya luar tanpa perlu merusak kepercayaan masyarakat akan local wisdom yang telah ada sebelumnya.

    Meskipun ada budaya luar masuk, budaya tersebut hanya sekadar menjadi tren. Budaya asing tak akan menggantikan budaya yang merupakan warisan dari nenek moyang.

    3. Mengintegrasikan Budaya Asing dan Budaya Asli

    Ciri yang ketiga yaitu local wisdom mampu bukan sekadar mengakomodasi melainkan mengintegrasikan budaya asing lalu memadukannya dengan budaya lokal yang telah ada. Misalnya video Wonderful Indonesia yang isinya adalah perpaduan dari berbagai kebudayaan tradisional.

    Lalu pada video yang viral tersebut juga ada perpaduan dengan beberapa hal yang bernuansa asing serta modern. Lalu bagaimana hasilnya? Sudah jelas video tersebut sangat indah serta banyak orang yang menyukainya, baik masyarakat lokal maupun luar negeri.

    Contoh lainnya yaitu pembangunan gedung di Indonesia. Arsiteknya tak jarang akan memadukan antara budaya lokal dengan referensi beberapa bangunan tradisional Indonesia. Lalu memadukannya dengan desain arsitektur modern.

    Masjid Raya di Sumatera Barat yang berada di pusat kota Padang mempunyai bangunan dengan arsitektur khas Minangkabau. Lalu untuk atap masjid malah terlihat seperti rumah Gadang yang merupakan rumah tradisional Provinsi Sumatera Barat. Perpaduan tersebut membuat masjid terlihat lebih modern.

    4. Mengendalikan Budaya Asing

    Budaya asing memang tidak seharusnya langsung mendapat penolakan begitu saja, asalkan mengandung nilai-nilai positif. Di sisi lain, local wisdom sudah menjadi adat dan budaya khas masyarakat serta mengakar sangat kuat sehingga sulit menghilangkannya.

    Alih-alih hilang serta digantikan budaya asing, masyarakat begitu percaya terhadap kearifan lokal. Ini membuat masyarakat tersebut dapat mengendalikan budaya luar yang masuk.

    Selain itu, masyarakat juga mampu menyaring budaya luar dengan mudah. Tinggal menentukan mana budaya luar yang mampu diterima masyarakat dan mengandung nilai positif. Kemudian pinggirkan budaya luar yang membawa nilai-nilai negatif.

    Jenis Kearifan Lokal

    Prosesi Upacara Adat
    Prosesi Upacara Adat | Sumber: katadata.co.id

    Local wisdom terbagi ke dalam 2 jenis, yakni yang wujudnya nyata dan tidak berwujud. Kedua jenis local wisdom tersebut perlu Anda ketahui. Adapun kedua jenis tersebut antara lain:

    1. Local Wisdom yang Wujudnya Nyata atau Tangible

    Adapun yang tergolong local wisdom berwujud nyata yaitu:

    • Tekstual: tata cara, sistem nilai, ketentuan khusus yang ditulis seperti pada catatan tradisional. Contohnya kalender, primbon, prasasti, maupun budaya tulis pada atas daun lontar
    • Benda cagar budaya maupun tradisional: batik dan keris
    • Bangunan/arsitektur: candi serta beragam bangunan rumah tradisional

    2. Local Wisdom Tak Berwujud atau Intangible

    Jenis yang kedua yaitu local wisdom yang tak berwujud alias abstrak. Contohnya adalah petuah yang disampaikan lewat lisan maupun diwariskan turun-temurun. Selain itu, kearifan lokal yang tak berwujud juga bisa berupa kidung atau nyanyian dengan kandungan nilai ajaran tradisional.

    Lewat intangible local wisdom tersebut, nilai-nilai sosial bisa diwariskan secara lisan pada generasi dan terus ke generasi berikutnya. Contohnya yaitu budaya berpamitan serta mencium tangan kedua orang tua sebelum berangkat kerja/sekolah.

    Memang tak berwujud fisik, namun tindakan tersebut mempunyai makna mendalam di dalam budaya lokal. Budaya ini merepresentasikan rasa hormat serta penghargaan pada orang tua dan sudah menjadi sebuah tradisi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

    Contoh Kearifan Lokal

    Awig-awig
    Awig-awig | Sumber gambar: goodnewsfromindonesia.id

    Selain jenisnya, terdapat contoh-contoh dari local wisdom. Adapun beberapa contoh dari local wisdom antara lain:

    1. Te Aro Neweak Lako di Papua

    Masyarakat yang berasal dari Papua cenderung mempunyai kepercayaan bernama te aro neweak lako atau alam adalah aku. Mereka menganggap bahwa tanah merupakan bagian dari hidup manusia. Maka dari itu, dalam memanfaatkannya harus sangat berhati-hati.

    2. Tana’ Ulen Suku Dayak

    Selanjutnya ada masyarakat suku Dayak Kenyah yang berada di Kalimantan Timur. Mereka mempunyai tradisi bernama tana’  ulen. Kawasan hutan dikuasai serta menjadi milik dari masyarakat adat.

    3. Pikukuh Suku Baduy

    Masyarakat Baduy juga mempunyai kearifan lokal mengenai mitigasi bencana di dalam bentuk pikukuh atau ketentuan adat pokok. Local wisdom tersebut mengajarkan:

    • Gunung teu meunang dilebur
    • Lebak teu meunang dirusak atau tak boleh menghancurkan/merusak gunung
    • Tak boleh merusak sumber air

    4. Celako Kumali di Bengkulu

    Masyarakat yang tinggal di Serawai, Bengkulu mempunyai keyakinan yaitu celako kumali. Artinya, lingkungan yang lestari mampu terwujud melalui kuatnya keyakinan akan nilai-nilai di dalam berladang serta tradisi tanam.

    5. Awig-awig (Bali serta Lombok)

    Masyarakat di Bali maupun Lombok juga mempunyai local wisdom-nya sendiri. Awig-awig merupakan patokan atau pedoman tingkah laku yang dibuat oleh masyarakat di daerah tersebut. Tingkah laku ini harus mengedepankan rasa keadilan maupun kepatuhan terhadap masyarakat setempat.

    Baca Juga : Pengertian Kearifan Lokal: Fungsi, Ciri, Jenis dan Contoh

    Sudah Paham tentang Kearifan Lokal?

    Sudah seharusnya para generasi muda menjaga serta melestarikan local wisdom sesuai daerahnya. Masuk dan tersebarnya budaya asing bukan menjadi alasan untuk mengabaikan atau bahkan menghilangkan apa yang sudah menjadi kebiasaan maupun tradisi di masyarakat asalkan bernilai positif.

    Justru tradisi maupun kebiasaan tersebut akan menjadi identitas diri masyarakat atau daerah. Oleh karena itu menjaga kearifan lokal sangat penting untuk Anda lakukan. Selain itu, dengan melestarikan kearifan lokal tersebut, generasi selanjutnya tidak akan kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya.

  • Apa itu Cultural Lag? Pengertian, Dampak dan Contohnya

    Apa itu Cultural Lag? Pengertian, Dampak dan Contohnya

    Pernah mendengar istilah cultural lag? Terkadang sebagian di antara dari kita tidak sadar bahwa fenomena itu telah terjadi. Apalagi dengan adanya pengaruh globalisasi yang menyebabkan perubahan sosial budaya antar daerah yang berbeda. 

    Perubahan itulah yang menyebabkan adanya disintegrasi atau ketidakselarasan sosial sehingga dapat mempengaruhi perilaku dalam masyarakat. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan dibawah ini ya!

    Apa itu Cultural Lag?

    Merasa kikuk dengan kemajuan teknologi saat ini? Hati-hati bisa jadi kamu tengah mengalami yang namanya culture lag atau dalam bahasa Indonesia adalah ketertinggalan budaya. Cultural lag merupakan fenomena ketertinggalan zaman yang sering menimpa masyarakat, terutama ketika tidak bisa menyesuaikan keadaan.

    Umumnya, fenomena ini bisa terjadi karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap perubahan yang terjadi disekitar mereka. Sebagian masyarakat yang acuh dengan perkembangan terkini justru memilih untuk menutup diri dari dunia luar, namun ada pula yang mencoba beradaptasi dengan adanya perubahan tersebut.

    Menurut sosiolog, William Fielding Ogburn, cultural lag bermakna sebagai situasi di mana masyarakat berada dalam kondisi statis yang menyebabkan mereka tertinggal sehingga menimbulkan kesenjangan pada sejumlah unsur yang berubah cepat maupun lambat. 

    Ogburn pun menyimpulkan bahwa culture lag dapat terjadi karena perkembangan teknologi yang terus mendorong budaya untuk mengalami perubahan. 

    Faktor Penyebab Ketertinggalan Budaya

    Selain itu, terdapat juga faktor yang menyebabkan terjadinya cultural lag, antara lain yaitu:

    1. Kurangnya Minat Terhadap Perkembangan Sosial

    Sebagian masyarakat mungkin tidak memperhatikan atau bahkan tidak peduli dengan trend tertentu yang perlu disesuaikan dengan perkembangan sosial. Tak ayal, mereka tidak memperoleh informasi yang cukup tentang perubahan tersebut sehingga sulit untuk beradaptasi dengan budaya yang baru.

    2. Hambatan Terhadap Perkembangan Secara Umum 

    Sejumlah faktor seperti salah satunya yakni kemiskinan menjadi hambatan dalam melakukan pembangunan dan perubahan sosial. 

    Jika masyarakat mengalami keterbatasan dalam akses terhadap pendidikan, teknologi, atau infrastruktur yang mereka butuhkan untuk adaptasi dengan perubahan budaya, maka cultural lag bisa saja terjadi.

    3. Heterogenitas Masyarakat dalam Suatu Daerah

    Suatu daerah apabila masyarakatnya sangat kental akan suatu tradisi, maka mereka lebih enggan atau sulit untuk berubah dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dari luar daerah mereka. 

    Sebaliknya, jika suatu daerah yang masyarakatnya beragam justru lebih menerima atau beradaptasi dengan perubahan budaya dan sosial. Tetapi, heterogenitas tersebut tidak menjamin semuanya dapat membaur. Beberapa kelompok mungkin cepat menerima perubahan dan ada juga yang lambat untuk menerima perubahan. 

    4. Kurangnya Sinergi dengan Budaya Lain

    Saat individu atau kelompok masyarakat mengisolasi diri dari budaya material yang ada pada masyarakat lain, mereka cenderung tidak terpapar dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi. 

    Tak heran, masyarakat yang mengurung diri itu mengalami ketertinggalan budaya karena mereka tidak mampu atau tidak tertarik untuk beradaptasi dengan budaya yang baru. 

    Meski begitu, budaya masyarakat dapat berubah dari waktu ke waktu, baik material maupun immaterial. Seringkali budaya material cenderung berubah lebih cepat ketimbang immaterial atau yang tidak berwujud. 

    Dampak Cultural Lag

    Ilustrasi Konflik
    Ilustrasi Konflik | Sumber gambar: Unsplash

    Perubahan yang terjadi pada tatanan kehidupan masyarakat tentu akan menimbulkan dampak yang begitu signifikan. Apalagi yang bersinggungan dengan kebudayaan setempat kerapkali memicu konflik lantaran kontradiksi dengan nilai-nilai tradisional yang dianut.

    Misalnya, masyarakat yang lebih konservatif menginginkan budaya lamanya  cenderung tetap sama dengan leluhurnya.  Sementara kelompok lain dengan visi yang lebih progresif menginginkan budaya mereka berubah seiring dengan berjalannya waktu.

    Perubahan itulah yang membuat kejutan sosial dengan pola-pola pemikiran, perbuatan, hingga menciptakan kebiasaan yang baru sehingga terjadilah fenomena ketertinggalan budaya. 

    Contoh Cultural Lag

    Ada banyak sekali contoh terkait situasi culture lag yang bisa menjadi gambaran kamu untuk diketahui. Sejumlah situasi ini adalah yang paling umum terjadi dalam masyarakat, serta telah dirangkum sebagai berikut:

    1. Menggunakan Teknologi 

    Tak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku masyarakat saat ini. Sayangnya, tidak semua masyarakat bisa mendapat akses teknologi tersebut. Sejumlah daerah di Indonesia bahkan masih ada yang tertinggal untuk mendapatkan alat elektronik dan listrik. 

    Alhasil, mereka pada akhirnya belum bisa menguasai teknologi. Kalaupun berhasil dapat di daerahnya, belum tentu juga memadai sehingga mereka hanya bisa meniru dan menggunakan seperlunya saja.

    2. Internet 

    Ilustrasi kecepatan internet
    Ilustrasi Kecepatan Internet | Sumber gambar: Unsplash

    Contoh cultural lag berikutnya yakni dari dalam dunia internet. Salah satu dari kemajuan teknologi itu sendiri yaitu dengan adanya internet. Internet  berguna untuk menghubungkan antara satu orang dengan yang lainnya melalui jaringan global

    Informasi sangat cepat beredar sehingga masyarakat dapat dengan mudah memperolehnya.  Tetapi, dampak internet juga bisa berbahaya lantaran maraknya disinformasi yang menyebabkan provokasi antar kelompok atau individu akibat berita hoax

    3. Masyarakat yang Melanggar Lalu Lintas 

    Pernah melihat pengendara yang melawan arah? Perilaku tersebut merupakan contoh ketertinggalan budaya akibat tingginya kepemilikan kendaraan pribadi tanpa adanya edukasi berkendara yang menyeluruh,

    Masyarakat jadi kurang disiplin untuk mematuhi lalu lintas sehingga banyak yang mengabaikan peraturan yang berlaku dalam berkendara. Selain itu, hal ini tentu bisa  membahayakan keselamatan diri sendiri dan pengendara lain. 

    4. Penyalahgunaan Ponsel di Jalan

    Contoh cultural lag berikutnya yaitu penyalahgunaan ponsel di jalan ketika berkendara. Penggunaan ponsel yang tidak bijak selama berkendara merupakan salah satu tabiat buruk masyarakat dalam berlalu lintas.

    Sering kali kita menyaksikan pengendara yang mengemudi sambil bermain ponsel, baik itu pengendara mobil maupun motor. Padahal mereka tahu itu berbahaya, namun tetap saja nekat mengoperasikan ponselnya saat berada di jalan. 

    Perilaku buruk itu terjadi karena masyarakat cenderung belum mempunyai kesadaran, kematangan, dan kedewasaan dalam menggunakan ponsel. Meski alat itu sebenarnya berfungsi untuk membantu aktivitas manusia, justru ini berpotensi membahayakan keselamatan penggunanya dan orang lain.

    5. Layanan Bus Kota

    Ilustrasi Bus Kota
    Ilustrasi Bus Kota | Sumber gambar: Unsplash

    Layanan bus kota yang mulai marak pada sejumlah kota besar di Indonesia yang sejatinya merupakan solusi untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara. 

    Akan tetapi, kebiasaan masyarakat yang menggunakan transportasi pribadi dan menggunakan jalur bus kota tersebut justru semakin memperparah kemacetan  dan tingkat polusi yang ada. 

    Oleh sebab itu, pembaharuan transportasi publik oleh pemerintah dengan tujuan baik ini juga wajib diimbangi dengan kesadaran dalam bertransportasi dan disiplin lalu lintas yang baik oleh masyarakatnya.

    Perbedaan Cultural Lag dan Cultural Shock

    Apakah culture lag dan culture shock memiliki makna yang sama? Terdengar mirip, tapi sangat berbeda lho!

    Pertama, kita harus mengetahui definisi dari culture shock itu sendiri. Mungkin bagi kamu yang pernah singgah di suatu daerah yang asing secara budaya, pasti pernah mengalami yang namanya culture shock. Jadi, apa itu makna sebenarnya?

    Cultural shock adalah suatu keadaan yang mana seseorang atau masyarakat terguncang akibat belum siap menerima suatu hal yang baru. Sederhananya, mereka mengalami gagap budaya ketika berada di suatu daerah baru.

    Bahkan fenomena tersebut dapat menyebabkan stres, kebingungan, dan ketidaknyamanan psikologis, karena individu atau kelompok harus menyesuaikan diri dengan cara baru berinteraksi dan kebiasaan budaya setempat.

    Misal, orang Amerika dan Eropa yang pergi liburan ke Indonesia ketika berada di sana mengalami culture shock karena melihat masyarakatnya makan pakai tangan. Padahal di negara asal mereka, ketika makan wajib menggunakan sendok dan garpu.

    Sementara itu, cultural lag lebih karena seseorang atau masyarakat itu mengalami ketimpangan budaya karena lamban beradaptasi dengan perubahan sosial, teknologi, atau perkembangan lainnya.

    Jadi, dapat kita simpulkan bahwa culture shock berkaitan dengan keguncangan dan ketidaknyamanan individu atau kelompok saat beradaptasi dengan budaya baru. Sementara, culture lag berkaitan dengan ketidakseimbangan atau ketidakcocokan dalam adaptasi unsur budaya terhadap perubahan budaya yang lebih luas.

    Sudah Paham Apa itu Cultural Lag?

    Itulah penjelasan lengkap mengenai cultural lag yang perlu kamu ketahui. Sejatinya fenomena tersebut merupakan proses transisi dari masyarakat yang beradaptasi dengan budaya yang baru.

    Ketertinggalan antara alam pikiran dan perkembangan yang ada terkadang membutuhkan usaha untuk menyesuaikannya sehingga tidak seratus persen masyarakat acuh terhadap perubahan yang ada. Apalagi, khususnya perkembangan dalam bidang teknologi.

  • Rumah Adat Bengkulu: Nama, Ciri Khas dan Filosofinya

    Rumah Adat Bengkulu: Nama, Ciri Khas dan Filosofinya

    Bengkulu adalah salah satu daerah di pulau Sumatera yang memiliki beberapa karya tradisional peninggalan leluhur. Contohnya adalah baju adat, tarian, senjata tradisional, serta rumah adat. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai rumah adat Bengkulu.

    Apakah Nama dari Rumah Adat Bengkulu?

    Setiap daerah di Indonesia memiliki rumah adat yang beragam bahkan masing-masing mengandung filosofi dan maknanya tersendiri. 

    Daerah Bengkulu mempunyai rumah adat yang biasa disebut dengan Bubungan Lima. Mengapa dinamai Bubungan Lima? Hal tersebut menggambarkan rumah adat Bengkulu yang memiliki bentuk 5 limas membumbung atau atap yang menyusun. 

    Dahulu, rumah adat Bubungan Lima merupakan tempat tinggal para raja dan keluarga bangsawan. Sedangkan untuk saat ini, dalam rangka menjaga kelestariannya, rumah ini beralih fungsi yang sebelumnya merupakan tempat hunian, menjadi tempat berlangsungnya upacara adat masyarakat Bengkulu. 

    Apa saja Ciri Khas Bubungan Lima?

    Karakteristik yang paling menonjol dari rumah adat Bengkulu selain dari bentuk atap susunnya adalah sebagai berikut: 

    1. Konstruksi Bangunan

    Rumah adat Bubungan Lima memiliki konstruksi bangunan di atas panggung kayu tinggi. Hal ini bertujuan untuk menghindari banjir masuk ke dalam rumah dan memberikan sirkulasi udara yang baik.

    2. Dinding Kayu

    Dinding rumah adat Bubungan Lima biasanya terbuat dari kayu. Pada beberapa dinding tertentu, kayu diukir dengan ukiran yang mempunyai motif rumit. Motif-motif ukiran ini mencerminkan budaya dan kepercayaan dari masyarakat Bengkulu. 

    Ukiran pada Dinding
    Ukiran pada Dinding | Sumber gambar: selasar.com

    3. Atap Rumah

    Atap rumah adat Bengkulu ini mempunyai ciri khas atap yang bertumpukan dan material atap rumah ini biasanya terbuat dari ijuk pohon enau. Akan tetapi, lambat laun material atap diganti dengan seng.

    4. Tiang Penyangga

    Karena rumah adat Bubungan Lima merupakan rumah panggung, maka diperlukan tiang yang menyangganya. Tiang yang dibutuhkan untuk menopang rumah adalah sebanyak 15 tiang yang tingginya sekitar 1,8 m. 

    Pada tiang penyangga, banyak terdapat ukiran-ukiran dengan motif yang khas. Ukiran tersebut memiliki makna tersendiri menurut masyarakat setempat, antara lain:

    • Pohon ru yang menggambarkan pohon cemara yang tumbuh di lingkungan sekitar Bengkulu.
    • Pohon hayat yang dipercaya masyarakat Bengkulu sebagai pohon kehidupan manusia.
    • Bunga melati yang melambangkan keindahan.
    • Kembang empat yang melambangkan kebahagian dan keberuntungan.
    • Bunga raflesia menggambarkan bunga asli dari daerah Bengkulu.
    • Matahari yang merupakan lambang dari sumber energi kehidupan manusia.

    Motif ukiran pada rumah adat Bengkulu ini banyak diambil dari pepohonan dan bunga karena melambangkan tentang kehidupan manusia dan kelangsungan alam semesta.

    5. Anak Tangga 

    Anak tangga yang ada dalam rumah ini juga cukup unik karena selalu berjumlah ganjil sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat.

    Pembagian Ruangan Bubungan Lima

    Rumah adat Bubungan Lima memiliki pembagian 9 ruangan dan mempunyai aspek fungsional masing-masing, seperti: 

    1. Berendo (Teras)

    Ruangan ini berfungsi untuk menyambut dan menemui tamu yang berkunjung dalam waktu singkat atau tamu yang tidak terlalu akrab. Selain itu, ruangan ini juga biasa digunakan sebagai tempat bermain anak-anak.

    2. Hall (Ruang Tamu)

    Hall atau ruang tamu pada rumah ini digunakan untuk menyambut kerabat dekat yang berkunjung atau tamu istimewa lainnya. Ruangan ini juga biasa digunakan untuk acara adat seperti pernikahan pada saat prosesi meminang atau acara selamatan. 

    3. Bilik Gedang (Kamar Utama)

    Pada rumah adat Bengkulu, kamar utama disebut dengan bilik gendang. Anak-anak yang masih kecil, biasanya akan tidur sekamar bersama orang tua mereka di ruangan ini.

    4. Bilik Gadis (Kamar Anak Gadis)

    Ruangan selanjutnya pada rumah ini yaitu bilik gadis atau kamar yang khusus untuk anak gadis yang beranjak dewasa agar dapat beristirahat dengan tenang dan aman. Bilik gadis terletak di sebelah bilik gedang yang bertujuan agar orang tua dapat mengawasi anak gadisnya dengan mudah.

    5. Ruang Tengah

    Ruang tengah pada rumah ini biasa digunakan untuk kumpul keluarga atau beristirahat tamu jauh. Kadang juga untuk tidur laki-laki bujang yang ada di dalam rumah.

    6. Ruang Makan

    Ruangan selanjutnya dalam rumah ini yaitu ruang makan yang digunakan untuk makan dan bercengkrama bersama keluarga.

    7. Dapur

    Seperti dapur pada umumnya, dapur pada rumah adat Bubungan Lima juga berfungsi sebagai tempat untuk memasak.

    8. Garang

    Garang dalam rumah adat ini adalah sebuah tempat penyimpanan air yang bernama gerigik. Tempat ini digunakan untuk mencuci kaki dan tangan penghuni rumah sebelum memasuki rumah. 

    9. Berendo Belakang (Teras Belakang Rumah)

    Berendo belakang atau teras belakang rumah bisa digunakan oleh para wanita untuk bersantai dan bercengkrama bersama pada sore hari.

    Baca Juga : Rumah Adat Aceh: Jenis, Fungsi, Filosofi, dan Ciri Khasnya

    Filosofi Rumah Adat Bengkulu 

    Selain teknik arsitekturnya yang unik, rumah adat bengkulu ini memiliki arti dan makna simbolis yang mendalam. Pembangunan rumah adat selalu tidak luput dari aspek kearifan lokal, lingkungan, kepercayaan, adat istiadat, hingga nilai sejarah yang tinggi.

    Bagian rumah Bubungan Lima terbagi menjadi tiga inti, yaitu atas, tengah, dan bawah. Berikut makna pada tiap-tiap bagian tersebut: 

    1. Rumah Adat Bengkulu Bagian Atas

    Posisi atas melambangkan penghormatan. Makna penghormatan sendiri fokus pada hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. 

    Ornamen Selembayung
    Ornamen Selembayung | Sumber gambar: seberkas.com

    Pada bagian ini terdapat ornamen atau ukiran selembayung yang letaknya ada di ujung atap rumah. Ornamen itu memiliki makna sebagai lambang rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Maha Pencipta.

    2. Rumah Adat Bengkulu Bagian Tengah

    Bagian ini menjadi pusat atau tempat beberapa ruangan yang ada di dalam rumah seperti hall, berendo, bilik-bilik, ruangan makan, ruang tengah, dan ruang belakang. Di sinilah tempat seluruh anggota keluarga atau penghuni rumah melangsungkan interaksi sosial mereka.

    Ruang Tengah Bubungan Lima
    Ruang Tengah Bubungan Lima | Sumber gambar: selasar.com

    Filosofinya ruangan ini menggambarkan bahwa hubungan harmonis sesama manusia adalah salah satu poin yang penting dalam kehidupan. Bahkan, ada ruangan yang diberi nama bilik gadis yang bertujuan memberi penjagaan untuk anak gadis pemilik rumah dengan memberikannya kamar khusus.

    3. Rumah Adat Bengkulu Bagian Bawah

    Bubungan Lima merupakan rumah adat menyerupai panggung sehingga memiliki pilar atau tiang sebagai penopang. Bagian bawah atau kolong fungsinya untuk menyimpan hasil bumi dan alat-alat pertanian masyarakat setempat. Fungsi lainnya bisa pula menjadi lahan atau kandang hewan ternak.

    Hal tersebut sebagai simbol yang melambangkan bahwa manusia memiliki rasa menghargai terhadap makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan.

    Bagian Bawah Bubungan Lima
    Bagian Bawah Bubungan Lima | Sumber gambar: artikel.rumah123.com

    Berikut ringkasan dari prinsip-prinsip yang telah kita pelajari dari filosofi rumah adat Bubungan Lima: 

    • Harmonisasi dengan alam, yang mana desain rumah mengikuti bentuk alam sehingga membuatnya menyatu dan selaras dengan lingkungan sekitar.
    • Perpaduan antar elemen, di mana semua elemen (tembok, atap, dinding) memiliki rancangan dan pemasangan yang pas hingga terwujud kombinasi yang baik.
    • Fungsionalitas pembangunan yang sangat memperhatikan detail fungsi dan kebutuhan penghuni.
    • Konsep kesederhanaan, karena rumah adat ini hanya menggunakan bahan bangunan yang mudah diperoleh oleh masyarakat setempat dan prosesnya pembuatannya juga tidak rumit.
    • Keharmonisan keluarga, yang didukung adanya ruangan khusus untuk kegiatan keluarga, seperti ruang tamu, makan, hall, dan lainnya.

    Baca Juga : 10+ Pakaian Adat Bengkulu: Jenis, Makna, dan Pemakaiannya

    Sudah Memahami tentang Rumah Adat Bengkulu?

    Setiap mempelajari aneka ragam peninggalan leluhur di Indonesia, kita tentunya semakin mengenal bahwa Indonesia sangat kaya akan budaya. Terlebih setelah menyelami materi seputar rumah adat Bubungan Lima. Melihat ciri khas serta filosofi yang berharga dari rumah adat Bengkulu ini, kita sebagai agen penerus bangsa sudah sepatutnya lebih bangga, bukan? Oleh sebab itu, mari menjadi warga yang senantiasa menjaga dan melestarikan budaya negara Indonesia, salah satunya yaitu rumah adat.

  • Tata Krama di Sekolah yang Siswa Mesti Tahu!

    Tata Krama di Sekolah yang Siswa Mesti Tahu!

    Bagi Anda orang tua, ketahuilah bahwa setiap jenjang pendidikan memiliki peraturan, budaya, dan tata krama di sekolah yang harus ditaati setiap siswanya. Sehingga, anak yang pertama kali memasuki dunia pendidikan mulai dari sekolah dasar, harus dilatih agar terbiasa dan menjadi pribadi yang lebih baik. 

    Pada pembahasan berikut, terdapat beberapa hal terkait tata krama di ruang lingkup sekolah. Maka dari itu, nantinya bisa Anda pahami sebagai orang tua dan memberikan penjelasannya kepada anak.

    Apa Itu Tata Krama?

    kata tata krama,
    kata tata krama | sumber: pixabay.com

    Sebelum itu, kenali dahulu pengertian dari tata krama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tata krama adalah suatu adat, sopan, dan santun. Dalam artian lain, tata krama yaitu sebuah perilaku manusia yang terlihat dalam kehidupan sosial berdasarkan norma atau kebiasaan umum.

    Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa tata krama di sekolah merupakan perilaku sosial para siswa dan siswi yang terlihat dengan mengedepankan norma atau kebiasaan di lingkungan sekolah. Agar lebih jelas, berikut beberapa tata krama yang harus Anda terapkan di lingkungan sekolah.

    Tata Krama Secara Umum di Sekolah

    Terdapat beberapa tata krama di sekolah yang menjadi hal umum. Adapun tata krama tersebut di antaranya:

    • Saat di sekolah harus menghormati orang yang lebih tua, menyayangi dan membimbing anak di bawah umur, serta toleransi terhadap teman lainnya.
    • Menjaga lisan supaya tetap sopan di sekolah dan selalu menghargai karyawan, staf, dan guru yang ada. 
    • Patuh dan melaksanakan nasihat yang diberikan oleh guru tanpa membanding-bandingkan dengan siapa guru yang mengajar.
    • Memperlihatkan sikap dan berperilaku ramah, menyapa, dan tersenyum kepada setiap guru, karyawan,  dan staf. 
    • Saat berbicara lebih berhati-hati, jangan memotong pembicaraan saat guru berbicara, jika harus memotongnya, minta maaf terlebih dahulu.
    • Usahakan untuk menjaga ketenangan di dalam kelas dan di luar kelas, saat ada atau tidak ada guru.
    • Menjaga kebersihan lingkungan kelas dengan menjalankan tugas piket sesuai kesepakatan bersama.
    • Mintalah izin ketika terdapat keadaan mendesak untuk meninggalkan kelas saat pelajaran.
    • Usahakan untuk tidak melukai hati teman dan tetap menjaga kedekatan dengan teman.
    • Menghormati dan mendoakan guru sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar serta menjabat tangannya saat pulang.
    • Peka terhadap sekitar dan membantu teman yang sedang kesusahan.
    • Saat berangkat sekolah berusaha menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya serta tidak memakai sesuatu yang berlebihan,.
    • Turut andil dalam pemeliharaan dan perawatan fasilitas sekolah.
    • Patuhi setiap tata tertib dan budaya yang ada di sekolah.

    Tata Krama Ketika Kegiatan Belajar Mengajar

    Saat menjadi siswa-siswi yang teladan, harus bisa menyesuaikan dan menjaga kondisi kegiatan belajar mengajar menjadi baik. Hal ini juta terbilang merupakan tata krama di sekolah yang perlu siswa aplikasikan. Lalu, tata krama yang harus mereka terapkan yaitu:

    • Jangan terlambat datang ke kelas, jika memang terlambat maka sapa guru dan berikan alasan yang jelas.
    • Mengatur dan mempersiapkan sebelum kegiatan belajar mengajar seperti menyapu kelas, menata kursi atau meja, dan mempersiapkan peralatan menulis.
    • Mintalah izin terlebih dahulu ketika ingin meninggalkan kelas saat jam pelajaran berlangsung.
    • Saat kegiatan belajar mengajar tetap menjaga ketenangan dan kenyamanan ruangan kelas.
    • Memperhatikan dengan tenang dan fokus dari apa yang sedang guru jelaskan.
    • Tidak memperlihatkan emosional ketika bereaksi atau memberikan tanggapan dari guru.
    • Selama jam sekolah berlangsung, siswa tidak boleh meninggalkan atau keluar lingkungan sekolah tanpa pendamping guru piket.
    • Berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran.
    • Ketika siswa dan siswi yang tidak masuk sekolah harus memberikan surat keterangan dari wali murid atau orang tua.
    • Ketika jam pelajaran sudah lewat dan guru belum masuk kelas, ketua kelas atau perwakilan berinisiatif menghubungi guru atau datang ke ruangannya.
    • Jangan berperilaku rasis terhadap teman maupun guru.
    • Tidak boleh membeda-bedakan dan mendiskriminasi serta mematuhi perintah atau nasihat dari guru.

    Tata Krama Berpakaian di Sekolah

    Saat berangkat dan di sekolah, siswa-siswi harus bisa menjaga cara berpakaian mereka sesuai aturan yang berlaku. Sebab, cara berpakaian yang baik dan benar merupakan salah satu tata krama di sekolah yang harus semua siswa patuhi. Adapun tata krama dalam berpakaian ini meliputi:

    • Mengenakan pakaian seragam sekolah yang berlaku dan mentaati aturan berseragam lainnya.
    • Para siswa-siswi tidak boleh memakai aksesoris atau perhiasan ke sekolah seperti gelang, cincin, kalung, dan anting-anting.
    • Seluruh siswa-siswi tidak boleh memiliki segala jenis tato di tubuhnya.
    • Seluruh siswa-siswi saat di sekolah tidak boleh memakai wewangian yang berlebihan.
    • Setiap siswa-siswi tidak boleh memakai pakaian yang ketat dan memakai pakaian olahraga di luar jadwal pelajarannya.

    Tata Krama Saat Bergaul di Sekolah

    Agar hubungan sosial dengan setiap orang di lingkungan sekolah tetap terjaga, maka harus mengetahui tata kramanya. Adapun tata krama di sekolah saat bergaul dengan teman ataupun guru di sana antara lain:

    • Saling toleransi terhadap orang-orang di lingkungan sekolah dari siswa, guru, dan staf, menghargai perbedaan saat memilih teman belajar dan bermain.
    • Selalu mengucapkan salam kepada seluruh siswa, guru, staf, dan kepala sekolah.
    • Saling menghormati perbedaan pendapat, ide, dan pikiran orang lain di sekolah dan hak milik mereka.
    • Menghargai dan toleransi terhadap perbedaan agama, latar belakang, dan budaya setiap orang di sekolah.
    • Menyampaikan ide atau pendapat dengan sopan tanpa melukai perasaan orang lain.
    • Berperilaku jujur dengan mengatakan salah jika salah dan mengatakan benar jika benar.
    • Menjaga perkataan dengan menggunakan bahasa yang sopan dan beretika serta menghindari perkataan kotor terhadap guru dan teman lainnya.
    • Biasakan diri untuk mengucapkan terimakasih jika mendapat pertolongan.

    Contoh Tata Krama Bergaul

    Adapun beberapa contoh ketika bergaul dengan siswa atau teman sebaya dan para guru, staf, serta karyawan lainnya yaitu:

    1. Contoh Tata Krama Bergaul dengan Siswa atau Teman

    Ilustrasi bergaul dengan teman
    Ilustrasi bergaul dengan teman | sumber: pixabay.com]

    Beberapa contoh tata krama di sekolah ketika bergaul dengan teman antara lain:

    • Bisa menjaga perasaan teman dengan tidak melontarkan kata-kata tidak baik secara langsung atau tidak langsung.
    • Setiap berada di sekolah memiliki kakak kelas yang harus dihormati dan menyayangi adik kelas.
    • Tidak melakukan tindakan yang akan mengganggu teman sebangku atau kelas ketika belajar.
    • Ketika ada teman yang kesusahan, sebisa mungkin untuk menolongnya.
    • Ketika bertemu dengan teman di kelas atau lingkungan sekolah harus menyapa dan bersalaman dengan senyuman.
    • Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat teman terganggu atau bisa menyakitinya.
    • Jangan mengambil barang milik teman, jika ingin mengambilnya harus minta izin dan menunggu teman memperbolehkannya atau tidak.
    • Ketika melihat teman melakukan sesuatu, tidak boleh berburuk sangka kepadanya.
    • Jangan memutuskan hubungan pertemanan dan saling bermusuhan.
    • Ketika teman menceritakan tentang dirinya, jangan menyebarkan aibnya kepada teman lain.
    • Saling mengingatkan ketika teman melakukan kesalahan kepada teman lain atau guru.

    2. Contoh Tata Krama Bergaul dengan Guru atau Staf

    Ilustrasi interaksi siswa dengan guru
    Ilustrasi interaksi siswa dengan guru | sumber: pixabay.com]

    Selain dengan teman, beberapa contoh tata krama di sekolah ketika bergaul dengan guru atau staf antara lain:

    • Ketika bertemu dengan guru di lingkungan sekolah harus memberikan salam dan senyum.
    • Ketika berbicara langsung dengan guru harus sopan, nada bicara siswanya tidak boleh lebih keras dari guru.
    • Ketika ingin meminta tolong kepada guru saat ada kepentingan, jangan memanggilnya dari belakang.
    • Tidak menyela pembicaraan guru dan harus meminta maaf atau izin ketika perlu memotong pembicaraannya.
    • Ketika ada guru sedang duduk, maka siswa tidak boleh berlarian di depannya.
    • Ketika ada guru yang memanggil, maka siswa harus segera menyahut dan menemuinya.
    • Saat ingin menyapa guru tidak boleh menggunakan bahasa yang tidak sopan, misalnya “hai pak”.
    • Tidak boleh masuk ke ruang guru begitu saja tanpa seizinnya dan jangan bergerombol ketika di depan meja guru.
    • Tidak boleh mengambil barang pribadi milik guru atau fasilitas yang ada di ruangan tanpa seizin guru bersangkutan.
    • Ketika guru sedang berbicara atau menasihati tidak boleh menentangnya secara emosional dan harus mendengarkannya sampai selesai.
    • Saat bertemu dengan guru jangan sampai berkata kasar dan mengucapkan kalimat yang merendahkannya.
    • Saat ada guru, jangan menjelek-jelekan dan memfitnahnya di hadapan wali murid atau orang lain.
    • Saat ada guru jangan sampai membuang gas dan membuang ludah sembarangan.

    Baca Juga : Inilah Manfaat Hidup Rukun di Rumah, Masyarakat, dan Sekolah

    Sudah Tahu Apa Saja Tata Krama di Sekolah?

    Itulah beberapa penjelasan mengenai tata krama di sekolah. Sebagai siswa yang baik tentunya harus bisa menaati norma-norma yang berlaku dan budaya di sekolah. Harapannya dengan bahan bacaan di atas bisa menjadi pembelajaran anak Anda agar lebih taat pada aturan sekolah.