Blog

  • Apa itu Islam Syiah? Sejarah dan Pandangan Para Ulama

    Apa itu Islam Syiah? Sejarah dan Pandangan Para Ulama

    Islam Syiah adalah salah satu aliran agama dalam Islam. Mereka yang menganut aliran ini meyakini bahwa hanya keturunan Nabi Muhammad yang pantas menjadi khalifah. Dalam hal ini, yaitu Ali bin Abu Thalib.

    Banyak ulama berpendapat bahwa aliran Syiah dianggap sudah melenceng dari ajaran Islam. Namun, tidak semuanya dianggap sesat karena masih ada sebagian dari penganutnya yang juga mengimani Al-Quran.

    Berikut penjelasan lengkap tentang aliran Syiah yang perlu kita ketahui hanya untuk pengetahuan semata. Langsung saja simak informasinya di bawah ini!

    Apa itu Islam Syiah?

    Syiah menurut etimologi bahasa arab memiliki arti pembela dan pengikut seorang. Sementara menurut terminologi syariat, Syiah artinya mereka yang menyatakan Ali bin Abi Thalib yang berhak menjadi khalifah kaum muslimin.

    Secara garis besar, Islam Syiah adalah aliran dalam agama Islam bagi mereka yang setia menjadi pendukung dan pengikut Ali bin Abi Thalib dan ahlul bait.

    Mereka Memandang bahwa penerus pimpinan Islam adalah Ali bin Abi Thalib yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad. Umumnya, mereka tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

    Meski demikian, tidak semua Syiah mengidentifikasikan mereka sebagai Rafidhah. Rafidhah adalah golongan yang paling sesat dari mereka dan dianggap sebagai kelompok minoritas yang memiliki pandangan ekstrim.

    Secara umum, kemunculan Syiah dipicu karena ada perbedaan pandangan di kalangan para sahabat dengan keluarga Nabi. Perbedaan pandangan ini berkaitan dengan pengganti Nabi Muhammad setelah wafat.

    Baca juga: Niat Puasa Ramadhan Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

    Sejarah Munculnya Syiah

    Secara konteks sejarah, konflik Syiah selalu berada di dimensi waktu yang berbeda dengan segala persoalan. Bahkan, kapan waktu kemunculannya pun mengalami pertentangan yang tentunya bisa menjadi pelajaran.

    Islam Syiah adalah kelompok muslim yang mempercayai hanya keturunan Nabi Muhammad yang harus menjadi pemimpin umat setelah Nabi wafat. Berikut ada beberapa pandangan sejarah terkait kemunculan Syiah:

    1. Perselisihan Mengenai Pemimpin

    Kemunculan Syiah terjadi karena adanya perselisihan mengenai pemimpin umat Muslim setelah Nabi Muhammad wafat. Hal ini terjadi karena Nabi tidak menunjuk siapa yang menggantikannya untuk memimpin nantinya.

    Ada berbagai nama yang diusulkan berasal dari sahabat Nabi, salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib. Mereka menganggap bahwa hanya dari keturunan Rasulullah SAW yang berhak menjadi khalifah untuk memimpin umat.

    Seperti kita ketahui, Ali bin Abi Thalib adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Ali juga merupakan menantu Nabi dan orang yang jihadnya besar.

    Tidak hanya itu, Ali juga merupakan pemimpin ahlul bait pada masa hidup Nabi Muhammad SAW. Namun, pada akhirnya Ali bin Abi Thalib yang turut membaiat Abu Bakar untuk menjadi pemimpin umat muslim kala itu.

    Kemunculan Islam Syiah adalah menjadi permulaan mereka yang disebut sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini muncul di antara para sahabat Nabi dan meyakini Ali adalah yang berhak menjadi khalifah.

    2. Munculnya Golongan Syiah

    Menurut sejumlah pendapat, Syiah mulai muncul setelah adanya pembunuhan terhadap khalifah Utsman bin Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, masa awal kekhalifahan Utsman, umat muslim bersatu.

    Pada akhir kekhalifahan Utsman bin Affan terjadi peristiwa yang membuat umat perpecahan. Kemudian muncul kelompok pembuat fitnah dan perbuatan dzalim, bahkan tak segan membunuh khalifah Utsman bin Affan.

    Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib pun muncul golongan Syiah yang terbagi menjadi tiga golongan. Namun, mereka mampu menyembunyikan pemahamannya kepada Ali dan pengikutnya. Berikut tiga golongannya:

    1. Golongan yang menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan. Namun, ketika Ali mengetahui golongan ini kemudian membakar mereka dan membuat parit di depan pintu Masjid Bani Kandah untuk membakarnya.

    Sebagaimana riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas radhiallahu anha mengatakan:

    “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali). Andai aku yang melakukannya, aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah. Akan tetapi, aku pasti akan memenggal batang leher mereka karena Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah ia.”

    1. Golongan Sabbah (pencela). Ali telah mendengar tentang Abu Sauda atau Abdullah bin Saba’ bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar bin Khatab sahabat Nabi Muhammad SAW.

    Kemudian, Ali bin Abi Thalib pun mencarinya. Ada yang mengatakan bahwa Ali mencarinya untuk membunuhnya, tetapi ia melarikan diri.

    1. Golongan Mufadhdhilah, yaitu golongan yang telah ada dalam riwayat secara mutawatir dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda:

    “Sebaik-baiknya umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.”

    Riwayat ini dibawakan Imam Bukhari dalam kitab shahih dari Muhammad bin Hanafiyyah bertanya kepada ayahnya. Siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah. Ia menjawab Abu Bakar. Kemudian siapa? Jawabnya, Umar.

    3. Kelompok Sempalan Islam

    Menurut data sejarah lain mengatakan bahwa Syiah sebenarnya adalah kelompok sempalan Islam buatan orang Yahudi, yaitu bernama Abdullah bin Saba”.

    Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi berasal dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Ia dianggap sengaja membentuk kelompok baru dalam Islam untuk memecah belah dan merusak Islam dari dalam.

    Abdullah bin Saba’ menggalang masa, kemudian ia menyatakan bahwa pemimpin setelah Nabi Muhammad seharusnya Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah mengambil kedudukan tersebut.

    Keyakinan itu terus berkembang hingga muncul golongan yang menuhankan Ali bin Abi Thalib. Ali kemudian mengetahui hal itu, lalu membuang dan membakar mereka yang tidak bertaubat dan sebagian melarikan diri.

    Jika melihat dari data sejarah, Syiah adalah kelompok yang memegang paham agama pada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Cikal bakal kemunculannya sudah sejak awal kepemimpinan Islam setelah Nabi wafat.

    Syiah Menurut Pandangan Ulama

    Menurut pandangan ulama, sebagian kelompok Syiah ada yang mengingkari mushaf Al-Quran. Konon, mereka memiliki mushaf sendiri yang isinya berbeda. Kelompok seperti ini jelas sebagai bentuk kekafiran mereka.

    Bahkan, sebagian dari kelompok Syiah ekstrim ada yang tidak mengakui kenabian Muhammad SAW. Mereka juga mengingkari kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Syiah seperti ini jelaslah kekafirannya.

    Namun, ada lebih banyak juga di antara mereka yang beriman kepada Al-Quran dan lebih banyak yang tetap mengakui adanya kenabian Muhammad SAW.

    Lalu, apakah benar Syiah Itsna Asyariyah lebih berbahaya dari Yahudi? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak penjelasan Syaikh Faishal Maulawi, wakil ketua Majelis Kajian dan Fatwa Erip berikut ini:

    Jumhur ulama di masa lalu dan masa kini sepakat bahwa Syiah Itsna Asyariyah adalah termasuk orang Islam dan ahlul qiblah. Sebab, mereka berikrar Tidak Ada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad Utusan Allah.

    Meski ada sebagian ulama memandang kelompok ini kafir. Hal ini karena sebagian lafadz dari kitab mereka ditafsirkan telah keluar dari aqidah yang benar.

    Namun, para ulama lain menjawab bahwa tidak bisa menuduh kafir hanya karena tafsiran tulisan mereka. Sebab, menjatuhkan vonis kafir kepada mereka tidak bisa karena hanya berdasarkan penafsiran semata.

    Penganut Syiah Itsna Asy’ariyah juga menunaikan ibadah ke baitullah. Jika mereka divonis sebagai kafir, maka seharusnya mereka tidak boleh masuk ke tanah haram apabila memang mereka bukan termasuk Islam.

    Selain itu, Syeikh juga membantah anggapan bahwa kelompok ini termasuk paham yang lebih berbahaya dari Yahudi. Sebab, keberbahayaan Yahudi sangat jelas dari sisi aqidah, manhaj, idealisme dan sistem hidupnya.

    Masuknya Syiah ke Indonesia

    Islam Syiah adalah aliran agama yang diikuti oleh minoritas umat Islam di dunia. Apasun mayoritas kelompok ini berada di negara Iran, Irak, Lebanon, Azerbaijan, dan Bahrain. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

    Sementara Indonesia mayoritas termasuk golongan Islam Sunni. Namun, ada juga kelompok yang menganut Islam Syiah yang masuk melalui tahapan berikut ini:

    • Tahap pertama, Syiah masuk Indonesia bersama dengan masuknya Islam di Nusantara, tepatnya di Aceh. Mazhab Syiah berada di Kesultanan Peureulak pada abad ke-8 M. Dari sini, Syiah berkembang di Indonesia.
    • Tahap kedua, Syiah masuk ke Indonesia setelah terjadi revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Saat itu pimpinan Ayatullah Ruhollah Khomeini berhasil menggulingkan Raja Diraja Shah Mohammad Reza Pahlevi. Kemudian ia membangun Iran menjadi Republik Islam.
    • Tahap ketiga, Syiah masuk Indonesia melalui intelektual Islam Indonesia yang belajar di Iran. Setelah mazhab Syiah semakin dikenal, mulai banyak yang ikut termasuk kalangan intelektual Indonesia.
    • Tahap keempat, Syiah masuk Indonesia melalui pendirian organisasi Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dan ormas Ahlul Bait Indonesia (ABI). Keduanya aktif sosialisasi ajaran mazhab Syiah di Indonesia.

    Itulah tahapan masuknya Syiah ke Indonesia yang perlu kita ketahui, tentunya untuk menambah wawasan dan pengetahuan awal munculnya Syiah di Indonesia.

    Demikian penjelasan Islam Syiah adalah aliran yang meyakini hanya keturunan Nabi Muhammad SAW yang menjadi khalifah. Syiah kemudian berkembang menjadi banyak aliran dan golongan karena perbedaan paham.

  • 7 Amalan Malam Lailatul Qadar Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    7 Amalan Malam Lailatul Qadar Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    Amalan malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan tersendiri. Sebab, malam Lailatul Qodar lebih mulia daripada seribu bulan. Alhasil, umat Islam berlomba-lomba untuk mengisi malam tersebut dengan amalan-amalan yang dianjurkan. 

    Makna “lebih baik dari 1000 bulan” berarti setiap amalan pada malam ini memiliki nilai keutamaan yang lebih besar daripada amalan serupa selama seribu bulan.

    Ketika banyak beribadah di malam ini, kita akan mendapat pahala berlipat ganda.

    Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?

    Berdasarkan Hadits Nabis SAW, Lailatul Qadar terjadi pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Dari riwayat Bukhari dijelaskan sebagai berikut.

    “Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa.” (HR. Bukhari).

    Dari 10 malam terakhir di bulan Ramadhan, malam keberapa yang termasuk malam Lailatul Qadar? Untuk menjawab pertanyaan ini, dijelaskan ciri-ciri yang menyebut tentang malam lailatul qadar. 

    Lailatul qadar disebut akan membuat matahari pagi harinya bersinar berbeda dari biasanya. Besoknya, matahari muncul dengan cahaya putih bersih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru, sesuai dengan apa yang diungkapkan Rasulullah.

    “Malam itu adalah malam yang cerah, yaitu malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Imam Muslim, 762).

    Aisyah ra mencatat bahwa Rasulullah SAW memberikan nilai istimewa pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. 

    Keistimewaan ini tercermin melalui pelaksanaan beragam ibadah yang dilakukan oleh beliau pada periode malam tersebut.

    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد فى العشر الأواخر مالايجتهد فى غيره

    Artinya:

    “Bahwa Rasulullah saw meningkatkan kesungguhan (ibadahnya) di sepuluh terakhir (bulan Ramadhan) yang tidak dilakukan pada hari-hari sebelumnya.”

    Baca juga: 7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Yuk Simak

    Amalan Malam Lailatul Qadar

    Umumnya, segala amalan yang dikerjakan dengan niat ibadah akan meraih pahala ibadah, selama amalan tersebut sesuai dengan ketentuan syariat. Berikut 7 amalan utama yang bisa kita lakukan pada malam Lailatul Qadar:

    1. Semangat Beribadah

    Semangat beribadah selama sepuluh hari terakhir Ramadhan diwujudkan dengan menghidupkan malam dan membangunkan keluarga untuk turut beribadah bersama. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata:

    كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ 

    Artinya:

    “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.” (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).

    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa:

    ماعلمته صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح 

    Artinya: 

    “Aku selalu menyaksikan beliau beribadah selama Ramadhan hingga menjelang subuh.”

    Sementara itu, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ali juga menjelaskan: 

    “Siapa pun yang memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan beragama Islam, kemudian berpuasa di siang hari dan melaksanakan shalat di malam hari secara teratur, mengontrol matanya, menjaga kesucian tubuhnya, serta merawat mulut, tangannya, dan selalu mengikuti shalat berjamaah. Orang tersebut telah sungguh-sungguh menjalankan puasa selama satu bulan dan akan menerima pahala yang sempurna, menemukan Lailatul Qadar, dan mencapai keberuntungan yang diberikan oleh Allah, Tuhan yang Maha Memberkahi.”

    Baca juga: Dalil Keringanan Puasa untuk Ibu Hamil, Perhatikan Moms!

    2. Sholat Isya dan Subuh Berjamaah

    Amalan kedua adalah melaksanakan sholat Isya dan sholat Subuh secara berjamaah. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm dari sekelompok ulama Madinah dan digunakan sampai pada Ibnu ‘Abbas ra disebutkan sebagai berikut:

    أَنَّ إِحْيَاءَهَا يَحْصُلُ بِأَنْ يُصَلِّيَ العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ وَ يَعْزِمُ عَلَى أَنْ يُصَلِّيَ الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ

    Artinya:

    “Menghidupkan malam lailatul qadar itu bisa dengan melaksanakan shalat Isya’ berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Shubuh secara berjamaah.”

    Imam Malik dalam Al-Muwatha’ bahwa Ibnul Musayyib menyatakan:

    مَنْ شَهِدَ لَيْلَةَ القَدْرِ ـ يَعْنِي فِي جَمَاعَةٍ ـ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

    Artinya:

    “Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam Lailatul Qadar tersebut.”

    Adapun Imam Syafi’i menyatakan sebagai berikut:

    مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ وَ الصُّبْحَ لَيْلَةَ القَدْرِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا

    Artinya:

    “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya’ dan shalat Shubuh pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.” Semua perkataan di atas diambil dari Latha-if Al-Ma’arif, hlm. 329.

    Pernyataan Imam Syafi’i dan ulama lainnya tersebut sesuai dengan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan ra yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal yang serupa.

    مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

    Artinya:

    “Siapa yang menghadiri shalat ‘Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.” (HR. Muslim, no. 656 dan Tirmidzi, no. 221).

    3. I’tikaf

    Melaksanakan I’tikaf atau berdiam diri di masjid merupakan satu bentuk amalan malam lailatul qadar yang termasuk dalam sunnah Nabi. Amalan ini dianjurkan selama bulan Ramadhan, terutama pada 10 malam terakhir.

    Itulah sebabnya, dalam surah Al-Baqarah Allah memerintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan tempat ibadah agar dapat digunakan untuk I’tikaf.

    وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

    Artinya: 

    “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al-Baqarah: 125).

    Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Aisyah bahwa Rasulullah meninggalkan istrinya dengan tujuan untuk fokus beribadah. 

    Dalam hadis riwayat Ibnu Umar RA juga disebutkan bahwa Rasulullah selalu Iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (Shahih Muslim).

    4. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

    Ketika bulan Ramadhan, membaca satu huruf Al-Qur’an saja pahalanya 10 kebaikan. Artinya, pada bulan yang mulia ini memang segala ibadah yang dilakukan ikhlas dengan mengharap ridho Allah, pasti bernilai pahala.

    Itulah sebabnya memperbanyak membaca Al-Qur’an merupakan amalan malam Lailatul Qadar yang dianjurkan. Lebih utama lagi karena malam Lailatul Qadar merupakan malam turunnya Al-Qur’an.

    Anjuran untuk amalan ini diperkuat dengan hadits riwayat Bukhori. Dari Abu Hurairah RA yang menyebutkan malaikat Jibril mengajarkan Al Quran kepada Rasulullah SAW pada waktu ini sebanyak dua kali. 

    Pilihan amalan ini juga bisa untuk wanita yang sedang haid. Oleh karena itu, wanita yang haid tidak boleh menyentuh mushaf, alternatifnya yaitu dengan mendengarkan murotal. Dengan begitu, wanita yang haid pun bisa mendapat kemuliaan malam ini.

    5. Berdzikir

    Selain membaca Al-Quran, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak dzikir. Misalnya membaca tasbih, tahlil, dan tahmid sebanyak 100 kali atau sesuai kemampuan. 

    Hitungan dzikir tersebut tidak perlu menjadi patokan. Sebab, setiap bacaan dzikir sudah bernilai pahala. Sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah disebutkan sebagai berikut:

    فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

    Artinya: 

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

    6. Sholat Malam

    Sholat malam termasuk salah satu amalan malam lailatul qadar yang utama ketika ingin mendapatkan malam Lailatul Qadar. Pada 10 malam terakhir, sebaiknya kita mengurangi tidur dan memperbanyak sholat sunnah seperti sholat tahajud.

    Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim. Aisyah ra bahwa ketika memasuki sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, Rasulullah SAW membangunkan keluarganya dan menghidupkan malam-malam tersebut dengan memperbanyak ibadah. 

    Hadits Bukhari lain menyebutkan dari Abu Hurairah wa bahwa Nabi SAW, beliau bersabda:

    مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Artinya:

    “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1901).

    7. Berdoa pada Malam Lailatul Qadar

    Ketika tiba malam yang lebih baik dari 1000 bulan, sudah semestinya kita memanjatkan doa kepada Allah SWT. Banyak berdoa pada malam mulia ini memiliki kemungkinan besar doa kita cepat dikabulkan. 

    Dari ‘Aisyah ra, ia berkata,  “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Artinya:

    “Jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul SAW “Berdoalah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi, no. 3513 dan Ibnu Majah, no. 385).

    Doa yang kita panjatkan pada malam Lailatul Qadar sebaiknya doa untuk memohon ampunan kepada Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab rahimahullah sebagai berikut:

    و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

    Artinya:

    “Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif (bijak) adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan, atau ucapan yang baik (saleh). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

    Demikian amalan malam Lailatul Qadar yang bisa kita kerjakan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan nikmat untuk mendapatkan malam yang mulia ini.

  • 8 Tips agar Tidak Dehidrasi Saat Puasa yang Mudah Dilakukan

    8 Tips agar Tidak Dehidrasi Saat Puasa yang Mudah Dilakukan

    Ketika berpuasa, kita tidak boleh makan atau minum hingga adzan maghrib tiba. Dalam kurun waktu tersebut, kekurangan cairan atau dehidrasi bisa saja terjadi. Agar tidak dehidrasi saat puasa, ada beberapa cara yang bisa kita praktekkan. 

    Dehidrasi sendiri tidak hanya akan mengganggu kekhusyukan dan kelancaran ketika berpuasa.

    Lebih dari itu, jika kita biarkan saja kondisi ini justru bisa berbahaya untuk kesehatan. Lantas, bagaimana cara mencegah dehidrasi ketika puasa itu? 

    Cara agar Tidak Dehidrasi Saat Puasa

    Ada beberapa cara mudah yang dapat kita praktekkan agar tubuh senantiasa segar dan tidak kekurangan cairan ketika berpuasa. Inilah berbagai tips tersebut:1. Tetap Penuhi Asupan Air Putih dengan Jadwal yang Tepat 

    Tubuh manusia sebagian besarnya terdiri dari carian. Inilah yang membuat cairan berperan sangat penting untuk menjaga setiap fungsi tubuh kita berjalan dengan normal dan tanpa hambatan. 

    Ketika puasa, kita harus bisa mencari cara agar kebutuhan asupan air putih tetap terpenuhi. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menerapkan jadwal 2-4-2. 

    Ini berarti minum 2 gelas ketika sahur, 4 gelas ketika malam hari sampai menjelang waktu masuk sahur, dan 2 gelas ketika berbuka puasa. Dengan cara ini, kita tetap bisa memenuhi asupan minimal 8 gelas air putih setiap harinya. 

    Meski begitu, perlu kita ingat untuk tidak mengkonsumsi air dalam jumlah banyak di satu waktu sekaligus. Karena hal ini justru bisa membuat perut kembung dan merusak kadar keseimbangan elektrolit di tubuh. 

    2. Perhatikan Asupan Garam 

    Membatasi asupan garam bisa menjadi cara lain untuk mencegah dehidrasi ketika puasa. Di dalam garam terdapat kandungan natrium yang tinggi dimana kandungan inilah yang bisa menarik dan menahan air di dalam tubuh. 

    Ketika terlalu banyak makan asin, kita bisa lebih mudah merasa haus dan ketika asupan air tidak terpenuhi, dehidrasi pun terjadi. Oleh karena itu, pastikan kita senantiasa menjaga asupan garam agar tidak berlebihan terutama saat sahur.

    Baca juga: 8 Cara agar Doa Terkabul dalam Islam, Simak Adab dan Waktunya

    3. Membatasi Aktivitas Fisik yang Berat 

    Salah satu hal yang akan sangat berdampak besar untuk mencegah dehidrasi ketika puasa adalah dengan membatasi aktivitas fisik berat, terutama di siang hari. Ketika melakukan aktivitas berat, kita akan cenderung berkeringat. 

    Keringat adalah cara tubuh untuk mengeluarkan cairan sebagai bentuk metabolisme. Nah, apabila keringat keluar berlebihan, kita bisa saja dehidrasi atau kekurangan cairan. 

    Kalaupun kita ingin berolahraga, sebaiknya pilih olahraga yang tidak terlalu berat. Seperti misalnya jalan kaki, senam aerobik, bersepeda, ataupun yoga. 

    4. Jauhi Minuman Bersoda dan Berkafein 

    Jika kita adalah penggemar minuman bersoda atau berkafein, saat puasa sebaiknya hindari jenis minuman itu terlebih dahulu. Sebab, minuman berkafein akan mendorong tubuh untuk buang air kecil lebih sering sehingga mudah dehidrasi. 

    Selain itu, minuman yang bersoda juga umumnya mengandung banyak gula. Gula berlebihan bisa menyebabkan tubuh jadi mudah merasa haus. Jadi sebaiknya hindari dulu minuman bersoda dan berkafein ketika sahur. 

    5. Sebaiknya Pilih Menu Makanan Berkuah ketika Sahur 

    Ketika sahur, menu makanan terbaik yang bisa kita konsumsi adalah makanan yang berkuah. Contohnya seperti kaldu ayam, sayur sup, sayur bening, atau lain sebagainya. 

    Makanan berkuah bisa membantu tubuh mencukupi kebutuhan cairan ketika berpuasa. Selain itu, jenis makanan berkuah yang bening juga cenderung rendah kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan berat badan terlalu banyak. 

    6. Pastikan Tidak Banyak Tidur 

    Memang tidur ketika puasa punya nilai ibadah. Akan tetapi, hal ini justru sering disalah pahami dan membuat banyak orang malas-malasan bahkan hanya tidur saja dari setelah sahur sampai menjelang berbuka puasa. 

    Hal ini tentunya tidak benar dan harus kita kembalikan lagi pada makna yang tepat. Ini bisa kita perhatikan pada keterangan dari Ibnu Rajab yang berbunyi:

    “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latho-if Al Ma’arif, 279-280).

    Jadi berdasarkan keterangan ini, bisa kita pahami bahwa memang tidur adalah ibadah saat puasa, tetapi semuanya kembali pada niat. Ketika tidurnya hanya bertujuan untuk bermalas-malasan saja, tentu harus dihindari. 

    Sebaliknya, jika tidur agar bisa kuat melakukan amalan ibadah lainnya, baru inilah yang tepat. Hal ini pun terbukti dari kacamata medis atau kesehatan. Ketika kita tertidur, tubuh tetap akan mengeluarkan cairan.

    Metabolisme tubuh tidak akan ikut berhenti ketika manusia tidur. Fenomena ini dikenal dengan sebutan water loss atau hilangnya cairan tanpa terasa. Alhasil, ketika kita terlalu banyak tidur, justru bisa memicu dehidrasi. 

    Oleh karena itu, kita boleh saja tidur ketika puasa, tetapi jangan berlebihan dan secukupnya saja. Niatkan juga tidur tersebut untuk ibadah agar bernilai pahala. 

    7. Konsumsi Buah dan Sayur ketika Berbuka dan Sahur

    Cara agar tidak dehidrasi saat puasa selanjutnya adalah dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayur ketika berbuka dan sahur. Buah dan sayur adalah asupan yang tepat untuk memenuhi sekaligus mengembalikan cairan tubuh yang hilang. 

    Beberapa jenis buah dan sayur yang baik dikonsumsi adalah melon, semangka, bayam, brokoli, selada, dan lain sebagainya. Tidak hanya mencegah dehidrasi, buah dan sayur juga kaya serat sehingga bisa membuat kita merasa kenyang lebih lama. 

    8. Perhatikan Konsumsi Obat-obatan 

    Cara agar tidak dehidrasi saat puasa yang terakhir adalah dengan memperhatikan konsumsi obat-obatan, suplemen, maupun vitamin. Bagi sebagian orang, memang asupan tersebut bisa menjaga tubuh senantiasa bugar dan fit. 

    Akan tetapi, perhatikan juga apakah ada efek samping dari obat atau vitamin tersebut. Hindari obat yang sekiranya bisa memberikan efek seperti buang air terus menerus. Karena hal ini berpotensi meningkatkan resiko dehidrasi. 

    Langkah terbaik adalah dengan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Tujuannya agar asupan obat atau vitamin tetap terpenuhi, tetapi juga tidak membuat tubuh jadi kekurangan cairan. 

    Itulah beberapa tips yang dapat kita lakukan agar tidak dehidrasi ketika puasa. Cukup mudah dilakukan bukan? Pada dasarnya, puasa adalah ibadah yang bernilai besar dihadapan Allah SWT. 

    Dengan cara yang tepat, kita bisa melakukan ibadah puasa dengan lancar, tanpa hambatan, dan tetap sehat. Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk kita semua ya!

  • Kumpulan Doa Aqiqah untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

    Kumpulan Doa Aqiqah untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

    Kelahiran bayi di dunia menjadi salah satu momen membahagiakan bagi seluruh orang tua dan merupakan salah satu rezeki yang diberikan Allah SWT, oleh karena itu, Rasulullah SAW memberikan sunnah berupa doa aqiqah untuk menebar keberkahan.

    Aqiqah sendiri tidak hanya bagian dari keyakinan seorang muslim semata, namun merupakan ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai bentuk syukur dan juga memahami bahwa segala hal di dunia hanya merupakan titipan Allah SWT.

    Selain itu, ungkapan doa aqiqah juga dilandasi ketaatan dan juga keikhlasan semata-mata hanya karena Allah SWT. Oleh sebab itu, saat menggelar aqiqah untuk si kecil, jangan lupa untuk melafalkan doa aqiqah ya!

    Mengenal Aqiqah dalam Islam

    Dalam ajaran Islam, setelah kelahiran seorang bayi ke dunia biasanya akan digelar acara syukuran karena telah lahir karunia Allah SWT sebagai bentuk rezeki dengan aqiqah. Aqiqah sendiri merupakan sebutan untuk binatang yang disembellih pada hari ke tujuh kelahiran seorang anak.

    Hukum aqiqah yakni sunah muakkadah, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis berikut ini:

    عَنْ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌الغُلَامُ ‌مُرْتَهَنٌ ‌بِعَقِيقَتِهِ ‌يُذْبَحُ ‌عَنْهُ ‌يَوْمَ ‌السَّابِعِ، ‌وَيُسَمَّى، ‌وَيُحْلَقُ ‌رَأْسُهُ

    Artinya:”Dari Samurah, ia berkata, Nabi bersabda: Seorang bayi itu digadaikan dengan (jaminan) aqiqahnya; aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh (dari hari kelahiran), (pada hari itu pula) si bayi diberi nama dan dipotong rambutnya.” (HR Sunan al-Tirmidzi 4/101, dalam kitab Al-Adlaha bab Al-aqiqah).

    Selain itu, Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berkata jika Rasulullah SAW bersabda, “Akikah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya,” (HR Riwayat Bukhari).

    Biasanya saat melakukan aqiqah, pihak keluarga akan menyembelih hewan kambing sebagai simbol pengurbanan. Jumlah kambing yang disembelih pun berbeda antara laki-laki maupun perempuan. Untuk bayi laki-laki, kambing yang disembelih haruslah berjumlah dua ekor, sedangkan untuk bayi perempuan kambing yang disembeli hanya satu ekor saja.

    Hal selanjutnya yang perlu diperhatkan yakni mengenai pemilian hewan. Pastikan hewan yang akan diqurbankan dalam keadaan sehat dan berumur lebih dari 1 tahun.

    Saat melakukan penyembelihan, seorang muslim haruslah menyertai doa aqiqah yang memang biasa dibaca selama acara. Mulai dari saat menyembelih hingga walimah Aqiqah.

    Meski kerap kali acara aqiqah digabungkan dengan tasyakuran dengan mengundang beberapa orang untuk melakuan beberapa prosesi adat lainnya, hal ini tidak wajib digunakan sebab pada dasarnya hal yang penting yakni penyembelihannya.

    Namun, tidak pula dilarang untuk melakukannya jika tidak melanggar syariat Islam.

    Rangkaian Kegiatan Aqiqah yang Diperbolehkan

    Dalam prosesi aqiqah, seorang bayi disunnahkan untuk dicukur beberapa helai rambutnya dan setelah itu menimbangnya. Kemudian berat rambut tersebut disesuaikan harga emas lalu disedekahkan kepada fakir orang miskin.

    Namun, prosesi ini tidak pula menjadi kewajiban sehingga harus dilakukan, jika hanya ingin menggelar doa dan aqiqah saja begitupun tidak menjadi masalah. Sebelum ini juga telah dibahas bahwa terdapat perbedaan jumlah kambing pada bayi laki-laki da perempuan.

    Dalil yang menjelaskan hal tersebut adalah sebagai berikut:

    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : يُعَقُّ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : فَعَقَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ شَاتَيْنِ شَاتَيْنِ يَوْمَ السَّابِعِ ، وَأَمَرَ أَنْ يُمَاطَ عَنْ رَأْسِهِ الأَذَى وَقَالَ : اذْبَحُوا عَلَى اسْمِهِ وَقُولُوا بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَنٍ

    Artinya: “Dari Aisyah RA beliau berkata: ‘Anak laki-laki diakikahi dengan dua kambing yang setara, sementara itu anak perempuan satu kambing.’

    Aisyah berkata: Rasulullah SAW mengakikahi al-Hasan dan al-Husain masing-masing dua kambing pada hari ketujuh (kelahiran).

    Beliau memerintahkan agar pada kepala anak itu dihilangkan kotoran. Dan beliau bersabda: ‘Sembelihlah dengan (juga) menyebut nama (anak yang akan diakikahkan).’

    Katakan: ‘Bismillah Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan (Dengan Nama Allah, Allah adalah Yang Terbesar, Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, Ini adalah akikah fulaan),” (HR Baihaqi).

    Baca juga: 14 Dosa Orang Tua Terhadap Anak yang Dibenci Allah SWT

    Bacaan Doa Aqiqah Sesuai Urutannya

    Terdapat beberapa doa aqiqah yang bisa dibacakan sesuai dengan urutan yang menyesuaikan dengan sunnah Rasulullah SAW dalam menggelar tasyakuran aqiqah. Adapun bacaan doa aqiqah tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Doa Aqiqah saat Menyembelih Kambing

    Doa Aqiqah saat Menyembelih Kambing

    Adapun doa aqiqah saat menyembelih hewan adalah sebagai berikut:

    بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ …

    Bismillâhi walLâhu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu…(sebutkan nama bayi).

    Artinya: “Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (sebutkan nama bayi).”

    2. Doa Aqiqah saat Mencukur Bayi

    Dalam traisi acara tasyakuran aqiqah, sunnah yang biasa dijalankan adalah dengan menggendong sang bayi berkeliling di antara keluarga atau saudara. Dan kemudian rambut bayi dipotong atau dicukur sedikit sembari memanjatkan doa.

    Berikut adalah bacaan doa aqiqah saat mencukur bayi yang perlu diketahui:

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

    Bismillâhirrahmânirrahîm. Alhamdulillâhirabbil ‘âlamîn. Allâhumma nûrus samâwâti wa nûrusy syamsyi wal qamari, Allâhumma sirruLlâhi nûrun nubuwwati RasuluLlâhi ShallaLlâhu ‘alaihi wasallam walhamduliLlâhi Rabbil ‘âlamin.

    Artinya: “Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

    3. Doa Aqiqah saat Meniup Ubun-ubun Bayi setelah Dicukur

    Tidak hanya saat mencukur bayi saja dalam membaca doa. Namun juga dianjurkan untuk meniup doa aqiqah saat meniup  ubun-ubun bayi setelah dicukur. Berikut adalah bacaannya:

    اللَّهُمَّإِنِّيأُعِيذُهَابِكَوَذُرِّيَّتَهَامِنَالشَّيْطَانِالرَّجِيمِ

    Allâhumma innî u’îdzuhâ bika wa dzurriyyatahâ minasy syaithânir rajîm.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk.”

    Baca juga: Puasa Daud: Niat, Waktu Pelaksanaan, Tata Cara dan Keutamaannya

    4. Doa Walimah Aqiqah

    Dan yang terakhir yakni doa walimah aqiqah. Dimana dalam doa ini berisi permohonan agar sang bayi terjaga dari kejahatan jin, manusia maupun hal-hal yang maksiat. Berikut adalah doa aqiqah atau doa walimah aqiqah yang bisa kita baca:

    اللهماحْفَظْهُمِنْشَرِّالْجِنِّوَالْإِنْسِوَأُمِّالصِّبْيَانِوَمِنْجَمِيْعِالسَّيِّئَاتِوَالْعِصْيَانِوَاحْرِسْهُبِحَضَانَتِكَوَكَفَالَتِكَالْمَحْمُوْدَةِوَبِدَوَامِعِنَايَتِكَوَرِعَايَتِكَأَلنَّافِذَةِنُقَدِّمُبِهَاعَلَىالْقِيَامِبِمَاكَلَّفْتَنَامِنْحُقُوْقِرُبُوْبِيَّتِكَالْكَرِيْمَةِنَدَبْتَنَاإِلَيْهِفِيْمَابَيْنَنَاوَبَيْنَخَلْقِكَمِنْمَكَارِمِالْأَخْلَاقِوَأَطْيَبُمَافَضَّلْتَنَامِنَالْأَرْزَاقِاللهماجْعَلْنَاوَإِيَّاهُمْمِنْأَهْلِالْعِلْمِوَأَهْلِالْخَيْرِوَأَهْلِالْقُرْآنِوَلَاتَجْعَلْنَاوَإِيَّاهُمْمِنْأَهْلِالشَّرِوَالضَّيْرِوَالظُّلْمِوَالطُّغْيَانِ

    Allâhummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyâni wa min jamî’is sayyiâti wal ‘ishyâni wahrishu bihadlânatika wa kafâlatika al-mahmûdati wa bidawâmi ‘inâyatika wa ri’âyatika an-nafîdzati nuqaddimu bihâ ‘alal qiyâmi bimâ kalaftanâ min huqûqi rububiyyâtika al-karîmati nadabtanâ ilaihi fîmâ bainanâ wa baina khalqika min makârimil akhlâqi wa athyabu mâ fadldlaltanâ minal arzâqi. Allâhummaj’alnâ wa iyyâhum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur`âni wa lâ taj’alnâ wa iyyâhum min ahlisy syarri wadl dloiri wadz dzolami wath thughyâni.

    Artinya: “Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”

    Waktu Pelaksanaan Aqiqah

    Setelah mengetahui bacaan doa aqiqah yang dijelaskan di atas, perlu juga untuk mengetahui waktu pelaksanaan aqiqah yang paling baik menurut Islam. Dalam sebuah hadis dijelaskan, Rasulullah saw bersabda:

    “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.”

    Dari hadits di atas, para ulama bersepakat bahwa waktu paling baik dalam melakukan aqiqah adalah saat hari ke-7 kelahiran bayi. Namun, jika berhalangan dalam melakukannya, maka aqiqah bisa dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21.

    Namun apabila keadaan ekonomi dan ketidakmampuan seseorang sebab alasan yang syari maka kewajibannya pun telah gugur.

    Itulah dia sedikit uraian mengenai prosesi aqiqah hingga doa aqiqah yang perlu diketahui saat melakukan penyembelihan hewan yang dikurbankan. Semoga sedikit banyaknya dapat membantu ya!

  • Ramalan Jodoh Menurut Islam apa Diperbolehkan Percaya?

    Ramalan Jodoh Menurut Islam apa Diperbolehkan Percaya?

    Salah satu fenomena yang marak di era digital ini adalah ramalan mengenai jodoh, bahkan beberapa orang dengan mudah menemukan situs ramalan di internet. Ada banyak sekali metode ramalan yang dapat kita temui. Namun, bagaimana penjelasan mengenai ramalan jodoh menurut Islam?

    Uniknya, sebagian orang justru menjadikan ramalan tersebut sebagai patokan saat encari jodoh. Bahkan tidak sedikit yang mengabaikan Al-Qur’an serta sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW karena lebh percaya pada ramalan.

    Mengenai hal ini, Islam telah membahasnya dengan sangat jelas. Bagaimana hukum ramalan jodoh menurut Islam? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasan dalam artikel berikut ini.

    Ramalan Jodoh Menurut Islam

    Jodoh merupakan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk saling melengkapi dan menuntun saat di dunia. Oleh karena itu, jangan pernah sekali-kali merasa gusar karena belum datangnya jodoh sesuai dengan keinginan kita.

    Cara untuk mendapatkan jodoh yang paling baik menurut agama yakni dengan memperbaiki diri diiringi niat baik karena Allah SWT, seperti yang dijelaskan oleh Prof Quraish Shihab bahwa:

    Cari jodohmu dengan cara-cara yang dibenarkan Allah SWT,”

    Dengan penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa mempercayai ramalan merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam, termasuk ramalan mengenai jodoh.

    Dikutip dalam salah satu buku berjulu  101 Rahasia Wanita Muslim, mempercayai ramalan termasuk kepada kategori dosa besar. Bahkan hal tersebut turut dijelaskan dalam salah satu hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

    Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada (Al-Qur’an) yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad)

    Berdasarkan hadits tersebut, para ulama sepakat untuk mengkategorikan ramalan sebagai bentuk syirik. Hal ini tidak terkecuali mengenai ramalan jodoh, rezeki, nasib maupun peruntungan.

    Syaikh Sholih Alu hafizhahullah pernah berkata, “Jika seseorangmembaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Alquran yang telah diturunkan pada Nabil Muhammad SAW.”

    Bahkan ulama lain, seperti Buya Yahya turut menjelaskan mengenai keharaman mempercayai ramalan,  sebab faktanya ramalan hanya merugikan saja, sebab ramalan hanya menimbulkan harapan yang tidak realistis dan tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang kita inginkan.

    Kita punya iman. Kalau sudah diajarkan nabi semacam itu (istikharah) ya sudah, istikharah selesai. Gak usah pake ramalan segala macam, itu bahaya banget urusan keimanan, urusan akidahnya,” jelas Buya Yahya.

    Selain itu dijelaskan pula oleh ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, juga pernah ditanya tentang hukum membaca ramalan bintang, zodiak, jodoh dan semisalnya. Kemudian beliau mengatakan bahwa ramalan tersebut termasuk amalan jahiliyah.

    Dari penjelasan para ulama di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa hukum ramalan jodoh menurut Islam adalah haram. Dengan mempercayai ramalan, maka kita sama saja dengan tidak mempercayai takdir Allah SWT dan percaya pada ramalan termasuk ke dalam perbuatan syirik yang mempersekutukan Allah dengan hal-hal lainnya.

    Baca juga: 5 Doa Meminta Jodoh dan Amalan Agar Cepat Bertemu Jodoh

    Tanda-tanda Jodoh Sudah Dekat

    Setelah mengetahui hukum ramalan jodoh menurut Islam, sebagai seorang muslim, memiliki keyakinan kepada ketetapan Allah SWT adalah hal krusial yang harus dilakukan. Sebab pada dasarnya setiap orang pasti akan dipertemukan dengan pasangannya jika berusaha memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Terdapat beberapa tanda jodoh yang dapat diamati seorang muslim. Meski jodoh merupakan salah satu misteri dari Allah SWT yang pada dasarnya tidak ada satu manusiapun yang mengetahuinya.

    Kendati demikian, bukan suatu hal yang mustahil bagi seseorang untuk mengetahui lawan jenis tersebut jodoh yang ditetapkan Allah SWT atau bukan. Sebab setiap manusia di muka bumi telah ditentukan berpasang-pasangan.

    Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu firman Allah SWT pada surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi:

    وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

    Dan apabila tanda-tanda jodoh tesebut sudah terlihat dikeduanya, maka alangkah baiknya untuk lekas memantapkan hati dan melangkah menuju ikatan yang Allah ridhoi yakni pernikahan.

    Allah SWT pun menjanjikan rezeki yang cukup bagi kedua calon mempelai jika bersungguh-sungguh untuk menikah. Mengenai hal ini Allah jelaskan dalam salah satu firman-nya yang berbunyi:

    وَلْيَسْتَعْفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱلَّذِينَ يَبْتَغُونَ ٱلْكِتَٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ ءَاتَىٰكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُوا۟ فَتَيَٰتِكُمْ عَلَى ٱلْبِغَآءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوا۟ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعْدِ إِكْرَٰهِهِنَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.

    Beberapa tanda-tanda jodoh menurut Islam tersebut antara lain sebagai berikut:

    1. Memiliki Kesepadanan dan Kesamaan

    Tanda jodoh yang pertama yakni adanya kesepadanan dan kesamaan satu sama lain. Biasanya, kedua hal ini ditandai dengan kesamaan sifat, karakter hingga situasi dari kedua belah pihak.

    Adapun firman Allah SWT yang menjelaskan tanda jodoh yakni sebagai berikut:

    “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS an-Nur: 26)

    2. Diterima Kedua Keluarga

    Tanda yang kedua yakni adanya izin ataupun restu dari keluarga. Sebab pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan saja namun juga menyatukan kedua keluarga besar baik pihak wanita dan laki-laki.

    Adapun isyarat tersebut tertuang dalam firman Allah yang berbunyi,

    “Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, ‘Kembali (saja)lah,’ maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS asy-Syura: 11)

    Baca juga: Ini Hukum Pacaran dalam Islam, Penjelasan Lengkap

    3. Memberikan Kesejukan dan Kecenderungan Hati

    Tanda jodoh yang ketiga yakni adanya rasa dan kemantapan hati untuk membangun rumah tangga bersama orang yang akan dipilih. Sehingga tidak ada lagi alasan kita untuk tidak menikah dengannya.

    Adapun bunyi dari firman tersebut yakni sebagai berikut,

    “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan: 74).

    4. Pintu Rezeki Terbuka Lebar

    Tanda jodoh menurut Islam berikutnya yakni munculnya pintu rezeki yang tidak terduga. Jika Allah SWT telah mempertemukan dua insan untuk menikah, maka akan diberikan rezeki yang terbuka lebar bagi mereka untuk membangun rumah tangga.

    Hal ini dijelaskan dalam salah satu firman Allah SWT yang berbunyi:

    “Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” (QS an-Nahl [16]: 72)

    Doa Meminta Didatangkan Jodoh

    Dari pada sibuk mencari ramalan yang jelas-jelas hukum ramalan jodoh menurut Islam sendiri adalah haram. Akan lebih baik jika kita memfokuskan diri untuk meningkatkan value diri di hadapan Allah SWT dan manusia lain.

    Selain itu, ada cara lain yang lebih syari untuk menjemput jodoh di lain hal mengusahakannya, yakni dengan berdoa kepada Allah SWT. Di dalam kitab suci Alquran, tanda-tanda jodoh tersebut dapat semakin jelas kita senantiasa berdoa kepada Allah SWT.

    Beberapa di antara doa tersebut ditemui dalam firman Allah SWT. Adapun bacaan doanya yang bisa dibaca untuk segera dipertemukan dengan jodoh adalah sebagai berikut:

    وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Wallażīna yaqụlụna rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā

    Artinya: Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

    Selain itu, kita dapat meinta jodoh yang baik dan cocok untuk kita dengan melafalkan bacaan doa berikut ini:

    فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

    Fa saqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli fa qāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr

    Artinya: Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

    Itudia sedikit uraian mengenai hukum ramalan jodoh menurut Islam, dari pada sibuk menebak nebak dan mencari pembenaran lewat ramalan. Alangkah lebih baik ikhtiar menjemput jodoh dilakukan dengan berbenah diri sebaik mungkin.

    Semoga kita selalu dalam lindungan Allah dan dijauhkan dari hal yang musyrik.

  • 7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Yuk Simak

    7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Yuk Simak

    Allah menciptakan manusia dengan akal pikiran yang sehat dan juga sepaket hawa nafsunya. Ibarat air dan api yang saling melengkapi, rasa mencintai juga selaras dengan melupakan. Lalu, bagaimana cara melupakan seseorang menurut Islam?

    Sebagaimana yang ditekankan para umat Islam, cintailah orang dengan sewajarnya jangan berlebihan. Rasa cinta bolehlah ada, tapi harus diutamakan cinta pada Allah bukan makhluknya.

    Berpegang pada hal tersebut, sesungguhnya tidak sulit bagi kita untuk melupakan seseorang yang pernah kita cintai. Akan tetapi, bagi yang mengalami kesulitan bisa mengatasinya dengan mengikuti tips yang akan dibahas berikut.

    7 Cara Melupakan Seseorang Menurut Islam, Berani Coba?

    Apa yang melatarbelakangi kita memilih untuk melupakan seseorang? Setiap orang bisa jadi memiliki alasan yang berbeda.

    Ada yang memilih melupakan karena orang tersebut telah menyakitinya. Ada pula yang memilih melupakan karena sudah terlanjur kecewa sehingga ingin membuka lembaran yang baru.

    Sehingga, konotasi melupakan seseorang tidak serta merta dikaitkan dengan hubungan romansa saja. Beberapa orang tertentu, mungkin memilih untuk melupakan seseorang yang dulu pernah menjadi teman baiknya.

    Ada pula yang melupakan anggota keluarganya dan lain sebagainya. Pada dasarnya, alasan kita ingin melupakan inilah yang akan menjadi jalan lambat atau cepatnya proses melupakan itu berlangsung.

    Selengkapnya tentang cara melupakan seseorang menurut Islam simak berikut ini:

    1. Mengakui dan Mau Menerima Perpisahan yang Terjadi

    Perpisahan memang rasanya sangat berat apalagi jika hubungan yang dijalin sudah begitu lama entah hitungan tahun. Tips pertama yang bisa kita lakukan untuk melupakan seseorang adalah dengan cara mengakui keadaan.

    Akuilah jika hubungan yang terjalin sudah tidak lagi berhasil dan bisa dipertahankan. Mengakuinya memang tidak mudah apalagi menerima keadaan yang sudah berbeda.

    Alternatif cara yang bisa kita lakukan agar proses ini berjalan dengan baik adalah dengan mengendalikan emosi dan memahami hikmah dibalik perpisahan. Kendalikan rasa ingin bertemu lagi.

    Carilah poin-poin manfaat atau hikmah yang akan kita peroleh dari perpisahan ini. Alhasil, langkah untuk melupakan orang tersebut pun menjadi lebih ringan.

    Baca juga: Bangkai yang Tidak Termasuk Najis Apa Saja? Ini Daftarnya Menurut Islam

    2. Meminta Bantuan dan Bimbingan dari Allah SWT

    Langkah kedua yang bisa kita lakukan adalah dengan memanjatkan doa pada Allah SWT, agar keinginan untuk melupakan orang tersebut dipermudah dan dimuluskan. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, doa yang berasal dari hati.

    Hindari memanjatkan doa yang bernada menyalahkan Allah SWT. Yakinlah jika proses perpisahan ini merupakan kehendak Allah yang akan membawa kita pada kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik.

    Percayakan juga jika di masa depan, kita akan bertemu dengan orang yang jauh lebih baik. Pengganti yang sudah disiapkan oleh Allah. Pengganti yang akan memberikan banyak kebahagiaan untuk kita bukannya rasa sakit saja.

    Langkah ini sangat penting jika kita merasa sangat kesulitan untuk melupakan pasangan yang ternyata tidak berjodoh. Biarkan takdir Allah yang berbicara, jangan sampai kita berlarut-larut pada penyakit hati.

    3. Berusaha untuk Fokus Memperbaiki Diri

    Cara melupakan seseorang menurut Islam selanjutnya adalah dengan berusaha fokus memperbaiki diri. Cara ini juga efektif untuk menghindarkan kita dari menyalahkan diri sendiri karena kegagalan yang dialami.

    Selain memperbaiki diri dari dalam, cobalah untuk memperbaiki pula hubungan kita dengan Allah. Bila sebelumnya kita masih suka menunda-nunda ibadah maka cobalah untuk menjadi orang yang lebih taat.

    Jika sebelumnya kita tidak pernah tilawah Al-Qur’an, tidak berpuasa, dan melaksanakan ibadah lainnya maka perbaiki hal itu. Menjadi pribadi yang lebih baik akan meningkatkan kualitas kita di masa depan.

    4. Minta Dukungan dari Keluarga dan Teman

    Keluarga dan orang-orang terdekat merupakan tempat paling nyaman untuk kita pulang terutama saat mengalami patah hati. Jangan sampai keluarga dan teman hanya mau bersama ketika kita sedang suka saja.

    Meskipun rasanya berat, jangan segan untuk meminta dukungan dari keluarga dan teman. Komunikasi dua arah penting agar orang yang ada di sekitar kita mengetahui bagaimana kondisi kita saat ini.

    Kumpul dengan keluarga dan sahabat juga akan membuat kita lebih sibuk dan lupa dengan permasalahan yang tengah kita hadapi saat ini. Selain berkomunikasi, kita bisa mencoba quality time bersama keluarga agar menjadi lebih akrab lagi.

    5. Jauhi Kontak atau Tempat Kenangan

    Langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan untuk melupakan orang lain menurut ajaran Islam adalah dengan tidak terbayang-bayang pada kenangan. Mengenang orang lain sewajarnya saja.

    Akan lebih baik lagi untuk tidak menyambangi tempat-tempat yang dulu didatangi sebagai tempat main atau berkencan. Jika memungkinkan, kita juga bisa menjauhi kontak orang tersebut untuk beberapa waktu.

    Cara ini memang terkesan sederhana tapi patut untuk kita coba. Yang masih aktif bermain sosial media juga bisa menghindari berkomunikasi via sosial media. Minta bantuan teman agar tidak menghubungi kita melalui media sosial.

    6. Belajar Banyak tentang Islam

    Bagi sebagian besar orang, melupakan orang lain sangatlah sulit bahkan jauh lebih sulit daripada jatuh cinta. Jika kita termasuk pada golongan ini, maka cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah dengan belajar tentang Islam.

    Tidak perlu sampai belajar agama ke pondok pesantren atau Al-Azhar yang ada di luar negeri, karena banyak sumber belajar yang bisa kita dapatkan di sekitar. Mulai dari buku, majalah, koran hingga internet.

    Ingin yang lebih asli dan original? Kita bisa belajar langsung dari pemuka agama. Cukup cari saja pemuka agama yang ada di sekitar lingkungan kita. Katakan dengan jelas maksud kita ingin memperdalam ilmu agama Islam.

    Pemuka agama yang baik tentu akan menerima kita, terlepas dari apa tujuan kita belajar. Belajar dan selamilah ilmu agama hingga kita secara perlahan melupakan orang tersebut bahkan tidak lagi merasakan sakit hati karenanya.

    7. Meningkatkan Keimanan dengan Memperbanyak Ibadah

    Bila sebelumnya kita diajak untuk belajar lebih banyak tentang Islam sehingga lebih memperdalam ilmu agama, maka kali ini cobalah untuk mempraktekannya. Praktekan semua teori yang telah kita pelajari.

    Mulai dari melaksanakan sholat wajib 5 waktu berikut sholat sunnahnya. Laksanakan sholat di awal waktu, bukannya menunggu akhir waktu karena pahala yang diperoleh berbeda.

    Selain melaksanakan sholat, tak lupa kita juga menjalankan ibadah puasa, zakat, dan bila memungkinkan serta mampu adalah naik haji. Akan tetapi, bila belum bulan haji kita bisa memulainya dengan melaksanakan umrah.

    Memperbanyak ibadah tidak hanya meningkatkan keimanan kita tapi juga membantu melupakan seseorang yang sangat ingin kita lupakan. 

    Langkah ini jauh lebih bermakna karena tidak membutuhkan banyak uang (kecuali naik haji) dan tentunya berpahala.

    Sakit hati atau patah hati merupakan penyakit yang hanya bisa diobati dengan waktu dan usaha yang keras. Dengan mencoba seluruh cara di atas, kita tidak hanya bisa melupakan seseorang tapi juga mengobati penyakit hati.

    Lakukan semua cara melupakan seseorang menurut Islam di atas dan buktikan hasilnya. Apakah langkah-langkah tersebut benar-benar bekerja dan bermanfaat?

  • Solusi Syari untuk Reseller dan Dropshipper

    Solusi Syari untuk Reseller dan Dropshipper

    Sebagian dari kita mungkin banyak yang beranggapan bahwa sistem bisnis reseller dan dropshipper tidak sesuai dengan syariat Islam. Karena hal ini banyak yang bertanya bagaimana solusi syari untuk reseller maupun dropshipper?

    Dalam era globalisasi saat ini, bisnis reseller dan dropshipping memang menjadi pilihan yang menarik dalam memulai usaha.

    Tetapi, seringkali ditemukan beberapa aspek etika dan syariah yang terabaikan sehingga melanggar syariat dalam Islam.

    Apa Itu Reseller?

    Sebelum kita membahas solusi syari untuk reseller, tentunya kita perlu tahu dulu pengertiannya. Reseller adalah seseorang yang membeli produk atau layanan dari pihak produsen atau distributor untuk kemudian dijual kembali kepada konsumen.

    Kita seringkali membeli produk dalam jumlah besar dengan harga yang lebih rendah, lalu menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga tersebut.

    Reseller dapat beroperasi dalam berbagai industri, termasuk e-commerce, pakaian, peralatan elektronik dan banyak lagi. Saat ini sangat mudah bagi kita untuk menemukan para reseller yang menjual berbagai produk tersebut.

    Dalam perspektif Islam, reseller sendiri sebagai model bisnis tidak dilarang. Islam mengakui prinsip kebebasan berdagang dan pemilikan pribadi sehingga berbisnis secara umum dianjurkan. Tetapi, tetap memperhatikan aspek bisnis sesuai syariat.

    Masalah Reseller dalam Prinsip Syariah

    Terdapat beberapa pelaku bisnis atau mungkin kita yang mungkin menjadi Reseller, tetapi tidak memiliki barang tersebut terlebih dahulu sebelum transaksi jual beli. Hal ini tentunya melanggar prinsip dari syariah dan aspek etika bisnis.

    Sebagaimana sabda Rasulullah SAW terkait prinsip atas ketidak kepemilikan barang yang berbunyi:

    يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِي أَبِيعُهُ مِنْهُ ثُمَّ أَبْتَاعُهُ لَهُ مِنْ السُّوقِ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

    Artinya:

    “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku lalu ia meminta agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan terlebih dahulu aku membelinya untuk mereka dari pasar?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Abu Daud No. 3503).

    Baca juga: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia dan Perkembangannya

    Solusi Syari untuk Reseller

    Sebagai umat yang taat sudah seharusnya kita menyesuaikan diri dengan berbagai aspek atau prinsip syariah yang telah mutlak sesuai ajaran. Meski demikian, tentunya ada solusi syari untuk reseller yang bisa dipilih.

    1. Memiliki Barang

    Jika belum memiliki barang, sebaiknya tidak menerima akad jual beli. Saran yang bijak adalah membeli barang terlebih dahulu. Setelah itu, baru merespons permintaan pembeli.

    2. Khiyar Syarat

    Toko online menggunakan “khiyar syarat” dengan pemilik barang yang berarti toko online menetapkan syarat agar pemilik barang setuju untuk mengembalikan barang untuk pencegahan jika pembeli membatalkan transaksi.

    Apa Itu Dropshipper?

    Apa Itu Dropshipper?

    Dropshipper adalah individu atau entitas yang menjual produk kepada konsumen akhir tanpa memiliki produk tersebut dalam stok.

    Sebaliknya, dropshipper bekerja sama dengan pemasok atau distributor yang akan mengirimkan produk langsung.

    Dalam hal ini, dropshipper bertindak sebagai perantara antara pemasok dan konsumen akhir.

    Dari sistem ini kita memperoleh keuntungan dengan menjual produk dengan harga yang lebih tinggi daripada harga awal atau pemasok.

    Masalah Dropshipper dalam Prinsip Syariah

    Dropshipper adalah tindakan menjual barang tanpa kepemilikan barang tersebut. Hal ini tentunya jatuh sebagai hukum tidak memenuhi syarat keabsahan suatu akad. Demikian, perbuatan ini tentunya dilarang karena melanggar prinsip syariah.

    Menurut Syaikh Khalid al-Musyaiqih, salah satu syarat agar suatu akad dianggap sah adalah bahwa pihak yang berakad harus menjadi pemilik barang atau uang yang menjadi objek akad tersebut.

    Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW terkait seseorang yang meminta untuk menjual barang, tetapi barang tersebut tidak dimiliki:

    أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَأْتِينِي الرَّجُلُ يَسْأَلُنِي مِنْ الْبَيْعِ مَا لَيْسَ عِنْدِي أَبْتَاعُ لَهُ مِنْ السُّوقِ ثُمَّ أَبِيعُهُ قَالَ لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

    Artinya:

    “Aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku bertanya, ‘Ada seorang laki-laki yang datang kepadaku dan memintaku untuk menjual sesuatu yang tidak ada padaku, bolehkah aku membeli untuknya dari pasar kemudian aku menjual kepadanya?’ Beliau menjawab, ‘Jangan kamu menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” (HR. Ahmad).

    Selain itu, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan bunyi:

    مَنْ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ

    Artinya:

    “Barangsiapa membeli makanan, hendaknya ia tidak menjualnya kembali sampai ia memilikinya.” Ibnu Abbas berkata, ‘Saya menganggap semua barang seperti halnya makanan’.” (HR. al-Bukhari, No. 2135 dan Muslim, No. 1525)

    Solusi Syari Dropshipper

    Bagi kita yang mungkin sudah terjun di dunia dropshipper mungkin bertanya-tanya bagaimana solusi yang bijak agar praktik ini bisa sesuai dengan ketentuan prinsip Islam. Terdapat beberapa solusi yang bisa kita terapkan untuk masalah tersebut.

    1. Menjadi Wakil Supplier

    Kita perlu mengadakan kesepakatan awal dengan supplier dalam membantu proses penjualan barang dengan harapan berupa komisi dari supplier. Apabila supplier menentukan harga jual, maka kita tidak diperkenankan untuk menaikkan harga.

    Hal ini berbeda jika supplier memberikan izin untuk menaikkan harga jual, maka kita sebagai wakil supplier dapat mengambil untung lebih dari margin produk yang terjual. Tentunya ini diperbolehkan dalam prinsip syariah Islam.

    Menurut Dr. Khalid al-Musyaiqih bahwa seseorang tidak boleh menjadikan barang yang tidak dimilikinya sebagai objek akad. Hal ini berlaku juga untuk proses: akad jual-beli, sewa-menyewa, hibah, syirkah dan lain sebagainya.

    Namun, ketentuan ini bisa dikecualikan dari proses akad salam dan transaksi fudhuli atau at-tasharruf al-fudhuli. Secara khusus, akad ini memiliki artian sebagai:

    “Mentransaksikan hak orang lain, tanpa izin secara syar’i atau perwalian.” (Al-Bahr ar-Raiq, 6/160).

    Dalam proses akad jual-beli, transaksi fudhuli ini dinilai sah dan berlaku akibat hukumnya apabila pemilik barang menyetujui transaksi yang telah dilakukan. (Qawa’id al-‘Aqd, Halaman 17).

    Dari Urwah al-Bariqi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW juga bersabda:

    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ وَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ

    Artinya:

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor kambing, dengan uang itu ia beli dua ekor kambing, kemudian salah satunya dijual seharga satu dinar, lalu dia menemui beliau dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Maka beliau mendoakannya keberkahan dalam jual belinya itu. Sungguh apabila dia berdagang debu sekalipun, pasti mendapatkan untung.” (HR. al-Bukhari: 3474).

    Dari hadits ini Rasulullah selaku pemilik barang, memberikan persetujuan atas transaksi tanpa izin yang dilakukan oleh Urwah. Hal ini merupakan dalil bahwa dropshipper diperkenankan mengambil keuntungan apabila supplier menyetujui.

    2. Menjadi Wakil Pelanggan

    Kita sebagai dropshipper bersepakat dengan pelanggan untuk membelikan barang tertentu dengan harapan timbal balik berupa komisi. Apabila barang yang dicari ditemukan, maka selanjutnya memberikan kepada pelanggan. 

    Pada kondisi ini, kita tidak berhak menaikkan harga awal barang, tapi mendapatkan komisi sesuai dengan kesepakatan awal yang telah ditentukan bersama.

    Praktik reseller dan dropshipper saat ini cukup marak kita temukan. Memang beberapa aspek belum dipenuhi secara syariah, tapi adanya solusi syari untuk reseller dan dropshipper ini membuat hukum praktik tersebut bisa kita jalankan.

  • Hukum Bacaan Iqlab: Pengertian, Cara Baca dan Contohnya

    Hukum Bacaan Iqlab: Pengertian, Cara Baca dan Contohnya

    Ada banyak sekali hukum tajwid dalam Islam yang perlu dipelajari seorang muslim. Hukum tajwid sendiri membahas mengenai cara pengucapan huruf dalam Al-Qur’an. Salah satu hukum tajwib yang seorang muslim wajib tahu yakni iqlab.

    Untuk penjelasan lebih lengkap, mari simak pengertian iqlab, cara baca dan contohnya.

    Mengenal Apa Itu Ilmu Tajwid

    Sebelum membahas hukum tajwid iqlab, ada baiknya untuk memahami apa itu ilmu tajwid serta jenis-jenisnya.

    Tajwid dalam bahasa Arab adalah Jawadah yang artinya adalah berbuat suatu hal yang indah. Sementara itu, tajwid dalam ilmu bacaan merupakan penghilangan huruf dari tempat dengan memberi ciri-ciri tertentu.

    Sedangkan dalam ilmu qiraah, tajwid memiliki arti mengeluarkan huruf dari tempatnya. Yang arrtinya, menghilangkan huruf dari tempat dengan memberi sifat tertentu.

    Tujuan dari mempelajari ilmu tajwid seperti iqlab ialah untuk membaca Al-Quran sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammad dan untuk menjaga lisan dari segala bentuk kesalahan serta menjaga kemurnian dari kitab suci agama Islam yaitu Al-Quran.

    Hukum dari belajar ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Maksud dari fardhu kifayah adalah jika ada seseorang dalam suatu kelompok yang mempelajari ilmu tajwid, maka kewajiban dari anggota kelompok lain pun telah gugur.

    Akan tetapi, apabila tidak ada satu orang pun yang mempelajari ilmu tajwid dalam kelompok tersebut, maka seluruh anggota kelompok pun akan mendapatkan dosa. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada Surat Al-Baqarah ayat 121. Berikut arti suratnya:

    “Hai orang-orang yang kami berikan kitab (termasuk Al-Quran), mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka beriman padanya.” (QS. Al-Baqarah (2): 121)

    Dari hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa para ulama yang ahli dengan bacaan dari mazhab Syafi’i yaitu Ibnu Al-Jazari pun menyatakan bahwa membaca Al-Qur’an dengan bacaan tajwid hukumnya adalah wajib.

    Baca juga: Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Manfaat, dan Keutamaannya

    Orang-orang yang membaca Al-Quran  tanpa menggunakan kaidah bacaan dianggap berdosa dikarenakan Allah telah menurunkan kitab Al-Quran dengan kaidah bacaan atau tajwid.

    Hal ini dibenarkan dengan hadis riwayat At-Tirmizi, dijelaskan bahwa mempelajari ilmu tajwid menjadi prioritas bagi seorang Muslim dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang bersedia mempelajari Al-Quran di dunia maupun akhirat. Berikut bunyi haditsnya:

    “Sebaik-baiknya kalian adalah (orang) yang mempelajari serta mengajarkan Al-Quran.” (Riwayat At-Tirmidzi).

    Jenis-jenis Ilmu Tajwid

    Berikut beberapa jenis ilmu tajwid yang perlu diketahui:

    1. Hukum Nun Sukun dan Tanwin

    Jika ada nun sukun dan tanwin seperti fathah tain, kasroh tain serta dhommah tain yang bertemu dengan huruf hijaiyah, maka akan mengalami perubahan bunyi.

    Bacaan nun sukun dan tanwin terbagi menjadi beberapa hukum bacaan, yakni idzhar, idghom, ikhfa’ dan iqlab.

    2. Hukum Mim Sukun

    Hukum mim sukun terjadi ketika ada mim sukun (mim mati) yang bertemu dengan huruf hijaiyah lain.

    Sebagai catatan, Jenis hukum mim sukun ini lebih mirip dengan nun mati, hanya saja berbeda dalam hukum bacaan dan huruf yang bertemu dengan mim sukun. Hukum bacaannya ada dua, yaitu Izhar Syafawi dan Idgham Mimi.

    3. Hukum Nun dan Mim Tasydid

    Hukum tajwid yang ketiga terjadi ketika ada huruf mim dan nun yang berharakat tasydid, maka akan mengalami perubahan dalam cara membaca dua huruf tersebut, yakni dengan dengung selama satu alit atau dua harakat

    4. Hukum Bacaan Mad

    Panjang dan pendeknya suatu lafadz Al-Quran disebut sebagai hukum bacaan Mad.

    Cara membaca buku tajwid mad ini adalah dengan memanjangkan bacaan suara huruf dengan panjang satu alif atau sepanjang dua harakat, dua alif atau sepanjang empat harakat dan tiga alif atau sepanjang enam harakat.

    5. Hukum Bacaan Tarqiq dan Tafkhim

    Kedua hukum tajwid ini terjadi ketika  menemukan huruf lam dan ro dalam satu kalimat. Ketika ro tersebut dibaca tipis atau biasa dikenal Tarqiq, dan ada juga yang mengharuskan ro dibaca tebal atau Tafkhim.

    6. Hukum Bacaan Qolqolah

    Hukum bacaan qolqolah artinya adalah goncangan atau pantulan suara secara tiba-tiba, sehingga akan terdengar suara membali ataupun terdengar seperti getaran suara.

    Huruf qolqolah sendiri adalah qof, tho’, ba’, jiem dan dal, hukum bacaan qolqolah pun dibagi menjadi dua di antaranya adalah qolqolah sugro dan qolqolah kubro.

    7. Waqof

    Jenis hukum bacaan tajwid yang terakhir adalah waqof. Waqof artinya adalah berhenti sejenak atau putus bunyi suara dan kemudian berganti napas.

    Tempat bacaan dari waqof ini ada pada akhir lafadz. Di dalam Al-Quran, tanda waqaf berupa huruf hijaiyah kecil yang ada di atas huruf hijaiyah.

    Pengertian Huruf Iqlab dan Cara Membacanya

    Pengertian Huruf Iqlab dan Cara Membacanya

    Iqlab adalah salah satu hukum tajwid yang perlu diketahui seorang muslim. Dalam Al Quran, hukum bacaan iqlab terjadi dan berlaku ketika terdapat nun mati (نْ) atau tanwin ( ـَــًـ , ـِــٍـ , ـُــٌـ ) bertemu dengan huruf iqlab, yaitu ba (ب).

    Ketika ini terjadi, maka cara membacanya yaitu dengan mengganti huruf nun mati atau tanwin menjadi huruf mim mati (م) dengan disertai dengungan.

    Cara mudahnya adalah dengan merapatkan bibir atas dengan bawah serta diiringi dengan suara dengung selama 2  harakat.

    Secara bahasa,  iqlab memiliki arti mengganti atau menukar. Dan secara terminologi, iqlab memiliki arti hukum bacaan tajwid yang mengubah cara baca dengan mengganti bunyi nun sukun atau tanwin dengan mim sukun, diiringi dengan dengung dan bersifat tersembunyi.

    Iqlab sangat umum digunakan dalam Al-Qur’an yang ditandai dengan huruf mim kecil di atas katanya. Selain itu, juga dikarenakan jumlahnya yang cukup banyak di Al-Qur’an membuat hukum bacaan ini sangat mudah untuk ditemukan.

    Iqlab sendiri memiliki fungsi sebagai penyempurna bacaan Al-Qu’an, serta dapat memperindah bacaan sehingga terdapat perbedaan ketika membaur’an dengan berbicara menggunakan bahasa Arab.

    Baca juga: Bacaan Doa Nabi Yunus A.S: Manfaat, Waktu dan Keutamaannyaa

    Penyebab Terjadinya Hukum Iqlab

    Adanya hukum iqlab tentu memiliki alasan di dalamnya. Berikut beberapa alasann mengapa hukum iqlab menjadi ilmu tajwid yang perlu dipelajari:

    • Alasan pertama adalah karena huruf nun ( نْ ) dan tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ) mengandung bacaan ghunnah, sementara itu untuk mengucapkan huruf ba’ (ب) bibir diharuskan tertutup. Hal ini yang kemudian menjadi penyebab terhalangnya bacaan ghunnah jika dibaca dengan menggunakan hukum tajwid idzhar.
    • Alasan yang kedua yakni di antara huruf nun ( نْ )  dan tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ) dengan huruf ba’ memiliki makhraj yang berbeda dengan sifatnya. Karena hal tersebutlah, maka ia tidak dapat memenuhi syarat jika dibaca dengan hukum tajwid idghom.
    • Alasan yang ketiga, jika dibaca dengan hukum ikhfa, bacaan iqlab juga dinilai tidak memungkin. Karena masih berada di antara idzhar serta idgham.

    Dikarenakan hal-hal tersebutlah, maka disimpulkan oleh para ulama bahwa cara paling baik menurut Jumhur Ulama ialah dengan menukar huruf nun  ( نْ )  dan tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ) dengan mim. Di samping karena huruf mim memiliki sifat yang sama dengan huruf nun yaitu ghunnah, alasan lainnya adalah karena makhrajnya sama seperti ba’ (ب), sehingga pengucapan atau pelafalannya pun menjadi lebih mudah dan sifat dari ghunnah dalam bacaan tersebut tetap tidak hilang.

    Contoh Bacaan Iqlab Dalam Surat Al-Quran

    Setelah mengetahui apa itu ilu tajwid, jenis, pengertian iqlab dan alasan terjadinya iqlab, ada baiknya kita mengaplikasikannya dalam surat Al-Qur’an berikut ini:

    1. QS. Al-Baqarah ayat 19

    وَٱللَّهُ مُحِيطٌۢ بِٱلْكَٰفِرِينَ

    Dalam potongan ayat di atas, hukum iqlab terjadi karena terdapat dhommatain (ـُــٌـ) yang bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya yaitu Wallāhu muḥīṭum bil-kāfirīn.

    2. QS.Al-Maidah ayat 39

    فَمَن تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ

    Pada potongan surah tersebut merupakan bacaan iqlab ada karena nun mati (نْ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya adalah Fa man tāba mim ba’di ẓulmihī.

    3. QS.Al-An’am ayat 54

    مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوٓءًۢا بِجَهَٰلَةٍ

    Pada potongan surah di atas bacaan iqlab terjadi karena fathatain (ـَــًـ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya yaitu Man ‘amila mingkum sū`am bijahālatin.

    4. Surah An-Anfal ayat 5

    كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ

    Pada potongan surah tersebut merupakan bacaan iqlab ada karena nun mati (نْ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya ialah Kamā akhrajaka rabbuka mim baitika bil-ḥaqqi.

    5. QS. Yunus ayat 27

    جَزَآءُ سَيِّئَةٍۭ بِمِثْلِهَا

    Dalam potongan surah Yunus di atas, bacaan iqlab terjadi karena terdapat kasrohtain ( ـِــٍـ) yang bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya yaitu Jazā`u sayyi`atim bimiṡlihā.

    6. QS. Al-Isra Ayat 17

    وَكَمْ اَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُوْنِ مِنْۢ بَعْدِ نُوْحٍۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’. Dan tanwin bertemu dengan huruf ba’.

    7. QS. Yasin Ayat 52

    قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’.

    8. QS. Yasin Ayat 52

    قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’.

    9. QS. Al-Mulk Ayat 11

    فَاعْتَرَفُوْا بِذَنْۢبِهِمْۚ فَسُحْقًا لِّاَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

    Keterangan: Nun sukun bertemu huruf ba’.

    10. Surah  Al-Mulk Ayat 13

     وَاَسِرُّوْاقَوْلَكُمْاَوِاجْهَرُوْابِهٖۗاِنَّهٗعَلِيْمٌۢبِذَاتِالصُّدُوْرِ

    Keterangan: Tanwin bertemu dengan huruf ba’.

    11. Surah Hasyr Ayat 10

     َالَّذِيْنَجَاۤءُوْمِنْۢبَعْدِهِمْيَقُوْلُوْنَرَبَّنَااغْفِرْلَنَاوَلِاِخْوَانِنَاالَّذِيْنَسَبَقُوْنَابِالْاِيْمَانِوَلَاتَجْعَلْفِيْقُلُوْبِنَاغِلًّالِّلَّذِيْنَاٰمَنُوْارَبَّنَآاِنَّكَرَءُوْفٌرَّحِيْمٌࣖ

    Keterangan: Nun sukun bertemu dengan huruf ba’.

    12. Surah Al-Humazah ayat 4

      كَلَّا‌ لَيُنۡۢبَذَنَّ فِى الۡحُطَمَة

    Terdapat nun sukun bertemu dengan huruf ba, sehingga potongan lafaz tersebut dibaca menjadi kalla layum ba dzanna fil hutamah.

    13. Surah Al-Baqarah ayat 68

    عَوَانٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَ ۗ فَافْعَلُوْا مَا تُؤْمَرُوْنَ

    Pada ayat tersebut ada hukum iqlab yang terjadi karena ada dhommahtain yang bertemu dengan huruf hijaiyah ba’ pada lafal

    14. Surah Luqman ayat 28

     مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا  كَنَفْسٍ وَٰحِدَةٍ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌۢ بَصِيرٌ

    Pada potongan surat tersebut terdapat hukum iqlab pada lafal samī’um baṣīr. Ayat di atas dibaca menjadi Mā khalqukum wa lā ba’ṡukum illā kanafsiw wāḥidah, innallāha samī’um baṣīr.

    15. Surah Al-Lail ayat 8

    وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ

    Terdapat nun sukun yang bertemu dengan ba’ sehingga potongan ayat tersebut dibaca menjadi wa ammaa mam bakhila wastaghnaa

    16. Surah Al-Baqarah ayat 19

     وَٱللَّهُ مُحِيطٌۢ بِٱلْكَٰفِرِينَ

    Dalam potongan ayat di atas, hukum iqlab terjadi karena terdapat dhommatain (ـُــٌـ) yang bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya yaitu Wallāhu muḥīṭum bil-kāfirīn.

    17. Surah Al-An’am ayat 54

     مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوٓءًۢا بِجَهَٰلَةٍ

    Pada potongan surah di atas bacaan iqlab terjadi karena fathatain (ـَــًـ) bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya yaitu Man ‘amila mingkum sū`am bijahālatin.

    18. Surah Yunus ayat 27

     جَزَآءُ سَيِّئَةٍۭ بِمِثْلِهَا

    Dalam potongan surah Yunus di atas, bacaan iqlab terjadi karena terdapat kasrohtain ( ـِــٍـ) yang bertemu dengan huruf ba (ب). Maka cara membacanya yaitu Jazā`u sayyi`atim bimiṡlihā.

    Keutamaan Memperbaiki Bacaan Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi salah satu mukjizat dari kenabian Muhammad SAW. Kitab yang merupakan kalamullah (perkataan Allah) dengan penulisan tauqifi. Kata tauqifi artinya berasal dari Allah SWT, disusun langsung oleh Allah tanpa campur tangan makhluK.

    Sebab alasan tersebutlah, penting bagi seorang muslim untuk mengupayakan belajar Al-Qur’an dengan baik dan benar.  Salah satu upaya belajar Al-Qur’an yakni dengan mengetahui ilmu tajwid.

    Menurut bahasa, tajwid adalah tahsin, yang artinya memperindah. Adapun menurut istilah dan mustahaknya (orang yang membaca Al Quran) wajib menerapkan tajwid saat membaca ayat-ayat Alquran.

    Perintah membaca Alquran dengan tartil disebutkan dalam Surat Al Muzzamil ayat 4.  Allah SWT berfirman:

    اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

    Artinya: Atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Alquran itu dengan perlahan-lahan. (QS. Surat Al Muzzamil: 4)

    Keutamaan dari memperbaiki bacaan sendiri, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT. Memperbaiki bacaan ayat suci Al-Qur’an, hal ini juga bisa disebut sebagai indikasi dari keimanan seorang muslim.

    Sebab seorang muslim yang tidak mempunyai usaha dalam memperbaiki bacaan ayat Al-Qur’an nya, maka keimanannya pada patut dipertanyakan. Karena bacaan yang baik dan bagus sendiri bisa mencerminkan rasa yakin pada wahyu Allah SWT.

    Tips Belajar Ilmu Tajwid Cepat dan Mudah

    Setelah mengetahui apa itu iqlab, hukum dan cara membacanya, berikut tips yang bisa digunakan bagi pemula untuk belajar ilmu tajwid dengan cepat dan mudah:

    1. Mencari guru/mentor khusus untuk belajar privat

    Belajar melalui guru atau mentor khusus juga salah satu cara yang mudah untuk mempelajari ilmu tajwid. Dengan guru khusus bimbingan akan lebih intensif dan juga efisien.

    Namun pilihan ini dianjurkan bagi yang lebih nyaman untuk berlajar privat karena ingin lebih fokus, pendekatan lebih personal, lebih kosentrasi dan waktu yang fleksibel.

    2. Mempelajari melalui buku pedoman belajar tajwid

    Selain mengikuti sekolah lembaga pendidikan dan belajar dengan guru secara privat, tips yang bisa dicoba selanjutnya yakni, belajar melalui buku pedoman belajar ilmu tajwid.

    Saat ini sudah banyak beredar buku-buku pedoman yang dapat dibeli dengan harga yang terjangkau dan efektif.

    3. Menonton video pembelajaran tajwid di Youtube

    Youtube tidak hanya sebagai platform yang menghibur, namun juga menyediakan berbagai video-video edukasi salah satunya seperti tentang pembelajaran ilmu tajwid.

    Jika belajar melalui menonton dari video Youtube, kita dapat mengulangi video tersebut sampai kita benar-benar paham.

    4. Selalu mengulang agar terus mengingatnya dan terbiasa

    Cara yang terakhir adalah dengan metode kilas balik dengan terus mempelajari materi yang sudah dipelajari sebelumnya.

    Cara terakhir ini adalah kuncinya, jika kita tidak mengulanginya dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh maka tidak akan bisa mendapatkan ilmu sesungguhnya.

    Semakin sering mengulang materi yang sudah dipelajari, maka akan memudahkan untuk terbiasa dan memahami cara menyempurnakan bacaan Al-Quran.

    Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai iqlab, cara membaca dan contohnya, semoga bermanfaat. Assalamualaikum wr.wb.

  • Apakah Merokok Membatalkan Puasa? Ini Kata 4 Mazhab

    Apakah Merokok Membatalkan Puasa? Ini Kata 4 Mazhab

    Sebagian muslim mungkin belum memahami, apakah merokok membatalkan puasa? Perlu diketahui bahwa puasa bukan hanya saja menahan lapar dan haus, makna dari puasa sendiri yakni menahan diri dari segala goda nafsu dunia.

    Pertanyaan ini seringkali menjadi perdebatan serius antara muslim. Merokok sendiri dalam bahasa Arab syurb dukhan, artinya minum atau menghisap asap. Itu berarti merokok bukan menghirup asap, melainkan “menghisap”.

    Lantas, apakah hukum merokok saat  berpuasa? Yuk simak artikel ini hingga akhir.

    Hukum Merokok Saat Berpuasa

    Saat berpuasa, umumnya kita harus menghindari beberapa hal masuk ke dalam tubuh kita. Seperti makanan ataupun minuman. Baik dalam bentuk padat ataupun cair.

    Namun, bagaimana jika zat yang masuk ke dalam tubuhberbentuk gas? sebagai contoh yakni merokok. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa merokok dilakukan dengan menghisap zat berbentuk gas.

    Dilansir dari NU Online, menghirup gas seperti uap atau asap sebenarnya tidak membatalkan puasa, seperti menghirup aroma parfum atau aroma makanan.

    Baca juga: Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa? Ini Kata Ulama

    Namun hal ini tidak berlaku bagi merokok. yang membuat seseorang akan tampak seperti sedang mengisap, sehingga ulama menganggapnya adalah sesuatu yang dapat membatalkan puasa.

    Sehingga dapat disimpulkan hukum merokok adalah haram. Untuk penjelasan lebih lanjut, berikut empat mazhab yang menjawab pertanyaan apakah merokok membatalkan puasa:

    1. Mazhab Syafii

    Mazhab pertama yang menjelaskan megenai hukum merokok saat berpuasa adalah Imam Syafii. Hal ini dijelaskan oleh Iqbal Syauqi al Ghifary dalam buku Agar Tak Hanya Lapar dan Dahaga: Panduan Puasa Ramadhan Sehat dan Berkah, Syeikh Sulaiman dari mazhab Syafii mengatakan pendapatnya soal merokok membatalkan puasa dalam kitab Hasyiyatul Jamal bahwa:

    “Dan termasuk dari ‘ain (hal yang membatalkan puasa) adalah asap, tetapi mesti dipilih. Jika asap/uap itu adalah yang terkenal diisap sekarang ini (maksudnya tembakau) maka puasanya batal. Tapi jika asap/uap lain seperti asap/uap masakan, maka tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat yang mu’tamad (merujuk ulama karena kuat argumennya).”

    2. Mazhab Hanbali

    Mazhab kedua yakni Mazhan Hanbali, yang dikutip dari buku Step by Step Puasa Ramadhan bagi Orang Sibuk oleh Gus Arifin, bahwa mazhab Hanbali menyatakan bahwa merokok membatalkan puasa.

    Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu (benda) yang masuk ke dalam perut atau pembuluh nadi melalui beberapa lubang dalam tubuh dengan unsur sengaja, maka puasanya batal.

    Benda yang dimaksudkan tersebut dapat berupa makanan, minuman, kerikil, dahak, tembakau, obat, ataupun merokok.

    Pendapat dari ulama mazhab Hanbali ini sama dengan pendapat ulama Syafi’i bahwa syarat batalnya puasa tersebut adalah ketika seseorang sadar bahwa dirinya tengah berpuasa.

    3. Mazhab Hanafi

    Selanjutnya adalah Mazhab Hanafi, mengutip dari buku Fikih Sunnah Wanita oleh Syaikh Ahmad Jad, dikisahkan ada seseorang bertanya kepada Syaikh Husnin Makhluf perihal merokok di siang hari saat bulan Ramadhan. Syaikh pun menjawab:

    “Para pengikut Imam Hanafi telah menetapkan bahwa merokok bersifat umum. Jika ia masuk ke tenggorokan orang yang sedang berpuasa dengan menyengajanya, maka puasanya tidak batal karena ketidakmampuan orang tersebut untuk menjaganya. Hal ini seperti sifat basah yang tertinggal di dalam mulut setelah seseorang berkumur. Ini dikarenakan seseorang tidak dapat menghindari hal ini. Adapun ia memasukkan asap ke dalam tenggorokannya dengan sengaja, maka memasukannya ini dapat membatalkan puasanya, karena adanya kemampuan untuk menghindari hal tersebut.”

    Baca juga: Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    4. Mazhab Maliki

    Yang terakhir yakni, Mazhab Maliki. Dikutip di dalam buku Fiqih Puasa membahas mengenai memahami Puasa, Ramadhan, Zakat Fitrah, Hari Raya, dan Halal bi Halal oleh Gus Arifin, dijelaskan bahwa Maliki mengatakan setiap apa saja yang masuk ke tenggorokan lewat mulut, hidung, dan telinga baik secara sengaja atau tidak sengaja seperti air bahkan asap pun (rokok), maka hukum puasanya adalah batal.

    Hal ini sejalan dengan ketiga Mazhab sebelumnya, ulama Maliki juga memberikan ketentuan bahwa merokok hukumnya haram.

    Bahkan, Maliki menegaskan bahwa bagi siapa saja yang merokok saat puasa dengankesadaran, maka wajib hukumnya mengqodho puasa.

    Apakah Merokok Membatalkan Puasa?

    Setelah membahas mengenai keempat Mazhab mengenai hukum haram dalam merokok saat berpuasa, mungkin bagi sebagian orang muslim  akan bertanya, atas alasan apakah merokok membatalkan puasa?

    Untuk jawabannya, berikut beberapa alasan merokok membatalkan puasa:

    Merokok merupakan bagian dari ‘ain

    Hal ini diartikan sebagai sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dengan bentuk zat uap ataupun gas masuk melalui lubang tubuh secara sengaja. Para ulama menjelaskan ‘ain adalah benda yang masuk dalam tubuh seperti makanan, minuman, atau obat.

    Seperti yang diketahui bahwa sesuatu yang masuk ke dalam tubuh secara sengaja akan membatalkan puasa.

    • Dalam bahasa Arab, merokok termasuk bagian dari syurb (minum). Jadi, merokok sama saja seperti orang minum. Padahal makan dan minum dapat membatalkan puasa.
    • Merokok adalah aktivitas menghisap asap tembakau. Meski tidak pernah dijelaskan, perilaku ini akan memicu kecanduan bagi pengguna. Sedangkan dalam Islam sendiri, sesuatu yang membuat candu tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi. Di antara alasan haramnya rokok adalah dalil-dalil berikut ini.

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

    “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195).

    Karena merokok dapat menjerumuskan dalam kebinasaan, yaitu merusak seluruh sistem tubuh (menimbulkan penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, dan merusak sistem reproduksi), dari alasan ini sangat jelas rokok terlarang atau haram.

    Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

    “Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).

    Dalam hadis ini dengan jelas terlarang memberi mudhorot pada orang lain dan rokok termasuk dalam larangan ini.

    Demikianlah penjelasan mengenai pertanyaan, apakah merokok membatalkan puasa serta alasan yang mendukungnya. Semoga bermanfaat, Assalamualaikum wr. Wb.

  • Doa Agar Cepat Hamil yang Ada di Al-Qur’an, Yuk Amalkan!

    Doa Agar Cepat Hamil yang Ada di Al-Qur’an, Yuk Amalkan!

    Setiap pasangan yang sudah menikah, pasti memiliki keinginan untuk segera mendapatkan momongan. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk segera mendapatkannya. Segala usaha dilakukan untuk menjemput segera sang buah hati. Selain ikhtiar dunia, dianjurkan pula melafalkan doa-doa agar cepat hamil.

    Setelah berusaha semaksimal mungkin, berdoa memohon kepada Allah yang Maha Esa adalah jalan yang bisa ditempuh termasuk dalam ihwal keinginan untuk hamil. Selain itu, berdoa merupakan bentuk kepercayaan kita atas kuasa Allah SWT, serta sarana komunikasi dan mencurahkan isi hati.

    Berikut beberapa doa agar cepat hamil yang bisa dijadikan pilihan.

    Ayat dan Doa Agar Cepat Hamil

    Memiliki keturanan menjadi impian bagi semua pasangan suami istri, bagi pasangan yang sedang ikhtiar garis dua, dianjurkan untuk banyak berdoa dan memohon kepada Sang Maha Pemilik segalanya. Baik istri maupun suami dianjurkan untuk berdoa setelah sholat fardhu dan meniatkan untuk menjalankan sholat sunnah juga.

    Berikut beberapa ayat Al-Qur’an yang bisa dijadikan ikhtiar dalam menjemput buah hati:

    1. QS. Ali-Imran Ayat 38

     رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

    Latin: Rabbi hab lii min ladun kadzurriyyatan thayyibatan innaka samii’uddu’aa.

    Artinya: “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Mu seorang anak yang baik dan sesungguhnya Engkau maha mendengar Do’a.” QS Ali Imran: 38)

    Doa ini yang digunakan oleh Nabi Zakaria untuk meminta keturunan kepada Allah SWT.

    Baca juga: 700 Nama Bayi Laki-laki Islami dan Artinya Lengkap

    2. QS. Al-Furqon Ayat 74

    رَبَّنَا هَبۡ لَـنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعۡيُنٍ وَّاجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِيۡنَ اِمَامًا

    Latin: Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqon: 74)

    3. QS. Maryam Ayat 1-6

    كٓهٰيٰـعٓـصٓ • ذِكۡرُ رَحۡمَتِ رَبِّكَ عَـبۡدَهٗ زَكَرِيَّا • اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَآءً خَفِيًّا • قَالَ رَبِّ اِنِّىۡ وَهَنَ الۡعَظۡمُ مِنِّىۡ وَاشۡتَعَلَ الرَّاۡسُ شَيۡبًا وَّلَمۡ اَكُنۡۢ بِدُعَآٮِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا • وَاِنِّىۡ خِفۡتُ الۡمَوَالِىَ مِنۡ وَّرَآءِىۡ وَكَانَتِ امۡرَاَتِىۡ عَاقِرًا فَهَبۡ لِىۡ مِنۡ لَّدُنۡكَ وَلِيًّا • يَّرِثُنِىۡ وَيَرِثُ مِنۡ اٰلِ يَعۡقُوۡبَ ۖ وَاجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيًّا

    Latin: (1) Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (2) Dzikru rahmati rabbika ‘abdahu zakariyyaa. (3) Idz naadaa rabbahu nidaa-an khafiyyaan. (4) Qaala rabbi innii wahana al’azhmu minnii waisyta’ala alrra/susyayban walam akun bidu’aa-ika rabbi syaqiyyaan. (5) Wa-innii khiftu almawaaliya min waraa-ii wakaanati imra-atii‘aaqiran fahab lii min ladunka waliyyaan. (6) Yaritsunii wayaritsu min aali ya’quuba waij’alhu rabbi radhiyyaan.

    Artinya: “(1) Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (2) Penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria. (3) Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (4) Ia berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. (5) Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. (6) Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (Q.S Maryam: 1-6)

    4. QS. Al-Baqarah Ayat 128

    رَبَّنَا وَاجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَـكَ وَ مِنۡ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسۡلِمَةً لَّكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَا 

    Latin: Rabbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa min zurriyyatinaaa ummatam muslimatal laka wa arinaa manaasikanaa wa tub ‘alainaa innaka antat Tawwaabur Rahiim.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)

    5. QS. Al-Anbiya Ayat 89

     رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ

    Latin: Rabbi la tadzarnii fardan wa anta khairal waaritisiin.

    Artinya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik.” (QS Al Anbiya’: 89)

    6. QS. As Shaffat ayat 100

    Doa Agar Cepat Hamil (QS As-Shaffat: 100)

    رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

    Rabbi habliiminashshoolihin.”

    Artinya: Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku seorang anak yang termasuk orang saleh.(QS As-Shaffat: 100)

    Ayat ini sering dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim AS agar diberikan keturunan anak-anak yang saleh.

    Baca juga: 30 Ayat Alquran Tentang Cinta dan Kasih Sayang, Hati Lebih Tentram!

    Dzikir Agar Cepat Hamil

    Berikut rangkuman sebagai panduan dzikir yang dibaca setelah sholat:

    1. Membaca Al-Fatihah

    Membaca Al-Fatihah sebelum memanjatkan doa agar cepat hamil sangat dianjurkan.

    Al-Fatihah sendiri memiliki kedudukan sebagai Ummul Kitab atau induk A-Qur’an. Surat ini dipercaya bahwa dengan membacanya segala doa dapat diijabah.

    2. Membaca Asma’ul Husna

    Ketika kita memiliki hajat atau keinginan, salah satu jalan yang bisa kita ambil pertamakali yakni, berserah dan merayu Allah SWT sebagai Maha Pemberi dan Maha Menciptakan.

    Maka dari itu, menyebut nama-nama kebaikan Allah menjadi salah satu anjuran.

    Setiap sholat atau di waktu senggang, usahakan untuk membaca asma’ul husna “Al-Mushowwir” yang berarti “ Yang Maha Menciptakan segala bentuk dan rupa” sebanyak 100 kali sebagai salah satu doa agar cepat hamil

    3. Beristighfar Sebanyak 71 Kali

    Bacalah “Astaghfirullah” sebanyak 71 kali ketika sujud atau sesudah sholat. Membaca istighfar merupakan salah satu pengingat diri akan kesalahan-kesalahan yang diperbuat serta mengingatkan kebesaran Allah SWT.

    Nabi Muhammad SAW bersabda,”Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya, member jalan keluar pada setiap kesukarannya, dan member rezeki tanpa diduga-duga.”(HR.Abu Daud dan Nasa’i)

    4. Membaca Doa Memohon Keturunan

    Setelah membaca istighfar, dapat dilanjutkan dengan memanjatkan doa agar cepat hamil berikut:

    Allahummarzuqni waladan liusammihi bismi nabiyyika Muhammad sholallohu alaihi wa alaihi

    Artinya: “Ya Allah karuniakan kepadaku keturunan agar aku dapat menemaninya dengan nama Nabi Muhammad SAW.”

    5. Bersholawat Kepada Rasulullah SAW

    Salah satu keutamaan bersholawat nabi ialah dipermudahkan urusan dunia serta hajatnya.

    Oleh sebab itu seorang muslim dianjurkan untuk bersholawat, sebagai bentuk pujian dan penghormatan kepada Rasulullah SAW  

    6. Memperbanyak Dzikir

    Memperbanyak dzikir juga dianjurkan sebagai bentuk mengingat Allah SWT. Tak hanya itu saja, berdzikir juga bisa menambah keimanan, Membuat hati tenang dan mendapat amalan ibadah.

    Bahkan perintah berdzikir ini telah diserukan Allah kepada hambanya melalui QS. Al-Ahzab ayat 41-42 yang berbunyi:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

    Yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikrang kaṡīrā

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

    Apabila kita mampu menjaga zikir setiap hari, maka Allah Ta-alapun akan mengijabahi apa yang menjadi harapan atau doa kita, termasuk keinginan memiliki momongan.

    7. Membaca Surat Al-Ikhlas

    Salah satu keutamaan dan keistimewaan membaca surat ini adalah membantu  menyelamatkan orang yang membacanya dari kesulitan dunia dan kesulitan akhirat. Oleh sebab itulah, membaca surat Al-Ikhlas membantu pasangan suami istri untuk menjemput momongan.

    8. Akhiri Dengan Membaca Doa Agar Cepat Hamil yang Dikuasai

    Dzikir terakhir ditutup dengan membaca doa agar cepat hamil yang dikuasai. Niatkan dalam hati untuk berdoa dengan ikhlas dan menyandarkan harapan kepada Sang Maha Segalanya.

    Amalan Agar Cepat Hamil

    Selain berdoa dan berikhtiar, ada baiknya pasangan suami istri melakukan beberapa amalan-amalan berikut:

    • Sholat sunnah sebelum berhubungan
    • Berwudhu dan berdoa sebelum berhubungan badan
    • Memperhatikan posisi yang tepat ketika berhubungan badan dengan pasangan
    • Menghidupkan lampu
    • Rutin sholat hajat atau sholat sunnah agar keinginan segera dikabulkan
    • Rajin bersedekah
    • Mengetahui siklus haid agar dapat berhubungan tepat pada masa ovulasi
    • Memakan makanan yang bergizi dan sehat

    Waktu yang Mustajab Untuk Berdoa

    Pada dasarnya, kita bisa membaca doa kapan saja dan dimana saja, sebab doa sendiri merupakan bentuk komunikasi bersama Allah SWT. Namun ada beberapa waktu mustajab, yang akan sayang sekali jika dilewatkan.

    Lantas, kapankah waktu mustajab berikut? simak penjelasan berikut:

    1. Di Sepertiga Malam

    Pada waktu ini, Allah SWT turun ke bumi untuk melihat umatnya yang bangun dan berdoa. Oleh sebab itulah, sepertiga malam disebut sebagai waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Waktu sepertiga mala mini setara dengan waktu sahur di Indonesia.

    2. Saat Adzan Berkumandang

    Saat adzan berkumandang merupakan waktu mustajab dalam berdoa, seperti halnya dalam hadis riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Ash,  Rasulullah SAW bersabda:

    إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاة صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ في الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

    Artinya: “Apabila kamu mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bersholawatlah atasku, karena barang siapa bersholawat atasku satu kali, Allah akan bersholawat atasnya dengan sebab itu sepuluh kali. Kemudian mintalah pada Allah untukku wasilah. Sungguh ia adalah tempat di surga yang tidak patut kecuali kepada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku. Barang siapa meminta untukku wasilah niscaya halal baginya syafaat.” (HR Muslim)

    Oleh karena itu, sayang untuk disia-siakan. Pun juga dianjurkan untuk menjawab setiap adzan yang dikumandangkan oleh muadzin.

    3. Antara Adzan dan Iqomah

    Selama jeda antara adzan dan iqamah dalam sholat lima waktu juga dianjurkan untuk berdoa. Berdasarkan Hadits Riwayat Tirmidzi, Hasan Shahih mengatakan bahwa “Tidak ada doa yang tertolak antara adzan dan iqomah.”

    4. Saat Turun Hujan

    Hujan merupakan salah satu rahmat yang diberikan Allah SWT bagi umatnya. Hal ini dijelaskan dalam hadis berikut ini:

    ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

    Artinya: “Dua do’a yang tidak akan ditolak, do’a ketika adzan dan do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR Al Hakim).

    Manfaatkan momen hujan sebagai bentuk syukur dan meminta kepada Allah SWT.

    5. Saat Berbuka Puasa

    Selain turun hujan, momen ketika berbuka puasa juga menjadi berkah bagi setiap muslim yang menjalankannya.

    Bulan Ramadhan merupakan bulan yang spesial bagi umat muslim dengan dilipatkan gandakan amalan pahala bagi yang menjalankan perntah-Nya.

    Oleh sebab itu, jangan sia-siakan waktu mustajab ini untuk berdoa.

    6. Saat Malam Lailatul Qadar

    Malam lailatul qadar disebut sebagai malam seribu bulan dengan seribu keutamaan yang Allah berikan kepada seorang muslim, pada malam ini orang-orang akan berlomba dan bersungguh-sungguh untuk berdoa dan meminta kepada pemilik dunia.

    Oleh sebab itulah, malam ini dijadikan waktu yang mustajab untuk berdoa.

    Demikianlah informasi terkait doa agar cepat hamil, dzikir serta amalan dan waktu mustajab berdoa. Semoga segala ikhtiar menjadi lading pahala dan dikabulkan oleh Allah SWT.

    Semoga bermanfaat ya, Assalamualaikum wr.wb.