Author: Linda Yulita

  • 8 Ragam Pakaian Adat Riau dan Keunikannya

    8 Ragam Pakaian Adat Riau dan Keunikannya

    Pakaian adat Riau umumnya memiliki potongan yang panjang, longgar, dan tertutup. Model pakaiannya menjunjung nilai islami karena suku asli dari provinsi ini adalah suku Melayu.

    Selain merepresentasikan nilai keislaman, pakaian adat tersebut juga memiliki motif dan keunikannya masing-masing. Seperti apa? Simak rangkuman berikut ini!

    8 Pakaian Adat Riau Serta Keunikannya

    Pakaian adat Melayu dari provinsi Riau terbagi menjadi beberapa jenis. Masing-masing pakaian adat tersebut memiliki corak dan filosofi yang berbeda. Agar tidak penasaran, simak rangkuman 8 jenis pakaian adat dari provinsi Riau berikut ini:

    1. Cekak Musang

    Baju Cekak Musang
    Baju Cekak Musang | Sumber gambar: Kompas

    Pertama ada baju Cekak Musang. Ini merupakan pakaian yang paling umum digunakan oleh laki-laki Melayu di Riau. Baju Cekak Musang memiliki model berkerah dan tidak berkancing.

    Ciri khas dari baju Cekak Musang terletak pada bagian lehernya yang panjang lebih dari 5 cm hanya di bagian sebelahnya saja. Tujuannya adalah agar lebih mudah saat dipakai.

    Keunikan lain dari baju Cekak Musang terletak pada bagian kantongnya. Pakaian adat Riau ini memiliki tiga kantong di bagian depan, yaitu satu kantong di sebelah kiri, dan dua kantong di bagian bawah.

    Baju Cekak Musang memiliki corak yang polos dan dipadukan dengan celana panjang. Umumnya masyarakat Riau memakai baju ini untuk acara formal, seperti menghadiri pernikahan. Sebagai pelengkapnya, masyarakat setempat juga akan mengenakan kopiah berwarna hitam.

    2. Baju Melayu Gunting Cina

    Baju Melayu Gunting Cina
    Baju Melayu Gunting Cina | Sumber gambar: AliExpress

    Selanjutnya ada baju Melayu Gunting Cina. Baju yang memiliki nama unik ini terbuat dari kain satin atau sutra yang berkualitas. Model baju ini tidak jauh beda dengan model baju Melayu lainnya.

    Baju Melayu Gunting Cina memiliki leher yang berkerah bulat dan terbelah di bagian depannya. Baju ini memiliki kancing sebanyak 5 buah. Selain itu, baju Melayu Gunting Cina digunakan oleh laki-laki masyarakat Riau untuk acara formal hingga santai.

    3. Pakaian Adat Riau Teluk Belanga

    Teluk Belanga
    Teluk Belanga | Sumber gambar: KataData

    Selanjutnya ada baju Teluk Belanga yang juga salah satu baju adat Melayu laki-laki di Riau. Model baju Teluk Belanga sama seperti baju adat sebelumnya, yaitu memiliki kerah dan berkancing.

    Bedanya, baju Teluk Belanga menggunakan berbagai jenis kancing, mulai dari kancing permata, emas, atau kancing tep.

    Pada bagian lengannya, baju Teluk Belanga memiliki potongan yang sedikit lebar dan longgar. Panjangnya bisa mencapai pergelangan tangan atau lebih. Di bagian pundaknya akan disematkan kain songket sebagai pelengkap.

    Laki-laki suku Melayu di Riau biasa menggunakan pakaian adat ini untuk acara formal dan melengkapinya dengan penutup kepala berupa tanjak, yaitu penutup kepala khas Riau yang terbuat dari kain yang sama dengan baju, celana, atau songket.

    4. Baju Kurung

    Baju Kurung
    Baju Kurung | Sumber gambar: Hipwee

    Baju khas Riau berikutnya adalah baju Kurung. Ini merupakan pakaian Melayu perempuan di Riau yang memiliki potongan longgar.

    Bahan pembuatan baju ini cukup bervariasi. Selain polos, umumnya baju ini menggunakan motif bunga-bunga yang identik dengan perempuan. Warna baju Kurung juga bermacam-macam, mulai dari warna cerah hingga warna netral.

    Sebagai pelengkapnya, perempuan Melayu di Riau akan menambahkan selendang atau kain penutup kepala. Bawahan yang cocok dengan baju Kurung adalah rok. Perpaduan ini bisa merepresentasikan nilai-nilai keislaman dan kesopanan.

    Baju Kurung sudah menjadi salah satu pakaian wajib untuk instansi pemerintahan hingga lingkungan pendidikan yang digunakan setiap hari Jumat.

    5. Kebaya Labuh

    Kebaya Labuh
    Kebaya Labuh | Sumber gambar: PinHome

    Selain baju Kurung, perempuan Melayu di Riau juga memiliki pakaian adat lain yaitu Kebaya Labuh. Seperti namanya, pakaian ini berbentuk kebaya yang terbuat dari kain tenun khas Riau. 

    Keunikan dari pakaian ini tidak hanya terletak pada bahan pembuatannya, tapi juga pada lengan bajunya yang panjangnya sekitar dua jari dari area pergelangan tangan. Tujuannya agar aksesoris seperti gelang bisa terlihat.

    Panjang dari Kebaya Labuh cukup bervariasi, mulai dari atas betis atau lebih dalam lagi sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Bagian sisi depan Kebaya Labuh memiliki tiga buah kancing sebagai pengaitnya. Kancing-kancing ini akan membuat bagian bawah kebaya melebar dan terbuka.

    Bawahan dari Kebaya Labuh biasanya sarung batik, kain lejo, atau kain pelekat yang berwarna senada dengan Kebaya Labuh. Sebagai pelengkapnya, Kebaya Labuh dipadukan dengan selendang.

    Sama seperti Baju Kurung, Kebaya Labuh biasanya digunakan untuk acara-acara formal, seperti acara pemerintahan daerah.

    6. Pakaian Adat Pengantin Wanita

    Baju Pengantin Melayu Riau
    Baju Pengantin Melayu Riau | Sumber gambar: V&CO Jewellery

    Pada acara pernikahan, masyarakat Melayu di Riau cenderung masih menggunakan pakaian adat pengantin. Bagi pengantin wanita, baju pengantin memiliki variasi yang bisa menyesuaikan kebutuhan upacara.

    Saat upacara, mempelai wanita biasanya menggunakan setelan Kebaya Labuh atau juga baju Melayu Kurung. Khusus untuk acara pernikahan ini, kedua jenis pakaian adat Riau tersebut terbuat dari kain tenunan khas Melayu Riau dengan warna dan corak yang sama.

    Keunikan lainnya dari pakaian adat pengantin wanita Melayu Riau terletak pada aksesorisnya. Adapun aksesoris yang digunakan antara lain:

    • Memakai perkakasan andam, yaitu hiasan kepala khas Melayu Riau.
    • Dukoh, yaitu kalung emas atau rantai papan bertingkat 3, 5, 7.
    • Gelang berbentuk kepala burung merak.
    • Menggunakan tampan-tampan atau sebai di bahu kiri.
    • Memakai canggai, yaitu seperti cincin yang terbuat dari emas atau perak.
    • Menggunakan ikat pinggang dari pending emas.
    • Gelang kaki emas atau perak berbentuk kepala kuntum bunga cempaka.
    • Memakai alas kaki berupa selepa yang dihiasi manik-manik.

    Agar lebih matching, pemilihan corak dan warna busana pengantin harus sesuai dengan jenis aksesorisnya. Jika aksesorisnya terbuat dari emas, maka corak dan warna baju pengantin harus cerah agar terlihat elegan atau mewah.

    7. Pakaian Adat Pengantin Pria

    Baju Pengantin Melayu Riau
    Baju Pengantin Melayu Riau | Sumber gambar: selasar.com

    Selain pengantin wanita, calon pengantin pria juga harus memakai baju pengantin khas Melayu di hari pernikahan. Terdapat dua jenis baju pengantin yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan, yaitu Teluk Belanga dan Cekak Musang.

    Hal yang membedakan baju Teluk Belanga dan Cekak Musang pada umumnya adalah motif pakaiannya. Biasanya pria Melayu di Riau menggunakan baju Cekak Musang bermotifkan bunga cengkeh dan tampuk manggis. Warna dan motifnya harus sama dengan celana dan hiasan kepala.

    Sama seperti pengantin wanita, mempelai pria juga harus memakai aksesoris sebagai pelengkap penampilan. Adapun aksesoris bagi pengantin pria antara lain:

    • Memakai distar, yaitu hiasan kepala berbentuk mahkota.
    • Bahu sebelah kiri memakai sebai berwarna kuning dengan sulaman kelingan.
    • Bagian leher memakai rantai berbelit dua sebagai simbol ikatan ayah dan ibu.
    • Memakai bengkong atau pending berwarna kuning sesuai derajatnya.
    • Bagian ibu jari dan kelingking memakai canggai.
    • Alas kaki harus berbentuk runcing atau capal yang terbuat dari kulit.
    • Memakai keris pendek yang berhulu burung serindit.
    • Memegang sirih pemanis atau sirih telat.

    Keunikan lain dari baju pengantin pria Melayu tidak hanya terletak pada motif dan aksesorisnya, tapi juga pada jahitan pinggir pakaiannya yang harus berwarna emas. Warna ini menjadi simbol kemewahan dari sebuah acara pernikahan yang penuh suka cita.

    8. Kain Songket

    Songket Riau
    Songket Riau | Sumber gambar: Bukalapak

    Terakhir ada kain Songket. Ini merupakan pakaian adat yang menjadi kebanggaan masyarakat Melayu di Riau. Kain Songket menjadi salah satu pelengkap pakaian adat Riau, khususnya bagi para laki-laki. Pembuatan kain Songket melalui proses penenunan tradisional, sehingga menghasilkan corak dan warna yang unik.

    Bahan utama pembuatan kain ini adalah benang sutra serta kapas yang kemudian ditambahkan benang perak atau sutra untuk membuat motif tertentu. Biasanya motif dari tenun Songket Riau identik dengan flora dan fauna. Misalnya, Tenun Songket Melayu Pekanbaru, Songket Melayu Siak, hingga Songket Indragiri.

    Sudah Lebih Tahu Jenis Pakaian Adat Melayu di Riau?

    Pakaian adat mencerminkan budaya serta kearifan lokal masing-masing suku di Indonesia. Terlahir sebagai suku Melayu, pakaian adat masyarakat di Riau cenderung identik dengan nilai keislaman.

    Hal ini terlihat jelas dari model pakaian yang longgar seperti baju Kurung, Kebaya Labuh, Cekak Musang, hingga Teluk Belanga. Setiap pakaian tersebut digunakan untuk berbagai acara, mulai dari acara santai hingga formal seperti pernikahan.

  • 10 Contoh Konflik Sosial di Masyarakat, Penyebab dan Dampak

    10 Contoh Konflik Sosial di Masyarakat, Penyebab dan Dampak

    Dalam kehidupan sehari-hari, banyak contoh konflik sosial di masyarakat yang tampak sepele tapi dampaknya besar. Hal tersebut mungkin bisa terjadi karena adanya perbedaan persepsi antar individu atau golongan. 

    Na,un apa saja konflik yang harus kamu waspadai? Kira-kira apa penyebab dan dampaknya? Tak usah berlama-lama, kamu bisa pantengin dengan seksama apa yang artikel ini akan jelaskan!

    Apa itu Konflik Sosial Masyarakat

    Sebelum mempelajari contoh konflik sosial di masyarakat, ada baiknya kamu memahami dasarnya terlebih dahulu. Konflik sosial sendiri merupakan pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan. 

    Pada umumnya, konflik berasal dari kata kerja latin “configere” yang artinya saling memukul. Secara sosiologi, konflik dapat kamu artikan sebagai suatu proses selisih paham sosial antara dua orang atau lebih. 

    Setiap pihak akan berusaha menyingkirkan pihak lain atau menghancurkan paham lain demi keuntungan atau kepentingan tertentu. Konflik seringkali berubah menjadi kekerasan, terutama tanpa adanya upaya pengelolaan konflik yang tidak terlaksana dengan sungguh-sungguh oleh masing-masing pihak yang berkaitan.

    Jadi, mudahnya konflik dapat kamu artikan sebagai perselisihan antara dua belah pihak atau lebih yang bisa terjadi dalam berbagai konteks kehidupan bermasyarakat. Dalam beberapa contoh konflik sosial di masyarakat, bisa berujung damai atau kekerasan tergantung cara penyelesaiannya.

    Faktor Penyebab Konflik Sosial di Masyarakat

    Sebenarnya ada banyak faktor yang dapat menyebabkan sebuah konflik terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, seperti halnya:

    1. Ketidaksetaraan Sosial 

    Faktor pertama yang jadi penyebab konflik sosial, biasanya karena ketidaksetaraan sosial. Hal tersebut umumnya menimbulkan perbedaan pendapatan, kesenjangan, dan ketidaksetaraan. Beberapa pihak akan merasakan kerugian atas ketidaksetaraan yang terjadi dan timbul konflik pada dua belah pihak. 

    2. Perbedaan Preferensi Pribadi

    Adanya perbedaan preferensi pribadi seperti etnis, ras, agama, dan budaya juga dapat memicu konflik. Hal tersebut terjadi karena adanya pemahaman dan preferensi pribadi, sehingga menimbulkan kesalahpahaman atau perselisihan.

    Tak jarang perbedaan ini menimbulkan diskriminasi, ketidakadilan, dan prasangka berdasarkan faktor-faktor tersebut. Ketegangan antar kelompok inilah yang menimbulkan berbagai contoh konflik sosial di masyarakat dapat terjadi.

    3. Persaingan atas Sumber Daya Terbatas

    Hal lain yang akan menjadi konflik adalah persaingan untuk mengakses sumber daya yang terbatas. Seperti air, lahan pertanian, atau bahan bakar. Sayangnya, persaingan tak selalu berjalan dengan sehat. Ada saja perbuatan yang tidak sehat yang dapat menimbulkan konflik lebih parah terjadi.

    4. Persaingan Politik

    Pada sebuah negara yang menganut demokrasi seperti Indonesia, masalah persaingan politik selama pemilihan umum atau konflik politik juga bisa menimbulkan konflik. Uniknya, ketegangan ini tak hanya terjadi pada pihak partai politik, namun juga pada lapisan masyarakat yang fanatik dengan salah satu kandidat politik.

    5. Kemiskinan dan Ketidakpastian Ekonomi

    Masalah kemiskinan, tingkat pengangguran, atau ketidakpastian ekonomi juga dapat memicu berbagai contoh konflik sosial di masyarakat terjadi. Umumnya, orang yang struggle untuk memenuhi kebutuhan akan cenderung lebih rentan terjebak pada sebuah konflik.

    6. Ketidaksetaraan dalam Akses ke Pendidikan

    Tingkat kecerdasan dan ketidaksetaraan dalam akses ke pendidikan dapat menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi yang memicu konflik. Orang yang tidak memiliki akses yang sama ke pendidikan seringkali mengalami ketidaksetaraan peluang atau perbedaan mindset.

    7. Korupsi

    Pada dasarnya, korupsi menjadi hal yang merugikan banyak pihak, terutama masyarakat. Sayangnya, korupsi di negara seperti Indonesia sudah cukup mengakar dan sulit untuk diselesaikan. Bahkan, banyak pihak pemerintah atau lembaga-lembaga publik dapat mengakibatkan ketidakpercayaan masyarakat. 

    Ketika rasa ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan menjadi terlalu merajalela, konflik sosial dapat terjadi. Bahkan beberapa kasus dapat menimbulkan chaos dan timbul kerugian pada berbagai sektor, termasuk pemerintahan itu sendiri.

    Dampak yang Bisa Terjadi dari Konflik Sosial Masyarakat

    Sebelum mempelajari beberapa contoh konflik sosial di masyarakat, ada baiknya kamu mempelajari dampak yang mungkin terjadi. Sehingga dengan mengetahui dampak-dampak ini, kamu bisa lebih paham kenapa harus menghindari konflik. Berikut di antaranya:

    1. Kerusakan Fisik dan Kehilangan Nyawa

    Konflik sosial yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan fisik yang serius. Misalnya cedera atau bahkan kematian bagi individu atau kelompok yang terlibat.

    2. Pemisahan dan Pengasingan

    Dampak lain yang mungkin terjadi adalah memisahkan komunitas bahkan keluarga, mengakibatkan pengasingan sosial dan geografis. Hal tersebut juga dapat merusak jaringan sosial dan hubungan antar individu.

    3. Ketidakstabilan Sosial dan Ekonomi

    Terdapat dampak yang mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat. Ini akan mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi, kerusakan infrastruktur, dan kerugian ekonomi.

    4. Ketidaksetaraan yang Lebih Besar

    Beberapa contoh konflik sosial di masyarakat juga dapat meningkatkan ketidaksetaraan. Baik dalam hal akses ke sumber daya maupun layanan dasar seperti pendidikan dan perawatan kesehatan.

    5. Gangguan Terhadap Pendidikan

    Seperti yang sebelumnya kamu pelajari, konflik dapat mengganggu akses pendidikan bagi anak-anak. Sehingga dapat berdampak pada perkembangan masa depan. Serta menurunkan tingkat kecerdasan pada sebuah daerah.

    6. Mempengaruhi Kesehatan Mental dan Emosional

    Orang yang terlibat dalam konflik sosial, seringkali bahkan kebanyakan mengalami tekanan emosional dan stres. Ini juga akan berdampak buruk pada kesehatan mental.

    7. Munculnya Tindakan Ekstrimis dan Terorisme

    Konflik sosial yang tidak segera teratasi, dapat menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi kelompok ekstremis atau teroris. Tentu saja, mereka membuat chaos di tengah masyarakat.

    8. Kerusakan Hubungan Internasional

    Jika konflik melebar dan melibatkan negara atau komunitas internasional, dampak yang mungkin terjadi bahkan dapat merusak hubungan diplomasi. Hubungan perdagangan antar negara juga pasti akan terlibat.

    9. Penghentian Pembangunan

    Beberapa contoh konflik sosial di masyarakat dapat menimbulkan penghentian atau terhambatnya proyek-proyek pembangunan. Termasuk infrastruktur dan inisiatif ekonomi yang dapat menimbulkan banyak kerugian finansial.

    10. Ketidakpastian dan Kehilangan Kepercayaan Publik

    Selain berdampak secara lokal untuk terlibat konflik, dampak lain yang mungkin terjadi adalah ketidakpastian yang dapat mengurangi kepercayaan publik. Hal tersebut akan berdampak buruk apabila yang terlibat adalah lembaga politik.

    10 Contoh Konflik Sosial di Masyarakat

    Ada beberapa contoh konflik yang pernah terjadi di masyarakat, seperti halnya:

    1. Kerusuhan 1998

    Kerusuhan 1998
    Kerusuhan 1998 | Sumber Gambar: Kompas

    Pada kisaran bulan Mei 1998 di kawasan Ibu Kota, terjadi sebuah konflik yang memicu penolakan masyarakat terhadap etnis Tionghoa. Hal tersebut menimbulkan berbagai kerusuhan dan konflik di berbagai lokasi.

    Bahkan, terdapat 1.217 orang yang menjadi korban nyata, 85 kasus pemerkosaan pada gadis Tionghoa, serta terjadi pengungsian besar-besaran. Pada kala itu, sekitar 70.000 orang memutuskan mengungsi ke berbagai wilayah.

    2.  Konflik Aceh

    Ilustrasi Konflik Aceh
    Ilustrasi Konflik Aceh | Sumber Gambar: Kumparan

    Contoh konflik sosial di masyarakat selanjutnya terjadi di kota Aceh karena adanya perbedaan atas hukum Islam serta ketidakpuasan terhadap distribusi sumber daya. Kasus ini terjadi pada kisaran tahun 1977, 1988 dan 1998 yang menimbulkan percekcokan antara warga lokal dan pihak militer.

    3. Pemberontakan PKI di Madiun

    Pemberontakan PKI
    Pemberontakan PKI | Sumber Gambar: Wikipedia

    Pada kisaran tahun 1948, terjadi pemberontakan PKI di daerah Madiun Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya. Hal tersebut berdampak pada perpecahan persatuan masyarakat, serta banyak orang salah sasaran yang jadi korban. 

    Bahkan, menurut beberapa sumber, banyak korban tergeletak di jalanan karena dikira PKI. Padahal, jika ditelusuri kembali, tragedi ini terjadi karena ketidakpuasan beberapa tokoh PKI pada kepemimpinan pemerintahan pusat.

    4. Perang Sampit

    Perang Sampit
    Perang Sampit | Sumber Gambar: Kompas

    Jika kamu generasi 90an, pastinya tragedi perang Sampit jadi kasus konflik antar suku yang sangat mengerikan. Hal tersebut terjadi pada tahun 2001, serta melibatkan dua suku, yakni Dayak dan Madura di Sampit Kalimantan Tengah.

    Perang ini terjadi karena kesalahpahaman dan perbedaan budaya yang menimbulkan korban dan kerugian yang tak terhitung jumlahnya. Baik untuk infrastruktur publik hingga korban luka bahkan jiwa.

    5. Konflik Sosial di Situbondo

    Kerusuhan Situbondo
    Kerusuhan Situbondo | Sumber Gambar: Sejarah Kelam Indonesia

    Berikutnya ada contoh konflik sosial di masyarakat yang terjadi di Situbondo pada kisaran tahun 1996. Penyebab konflik inui sebenarnya hanya terjadi karena perbedaan keyakinan, antara dua kelompok masyarakat. Malangnya, konflik ini berujung pada gerakan anti Kristen dan Tionghoa.

    6. Aksi 212

    Aksi 212
    Aksi 212 | Sumber Gambar: Wikipedia

    Sebenarnya, konflik ini terjadi karena perjuangan beberapa kelompok menuntut hukuman untuk Ahok yang menurut beberapa pihak telah menistakan agama. Aksi ini terjadi 2 Desember 2016 yang membuat ratusan ribu orang melakukan demo. Bahkan membuat macet dan merusak ritme kerja pada hari itu.

    7.  Bullying

    Bullying
    Bullying | Sumber Gambar: Freepik

    Masalah perbedaan ras, sosial dan ekonomi, serta pengaruh lingkungan yang buruk menimbulkan banyak kasus bullying terjadi. Sayangnya, kasus ini juga sempat terjadi pada anak usia dini. Seperti yang terjadi pada beberapa kasus bullying anak SD dan banyak jadi perbincangan belakangan ini.

    8. Konflik di Nusa Tenggara Barat

    Konflik Sumbawa
    Konflik Sumbawa | Sumber Gambar: News Republika

    Ada beberapa faktor yang menyebabkan kejadian ini terjadi, yakni perbedaan etnis dan budaya atas Suku Samawa dan Bali. Sehingga, muncul persaingan sumber daya alam. Kurangnya lapangan kerja serta masalah toleransi beragama juga jadi penyebab utamanya.

    Pada contoh konflik sosial di masyarakat satu ini, terjadi dua kali yang cukup besar. Pada tahun 2013 yang mengakibatkan kerusakan bangunan infrastruktur dan fasilitas umum. Ada juga pada tahun 2018 yang mengakibatkan banyak korban terjadi.

    9. Pembagian Warisan

    Ilustrasi Harta
    Ilustrasi Harta | Sumber Gambar: Dntlawyers

    Konflik sangat lumrah dan bisa terjadi di masyarakat adalah kasus pembagian warisan yang umumnya timbul di tengah keluarga. Bahkan, karena hal ini banyak dampak yang terjadi mulai dari perpecahan keluarga hingga korban nyawa hanya karena masalah harta.

    10. Konflik Sosial Politik

    Pemilu
    Pemilu | Sumber Gambar: Kompas.id

    Pada masa mendekati pemilu seperti sekarang ini, konflik sosial politik seringkali terjadi. Hal tersebut bisa terjadi karena perbedaan pendapat serta pandangan pada sosok kandidat yang didukung. Konflik ini terjadi hampir pada setiap masa pemilu terjadi.

    Sudah Tahu Apa Saja Contoh Konflik Sosial di Masyarakat?

    Dari artikel ini kamu bisa tahu bahwa, konflik sosial dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi banyak pihak. Konflik sendiri bisa terjadi karena terjadi kesalahpahaman, perbedaan pendapatan dan kepercayaan, hingga kesenjangan sosial, budaya dan pendidikan.

    Melihat dampak besar yang bisa kamu terima, ada baiknya untuk mulai menghindari segala kegiatan yang terindikasi menimbulkan konflik besar. Selain itu, ada baiknya untuk mencari solusi terbaik dengan jalan damai atau sesuai hukum untuk segala penyelesaian masalah yang terjadi. Semoga bermanfaat!

  • Rumah Adat Kalimantan Selatan: Filosofi & Keunikan Arsitektur

    Rumah Adat Kalimantan Selatan: Filosofi & Keunikan Arsitektur

    Sebagai daerah asli Suku Banjar, Kalimantan Selatan memiliki rumah tradisional yang masih kental akan filosofi dan maknanya. Setiap sisinya menggambarkan bagaimana budaya dan kehidupan dalam masyarakat setempat. Agar mengenal jenis rumah adat Kalimantan Selatan lebih jauh, kamu bisa simak ulasan lengkap berikut in!

    Mengenal Rumah Adat Kalimantan Selatan

    Salah satu provinsi di pulau Kalimantan adalah Kalimantan Selatan dengan luas 38.744 km2. Provinsi ini memiliki beberapa rumah tradisional yang masih dipertahankan, salah satunya bernama bubungan tinggi. Bangunan ini ada sejak masa Kerajaan Banjar di tahun 1800-an saat berada di bawah pimpinan panembahan Sulaiman.

    Pada versi lain mencatat bahwa, rumah adat Kalimantan Selatan sudah ada dari awal Kerajaan Banjar berdiri, sekitar abad ke-16 SM. Bukti yang tertulis pada arsip Belanda juga menyatakan bahwa, rumah bubungan tinggi di Sungai Jingah Banjarmasin merupakan rumah tradisional tertua yang ada di Kalimantan Selatan.

    Ini terbukti dengan adanya surat izin pembuatan rumah dari pemerintah Belanda pada tahun 1871. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa, kemunculan rumah adat ini sudah ada sejak sebelum merdeka. Selain bubungan tinggi, ada beberapa rumah tradisional lain, yaitu Gajah Manyusu, Gajah Baliku, Palimbangan, dan lainnya. 

    Namun, rumah bubungan tinggi memang paling popular. Bangunannya pun memiliki gaya arsitektur paling kompleks dan sangat kental akan budaya suku Banjar. 

    Rumah adat ini juga menyesuaikan kondisi alam dan tata letak geografis yang dikelilingi oleh hutan dan pohon yang besar. Sehingga, bangunannya harus kuat dan dapat melindungi dari hewan buas dan cuaca ekstrim.

    Baca Juga : 5 Rumah Adat Kalimantan Barat: Jenis, Nama, dan Keunikannya

    Jenis Rumah Adat Kalimantan Selatan

    Jika kamu lihat sekilas, rumah adat di beberapa daerah memiliki bentuk dan ornamen yang mirip. Namun, jika menelisik lebih jauh, setiap sisi dan bentuknya memiliki makna dan filosofi berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa jenis rumah tradisional Kalimantan Selatan beserta filosofinya:

    1. Rumah Adat Bubungan Tinggi 

    Rumah Adat Bubungan Tinggi
    Rumah Adat Bubungan Tinggi | Sumber gambar: Simdapokbud.banjarkab

    Bangunan bergaya rumah panggung ini memiliki nilai yang tinggi karena pernah menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya. Meskipun desainnya sederhana, kesan mewah pada rumah ini masih tetap terasa.

    Rumah adat Kalimantan Selatan ini dibangun dengan material utama kayu ulin atau kayu besi yang terkenal memiliki ketahanan sangat bagus dan bisa bertahan selama ratusan tahun. Tidak hanya kayu ulin, beberapa kayu dengan kualitas terbaik juga digunakan dalam bangunan ini. 

    Kayu lain tersebut meliputi kayu galam dan kapur naga untuk pondasi. Lalu, kayu lanan sebagai dinding, damar putih untuk pembelokan, dan bambu yang terpasang sebagai lantai dapur. Atap pada rumah ini biasanya menggunakan bahan kayu ulin dengan potongan tipis. Ini bertujuan agar rumah lebih tahan dalam segala cuaca. 

    Awalnya, rumah bubungan tinggi hanyalah bangunan dengan bentuk persegi panjang. Namun, seiring berkembangnya waktu, sisi kanan dan sisi kiri ditambahkan bangunan yang berukuran sama besar dan dinamakan anjung. 

    Rumah bubungan tinggi juga melambangkan perpaduan antara dunia atas dan dunia bawah. Terlihat  pada ukiran burung enggang samar di bagian ujung garis lintang atap rumah yang memiliki makna alam atas. Sedangkan ukiran naga di ujung penampih atau papan yang mengelilingi bagian bawah rumah bermakna alam bawah.  

    Ukiran-ukiran ini sengaja disamarkan karena menganut ajaran islam yang percaya bahwa tidak boleh membuat ukiran makhluk bernyawa secara jelas. Secara keseluruhan, wujud rumah melambangkan pohon kehidupan. Di mana ini memiliki makna keseimbangan dan keharmonisan.

    2. Rumah Adat Gajah Baliku

    Rumah Adat Gajah baliku
    Rumah Adat Gajah baliku | Sumber gambar: Indonesia Kaya

    Secara wujud, bangunan ini memiliki kemiripan dengan rumah adat bubungan tinggi. Perbedaannya terletak pada ruang tamu atau ruang paluaran. Di mana rumah bubungan tinggi memilki lantai berjenjang, sedangkan pada rumah ini lantainya tidak berjenjang. 

    Hal tersebut ada kaitannya dengan fungsi bubungan tinggi yang dulunya adalah sebuah kraton atau ndalem sultan. Jadi, tata ruangnya bersifat hierarkis. 

    Perbedaan kedua terlihat pada atap. Di mana bubungan tinggi tidak menggunakan atap sengkuap atau sindana langit. Sedangkan rumah Gajah Baliku memakai kuda-kuda dengan atap perisai atau atap gajah. 

    Melihat dari sejarahnya, rumah adat gajah baliku muncul setelah bubungan tinggi. Sehingga, secara filosofinya juga tidak berbeda jauh. Di mana rumah ini merepresentasikan keseimbangan antara manusia dengan sang pencipta, kepada alam, dan kepada sesama makhluk hidup. 

    Salah satu rumah adat jenis ini di Teluk Selong juga menjadi rumah adat Banjar yang ada di masa kejayaannya. Gaya arsitekturnya merepresentasikan kekuatan pada bahan kayu dengan unsur utama kearifan masyarakat dengan alam. Ini terlihat dari atap gajah baliku yang berasal dari kayu.

    3. Rumah Adat Balai Bini

    Ilustrasi Rumah Adat
    Ilustrasi Rumah Adat | Sumber gambar: Klikkalsel.com

    Ini merupakan jenis rumah baanjung yang diperuntukkan sebagai hunian para puteri, itulah kenapa namanya menjadi balai bini. Selain memiliki arsitektur khas salah satu Rumah adat balai bini yang berada di Jalan 9 November, Pangembangan, Banua Anyar, Banjarmasin adalah salah satu yang paling popular.

    Selain memiliki gaya arsitektur khas Banjar yang sangat unik, bangunan ini memiliki nilai historis yang panjang sehingga layak untuk menjadi cagar budaya. Sejak pembangunannya tahun 1842 oleh Pembakal Kampung Pengembangan Haji Sanudin, bentuk bangunan ini dipertahankan dan tidak mengalami perubahan signifikan. 

    Rumah adat Kalimantan Selatan ini memiliki bangunan induk dengan atap perisai yang terkenal dengan sebutan atap gajah. Maknanya adalah perlindungan untuk wanita. Pada anjung atau sayap bangunan menggunakan atap sengkuap. Biasanya ini orang sebut sebagai pisang sasikat

    Dulu bangunan rumah induknya menggunakan konstruksi berbentuk segi empat memanjang dari arah depan ke arah belakang. Bagian ini juga menutupi bagian depan dengan pasangan atap perisai. Atap ini membuat sebagian ruang serambi tertutup hingga yang ada di belakangnya. 

    Perkembangan rumah ini juga terlihat dari atap sengkuap sindang langit atau emper bagian depan. Bagian atap balai bini terpasang jurai luar yang bentuknya melebar ke bagian atap emper bagian samping.

    4. Rumah Adat Lanting

    Ilustrasi Rumah Adat
    Ilustrasi Rumah Adat | Sumber gambar: Kompas.id

    Lanting merupakan rumah rakit tradisional khas suku Banjar Kalimantan Selatan. Bangunannya mengapung di sungai atau rawa dengan pondasi rakit. Rumah Lanting memiliki hubungan erat dengan kebudayaan Suku Banjar yang kehidupannya bergantung kuat dengan keberadaan sungai. 

    Dulu, rumah rakit merupakan tempat tinggal para nelayan. Lalu, seiring berkembangnya waktu, masyarakat yang tidak berprofesi sebagai nelayan pun ikut menghuni rumah model ini. Rumah Lanting dapat dijumpai sepanjang sungai wilayah Kalimantan Selatan, sebagai warisan arsitektur budaya Banjarmasin. 

    Dari segi fisik, rumah ini memang tidak memiliki perubahan signifikan. Masih tetap berbahan kayu. Lalu, bagian dasarnya menggunakan batang kayu gelondong atau drum yang berfungsi sebagai fondasi agar rumah dapat mengapung. Bagian pondasi yang terdiri dari susunan batang pohon besar, biasanya berjumlah tiga potong. 

    Dinding rumah terbentuk dari susunan kayu lanan secara mendatar. Atapnya adalah pelana dari rumbia atau seng. Bahan titian yang berasal dari kayu atau bambu digunakan untuk menghubungkannya dengan daratan. Rumah yang mengapung sendiri memiliki filosofi kemampuan masyarakat untuk beradaptasi di lingkungan sungai.

    5. Rumah Adat Palimbangan 

    Ilustrasi Rumah Adat
    Ilustrasi Rumah Adat | Sumber gambar: Gorden313

    Palimbangan menjadi salah satu rumah adat Kalimantan Selatan yang lekat dengan nilai-nilai keagamaan. Pada masa kesultanan Banjar, rumah adat ini pernah menjadi tempat tinggal bagi tokoh agama Islam dan juga para alim ulama. Secara fisik, bangunan rumah ini juga sangat unik. 

    Bagian bubungan atapnya menggunakan atap pelana yang berbentuk tebar tayar atau tawing layar. Di bagian teras depan diberi sengkuap sebagai penutup. Perbedaan dari rumah adat lain terdapat pada hiasan ukirannya yang khas motif Banjar, yaitu anak catur. Di mana bagian kanan kirinya terukir jengger ayam, lipan, atau paku alai. 

    Rumah ini memiliki 4 pilar yang menjadi simbol agama Islam. Pilar pertama menyimbolkan syariat Islam, kedua tarekat, ketiga hakikat atau dasar agama, dan keempat adalah penyerahan diri pada Allah. 

    Baca Juga : 6 Pakaian Adat Kalimantan Selatan, Makna, dan Ciri Khasnya

    Sudah Tahu Apa Saja Rumah Adat Kalimantan Selatan?

    Berbagai rumah adat Kalimantan Selatan ternyata memiliki nilai budaya dan tradisi yang masih sangat terjaga. Bukan hanya dari segi fisik bangunan, tetapi juga nilai historis yang ada di dalamnya. Representasi dari budaya masyarakat dan simbolik kehidupan memang biasanya terwakilkan dari rumah tradisional.

    Meskipun seiring berjalannya waktu beberapa bangunan sudah mengalami penyesuaian, pemerintah setempat tetap giat melakukan upaya pelestarian. Sebagai generasi penerus bangsa, kamu bisa membantu upaya pemerintah dengan mengenal berbagai jenisnya agar tidak buta pada budaya nusantara. Semoga bermanfaat!

  • Contoh Hubungan Sosial, Bentuk dan Penjelasannya 

    Contoh Hubungan Sosial, Bentuk dan Penjelasannya 

    Mempelajari berbagai contoh hubungan sosial dapat membantu kamu memahami konsepnya secara luas. Pemahaman tersebut akan membantu meningkatkan interaksi sosial antara makhluk sosial, termasuk kamu, dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, tambah wawasan kamu melalui artikel ini!

    Apa Itu Hubungan Sosial? Berikut Penjelasannya! 

    Di dalam ilmu sosiologi, terdapat topik yang mempelajari tentang hubungan dan interaksi sosial. Lantas, apa sih itu hubungan sosial? 

    Menurut pendapat Gilin dan Gilin, hubungan sosial merupakan sebuah hubungan dinamis yang terjalin antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Hubungan sosial dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, tergantung dari individu dan kelompok yang bersangkutan. 

    Singkatnya, makna hubungan sosial adalah interaksi yang terjalin antara seseorang dengan orang lain dengn tujuan saling mempengaruhi dan memberikan informasi. 

    Nah, salah satu contoh hubungan sosial yang umum kamu temukan adalah rapat atau meeting di tempat kerja. Dalam kegiatan tersebut, setiap individu berdiskusi dengan rekan kerja dan memberikan gagasan satu sama lain. 

    Contoh Hubungan Sosial, Ada Apa Saja? 

    Contoh Hubungan Sosial Diskusi Kelompok
    Contoh Hubungan Sosial Diskusi Kelompok | Sumber gambar: Kompasiana.com

    Jika kamu jeli, kamu bisa menemukan berbagai contoh interaksi sosial yang ada di sekitar, baik itu antara sesama individu, atau dengan kelompok. Bahkan, kamu mungkin berpartisipasi dan terlibat dalam salah satu dari lima contoh interaksi sosial di bawah ini!

    1. Contoh Hubungan Sosial secara Langsung

    Interaksi atau hubungan sosial secara langsung pada dasarnya melibatkan komunikasi tatap muka. Berikut adalah contoh interaksi sosial yang terjadi secara langsung. 

    a. Diskusi Kelompok

    Aktivitas diskusi kelompok umumnya terjadi di kalangan anak sekolah dan mahasiswa. Diskusi kelompo memungkinkan terjadinya pertukaran ide, gagasan, atau pendapat. 

    Dengan begitu, setiap anggota kelompok dapat menyuarakan opininya masing-masing demi mencapai tujuan bersama. 

    b. Rapat atau Meeting 

    Contoh hubungan sosial berikutnya terjadi pada saat rapat atau meeting di kantor. Di dalam konteks profesional, kamu juga dapat melakukan diskusi bersama rekan kerja. Interaksi semacam ini biasanya bertujuan untuk mengambil keputusan atau menyusun sebuah proyek secara efektif.  

    c. Pertemuan Tatap Muka 

    Interaksi langsung umumnya ditandai dengan adanya pertemuan secara tatap muka. 

    Tanpa kamu sadari, pertemuan tatap muka selalu melibatkan komunikasi verbal maupun non verbal di antara orang-orang yang terlibat. Maka, kamu bisa mendapatkan informasi tambahan melalui mimik wajah, gerak tubuh, atau kontak mata dari lawan bicara. 

    Contohnya adalah pertemuan wali kelas dan wali murid dalam pembagian raport.

    d. Komunikasi Keluarga 

    Interaksi sosial juga kerap terjadi di dalam keluarga, misalnya saat makan bersama atau kumpul keluarga. Melakukan komunikasi keluarga disinyalir bisa mempererat ikatan emosional antar anggota keluarga sekaligus berbagai pengalaman. 

    e. Bimbingan atau Pelatihan 

    Sewaktu kamu mengikuti sebuah bimbingan kursus atau pelatihan, tentu terjadi sebuah interaksi dengan tutor maupun rekan-rekan yang ada di sana. Lewat interaksi sosial dalam kursus atau pelatihan terjadi proses pertukaran ilmu pengetahuan. 

    2. Contoh Hubungan Sosial secara Tidak Langsung 

    Contoh Hubungan Sosial Mengirim Karangan Bunga
    Contoh Hubungan Sosial Mengirim Karangan Bunga | Sumber gambar: Tribunnews.com 

    Hubungan sosial juga bisa dilakukan secara tidak langsung melalui berbagai cara. Apakah kamu pernah melakukan salah satu contoh interaksi sosial secara tidak langsung berikut ini?

    a. Titip Surat Izin  

    Hampir setiap orang yang pernah duduk di bangku sekolah pasti pernah mengirimkan surat izin ketika sakit. Apakah kamu juga salah satunya? Jika iya, maka tindakan tersebut termasuk salah satu contoh interaksi sosial secara tidak langsung. 

    Ketika kamu sakit, kamu pasti pernah menitipkan surat izin pada teman atau orang lain untuk disampaikan kepada guru. 

    Nah, dalam kondisi ini, teman kamu berperan sebagai perantara yang menyampaikan informasi tersebut sehingga tidak ada interaksi langsung antara kamu dengan guru atau wali kelas yang menerima surat izin. Itulah alasannya aktivitas ini menjadi contoh interaksi tidak langsung. 

    2. Titip Pesan 

    Selain titip surat izin, titip pesan juga termasuk salah satu contoh hubungan sosial secara tidak langsung, lo. Interaksi semacam ini juga sering terjadi dalam konteks guru dan siswa. 

    Guru akan menitipkan pesan pada ketua kelas, dan kemudian menyampaikannya ke teman-teman sekelasnya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa guru tidak melakukan interaksi secara langsung kepada murid-muridnya. 

    3. Memberi Ucapan Belasungkawa melalui Karangan Bunga 

    Peristiwa kematian juga bisa menunjukkan perilaku hubungan sosial secara tidak langsung. Ketika ada kerabat atau keluarga yang meninggal, beberapa orang mungkin mengirimkan ucapan belasungkawa melalui karangan bunga daripada melayat. 

    Nah, pesan turut berbelasungkawa yang tertera dalam karangan bunga bisa termasuk kategori hubungan sosial secara tidak langsung. Alasannya adalah karena pesan tersebut disampaikan melalui simbolisasi atau perantara, tidak secara tatap muka. 

    Apa Saja Bentuk-bentuk Hubungan Sosial? Yuk, Simak! 

    Konflik Demonstrasi
    Konflik Demonstrasi | Sumber gambar: Katadata

    Interaksi yang kamu jalin dengan orang lain sangat dinamis dan tidak terpaku pada satu pola atau bentuk. Pelajari tujuh bentuk hubungan sosial dalam uraian di bawah ini supaya kamu bisa mengenali perbedaannya. 

    1. Akomodasi  

    Usaha yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengurangi ketegangan akibat konflik disebut sebagai akomodasi. Tujuan akomodasi adalah untuk menyeimbangkan situasi agar mencapai ketenangan. 

    Beberapa bentuk akomodasi yang umum ditemukan adalah kompromi, konsiliasi, koersi, mediasi, dan toleransi. Bentuk-bentuk akomodasi ini dapat digunakan sesuai dengan situasi konflik yang terjadi. 

    2. Persaingan

    Bila kamu mengamati sekitar, interaksi sosial seperti persaingan antar individu maupun kelompok adalah hal yang wajar dalam kehidupan. Persaingan merupakan suatu usaha individu maupun kelompok untuk mencapai keberhasilan tanpa melakukan tindakan kekerasan. 

    Bentuk interaksi sosial ini juga bisa terjadi dalam berbagai contoh hubungan sosial di atas, seperti dalam diskusi kelompok atau aktivitas pelatihan. 

    3. Kerja Sama 

    Ketika ada lebih dari dua orang individu yang melakukan usaha bersama demi mencapai suatu tujuan, maka kegiatan tersebut dinamakan kerja sama. Bentuk interaksi sosial  ini dapat terjadi apabila pihak-pihak yang terlibat dapat saling membantu, sehingga terjalin suatu sinergi yang baik. 

    4. Bentuk dan Contoh Hubungan Sosial Disosiatif: Kontravensi 

    Interaksi sosial seperti pertentangan, pertikaian, maupun persaingan dapat berujung pada perpecahan. Maka dari itu, hubungan sosial semacam ini tergolong dalam bentuk interaksi sosial disosiatif. 

    Bentuk kontravensi yang umum terjadi di masyarakat antara lain adalah menghasut, memfitnah, mengintimidasi, berkhianat, dan memprovokasi. Jika dibiarkan, perilaku semacam ini dapat menimbulkan kebencian. 

    5. Asimilasi 

    Dua budaya atau lebih yang menyatukan  dan menghilangkan ciri khas dari suatu budaya merupakan bentuk asimilasi. Interaksi sosial ini muncul ketika golongan masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda saling berinteraksi dalam jangka waktu lama secara intensif.  

    6. Akulturasi 

    Percampuran yang terjadi antara dua budaya atau lebih menjadi satu, tetapi tidak menghilangkan ciri khas budaya aslinya merupakan bentuk akulturasi. Di Indonesia, bentuk akulturasi budaya cukup mudah kamu temukan. 

    Latar belakang geografis Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa membuat proses akulturasi lebih sering terjadi. Bentuk interaksi sosial ini juga termasuk salah satu cara adaptasi masyarakat pendatang yang tinggal di wilayah baru. 

    7. Konflik 

    Salah satu interaksi sosial disosiatif paling berbahaya adalah konflik. Umumnya, konflik dapat terjadi karena dipicu oleh perbedaan pendapat atau pandangan yang ekstrim sehingga mengakibatkan rasa benci antara satu sama lain. 

    Sudah Paham ‘kan tentang  Contoh Hubungan Sosial, Bentuk, dan Penjelasannya?  

    Ketika kamu berada dalam lingkungan masyarakat, baik kecil maupun besar, aktivitas kamu tidak lepas dari interaksi atau hubungan sosial. 

    Sejumlah contoh hubungan sosial, baik langsung maupun tidak langsung, yang dijelaskan di atas juga menunjukkan berbagai bentuk interaksi sosial. Di antaranya ada yang bersifat negatif, tetapi tidak sedikit yang bersifat positif. 

  • 15 Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Peran Pentingnya yang Perlu Diketahui

    15 Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Peran Pentingnya yang Perlu Diketahui

    Apakah kamu hafal siapa saja tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia? Sejatinya, masing-masing tokoh nasional memberi sumbangsih dan kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. 

    Yuk, segarkan kembali ingatan kamu lewat pembahasan sosok yang berperan dalam proklamasi kemerdekaan negara kita berikut ini!

    Siapa Saja Tokoh proklamasi Kemerdekaan Indonesia?

    Menurut sejarah, peristiwa kemerdekaan Indonesia ditandai dengan momen upacara proklamasi kemerdekaan. Pada momen tersebut, hadir pula sejumlah sosok penting yang sekarang kamu kenal sebagai tokoh proklamasi. Nah, berikut ini adalah nama dan profil singkat mereka.  

    1. Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Ir. Soekarno 

    Ir. Soekarno
    Ir. Soekarno | Sumber gambar: Tribunnews.com

    Hampir seluruh masyarakat Indonesia pasti mengenal Bapak Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Sebagai tokoh sekaligus pahlawan nasional, Bung Karno banyak berkontribusi dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Jepang. 

    Pasalnya, Bung Karno terlibat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan RI dengan membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). 

    Tak hanya sampai di situ saja, tetapi beliau dan Bung Hatta juga sempat mengalami perdebatan sengit dengan para tokoh pemuda yang mendesaknya untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

    Untungnya, upaya Bung Karno bersama tokoh bangsa lainnya dalam memperjuangkan kemerdekaan dapat terwujud melalui pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Di dalam upacara proklamasi tersebut, Bung Karno berperan dalam menandatangani dan membaca teks proklamasi. 

    2. Drs. H. Mohammad Hatta 

    Moh. Hatta
    Moh. Hatta | Sumber gambar: Suara.com

    Belum afdal rasanya bila belum menyebut nama Bung Hatta di daftar tokoh nasional yang berperan penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagi yang belum tahu, beliau adalah salah satu rekan dekat Bung Karno di dalam memperjuangkan kemerdekaan. 

    Ketika upacara proklamasi, Bung Hatta memiliki peran penting dalam menyusun dan menandatangani teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Setelah peristiwa tersebut, beliau juga menjabat sebagai wakil presiden pertama di negara ini. 

    3. KH. Wahid Hasyim 

    Wahid Hasyim
    Wahid Hasyim | Sumber gambar: NU Jabar Online

    KH. Wahid Hasyim merupakan salah seorang tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia yang tergabung sebagai anggota dalam Panitia Sembilan. Beliau bertugas untuk menyusun rumusan dasar negara berupa pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. 

    Selain itu, Wahid Hasyim juga turut terlibat dalam proses persiapan kemerdekaan dengan bergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh Soekarno. 

    Salah satu perannya menjelang proklamasi kemerdekaan adalah menjaga masyarakat Indonesia dari isu agama yang berisiko memicu perpecahan. 

    4. Fatmawati

    Fatmawati
    Fatmawati | Sumber gambar: Tribunnews.com

    Mengikuti jejak sang suami, Fatmawati Soekarno juga sedikit banyak terlibat dalam proses upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Salah satu kontribusi paling ikonik yang pernah dilakukan Fatmawati adalah menjahit bendera merah putih untuk dikibarkan pada saat upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia. 

    5. Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Sutan Syahrir  

    Sutan Syahrir
    Sutan Syahrir | Sumber gambar: InfoSumbar.com

    Sutan Syahrir kerap dikenal sebagai sosok yang intelek dan revolusioner. Beliau telah membentuk sebuah himpunan pemuda nasionalis bernama Jong Indonesie yang bertujuan untuk menyuarakan cita-cita persatuan Indonesia. 

    Sutan Syahrir merupakan orang pertama yang mendengar kabar bahwa Jepang telah kalah dari Sekutu pasca peristiwa bom atom di Kota Nagasaki dan Hiroshima. 

    Setelah itu, Sutan Syahrir bersama dengan sejumlah pemuda lain mendorong Soekarno dan Hatta bersembunyi di Rengasdengklok untuk menyusun langkah sekaligus naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. 

    6. Sayuti Melik

    Sayuti Melik
    Sayuti Melik | Sumber gambar: Beritajatim.com

    Selama masa-masa persiapan kemerdekaan RI, Sayuti Melik termasuk salah seorang golongan muda yang terlibat menyembunyikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Beliau merupakan anggota PPKI (Panitia Pelaksana Kemerdekaan Indonesia) yang berperan penting dalam peristiwa ini. 

    Menjelang tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno mempercayai Sayuti Melik untuk bertugas mengetik teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Teks tersebut yang nantinya akan dibacakan oleh Bung Karno dalam prosesi upacara proklamasi. 

    7. Ahmad Soebardjo

    Ahmad Soebardjo
    Ahmad Soebardjo | Sumber gambar: Gramedia.com

    Tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia selanjutnya adalah Ahmad Soebardjo. Beliau merupakan salah seorang tokoh yang berjasa dalam meyakinkan para pemuda untuk segera membawa pulang Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta pasca persembunyian di Rengasdengklok. 

    Berkat upayanya, peristiwa pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bisa terlaksana. Bahkan, Ahmad Soebardjo juga menjadi salah satu tokoh yang terlibat dalam penulisan naskah teks proklamasi. 

    8. Moewardi 

    Moewardi
    Moewardi | Sumber gambar: Kompas.com

    Seorang lulusan kedokteran dan sekaligus berprofesi sebagai dokter THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan) ini juga jarang dibahas dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. 

    Padahal, dr. Moewardi termasuk salah satu orang yang ikut berperan dalam upacara Proklamasi Kemerdekaan. Salah satu tugas beliau adalah mengamankan situasi dan ancaman kerusuhan selama proses pembacaan teks proklamasi berlangsung. 

    9. Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Abdul Kahar Moezakir 

    Abdul Kahar Muzakir
    Abdul Kahar Muzakir | Sumber gambar: IDN Times Jogja

    Sepanjang proses persiapan menjelang kemerdekaan Indonesia, Abdul Kahar Moezakir memikul tugas yang cukup penting. Pasalnya, beliau merupakan salah seorang anggota BPUPKI dan anggota Panitia Sembilan yang bertugas untuk merencanakan kemerdekaan Indonesia. 

    Selama bertugas menjadi anggota, Abdul Kahar Moezakir mengemban tanggung jawab dalam menyusun teks pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Rumusan tersebut kemudian disahkan menjadi naskah Piagam Jakarta. 

    10. Soekarni

    Soekarni
    Soekarni | Sumber gambar: Suara Jogja 

    Buku pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia mungkin belum banyak membahas tentang tokoh nasional yang satu ini. Namun, kontribusinya dalam mempersiapkan kemerdekaan RI (Republik Indonesia) ternyata cukup besar. 

    Beliau  termasuk barisan pemuda yang memboyong dan mendorong Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk melaksanakan proses proklamasi. Selama masa-masa tersebut, beliau dan teman-teman lainnya terus berupaya meyakinkan dan mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI. 

    11. Chaerul Saleh 

    Chaerul Saleh
    Chaerul Saleh | Sumber gambar: Disway

    Salah satu alasan mengapa para pemuda, termasuk Chaerul Saleh, membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok adalah agar kedua tokoh pejuang senior tersebut tidak terpengaruh oleh Jepang. 

    Para pemuda tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia itu ingin proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia bisa segera terlaksana sementara Jepang masih sibuk mengurus kondisi negaranya setelah mendapat serangan bom. 

    Chaerul Saleh membantu menyiarkan berita proklamasi ke seluruh rakyat Indonesia melalui siaran radio segera setelah proses Proklamasi Kemerdekaan RI terjadi.   

    12. Latief Hendraningrat

    Latief Hendraningrat
    Latief Hendraningrat | Sumber gambar: Tribunnews.com 

    Tokoh nasional yang satu ini tergabung dalam organisasi Pembela Tanah Air (PETA). Tetapi, beliau juga berperan aktif dalam memperjuangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. 

    Soekarno dan Hatta mempercayai beliau untuk mendampingi mereka dalam proses pembacaan naskah teks proklamasi. Bukan hanya itu saja, Latief Hendraningrat turut bertugas menjadi pasukan pengibar bendera Merah Putih yang pertama kali pada saat proklamasi.    

    13. Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Otto Iskandar Dinata  

    Otto Iskandar Dinata
    Otto Iskandar Dinata | Sumber gambar: Tribunnews.com

    Potret wajah Otto Iskandar Dinata bisa kamu lihat pada pecahan uang Rp20.000,00 keluaran tahun 2016. Wajah beliau diabadikan dalam pecahan rupiah bukan tanpa alasan, sebab Otto Iskandar Dinata memiliki peranan yang cukup penting dalam sejarah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. 

    Faktanya, sosok Otto Iskandar Dinata turut tergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan ikut merancang rumusan Undang-undang Dasar 1945. Di samping itu, beliau adalah orang pertama yang mengusulkan Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI pasca proklamasi. 

    14. Wikana 

    Wikana
    Wikana | Sumber gambar: Suara Indonesia 

    Tokoh pemuda ini terlibat dalam peristiwa penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Oleh sebab itu, perannya selama proses persiapan kemerdekaan tidak kalah penting dari tokoh-tokoh lainnya. 

    Kemampuannya dalam berbahasa asing telah membantu menyampaikan berita kekalahan Jepang atas Sekutu pada Soekarno-Hatta. Koneksinya dengan para perwira Jepang juga telah memudahkan proses persiapan kemerdekaan di rumah dinas Laksamana Maeda. 

    15. Laksamana Maeda 

    Laksamana Maeda
    Laksamana Maeda | Sumber gambar: Validnews.com

    Tidak banyak yang tahu kalau Laksamana Maeda merupakan tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia berkebangsaan Jepang. Bahkan, beliau telah menjabat sebagai Wakil Komandan Angkatan Laut (AL) Jepang di Jakarta. 

    Walaupun begitu, beliau termasuk salah satu pihak asing yang pro terhadap kemerdekaan Indonesia. 

    Terlepas dari latar belakang kewarganegaraannya, Laksamana Maeda termasuk sosok yang penting dalam proses persiapan kemerdekaan. Buktinya, beliau telah mengizinkan para pejuang kemerdekaan untuk memakai rumahnya sebagai tempat merumuskan teks proklamasi. 

    Mengapa Kamu Harus Menghargai Peran para Tokoh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia? Ini Alasannya! 

    Di dalam pidatonya, Bung Karno pernah berkata bahwa, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya”. Bila mengacu pada isi pidato tersebut, maka kamu harus belajar untuk menghargai jasa-jasa pahlawan, termasuk tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia.  

    Setelah mengenal lebih baik tokoh-tokoh di atas, tindakan selanjutnya yang patut kamu lakukan adalah meneladani sikap terpuji para pahlawan tersebut dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Salah satu contohnya adalah dengan semangat belajar agar bisa membantu membangun negeri di masa depan. 

  • Sejarah PMI dan Perannya dalam Masyarakat Indonesia

    Sejarah PMI dan Perannya dalam Masyarakat Indonesia

    Indonesia adalah negara dengan beragam kekayaan budaya dan alam. Namun, Indonesia juga merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung berapi. Untuk menghadapi berbagai bencana ini, Indonesia memiliki sebuah organisasi yang sangat penting, yaitu Palang Merah Indonesia (PMI) serta banyak peristiwa yang erat dengan sejarah PMI. 

    Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi sejarah PMI, peran, dan tujuan strategisnya yang vital bagi masyarakat Indonesia.

    Sejarah PMI di Indonesia

    Sejarah PMI di Indonesia memiliki latar belakang yang cukup panjang. Awal mula berdirinya PMI dimulai sebelum Perang Dunia II. 

    Awal Mula saat Rencana Pembentukan PMI Selalu Ditolak

    Pada tanggal 21 Oktober 1873, Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan sebuah organisasi kemanusiaan di Indonesia yang dikenal dengan nama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai). Namun, selama pendudukan Jepang, organisasi ini harus dibubarkan.

    Awal sejarah PMI dan perjuangan untuk mendirikan Palang Merah Indonesia sendiri dimulai sekitar tahun 1932. Dr. RCL Senduk dan Dr. Bahder Djohan memainkan peran penting dalam memimpin usaha ini. 

    Rencana mereka mendapat dukungan yang luas, terutama dari kalangan intelektual Indonesia. Mereka berusaha keras untuk mengajukan rancangan pembentukan organisasi tersebut dalam sidang Konferensi Nerkai pada tahun 1940, meskipun akhirnya usaha ini ditolak secara tegas. Rancangan ini terpaksa disimpan untuk menunggu kesempatan yang lebih tepat.

    Namun, semangat mereka tidak luntur. Saat pendudukan Jepang, mereka mencoba lagi untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, tetapi sekali lagi, usaha ini mengalami kendala dari Pemerintah Tentara Jepang. Sehingga, rancangan ini harus disimpan untuk kedua kalinya.

    Badan Palang Merah Resmi Terbentuk

    Setelah menerima berbagai penolakan, baru tujuh belas hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk sebuah Badan Palang Merah Nasional. Sejarah PMI berdiri pun akhirnya tercipta.

    Atas perintah tersebut, Dr. Buntaran, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet I Republik Indonesia, membentuk Panitia 5 yang terdiri dari:

    1. dr. R. Mochtar (Ketua), 
    2. dr. Bahder Djohan, 
    3. dr. Djuhana, 
    4. dr. Marzuki, dan 
    5. dr. Sitanala.

    Akhirnya, pada tanggal 17 September 1945, Perhimpunan Palang Merah Indonesia berhasil didirikan dan mulai melaksanakan kegiatannya, termasuk memberikan bantuan kepada korban perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia serta melakukan pemulihan tawanan perang, baik sekutu maupun Jepang.

    Donor darah PMI
    Donor darah PMI | Sumber: Pexels.com

    Berkat kinerja yang sangat mulia ini, Palang Merah Indonesia mendapatkan pengakuan secara internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional. 

    Selanjutnya, keberadaannya diakui secara nasional melalui Keputusan Presiden No. 25 tahun 1959, yang kemudian diperkuat oleh Keputusan Presiden No. 246 tahun 1963.

    Saat ini, jaringan kerja Palang Merah Indonesia meluas hingga mencakup 30 daerah provinsi atau Tingkat I dan 323 cabang di daerah Tingkat II, serta didukung oleh 165 unit Transfusi Darah di seluruh Indonesia. 

    Organisasi ini telah memainkan peran yang sangat penting dalam memberikan bantuan kemanusiaan dan pertolongan pertama di Indonesia, terutama dalam situasi bencana alam dan konflik. 

    Peran PMI dalam Masyarakat Indonesia

    Tensi darah
    Tensi darah | Sumber: pexels.com

    Setelah belajar tentang sejarah PMI, kini saatnya kita mengetahui bagaimana peran PMI dalam masyarakat Indonesia. 

    PMI memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia. Organisasi ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kemanusiaan dalam situasi bencana, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan sehari-hari. 

    Berikut adalah beberapa peran penting PMI dalam masyarakat Indonesia:

    1. Penanganan Bencana Alam

    Salah satu peran utama PMI adalah menangani bencana alam. Indonesia adalah negara yang rawan terhadap gempa bumi, tsunami, banjir, dan letusan gunung berapi. PMI selalu siap untuk merespons bencana-bencana ini dengan cepat, dengan memberikan bantuan medis, evakuasi, dan kebutuhan dasar bagi korban bencana.

    2. Penyediaan Layanan Donor Darah

    Tak kalah penting, PMI menyediakan layanan transfusi darah sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1980. 

    Mereka mengumpulkan darah dari para donor sukarela dan mendistribusikannya kepada mereka yang membutuhkan, seperti pasien di rumah sakit atau korban bencana. 

    Program donor darah ini telah menyelamatkan banyak nyawa. Bagi yang hendak menjadi pendonor sukarela, berikut ini adalah syarat-syaratnya:

    • Usia minimal 17 tahun.
    • Berat badan melebihi 45 kilogram.
    • Tekanan darah sistolik berkisar antara 90 hingga 160 mmHg.
    • Tekanan darah diastolik berkisar antara 60 hingga 100 mmHg.
    • Denyut nadi berkisar antara 60 hingga 100 kali per menit dan berdetak secara teratur.
    • Kadar hemoglobin dalam rentang 12.5 g/dL hingga 17 g/dL.
    • Wajib makan atau sarapan sebelum proses pengambilan darah.
    • Tidak mengonsumsi obat selama 5 hari terakhir.
    • Tidak sedang mengalami menstruasi, hamil, atau menyusui.
    • Tidak menggunakan alkohol atau narkotika.
    • Bebas dari penyakit jantung, hati, ginjal, paru-paru, diabetes, gangguan pembekuan darah, epilepsi, kanker, atau penyakit kulit.
    • Setidaknya telah dua bulan sejak donasi darah terakhir.
    • Harus memiliki kartu identitas (KTP/SIM/Kartu Pelajar/Kartu Tanda Anggota PMI).

    3. Pelayanan Kesehatan

    Menjelaskan obat
    Menjelaskan obat | Sumber: pexels.com

    Sejak awal sejarah PMI yang panjang, kini organisasi tersebut sudah memiliki fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan pusat kesehatan yang memberikan pelayanan medis kepada masyarakat, terutama yang kurang mampu. 

    Mereka juga memberikan layanan kesehatan ke daerah-daerah terpencil yang sulit terjangkau oleh layanan kesehatan pemerintah.

    4. Penyuluhan Kesehatan

    PMI aktif dalam penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Mereka memberikan informasi tentang kesehatan, kebersihan, dan tindakan pencegahan penyakit kepada masyarakat, terutama di daerah pedesaan.

    5. Pelatihan Pertolongan Pertama

    Sejak awal sejarah PMI, organisasi tersebut sampai sekarang juga memberikan pelatihan pertolongan pertama kepada masyarakat. Ini penting karena pengetahuan pertolongan pertama bisa menyelamatkan nyawa dalam situasi darurat.

    6. Pelaksanaan Program Kesejahteraan Sosial Masyarakat

    PMI juga memiliki program kesejahteraan sosial yang membantu masyarakat yang membutuhkan, seperti anak-anak yatim piatu, kaum difabel, dan orang tua tunggal.

    7. Operasi Kemanusiaan Internasional

    Sebagaimana penjelasan mengenai sejarah PMI sebelumnya, organisasi ini tidak hanya aktif di Indonesia, tetapi juga terlibat dalam operasi kemanusiaan internasional. Mereka mengirimkan bantuan kemanusiaan ke negara-negara yang membutuhkan dalam situasi krisis.

    Dalam menjalankan tugasnya, PMI berpedoman pada 7 prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yakni Kemanusiaan, Kesukarelaan, Kenetralan, Kesamaan, Kemandirian, Kesatuan, dan Kesemestaan.

    Tujuan Strategis PMI

    Setelah memahami sejarah PMI dan perannya secara umum, organisasi juga memiliki beberapa tujuan strategis, yakni sebagai berikut:

    1. Menjaga citra dan meningkatkan pertanggungjawaban PMI sebagai organisasi kemanusiaan di tingkat nasional dan internasional.
    2. Peningkatan ketersediaan darah yang aman, mudah diakses, dan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia.
    3. Peningkatan jumlah dan kualitas rekrutmen serta pembinaan relawan sebagai elemen kunci dalam layanan kemanusiaan PMI.
    4. Meningkatkan kualitas dan cakupan layanan dalam penanggulangan bencana, krisis kesehatan, dan situasi kemanusiaan lainnya dengan memperkuat unit pelayanan PMI di semua tingkatan dan mengembangkan potensi sumber daya masyarakat.
    5. Mencapai kinerja optimal PMI dengan kepemimpinan yang berbasis kolegial dan mengikuti Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Internasional PM/BSM, melalui tata kelola organisasi yang terintegrasi dengan markas yang sinergis dalam pelaksanaan kegiatan, serta peraturan organisasi, sistem, dan prosedur yang sesuai.
    6. Meningkatkan kemandirian organisasi PMI secara berkelanjutan melalui kerja sama strategis di semua tingkatan dan inisiatif pengembangan sumber daya yang inovatif.
    7. Meningkatkan kapasitas PMI di semua tingkatan dalam pengelolaan infrastruktur dasar (sarana-prasarana) yang mendukung operasional dan layanan.

    Sejarah PMI dan Perannya Sangat Penting, bukan?

    Palang Merah Indonesia (PMI) adalah organisasi kemanusiaan yang telah memainkan peran penting dalam masyarakat Indonesia selama hampir satu abad. Sejarah PMI yang panjang mencerminkan semangat kemanusiaan dan komitmen untuk membantu mereka yang membutuhkan, terutama dalam situasi bencana alam. 

    Meskipun menghadapi berbagai tantangan, PMI terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan berpartisipasi dalam misi kemanusiaan internasional. Dengan dukungan dan kerjasama dari masyarakat dan pemerintah, PMI dapat terus berperan penting dalam menjaga kemanusiaan di Indonesia. 

  • Sejarah Perkembangan Surat Kabar, Tempo Dulu dan Sekarang

    Sejarah Perkembangan Surat Kabar, Tempo Dulu dan Sekarang

    Keberadaan surat kabar di Indonesia berperan penting dalam menyebarkan informasi pada masa penjajahan. Bahkan, surat kabar sering menjadi propaganda untuk mendapatkan dukungan masyarakat pada masa penjajahan. Lantas, bagaimana sejarah perkembangan surat kabar dari tempo dulu hingga sekarang?

    Sejarah Perkembangan Surat Kabar Indonesia

    Surat kabar menjadi satu-satunya media penyampai berita untuk khalayak umum. Selain itu, surat kabar menjadi sumber satu-satunya untuk akses informasi yang sama secara bersamaan. Pertama kali surat kabar terbit adalah pada abad ke-17 di Eropa.

    Sementara itu, surat kabar Indonesia berkembang dan memiliki peranan tersendiri untuk masyarakat Indonesia hingga sekarang. Bahkan, sejarah perkembangan surat kabar mencatat bahwa, produk mesin cetak milik Johann Gutenberg memiliki peranan sangat penting dalam perkembangannya di Indonesia.

    Perkembangan surat kabar Indonesia erat kaitannya dengan pengaruh pemerintah Belanda ketika masa penjajahan. Sekitar tahun 1744 – 1854, surat kabar muncul dengan redaksinya, yakni para orang Eropa. Bahasa yang digunakan pun menggunakan bahasa Belanda. 

    Ini terjadi karena target pembacanya adalah untuk kepentingan Belanda dan memang tidak ada kaitannya dengan pribumi. Lalu, pada tahun 1854 hingga Kebangkitan Nasional, surat kabar dengan bahasa Belanda masih tetap ada. 

    Hanya saja, mulai muncul surat kabar berbahasa Melayu bernama “Slompret Melajoe”. Surat kabar ini diterbitkan oleh H.C. Klinkert di Semarang. Lalu, pada tahun 1860 – 1880, surat kabar berbahasa pra-Indonesia dan Melayu pun semakin berkembang dan bermunculan. 

    Hal inilah yang menjadi tonggak berkembangnya pers di Indonesia. Meskipun memang pemimpin redaksi untuk surat kabar pada masa tersebut adalah orang-orang Eropa. 

    Setelah itu, sejarah perkembangan surat kabar pada tahun 1881 hingga masa Kebangkitan Nasional mengalami perubahan. Para pekerja pers sudah bukan orang-orang Eropa, melainkan orang Tionghoa dan pribumi. Bahkan, surat kabar yang terbit pun sudah menggunakan bahasa Indonesia. 

    Sekitar tahun 1920-an, mulai muncul surat kabar yang pemiliknya adalah orang pribumi sendiri. Surat kabar ini diberi nama “Bromartani” yang terbit di Surakarta.

    Periode Sejarah Perkembangan Surat Kabar

    Perlu kamu ketahui bahwa, surat kabar Indonesia terbagi menjadi lima periode. Berikut penjelasan lengkapnya:

    1. Zaman Belanda

    Koran Bataviasche Nouvelles
    Koran Bataviasche Nouvelles | Sumber Gambar: nationalgeographic.grid.id

    Sejarah perkembangan surat kabar pada tahun 1744 adalah percobaan penerbitan media massa melalui surat kabar pertama milik Gubernur Jenderal Van Imhoff. Surat kabar ini bernama “Bataviasche Nouvelles” dan hanya bertahan selama dua tahun, 1744 hingga 1746. 

    Pada tahun 1828, terbit surat kabar bernama “Javasche Courant”. Surat kabar yang terbit di Jakarta ini memuat berita-berita resmi. Mulai dari berita tentang pemerintahan, lelang, hingga kutipan dari harian Eropa. 

    Sementara itu, pada tahun yang sama juga muncul mesin cetak pertama Indonesia. Mesin ini dikirimkan oleh W. Bruining dari Nederland. Melalui mesin cetak tersebut, mulai terbitlah surat kabar bernama “Het Bataviasche Advertantie Blad”. Surat kabar ini memuat beragam iklan dan berita umum.

    Selain itu, pada periode ini juga muncul surat kabar Surabaya yang bernama “Soerabajasch Advertantiebland”. Sementara untuk daerah Semarang muncul surat kabar bernama “Semarangsche Advertentiebland”.

    Namun, menurut sejarah perkembangan surat kabar, setiap koran yang beredar harus lolos penyaringan oleh pihak pemerintahan Gubernur Jenderal Bogor.

    Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1885 akhirnya telah terbit 16 surat kabar dalam bahasa Belanda. Serta 12 surat kabar berbahasa Melayu pada hampir seluruh wilayah kekuasaan Belanda. 

    2. Zaman Jepang

    Ketika penjajahan berganti dari Belanda menjadi Jepang, surat kabar yang beredar pun perlahan teralihkan. Bahkan, ada beberapa surat kabar yang disatukan. Hal terjadi dengan alasan penghematan. 

    Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah agar pemerintah Jepang bisa memperketat pengawasan terhadap isi dari surat kabar tersebut. Kantor Berita Antara pun kemudian diambil alih oleh Jepang dan berubah menjadi kantor berita Yashima. 

    Kantor berita yang berpusat di Domei, Jepang ini memanfaatkan konten dari surat kabar sebagai alat propaganda untuk memuji pemerintahan Jepang. Menurut sejarah perkembangannya, wartawan Indonesia pada saat itu bekerja sebagai pegawai. Sementara orang dari Jepang memiliki kedudukan tertinggi. 

    Salah satu surat kabar yang terbit pada masa penjajahan Jepang ini bernama “Tjahaja”. Surat kabar bernama Cahaya ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dan penerbitnya adalah dari kota Bandung. 

    Surat kabar “Tjahaja” berisikan segala kondisi yang terjadi di Jepang kala itu. Para pemimpin yang melatarbelakangi terbitnya surat kabar ini adalah Oto Iskandar di Nata, R. Bratanata, dan Mohamad Kurdi.

    Pada tampilannya, surat kabar milik Jepang tersebut bertuliskan tanggal 24 Shichigatsu 2604. Artinya, pada penanggalan masehi sama dengan tanggal 24 Juli 1944. 

    3. Zaman Kemerdekaan

    Surat Kabar Merdeka
    Surat Kabar Merdeka | Sumber Gambar: Kumparan

    Periode sejarah perkembangan surat kabar pada awal kemerdekaan menjelaskan bahwa Indonesia melakukan perlawanan dalam hal sabotase komunikasi. Perlawanan ini terjadi akibat pihak Jepang yang menggunakan surat kabar Indonesia sebagai alat propaganda pencitraan dari pemerintahan Jepang itu sendiri.

    Hal inilah yang membuat Indonesia kemudian menerbitkan surat kabar sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan Jepang. Surat kabar ini bernama “Berita Indonesia’’ atau yang lebih terkenal dengan istilah “BI”. “Berita Indonesia” dicetuskan pertama kali oleh Eddie Soeraedi. 

    Tujuan terbitnya surat kabar ini adalah agar rakyat Indonesia mau untuk datang secara bersama-sama pada rapat raksasa yang isinya adalah mendengarkan pidato Bung Karno. Pidato yang dilaksanakan di Lapangan Ikada, Jakarta ini akan diselenggarakan pada 9 September 1945.

    Dalam sejarah perkembangan surat kabar, “Berita Indonesia” secara berulang mendapatkan aksi pembredelan dari pihak Jepang. Selama aksi tersebut terjadi, terjadi penampungan tenaga pers oleh surat kabar “Merdeka” milik B.M Diah.

    Selain itu, ada juga surat kabar bernama “Harian Rakyat” milik Syamsudin Sutan Makmur dan Rinto Alwi yang merupakan surat kabar perjuangan bangsa Indonesia. Dalam surat kabar tersebut menampilkan “pojok” dan “Bang Golok” sebagai artikel terpopuler.

    Setelah itu, mulai bermunculan surat kabar perjuangan lain yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari surat kabar “Pedoman Harian” yang kini berganti nama menjadi “Soeara Merdeka” dari Bandung.

    Ada pula surat kabar “Kedaulatan Rakyat” dari Bukittinggi, “Demokrasi” dari Padang, serta “Oetoesan Soematra” dari Padang.

    4. Zaman Orde Lama

    Sejarah perkembangannya setelah dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 mendapatkan tindakan larangan. Terlebih pada kegiatan politik, termasuk dengan media massa pada saat itu. 

    Bahkan, persyaratan untuk mendapatkan surat izin terbit dan surat izin cetak pun lebih ketat. Kemudian, situasi ini pun dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk melakukan slow down oleh para buruh dan pegawai surat kabar. 

    Bahkan, karyawan pada bagian setting pun melambatkan pekerjaannya, sehingga kolom surat kabar pun tidak terisi hingga deadline cetak. Pada akhirnya, kolom tersebut pun diisi oleh iklan gratis. 

    Akibatnya, hal ini pun berdampak pada beberapa surat kabar, seperti halnya surat kabar “Soerabaja Post” serta surat kabar “Harian Pedoman” dari Jakarta. Pada periode ini pun banyak terjadi kasus, yakni antara surat kabar pro PKI dan anti PKI. 

    5. Zaman Orde Baru

    Surat Kabar Kedaulatan Rakyat
    Surat Kabar Kedaulatan Rakyat | Sumber Gambar: Sokabuma

    Menurut sejarah perkembangan surat kabar, kebebasan pers bisa kembali normal pada masa orde baru. Sehingga, perkembangan surat kabar pun kembali meningkat. Sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama. Sebab, pemerintah kembali membatasi konten yang akan terbit.

    Konten berita yang terbit harus bersifat menguntungkan pemerintah. Sebab, konten yang berisi kebaikan pemerintah akan menutupi masalah yang sedang mereka hadapi. 

    Selain itu, surat kabar pun menjadi media komersial yang dikendalikan oleh beberapa oknum penguasa. Akibatnya, banyak konten surat kabar yang menyalahi kode etik, bahkan bersifat kontroversial.

    Sudah Tahu Sejarah Perkembangan Surat Kabar Indonesia?

    Setelah melalui sejarah perkembangan surat kabar yang cukup panjang. Maka, seiring berjalannya waktu, pemerintah semakin memperhatikan pentingnya pers dan surat kabar untuk Indonesia. Hal tersebut terlihat dari banyaknya upaya untuk membebaskan pers dari belenggu kekuasaan. 

    Upaya-upaya tersebut juga terbukti dari adanya pembebasan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), hingga pembebasan organisasi kewartawanan. Ini juga termasuk dalam periode perkembangan zaman reformasi. Bagaimana? Apakah kamu masih membaca surat kabar cetak hingga sekarang? 

  • Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, Latar Belakang Lengkap

    Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, Latar Belakang Lengkap

    Bagaimana sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949? Ini merupakan peristiwa kelanjutan dari Agresi Militer Belanda II yang menjadikan Yogyakarta sebagai targetnya. Sebab, Yogyakarta merupakan Ibukota Negara Indonesia saat itu dan serangan ini bertujuan untuk merebut wilayah RI. Yuk, simak kronologinya di sini!

    Latar Belakang Serangan Umum 1 Maret 1949 

    Latar belakang sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, yaitu karena Belanda menyebarkan kepada dunia Internasional bahwa Indonesia sudah tidak ada, sudah hancur. Belanda yang notabene pernah menjajah dan menduduki Indonesia memang ingin menguasainya kembali. 

    Sebelum penyebaran isu tersebut, Indonesia dan Belanda pernah mengadakan perjanjian dengan nama perjanjian Linggarjati yang terlaksana pada 15 November 1946. Dalam perjanjian tersebut Belanda menyetujui wilayah Indonesia meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. 

    Namun, Belanda mengingkari hasil perjanjian tersebut dan melakukan Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli sampai 5 Agustus 1947. Agresi tersebut kemudian berujung damai dan terbentuklah perjanjian Renville yang hasilnya tidak menguntungkan Indonesia. 

    Hasil dari perjanjian Renville adalah menyempitnya daerah kekuasaan Indonesia, yaitu hanya meliputi Jawa Tengah, Sumatera, dan Yogyakarta. Meskipun telah menyempit sebegitu besarnya, Belanda tetap melakukan penyerangan kembali dengan Agresi Militer II dengan tujuan merebut Yogyakarta. 

    Demi memperjuangkan Indonesia kembali dan menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih ada, terlaksana perundingan oleh tokoh-tokoh penting. Di mana perundingan ini menghasilkan perlawanan, yaitu Serangan Umum 1 Maret 1949. 

    Tujuan Serangan Umum 1 Maret 1949

    Berdasarkan rangkuman buku Peran TNI-AU pada Masa Pemerintah Darurat Indonesia (PDRI) yang terlansir dari Kompas, Serangan Umum 1 Maret 1949 memiliki tujuan utama. Tujuan tersebut terbagi dalam 3 bidang, yaitu militer, psikologi, dan politik. 

    Dalam dunia militer, serangan ini menunjukkan kepada dunia internasional bahwasanya Indonesia beserta dengan semua kekuatan militernya seperti TNI dan Kepolisian masih utuh. Ini menjadi satu kesatuan yang mampu melakukan perlawanan yang terkoordinir. 

    Selanjutnya, yaitu dalam dunia politik, serangan dengan ketua Soeharto ini memberikan dukungan penuh dan utuh. Khususnya kepada perwakilan Indonesia yang sedang memperjuangkan kedaulatan melalui perundingan pada Dewan Keamanan Perwakilan Bangsa-Bangsa (DK PBB). 

    Terakhir dalam tujuan psikolog, serangan ini mengobarkan kembali semangat juang rakyat Indonesia beserta dengan kekuatan militernya.

    Strategi Pasukan Gerilya

    Pasukan Indonesia
    Pasukan Indonesia | Sumber Gambar: Bakesbangpol Kulon Progo

    Agresi Militer II yang dilakukan pada 19 Desember 1948 telah diprediksi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sehingga, strategi demi strategi disusun agar dapat memukul balik pasukan Belanda. Serangan ini dipimpin oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. 

    Pasukan gerilya sendiri terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu pasukan non organik dan pasukan organik. Pasukan non organik mencakup rakyat yang bersenjata dan laskar-laskar pergerakan. Sedangkan pasukan organik mencakup militer yang ada, seperti TNI dan Kepolisian. 

    Dalam melakukan serangan gerilya membutuhkan penguasaan medan, kecepatan, mobilitas pasukan yang tangkas, serta koordinasi yang matang. Demi dapat mempersiapkan segala hal tersebut, para pasukan menyusun rencana dengan menyingkir ke lembah, bukit, dan pelosok agar lebih fokus.  

    Hasil dari koordinasi tersebut menghasilkan beberapa gerakan. Meliputi pemutusan jaringan kabel telepon, merusak rel kereta api, melakukan sabotase demi sabotase, dan lain sebagainya. Strategi gerilya tersebut terlaksana dalam waktu 2 bulan.

    Demi menunjukkan kepada Belanda bahwa Indonesia masih kuat, maka akan ada rapat lagi untuk menyusun serangan besar-besaran. Serangan inilah yang kemudian disebut dengan sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949.

    Kronologi Serangan Umum 1 Maret 1949

    Kunjungan pada Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949
    Kunjungan pada Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 | Sumber Gambar: Kompas

    Membahas sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, tidak lepas dari peranan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Di mana saat itu beliau merupakan Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelum melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan telah mendapatkan izin dari pemimpin daerah D.I. Yogyakarta. 

    Kronologi berawal dari malam sebelum serangan, semua pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai menyebar. Mereka juga menyusup ke seluruh penjuru kota yang pada wilayah Yogyakarta sembari menunggu aba-aba serangan. 

    Serangan mulai dilakukan pada pukul 06.00 pada 1 Maret 1949, saat sirine alarm dibunyikan. Pergerakan TNI tersebut tidak diketahui dan tidak terduga oleh Belanda. Sehingga, Belanda ibarat mati kutu, tidak bisa bergerak lebih lanjut dan tidak memiliki banyak kesempatan untuk mempersiapkan serangan balik. 

    Akhirnya, banyak senjata Belanda yang berhasil terkuasai oleh tentara yang bergerilya. Lalu, dalam waktu yang terbilang singkat sekitar 6 jam, Indonesia berhasil membuat pasukan Belanda untuk keluar dari Yogyakarta. 

    Berita keberhasilan tersebut langsung tersebar melalui radio. Tak hanya di tanah air, beritanya juga sampai ke perwakilan Republik Indonesia di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Berkat keberhasilan ini, dunia internasional yang awalnya mempercayai berita kehancuran Indonesia, berbalik dan berunding. 

    Dalam sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 ini, tercatat telah menewaskan 300 prajurit TNI, 53 polisi, dan kurang lebih 200 rakyat Indonesia. Sedangkan dari pihak Belanda, 6 orang meninggal dunia dan 14 orang luka-luka. 

    Lahirnya Perjanjian Roem Royen

    Berhasilnya Serangan Umum 1 Maret menjadi tonggak sejarah diakuinya kedaulatan Indonesia. Kemudian muncul perjanjian tertanda tangan pada 7 Mei 1949, bertempat pada Hotel Des Indes, Jakarta. 

    Nama Perjanjian tersebut berasal dari nama gabungan perwakilannya. Pertama Mohammad Roem, perwakilan Indonesia. Lalu, ada Herman Van Roiyen, perwakilan dari Belanda. 

    Isi dari perjanjian Roem Royen sendiri menghasilkan kesepakatan damai dari pihak Indonesia dan Belanda. Adapun isi perjanjian yang telah disetujui oleh kedua belah pihak adalah sebagai berikut:

    • Belanda menyetujui Pemerintah Indonesia kembali ke Yogyakarta
    • Belanda membebaskan semua tahanan politik tanpa syarat.
    • Belanda mengakui Indonesia merupakan bagian dari Negara Indonesia Serikat.
    • Belanda menyetujui agar Konferensi Meja Bundar (KMB) segera terselenggara setelah Indonesia kembali ke Yogyakarta.  

    Berdasarkan isi dari perjanjian Roem Royen tersebut, akhirnya pada 24 Juni 1949 pemerintah Indonesia kembali ke Yogyakarta. Lalu, pada 1 Juli 1949 semua pasukan Belanda yang ada di Yogyakarta ditarik mundur dan kembali ke negaranya. 

    Tokoh-tokoh bangsa yang berada di pengasingan, seperti Soekarno dan Muhammad Hatta akhirnya keluar pada 6 Juli 1949. Setelah keadaan lebih kondusif, terpilih Sjafruddin Prawiranegara sebagai Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948. 

    Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949

    Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949
    Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 | Sumber Gambar: Wikipedia

    Dampak paling nyata dari sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah menunjang perjuangan diplomasi yang dilakukan perwakilan Indonesia pada DK PBB. Hasil diplomasi tersebut menghasilkan ditugaskannya kembali Komisi PBB ke Indonesia. Di mana hasil tersebut merupakan usulan dari perwakilan Kanada. 

    Adapun dampak lain dari dari serangan ini adalah sebagai berikut:

    • Dunia mengetahui bahwa Indonesia dan pasukan militernya masih ada, masih kuat dan mampu menyerang.
    • Menekan perubahan keputusan pemerintah Amerika Serikat yang akhirnya justru menekan Belanda untuk melakukan perundingan dengan Indonesia. 
    • Membuat penduduk Belanda pergi dan meninggalkan Yogyakarta.
    • Membuat posisi Belanda terdesak dan lemah pada hadapan DK PBB. 
    • Mengobarkan semangat perjuangan pasukan militer dan rakyat Indonesia. 
    • Mematahkan mental dan semangat juang Belanda.

    Sudah Tahu Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949?

    Kemerdekaan Indonesia merupakan hal yang sangat diimpikan dan diperjuangkan oleh Bangsa. Meskipun dalam upaya mewujudkannya penuh dengan rintangan dan tantangan bahkan dengan pengorbanan yang sangat besar. Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi bukti perjuangan tersebut.

    Perjuangan Indonesia memang tidak berhenti setelah terlaksananya proklamasi kemerdekaan. Sebab, setelah deklarasi kemerdekaan pun, Belanda tetap berusaha untuk tetap menguasai Indonesia. Serta bersikeras menegakkan kembali Hindia Belanda. 

    Berbagai cara bangsa Indonesia upayakan agar terus merdeka dan terbebas dari bangsa asing. Lewat Serangan Umum 1 Maret 1949 pula, Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya merupakan negara merdeka dan berdaulat. Semangat para pahlawan patut menjadi teladan generasi sekarang, bukan?

  • 6 Upacara Adat Jambi: Makna, Fungsi, dan Waktu Pelaksanaan

    6 Upacara Adat Jambi: Makna, Fungsi, dan Waktu Pelaksanaan

    Budaya upacara adat Jambi masih bertahan di tengah gempuran pengaruh kultur luar negeri yang informasinya mudah terakses lewat sosial media. Sebagai salah satu provinsi yang memiliki akar Melayu kental, banyak ragam prosesi adat unik dari Jambi.

    Pembahasan lengkap tentang apa saja upacara yang masih dilangsungkan berikut makna, fungsi, serta waktu pelaksanaan ada dalam artikel kali ini. Jadi, jangan lewatkan penjelasannya sampai akhir artikel, ya!

    Ragam Upacara Adat Jambi dan Prosesinya

    Sebagaimana sedikit disinggung di atas, Jambi merupakan provinsi yang memiliki akar budaya Melayu kental. Jadi, banyak sekali ragam upacara adat di wilayah tersebut yang menonjolkan ciri khas budaya Melayu – meskipun tidak semua. Apa saja? Berikut uraiannya:

    1. Kenduri Sko (Pusako)

    Kenduri Sko
    (Kenduri Sko I Sumber Gambar: Grid.id)

    Pusako memiliki arti pusaka atau benda warisan berharga turun temurun dalam keluarga. Upacara Kenduri Pusako sendiri merupakan acara penobatan adat untuk pemangku gelar Depati atau disebut juga Permati.

    Acara tersebut hanya berlangsung di daerah Enam Lurah, Sungai Penuh. Pemangku gelar sendiri mendapatkan jabatan secara turun temurun dengan pembuktian melalui penyerahan benda pusaka keluarga. Setelah penobatan, semua undangan akan dijamu untuk menikmati makanan yang telah terhidang.

    Keunikan dari Kenduri Pusako adalah metode undangan pada warga, di mana penyelenggara cukup memasang Keramnatang atau bendera setinggi 25 meter. Bila warga nampak bendera tersebut, artinya secara otomatis akan menjadi undangan untuk menghadiri prosesi.

    2. Makan Kelung

    Makan Kelung
    (Makan Kelung I Sumber Gambar: Kemdikbud)

    Upacara adat Jambi selanjutnya adalah Makan Kelung. Tradisi satu ini merupakan budaya turun temurun di Kabupaten Jabung Timur, tepatnya Masyarakat Desa Mendahara Ilir. Upacara dilangsungkan khusus ketika ada warga yang terserang penyakit aneh.

    Fungsi dari prosesi adat ini adalah untuk memohon kesembuhan bagi warga yang mendapatkan penyakit tersebut. Upacara dilakukan dengan meminta orang yang sakit untuk berbaring atau duduk, kemudian dikelilingi berbagai sesaji.

    Setelah itu, prosesi doa bersama akan digelar dan seluruh warga wajib untuk mengikuti tahapan upacara sampai selesai. Bila melanggar, ada keyakinan bahwa penyakit yang diderita salah satu warga tersebut akan semakin parah.

    3. Malam Berinai

    Malam Berinai
    (Malam Berinai I Sumber Gambar: Wikipedia)

    Tradisi adat yang satu ini cukup populer, tidak hanya di Jambi saja, melainkan wilayah-wilayah lain di Indonesia yang memiliki akulturasi Melayu sangat kuat. Malam Berinai sendiri adalah malam melukis inai pada pengantin wanita.

    Upacara ini akan berlangsung pada malam hari sebelum ijab kabul. Acara pertama adalah melukis inai pada bagian tangan hingga kuku pengantin wanita. Kemudian berlanjut pada acara utama yaitu pertunjukan Tari Inai.

    Tujuan dari prosesi ini adalah memohon perlindungan terhadap pengantin wanita menjelang pernikahan berlangsung. Dengan harapan tak ada hal-hal buruk yang mengacaukan akad pada esok hari. 

    4. Upacara Marhaban

    Tradisi Marhaban
    (Tradisi Marhaban I Sumber Gambar: Sering Jalan)

    Berikutnya adalah tradisi Marhaban yang diselenggarakan pada saat seorang bayi berusia 40 hari. Prosesi ini bertujuan untuk pemberian nama bayi – atau tepatnya peresmian nama yang sebelumnya telah diberikan saat lahir.

    Perlengkapan dari tradisi adat yang satu ini cukup banyak, antara lain adalah air bunga, buah kelapa, serta bendera. Masing-masing mempunyai makna simbolis, yaitu:

    • Bendera sebagai harapan sang bayi akan mencintai bumi pertiwi.
    • Air bunga mendoakan keharuman nama dan pribadinya hingga tumbuh dewasa nanti.
    • Buah kelapa melambangkan doa agar menjadi sosok yang berguna bagi keluarga, bangsa, serta agamanya.

    Pada proses tersebut juga, perwakilan keluarga akan memotong sedikit rambut sang bayi sebagai pertanda awal perjalanan yang baru.

    5. Kumau

    Upacara Kumau
    (Upacara Kumau I Sumber Foto: Kompasiana)

    Upacara adat Jambi selanjutnya khusus digelar oleh kelompok petani, yaitu prosesi Kumau. Pelaksanaannya hanya sekali dalam setahun, tepatnya setiap kali memulai aktivitas penanaman baru setelah proses panen sebelumnya selesai.

    Ada tiga tahapan dalam Upacara Kumau, yaitu:

    • Ngapak Jambe alias membuka, membersihkan, dan menyiangi lahan agar siap garap.
    • Nyambau Benih atau menabur benih.
    • Pupuh alias memberi pupuk pada tanaman.

    Melalui upacara tersebut, para petani berharap tanaman akan tumbuh subur dan dapat panen dengan hasil terbaik. 

    6. Mandi Safar

    Mandi Safar
    (Mandi Safar I Sumber Gambar: Liputan6)

    Upacara terakhir yang masih berhasil bertahan di Jambi adalah Mandi Safar. Tradisi satu ini bertujuan untuk menolak bala, alias musibah. Semula, hanya masyarakat Desa Air Hitam Laut yang melaksanakan, hingga kemudian merambah ke daerah-daerah lain.

    Pelaksanaan Mandi Safar adalah setiap hari Rabu minggu terakhir bulan Safar. Sebab, pada hari itulah Rasulullah SAW wafat dan menjadi kesedihan bagi seluruh umat Islam di dunia. Momentum tersebut juga sekaligus menjadi kesempatan berdoa bersama untuk Rasulullah SAW.

    Prosesnya sendiri melewati tiga tahapan, yaitu:

    • Salamun atau mengucap salam.
    • Berniat mandi alias mengucapkan doa niat mandi hajat sesuai syariat Islam.
    • Mandi Safar, yaitu mengguyur seluruh badan dengan air.

    Namun, sebelum melakukan ketiga tahapan tersebut, acara lebih dahulu dimulai dengan menghafal kemudian menulis ayat-ayat Al-Quran. Ustadz atau tokoh masyarakat yang memiliki kecakapan ilmu akan didapuk sebagai pemimpin prosesi. 

    Baca Juga : 7 Upacara Adat Aceh yang Masih Dilestarikan dan Tradisinya

    Hal-Hal Tradisional dari Jambi yang Sudah Punah

    Sederet upacara adat Jambi yang masih sering berlangsung di atas merupakan warisan budaya tak benda yang berhasil terselamatkan dari gerusan zaman. Namun, ada beberapa yang sayang sekali terlanjur punah, seperti:

    1. Ratib Tegak Merangin

    Budaya tradisional pertama yang hanya ada di Jambi namun telah punah tergerus zaman adalah Ratib Tegak dari daerah Merangin. Terkenal sejak 1785 M, tradisi berdzikir tersebut terakhir dilakukan pada 2015 atau sewindu silam.

    Sekarang ini, tradisi tersebut sudah hilang sebab tidak ada generasi yang berniat untuk melanjutkan. Mereka beranggapan bahwa dzikir dengan cara duduk sebagaimana biasa sudah cukup sehingga kebiasaan itu hilang begitu saja.

    2. Bekawau

    Warisan budaya tak benda lainnya yang terlanjur punah dari Jambi adalah Bekawau atau tradisi menyanyikan lagu-lagu daerah pada gelaran acara khusus. Mak Jamila merupakan sosok terakhir yang dapat melakukan pertunjukan seni tersebut dan tak ada generasi muda yang tertarik melanjutkannya.

    3. Biduk Sayak

    Tradisi yang satu ini mungkin juga kamu temukan dalam budaya wilayah lain namun sedikit berbeda dalam penyajiannya. Biduk Sayak sendiri adalah prosesi berbalas pantun antar pihak mempelai lelaki dan wanita dalam pesta pernikahan.

    Bedanya, Biduk Sayak menggunakan iringan biola dan gendang dalam pelaksanaannya sehingga terdengar lebih merdu. Sayangnya, adat tersebut tidak berhasil dipertahankan sehingga kini tidak lagi menjadi bagian pertunjukan dalam resepsi perkawinan.

    Cara Melestarikan Tradisi Adat Jambi

    Masing-masing daerah di Indonesia pasti memiliki tradisi unik yang berbeda-beda. Ini menjadi ciri khas sekaligus daya tarik tersendiri bagi daerah tersebut maupun suku yang bernaung di sana. Begitu pula dengan upacara adat Jambi. Nah, beberapa langkah efektif untuk mempertahankan serangkaian tradisi tersebut antara lain:

    1. Melakukan Regenerasi

    Setiap generasi muda wajib untuk mempelajari dan belajar mempraktikkan prosesi tradisional di atas. Hal itu merupakan upaya regenerasi yang tepat agar budaya tersebut tidak sampai punah.

    2. Menggelar Upacara Secara Rutin 

    Tidak pernah absen menggelar upacara adat juga menjadi salah satu cara yang tepat untuk melestarikannya. Jadi, prosesi tersebut akan menjadi kebiasaan sehingga bila tidak melakukannya akan terasa kehilangan.

    Baca Juga : 3 Rumah Adat Jambi: Nama, Jenis, Ciri Khas, dan Keunikannya

    Sudah Tahu Apa Saja Upacara Adat Jambi?

    Setiap tradisi daerah, termasuk upacara adat Jambi merupakan warisan budaya tak benda yang wajib untuk tetap dilestarikan. Sebab, tradisi semacam itu bisa menjadi identitas, kebanggaan, serta daya tarik tersendiri untuk suatu wilayah atau suku. Mengenal dan mempelajarinya juga bisa menjadi wujud penghormatan budaya.

    Melestarikan upacara tradisional sama dengan merawat dan menjaga barang-barang peninggalan sejarah seperti prasasti, arca, kitab-kitab, dan semacamnya. Melalui tradisi warisan tersebut dapat juga menggali fakta-fakta sejarah tentang kehidupan sosial masyarakat lampau.

  • Pengertian Adat Istiadat Menurut Para Ahli: Macam dan Contohnya

    Pengertian Adat Istiadat Menurut Para Ahli: Macam dan Contohnya

    Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas dan memiliki beragam suku, bahasa, dan kepercayaan, sebagai bentuk kekayaan budaya yang sungguh luar biasa. Salah satu unsur penting dalam keragaman budaya Indonesia adalah adat istiadat. Sebagai bagian dari bangsa indonesia, sudah sepatutnya kita tahu pengertian adat istiadat menurut para ahli beserta contohnya.

    Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam tentang pengertian adat istiadat menurut para ahli, serta beberapa contoh adat istiadat yang masih lestari hingga saat ini di berbagai daerah di Indonesia.

    Pengertian Adat Istiadat Menurut Para Ahli

    Ngaben bali
    Ngaben bali | Sumber: wikipedia.com

    Adat istiadat adalah hal yang sangat mendalam dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia. Sebelum kita menjelajahi lebih jauh tentang beragam adat istiadat di Indonesia, mari kita terlebih dahulu memahami pengertian adat istiadat menurut para ahli. 

    Berikut ini definisi pengertian adat istiadat menurut para ahli yang dikutip dari pakpakbharatkab.go.id:

    1. Raden Soepomo

    Raden Soepomo mendeskripsikan adat istiadat sebagai hukum adat atau sering disebut sebagai hukum tidak tertulis. Ia membedakan antara hukum yang diberlakukan oleh lembaga hukum negara dengan peraturan kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di kota dan desa.

    2. Soekanto

    Soekanto mengungkapkan bahwa adat istiadat adalah suatu pengikatan yang kuat yang berperan dalam mendukung kebiasaan dalam masyarakat. Pengikatan ini sangat mendukung dan bergantung pada berbagai kebiasaan masyarakat.

    3. Koen Cakraningrat

    Pengertian adat istiadat menurut para ahli kali berasal dari pendapat Koen Cakraningrat. Ia menerangkan bahwa adat adalah representasi dari budaya atau gambaran tentang tata kelakuan. 

    Selain itu, adat adalah norma atau aturan yang tidak dituangkan dalam bentuk tertulis, tetapi memiliki kekuatan pengikatan yang kuat. Pelanggar adat akan dikenai sanksi sebagai konsekuensinya.

    4. Harjito Notopuro

    Harjito Notopuro menjelaskan bahwa hukum adat merupakan hukum yang tidak dituangkan dalam bentuk tertulis. Bagi masyarakat, adat istiadat adalah pedoman untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan.

    5. Jalaluddin Tunsam

    Jalaluddin Tunsam menghubungkan adat istiadat dengan bahasa Arab, yaitu ‘adah’ yang berarti kebiasaan atau cara. Baginya, adat istiadat mencakup gagasan tentang nilai-nilai budaya, kebiasaan, norma, dan hukum di suatu daerah. Ada sanksi baik yang dituangkan secara tertulis maupun yang tidak tertulis jika hukum adat tidak diikuti.

    Setelah membaca pengertian adat istiadat menurut para ahli di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa adat istiadat adalah seperangkat norma, aturan, dan nilai-nilai yang mengatur perilaku dan kehidupan sehari-hari masyarakat. 

    Adat istiadat juga mencerminkan identitas budaya suatu kelompok masyarakat dan berperan penting dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya.

    Baca Juga : 5 Cara Melestarikan Budaya Bangsa dan Contoh Sikapnya

    Macam-Macam Adat Istiadat di Indonesia

    Sesajen
    Sesajen | Sumber: unsplash.com

    Adat yang dijalankan adalah semua ketentuan atau norma yang berlaku dalam suatu komunitas masyarakat. Ketentuan-ketentuan ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang didasarkan pada karakteristik alam.

    Adat istiadat sendiri terbagi menjadi dua macam, yakni sebagai berikut:

    1. Adat Istiadat Tertulis

    Contoh adat istiadat yang tertulis termasuk:

    • Dokumen-dokumen kerajaan, seperti surat keputusan raja atau kepala adat.
    • Peraturan hukum adat yang terdokumentasikan, seperti penataran desa, adat agama desa, atau awig-awig (Peraturan Subang di Pulau Bali).

    2. Adat Istiadat Tidak Tertulis

    Contoh adat istiadat yang tidak tertulis meliputi:

    • Acara sesajen dalam masyarakat Jawa.
    • Upacara ngaben dalam budaya Bali.
    • Upacara selamatan yang melambangkan tahapan hidup seseorang dalam masyarakat Jawa dan Sunda.

    Tujuan adat istiadat ini adalah untuk mengatur kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek, seperti tata tertib, ekonomi, dan budaya sosial. Norma yang telah disepakati yaitu peraturan yang timbul melalui musyawarah. 

    Setiap kelompok masyarakat memiliki regulasi dan prosedur yang berbeda dari kelompok masyarakat lainnya. Adat istiadat menjadi kebiasaan atau preferensi lokal dalam berbagai kegiatan, seperti perayaan, seni, hiburan, pakaian, olahraga, dan lain-lain.

    Contoh Adat Istiadat di Indonesia

    Pertemuan adat
    Pertemuan adat | Sumber: unsplash.com

    Setelah memahami pengertian adat istiadat menurut para ahli beserta macam-macamnya, ketahui pula beberapa contoh adat yang masih ada di Indonesia berikut ini:

    1. Ngaben, Bali

    Ngaben, yang memiliki nama lain pitra yadnya, adalah sebuah upacara yang berasal dari Provinsi Bali. Menurut sumber resmi dari Pemerintah Kabupaten Buleleng Bali, ngaben adalah sebuah upacara kremasi mayat oleh umat Hindu di Bali. 

    Upacara ini bertujuan untuk mengembalikan roh leluhur ke tempat asalnya. Secara lebih rinci, ngaben merupakan wujud kasih sayang seorang anak terhadap orangtuanya. 

    2. Ikipalin, Papua

    Ikipalin adalah sebuah tradisi adat yang berasal dari Papua, khususnya suku Dani. Menurut jurnal “Kebudayaan Potong Jari Sebagai Simbol Duka” oleh Amatus Zonggonau, ikipalin adalah praktik memotong jari sebagai tanda berkabung ketika seorang anggota keluarga meninggal. 

    Masyarakat suku Dani meyakini bahwa dengan melakukan ikipalin, mereka dapat menghindari malapetaka.

    3. Ma’nene, Sulawesi Selatan

    Tradisi ma’nene di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, adalah cara masyarakat Toraja menghormati para leluhur mereka. Mereka meyakini bahwa roh-roh leluhur tidak pernah meninggalkan keluarga mereka. Oleh karena itu, mereka memiliki kebiasaan untuk merawat dan mengganti pakaian para leluhur yang akan kembali ke rumah.

    Biasanya, upacara ma’nene dilakukan setelah panen besar pada bulan Agustus, meskipun terkadang juga diadakan pada bulan September. Ini berarti bahwa dalam setahun, tradisi ini dilakukan setidaknya tiga kali.

    4. Kebo-keboan, Banyuwangi

    Kebo-keboan di Banyuwangi, Jawa Timur, adalah sebuah tradisi untuk memohon kesuburan sawah dan hasil panen yang melimpah. Tradisi ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Banyuwangi, khususnya suku Osing. Setiap tahun, Kebo-keboan dapat disaksikan di Desa Alasmalang dan Aliyan pada tanggal 10 Muharram atau Suro.

    Upacara bermula dengan mengarak orang yang kerasukan oleh roh gaib ke Rumah Kebudayaan Kebo-keboan. Puncak acara melibatkan Dewi Kesuburan dan Dewi Sri yang menyebarkan benih padi kepada para petani dan hewan kerbau.

    5. Omed-omedan, Bali

    Omed-omedan di Bali adalah sebuah tradisi bagi pemuda di Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar, untuk menyambut Tahun Baru Caka. Tradisi ini telah ada sejak abad ke-18 Masehi.

    Omed-omedan bukanlah tradisi ciuman seperti yang terlihat di media sosial. Sebenarnya, ini adalah sebuah permainan tarik-menarik di antara pemuda dan pemudi yang belum menikah. 

    Tradisi ini hanya diperuntukkan bagi anggota masyarakat yang baru saja masuk perguruan tinggi dan yang belum menikah. Bagi yang memiliki halangan atau sudah menikah, mereka tidak boleh ikut serta dalam tradisi ini.

    5. Gigi Runcing, Suku Mentawai

    Di pedalaman Kalimantan, suku Mentawai memiliki tradisi yang unik, yaitu gigi runcing. Tradisi ini khusus bagi perempuan suku Mentawai. Suku ini memiliki tiga kriteria kecantikan yang mencakup telinga panjang, tubuh berhias tato, dan gigi runcing. Gigi yang semakin runcing sebagai tanda kecantikan perempuan suku Mentawai.

    6. Tiwah, Kalimantan Tengah

    Ritual tiwah adalah sebuah upacara berasal dari Kalimantan Tengah. Ritual ini ditujukan untuk orang yang telah meninggal beberapa waktu yang lalu dengan tujuan untuk memfasilitasi perjalanan roh mereka menuju Tuhan. 

    Selain itu, menurut buku Tiwah Upacara Kematian yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ritual ini bermaksud untuk melindungi keluarga yang ditinggalkan agar terhindar dari nasib buruk.

    Baca Juga : Sejarah Singkat Tari Kecak Bali dan Keunikannya

    Sudah Paham Pengertian Adat Istiadat Menurut Para Ahli?

    Indonesia memiliki banyak adat istiadat dari berbagai suku dan kelompok etnis yang mencerminkan warisan budaya tanah air yang beragam. Jadi, dapat dikatakan bahwa adat istiadat adalah identitas budaya yang harus terus ada dan terjaga.

    Penting untuk memahami bahwa adat istiadat adalah bukti hidup tentang sejarah, keyakinan, dan nilai-nilai yang telah ada turun-temurun dari generasi ke generasi. Pelestarian adat istiadat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai individu. Dengan menghormati dan memahami pengertian adat istiadat menurut para ahli maupun praktik nyatanya, kita dapat membantu melestarikan kekayaan budaya Indonesia untuk generasi mendatang.