Blog

  • Sejarah dan Sifat Bangsa Yahudi Menurut Islam

    Sejarah dan Sifat Bangsa Yahudi Menurut Islam

    Sebagai umat Islam, topik paling menarik untuk dibahas adalah sejarah. Konteks sejarah ini sendiri sangat luas, tidak hanya dari pandangan orang Islam saja melainkan pada pandangan lain. Salah satunya sejarah Yahudi menurut Islam.

    Sedang ramai diperdebatkan, Yahudi ini memunculkan banyak statement dari berbagai pihak. Namun, pada kenyataannya Yahudi sendiri dalam pandangan Islam lebih dikenal sebagai Bani Israil.

    Bukan sebuah negara, tetapi sejarah keturunan. Bani Israil merupakan keturunan dari Nabi Yaqub AS. Namun, di masa sekarang justru pro kontra sejarah dan sifat dari bangsa ini sering diperdebatkan.

    Mengenal Sejarah Yahudi Menurut Islam

    Berdasarkan ilmu sejarah, kita mungkin tahu sekilas bahwa kaum Yahudi ini bermula dari proses hijrah ke negeri Kanaan pada masa Nabi Yaqub AS. Golongan ini terkenal mahir dalam hal navigasi pelayaran dan perdagangan.

    Mereka hidup berdampingan hingga tiba di tahun 3.000 SM, Nabi Ibrahim datang untuk menyampaikan dakwah atas utusan Allah SWT. Kisah ini bis akita cek di dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 71.

    وَنَجَّيْنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَٰلَمِينَ

    Wa najjaināhu wa lụṭan ilal-arḍillatī bāraknā fīhā lil-‘ālamīn

    Artinya:

    “Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.”

    Berdasarkan surat Al-Anbiya ayat 71 tersebut, terdapat tafsir mendalam Al-Muyassar atau Kementerian Agama Saudi Arabia bahwa nilai tafsirnya menjadi.

    Dan Kami menyelamatkan Ibrahim dan Luth yang telah beriman dengannya dari negeri Irak, dan Kami mengarahkan mereka berdua menuju negeri Syam yang telah Kami berkahi buminya dengan kebaikan yang melimpah, dan kebanyakan nabi pernah diutus disana.

    Salah satu ulama Imam Qatadah sepakat dalam ilmu tafsir menyatakan bahwa negeri yang dimaksud dalam surat tersebut adalah negeri Kanaan atau Syam. Jika kita hidup di era sekarang, maka lebih mudah dikenal dengan sebutan Palestina.

    Mempelajari memang paling mudah dan tepat dengan menggunakan Al-Qur’an. Pasalnya, kitab bisa menemukan banyak sekali kisah Bani Israil atau kaum Yahudi yang telah Allah SWT ceritakan di dalam Al-Qur’an.

    Penjelasan di dalam Al-Qur’an sendiri sangat jelas dan rinci, bahkan Ibnu Katsir mengatakan bahwa Bani Israil merupakan umat terbaik pada masanya jika dibandingkan dengan Yunani ataupun Mesir.

    Namun, di Tengah perdebatan yang terjadi dengan menyinggung negara Israel merupakan Yahudi dibantah oleh Syaikh ‘Abdullah bin Zaid Alu Mahmud dalam risalah al Ishlahu wat-Ta’dilu Thara-a ‘Ala Ismil Yahudi wan-Nashara Minat-Tabdil.

    Di dalam kitab tersebut dinyatakan bahawasanya Yahudi telah lepas dari Bani Israil karena kekufuran mereka sejak zaman Bani Israil. Hal ini terbukti dari kisah terpisahnya Nabi Ibrahim AS dengan ayahnya, Azar.

    Sifat Bangsa Yahudi Menurut Islam

    Di dalam Islam ada banyak sekali sifat dari bangsa Yahudi yang sudah umum setiap muslim ketahui, antara lain:

    1. Menyembunyikan Kebenaran

    Sifat buruk yang dimiliki oleh bangsa Yahudi adalah wataknya dalam menyembunyikan kebenaran, senang berdusta. Hal ini dibuktikan dengan ketahuan kaum tersebut terhadap Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.

    Namun, mereka menyembunyikan fakta tersebut karena tidak ingin menghapus budaya leluhur. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,

    الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

    Artinya:

    “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 146).

    Baca juga: Bacaan Doa Iftitah Panjang, Pendek, Arab-Latin dan Artinya

    2. Orang Yahudi Menyembah Pimpinan Agamanya

    Kesalahan dan sifat buruk dari Yahudi yaitu tidak bisa terbuka terhadap kehadiran Nabi Muhammad SAW. Bahkan, orang Yahudi menyembah pimpinan agamanya sendiri bukan Allah SWT.

    Allah SWT menyampaikan kisah ini di dalam surat At-Taubah:31. 

    Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini,

    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    Artinya:

    “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah : 31)

    3. Tidak Ridho dengan Umat Islam

    Kehadiran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW memang sangat menyejukkan dan menenangkan. Namun, dibalik itu ternyata Yahudi memiliki sifat tidak ridho dengan keberadaan umat Islam.

    Sesuai firman Allah Ta’ala dalam Al Baqarah: 120.

    وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

    Artinya:

    “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”

    4. Orang Yahudi Sulit Menerima Kebenaran Islam

    Di dalam hadits shahih Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    لَوْ تَابَعَنِى عَشْرَةٌ مِنَ الْيَهُودِ لَمْ يَبْقَ عَلَى ظَهْرِهَا يَهُودِىٌّ إِلاَّ أَسْلَمَ

    Artinya:

    “Seandainya sepuluh (pemuka agama) Yahudi mengikuti agamaku, maka sungguh tidak akan tersisa lagi orang Yahudi di muka bumi ini kecuali dalam keadaan Islam.” (HR. Muslim no. 2793)

    Selain itu, Abu Hurairah di dalam HR. Ahmad Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga pernah menyatakan sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam.

    لَوْ آمَنَ بِى عَشْرَةٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ لآمَنَ بِى كُلُّ يَهُودِىٍّ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ

    Artinya:

    “Seandainya sepuluh pemuka agama Yahudi beriman kepadaku, sungguh semua orang Yahudi di muka bumi ini akan turut beriman padaku.”

    5. Dengki

    Yahudi memiliki rasa dengki kepada setiap orang dalam segala aspek. Bahkan sifat ini digambarkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surat Al-Baqarah (2:109).

    وَدَّ كَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

    Artinya:

    “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran“. [al-Baqarah/2: 109]

    Di dalam surat yang lain An-Nisa (4:54) Allah SWT juga berfirman:

    أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَآءَاتَاهُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ

    Artinya:

    “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya ?“. [an-Nisa/4: 54]

    6. Menyebarkan Fitnah dan Memicu Peperangan

    Bangsa Yahudi banyak sekali memiliki sifat buruk yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Salah satunya adalah sifatnya yang senang menyebarkan fitnah dan memicu peperangan.

    Allah SWT pernah berfirman di dalam surat Al-Maidah:64,

    كُلَّمَآ أَوْقَدُوا نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللهُ وَيَسْعَوْنَ فِي اْلأَرْضِ فَسَادًا وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

    Artinya:

    “Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan“. [al-Maidah/5:64]

    Nah, itulah beberapa sejarah dan sifat buruk dari Bangsa Yahudi menurut Islam. Sebagai umat Muslim yang baik kita wajib menghindari sifat buruk dan mempelajari sejarah agama Allah SWT dengan baik.

  • Cara Menegur Pasangan dalam Islam, Mulai dari yang Lembut

    Cara Menegur Pasangan dalam Islam, Mulai dari yang Lembut

    Dalam Islam, segala aspek kehidupan memiliki aturan yang jelas guna memberikan kedamaian dan kebahagiaan. Begitu pula tentang cara menegur pasangan dalam Islam ada panduannya agar tidak saling menyakiti.

    Dalam konteks pasangan di sini adalah suami istri, di mana hubungan antara suami dan istri dalam Islam memiliki nilai etika dan norma. Bahwasannya setiap pasangan menikah memiliki kedudukan dan hak masing-masing.

    Lantas, seperti apa kedudukan pasangan dalam Islam? Bagaimana cara menegur pasangan yang baik? Apa saja batasan menegur pasangan? Berikut penjelasannya.

    Kedudukan Pasangan Suami Istri

    Sebelum membahas lebih jauh tentang panduan cara menegur pasangan dalam Islam, sebaiknya kita pahami terlebih dahulu kedudukan pasangan. Dalam hal ini adalah pasangan suami dan istri dalam Islam.

    Suami dan istri pada hakikatnya memiliki kedudukan dan haknya masing-masing. Oleh karena itu, sewajarnya sebagai seorang muslim dan muslimah menghormati dan memberikan hak-hak kepada pasangannya.

    Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 32:

    Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohon kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32).

    Melalui surat ini, Islam mengakui adanya hak suami dan hak istri dalam pernikahan. Kedudukannya jelas, suami menjadi imam dan bertanggung jawab menafkahi istri. Istri pun harus hormat dan taat kepada suaminya.

    Dalam Islam, suami dan istri adalah pasangan hidup yang harus saling mendukung dan melengkapi. Meski ada kesalahan, maka wajib menegur dengan cara yang elok dan penuh dengan kelembutan.

    Baca juga: 5 Cerita Inspirasi Islam untuk Kehidupan yang Bermakna

    Cara Menegur Pasangan dalam Islam

    Setiap pasangan mungkin pernah berbuat salah, tetapi apabila kesalahan tersebut melampaui batas, maka harus menegurnya. Namun, usahakan menegurnya dengan cara baik dan jangan menyakiti perasaannya.

    Oleh karena itu, Allah SWT memberikan petunjuk cara menegur pasangan dalam Islam melalui sejumlah ayat dalam Al-Quran. Tentu ini bisa menjadi pedoman kita. Berikut penjelasan cara menegur pasangan yang baik:

    1. Menegur dengan Lemah Lembut

    Ketika suami atau istri melakukan kesalahan atau keteledoran, maka tegur dengan kelembutan. Artinya, kita harus menjaganya dengan kasih sayang dan rasa hormat. Hal ini sebagaimana diingatkan surat An-Nisa ayat 19.

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sekali-kali janganlah kamu menghalalkan harta-benda orang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 19).

    Melalui ayat di atas, ini menunjukkan pentingnya perlakuan adil dan kasih sayang. Bahwa teguran adalah salah satu upaya untuk memperbaiki hubungan, bukan untuk mendominasi dan menyakiti perasaan pasangan.

    2. Menasehati Tanpa Merendahkan

    Memberi nasihat adalah salah satu cara menegur pasangan yang baik tanpa harus menggurui apalagi menyakitinya. Sebab, sebagai pasangan tentunya harus menjadi orang yang bisa memberi manfaat bagi pasangannya.

    Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Sebaik-baiknya kamu adalah yang sebaik-baiknya terhadap keluarganya, dan aku adalah yang sebaik-baiknya terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidhi).

    Perlu digarisbawahi, ketika memberi nasihat sebaiknya dengan lemah lembut tanpa merendahkan pasangan. Tujuan memberi nasihat sendiri adalah untuk memperbaiki yang salah, bukan dengan kritik yang merendahkan.

    3. Hindari Kata Kasar dan Mengancam

    Adab ketika ingin menegur pasangan yang baik adalah hindari kata kasar atau kata yang mengancam. Meskipun pasangan kita berbuat salah, tetapi tidak seharusnya melontarkan kata kasar ketika menegurnya.

    Ketika ada masalah dengan pasangan, maka selesaikan dengan baik dan tegur dengan kata-kata yang lembut. Jika pun masih belum paham ataupun ngeyel, maka jangan lampiaskan dengan kemarahan kepadanya.

    Selain itu, hindari juga memukulnya apabila sudah tidak bisa kita nasehati lagi. Sebab, pukulan hanya akan memperkeruh kondisi dan juga bukan solusi yang tepat. Tetap bersabar dan nasehati dengan pelan-pelan.

    4. Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

    Salah satu cara menegur pasangan dalam Islam yang terbaik adalah jangan ikuti hawa nafsu. Meski begitu, rasanya sulit memang untuk tidak bertindak kasar apalagi jika menegur orang yang tidak bisa kita kendalikan.

    Dalam Islam, adab saat menegur pasangan tidak dengan nafsu berupa pelampiasan emosi melainkan dengan kasih sayang dan berlaku lembut. Ini lebih efektif untuk menegur tanpa berkata negatif yang bisa menyakiti.

    Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Orang kuat bukan diukur dengan bertarung. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Perlu kita ketahui, penjelasan cara menegur pasangan di atas tidak mengajarkan melakukan kekerasan. Namun, Islam mengajarkan untuk menegur dan memberikan nasehat dengan rasa kasih sayang dan rasa hormat.

    Batasan dalam Menegur Pasangan

    Berikut beberapa batasan dalam menegur pasangan ketika melakukan kesalahan ataupun keteledoran. Dengan adanya batasan ini, sehingga tidak bertindak kasar, merendahkan, dan melukai. Berikut batasannya.

    1. Tidak Boleh Menghina Pasangan

    Meskipun setiap pasangan berhak menegur pasangannya yang salah, tetapi dalam Islam memiliki batasan yang jelas. Saat kita menegur pasangan tidak boleh dengan kekuasaan, menghina, dan merendahkan.

    Menegur pasangan hendaknya dengan cara etis dan halus, bukan mempermalukan dan menghinanya di depan umum. Hal ini sebagaimana surat An-Nisa ayat 34.

    Artinya: “Dan orang-orang ada pada suami yang takut (Allah), hendaklah mereka menasihatkan istrinya, lalu hendaklah mereka tinggalkan tempat tidurnya (tidak bersetubuh), dan hendaklah mereka mengecamnya dengan sederhana (tidak keras dan kasar). Kemudian, jika dia mentaati kamu, maka janganlah kamu mencari jalan (untuk mengazabnya). Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”.(QS. An-Nisa: 34).

    Ayat ini menjelaskan pentingnya menegur dan menasehati yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, bukan dengan kekuatan dan kekerasan verbal atau fisik.

    2. Menghargai Pendapat Pasangan

    Pasangan kita melakukan sesuatu yang keliru mungkin hal ini dilakukan secara tidak sengaja atau ada alasannya. Oleh karena itu, saat menegur atau menasihatinya maka dengarkan dahulu agar tidak salah paham.

    Jika berbeda pendapat, maka jangan marah atau merasa paling benar argumennya. Apalagi suami tidak boleh menggunakan kekuasaannya terhadap istri. Sebaliknya, suami harus menjadi imam yang baik bagi istri.

    Begitu pula istri, harus memahami kewajiban dan haknya dalam rumah tangga. Istri menjalankan fitrahnya menjadi muslimah yang lemah lembut dalam bertutur kata dan bersikap hormat terhadap suami.

    Meski begitu, ketika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, maka harus menegur dan mengingatkannya. Namun, tegurlah dengan cara yang baik sesuai dengan syariat Islam agar tidak saling hujat dan merendahkan.

    Demikian penjelasan tentang cara menegur pasangan dalam Islam yang bisa kita terapkan. Pada intinya, tegur dan nasehati dengan lemah lembut dan kasih sayang, serta rasa hormat dan rasa empati terhadap pasangan.

  • Doa Melembutkan Hati Anak yang Keras Kepala dalam Islam

    Doa Melembutkan Hati Anak yang Keras Kepala dalam Islam

    Tidak sedikit anak yang mempunyai sikap keras kepala dan susah diatur. Apakah anak kamu salah satunya? Jika iya, yuk coba amalkan doa melembutkan hati anak yang keras kepala di bawah ini!

    Seperti yang kita tahu bahwa anak adalah anugerah terindah dari Allah SWT bagi setiap orang tua. Namun, tidak jarang anak-anak juga menjadi cobaan bagi orang tua, terutama jika mereka bersikap keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasihat.

    Hal tersebut tentu membuat orang tua merasa khawatir, sedih, dan marah. Lalu, bagaimana cara mengatasi anak yang keras kepala?

    4 Doa Melembutkan Hati Anak yang Keras Kepala

    Apakah ada doa yang bisa melembutkan hati anak yang keras kepala? Yuk, simak artikel di bawah ini sampai habis!

    1. Doa Agar Anak Menjadi Penurut dan Tidak Keras Kepala

    Doa yang pertama adalah doa yang diambil dari surat Al-Furqan ayat 74, yaitu sebagai berikut:

    وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ

    إِمَامًا

    Bacaan latin: Wallażīna yaqụlụna rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.

    Artinya: Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74).

    Supaya anak bisa menjadi penurut dan tidak keras kepala memang tidaklah mudah, hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang menjelaskan kalau anak juga bisa menjadi cobaan untuk orang tua, yaitu sebagai berikut:

    إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

    Bacaan latin: Innamā amwālukum wa aulādukum fitnah, wallāhu ‘indahū ajrun ‘aẓīm.

    Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15).

    Baca juga: Doa sebelum Berhubungan Suami Istri dan Lengkap dengan Artinya

    2. Doa Melembutkan Hati Anak Agar Tidak Tumbuh Keras Kepala

    pada doa ini berisikan agar anak tidak tumbuh keras kepala, memiliki hati yang lembut dan menjadi anak yang saleh dan salihah. Doanya adalah sebagai berikut:

    Bacaan latin: Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik.

    Artinya: “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu.”

    3. Doa Melembutkan Hati Anak dan Memberikan Rezeki Kepada Mereka

    Doa yang satu ini adalah doa yang mengandung nama Allah Al-Latif, yaitu berarti Yang Maha Lembut. Dengan berdoa dengan nama ini, kita memohon agar Allah SWT memberikan kelembutan hati kepada anak dan memberikan rezeki yang baik kepada mereka.

    Doanya yaitu sebagai berikut:

    ٱللَّهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْعَزِيزُ

    Bacaan latin: Allāhu laṭīfum bi’ibādihī yarzuqu may yasyā`, wa huwal-qawiyyul-‘azīz.

    Artinya: “Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. As-Syura: 19).

    4. Doa Cara Meneguhkan Hati Anak dan Menjadi Teladan Rasulullah SAW

    Selanjutnya adalah doa yang mengandung nama Allah Al-Muqallib, yaitu berarti Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Dengan berdoa dengan nama ini, kita memohon agar Allah SWT meneguhkan hati anak di atas agama-Nya dan menjadikan mereka mengikuti teladan Rasulullah SAW.

    Doanya adalah sebagai berikut:

    لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ

    وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

    Bacaan latin: Laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā.

    Artinya: ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

    Baca juga: Contoh Ceramah Singkat tentang Ibu ini Bisa Jadi Referensi

    7 Cara Mengajarkan Anak Agar Tidak Keras Kepala

    1. Membiarkan Anak Belajar dari Pengalaman

    Jika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda, jangan langsung marah atau melarang, tetapi biarkan mereka merasakan akibatnya.

    Misalnya, jika anak tidak mau makan sayur, jangan paksa mereka untuk makan, tetapi beri tahu mereka bahwa sayur baik untuk kesehatan dan pertumbuhan mereka.

    Karena kalau anak merasa lemas atau sakit karena kurang gizi, mereka akan sadar bahwa makan sayur penting

    2. Jangan Menghakimi atau Menyalahkan Anak

    Jika anak melakukan kesalahan atau gagal dalam sesuatu, jangan langsung mengkritik atau mengejek mereka, tetapi beri dukungan dan motivasi.

    Tunjukkan bahwa kamu peduli dan menghargai usaha mereka. Hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan percaya diri.

    3. Ajarkan Anak Tentang Tanggung Jawab

    Anak perlu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, baik positif maupun negatif. Beri anak tugas-tugas yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka

    Seperti merapikan mainan, membantu pekerjaan rumah tangga, atau menabung uang saku. Beri pujian atau hadiah jika anak berhasil menyelesaikan tugasnya, dan beri sanksi atau hukuman jika anak melanggar aturan.

    4. Jangan Biarkan Ada Perdebatan

    Jika anak bersikap keras kepala dan tidak mau mendengarkan kamu, jangan terlibat dalam perdebatan yang tidak penting. Tetap tenang dan tegas dalam menyampaikan pendapat kamu

    Dan juga jangan mudah terprovokasi oleh emosi anak. Jelaskan alasan kamu dengan logis dan rasional, dan minta anak untuk menghormati keputusan kamu.

    5. Selalu Ciptakan Suasana yang Damai

    Anak akan lebih mudah meniru perilaku orang tua dan lingkungan sekitarnya. Jika kamu sering bertengkar atau berteriak di depan anak, mereka akan belajar bahwa itu adalah cara yang normal untuk berkomunikasi. 

    Sebaliknya, jika kamu selalu bersikap sabar, lembut, dan harmonis dengan pasangan dan keluarga kamu,  anak akan belajar bahwa itu adalah cara yang baik untuk bersosialisasi.

    6. Jangan Diamkan atau Mengabaikan anak

    Anak yang keras kepala biasanya sedang mencari perhatian dari orang tua. Jika kamu mengabaikan atau membiarkan mereka tanpa respons, mereka akan merasa tidak dihargai atau dicintai.

    Hal ini akan membuat mereka semakin keras kepala dan sulit diatur. Sebaliknya, berikan perhatian yang cukup dan positif kepada anak, seperti memeluk, mencium, atau memuji mereka.

    7. Ajari Anak untuk Patuh pada Rutinitas

    Anak yang memiliki rutinitas yang teratur akan lebih mudah mengikuti aturan dan disiplin.

    Buat jadwal aktivitas sehari-hari untuk anak, seperti bangun tidur, mandi, sarapan, bermain, belajar, makan siang, tidur siang, mandi lagi, makan malam, dan tidur malam. Pastikan anak selalu mematuhi jadwal yang telah kamu buat.

    10 Tips Menghadapi Anak yang Keras Kepala

    Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat kamu lakukan untuk menghadapi anak yang keras kepala:

    1. Mendengarkan Pendapat dan Kemauan Anak

    Anak yang keras kepala biasanya ingin didengar dan dihargai pendapatnya. Jadi, jangan langsung menolak atau memerintah anak tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara.

    Dengarkan apa yang ia mau dan alasan di baliknya. Tunjukkan bahwa kamu menghormati pilihan dan keputusan anak, meskipun kamu tidak setuju dengannya.

    2. Tidak Memaksa

    Memaksa anak yang keras kepala hanya akan membuatnya semakin menentang dan marah. Jadi, hindari menggunakan kata-kata seperti “harus”, “wajib”, atau “tidak boleh”.

    Sebaliknya, gunakan kata-kata seperti “boleh”, “bisa”, atau “mungkin”. Berikan anak pilihan dan kesempatan untuk membuat keputusan sendiri, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

    3. Memberikan Anak Pilihan

    Anak yang keras kepala sering merasa tidak punya kendali atas hidupnya, karena orang tua selalu menentukan apa yang harus ia lakukan.

    Untuk mengurangi rasa frustrasi dan ketidakpuasan anak, berikan ia pilihan dalam hal-hal kecil, seperti mau pakai baju warna apa, mau makan apa, mau main apa, dan sebagainya. Dengan begitu, anak akan merasa lebih dihargai dan dihormati sebagai individu.

    4. Hadapi dengan Tenang

    Anak yang keras kepala sering membuat orang tua emosi dan stres. Namun, jangan sampai kamu kehilangan kesabaran dan meledakkan kemarahan kamu pada anak. Hal ini hanya akan membuat anak semakin takut, benci, atau malah meniru perilaku kamu.

    Hadapi anak dengan tenang dan sabar. Jika kamu merasa tidak bisa mengendalikan emosimu, ambil waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum berbicara dengan anak.

    5. Berikan Pujian dan Penghargaan Kepada Anak

    Anak yang keras kepala juga butuh mendapatkan pujian dan penghargaan dari orang tua, terutama jika mereka berhasil melakukan sesuatu dengan baik atau menunjukkan perilaku positif.

    Pujian dan penghargaan akan meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi anak untuk terus berusaha dan berkembang. Jadi, jangan pelit untuk memberikan pujian dan penghargaan kepada anak Anda.

    6. Berkomunikasi Dua Arah

    Komunikasi adalah kunci dalam hubungan antara orang tua dan anak. Komunikasi dua arah berarti kamu tidak hanya berbicara kepada anak, tetapi juga mendengarkan apa yang ia katakan.

    Komunikasi dua arah juga berarti kamu tidak hanya memberikan informasi kepada anak, tetapi juga meminta pendapat atau masukan darinya. Dengan berkomunikasi dua arah, kamu akan membangun hubungan yang lebih harmonis dan saling menghormati dengan anak.

    7. Memberikan contoh

    Anak adalah peniru yang ulung. Mereka akan meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua. Jadi, jika kamu ingin anak berperilaku baik, kamu sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik pula.

    Tunjukkan kepada anak bagaimana cara menghadapi masalah, mengendalikan emosi, menghargai orang lain, dan sebagainya. Dengan begitu, anak akan belajar dari kamu dan mencontoh perilakumu

    8. Ingatkan Anak

    Anak yang keras kepala sering lupa atau tidak peduli dengan aturan atau harapan yang telah ditetapkan oleh orang tua. Jadi, kamu perlu mengingatkan anak secara berkala tentang hal-hal yang penting.

    Seperti waktu tidur, waktu belajar, waktu makan, dan sebagainya. Ingatkan anak dengan cara yang baik dan sopan, bukan dengan cara yang mengancam atau menakut-nakuti.

    Jika perlu, berikan alasan atau manfaat dari aturan atau harapan tersebut, agar anak lebih mau mengikutinya.

    9. Mengajak Bekerjasama

    Anak yang keras kepala sering merasa bahwa orang tua adalah musuh yang ingin menghalangi keinginan atau kebebasannya. Jadi, kamu perlu mengubah persepsi tersebut dengan mengajak anak bekerjasama.

    Ajak anak untuk membuat kesepakatan atau kompromi dalam hal-hal yang bersifat negosiasi, seperti berapa lama ia boleh main game, berapa banyak ia harus mengerjakan PR, dan sebagainya.

    Dengan begitu, anak akan merasa lebih terlibat dan bertanggung jawab dalam proses pengambilan keputusan.

    10.  Menetapkan Batasan dan Konsekuensi

    Meskipun kamu harus memberikan anak pilihan dan kesempatan untuk membuat keputusan sendiri, kamu juga harus menetapkan batasan dan konsekuensi yang jelas dan tegas.

    Batasan dan konsekuensi ini bertujuan untuk melindungi anak dari hal-hal yang berbahaya atau merugikan dirinya atau orang lain.

    Jika anak melanggar batasan atau konsekuensi tersebut, kamu harus konsisten dalam memberikan sanksi atau hukuman yang sesuai. Jangan memberikan ancaman kosong atau hukuman yang tidak proporsional.

    Senantiasa amalkan doa melembutkan hati anak yang keras yang ada di atas, dan jangan hanya menuntut anak untuk tidak keras kepala, namun sebagai orang tua justru sebenarnya banyak hak anak yang tidak diberikan.

  • 2 Bacaan yang Harus Diajarkan Pertama Kali Pada Anak

    2 Bacaan yang Harus Diajarkan Pertama Kali Pada Anak

    Sebelum orang tua mengajarkan ilmu pengetahuan, sebaiknya mengenalkan anak soal tauhid. Ada dua bacaan yang harus diajarkan pertama kali pada anak yang akan membantu dalam pemahaman tauhid level dasar.

    Sebagai orang tua, mengenalkan Allah atau tauhid kepada anak adalah menjadi tugas dan kewajibannya. Tentunya pengenalan tersebut bisa melalui keteladanan, percakapan, dan lingkungan yang kaya akan nilai agama.

    Berikut pendidikan dasar soal tauhid yang bisa orang tua ajarkan kepada anak dan bacaan yang harus orang tua ajarkan pertama kali pada anak. Yuk, simak!

    Pendidikan Dasar Anak Soal Ketauhidan

    Berbicara pendidikan tauhid, orang tua wajib menuntun anaknya pada ajaran agama Islam dengan mengenalkan terhadap Sang Maha Pencipta. Pelajaran tauhid bisa kita peroleh dari berbagai media dan sumber terpercaya.

    Sosok yang menjadi teladan bagi umat Islam untuk mengajarkan soal tauhid kepada anak, yaitu Luqman al Hakim. Pendidikan yang diajarkan Luqman kepada anaknya yakni meyakini keesaan Allah dan tak ada sekutu bagi-Nya.

    Sebagaimana Allah SWT berfirman:

    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, karena sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman: 13).

    Tauhid merupakan keyakinan tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Ini perlu kita ajarkan kepada anak, seperti dijelaskan oleh Imam Ibnu Ruslan dalam Nadzam Matan Az-Zubad yang mengatakan:

    Artinya: “Kewajiban pertama kali bagi seorang manusia adalah mengenal Tuhan dengan penuh keyakinan,” 

    Dalam nadzam berikutnya, Ibnu Ruslan menjelaskan: 

    Artinya: “Mengucapkan kedua kalimat syahadat, untuk keabsahan iman bagi orang yang mampu, jika hati membenarkannya,” (Ibnu Ruslan, Matan Az-Zubad, (Makkah, Maktabah Ats-Tsaqafah, 1984), hlm. 9).

    Baca juga: Hukum Potong Rambut saat Haid Menurut Islam, Apakah Boleh?

    Bacaan yang Harus Diajarkan Pada Anak

    Pendidikan tauhid yang wajib orang tua ajarkan pada anak adalah mengenal Allah. Dengan cara mengajari mereka dua kalimat syahadat, yaitu bacaan yang harus diajarkan pertama kali pada anak saat masih kecil.

    Adapun dua bacaan kalimat syahadat yang orang tua harus ajarkan pada anak sejak dini sebagai salah satu pendidikan tauhid adalah sebagai berikut:

      أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

    Asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. 

    Artinya: 

    “Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

    Kalimat di atas adalah dua bacaan yang harus diajarkan pertama kali pada anak yakni kalimat syahadat. Ini sebagai pendidikan tentang ketauhidan pada level dasar.

    Syahadat berasal dari bahasa Arab yakni syahida, artinya ia telah menyaksikan. Dalam syariat Islam, kalimat syahadat adalah kepercayaan dan pengakuan keesaan Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah Rasul-Nya.

    Dua kalimat syahadat ini memiliki makna pengakuan ketauhidan atau syahadah at-Tauhid. Artinya, seorang muslim hanya percaya Allah satu-satunya Tuhan wajib disembah dan menegarkan tidak ada Tuhan selain Allah.

    Selain itu, makna pengakuan kerasulan atau syahadah ar-rasul. Artinya, seorang muslim meyakini ajaran Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad harus ditaati dan dijalankan sebagai sumber hukum syariat Islam.

    Dengan yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah tertanam pada anak sejak dini, maka akan memiliki iman yang kuat. Lantas, bagaimana cara mengajarkan tauhid kepada anak?

    Baca juga: Hukum Chatting dengan Lawan Jenis Menurut Islam

    Cara Menanamkan Tauhid Pada Anak

    Mengapa perlu mengajarkan anak tentang tauhid? Tauhid harus orang tua ajarkan pada anak sejak dini, agar ketika baligh sudah memahami tujuan hidup di dunia.

    Pemahaman tentang tauhid merupakan kebutuhan dasar bagi seorang anak sebelum ia mempelajari ilmu pengetahun. Orang tua bisa mengemas pelajaran tauhid dengan cara sederhana dan menarik bagi anak-anak.

    Syahadat adalah bentuk keimanan untuk mengenal Allah. Hal ini sebagai tahap dasar memahami tauhid pada anak, agar mereka tidak menyekutukan Allah SWT. Berikut cara mengajarkan tauhid pada anak selengkapnya.

    1. Menghafal Bacaan Syahadat

    Saat anak masih dalam kandungan hingga 2-3 tahun, sebaiknya mulai didengarkan bacaan yang harus diajarkan pertama kali pada anak yakni kalimat syahadat. Secara tidak langsung anak bisa menghafalnya.

    Adapun metode menghafal yang bisa orang tua terapkan seperti mendengarkan bacaan syahadat pada anak saat di kandungan sesering mungkin. Hal ini bertujuan ketika anak lahir terbiasa mendengar kalimat tersebut.

    Selain itu, orang tua juga bisa mengajarkan anak membaca kalimat syahadat ketika anak sudah mulai berbicara biasanya usia 2-3 tahun. Caranya dengan membaca bersama-sama agar anak mengikuti kata per kata.

    2. Memahami Kalimat Syahadat

    Saat usia anak masuk 4 tahun, saat di mana otak anak mulai berkembang. Orang tua bisa memberikan pemahaman tentang makna dua kalimat syahadat. Caranya bisa memberikan contoh langsung dalam kehidupan.

    Contohnya berikan pemahaman tentang Allah sebagai pencipta alam semesta seperti melihat pohon yang tumbuh tinggi, ada matahari menyinari bumi, daun yang jatuh, dan lainnya. Semua itu adalah kuasa Allah.

    Sementara, jika anak sedang menghafal surat dalam Al-Quran, maka orang tua bisa menyampaikan artinya sesuai kemampuan pemahaman anak. Sebab, di dalam Al-Quran terdapat banyak contoh kekuasaan Allah.

    3. Membacakan Kisah Teladan

    Ada banyak sekali kisah dalam Al-Quran dan hadist yang bisa menjadi teladan bagi anak. Misalnya tentang kisah penciptaan manusia pertama yakni Nabi Adam atau kisah Nabi Musa yang mampu membelah lautan.

    Sementara, pemahaman tentang teladan pada makna syahadat, orang tua bisa memberikan contoh keteladanan langsung pada anak. Misalnya, menunaikan shalat dan berdoa hanya berharap kepada Allah SWT semata.

    Selain itu, memberikan contoh bagaimana kita bersyukur atas rezeki yang Allah limpahkan dengan cara bersedekah atau pun memberi orang yang membutuhkan. Semua itu bisa menjadi teladan bagi anak sejak dini.

    4. Berdiskusi Bermuatan Iman

    Cara mengajarkan tauhid pada anak sejak usia dini selanjutnya adalah ajak anak berdiskusi atau berdialog tentang muatan iman. Hal ini bisa kita lakukan saat anak usia 10 tahun atau anak sudah usia baligh maupun dewasa.

    Ada banyak dialog bermuatan iman bisa orang tua diskusikan dengan anak usia baligh, seperti misalnya pentingnya membantu dan berbuat baik antar sesama, serta berlaku jujur dan tidak mengambil hak orang lain.

    Anak yang sudah tertanam tauhid sejak dini, maka akan menjadi anak yang selalu bersyukur dan menjaga keimanannya kepada Allah SWT. Dia akan menjauhi perbuatan syirik dan hal yang bisa menyekutukan Allah.

    Itulah cara mengajarkan tauhid pada anak, di mana tauhid ibarat akar pohon. Pohon berakar kuat akan tumbuh besar, rimbun, dan berbuah banyak. Begitu pula anak dengan tauhid yang kuat akan menjadi orang bermanfaat.

    Demikian penjelasan mengenai bacaan yang harus diajarkan pertama kali pada anak dan pentingnya pendidikan tauhid bagi anak sejak dini. Semoga anak kita menjadi sosok yang selalu bersyukur dan beriman kepada Allah SWT.

  • Mengenal Hukum Wadh’i, Salah Satu Hukum Syariat Islam, Yuk Ketahui Moms!

    Mengenal Hukum Wadh’i, Salah Satu Hukum Syariat Islam, Yuk Ketahui Moms!

    Dalam ajaran Islam terdapat sejumlah anjuran dan hukum yang berfungsi sebagai pedoman. Salah satunya yaitu hukum wadh’i.

    Sayangnya, masih banyak di antara kita yang belum memahami mengerti pengertian dan pembagiannya.

    Mari kita pelajari bersama supaya tidak salah kaprah dalam menerapkan amalan.

    Pengertian Hukum Wadh’i

    Ada dua jenis hukum dalam Islam yang perlu kita ketahui, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.

    Hukum taklifi adalah hukum yang berisikan tuntutan, larangan, atau pembolehan.

    Sedangkan, hukum wadh’i lebih berupa penjelasan mengenai situasi bagaimana tuntutan dan lainnya diberlakukan.

    Mengutip dari laman Gema Risalah, hukum wadh’i merupakan hal yang menuntut untuk menjadikan sebab, syarat, atau penghalang dari hal lain.

    Sebagai contoh, hukum untuk melaksanakan puasa Ramadhan adalah wajib. Nah, kewajiban ini merupakan hukum taklifi yang mana menuntut untuk menunaikan puasa.

    Sementara itu, kita perlu menengok hukum wadh’i untuk mengetahui mengenai sebab, syarat dan penghalang dari kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan.

    Berikut penjelasan mengenai hukum ini dalam ‘Ilmu Ushulil Fiqh oleh Syekh Abdul Wahab Khallaf:

    وأما الحكم الوضعي: فهو ما اقتضى وضع شيء سببًا لشيء، أو شرطًا له، أو مانعًا منه

    Artinya: “Hukum wadh’i ialah tuntunan meletakkan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau pencegah bagi lainnya (terciptanya hukum),” (Lihat Khallaf, Ilmu Ushulil Fiqh, [Kairo: Al-Madani, 2001], halaman 99).

    Baca juga: Bacaan Niat Puasa Rajab Sekaligus Puasa Senin Kamis

    Macam-macam Hukum Wadh’i

    Hukum yang satu ini dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

    1. Sebab

    Sebab diartikan sebagai tanda adanya hukum oleh agama. Dapat diartikan juga sebagai kondisi pasti yang memberikan batasan tertentu. Sementara menurut syariat, kondisi tersebut dianggap sebagai pertanda berlakunya hukum.

    Definisi sebab dijelaskan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaily sebagai berikut:

    السبب هو وصف ظاهر منضبط دل الدليل السمعي على كونه معرفا للحكم

    Artinya, “Sebab hukum ialah sifat yang jelas dan memberikan pembatasan, di mana dalil sam’i menyebut keberadaannya sebagai pemberitahu adanya hukum taklifi,” (Lihat Az-Zuhaily, Ushulul Fiqh Al-Islamy, [Damaskus: Darul Fikr, 2005], Juz I, halaman 99).

    Adapun sebab sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu:

    Sebab yang bukan merupakan hasil perbuatan manusia. Misalnya, posisi matahari yang menjadi dasar penentuan waktu shalat 5 waktu.

    Sebab yang merupakan hasil perbuatan manusia. Misalnya, harus meng-qadha’ puasa Ramadhan karena tidak mampu berpuasa ketika menempuh perjalanan jauh. Bepergian jauh merupakan sebab diperbolehkannya tidak berpuasa Ramadhan.

    2. Syarat

    Syarat merupakan pelengkap dari sebab hukum. Ada tidaknya suatu hukum tergantung pada ada tidaknya syarat.

    Meski demikian, perlu diingat bahwa adanya syarat belum tentu menjadi tanda adanya hukum. Inilah yang menjadi perbedaan antara syarat dengan sebab.

    Supaya lebih mudah memahami, kita bisa menengok contoh hukum akad nikah yang mana mengharuskan adanya dua saksi sebagai syarat sah.

    Dua orang saksi ini merupakan syarat. Jadi, supaya akad nikah sah, wajib menghadirkan dua orang saksi.

    Namun, hadirnya dua saksi saja tidak menyebabkan terjadinya pernikahan yang sah. Pasalnya, hukum sah pernikahan memerlukan sebab yang berupa akad nikah.

    Syarat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

    a. Syarat yang Menyempurnakan Sebab

    Sebagai contoh, jatuhnya haul yang syarat kewajiban mengeluarkan zakat atas harta yang telah mencapai nisabnya.

    Sebab wajib zakat yaitu nisab, yang mana merupakan indikator kekayaan. Namun, kewajiban tersebut baru berlaku setelah jatuh haulnya (tempo mengeluarkan zakat).

    Jadi, jika kekayaan yang mencapai nisab masih sempurna kita miliki hingga setelah jatuh haul, maka kita wajib mengeluarkan zakat.

    b. Syarat yang Menyempurnakan Musabab

    Sebagai contoh yaitu syarat untuk menyempurnakan shalat dengan berwudhu dan menghadap kiblat.

    3. Mani’

    Mani’ (penghalang) adalah hal yang menghalangi atau meniadakan suatu perkaya yang dicapai oleh sebab atau hukum.

    Kita bisa mengambil contoh dari kewajiban mengeluarkan zakat setelah memiliki harta yang mencapai nisab. Namun, huku wajib zakat dapat terhalang apabila terlilit hutang yang dapat mengurangi nisabnya.

    4. Sah

    Dalam hal pelaksanaan ibadah, sah memiliki arti tujuan telah tercapai. Dengan kata lain, kita telah melaksanakan ibadah sesuai yang diperintahkan dan memenuhi syarat serta rukunnya.

    Sah juga dapat diartikan sebagai status tanggung jawab. Contohnya, menjalankan shalat dengan sah berarti melaksanakan tanggung jawab dan akan mendapatkan pahala di akhirat kelak.

    5. Batal

    Batal merupakan kebalikan dari sah. Dapat diartikan bahwa batal adalah hal yang bisa melepas tanggung jawab dan menyebabkan tidak diperolehnya pahala di akhirat.

    Hukum batal terjadi apabila kita mengerjakan perbuatan tertentu, tapi sebagian atau seluruh syarat tidak terpenuhi, tidak ada sebab, atau terdapat penghalang (mani’).

    Contohnya, apabila menjalankan shalat sesuai waktu dan didahului wudhu, tapi dalam keadaan haid, maka shalat tersebut hukumnya batal.

    Demikianlah penjelasan mengenai hukum wadh’i dan macamnya. Semoga menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi kita semua.

  • Yuk, Cari Tahu Nama Bulan Dalam Islam dan Artinya Masing-Masing!

    Yuk, Cari Tahu Nama Bulan Dalam Islam dan Artinya Masing-Masing!

    Tahun Hijriyah memiliki karakter berbeda daripada tahun masehi yang biasa dipakai. Perbedaannya mulai dari latar belakang hingga nama-nama bulan. Lalu, apa saja nama bulan dalam Islam? Pada artikel berikut kita akan mengetahuinya bersama.

    Kalender hijriyah menjadi simbol identitas umat Islam.

    Penanggalan Hijriyah digunakan sebagai penentu waktu ibadah seperti waktu mulai puasa dan perayaan keagamaan seperti hari raya idul fitri.

    Latar Belakang Penanggalan Tahun Hijriyah

    Pada masa itu, Abu Musa Al-Asy-‘Ari sebagai gubernur Basrah menerima surat tak bertanggal lalu disampaikan kepada khalifah Umar bin Khatab. Dalam suatu riwayat disebutkan sebagai berikut.

    إنَّه يأتينا مِن أمير المؤمنين كُتبٌ، فلا نَدري على أيٍّ نعمَل، وقد قرأْنا كتابًا محلُّه شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

    Artinya:

    “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, tetapi kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

    Oleh karena kejadian tersebut, Umar akhirnya mengajak para sahabat untuk mendiskusikannya bersama. Tujuan diskusi ini yaitu untuk menentukan kalender yang menjadi acuan bagi kaum muslimin.

    Penetapan Patokan Tahun Hijriyah

    Sebelum mengetahui nama bulan dalam Islam, kita perlu memahami bagaimana cara menentukan patokan awal tahun Hijriyah. 

    Pada masa khalifah Umar, terdapat musyawarah dengan para sahabat yang membahas mengenai penanggalan Islam. Muncul beberapa usulan terkait patokan tanggal awal tahun. 

    Ada yang mengusulkan awal tahun dimulai dari tahun diutusnya Nabi Muhammad SAW. Sebagian yang lain mengusulkan agar penanggalan dibuat sesuai kalender Romawi. Kalender ini menghitung penanggalan mulai dari masa raja Iskandar (Alexander). 

    Usulan lain ada yang berpendapat bahwa penanggalan Islam dimulai dari tahun hijrahnya nabi ke kota Madinah. Seluruh usulan tersebut disampaikan melalui Ali bin Abi Thalib. 

    Lalu, Umar bin Khatab sebagai khalifah akan berperan untuk mengambil keputusan. Berikut riwayat yang berkaitan dengan pendapat Umar atas usulan para sahabat tadi.

    الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها

    Artinya:

    ”Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” 

    Umar pun mengemukakan alasan keputusan penanggalan tersebut. Para sahabat sebagai peserta musyawarah pun setuju. Akhirnya peristiwa hijrah menjadi acuan tahun dalam penanggalan Islam.

    Landasan atas keputusan tersebut pada dasarnya sejalan dengan firman Allah SWT sebagai berikut.

    لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

    Artinya:

    “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS. At-Taubah:108).

    Maksud kalimat “sejak hari pertama” dalam ayat tersebut adalah hari pertama kedatangan hijrahnya nabi. Nah, moment tersebutlah yang menjadi acuan awal tahun kalender hijriyah.

    Jadi, telah jelas bahwa penetapan patokan tahun hijriah yaitu berdasarkan tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. 

    Nama Bulan dalam Islam dan Artinya

    Sama seperti tahun Masehi, kalender Hijriyah juga memiliki 12 bulan. Berikut ini nama-nama bulan dalam Islam berdasarkan urutannya.

    1. Muharram (محرم)

    Muharram

    Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk dalam bulan-bulan suci. Nama Muharram berasal dari kata “haram” yang artinya sesuatu yang dilarang atau dihormati. Pada saat itu, orang Arab mengharamkan adanya peperangan di bulan ini. 

    Sementara kita sebagai umat Islam pun dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada bulan-bulan suci. Pada bulan Muharram, sebaiknya kita memperbanyak berbuat baik.

    Misalnya dengan melaksanakan puasa sunnah Asyura pada tanggal 10 Muharram. Puasa 10 Muharram ini dapat menghapus dosa-dosa dari tahun sebelumnya.

    Baca juga: Bacaan Doa Sapu Jagat dalam Tulisan Arab dan Latin, Lengkap beserta Artinya

    2. Shafar (صفر)

    Bulan kedua yaitu Shafar. Asal namanya terkait dengan perkampungan Arab yang disebut Shifr. Perkampungan tersebut ditinggalkan penduduknya karena mereka pergi untuk berperang. 

    Ada juga yang berpendapat bahwa dinamakan Shafar karena pada masa lalu bangsa Arab terlibat dalam konflik dengan berbagai kabilah. Kabilah-kabilah yang mereka lawan menjadi kekurangan harta atau kosong.

    3. Rabi’ul Awwal (ربىع الأول)

    Bulan ketiga dalam kalender Hijriyah yaitu Rabiul Awwal. Nama Rabiul Awwal berasal dari kata “rabi” yang merujuk pada musim semi atau periode bunga.

    Penamaan bulan ini lantaran adanya kesesuaian dengan musim semi di wilayah Arab pada saat itu. Rabiul Awwal juga dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kita memperingatinya sebagai maulid nabi.

    4. Rabi’ul Akhir (ربىع الأخر)

    Rabiul Akhir atau Rabiul Tsani adalah bulan keempat dalam kalender Hijriah. Nama bulan ini juga diperoleh dari kata “rabi” yang berarti musim semi atau musim bunga. Hal ini karena di Arab saat itu sedang mengalami musim semi.

    Jadi, Rabi’ul Akhir merupakan bulan kedua ketika musim semi di Arab. Bulan ini juga dikenal sebagai waktu kembalinya mereka yang sedang dalam perjalanan atau yang telah berperang.

    5. Jumadil Awwal (جمادى الأول) atau Jumadil Ula (جمادى الأولى)

    Nama bulan dalam Islam selanjutnya yaitu bulan Jumadil Awwal atau Jumadil Ula. Penamaan bulan ini berasal dari kata “jumad” yang berarti pembekuan. Maknanya adalah bahwa saat itu, setelah musim semi datang musim dingin. 

    Saat musim dingin, air membeku (jumud) sehingga bulan ini disebut pembekuan. Sebelum masuknya ajaran Islam, bulan ini dikenal dengan sebutan Jumadi Khomsah.

    6. Jumadil Akhir (جمادى الأخر)

    Hampir mirip dengan Jumadil Awwal, bulan keenam juga bertepatan dengan musim dingin di wilayah Arab. Sebelum Islam masuk, Jumadil Akhir dikenal sebagai Jumadi Sittah.

    7. Rajab (رجب)

    Rajab adalah bulan ketujuh dalam tahun Hijriyah. Bulan ini termasuk ke dalam bulan-bulan Suci. Penamaannya berasal dari kata “rajaba” yang berarti menghormati atau mengagungkan.

    Pada bulan ini, orang Arab masa jahiliyah melepaskan tombak dari besi tajamnya dengan tujuan menahan diri dari peperangan. Itulah sebabnya diberi nama bulan Rajab.

    Pada bulan suci ini, kita sebagai seorang muslim dianjurkan memohon ampun kepada Allah SWT.  Cara sederhananya dengan mengucap istighfar.

    8. Sya’ban (شعبان)

    Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Nama Sya’ban berasal dari kata “sha’ba” yang berarti bercabang atau berpencar. 

    Penamaan tersebut karena orang-orang Arab zaman pra-Islam biasanya berpencar ke berbagai lokasi untuk mencari sumber air. 

    Bulan Sya’ban juga berperan sebagai periode persiapan untuk menyambut bulan Ramadhan. Selama bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan puasa sunnah, terutama pada tanggal 15 Sya’ban yang dikenal sebagai Nisfu Sya’ban.

    9. Ramadhan (رمضان)

    Nama bulan dalam Islam berikutnya yaitu Bulan Ramadhan yang tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan yang paling suci dan penuh berkah. 

    Nama “Ramadhan” diambil dari kata “ramdha” yakni menggambarkan panas yang sangat kuat atau menyengat. 

    Dinamakan demikian karena pada bulan ini, matahari di Arab bersinar dengan panas yang terik. Panas Ramadhan mencapai puncaknya saat musim panas di Arab. 

    Karena merupakan bulan paling mulia, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa. Kita wajib menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari fajar hingga matahari terbenam. 

    Pada bulan ini juga terdapat Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Itulah sebabnya kita harus meningkatkan keimanan selama bulan Ramadhan. Sebab, Allah melipatgandakan amal ibadah pada bulan ini.

    10. Syawwal (شوال)

    Syawwal adalah bulan kesepuluh dalam tahun Hijriah. Nama Syawwal berasal dari kata “shala” yang jika kita terjemahkan adalah mengangkat atau meninggalkan. Hal ini merujuk pada waktu dimana unta betina mengalami penurunan produksi air susu. 

    Syawwal merupakan bulan kemenangan bagi umat Islam setelah menyelesaikan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Bulan ini juga menjadi waktu untuk merayakan hari raya Idul Fitri, sebuah momen kebahagiaan dan saling memaafkan.

    11. Dzulqo’dah (ذوالقاعدة)

    Bulan kesebelas dalam kalender Hijriyah yaitu bulan Dzulqo’dah. Bulan ini termasuk dalam bulan-bulan yang suci. Penamaan “Dzulqo’dah” berasal dari kata “qa’ada” yang berarti duduk atau tidak berangkat. 

    Dinamakan demikian karena pada bulan ini, orang Arab zaman sebelum Islam biasanya berdiam diri dan tidak berperang. Sebab, bulan ini termasuk bulan suci sehingga perang dilarang.

    Dzulqo’dah juga dianggap sebagai bulan istirahat bagi umat Islam sebelum bersiap untuk menjalankan ibadah haji di bulan berikutnya.

    12. Dzulhijjah (ذوالحجاة )

    Dzulhijjah adalah bulan terakhir (ke-12) dalam kalender Hijriah. Bulan ini juga termasuk suci dan penuh kebaikan. Penamaan “Dzulhijjah” berasal dari kata “hajj” yang merujuk pada ibadah haji atau perjalanan ke tanah suci. 

    Selama bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Mekkah untuk menjalankan ibadah haji. Dzulhijjah juga menjadi bulan pengorbanan bagi umat Islam. Ada ibadah qurban pada tanggal 10 Dzulhijjah atau dikenal sebagai hari raya Idul Adha.

    Demikian nama bulan dalam Islam beserta artinya. Semoga bisa menambah pemahaman kita terkait penanggalan dalam kalender Hijriyah.

    Makna Penanggalan Hijriyah Bagi Umat Islam

    Sebagai umat Islam, sudah semestinya kita mengetahui tentang penanggalan Hijriyah. Terdapat beberapa makna penanggalan Hijriyah bagi umat Islam yaitu sebagai berikut.

    1. Merupakan Kalender yang Diakui Allah SWT

    Sebagaimana dalam firman-Nya disebutkan sebagai berikut.

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

    Artinya:

    “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36).

    2. Penanda Ibadah-Ibadah Tahunan dalam Islam

    Ibadah-ibadah tahunan waktunya berkaitan dengan peredaran bulan. Contohnya ibadah puasa. Dalam menentukan waktu mulainya puasa Ramadhan, kita menggunakan patokan terbitnya hilal (bulan baru). 

    Dalam firman Allah disebutkan sebagai berikut.

    فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

    Artinya:

    “Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS. Al-Baqarah: 185).

    Kalender Hijriah juga menjadi patokan dimulainya bulan haji. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah yaitu sebagai berikut.

    الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

    Artinya:

    “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: 197).

    Bulan yang dimaksud dalam ayat tersebut yaitu bulan Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh awal bulan Dzulhijjah. 

    3. Mengatur Ibadah dengan Waktu dan Durasi Tertentu

    Ada banyak hukum fikih yang berkaitan dengan kalender Hijriah. Misalnya masa iddah (masa tunggu) bagi perempuan yang tidak haid dan sudah menopause adalah tiga bulan. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah bulan-bulan dalam kalender Hijriah.

    Hal serupa terjadi dalam hukum iddah bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya. Jangka waktu tersebut adalah empat bulan sepuluh hari. Dalam kasus ini, hitungan bulan juga menggunakan kalender Hijriah.

    4. Menggunakan Kalender Hijriah Berarti Mengakui Identitas Islam

    Kalender Hijriah adalah kalender yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk menentukan tanggal-tanggal penting dalam agama Islam. Itulah sebabnya penanggalan Hijriyah menjadi identitas kuat bagi umat Islam.

    Sudah semestinya dengan mengetahui penanggalan Hijriyah dan nama bulan dalam Islam, kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang taat untuk mengamalkan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

  • 8 doa untuk anak yang susah diatur, amalkan setiap hari

    8 doa untuk anak yang susah diatur, amalkan setiap hari

    Tidak sedikit anak yang mempunyai sifat keras kepala. Apakah anak kamu salah satunya? Jika iya, yuk coba amalkan doa untuk anak yang susah diatur di bawah ini!

    Seperti yang kita tahu bahwa anak adalah anugerah terindah yang diberikan Allah SWT kepada setiap pasangan suami istri. Namun, mengasuh anak tidaklah mudah, apalagi jika anak memiliki sifat yang keras, bandel, atau susah diatur.

    Selain memberikan pendidikan dan bimbingan yang baik, kita juga perlu berdoa kepada Allah SWT agar anak-anak kita mendapatkan hidayah dan petunjuk-Nya. Doa adalah senjata orang mukmin yang paling ampuh dan mujarab. Dengan berdoa, kita menunjukkan kepasrahan dan ketawakalan kita kepada Allah SWT, sekaligus memohon perlindungan dan pertolongan-Nya.

    8 Doa untuk Anak yang Susah Diatur

    Berikut ini adalah 8 doa untuk anak yang susah diatur dalam Islam yang bisa kita amalkan sebagai orang tua:

    1. Doa dari Ustadz Ahmad Zahrudin M. Nafis

    Ustadz tersebut menyarankan untuk orang tua mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang tercantum dalam kitab Sa’adatuddaroin karya Syekh Yusuf Bin Ismail Annabahani. Doanya untuk anak yang susah diatur ini berbunyi sebagai berikut:

    أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ تَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

    Bacaan latin: Afaghayro dini llahi tabghuna walahu aslama man fis samawati wal ardi thow’an wakarhan wailayhi turja’un.

    Artinya: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan.” (QS Ali Imron: 83)

    Doa ini bisa dibaca sebanyak 7 kali setiap hari sambil menepuk-nepuk pundak anak atau mengusap kepala anak. Doa ini bertujuan agar anak menjadi taat kepada Allah SWT dan orang tua.

    Baca juga: 10 Arti Mimpi Banjir Menurut Islam, Pertanda Buruk?

    2. Membaca Surat Al Fajr

    Surat Al Fajr adalah surat ke-89 dalam Al Quran yang terdiri dari 30 ayat. Surat ini termasuk surat Makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di Makkah sebelum hijrah. 

    Surat ini mengandung beberapa tema pokok, antara lain tentang kekuasaan Allah SWT atas segala sesuatu, tentang sikap manusia terhadap nikmat dan cobaan, tentang kisah bangsa-bangsa terdahulu yang durhaka, dan tentang hari kiamat serta balasan bagi orang-orang beriman dan kafir.

    Surat Al Fajr bisa dibaca sebagai doa untuk melembutkan hati anak yang susah diatur. Caranya adalah dengan membaca surat ini sebanyak 7 kali sambil mengusap ubun-ubun anak saat tidur. Lakukan dengan istiqomah dan niat yang tulus.

    3. Doa Agar Anak Saleh dan Salihah

    Sebagai orang tua, kita tentu menginginkan anak-anak kita menjadi saleh dan salihah, yaitu anak-anak yang beriman, bertakwa, berilmu, beramal, dan berakhlaq mulia. Untuk itu, kita bisa mengamalkan doa berikut ini setelah sholat fardhu:

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Bacaan latin: Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yunin waj’alna lilmuttaqina imama.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Furqan: 74)

    Doa ini mengandung permohonan agar kita dan keluarga kita menjadi orang-orang yang dicintai Allah SWT dan menjadi panutan bagi orang-orang yang bertakwa.

    4. Doa Agar Anak Diberi Kecerdasan dan Kebijaksanaan

    Kecerdasan dan kebijaksanaan adalah dua hal yang sangat penting bagi anak-anak kita. Dengan kecerdasan, anak-anak kita bisa menyerap ilmu pengetahuan dengan mudah dan mengembangkan potensi diri mereka.

    Dengan kebijaksanaan, anak-anak kita bisa membedakan antara yang baik dan buruk, serta mengambil keputusan yang tepat dalam hidup mereka.

    Untuk memohon agar anak-anak kita diberi kecerdasan dan kebijaksanaan oleh Allah SWT, kita bisa mengamalkan doa berikut ini:

    رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا وَارْزُقْنِي فَهْمًا وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِينَ

    Bacaan latin: Rabbi zidni ilma warzuqni fahma waj’alni minash sholihin.

    Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu dan berilah aku rizki akan kepahaman dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang sholeh.” (Doa Nabi Musa AS).

    Doa ini bisa dibaca setiap hari, terutama sebelum belajar atau mengajar anak.

    5. Doa Agar Anak Diberi Keselamatan dan Kesehatan

    Keselamatan dan kesehatan adalah dua nikmat yang tidak ternilai harganya. Tanpa keselamatan dan kesehatan, kita tidak bisa menjalani hidup dengan baik.

    Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur atas keselamatan dan kesehatan yang Allah SWT berikan kepada kita dan keluarga kita.

    Untuk memohon agar anak-anak kita selalu diberi keselamatan dan kesehatan oleh Allah SWT, kita bisa mengamalkan doa berikut ini:

    اللَّهُمَّ احْفَظْهُ وَبَارِكْ لَنَا فِيهِ وَاجْعَلْهُ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

    Bacaan latin: Allahumma hfazhu wa barik lana fih waj’alhu min ibadikash sholihin.

    Artinya: “Ya Allah, peliharalah dia (anakku) dan berkahilah kami padanya dan jadikanlah dia termasuk hamba-hamba-Mu yang sholeh.” (Doa Nabi Ibrahim AS untuk anaknya Ismail AS).

    Doa ini bisa dibaca setiap hari, terutama sebelum anak berangkat sekolah atau melakukan aktivitas lainnya.

    6. Doa Agar Anak Diberi Kemudahan dalam Segala Urusan

    Kemudahan dalam segala urusan adalah salah satu doa yang sering kita panjatkan kepada Allah SWT.

     Kita tentu ingin anak-anak kita juga mendapatkan kemudahan dalam segala urusan mereka, baik dalam belajar, bekerja, beribadah, maupun bermuamalah.

    Untuk memohon agar anak-anak kita diberi kemudahan dalam segala urusan oleh Allah SWT, kita bisa mengamalkan doa berikut ini:

    رَبِّ يَسِّرْ وَلَا تُعَسِّرْ رَبِّ تَمِّمْ بِالْخَيْرِ

    Bacaan latin: Rabbi yassir wala tu’assir rabbi tamim bilkhoir.

    Artinya: “Ya Tuhanku, mudahkanlah dan janganlah Engkau persulit. Ya Tuhanku, sempurnakanlah dengan kebaikan.”

    Doa ini bisa dibaca setiap hari, terutama sebelum memulai sesuatu atau menghadapi suatu masalah.

    Baca juga: Puasa Nazar: Niat, Tata Cara, Hukum, Konsekuensi, dan Macamnya

    7. Doa untuk Anak Agar Menjadi Anak yang Berbakti Kepada Orang Tua

    Doa ini adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ismail AS ketika ia bersedia untuk dikorbankan oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS.

    رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Bacaan latin: Rabbana taqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, terimalah (korban) dari kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ayat 127).

    8. Doa untuk Anak Agar Menjadi Anak yang Cerdas dan Berilmu

    Doa ini adalah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Musa AS ketika ia meminta Allah SWT untuk mengajarkan kepadanya ilmu yang bermanfaat.

    رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

    Bacaan latin: Rabbi zidnii ‘ilma.

    Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.” (QS. Thaha ayat 114).

    5 Cara Mengamalkan Doa untuk Anak yang Susah Diatur

    Untuk mengamalkan doa-doa tersebut, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini:

    1. Bersihkan Hati dan Niat

    Niatkan bahwa kamu berdoa hanya karena Allah SWT dan mengharap ridho-Nya.

    2. Membaca dengan Penuh Keyakinan, Khusyuk, dan Tawakal

    Bacalah dengan suara yang jelas, pelan, dan merdu. Jika Anda tidak hafal, Anda bisa membaca dari buku atau media lain yang tersedia.

    3. Membaca Sesuai dengan Waktu dan Situasi yang Tepat

    Misalnya adalah sebagai berikut:

    • Baca doa agar anak saleh dan salihah setelah sholat fardhu.
    • Baca doa agar anak diberi kecerdasan dan kebijaksanaan sebelum belajar atau mengajar anak.
    • Baca doa agar anak diberi keselamatan dan kesehatan sebelum anak berangkat sekolah atau melakukan aktivitas lainnya.
    • Baca doa agar anak diberi kemudahan dalam segala urusan sebelum memulai sesuatu atau menghadapi suatu masalah.

    4. Ulangi Doa-Doa Tersebut Secara Rutin dan Istiqomah

    Jangan bosan atau putus asa jika belum mendapatkan hasil yang diinginkan. Tetap berusaha dan berikhtiar untuk memberikan yang terbaik bagi anak kamu

    5. Sertakan Doa-Doa Tersebut dalam Dzikir dan Sholawat Anda

    Dzikir dan sholawat adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, doa-doa Anda akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

    Itulah doa untuk anak yang susah diatur, yang sejatinya menurut Ustad Adi Hidayat, tidak ada anak yang nakal maupun tidak dapat diatur, hanya saja kita sebagai orang tua yang kurang banyak sabarnya.

  • Hukum Membuat Istri Menangis saat Hamil, Bahaya Buat Janin Lho!

    Hukum Membuat Istri Menangis saat Hamil, Bahaya Buat Janin Lho!

    Dalam rumah tangga, sering terjadi perselisihan antar pasangan. Apalagi sampai membuat istri yang sedang hamil menangis. Kalau sudah begini, hukum membuat istri menangis saat hamil wajib menjadi bahan bacaan bagi suami.

    Seperti banyak orang sebutkan, wanita yang sedang hamil biasanya memiliki kondisi emosi yang kurang stabil. Mereka cenderung sensitif dan menjadi perasa sehingga perselisihan kecil dengan pasangan bisa menjadi masalah yang besar.

    Lalu, bagaimana hukum dalam Islam jika seorang suami membuat istrinya menangis pada saat hamil? Agar kamu bisa tahu jawabannya, yuk simak bersama pembahasan di bawah ya!

    Hukum Membuat Istri Menangis saat Hamil

    Di dalam sebuah pernikahan, seorang istri wajib hukumnya untuk mematuhi segala perintah dari suami. Di saat yang bersamaan, mereka juga memiliki hak-hak yang tentu saja harus dipenuhi oleh suami tanpa terkecuali.

    Hal sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 228:

    “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah:228)

    Potongan ayat di atas menjelaskan bahwasanya seorang istri memiliki kewajiban dan juga hak yang sebanding. Dengan kata lain, suami tidak bisa selalu menuntut kewajiban istri tanpa memenuhi hak-hak yang dimilikinya.

    Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlakuan baik dari suaminya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad:

    Rasulullah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, sebaik-baik kalian yang paling baik terhadap istrinya.” – (HR. Ahmad 2/250, Abu Dawud:4682, Tirmidzi:1162)

    Hadits ini juga menjelaskan bagaimana sebaiknya sikap suami kepada istrinya. Saat kondisi normal, Islam tetap memberikan keistimewaan kepada istri sehingga mereka harus diperlakukan dengan baik oleh para suaminya.

    Lantas, bagaimana hukum membuat istri menangis saat hamil? Jika pada kondisi normal seorang istri berhak atas perilaku baik dari suami, maka saat hamil mereka juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama.

    Terlebih, wanita yang sedang hamil juga tengah mengandung janin dari suami mereka. Meski begitu, hubungan pernikahan terkadang membawa pasangan suami dan istri terlibat perselisihan sehingga membuat suami kesal.

    Dalam hal ini, Allah memberikan penjelasan dalam potongan Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 19, yaitu:

    “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” – (QS. An-Nisa ayat 19)

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

    Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaḥillu lakum an tariṡun-nisā`a kar-hā, wa lā ta’ḍulụhunna litaż-habụ biba’ḍi mā ātaitumụhunna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa ‘āsyirụhunna bil-ma’rụf, fa ing karihtumụhunna fa ‘asā an takrahụ syai`aw wa yaj’alallāhu fīhi khairang kaṡīrā

    Artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

    Dari ayat di atas semakin jelas bahwa alih-alih melampiaskan kemarahan kepada istri bahkan membuatnya menangis, Allah justru meminta laki-laki untuk bersabar.

    Sesungguhnya Allah telah menganugerahi para suami dengan kebaikan-kebaikan istri yang banyak. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa hukum membuat istri menangis saat hamil adalah dilarang dalam Islam.

    Apalagi saat istri sedang hamil, maka kondisi psikisnya akan sangat sensitif sehingga perlakukan suami bisa berpengaruh pada kondisi mentalnya. Bahkan, guncangan mental juga bisa berpengaruh pada kondisi janin di dalamnya.

    Baca juga: Tunangan dalam Islam: Ketentuan dan Dalil yang Mengaturnya dalam Islam

    Dukungan Suami terhadap Istri yang Sedang Hamil

    Dukungan Suami terhadap Istri yang Sedang Hamil

    Dari pembahasan yang di atas, dapat kita simpulkan bahwa bentuk dukungan suami pada istri yang sedang hamil bisa dilakukan dengan beberapa hal, seperti:

    1. Bersabar

    Islam memerintahkan seorang suami untuk bersabar dalam menghadapi istrinya. Cara yang diperintahkan Allah kepada para suami untuk menegur istrinya adalah dengan mauidzah hasanah, yaitu menggunakan nasehat yang baik.

    Itu artinya kita dilarang untuk menegur istri dengan sikap yang keras atau kasar. Jika hal itu dilakukan saat sedang hamil, maka hal tersebut akan berpotensi untuk melukai hati dan membuatnya menangis.

    Baca juga: 10 Doa Agar Seseorang Merindukan Kita, Insyaallah Manjur

    2. Menjauhkannya dari Bahaya

    Selanjutnya, seorang suami juga harus memastikan bawah istri berada dalam keadaan aman sehingga ia tidak merasa takut atau merasa dalam ancaman. Jika istri tinggal dalam bayang-bayang ketakutan, maka hormon stres akan berbahaya bagi janinnya.

    3. Memenuhi Kebutuhan Istri

    Selanjutnya, seorang suami juga harus memenuhi kebutuhan istri selama hamil, mulai dari tempat tinggal, makanan, nafkah, dan sebagainya. Hal ini berlaku bahkan sampai statusnya sudah bercerai sekalipun.

    Hal ini seperti tertulis dalam Al-Qur’an Surat Ath-Thalaq ayat 6:

    أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا۟ عَلَيْهِنَّ ۚ وَإِن كُنَّ أُو۟لَٰتِ حَمْلٍ فَأَنفِقُوا۟ عَلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَـَٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۖ وَأْتَمِرُوا۟ بَيْنَكُم بِمَعْرُوفٍ ۖ وَإِن تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُۥٓ أُخْرَىٰ

    Askinụhunna min ḥaiṡu sakantum miw wujdikum wa lā tuḍārrụhunna lituḍayyiqụ ‘alaihinn, wa ing kunna ulāti ḥamlin fa anfiqụ ‘alaihinna ḥattā yaḍa’na ḥamlahunn, fa in arḍa’na lakum fa ātụhunna ujụrahunn, wa`tamirụ bainakum bima’rụf, wa in ta’āsartum fa saturḍi’u lahū ukhrā

    Artinya:

    “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

    Nah, kini Anda sudah mengetahui bagaimana hukum membuat istri menangis saat hamil, bukan? Dalam menjalani biduk pernikahan, baik suami maupun istri sudah selayaknya saling menjaga dan menguatkan agar pernikahan semakin kokoh.

  • 15 Hadits dan Ayat Al-Qur’an tentang Motivasi Hidup, Masya Allah!

    15 Hadits dan Ayat Al-Qur’an tentang Motivasi Hidup, Masya Allah!

    Ada banyak sekali hadits dan ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup yang bisa dijadikan petunjuk dan semangat dalam menghadapi segala ujian hidup di dunia.

    Sudah menjadi hal lumrah, ketika manusia tertimpa suatu masalah, bencana maupun kesulitan hidup, mereka akan cenderung mengeluh. Dan sebaliknya, ketika mendapatkan kenikmatan, manusia kerap kali akan lupa bersyukur serta lupa siapa yang telah memberikan kenikmatan.

    Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk selalu menanamkan rasa syukur dan sabar dalam menghadapi segala kesuitan bahkan kenikmatan sekalipun. Sebab, kedua hal tersebut sejatinya hanyalah ujian Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

    Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Motivasi Hidup

    Dalam kehidupan, akan ada banyak hal yang akan kita hadapi. Sebab pada dasarnya, manusia dihidupkan di dunia hanya untuk berlomba-lomba menaikan kedudukan dan derajat dihadapan Allah SWT melalui segala ujian-Nya.

    Meski kerap kali ujian yang datang membuat kita merasa tidak mampu dan juga berputus asa, namun selalu ingat bahwa Allah SWT tidak akan memberikan ujian tanpa jawaban yang Allah juga siapkan.

    Selain itu, Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya dan membiarkannya pulang dengan tangan kosong.

    Apa saja ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup yang bisa memberi semangat dan juga pedoman tersebut? Berikut ayat-ayatnya:

    1. Surat Al-Baqarah ayat 216

    كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

    Makna dari ayat tersebut adalah di balik kegagalan dan kesulitan yang kita alami akan selalu ada kebaikan yang menanti.

    Baca juga: Apa Hukum Asuransi dalam Islam? Halal atau Haram Ini Pendapat Ulama

    2. Surat Al-Baqarah ayat 286

    لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.” (Q.S Al-Baqarah: 286)

    Makna dari ayat ini adalah ketika kita merasa ujian yang kita terima sangat berat, percayalah bahwa kita akan jauh lebih kuat dari masalah tersebut. Sebab Allah SWT tidak akan pernah menguji suatu hamba, diluar batas kemampuannya.

    3. Surat Ar-Rad ayat 11

    لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

    Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar-Rad: 11)

    Makna dari ayat di atas yakni, meski ada banyak hal sulit yang kita hadapi, jangan berhenti berusaha.

    Sebab Allah SWT tidak akan mengubah nasib hamba-Nya, jika hamba-Nya sendiri tidak berusaha.

    4. Surat Al-Insyirah ayat 5-6

    فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

    Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)

    Makna dari ayat tersebut yakni ketika kita mengalami ujian, kesulitan maupun musibah. Percaya saja bahwa segala sesuatu kesulitan akan selalu ada kemudahan dibaliknya.

    5. Surat Al-Insyirah ayat 8

    وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

    Artinya: “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Al-Insyirah: 8)

    Makna dari ayat tersebut, yakni ketika kita merasa tersudut sebab tidak ada jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan adalah berserah diri kepada Allah SWT. Sebab, hanya kepada Allah kita berharap dan memohon pertolongan.

    6.  Surat At-Thalaq ayat 2-3

    وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

    Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. At-Thalaq: 2-3)

    Makna dari ayat tersebut yakni jangan pernah berburuk sangka kepada Allah SWT akan segala ujiannya. Apabila kita bertawakal dan sabar menghadapi segala ujian yang datang. Suatu ketika kita akan merasa bahwa pertolongan Allah SWT datang dari segala penjuru tanpa kita sangka-sangka.

    7. Surat Yusuf ayat 87

    يَٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

    Artinya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Q.S. Yusuf: 87)

    Makna dari ayat diatas yakni meski kita merasa bahwa ujian yang datang bukanlah perkara mudah untuk dihadapi.

    Namun yaknilah bahwa kita bisa melewatinya, sebab Allah SWT menyukai hamba-Nya yang selalu sabar dan berusaha serta tidak gampang berputus asa.

    Baca juga: 7+ Contoh Ceramah Singkat tentang Ikhlas dalam Islam

    8. Surat At-Taubah ayat 40

    إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

    Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah: 40)

    Makna dari ayat ini bahwa Allah SWT selalu berpesan kepada kita untuk tidak bersedih berlarut-larut dan percaya bahwa Allah SWT selalu memberikan jalan keluar dari segala masalah yang ada.

    9.  Surat At-Taubah ayat 129

    فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

    Artinya: “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung’.” (Q.S. At-Taubah: 129)

    Makna dari ayat di atas yakni bahwa tidak diperbolehkan seorang muslim untuk mencari jalan pintas yang tidak sesuai dengan syariat yang dibenarkan seperti menyekutukan Allah SWT.

    10. Surat Ali Imran ayat 139

    وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

    Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ali Imran: 139)

    Makna dari ayat tersebut yakni, janganlah kita sebagai umat muslim merasa lemah dan bersedih terlalu berlarut-larut. Sebab Allah SWT menciptakan kita sesempurna mungkin, agar kita dapat berusaha dan selalu bertawakal kepaa-Nya.

    11. Surat At-Taubah ayat 129

    فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ

    Artinya: “Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung’.” (Q.S. At-Taubah: 129)

    Makna dari ayat tersebut yakni agar kita selalu bertawakal dan percaya akan kebesaran Allah yang akan selalu membantu ketika umat-Nya dalam masalah seberat apapun.

    Dan janganlah memilih jalan pintas. Apalagi memilih untuk menyekutukan Allah SWT.

    12. Surat Al-An’am Ayat 165

     وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’am:165).

    Makna ayat tersebut adalah segala ujian yang Allah SWT beri tidak lain hanyalah sebagai penguji kualitas keimanan seseorang.

    13. Surat Al-Baqarah ayat 155-156

    وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ

    Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

    (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,”. (QS Al-Baqarah: 155-156)

    Makna dari ayat di atas yakni agar selalu mengingat Allah SWT jika tertimpa suatu ujian, kemalangan, ketakutan dan segala hal musibah yang menimpa.

    14. Surat An-Nahl Ayat 97

    مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

    Maknanya, apabila seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan melakukan amalan sholeh. Allah SWT akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan juga pahala dari segala amalan yang dilakukan.

    15. Surat Ali Imran Ayat 200

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

    Maknanya yakni, bersabarlah dari segala ujian maupun masalah hidup dan hendaknya selalu bertawakal kepada Allah SWT, agar selalu diberikan petunjuk dan juga kenikmatan di dunia maupun di akhirat kelak.

    Hadits tentang Motivasi Hidup

    Selain ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup, berikut juga terdapat beberapa hadits yang bisa dijadikan sebagai penyemangat dalam menghadapi masalah:

    1. Hadits tentang Roda Kehidupan

    Hadits yang pertama yakni mengenai hidup akan selalu berputar, tidak selamanya manusia akan berada di bawah. Sebab setiap muslim berkesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

    Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan kesulitan bersama kemudahan,” (HR Tirmidzi).

    2. Hadits tentang Kegalauan

    Hadits tentang Kegalauan

    Hadits ini membahas mengenai setiap hal yang datang kepada seorang muslim, baik itu kepedihan, ujian, musibah maupun kegalauan tidak lain akan dijadikan sebagai penggugur dosa.

    Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah suatu kegalauan, kesedihan, kebimbangan, kekalutan yang menimpa seorang mukmin atau bahkan tertusuk duri sekalipun, melainkan karenanya Allah akan menggugurkan dosa-dosanya,” (HR Bukhari dan Muslim)

    3. Hadits tentang Urusan Dunia dan Akhirat

    Hadits ini mengingatkan bahwa manusia hidup hanya untuk berlomba-lomba mencari kebaikan dan juga amalan seperti mereka akan dimatikan diesok harinya.

    Rasulullah SAW bersabda: “Kerjakanlah urusan duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan laksanakanlah urusan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok,” (HR Ibnu Asakir)

    4. Hadits tentang Kebaikan

    Hadits ini menjelaskan mengenai bagi siapa saja yang menunjukan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala yang banyak seperti yang ia kerjakan.

    Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala sebanyak yang didapat oleh yang mengerjakannya,” (HR Muslim)

    Itulah tadi kumpulan hadits dan ayat Al-Qur’an tentang motivasi hidup yang cocok untuk dijadikan semangat dalam menghadapi cobaan hidup.

    Semoga dengan membaca ayat-ayat ini, kita bisa jadi lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

  • Pengertian Politik Islam Menurut Para Ahli

    Pengertian Politik Islam Menurut Para Ahli

    Islam sebagai suatu agama memiliki pandangan tersendiri untuk politik. Ya, ada pengertian politik Islam yang berbeda dengan arti atau makna politik pada umumnya. Demi memahaminya, mari kita pelajari di sini. 

    Secara umum, sudah banyak pengertian mengenai politik seperti, upaya menghimpun kekuatan, meningkatkan kualitas dan kuantitas kekuatan, mengawasi dan mengendalikan kekuatan, dan lainnya (Asad, 1954). 

    Ada juga pengertian dari Bluntschli (1935) yang mengatakan kalau politik merupakan seni daripada ilmu pelaksanaan tindakan dan pimpinan. Islam memiliki pengertiannya sendiri mengenai politik. Itulah yang akan kita pelajari di sini. 

    Hadits Nabi Terkait Politik Islam

    Ada pun hadits Nabi mengenai politik Islam yang dapat menjadi renungan bagi kita yakni: 

    كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

    Artinya: 

    “Dahulu Bani Israil selalu dipimpin (diatur) oleh para nabi, setiap nabi meninggal maka akan digantikan oleh nabi yang lain sesudahnya. Dan sungguh, tidak akan ada nabi lagi setelahku, namun yang ada adalah para khalifah (kepala pemerintahan) yang mereka akan banyak (berbuat dosa).” Para sahabat bertanya, “Apa yang anda perintahkan untuk kami jika itu terjadi?” Beliau menjawab, “Tepatilah baiat yang pertama, kemudian yang sesudah itu. Dan penuhilah hak mereka, kerana Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka tentang pemerintahan mereka.” (HR Muslim).

    Pengertian Politik Islam Menurut Para Ahli

    Politik Islam dalam bahasa Arab juga disebut dengan siyasah. Maka dari itu, terdapat istilah siyasah syar’iyyah dalam buku-buku para ulama. 

    Al-Siyasah pun berarti mengatur, mengurus, mengendalikan, memerintah, membuat keputusan, dan memimpinnya. Secara tersirat, ada dua pengertian utama dari siyasah yang masih berkaitan satu dengan lainnya: 

    • Tujuan yang dapat dicapai dengan proses pengendalian. 
    • Cara pengendalian untuk mencapai tujuan. 

    Lebih lengkap, berikut pengertian politik Islam menurut para ahli. 

    1. Ibn A’qil

    Dikutip oleh Ibnu Qayyim, politik Islam merupakan semua perbuatan yang bisa membawa manusia dekat dengan kemaslahatan dan jauh dari kemafsadatan.

    Sekalipun Rasulullah SAW tidak menetapkannya dan (bahkan) Allah SWT tidak menentukannya.

    Baca juga: 5 Hadits tentang Anak Yatim dan Keutamaannya dalam Islam

    2. al-Mawardi 

    Setelah lebih dari tiga abad belum ada ketentuan yang pasti tentang bagaimana Islam memandang politik, ada ahli yang cukup populer yang merumuskan teori politik dengan sistematis dalam Islam. 

    Selain Hujjatul Islam, al-Ghazali, ada al-Mawardi. Menurutnya, konsep politik Islam didasarkan dengan kewajiban untuk mendirikan lembaga kekuasaan karena dibangun sebagai pengganti dari kenabian. 

    Tujuannya ialah untuk melindungi agama juga mengatur dunia. Menurut al-Mawardi, Allah mengangkat untuk umat-Nya seorang pemimpin untuk menjadi pengganti (khalifah) Nabi demi mengamankan agama yang disertai mandat politik. 

    Dengan begitu, di satu sisi ia adalah pemimpin agama dan di pihak yang lainnya adalah pemimpin politik. 

    3. al-Ghazali

    Hujjatul Islam, al-Ghazali pun sependapat dengan pengertian politik Islam dari al-Mawardi bahwa pendirian imamah adalah hal wajib. Hal ini tercantum dalam karyanya yakni Al-Iqtishad fi al-I’tiqad atau sikap lurus dalam I’tiqad. 

    Al-Ghazali menjelaskan hubungan agama dengan kekuasaan politik. Berikut ungkapannya: 

    “Sultan (di sini berarti kekuasaan politik) adalah wajib untuk ketertiban dunia; ketertiban dunia wajib bagi ketertiban agama; ketertiban agama wajib bagi keberhasilan di akhirat. Inilah tujuan sebenarnya para Rasul. Jadi, wajib adanya imam merupakan kewajiban agama dan tidak ada jalan untuk meninggalkannya.”

    Apa yang dikatakan oleh al-Ghazali tak jauh berbeda dengan pernyataan dari al-Mawardi yakni mengenai bentuk pemerintahan, kewajiban pendirian pemerintahan, dan pengangkatan imam untuk mengurusi persoalan agama dan dunia. 

    4. Speech by Robert H. Pelletreau (2017)

    Selanjutnya, ada ahli yang mengatakan dalam speech-nya di Wayback Machine bahwa politik Islam merupakan sebuah gerakan di mana kaum muslim mengambil ajaran, simbol, dan istilah dalam Islam untuk menginspirasi, membentuk, sekaligus menjiwai aktivitas politik. 

    Hal ini termasuk juga berbagai aktivitas yang damai, toleran, dan moderat. 

    5. M. Din Syamsyuddin

    Sebagai salah satu ahli dalam politik, M.Din Syamsyuddin turut berkontribusi dalam menjelaskan atau mendefinisikan pengertian politik Islam. 

    Dalam buku Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, ia mengatakan bahwa politik Islam adalah penghadapan Islam dengan kekuasaan dan negara yang menghadirkan sikap dan political behavior juga political culture yang berorientasi terhadap nilai-nilai Islam. 

    6. Azyumardi Azra

    Selanjutnya, ada Azyumardi Azra yang juga mengemukakan pandangan dari seorang antropolog yakni Dale Eickelman dan James Piscatory mengenai politik Islam. 

    Menurutnya, gambaran politik Islam saat ini merupakan pertarungan terhadap berbagai penafsiran makna-makna Islam serta penguasaan lembaga politik formal dan informal yang mendukung pemaknaan Islam. 

    Kedudukan Politik dalam Islam

    Di dalam Islam, politik memiliki kedudukan yang hukumnya bisa saja wajib. Banyak ulama terdahulu yang menjelaskan keutamaan dari politik. 

    Salah satunya adalah Imam Al-Ghazali yang berkata kalau dunia adalah ladang akhirat. Agama tak bisa sempurna kecuali dengan dunia. Memperjuangkan agama merupakan saudara kembar dari perjuangan kekuasaan politik. 

    Lebih lengkap lagi, al-Ghazali mengatakan: 

    “Memperjuangkan kebaikan ajaran agama dan mempunyai kekuasaan politik (penguasa) adalah saudara kembar. Agama adalah dasar perjuangan, sedang penguasa kekuasaan politik adalah pengawal perjuangan. Perjuangan yang tak didasari (prinsip) agama akan runtuh, dan perjuangan agama yang tak dikawal akan sia-sia.”

    Dengan pandangan ini, mungkin dapat disimpulkan kalau berpolitik adalah wajib karena menjadi prasyarat dari beragama yang baik. 

    Memahami pengertian politik Islam memang tidak mudah. Kita perlu lebih banyak membaca dan memahami proses pendefinisian politik Islam lebih lanjut. Namun, paling tidak uraian ini telah sedikit membuka cakrawala pengetahuan kita.