Blog

  • 5 Cerita Inspirasi Islam untuk Kehidupan yang Bermakna

    5 Cerita Inspirasi Islam untuk Kehidupan yang Bermakna

    Ada banyak cerita inspirasi Islam yang bisa membuat kehidupan kita jadi lebih bermakna. Berbagai cerita ini akan memberikan kita makna dalam kehidupan jika benar-benar membaca dan merenunginya. 

    Banyak nilai yang nantinya bisa kita ambil mulai dari perbuatan baik yang akan membuahkan kebaikan pula, saling menolong, dan masih banyak lagi. Berbagai kisah ini dapat menjadi pengingat untuk kita mengenai banyak hal. 

    Bisa mengenai kehadiran Allah SWT dalam hati dan pertolongan dari-Nya. Mari, kita belajar bersama melalui cerita inspiratif Islam agar kehidupan jadi jauh lebih bermakna. 

    Cerita Inspirasi Islam Sebagai Bahan Renungan

    Kehidupan adalah rangkaian waktu yang disediakan bagi kita untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi dan menjadi versi terbaik dari diri kita. Belajar jadi lebih baik bisa dari apa saja, termasuk kisah inspiratif ini: 

    1. Cerita Inspirasi Islam bahwa Kebaikan Tidak Pernah Sia-sia

    Dikisahkan ada seorang laki-laki yang bernama Muhammad Ibnu Hamir. Ia adalah seseorang yang ketika siang sangat rajin berpuasa dan ketika malam hari sering beribadah qiyamul lail. 

    Suatu waktu, ia memutuskan untuk pergi berburu hewan. Kemudian, di tengah perjalanan tiba-tiba ada ular yang menghadangnya. Mereka berdua terlibat dialog yang cukup panjang. Begini dialognya: 

    Ular: “Hai Muhammad, tolong selamatkan aku.”

    Ibnu Hamir: “Menyelamatkanmu dari siapa?”

    Ular: “Selamatkan aku dari musuhku. Dia telah berbuat jahat kepadaku.”

    Ibnu Hamir: “Memangnya, musuhmu siapa?”

    Ular: “Musuhku adalah yang berada di belakangku.” 

    Ibnu Hamir: “Sebelum itu, aku ingin bertanya kamu ini dari golongan umat siapa?”

    Ular: “Aku adalah golongan dari umat Muhammad SAW.”

    ***

    Tak lama, Ibnu Hamir lalu membuka selendang yang ia kenakan. Ia lantas berkata: 

    “Wahai ular, kemarilah. Masuk ke dalam selendang ini saja.” 

    Ular: “Tidak, nanti jika aku ada di dalam selendang itu, musuhku akan dengan mudah mengetahuinya.” 

    Ibnu Hamir: “Kenapa begitu? Lalu, apa yang bisa aku perbuat selain ini untuk membantumu?”

    Ular: “Kalau kamu mau berbuat baik kepadaku dengan menolongmu, bukalah mulutmu. Nanti aku akan masuk ke sana. Hanya itu yang bisa menyelamatkanku.” 

    Ibnu Hamir: “Jika membuka mulut dan mengiyakan keinginanmu, aku khawatir nanti kamu akan membunuhku.” 

    Ular: “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan dan tidak mungkin tega membantu orang yang telah membantuku dengan setulus hati.” 

    Ibnu Hamir: “Baiklah, aku akan membuka perlahan mulutku. Aku percaya kepadamu untuk tidak membunuhku karena bantuan ini.” 

    Lalu, Ibnu Hamir secara perlahan membuka mulut. Kemudian, ular yang meminta bantuannya pun segera masuk ke dalam tubuh Ibnu Hamir. 

    ***

    Setelah ular masuk ke dalam tubuh Ibnu Hamir, ia melanjutkan perjalanannya. Di perjalanan, Ibnu Hamir sekadar berpapasan dengan orang yang tengah membawa parang. 

    Setelah diketahui, ternyata orang dengan parang tersebutlah yang merupakan musuh dari ular yang kini berada dalam tubuh dari Ibnu Hamir. 

    Orang dengan Parang: “Hai, Muhammad!” dengan nada kencang. 

    Ibnu Hamir: “Apakah ada hal yang bisa aku bantu?”

    Orang dengan Parang: “Apakah kau berjumpa dengan musuhku?”

    Ibnu Hamir: “Musuh? Memangnya siapa musuhmu?” 

    Orang dengan Parang: “Musuhku adalah seekor ular.” 

    Ibnu Hamir: “Maafkan aku, aku tidak melihatnya.” 

    Begitulah kata Ibnu Hamir yang menutupi informasi dari ular sembari mengucap istighfar sebanyak 100 kali. 

    Ia membaca istighfar karena sebenarnya tahu letak dari tempat Si Ular yang bersembunyi. 

    ***

    Secara perlahan, Ibnu Hamir kemudian melangkahkan kakinya untuk meneruskan perjalanan. Setelah Ibnu Hamir berjalan cukup jauh akhirnya ular mengeluarkan kepalanya. 

    Kemudian, ular bertanya: “Apakah musuhku telah pergi dari sini?” 

    Ibnu Hamir: “Aku lihat ke sebelah kiri dan kanan, tidak ada siapa pun. Termasuk musuhmu. Jika memang ingin keluar, maka silakan keluar. 

    Ular: “Hai Muhammad, aku menawarkan dua opsi untukmu. Opsi pertama, kau memilih untuk aku hancurkan bagian limpamu dari dalam; atau opsi kedua, aku akan melubangi hatimu ini dan akan aku biarkan dirimu hidup tanpa ruh. 

    Ibnu Hamir: “Subhanallah, lantas di mana janji yang sebelum aku bantu dan sudah kau ucapkan tadi?”

    Ibnu Hamir: “Apakah kau telah lupa dengan sumpah yang tadi kau ucapkan sendiri? Mengapa sangat cepat kamu bisa melupakannya?”

    Ular: “Mengapa kamu sudah lupa antara permusuhanku dengan moyangmu, Nabi Adam? Yang mana aku membuatnya keluar dari surga.”

    Ular: “Ini salahmu sendiri, apa dasar kamu melakukan kebaikan ini pada makhluk yang sebenarnya tak pantas untuk diperlakukan dengan baik?” 

    Ibnu Hamir yang telah membantunya, sama sekali tidak menyangka jawaban yang keji dari sosok ular yang telah ditolong olehnya, bahkan ia sampai berbohong kepada orang yang membawa parang. 

    Ibnu Hamir: “Apakah kau begitu yakin akan membunuhku?”

    Ular: “Pasti, aku pasti membunuhmu.” 

    Ibnu Hamir: “Jika begitu, tunggulah sebentar sampai aku naik ke gunung. Aku ingin menyiapkan diri.” 

    Ular: “Silakan, kamu bisa berbuat semaumu.” 

    Lalu, Muhammad bin Hamir akhirnya memutuskan naik ke gunung di tengah keputusasaannya sembari menyadari, tidak ada lagi harapan agar ia bisa hidup di dunia. 

    ***

    Akhirnya, Ibnu Hamir sampai di puncak gunung. Ia menatap ke arah langit dan berdoa: 

    يَا لَطِيفُ، يَا لَطِيفُ، اُلْطُفْ بِي بِلُطْفِكَ الْخَفِيِّ. يَا لَطِيفُ، بِالْقُدْرَةِ الَّتِي اسْتَوَيْتَ بِهَا عَلَى الْعَرْشِ، فَلَمْ يَعْلَم الْعَرْشُ أَيْنَ مُسْتَقِرُّكَ إِلَّا مَا كَفَيْتَنِيْ هَذِهِ الْحَيَّةَ

    Artinya: 

    “Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, berlaku lembutlah kepadaku dengan kelembutan-Mu yang samar. Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, dengan kekuasan-Mu yang denganya Engkau menguasai Arsy’, lalu Arsy pun tidak mengetahui di mana kekuasan-Mu, kecuali tidak Engkau lindungi diriku dari kejahatan ular ini.” 

    ***

    Lalu, Ibnu Hamir melanjutkan jalannya. Tak disangka, ada sosok lelaki yang wanginya semerbak dan begitu bersih menghampirinya. 

    Sosok Lelaki: “Salamun ‘Alaika, wahai Muhammad. Kenapa kau terlihat sedih? Ada Apa?” 

    Ibnu Hamir: “Waalaikumsalam, saudaraku. Musuhku sudah berbuat jahat kepadaku.” 

    Sosok Lelaki: “Di mana musuhmu?”

    Lantas, Sosok Lelaki itu memberi daun hijau seperti zaitun dan berkata: 

    “Hai, Muhammad. Kunyahlah daun ini, lalu silakan ditelan.” 

    Secara tak terduga, setelah mengunyah dan menelannya, Ular yang ada dalam perutnya berputar-putar dan keluar berkeping-keping dari arah duburnya. 

    Dengan keajaiban ini, akhirnya Ibnu Hamir penasaran: 

    “Siapa dirimu? Allah telah menyelamatkan aku dengan perantara dirimu?” 

    Sosok Lelaki: “Apakah kau belum kenal aku, Muhammad?” 

    Sosok Lelaki: “Mengertilah, Muhammad bin Hamir! Ketika kau dianiaya ular dan kau berdoa, malaikat di langit mengadu pada Allah SWT dan Allah mengutusku untuk menolongmu.”

    “Aku adalah malaikat Ma’ruf yang berada di langit keempat.” 

    Allah berkata kepadaku: 

    “Pergilah ke Surga, lalu ambil daun berwarna hijau, lalu berikan kepada hamba-Ku, Muhammad bin Hamir.” 

    Dari cerita inspirasi Islam ini bisa kita simpulkan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan, tidak akan pernah sia-sia.

    Baca juga: 5 Peran Ayah dalam Keluarga Menurut Islam, Penting dan Tidak Tergantikan!

    2. Cerita Inspirasi Islam Memberi Tanpa Menghina

    Selanjutnya, ada cerita inspirasi Islam terkait memberi tanpa perlu menghina orang yang menerimanya. Berikut ini kisahnya: 

    Alkisah ada penjual selimut yang kualitasnya terbaik. Selimut yang tersedia, harganya bervariasi dan juga memiliki variasi dari segi ketebalan. Kemudian, suatu hari datang kakek tua renta yang bajunya sudah lusuh. 

    Jika melihatnya secara menyeluruh, ternyata kakek tua yang datang merupakan orang yang tidak berpunya. Walaupun begitu, ia tetap memberanikan diri membeli selimut kepada penjual selimut yang selalu menyediakan kualitas terbaik. 

    Saat kakek tua ini ada di dalam toko, banyak pengunjung yang menatap dan melihatnya dengan sinis. Bahkan cenderung penuh dengan rasa tidak suka. Tapi siapa sangka, pemilik toko tetap melayani kakek tua yang datang dengan sopan.

    Pemilik toko tetap memberikan perhatian seperti tidak ada bedanya dengan pelanggan biasa di dalam toko. Banyak yang melihatnya dengan sinis dan tidak suka hanya karena pemilik toko melayaninya dengan ramah. 

    Namun, siapa sangka ternyata pemilik toko selimut ini melayani kakek tua yang datang dengan sangat sopan. Ia pun perhatian seperti memperlakukan pengunjung pada umumnya yang datang untuk membeli selimut. 

    Ia pun meminta selimut dengan harga yang paling murah karena memang total uang yang dimiliki pas-pasan. Bahkan, bisa dikatakan jika uang tersebut ternyata belum cukup untuk membeli selimut paling murah di toko penjual selimut. 

    Saat mengetahui hal ini, pemilik toko tetap memberi kakek tua pelayanan terbaik dan lantas mencari selimut buat kakek tua yang tadi datang. Siapa yang menyangka jika pemilik toko akan memberikan selimut dengan kualitas terbaik. 

    Menariknya, harga yang diberikan sesuai dan pas dengan uang yang kakek tersebut miliki. Lalu, kakek tua tersebut memberi ucapan terima kasih yang cukup mendalam pada pemilik toko. 

    Ternyata, selimut yang dibeli oleh kakek tua tersebut merupakan selimut yang digunakan untuk menyelimuti anak juga istri yang berada di balik tembok rumahnya. 

    Suatu waktu, datang juga pengunjung yang ingin membeli selimut yang kualitasnya sama dengan selimut yang sudah diberikan kepada kakek tua. 

    Pengunjung itu tampak marah saat ia tahu berapa harga sebenarnya dari selimut yang telah diberikan kepada kakek tua sebelumnya. Pengunjung tersebut tetap ngotot dan membandingkan harga yang kemarin diberikan oleh penjual selimut. 

    Pengunjung tersebut menganggap jika hal ini tidak adil. Namun, tetap dengan penuh kesabaran, pemilik toko selimut memberi penjelasan: 

    “Memang, harga yang saya berikan kepadamu dan kakek tua kemarin berbeda. Tapi, kali ini saya berdagang dengan manusia. Namun, kemarin saya tengah berdagang dengan Allah,” kata pemilik toko selimut. 

    Lalu, pemuda yang tadi marah akhirnya tertegun dan membayar selimut sesuai dengan harga yang sudah ditentukan. Sembari berdoa agar kakek tua yang sebelumnya membeli selimut dengan harga murah, tak kedinginan. 

    3. Cerita Inspirasi Islam dari Penjual Kerupuk Tuna Netra

    Suatu hari, ada seorang penjual kerupuk yang memiliki keterbatasan lain. Penjual kerupuk ini memiliki keterbatasan fisik yakni tuna netra atau mengalami keadaan buta pada mata. 

    Walaupun begitu, ia tetap terus mencoba untuk menjalani hidup seperti orang normal pada umumnya: mencari nafkah. Caranya ialah dengan berjualan kerupuk. Tak lama, ada seorang pemuda yang menghampiri penjual kerupuk ini. 

    Ia ingin membeli kerupuk darinya. Pemuda ini lalu memberikan pertanyaan. Kalau misalnya dia tak membayar tapi meminta kembalian, bagaimana? Bukankah itu suatu kerugian? 

    Pemuda ini menanyakan tentang tanggapan dari penjual kerupuk tersebut. Dan seketika, penjual kerupuk memberikan jawabannya dengan nada rendah. 

    “Nah, rezeki sudah Allah yang mengatur. Bagian saya hanya berusaha. Kalau memang rezeki itu sudah milik saya dan memang ditetapkan untuk saya, maka tidak akan sedikit pun tertukar. Berlaku juga sebaliknya,” kata penjual kerupuk. 

    Sesaat setelah mendengar jawaban dari penjual kerupuk tersebut, anak muda ini langsung bergetar hatinya. Ia lantas memberikan uang dengan jumlah yang lebih. 

    Pemuda ini percaya kalau Allah telah menitipkan rezeki dari penjual tersebut melalui dirinya dan tangannya. 

    *** 

    Dari cerita inspirasi Islam ini, kita bisa memperoleh pesan moral kalau rezeki dari Allah tidak akan pernah tertukar dan memang sudah tertakar. 

    Apa pun itu, kalau kita ber-tawakkal kepada Allah, jalan yang sulit seperti apa pun pasti akan lebih mudah kita lewati. 

    Percayalah kalau Allah akan memberikan yang terbaik kepada semua hamba-Nya. Jika belum rezekinya, Allah akan menggantinya dengan hal yang telah menjadi rezeki kita atau yang tertulis di Lauhul Mahfudz sana. 

    Besar dan kecil rezeki bukan menjadi ukuran karena rezeki bukan hanya sekadar hitungan nominal. Bisa keberkahan, kesehatan, keluarga lengkap, teman-teman yang sholeh, dan bahkan pekerjaan yang menenangkan. Semuanya patut kita syukuri. 

    4. Cerita Inspirasi Islam Masyithah Pelayan Putri Fir’aun

    Kisah ini asalnya dari Masyitah. Ia merupakan pelayan dari putri Fir’aun dan seorang wanita yang berani dan dengan gagah mengorbankan jiwa dan raga untuk agamanya. 

    Ia merupakan ibu yang terbalut dengan sifat cinta, kasih sayang, dan penuh dengan kebaikan. 

    Masyithah merupakan sosok yang begitu mencintai anak-anak dengan ketulusan. Ia pun suka berjuang, bekerja keras, dan membuat mereka bahagia di dunia maupun di akhirat kelak. 

    Masyithah mempunya satu tantangan terberatnya yakni penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukan oleh Fir’aun. Anak-anaknya penuh hormat dan memiliki kebaikan hati. Ada banyak kekejaman juga siksaan yang didapatkan oleh Masyithah. 

    Seluruh ketidaknyamanan, ia hadapi hingga akhir kematiannya dan akhirnya Tuhan pun menyenangkannya. Masyithah sudah berhasil membesarkan anak-anaknya untuk berjuang hanya di jalan Allah. 

    Rasulullah pernah bertanya pada malaikat Jibril saat menjalani Isra’ Mi’raj dan Rasulullah bertanya dari mana bau yang amat wangi itu datang. Akhirnya malaikan Jibril menjawab bahwa itu merupakan wangi dari putri Fir’aun dan pelayannya. 

    Pelayan itulah yang bernama Masyithah. Suatu hari, Masyithah pernah menyisir rambut dari putri Fir’aun. Kemudian, sisirnya jatuh dari tangan dan ia berkata ‘Bismira.” 

    Putri Fir’aun kaget dan akhirnya melapor kepada Fir’aun. Hal ini sontak membuat Fir’aun tersinggung dan memanggil Maysita. 

    Kemudian Fir’aun bertanya, “Apakah kamu memiliki tuhan yang beda dari aku?”

    Masyithah menjawab iya. Dia tidak sedikit pun takut untuk menjawabnya. Keberanian inilah yang akhirnya membuat Masyithah dan anak-anak Fir’aun wangi ketika Rasulullah tengah dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj. 

    *** 

    Dari cerita inspirasi Islam ini, kita bisa belajar bahwa Masyithah adalah sosok yang teguh dengan pendiriannya dan tetap di jalan Allah apa pun risiko yang mungkin ia hadapi. 

    Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita. Khususnya bagi kita yang memiliki keimanan setipis tisu dan bahkan bisa goyah hanya karena hal-hal sepele seperti atasan, jabatan, harta, teman, pasangan, jalan macet dan lain sebagainya. 

    Semoga kita dapat menjalani hidup untuk tetap berada di jalan Allah seperti Maysitah hingga akhir hayat. 

    5. Keajaiban Sedekah Zaman Nabi Musa

    Ada satu cerita inspirasi Islam yang cukup menarik untuk kita renungi. Intinya mengenai keajaiban dari melakukan sedekah. Cerita ini terjadi tepat di zaman Nabi Musa. 

    Dikisahkan, waktu itu ada suami istri yang sangat kekurangan atau serba kekurangan selama bertahun-tahun. Hidup mereka termasuk sangat miskin. Tapi, mereka tetap tabah dan berusaha untuk keluar dari belenggu kemiskinan. 

    Suatu waktu, ketika mereka istirahat di tempat tidur, istri berkata ke suaminya, “Bukankah Nabi Musa adalah Nabi Allah yang bisa berbicara langsung dengan-Nya?” Suami lantas mengiyakan pertanyaan tersebut. 

    Kemudian, sang istri bertanya kembali, “Jika begitu, kenapa kita tidak ke sana dan mengadukan keadaan kita? Kita minta pada Nabi Musa agar berbicara kepada Tuhan mengenai keberadaan kita.” 

    “Sekaligus memintakan agar kita diberi keberlimpahan atau kekayaan agar hidup senang dan berkecukupan selama kita menjalani sisa hidup,” lanjutnya. 

    Keesokan harinya, pasangan suami istri ini mendatangi Nabi Musa lalu menyampaikan keinginan ini. Nabi Musa akhirnya bermunajat dan menghadap kepada Allah sesuai dengan yang pasangan suami istri ini inginkan. 

    Sedangkan, Allah Maha mendengar dan Maha Melihat, tak ada sesuatu pun di bumi dan langit yang bisa bersembunyi dari-Nya. 

    Allah menjawab permohonan tersebut, “Wahai Musa, sampaikan pada mereka bahwa aku telah mengabulkan permintaan mereka. Aku akan memberikan mereka kekayaan, tapi hanya selama satu tahun saja. Dan setelah setahun, aku akan kembalikan mereka menjadi orang miskin.”

    Mendengar kabar ini, pasangan suami istri tersebut amat gembira. Benar saja, tiba-tiba rezeki datang dari arah yang tak pernah mereka duga dan menjadikan mereka sangat kaya raya di tengah masyarakat ketika itu. 

    Kehidupan mereka pun akhirnya berubah dan bisa senang dan berbahagia. Sang istri pun akhirnya berkata pada suaminya, “Wahai suamiku, ingatlah kita diberi kekayaan seperti ini hanya setahun saja. Dan setelah itu, kita akan jatuh miskin lagi.”

    “Ya, saya tahu.”

    Istrinya kemudian berkata, “Kalau begitu, mari kita gunakan kekayaan ini untuk membantu sebanyak mungkin orang. Selama setahun ini, kita beri makan orang-orang fakir lalu menyantuni anak yatim selagi masih punya.”

    Suaminya pun setuju dan mereka akhirnya membangun rumah singgah buat para musafir. Rumah itu memiliki tujuh pintu, setiap pintu menghadap ke jalan yang jumlahnya tujuh persimpangan. 

    Akhirnya, keluarga ini pun menyambut semua musafir yang datang. Mereka diberi makan dan tempat singgah gratis. Entah itu siang hari ataupun malam hari. 

    Selama berbulan-bulan, mereka terus sibuk melayani musafir yang berdatangan. Hidup mereka tetap kaya, mereka lupa dengan tenggat waktu yang telah Allah tetapkan. 

    Melihat itu, Nabi Musa merasa heran. Kemudian, Nabi Musa bertanya kepada Allah dengan berkata:

    “Wahai Rabb, Engkau telah menetapkan syarat kepada mereka hanya satu tahun. Sekarang, sudah lewat satu tahun tetapi mereka tetap hidup kaya?”

    Lalu, Allah berfirman: 

    “Wahai Musa, Aku membuka satu pintu di antara pintu-pintu rezeki kepada keluarga tersebut, lalu mereka membuka tujuh pintu untuk membantu hamba-hamba-Ku. Wahai Musa! Aku merasa malu kepada mereka. Wahai Musa! Apakah mungkin hamba-Ku lebih dermawan dari-Ku?”

    Kemudian, Nabi Musa kembali menjawab: 

    “Maha Suci Engkau Ya Allah, betapa Maha Mulia urusan-Mu dan Maha Tinggi kedudukan-Mu”

    *** 

    Dari cerita inspirasi Islam ini, kita dapat mengambil dan memetik pelajaran betapa dahsyatnya keutamaan dari sedekah. Pada satu hadits, Rasulullah SAW bersabda: 

    “Tidak ada satu hari pun yang seorang hamba memasuki waktu pagi padanya, kecuali ada dua Malaikat yang turun dari langit dan salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah ganti untuk orang yang berinfak.’ Dan Malaikat yang lain berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan untuk orang yang menahan diri tidak berinfak dan mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

    Semoga berbagai cerita inspirasi Islam ini kita bisa memetik banyak ilmu dan pelajaran agar kita dapat menjadi manusia yang lebih baik lagi.

  • 6 Doa Meminta Keturunan yang Dipanjatkan Nabi Zakaria dan Nabi Ibrahim

    6 Doa Meminta Keturunan yang Dipanjatkan Nabi Zakaria dan Nabi Ibrahim

    Memiliki keturunan tentu menjadi impian bagi banyak pasangan. Akan tetapi, ada juga orang yang sudah bertahun-tahun belum mendapatkan karunia anak. Selain berusaha, ada doa meminta keturunan yang bisa kita panjatkan. 

    Doa ini berasal dari Nabi Zakaria dan Nabi Ibrahim. Seperti yang kita tahu bahwa para nabi pun ada yang harus menanti dalam waktu yang panjang agar mendapatkan keturunan. 

    Kita bisa turut mengamalkan doa yang Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria panjatkan agar mendapatkan keturunan. Lantas, seperti apa doanya? Berikut adalah lafal doa yang bisa kita simak. 

    6 Doa Meminta Keturunan yang Nabi Zakaria dan Nabi Ibrahim Panjatkan 

    Berdoa adalah salah satu hal penting yang harus kita lakukan agar mendapatkan ridha Allah SWT. Setidaknya ada 6 (enam) buah doa yang dapat kita panjatkan agar bisa mendapatkan keturunan: 

    1. QS. Ali Imran

    Doa Meminta Keturunan Nabi Zakaria

    Nabi Zakaria AS pernah sangat tergerak untuk mendapatkan buah hati. Akan tetapi, saat itu usia Nabi Zakaria sudah tua dan istrinya pun juga sudah tua.

    Akhirnya nabi pun berdoa kepada Allah SWT agar mendapatkan keturunan. 

    Di dalam doanya Nabi Zakaria berdoa agar mendapatkan anugerah keturunan yang baik akhlak dan adab. Selain itu, juga memohon agar nikmat dunia dan agama bisa sempurna dengan kehadiran mereka. 

    رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

    Rabbi habli milladunka dzurriyyatan ṭayyibah, innaka sami’ud-du’a 

    Artinya: “Wahai Rabbku! Berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (QS Ali Imran: 38).

    Baca juga: 8 Doa Mohon Perlindungan dan Keselamatan pada Allah SWT

    2. QS. Maryam 

    Selain di surat Ali Imran, kita dapat melihat doa lain yang Nabi Zakaria panjatkan saat ingin mendapatkan keturunan. Doa tersebut adalah dari QS. Maryam. Berikut adalah doa tersebut:

    وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ * يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا 

    Wa innii khiftul-mawaaliya miw wara’ii wa kaanatim ra atii ‘aaqiran fa hab lii mil ladungka waliyyaa(n). Yaritsunii wa yaritsu min aali ya’quuba waj’alhu rabbi radhiyya (n).

    Artinya: “Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu. (Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam:5-6). 

    3. QS. Ash Shaffaat 

    Kemudian ada doa yang Nabi Ibrahim panjatkan supaya bisa mendapatkan keturunan. Doa tersebut berasal dari QS. Ash-Shaffat. Inilah doa tersebut:

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

    “Robbi hablii minash shoolihiin”

    Artinya: “Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash Shaffaat: 100)

    4. QS. Al Ahqof

    Kemudian ada doa QS. Al Ahqof yang juga berisi permintaan agar mendapatkan keturunan. Kita bisa memanjatkan doa ini agar nantinya keturunan bisa memiliki akhlak yang mulia dan penuh kebaikan. Berikut adalah doa tersebut: 

    رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

    Robbi awzi’nii an asy-kuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shoolihan tardhooh, wa ash-lihlii fii dzurriyatii, inni tubtu ilaika wa inni minal muslimiin

    Artinya: “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al Ahqof: 15).

    5. QS. Al Furqon 

    Kemudian ada doa dari QS. Al Furqon tepatnya pada ayat 74. Doa ini berisi permohonan agar mendapatkan keturunan serta istri sebagai penenang hati. Berikut adalah doa tersebut:

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    “Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”

    Artinya: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqon: 74)

    6. QS. Al Anbiya 

    Terakhir, doa yang dapat kita panjatkan agar bisa memperoleh ridha Allah SWT dan mendapatkan keturunan adalah dari QS. Al Anbiya. Berikut adalah doa tersebut selengkapnya: 

    وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ

    Wa zakariyyā iż nādā rabbahū rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn(a).

    Artinya: “(Ingatlah) Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris”. (QS. Al Anbiya: 89)

    Baca juga: 8 Doa Meluluhkan Hati Seseorang yang Kita Cintai dengan Menyebut Namanya Jarak jauh

    Tips Agar Cepat Hamil Menurut Islam 

    Selain memanjatkan doa, ada beberapa ikhtiar lain yang bisa kita lakukan agar mendapatkan keturunan. Beberapa ikhtiar tersebut adalah:

    1. Berwudhu Terlebih Dahulu Sebelum Berhubungan Suami Istri 

    Melakukan wudhu sebelum bercinta adalah salah satu bentuk mensucikan diri. Kemudian, setelah berwudhu kita bisa memanjatkan doa agar bisa mendapatkan keturunan. 

    Dengan doa yang baik dan ikhtiar yang suci, harapannya hubungan suami istri bisa menjadi ibadah yang akan menghasilkan keturunan. Tentunya keturunan yang mendapatkan ridha Allah SWT.  

    2. Praktekkan Posisi yang Tepat 

    Maksud posisi dalam hal ini adalah posisi ketika berhubungan intim suami istri. Pada dasarnya, ada beberapa posisi yang membuat peluang kehamilan jauh lebih besar. Karena, pada posisi tersebut akan membuat sperma lebih mudah menuju sel telur. 

    Salah satu posisi tersebut adalah posisi suami berada di atas dan istri berada di bawah. Jadi, jika kita ingin memperbesar peluang kehamilan, bisa memilih untuk melakukan posisi ini ketika berhubungan intim dengan pasangan. 

    3. Mengamalkan Shalat Sunnah Setiap Hari 

    Terakhir, kita bisa melakukan amalan berupa shalat sunnah setiap hari. Ketika shalat, jangan pernah lupa untuk berdoa dan memohon ridha dan kemudahan agar mendapatkan keturunan yang baik adab maupun akhlaknya. 

    Kita sebaiknya melakukan shalat hajat setiap hari sampai pada akhirnya hamil dan mendapatkan keturunan. Ini menjadi bentuk usaha yang nyata bahwa kita memang ingin sekali untuk mendapatkan keturunan. 

    Selain itu, jangan lupa untuk senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT. Ingat, apapun yang terjadi di dalam hidup ini sesungguhnya adalah ketetapan dari Allah SWT dan merupakan ketetapan yang terbaik. 

    Meskipun bagi manusia mungkin kurang berkenan, tetapi sebenarnya segala ketetapan dan takdir dari Allah SWT adalah yang terbaik. Jadi tetaplah berprasangka baik kepada Allah SWT sampai mendapatkan keturunan.

    Sahabat Muslim dimanapun berada, itulah berbagai doa meminta keturunan yang dapat kita panjatkan. Selain selalu berdoa, jangan lupa melakukan ikhtiar lainnya. 

    Mulai dari melakukan shalat sunnah, melakukan wudhu sebelum bercinta, dan memilih posisi bercinta yang tepat. Dengan ikhtiar dan doa yang maksimal, semoga Allah SWT segera mengabulkan doa kita semua untuk mendapatkan keturunan.

  • 17 Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menurut Islam, Simak Ya

    17 Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menurut Islam, Simak Ya

    Sebagai orang tua, kita tidak hanya dituntut untuk merawat dan membesarkan anak saja hingga kelak mereka dewasa. Lebih dari itu, kita juga harus tahu bagaimana cara mendidik anak laki-laki menurut Islam sebagai bekal untuk dunia dan akhiratnya.

    Hal itu sangat penting mengingat seorang laki-laki kelak juga akan menjadi pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri dan juga keluarganya. Dengan memiliki nilai-nilai keislaman, diharapkan anak laki-laki kita bisa menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana.

    Untuk memberikan pendidikan Islam sejak dini, nilai-nilai keislaman pada diri anak akan lebih cepat tumbuh. Lantas, bagaimana seharusnya pendidikan tersebut kita berikan? Untuk tahu jawabannya, yuk simak ulasan di bawah ini!

    Cara Mendidik Anak Laki-Laki Menurut Islam

    Anak adalah titipan dari Allah SWT yang selayaknya harus kita rawat, kasihi, dan juga didik agar bisa menjadi manusia yang mulia. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mendidik anak laki-laki kita menurut Islam:

    1. Rutin Perdengarkan Alunan Al-Qur’an

    Memperdengarkan Al-Qur’an kepada anak merupakan hal yang penting dalam pendidikan Al-Quran tidak hanya sebagai sumber ajaran agama Islam saja, tetapi juga pedoman hidup yang mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan kebijaksanaan.

    Di samping itu, memperdengarkan Al-Qur’an kepada anak sejak dini juga dapat membantu mereka memahami prinsip-prinsip agama dan keyakinan. Dengan begitu, dasar keimanan mereka terhadap Islam akan tumbuh semakin kuat.

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam ini sebaiknya dilakukan sejak anak tersebut masih di dalam kandungan. Hal itu bisa dilakukan dengan rutin mengaji di dekatnya atau sekedar memutarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

    Baca juga: Apa Saja Asas Transaksi Ekonomi dalam Islam? Ini Jawabnya

    2. Ajarkan Dasar-dasar Agama Islam

    2. Ajarkan Dasar-dasar Agama Islam

    Selanjutnya, kita juga harus mulai mengajarkan anak laki-laki kita dengan dasar-dasar agama Islam. Kenalkan mereka dengan ilmu tauhid (ketuhanan), yaitu mengenal Allah SWT sebagai Tuhan yang telah menciptakan manusia. 

    Ketika mereka sudah mulai lancar berbicara, kita juga diminta untuk mengajarinya mengucap kalimat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Hal ini seperti hadis Nabi Muhammad SAW yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas:

    “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “La Ilaha-illallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “La Ilaha-illallah.”

    Nantinya, dasar-dasar agama Islam yang kita ajarkan ini akan menjadi pegangan anak laki-laki kita hingga dewasa. Dengan begitu, nilai-nilai Islam akan selalu menjadi dasar pemikirannya dalam memimpin.

    3. Kenalkan dengan Rukun Iman dan Rukun Islam

    Mengenal rukun Islam dan rukun iman adalah langkah penting dalam membentuk pondasi keimanan dan identitas Islam pada anak-anak. Dengan begitu, mereka jadi tahu apa saja hal-hal mendasar yang harus dimiliki oleh seorang muslim.

    Hal ini dapat membantu mereka menjalani kehidupan dengan prinsip-prinsip agama Islam yang kokoh, memahami tujuan hidup lebih besar, dan mempertahankan identitas mereka sebagai muslim yang taat kepada Allah SWT dan segala ciptaannya.

    Pada rukun Islam, anak akan mengerti ajaran apa saja hal-hal dasar yang diajarkan dalam Islam dan menjadi pengokoh keislaman kita. Sementara rukun iman menjelaskan tentang dasar keimanan yang ada dalam agama Islam yang wajib kita amalkan.

    4. Ajarkan Bagaimana Cara Sholat

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam berikutnya adalah dengan mengajarkan tata cara sholat yang benar. Hal ini bisa kita lakukan dengan rutin mengajak mereka untuk ikut sholat, baik saat di rumah ataupun berjamaah di masjid.

    Jika anak sudah terbiasa untuk sholat, maka ia akan segera menyadari bahwa ibadah satu ini merupakan ibadah yang sangat penting. Ke depannya, kita akan lebih mudah mengarahkan mereka untuk menjaga sholatnya ketika sudah berusia 7-10 tahun.

    Nantinya, mereka akan menyadari arti penting sholat dan senantiasa mengerjakannya tanpa harus kita suruh. Sebaliknya, jika kebiasaan sholat tidak kita ajarkan sedari kecil, biasanya mereka akan lebih sulit untuk kita ajak sholat ketika beranjak dewasa.

    5. Ajarkan Mereka Doa Sehari-hari

    Doa tidak hanya sekedar ucapan saja, tetapi juga sarana untuk membangun hubungan spiritual kita dengan Allah SWT. Selain itu, doa juga dapat mengembangkan nilai-nilai keagamaan yang membantu anak memahami pentingnya berserah kepada Allah.

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam ini bisa kita mulai dengan mengenalkan anak dengan berbagai doa sehari-hari seperti doa mau makan, doa mau tidur, atau doa-doa lain yang sekiranya masih cukup pendek untuk mereka hafalkan.

    Mengawali segala sesuatu dengan doa akan membuat mereka selalu ingat dengan Allah SWT. Dengan begitu, anak akan selalu dekat dengan rasa syukur dan menyadari bahwa segala kelancaran yang kita peroleh datangnya dari Allah SWT.

    6. Mengajarkan Mereka Puasa

    Setelah anak mengenal tentang sholat, maka kita juga bisa mengenalkan mereka dengan ibadah puasa. Puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam, dan memahaminya membantu anak-anak mengembangkan kesadaran agama yang kuat.

    Puasa juga mengajarkan anak-anak untuk bersabar, mengendalikan diri, dan menahan diri dari hal-hal yang diharamkan selama bulan Ramadhan. Kesabaran ini akan membantu mereka menghadapi tantangan dan kesulitan dengan lebih baik.

    Terakhir, puasa juga menjadi salah satu cara mendidik anak laki-laki menurut Islam agar mau berbagi kepada siapa saja yang membutuhkan, mengembangkan rasa empati, dan juga kepedulian terhadap sesama.

    Baca juga: Tawakal adalah: Pengertian, Contoh, dan Keutamaannya

    7. Membacakan Kisah-kisah Nabi

    Kisah-kisah nabi mengandung pelajaran moral dan etika yang sangat berharga bagi anak. Melalui cerita-cerita di dalamnya, anak-anak dapat mempelajari berbagai nilai baik seperti kejujuran, kesabaran, kebijaksanaan, dan ketaatan kepada Allah SWT.

    Ketika mereka mengenal kisah-kisah tentang bagaimana para nabi mengatasi rintangan dan menghadapi ujian, mereka juga akan termotivasi untuk berani menghadapi tantangan dalam hidup mereka dengan semangat yang sama.

    Kisah-kisah nabi juga berfungsi sebagai pengajaran sejarah Islam. Anak-anak memahami perkembangan agama Islam dan bagaimana pesan-pesan ilahi disampaikan kepada umat manusia melalui para nabi.

    8. Ajarkan Kepemimpinan pada Mereka

    Seperti sudah sempat kita bahas di awal, seorang laki-laki kelak akan menjadi pemimpin setidaknya bagi diri mereka pribadi dan juga keluarganya. Hal ini juga tercantum dalam QS. An-Nisaa’ Ayat 34 yang berbunyi:

    ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

    Ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, 

    Artinya:

    “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).”

    Menanamkan sikap kepemimpinan pada anak bisa dilakukan dengan mendorong keberanian dan rasa percaya dirinya. Salah satunya adalah dengan membiarkan mereka mengeksplorasi berbagai macam hal dan melakukan apa yang mereka mau.

    Tugas kita adalah mengarahkan dan mengoreksi jika dalam tindakan tersebut ada yang keliru. Dengan cara ini, anak tidak akan takut untuk mencoba hal-hal baru dan selalu percaya diri dengan apa yang akan mereka lakukan.

    9. Ajarkan Rasa Tanggung Jawab dan Mandiri

    Mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak adalah langkah penting dalam membentuk karakter mereka ke depannya. Dua hal tersebut adalah prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki muslim ketika dewasa.

    Hal ini bisa kita ajarkan dengan menerapkan kedisiplinan pada diri anak. Beri mereka beberapa tanggung jawab seperti membereskan mainan setelah selesai digunakan, berhenti menyuapi makanan ketika mereka sudah bisa sendiri, dan sebagainya.

    Anak-anak akan melakukan kesalahan, dan itu adalah bagian alami dari proses pembelajaran. Berikan pemahaman pada mereka bahwa segala tindakan pasti ada konsekuensi. Dorong mereka untuk mau bertanggung jawab berhati-hati ke depannya.

    10. Ajarkan Anak untuk Berbagi

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam berikutnya adalah dengan mengajarkan mereka untuk berbagi. Beri pemahaman pada mereka bahwa semua yang kita miliki tidak selalu menjadi milik kita sehingga ada kalanya kita harus ikhlas berbagi.

    Sebagai contoh, kita bisa memintanya untuk mengajak adik atau temannya untuk berbagai mainan yang sama, bisa juga memintanya untuk berbagai makanan yang sedang ia makan. Jadikan hal itu sebagai kebiasaan sehingga ia tidak merasa kesal.

    Dengan membiasakan anak untuk berbagi, tentu anak laki-laki kita akan tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap orang-orang di sekelilingnya. Hal itu akan mendorong rasa simpati dan juga empatinya hingga kelak ia dewasa.

    11. Ajarkan Anak tentang Adab

    Hal selanjutnya yang tidak kalah penting dengan beberapa hal di atas adalah mengajarkan anak kita tentang adab. Seperti kita tahu, adab akan menjadi cara orang lain menilai baik buruknya akhlak kita di lingkungan sosial.

    Hal ini juga menjadi cara agar mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan yang beragam. Ajarkan anak tentang sopan santun kepada mereka yang lebih tua, sikap terhadap mereka yang lebih muda, dan sikap kepada pada orang lain secara umum.

    Dengan mengajarkan adab pada anak, tentu hal itu bisa menjadi bekal mereka saat harus bersosialisasi di lingkungan baru. Jika anak memiliki adab yang baik, tentu mereka akan lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.

    12. Jelaskan Perbedaan Laki-laki dan Perempuan

    Seiring bertambahnya usia, jangan lupa untuk mengajarkan perbedaan pada diri laki-laki dan juga perempuan. Beri tahukan pada mereka batasan-batasan apa saja yang boleh dilakukan antara laki-laki dan perempuan di dalam pergaulan.

    Jika memiliki kakak atau adik yang berbeda jenis kelaminnya, maka harus mulai dipisah ketika dia sudah menginjak usia 7 tahun ke atas. 

    Jangan merasa tabu untuk menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan sehingga mereka tidak bisa menemukan jawaban yang pasti. Terlebih saat mereka sudah mulai dewasa dan paham dengan perubahan pada diri mereka.

    13. Ajarkan Anak untuk Bersedekah

    Hampir sama dengan mengajarkan mereka berbagi, kita juga perlu mengajarkan anak agar mau bersedekah. Inisiatif ini harus muncul dari diri pribadi, di mana uang yang mereka miliki sebaiknya disisihkan sebagian untuk kemudian disedekahkan.

    Hal ini menjadi salah cara mendidik anak laki-laki menurut Islam agar kelak mereka menjadi orang-orang yang dermawan dan tidak serakah terhadap hartanya. Berikan pemahaman tentang sedekah secara berulang agar hal ini bisa menjadi kebiasaan.

    Untuk tahap pengenalan sedekah, kita bisa mencontohkannya dengan mau menyisihkan sebagian makanannya untuk kucing tanpa harus kucing itu meminta, menyisihkan uang sakunya untuk berinfak di masjid, dan sebagainya.

    14. Batasi Penggunaan Gadget

    Saat ini, peran gadget akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Pasalnya, di dalam gadget itu sendiri akan ada banyak manfaat dan juga ancaman yang secara bersamaan bisa muncul. Oleh sebab itu, penggunaannya perlu kita batasi.

    Saat anak-anak masih SD, kita bisa memberikannya gadget hanya di akhir pekan saja, terutama untuk kelas 1 sampai dengan kelas 4. Setelah kelas 5 ke atas, kita bisa membekalinya dengan gadget, tetapi harus tetap memberi pengawasan.

    Selain itu, kita juga harus mengawasi tontonan anak kita agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Seperti kita tahu, saat ini ada banyak sekali hal-hal negatif dari media sosial kita sehari-hari sehingga bisa berpengaruh pada perkembangan anak.

    15. Ajarkan Anak Mengontrol Emosinya

    Upaya untuk bisa mengontrol emosi pada anak tentu akan memberikan dampak yang cukup besar pada perkembangan psikis mereka. Hal ini kerap diabaikan para orangtua sehingga anak tumbuh dengan emosi yang kurang stabil.

    Lebih jauh, hal ini tidak hanya berdampak pada kebahagiaan dan kesejahteraan anak saja, tetapi juga pada hubungan sosial, keberhasilan akademis, serta kemampuan mereka dalam mengatasi berbagai situasi yang sulit.

    Mengendalikan emosi membantu anak untuk merespon masalah dengan lebih baik. Mereka jadi lebih terampil dalam mencari solusi daripada merespon segala sesuatunya secara impulsif. Ini adalah bekal untuk menjadi pemimpin di masa depan.

    16. Tumbuhkan Rasa Kasih Sayang

    Rasa kasih sayang merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang anak laki-laki kita. Kasih sayang juga dapat memberikan dampak positif dalam berbagai aspek kehidupan mereka seperti pertemanan, kekeluargaan, dan sebagainya.

    Kasih sayang yang kita berikan selaku orang tua dapat membantu mereka memahami pentingnya empati dan perhatian terhadap perasaan orang lain. Mereka belajar bahwa kasih sayang adalah sikap yang perlu diberikan dan diterima dalam hubungan sosial.

    Kasih sayang juga menjadi elemen penting dalam memperkuat hubungan orang tua dan anak. Ketika anak merasa dicintai, maka mereka akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang tua sehingga mau mendengarkan nasihat serta bimbingan.

    17. Perhatikan Pergaulan Anak

    Cara mendidik anak laki-laki menurut Islam selanjutnya adalah dengan memperhatikan pergaulan mereka. Jangan sampai anak kita salah dalam memilih pergaulannya karena secara tidak langsung bisa membentuk kepribadiannya.

    Hal ini seperti sabda Rasulullah, 

    “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api.”

    Pergaulan yang positif tentu akan membawa dampak baik pada perkembangan anak kita ke depannya. Sebaliknya, pergaulan negatif juga dapat memberikan dampak negatif yang tentunya merugikan untuk dirinya sendiri dan sekitarnya.

    Itulah dia beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak laki-laki kita menurut ajaran Islam. Jika kita mampu mendidik anak laki-laki dengan baik, maka ke depannya ia akan menjadi pemimpin yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

    Bagi mereka yang akan menjadi orang tua, cara mendidik anak laki-laki menurut Islam di atas akan sangat penting untuk diketahui. Setidaknya, hal itu bisa menjadi pedoman dalam menerapkan pola asuh kepada anak.

  • 3 Doa Buka Puasa Ramadhan & Sunnah: Arab-Latin dan Artinya

    3 Doa Buka Puasa Ramadhan & Sunnah: Arab-Latin dan Artinya

    Mungkin sebagai orang muslim ada yang belum tahu bagaimana doa buka puasa yang shahih. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika Anda mencoba mencari tahu mulai dari sekarang.

    Agar apa yang telah Anda laksanakan dengan baik diterima Allah dengan baik pula.

    Apalagi seseorang yang berpuasa, doa ketika berbukanya tidaklah tertolak. Jadi, jangan lupa untuk memohon hajat melalui doa saat berbuka puasa.

    Baik itu dalam rangka doa buka puasa Ramadhan, Asyura, maupun sunnah Senin-Kamis.

    Doa Buka Puasa yang Shahih dan Benar

    Alasan sederhana itulah yang mengharuskan Anda terus belajar dan belajar untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih shahih dan benar.

    Apalagi jika berhubungan erat dengan amalan-amalan yang Anda lakukan sebagai seorang muslim.

    Terdapat beberapa hadits shahih yang membahas tentang doa buka puasa.

    Tentunya diriwayatkan dari Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut :

    1.  Doa Pertama

    ذَهَبَ  الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

    Latinnya, “Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah”

    Artinya: “ Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan jika Allah menghendakinya.” ( HR Abu Daud 2/306 no. 2357)

    Sebelum doa buka puasa pendek tersebut, hendaknya tetap membaca ucapan bismillah basmalah terlebih dahulu dengan ucapan “bismillah”. Hal ini sebagaimana sabda dari Nabi SAW.

    Yang artinya, “Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaknya ia mengucapkan : “Bismillahi awwalahu wa aakhirohu.””

    Artinya sendiri, dengan nama Allah pada awal dan akhirnya. (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no 1858).

    Baca juga: Ayat Kursi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Manfaat, dan Keutamaannya

    2. Doa Kedua

    Selain itu, Anda juga bisa melafadzkan doa yang merupakan atsar. Atsar dari perkataannya Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma yaitu sebagai berikut :

    اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ

    Latinnya doa buka puasa shahih, “Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syai in an taghfirolii.”

    Yang artinya, “Ya Allah, aku memohon rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang dengannya Engkau mengampuni aku.” (HR. Ibnu Majah 1/557).

    Salah Satu Sebab Doa Buka Puasa Ini Berstatus Lemah

    Sementara itu, untuk doa buka puasa yang tersebar luas pada masyarakat derajat keshahihannya masih kurang.

    Doa buka puasa tersebut yaitu sebagai berikut :

    اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Latinnya, “Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin”

    Doa buka puasa artinya, “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan kepadaMu akan beriman, dengan rizkiMu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang.”

    Jika Anda mencoba mengecek pada kitab-kitab hadits, maka informasi yang tersebar mengatakan tidak bisa menemukan lafal yang demikian. 

    Meski demikian, memang ada beberapa riwayat hadist yang menyebutkan doa berbuka puasa yang mirip dengan lafadz tersebut.

    Hadits ini keluar dari Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 1413 yang artinya, “Abu Qasim At-Tanuji menyampaikan kepadaku secara imla’. Ia berkata, Abul Husain Muhammad bin Muthfir bin Musa Al-Hafidz menuturkan kepadaku…”

    Masih dilanjutkan dengan, “…Muhammad bin Khalaf bin Hibban menuturkan kepadaku, Waki menurunkan kepadaku, Al-Qasim bin Hasyim bin Sa’d menuturkan kepadaku, ayahku, Hasyim bin Sa’id menurutrkan kepadaku, Ibnu Ruzain  menuturkan kepada dari Tsabit dari Anas ia berkata…”

    “… ‘Biasanya Rasulullah SAW ketika berbuka puasa membaca doa, Allahumma laka shumtu wa’ alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”

    Arti doa buka puasa, “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan rezekiMu aku berbuka, maka terimalah puasaku ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Riwayat hadits tersebut lemah, karena ada dua masalah yaitu :

    1. Hasyim bin Sa’id As-Simmsaar, memiliki status majhul haal.
    2. Ibnu Ruzain atau Said bin Zurbi dari Al-Hakim mengatakan jika ia sangat munkarul. Selain itu, ada Al-Baihaqi mengatakan ia dha’if, Ibnu Hajar menyebutkan ia munkarul hadits. Ada pula Imam Bukhari dan Imam Muslim yang menyatakan ia suka meriwayatkan al-aja’ib. Oleh sebab itu, para ulama hadits menyimpulkan bahwa ia munkarul hadits.

    Waktu Membaca Doa Buka Puasa

    Dari banyaknya sumber informasi, salah satunya dalam Hasyiyah I’anatut-thalibin juz 2 halaman 279 oleh Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha menjelaskan waktu membaca doa buka puasa.

    Doa buka puasa bisa Anda baca setelah berbuka, bukan sebelum ataupun bukan pula saat berbuka puasa. Tentunya penempatan ini berdasarkan rujukan makna yang terkandung dalam doa tersebut.

    Selain itu, ada pula dalam Kitab Busyra al-Karim halaman 598 oleh Syekh Said bin Muhammad Ba’ali yang menjelaskan sunnah membaca doa buka puasa saat hendak berbuka. Akan tetapi, waktu yang lebih utama ketiak setelah berbuka puasa.

    Demikian informasi lengkap mengenai beberapa doa buka puasa yang shahih. Jika Anda sudah tahu seperti ini, maka hendaknya berusaha untuk mengubah yang tadinya belum shahih menjadi doa yang shahih.

  • Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    Hukum dan Cara Mengqodho Sholat Fardhu yang Terlewat Sesuai Syariat

    Sholat lima waktu merupakan salah satu pilar rukun Islam yang hukumnya farduain’ atau wajib dilaksanakan. Itulah mengapa meninggalkan sholat menjadi dosa besar bagi seorang muslim, sehingga, jika terlewat wajib hukumnya mengqodho atau mengganti. Lantas, bagaimana cara mengqodho sholat yang benar?

    Mengingat bahwa saat di akhirat kelak, amalan yang pertamakali hisab adalah sholat, maka penting bagi seorang muslim untuk menjadikan sholat sebagai kebutuhan primer dalam hidup yang harus dicukupi.

    Dengan bukti kecintaan Allah SWT atas umatnya. Allah SWT memberikan keringanan atas ketidaksengajaan atau unsur lupa serta adanya halangan berat dengan mengganti sholat di waktu berikutnya.

    Berikut cara mengqodho sholat yang terlewat sesuai dengan syariat Islam:

    Hukum Mengqodho Sholat Fardhu

    Dilansir dari NU online, sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid, menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat itu berdosa, atau jika sengaja tidak melakukannya bisa berstatus sebagai seorang kafir.

    Namun, hal tersebut memiliki pengecualian bagi seorang muslim yang terpaksa meninggalkan sholat sebab adanya unsur syari di dalamnya.

    Contoh dari unsur syari yang dijelaskan adalah ketiduran. Hal ini diperjelas dengan hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    Sesungguhnya ketiduran bukan termasuk menyia-nyiakan sholat. Yang disebut menyia-nyiakan sholat adalah mereka yang menunda sholat, hingga masuk waktu sholat berikutnya. Siapa yang ketiduran hingga telat sholat maka hendaknya dia mengerjakannya ketika bangun.” (HR. Muslim)

    Seluruh ulama sepakat bahwa seorang muslim wajib mengganti sholat yang sudah terlewat, baik yang memiliki unsur syari ataupun tidak.

    Syarat Sah Mengqodho Sholat

    Syarat Sah Mengqodho Sholat

    Seorang muslim memang diwajibkan untuk mengqodho sholat yang sudah terlewat, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni syarat sah mengqodho sholat, berikut penjelasannya:

    1. Mengqodho Berurutan

    Sebagai seorang muslim, ajaran yang dikerjakan Rasulullah SAW merupakan tuntunan terbaik dalam berkehidupan.

    Praktik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika terlewat sholat lima waktu dalam hari yang sama yakni dengan mengqodho sholat secara berurutan.

    Rasulullah SAW mengqodho sholat sesuai urutan, mulai dari qodho sholat Dzuhur, Ashar, Maghrib dan terakhir Isya.

    Baca juga: 13 Rukun Sholat Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW

    2. Didahului Adzan dan Iqamah

    Sesuai dengan kesepakatan Ulama Jumhur, mengqodho sholat sunnahnya didahului adzan dan iqamah.

    Bila sholat yang dikerjakan terdiri dari beberapa sholat sekaligus, maka cukup dengan satu kali adzan namun setiap sholat harus dipisahkan dengan iqomah.

    Jika setiap sholat qodho dikerjakan pada waktu terpisah, maka masing-masing sholat disunnahkan untuk diawali dengan adzan dan iqamah.

    3. Mengqodho Sholat Berjamaah

    Mengqodho sholat berjamaah dibolehkan, bahkan hukumnya Sunnah.

    Cara mengqodho sholat berjamaah sendiri dengan memperhatikan rakaat yang dikerjakan. Maksud dari hal ini adalah sholat dibolehkan jika imam menqhodo sholat Ashar dengan makmum yang mengqodho sholat Dzuhur serta Isya yang memiliki empat rakaat sama.

    Hukumnya dilarang jika imam mengqodho sholat Dzuhur, ashar atau isya dan makmumnya mengqodho sholat Maghrib ataupun subuh.

    4. Sirr dan Jahr

    Syarat sah terakhir yang perlu diperhatikan yakni Sirr dan Jahr.

    Sirr adalah bacaan pada sholat Dzuhur dan asar dikerjakan dengan dibaca secara lirih.

    Sedangkan Jahr adalah dikerjakan bacaan keras pada waktu sholat Magrib, isya, dan subuh.

    Dalam hal sholat yang terlewat dan diqodho. Sirr dan Jahr mengikuti aturan sah asal sholatnya.

    Namun terdapat perbedaan pendapat Ulama dalam hal ini, berikut dua pendapat Ulama:

    • Ikut Waktu Asal (Jumhur): Jumhur ulama di antaranya Mazhab Al-Hanafiyah, All-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa jahr dan sirr dalam urusan shalat qadha mengikuti waktu asalnya.
    • Ikut Waktu Qadha (Asy-Syafi’iyah):  Bacaan qadha salat dikeraskan apabila dikerjakan pada salat malam hari, dan dilirihkan bila dilakukan pada salat siang hari.

    Apakah boleh Mengqodho Sholat Karena Lupa?

    Ada beberapa dalil terkait mengqodho sholat. Dalil pertama yang perlu diketahui yakni hadis riwayat Dawud yang menjelaskan mengenai anjuran untuk segera melaksanakan sholat ketika ingat setelah lupa. Bunyi dalil tersebut yakni:

    “Jika kalian tertidur atau terlupa dari suatu shalat maka hendaknya shalat jika telah teringat/terbangun.” (HR. Abu Dawud)

    Selain itu terdapat dalil mengqodho sholat lainnya, dalil ini dibahas saat perang khadak di tahun kelima hijriyah. Ketika itu, Rasulullah SAW harus melewatkan empat sholat fardhu.

    Ia kemudian menggantinya setelah perang selesai. Kisah tersebut kemudian diceritakan melalui dalil-dalil berikut:

    Dari Abdullah bin Abi Qatadah dari ayahnya berkata, “Kami pernah berjalan bersama Nabi SAW pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata,

    Wahai Rasulullah, sekiranya anda mau istirahat sebentar bersama kami?” Beliau menjawab: “Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat.” Bilal berkata, “Aku akan membangunkan kalian.”

    Maka mereka pun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggangannya. Namun ternyata rasa kantuk mengalahkannya dan akhirnya Bilal pun tertidur.

    Ketika Nabi Muhammad SAW terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka beliau pun bersabda: “Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan!” Bilal menjawab: “Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya.” Beliau lalu bersabda:

    “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula.

    Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk sholat!” kemudian beliau Rasulullah SAW berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan sholat.” (HR. Al-Bukhari)

    Dengan bukti kecintaan Allah SWT kepada umatnya yakni diringankannya ibadah kepada-Nya menyesuaikan keadaan suatu hamba, maka tidak akan ada alasan lagi bagi seorang muslim untuk meninggalkan sholatnya.

    Niat Mengqodho Sholat

    Sebenarnya tidak ada lafal niat yang khusus untuk cara mengqodho sholat.

    Bahkan, jika sholat yang ditinggalkan lebih dari satu, maka setelah salam, bisa berdiri kembali untuk mengqodho sholat selanjutnya.

    1. Niat Cara Mengqodho Sholat Subuh

    “Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati qodho’an lillaahi ta’aalaa.

    Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan salat fardhu subuh sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah SWT.”

    2. Niat Cara Mengqodho Sholat Dzuhur

    “Ushallii fardhazh-Zhuhri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.”

    “Saya (berniat) mengerjakan salat fardhu szuhur sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah Swt.”

    3. Niat Cara Mengqodho Sholat Ashar

    “Ushallii fardhal ‘Ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.”

    “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu ashar sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah Swt.”

    4. Niat Cara Mengqodho Sholat Magrib

    “Ushallii fardhal Maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.”

    “Saya (berniat) mengerjakan sholat maghrib sebanyak tiga rakaat dengan menghadap kiblat, serta qodho karena Allah Taala.”

    5. Niat Cara Mengqodho Sholat Isya

    Ushallii fardhal Isyaa’i arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati qodho’an lilaahi ta’aalaa.

    “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Isya sebanyak empat rakaat dengan menghadap kiblat serta qodho karena Allah Taala.”

    Baca juga: Bacaan Doa Sayyidul Istighfar (Arab, Latin, Artinya) serta Maknanya

    Tata Cara Mengqodho Sholat Sesuai Fiqih

    Cara mengerjakan sholat fardhu dengan niat mengqodho sama persis layaknya sholat yang ditinggalkan, dalam hal sifat dan tata caranya.

    Misalkan, seorang hamba luput dalam melaksanakan sholat Dzuhur sebab di tengah perjalanan. Maka dia wajib mengerjakan sholat empat rakaat yang sama.

    Atau terlelap hingga waktu subuh habis dan bermimpi telah sholat, maka saat sudah terbangun dan teringat bahwa dirinya sebenarnya belum sholat subuh, segerakanlah untuk mengerjakannya.

    Namun hal yang perlu diperhatikan adalah pelaksanaan waktu mengqodho sholat yang beragam, ada yang berpendapat untuk menyegerakan dan ada pula yang menganjurkan saat waktu longgar.

    Ketentuan mengqodho sholat yang harus disegerakan datang dari Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah. Pendapat mereka didasari sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

     “مَنْ نَسِيَ صَلاةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا”

    “Siapa yang terlupa shalat, maka lakukan shalat ketika ia ingat.” (HR. Bukhari)

    Namun, ada juga hadis yang menjelaskan salat bisa dilaksanakan dengan waktu yang lebih longgar.

    “لاَ ضَيْرَ – أَوْ لاَ يَضِيرُ – ارْتَحِلُوا فَارْتَحَل فَسَارَ غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ نَزَل فَدَعَا بِالْوَضُوءِ فَتَوَضَّأَ وَنُودِيَ بِالصَّلاَةِ فَصَلَّى بِالنَّاسِ”

    Rasulullah beliau menjawab,”Tidak mengapa”, atau ” tidak menjadi soal”. “Lanjutkan perjalanan kalian”. Maka beliau SAW pun berjalan hingga tidak terlalu jauh, beliau turun dan meminta wadah air dan berwudhu. Kemudian diserukan (adzan) untuk shalat dan beliau SAW mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari)

    Sebagai panduan, berikut contoh tata cara mengqodho sholat Maghrib sesuai urutan:

    1. Membaca niat qodho Maghrib
    2. Takbiratul Ihram
    3. Membaca doa Iftitah (Sunnah)
    4. Membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat
    5. Membaca surat pendek pada dua rakaat pertama
    6. Rukuk dan itidal
    7. Sujud pertama
    8. Duduk di antara dua sujud
    9. Sujud kedua
    10. Berdiri untuk melakukan rakaat kedua dengan membaca Alfatihah
    11. Baca surat pendek Al-Qur’an
    12. Rukuk dan I’tidal
    13. Sujud pertama
    14. Duduk antara dua sujud
    15. Sujud kedua
    16. Tasyahud Awal
    17. Berdiri untuk rakaat ketiga dan membaca Al Fatihah
    18. Baca surat pendek Al-Qur’an
    19. Rukuk dan I’tidal
    20. Sujud pertama
    21. Duduk antara dua sujud
    22. Sujud kedua
    23. Tasyahud akhir
    24. Salam

    Demikianlah penjelasan mengenai cara mengqodho sholat serta tata caranya sesuai syariat agama Islam yang sah. Semoga bermanfaat.

    Assalamualaikum wr. wb.

  • Shalat Sunnah Rawatib: Niat dan Tata Caranya (Sholat Qobliyah Ba’diyah)

    Shalat Sunnah Rawatib: Niat dan Tata Caranya (Sholat Qobliyah Ba’diyah)

    Ada banyak keutamaan di dalam Shalat Sunnah Rawatib. Salah satunya adalah dibangunkan rumah di surga oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah sebagai berikut:

    مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

    Artinya: “Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. Tirmidzi).

    Maka dari itu, sebagai umat muslim kamu dianjurkan untuk melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib sebelum atau sesudah shalat fardhu karena akan mendapatkan rahmat yang melimpah.

    Untuk tahu bagaimana tata cara atau apa niat Shalat Sunnah Rawatib, yuk ikuti artikel berikut ini sampai habis!

    Pengertian Shalat Sunnah Rawatib

    Shalat Sunnah Rawatib atau sering disebut dengan Shalat Qabliyah Ba’diyah adalah salah satu Shalat Sunnah yang waktu pelaksanaannya mengiringi Shalat wajib atau Shalat Fardhu. Shalat tersebut dilaksanakan sebelum atau sesudah Shalat wajib.

    Jenis-Jenis Shalat Sunnah Rawatib

    Berdasarkan waktunya, Shalat Sunnah Rawatib terbagi menjadi dua yaitu Shalat Qabliyah dan Ba’diyah.

    1. Shalat Sunnah Rawatib Qabliyah

    Shalat Sunnah Rawatib Qabliyah adalah Shalat Sunnah yang dikerjakan sebelum Shalat Fardhu.

    Baca juga: 4 Contoh Ceramah Singkat tentang Sholat dalam Islam

    2. Shalat Sunnah Rawatib Ba’diyah

    Shalat Sunnah Rawatib Ba’diyah adalah Shalat Sunnah yang dikerjakan sesudah Shalat Fardhu.

    Dilihat dari segi hukum, Shalat Sunnah Rawatib dibagi menjadi dua yaitu Muakad dan Ghairu Muakad.

    3. Shalat Sunnah Rawatib Muakad

    Shalat Sunnah Rawatib Muakad merupakan Shalat yang sangat dianjurkan karena selalu dikerjakan oleh Rasulullah SAW.

    Berikut waktu pelaksanaan dan jumlah rakaatnya:

    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Subuh
    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Dzuhur
    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Dzuhur
    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Maghrib
    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Isya

    Dari penjelasan di atas sesuai dengan hadis berikut ini:

    Artinya: ”Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Saya ingat dari Rasulullah Saw, dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudah Zuhur, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh”.  (HR. Bukhari dan Muslim).

    4. Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakad

    Berbanding terbalik dengan yang sebelumnya, Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakad adalah Shalat yang kurang dianjurkan karena jarang dikerjakan oleh Rasulullah SAW., dan memiliki sedikit keutamaan dibandingkan Rawatib Muakad.

    Berikut waktu pelaksanaan dan jumlah rakaatnya:

    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Dzuhur

    Jika kamu mengerjakan sebanyak empat rakaat, maka dua rakaat pertama menjadi Sunnah Muakad dan dua rakaat selanjutnya  adalah Ghairu Muakad.

    • Dua rakaat sesudah Shalat Fardhu Dzuhur

    Jika kamu mengerjakan sebanyak empat rakaat, maka dua rakaat pertama menjadi Sunnah Muakad dan dua rakaat selanjutnya  adalah Ghairu Muakad.

    • Empat rakaat sebelum Shalat Fardhu Ashar
    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Maghrib
    • Dua rakaat sebelum Shalat Fardhu Isya

    6 Ketentuan dalam Melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib

    Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib sebagai berikut:

    • Tidak didahului oleh azan dan iqomah
    • Dilakukan secara munfarid atau sendirian
    • Bacaan Shalat tidak dinyaringkan
    • Ada baiknya tempat Shalat Rawatib pindah sedikit dari tempat Shalat wajib
    • Jika hendak mengerjakan Shalat Rawatib 4 rakaat, maka harus dengan dua salam.
    • Diawali dengan niat

    Membaca niat dianjurkan diucapkan dalam hati saja, namun boleh dilafalkan.

    Baca juga:

    Niat Shalat Sunnah Rawatib

    Adapun jika ingin membaca niat Shalat Rawatib tergantung dari waktu pelaksanannya, yaitu Qabliyah atau sebelum Shalat Fardhu dan Ba’diyah atau sesudah Shalat Fardhu.

    1. Niat Shalat Qabliyah Subuh

     للهِ تَعَالَىاُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ   ِ

    Latin: Usholli Sunnatash Subhi Rok’ataini Qobliyatan Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya: “Aku niat shalat Sunnah sebelum Subuh 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    Baca juga: 7 Perbedaan Haji dan Umroh yang Perlu Diketahui

    2. Niat Shalat Qabliyah Dzuhur (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الظُّهْرِرَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli Sunatta Dhuhri Rok’ataini Qobliyatan Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah sebelum Dzuhur 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    3. Niat Shalat Ba’diyah Dzuhur (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الظُّهْرِرَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli Sunnata Dhuhri Rok’ataini Ba’diyah Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah setelah Dhuhur 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    4. Niat Shalat Ba’diyah Maghrib (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Ushalli Sunnatal Maghribi Rok’ataini Ba’diyah Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah setelah Maghrib 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    5. Niat Shalat Ba’diyah Isya (2 rakaat)

    اُصَلِّى سُنَّةً الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Latin: Usholli Sunnatal Isyaa’i Rok’ataini Ba’diyatta Mustaqbilal Qiblati Lillahi Ta’ala.

    Artinya : “Aku niat shalat Sunnah setelah Isya’ 2 rakaat, menghadap Kiblat karena Allah Ta’ala.”

    Bacaan Surat-Surat Al-Qur’an Saat Shalat Sunnah Rawatib

    Diutamakan untuk membaca beberapa surat seperti di bawah ini saat sedang melaksanakan Shalat Rawatib sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW:

    1. Saat Subuh

    Untuk Shalat Qabliyah Subuh diutamakan membaca surat:

    • Al-Kafirun untuk rakaat pertama
    • Al-Ikhlas untuk rakaat kedua

    Anjuran tersebut berdasarkan hadis berikut ini:

    “Bahwasanya Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pada shalat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas.” [HR. Muslim no. 726].

    Namun, ada juga hadis riwayat lain menganjurkan membaca surat berikut ini:

    • Al-Baqarah ayat 136
    • Ali-Imron ayat 52

    Bukti hadisnya adalah sebagai berikut:

    “Kemudian dari Sa’id bin Yasar yang mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat sunnah sebelum subuh di rakaat pertamanya membaca Al-Baqarah: 136 dan di rakaat keduanya membaca Ali Imron: 52.”” [HR. Muslim no. 727].

    2. Saat Maghrib

    Sedangkan untuk bacaan surat Shalat Ba’diyah Maghrib sama seperti di atas, yaitu sebagai berikut:

    • Al-Kafirun untuk rakaat pertama
    • Al-Ikhlas untuk rakaat kedua

    Perintah tersebut tertuang pada hadis berikut ini:

    “Saya sering mendengar Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada shalat sunnah sesudah maghrib: Surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas.” [HR. At-Tirmidzi no. 431, Ibnu Majah no. 1166].

    Tata Cara Shalat Sunnah Rawatib

    A. Rakaat pertama

    1. Niat

    Saat melaksanakan Shalat Rawatib harus diawali dengan niat. Sebab, dengan niat artinya kita bersungguh-sungguh dalam menjalankan sesuatu.

    Meskipun membaca niat boleh dilafalkan, namun alangkah lebih baiknya jika diucapkan di dalam hati.

    2. Takbiratul Ihram

    Adapun cara melakukan takbiratul ihram adalah dengan mengangkat kedua belah tangan tepat ke samping telinga, sambil mengucapakan “Allahu Akbar”.

    3. Membaca doa iftitah

    Setelah takbiratul ihram, langkah selanjutnya adalah sikap bersedekap atau menumpangkan kedua tangan di atas dada sambil membaca doa iftitah.

    4. Membaca surat Al-Fatihah

    Jika sudah selesai membaca doa iftitah, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah.

    5. Membaca surat-surat

    Tak hanya Shalat Fardhu, Shalat Sunnah juga dianjurkan untuk membaca surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an.

    Namun, di dalam Shalat Rawatib diutamakan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas seperti yang telah dijelaskan di atas.

    6. Rukuk dan tuma’ninah

    Rukuk adalah salah satu posisi Shalat yang mana badan membungkuk dan meletakkan kedua telapak tangan di kedua lutut kaki, serta harus dilakukan secara tuma’ninah.

    Tuma’ninah sendiri merupakan kondisi tenang di mana setiap persendian pada tubuh juga ikutan tenang.

    Pelafalan bacaan rukuk adalah sebagai berikut:

    الْعَظِيمِ رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Latin: Subhaana rabbiyal ‘adzimii wabihamdih (diucapkan sebanyak tiga kali)

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya.”

    7. I’tidal dan tuma’ninah

    I’tidal adalah salah satu posisi Shalat yang mana badan berdiri tegak setelah bangun dari rukuk secara tuma’ninah.

    Berikut ini adalah pelafalan dari rukuk ke I’tidal:

    حَمِدَهُ لِمَنْ اللَّهُ سَمِع

    Latin: Sami’allaahu liman hamidah.

    Artinya: “Allah maha mendengar terhadap orang yang memujinya.”

    Dan bacaan I’tidal adalah sebagai berikut:

     بَعْدُ شَيْءٍ مِنْ شِئْتَ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ السَّمَوَاتِ مِلْءَ الْحَمْدُ لَكَ رَبَّنَا

    Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.

    Artinya:

    Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”

    8. Sujud pertama dan tuma’ninah

    Sujud adalah salah satu posisi Shalat dengan menempelkan kedua lutut, sebagian dahi, kedua ujung telapak kaki dan kedua tangan di lantai tempat Shalat.

    Berikut ini adalah bacaan sujud yang benar:

     وَبِحَمْدِهِ الْأَعْلَى رَبِّىَ سُبْحَانَ

    Latin: Subhanaa rabbiyal a’la wabihamdih. (Diucapkan sebanyak tiga kali).

    Artinya: “Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi serta memujilah aku kepada-Nya.”

    9. Duduk di antara dua sujud

    Duduk di antara dua sujud merupakan salah satu posisi Shalat yang mana disebut duduk iftirasy dan setelah bangun dari sujud.

    Bacaannnya adalah sebagai berikut:

     وَارْفَعْنِ وَارْزُقْنِى وَاجْبُرْنِى وَارْحَمْنِى لِى اغْفِرْ رَبِّ

    Latin: Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu’annii.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku, berilah rezeki kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku.”

    10.  Sujud kedua dengan tuma’ninah

    Setelah duduk di antara dua sujud, kembali sujud yang kedua kali. Tata cara dan bacaannya sama seperti yang pertama.

    B. Rakaat kedua

    1. Ulangi lagi langkah 2 – 10

    Bangun lagi dari sujud untuk melaksanakan rakaat kedua dengan cara mengulang step 2 sampai 10, kecuali doa iftitah.

    2. Tasyahud akhir

    Jika sudah melaksanakan sujud kedua di rakaat kedua, langsung duduk tasyahud akhir karena Shalat Rawatib hanya dua rakaat.

    Bacaan tasyahud akhir yang benar adalah sebagai berikut:

    اللَّهِ وَرَحْمَةُ النَّبِىُّ أَيُّهَا عَلَيْكَ السَّلاَمُ لِلَّهِ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ الْمُبَارَكَاتُ التَّحِيَّاتُ

    وَأَشْهَدُ اللَّهُ إِلاَّ إِلَهَ لاَ أَنْ أَشْهَدُ الصَّالِحِينَ اللَّهِ عِبَادِ وَعَلَى عَلَيْنَا السَّلاَمُ وَبَرَكَاتُهُ

     مُحَمَّدٍ عَلىَ صَلِّ للَّهُمَّ  . اللَّهِاَ رَسُولُ مُحَمَّدًا أَنَّ

    Latin: Attahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah. Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.

    Artinya:

    Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    3. Salam

    Tutup shoalt sunnah Rawatib dengan dua salam seperti sholat fardu, yakni dimulai dari salam ke kanan dilanjutkan ke kiri.

    4. Jika ingin empat rakaat, maka berdiri lagi untuk melaksanakan rakaat ketiga dan keempat dengan dua salam.

    Itulah semua informasi mengenai Sholat sunnah Rawatib berikut dengan tata cara pelaksanaan hingga waktu yang dianjurkan untuk sholat sunnah ini.

  • Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal dan Amalan Sunnahnya

    Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal dan Amalan Sunnahnya

    Kedatangan Dajjal di dunia merupakan salah satu tanda hari kiamat akan segera hadir, Rasulullah SAW pun pernah mengingatkan umatnya bahwa, akan terjadi hari dimana umatnya akan kebingungan karena hasutan Dajjal. Sebab tersebut, beliau membekali doa terhindar dari fitnah Dajjal.

    Tentu, sebagai seorang muslim Anda perlu mengantisipasi dan memperkuat amalan Ibadan serta mempertebal iman.

    Agar tidak tersesat, yuk simak bacaan doa terhindar dari fitnah Dajjal berikut ini.

    Mengenal Dajjal dan Kemunculannya

    Memahami apa itu fitnah Dajjal dan bentuknya menjadi salah satu cara untuk menghidarinya sebelum mengetahui apa saja bacaan doa terhindari dari fitnah Dajjal.

    Mendekati akhir zaman, tanda kiamat kini mulai bermunculan satu persatu, dimana kemunculan Dajjal menjadi salah satu tanda akan terjadi kiamat dalam waktu dekat. Dajjal akan datang bersama dengan fitnah yang membuat umat manusia terombang-ambing.

    Nabi Muhammad SAW pernah menceritakan mengenai ciri Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Dia akan menjadi seorang pemuda dengan kulit kemerahan, pendek, dengan rambut keriting tebal, dahi lebar, dan dada lebar, mata kiri buta atau cacat (mamsooh).

    Mata ini tidak akan menonjol atau cekung, dan akan terlihat seperti buah anggur yang mengapung. Mata kirinya akan ditutupi dengan sepotong daging tebal yang tumbuh di ujung matanya.

    Baca juga: Doa Khatam Quran 30 Juz: Arab, Latin dan Artinya!

    Tertulis di antara matanya adalah “Kaaf faa’ raa’”, dalam huruf (Arab) yang terpisah, atau “kaafir”, dengan huruf-huruf yang digabungkan. Ketika huruf ini terbaca maka akan mandul baginya atau tanpa anak yang lahir darinya.

    Hal ini diriwayatkan dalam Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda:

    Saya telah memberi tahu Anda begitu banyak tentang Dajjal sehingga saya khawatir Anda tidak akan mengerti. Dajjal akan menjadi pria pendek, berjari merpati, dengan rambut keriting. Dia akan bermata satu, dengan matanya tidak menonjol atau cekung. Jika kamu bingung tentang dia, maka ingatlah bahwa Tuhanmu tidak bermata satu.” [Abu Dawud, tidak. 3763

    Kemunculan Dajjal pertama kali juga beliau ceritakan. Bahwa Dajjal akan muncul dari arah timur dari khurasan dari kalangan Yahudi Isfahaan.

    Dia kemudian akan melakukan perjalanan ke seluruh bumi dan tidak akan meninggalkan kota tanpa memasukinya, selain Makkah dan Madinah, yang tidak akan bisa dia masuki karena para malaikat menjaganya.

    Hal ini diperkuat dengan hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    “Dia akan (muncul) dari arah laut Suriah atau dari arah laut Yaman … Tidak, melainkan dari timur …” – dan dia menunjuk ke arah timur.” [Muslim, tidak. 5228]

    Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal

    Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Dajjal akan muncul di akhir zaman. Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk senantiasa membaca doa terhindar dari fitnah Dajjal yang begitu keji.

    Dajjal menjadi mahluk yang diciptakan Allah SWT untuk menguji manusia. Hal ini dijelaskan dalam salah satu hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

    Semenjak Adam diciptakan sampai datangnya hari Kiamat, tidak ada cobaan yang lebih besar daripada Dajjal.” (HR Imam Ahmad)

    Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa tidak ada cobaan yang paling berat bagi seorang muslim, selain fitnah Dajjal. Sebab tersebutlah, Rasulullah SAW menganjurkan seorang muslim senantiasa berdoa dan mengingat Allah SWT.

    Dengan membaca doa terhindar dari fitnah Dajjal, diharapkan Allah SWT akan melindungi diri dari perbuatan-perbuatan fitnah serta menjauhkan diri dari orang-orang yang dengki dan hasad.

    Untuk menghindari fitnah Dajjal, ada beberapa doa yang dapat dibaca. Adapun bacaan doanya adalah sebagai berikut:

    1. Bacaan Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal yang Umum Dipakai

    Doa berlindung dari fitnah Dajjal ini salah satunya terdapat dalam kitab Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    إذا فرغ أحدكم من التشهد ‏الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم، ومن عذاب ‏القبر ومن فتنة المحيا والممات، ومن شر المسيح الدجال” رواه مسلم

    Artinya: “Jika kalian selesai melakukan tasyahud akhir, berlindunglah kepada Allah dari empat hal, azab neraka Jahanam, azab kubur, fitnah hidup dan mati, dan keburukan Dajjal yang terhapus dari rahmat Allah.” (HR Muslim)

    Adapun bacaan doanya adalah sebagai berikut:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

    Allahumma inni audzubika min ‘adzabi jahannama wa min adzabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid Dajjal.

    Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-masikh ad-Dajjal” (Hadits riwayat Imam Muslim dari Anas dan Abu Hurairah).

    Setelah membaca doa berikut, lanjutkan dengan membaca doa sebagaimana dianjurkan Abu Hurairah RA setelah selesai membaca bacaan doa tahiyatul akhir. Doa ini dimaksudkan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari siksa neraka, bencana dan khusunya fitnah Dajjal.

    Berikut bacaanya:

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Rabbana atinaa fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami kebaikan dalam kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksaan api neraka,” (HR Bukhari).

    Baca juga: Hukum Musik dalam Islam Menurut 4 Mazhab, Halal atau Haram?

    2. Bacaan Doa Terhindar dari Fitnah Dajjal dalam Surat Al-Kahfi 1-10

    Sebetulnya, doa agar terhindar dari fitnah dajal juga bisa ditambahkan dengan membaca sepuluh  ayat pertama dalam surat Al-Kahfi. Pada dasarnya, setiap ayat dalam Al-Qur’an sendiri telah mengandng berbagai macam manfaat yang bisa didapatkan

    Seperti dalam 10 ayat pertama surat Al-Kahfi yang di dalamnya terdapat banyak sekali keistimewaan, salah satunya terhindar dari fitnah Dajjal. Hal ini juga disebutkan dalam salah satu riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) dajal,” (HR. Muslim).

    Bacaan lengkap surah Al Kahfi ayat 1-10

    1.اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ

    al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj’al lahụ ‘iwajā

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok”

    2. قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

    qayyimal liyunżira ba`san syadīdam mil ladun-hu wa yubasysyiral-mu`minīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanā

    Artinya: “sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik”

    3. مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

    mākiṡīna fīhi abadā

    Artinya: “Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”

    4. وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

    wa yunżirallażīna qāluttakhażallāhu waladā

    Artinya: Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.”

    5. مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

    mā lahum bihī min ‘ilmiw wa lā li`ābā`ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqụlụna illā każibā

    Artinya: “Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.”

    6. فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا

    fa la’allaka bākhi’un nafsaka ‘alā āṡārihim il lam yu`minụ bihāżal-ḥadīṡi asafā

    Artinya: “Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).”

    7. اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

    innā ja’alnā mā ‘alal-arḍi zīnatal lahā linabluwahum ayyuhum aḥsanu ‘amalā

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.”

    8. وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا

    wa innā lajā’ilụna mā ‘alaihā ṣa’īdan juruzā

    Artinya: “Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.”

    9. اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا

    am ḥasibta anna aṣ-ḥābal-kahfi war-raqīmi kānụ min āyātinā ‘ajabā

    Artinya: “Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?”

    10. اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا

    iż awal-fityatu ilal-kahfi fa qālụ rabbanā ātinā mil ladungka raḥmataw wa hayyi` lanā min amrinā rasyadā

    Artinya: “(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

    Demikianlah bacaan doa terhindar dari fitnah Dajjal serta ciri-ciri Dajjal dan kemunculannya. Insyallah jika kita selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menghindari larangan-larangannya, kita akan dijauhkan dari keburukan dunia. Aamiin.

    Terimakasih sudah membaca. Assalamualaikum wr.wb

  • 10 Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua dan Dalilnya dalam Islam

    10 Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua dan Dalilnya dalam Islam

    Salah satu perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan seorang muslim adalah birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Sebab banyak sekali keutamaan berbakti kepada orang tua.

    Bahkan Allah SWT memerintahkan umat muslim untuk memperlakukan kedua orang tua dengan baik meski keduanya berbeda agama.

    Rasulullah pernah bersabda dalam salah satu hadits yang bunyinya:

    Siapa yang berbakti kepada orang tuanya, dia akan mendapat keberuntungan dan Allah SWT akan menambah panjang umurnya.” (HR Bukhari, Abu Yala, Thabrani, dan Hakim).

    Lantas. apa saja keutamaan berbakti kepada orang tua? Simak penjelasannya di bawah ini.

    Keutamaan-Keutamaan Berbakti Kepada Orang  Tua

    Dalam Islam, ada banyak sekali aspek kehidupan yang diatur dalam Al-Qur’an maupun hadits sebagaimana Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah (Hablun minallah) namun juga mengatur hubungan dengan sesama manusia (Hablun Mminannas).

    Hablun minannas yang paling utama bagi setiap muslim yakni birrull walidain atau berbakti kepada orang tua. Berikut ini beberapa Fadhilah atau keutamaan berbakti kepada orang tua lengkap dengan dalil yang menyertainya:

    1. Amal yang Paling Utama

    Berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang paling utama dan dicintai Allah SWT. Hal ini tertera dalam salah satu hadits Rasulullha mengenai tiga amalan yang paling disukai Allah, salah satunya yakni berbakti kepada orang tua.

    سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

    “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

    Apabila seorang muslim ingin mendapatkan berkah dalam hidupnya, maka utamakan amalan yang dicintai Allah SWT, di antaranya yakni birrul walidain atau berbakti kepada orang tua.

    Baca juga: Bacaan Dzikir Pagi Sesuai Sunnah: Arab, Latin dan Artinya

    2. Ridho Allah Tergantung kepada Keridhoan Orang Tua

    Keutamaan berbakti kepada orang tua lainnya yakni akan mendapatkan ridho Allah. Karena ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ

    “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

    3. Jihad Merawat Kedua Orang Tua

    Perlu diketahui bahwa berbakti dengan orang tua merupakan amalan yang terhitung jihad jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala.

    Sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah yang bunyinya:

    عن عَبْد اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِى الْجِهَادِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَحَىٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

    Artinya, “Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw lalu meminta izin untuk berjihad. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ ‘Masih,’ jawabnya. Rasulullah saw mengatakan, ‘Pada (perawatan) keduanya, berjihadlah,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

    4. Memberikan Kemudahan pada Kesulitan yang Dihadapi

    Keutamaan berbakti kepada orang tua lainnya yakni dapat menghilangkan kesulitan yang sedang kita alami yaitu dengan cara bertawasul atau melakukan amalan yang dicintai Allah tersebut.

    Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيْتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهَا الْغَارَ. فَقَالُوْا : إِنَّهُ لاَيُنْجِيْكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوْا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَكُنْتُ أَغْبِقُ قَبْلَ هُمَا أَهْلاً وَ لاَ مَالاً، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْئٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَ فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ. فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْمَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِه الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا

    “Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan’.

    Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas.

    Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. “Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser” [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A’mal]

    Hadis ini menjelaskan bahwa perbuatan yang kita lakukan, dalam hal ini berkaitan dengan berbakti kepada orang tua, dapat digunakan untuk bertawasul kepada Allah ketika kita mengalami kesultan.  Dan Insyallah, kesulitan apapun akan hilang.

    Baca juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

    5. Memudahkan Datangnya Rezeki

    Tidak pernah ada rugi, bagi kita yang berbakti kepada orang tua dengan ikhlas dan tulus karena Allah Ta’ala. Dalam Islam, setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula, begitu juga sebaliknya.

    Atas izin Allah, amalan ini akan memudahkan untuk datangnya rezeki. Dalam haditsnya, Rasulullah SAW mengatakan anak yang birrul walidain akan memperoleh kemudahan rezeki

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ،قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

    Artinya: Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda; “Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezkinya, maka hendaknya ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambug silaturrahim (kekerabatan).” (HR Ahmad).

    6. Orang Tua sebagai Pintu Surga

    Keutamaan berbakti kepada orang tua yang selanjutnya, akan diberikan padanya pintu surga apabila merawat serta berbakti kepadanya. Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah yang berbunyi:

    عن أبي الدرداء رضي الله عنه أنَّ رجلاً أتاه، فقال إِنَّ لِي امرأةً، وإِنَّ أمِّي تَأْمُرُنِي بِطَلَاقِها، فقال له أبو الدرداء سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول الوالِدُ أوسَطُ أبوابِ الجَنَّةِ، فإِنْ شِئْتَ فأضِعْ ذلِكَ البَابَ أو احْفَظْهُ

    Artinya, “Dari sahabat Abu Darda ra, seseorang mendatanginya dan berkata, ‘Aku mempunyai seorang istri, tetapi ibuku memintaku untuk menceraikannya.’ Abu Darda ra berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Jika mau, kau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut atau kau boleh merawatnya,’’” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    7. Dipanjangkan Umur, Ditambah Rezeki

    Di antara keutamaan berbakti kepada kedua orang tua lainnya adalah sama dengan keutamaan silaturahim yakni dipanjangkan umur dan ditambah rezekinya.

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ فِي عُمْرِهِ، وَيُزَادَ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

    “Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambah rezekinya, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahim” (HR. Ahmad)

    8. Bentuk Taubat Kepada Allah

    Siapa sangka bahwa berbakti kepada orang tua merupakan salah satu bentuk taubat kepada Allah, mengingat bahwa berbakti kepada orang tua merupakan salah satu amalan yang paling utama dan disukai Allah.

    Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu ia berkata;

    “Seorang laki-laki datang menghadap Nabi lalu berkata, “Sesungguhnya aku telah melakukan satu dosa yang sangat besar. Apakah aku bisa bertaubat?” Beliau balik bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?” ia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau masih memiliki bibi (saudari ibu)?”ia menjawab, “Ya.” Maka beliau bersabda, “Maka berbaktilah kepadanya.” (HR. Tirmidzi)

    9. Memperoleh Ampunan Allah

    Selain sebagai jalan taubat, berbakti kepada orang tua juga merupakan salah satu amalan yang dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosa terdahulu yang dilakukan apabila melakukannya dengan ikhlas dan tulus.

    Siapa yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya kemudian ia tidak diampuni, maka Allah telah menjauhkannya (dari rahmat)” (HR. Ahmad)

    10. Amal yang Paling Dicintai Allah SWT

    Keutamaan berbakti kepada orang tua yang terakhir dan tidak kalah penting adalah berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang paling dicintai Allah SWT. Keutamaan ini dijelaskan dalam hadits berikut

    سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

    Baca juga:”Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Rasul menjawab, “Shalat pada (awal) waktunya.” “Kemudian apa lagi?” Nabi Menjawab lagi, “Berbakti kepada kedua orang tua.”Aku bertanya kembali.” “Kemudian apa lagi?” “Kemudian jihad fi Sabilillah.”

    Ibnu Mas’ud mengatakan, “Beliau terus menyampaikan kepadaku (amalan yang paling dicintai oleh Allah), andaikan aku meminta tambahan, maka beliau akan menambahkan kepadaku”. (HR Bukhari).

    Nah itulah dia keutamaan berbakti kepada orang tua. Ingatlah, di balik ketangkasannya, orang tua juga ingin selalu diperhatikan dan diapresiasi oleh orang terdekatnya.

    Bahkan orang tua tak segan merelakan mimpinya agar anak-anaknya sukses dan bahagia. Yuk, mulai dengan berbakti kepada orang tua dengan hal-hal sederhana seperti menanyakan kabar setiap hari.

    Semoga artikel ini bermanfaat ya!

  • Pengertian Malu dalam Islam dan Pentingnya Memelihara Malu

    Pengertian Malu dalam Islam dan Pentingnya Memelihara Malu

    Secara umum, kita mungkin mengenal rasa malu sebagai salah satu dari sekian banyak emosi yang bisa dirasakan manusia. Namun, bagaimana pengertian malu dalam Islam? Apakah memiliki perbedaan dengan pengertian yang selama ini kita tahu? 

    Rasa malu memiliki kedudukan khusus di dalam Islam. Bahkan ada hadits di mana Rasulullah berkata, “Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali hanya kebaikan semata” (Riwayat Bukhari).

    Kedudukan rasa malu di dalam Islam memang cukup tinggi. Bahkan malu itu sendiri, tidak hanya berdasar pada perilaku dan perkataan. Melainkan ada 3 yakni malu kepada Allah, malu kepada diri sendiri, dan malu kepada sesama makhluk. 

    Pengertian Malu dalam Islam

    Secara kebahasaan, malu di dalam At-taufiq ‘ala Muhimmat at-Ta’arif diartikan sebagai perilaku menahan diri untuk melakukan sesuatu dengan alasan takut mendapatkan celaan orang lain. 

    Dari segi istilah, malu merupakan salah satu akhlak terpuji yang akan mendorong seseorang agar meninggalkan perbuatan jelek. Sekaligus menahan diri untuk merampas hak orang lain. 

    Ada ulama yakni Ar-Raghib yang menyebutkan di dalam kitab Fath al-Bari bahwa malu, merupakan upaya menahan diri berbuat berbagai hal yang tidak baik atau buruk. 

    Malu, adalah karakter khusus manusia yang berupa naluri menahan diri dari berbagai hal yang tak diinginkan oleh nafsu. Sehingga, ia memiliki perbedaan dengan binatang. 

    Pengertian malu dalam Islam pun disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan, 

    “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.”

    Selanjutnya, ada penjelasan dari Al-Junaid rahimahullah mengenai pengertian rasa malu, 

    “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.’

    Dari berbagai definisi di atas, kita perlu memahami bahwa rasa malu, merupakan suatu perilaku yang akan mendorong manusia meninggalkan berbagai perbuatan buruk, sehingga dapat menghalanginya dari melakukan dosa, maksiat, juga sikap lalai. 

    Pentingnya Memelihara Malu

    Lantaran memiliki kedudukan khusus dalam Islam, malu adalah sikap yang perlu kita pelihara. Sangat perlu kita jaga karena Islam memberikan beberapa hal yang jadi alasan mengapa rasa malu itu penting: 

    1. Tak Mendatangkan Apa Pun Selain Kebaikan

    Rasa malu, tidak akan mendatangkan apa pun selain hanya mendatangkan kebaikan. Malu mengajak setiap pemiliknya untuk menghias diri dengan mulia dan menjauhkan diri dari sifat hina. 

    Rasulullah SAW bersabda, 

    اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

    Artinya: 

    “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi].

    Hadits Riwayat Muslim pun menyebutkan: 

    اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

    Artinya: 

    “Malu itu kebaikan seluruhnya.”

    Ya, malu pun menjadi akhlak dari para nabi. Bahkan, Nabi Muhammad SAW yang menjadi manusia terbaik, memiliki sifat ini. 

    Ada yang berkata, jika Rasulullah SAW lebih pemalu daripada gadis yang tengah dipingit. Sudah sepantasnya bagi kita untuk juga menjaga dan memelihara rasa malu pada diri.

    Baca juga: 10 Doa Agar Seseorang Merindukan Kita, Insyaallah Manjur

    2. Tanda Seseorang Punya Kehormatan dan Harga Diri

    Punya rasa malu adalah tanda bahwa seseorang punya kehormatan, harga diri, juga akhlak luhur. 

    Rasulullah SAW sekali waktu berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib yang isinya berkenaan dengan pentingnya malu dalam diri seorang muslim. 

    Hal ini bisa ditemukan dalam kitab Wasiyatul Mustofa yang isinya kurang lebih begini,

    يَا عَلِيُّ، اَلدِّيْنُ كُلُّهُ فِي الْحَيَاءِ وَهُوَ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا حَوَى وَالْبَطْنَ وَمَا وَعَى

    Artinya: 

    “Wahai Ali, agama itu semuanya terdapat pada sifat malu. Sifat malu itu kamu menjaga kepala dan apa-apa yang ada disekitarnya. Dan sifat malu itu menjaga perut serta apa-apa yang ada di dalamnya.”

    Maksudnya yakni sifat malu membuat seseorang punya kehormatan dan harga diri. Hal ini pun berarti orang yang punya sifat malu juga menjaga agamanya. 

    3. Salah Satu Cabang Keimanan

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah berkata bahwa iman punya lebih dari 70 atau 60 cabang. Salah satu cabangnya adalah rasa atau sifat malu. Hal ini sesuai dengan sabda beliau yakni: 

    اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

    Artinya: 

    “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” Diriwayatkan oleh al-Bukhâri, no. 9 dan dalam al-Adabul Mufrad, no. 598

    4. Allah Mencintai Orang-Orang yang Malu

    Hal ini pun menjadi alasan mengapa kita harus menjaga rasa malu, yakni karena Allah sangat mencintai orang-orang yang punya rasa atau sifat malu. Dalam Hadits Riwayat Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda, 

    إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

    Artinya: 

    “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”(HR. Baihaqi).

    5. Salah Satu Akhlak Islam

    Dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW pernah bersabda: 

    إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

    Artinya: 

    “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR. Ibnu Majah).

    Itulah pentingnya rasa malu di dalam Islam sekaligus ulasan yang lengkap mengenai pengertian malu dalam Islam. Semoga kita termasuk bagian orang-orang yang memiliki rasa dan sifat malu.

  • Hukum Tidak Membayar Hutang di Bank Menurut Islam

    Hukum Tidak Membayar Hutang di Bank Menurut Islam

    Mungkin kita pernah bertanya, apa hukum tidak membayar hutang di bank menurut Islam? Apakah ada hukumnya? Jika penasaran mengenai hukumnya, bisa simak artikel ini sampai habis, ya.

    Demi mengetahuinya, kita memang harus mempelajarinya lebih lanjut. Urusan hutang piutang memang sudah diatur di dalam Islam. 

    Kata hutang di dalam bahasa Arab yakni Al-Qardh yang dari segi etimologi diartikan memotong. Namun, menurut kaidah Islam, hutang memiliki arti memberi harta dengan didasarkan pada kasih sayang kepada siapa pun yang membutuhkannya. 

    Belum cukup kepada yang membutuhkan, melainkan harus dimanfaatkan dengan benar juga wajib dikembalikan pada pihak yang memberikannya. Itulah yang sebenarnya disebut sebagai pinjaman atau hutang. 

    Hukum Tidak Membayar Hutang di Bank Menurut Islam

    Islam sangat serius untuk permasalahan hutang. Maka dari itu, terdapat sejumlah dalil dalam Islam yang ada kaitannya dengan masalah hutang. Mari, kita belajar bersama di sini: 

    1. Jangan Meninggal dalam Keadaan Punya Hutang

    Islam melarang semua umatnya meninggal dalam keadaan punya hutang. Alasannya karena hutang dapat menjadi pemberat dan penghapus semua kebaikan kita kelak ketika dihisab di akhirat. 

    Sesuai dengan hadits dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW bersabda:  

    مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

    Artinya: 

    “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah). 

    Daripada seluruh kebaikan kita tidak terhitung atau terhapus ketika hisab kelak karena hutang, memang sangat dianjurkan untuk melunasi hutang kepada siapa pun itu. Entah individu, organisasi, atau bank. 

    Baca juga: Apa Hukum Asuransi dalam Islam? Halal atau Haram Ini Pendapat Ulama

    2. Jiwa Seseorang yang Punya Hutang Masih Menggantung

    Ada hadits yang menunjukkan jika hutang yang belum terbayar menjadi pemberat yang membuat jiwa kita tak diterima kelak. Maka dari itu, sebaiknya kita menghindari hal ini agar tak terjadi. 

    Selagi hidup, sebaiknya segerakan kewajiban untuk membayar hutang. Hal ini sesuai dengan hadits dari Abu Hurairah yang mana Rasulullah SAW bersabda: 

    نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

    “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi).

    Al ‘Iroqiy juga berkata: 

    “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/142).

    3. Jika Tak Berniat Bayar Hutang, Maka Ia Pencuri

    Parahnya lagi dari orang yang berhutang yakni saat mereka tak punya niatan untuk membayar dan menyelesaikan persoalan hutangnya. Mereka bukan lagi berstatus sebagai seorang yang berhutang, melainkan sebagai pencuri. 

    Alasannya karena mereka memakan uang yang bukan menjadi haknya. Tidak ada bedanya dengan seorang pencuri. Ia bukan berstatus pencuri ketika berada di dunia. 

    Melainkan saat ia bertemu dengan Allah ketika hari kiamat, statusnya sebagai pencuri. Hal ini tertera dalam hadits dari HR. Ibnu Majah No.2410 yang isinya: 

    أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

    Artinya: 

    “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih).

    Al Munawi berkata, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qodir, 3/181)

    Hutang adalah tanggung jawab yang sangat besar. Maka dari itu, kita harus berdoa agar terhindar atau jika sudah terlanjur berhutang, kita wajib berdoa agar bisa segera melunasinya. 

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pun bersabda: 

    مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

    Artinya: 

    “Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411).

    Maksudnya adalah jika kita berhutang dan tidak berniat membayarnya, kita ibarat seorang pencuri yang mengambil harta manusia lewat jalur hutang. Jika begitu, maka Allah juga akan menghancurkannya. 

    4. Dosa Hutang Tak Terampuni Meskipun Mati Syahid

    Hutang yang tak dibayar merupakan suatu dosa. Meskipun mati syahid sekalipun, dosa dari hutang maka tak terampuni. Hal ini erat kaitannya dengan hak milik orang lain. Sama halnya dengan mengambil harta mereka dan tak mengembalikannya. 

    Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda: 

    يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

    Artinya: 

    “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886).

    Maka dari itu, sebaiknya kita berpikir apakah nanti kita bisa melunasi atau apakah benar-benar butuh untuk berhutang? 

    5. Hutang akan Memberatkan Hidup di Dunia dan Akhirat

    Perkara hutang merupakan sesuatu yang memberatkan, entah di dunia maupun di akhirat kelak. 

    Ibnu Qayyim di Al Fawa’id berkata: 

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”

    Rasulullah SAW bahkan sampai meminta di setiap sholatnya agar dijauhkan dari hutang. Ini artinya hutang bisa memberatkan karena pertanggungjawaban yang sangat besar. 

    Dari berbagai uraian hukum tidak membayar hutang di bank menurut Islam memang tak dianjurkan. Sebaiknya kepada siapa pun kita berhutang, harus ada keinginan dan niat untuk membayarnya.