Blog

  • Hukum Istri Tidak Menyukai Keluarga Suami Menurut Islam, Moms Wajib Tahu!

    Hukum Istri Tidak Menyukai Keluarga Suami Menurut Islam, Moms Wajib Tahu!

    Dewasa ini, ada banyak sekali siu-isu yang tersebar di sosial media mengenai perseteruan antara menantu dan keluarga suami. Apakah kita salah satunya? atau bahkan membenci keluarga suami? Lantas, apa sebenarnya hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam?

    Ketika hendak menikah, seorang wanita setidaknya harus memahami bahwa pernikahan terjadi tidak hanya dua mempelai saja. Namun juga turut menikahi orang tua termasuk keluarganya.

    Sudah tentu ketika menyayangi suami, berarti kita juga harus menyayangi kedua orang tua dan saudaranya juga. Lalu, bagaimana jika kita tidak akrab bahkan bermusuhan dengan keluarga suami? dan bagaimana hukum istri tidak menyukai keluarga suami menrut Islam?

    Hukum Istri Tidak Menyukai Keluarga Suami Menurut Islam

    Untuk kita yang memiliki masalah dan tidak akur dengan keluarga suami, perlu untuk mengetahui hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam.

    Seorang wanita ketika menikah, segala tanggung jawab serta hak ayahnya telah berpindah kepada suaminya. Tentu hal ini menjadi salah satu alasan, mengenai wajibnya seorang istri yang taat kepada suaminya.

    Allah SWT memberi keutamaan bagi laki-laki yang lebih besar daripada perempuan, karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah dan mendidik istri dan keluarganya.

    Allah SWT berfirman:

    ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

    Ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa’iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji’i waḍribụhunn, fa in aṭa’nakum fa lā tabgụ ‘alaihinna sabīlā, innallāha kāna ‘aliyyang kabīrā.

    Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS An-Nisaa’: 34).

    Oleh sebab itu, penting bagi seorang suami untuk menaati seorang suami. Selain itu perlu diingat bahwa membentuk sebuah rumah tangga juga bukan hanya antara diri sendiri dan pasangan saja, melainkan menyatukan dua keluarga juga.

    Lalu bagaimana penjelasan terkait hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam?

    Kini banyak sekali tersebut isu-isu mengenai permasalahan antara menantu dengan mertua atau bahkan dengan ipar sendiri. Hal ini bisa saja terjadi karena beberapa faktor yang berbeda. Namun yang pasti, hal inilah yang menjadi penghambat untuk terjalinnya silaturahmi.

    Oleh sebab itulah, dengan semakin maraknya isu yang membuat perspektif mengenai pernikahan semakin menyeramkan. Sebagai seorang muslim perlu tahu mengenai hukum istri tidak menyukai suami menurut Islam, agar dapat mencegah terjadinya isu tersebut dalam rumah tangga kita sendiri.

    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bagi wanita bersuami sepatutnya menaati suami dalam berbagai perkara yang tidak mengandung maksiat.

    Ada banyak sekali bentuk ketaatan yang bisa dilakukan oleh isrtri, salah satunya yakni bersikap baik dan bersabar terhadap keluarga dari sang suami, hal tersebut dengan tujuan mendapatkan ridha serta pahala dari Allah SWT.

    Sebab seorang suami yang telah berkeluarga sekalipun hendaknya harus tetap berbakti kepada ibunya.

    Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah hadis:

    “Diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?’

    Rasulullah menjawab, ‘Suaminya’ (apabila sudah menikah).

    Aisyah Ra bertanya lagi, ‘Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibunya’,” (HR. Muslim).

    Selain itu, Allah SWT juga telah memerintahkan untuk memperlakukan orang tua dengan sebaik-baiknya dalam firman-Nya yang berbunyi,

    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا\

    Wa qaḍā rabbuka allā ta’budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini iḥsānā, immā yabluganna ‘indakal-kibara aḥaduhumā au kilāhumā fa lā taqul lahumā uffiw wa lā tan-har-humā wa qul lahumā qaulang karīmā.

    Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

    Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.

    Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia,” (Surah Al-Isra Ayat 23).

    Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam sudah pasti tidak dibenarkan. Sebab berperilaku baik kepada keluarga suami juga termasuk dalam ketaatan padanya.

    Baca juga: Hukum Childfree dalam Islam Bisa Halal, Bisa Haram!

    Tips agar Istri Berhubungan Baik dengan Keluarga Suami

    Setelah mengetahui hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan oleh suami agar istri dekat dengan keluarganya.

    1. Mencari Solusi Bersama Ketika Ada Masalah

    Jika ditilik lebih lanjut, adanya isu-isu mengenai masalah yang kerap terjadi antara istri dan pihak keluarga suami, salah satu sebabnya yakni komunikasi di antara pasangan suami istri yang jarang sekali membahas mengenai masalah yang ada.

    Dilain hal, kebanyakan istri mencoba untuk mendominasi suaminya, sehingga sang suami tidak dapat memberikan perhatian kepada ibunya.

    Namun di satu sisi, hal ini kerap dilakukan sebab keluarga suami menuntut banyak hal dan tidak mengikut sertakan istri dalam suatu masalah.

    Tentu tidak hanya itu, ada banyak sekali alasan yang mungkin saja ditemukan dalam kesenjangan keduanya.

    Dalam hal ini, tentu saja yang menjadi pihak tengah adalah suami. Sang suami pun terjebak di dalam pertengkaran di mana ia tidak bisa memihak. Di satu sisi, istrinya ingin hidup mandiri tanpa campur tangan pihak lain, termasuk kerabat.

    Sang suami akan secara alami merasa bahwa dia harus mendukungnya dan membuat pasangannya bahagia. Namun di sisi lainnya, ia juga memikirkan orang tuanya yang telah merawatnya dan menemaninya tumbuh hingga mampu membangun keluarga kecil.

    Salah satu cara yang mungkin untuk meredakan situasi adalah dengan mengkomunikasikan banyak hal bersama, jangan saling menutupi dan mengikutsertakan pasangan dalam setiap langkah yang akan diambil.

    Selain itu, seorang istri hendaknya tahu mengenai kewajibannya dan kewajiban suaminya dalam membangun rumah tangga, seperti halnya mengetahui hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam.

    2. Selalu Bersikap Baik

    Seorang muslim hendaknya selalu berkelakuan baik meski sedang berhadapan dengan orang sejatinya kita tidak menyukainya.

    Seperti halnya selalu berbicara dengan nada hormat dan bersikap baik kepada kerabat suami, bahkan jika kita merasa mereka tidak melakukan hal yang sama.

    Jangan memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka lakukan jika tidak ingin menjadi bagian dari mereka juga. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al Isra ayat 7:

    إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا

    “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”

    3. Suami Sebaiknya Menjadi Penengah

    Peran suami ketika terdapat perselisihan antara istri dan kerabat adalah sebagai penengah, yang tidak memihak siapapun dan turut mengatasinya dengan kepala dingin.

    Suami dapat mencoba berkomunikasi dengan kedua belah pihak, melihat masalah dari kedua sisi, menyimpulkan menggunakan pikiran jernih tanpa memihak siapa pun, serta memperbaiki apa yang salah.

    Perselesihan biasanya bermula dari sesuatu hal yang simpang siur atau kerap disebut sebagai miskomunikasi, yang akhirnya menyebabkan keduanya terpecah dan saling membenci.

    Mengingat bahwa hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam tidak diperbolehkan, maka dari itu selain peran istri sendiri terdapat peran suami sangat dibutuhkan dalam meredakannya.

    Demikianlah hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam serta tips agar terjaga silaturahim yang baik antara kerabat dan istri.

    Yang perlu selalu ingat bahwasannya, ketika kita menikah. Kita bukan hanya akan hidup dengan pasangan saja, melainkan dengan keluarga dan kerabatnya. Sehingga memerlukan kasih sayang yang luas, sabar yang tidak terbatas dan tawakal yang tiada henti.

    Semoga artikel ini dapat membantu dalam memahami hukum istri tidak menyukai keluarga suami menurut Islam ya!

  • Inilah 8 Dampak Buruk Memiliki Harta Haram, Ingat!

    Inilah 8 Dampak Buruk Memiliki Harta Haram, Ingat!

    Harta haram adalah harta yang cara mendapatkannya melalui jalan yang dilarang oleh syariat Islam. Keharamannya seperti bangkai dan minuman keras. Lalu, apa dampak buruk memiliki harta haram?

    Meski sudah jelas dalam hadits harus menjauhi yang haram, tapi terkadang masih ada orang muslim yang meremehkan harta haram. Padahal, akibat memakan harta haram itu sangat fatal dampaknya.

    Salah satu dampak harta yang diperoleh dengan jalan tidak halal, yaitu amal ibadah tertolak dan harta tidak akan membawa berkah. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah dampak memiliki harta yang haram. Yuk, simak!

    Dampak Buruk Memiliki Harta Haram

    Setiap muslim tentunya berharap bisa memperoleh rezeki halal, termasuk memiliki harta halal. Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW:

    “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karuniaMu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi)

    Bagaimana apabila kita memperoleh harta dari cara tidak halal? Apa dampak buruk memiliki harta haram? Berikut beberapa dampaknya, di antaranya:

    1.  Memicu Murka Allah SWT

    Harta yang diperoleh dari jalan yang haram, hal ini bisa memicu murka Allah SWT. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sudah memberitahukan kepada Ali bin Abi Thalib terkait hal itu. Begini perkataan Rasulullah SAW:

    “Wahai Ali, apabila Allah marah kepada seseorang, maka Allah akan memberinya rezeki haram. Dan saat Allah semakin marah pada seorang, Allah akan mewakilkan (memberikan kuasa) kepada setan untuk menambah rezekinya dan menemaninya, menyibukkan dengan dunia dan melupakan agama. Memudahkan urusan dunianya dan setan berkata (menggoda dengan kalimat: Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

    Jika ingin dimudahkan dalam segala urusan dunia, maka carilah harta yang halal dan Allah SWT meridhoinya agar harta menjadi penuh manfaat dan keberkahan.

    Baca juga: 11+ Keutamaan Sedekah di Bulan Ramadhan, Masya Allah!

    2. Mengikuti Langkah Setan

    Seseorang memiliki harta dari jalan haram seperti mengikuti langkah setan. Setan sendiri akan selalu menyesatkan manusia hingga muncul kekufuran, kesyirikan, dan memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

    Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah menyebutkan:

    “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

    Ada beberapa langkah setan menyesatkan manusia, yaitu setan mengajak manusia pada amalan yang tidak ada tuntunan, pada dosa besar dan kecil, serta menyibukan manusia pada amalan yang kurang afdal.

    3. Tidak Semangat Beramal Saleh

    Dampak buruk memiliki harta haram lainnya adalah tidak semangat melakukan amal saleh. Selain itu, kehidupan yang berdasarkan pada sumber rezeki yang tidak halal akan membawa kerusakan moral dan spiritual.

    Dalam surat Al-Mu’minun menyebutkan:

    “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thayyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun ayat 51).

    Dari terjemahan ayat ini, Allah memerintahkan para rasul untuk memakan makanan yang halal dan beramal saleh. Perintah ini sebagai isyarat bahwa makanan halal itu yang menyemangati untuk melakukan amal saleh.

    4. Berhak Disentuh Api Neraka

    Salah satu dampak yang paling fatal memiliki harta haram, yaitu badan yang tumbuh dari yang haram berhak dibakar oleh api neraka. Hal ini sebagaimana nasehat dari Nabi Muhammad SAW pada Ka’ab:

    “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi).

    Oleh karena itu, saat mencari rezeki atau harta sebaiknya kita lakukan dengan cara halal. Dengan begitu, harta yang kita miliki nantinya bisa mendatangkan keberkahan dan kita terhindar dari panasnya api neraka.

    5. Doa Sulit Terkabul

    Memiliki harta haram bisa mendatangkan banyak dampak, salah satu yang perlu kita pahami adalah doa sulit terkabulkan. Dalam hadist riwayat Muslim:

    Rasulullah SAW menyebutkan seseorang yang lama bepergian, rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Lalu berkata. “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaian haram, dan dia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin bisa doanya terkabul.” (HR. Muslim).

    Sebagai umat muslim sudah seharusnya memakan harta dari jalan mencari rezeki yang baik dan halal jika tidak ingin terkena dampak buruknya. Sebagaimana firman Allah SWT:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172).

    6. Jadi Mundur dan Hina

    Dampak selanjutnya memiliki harta yang haram membuat kaum muslimin menjadi mundur dan hina. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Abdullah bin Umar yang berbunyi:

    “Jika kalian jual beli dengan cara inah (salah satu transaksi riba), mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian), dan meninggalkan jihad (saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud).

    Jika tidak ingin menjadi orang hina, maka mencari rezeki dengan cara halal agar harta yang kita miliki memberikan dampak yang baik untuk kehidupan.

    7. Banyak Musibah dan Bencana

    Dampak buruk memiliki harta haram selanjutnya adalah banyaknya musibah dan bencana di dunia. Hal ini juga bisa terjadi dari akibat maraknya praktik riba. Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Apabila sudah maraknya perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, sungguh penduduk negeri tersebut sudah menghalalkan diri mereka diazab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim).

    Semoga Allah memberikan karunia kepada kita rezeki yang halal dan kita bisa menggunakannya untuk hal yang baik. Semoga kita terhindar dari azab Allah SWT.

    8. Jiwa Selalu Gelisah

    Seseorang yang hidupnya terbiasa memakan harta haram, maka jiwanya akan selalu gelisah tanpa diketahui penyebabnya. Hati tidak tenang, kegelisahan akan terus menyeret ke lembah yang semakin jauh dari Allah.

    Jika sudah demikian, kita tidak akan lagi merasa berdosa dengan kemaksiatan. Berkata bohong menjadi kebiasaannya dan tidak segan melakukan perbuatan keji. Oleh karena itu, harta haram tidak membawa keberkahan.

    Apalagi kita tahu bahwa harta yang ia miliki dari cara yang tidak benar, tetapi tidak menghiraukann. Hal ini memberi dampak negatif pada kesehatan mental dan emosional, termasuk depresi dan kecemasan.

    Pentingnya Memiliki Harta Halal

    Rezeki berupa harta merupakan anugerah dan karunia dari Allah SWT sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Penting untuk kita pahami cara mencari rezeki atau harta yang halal sesuai dengan syariat Islam.

    Orang yang memiliki harta halal adalah orang-orang yang paling selamat, hatinya paling tenang, dan hartanya penuh keberkahan. Kehormatan dan harga diri kita bersih dan terjaga dari hal yang buruk.

    Dengan demikian, kita sebagai umat muslim sudah seharusnya mencari rezeki dengan cara yang baik dan halal. Agar kita terhindar dari dampak buruk memiliki harta haram yang tidak membawa keberkahan.

  • Rahasia Kecantikan Alami Dengan Mengamalkan Doa Agar Kulit Putih Bersih

    Rahasia Kecantikan Alami Dengan Mengamalkan Doa Agar Kulit Putih Bersih

    Memiliki kulit yang putih bersih menjadi tujuan bagi banyak orang. Melakukan perawatan tentunya menjadi modal utama untuk merawat kulit menjadi putih bersih. Sebagian orang percaya dengan mengamalkan doa agar kulit putih bersih menjadi cara jitu yang dilakukan.

    Sebagian orang mempercayai bahwa ada doa agar kulit putih bersih yang sangat berpengaruh positif terhadap peningkatan kecerahan dan keputihan kulit.

    Berikut ini akan menjelaskan tentang doa agar kulit putih bersih yang dapat Anda amalkan untuk memiliki kecantikan sejati.

    Doa yang Dipercaya Membantu Mencerahkan dan Memutihkan Kulit

    Memiliki kulit yang cantik adalah sebuah harapan bagi semua orang terutama kaum Perempuan. Dalam berbagai budaya, kulit putih dan bersih sering dianggap sebuah simbol kecantikan dan kemurnian orang tersebut.

    Berbagai macam metode yang dilakukan, mulai dari detox kulit, obat-obat herbal maupun non herbal sering orang gunakan untuk memutihkan agar kulit putih. Namun rangkaian perawatan luar tersebut tidak berpengaruh besar jika hanya putih dari luar saja.

    Rangkaian perawatan luar seperti produk kecantikan dan perawatan kulit belum cukup untuk memutihkan kulit. Oleh karena itu banyak orang mengandalkan praktik-praktik spiritual seperti melakukan doa agar kulit putih bercahaya agar mencapai kulit yang mereka impikan.

    Dalam berbagai budaya, doa-doa dan amalan spiritual telah lama dihubungkan dengan kecantikan.

    Beberapa keyakinan berpendapat bahwa doa-doa tertentu memiliki kekuatan untuk membantu membersihkan aura dan energi negatif yang dapat mempengaruhi kesehatan kulit.

    Pandangan-pandangan ini seringkali terkait dengan budaya spiritual yang mengajarkan harmoni antara tubuh, jiwa, dan pikiran. Berikut adalah doa agar kulit putih bersih yang sering digunakan oleh sebagian orang menurut kepercayaannya masing-masing.

    Baca juga: Ini 3 Doa yang Dikabulkan oleh Allah SWT, Sangat Mustajab!

    1. Doa untuk Kecerahan

    Doa yang berfokus pada permohonan untuk mendapatkan cahaya alami dan kecerahan kulit yang berseri-seri.

    Lakukan setiap hari dalam hati dengan memohon agar mendapatkan cahaya yang berada dalam diri secara alami.

    2. Doa untuk Kebersihan Kulit

    Banyak amalan doa agar kulit putih bersih yang dilakukan oleh sebagian orang yang mempelajarinya, termasuk dengan mengamalkan doa agar kulit kita bersih. Salah satu amalan doa yang sering digunakan adalah sebagai berikut:

    • Doa ini dimulai dengan membaca Bismillah yang artinya “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
    • Kemudian dilanjutkan membaca doa: “Allahumma yaa man haabadzal isyqo ilaa ma asyqaa ilaihi fiihi mink fa aktub lil kulubil amnaa’ wa soluufil adwaa’ wa dzil hawaashi minal farajil munaazzaa’

    Wa saffihlanaa badananaa wa thahirlanaa jildanaa wa isyraafnaa anfusanaa wa ajrnaa minal balaai wan niqmaati bimaa taqdiruhuu wa tatawaffanaa muslimiinaa walhiqnaa bis shoolihiinaa

    • Ya Rahman Ya Rahim
    • Ya Hafidz Ya Razzaq Ya Latif

    Doa tersebut dapat dibaca setiap hari, baik pagi maupun malam hari sebanyak 100 kali dalam satu harinya. Agar Anda mendapatkan pengaruh yang sangat signifikan dengan mengamalkan amalan tersebut.

    3. Doa untuk Kesehatan Kulit

    Doa yang berfokus pada kesehatan kulit secara keseluruhan, mencakup aspek keputihan dan kecerahan. Dengan begitu, kulit Anda akan menjadi lebih berseri dan kelihatan cantik alami tanpa harus menggunakan produk kimia.

    Adapun manfaat agar kulit putih bersih dengan mengamalkan doa tersebut bukanlah hal yang baru. Kaum wanita zaman dahulu telah mempraktikkan cara ini sejak dulu. Berikut adalah beberapa manfaat berdoa kulit putih bersih:

    • Menenangkan Hati

    Berdoa memiliki kekuatan untuk menenangkan hati dan pikiran. Kondisi yang tenang dan damai dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan yang berdampak buruk pada kesehatan kulit.

    • Meningkatkan Kepercayaan Diri

    Kulit yang cantik dan sehat dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Berdoa dapat membantu untuk memperoleh rasa percaya diri yang lebih baik. Maka dari itu, Anda akan merasakan kepercayaan diri pada diri Anda dengan sering berdoa.

    • Merawat Kulit dari Dalam

    Berdoa agar kulit putih bersih dapat membantu merawat kulit dari dalam. Dengan merawat kulit dari dalam, kulit akan terlihat lebih sehat dan cantik secara alami.

    Oleh karena itu dengan mengamalkan doa-doa dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan rutin pada pagi dan malam hari, akan menimbulkan efek yang sangat baik bagi Anda. Hal ini adalah salah satu cara agar kulit putih alami.

    Sisipkan doa-doa yang baik sebagai meditasi diri untuk merelaksasikan tubuh dan memanggil aura positif di dalam diri. Dan yakinkan juga di dalam diri, bahwasannya Anda bisa merubah kecantikan Anda dengan mengamalkan doa agar kulit putih bersih.

    Namun, meskipun doa-doa dapat memiliki pengaruh positif pada kepercayaan diri dan pandangan tentang kecantikan, penting untuk diingat bahwa kecantikan sejati juga berasal dari kesehatan kulit dan perawatan yang tepat.

    Penutup

    Mengamalkan doa-doa tertentu sebagai bagian dari rutinitas kecantikan dapat memberikan efek positif pada pandangan diri dan kepercayaan diri.

    Namun, kombinasikanlah praktik-praktik spiritual ini dengan perawatan kulit yang sehat dan pengetahuan yang akurat tentang perawatan kulit.

    Kecantikan alami yang sejati bersumber dari kesehatan dan kebahagiaan dalam tubuh, jiwa, dan pikiran. Serta tidak lupa juga selalu mengamalkan doa agar kulit badan putih bersih, dengan begitu Anda akan memiliki aura yang cantik dengan mengamalkan doa agar kulit putih bersih tersebut.

  • Bacaan dan Fadhilah Sholawat Nariyah 41x hingga 100x

    Bacaan dan Fadhilah Sholawat Nariyah 41x hingga 100x

    Fadhilah sholawat Nariyah 41x sangatlah besar. Untuk itu, sebagai umat muslim yang taat dianjurkan untuk membaca sholawat tersebut dengan konsisten.

    Seperti yang kita ketahui bahwa sholawat merupakan amalan yang pasti diterima oleh Allah SWT. Entah itu diamalkan dengan pamer atau secara ikhlas, amalan tersebut masih bisa diterima oleh Allah SWT.

    Hal tersebut merupakan salah satu keistimewaan dari bersholawat. Nah, sholawat Nariyah merupakan satu diantara banyaknya sholawat yang sering diamalkan oleh umat muslim Indonesia dan juga termasuk sholawat populer.

    Lantas, bagaimana bacaan dan fadhilah sholawat Nariyah 41x hingga 100x? Yuk, ikuti artikel berikut ini sampai habis untuk tahu jawabannya!

    Apa itu Sholawat Nariyah?

    Nariyah berasal dari bahasa Arab yaitu Naar yang artinya api. Jadi, menurut KH Husein Ilyas, Nariyah artinya adalah pendorong untuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

    Sholawat Nariyah yang asli diciptakan oleh ulama yang berasal dari Maroko bernama Syaikh Ahmad At-Tazi Almaghribi. Ada yang menyebut sholawat Nariyah dengan sholawat Taziyah, sholawat Tafrijiyah, dan sholawat Kamilah.

    Namun, sebagian ulama wilayah barat atau tepatnya di Maroko menamakan sholawat tersebut dengan sholawat Nariyah

    Hal tersebut dikarenakan ketika mereka mempunyai hajat yang penting atau menolak bala, mereka berkumpul bersama dalam satu majelis, kemudian membaca sholawat tersebut sebanyak 4444x dan terbukti hajat mereka segera terkabul.

    Di Indonesia sendiri sholawat Nariyah sering diamalkan saat musim haji, lebih tepatnya ketika keluarga mereka sedang berhaji biasanya meminta sanak saudara ataupun tetangga terdekat untuk minta bantuan membacakan sholawat Nariyah sebanyak 4444x.

    pengamalan tersebut biasanya dimaksudkan untuk meminta hajat berupa permintaan agar orang yang melaksanakan ibadah haji tersebut di Makkah diberi keselamatan, dijauhi dari bahaya dan dapat kembali ke rumah dalam keadaan selamat.

    Dalil Tentang Anjuran untuk Bersholawat

    Sebenarnya tidak ada dalil yang menganjurkan untuk mengamalkan sholawat Nariyah, namun terdapat ayat tentang bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang tercantum di dalam surat Al Ahzab ayat 56, bunyinya adalah berikut ini:

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    Artinya: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al Ahzab: 56).

    Bacaan Sholawat Nariyah

    Bacaan Sholawat Nariyah

    Berikut ini adalah bacaan Arab sholawat Nariyah beserta arti dan latinnya:

    اللهمَّ صلِّ صلاة كاملةً و سلمّ سلاماً تامّا على سيّدنا محمّدنِ الّذي تنْحلّ به العقدُ وتنفرجُ بهِ الكربُ وتُقْضَي بهِ الحوائجُ وتنالُ بهِ الرّغائبُ ِ و حسن الخواتم ويستسقى الغمامّ بوجهه الكريم وعلى آلهِ و صحبهِ فى كلِّ لمحةٍ و نفسٍ بعدد كلِّ معلومٍ لك

    Latin: Allahumma Shalli Sholatan  kaamilatan wasallim salaaman taamman ‘ala sayyidina muhammadinil ladzi tanhallu bihil uqadu watan fariju bihin qurabu watuqdho bihil hawaiju watunalu bihir raghoibu wahusnul khowatimi wayustasqol ghomamu biwajhihil karimi wa ‘ala alihi wa shahbihi fi kulli lamhatin wanafasin bi’adadi kulli ma’lumil laka.

    Artinya: Ya Allah, limpahkanlah sholawat yang sempurna dan kesejahteraan yang paripurna kepada junjungan kami, Muhammad SAW, yang dengan perantaraan beliau itu dilepaskan semua ikatan, dilenyapkan segala kesusahan, ditunaikan segala kebutuhan, diperoleh segenap keinginan, dicapai akhir yang baik, dan diberi minum dari awan berkat wajahnya yang mulia, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, dalam setiap kejapan mata dan tarikan nafas,sebanyak jumlah pengetahuan yang Engkau miliki.

    Baca juga: 7 Doa untuk Suami yang Sedang Bekerja agar Selamat dan Terhindar dari Kesulitan, Yuk Amalkan!

    Jumlah Bilangan dan Fadhilah Sholawat Nariyah 41x

    Sebenarnya, sholawat apa pun bisa diamalkan dalam jumlah bilangan berapa pun. Namun, memperbanyak jumlah bilangan sholawat jauh lebih utama dan berhak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.

    Nantinya, pengamal tersebut berhak menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW di akhirat kelak.

    Khusus untuk sholawat Nariyah, sebaiknya dilaksanakan sebanyak 41x secara rutin setiap hari. Tentunya akan mendapatkan banyak keutamaan.

    Imam Al Qurthubi memberikan penjelasan lebih lanjut tentang fadhilah sholawat Nariyah 41x, sebagai berikut:

    “Barang siapa membaca shalawat ini (al-Nariyah/al-Tafjiriyah) 41 kali, 100 kali atau lebih, Allah akan melapangkan kesulitannya, menghilangkan bebannya, memudahkan urusannya, menyenangkan menurut kadar imannya, meninggikan derajatnya, membaguskan keadaannya, meluaskan rejekinya, membukakan pintu-pintu kebaikan, dan melindunginya dari kehancuran sepanjang tahun, menyelamatkan dari musibah penderitaan dan, oleh semua makhluk, dan dikabulkannya segala doa.”

    Tentu saja, hal ini bisa menjadi salah satu sholawat yang berisikan doa untuk menemani kita selama berada di dunia.

    Selagi masih diberikan umur yang panjang dan diberi kesehatan, alangkah lebih baiknya mari perbanyak sholawat Nariyah. Setidaknya, sholawat ini dapat menjadi sarana bagi kita semua untuk meminta kepada Allah SWT agar hajat kita cepat dikabulkan oleh-Nya.

    Baca juga: Niat & Tata Cara Sholat Sunnah Sebelum Jumat (Qobliyah dan Badiyah)

    Tata Cara Pelaksanaan Sholawat Nariyah

    1. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali

    Jika kamu sedang mengalami kesusahan seperti kehilangan barang, dianjurkan untuk membaca sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Dengan begitu, Insya Allah barang yang tadinya hilang akan segera kembali.

    2. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 444 kali

    Supaya rezeki kamu lancar, dimudahkan untuk mencapai hajat yang besar dan dijauhkan dari gangguan yang jahat, bacalah sholawat Nariyah sebanyak 444 kali.

    3. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 40 kali

    Membaca sholawat Nariyah sebanyak 40 kali rutin setiap hari dapat bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan, menghilangkan segala macam kesusahan, menerangkan dan meluruhkan hati.

    4. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 21 kali

    Jika kamu ingin terhindar dari musibah dan malapetaka apapun, kamu bisa membaca sholawat Nariyah sebanyak 21 kali setiap selesai sholat Subuh dan Maghrib.

    5. Membaca sholawat Nariyah sebanyak 11 kali

    Setelah menunaikan sholat wajib lima waktu dianjurkan untuk membaca sholawat Nariyah sebanyak 11 kali supaya dijauhkan dari musibah atau bala lahir dan batin.

    6 Keutamaan Membaca Sholawat

    Dirangkum dari berbagai sumber, berikut keutamaan sholawat secara umum bagi pembacanya:

    1. Menghilangkan kegelisahan

    Diawali dengan memuji nama Allah SWT dan dilanjutkan dengan membaca sholawat, maka hal tersebut bida terhindari dari rasa khawatir dan kegelisahan.

    Bahkan melantunkan sholawat, Allah SWT akan membantu menghilangkan rasa kebingungan dan kepanikan terhadap masalah yang sedang dihadapi.

    Jika kamu rutin membaca sholawat, hatimu pun akan menjad lebih damai dan tentram.

    2. Memberi keselamatan

    Selain menghilangkan kegelisahan, bagi siapa saja yang erring mengamalkan sholawat akan mendapatkan banyak pertolongan dan perlindungan dari segala macam marabahaya.

    Tak hanya itu, membaca sholawat juga dapat menghilangkan kesusahan, kesempitan dan hal-hal yang menyakitkan.

    3. Memberikan energi positif dan kebahagiaan

    Seorang umat muslim yang rutin membaca sholawat setiap hari, maka Allah SWT akan memberikannya ketentraman dan kebahagiaan yang senantiasa menyertainya.

    Dengan mengamalkan sholawat dapat membuat jiwa seseorang lebih tenang dan merasa bahagia. Jadi, kesimpulannya adalah amalan sholawat dapat menjadi salah satu cara agar mendapatkan kebahagiaan atas ridho dan pertolongan oleh Allah SWT.

    4. Pembuka rezeki tiada putus

    Allah SWT akan mengangkat derajat dan membukakan lebar pintu rezeki untuk siapa saja yang rajin membaca sholawat.

    5. Membuat masalah menjadi ringan dan menghilangkan kesedihan

    Jika kamu rutin membaca sholawat setiap hari niscaya mampu menghilangkan rasa sedih yang sedang dirasakan, meringankan masalah yang sedang dihadapi dan bisa terselesaikan dengan mudah. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Jabir dan Ibnu Mundah, Rasulullah SAW bersabda:

    Artinya: “Siapa membaca selawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain): Siapa membaca selawat kepadaku 100 kali maka Allah akan menjabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat dan 30 di dunia. Dan hadis Rasulullah yang mengatakan; perbanyaklah selawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan.”

    6. Penawar penyakit hati dan yang menjangkiti badan

    Keutamaan yang terakhir adalah sholawat bisa dijadikan penawar penyakit hati dan penyembuh penyakit yang menjangkiti badan.

    Hal tersebut dikarenakan yang dapat menyembuhkan segala bentuk penyakit, entah itu penyakit badan ataupun hati adalah hanya Allah SWT.

    Adapun dengan rutin membaca sholawat setiap hari merupakan bentuk wasilah kepada Nabi Muhammad SAW agar Allah SWT mengabulkan doa dan menyembuhkan segala penyakit.

  • 13 Ayat dan Hadis Tentang Ibu, Kunci Surgamu!

    13 Ayat dan Hadis Tentang Ibu, Kunci Surgamu!

    Hadis tentang ibu patut dijadikan pegangan bagi umat Islam untuk menghormati dan memuliakan ibu yang telah melahirkan mereka ke dunia.

    Di dalam agama Islam, ibu ditempatkan di posisi yang paling mulia. Bahkan anak diwajibkan terlebih dahulu hormat kepada ibu sebelum ayahnya. Hal tersebut tercantum di dalam surat Al-Luqman ayat 14.

    Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa betapa mulianya seorang ibu di dalam agama Islam. Nah, berikut ini kumpulan hadis tentang ibu yang harus diamalkan oleh setiap umat muslim:

    13 Ayat dan Hadis Tentang Ibu untuk Berbakti Kepada Ibu

    1. Berbuat baik kepada ibu

    إنَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ

     يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

    Artinya: Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat. (HR. Ibnu Majah).

    Baca juga: Amalkan Doa agar Tidak Malas dan Kiat Hidup Lebih Produktif

    2. Surga berada di bawah telapak kaki ibu

    عن معاوية بن جاهمة السلمي، أن جاهمة رضي الله عنه جاء إلى

    النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أردت أن

    أغزو وقد جئت أستشيرك . فقال : هل لك من أم؟ قال نعم. قال :

    فالزمها فإن الجنة تحت رجليها

    Artinya: Dari Mu’awiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. la berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan saya sekarang memohon nasihat kepadamu?” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Kamu masih punya ibu?” Mu’awiyah menjawab, “Ya, masih. Rasulullah SAW bersabda, “Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya!”

    3. Pentingnya berbakti kepada ibu yang disebutkan sebanyak 3 kali

    Hadis tentang ibu ini menunjukkan betapa berbakti pada ibu ditekankan dalam hadis di bawah ini.

    جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

    مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » قَالَ ثُمَّ مَنْ

    قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

    Artinya: Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    4. Sayang kepada ibu sebagai rasa syukur

    Hadis tentang ibu yang menunjukan kita agar bersyukur pada Allah SWT dan memiliki Bapak Ibu yang telah merawatnya.

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ

    ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Lukman ayat 14).

    Baca juga: 11 Doa Minta Kesembuhan dari Sakit, Bersabar dan Percaya PadaNya

    5. Perintah meminta ampun kepada ibu

    إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ .

    فمروه فليستغفرْ لكم

    Artinya: Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian. (HR. Muslim).

    6. Sebagai doa yang sangat mustajab

    Hadis tentang ibu berikutnya memberitahu betapa mustajabnya doa seorang ibu.

    ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

    وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

    Artinya: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa baik orangtua kepada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

    7. Mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbakti kepada ibu

    عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ،

    وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ

    ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما

    استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي

    لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

    Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang lelaki datang menemuinya dan berkata, “Aku meminang seorang perempuan, tetapi ia menolakku. Lelaki lainnya meminangnya, lantas ia menerimanya dan menikah dengannya. Aku pun cemburu, lantas perempuan itu kubunuh. Akankah tobatku diterima?”

    Ibnu Abbas balik bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Ia menjawab, “Tidak,” Ibnu Abbas pun berkata kepadanya, “Bertobatlak kepada Allah dan lakukanlah yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

    Atha’ bin Yasar yang menuturkan riwayat ini dari Ibnu Abbas pun datang kepadanya. Ia berkata, “Kenapa engkau bertanya apakah ibunya masih hidup?” Ibnu Abbas menjawab, “Karena aku tidak tahu amal baik lain yang lebih mendekatkan orang kepada Allah selain berbakti kepada ibunya.” (HR. Bukhari).

    8. Meningat jasa orang tua yang telah merawat kita sejak kecil

    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

     Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil. (QS. Al Isra ayat 24).

    9. Berbakti kepada orang tua setelah meninggal

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْئٌ أَبِرُّهُمَا

    بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ نَعَمْ، خِصَالٌ أَرْبَعٌ: الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالْإِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ

    عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ رَحِمَ لَكَ إِلاَّ مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهٰذَا

    الَّذِى بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا. (رواه ابن ماجه عن أبي أسيد).

    Artinya: “Masih adakah kebaktian kepada kedua orang tuaku, setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, masih ada empat perkara, mendoakan ibu bapak itu kepada Allah, memintakan ampun bagi mereka, menunaikan janji mereka, dan meng-hormati teman-teman mereka serta menghubungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kamu kecuali dari pihak mereka. Maka inilah kebaktian yang masih tinggal yang harus kamu tunaikan, sebagai kebaktian kepada mereka setelah mereka meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah).

    10. Hadis mendoakan orang tua yang sudah meninggal

    عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    Artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim).

    11. Melarang durhaka kepada kedua orang tua

    قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗاۖ وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُم مِّنۡ إِمۡلَٰقٖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكُمۡ وَإِيَّاهُمۡۖ وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَۖ وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ

    Artinya: “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya),” (QS. Al-Anam ayat 151).

    12. Berbakti kepada orang tua yang telah meninggal

    بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا »

    Artinya: “Wahai Rasulullah, apa masih ada cara berbakti kepada orang tua setelah meninggal?” Beliau menjawab: “Ya, dengan mendoakan, meminta ampun untuknya, melaksanakan wasiatnya, menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali jalan mereka dan memuliakan teman-temannya,” (HR. Abu Daud).

    13. Berbakti kepada ibu yang telah mengandung

    وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

    Artinya: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (QS. Al-Ahqaf ayat 15).

    Dengan mengetahui hadis tentang ibu dan ayat-ayat yang mejelaskan kemuliaan seorang ibu, kamu bisa lebih banyak mengamalkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Bacaan Tahiyat Awal & Akhir Lengkap Arab, Latin yang Shahih

    Bacaan Tahiyat Awal & Akhir Lengkap Arab, Latin yang Shahih

    Bagaimana bacaan tahiyat akhir bagi seseorang yang melaksanakan ibadah sholat? Apakah bacaannya akan berbeda antara tahiyat awal dan juga akhir? Poin ini sangat penting untuk kita pelajari, apalagi bagi seorang muslim.

    Bagi sebagian orang, ada yang belum tahu kalau sebenarnya tahiyat dan juga tasyahud memiliki arti yang sama. Keduanya hanya berbeda penyebutan saja, tetapi secara garis besar maksudnya sama.

    Namun, bagaimana bacaan tahiyat yang benar? Kita pasti penasaran seperti apa bacaan yang bagus dan membuat ibadah semakin istiqomah. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk terus mau belajar dan belajar.

    Bacaan Tahiyat Awal

    Apa itu tasyahud awal dan akhir? Tahiyat atau tasyahud di dalam salat ada yang dibunyikan dua kali ada satu kali. Kenapa berbeda? Karena tahiyat bisa dilafalkan di awal dan juga akhir, sehingga seringkali dikenal sebagai tahiyat awal dan tahiyat akhir.

    Jika kita melaksanakan sholat 5 waktu secara penuh, pasti tahu kalau jumlah rakaat sholat berbeda-beda. Apabila kita melaksanakan sholat subuh yang hanya dua rakaat saja, maka bacaan tahiyat hanya dijalankan sebanyak 1x.

    Sedangkan, jika kita melakukan salat dengan jumlah rakat 3-4. Maka, ada dua bacaan tahiyat awal dan juga akhir.

    Menurut para alim ulama yang sudah terbukti keshahihannya, berikut bacaan tahiyat awal:

    1. Berdasarkan Pendapat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu

    كنا نقولُ: التَّحية في الصلاةِ، ونسمِّي، ويسلِّم بعضُنا على بعض، فسمعه رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقال: قولوا: التَّحِيَاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

    “Dahulu kami membaca tahiyyat dalam salat, menyebut nama Allah kemudian mengucapkan salam satu sama lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendengar hal tersebut lalu beliau mengatakan: Ucapkanlah

    Latin: “At tahiyyaatu lillaah was shalawaatu wat thayyibaatu. As salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullah wabarakaatuh. As salaamu ‘alainaa wa ‘ala ibaadillahis shaalihiin. Asyhadu an laailaaha illallah, wa asy-hadu anna muhammadan abduhu wara suuluh”

    Artinya: (Segala ucapan selamat, salawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Mudah-mudahan salawat serta salam terlimpahkan kepadamu wahai engkau wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan salawat dan salam terlimpahkan pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).” (HR. Bukhari no. 1202, Muslim no. 402)

    Baca juga: 2 Doa Sebelum Tidur dan Amalan Sunnah Nabi Muhammad SAW (Panjang & Pendek)

    2. Menurut Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu

    وإذا كان عندَ القعدةِ فليكنْ مِن أوَّل قولِ أحدِكم: اَلتَّحِيَاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لله السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَاالنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أَن مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُوْلُهُ

    “Jika kalian duduk (tasyahud) dalam salat, hendaknya yang pertama kali kalian baca adalah:

    Latin: “At tahiyyat at thayyibat ash shalawaatu lillah, As salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullah wabarakatuh, As salaamu ‘alaina wa ‘alaa ibaadillahish shalihin. Asy-hadu an laa ilaaha illallah wa asy-hadu anna muhammadan rasuulullah”

    Artinya: (Segala penghormatan, kebaikan dan shalawat hanya milik Allah. Mudah-mudahan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).” (HR. Muslim no. 404)

    3. Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu (Digunakan Masyarakat Indonesia)

    Bacaan Tahiyat Awal yang satu ini berstatus shahih dan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia saat ini.

    ان رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يعلمنا التشهد كما يعلمنا السورة من القرآن فكان يقول:

    ((اَلتَّحِيَاتُ المُبَارَكَاتُ، الصَلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَينَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَالِحِين، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلّا الله، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله))

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kami bacaan tasyahud sebagaimana mengajarkan bacaan surat dalam Alquran, beliau mengucapkan:

    Latin:At tahiyaatu mubaarokaatu sholawaatu thoyyibaatu lillah, Assalamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatullahi wabarokaatuh, Assalamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahi shoolihiin, Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah.”

    Artinya: (Segala ucapan selamat, shalawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Mudah-mudahan shalawat dan salam terlimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan barakah-Nya. Mudah-mudahan shalawat dan salam terlimpah pula kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)ز” (HR. Muslim no. 403)

    Baca juga: Doa Ketika Ada Petir Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya (Shahih)

    Bagaimana Bacaan Tahiyat Akhir Lengkap?

    Nah, ketika melakukan sholat dengan rakaat lebih dari dua. Maka, kita harus membaca dua tahiyat, di awal dan juga bacaan tahiyat akhir. Karena hukum ini sudah pasti dan harus dilaksanakan bagi seseorang yang menjalankan sholat.

    Lantas, apakah bacaan tahiyat awal dan akhir sama? Kita hanya perlu menambahkan beberapa doa tambahan setelah bacaan tahiyat awal. Sesuai dengan Dalil Hadits Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu anhu, ia berkata:

    إنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم خرَج علينا، فقُلْنا: يا رسولَ اللهِ، قد علِمْنا كيف نُسلِّمُ عليك، فكيف نُصلِّي عليك؟ قال: قولوا: اللهمَّ صلِّ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما صلَّيْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ، اللهمَّ بارِكْ على محمَّدٍ، وعلى آلِ محمَّدٍ، كما بارَكْتَ على آلِ إبراهيمَ، إنَّك حميدٌ مجيدٌ

    “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar bersama kami, lalu kami berkata: Wahai Rasulullah kami sudah tahu cara salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Nabi menjawab: ucapkanlah:

    “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shalayta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhamamd kamaa baarakta ‘ala aali Ibrahim, innaka hamiidum majid”

    (Ya Allah semoga shalawat terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana shalawat terlimpah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim,Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.Ya Allah semoga keberkahan terlimpah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)” (HR. Bukhari no. 6357, Muslim no. 406)

    Nah, itulah bacaan tahiyat akhir dari berbagai pendapat ahli agama. Hukum membaca tahiyat di dalam sholat adalah wajib. Jadi, kita tidak boleh meninggalkannya.

  • Doa Setelah Sholat Tahajud yang Mustajab: Arab, Latin dan Tata Caranya

    Doa Setelah Sholat Tahajud yang Mustajab: Arab, Latin dan Tata Caranya

    Setiap manusia pasti memiliki keinginan atau hajat. Bagi seorang muslim yang ingin segala keinginannya terpenuhi, Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengerjakan sholat di sepertiga malam serta amalan penyempurnanya yakni doa setelah sholat Tahajud.

    Doa merupakan ungkapan hati serta sebagai sarana dialog pribadi antara hamba dengan Tuhan-Nya.  Melalui doa, seseorang dapat berkomunikasi dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT, memohon pertolongan-Nya dan meminta petunjuk-Nya dalam setiap aspek kehidupan.

    Doa setelah sholat Tahajud sendiri juga menjadi penutup dari serangkaian ibadah malam yang dilakukan, dimana seorang muslim menyandarkan harapan, meminta permohonan dan berserah diri kepada Allah SWT.

    Untuk mengetahui urutan serta tata cara sholat Tahajud yang benar, mari simak artikel di bawah ini.

    Tata Cara Sholat Tahajud yang Benar

    Sebelum mengetahui bacaan doa setelah sholat Tahajud serta dzikir penyertanya, ada baiknya kita mengetahui tata cara sholat Tahajud yang benar.

    Sebelum mengetahui urutan tata cara sholat Tahajud, berikut niat yang perlu dilafalkan di dalam hati.

    اُصَلِّى سُنَّةً التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Ushallii sunnatan tahajjudi rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’alla.

    Artinya: “Aku niat salat sunah Tahajud 2 rakaat, menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.”

    Berikut urutan tata cara sholat Tahajud yang benar:

    Rakaat Pertama

    • Membaca niat di dalam hati
    • Mengucapkan takbir
    • Membaca doa Iftitah (sunnah)
    • Membaca surah Al-Fatihah (wajib dibacakan)
    • Membaca salah satu surat dalam Al-Qur’an yang dikuasai
    • Rukuk dan membaca doa rukuk
    • I’tidal dan membaca doa i’tidal
    • Sujud pertama dan membaca doa sujud
    • Duduk di antara 2 sujud dan membaca doanya
    • Sujud kedua dan membaca doa sujud
    • Berdiri kembali untuk melanjutkan ke rakaat kedua

    Rakaat Kedua

    • Membaca surah Al-Fatihah (wajib dibacakan)
    • Membaca salah satu surah dalam Al-Qur’an yang dikuasai
    • Ruku dan membaca doa rukuk
    • I’tidal dan membaca doa iktidal
    • Sujud pertama dan membaca doa sujud
    • Duduk di antara 2 sujud dan membaca doanya
    • Sujud kedua dan membaca doa sujud
    • Tahiyat akhir dan membaca doa tahiyat akhir
    • Gerakan salam
    • Doa setelah sholat tajahud

    Dzikir dan Doa Setelah Sholat Tahajud  yang Mustajab

    1. Membaca Istighfar 3x

     أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمِ الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    Astaghfirullaahal-Adziim, Alladzii Laa Ilaaha Illaa Huwalhayyul-Qayyuum, Wa Atuubu Ilaiih.

    Artinya : “Saya mohon ampun kepada allahyang maha besar, tidak ada tuhan melainkan dia, yang maha hidup yang terus-menerus mengurus makhluknya, dan saya bertobat kepadanya.”

    Baca juga: Niat Sholat Taubat, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaannya

    2. Membaca Laa Ilaaha illallah

     لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر

    “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai-in qodiir.

    Artinya: Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    3. Membaca Tasbih, Tahmid, Tahlil  dan Takbir

    Lanjutkan dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali. Berikut bacaanya:

    سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّه

    Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah. Dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Allah Mahabesar, dan tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,”

    4. Membaca Sayyidul Istighfar

     اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتِنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلِيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

    Allahumma anta rabbii laa ilaha Illa anta khalaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika, wawa’dika mas tatho’tu, a’dzubika min syarri maa shona’tu, abuu ulaka bini’matika ‘alayya wa abu u bidzanbi faghfirli  fainnahu laa yaghfiru dzunuuba Illa anta.

    Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tiada tuhan selain Engkau. Engkau-lah yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku tetap pada ikatan-Mu dan perjanjian-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat. Aku mengakui dosaku kepada-Mu, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku. Maka ampunilah aku, sungguh tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau”.

    5. Membaca Doa Setelah Sholat Tahajud

    Setelah selesai membaca dzikir, diriwayatkan dalam hadis Bukhori, seorang muslim dianjurkan untuk membaca doa tersebut:

    اَللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

    Allâhumma rabbana lakal hamdu. Anta qayyimus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta malikus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta nûrus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haq. Wa wa’dukal haq. Wa liqâ’uka haq. Wa qauluka haq. Wal jannatu haq. Wan nâru haq. Wan nabiyyûna haq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haq. Was sâ’atu haq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. Fagfirlî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a’lantu, wa mâ anta a’lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa lâ haula, wa lâ quwwata illâ billâh.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah.”

    Nah, Itulah urutan tata cara sholat Tahajud yang benar serta doa setelah sholat Tahajud yang mustajab untuk diketahui.

    Semoga bermanfaat ya. Assalamualaikum wr. Wb.

  • 8 Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah dan Amalan di Akhir Ramadhan

    8 Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah dan Amalan di Akhir Ramadhan

    Setiap muslim yang ingin mendapatkan keberkahan bulan suci dan sebagai upaya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT sebaiknya membaca doa akhir Ramadhan.

    Beberapa orang mungkin juga penasaran apa yang dilakukan Rasul di akhir Ramadhan? Salah satunya tentu dengan membacakan doa kepada Allah SWT untuk memohon ampun atas kelalaian yang pernah dilakukan.

    Oleh karena itu, sebagai umat Nabi Muhammad SAW sudah sepatutnya kita mengikuti setiap ajaran yang telah dicontohannya. Termasuk doa Ramadhan di akhir bulan sebelum perpindahan ke bulan Syawal.

    Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    Ramadhan menjadi bulan mulia yang ditunggu kedatangannya oleh umat Islam dengan penuh kebahagiaan. Sehingga perlu ditutup dengan sesuatu yang mulia dan mengharapkan kesempatan di waktu mendatang untuk berjumpa kembali.

    Membaca doa tutup puasa Islam di akhir bulan Ramadhan seakan menjadi sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Di mana, sudah sepatutnya kita mengikuti ajaran dengan turut mengamalkannya di akhir bulan Ramadhan.

    Berdasarkan beberapa sumber Islami, ada setidaknya 8 doa akhir Ramadhan arab dan artinya yang bisa kita ikuti, antara lain:

    1. Doa Akhir Ramdhan Pertama

    Doa Akhir Ramdhan Pertama

    Rasulullah SAW tidak pernah berhenti mengajarkan umatnya untuk selalu melakukan hal-hal baik yang menguntungkan. Salah satunya tercatat dari hadits akhir Ramadhan.

    أَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

    Allahumma laa taj’alhu aakhirol ‘ahdi min shiyaaminaa iyyaahu, fa’in ja’altahu faj’alnii marhuuman, wa laa taj’alnii mahruuman.

    Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadhan ini Bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhir bagiku, maka jadikan lah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku orang yang Engkau murkai.”

    Baca juga: 8 Doa Mohon Perlindungan dan Keselamatan pada Allah SWT

    2. Doa Kedua

    Apa doa Ramadhan selanjutnya yang bisa Rasulullah SAW panjatkan di akhir bulan suci ini? Nabi Muhammad SAW mengamalkan sebuah doa agar segala amal ibdahnya selama menjalankan puasa diterima oleh Allah SWT.

    Doanya bisa kita ikuti sebagai berikut:

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ بِالشُّكْرِ وَ الْقَبُوْلِ عَلَى مَا تَرْضَاهُ وَ يَرْضَاهُ الرَّسُوْلُ مُحْكَمَةً فُرُوْعُهُ بِالأُصُوْلِ بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ‏

    Allahummaj’al shiyamii fiihi bisysyukri wal qabuuli ‘alaa maa tardhaahur Wayardlaahurrasuulu muhkamatan furuu’uhu bil ushuli bihaqqi sayyidinaa muhammadin wa aalihit Al-Thaahiriin wal hamdu lillahi rabbil’aalamin.

    Artinya:

    ”Ya Allah, terimalah puasaku di bulan ini dengan rasa syukur. Jadikan lah puasaku ini mendatangkan keridhaan-Mu dan keridhaan para Rasul-Mu.

    3. Doa Ketiga

    اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا

    وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ

    Allahumma rabbana taqabbal minna shalatana wa shiyamana wa ruku’ana wa sujudana wa qu’udana wa tadharru’ana wa takhasysyu’ana wa ta’abbudana wa tammim taqshirana ya Allah ya rabbal alamin.

    Artinya:

    “Ya Allah, terimalah shalat kami, puasa kami, rukuk kami, sujud kami, duduk rebah kami, kerendahdirian kami, kekhusyukan kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama kami menunaikan shalat. Ya Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

    Pada doa satu ini Rasulullah SAW mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berharap segala amal ibadahnya dapat diterima secara keseluruhan. Utamanya untuk puasa, sholat, hingga pengabdian yang dilakukan atas nama Islam.

    4. Doa Memohon Ampunan

    Tidak pernah berhenti memohon ampun kepada Allah SWT. Dari sekian banyak doa akhir Ramadhan yang Rasulullah SAW contohnya, 90% diantaranya memohon ampunan kepada Allah SWT sebagaimana dalam doa berikut ini.

    Salah satunya dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah R.A

    ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?.” Kemudian, beliau menjawab:

    اللهم انك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا يا كريم

    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna/Anni ya kariim.

    Artinya:

    “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun, dan menyukai memberikan pengampunan kepada hamba-Nya, maka ampunilah kesalahan kami. Wahai Dzat Yang Maha Mulia”.

    5. Doa Mendapatkan Surga Allah dan Terhindar dari Api Neraka

    Renungan akhir Ramadhan paling baik adalah mengingat dosa yang pernah kita lakukan. Sehingga banyak sekali diantara doa dari Rasulullah SAW yang mengajak umatnya untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampunan.

    Namun, tidak hanya itu saja, ada juga doa yang dipanjatkan untuk memohon surga Allah dan terhindar dari api neraka. Doa ini dilansir dari NU Online:

    Asyhadu an laa ilaaha illallah, astaghfirullah, nas’alukal jannata wa na’udzubika minan nar.

    Artinya: 

    “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku memohon ampunan pada Allah, aku meminta surga dan meminta perlindungan dari neraka.”

    Baca juga: Cara Menjamak Sholat Dzuhur di Waktu Ashar dan Syarat Sahnya

    6. Doa agar Puasa dan Sholat Diterima Allah SWT

    Kapan baca doa akhir Ramadhan yang baik? Rasulullah SAW menyarankan bagi setiap muslim untuk terus mendekat di 10 akhir bulan Ramadhan. 

    Namun, hari paling menyedihkan dan tidak ingin Rasulullah SAW tinggalkan adalah hari terakhir bulan Ramadhan.

    Sehingga, kitab isa mulai membaca doa akhir Ramadhan ini sejak 10 akhir bulan suci berlangsung. Sehingga nikmat dan kekhusu’ an akan terbentuk sehingga kitab isa menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah SWT.

    َبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 

    Robbanaa taqobbal Minnaa Shiyaamana waqiyamana wa ruku’ana wa sujudanaa wa tilaawatanaa Innaka Antas Samii’ul ‘Aliim.

    Artinya:

    “Ya Tuhan kami, terimalah puasa kami, sholat kami, rukuk kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    7. Doa Memohon Rahmat dan Taufiq

     اَللَّهُمَّ غَشِّنِيْ فِيْهِ بِالرَّحْمَةِ وَ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ التَّوْفِيْقَ وَ الْعِصْمَةَ وَ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنْ غَيَاهِبِ التُّهَمَةِ يَا رَحِيْمًا بِعِبَادِِ الْمُؤْمِنِيْنَ

    Allaahumma ghasysyinii fiihi birrahmati warzuqnii fiihit tawfiiqa wal ‘ismata wa thahhir qalbii min ghayaahibit tuhmati yaa rahiiman bi’ibaadihil mukminiin.

    Artinya:

    “Ya Allah, lingkupilah aku di bulan ini dengan rahmat-Mu, anugrahilah aku taufik dan penjagaan-Mu. Sucikanlah hatiku dari benih-benih fitnah (kebencian), wahai yang Maha Pengasih terhadap hamba-Nya yang beriman.”

    Rasulullah SAW membaca doa akhir Ramadhan ini tepat di tanggal 29. Di mana, isi permohonannya ingin Allah SWT memberikan Rahmat serta mensucikan diri manusia ini sebelum memasuki hari raya Idul Fitri.

    8. Doa Hari ke 28 Bulan Ramadhan

    Selanjutnya, Rasulullah di tanggal 28 Ramadhan juga membacakan doa khusus dengan permohonan agar Allah SWT mengabulkan setiap doa-doa yang dipanjatkan.

    اَللَّهُمَّ وَقُرْحَفِّيْ فِيْهِ مِنَ النَّوَافِلَ وَأَكْرِمْنِي فِيْهِ بِاحْضَارِ الْمَسَائِلِ وَقَرَّبَ فِيْهِ وَسِيْلَتِي إِلَيْكَ مِنْ بَيْنِ الْوَسَائِلِ يَا مَنْ لَا يَشْغَلُهُ الْحَاحُ الْمُلِحِينَ.

    Allahumma waqqir hazzii fihi min an-nawafila wa akrimnii fiihi bi ihdaari al-masaaila wa qarraba fiihi wasiilatii ilaika min baini al-wasaa’ili ya man laa yasyghulhu ilhaahu al-mulhiin.

    Artinya:

    “Ya Allah, penuhkanlah hidupku dengan amalan-amalan sunnah, dan muliakanlah Aku dengan terkabulnya semua permintaan. 

    Dekatkanlah perantaraan ku kepada-Mu di antara semua perantara, wahai yang tidak tersibukkan oleh permintaan orang-orang yang meminta.”

    Amalan di Akhir Ramadhan, Sebaiknya Tidak Ditinggalkan

    Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang Muslim. Namun, dibalik ibadah wajib ini, kita juga bisa mengikuti sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

    Di mana, ketika kita melaksanakannya akan membawa kebaikan dan meningkatkan amalan ibadah, tetapi jika tidak dilakukan pun sebenarnya tidak menambah dosa-dosa. 

    Berikut beberapa amalan di akhir Ramadhan yang bisa kita lakukan, antara lain:

    1. Kembali ke Masjid

    Fokus pada ibadah di saat detik-detik penutupan Ramadhan merupakan amalan mulia yang sebaiknya tidak ditinggalkan. Apabila tidak bisa bermuhasabah di dalam masjid untuk waktu yang lama, minimal melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

    Terutama bagi kaum laki-laki yang memang wajib untuk sholat berjamaah di masjid. Apalagi jika ditambah I’tikaaf di dalam masjid.

    Abu Sa’id Al-Khudri bahkan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melakukan I’tikaf di masjid sejak awal, pertengahan, dan paling sering 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Meskipun ibadah ini seringkali dianggap berat oleh kebanyakan muslim.

    2. Qiyamul Ramadhan

    Sering bolong saat sholat tarawih? Sebaiknya jangan lakukan itu jika sudah mendekati akhir bulan Ramadhan. Karena sholat ini sangat penting dilakukan. Apabila tidak sempat berjamaah, kita bisa melaksanakannya sendiri di rumah.

    3. Memohon Ampun kepada Allah SWT

    Bulan Ramadhan merupakan bulan yang suci dan penuh rahmat. Allah SWT sendiri berjanji bahwa di bulan Ramadhan ini seluruh pintu ampunan akan dibuka untuk hambanya.

    Hal ini membuat bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi seorang Muslim untuk kembali ke fitrah.

    4. Menyediakan Makanan Berbuka untuk Orang Membutuhkan

    Berbagi dalam keadaan apapun memang selalu Nabi Muhammad SAW ajarkan kepada umatnya. Mengingat bulan Ramadhan seluruh amal ibadah akan dilipatgandakan, maka sebaiknya jangan tinggalkan amalan berbagi ini, ya.

    Kita bisa membagikan makanan berbuka untuk orang membutuhkan. Baik tetangga, anak yatim, maupun seseorang yang tidak sengaja kita temui di jalan. Tanpa kita sadari, hal tersebut justru meluaskan pintu rezeki kepada kita.

    Pernyataan tersebut sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Shahih Nasa’I dan Tirmidzi.

    “Hal ini juga perlu dibiasakan, agar setelah selesai bulan Ramadhan, hal ini tidak hilang begitu saja. 

    “Barang siapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu”

    Nah, itulah beberapa contoh doa akhir Ramadhan yang dapat kita terapkan beserta amalan dari contoh Rasulullah SAW. Jangan lupa untuk terus berbuat baik, dan semoga kita masih dipertemukan lagi pada Ramadhan berikutnya.

  • Hukum Ayam, Sapi, dan Kambing Disembelih dengan Alat Modern dan Dibius

    Hukum Ayam, Sapi, dan Kambing Disembelih dengan Alat Modern dan Dibius

    Di dalam Islam, kita mengenal proses pemotongan hewan dengan cara disembelih menggunakan belati. Lalu, bagaimana hukum hewan disembelih dengan alat modern? Di sisi lain, ada juga hewan yang disembelih menggunakan bius.

    Bagaimana Islam menghukumi proses penyembelihan hewan yang demikian? Untuk bisa menemukan jawabannya, tentu kita harus menggunakan dalil yang membahas tentang ketentuan penyembelihan di dalam Islam terlebih dahulu.

    Untuk itu, mari kita simak bersama beberapa dalil yang menjelaskan tentang hukum penyembelihan di dalam Islam berikut ini!

    Hukum Hewan Disembelih dengan Alat Modern

    Dalam praktik modern, penggunaan peralatan canggih digunakan untuk mempercepat proses penyembelihan hewan. Dengan cara ini, manusia bisa menghemat waktu dalam proses penyembelihan hewan-hewan tertentu, terutama untuk jumlah yang besar.

    Selain itu, proses pembiusan sebelum hewan itu disembelih juga sudah banyak dilakukan saat ini. Lantas, apa hukum hewan disembelih dengan alat modern, terutama untuk hewan-hewan seperti ayam, kambing, dan sapi? 

    Sebelumnya, mari kita mengenal pembiusan atau proses membuat hewan tidak sadarkan diri sebelum disembelih sehingga hewan bersangkutan tidak akan memberi perlawanan. Dalam dunia perdagingan, proses tersebut dinamakan dengan stunning.

    Adapun proses stunning sendiri bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti menggunakan bahan kimia (suntik), kejut listrik, dan dipukul pada bagian tertentu sehingga menyebabkan hewan tidak sadarkan diri.

    Secara fiqih, proses stunning ini dijelaskan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaily dalam al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu. Di situ dijelaskan bahwa tidak ada halangan dengan melemahkan gerakan hewan tanpa penyiksaan.

    “Tidak ada halangan untuk menggunakan alat yang memperlemah gerakan hewan, dengan tanpa penyiksaan terhadapnya (untuk penyembelihan hewan). Untuk itu, Islam membolehkan menggunakan cara pemingsanan modern, yang tidak menimbulkan kematian sebelum penyembelihan…” (Syekh Wahbah Az-Zuhaily. Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu. Dar al-Fikr. Juz 4 hal. 800).

    Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa proses pelemahan gerakan atau pemingsanan dalam proses penyembelihan bukanlah sesuatu yang dilarang. Jadi kita bisa menggunakan metode-metode pemingsanan tertentu untuk melakukannya.

    Sementara menurut MUI (Majelis Ulama Indonesia) melalui fatwa Nomor 12 tahun 2009. MUI membolehkan proses stunning sebelum penyembelihan, tetapi dengan beberapa ketentuan, yaitu:

    • Stunning hanya menyebabkan hewan menjadi lemah, pingsan sementara dan tidak membuatnya mati.
    • Tujuan stunning adalah semata untuk mempermudah proses penyembelihan.
    • Proses penyembelihan menggunakan proses pemingsanan (stunning) tetap harus memotong khulqum (tenggorokan), mari’ (kerongkongan), dan pembuluh darah leher.
    • Stunning tidak boleh dilakukan untuk tujuan menyiksa. Jadi, kita harus segera menyembelih hewan usia hewan tidak sadarkan diri.
    • Alat yang dipakai untuk menyembelih tidak boleh digunakan bersama dengan hewan yang haram agar terjaga kesuciannya. 
    • Proses perlakuannya harus mendapatkan rekomendasi dan dipantau para ahli agar syarat di atas dapat terpenuhi. Dengan begitu, alatnya aman, dagingnya layak konsumsi, dan kualitasnya terjaga dalam konteks industri.

    Baca juga: 5 Hadist tentang Berbohong beserta Dampaknya pada Fisik dan Mental 

    1. Hukum Hewan Disembelih dengan Alat Modern (Ayam)

    Dalam menyikapi proses penyembelihan ayam dengan alat modern, ada 2 kondisi yang membuat ayam dihukumi bangkai, yaitu:

    • Jika urat tidak terputus sempurna (saluran makan dan napas), maka hukum daging tersebut adalah Bangkai dan haram dikonsumsi.
    • Tidak membaca dalam proses penyembelihan, maka hukumnya Bangkai.

    2. Hukum Hewan Disembelih dengan Alat Modern (Sapi)

    Selanjutnya, bagaimana hukum menyembelih sapi dengan alat modern? Dari fatwa MUI di atas, MUI sejatinya menganjurkan bahwa proses pemingsanan dengan cara kejut listrik, mekanik (dipukul), atau menggunakan kimia wajib dihindari.

    Akan tetapi, hewan yang dipingsankan dan disembelih bisa tetap halal jika memenuhi kriteria berikut:

    • Proses penyembelihan dilakukan pada saat hewan tersebut masih hidup.
    • Tidak melanggar aturan hukum syar’i yang berlaku.

    3. Hukum Hewan Disembelih dengan Alat Modern (Kambing)

    Sama dengan sapi, proses pembiusan atau pemingsanan kambing menggunakan listrik, suntik (kimia), atau mekanik (pukul) sebaiknya dihindari. 

    Akan tetapi, jika hal itu dilakukan pastikan hewan masih hidup saat disembelih, dan penyembelihannya memenuhi syar’i.

    Jika ada bagian tubuh hewan yang dipotong dalam keadaan hewan tersebut masih hidup, maka status bagian tubuh tersebut adalah bangkai dan haram dikonsumsi.

    Hal itu sesuai dengan hadis berikut ini:

    مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيمَةِ وَهِىَ حَيَّةٌ فَهِىَ مَيْتَةٌ

    Artinya:

    Bagian yang dipotong dari hewan yang hidup dihukumi bangkai. (HR. ِAbu Daud, No. 2858; Tirmidzi, No. 1480. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

    Pada dasarnya, hukum hewan disembelih dengan alat modern dan dibius terlebih dahulu adalah boleh. Akan tetapi, ada beberapa ketentuan yang juga harus terpenuhi agar status daging tersebut halal.

  • Hukum Jual Beli Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa

    Hukum Jual Beli Gambar dan Patung Makhluk Bernyawa

    Rupanya tidak sedikit di antara umat muslim yang belum memahami tentang hukum jual beli gambar dan patung.

    Padahal, jaman sekarang hukum tersebut kerap berlaku dalam transaksi sehari-hari, terutama jual beli gambar. Bagaimana tidak? Sementara hampir semua produk yang kita beli ada gambar orangnya, seperti sabun, bedak, bahkan makanan.

    Supaya tidak salah kaprah, mari kita kenali hukumnya menurut Islam.

    Larangan As Shurah

    Dalam Islam terdapat ancaman bagi pembuat gambar atau patung yang memiliki ruh, seperti manusia dan hewan. Menggambar atau membuat gambar dan patung yang demikian hukumnya adalah haram.

    Hal tersebut ditegaskan dalam hadits berikut:

    Dari Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata.

    كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّى إِنْسَانٌ ، إِنَّمَا مَعِيشَتِى مِنْ صَنْعَةِ يَدِى ، وَإِنِّى أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ . فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لاَ أُحَدِّثُكَ إِلاَّ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ « مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ ، حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا » . فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ . فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلاَّ أَنْ تَصْنَعَ ، فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ ، كُلِّ شَىْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ

    Artinya:

    “Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-. Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, “Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.” Ibnu ‘Abbas kemudian berkata, “Tidaklah yang kusampaikan berikut ini selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pernah mendengar beliau bersabda, “Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.” Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas, “Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.” ((HR. Bukhari, No. 2225 dan Muslim, No. 2110)

    Hadits tersebut menjadi dalil landasan mengenai larangan melukis sesuatu yang memiliki ruh atau bernyawa.

    Gambar makhluk bernyawa disebut juga sebagai ash shurah. Sementara itu, gambar makhluk yang tidak bernyawa seperti pohon, biji-bijian, dan gunung boleh dilakukan.

    Hal ini dipertegas dalam sabda Rasulullah SAW.

    قال اللهُ عزَّ وجلَّ : ومن أظلم ممن ذهبَ يخلقُ كخَلْقي ، فلْيَخْلُقوا ذرَّةً ، أو : لِيخْلُقوا حبَّةً ، أو شعيرةً

    Artinya:

    “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku?’. Maka buatlah gambar biji, atau bibit tanaman atau gandum” (HR. Bukhari no.5953 dan Muslim No.2111).

    Hukum Jual Beli Gambar dan Patung

    Membuat gambar dan patung yang berupa ash shura telah ditegaskan bahwa hukumnya haram.

    Selain dilarang membuat, umat muslim juga dilarang memanfaatkan ash shurah, baik berupa 2 dimensi (gambar) maupun 3 dimensi (patung).

    Maksud memanfaatkan di sini meliputi kegiatan menggunakan, memajang, menjual, dan membeli. Hal ini dijelaskan dalam beberapa hadist, di antaranya yaitu:

    Dari Abu Thalhah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

    Artinya:

    “Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar makhluk bernyawa” (HR. Bukhari no.3225, Muslim No.2106).

    Hukum jual beli gambar dan patung yang dilarang juga berlandaskan dengan larangan memanfaatkan barang-barang yang diharamkan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ ؛ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ ؟ فَقَال :َ لا هُوَ حَرَامٌ . ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ : قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُود ،َ إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ، ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَه . البخاري 2236 ، مسلم 1581

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan menjual khomr (minuman keras), bangkai, babi dan patung/ berhala. Ada seseorang yang berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut anda dengan lemaknya bangkai; karena dipakai untuk mengecat kapal laut, membalur kulit dan dipakai untuk lampu minyak ?, beliau menjawab: “Tidak, tetap haram”. Kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda pada waktu itu: “Allah telah memerangi orang-orang yahudi, ketika Allah telah mengharamkan lemaknya, mereka mencairkannya kemudian menjualnya dan memakan keuntungannya”. (HR. Bukhori: 2236 dan Muslim: 1581).

    Belandaskan dalil tersebut, maka umat muslim juga dilarang mengais rezeki dari membuat dan menjual yang diharamkan.

    Lantas, bagaimana jika seseorang telah melakukan hal yang dilarang seperti membuat atau memperjual belikan patung? Maka ia hendaknya segera bertaubat kepada Allah SWT.

    لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى ـ

    Artinya:

    “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82).

    Baca juga: Pengertian Khiyar, Etika Transaksi Jual Beli dalam Islam

    Alasan Haramnya Jual Beli Gambar dan Patung

    Diharamkannya membuat dan memanfaatkan ash shura disebabkan oleh beberapa alasan. Salah satunya yaitu potensi ash shura sebagai perantara menuju kesyirikan.

    Contoh nyatanya dapat kita lihat dari kisah Nabi Nuh AS. Kala itu, kaum Nabi Nuh AS adalah penyembah berhala. Adapun berhala yang mereka sembah pada awalnya hanyalah patung dari beberapa orang saleh.

    Kisah ini tertuang dalam Al-Qur’an.

    وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

    Artinya:

    “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23).

    Penjelasan lebih lanjut ditujukkan dalam tafsir ayat tersebut oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhu:

    أسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِن قَوْمِ نُوحٍ، فَلَمَّا هَلَكُوا أوْحَى الشَّيْطَانُ إلى قَوْمِهِمْ، أنِ انْصِبُوا إلى مَجَالِسِهِمُ الَّتي كَانُوا يَجْلِسُونَ أنْصَابًا وسَمُّوهَا بأَسْمَائِهِمْ، فَفَعَلُوا، فَلَمْ تُعْبَدْ، حتَّى إذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وتَنَسَّخَ العِلْمُ عُبِدَتْ

    Artinya:

    “Ini adalah nama-nama orang shalih di zaman Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kaumnya untuk membangun tugu di tempat mereka biasa bermajelis, lalu diberi nama dengan nama-nama mereka. Dan itu dilakukan. Ketika itu tidak disembah. Tapi, ketika generasi tersebut wafat, lalu ilmu hilang, maka lalu disembah” (HR. Bukhari No.4920).

    Awal mula dari penyembahan itu adalah pembuatan patung. Meskipun bukan dengan niat membuat sesembahan, melainkan sebagai pengingat atas orang-orang saleh yang telah wafat.

    Namun, setelah generasi awal yang membuat patung wafat, generasi berikutnya justru terjerumus dalam kesesatan.

    Bahkan kaum Nabi Nuh AS akhirnya mendapatkan azab yang sangat mengerikan dari Allah SWT, yakni banjir bandang yang membinasakan mereka.

    Gambar dan Patung yang Diperbolehkan

    Mengenal hukum jual beli gambar dan patung tidak lengkap jika belum membahas mengenai beberapa penggunaan yang diperbolehkan.

    Berikut beberapa pemanfaatan ash shura yang dibolehkan:

    1. Untuk Tujuan Edukasi

    Contohnya yaitu gambar pada mainan anak-anak dan buku pelajaran. Kelonggaran untuk penggunaan gambar pada mainan anak-anak dijelaskan dalam hadits riyawat Abu Daud No.4932.

    Dalam hadits tersebut dikisahkan bahwa Aisyah ketika masih anak-anak memiliki mainan berbentuk hewan dan Rasulullah SAW tidak melarangnya.

    Adapun penggunaan gambar dan patung dalam edukasi dibolehkan karena memiliki kegunaan.

    Akan tetapi, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hal ini. Pasalnya, penggunaan dalam buku pelajaran bukan hal yang darurat. Sementara itu, dalil menegaskan larangan pemanfaatan ash shura secara umum.

    Maka, jika harus memasukkan gambar dalam buku, sebaiknya berupa gambar yang tidak sempurna atau terpotong. Misalnya gambar hewan tanpa kepala atau bagian tubuh tertentu saja.

    2. Gambar Berupa File

    Gambar yang berupa file dalam komputer atau perangkat lainnya boleh dimanfaatkan selama tidak dicetak dan bukan merupakan gambar yang mengandung keharaman.

    Melansir laman Muslim.or.id, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid mengatakan:

    الصور التي على الجوال وفي أجهزة الحاسب ، وما يصور بالفيديو ، لا تأخذ حكم الصور الفوتوغرافية ، لعدم ثباتها ، وبقائها ، إلا أن تُخرج وتطبع ، وعليه فلا حرج في الاحتفاظ بها على الجوال ، ما لم تكن مشتملة على شيء محرم ، كما لو كانت صوراً لنساء

    Artinya:

    “Foto yang ada di HP atau di komputer, atau yang dibuat dengan video, tidak sama hukumnya dengan foto hasil jepretan kamera. Karena ia tidak tsabat (tetap) dan tidak baqa’ (selalu ada dzatnya). Kecuali jika di-print (dicetak). Oleh karena itu tidak mengapa menyimpannya di HP selama tidak mengandung perkara yang haram, seperti misalnya foto wanita”

    3. Gambar pada Kemasan Produk

    Mengutip dari Rumaysho, gambar yang ada di kemasan bukan dimaksudkan untuk dibeli. Akan tetapi, hanya ikut bersama barang lain. Hal ini karena tujuan sebenarnya bukanlah membeli gambar, tapi produk di dalamnya.

    Demikian penjelasan mengenai hukum jual beli gambar dan patung dalam Islam. Semoga dengan memahaminya kita bisa lebih berhati-hati agar tidak berbuat dosa.