Blog

  • Apa Itu Kerangka Pemikiran? Definisi, Jenis dan Cara Membuatnya

    Apa Itu Kerangka Pemikiran? Definisi, Jenis dan Cara Membuatnya

    Kerap disebut sebagai kerangka berpikir, kerangka pemikiran memegang peran krusial dalam sebuah proyek penelitian yang bersifat ilmiah maupun nonilmiah. Selain berfungsi sebagai acuan, kerangka berpikir juga dapat membentuk serta memandu tahapan demi tahapan dalam proses penelitian secara lebih terstruktur.

    Dengan adanya kerangka berpikir, peneliti dapat memiliki pemahaman yang mendalam mengenai alur kinerja dari sebuah penelitian. Terlebih lagi, penyajian visualisasi dari kerangka berpikir yang berupa diagram atau bagan alir, semakin memudahkan peneliti dalam menjabarkan garis besar berjalannya proyek penelitian.

    Artikel ini akan mengulas secara detail tentang kerangka berpikir, mulai dari definisi, jenis, dan cara membuat kerangka berpikir lengkap beserta langkah-langkahnya. Harapannya, kamu dapat mengaplikasikan pengetahuan tentang kerangka berpikir untuk proyek penelitian kamu kedepannya dengan lebih baik lagi.

    Apa Itu Kerangka Pemikiran?

    Berdasarkan definisinya, kerangka pemikiran atau berpikir adalah suatu dasar penelitian yang mencakup penggabungan beberapa elemen penting, seperti teori, fakta, observasi, dan kajian pustaka. Selanjutnya, elemen tersebut menjadi sebuah landasan dalam melakukan penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah maupun nonilmiah. 

    Karena menjadi fondasi yang paling mendasar, biasanya kerangka berpikir akan ada saat peneliti mulai memaparkan konsep-konsep dari penelitian. Jenis kerangka tersebut juga bisa dianggap sebagai visualisasi yang terkemas dengan baik dalam bentuk bagan atau diagram yang saling terhubung dan terikat antara satu sama lain.

    Dengan begitu, penggunaan kerangka berpikir dapat menyajikan alur logis mengenai seluruh permasalahan yang mampu berjalan secara sistematis melalui sebuah karya tulis atau penelitian. Adapun, struktur yang tercantum dalam kerangka berpikir, yaitu mulai dari perkenalan, penyebab konflik, proses penyelesaian konflik, dan penutup. 

    Lebih lanjut, kerangka berpikir ini merujuk terhadap acuan ilmiah yang terdiri dari poin-poin yang bersesuaian dengan variabel. Dalam kerangka pemikiran, terdapat dua jenis variabel penelitian (terikat dan bebas) yang dapat dijelaskan dengan lebih mendalam serta relevan terhadap permasalahan yang menjadi topik penelitian.   

    Baca Juga : Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Jenis Kerangka Pemikiran

    Kerangka berpikir secara umum terbagi menjadi tiga jenis yang terdiri dari:

    1. Kerangka Pemikiran Teoritis

    Contoh Kerangka Berpikir Teoritis
    Contoh Kerangka Berpikir Teoritis | Sumber gambar: ResearchGate

    Lebih menekankan pada landasan (grand theory), kerangka berpikir teoritis adalah jenis konteks berpikir yang memberikan penegasan terhadap teori yang berguna sebagai dasar dan asumsi-asumsi teoritis. 

    Selanjutnya, teori tersebut berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa atau fenomena yang terjadi di dalam penelitian secara teoritis. Selain itu, kerangka teoritis juga dapat menghubungkan beberapa faktor yang dianggap penting untuk penyelesaian masalah dalam penelitian. 

    2. Kerangka Pemikiran Konseptual

    Contoh Kerangka Berpikir Konseptual
    Contoh Kerangka Berpikir Konseptual | Sumber gambar: ResearchGate

    Kerangka konseptual adalah jenis kerangka yang dapat menjelaskan alur pemikiran mengenai satu konsep dengan konsep yang lainnya. Tujuannya yaitu untuk memberikan gambaran atau ilustrasi berupa asumsi teori yang terkait dengan variabel-variabel  penelitian. 

    Umumnya, konsep pada kerangka berpikir ini lebih spesifik dari teori. Adapun, konsep tersebut nantinya berguna untuk mengistilahkan unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah fenomena penelitian dan mengetahui hubungan yang sebenarnya dengan konsep penelitian.   

    3. Kerangka Pemikiran Operasional

    Contoh Kerangka Berpikir Operasional
    Contoh Kerangka Berpikir Operasional | Sumber gambar: 123dok

    Merupakan jenis kerangka berpikir yang penggunaannya lazim untuk menjelaskan variabel yang peneliti tentukan berdasarkan topik penelitian yang sudah ada. Kerangka operasional ini juga menjadi sebuah indikator atau tolak ukur antar variabel yang saling berkaitan.   

    Dengan begitu, peneliti dapat memaparkan tentang variabel hasil turunan dari konsep  terpilih dan menguraikan hal-hal apa saja yang berguna sebagai indikator untuk mengukur variabel yang bersangkutan.        

    Cara Membuat Kerangka Pemikiran

    Cara Membuat Kerangka Pemikiran
    Cara Membuat Kerangka Pemikiran | Sumber gambar: Freepik.com

    Untuk dapat merumuskan kerangka berpikir dengan baik, maka peneliti harus melewati beberapa tahapan yang bisa peneliti gunakan sebagai tumpuan. Berikut ini adalah lima tahapan dari kerangka berpikir yang bisa kamu terapkan pada proyek penelitian secara langsung:

    1. Mengidentifikasi Variabel Penelitian

    Langkah pertama dalam pembuatan kerangka pemikiran adalah mencari variabel dari penelitian. Seorang peneliti harus mampu mengidentifikasi atau menentukan variabel yang cocok digunakan untuk penelitian. Variabel sendiri merupakan pengelompokan terhadap dua atau lebih dari suatu atribut yang ada pada objek penelitian.

    Pada tahap ini, variabel-variabel yang telah teridentifikasi oleh peneliti nantinya akan melalui tahap pengelompokan yang logis. Variabel tersebut bisa dalam bentuk jenis data, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan objek, dan lain sebagainya.  

    Dalam menentukan variabel, biasanya peneliti acap kali menemui kesulitan yang berarti, terlebih lagi para mahasiswa yang melakukan penelitian perdana. 

    Maka dari itu, peneliti bisa memperhatikannya dari judul, sebab judul selalu memuat variabel penelitian. Variabel itulah yang menjadi titik tolak dalam pengembangan teori kedepannya.      

    2. Mencari Hubungan Antar Variabel

    Usai identifikasi variabel, peneliti harus mencari tahu hubungan antar variabel. Pada praktiknya, kerangka pemikiran dalam penelitian akan selalu mengandung minimal dua variabel yang saling berkaitan. 

    Oleh karena itu, setiap variabel yang ada harus saling berhubungan, supaya mampu membantu serta mendukung kegiatan penelitian menjadi lebih akurat dan sesuai dengan keinginan peneliti. Lebih lanjut, penentuan hubungan variabel dapat ditetapkan berdasarkan hubungan langsung yang terjadi di lapangan.

    3. Mengumpulkan Sumber Literatur

    Kerangka pemikiran akan jauh lebih bagus, jika disertai sumber literatur atau referensi yang kredibel dan sesuai dengan topik penelitian. Bagi peneliti, kajian pustaka penting untuk menjadi acuan dalam penelitian yang merujuk pada bidang pengkajian tertentu dan dapat merefleksikan kemantapan mutu ilmiah dari hasil penelitian itu sendiri.

    Lebih lanjut, sumber literatur ini juga dapat memperkuat topik pembahasan melalui hasil dari riset penelitian yang terdahulu beserta kumpulan teori yang telah ada dalam penelitian. 

    Pada bagian ini, peneliti dapat mengumpulkan referensi atau sumber literatur dari jurnal ilmiah, buku ilmu pengetahuan, artikel online, jurnal cetak di perpustakaan, hasil wawancara, dan masih banyak lagi.    

    Setelah mendapatkan sumber literatur tersebut, peneliti harus membaca dan melakukan tinjauan pustaka secara saksama untuk mengetahui referensi mana saja yang relevan dengan topik penelitian.  

    4. Membahas Teori

    Agar dapat mengkaji permasalahan dalam suatu penelitian, peneliti harus mampu membuat argumen yang bersifat teoritis. Caranya, yaitu membuat kerangka pemikiran untuk dapat memaparkan pendapat logis yang sesuai dengan data-data kajian pustaka yang telah terbaca sebelumnya.    

    Singkatnya, topik dan variabel penelitian akan peneliti kaji ulang dengan menggunakan keseluruhan informasi dari sumber literatur yang ada. Kemudian, peneliti dapat menarik kesimpulan untuk memastikan topik penelitian tersebut mempunyai landasan yang kuat.  

    Dengan adanya landasan teori yang kuat, maka penelitian juga akan semakin meyakinkan untuk dilaksanakan secara langsung. Sebagai informasi, pembahasan teori dapat menguatkan topik penelitian serta membuktikan bahwasanya peneliti tidak asal-asalan dan bertanggung jawab dalam melakukan penelitian. 

    5. Menjelaskan Gambaran Kerangka Pemikiran

    Sebagai langkah terakhir, penjelasan tentang gambaran kerangka pemikiran memudahkan peneliti dalam menuangkan buah pikiran atau gagasan secara teratur dan terarah. Umumnya, kerangka berpikir berbentuk diagram atau bahkan bagan sekalipun. 

    Kehadiran wujud visualisasi tersebut juga dinilai mampu membuat pembaca tidak merasa kebingungan dan lebih gampang dalam memahami kerangka berpikir yang telah peneliti sajikan. 

    Maka dari itu, bagan atau diagram harus dapat menghadirkan keseluruhan proses dan variabel yang ada dalam penelitian. Selanjutnya, kedua elemen visual tersebut wajib memuat keterangan yang berisikan tentang hubungan semua variabel dan pemaparan teori yang dapat memperkuat topik penelitian. 

    Dengan begitu, akan membentuk bagan atau diagram alir yang dapat menunjukkan proses penelitian mulai dari awal hingga selesai. Dari wujud visualisasi itulah, lahir suatu kerangka berpikir yang dapat berfungsi sebagai alur dan rujukan untuk melakukan penelitian. 

    Sudah Tahu Apa Itu Kerangka Pemikiran?

    Kesimpulannya, kerangka pemikiran merujuk pada pola susunan keseluruhan, pendekatan, serta landasan teori yang berfungsi untuk memandu studi penelitian, baik yang bersifat ilmiah atau bahkan non-ilmiah sekalipun    

    Meski terlihat mudah, pembuatan kerangka berpikir tidak boleh sembarangan, melainkan harus tersusun dengan baik dari berbagai elemen vital, seperti dasar fakta, observasi, dan kajian pustaka. Selain itu, hadirnya variabel yang terkait dapat menjawab segala macam permasalahan yang sedang menjadi topik penelitian.    

    Pada implementasinya, proses membuat kerangka berpikir mampu mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan cermat, valid, dan kredibel. Karena memberikan struktur yang jelas, logis, dan teoritis, kerangka berpikir dapat membantu peneliti menghindari ketidaksesuaian dan kebingungan dalam pengerjaan penelitian.

  • Cara Menulis Catatan Kaki Yang Baik dan Benar

    Cara Menulis Catatan Kaki Yang Baik dan Benar

    Catatan kaki adalah elemen penting dalam karya tulis. Meskipun sering kali dianggap sebagai detail teknis, kemampuan tentang cara menulis catatan kaki dengan benar adalah keterampilan yang penting bagi penulis. 

    Artikel ini akan memberikan panduan lengkap tentang cara menulis catatan kaki dalam karya tulis kamu.

    Apa Itu Catatan Kaki?

    Catatan kaki adalah referensi yang terletak di bagian bawah halaman atau di akhir dokumen. Fungsinya adalah menghubungkan teks utama dengan sumber informasi atau kutipan yang penulis gunakan dalam karya tulis ilmiah. 

    Penulis menggunakannya untuk memberikan kredibilitas pada tulisannya dengan merujuk kepada sumber yang digunakan. 

    Catatan kaki juga membantu pembaca untuk melacak sumber informasi yang relevan jika mereka ingin menggali lebih dalam topik dalam karya tulis ilmiah.

    Bagaimana Cara Menulis Catatan Kaki yang Tepat?

    Penulisan catatan kaki yang tepat melibatkan beberapa aturan dan format tertentu. Berikut adalah panduan dan penjelasan langkah demi langkah tentang teknik menulis catatan kaki dengan benar.

     1. Tentukan Gaya Penulisan

    Gaya penulisan yang kamu gunakan, seperti APA (American Psychological Association), MLA (Modern Language Association), atau Chicago, akan menentukan format dan aturan catatan kaki kamu. Setiap gaya memiliki pedoman yang berbeda, jadi pastikan kamu tahu gaya penulisan yang harus kamu ikuti.

    2. Tempatkan Catatan Kaki yang Tepat

    Cara menulis catatan kaki yang baik dan benar adalah dengan meletakkannya di bagian bawah halaman pada posisi yang sesuai dengan kutipan atau teks yang kamu rujuk. Biasanya, ukuran font untuk catatan kaki lebih kecil dari teks utama, dan perlu garis horizontal yang memisahkan catatan kaki dari teks.

    3. Tulis Catatan Kaki

    Tulis catatan kaki dengan format yang sesuai dengan gaya penulisan yang kamu gunakan. Pastikan untuk memperhatikan dan mencantumkan aspek-aspek utama berikut ini dalam catatan kaki.

    a)  Nama Pengarang atau Penulis

    Dalam pembuatan catatan kaki, mencantumkan identitas penulis atau pengarang dari sumber acuan atau referensi dalam karya ilmiah tersebut merupakan faktor yang vital. Meskipun sumber tersebut memiliki judul, catatan kaki hanya memerlukan penulisan nama pengarangnya. 

    Artinya, ketika membuat catatan kaki, kamu hanya perlu mencatat nama penulisnya saja.

    b) Judul Sumber

    Saat mencantumkan catatan kaki, kamu juga harus mencantumkan judul sumber yang kamu kutip dengan cermat, memastikan bahwa sumber tersebut jelas dan tepat. 

    Dalam penulisan judul ini, sangat penting untuk memerhatikan ejaan yang akurat dan konsisten dengan pedoman tata bahasa yang berlaku. Pastikan bahwa judul tersebut mencerminkan isi sumber dengan akurat.

    c) Tahun Penerbitan

    Selanjutnya, setelah mencantumkan judul sumber, unsur catatan kaki berikutnya yang harus sesuai adalah tahun penerbitan. Dalam konteks ini, tahun penerbitan merujuk pada tahun di mana kutipan atau sumber referensi yang kamu gunakan terbit.

    Tahun penerbitan juga penting untuk merujuk pada tahun penerbitan sumber referensi itu sendiri, terutama ketika merujuk pada jurnal atau artikel ilmiah. Dengan mencantumkan tahun penerbitan dengan tepat, pembaca dapat dengan mudah memahami konteks temporal dan sejarah informasi yang ada dalam karya tersebut.

    4. Nomor Halaman Kutipan

    Salah satu aspek yang perlu dipraktikkan juga dalam cara menulis catatan kaki adalah pencantuman nomor halaman. Pasalnya, nomor halaman berguna untuk membantu pembaca dalam menemukan kutipan yang penulis rujuk. Aturan ini berlaku dengan menambahkan kata “halaman” dengan nomor halaman yang sesuai dengan kutipan. 

    Dengan cara ini, para pembaca dapat mencari informasi sumber rujukan di dalam teks dengan lebih mudah secara transparan.

    Menulis artikel
    Menulis artikel | Sumber Gambar: Pexels

    Kapan kamu Harus Menggunakan Catatan Kaki?

    Walaupun catatan kaki termasuk elemen yang penting dalam sebuah tulisan, tetapi tidak berarti kamu harus selalu mencantumkannya. Pelajari waktu-waktu yang tepat  berikut ini untuk menyertakannya dalam tulisan kamu. 

    1. Ketika Mengutip Sumber Langsung

    Jika kamu mengambil kutipan langsung dari sebuah sumber, baik itu dari buku, artikel, atau situs web, kamu harus memberikan catatan kaki yang merujuk kepada sumber tersebut.

    2. Menggunakan Ide atau Informasi dari Sumber Tertentu

    Bahkan, jika kamu tidak mengutip secara langsung, tetapi menggunakan ide atau informasi dari sumber tertentu, kamu harus memberikan catatan kaki sebagai referensi.

    3. Jika Ingin Memberikan Informasi Tambahan

    Kamu mungkin ingin memberikan informasi tambahan atau penjelasan tentang sesuatu yang telah kamu sebutkan dalam teks utama. Kondisi seperti ini merupakan kegunaan umum catatan kaki.

    4. Bertujuan Membuktikan Kredibilitas

    Dalam karya ilmiah, terutama dalam penelitian akademik, penggunaan catatan kaki membantu membuktikan kredibilitas penulisan kamu dengan menunjukkan kepada pembaca bahwa kamu merujuk kepada sumber-sumber otoritatif.

    Contoh Cara Menulis Catatan Kaki dalam Berbagai Gaya Penulisan

    Supaya kamu lebih paham tentang bentuk dan pencantuman catatan kaki, cek beberapa contoh gaya penulisannya berikut ini. 

    1. Gaya APA

    Dalam gaya penulisan APA, catatan kaki adalah daftar kutipan yang berada di bagian bawah halaman dengan nomor yang sesuai dengan nomor dalam teks utama. Ini adalah contoh catatan kaki dalam gaya APA:

    Smith, J. (2010). The Art of Writing. New York: Publisher.

    2. Gaya MLA

    Menurut cara menulis catatan kaki dengan gaya penulisan MLA, aturannya adalah catatan kaki berupa angka superskrip yang sesuai dengan nomor dalam teks utama. Catatan kaki ini biasanya berada di bagian bawah halaman atau di akhir dokumen. Contohnya berikut ini:

    Smith, John. The Art of Writing. New York: Publisher, 2010.

    3. Gaya Chicago

    Dalam gaya penulisan Chicago, catatan kaki perlu penulis letakkan pada akhir klausa atau kalimat yang memerlukan referensi. 

    Setiap catatan kaki akan berisi semua detail sumber saat pertama kali disebutkan, dan untuk kutipan-kutipan berikutnya dari sumber yang sama, informasi yang lebih ringkas akan penulis gunakan. Di bawah ini contoh catatan kaki dalam gaya Chicago:

    John Smith, The Art of Writing (New York: Publisher, 2010), 15.

    Contoh Penulisan Catatan Kaki dari Berbagai Sumber

    Setelah menjelaskan unsur, ketentuan, dan cara membuat catatan kaki, berikut adalah beberapa contoh penulisan catatan kaki yang sesuai dengan pedoman di atas. 

    1. Ilustrasi Cara Menulis Footnote dari Jurnal atau Makalah

    Nomor kutipan, Nama penulis, “judul artikel” (dicetak italic), Nama jurnal atau makalah dan volume serta nomornya, Tahun Penerbitan, Nomor Halaman.

    Ilustrasi

     [1] Yahya Saputra, “Kekerasan Terhadap Wanita dalam Hukum Islam,” Asy-Syariah, Edisi 6, April 2016, Hal. 15.

    2. Contoh Penulisan Footnote Majalah

    Nomor kutipan, Nama penulis, “judul artikel” (dicetak italic), Penerbit, Kota Penerbit, Tahun, Halaman.

    Ilustrasi

     [3] Mochtar Nizam, “Mengapa Orang Madura Merantau?”, Tempo, 31 Januari 1985, hlm. 36.

    3. Ilustrasi Penulisan Catatan Kaki di Media Internet

    Nomor kutipan, Nama penulis, “judul artikel” (dicetak italic), (URL web, Tanggal akses, Tahun).

    Ilustrasi

     [1] Sonia Puspa, “Aturan Surat Menyurat untuk Perusahaan” (https://www.sipas.id/blog/aplikasi-surat-menyurat, Diakses pada 12 Mei 2020).

    Cara menulis catatan kaki juga bisa dilakukan melalui Microsoft Word dengan simpel. Berikut ini adalah cara menulis catatan kaki seperti dalam uraian berikut ini. 

    1. Siapkan dokumen yang akan kamu beri catatan kaki.
    2. Lalu, blok kutipan yang ingin kamu beri keterangan.
    3. Setelah itu, klik “Menu References” atau “Menu Referensi”.
    4. Cari pilihan “Insert Footnote” atau “Sisipkan Catatan Kaki”.
    5. Jika sudah, maka catatan kaki akan otomatis terbuka dan penulis dapat mengubahnya sesuai dengan keinginan.

    Baca Juga : Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Sudah Pahamkah Kamu Cara Menulis Catatan Kaki yang Benar?

    Menulis catatan kaki yang benar adalah keterampilan penting dalam penulisan akademik dan ilmiah. Penerapan cara menulis catatan kaki yang tepat memberikan kredibilitas pada tulisan kamu dan memungkinkan pembaca untuk melacak sumber-sumber yang digunakan. 

    Pastikan kamu mengikuti gaya penulisan yang sesuai dengan panduan resmi yang berlaku, seperti APA, MLA, atau Chicago. Dengan mengikuti panduan ini, kamu dapat menulis catatan kaki dengan benar dan efektif dalam karya tulis kamu.

  • Heuristik Adalah: Jenis, Metode, Tahapan, dan Contohnya

    Heuristik Adalah: Jenis, Metode, Tahapan, dan Contohnya

    Mungkin istilah heuristik terdengar cukup asing bagi kamu yang tidak menekuni bidang sejarah. Ternyata, istilah tersebut mengacu pada  sebuah metode penelitian yang menarik, loh! Yuk, cari tahu lebih lanjut soal seluk-beluk metode penelitian yang satu ini melalui uraian di bawah. 

    Mengenal Apa Itu Heuristik

    Definisi Heuristik
    Definisi Heuristik I Sumber: Slideplayer

    Secara ringkas, subjek ini merupakan sebuah metode penelitian yang berkaitan dengan kemampuan menemukan cara atau pemecahan masalah untuk sebuah permasalahan. 

    Menurut etimologinya, heuristik berasal dari kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu  ‘heuriskein’ yang berarti menemukan. Istilah tersebut juga dikenal sebagai sumber sejarah. 

    Dalam bidang keilmuan sejarah, metode penelitian ini melibatkan pengumpulan informasi dari berbagai sumber sejarah dengan berbagai cara, seperti observasi, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian dengan metode penelitian ini mencakup jenis data yang relevan dengan topik penelitian.

    Metode penelitian ini menitikberatkan penjelajahan berbagai macam masalah. Menurut definisi di atas, kamu dapat menarik kesimpulan jika metode penelitian tersebut merupakan sekelompok tahapan dalam pengumpulan rujukan-rujukan dari berbagai macam data penelitian sejarah.

    Sederhananya, metode penelitian tersebut merupakan serangkaian aturan yang mudah pemahamannya dan efisien. Selain itu, penggunaannya oleh manusia sudah bersifat umum guna membentuk penilaian pada suatu hal dan juga membuat suatu keputusan.

    Subjek ini lebih populer dikenal sebagai sebuah metode penelitian sejarah. Metode ini juga memiliki kemampuan penalaran dengan penerapan prinsip-prinsip subjek tersebut sehingga dapat membantu menemukan data penting mengenai sejarah yang relevan dengan topik penelitian.

    Pasalnya, saat mempelajari sejarah, seorang peneliti memerlukan bukti konkret untuk dapat menarik kesimpulan terkait sebuah kejadian sejarah. Tanggung jawab terhadap penelitian tersebut membuat peneliti tidak boleh sembarangan membuat kesimpulan dari opini, pendapat, atau perkiraan semata. 

    Untuk menemukan bukti konkret tersebut, peneliti haruslah memiliki kemampuan heuristik. Kemampuan tersebut mampu membuat peneliti menemukan data dengan lebih akurat, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan keabsahan dan kredibilitasnya.

    Apa saja Metode Penelitian Sumber Sejarah Ini?

    Dalam perkembangannya, terdapat berbagai jenis dari kemampuan penelitian menggunakan sumber sejarah berdasarkan kepada sifat dan juga sumber sejarahnya. Berikut adalah penjelasan lengkapnya:

    1. Jenis Heuristik Menurut Sifatnya

    Menurut sifatnya, metode penelitian ini terbagi menjadi dua jenis yang dapat kamu pelajari melalui penjelasan berikut ini. 

    a. Sumber Primer

    Contoh Sumber Primer Heuristik
    Contoh Sumber Primer Heuristik I Sumber: Ruangguru

    Sumber primer dalam kajian ini merujuk kepada serangkaian sejarah yang langsung diperoleh dari orang-orang yang terlibat dalam peristiwa sejarah tersebut. Sebagai contoh, dalam proses penyusunan biografi seorang tokoh sejarah penting, peneliti dapat memperoleh data dengan cara wawancara langsung dengan tokoh tersebut.

    Sumber primer tidak hanya dapat diperoleh melalui hasil wawancara dengan pelaku langsung, tetapi juga dapat diperoleh melalui sumber-sumber lain seperti foto, naskah, catatan harian, atau video.

    b. Sumber Sekunder

    Contoh Sumber Sekunder Heuristik
    Contoh Sumber Sekunder Heuristik I Sumber: Ruangguru

    Jika sumber primer merupakan sumber yang diperoleh langsung dari orang-orang yang terlibat suatu peristiwa, maka sumber sekunder merupakan kebalikannya. Pada dasarnya, sumber-sumber tersebut tidak berasal dari orang-orang yang terlibat secara langsung dalam peristiwa sejarah.

    Sumber sekunder berasal dari orang lain yang dekat dengan orang yang mengalami peristiwa bersejarah tersebut secara langsung. Orang-orang tersebut mencakup lingkup keluarga, sahabat, atau orang lain yang ikut langsung dalam suatu peristiwa terkait.

    Sumber sekunder mencakup semua sumber data yang tidak disampaikan oleh tokoh utama suatu peristiwa sejarah. Misalnya, ketika seorang peneliti menulis biografi seseorang yang sudah meninggal, peneliti tidak mungkin mewawancarai tokoh yang sudah meninggal tersebut.

    Sumber-sumber sekunder dalam kajian ini dapat dalam bentuk laporan hasil penelitian, ensiklopedia, buku-buku yang berkaitan dengan topik, maupun catatan lapangan. Di samping itu, sumber tersebut memiliki bentuk yang lebih luas dari jenis sumber primer.

    2. Heuristik Berdasar Sumber Sejarahnya

    Menurut sumber sejarahnya, beragam jenis diskursus menurut ruang lingkup kajian tersebut dapat tiga sub-kategori berikut ini. 

    a. Tertulis

    Sumber tertulis dalam kajian tersebut merupakan sumber sejarah yang bersifat tertulis atau ada dalam bentuk tulisan. Misalnya, naskah perjanjian, buku catatan harian, dan sebagainya.

    b. Lisan

    Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh penting terkait, kerabat, atau masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bersejarah menjadi lokasi penelitian merupakan bagian dari sumber kajian lisan. 

    c. Benda-benda Peninggalan

    Selain dalam bentuk lisan dan tulisan, sumber sejarah dapat juga berupa benda-benda peninggalan dengan bentuk dan jenis-jenis tertentu. Misalnya antara lain benda-benda kuno, artefak bersejarah, stupa, atau fosil.

    Ini 5 Tahapan Metode Heuristik!

    Dalam menjalankan penelitian dengan metode penelitian ini,  ada beberapa tahapan yang harus peneliti ikuti supaya mendapatkan hasil penelitian yang akurat dan faktual. 

    1. Menentukan Tema dan Judul

    Seperti halnya berbagai tahapan penelitian lain, penentuan tema dan judul adalah tindakan pertama yang harus peneliti lakukan. Tema dan judul yang peneliti ambil harus berhubungan dengan peristiwa sejarah yang publik ketahui. Peneliti hanya perlu menyesuaikannya dengan jumlah referensi tambahan dan penguasaan topik.

    2. Menemukan Sumber Data Sejarah

    Setelah menentukan tema penelitian, maka langkah yang peneliti harus lakukan selanjutnya adalah mencari sumber data sejarah. 

    Sumber-sumber data sejarah ini dapat berasal dari lisan, tulisan, dan peninggalan sejarah seperti artefak, atau pun sumber-sumber primer dan sekunder yang dapat peneliti gabungkan dan bersifat komplementer.

    3. Melakukan Kunjungan Lokasi Penelitian

    Peneliti perlu melakukan kunjungan lokasi penelitian yang tentunya berupa lokasi-lokasi tempat peristiwa bersejarah terjadi untuk menemukan sumber sejarah yang lebih kompleks dan variatif. 

    4. Mempelajari dan Menganalisis Sumber Sejarah

    Tahapan selanjutnya n adalah melakukan kajian dan analisis pada seluruh sumber sejarah yang bisa peneliti dapatkan. Kemudian, peneliti dapat mulai menganalisisnya menurut kronologisnya. Artinya, peneliti memulainya dari tanggal terjadi peristiwa, penyebab, dan solusi permasalahan saat peristiwa terjadi.

    5. Menyusun Laporan Hasil Penelitian Sejarah Dengan Menggunakan metode Heuristik

    Langkah terakhir dalam metode penelitian ini adalah menyusun laporan penelitian. Penulisan laporan hasil penelitian ini ada baiknya mengikuti pedoman karya tulis ilmiah. Pastikan konten laporan merupakan konten yang faktual, runtut, dan akurat.

    5 Contoh Metode Penelitian Menggunakan Sumber Sejarah

    Penerapan metode ini dapat dilakukan dengan cara yang sistematis dan terperinci. Alasannya karena metode penelitian ini bertujuan untuk menemukan kebenaran dari sebuah peristiwa sejarah di masa lampau. Kamu bisa mengamati penerapannya lewat contoh dalam uraian berikut ini. 

    1. Penentuan Judul atau Tema

    Anggap saja kamu ingin meneliti masa kejayaan kerajaan Majapahit yang sempat menjadi sebuah kerajaan besar yang makmur dan berjaya di wilayah Asia. Maka, kamu harus membuat judul penelitian yang tidak boleh melenceng dari kata kunci ‘masa kejayaan kerajaan Majapahit’.

    2. Menemukan Sumber Data Sejarah yang Relevan

    Selanjutnya, peneliti harus mencari rujukan sumber-sumber yang relevan terkait topik ‘masa kejayaan kerajaan Majapahit’ yang dapat peneliti temukan. 

    Sumbernya bisa berasal dari catatan penelitian yang sudah ada atau buku dan berbagai kamus yang menggambarkan masa kejayaan kerajaan Majapahit.

    3. Melakukan Penelitian Lapangan

    Penelitian lapangan bertujuan untuk memperoleh data-data yang lebih lengkap dan akurat. Ilustrasinya adalah peneliti melakukan kunjungan ke pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto untuk meneliti relief-relief atau prasasti yang memiliki kaitan dengan topik penelitian.

    4. Melakukan Kajian dan Analisis Sumber Sejarah

    Setelah pengumpulan data dan sumber-sumber sejarah telah lengkap, maka peneliti harus melakukan kajian dan analisis pada data dan sumber-sumber tersebut. Tujuan tahapan ini adalah mengungkap fakta sejarah yang kronologi dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    5. Penulisan Laporan Penelitian

    Terakhir, peneliti harus menuliskan laporan penelitian dengan benar dan sesuai kaidah penulisan ilmiah. Tujuannya tidak lain adalah agar penelitian dapat memberikan dampak positif dan menjadi pemantik penelitian lanjutan di masyarakat.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Apa Manfaat Metode Penelitian Heuristik?

    Menerapkan prinsip heuristik dalam penelitian tidak hanya bermanfaat dalam bidang sejarah. Prinsip tersebut dapat juga diaplikasikan dalam keseharian yang bisa membuat kamu memutuskan dengan cepat dan tepat berdasarkan peluang, strategi dan pengetahuan.

  • Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian dan Contohnya

    Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian dan Contohnya

    Kunci dari teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah pemilihan populasi atau kumpulan data yang dapat mewakili secara keseluruhan. Tujuan utama pengambilan sampel adalah untuk membuat kesimpulan sebagai hasil yang valid dari sebuah penelitian. Lalu apa saja yang perlu diperhatikan? Mari, simak di sini!

    Populasi Vs Sampel

    Agar pemahaman tentang teknik pengambilan sampel dalam penelitian lebih menyeluruh, maka kamu perlu mengenal beberapa aspek terkait di dalamnya, yaitu perbedaan antara populasi dan sampe serta cara mengidentifikasi target populasi. 

    Populasi adalah jumlah total orang atau objek yang Anda amati dan relevan dengan topik penelitian. Suatu populasi juga dapat didefinisikan berdasarkan lokasi geografis, usia, atau pendapatan. Pemilihan populasi bisa sangat luas atau sempit. Misal, kamu ingin mengamati kondisi kesehatan siswa di sekolah A.

    Kamu perlu hati-hati dalam menentukan target populasi agar sesuai dengan topik penelitian. Jika populasi sangat kecil, mungkin akan sulit untuk mendapatkan sampel yang cukup untuk mewakili populasi tersebut. Kurangnya sampel yang mewakili akan mempengaruhi validitas hasil penelitan kamu.

    Sedangkan, sampel adalah kelompok individu tertentu yang akan kamu kumpulkan datanya. Ukuran sampel selalu lebih kecil dari populasi secara keseluruhan. Sementara itu, pengambilan sampel yang baik harus menjadi bagian yang representatif dari populasi yang ingin kamu teliti.

    Apa Itu Teknik Pengambilan Sampel dalam Peneltian?

    Pengambilan sampel atau sampling adalah pemilihan subjek dalam studi statistik untuk mewakili populasi yang lebih besar. Pengujian setiap anggota dari populasi tertentu mungkin tidak selalu layak, kamu dapat memilih sampel untuk membuat pengujian lebih efisien dan hemat biaya.

    Pengambilan sampel penelitian perlu mempertimbangkan dan memperhatikan berbagai unsur. Pasalnya, unsur-unsur tersebut memiliki pengaruh yang signifikan pada hasil penelitian atau kesimpulan .

    3 Unsur dalam Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Ada tiga unsur yang paling penting dalam sampling untuk sebuah penelitian. Perhatikan penjelasan singkatnya di bawah ini. 

    1. Ketepatan

    Ketepatan Respons Sampel
    Ketepatan Respons Sampel | Sumber gambar: Pixabay.com

    Unsur ketepatan mengacu pada seberapa akurat respons sampel. Sebagai peneliti, kamu harus mencoba untuk menghilangkan pengaruh pendapat pribadi terhadap peserta. 

    Dengan demikian, hasil dari respons sampel benar-benar nyata sesuai dengan hasil dari peserta dan mereka tidak terpengaruh pihak mana pun, terutama peneliti.

    2. Presisi

    Sampel harus memberikan jawaban atas pertanyaan yang kamu ajukan sebagai peneliti secara spesifik. Jawaban harus relevan dengan penelitian.

    3. Representatif

    Sampel penelitian harus berusaha untuk menyediakan kelompok subjek yang paling representatif atau mewakili dari populasi secara keseluruhan. 

    Misalnya, jika kamu ingin memperkirakan bagaimana perasaan penduduk kota tentang pemerintah yang memberlakukan jam malam, maka sampel harus sesuai dengan persentase demografis kota sedekat mungkin.

    2 Jenis Teknik Pengambilan Sampel dalam Peneltian

    Ada dua jenis teknik pengambilan sampel dan terbagi menjadi beberapa sub-jenis. Di bawah ini penjelasan mengenai pembagiannya.

    1. Pengambilan Sampel Probabilitas

    Ketika kamu menggunakan teknik sampling ini, kamu dapat menghitung probabilitas setiap sampel dalam popolasi yang dipilih untuk penelitian. Analisis pengambilan sampel probabilitas ini memberikan hasil yang lebih presisi dan matematis. Sampling probabilitas punya empat jenis utama. 

    a) Penetapan Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

    Setiap sampel dari populasi dalam jenis pengambilan sampel ini, memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Untuk melakukan pengambilan sampel jenis ini, kamu dapat menggunakan alat seperti generator angka acak.

    b) Pengambilan Sampel Sistematis (Systematic Sampling)

    Metode pemilihannya hampir sama dengan metode acak sederhana. Namun, langkah pertama dalam metode ini adalah populasi terbagi menjadi daftar atau urutan, kemudian setiap sampel ke-(n) terpilih sebagai sampel.

    c) Penentuan Sampel Bertingkat (Stratified Sampling)

    Populasi dalam metode ini terbagi menjadi subkelompok atau tingkatan berdasarkan karakteristik tertentu, seperti identitas gender, rentang usia, kelompok pendapatan, dan pekerjaan. 

    d) Penentuan Sampel Kluster (Cluster Sampling)

    Sampel Kluster
    Sampel Kluster | Sumber Gambar: unsplash.com

    Sampel kluster juga melibatkan pembagian populasi menjadi subkelompok, akan tetapi subkelompok harus memiliki karakteristik yang sama dengan seluruh sampel. Cara ini cocok untuk populasi yang besar dan tersebar, walaupun memiliki risiko karena mungkin terdapat perbedaan antar kluster.

    e) Penentuan Sampel Multi-Stage (Multi-Stage Sampling)

    Multi-stage di sini maksudnya adalah menggabungkan dua atau lebih teknik pengambilan sampel. Salah satunya, kamu dapat menggunakan sampling bertingkat untuk memilih kluster. Kemudian, gunakan sampling acak sederhana untuk memilih anggota dalam setiap kluster.

    2. Pengambilan Sampel Non-Probabilitas

    Jika kamu menerapkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian dengan jenis non-probabilitas, maka kamu tidak dapat menghitung probabilitas suatu individu sampel dalam populasi. Sampel pada pengujian ini cenderung kurang mewakili populasi besar karena metodenya lebih tepat untuk memahami populasi kecil.

    Terdapat 4 jenis utama dalam sampel non-probabilitas.

    a) Penetapan Sampel Praktis

    Ketersediaan dan kesediaan sampel adalah kunci dari metode dalam penetapan sampel praktis ini. Cara ini cukup mudah dan praktis, akan tetapi mungkin kurang mewakili dari populasi.

    b) Pemilihan Sampel Purposif

    Metode ini sering berguna dalam penelitian kualitatif. Peserta atau sampel terpilih berdasarkan kriteria tertentu, seperti keahlian atau pengetahuan tentang topik tertentu yang berguna untuk tujuan penelitian. Hasil pengambilan sampel ini akan lebih rinci dan efektif apabila memiliki kriteria dan alasan penelitian yang jelas.

    c) Pemilihan Sampel Kuota

    Sejumlah sampel yang telah ditentukan berdasarkan kriteria tertentu, seperti teknik pengambilan sampel dalam penelitian sampling bertingkat. Kemudian, kamu pilih sampel yang sesuai dengan kuota kamu.

    d) Bola Salju atau Pengambilan Sampel Rujukan

    Jika populasi sulit kamu jangkau, snowball sampling cocok karena kamu mendapatkan sampel dari rujukan peserta lain. 

    e) Penetapan Sampel Sukarelawan

    Survei Online
    Survei Online | Sumber gambar: Freepik.com

    Metode sampling yang satu ini mirip dengan pengambilan sampel praktis, akan tetapi sampel sukarelawan diambil berdasarkan kemudahan akses. Alih-alih peneliti yang memilih sampel, justru orang-orang yang mengajukan dirinya. Menanggapi survei online adalah salah satu contohnya. 

    Baca Juga : Ruang Lingkup Penelitian: Contoh & Cara Menentukannya dengan Mudah

    7 Contoh Penerapan Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Penerapan teknik pengambilan sampel tentunya sangat bermanfaat di berbagai bidang, berikut contoh-contohnya. 

    1. Psikologi

    Penelitian Psikologi
    Penelitian Psikologi | Sumber gambar: Pixabay.com

    Dalam penelitian psikologi, pengambilan sampel bermanfaat untuk mempelajari berbagai aspek perilaku manusia dan proses mental. Sebagai contoh, peneliti dapat menggunakan sampling bertingkat untuk memilih sampel peserta yang mewakili populasi berdasarkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan etnis.

    2. Sosiologi

    Dalam bidang sosiologis, pemilihan sampel berfungsi untuk mempelajari fenomena sosial dan hubungan antara individu dan kelompok. Contohnya, dapat menggunakan cluster sampling untuk memilih sampel lingkungan yang mempelajari efek ketidaksetaraan ekonomi pada hasil kesehatan. 

    3. Ilmu sosial

    Ilmu Sosial
    Ilmu Sosial | Sumber gambar: Pexels.com

    Suatu teknik pengambil sampel dalam penelitian ilmu sosial bermanfaat dalam mempelajari perilaku dan sikap manusia. Misalnya, menggunakan pengambilan sampel bertingkat untuk memilih sampel peserta yang mewakili populasi berdasarkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan pendapatan.

    4. Pemasaran

    Riset pemasaran pengambilan sampel untuk mengumpulkan data tentang preferensi, perilaku, dan sikap konsumen. Sebagai contoh, kamu dapat menggunakan teknik sampel acak untuk memilih sampel konsumen untuk berpartisipasi dalam survei produk baru.

    5. Perawatan kesehatan

    Penanganan Kesehetan
    Penanganan Kesehetan | Sumber gambar: Unsplash.com

    Pada  penelitian kesehatan, penerapan teknik sampling membantu kamu memahami tentang penyakit dan faktor risiko, dan untuk mengevaluasi tindakan dari suatu penanganan kesehatan. 

    Salah satu tekniknya adalah dengan cluster sampling untuk memilih sampel klinik kesehatan untuk berpartisipasi dalam studi tentang efektivitas pengobatan baru.

    6. Ilmu lingkungan

    Ilmu Lingkungan
    Ilmu Lingkungan | Sumber gambar: Pexels.com

    Metode pengambilan sampel dalam ilmu lingkungan berguna untuk mengumpulkan data tentang variabel lingkungan seperti kualitas air, polusi udara, dan komposisi tanah. Sampel sistematis dapat kamu pilih untuk mengumpulkan sampel tanah secara berkala di seluruh lahan.

    7. Pendidikan

    Sistem Pembelajaran Siswa
    Sistem Pembelajaran Siswa | Sumber gambar: Pexels.com

    Penerapan teknik pengambilan sampel dalam penelitian di bidang pendidikan memfasilitasi kamu memahami sistem pembelajaran dan prestasi siswa. Kamu dapat menggunakan sampling bertingkat untuk memilih sampel sekolah yang mewakili populasi berdasarkan faktor-faktor seperti demografi dan kinerja akademik.

    Cara Melakukan Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Perhatikan tujuh langkah untuk menerapkan metode sampling penelitian dalam rangkuman di bawah ini. 

    1. Tentukan Populasi

    Ilustrasi Populasi
    Ilustrasi Populasi | Sumber gambar: Pixabay.com

    Identifikasi populasi yang akan kamu amati dan tentukan dengan jelas batasan-batasannya.

    2. Pilih Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian

    Pilih teknik pengambilan sampel yang sesuai berdasarkan pertanyaan penelitian, karakteristik populasi, dan sumber daya yang tersedia.

    3. Tentukan Jumlah Sampel

    Kamu juga perlu menentukan jumlah sampel yang kamu inginkan berdasarkan pertimbangan statistik seperti margin of error, tingkat kepercayaan, atau analisis kapasitas kemampuan.

    4. Buat Kerangka Pengambilan Sampel

    Kembangkan daftar semua individu atau elemen dalam populasi dari mana sampel akan diambil. Kerangka pengambilan sampel harus komprehensif, akurat, dan terkini.

    5. Pilih Sampel

    Penentuan Sampel
    Penentuan Sampel | Sumber gambar: Pixabay.com

    Gunakan metode pengambilan sampel yang dipilih untuk memilih sampel dari kerangka pengambilan sampel. Terutama sampel harus terpilih secara acak, atau jika menggunakan metode non acak, setiap upaya yang dilakukan harus menekan sifat kecenderungan sampel dan memastikan bahwa sampel mewakili populasi.

    6. Kumpulkan Data

    Setelah sampel terpilih, kumpulkan data dari setiap anggota sampel menggunakan teknik pengambilan sampel dalam penelitian yang sesuai (misalnya, survei, wawancara, observasi).

    7. Analisis Data

    Analisis data yang terkumpul dari sampel yang terpilih berguna untuk menarik kesimpulan tentang populasi yang kamu amati.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Teknik Pengambilan Sampel dalam Penelitian Mana yang Akan kamu Pilih?

    Dalam banyaknya metode pengambilan sampel, tahap awal merupakan langkah vital dalam memahami tujuan dari penelitian. Jika kamu memilih teknik pengambilan sampel dalam penelitian yang tepat, akan mendapatkan hasil penelitian yang akurat dan representatif.

  • Instrumen Penelitian: Definisi, Fungsi, Jenis, dan Contohnya

    Instrumen Penelitian: Definisi, Fungsi, Jenis, dan Contohnya

    Penulisan karya ilmiah sangat berbeda dengan penulisan karya lain seperti artikel, novel, atau cerpen. Sebab, saat akan menulis karya ilmiah, Anda membutuhkan sebuah instrumen penelitian. Menentukan instrumen bahkan menjadi tahapan paling awal dalam penulisan karya ilmiah.

    Apakah Anda akan menulis karya ilmiah seperti laporan penelitian, skripsi, jurnal ilmiah, tesis, atau bahkan disertasi? Sebelum itu, pahami lebih dalam mengenai instrumen pada penelitian-penelitian ilmiah.

    Apa Itu Instrumen Penelitian?

    Penelitian dan penulisan karya ilmiah membutuhkan data-data yang sifatnya faktual. Nah, instrumen penelitian adalah metode untuk mengukur serta mengumpulkan data-data yang peneliti butuhkan dalam karya ilmiah.

    Keberadaan instrumen sangat penting karena memengaruhi validitas data. Apabila datanya salah atau tidak sesuai, maka hasil penelitian pun menjadi kurang terpercaya. Oleh sebab itu, Anda wajib memilih instrumen dengan baik. 

    Selain definisi umum di atas, beberapa ahli juga mengemukakan definisinya sendiri. Berikut ini di antaranya:

    • Suharsimi Arikunto: Instrumen merupakan alat bantu yang peneliti gunakan dalam mengumpulkan data. Fungsinya yaitu membuat penelitian dapat terlaksana dengan lebih mudah dan sistematis.
    • Sugiono: Instrumen merupakan alat bantu peneliti untuk mengukur fenomena sosial dan alam. Fenomena-fenomena tersebut selalu ada dalam variabel penelitian.
    • Sanjaya: Instrumen penelitian merupakan alat dalam kegiatan mengumpulkan data dan informasi. Sementara kegiatan penelitian yaitu kegiatan pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang valid.
    • Sappaile: Instrumen yaitu alat ukur yang memberikan informasi seputar apa yang akan menjadi objek penelitian. 

    Fungsi Instrumen Penelitian

    Ada beberapa fungsi instrumen yang membuatnya sangat penting. Langsung saja, berikut ini fungsinya:

    • Mengetahui sumber daya dan jenis data yang akan menjadi objek penelitian.
    • Mendapatkan teknik pengumpulan data yang tepat.
    • Menentukan langkah penyusunan yang tepat.
    • Menjadi instrumen pengumpulan data.
    • Mengetahui validitas, reliabilitas, dan tingkat kesukaran daya pembeda.
    • Menghasilkan data penelitian yang berkualitas.

    Jenis-Jenis Instrumen Penelitian

    Ada cukup banyak jenis instrumen penelitian yang bisa Anda gunakan dalam membuat karya ilmiah. Berikut ini jenis-jenisnya:

    1. Wawancara

    Instrumen Wawancara
    Instrumen Wawancara | Sumber Gambar: Freepik.com

    Wawancara merupakan jenis instrumen yang sering digunakan untuk penelitian-penelitian kualitatif. Peneliti akan mengumpulkan informasi-informasi dari responden target melalui interaksi secara verbal. 

    Sebelum mewawancarai responden, peneliti harus membuat daftar atau draf pertanyaan terlebih dahulu. Kelebihan instrumen wawancara yaitu memungkinkan peneliti untuk menjelaskan pertanyaan secara detail. 

    Jadi, responden tidak akan merasa bingung. Hasil penelitian wawancara memberikan tingkat respon yang tinggi dan mewakili seluruh populasi penelitian.

    2. Kuesioner

    Instrumen Kuesioner
    Instrumen Kuesioner | Sumber Gambar: Freepik.com

    Kuesioner merupakan instrumen yang berisi daftar pertanyaan. Umumnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dicetak di kertas, kemudian peneliti menyebarkannya ke responden. Namun seiring perkembangan zaman, banyak peneliti membuat kuesioner online

    Meski begitu, peneliti harus tetap merancang kuesioner secara reliabel, valid, dan tidak palsu. Pasalnya, ketika kuesioner salah, maka hasil penelitian juga akan salah. Keunggulan instrumen kuesioner yaitu responden bisa bersifat anonim, pengumpulan data besar cukup singkat, dan lain sebagainya.

    3. Eksperimen atau Percobaan

    Instrumen Eksperimen
    Instrumen Eksperimen | Sumber Gambar: Freepik.com

    Eksperimen merupakan jenis instrumen penelitian yang biasa digunakan dalam penelitian sains murni dan terapan. Peneliti akan melakukan beberapa eksperimen di laboratorium untuk menguji objek penelitian. 

    Instrumen eksperimen ini menghasilkan data langsung dan bebas dari kesalahan. Namun sayangnya, eksperimen di laboratorium tentu saja membutuhkan biaya yang cukup mahal. Selain itu, penelitian yang membutuhkan bahan kimia juga memiliki risiko tersendiri.

    4. Observasi

    Instrumen Observasi
    Instrumen Observasi | Sumber Gambar: Freepik.com

    Observasi atau pengamatan merupakan jenis instrumen selanjutnya yang perlu Anda ketahui. Pada umumnya, peneliti akan mengamati berbagai perilaku individu atau situasi yang menjadi objek dalam penelitian.

    Ada dua jenis instrumen observasi. Pertama, observasi partisipan yang mengharuskan peneliti menjadi bagian dari lingkungan atau kelompok yang sedang diamati. Kedua, observasi non partisipan di mana peneliti tidak menjadi bagian dari objek penelitian.

    Baca Juga : Pengertian Observasi: Ciri, Tujuan, Jenis, Contoh, dan Manfaatnya

    5. Tes

    Tes
    Tes | Sumber Gambar: Freepik.com

    Penggunaan instrumen penelitian tes memang tidak sebanyak empat instrumen sebelumnya. Pada umumnya, instrumen satu ini berupa serangkaian latihan, lembar kerja, atau pertanyaan yang tujuannya menjadi alat ukur. 

    Alat ukur apa? Alat ukur untuk menilai kemampuan, bakat, keterampilan, atau intelegensi individu sebagai subjek penelitian. Contoh instrumen tes yaitu tes minat bakat, tes pencapaian, tes potensi akademik, dan lain-lain. 

    6. Diskusi Kelompok Terfokus

    Diskusi Kelompok Terfokus
    Diskusi Kelompok Terfokus | Sumber Gambar: Freepik.com

    Focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terfokus merupakan diskusi kelompok terbatas yang melibatkan orang-orang terkait suatu penelitian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi pendukung penelitian. 

    Pada umumnya, peneliti menggunakannya pada penelitian terkait ilmu kearsipan, perilaku, catatan dan teknologi, perpustakaan, dan ilmu informasi. Sementara jenis datanya bersifat kualitatif. 

    7. Dokumentasi Instrumen Penelitian

    Dokumentasi Instrumen Penelitian
    Dokumentasi Instrumen Penelitian | Sumber Gambar: Freepik.com

    Sesuai namanya, instrumen ini membantu peneliti mendapatkan data dari benda tertulis. Contohnya seperti majalah, buku, artefak, video, catatan harian, dan lain sebagainya. Penelitian yang melibatkan bukti sejarah dan landasan hukum sering menggunakan jenis instrumen ini. 

    8. Skala Bertingkat

    Skala Bertingkat
    Skala Bertingkat | Sumber Gambar: Freepik.com

    Terakhir, skala bertingkat atau rating merujuk pada pengukuran objektif yang dibuat berskala atau bertingkat. Melalui instrumen ini, peneliti dapat memberikan gambaran penampilan dan menunjukkan frekuensi munculnya sifat tertentu. 

    Cara Menyusun Instrumen Penelitian

    Lantas, bagaimana cara menyusun instrumen penelitian yang tepat? Berikut ini penjelasannya:

    1. Memahami Masalah, Variabel, dan Tujuan Penelitian

    Langkah awal yang perlu Anda lakukan yaitu memahami masalah, variabel, dan tujuan penelitian. Ketiganya merupakan hal utama dalam penelitian.

    Cari tahu apa tujuan melakukan penelitian, masalah apa yang ingin diteliti, serta variabel apa saja yang akan diteliti. Indikator variabel bisa membantu Anda menentukan pertanyaan dengan lebih mudah saat wawancara atau membuat kuesioner.

    2. Memahami Sumber Data atau Responden

    Anda perlu memahami sumber data mulai dari jumlah sampai keberagamannya. Selain mempermudah pemilihan instrumen, Anda juga bisa menggunakannya sebagai acuan menentukan isi, bahasa, dan sistematika. 

    Anda harus ingat bahwa instrumen penelitian akan diberikan pada responden. Jadi, Anda perlu memahami keadaan, kondisi, serta keberagaman responden untuk mendapatkan respons paling akurat. 

    3. Menentukan Validitas dan Reliabilitas Instrumen

    Penulisan karya ilmiah membutuhkan data yang valid dan sah. Oleh sebab itu, Anda wajib menentukan tingkat kevalidan dan kesahihan instrumen sebelum memberikannya pada responden.

    Pertimbangkan jawaban-jawaban yang akan didapatkan melalui instrumen. Jawaban tersebut tidak boleh sembarangan diterima begitu saja. Anda perlu mempertimbangkan seberapa valid dan sahnya sebuah informasi yang nantinya akan didapatkan.

    4. Memilih Instrumen Penelitian

    Instrumen yang tepat membantu menghasilkan jawaban yang mampu memberikan solusi masalah dalam penelitian-penelitian. Banyak jenis instrumen yang bermanfaat dalam membuat karya ilmiah. Pastikan Anda memilih instrumen yang memiliki akurasi dan reliabilitas. 

    Contoh Instrumen Penelitian

    Instrumen Penelitian Wawancara
    Instrumen Penelitian Wawancara | Sumber Gambar: Freepik.com

    Supaya Anda bisa lebih paham mengenai instrumen penelitian, berikut ini adalah contohnya:

    1. Contoh Draf Wawancara Penelitian

    Seorang mahasiswa ingin melakukan penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif. Responden yang akan diwawancarai yaitu siswa SMA. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui minat baca siswa. Berikut contoh draf wawancaranya:

    • Apakah Anda suka membaca?
    • Seberapa penting membaca buku menurut Anda?
    • Seberapa sering Anda ke perpustakaan?
    • Jenis buku apa yang sering Anda baca?
    • Seberapa sering Anda membaca dalam satu minggu?
    • Apa manfaat membaca yang Anda rasakan?
    • Menurut Anda apakah minat baca penting dalam membaca?

    2. Contoh Kuesioner Penelitian

    Berikut ini merupakan contoh instrumen penelitian kuesioner kepuasan pelanggan terhadap pelayanan Puskesmas:

    Kuesioner Kepuasan Pelayanan Puskesmas A

    Nama:

    Umur:

    Jenis Kelamin:

    Alamat:

    1. Bagaimana kemudahan alur untuk berobat di Puskesmas?

    1. Tidak mudah
    2. Kurang mudah
    3. Mudah
    4. Sangat mudah

    2. Bagaimana kedisiplinan petugas Puskesmas dalam memberikan layanan?

    1. Tidak disiplin
    2. Kurang disiplin
    3. Disiplin
    4. Sangat disiplin

    Sudahkah Anda Paham Apa Itu Instrumen Penelitian?

    Demikianlah pembahasan mengenai apa itu instrumen penelitian. Sebelum memulai meneliti objek tertentu, Anda wajib menentukan instrumen untuk mendapatkan data yang faktual. Jadi, penelitian yang Anda jalankan akan jauh lebih mudah dan lancar. 

    Pastikan pertanyaan dalam instrumen Anda harus jelas, spesifik, dan tidak ambigu. Hindari pertanyaan ganda atau kompleks yang dapat membingungkan responden. Bahkan, bila perlu hindari menggunakan bahasa yang rumit atau teknis.

    Contoh instrumen di atas bisa membantu Anda memilih dan menyusun instrumen-instrumen yang sesuai dengan penelitian Anda. Kesuksesan penelitian bergantung pada data-data yang Anda dapatkan. Semoga bermanfaat!

  • Penelitian Sosial: Pengertian, Manfaat hingga Jenisnya

    Penelitian Sosial: Pengertian, Manfaat hingga Jenisnya

    Penelitian sosial berperan untuk menjawab atau menemukan solusi atas permasalahan maupun fenomena yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Dalam proses kerjanya, akan mengembangkan berbagai macam teori serta konsep di bidang ilmu sosiologi. Supaya lebih paham, simak rangkuman berikut ini!

    Pengertian Penelitian Sosial

    Ilustrasi seseorang mencatat hasil penelitian
    Ilustrasi seseorang mencatat hasil penelitian | Sumber Gambar: Pexels

    Seperti namanya, penelitian sosial atau social research merupakan cara ilmiah yang bertujuan untuk menganalisis atau mempelajari berbagai fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

    Jadi, social research memiliki peran penting untuk menjawab atau mencari solusi terhadap permasalahan yang muncul dalam masyarakat.

    Dalam proses kerjanya, social research menggunakan pendekatan secara empiris melalui proses pengumpulan hingga penyusunan data yang ditemukan di lapangan. Data-data tersebut berguna untuk menjawab serta mengatasi suatu permasalahan atau fenomena.

    Di bidang sosiologi, penelitian sosial menjadi instrumen paling dasar untuk mengembangkan berbagai teori atau konsep yang berkaitan dengan ilmu sosiologi.

    Manfaat Social Research

    Ilustrasi seseorang sedang membaca data penelitian
    Ilustrasi seseorang sedang membaca data penelitian | Sumber Gambar: Pexels

    Setiap jenis penelitian memiliki tujuan dan manfaat masing-masing. Dalam social research, manfaatnya berkaitan dengan permasalahan sosial atau fenomena dalam masyarakat. Untuk lebih lengkapnya, berikut 6 manfaat dari social research yang perlu diketahui:

    1. Mengembangkan Ilmu Pengetahuan

    Manfaat pertama adalah sebagai sarana untuk bantu mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu, keberadaan social research juga bisa menyempurnakan ilmu pengetahuan lewat berbagai cara penyelesaian suatu masalah.

    2. Memberikan Penjelasan Ilmiah

    Keberadaan social research juga bisa memberikan penjelasan secara ilmiah. Biasanya, penjelasan tersebut sangat valid dan terpercaya.

    Sebab, hasil dari penelitian tentang fenomena atau masalah sosial biasanya sangat akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

    3. Menjawab Permasalahan

    Berbagai permasalahan sosial juga bisa dijawab melalui penelitian sosial. Biasanya, target utama dari research ini adalah masalah sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

    4. Menjabarkan Sebab dan Akibat

    Berikutnya adalah bantu menjabarkan sebab dan akibat dari permasalahan atau fenomena yang sedang terjadi.

    Fenomena atau permasalahan sosial biasanya memiliki sebab dan akibat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka dari itu, untuk menjabarkan sebab dan akibat dari fenomena atau permasalahan tersebut, dibutuhkan social research yang mendalam.

    Misalnya, perubahan sosial atau adanya kebijakan pemerintah yang berdampak terhadap masyarakat luas.

    5. Memprediksi Fenomena Sosial

    Social research juga bisa memprediksi fenomena sosial yang akan terjadi di lingkungan masyarakat. Prediksi atau perkiraan tersebut harus sesuai dengan fakta dan data yang sudah terkumpul dari proses penelitian.

    6. Penelitian Sosial Bisa Menjadi Referensi

    Manfaat terakhir adalah menjadi referensi di bidang akademis. Hasil dari social research sangat membantu untuk penelitian selanjutnya yang lebih dalam dan sempurna.

    Karakteristik Social Research

    Seseorang melakukan interview untuk memperoleh data riset
    Seseorang melakukan interview untuk memperoleh data riset | Sumber Gambar: Unsplash

    Setiap penelitian memiliki karakteristik masing-masing. Dalam penelitian sosial, terdapat beberapa karakteristik yang menjadi pembeda dengan research lainnya. Karakteristik tersebut meliputi:

    • Penyusunan penelitian menggunakan cara sistematis.
    • Social research merupakan keseluruhan dari kajian riset yang bersifat logis serta masuk akal.
    • Riset berdasarkan metode yang memiliki data valid serta bisa dipertanggungjawabkan.
    • Social research bersifat kumulatif, karena berhubungan dengan fenomena atau permasalahan sosial. Fenomena atau permasalahan sosial tersebut bersifat dinamis, sehingga riset bisa terus berkembang.
    • Data-data riset berasal dari pengamatan serta pengalaman selama riset berlangsung.
    • Hasil dari riset berdasarkan sudut pandang umum, jadi tidak bersifat subjektif.

    Karakteristik di atas membuat riset sosial berbeda dengan jenis riset lainnya. Selain itu, karakteristik tersebut juga menjadi acuan dalam proses penelitian, salah satunya hasil penelitian yang bersifat masuk akal dan berdasarkan sudut pandang secara umum.

    Jenis-Jenis Riset Sosial

    Contoh peneliti yang sedang menyusun data penelitian
    Contoh peneliti yang sedang menyusun data penelitian | Sumber Gambar: Pexels

    Riset sosial terbagi menjadi beberapa jenis yang dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu berdasarkan metode dan berdasarkan cara mendapatkannya. Agar tidak keliru, simak penjelasan masing-masing jenis riset sosial berikut ini!

    1. Jenis Riset Sosial Berdasarkan Metodenya

    Berdasarkan metodenya, riset sosial terbagi menjadi dua jenis, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Kedua jenis metode tersebut cukup populer dalam riset akademis, meski begitu, keduanya memiliki pengertian dan cara penelitian yang berbeda. Seperti apa? Berikut penjelasannya:

    a. Penelitian Kualitatif

    Penelitian yang menggunakan metode kualitatif melibatkan subjek yang diteliti dan mengumpulkannya dari berbagai data, mulai dari pengalaman pribadi, studi kasus, data empirik, wawancara, historis, hasil pengamatan, interaksi, hingga maknanya.

    Data kualitatif biasanya berupa informasi kenyataan atau fenomena yang terjadi secara nyata di lapangan. Oleh karena itu, metode kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data lewat wawancara mendalam maupun melakukan pengamatan partisipasi atau partisipan.

    Tidak hanya itu, riset sosial yang menggunakan metode kualitatif juga harus berlandaskan filsafat postpositivisme, yaitu aliran yang menyetujui bahwa realitas adalah nyata.

    Teknik pengumpulan data menggunakan metode kualitatif adalah teknik triangulasi gabungan, yaitu analisis data yang bersifat kualitatif. Sedangkan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna, bukan asumsi maupun generalisasi fenomena yang ada.

    b. Penelitian Kuantitatif

    Jenis kedua dari penelitian sosial berdasarkan metodenya adalah penelitian kuantitatif. Metode ini sifatnya mengumpulkan data-data penelitian yang bisa diukur. Misalnya, pengaruh perilaku, jumlah penghasilan, tingkat kepuasan, dan data-data lainnya.

    Meski berupa angka, riset kuantitatif bisa berupa deskripsi statistik atau studi korelasi antara hubungan sebab dan akibat.

    Dalam social research, metode kuantitatif biasanya untuk meneliti jumlah populasi atau sampel tertentu dengan cara mengumpulkan data yang melibatkan instrumen penelitian, seperti analisis data yang bersifat kuantitatif atau statistik.

    Tujuan dari riset tersebut adalah menguji hipotesis yang sudah ditetapkan lebih dulu oleh peneliti. Secara keseluruhan, metode kuantitatif sangat cocok untuk meneliti jumlah populasi yang luas, dengan variabel penelitiannya yang terbatas.

    2. Riset Berdasarkan Cara Memperoleh Informasi

    Jenis riset sosial juga ditentukan dari cara peneliti memperoleh informasi atau data yang bisa dijelaskan hasilnya. Riset sosial berdasarkan cara mendapatkan informasi terbagi menjadi 5 jenis, yaitu:

    a. Survei

    Jenis pertama ada survei, yaitu jenis riset yang paling populer di kalangan peneliti. Dalam prosesnya, riset yang menggunakan survei akan menggunakan kuesioner atau angket, yang merupakan bagian dari instrumen penelitian.

    Cara mendapatkan informasi melalui survei digunakan untuk mengumpulkan data dari jumlah populasi yang banyak.

    b. Studi Kasus

    Kedua, ada jenis studi kasus, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi suatu fenomena atau kasus yang menjadi fokus utama dari penelitian. Jenis penelitian kedua ini juga akan menjadi acuan untuk hipotesis atau teori yang diteliti.

    Data dari studi kasus hanya berfungsi sebagai konfirmasi atau konfrontasi dari sebuah teori maupun hipotesis yang sudah dibuat.

    c. Eksperimen

    Berikutnya ada eksperimen, yaitu cara mendapatkan informasi untuk menemukan hubungan sebab dan akibat dari variabel penelitian. Selain itu, eksperimen juga berfungsi untuk memeriksa hipotesis penelitian. Sehingga, hasil data penelitian memiliki peran penting dalam menentukan relevansi teori atau hipotesis.

    d. Deskriptif

    Jenis penelitian sosial berikutnya adalah deskriptif, yaitu riset yang fokus memberikan penjelasan atau penjabaran secara detail tentang fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

    Riset yang menggunakan cara deskriptif bertujuan untuk menjawab suatu fenomena atau masalah sosial yang sedang terjadi. Oleh karena itu penelitian ini identik dengan kalimat tanya, seperti bagaimana.

    e. Grounded Research

    Selanjutnya ada grounded research, yaitu penelitian yang teorinya berasal dari fakta di lapangan. Dalam penerapannya, peneliti tidak boleh melibatkan asumsi-asumsi dalam pikirannya. Tujuannya agar data yang diperoleh sesuai dengan keadaan, tanpa ada intervensi dari pihak manapun, salah satunya diri sendiri.

    Pentingnya Penelitian Sosial dalam Sosiologi

    Contoh sosiolog sedang melakukan riset sosial via internet
    Contoh sosiolog sedang melakukan riset sosial via internet | Sumber Gambar: Pexels

    Melansir dari Kompas, seorang sosiolog perlu melakukan riset sosial untuk menemukan fenomena atau apa saja yang sedang terjadi di masyarakat. Umumnya, fenomena atau masalah sosial tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti ekonomi, pendidikan, kebijakan pemerintah, perubahan iklim, dan lainnya.

    Nah, dalam menemukan masalah yang terjadi, sosiolog membutuhkan pendekatan melalui penelitian sosial untuk mendapatkan data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

    Permasalahan sosial yang akan selalu ada harus dikaji lebih dalam. Sosiolog tidak boleh memberikan asumsi tanpa adanya riset atau observasi langsung ke lapangan. Hal ini bertujuan agar solusi atau jawaban yang ditentukan sesuai dengan fenomena atau permasalahan yang ada.

    Agar jawaban atau solusi sesuai dengan fenomena yang ada, para sosiolog akan mencari solusi atau jawaban tersebut menggunakan riset sosial sesuai dengan jenisnya. Proses inilah yang membuat keberadaan social research sangat penting, khususnya di bidang sosiologi.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Sudah Lebih Paham Tentang Penelitian Sosial?

    Social research merupakan salah satu jenis riset yang berperan penting dalam mencari tahu masalah atau fenomena dalam masyarakat berdasarkan data lapangan. Ada banyak jenis penelitian yang bisa dicoba, seperti penelitian berdasarkan metode. Contohnya kualitatif dan kuantitatif yang sangat populer.

  • Cara Menghitung Keliling Jajar Genjang, Rumus dan Contohnya!

    Cara Menghitung Keliling Jajar Genjang, Rumus dan Contohnya!

    Ketika belajar matematika, tentu Anda pernah mencari tahu tentang cara menghitung keliling jajar genjang. Pada dasarnya, jajar genjang mempunyai rumus hitung keliling dengan cara yang sangat mudah. Namun, perlu langkah yang tepat untuk dapat menghasilkan luas keliling yang sesuai dengan ukurannya.

    Selain itu, terdapat juga sedikit perbedaan rumus dalam mencari luas keliling dari suatu objek jajaran genjang. Bagi Anda yang ingin mengetahui rumus untuk menghitung keliling luas jajaran genjang, mari simak artikel ini selengkapnya!

    Apa itu Jajar Genjang?

    Sebelum masuk ke pembahasan rumusnya, simak terlebih dahulu pengertian jajar genjang sebagai langkah awal pemahaman Anda. Jajar genjang adalah bangun datar dengan sifat dua dimensi yang jika tampak dari bentuknya hampir menyerupai persegi empat yang mempunyai dua rusuk sejajar dan saling berhadapan. 

    Kemudian, jajaran genjang juga memiliki arti lain sebagai segi empat yang terbentuk oleh dua garis sejajar dengan sudut tidak teratur. Bangunan ini juga tidak memiliki titik koordinat 90 derajat atau tidak memiliki siku.

    Selain itu, jajar genjang juga tidak mempunyai titik sumbu simetri. Hal inilah yang membuat bangunan ini berbeda dengan jenis bangun datar persegi lainnya. Karena pada dasarnya, jenis bangun datar persegi punya empat titik sumbu simetri.

    Sifat-Sifat Jajar Genjang

    Sebelum membahas rumus dan cara menghitung keliling jajar genjang, simak juga pembahasan tentang sifat-sifat yang terdapat dalam bangunan ini. Mengutip dari buku Etnomatika yang berjudul Belajar Konsep Inti Matematika Menggunakan Budaya Nusantara, jajaran genjang terbentuk dari beberapa sifat sebagai berikut:

    • Memiliki dua pasang titik sudut yang sama besarnya dengan sudut yang berhadapan. 
    • Mempunyai dua pasang sisi yang sama panjang. 
    • Memiliki dua pasang titik rusuk. Di mana masing-masing titik tersebut mempunyai panjang yang sama dan sejajar dengan pasangannya. 
    • Mempunyai dua diagonal yang saling berpotongan dalam satu titik serta saling membagi dua bagian sama panjang. 
    • Memiliki titik simetri putar tingkat dua serta tidak memiliki simetri lipat. 
    • Tinggi jajar genjang terbentuk dari garis yang melintang pada salah satu titik sudut menuju sisi lainnya. Sehingga, akan membentuk titik sudut siku-siku pada ujung sisi tersebut. 
    • Mempunyai dua pasang sudut yang sama besar, yakni pasangan sudut tumpul dan juga pasangan sudut lancip. 
    • Salah satu titik sudut lancip akan dijumlahkan dengan salah satu titik sudut tumpul agar menghasilkan nilai titik koordinat 180°. 
    • Sudut yang saling berhadapan, mempunyai besaran yang sama.

    Rumus dan Cara Menghitung Keliling Jajar Genjang

    Setelah mengetahui sifat-sifat dari bangunan datar jajar genjang, selanjutnya akan masuk dalam pembahasan inti tentang menghitung rumus keliling pada jajaran genjang. 

    Pada dasarnya, rumus untuk menghitung keliling bangun datar ini sangatlah mudah, yakni dengan menghitung atau menambahkan semua sisi pada bangunan jajaran genjang tersebut.

    Mengutip dari buku materi SNMPTN yang berjudul Siap Menghadapi UASBN 2011, rumus untuk menghitung keliling jajar genjang adalah sebagai berikut.

    Sisi + Sisi + Sisi + Sisi = Keliling jajar genjang 

    Berdasarkan rumus tersebut, dapat Anda tarik kesimpulan bahwa, untuk mencari keliling pada jajar genjang maka Anda perlu menjumlahkan seluruh sisi yang terdapat pada bangun tersebut. Selain itu, Anda juga bisa langsung melakukan perkalian 4 pada seluruh sisinya, jika memiliki nilai atau besar sisi yang sama.

    Contoh Soal Keliling Jajar Genjang

    Setelah mengetahui cara menghitung keliling jajar genjang, selanjutnya Anda perlu mengetahui contoh soalnya agar dapat menguasai rumus luas keliling jajaran genjang dengan lebih detail. Berikut contohnya:

    Diketahui sebuah jajar genjang memiliki sisi miring 6 cm. Kemudian, bangun datar ini memiliki tinggi 5 cm. Dari keterangan tersebut, silahkan hitung keliling dari bangun jajar genjang menggunakan rumus keliling penjumlahan sisi:

    Diketahui: 

    Sisi miring = 8 cm 

    Tinggi = 5 cm

    Pertanyaan: Berapakah keliling jajar genjang? 

    Jawaban: 

    Rumus keliling jajar genjang: sisi + sisi + sisi + sisi

    Keliling jajar genjang  = 8 + 5 + 8 + 5 = 26 cm. 

    Jadi, berdasarkan jawaban menggunakan rumus penjumlahan sisi pada bangunan jajaran genjang, keliling jajar genjang adalah 28 cm.

    Cara Menghitung Luas Jajar Genjang

    Setelah mengetahui cara menghitung keliling jajar genjang, berikut adalah rumus dan contoh soal mencari luas bangunan jajar genjang.

    Rumus luas jajar genjang:

    Alas x Tinggi (AxT)

    Contoh Soal:

    Diketahui sebuah bangun jajargenjang mempunyai alas 28 cm dan memiliki tinggi 14 cm. Silakan hitung luas bangun jajar genjang tersebut!

    Rumus luas jajar genjang = (A x T) atau, Alas x Tinggi.

    Jawaban: 28 x 14 = 392

    Jadi, luas bnagun jajar genjang tersebut adalah 393 cm persegi.

    Sudah Paham Cara Menghitung Keliling Jajar Genjang?

    Itulah pembahasan lengkap tentang apa itu jajar genjang, beserta sifat, rumus keliling, dan contoh soalnya. Intinya, jajar genjang adalah bangun datar dengan sisi persegi yang unik. Kemudian, untuk mencari keliling jajaran genjang Anda hanya perlu menjumlahkan seluruh sisi yang ada pada bangunan datar tersebut.

  • 11 Unsur Proposal Kegiatan yang Wajib Kamu Perhatikan

    11 Unsur Proposal Kegiatan yang Wajib Kamu Perhatikan

    Ketika kamu berencana membuat acara, entah itu di kampus, sekolah, atau perusahaan dokumen yang wajib disiapkan adalah proposal. Proposal ini dokumen penting agar acara mendapat dukungan dari pihak yang dianggap penting. Oleh karena itu, dalam pembuatannya kamu harus tahu unsur proposal dengan baik.

    Unsur-unsur ini tentu saja harus kamu buat secara sistematis dan tidak boleh asal. Sebab proposal itu dokumen resmi yang isinya harus dipertanggungjawabkan. Supaya tidak salah dalam membuatnya, simak tulisan ini sampai habis.

    Pengertian dan Tujuan Proposal

    Menandatangani surat
    Menandatangani surat | Sumber: pixabay.com

    Proposal itu dokumen yang berisi pengusulan proyek penelitian atau kegiatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dokumen ini adalah rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan. Jadi, proposal yaitu rencana kerja yang dibuat sistematis dan rinci untuk kegiatan yang akan diselenggarakan.

    Dokumen ini juga memiliki arti khusus menurut jenisnya. Contohnya dalam bidang akademis, proposal merupakan rancangan penelitian yang akan dilakukan peneliti terkait bahan penelitian. Proposal ini biasanya diserahkan pada pembimbing untuk nantinya mendapat persetujuan penelitian.

    Sementara itu, ada juga proposal kegiatan yang biasanya disusun sebelum mengadakan acara tertentu. Proposal ini biasanya diserahkan kepada pihak-pihak penting seperti atasan perusahaan, pembina organisasi, dan lain-lain supaya kegiatan tersebut mendapat dukungan dan persetujuan.

    Penyusunan dokumen ini sangat penting kamu lakukan karena terdapat unsur proposal yang penting untuk diperhatikan supaya dokumen tersebut bisa meyakinkan pihak lain agar mau menyetujui pelaksanaan ide atau proyek yang sudah kamu susun.

    Selain itu, pada acara besar, proposal juga penting untuk mendapatkan bantuan dana dari sponsor. Jadi pengajuan proposal ini juga sebagai bentuk keseriusan seseorang atau tim dalam mengerjakan atau mengadakan proyek tertentu baik dalam bidang akademis, bisnis, atau kegiatan non-profit.

    Unsur Proposal Kegiatan

    Tumpukan dokumen
    Tumpukan dokumen | Sumber: istockphoto.com

    Proposal adalah dokumen penting yang memuat berbagai unsur yang harus kamu cantumkan. Unsur proposal ini harus tersusun secara sistematis, detail, jelas, dan bisa dipertanggungjawabkan.

    1. Judul Proposal

    Unsur paling pertama yang harus kamu perhatikan adalah judul. Nama judul ini wajib ada pada setiap proposal agar pihak yang dituju tahu kegiatan atau proyek apa yang ingin kamu lakukan.

    Penulisan judul haruslah ringkas, jelas, dan sesuai dengan permasalahan atau tujuan. Jangan menulis judul dengan narasi berbelit-belit atau memiliki makna ambigu. Hindari pula penggunaan makna klise dalam proposal.

    Misalnya saja kalau kamu ingin menyelenggarakan acara ulang tahun perusahaan, maka gunakan saja judul Proposal Kegiatan Perayaan Hari Ulang Tahun PT. Sejahtera Sentosa 2023.

    Kalau kamu menggunakan judul panjang dalam proposal, ada baiknya bagi judul tersebut menjadi 2, yaitu judul utama dan sub judul. Cara ini akan memudahkan kamu dalam penulisan dan membuat pihak pembaca lebih mudah memahami apa maksud dalam proposalmu.

    2. Latar Belakang

    Setelah menulis judul, unsur proposal selanjutnya adalah latar belakang. Bagian ini memuat tentang apa latar belakang dan alasan dari kegiatan yang ingin kamu selenggarakan.

    Lebih jelasnya, bagian ini menjelaskan tentang peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi kegiatan tersebut sehingga perlu adanya penyelesaian atau aksi yang harus kamu lakukan.

    Saat menuliskan latar belakang masalah, kamu harus menggunakan kalimat yang menyakinkan, tidak berbelit-belit, jelas, dan langsung pada akar masalahnya. Kalau kalimat yang kamu gunakan berbelit-belit sehingga akar masalahnya tidak jelas, maka pihak yang membaca akan rentan menolak proposal yang kamu ajukan.

    4. Tujuan Kegiatan

    Ketiga ada tujuan kegiatan. Sesuai namanya, bagian ini berisi tentang apa tujuanmu melakukan kegiatan tersebut?

    Unsur ini sangat penting kamu cantumkan dalam proposal supaya pihak penting yang membaca mengetahui dengan jelas maksud dan keinginan utama kamu melaksanakan kegiatan tersebut.

    Karena ini membahas tujuan, maka sebaiknya tulislah secara jelas, terukur, dan spesifik. Tujuan proposal terbagi menjadi dua tujuan, yakni tujuan utama dan tambahan. Jangan lupa juga sampaikan informasi objektif  berupa pencarian jawaban atas masalah atau peristiwa yang sedang terjadi.

    5. Manfaat Kegiatan

    Setelah tujuan, manfaat kegiatan juga wajib kamu cantumkan. Bagian ini penting untuk meyakinkan pihak lain kalau kegiatan yang kamu selenggarakan memiliki manfaat bagi perusahaan ataupun masyarakat sekitar.

    Supaya lebih efektif, bagian ini bisa kamu gabungkan dengan tujuan kegiatan sehingga menjadi “Tujuan dan Manfaat Kegiatan”. Susun secara objektif, jelas, dan meyakinkan supaya pihak terkait mau menerima pengajuan proposalmu.

    6. Sasaran

    Setiap kegiatan pasti memiliki sasaran yang jelas. Inilah unsur proposal yang harus kamu cantumkan supaya orang yakin akan kegiatan tersebut. Siapa pesertanya, usia berapa, apakah sasarannya ada jenis kelamin tertentu, berapa jumlah pesertanya, dan sebagainya. Tulislah secara tegas dan jelas siapa target dari kegiatan tersebut.

    7. Tempat dan Waktu Kegiatan

    Tulis secara rinci kapan dan di mana  kegiatan tersebut diselenggarakan. Misalnya kamu ingin menyelenggarakan kegiatan perayaan HUT RI di sekolah, maka tulislah tempat acara seperti di aula sekolah, lapangan sekolah, atau yang lain. Cantumkan juga waktu acara lengkap dengan hari, tanggal, dan pukul berapa.

    8. Teknis Pelaksanaan Acara

    Unsur proposal kegiatan kedelapan adalah teknis pelaksanaan acara. Bagian ini berisi tentang bagaimana teknis pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk juga rundown

    Rundown adalah jadwal kegiatan yang disusun secara sistematis dan terbatas oleh durasi. Jadwal ini berguna agar kegiatan tersebut terlaksana dengan baik, sesuai waktunya alias tidak molor sehingga efisiensi waktu bisa terlaksana dengan baik.

    9. Susunan Panitia

    Tak lupa juga unsur proposal lainnya, yakni susunan panitia. Panitia adalah orang-orang yang bertugas dan bertanggung jawab atas kesuksesan serta kelancaran acara tersebut.

    Nama-nama panitia yang termuat dalam proposal mencakup ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi lengkap dengan tugas serta tanggung jawab masing-masing.

    10. Rencana Anggaran

    Ada lagi unsur yang tak kalah penting, yaitu rencana anggaran. Saat mengadakan kegiatan tentu saja memerlukan anggaran dana sehingga perlu mencantumkan rincian perkiraan anggaran yang kamu butuhkan selama kegiatan berlangsung.

    Rencana anggaran ini terdiri dari biaya sewa peralatan, biaya konsumsi, biaya administrasi, hadiah, biaya dekorasi, biaya dokumentasi dan publikasi, dan lain-lain. Semua anggaran biaya ini harus kamu tulis secara realistis dan sesuai dengan kebutuhan.

    11. Penutup

    Terakhir, ada penutup. Ini adalah bagian akhir dari proposal yang berisi ucapan terima kasih dan harapan kepada pihak-pihak penyelenggara dan pihak-pihak penting yang kamu tuju.

    Selain itu, bagian ini juga mencakup penekanan tentang pentingnya kegiatan itu berjalan dan rasa optimis terhadap kelancaran acaranya nanti.

    Apakah Unsur Proposal Kegiatan Sama seperti Penelitian?

    Mahasiswa baca buku
    Mahasiswa baca buku | Sumber: pixabay.com

    Kedua kegiatan tersebut memang sama-sama membutuhkan proposal. Namun jika kamu telisik lebih jauh, keduanya memiliki perbedaan.

    Dalam proposal kegiatan itu memuat hal-hal yang mendukung kelancaran dan terselenggaranya acara sehingga terdapat poin sasaran, tempat dan waktu acara, susunan panitia, rundown, hingga rencana anggaran.

    Sementara itu, pada proposal penelitian untuk bidang akademis memuat hal-hal yang mendukung terselenggaranya penelitian dan kevalidan data yang peneliti gunakan. Misalnya metode penelitian, kajian pustaka, rumusan masalah, hipotesis, dan lain-lain.

    Jadi keduanya tetap memiliki unsur yang berbeda, supaya tujuannya bisa tercapai sesuai dengan keinginan penyelenggara.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Sudah Mengerti Apa Saja Unsur Proposal Kegiatan?

    Proposal kegiatan memiliki beberapa unsur yang mendukung terselenggaranya sebuah acara. Oleh karena itu saat menyusunnya perlu memerhatikan betul apa saja unsur proposal yang perlu kamu tulis sehingga hasilnya bisa menarik perhatian pihak terkait untuk menyetujui dan mendukung kegiatan tersebut.

  • Karya Ilmiah Populer: Definisi, Jenis, dan Cara Pembuatannya

    Karya Ilmiah Populer: Definisi, Jenis, dan Cara Pembuatannya

    Karya ilmiah adalah salah satu wujud puncak dari eksplorasi intelektual manusia. Namun, banyak karya ilmiah yang sulit dipahami bagi orang awam karena bahasa dan formatnya yang teknis. Sehingga, beberapa penulis mulai mempelajari dan membuat karya ilmiah populer.

    Bentuk penulisan ini memungkinkan karya penelitian ilmiah menjadi lebih mudah dipahami dan menarik bagi masyarakat umum. Bahkan, karya-karya tersebut bisa semakin terkenal karena kompatibel untuk disebarkan melalui media massa. Nah, Anda bisa ketahui informasi lainnya dengan baca artikel ini sampai selesai!

    fenomena alam, ilmu pengetahuan, maupun kesehatan dan pendidikan.

    Apa Itu Karya Ilmiah Populer?

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karya tulis merupakan suatu karya dengan prinsip ilmiah yang mengacu pada data, observasi, maupun eksperimen. Sedangkan istilah populer memiliki arti terkenal, banyak orang yang menyukai maupun kagum.

    Sehingga, karya ilmiah populer, atau makalah ilmiah, adalah suatu karya ilmiah yang mana data-datanya merujuk pada observasi maupun hasil penelitian orang lain. Sering kali makalah ilmiah ditulis dengan menyadur atau mengutip karya tulis lainnya.    

    Walaupun terdengar ilmiah, para penulis mengemas dengan bahasa yang khas, menarik, santai, dan tidak kaku untuk masyarakat awam sebagai pembaca. Sehingga, pembaca dapat menyerap isinya dengan baik dan mudah dipahami.

    Karya ilmiah ini dapat tersebar luas di media massa berupa majalah, tabloid, koran, surat kabar, maupun media online lainnya. Isinya seputar ilmu pengetahuan, fenomena alam, kesehatan, pendidikan, dan kasus-kasus yang sedang ramai diperbincangkan berdasarkan tinjauan ilmiah.

    Meskipun menggunakan gaya bahasa santai, makalah ilmiah memiliki beberapa ciri-ciri penulisan, yaitu memuat bahasa yang sistematis, logis, objektif, dan faktual. Berikut masing-masing penjelasannya:

    • Sistematis, artinya tulisan harus memiliki struktur yang baik dengan pola bahasa yang baku.
    • Logis adalah isi tulisan harus bisa dipahami oleh akal sehat dan logika.
    • Objektif, maksudnya adalah tulisan berdasarkan teori yang jelas dan terbukti secara ilmiah, bukan atas pandangan pribadi.
    • Faktual berarti karya ilmiah populer harus dibuat berdasarkan fakta, bukan imajinatif.

    Karakteristik Karya Ilmiah Populer

    Karakteristik Karya Ilmiah Populer | Sumber gambar: thoughtco.com

    Setelah Anda mengetahui beberapa ciri dan pengertian dari makalah ilmiah, selanjutnya Anda juga perlu mendalami pemahaman mengenai sifat dan karakteristiknya. Berikut ini penjelasannya:

    1. Bersifat Informatif

    Karakteristik yang pertama adalah bersifat informatif. Sebab, tujuan pembuatan makalah ilmiah adalah untuk menyampaikan informasi yang mudah dipahami dan berbagi pengetahuan ilmiah.

    Sehingga, Anda dapat memberikan tulisan dengan sifat yang informatif. Bahkan, Anda bisa berharap bahwa pembaca dapat memahami data beserta pembahasan yang argumentatif, deskriptif, serta referensial.

    2. Menggunakan Bahasa Populer

    Berdasarkan ciri-ciri di atas, penggunaan bahasa populer juga sangat penting dalam mengemas makalah ilmiah. Sebab, sasaran dari makalah ilmiah bukan hanya untuk kalangan akademisi maupun pegawai, tetapi juga untuk masyarakat awam.

    Maksud dari bahasa populer di sini adalah Anda tidak menggunakan bahasa asing maupun istilah yang jarang orang paham. Usahakan tetap menggunakan bahasa yang komunikatif dan istilah yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga orang awam pun bisa membaca dengan tenang.

    3. Istilah yang Tepat

    Jika Anda masih ingin menggunakan istilah-istilah baru, usahakan memberikan suku kata padanan atau sinonimnya. Meskipun berjudul karya ilmiah populer, namun bahasa yang terlalu ilmiah akan menyulitkan pembaca.

    4. Gagasan Tulis

    Selanjutnya adalah menggunakan model tulisan dengan gagasan yang mudah dicerna, sehingga pembaca tidak harus berpikir dua kali. Hal itu bertujuan untuk memudahkan pembaca dengan gaya bercerita yang mengalir secara runtut.

    5. Judul Tulisan

    Karakteristik yang terakhir adalah membuat judul tulisan yang menarik. Biasanya, pembaca awam lebih menyukai judul-judul yang unik dan mengandung informasi utuh. Selain itu, dalam penulisan judul artikel, pastikan judul tersebut sesuai dengan isi artikel dan mencerminkan konten yang akan dibahas dengan akurat.

    Struktur Penulisan Karya Ilmiah Populer

    Struktur Penulisan Karya Ilmiah Populer
    Struktur Penulisan Karya Ilmiah Populer | Sumber Gambar: Freepik.com

    Makalah ilmiah juga memiliki beberapa struktur yang dapat menunjang kepenulisan. Meskipun terbilang ilmiah, biasanya penulis menyusunnya dalam tiga hingga lima halaman saja. Lantas, apa saja isi pembahasannya? 

    1. Judul

    Bagian pertama dalam setiap kepenulisan karya ilmiah maupun non ilmiah adalah judul. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, pembuatan judul harus menarik dan jelas. Sebaiknya, judul tulisan bisa memantik rasa ingin tahu pembaca, namun tetap sederhana dan komunikatif.

    2. Pendahuluan

    Selanjutnya adalah pendahuluan. Sebelum memasuki inti penulisan, Anda perlu menjelaskan alasan pembuatan karya ilmiah populer. Selain itu, Anda juga perlu menjabarkan pokok permasalahan yang terjadi untuk menunjang kelengkapan artikel.

    3. Isi

    Ketika Anda melangkah ke dalam konten artikel, bagian isi menjadi sangat krusial dalam setiap tulisan. Sebab, bagian ini akan digunakan sebagai rujukan bagi penulis lain. Oleh karena itu, sebaiknya hasilkan tulisan yang mengacu pada data akurat, kutipan yang relevan, atau pandangan dari beberapa pakar dalam bidang tersebut.

    4. Penutup

    Bagian terakhir adalah penutup. Penutup tidak terlepas dari kesimpulan serta kritik maupun saran terhadap pihak-pihak terkait. Anda juga bisa memberikan masukan khusus untuk pembaca.

    Panduan Menyusun Karya Ilmiah Populer

    Menyusun Karya Ilmiah Populer
    Menyusun Karya Ilmiah Populer | Sumber gambar: Science.org

    Demi menghasilkan karya tulisan yang bagus, Anda perlu memahami beberapa cara penyusunan makalah ilmiah berikut ini:

    • Mencari topik yang sedang diminati oleh sebagian besar masyarakat sekitar.
    • Gaya penulisannya memperhatikan fakta dan unsur ilmiah. Sebab, penjelasannya pun juga berdasarkan dari metode ilmiah.
    • Isi penjelasan karya ilmiah memuat sumber resmi maupun sumber rujukan penulis.
    • Makalah ilmiah menggunakan bahasa yang tidak menggurui ataupun terlalu teknis.
    • Sebagai seorang penulis karya ilmiah populer, usahakan Anda memahami betul terkait topiknya. Sebab, pemahaman topik yang dalam dapat mengurangi kesalahan penyampaian isi makalah.
    • Menyusun beberapa strategi kepenulisan, seperti apa tujuan makalah ini, kepada siapa sasaran pembacanya, serta materi dan data-data apa saja yang dibutuhkan.
    • Merancang tema maupun topik yang sedang terjadi di sekitar.
    • Menyajikan tulisan yang dapat menambahkan informasi baru bagi orang awam.

    4 Bentuk Karya Ilmiah Populer dan Jenis-Jenisnya

    Bentuk dan Jenis Karya Ilmiah Populer | Sumber gambar: Freepik.com

    Terdapat empat bentuk karya ilmiah populer, yaitu berita ringan, feature, artikel, dan laporan. Berikut ini masing-masing penjelasannya:

    1. Berita Ringan

    Berita ringan merupakan tulisan dengan bahasa santai yang berisi informasi ringan dan menghibur, tetapi tetap bisa menambah pengetahuan. Ada beberapa tipe artikel ilmiah yang tergolong ke dalam berita ringan, yaitu:

    a. Soft News

    Jenis berita ringan pertama adalah soft news di mana Anda sebagai penulis akan menulis berita apa adanya tanpa tambahan apapun. Contoh dari soft news adalah artikel “Cara unik makan tiram bakar khas Barru”.

    b. Interpretative News

    Berbeda dengan sebelumnya, Interpretative News memberikan pembahasan yang mendalam, baik dari gagasan penulis maupun dari kutipan narasumber. Contohnya seperti artikel berita “Bankir top Rusia sebut Dolar AS untuk senjata, apa maksudnya?”

    c. Human Interest News

    Jenis yang terakhir dari berita ringan adalah berkaitan dengan sisi kehidupan orang lain. Contohnya adalah berita tentang anak yang hilang.

    2. Feature

    Feature merupakan tulisan tentang cakupan fakta, kronologi suatu peristiwa, kejadian, maupun proses terbentuknya dan cara kerjanya. Berikut beberapa jenis karya ilmiah populer yang tergolong cakupan feature:

    a. News Feature

    Berita mengenai proses kejadian, sebab-musabab, dan akibatnya. Contoh berita yang tergolong news feature adalah pemakaian masker di masa pandemi dengan benar.

    b. Feature Ilmu Pengetahuan

    Tulisan yang berkaitan tentang teknologi, pengetahuan, karya tulis, dan ilmu terapan secara ilmiah yang sedang populer. Contohnya seperti tulisan terkait globalisasi, kebudayaan dan hubungannya dengan Indonesia.

    c. Feature Perjalanan

    Tulisan ini menjelaskan informasi objek wisata sehingga bermanfaat untuk orang yang akan berwisata di daerah tersebut. Contohnya seperti kisah dibalik nama Tanaka Waterfall ala Jepang.

    d. Human Interest Feature

    Jenis tulisan feature yang terakhir adalah berkaitan tentang kisah pengalaman hidup orang lain maupun pribadi. Contohnya seperti cerita istri yang diselingkuhi suami.

    3. Artikel

    Bentuk karya ilmiah populer yang ketiga adalah artikel. Artikel menyampaikan beberapa persoalan masalah, pendapat, dan pendirian penulis. Berikut ini jenis-jenis karya ilmiah yang tergolong ke dalam artikel:

    a. Kolom opini

    Kolom opini merupakan tulisan tentang masalah atau pendapat pribadi penulis. Contohnya adalah rumitnya jenjang karir dosen.

    b. Artikel Ilmiah

    Berbeda dengan kolom opini, artikel ilmiah memiliki pembahasan yang lebih mendalam, berdasarkan studi literatur, serta pemecahannya. Contohnya seperti artikel yang menjelaskan bahaya internet bagi remaja.

    c. How to do it

    Terakhir, artikel yang membahas mengenai tutorial dan keterampilan yang bisa pembaca ikuti. Contohnya adalah cara mengolah sampah menjadi biogas.

    Baca Juga : Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Sudah Tahu Cara Pembuatan Karya Ilmiah Populer?

    Pada dasarnya, karya ilmiah populer bukanlah suatu jurnal atau skripsi yang harus menggunakan bahasa baku dengan sumber rujukan ilmiah. Tujuan adanya karya tulis populer ini adalah agar Anda sebagai penulis bisa menyampaikan ilmu sekitar dalam konteks ilmiah kepada masyarakat.

    Buat narasi yang menarik dan mengalir dengan baik. Mulailah dengan pendahuluan yang menarik, jelaskan konsep secara sistematis, dan akhiri dengan kesimpulan yang kuat. Dengan begitu, harapannya makalah ilmiah bisa menyampaikan informasi maupun wawasan dengan mudah kepada masyarakat awam.

  • Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Pengertian Makalah, Struktur, Jenis, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Karya tulis ilmiah merupakan alat bagi para akademisi untuk menunjukkan sekaligus menuangkan keilmuannya. Bentuknya bisa berupa makalah yang tersusun dalam sistematika tertentu. Anda pasti sudah sangat sering mendengar pengertian makalah, tetapi struktur dan cara pembuatannya bisa jadi masih awam.

    Namun, tidak perlu khawatir. Pada dasarnya, struktur sampai cara pembuatan makalah mudah untuk Anda pelajari. Anda justru perlu memperhatikan terkait kaidah penulisannya agar makalah yang disusun dapat terbaca dengan baik. Cari tahu selengkapnya di sini!

    Pengertian Makalah

    Secara garis besar, pengertian makalah adalah suatu karya tulis yang di dalamnya memuat pengetahuan atau bahasan mengenai suatu topik tertentu. Para ahli telah mendefinisikan pengertian karya tulis ilmiah satu ini. Berikut diantaranya, yaitu:

    1. W.J.S Poerwadarminta

    Bagi Poerwadarminta, salah seorang tokoh sastra Indonesia mendefinisikan makalah sebagai sekumpulan uraian tertulis yang berisi tentang bahasan masalah tertentu. Masalah tersebut bisa Anda peroleh penjelasannya secara mendetail.

    2. Tanjung dan Ardial

    Menurut Tanjung dan Ardial, pengertian makalah adalah sebuah karya tulis yang isinya tentang masalah tetapi dikemas secara sistematis, analitik, dan digali secara mendalam sampai pada sebuah kesimpulan tertentu.

    3. Panuti Sudjiman

    Sedikit berbeda dengan dua ahli sebelumnya, bagi Sudjiman, makalah adalah suatu tulisan yang berisi fakta, bukan karangan seperti prosa. Anda bisa membahas mengenai suatu topik tertentu dan mempublikasikannya pada majalah, koran, maupun jurnal.

    4. E. Zaenal Arifin

    Menurut Zainal Arifin, pengertian makalah adalah sebuah karya berlandaskan ilmu yang menyajikan suatu masalah tertentu dengan pembahasan secara lengkap dan menyeluruh. Selain itu, karya tulis ilmiah satu ini memiliki sifat empiris-objektif.

    Baca Juga : Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    7 Struktur Penulisan Makalah

    Setelah mengetahui pengertian makalah, Anda perlu beralih pada struktur penulisannya. Secara garis besar, struktur makalah terdiri atas beberapa bagian, yakni cover, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, pembahasan, penutup, dan daftar rujukan. Berikut adalah penjelasan lengkapnya.

    1. Cover

    Contoh Cover
    Contoh Cover | Sumber gambar: Pinterest.com

    Struktur pertama dalam makalah adalah cover. Cover menjadi halaman paling depan dan identitas makalah. Dalam cover akan tertera keterangan nama penulis, judul, logo institusi, nama institusi, sampai tahun penulisan makalah.

    Biasanya pihak institusi akan memberikan format makalah dan Anda hanya perlu mengikutinya.

    2. Kata Pengantar

    Seluruh karya ilmiah membutuhkan kata pengantar sebagai bagian dari formalitasnya. Isinya berupa salam pembuka atau pengantar dari penulis.

    Pada bagian ini, Anda juga perlu memasukkan ucapan terima kasih kepada seluruh orang yang telah terlibat atau membantu saat proses penulisan serta tujuan garis besar keberadaan makalah.

    3. Daftar Isi

    Contoh Daftar Isi
    Contoh Daftar Isi | Sumber gambar: Pinterest.com

    Agar pembaca bisa dengan mudah mengetahui nomor halaman dari setiap topik yang Anda bahas, maka perlu adanya daftar isi. Anda bisa memasukkan nomor halaman setiap awalan bab dan subbab, sehingga saat pembaca membutuhkan materi yang dimaksud bisa langsung meluncur.

    4. Pendahuluan

    Bagian pendahuluan menjadi salah satu poin penting pembuka pembahasan yang harus Anda perhatikan isinya.

    Anda perlu memastikan bahwa dalam pendahuluan telah memuat latar belakang pemilihan judul, tujuan penulisan, rumusan masalah, sampai manfaat bagi para pembaca.

    5. Pembahasan

    Contoh Bab Pembahasan
    Contoh Bab Pembahasan | Sumber gambar: Pinterest.com

    Setelah pendahuluan, ada bab pembahasan yang berisi mengenai uraian kajian topik dalam penulisan. Pada bagian ini, Anda bisa menulis hasil analisis secara mendalam sesuai dengan metode penelitian yang Anda pilih.

    6. Penutup

    Selanjutnya, Anda perlu menutup makalah ini dengan kesimpulan dan saran. Kesimpulan cukup Anda tulis dalam setengah halaman atau sekitar tiga paragraf saja. 

    Lalu, ada saran yang memang sengaja Anda tulis dan ditujukan untuk para pembaca. Ingat, Anda tidak perlu menulis simpulan mengenai pengertian makalah ini.

    7. Daftar Rujukan

    Contoh Daftar Rujukan
    Contoh Daftar Rujukan | Sumber gambar: Pinterest.com

    Selama proses penulisan makalah, Anda tentu membaca literatur tertentu dan menggunakannya sebagai bahan rujukan. Oleh karena itu, Anda perlu menulis rujukan tersebut secara lengkap dan sesuai dengan struktur pedoman penulisan daftar rujukan itu sendiri.

    Jenis-Jenis Makalah Berdasarkan Pengertian Makalah

    Pada setiap bagian struktur memuat informasi yang sangat jelas, sehingga Anda tidak akan kesulitan dalam menyusunnya. Selanjutnya, Anda perlu mengetahui jenis-jenis makalah sesuai dengan pengertian makalah yang telah dipahami sebelumnya.

    1. Makalah Deduktif

    Prinsip dari jenis makalah deduktif adalah menuliskan kajian teori yang bersifat umum lalu memasukkannya dalam pembahasan sebuah masalah (bersifat khusus). 

    Sederhananya, makalah deduktif memungkinkan Anda untuk menyajikan suatu teori yang sifatnya umum lalu menariknya dalam sebuah bahasan permasalahan tertentu.

    Misalnya, Anda ingin menulis makalah tentang hubungan interaksi yang menghasilkan lingkungan atau circle positif. Maka, Anda bisa menyajikan mengenai teori sosiologi atau interaksi secara umum terlebih dahulu.

    2. Makalah Induktif

    Berkebalikan dengan jenis yang pertama, makalah induktif justru menyajikan suatu masalah yang sifatnya khusus dan dijabarkan melalui teori yang bersifat umum. 

    Umumnya, jenis makalah induktif bisa Anda tulis berdasarkan data empiris atau bersifat objektif dan relevan dengan pembahasannya.

    3. Makalah Campuran

    Sederhananya, makalah campuran adalah teknik penulisan yang menggunakan gabungan antara dua jenis makalah di atas. Artinya, pada makalah ini mengandung kajian teoritis dan data empiris sekaligus.

    Namun, secara lebih detail di dalam makalah campuran ini terdapat kategori pembahasan berdasar rumusan masalahnya.

    • Makalah Ilmiah

    Cara paling mudah menandai makalah ilmiah adalah isinya sama seperti laporan hasil penelitian. Jadi, ada satu masalah yang kemudian bisa Anda kupas secara ilmiah atau mengacu pada teori-teori tanpa adanya argumen pendukung.

    • Makalah Kerja

    Makalah kerja adalah makalah yang intinya membahas mengenai suatu topik masalah yang menimbulkan diskusi. Bedanya dengan makalah ilmiah adalah terkait porsi argumen di dalamnya. Pada makalah ilmiah, argumen sangatlah sedikit. Tetapi, pada makalah kerja justru perlu Anda dominasi argumen.

    • Makalah Analisis

    Sesuai dengan namanya, makalah satu ini mengandung unsur pembahasan yang bersifat objektif dan empiris lalu Anda sajikan dalam bentuk analisis mendalam. Umumnya, sumber data bisa Anda peroleh dari proses pengamatan, percobaan, atau penemuan yang telah teruji.

    5 Cara Menyusun Makalah dengan Mudah

    Anda sudah sampai pada tahap penyusunan makalah. Sejatinya, proses pembuatan makalah tidaklah sulit. Terlebih Anda sudah mendapatkan bekal materi mengenai pengertian makalah sampai jenis-jenisnya. Namun, tidak perlu khawatir. Berikut 5 cara pembuatan makalah dengan mudah, yaitu:

    1. Memilih Tema yang Tepat

    Sebagai karya ilmiah, tentunya Anda tidak bisa sembarang mengangkat topik atau tema pembahasan dalam penulisan makalah. Perlu Anda kaji dan pikirkan betul-betul apakah tema yang diambil tersebut memang memiliki manfaat yang luas untuk para pembaca.

    Agar lebih mengerucut sebelum memilih tema, Anda perlu menentukan dulu jenis makalah yang akan ditulis. Selanjutnya, baru pilih tema yang relevan dengan kebutuhan analisis Anda. 

    2. Merumuskan Tujuan

    Saat menentukan tema, sebenarnya secara tidak langsung akan berangkat dari tujuan penulisan makalah. Maka, pada tahap ini Anda perlu memastikan tujuan tersebut selaras dan merumuskan tujuan-tujuan lainnya.

    Pastikan tujuan penyusunan makalah ini tidak hanya berguna bagi pembaca, tetapi juga bagi bidang keilmuan itu sendiri.

    3. Menentukan Batasan dan Judul Makalah

    Anda tentu tidak ingin apa yang Anda tulis nantinya justru tidak bisa diambil inti atau kesimpulannya dengan baik oleh pembaca, bukan? Itulah mengapa, menentukan batasan pembahasan dan judul makalah sangatlah penting.

    Anda bisa membuat batasan-batasan materi apa saja yang tidak boleh Anda langgar agar pembahasan dapat disajikan secara spesifik.

    Misalnya, saat membahas mengenai interaksi sosial, tidak perlu sampai meluas pada pembahasan psikologi. Lalu pastikan juga bahwa batasan materi tersebut telah tercermin pada judulnya.

    4. Mengumpulkan Referensi

    Tidak hanya memahami pengertian makalah, tetapi Anda harus ingat pentingnya pembahasan kajian harus Anda lakukan secara mendalam.

    Agar analisis yang Anda lakukan mendalam, cara paling mudah adalah dengan memperbanyak referensi. Dari sana Anda akan mendapat banyak tambahan kajian teori, sehingga mampu memperkaya analisis.

    5. Mengembangkan Kerangka Makalah

    Sebelumnya, Anda sudah tahu apa saja yang menjadi struktur makalah. Oleh karena itu, dari ide dan gagasan yang sudah ada bisa Anda kembangkan dalam struktur makalah tersebut. Kemudian Anda bisa membuat kerangkanya. 

    Misalnya, pada bagian pendahuluan apa saja yang Anda bahas. Lalu lanjut ke bagian pembahasan, dan seterusnya.

    Jadi Lebih Paham Pengertian Makalah & Siap Membuatnya?

    Sekarang Anda sudah memahami pengertian makalah sampai cara pembuatannya. Melalui paparan ini, Anda bisa menggunakannya sebagai bekal untuk menyusun makalah yang baik. Namun, pastikan Anda mengangkat masalah yang dikuasai.

    Selain itu, Anda perlu memperbanyak bahan referensi. Pasalnya, sumber rujukan membantu proses analisis agar dapat tergali secara mendalam.