Blog

  • Definisi Liabilitas: Jenis, Karakteristik, dan Contohnya dalam Akuntansi

    Definisi Liabilitas: Jenis, Karakteristik, dan Contohnya dalam Akuntansi

    Dalam dunia akuntansi, pemahaman yang kuat tentang konsep liabilitas sangat penting bagi setiap perusahaan atau entitas bisnis. Liabilitas merupakan aspek yang integral dalam penyusunan laporan keuangan, dan memahaminya secara mendalam akan membantu perusahaan dalam pengelolaan keuangan yang efektif. 

    Dalam artikel ini, kita akan membahas definisi, karakteristik, jenis-jenis yang umum, serta memberikan contoh konkret mengenai liabilitas dalam konteks akuntansi. Dengan demikian, pembaca akan mendapatkan pemahaman yang lengkap dan jelas mengenai konsep yang penting ini. Mari kita mulai pembahasannya!

    Definisi Liabilitas

    Liabilitas dapat didefinisikan sebagai kewajiban finansial yang dimiliki perusahaan atau entitas bisnis terhadap pihak ketiga. Kewajiban ini muncul sebagai hasil dari transaksi di masa lalu yang mengharuskan perusahaan untuk membayar sejumlah uang atau memberikan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa depan. 

    Pihak ketiga yang memiliki klaim terhadap perusahaan dapat berupa kreditor, penyedia layanan, atau individu atau entitas lainnya yang memiliki klaim terhadap perusahaan. 

    Dengan memahami definisinya secara tepat, perusahaan dapat mengelola kewajiban finansialnya dengan lebih baik dan memastikan kesehatan keuangan yang optimal.

    Apa Saja Karakteristiknya?

    Liabilitas memiliki beberapa karakteristik penting yang membedakannya dari aset dan ekuitas. Berikut adalah beberapa karakteristik utamanya:

    1. Kewajiban Finansial

    Pertama, liabilitas mencerminkan kewajiban finansial perusahaan untuk membayar sejumlah uang atau memberikan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa depan kepada pihak ketiga.

    2. Timbul dari Transaksi atau Kejadian Masa Lalu

    Kedua, kewajiban ini muncul sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu yang telah terjadi, seperti pinjaman yang diterima, hutang dagang, atau pembelian aset dengan menggunakan kredit.

    3. Harus Dibayar di Masa Depan

    Selanjutnya, kewajiban finansial ini harus diselesaikan atau dibayar oleh perusahaan di masa depan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    4. Pengorbanan Sumber Daya Ekonomi

    Terakhir, kewajiban ini memerlukan pengorbanan sumber daya ekonomi oleh perusahaan, seperti uang tunai, aset, atau layanan yang harus disediakan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

    Dengan memahami karakteristik ini, perusahaan dapat mengelola kewajiban finansialnya dengan lebih efektif.

    Jenis-jenisnya

    Dalam akuntansi, terdapat berbagai jenis liabilitas yang perlu dipahami oleh perusahaan atau entitas bisnis. Berikut ini adalah beberapa jenis kewajiban finansial yang umum ditemui dalam akuntansi beserta penjelasan rinci mengenai masing-masing jenisnya:

    A. Liabilitas Jangka Pendek

    Jenis yang jangka pendek adalah kewajiban perusahaan yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun atau kurang. Kewajiban finansial jangka pendek ini mencakup kewajiban yang harus diselesaikan atau dibayar dalam periode akuntansi yang singkat. 

    Liabilitas jangka pendek memiliki implikasi yang signifikan dalam pengelolaan likuiditas dan arus kas perusahaan. Perusahaan perlu memantau dengan cermat dan mengelolanya agar dapat memenuhi kewajiban finansialnya tepat waktu dan menjaga kesehatan keuangan yang optimal.

    Beberapa contohnya antara lain:

    1. Hutang Dagang

    Hutang dagang adalah kewajiban finansial yang timbul akibat pembelian barang atau jasa dari pemasok atau vendor. Hutang dagang ini biasanya memiliki batas waktu pembayaran yang ditentukan, seperti 30 hari, 60 hari, atau 90 hari. 

    Perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar jumlah yang terhutang kepada pemasok dalam jangka waktu yang telah disepakati.

    2. Utang Pinjaman Jangka Pendek

    Kewajiban finansial yang satu ini timbul akibat pinjaman yang diterima oleh perusahaan dari institusi keuangan atau pihak lain. Utang jangka pendek memiliki jatuh tempo dalam waktu satu tahun atau kurang.

    Utang jangka pendek dapat mencakup hutang dagang, utang pajak, utang gaji, dan kewajiban lain yang harus dibayar dalam waktu singkat. Utang pinjaman ini mencakup pinjaman jangka pendek dan jangka panjang. 

    Biasanya, utang pinjaman dilengkapi dengan perjanjian yang menyebutkan jumlah pinjaman, jangka waktu pembayaran, dan suku bunga yang harus dibayarkan.

    3. Utang Gaji dan Upah

    Utang gaji dan upah adalah kewajiban perusahaan untuk membayar gaji dan upah kepada karyawan atas pekerjaan yang telah dilakukan. Karyawan berhak menerima kompensasi finansial berdasarkan kontrak kerja atau perjanjian yang ada.

    Utang gaji dan upah ini biasanya termasuk gaji, tunjangan, bonus, dan manfaat lainnya yang harus dibayarkan oleh perusahaan pada periode gajian yang telah ditetapkan.

    4. Utang Pajak Penghasilan

    Utang pajak penghasilan adalah kewajiban perusahaan untuk membayar pajak atas pendapatan yang diperoleh, yang meliputi pajak yang harus laba bersih atau pendapatan yang diperoleh dari berbagai sumber. 

    Perusahaan harus menghitung, melaporkan, dan membayar pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku di negara tempat mereka beroperasi.

    5. Utang Dividen

    Dividen merupakan pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham sebagai imbalan atas kepemilikan saham mereka. Utang dividen terjadi ketika perusahaan belum membayar seluruh dividen yang seharusnya dibayarkan kepada pemegang saham.

    6. Utang Jaminan Produk

    Utang jaminan produk adalah kewajiban finansiall yang timbul akibat janji perusahaan untuk mengganti atau memperbaiki produk yang rusak atau cacat yang telah dijual kepada pelanggan. 

    Jaminan produk ini memberikan perlindungan kepada pelanggan dan menyatakan bahwa perusahaan akan bertanggung jawab jika produk yang mereka beli mengalami masalah kualitas atau kerusakan dalam jangka waktu tertentu setelah pembelian.

    B. Liabilitas Jangka Panjang

    Kewajiban perusahaan jenis yang satu ini memiliki masa jatuh tempo lebih dari satu tahun. 

    Jenis ini memerlukan perencanaan keuangan yang matang karena melibatkan kewajiban finansial dalam jangka waktu yang lebih panjang. Perusahaan perlu memperhitungkan secara seksama arus kas masa depan dan kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka panjang ini.

    Beberapa contoh liabilitas jangka panjang antara lain:

    1. Utang Imbalan Pasca-Kerja

    Utang imbalan pasca-kerja merupakan kewajiban perusahaan untuk membayar imbalan pasca-kerja kepada karyawan setelah mereka pensiun atau mengundurkan diri. 

    Imbalan pasca-kerja ini dapat berupa tunjangan pensiun, tunjangan kesehatan, atau tunjangan lainnya yang telah dijanjikan kepada karyawan selama masa kerja mereka di perusahaan. Perusahaan harus mengakumulasi dana atau mengelola investasi guna memenuhi kewajiban ini.

    2. Utang Pinjaman Jangka Panjang

    Sementara itu, hutang pinjaman jangka panjang adalah kewajiban perusahaan yang timbul akibat pinjaman yang diterima dari institusi keuangan atau pihak lain dengan jangka waktu pembayaran lebih dari satu tahun. 

    Utang pinjaman jangka panjang biasanya dilengkapi dengan perjanjian yang menyebutkan jumlah pinjaman, jangka waktu pembayaran, dan suku bunga yang harus dibayarkan.

    3. Utang Obligasi

    Utang obligasi adalah kewajiban perusahaan yang timbul akibat penerbitan obligasi sebagai bentuk pendanaan. Obligasi merupakan surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan kepada investor dengan janji pembayaran bunga dan pokok hutang pada tanggal jatuh tempo tertentu di masa depan.

    4. Liabilitas Imbalan Kerja Lainnya

    Kewajiban ini mencakup kewajiban perusahaan terkait dengan imbalan kerja selain imbalan pasca-kerja. 

    Kewajiban ini bisa termasuk tunjangan kesehatan, tunjangan liburan, tunjangan cuti, atau tunjangan lain yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawan sesuai dengan kebijakan dan perjanjian kerja yang berlaku.

    5. Pajak yang Dibayar di Masa Depan

    Pajak yang dibayar di masa depan mencerminkan kewajiban perusahaan untuk membayar pajak kepada otoritas pajak pada periode akuntansi mendatang. Pajak ini termasuk pajak penjualan, pajak properti, dan berbagai jenis pajak lainnya. 

    Perusahaan harus menghitung dan melaporkan kewajiban pajaknya serta membayar pajak tepat waktu sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

    Dengan memahami jenis-jenisnya di atas, perusahaan dapat mengklasifikasikan kewajiban finansialnya dengan tepat dalam laporan keuangan dan mengelola risiko secara efektif.

    Contoh Laporan Liabilitas dalam Akuntansi

    Perusahaan ABC 

    Laporan Liabilitas Keuangan 

    Tanggal 31 Desember 2022

    I. Utang Lancar:

    1. Utang Usaha Rp500.000.000,00
    2. Utang Bank (pinjaman jangka pendek) Rp250.000.000,00
    3. Utang Gaji dan Upah Rp50.000.000,00
    4. Utang Pajak Rp75.000.000,00
    5. Utang Lainnya Rp25.000.000,00 

    Total Utang Lancar Rp900.000.000,00

    II. Utang Jangka Panjang: 

    1. Utang Bank (pinjaman jangka panjang) Rp1.500.000.000,00 
    2. Utang Obligasi Rp750.000.000,00 
    3. Utang Sewa Pembiayaan Rp200.000.000,00 
    4. Utang Lainnya Rp50.000.000,00 

    Total Utang Jangka Panjang Rp2.500.000.000,00

    III. Liabilitas Lainnya: 

    1. Kewajiban Imbalan Kerja Rp300.000.000,00 
    2. Kewajiban Pajak Tangguhan Rp150.000.000,00 
    3. Kewajiban Lainnya Rp50.000.000,00 

    Total Liabilitas Lainnya Rp500.000.000,00

    Total Liabilitas Rp 3.900.000.000

    Sudah Paham Mengenai Liabilitas dalam Akuntansi? 

    Dalam akuntansi, pemahaman yang komprehensif tentang liabilitas merupakan hal yang krusial bagi keberhasilan keuangan perusahaan. Mengerti definisi, karakteristiknya, jenis-jenis yang umum, dan contohnya dalam konteks akuntansi akan membantu perusahaan mengelola kewajiban finansial dengan lebih baik. Dengan pemahaman yang kuat tentang liabilitas, perusahaan dapat memastikan kesehatan keuangan yang optimal, mengambil keputusan bisnis yang tepat, dan memenuhi tanggung jawab finansial kepada pihak ketiga dengan efisien. Semoga artikel ini dapat membantu Anda menajamkan pemahaman mengenai topik ini.

  • Apa itu Biaya Marginal? Definisi dan Cara Penghitungan serta Contohnya

    Apa itu Biaya Marginal? Definisi dan Cara Penghitungan serta Contohnya

    Dalam memproduksi suatu barang, biaya marginal merupakan aspek penting yang perlu Anda perhatikan. Biaya ini penting karena berperan besar dalam merencanakan harga untuk kegiatan produksi barang. Pada artikel berikut akan diuraikan definisi cara perhitungan hingga contoh biaya ini.

    Pengertian Biaya Marginal

    Biaya marginal atau marginal cost merupakan biaya tambahan yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk. Selain itu, biaya ini juga bisa diartikan sebagai biaya yang menggambar keadaan dimana biaya total dari suatu produk berubah entah itu lebih besar atau lebih kecil, namun sebagian besar akan mengalami peningkatan.

    Sebagai contoh, sebuah perusahaan akan memproduksi 1000 unit barang. Namun biaya yang keluar adalah 1002 unit. Jumlah kelebihan dari biaya tersebutlah yang dinamakan dengan biaya marginal. 

    Biaya ini sendiri merupakan biaya yang sangat penting untuk sebuah perusahaan. Terutama untuk mengambil keputusan bisnis dimana seorang manajemen harus memberikan keputusan mengenai pengalokasian sumber daya dalam kegiatan produksi. 

    Cara Menghitung Marginal Cost

    Dalam menghitung marginal cost, berikut rumus yang bisa Anda gunakan:

    Marginal Cost = Perubahan biaya/Perubahan kuantitas

    Adapun untuk menghitung marginal cost bisa dilakukan dengan 3 langkah utama yakni sebagai berikut.

    1. Hitung Perubahan Biaya

    Tahap pertama dalam menghitung marginal cost adalah menghitung perubahan biaya. Perubahan biaya ini bisa Anda dapatkan dari pengurangan pada total biaya produksi yang dulu dengan biaya produksi yang terbaru. 

    Untuk total biaya produksi bisa Anda peroleh dengan menjumlahkan biaya tetap dengan biaya variabelnya. Biaya tetap ini adalah jenis biaya yang nilainya tidak mengalami perubahan selama periode yang akan dievaluasi. Adapun biaya tetap ini biasanya mencakup biaya sewa dan sebagainya. 

    Untuk biaya variabel sendiri biasanya akan meningkat seiring dengan peningkatan biaya produksi. Adapun untuk biaya variabel mencakup gaji karyawan, bahan baku, dan sejenisnya. 

    2. Tentukan Perubahan Kuantitas

    Tahap selanjutnya dalam menghitung biaya marginal adalah dengan menentukan perubahan kuantitas terlebih dahulu. Perubahan kuantitas di sini maksudnya adalah perubahan jumlah produk yang Anda hasilkan. 

    Dengan menghitung perubahan kuantitas ini, Anda bisa mengetahui di titik mana biaya tetap nantinya akan berubah. Untuk kemudian Anda bisa mengetahui biaya ini dari produksi yang Anda lakukan. 

    3. Menghitung Marginal Cost

    Setelah Anda mendapatkan nilai dari perubahan biaya dan perubahan kuantitas tersebut, tahap selanjutnya adalah menghitung marginal cost. Untuk menghitungnya bisa Anda lakukan sesuai dengan rumus di atas, dimana dengan membagi perubahan biaya produksi yang dibutuhkan dengan perubahan pada jumlah produk. 

    Setelah Anda melakukan pembagian tersebut, hasil akhirnya lah yang akan menjadi nilai biaya margin untuk kemudian bisa Anda gunakan dalam mengelola dan melakukan evaluasi terhadap kegiatan produksi perusahaan. 

    Fungsi Marginal Cost

    Marginal cost memiliki fungsi dalam membantu perusahaan untuk mengetahui target hasil yang dibutuhkan agar bisa mencapai keuntungan. Untuk itulah biaya margin ini sangat penting dalam membantu perusahaan bisa berkembang dan sukses di masa depan. 

    Tidak hanya itu, biaya marginal ini juga sangat bermanfaat dalam kegiatan evaluasi perusahaan. Hal ini karena jika pendapatan lebih kecil dari biaya marginal, maka perusahaan tersebut bisa melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan nilai produksi. 

    Sebaliknya, jika pendapatan lebih besar daripada marginal cost, maka keuntungan bisa didorong dengan menurunkan kegiatan produksi. Untuk itulah, penetapan biaya ini sangat penting sebagai bahan dalam mengambil keputusan dan kegiatan perencanaan bisnis. 

    Walau memang pada kenyataannya, penurunan pendapatan juga bisa didasarkan pada variabel lainnya seperti harga pasar dan daya beli. Namun tetap saja, biaya margin juga memiliki fungsi dan peranan besar dalam menstabilkan pendapatan perusahaan. 

    Jenis Komponen Marginal Cost 

    Terdapat beberapa jenis biaya yang termasuk ke dalam komponen marginal cost, antara lain:

    1. Biaya Variabel

    Komponen dalam biaya marginal pertama yaitu biaya variabel. Biaya ini bervariasi sesuai dengan perubahan tingkat keluarannya dan bisa meningkat secara bertahap sesuai dengan kenaikan jumlah unit yang diproduksi.

    Misalnya, bahan kulit pada usaha pembuatan sepatu yang dimana kebutuhannya akan terus meningkat seiring peningkatan jumlah sepatu yang diproduksi.  

    2. Biaya Tetap

    Jenis komponen dalam marginal cost berikutnya adalah biaya tetap. Biaya tetap pada dasarnya adalah konstan. Sebagai contoh biaya sewa untuk membayar semua fasilitas pabrik yang digunakan. 

    3. Marginal Cost Jangka Pendek

    Jenis ini muncul saat output tambahan diproduksi hanya dalam jangka pendek saja. Hal ini mungkin muncul karena saat menjalankan proses produksi jangka pendek, perusahaan bisa memiliki sejumlah aset yang digunakan untuk memutuskan apakah ingin menurunkan atau menaikkan tingkat produksi yang akan berdampak pada biaya produksi.

    4. Marginal Cost Jangka Panjang

    Biaya marginal jangka panjang merupakan peningkatan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi jangka panjang. Jenis biaya ini biasanya muncul ketika perusahaan ingin meningkatkan operasional usahanya dengan menambahkan lebih banyak karyawan, memperluas pabrik, atau bahkan memasuki pasar baru.

    Contoh Marginal Cost

    Adapun contoh dari biaya marginal ini bisa Anda lihat dalam proses produksi keripik berikut.

    Misalnya Ibu Ayu memiliki usaha produksi keripik. Setiap hari dia memproduksi 100 keripik dengan 2 mesin pembuat keripik dan 2 karyawan. 

    Menjelang Lebaran, ada permintaan tambahan sebanyak 200 keripik per hari. Oleh karena itu, demi mempercepat proses produksinya, Ibu Ayu menambah 1 karyawan baru dan membeli 1 mesin keripik lagi. Adapun dapur yang digunakan untuk kegiatan produksi tersebut tidak diperluas sama sekali. 

    Nah dari contoh tersebut, bisa diketahui bahwa jumlah tenaga kerja dan mesin yang bertambah termasuk biaya variabel. Sementara itu, untuk biaya marginal dihitung dari seberapa banyak biaya tambahan untuk membayar karyawan baru tersebut dan biaya untuk membeli mesin baru yang tentunya akan meningkatkan biaya produksi.

    Misalnya, total biaya produksi awal di toko kripik tersebut adalah Rp1.000.000,00, yang dipakai untuk membayar upah karyawan dan membeli bahan baku keripik. Akan tetapi, saat ada permintaan tambahan, Bu Ayu kemudian harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan baku Rp500.000,00 dan memberi upah karyawan baru senilai Rp250.000,00. Maka, total perubahan biaya produksi di toko tersebut adalah Rp1.000.000,00 + (Rp500.000,00 + Rp250.000,00) = Rp1.750.000,00.

    Untuk jumlah produksinya, awalnya hanya 100 dan kemudian bertambah jadi 200 karena adanya permintaan khusus. Artinya, ada perubahan kuantitas produksi sebesar 200 – 100 = 100.

    Maka jika dihitung, marginal cost dari kasus di atas adalah Rp1.750.000,00/100 = Rp17.500,00. Jadi untuk mengoptimalkan keuntungan usaha kripiknya, Bu Ayu harus menjual kripik seharga lebih dari Rp 17.500,00 per unit.

    Tips Mengurangi Biaya Marginal

    Marginal cost sendiri merupakan biaya tambahan untuk memproduksi satu unit produk. Dengan kata lain, ini adalah biaya produksi unit terakhir yang ditambahkan ke inventaris. 

    Hal ini tentunya membutuhkan perhitungan yang lebih rumit lagi. Untuk itulah mengurangi biaya marginal ini perlu dengan langkah-langkah berikut ini.

    1. Sebaiknya Anda memastikan untuk menghitung semua biaya terkait seperti tenaga kerja, bahan, dan biaya overhead.
    2. Usahakan untuk menjaga tingkat produksi Anda karena memproduksi barang dalam jumlah besar akan jauh lebih sulit dalam perhitungan marginal.
    3. Gunakan data riwayat sebelumnya untuk memperkirakan sebaik mungkin berapa biaya yang diperlukan untuk memproduksi unit tambahan tersebut.

    Sudah Tahu Apa itu Biaya Marginal?

    Setelah Anda mengetahui pengertian dari biaya ini hingga cara menghitungnya tersebut, bisa langsung terapkan sendiri dalam bisnis Anda. Menentukan biaya ini memang tidak mudah, Anda bisa meminta seseorang yang ahli di bidangnya untuk membantu Anda menghitung marginal cost.

  • Laba Tertahan (Retained Earnings): Definisi, Manfaat, dan Cara Hitung

    Laba Tertahan (Retained Earnings): Definisi, Manfaat, dan Cara Hitung

    Dalam dunia bisnis, laba tertahan atau dalam bahasa Inggris retained earnings merupakan komponen yang sangat penting dalam laporan keuangan perusahaan. Pasalnya, salah satu bagian laba ini secara khusus berguna sebagai dana pendukung proses pengembangan bisnis perusahaan yang lebih maksimal.

    Melalui artikel ini, kamu akan memahami lebih dalam seputar retained earnings secara luas. Mulai dari pengertian, peran pentingnya bagi perusahaan, hingga bagaimana cara menghitung retained earnings yang benar.

    Apa Itu Laba Tertahan?

    Laba tertahan atau retained earnings adalah bagian dari laba bersih penjualan produk atau layanan bisnis yang tidak dibagikan kepada pemegang saham atau investor sebagai dividen. Tetapi disimpan dan diinvestasikan kembali untuk memenuhi kebutuhan perusahaan itu sendiri, misalnya kebutuhan pengembangan bisnis. 

    Secara sederhana, retained earnings merupakan sejumlah laba yang perusahaan miliki secara penuh, setelah mengurangi dividen yang perusahaan bayarkan kepada pemegang saham atau investor. Sehingga, bagian laba ini menjadi sumber daya keuangan internal yang penting bagi perusahaan dalam jangka panjang.

    Retained earnings dapat kamu temukan dalam laporan neraca keuangan perusahaan tiap akhir periode akuntansi sebagai salah satu komponen dari ekuitas pemegang saham. 

    Umumnya, keputusan terkait jumlah laba ini akan berdasarkan pada hasil rapat umum atau kesepakatan antara perusahaan dengan pemegang saham. Sehingga, walaupun sudah menjadi dana internal perusahaan seutuhnya, para pemegang saham tetap dapat mengetahui rincian retained earnings.

    Manfaat Laba Tertahan untuk Bisnis

    Berdasarkan definisinya, retained earnings memiliki berbagai manfaat yang signifikan bagi keberlangsungan proses bisnis suatu perusahaan. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:

    1. Membantu Mengembangkan Bisnis

    Manfaat pertama yang akan kamu peroleh dari hasil penahanan laba dalam jangka waktu tertentu adalah kemampuannya sebagai sumber dana internal untuk membiayai berbagai kegiatan pengembangan bisnis. 

    Kamu dapat menggunakan retained earnings untuk menginvestasikan modal internaln dalam pengembangan produk baru, ekspansi operasional, dan lain-lain. Upaya tersebut lebih baik daripada kamu mengandalkan pembiayaan eksternal seperti pinjaman atau penerbitan saham tambahan sebagai sumber dana pengembangan perusahaan. 

    2. Membantu Membiayai Operasional Perusahaan

    Kemudian, jumlah laba tertahan yang cukup dapat mendukung pertumbuhan operasional jangka panjang perusahaan. Dalam arti lain, upaya reinvestasi laba ke dalam keuangan perusahaan dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pangsa pasar bisnis, dan mengembangkan produk atau layanan baru. 

    Hal ini akan memungkinkan kamu menciptakan peluang pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan serta meningkatkan nilai operasional perusahaan dalam jangka panjang bagi pemegang saham. Akan tetapi, pastikan aktivitas retained earnings ini telah diketahui dan disetujui oleh para pemegang saham.

    3. Sebagai Modal Cadangan

    Selain itu, bagian laba ini juga dapat berfungsi sebagai cadangan keuangan yang dapat kamu gunakan ketika perusahaan mengalami kesulitan finansial yang tidak terduga. Apabila kamu mengelolanya dengan baik, maka kamu bisa sekaligus memperkuat struktur keuangan perusahaan.

    Sebagai contoh, perusahaan kamu menghadapi penurunan penjualan atau perubahan pasar yang signifikan. Penggunaan retained earnings dapat menjadi sumber modal internal yang membantu perusahaan untuk bisa bertahan dan beradaptasi. 

    Pemanfaatan modal cadangan bertujuan untuk menambah dana, sehingga perusahaan dapat menjalankan operasinya secara efisien, tanpa perlu mengambil pinjaman dari pihak lain seperti lembaga perbankan.

    4. Membantu Membayar Hutang Perusahaan

    Perlu kamu ketahui pula, bahwa laba tertahan sangat berguna ketika perusahaan harus membayar hutang yang akan jatuh tempo dengan tepat waktu. Bagian laba ini dapat membantu perusahaan dalam mengurangi beban bunga dan meningkatkan profit keuangan. Tanpa harus bergantung pada sumber dana lainnya.

    Berkat hal tersebut, secara tak langsung perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan kreditor. Serta memungkinkan akses yang lebih baik ke pembiayaan eksternal jika perusahaan membutuhkannya di masa depan.

    5. Sebagai Investasi Perusahaan

    Manfaat terakhir dari hasil penahanan sejumlah laba bersih adalah memungkinkan perusahaan untuk menginvestasikan sumber daya keuangan internalnya dalam upaya meningkatkan inovasi pertumbuhan bisnis. 

    Misalnya, kamu menginvestasikan dana retained earnings untuk membeli saham perusahaan lain, membiayai pembelian tanah, bangunan, atau peralatan operasional perusahaan. Melalui penginvestasian retained earnings, kamu dapat menciptakan peluang pertumbuhan perusahaan yang lebih baik.

    Faktor Penyebab Adanya Laba Tertahan

    Ada beberapa faktor yang menyebabkan terbentuknya retained earnings dalam suatu perusahaan. Berikut ini beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap bagian laba tersebut:

    • Perusahaan yang mengalami pertumbuhan atau perubahan dalam hal manajemen cenderung memiliki dan akan mempertahankan keuntungan dari setiap laba.
    • Ketika terdapat kesalahan pada laporan keuangan perusahaan dari periode sebelumnya. Sehingga, perusahaan harus mengoreksi laporan keuangannya untuk memperoleh validasi dan mengoreksi nilai yang tercatat dalam retained earnings dengan benar.
    • Adanya fluktuasi nilai tukar rupiah yang bisa terjadi kapan saja, dapat mempengaruhi hasil perhitungan laba perusahaan. Oleh karena itu, akuntan perusahaan akan memiliki opsi untuk mempertahankan keuntungan yang telah mereka peroleh sebelumnya.
    • Jika terjadi perubahan dari metode perhitungan yang awalnya tiap bulan menjadi tiap minggu. Maka akuntan memilih untuk menahan keuntungan modal yang ada, karena data yang mereka miliki bersifat tidak jelas.
    • Apabila perusahaan mengubah prinsip akuntansi dari periode sebelumnya, misalnya prinsip keuangan syariah. Maka perusahaan harus mengubah nilai laporan atau pembukuan labanya dengan menerapkan hukum syariah.

    Cara Menghitung Laba Tertahan

    Dalam menentukan jumlah retained earnings, kamu terlebih dahulu harus memahami penyusunan laporan keuangan yang umumnya dilakukan secara rutin. Berikut tata caranya:

    1. Melalui Penghitungan Laba Bersih

    Untuk menghitung retained earnings, kamu perlu melakukan pendokumentasian riwayat keuangan perusahaan dengan menganalisis laporan keuangan pada periode tertentu. 

    Kemudian, tentukan laba bersih (net income) perusahaan untuk periode yang kamu inginkan. Laba bersih adalah hasil akhir dari pendapatan total perusahaan pada periode tertentu yang dikurangi dengan biaya total perusahaan selama periode tertentu.

    Laba bersih = Pendapatan total perusahaan dalam periode tertentu – Biaya total perusahaan dalam periode tertentu

    Setelah itu, kamu bisa mulai menghitung hasil akhir retained earnings melalui hasil akhir laba bersih yang dikurangi jumlah pembagian dividen. Pembagian dividen adalah bagian dari laba yang kamu bayarkan kepada pemegang saham sebagai bentuk penghasilan mereka.

    Laba tertahan = Laba bersih – Jumlah pembagian dividen

    2. Melalui Penghitungan Laba Kotor

    Namun, apabila kamu tidak dapat mengakses dengan pasti berapa nilai laba bersih perusahaan, maka kamu bisa menghitung retained earnings dari laba kotor. 

    Singkatnya, laba kotor adalah hasil akhir dari pendapatan penjualan produk atau layanan perusahaan yang dikurangi dengan biaya produksi produk atau layanan tersebut (biasa disebut Harga Pokok Penjualan).

    Laba kotor = Total pendapatan penjualan produk atau layanan perusahaan – Harga Pokok Penjualan

    Kemudian, lanjutkan dengan menghitung laba operasional yang mana merupakan hasil akhir dari laba kotor perusahaan yang dikurangi dengan biaya operasional yang terkait dengan kegiatan inti perusahaan.

    Laba operasional perusahaan = Jumlah laba kotor – Biaya operasional 

    Setelah itu, kamu menghitung laba bersih sebelum terpotong pajak, lalu lanjutkan dengan menghitung laba bersih setelah terpotong pajak. Berikut ini masing-masing rumusnya:

    Laba bersih sebelum terpotong pajak = Laba operasional – (Bunga + Amortisasi + Depresiasi)

    Laba bersih setelah terpotong pajak = Laba bersih sebelum terpotong pajak – Tarif pajak

    Barulah kamu bisa mulai menghitung hasil akhir retained earnings dengan rumus berikut:

    Laba tertahan = Laba bersih setelah terpotong pajak – Jumlah pembagian dividen

    Sudah Tahu Pentingnya Laba Tertahan untuk Perusahaan?

    Demikian informasi penting terkait retained earnings yang harus kamu pahami, mulai dari pengertian, manfaat, hingga cara menghitungnya. Pada intinya, bagian laba ini berperan penting dalam keberhasilan manajemen keuangan perusahaan. 

    Melalui pengelolaan yang tepat, kamu dapat memanfaatkannya sebagai sumber daya keuangan yang berharga bagi perusahaan, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan inovasi pada proses bisnis perusahaan. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

  • Ruang Lingkup Penelitian: Contoh & Cara Menentukannya dengan Mudah

    Ruang Lingkup Penelitian: Contoh & Cara Menentukannya dengan Mudah

    Dalam sebuah kajian ilmiah, istilah ruang lingkup penelitian sangatlah familiar. Pasalnya, ruang lingkup menjadi salah satu aspek yang harus Anda perhatikan agar penyusunan kajian ilmiah dapat fokus sesuai dengan pembahasan. Apalagi bagi Anda yang ingin menulis kajian ilmiah lebih dari satu tema penelitian.

    Banyak siswa maupun mahasiswa yang masih belum memahami apa sebenarnya pengertian, manfaat, contoh hingga cara menentukan ruang lingkup dalam penelitian. Tapi Anda tidak perlu khawatir karena pada artikel ini, semua komponen tersebut akan dibahas secara tuntas.

    Pengertian Ruang Lingkup Penelitian Menurut Para Ahli

    Ruang lingkup penelitian merupakan metode yang berfungsi untuk membatasi permasalahan dalam ilmu yang akan Anda kaji. Sederhananya, ruang lingkup ini menjadi batasan subjek yang akan Anda teliti, baik itu berupa masalah ataupun variabel penelitian. Berikut 5 pendapat para ahli mengenai ruang lingkup, yaitu:

    1. Otto Soemarwoto

    Menurut Otto, ruang lingkup mencakup segala aspek yang terjadi di sekitar Anda. Sifatnya berupa provokasi terhadap kelangsungan hidup seseorang. Namun, sedikit berbeda dengan ahli lainnya, bagi beliau ruang lingkup tidaklah terbatas jumlahnya.

    2. Danu Saputro

    Menurut Danu Saputro, ruang lingkup dianggap sebagai sebuah kondisi yang berbentuk benda ataupun daya dan dapat Anda jadikan sebagai objek untuk hidup. Hal-hal yang tercakup dalam ruang lingkup sangat luas, tak terkecuali unsur alam biotik dan abiotik.

    3. Soedjono

    Soedjono mengartikan ruang lingkup sebagai segala sesuatu yang berurusan dengan bentuk nyata atau dapat terindra oleh manusia. Contohnya seperti hewan, tumbuhan, dan hal-hal yang dapat Anda lihat secara visual lainnya.

    4. Emil Salim

    Cukup lengkap Emil Salim mendefinisikan ruang lingkup penelitian, yakni mencakup benda, suasana, sampai pengaruh dari suasana yang Anda rasakan pada lingkungan sekitar. 

    Contohnya seperti masalah alam semesta, sosial, benda-beda, politik ekonomi, dan sebagainya.

    5. Dwi Purnomo

    Selanjutnya ada pengertian ruang lingkup sebuah penelitian dari Dwi Purnomo yang menyimpulkan bahwa isi dari kajian satu ini terletak pada variabel yang Anda teliti, populasi, subjek, dan lokasi penelitian.

    Manfaat Ruang Lingkup Penelitian 

    Gambaran Efektivitas Pekerjaan
    Gambaran Efektivitas Pekerjaan | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah paham mengenai pengertian ruang lingkup, Anda juga perlu mengetahui mengenai manfaat dari aspek satu ini. 

    Secara umum, manfaat utama yang bisa Anda peroleh adalah dapat lebih fokus saat membahas kajian tertentu dan tidak melebar ke mana-mana. Namun, masih banyak deretan manfaat lainnya yang bisa Anda peroleh. Berikut diantaranya, yaitu:

    • Ruang lingkup penelitian membuat pembahasan fokus, sehingga menjadikan ide pokok tidak terpecah kemana-mana. Dengan demikian, Anda tidak akan terdistraksi oleh cabang-cabang keilmuan lainnya.
    • Anda sebagai peneliti bisa membuat perencanaan yang tepat, baik itu soal bahasan, waktu, bahkan biaya penelitian yang terukur. Intinya, Anda akan memiliki sumber daya yang diperoleh secara efektif.
    • Referensi yang Anda cari bisa lebih fokus, sehingga bacaan Anda bukan perkara kuantitas lagi tetapi seberapa mendalam ilmu yang Anda peroleh. 
    • Keberadaan ruang lingkup penelitian juga akan memberikan gambaran mengenai keseluruhan penelitian yang sedang Anda lakukan.
    • Masalah menjadi lebih cepat terselesaikan karena setiap pembahasan sudah Anda ketahui arah solusinya. Lebih dari itu, adanya batasanlah yang kemudian menjadikan masalah juga makin cepat mendapatkan solusinya.

    Contoh Ruang Lingkup Penelitian

    Peneliti harus cermat dan berhati-hati dalam menentukan batasan pembahasan. Kondisi ini berkaitan dengan seberapa baik Anda membuat perencanaan kajian terhadap suatu masalah yang ingin diangkat. Berikut 2 contoh ruang lingkup pada penelitian yang bisa Anda gunakan sebagai gambaran.

    1. Contoh Ruang Lingkup Penelitian Deskripsi Kuantitatif

    Gambaran Penelitian Deskriptif Kuantitatif
    Gambaran Penelitian Deskriptif Kuantitatif | Sumber gambar: Pexels.com

    Menurut Sugiyono (1999:6), penelitian deskripsi kuantitatif merupakan penelitian yang bisa Anda lakukan terhadap variabel mandiri. Misalnya, perbandingan atau menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. 

    Sementara tujuan dari penelitian ini adalah membuat deskripsi ataupun gambaran secara sistematis. Deskripsi sistematis tersebut tentu yang mengandung fakta-fakta aktual dan akurat mengenai sebuah kajian. 

    Selain itu, Anda juga perlu mengaitkan satu objek dengan objek lainnya untuk mendapatkan analisis yang lebih tajam dan mendalam. Misalnya saat seseorang tengah mengkaji soal pengaruh interaksi sosial terhadap kondisi psikologis seseorang. 

    Maka, Anda harus tentukan ruang lingkupnya. Lalu kaji juga karakteristik interaksi yang Anda maksud, sehingga ada perbandingan mengenai hasilnya.

    2. Contoh Ruang Lingkup Penelitian Kuantitatif

    Gambaran Penelitian Kuantitatif
    Gambaran Penelitian Kuantitatif | Sumber gambar: Pexels.com

    Selanjutnya, ada penelitian kuantitatif. Perlu Anda ketahui, prinsip dari penelitian kuantitatif adalah tidak banyak analisis secara deskriptif dan cenderung menyajikan data-data yang bisa terukur dengan angka.

    Misalnya pada contoh kajian ilmiah dari STIE Widyagama Lumajang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertumpu pada pencarian hubungan asosiatif yang memiliki sifat kausal.

    Menurut Sugiyono (2008: 36), penelitian asosiatif merupakan penelitian yang skeptis terhadap hubungan antar dua variabel atau lebih.

    Dalam ruang lingkup penelitian ini, jelas terdapat dua variabel berbeda, yaitu independen atau variabel yang mempengaruhi dan variabel dependen atau variabel yang mendapatkan pengaruh. 

    Sederhananya, penelitian ini mengangkat hubungan variabel antara kualitas produk dan harga terhadap tingkat loyalitas pelanggan. 

    Ternyata hasilnya ada pengaruh kuat antara kedua variabel. Pasalnya, kualitas produk akan sangat berpengaruh terhadap seberapa suka pelanggan atas apa yang perusahaan tersebut tawarkan.

    4 Cara Menentukan Ruang Lingkup Penelitian

    Gambaran Tim Brainstorming
    Gambaran Tim Brainstorming | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah menyimak beberapa penjelasan dari paparan sebelumnya, Anda perlu mengetahui cara menentukan ruang lingkup. Ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan dan menjadi penentu ruang lingkup tersebut. Berikut 4 cara mudahnya, yaitu:

    1. Batasan Masalah

    Langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan membatasi masalah yang akan Anda kaji. Ingat, prinsip utama dari ruang lingkup adalah pembatasan masalah. 

    Tujuan pembatasan ini adalah agar masalah yang Anda angkat bisa tergali secara mendalam, tidak hanya pada permukaannya saja.

    Apabila tidak Anda batasi, sangat mungkin hasil kajian tersebut akan melebar topiknya. Bahkan, mengarah ke tema lainnya yang jelas-jelas tidak masuk ke dalam pembahasan.

    Oleh karena itu, Anda hanya perlu fokus pada batasan-batasan yang telah dibuat agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

    2. Menyesuaikan dengan Keberadaan Data

    Setelah selesai membuat batasan penelitian, Anda bisa menyesuaikan keberadaan data penelitian itu. 

    Lalu muncul pertanyaan, bagaimana apabila kesulitan menyesuaikan data penelitian di lapangan? Solusinya adalah dengan memulai membuat hipotesis atau kerangka penelitian.

    Dengan pembuatan hipotesis atau kerangka penelitian, Anda bisa mengetahui apa saja langkah-langkah yang selanjutnya harus dilakukan. Cara ini selain mempermudah juga akan membuat waktu Anda dalam mengumpulkan data menjadi lebih efektif.

    3. Memahami Penelitian

    Sejatinya, cara paling ampuh menentukan ruang lingkup penelitian adalah memahami penelitian itu sendiri.

    Anda perlu benar-benar menguasai topik kajian yang ingin diangkat, sehingga tidak akan kesulitan dalam membahas setiap teori ataupun variabel-variabel di dalamnya.

    Selain berfungsi untuk membantu menentukan ruang lingkup pada penelitian, pemahaman ini juga sangat berguna agar Anda bisa menyelesaikan tulisan sampai akhir. 

    Sebab, sudah banyak kasus para peneliti yang di tengah jalan mengganti fokus bahasan karena tidak memahami topik penelitiannya.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    4. Masalah yang Anda Ambil Memiliki Urgensi

    Agar apa yang Anda tulis benar-benar memberikan dampak manfaat yang besar, Anda harus memilih tema atau mengangkat masalah yang memang memiliki urgensi tinggi. 

    Jangan sekadar memilih tema karena mudah Anda teliti saja. Namun, harus ada manfaat yang kemudian dapat diraih oleh para pembaca.

    Akan semakin baik lagi, apabila Anda juga memperhatikan sisi kemenarikannya. Artinya Anda tidak hanya mengangkat tema yang memiliki urgensi tinggi, tetapi juga menarik untuk Anda bahas.

    Contohnya, melengkapi penelitian terdahulu yang sudah ada atau mengambil tema-tema cukup ekstrem yang jarang dikaji.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Sudah Paham Cara Menentukan Ruang Lingkup Penelitian?

    Fungsi ruang lingkup penelitian yang amat penting semestinya mendorong Anda untuk serius dalam menyusun. Cara ini juga akan berpengaruh terhadap kemampuan Anda dalam menyelesaikan tulisan atau penelitian yang sedang dikaji.

    Banyak para peneliti yang kemudian bingung terhadap penelitiannya karena di awal tidak menentukan ruang lingkup penelitiannya. Kebanyakan memilih untuk terus menulis saja tanpa ada batasan yang jelas. Padahal, pola tersebut perlu Anda hindari agar penelitian dapat terselesaikan dengan baik dan tuntas.

  • Kajian Pustaka: Pengertian, Manfaat, Tujuan, hingga Contohnya

    Kajian Pustaka: Pengertian, Manfaat, Tujuan, hingga Contohnya

    Kajian pustaka merupakan sebuah elemen krusial dalam sebuah laporan penelitian. Namun, tak jarang peneliti awam kebingungan bagaimana memasukkan landasan teori ini pada makalah mereka dengan runtut dan jelas.Kamu dapat mempelajari berbagai serba-serbi tentang kajian pustaka dalam uraian kali ini. 

    Simak baik-baik, yuk!

    Pengertian Kajian Pustaka

    Mencari landasan teori melalui buku
    Mencari landasan teori melalui buku | Freepik.com

    Kajian pustaka atau landasan teori merupakan sebuah tindakan mendalami, mencermati, serta menelaah pengetahuan. Pada dasarnya, landasan teori ini memuat sejumlah uraian mengenai literatur yang mendukung gagasan awal guna menyelesaikan masalah.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, tentu kamu dapat melihat bahwa menyajikan bagian tersebut dalam sebuah laporan amat penting. Di samping fungsinya dalam mendukung gagasan awal, landasan teori juga memuat informasi penting guna menjalankan penelitian.

    Apa Kata Para Ahli tentang Landasan Teori?

    Merangkum sumber dari buku
    Merangkum sumber dari buku | Freepik.com

    Selain dari pengertian di atas, kamu juga bisa lebih memahami arti dari kajian pustaka melalui definisi yang para ahli ini utarakan. Simak selengkapnya berikut ini.

    1. Pohan

    Bagi Pohan, landasan teori merupakan sebuah aktivitas untuk mengumpulkan sejumlah data ilmiah, terlebih dalam bentuk metode, teori, atau penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Teori atau metode tersebut bisa kamu dapatkan melalui buku, jurnal, atau naskah dokumen yang ada di perpustakaan.

    2. Kutha Ratna

    Nyoman Kutha Ratna juga pernah mengutarakan pendapatnya mengenai definisi kajian pustaka. Menurutnya, landasan teori ini lebih merujuk pada bahan bacaan yang secara khusus berkenaan dengan objek penelitian yang sedang peneliti kaji. 

    Semua bacaan yang telah peneliti baca dan analisis dapat kamu definisikan sebagai landasan teori. Di dalamnya termasuk bacaan yang telah terbit, maupun bacaan yang masih dalam proses penulisan atau berstatus koleksi pribadi.

    3. Nazir

    Sementara itu, Nazir berpendapat bahwa kajian pustaka merupakan suatu studi literatur atau studi kepustakaan yang mempunyai fungsi guna menunjang keabsahan penelitian. 

    Terlepas dari itu, landasan teori ini juga dapat peneliti gunakan untuk mengetahui sejauh mana ilmu yang mempunyai hubungan dengan proses penelitian berkembang. Landasan teori ini juga dapat kamu gunakan untuk meninjau sejauh mana kesimpulan dari penelitian tertentu yang pernah orang lain buat sebelumnya.

    4. Muh Fitrah dan Dr. Lutfhiyah

    Definisi tentang landasan teori ini juga pernah Muh Fitrah dan Dr. Lutfhiyah bahas, lo. Keduanya beranggapan bahwa landasan teori merupakan suatu aktivitas mencermati, mendalami, serta menelaah pengetahuan. Definisi mereka berdua yang akhirnya membentuk pengertian umum dari sebuah landasan teori. 

    Singkatnya, landasan teori merupakan cara untuk mendapatkan sumber data. Nantinya, sumber data yang berbentuk teori, metode, atau pendekatan ilmiah ini bisa kamu gunakan untuk melengkapi penelitian.

    4 Manfaat Landasan Teori, Jangan Sampai Tidak Tahu!

    Meneliti landasan teori
    Meneliti landasan teori | Freepik.com

    Kamu bisa menyimpulkan beberapa manfaat dari landasan teori berdasarkan definisinya. Secara lebih terperinci, ada empat manfaat yang penulis dapatkan melalui aktivitas menyusun landasan teori. 

    1. Menemukan Solusi dari Topik Permasalahan

    Saat membuat karya tulis ilmiah, pasti kamu memerlukan topik permasalahan yang perlu kamu teliti. Dengan topik permasalahan tersebut, kamu akan dapat meneliti kemungkinan jawaban untuk menyelesaikan permasalahan itu. 

    Oleh karena itu, kajian pustaka yang umumnya berisi teori-teori untuk menunjang ketajaman penelitian merupakan elemen yang memudahkan kamu menyelesaikan masalah tersebut. Sebab, teori yang ada pada kajian tersebut telah melewati serangkaian proses pengkajian dari sumber data dan literatur.

    2. Memudahkan Proses Penelitian

    Landasan teori ini bisa memfasilitasi kamu untuk memperoleh berbagai teori dan referensi, yang menghasilkan hasil solutif dari penelitian sehingga memudahkan kamu menjalani proses penelitian dari awal hingga akhir. 

    Akan tetapi, kamu juga perlu menyusun teori-teori tersebut agar mudah untuk dicerna. Lalu, kamu pun dapat menggunakan serangkaian teori itu untuk menjalankan penelitian dengan mudah dan efektif.

    3. Menentukan Standar Penelitian

    Ketika memulai proses pembuatan karya ilmiah, tentu kamu harus menentukan standar atau kriteria penelitian terlebih dahulu. Pasalnya, standar penelitian mampu membuat proses penelitian dapat berjalan sesuai arah yang telah kamu tetapkan.

    Kriteria ini wajib berisi tanda indikator pencapaian (keberhasilan atau kegagalan), langkah identifikasi topik permasalahan, saran untuk peneliti, dan kesimpulan. Harapannya, hasil penelitian kamu akan mudah pembaca pahami.

    4. Memverifikasi Hasil Penelitian

    Terakhir, manfaat dari kajian pustaka adalah untuk memverifikasi hasil penelitian. Proses verifikasi hasil penelitian ini perlu kamu lakukan karena berperan sebagai perbandingan dari hasil penelitian sebelumnya. Proses verifikasi juga membantu peneliti untuk mendapatkan kesimpulan.

    Tujuan Landasan Teori

    Mencatat poin penting untuk landasan teori
    Mencatat poin penting untuk landasan teori | Freepik.com

    Setelah memahami manfaat dari kajian pustaka, kamu juga perlu mengerti lima tujuan dari aktivitas ini. Berikut ini penjelasan singkatnya. 

    1. Landasan teori berguna sebagai sarana untuk memahami permasalahan yang relevan dengan topik pembahasan penelitian. Dengan demikian, penelitian kamu pun dapat menjadi jawaban solutif atas permasalahan tertentu.
    2. Memungkinkan peninjauan pada topik pembahasan yang akan kamu teliti atau analisis melalui karya tulis atau literatur. 
    3. Kajian pustaka juga membantu kamu mengetahui para peneliti yang telah menjalankan penelitian dengan topik permasalahan yang sama sebelumnya
    4. Lebih memahami teori untuk proses penelitian. 
    5. Kajian pustaka juga bermanfaat untuk memahami setiap teori yang akan kamu gunakan sebagai literatur dalam proses penelitian. Selain itu, kamu dapat memanfaatkannya untuk  penentuan sikap ketika sudah menyelesaikan penelitian yang ternyata memiliki hasil tidak sesuai dengan harapan

    Kenali 4 Jenis Landasan Teori Ini!

    Mencari berbagai sumber untuk penelitian | Freepik.com

    Kajian pustaka atau landasan teori ini juga memiliki empat jenis yang berbeda. Apa sajakah jenis dari landasan teori, dan bagaimana cara membedakannya?

    1. Kajian Pustaka Kualitatif

    Umumnya, jenis ini peneliti gunakan untuk penelitian dengan pendekatan kualitatif. Kamu bisa menggunakan jenis kualitatif apabila landasan teori banyak menjelaskan perilaku atau pedoman penelitian tertentu.

    2. Landasan Teori Kuantitatif

    Kamu bisa menggunakan landasan teori kuantitatif dalam penelitian berisi sejumlah variabel yang memiliki keterkaitan langsung dengan hipotesis tertentu.

    3. Kajian Pustaka Teori Normatif

    Jenis kajian pustaka ini menitikberatkan penggunaan teori normatif, sehingga jenis landasan teori normatif sering peneliti gunakan untuk mempelajari bidang ilmu sosial.

    4. Landasan Teori Campuran

    Terakhir, terdapat juga jenis campuran. Jenis landasan teori ini merupakan gabungan dari metode penelitian kualitatif dan kuantitatif.

    Langkah Menyusun Kajian Pustaka

    Mencermati sumber pustaka | Freepik.com

    Dalam menyusun kajian pustaka dalam laporan penelitian, kamu perlu mengaplikasikan sejumlah langkah tertentu yang dapat kamu ketahui melalui penjelasan berikut ini.

    1. Mencari tahu kata kunci topik penelitian.
    2. Membaca sejumlah abstrak laporan hasil penelitian yang berkaitan. Contohnya dari sumber jurnal, prosiding, atau buku.
    3. Membuat catatan mengenai hasil catatan dengan cara membuat peta literatur urutan, keterkaitan topik penelitian, dan referensi bibliografi.
    4. Menulis ringkasan literatur secara lengkap, sesuai dengan peta literatur, urutan, serta keterkaitan topik setiap variabel.
    5. Membuat kajian pustaka, lalu menyusunnya dengan tematis sesuai teori dan konsep penting berkenaan dengan topik dan variabel penelitian
    6. Sisipkan pandangan umum mengenai topik berdasarkan literatur. Pastikan pula untuk menjelaskan orisinalitas dan tujuan topik penelitian.

    Baca Juga : Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    Contoh Kajian Pustaka

    Membaca sumber pustaka
    Membaca sumber pustaka | Freepik.com

    Agar lebih memahami mengenai pengaplikasian landasan teori dalam sebuah penelitian, kamu bisa melihat contohnya berikut ini.

    “Populasi Harimau Sumatra di dunia hanya berjumlah 672 ekor. Seluruh populasi ini mempunyai habitat asli di Pulau Sumatra, Indonesia, dan jenis ini merupakan satu dari sembilan jenis harimau yang masih tersisa di dunia.

    Berdasarkan sumber ProFauna, Indonesia sesungguhnya mempunyai tiga subspesies harimau endemik, yaitu Harimau Jawa, Harimau Bali, dan Harimau Sumatra. Akan tetapi, sebelum masuk abad ke-20, Harimau Jawa dan Bali telah IUCN (International Union for Conservation of Nature) nyatakan punah.

    Kepunahan harimau itu disebabkan perburuan liar dan cara hidup harimau yang soliter. Terlebih, diyakini hanya terdapat satu ekor harimau dalam rentang hutan seluas 320 hektare tersebut.”

    Contoh kajian pustaka ini hanya merupakan salah satu contoh landasan teori yang cocok untuk jenis tulisan berupa artikel. Tetapi, ada pula landasan teori yang cocok pula untuk penelitian tesis, karya ilmiah, dan juga skripsi. 

    Terlepas dari contoh landasan teori yang cocok untuk berbagai macam tulisan, kamu perlu dengan cermat. Dengan demikian, 

    Apa yang Perlu Dicermati Dalam Menyusun Kajian Pustaka?

    Secara sederhana, kamu perlu memilih dengan cermat sumber bacaan yang relevan dengan penelitian kamu. Dengan begitu, kamu bisa memberikan pengantar yang mudah untuk pembaca pahami sebelum menelaah penelitian yang kamu sajikan.Selain itu, agar kamu bisa menyiapkan kajian pustaka dengan baik, tentukan terlebih dahulu tujuan penelitian kamu.

  • Disertasi: Ketentuan, Karakteristik, dan Cara Membuatnya

    Disertasi: Ketentuan, Karakteristik, dan Cara Membuatnya

    Jenis karya ilmiah yang sering menjadi tonggak karir akademik seseorang saat menempuh studi S3 atau doktor adalah disertasi. Istilah tersebut merujuk pada karya tulis yang mendalam dan komprehensif tentang suatu topik tertentu. Proses penulisannya pun memerlukan dedikasi, penelitian, dan analisis mendalam. 

    Agar lebih paham, pada artikel ini, kita akan membahas berbagai aspek yang terkait dengan karya ilmiah tersebut. Termasuk karakteristik, ketentuan, serta langkah-langkah dalam menulisnya. Berikut penjelasannya!

    Pengertian

    Disertasi merupakan sebuah karya akademik mahasiswa tingkat doktor sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar doktor. Kegunaan karya ini adalah untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah, melakukan penelitian ilmiah, dan memberikan kontribusi baru dalam bidang studi mereka.

    Karya ilmiah ini juga merupakan representasi tertulis dari kemampuan akademik seorang mahasiswa doktor dalam melakukan penelitian yang relevan dengan temuan baru dalam disiplin ilmu mereka. Secara sederhana, karya ini disusun sebagai bagian penting dalam proses mendapatkan gelar doktor (S3).

    Karakteristik

    Berbeda dengan skripsi untuk S1 dan tesis untuk S2, disertasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    • Dibuat oleh mahasiswa yang tengah menempuh jenjang pendidikan S3.
    • Kajian berasal dari kajian teoretik dan fakta empiris yang sifatnya mendalam.
    • Umumnya, penguji minimal memiliki gelar profesor atau doktor. Namun, yang sudah berpengalaman.
    • Metodenya sama dengan tesis. Akan tetapi lebih kompleks, berbobot, dan tujuannya untuk mencari terobosan dan juga teori baru di dalam bidang ilmu pengetahuan.
    • Dibuat dalam upaya menemukan hal-hal baru.
    • Memiliki konsentrasi pada salah satu disiplin ilmu.
    • Kajian dan fokus penemuan dan teori baru di dalamnya berdasarkan disiplin ilmu secara mendalam.
    • Menggunakan data primer sebagai data utama serta data sekunder sebagai pendukung.
    • Penulisannya menggunakan kaidah dan sesuai dengan ketentuan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kecuali untuk program studi bahasa asing yang memiliki syarat untuk membuatnya dengan bahasa tertentu.

    Perbedaan Disertasi dengan Skripsi dan Tesis

    Perbedaan antara tesis, skripsi, dan disertasi dapat kita jelaskan dalam beberapa aspek utama. Berikut di antaranya:

    1. Skripsi

    • Sebagai syarat kelulusan di tingkat sarjana (S1).
    • Lebih pendek dan lebih sederhana.
    • Memerlukan penelitian yang lebih terbatas dan umumnya terbatas pada 30-60 halaman.
    • Biasanya merupakan bagian akhir dari program sarjana.
    • Lebih berfokus pada pembuktian pemahaman mahasiswa terhadap topik tertentu.

    2. Tesis

    • Umumnya ditulis sebagai syarat lulus dalam program pascasarjana (S2).
    • Lebih pendek dan kurang kompleks daripada disertasi.
    • Memerlukan penelitian yang lebih terbatas dalam lingkupnya.
    • Biasanya mencakup sekitar 50-100 halaman.
    • Fokus pada pembuktian teori atau argumen tertentu.

    3. Disertasi

    • Karya ilmiah paling tinggi dan merupakan syarat kelulusan dalam program doktoral (S3).
    • Jauh lebih panjang dan mendalam.
    • Melibatkan penelitian komprehensif.
    • Umumnya terdiri dari 150-300 halaman atau lebih.
    • Lebih berfokus pada kontribusi asli terhadap pengetahuan di bidang tertentu.

    Baca Juga : Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Jenis

    Berikut adalah beberapa jenis disertasi yang perlu Anda ketahui:

    • Kuantitatif: Penelitian yang menggunakan data berupa angka untuk analisis. Pemrosesan data tersebut menggunakan alat statistik seperti SPSS, Minitab, Excel, dan lainnya.
    • Kualitatif: Untuk memeriksa objek alamiah. Di sini, peneliti berperan sebagai instrumen utama, sehingga kualitas hasil penelitian sangat tergantung pada keterampilan peneliti.
    • Pengembangan (R & D): Penelitian yang menekankan pada pengembangan produk yang melibatkan adaptasi. Hasilnya untuk merancang produk baru yang melewati proses pengujian dan evaluasi agar bisa disempurnakan sesuai dengan kriteria tertentu.
    • Evaluatif: Penelitian ini bertujuan mencari kelemahan dalam pelaksanaan kebijakan. Baik oleh lembaga pemerintah, organisasi internasional, dan lainnya.
    • Analisis Isi: Kajian mendalam terhadap konten informasi, baik tertulis maupun visual, seperti analisis media sosial.
    • Campuran: Kombinasi penelitian kualitatif dan kuantitatif yang menggabungkan pendekatan dan metode dari kedua jenis penelitian dalam satu studi.

    Ketentuan dan Syarat Disertasi

    Menulis karya ilmiah jenis ini melibatkan beberapa ketentuan, mengingat sifatnya yang sangat penting untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Berikut ketentuan lengkapnya:

    • Dasar Teoritis yang Kuat: Karya ilmiah ini harus berdasar pada kajian teoritis yang mendalam, serta mendapatkan dukungan fakta empiris yang kuat.
    • Kemandirian Penulis: Berbeda dengan skripsi atau tesis yang melibatkan banyak bimbingan dosen, penulisan membutuhkan tingkat kemandirian yang tinggi dengan peran dosen pembimbing yang lebih terbatas.
    • Bobot Ilmiah yang Signifikan: Harus memiliki bobot ilmiah yang tinggi, termasuk dalam hal teori, referensi, penelitian, dan lainnya.
    • Penemuan Baru: Menuntut penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan yang relevan. Serta berkontribusi pada perkembangan pengetahuan di masa depan.
    • Pemaparan Analitis: Penyajiannya harus analitis, yakni menekankan pada analisis mendalam dan informatif. 
    • Penggunaan Model Analitis yang Tinggi: Model analisisnya harus tingkat tinggi, menunjukkan tingkat kecermatan dan ketelitian dalam analisis.
    • Banyaknya Rumusan Masalah: Penulisan disertasi melibatkan lebih dari tiga rumusan masalah.
    • Metode Statistik yang Kompleks: Metode dan uji statistik yang digunakan harus lebih kompleks dan substansial, sesuai dengan tujuan menciptakan teori yang mendalam.
    • Orisinalitas Wajib: Semua tulisannya harus orisinal, bukan hasil plagiat.
    • Penemuan Baru yang Signifikan: Harus menghasilkan penemuan baru yang berarti dalam bidang studi yang relevan.
    • Publikasi di Jurnal Nasional dan Internasional: Hasilnya harus dipublikasikan dalam jurnal, baik nasional maupun internasional.
    • Jumlah Rujukan Minimal 60: Dalam karya ilmiah ini minimal harus memiliki 60 referensi tidak boleh kurang.
    • Penggunaan Metode Kuantitatif: Metode yang digunakan dalam karya ilmiah ini bersifat kuantitatif dengan penggunaan perangkat lunak seperti Eview, Amos, SPSS, Lisrel, dan sejenisnya.

    Tujuan Disertasi

    Ilustrasi Kelulusan
    Ilustrasi Kelulusan | Sumber Gambar: Pexels

    Penulisan dan penyusunan karya ilmiah ini memiliki beberapa tujuan, yakni:

    • Sebagai persyaratan akhir untuk menyelesaikan program S3 atau memenuhi syarat kelulusan.
    • Karya ilmiah mahasiswa yang tidak hanya mencerminkan proses mengungkapkan ide dalam bentuk tulisan, tetapi juga mencerminkan seluruh rangkaian aktivitas dalam proses penelitian. 
    • Topik penelitian dalam disertasi dapat mengembangkan pengetahuan dalam bidang ilmu yang dipilih.
    • Penelitian ini seringkali memberikan kontribusi baru yang signifikan.
    • Karya ilmiah ini mendorong mahasiswa untuk lebih mendalam dalam studi yang telah mereka tekuni.
    • Menguji kemampuan peneliti secara mandiri. Di luar pengetahuan yang mahasiswa peroleh selama kuliah dengan hasil yang membantu menentukan nilai akhir mereka.

    Cara Membuat Disertasi

    Ilustrasi Disertasi
    Ilustrasi Disertasi | Sumber Gambar: czechuniversities

    Secara umum, mirip dengan tesis dan skripsi, karya ilmiah ini memiliki struktur yang terdiri dari lima bab yang bisa Anda jadikan acuan saat membuatnya, yaitu:

    1. Pendahuluan

    Merupakan bagian awal yang mencakup beberapa hal. Meliputi pertanyaan penelitian, latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

    2. Tinjauan Literatur

    Bagian ini berfokus pada kritik dan sintesis literatur terbaru dalam bidang penelitian. Pengambilan teori-teori yang relevan berasal dari berbagai sumber. Contohnya adalah jurnal ilmiah, buku teks, laporan penelitian makalah, dan publikasi resmi.

    3. Metodologi

    Bagian disertasi ini akan ada penjelasan secara rinci mengenai prosedur dan metode untuk pengumpulan serta analisis data. Hal tersebut mencakup aspek seperti lokasi dan waktu penelitian, desain penelitian, populasi, sampel, teknik pengumpulan data, analisis data, dan prosedur penelitian.

    4. Analisis

    Bagian ini membahas hasil analisis data setelah penelitian dilakukan. Mahasiswa menganalisis data, menginterpretasikan, dan membandingkannya dengan literatur yang relevan. Selain itu, analisis mungkin juga menyoroti potensi penelitian di masa depan.

    5. Kesimpulan, Implikasi, dan Saran

    Bagian akhir ini memberikan rangkuman hasil penelitian, implikasi dari temuan, dan saran untuk penelitian selanjutnya. Hal tersebut merupakan langkah terakhir dalam penyusunan karya ilmiah.

    Sudah Paham Apa Itu Disertasi dan Cara Membuatnya?

    Sekarang, setelah Anda sudah memahami esensi disertasi dan langkah-langkah untuk membuatnya, tidak ada alasan lagi untuk merasa bingung atau takut. Intinya, karya ilmiah ini adalah tonggak prestasi akademik yang berharga. Tentu saja akan menjadi suatu kebanggan jika Anda mampu menyelesaikannya dengan maksimal.

    Sebagai catatan ketika akan menulis, sebaiknya tentukan topik yang paling relevan dan cocok untuk Anda. Pastikan penggunaan bahasanya sudah benar dan hindari kata tidak baku. Selain itu, tetap perhatikan format dari universitas masing-masing, karena umumnya akan berbeda-beda. Semoga bermanfaat!

  • Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Pada dunia akademik, khususnya di perguruan tinggi, setiap mahasiswa diharuskan untuk menyelesaikan tesis sebagai suatu syarat utama kelulusan. Lalu, apa sebenarnya tesis itu dan bagaimana cara penulisannya yang baik? Mari simak penjelasan lebih lengkap lewat ulasan berikut ini!

    Apa itu Tesis?

    Mahasiswa
    Mahasiswa | Sumber gambar: Jasper

    Tesis atau thesis merupakan sebuah karya ilmiah dalam bentuk tulisan terstruktur dan berlaku sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa tingkat magister atau S2. Apabila pada jenjang sarjana atau S1 kita banyak mengenal tentang skripsi, thesis merupakan hal yang sama namun pada jenjang yang berbeda.

    Umumnya, thesis memiliki kedalaman pembahasan dan studi yang lebih kompleks dari pada skripsi. Di universitas luar negeri, istilah tersebut juga dikenal sebagai syarat kelulusan tingkat sarjana atau bachelor yang umumnya dikenal sebagai bachelor thesis. 

    Adanya suatu tulisan ilmiah ini pastinya telah melewati serangkaian penelitian, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Karya ilmiah ini dapat berupa sebuah studi literatur, studi empiris, studi teoritis, maupun studi kasus yang telah terbukti kebenaran dan dasar ilmunya.

    Selanjutnya, hasil penulisan karya ilmiah oleh mahasiswa yang bersangkutan akan dipresentasikan melalui sidang terbuka. Di mana akan terdapat dosen pembimbing, dosen penguji, serta beberapa audiens. Hal tersebut berlaku untuk menguji kebenaran dari penelitian.

    Berbagai Macam Bentuk Tesis

    Tumpukkan Karya Ilmiah
    Tumpukkan Karya Ilmiah | Sumber gambar: Unsplash

    Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa ada berbagai macam jenis thesis yang bisa mahasiswa tingkat magister susun. Semua bentuk karya ilmiah tersebut bersifat sah. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

    1. Studi Empiris

    Jenis tesis pertama adalah dalam bentuk studi empiris. Studi empiris ini dilakukan dengan mengambil data kuantitatif dari sebuah penelitian. Penelitian tersebut dapat Anda lakukan di laboratorium maupun lapangan. Data yang Anda peroleh selanjutnya dapat Anda olah secara statistika untuk menghasilkan kesimpulan.

    Semua bidang keilmuan dapat membuat jenis karya ilmiah ini. Namun, rata-rata bidang keilmuan sains dan teknik pasti menggunakan studi empiris dalam penyelesaian tesisnya. Dalam melakukan studi empiris, Anda harus sangat memperhatikan objek penelitian dengan baik dan benar.

    2. Studi Kasus

    Jenis tesis selanjutnya adalah studi kasus. Studi kasus dapat Anda lakukan apabila terjadi sebuah kasus tertentu yang membutuhkan penyelesaian secara ilmiah. Umumnya, bidang keilmuan yang menggunakan jenis karya ilmiah ini adalah sosial dan humaniora.

    Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa bidang keilmuan sains dan teknologi juga bisa mengambil jenis karya ilmiah ini. Satu hal yang penting dalam jenis studi kasus adalah bahwa kasus yang menjadi topik merupakan kasus baru dan belum memiliki pemecahan masalah.

    3. Kuantitatif

    Jenis tesis yang satu ini akan menekankan pada pengumpulan dan analisis data berbentuk angka yang bisa Anda ukur secara langsung. 

    Jadi, penulis karya ilmiah harus bisa memastikan bahwa data yang ada bisa terukur dan teranalisis secara objektif. Salah satu contoh metodologi yang banyak peneliti gunakan adalah analisis regresi.

    4. Kualitatif

    Selain menggunakan berbagai data berupa angka yang akurat, nyatanya karya ilmiah juga bisa Anda lakukan tanpa data berupa angka. Jenis inilah yang dapat Anda sebut dengan penelitian kualitatif. Umumnya, penelitian kualitatif dapat Anda lakukan dengan wawancara langsung kepada objek.

    Dengan penelitian kualitatif, Anda tidak perlu mengolah data secara statistika. Namun, kelemahannya terletak pada kesimpulan data penelitian. Karena banyaknya argumen, peneliti cenderung kesulitan untuk menyimpulkan suatu data pada penelitian kualitatif.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Mengenal Karakteristik Tesis

    Kumpulan Dokumen
    Kumpulan Dokumen | Sumber gambar: Unsplash

    Tak seperti tulisan lainnya, karya ilmiah ini memiliki berbagai karakteristik tersendiri yang membuat tulisannya memiliki ciri khas yang unik.  Berikut ini adalah beberapa ciri atau karakteristik dari sebuah thesis:

    • Memiliki satu topik yang sangat fokus pada bidang keilmuan tertentu. Kajiannya pun dilakukan secara mendalam
    • Pada karya ilmiah ini, terdapat acuan pustaka ilmiah yang jumlahnya tidak sedikit, yaitu sekitar 60 acuan pustaka dengan topik yang sama.
    • Menggunakan data primer sebagai data utama yang akan diolah. Sedangkan data sekunder akan berguna sebagai pembanding.
    • Memiliki tata tulisan yang sistematis serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan KBBI.

    Cara Penyusunan dan Penulisan Tesis

    Setelah Anda mengetahui pengertian, bentuk, hingga karakteristik dari karya ilmiah ini. Maka, kini saatnya Anda mengetahui bagaimana cara penulisannya yang baik dan benar. Berikut adalah beberapa tahapan dan bagian di dalamnya:

    1. Pendahuluan dan Latar Belakang

    Tahap penyusunan yang pertama adalah menuliskan pendahuluan dan latar belakang. Pada tahapan ini, Anda harus memaparkan alasan yang kuat mengapa penelitian ini harus Anda lakukan. Berikan bukti berupa data yang akurat dan dari sumber yang terpercaya.

    Selain latar belakang, pada bagian ini paparkan juga rumusan masalah serta tujuan penelitian yang Anda lakukan. Tidak perlu berbelit dan terlalu banyak, satu lembar saja cukup untuk menjelaskan latar belakang penelitian Anda.

    2. Tinjauan Pustaka

    Setelah menuliskan latar belakang, tahap penulisan tesis selanjutnya adalah menuliskan tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka sendiri merupakan dasar ilmu yang akan Anda gunakan sebagai bahan dalam melakukan penelitian ini. Uraikan tinjauan pustaka berdasarkan judul yang Anda buat.

    3. Metode Penelitian

    Tahap selanjutnya adalah melakukan penulisan metode penelitian. Metode penelitian dalam karya ilmiah sendiri dapat Anda pilih adalah kuantitatif atau kualitatif. Bagi bidang keilmuan sains, uraikan juga bagaimana cara menganalisa suatu objek berdasarkan literatur yang Anda peroleh.

    Uraikan secara rinci metode penelitian yang Anda lakukan, jika memungkinkan buat juga diagram alir penelitian. Selain itu, Anda juga perlu membuat rancangan variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian.

    Baca Juga : Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    4. Hasil Penelitian

    Setelah menuliskan metode penelitian, maka selanjutnya Anda akan melaksanakan penelitian. Tuliskan hasil penelitian Anda secara rapi dan rinci. Anda dapat menggunakan bantuan diagram batang, tabel, hingga analisa data menggunakan aplikasi statistika.

    5. Pembahasan

    Setelah mendapatkan data hasil penelitian, maka tugas Anda selanjutnya adalah membuat pembahasan dari data yang Anda peroleh. Pada tesis sendiri, pembahasan yang Anda lakukan harus mendalam mengingat jenjang pendidikan yang memang lebih tinggi.

    Dalam pembahasan, Anda juga bisa membuat sub bab sesuai kebutuhan. Uraikan pembahasan secara sistematis dan buat sub-bab sesuai dengan objek dan variabel yang Anda teliti. Dalam pembahasan, lampirkan juga catatan kaki sebagai referensi keilmuan Anda dalam menuliskan pembahasan.

    6. Kesimpulan dan Saran

    Selanjutnya adalah bab kesimpulan juga saran. Pada bagian kesimpulan, Anda bisa cantumkan setiap hasil penelitian secara singkat dan padat. 

    Sedangkan di bagian saran, Anda bisa memberikan saran teoritis. Maksudnya, Anda memberi saran mengenai apa yang sebaiknya dikaji kembali demi pengembangan ilmu. Berikan pula saran praktis untuk penerapan ilmu yang nyata.

    7. Daftar Pustaka

    Tahap terakhir, yaitu adalah penulisan daftar pustaka. Penulisan daftar pustaka ini sangatlah penting untuk mengetahui berbagai referensi yang Anda rujuk. Penulisan daftar pustaka yang sesuai dengan standar tergolong cukup rumit. Anda harus mengurutkan sesuai abjad hingga menuliskan jurnal penerbitnya.

    Namun, tidak usah khawatir lagi karena ada aplikasi yang akan membantu Anda untuk menuliskan sitasi atau catatan kaki hingga menuliskan daftar pustaka secara otomatis. Aplikasi tersebut adalah Mendeley. Anda bisa mengunduh aplikasi ini di internet secara gratis.

    Sudah Siap untuk Menyusun Tesis Anda Sendiri?

    Berikut tadi adalah penjelasan lengkap mengenai pengertian hingga cara penulisan tesis yang baik dan benar. Karena menjadi salah satu persyaratan kelulusan untuk meraih gelar magister, tentu penulisannya tidak akan mudah dan membutuhkan banyak pemahaman.

    Karena itu, Anda sebaiknya banyak membaca literatur ilmiah sebagai referensi untuk mempermudah proses penyusunan. Anda juga harus memperhatikan setiap bagian atau aspek umum karya ilmiah agar isinya lengkap. Ini meliputi lembar pengesahan, kata pengantar, hingga lampiran. Semoga bermanfaat!

  • Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Jenis-Jenis Penelitian Lengkap Beserta dengan Contohnya

    Penelitian merupakan salah satu pondasi dalam mengembangkan pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan. Selain itu, penelitian bertujuan untuk mencari solusi dari permasalahan yang muncul. Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian yang bervariasi, tergantung pada tujuan dan metodenya.

    Dalam artikel ini, akan dibahas beberapa jenis penelitian yang umum digunakan pada berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian, Anda dapat memilih jenis penelitian sesuai permasalahan yang ditemukan.

    Jenis-Jenis Penelitian

    Penelitian Campuran
    Penelitian Campuran | Sumber gambar: Pexels.com

    Berikut ini adalah jenis-jenis penelitian yang sering dilakukan dalam berbagai bidang ilmu dan disiplin ilmu. Perbedaan masing-masing jenis penelitian ini terdapat pada metode, tujuan, hingga pendekatannya. Berikut 5 jenis penelitian yang bisa Anda pelajari, yaitu:

    1. Penelitian Kuantitatif

    Jenis-jenis penelitian yang pertama adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang menekankan pada pengumpulan dan analisis data dalam bentuk angka atau variabel-variabel yang dapat terukur secara kuantitatif. 

    Pengukuran ini biasanya menggunakan teknik statistik, matematika, dan komputasi. Dalam konteks penelitian kuantitatif, fokus utama peneliti adalah untuk mengukur serta mengenali korelasi antara variabel-variabel tertentu. 

    Selain itu, peneliti juga harus melakukan pengujian terhadap hipotesis dan membuat kesimpulan terkait populasi berdasarkan data yang telah terkumpul.

    Tujuan dari penelitian kuantitatif untuk menguji dan membuktikan hipotesis sehingga peneliti akan mengetahui kebenaran dari hipotesis. Hipotesis ini nantinya yang akan menjawab pertanyaan dari permasalahan yang sedang peneliti cari.

    2. Penelitian Kualitatif

    Berbeda dengan penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif tidak membutuhkan analisis data dalam bentuk angka untuk menguji hipotesis.

    Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang lebih menitikberatkan pada pemahaman mendalam dan memiliki sifat deskriptif. Dalam jenis penelitian ini, peneliti terlibat langsung dalam peristiwa atau situasi yang sedang terjadi. 

    Selain itu, peneliti juga perlu melakukan analisis yang mendalam selama pelaksanaan penelitian sebagai salah satu proses dalam menggali temuan penelitian. Biasanya, peneliti akan menggunakan berbagai teknik dalam mengumpulkan data penelitian. 

    Teknik pengumpulan data pada penelitian kualitatif dapat berupa wawancara, observasi atau pengamatan, survei, Focus Group Discussion (FGD), dan lain sebagainya. 

    3. Penelitian Eksperimen

    Jenis penelitian selanjutnya yakni penelitian eksperimen. Peneliti biasa menggunakan penelitian ini untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dari dua variabel atau lebih. 

    Pada penelitian eksperimen, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pengaruh suatu perlakuan terhadap sebuah variabel.

    Selanjutnya, peneliti akan membandingkan hasilnya dengan variabel lain yang telah menerima perlakuan atau tindakan yang berbeda. 

    Oleh karena itu, peneliti harus menyediakan dua kelompok penelitian yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pendekatan ini berguna untuk menentukan apakah ada hubungan sebab-akibat antara variabel-variabel tersebut.

    4. Penelitian Campuran (Mixed)

    Jenis-jenis penelitian selanjutnya adalah penelitian campuran atau penelitian mixed-method. Penelitian campuran menggunakan dua jenis penelitian yang berbeda untuk digunakan dalam satu penelitian sekaligus. 

    Penggunaan dua jenis penelitian dianggap akan lebih lengkap untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Penelitian campuran melibatkan penggabungan dua jenis penelitian yakni penelitian kuantitatif dan kualitatif, termasuk metode penelitianya. 

    Metode penelitian mencakup pengumpulan data kuantitatif dalam bentuk korelasi, eksperimen atau lainnya dan pengumpulan data kualitatif, seperti wawancara dan observasi.

    Peneliti menggunakan penelitian campuran ini tidak serta merta karena jenis penelitian lain tidak cukup dalam menjawab permasalahan. Namun, ada beberapa alasan dari peneliti dalam menggunakan penelitian campuran ini sebagai berikut.

    • Mendapatkan hasil yang lengkap dan kompleks.
    • Memahami berbagai permasalahan penelitian yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan penelitian kualitatif atau kuantitatif saja.
    • Mengeksplorasi pandangan sampel secara kualitatif serta mengembangkannya pada populasi dengan cara kuantitatif.

    5. Penelitian Deskriptif

    Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang berfokus pada penggambaran karakteristik dari suatu populasi atau fenomena yang menjadi fokus penelitian. 

    Metode penelitian deskriptif lebih menekankan pada penyajian deskripsi dan menjelaskan secara rinci objek penelitian.

    Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan, menganalisis, dan menjelaskan tentang suatu peristiwa atau fenomena yang diamati. 

    Penelitian deskriptif biasanya menjadi tahap awal dalam upaya untuk lebih memahami suatu masalah sebelum dilakukan penelitian yang lebih mendalam atau penelitian eksperimen.

    5 Contoh Penelitian

    Contoh Penelitian Eksperimen
    Contoh Penelitian Eksperimen | Sumber gambar: Pexels.com)

    Setelah jenis-jenis penelitian di atas, berikut ini 5 contoh penelitian terbaru yang dapat membantu Anda memahami dan memberikan wawasan lebih lanjut terkait penelitian.

    1. Contoh Penelitian Kuantitatif

    Penelitian kuantitatif tentu menggunakan angka statistik dalam pengukurannya dan banyak digunakan pada berbagai bidang ilmu.

    Contoh penelitian kuantitatif dalam ilmu pendidikan, misalnya pengaruh metode pembelajaran yang efektif dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Seperti motivasi, gaya belajar, hasil belajar, dan minat belajar peserta didik.

    Kemudian contoh penelitian kuantitatif lain pada bidang kesehatan, misalnya pengaruh obat tertentu dalam mengurangi tekanan darah. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data terkait dengan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah mengkonsumsi obat. 

    2. Contoh Penelitian Kualitatif

    Banyak peneliti menggunakan penelitian kualitatif dalam berbagai ilmu seperti ilmu sosial atau ilmu alam. 

    Contoh dari penelitian kualitatif adalah seperti pada judul “Persepsi Remaja terhadap Isu Kesehatan Mental (Studi kasus SMA Negeri 1 Bandung)”. 

    Peneliti mengambil data dengan metode wawancara kepada beberapa sampel untuk memahami sudut pandang, pendapat, dan pengalaman mereka. 

    Setelah melalui proses analisis, peneliti dapat menyajikan data dalam bentuk informasi deskriptif beserta dengan teori-teori yang mendukung data tersebut.

    3. Contoh Penelitian Eksperimen

    Salah satu contoh jenis-jenis penelitian eksperimen yakni, perbandingan kinerja siswa dalam mata pelajaran Matematika dan bahasa Inggris. 

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pola kinerja siswa di dua mata pelajaran tersebut serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil akademik siswa tersebut.

    Setelah pengumpulan data pada kelompok kontrol dan eksperimen, selanjutnya peneliti dapat menyajikan hasil penelitian eksperimen dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram. 

    Data eksperimen dapat disajikan dalam beberapa cara, tergantung pada jenis data dan tujuan presentasi.

    4. Contoh Penelitian Campuran (Mixed)

    Contoh dari penelitian campuran atau mixed adalah pengaruh Covid-19 terhadap cara mengajar guru menggunakan teknologi pembelajaran jarak jauh. 

    Peneliti dapat melakukan wawancara kepada guru untuk mengetahui dampak Covid-19 dengan metode penelitian kualitatif. 

    Di sisi lain, peneliti dapat melakukan survei melalui kuesioner kepada guru untuk mengetahui variabel apa saja yang berpengaruh dalam cara mengajar menggunakan metode penelitian kuantitatif. Kedua metode tersebut akan menjadi penelitian campuran (mixed).

    5. Contoh Penelitian Deskriptif

    Contoh dari penelitian deskriptif adalah penggunaan media sosial dan kesejahteraan psikologis remaja. 

    Peneliti dapat melakukan serangkaian wawancara kepada beberapa sampel dari remaja, kemudian melakukan survei kepada sampel yang lebih besar secara online.

    Baca Juga : Apa itu Tesis? Bentuk, Karakteristik, dan Cara Penulisan

    Sudah Tahu Jenis-Jenis Penelitian dan Contoh Lengkapnya?

    Itulah tadi pembahasan terkait dengan beberapa jenis-jenis penelitian serta contoh penelitiannya. Pada dasarnya, masing-masing jenis penelitian memiliki ciri-ciri dan pendekatan yang berbeda-beda. Anda dapat menyesuaikannya dengan tujuan, metode, dan pendekatan yang berguna dalam penelitian yang akan dilakukan.

  • Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Metodologi Penelitian : Pengertian, Jenis, Manfaat, serta Tujuannya

    Penelitian merupakan proses untuk mengetahui suatu pemahaman baru atau fakta tertentu yang dilakukan secara sistematis dengan beberapa tahapan. Di mana dalamnya harus disertai dengan langkah-langkah konkrit sehingga membutuhkan metodologi penelitian. Lantas, apa saja jenis hingga tujuan metodologi tersebut?

    Apa itu Metodologi Penelitian?

    Penelitian adalah sebuah proses untuk memecahkan suatu permasalahan secara ilmiah atau untuk mengembangkan atau menguji teori baru. Hal tersebut sudah sering dilakukan untuk mengkaji suatu permasalahan tertentu dan dilakukan dalam berbagai bidang keilmuan untuk memberikan bukti secara ilmiah. 

    Tanda tanya awal dalam penelitian sendiri ada pada rumusan masalah yang fungsinya adalah untuk menentukan fokus penelitian ini akan mengarah ke mana. Penerapannya akan mempengaruhi pemilihan topik penelitian, batasan penelitian, sampai dengan penentuan metode penelitian. 

    Mengutip dari kamus besar bahasa indonesia (KBBI), metodologi memiliki arti ilmu tentang metode atau uraian tentang metode. Sehingga, metodologi penelitian dapat didefinisikan sebagai cara yang harus peneliti lakukan dalam mengumpulkan, mengolah, dan menganalisa data yang sudah didapatkan.

    Pentingnya memahami metodologi sebelum melakukan penelitian adalah untuk memudahkan melihat alur atau tahapan-tahapan yang perlu dilakukan secara runtut. Tujuannya untuk mendapatkan data secara maksimal dan mendapat fakta-fakta baru saat proses penelitian. 

    Jenis Metodologi Penelitian

    Penelitian
    (Penelitian | Sumber gambar: Freepik.com)

    Metode penelitian adalah cara untuk mengembangkan suatu data, sehingga jenisnya juga berbeda-beda. Penentuannya berdasarkan dari jenis analisis, permasalahan, teknik pengumpulan data, atau dari tujuannya. Berikut adalah beberapa jenis metodologi yang sering peneliti gunakan:

    1. Metode Penelitian Kuantitatif

    Metode kuantitatif identik dengan penelitian yang banyak melibatkan perhitungan. Pendekatan ini bersifat matematis karena akan menganalisis data dalam bentuk angka dengan instrumen analisa statistik. 

    Metodologi penelitian ini lebih objektif daripada kualitatif karena menggunakan logika positivistik. Untuk pendekatannya juga lebih berorientasi pada hasil. Sehingga, dalam penelitian kuantitatif lebih condong pada pertanyaan “apa” yang mengarah langsung pada subjek penelitian. 

    Dalam penelitian kuantitatif ada dua pendekatan yang sering peneliti gunakan, yaitu:

    1. Metode Survei

    Pendekatan dengan metode survei berguna untuk mendapatkan data yang peneliti lakukan secara sistematis. Beberapa tahapan dalam metode ini adalah mengidentifikasi variabel, memilih sampel, mengembangkan alat penelitian. Serta dengan pelaksanaan survei untuk mengumpulkan data dari hasil wawancara atau kuesioner. 

    2. Metode Eksperimen 

    Metode eksperimen dalam penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji hipotesis. Serta untuk melihat bagaimana hubungan antar variabel dalam kondisi terkontrol. Hal tersebut untuk melihat apakah dua variabel atau lebih saling mempengaruhi. 

    2. Metode Penelitian Kualitatif 

    Jenis metodologi penelitian ini banyak ditemukan pada ranah ilmu sosial karena metode ini menitikberatkan penelitian pada pengamatan fenomena. Analisis mendalam dan ketajaman penelitian kualitatif terdapat pada penggunaan diksi dan susunan kalimat yang peneliti gunakan. 

    Pada prinsipnya, metode kualitatif akan menggunakan interview dan observasi mendalam untuk mencari makna yang substansial. Perolehan data merupakan analisis hasil riset dalam bentuk wawancara, poling, atau pengisian kuesioner. Selain itu, ini juga dapat berbentuk narasi dari catatan lapangan atau dokumen pribadi. 

    Jika dalam kualitatif lebih fokus pada pertanyaan “apa”, maka dalam kualitatif pertanyaan akan mengarah pada “mengapa” untuk lebih melihat pada bagaimana suatu fenomena bisa terjadi. Ini terjadi karena metode penelitian kualitatif lebih berorientasi pada proses. 

    Nah, berikut adalah beberapa pendekatan penelitian yang termasuk dalam jenis kualitatif:

    1. Metode Fenomenologi

    Beberapa orang menganggap fenomenologi sebagai perspektif filosofis. Metode ini akan menekankan fokus pada pengalaman yang subjektif. Secara sederhana, peneliti yang menggunakan metode ini ingin mengetahui bagaimana orang lain melihat dunia.

    2. Metode Etnografi

    Ini adalah rancangan penelitian dari ilmu sosiologi dan antropologi. Di mana peneliti akan melihat pola perilaku, tindakan, dan bahasa dari kelompok kebudayaan dalam waktu cukup lama. Pendekatan yang umum peneliti gunakan adalah observasi partisipatif. Peneliti akan aktif dan mencatat semua yang ada di lapangan.

    3. Metode Penelitian Campuran 

    Metode campuran atau mixed method adalah di mana seorang peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam satu penelitian. Jadi, sumber data pada metodologi penelitian ini tidak tunggal. Ini sebenarnya merupakan strategi untuk melengkapi kekurangan dalam satu pendekatan. 

    Data merupakan kombinasi angka statistik dan data dengan bentuk teks atau narasi. Sehingga, peneliti bisa menciptakan hasil penelitian yang lebih menyeluruh dengan memanfaatkan kedalaman setiap metode. 

    Kelebihan dari metode penelitian ini adalah dapat memberikan data lebih lengkap. Serta dapat menjawab pertanyaan yang tidak terselesaikan dengan satu metode saja. 

    Manfaat Metodologi Penelitian

     Ilustrasi Penelitian
    (Ilustrasi Penelitian | Sumber gambar: Freepik.com) 

    Kegiatan penelitian akan membutuhkan pendekatan yang tepat. Selain untuk mengarahkan proses, metode tepat juga dapat memaksimalkan hasil penelitian. Nah, berikut adalah beberapa manfaat penerapan metode dalam penelitian:

    1. Memudahkan Proses Penelitian

    Metode akan sangat mempengaruhi bagaimana sebuah proses penelitian berjalan. Ini karena dengan penerapan metode peneliti dapat memprediksi resiko kesalahan yang bisa terjadi selam penelitian. 

    Jadi, peneliti dapat membuat langkah yang lebih matang dengan keputusan yang lebih baik untuk meminimalisir kendala selama kegiatan penelitian. 

    2. Membuat Alur Penelitian Lebih Terarah

    Penerapan metodologi penelitian akan menjadi panduan yang memudahkan selama proses penelitian. Sebab, cakupan dalam sebuah penelitian mengandung banyak sekali komponen.

    Jadi, menerapkan metode akan membuat peneliti lebih jelas dalam melakukan tahapan terkait dengan pengumpulan dan pengolahan sampai dengan analisis data. Metode penelitian yang terperinci dapat membantu peneliti menetapkan batasan-batasan dalam penelitian. 

    Apalagi peneliti bisa terlibat dalam berbagai aspek yang terkadang meluas. Sehingga, adanya metodologi dapat membuat peneliti lebih fokus terhadap penetapan rumusan permasalahan yang sudah ada di awal. Lalu, proses penelitian tetap bisa runtut dan jelas sampai dengan hasil akhirnya. 

    3. Mempertajam Hasil Penelitian

    Hal yang paling krusial dalam penelitian adalah bagaimana hasil dari pengolahan dan analisis data selama kegiatan berlangsung. Hasil dari penelitian akan mempresentasikan bagaimana kekurangan dan kelebihan implementasi elemen-elemen dari segala aspek.

    Umumnya, aspek tersebut mencakup bagaimana pemilihan sampel, penggunaan instrumen, sampai dengan validasi hasil.

    Semakin lengkap data yang terkumpul dengan pemilihan metode yang tepat, tentu akan berpengaruh besar pada ketajaman analisis dan hasil penelitian. Jadi, penerapan metode juga akan membantu dalam validasi hasil untuk menguji keabsahan temuan dalam penelitian. 

    Tujuan Metodologi Penelitian

    Ilustrasi Ilmu Pengetahuan
    Ilustrasi Ilmu Pengetahuan | Sumber gambar: Pexels

    Bagi para peneliti yang pasti sudah tidak asing lagi dengan penerapan metodologi. Nah, untuk mengenalnya lebih jauh, di bawah ini adalah tujuan dari metodologi yang wajib untuk kamu ketahui:

    1. Tujuan Secara Umum

    Ada beberapa tujuan metodologi secara umum, tiga di antaranya yaitu:

    1. Mengetahui Penemuan Baru

    Kegiatan penelitian seringkali berangkat dari rasa ingin tahu. Oleh karena itu, tujuan penelitian biasanya adalah untuk menggali pengetahuan baru dengan berbekal ilmu atau penemuan yang sudah ada dari penelitian sebelumnya. 

    2. Membuktikan Kebenaran

    Rasa ingin tahu ini juga dapat muncul dari penelitian sebelumnya. Sehingga, ada kepentingan atau keinginan yang membuat seorang peneliti menguji kebenaran penelitian yang sudah ada. Hal tersebut bertujuan untuk memvalidasi hasil dari penelitian.

    3. Mengembangkan Penelitian

    Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan juga harus mengalami pertumbuhan. Sehingga, akan ada pembaruan ilmu atau penemuan dalam berbagai ranah. Ini penting agar ilmu pengetahuan tetap relevan dengan peristiwa dan agar lebih mudah pembaca pahami.

    2. Tujuan Secara Teoritis

    Tujuan teoritis dari metodologi penelitian akan menitikberatkan pada penemuan teori baru atau pengembangan teori yang sudah ada. Karena merupakan proses pengkajian, implementasi teori ini tidak bisa langsung secara praktis dan membutuhkan penelitian lanjutan. 

    Dalam penelitian, tujuan teoritis juga berfungsi untuk melihat atau memahami pola suatu permasalahan. Nantinya, ini akan berperan untuk analisis perubahan dalam berbagai ranah. Seperti sosial, kebudayaan, politik, dan pendidikan yang hasilnya dapat berguna untuk penentuan kebijakan atau pengembangan perencanaan ke depan. 

    3. Tujuan Secara Praktis

    Tujuan praktis dalam penelitian adalah suatu upaya dalam mencari pengetahuan atau penemuan yang implementasinya bisa langsung secara nyata. Umumnya, tujuan praktis akan mencakup beberapa hal lain, yaitu tujuan eksploratif, verifikatif, dan pengembangan.

    Baca Juga : Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Sudah Tahu Apa itu Metodologi Penelitian?

    Metodologi penelitian memiliki cakupan yang sangat luas dan peneliti memiliki kebebasan dalam menentukan pendekatan mana yang paling sesuai. Hal terpenting adalah pemahaman akan rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian harus jelas. 

    Dalam penerapannya, kamu harus mengenali karakter penelitian dan lakukan pengkajian pada penelitian sejenis. Penentuan metode juga bisa tergantung pada waktu. Jika waktunya terbatas, tidak mungkin kamu memilih metode etnografi yang umumnya membutuhkan waktu cukup lama. 

    Selain itu, kamu juga harus mengenali karakter penelitian untuk menjaga kredibilitas penelitian agar menjadi karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga, hasil penelitian juga akan memberikan manfaat untuk pembaca dan memajukan ilmu pengetahuan.

  • Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    Variabel Penelitian: Pengertian, Jenis, dan Contoh Penerapan

    Penting untuk memperhatikan berbagai komponen dalam penyusunan karya tulis ilmiah karena harus terstruktur dan sistematis. Setiap peneliti juga harus mampu memahami dan mengidentifikasi semua komponen sebelum memulai penelitian. Variabel penelitian adalah salah satu komponen penting dalam karya tulis ilmiah.

    Artikel ini akan membahasnya secara mendalam tentang variabel dalam penelitian. Yuk, simak dengan seksama!

    Pengertian Variabel Penelitian

    Ilustrasi Penelitian
    Ilustrasi Penelitian | Sumber: Freepik.com

    Variabel adalah konsep dalam penelitian yang menjadi fokus pengamatan dan analisis oleh seorang peneliti. Definisi lainnya dari variabel penelitian adalah alat untuk menguji hipotesis atau dugaan awal dengan tujuan memverifikasi korelasi antara teori dan realitas empiris dalam dunia nyata.

    Pengertian lainnya, variabel ini merupakan pengelompokan logis dari atribut-atribut objek dalam tahap analisis yang memiliki berbagai karakteristik atau nilai. Nantinya variabel inilah yang akan menjadi subjek perhatian penelitian.

    Penggunaan konsep variabel merupakan langkah awal yang fundamental dalam menentukan subjek dan ruang lingkup penelitian. Selain itu, variabel ini juga memiliki variasi atau berbagai jenis nilai yang menjadi fokus dalam sebuah penelitian.

    Menurut para ahli, beberapa definisi variabel dalam penelitian adalah sebagai berikut:

    • Suharsimi Arikunto (1988) mengatakan bahwa variabel penelitian adalah serangkaian gambaran objek dalam penelitian atau apa yang menjadi fokus perhatian dalam suatu penelitian.
    • Kerlinger (2006) mendefinisikannya sebagai konsep atau karakteristik yang akan dipelajari yang memiliki nilai yang beragam. Variabel juga bisa menjadi simbol atau nilai di mana kita dapat menetapkan berbagai nilai atau angka.
    • Freddy Rangkuti menjelaskan bahwa arti variabel dalam penelitian adalah suatu konsep yang memiliki nilai yang beragam. Klasifikasi nilai dari variabel tersebut ada empat tingkatan skala, yaitu rasio, ordinal, nominal, dan interval.
    • Sutrisno Hadi mendefinisikannya sebagai variasi dari objek penelitian. Misalnya ukuran tinggi manusia yang bisa bervariasi berdasarkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, atau lokasi tempat tinggal manusia tersebut.

    Baca Juga : Objek Penelitian: Macam, Prinsip, dan Cara Menentukannya

    Jenis-Jenis Variabel Penelitian

    Ilustrasi Hasil Penelitian
    Ilustrasi Hasil Penelitian | Sumber: Freepik.com

    Ada beberapa jenis variabel dalam pelaksanaan penelitian. Berikut beberapa di antaranya:

    1. Berdasarkan Sifatnya

    Terdapat dua kategori variabel penelitian berdasarkan sifatnya, yakni sebagai berikut:

    • Variabel Dinamis

    Variabel dinamis adalah jenis variabel yang memiliki potensi untuk mengalami perubahan dalam kondisi atau sifatnya. Jenis variabel ini memungkinkan peneliti untuk memanipulasinya demi mencapai tujuan tertentu.

    Contoh variabel dinamis mencakup prestasi belajar, kinerja pegawai, motivasi belajar, dan sebagainya.

    • Variabel Statis

    Variabel statis adalah jenis variabel yang bersifat tetap. Artinya, variabel ini tidak dapat berubah dalam hal keberadaan atau sifatnya. 

    Contoh variabel statis meliputi status sosial, lokasi tempat tinggal, jenis kelamin, dan lain sebagainya.

    2. Berdasarkan Hubungan Antar Variabel

    Variabel penelitian juga terbagi menjadi tiga bagian berdasarkan hubungan antar variabel. Adapun ketiga bagian tersebut yakni sebagai berikut:

    • Variabel Bebas

    Variabel bebas adalah variabel yang dapat memengaruhi variabel terikat. Peneliti dapat memanipulasi variabel ini untuk melihat apakah perubahan pada variabel bebas memengaruhi variabel terikat. Selain itu, variabel bebas tidak terpengaruh oleh variabel lain dalam percobaan.

    Contoh variabel bebas meliputi usia dan waktu. Tidak ada faktor lain yang memengaruhi perubahan usia atau waktu.

    • Variabel Terikat

    Variabel terikat merupakan apa yang diukur pada percobaan dan akan terpengaruh oleh variabel bebas. Jenis variabel ini nantinya akan merespons variabel bebas. 

    Contoh variabel terikat adalah detak jantung dalam studi yang mencoba mengukur variabel bebas pengaruh stres terhadap detak jantung.

    • Variabel Kontrol

    Variabel kontrol adalah variabel yang dijaga atau dikendalikan oleh peneliti selama percobaan. Jenis variabel ini tidak menjadi bagian dari variabel independen atau dependen, tetapi tetap memiliki peran penting karena dapat memengaruhi hasil eksperimen.

    Contoh variabel kontrol mencakup suhu, intensitas cahaya, jenis gelas yang digunakan untuk penelitian, kelembapan, dan durasi eksperimen.

    3. Berdasarkan Urgensi Faktual

    Ada dua bagian variabel penelitian berdasarkan urgensi faktualnya. Berikut ini adalah kedua variabelnya.

    • Variabel Konseptual

    Variabel konseptual adalah variabel yang tidak dapat diamati secara langsung karena terkait dengan konsep abstrak. Jenis variabel ini hanya dapat diukur melalui indikator-indikatornya.

    Contoh variabel konseptual termasuk bakat, kinerja, motivasi belajar, minat, dan sebagainya.

    • Variabel Faktual

    Variabel faktual adalah jenis variabel yang memiliki nilai atau sifat yang pasti. Jenis variabel ini berhubungan dengan data yang dapat diukur secara akurat.

    Contoh variabel faktual meliputi usia, asal sekolah, agama, pendidikan, jenis kelamin, dan sebagainya. 

    Kesalahan dalam data variabel faktual biasanya terjadi jika responden tidak memberikan informasi yang jujur.

    4. Berdasarkan Tipe Skala Pengukur

    Klasifikasi variabel penelitian juga dapat berdasarkan pada tipe skala pengukurnya. Berikut adalah beberapa di antaranya:

    • Variabel Nominal

    Variabel nominal adalah variabel yang dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori tertentu. Karena memiliki sedikit kategori, variabel nominal memiliki variasi yang terbatas. 

    Contoh-contoh variabel ini termasuk jenis kelamin, agama, suku bangsa, dan sejenisnya.

    • Variabel Kontinu

    Variabel kontinu merupakan variabel yang memiliki tingkat atau skala. Dalam kategori ini, terdapat jenis variabel lainnya, seperti variabel ordinal, variabel interval, dan variabel rasio.

    Variabel ordinal memiliki tingkat atau urutan tertentu, contohnya peringkat atau skor dalam suatu kejuaraan. Sementara itu, variabel Interval memiliki jarak atau skala yang tetap, contohnya skala penilaian siswa.

    Kemudian, variabel rasio adalah variabel yang menunjukkan adanya perbandingan, contohnya berat badan dari dua orang adalah 40 dan 80 kg. Variabel tersebut mengindikasikan bahwa orang pertama memiliki berat badan setengah dari orang kedua.

    5. Berdasarkan Jenis Penelitiannya

    Terdapat dua bagian variabel penelitian berdasarkan jenis penelitiannya, yakni variabel kualitatif dan variabel kuantitatif.

    • Variabel Kualitatif

    Variabel kualitatif mencakup kualitas yang tidak dapat diukur dengan angka dari suatu kelompok atau populasi. Jenis variabel ini sering terkait dengan atribut fisik dari sekelompok individu.

    • Variabel Kuantitatif

    Variabel kuantitatif adalah variabel yang diwakili oleh nilai numerik (angka). Oleh karena itu, variabel ini dapat diukur dan memerlukan operasi dan perhitungan matematis.

    Contoh Penerapan Variabel Penelitian

    Ilustrasi Data Penelitian
    Ilustrasi Data Penelitian | Sumber: Freepik.com

    Ada banyak contoh penerapan variabel dalam penelitian. Ini dapat mencakup tentang status sosial ekonomi, prestasi akademik, atau sikap terhadap sekolah. Selain itu, variabel juga bisa mencakup aspek-aspek dalam sistem pendidikan, seperti program konseling atau metode pengajaran.

    Berikut ini adalah contoh penerapannya: Seorang peneliti memiliki minat dalam menjelajahi isu terkait tingkat melek huruf yang rendah. Namun, penting untuk mengetahui bahwa topik literasi memiliki cakupan yang sangat luas.

    Oleh karena itu, dalam banyak kasus, peneliti harus melakukan penjelasan lebih rinci untuk mengidentifikasi variabel-variabel utama yang terkait dengan konsep literasi tersebut.

    Ini mencakup aspek-aspek khusus literasi seperti kemampuan membaca dengan lancar, pemahaman isi bacaan, penguasaan kosakata, minat dalam membaca, dan faktor lain yang relevan.

    Sebaliknya, jika seorang peneliti tertarik pada motivasi, pertanyaannya bisa didapat dari berbagai aspek motivasi yang ada. Misalnya seperti motivasi eksternal, tujuan, atau kebutuhan akan pencapaian. Selanjutnya, tinggal tentukan mana yang akan menjadi fokus penelitian.

    Merujuk pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan dalam topik yang sama dapat membantu dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang paling relevan dan signifikan.

    Identifikasi variabel utama penting karena beberapa alasan:

    • Memberikan fokus dalam Pendahuluan, yaitu mengarahkan perhatian pembaca pada aspek utama penelitian.
    • Berfungsi sebagai kata kunci saat mencari literatur dalam Tinjauan Pustaka.
    • Menentukan konsep yang harus didefinisikan secara operasional dalam Definisi Istilah Operasional.
    • Memengaruhi pengembangan metode penelitian dan instrumen pengukuran untuk memastikan validitas hasil penelitian.

    Ciri-ciri dari Variabel Penelitian

    Terdapat beberapa ciri-ciri dari variabel dalam penelitian, antara lain:

    • Dapat mengambil beberapa nilai yang mewakili suatu kategori tertentu.
    • Nilai-nilai dapat muncul melalui perhitungan atau pengukuran.
    • Merupakan data mentah atau angka yang terkumpul dalam penelitian untuk keperluan analisis statistik.
    • Nilai-nilai yang dapat diprediksi berdasarkan hubungan dengan variabel lain.
    • Karakteristik yang dapat diamati pada individu atau objek yang menjadi fokus penelitian.

    Baca Juga : Kerangka Teori: Definisi, Struktur, Cara Membuat, dan Contohnya

    Sudah Paham tentang Variabel Penelitian?

    Pada intinya, variabel merupakan kunci dalam penelitian ilmiah. Fungsinya adalah menjadi konsep yang nantinya akan diamati dan diukur untuk mengungkap hubungan dan fenomena tertentu.

    Pengidentifikasian variabel utama menjadi langkah awal yang penting dalam merancang sebuah penelitian. Ini karena variabel utama memberikan fokus dan arah pada seluruh studi.

    Dengan memahami berbagai jenis variabel, peneliti dapat merancang studi yang valid dan relevan. Ini karena pemahaman tentang variabel penelitian merupakan landasan yang esensial dalam menjalankan penelitian yang baik dan bermanfaat untuk berbagai disiplin ilmu.