Sering kali kita iri ketika seseorang terlihat tidak sholat dan durhaka kepada Tuhan-Nya justru memiliki rezeki yang melimpah dan tidak memiliki masalah maupun cobaan. Namun, sebenarnya hal itu merupakan istidraj.
Istidraj sendiri merupakan ujian yang menakutkan karena orang yang sedang diuji tidak merasa sedang diuji oleh Allah SWT sebab kenikmatan yang ia rasakan.
Seseorang akan cenderung kesulitan memahami bahwa dirinya sedang diuji dan akhirnya mendorong dirinya untuk masuk ke dalam neraka. Untuk terhindar dari istidraj, mari simak artikel ini hingga akhir, untuk mengetahui ciri dan tandanya!
Apa Itu Istidraj?
Secara bahasa, istilah istidraj memiliki arti naik dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya. Adapun istidraj juga dapat bermakna sebagai sebuah hukuman yang diberikan oleh Allah SWT secara berangsur-angsur kepada hamba-Nya.
Hukuman ini bisa dalam bentuk jabatan, harta, dan kenikmatan yang melimpah, dan kenikmatan inilah yang akan mengantarkannya ke dalam neraka.
Salah satu ahli tafsir, Al-Thabari menjelaskan bahwa istidraj adalah tipuan halus kepada orang yang diberi tenggang waktu.
Ia merasa bahwa yang memberikan tenggang waktu telah berbuat baik kepadanya, sehingga pada akhirnya ia terjerumus dalam hal yang tidak disenangi.
Istridraj juga turut dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Qalam ayat 44 yang bunyinya:
Fa żarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡ, sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn
Artinya: Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,
Meski kerap kali orang yang diberikan istidraj tidak menyadari bahwa dirinya telah diuji, sebelumnya Allah telah memberikan peringatan mengenai keberadaan istidraj pada salah satu firman-nya di surat Al-Anam ayat 44 yang bunyinya:
Artinya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)
Pada dasarnya istidraj datang dari keserakahan dan kecintaan seorang umat kepada dunia. Selain itu telah jelas bahwa istidraj terjadi kepada orang yang senang sekali melakukan maksiat.
Hal itu disebutkan dalam hadits berikut: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad).
Setelah memahami dengan jelas apa itu istidraj, kita perlu mengetahui tanda-tanda ketika seseorang mendapatkan ujian istidraj.
Tanda utama yang perlu diketahui yakni ketika seseorang terus dibirkan berbuat dosa namun terus diberikan kenikmatan oleh Allah SWT. Ketika seseorang merasa kualitas ibadahnya turun namun kenikmatannya terus meningkat, hal itu jelas merupakan ciri-ciri sebuah Istidraj.
Allah SWT akan memberikan ujian kepada hamba-Nya sebab ia ingin menguji seberapa ikhlas dan sabar hamba-Nya dalam menghadapi dunia. Ujian yang Allah beri merupakan bentuk kasih ketika hamba-Nya mampu menyelesaikan ujian tersebut dan akan dinaikan derajatnya di akherat kelak.
Dan sebaliknya, kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT bukan berupa kasih sayang, melainkan murka-Nya. Orang yang jauh dari ibadah dan agama kemungkinan besar tidak akan menyadari murka Allah yang tengah diterimanya dalam bentuk kenikmatan yang diberikan tidak henti.
Contoh lain dari istidraj adalah orang yang mendapatkan jabatan atau pangkat tinggi namun tidak menggunakan wewenangnya untuk melakukan kebaikan, justru ia semakin jauh dari kewajiban.
Untuk lebih mudah dalam memahaminya, dilansir dari buku Mengeluhlah Karena Kita Membutuhkannya (2021), berikut tanda-tanda istidraj dari Allah SWT:
Keimanan dan ibadah kita kepada Allah SWT sedang menurun. Namun kesenangan dan kenikmatan duniawi terasa semakin melimpah dan mudah didapat.
Terus melakukan kemaksiatan tetapi kesenangan dan kesuksesan justru semakin melimpah. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Ali Bin Abi Thalib r.a. , beliau berkata: “Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau melihat Rabbmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepadaNya.” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal.121)
Semakin kikir justru harta semakin melimpah. Orang yang kikir dan menghitung-hitung hartanya. Ia mengira harta yang ditumpuknya itu akan mengukuhkan posisi dan kekuasaannya di muka bumi.
Merasa hidupnya begitu tenang dan tenteram meskipun tidak pernah menjalankan ibadah dan sering melakukan maksiat.
Merasa segala kenikmatan yang didapatkan di dunia semata karena usaha sendiri tanpa campur tangan Allah SWT.
Jarang terkena penyakit walaupun sering melakukan perbuatan maksiat dan lalai beribadah.
Jarang ditimpa musibah meskipun tidak pernah mengingat Allah SWT.
Adapun beberapa bahaya istidraj yang perlu umat Islam ketahui adalah sebagai berikut:
1. Siksaan atau Azab hanya Ditangguhkan
Kenikmatan yang diberikan meski banyaknya maksiat yang dilakukan bukan semata-mata Allah SWT membiarkan mereka untuk tidak mendapatkan azab.
Namun sejatinya Allah SWT tangguhkan azabnya dalam waktu yang cukup lama, hingga sampai batas waktu yang telah ditetapkan.
Mengenai kapan terlaksananya tangguhan siksaan atau azab Allah SWT, ulama tafsir berbeda pendapat dan pandangan.
Ada yang berpendapat bahwa tangguhan azab dan siksaan bisa terjadi di dunia terlebih dahulu, kemudian disempurnakan di akhirat.
Ada pula mufasir yang berpendapat bahwa tangguhan azab dan siksaan Allah SWT akan diselesaikan diakherat
Tujuannya untuk menjadikannya peringatan dan pelajaran, agar ia sadar bahwa kenikmatan yang ia dapatkan adalah sebenar-benarnya azab yang Allah beri.
2. Semakin Tenggelam dalam Dosa dan Maksiat
Allah SWT dengan sengaja memberikan kenikmatan meski kemaksiatan yang ia lakukan begitu banyak, hal ini bertujuan agar ia terus melakukan dosa dan kemaksiatan.
Apabila tiba hari akhir, Allah SWT akan mengazab mereka dengan penuh siksa.
Ada banyak tafsir dan hadis lain yang menyebutkan bahaya istidraj. Salah satunya yang dijelaskan dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 141) disebutkan:
“Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka.
Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”
3. Terlalu Terlena dengan Kenikmatan hingga Tidak Bertobat
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kebanyakan orang akan sulit sadar bahwa sebenarnya kenikmatan yang Allah SWT beri bukanlah sebab ia dibiarkan oleh Allah, melainkan dibuatnya untuk terlena dan berjalan lebih jauh, hingga ia lupa bertaubat.
4. Kehilangan Hidayah
Istidraj dapat membuat seseorang merasa puas dengan kehidupan mereka yang salah atau dosa, dan mereka akan kehilangan arah dan hidayah untuk mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan akan mendapatkan ganjarannya ketika di akherat.
Bahkan orang yang diberikan kenikmatan melimpah meski ia bermaksiat akan lupa untuk mencari kebenaran. Istidraj dapat mengarah pada kehilangan petunjuk ilahi dan kesadaran spiritual.
Perbedaan Istidraj dengan Azab
Setelah mengetahui pengertian, tanda dan bahayanya, sebagian orang akan merasa bingung apa perbedaan idtisraj dengan aab.
Seperti yang telah dijelaskan bahwasannya istidraj merupakan bentuk ujian dengan membiarkan seseorang terjebak dalam kemaksiatan, yang membuat dirinya lupa akan bertaubat dan mencari hidayah.
Sedangkan azab merupakan hukuman yang adil dari Allah SWT yang diberikan kepada mereka yang tidak bertaubat dengan melanggar perintah-Nya.
Meski istidraj nampak lebih ringan, namun Allah SWT menjanjikan bahwa orang-orang yang diujia kenikmatannya di dunia akan mendapatkan pembalasan yang setimpal dengan kemaksiatan yang mereka perbuat.
Cara Menghindari Istidraj
Setelah mengetahui bahayanya, tentu tidak ada seorang pun yang ingin mengalaminya. Oleh karena itu, kita bisa berupaya untuk terhindar dari istidraj yang menyesatkan dengan beberapa cara.
Adapun cara-caranya sebaga berikut:
1. Meningkatkan Iman dan Takwa
Cara yang pertama yakni dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam diri. Hal in bisa dilakukan dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Menjaga Diri dari Maksiat
Cara lain agar terhindar dari istidraj yakni menghindarkan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang Allah benci.
Selalu ingat bahwa ketika kita mendekati maksiat, setan akan terus membuat kita lupa untuk kembali kejalan yang benar dan akhirnya akan membuat kita tersesat.
Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap harta, kekuasaan, popularitas, atau kesenangan duniawi lainnya.
3. Meminta Perlindungan pada Allah SWT
Selain menghindari hal-hal yang berbau maksiat, kita juga harus meminta perlindungan Allah SWT agar terlindungi dari tipu daya setan.
Berikut bacaan doa meminta perlindungan dari godaan setan yang bisa kita amalkan:
Allahuma inny a’udzubika minasyaithoni rojiymi wa hamzahi wa nafakhihi wa naftsihi
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari setan yang terkutuk dan dari godaannya dan dari tiupannya dan dari hembusannya”.
4. Menjaga Silaturahmi Sesama Muslim
Cara selanjutnya yakni menjaga silaturahmi dengan sesama muslim, mencari teman yang senantiasa dapat membawa kita ke dalam kebaikan.
Misalnya dengan bergabung dalam kelompok-kelompok keagamaan, dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang Islam.
Dengan saling mengingatkan dan memberikan dukungan,akan membuat kita terhindar dari godaan setan.
Setelah memahami dengan benar apa sebenarnya maksud dari istidraj serta tanda dan bahayanya, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya istidraj merupakan bentuk murka Allah SWT meski dalam bentuk kenikmatan dan penangguhan azab.
Semoga kita selalu terhindar dari hasutan setan dan dilindungi Allah SWT.
Rambut putih atau biasa disebut dengan uban kerap kali mengurangi rasa percaya diri seseorang hingga banyak yang memilih untuk mencabutnya bahkan menyemirnya. Nah, kira-kira bagaimana hukum mencabut uban dalam Islam apakah diperbolehkan?
Uban sendiri merupakan rambut yang berubah menjadi abu-abu putih yang diakibatkan beberapa faktor, yakni usia yang menua atau faktor genetik lainnya.
Faktanya, saat ini banyak anak muda yang berusia 20 tahun telah memiliki uban. Tidak dipungkiri hal ini akan mengganggu kepercayaan diri seseorang. Lantas, bagaimana sebenarnya tanggapan Islam dalam mencabut uban?
Uban dalam Sudut Pandang Umum dan Medis
Memiliki rambut putih di usia muda sering kali membuat kita tampil tidak percaya diri, hal ini biasanya disebabkan oleh faktor genetik dan pola hidup tidak sehat yang membuat kita menua lebih cepat dibanding orang pada umumnya.
Pada dasarnya, tumbuhnya uban merupakan kejadian alami dan wajar terjadi pada setiap manusia. Seiring bertambahnya usia seseorang, maka akan bermunculan uban alias rambut putih di kepalanya.
Bahkan tidak hanya di atas kepala, alis kumis dan janggut pun akan tumbuh uban. Dan umumnya orang akan memilih mencabutnya jika uban belum begitu banyak tumbuh, namun jika sebagian besar rambut sudah memutih, mereka akan memilih untuk mengecat rambut.
Sebelum membahas bagaimana hukum mencabut rambut dalam Islam, kita akan membahas dalam perspektif medis mengenai kebolehan mencabut uban itu sendiri.
Dalam ilmu medis, mencabut uban yang tumbuh di atas kepala tidak disarankan, sebab terlalu sering mencabuti uban akan mengganggu saraf yang terdapat di bawah kulit kepala.
Dan apabila uban dicabut dengan paksa, maka akan mengganggu kesehatan sistem saraf otak. Sehingga sinyal untuk membentuk pigmen rambut menjadi terganggu. Tidak hanya itu, mencabut uban secara paksa juga dapat merusak folikel rambut dan selaput kepala.
Dilansir dari Dailymail, pakar rambut Sam Marshall menjelaskan mengenai akibat dari mencabuti uban terlalu sering akan melukai folikel rambut. Implikasinya, akan menyebabkan kerusakan serius pada rambut, karena akan ada sinyal yang dikirim ke folikel rambut agar tidak lagi menghasil rambut di daerah tersbeut.
Akibat serius dari mencabuti uban akan membuat kebotakan pada daerah tertentu atau yang biasa kita sebut dengan pitak. Tidak hanya itu, mencabut uban juga akan menyebabkan infeksi.
Biasanya, infeksi pada kulit kepala ini akan digejalai dengan gatal terus menerus bahkan munculnya luka berwarna putih yang lembap, dinamai sebhoroik. Kalau sudah begini, tentu kita akan membutuhkan bantuan dokter untuk mengatasinya. Dengan demikian, pikirkan kembali jika ingin mencabuti uban.
Mengingat banyak sekali dampak mencabuti uban secara terus menerus dalam pandangan medis, tentu hal ini akan menjadi pertimbangan serius bagi kita untuk mengatasi tumbuhnya uban di kepala.
Munculnya uban memang biasa diidentikkan dengan penuaan. Meski identifikasi tersebut tidak sepenuhnya benar sebabada juga orang yang masih muda namun memiliki uban.
Banyak faktor yang menyebabkan rambut kepala kita memutih, telah dijelaskan sebelumnya bahwa gaya hidup serta genetik dapat mempengaruhi tumbuhnya uban.
Namun terlepas dari semua itu, menurut ulama dari kalangan madzhab syafi’i—sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syarf an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab— bahwa hukum mencabut uban dalam Islam adalah makruh.
“Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shagir mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Hukuman bagi orang yang mencabut ubannya adalah kehilangan cahaya pada hari kiamat nanti. Dari Fudholah bin ‘Ubaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa memiliki uban di jalan Allah walaupun hanya sehelai, maka uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.” Kemudian ada seseorang yang berkata ketika disebutkan hal ini: “Orang-orang pada mencabut ubannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Siapa saja yang ingin, silakan dia memotong cahaya (baginya di hari kiamat).” (HR. Al Bazzar, At Thabrani dalam Al Kabir dan Al Awsath dari riwayat Ibnu Luhai’ah, namun perowi lainnya tsiqoh –terpercaya-. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Kemudian pandangan ini ditegaskan oleh Abu Dzakaria Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Mencabut ubat dimakruhkan berdasarkan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya. … Para ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa mencabut uban adalah makruh dan hal ini ditegaskan oleh Al Ghozali sebagaimana penjelasan yang telah lewat. Al Baghowi dan selainnya mengatakan bahwa seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan tegas mengenai hal ini, maka ini juga benar dan tidak mustahil. Dan tidak ada bedanya antara mencabut uban yang ada di jenggot dan kepala (yaitu sama-sama terlarang). (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/292-293, Mawqi’ Ya’sub)
Dapat disimpulkan bahwa kemakruhan ini tidak dibedakan antara mencabut uban di kepala maupun pada bagian tubuh lainnya seperti jenggot. Sehingga mencabut uban pada bagian tubuhmanapun tetap hukumnya makruh.
Namun hukum mencabut uban dalam Islam akan berubah sesuai dengan sebab yang dilakukan. Dikemukakan oleh imam Abu Hanifah di kitab al-Khulashah. Menurutnya, mencabut uban tidaklah makruh kecuali jika bertujuan untuk berhias diri (tazayyun).
“Di dalam kitab al-Khulashah yang dinukil dari kitab al-Muntaqa terdapat keterangan yang menyatakan bahwa imam Abu Hanifah tidak memakruhkan mencabut uban kecuali dengan tujuan berhias diri. Pandangan ini dipahami ketika uban yang dicabut adalah sedikit, namun jika banyak maka hukumnya tetap makruh berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud: ‘Jangan kalian mencabut uban karena uban itu adalah cahaya orang muslim kelak di hari kiamat.” (ath-Thawawi dalam kitab Hasyiyah ‘ala Maraqi al-Falah Syarh Nur al-Idlah).
Keistimewaan Uban dalam Islam
Setelah mengetahui hukum mencabut uban dalam Islam, berikut ini beberapa keistimewaan uban yang memperkuat alasan untuk tidak mencabutinya:
1. Uban Dapat Menjadi Cahaya di Hari Kiamat Kelak
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa uban merupakan cahaya, kelembutan dan ketegasan bagi seorang muslim, hal ini turut dijelaskan dalam hadit riwayat at-Tirmidzi dan Nasa’i yang berbunyi:
“Barangsiapa tumbuh uban dalam keadaan memeluk Islam, maka kelak uban itu akan menjadi cahaya baginya di Hari Kiamat.” (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).
2. Mencabut Uban Sama Dengan Membuang Cahaya
Apabila seorang muslim memilih untuk mencabuti ubannya, maka akan membuang cahaya tersebut. Hal ini dijelaskan dalam hadits tersebut:
“Siapa yang mau (mencabut ubannya), maka silakan membuang cahayanya.” (HR. al-Bazzar dan ath-Thabarani). Oleh sebab itulah dimakruhkan untuk mencabut uban.
3. Mencabut Uban Merupakan Perbuatan yang Tidak Disukai
Dari Anas, ia mengatakan, “Kami tidak suka seseorang mencabuti rambut putih dari kepala dan jenggotnya.” (HR. Muslim).
Cara Mengatasi Rambut Beruban
Rambut beruban memang tidak dapat dihindari, akan tetapi ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah agar uban tidak tumbuh lebih cepat.
1. Asupan vitamin
Awali dengan memnuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh rambut seperti vitamin B yaitu B-12 dan biotin, D, E, dan A.
Contoh asupan bergizi seperti jus wortel, kubis, ubi, brokoli, kacang almond, dan lainnya berguna untuk memenuhi nutrisi tubuh.
2. Asupan mineral
Langkah selanjutnya, lengkapi asupan mineral tubuh guna membantu pertumbuhan dan perbaikan rambut. Asupan mineral yang baik untuk rambut meliputi seng, besi, magnesium, selenium, dan tembaga.
Makanan dengan kandungan mineral tersebut banyak ditemukan di buah-buahan, beberapa jenis ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
3. Berhenti merokok
Salah satu penyebab rambut lekas beruban adalah kebiasaan merokok. Maka, kurangi intensitas merokok untuk mencegah tumbuhnya uban dengan cepat.
Itulah dia, hukum mencabut uban dalam Islam. Kita bisa mempertimbangkan apakah akan melewatkan keutamaan uban dengan memilih untuk mencabutnya. Semoga kita selalu dalam pilihan-pilihan baik yang diridhoi Allah ya!
Bagi sebagian manusia, imipian menjadi sangat berarti dan juga patut diperjuangkan. Sebaik-baiknya memulai perjuangan dan usaha adalah dengan berdoa. Salah satunya dengan doa sujud terakhir, yang merupakan waktu mustajab dalam berdoa.
Sujud bagi umat muslim adalah momen sekaligus lambang dari penyerahan diri serta pengakuan seorang hamba yang tidak bisa melakukan apapun tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan berdoa dan bersujud, setidaknya kita sudah menyerahkan segala urusan dunia yang kecil di hadapan Sang Pemilik-Nya.
Tata Cara Mengamalkan Doa Saat Sujud Terakhir
Berdoa saat sujud terakhir dalam sholat adalah amalan yang sifatnya sunnah.
Dijanjikan kebaikan kepadanya, jika tata cara malamalkannya sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW yang benar.
Mengamalkan doa saat sujud terakhir ini lebih dianjurkan bagi orang yang mengerjakan sholat munfarid atau sendiri.
Hal ini tidak dianjurkan bagi imam yang memiliki banyak makmum saat sholat berjamaah.
Dalam sebuah sholat berjamaah, imam dianjurkan menjalankan rukun sholat yang disertai dengan penyempurnaan gerakan rukuk, I’tidal, dan sujud dengan tuma’ninah.
Tak hanya itu, bacaan yang sesuai dengan tajwid juga menjadi fokus utama seorang imam.
Kendati doa saat sujud menjadi sunnah dan memiliki nilai kebaikan yang disunnahkan, ternyata pada saat melafalkan doa saat sujud terkahir, bacaan doa hanya boleh dilafakan dalam bahasa arab saja.
Sebab, hal ini justru dapat menyebabkan sholat yang dilakukan tidak sah.
Hal tersebut juga dijelaskan dalam kitab audhihul Adillah juz II yang berbunyi:
“ Akan tetapi bagi imam suatu kaum yang tidak terbatas, atau yang terbatas yang tidak diketahui keridhaan mereka untuk memanjangkan sembahyang, janganlah hendaknya imam melebihkan tasbih dalam sujudnya dari tiga kali, dan tidak sunnah menambahkan doa-doa apapun juga, bahkan hendaklah diperingannya sembahyang itu, untuk mera’ikan makmum yang lemah, yang sakit, yang tua, dan orang-orang yang mempunyai keperluan atau kerja yang mesti diselesaikannya, maka dalam hal ini disunnahkan bagi imam meringankan sembahyangnya.”
Oleh sebab itu, penting bagi seorang muslim mengetahui tata cara dan hukum yang pas untuk melamalkan anjuran Rasulullah SAW sesuai sunnah yang ada.
Bagi seorang muslim, doa merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri sekaligus memohon sesuatu kepada Allah SWT.
Doa dapat dilakukan kapan saja, karena sejatinya berdoa itu merupakan saat-saat kita berkomunikasi dengan-Nya, termasuk memanjatkan doa saat sujud terakhir.
Memperbanyak doa ketika sujud menjadi salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana tercantum pada hadis riwayat Muslim yang berbunyi:
Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu.’” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i)
Lantas, bagaimana hukum berdoa saat sujud terakhir? Seperti yang sudah dijelaskan dalam hadis riwayat di atas, bahwa doa saat sujud terakhir hukumnya sunnah, boleh dilakukan namun dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Hal tersebut diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bara’ bin Azib yang bunyinya:
“Aku pernah salat bersama Nabi SAW. Aku mendapati bahwa berdiri, rukuk, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).”
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa gerakan sholat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW memiliki waktu yang seimbang, dengan pengertian bahwa doa saat sujud terakhir mungkin dilakukan secukupnya dan tidak melebihi waktu pada gerakan sholat lainnya.
3 Doa Sujud Terakhir sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Berdoalah dengan hati yang mengingat kebesaran Allah, dan berserah diri bahwa tiada daya upaya yang bisa kita lakukan sebagai manusia tanpa pertolongan-Nya. Berikut tiga doa yang dianjurkan untuk dibaca saat sujud terakhir:
1. Doa Meminta Khusnul Khatimah
اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ حُسْنُ اْلخَاتِمَة
Allahumma inni as’aluka husnal khõtimah
Artinya: “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu husnul khatimah”
Berdzikir merupakan satu amalan yang dianjurkan Rasulullah SAW sebagai bentuk kedekatan kepada Allah SWT. Salah satu dzikir yang bisa dilakukan yakni dzikir petang.
Dzikir petang ini biasa dilakukan setelah matahari terbenam atau waktu setelah maghrib hingga tengah malam. Adapun keutamaannya yakni untuk memohon penjagaan selama petang hingga pagi tiba.
Penasaran dengan bacaan dzikir petang? Yuk, simak artikel ini hingga akhir.
Bacaan Dzikir Pagi Petang Sesuai Sunnah
Berdzikir merupakan salah satu jalan untuk mendapat pertolongan Allah SWT. Dengan berdzikir, hati akan tenang dan damai. Ketenangan hati ini tentu berdampak dengan segala urusan yang lancar.
Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al Anfal ayat 45 sebagai berikut:
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”
Pentingnya dzikir juga telah diatur dalam QS Ar-Ra’d Ayat 28,
Alladzina aamanuu wa tathmainnu quluubuhum bidzikrillah, alla bidzikrillah tathmainnul qulub.
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Berikut bacaan dzikir petang yang dianjurkan untuk diikuti:
1. Membaca Ta’awudz dan Ayat Kursi
Dzikir pagi yang pertama yakni membaca ta’awudz dan dilanjutkan dengan membaca ayat kursi atau Surat Al-Baqarah ayat 255. Adapun bacaan ta’awudz dan ayat kursi adalah sebagai berikut:
Ta’awudz
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Allahu la ilaha illa huw, al-hayyul-qayyum, la ta’khuzuhu sinatuw wa la na’um, lahu ma fis-samawati wa ma fil-ard, man zallazi yasyfa’u ‘indahu illa bi’iznih, ya’lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum, wa la yuhituna bisyai’im min ‘ilmihi illa bima sya’, wasi’a kursiyyuhus-samawati wal-ard, wa la ya’uduhu hifzuhuma, wahuwal-‘aliyyul-‘azim
Artinya: “Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) di hadapan mereka, dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Al Baqarah: 255)
2. Membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Naas (Baca 3x)
Selantnya dilanjutkan dengan membacaAl-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas atau yang seringkali diucapakan sebagai surat 3 qul.
Keutamaanya adalah mampu menghindarkan dari ancaman sihir dan segala ancaman seperti gangguan setan, jin dan mimpi buruk sekalipun dari petang tiba hingga pagi dating kembali.
“Qul huwallāhu aḥad allāhuṣ-ṣamad lam yalid wa lam yụlad wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad”
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad SAW), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (QS Al Ikhlas: 1-4)
“Qul a’ụżu birabbil-falaq min syarri mā khalaq wa min syarri gāsiqin iżā waqab wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad”
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad SAW), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan ( para penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS Al Falaq” 1-5)
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad SAW), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS An Nas: 1-6)
3. Membaca Doa di Waktu Petang
Dzikir petang yang ketiga yakni membaca doa di waktu petang, doa ini merupakan doa memoon perlindungan di waktu petang.
Amsaynaa wa amsal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzihil lailah wa khoiro maa ba’dahaa, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzihil lailah wa syarri maa ba’dahaa. Robbi a’udzu bika minal kasali wa suu-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.
Artinya: “Kami telah memasuki waktu petang dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur.”
Setelah itu dilanjutkan dengan bacaan doa berikutnya, yakni:
Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.
Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca pagi satu kali. HR At-Tirmidzi nomor 3391, disahihkan Syekh Al Albani).
Bacaan berikutnya dalam dzikir petang adalah bacaan sayyidul istighfar. Bacaan Sayyidul Istighfar dibaca satu kali.
Sayyidul istighfar diungkap melalui sabda Rasulullah SAW sebagai penghulu istighfar. Selain itu disebutkan pula bahwa pembaca lafal ini akan dibukakan pintu surga padanya.
Adapun bacaan sayyidul istighfar adalah sebagai berikut:
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR Al Bukhari nomor 5522, 6306, dan 6323. At-Tirmidzi nomor 3393, An-Nasa’i 5522, dan lain-lain)
5. Membaca Doa Selamat Dunia dan Akhirat
Bacaan yang dianjurkan untuk dibaca selanjutnya adalah doa agar selamat dunia dan akhirat. Adapun bacaanya adalah sebagai berikut:
Artinya: “Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.”
Selanjutnya, lanjutkan dengan membaca doa berikut:
Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).”
6. Membaca Doa Perlindungan dari Kejahatan
Selanjutnya, lanjutkan dengan membaca doa perlindungan, agar selalu berada dalam perlindungan Allah SWT dari kejahatan, baik dari diri sendiri, orang lain, jin dan setan. Berikut bacaanya:
Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy-syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy-syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurrohu ilaa muslim
Artinya: “Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang Muslim.”
7. Bacaan Dzikir Petang
Selanjutnya membaca bacaan dzikir petang. Dzikir petang terdiri atas dzikir keagungan Allah, dzikir untuk mengharap ridho Allah, dzikir ya hayyu ya qayyum serta beberapa bacaan dzikir petang lainnya.
Untuk lebih jelas, berikut bacaan dzikir petang yang disunnahkan Rasulullah SAW:
Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim
Artinya: “Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.
Artinya: “Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad Shallallahu alaihi wassallam sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).”
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan
Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”
Amsainaa ‘alaa fithrotil islaam, wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa muhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiinaa ibroohiim, haniifan musliman wa maa kaana minal musyrikiin.
Artinya: Di waktu sore kami berada di atas fitrah Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad, dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, Muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.”
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir
Artinya: “Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.”
Dzikir Pagi yang Dibaca 100 kali.
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhaanallaahi wa bihamdih.
Artinya: “Maha Suci Allah, aku memuji-Nya.”
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astagh-firullah wa atuubu ilaih.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”
Demikianlah bacaan dzikir petang yang bisa dijadikan panduan dalam berdzikir, Insyallah jika kita niatkan dalam hati untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
Kita akan terlndungi dari marabahaya, godaan setan, jin ataupun mimpi buruk sekalipun.
Seorang pezina pun akan menyesal telah melakukan perbuatan yang tidak dibenci Allah SWT. Bentuk taubat yang diajarkan bagi seorang muslim yakni, dengan sholat taubatan nasuha. Untuk melakukannya, tentu perlu mengetahui niat sholat taubat zina serta tata caranya.
Sholat taubat zina ini bertujuan untuk memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Anjuran mengenai sholat tobat ini dituliskan dalam hadis riwayat Imam Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang berbuat dosa lalu berwudhu dengan sempurna kemudian berdiri melakukan sholat 2 rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah melainkan Allah akan mengampuni. Kemudian beliau membaca surat Ali Imran ayat 135.” (HR. Imam Abu Dawud)
Jangan bersedih, Allah SWT adalah Tuhan semesta alam yang memiliki nama Maha Pengampun, jadi rahmat dan ampunannya tidak terbatas.
Untuk penjelasan lebih lanjut, simak penjelasan di bawah ini:
Bacaan Niat Sholat Taubat Zina
Bacaan Niat Sholat Taubat Zina
Sebelum melakukan sholat taubat zina, ada syarat sah yang mesti dipenuhi, yaknik berniat. Sebab niat adalah salah satu rukun sholat yang tidak boleh ditinggalkan.
Artinya: “Aku berniat melakukan sholat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Tata Cara Sholat Taubat Zina Sesuai Anjuran Rasulullah SAW
Tata cara untuk sholat taubat zina sendiri pada dasarnya sama seperti sholat sunnah yang lain.
Namun niat serta keteguhan hati memohon ampunan kepada Allah telah berbuat zinahlah yang menjadi pembeda antara sholat taubat zina dengan sholat taubat yang lain.
Berikut tata cara sholat taubat yang benar:
Rakaat Pertama:
Berdiri tegak menghadap kiblat dan membaca niat sholat taubat zina
Sebagai penyempurna dari amalan sholat taubat, ada baiknya memperbanyak membaca istighfar serta mengiringinya dengan dzikir. Adapun bacaan dzikirnya sebagai berikut:
Baca Tasbih “Subhanallah” sebanyak 33 kali
Baca Tahmid “Alhamdulillah” sebanyak 33 kali
Baca Takbir “Allahuakbar” sebanyak 33 kali
Baca kalimat tauhid “Laa ilaaha ilaallah” sebanyak 33 kali atau jika mampu 100 kali
Baca sholawat Nabi “ Allahumma shalli ala Muhammad” semampunya
Artinya: “Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepadanya.”
Setelah itu beristighfar, lanjutkan dengan membaca doa sholat taubat seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berikut ini:
Allahumma Anta Robbii Laa Ilaaha Illaa Anta, Kholaqtanii Wa Ana ‘Abduka Wa Ana ‘Ala ‘Ahdika Wa Wa’dika Mastatho’tu. A’udzu Bika Min Syarri Maa Shona’tu, Abuu-U Laka Bini’matika ‘Alayya, Wa Abuu-U Bi Dzanbii, Faghfirlii Fainnahuua Laa Yaghfirudz Dzunuuba Illa Anta.
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku pun dalam ketentuan serta janji-Mu yang sedapat mungkin aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yangg telah aku lakukan, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab tiada yangg dapat memberi ampunan kecuali Engkau sendiri. Aku memohon perlindungan Engkau dari segala kejahatan yang telah aku lakukan.”
Mengenai doa tersebut, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa mengucapkannya (sayyidul istighfar) di siang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga. Dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum subuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari)
Setelah mengerjakan sholat taubat ini, kamu seorang muslim disarankan untuk melakukan berbagai amalan kebaikan. Selain tidak mengulangi maksiat dan dosa seperti dulu, bentuk amalan yang dianjurkan yakni dengan bersedekah.
Karena bersedekah merupakan sebab utama terhapusnya dosa-dosa seorang muslim. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 82 yang berbunyi “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.”
Cara Agar Tidak Kembali Zina Setelah Taubat
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda mengenai cara menjauhi perbuatan zina:
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada hadis tersebut, dijelaskan beberapa cara untuk menjauhi perbuatan zina. Yang pertama dengan menikah bagi yang sudah mampu, yang kedua adalah berpuasa.
Berikut beberapa cara agar tidak melakukan zina yang bisa kamu lakukan:
Menutup aurat bagi seorang muslimah dan menjaga pandangan bagi seorang muslim
Tidak berkhalwat, menyendiri atau memisahkan diri dari orang lain seperti berduaan dengan lawan jenis
Tidak mendekati hal-hal yangmenjurus kepada perbuatan zina
Menghindari tempat-tempat maksiat yang dapat memberikan peluang dan kesempatan untuk berzina
Menambah ilmu pengetahuan agama dengan menghadiri majelis taklim
Membaca Al-Qur’an serta memahami maknanya.
Demikian informasi mengenai bacaan niat sholat taubat zina dan tata caranya lengkap serta cara menghindarinya. Semoga bermanfaat!
Seiring dengan perkembangan dunia fashion serta industri Kpop yang gencar akhir-akhir ini, membuat sebagian orang lupa akan pentingnya adab berpakaian.
Pada dasarnya, Allah SWT memberikan pedoman bagi kehidupan manusia dalam berbagai hal, termasuk mengenai cara berpakaian sesuai dengan syariat yang dibenarkan.
Meski Islam tidak menentukan bentuk atau desain dari sebuah pakaian bagi umatnya, ada beberapa adab berpakaian dalam Islam yang penting untuk diikuti. Dan hal yang paling mendasar dalam berpakaian menurut Islam adalah memakai pakaian yang menutup aurat, khususnya bagi para wanita.
Untuk lebih jelas mengenai adab berpakaian, mari simak artikel ini hingga akhir.
Adab Umum dalam Berpakaian
Pakaian merupakan salah satu nikmat Allah SWT sebagai bentuk penjagaan diri yang banyak memberikan maslahah dan melindungi kita dari kejamnya nafsu. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan” (QS. Al A’raf: 32)
Meski begitu, ada beberapa adab berpakaian yang perlu diperhatikan seorang muslim secara umum. Adapun adab umum dalam berpakaian adalah sebagai berikut:
1. Gunakan pakaian yang halal
Hal utama yang perlu diperhatikan adalah gunakan pakaian yang halal baik dari segi bahan dan juga cara mendapatkannya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya apa yang Allah perintahkan kepada orang mukmin itu sama sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amalan shalih’ (QS. Al Mu’min: 51). Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang telah Kami berikan kepadamu’ (QS. Al Baqarah: 172). Lalu Nabi menyebutkan cerita seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan panjang, hingga sehingga rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan tangannya ke langit dan berkata: ‘Wahai Rabb-ku.. Wahai Rabb-ku..’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim no 1015).
Ibnu Daqiq Al Id rahimahullah menjelaskan:
وفيه الحث على الإنفاق من الحلال، والنهي عن الإنفاق من غيره، وأن المأكول والمشروب والملبوس ونحوهما ينبغي أن يكون حلالًا خالصًا لا شبهة فيه
“Dalam hadits ini terdapat motivasi untuk berinfaq dengan harta yang halal. Dan terdapat larangan untuk berinfaq dengan harta yang tidak halal. Dan bahwasanya makanan, minuman serta pakaian hendaknya dari yang halal 100% tidak ada syubhat di dalamnya” (Syarah Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 42).
2. Tidak Menyerupai Lawan Jenis
Adab yang kedua yakni tidak diperbolehkan menggunakan pakaian yang menyerupai lawan jenis. Sebab pada dasarnya, seorang muslim dilarang untuk menyerupai lawan jenis, baik dalam bertingkah laku, berkata-kata dan semua perkara mengenai berpakaian, bak wanita dan laki-laki.
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, beliau berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang kebanci-bancian dan para wanita yang kelaki-lakian”. Dan Nabi juga bersabda: “keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian!” (HR. Bukhari no. 5886).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
ثلاثةٌ لا يَدخلُونَ الجنةَ: العاقُّ لِوالِدَيْهِ ، و الدَّيُّوثُ ، ورَجِلَةُ النِّساءِ
“Tidak masuk surga orang yang durhaka terhadap orang tuanya, ad dayyuts, dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra 10/226, Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid 861/2, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 3063).
Oleh sebab itulah, hendaknya para lelaki gunakan pakaian yang dikenal sebagai pakaian lelaki, demikian juga wanita hendaknya gunakan pakaian yang dikenal sebagai pakaian wanita.
3. Memulai dari sebelah kanan
Adab berpakaian muslim yang ketiga, hendaknya memulai memakai pakaian dari sebelah kanan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata:
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya” (HR. Bukhari no. 168).
4. Tidak menyerupai pakaian orang kafir
Disebut berpakaian menyerupai orang kafir jika suatu pakaian tersebut merupakan identitas dari suatu kaum kafir. Sebagai contoh sederhana yang bisa kita temui adalah pakaian yang banyak dipakai dengan aktris maupun aktor yang berbau Kpop.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
من تشبه بقوم فهو منهم
“Orang yang menyerupai suatu kaum, seolah ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152).
5. Bukan Merupakan Pakaian Ketenaran
Adab berpakaian muslim yang kelima, hendaknya pakaian yang digunakan bukan pakaian yang termasuk libas syuhrah atau yang sedang menjad tren. Tidak diperbolehkan sebab hal tersebut adalah sikap tabaruj.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, maka Allah akan memberinya pakaian hina pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no.4029, An An Nasai dalam Sunan Al-Kubra no,9560, dan dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Jami no.2089).
Asy Syaukani menjelaskan:
والحديث يدل على تحريم لبس ثوب الشهرة، وليس هذا الحديث مختصاً بنفس الثياب، بل قد يحصل ذلك لمن يلبس ثوباً يخالف ملبوس الناس من الفقراء ليراه الناس فيتعجبوا من لباسه ويعتقدوه. قاله ابن رسلان. وإذا كان اللبس لقصد الاشتهار في الناس، فلا فرق بين رفيع الثياب ووضيعها، والموافق لملبوس الناس والمخالف. لأن التحريم يدور مع الاشتهار
“Hadits ini menunjukkan haramnya memakai pakaian syuhrah. Dan hadits ini tidak melarang suatu jenis pakaian, namun efek yang terjadi ketika memakai suatu pakaian tertentu yang berbeda dengan keumuman masyarakat yang miskin, sehingga yang memakai pakai tersebut dikagumi orang-orang. Ini pendapat Ibnu Ruslan. Dan juga pakaian yang dipakai dengan niat agar tenar di tengah masyarakat. Maka bukan perkaranya apakah pakaian itu sangat bagus atau sangat jelek, ataukah sesuai dengan budaya masyarakat ataukah tidak, karena pengharaman ini selama menimbulkan efek ketenaran” (Dinukil dari Mukhtashar Jilbab Mar’ah Muslimah, 1/65).
6. Doa Saat Hendak Memakai Pakaian
Adab berpakaian muslim yang keenam, hendaknya ketika memakai pakaian membaca doa berikut:
Alhamdulillahilladzi kasaaniy hadzats tsauba wa rozaqonihi min ghoiri hawlin minniy wa laa quwwah
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku. (HR. Abu Daud no. 4023. Dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)
Adab Berpakaian Khusus Wanita
Seorang wanita muslim dilarang untuk menggunakan pakaian yang terbuka sebagai bentuk kewajibannya sebagai seorang muslim. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai cara berpakaian seorang wanita. Adapun adab berpakaian tersebut adalah:
1. Menutup Aurat
Sebagai seorang muslim, menutup aurat merupakan kwajiban yang hukumya wajib untuk dilakukan, sebab Rasulullah SAW pernah bersabda bahwasannya perempuan merupakan sumber fitnah paling kejam. Sebab hal tersbut, menutup aurat wajib dilakukan seorang muslimah.
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59).
“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31).
Ulama Hambali dan Syafi’i berpendapat dari ayat di atas bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh. Sedangkan ulama Maliki dan Hanafi berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu‘anha, beliau berkata,
Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, dalam Al Irwa [6/203] Al Albani berkata: “hasan dengan keseluruhan jalannya”).
Dari pejelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa kaki, lengan, leher terutama rambut merupakan aurat yang hukumnya wajib untuk ditutupi. Dan apabila seorang muslimah dengan sengaja memperlihatkan auratnya, maka hal ini dapat termasuk tabarruj, dosa besar bagi mereka yang melakukannya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada Umaimah bintu Ruqayyah radhiyallahu ‘anha:
“Aku membai’atmu untuk tidak berbuat syirik kepada Allah, tidak mencuri, tidak membunuh anakmu, tidak membuat fitnah (tuduhan palsu), tidak meratap, tidak ber-tabarruj seperti wanita Jahiliyah terdahulu” (HR. Ahmad 6850, dihasankan oleh Al Albani dalam Jilbab Mar’ah Muslimah hal. 121).
2. Tidak Berfungsi Sebagai Perhiasan
Adab berpakaian bagi muslimah hendaknya tidak terlalu berlebihan sehingga membuat lelaki terpana atau terpancing untuk memperhatikan, sehingga menimbulkan fitnah bagi mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
“Janganlah mereka menampakan perhiasan mereka.” (QS. An-Nur:31).
Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ditanya: “Bolehkah wanita menggunakan busana yang bercorak-corak?”. Mereka menjawab:
لا يجوز للمرأة أن تخرج بثوب مزخرف يلفت الأنظار؛ لأن ذلك مما يغري بها الرجال، ويفتنهم عن دينهم، وقد يعرضها لانتهاك حرمتها
“Tidak diperbolehkan wanita menggunakan busana yang bercorak yang bisa membuat mata lelaki tertarik. Karena busana demikian diantara yang bisa membuat lelaki tergoda dan terfitnah. Dan terkadang membuat seorang wanita dilanggar kehormatannya”.
Al Alusi dalam Ruhul Ma’ani mengatakan:
ثم اعلم أن عندي مما يلحق بالزينة المنهي عن إبدائها: ما يلبسه أكثر مترفات النساء في زماننا فوق ثيابهن ويتسترن به إذا خرجن من بيوتهن، وهو غطاء منسوج من حرير ذي عدة ألوان وفيه من النقوش الذهبية أو الفضية ما يبهر العيون، وأرى أن تمكين أزواجهن ونحوهم لهن من الخروج بذلك ومشيهن به بين الأجانب من قلة الغيرة، وقد عمت البلوى بذلك
“Kemudian ketahuilah, saya ingin memperingatkan diantara perhiasan yang terlarang untuk ditampakkan wanita adalah: apa yang banyak digunakan wanita-wanita glamor di zaman ini, yang digunakan di atas busananya, yang mereka kenakan ketika keluar rumah. Yaitu kerudung tenunan dari sutra yang berwarna-warni yang terdapa ukiran-ukiran warna emas dan perak yang sangat mempesona mata orang-orang. Dan saya memandang, seorang kepala keluarga yang membiarkan istri-istri mereka dan wanita anggota keluarganya keluar rumah dengan busana demikian dan berjalan bersama lelaki ajnabi (non mahram) itu adalah bentuk qillatul ghirah (minimnya rasa cemburu). Dan perkara seperti ini sudah terlanjur umum terjadi masyarakat”.
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa seorang muslim dianjurkan untuk menggunakan pakaian yang simple dan tidak terlalu mencolok. Sesuatu yang berlebihan tidak disukai Allah SWT.
3. Kainnya Tebal Tidak Tipis dan Tidak Memperlihatkan Lekuk-lekuk Tubuh
Muslimah hendaknya menggunakan pakaian yang tidak transparan dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Hal ini pernah dijelaskan oleh Uzamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu:
كساني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قبطية كثيفة كانت مما أهدى له دِحْيَةُ الكلبي فكسوتها امرأتي، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : مالك لا تلبس القبطية؟ فقلت: يا رسول الله! كسوتها امرأتي، فقال: مرها أن تجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظامها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab: ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata: ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya’” (HR. Dhiya Al Maqdisi dalam Al Mukhtar 1/441, dihasankan oleh Al Albani)
Maksud dari tidak diperbolehkan memperlihatkan bentuk tulangnya adalah tidak dianjurkan untuk memakai pakaian yang menunjukan lekuk tubuh. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
صنفان من أهل النار لم أرهما: قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس، ونساء كاسيات عاريات، مائلات مميلات، رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة، لا يدخلن الجنة، ولا يجدن ريحها، وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا
“Ada dua golongan dari umatku yang belum pernah aku lihat: (1) suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang-orang dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring (seperti benjolan). Mereka itu tidak masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, walaupun wanginya surga tercium sejauh jarak perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim dalam bab al libas waz zinah no. 2128).
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin mengatakan:
“Para ulama menjelaskan [wanita yang berpakaian tapi telanjang] adalah wanita yang menggunakan pakaian yang pendek yang tidak menutupi aurat. Sebagian ulama menafsirkan, mereka yang menggunakan pakaian yang tipis yang tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di baliknya yaitu kulit wanita. Sebagian ulama menafsirkan, mereka yang menggunakan pakaian yang ketat, ia menutupi aurat namun memperlihatkan lekuk tubuh wanita yang memfitnah.” (Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, 2/825).
Muslimah tidak diperbolehkan memakai wewangian dengan sengaja agar tercium baunya terutama oleh laki-laki. Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Perempuan mana saja yang mengenakan wewangian lalu melewati sekumpulan laki-laki, sehingga mereka mencium wangi harumnya maka ia adalah seorang pezina.” (HR. Abu Daud no.4173, Tirmidzi no. 2786. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.323).
5. Lebar dan longgar
Sebagaimana perintah Allah SWT, adab berpakaian yang digunakan seorang muslimah hendaknya lebar dan longgar. Dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ’anha, ia mengatakan:
أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نخرج ذوات الخدور يوم العيد قيل فالحيض قال ليشهدن الخير ودعوة المسلمين قال فقالت امرأة يا رسول الله إن لم يكن لإحداهن ثوب كيف تصنع قال تلبسها صاحبتها طائفة من ثوبها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan wanita yang dipingit (juga wanita yang haid) pada hari Ied, untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin. Kemudian seorang wanita berkata: ‘Wahai Rasulullah jika diantara kami ada yang tidak memiliki pakaian, lalu bagaimana?’. Rasulullah bersabda: ‘Hendaknya temannya memakaikan sebagian pakaiannya‘” (HR. Abu Daud, no.1136. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud).
Adab berpakaian satu ini juga turut dijelaskan sebagaimana kata Syaikh Ibnu Jibriin rahimahullah:
فهو يدل على أن الجلباب رداء واسع قد يستر المرأتين جميعًا
“Hadits ini menunjukkan bahwa jilbab itu berupa rida’ yang lebar, saking lebarnya terkadang bisa cukup untuk menutupi dua orang wanita sekaligus”.
Adab Berpakaian Khusus Laki-Laki
Adapun adab berpakaian bagi seorang lelaki yang sesuai dengan syariat Islam adalah sebagai berikut:
1. Menutup Aurat
Tidak hanya wanita, lelaki juga memiliki batasan aurat yang harus dijaga, yakni dari pusar hingga lutut. Berdasarkan hadits:
أسفلِ السُّرَّةِ وفوقَ الركبتينِ من العورةِ
“Yang dibawah pusar dan di atas kedua lutut adalah aurat” (HR. Al Baihaqi, 3362, Ad Daruquthni 1/231, dan yang lainnya).
Dengan demikian, lelaki tidak diperbolehkan menggunakan celana pendek yang memperlihatkan bagian pahanya.
2. Tidak Memakai Emas
Lelaki tidak diperbolehkan untuk memakai emas dalam bentuk apapun, baik cncin, kalung, kancing baju dan hal lain yang dipakai.
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أُحلَّ الذهبُ والحريرُ لإناثِ أُمتي، وحُرِّم على ذكورِها
“Dihalalkan emas dan sutra bagi wanita dari kalangan umatku, dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya” (HR. An Nasa’i no. 5163, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).
3. Tidak Memakai Sutra
Adab berpakaian selanjutnya adalah laki-laki muslim dilarang menggunakan pakaian dari sutra. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن لبِس الحريرَ في الدُّنيا لم يلبَسْه في الآخرةِ وإنْ دخَل الجنَّةَ لبِسه أهلُ الجنَّةِ ولم يلبَسْه هو
“Barangsiapa yang memakai pakaian dari sutra di dunia, dia tidak akan memakainya di akhirat. Walaupun ia masuk surga dan penduduk surga yang lain memakainya, namun ia tidak memakainya” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, no. 5437, dishahihkan oleh Al Aini dalam Nukhabul Afkar 13/277).
Namun, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan kelonggaran bagi laki-laki untuk menggunakan sutra dalam pengobatan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu beliau berkata:
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan kelonggaran untuk Zubair dan Abdurrahman untuk memakai sutra karena penyakit gatal yang mereka derita” (HR. Bukhari no. 5839, Muslim no. 2076).
Didukung dengan penjelasan dari Ibnu Hajar Al Asqalani:
“Ath Thabari menjelaskan: dalam hadits ini terdapat dalil bahwa larangan menggunakan sutra tidak termasuk di dalamnya orang yang memiliki penyakit yang bisa diringankan dengam memakai sutra” (Fathul Baari, 16/400).
4. Hendaknya Tidak Isbal
Makna isbal disini adalah menggunakan pakaian yang panjangnya melebihi mata kaki, baik itu celana, sarung , jubah dan semisalnya.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari no.5787).
Beliau juga bersabda:
لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً
“Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR. Bukhari no.5788)
Demikianlah adab berpakaian bagi laki-laki maupun perempuan. Dengan mengetahui batasan aurat serta cara memilih pakaian yang baik sesuai dengan syariat Islam, semoga kita selalu terjaga dan diberikan keberkahan oleh Allah SWT.
Yuk, cari tahu apa saja keutamaan silaturahmi jika dilakukan dengan niat yang ikhlas serta tulus.
Bersilaturahmi merupakan salah satu amalan umat Muslim untuk menyambung tali persaudaraan, terutama pada saat momen hari raya Idul Fitri atau Lebaran.
Dengan adanya silaturahmi maka akan tercipta suatu hubungan baik antar sesama. Kerukunan akan terjalin dan suasana menyenangkan akan tercipta saat bertemu satu sama lain.
Dalil Menjaga Silaturahmi dalam Islam
Telah disinggung sebelumnya bahwa silaturahmi merupakan sebuah amalan utama yang bisa menyambungkan apapun yang terputus, termasuk hubungan manusia.
Dalam Islam, silaturahmi juga dijadikan sebagai salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan adanya silaturahmi, maka akan menjadi pedoman bagi kita untuk bisa memperlakukan manusia dengan baik sesuai dengan perintah Allah SWT.
Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”.
Fiman ini menjelaskan, manusia diharapkan bisa salin menjaga, menyayangi, menghormati dan menyelamatkan. Terlebih perkembangan teknologi yang mampu memudahkan interaksi dan silaturahmi hanya lewat telepon genggam atau gadget.
Selain itu, Allah SWT juga menganjurkan bagi umat-Nya untuk tetap berperilaku baik dan menjalin silaturahmi meski kepada orang yang zalim. Hal ini turut dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad, yang berbunyi:
Artinya: “Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.” (HR Ahmad)
Keutamaan Silaturahmi dalam Islam
Ada banyak keutamaan silaturahmi yang penting diketahui bagi setiap muslim. Berikut sejumlah keutamaanya dalam Islam:
1. Meluaskan Rezeki dan Memanjangkan Umur
Keutamaan silaturahmi bagi seorang muslim yang menjaganya adalah akan diluaskan rezeki untuknya serta panjang umur.
Terkait silaturahmi memperbanyak rezeki dijelaskan dalam salah satu hadits riwayat Bukhori dan Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung silaturahminya (dengan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5985 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7571)
Selain itu, bertambahnya umur di dalam hadits tersebut adalah perpanjangan yang hakiki. Namun, ini berdasarkan ketetapan dan pengetahuan Allah Ta’ala Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitab Majmu’ Fatawa mengatakan,
والأجل أجلان ” أجل مطلق ” يعلمه الله ” وأجل مقيد ” وبهذا يتبين معنى قوله صلى الله عليه وسلم ((مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ)) فإن الله أمر الملك أن يكتب له أجلا، وقال :”إن وصل رحمه زدته كذا وكذا ” والملك لا يعلم أيزداد أم لا ؛ لكن الله يعلم ما يستقر عليه الأمر فإذا جاء ذلك لا يتقدم ولا يتأخر”.
“Ajal ada dua jenis: (1) ajal mutlak, yaitu ajal yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala dan (2) ajal muqayyad (terikat). Dengan klasifikasi ini, maka jelaslah makna hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung silaturrahmi.’ Sesungguhnya Allah memerintahkan malaikat untuk menulis ajal seseorang. Dia mengatakan, ‘Jika orang ini menyambung silaturahminya, maka tambahlah usianya begini dan begini,’ Dan malaikat tidak mengetahui apakah usia orang tersebut akan bertambah atau tidak. Yang mengetahui perkara tersebut secara pasti hanyalah Allah semata. Dan jika ajal orang tersebut benar-benar telah datang, maka tidak akan dimajukan dan ditunda lagi.”
2. Memperkuat Hubungan Kekeluargaan
Dengan menjaga tali silaturahmi, tentu hal ini akan memperkuat hubungan kekeluargaan maupun kerabat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Belajarlah dari nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturahmi karena silaturahmi itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta, serta dapat memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 8855 dan Tirmidzi no. 1979).
Keutamaan selanjutnya, dijelaskan bagi siapapun yang menjaga tali silaturahmi tetap terjaga, meski kepada orang yang zalim sekalipun, maka atas izin Allah SWT ia akan masuk ke dalam surga.
Sebagaimana dieritakan oleh Abu Ayub Al-Ansari radhiyallahu ‘anhu:
أنَّ رَجُلًا قالَ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أخْبِرْنِي بعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الجَنَّةَ، قالَ: ما له ما له. وقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَأرَبٌ ما له، تَعْبُدُ اللَّهَ ولَا تُشْرِكُ به شيئًا، وتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وتُؤْتي الزَّكَاةَ، وتَصِلُ الرَّحِمَ.
“Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke surga.” Orang-orang pun berkata, “Ada apa dengan orang ini, ada apa dengan orang ini.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Biarkanlah urusan orang ini.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya, “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan salat, dan membayar zakat, serta menjalin tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 1396)
Serta dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan kerjakanlah salat pada waktu malam ketika manusia sedang tidur. Niscaya, kalian akan dimasukkan ke dalam surga dengan keselamatan.” (Lihat Shahihul Jaami’ no. 7865 karya Al-Albani)
Dengan mengamati keuda hadits ini, kita dapat menyimpulkan bahwa keutamaan silaturahmi adalah salah satu sebab masuk ke dalam surga. Namun perlu diingat, segala sesuatu perlu diniatkan karena Allah dan berperilaku baiklah, maka cukuplah hal tersebut akan membawa diri ke dalam surga Allah SWT.
4. Menambah Pahala
Menjalin slaturahmi menjadi salah satu kebaikan yang bisa dilakukan meskipun itu kepada orang yang zalim sekalipun.
Allah SWT berfirman bahwa ada balasan kebaikan bagi orang-orang yang berbuat baik, sepertinya dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 10:
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
5. Memperluas Tali Persaudaraan
Menjalin silaturahim terhadap sesama juga dapat memperluas tali persaudaraan sesama muslim. Sebagaimana dijelaskan dalam Firman Allah yang disabdakan Rasulullah, disampaikan dari Abdurrahman bin Auf, yang artinya:
“Aku telah menciptakan rahim dan telah diberikan untuknya sebuah nama dari nama-nama-Ku. Maka, siapa yang menyambungnya, Aku akan menyambungnya, san siapa yang memutuskannya, Aku akan memutusnya: dan siapa yang menetapkanya, aku akan memantapkannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Hakim).
6. Menambah Empati
Sati diantara keutamaan silaturahmi yang lain dalam Islam adalah menambah empati serta menjauhi sikap egois.
Ketika bersilaturahmi, kita bisa membangun rasa saling menghargai, menghormati dan empati dengan mendengarkan cerita orang lain.
Sehingga secara tidak langsung, silaturahmi apabila dijalankan secara konsisten akan membentuk empati serta menjauhi sikap egois.
7. Dijauhkan dari Neraka
Keutamaan silaturahmi berikutnya ialah dijauhkan dari neraka. Apabila seorang muslim menjalin kembali tali silaturahmi antar sesama yang pernah terputus, maka akan dijauhkan baginya neraka. Sebagaimana dalam salah satu hadits berikut ini, yang artinya:
“Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim)
8. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa menjalin silaturahmi dengan sesama juga menjadi salah satu sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketika kita menyambung silaturahmi dan memperlakukan manusia dengan baik, berarti kita telah menjalankan perintah Allah SWT.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk, hingga apabila Dia selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan. Dia berfirman: “Benar, apakah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau?” Ia menjawab: iya. Dia berfirman: “Itulah untukmu.”
9. Menciptakan Kesan yang Baik dan Harmonis
Selain mendekatkan diri kepada Allah, silaturahmi juga dapat menciptakan kesan yang baik terhadap sesama.
Selain itu, silaturahmi juga menjadi salah satu cara mempertemukan mereka yang sudah lama tidak berjumpa. Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Yang disebut silaturahmi itu bukanlah tentang seseorang yang membalas pemberian atau kunjungan, melainkan ialah yang menumbuhkan apa yang telah putus.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian, hal tersebut tentunya akan menjaga rasa kekeluargaan dan meningkatkan keharmonisan antar saudara atau orang-orang terdekat kita.
10. Menjadi Makhluk Mulia
Keutamaan silaturahmi yang terakhir, yakni dapat menjadikan kita sebagai mahluk yang mulia. Sebab menjaga atau menyambung kembali silaturahmi yang sempat terputu smerupakan tindakan yang teruji dan dicintai Allah SWT.
Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Maukah kalian saya tunjukkan perilaku akhlak termulia di dunia dan di akhirat? Maafkan orang yang pernah menganiayaimu, sambung silaturahmi orang yang memutuskanmu dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”
Nah, itu dia beberapa keutamaan silaturahmi, banyak bukan? Yuk sama-sama tetap menjaga silaturahmi dan mejadi umat muslim yang dicintai Allah SWT. Semoga artikel ini bermanfaat ya!
Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum bukanlah hal yang mudah. Perlu latihan yang cukup lama serta persiapan mental agar tidak gugup dan tegang. Doa kelancaran berbicara bisa dipanjatkan sebagai iktiar selain berlatih.
Ketakutan dan perasaan ini biasa dirasakan bagi mereka yang memang jarang berbicara di depan umum.
Untuk membuat Anda lebih tenang, yuk simak doa berikut ini untuk membantu hilangkan rasa takut dan gugupmu.
Doa Kelancaran Berbicara Didepan Umum
Saat berbicaa di depan banyak orang, seringkali kita akan merasakan ggup yangberlebihan sehingga apa yangakan kita sampaikan tidak dapat dipahami oleh pendengar. Oleh sebab itu, penting bagi seorang muslim mengawalinya dengan melafalkan doa kelancaran bicara sebagai bentuk rasa tawakal.
Doa ini cukup singkat dan mudah dihafalkan. Adapun bacaan doanya sebagai berikut:
Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii.
Artinya: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku,” (QS Thaha Ayat 25-28).
Selain itu, terdapat doa yang bisa dilafalkan saat hati tidak tenang ataupun gugup, berikut bacaan doanya:
“Allahumma inni a’uuzubika minal hammi wal hazan. wa a’udzubika minal ajzi wal kasali, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal.”
Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan, dari kebakhilan serta sifat pengecut, dan beban utang serta tekanan orang-orang jahat
Doa ini biasa dibaca sebelum melakukan ceramah, pidato maupun seminar, agar pendakwah dimudahkan untuk mengucapkan kata-kata serta dihindarkan dari ucapan yang tidak bermanfaat.
Selain itu, doa ini juga membantu menngkatkan rasa percaya diri seseorang, sebab pembicara akan merasa Allah SWT senantiasa mendampinginya selama di hadapan umum.
Doa Kelancaran Berbicara Untuk Anak yang Sulit Berbicara
Selain untuk berbicara di depan umum, kadang kala permasalahan berbicara juga bisa dirasakan oleh anak-anak. Anak juga bisa mengalami keterlambatan dalam berbicara. Di antaranya disebakan oleh stimulasi yang kurang, gangguan pendengaran serta hambatan perkembangan otak atau mungkin disebabkan hal lainnya.
Bagi orang tua yang memiliki anak dengan anak dengan kondisi keterlambatan berbicara, ada baiknya untuk mengkonsultasikan kepada tenaga yang lebih ahli untuk cek kesehatan atau melakukan observasi perkembangan anak, selain itu, orang tua juga dianjurkan untuk berdoa kepada Allah SWT sebagai bentuk ikhtiar selain berobat.
Adapun doa kelancaran berbicara untuk anak yakni sebagai berikut:
Subhana man’ allamal insana maa lam ya’lam.
Artinya:
“ Maha suci Allah yang telah mengajarkan manusi sesuatu yang ia tidak ketahui.”
Doa ini dianjurkan untuk dilafalkan sesering mungkin, misalnya dilakukan setiap selesai melaksanakan sholat fardhu. Tidak lupa dengan mengawalinya menggunakan kalimat pujian atau asmaul husa sebagai pengingat akan kebesaran Allah SWT.
Adab Berbicara Dalam Islam
Bagi seorang muslim, berbicarapun memiliki adab yang perlu diperhatikan. seperti ketika sedang berbicara ataupun saat mendengarkan pembicaraan. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut ini:
Berbicara dengan jelas dan sopan
Menjaga pandangan mata, terutama ketika sedang berbicara dengan lawan jenis
Isi pembicaraan harus mengenai masalah yang baik dan bermanfaat
Pilihlah kata-kata yang baik agar ucapan tidak menyinggung perasaan orang lain
Mendengarkan dengan penuh perhatian selama pembicaraannya bermanfaat
Tidak memotong pembicaraan orang lain
Bersikap sopan santun
Terkait adab berbicara yang disyariatkan dalam Islam, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik,” (Riwayat dari Abu Hurairah, HR Bukhari dan Muslim)
Kisah Dibalik Doa Kelancaran Berbicara
Doa kelancaran berbicara ini bermula dari kisah Nabi Musa AS. Beliau merupakan seorang Nabi yang memiliki kekurangan dalam berbicara sebab lidahnya yang pernah terbakar oleh bara api. Hal ini dikisahkan ketika kecil beliau pernah mendapatkan tantangan dari Raja Fir’aun yang merasa terancam dengan keberadaanya.
Fir’aun memerintahkan agar Nabi Musa AS dihidangkan buah kurma merah dan juga bara api. Kemudian Nabi Musa AS yang masih kecil diperintahkan untuk memilih di antara keduanya. Hal ini guna membuktikan bahwa beliau hanya anak kecil biasa yang tidak membahayakan Fir’aun. Saat Nabi Musa AS mengunyah bara api, lidahnya terbakar sehingga beliau kesulitan dalam berbicara atau menyampaikan sesuatu dengan benar.
Lalu suatu ketika Nab MusaAS mendapatkan wahyu dari Allah SWT, beliau diperintahkan untuk mendakwahi Raja Fir’aun. Tentu hal ini membuat Nabi Musa AS menjadi tidak percaya diri dan ragu. Nabi Musa pun memanjatkan doa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam berbicara.
Tips Mudah Berbicara di Depan Umum
Selain memanjatkan doa kelancaran berbicara, ada beberapa hal yang perlu diketahui sebagai tips mudah berbicara di depan umum, seperti:
Mengawali dengan membaca basmalah, sebab hal baik selalu dimuali dengan membaca basmalah agar apa yang dilakukan menjadi berkah dan barokah.
Mengucapkan salam serta memuji Allah dan sholawat, hal ini dimaksudkan sebagai bentuk kepercayaan akan kebesaran Allah serta pujian kepada Rasulullah SAW yang telah memperjuangkan umatnya agar dapat beragama dengan leluasa seperti sekarang ini.
Melihat wajah pendengar saat berbicara atau melakukan kontak mata.
Mempersiapka materi yang hendak disampaikan, serta memahami isi dari materi secara keseluruhan
Melakukan interaksi dengan pendengar
Jangan terlalu kaku, cobalah untuk sesekali melontarkan candaan dengan pendengar.
Melakukan manajemen waktu dengan baik serta perhatikan penampilan agar menarik, bersih, wangi dan sedap dipandang.
Menunjukan sikap antusias saat berinteraksi dengan pendengar
Yang terakhir dan paling penting, menyesuaikan dengan bahasa yang dipahami oleh pendengar agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik
Nah, itu dia doa kelancaran berbicara yang bisa Anda gunakan sebagai salah satu ikhtiar untuk berbicara di depan umum serta mendoakan anak agar segera dapat berbicara. Perlu diingat bahwa sesuatu yang melibatkan Allah SWT tidak akan pernah mengecewakan. Semoga bermanfaat ya! Assalamualaikum wr.wb.
Industri Kpop kian gencar bekembang di kalangan muda mudi, bahkan beberapa perusahaan besar di Indonesia banyak yang berkiblat dengan Korea, salah satunya musik. Menilik ketenaran Kpop membuat sebagian orang menggilainya. Namun bagaimana sebenarnya hukum menyukai Kpop dalam Islam?
Pengidola memang sering kali menutup mata dan tidak mempertanyakan keyakinan yang dianut idolanya, bahkan dengan sukarela untuk meniru budaya dan perilaku sang idola.
Meski sebagian orang mengatakan bahwa mengidolakan juga memiliki batasan, namun bagaimana tanggapan Islam dalam hal ini?
Mengenal Lebih Dekat Orang yang Mengidolakan Kpop
Seiring dengan perkembangan tren musik dan juga fashion di seluruh dunia, memberi kesempatan yang besar bagi berkembangnya industri Kpop di gancah International. Dahsyatnya perkembangan ini, bahkan membuat virus Kpop menjadi satu di antara banyak virus yang menyerang Indonesia.
Sudah menjadi pembahasan publik jika sebagian remaja Indonesia menggilai Kpop hingga kerap kali melupakan dunia nyata. Bahkan bukan hanya kaum remaja, orang-orang dewasa juga banyak yang mengalami kecanduan akan Kpop.
Agamanya pun beragam, termasuk di antaranya adalah kaum muslim/muslimah. Tak jarang perdebatan pro-kontra sesama remaja mengenai hal-hal yang menyangkut obsesi mereka dengan Kpop.
Beberapa pengamat, menyimpulkan bahwa sebagian orang yang menyukai Kpop akan lupa dengan jati diri mereka sendiri dan akan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Namun sebagian di antaranya hanya sekadar suka dan menikmati musik yang ada.
Bahkan terdapat beberapa indikasi umum yang kerap kali kita lihat pada seseorang yang mengidolakan Kpop secara berlebihan:
Menyukai drama korea dan atau lagu-lagu korea
Rela meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk menonton drama atau mendengarkan lagu korea
Mengoleksi foto-foto artis korea
Membeli majalah-majalah tertentu untuk mengetahui kehidupan artis korea favoritnya
Berusaha keras untuk menonton konser offline artis korea
Mempelajari bahasa korea tanpa tujuan yang jelas
Menggunakan bahasa korea tertentu dalam kehidupan nyata
Membaca AU atau karangan-karangan yang seringkali berbau gay dan pornografi.
Meniru gaya hidup idola koreanya dan masih banyak lagi.
Poin-poin di atas merupakan gambaran bagi mereka yang terlalu mengidolakan Kpop. Pada tahap akut, sebagian orang akan terhipnotis dan terikat dengan sosok yang diodalakan tersebut, hingga nasehat tidak akan pernah menjadi pertimbangan dalam hidupnya.
Mereka akan terdorong berlaku implusif dan mengikuti perkembangan idolanya secara terus-menerus, mulai dari gaya hidup, drama, lagu, barang-barang yang digunakan hingga cara berpakaiannya. Maka jangan heran jika kerap kali frekuensi ibadah, belajar hingga bersosialisasi akan menurun drastis karena disibukkan oleh Kpop.
Allah SWT memberikan raga yang sempurna serta akal, guna kita mempertimbangkan sesuatu yang akan kita lakukan memiliki dampak baik atau buruk di dunia, termasuk mengenai perihal mengidolakan seseorang.
Oleh sebab itu, sebelum mengidolakan Kpop, sebaiknya ketahui terlebih dahulu hukum menyukai Kpop dalam Islam. Ingat selalu bahwa setiap hal yang kita kerjakan di dunia harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak!
Maka, sebelum terjerumus ke jalan yang salah, penting bagi kita untuk mengenal dan memahami terlebih dahulu ilmunya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah pada surat An-Nahl ayat 106 yang berbunyi:
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” ( QS. An-Nahl : 106)
Sebagian orang berpendapat bahwa baik buruknya suatu idola dilihat dari agamanya. Jika ia kafir, maka kafir pula yang mengidolakannya. Hal ini semakin diperkuat dengan firman Allah swt. berikut ini.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad).
Karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.
Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang.
Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Mumtahanah : 1)
Bahkan dalam suatu kisah, dari Anas bin Malik, beliau menceritakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak sholat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain di Shahih Bukhari, Anas mengatakan,
فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”
Anas pun mengatakan,
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Dalam kisah tersebut, Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan keutamaan orang yang mencintai Rasulullah SAW. Namun kecintaan ini tentu dilakukan dengan melakukan erintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi larangan dan beradab sesuai yang diajarkan oleh syariat Islam.
Dan lihatlah bagaimana perbedaan antara yang mengidolakan aktor, aktris, selebriti dan olahragawan dengan umat muslim yang mengidolakan Rasulullah SAW. Perbedaan sesungguhnya terletak pada akhir kehidupan seseorang.
Dalam riwayat Thobroni dalam Mu’jamnya, dari ‘Aisyah secara marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),
“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.” (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 11/164, Asy Syamilah).
Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hukum menyukai Kpop dalam Islam adalah haram, sebab kelemahan manusia yang sering lupa jika menyukai sesuatu dengan berlebihan. Sebab dianjurkan bagi seorang muslim untuk menghindari sesuatu hal yang memiliki banyak kemudhorotan.
Selain itu, telah dijelaskan dalam suatu hadits Rasulullah SAW mengenai kelemahan manusia akan hal-hal tersebut, dikhawatirkan akan menjadi orang yang menyerupai meski tidak mengimani.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ: فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud : 4031 dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud).
Ash-Shon’ani menyatakan tatkala menjelaskan makna hadits ini:
والحديث دال على أن من تشبه بالفساق كان منهم أو بالكفار أو المبتدعة في أي شيء مما يختصون به من ملبوس أو مركوب أو هيئة
“Dan hadis ini menunjukkan bahwa siapa yang meniru orang fasik atau orang kafir atau ahli bidah pada perkara yang menjadi ciri khas mereka, baik dari pakaian, tunggangan, rupa, maupun cara adalah bagian dari mereka.” (Subulussalam : 4/192-193).
Itulah dia hukum menyukai Kpop dalam Islam. Pada dasarnya, Islam hadir dengan Allah berikan segala kemudahan bagi umatnya, namun akan lebih baik apabila kita memilah segaa perbuatan yang akan kita lakukan di dunia dan menghindari hal-hal ang mengandung mudhorot.
Semoga artikel ini dapat menggugah hati ita agar selalu bertawakal dan mengidolakan yang sesuai dengan syariat muslim. Aamiin.
Bagi umat muslim, gempa bumi adalah salah satu bentuk teguran Allah SWT untuk mengingat kembali betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya. Dengan alasan tersebut penting bagi kita membaca doa ketika gempa.
Memperbanyak doa dan berdizikir menjadi sarana permohonan kepada Allah SWT agar selalu diberikan berkah keselamatan.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai doa ketika gempa bumi terjadi serta amalannya, yuk simak informasi d bawah ini!
Doa Gempa Bumi sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Berdoa saat terjadi gempa bumi merupakan bagian dari dzikrullah atau bentuk mengingat akan kekuasan Allah SWT sekaligus meminta perlindungan kepada-Nya. Berikut beberapa bacaan doa ketika gempa bumi terjadi:
1. Doa ketika Gempa Bumi Kecil
Ketika kamu merasakan gempa bumi dengan getaran kecil, bacalah doa berikut ini:
Latin:Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa fihaa, wa khaira maa arsalta bihi, wa a’udzubika min syarriha, wa syarri maa fiha wa syarri ma arsalta bihi
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.”
Doa gempa bumi ini telah Allah sampaikan dalam Al-Qur’an. Nabi Musa melafalkan doa ini saat gempa bumi terjadi. Bacaan ini tertuang pada surah Al-A’raf ayat 155-156, yang bunyinya:
Latin:Rabbi lau syi’ta ahlaktahum min qablu wa iyyaya, atuhlikunaa bimaa fa’alas-sufahaau minnaa, in hiya illa fitnatuka tudhillu bihaa man tasyaau wa tahdhi man tasyaa, anta waliyyuna faghfir lanaa warhamnaa, wa anta khairul-ghaafirin, waktub lanaa fiii haadzihid-dunya hasanatan wa fiil-akhirat inna hudna ilaika
Artinya: “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki dengan cobaan itu dan Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Pelindung kami. Maka, ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah sebaik-baik pemberi ampun. Tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau.” (QS Al-Araf [7]: 155-156)
Latin:Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma ajirhum fii mushibatihim, wa akhlif lahum khoiran minha
Artinya: “ Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah mereka pahala dalam musibah mereka dan gantilah dengan yang lebih baik.”
Amalan yang Disunnahkan Rasulullah SAW saat Gempa Bumi
Selain melafalkan doa ketika gempa bumi terjadi, kita juga dianjurkan untuk melakukan amalan yang sunnah dari tuntunan Nabi Muhammad SAW agar niscaya kita selalu dalam perlindungan-Nya. Yuk, simak beberapa amalan berikut:
1. Memperbanyak Dzikir
Amalan ini terdapat dalam surat Ash-Shoffat ayat 143-144 yang berbunyi:
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (QS. ash-Shoffat [37]: 143-144).
2. Membantu Korban Bencana Gempa Bumi
Sebagai umat muslim, kita wajib membantu sesama yang sedang dalam keadaan membutuhkan pertolongan.
Selain sebagai bentuk kemanusiaan, membantu sesama juga berupa amalan yang disukai Allah SWT. Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:
“Barang siapa yang membantu menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan kesusahan darinya besok di hari kiamat” (HR. Muslim).
3. Menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Yang dimaksudkan menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yakni menghindari perbuatan buruk dan melakukan hal-hal dalam kebaikan.
Agar terhindar gempa dan azab Allah SWT, wajib untuk menghindari perbuatan buruk yang dapat menimbulkan dosa, misalnya berzinah, melakuakan ghibah, dan hidup rukun dengan sesama manusia.
5 Hal yang Perlu Dihindari saat Terjadi Gempa Bumi
Dilansir dari Get Prepared Canada About Earthquacke, berikut terdapat 5 hal yang harus dihindar saat terjadi gempa bumi:
Menjauhi pintu, pintu dapat terbanting menutup dan menyebabkan cidera kepala.
Menghindari penggunaan lift, menggunakan lift saat gempa bumi beresiko untuk jatuh
Berlarian menuruni tangga, berlarian menuruni tangga akan membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Hindari untuk berdekatan dengan jendela, rak buku, lampu besar dan furniture tinggi yang kemungkinan roboh.
Menjauhi kabel listrik tumbang yang membahayakan
Nah, itulah beberapa doa ketika gempa bumi yang dapat kita panjatkan. Jangan lupa untuk mengerjakan amalan-amalan yang disunnahkan juga ya! Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Terimakasih sudah membaca artikel ini, sampai jumpa lagi.