Author: Reskia Ekasari

  • Arti Nama Narendra dalam Islam? Cek Apakah Ada

    Arti Nama Narendra dalam Islam? Cek Apakah Ada

    Mungkin orang terdekat, teman, saudara, atau kerabat kita ada yang memiliki nama Narendra. Nama yang seringkali muncul dan cukup menarik perhatian. Nama tersebut juga bagus, tetapi kita-kira apakah arti nama Narendra dalam Islam?

    Sebagai orang tua tentu kita akan memilih nama yang bagus untuk anak. Namun tidak hanya bagus, kita juga akan memilih nama yang memiliki makna dan arti yang bagus dalam Islam.

    Mempersiapkan nama untuk buah hati memang bukan hal yang mudah. Pasalnya, ada banyak nama yang bisa menjadi pilihan bagi calon buah hati. Harapannya, tidak hanya menjadi sekedar nama, tetapi juga menjadi doa bagi buah hati. 

    Arti Nama Narendra

    Nama Narendra berasal dari bahasa Sansekerta. Narendra merupakan gabungan dari kata Nara dan Indra. Apabila diartikan Nawa memiliki arti orang, sementara Indra memiliki makna dewa langit dalam ajaran agama Hindu.

    Jadi, Narendra memiliki makna seorang yang kuat dan berjiwa pemimpin. Bahkan, Narendra juga banyak diartikan sebagai calon pemimpin atau orang yang akan berkuasa. 

    Jika dilihat dari artinya nama Narendra memiliki makna yang bagus dan doa yang baik. Orang tua yang ingin anaknya menjadi pemimpin dan penguasa yang kuat bisa menggunakan nama ini. 

    Arti Nama Narendra dalam Islam

    Setelah dicek dari berbagai sumber arti nama Narendra dalam Islam tidak ada. Nama ini bukan berasal dari Islam melainkan dari bahasa Sansekerta. Meski bukan nama Islami, Narendra bisa digabung dan dijadikan nama dengan nuansa Islami. 

    Pasalnya Narendra juga memiliki makna dan doa yang baik juga. Anda bisa menggabungkan nama Narendra dengan, nama-nama bernuansa Islami. 

    Meski tidak ada arti nama Narendra dalam Islam, pastikan arti dan nama yang disandingkan masih selaras.

    Baca juga: Doa Sebelum dan Sesudah Belajar yang Diajarkan Rasulullah SAW

    Ide Nama Narendra

    Berikut contoh nama Islami yang bisa Anda gabungkan dengan nama Narendra yang memiliki arti pemimpin:

    • Narendra Ahsan, yang memiliki arti pemimpin yang terbaik.
    • Narendra Ahmad, yang memiliki arti pemimpin yang terpuji.  
    • Narendra Alif, yang memiliki artinya pemimpin yang lembut dan ramah.
    • Narendra Alfarizi, yang memiliki arti pemimpin ksatria berkuda.
    • Narendra Amin, yang memiliki arti pemimpin yang amanah.
    • Narendra Amrullah, yang memiliki arti pemimpin yang dirahmati Allah.
    • Narendra Fadhil, yang memiliki arti pemimpin luar biasa.
    • Narendra Fahizi, yang memiliki arti pemimpin yang berani dan sukses.
    • Narendra Hamid, yang memiliki arti pemimpin pemuji Allah.
    • Narendra Ilham, yang memiliki arti pemimpin yang diharapkan.

    Memilih Nama Anak dalam Islam

    Ada baiknya sebelum memilih nama untuk anak kita mengenal terlebih dahulu nama yang baik dalam Islam. Sehingga, nama untuk anak membawa doa yang baik sampai anak besar nanti. 

    Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah pernah berkata, tingkat keagamaan seorang ayah dapat dilihat dari nama anak-anaknya. Pemilihan nama yang baik sesuai dengan syariat agama Islam menandakan ayah tersebut mengikuti petunjuk Rasul.

    Oleh karena itu, dalam Islam tidak disarankan memberi nama yang memiliki arti buruk. Islam menyarankan nama-nama yang memiliki arti baik dan menjadi doa bagi anak. 

    Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Kewajiban seseorang (orang tua), ialah memilihkan bagi anaknya sebuah nama yang tidak membuatnya menelan rasa malu dan tersakiti saat menginjak dewasa.”

    Pasalnya, sebagai orang tua terkadang kita terpikat akan bagusnya kata saja tanpa mengetahui arti dan maknanya. Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaknya memberikan nama yang baik dengan arti yang dapat menjadi doa bagi sang Anak.

    Sabda Rasulullah dalam Memilih Nama Anak

    Rasulullah senantiasa menjadi petunjuk bagi kita dalam berperilaku sebagai umat muslim. Tidak terkecuali dalam memberi nama anak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

     ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ

    Artinya:

    “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi].

    Rasulullah juga menyarankan untuk memberikan nama yang memiliki arti baik. Menunjukan nama itu penting hingga berkaitan dengan nasib kita di akhirat nanti. Nama-nama yang baik menurut Rasulullah seperti pada hadits berikut:

    ﺃﺣﺐ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ

    Artinya:

    “Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”. [HR. Muslim].

    Dengan demikian, kita sudah mengetahui arti nama Narendra dalam Islam. Berilah nama anak-anak kita dengan nama yang baik agar kelak menjadi doa yang baik pula. Semoga kita senantiasa menjadi umat yang dicintai Rasulullah.

  • Bangkai dan Makan Daging Hewan Sembelihan di Luar Negeri

    Bangkai dan Makan Daging Hewan Sembelihan di Luar Negeri

    Makan daging hewan sembelihan di luar negeri sering kali memunculkan pertanyaan tentang kesesuaian dengan prinsip-prinsip Islam. Lantas, bagaimana hukumnya?

    Ketika bepergian ke luar negeri, mencicipi hidangan lokal adalah cara yang luar biasa untuk merasakan budaya dan tradisi negara tersebut.

    Hal ini juga yang memungkinkan kita untuk mengkonsumsi makanan daging sebagai opsi pilihan.

    Pengertian Bangkai

    Dalam Islam, bangkai merujuk kepada daging hewan yang mati dengan sendirinya atau ditemukan dalam keadaan yang sudah membusuk.

    Makan daging bangkai atau daging hewan yang mati dengan sendirinya dilarang dalam Islam dan dianggap haram. Hal ini sebagaimana diterangkan secara jelas dalam ayat Al-Qur’an dan sabda dari Rasulullah SAW.

    Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 173 menjelaskan larangan memakan daging hewan yang mati dengan sendirinya:

    إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيْرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Innamā ḥarrama ‘alaikumul-maitata wad-dama wa laḥmal-khinzīri wa mā uhilla bihī ligairillāh, fa maniḍṭurra gaira bāgiw wa lā ‘ādin fa lā iṡma ‘alaīh, innallāha gafụrur raḥīm.

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 173).

    Selain itu, bangkai hewan yang hidup di darat dan mengalir darahnya saat dipotong bagian tubuhnya atau “lahu nafsun sailah” disepakati oleh para ulama bahwa hukumnya najis. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا۟ بِٱلْأَزْلَٰمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Hurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa laḥmul-khinzīri wa mā uhilla ligairillāhi bihī wal-munkhaniqatu wal-mauqụżatu wal-mutaraddiyatu wan-naṭīḥatu wa mā akalas-sabu’u illā mā żakkaitum, wa mā żubiḥa ‘alan-nuṣubi wa an tastaqsimụ bil-azlām, żālikum fisq, al-yauma ya`isallażīna kafarụ min dīnikum fa lā takhsyauhum wakhsyaụn, al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā, fa maniḍṭurra fī makhmaṣatin gaira mutajānifil li`iṡmin fa innallāha gafụrur raḥīm.

    Artinya:

    “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah: 3).

    Baca juga: Doa Sebelum dan Sesudah Belajar yang Diajarkan Rasulullah SAW

    Makan Daging Hewan Sembelihan di Luar Negeri

    Daging yang disembelih oleh orang non-muslim dan bukan ahli kitab, maka daging tersebut tergolong sebagai bangkai. Sebagaimana penjelasannya sebelumnya, bahwa bangkai haram bagi kita umat muslim untuk memakannya.

    الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ

    Al-yauma uḥilla lakumuṭ-ṭayyibāt, wa ṭa’āmullażīna ụtul-kitāba ḥillul lakum wa ṭa’āmukum ḥillul lahum wal-muḥṣanātu minal-mu`mināti wal-muḥṣanātu minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum iżā ātaitumụhunna ujụrahunna muḥṣinīna gaira musāfiḥīna wa lā muttakhiżī akhdān, wa may yakfur bil-īmāni fa qad ḥabiṭa ‘amaluhụ wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn.

    Artinya:

    “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS. Al Maidah: 5).

    Syarat Khusus Makan Daging Sembelihan Luar Negeri

    Karena itu, makan daging hewan sembelihan di luar negeri boleh dikonsumsi apabila disembelih oleh orang muslim atau ahli kitab. Adapun ahli kitab disini harus memenuhi syarat khusus, yakni berupa:

    1. Ahli kitab yang dimaksud adalah golongan Yahudi ataupun Nasrani, baik ahli kitab sebelum Nabi Muhammad diutus atau setelahnya
    2. Hewan yang disembelih adalah hewan yang dihalalkan oleh syariat Islam
    3. Tidak diketahui bahwa mereka menyebut nama selain Allah saat penyembelihan

    Apabila kita ragu yang menyembelih non-muslim dan bukan ahli kitab, maka mengkonsumsi makanan tersebut menjadi haram. Disarankan untuk kita mencari makanan yang sudah terbukti halal atau memiliki label halal.

    Makan daging hewan sembelihan di luar negeri akan termasuk golongan bangkai apabila tidak memenuhi syariat pemotongan dalam Islam. Karena itu, penting untuk kita memastikan bahwa produk disembelih secara baik dan benar sesuai ketentuan.

  • 7 Perbedaan Haji dan Umroh yang Perlu Diketahui

    7 Perbedaan Haji dan Umroh yang Perlu Diketahui

    Haji dan umroh memiliki kesamaan yaitu ibadah ini sama-sama dikerjakan di Tanah Suci. Kendati demikian, ada perbedaan haji dan umroh yang mendasari terwujudnya dua ibadah tersebut. 

    Perbedaannya dapat diketahui melalui hukum, rukun, hingga waktu pelaksanaannya.

    Sehingga, secara mendasar haji dan umroh merupakan ibadah yang jelas berbeda. Keduanya memiliki keistimewaan tersendiri.

    7 Perbedaan Haji dan Umroh

    Pada umumnya, ibadah umroh akan lebih ringan dikerjakan dibandingkan dengan ibadah haji. Sebab ibadah umroh bukanlah ibadah wajib seperti halnya ibadah haji, walaupun umroh termasuk dalam penyempurna ibadah itu sendiri.

    Untuk lebih jelasnya mengenai beberapa perbedaan haji dan umroh, kita bisa simak penjelasan di bawah ini:

    1. Pengertian Ibadah Haji dan Umroh

    Perbedaan haji dan umroh pertama dapat dilihat dari pengertiannya. Secara etimologi, haji mempunyai arti menuju atau menyengaja. Sedangkan, menurut terminologinya, haji merupakan ibadah yang menyengaja per ke Tanah Suci.

    Kepergiannya ke Tanah Suci itu untuk menjalankan ibadah, termasuk menjalan Tawaf, Sa’i, serta Wukuf di Arafah dan hingga menjalankan ibadah ketentuan haji lainnya dengan tertib.

    Sedangkan untuk ibadah umroh, secara etimologi mempunyai arti berkunjung atau i’tamara. Sehingga, dalam syariatnya diartikan sebagai berkunjung ke Tanah Suci yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Pendekatan diri kepada Allah SWT tentunya dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh ibadah umroh itu sendiri. Sehingga, keduanya mempunyai aturan syarat masing-masing yang harus dipenuhi agar ibadah menjadi sah.

    Baca juga: Bacaan Doa Haji Mabrur Arab Latin dan Sunnah setelah Berhaji

    2. Hukum Ibadah Haji dan Umroh

    Selain dari pengertiannya yang cukup membantu, beda haji dan umroh adalah hukum. Dimana ada sebuah dalil yang menyatakan bahwa seorang muslim yang mampu wajib melaksanakan ibadah haji.

    Hal tersebut termuat dalam Al-Quran yang mengandung firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 97 yang artinya sebagai berikut:

    Artinya: “Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam.”

    Dengan memahami ayat Al-Quran tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hukumnya haji adalah wajib. Wajib bagi umat muslim yang mampu menunaikannya, baik secara fisik maupun finansial.

    Sementara untuk hukum umroh sendiri disebutkan sunnah atau tathawwu. Tathawwu merupakan hukum yang tidak diwajibkan, namun sangat baik untuk dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    3. Rukun Ibadah Haji dan Umroh

    Rukun Ibadah Haji dan Umroh

    Selanjutnya ada perbedaan haji dan umroh dari sisi rukun. Pada bab manasik, rukun merupakan sebuah ritual yang menjadi penentu keabsahannya ibadah haji dan umroh dan tidak bisa digantikan dengan denda atau dam.

    Oleh sebab itu, rukun ini sangatlah penting untuk dilaksanakan ketika menunaikan ibadah haji maupun umroh. Dimana rukun haji terdapat lima yaitu niat ihram, wukuf di Arafah, thawaf, sa’i, dan memotong rambut.

    Sementara untuk rukun umroh terdapat empat yang dimulai dari niat ihram, Tawaf, Sa’i, dan memotong rambut. 

    Sehingga, perbedaan rukun haji dan umroh terletak pada wukuf di Arafah. Sebab, hanya ibadah haji lah yang menunaikannya di tanggal 9 Dzulhijjah.

    Untuk penjelasan secara luas mengenai makna rukun yaitu sebagai berikut:

    • Niat Ihram merupakan niat dan ibadah seseorang memasuki keadaan khusus. Niat untuk melaksanakan serangkai ibadah yang tindakannya akan dimulai dengan memakai pakaian khusus.
    • Wukuf merupakan tindakan berdiam diri di padang Arafah. Pelaksanaannya hanya untuk ibadah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah.
    • Tawaf merupakan tindakan untuk mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Pelaksanaanya dilakukan setelah Wukuf di Arafah.
    • Sa’i merupakan ibadah berlari-lari kecil diantara bukit Safa dan Marwah. Ibadah ini memberikan gambaran dari perjuangannya Siti Hajar dalam mencarikan air untuk anaknya Ismail.
    • Tahallul merupakan ibadah melepaskan ihram dengan cara memotong dan mencukur rambut. Tindakan ini memberikan lambang dari akhir ibadah sekaligus kembalinya seseorang ke dalam keadaan normal.

    4. Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umroh

    Perbedaan haji dan umroh berikutnya yaitu waktu pelaksanaannya. Waktu pelaksanaan ibadah haji dilakukan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT yaitu pada rentang waktu tertentu dalam 1 tahun.

    Lebih tepatnya dimulai pada bulan Syawal hingga subuhnya hari 10 Dzulhijjah. Akan tetapi, waktu tersebut hanya berlaku bagi salah satu rukun saja yaitu ihram. Dan untuk rangkaian haji harus dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah.

    Hal itulah yang menjadi alasan jika seorang muslim ingin menunaikan haji harus melakukan pendaftaran haji terlebih dahulu. Sebab, terdapat kuota antrian untuk setiap negaranya.

    Sementara untuk ibadah umroh waktu pelaksanaannya bisa kapanpun dalam setahun, karena ibadah umroh pelaksanaannya tidak terkait. Sehingga, kita bisa menunaikan ibadah umroh saat mempunyai kesempatan dan financial yang cukup.

    Biasanya waktu pelaksanaan ibadah umroh yang paling ramai terjadi pada bulan Ramadhan atau awal tahun. Walaupun begitu, tunaikan ibadah umroh sesuai dengan rukun dan syarat sahnya ibadah.

    5. Kewajiban dalam Haji dan Umroh

    Istilah kewajiban ini bisa diartikan dengan rangkaian ritual manasik. Dimana jika ditinggalkan tidak bisa membatalkan ibadah haji atau umroh, tetapi kita wajib mengganti dengan denda atau dam.

    Berikut kewajiban yang harus dijalankan saat ibadah haji yang menjadi perbedaan haji dan umroh adalah:

    • Niat ihram dari miqat, miqat yaitu batas area yang telah ditentukan dan menyesuaikan daerah asal jamaah haji atau umrah.
    • Menginap atau mabit di Muzdalifah pada malam hari, tepatnya tanggal 10 Dzulhijjah.
    • Menginap atau mabit di Mina pada malam hari tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
    • Melaksanakan pelemparan jumrah.
    • Tawaf wada’ yaitu pelaksanaan perpisahan sebelum meninggalkan Mekkah.

    Adapun kewajiban yang harus jamaah umroh lakukan yaitu:

    • Niat ihram dari miqat yang merupakan area batas yang telah ditetapkan sekaligus menyesuaikan daerah asal jamaah haji atau umroh tersebut.
    • Menjauhi larangan-larangan yang ditetapkan ihram.

    6. Durasi Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umroh

    Selanjutnya perbedaan haji dan umroh dilihat dari durasi pelaksanaannya. Dimana sesuai dengan sumber resmi yaitu Kementerian Agama atau Kemenag RI menyebutkan operasional ibadah haji berlangsung selama 30 hari.

    Rincian waktu pelaksanaanya dimulai dari 15 hari jamaah gelombang pertama dan 15 hari berikutnya jamaah gelombang kedua. Tapi, untuk durasi masa tinggalnya sendiri maksimal jamaah haji di Arab Saudi ditetapkan 42 hari.

    Sebab durasi pelaksanaan ibadah haji ini tergolong cukup lama jika dibandingkan dengan ibadah umroh. Biasanya durasi pelaksanaannya membutuhkan waktu berkisar selama 4 hingga 5 hari.

    Sementara untuk ibadah umroh, hanya dalam hitungan jam saja. Lebih tepatnya berlangsung selama kurun waktu 2 hingga 3 jam saja.

    7. Biaya Ibadah Haji dan Umroh

    Seperti yang sudah kita ketahui semua bahwa biaya ibadah haji akan lebih mahal dibandingkan dengan ibadah umroh. Hal inilah yang menjadi perbedaan haji dan umrah terakhir yang akan kita pahami dengan baik.

    Biaya ibadah haji telah ditetapkan oleh pemerintah, di mana kita bisa memilih paket ibadah haji sesuai dengan kemampuan masing-masing. Paketnya ada reguler, haji plus, dan haji furoda.

    Setiap jenis paketnya mempunyai penetapan biaya haji yang berbeda-beda. Sebagai contoh untuk biaya haji reguler berkisar antara Rp 40 hingga Rp 50 juta, di lain reguler biayanya jelas lebih mahal di kisaran Rp 100 hingga Rp 300 juta.

    Sementara untuk biaya umroh tergantung pada berbagai faktor, seperti tanggal keberangkatan,jenis paket umroh, fasilitas yang disediakan, durasi perjalanannya, dan lain sebagainya.

    Namun, biasanya biaya umroh bisa didapatkan dari mulai Rp 25 juta. Selain nilai tersebut, kita akan menemukan berbagai macam pilihan biaya umroh yang berbeda-beda dari setiap agen travel.

    Oleh sebab itu, pilihlah agen travel yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sehingga, ibadah umroh yang dijalankan akan terasa menenangkan hati dan pikiran.

    Itulah perbedaan haji dan umroh yang bisa jadi pelajaran. Kedua ibadah rohani ini  bisa memberikan banyak pembelajaran, seperti mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT.

  • Jelaskan Perbedaan Rukun dan Wajib Haji? Yuk Simak

    Jelaskan Perbedaan Rukun dan Wajib Haji? Yuk Simak

    Dalam Islam kita mengenal istilah rukun haji dan wajib haji. Lantas, bisakah kita jelaskan perbedaan rukun dan wajib haji? Karena untuk beberapa orang masih banyak yang bingung perbedaan dari keduanya.

    Meskipun jika dilihat secara umum keduanya tampak sama. Tetapi, dalam pelaksanaan rukun dan wajib pada ibadah haji memiliki perbedaan yang signifikan, loh.

    Jika disuruh jelaskan perbedaan rukun dan wajib haji. Maka, perbedaan paling utama dari hukum keduanya. Pada rukun haji, apabila kita tidak melaksanakannya maka haji dianggap tidak sah.

    Berbeda dengan wajib haji, jika kita tidak melaksanakannya maka bisa menggantinya dengan membayar denda. Salah satunya dengan cara menyembelih hewan ternak.

    Jelaskan Perbedaan Rukun Haji dan Wajib Haji

    Saat kita diminta untuk jelaskan perbedaan rukun dan wajib, kita bisa tahu kalau rukun haji menjadi sangat penting sebab bisa menjadi penilaian sah tidaknya seseorang dalam berhaji.

    Perbedaan utama dari keduanya adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh calon haji, antara lain:

    1. Ihram

    Ihram adalah niatan yang dilakukan oleh setiap jamaah untuk masuk dalam manasik haji. Apabila seseorang meninggalkan ihram, maka hajinya tidak akan sah. Rukun dan wajib haji keduanya mengharuskan seseorang melakukan ihram.

    Sesuai dengan sabda dari Rasulullah SAW:

    إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

    Artinya:

    “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

    Dalam melaksanakan ihram ada kegiatan wajib yang harus dilakukan yaitu:

    • Ihram dari miqot.
    • Tidak menggunakan pakaian yang dijahit. Untuk laki-laki dilarang menggunakan baju, jubah, penutup kepala, khuf atau sepatu, dan juga mantel. Sedangkan perempuan tidak boleh pakai niqob dan sarung tangan.
    • Bertalbiyah.

    Untuk sunnah pelaksanaannya sendiri meliputi: mandi, pakai wangi-wangian, memotong bulu kemaluan, ketiak, kumis, dan kuku, menggunakan izar (sarung), dan rida’ (kain atasan) berwarna putih, berniat ihram setelah shalat, memperbanyak talbiyah.

    Lafaz talbiyah:

    لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ.لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ.إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكُ.لاَ شَرِيْكَ لَكَ

    Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak.

    Artinya:

    (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu)

    Baca juga: Bacaan Doa Haji Mabrur Arab Latin dan Sunnah setelah Berhaji

    2. Wukuf di Padang Arafah

    Wukuf merupakan bagian dari rukun dan wajib haji. Kegiatan ini mengharuskan seorang calon haji untuk hadir di daerah padang Arafah. Waktu pelaksanaanya saat matahari terbit di hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu terbit fajar shubuh pada 10 dzulhijjah.

    الْحَجُّ عَرَفَةُ

    Artinya:

    “Haji adalah wukuf di Arafah.” (HR. An Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

    3. Mabit di Muzdalifah

    Jelaskan perbedaan rukun dan wajib haji selanjutnya bisa kita jumpai dari kegiatan Mabit di Muzdalifah. Peribadatan ini hanya bisa kita lakukan sebagai salah satu wajib haji, sedangkan pada rukunnya tidak ada.

    Allah Ta’ala memerintahkan berdzikir di Masy’aril haram (Muzdalifah) dalam ayat:

    فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

    “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram (Muzdalifah).” (QS. Al Baqarah: 198).

    4. Lempar Jumroh

    Berikutnya, untuk rukun haji ada kegiatan lempar jumroh ‘aqobah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Tiga jumroh lainnya akan dilempar di hari (11,12, dan 13 apabila masih berada di Mina.”

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

    Artinya:

    “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang (hari tasyriq). Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 203).

    5. Mabit di Mina Pada Hari Tasyriq

    Jika seseorang masih berada di Mina selama hari tasyriq. Maka, bisa melakukan Mina di hari ke-11,12, dan 13. Mabit di sini memiliki arti dikerjakan pada sebagian besar malam dan dimulai awal malam.

    6. Mencukur Rambut

    Dalam wajib haji seseorang wajib mencukur atau memendekkan rambutnya sesuai dengan perintah dari Nabi Muhammad SAW.

    وَلْيُقَصِّرْ ، وَلْيَحْلِلْ

    Artinya:

    “Pendekkanlah rambut dan bertahallul-lah.” (HR. Bukhari no. 1691 dan Muslim no. 1227).

    7. Thawaf

    Rukun dan wajib haji keduanya mengharuskan calon haji untuk melakukan thawaf atau mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali. Tetapi pada rukun haji, thawaf yang dilakukan adalah Wada’.

    Arti dari thawaf wada’ yaitu tidak memiliki roml di dalamnya. Sedangkan, pada rukun haji adalah tawaf Ifadhoh (Thowaf Ziyaroh) jadi harus menggunakan roml selama pelaksanaanya.

    وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

    Artinya:

    “Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29).

    8. Sa’i

    Sa’i adalah berlari-larian kecil antara bukit Shafa dan Marwah dalam rangka beribadah sesuai ajaran dari Rasulullah SAW. 

    اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ

    Artinya:

    “Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

    Nah, sekarang sudah terjawab pertanyaan mengenai jelaskan perbedaan rukun dan wajib haji. Kita bisa mengetahui bahwa ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan sebagai rukun dan ada yang sebagai wajib haji. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak meninggalkan keduanya.

  • Doa Ketika Hujan Lebat, Ketika Reda, Arab, Latin & Artinya (Allahumma Shoyyiban Nafi’an)

    Doa Ketika Hujan Lebat, Ketika Reda, Arab, Latin & Artinya (Allahumma Shoyyiban Nafi’an)

    Hujan merupakan salah satu bentuk anugerah dari Allah SWT, apalagi ketika turunnya hujan akan membawa berkah. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya sebagai umat Islam kita memanjatkan doa ketika hujan agar mendapatkan keberkahan.

    Turunnya hujan sendiri memiliki banyak manfaat seperti tumbuhan yang akan menjadi subur, terpenuhinya kebutuhan manusia, hingga air yang bisa hewan manfaatkan.

    Tidak hanya ketika turun hujan saja berdoanya, akan tetapi sebagai umat Islam memang doa selalu Rasulullah anjurkan ketika meminta sesuatu kepada Allah SWT. Karena dengan berdoa kita memohon perlindungan dan pertolongan kepada-Nya.

    Kumpulan Doa Ketika Hujan dalam Berbagai Kondisi

    Sebenarnya tidak hanya doa ketika turun hujan saja yang bisa kita panjatkan untuk mendapatkan berkah. Namun, ketika hujan menjadi lebat atau seseorang menginginkan hujan berhenti bisa memanjatkan doa ketika hujan pada Allah SWT.

    Selain memohon perlindungan dan pertolongan, ketika hujan dan kita berdoa merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah menurunkan hujan tersebut.

    Berikut kumpulan doa ketika hujan yang bisa kita amalkan. Selain itu, akan ada juga doa-doa lainnya yang berkaitan dengan hujan secara lengkap.

    1. Doa Ketika Hujan Turun Pertama

    Doa hujan berkah pertama yaitu saat hujan turun. Ada beberapa amalan doa yang bisa kita pilih sesuai dengan keyakinan masing-masing.

     اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

    Latinnya, “Allahumma shayyiban nafi’an.”

    Artinya, “Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.” (HR. Bukrari)

    Selain itu, kita juga bisa membaca doa lainnya. Masih dalam konteks yang sama yaitu doa ketika hujan turun sesuai dengan melaksanakan shalat Istisqa’.

     اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا بَلَاءِ، وَلَا هَدَمٍ وَلَا غَرَةٍ. اللَّهُمَّ عَلَى الظُّرَابِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا

    Latinnya, “Allaahumma suqyaa rohmatin, wa laa suqya adzaabin, wa laa balaa’in, wa laa hadamin wa la gharaqin. Allahumma ‘alazh-zhiraabi wa manaabitisy-syajari. Allaahumma hawaalaina wa laa ‘alainaa.”

    Artinya, “Ya Allah, semoga ini adalah hujan rahmat, bukan hujan azab, bukan hujan bala (musibah), bukan hujan yang menghancurkan, bukan hujan yang menenggelamkan. Ya Allah, alihkanlah hujan kepada bukit-bukit dan tempat-tempat tumbuhnya pohon. Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai nikmat bagi kami, bukan sebagai siksa atas kami.”

    Baca juga: Niat Sholat Jumat Makmum & Imam Beserta Tata Caranya

    2. Doa Ketika Hujan Turun Kedua

    Pilihan doa kedua masih sama yaitu doa ketika hujan turun. Karena berdoa ketika hujan turun menjadi salah satu sunnah yang Rasulullah ajarkan kepada umatnya. Hal ini juga tercantum dalam beberapa hadist.

    Dari sahabat Anas bin Malik RA, artinya “Tatkala turun hujan, Nabi SAW keluar dan menengadahkan wajahnya ke arah langit sambil berkata, ‘Ya Allah, turunkanlah hujan yang penuh keberkahan kami.” (HARI. Bukhari dan Muslim)

    Selain itu, ada riwayat dari sahabat Jabir bin Abdullah RA yang artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila kalian melihat hujan turun, hendaklah kalian berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang penuh rahmat dan keberkahan.” (HR. Tirmidzi)

    3. Doa Ketika Hujan Reda

    Selanjutnya doa ketika hujan reda, doa yang termuat dalam penjelasan sebuah hadits dalam riwayat Zaid bin Khalid Al-Juhaniy RA, bahwasanya suatu ketika Nabi SAW memimpin salat subuh di Hudaibiyah setelah makan sebelumnya turun hujan. Ketika beliau menghadap jamaah sembari berkata, “Tahukah kalian, apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

    أصْبَحَ مِن عِبادِي مُؤْمِنٌ بي وكافِرٌ، فأمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بفَضْلِ اللهِ ورَحْمَتِهِ فَذلكَ مُؤْمِنٌ بي كافِرٌ

    بالكَوْكَبِ، وأَمَّا مَن قالَ: مُطِرْنا بنَوْءِ كَذا وكَذا فَذلكَ كافِرٌ بي مُؤْمِنٌ بالكَوْكَبِ 

    Maka, Rasulullah bersabda yang artinya “Pada pagi hari di antara hambaKu ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah)’, maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan, ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini)’, maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang. (HR. Bukhari No. 846 dan Muslim No. 71)

    Bisa juga dengan doa ketika hujan reda selanjutnya yang kita amalkan. Berikut doa selanjutnya :

     مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

    Latinnya, “Muthrna bi Fadhlillaahi wa Rahmatihi.”

    Artinya, “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat-Nya.”

    Baca juga: Bacaan Tahiyat Awal & Akhir Lengkap Arab, Latin yang Shahih

    4. Doa Meminta Hujan Pertama

    Selanjutnya ada doa meminta hujan yang bisa kita amalkan ketika seseorang membutuhkan turunnya hujan. Ada beberapa doa yang bisa kita amalkan yaitu sebagai berikut :

    Latinnya, “Allahummas qina ghaitsam mughitsam mari’am nafi’an ghaira dharrin, ajilan fhaira ajilin.”

    Artinya, “Ya Allah, berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh, dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan dengan segera, tidak ditunda-tunda.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

    Tidak hanya itu saja, kita juga bisa memilih doa meminta hujan yang penuh dengan keberkahan.

     اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْئًا مُغِينَّا مَرِيئًا نَافِعًا غَيْرِ ضَاءٍ عَاجِلًا غَيْرَ أَجِلٍ

    Latinnya, “Allahumma aghisna, allahumma aghisna, allahumma aghisna.”

    Artinya, “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    5. Doa Ketika Hujan Lebat Pertama

    Selanjutnya, ada doa ketika hujan deras atau lebat pilihan pertama yang bisa kita amalkan. Suatu waktu Rasulullah SAW pernah meminta turunnya hujan pada Allah, ketika hujan turun begitu lebat.

    Rasulullah SAW memohon kepada Allah agar hujan lebat tersebut segera berhenti dan cuaca kembali cerah. Berikut doa hujan lebat sesuai dengan Rasulullah SAW :

    اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا ,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Latinnya, “Allahumma hawalayna wa la’alayna, allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis-syajari.”

    Artinya, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kai untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah, dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

    6. Doa Ketika Hujan Lebat Kedua

    Keenam doa ketika hujan lebat, karena hujan yang lebat memang bisa memicu terjadinya berbagai bencana alam. Bencana seperti angin kencang yang disertai dengan petir, tentu sangat menakutkan.

    Sebab itu, Rasulullah mengajarkan untuk membaca doa dan dzikir saat ada petir. Doa ini menjadi salah satu doa ketika ada petir saat hujan lebat turun.

    “Bila kalian mendengarkan petir, maka ingatlah Allah dengan berdzikir karena dia tidak akan menyambar orang yang berdzikir.” (HR. Thabrani)

    Untuk doanya yaitu sebagai berikut :

    اَلًلهُمَ لا تقتلنا بغضبك ولا تهلكنا بعذابك وعافنا قبل ذلك

    Latinnya, “Allahumma la taqtulna bighadhabika wala tuhlikna bi’adzabika wa ‘afina qabla dzalika.”

    Artinya, “Ya Allah, janganlah kau matikan kamu dengan kemarahan-Mu, dan janganlah kamu rusak diriku dengan siksa-Mu, dan maafkanlah aku sebelum semua itu terjadi.”

    7. Doa Ketika Hujan Lebat dengan Angin Kencang

    Ketujuh doa ketika hujan saat hujan tersebut disertai dengan hujan kencang dan angin. Berikut beberapa pilihan doa yang bisa kita amalkan :

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ

    Latinnya, “Allaahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih. Wa-a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih.”

    Artinya, “Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya.”

    8. Doa Ketika Hujan dengan Petir

    Kedelapan ada doa hujan pendek dengan adanya petir, dimana ketika Abdullah bin Az-Zubair mendengar petir, pembicaraan dihentikan dan mengucapkan.

    سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

    Latinnya, “Subhaanalladzi yusabbihur ra’du bihamdihi wal malaaikatu min khiifatihi.”

    Artinya, “Maha Suci allah yang halilintar bertasbih dengan memuji-Nya, begitu juga pada malaikat karena takut kepada-Nya.”

    Manfaat Membaca Doa Ketika Hujan

    Setelah mengetahui beberapa doa turun hujan dan artinya serta kondisi lainnya yang bisa kita amalkan tersebut. Kita juga perlu tahu manfaat membaca doa ketika hujan agar hati seseorang lebih tenang.

    1. Mengetahui kebesaran Allah SWT, karena membaca doa ketika hujan merupakan bentuk pengakuan atas kebesaran Allah SWT.
    2. Ketika membaca doa ketika hujan artinya seseorang memohon agar Allah menjadikan hujan sebagai rahmat dan berkah.
    3. Doa ketika hujan turun sendiri merupakan doa yang membuka pintu terkabulnya doa tersebut. Karena doa yang seseorang panjatkan ketika hujan turun, salah satu doa yang paling cepat Allah kabulkan.
    4. Saat seseorang memanjatkan doa termasuk doa ketika hujan akan membantu kita untuk selalu mengingat atas kewajiban sebagai hamba-Nya. Dengan begitu, membantu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.

    Sebagai seorang muslim yang taat tentu kita harus selalu mengamalkan doa ketika hujan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut akan membantu seseorang untuk selalu ingat atas anugerah yang Allah SWT berikan.

    Oleh sebab itu, ada berbagai pilihan doa ketika hujan yang bisa kita amalkan sesuai dengan kondisi hujan masing-masing. Dengan membaca doa setidaknya mampu membantu meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

    Itulah amalan doa ketika hujan untuk berbagai kondisi masing-masing. Pengamalan doa yang tepat, tentu akan membuat seseorang semakin sadar betapa pentingnya rasa bersyukur.

    Rasa syukur yang timbul karena adanya perasaan saling mengerti dan memahami bagaimana Allah SWT menakdirkan takdir terbaik. Dengan begitu, poin utamanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT.

  • Arti Nama Naufal dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Arti Nama Naufal dalam Islam dan Ide Rangkaian Namanya

    Jika berbicara tentang nama-nama Islami, tentu Anda sudah tidak asing lagi dengan nama Naufal bukan? Bahkan, Naufal sendiri cukup sering dijadikan nama panggilan oleh orang-orang di sekitar pemiliknya. Lantas, apa arti nama Naufal dalam Islam?

    Secara umum, nama-nama Islami yang banyak digunakan oleh umat muslim memiliki makna yang sangat baik. Tak jarang, dari nama-nama tersebut diselipkan doa dan juga harapan dari orang tua.

    Untuk mengetahui makna nama Naufal di dalam Islam, langsung saja simak pembahasan lengkapnya di bawah ini!

    Pemberian Nama dalam Islam

    Memberikan nama yang baik adalah hak dari anak-anak kita setelah dilahirkan. Dalam hal ini, seorang ayah wajib memberikan nama yang baik untuk anaknya karena akan berpengaruh pada mereka saat dewasa.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Najjar, Rasulullah SAW pernah bersabda:

    “Anak-anak memiliki tiga hak atas ayah mereka. Yang pertama adalah mereka diberi nama baik. Yang kedua, mereka diberikan pendidikan yang baik; dan yang terakhir, mereka membantu mereka memilih pasangan yang baik,” (Ibnu Najjar).

    Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa peran ayah bagi seorang anak sangatlah penting. 

    Ada tiga hak anak yang harus dipenuhi oleh seorang ayah, yaitu pemberian nama yang baik, memberi pendidikan yang baik, dan membantu mencarikan pasangan yang baik. Jadi, ketiga hal tersebut harus Anda persiapkan jika anak sudah lahir.

    Baca juga: Apa Hukum Asuransi dalam Islam? Halal atau Haram Ini Pendapat Ulama

    Arti Nama Naufal dalam Islam

    Nama bagi seorang anak memiliki arti yang sangat penting. Selain menjadi identitas pribadi, nama juga membawa doa dan harapan yang bisa membentuk karakter pada diri anak. Itulah kenapa orang tua wajib memberikan nama yang baik pada anak.

    Rasulullah sendiri menganjurkan pada umatnya agar memberi nama yang baik pada anak karena kelak di hari kiamat, kita akan dipanggil sesuai dengan nama kita dan bapak kita. Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Abi Darda’ berikut ini:

    قال رسول الله صل الله عليه و سلم: انكم تدعون يوم القيامة باسماءكم واسماء آبائكم، فاحسنوا اسمائكم.

    Artinya:

    Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak kalian, maka perbaguslah nama kalian.” (Muhyiddin Dhib, Lawami’ al-Anwar, halaman: 146).

    Hadits di atas menjelaskan bahwasanya nama seseorang juga akan digunakan pada saat hari kiamat kelak. Itulah kenapa kita sebaiknya menghindari nama-nama yang tidak memiliki makna sama sekali atau hanya ingin terdengar unik saja. 

    Berikanlah nama yang baik dan memiliki makna serta harapan bagi anak-anak kita. Nama yang baik tentunya akan menjadi kebanggaan bagi anak-anak kita setelah dewasa sehingga mereka tidak malu saat memperkenalkan diri.

    Lalu, bagaimana dengan nama Naufal? Apa arti nama Naufal dalam Islam? Dari banyaknya penggunaan nama Naufal, nama tersebut umumnya diberikan kepada anak laki-laki dan digunakan sebagai nama depan.

    Nama Naufal sendiri berasal dari Bahasa Arab yang bisa bermakna dermawan atau tampan. Jadi, pemberian nama Naufal pada anak mengandung doa atau harapan agar kelak anak tersebut menjadi orang yang tampan dan senang berbagi.

    Nama Naufal juga bisa diartikan sebagai abdi Tuhan dalam bahasa Kurdi. Selain itu, masih ada beberapa makna lain dari Naufal yang datang dari bahasa berbeda seperti murah hati dalam bahasa Jawa-Melayu, atau murah hati dalam Bahasa Arab.

    Seperti pemberian nama pada umumnya, nama Naufal juga bisa dirangkai dengan nama tengah dan nama belakang. Selain memberi identitas nama yang lebih spesifik rangkaian nama tersebut juga memberi makna yang lebih dalam.

    Ide Rangkaian Nama-Nama Islami Naufal

    Setelah mengetahui arti nama Naufal dalam Islam, Anda juga perlu mengetahui bahwa nama Naufal juga memiliki beberapa rangkaian. Tak harus menjadi nama depan, Naufal juga bisa kita letakkan sebagai nama tengah seperti beberapa contoh berikut:

    1. Firaz Naufal Muzzaki

    • Firaz: Berpikiran tajam
    • Naufal: Dermawan, murah hati, tampan
    • Muzakki: Orang yang menunaikan zakat, mensucikan, atau membersihkan diri

    Ide rangkaian nama Islam pertama yang menggunakan nama Naufal adalah Naufal Firaz Muzakki. Jika diartikan secara utuh, nama tersebut memiliki makna sebagai orang yang darmawan, berpikiran tajam, dan taat menunaikan zakat.

    2. Naufal Arkhan Jihad

    • Naufal: Dermawan, murah hati, tampan
    • Arkhan: Tangkas, berkedudukan tinggi
    • Jihad: Perjuangan atau usaha yang sungguh-sungguh

    Berikutnya, Anda juga bisa memberi nama Naufal Arkhan Jihad yang memiliki makna seorang yang murah hatinya, tangkas atau berkedudukan tinggi, dan memiliki jiwa pejuang yang tangguh.

    3. Naufal Izzat Fathurrahman

    • Naufal: Dermawan, murah hati, tampan
    • Izzat: Kemuliaan
    • Fathurrahman: Pembuka kejayaan dari Yang Maha Pengasih (Allah SWT)

    Rangkaian nama ini bisa kita lihat maknanya dari Bahasa Arab sebagai orang yang tampan dan murah hati, seorang yang juga mulia, dan darinya berharap dibukanya kejayaan yang datangnya dari Allah.

    4. Gazi Naufal Razzin

    • Gazi: Pahlawan, wirawan
    • Naufal: Murah hati, dermawan
    • Razzin: tenang, serius, khidmat, kalem, sabar

    Jika Anda menginginkan lahirnya sosok yang bisa menjadi pahlawan yang murah hati, derwana, serta memiliki sifat sabar dan tenang, maka Anda bisa memberinya nama Gazi Naufal Razzin.

    5. Naufal Rizky Hidayatulah

    • Naufal: Derwaman, murah hati
    • Rizki: Anugerah atau rezeki
    • Hidayatullah: Petunjuk dari Allah

    Selanjutnya, Anda juga bisa memberi nama Naufal Rizky Hidayatullah yang memiliki makna orang dengan kemurahan hati, sosok yang menjadi anugerah untuk kedua orang tuanya, dan bisa membawa petunjuk dari Allah SWT.

    6. Naufal Aliyan Arsyad

    • Naufal: Murah hati, tampan, dermawan
    • Aliyan: Tinggi atau mulia
    • Arsyad: Petunjuk yang lurus

    Memberi nama anak dengan Naufal Aliyan Arsyad merupakan sebuah doa agar kelak anak tersebut bisa menjadi orang yang dermawan, seorang yang mulia atau tinggi, dan menjadi petunjuk yang lurus atau benar.

    7. Naufal Ghazi Firdaus

    • Naufal: Dermawan, murah hati
    • Ghazi: Pejuang atau pahlawan
    • Firdaus: Surga

    Terakhir, Anda juga bisa memberikan nama Naufal Ghazi Firdaus yang mana rangkaian nama tersebut memiliki makna masing-masing. Naufal berarti dermawan dan suka memberi, Ghazi berarti pejuang, dan Firdaus merujuk pada surga.

    Kini Anda sudah mengetahui apa arti nama Naufal dalam Islam bukan? Dengan adanya pembahasan di atas, kini Anda memiliki banyak referensi nama-nama Islam yang bisa dijadikan nama untuk anak-anak Anda setelah lahir.

  • Doa Sebelum dan Sesudah Belajar yang Diajarkan Rasulullah SAW

    Doa Sebelum dan Sesudah Belajar yang Diajarkan Rasulullah SAW

    Di dalam Islam, belajar menjadi kegiatan yang sangat dianjurkan. Belajar tidak hanya membuat kita pintar tapi juga meningkatkan kecerdasan emosional. Hendaknya, kita membaca doa sebelum belajar.

    Ada keistimewaan dari membaca doa sebelum melakukan sesuatu. Konon katanya, dengan berdoa Allah akan mempermudah apa yang ingin, hendak atau sedang kita lakukan.

    Jika tujuan kita adalah belajar maka Allah akan membantu kita menyerap pelajaran dengan baik. Pikiran tidak teralihkan dengan hal lain. Fokus pada materi pelajaran yang dipelajari  sendiri atau disampaikan oleh guru atau dosen.

    Doa Sebelum Belajar

    Apa yang kita persiapkan sebelum belajar akan membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lancar dan efektif. 

    Tidak hanya memilih buku pelajaran terbaik, peralatan tulis yang bagus tapi juga awali belajar dengan membaca doa-doa bermanfaat berikut.

    1. Lafadz Basmalah

    Sejak kecil, orang tua kita mengajarkan untuk selalu mengucapkan basmalah sebelum melakukan sesuatu.  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ  yang artinya Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Dengan membaca lafadz basmalah, niscaya apa yang kita kerjakan akan selalu dalam lindungan dan perhatian Allah. Sesungguhnya, belajar bukanlah aktivitas yang berbahaya seperti berperang.

    Belajar adalah kegiatan harian yang biasanya dilakukan secara disengaja atau tidak disengaja oleh semua orang. Di mana pun tempatnya, tidak terbatas hanya di sekolah formal saja.

    Baca juga: Dzikir dan Doa Setelah Sholat Witir Arab-Latin Beserta Arti Sesuai Sunnah

    2. Doa Mengharapkan Ilmu Bermanfaat

    Apa yang kita kejar dengan belajar? Tentu saja untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Ilmu bermanfaat tidak hanya menambah wawasan diri sendiri tapi juga dapat diturunkan untuk orang di sekitar.

    Supaya pengetahuan yang kita pelajari terserap secara sempurna dan menjadi ilmu bermanfaat hendaklah membaca doa sebelum belajar Islam.

    للَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا ‌عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا.

    Allaahumman-fa’nii bimaa ‘allamtanii, wa ‘allimnii maa yanfa’unii, war-zuqnii ‘ilman tanfa’unii bih.

    Artinya: ’’Ya Allah, berilah manfaat atas ilmu yang Engkau berikan kepadaku, ajarkanlah ilmu yang bermanfaat untukku, dan tambahkanlah ilmu untukku.’’

    Doa ini sangat dianjurkan Nabi Muhammad untuk dibaca oleh kita para umatnya. Dan diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 3599.

    3. Doa Terhindar dari Ilmu yang Menyesatkan

    Saat membeli sebuah buku, tentu saja kita membaca terlebih dahulu judul, nama pengarang dan memikirkan apa manfaat dari membaca buku tersebut.

    Penting sekali untuk memfilter apa buku yang hendak kita baca dan pelajari. Jangan sampai kita belajar hal-hal yang tidak bermanfaat dan justru menjerumuskan pada hal yang sesat.

    Apa bacaan doa sebelum belajar yang cocok untuk menghindarkan kita dari ilmu yang sesat?

    اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بكَ مِن عِلْمٍ لا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا.

    Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’, wa min qolbin laa yakhsya’, wa min nafsin laa tasyba’, wa min da’watin laa yustajaabulahaa.

    Yang artinya: ’’Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak terkabulkan.’’

    Janganlah lupa untuk membaca doa tersebut sebelum kita belajar. Doa tersebut telah diriwayatkan dalam HR. Muslim no. 2722.

    Baca juga: Adab dan Doa Ziarah Kubur Sesuai Tuntunan Sunnah

    4. Doa Mengharapkan Limpahan Ilmu

    Setiap orang memiliki daya serap yang berbeda saat menyerap pelajaran. Beberapa orang mungkin hanya membutuhkan waktu selama beberapa menit untuk memahami pelajaran. 

    Tapi, ada juga yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk memahaminya.

    Kemampuan seseorang dalam menyerap pelajaran dipengaruhi oleh banyak hal salah satunya DNA, genetik atau IQ yang sudah diturunkan padanya saat dilahirkan. Bagaimana, jika kita sulit menyerap pelajaran dengan baik dan cepat?

    Bacalah doa sebelum belajar dan artinya dengan harapan Allah dapat melimpahkan ilmu pengetahuan. Berikut bacaan doanya.

    وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا .  Artinya ’’Dan katakanlah, ’Ya Rabbi berilah aku tambahan ilmu.’’ Bacaan doa ini juga bisa kita temukan dalam QS. Thaha: 144.

    Doa Sesudah Belajar

    Sebelumnya telah dijelaskan secara mendetail, doa sebelum belajar beserta arti dan manfaatnya untuk kita.

     Kurang afdol rasanya, jika kita tidak belajar doa setelah belajar juga. Mau tahu apa saja doa-doa yang bisa kita ucapkan usai mempelajari sesuatu?

    1. Doa Mengharapkan Ilmu yang Terus Mengalir

    اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَوْدِعُكَ مَا عَلَّمْتَنِيْهِ، فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ وَلَا تُنْسِنِيْهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

    Terjemahannya adalah ’’Ya Allah sungguh aku titipkan kepada-Mu, apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, kembalikanlah ia kepadaku ketika aku butuhkan, dan janganlah Engkau lupakan dariku, wahai Tuhan semesta alam.’’

    Bacalah doa setelah belajar dan artinya tersebut agar ilmu pengetahuan yang kita pelajari tidak berakhir pada kesia-sian. Disebut sia-sia, karena pelajaran yang dipelajari berakhir terlupakan oleh hal lainnya yang justru tak penting.

    Yang diharapkan setelah membaca doa tersebut, kita dapat memahami pelajaran dalam jangka panjang. Apalagi saat mempelajari pelajaran yang sifatnya menetap seperti pelajaran matematika, agama dan sebagainya.

    2. Doa setelah Belajar agar Barokah

    Mau belajar matematika, agama, sejarah, PKN atau sebagainya kita ingin semua pelajaran tersebut tidak hanya dibaca dan terlupakan. Penting sekali untuk senantiasa selalu membaca doa sebelum belajar sesuai sunnah.

    Khusus untuk doa selesai belajar, kita bisa mengucapkan doa berikut ini.

    رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ، وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ.

    Artinya: ”’Tuhanku berilah manfaat kepada kami dengan barokah mereka (paran abi dan ulama), dan tunjukkan kepada kami kebijakan dengan kehormatan mereka.’’

    Yang diharapkan setelah membaca doa tersebut adalah kita memperoleh ilmu yang barokah, bermanfaat dan terhormat. Semua pelajaran yang kita pelajari tidak hanya bermanfaat positif untuk pribadi tapi juga orang lain di sekitar kita.

    Pentingnya Menuntut Ilmu dalam Islam

    Bagi sebagian besar orang, belajar merupakan hal yang sangat menyenangkan. Saking senangnya, tanpa sadar sudah membuat perpustakaan pribadi di rumah.

    Di dalam perpustakaan, tersimpan dengan rapi buku-buku pelajaran, ensiklopedia, buku pengetahuan umum hingga karya fiksi. Namun, sudahkah kita tahu apa pentingnya belajar dalam kacamata Islam?

     طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

    Menurut HR. Ibnu Majah itu kalimat berbahasa arab itu artinya “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.’’

    Kata wajib yang tertulis menandakan jika menuntut ilmu atau belajar merupakan suatu kegiatan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan dalam Islam. Karena selain mencerdaskan diri sendiri juga bisa membantu mencerdaskan bangsa.

    Dari segi sosialisasi, seseorang yang cerdas juga akan lebih mudah terjun ke masyarakat. Mudah diterima oleh orang lain terutama jika memiliki gagasan-gagasan yang bagus dan cemerlang.

    Oleh karena itu, hendaknya kita memulai belajar sejak kecil. Ucapkan doa sebelum belajar di sekolah, di rumah maupun di mana saja saat kita melakukannya.

    Apalagi belajar bukanlah hal yang dilarang atau berbayar. Teknologi digital, juga memungkinkan kita belajar dari berbagai sumber tidak hanya dari buku cetak saja. Bukan hanya belajar dari buku berbahasa Indonesia tapi juga bahasa lainnya.

    Ternyata, ada banyak sekali doa sebelum belajar dan setelah belajar yang bisa kita ucapkan. Apa pun doa yang dipanjatkan, harapan kita adalah materi pelajaran yang dipelajari dapat diserap dengan sempurna dan dipahami dengan baik.

  • Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid: Arab, Latin, dan Artinya

    Doa Masuk Masjid dan Keluar Masjid: Arab, Latin, dan Artinya

    Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menerapkan adab yang baik. Maka, saat mengunjungi tempat ibadah bagi umat muslim, sudah sewajarnya kita membaca doa masuk masjid.

    Pasalnya, masjid ibarat rumah Allah di bumi, yang mana menjadi tempat kita memanjatkan doa kepada-Nya. Masjid juga merupakan tempat umat muslim mengadakan berbagai kegiatan keagamaan.

    Doa Masuk Masjid

    Membaca doa termasuk dalam adab yang baik saat berkunjung ke masjid. Rasulullah SAW telah mengajarkan beberapa doa masuk masjid.

    Umat Islam dianjurkan untuk mengamalkan doa tersebut bersamaan dengan menerapkan sikap yang tepat.

    Mari simak beberapa doa masuk masjid dan keluar masjid beserta artinya berikut:

    1. Doa Masuk Masjid Pendek

    Doa masuk masjid

    Melansir dari Konsultasi Syariah, terdapat dua ketika memasuki masjid yang bacaannya pendek. Dalam doa ini, terdapat pujian pada Nabi Muhammad SAW.

    Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Sunni, Abu Daud, dan dishahihkan Al-Albani, berikut bacaannya:

    بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ

    Adapun dalam tulisan latin yaitu: Bismillahi wa shalallahu wa salamu ‘ala rasulillah

    Artinya: “Bismillah, shalawat dan salam untuk Rasulullah.”

    Sementara doa yang kedua berdasarkan hadits riwayat Muslim. Doa ini mengandung permohonan rahmat Allah SWT.

    Berikut bacaannya:

    اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

    Dalam tulisan latin, sebagai berikut: Allahummaftha lii abwaaba rahmatika.

    Artinya: “Ya Allah, bukakanlah pintu rahmatmu untukku.”

    Baca juga: Tata Cara Sholat Jamak Qasar: Niat dan Syarat Sah Melakukannya

    2. Doa Masuk dan Keluar Masjid Sesuai Sunnah

    Doa berikutnya merupakan doa yang dibaca oleh Rasulullah ketika memasuki masjid.

    Berikut bacaan doa masuk masjid Arab:

    أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

    Dalam tulisan latin bacaannya yaitu: A’ûdzu billâhil ‘azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang Mulia, dengan kekuasan-Nya yang langgeng, dari godaan setan yang terkutuk.”

    Doa tersebut memiliki keutamaan khusus. Bersumber dari hadist riwayat Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani:

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat masuk ke masjid membaca doa di atas. Kemudian Beliau bersabda:

    فَإِذَا قَالَ: ذَلِكَ قَالَ الشَّيْطَانُ: حُفِظَ مِنِّي سَائِرَ الْيَوْمِ

    Artinya: “Jika orang membaca doa ini maka setan berteriak, ‘Orang ini dilindungi dariku sepanjang hari’.”

    Sementara, ketika keluar dari masjid hendaknya kita juga membaca doa.

    Berikut bacaannya:

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

    Adapun dalam tulisan latin, bunyinya: Allaahumma innii as’aluka min fadhlika.

    Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan segala keutamaan-Mu.”

    Pengamalan doa masuk masjid dan keluar masjid merupakan ajaran dari Rasulullah SAW. Bersumber dari hadist

    Dari Abu Humaid radhiallahu’anhu atau dari Abu Usaid radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

    إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

    Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka hendaknya dia membaca, “Allahummaftahli abwaaba rahmatika” (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu). Dan apabila keluar, hendaknya dia mengucapkan, “Allahumma inni as’aluka min fadhlika (Ya Allah, aku meminta karunia-Mu)” (HR Muslim).

    Baca juga: Niat Sholat Taubat, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaannya

    Adab Masuk ke dalam Masjid

    Alangkah baiknya apabila kita mengamalkan doa masuk masjid dan artinya bersamaan dengan adab yang sesuai ajaran Islam. Apalagi, memakmurkan masjid merupakan sikap yang memiliki banyak keutamaan.

    Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

    فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَاكَانَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ واْلمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ أَحَدِكُمْ مَادَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلىَّ فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ: اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ الّلهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ

    Artinya: “Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam salat selama salat tersebut yang menahannya (di dalam masjid), dan para malaikat berdoa kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada pada tempat salatnya,

    Mereka mengatakan, “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadas,” (HR Bukhari dan Muslim).

    Adapun adab yang baik ketika pergi ke masjid meliputi:

    1. Mengenakan Pakaian yang Bersih dan Rapi

    Laki-laki muslim sebaiknya mengenakan pakaian yang bersih dan bagus saat pergi ke masjid. Selain itu, dianjurkan juga memakai wangi-wangian.

    Sedangkan kaum muslimah sebaiknya tidak memakai minyak wangi maupun berhias berlebihan. Muslimah juga hendaknya menutup aurat dengan baik.

    Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 31 yang berbunyi:

    يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا

    Artinya: “Wahai bani Adam, gunakanlah perhiasan kalian setiap kali menuju masjid, makan dan minumlah kalian…”

    2. Wudhu dari Rumah

    Melansir dari Konsultasi Syariah, banyak dalil menyebutkan bahwa berwudhu dari rumah merupakan keadaan yang sesuai dengan sunnah.

    Salah satu dalilnya yaitu hadir dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

    وما من رجل يتطهر فيحسن الطهور ثم يعمد إلى مسجد من هذه المساجد إلا كتب الله له بكل خطوة يخطوها حسنة،ويرفعه بها درجة،ويحطّ عنه بها سيئة

    Artinya: “Jika seseorang wudhu dengan sempurna, kemudian menuju masjid, maka Allah akan mencatat setiap langkahnya sebagai pahala untuknya, mengangkat derajatnya, dan menghapuskan dosanya…” (HR. Muslim).

    3. Berjalan dengan Tenang dan Berdoa

    Saat keluar dari rumah, pastikan untuk memakai alas kaki yang bersih. Selain itu, gunakan alas kaki mulai dari kaki sebelah kanan.

    Selanjutnya, meski perlu bersegera berangkat saat mendengar iqamah, kita sebaiknya berjalan ke masjid dengan tenang.

    Selama perjalanan, kita bisa membaca doa menuju masjid sebagaimana ajaran Rasulullah. 

    Melansir dari halaman Muslim, terdapat dua doa yang bisa kita amalkan, yaitu doa keluar rumah dan doa menuju masjid.

    Berikut bacaan doa saat keluar rumah:

    بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

    Dalam tulisan latin bacaannya sebagai berikut:

    Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah

    Artinya:

    “Dengan menyebut nama Allah aku bertawakal kepada-Nya, tidak ada daya dan upaya selain dari Allah semata.” (HR. Tirmidzi no. 3426 dan Abu Dawud no. 5095).

    Selanjutnya, kita sebaiknya membaca doa berikut ketika berjalan menuju ke masjid:

    اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا

    Artinya:

    “Yaa Allah… berilah cahaya di hatiku, di penglihatanku dan di pendengaranku, berilah cahaya di sisi kananku dan di sisi kiriku, berilah cahaya di atasku, di bawahku, di depanku dan di belakangku, Yaa Allah berilah aku cahaya” (HR. Bukhari no. 6316 dan Muslim no. 763).

    4. Melepaskan Alas Kaki

    Setelah sampai di masjid, sebaiknya kita melepaskan alas kaki dengan mendahulukan kaki kiri. Kemudian saat masuk ke masjid, dahulukan kaki kanan.

    Adab tersebut sesuai dengan sunah yang berlandaskan hadis riwayat Ibn Majah yang dishahihkan Al-Albani.

    Rasulullah SAW bersabda:

    إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيُمْنَى، وَإِذَا خَلَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالْيُسْرَى

    Artinya:“Apabila kalian memakai sandal, mulailah dengan kaki kanan, dan jika melepas, mulailah dengan kaki kiri.”

    Selain menerapkan sunnah, sebaiknya kita juga membaca doa ketika memasuki masjid.

    5. Shalat Tahiyatul Masjid

    Terdapat anjuran setelah masuk ke bagian masjid, yaitu melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Adapun pelaksanaan shalat ini hukumnya sunnah. Jadi, kita bisa melaksanakan apabila masih memungkinkan.

    Satu lagi anjuran saat hendak melaksanakan shalat, yaitu mendekat atau menghadap ke sutrah (dinding, tiang, atau benda lain).

    6. Menjaga Sikap yang Baik

    Islam menganjurkan umat muslim untuk menjaga sikap baik. Terlebih lagi, saat kita berada di masjid.

    Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk menghindari berperilaku tidak sopan, seperti membuat suara tinggi atau keras, duduk dengan posisi yang tidak sopan, ataupun berkata kasar.

    Waktu menunggu shalat sebaiknya kita isi dengan berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT.

    Itulah doa masuk masjid serta adab yang tepat saat ke masjid. Beberapa ulama menyarankan untuk mengamalkan semua doa saat menuju dan masuk masjid. Namun, jika terlalu berat untuk menghafalkannya, kita bisa membaca salah satu.

  • Arti Fii Amanillah dan Cara Menjawab Ucapannya

    Arti Fii Amanillah dan Cara Menjawab Ucapannya

    Sama seperti basmalah, fii amanillah merupakan bagian dari bahasa arab. Kata ini mungkin tidak diucapkan sesering basmalah, insyaAllah maupun MasyaAllah. Tidak heran jika banyak yang bertanya-tanya, fii amanillah artinya apa?

    Kapan waktu yang tepat mengucapkan kata tersebut? Apa makna dari kata fii amanillah sehingga harus diucapkan oleh seorang muslim?

    Berbagai pertanyaan tersebut, dapat kita ketahui jawabannya dengan membaca artikel berikut. Ketika mengetahui arti dan maknanya, tentunya kita tidak akan ragu untuk mengucapkan fii amanillah di kesempatan yang tepat.

    Fii Amanillah Artinya Apa?

    Fii Amanillah Artinya Apa?

    Islam mengajarkan kita banyak hal. Tentang kehidupan, tentang cinta, tentang persaudaraan dan sebagainya. Dan sejak kecil, orang tua telah membekali kita dengan pelajaran agama.

    Seiring bertambahnya usia, pengetahuan mengenai agama pun semakin bertambah begitu pula pengenalan kata-kata berbahasa arab yang seringkali diucapkan. Kita tidak lagi hanya mengenai assalamualaikum atau astagfirullah saja.

    Karena faktanya, ada banyak kata dalam bahasa arab lainnya yang turut memiliki pengertian positif. Bahkan jika diucapkan bisa menjadi doa yang jauh lebih baik daripada kita mengucapkan kata yang sama dalam bahasa indonesia.

    Fii amanillah atau dalam bahasa arab ditulis

    في أمان الله

    Fii Amanillah

    Artinya: ’’Semoga Engkau dalam lindungan Allah.’’ 

    Dilihat dari terjemahannya, sudahkah kita mengetahui dalam konteks apa fii amanillah diungkapkan seorang muslim?

    Lalu, apakah fii amanillah untuk perempuan dan laki-laki itu berbeda pengertian dan pengucapannya? Jika kita menerima ungkapan tersebut dari seorang muslim, apa baiknya respon yang diberikan?

    Baca juga: 2 Doa Sebelum Tidur dan Amalan Sunnah Nabi Muhammad SAW (Panjang & Pendek)

    Cara Menjawab Fii Amanillah

    Tidak berbeda dengan assalamualaikum yang berpasangan dengan waalaikumsalam sebagai jawaban atas pertanyaannya.

    Fii amanillah pun demikian. Terlepas, apakah itu fii amanillah untuk laki-laki atau perempuan, jawabannya tetap sama.

    Ada pun jawaban terbaik yang harus kita berikan adalah:

    مَعَ السّلَامَةِ

    Latin: Ma’assalamah

    Artinya: ’’Semoga keselamatan selalu menyertaimu.’’

    Ucapan ini secara tidak langsung membuat kita juga mendoakan muslim yang telah mengucapkan fii amanillah. Saling mendoakan akan memberikan manfaat positif pada kedua belah pihak.

    Jikalau kita sudah mengetahui fii amanillah artinya apa, berikut ucapan balasan yang tepat, maka jangan ragu untuk mengalamkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Meski demikian, kita tidak bisa mengucapkan fii amanillah secara sembarangan. Kata ini hanya bisa diungkapkan di waktu-waktu tertentu. Ibaratnya, seperti assalamualaikum yang seringkali diucapkan seseorang ketika mengawali sesuatu.

    Yang dimaksud mengawali sesuatu seperti ketika sedang menyampaikan pidato atau ceramah. Assalamualaikum juga biasa diungkapkan ketika kita sampai di suatu tempat dan ingin masuk ke dalam ruangan.

    Tapi, sebelum membahas lebih lanjut kapan waktu terbaik mengucapkan fii amanillah untuk orang banyak. Baiknya kita ketahui lebih dahulu makna dari kata berbahasa arab tersebut.

    Makna Fii Amanillah

    Fii amanillah merupakan kata positif yang bisa diucapkan oleh siapa saja entah itu laki-laki maupun perempuan. Agar pemahaman kita tentang kata tersebut sebagai mendalam, yuk ketahui apa saja maknanya.

    1. Mendoakan Keselamatan Orang Lain

    Bahaya bisa datang dan menimpa siapa saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Demi terhindar dari bala atau musibah, sebagai muslim kita seringkali berdoa sebelum melakukan sesuatu.

    Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memanjatkan doa pada Allah. Ada yang suka berdoa singkat saja yang penting sesuai dengan tujuannya. Namun, ada pula yang lebih suka berdoa panjang, membicarakan segalanya.

    Sebagai seorang muslim, alangkah baiknya jika kita tidak hanya mendoakan diri sendiri. Biasakanlah untuk turut mendoakan orang lain termasuk mendoakan keselamatan sesama muslim.

    Bagaimana caranya? Kita hanya perlu mengucapkan fii amanillah atau fii amanillah wa barakallahu fiikum. Kata yang kita ucapkan tersebut secara tidak langsung telah membantu mendoakan sesama agar selalu selamat.

    Hidup yang selamat merupakan harta yang sangat berharga. Mengapa demikian? Karena faktanya, masih banyak orang di Indonesia yang meninggal karena kecelakaan entah itu kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja.

    Baca juga: Doa Ketika Ada Petir Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya (Shahih)

    2. Ungkapan Cinta Kasih terhadap Sesama

    Mengucapkan I love you atau aku cinta kamu mungkin menjadi tanda cinta kasih seseorang, tapi sayangnya tidak bisa digunakan secara universal. Tidak mungkin kita mengucapkan aku cinta kamu pada tetangga, bukan?

    Selain tidak pada tempatnya, kata tersebut juga sifatnya terlalu intim dan hanya cocok diucapkan pada pasangan. Lalu, bagaimana ucapkan cinta kasih yang paling sesuai untuk sesama menurut Islam?

    Tidak lain adalah mengucapkan fii amanillah. Terlebih, kita sudah tahu fii amanillah artinya apa. Sehingga, tidak perlu khawatir apa yang diucapkan tidak pada tempatnya atau terkesan aneh untuk orang lain.

    Saudara muslim kita justru akan senang jika mendengar kata fii amanillah diucapkan untuknya. Siapa pun yang paham dengan artinya, pasti merasa berterima kasih dan bahagia karena kita telah mengungkapan cinta kasih antar sesama muslim.

    Hal seperti ini tentunya jauh lebih baik dan normal diucapkan daripada aku cinta kamu, bukan?

    3. Kepedulian terhadap Sesama

    Sejauh kita menjalani kehidupan ini, apakah rasa kepedulian antar sesama semakin terpupuk atau justru terkikis? Peduli terhadap sesama bisa diwujudkan dengan berbagai kegiatan.

    Secara materi, kita bisa menunjukkan kepedulian dengan memberikan sedekah atau santunan pada muslim yang membutuhkan. Kepedulian non materil bisa diwujudkan melalui perhatian yang diberikan.

    Contohnya, saat teman muslim kita sakit, kita tidak hanya mendoakannya lekas sembuh tapi juga menengoknya. Atau saat teman muslim kita tertimpa musibah, kita bisa memberikan support agar bisa bangkit kembali.

    Menariknya, rasa kepedulian juga bisa tercipta ketika kita mengucapkan fii amanillah pada sesama muslim. Tentunya, akan lebih baik lagi jika ucapan tersebut dilakukan setulus hati bukan hanya di bibir saja.

    Waktu Terbaik Ucapkan Fii Amanillah

    Dari penjelasan sebelumnya, kita telah memahami fii amanillah ma’assalamah artinya apa. Untuk menutup artikel ini, mari kita bersama-sama menyimak kapan saja waktu terbaik mengucapkan fii amanillah.

    1. Sebelum Melakukan Perjalanan

    Sebagaimana makna fii amanillah yang mendoakan keselamatan. Kita bisa mengucapkan kata ini sebelum sesama muslim melakukan perjalanan. Terlepas dari alat transportasi yang digunakannya.

    Misalnya, kita mengetahui ada saudara muslim yang hendak terbang ke luar kota atau luar negeri. Maka, ucapkanlah fii amanillah demi mendoakan keselamatannya selama perjalanan hingga sampai di tujuan.

    Ucapan ini jauh lebih baik daripada mengatakan sampai jumpa lagi atau selamat jalan. Pengucapan fii amanillah untuk diri sendiri juga sangatlah mudah. 

    Apalagi sejak kecil, orang tua kita telah membekali kita dengan pelajaran tajwid dan membaca Al Qur’an.

    2. Sebelum Menutup Hari

    Waktu terbaik lainnya untuk mengucapkan fii amanillah adalah sebelum menutup hari yakni di malam hari. Maka, alangkah baiknya jika kita mengucapkan fii amanillah pada sesama muslim daripada mengatakan good night atau selamat tidur.

    Baik, kata good night, selamat tidur maupun fii amanillah, ketiganya merupakan kata sederhana nan simpel. Jadi, jika makna fii amanillah jauh lebih positif mengapa tidak beralih dan mulai membiasakan diri.

    3. Sebelum Berpamitan dengan Orang Lain

    See you, good bye, sampai ketemu besok, dan sebagainya merupakan kata-kata pamitan yang biasa dikatakan ketika kita bertemu seseorang atau teman lama.

    Namun sesuai fii amanillah artinya ’’Semoga Engkau dalam lindungan Allah.’’ Mengatakan kata berbahasa arab ini tentu saja jauh lebih baik dan bermakna. 

    Muslim yang mendengarnya juga secara otomatis akan mengucapkan Ma’assalamah.

    4. Sebelum Berperang

    Seiring peradaban yang semakin berkembang, manusia sudah berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Sayangnya, perang masih terjadi terutama di beberapa negara yang merebutkan wilayah.

    Untuk sesama muslim kita bisa mengucapkan fii amanillah sebelum mereka pergi berperang. Ucapan ini bukan hanya ungkapan kepedulian kita tapi juga pengharapan kita akan keselamatan mereka.

    Berharap jika semua muslim yang saat ini masih menderita karena berperang selalu terhindar dari bahaya. Semoga peperangan juga bisa segera berakhir dan semua negara dapat hidup dengan nyaman tanpa penderitaan.

    Bagaimana? Sudah memahami dengan baik fii amanillah artinya apa? Lengkap dengan cara menjawab jika mendengar seorang muslim mengucapkan fii amanillah.

    Semakin sering mengucapkan fii amanillah antar sesama muslim, maka semakin familiar juga kata ini di telinga. Jadi, sudahkah kita bersiap untuk mengucapkan fii amanillah tentunya dengan tulus hati dan cinta kasih?

  • Hukum Jimat dalam Islam yang Wajib Diketahui, Musyrik

    Hukum Jimat dalam Islam yang Wajib Diketahui, Musyrik

    Apa hukum jimat dalam Islam? Apakah manusia boleh membuat dan menggunakannya? 

    Sebagaimana yang kita ketahui, jimat adalah suatu benda yang diberi mantra, doa, rajah (simbol) atau tulisan tertentu yang diyakini mempunyai kekuatan tertentu.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jimat adalah barang (tulisan) yang dianggap mempunyai kesaktian dan bisa melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkal penyakit dan sebagainya. 

    Jimat bisa dalam bentuk kalung, cincin, kain, atau lainnya.

    Tujuan Penggunaan Jimat

    Adapun beberapa tujuan orang memakai jimat atau rajah dalam kehidupan mereka sehari-hari yaitu :

    1. Menyembuhkan Penyakit Tertentu

    Sebagian orang percaya jika penyakit-penyakit tertentu bisa disembuhkan hanya dengan jimat yang sudah mengandung mantra. 

    Biasanya orang yang menderita penyakit karena hal-hal gaib ada yang memilih melakukan pengobatan dengan cara ini.

    Baca juga: 8 Cara Bersyukur Kepada Allah SWT, Muslim Wajib Tau!

    2. Menambah Kecantikan atau Ketampanan

    Ada orang yang percaya bahwa jimat ini bisa membuat wajah lebih cantik atau lebih tampan. Mereka ingin menjadi pusat perhatian atau mendapatkan cinta dari orang yang dicintainya.

    Dengan memiliki wajah yang cantik atau tampan, lebih besar peluang mendapatkan cinta dari pujaan hati.

    3. Melariskan Usaha

    Sudah bukan rahasia umum lagi jika di Indonesia cukup banyak rumah makan yang menggunakan jimat-jimat tertentu untuk melariskan usahanya. Pemilik warung tersebut tidak ingin rugi dan dagangannya laku terjual.

    Mereka lebih memilih meminta bantuan kepada jin atau syaiton, bukan kepada Allah SWT. Akan tetapi, orang awam biasanya tidak akan mengetahui aktivitas ini.

    4. Menolak Bala

    Tolak bala adalah suatu ritual untuk melindungi diri dari bahaya-bahaya tertentu. Jimat menjadi salah satu benda atau perantara yang dipercaya bisa melindungi manusia dari segala mara bahaya.

    Orang-orang melakukan aktivitas tolak bala juga untuk menghindarkan diri dari musibah sehingga hidup menjadi lebih tenang. Selain itu, orang yang memakai jimat ingin terlindungi dari serangan musuh atau kompetitor yang iri terhadapnya.

    Baca juga: Jelaskan Perbedaan Rukun dan Wajib Haji? Yuk Simak

    Apa Hukum Jimat dalam Islam?

    Para ulama bersepakat bahwa penggunaan jimat itu hukumnya haram. Bahkan seseorang yang memakainya dianggap telah melakukan musyrik.

    Musyrik adalah orang-orang yang menyekutukan Allah. Mereka menyembah atau meminta pertolongan kepada selain Allah SWT. 

    Karena pada dasarnya jimat itu bukanlah barang milik Allah dan Allah tidak pernah memerintahkan manusia menggunakan jimat.

    Syirik adalah dosa yang sangat besar, bahkan dosa ini tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an Surah An Nisa ayat 48 berbunyi:

    اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

    Innallâha lâ yaghfiru ay yusyraka bihî wa yaghfiru mâ dûna dzâlika limay yasyâ’, wa may yusyrik billâhi fa qadiftarâ itsman ‘adhîmâ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.”

    Bukan benda, jin, atau jimat yang bisa mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat, melainkan Allah SWT. Di dalam Al Qur’an Surah Az Zumar ayat 38 Allah berfirman:

    وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُۗ قُلْ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ اَرَادَنِيَ اللّٰهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كٰشِفٰتُ ضُرِّهٖٓ اَوْ اَرَادَنِيْ بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكٰتُ رَحْمَتِهٖۗ قُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُۗ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُوْنَ

    Wa la’in sa’altahum man khalaqas-samâwâti wal-ardla layaqûlunnallâh, qul a fa ra’aitum mâ tad‘ûna min dûnillâhi in arâdaniyallâhu bidlurrin hal hunna kâsyifâtu dlurrihî au arâdanî biraḫmatin hal hunna mumsikâtu raḫmatih, qul ḫasbiyallâh, ‘alaihi yatawakkalul-mutawakkilûn

    Artinya:

    “Sungguh, jika engkau (Nabi Muhammad) bertanya kepada mereka (kaum musyrik Mekkah) siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Kalau begitu, tahukah kamu tentang apa yang kamu sembah selain Allah jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka (sesembahan itu) mampu menghilangkan bencana itu atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah (sebagai pelindung) bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri.”

    Tidak sekedar itu saja, Allah SWT juga menganggap orang yang melakukan perbuatan syirik adalah orang-orang yang tersesat. Hal ini sangat tegas diterangkan di dalam Surah An Nisa ayat 116 yang berbunyi:

    اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا

    Innallâha lâ yaghfiru ay yusyraka bihî wa yaghfiru mâ dûna dzâlika limay yasyâ’, wa may yusyrik billâhi fa qad dlalla dlalâlam ba‘îdâ

    Artinya:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh.”

    Hadits yang Menjelaskan Tentang Jimat

    Tidak hanya ada di dalam Al-Qur’an saja, penjelasan dan hukum memakai jimat juga ada di beberapa hadits Rasulullah SAW yaitu:

    عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا، قَالَ: إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً، فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ، وَقَالَ: مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ. )رواه أحمد)

    Artinya:

    “Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir al-Juhani bahwa ada beberapa orang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau membaiat sembilan orang dan enggan membaiat satu orang. Maka para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, engkau membaiat sembilan dan meninggalkan yang satu ini.” Beliau bersabda: “Sungguh dia mempunyai jimat”, beliau memasukkan tangannya lalu memotong jimat tersebut dan bersabda: “Barangsiapa menggantungkan jimat maka ia telah syirik”. (HR. Ahmad).

    عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ. )رواه أبو داود)

    Artinya: 

    “Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ruqyah (yang tidak syar’i), jimat, dan pelet itu syirik”. (HR. Abu Dawud).

    Rasulullah SAW juga memberikan peringatan terkait hal ini. Di dalam suatu hadits disebutkan:

    إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

    Artinya:

    “Sesungguhnya ruqyah (pengobatan dengan doa), jimat dan tiwalah (sejenis susuk daya pikat) adalah perbuatan yang menyebabkan syirik.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Abu Ya’la).

    Dalam Madzhab tertentu, memang diperbolehkan memakai jimat, itu pun dengan syarat yaitu harus bersumber dari Al-Qur’an. Di dalam jimat tersebut tidak boleh mengandung mantra-mantra tertentu apalagi ada jin di dalamnya.

    Meskipun demikian, lebih banyak ulama yang berpendapat bahwa hukum jimat dalam Islam itu haram dan termasuk ke dalam perbuatan syirik. Jadi, sebaiknya hindari saja ya.

    Allah SWT itu maha penolong, lebih baik memohon pertolongan kepada-Nya. Insyaallah permohonan kita akan dikabulkan.