Blog

  • Kontravensi Adalah: Pengertian, Penyebab, dan 4 Contohnya

    Kontravensi Adalah: Pengertian, Penyebab, dan 4 Contohnya

    Sejak awal sejarah manusia hingga saat ini, kata ini telah menjadi elemen yang tidak terpisahkan. Arti kontravensi adalah perselisihan atau konflik yang bisa terjadi dalam banyak konteks. Meliputi politik, agama, ilmu pengetahuan, dan budaya. Yuk, mengenal definisi, penyebabnya, dampaknya, dan cara mengatasinya di sini!

    Kontravensi Adalah?

    Kontravensi merupakan proses sosial yang terjadi antara persaingan dan pertentangan. Kata ini muncul dengan adanya ketidaksadaran, keraguan, penolakan, dan penyangkalan yang tidak terungkap sepenuhnya. Bahkan bisa ditandai dengan kontak fisik berupa kekerasan.

    Leopold von Wiese dan Howard Becker mendefinisikan istilah tersebut sebagai sikap sosial yang timbul dari perasaan tidak percaya pada diri seseorang atau kelompok. Kemudian, dengan mengabaikan kepentingan perdamaian, pola pikir tersebut menjadi pedoman dalam melakukan proses pemberontakan.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontravensi adalah bentuk negosiasi dan persuasi yang muncul dengan ekspresi ketidakpuasan pada kehidupan pribadi. Serta sikap negatif yang tersembunyi terhadap kepribadian seseorang.

    Selain itu, kontravensi merupakan fenomena sosial yang terjadi antara persaingan dan konflik, serta merupakan komponen interaksi sosial. Pandangan, keyakinan, niat, dan gagasan yang seseorang atau kelompok kemukakan berpotensi menjadi sasaran kontravensi.

    Bentuk Kontravensi

    Menurut Leopold des Wiese dan Howard Becker, terdapat beberapa bentuk kontravensi yang terdiri dari 5 poin. Berikut adalah uraiannya:

    • Pertama adalah bentuk umum yang meliputi berbagai tindakan. Contohnya seperti penolakan, ketidaksukaan, konfrontasi, penghalangan, protes, kekerasan, dan perilaku yang melemahkan agenda pihak lain.
    • Kontravensi sederhana adalah salah satu hal yang terjadi dalam lingkup komunitas kecil. Karena hal ini terjadi antar manusia atau antar kelompok sosial, maka dampaknya cenderung tidak luas. Contohnya adalah mengumpat dan fitnah.
    • Jenis selanjutnya dari kontravensi adalah intensif. Ini akan terjadi secara terus menerus dan bisa memberi dampak psikologis. Contohnya bisa mencakup hasutan pada seseorang, menyebarkan desas atau desus, atau menyebabkan orang lain merasa kecewa.
    • Selanjutnya adalah berbentuk rahasia. Jadi, pelaksanaannya terjadi secara sembunyi-sembunyi. Pengkhianatan dan pengungkapan rahasia orang lain adalah dua contohnya.
    • Bentuk kontravensi kelima, yaitu taktis yang sulit dihilangkan. Ini akan membuat lawan merasa kaget, takut, atau pusing. Contohnya adalah provokasi, mengejutkan lawan, dan ancaman.

    Dampak Kontravensi

    Dalam hal ini ada beberapa dampak yang timbul. Baik itu positif maupun negatif. Penjelasan mengenai dampak kontravensi adalah sebagai berikut:

    Dampak Positif

    Dampak positif adanya kontravensi biasanya akan memotivasi terjaganya tatanan sosial masyarakat. Berikut di antaranya:

    1. Sudut pandang yang berbeda biasanya dapat menyoroti kekurangan suatu pendapat dalam diskusi ilmiah dan seminar tentang topik tertentu. Hal tersebut memungkinkan adanya perspektif atau pilihan lebih banyak.
    2. Memberikan rasa solidaritas yang kuat. Kondisi seperti ini akan muncul dalam sebuah kelompok jika persatuan tercapai melalui kontravensi secara kelompok.
    3. Timbul rasa memiliki. Dampak ini muncul karena konflik perilaku yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok dan secara halus memengaruhi cara mereka memilih atau menghormati budaya dan lingkungan tertentu.
    4. Kehadiran kontravensi bisa menimbulkan kekuatan untuk mengubah kebijakan. Ini merupakan salah satu cara kontroversi dapat memacu perubahan sosial.

    Dampak Negatif

    Beberapa dampak buruk atau negatif dari kontravensi adalah sebagai berikut:

    1. Proses mobilitas sosial akan terhambat karena adanya hal. Sebab, hal ini merupakan proses krusial dalam upaya memberikan dorongan bagi kemajuan untuk menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat.
    2. Memberikan rasa ketidakpercayaan dalam masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat seringkali menimbulkan rasa ketidakpercayaan terhadap kehidupan bermasyarakat itu sendiri. Hal tersebut terjadi akibat adanya kecurigaan masyarakat yang terjadi karena perselisihan.
    3. Mendorong berkembangnya konflik sosial atau mendorong berkembangnya jenis konflik sosial lain. Pada akhirnya keadaan tersebut menimbulkan perselisihan dan pertikaian dalam kehidupan bermasyarakat.

    Penyebab Kontravensi

    Ada beberapa penyebab terjadinya perselisihan. Beberapa penyebab kontravensi adalah sebagai berikut:

    1. Perbedaan Nilai dan Keyakinan

    Kontravensi sering kali terjadi karena adanya perbedaan nilai dan keyakinan seseorang atau sebuah kelompok. Kamu bisa melihat sendiri bagaimana perbedaan dalam agama bisa menimbulkan perdebatan sengit dan berujung konflik.

    2. Inovasi dan Transformasi Sosial

    Kontravensi antara pendukung dan penentang transformasi atau inovasi sosial dapat terjadi ketika inovasi tersebut mulai diterapkan atau terlaksana. Misalnya adalah kebijakan baru dalam sebuah desa yang baru saja diterapkan. Kemungkinan akan ada kubu penerima dan penolak yang akan saling berselisih.

    3. Persaingan dan Kepentingan

    Kontravensi adalah hal yang terjadi akibat dari persaingan memperebutkan sumber daya atau kekuasaan. Umumnya, perbedaan kepentingan dapat menimbulkan perselisihan politik atau ekonomi dalam skala nasional atau internasional.

    Sedangkan secara individu, hal ini dapat terwujud dalam bentuk persaingan di sekolah, tempat kerja, atau dalam interaksi interpersonal.

    4. Perbedaan Budaya dan Identitas Pribadi

    Prasangka, ketidakadilan, dan diskriminasi seringkali terjadi karena adanya perbedaan budaya, bahasa, atau identitas. Multikulturalisme dan imigrasi adalah dua topik lagi yang dapat menimbulkan ketegangan antar budaya.

    Contoh Kontravensi

    Kontravensi sosial bisa terjadi dalam semua jenis lingkungan. Agar bisa lebih memahaminya, berikut beberapa contohnya:

    1. Tetangga

    Ilustrasi Fitnah
    Ilustrasi Fitnah | Sumber Gambar: Psychalive

    Secara sengaja atau tidak, kontravensi terhadap hukum sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tetangga mungkin bergaul dengan menyebarkan informasi palsu, yang sebutannya juga sebagai kontravensi intensif. Contoh lain adalah warga yang tidak menyukai Ketua RT.

    Alasan terjadinya hal tersebut bisa karena perbedaan posisi yang merupakan panutan suatu kelompok tertentu dalam suatu komunitas atau bahkan antar masyarakat. Jika tidak ada arahan yang baik selama perselisihan ini, maka konflik sosial akan meningkat.

    2. Lingkungan Sekolah

    Ilustrasi Perdebatan Siswa
    Ilustrasi Perdebatan Siswa | Sumber Gambar: Pittsburgh Post-Gazette

    Kontravensi adalah peristiwa yang juga bisa terjadi di lembaga pendidikan. Misalnya, seorang anak yang berkhianat dan menyebarkan rahasia dari temannya sendiri. Contoh lainnya adalah perselisihan pendapat yang muncul ketika kedua siswa mengerjakan tugas diskusi. 

    Meski ada yang berdampak negatif, kontravensi di sekolah bisa memberi dampak baik. Misalnya percakapan atau diskusi antara dua orang siswa yang akan menghasilkan perbedaan cukup signifikan, namun cakupan intervensinya tergolong positif. Ini karena perbedaan pendapat bisa merangsang rasa percaya diri siswa.

    3. Keluarga

    Ilustrasi Perselisihan Keluarga
    Ilustrasi Perselisihan Keluarga | Sumber Gambar: onlineresize

    Berikutnya merupakan perselisihan yang terjadi di dalam keluarga. Contohnya, terjadi ketika anak berselisih pendapat dengan orang tua tentang masalah pendidikan. Serta pertengkaran antara suami dan istri karena masalah keuangan.

    4. Dalam Agama

    Ilustrasi Bulan Syawal
    Ilustrasi Bulan Syawal | Sumber Gambar: Nusa Daily

    Contoh terakhir berkaitan dengan agama. Misalnya, ada suatu peristiwa yang menentukan kapan hari raya Idul Fitri dirayakan. Keputusan akhirnya diambil pada bulan Syawal, di mana banyak rekan muslim sangat menantikan hasilnya. Namun, hal ini dapat menimbulkan perbedaan pendapat dan pandangan antar umat.

    Cara Mengelola Kontravensi 

    Sebagai cara untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak baiknya, pengelolaan kontravensi secara konstruktif sangatlah penting. Beberapa cara mengelola kontravensi adalah sebagai berikut:

    1. Diskusi Terbuka

    Membangun jalur komunikasi yang jujur ​​dan transparan akan meredakan ketegangan. Hal tersebut juga akan memberikan ruang untuk percakapan dan diskusi yang lebih mendalam.

    2. Berpikir Kritis

    Menggunakan pendekatan pikir yang kritis akan memfasilitasi penilaian terhadap klaim dan informasi yang sudah ada sebelumnya. Pada akhirnya, ini akan mendorong dialog yang lebih produktif dan efisien.

    3. Menemukan Titik Persamaan

    Cara keempat mengelola kontravensi adalah menentukan titik-titik persamaan atau tujuan bersama. Di mana hal tersebut akan menjadi landasan kolaborasi. Tanpa tujuan tentu tidak akan ada arahan yang membuat individu atau kelompok bisa saling mempercayai. 

    4. Empati

    Berempati dengan orang lain dan berusaha memahami sudut pandang mereka dapat mengurangi konflik. Hal tersebut akan menumbuhkan komunikasi yang saling menghargai dan menghormati.

    5. Keterbukaan Terhadap Pembelajaran

    Bersikap terbuka dalam suatu diskusi sangatlah penting. Lewat hal tersebut akan lebih mudah untuk kamu menyesuaikan pendapat ketika menghadapi bukti atau argumen yang meyakinkan. Hal tersebut juga mampu memperdalam pemahaman dan pengetahuan.

    Baca Juga : Opini Publik Adalah: Jenis, Contoh, dan Perannya dalam Kehidupan

    Sudah Memahami Apa itu Kontravensi?

    Intinya, kontravensi bukan hal yang selalu memberi dampak negatif dalam banyak kasus. Ini akan tergantung dari bagaimana individu akan merespon. Secara sederhana, kontravensi adalah hasil dari perbedaan pendapat dan pandangan yang dapat memicu pertumbuhan, perubahan, dan pemahaman lebih baik.

    Namun, ini juga bisa menjadi sumber konflik dan perpecahan jika pengelolaannya tidak dengan bijak. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang akar penyebab, dampak, dan contohnya cukup penting. 

    Selain itu, dengan membangun jembatan pemahaman, kamu dapat bergerak maju menuju masyarakat yang lebih inklusif, beragam, dan pemikiran yang lebih kritis. Bahkan menyadari adanya perbedaaan juga bisa membuatmu lebih mencintai dan menghargai identitas diri. Semoga bermanfaat!

  • 10 Permainan Tradisional Indonesia Seru & Cara Bermainnya

    10 Permainan Tradisional Indonesia Seru & Cara Bermainnya

    Rindu dengan permainan tradisional Indonesia yang sering kamu lakukan dulu? Selain tarian dan musik daerah, nusantara juga memiliki warisan budaya lain, yaitu berupa aneka permainan tradisional. Masih ingat apa saja?

    10 Permainan Tradisional Indonesia dan Cara Permainannya

    Sekarang ini, sudah jarang anak-anak yang menghabiskan waktu dengan permainan tradisional karena lebih memilih gawai. Padahal, permainan tradisional Indonesia berikut tidak kalah seru dan menyenangkan, antara lain:

    1. Bola Bekel

    Permainan Bola Bekel
    Permainan Bola Bekel | Sumber Gambar: ibudanbalita

    Permainan bola bekel tergolong tidak menguras tenaga karena dilakukan sambil duduk. Meskipun demikian, memainkan gim satu ini membutuhkan ketangkasan dan konsentrasi tinggi. Jika lambat atau tidak fokus, sudah pasti akan kalah telak.

    Cara memainkan bola bekel:

    • Duduk melingkar dengan jumlah pemain minimal dua orang.
    • Siapkan bola dan enam pion bekel utama.
    • Lakukan suit untuk menentukan siapa pemain pertama.
    • Pemain melemparkan bola bekel dengan cara memantulkan ke lantai.
    • Sebelum bola tersebut kembali menyentuh lantai, pemain harus mengambil satu pion bekel kemudian menangkap bola. Langkah ini diulangi sampai jumlah pion habis.
    • Jika berhasil, lanjutkan ke level berikutnya dengan menambah jumlah pion yang harus ditangkap dalam sekali lemparan bola.

    2. Lompat Tali

    Lompat Tali
    Lompat Tali | Sumber Gambar: Direktori Kebudayaan Kabupaten Bantul

    Permainan tradisional Indonesia selanjutnya adalah lompat tali yang terbuat dari karet gelang. Permainan ini menekankan ketangkasan, stamina, dan keseimbangan dari para pemainnya – meskipun bisa juga dimainkan seorang diri.

    Cara memainkan lompat tali:

    • Buat tali dengan menautkan karet gelang satu dengan yang lain sampai memiliki panjang minimal satu meter.
    • Jika memainkannya sendiri, tinggal memegangi masing-masing ujung tali karet gelang tersebut dan mulai melompat.
    • Bila memainkannya dengan orang lain, membutuhkan minimal tiga orang.
    • Dua orang berdiri sambil memegang ujung kanan dan ujung kiri tali dan mengayunkan. Kemudian, satu orang lagi mulai melompat.
    • Aturannya, jika kaki sampai tersendat oleh tali, maka pemain tersebut kalah.

    3. Kelereng

    Kelereng
    Kelereng | Sumber Gambar: Kumparan

    Memiliki nama lain gundu, permainan satu ini bisa melatih fokus dan sangat kompetitif, karena jika menang bisa mendapatkan kelereng dari yang kalah. Meskipun lebih identik dengan anak laki-laki, tidak jarang anak perempuan pun ikut bermain.

    Cara memainkan kelereng:

    • Buat sebuah lingkaran dengan diameter kurang lebih 30 cm – bisa lebih kecil tergantung pada jumlah pemain yang ikut.
    • Letakkan kelereng semua pemain di tengah lingkaran, sisakan satu untuk masing-masing pemain untuk membidik.
    • Pemain harus membidik kelereng lawan dalam lingkaran sampai keluar, maka kelereng tersebut akan menjadi miliknya.
    • Namun, pemain hanya dinyatakan menang jika kelereng yang dipakai untuk membidik juga keluar keluar dari lingkaran. Bila berhenti dalam lingkaran, maka dinyatakan kalah.

    4. Congklak

    Congklak
    Congklak | Sumber Gambar: Kumparan

    Daftar permainan tradisional Indonesia yang sangat seru berikutnya adalah congklak. Permainan ini menekankan pada kepandaian berstrategi dan ketelitian, serta lebih identik dengan anak perempuan. Namun tidak sedikit anak laki-laki yang turut memainkannya.

    Cara memainkan congklak:

    • Siapkan peralatan permainan congklak, yaitu papan berlubang sejumlah 14. Nantinya akan ada sisi 7 buah lubang (untuk pemain) dan dua lubang besar untuk menyimpan biji atau batu congklak.
    • Gunakan biji-bijian berukuran sedang atau kerikil sebagai pion congklak.
    • Dua pemain congklak duduk berhadapan dan mulai mengisi masing-masing lubang dengan 4 biji atau kerikil.
    • Pemain mengambil pion di lubang pertama, kemudian menambahkannya di lubang-lubang yang lain dan berlaku seterusnya.
    • Siapa yang pionnya habis duluan berarti kalah, sedangkan yang mendapatkan banyak tambahan biji atau kerikil menang.

    5. Layang Layang

    Permainan Layang Layang
    Permainan Layang Layang | Sumber Gambar: Pexels

    Layang layang termasuk salah satu permainan yang masih relatif sering dimainkan hingga saat ini. Terutama di wilayah yang masih memiliki area lapang. Fokusnya cenderung lebih pada melatih kreativitas melalui desain layang layang yang digunakan dan kecermatan agar bisa terbang dengan baik.

    Cara memainkan layang layang:

    • Buat layang layang atau bisa membeli jadi di toko.
    • Pasangkan layang layang dengan tali dan sambungkan dengan botol atau benda lain. Ini berfungsi sebagai pegangan agar tangan tidak bersinggungan langsung dengan tali yang cukup tajam.
    • Cari tanah lapang dan pahami arah angin berembus.
    • Terbangkan layang layang sesuai dengan arah angin.
    • Tarik ulur tali agar layang layang bisa terbang dengan stabil.

    6. Ular Naga

    Ular Naga
    Ular Naga | Sumber Gambar: Good News from Indonesia

    Salah satu permainan tradisional Indonesia selanjutnya adalah ular naga. Permainan ini menekankan pada ketangkasan dan kekompakan kelompok. Umumnya, membutuhkan banyak peserta dalam jumlah genap – minimal 8 orang.

    Cara memainkan ular naga:

    • Para pemain melakukan suit sampai mendapatkan dua orang yang kalah untuk menjadi penjaga gerbang.
    • Penjaga gerbang mengambil posisi berpegangan tangan ke atas seperti terowongan.
    • Peserta lainnya berbaris ke belakang sambil memegangi pundak orang di depan.
    • Lagu ular naga dimainkan, 6 orang yang bebas berjalan layaknya kereta api melalui terowongan.
    • Ketika lagu habis, dua penjaga gerbang harus memerangkap salah satu peserta – hal ini berulang sampai peserta yang bebas habis.
    • Peserta yang tertangkap boleh memilih sisi penjaga gerbang kanan atau kiri.
    • Setelah semua peserta terperangkap, masing-masing kubu melakukan pengejaran terhadap lawan dengan berlari. Namun, semuanya harus sambil tetap berbaris dengan berpegangan ke pundak.

    7. Egrang

    Egrang
    Egrang | Sumber Gambar: Anakbisa

    Permainan yang satu ini sudah semakin jarang ditemui, padahal dulu masih sering menjadi salah satu cabang perlombaan setiap perayaan 17 Agustus. Jika ingin memenangkan egrang, peserta wajib memiliki konsentrasi dan keseimbangan yang bagus.

    Cara memainkan egrang:

    • Buat egrang dari kayu atau bambu terlebih dahulu. Dulu masih banyak yang menjual egrang, tetapi saat ini sangat sulit ditemukan sehingga lebih praktis membuat sendiri.
    • Para peserta harus bersiap terlebih dahulu di garis start.
    • Ketika peluit dibunyikan, peserta harus segera menaiki egrang dan berjalan dengan tongkat tinggi tersebut sampai garis finish.

    8. Engklek

    Engklek
    Engklek | Sumber Gambar: mkewithkids

    Kalau bicara tentang permainan tradisional Indonesia, gim yang satu ini tidak boleh absen. Engklek pada dasarnya merupakan permainan melompat di atas tanah yang bagus untuk melatih keseimbangan dan kemampuan berstrategi.

    Cara memainkan engklek:

    • Buat kotak-kotak persegi hingga membentuk huruf L atau U, tergantung jumlah pemain.
    • Cari batu kecil (lebih besar dari kerikil) sebagai gaco untuk dilemparkan ke kotak yang akan dilalui.
    • Peserta harus melemparkan gaco ke kotak pilihannya, kemudian melompat dengan satu kaki ke dalam kotak tersebut.
    • Jika kaki sampai menyentuh garis, artinya kalah.

    9. Balap Karung

    Balap Karung
    Balap Karung | Sumber Gambar: AnakBisa

    Permainan satu ini secara teori sangat mudah, tapi pada praktiknya memerlukan kecepatan dan keseimbangan yang bagus jika ingin menang. Balap karung juga masih menjadi salah satu lomba wajib saat peringatan kemerdekaan.

    Cara memainkan balap karung:

    • Cari karung yang cukup tebal dan tinggi minimal selutut anak-anak atau orang dewasa, tergantung peserta yang mengikuti perlombaan. Karung goni merupakan pilihan terbaik karena tebal dan kuat.
    • Para peserta memasukkan kedua kaki ke dalam karung masing-masing dan bersiap di garis start.
    • Ketika lomba sudah dimulai, peserta harus melompat-lompat menggunakan karung sampai ke garis finish.
    • Jika ada yang jatuh di tengah-tengah, maka tidak boleh langsung melanjutkan. Pemain harus mulai dari garis start lagi.

    10. Gobak Sodor

    Gobak Sodor
    Gobak Sodor | Sumber Gambar: Wikipedia

    Nama lain dari permainan ini adalah hadang karena memang fokusnya menghadang lawan agar tidak sampai menaklukkan benteng yang dijaga. Memenangkan permainan ini membutuhkan kecerdikan, ketangkasan, serta stamina yang kuat.

    Cara memainkan gobak sodor:

    • Bagi para peserta menjadi dua regu, minimal anggota untuk masing-masing tim adalah 6 orang, lebih ramai lebih seru.
    • Masing-masing tim harus membuat dua buah kotak. Kemudian satu kotak dibagi dengan garis horizontal, sedangkan lainnya garis vertikal.
    • Para peserta mulai mengambil posisi masing-masing.
    • Tugasnya adalah menghadang anggota tim lawan lolos dari benteng.
    • Jika anggota lawan sudah berhasil keluar benteng, maka regu tersebut keluar sebagai pemenangnya.

    Tips Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional Indonesia

    Ternyata permainan tradisional sangat beragam dan seru. Apa kamu tertarik untuk dapat menghidupkan kembali aneka permainan tradisional tersebut? Berikut cara-cara sederhana yang dapat membantu menggeliatkan minat masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus:

    1. Membatasi Penggunaan Gawai

    Gawai membuat kemampuan interaksi sosial seseorang dengan lingkungan berkurang secara drastis. Jadi, cara pertama adalah membatasi penggunaan gadget, khususnya pada anak bisa jadi cara ampuh. Tujuannya agar memiliki lebih banyak waktu luang dan mencari opsi hiburan lain dengan permainan tradisional.

    2. Rutin Menggelar Lomba Permainan Tradisional

    Tidak perlu menunggu peringatan 17 Agustus untuk menggelar lomba dengan menjadikan permainan tradisional Indonesia sebagai pilihan pertandingan. Coba saja gelar lomba antar RT atau RW kecil-kecilan setiap dua atau tiga bulan sekali pada akhir pekan.

    3. Menunjukkan Keseruan Permainan Tradisional pada Orang Terdekat

    Mulai dari lingkungan terdekat seperti anak dan keponakan untuk menyukai permainan tradisional asli Indonesia. Caranya dengan rajin menunjukkan betapa serunya permainan tersebut sehingga mereka perlahan terbiasa, kemudian tertarik hingga mencobanya.

    Baca Juga : Permainan Tradisional Adalah: Jenis, Manfaat, dan Contohnya

    Permainan Tradisional Indonesia, Warisan Budaya Tak Benda

    Jadi, apakah permainan tradisional Indonesia merupakan sesuatu yang penting diwariskan kepada generasi berikutnya? Jawabannya tentu saja, karena ragam permainan tersebut tidak akan ditemukan di negara lain dan bisa menjadi salah satu identitas serta daya tarik bangsa.

    Apalagi selain menghibur, ada banyak sekali manfaat lain dari permainan tersebut. Seperti meningkatkan kecerdikan dalam berstrategi, memperbaiki fokus dan konsentrasi, melatih keseimbangan tubuh menjadi lebih baik, dan memulihkan interaksi sosial dengan lingkungan sekitar.

    Selain itu, cara untuk menghidupkan kembali geliat permainan tradisional tidak terlalu sulit. Tentu, kamu harus memulainya dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Yuk, ikut berpartisipasi dalam menyelamatkan salah satu warisan budaya tak benda di atas!

  • Etnis: Pengertian, Konsep, Jenis, dan Contohnya

    Etnis: Pengertian, Konsep, Jenis, dan Contohnya

    Secara umum, kelompok etnik disebut sebagai golongan atau anggota manusia yang identifikasinya berdasarkan garis keturunan. Etnik juga memiliki julukan lain, yakni suku bangsa karena menggabungkan posisi diri dengan sesamanya. Ada berbagai jenis etnis, simak rangkumannya di bawah ini!

    Pengertian Etnis

    Pengertian Etnis
    Pengertian Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Seperti yang telah disinggung, etnik itu suku bangsa. Hal ini karena menjadi bukti nyata kesatuan sosial yang bisa kita bedakan. 

    Biasanya, etnik berisi unsur kebudayaan yang kuat. Selain itu, bahasa merupakan aspek utama dari budaya tersebut.

    Ada juga perspektif lain yang menganggap etnis sebagai perkumpulan manusia dengan ikatan kuat. Ikatan tersebut berasal dari kesadaran dan identitas dengan pemahaman kesatuan bangsanya.

    Dengan kata lain, penentuan etnik terjadi karena seberapa penting kesadaran kelompok. Tidak lupa juga dengan pemahaman luas tentang kesatuan, kebudayaan, dan asal-usul.

    Maka kesimpulannya, etnik merupakan sistem sosial berbentuk golongan manusia yang memiliki kepercayaan. Seperti implementasi masyarakat, keberagaman budaya, adat istiadat, norma, bahasa, latar belakang sejarah, geografis, dan hubungan kekerabatan yang tidak akan terpisah.

    Konsep Etnis

    Konsep Etnis
    Konsep Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Agar bisa melihat hubungan etnik, kamu bisa memahami kasus-kasus yang berkaitan. Khususnya untuk etnik yang jarang berkonflik maupun bertahan dalam masalah wilayah.

    Tujuannya untuk identifikasi cara-cara yang akan dihadapi kumpulan etnik. Sedangkan, tujuan utamanya untuk menghadapinya tanpa terjadi konflik tertentu. Dalam berbagai kelompok etnis, setidaknya ada ciri khas budaya yang membedakan.

    Ciri khasnya adalah unit budaya langgeng dan berbagai faktor pengaruh untuk membentuk unit budaya. Tentunya, ada juga implikasi yang berperan dalam etnik sebagai unit kebudayaan.

    Salah satunya adalah klasifikasi individu dan kelompok yang menyatakannya sebagai anggota etnik. Biasanya, berdasarkan kemampuan dan sifat budaya etnik yang diikuti.

    Budaya dengan bentuk beragam menunjukkan pengaruh ekologi, namun tidak bisa disebut bentuk penyesuaian diri. Khususnya penyesuaian terhadap lingkungan hidup etnik. 

    Akan tetapi, bentuk budaya adalah hasil penyesuaian dari para anggota etnik. Lebih tepatnya saat mereka berhadapan dengan faktor-faktor luar.

    Secara umum, suku bangsa akan menempati daerah dengan keragaman lingkungan ekologi. Sehingga mereka bisa menunjukkan perilaku sesuai tempat tinggal, namun tidak mengorientasikan nilai budaya yang sama.

    Baca Juga : Contoh Kelompok Sosial: Pengertian & Ciri-Cirinya

    Ciri-Ciri Etnis

    Ciri-ciri Etnis
    Ciri-ciri Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Sebuah etnis terbentuk karena adanya keturunan langsung yang saling berinteraksi. Melalui interaksi sejak lahir, maka kelompok etnik akan mendapatkan pengakuan atas keberadaannya.

    Adapun ciri-ciri yang merujuk ke etnik, yakni:

    1. Kehidupan secara biologi yang berkembang biak dengan pelestarian makmur.
    2. Terdapat kebudayaan dan berbagai pranata sebagai milik bersama.
    3. Tidak seperti kelompok masyarakat lain, secara umum etnik memiliki pedoman hidup yang berbeda.
    4. Keanggotaan etnik bersifat askriptif, sehingga anggota memperolehnya sejak mereka lahir. 
    5. Seseorang akan memiliki etnik secara otomatis, sebab mengikuti orang tua yang melahirkannya. Selain itu, etnik juga bisa menjadi daerah asal dan tempat tumbuh dewasa.
    6. Menggunakan bahasa tertentu yang sesuai aturan etnik.
    7. Terdapat nilai-nilai tinggi dan anggota wajib menganutnya.
    8. Memiliki wilayah domisili sebagai tempat tinggal dan kampung halamannya.

    Jenis-Jenis Etnis

    Jenis-jenis Etnis
    Jenis-jenis Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Mengacu pada satu kelompok, etnik memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Oleh sebab itu, kebanyakan etnik bisa bertahan lama. Khususnya etnik yang sudah ada sejak zaman dahulu. Berikut ini 7 jenis suku bangsa yang ada di dunia, yaitu:

    1. Suku Bangsa Aborigin

    Suku Aborigin merupakan kelompok etnis asli Australia. Dengan demikian, benua Australia sudah menjadi tempat tinggalnya selama 50.000 tahun. 

    Aborigin bukan kelompok homogen, namun kelompok yang berhasil membentuk jaringan budaya di dunia.

    Mereka sudah muncul sejak abad ke 18, sehingga dipastikan Suku Aborigin sudah ada sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Lebih menakjubkan, Suku Aborigin memiliki populasi yang mencapai 300.00 anggota kelompok. 

    Aborigin juga sering menjadikan perairan sebagai wilayah permukiman. Seperti pantai utara, timur, sungai Murray, dan daerah Tasmania lainnya. Etnik ini melakukan berburu dan meramu sebagai cara untuk bertahan hidup.

    2. Suku Bangsa Persia

    Etnis Persia merupakan keturunan Bangsa Arya yang hijrah ke Iran sebelum zaman Masehi. Namun Bangsa Arya terpecah menjadi Bangsa Persia dan Bangsa Media. Perpecahan mengakibatkan kemunculan berbagai suku, contohnya seperti Elam.

    Pada dasarnya, Suku Persia dianggap sebagai salah satu suku golongan Bangsa Iran. Pasalnya, cara dan bentuk komunikasinya sama-sama memakai Bahasa Persia, terutama dalam kehidupan sehari-hari.

    Mayoritas Bangsa Persia bermukim di wilayah Iran. Akan tetapi, banyak juga yang menempati wilayah negara lain. Mulai dari Afghanistan, Kuwait, Arab, Tajikistan, Uzbekistan, Amerika Serikat, Irak, dan lain sebagainya.

    3. Suku Bangsa Yunani

    Suku Yunani sudah ada sejak abad ke 17 sebelum Masehi. Secara umum, mereka merupakan suku yang bermukim di Yunani dengan jangka waktu lama hingga saat ini. 

    Populasi Suku Yunani juga ditemukan pada semenajung Yunani bagian Siprus, Kepulauan Yunani, dan Eropa.

    Terdapat 3 golongan besar suku ini, yakni Bangsa Ionia, Bangsa Aeolia, dan Bangsa Doria. Dari 3 golongan tersebut, Bangsa Ionia merupakan terbesar. Sebab, wilayah tinggalnya terletak pada Jazirah Attoi dan Athena sebagai pusatnya.

    4. Suku Bangsa Han

    Suku Han bermukim di daerah Tiongkok. Etnik ini memiliki populasi anggota kelompok yang mencapai 91% dari penduduk Tiongkok. Dengan demikian, Suku Han memiliki kekuasaan yang sangat besar. 

    Tidak hanya etnis terbesar di Tiongkok saja, namun Suku Han juga menjadi salah satu populasi suku terbesar di dunia.

    Etnik Han memiliki lebih dari 4.000 tahun catatan dalam sejarah Tiongkok. Hal itu tidak heran karena penduduknya tersebar hampir seluruh daerah Tiongkok. 

    Pada kehidupan sehari-hari, Suku Han menggunakan Hanyu Bahasa Han dalam berkomunikasi.

    5. Suku Bangsa Amazon

    Memilih wilayah Stepa Eurasia sebagai tempat tinggal, Suku Amazon adalah suku nomaden. Penduduk Yunani menganggap Suku Amazon berasal dari daerah utara dan timur Mediterania.

    Fakta uniknya, Suku Amazon merupakan suku dengan penduduknya yang berjenis kelamin perempuan. Suku ini sudah ada sejak era klasik, khususnya dalam mitologi Yunani.

    Herodotus menyatakan bahwa etnik Amazon menempati wilayah perbatasan Skithia, Sarmatia, Ukraina. Selain itu, beberapa sejarawan juga mengungkapkan etnik ini tersebar di wilayah Asia. Mulai dari India, Libya, Minor, dan lainnya.

    6. Suku Bangsa Maya

    Suku Bangsa Maya adalah golongan etnis yang menguasai semenajung Yucatan, Amerika Tengah. Wilayahnya berbatasan dengan Samudera Pasifik Barat dan Laut Karibia Timur.

    Etnik Maya memiliki bentuk perkembangan yang signifikan. Sebab menghasilkan peradaban dan berbagai karya unik. Contohnya seperti bangunan berbentuk Chichen Itza.

    Selain itu, Suku Maya juga maju dalam bidang pertanian. Mereka membangun Kanal Drainase dan menanaminya dengan jagung dan latex. Bahkan, ada juga bangunan sumur, yakni Cenotes.

    7. Suku Bangsa Gypsy

    Pada dasarnya, Suku Gypsy dianggap sebagai kelompok nomaden. Pasalnya, mereka memang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Mereka kerap berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

    Suku Gypsy cenderung memiliki pandangan hidup yang unik. Populasinya tersebar luas di Benua Amerika dan Timur Tengah. Perkiraan populasi Suku Gypsy mencapai 5 juta orang lebih dan tersebar pada seluruh dunia.

    3 Contoh dari Etnis

    Contoh Etnis
    Contoh Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Jika kamu belum memahami apa itu etnik, simaklah beberapa contohnya. Berikut 3 contoh pembagian suku bangsa berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu:

    1. Garis Keturunan

    Pada suatu etnik, bentuk dari garis keturunan adalah kunci mendasar. Sebagai contoh, Suku Batak memiliki garis keturunan ayah atau Patrilineal. Lalu ada juga Suku Minang yang garis keturunannya dari Ibu atau Matrilineal.

    Selain itu, ada juga garis keturunan dari golongan agamanya. Contohnya seperti Etnis Melayu Malaysia yang mayoritas beragama Muslim. Kemudian Suku Serani yang beragama Nasrani dan karakteristiknya peranakan Portugis.

    2. Identitas Diri

    Identitas menunjukkan jati diri individu yang berhubungan dengan peranan khusus etnik. Tidak heran bahwa identitas diri memiliki latar belakang etnik yang kental. Hal ini karena menjadi inti asal diri sendiri.

    Dengan demikian, setiap etnik harus memiliki ciri khas dalam kelompoknya. Sehingga bisa menciptakan identitas yang melekat dengan inti diri anggota suku mereka.

    3. Suku Bangsa Campuran

    Poin terakhir ini mencakup keberagaman etnis yang berbentuk campuran ras di suatu suku. Sebagai contoh, terdapat orang peranakan dengan perpaduan Melayu dan Tionghoa.

    Maka dari itu, etnik Metis menjadi istilah perpaduan Hispanik dan bumiputera. Sementara itu, etnik Mulato yang memiliki perpaduan Ras Negroid dan Ras Kaukasoid.

    Baca Juga : Memahami Pengertian Sukuisme dan Contohnya

    Kamu Telah Memahami Apa Itu Etnis?

    Secara sederhana, etnis merupakan identitas seseorang berdasarkan garis keturunan nenek moyang. Dengan demikian, setiap individu tidak bisa mengubah darah keturunan dan asal usulnya. Hingga sekarang ini, etnik akan selalu ada dalam peradaban manusia.

    Sebagai generasi penerus bangsa, kamu tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap suku bangsa tertentu. Sebaliknya, kamu harus saling menghargai dan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

  • Teori Struktural Fungsional serta Penerapannya

    Teori Struktural Fungsional serta Penerapannya

    Pernah mendengar teori struktural fungsional ? Pembahasan seputar sosiologi memang menjadi hal yang sangat menarik. Pasalnya, topik tersebut sangat beragam dan masih banyak hal yang perlu digali secara lebih mendalam.

    Terdapat teori yang hingga sekarang masih menjadi pembahasan yaitu seputar struktural fungsional. Sebuah teori yang berkeyakinan bahwa pembentukan dunia ini bukan berdasarkan perilaku dari individu melainkan sudah ada strukturnya sendiri. Berikut pembahasan selengkapnya.

    Apa Itu Teori Struktural Fungsional?

    Apa itu teori struktural fungsional
    Apa itu teori struktural fungsional | sumber gambar: pixabay.com

    Pada dasarnya teori struktural mempunyai beberapa turunannya dan salah satunya yaitu struktural fungsional. Banyak tokoh sosiolog terus melakukan penelitian dan pembuktian mengenai teori tersebut, khususnya pada lingkup perkembangan sosial yang ada di masyarakat.

    Misalnya Auguste Comte yang mempunyai teori hukum 3 tahap. Kemudian ada Herbert Spencer yang mempunyai teori Darwinisme sosial serta Emile Durkheim yang mempunyai teori fakta sosial. Ada juga Karl Marx yang mempunyai teori pertentangan kelas.

    Masih ada Antonio Gramsci dengan Neo Marxis Theory serta teori hegemoni. Lalu Jeffrey Alexander serta Paul Colony dengan neo fungsional. Masih ada beberapa tokoh terkenal lainnya yang mempunyai teorinya sendiri seputar struktural fungsional tersebut.

    Teori struktural fungsional merupakan teori di bidang sosiologi yang fokusnya pada peran dari struktur sosial di dalam menentukan serta mempertahankan tatanan sosial atau kohesi di dalam masyarakat. Teori tersebut berpandangan bahwa masyarakat merupakan organisme biologis dari organ-organ yang saling ketergantungan.

    Organ-organ tersebut berfungsi menjaga keseimbangan serta kelangsungan hidup sistem. Selain itu, teori ini menekankan pada guna atau fungsi elemen-elemen konstituen dari masyarakat. Misalnya nilai, norma, lembaga, serta kelompok sosial.

    Teori Struktural Fungsional Menurut Ahli

    Berikut beberapa pandangan seputar struktural fungsional menurut keterangan para ahli.

    1. Talcott Parsons

    Talcott Parsons berpendapat bahwa teori ini termasuk bagian keseimbangan di dalam institusi sosial. Keseimbangan tersebut dikatakan berhasil ketika mampu menjalankan fungsinya secara baik tanpa harus memberikan perbedaan sedikit pun.

    Di dalam merumuskan teorinya, Talcott Parsons menggunakan kerangka alat yang bertujuan agar orang-orang lebih mudah memahami teorinya. Untuk kerangka alat tersebut yaitu:

    • Tindakan sosial diarahkan pada tujuan atau sudah memiliki tujuan.
    • Tindakan sosial bisa terjadi karena disebabkan beberapa elemen yang memang sudah pasti ada. Lalu elemen lain hanya berperan sebagai alat di dalam mencapai tujuan yang hendak dicapai.
    • Secara normal, sebuah tindakan sosial bisa dilakukan dengan mempertimbangkan pemilihan alat serta tujuan.

    Melalui kerangka tujuan dari Talcott Parsons tersebut, Anda dapat menyimpulkan bahwa seluruh tindakan sosial manusia merupakan manifestasi dari kenyataan sosial terkecil serta paling fundamental. Kemudian untuk elemen-elemen dasar terkait tindakan sosial dari Talcott Parsons yaitu kondisi, tujuan, norma, dan alat.

    Lebih jauh lagi, teori struktur fungsional dari Parsons bukan sekadar lewat tindakan sosial. Namun, ia juga menjelaskan bahwa ada 4 syarat sehingga fungsional pada sistem sosial mampu berjalan secara baik, di antaranya:

    • Goal Attainment: tindakan sosial yang harus berdasarkan tujuan tertentu
    • Adaptation: sistem sosial di dalam masyarakat harus mampu menghadapi dan beradaptasi terhadap lingkungan yang transformasi aktif
    • Latent Pattern Maintenance: manusia telah berhenti berinteraksi dengan individu/kelompok lain yang bisa terjadi karena beberapa faktor. Misalnya malas, letih, maupun harus patuh pada sistem sosial yang ada
    • Integration: integritas anggota di dalam sistem sosial harus benar-benar diperhatikan. Artinya, ketika terdapat anggota masyarakat mempunyai sikap tidak toleran, akibatnya bisa dikucilkan atau dikeluarkan dari sistem sosial tersebut

    2. Emile Durkheim

    Seorang ahli sosiologi (1858-1817) berpandangan bahwa struktural fungsional merupakan susunan masyarakat yang berperan sebagai bagian tatanan sosial. Susunan tersebut juga mengindikasikan adanya kehidupan yang harmonis.

    Adapun maksud fungsionalisme di sini yaitu fokusnya terhadap struktur sosial dengan tingkatan makro di dalam masyarakat. Emile juga menegaskan bahwa masyarakat adalah kenyataan objektif yang terdiri dari individu-individu.

    Menurutnya, pembagian tugas di dalam masyarakat tradisional cenderung sangat sederhana dan tak begitu banyak. Masyarakat juga tak begitu menginginkan untuk mengetahui dunia secara lebih luas karena kehidupan yang sedang mereka jalani tak begitu variatif serta menjalankan hidupnya hanya sesuai aturan masyarakat.

    Sementara itu, kehidupan masyarakat modern cenderung lebih kompleks. Ini memunculkan pembagian kerja di masyarakat lebih kompleks juga. Peran untuk setiap individu pun cenderung beragam. Misalnya perempuan bukan sekadar membersihkan rumah, melainkan juga bekerja, mengasuh serta mendidik anak, dan lain-lain.

    Kondisi tersebut juga membuat kehidupan masyarakat modern cukup individualistis. Durkheim pun sangat berharap agar masyarakat modern menurunkan atau bahkan menghilangkan sifat individualismenya. 

    Masyarakat modern dapat menjalankan tugasnya dengan memperoleh bantuan orang lain. Ketika mampu menyelesaikan tugas secara bersama-sama, akan muncul solidaritas sosial dan pada akhirnya kehidupan masyarakat pun menjadi lebih teratur dan harmonis.

    Tokoh-tokoh Penting dalam Teori Struktural Fungsional

    Selain kedua ahli di atas, masih ada beberapa ahli sosiologi lainnya yang juga mempunyai pandangan dan analogi masing-masing terkait teori tersebut.

    1. Herbert Spencer

    Tokoh yang mengembangkan sebuah analogi organismik serta mengajukan konsep bernama requisite functionalism. Sebuah panduan di dalam melakukan analisis fungsi pada masing-masing struktur, fitur, maupun praktik di dalam masyarakat.

    2. Auguste Comte

    Ia terkenal sebagai bapak sosiologi dan berjasa di dalam menghadirkan istilah analogi organismik. Analogi tersebut berperan di dalam membandingkan masyarakat terhadap organisme biologis.

    3. Robert K. Merton

    Seorang murid Parsons yang terkenal, yaitu Merton, memberikan kritik terhadap teori struktural fungsional. Menurut Merton, teori tersebut cenderung terlalu fokus terhadap keseimbangan maupun konsensus sosial.

    Lalu ia memberikan usulan melalui konsep manifest functions serta latent functions. Kedua konsep tersebut berusaha menjelaskan seperti fungsi-fungsi yang tak disengaja maupun disengaja berdasarkan fenomena sosial. Selain itu, Merton juga membedakan struktur fungsional dan struktur sosial serta fungsi negatif dengan fungsi positif.

    Baca Juga : Pengertian Teori Kebutuhan Maslow: Konsep Serta Pembagiannya

    Penerapan Teori Struktural Fungsional

    Penerapan teori struktural fungsional di dalam kehidupan sehari-hari
    Penerapan teori struktural fungsional di dalam kehidupan sehari-hari | sumber gambar: pixabay.com

    Agar lebih memahami seperti apa struktural fungsional secara lebih jelas, Anda perlu melihat bagaimana cara penerapannya. Berikut beberapa contoh penerapan teori tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

    1. Membayar Pajak

    Dokumen pembayaran pajak
    Dokumen pembayaran pajak | Sumber gambar: Pexels

    Bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan adalah membayar pajak. Sebenarnya, pajak yang Anda keluarkan tersebut memiliki tujuan untuk kepentingan bersama. Misalnya untuk pembangunan infrastruktur maupun kebutuhan ekonomi.

    Ketika Anda membayar pajak, Anda sudah berkontribusi di dalam melakukan pembiayaan terhadap pelayanan publik. Anda memiliki andil di dalam bidang keamanan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Dengan begitu, pajak mempunyai fungsi positif untuk masyarakat dan negara.

    2. Pendidikan

    Kegiatan belajar mengajar di kampus
    Kegiatan belajar mengajar di kampus | Sumber gambar: Pexels.com

    Aktivitas yang berlangsung di jenjang sekolah juga menjadi bentuk dari pengaplikasian teori struktural fungsional. Kehadiran lembaga pendidikan, khususnya yang disediakan pemerintah membantu masyarakat untuk terus berkembang di dalam menghadapi perubahan sosial.

    Seseorang yang mampu bertahan dari berbagai gempuran perubahan zaman, salah satunya harus mempunyai pendidikan tinggi. Melalui pendidikan, masyarakat bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

    Selain itu, pendidikan juga mampu meningkatkan nilai-nilai yang sangat berguna untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. Pada akhirnya, pendidikan mempunyai fungsi manifest serta latent bagi individu dan masyarakat.

    3. Lowongan Kerja

    Tanda lowongan kerja
    Tanda lowongan kerja | Sumber gambar: Pexels

    Masih tentang contoh penerapan struktural fungsional. Kali ini berkaitan dengan lowongan atau lapangan kerja. Setelah Anda selesai menyelesaikan sekolah pada jenjang tertentu, kemudian Anda masih harus masuk ke babak baru yaitu dunia kerja.

    Melalui bekerja, Anda bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup. Anda juga bisa berpartisipasi di dalam pembangunan ekonomi. Itu artinya, pekerjaan yang Anda lakukan tersebut mempunyai fungsi negatif serta positif bagi kehidupan individu maupun masyarakat.

    Baca Juga : Pengertian Asosiatif: Bentuk, Jenis, Manfaat, dan Contohnya

    Sudah Paham tentang Teori Struktural Fungsional?

    Jadi, kehidupan masyarakat akan selalu berkembang dan kompleks. Struktural yang baik mampu menghadirkan lingkungan masyarakat yang kondusif, humoris, serta teratur. Sebaliknya, ketika strukturnya berantakan berpotensi menjadi penyebab timbulnya konflik di masyarakat.

  • Ciri-Ciri Sosiologi serta Pengertian, Sifat, dan Ruang Lingkupnya

    Ciri-Ciri Sosiologi serta Pengertian, Sifat, dan Ruang Lingkupnya

    Sosiologi merupakan salah satu bagian ilmu sosial yang menarik untuk dipelajari lebih dalam. Apalagi ilmu yang satu ini berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, tak heran jika banyak orang yang tertarik ingin tahu tentang pengertian hingga ciri-ciri sosiologi.

    Sebab, dengan mengetahui konsep dasarnya, akan lebih mudah bagi kamu dalam mengenali kehadiran ilmu pengetahuan tersebut di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Lantas, sebenarnya apa pengertian dan ciri sosiologi yang penting untuk diketahui? Simak artikel ini untuk temukan jawabannya!

    Pengertian Sosiologi

    Mempelajari Sosiologi
    Mempelajari Sosiologi | Sumber gambar: Pexels.com

    Sebelum masuk ke ciri-ciri sosiologi, tentunya penting untukmu memahami konsep dasar ilmu tersebut melalui pengertiannya.

    Secara etimologis, kata tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni socius yang berarti teman atau kawan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. 

    Dengan kata lain, kamu bisa memahami cabang ilmu ini sebagai sebuah ilmu yang mempelajari hubungan dan juga gejala sosial antar individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok.

    Istilah ini sendiri pertama kali muncul dalam buku Cours De Philosophie Positive karya August Comte. Kemudian ia lah yang memperkenalkan ilmu tersebut kepada masyarakat hingga mendapat julukan sebagai Bapak Sosiologi.

    Adapun beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli mengenai cabang ilmu ini adalah sebagai berikut.

    • August Comte berpendapat, cabang ilmu ini merupakan studi tentang hukum dasar dari gejala sosial yang di dalamnya dibedakan menjadi studi yang bersifat statis dan dinamis.
    • Emile Durkheim berpendapat, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial yang mencakup cara-cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan memiliki kekuatan memaksa yang mengendalikannya.
    • Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan, sosiologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang struktur dan proses sosial yang di dalamnya mencakup perubahan sosial.

    Ciri-Ciri Sosiologi

    Ilustrasi Observasi Online
    Ilustrasi Observasi Online | Sumber gambar: Freepik.com

    Sebenarnya, cabang ilmu yang satu ini berusaha untuk mencoba memahami bagaimana masyarakat berfungsi, norma dan nilai dapat membentuk perilaku manusia, hubungan sosial dapat terbentuk, hingga perubahan sosial dapat terjadi di dalam masyarakat. Berikut 4 ciri-ciri sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, yaitu:

    1. Empiris

    Ciri sosiologi yang pertama adalah bersifat empiris. Jadi, perlu kamu pahami cabang ilmu ini menggunakan pendekatan empiris, yang artinya selalu mengedepankan fakta dan bukti dari proses observasi.

    Tak hanya itu saja, ilmu ini juga berusaha untuk tetap objektif dalam proses analisisnya. Oleh karena itu, kajian tentang ilmu masyarakat ini selalu didasarkan pada hasil observasi, tidak bersifat spekulatif, dan menggunakan akal sehat atau common sense.

    Salah satu contoh yang bisa terlihat adalah pada penelitian mengenai studi tentang pola migrasi penduduk dalam suatu wilayah yang berdampak pada pertumbuhan populasi masyarakat.

    2. Teoritis

    Maksud dari teoritis di sini adalah kajian tentang ilmu masyarakat ini berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil observasi. 

    Adapun abstraksi tersebut disusun secara logis dan mempunyai tujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat.

    Dengan mengembangkan teori dan konsep yang sudah ada sebelumnya, akan memudahkan para sosiolog untuk melakukan pemahaman dan menganalisis fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

    Adapun contoh dari ciri-ciri sosiologi bersifat teoritis adalah teori konflik dari Karl Marx yang menyatakan perubahan sosial dipicu oleh terjadinya pertentangan antara kelas-kelas sosial yang berbeda. 

    Selain itu, contoh lainnya juga bisa terlihat dari adanya pembagian kaum borjuis dan proletar yang memiliki begitu banyak ketimpangan.

    3. Kumulatif

    Kumulatif menjadi ciri sosiologi selanjutnya yang penting untuk kamu pahami dengan baik. Seperti yang kamu ketahui, kajian tentang ilmu masyarakat ini memang memiliki banyak sekali teori.

    Nah, berdasarkan dari berbagai teori yang sudah ada tersebut, para sosiolog dapat membentuk sebuah teori baru dengan cara memperbaiki, memperluas, dan juga memperhalus teori-teori lama.

    Pada studi ilmu masyarakat ini, para sosiolog sering membandingkan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat atau budaya yang ada di masyarakat untuk membantu mereka dalam mengidentifikasi pola dan perbedaan.

    4. Non-Etis

    Ciri-ciri sosiologi yang terakhir adalah bersifat non-etis. Dengan kata lain, kajian ilmu masyarakat ini tidak berusaha untuk mencari baik-buruknya suatu fakta di masyarakat. 

    Akan tetapi, lebih mengacu pada upaya untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitik. Jadi, cabang ilmu ini akan mencoba untuk menganalisis struktur sosial. 

    Misalnya, seperti kelas sosial, kelompok sosial, sistem atau stratifikasi sosial, hingga interaksi yang terjalin antar individu.

    Sifat dalam Cabang Ilmu Sosiologi

    Interaksi Masyarakat
    Interaksi Masyarakat | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah mengetahui ciri-ciri sosiologi, maka kurang lengkap rasanya jika belum tahu apa saja yang menjadi sifat dari cabang ilmu tersebut. Sebab, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, kajian tentang ilmu masyarakat ini tentu memiliki sifatnya tersendiri.

    Adapun sifat sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut.

    1. Termasuk ke dalam rumpun ilmu sosial yang mempelajari dan juga berkaitan erat dengan gejala kemasyarakat. Oleh karena itu, pada prinsipnya ilmu ini berfokus pada cara untuk mempelajari tingkah laku individu dalam berinteraksi dengan individu dan kelompok masyarakat lainnya.
    2. Termasuk ke dalam ilmu pengetahuan yang kategoris. Dengan kata lain, cabang ilmu ini berusaha untuk membatasi diri pada apa yang sedang terjadi atau bisa disebut dengan das sein. Jadi, kajian ini bukanlah ilmu yang mempelajari tentang apa yang seharusnya terjadi atau das sollen.
    3. Sebuah ilmu pengetahuan yang murni karena bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan pengetahuan secara abstrak atau tidak menentu. Jadi, kajian tentang ilmu masyarakat ini tidak termasuk ke dalam ilmu pengetahuan terapan, terpakai, atau yang bersifat praktik.
    4. Sebagai ilmu pengetahuan yang mempunyai tujuan untuk menghasilkan suatu pengertian dan pola umum. Hal inilah yang membuat para sosiologi berusaha meneliti dan mencari apa saja yang menjadi prinsip atau dasar atas hukum umum yang muncul dari interaksi antar individu.
    5. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat rasional karena berhubungan dengan metode pengkajian yang penggunaannya ada dalam ilmu itu sendiri.
    6. Termasuk ilmu pengetahuan kategori umum. Pasalnya, kajian ilmu ini berusaha untuk mengamati dan mempelajari gejala yang umumnya muncul pada setiap interaksi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari secara empiris.

    Ruang Lingkup Kajian Ilmu Sosiologi

    Ilustrasi Ibu Menjaga Anak-Anak
    Ilustrasi Ibu Menjaga Anak-Anak | Sumber gambar: Pexels.com

    Dari ciri-ciri sosiologi yang sudah dijelaskan sebelumnya, kamu bisa memahami kajian ilmu masyarakat ini mencoba untuk mempelajari struktur sosial dalam masyarakat, seperti perubahan sosial. 

    Hal inilah yang kemudian membuat ruang lingkup kajian ilmu masyarakat ini menjadi lebih luas dan lebih banyak dari ilmu sosial lainnya.

    Sebab, pada dasarnya, cabang ilmu ini mencakup hubungan antar individu dengan individu atau kelompok lain di masyarakat.

    Namun, secara umum, ruang lingkup sosiologi sebagai pengetahuan dasar pengkajian adalah sebagai berikut.

    1. Kedudukan dan peran sosial individu dalam sebuah keluarga, kelompok, serta masyarakat secara luas.
    2. Nilai dan norma sosial yang kemudian menjadi dasar serta memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku anggota masyarakat dalam berhubungan dengan kelompok sosialnya.
    3. Masyarakat, kebudayaan daerah, dan kebudayaan nasional Indonesia menjadi sebuah submasyarakat yang masuk ke dalam ilmu sosiologi.
    4. Perubahan sosial budaya yang terus terjadi merupakan akibat dari faktor internal dan eksternal di masyarakat.
    5. Terdapat berbagai macam masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

    Selain itu, dari aspek penelitian sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, ruang lingkup kajian ilmu masyarakat terbagi lagi menjadi 3 poin utama, antara lain sebagai berikut.

    1. Ruang lingkup sosiologi ilmu ekonomi yang meliputi kegiatan usaha secara prinsipil. Jadi, kajian ilmu ini berhubungan dengan proses produksi, distribusi, hingga pemakaian sumber daya alam yang tersedia.
    2. Ruang lingkup sosiologi persoalan sejarah yang berkaitan dengan catatan kronologis suatu peristiwa. Contohnya relasi antara usaha seseorang dengan prestasi yang ia dapatkan.
    3. Ruang lingkup sosiologi masalah manajemen, mencakup pihak yang membuat kajian sosiologi dan berkaitan pada pada apa yang warga negara dan sekitarnya alami.

    Baca Juga : Struktur Sosial di Masyarakat: Definisi, Ciri, dan Fungsinya

    Sudah Paham tentang Konsep Dasar dan Ciri-Ciri Sosiologi?

    Sosiologi merupakan cabang ilmu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Adapun ciri-ciri sosiologi ada empat, yakni empiris, teoritis, kumulatif, dan non-etis.

    Pada dasarnya, mempelajari cabang ilmu ini merupakan hal yang penting demi menciptakan hubungan bermasyarakat yang aman, nyaman, rukun, dan juga damai. Tak hanya itu saja, kajian sosiologi juga mampu membuat setiap individu berpikir positif tentang relasi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

  • Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial: Bentuk dan Contohnya

    Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial: Bentuk dan Contohnya

    Pengertian disosiatif berbanding terbalik dengan asosiatif. Jika kita memahami asosiatif adalah interaksi sosial yang bisa membawa manfaat dan persatuan, maka disosiatif merupakan hubungan yang justru membawa dampak negatif berupa perpecahan.

    Bagaimana bisa interaksi ini  membawa perpecahan? Apa saja bentuk dan contohnya? Untuk dapat jawaban lengkapnya, baca artikel ini sampai habis!

    Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial

    Manusia sangat membutuhkan interaksi dengan orang lain. Adanya interaksi ini menandakan bahwa manusia saling bergantung dan saling membutuhkan satu sama lain untuk tetap bisa bertahan hidup serta mendapatkan informasi.

    Interaksi yang dilakukan manusia terbagi menjadi dua, asosiatif dan disosiatif. Masing-masing interaksi tersebut memiliki dampak berbeda, ada yang memberikan dampak positif yang kemudian disebut asosiatif, ada juga yang berdampak negatif yakni disosiatif.

    Lalu, apa pengertian disosiatif? Disosiatif adalah hubungan yang mengarahkan manusia pada perpecahan dan perselisihan. Hubungan seperti ini membuat rasa persaudaraan dan rasa solidaritas antar sesama menjadi lemah sehingga bisa menyebabkan konflik.

    Meski kesannya negatif, namun ini merupakan salah satu cara manusia untuk bisa bertahan hidup. Pasalnya ada sebuah teori dari para ahli yang menyatakan manusia memiliki tiga perjuangan pokok untuk mempertahankan hidupnya.

    Tiga hal itu mencakup perjuangan melawan sesama, melawan alam, dan melawan makhluk lain. Dalam proses melawan tersebut, manusia mengalami yang namanya persaingan, kontravensi, dan pertentangan untuk mempertahankan hidupnya.

    Hubungan ini memang bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, tapi di sisi lain ada juga manfaatnya. Pada persaingan contohnya, persaingan membuat masyarakat memiliki keinginan kuat untuk lebih unggul dari lainnya sehingga lama-lama bisa membawa kemajuan.

    Namun tetap saja, jika kita tidak bisa mengontrol atau melakukannya dengan baik akan menimbulkan perselisihan bahkan perpecahan.

    Bentuk-Bentuk Interaksi Disosiatif

    Pengertian disosiatif ini memiliki bentuk-bentuk yang mengarah pada konflik. Semua bentuk-bentuknya jika tidak dilakukan atau selesai dengan baik, maka lama kelamaan akan menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Apa saja bentuk-bentuknya?

    1. Kompetisi atau Persaingan

    Lomba Lari
    Lomba Lari | Sumber: pixabay.com

    Dari pengertian disosiatif menunjukkan bahwa persaingan bisa membawa dampak negatif. Kompetisi atau persaingan merupakan interaksi sosial ketika seseorang atau kelompok ingin mengalahkan pihak lain demi mendapatkan keuntungan tanpa adanya ancaman atau kekerasan.

    Bentuk pengertian disosiatif ini seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat ada perlombaan maka seluruh pesertanya pasti bersaing untuk jadi yang terbaik dan jadi juara.

    Mereka berlomba-lomba untuk memaksimalkan kemampuannya dan punya keinginan untuk mengalahkan peserta lain demi mendapatkan keuntungan, berupa hadiah atau penghargaan tertentu.

    Ada lagi persaingan saat mencari kerja. Para kandidat atau lulusan baru saling bersaing untuk merebutkan posisi di sebuah perusahaan demi mendapatkan pekerjaan yang layak.

    Mereka memaksimalkan kemampuannya untuk ditunjukkan kepada perusahaan. Semua itu demi mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok tanpa adanya kekerasan atau ancaman.

    Persaingan bisa mencakup lebih luas lagi. Contohnya persaingan ekonomi, persaingan budaya, persaingan kedudukan, persaingan peran, dan lain-lain. Kompetisi bisa juga sebagai alat seleksi sosial sehingga menghasilkan sesuatu yang berkualitas, asalkan persaingannya berjalan dengan baik dan sehat.

    Berbeda halnya jika persaingan berjalan secara tidak sehat, justru akan dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan antar sesama. 

    Di antara manfaat dari persaingan adalah:

    • Menyalurkan kepentingan dan nilai-nilai dalam masyarakat, terutama kepentingan dan nilai yang menyebabkan konflik.
    • Menyeleksi individu yang cocok untuk mendapatkan kedudukan dan peran sesuai kemampuannya.
    • Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang menuntut untuk dipenuhi, padahal semua sulit terpenuhi secara serentak.

    Sementara itu, ada juga hasil dari sebuah persaingan. Misalnya perubahan baik pada individu maupun kelompok, kemajuan, dan solidaritas.

    2. Kontravensi

    Kontraversi pria dan wanita
    Kontraversi pria dan wanita | Sumber: pixabay.com

    Kontravensi merupakan proses sosial yang letaknya di antara pertentangan dan persaingan. Jika mengingat pengertian disosiatif, kontravensi masih tergolong interaksi yang merugikan karena ada perasaan tidak suka yang tersembunyi terhadap pihak lain.

    Perasaan ini bisa berupa kebencian, keraguan, iri dengki, dan lain-lain. Kontravensi ini sikap menentang yang tidak ditunjukkan secara terang-terangan alias tersembunyi supaya tidak menimbulkan perselisihan maupun konflik terbuka.

    Oleh karena itu, sebenarnya kontravensi ini tidak menunjukkan tanda yang pasti. Sebab cara menunjukkannya tidak terang-terangan, melainkan terpendam sebagai  perasaan tidak suka.

    Kontravensi seperti ini tentu saja sangat mudah kita temui. Misalnya ada kelompok yang tidak suka dengan kelompok lain. Perasaan tersebut terpendam dalam hati mereka alias tidak tampak secara langsung. Karena jika itu terjadi, keduanya akan rentan berselisih bahkan mengalami pertengkaran.

    Ada juga bentuk dari kontravensi ini yang lebih merugikan, seperti:

    • Umum: kontravensi umum ini seperti penolakan, perlawanan, dan ancaman pihak lain.
    • Sederhana: contohnya seperti menyangkal omongan orang lain di depan umum.
    • Intensif: penyebaran hoax dan penghasutan.
    • Rahasia: seseorang membocorkan rahasia satu pihak ke pihak lain.
    • Taktis: contohnya seseorang melakukan intimidasi dan provokasi pada pihak lain yang menyebabkan perselisihan hingga perpecahan.

    Interaksi seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Sebagai contoh ada tetangga atau teman kita yang menyebarkan berita hoax sampai menimbulkan kegaduhan. Bisa juga suatu kelompok melakukan pengancaman pada kelompok lain. Ini semua tentu saja berdampak tidak baik bagi keharmonisan lingkungan masyarakat sekitar.

    3. Konflik Sosial

    Demonstrasi | Sumber: pixabay.com

    Konflik juga masuk dalam pengertian disosiatif yang merugikan. Ini bisa kita sebut juga dengan pertikaian akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan antar individu maupun kelompok.

    Konflik sosial ini bisa sangat merugikan masyarakat. Karena biasanya terjadi bersamaan dengan kekerasan maupun ancaman dengan pihak-pihak terkait yang saling bertentangan. Tentu saja ini sangat mengganggu interaksi sosial yang harmonis pada masyarakat, terlebih jika saling menjatuhkan.

    Pertentangan ini terjadi karena ada beberapa faktor, misalnya:

    • Ada perbedaan antar individu.
    • Perbedaan kebudayaan.
    • Ada perbedaan kepentingan.
    • Perubahan sosial.

    Ini semua bisa menyebabkan berbagai masalah sosial, seperti:

    • Retaknya persatuan dan kesatuan antar kelompok.
    • Adanya perubahan kepribadian.
    • Terjadinya dominasi, akomodasi, dan takluknya pihak tertentu.
    • Mengganggu keharmonisan hubungan masyarakat.
    • Terjadinya perselisihan.

    4. Pertikaian

    Pertikaian pria dan wanita | Sumber: pixabay.com

    Terakhir, ada pengertian disosiatif pertikaian. Kalau kontravensi tadi terjadi secara sembunyi-sembunyi, maka pertikaian ini terjadi secara terbuka. Dengan kata lain, perselisihan yang terjadi sudah secara terang-terangan karena perbedaan semakin tajam.

    Pertikaian seperti ini bisa saja disertai ancaman atau kekerasan yang membahayakan. Bahaya dari pertikaian terang-terangan ini tidak hanya pada fisik secara langsung, tapi juga mental yang mendalam. Oleh karena itu, perlu ada penyelesaian untuk mengatasi pertikaian ini supaya tidak memakan korban.

    Pertikaian ini terdiri dari dua jenis, yakni individu dan kelompok. Berikut penjelasannya:

    • Individu: pertikaian yang terjadi dalam lingkup kecil. Contohnya ada masalah personal dalam keluarga yang sampai terjadi kekerasan dan ancaman.
    • Kelompok: pertikaian yang lingkupnya cukup besar, dan bisa menyebabkan perpecahan. Biasanya terjadi karena faktor SARA, yaitu agama, budaya, ras, hingga adat istiadat yang menyebabkan konflik pada masyarakat.

    Kedua jenis pertikaian tersebut tentu saja merusak keharmonisan manusia. Selain itu, bentuk pengertian disosiatif kali ini juga bisa merugikan kedua belah pihak, baik secara material maupun non material. Cara menyelesaikan pertikaian ini biasanya melalui jalur hukum ataupun mediasi.

    Contoh Interaksi Disosiatif dalam Kehidupan Sehari-Hari

    Ada banyak contoh dari interaksi sosial ini di sekitar kita, misalnya:

    1. Melakukan Pengkhianatan

    Pengkhianatan bisa menimbulkan konflik antar sesama. Ini biasa terjadi pada individu dengan individu lain maupun antar kelompok, dan semua sama-sama memberikan dampak negatif bagi keharmonisan hubungan.

    2. Demonstrasi

    Demonstrasi yang sering kita lihat juga termasuk bagian dari pengertian disosatif. Pasalnya demonstrasi adalah bentuk perlawanan maupun penentangan. Misalnya demo penurunan harga makanan pokok, demo penurunan presiden, dan lain-lain.

    3. Penyebaran Berita Hoax

    Berita palsu atau hoax sangat merugikan banyak pihak. Ini karena berita tersebut mengandung unsur fitnah yang bisa mencoreng nama baik personal maupun kelompok sehingga bisa menimbulkan perselisihan, pertengkaran, dan perpecahan.

    4. Adanya Kecurangan Saat Berkompetisi

    Berbuat curang saat berkompetisi juga merugikan. Kompetisi yang sehat adalah semua pihak yang terlibat menggunakan cara-cara baik sehingga hasil yang keluar lebih adil dan bijak.

    5. Terjadi Bentrok dan Tawuran

    Bentrok dan tawuran seringkali terjadi pada anak-anak muda. Ini tentu saja sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat karena tak jarang bisa menyakiti fisik bahkan menimbulkan korban jiwa.

    Baca Juga : Teori Konflik Menurut Para Ahli: Jenis, Faktor Penyebab, dan Dampaknya

    Sudah Mengerti Apa Pengertian Disosiatif?

    Pengertian disosiatif mengarah pada tindakan merugikan masyarakat. Hubungan seperti ini jika tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan dampak negatif lebih besar bahkan bisa membahayakan keselamatan masyarakat.

    Oleh karena itu. perlu adanya kesadaran diri dalam setiap individu untuk mencegah terjadinya interaksi negatif antar sesama. Contohnya dengan cara menjaga kerukunan, saling menghormati, menghargai, dan mengedepankan persatuan.

  • 20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia dan Cara Menanganinya

    20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia dan Cara Menanganinya

    Kemajuan teknologi berhasil membawa manusia ke kehidupan sosial yang lebih kompleks. Kehidupan sosial yang makin kompleks ini ibarat dua sisi koin yang berbeda. Memang, banyak sektor kehidupan yang makin mudah. Namun, di satu sisi, makin banyak juga timbul contoh masalah sosial di Indonesia.

    Kali ini, kita akan membahas masalah sosial di Indonesia yang bisa kamu temukan dan cara mencegahnya. Yuk, kita simak bersama!

    20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia

    Berikut adalah 20 contoh masalah sosial di Indonesia yang sering terjadi lengkap beserta cara menanganinya, yaitu:

    1. Kemiskinan

    Kemiskinan
    Kemiskinan | Sumber gambar: unsplash.com

    Kemiskinan adalah masalah sosial yang paling pelik di Indonesia. Kamu pun pasti pernah menyaksikan persoalan yang satu ini secara langsung. Kemiskinan tidak hanya menjadi masalah besar di Indonesia, namun juga di berbagai negara di penjuru dunia.

    Pembangunan sosial yang merata, kebijakan yang berpihak pada masyarakat miskin, dan bantuan pemerintah yang tepat sasaran adalah langkah untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

    Baca Juga : Memahami 5 Faktor Penyebab Kemiskinan dan Dampaknya

    2. Pengangguran

    Salah satu kebijakan pemerintah yang dapat menimbulkan masalah sosial yaitu kurang efektifnya kebijakan mengenai lapangan kerja.

    Kurangnya lapangan kerja, rendahnya pendidikan, dan kurangnya skill dapat meningkatkan angka pengangguran di masyarakat. 

    Jika pengangguran dibiarkan terjadi, maka akan membuat banyak masyarakat yang tidak mampu memperoleh nafkah dan memenuhi kebutuhan primernya.

    Angka pengangguran dapat berkurang melalui beberapa cara sebagai berikut.

    • Membuat kebijakan yang menguntungkan UMKM agar lapangan pekerjaan terbuka lebar.
    • Tingkatkan dan ratakan kualitas pendidikan dengan minimal wajib belajar di seluruh Indonesia.
    • Bangun balai keterampilan untuk masyarakat.
    • Bangun lapangan kerja yang merata di seluruh Indonesia.

    3. Kriminalitas

    Kriminalitas menjadi contoh masalah sosial di Indonesia yang ternyata punya hubungan terhadap kejadian kemiskinan dan angka pengangguran di suatu wilayah.

    Jika orang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya, maka makin tinggi juga angka kriminalitas yang ada di masyarakat.

    Kriminalitas merupakan aksi yang merugikan semua pihak, termasuk si pelaku. Cara menekan angka kriminalitas di masyarakat adalah memberlakukan sistem keamanan masyarakat yang efektif, menekan angka kemiskinan, dan penegakan hukum yang tegas.

    4. Kenakalan Remaja

    Kenakalan remaja merupakan masalah yang cukup rumit bagi orang tua dan pemerintah. Salah satu contohnya adalah tawuran.

    Masa remaja adalah masa saat seseorang perlu bimbingan dan arahan karena mentalnya belum stabil. Jika seorang remaja justru terjerumus ke jalan yang salah, hal ini akan sangat merugikan hidupnya di masa mendatang.

    Pengawasan dari orang tua di rumah dan pihak sekolah sangat penting untuk mencegah kenakalan remaja. Remaja bisa diberikan waktu dan ruang sebebas-bebasnya untuk mencari minat dan bakatnya secara positif. 

    Selain itu, orang tua dan sekolah juga harus siap sebagai “teman” untuk mendengarkan dan memahami berbagai masalah yang para remaja hadapi.

    5. Kesenjangan Sosial

    Kesenjangan sosial merupakan suatu kejadian saat adanya masyarakat yang punya tingkat kesejahteraan yang sangat timpang dengan kelompok masyarakat lainnya.

    Misalnya, satu kelompok masyarakat sangat kaya, sedangkan kelompok lainnya sangat kesulitan bahkan hanya untuk membeli makanan (sangat miskin).

    Kesenjangan sosial akan menimbulkan kecemburuan sosial yang akan meningkatkan risiko kriminalitas dan konflik.

    Cara mencegah kesenjangan sosial yaitu dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    6. Konflik SARA

    Konflik SARA adalah contoh masalah sosial di Indonesia yang belakangan ini kerap terjadi. Penyebab konflik ini bisa terjadi karena rendahnya kesadaran toleransi dari seorang atau sekelompok oknum.

    Konflik SARA tergolong masalah yang cukup serius. Masalah ini bisa menyebabkan perpecahan di antara masyarakat dan lambat laun akan menjadi pemicu konflik yang lebih besar.

    Edukasi terkait pemahaman tentang perbedaan, seperti keberagaman suku, agama, ras, dan budaya sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan rasa saling menghargai di antara masyarakat.

    7. Pelecehan Seksual

    Pelecehan seksual dapat menyerang siapa saja dan di mana saja, tidak mempedulikan waktu, tempat, dan pakaian yang si korban kenakan. Korban mayoritas berasal dari perempuan dan anak-anak.

    Masalah terbesar dari kasus pelecehan seksual, sangat banyak korban yang tidak berani untuk bicara baik ke pihak keluarga ataupun pihak berwajib. Mereka takut untuk dihakimi.

    Lebih parahnya, pelecehan seksual tidak hanya terjadi secara langsung. Namun, pelecehan seksual juga sudah marak terjadi di dunia maya.

    Cara mencegah masalah ini yaitu penegakan hukum yang tegas terkait pelecehan seksual, memberikan perlindungan dan konseling pada korban, serta edukasi mengenai penggunaan sosial media.

    8. Korupsi

    Korupsi
    Korupsi | Sumber gambar: unsplash.com

    Kita sudah acap kali mendengar berita tentang korupsi. Masalah ini sangat merugikan negara dan masyarakat karena uang dari negara. 

    Mempertegas penegakan hukum korupsi dan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya bagi tersangka adalah cara mencegah korupsi.

    9. Kesenjangan Hukum

    Masyarakat juga kerap mengalami hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah. Padahal, hukum tercipta agar dapat memberikan keadilan kepada masyarakat tanpa kecuali.

    Cara mencegah contoh masalah sosial di Indonesia ini adalah pemerintah harus adil terhadap semua lapisan masyarakat.

    10. Penyakit Menular

    Penyakit menular juga bisa menjadi masalah sosial di Indonesia yang pelik. Contohnya yaitu saat terjadi wabah pandemi COVID-19. Penyakit ini sangat mengganggu masyarakat dari berbagai sisi seperti ekonomi, pendidikan, dan sosial.

    Pandemi COVID-19 juga membuat ekonomi di banyak negara lumpuh dan pembatasan sosial yang cukup signifikan.

    Cara mencegah penyakit menular adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan personal serta mengikuti anjuran dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) jika terjadi wabah yang tidak kita inginkan.

    11. Aliran Sesat

    Aliran sesat tidak semudah masalah sosial yang lain untuk terdeteksi. Namun, tetap saja, aliran sesat sangat meresahkan.

    Aliran sesat merupakan ajaran atau doktrin yang menyimpang dari kepercayaan yang seharusnya. Terkadang, aliran sesat mengarahkan pengikutnya untuk melakukan hal yang merugikan sekaligus bertentangan dengan ajaran agama.

    12. Lingkungan Hidup

    Lingkungan hidup juga bisa kita kategorikan sebagai salah satu contoh masalah sosial di Indonesia yang masyarakat hadapi. Misalnya saja, seperti banjir yang penyebabnya karena perilaku manusia yang tidak menjaga lingkungan.

    Permasalahan ini tentu menimbulkan masalah bagi kehidupan sehari-hari di masyarakat. Edukasi dan penegakan hukum terkait lingkungan sangat penting untuk menekan masalah ini.

    13. Ujaran Kebencian

    Isu ujaran kebencian merupakan masalah sosial yang juga cukup meresahkan masyarakat. Karena masalah ini, banyak orang yang menjadi korban perundungan, persekusi, hingga pelecehan. Ujaran kebencian ini sering dikaitkan dengan perbedaan suku, agama, ataupun ras.

    Ujaran kebencian merupakan aksi berupa ucapan untuk menghasut orang lain untuk membenci satu individu tertentu.

    Mengedukasi masyarakat mengenai toleransi harus berjalan agar memiliki kesadaran tentang perbedaan yang ada di lingkungan sekitar.

    14. Fear of Missing Out (FOMO)

    FOMO
    FOMO | Sumber gambar: akseleran.co.id

    Istilah fear of missing out (FOMO) lekat dengan anak muda. Fenomena ini merupakan perasaan takut atau khawatir ketinggalan suatu tren yang sedang viral. FOMO ini bentuknya macam-macam. Misalnya, tren pakaian, masakan, ataupun hiburan.

    Media sosial adalah penyebab utama masalah ini. Penggunaan media sosial yang bijak merupakan langkah untuk mengurangi FOMO.

    15. Tunawisma

    Adanya tunawisma sebagai contoh masalah sosial di Indonesia lekat hubungannya dengan kemiskinan dan pengucilan secara sosial. Munculnya tunawisma dapat menimbulkan dampak negatif seperti naiknya risiko kriminalitas.

    Kebijakan pemerintah dalam pencegahan munculnya tunawisma diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

    16. Kesehatan Mental

    Kesehatan mental merupakan hal yang cukup menyita perhatian terutama saat pandemi COVID-19 terjadi. 

    Pada periode tersebut, masyarakat sangat rawan mengalami gangguan kesehatan mental karena pembatasan besar-besaran dari berbagai sektor.

    Beberapa contoh gangguan kesehatan mental yaitu depresi hingga gangguan kecemasan. Cara menurunkan masalah kesehatan mental yaitu dengan mencari pertolongan ke psikologi jika tidak merasa baik-baik saja dan hindari mendiagnosis diri sendiri.

    Selain itu, peran kita sebagai masyarakat juga penting. Tumbuhkan empati bagi siapa saja yang sedang mengalami masalah hidup. Sebaiknya, cukup mendengarkan tanpa perlu menghakimi.

    17. Bullying

    Kasus bullying atau perundungan makin mendapat sorotan setelah maraknya peristiwa ini di berbagai sekolah. Ini merupakan tindakan seseorang untuk melakukan intimidasi dan mendominasi individu lain yang menurut ia lebih lemah. 

    Kasus ini tidak hanya terjadi pada anak sekolah, namun juga lingkungan kerja. Bullying sangat merugikan pihak korban. Hal ini bisa menyebabkan korban menjadi mengalami gangguan mental.

    Cara mencegah bullying adalah membuat penegakan hukum yang dan tanpa bulu bagi para pelaku. 

    18. Kecanduan Media Sosial

    Kecanduan Media Sosial
    Kecanduan Media Sosial | Sumber gambar: ghirahbelajar.com

    Media sosial benar-benar mengubah cara orang berkomunikasi di era yang serba cepat ini. Namun, media sosial juga ternyata membawa dampak positif jika kita tidak punya perisai diri.

    Kecanduan media sosial adalah contoh masalah sosial di Indonesia yang akan mengganggu produktivitas masyarakat. Mencoba cari hobi baru dan menjauhi gadget dari kehidupan sehari-hari adalah solusi terbaik untuk mengurangi media sosial.

    19. Kecurangan Akademik

    Kecurangan akademik adalah problematika klasik. Penyebabnya adalah malasnya siswa untuk belajar dan rendahnya ketegasan pihak institusi pendidikan dalam mencegah perilaku ini.

    Cara untuk mencegah praktek ini adalah rajin belajar dan pihak institusi harus tegas dalam mengawasi siswa.

    20. Pemerasan

    Pemerasan adalah masalah sosial di Indonesia lainnya yang kerap terjadi. Hal ini sering dijumpai di tempat umum. Cara mencegahnya yaitu dengan penegakan hukum yang tegas untuk membuat pelaku jera.

    Baca Juga : Dampak Pertumbuhan Penduduk yang Kian Padat bagi Kehidupan

    Yuk, Cegah Masalah Sosial di Indonesia!

    Contoh masalah sosial di Indonesia merupakan persoalan pelik bagi semua orang. Kerja sama dari semua pihak dari pemerintah hingga masyarakat dapat mencegah persoalan ini. Selain itu, sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

    Langkah konkret yang bisa kamu lakukan adalah dengan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Di samping itu, tidak mudah termakan berita bohong serta saling membantu kepada orang yang membutuhkan.

  • Pengertian Liberalisme: Awal Mula, Ciri, dan Negara Penganutnya

    Pengertian Liberalisme: Awal Mula, Ciri, dan Negara Penganutnya

    Semua manusia pada dasarnya ingin memiliki kebebasan, baik yang sifatnya fisik maupun non-fisik. Keinginan untuk hidup bebas ini acap kali tercerminkan dalam ideologi liberalisme. Jika Anda ingin tahu seperti apa pengertian liberalisme dan ciri-cirinya, mari simak artikel berikut ini.

    Pengertian Liberalisme secara Umum

    Secara singkat, paham liberalisme adalah suatu ideologi politik yang percaya jika seluruh warga negara berhak untuk mendapatkan kebebasan hidup secara penuh. Selain kebebasan, paham ini juga menghendaki pemerintahan yang berasaskan demokrasi dan partisipasi aktif dari warga negara.

    Poin-poin utama yang sering menjadi tujuan ideologi liberal ialah kebebasan untuk berbicara, berkarya, berserikat, dan berbisnis tanpa batas. Seiring berjalannya waktu, gerakan politik ini juga ikut menggelorakan kebebasan beragama, kesetaraan ras dan etnis, serta perlakuan adil di hadapan hukum.

    Paham politik ini menentang keras pola pikir otoriter, sebab ideologi yang mendukung dominasi absolut tidak mengakui hak-hak asasi manusia dalam bentuk apapun.

    Pengertian Liberalisme Menurut Ahli Politik

    Contoh bentuk kebebasan dalam berpolitik
    (Contoh bentuk kebebasan dalam berpolitik | Sumber: Kompas.com)

    Selain pengertian liberalisme secara umum, ada pula definisi tentang ideologi liberal menurut sejumlah pakar politik. Perlu Anda ketahui bahwa pendapat para ahli ini sudah ada sejak tahun 1600 hingga tahun 1800, dan terus terpakai hingga sekarang.

    1. John Locke

    John Locke adalah seorang ahli filsafat dari negara Inggris yang menentang dominasi pemerintahan oleh satu golongan saja. Beliau menyatakan jika liberalisme ialah suatu keadaan di mana manusia bekerja sama secara sukarela demi melindungi hak milik pribadi dan kebebasan hidup mereka.

    2. Adam Smith

    Pengertian liberalisme menurut Adam Smith cenderung lebih mengarah ke bidang ekonomi dan gaya hidup manusia. Smith berpendapat jika ideologi liberal adalah sebuah sarana untuk mengembangkan kemampuan manusia tanpa campur tangan dari kaum penguasa maupun manusia lain.

    Sejarah Tumbuhnya Pola Pikir Liberalisme

    Ilustrasi John Locke
    (Ilustrasi John Locke | Sumber: Kompas.com)

    Awal mula kemunculan ideologi pro-kebebasan ini berawal dari abad ke-17 dan ke-18 di wilayah Eropa Barat, terutama di Inggris dan Prancis. Pengertian liberalisme dan keinginan untuk mendirikan kebebasan dicetuskan oleh para ahli filsafat klasik seperti Voltaire, John Locke, dan Thomas Hobbes.

    Locke dan Hobbes mengusulkan sebuah teori yang bernama Teori Kontrak Sosial, yang membahas tentang terbentuknya suatu negara. Intinya adalah manusia itu pada hakikatnya tidak beradab. Namun, mereka harus mau bersatu dan menyerahkan sebagian dari hak mereka secara sukarela.

    Dengan begitu, manusia dapat membentuk pemerintahan bersama demi menegakkan hukum dan menyelesaikan konflik di masyarakat. Locke kemudian mengembangkan pengertian liberalisme ini dengan menyatakan bahwa pengorbanan hak-hak rakyat itu adalah untuk melindungi kebebasan hidup.

    Pertumbuhan ideologi liberalisme juga dipengaruhi oleh beragam konflik besar yang melanda benua Eropa. Contohnya berupa Perang Saudara Inggris (1642-1651) dan Perang Napoleon (1803-1815). Tujuan dari kedua konflik tersebut ialah penghapusan sistem pemerintahan yang bersifat otoriter.

    Begitu abad ke-19 datang, muncullah para pendukung baru ideologi liberal seperti Benjamin Constant, Lord Byron VI, dan Sir James Mackintosh. Para pendukung ideologi liberal ini menghendaki kebebasan sipil, penghapusan sistem perbudakan, hingga dibatasinya intervensi dari pemerintah.

    Pada abad ke-20, banyak negara mengadopsi paham ini demi menegakkan ekonomi pasar bebas, pemerintahan demokratis, dan menjaga toleransi antar etnis dan agama. Tokoh-tokoh utama yang mendukung ideologi ini ialah KJ Stahlberg, Franklin D. Roosevelt, dan John A. Hobson.

    Ciri-Ciri Utama pada Pengertian Liberalisme

    Mata uang Dolar Amerika
    (Mata uang Dolar Amerika | Sumber: Pixabay.com)

    Ideologi yang bersifat pro-kebebasan ini memiliki paling tidak lima karakteristik utama yang membedakannya dari paham politik lain. Ciri-ciri tersebut ada yang berfokus pada bidang pemerintahan, ekonomi, dan sosial-budaya masyarakat.

    1. Adanya Partai Politik Berhaluan Oposisi

    Karakteristik utama yang terdapat pada negara yang menganut paham liberal adalah adanya satu partai politik atau lebih yang berhaluan oposisi. Dalam ranah ini, oposisi artinya yaitu sebuah pihak atau golongan yang tidak menyetujui pendapat dari pihak yang berkuasa.

    Ingat, dalam pola pikir yang membela kebebasan ini, semua warga negara berhak untuk berpartisipasi dalam bidang politik. Jika demikian, maka masyarakat memiliki hak untuk menolak atau mengkritik kebijakan pemerintah yang dapat merugikan khalayak luas.

    2. Sistem Ekonomi yang Bersifat Kapitalis

    Selain itu, menurut pengertian liberalisme dari Adam Smith di atas, ciri khas kedua yang paham ini miliki ialah sistem ekonomi kapitalis. Dalam pola pikir kapitalisme, seseorang, baik individu maupun kelompok, berhak untuk membuka usaha demi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

    Sebagai salah satu bentuk jaminan kebebasan bagi masyarakat, negara penganut paham liberal pasti mengizinkan ekonomi kapitalisme. Kaum pebisnis menguasai pergerakan uang dan komoditas di pasar, sementara pemerintah hanya bertindak sebagai pengawas saja.

    3. Keadilan di Hadapan Hukum

    Satu lagi karakteristik penting yang terdapat pada paham liberal ialah hak masyarakat untuk mendapat perlakuan adil di hadapan hukum. Jika tidak ada keadilan di mata hukum, Anda bisa saja dituduh telah melakukan kejahatan tanpa bukti maupun kesempatan untuk mengajukan banding.

    Inilah aspek yang sangat ditentang oleh liberalisme, sebab seorang manusia tidak mungkin melakukan kejahatan apabila tak ada barang bukti. Bukan itu saja, seorang terdakwa juga berhak untuk mengajukan banding jika dia memang tidak bersalah atas apa-apa.

    4. Kebebasan Berekspresi Dijunjung Tinggi

    Ciri keempat pada pengertian liberalisme, yaitu kesempatan untuk berekspresi atau menyuarakan pendapat. Seorang warga negara mempunyai hak untuk menyatakan apa yang ada di dalam pikirannya, baik itu hal bernada positif maupun negatif.

    Kebebasan berekspresi ini juga dapat mengambil wujud karya seni, seperti lukisan, fotografi, novel, lagu, dan buku biografi. Bebas atau tidaknya masyarakat pada suatu negara dapat Anda lihat dari jumlah karya seni yang sanggup mereka hasilkan dalam jangka waktu tertentu.

    5. Warga Negara Bersikap Induvidualistik

    Di nomor lima, karakteristik pada negara yang menganut ideologi liberal yaitu sikap individualis yang warga negaranya tunjukkan. Mengapa penduduk negara tersebut sampai berperilaku acuh tak acuh atau apatis? Sebab pemerintahnya tidak mengatur hidup masyarakat secara langsung.

    Pada satu sisi, pola hidup individualistik ini membolehkan warga negara untuk hidup dan menyatakan ekspresi tanpa takut ditangkap polisi. Namun di sisi lain, orang-orang tersebut juga memiliki tingkat kesadaran sosial yang agak rendah, serta cenderung berperilaku egois di tempat umum.

    Contoh Negara yang Menganut Paham Liberalisme

    Bendera negara Amerika Serikat
    (Bendera negara Amerika Serikat | Sumber: Pixabay.com)

    Negara yang menganut paham liberalisme biasanya berada di wilayah Barat (Benua Eropa dan Amerika Utara). Di bawah ini ialah tiga contoh negara yang memegang ideologi liberalisme dengan sangat erat.

    1. Amerika Serikat

    Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat sangat menjunjung tinggi kebebasan untuk seluruh warga negaranya. Negeri ini sempat terlibat dalam Perang Sipil Amerika pada tahun 1861 demi mendirikan negara yang bebas dan merdeka.

    Kebebasan yang Amerika Serikat hormati di antaranya ialah hak menyuarakan pendapat, membeli senjata api, memeluk agama, dan membuka usaha. Hal ini sejalan dengan aneka pengertian liberalisme di bagian sebelumnya.

    2. Inggris Raya

    Dulu, negara persemakmuran Inggris Raya dipimpin oleh seorang raja atau ratu yang kekuasaannya bersifat absolut. Namun, pada tahun 1215, kerajaan monarki tersebut berubah menjadi demokrasi parlementer melalui dokumen bernama Magna Carta.

    Sekarang, Inggris menganut paham liberal yang melibatkan sistem parlemen dua kamar atau sayap pemerintahan. Warga negaranya juga memiliki kesempatan untuk mengomentari dan mengkritik jalannya pemerintahan di negeri tersebut.

    3. Prancis

    Sama seperti Inggris, pada zaman dahulu negara Prancis berada di bawah pimpinan kaum bangsawan yang terkenal bengis. Rakyat yang sudah tak tahan lagi terhadap penindasan oleh kaum bangsawan pun akhirnya melakukan revolusi besar.

    Semenjak peristiwa Revolusi Prancis di tahun 1789, negara ini kemudian menganut paham liberalisme secara penuh. Semua penduduk negara Prancis menerima hak mutlak untuk melakukan dan mengatakan apapun yang mereka mau.

    Baca Juga : Teori Kedaulatan Negara: Pengertian, Sifat, dan Jenisnya

    Sudah Tahu Pengertian Liberalisme dan Ciri-Cirinya?

    Paham pengertian liberalisme atau politik yang menjunjung tinggi kebebasan dan hak asasi manusia secara mutlak dapat menarik minat banyak orang di dunia. Meskpin begitu, kebebasan yang mutlak bisa saja disalahgunakan oleh manusia yang berhati jahat, sehingga mau tidak mau harus ada aturan yang mengelolanya.

  • 10 Budaya Jepang Paling Unik dan Populer Hingga Saat Ini!

    10 Budaya Jepang Paling Unik dan Populer Hingga Saat Ini!

    Jepang menjadi salah satu negara yang menjadi destinasi favorit bagi anak muda Indonesia. Banyak yang ingin tahu lebih banyak tentang negara dengan julukan Negeri Sakura ini. Tak ayal, budaya Jepang pun sering menjadi topik pembicaraan hangat. Penasaran dengan budaya unik di sana? Yuk, simak uraian berikut ini!

    10 Budaya Jepang Paling Unik dan Populer

    Tradisi Jepang sudah sejak lama punya magnet tersendiri bagi orang luar. Nah, berikut adalah sepuluh contoh budayanya yang wajib kamu ketahui:

    1. Geisha

    Geisha
    Geisha | Sumber gambar: fromjapan.info

    Meski cukup banyak dikenal, tidak semua orang mengenal apa arti Geisha yang sebenarnya. Sehingga, banyak orang justru menyalahartikan dan memandangnya sebagai hal buruk.

    Kalau kita lihat dalam bahasa Jepang, kata “Geisha” sendiri berarti orang yang memiliki keterampilan seni Jepang. Contohnya seperti menyanyi, menari, ataupun bermain alat musik. Singkatnya, Geisha adalah pelaku seni tradisional Jepang.

    Awalnya, mayoritas Geisha yang ada di Jepang adalah pria. Namun, lambat laun, jumlah Geisha pria terus menurun dari waktu ke waktu. Ini menyebabkan tren Geisha bergeser karena mayoritas yang ditekuni oleh wanita.

    Geisha punya sejarah yang cukup panjang di Jepang, tepatnya sejak abad 18. Meskipun sudah sangat lama, Geisha masih menjadi kebudayaan Jepang yang eksis hingga saat ini. Jika berencana ke Jepang, kamu bisa menemui Geisha di beberapa titik lokasi tertentu di kota Kyoto.

    2. Kimono

    Kimono
    Kimono | Sumber gambar: klook.com

    Sebagian besar orang setidaknya pernah mendengar nama pakaian tradisional Jepang satu ini. Ya, pakaian tersebut adalah Kimono. Kimono adalah contoh tradisi Jepang yang sudah sangat mendunia. Kata Kimono sendiri berasal dari dua kata, yaitu ‘ki’ yang berarti pakai, ‘mono’ yang berarti benda.

    Kimono sudah ada untuk waktu sangat lama, tepatnya sejak zaman Heian berlangsung di Jepang (794-1185 M). Artinya, Kimono sudah ada di Jepang selama lebih dari seribu tahun. Hebatnya, Kimono tidak luntur justru semakin populer di tengah masyarakat. Biasanya, kimono dipakai oleh aktor saat melakukan pentas ataupun Geisha.

    Sebetulnya, pakaian kimono tidak hanya ada satu jenis saja. Ada beberapa jenis Kimono yang peruntukannya berbeda-beda. Sebagai contoh, Kimono yang dipakai oleh wanita yang sudah menikah berbeda dengan jenis yang dipakai wanita lajang. Berikut ini adalah beberapa jenis pakaian Kimono yang ada di Jepang:

    • Tomesode: Kimono yang sangat formal dengan motif emas dan perak. Umumnya, Kimono jenis ini dipakai oleh wanita yang sudah menikah pada saat menghadiri upacara pernikahan.
    • Mofuku: Jenis Kimono yang serba hitam. Biasanya orang Jepang mengenakan Kimono ini pada saat acara berduka.
    • Susohiki atau Hikizuri: Kimono ini sering para Geisha pakai. Susohiki memiliki bentuk yang unik dengan ukuran yang lebih panjang hingga menyentuh lantai.
    • Iromuji: Ini adalah jenis Kimono yang bisa dipakai baik oleh wanita yang sudah menikah ataupun wanita yang masih lajang. Selain itu, iromuji hanya terdiri dari satu warna, sehingga memberikan kesan yang polos.
    • Komon: Kimono yang terbuat dari sutra. Orang Jepang sering mengenakan Komon saat menghadiri acara kasual atau informal.
    • Furisode: Jenis Kimono yang umum wanita lajang di Jepang pakai. Wanita lajang mengenakan Kimono jenis ini saat menghadiri upacara pernikahan, upacara kedewasaan, ataupun upacara minum teh (Sadou).

    3. Tako

    Tako
    Tako | Sumber gambar: aspiremagz.com

    Tidak hanya Indonesia saja yang identik dengan mainan layang-layang, Jepang juga terkenal dengan layang-layangnya. Layang-layang khas Jepang sendiri bernama Tako. Setiap tahun baru, menerbangkan Tako adalah aktivitas terfavorit bagi keluarga Jepang. Sangat mudah menemukan orang bermain Tako saat berlangsung festival budaya.

    Secara umum, orang Jepang akan menerbangkan Tako saat tahun baru, libur umum, dan Hamamatsu Matsuri. Bagi mereka, Tako bukanlah sekadar layang-layang. Tako adalah bagian dari budaya Jepang yang mempunyai nilai seni tinggi. Serta merupakan kebanggan bagi masyarakat Jepang.

    Hal tersebut terbukti dari langkah pemerintah Jepang dalam memberikan subsidi bagi seniman pembuat Tako. Karya seni mereka juga diabadikan di Museum Tako no Hakubutsukan di Tokyo. Museum Tako adalah salah satu tempat di Tokyo yang harus kamu kunjungi jika berada di Jepang.

    4. Origami

    Origami
    Origami | Sumber gambar: freepik.com

    Selain Kimono, ternyata ada juga tradisi yang sangat terkenal hingga ke mancanegara. Budaya tersebut adalah origami atau seni melipat kertas. Origami sendiri berasal dari dua kata, yaitu ‘ori’ yang berarti melipat, ‘gami’ yang berarti kertas.

    Meskipun origami berasal dari Jepang, banyak anak-anak di Indonesia sudah belajar origami sejak masih bangku kanak-kanak atau sekolah dasar.

    Origami pun sudah sangat lama menjadi bagian dari tradisi Jepang, tepatnya sejak zaman Heian yang berlangsung lebih dari seribu tahun lalu. Awalnya origami dipakai sebagai penutup botol sake (arak beras khas Jepang).

    Selain itu, origami juga punya banyak nama. Contohnya seperti orikata, orimono, dan orisui. Namun, sejak akhir tahun 1800-an, kesenian melipat kertas ini lebih terkenal dengan sebutan origami.

    5. Sadou

    Sadou
    Sadou | Sumber gambar: sailforth.wordpress

    Bagi masyarakat Jepang, minum teh adalah bagian dari tradisi. Upacara minum teh ini bernama Sadou. Sebenarnya, tradisi ini berawal dari orang Tiongkok di abad ke-6. Sadou juga terbagi menjadi 2 jenis sadou, yaitu:

    • Ochakai: Upacara minum teh yang sifatnya tidak formal. Biasa dilakukan oleh orang Jepang bersama kerabatnya untuk merayakan suatu peristiwa.
    • Chaji: Upacara minum teh yang terkenal formal dan sakral. Bahkan, chaji bisa berlangsung selama 4 jam.

    Sadou sendiri memiliki makna, yaitu menghargai antara tamu dan tuan rumah satu sama lain. Selain itu, ada beberapa tata cara jika orang Jepang menjalankan upacara ini. Misalnya, seperti menyiapkan peralatan Sadou, menata ruangan, hingga memberi dekorasi. 

    Tamu pun juga memiliki tata cara tersendiri sebelum tuan rumah memperbolehkan mereka masuk. Ada juga aturan cara menerima mangkuk teh dan aturan duduk.

    6. Hanami

    Hanami
    Hanami | Sumber gambar: sakura.co

    Bunga sakura selalu identik dengan Jepang. Bahkan, ada satu festival yang khusus untuk melihat bunga sakura bermekaran yang bernama Hanami. Awalnya, hanya kelas atas dan bangsawan saja yang melakukan festival ini. Namun, sejak era Edo di tahun 1600-an, festival Hanami pun juga dinikmati oleh masyarakat Jepang secara umum.

    Hanami saat ini berlangsung dalam rangka kegiatan piknik ataupun berkumpul bersama keluarga. Festival budaya Jepang ini berlangsung hanya sekali dalam satu tahun, mengikuti kapan mekarnya bunga sakura atau tepatnya di musim semi bulan April.

    Masyarakat Jepang ternyata memaknai festival Hanami sebagai pengingat bahwa keindahan hanya berlangsung sebentar. Hal tersebut membuat masyarakat menganggap Hanami sebagai kesempatan untuk istirahat dari hiruk pikuk dunia.

    7. Hanabi

    Hanabi
    Hanabi | Sumber gambar: japan-guide.com

    Ketika musim panas tiba, orang Jepang melakukan suatu tradisi yang disebut Hanabi. Hanabi merupakan tradisi berupa tontonan kembang api yang indah dan cukup terkenal bagi orang Jepang. Festival Hanabi sendiri sudah ada sejak zaman Edo.

    Ada beberapa jadwal dari pelaksanaan festival Hanabi. Contohnya adalah Yokohama Sparkling Twilight, Sumidagawa Hanabi Taikai, Tenjin Hanabi Festival, Nagaoka Festival Grand Fireworks, Omagari Fireworks Festival, dan lain sebagainya.

    8. Festival Matsuri

    Matsuri
    Matsuri | Sumber gambar: en.japantravel

    Masyarakat Jepang mengenal banyak budaya dalam bentuk festival di musim panas. Selain Hanabi dan Hanami, festival Matsuri juga merupakan tradisi yang berlangsung di musim panas. Matsuri sendiri adalah acara saat orang Jepang melakukan kegiatan berdoa ke kuil Shinto dan kuil Buddha.

    Istilah matsuri berasal dari kata ‘matsuru’ yang berarti menyembah. Festival ini merupakan pemujaan kepada Kami-sama. Ada empat unsur Matsuri menurut ajaran Shinto, yaitu persembahan, penyucian, berdoa, dan pesta makan.

    Makna festival Matsuri adalah sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai berkah. Seperti sembuh dari penyakit, kesuksesan bisnis, hingga keberhasilan panen.

    9. Onsen

    Onsen
    Onsen | Sumber gambar: enjoyonsen.city.beppu-jp

    Istilah onsen merujuk pada istilah sumber air panas yang menjadi pemandian umum di Jepang. Budaya Jepang adalah melakukan mandi di sumber air panas. Onsen sendiri tidak hanya di luar ruangan sekarang, sudah banyak onsen yang berada di dalam ruangan. Alaminya, Jepang memang punya banyak sumber mata air panas alami.

    10. Samurai

    Samurai
    Samurai | Sumber gambar: outfit4events

    Samurai adalah satu hal yang sangat terkenal dan identik dengan Jepang. Meskipun demikian, banyak orang yang salah mengartikan kata Samurai. Kebanyakan menyangka bahwa Samurai adalah pedang yang digunakan oleh ksatria tradisional. Padahal, arti Samurai adalah ksatria Jepang itu sendiri. 

    Sedangkan pedang yang mereka gunakan bernama Katana. Di Jepang, Samurai punya sejarah yang sangat panjang dan penting. Samurai juga punya andil besar dalam politik dan tradisi Jepang. Saking terkenalnya, kisah para Samurai diangkat melalui beberapa hal seperti game, komik, ataupun anime (kartun khas Jepang).

    Baca Juga : Akulturasi Budaya: Pengertian, Tujuan, Faktor, dan Contoh

    Budaya Jepang Mana yang Menjadi Favoritmu?

    Jepang tidak hanya terkenal sebagai negara maju yang menghasilkan banyak teknologi modern. Di satu sisi, budayanya yang beragam juga sudah sangat mendunia. Oleh karena itu, budaya Jepang yang unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan karena mencerminkan bagaimana orang lokal memaknai kehidupan.

    Nah, jika ingin melihat dan merasakan berbagai tradisi tersebut secara langsung, kamu sebaiknya memperhatikan waktu berkunjung ke negara Jepang. Karena beberapa budaya hanya terselenggara di waktu khusus. Misalnya seperti Hanabi yang hanya ada di bulan Juli dan Hanami di bulan April. Jadi, budaya mana yang menjadi favoritmu?

  • Teori Emile Durkheim: Jenis dan Perspektif dalam Sosiologi

    Teori Emile Durkheim: Jenis dan Perspektif dalam Sosiologi

    Jika mendalami ilmu sosiologi, pasti kamu tidak asing dengan tokoh Emile Durkheim, bukan? Berbagai teori emile durkheim selalu membahas fenomena yang terjadi di dalam kehidupan sosial masyarakat. 

    Tak hanya itu, Durkheim juga mendorong penggunaan metode ilmiah dan memberikan landasan bagi studi norma sosial. Nah, untuk mengenal lebih jauh mengenai teori satu ini, mari simak tulisan ini sampai habis!

    Biografi Singkat Emile Durkheim

    Emile Durkheim
    Emile Durkheim | Sumber Gambar: Kompas

    Beliau merupakan seorang sosiolog pertama yang mendirikan departemen sosiologi di universitas di Eropa pada tahun 1895. Saat itu, ilmu sosiologi belum berkembang pesat. Namun, Durkheim terus mengembangkan berbagai teori mengenai ilmu sosiologi.

    Bernama lengkap David Émile Durkheim, beliau lahir di Epinal Perancis, 15 April 1858. Durkheim lahir dalam keluarga berkebangsaan Yahudi di Prancis. Ayahnya adalah seorang rabbi yang mengharapkan Durkheim mengikuti jejaknya dalam kehidupan agama. Namun, Durkheim memiliki minat besar dalam ilmu pengetahuan.

    Durkheim memutuskan mengejar studi akademik untuk membuktikan bahwa fenomena kepercayaan dan keagamaan berasal dari faktor sosial, bukan ilahi. Tekadnya kuat sedari dini, ini terlihat dari masa kanak-kanak Durkheim yang keluar sekolah karena memilih menjadi agnostik dan meragukan keberadaan Tuhan.

    Minat Durkheim pada ilmu sosial sedikit terganjal. Saat itu, Perancis belum memiliki kurikulum pembelajaran ilmu sosial. Akhirnya, tahun 1882, Durkheim lulus dengan gelar sarjana filsafat. Selama beberapa tahun menjadi pengajar filsafat, beliau meninggalkan Perancis untuk belajar sosiologi ke Jerman, tahun 1885.

    Setelah menyelesaikan pendidikan tingginya, Durkheim memulai karier akademiknya dan menjadi seorang profesor sosiologi. Beliau menjadi profesor sosiologi pertama di Prancis dan memegang jabatan penting di beberapa universitas. Jurnal ilmu sosial pertamanya berjudul L’Année Sociologique juga cukup fenomenal.

    Seiring berjalannya waktu, lahirlah berbagai teori emile durkheim yang masih dipelajari hingga saat ini. Kemudian, pada tahun 1896, Durkheim menerbitkan karya besar ketiganya yang berjudul Suicide: A Study in Sociology. Sebuah studi kasus yang mengeksplorasi tingkat bunuh diri di antara umat Protestan dan Katolik.

    Nah, karena perannya sangat signifikan dalam dunia sosiologi, Emile Durkheim akhirnya dinobatkan menjadi Bapak Sosiologi Modern.

    Jenis Teori Emile Durkheim 

    Emile Durkheim mengembangkan teorinya dengan melihat perilaku sosial manusia sebagai individu. Beliau juga juga melihat individu sebagai bagian dari suatu sistem sosial dan memiliki orientasi kepada lingkungan tempatnya berada. Berikut adalah tiga jenis teorinya:

    1. Teori Fakta Sosial 

    Ilustrasi Budaya Gotong Royong Masyarakat
    Ilustrasi Budaya Gotong Royong Masyarakat | Sumber Gambar: Detik

    Durkheim memandang fakta sosial sebagai salah satu bagian penting dalam ilmu pemahaman masyarakat dan perilaku manusia. Teori emile durkheim satu ini menjadi dasar untuk mengkaji bagaimana masyarakat dan individu saling memengaruhi. 

    Dalam konteks ini, fakta sosial memengaruhi individu secara signifikan dan memunculkan adanya konsep kesadaran kolektif yang didasari kepercayaan dan tekad bersama. Durkheim menggambarkan bahwa fakta sosial adalah pola perilaku, norma, nilai, institusi, dan struktur sosial yang ada di dalam masyarakat.

    Hal tersebut menjadi kekuatan eksternal yang memengaruhi seseorang. Misalnya seperti mengatur perilaku dan membatasi kebebasannya sebagai individu. Kemudian, menciptakan kohesi sosial dan kesatuan dalam masyarakat.

    Intinya, fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baik itu baku maupun tidak baku. Beberapa ciri-cirinya adalah bersifat eksternal atau di luar individu, bersifat memaksa, serta tersebar luas dalam suatu masyarakat.  

    2. Teori Solidaritas Sosial

    Ilustrasi Masyarakat Perkotaan
    Ilustrasi Masyarakat Perkotaan | Sumber Gambar: Pexels

    Durkheim memahami solidaritas sebagai dasar yang mempersatukan anggota masyarakat. Pemahaman inilah yang membentuk dasar penting dalam hubungan sosial masyarakat modern. Selain itu, teori ini dapat menjelaskan terjadinya perubahan sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat.

    Teori solidaritas sosial terbentuk karena Durkheim memiliki pandangan bahwa perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor ekologis dan demografis. Beliau juga mengidentifikasi dua jenis solidaritas sosial yang berbeda, yakni solidaritas mekanik dan organik. Berikut uraiannya:

    a) Solidaritas Mekanik

    Solidaritas mekanik merujuk pada jenis solidaritas yang mendominasi masyarakat tradisional dan primitif. Dalam konteks ini, anggota masyarakat terikat bersama karena kesamaan nilai, norma, dan tradisi yang ada. 

    Umumnya, orang-orang dalam masyarakat ini memiliki keseragaman dalam hal keyakinan, perilaku, dan pekerjaan. Keseragaman ini menghasilkan hubungan sosial yang kuat dan menyatukan mereka secara kolektif yang homogen. Dalam masyarakat ini, sanksi norma sosial juga lebih kuat dan tegas untuk ditegakkan.

    Karakter dari solidaritas mekanik dalam teori emile durkheim adalah sistem pembagian kerja rendah, serta nilai dan norma bersifat umum juga abstrak. Selain itu, hukum yang berlaku bersifat memaksa.

    b) Solidaritas Organik

    Solidaritas organik terbentuk karena masyarakat bersatu atas rasa saling ketergantungan fungsional, biasanya menjadi karakteristik masyarakat modern yang diwarnai oleh spesialisasi dan diversifikasi pekerjaan. Tiap orang di dalamnya memiliki peran dan fungsi yang sangat berbeda satu sama lain.

    Teori tentang solidaritas organik mengacu pada interdependensi yang berkembang dalam masyarakat modern. Artinya, setiap individu bergantung satu sama lain untuk mencapai kesuksesan atau memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut sangat berbeda dari solidaritas mekanik yang menekankan kesamaan dan homogenitas.

    Karakter dari solidaritas organik adalah sistem pembagian kerja yang kompleks. Hukumnya pun bersifat restitutif karena semata-mata diberlakukan untuk mengembalikan masyarakat pada kondisi semula.

    3. Teori Anomie

    Ilustrasi Anomie
    Ilustrasi Anomie | Sumber Gambar: Powerofpositivity 

    Durkheim membuat teori anomie untuk menjelaskan alasan seseorang melakukan penyimpangan. Beliau menggambarkan kondisi masyarakat yang mengalami keputusasaan, kebingungan, dan ketiadaan norma dalam kehidupan. 

    Anomie menjadi pemahaman akan gangguan dalam struktur sosial yang dapat menghasilkan dampak negatif pada individu dan masyarakat secara keseluruhan. Kondisi ini membuat seseorang merasa tidak memiliki panduan atau norma yang jelas dalam perilakunya, layaknya hilang arah.

    Fenomena anomie dapat terjadi ketika norma-norma sosial menjadi kabur atau melemah dalam masyarakat, terutama dalam masyarakat yang mengalami perubahan cepat seperti urbanisasi, industrialisasi, atau disintegrasi sosial. 

    Dalam teori emile durkheim juga menghubungkan konsep anomie dengan tingkat bunuh diri masyarakat. Beliau berpendapat bahwa meningkatnya kasus bunuh diri bisa terjadi karena masyarakat mengalami anomie. Sehingga, individu yang tidak memiliki panduan norma sosial dengan jelas merasa terisolasi dan tidak berarti.

    Teori anomie memiliki beberapa karakteristik seperti tidak memiliki kepastian normatif. Sehingga, menyebabkan kebingungan terhadap norma yang perlu diikuti dalam masyarakat dan meningkatnya gangguan sosial. Di mana ini akan menyebabkan konflik, seperti kerusuhan, kejahatan, dan perilaku antisosial lain.

    Perspektif tentang Fenomena Bunuh Diri

    Sebagai seorang sosiolog yang mempelajari perilaku individu, baik kelompok maupun masyarakat. Maka, Emile Durkheim pun mengkaji tentang fenomena bunuh diri. Teori emile durkheim tentang bunuh diri adalah terpengaruhnya kondisi seseorang karena fenomena sosial di lingkungannya.

    Fenomena sosial tersebut berupa masalah ekonomi, agama, perceraian, disintegrasi sosial, dan regulasi sosial. Durkheim juga melakukan riset mengenai statistik bunuh diri di berbagai negara Eropa. 

    Selain itu, Durkheim memandang tingkat bunuh diri di suatu daerah bisa meningkat jika seseorang melebihi kapasitas atau terlalu sedikit disintegrasi dan regulasi di dalam masyarakat

    Perspektif tentang Ritual dan Keagamaan

    Durkheim memandang agama sebagai kesatuan sistem kepercayaan dan praktik-praktik sakral. Dalam hal ini, terdapat larangan, kepercayaan dan praktik yang menyatukan semua orang yang menganut dan meyakini hal-hal tersebut ke dalam satu komunitas moral. Berikut syarat yang dibutuhkan dalam agama:

    1. Kepercayaan Religius

    Kepercayaan adalah simbolisasi dari ekspresi hal-hal yang memiliki nilai sakral. Ini juga mencerminkan hubungan yang dimiliki oleh seseorang, baik dengan yang menghormati nilai sakral atau dengan yang lebih bersifat duniawi. 

    Menurut Durkheim, kepercayaan adalah perasaan yang selalu ada dalam diri para penganut terhadap nilai-nilai yang mereka hargai. Keunikan dari kepercayaan ini menimbulkan perasaan takjub daripada ketakutan, terutama berasal dari emosi yang sangat khusus bahwa ‘keagungan’ ada dalam diri manusia.

    2. Ritual Agama

    Teori emile durkheim memandang ritual agama sebagai panduan tindakan yang mengatur cara seseorang bersikap terhadap hal-hal yang dianggap suci. Ritual keagamaan berbentuk ritus, upacara, atau perayaan yang ditandai oleh pengulangan yang teratur. 

    Fungsinya adalah untuk meningkatkan ikatan antara para penganut agama dan elemen-elemen suci yang dianggap sebagai inti kehidupan.

    3. Rumah Ibadah

    Setiap kepercayaan agama mengharuskan adanya tempat ibadah yang khusus. Contohnya, Islam mengharuskan adanya masjid, Kristen memerlukan gereja, Hindu membutuhkan pura, dan lain sebagainya. 

    Baca Juga : Mengenal Tokoh Pencetus Sosiologi Hukum di Dunia 

    Sudah Lebih Memahami Teori Emile Durkheim?

    Intinya, Emile Durkheim adalah tokoh penting dalam sosiologi yang telah memberikan banyak kontribusi dalam pemahaman masyarakat dan perilaku manusia. Sebenarnya, teori emile durkheim telah mengalami perkembangan oleh tokoh lain. 

    Durkheim bahkan mendapat beberapa kritik karena teorinya bertentangan dari perspektif individualistik. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan teori ini bisa membantu kita memahami bagaimana struktur sosial memengaruhi seseorang dan bagaimana seseorang memengaruhi masyarakat. Semoga bermanfaat!