Tag: Hotel

  • Apa itu Hotelier? Pengertian, Tugas, dan Skill yang Wajib Dimiliki

    Apa itu Hotelier? Pengertian, Tugas, dan Skill yang Wajib Dimiliki

    Penasaran dengan apa itu Hotelier? Apakah kamu adalah salah satu orang yang punya impian untuk berkarir di hotel?

    Sering membayangkan bisa bekerja di hotel mewah, setiap hari berpenampilan rapi, wangi, bisa ngobrol langsung sama bule-bule dari berbagai belahan dunia.

    Sekaligus dapat gaji dan service charge yang tinggi? Itu semua bukan hal yang mustahil. Bisa terjadi kalau memang kamu akan memilih hotel sebagai tempatmu berkarir nanti.

    Menjadi seorang hotelier adalah pekerjaan yang menyenangkan dan bisa dibilang gampang-gampang susah.

    Pasti ada suka dukanya dan enak ga enaknya. Tapi kalau kamu memang merasa punya ketertarikan dengan dunia perhotelan dan passion yang kuat untuk hal tersebut, sekarang waktunya kamu perjuangkan!

    Apa itu Hotelier?

    Mengenal Apa itu Hotelier

    Jika merujuk pada kamus bahasa Inggris Merriam Wesbter, hotelier adalah seseorang yang memimpin operasional hotel, atau pemilik sebuah hotel.

    Tidak hanya hotel, pemimpin operasional motel, resort, villa atau jenis akomodasi penginapan lainnya juga disebut sebagai hotelier.

    Mulai dari melakukan standar kebersihan dan fasilitas hotel, manajemen penjualan dan bisnis, manajemen berbagai bentuk pemasaran, manajemen pendapatan dan pengeluaran keuangan, dan masih banyak tugas-tugas lainnya.

    Umumnya istilah hotelier menggambarkan seorang pimpinan eksekutif yang bekerja di hotel dan mengenakan jas hitam berdasi.

    Tapi faktanya…

    Saat ini istilah hotelier lebih banyak digunakan sebagai penyebutan untuk seseorang yang bekerja di hotel, baik sebagai karyawan, pimpinan atau pemilik.

    Sehingga jika disimpulkan, hotelier adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan seseorang yang bekerja di dunia perhotelan.

    Baca juga: Kisah Sukses Suwamana Wahyu Putra: Lulusan SMA Yang Kini Menjadi Chief Operating Officer

    Sifat yang Wajib Dimiliki Seorang Hotelier

    Untuk menjadi seorang hotelier yang baik, kamu perlu memiliki sifat dan karakter yang sesuai. Apalagi, hotelier kerap dianggap sebagai seorang pimpinan eksekutif yang menjalankan hotel. Sifat dan karakter yang wajib dimiliki hotelier adalah sebagai berikut:

    1. Sifat kejujuran

    Jujur merupakan sifat yang paling penting dimiliki hotelier. Bukan hanya hotelier, melainkan profesi lainnya juga.

    Sifat kejujuran membantu membangun kepercayaan antar sesama karyawan dan meningkatkan kenyamanan dan keamanan tamu.

    2. Sifat terbuka

    Seorang hotelier yang memiliki sifat terbuka akan lebih mudah menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam lingkungan hotel, sebab mau menerima saran dan kritik dari sesame karyawan atau tamu yang menginap.

    3. Sifat profesionalisme

    Sifat selanjutnya adalah sifat profesionalisme. Hotelier harus memiliki penampilan dan etos kerja yang profesional, terutama saat menghadapi masalah atau tamu yang tidak puas.

    Tingkat profesionalisme sangat penting, sebab dapat menunjukkan kualitas pelayanan dari suatu hotel.

    4. Sifat kerja keras

    Kerja keras yang dimaksud bukan sekadar kerja keras berjam-jam tanpa istirahat, melainkan kerja keras yang diiringi dengan sifat mau belajar.

    Dengan begitu, hotelier bisa menemukan ide atau solusi inovatif untuk dituangkan menjadi produk yang bisa meningkatkan kepuasan tamu.

    5. Sifat disiplin

    Disiplin berarti mampu mematuhi dan menjalankan tata tertib atau aturan yang ada di hotel. Seorang hotelier harus mengikuti berbagai disiplin, mulai dari disiplin kehadiran, disiplin menyapa, hingga disiplin mengikuti standar prosedur yang ditetapkan.

    6. Sifat sopan dan sabar

    Bekerja di perusahaan yang bergerak melayani orang tentu harus memiliki sifat sabar. Kamu pasti akan menghadapi tamu yang marah-marah karena tidak puas. Itu sudah menjadi hal yang wajar.

    Anggap saja kamu sedang mengasah emosional intelegensia agar lebih bijaksana dan cerdas dalam menghadapi karakter orang yang bermacam-macam ke depannya.

    7. Memiliki sertifikasi kompetensi

    Tidak sembarang orang bisa menjadi hotelier. Seorang hotelier harus memiliki sertifikasi kompetensi yang mumpuni, seperti pengalaman yang banyak, kemampuanteknis, kemampuan non-teknis, dan yang terpenting adalah sikap yang baik.

    Tanggung Jawab Seorang Hotelier

    Sebagai seorang yang posisinya cukup tinggi, hotelier memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar dalam menjamin operasional hotel.

    Mulai dari membangun branding, membuat kegiatan pemasaran, bekerjasama dengan tim untuk meningkatkan penjualan.

    Selain itu, hotelier memiliki tugas dan tanggung jawab yang cukup besar, berikut di antaranya:

    1. Menguasai teknik marketing hotel yang bertugas meningkatkan target penjualan atau sales.
    2. Rutin mengadakan pelatihan dan memantau kinerja karyawan.
    3. Memasatikan bahwa karyawan mengikuti standar operasional yang sudah diterapkan.
    4. Memberikan SP dan teguran kepada karyawan yang melanggar tata tertib dan SOP.
    5. Menangani dan menyelesaikan masalah yang dialami tamu.
    6. Dituntut hadir dalam keadaan yang mendesak atau penting.
    7. Memastikan bahwa operasional hotel berjalan sesuai harapan.
    8. Bertanggung jawab atas rekruitmen karyawan baru untuk departemen HRD.
    9. Turut membantu departemen yang sedang sibuk dan kekurangan karyawan.
    10. Menjadi teladan yang baik agar bisa memotivasi para karyawan.

    Skill yang Harus Dimiliki Seorang Hotelier

    Tugas hotelier adalah

    Tentunya sebelum menjadi seorang hotelier yang sukses, yang kamu harus tau adalah bekerja di hotel itu berbeda dengan bekerja di industri yang lain pada umumnya.

    Kalau kamu pernah menginap di sebuah hotel, coba deh perhatikan gimana ramahnya mereka, murah senyumnya dan cara mereka berkomunikasi ke para tamu. Terasa hangat kan?

    Ya, menjadi seorang hotelier adalah wajib memiliki semua soft skill tersebut. Untuk kamu yang mungkin lupa soft skill adalah kemampuan non-teknis yang secara alami ada pada diri seseorang.

    Suwamana Wahyu Putra. Lulusan SMA Yang Kini Menjadi Chief Operating Officer

    Contohnya komunikasi, kepemimpinan dan sosialisasi. Soft skill menyangkut hal yang tidak dipelajari di sekolah ataupun kuliah. Bisa dipelajari tapi biasanya butuh waktu yang tidak sebentar.

    Yuk kita bahas beberapa soft skill yang harus kamu miliki ketika bekerja di dunia perhotelan:

    1. Costumer Service Skill

    Ini paling wahid, paling penting dan skill yang wajib kamu punya. Kita sebagai hotelier harus ingat  bahwa  kelangsungan hidup dari sebuah hotel adalah tergantung dari volume kedatangan tamu-tamu untuk menginap ditempat kita.

    Dari uang-uang yang mereka bayarkan untuk sewa kamar, makan di restaurant dan service lainnya.

    Gaji dan service charge kita juga bersumber dari sana. Jadi wajib costumer service skill kamu miliki untuk memberikan pelayan yang maksimal untuk mereka.

    Costumer service yang baik adalah bisa memahami kebutuhan dan mampu memberikan pengalaman yang berkesan pada mereka sehingga loyalitas tamu akan terbentuk dengan sendirinya mengikuti itu semua.

    2. Skill Komunikasi

    Dalam bisnis perhotelan dan pariwisata, setiap hari kamu akan kontak langsung dengan orang-orang dari berbagai negara, berbagai latar belakang dengan stratata sosial yang berbeda juga.

    Tentunya cara kita berkomunikasi dengan orang-orang tersebut juga tidak akan sama. Ini akan berkaitan dengan budaya dan behaviour mereka, jadi wajib untuk kamu pelajari hal tersebut untuk mendapat komunikasi yang “nyambung” dengan para tamu nanti. Cukup menantang ya?

    3. Flexibility skill

    Dibandingkan dengan profesi lain kerja di hotel umumnya ada 3 shift pembagian kerja seperti shift pagi, siang dan malam.

    Sudah pasti akan sekali dua kali  menuntut karyawan untuk bekerja dengan jam kerja yang tidak biasa contohnya dari jam 11 malam- 7 pagi.

    Kerja di akhir pekan juga akan jadi hal yang biasa buat kamu. Artinya, momen Thanks God Its Friday (TGIF) kemungkinan ga berlaku nanti kedepannya.

    Belum lagi sewaktu – waktu ada perubahan schedule mendadak mau ga mau harus diambil ketika ada teman satu departemen yang tiba-tiba ga bisa masuk kerja.

    Dengan demikian, fleksibilitas mindset sangat penting untuk kamu tanamkan dari sekarang dalam pikiranmu.

    4. Skill Berorganisasi

    Mengingat kebutuhan untuk melakukan banyak tugas dan menanggapi permintaan yang tiba-tiba, kemampuan untuk berorganisasi dan mengorganisir itu semua sangat penting kamu miliki.

    Ingat, di hotel itu banyak departemen yang terlibat untuk memberikan pelayanan yang maksimal ke tamu.

    Misal ketika kamu nanti bertugas di resepsionis dan tiba-tiba ada permintaan atau laporan ada sesuatu yang tidak beres di kamar tamu, saat itu juga kamu harus dengan sigap mengorganisir hal tersebut ke departemen lain bersangkutan seperti housekeeping atau engineering.

    5. Multitasking Skill

    Mengerjakan beberapa hal secara bersamaan dengan tidak mengurangi kualitas hasilnya memang tidak mudah. Tapi ini wajib kamu kuasai juga nanti ketika kamu bekerja di hotel. Pada dasarnya antara kerjaan satu dengan kerjaan lainnya di hotel itu berkaitan kok.

    Jadi jangan ngeluh kalau tiba-tiba nanti kamu lagi sibuk tapi tetep disuruh bantuin kerjaan yang sebenarnya bukan jobdesk pekerjaanmu.

    Secara umum itulah beberapa softskill yang wajib kamu miliki untuk menjadi seorang hotelier yang dicintai oleh para tamu nanti.

    Istilah yang Wajib Diketahui Hotelier

    Hotelier tidak bisa dianggap sebagai hotelier yang baik kalau belum mengetahui berbagai istilah yang sering digunakan dalam hotel.

    Kalau kamu berminat menjadi hotelier, pastikan kamu memahami istilah perhotelan (Baca selengkapnya di (Kamus Istilah Perhotelan dan Pariwisata). Beberapa istilah yang sering digunakan hotelier adalah sebagai berikut:

    1. Excursion

    Istilah yang pertama adalah excursion. Istilah ini digunakan untuk mengatakan pelayanan ekstra berupa paket perjalanan singkat yang ditawarkan hotel.

    Nantinya, tamu yang menentukan tujuan destinasi di sekitar hotel dan aktivitas yang ingin dilakukan selama perjalanan.

    2. Adjoining room

    Adjoining adalah salah satu tipe kamar yang disediakan hotel. Adjoining room merupakan dua kamar yang bersebelahan dan hanya dibatasi oleh dinding.

    Ruangan ini biasa disewa oleh tamu rombongan yang ingin kamarnya berdampingan.

    3. Connecting room

    Tipe kamar selanjutnya adalah connecting room. Connecting memiliki arti menyambungkan. Dalam kata lain, kamar ini merupakan dua kamar yang letaknya bersebelahan dan dibatasi oleh dinding berpintu. Connecting room biasa digunakan oleh tamu keluarga.

    4. Group rate

    Group rate adalah penawaran khusus yang diberikan hotel jika ada tamu rombongan (group) yang memesan kamar dalam jumlah tertentu.

    Beberapa tamu akan menanyakan group rate saat melakukan reservasi kamar.

    5. Butler

    Butler adalah seorang asisten pribadi yang menjadi bagian dari pelayanan all-in-one package.

    Butler berperan untuk melayani kebutuhan tamu, mulai dari mengatur dan menyambut kedatangan, hingga memenuhi keperluan khusus tamu terkait fasilitas hotel.

    6. Concierge

    Kata yang berasal dari bahasa Prancis ini berarti seseorang yang membantu tamu dalam urusan barang bawaan, mulai dari tas, koper, atau barang lainnya.

    Selain mengurus barang bawaan tersebut, seorang concierge juga mengurus reservasi transportasi tamu.

    7. Sommelier

    Sommelier hanya tersedia di hotel-hotel tertentu yang menawarkan winery list.

    Seorang sommelier memiliki tugas sebagai konsultan jika ada tamu yang bertanya seputar wine dan hal-hal yang berkaitan dengan winery.

    8. Buffet

    Istilah ini mungkin sudah dikenal luas oleh para hotelier. Buffet adalah penyajian makanan di atas meja panjang secara tertata.

    Tamu mengambil sendiri makanan dan minuman yang diinginkan tanpa membutuhkan pelayanan.

    9. A’la carte

    Sementara a’la carte adalah penyajian makanan yang melibatkan pelayan.

    Tamu akan memesan makanan dari buku menu, nantinya pelayan yang membawakan makanan atau minuman tersebut ke meja tamu.

    10. Gourmet

    Gourmet merupakan kata yang berasal dari bahasa Prancis. Kata ini digunakan untuk menyebutkan sajian masakan khusus.

    Biasanya makanan gourmet memiliki nilai artistik dan menggunakan bahan eksklusif nan mahal.

    Sajian gourmet hanya ditemukan di beberapa hotel kelas atas yang memiliki standar internasional.

    Hal-hal di atas hanyalah sedikit penjelasan dari tugas dan tanggung jawab seorang hotelier.

    Untuk menjadi hotelier yang kompeten, kamu dituntut untuk memiliki karakter yang baik, serta pengalaman nyata yang bisa didapatkan dari pendidikan hotelier.

  • Status Kepemilikan Hotel: Chain Hotel dan Independent Hotel

    Status Kepemilikan Hotel: Chain Hotel dan Independent Hotel

    Untuk kamu yang sedang belajar mengenai Hospitality Industry, tentu pengetahuan mengenai Status kepemilikan hotel, dan apa itu Chain hotel atau jaringan hotel adalah hal yang mendasar dan wajib diketahui.

    Tapi kamu tak usah risau, sebab dalam artikel ini kami akan membahas kedua hal tersebut secara lengkap.

    Agar lebih mudah memahami, kedua hal tersebut akan dijelaskan secara detail, singkat, dan mudah dipahami.

    Status Kepemilikan Hotel

    Hingga saat ini, terdapat dua status kepemilikan hotel yang berkaitan dengan manajemen pengelolaannya yaitu hotel Independen dan chain hotel atau biasa disebut dengan jaringan hotel.

    1. Hotel Independen / Independent Hotels

    Hotel Independen adalah hotel yang tidak memiliki hubungan kepemilikan atau pada pengelolaannya tidak menginduk pada perusahaan lain.

    Hotel ini biasanya hotel kecil yang dimiliki oleh keluarga atau perorangan.

    Dan juga dikelola tanpa ada campur tangan dan prosedur pengoperasian hotel dari campur tangan pihak manapun.

    Meskipun kebanyakan hotel independen adalah hotel kecil, namun tidak menutup kemungkinan terdapat hotel besar yang dimiliki oleh pribadi atau perorangan saja.

    Bahkan tak hanya memiliki predikat baik di Indonesia (dalam negeri) namun dinilai sebagai salah satu hotel bintang 6 terbaik di Jakarta yang sudah diakui oleh dunia.

    Contoh hotel Independen yang ada di Indonesia:

    1. Hotel  Tampan Pekanbaru – salah satu hotel milik keluarga yang tidak terafiliasi dengan jaringan prusahaan atau hotel manapun.
    2. Hotel Cordex di Medan, dan masih banyak lagi hotel milik perorangan yang tersebar di Indonesia.

    Contoh hotel independen yang besar dan mendunia adalah hotel Mulya Senayan yang berlokasi di Jakarta. Menyandang gelar sebagai hotel bintang 6 terbaik di Jakarta, hotel ini  memiliki lebih dari 996 kamar. Terdiri dari kamar berbintang 6 hingga 4.

    2. Chain Hotel / Hotel Jaringan (Tidak Berdiri Sendiri)

    Chain hotel adalah sekelompok hotel bermerek tertentu yang diatur bersama dalam sebuah aturan bisnis dikenal dengan waralaba atau dijalankan oleh sebuah perusahaan tunggal.

    Hotel-hotel yang tidak berdiri sendiri (chain hotel) mempunyai hubungan dalam kepemilikan dan cara pengelolaannya dengan perusahaan lainya.

    Bentuk hubungan kerja sama antar Jaringan hotel ini ada 4 macam yakni:

    1. Perusahaan Induk (Parent Company)

    Perusahaan induk adalah hotel-hotel yang berada dibawah kepemilikan perusahaan lain atau merupakan unit perusahaan tersebut.

    Induk perusahaan akan memberikan patokan cara-cara mengelola dan kebijakan-kebijakan atas hotel-hotel yang dimilikinya. Berikut adalah contoh hotel yang termasuk chain hotel.

    Contoh Chain Hotel Internasional yang terkenal di dunia antara lain:

    • Hilton International Inc.,
    • Intercontinental Hotels,
    • Hyatt Intercontinental,
    • The Ritz Carlton,
    • Shangri-La Hotels and Resorts
    • Marriott
    • Accor
    • Aston International
    • Fairmont Hotels and Resort, dan masih banyak lagi.

    Contoh jaringan hotel di atas semuanya ada di Indonesia dan mudah ditemui di kota-kota besar, atau daerah wisata.

    Contoh hotel jaringan chain hotel yang dimiliki indonesia:

    • Hotel Indonesia Group
    • Sahid Group
    • Shantika Indoneisa Hotels and Resort
    • Hotel Horizon
    • Hotel Grandzuri
    • Azana Hotel

    2. Kontrak Manajemen (Management Contract)

    Artinya, hotel-hotel yang memisahkan antara kepemilikan dengan pengelolaannya.

    Pemilik hotel membeli jasa pengelolaan dari perusahaan lain dengan membayar sejumlah uang sesuai dengan perjanjian sebelumnya.

    Contoh: Hilton dan Sheraton yang menawarkan jasa demikian berdasarkan kemampuan pengalaman mereka dalam industri.

    3. Waralaba (Franchise)

    Suatu bentuk kerja sama dalam hal pengelolaan yakni menggunakan franchise.

    Pemilik hotel mengelola hotelnya dengan memakai cara dan sistem yang diciptakan serta dikembangkan oleh perusahaan atau hotel lain.

    Dengan kata lain, pemilik “membeli” cara atau sistem pengoperasian dari perusahaan lain, misalnya Nikko Jakarta, Hotel Ciputra.

    4. Kelompok Referal (Referal Group)

    Referal Group adalah suatu bentuk gabungan hotel yang berdiri sendiri (independent) untuk mencapai tujuan bersama.

    Seperti dalam hal pemasaran, sistem pemesanan kamar, dan lain-lain yang dianggap akan lebih menguntungkan apabila hal ini dilakukan bersama-sama tanpa harus mengubah sifat kepemilikannya.

    Kelompok yang sejenis ini dan terbesar di dunia adalah Best Western International di Amerika Serikat.

    Keuntungan Chain Hotel:

    Ada beberapa keuntungan yang akan didapatkan jika menerapkan Chain Hotel:

    1. Hotel akan lebih mudah dikenal, sebab menyandang nama dari brand-brand besar yang sudah terpercaya akan kualitasnya.
    2. Standar pelayanan, pengelolaan, dan sistem manajemen yang digunakan adalah sistem yang sama dengan perusahaan induk.
    3. Lebih praktis dalam mengelola staff hotel, sebab memiliki standar baku dari perusahaan induk
    4. Marketing hotel dapat dilakukan lebih mudah, sebab banyak calon pelanggan yang menyukai brand tertentu.

    Itulah sedikit informasi mengenai Sistem kepemilikan hotel, lengkap dengan mengenal apa itu Chain Hotel dan contoh-contohnya. Mudan dimengerti bukan..

  • Marketing Hotel dan Strategi Jitu yang Dapat Dilakukan

    Marketing Hotel dan Strategi Jitu yang Dapat Dilakukan

    Marketing hotel adalah departemen yang bertugas untuk membuat hotel itu dikenal oleh banyak orang.

    Dari yang tidak tau menjadi tau. Siapa yang tidak pernah mendengar istilah “Marketing” saat ini di dunia profesional.

    Kata kata Marketing saat ini sudah sangat awam dan banyak yang membuat pelatihannya. Tetapi di tulisan ini kita akan duduk sejenak melihat “Marketing” dari kacamata secara awam.

    Marketing sendiri bisa dikatakan adalah usaha pemasaran yang di lakukan sebuah bisnis untuk meningkatkan ketertarikan produk, pemahaman merk dan meningkatkan penjualan.

    Pemasaran bisa digitalisasikan melalui media dalam jaringan (online) dan biasanya disebut sebagai “Digital Marketing”.

    Jadi perlu diingat tidak ada perbedaan sama sekali antara Marketing dan Digital Marketing.

    Strategi Marketing Hotel

    Sama seperti industri lain pada umumnya, secara general ada 3 bagian dalam penerapan marketing strategi di hotel yaitu:

    • Above the Line (ATL)
    • Below the Line (BTL)
    • Through the Line (TTL)

    Above the Line (ATL)

    Kita bisa melihat sebagai contoh iklan di TV, majalah, papan baliho dan lain macamnya. Dimana, ATL ini bisa menjangkau audiens lebih luas tapi tidak menyaring target audiens.

    Contohnya: jika ada anak balita melihat maskot sebuah hotel di majalah atau di baliho bahkan di TV. Balitanya senang, tapi belum tentu bisa terjadi konversi penjualan.

    ATL sangat bagus untuk brand awareness dan subconscious.

    Baca Juga: [10 Tips] Strategi Pemasaran Online Hotel di Era Digital

    Jadi ATL bisa digunakan saat grand opening hotel. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat suara atau visual statis/dinamis yang menarik.

    Selain itu juga saat ini pemanfaatan social media dan juga website juga punya andil besar dalam ATL strategi.

    Strategi Marketing Below the Line (BTL)

    Biasanya lebih melakukan personalisasi.

    Contoh sederhananya, ketika anda di dekati SPG rokok karena sedang merokok.

    Atau seperti tim sales hotel sedang melakukan cold call atau cold email baik ke travel agent partner atau ke instansi perusahaan terkait. Untuk BTL, cara kerja marketing hotel ini lebih personal dan lebih mengingat PIC daripada produknya.

    Through the Line

    Metode eksekusi ini lebih sering digunakan secara dalam jaringan (online).

    Disini, para tenaga pemasaran bisa melakukan penyaringan terhadap audiens, mulai dari; lokasi, jenis kelamin, usia, hobby, kebiasaan di dunia maya dan lain sebagainya.

    Contoh paling mendasar dari TTL adalah melakukan digital ads via platform seperti Google, Facebook, Instagram.

    Disini TTL diaplikasikan untuk mentargetkan pasar tersendiri yang sesuai dengan target yang kita inginkan.

    Sebagai contoh sederhana; untuk hotel berharga kisaran 150k – 400k permalam bisa menargetkan kawula muda berumur dari 18 tahun – 35 tahun dari Indonesia dan sering melakukan searching dengan keyword “kamar hotel murah”.

    Jika ada hotel dengan harga kamar 5,000k keatas, bisa juga menargetkan customer yang sama tapi lebih ke luar negeri dengan menargetkan kata kata seperti; “luxury”, “affordable” dan lain sebagainya.

    Baca Juga: Hotel’s Complaint Handling And Resolution

    Bisa juga menargetkan usia diatas 35 tahun dengan segmentasi kelas bisnis jika hotelnya memiliki kapasitas sebagai bleisure (business leisure) hotel.

    Ini adalah keunggulan TTL dari pada 2 eksekusi yang lainnya. Apakah ada kelemahannya? YA. Ada kelemahan dari TTL ini, tapi kelemahan lebih ke PIC yang menanganinya. Karena menggunakan TTL jauh lebih kompleks dari pada menggunakan metode eksekusi pemasaran lainnya. Di TTL tersendiri indicator keberhasilan lebih gampang diukur.

    Untuk TTL, KPI-nya jauh lebih berat daripada ATL dan BTL. Jika mengukur KPI untuk ATL dan BTL bisa dilakukan via survey maka TTL adalah metris KPI-nya adalah analitik (analytics) dashboard.

    Disini ada beberapa KPI TTL via website yang umum dipakai seperti: bounce rate, unique visitor dan click through rate (via call to action button). Silahkan di browse sendiri jargon jargonnya.

    Setiap bisnis pasti memiliki goals yaitu konversi (conversion) mulai dari visitor lalu menjadi buyer dan terakhir adalah menjadi payer.

    Ke tiga step ini harus bisa di eksekusi dengan baik melalui customer journey. Memilih teknologi yang tepat dan sesuai dengan budget sangat perlu dipertimbangkan.

    Apabila gagal? Keunggulan teknis dari TTL adalah mengizinkan “re-targeting”.

    Re-targeting adalah usaha mencoba mengiklankan kembali produknya via online untuk customer yang tidak menyelesaikan customer journey mereka.

    Akhir kata, mungkin saat ini hotel bisa menempatkan marketing & sales daripada sales & marketing.

    Karena tidak ada penjualan tanpa ada usaha pemasaran terlebih dahulu. Begitulah kira-kira cara kerja marketing hotel. Salam sales karbitan !

  • Ciri-ciri Hotel yang Aman dari Razia! dan Jenis Razia Hotel

    Ciri-ciri Hotel yang Aman dari Razia! dan Jenis Razia Hotel

    Hotel kerap dikaitkan sebagai tempat yang memiliki stigma negatif di masyarakat. Pasalnya, hotel sering digunakan sebagai tempat yang mengarah pada tindakan asusila. Maka dari itu, kamu harus selektif dalam memilih hotel, perhatikan ciri-ciri hotel yang aman dari razia.

    Razia sendiri bertujuan untuk memberikan rasa jera pada pelaku dan meningkatkan kenyamanan penginap lainnya.

    Biasanya sasaran razia petugas satpol PP adalah hotel melati atau losmen yang berada di kampung atau perumahan. Kalau kamu tidak ingin terkena razia, simak pembahasan berikut.

    Baca Juga: Menginap di Hotel Tanpa Surat Nikah, Bisakah? Yuk Ketahui

    Mengapa Ada Razia Hotel?

    Mengingat sebab dan akibat, maka sebuah razia dilakukan ketika ada penyebabnya. Beberapa penyebab umum dilakukannya razia adalah sebagai berikut:

    • Operasi rutin PEKAT (Penyakit Masyarakat) – Biasanya dilakukan secara periodik dan rutin oleh para petugas Kepolisian maupun Satpol PP.
    • Ketika menyambut hari-hari besar keagamaan.
    • Razia penyalahgunaan narkotika.

    Namun, tidak terbatas pada alasan umum. Ada juga beberapa alasan khusus dilakukannya razia disebuah hotel, diantaranya:

    • Adanya laporan masyarakat – Ketika masyarakat ada yang merasa terganggu oleh aktivitas di dalam hotel tersebut, tentu tidak akan tinggal diam.

    Hotel seperti Apa yang Rerkena Razia?

    Ciri-ciri Hotel yang Aman dari Razia! dan Jenis Razia Hotel

    Ada yang bertanya apakah hotel berbintang tiga ke atas aman dari razia?

    Jawabannya tentu tidak.

    Hotel bintang lima sekali pun tidak menjamin kamu untuk terhindar dari razia. Sebelumnya, mari pahami dulu alasan yang membuat hotel terkena razia.

    Razia hotel biasanya berawal dari laporan tamu hotel lain atau masyarakat di sekitar hotel. Hotel yang berada di pelosok akan lebih sering dirazia. Alasannya, orang desa cenderung lebih suka mengurus hidup orang lain, atau istilahnya kepo.

    Sementara orang kota cenderung individualis, sehingga laporan atas aktivitas asusila di hotel kota lebih sedikit, sebab orang kota terlalu sibuk mengurusi hidupnya sendiri.

    Selain itu, hotel mewah yang berada di kota kerap membangun relasi dengan pihak-pihak lain yang membuatnya jarang dirazia.

    Jadi, carilah hotel yang jelas, tidak berada di perkampungan, dan agar lebih terjamin, memiliki bintang di atas 3.

    Baca juga: 10 Rekomendasi Hotel Bintang 3 di Jakarta, Murah dan Aman

    Ciri-ciri Hotel yang Aman dari Razia

    Langkah pertama dalam menemukan hotel yang aman dari razia adalah mencari tahu seluk beluk dan review dari hotel terlebih dulu.

    Kenali ciri-ciri hotel yang aman dari razia pada penjelasan di bawah ini:

    1. Memiliki Logo Syariah

    Ya meskipun hotel berlogo Syariah lebih dipandang positif oleh semua orang, namun dalam beberapa kejadian, Hotel Syariah tetap menjadi target razia.

    Contoh saja di Aceh, peraturan syariat lebih ketat, shingga lebih sering dilakukan razia hotel-hotel melati. Jika ingin istirahatmu tenang, memilih hotel syariah adalah pilihan tepat.

    2. Hotel Berbintang 3 – 5

    Hotel dengan bintang 3 – 5 adalah hotel terbaik yang bisa kamu coba. Privasi dan kenyamanan pengunjung adalah prioritas mereka.

    Semua karyawan hotel adalah orang-orang yang paham akan Industri hospitality. Mulai dari front office hingga Steward, semuanya menjaga privasi para pelanggan. Untuk razia yang dilakukan pada hotel berbintang, biasanya untuk menjaring penyalahgunaan obat.

    3. Berada di Tengah kota

    Hotel yang berada jauh dari pemukiman, biasanya relatif lebih tenang dan nyaman. Karena tidak ada masyarakat yang terganggu dengan kegiatan yang ada di Hotel.

    Sehingga, jarang dari mereka yang bertindak mengusik hotel di perkotaan.

    4. Pelajari komentar pengguna hotel di internet

    Sebelum melakukan booking hotel, kamu harus membaca ulasan yang ditinggalkan oleh para penginap sebelumnya. Mereka akan mengungkapkan kepuasan atau kekecewaan mereka terhadap pelayanan dan fasilitas yang terdapat pada hotel tersebut.

    Jika ada komentar penginap yang menyebutkan bahwa pernah terjadi aktivitas asusila pada hotel tersebut, sebaiknya hindari hotel tersebut.

    5. Menentukan hotel yang diinginkan

    Pada dasarnya, hotel terbagi menjadi dua, yaitu hotel resor (resort hotel) dan hotel kota (city hotel).

    Hotel resort lebih cocok jika kamu menginap bersama keluarga, sementara hotel kota akan lebih sesuai jika kamu sedang bepergian di kawasan perkotaan.

    Perhatikan juga aspek jarak dan akses hotel. Agar akses ke hotel mudah, pilih hotel yang terletak di lokasi strategis dan tidak jauh dari fasilitas umum, seperti pusat perbelanjaan, sarana transportasi, restoran, tempat hiburan dan fasilitas umum lainnya.

    5. Mengulik berita terkini terkait hotel

    Sumber informasi terkait hotel bisa didapatkan dari situs berita. Tidak jarang situs berita membahas razia hotel. Pantau berita terkini dari hotel yang kamu tuju.

    Jika terdapat pemberitaan yang berbau negatif terhadap hotel tersebut, tandanya kamu harus mencari hotel lain.

    Ciri-ciri hotel yang aman dari razia adalah hotel yang tidak memiliki pemberitaan buruk dan memiliki citra positif di masyarakat.

    6. Bertanya kepada staf hotel tentang aktivitas razia

    Saat sampai di hotel tujuan, kamu bisa bertanya pada staf hotel. Tanyakan aktivitas razia di hotel tersebut.

    Namun jangan harap kamu bisa mendapatkan informasi aktual, sebab pihak hotel akan merahasiakan jadwal razia ke tamu yang menginap.

    Tetapi, tidak jarang pihak hotel dikejutkan dengan razia dadakan yang dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak hotel. Razia dadakan biasanya dilakukan untuk menangkap bandar narkoba. Tujuannya agar informasi jadwal razia tidak beredar kemana-mana.

    7. Membawa dokumen identitas diri

    Identitas diri (KTP) merupakan berkas yang wajib dibawa saat hendak menginap ke hotel. Peraturan ini tertuang pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 516.

    Sanksi tidak hanya diberikan ke penginap, melainkan juga ke pihak hotel jika tidak memiliki daftar identitas tamu.

    Pemeriksaan terhadap identitas tamu juga tercantum pada PM.106/PW.006/MPEK tahun 2011 tentang Sistem Manajemen Pengamanan Hotel. Identitas tamu yang harus ada meliputi nama lengkap, pekerjaan, tempat tinggal, dan lainnya.

    8. Mengenakan pakaian yang sopan

    Baik wanita atau laki-laki, gunakanlah pakaian yang sopan dan sewajarnya. Pakaian yang minim akan membuat kamu dinilai negatif oleh para staf dan tamu hotel lainnya.

    Tentu hal itu tidak diinginkan oleh sebagian orang.

    Jadi, kenakan pakaian yang nyaman dan sopan saat berkeliaran di lingkungan hotel.

    9. Tidak membawa dan mengonsumsi minuman keras dan narkoba

    Petugas razia tidak hanya mengamankan penginap yang melakukan tindakan asusila, tetapi juga mengamankan barang bawaan yang melanggar aturan. Petugas razia akan menggeledah isi tas untuk menemukan barang mencurigakan, seperti narkoba, minuman keras atau barang curian.

    Kalau ketahuan, kamu bisa dikenakan sanksi seperti hukum pidana. Agar tidak dikira akan melakukan tindakan asusila, hampiri meja resepsionis dengan tenang dan percaya diri.

    Bawa berkas identitas diri seperti KTP dan buku nikah. Lalu, lakukan registrasi seperti biasa.

    Sebelum terbawa nyaman dengan kamar hotel, jangan lupa cek spycam yang mungkin ada.

    FAQ / Tanya Jawab Seputar Razia Hotel

    Apakah hotel Oyo aman dari razia?

    Seperti yang dijelaskan di atas, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kapan dan alasan dilakukannya razia hotel. Jadi kamu tidak perlu khawatir menggunakan Oyo untuk menginap di sebuah hotel.

    Apakah Reddoorz aman dari razia?

    Secara singkat, maka jawabannya adalah sama dengan bisnis hotel model apapun. Tidak ada satupun hotel yang luput dari razia, namun jika kamu tidak ingin terganggu oleh razia hotel, ada baiknya mengikuti tips di atas.

    Apakah Apartement aman dari razia?

    Dari semua tipe penginapan yang sejenis dengan hotel, razia apartement jarang sekali dilakukan. Hal ini dikarenakan mayoritas penghuni apartement adalah pemilik resmi.

    Jam berapa razia hotel dilakukan?

    Dari berbagai sumber, jam-jam dilakukannya razia hotel, penginapan, dan sejenisnya tidak ada yang diketahui. Semua dilakukan secara mendadak guna efektivitas razia itu sendiri.

    Itulah uraian singkat mengenai ciri-ciri hotel yang aman dari razia. Sejatinya tidak ada satupun tempat yang luput dari razia. Selama kita berbuat yang benar maka semua hal yang buruk akan terhindar.