Category: Sosiologi

  • Pengertian Sosiologi Hukum dari Para Ahli

    Pengertian Sosiologi Hukum dari Para Ahli

    Permasalahan hukum di tiap negara memang menjadi sebuah masalah yang kompleks. Khususnya di negara berkembang, seperti Indonesia. Oleh karena itulah, tak ada salahnya bagi setiap individu untuk memahami pengertian sosiologi hukum dan ruang lingkupnya.

    Mengapa begitu? Sebab, cabang dari ilmu sosiologi ini memiliki fokus khusus pada bidang hukum yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan memahaminya, maka masyarakat bisa memiliki kesadaran tentang pentingnya sumber dan keadilan hukum.

    Pada akhirnya, akan tercipta kondisi masyarakat yang aman dan tentram, sebagaimana yang ingin diwujudkan oleh kajian tentang ilmu masyarakat ini. Lantas, sebenarnya apa pengertian dari sosiologi hukum serta ruang lingkup dan karakteristiknya? Bagi kamu yang ingin tahu informasi lengkapnya, simak artikel ini sampai akhir, ya!

    Pengertian Sosiologi Hukum

    Ilustrasi Keseimbangan Hukum
    Ilustrasi Keseimbangan Hukum | Sumber gambar: freepik

    Menurut sejarahnya, istilah sosiologi hukum pertama kali dikemukakan oleh Anzilotti asal Italia, pada tahun 1882. Adapun pada hakikatnya, istilah ini lahir dari pemikiran para ahli, baik itu dalam bidang filsafat hukum, ilmu pengetahuan, maupun sosiologi itu sendiri.

    Secara umum, pengertian sosiologi hukum adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hukum warga negara. Pada mulanya, memang cukup sulit untuk memahami cabang keilmuan ini.

    Akan tetapi, kamu bisa memahami bahwa seorang ahli hukum dalam konteks ini berkepentingan dengan pertanyaan quid juris. Sementara itu, para ahli sosiologi akan bertugas untuk menjelaskan quid facti dari peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat.

    Jadi, bisa dipahami bahwa sosiologi hukum merupakan ilmu teoritis, analitis, dan juga empiris yang fokus pada hubungan timbal balik antara hukum dengan fenomena sosial lainnya.

    Pengertian Sosiologi Hukum Menurut Para Ahli

    Selain pengertian sosiologi hukum secara umum, banyak juga para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang definisi dari istilah dalam ilmu sosial tersebut, yakni seperti berikut:

    • Satjipto Rahardjo berpendapat bahwa sosiologi hukum merupakan pengetahuan tentang pola tingkah laku manusia dalam konteks sosialnya.
    • R. Otje Salman berpendapat bahwa cabang keilmuan ini merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dan fenomena sosial lainnya secara empiris dan analitis.
    • C.J.M. Schuyt berpendapat bahwa tugas utama sosiologi hukum adalah untuk memperjelas penyebab atau konteks ketidaksetaraan antara tatanan sosial yang diinginkan dengan realitas sosial yang ada dalam kenyataan.
    • Mochtar Kusumaatmadja menyatakan bahwa pengertian sosiologi hukum adalah ilmu pengetahuan yang menitikberatkan pada kaidah dan asas di dalam kehidupan manusia.
    • Soerjono Soekanto berpendapat bahwa ilmu ini merupakan cabang ilmu pengetahuan yang dikaji dalam susunan analitis dan empiris di dalam menganalisis hubungan timbal balik gejala sosial dan berbagai bentuk persoalan hukum  yang ada dalam masyarakat.

    Baca Juga : Mengenal Tokoh Pencetus Sosiologi Hukum di Dunia

    Ruang Lingkup Sosiologi Hukum

    Ruang Lingkup Sosiologi Hukum
    Ruang Lingkup Sosiologi Hukum | Sumber gambar: freepik

    Apabila dilihat dari sejarah perkembangannya, pengertian sosiologi hukum memang cukup beragam. Hal inilah yang kemudian memengaruhi penentuan ruang lingkup dari cabang ilmu tersebut.

    Keragaman posisi dalam menempatkan batasan, bukan berarti menandakan bahwa tidak adanya kesepakatan antara beberapa ahli dalam menentukan makna dan ruang lingkup ilmu ini. Hanya saja, para ahli cenderung memiliki pendekatan dan cara pandang yang berbeda dalam memahami sosiologi hukum.

    Adapun ruang lingkup sosiologi hukum sendiri terbagi menjadi dua kajian studi, antara lain:

    1. Landasan sosial hukum, seperti Hukum Nasional Indonesia dengan Pancasila sebagai landasan sosialnya. Landasan sosial hukum ini mempunyai sifat gotong royong, refleksi, dan juga kekeluargaan.
    2. Pengaruh undang-undang terhadap berbagai fenomena sosial lain. Contohnya seperti hukum penanaman modal untuk fenomena ekonomi, hukum hak cipta untuk fenomena budaya, hukum pemilu untuk fenomena politik, hukum pendidikan tinggi untuk fenomena pendidikan, dan masih banyak lagi.

    Artinya, bisa dipahami bahwa ruang lingkup dari ilmu ini meliputi instrumen hukum seperti apa yang paling efektif untuk membentuk pola perilaku masyarakat, begitu pula sebaliknya.

    Selain itu, kekuatan apa saja yang bisa membentuk, menyebarkan, atau bahkan meruntuhkan perilaku hukum, juga termasuk ke dalam ruang lingkup tersebut.

    Objek Kajian Sosiologi Hukum

    Objek Kajian Sosiologi Hukum
    Objek Kajian Sosiologi Hukum | Sumber gambar: freepik

    Bicara soal pengertian sosiologi hukum, tentu belum lengkap rasanya jika tidak mengetahui apa saja yang menjadi bagian dari objek kajian ilmu tersebut. Sama seperti namanya, ilmu ini tentu memiliki objek kajian dari sisi fenomena hukum.

    Hal ini juga sudah ditulis oleh Curzon, yang menyatakan bahwa kajian sosiologi hukum merupakan kajian yang mapan, tentang konsep hukum sebagai alat kontrol sosial. 

    Berbeda halnya dengan Lloyd yang cenderung menganggap cabang ilmu ini sebagai ilmu deskriptif dengan menggunakan teknik eksperimen.

    Karena Lloyd memandang hukum sebagai produk dari sistem sosial sekaligus sebagai alat untuk mengendalikan dan mengubah sistem tersebut. Adapun sebenarnya ilmu ini bisa dibedakan dari ilmu normatif, apabila dilihat dari aktivitasnya. Di mana ilmu hukum normatif lebih mementingkan kajian hukum dalam buku.

    Berbeda halnya dengan sosiologi hukum yang lebih mementingkan hukum dalam praktik. Sebagai salah satu cabang dari ilmu sosiologi, tentu tak heran jika ilmu ini juga menggunakan metode penelitian yang umum digunakan dalam penelitian di bidang sosiologi.

    Adapun untuk objek kajiannya sendiri terbagi menjadi dua kategori, yakni sebagai berikut:

    1. Sosiologi hukum mempelajari ilmu hukum dalam bentuknya atau kontrol sosial oleh pemerintah. Dalam hal ini, bidang keilmuan tersebut mempertimbangkan seperangkat aturan tertentu yang berlaku dan diperlukan untuk menjaga ketertiban dalam kehidupan sosial.
    2. Sosiologi hukum memandang bahwa proses pembentukan warga negara adalah sebuah entitas sosial. Artinya, cabang ilmu ini memandang keberadaannya sebagai hukum sosial yang ada dalam masyarakat itu sendiri.

    Selain itu, objek dalam kajian sosiologi hukum juga terbagi lagi ke dalam beberapa kategori, antara lain:

    • Interaksi sosial berkaitan dengan hukum yang diterapkan dalam masyarakat untuk memfasilitasi tuntutan interaksi sosial itu sendiri. Artinya, jika interaksi sosial berjalan baik, maka kehidupan masyarakat akan berlangsung dengan damai.
    • Kelompok sosial dengan hukum, seperti AD/ART dalam suatu organisasi ataupun hukum yang mengatur tentang kehidupan bernegara.
    • Kehadiran hukum juga tidak terlepas dari faktor budaya, di mana keduanya saling berkaitan dan berpengaruh dalam mengatur masyarakat yang berbudaya, dengan aturan kehidupan bermasyarakat.
    • Stratifikasi sosial dalam bentuk ketentuan hukum, yang menyatakan bahwa hukum berlaku untuk semua golongan tanpa adanya diskriminasi.
    • Kekuasaan dan wewenang yang sudah ditetapkan dengan peraturan berbentuk undang-undang yang pelaksanaannya bersifat wajib.
    • Isu sosial yang berkaitan dengan perilaku menyimpang dan pelanggaran terhadap keberadaan hukum.

    Karakteristik Kajian Sosiologi Hukum

    Karakteristik Kajian Sosiologi Hukum
    Karakteristik Kajian Sosiologi Hukum | Sumber gambar: freepik

    Berdasarkan pada pengertian sosiologi hukum dan ruang lingkupnya, bisa dipahami bahwa karakteristik dari kajian ini adalah fenomena hukum di dalam masyarakat dengan cara mendeskripsi, menjelaskan, mengungkapkan, dan memprediksi. Adapun beberapa karakteristik kajian sosiologi hukum adalah sebagai berikut:

    1. Berusaha untuk memberi deskripsi terhadap praktik-praktik hukum. Jadi, jika praktik tersebut dibeda-bedakan ke dalam pembuatan undang-undang dan penerapan dalam keadilan, maka kajian ini juga mempelajari bagaimana praktik yang terjadi pada masing-masing bidang hukum tersebut.
    2. Bertujuan menjelaskan tentang alasan praktik hukum dalam kehidupan sosial masyarakat dapat terjadi, sebab-sebabnya, faktor apa yang berpengaruh, latar belakang, dan lain sebagainya.
      Dengan kata lain, sosiologi hukum berusaha untuk menyelidiki tingkah laku orang dalam bidang hukum, sehingga mampu mengungkapkannya. Adapun tingkah laku yang dimaksud adalah dari segi luar dan dalam.
    3. Menguji keabsahan empiris dari suatu peraturan atau pernyataan hukum, sehingga dapat memprediksi suatu hukum yang sesuai dan/atau tidak sesuai dengan masyarakat tertentu.
      Jadi, perbedaan mendasar antara pendekatan yuridis normatif dengan empiris atau sosiologis hukum adalah menerima apa yang tertera pada peraturan hukum dan senantiasa mengujinya dengan data empiris.
    4. Sosiologi hukum tidak melakukan penilaian terhadap hukum. Artinya, tingkah laku yang menaati hukum dan yang tidak menaati hukum akan sama-sama merupakan objek pengamatan yang setaraf.
      Perhatian utama dari cabang ilmu ini adalah memberikan penjelasan terhadap objek yang dipelajarinya. Jadi, sosiologi hukum tidak memberikan penilaian, tetapi mendekati hukum dari segi objektivitas semata dan bertujuan untuk memberi penjelasan terhadap fenomena hukum yang nyata.

    Baca Juga : Teori Konflik Menurut Para Ahli: Jenis, Faktor Penyebab, dan Dampaknya

    Tertarik untuk Belajar tentang Sosiologi Hukum?

    Dari penjelasan di atas, kamu bisa menyimpulkan bahwa pengertian sosiologi hukum adalah cabang dari ilmu sosiologi yang fokus untuk mempelajari perilaku hukum dari warga masyarakat. 

    Namun, perlu digaris bawahi bahwa cabang ilmu tidak fokus pada perilaku hukum dengan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, pada dasarnya kajian ilmu ini hanya mencoba untuk menjelaskan fenomena di masyarakat yang berkaitan dengan perspektif hukum.

  • Karang Taruna: Pengertian, Fungsi, Tujuan, & Contoh Kegiatannya

    Karang Taruna: Pengertian, Fungsi, Tujuan, & Contoh Kegiatannya

    Di desa kamu pasti terdapat organisasi karang taruna, bukan? Organisasi tersebut biasanya terdiri dari para pemuda dan pemudi desa. Mereka biasanya yang mengatur jalannya acara di desa sembari dibantu perangkat desa dan warga desa.  

    Karang taruna atau biasa disingkat menjadi “kartar” ini memiliki tugas,  struktur,  dan fungsi loh seperti pada organisasi lainnya. Lalu yang membedakan apa?  Yuk simak penjelasannya di artikel ini!

    Pengertian Karang Taruna 

    Karang Taruna
    Karang Taruna | Sumber gambar: Pemerintahan Desa Bungko.com

    Karang Taruna adalah organisasi yang terbentuk dari masyarakat sebagai wadah untuk generasi muda mengembangkan kreativitas diri, kesadaran sosial, serta tanggung jawab.

    Maksudnya, pemuda yang berorientasi pada pencapaian kesejahteraan masyarakat di sekitarnya baik di tingkat perorangan, keluarga maupun kelompok yang dapat kamu ajak untuk menciptakan kesejahteraan sosial. 

    Dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 25 Tahun 2019 dijelaskan, karang taruna adalah sebuah organisasi yang menjadi potensi sumber kesejahteraan sosial sebagai generasi muda yang dibentuk  oleh masyarakat.

    Sebagai sebuah organisasi sosial kepemudaan, organisasi ini mewadahi pengembangan serta pemberdayaan desa. Kegiatannya mencakup kegiatan rutin maupun ikut membantu dalam mengembangkan kegiatan berbasis ekonomi. Misalnya memajukan ekonomi pariwisata setempat.

    Setiap karang taruna pasti memiliki visi-misi dan bertujuan memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada para remaja seperti kegiatan yang dijabarkan di atas. 

    Hal ini merupakan usaha mereka kepada masyarakat setempat untuk mengapresiasikan programnya. Setidaknya, program yang mereka lakukan tetap berkelanjutan di masa depan.

    Persyaratan Menjadi Anggota Karang Taruna

    Organisasi ini beranggotakan pemuda dan pemudi. Adapun persyaratan sebagai anggota kartar sebenarnya mudah antara lain sebagai berikut.

    • Warga daerah setempat saat mencalonkan diri.
    • Berusia 11-45 tahun jika sebagai anggota.
    • Berusia 17-35 tahun untuk menjadi pengurus kartar.
    • Mempunyai visi dan misi mengembangkan desa.
    • Menerima segala aturan dan tujuan organisasi.
    •  Aktif mengikuti kegiatan organisasi.
    • Apabila tidak mematuhi aturan bersedia mengundurkan diri.
    • Mengikuti pelatihan dasar tingkat desa.

    Struktur Organisasi serta Tugasnya

    Struktur Tugas Kartar
    Struktur Tugas Kartar | Sumber gambar: Kementerian Sosial.com

    Berikut ini struktur beserta tugasnya yang biasanya ada di organisasi kepemudaan setiap daerah, yaitu:

    1. Ketua

    Ketua adalah pemimpin dari organisasi kartar. Mereka memimpin rapat pengurus baik pleno maupun harian yang biasanya diadakan sebelum kegiatan dan pergantian tahun.

    Terkadang ketua juga harus menghadiri acara atau agenda lainnya. Fungsinya agar acara dapat terorganisir dengan baik, meskipun dalam tugasnya dia dibantu oleh wakil ketua.

    2. Wakil Ketua

    Wakil ketua ini membantu tugas dari ketua. Dia mewakili kepentingan dari karang taruna di seluruh bidang, apabila ketua berhalangan untuk hadir di setiap aktivitas. 

    3. Sekretaris

    Sekretaris bertanggung jawab serta mengawasi setiap aktivitas dalam bidang administrasi dan tata kelola organisasi. Dia juga wajib hadir dalam rapat pleno dan rapat pengurus harian. 

    Tak hanya itu, sekretaris juga wajib membuat pembukuan tamu dan daftar hadir di setiap kegiatan. 

    4. Wakil Sekretaris

    Wakil sekretaris bersama sekretaris wajib bertanggung jawab di bidang administrasi dan tata kelola dalam penyelenggaraan aktivitas organisasi.

    5. Bendahara

    Bendahara bersama pengurus lainnya merupakan satu tim dalam keuangan. Tugasnya yaitu mengurus serta mengelola keuangan yang ada dalam karang taruna. 

    Dia juga wajib mencatat setiap pemasukan serta pengeluaran keuangan yang ditulis dalam buku kas masuk dan keluar, memfasilitasi kebutuhan program kerja organisasi. 

    6. Wakil Bendahara

    Wakil bendahara berkewajiban membantu kerja dari bendahara. Dia wajib menggantikan bendahara dalam kegiatan apabila bendahara tidak hadir, baik itu dalam aktivitas di bidang keuangan organisasi. 

    Ia juga wajib menuliskan pembukuan kas dari transaksi pengeluaran dan pemasukan keuangan. 

    7. Bidang Pendidikan dan Pelatihan

    Bidang ini berfungsi sebagai pembangun dan penyelenggara kerjasama dalam kemitraan dengan pihak yang bisa mengembangkan pendidikan dan pelatihan untuk anggota karang taruna dan warga setempat. 

    8. Bidang Usaha dan Kesejahteraan Sosial

    Bidang tersebut bertugas membangun kerjasama dengan kemitraan yang dapat mengembangkan pelayanan sosial terpadu serta usaha lainnya, baik itu di bidang sosial atau yang lainnya.

    9. Bidang Kelompok dan Usaha Bersama

    Nah, bidang ini berfungsi membuat dan membangun kerjasama dengan kelompok usaha dan koperasi agar menjadi wirausaha. Sehingga, dapat membangun kemandirian anggota karang taruna.  

    10. Bidang Kerohanian

    Bidang ini berfungsi menyelenggarakan pembinaan serta melakukan pendampingan terkait kerohanian, baik secara temporer maupun rutinan melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga keagamaan atau anggota remaja masjid. 

    11. Bidang Olahraga dan Seni Budaya

    Bidang ini berfungsi membangun hubungan kerjasama dengan pihak yang dapat membantu serta mengembangkan aktivitas olahraga warga setempat bidang olahraga dan kesenian desa. 

    12. Bidang Lingkungan

    Bidang lingkungan berfungsi membangun kerjasama dan kemitraan yang dapat membantu dan mengelola pemeliharaan di lingkup mereka, sehingga tatanan lingkungan terlihat bersih, indah, dan asri. 

    13. Bidang Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Kemitraan

    Hubungan masyarakat (humas) berfungsi membangun serta melakukan kerjasama dengan kemitraan untuk mengembangkan aktivitas yang memiliki kaitan dengan hubungan masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga bertugas membantu keadministrasian.

    Baca Juga : Contoh Kelompok Sosial: Pengertian & Ciri-Cirinya

    3 Fungsi dari Terbentuknya Karang Taruna

    Fungsi Kartar
    Fungsi Kartar | Sumber gambar: Harianjogja.com

    Pembentukan organisasi ini memiliki 3 fungsi penting antara lain:

    1. Fungsi Motivasi

    Yang dimaksud dengan fungsi Motivasi adalah program kerja organisasi dapat memberikan semangat kepada generasi muda dalam mencapai prestasinya secara non akademis. 

    Hal ini bagus bagi kamu dalam mengembagkan diri sebagai pemuda yang aktif berorganisasi.

    2. Fungsi Pendampingan

    Organisasi kartar digunakan sebagai upaya untuk menjalin relasi dengan kelompok lainnya guna mengembangkan potensi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

    Fungsi ini juga berfungsi bagi setiap anggota untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat. Baik itu relasi di bidang hubungan masyarakat atau bidang lainnya.

    3. Fungsi Pelopor

    Fungsi ini adalah upaya  Karang Taruna dalam mendirikan serta menggerakkan organisasi yang dapat memberikan perubahan serta kemajuan kesejahteraan warga melalui inovasi dan kreativitas mereka.

    Itulah 3 fungsi dari adanya karang taruna, Selain itu terdapat tujuan dari pembentukan karang taruna serta kegiatan apa saja yang ada di dalamnya. 

    pembukuan dalam karang taruna dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai anggota karang taruna. Yuk simak baik bacaan di bawah ini. 

    Tujuan Pembentukan Karang Taruna

    Pembentukan karang taruna sebagai wadah pemuda dan pemudi untuk terjun langsung di masyarakat selalu memiliki tujuan. Berikut 2 tujuan utama pembentukan organisasi ini, yaitu:

    1. Mempercepat Pembangunan Masyarakat

    Dengan adanya pemuda, maka laju dari program pembangunan sosial masyarakat cepat teratasi baik itu yang dicanangkan oleh pemerintah maupun tidak. 

    Partisipasi pemuda ini bisa digunakan sebagai wadah bagi mereka untuk membantu masyarakat secara langsung. 

    2. Meningkatkan Keterampilan dan Pengetahuan

    Tujuan pembentukan organisasi ini merupakan wadah bagi mereka untuk mencari pengalaman berorganisasi. Sembari menyalurkan keterampilan dan ilmu yang kamu miliki di bangku sekolah. 

    Biasanya, di dalam karang taruna juga terdapat pelatihan karakter. Hal ini sangat bagus bagi kamu yang ingin melatih jiwa kepemimpinan, melatih emosi, dan melatih cara berperilaku di masyarakat.

    5 Contoh Kegiatan di Karang Taruna

    Kegiatan
    Kegiatan | Sumber gambar: Suara Jelata.com

    Sebenarnya banyak sekali kegiatan organisasi ini, tergantung pada kebutuhan di masyarakat serta tujuan dari programnya. Kegiatan yang biasanya organisasi ini lakukan adalah sebagai berikut.

    1. Kegiatan Sosial Masyarakat

    Contoh dari kegiatan yang masuk dalam kategori kegiatan sosial adalah penyuluhan kesehatan, pengolahan sampah organik dan anorganik, program bersih kampung,  dan lainnya. 

    2. Kegiatan Pelatihan dan Pendidikan

    Kegiatan kewirausahaan, kegiatan teknologi seperti penyuluhan penggunaan kontraktor, kegiatan bimbingan belajar, dan lain-lain.

    3. Kegiatan Kebudayaan

    Kegiatan yang masuk dalam kategori kebudayaan adalah pementasan drama,  festival budaya (FESBUD), serta pertunjukan kesenian.

    4. Kegiatan Olahraga 

    Selanjutnya, organisasi kepemudaan ini juga sering mengadakan olahraga. Kegiatan olahraga yang biasanya mereka adakan, seperti senam rutinan, turnamen, dan kegiatan rekreasi.

    5. Kegiatan Lingkungan Hidup

    Kegiatan ini berguna memperindah kampung, seperti penanaman tumbuhan toga,  kampanye kebersihan, kampanye anti narkoba, dan lain-lain. Setiap kegiatan yang dilakukan tentunya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat setempat.

    Baca Juga : Kegiatan Sosial: Pengertian, Ciri-ciri, Manfaat, dan Contohnya

    Kamu Siap Menjadi Anggota Karang Taruna?

    Karang taruna menjadi organisasi pemuda yang memiliki peran penting di masyarakat. Selain menjadi wadah bagi para pemuda untuk bertumbuh, kamu juga bisa ikut membantu masyarakat setempat yang membutuhkan.Di samping itu, menjadi anggota organisasi ini kamu bisa mengasah kemampuan kerja sama tim, public speaking, dan masih banyak lagi.

  • Prestise adalah Hal Penting Bagi Individu, Ini 5 Contohnya

    Prestise adalah Hal Penting Bagi Individu, Ini 5 Contohnya

    Prestise adalah salah satu istilah umum dalam kehidupan bermasyarakat. Kata ini berkaitan dengan interaksi sosial antara satu orang dengan yang lainnya. Tak heran, kita mungkin cukup kerap mendengar kata ini.

    Walau demikian, mungkin tak semua dari kita benar-benar mengerti makna kata ini. Oleh sebab itu, artikel ini akan membahasnya dengan lengkap. Mulai dari pengertian, contoh-contohnya dalam kehidupan bersosial, hingga dampaknya.

    Pengertian Prestise Menurut Ilmu Sosiologi

    Menurut bidang Ilmu Sosiologi, prestise merujuk pada kehormatan, status sosial, dan kedudukan yang melekat pada pribadi sebagai individu dalam kesehariannya. 

    Definisi ini senada dengan penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). KBBI menjelaskan kata ini sebagai wibawa seseorang, sebagai dampak atau efek dari prestasi dan kemampuannya. Secara sederhananya, prestise merupakan kata yang maknanya cukup sama dengan harga diri.

    Oleh karena hal ini melekat pada setiap individu, maka hal ini akan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial sehari-hari. Artinya, berpengaruh dalam interaksi, yakni bagaimana seorang memperlakukan atau diperlakukan oleh orang lain.

    Contoh Prestise Menurut Kaitannya

    Kehidupan sosial dapat berkaitan dengan banyak hal. Beberapa contoh prestise adalah sebagai berikut:

    1. Media Sosial

    Seseorang menekan tombol like
    Seseorang menekan tombol like | Sumber: Pexels

    Contoh pertama adalah kaitannya dengan media sosial. Saat ini, hampir semua orang memiliki akun media sosial sebagai representasi dirinya dalam kehidupan dunia maya. Oleh sebab itu, banyak orang berupaya membentuk wibawa sebaik mungkin melalui akun media sosial tersebut.

    Dalam bermedia sosial, prestise terbentuk melalui beberapa hal. Mulai dari banyak pengikut atau teman, banyaknya jumlah suka pada setiap konten, hingga banyak akun lain yang terjangkau.

    Semakin banyak jumlah pengikut, reaksi suka, dan akun yang terjangkau, seseorang akan merasa bahwa dirinya semakin baik dan memiliki wibawa. Walau, prestise pada media sosial tidak selalu seirama dengan kondisi di dunia nyata.

    Selain itu, umumnya terdapat beberapa cara yang dapat orang lakukan untuk mencapai hal ini. Pertama, orang tersebut dapat menuliskan deskripsi diri yang menarik pada kolom biodata. Kedua, mengunggah konten dengan kualitas yang baik.

    Kedua cara ini akan sangat membantu untuk membentuk karakter yang baik dan memiliki wibawa di media sosial.

    2. Latar Belakang Pendidikan

    Para mahasiswa melemparkan toga
    Para mahasiswa melemparkan toga | Sumber: Pexels

    Contoh kedua prestise adalah bagaimana hal ini dapat terbangun melalui latar belakang pendidikan seseorang. Semakin baik latar belakang pendidikan, orang tersebut akan merasa semakin terhormat dan berharga.

    Latar belakang dapat berupa gelar pendidikan maupun almamater kampus. Sebagai contoh adalah seseorang dapat merasa lebih baik daripada orang lain yang memiliki gelar pendidikan lebih rendah darinya. Misalnya, orang tersebut menyelesaikan gelar magister pada suatu bidang, sedangkan orang lain hanya gelar sarjana.

    Kondisi lain yang berkaitan adalah rasa bangga dan kehormatan yang orang dapatkan dari almamater. Seseorang bisa merasakan hal tersebut karena telah menamatkan pendidikan dari kampus terbaik.

    Seperti kita ketahui bersama, bahwa almamater kampus dapat berpengaruh pada kesan atau pandangan orang lain terhadap diri individu.

    3. Standar Ekonomi 

    Rumah elit
    Rumah elit | Sumber: Pexels

    Contoh ketiga adalah berkaitan dengan standar ekonomi. Semakin baik kondisi ekonomi, seseorang merasa semakin memiliki prestise. 

    Umumnya, standar ekonomi dapat menyangkut beberapa hal. Pertama, bagaimana standar ekonomi dapat menentukan prestise adalah kaitannya dengan kepemilikan barang. Semakin banyak barang, maka standar kehidupan ekonominya semakin baik. Maka, ia semakin punya wibawa dan hormat.

    Misalnya, apakah seorang telah memiliki rumah, lalu apakah lokasi rumah berada pada cluster yang strategis atau pinggiran kota? 

    Kedua, standar ekonomi ini juga dapat berkaitan pekerjaan. Bekerja pada perusahaan-perusahaan tertentu dapat menjadi simbol prestasi pada karir seseorang. Sehingga, tentu saja ini berpengaruh pada kehormatan sosial, yang mana orang tersebut merasa bahwa ia layak untuk menerimanya.

    4. Merek

    Prestise pada dasarnya tidak hanya dapat melekat pada diri individu secara pribadi. Hal ini juga dapat melekat pada merek dagang suatu produk yang kemudian berdampak signifikan pada angka penjualan dan kesuksesan merek tersebut.

    Semakin baik pandangan masyarakat pada suatu merek, maka semakin mungkin masyarakat menggunakan bahkan merekomendasikan merek tersebut. Sehingga, tak heran para pengusaha berusaha untuk membentuk prestise terbaik untuk merek yang mereka usung.

    Dalam hal ini, cara mendapatkan prestise adalah dengan mendapatkan ulasan positif, membuat iklan yang mengena, hingga bekerjasama dengan brand ambassador.

    5. Harga Produk

    Masih berkaitan dengan kehidupan ekonomi masyarakat, prestise dapat juga melekat pada suatu produk hingga harganya melambung. Karena masyarakat rela membayar lebih untuk produk-produk tertentu.

    Memiliki suatu produk dengan prestise yang baik juga akan berdampak pada prestise orang tersebut, walau ia harus membayar mahal untuknya. Contoh paling dekat adalah salah satu merek smartphone yang memiliki harga cukup tinggi.

    Smartphone tersebut memang terkenal dengan berbagai keunggulan yang membuatnya punya daftar prestasi baik. Semua prestasi ini tentu menjadi daya tarik yang membuat masyarakat semakin segan pada produk tersebut.

    Karena semakin baik pandangan masyarakat pada produk tersebut, semakin masyarakat mau membayar harga untuknya. Ini menjadi kesempatan bagi produsen untuk memasarkannya dengan harga yang tinggi.

    Selain berkaitan dengan kualitas dan prestasi produk, hal ini juga dapat berpengaruh pada wibawa sebuah produk. Misalnya, berapa banyak produk tersebut beredar di pasaran. Semakin terbatas, maka produk tersebut dapat nampak semakin bergengsi dan semakin mahal.

    Dampak Prestise adalah

    Setelah memahami beberapa contoh prestise dalam kaitannya dengan beberapa aspek kehidupan sosial, berikut ini adalah gambaran dampaknya:

    1. Sikap Orang Lain

    Interaksi antar individu yang memiliki prestise
    Interaksi antar individu yang memiliki prestise | Sumber: Pexels

    Dampak pertama yang paling jelas adalah sikap orang lain. Semakin tinggi prestise seseorang, ia akan semakin menerima hormat dari orang lain. 

    Sebagai contoh, misalnya dalam dunia kerja. Orang dengan jabatan yang lebih tinggi mempunyai prestise yang yang lebih tinggi, sehingga lebih mendapatkan hormat daripada orang lain yang mungkin seusia dengannya.

    Hormat dari orang lain ini juga dapat terwujud dalam beberapa bentuk. Selain dalam sikap sehari-hari, orang yang dihormati dapat menjadi prioritas pilihan. Misalnya adalah ditunjuk untuk menjadi ketua RT oleh para tetangganya.

    2. Kemudahan Akses

    Selain sikap orang lain yang semakin baik dan hormat, hal ini juga dapat membuat seseorang mendapatkan kemudahan akses terhadap sesuatu. Sebagai contoh adalah seorang yang telah memiliki prestise sebagai food vlogger.

    Dalam hal ini, prestise adalah sesuatu yang ia dapatkan setelah memiliki jutaan pengikut pada kanal media sosialnya. Sedangkan kemudahan yang ia dapatkan, antara lain izin membuat konten dari para pemilik restoran.

    Bahkan, food vlogger tersebut mungkin sudah tidak perlu meminta izin. Sebab, para pemilik restoran lah yang mengajak bekerjasama untuk membuat video ulasan dalam rangka menaikkan prestise restoran.

    3. Dorongan Berkembang

    Dampak lain yang timbul pada diri seseorang maupun orang lain di sekitarnya adalah dorongan untuk terus berkembang. Karena prestise adalah hal yang membuat seorang merasa bangga akan dirinya sendiri. Sehingga, ia tentu ingin mempertahankan hal tersebut.

    Maka, ia akan terdorong untuk terus berkembang dan berprestasi, guna mempertahankan hal tersebut dan hormat yang ia terima dari orang lain.

    Di sisi lain, ini juga menjadi dorongan berkembang bagi orang lain di sekitarnya. Orang dengan prestasi baik akan memberi pengaruh, sehingga orang lain terdorong untuk mengikutinya.

    Baca Juga : 20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia dan Cara Menanganinya

    Sudah Paham Tentang Prestise dan Contohnya?

    Kesimpulannya adalah bahwa prestise merujuk pada status sosial, rasa bangga, dan dihormati sebagai efek dari prestasi atau kebaikan lainnya. Hal ini dapat melekat pada diri individu sebagai pribadi maupun hal lain, seperti merek atau produk tertentu.Patut kita pahami juga, bahwa prestise adalah istilah umum dalam keseharian. Kita dapat menemukannya dalam kaitannya dengan hidup bermedia sosial, latar belakang pendidikan, hingga standar ekonomi seseorang.

  • Mengungkap Isi Teori Emile Durkheim Mengenai Sosiologi

    Mengungkap Isi Teori Emile Durkheim Mengenai Sosiologi

    Teori Emile Durkheim secara umum membahas tentang Ilmu Sosiologi. Filsuf asal Perancis ini juga menjelaskan bagaimana kehidupan sosial masyarakat. Menjadi filsuf pertama yang menempatkan sosiologi sebagai ilmu, tidak heran jika teorinya menjadi salah satu sumber pembelajaran ilmu sosiologi.

    Durkheim juga mengembangkan banyak teori sosiologi. Dalam proses penelitian, Durkheim menggunakan pendekatan empiris dengan gabungan teori sosiologi. Lantas apa isi teori sosiologi milik Emile Durkheim? Simak rangkuman lengkap berikut ini!

    Sekilas Tentang Emile Durkheim

    Emile Durkheim
    Emile Durkheim | Sumber Gambar: Lingkar Studi Filsafat Discourse

    Sebagai filsuf dan sosiolog Perancis pertama, Emile Durkheim mendapat panggilan “Bapak Sosiologi Modern”. Dalam karirnya di bidang sosiologi, Durkheim adalah orang pertama yang mendirikan departemen sosiologi di salah satu universitas di Eropa.

    Kemudian, di tahun 1986 Durkheim menerbitkan jurnal ilmu sosial pertama yang berjudul “L’Année Sociologique”. Jurnal tersebut berisikan kumpulan-kumpulan riset tentang sosiologi.

    Sementara Teori Emile Durkheim umumnya membahas tentang tatanan sosial dan fakta sosial. Berkat pengetahuannya tentang sosiologi, Durkheim mengajar ilmu sosial di Universitas Bordeaux. Semenjak itu, Durkheim mereformasi sistem pendidikan di Perancis dan mengenalkan studi ilmu sosiologi dalam kurikulumnya.

    Pada tahun 1893, Durkheim menerbitkan karya besar pertama yang berjudul “The Division of Labor in Society”. Karya tersebut berisi tentang pengaruh norma-norma sosial terhadap individu dalam suatu masyarakat.

    Dua tahun kemudian, yaitu pada 1895 Durkheim mendirikan Departemen Sosiologi pertama di Eropa. Departemen tersebut berada di Universitas Bordeaux.

    Tepat di tahun 1902, Durkheim menjadi tokoh sosiologi paling populer. Kuliah sosiologi miliknya pun menjadi satu-satunya mata kuliah wajib bagi mahasiswa. Selain itu, dalam perjalanan karirnya, Durkheim pernah menempati posisi penting, yaitu penasihat Kementerian Pendidikan Perancis.

    Sedangkan karya terakhir Durkheim berjudul “The Elementary Forms of The Religious Life” terbit pada tahun 1912. Karya tersebut membahas tentang agama yang menjadi fenomena sosial.

    Teori Emile Durkheim

    Emile Durkheim dan Filsuf Sosiologi
    Emile Durkheim dan Filsuf Sosiologi | Sumber Gambar: Cleoweb

    Salah satu tujuan hidup Emile Durkheim adalah menjadikan sosiologi sebagai ilmu yang mandiri dan terlepas dari pengaruh psikologi maupun filsafat. Menurutnya, sosiologi tidak bisa dipahami hanya dalam keadaan mental murni.

    Maka dari itu, Teori Emile Durkheim tentang Ilmu Sosiologi terbagi menjadi dua, yaitu teori fakta sosial dan solidaritas sosial. Menurutnya, fakta sosial harus menjadi inti persoalan dalam sosiologi dan harus diteliti menggunakan riset empiris.

    Hal tersebut membedakan sosiologi sebagai kegiatan empiris, sedangkan filsafat sebagai kegiatan mental. Sayangnya, fakta sosial menurut Emile Durkheim ini mendapat banyak kritikan, karena kurang memberikan penekanan pada aspek individu yang menjadi aktor sosial.

    Durkheim juga menjelaskan bagaimana kehidupan sosial masyarakat. Lewat tatanan sosial ini, Durkheim melihat bagaimana masyarakat bisa hidup harmonis.

    Guru besar ilmu sosiologi pertama di Perancis ini juga memberikan analisis empiris pada tatanan sosial lain, seperti pembagian kerja, sosiologi agama, moral, dan kesadaran kolektif masyarakat.

    Ada banyak fenomena yang menjadi pokok persoalan dalam teori Durkheim. Fenomena tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat. 

    Kemudian, Durkheim mengembangkan teorinya berdasarkan pengamatannya terhadap perilaku sosial manusia sebagai aktor utama di bidang sosial.

    Durkheim juga menjadikan individu sebagai bagian dari sistem sosial yang memiliki orientasi terhadap lingkungan sekitarnya. Cara pandang inilah yang membuat Durkheim menerbitkan banyak karya tulis dan berkontribusi langsung terhadap kurikulum pendidikan di Perancis tentang ilmu sosiologi.

    Isi Teori Emile Durkheim

    Masyarakat Sosial
    Masyarakat Sosial | Sumber Gambar: Sinaumedia

    Seperti penjelasan sebelumnya, Durkheim membagi Ilmu Sosiologi menjadi dua teori, yaitu fakta sosial dan solidaritas sosial. Kedua teori tersebut memiliki penjelasan yang berbeda terhadap fenomena sosial masyarakat. Adapun isi dari kedua teori tersebut, yaitu:

    1. Fakta Sosial

    Menurut Durkheim, fenomena sosial terdiri berdasarkan dua cakupan, yaitu fakta sosial dan solidaritas sosial. Fakta sosial merupakan seluruh cara dalam bersikap atau bertindak. Adapun ciri-ciri dari fakta sosial dalam teori Emile Durkheim antara lain:

    • Memiliki sifat eksternal terhadap individu. Artinya, fakta sosial berada di luar cakupan individu.
    • Bersifat umum, yaitu fakta sosial tersebar secara meluas dalam lapisan masyarakat.
    • Memaksa individu.

    Dari konsep fakta sosial tersebut, melahirkan konsep kesadaran kolektif. Konsep ini terdiri dari beberapa hal, seperti perasaan, kepercayaan, norma, dan tekad bersama.

    Secara keseluruhan, fakta sosial dalam teori Durkheim ini berisi tentang bagaimana cara individu dalam berpikir, bertindak, hingga berperasaan di luar individu serta memiliki kekuatan yang sifatnya memaksa, lalu mengendalikannya.

    Tata cara berpakaian, tatanan hukum, moral, adat, kepercayaan, dan kaidah ekonomi merupakan contoh dari fakta sosial menurut pengamatan Emile Durkheim terhadap ilmu sosiologi.

    Ketika fakta tersebut dilanggar atau tidak dipatuhi, maka individu akan menerima sanksi yang sudah diatur. Contoh, seorang siswa tidak memakai seragam yang lengkap, seperti dasi dan topi saat upacara. Siswa tersebut mendapat sanksi berupa hukuman membersihkan toilet atau sanksi lainnya.

    Fakta sosial memang bersifat memaksa individu dengan memberikan sanksi atau hukuman. Tujuannya adalah mengatur ketertiban dalam sosial masyarakat yang luas.

    Teori Durkheim ini sudah diterapkan banyak negara, salah satunya Indonesia yang masyarakatnya memiliki keberagaman adat, budaya, dan agama.

    2. Solidaritas Sosial

    Kedua, ada teori solidaritas sosial. Teori ini terbagi lagi menjadi dua jenis, yakni solidaritas mekanik dan organik.

    Solidaritas mekanik merupakan anggota yang secara spontan memiliki kecenderungan terhadap pola hidup bersama. Sedangkan solidaritas organik merupakan perbedaan yang muncul antar individu dalam lapisan masyarakat, lalu berkembang menjadi prinsip yang saling membutuhkan.

    Secara keseluruhan, teori kedua ilmu sosiologi menurut Durkheim ini membahas tentang kebutuhan yang sama antar individu dan sifat yang saling membutuhkan.

    Hasil dari pengamatan Durkheim tersebut sesuai dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan bantuan orang lain.

    Masyarakat Sosial
    Masyarakat Sosial | Sumber Gambar: Pexels

    Teori Emile Durkheim Lainnya

    Selain fakta sosial dan solidaritas sosial, terdapat pula teori fungsionalisme atau struktur fungsional. Dalam pengamatannya, Durkheim juga melakukan pengkajian tentang tatanan sosial dan bagaimana masyarakat hidup bersama secara harmonis.

    Melalui konsep fungsionalisme ini, Durkheim melakukan pengkajian level makro, yaitu menilai bagaimana aspek masyarakat berfungsi dengan baik. Teori Fungsionalisme ini juga menjelaskan bagaimana pemikiran Durkheim melalui pendekatan sistem.

    Jadi, dalam pendekatan sistem ini menjelaskan masyarakat sebagai makhluk hidup yang dianalisis menggunakan sebuah struktur yang memiliki fungsi satu sama lain. Artinya, masyarakat bisa hidup bersama dalam tatanan sosial yang memiliki fungsi sendiri-sendiri, tapi tidak bisa terpisahkan satu sama lain.

    Teori fungsionalisme ini menjelaskan bagaimana konsep kerja sama antar struktur sosial yang terintegrasi secara harmonis. Hal ini yang kemudian menciptakan tatanan sosial yang melibatkan berbagai macam elemen dalam bermasyarakat.

    Meski masing-masing teori di atas memiliki penjelasan yang berbeda, secara keseluruhan ketiga teori milik Emile Durkheim memiliki tujuan yang sama, yaitu mengembangkan ilmu sosiologi berdasarkan pengamatan langsung terhadap individu dalam bermasyarakat.

    Dari hasil pengamatan Durkheim tersebut, membuat sosiologi menjadi ilmu yang menarik untuk dipelajari. Dengan penggabungan nilai empiris dan ilmu sosiologi dalam proses penelitiannya, Durkheim berhasil menjawab tentang kehidupan bermasyarakat yang melibatkan banyak fenomena terhadap tatanan sosial.

    Sehingga, Durkheim berhasil menjadi filsuf sosiologi yang seluruh teorinya dijadikan sebagai acuan untuk kepentingan akademis hingga sampai saat ini.

    Baca Juga : Teori Emile Durkheim: Jenis dan Perspektif dalam Sosiologi

    Sudah Lebih Paham Teori Emile Durkheim?

    Emile Durkheim memiliki peran penting dalam ilmu sosiologi. Kontribusinya terhadap sosiologi menjadikannya sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi Perancis pertama yang melahirkan banyak teori tentang sosial.Secara umum, teori Emile Durkheim terbagi menjadi dua, yaitu fakta sosial dan solidaritas sosial. Dalam pengamatannya ini kemudian muncul teori lain, yaitu fungsionalisme yang menjelaskan tentang tatanan sosial dan hidup bersama yang harmonis.

  • Kontravensi Adalah: Pengertian, Penyebab, dan 4 Contohnya

    Kontravensi Adalah: Pengertian, Penyebab, dan 4 Contohnya

    Sejak awal sejarah manusia hingga saat ini, kata ini telah menjadi elemen yang tidak terpisahkan. Arti kontravensi adalah perselisihan atau konflik yang bisa terjadi dalam banyak konteks. Meliputi politik, agama, ilmu pengetahuan, dan budaya. Yuk, mengenal definisi, penyebabnya, dampaknya, dan cara mengatasinya di sini!

    Kontravensi Adalah?

    Kontravensi merupakan proses sosial yang terjadi antara persaingan dan pertentangan. Kata ini muncul dengan adanya ketidaksadaran, keraguan, penolakan, dan penyangkalan yang tidak terungkap sepenuhnya. Bahkan bisa ditandai dengan kontak fisik berupa kekerasan.

    Leopold von Wiese dan Howard Becker mendefinisikan istilah tersebut sebagai sikap sosial yang timbul dari perasaan tidak percaya pada diri seseorang atau kelompok. Kemudian, dengan mengabaikan kepentingan perdamaian, pola pikir tersebut menjadi pedoman dalam melakukan proses pemberontakan.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontravensi adalah bentuk negosiasi dan persuasi yang muncul dengan ekspresi ketidakpuasan pada kehidupan pribadi. Serta sikap negatif yang tersembunyi terhadap kepribadian seseorang.

    Selain itu, kontravensi merupakan fenomena sosial yang terjadi antara persaingan dan konflik, serta merupakan komponen interaksi sosial. Pandangan, keyakinan, niat, dan gagasan yang seseorang atau kelompok kemukakan berpotensi menjadi sasaran kontravensi.

    Bentuk Kontravensi

    Menurut Leopold des Wiese dan Howard Becker, terdapat beberapa bentuk kontravensi yang terdiri dari 5 poin. Berikut adalah uraiannya:

    • Pertama adalah bentuk umum yang meliputi berbagai tindakan. Contohnya seperti penolakan, ketidaksukaan, konfrontasi, penghalangan, protes, kekerasan, dan perilaku yang melemahkan agenda pihak lain.
    • Kontravensi sederhana adalah salah satu hal yang terjadi dalam lingkup komunitas kecil. Karena hal ini terjadi antar manusia atau antar kelompok sosial, maka dampaknya cenderung tidak luas. Contohnya adalah mengumpat dan fitnah.
    • Jenis selanjutnya dari kontravensi adalah intensif. Ini akan terjadi secara terus menerus dan bisa memberi dampak psikologis. Contohnya bisa mencakup hasutan pada seseorang, menyebarkan desas atau desus, atau menyebabkan orang lain merasa kecewa.
    • Selanjutnya adalah berbentuk rahasia. Jadi, pelaksanaannya terjadi secara sembunyi-sembunyi. Pengkhianatan dan pengungkapan rahasia orang lain adalah dua contohnya.
    • Bentuk kontravensi kelima, yaitu taktis yang sulit dihilangkan. Ini akan membuat lawan merasa kaget, takut, atau pusing. Contohnya adalah provokasi, mengejutkan lawan, dan ancaman.

    Dampak Kontravensi

    Dalam hal ini ada beberapa dampak yang timbul. Baik itu positif maupun negatif. Penjelasan mengenai dampak kontravensi adalah sebagai berikut:

    Dampak Positif

    Dampak positif adanya kontravensi biasanya akan memotivasi terjaganya tatanan sosial masyarakat. Berikut di antaranya:

    1. Sudut pandang yang berbeda biasanya dapat menyoroti kekurangan suatu pendapat dalam diskusi ilmiah dan seminar tentang topik tertentu. Hal tersebut memungkinkan adanya perspektif atau pilihan lebih banyak.
    2. Memberikan rasa solidaritas yang kuat. Kondisi seperti ini akan muncul dalam sebuah kelompok jika persatuan tercapai melalui kontravensi secara kelompok.
    3. Timbul rasa memiliki. Dampak ini muncul karena konflik perilaku yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok dan secara halus memengaruhi cara mereka memilih atau menghormati budaya dan lingkungan tertentu.
    4. Kehadiran kontravensi bisa menimbulkan kekuatan untuk mengubah kebijakan. Ini merupakan salah satu cara kontroversi dapat memacu perubahan sosial.

    Dampak Negatif

    Beberapa dampak buruk atau negatif dari kontravensi adalah sebagai berikut:

    1. Proses mobilitas sosial akan terhambat karena adanya hal. Sebab, hal ini merupakan proses krusial dalam upaya memberikan dorongan bagi kemajuan untuk menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat.
    2. Memberikan rasa ketidakpercayaan dalam masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat seringkali menimbulkan rasa ketidakpercayaan terhadap kehidupan bermasyarakat itu sendiri. Hal tersebut terjadi akibat adanya kecurigaan masyarakat yang terjadi karena perselisihan.
    3. Mendorong berkembangnya konflik sosial atau mendorong berkembangnya jenis konflik sosial lain. Pada akhirnya keadaan tersebut menimbulkan perselisihan dan pertikaian dalam kehidupan bermasyarakat.

    Penyebab Kontravensi

    Ada beberapa penyebab terjadinya perselisihan. Beberapa penyebab kontravensi adalah sebagai berikut:

    1. Perbedaan Nilai dan Keyakinan

    Kontravensi sering kali terjadi karena adanya perbedaan nilai dan keyakinan seseorang atau sebuah kelompok. Kamu bisa melihat sendiri bagaimana perbedaan dalam agama bisa menimbulkan perdebatan sengit dan berujung konflik.

    2. Inovasi dan Transformasi Sosial

    Kontravensi antara pendukung dan penentang transformasi atau inovasi sosial dapat terjadi ketika inovasi tersebut mulai diterapkan atau terlaksana. Misalnya adalah kebijakan baru dalam sebuah desa yang baru saja diterapkan. Kemungkinan akan ada kubu penerima dan penolak yang akan saling berselisih.

    3. Persaingan dan Kepentingan

    Kontravensi adalah hal yang terjadi akibat dari persaingan memperebutkan sumber daya atau kekuasaan. Umumnya, perbedaan kepentingan dapat menimbulkan perselisihan politik atau ekonomi dalam skala nasional atau internasional.

    Sedangkan secara individu, hal ini dapat terwujud dalam bentuk persaingan di sekolah, tempat kerja, atau dalam interaksi interpersonal.

    4. Perbedaan Budaya dan Identitas Pribadi

    Prasangka, ketidakadilan, dan diskriminasi seringkali terjadi karena adanya perbedaan budaya, bahasa, atau identitas. Multikulturalisme dan imigrasi adalah dua topik lagi yang dapat menimbulkan ketegangan antar budaya.

    Contoh Kontravensi

    Kontravensi sosial bisa terjadi dalam semua jenis lingkungan. Agar bisa lebih memahaminya, berikut beberapa contohnya:

    1. Tetangga

    Ilustrasi Fitnah
    Ilustrasi Fitnah | Sumber Gambar: Psychalive

    Secara sengaja atau tidak, kontravensi terhadap hukum sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tetangga mungkin bergaul dengan menyebarkan informasi palsu, yang sebutannya juga sebagai kontravensi intensif. Contoh lain adalah warga yang tidak menyukai Ketua RT.

    Alasan terjadinya hal tersebut bisa karena perbedaan posisi yang merupakan panutan suatu kelompok tertentu dalam suatu komunitas atau bahkan antar masyarakat. Jika tidak ada arahan yang baik selama perselisihan ini, maka konflik sosial akan meningkat.

    2. Lingkungan Sekolah

    Ilustrasi Perdebatan Siswa
    Ilustrasi Perdebatan Siswa | Sumber Gambar: Pittsburgh Post-Gazette

    Kontravensi adalah peristiwa yang juga bisa terjadi di lembaga pendidikan. Misalnya, seorang anak yang berkhianat dan menyebarkan rahasia dari temannya sendiri. Contoh lainnya adalah perselisihan pendapat yang muncul ketika kedua siswa mengerjakan tugas diskusi. 

    Meski ada yang berdampak negatif, kontravensi di sekolah bisa memberi dampak baik. Misalnya percakapan atau diskusi antara dua orang siswa yang akan menghasilkan perbedaan cukup signifikan, namun cakupan intervensinya tergolong positif. Ini karena perbedaan pendapat bisa merangsang rasa percaya diri siswa.

    3. Keluarga

    Ilustrasi Perselisihan Keluarga
    Ilustrasi Perselisihan Keluarga | Sumber Gambar: onlineresize

    Berikutnya merupakan perselisihan yang terjadi di dalam keluarga. Contohnya, terjadi ketika anak berselisih pendapat dengan orang tua tentang masalah pendidikan. Serta pertengkaran antara suami dan istri karena masalah keuangan.

    4. Dalam Agama

    Ilustrasi Bulan Syawal
    Ilustrasi Bulan Syawal | Sumber Gambar: Nusa Daily

    Contoh terakhir berkaitan dengan agama. Misalnya, ada suatu peristiwa yang menentukan kapan hari raya Idul Fitri dirayakan. Keputusan akhirnya diambil pada bulan Syawal, di mana banyak rekan muslim sangat menantikan hasilnya. Namun, hal ini dapat menimbulkan perbedaan pendapat dan pandangan antar umat.

    Cara Mengelola Kontravensi 

    Sebagai cara untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak baiknya, pengelolaan kontravensi secara konstruktif sangatlah penting. Beberapa cara mengelola kontravensi adalah sebagai berikut:

    1. Diskusi Terbuka

    Membangun jalur komunikasi yang jujur ​​dan transparan akan meredakan ketegangan. Hal tersebut juga akan memberikan ruang untuk percakapan dan diskusi yang lebih mendalam.

    2. Berpikir Kritis

    Menggunakan pendekatan pikir yang kritis akan memfasilitasi penilaian terhadap klaim dan informasi yang sudah ada sebelumnya. Pada akhirnya, ini akan mendorong dialog yang lebih produktif dan efisien.

    3. Menemukan Titik Persamaan

    Cara keempat mengelola kontravensi adalah menentukan titik-titik persamaan atau tujuan bersama. Di mana hal tersebut akan menjadi landasan kolaborasi. Tanpa tujuan tentu tidak akan ada arahan yang membuat individu atau kelompok bisa saling mempercayai. 

    4. Empati

    Berempati dengan orang lain dan berusaha memahami sudut pandang mereka dapat mengurangi konflik. Hal tersebut akan menumbuhkan komunikasi yang saling menghargai dan menghormati.

    5. Keterbukaan Terhadap Pembelajaran

    Bersikap terbuka dalam suatu diskusi sangatlah penting. Lewat hal tersebut akan lebih mudah untuk kamu menyesuaikan pendapat ketika menghadapi bukti atau argumen yang meyakinkan. Hal tersebut juga mampu memperdalam pemahaman dan pengetahuan.

    Baca Juga : Opini Publik Adalah: Jenis, Contoh, dan Perannya dalam Kehidupan

    Sudah Memahami Apa itu Kontravensi?

    Intinya, kontravensi bukan hal yang selalu memberi dampak negatif dalam banyak kasus. Ini akan tergantung dari bagaimana individu akan merespon. Secara sederhana, kontravensi adalah hasil dari perbedaan pendapat dan pandangan yang dapat memicu pertumbuhan, perubahan, dan pemahaman lebih baik.

    Namun, ini juga bisa menjadi sumber konflik dan perpecahan jika pengelolaannya tidak dengan bijak. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang akar penyebab, dampak, dan contohnya cukup penting. 

    Selain itu, dengan membangun jembatan pemahaman, kamu dapat bergerak maju menuju masyarakat yang lebih inklusif, beragam, dan pemikiran yang lebih kritis. Bahkan menyadari adanya perbedaaan juga bisa membuatmu lebih mencintai dan menghargai identitas diri. Semoga bermanfaat!

  • Etnis: Pengertian, Konsep, Jenis, dan Contohnya

    Etnis: Pengertian, Konsep, Jenis, dan Contohnya

    Secara umum, kelompok etnik disebut sebagai golongan atau anggota manusia yang identifikasinya berdasarkan garis keturunan. Etnik juga memiliki julukan lain, yakni suku bangsa karena menggabungkan posisi diri dengan sesamanya. Ada berbagai jenis etnis, simak rangkumannya di bawah ini!

    Pengertian Etnis

    Pengertian Etnis
    Pengertian Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Seperti yang telah disinggung, etnik itu suku bangsa. Hal ini karena menjadi bukti nyata kesatuan sosial yang bisa kita bedakan. 

    Biasanya, etnik berisi unsur kebudayaan yang kuat. Selain itu, bahasa merupakan aspek utama dari budaya tersebut.

    Ada juga perspektif lain yang menganggap etnis sebagai perkumpulan manusia dengan ikatan kuat. Ikatan tersebut berasal dari kesadaran dan identitas dengan pemahaman kesatuan bangsanya.

    Dengan kata lain, penentuan etnik terjadi karena seberapa penting kesadaran kelompok. Tidak lupa juga dengan pemahaman luas tentang kesatuan, kebudayaan, dan asal-usul.

    Maka kesimpulannya, etnik merupakan sistem sosial berbentuk golongan manusia yang memiliki kepercayaan. Seperti implementasi masyarakat, keberagaman budaya, adat istiadat, norma, bahasa, latar belakang sejarah, geografis, dan hubungan kekerabatan yang tidak akan terpisah.

    Konsep Etnis

    Konsep Etnis
    Konsep Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Agar bisa melihat hubungan etnik, kamu bisa memahami kasus-kasus yang berkaitan. Khususnya untuk etnik yang jarang berkonflik maupun bertahan dalam masalah wilayah.

    Tujuannya untuk identifikasi cara-cara yang akan dihadapi kumpulan etnik. Sedangkan, tujuan utamanya untuk menghadapinya tanpa terjadi konflik tertentu. Dalam berbagai kelompok etnis, setidaknya ada ciri khas budaya yang membedakan.

    Ciri khasnya adalah unit budaya langgeng dan berbagai faktor pengaruh untuk membentuk unit budaya. Tentunya, ada juga implikasi yang berperan dalam etnik sebagai unit kebudayaan.

    Salah satunya adalah klasifikasi individu dan kelompok yang menyatakannya sebagai anggota etnik. Biasanya, berdasarkan kemampuan dan sifat budaya etnik yang diikuti.

    Budaya dengan bentuk beragam menunjukkan pengaruh ekologi, namun tidak bisa disebut bentuk penyesuaian diri. Khususnya penyesuaian terhadap lingkungan hidup etnik. 

    Akan tetapi, bentuk budaya adalah hasil penyesuaian dari para anggota etnik. Lebih tepatnya saat mereka berhadapan dengan faktor-faktor luar.

    Secara umum, suku bangsa akan menempati daerah dengan keragaman lingkungan ekologi. Sehingga mereka bisa menunjukkan perilaku sesuai tempat tinggal, namun tidak mengorientasikan nilai budaya yang sama.

    Baca Juga : Contoh Kelompok Sosial: Pengertian & Ciri-Cirinya

    Ciri-Ciri Etnis

    Ciri-ciri Etnis
    Ciri-ciri Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Sebuah etnis terbentuk karena adanya keturunan langsung yang saling berinteraksi. Melalui interaksi sejak lahir, maka kelompok etnik akan mendapatkan pengakuan atas keberadaannya.

    Adapun ciri-ciri yang merujuk ke etnik, yakni:

    1. Kehidupan secara biologi yang berkembang biak dengan pelestarian makmur.
    2. Terdapat kebudayaan dan berbagai pranata sebagai milik bersama.
    3. Tidak seperti kelompok masyarakat lain, secara umum etnik memiliki pedoman hidup yang berbeda.
    4. Keanggotaan etnik bersifat askriptif, sehingga anggota memperolehnya sejak mereka lahir. 
    5. Seseorang akan memiliki etnik secara otomatis, sebab mengikuti orang tua yang melahirkannya. Selain itu, etnik juga bisa menjadi daerah asal dan tempat tumbuh dewasa.
    6. Menggunakan bahasa tertentu yang sesuai aturan etnik.
    7. Terdapat nilai-nilai tinggi dan anggota wajib menganutnya.
    8. Memiliki wilayah domisili sebagai tempat tinggal dan kampung halamannya.

    Jenis-Jenis Etnis

    Jenis-jenis Etnis
    Jenis-jenis Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Mengacu pada satu kelompok, etnik memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Oleh sebab itu, kebanyakan etnik bisa bertahan lama. Khususnya etnik yang sudah ada sejak zaman dahulu. Berikut ini 7 jenis suku bangsa yang ada di dunia, yaitu:

    1. Suku Bangsa Aborigin

    Suku Aborigin merupakan kelompok etnis asli Australia. Dengan demikian, benua Australia sudah menjadi tempat tinggalnya selama 50.000 tahun. 

    Aborigin bukan kelompok homogen, namun kelompok yang berhasil membentuk jaringan budaya di dunia.

    Mereka sudah muncul sejak abad ke 18, sehingga dipastikan Suku Aborigin sudah ada sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Lebih menakjubkan, Suku Aborigin memiliki populasi yang mencapai 300.00 anggota kelompok. 

    Aborigin juga sering menjadikan perairan sebagai wilayah permukiman. Seperti pantai utara, timur, sungai Murray, dan daerah Tasmania lainnya. Etnik ini melakukan berburu dan meramu sebagai cara untuk bertahan hidup.

    2. Suku Bangsa Persia

    Etnis Persia merupakan keturunan Bangsa Arya yang hijrah ke Iran sebelum zaman Masehi. Namun Bangsa Arya terpecah menjadi Bangsa Persia dan Bangsa Media. Perpecahan mengakibatkan kemunculan berbagai suku, contohnya seperti Elam.

    Pada dasarnya, Suku Persia dianggap sebagai salah satu suku golongan Bangsa Iran. Pasalnya, cara dan bentuk komunikasinya sama-sama memakai Bahasa Persia, terutama dalam kehidupan sehari-hari.

    Mayoritas Bangsa Persia bermukim di wilayah Iran. Akan tetapi, banyak juga yang menempati wilayah negara lain. Mulai dari Afghanistan, Kuwait, Arab, Tajikistan, Uzbekistan, Amerika Serikat, Irak, dan lain sebagainya.

    3. Suku Bangsa Yunani

    Suku Yunani sudah ada sejak abad ke 17 sebelum Masehi. Secara umum, mereka merupakan suku yang bermukim di Yunani dengan jangka waktu lama hingga saat ini. 

    Populasi Suku Yunani juga ditemukan pada semenajung Yunani bagian Siprus, Kepulauan Yunani, dan Eropa.

    Terdapat 3 golongan besar suku ini, yakni Bangsa Ionia, Bangsa Aeolia, dan Bangsa Doria. Dari 3 golongan tersebut, Bangsa Ionia merupakan terbesar. Sebab, wilayah tinggalnya terletak pada Jazirah Attoi dan Athena sebagai pusatnya.

    4. Suku Bangsa Han

    Suku Han bermukim di daerah Tiongkok. Etnik ini memiliki populasi anggota kelompok yang mencapai 91% dari penduduk Tiongkok. Dengan demikian, Suku Han memiliki kekuasaan yang sangat besar. 

    Tidak hanya etnis terbesar di Tiongkok saja, namun Suku Han juga menjadi salah satu populasi suku terbesar di dunia.

    Etnik Han memiliki lebih dari 4.000 tahun catatan dalam sejarah Tiongkok. Hal itu tidak heran karena penduduknya tersebar hampir seluruh daerah Tiongkok. 

    Pada kehidupan sehari-hari, Suku Han menggunakan Hanyu Bahasa Han dalam berkomunikasi.

    5. Suku Bangsa Amazon

    Memilih wilayah Stepa Eurasia sebagai tempat tinggal, Suku Amazon adalah suku nomaden. Penduduk Yunani menganggap Suku Amazon berasal dari daerah utara dan timur Mediterania.

    Fakta uniknya, Suku Amazon merupakan suku dengan penduduknya yang berjenis kelamin perempuan. Suku ini sudah ada sejak era klasik, khususnya dalam mitologi Yunani.

    Herodotus menyatakan bahwa etnik Amazon menempati wilayah perbatasan Skithia, Sarmatia, Ukraina. Selain itu, beberapa sejarawan juga mengungkapkan etnik ini tersebar di wilayah Asia. Mulai dari India, Libya, Minor, dan lainnya.

    6. Suku Bangsa Maya

    Suku Bangsa Maya adalah golongan etnis yang menguasai semenajung Yucatan, Amerika Tengah. Wilayahnya berbatasan dengan Samudera Pasifik Barat dan Laut Karibia Timur.

    Etnik Maya memiliki bentuk perkembangan yang signifikan. Sebab menghasilkan peradaban dan berbagai karya unik. Contohnya seperti bangunan berbentuk Chichen Itza.

    Selain itu, Suku Maya juga maju dalam bidang pertanian. Mereka membangun Kanal Drainase dan menanaminya dengan jagung dan latex. Bahkan, ada juga bangunan sumur, yakni Cenotes.

    7. Suku Bangsa Gypsy

    Pada dasarnya, Suku Gypsy dianggap sebagai kelompok nomaden. Pasalnya, mereka memang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Mereka kerap berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

    Suku Gypsy cenderung memiliki pandangan hidup yang unik. Populasinya tersebar luas di Benua Amerika dan Timur Tengah. Perkiraan populasi Suku Gypsy mencapai 5 juta orang lebih dan tersebar pada seluruh dunia.

    3 Contoh dari Etnis

    Contoh Etnis
    Contoh Etnis | Sumber gambar: Freepik.com

    Jika kamu belum memahami apa itu etnik, simaklah beberapa contohnya. Berikut 3 contoh pembagian suku bangsa berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu:

    1. Garis Keturunan

    Pada suatu etnik, bentuk dari garis keturunan adalah kunci mendasar. Sebagai contoh, Suku Batak memiliki garis keturunan ayah atau Patrilineal. Lalu ada juga Suku Minang yang garis keturunannya dari Ibu atau Matrilineal.

    Selain itu, ada juga garis keturunan dari golongan agamanya. Contohnya seperti Etnis Melayu Malaysia yang mayoritas beragama Muslim. Kemudian Suku Serani yang beragama Nasrani dan karakteristiknya peranakan Portugis.

    2. Identitas Diri

    Identitas menunjukkan jati diri individu yang berhubungan dengan peranan khusus etnik. Tidak heran bahwa identitas diri memiliki latar belakang etnik yang kental. Hal ini karena menjadi inti asal diri sendiri.

    Dengan demikian, setiap etnik harus memiliki ciri khas dalam kelompoknya. Sehingga bisa menciptakan identitas yang melekat dengan inti diri anggota suku mereka.

    3. Suku Bangsa Campuran

    Poin terakhir ini mencakup keberagaman etnis yang berbentuk campuran ras di suatu suku. Sebagai contoh, terdapat orang peranakan dengan perpaduan Melayu dan Tionghoa.

    Maka dari itu, etnik Metis menjadi istilah perpaduan Hispanik dan bumiputera. Sementara itu, etnik Mulato yang memiliki perpaduan Ras Negroid dan Ras Kaukasoid.

    Baca Juga : Memahami Pengertian Sukuisme dan Contohnya

    Kamu Telah Memahami Apa Itu Etnis?

    Secara sederhana, etnis merupakan identitas seseorang berdasarkan garis keturunan nenek moyang. Dengan demikian, setiap individu tidak bisa mengubah darah keturunan dan asal usulnya. Hingga sekarang ini, etnik akan selalu ada dalam peradaban manusia.

    Sebagai generasi penerus bangsa, kamu tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap suku bangsa tertentu. Sebaliknya, kamu harus saling menghargai dan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

  • Teori Struktural Fungsional serta Penerapannya

    Teori Struktural Fungsional serta Penerapannya

    Pernah mendengar teori struktural fungsional ? Pembahasan seputar sosiologi memang menjadi hal yang sangat menarik. Pasalnya, topik tersebut sangat beragam dan masih banyak hal yang perlu digali secara lebih mendalam.

    Terdapat teori yang hingga sekarang masih menjadi pembahasan yaitu seputar struktural fungsional. Sebuah teori yang berkeyakinan bahwa pembentukan dunia ini bukan berdasarkan perilaku dari individu melainkan sudah ada strukturnya sendiri. Berikut pembahasan selengkapnya.

    Apa Itu Teori Struktural Fungsional?

    Apa itu teori struktural fungsional
    Apa itu teori struktural fungsional | sumber gambar: pixabay.com

    Pada dasarnya teori struktural mempunyai beberapa turunannya dan salah satunya yaitu struktural fungsional. Banyak tokoh sosiolog terus melakukan penelitian dan pembuktian mengenai teori tersebut, khususnya pada lingkup perkembangan sosial yang ada di masyarakat.

    Misalnya Auguste Comte yang mempunyai teori hukum 3 tahap. Kemudian ada Herbert Spencer yang mempunyai teori Darwinisme sosial serta Emile Durkheim yang mempunyai teori fakta sosial. Ada juga Karl Marx yang mempunyai teori pertentangan kelas.

    Masih ada Antonio Gramsci dengan Neo Marxis Theory serta teori hegemoni. Lalu Jeffrey Alexander serta Paul Colony dengan neo fungsional. Masih ada beberapa tokoh terkenal lainnya yang mempunyai teorinya sendiri seputar struktural fungsional tersebut.

    Teori struktural fungsional merupakan teori di bidang sosiologi yang fokusnya pada peran dari struktur sosial di dalam menentukan serta mempertahankan tatanan sosial atau kohesi di dalam masyarakat. Teori tersebut berpandangan bahwa masyarakat merupakan organisme biologis dari organ-organ yang saling ketergantungan.

    Organ-organ tersebut berfungsi menjaga keseimbangan serta kelangsungan hidup sistem. Selain itu, teori ini menekankan pada guna atau fungsi elemen-elemen konstituen dari masyarakat. Misalnya nilai, norma, lembaga, serta kelompok sosial.

    Teori Struktural Fungsional Menurut Ahli

    Berikut beberapa pandangan seputar struktural fungsional menurut keterangan para ahli.

    1. Talcott Parsons

    Talcott Parsons berpendapat bahwa teori ini termasuk bagian keseimbangan di dalam institusi sosial. Keseimbangan tersebut dikatakan berhasil ketika mampu menjalankan fungsinya secara baik tanpa harus memberikan perbedaan sedikit pun.

    Di dalam merumuskan teorinya, Talcott Parsons menggunakan kerangka alat yang bertujuan agar orang-orang lebih mudah memahami teorinya. Untuk kerangka alat tersebut yaitu:

    • Tindakan sosial diarahkan pada tujuan atau sudah memiliki tujuan.
    • Tindakan sosial bisa terjadi karena disebabkan beberapa elemen yang memang sudah pasti ada. Lalu elemen lain hanya berperan sebagai alat di dalam mencapai tujuan yang hendak dicapai.
    • Secara normal, sebuah tindakan sosial bisa dilakukan dengan mempertimbangkan pemilihan alat serta tujuan.

    Melalui kerangka tujuan dari Talcott Parsons tersebut, Anda dapat menyimpulkan bahwa seluruh tindakan sosial manusia merupakan manifestasi dari kenyataan sosial terkecil serta paling fundamental. Kemudian untuk elemen-elemen dasar terkait tindakan sosial dari Talcott Parsons yaitu kondisi, tujuan, norma, dan alat.

    Lebih jauh lagi, teori struktur fungsional dari Parsons bukan sekadar lewat tindakan sosial. Namun, ia juga menjelaskan bahwa ada 4 syarat sehingga fungsional pada sistem sosial mampu berjalan secara baik, di antaranya:

    • Goal Attainment: tindakan sosial yang harus berdasarkan tujuan tertentu
    • Adaptation: sistem sosial di dalam masyarakat harus mampu menghadapi dan beradaptasi terhadap lingkungan yang transformasi aktif
    • Latent Pattern Maintenance: manusia telah berhenti berinteraksi dengan individu/kelompok lain yang bisa terjadi karena beberapa faktor. Misalnya malas, letih, maupun harus patuh pada sistem sosial yang ada
    • Integration: integritas anggota di dalam sistem sosial harus benar-benar diperhatikan. Artinya, ketika terdapat anggota masyarakat mempunyai sikap tidak toleran, akibatnya bisa dikucilkan atau dikeluarkan dari sistem sosial tersebut

    2. Emile Durkheim

    Seorang ahli sosiologi (1858-1817) berpandangan bahwa struktural fungsional merupakan susunan masyarakat yang berperan sebagai bagian tatanan sosial. Susunan tersebut juga mengindikasikan adanya kehidupan yang harmonis.

    Adapun maksud fungsionalisme di sini yaitu fokusnya terhadap struktur sosial dengan tingkatan makro di dalam masyarakat. Emile juga menegaskan bahwa masyarakat adalah kenyataan objektif yang terdiri dari individu-individu.

    Menurutnya, pembagian tugas di dalam masyarakat tradisional cenderung sangat sederhana dan tak begitu banyak. Masyarakat juga tak begitu menginginkan untuk mengetahui dunia secara lebih luas karena kehidupan yang sedang mereka jalani tak begitu variatif serta menjalankan hidupnya hanya sesuai aturan masyarakat.

    Sementara itu, kehidupan masyarakat modern cenderung lebih kompleks. Ini memunculkan pembagian kerja di masyarakat lebih kompleks juga. Peran untuk setiap individu pun cenderung beragam. Misalnya perempuan bukan sekadar membersihkan rumah, melainkan juga bekerja, mengasuh serta mendidik anak, dan lain-lain.

    Kondisi tersebut juga membuat kehidupan masyarakat modern cukup individualistis. Durkheim pun sangat berharap agar masyarakat modern menurunkan atau bahkan menghilangkan sifat individualismenya. 

    Masyarakat modern dapat menjalankan tugasnya dengan memperoleh bantuan orang lain. Ketika mampu menyelesaikan tugas secara bersama-sama, akan muncul solidaritas sosial dan pada akhirnya kehidupan masyarakat pun menjadi lebih teratur dan harmonis.

    Tokoh-tokoh Penting dalam Teori Struktural Fungsional

    Selain kedua ahli di atas, masih ada beberapa ahli sosiologi lainnya yang juga mempunyai pandangan dan analogi masing-masing terkait teori tersebut.

    1. Herbert Spencer

    Tokoh yang mengembangkan sebuah analogi organismik serta mengajukan konsep bernama requisite functionalism. Sebuah panduan di dalam melakukan analisis fungsi pada masing-masing struktur, fitur, maupun praktik di dalam masyarakat.

    2. Auguste Comte

    Ia terkenal sebagai bapak sosiologi dan berjasa di dalam menghadirkan istilah analogi organismik. Analogi tersebut berperan di dalam membandingkan masyarakat terhadap organisme biologis.

    3. Robert K. Merton

    Seorang murid Parsons yang terkenal, yaitu Merton, memberikan kritik terhadap teori struktural fungsional. Menurut Merton, teori tersebut cenderung terlalu fokus terhadap keseimbangan maupun konsensus sosial.

    Lalu ia memberikan usulan melalui konsep manifest functions serta latent functions. Kedua konsep tersebut berusaha menjelaskan seperti fungsi-fungsi yang tak disengaja maupun disengaja berdasarkan fenomena sosial. Selain itu, Merton juga membedakan struktur fungsional dan struktur sosial serta fungsi negatif dengan fungsi positif.

    Baca Juga : Pengertian Teori Kebutuhan Maslow: Konsep Serta Pembagiannya

    Penerapan Teori Struktural Fungsional

    Penerapan teori struktural fungsional di dalam kehidupan sehari-hari
    Penerapan teori struktural fungsional di dalam kehidupan sehari-hari | sumber gambar: pixabay.com

    Agar lebih memahami seperti apa struktural fungsional secara lebih jelas, Anda perlu melihat bagaimana cara penerapannya. Berikut beberapa contoh penerapan teori tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

    1. Membayar Pajak

    Dokumen pembayaran pajak
    Dokumen pembayaran pajak | Sumber gambar: Pexels

    Bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan adalah membayar pajak. Sebenarnya, pajak yang Anda keluarkan tersebut memiliki tujuan untuk kepentingan bersama. Misalnya untuk pembangunan infrastruktur maupun kebutuhan ekonomi.

    Ketika Anda membayar pajak, Anda sudah berkontribusi di dalam melakukan pembiayaan terhadap pelayanan publik. Anda memiliki andil di dalam bidang keamanan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Dengan begitu, pajak mempunyai fungsi positif untuk masyarakat dan negara.

    2. Pendidikan

    Kegiatan belajar mengajar di kampus
    Kegiatan belajar mengajar di kampus | Sumber gambar: Pexels.com

    Aktivitas yang berlangsung di jenjang sekolah juga menjadi bentuk dari pengaplikasian teori struktural fungsional. Kehadiran lembaga pendidikan, khususnya yang disediakan pemerintah membantu masyarakat untuk terus berkembang di dalam menghadapi perubahan sosial.

    Seseorang yang mampu bertahan dari berbagai gempuran perubahan zaman, salah satunya harus mempunyai pendidikan tinggi. Melalui pendidikan, masyarakat bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

    Selain itu, pendidikan juga mampu meningkatkan nilai-nilai yang sangat berguna untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. Pada akhirnya, pendidikan mempunyai fungsi manifest serta latent bagi individu dan masyarakat.

    3. Lowongan Kerja

    Tanda lowongan kerja
    Tanda lowongan kerja | Sumber gambar: Pexels

    Masih tentang contoh penerapan struktural fungsional. Kali ini berkaitan dengan lowongan atau lapangan kerja. Setelah Anda selesai menyelesaikan sekolah pada jenjang tertentu, kemudian Anda masih harus masuk ke babak baru yaitu dunia kerja.

    Melalui bekerja, Anda bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup. Anda juga bisa berpartisipasi di dalam pembangunan ekonomi. Itu artinya, pekerjaan yang Anda lakukan tersebut mempunyai fungsi negatif serta positif bagi kehidupan individu maupun masyarakat.

    Baca Juga : Pengertian Asosiatif: Bentuk, Jenis, Manfaat, dan Contohnya

    Sudah Paham tentang Teori Struktural Fungsional?

    Jadi, kehidupan masyarakat akan selalu berkembang dan kompleks. Struktural yang baik mampu menghadirkan lingkungan masyarakat yang kondusif, humoris, serta teratur. Sebaliknya, ketika strukturnya berantakan berpotensi menjadi penyebab timbulnya konflik di masyarakat.

  • Ciri-Ciri Sosiologi serta Pengertian, Sifat, dan Ruang Lingkupnya

    Ciri-Ciri Sosiologi serta Pengertian, Sifat, dan Ruang Lingkupnya

    Sosiologi merupakan salah satu bagian ilmu sosial yang menarik untuk dipelajari lebih dalam. Apalagi ilmu yang satu ini berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, tak heran jika banyak orang yang tertarik ingin tahu tentang pengertian hingga ciri-ciri sosiologi.

    Sebab, dengan mengetahui konsep dasarnya, akan lebih mudah bagi kamu dalam mengenali kehadiran ilmu pengetahuan tersebut di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Lantas, sebenarnya apa pengertian dan ciri sosiologi yang penting untuk diketahui? Simak artikel ini untuk temukan jawabannya!

    Pengertian Sosiologi

    Mempelajari Sosiologi
    Mempelajari Sosiologi | Sumber gambar: Pexels.com

    Sebelum masuk ke ciri-ciri sosiologi, tentunya penting untukmu memahami konsep dasar ilmu tersebut melalui pengertiannya.

    Secara etimologis, kata tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni socius yang berarti teman atau kawan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. 

    Dengan kata lain, kamu bisa memahami cabang ilmu ini sebagai sebuah ilmu yang mempelajari hubungan dan juga gejala sosial antar individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok.

    Istilah ini sendiri pertama kali muncul dalam buku Cours De Philosophie Positive karya August Comte. Kemudian ia lah yang memperkenalkan ilmu tersebut kepada masyarakat hingga mendapat julukan sebagai Bapak Sosiologi.

    Adapun beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli mengenai cabang ilmu ini adalah sebagai berikut.

    • August Comte berpendapat, cabang ilmu ini merupakan studi tentang hukum dasar dari gejala sosial yang di dalamnya dibedakan menjadi studi yang bersifat statis dan dinamis.
    • Emile Durkheim berpendapat, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial yang mencakup cara-cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan memiliki kekuatan memaksa yang mengendalikannya.
    • Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan, sosiologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang struktur dan proses sosial yang di dalamnya mencakup perubahan sosial.

    Ciri-Ciri Sosiologi

    Ilustrasi Observasi Online
    Ilustrasi Observasi Online | Sumber gambar: Freepik.com

    Sebenarnya, cabang ilmu yang satu ini berusaha untuk mencoba memahami bagaimana masyarakat berfungsi, norma dan nilai dapat membentuk perilaku manusia, hubungan sosial dapat terbentuk, hingga perubahan sosial dapat terjadi di dalam masyarakat. Berikut 4 ciri-ciri sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, yaitu:

    1. Empiris

    Ciri sosiologi yang pertama adalah bersifat empiris. Jadi, perlu kamu pahami cabang ilmu ini menggunakan pendekatan empiris, yang artinya selalu mengedepankan fakta dan bukti dari proses observasi.

    Tak hanya itu saja, ilmu ini juga berusaha untuk tetap objektif dalam proses analisisnya. Oleh karena itu, kajian tentang ilmu masyarakat ini selalu didasarkan pada hasil observasi, tidak bersifat spekulatif, dan menggunakan akal sehat atau common sense.

    Salah satu contoh yang bisa terlihat adalah pada penelitian mengenai studi tentang pola migrasi penduduk dalam suatu wilayah yang berdampak pada pertumbuhan populasi masyarakat.

    2. Teoritis

    Maksud dari teoritis di sini adalah kajian tentang ilmu masyarakat ini berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil observasi. 

    Adapun abstraksi tersebut disusun secara logis dan mempunyai tujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat.

    Dengan mengembangkan teori dan konsep yang sudah ada sebelumnya, akan memudahkan para sosiolog untuk melakukan pemahaman dan menganalisis fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

    Adapun contoh dari ciri-ciri sosiologi bersifat teoritis adalah teori konflik dari Karl Marx yang menyatakan perubahan sosial dipicu oleh terjadinya pertentangan antara kelas-kelas sosial yang berbeda. 

    Selain itu, contoh lainnya juga bisa terlihat dari adanya pembagian kaum borjuis dan proletar yang memiliki begitu banyak ketimpangan.

    3. Kumulatif

    Kumulatif menjadi ciri sosiologi selanjutnya yang penting untuk kamu pahami dengan baik. Seperti yang kamu ketahui, kajian tentang ilmu masyarakat ini memang memiliki banyak sekali teori.

    Nah, berdasarkan dari berbagai teori yang sudah ada tersebut, para sosiolog dapat membentuk sebuah teori baru dengan cara memperbaiki, memperluas, dan juga memperhalus teori-teori lama.

    Pada studi ilmu masyarakat ini, para sosiolog sering membandingkan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat atau budaya yang ada di masyarakat untuk membantu mereka dalam mengidentifikasi pola dan perbedaan.

    4. Non-Etis

    Ciri-ciri sosiologi yang terakhir adalah bersifat non-etis. Dengan kata lain, kajian ilmu masyarakat ini tidak berusaha untuk mencari baik-buruknya suatu fakta di masyarakat. 

    Akan tetapi, lebih mengacu pada upaya untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitik. Jadi, cabang ilmu ini akan mencoba untuk menganalisis struktur sosial. 

    Misalnya, seperti kelas sosial, kelompok sosial, sistem atau stratifikasi sosial, hingga interaksi yang terjalin antar individu.

    Sifat dalam Cabang Ilmu Sosiologi

    Interaksi Masyarakat
    Interaksi Masyarakat | Sumber gambar: Freepik.com

    Setelah mengetahui ciri-ciri sosiologi, maka kurang lengkap rasanya jika belum tahu apa saja yang menjadi sifat dari cabang ilmu tersebut. Sebab, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, kajian tentang ilmu masyarakat ini tentu memiliki sifatnya tersendiri.

    Adapun sifat sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut.

    1. Termasuk ke dalam rumpun ilmu sosial yang mempelajari dan juga berkaitan erat dengan gejala kemasyarakat. Oleh karena itu, pada prinsipnya ilmu ini berfokus pada cara untuk mempelajari tingkah laku individu dalam berinteraksi dengan individu dan kelompok masyarakat lainnya.
    2. Termasuk ke dalam ilmu pengetahuan yang kategoris. Dengan kata lain, cabang ilmu ini berusaha untuk membatasi diri pada apa yang sedang terjadi atau bisa disebut dengan das sein. Jadi, kajian ini bukanlah ilmu yang mempelajari tentang apa yang seharusnya terjadi atau das sollen.
    3. Sebuah ilmu pengetahuan yang murni karena bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan pengetahuan secara abstrak atau tidak menentu. Jadi, kajian tentang ilmu masyarakat ini tidak termasuk ke dalam ilmu pengetahuan terapan, terpakai, atau yang bersifat praktik.
    4. Sebagai ilmu pengetahuan yang mempunyai tujuan untuk menghasilkan suatu pengertian dan pola umum. Hal inilah yang membuat para sosiologi berusaha meneliti dan mencari apa saja yang menjadi prinsip atau dasar atas hukum umum yang muncul dari interaksi antar individu.
    5. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat rasional karena berhubungan dengan metode pengkajian yang penggunaannya ada dalam ilmu itu sendiri.
    6. Termasuk ilmu pengetahuan kategori umum. Pasalnya, kajian ilmu ini berusaha untuk mengamati dan mempelajari gejala yang umumnya muncul pada setiap interaksi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari secara empiris.

    Ruang Lingkup Kajian Ilmu Sosiologi

    Ilustrasi Ibu Menjaga Anak-Anak
    Ilustrasi Ibu Menjaga Anak-Anak | Sumber gambar: Pexels.com

    Dari ciri-ciri sosiologi yang sudah dijelaskan sebelumnya, kamu bisa memahami kajian ilmu masyarakat ini mencoba untuk mempelajari struktur sosial dalam masyarakat, seperti perubahan sosial. 

    Hal inilah yang kemudian membuat ruang lingkup kajian ilmu masyarakat ini menjadi lebih luas dan lebih banyak dari ilmu sosial lainnya.

    Sebab, pada dasarnya, cabang ilmu ini mencakup hubungan antar individu dengan individu atau kelompok lain di masyarakat.

    Namun, secara umum, ruang lingkup sosiologi sebagai pengetahuan dasar pengkajian adalah sebagai berikut.

    1. Kedudukan dan peran sosial individu dalam sebuah keluarga, kelompok, serta masyarakat secara luas.
    2. Nilai dan norma sosial yang kemudian menjadi dasar serta memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku anggota masyarakat dalam berhubungan dengan kelompok sosialnya.
    3. Masyarakat, kebudayaan daerah, dan kebudayaan nasional Indonesia menjadi sebuah submasyarakat yang masuk ke dalam ilmu sosiologi.
    4. Perubahan sosial budaya yang terus terjadi merupakan akibat dari faktor internal dan eksternal di masyarakat.
    5. Terdapat berbagai macam masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

    Selain itu, dari aspek penelitian sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, ruang lingkup kajian ilmu masyarakat terbagi lagi menjadi 3 poin utama, antara lain sebagai berikut.

    1. Ruang lingkup sosiologi ilmu ekonomi yang meliputi kegiatan usaha secara prinsipil. Jadi, kajian ilmu ini berhubungan dengan proses produksi, distribusi, hingga pemakaian sumber daya alam yang tersedia.
    2. Ruang lingkup sosiologi persoalan sejarah yang berkaitan dengan catatan kronologis suatu peristiwa. Contohnya relasi antara usaha seseorang dengan prestasi yang ia dapatkan.
    3. Ruang lingkup sosiologi masalah manajemen, mencakup pihak yang membuat kajian sosiologi dan berkaitan pada pada apa yang warga negara dan sekitarnya alami.

    Baca Juga : Struktur Sosial di Masyarakat: Definisi, Ciri, dan Fungsinya

    Sudah Paham tentang Konsep Dasar dan Ciri-Ciri Sosiologi?

    Sosiologi merupakan cabang ilmu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Adapun ciri-ciri sosiologi ada empat, yakni empiris, teoritis, kumulatif, dan non-etis.

    Pada dasarnya, mempelajari cabang ilmu ini merupakan hal yang penting demi menciptakan hubungan bermasyarakat yang aman, nyaman, rukun, dan juga damai. Tak hanya itu saja, kajian sosiologi juga mampu membuat setiap individu berpikir positif tentang relasi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

  • Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial: Bentuk dan Contohnya

    Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial: Bentuk dan Contohnya

    Pengertian disosiatif berbanding terbalik dengan asosiatif. Jika kita memahami asosiatif adalah interaksi sosial yang bisa membawa manfaat dan persatuan, maka disosiatif merupakan hubungan yang justru membawa dampak negatif berupa perpecahan.

    Bagaimana bisa interaksi ini  membawa perpecahan? Apa saja bentuk dan contohnya? Untuk dapat jawaban lengkapnya, baca artikel ini sampai habis!

    Pengertian Disosiatif dalam Interaksi Sosial

    Manusia sangat membutuhkan interaksi dengan orang lain. Adanya interaksi ini menandakan bahwa manusia saling bergantung dan saling membutuhkan satu sama lain untuk tetap bisa bertahan hidup serta mendapatkan informasi.

    Interaksi yang dilakukan manusia terbagi menjadi dua, asosiatif dan disosiatif. Masing-masing interaksi tersebut memiliki dampak berbeda, ada yang memberikan dampak positif yang kemudian disebut asosiatif, ada juga yang berdampak negatif yakni disosiatif.

    Lalu, apa pengertian disosiatif? Disosiatif adalah hubungan yang mengarahkan manusia pada perpecahan dan perselisihan. Hubungan seperti ini membuat rasa persaudaraan dan rasa solidaritas antar sesama menjadi lemah sehingga bisa menyebabkan konflik.

    Meski kesannya negatif, namun ini merupakan salah satu cara manusia untuk bisa bertahan hidup. Pasalnya ada sebuah teori dari para ahli yang menyatakan manusia memiliki tiga perjuangan pokok untuk mempertahankan hidupnya.

    Tiga hal itu mencakup perjuangan melawan sesama, melawan alam, dan melawan makhluk lain. Dalam proses melawan tersebut, manusia mengalami yang namanya persaingan, kontravensi, dan pertentangan untuk mempertahankan hidupnya.

    Hubungan ini memang bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, tapi di sisi lain ada juga manfaatnya. Pada persaingan contohnya, persaingan membuat masyarakat memiliki keinginan kuat untuk lebih unggul dari lainnya sehingga lama-lama bisa membawa kemajuan.

    Namun tetap saja, jika kita tidak bisa mengontrol atau melakukannya dengan baik akan menimbulkan perselisihan bahkan perpecahan.

    Bentuk-Bentuk Interaksi Disosiatif

    Pengertian disosiatif ini memiliki bentuk-bentuk yang mengarah pada konflik. Semua bentuk-bentuknya jika tidak dilakukan atau selesai dengan baik, maka lama kelamaan akan menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Apa saja bentuk-bentuknya?

    1. Kompetisi atau Persaingan

    Lomba Lari
    Lomba Lari | Sumber: pixabay.com

    Dari pengertian disosiatif menunjukkan bahwa persaingan bisa membawa dampak negatif. Kompetisi atau persaingan merupakan interaksi sosial ketika seseorang atau kelompok ingin mengalahkan pihak lain demi mendapatkan keuntungan tanpa adanya ancaman atau kekerasan.

    Bentuk pengertian disosiatif ini seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat ada perlombaan maka seluruh pesertanya pasti bersaing untuk jadi yang terbaik dan jadi juara.

    Mereka berlomba-lomba untuk memaksimalkan kemampuannya dan punya keinginan untuk mengalahkan peserta lain demi mendapatkan keuntungan, berupa hadiah atau penghargaan tertentu.

    Ada lagi persaingan saat mencari kerja. Para kandidat atau lulusan baru saling bersaing untuk merebutkan posisi di sebuah perusahaan demi mendapatkan pekerjaan yang layak.

    Mereka memaksimalkan kemampuannya untuk ditunjukkan kepada perusahaan. Semua itu demi mendapatkan keuntungan pribadi maupun kelompok tanpa adanya kekerasan atau ancaman.

    Persaingan bisa mencakup lebih luas lagi. Contohnya persaingan ekonomi, persaingan budaya, persaingan kedudukan, persaingan peran, dan lain-lain. Kompetisi bisa juga sebagai alat seleksi sosial sehingga menghasilkan sesuatu yang berkualitas, asalkan persaingannya berjalan dengan baik dan sehat.

    Berbeda halnya jika persaingan berjalan secara tidak sehat, justru akan dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan antar sesama. 

    Di antara manfaat dari persaingan adalah:

    • Menyalurkan kepentingan dan nilai-nilai dalam masyarakat, terutama kepentingan dan nilai yang menyebabkan konflik.
    • Menyeleksi individu yang cocok untuk mendapatkan kedudukan dan peran sesuai kemampuannya.
    • Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang menuntut untuk dipenuhi, padahal semua sulit terpenuhi secara serentak.

    Sementara itu, ada juga hasil dari sebuah persaingan. Misalnya perubahan baik pada individu maupun kelompok, kemajuan, dan solidaritas.

    2. Kontravensi

    Kontraversi pria dan wanita
    Kontraversi pria dan wanita | Sumber: pixabay.com

    Kontravensi merupakan proses sosial yang letaknya di antara pertentangan dan persaingan. Jika mengingat pengertian disosiatif, kontravensi masih tergolong interaksi yang merugikan karena ada perasaan tidak suka yang tersembunyi terhadap pihak lain.

    Perasaan ini bisa berupa kebencian, keraguan, iri dengki, dan lain-lain. Kontravensi ini sikap menentang yang tidak ditunjukkan secara terang-terangan alias tersembunyi supaya tidak menimbulkan perselisihan maupun konflik terbuka.

    Oleh karena itu, sebenarnya kontravensi ini tidak menunjukkan tanda yang pasti. Sebab cara menunjukkannya tidak terang-terangan, melainkan terpendam sebagai  perasaan tidak suka.

    Kontravensi seperti ini tentu saja sangat mudah kita temui. Misalnya ada kelompok yang tidak suka dengan kelompok lain. Perasaan tersebut terpendam dalam hati mereka alias tidak tampak secara langsung. Karena jika itu terjadi, keduanya akan rentan berselisih bahkan mengalami pertengkaran.

    Ada juga bentuk dari kontravensi ini yang lebih merugikan, seperti:

    • Umum: kontravensi umum ini seperti penolakan, perlawanan, dan ancaman pihak lain.
    • Sederhana: contohnya seperti menyangkal omongan orang lain di depan umum.
    • Intensif: penyebaran hoax dan penghasutan.
    • Rahasia: seseorang membocorkan rahasia satu pihak ke pihak lain.
    • Taktis: contohnya seseorang melakukan intimidasi dan provokasi pada pihak lain yang menyebabkan perselisihan hingga perpecahan.

    Interaksi seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Sebagai contoh ada tetangga atau teman kita yang menyebarkan berita hoax sampai menimbulkan kegaduhan. Bisa juga suatu kelompok melakukan pengancaman pada kelompok lain. Ini semua tentu saja berdampak tidak baik bagi keharmonisan lingkungan masyarakat sekitar.

    3. Konflik Sosial

    Demonstrasi | Sumber: pixabay.com

    Konflik juga masuk dalam pengertian disosiatif yang merugikan. Ini bisa kita sebut juga dengan pertikaian akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan antar individu maupun kelompok.

    Konflik sosial ini bisa sangat merugikan masyarakat. Karena biasanya terjadi bersamaan dengan kekerasan maupun ancaman dengan pihak-pihak terkait yang saling bertentangan. Tentu saja ini sangat mengganggu interaksi sosial yang harmonis pada masyarakat, terlebih jika saling menjatuhkan.

    Pertentangan ini terjadi karena ada beberapa faktor, misalnya:

    • Ada perbedaan antar individu.
    • Perbedaan kebudayaan.
    • Ada perbedaan kepentingan.
    • Perubahan sosial.

    Ini semua bisa menyebabkan berbagai masalah sosial, seperti:

    • Retaknya persatuan dan kesatuan antar kelompok.
    • Adanya perubahan kepribadian.
    • Terjadinya dominasi, akomodasi, dan takluknya pihak tertentu.
    • Mengganggu keharmonisan hubungan masyarakat.
    • Terjadinya perselisihan.

    4. Pertikaian

    Pertikaian pria dan wanita | Sumber: pixabay.com

    Terakhir, ada pengertian disosiatif pertikaian. Kalau kontravensi tadi terjadi secara sembunyi-sembunyi, maka pertikaian ini terjadi secara terbuka. Dengan kata lain, perselisihan yang terjadi sudah secara terang-terangan karena perbedaan semakin tajam.

    Pertikaian seperti ini bisa saja disertai ancaman atau kekerasan yang membahayakan. Bahaya dari pertikaian terang-terangan ini tidak hanya pada fisik secara langsung, tapi juga mental yang mendalam. Oleh karena itu, perlu ada penyelesaian untuk mengatasi pertikaian ini supaya tidak memakan korban.

    Pertikaian ini terdiri dari dua jenis, yakni individu dan kelompok. Berikut penjelasannya:

    • Individu: pertikaian yang terjadi dalam lingkup kecil. Contohnya ada masalah personal dalam keluarga yang sampai terjadi kekerasan dan ancaman.
    • Kelompok: pertikaian yang lingkupnya cukup besar, dan bisa menyebabkan perpecahan. Biasanya terjadi karena faktor SARA, yaitu agama, budaya, ras, hingga adat istiadat yang menyebabkan konflik pada masyarakat.

    Kedua jenis pertikaian tersebut tentu saja merusak keharmonisan manusia. Selain itu, bentuk pengertian disosiatif kali ini juga bisa merugikan kedua belah pihak, baik secara material maupun non material. Cara menyelesaikan pertikaian ini biasanya melalui jalur hukum ataupun mediasi.

    Contoh Interaksi Disosiatif dalam Kehidupan Sehari-Hari

    Ada banyak contoh dari interaksi sosial ini di sekitar kita, misalnya:

    1. Melakukan Pengkhianatan

    Pengkhianatan bisa menimbulkan konflik antar sesama. Ini biasa terjadi pada individu dengan individu lain maupun antar kelompok, dan semua sama-sama memberikan dampak negatif bagi keharmonisan hubungan.

    2. Demonstrasi

    Demonstrasi yang sering kita lihat juga termasuk bagian dari pengertian disosatif. Pasalnya demonstrasi adalah bentuk perlawanan maupun penentangan. Misalnya demo penurunan harga makanan pokok, demo penurunan presiden, dan lain-lain.

    3. Penyebaran Berita Hoax

    Berita palsu atau hoax sangat merugikan banyak pihak. Ini karena berita tersebut mengandung unsur fitnah yang bisa mencoreng nama baik personal maupun kelompok sehingga bisa menimbulkan perselisihan, pertengkaran, dan perpecahan.

    4. Adanya Kecurangan Saat Berkompetisi

    Berbuat curang saat berkompetisi juga merugikan. Kompetisi yang sehat adalah semua pihak yang terlibat menggunakan cara-cara baik sehingga hasil yang keluar lebih adil dan bijak.

    5. Terjadi Bentrok dan Tawuran

    Bentrok dan tawuran seringkali terjadi pada anak-anak muda. Ini tentu saja sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat karena tak jarang bisa menyakiti fisik bahkan menimbulkan korban jiwa.

    Baca Juga : Teori Konflik Menurut Para Ahli: Jenis, Faktor Penyebab, dan Dampaknya

    Sudah Mengerti Apa Pengertian Disosiatif?

    Pengertian disosiatif mengarah pada tindakan merugikan masyarakat. Hubungan seperti ini jika tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan dampak negatif lebih besar bahkan bisa membahayakan keselamatan masyarakat.

    Oleh karena itu. perlu adanya kesadaran diri dalam setiap individu untuk mencegah terjadinya interaksi negatif antar sesama. Contohnya dengan cara menjaga kerukunan, saling menghormati, menghargai, dan mengedepankan persatuan.

  • 20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia dan Cara Menanganinya

    20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia dan Cara Menanganinya

    Kemajuan teknologi berhasil membawa manusia ke kehidupan sosial yang lebih kompleks. Kehidupan sosial yang makin kompleks ini ibarat dua sisi koin yang berbeda. Memang, banyak sektor kehidupan yang makin mudah. Namun, di satu sisi, makin banyak juga timbul contoh masalah sosial di Indonesia.

    Kali ini, kita akan membahas masalah sosial di Indonesia yang bisa kamu temukan dan cara mencegahnya. Yuk, kita simak bersama!

    20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia

    Berikut adalah 20 contoh masalah sosial di Indonesia yang sering terjadi lengkap beserta cara menanganinya, yaitu:

    1. Kemiskinan

    Kemiskinan
    Kemiskinan | Sumber gambar: unsplash.com

    Kemiskinan adalah masalah sosial yang paling pelik di Indonesia. Kamu pun pasti pernah menyaksikan persoalan yang satu ini secara langsung. Kemiskinan tidak hanya menjadi masalah besar di Indonesia, namun juga di berbagai negara di penjuru dunia.

    Pembangunan sosial yang merata, kebijakan yang berpihak pada masyarakat miskin, dan bantuan pemerintah yang tepat sasaran adalah langkah untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

    Baca Juga : Memahami 5 Faktor Penyebab Kemiskinan dan Dampaknya

    2. Pengangguran

    Salah satu kebijakan pemerintah yang dapat menimbulkan masalah sosial yaitu kurang efektifnya kebijakan mengenai lapangan kerja.

    Kurangnya lapangan kerja, rendahnya pendidikan, dan kurangnya skill dapat meningkatkan angka pengangguran di masyarakat. 

    Jika pengangguran dibiarkan terjadi, maka akan membuat banyak masyarakat yang tidak mampu memperoleh nafkah dan memenuhi kebutuhan primernya.

    Angka pengangguran dapat berkurang melalui beberapa cara sebagai berikut.

    • Membuat kebijakan yang menguntungkan UMKM agar lapangan pekerjaan terbuka lebar.
    • Tingkatkan dan ratakan kualitas pendidikan dengan minimal wajib belajar di seluruh Indonesia.
    • Bangun balai keterampilan untuk masyarakat.
    • Bangun lapangan kerja yang merata di seluruh Indonesia.

    3. Kriminalitas

    Kriminalitas menjadi contoh masalah sosial di Indonesia yang ternyata punya hubungan terhadap kejadian kemiskinan dan angka pengangguran di suatu wilayah.

    Jika orang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya, maka makin tinggi juga angka kriminalitas yang ada di masyarakat.

    Kriminalitas merupakan aksi yang merugikan semua pihak, termasuk si pelaku. Cara menekan angka kriminalitas di masyarakat adalah memberlakukan sistem keamanan masyarakat yang efektif, menekan angka kemiskinan, dan penegakan hukum yang tegas.

    4. Kenakalan Remaja

    Kenakalan remaja merupakan masalah yang cukup rumit bagi orang tua dan pemerintah. Salah satu contohnya adalah tawuran.

    Masa remaja adalah masa saat seseorang perlu bimbingan dan arahan karena mentalnya belum stabil. Jika seorang remaja justru terjerumus ke jalan yang salah, hal ini akan sangat merugikan hidupnya di masa mendatang.

    Pengawasan dari orang tua di rumah dan pihak sekolah sangat penting untuk mencegah kenakalan remaja. Remaja bisa diberikan waktu dan ruang sebebas-bebasnya untuk mencari minat dan bakatnya secara positif. 

    Selain itu, orang tua dan sekolah juga harus siap sebagai “teman” untuk mendengarkan dan memahami berbagai masalah yang para remaja hadapi.

    5. Kesenjangan Sosial

    Kesenjangan sosial merupakan suatu kejadian saat adanya masyarakat yang punya tingkat kesejahteraan yang sangat timpang dengan kelompok masyarakat lainnya.

    Misalnya, satu kelompok masyarakat sangat kaya, sedangkan kelompok lainnya sangat kesulitan bahkan hanya untuk membeli makanan (sangat miskin).

    Kesenjangan sosial akan menimbulkan kecemburuan sosial yang akan meningkatkan risiko kriminalitas dan konflik.

    Cara mencegah kesenjangan sosial yaitu dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    6. Konflik SARA

    Konflik SARA adalah contoh masalah sosial di Indonesia yang belakangan ini kerap terjadi. Penyebab konflik ini bisa terjadi karena rendahnya kesadaran toleransi dari seorang atau sekelompok oknum.

    Konflik SARA tergolong masalah yang cukup serius. Masalah ini bisa menyebabkan perpecahan di antara masyarakat dan lambat laun akan menjadi pemicu konflik yang lebih besar.

    Edukasi terkait pemahaman tentang perbedaan, seperti keberagaman suku, agama, ras, dan budaya sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan rasa saling menghargai di antara masyarakat.

    7. Pelecehan Seksual

    Pelecehan seksual dapat menyerang siapa saja dan di mana saja, tidak mempedulikan waktu, tempat, dan pakaian yang si korban kenakan. Korban mayoritas berasal dari perempuan dan anak-anak.

    Masalah terbesar dari kasus pelecehan seksual, sangat banyak korban yang tidak berani untuk bicara baik ke pihak keluarga ataupun pihak berwajib. Mereka takut untuk dihakimi.

    Lebih parahnya, pelecehan seksual tidak hanya terjadi secara langsung. Namun, pelecehan seksual juga sudah marak terjadi di dunia maya.

    Cara mencegah masalah ini yaitu penegakan hukum yang tegas terkait pelecehan seksual, memberikan perlindungan dan konseling pada korban, serta edukasi mengenai penggunaan sosial media.

    8. Korupsi

    Korupsi
    Korupsi | Sumber gambar: unsplash.com

    Kita sudah acap kali mendengar berita tentang korupsi. Masalah ini sangat merugikan negara dan masyarakat karena uang dari negara. 

    Mempertegas penegakan hukum korupsi dan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya bagi tersangka adalah cara mencegah korupsi.

    9. Kesenjangan Hukum

    Masyarakat juga kerap mengalami hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah. Padahal, hukum tercipta agar dapat memberikan keadilan kepada masyarakat tanpa kecuali.

    Cara mencegah contoh masalah sosial di Indonesia ini adalah pemerintah harus adil terhadap semua lapisan masyarakat.

    10. Penyakit Menular

    Penyakit menular juga bisa menjadi masalah sosial di Indonesia yang pelik. Contohnya yaitu saat terjadi wabah pandemi COVID-19. Penyakit ini sangat mengganggu masyarakat dari berbagai sisi seperti ekonomi, pendidikan, dan sosial.

    Pandemi COVID-19 juga membuat ekonomi di banyak negara lumpuh dan pembatasan sosial yang cukup signifikan.

    Cara mencegah penyakit menular adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan personal serta mengikuti anjuran dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) jika terjadi wabah yang tidak kita inginkan.

    11. Aliran Sesat

    Aliran sesat tidak semudah masalah sosial yang lain untuk terdeteksi. Namun, tetap saja, aliran sesat sangat meresahkan.

    Aliran sesat merupakan ajaran atau doktrin yang menyimpang dari kepercayaan yang seharusnya. Terkadang, aliran sesat mengarahkan pengikutnya untuk melakukan hal yang merugikan sekaligus bertentangan dengan ajaran agama.

    12. Lingkungan Hidup

    Lingkungan hidup juga bisa kita kategorikan sebagai salah satu contoh masalah sosial di Indonesia yang masyarakat hadapi. Misalnya saja, seperti banjir yang penyebabnya karena perilaku manusia yang tidak menjaga lingkungan.

    Permasalahan ini tentu menimbulkan masalah bagi kehidupan sehari-hari di masyarakat. Edukasi dan penegakan hukum terkait lingkungan sangat penting untuk menekan masalah ini.

    13. Ujaran Kebencian

    Isu ujaran kebencian merupakan masalah sosial yang juga cukup meresahkan masyarakat. Karena masalah ini, banyak orang yang menjadi korban perundungan, persekusi, hingga pelecehan. Ujaran kebencian ini sering dikaitkan dengan perbedaan suku, agama, ataupun ras.

    Ujaran kebencian merupakan aksi berupa ucapan untuk menghasut orang lain untuk membenci satu individu tertentu.

    Mengedukasi masyarakat mengenai toleransi harus berjalan agar memiliki kesadaran tentang perbedaan yang ada di lingkungan sekitar.

    14. Fear of Missing Out (FOMO)

    FOMO
    FOMO | Sumber gambar: akseleran.co.id

    Istilah fear of missing out (FOMO) lekat dengan anak muda. Fenomena ini merupakan perasaan takut atau khawatir ketinggalan suatu tren yang sedang viral. FOMO ini bentuknya macam-macam. Misalnya, tren pakaian, masakan, ataupun hiburan.

    Media sosial adalah penyebab utama masalah ini. Penggunaan media sosial yang bijak merupakan langkah untuk mengurangi FOMO.

    15. Tunawisma

    Adanya tunawisma sebagai contoh masalah sosial di Indonesia lekat hubungannya dengan kemiskinan dan pengucilan secara sosial. Munculnya tunawisma dapat menimbulkan dampak negatif seperti naiknya risiko kriminalitas.

    Kebijakan pemerintah dalam pencegahan munculnya tunawisma diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

    16. Kesehatan Mental

    Kesehatan mental merupakan hal yang cukup menyita perhatian terutama saat pandemi COVID-19 terjadi. 

    Pada periode tersebut, masyarakat sangat rawan mengalami gangguan kesehatan mental karena pembatasan besar-besaran dari berbagai sektor.

    Beberapa contoh gangguan kesehatan mental yaitu depresi hingga gangguan kecemasan. Cara menurunkan masalah kesehatan mental yaitu dengan mencari pertolongan ke psikologi jika tidak merasa baik-baik saja dan hindari mendiagnosis diri sendiri.

    Selain itu, peran kita sebagai masyarakat juga penting. Tumbuhkan empati bagi siapa saja yang sedang mengalami masalah hidup. Sebaiknya, cukup mendengarkan tanpa perlu menghakimi.

    17. Bullying

    Kasus bullying atau perundungan makin mendapat sorotan setelah maraknya peristiwa ini di berbagai sekolah. Ini merupakan tindakan seseorang untuk melakukan intimidasi dan mendominasi individu lain yang menurut ia lebih lemah. 

    Kasus ini tidak hanya terjadi pada anak sekolah, namun juga lingkungan kerja. Bullying sangat merugikan pihak korban. Hal ini bisa menyebabkan korban menjadi mengalami gangguan mental.

    Cara mencegah bullying adalah membuat penegakan hukum yang dan tanpa bulu bagi para pelaku. 

    18. Kecanduan Media Sosial

    Kecanduan Media Sosial
    Kecanduan Media Sosial | Sumber gambar: ghirahbelajar.com

    Media sosial benar-benar mengubah cara orang berkomunikasi di era yang serba cepat ini. Namun, media sosial juga ternyata membawa dampak positif jika kita tidak punya perisai diri.

    Kecanduan media sosial adalah contoh masalah sosial di Indonesia yang akan mengganggu produktivitas masyarakat. Mencoba cari hobi baru dan menjauhi gadget dari kehidupan sehari-hari adalah solusi terbaik untuk mengurangi media sosial.

    19. Kecurangan Akademik

    Kecurangan akademik adalah problematika klasik. Penyebabnya adalah malasnya siswa untuk belajar dan rendahnya ketegasan pihak institusi pendidikan dalam mencegah perilaku ini.

    Cara untuk mencegah praktek ini adalah rajin belajar dan pihak institusi harus tegas dalam mengawasi siswa.

    20. Pemerasan

    Pemerasan adalah masalah sosial di Indonesia lainnya yang kerap terjadi. Hal ini sering dijumpai di tempat umum. Cara mencegahnya yaitu dengan penegakan hukum yang tegas untuk membuat pelaku jera.

    Baca Juga : Dampak Pertumbuhan Penduduk yang Kian Padat bagi Kehidupan

    Yuk, Cegah Masalah Sosial di Indonesia!

    Contoh masalah sosial di Indonesia merupakan persoalan pelik bagi semua orang. Kerja sama dari semua pihak dari pemerintah hingga masyarakat dapat mencegah persoalan ini. Selain itu, sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

    Langkah konkret yang bisa kamu lakukan adalah dengan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Di samping itu, tidak mudah termakan berita bohong serta saling membantu kepada orang yang membutuhkan.