Category: Sosiologi

  • Norma: Pengertian, Jenis, Fungsi, beserta Contohnya

    Norma: Pengertian, Jenis, Fungsi, beserta Contohnya

    Norma adalah sesuatu yang melekat dan sering dibicarakan di tengah-tengah masyarakat. Namun tahukah kamu pengertian dari istilah ini? Jika belum, pada artikel ini akan membahas pengertian, jenis, hingga contohnya.

    Pengertian Norma

    Pada dasarnya, norma adalah kata yang berasal dari bahasa Belanda dan bahasa Latin yaitu norm dan mosNorm berarti patokan, pedoman, atau pokok kaidah, sedangkan mos berarti adat istiadat, kebiasaan, atau tata kelakuan. Dari kedua arti tersebut, bisa diketahui bahwa istilah ini berarti pedoman tentang kebiasaan. 

    Selain itu, berdasarkan KBBI, norma memiliki arti aturan atau ketentuan yang bersifat mengikat suatu kelompok di dalam masyarakat. Penerapan aturan ini sebagai panduan, tatanan, dan juga pengendalian tingkah laku yang tepat. 

    Norma Menurut Para Ahli

    Beberapa ahli memberikan pendapatnya sendiri tentang istilah ini, antara lain:

    1. Craig Calhoun

    Menurut Craig Calhoun, seorang sosiologis asal Amerika, norma adalah suatu pedoman atau aturan yang menyatakan bagaimana seorang individu bertindak. Tindakan tersebut berupa tindakan dalam menghadapi suatu situasi di tengah masyarakat. 

    2. E. Utrecht

    E. Utrecht merupakan seorang ilmuwan sekaligus pakar hukum. Menurut E. Utrecht, norma adalah segala himpunan petunjuk hidup yang berfungsi untuk mengatur berbagai tata tertib di dalam masyarakat dan bangsa karena aturan tersebut harus ditaati oleh setiap lapisan masyarakat. 

    Jika ada masyarakat yang melanggar maka akan ada konsekuensinya dari pihak yang berwenang. 

    3. John J. Macionis

    John J. Macionis memberikan pengertiannya sendiri terkait istilah ini. Adapun menurutnya, norma adalah aturan yang bertindak sebagai panduan bagi masyarakat dalam berperilaku.

    4. Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamm

    Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamm (1998) juga memberikan pandangannya sendiri terkait istilah ini. Adapun menurutnya norma adalah standar perilaku yang mapan yang dipelihara oleh lapisan masyarakat.

    5. Prof Soedikno Mertokusumo

    Berdasarkan Prof Soedikno Mertokusumo, norma adalah sebuah aturan hidup bagi umat manusia terkait hal yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan oleh manusia terhadap manusia yang lainnya. 

    Fungsi Norma

    Untuk lebih jelasnya mengenai istilah ini, sebaiknya kamu ketahui juga apa fungsi dari norma tersebut. Adapun fungsi dari norma adalah sebagai panduan dalam masyarakat agar tidak bertindak di luar batas norma tersebut. Maksud dari batas ini yaitu hak masyarakat lainnya. 

    Tidak hanya itu, aturan ini juga berfungsi untuk membuat sebuah ikatan sosial sesuai dengan keinginan masyarakat. 

    Ciri-Ciri Norma

    Untuk lebih jelasnya mengenai penjelasan norma tersebut, sebaiknya kamu tahu juga ciri-cirinya. Adapun ciri dari norma menurut buku Antropologi dan Sosiologi Pendidikan oleh Edison Simbolon dan teman-temannya adalah:

    1. Secara umum, norma itu bukan suatu aturan tertulis, seperti halnya norma kesusilaan. Meski begitu, ada juga yang sifatnya tertulis, misalnya norma hukum.
    2. Merupakan hasil dari kesepakatan masyarakat.
    3. Setiap norma harus ditaati terutama yang berlaku di masyarakat.
    4. Jika norma dilanggar, maka orang yang melanggar harus mendapatkan sanksi.
    5. Norma bisa saja menyesuaikan perubahan sosial di masyarakat seperti norma sosial sehingga norma ini bisa mengalami perubahan.

    Jenis-Jenis Norma

    Jenis-jenis norma di masyarakat ada 5, yaitu norma agama, kesusilaan, kesopanan, kebiasaan dan hukum. Adapun penjelasan setiap normanya adalahh sebagai berikut:

    1. Norma Agama

    Jenis yang pertama adalah norma agama. Jenis ini merupakan sebuah kaidah atau aturan hidup yang bersumber dari agama, kepercayaan, dan keyakinan terhadap Tuhan. 

    Adapun jenis ini berupa aturan hidup yang harus manusia terima sesuai dengan perintah, larangan, dan ajaran Tuhan. Aturan ini bersifat mutlak dan penganutnya harus benar-benar menaati setiap aturan dalam agama tersebut. 

    Jika tidak ditaati, maka orang tersebut akan kehilangan iman dan keyakinannya terhadap agama tersebut. Tidak hanya itu, ajaran agama ini juga memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat. Jika dilanggar, maka akan mendapatkan hukuman di akhirat. 

    Adapun contoh dari aturan agama ini yaitu:

    1. Melakukan kegiatan peribadatan sesuai dengan keyakinan.
    2. Berdoa sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
    3. Melakukan hal positif terhadap diri sendiri dan sesama.
    4. Mematuhi orang tua.
    5. Tidak membunuh, berjudi, mencuri, dan menipu.
    6. Tidak memfitnah atau menggunjing orang lain.
    7. Jangan menindas ataupun melakukan tindakan semena-mena ke orang yang lebih lemah.
    8. Tidak memposting sesuatu yang menjelekkan agama lain di berbagai media sosial.
    9. Tidak melakukan perzinahan dalam bentuk apapun di lingkungan masyarakat.
    10. Menjaga kebersihan rumah ibadah masing-masing dan tidak mengotori ataupun merusak rumah ibadah agama lain yang ada di lingkungan masyarakat.

    2. Norma Kesusilaan

    Norma kesusilaan erat kaitannya dengan hati nurani dan akhlak manusia. Ini sifatnya umum yang artinya setiap orang memilikinya, walaupun bentuknya sedikit berbeda.

    Tidak hanya itu, aturan kesusilaan juga erat kaitannya dengan nilai kemanusiaan. Artinya jika kamu melanggar, maka akan terjerat hukum pidana dan sanksi di lingkungan masyarakat. 

    Adapun contoh dari aturan jenis ini yaitu:

    1. Sopan santun dari yang lebih muda terhadap yang lebih tua. Begitu juga sebaliknya, yang lebih tua harus tetap menghargai yang lebih muda.
    2. Tidak boleh mencuri atau mengambil hak milik orang lain.
    3. Ucapkan kata “permisi” atau “salam” jika bertamu ke rumah orang atau meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain.
    4. Gunakan pakaian yang sopan dan tidak melanggar norma-norma kesusilaan yang berlaku ketika menghadiri suatu acara atau berkunjung ke tempat orang lain. 
    5. Saat di transportasi umum, dahulukan orang yang lebih tua, wanita yang membawa anak, ibu hamil, dan orang yang berkebutuhan khusus untuk menggunakan tempat duduk saat jumlah tempat duduk terbatas. 
    6. Tidak mencontek saat ulangan, karena jika mencontek akan mendapatkan sanksi yang bukan hanya di sekolah tetapi juga lingkungannya.
    7. Tidak mengganggu kegiatan peribadatan orang lain.
    8. Berbuat baik tanpa melihat kedudukan ataupun keturunan orang tersebut. 
    9. Jujur dalam berkata dan berbuat.
    10. Tidak melakukan perbuatan asusila.

    3. Norma Kesopanan

    Jenis berikutnya adalah norma kesopanan. Adapun jenis ini merupakan aturan yang bersumber dari masyarakat dengan ciri-ciri aturan yang tidak tertulis, tapi disepakati bersama di dalam masyarakat. 

    Tidak hanya itu, aturan kesopanan juga berupa hal-hal yang pantas dan tidak pantas dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Menghindari hal yang tidak sopan dalam pergaulan juga termasuk ke dalam jenis ini. 

    Selain itu, norma kesopanan juga erat kaitannya dengan tata kehidupan, budaya, adat istiadat, dan kebiasaan suatu kelompok masyarakat. Ini bersifat lokal atau berlaku pada masyarakat setempat di wilayah tersebut. 

    Atau dengan kata lain, aturan ini tidak berlaku umum di seluruh dunia. Hal ini karena masing-masing tempat atau daerah memiliki standar aturan kesopanannya masing-masing. 

    Adapun isi dari aturan kesopanan meliputi tata cara berpakaian, berperilaku, bertamu, berbicara, menyapa orang lain, table manner, dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, berikut contoh-contoh dari aturan ini yang berlaku di daerah tertentu dan penerapannya bisa berbeda di setiap daerah:

    1. Siswa tidak memakai perhiasan dan riasan wajah yang terlalu mencolok ketika berada di sekolah.
    2. Selalu mengucapkan terima kasih jika mendapatkan bantuan dari orang lain.
    3. Apabila berbuat salah, selalu meminta maaf kepada orang tersebut.
    4. Tidak menggunakan pakaian yang mencolok dan riasan yang berlebihan saat menghadiri pemakaman.
    5. Mengucapkan salam jika bertemu ataupun saat memasuki suatu ruangan yang berisi orang lain.
    6. Mencium tangan orang tua saat berpamitan pergi ke sekolah atau mengaji. 
    7. Berpakaian dan bertutur kata sopan terutama saat menghadapi orang yang lebih tua. 
    8. Menggunakan tangan kanan saat menerima sesuatu dan mengucapkan terima kasih. 
    9. Tidak menyela pembicaraan orang atau meminta izin ketika ingin berbicara. 
    10. Tidak mencoret-coret tembok orang lain dan tidak merusak barang-barang milik orang lain. 

    4. Norma Kebiasaan

    Adapun norma kebiasaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam bentuk berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan dan norma di masyarakat. Nah dalam kondisinya di lingkungan tertentu, seseorang bisa dianggap aneh jika tidak melakukan norma kebiasaan.

    Adapun dalam pelaksanaan aturan ini, akan sangat berdampak terhadap kehidupan sehari-hari. Dampak yang diakibatkan pun sangat jelas, apakah itu berdampak baik atau buruk jika menjalankan atau tidak menjalankan aturan tersebut. 

    Sebagai contoh, jika kamu tidak menjalankan norma tersebut sebagaimana seharusnya. Maka akan berdampak buruk terhadap kehidupan, seperti akan mendapatkan perlakuan buruk dari berbagai pihak yang ada di masyarakat ataupun akan mendapatkan sanksi dan hukuman. 

    Berikut ini contoh-contoh jenis norma kebiasaan yang ada di masyarakat:

    1. Melakukan mudik menjelang hari raya Idulfitri dan berkunjung ke kerabat saat hari raya. 
    2. Berkumpul bersama keluarga ketika hari-hari besar seperti hari Natal bagi umat kristiani. 
    3. Mengadakan acara selamatan ataupun doa untuk anak yang baru lahir dan hajatan ketika ada pernikahan. 
    4. Kegiatan mendoakan arwah yang sudah meninggal dunia seperti masyarakat Manggarai, Flores.
    5. Kebiasaan mandi teratur tiap hari dan tidur selama 6 jam sehari.
    6. Menghormati dan menghargai orang lain ketika berbicara ataupun menyampaikan pendapatnya. 
    7. Menyapa orang lain jika bertemu dengan cara tersenyum ataupun berjabat tangan.
    8. Berkata sopan dan santun pada orang lain terutama pada orang yang lebih tua dan yang dituakan.
    9. Menggosok gigi sebelum tidur dan minum air putih saat bangun tidur. 
    10. Mencintai binatang dan menjaga alam sekitar dari kerusakan dengan mengikuti berbagai kegiatan pecinta alam. 

    5. Norma Hukum

    Jenis yang terakhir adalah norma hukum yang proses pembuatannya untuk mengatur tata tertib di suatu negara. Jenis ini berupa aturan yang sudah ditetapkan oleh suatu negara.  

    Adapun bagi masyarakat yang melanggar, akan mendapatkan sanksi sesuai dengan aturan tersebut yang biasanya diberikan oleh lembaga pemerintah resmi. 

    Ciri-ciri dari aturan hukum ini yaitu adanya penegak hukum dan pihak berwenang yang memberikan sanksi. Selain itu, adanya pengakuan dari masyarakat juga merupakan ciri dari aturan ini. 

    Aturan ini juga identik dengan adanya kekuasaan dan larangan dalam melakukan suatu tindakan tertentu. Tujuan dari aturan jenis ini yaitu untuk menciptakan keamanan dan ketertiban dalam lingkungan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

    Adapun contoh dari aturan hukum dalam kehidupan bermasyarakat yaitu:

    1. Membayar pajak tepat waktu dan taat terhadap lalu lintas ketika berkendara. 
    2. Tidak melakukan kejahatan yang merugikan warga negara lainnya seperti mencuri, korupsi, merampok, dan menipu.
    3. Memberi sanksi di sidang pengadilan bagi yang melakukan kesalahan dan berhak memiliki pengacara saat persidangan. 
    4. Semua orang berhak atas identitas, berhak mencalonkan diri dalam pemilihan, dan memilih.
    5. Tidak melakukan diskriminasi terhadap orang lain dalam bentuk apapun. 
    6. Setiap petugas kepolisian harus mengidentifikasi diri mereka sebelum melakukan intervensi.
    7. Semua orang dari segala lapisan masyarakat harus melayani Tentara Nasional apabila diminta.
    8. Dalam dunia kerja, tidak boleh mempekerjakan seseorang lebih lama dari hari kerja maksimum sesuai ketentuan.
    9. Tidak boleh memberikan kesaksian palsu selama proses peradilan dengan alasan apapun.
    10. Dilarang menculik, menghilangkan nyawa, dan segala jenis pembunuhan lainnya.

    Sudah Tahu Apa itu Norma?

    Norma adalah sesuatu yang sangat penting dan biasanya melekat dalam kehidupan masyarakat. Untuk itulah, setelah mengetahui jenis-jenis dan contohnya, sebaiknya mulai sekarang kamu menerapkan dan menjaga aturan tersebut.

  • Penting! Ini 3 Manfaat Menaati Norma bagi Diri Sendiri

    Penting! Ini 3 Manfaat Menaati Norma bagi Diri Sendiri

    Kehidupan dalam masyarakat tentu tidak lepas dari aturan dan norma yang berlaku. Setiap manusia mempunyai karakteristik dan kepentingan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, perlu adanya peraturan untuk mengatur segala perilaku. Manfaat menaati norma bagi diri sendiri juga sangat banyak.

    Secara umum, norma terbentuk karena adanya perbedaan individu dalam masyarakat. Norma berfungsi untuk menghindari adanya perpecahan yang mungkin terjadi apabila manusia bertindak tanpa aturan. Lantas, apa saja manfaat dari norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!

    Apa Itu Norma?

    Norma adalah ketentuan atau petunjuk hidup yang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Norma yang berlaku di lingkungan masyarakat dapat berupa aturan tidak tertulis yang secara sadar dipatuhi oleh setiap individu.

    Penerapan norma bertujuan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di lingkungan sosial atau masyarakat. Menaati norma bisa menghindarkan Anda dari perselisihan dan perpecahan dalam masyarakat. Karena setiap individu mempunyai kepentingan masing-masing dan cenderung tidak mau diganggu.

    3 Manfaat Menaati Norma Bagi Diri Sendiri

    Berikut ini adalah beberapa manfaat dari menaati norma yang bisa Anda rasakan untuk diri sendiri agar hidup menjadi lebih tentram:

    1. Menumbuhkan Rasa Toleransi terhadap Sesama

    Sikap toleransi merupakan rasa untuk bisa mengerti, memahami, menerima, dan menghargai setiap perbedaan dari masing-masing individu yang ada di masyarakat. Sikap toleransi termasuk salah satu sikap penting yang selalu diajarkan oleh orang tua maupun guru kepada setiap anaknya.

    Seseorang yang terbiasa memiliki rasa toleransi yang tinggi bisa dengan mudah menerapkannya dalam kehidupan sosial. Toleransi sangat dibutuhkan di lingkungan masyarakat mengingat Indonesia merupakan negara yang majemuk dengan berbagai latar belakang suku dan kebudayaan yang berbeda-beda.

    Memahami dan menghargai setiap perbedaan yang Anda temui dalam masyarakat sangat penting agar tidak terjadi perpecahan. Selain itu, toleransi dapat Anda lakukan dengan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Apabila Anda memahami apa itu norma, tentu Anda bisa mempunyai sikap toleransi yang lebih baik.

    2. Tolong Menolong untuk Mencapai Tujuan Bersama

    Pemahaman tentang norma di masyarakat juga bisa menciptakan rasa tolong menolong antar sesama untuk mencapai tujuan bersama. Manfaat menaati norma bagi diri sendiri ini berkaitan dengan meningkatnya rasa tolong-menolong di lingkungan masyarakat. Serta bisa mempererat persaudaraan dan mempercepat suatu pekerjaan.

    Suatu pekerjaan akan lebih ringan dan cepat selesai apabila dilakukan dengan kerja sama antar dua pihak atau lebih. Rasa tolong menolong dan sukarela membantu sesama juga memupuk kerukunan antar individu. Anda bisa saling bertukar pikiran dengan orang lain untuk menyelesaikan suatu permasalahan di masyarakat.

    3. Mewujudkan Kehidupan yang Harmonis

    Norma yang melekat di masyarakat akan membuat kehidupan sosial menjadi lebih tertata dan harmonis. Setiap individu akan saling menghormati dan peduli pada satu sama lain. Kehidupan sosial yang rukun dan harmonis tentu akan menciptakan suasana yang penuh kedamaian.

    Seseorang yang menjadikan norma sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat pasti bisa membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Sebaliknya, apabila seseorang melanggar norma tentu akan mendapatkan masalah di kehidupan sosialnya. Terlebih apabila hal tersebut sampai mengganggu kehidupan orang lain.

    Jenis Norma di Masyarakat

    Tidak hanya manfaat menaati norma bagi diri sendiri yang penting untuk Anda pahami, mengetahui jenis norma yang ada di masyarakat juga harus Anda lakukan. Secara umum, terdapat empat jenis norma yang berlaku di masyarakat baik tertulis maupun tidak tertulis. Berikut uraiannya:

    1. Norma Agama

    Norma agama merupakan peraturan hidup manusia di mana ajarannya berasal dari wahyu atau aturan dari Tuhan. Ajaran ini melekat bagi setiap individu sesuai dengan keyakinan masing-masing. Contoh norma agama, yaitu mengasihi sesama dan tidak melakukan pembunuhan serta kekerasan terhadap siapapun.

    2. Norma Kesusilaan

    Norma kesusilaan merupakan peraturan hidup manusia yang berasal dari hati nurani manusia. Peraturan ini membantu manusia untuk menentukan mana yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Contohnya adalah berkata jujur. Manfaat menaati norma ini bagi diri sendiri adalah ketenangan pikiran.

    3. Norma Kesopanan

    Berbeda dengan norma kesusilaan, norma kesopanan lebih mengatur bagaimana hubungan antar individu dalam pergaulan di lingkungan sehari-hari. Norma kesopanaan biasanya berasal dari kebiasaan dan aturan yang terdapat pada kelompok masyarakat. Contohnya menghargai orang yang lebih tua dan berpamitan sebelum pergi.

    4. Norma Hukum

    Norma ini merupakan peraturan hidup manusia yang dibuat oleh badan hukum atau badan resmi negara yang bersifat mengikat dan memaksa. Ada banyak larangan yang harus Anda taati dan apabila melanggar akan mendapatkan sanksi yang tegas. Contoh norma hukum, yaitu membayar pajak dan menaati rambu lalu lintas.

    Apakah Anda Sudah Menaati Norma yang Berlaku?

    Sebagai makhluk sosial yang baik, Anda perlu menaati setiap norma yang berlaku di masyarakat. Bukan hanya untuk kepentingan orang lain, Anda juga akan mendapatkan manfaat menaati norma bagi diri sendiri. Pasalnya, perbuatan manusia umumnya dinilai secara moral dan Anda bisa hidup tenang apabila menaati norma yang berlaku.

  • Teori Difusi Inovasi: Arti, Elemen, Jenis, Tahapan & Contoh

    Teori Difusi Inovasi: Arti, Elemen, Jenis, Tahapan & Contoh

    Teori Difusi Inovasi merupakan salah satu teori baru yang muncul seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Seperti yang kamu ketahui, bahwa sekarang ini inovasi menjadi hal yang penting untuk orang-orang lakukan. Tujuannya adalah untuk tetap up to date dengan tren dan perkembangan yang terjadi di zaman sekarang.

    Menariknya, proses inovasi ini juga harus dibarengi dengan kemampuan komunikasi yang baik. Sebab, kemampuan tersebut akan berpengaruh terhadap upaya seseorang dalam mengembangkan inovasi terbaru di masyarakat.

    Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Teori Difusi Inovasi itu sendiri? Nah, untuk kamu yang tertarik ingin tahu lebih banyak tentang teori tersebut, simak ulasan selengkapnya dalam artikel di bawah ini!

    Pengertian Teori Difusi Inovasi

    Ilustrasi Teori Difusi dan Inovasi
    Ilustrasi Teori Difusi dan Inovasi | Sumber gambar: freepik

    Secara umum, Teori Difusi Inovasi adalah teori yang berisi tentang ide atau gagasan baru dan teknologi yang tersebar dalam suatu kebudayaan. Pada dasarnya, teori ini terdiri dari dua kata, yakni difusi dan inovasi.

    Menurut KBBI, kata difusi artinya adalah berupa penyebaran atau perembesan sesuatu dalam bentuk kebudayaan, teknologi, atau ide dari suatu pihak ke pihak lain. Sementara itu, inovasi berarti pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, yakni sebuah pembaruan.

    Adapun teori ini pertama kali muncul pada tahun 1964 oleh Everett Rogers, melalui buku ciptaannya yang berjudul “Diffusion of Innovations”. Dalam buku tersebut, ia menjelaskan bahwa difusi adalah proses pada saat inovasi dikomunikasikan lewat beberapa saluran, dengan jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial.

    Melalui teori ini, Rogers yakin bahwa inovasi dapat terdifusi ke seluruh lapisan masyarakat. Jadi, bisa disimpulkan bahwa difusi adalah proses sosial dalam mengkomunikasikan informasi tentang ide-ide baru yang mulanya dipandang secara subjektif.

    Akan tetapi, kemudian perlahan-lahan mulai dikembangkan lewat proses konstruksi sosial hingga bisa dipandang secara objektif.

    Elemen Teori Difusi Inovasi

    Ilustrasi Elemen Teori Difusi serta Inovasi
    Ilustrasi Elemen Teori Difusi serta Inovasi | Sumber gambar: freepik

    Selain mengungkapkan pendapatnya tentang teori ini, dalam bukunya, Rogers juga menyebutkan berbagai elemen dari Teori Difusi Inovasi. Setidaknya ada empat elemen pokok yang termasuk ke dalam teori ini, antara lain:

    1. Inovasi

    Inovasi berarti sebuah gagasan, ide, atau tindakan yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam teori ini, inovasi sendiri bisa kamu pahami sebagai suatu hal baru atas dasar bagaimana pandangan orang terhadap gagasan yang merupakan hal baru tersebut.

    Jadi, kebaruan inovasi bisa menjadi sebuah hal yang diukur secara subjektif, menurut masing-masing individu yang menerima kebaruan tersebut.

    2. Saluran Komunikasi

    Saluran komunikasi dalam Teori Difusi Inovasi merupakan alat untuk menyampaikan pesan inovasi dari sumber penerima. Adapun suatu inovasi bisa seseorang adopsi jika yang diterimanya tersebut sudah dikomunikasikan kepada orang lain.

    Adapun maksud dari saluran komunikasi di sini sudah pasti harus sesuai dengan siapa yang kamu tuju. Apabila ditujukan kepada masyarakat luas, maka saluran yang digunakan adalah massa. Begitu juga sebaliknya.

    3. Jangka Waktu

    Jangka waktu adalah sebuah proses keputusan dari mulai seseorang tahu sampai akhirnya memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Dengan kata lain, jangka waktu ini berkaitan erat dengan keputusan pengambilan proses seseorang.

    Keinovatifan seseorang bisa relatif lebih awal maupun lambat, saat menerima pembaruan tersebut. Begitu juga pada saat mengadopsi sebuah pembaruan dalam sistem sosial.

    4. Sistem Sosial

    Sistem sosial adalah tata tingkah laku yang berkaitan dengan hak dan kewajiban yang ditentukan oleh masyarakat bagi seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam lingkungan masyarakat.

    Selain itu, sistem sosial juga bisa kamu pahami sebagai hal yang penting untuk memecahkan masalah demi mencapai tujuan bersama. Umumnya, sistem sosial ini yang akan menjadi sasaran sebuah pembaruan.

    Jenis-Jenis Teori Difusi Inovasi

    Sederhananya, jenis-jenis teori difusi terbagi ke dalam dua kategori, dengan penjelasan sebagai berikut:

    1. Difusi Sentralisasi

    Difusi sentralisasi adalah penyebaran kebudayaan, teknologi, gagasan, atau ide dari satu pihak ke pihak yang lain, yang disatukan ke dalam suatu tempat sebagai pusatnya. 

    Dengan kata lain, difusi sentralisasi merupakan sesuatu yang menyangkut kapan dimulainya sebuah inovasi, penilai, hingga saluran komunikasi yang digunakan terkait dengan proses difusi yang dilakukan seorang pemimpin.

    2. Difusi Desentralisasi

    Menurut KBBI, kata desentralisasi berarti penyerahan sebagian wewenang pimpinan kepada bawahan atau pusat kepada cabangnya. Adapun dalam ranah teori ini, difusi desentralisasi bisa kamu pahami sebagai proses difusi yang dilakukan oleh masyarakat untuk bekerjasama dengan orang yang sudah menerima inovasi.

    Tahapan Teori Difusi Inovasi

    Ilustrasi Tahapan Teori Difusi serta  Inovasi
    Ilustrasi Tahapan Teori Difusi serta  Inovasi | Sumber gambar: freepik

    Sebuah pembaruan tentu saja tidak bisa muncul dengan cepat dan instan. Sebab, terdapat sejumlah tahapan atau proses yang harus kamu lewati satu per satu. Begitu juga dalam Teori Difusi Inovasi yang terdiri dari sejumlah tahapan, antara lain:

    1. Tahapan Munculnya Pengetahuan atau Knowledge

    Tahap yang pertama adalah munculnya pengetahuan atau knowledge. Di mana pada tahap ini, akan dilakukan penyebaran informasi tentang suatu pembaruan. Jadi, inovasi akan disampaikan dan dikomunikasikan dengan tujuan agar seseorang bisa mengetahui dan memahami bentuk pembaruan tersebut.

    Sebab, jika seseorang memahami suatu pembaruan, maka akan lebih baik bagi mereka untuk mengadopsinya. 

    Setidaknya, terdapat tiga pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat, yakni kesadaran bahwa pembaruan tersebut benar-benar ada, pengetahuan akan penggunaan pembaruan, dan pengetahuan yang mendasari bagaimana fungsi pembaruan tersebut.

    2. Tahap Persuasi atau Persuasion

    Tahapan yang selanjutnya adalah persuasi yang akan membentuk sikap seseorang untuk bisa menyetujui atau tidak menyetujui adanya suatu pembaruan. Dalam tahap ini, seseorang juga akan mencari tahu lebih dalam perihal informasi tentang inovasi tersebut. Termasuk di dalamnya keuntungan dan kerugian dari pembaruan ini.

    Pada tahap ini, sikap yang ditunjukkan oleh individu bisa bersifat baik maupun buruk. Sebab, pada dasarnya, individu akan membentuk persepsi tentang inovasi tersebut. Oleh karena itulah, karakteristik yang dicari pada tahap ini adalah relative advantage, trialability, complexity, compatibility, dan observatibility.

    3. Tahap Keputusan atau Decision

    Pada tahap ini, seseorang bisa membuat keputusannya terkait dari pembaruan tersebut. Nantinya, seseorang akan terlibat dalam aktivitas yang membawanya pada suatu pilihan akan mengadopsi pembaruan tersebut atau menolaknya.

    Tentunya, ada beberapa faktor yang memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan terkait Teori Difusi Inovasi ini. Beberapa di antaranya adalah praktik sebelumnya, keinovatifan, perasaan atau kebutuhan, dan  juga norma dalam sistem sosial.

    4. Tahap Pelaksanaan atau Implementation

    Jika sudah masuk ke tahap ini, artinya seorang individu telah memilih untuk mengadopsi pembaruan yang ada. Dengan kata lain, ia akan menerapkan pembaruan tersebut dalam kehidupannya.

    Individu yang sudah menerapkan pembaruan dalam kehidupan sehari-hari bisa disebut sebagai adopter dari sebuah inovasi. Apalagi di tahap sebelumnya lebih mengacu pada proses berpikir dan memutuskan, maka di tahap ini, individu akan lebih mengarah kepada perubahan tingkah laku.

    5. Tahapan Konfirmasi atau Confirmation

    Tahap yang terakhir adalah konfirmasi, di mana seseorang akan mengevaluasi dan memutuskan apakah akan terus menggunakan inovasi tersebut atau mengakhirinya. Tak hanya itu, individu juga akan mencari penguatan atas keputusan yang sudah ia ambil sebelumnya.

    Jika seseorang menghentikan penggunaan inovasi tersebut, bisa jadi hal ini terjadi karena ketidakpuasan individu terhadap pembaruan tersebut. Selain itu, bisa juga karena ia telah menemukan pembaruan yang lebih baik.

    Contoh Penerapan Teori Difusi Inovasi

    Contoh Penerapan Teori Difusi dan Inovasi
    Contoh Penerapan Teori Difusi dan Inovasi | Sumber gambar: freepik

    Setelah menyimak penjelasan panjang tentang Teori Difusi Inovasi, tentunya kamu penasaran apa saja contoh penerapannya yang ada dalam kehidupan sehari-hari, kan? 

    Nah, salah satu contohnya yang kini bisa dengan mudah kamu temukan adalah influencer marketing. Di mana para influencer media sosial sering dihubungi oleh brand suatu produk atau layanan.

    Jadi, influencer bertugas sebagai pengguna awal yang memposting testimoni dari penggunaan produk dan/atau layanan tersebut. Nantinya, informasi ini akan terus menyebar dan dikenal oleh pengguna lain. Jika pengguna lainnya tertarik dengan konten dari influencer tersebut, maka ia akan ikut menggunakannya.

    Selain itu, Teori Difusi Inovasi juga kerap digunakan untuk merancang program kesehatan masyarakat. Jadi, sekelompok orang akan dipilih sebagai pengguna awal dari suatu teknologi. Kemudian, mereka akan menyebarkan hal tersebut kepada masyarakat umum.

    Sayangnya, keterbatasan budaya dan akses masyarakat terhadap sumber daya dan dukungan sosial menjadi salah satu faktor penghambat dari penyebaran pembaruan tersebut. Akan tetapi, bukan berarti pembaruan ini tidak bisa sampai ke sasaran masyarakat yang dituju.

    Baca Juga : Teori Motivasi: Sejarah, Macam, & Cara Membangun dalam Diri

    Yuk, Kenali Penerapan Teori Difusi Inovasi di Lingkungan Sekitar!

    Teori Difusi Inovasi sekarang ini mulai banyak bermunculan dalam kehidupan masyarakat. Khususnya pada aspek-aspek yang berkaitan dengan bidang teknologi.Dari informasi di atas, kamu bisa memahami bahwa teori ini adalah sebuah proses sosial yang mengkomunikasikan informasi tentang ide baru kepada masyarakat. Prosesnya relatif panjang, hingga akhirnya bisa sampai ke masyarakat untuk bisa diterima ataupun ditolak.

  • Memahami Agnostik: Pengertian, Sejarah, dan 5 Cirinya

    Memahami Agnostik: Pengertian, Sejarah, dan 5 Cirinya

    Dari sekian banyak agama yang tersebar di seluruh dunia, ada juga paham yang meragukan kehadiran Tuhan. Paham inilah bernama agnostik, di mana para pengikutnya masih meragukan keberadaan Tuhan dan hal-hal ghaib lainnya.

    Menariknya, banyak orang yang seringkali menyamakan paham ini dengan atheis. Apakah benar keduanya adalah paham yang sama, ataukah berbeda? Untuk dapat penjelasan lengkapnya, simak artikel ini sampai habis.

    Apa Itu Agnostik?

    Definisi agnostik
    Definisi agnostik | Sumber: istockphoto.com

    Pernah dengar pelawak sekaligus presenter bernama Coki Pardede? Coki adalah pelawak yang tegas mengakui bahwa ia seorang agnostik. Coki mengaku bahwa ia belum cukup mendapatkan bukti empiris mengenai keberadaan Tuhan sehingga ia memilih tidak menganut agama apapun.

    Setelah mendeklarasikan hal itu pada publik, banyak orang yang bertanya-tanya apa sebenarnya paham agnostisisme itu? Apakah Coki adalah seorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, ataukah hanya meragukan bahwa Tuhan benar-benar ada?

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), paham agnostik berpandangan bahwa keberadaan Tuhan tidak bisa diketahui bahkan mungkin tidak akan pernah bisa.

    Orang yang menganut paham ini berada di  antara atheisme dan theisme sehingga mereka merasa tidak tahu tentang keberadaan Tuhan. Mereka tidak bisa menetapkan dengan jelas bahwa Tuhan itu ada atau tidak seperti pemahaman penganut atheisme dan theisme.

    Ada semacam pergolakan batin dalam diri mereka tentang konsep agama dan Tuhan. Setiap kali mempertanyakan tentang hal tersebut, mereka selalu merasa tidak puas dengan jawaban-jawaban agama yang ada, terlebih pada fenomena-fenomena yang terjadi dalam realitas.

    Selain itu, ada juga penganutnya yang tidak percaya pada institusi agama sebagai alat pengontrol masyarakat di kehidupan sehari-hari. Karena faktor inilah mereka memilih untuk tidak menganut agama apapun termasuk agama-agama besar yang sudah tersebar di seluruh dunia.

    Apakah Agnostik Sama dengan Atheis?

    atheis
    atheis | Sumber: istockphoto.com

    Lantas, apakah penganut agnostisisme seperti Coki bisa disamakan dengan atheis? Masih banyak orang yang mengira kedua istilah ini sama, karena pengikutnya sama-sama tidak menganut agama apapun. Namun nyatanya keduanya adalah berbeda.

    Penganut paham agnostisisme ini meragukan tentang keberadaan Tuhan. Dengan kata lain, bukan berarti mereka tidak percaya, hanya saja mereka belum mendapatkan kepuasan atas jawaban-jawaban agama yang ada secara empiris.

    Golongan ini kerap dianggap sebagai orang-orang yang tidak tahu dan skeptis. Bagi mereka, manusia tidak mengetahui apapun selain dari pengalaman mereka sendiri.

    Sementara itu, atheis sebaliknya. Penganut atheis ini tidak percaya dengan adanya Tuhan. Penganut atheisme sama sekali tidak percaya akan adanya Tuhan dan dewa sehingga ketika mereka ditanya apakah Tuhan itu ada, maka jawabannya adalah “Tidak”.

    Penganut paham atheis menolak kepercayaan theisme disertai klaim. Jadi apa yang mereka percaya bertentangan dengan agama, yakni tidak percaya akan adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta, agama, dan  fenomena paranormal lainnya.

    Mereka percaya bahwa kehidupan hanya sebatas pada dunia saja. Alam setelah kematian dan kehidupan rohani lainnya tidak terbukti kebenarannya sehingga mereka menolak paham tersebut.

    Para pengikut paham ini percaya bahwa tidak ada yang bisa mengetahui secara pasti keberadaan Tuhan, karena sifat dan pengalaman manusia yang subjektif. Paham ini memiliki filosofi bahwa sifat-sifat Tuhan itu berada di luar jangkauan manusia yang sangat terbatas.

    Karena keterbatasan kemampuan itulah bagi mereka tidak mungkin ada manusia yang punya pengetahuan pasti tentang keberadaan Tuhan. Alhasil, mereka memosisikan diri sebagai orang yang tidak tahu akan keberadaan Tuhan.

    Dari sini bisa disimpulkan bahwa agnostisisme dengan atheisme berbeda. Meskipun kedua penganutnya berujung tidak memeluk agama manapun.

    Sejarah dan Filosofi Agnostik

    Thomas Henry Huxley
    Thomas Henry Huxley | Sumber:todayinsci.com

    Istilah agnostisisme muncul pertama kali secara terbuka pada tahun 1869. Istilah tersebut dikemukakan pada pertemuan Masyarakat Metafisika di London oleh T.H Huxley, seorang ahli biologi asal Inggris yang juga pendukung teori evolusi Darwin.

    Pada saat itu, Huxley menciptakan istilah tersebut untuk memberikan label kepada dirinya sendiri. Pasalnya, ia mengaku tidak tahu apa-apa tentang berbagai hal termasuk soal keberadaan Tuhan.

    Nah, dari situlah kemudian ia memakai kata tersebut pada orang-orang yang sama dengannya, yakni orang-orang yang tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak. Agnostisisme bagi Huxley bukanlah semacam kredo, tetapi memiliki makna lebih luas dan abstrak sebagai metode penyelidikan skeptik berbasis bukti.

    Ia juga memiliki prinsip bahwa seseorang yang percaya suatu proposisi (dalam hal ini keberadaan Tuhan) itu benar tanpa adanya bukti yang memuaskan secara logis adalah salah. Meski begitu, penerapan prinsip ini pada akhirnya mempunyai pengaruh besar terhadap makna dari istilah tersebut.

    Huxley bahkan mengeluarkan argumen bahwa tak ada satupun bukti yang cukup mendukung kepercayaan tersebut. Karenanya, perlu menangguhkan penilaian tentang masalah keberadaan Tuhan.

    Ciri-ciri Penganut Agnostik

    Penganut agnostik
    Penganut agnostik | Sumber: insuriponorogo.ac.id

    Ada beberapa karakteristik dari penganut agnostik yang bisa kamu ketahui. Misalnya saja:

    1. Penganutnya Sulit Percaya tentang Keberadaan Tuhan

    Penganut kepercayaan ini menganggap keberadaan Tuhan itu sulit dibuktikan. Inilah yang membuat mereka memilih berada di tengah-tengah, alias tidak menolak namun tidak juga mudah percaya dengan jawaban agama tentang keberadaan Tuhan.

    2. Percaya Manusia Bertanggung Jawab atas Dirinya Sendiri

    Mereka juga percaya manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dengan kata lain, apa yang manusia lakukan itu tidak ada campur tangan dari entitas Yang Maha Kuasa.

    3. Lebih Fleksibel

    Penganut agnostik cenderung lebih fleksibel, akan tetapi mereka tidak mudah peduli. Dengan kata lain, mereka lebih terbuka daripada atheisme yang cenderung menentang keberadaan Tuhan.

    4. Lebih Mengedepankan Sains dan Logika

    Sama seperti pelawak Coki Pardede, penganut kepercayaan ini lebih mengedepankan logika dan sains dalam memahami sesuatu.

    Setelah mengalami kegelisahan tentang keberadaan Tuhan, mereka berusaha menemukan jawaban. Namun, dari sekian banyak jawaban pun tidak ada yang bisa memuaskan kegelisahan mereka. Sebab bagi mereka, jawaban-jawaban yang ada tidak masuk logika bahkan  menggunakan kacamata sains pun tetap sulit untuk memahaminya.

    Cara pandang ini berlaku juga dalam memahami keberadaan Tuhan dan hal-hal rohani lainnya. Mereka juga percaya bahwa orang-orang tidak bisa mengakui hal-hal rohani secara pasti.

    5. Sebagian Penganutnya Percaya pada Agama

    Menariknya, sebagian penganut paham agnostisisme percaya pada agama. Namun jika soal keberadaan Tuhan, mereka belum benar-benar percaya. Selain itu, ada sebagian lainnya yang tidak percaya dengan ritual keagamaan.

    Dari ciri-ciri tersebut, ada lagi ciri-ciri lainnya dari kepercayaan agnostik yang terbagi menjadi beberapa macam, yakni:

    • Agnostik atheisme: orang yang tidak percaya adanya Tuhan tapi juga tidak berpura-pura tahu apakah Tuhan ada atau tidak.
    • Agnostik teisme: orang yang tidak tahu di mana keberadaan Tuhan, namun mereka tetap meyakini keberadaannya.
    • Agnostisisme pragmatis: orang yang berpandangan bahwa tidak ada bukti tentang adanya Tuhan. Bagi mereka, Tuhan itu mungkin tidak peduli dengan alam semesta dan kesejahteraan penghuninya.
    • Agnostisisme kuat: mereka tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak, dan merasa orang lain juga tidak tahu akan keberadaan Tuhan.
    • Agnostisisme lemah: orang yang merasa tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak, tapi masih terbuka dengan kemungkinan yang akan datang.

    Baca Juga : Akumulasi Adalah: Fungsi, Jenis, dan Contohnya

    Sudah Paham Apa Itu Agnostik?

    Istilah agnostik memang kurang familiar di telinga masyarakat Indonesia. Mengingat sebagian besar masyarakatnya adalah teisme alias memeluk suatu agama.

    Namun, setelah membaca artikel ini sampai habis, kamu jadi tahu tentang kepercayaan penganut agnostisisme. Kamu juga telah mendapatkan jawaban apakah agnostisisme dan atheisme itu sama atau tidak.

    Terlepas dari kepercayaan yang berbeda-beda itu, ada baiknya perlu untuk bersikap saling menghormati dan menghargai. Dari situ bisa tumbuh rasa persaudaraan dan persatuan yang bisa mempererat bangsa Indonesia.

  • Akumulasi Adalah: Fungsi, Jenis, dan Contohnya

    Akumulasi Adalah: Fungsi, Jenis, dan Contohnya

    Jika sering menabung pada bank dan menggunakan sistem deposito, maka kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya akumulasi. Istilah gampangnya akumulasi adalah penambahan nilai. Namun, bagi kamu yang belum begitu memahami, tenang saja. Yuk, simak ulasan ini untuk memahaminya lebih dalam!

    Pengertian Akumulasi 

    Akumulasi adalah penambahan atas modal dan simpanan yang ditambahkan secara berkala, tidak dalam satu waktu tertentu. Sehingga, hasil yang kamu dapatkan pada kemudian hari akan lebih besar. 

    Selain itu, Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia Kemdikbud mendefinisikan akumulasi sebagai proses penambahan, pelebaran, perluasan nilai tertentu dalam berbagai macam konteks, salah satunya konteks ekonomi. 

    Meskipun terkait dengan penambahan, tidak selalu berkaitan dengan penambahan nilai karena keuntungan saja. Melainkan juga penambahan nilai yang turun atau mengalami penyusutan. Dalam akuntansi, ini biasa kamu sebut dengan akumulasi penyusutan. 

    Banyak investasi atau benda yang dapat mengalami penyusutan, seperti peralatan kantor, kendaraan bermotor, dan aset-aset lainnya. Meskipun mengalami penyusutan, kamu akan tetap mendapatkan nilai guna pemakaiannya. Sehingga kamu tidak mengalami kerugian yang cukup besar.. 

    Fungsi Akumulasi 

    Akumulasi memiliki fungsi penting dalam menghitung nilai investasi. Berdasarkan jurnal yang membahas anuitas tingkat bunga efektif, fungsi akumulasi adalah sebagai bunga yang akan kamu terima selama waktu tertentu dari aset atau investasi awal. 

    Investasi awal tersebut kemudian akan ditambahkan dengan bunga yang akan kamu terima dalam periode waktu tertentu.

    Jenis Akumulasi 

    Setelah mengetahui pengertiannya, kamu tentu perlu mengetahui apa saja jenis-jenis akumulasi. Berikut beberapa di antaranya: 

    1. Akumulasi Biaya 

    Ilustrasi Uang
    Ilustrasi Uang | Sumber Gambar: Pexels

    Jenis pertama, yaitu biaya. Ini adalah metode perhitungan yang bertujuan untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan untuk produk dan jasa. Hal tersebut bergantung dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Penambahan biaya terbagi menjadi 2, yaitu biaya pesanan dan proses. 

    Pesanan merupakan merupakan penambahan biaya untuk setiap produk. Cara ini dapat kamu gunakan pada sektor usaha catering, mebel, bengkel, dan lain sebagainya. 

    Sedangkan proses adalah penggabungan biaya produk dengan biaya terhadap suatu waktu tertentu. Akumulasi jenis ini dapat kamu terapkan pada perusahaan yang menjalankan proses produksi secara berkelanjutan, seperti rumah sakit, penerbangan, dan lainnya. 

    2. Akumulasi Modal 

    Ilustrasi Modal
    Ilustrasi Modal | Sumber Gambar: Lifepal

    Jenis kedua dari akumulasi adalah modal. Ini merupakan proses penyimpanan sebagian persen pendapatan untuk investasi dan dipergunakan pada kemudian hari. Akumulasi modal memiliki tujuan untuk meningkatkan pendapatan atau output. 

    Investasi yang dilakukan pada jenis penambahan ini tidak hanya berfokus pada sektor yang spesifik, melainkan bisa kamu lakukan pada seluruh sektor perekonomian. Jenis ini mempunyai beberapa keuntungan, di antaranya adalah keuntungan sewa, bunga, royalti, dan lain sebagainya. 

    Sebagai contoh, kamu sedang merintis perusahaan dan ingin mempunyai alat agar produksi dapat berjalan dalam jangka pendek terlebih dahulu. Agar bisa mendapatkannya, kamu dapat memanfaatkan jasa pinjaman melalui bank, koperasi, maupun sumber pendanaan lainnya.  

    3. Akumulasi Parkir

    Ilustrasi Parkir
    Ilustrasi Parkir | Sumber Gambar: Pexels

    Sebagaimana parkir pada umumnya yang berkaitan dengan kendaraan pada suatu area tertentu, begitu juga dengan akumulasi parkir. Penambahan parkir merupakan jumlah semua kendaraan yang terdapat dalam suatu wilayah. Karena itulah, merencanakan atau mengatur ruang parkir sesuai kebutuhan sangat diperlukan.

    Agar mendapatkan data yang akurat, maka penting bagi kamu untuk melakukan survei terlebih dahulu agar dapat memastikan kendaraan yang parkir pada areal tersebut. Jenis ini bergantung pada arealnya, seperti pelataran gedung, apartemen, mall, dan lain sebagainya. 

    Selain itu, besar dan kecilnya ruangan yang akan kamu gunakan untuk parkir juga sangat bergantung dengan letak lokasi parkir. 

    4. Akumulasi Penyusutan 

    Ilustrasi Laptop Rusak
    Ilustrasi Laptop Rusak | Sumber Gambar: Eraspace

    Jenis yang terakhir adalah penyusutan. Sebagaimana penjelasan singkat dalam definisi akumulasi adalah hal yang tidak hanya berkaitan dengan penambahan. Maka, jenis penyusutan ini untuk mengetahui penurunan nilai akibat pemakaian baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang. 

    Dalam jenis penyusutan terdapat 3 variabel yang nantinya akan kamu gunakan untuk menghitung beban penyusutan. Adapun 3 variabel tersebut adalah sebagai berikut:

    • Harga Beli 

    Harga beli atau harga perolehan merupakan manfaat yang kamu peroleh dari aset yang dibeli. Harga beli ini mencakup harga barang, ongkos kirim jika menggunakan, biaya perakitan, dan lain sebagainya. 

    • Nilai Residu 

    Ini merupakan perkiraan nilai yang yang tersisa apabila waktu atau umur pemakaian aset telah berakhir. Biasanya, pemilik aset akan dengan mudahnya dapat menaksir nilai residu atau juga dapat menggunakan bantuan profesional untuk mengetahui sisa nilainya.

    • Umur Ekonomis

    Umur ekonomis ini berbanding terbalik dengan nilai residu. Jika nilai residu dapat kamu ketahui saat masanya habis, umur ekonomis justru diketahui saat awal pembelian. Umur ekonomis merupakan taksiran jangka waktu pemakaian suatu aset tetap.

    Jadi, umur ekonomis yang ada pada aset A tentu akan berbeda dengan umur ekonomis aset B. Semakin lama umur ekonomis, biasanya barang akan memiliki nilai pembelian yang tinggi dan aset dapat kamu gunakan dalam waktu cukup lama.

    Tak berhenti pada artian tersebut, penyusutan juga terbagi dalam beberapa jenis, di antaranya:

    a. Depresiasi

    Depresiasi merupakan cara perhitungan penyusutan yang dapat kamu gunakan dengan melakukan penjumlahan sistematis. Kemudian, kamu harus membaginya dengan lama masa pakai aset. 

    Penyusutan jenis ini dapat kamu terapkan pada aset yang berbentuk fisik. Seperti laptop, komputer, printer, mesin fotokopi, mesin press, dan lain sebagainya. 

    b. Deplesi 

    Deplesi merupakan jenis penyusutan yang terjadi karena pengelolaan sumber daya alam yang ada. Ini merupakan penyusutan yang terjadi secara alami. 

    Deplesi hanya dapat terjadi pada benda yang memiliki sifat alami, seperti tambang, perhutanan, dan lainnya. Umumnya, sumber daya alamnya bersifat tidak dapat diperbaharui dalam waktu singkat.

    c. Amortisasi

    Amortisasi merupakan penyusutan yang terjadi pada aset yang tidak berwujud. Sebagaimana yang kamu ketahui bahwasanya aset tidak hanya berupa aset berwujud saja melainkan juga aset tak berwujud. Contohnya seperti hak paten, merek dagang, waralaba, dan lain sebagainya. 

    Cara Menghitung Akumulasi 

    Terdapat beberapa cara yang dapat kamu gunakan untuk menghitung penyusutan. Berikut merupakan 3 di antaranya: 

    1. Metode Garis Lurus 

    Metode pertama ini dapat kamu gunakan untuk mengetahui nilai penyusutan dari aset atau aktiva yang ada. Nah, rumus menghitungnya adalah sebagai berikut:

    Beban penyusutan = (harga beli/harga perolehan- nilai residu) : umur ekonomis.

    Jika menggunakan cara ini, kamu perlu memastikan bahwa hasil akhir dari nilai buku haruslah berada pada angka 0. 

    2. Metode Saldo Menurun 

    Cara kedua menghitung akumulasi adalah menggunakan metode saldo menurun. Metode ini berlandaskan pada setiap aset yang akan mengalami penurunan seiring dengan berkurangnya umur ekonomis yang mengakibatkan penurunan fungsi juga. 

    Contohnya pada penggunaan mesin giling. Awalnya, mesin akan memiliki gerigi yang kuat dan runcing. Namun, seiring waktu dan intensitas penggunaan yang tinggi, fungsinya juga ikut menurun. Sehingga tak jarang membutuhkan servis dan lainnya. 

    Adapun rumus untuk melakukan perhitungan metode saldo menurun, yaitu:

    D = d% x BV

    D merupakan simbol dari penyusutan dengan perhitungan d% yang merupakan tingkat penyusutan dikalikan dengan harga buku sebelumnya. Lalu, dari mana d% dihasilkan? d% dihasilkan dari perhitungan berikut:

    d% = 1 – n√SV/AC

    Tingkat penyusutan dapat kamu peroleh dari 1 dikurangi n akar dari nilai residu dibagi dengan harga beli atau harga perolehan.

    3. Metode Hasil Produksi

    Terakhir, yaitu metode hasil produksi. Ini berguna untuk menghitung beban penyusutan pada setiap unit atau produk yang telah perusahaan hasilkan. Kamu dapat hitung beban dengan mengalikan biaya penyusutan. Setelah mengetahui biaya penyusutan, kamu bisa menjumlahkan beban dari tahun ke tahun secara urut.

    Contoh Akumulasi

    Contoh sederhana dari akumulasi adalah saat kamu belanja dan mendapat poin reward. Nah, poin tersebut dapat kamu akumulasikan atau tukar dengan produk tertentu.

    Contoh lainnya adalah pemerintah yang ingin menambah produksi pangan dengan meningkatkan produksi sayuran. Maka, pemerintah melakukan investasi pada infrastruktur jalan raya. Selanjutnya, investasi alat pertanian seperti traktor.

    Nah, dua investasi tersebut merupakan akumulasi modal pemerintah agar hasil produksi pertanian semakin melimpah. 

    Baca Juga : Dampak Labeling pada Diri Sendiri, Makna Hingga Contohnya

    Sudah Tahu Apa Itu Akumulasi?

    Akumulasi tidak hanya terjadi pada perhitungan skor sepak bola saja, melainkan pada sektor ekonomi juga. Dari penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa akumulasi adalah kegiatan atau proses mengumpulkan dana maupun data untuk mendapatkan keuntungan pada kemudian hari. 

    Sedikit tips jika akan melakukan perhitungannya, kamu dapat memilih metode yang kiranya sesuai dengan jenis aset yang ada. Bagaimana, kamu sudah bisa menghitung akumulasi sendiri?

  • Faktor Pembentuk Kelompok Sosial, Ciri, dan Penjelasannya

    Faktor Pembentuk Kelompok Sosial, Ciri, dan Penjelasannya

    Sebagai individu, kita tidak akan bisa pernah hidup sendiri. Manusia pasti membutuhkan sesamanya untuk memenuhi kebutuhan dan membentuk kelompok sosial agar tidak merasa jenuh dan stres. Dalam prosesnya, kelompok sosial tidak terbentuk begitu saja. Lantas, apa saja faktor pembentuk kelompok sosial?

    Pengertian Kelompok Sosial

    Kelompok sosial merupakan perkumpulan individu yang yang memiliki kesadaran sama dan saling berinteraksi satu sama lain. Terbentuknya kelompok sosial menunjukkan berhasilnya penerapan nilai sosial yang ada. 

    Selain itu, Rolland L. Warren mendefinisikan kelompok sosial sebagai sekumpulan individu yang berinteraksi. Lalu, dalam interaksi tersebut terdapat pola yang dipahami antar individu di dalamnya. 

    Sementara itu, Mac Iver dan Charles H. Pages mengartikan kelompok sosial sebagai perhimpunan individu yang hidup secara bersama-sama. Di mana hubungan tersebut saling memengaruhi dan memicu kesadaran untuk saling membantu satu sama lain. 

    Faktor Pembentuk Kelompok Sosial

    Kelompok sosial terbentuk karena beberapa faktor, seperti faktor keturunan darah, geografis, daerah asal, dan kepentingan. Berikut merupakan penjelasan detail mengenai faktor pembentuk kelompok sosial: 

    1. Faktor Keturunan Darah

    Keluarga
    Keluarga | Sumber Gambar: Pexels

    Faktor pembentuk yang pertama adalah keturunan darah atau keluarga. Kelompok sosial ini bertujuan untuk terus menyambung tali silaturahmi antar keluarga agar tidak pernah terputus. 

    2. Faktor Kepentingan

    Faktor pembentuk kelompok sosial selanjutnya, yaitu faktor kepentingan. Kepentingan dan kesukaan yang sama dapat melatarbelakangi terbentuknya kelompok sosial. Sebagai contoh yang mungkin sudah sering kamu temui adalah komunitas pecinta sepeda, motor trail, mobil klasik, dan lain sebagainya.

    3. Faktor Daerah Asal

    Perkotaan
    Perkotaan | Sumber Gambar: Pexels

    Kelompok sosial ini akan sering kamu temui pada perantauan dan lingkungan perkuliahan. Di mana banyak mahasiswa yang sering mengadakan perkumpulan atas dasar persamaan daerah asalnya. 

    Di luar negeri, perkumpulan semacam ini tak hanya memudahkan untuk berkomunikasi, melainkan juga mengobati kerinduan akan tanah air.  

    4. Faktor Wilayah Tempat Tinggal

    Persamaan lingkungan tinggal juga menjadi faktor pembentuk kelompok sosial. Orang yang tinggal berdekatan otomatis akan memiliki komunikasi yang lebih intens. Terlebih jika mengingat bahwa, manusia selalu membutuhkan manusia lainnya untuk bertahan hidup 

    Meskipun memiliki latar belakang berbeda-beda, kelompok sosial karena wilayah tinggal seperti kelompok arisan Rukun Tetangga (RT) akan tetap rutin mengadakan pertemuan. Tujuannya untuk saling bersosialisasi dan menerapkan nilai kekeluargaan.

    5. Faktor Persamaan Keyakinan

    Masjid
    Masjid | Sumber Gambar: Pexels

    Kelompok sosial yang terbentuk karena persamaan keyakinan bertujuan untuk memperkuat ukhuwah atau persaudaraan dan memudahkan dalam melakukan peribadatan. 

    Sebab, manusia terkadang akan semangat melakukan kebaikan jika dilakukan bersama-sama. Adapun contoh kelompok sosial ini adalah Remaja Masjid, Pemuda Kristiani, dan lain sebagainya. 

    Ciri Kelompok Sosial

    Setelah mengetahui faktor pembentuk kelompok sosial, kamu juga perlu memahami cirinya. Sebuah perkumpulan atau kelompok dapat dikatakan kelompok sosial jika memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

    1. Kesadaran 

    Setiap individu yang tergabung dalam kelompok sosial memiliki kesadaran bahwa dirinya terlibat dalam suatu perkumpulan. Di mana mereka seharusnya saling memahami satu sama lain dan tidak meninggikan ego. 

    Tak hanya itu, kesadaran juga meliputi aspek berupa peran dan tanggung jawabnya terhadap kelompok sosial. Sudah semestinya setiap individu memahami perannya tanpa harus didikte terlebih dahulu.

    2. Interaksi

    Ciri kelompok sosial kedua, yaitu adanya interaksi. Kelompok sosial yang baik pasti memiliki interaksi aktif antar anggotanya. Tanpa suatu interaksi, kelompok sosial tidak akan bisa berkembang. Oleh karena itu, ketika tergabung dalam suatu kelompok sosial, hendaknya kamu tidak memiliki sifat individualis. 

    3. Pembagian Tugas 

    Ketiga adalah adanya pembagian tugas. Demi mencapai tujuan bersama-sama, tentu tidak mungkin semua tugas diemban oleh 1 orang saja. Misalnya adalah ketuanya saja. 

    Setiap orang yang tergabung dalam kelompok sosial akan memiliki tugasnya masing-masing. Biasanya, tugas tersebut telah disesuaikan dengan keahliannya. Selain itu, pembagian tugas juga menandakan peran dan fungsi masing-masing individu agar tidak terjadi tumpang tindih kedudukan.

    4. Faktor Pengikat 

    Selanjutnya adalah mempunyai faktor pengikat. Seperti faktor pembentuk kelompok sosial, faktor ini biasanya merupakan hal yang mendasari terbentuknya perkumpulan. 

    Meliputi kesamaan tujuan, kesamaan asal daerah, kesamaan cita-cita, dan lain sebagainya. Secara umum, faktor tersebut akan memperkuat ikatan yang terjalin antar individu di dalam kelompok. 

    5. Waktu Interaksi 

    Dapat dikatakan kelompok sosial apabila waktu interaksi yang terjadi dalam suatu waktu tertentu, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Jangka waktu tersebut akan memiliki pengaruh pada tingkat kedekatan tiap individu. Semakin sering dan lama intensitas interaksi, ikatan yang terjalin akan semakin dekat. 

    6. Hubungan Timbal Balik 

    Ciri kelompok sosial terakhir, yaitu adanya hubungan timbal balik. Interaksi antar individu yang terjalin sudah semestinya menciptakan hubungan timbal balik. Seperti saling bertukar cerita, bertukar informasi, dan lain sebagainya. 

    Jenis Kelompok Sosial

    Ilustrasi Kelompok Sosial
    Ilustrasi Kelompok Sosial | Sumber Gambar: Classroom

    Setelah mengetahui ciri dan faktor pembentuk kelompok sosial, kamu harus memahami jenisnya. Kamu pasti sudah sering bukan melihat perkumpulan, bukan? Hal tersebut menunjukkan bahwasanya ada banyak sekali kelompok sosial di sekeliling kita. Nah, berikut merupakan beberapa jenis dan contoh kelompok sosial: 

    1. Kelompok Primer 

    Pertama adalah kelompok primer atau keluarga. Dalam kelompok ini setiap individu akan saling mengenal satu sama lain dengan sangat baik. Tak jarang, hubungan sosial yang terjadi akan melibatkan kontak fisik. 

    2. Kelompok Sekunder 

    Selanjutnya adalah kelompok sekunder. Kelompok ini terbentuk dengan tujuan untuk bertukar manfaat seperti barang, uang, dan hal lain yang bersifat materiil. Terkadang juga melibatkan nominal yang tidak sedikit. Contohnya adalah kelompok dalam lembaga formal seperti karyawan di perusahaan tertentu. 

    3. Kelompok Keanggotaan 

    Ketiga, yaitu kelompok keanggotaan organisasi. Individu yang tergabung dalam kelompok keanggotaan biasanya terpilih melalui serangkaian proses. Contohnya seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). 

    4. Paguyuban 

    Jenis kelompok sosial yang keempat, yaitu paguyuban. Paguyuban biasanya memiliki sifat kekeluargaan, serta tidak memiliki pembagian tugas dan fungsi secara mendetail. Faktor pembentuk kelompok sosial ini adalah adanya kepentingan dan tujuan untuk membentuk kerukunan satu sama lain. Contohnya komunitas wanita.

    5. Kelompok Informal 

    Jenis lainnya adalah kelompok informal. Kelompok ini terbentuk karena terjadinya pertemuan yang berulang kali. Biasanya pertemuan pertama akan mendasari pertemuan-pertemuan selanjutnya. Contohnya adalah kelompok arisan.

    6. Publik 

    Terakhir adalah publik dan masuk ke kelompok tidak teratur. Kelompok ini merupakan sekelompok orang yang mempunyai minat atau hobi yang sama terhadap suatu hal tanpa memperhatikan apakah memiliki pendapat yang sama atau justru berseberangan. 

    Adapun contohnya adalah netizen di media sosial. Secara sederhana, kelompok ini memang tidak terlihat secara fisik. Namun, jumlahnya sangat banyak dan memiliki concern pada isu yang sama.

    Baca Juga : Contoh Kelompok Sosial: Pengertian & Ciri-Cirinya

    Sudah Tahu Faktor Pembentuk Kelompok Sosial? 

    Mengetahui faktor pembentuk kelompok sosial, ciri, dan jenisnya dapat menjadi bekal kamu untuk mengetahui apakah suatu perkumpulan dapat digolongkan sebagai kelompok sosial atau bukan. 

    Perlu kamu pahami pula bahwa, bergabung dalam kelompok sosial akan membuatmu mendapatkan banyak manfaat. Seperti memperluas relasi, mendapatkan informasi, mendapat teman baru, dan meningkatkan rasa percaya diri.

    Hal tersebut bisa terjadi karena akan ada interaksi dengan banyak orang, sehingga wawasan yang kamu miliki pun akan meningkat. Kamu sudah tergabung dalam kelompok sosial apa saja?

  • Mengungkap Arti Ruang Lingkup Sosiologi hingga Contohnya

    Mengungkap Arti Ruang Lingkup Sosiologi hingga Contohnya

    Sosiologi merupakan salah satu cabang keilmuan di bidang sosial yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah, secara umum, ruang lingkup sosiologi sendiri tidak jauh dari hubungan individu di dalam kehidupan masyarakat atau kelompok tertentu.

    Menariknya, kajian ilmu tentang masyarakat ini tidak hanya fokus pada hubungan individu dengan kelompok, lho. Hal inilah yang kemudian membuat banyak orang penasaran dan tertarik ingin tahu lebih jauh tentang cabang ilmu yang satu ini.

    Jadi, sebenarnya apa itu pengertian dan ruang lingkup sosiologi? Jika kamu tertarik dengan cabang keilmuan tersebut, simak ulasan selengkapnya di bawah ini, ya!

    Pengertian Sosiologi

    Ilustrasi manusia bersosialisasi
    Ilustrasi manusia bersosialisasi | Sumber gambar: freepik

    Secara umum, istilah sosiologi berasal dari bahasa Latin, yakni socius yang berarti berteman dan logos yang berarti ilmu. Dari kedua kata tersebut, kamu bisa memahami ilmu sosiologi sebagai pengetahuan tentang hubungan antar masyarakat atau pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

    Berdasarkan sejarahnya, istilah ini pertama kali muncul dalam buku Cours de la Philosovie Positive milik Auguste Comte. Menurutnya, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang secara khusus mempelajari tentang hubungan manusia dalam kelompok masyarakat bersama manusia lainnya.

    Selain Auguste Comte, banyak juga pendapat dari para ahli lainnya tentang cabang keilmuan ini. Berikut adalah beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian kajian ilmu tersebut yang menarik untuk kamu ketahui:

    • Menurut Alan Johnson, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang persoalan kehidupan dan perilaku manusia, karena adanya keterkaitan sistem sosial yang dapat memengaruhi setiap individu.
    • Menurut Soelaiman Soemardi dan Selo Soemardjan, sosiologi merupakan ilmu masyarakat yang mempelajari tentang struktur sosial, yakni suatu keseluruhan jalinan sosial antar berbagai unsur pokok sosial.
    • Menurut Max Weber, sosiologi merupakan ilmu yang berhubungan dengan pemahaman interorientasi tentang suatu tindakan atau perilaku sosial yang berkaitan dengan penjelasan suatu sebab akibat dari arah dan konsekuensi yang berasal dari suatu tindakan.
    • Menurut Emile Durkheim, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang fakta-fakta sosial, yang berisi mengenai bagaimana cara berpikir, bertindak, dan perasaan di luar individu itu sendiri.

    Ciri-Ciri Sosiologi

    Ciri-Ciri Sosiologi
    Ciri-Ciri Sosiologi | Sumber gambar: freepik

    Setidaknya, ada empat ciri utama dari ilmu dan ruang lingkup sosiologi yang penting untuk kamu ketahui, yakni:

    1. Teoritis

    Ciri yang pertama adalah teoritis, di mana cabang keilmuan ini selalu berusaha untuk menyusun sebuah abstraksi dalam bentuk kesimpulan tentang hubungan sebab akibat  dari berbagai gejala sosial yang diteliti. Tentu saja hal ini dilakukan berdasarkan pada hasil pengamatan secara empiris.

    2. Empiris

    Berkaitan dengan poin sebelumnya, kajian tentang ilmu masyarakat ini juga bersifat empiris sebagai salah satu ciri-cirinya. Adapun maksud dari empiris sendiri adalah sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdasarkan kepada realitas sosial yang benar-benar terjadi di lapangan atau masyarakat dan bukan hanya sekadar spekulasi.

    Jadi, kajian ilmu ini bukan didasarkan pada ilmu imajinasi atau khayalan saja. Akan tetapi, merupakan ilmu nyata yang berasal dari fakta logis di lapangan.

    3. Non-Etis

    Ciri selanjutnya dari ruang lingkup sosiologi adalah non-etis, di mana ilmu ini bukan hanya sekadar menentukan mana yang baik dan buruk dalam menghadapi sebuah permasalahan. Akan tetapi, ilmu ini lebih berfokus pada memberikan penjelasan yang logis mengenai latar belakang dari sebuah fenomena tertentu yang terjadi di masyarakat.

    4. Kumulatif

    Ciri yang terakhir adalah bersifat kumulatif, yakni sebuah argumen tentang fenomena tertentu dalam kajian ilmu ini harus berlandaskan pada kumpulan beberapa teori yang sudah ada sebelumnya.

    Dari situlah, kemudian teori ini akan diperbaiki dan diperluas untuk memperkuat teori terdahulu. Artinya, sosiologi selalu bisa diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh pihak yang memahaminya atau bersifat objektif.

    Ruang Lingkup Sosiologi

    Ruang Lingkup Sosiologi
    Ruang Lingkup Sosiologi | Sumber gambar: freepik

    Pada dasarnya, ilmu tentang masyarakat ini memang fokus pada struktur sosial, terutama terkait perubahan sosial. Hal inilah yang kemudian membuat ruang lingkup ilmu sosiologi menjadi lebih luas daripada ilmu sosial yang lainnya.

    Kondisi ini terjadi karena ilmu tentang masyarakat tersebut mencakup hubungan antar individu secara pribadi, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok lainnya di masyarakat. 

    Oleh karena itulah, ruang lingkup sosiologi berkaitan erat dengan pengetahuan dasar pengkajian sebagai berikut:

    • Kedudukan dan peran sosial seorang individu di dalam keluarga, kelompok, dan masyarakat secara luas.
    • Nilai dan norma sosial yang menjadi dasar serta memberikan pengaruh terhadap sikap dan juga perilaku suatu anggota masyarakat dalam menjalin hubungan dengan sosialnya.
    • Masyarakat, kebudayaan daerah, dan kebudayaan nasional Indonesia menjadi bagian dari submasyarakat dalam ilmu sosiologi.
    • Perubahan sosial budaya yang berlangsung secara terus-menerus merupakan akibat dari faktor internal dan eksternal kehidupan masyarakat.
    • Terdapat berbagai macam masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

    Selain itu, sosiolog Soerjono Soekanto juga menjelaskan tentang ruang lingkup sosiologi dengan versinya yang fokus pada dua kategori, yakni sebagai berikut.

    1. Sosiologi umum yang mempelajari tentang bagaimana menyelidiki tingkah laku manusia pada umumnya ketika menjalin suatu hubungan kedekatan dengan masyarakat di sekelilingnya.
    2. Sosiologi khusus yang fokus mempelajari dan menyelidiki tentang berbagai macam sektor kehidupan di masyarakat, yang biasanya diambil dari suatu segi tertentu dalam kehidupan.

    Dari kedua kategori tersebut, Soerjono Soekanto menyebut bahwa contoh yang dapat dilihat adalah sosiologi pendidikan. Di mana secara khusus membahas tentang bagaimana hubungan dan gejala kemasyarakatan dengan dunia pendidikan.

    Selain itu, ada juga sosiologi hukum yang membahas tentang bagaimana tingkah laku individu dan masyarakat yang berkaitan dengan hukum yang berlaku.

    Contoh Sosiologi dalam Kehidupan Bermasyarakat

    Contoh Sosiologi
    Contoh Sosiologi | Sumber gambar: freepik

    Setelah mengetahui pengertian hingga ruang lingkup sosiologi, tentunya kamu juga harus mengetahui apa saja contoh-contohnya yang sering ditemukan di masyarakat, seperti berikut:

    1. Kemiskinan

    Kemiskinan termasuk ke dalam objek dan ruang lingkup sosiologi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, tak jarang kemiskinan juga mudah ditemui dalam lingkungan kehidupan sekitar.

    Sudah sejak lama kemiskinan menjadi pusat perhatian kajian tentang ilmu masyarakat ini. Khususnya yang berkaitan dengan kekurangan pangan dan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat miskin.

    Adapun untuk mengurangi tingkat kemiskinan di masyarakat, tentu membutuhkan berbagai upaya dan aksi nyata, baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Sebab, kemiskinan ini terjadi karena berbagai faktor dan latar belakang.

    2. Kejahatan

    Kejahatan juga menjadi contoh kajian sosiologi yang sering kamu temukan dalam kehidupan bermasyarakat. Tindak kejahatan sendiri bentuknya sangat bermacam-macam. 

    Menurut kajian tentang ilmu masyarakat, kejahatan dapat terjadi karena adanya pengaruh perubahan sosial di dalam masyarakat. Artinya, semakin cepat perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, maka akan semakin tinggi angka kejahatan yang terjadi.

    3. Pelanggaran Norma

    Pelanggaran norma yang terjadi di masyarakat juga menjadi contoh selanjutnya yang penting untuk kamu ketahui. Apalagi kejadian pelanggaran norma ini tak jarang sulit dihindari, khususnya dalam kehidupan masyarakat multikultural.

    Dalam kajian ruang lingkup sosiologi sendiri, norma merupakan hal yang sering dibahas dalam mengatur perilaku individu di masyarakat. Norma-norma tersebut bersifat mengikat, demi bisa mengatur perilaku setiap orang agar tidak merugikan diri sendiri maupun pihak lain.

    4. Pencurian

    Pencurian juga merupakan salah satu fenomena sosial yang dikaji dalam bidang keilmuan ini. Sebab, pencurian adalah suatu tindakan yang melanggar hukum dan sering kali terjadi karena seorang individu mempunyai pemikiran yang negatif.

    Namun, terkadang kasus pencurian juga bisa dipengaruhi oleh kondisi seseorang yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup ataupun karena adanya kesenjangan sosial.

    Hal inilah yang kemudian membuat orang-orang nekat untuk melakukan tindak pencurian demi bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Baca Juga : Ciri-Ciri Sosiologi serta Pengertian, Sifat, dan Ruang Lingkupnya

    Sudah Lebih Paham tentang Ruang Lingkup Sosiologi?

    Dari informasi di atas, kamu bisa memahami bahwa ruang lingkup sosiologi tidak hanya sebatas pada individu sebagai anggota masyarakat.

    Namun, juga di dalamnya terdapat sejumlah norma, nilai, dan aturan yang bersifat mengikat untuk mengatur perilaku individu tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, kebudayaan daerah dan nasional juga menjadi dua aspek yang termasuk ke dalam ruang lingkup kajian ilmu tentang masyarakat ini.

    Sementara contoh-contoh sosiologi yang sering kita temui di masyarakat, yakni kemiskinan, kejahatan, pelanggaran norma, hingga pencurian. Jadi, apakah kamu sudah lebih memahaminya?

  • 10 Contoh Fenomena Sosial di Indonesia dan Dampaknya

    10 Contoh Fenomena Sosial di Indonesia dan Dampaknya

    Sebagai makhluk sosial, tentunya ada banyak sekali kejadian yang kerap muncul dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang memicu banyaknya contoh fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan individu maupun kelompok di dalam masyarakat tersebut. 

    Sayangnya, fenomena yang terjadi tidak selalu bersifat positif. Sebab, ada juga beberapa peristiwa di masyarakat yang justru memberikan dampak negatif hingga kerugian bagi individu maupun kelompok yang mengalaminya.

    Lantas, apa saja contoh fenomena sosial yang ada di Indonesia? Bagi kamu yang penasaran ingin  tahu lebih banyak tentang fenomena-fenomena tersebut beserta dampaknya, simak artikel ini sampai akhir, ya!

    Pengertian Fenomena Sosial

    Menurut KBBI, arti dari istilah fenomena sosial adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (seperti fenomena alam).

    Namun, secara harfiahnya, istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yakni phainomenon yang berarti ‘apa yang kamu lihat’. Oleh karena itulah, fenomena bisa dipahami sebagai fakta sosial dalam kehidupan masyarakat, yang dilakukan karena adanya bentuk perubahan sosial akibat dari tindakan masyarakat itu sendiri.

    Jadi, fenomena sosial adalah semua gejala ataupun peristiwa yang terjadi serta bisa diamati dan dikaji dalam kehidupan sosial atau ilmu sosial. Istilah ini merupakan bagian dari gejala sosial yang muncul karena adanya ragam perbedaan dari aspek agama, kebudayaan, ekonomi, ras, dan lainnya.

    10 Contoh Fenomena Sosial dan Dampaknya

    Setidaknya, ada sepuluh contoh fenomena sosial dan dampaknya yang menarik untuk kamu ketahui. Sebab, contoh-contoh tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah contoh dari fenomena sosial lengkap dengan dampaknya:

    1. Kriminalitas

    Ilustrasi pelaku kriminalitas
    Ilustrasi pelaku kriminalitas | Sumber gambar: freepik

    Kriminalitas menjadi contoh fenomena sosial yang bersifat negatif, karena dapat merugikan korban maupun masyarakat yang ada di sekitarnya. Namun, kriminalitas yang dimaksud di sini adalah tindak kejahatan yang terjadi dalam jumlah tinggi.

    Umumnya, kriminalitas tingkat tinggi lebih sering terjadi di daerah perkotaan besar. Faktor penyebabnya pun sangat beragam, seperti karena masalah ekonomi, gesekan kelompok, dan lain sebagainya.

    Hal inilah yang kemudian membuat masyarakat di perkotaan kesulitan untuk mendapat pekerjaan hingga memaksa mereka untuk melakukan tindakan kriminal. Contohnya seperti mencuri, merampok rumah orang kaya, menjambret, membegal, dan lainnya.

    Meski mayoritas terjadi di daerah perkotaan, tetapi bukan berarti kriminalitas tidak bisa terjadi di pedesaan. Sebab, tak jarang ada juga kriminalitas di pedesaan yang pemicunya adalah konflik individu.

    2. Kemiskinan

    Ilustrasi Kemiskinan
    Ilustrasi Kemiskinan | Sumber gambar: freepik

    Kemiskinan juga menjadi contoh fenomena sosial lain yang pada dasarnya lumrah terjadi di setiap negara. Bahkan, negara-negara maju seperti Amerika juga terdapat banyak orang dengan status ekonomi yang tergolong miskin.

    Akan tetapi, peristiwa ini hanya bisa disebut sebagai fenomena sosial apabila angka kemiskinan di suatu negara sangat tinggi atau bahkan terlalu tinggi. Berbagai faktor juga melatarbelakangi kasus kemiskinan ini. Misalnya, rendahnya tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.

    Akhirnya, masyarakat pun kesulitan untuk mengakses pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi. Hal inilah yang kemudian membuat masyarakat jatuh ke dalam lingkaran setan kemiskinan, yang terjadi secara turun-temurun.

    Baca Juga : Memahami 5 Faktor Penyebab Kemiskinan dan Dampaknya

    3. Mudik

    Ilustrasi Mudik
    Ilustrasi Mudik | Sumber gambar: freepik

    Contoh fenomena sosial yang selanjutnya adalah mudik yang menjadi salah satu tradisi bagi masyarakat Indonesia. Umumnya, mudik sendiri terjadi menjelang hari raya, seperti Hari Raya Idul Fitri.

    Lantas, mengapa mudik disebut sebagai peristiwa sosial? Sebab, kegiatan ini dilakukan secara terus-menerus dan melibatkan banyak orang.

    Artinya, ketika terjadi peristiwa mudik, maka orang-orang yang sebenarnya tinggal di daerah perkotaan akan pulang kembali ke kampung bersama-sama. Bahkan, peristiwa ini bisa membuat kota-kota besar yang biasanya macet, jadi terlihat lengang karena masyarakatnya yang mudik.

    4. Kenakalan Remaja

    Ilustrasi Kenakalan Remaja
    Ilustrasi Kenakalan Remaja | Sumber gambar: freepik

    Sekarang ini ada banyak sekali bentuk kenakalan remaja yang kerap dilakukan oleh generasi muda. Mirisnya, hal ini terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itulah, tak heran jika kenakalan remaja menjadi salah satu contoh fenomena sosial.

    Apalagi kini remaja yang melakukan tindakan kriminal maupun tindakan tidak terpuji, sudah banyak jumlahnya. Mirisnya lagi, perilaku negatif ini tidak hanya condong pada satu daerah saja. Namun, menyebar ke banyak daerah dengan persentase paling tinggi ada di kota-kota besar.

    Faktornya pun sangat beragam, seperti kurangnya perhatian orang tua pada anak, yang membuatnya salah pergaulan hingga rasa penasaran yang tinggi.

    5. Korupsi

    Ilustrasi Korupsi
    Ilustrasi Korupsi | Sumber gambar: freepik

    Contoh fenomena sosial berikutnya yang kini banyak sekali terjadi di Indonesia adalah korupsi. Biasanya, tindak kriminal ini dilakukan oleh banyak orang dalam sebuah sistem besar. Contohnya seperti di pemerintahan, di mana ada banyak lembaga yang kini justru menjadi sarang bagi para koruptor.

    Tingkat korupsi di Indonesia yang relatif tinggi kemudian membuat KPK memiliki daftar panjang tersangka diduga koruptor. Tak hanya itu saja, bahkan kini sudah banyak pejabat tinggi yang berhasil dijebloskan ke penjara dan dimiskinkan pasca terbukti melakukan tindak korupsi.

    Fenomena ini tentu saja memberikan dampak yang luar biasa bagi pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Sebab, pada akhirnya, banyak masyarakat yang tidak percaya dengan kinerja pejabat tinggi di pemerintahan, akibat banyaknya kasus korupsi yang terjadi di kalangan mereka.

    6. Kepadatan Penduduk

    Ilustrasi Kepadatan Penduduk
    Ilustrasi Kepadatan Penduduk | Sumber gambar: freepik

    Kepadatan penduduk menjadi contoh fenomena sosial yang mayoritas terjadi di negara-negara berkembang. Tak terkecuali di Indonesia, yang mana di beberapa daerahnya, masuk ke dalam kategori padat penduduk.

    Pada dasarnya, kepadatan penduduk termasuk ke dalam fenomena sosial karena peristiwa ini dapat menimbulkan banyak masalah lain di berbagai aspek. Beberapa contohnya seperti krisis air bersih, krisis lahan untuk pemukiman, banyaknya rumah tidak layak huni, krisis lapangan pekerjaan, dan masih banyak lagi.

    Sama seperti yang lainnya, kepadatan penduduk ini juga terjadi karena berbagai faktor. Misalnya, di Jakarta, di mana kebanyakan para pendatang yang merantau ke kota tersebut bermaksud untuk mencari pekerjaan dan nafkah yang lebih baik.

    Hal inilah yang kemudian justru membuat Jakarta menjadi negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Akibatnya, berbagai masalah sosial pun sering kali terjadi. Contohnya seperti tingginya polusi udara dan banyaknya pemukiman padat penduduk yang tidak layak huni.

    7. Pengakuan dari Negara Lain

    Ilustrasi Pengakuan Budaya dari Negara Lain
    Ilustrasi Pengakuan Budaya dari Negara Lain | Sumber gambar: freepik

    Adanya pengakuan dari negara lain juga menjadi contoh fenomena sosial berikutnya yang terjadi di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan budaya yang saling bertabrakan. Namun, bisa juga karena adanya budaya yang dianggap oleh negara lain.

    Contohnya seperti kasus pengakuan budaya Reog Ponorogo, wayang kulit, dan batik oleh negara Malaysia. Pengakuan ini tentu memicu tindakan atau bentuk perlawanan yang ditujukan kepada pemerintah Indonesia.

    Beruntungnya, kasus tersebut akhirnya dimenangkan oleh Indonesia, pasca diakui secara langsung oleh UNICEF yang menyatakan bahwa kebudayaan tersebut adalah milik bangsa Indonesia.

    8. Disorganisasi Keluarga

    Ilustrasi Disorganisasi Keluarga
    Ilustrasi Disorganisasi Keluarga | Sumber gambar: freepik

    Tak banyak orang menyadari bahwa disorganisasi keluarga juga dapat menjadi contoh fenomena sosial yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Secara umum, maksud dari disorganisasi sendiri adalah terpecah-belahnya sebuah keluarga.

    Fenomena ini bisa terjadi karena banyak hal, termasuk perceraian. Apalagi selama beberapa tahun terakhir, angka perceraian yang terjadi di Indonesia melambung dengan begitu tinggi.

    Tentu saja perceraian tersebut terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor ekonomi yang menjadi penyebab utama pasangan suami-istri akhirnya memutuskan untuk bercerai.

    9. Pelanggaran Hukum

    Ilustrasi Pelanggaran Hukum
    Ilustrasi Pelanggaran Hukum | Sumber gambar: freepik

    Pelanggaran hukum merupakan contoh fenomena sosial yang masih terjadi di masyarakat. Adapun bentuk pelanggaran hukum juga sangat beragam, mulai dari pelanggaran lalu lintas, pencurian, pembunuhan, penyalahgunaan narkoba, dan lain sebagainya.

    Salah satu faktor utama penyebab terjadinya pelanggaran hukum adalah karena kurangnya kesadaran hukum masyarakat. Selain itu, faktor lain yang juga memengaruhi adalah tabiat berulang dari masyarakat yang tidak paham akan pentingnya mematuhi hukum.

    Tentu saja tindakan ini dapat merugikan masyarakat dan negara, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga di masa depan. Oleh karena itulah, para penegak hukum, seperti hakim, polisi, dan jaksa harus mampu memberikan sanksi yang tepat untuk memberikan efek jera bagi pelaku.

    Dengan begitu, diharapkan pelaku tidak akan mengulangi perbuatannya, sehingga akan muncul ketertiban dan rasa aman bagi masyarakat.

    10. Subsidi yang Salah Sasaran

    Ilustrasi Subsidi Pemerintah
    Ilustrasi Subsidi Pemerintah | Sumber gambar: freepik

    Contoh fenomena sosial yang terakhir adalah subsidi salah sasaran. Mirisnya, hal ini justru sudah terjadi selama bertahun-tahun dan tidak ada tindakan tegas dari pemerintah. 

    Adapun subsidi sendiri adalah bantuan dari pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan daya beli dan memudahkan kehidupan masyarakat. Oleh karena itulah, subsidi dianggarkan bagi masyarakat yang kurang mampu untuk mengurangi angka ketimpangan sosial.

    Sayangnya, kini banyak sekali kasus subsidi yang salah sasaran dan justru diberikan kepada masyarakat mampu dengan daya beli kuat. Hal inilah yang kemudian membuat kasus ini termasuk ke dalam fenomena sosial.

    Dampaknya sudah pasti membuat kehidupan masyarakat miskin jadi semakin terpuruk dan daya beli akan menurun.

    Baca Juga : 20 Contoh Masalah Sosial di Indonesia dan Cara Menanganinya

    Manakah Contoh Fenomena Sosial yang Paling Familiar Bagimu?

    Sepuluh contoh fenomena sosial di atas hingga kini masih banyak terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Faktor penyebabnya pun sangat beragam, mulai dari faktor internal maupun eksternal masyarakat itu sendiri.

    Oleh karena itulah, penting bagi setiap individu untuk lebih memberikan perhatian kepada fenomena-fenomena tersebut. Apalagi setiap fenomena yang terjadi dapat berdampak bagi masyarakat itu sendiri.

  • Pengertian Teori Siklus Perubahan Sosial & Contoh Perubahannya

    Pengertian Teori Siklus Perubahan Sosial & Contoh Perubahannya

    Teori siklus tidak akan bisa terpisahkan dengan perubahan sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Pasalnya, pengertian teori siklus mencakup perubahan kondisi geografi, kebudayaan, material, komposisi penduduk, sampai ideologi bahkan penemuan-penemuan baru yang ada dalam masyarakat.

    Teori ini memiliki anggapan, setiap perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat bukan hasil dari perencanaan, tetapi terjadi secara alamiah dan akan membentuk pola yang berulang. Kali ini akan terkupas tuntas teori siklus perubahan sosial hingga bentuk perubahannya.

    Pengertian Teori Siklus yang Mudah kamu Pahami

    Pengertian teori siklus mengarah pada asumsi perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat merupakan sebuah siklus yang tidak dapat terprediksi. 

    Bahkan manusia tidak bisa mengendalikan, apabila siklus tersebut memang hadir di tengah-tengahnya. Mereka semua harus mengikuti siklus tersebut.

    Seperti analogi sebuah jam, setiap jarum akan mengarah pada sebuah titik secara berulang dan tidak dapat kamu arahkan pada satu titik saja. 

    Apalagi ketika pelakunya adalah manusia yang memiliki karakter berbeda, keinginan berbeda, bahkan cita-cita yang sangat beragam. Belum lagi apabila faktor alam ikut andil di dalamnya.

    Intinya, teori satu ini membahas mengenai perputaran aktivitas sosial masyarakat serta bentuk-bentuk perubahannya.

    Kamu mungkin tidak sadar sedang berada dalam sebuah siklus tertentu. Sebab, perubahan siklus itu memang bisa terjadi kapan saja dan dalam kurun waktu yang tidak menentu.

    Pendapat Tokoh Soal Teori Siklus Perubahan Sosial

    Beberapa tokoh menyampaikan gagasannya soal pengertian teori siklus perubahan sosial dan ini bisa menambah pemahaman kamu menjadi lebih utuh. Langsung saja berikut pandangan dari 3 tokoh, yaitu:

    1. Oswald Spengler

    Sederhana saja, teori siklus merupakan proses pertumbuhan manusia yang terjadi sejak masa kanak-kanak, menuju dewasa, sampai ke masa tua.

    2. Ibnu Kaldun

    Tokoh sejarawan dari Muslim ini menyampaikan pendapatnya bahwa pengertian teori siklus perubahan sosial merupakan bentuk visualisasi terhadap perjalanan manusia yang terjadi mulai awal sampai akhir.

    3. Arnold Toynbee

    Menurut Toynbee, siklus perubahan sosial mengarah pada kemajuan maupun kemunduran yang terjadi pada masyarakat. Artinya, perubahan yang terjadi bisa saja menghasilkan makna yang negatif.

    4 Karakteristik Teori Siklus Perubahan Sosial

    Ada beberapa karakteristik yang unik dari teori ini. Berikut ini pemaparan 4 karakteristik utamanya, yaitu:

    1. Perubahan Sosial Tidak Dapat Dikendalikan Siapapun

    Presiden atau bahkan tokoh-tokoh ahli sekalipun tidak akan bisa mengatur perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

    Sebab, perubahan yang terjadi tidak hanya mengacu pada satu kewarganegaraan, kaum, atau bahkan negara, melainkan juga menyangkut seluruh populasi manusia di dunia.

    Kamu bisa melihat kembali bagaimana perang dunia telah mengubah cara berpikir masyarakat dari yang semula nyaman dengan kedamaian menjadi berambisi untuk memegang kekuasaan.

    Dampak semacam ini tidak akan bisa dikendalikan oleh siapa pun dan tidak heran apabila kejahatan perang masih bisa terjadi di masa depan.

    2. Tidak Selamanya Perubahan Sosial Membawa Kebaikan

    Perubahan sosial layaknya dua sisi mata uang. Kamu tidak bisa hanya melihat satu sisinya saja karena tanpa sisi satunya, uang tersebut tidak akan menjadi alat pembayaran yang sah. 

    Begitu pula dengan perubahan sosial, ada dua sisi yang menyertainya, yakni sisi negatif dan positif.

    Contohnya akibat dari mudahnya proses transaksi ekonomi bahkan sampai lintas negara membuat masyarakat didominasi oleh produk-produk dari luar. 

    Kebanyakan produk lokal menjadi tertinggal karena beberapa kalah saing. Hal ini secara tidak langsung membawa perubahan sosial yang mengarah pada kemunduran.

    3. Setiap Masyarakat Berkembang Melalui Empat Tahap

    Pengertian teori siklus perubahan sosial menurut Oswald Spengler juga termasuk dalam pendapat bahwa masyarakat berkembang melalui empat tahapan. 

    Keempat tahapan tersebut adalah masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan masa tua. Secara langsung perkembangan zaman juga mendapat pengaruh dari keempat tahap itu.

    kamu pasti tidak menemukan masa di mana keempat tahapan tersebut tidak terjadi secara lengkap karena meskipun jumlahnya berbeda-beda, setiap masa pasti mengalami empat perkembangan tersebut. 

    Mungkin ada beberapa kasus yang negaranya lebih banyak dihuni oleh usia tua sehingga tingkat produktivitas rendah. 

    Namun, hal semacam itu tidaklah berpengaruh selama populasi yang ada tetap memiliki keempat pertumbuhan tersebut.

    4. Faktor di Balik Kebangkitan dan Kemunduran Masyarakat

    Kebangkitan dan kemunduran yang terjadi di dalam masyarakat sejatinya terjadi karena konsep masyarakat yang saling berhubungan satu sama lain. 

    Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee telah melakukan penelitian bahwa setiap masyarakat pasti akan menghadapi tantangan dari alam maupun lingkungan sosialnya.

    Bagi masyarakat yang memang tidak memiliki resilien tinggi, kemunduran lah yang akan mereka dapatkan. Begitupun sebaliknya.

    5 Contoh Bentuk Perubahan Sosial

    Kamu sudah mempelajari pengertian teori siklus perubahan sosial dan karakteristiknya. Agar makin paham, berikut ini adalah 5 contoh bentuk perubahan dari teori siklus yang berkaitan dengan perubahan sosial yaitu:

    1. Pertumbuhan dan Perkembangan Zaman

    Ilustrasi Kemudahan Zaman
    Ilustrasi Kemudahan Zaman | Freepik.com

    Dimulai dari zaman prasejarah sampai hari ini kamu berada di zaman modern, pasti sudah terjadi pertumbuhan dan perkembangan zaman yang begitu pesat. 

    Dulunya, orang-orang tidaklah mengenal apa itu handphone, pesawat, dan hal-hal berbau canggih lainnya.

    Namun, sekarang ini sudah banyak sekali alat-alat kemudahan yang bisa manusia gunakan. Teknologi semakin masif dan orang-orang bisa mendapatkan akses pendidikan dengan mudah. Alhasil, pertumbuhan dan perkembangan zaman dapat terus terjadi secara cepat.

    2. Perubahan Gaya Hidup

    Ilustrasi Perubahan Gaya Hidup
    Ilustrasi Perubahan Gaya Hidup | Freepik.com

    Pengertian teori siklus perubahan sosial tentu tidak akan bisa terpisahkan dari perubahan gaya hidup. 

    Menurut berbagai penelitian, gaya hidup masyarakat telah berganti dari segala aspek, bukan hanya soal fasion ataupun kebiasaan saja, tetapi sampai pada tahap apa yang mereka konsumsi.

    Selain itu, arus globalisasi juga mengambil peran penting terhadap perubahan gaya hidup masyarakat. 

    Orang-orang bisa meniru gaya hidup idolanya yang berasal dari negara lain, sehingga secara tidak langsung kebiasaan serta kepercayaannya menjadi ikut terpengaruh.

    3. Cara Pandang Masyarakat

    Cara Pandang Masyarakat
    Cara Pandang Masyarakat | Freepik.com

    Era teknologi dan informasi yang semakin mudah diakses membuat masyarakat tidak akan kesulitan menambah pengetahuannya. 

    Tak heran apabila cara pandang masyarakat kemudian ikut berubah. Orang-orang tidak lagi memiliki pemikiran kolot, melainkan semakin terbuka wawasannya.

    Kondisi ini juga merupakan bagian dari pengertian teori siklus yang mana pergantian masa ditandai pula oleh cara pandang masyarakatnya yang ikut berubah. 

    Namun, hal yang perlu tetap kamu perhatikan adalah bagaimana agar cara pandang tersebut tetap berada dalam koridor yang positif.

    4. Penggunaan Alat Komunikasi

    Masifnya Alat Komunikasi
    Masifnya Alat Komunikasi | Freepik.com

    Contoh lain dari praktik teori siklus adalah penggunaan alat komunikasi yang kian berkembang setiap masa. 

    Dulunya, untuk sekadar mengirimkan sebuah informasi, seseorang perlu mengandalkan kecerdasan burung merpati. Proses transaksi informasi yang terjadi juga tidak singkat, membutuhkan beberapa hari.

    Sejak tahun 1876 Alexander Graham Bell telah menemukan telepon sehingga arus informasi menjadi lebih mudah dan cepat. 

    Bahkan, kini keberadaan smartphone telah merajalela di mana-mana dan mampu mengirimkan informasi dalam hitungan detik.

    5. Jenis Pekerjaan Masyarakat

    Pengertian teori siklus perubahan sosial juga sulit kamu pisahkan dari beragamnya pekerjaan masyarakat. 

    Kamu bisa mengamati bahwa dari masa ke masa, jenis pekerjaan yang ada mengalami siklus perubahan pesat. Mulai dari jenis pekerjaan yang mengandalkan kekayaan alam, sampai pemanfaatan teknologi.

    Siklus perubahan dari sisi pekerjaan ini juga terbilang masif perubahannya. Artinya, tidak butuh waktu lama untuk terjadi keberagaman mata pencaharian karena masyarakat setiap hari berubah dan memiliki kebutuhan baru. Dari situlah akhirnya muncul sebuah siklus atau pergantian.

    Baca Juga : Teori Modernisasi: Pengertian, Syarat, Jenis, dan Contohnya

    Sudah Paham Soal Pengertian Teori Siklus Perubahan Sosial?

    Setiap individu perlu memahami pengertian teori siklus perubahan sosial karena mereka semua menjadi bagian di dalamnya. Kamu tidak bisa melepaskan diri dari perubahan yang mutlak terjadi. Apabila kamu melepaskan diri, artinya kamu merelakan untuk tertinggal jauh dari kemajuan.

    Selain itu, teori siklus ini juga memberikan penyadaran kepada kamu bahwa apapun perubahan yang terjadi, selama itu bersifat positif, bisa kamu ikuti arusnya. Hal yang berbahaya adalah ketika kamu memaksakan diri untuk masuk ke dalam siklus perubahan sosial yang bermakna negatif, sehingga justru merugikan diri sendiri.

  • Stereotip Adalah: Pengertian, Makna, Proses, dan Contohnya

    Stereotip Adalah: Pengertian, Makna, Proses, dan Contohnya

    Stereotip adalah istilah yang mungkin familiar bagi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang memahami maknanya. Istilah ini merujuk pada penilaian yang kaku terhadap individu berdasarkan prasangka pribadi. Lalu bagaimana proses terjadinya pandangan subjektif ini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

    Pengertian Stereotip

    Istilah stereotip mungkin familiar bagi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang memahami maknanya. Stereotip sendiri merujuk pada penilaian yang kaku terhadap individu berdasarkan prasangka pribadi. 

    Menurut KBBI, stereotip adalah pandangan umum mengenai karakteristik sebuah kelompok yang hanya berdasarkan pada prasangka yang tidak akurat. 

    Awalnya, penilaian ini hanya berlaku pada beberapa individu. Namun seiring berjalannya waktu, penilaian ini cenderung meluas dan berlaku pada semua individu dari latar belakang atau penampilan yang serupa. 

    Meskipun beberapa penilaian tersebut bisa bersifat positif, namun kebanyakan cenderung memberikan kesan negatif. Misalnya, anggapan bahwa semua orang Batak memiliki sifat keras, atau anggapan bahwa orang gemuk cenderung malas dan rakus. 

    Mungkin saja kamu pernah bertemu dengan seseorang dari Suku Batak yang memiliki sifat keras atau memiliki teman yang bertubuh gemuk namun tidak malas. Namun, hal ini tidak berarti semua orang dari Suku Batak memiliki sifat yang sama, begitu pula dengan orang yang berpenampilan gemuk. 

    Menyamakan semua orang berdasarkan sedikit informasi yang diperoleh dari satu atau dua individu sangat tidak adil. Oleh karena itu, untuk benar-benar memahami karakter dan sifat sebenarnya, stereotip adalah hal yang perlu kamu kritisi dan penting juga untuk mengenal individu tersebut secara personal terlebih dahulu.

    Makna Stereotip

    Kata “stereotip” berasal dari bahasa Inggris “stereotype” yang merujuk pada penilaian atau asumsi tentang seseorang berdasarkan afiliasi sosialnya. Menurut Dyah Gandasari dan rekannya dalam buku Pengantar Komunikasi Antarmanusia (2022), stereotip adalah salah satu bentuk prasangka terhadap etnis atau ras. 

    Seseorang cenderung membuat kategori perilaku orang lain berdasarkan ras, jenis kelamin, kebangsaan, dan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun nonverbal. Jadi, makna stereotip adalah asumsi yang hanya didasarkan pada penilaian karakteristik perilaku orang lain. 

    Faktor Penyebab Munculnya Stereotip

    Stereotip tidak terbentuk secara spontan. Seseorang dapat mengembangkan pandangan tersebut berdasarkan pengalaman pribadi, yang seringkali merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan.

    Tetapi, selain dari pengalaman pribadi, pandangan tersebut juga bisa muncul karena beberapa faktor lainnya. Beberapa faktor yang menyebabkan munculnya stereotip adalah sebagai berikut:

    1. Keluarga

    Keluarga
    Keluarga | Sumber: Freepik.com

    Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak tumbuh dan berkembang. Lingkungan keluarga juga menjadi tempat seorang anak belajar dan memulai perjalanan menuju kedewasaan. 

    Dalam lingkungan keluarga, orang-orang yang ada di dalamnya tanpa sadar menjadi guru pertama bagi seorang anak. Hal ini karena anak-anak biasanya cenderung meniru perilaku anggota keluarganya. 

    Tanpa disadari, anak akan menerima dan memegang teguh ajaran yang mereka terima dari orang tua mereka. Sebagai contoh, ketika seorang ibu menyatakan bahwa anak perempuan harus pandai memasak sedangkan anak laki-laki tidak, maka anak-anak tersebut akan menjadikan pernyataan itu sebagai sebuah stereotip. 

    Stereotip adalah pemikiran yang mungkin akan mereka yakini hingga dewasa. Tidak hanya itu, mungkin saja anak-anak tersebut juga akan meneruskan pandangan tersebut kepada anak-anak mereka kelak.

    Meskipun mampu memasak adalah hal yang bagus, penting untuk kamu ketahui bahwa kemampuan memasak seharusnya bukan hanya kewajiban perempuan. Pria juga seharusnya memiliki keterampilan memasak. Setidaknya dengan menguasai beberapa resep dasar yang mudah.

    2. Teman Bergaul

    Teman Bergaul
    Teman Bergaul | Sumber: Freepik.com

    Kamu mungkin pernah mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa bergaul dengan orang baik akan membuat diri kita menjadi lebih baik. Sebaliknya, bergaul dengan orang yang tidak baik akan membuat perilaku kita menjadi negatif. 

    Selain keluarga, lingkungan pertemanan juga turut berperan dalam membentuk identitas seseorang pada masa sekarang. Jika seseorang bergaul dengan teman-teman yang memiliki sifat dan moral yang baik, kemungkinan besar orang tersebut akan terdorong untuk menjadi individu yang positif. 

    Sebaliknya, jika seseorang bergaul dengan individu yang memiliki perilaku buruk, bisa jadi karakter individu tersebut juga akan terpengaruh dan menjadi kurang baik. Hubungan pertemanan yang erat cenderung membuat seseorang percaya sepenuhnya pada apa yang dikatakan oleh teman mereka, termasuk hal-hal yang hanya sekadar stereotip.

    3. Sekolah

    Sekolah
    Sekolah | Sumber: Freepik.com

    Sekolah merupakan lingkungan kedua tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam sehari. Di sana, anak tidak hanya bertemu dengan teman sebaya tetapi juga berinteraksi dengan guru-guru yang memiliki pengaruh dalam membentuk karakter seorang anak. 

    Pengajaran yang mereka sampaikan akan tetap terkenang dalam memori anak. Hal ini erat kaitannya dengan konsep stereotip. 

    Di lingkungan sekolah, beberapa guru mungkin menyatakan bahwa anak yang duduk di barisan depan cenderung lebih cerdas daripada anak yang duduk di barisan belakang. Stereotip adalah prasangka yang belum tentu benar, karena anak yang duduk di depan atau belakang tidak menandakan tingkat kecerdasannya.

    Selain itu, stereotip lainnya adalah anggapan bahwa anak dengan nilai yang pas-pasan atau buruk di sekolah tidak akan mencapai kesuksesan di masa depan. Meskipun nilai akademis berperan dalam kelulusan dan seringkali menjadi faktor pertimbangan dalam seleksi wawancara kerja, namun nilai bukanlah segalanya.

    4. Media

    Media
    Media | Sumber: Freepik.com

    Media merupakan salah satu faktor pemicu dalam pembentukan stereotip. Apa yang seseorang tonton, dengar, dan baca bisa memengaruhi cara berpikir mereka. 

    Media juga memiliki peran dalam membentuk pandangan seseorang terhadap orang lain atau suatu peristiwa. 

    Contohnya, pemberitaan di beberapa negara seringkali hanya menyoroti sisi negatif dari Islam. Akibat terbiasa dengan pemberitaan negatif tentang Islam, secara bertahap sebagian besar masyarakat kemudian membentuk stereotip bahwa Islam adalah agama yang buruk dan semua umat muslim dianggap jahat.

    Banyak orang juga percaya pada informasi yang disampaikan oleh media tanpa mengecek benar atau tidaknya. Mereka jarang atau bahkan tidak pernah berdiskusi dengan seorang muslim untuk memahami ajaran Islam.

    Ketika stereotip adalah prasangka buruk yang terus menerus berkembang, timbullah perlakuan negatif, semisal fenomena islamophobia (rasa takut yang berlebihan terhadap agama Islam dan pengikutnya).

    Hal ini tidak hanya mengakibatkan perlakuan kasar terhadap umat muslim, tetapi seringkali juga menjadi penyebab terjadinya beberapa kasus pembantaian terhadap umat muslim di beberapa negara.

    Perlu kamu ingat bahwa perbuatan buruk seseorang tidak mewakili ajaran agamanya. Meskipun ajaran agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan, tetapi bagaimana individu menjalankan ajaran tersebut merupakan pilihan pribadi mereka. 

    Baca Juga : Perilaku Menyimpang: Penyebab, Bentuk, dan Contohnya

    Proses Munculnya Stereotip

    Stereotip adalah hal yang bisa memengaruhi informasi yang berkaitan dengan individu dan bagaimana cara orang lain memahami informasi tersebut. Meskipun orang-orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap seorang individu, namun pandangan tersebut tetap bisa memengaruhi persepsi orang lain dengan cara yang sama.

    Pandangan tersebut seringkali timbul dalam proses kognitif, yaitu ketika seseorang dinilai hanya berdasarkan asosiasi dengan kelompoknya, dan bukan dari informasi yang spesifik mengenai individu itu sendiri.

    Dalam buku Kompetensi Interpersonal dalam Organisasi oleh Kaswan, menyatakan bahwa orang-orang sering menggunakan stereotip karena alasan kognitif. Hal ini karena stereotip adalah cara yang mudah dan sederhana untuk memahami seseorang.

    Melalui stereotip, seseorang bisa mencoba memperoleh informasi tentang individu yang baru mereka kenal melalui kelompok dari individu tersebut. Stereotip juga bisa mempercepat proses penerimaan informasi, meski terkadang pandangan tersebut juga dapat menciptakan dampak negatif.

    Kemunculan stereotip adalah buah pemikiran yang sangat bergantung pada penilaian dari kelompok terhadap individu. Oleh karena itu, tidak heran jika pandangan subjektif itu seringkali mengabaikan karakter dan perilaku sebenarnya dari individu tersebut.

    Contoh Stereotip di Lingkungan Sekitar

    Beberapa contoh stereotip adalah sebagai berikut:

    • Orang Jawa dari Solo sering dikaitkan dengan sifat lemah lembut.
    • Orang dari etnis Tionghoa sering dianggap pelit, kaya, dan memiliki kekayaan berlimpah.
    • Pria sering dianggap sebagai individu yang kuat dan maskulin, gagah, serta penuh keberanian.
    • Perempuan sering dianggap sebagai individu yang lemah dan memerlukan perlindungan.
    • Orang Indonesia terkenal dengan keramahannya.
    • Banyak orang menganggap guru sebagai figur yang bijaksana dan bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya.

    Baca Juga : Kontravensi Adalah: Pengertian, Penyebab, dan 4 Contohnya

    Sudah Tahu Apa Itu Stereotip?

    Stereotip adalah prasangka yang sebaiknya tidak kita terima begitu saja, tetapi perlu ada pengecekan lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya. Proses memahami apa itu stereotip akan mengajarkan kita untuk jangan pernah menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Kenali seseorang dengan baik, agar terhindar dari prasangka dan penilaian yang tidak benar.