Author: Reskia Ekasari

  • Sejarah Singkat Perkembangan Islam di Eropa

    Sejarah Singkat Perkembangan Islam di Eropa

    Perkembangan Islam di Eropa bermula sejak abad ke-7 Masehi. Islam juga sempat menjadi salah satu agama dengan pemeluk terbanyak di benua tersebut.

    Melansir dari laman Kompas, saat ini Islam merupakan agama terbesar kedua di Eropa setelah Kristen dengan populasi muslim yang terkonsentrasi di Jerman, Perancis, Albania, Rusia, Inggris, dan sejumlah negara Eropa Barat.

    Mari simak bagaimana sejarah singkatnya.

    Perkembangan Islam di Eropa

    Sebenarnya, umat muslim sudah sejak lama masuk ke wilayah benua biru, Eropa. Bahkan disebutkan sedari awal sejarah Islam sudah ada muslim yang masuk ke Eropa, meskipun hanya untuk berdagang dengan Kekaisaran Bizantium.

    Adapun perkembangan Islam baru dimulai setelah penaklukkan Spanyol.

    Masuknya Islam ke Eropa 

    Awal mula masuknya Islam ke Eropa yaitu ketika terjadi invasi pasukan Arab ke Semenanjung Andalusia (Spanyol) pada abad ke-7 Masehi.

    Pasukan tersebut berada di bawah kepemimpinan Khalifah Al Walid, pada masa dinasti Umayyah. Khalifah Al Walid kala itu berkedudukan di Damaskus dan berniat memperluas wilayah dengan mengirimkan pasukan ke Afrika Utara.

    Selanjutnya, sekitar tahun 709 Masehi, pasukan yang dipimpin oleh Thariq bin Ziad mengadakan penaklukkan ke Semenanjung Andalusia. Penaklukkan ini dilakukan atas perintah Gubernur Afrika, Mus bin Nusyair.

    Pasukan Thariq bin Ziad mampu menduduki wilayah tersebut. Kemudian, pada tahun 710, Thariq bin Ziad dan pasukannya kembali memperluas wilayah.

    Dalam upaya menguasai Spanyol, pasukan Thariq bin Ziad berperang melawan pasukan Raja Roderick, Raja Spanyol kala itu.

    Peperangan sengit berlangsung selama delapan hari. Hingga kemudian pasukan Thariq bin Ziad meraih kemenangan. Sementara itu, Raja Roderick serta pengikutnya melarikan diri.

    Setelah menguasai berbagai wilayah Spanyol seperti Archidona, Granada, dan Toledo, Musa bin Nusyair menyusul ke Spanyol.

    Penaklukkan tersebut menjadi awal berkuasanya Dinasti Umayyah di Spanyol yang kemudian diiringi perkembangan peradaban Islam.

    Baca juga: Bacaan Doa Sujud Sahwi, Tata Cara, Alasan, Dalil & Hukumnya

    Peradaban Islam di Spanyol

    Selain sebagai titik awal perkembangan Islam di Eropa, penaklukkan Andalusia juga memicu berkembangnya kebudayaan dan peradaban.

    Di bawah kekuasaan dinasti Bani Umayah, Spanyol menjadi wilayah bagian atau provinsi dengan Sevilla sebagai ibukota. Peradaban berkembang dengan pesat setelah itu, hingga Spanyol menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

    Mahasiswa dari berbagai belahan dunia pun berdatangan ke sana untuk menuntut ilmu. Majunya ilmu pengetahuan di Spanyol juga memunculkan beberapa ilmuwan terkemuka, seperti Ibnu Bajjah, Ibnu Khaldun, dan Ibnu Rusyid.

    Setelah jatuhnya Dinasti Bani Umayah, pemerintahan di Spanyol digantikan oleh Bani Abbasiyah. Kemudian, kekuasaan digantikan oleh beberapa dinasti kecil lain.

    Pemerintahan Islam menguasai Spanyol selama delapan abad. Catatan sejarah Spanyol akan masa pemerintahan Islam terpelihara dengan baik. Hal ini karena perlakuan baik penguasa pada penduduk Spanyol.

    Baca juga: Adab Berpakaian dalam Islam bagi Wanita dan Laki-Laki

    Perkembangan Islam di Perancis

    Setelah menguasai Semenanjung Andalusia, pasukan Islam melakukan perluasan wilayah ke negara-negara tetangga, termasuk Perancis.

    Pasukan Islam yang dipimpin oleh panglima Abdurrahman Al-Ghafiki berhasil menduduki daerah Septikemia pada abad ke-8. Setelah itu, panglima tersebut memperluas wilayah hingga menguasai Politiers dan Tour.

    Pasukan Islam kemudian juga berhasil mengalahkan Kerajaan Visigoth. Namun, kekuasaan pemerintahan Islam di Perancis tidak bertahan lama.

    Pada akhir abad ke-8, pasukan muslim dikalahkan oleh pasukan Franka sehingga kekuasaan kembali jatuh ke tangan umat Kristen. Setelah itu, keberadaan Islam di Perancis tidak terlalu signifikan selama beberapa abad.

    Perkembangan Islam di Perancis baru kembali terlihat pada abad ke-19.

    Perkembangan Islam di Italia

    Sekitar abad ke-9, Pulau Sisilia berhasil ditaklukkan oleh pasukan Islam. Sejak itulah perkembangan Islam di Italia bermula.

    Sebelumnya, bangsa Arab telah menaklukkan Pulau Pantelleria yang terletak di antara Afrika Utara dan ujung barat Sisilia. Penaklukan Sisilia sendiri diawali dari permintaan Hakim Aghlabid yang memberontak terhadap Kekaisaran Bizantium.

    Hakim meminta bantuan pasukan muslim untuk melakukan penaklukkan. Kemudian, di bawah pimpinan Asad ibn al-Furat, pasukan muslim melancarkan penaklukkan.

    Pasukan tersebut berhasil menguasai wilayah Italia satu demi satu, seperti Palermo, Messina, dan Syracuse.

    Pada masa pemerintahan Islam, Italia mengalami perkembangan pesat dalam sektor agrikultur dan ekspor. Selain itu, kota-kota mengembangkan seni dan kerajinan.

    Saat itu, banyak penduduk yang beragama selain Islam, seperti Katolik dan Yahudi. Pemerintah Islam memberikan kebebasan beragama bagi mereka dengan sejumlah pembatasan, yakni kewajiban membayar pajak tanah dan pajak pendapatan.

    Kekuasaan pemerintahan Islam bertahan selama beberapa dekade. Hingga kemudian Pulau Sisilia berhasil direbut oleh bangsa Norman pada tahun 1059 Masehi.

    Di bawah pemerintahan bangsa Norman terjadi diskriminasi terhadap muslim dan penghancuran masjid. Kemudian, kekuasaan di Italia kembali silih berganti pada masa kejayaaan dinasti Ottoman.

    Perkembangan Islam di Rusia

    Rusia termasuk bagian penting dalam perkembangan Islam di Eropa. Masuknya Islam ke Rusia juga terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah.

    Setelah menaklukkan Persia, pada pertengahan abad ke-7 Masehi, pasukan muslim menyebar ke wilayah yang saat ini merupakan bagian dari Rusia. Penaklukan wilayah tersebut tercapai di bawah kepemimpinan Panglima Qutaibah bin Muslim.

    Panglima Qutaibah juga melakukan dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam, sehingga para penduduk Rusia mulai memeluk agama Islam. Selain itu, beliau juga mendirikan masjid Jami Qutaibah di Bukhara.

    Pada tahun 643, tentara muslim berhasil merebut Kota Derbent yang terletak di pesisir laut Kaspia. Kota tersebut kemudian diganti nama menjadi al-Abwab dan dijadikan benteng sekaligus pusat persebaran agama Islam.

    Pasukan muslim menghadapi perlawanan sengit dari bangsa Khazar yang belangsung hampir selama satu setengah abad dan berakhir dengan kekalahan bangsa Khazar.

    Setelah Kaganat Khazar runtuh, berdirilah negara muslim pertama di Eropa Timur yaitu Bulgaria Volga. Negara ini pun menjadi pusat penyebaran agama Islam serta perkembangan peradaban.

    Pada invasi Mongol abad ke-13, Bulgaria Volga ikut tersapu bersama kerajaan-kerajaan Rusia lainnya.

    Meski demikian, runtuhnya Bulgaria Volga tidak merusak posisi Islam sebab bangsa Mongol menoleransi berbagai jenis kepercayaan.

    Masuknya Islam ke Inggris

    Perkembangan peradaban Islam di Spanyol memicu masuknya agama Islam ke Inggris, tepatnya mulai sekitar abad ke-16.

    Terdapat pula tokoh yang berjasa dalam penyebaran pengetahuan agama Islam ke Inggris, yaitu Mozarabes. Beliau kemudian mengganti nama menjadi Petrus Al Ponsi.

    Pengenalan ajaran Islam kala itu dilakukan saat hari libur. Kemudian mulai berkembang beberapa organisasi Islam, seperti The Islamic Council of Europe, The Union of Moslem Organization, dan The Association of British Moslem.

    Pemeluk agama Islam mencakup penduduk asli Inggris beserta imigran dari berbagai negara, seperti Mesir, Turki, Yaman, Cyprus, dan banyak lagi.

    Masa Kemunduran Pemerintahan Islam di Eropa

    Perkembangan Islam di Eropa mengalami penurunan bersamaan dengan masa keruntuhan dinasti Islam.

    Melansir dari laman Islam Pos, sejak kedatangan pasukan muslim di Semenanjung Andalusia, sudah timbul perlawanan dari umat Kristen.

    Meskipun begitu, perlawanan tersebut memerlukan waktu selama 800 tahun untuk menjatuhkan kekuasaan pemerintahan Islam.

    Pada abad ke-15, umat Kristen berhasil menekan muslim. Upaya perebutan kembali kekuasaan umat Kristen di Spanyol dikenal dengan sebutan Reconquista.

    Gerakan ini dimulai sejak pertempuran Covadonga yang bertujuan untuk merebut kembali wilayah yang telah ditaklukkan oleh bangsa Maroko.

    Gerakan Reconquista juga berhasil merebut kembali kota-kota besar yang berada dalam kekuasaan pemerintahan Islam. Hingga pada akhirnya kerajaan-kerajaan Islam ditundukkan.

    Kemudian, kerajaan Islam yang terakhir berdiri, Granada, juga mendapatkan perlawanan sengit dari Raja Ferdinand dan Isabella. Hingga timbul pertempuran sengit pada tahun 1482.

    Raja Ferdinand memanfaatkan perpecahan yang terjadi di antara penguasa Granada. Ia memberikan dukungan pada Sultan Muhammad, anak dari Raja Granada untuk melawan ayahnya.

    Berkat bantuan pasukan dari Raja Ferdinand, Granada berhasil dikuasi oleh Sultan Muhammad. Namun, Raja Ferdinand ingkar janji hingga akhirnya merebut Granada.

    Jatuhnya Granada ke tangan Raja Ferdinand menandai akhir dari kekuasaan pemerintahan Islam.

    Kemudian, dimulailah pemerintahan Raja Ferdinand yang melarang segala bentuk aktivitas dakwah Islam dan melakukan pengusiran umat muslim dari Spanyol.

    Selain itu, banyak pula penduduk muslim yang dipaksa untuk masuk ke agama Kristen. Raja Ferdinand juga melarang penduduknya menggunakan nama Arab atau nama Islam.

    Selanjutnya, para raja dari berbagai negara Eropa bersatu dan menang melawan pasukan Islam. Hal ini mendorong mereka menjadi lupa diri dan memulai menjajah negara-negara lain untuk memperoleh lebih banyak harta.

    Islam di Eropa Pada Era Modern

    Perkembangan Islam di Eropa mulai memasuki babak baru setelah masa penjajahan negara-negara Eropa berakhir.

    Pasalnya, selama masa penjajahan terjadi putus hubungan antara negara Eropa dan negara Islam. Barulah setelah penjajahan berakhir, hubungan antara bangsa Eropa dan negara-negara Islam kembali terjalin.

    Masa ini disebut sebagai abad kebangkitan. Saat itu, mulai banyak imigran muslim yang merantau dan tinggal di Eropa. Para imigran ini menjadi cikal bakal berkembangnya masyarakat Islam modern.

    Selain imigran, banyak pula pelajar muslim yang menuntut ilmu di benua biru, Eropa. Seiring berkembangnya Islam di Eropa, mulai banyak dibangun masjid dan tersedia makanan halal.

    Terbentuk pula organisasi Young Muslim Association in Europa (YMAE) yang berperan mengembangkan dakwah dan mengenalkan Islam pada masyarakat Eropa.

    Sekarang ini, Islam telah menjadi agama yang banyak dianut oleh masyarakat Eropa. Terlebih lagi, toleransi beragama di era modern telah mengalami kemajuan pesat.

    Meskipun ada juga negara yang masih memberlakukan larangan bagi muslim, seperti larangan berhijab bagi warga Perancis.

    Demikianlah sejarah singkat perkembangan Islam di Eropa, mulai dari awal masuknya Islam hingga perkembangan saat ini. Walaupun tergolong agama minoritas di benua biru, umat muslim Eropa tetap mempertahankan iman mereka.

  • Bagaimana Hukum Ziarah Saat Puasa? Simak Jawabannya!

    Bagaimana Hukum Ziarah Saat Puasa? Simak Jawabannya!

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa dalam agama Islam. Selama bulan ini, umat Muslim melaksanakan ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam. Namun, sering muncul pertanyaan tentang bagaimana hukum ziarah saat puasa?

    Hal ini tentunya menjadi polemik bagi kita sebagai masyarakat yang memiliki kebiasaan atau tradisi dalam melakukan ziarah kubur.

    Ulasan artikel ini akan membantu dalam menjawab persoalan tersebut.

    Pengertian Ziarah Kubur dalam Islam

    Sebelum membahas hukum ziarah saat puasa, tentunya kita perlu tahu terlebih dahulu pengertian dari ziarah. Arti dari ziarah kubur atau ziyarah qubur adalah praktek yang mengacu pada kunjungan ke makam orang yang telah meninggal.

    Ziarah kubur sering dilakukan untuk mengenang orang yang telah meninggal, berdoa untuk mereka dan merenungkan kematian sebagai pengingat akan adanya akhirat atau alam setelah di dunia.

    Terkait dengan praktik ini tentunya semua dilakukan berdasarkan niat dari dalam diri. Apabila kita melakukan ziarah untuk melakukan kebaikan, maka akan Allah SWT balas dengan kebaikan.

    Selain itu, Rasulullah SAW juga memerintahkan kita untuk ziarah kubur sebagaimana bunyinya:

    كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ، وَلاَ تَقُوْلُوْا هُجْرًا

    Artinya:

    “Aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, sekarang ziarahilah kubur karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan negeri Akhirat dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata kotor (di dalamnya).” (HR. Al-Hakim).

    Saat ini mungkin kita sering mendengar terdapat penyimpangan terkait ziarah kubur yang dilakukan. Hal ini tentunya melanggar syariat sehingga Rasulullah SAW sendiri pernah melarang perbuatan untuk ziarah kubur.

    Terdapat 3 jenis atau macam ziarah kubur yang mungkin kita temukan, yakni:

    1. Ziarah yang Sesuai Syari’at

    Ziarah kubur ini memiliki tujuan untuk mengingat mati, adanya akhirat ataupun memberikan salam. Selain itu, kita juga bisa mendoakan mereka atau memohonkan ampun untuk mereka.

    Baca juga: Hukum Bertato dalam Islam, dan Hikmah Dilarangnya Bertato!

    2. Ziarah yang Bid’ah

    Ziarah yang bid’ah atau tidak sesuai dengan kesempurnaan tauhid. Jenis ziarah ini merupakan salah satu sarana perbuatan syirik. Di antaranya adalah ziarah ke kuburan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah di sisi kuburan.

    Bahkan ziarah ini bertujuan untuk mendapatkan berkah, menghadiahkan pahala kepada ahli kubur ataupun membuat bangunan di atas kuburan dan memberinya lampu penerang sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ أَوْ يُزَادَ عَلَيْهِ أَوْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ.

    Artinya:

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menembok kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya (atau ditambah tanahnya) (atau ditulis atasnya- ditulis nama atas nisannya). (HR. Muslim).

    3. Ziarah yang Syirik

    Ziarah kubur yang syirik merupakan jenis ziarah yang sangat bertentangan dengan tauhid. Contohnya mempersembahkan suatu macam ibadah kepada ahli kubur, seperti berdoa kepadanya layaknya kepada Allah SWT.

    Seorang Mukmin tidak boleh memalingkan ibadah selain kepada Allah SWT. Apabila perbuatan ini terjadi, maka disebut syirkun akbar dan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam bila sudah terpenuhi syaratnya.

    Baca juga: 7 Tanda-tanda Kematian Menurut Islam, Segera Bertobat!

    Hukum Ziarah Saat Puasa

    Di Indonesia sendiri, ziarah kubur memang menjadi tradisi yang turun menurun dan biasanya dilakukan menjelang puasa ataupun ketika hari pertama lebaran. Lantas, bagaimana hukum ziarah saat puasa?

    Rasulullah SAW sendiri memang memerintahkan kita untuk melakukan ziarah kubur agar kita sebagai hamba yang masih berkesempatan untuk hidup bisa mengingat kematian dan akhirat. Sebagaimana sabda beliau terkait hal tersebut:

    زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَ كِّرُكُمْ الآخِرَةَ

    Artinya:

    “Hendaklah kalian ziarah kubur, karena ziarah kubur bisa membuat kalian mengingat akhirat.” (HR Ibnu Majah).

    Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa tujuan dari ziarah kubur adalah sebagai pengingat akan datangnya kematian dan akhirat untuk kehidupan selanjutnya. Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga mengajarkan do’a ketika ingin ziarah kubur:

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الذِّيَارِ مِنَ الْمُؤْ مِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَا ءَاللّهُ لاَ حِقُوْنَ أَسْاَلُ اللَّهَِ لَنَا وَلَكُمْ الْعَا فِيَةَ

    Artinya:

    “Semoga keselamatan bagi kalian wahai kaum Mukminin dan kaum Muslimin, penghuni kuburan. Sesungguhnya kami pasti akan menyusul kalian insya Allah. Aku memohon keselamatan buat kami dan buat kalian.” (HR Muslim).

    Tidak ada riwayat ataupun dalil dari Rasulullah SAW terkait penentuan hari untuk berziarah kubur. Hal ini menjelaskan bahwa hukum ziarah saat puasa tidak dilarang ataupun melanggar syariat Islam.

    Selagi niat untuk ziarah hanya sebatas mendoakan ataupun melakukan perbuatan lainnya yang sesuai syariat. Mengutip keterangan Nahdlatul Ulama dari website resminya, “Ziarah bisa dilakukan kapan saja dan tidak ada larangannya.”

    Manfaat Ziarah Kubur

    Terdapat beberapa manfaat dari kita melakukan ziarah kubur, selain yang disebutkan dalam riwayat Al-Hakim. Beberapa manfaat ini tentunya akan membuat kita semakin mawas diri akan kehidupan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah.

    Berikut ini beberapa manfaat dari ziarah kubur dalam Islam yang bisa kita ketahui:

    1. Pengingat Kematian

    Ziarah kubur adalah pengingat yang sangat kuat akan kematian. Saat seseorang mengunjungi makam dan melihat tanda-tanda kefanaan fisik, tentu akan mengingatkan mereka bahwa hidup di dunia ini adalah sementara.

    Karena pada hakikatnya, setiap orang akan menghadapi kematian suatu hari nanti. Tentunya dengan ziarah ini membantu kita untuk merenungkan tujuan hidup dan mempersiapkan diri dalam bekal akhirat.

    2. Mengambil Hikmah

    Ziarah kubur juga memberikan pelajaran dari kehidupan orang-orang yang telah meninggal. Saat melihat makam orang-orang yang telah pergi, kita dapat merenungkan prestasi, kesalahan ataupun pelajaran dari kehidupan mereka.

    Hal ini tentunya dapat menjadi sumber inspirasi kita untuk memperbaiki diri, menghindari dosa dan mengejar kebaikan sesuai dengan ajaran Islam.

    3. Lebih Dekat Kepada Allah SWT

    Ziarah kubur juga adalah pengalaman spiritual yang dapat membantu seseorang merasa lebih dekat dengan Allah. Selain itu, perbuatan ini juga menjadi pembelajaran sekaligus tamparan bahwa isi dunia tidak akan dibawa ke alam kubur.

    Tata Cara Ziarah Kubur yang Sesuai dalam Islam

    Rasulullah SAW bersabda bahwa ziarah yang sesuai dengan ajaran adalah ziarah yang bertujuan untuk mendoakan mayit dan memohon kasih sayang serta ampunan untuk mereka hanya kepada Allah SWT.

    Namun, sebelum melakukan ziarah tersebut kita bisa menyiapkan diri untuk menyesuaikannya dengan adab dan tidak melanggar syariat agar niat untuk mendoakan mayit diterima oleh Allah SWT.

    Berikut ini beberapa adab atau tata cara yang bisa kita lakukan ketika ingin berziarah kubur:

    1. Berwudhu

    Hendaknya, ketika kita ingin melakukan ziarah kubur adalah berwudhu terlebih dahulu. Hal ini karena tidak ada larangan ataupun melanggar syariat ketika berada dalam kondisi suci dan melakukan ziarah kubur.

    2. Mengucapkan Salam

    Tata cara selanjutnya adalah mengucapkan salam ketika kita berada atau ingin memasuki area pemakaman. Adapun salam ini juga diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana bunyinya:

    Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniina wal muslimiin. Wa inna insyaa alloohu bikum laahiquun. Nasalullooha lanaa walakumul ‘aafiyah.

    Doa ini bertujuan untuk meminta kesejahteraan untuk penghuni kubur atas izin Allah SWT. Insyaallah kita sebagai makhluk yang masih hidup akan menyusul serta memohon keselamatan bagi diri dan penghuni kubur kepada Allah SWT.

    3. Membaca Doa bagi Mayit

    Setelah membaca salam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kita selanjutnya dapat membaca doa untuk mayit. Adapun doa yang dibaca bisa berupa tasbih, tahmid, zikir hingga Al-Fatihah sebagai penutup.

    4. Tidak Duduk atau Menginjak Kuburan

    Adab atau tata cara lainnya yang bisa kita lakukan adalah tidak menginjak atau menduduki atas kuburan. Hal ini juga Rasulullah SAW jelaskan dalam sabdanya yang berbunyi:

    “Janganlah kalian shalat (berdoa) kepada kuburan, dan janganlah kalian duduk di atasnya.”  (HR. Muslim).

    Hukum ziarah saat puasa tentunya bisa kita lakukan tanpa terkecuali. Hal ini karena tidak ada larangan melakukan ziarah kapanpun, selagi tidak melanggar syariat. Niatkan ziarah ini dengan baik dan mendekatkan diri kepada Allah.

  • Apa Itu Sunnah? Pengertian, Macam dan Contohnya

    Apa Itu Sunnah? Pengertian, Macam dan Contohnya

    Sunnah merupakan konsep yang memegang peranan sentral dalam membentuk ajaran dan praktik untuk umat Muslim. Kata sunnah sendiri merupakan bahasa Arab yang berarti cara atau jalan. Lantas, apa itu sunnah dalam pengertian Islam?

    Pada konteks Islam, sunnah merujuk pada tindakan, ucapan dan persetujuan yang dilakukan atau diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW selama hidupnya.

    Dalam artikel ini akan menggali lebih dalam mengenai hal yang berkaitan sunnah.

    Apa Itu Sunnah?

    Terdapat banyak ulama yang mengartikan sunnah dalam pengertiannya. Adapun apa itu sunnah atau As-Sunnah menurut istilah syariat merupakan segala sesuatu yang berasal atau bersumber dari Nabi Muhammad SAW.

    Dalam bentuk qaul atau ucapan, fi’il atau perbuatan, taqrir atau penetapan, sifat tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya sebagai tasyri’ atau pensyariatan bagi umat Islam.

    Selain itu, ada ulama yang menerangkan makna wasal secara bahasa mengenai arti sunnah dalam Islam yang berarti perbuatan dan taqrir, adapun hadits untuk ucapan.

    Sedangkan menurut ahli fiqih ialah segala sesuatu yang sudah tetap dari Nabi dan hukumnya tidak fardhu dan tidak wajib, yakni hukumnya sunnah. Hakikatnya dalam memahami apa itu sunnah terdapat dua komponen penting yang perlu kita ketahui.

    1. Hadis

    Apa Itu Sunnah? Pengertian, Macam dan Contohnya

    Hadis adalah catatan tertulis tentang perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad SAW.

    Hadits memberikan panduan lebih rinci tentang bagaimana menerapkan atau mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Para ulama hadits melakukan pengkajian yang ketat untuk memverifikasi keaslian hadits agar informasi yang diteruskan tetap sahih dan dapat diandalkan. Hal ini menjadikan hadits sebagai pedoman setelah Al-Qur’an.

    Baca juga: Doa Malam Lailatul Qadar dan Amalan di malam Lailatul Qadar, Yuk Amalkan!

    2. Sira

    Sira merupakan biografi tentang Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan riwayat hidup, perjalanan dan pengalaman beliau.

    Sira membantu umat Muslim memahami konteks di mana sunnah berkembang dan diimplementasikan oleh Nabi.

    Macam-macam Sunnah dan Contohnya

    Sunnah dalam Islam dibagi menjadi dua jenis atau macamnya, yakni sunnah mu’akkadah atau sunnah yang ditekankan dan sunnah ghairu mu’akkadah atau sunnah yang tidak ditekankan.

    Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang macam-macam sunnah yang bisa kita ketahui untuk diamalkan dalam kehidupan.

    1. Sunnah Mu’akkadah (Sunnah yang Ditekankan)

    Sunnah mu’akkadah merujuk pada tindakan dan praktik-praktik yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan penekanan secara khusus. Sunnah ini yang lebih sering dilakukan oleh Nabi dan memiliki nilai keutamaan yang tinggi.

    Meskipun tidak diwajibkan, melaksanakan sunnah mu’akkadah memberikan pahala dan menghamparkan jalan menuju pendekatan diri kepada Allah SWT. Beberapa contoh sunnah mu’akkadah yang bisa kita ketahui meliputi:

    1. Shalat Sunnah Rawatib: Shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau setelah shalat wajib. Contohnya adalah shalat sunnah Dhuha (subuh hari) dan sholat sunnah Dhuha (saat matahari naik di langit).
    2. Puasa Sunnah: Selain berpuasa di bulan Ramadhan, terdapat puasa sunnah yang dapat dilakukan untuk mendapatkan pahala ekstra. Puasa sunnah termasuk puasa Senin dan Kamis, puasa Arafah, puasa Asyura dan lain-lain.
    3. Tahajjud: Shalat sunnah di tengah malam yang sangat dianjurkan. Ibadah ini adalah waktu di mana umat Muslim beribadah secara lebih khusyuk dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Baca juga: Bacaan Doa Agar Cepat Haid dan Tips Lancarkan Haid

    2. Sunnah Ghairu Mu’akkadah (Sunnah yang Tidak Ditekankan)

    Sunnah ghairu mu’akkadah merujuk pada tindakan dan praktik-praktik yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi tidak dengan penekanan yang sama seperti sunnah mu’akkadah.

    Melaksanakan sunnah ghairu mu’akkadah tetap membawa pahala dan memiliki nilai spiritual yang besar. Beberapa contoh sunnah ghairu mu’akkadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari, meliputi:

    1. Shalat sunnah Sehari-hari: Shalat-shalat sunnah yang bisa dilakukan setiap hari, seperti shalat sunnah sebelum shalat Dzuhur, shalat sunnah sebelum shalat Maghrib, dan shalat sunnah sebelum shalat Isya.
    2. Dzikir dan Doa Harian: Melakukan dzikir dan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbagai situasi, seperti dzikir pagi dan petang, doa sebelum dan sesudah makan, serta doa masuk dan keluar rumah.
    3. Bersedekah: Memberikan sedekah dan amal kebajikan secara sukarela sebagai bagian dari perilaku baik dan membantu sesama.

    Jenis-jenis sunnah dalam Islam, yakni sunnah mu’akkadah dan sunnah ghairu mu’akkadah, menggambarkan tingkat penekanan dan keutamaan dari berbagai praktik yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Keduanya memberikan kesempatan kepada umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperkaya spiritualitas hingga memperkuat ikatan dengan ajaran agama mereka.

    Pentingnya Sunnah dalam Ajaran Islam

    Sunnah bukan hanya sekadar sekumpulan tindakan dan perkataan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga termasuk sebagai landasan ajaran dan praktik bagi umat Muslim.

    Pentingnya sunnah dalam Islam tercermin dalam berbagai aspek, mulai dari panduan dalam ibadah, moralitas, hukum, hingga keseluruhan pandangan hidup umat Muslim.

    Berikut adalah beberapa alasan mengapa sunnah memiliki signifikansi yang mendalam dalam konteks agama Islam:

    1. Penjelasan dan Elaborasi Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan kitab suci dan sumber utama Islam untuk umat-Nya. Namun, untuk memahami banyak konteks dan rincian praktek yang sesuai dengan syariat, maka perlu dukungan yang lebih kompleks berupa sunnah dari Nabi.

    Sunnah menjelaskan dan menggambarkan cara implementasi ajaran-ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Tanpa sunnah, banyak petunjuk Al-Qur’an mungkin sulit untuk dimengerti sepenuhnya oleh para ulama ataupun sebagainya.

    2. Kedekatan dengan Allah

    Sunnah menjadi salah satu cara umat Muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tindakan dan sikap yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW membantu umat Muslim dalam menjalin hubungan yang lebih dekat.

    Selain itu, sunnah juga memberikan pedoman bagaimana cara beribadah, berdoa dan berhubungan dengan Allah SWT secara tepat.

    3. Kesempurnaan Moral dan Etika

    Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan dalam moral dan etika yang sangat sempurna. Sunnah memberikan panduan dalam berinteraksi dengan orang lain, bersikap jujur, ramah, bermurah hati hingga berakhlak yang mulia.

    Dengan mengikuti teladan Nabi, kita sebagai umat dapat mengembangkan karakter yang lebih baik dan mendukung kehidupan yang lebih harmonis dalam masyarakat. Terlepas dari hubungan yang dibangun untuk lebih dekat dengan Allah SWT. 

    4. Panduan dalam Beribadah

    Sunnah memberikan petunjuk tentang bagaimana melaksanakan ibadah dengan benar. Misalnya, rinciannya tentang cara melaksanakan shalat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.

    5. Pengembangan Hukum Islam

    Sunnah juga memiliki peran dalam membentuk hukum Islam, yang biasa kita bahas dalam “fiqh.” Ketika situasi dan konteks berubah, ulama menggunakan Sunnah untuk mengembangkan pemahaman hukum yang lebih rinci dan relevan.

    6. Pengayaan Spiritualitas

    Melaksanakan sunnah tidak hanya membawa pahala, tetapi juga mengembangkan spiritualitas. Tindakan-tindakan sunnah, terutama sunnah mu’akkadah, membantu memperdalam hubungan dengan Allah dan membentuk karakter yang lebih saleh.

    7. Pembentukan Identitas Muslim

    Mengikuti sunnah membantu umat Muslim dalam membedakan diri mereka sebagai penganut Islam. Selain itu, cara ini secara tidak langsung membentuk identitas keagamaan dan budaya yang unik.

    Demikian pembahasan apa itu sunnah, jenis atau macamnya hingga pentingnya dalam implementasi kehidupan.

    Terlepas dari bentuk ketaatan kepada Allah SWT, mengikuti sunnah juga akan membentuk perilaku yang baik sesuai dengan syari’at.

    Sudah tidak bingung lagi dengan apa itu sunnah?

  • Lafal Niat Puasa Asyura, Arab, Latin, dan Terjemahannya

    Lafal Niat Puasa Asyura, Arab, Latin, dan Terjemahannya

    Hadits menyebutkan Rasulullah SAW menyatakan segala sesuatu tergantung pada niatnya, termasuk puasa Asyura. Ketika hendak melafalkan niat puasa Asyura tentu harus diyakini dengan sepenuh hati untuk meminta ridho kepada Allah SWT.

    Seperti puasa pada umumnya, niat dari puasa Asyura ini bisa dibaca pada malam hari atau sebelum masuk waktu sholat Subuh.

    Namun, puasa Asyura yang termasuk puasa sunnah ini diperbolehkan jika niatnya dadakan selama tidak batal puasa.

    Bacaan Niat Puasa Asyura

    Bacaan Niat Puasa Asyura

    Puasa Asyura merupakan salah satu puasa yang bisa kita lakukan pada bulan Muharram. Bulan Muharram yang menjadi tanda awal Tahun Baru Islam, dan puasanya bisa kita kerjakan pada 10 Muharram.

    10 Muharram atau lebih tepatnya hari ke- 1- pada bulan Muharram tersebut. Oleh sebab itu, dengan mengetahui niat puasa Asyura setidaknya membuat kita lebih berniat khusyuk dalam menjalankan puasanya. Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya hari Asyura adalah hari-hari Allah, maka barangsiapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah pada hari itu, dan barangsiapa yang tidak ingin, maka ia boleh meninggalkannya.” (Shahih Muslim No. 1901)

    Berikut bacaan niat dari puasa Asyura dalam bahasa arab yang dibarengi dengan adanya lafal latin serta terjemahannya:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’I sunnati ‘Asyura lillahi ta’ala.

    Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura karena Allah SWT.”

    Bacaan niat dari puasa Asyura tersebut bisa kita lafalkan pada malam hari sebelum masuk waktu subuh pada tanggal 10 Muharram. Akan tetapi, jika terlupa membacanya atau alasan mendadak ingin berpuasa.

    Maka, sangat diperbolehkan jika kita membaca niat puasa Asyura pada pagi hari maupun siang hari sejuah  selama belum melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa, termasuk makan minum sejak subuh.

    Tidak afdol rasanya jika kita hanya mengetahui niat puasa Asyura bulan Muharram saja, oleh sebab itu inilah bacaan niat puasa sunnah Tasu’a. Puasa sunnah Tasu’a yang bisa kita laksanakan pada 9 Muharram.

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَّاسُوعَاءِ لِلهِ تَعَالَى

    Nawaitu sahuma ghadin ‘an ada’I sunnatit Tasua’a lillahi ta’ala.

    Artinya: “Aku berniat puasa sunah Tasu’a esok hari karena Allah SWT.”

    Baca juga: Kumpulan Doa Pelunas Hutang dan Amalan Pembuka Pintu Rezeki

    Asal Usul Dianjurkannya Puasa Asyura

    Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW datang ke Madinah, kemudian melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura tersebut. Lantas Rasulullah SAW bertanya: 

    “Ada apa ini?.”

    Mereka pun menjawab: “Hari baik, saat Allah membebaskan Nabi Musa dan bani Israil dari musuh mereka, hingga akhirnya membuat Musa berpuasa karenanya.” Barulah setelah itu, Rasulullah SAW bersabda.

    “Saya lebih hormat terhadap Musa dari kamu,” Dan kemudian beliau melaksanakan puasa pada hari itu dan menyuruh untuk orang berpuasa pula.

    Selain itu, masih ada riwayat lain yang menceritakan tentang puasa Asyura ini, hingga akhirnya ada niat dari puasa Asyura tersebut. Dimana Abdullah Ibn Umar RA berkata: 

    “Bahwa orang-orang jahiliyah dahulu selalu berpuasa pada hari Asyura.”

    Kemudian beliau melanjutkan: 

    “Dan bahwa Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu (Asyura) sebelum diwajibkannya berpuasa Ramadhan.”

    Keutamaan Puasa Asyura

    Setelah kita sudah memahami dengan baik mengenai niat dari puasa Asyura sekaligus ada asal mula dianjurkannya berpuasa, maka selanjutnya mengenai keutamaan puasa Asyura itu sendiri.

    Ada banyak sekali keutaman puasa Asyura yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya untuk selalu berbuat baik, salah satunya dengan menunaikan ibadah sunnah puasa Asyura tersebut.

    Berikut beberapa keutamaan puasa Asyura dengan niat dari puasa Asyura yang baik dan benar karena Allah SWT:

    1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu

    Siapa diantara kita yang ingin dihapus dosanya oleh Allah SWT? Mungkin dengan melaksanakan puasa sunnah Asyura dengan niat puasa Asyura menghapus dosa selama setahun yang lalu karena Allah SWT.

    Dengan begitu, bisa membantu kita untuk menghapus dosa yang banyak sebelum-belumnya. Sekaligus memulai awal tahun dengan niat yang baik karena Allah SWT.

    Karena pada bulan-bulan haram atau asyhurul hurum atau bulan mulia ini sangatlah istimewa keberadaanya, sebab puasa Asyura dapat menghapuskan dosa yang telah lalu.

    Ada riwayat yang menerangkannya dengan jelas. Diriwayatkan dari Abu Qatadah RA:

     “Sungguh Rasulullah SAW bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu kemudian beliau menjawab: Puasa Asyura meleburkan dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim).

    Baca juga: 8 Doa Dimudahkan Segala Urusan dan Dilancarkan Rezeki

    2. Menjadi Pembeda dengan Kaum Yahudi

    Tidak dapat kita pungkiri bahwa keberadaan puasa pada bulan Muharram, termasuk 9 Muharram dan 11 Muharram ini juga umat Yahudi lakukan. Dan 10 Muharram inilah ini sebagai pembeda umat Islam dengan umat Yahudi.

    Ada riwayat yang menjelaskan tentang perkara ini yaitu sebagai berikut:

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dengan status marfu, Rasulullah SAW bersabda “Puasalah kalian pada hari Asyura dan berbedalah dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya.”

    3. Puasa yang Diutamakan setelah Bulan Ramadhan

    Berikutnya ada keutamaan puasa Asyura dengan niat dari puasa Asyura karena Allah SWT yaitu puasa juga diutamakan setelah bulan Ramadhan. 

    Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa pada bulan Muharram paling utama setelah puasa bulan Ramadhan.

    Penjelasan lebih lengkapnya, ketika suatu hari Abu Hurairah bertutur dan kemudian Rasulullah ditanya beliau, “Salah manakan yang lebih utama setelah shalat fardhu.” Rasulullah SAW bersabda, “ Yaitu salat di tengah malam.”

    Kemudian mereka bertanya kembali, “Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?.”

    Rasulullah SAW pun bersabda: 

    “Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram.” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud).

    4. Menjadi Awal yang Baik

    Selain ketiga hal diatas, keutamaan puasa Asyura dengan niat puasa Asyura karena Allah SWT yaitu menjadi awal yang baik. Sebab puasa pada awal bulan Muharram merupakan awal yang baik untuk melangkah lebih jauh.

    Berikut ada pendapat beberapa ulama mengenai puasa bulan Muharram tersebut yaitu sebagai berikut:

    Pendapat Imam al-Qurthubi “Puasa Muharram menjadi puasa yang paling utama karena Muharram merupakan awal tahun baru, maka pembukaannya adalah dengan puasa yang merupakan amal paling utama.” 

    (Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Dijab ala Muslim, (Arab Saudi, Darubnu Affan))

    5. Pelengkap Ibadah pada Bulan Mulia

    Sebenarnya ini bukan terakhir, masih ada banyak keutamaan lain dari puasa Asyura dengan niat puasa Asyura karena Allah SWT. 

    Namun, ini adalah keutamaan terakhir yang akan kita bahas yaitu menjadi pelengkap ibadah pada bulan yang mulia.

    Ada sebuah hadis yang menyebutkan Rasulullah SAW menganjurkan kaum muslim agar menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadhan dan bulan yang mulia ini yaitu Muharram.

    “Puasalah bulan Sabar (Ramadhan) dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan mulia.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan lainnya)

    Demikian informasi mengenai puasa Asyura dengan niat puasa Asyura karena Allah SWT. Tunaikanlah puasa sunnah dan ibadah lainnya selama kita masih bisa melaksanakannya.

  • Kajian Hadits Tanda Kiamat, Sungai Eufrat yang Mengering dalam Islam

    Kajian Hadits Tanda Kiamat, Sungai Eufrat yang Mengering dalam Islam

    Mengeringnya sungai Eufrat dalam Islam dipercaya sebagai salah satu tanda kiamat. Kabar mengenai hari kiamat telah disampaikan dalam Al-Qur’an dan hadits. 

    Di antara tanda-tanda datangnya kiamat yang sering disebarkan yaitu sungai Eufrat yang mengering.

    Nah, dalam kesempatan kali ini, mari kita kaji bersama mengenai dalil terkait sungai Eufrat.

    Sekilas tentang Sungai Eufrat

    Sungai merupakan sumber daya alam yang membawa banyak manfaat bagi manusia. Mulai dari tempat bersarang ikan yang bisa kita olah sebagai makanan, sumber perairan, jalur transportasi, hingga pembangkit listrik.

    Pemanfaatan sungai sudah dilakukan sejak jaman dulu. Sungai Eufrat dalam Islam termasuk dalam beberapa sungai yang memiliki peran penting.

    Sungai ini juga disebutkan dalam hadits sebagai salah satu sungai surga.

    عن أبي هريرة قال رسول الله سَيْحَان وَجَيْحَان وَالْفُرَات وَالنِّيل كُلّ مِنْ أَنْهَار الْجَنَّة

    Artinya:

    “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Seihan, Jeihan, Nil, dan Eufrat, semuanya adalah sungai-sungai surga.” (HR Muslim).

    Sungai Eufrat merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Asia Barat. Dengan panjang total sekitar 1.740 mil (2.781 km), sungai ini membentang melintasi tiga negara, mulai dari Turki, Syiria, hingga Irak.

    Eufrat disebut juga sebagai Al-Furat. Sungai ini bersumber dari mata air yang terletak di Anatolia, Turki. Sementara alirannya bermuara di Teluk Persia.

    Sungai ini telah menjadi sumber kehidupan sejak berabad-abad silam. Lebih tepatnya, masa kemunculan peradaban Sumeria pada abad ke-4 SM.

    Bangsa Sumeria adalah kaum penguasa pertama Mesopotamia. Awalnya, mereka hidup dengan berburu dan bercocok tanam sederhana.

    Berkat kondisi tanah yang subur di sekitar Sungai Eufrat dan Sungai Tigris, sektor pertanian Sumeria mengalami kemajuan pesat. Dari sana, mulai berkembang pula perdagangan.

    Seiring waktu, peradaban mereka berkembang makin maju hingga membangun kota-kota dengan pemerintahan.

    Baca juga: 10 Arti Mimpi Bertemu Mantan Pacar Menurut Islam, Benarkah Ada?

    Sungai Eufrat dalam Islam

    Dalam bahasa Arab, Eufrat disebut juga sebagai al-Furat yang berarti air yang paling segar. Nama ini bukan sekadar julukan. Pasalnya, sungai yang membentang melalui tiga negara ini alirannya tidak pernah mengering.

    Fenomena mengeringnya sungai Eufrat termasuk salah satu tanda bahwa hari kiamat sudah dekat.

    Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW:

    لا تَقُومُ السَّاعَةُ حتَّى يَحْسِرَ الفُراتُ عن جَبَلٍ مِن ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عليه، فيُقْتَلُ مِن كُلِّ مِائَةٍ تِسْعَةٌ وتِسْعُونَ، ويقولُ كُلُّ رَجُلٍ منهمْ: لَعَلِّي أكُونُ أنا الذي أنْجُو

    Artinya:

    “Kiamat tidak akan terjadi sampai Eufrat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan akulah orang yang selamat.’” (HR. Muslim no. 2894).

    Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa mengeringnya Sungai Eufrat akan diikuti oleh kemunculan gunung emas. Kehadiran gunung ini kemudian akan mengundang manusia yang saling memperebutkannya.

    Syekh Sulaiman Al-Asyqar memberikan pendapat mengenai hadits di atas:

    ومعنى انحساره: انكشافه لذهاب مائه، كما يقول النووي، وقد يكون ذلك بسبب تحول مجراه، فإن هذا الكنز أو هذا الجبل مطمور بالتراب وهو غير معروف، فإذا ما تحول مجرى النهر لسبب من الأسباب ومرّ قريباً من هذا الجبل كشفه، والله أعلم بالصواب

    Artinya:

    “Maksudnya adalah tersingkap karena airnya mengering. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu. Boleh jadi disebabkan karena alirannya terhambat sehingga gunung emas yang dimaksud yang tertutup tanah akan tersingkap. Dan dengan mengeringnya aliran air sungai Eufrat, maka akan semakin dekat pula tersingkapnya posisi gunung tersebut. Wallahu a’lam.” (Al-Qiyamah Al-Shughra, hal. 199-200).

    Gunung Emas di Dasar Sungai Eufrat

    Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama terkait gunung emas yang akan muncul di Sungai Eufrat. Sebagian menafsirkan ungkapan gunung emas sebagai konotasi.

    Namun, ada pula yang berpendapat bahwa akan muncul gunung emas sesungguhnya. Salah satunya yaitu Syekh Yusuf-Al-Wabil.

    Beliau berpendapat demikian dengan acuan lafaz ‘air sungai akan menyingkap gunung emas yang dilihat oleh manusia’. Artinya gunung emas di sini benar-benar berupa emas, bukan hasil bumi berharga lain seperti minyak bumi.

    Pendapat tersebut juga didukung oleh pandangan para ilmuwan yang mengungkapkan bahwa terdapat dua zona mineral logam di kawasan Sungai Eufrat.

    Kawasan tersebut dinilai strategis sebagai lokasi pembentukan endapan mineral logam, salah satunya emas.

    Sementara itu, sebagian ulama berpendapat bahwa keringnya Sungai Eufrat tidak cukup untuk menjadi tanda kiamat. Ada pun pokok hadits di atas adalah mencegah pertikaian yang akan timbul saat memperebutkan emas tersebut.

    Melansir dari laman Bincang Syariah, untuk memahami suatu hadits, perlu dilakukan takhrij supaya ditemukan hadits-hadits lain yang satu tema. Jadi, tidak cukup dengan membaca satu hadits saja.

    Maka, kita perlu mempertimbangkan hadits lain yang menyebutkan mengenai emas di Sungai Eufrat.

    Rasulullah SAW bersabda:

    عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ قالَ: قالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: “يُوشِكُ الفُرَاتُ يَحْسِرُ عن كَنْزِ مِنْ ذّهَبِ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلاَ يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئاً

    Artinya:

    “Hampir terbuka al-furat dengan (beirisi) simpanan emas. Siapa yang mendatanginya jangan sekali-kali mengambilnya,” (HR At-Tirmidzi).

    Hadits tersebut menegaskan larangan untuk mengambil emas di Sungai Eufrat. Larangan ini bertujuan untuk mencegah kehancuran akibat perebutan. 

    Berdasarkan pendapat Al-Mubarakfuri, hadits di atas memiliki substansi yang sesuai dengan hadits riwayat Muslim berikut:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقِيءُ الْأَرْضُ أَفْلَاذَ كَبِدِهَا أَمْثَالَ الْأُسْطُوَانِ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَيَجِيءُ الْقَاتِلُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قَتَلْتُ وَيَجِيءُ الْقَاطِعُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قَطَعْتُ رَحِمِي وَيَجِيءُ السَّارِقُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قُطِعَتْ يَدِي ثُمَّ يَدَعُونَهُ فَلَا يَأْخُذُونَ مِنْهُ شَيْئًا

    Artinya:

    “Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah saw bersabda, ‘Kelak bumi akan mengeluarkan semua isi perutnya semisal tiang dari emas dan perak lalu akan datang seorang pembunuh seraya berkata, ‘Karena benda inilah aku membunuh.’ Lalu datang pula orang yang memutuskan tali silaturrahmi seraya berkata, ‘Karena benda inilah aku memutuskan tali silaturrahmi.’ Lalu datang pula seorang pencuri seraya berkata, ‘Karena benda inilah tanganku dipotong.’ Kemudian mereka semua meninggalkannya begitu saja dan tidak mengambilnya sedikitpun,’” (HR Muslim).

    Dari pengkajian beberapa hadits tersebut, disimpulkan bahwa tanda kiamat bukan terletak pada fenomena mengeringnya Sungai Eufrat. Melainkan terjadinya perebutan harta yang menyebabkan orang-orang berperilaku buruk.

    Kapan Sungai Eufrat Akan Mengering?

    Sungai Eufrat memiliki debit air yang sangat besar. Inilah yang membuat aliran sungai ini tidak pernah kering selama berabad-abad.

    Meskipun begitu, fenomena mengeringnya Sungai Eufrat dalam Islam sudah dikabarkan dengan jelas dalam hadits. Bagaimana dan kapan waktunya tidak ada yang mengetahui.

    Beberapa ulama mencoba menguraikan mengenai kapan fenomena tersebut terjadi. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari, bahwa tanda mengeringnya Sungai Eufrat akan terjadi mendekati kemunculan al Mahdi.

    Sementara sebagian ulama menyatakan pendapat lain, yaitu bahwa fenomena tersebut akan terjadi saat Nabi Isa AS turun ke bumi. Pasalnya, pada masa itu manusia akan hidup bergelimang harta.

    Apabila menilik kondisi saat ini, maka fenomena mengeringnya Sungai Eufrat bukanlah hal yang mustahil.

    Sungai Eufrat digunakan dalam berbagai proyek, mulai dari pengembangan, irigasi, hingga PLTA. Selain itu, sudah terdapat laporan mengenai penyusutan debit air Sungai Eufrat.

    Bahkan beberapa sumber mengabarkan bahwa dua anak sungai dari Sungai Eufrat sudah kering.

    Demikianlah kajian mengenai mengeringnya Sungai Eufrat dalam Islam. Sebagai muslim, alih-alih sibuk mencari tahu mengenai kapan tanda kiamat tersebut terjadi, sebaiknya kita menyiapkan diri sebaik mungkin.

  • Hukum April Mop Menurut Islam dan Sejarahnya

    Hukum April Mop Menurut Islam dan Sejarahnya

    Jika ada satu hari dalam setahun yang melegalkan kebohongan, maka hari itu adalah momen April Mop atau tanggal 1 April. Kebohongan ini bertujuan untuk mengerjai seseorang yang mudah ditipu. Lantas, bagaimana hukum April Mop menurut Islam?

    Sebagaimana kita tahu, Islam mengajarkan kita untuk berlaku jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kebohongan hanya boleh dilakukan jika tujuannya baik seperti saat ingin mendamaikan dua orang yang bertengkar.

    Jika kebohongan dan dusta itu dilarang dalam Islam, apakah Islam juga melarang April Mop? Untuk menemukan jawaban pastinya, sejarah April Mop dan pandangan Islam tentang momen ini berdasarkan dalil-dalil yang ada.

    Sejarah SIngkat tentang April Mop

    April Mop atau dikenal juga dengan sebutan Aprill Fool’s Day merupakan hari di mana orang-orang boleh melakukan kebohongan kepada siapa saja. April Mop sendiri diperingati pada tanggal 1 April setiap tahunnya.

    Pada hari ini, semua orang bisa melakukan kebohongan tanpa rasa bersalah kepada siapa pun seperti keluarga, saudara, teman, rekan kerja, dan lain-lain. Tujuan April Mop sendiri adalah untuk mempermalukan orang lain yang mudah ditipu.

    Itulah kenapa orang tertentu bisa menjadi bulan-bulanan pada peringatan ini. Di sejumlah negara seperti Australia, Inggris, dan Afrika Selatan, momen April Mop hanya berlangsung sampai tengah hari saja.

    Akan tetapi, di banyak negara lain kebohongan tetap boleh dilakukan sepanjang hari sehingga orang-orang bisa lebih puas untuk melakukan kebohongan. (Sumber: Wikipedia).

    Meski budaya ini berasal dari Barat, nyatanya banyak orang muslim yang latah dan mengikuti peringatan ini sehingga banyak teman atau saudara yang tidak tahu menahu tentang peringatan ini justru menjadi korban kebohongan.

    Sebagai seorang muslim, tentu kita perlu mencari tahu lebih dulu bagaimana peringatan April Mop menurut Islam. Dengan begitu, kita tidak akan salah langkah dalam melakukan segala sesuatunya.

    Meskipun tertawa dan bersenang-senang adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam, namun bermain lelucon atau trik yang dapat menyesatkan atau merugikan orang lain tentu tidak dianjurkan.

    Baca juga: 30 Kata Kata Islami untuk Menyadarkan orang

    Pandangan April Mop Menurut Islam Berdasarkan Dalil

    Untuk bisa mengetahui bagaimana sikap seorang muslim terhadap peringatan April Mop, maka perlu kita kaji beberapa dalil yang akan menguatkan pendapat kita nantinya, yaitu terkait melakukan kebohongan dan hukum membuat lelucon.

    1. Larangan Berbohong dalam Islam

    Islam sangat menganjurkan umatnya untuk selalu berlaku jujur dalam keadaan apa pun dan menghindari kebohongan. Dalam hal ini, Abu Hurairah pernah berkata:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ. قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

    Artinya:

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim no. 102).

    Hadis di atas meriwayatkan tentang Rasulullah SAW yang sedang berjalan di pasar. Beliau mendapati seorang penjual yang dengan sengaja menyembunyikan barang dagangannya yang rusak atau terkena air hujan.

    Kemudian Rasulullah SAW memberi peringatan kepada penjual tersebut agar memperlihatkan semua barang dagangannya sekalipun telah rusak atau terkena hujan sehingga tidak ada unsur penipuan.

    Hadis ini menegaskan kepada kita bahwa kebohongan adalah sesuatu yang Rasulullah benci dan menyatakan bahwa tindakan tersebut bukan termasuk golongan umat Islam. Jadi, kita harus benar-benar menghindarinya.

    Nabi Muhammad juga bersabda:

    مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

    Artnya:

    “Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka,” (HR. Ibnu Hibban 2: 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1058).

    Hadits di atas semakin menegaskan bahwasanya kebohongan atau pengelabuan dan makar adalah termasuk dosa besar. Bahkan, Nabi Muhammad SAW juga menyampaikan ancaman perbuatan tersebut adalah neraka.

    Lalu, bagaimana kedudukan perbuatan bohong ini dalam konteks April Mop menurut Islam? Dalam hal ini, tentu kita juga harus mengkaji apakah Islam memperbolehkan dalam membuat lelucon semacam itu.

    2. Hukum Membuat Lelucon dalam Islam

    Sebagai sebuah ajaran, Islam hadir tidak hanya soal ibadah saja, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam hal bercanda. Rasulullah pernah bersabda terkait tentang dusta dan juga bahan tertawaan, yaitu:

    وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

    Artinya:

    “Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya,” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 2315. Al Hafizh Abu Thohir berkata bahwa sanad hadits ini hasan).

    Hadits di atas sebenarnya sudah menjawab pandangan April Mop menurut Islam. Kebohongan atau dusta yang tujuannya adalah untuk membuat suatu kaum tertawa, maka hal itu adalah sebuah kecelakaan.

    Hal itu juga berlaku untuk jenis candaan berupa mengambil barang orang lain. Pandangan ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW berikut:

    لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا

    Artinya:

    “Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.” (HR. Abu Daud no. 5003 dan Tirmidzi no. 2160. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

    Selain itu, pernah suatu ketika Rasulullah berjalan bersama dengan para sahabatnya. Suatu ketika, salah seorang dari mereka tertidur dan sebagian dari sahabat yang lain pergi mengambil talinya. Orang tersebut lantas merasa takut.

    Dalam hal ini, Rasulullah SAW kemudian bersabda:

    لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

    Artinya:

    “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud no. 5004 dan Ahmad 5: 362. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah menjumpai perbuatan iseng seperti menyembunyikan sandal atau sepatu milik teman. Setelah lama mencari dan mulai berputus asa, baru sandal atau sepatu tersebut dikembalikan.

    Hal ini tidak diperbolehkan, sampai-sampai Imam Abu Daud (Sulaiman bin Al Asy’ats As Sajistaniy) membuat bab khusus di dalam kitab sunannya dengan salah satunya adalah hadits yang ada di atas.

    3. Status Hukum April Mop Menurut Islam

    Setelah kita melihat dalil yang disampaikan dalam sebuah hadis, maka dapat kita simpulkan bahwasanya April Mop atau peringatan hari kebohongan adalah sesuatu yang terlarang atau haram menurut Islam.

    Hadis-hadis Rasulullah menegaskan bahwasanya kebohongan adalah perbuatan yang tercela baik digunakan untuk tujuan serius maupun bercanda. Dengan begitu, April Mop menurut Islam adalah perayaan yang harus dihindari.

  • Bolehkah Wanita Menjadi Imam untuk Pria? Ini Fatwa MUI

    Bolehkah Wanita Menjadi Imam untuk Pria? Ini Fatwa MUI

    Salah satu perkara yang sering menjadi perbincangan di kalangan para muslimah adalah pertanyaan mengenai bolehkah wanita menjadi imam? Adakah kondisi yang memungkinkan para wanita bisa menjadi imam?

    Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tentu kita harus merujuk pada dalil-dalil yang membahasnya. Selain itu, sebuah fatwa dari MUI juga bisa menjadi landasan untuk mengetahui hukum dari perkara di atas.

    Maka dari itu, artikel ini akan coba membahas perihal boleh tidaknya seorang wanita untuk menjadi imam dan memimpin jamaah.

    Bolehkah Wanita Menjadi Imam Sholat untuk Pria?

    Munculnya pertanyaan ini agaknya dipicu oleh video viral beberapa waktu lalu. Dalam video tersebut terdapat aksi seorang wanita yang menjadi imam sholat para pria. Hal ini dinilai janggal dan mendapat respon negatif dari berbagai masyarakat Indonesia.

    Sementara kita tahu bahwa imam dalam sholat selalu dipimpin oleh laki-laki, dan tidak pernah ada riwayat yang menyatakan wanita menjadi imam laki-laki. Lalu, bagaimana fatwa MUI menilai tentang bolehkah wanita menjadi imam?

    Dikutip dari situs nu.or.id, Rais Syuriah PBNU, KH. Ma’ruf Amin menyatakan bahwasanya ada larangan mutlak bagi perempuan untuk menjadi imam bagi laki-laki. Oleh karena itu, siapa saja yang mengutak-atik larangan ini sudah pasti tidak benar.

    Selain itu, ada juga kejadian di tahun 2005. Kala itu, Amina Wadud, seorang penganut Islam Liberal, menghebohkan dunia setelah menjadi imam sholat Jum’at di Amerika Serikat, tepatnya di Gereja Katedral, AS.

    Baca juga: Ramalan Jodoh Menurut Islam apa Diperbolehkan Percaya?

    Terlebih, imam yang berada di belakangnya terdiri dari perempuan dan laki-laki yang saling bercampur. Hal ini tentu mengundang kecaman dari umat Islam di dunia, tak terkecuali umat Islam yang ada di Indonesia.

    Sehubungan dengan hal di atas, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya mengeluarkan sebuah fatwa. Tepatnya pada tanggal 9-22 Jumadil Akhir 1426 H atau 26-29 Juli 2005, MUI mengadakan MUNAS (Musyawarah Nasional) MUI VII.

    Dalam MUNAS tersebut, MUI menetapkan Fatwa Nomor: 9/MUNAS VII/MUI/13/2005. Fatwa tersebut sekaligus menjawab pertanyaan, bolehkah wanita menjadi imam sholat?

    Di dalam Fatwa tersebut, MUI menyatakan dua hal, yaitu:

    • Haram dan tidak sah bagi perempuan untuk memimpin (imam) shalat berjamaah di mana ada laki-laki sebagai anggota jamaahnya.
    • Diperbolehkan bagi perempuan untuk menjadi pemimpin (imam) shalat berjamaah di mana perempuan adalah anggotanya jamaahnya

    Fatwa tersebut didasarkan pada Kitabullah, sunnah Rasulullah, ijtima’ ulama, dan juga kaidah-kaidah fiqih:

    Di dalam QS. An-Nissa Ayat 34, Allah SWT berfirman:

    ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

    Ar-rijālu qawwāmụna ‘alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba’ḍahum ‘alā ba’ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa’iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji’i waḍribụhunn, fa in aṭa’nakum fa lā 

    Artinya:

    “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

    Selain itu, ada juga hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Hakim:

    “Rasulullah memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi penghuni rumahnya.” – (HR. Abu Dawud & Al Hakim).

    Dari hadist riwayat Ibnu Majah, Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

    “Janganlah seorang perempuan menjadi imam bagi laki-laki.” (HR Ibnu Majah).

    Sementara berdasarkan ijma’ para sahabat, di antara mereka tidak pernah ada wanita yang menjadi imam bagi laki-laki. Selain itu, para sahabat juga beijma’ bahwasanya perempuan boleh menjadi imam hanya jika makmumnya perempuan.

    Hal itu seperti yang pernah dilakukan oleh Aisyah dan Ummu salamah. Hal itu disampaikan oleh MUI mengutip dari Kitab tuhfah Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfuri.

    Di samping itu, kaidah fiqih juga menjelaskan bahwa “Hukum asal dalam masalah ibadah adalah tauqif dan ittiba’ (mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi).”

    Artinya, tidak ada ibadah yang asalnya tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW atau secara langsung tidak mendapat petunjuk dari nabi. 

    Inilah yang harus selalu menjadi pedoman, terutama untuk perkara aqidah yang sifatnya tidak ada tawar menawar.

    Dengan begitu, pertanyaan bolehkah wanita menjadi imam sudah bisa kita jawab dengan jelas, yaitu tidak boleh. Sementara hukum wanita menjadi imam adalah mubah jika jamaahnya adalah sesama wanita.

  • Ini Dia Hukum Menceritakan Aib Pasangan Menurut Islam

    Ini Dia Hukum Menceritakan Aib Pasangan Menurut Islam

    Di dunia ini tentunya tidak ada pasangan suami istri yang sempurna. Setiap pasangan pasti memiliki kekurangan dan aib. Baik suami maupun istri tentu harus bisa menjaga aib tersebut. Lantas, apa hukum menceritakan aib pasangan?

    Tentunya, Islam sebagai agama yang sempurna sudah mengatur segala hal yang berkaitan dengan hukum berpasang-pasangan.

    Intinya, jika suami melihat kekurangan istri sudah sepantasnya tidak mengumbarnya, demikian sebaliknya.

    Pengertian Aib dalam Islam

    Sebelum membahas hukum menceritakan aib pasangan, sudah seharusnya kita memahami makna dari aib itu sendiri. Secara bahasa aib artinya cacat atau kekurangan yang merupakan bentuk jamaknya dari “uyub”.

    Segala hal atau sesuatu hal yang memiliki aib dalam bahasa arab disebut dengan “Ma’ib”. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Al-Fairuz Abadzi dan Al-Qomus Al Muhith dari serapan kata العيب.

    Selain itu, sebagian ulama dari Mazhab Hanafi juga menjelaskan bahwa aib memiliki pengertian sebagai:

    مَا يَخْلُو عَنْهُ أَصْل الْفِطْرَةِ السَّلِيمَةِ مِمَّا يُعَدُّ بِهِ نَاقِصًا

    “Suatu bagian yang tidak ada dari asal penciptaannya dan hal itu dianggap sebagai bentuk kekurangan.” (Al-Hasfaki, ad-Dur al-Mukhtar, Dar al-Fikr, Beirut).

    Misalnya, seekor kambing memiliki orang tubuh yang lengkap sejak lahir. Namun, kakinya pincang akibat kecelakaan, maka ini yang disebut sebagai aib karena bagian yang kurang dilihat dari kondisi awalnya sejak lahir.

    Berbeda dengan kambing yang tidak memiliki telinga sejak lahir, maka ini bukan termasuk aib karena kondisi ini memang sejak awal lahir tidak memiliki telinga. (Hasyiyah Ibnu Abidin dan Dar al-Fikr, Beirut, 1415 H, Jilid 5, Halaman 117).

    Sedangkan dalam perbuatan manusia, menceritakan aib seseorang merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Seseorang atau pasangan yang menceritakan perbuatan aib disebut dengan ghibah.

    Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an sebagaimana bunyinya:

    إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

    Innallażīna yuḥibbụna an tasyī’al-fāḥisyatu fillażīna āmanụ lahum ‘ażābun alīmun fid-dun-yā wal-ākhirah, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn

    Artinya:

    “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19).

    Selain itu, Rasulullah juga bersabda atas orang yang menceritakan aib saudara atau pasangan sendiri yang berbunyi:

    “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah).

    Baca juga: Doa Bercermin Arab, Latin, dan Adab Saat Bercermin

    Hadits Tentang Aib

    Dalam Islam banyak sekali hadits dari Rasulullah SAW yang menceritakan tentang aib sebagai perbuatan yang tercela dan dibenci oleh Allah SWT. Tentunya, kita sebagai umat yang taat sudah seharusnya menghindari perbuatan tersebut.

    Berikut ini beberapa hadits Rasulullah yang melarang perbuatan ghibah atas menceritakan aib pasangan atau seseorang:

    “Wahai manusia, siapa yang Islamnya hanya di lisan, maka iman tidak akan masuk ke hatinya. Janganlah kalian menyakiti sesama muslim, mencela mereka, dan membuka aib mereka. Karena siapa yang membuka aib saudaranya, maka Allah akan membuka aibnya. Dan siapa yang Allah buka aibnya, maka Allah akan mempermalukannya meskipun di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

    Selain itu, Rasulullah SAW juga berkata: “Apabila kita melihat bentuk yang seharusnya tidak kita lihat, maka diperkenankan untuk membutakan kedua mata.” Hal ini sebagaimana hadits beliau yang berbunyi:

    “Jika seseorang melihatmu dalam keadaan tanpa pakaian, tanpa seizinmu, lalu engkau membutakan kedua matanya dengan lemparan batu, maka tidak ada celaan atas perbuatanmu itu.” (HR. Muslim).

    Hukum Menceritakan Aib Pasangan dalam Islam

    Apabila suami melihat kekurangan istri, sudah seharusnya untuk tidak mengumbar atau menceritakan kejelekan tersebut ke orang lain. Begitu juga dengan istri, apabila melihat kejelekan suami tentunya tidak perlu diberitahukan kepada orang lain.

    Hal ini karena dalam ajaran Islam, menceritakan aib pasangan sendiri disebut dengan kategori ghibah dan perbuatan ini sangat dilarang. Baik suami maupun istri sama-sama dilarang untuk menceritakan aib tersebut.

    Selain itu, menceritakan aib pasangan adalah perbuatan maksiat dan kelak pelakunya akan ditempatkan pada kondisi yang paling buruk. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW kepada sahabatnya yang berbunyi:

    عن أَبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيّ قال : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

    Artinya:

    “Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda; Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seorang suami yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim).

    Bahkan dalam hadits, Rasulullah SAW menganggap bahwa pasangan yang menceritakan keburukan dari rahasianya masing-masing pasangan kepada orang lain merupakan bentuk pengkhianatan.

    Selain itu, perbuatan ini juga termasuk sebagai bentuk pelanggaran yang besar. Hal ini karena setiap pasangan memiliki amanah untuk menjaga aib dari masing-masing pasangan.

    Rasulullah SAW bersabda atas perbuatan atau pelanggaran tersebut dengan bunyi:

    إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَمَانَةِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

    Artinya:

    “Sesungguhnya termasuk (pelanggaran) amanah terbesar di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, lalu dia menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim).

    Hukum menceritakan aib pasangan sendiri tentunya bukan hal yang baik. Bahkan perbuatan ini sangat dibenci oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebagai umat yang taat akan perintah-Nya sudah sebaiknya kita menghindari perbuatan tersebut.

  • Doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an ketika Dibakar dan Meminta Keturunan

    Doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an ketika Dibakar dan Meminta Keturunan

    Membaca doa Nabi Ibrahim ketika mengalami sebuah musibah dalam kehidupan memang sebaiknya umat Muslim lakukan. Pasalnya, Nabi Ibrahim sendiri memiliki beberapa doa yang sering dipanjatkan dan tertulis di dalam Al-Qur’an.

    Bahkan, kisah serta mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim juga dijelaskan secara rinci di dalam Al-Qur’an sebagai salah satu wujud kebesaran Allah SWT dalam memberikan kekuatan kepada utusanNya.

    Doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an sendiri sebenarnya sudah cukup populer. Utamanya bagi setiap muslim yang selalu membaca ayat suci Al-Qur’an. Namun, tentu saja beberapa orang masih ada yang belum mengetahuinya.

    Apa Doa Nabi Ibrahim ketika Dibakar?

    Kisah Nabi Ibrahim dibakar tentu sudah bukan cerita baru lagi. Latar belakang yang membuatnya terbakar sendiri sangat menyedihkan. Di mana, pada masa itu penyembah berhala sangat marah karena Tuhan mereka telah hancur.

    Salah satu diantara mereka menyebut nama Ibrahim yang kisahnya terdapat di surat QS. Al-Anbiya: 61.

    َالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَىٰ أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ

    Artinya: “Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” (QS. Al-Anbiya: 61).

    Berbeda dengan pemikiran para penyembah berhala yang ingin menyakiti Nabi Ibrahim. Hal tersebut justru keinginan Nabi Ibrahim untuk membuat mereka semua berkumpul agar bisa menegakkan hujah kepada berhala atas ideologi yang batil.

    قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ , قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ

    Artinya: “Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?.” 

    Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.” (QS. Al-Anbiya’: 62-63)

    Namun, hujjah yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim nyatanya tidak bernilai baik. Justru menimbulkan kebingungan diantara orang yang berkumpul. Sehingga rasa yang tertinggal hanyalah kekuatan.

    Baca juga: Cara Menjamak Sholat Maghrib di Waktu Isya (Jamak Takhir)

    Mereka lantas berkumpul dengan membawa kayu bakar serta menyalakannya. Titik keburukan mereka telah mencapai puncak.

    Hal tersebut membuat mereka meletakkan Nabi Ibrahim AS pada daun pelempar manjaniq dalam keadaan terikat kedua tangannya kebelakang serta dilempar dengan menyakitkan.

    Melalui hal menyedihkan seperti itu, apa bunyi doa Nabi Ibrahim? Pastinya kita penasaran sekali. Ketika mencapai puncaknya, Nabi Ibrahim AS mengucapkan Hasbunallah wa ni’mal wakiil. 

    Namun, Rasulullah SAW mengatakannya melalui Al-Qur’an. Lantas, doa Nabi Ibrahim di surat apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW?

    إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

    Artinya: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab.

    Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS. Ali Imran: 173). (HR. Bukhari no. 4563)

    Ayat tersebut dilanjutkan dalam QS Ali Imran: 174.

    فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

    “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali Imran: 174)

    Dalam kisah yang tercatat di dalam Al-Qur’an dan atas pertolongan Allah SWT. Nabi Ibrahim dapat diselamatkan dari panasnya api pembakaran berhala.

    Allah Ta’ala berfirman:

    قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ , وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

    Artinya: “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’: 69-70)

    Disebutkan oleh Ka’ab Al-Ahbar, “Tidak ada sesuatu pun yang terbakar dari Ibrahim selain rantai yang digunakan untuk membelenggu beliau saja.”

    Dalam surat yang lain, Allah SWT juga menceritakan kisah dari Nabi Ibrahim AS.

    قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ , فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ

    Artinya: Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu. Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.” (QS. As-Saffat: 97-98)

    Saat tubuh Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api membara, yang tertulis dalam surah Ali Imran ayat 173, Doa Nabi Ibrahim AS yakni:

    Doa Nabi Ibrahim Saat Dibakar

    حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

    Latin: Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir

    Artinya: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

    Doa tersebut pun dibaca oleh Rasulullah SAW pada saat orang-orang musyrik menetangnya, sehingga Rasulullah SAW mendapatkan perlindungan-Nya.

    Baca juga: Hukum Bacaan Iqlab: Pengertian, Cara Baca dan Contohnya

    Doa Nabi Ibrahim untuk Mendapatkan Keturunan yang Sholeh

    Nabi Ibrahim merupakan salah satu Nabi Allah yang diuji dengan memiliki keturunan dalam jangka waktu cukup lama. Namun, kesabaran beliau sangat besar sehingga Allah SWT mudahkan untuk mencapai keinginannya dalam memiliki keturunan.

    Lantas, apa doa Nabi Ibrahim untuk anaknya? Nabi Ibrahim selalu memanjatkan doa secara rutin dan terus merayu Allah SWT untuk segera diberikan keturunan untuknya dan istrinya. Doa ini bahkan bisa kita lihat di dalam Al-Qur;an.

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

    latinnya: Robbi hablii minash shoolihiin

    Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Ash-Shaffat: 100).

    Tidak hanya doa Nabi Ibrahim pada surat Ash-Shaffat ini saja yang Beliau ucapkan akan tetapi Nabi Ibrahim juga melakukan doa lain kepada Allah SWT untuk mendapatkan keturunan yang sholeh dan taat kepada sang Pencipta.

    Doa Nabi Ibrahim untuk anaknya selanjutnya juga tertuang di dalam QS. Ibrahim : 40.

    رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

    Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan dari anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku” (QS. Ibrahim: 40).

    Selain itu, Beliau juga memiliki doa yang lain yaitu:

    وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

    Artinya: “Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim: 35).

    Belum berhenti sampai di sana. Ketika memasuki usia 40 tahun, ada juga doa dari Nabi Ibrahim yang memiliki makna ketulusan serta ingin berserah kepada Allah SWT dengan memohon hal terbaik untuk kedepannya.

    رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

    Artinya: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. 

    Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf: 15).

    Berdasarkan doa dari Nabi Ibrahim di atas, dapat kita simpulkan bahwa ketika menginginkan sesuatu pasti dibutuhkan sebuah usaha. Tidak hanya kita sebagai manusia biasa saja, seorang Nabi yang merupakan utusan langsung Allah SWT.

    Ketika menginginkan sesuatu maka tidak pernah berhenti berusaha dan berdoa. Tentunya tanpa paksaan dan selalu menyerahkan keputusan terbaiknya hanya kepada Allah SWT.

    Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang sudah mendapatkan banyak sekali ilmu serta ajaran dari ahli ibadah sebelumnya. Dapat turut mengamalkannya dengan baik.

    Manfaat Membaca Doa Nabi Ibrahim

    Setelah mengetahui apa saja kisah dan juga doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Tahukah kita bahwa dengan turut mengamalkannya ketika mengalami sebuah kesulitan atau musibah, ternyata terdapat manfaat signifikan, loh.

    Beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan apabila membacakan doa dari ajaran Nabi Ibrahim antara lain:

    1. Media untuk Meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan

    Dengan membaca doa yang telah diajarkan oleh Nabi Allah Ibrahim AS, ternyata hal itu bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, loh. Di mana, keimanan ini sangat penting setiap muslim jaga.

    Apalagi di dalam doa tersebut terdapat permohonan dan munajat kita sebagai hamba untuk meminta perlindungan serta keberkahan dari Allah SWT. Hal tersebut merupakan sebuah ungkapan bahwa kita menyadari kebesaran Allah SWT.

    2. Semakin Dekat dengan Allah SWT

    Cara paling mudah untuk dekat dengan Allah SWT adalah menjalankan kewajiban dan sunnah yang sudah diajarkan oleh para ahli ilmu terdahulu.

    Nah, ikut membaca doa Nabi Ibrahim ketika sedang tertimpa masalah dapat membuat pribadi seseorang jadi lebih dekat dengan Allah SWT. Hal tersebut menjadi sebuah media untuk mendekatkan diri kepada pencipta alam dan seluruh isinya.

    Tanpa kita sadari, dengan kita memohon pertolongan Allah SWT dan mengharapkan keberkahan serta rahmatNya. Hal tersebut ternyata menjadi sebuah petunjuk dari Allah SWT untuk mempercayakan segala urusan hanya kepada-Nya.

    3. Mendapat Berkah dan Rahmat dari Allah SWT

    Selanjutnya, beberapa dari kita mungkin tidak paham bahwa doa Nabi Ibrahim ini menjadi salah satu doa paling mustajab dan sering Allah SWT kabulkan. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk membacanya secara rutin.

    Selain memohon sebuah pertolongan kepada Allah SWT dari segala bentuk cobaan dan ujian. Membaca doa ini juga mengajak kita untuk mengharapkan sebuah keberkahan hidup serta mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

    4. Percaya atas Keagungan Allah SWT

    Membaca doa Nabi Ibrahim adalah bentuk kepercayaan kita terhadap keagungan serta keajaiban yang selalu bisa Allah SWT berikan. Bahkan, untuk hal mustahil sekalipun, Allah SWT akan selalu bisa memberikan dengan cara lebih mustahil lagi.

    Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kita tidak mempercayai keagungan serta kekuatan yang Allah SWT miliki sebagai penguasa langit dan bumi.

    Pasalnya, bagaimana sebuah api yang telah membakar dirinya dengan luapan panas sangat besar tiba-tiba padam apabila tidak ada campur tangan Allah SWT didalamnya?

    Bagaimana Nabi Ibrahim bisa memiliki putra yang sholeh jika tidak karena Allah SWT mengizinkannya?

    Lantas, mau dengan cara seperti apa lagi kita percaya dengan kekuatan dan keagungan Allah SWT jika kisah yang tercatat di dalam Al-Qur’an saja tidak kita Imani? 

    Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu membaca doa Nabi Ibrahim secara rutin. Kita bisa membaca doa tersebut, di mana saja. Namun, akan lebih baik lagi jika dalam kondisi suci yakni memiliki wudhu.

  • Cara Menghilangkan Hasad (Benci pada Nikmat Orang Lain) dari Diri Sendiri 

    Cara Menghilangkan Hasad (Benci pada Nikmat Orang Lain) dari Diri Sendiri 

    Sebagai seorang Muslim, Hasad merupakan sifat buruk sekaligus sebuah penyakit akut yang harus dihilangkan. Jika hasad tetap bertahan dari dalam diri, terdapat dampak berbahaya terhadap sesama manusia. Jadi, bagaimana cara menghilangkan hasad?

    Menghilangkan hasad dari sifat dari dalam diri seorang muslim menjadi kewajiban. Pasalnya, hasad merupakan sifat iri dengki terhadap manusia, terutama dalam persaingan, baik dalam prestasi atau pengumpulan harta.

    Lalu bagaimana bisa hasad bisa menjadi sangat berbahaya bagi kita? Jika benar, apa saja yang menjadi cara untuk menghilangkannya? Yuk kita simak lebih lengkapnya.

    Definisi Hasad

    Sebelumnya, ada baiknya kita pahami definisi hasad dan mengapa sangat merugikan. Hasad merupakan sifat iri dengki bagi seorang manusia. Iri dengki di sini maksudnya kita tidak suka menyaksikan seseorang mendapat sebuah kenikmatan.

    Sebaliknya, jika memiliki sifat ini, kita justru sangat berharap orang itu dicabut kenikmatannya dan menjadi menderita. Pengertian yang kita pahami ini mendekati dengan perkataan Ibnu Taimiyah RA sebagai berikut:

    الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ

    Artinya:

    “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

    Sifat ini pada dasarnya bisa menghancurkan seluruh kebaikan kita. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda demikian bahwa hasad bisa membumihanguskan seluruh kebaikan yang kita miliki.

    حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ

    Artinya:

    “Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Shalih Al Baghdadi] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Amir] -maksudnya Abdul Malik bin Amru- berkata, telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Bilal] dari [Ibrahim bin Abu Asid] dari [Kakeknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar.’” (HR. Abu Daud No. 4257).

    Hasad bisa dipicu oleh beberapa hal. Umumnya, karena kurang beriman pada Allah SWT. Sering sekali pula kecintaan terhadap dunia dan tekanan sosial seperti takut tersaingi menyebabkan sifat jelek yang satu ini.

    Jika masih mempertahankan sifat hasad, kita bisa saja merusak hubungan antar manusia, baik itu keluarga, teman, dan rekan kerja. Sifat ini dapat menyebabkan dosa sekaligus menyebabkan stres yang merugikan secara fisik dan mental.

    Sebagai perbuatan yang mengandung dosa, hasad akan menjauhkan kita dari surga saat di akhirat kelak. Terdapat dalil Al-Qur’an yang mengingatkan tentang sifat hasad dapat memicu kita masuk neraka.

    اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ تَبُوْۤاَ بِاِثْمِيْ وَاِثْمِكَ فَتَكُوْنَ مِنْ اَصْحٰبِ النَّارِۚ وَذٰلِكَ جَزَاۤؤُا الظّٰلِمِيْنَۚ

    Artinya:

    “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.” (Q.S. Al-Maidah: 29).

    Baca juga: Hukum Mencabut Uban dalam Islam, Bolehkah?

    Cara Menghindari Hasad

    Terdapat tiga cara yang paling sering harus kita ketahui untuk menghindari hasad. Ketiga cara ini bertujuan agar kita tidak menjadi iri dengki terhadap orang lain:

    1. Selalu Bersyukur

    Cara pertama adalah selalu bersyukur. Coba kita renungkan berapa banyak yang sudah kita dapatkan sejauh ini, bisa berupa usaha, harta, atau pencapaian. Walaupun hanya sedikit, kita harus tetap bersyukur.

    Terdapat sebuah dalil yang menyebutkan kita harus bersyukur meski pencapaian kita baru sedikit. Jika tidak bisa melakukannya, kita justru akan tetap tidak puas ketika mendapat banyak pencapaian.

    مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

    Artinya:

    “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278).

    Jika melihat pencapaian orang lain yang sudah banyak, beberapa dari kita cenderung memiliki sifat iri dengki. Hal ini ikut menjadi pertanda bahwa kita tidak bersyukur atas karunia Allah SWT.

    Tujuan lain dalam bersyukur adalah demi menahan diri dari sikap tidak ridho dengan keputusan Allah SWT, baik harta atau pencapaian. Dengan itu, kita bisa mencegah perbuatan yang mengekspresikan kebencian.

    Baca juga: Istidraj: Pengertian, Tanda, Bahaya, dan Cara Menghindarinya

    2. Mendoakan Orang Lain

    Cara menghilangkan hasad kedua adalah mendoakan orang lain. Benar, kita bisa mendoakan seseorang, terutama orang lain yang mungkin kita sangat iri dengki padanya. Kita bisa memulai mendoakan yang baik bagi orang tersebut.

    Terdapat dalil hadits yang menunjukkan sabda Rasulullah SAW agar kita mendoakan yang baik untuk sesama saudara.

    دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

    Artinya:

    “Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan doanya kepada saudaranya). Ketika dia berdoa kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata: Aamiin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim, no. 2733).

    Contoh doa paling sederhana untuk orang yang kita mungkin iri adalah permohonan agar ia mendapat kebaikan dan keberkahan. Langkah ini dapat menghilangkan hasad pada diri kita.

    3. Perbanyak Amalan Baik

    Cara ketiga adalah perbanyak amalan baik. Kita sebaiknya berfokus untuk memperbaiki ibadah sekaligus meminta ampun pada Allah SWT. Perbuatan ini menjadi bentuk perlawanan pada sifat hasad dalam diri kita.

    Amalan baik ini bertujuan mengobati sifat buruk kita dan menggantinya dengan sifat-sifat baik. 

    Contohnya, tawadhu atau rendah hati menggantikan tawadhu dan melakukan infak atau membayar sedekah membuat sifat rakus tergantikan oleh qana’ah.

    Demikianlah pembahasan cara menghilangkan hasad. Semoga kita dapat terjauhkan dari sifat hasad yang sangat merugikan bagi diri kita dan orang lain.